《Legenda Dewa Harem》 Chapter 1: Ayo Menikah! Terkadang sebuah kota bukan dikenal karena sejarahnya ataupun betapa majunya kota tersebut. Terkadang sebuah ciri khas seperti makanannya ataupun perusahaan yang berakar di suatu kotalah yang membuat kota itu terkenal. Hal ini dialami oleh Kota Cendrawasih di mana kota ini terkenal berkat markas utama Perusahaan Cendrawasih berakar di kota ini. Walaupun kota ini masih kalah apabila dibandingkan dengan Jakarta maupun Surabaya, Kota Cendrawasih masih tergolong kota maju dengan Perusahaan Cendrawasih menjadi garis depannya. Dengan kekayaannya yang mencapai 11,5 triliun rupiah, perusahaan ini memiliki pengaruh yang luas. Dengan perusahaan yang begitu besar dan kuat, tentu tidak lepas dari pimpinan seorang yang berpengaruh dan berkharisma. Namun, bukan hal itu saja yang membuat pimpinan Cendrawasih ini terkenal. Dengan tubuh yang bahenol dan paras cantik yang mempesona, membuat Inggrid Elina wanita paling terkenal di seluruh kota Cendrawasih. Terkenal dengan paras cantiknya, membuat laki-laki dari seluruh perusahaan Indonesia berlarian ke sana kemari berusaha meminang hati Inggrid Elina. Namun naas, sikap Inggrid terhadap laki-laki yang mengejarnya sangatlah dingin. Namun, apabila orang melihat adegan hari ini yang terjadi di suatu jalan yang cukup sepi di Kota Cendrawasih, mungkin orang-orang akan mulai menampar dirinya sendiri atau mencubit pipinya karena ini pasti cuma sekedar mimpi. Pada hari menjelang sore, sebuah mobil mewah bernilai miliaran berhenti di tepi jalan. Seorang wanita cantik turun dari mobil tersebut. Apabila diperhatikan, wanita ini celingak-celinguk tampak kebingungan. Setelah beberapa saat, wanita ini seakan telah menemukan apa yang dia cari dan mendekati seorang penjual mie ayam. Berhenti di depan gerobaknya, wanita ini memandangi si penjual sambil melihat handphonenya. Wanita ini pun terdiam cukup lama. Karena tidak sabar karena ingin segera menutup jualannya dan beristirahat, si penjual berkata dengan nada sedikit jengkel kepada wanita tersebut "Bu kalau mau pesan ya pesan. Jangan mainan handphone dan bengong di sini, mengganggu saya. Ibu mau beli tidak? Ini kebetulan saya mau tutup jadi kalau beli lebih baik bungkus aja." Penjual mie ayam itu bernama Randika, dan dia sebenarnya sudah tahu dari awal siapa wanita misterius ini. Bagaimana tidak, wajah cantiknya yang melegenda itu terpampang di ribuan reklame dan poster-poster iklan di kota ini. Orang bodoh pun pasti tahu kalau wanita ini adalah Inggrid Elina, boss Perusahaan Cendrawasih. Tetapi walau kata-katanya sebelumnya kasar, bukan berarti Randika buta. Sebenarnya, pandangannya sudah menelanjangi wanita secantik dewi itu sejak 5 menit yang lalu. Maklum, nalurinya sebagai lelaki langsung terpancing. Bagaimana tidak? Badannya yang begitu langsing bahkan bisa membuat seorang supermodel sekalipun menangis iri melihatnya. Baju atasannya memperlihatkan lengan telanjangnya yang panjang dan berkulit mulus. Rok ketat yang dikenakan wanita itu juga benar-benar menonjolkan pahanya yang seempuk buah persik. Kalau benar-benar dipelototi, celana dalam berwarna hitam yang dikenakan wanita itu dapat terlihat dari balik kain rok ketatnya yang transparan. Belum lagi, matahari yang panas membuat tetesan keringat mengalir dari leher menuju belahan dadanya. Belum lagi, wanita ini dianugerahi Tuhan dengan sepasang bola mata hitam yang jernih, alis mata yang terawat dan menawan ala seorang supermodel, bulu mata yang lentik dan bibirnya yang kecil dibalut oleh lipstik merah yang cerah dapat membuat semua laki-laki di dunia tidak bisa melepas pandangan mereka sedetik pun. Jadi wajar saja kalau Randika sudah mulai menelanjangi Inggrid dengan pandangannya, dia adalah wanita paling seksi di seluruh kota itu! Inggrid Elina memang layak disebut wanita tercantik di Kota Cendrawasih. Setidaknya di mata Randika, wanita kelas atas ini adalah wanita tercantik yang pernah dia temui dalam hidupnya. Yang lebih membuatnya tak bisa bertahan adalah aroma tubuh yang memancar dari Inggrid yang dapat dengan mudah membuat semua lelaki klepek-klepek olehnya. Randika yakin bahkan seorang bocah pun akan segera meminta peluk pada wanita ini agar bisa mencium baunya lebih lama lagi. Menghadapi pandangan dan kata-kata yang telah dilontarkan pria tersebut, Inggrid hanya terdiam dan tampak menggigit bibirnya. Apabila diperhatikan, dia tampaknya sedang mengalami gejolak batin dan berusaha memutuskan sesuatu. "Hei kamu, aku tidak butuh makananmu. Kamu cukup ikut denganku ke rumah!" Setelah sekian lama terdiam, Inggrid akhirnya sadar dari linglungnya dan segera meraih tangan Randika dan menariknya secara paksa. Dari detik dia mendengar kata-kata wanita itu, Randika sudah merasa bahwa wanita cantik ini ternyata kebanyakan makan micin. Randika baru pertama kali dalam hidupnya diajak pulang bersama seorang wanita yang tidak dikenalnya. Terlebih yang mengajaknya pergi adalah seorang pimpinan perusahaan kelas atas. "Sebentar! Tunggu duluˇ­! Apa kamu sinting!? Kerjaanku jualan mie ayam, bukan jual diri!" Randika segera berteriak ketika dia diseret oleh Inggrid. Lagipula, kekuatan tarikan wanita ini biasa saja dan Randika menarik kembali lengannya yang ditarik paksa oleh Inggrid. "Aku tidak tahu apa yang telah terjadi di dalam otakmu tapi kalau kamu butuh hiburan seorang pria, cari saja di tempat lain. Aku tidak tahu tipuan macam apa yang kamu mau mainkan tapi cukup tahu saja, aku tidak punya apa-apa bahkan uang sekalipun!" Mendengar kata-kata hinaan dari mulut pria itu, wajah Inggrid pun memerah. Entah karena marah gara-gara kata-katanya atau volume suara pria ini sangat keras dan dia malu orang-orang akan mendengarnya. Lagipula, orang-orang tidak akan percaya bahwa orang sekaliber dirinya akan datang ke sebuah gerobak mie ayam dan mengajak si penjual mie ayam itu pulang ke rumahnya bersama dirinya. Sambil menghembuskan napas, Inggrid berusaha menenangkan dirinya kembali dan menatap kembali pria tersebut. Dia merasa bahwa tindakannya ini sungguh konyol. Meskipun pria ini tidak terlalu jelek ataupun ganteng, setidaknya pria ini terlihat cukup berotak dan tenang. Memikirkan hal tersebut, Inggrid mengesampingkan kata-katanya yang kasar dan memilih untuk bersabar. Tapi hari ini telah ditakdirkan mengguncang Kota Cendrawasih. Cukup dengan satu kalimat yang akan dilontarkan Inggrid, bahkan seluruh dunia akan ikut terguncang. Bahkan langit pun akan ikut bergejolak apabila dia memiliki telinga. "Menikahlah dengankuˇ­" Setelah mengumpulkan keberaniannya, Inggrid akhirnya mengatakan apa yang perlu dia katakan. DUAK! Randika yang sedang berdiri dengan tegang tiba-tiba jatuh tersungkur, tidak percaya dengan apa yang telah dia dengar. "Hmmm, tolong diulangi lagi?" Randika segera berdiri dan menepuk-nepuk bagian belakangnya untuk membersihkan debu dan tanah yang menempel. Sesaat kemudian, dia segera menatap lekat-lekat pada Inggrid dan mengatakan, "Oke kita bedah dulu satu per satu masalah ini. Apakah namamu Inggrid Elina? Pemimpin dari Perusahaan Cendrawasih yang besar itu? Kalaupun benar, coba kau perhatikan aku sebentar. Bajuku saja ala kadarnya, seharian aku sudah menjual mie di bawah matahari dan berkeringat deras sehingga bauku menjadi lepek. Aku menikah denganmu? Bukankah itu lebih konyol daripada cerita Beauty and the Beast?" Randika berusaha mengatakan bahwa dunia mereka berdua sangat jauh berbeda. Satunya berada di perusahaan besar, satunya berada di tepi jalan. Satunya wanita cantik bergelimang harta, satunya pria biasa yang tidak punya uang namun berusaha untuk memperbaiki hidupnya dengan bekerja keras tiap harinya. Mau ditaruh di mana muka Randika apabila apa yang dikatakan wanita ini ternyata hanyalah sebuah ejekan ataupun hukuman yang Inggrid dapat setelah kalah taruhan? Inggrid tidak dapat mendengar penjelasan si Randika dengan jelas karena dalam hatinya dia aslinya malas-malasan untuk melakukan hal ini. Setelah Randika terdiam, Inggrid memperhatikan kembali pria ini kemudian entah kenapa perasaan jijik naik hingga muncul di raut wajahnya. Wajah? Bisa-bisanya pria rendahan macam dia mengatakan hal seperti wajah? Seharusnya dirinya lah yang ingin mengubur wajahnya sendiri ke dalam tanah dan berharap hari ini adalah semacam mimpi buruk baginya. Tetapi demi perusahaannya, dia harus melakukan hal ini. Lagipula, lelaki idaman seorang Inggrid Elina jelas jauh dari penampilan pria ini. "Yang aku butuhkan darimu hanyalah sertifikatnya saja. Tentu saja kita tidak akan menikah sungguhan. Kamu dapat menikmati hidupmu setelah aku selesai mendapatkannya. Dan tentu saja, kalau kamu mau mengabulkan permintaanku, aku akan memberikanmu kompensasi berupa uang yang banyak." "Maksudmu kawin kontrak?" Setelah mendengar penjelasan Inggrid, Randika segera mengerti bahwa perempuan ini ingin menggunakan dirinya sebagai pasangan palsunya untuk mendapatkan bukti bahwa dia telah menikah. "Benar." "Ha? Kau itu bodoh atau tidak tahu malu? Meskipun aku miskin dan kamu memancingku dengan uang, hal sakral seperti menikah adalah hal penting di hidup ini khususnya bagi perempuan dan seharusnya kamu tahu akan hal itu. Aku tidak mau melakukannya! Cari orang lain sana!" Kebajikan Randika membuat Inggrid terpana yang menghasilkan wajahnya bertambah pucat. Seorang pemimpin perusahaan besar di Kota Cendrawasih dan dikenal sebagai wanita tercantik ini telah ditolak dan merasa telah direndahkan. Wanita seperti Inggrid memiliki harga diri yang tinggi dan terbiasa memandang segalanya dari atas dan sekarang dia telah diceramahi dan direndahkan oleh seorang penjual mie ayam gerobakan? Dengan latar belakang yang dimilikinya, jelas yang seharusnya merasakan perasaan seperti ini tentu saja si penjual tersebut bukan dia! "Lima ratus juta. Aku akan memberikanmu lima ratus juta setelah semua ini selesai dan kita akan bercerai setelah tiga bulan. Bagaimana?" Inggrid, yang berusaha menahan amarahnya yang belum pernah dia rasakan selama ini, tampak menggigit bibirnya ketika dia berbicara dengan penuh toleransi. Tidak ada jalan lain. Orang tersebut menyuruhnya melakukan hal ini. Berkat pengorbanannya ini, keberlangsungan perusahaannya akan terjamin. Dia tidak tahu mengapa pihak lain memilih si penjual mie ayam ini sebagai pasangannya dan anehnya lagi dia tidak mengerti mengapa harus sampai membawa masalah peminjaman uang ini ke jenjang pernikahan? Melihat pengorbanan yang dilakukan oleh Inggrid jelas bahwa perusahaannya sedang dalam kondisi susah. Bank mulai tidak memberikan pinjaman lagi terhadap perusahaannya. Jika Perusahaan Cendrawasih tidak menerima pemasukan, sayangnya kerajaan yang telah Inggrid Elina susah payah bangun akan runtuh. Oleh karena itu, Inggrid harus mematuhi permintaan dari si peminjam ini. Meskipun lelaki ini menyebalkan dan tidak sopan, demi keberlangsungan perusahaannya dia rela menahannya. "Lima ratus juta?" Setelah mendengar nominal tersebut, mata Randika mulai bersinar-sinar, tapi sayangnya kelicikan lah yang memenuhi matanya dan dia mengatakan, "Cuma 500 juta? Harga diriku cuma 500 juta?" "Satu miliar. Satu miliar akan kuberikan dan setelah kontrak selesai kita tidak akan bertemu lagi dan jangan harap kamu akan melihat wajahku lagi." "Waduh sayangnya aku bukan pria semacam itu. Harga diriku tidak ada harganya!" "Dua milyar, itu batas akhirku. Jangan coba tarik ini lebih jauh!" Inggrid mulai meneteskan darah di dalam mulutnya. Dia menggigit bibir bagian dalamnya karena mulai kesal dengan pria ini yang mulai memasang harga dan memanfaatkan keadaan. Dirinya sudah membayar 2 miliar, uang yang tidak akan pernah pria ini pegang walaupun dia bekerja seumur hidupnya! Bagaimana bisa pria ini begitu licik dan meminta harganya naik terus? "Ini bukan tentang uang. Ini adalah masalah ˇ­ " "Lima miliar. Aku tidak bisa memberikan lebih dari itu. Apabila kamu tidak mau, aku punya koneksi tersendiri yang akan membuatmu tidak bisa tidur nyenyak maupun menginjakkan kaki lagi di kota ini. Entah kamu percaya atau tidak itu terserah kamu!" Setelah mengatakan hal ini, tubuh Inggrid sedikit bergetar. Sudah sangat jelas bahwa dia hendak siap meluapkan amarah terpendamnya dan pria ini masih saja sok suci. Pertama kali dalam hidupnya, Inggrid merasa bahwa ternyata ada laki-laki yang tidak tahu malu semacam Randika. "Oke aku setuju! Aku mau uangnya sekarang!" Randika tidak habis pikir, dia hanya berjualan mie ayam seharian dan sekarang dia mendapatkan 5 miliar dengan tidak melakukan apa-apa? Apakah ini pencapaian terbaiknya seumur hidup? Lima miliar adalah uang yang sangat banyak khususnya bagi dirinya yang barusan pulang kampung ke Indonesia di mana dia lagi kesusahan dalam hal finansial. Namun sekarang? Wanita cantik akan memberikannya rumah yang besar untuk ditinggali, kasur empuk di mana dia akan bermimpi indah ditambah lagi istri yang sangat cantik dan seksi. "Sekarang? Itu jelas tidak mungkin. Aku akan membayarmu setelah kontrak kita telah selesai dan khususnya setelah aku mendapatkan jaminan bahwa aku tidak akan melihat wajahmu lagi." Inggrid tidak menunggu pria itu membalas omongannya karena dia sudah benar-benar muak. Terlebih, dia tidak bisa memberikan ruang kepada pria ini untuk berkata tidak karena dia benar-benar membutuhkan pinjaman uang dari pihak lain tersebut. "Tidak bisa, aku ingin uangnya sekarang." "Tidak bisa, aku tidak akan mengulangi kata-kataku lagi." "Orang kalau membeli apartemen saja biasanya akan memberikan deposit agar apabila terjadi sesuatu ada uang yang bisa dijadikan jaminan. Jika kamu ingin membeli diriku ini, setidaknya berilah aku 1 miliar. Anggap saja ini sebagai jaminan dari omonganmu." "Hanya 100 juta, tidak lebih dan perbulannya akan kuberikan 100 juta lagi selama 3 bulan. Tidak bisa lebih!" Mendengar kata-kata membeli pria, hati Inggrid sedikit sakit. Dia adalah wanita dengan harga diri tinggi dan telah menolak laki-laki yang kaya dan tampan dari seluruh Indonesia dan sekarang dia harus membeli seorang pria. "Hmmm tapi aku punya satu syarat." Pada akhirnya, Randika berkompromi. Lagipula, ini hanya 3 bulan dan setelah itu dia akan menjadi kaya raya. "Apa syaratmu?" "Selama tiga bulan itu aku akan tinggal di rumahmu. Karena sewa tempat tinggalku mau habis dan aku tidak punya tempat untuk tinggal jadi aku ingin tinggal di rumahmu. Omong-omong rumahmu seperti apa? Apakah ada kolam renangnya?" Chapter 2: Kehidupan Baru Telah Dimulai! Kota Cendrawasih selalu bermandikan cahaya matahari yang hangat dan terkadang awan akan menutup teriknya matahari. Tentu saja bagi sebagian besar orang, hari ini juga sama indahnya dengan hari-hari biasanya. Tapi bagi Randika, hari ini adalah lembaran baru dalam hidupnya. Bagaimana tidak? Karena hari ini dia sudah resmi menikah dan terlebih lagi, dia mendapatkan wanita yang sangat cantik sebagai istrinya. Menilik keseharian Randika sebelum-sebelumnya, tentu hari yang seperti ini hanyalah mimpi baginya. Tetapi bagi Inggrid Elina, hari ini adalah wujud dari mimpi terburuknya. Bagaimana tidak? Karena hari ini dia telah menikah dengan orang kalangan kelas bawah dan terlebih dengan orang yang sekasar dan tidak tahu malu seperti Randika. Sebelum memenuhi persyaratan yang diberikan pihak peminjam yaitu menikah dengan Randika, Inggrid sudah menyelidiki sendiri siapa calon suaminya itu. Dengan sumber daya dan jaringan Perusahaan Cendrawasih, hal tersebut sangatlah mudah. Dari hasil penyelidikannya, Randika adalah seorang anak yatim jadi tidak ada keluarga maupun saudara yang bisa membocorkan masalah ini ke publik. Dengan ini, salah satu kekhawatiran terbesar Inggrid telah hilang. Namun, hal yang paling membuat mimpi buruknya ini lebih buruk lagi adalah salah satu syarat yang diajukan oleh Randika yaitu tinggal di rumahnya selama masa kawin kontrak mereka berlangsung. Setelah mendapatkan sertifikat menikahnya, mau tidak mau Inggrid membawa Randika kembali ke rumahnya. Di dalam mobilnya, Randika bertingkah layaknya anak kecil yang kegirangan. Dia bermain-main dengan radio dan lebih kekanak-kanakannya lagi, dia menaik turunkan jendela berkali-kali lalu akhirnya menjulurkan kepalanya keluar. Apabila orang melihat mereka, entah apa yang akan dikatakan oleh Inggrid untuk menjelaskan situasi ini. Untungnya, perjalanan mereka tidak terlalu menarik perhatian orang dan akhirnya mereka tiba di suatu perumahan elit. Perumahan Pondok Sempurna adalah salah satu kawasan elit di Kota Cendrawasih. Di sinilah rumah Inggrid berada bersamaan dengan orang-orang kaya lainnya. Setelah sampai di sarang cintanya, Randika segera keluar dari mobil dan memandang takjub pada rumahnya yang begitu besar. "Hei! Jangan keluar dulu dari mobil, kita belum masuk ke dalam rumah. Aku tidak mau wajahmu dilihat orang-orang di sekitar sini." Setelah memarkirkan mobilnya, barulah mereka berdua memasuki ''sarang cinta'' mereka. Terpukau dengan besarnya rumah ini, Randika langsung bertingkah seperti anak kecil yang antusias dan sudah tidak sabar untuk menjelajahi rumah ini untuk mencari harta karun. Kalau bukan karena omelan Inggrid, mungkin Randika sudah berkeliling sungguhan. Ingin menghindari mata yang mungkin saja mengintainya, Inggrid segera membawa suaminya itu ke dalam rumah dan mengantarnya ke kamarnya. Melihat kamar yang luas dan tempat tidur yang besar dan terlihat empuk, membuat Randika secara tidak sadar membandingkannya dengan tempat tinggal sewaannya yang menyedihkan. Oleh karena itu, dia segera melompat ke atas kasur dan merasakan keempukan bagai awan yang tidak pernah dia rasakan. "WOW! Empuk sekali! Aku belum pernah merasa senyaman ini di kasur." Kata Randika sambil terus melompat-lompat di atas kasurnya. Semua tindakan Randika hanya dilihat oleh Inggrid tanpa sepatah kata pun. Dia hanya memegang erat sertifikat pernikahan yang digenggamnya sejak tadi. Dia lalu berpikir dalam hati, ''Tenangkanlah dirimu Inggrid, pada akhirnya ini sepadan. Dengan menunjukan sertifikat ini kamu akan mendapatkan uang dalam jumlah yang sangat besar!'' "Ibu Ipah, aku akan keluar sebentar. Tolong perhatikan laki-laki ini sementara waktu." Ibu Ipah adalah pembantu keluarga Inggrid sejak dulu. Bisa dikatakan bahwa dialah yang mengasuh Inggrid sejak kecil. Mungkin karena tinggal bersama dengan keluarga elit sejak lama, Ibu Ipah ini terlihat sehat dan energik meskipun penampilan usianya terlihat seperti 50an. Dengan senyuman di wajahnya, Ibu Ipah menyetujui permintaan nona mudanya. Setelah dijelaskan oleh nona mudanya mengenai identitas lelaki ini, Ibu Ipah menelan dalam-dalam pendapatnya dan hanya bisa mengikuti pengaturan majikannya. Dia tidak percaya bahwa nona mudanya yang sering menolak lelaki tampan dan berpengaruh dari seluruh negeri ternyata akan menikahi lelaki biasa seperti ini. Setelah nona mudanya turun kembali dan hendak menuju mobilnya, Ibu Ipah masih tetap tinggal di kamar Randika yang baru. Melihat Randika yang bertingkah seperti anak kecil entah mengapa membuat dirinya tersenyum. Jelas terlihat bahwa lelaki ini pastilah bukan dari kalangan orang elit dilihat dari tindakan maupun barang bawaannya yang dia bawa. Tapi cinta itu buta, setidaknya itulah yang diyakini oleh Ibu Ipah. Dia tidak menilai orang dari seberapa besar kekayaan yang orang miliki, mungkin orang ini telah mencuri hati nona mudanya berkat ketulusan hatinya ataupun hal lainnya. Oleh karena itu, dia tidak boleh merendahkan dan memperlakukan orang ini secara berbeda. Setelah memperhatikan beberapa saat, Ibu Ipah mengatakan, "Permisi tuan, hari sudah menjelang siang dan sebentar lagi waktunya makan. Apakah ada yang ingin Anda makan? Aku akan memasak apa pun yang Anda inginkan." Setelah mendengar kata makan, telinga Randika bergerak dan kepalanya langsung berputar. Meskipun terlihat malu-malu Randika akhirnya mengatakan, "Hmmm Ibu Ipah, mungkin ini adalah pertemuan pertama kita tapi kedepannya kita akan hidup bersama dan aku tidak melihatmu sebagai pesuruh ataupun pelayan namun sebagai keluarga. Tidak usah terlalu sopan apabila berbicara denganku. Untuk makan siangnya, apakah ibu bisa membuatkanku rawon? Aku sangat suka dengan daging dan rawon adalah makanan kesukaanku." Mungkin apabila Inggrid mendengar kata-katanya ini dia akan mengomel lama. Hidup bersama? Hei kamu itu akan keluar dalam 3 bulan, bisa-bisanya kamu mengatakan seolah-olah kamu akan tinggal di sini selamanya! Tetapi Ibu Ipah yang mendengar perkataan Randika sedikit terharu dalam hatinya. Senyuman segera menjulang di wajahnya, "Oke nak Randika, aku paham. Ibu mau keluar sebentar untuk pergi belanja sebentar ya. Jadi jangan terlalu nakal dan merepotkan nona." "Oke ibu jangan khawatir. Dan jangan lupa beli yang banyak ya dagingnya, aku sangat lapar dan bisa menghabiskan 10 kg nasi sekali makannya hahaha." Sambil tersenyum lagi, Ibu Ipah segera pergi. Randika pun segera menata kembali barang-barangnya di kamar barunya. Setelah beberapa saat dan memastikan ruangannya tidak ada orang, dia kemudian menyalakan komputer yang ada di dalam kamarnya. Setelah menjelajah internet dan memastikan salurannya aman, Randika memasuki sebuah website anonim yang memungkinkannya untuk mengobrol ataupun panggilan video tanpa terlacak. Setelah itu dia menelepon sebuah user ID dan setelah beberapa saat, panggilannya pun diangkat. Namun bukan wajah seseorang yang terlihat namun sebuah dada yang bagai gunung dan hampir memperlihatkan kedua pucuknya yang menyambut Randika. Sebagai lelaki yang sehat, Randika tidak bisa melepaskan pandangannya pada pandangan indah ini sebelum akhirnya memarahi perempuan tersebut. Segera setelah itu, pemandangan indah itu berubah menjadi sosok seorang gadis berambut pirang yang cantik. "Wah sayangku Randika, akhirnya kau menghubungiku setelah sekian lama. Apakah akhirnya kau kangen kepadaku setelah sebulan menghilang?" Suara perempuan ini sangat ceria dan dia fasih berbahasa inggris. "Ssttt Yuna, bisa kau kurangi volume suaramu? Aku tidak mau suamimu mendengar aku telah menghubungimu." Balas Randika dengan bahasa inggrisnya yang tidak kalah hebat. "Hmmm ˇ­ perkataanmu barusan terdengar ambigu. Lupakanlah, bagaimana kabarmu adik ipar? Apakah kau baik-baik saja?" "Adik ipar? Aku kakaknya tahu!" Mendengar balasan Randika, Yuna pun tertawa terbahak-bahak. Melihat Yuna yang begitu liar ketika tertawa membuat Randika tidak bisa tidak menghembuskan napas. "Bisa-bisanya adikku menikah denganmu." "Kenapa kamu terdengar seperti menyesal begitu? Apa kau menyesal tidak bisa bersamaku? Kalau mau kamu sama adikku saja, namanya Aline. Dia masih muda dan bujang, kalau kamu mau aku akan mengirimnya ke kasurmu dan akan kubuat dia tidak bisa menolakmu dengan ramuan obatku." "Kamu tidak mendengar apa yang barusan kau katakan? Bisa-bisanya seorang kakak menjual adiknya seperti itu. Aku benar-benar heran kenapa adik harimau bisa memilihmu sebagai pasangannya." "Yah dia aslinya tidak sekuat dirimu, orang yang kusuka sebenarnya adalah kamu lho Randika. Sejak malam kau mengajarkanku betapa jantannya seseorang lelaki padaku, aku menyadari bahwa selama ini aku sudah jatuh cinta padamu. Bagaimana? Mau aku ceraikan saja adikmu dan kita bisa melanjutkan malam bergairah itu? Apakah kamu suka roleplay? Aku mau kok jadi pelayan dan kamu menjadi majikanku, pasti kehidupan seharian kita akan dipenuhi hal-hal menggairahkan." Yuna mengatakan semua hal ini dengan mata yang dipenuhi oleh nafsu dan napas terengah-engah. Di akhir kalimatnya pun dia menjilat bibirnya seolah-olah menemukan hidangan lezat. "Ha? Malam yang mana? Aku cuma menyelamatkanmu dari kejaran para pembunuh itu saja bukan? Bisa-bisanya kamu salah kaprah seperti itu?" "Yah setidaknya aku berusaha lagipula aku tahu bahwa cintaku padamu cuma sepihak kok jadi tidak ada salahnya mencoba. Tapi serius Randika, adikku sangat cantik dan masih berusia 18. Tubuhnya lebih berkembang dari punyaku dan terlebih dia belum pernah bersama seorang laki-laki." Mendengar kata-kata Yuna, membuat Randika membayangkan hal-hal yang aneh di kepalanya. Mungkin orang-orang tidak tahu tetapi daya imajinasi Randika sangatlah tinggi jadi dia bisa membayangkan bagaimana paras adik Yuna tersebut. "Tolong Yuna, bisa kita serius sedikit? Aku benar-benar butuh bantuanmu." Khawatir orang-orang pada kembali ke rumah, Randika meminta Yuna untuk fokus pada perbincangan mereka yang asli. "Oke, oke, ternyata kamu tidak cuma ingin ngasih kabar. Apakah ada yang bisa hamba bantu tuan?" Walaupun kata-katanya sedikit bercanda, ekspresi Yuna menjadi lebih serius karena mungkin Randika dalam keadaan berbahaya. "Aku butuh ramuan X, stok persediaanku hampir habis. Bisakah kamu mengirimnya dari markas?" Mendengar hal ini, wajah Yuna menjadi putih pucat dan memberikan tatapan tidak berdaya. "Apakah kau baik-baik saja? Apakah kau terluka? Jangan bergantung terhadap ramuan X itu terus-terusan Randika, ramuan tersebut memiliki dampak tersendiri pada tubuhmu. Kamu harus bisa mengendalikannya tanpa ramuan ini." Yuna benar-benar terlihat serius. "Jangan khawatir. Aku membutuhkan ramuan tersebut untuk sementara waktu saja. Pada akhirnya aku akan mencari solusi tepatnya karena Indonesia terkenal akan alamnya dan aku yakin bahwa ilmu pengetahuan obatku akan membantuku menemukan solusi yang tepat. "Baguslah kalau begitu. Memang Indonesia terkenal akan produk alamnya yang penuh khasiat. Untuk masalah ramuan X akan aku atur agar bisa mengirimkannya padamu." ˇ­. Setelah selesai berbicara dengan Yuna, Randika segera mengambil sebuah botol kecil dari tasnya. Tanpa ragu, dia langsung menghabiskannya dalam sekali teguk. Setelah meminumnya, wajahnya mulai berkedut, tangannya segera mencengkram dadanya erat-erat seakan-akan dia terkena penyakit jantung. Keringat mulai membasahi seluruh tubuhnya dan napasnya terengah-engah. Sesekali dia akan mengerang teredam berusaha tidak membuat suara yang terlalu keras agar tidak diketahui oleh orang yang ada di rumah. Lima menit kemudian, perlahan Randika mulai tenang kembali dan tubuhnya benar-benar basah oleh keringat. Apabila orang melihatnya sekarang mungkin mereka akan mengira bahwa Randika telah kecebur kali. "Sialan, tidak meminumnya selama 10 hari efeknya sangat keras terhadap tubuhku. Kalau tidak segera menemukan solusinya mungkin aku tidak akan bertahan lama." Randika yang sudah tenang kembali segera menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya dan memakai baju baru untuk bersiap makan siang. ˇ­. Pada saat ini, Inggrid telah tiba di suatu kediaman besar. Kalau orang melihatnya dengan seksama, maka tempat ini pastilah kediaman orang penting karena ketatnya penjagaan yang ada. Inggrid pun diantar menuju suatu ruangan bawah tanah yang gelap. Setelah itu dia hanya berdiri diam di depan seseorang dan memberikan sertifikat pernikahannya. "Aku sudah memenuhi pengaturanmu untuk mendapatkan sertifikat pernikahan dengan pria itu. Sekarang, waktumu untuk memenuhi janjimu." Setelah mengatakan ini, figur orang tersebut berbalik dan berkata melalui topengnya, "Kerja yang bagus, sekarang ikutilah bawahanku dan kamu akan menerima uangmu senilai 300 miliar tersebut." Walaupun sosoknya menyeramkan, suara yang terdengar adalah suara perempuan dan suara yang keluar dari balik topeng itu agak suram sehingga orang akan merinding ketika mendengarnya. "Setelah aku menerima uangku, aku akan pergi dan aku harap kita tidak akan bertemu lagi." Selama hidupnya, Inggrid jarang takut terhadap orang tetapi hari ini entah kenapa dia takut terhadap sosok bertopeng ini. Insting wanita ini mengatakan bahwa orang ini berbahaya dan dia ingin segera pergi. "Baiklah, ikutilah bawahanku dan dia akan menunjukan di mana uangmu." Setelah Inggrid Elina pergi, sosok perempuan bertopeng ini segera masuk ke sebuah ruangan yang ada di baliknya. Setelah masuk ke ruangan tersebut, wanita itu melepas topengnya dan sosok wanita muda berusia sekitar 20 tahun dengan wajah mungilnya dapat terlihat dengan jelas. Namun, tatapan matanya sedikit mengkerut ketika dia melihat ke sebuah sudut ruangan yang gelap. "Pergilah dan katakan kepada Tuan Bulan Kegelapan bahwa fase pertama bisa dimulai." Chapter 3: Krisis Seorang Istri "Wow, makanan yang ibu buat sangat lezat! Terima kasih Ibu Ipah, aku sangat puas." Kata Randika sambil memegang perutnya yang membesar bagai pesumo. "Syukurlah kalau nak Randika suka sama makanan ibu. Nona sering makan di luar dan ketika makan di sini pun dia jarang mengomentari masakanku. Jadi mendengar orang mengatakan kalau masakanku itu enak membuat hati ibu jadi senang. Kalau nak Randika kepingin makan sesuatu, katakan saja ibu nanti buatkan." "Benarkah? Kalau begitu besok ibu bisa buatkan aku makanan dengan tema kepiting? Sudah lama aku tidak makan kepiting." Ketika mereka berbicara dengan santai, Inggrid telah kembali dan menghampiri mereka. "Selamat datang nona. Apakah Anda sudah makan? Saya sudah mempersiapkan makan malam Anda dan apabila nona mau makan sekarang, saya persiapkan piring dan peralatannya." Ibu Ipah lumayan terkejut karena kedatangan nona mudanya yang secepat ini. Biasanya pemimpin perusahaan Cendrawasih ini akan datang sekitar jam 8/9 malam jadi dia belum mempersiapkan peralatan makan buat nonanya. "Istriku, kemarilah dan duduk di sampingku." Kata Randika sambil berdiri dan menarik kursi untuk ''istri'' tercintanya. Inggrid yang sudah lelah dan hanya ingin bersantai di rumah tiba-tiba mendengar kata-kata ini. Raganya yang sudah lelah akhirnya tersulut oleh api amarah yang muncul dari hatinya. "Kau.. Jangan terlalu kelewatan ya! Ingat posisi kita yang sebenarnya." Inggrid lalu berpikir dalam hati, Walaupun aku menikah denganmu, aku melakukannya demi uang dan ambisiku. Ya setelah tiga bulan aku akan bebas dari siksaan ini dan tetap menjadi wanita terhormat di mata publik. Bagaimanapun juga Inggrid adalah wanita. Dia menganggap bahwa ketika dia memutuskan untuk menikah, dia akan selalu mencintai orang tersebut dan berjuang agar cintanya bertahan sampai dia tua nanti. Dia bahkan sempat berpikir bahwa apabila Randika bertingkah baik selama 3 bulan ini, dia mungkin tidak keberatan meneruskan pernikahan ini. Hal tersebut bukan karena cinta tetapi bagi Inggrid Elina, siapa yang akan menikah dengan dirinya pada akhirnya sama saja. Menurutnya, cinta pada pandangan pertama adalah omong kosong yang terpenting adalah keuntungan yang dihasilkan pernikahannya. Jadi jika Randika bisa mendatangkan keuntungan bagi dirinya, jadi kenapa tidak? Namun, hal tersebut mungkin mustahil tercapai. Melihat tingkah laku Randika yang sekarang, yang ada hanyalah mendatangkan kejengkelan bagi dirinya. Bagaimana mungkin dia bisa tahan dengan lelaki semacam ini? "Posisi? Maksudmu hubungan suami-istri kita? Memangnya salah aku memanggilmu istri? Apakah perlu aku memegang sertifikat pernikahan kita setiap aku memanggilmu?" Randika tertawa dalam hati. Dia sangat memahami karakter Inggrid yang berharga diri tinggi jadi dia sangat senang menggodanya. Melihat reaksi istrinya yang jengkel terhadap dirinya adalah suatu hiburan tersendiri baginya. "Kurang ajarˇ­" Inggrid benar-benar tidak habis pikir dengan lelaki ini. "Ibu Ipah, tidak usah repot-repot menyiapkan. Aku tidak mau makan!" Seketika itu juga, Inggrid langsung menuju kamarnya di lantai 2. Langkah kakinya yang mantap semakin terdengar keras ketika sepatu haknya menyentak dengan keras. Namun setelah melangkah beberapa langkah, Inggrid mulai merasa pusing dan lemas. Setelah itu dia merasa bahwa tubuhnya terhuyung-huyung dan pandangannya semakin buram. Tas tangan yang dia bawa jatuh duluan sebelum akhirnya tubuhnya yang jatuh. Ketika tubuhnya hampir menabrak lantai, dia merasakan pelukan hangat seseorang. Saat dia menoleh ternyata orang yang paling dibencinyalah yang menahan tubuhnya. Inggrid ingin melawan tetapi dia sudah tidak memiliki tenaga untuk melawan dan matanya sudah benar-benar berat. "Istriku kamu kenapa? Jika kamu ingin menikmati pelukan hangatku kau tidak perlu memakai cara seperti ini dong. Kamu bisa saja membuka pintumu di malam hari dan aku tinggal masuk bukan?" Randika mengatakan semua hal ini dengan senyuman menggantung di bibirnya. Lalu dia merasa bahwa tubuh Inggrid sangatlah lembut. Dia menahan tubuh istrinya dengan cara memeluk pinggangnya dan merasa bahwa tubuh istrinya sangatlah ramping. Yang membuat senyuman Randika semakin menungging adalah aroma yang dipancarkan oleh istri tercintanya. Setelah bertahun-tahun berkelana, Randika sudah mengalami dan mengerti banyak hal. Aroma ini bukanlah parfum melainkan aroma badan Inggrid. Menghirupnya dalam-dalam, pelukan Randika semakin kencang dan buah dada Inggrid semakin menempel pada dirinya. Inggrid hendak melawan tetapi dia tidak berdaya sedangkan Randika yang mulai dikuasai pikiran nakal mulai bermain-main. "Ahhhnn ?" Walaupun tubuhnya lemas, saraf tubuhnya masih bekerja dan ketika Randika meremas dadanya dan menggigit telinganya, wanita ini pun tidak dapat menahan desahannya. Semua hal ini berlangsung sekejap dan, entah disengaja atau tidak, wajah mereka berdua sudah semakin dekat seperti mau berciuman. Napas kedua orang ini mulai berat dan terengah-engah. Dengan kesadaran yang mulai menipis, Inggrid masih tidak mengerti mengapa pria ini masih bisa memanfaatkan dirinya meskipun kondisinya seperti ini. ˇ­. Namun, Randika yang mulai terbawa nafsu berpikiran hal lain. Dia menatap Inggrid dengan pandangan penuh arti. Ibu Ipah yang berada seruangan segera menghilang dari pandangan mereka berdua sejak suara desahan nonanya terdengar. Darah mudaˇ­ Mereka sungguh tidak kenal tempat dan tidak kenal waktu. Inggrid benar-benar memiliki pemikiran bahwa apabila dia bisa bergerak bebas, dia sudah memotong tangan Randika. Diperlakukan sedemikian rupa oleh Randika, bagaimana bisa dirinya menerima keadaan ini? Seketika itu juga Inggrid merasa bahwa tubuhnya semakin panas dan akhirnya pingsan. Randika sebenarnya masih ingin meneruskan hubungan panas mereka tapi dia menyadari bahwa ada hal yang aneh. Inggrid tampak tidak bereaksi dan dugaannya benar, rupanya dia telah pingsan. Apakah foreplaynya terlalu keras bagi Inggrid? Sebelumnya Randika mengira bahwa tersandungnya Inggrid adalah tindakan disengaja. Tetapi setelah saat, dia menyadari ada yang aneh dan tidak wajar. Dia lalu menjulurkan satu tangannya dan memeriksa denyut nadi serta melihat pupil mata Inggrid. "Rohypnol? Kenapa kau bisa terkena obat ini?" Sambil berkata seperti itu, dia segera melepaskan jas Inggrid dan membuka beberapa kancingnya agar memperlancar sirkulasi udara. Randika sungguh kaget karena Rohypnol dikenal sebagai obat yang dipakai oleh pemerkosa dan apabila digunakan dalam dosis banyak hal ini bisa menyebabkan kematian. Yang ada di benak Randika adalah mengapa perempuan berharga diri tinggi seperti Inggrid ini mau menerima pemberian orang lain yang tidak dikenal. Ataukah mungkin kenalannya lah yang membiusnya? Sadar akan situasinya, Randika membuang pemikiran siapa pelakunya dan segera membawa Inggrid ke kamarnya. Dia tidak peduli dengan jas dan sepatu yang dia lepas begitu saja saat masih di bawah tangga. Ketika Ibu Ipah, yang melirik mereka secara diam-diam, melihat hal ini, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menghela napas. Dasar anak muda, buru-buru ingin melakukannya sampai-sampai lupa akan dunia dan mengotori ruangan. Setidaknya nona harus makan terlebih dahulu sebelum melakukannya. Waktu adalah segalanya. Jadi Randika tidak segan-segan mendobrak pintu kamar Inggrid dan langsung meletakan istrinya di kasur. Randika langsung melepas pakaian dan rok yang Inggrid pakai dan membuat Inggrid hanya mengenakan dalamannya saja. Untuk sekarang Randika tidak memiliki pikiran aneh-aneh. Meskipun Randika tidak memiliki perasaan apa-apa terhadap Inggrid, dia tetaplah istri pertamanya dan terlebih hidupnya sedang dalam bahaya. Rohypnol adalah semacam obat anti-depresan. Obat ini akan bereaksi 30 menit hingga 1 jam dan efeknya bisa bertahan sampai 12 jam. Meskipun kasus kematian tidaklah tinggi, namun dilihat dari reaksi yang ditunjukan oleh Inggrid menunjukan bahwa dia telah menerima dosis tinggi. Overdosis Rohypnol bisa menyebabkan gangguan keseimbangan, perilaku agresif serta berpotensi koma ataupun kematian. Tidak bisa menemukan cara lain, Randika hanya memikirkan satu cara yaitu ramuan X. Ramuan X berguna untuk menekan kekuatan misterius di dalam tubuh Randika jadi ramuan ini seharusnya juga bisa menekan efek dari racun. Setelah mengambil ramuan X dan menyuntikkannya pada Inggrid, Randika duduk dan menjulurkan tangannya pada punggung Inggrid. Dia menutup matanya dan berkonsentrasi. Saat ini, dia menyalurkan tenaga dalamnya untuk mengontrol dan memulihkan kondisi Inggrid. Dengan hal ini, seharusnya nyawa istrinya bisa terselamatkan. Setelah 15 menit berlalu, ruangan kamar Inggrid tampak bersinar sedangkan Randika terlihat pucat dan bibirnya kering dan pecah-pecah. Perlahan, Inggrid mulai mendapatkan rona wajahnya dan kesadarannya kembali. Ketika dia membuka matanya dan melihat sesosok pria, dia tanpa sadar langsung menendangnya. DUAK! Karena masih berkonsentrasi, Randika tidak siap akan serangan istrinya itu dan terjatuh dari tempat dia duduk bersila sebelumnya. Saat ini, mata Randika sangat merah dan bibirnya mulai meneteskan darah. Dia tidak menyangka bahwa penyaluran tenaga dalam ini akan sangat menguras tenaganya dan lebih mengejutkannya lagi tendangan istrinya itu cukup kuat untuk membuat dirinya melayang. Sesaat kemudian, kekuatan misteriusnya dalam tubuhnya mulai mengambil alih. Karena tenaga dalamnya terpakai untuk menyelamatkan Inggrid, Randika tidak bisa menahan kekuatan ini dan kesadarannya mulai diambil alih. Pada dasarnya Randika adalah seorang ahli bela diri. Setiap hari dia akan menghadapi situasi hidup dan mati. Dan mendapatkan serangan tendangan dari istrinya, instingnya membuat dirinya menerkam musuhnya. Chapter 4: Aku Benci Kamu! Tubuh Randika sudah diambil alih oleh kekuatan misteriusnya itu dan dia sudah tidak sadarkan diri. Ketika kesadaran lainnya ini melihat tubuh indah Inggrid Elina yang hanya berbalut pakaian dalam, pikirannya secara otomatis membuatnya menerkam wanita tersebut. Setelah menerkam, Randika bukannya menghajarnya melainkan mulai bermain-main dengan tubuh indah istrinya dan mulai menjilati leher putih istrinya itu. Pada saat ini, Inggrid sudah memulihkan kesadarannya meskipun dia masih sedikit lemas. Karena lawannya seorang pria, bagaimana bisa dia melawan? Apalagi Randika ''menyerang'' dirinya pada titik-titik erotisnya. Sebagai hasilnya, Inggrid hanya bisa pasrah tubuhnya dijelajahi oleh Randika. "Tidak ˇ­. Ahhh ˇ­ Hentikan!!" Saat ini, tangan Randika sudah meremas-remas dada Inggrid bahkan mencapit dan menarik kedua pucuknya. Inggrid berusaha melawan dengan meronta-ronta tapi hal itu tampak percuma. Mengetahui bahwa mangsanya meronta-ronta, Randika segera menahan kedua tangan Inggrid dengan satu tangan sambil terus menjelajahi tubuh indah istrinya. Tidak tahan dengan omelannya, Randika pun mencium paksa Inggrid. Karena tidak mau terlalu intim, Inggrid segera menggertakan giginya tidak mengijinkan lidah mereka bertemu. Apabila benar-benar terjadi, dia takut akan kalah oleh hawa nafsu dan menyerah kepada pria kekar itu. Saat ini, Inggrid merasa bahwa pikirannya mulai kosong dan desahannya semakin lama semakin keras. Sambil terus bertahan terhadap lidah Randika yang hendak masuk, dia merasa tubuhnya terus-terusan dipegang, diremas, bahkan kedua tangannya ditahan oleh Randika. Dia merasa tidak berdaya. Setelah meronta-ronta beberapa menit lagi, Inggrid akhirnya menyerah. Randika memanfaatkan hal ini dan menemukan lidah Inggrid yang sudah lama dia cari. Sambil terus memainkan lidahnya, dia merasa bahwa air liur istrinya sangatlah banyak dan itupun mulai menetes ke kasur. Sesekali dia akan beralih ke kuping ataupun leher Inggrid. Situasi mulai semakin memanas dan napas mereka benar-benar terengah-engah dan berat. Inggrid merasa bahwa dirinya telah ditindih oleh sebuah gunung. Dan setiap tarikan napasnya membawa kembali sensasi nikmat ke dalam otaknya. Namun alam sadarnya masih belum menyerah. Memikirkan bagaimana hal ini akan berlanjut, setetes air matanya mulai keluar dari sudut matanya. ''Apakah keperawananku akan diambil oleh orang yang baru kukenal dan kubenci ini?'' Inggrid benar-benar tidak berdaya dan dia pun pasrah terhadap nasib yang akan dihadapinya. Untuk pertama kali dalam hidupnya, dia merasa tidak berdaya. ''Baiklah, aku akan memberikan tubuhku padamu karena berkatmu aku mendapatkan 300 miliar.'' Pikirnya Tetapi apakah kesuciannya yang telah dia jaga ini bisa dibeli dengan uang? Apakah dirinya wanita semacam itu? Memikirkan hal ini hati Inggrid terasa sangat sakit. Semakin banyak air mata yang berkucuran dan Inggrid sudah menutup matanya, pasrah dengan apa yang akan terjadi berikutnya. Ketika Randika hendak melucuti bawahan milik istrinya, dia merasakan tetesan air mata mengenai wajahnya dan melihat wajah Inggrid dipenuhi oleh air mata. DUAR! Seakan-akan pikirannya telah dibom, akhirnya akal sehat Randika telah kembali. Melihat wajah Inggrid yang pucat dan penuh air mata, membuat Randika merasa bersalah. Kenapaˇ­ Kenapa aku melakukan hal serendah ini? Kenapa melihat wajah ini sedih aku pun ikut sedih? Aku baru berkenalan dengan wanita ini dan diriku sudah menjadi semacam binatang buas sampai-sampai memaksanya melakukan hal yang tidak dia inginkan? Inggrid yang sudah pasrah merasakan bahwa genggaman erat yang menahannya sudah tidak ada dan mulai membuka matanya. Hal yang dia lihat hanyalah sosok Randika yang hilang dari balik pintu. Merasa bingung dan lelah, dia mulai mengusap air matanya dan melihat sekelilingnya. Dia berusaha mengingat apa yang telah terjadi. Namun, semakin dia mengingat semakin dia teringat kejadian traumatik yang habis dia alami. Alhasil, air mata tidak bisa berhenti keluar dari matanya. Setelah tenang sedikit, dia menyadari di dekat tangannya ada bekas darah. Dia pun bingung apakah dirinya telah terluka? Tampaknya ini bukan darah miliknya jadi ini pasti punya pihak lain. Saat dia sadar pertama kalinya, pandangan Inggrid masih buram dan pada saat itu dia tidak melihat wajah Randika. Dia lalu memikirkan kembali apa yang bisa diingatnya sebelum dia tiba-tiba sadar di kamarnya bersama Randika. Seberapa kerasnya dia berpikir, dia tidak menemukan apa-apa. Merasa pusing, dia pun rebahan dan menemukan sebuah alat suntik di samping tempat tidurnya. Kaget, dia langsung mengecek lengannya dan menemukan ada bekas jarum suntik. "Apa maksudnya ini? Apakah ini perbuatannya?" Inggrid benar-benar tidak mengerti. Apakah semua ketidak berdayaan dirinya ini karena ulah Randika? Atau apakah ada hal lainnya? "Randika, aku memang benar-benar membencimu." ˇ­.. Randika segera masuk ke kamarnya dan mengunci pintu tanpa mengatakan apa pun. Yang dibutuhkannya sekarang adalah suasana tenang. Tenaga dalam di dalam dirinya bergejolak. Jika dia tidak segera menenangkannya, hal ini bisa gawat. Terlebih, tanpa tenaga dalamnya kekuatan misterius di dalam tubuhnya akan meledak dan mengambil alih dirinya. Biasanya dengan bantuan ramuan X dia bisa menekannya dengan bantuan tenaga dalamnya. Tetapi untuk menyelamatkan Inggrid sebelumnya, Randika menggunakan ramuan X yang tersisa sedikit dan menggunakan sebagian tenaga dalamnya untuk memperlancar proses penyembuhannya. Apabila kondisi tubuhnya sekarang terus berlangsung seperti ini, bisa-bisa dia tidak akan bertahan lama. Dia sendiri tidak tahu mengapa memiliki kekuatan misterius ini di dalam tubuhnya, tapi yang dia tahu ketika kekuatan misterius ini mengambil alih tubuhnya 100%, kemungkinan besar dia akan mati. Jadi selama ini ketika dia bertarung, dia tidak akan bertarung sekuat tenaga karena dia harus menyisakan tenaganya untuk mengontrol kekuatan misterius ini. Dia selama ini juga telah menggunakan sumber dayanya dan waktunya untuk mengembangkan ramuan X. Namun, ramuan X hanyalah solusi jangka pendek. Dia masih belum menemukan solusi sebenarnya. Selama dua jam, dia merasa bahwa tenaganya telah pulih sedikit dan dirinya mulai kembali tenang. Setidaknya sekarang dia tidak akan muntah darah dan bisa beristirahat dengan tenang. "Tenang ini bukan apa-apa. Hal ini terjadi karena aku lengah dan persediaan ramuan X tinggal sedikit. Rasanya aku harus meminta Yuna untuk mengirimnya lebih cepat." Setelah menenangkan dirinya, dia pun segera membuka komputer dan mengontak Yuna. Randika aslinya tidak mau bergantung pada ramuan X ini. Ketika dia kembali ke Indonesia, dia hanya membawa 3 botol dan dia pun berhemat mungkin dalam meminumnya. Di saat kekuatan misterius itu bergejolak, dia akan menahan terlebih dahulu sebelum akhirnya meminum ramuannya. Setelah menyelamatkan nyawa Inggrid, persediaannya sudah benar-benar habis. Tring Video chat Randika telah diterima oleh Yuna tetapi layar komputer Randika tetap hitam, tidak ada sosok Yuna. Apakah Yuna membiarkan komputernya menyala? Setelah 1-2 jam menunggu, akhirnya Yuna muncul. Namun, penampilan Yuna sangat acak-acakan dan tampak penuh luka. "Yuna!! Ada apa? Apa kau baik-baik saja?" Mendengar suara familiar yang didengarnya membuat Yuna meneteskan air mata. Wajahnya yang awalnya terlihat serius itu segera berubah menjadi berantakan. "Tuan aku minta maaf. Markas kita telah hancur dan ˇ­ " "APA?" Sebelum Yuna bisa menjelaskan, sentakan Randika benar-benar membuat telinga Yuna mati rasa dan dia pun menundukan kepalanya sambil menangis. Markas hancur? Bagaimana markas rahasia Randika yang dijaga ketat keberadaannya bisa hancur? Bukannya sombong, tetapi markas rahasia miliknya bahkan tidak bisa ditembus oleh pasukan elit negara manapun. Apakah ini berarti pasukan beberapa negara bersatu melawan dirinya? "Bagaimana dengan ramuan X? Apakah ramuan X selamat?" Selain keselamatan para bawahannya, ramuan X adalah hal paling penting yang dia khawatirkan. Tempat pengembangan ramuan ini bahkan lebih ketat lagi penjagaannya. "Maaf tuan, target mereka adalah ramuan X. Sebagian besar markas tidak disentuh. Mereka hanya menarget tempat ramuan X berada. Baik lahan obat, peneliti dan semua informasi mengenai ramuan X sudah mereka hancurkan tanpa tersisa." Yuna mengatakan semua hal ini dengan badan yang bergetar dan isak tangis yang hebat. Dia tahu bahwa ramuan ini sangatlah berarti bagi tuannya. Apalagi setelah melirik raut muka Randika yang begitu marah, Yuna benar-benar sudah siap mati. Tidak ada makhluk hidup yang sanggup menghadapi amarah sang Ares. "Siapa?" Randika tanpa sadar menampar keras mejanya. "Bajingan mana yang berani melakukan ini semua?" Randika berusaha meredam kemarahannya yang meluap-luap dan tenaga dalamnya yang mulai pulih tersebut memancarkan aura membunuh yang kuat. "Diaˇ­ Bulan Kegelapan." Yuna tampak ragu mengucapkan nama tersebut. "Bulan Kegelapan? Yuna kamu pikir aku bocah ingusan atau jangan-jangan kamu tidak tahu siapa pelakunya? Mana mungkin dia bisa melakukan semua hal ini mengingat kekuatannya yang cuma seperti itu? Bahkan dia berkhianat pun, apa memangnya pecundang itu bisa lakukan? Aku sudah mempercayakan markas padamu dan Harimau. Kekuatan bela diri Harimau setara bahkan lebih hebat daripada Bulan Kegelapan. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan semua ini?" Setelah Randika selesai berbicara, Yuna hanya terdiam dan tubuhnya bergetar. Keringat dingin menetes dari dahinya. Melihat Yuna yang gugup dan tampak ketakutan, Randika memiliki dugaan tersendiri. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menghela napas dengan berat. "Jangan-jangan Harimau juga terlibat? Bocah itu selama ini selalu tunduk padaku, siapa sangka ada orang yang bisa membuat dirinya menjadi seberani itu hingga mengkhianatiku?" Yuna yang mendengar ancaman Randika segera berlutut dan membungkuk dalam-dalam, "Maafkan aku tuan. Aku sampai menyusahkan tuan dan terlebih aku tidak bisa menghentikan Harimau. Aku akan menyelesaikan masalah suamiku itu dengan caraku sendiri. Ketika semua ini berakhir, aku akan membayar tuan setiap rupiahnya!" Jujur saja, Yuna tidak bisa melihat jalan keluar bagi dirinya selain mati. Suaminya berkhianat, ramuan X hancur tanpa tersisa dan terlebih semua ini terjadi di bawah tanggung jawabnya. Mengingat temperamen Randika, yang ada hanyalah kematian. Melihat Yuna yang sangat menyesal, Randika tidak tega menyalahkan hal ini semua kepada Yuna. Dia sendiri tahu bahwa Yuna adalah orang yang paling bisa dia percaya di muka bumi ini. Menahan dirinya untuk tidak marah, Randika berusaha tersenyum pada Yuna, "Yuna berdirilah. Yang penting kamu selamat dan tidak apa-apa. Semua sudah terjadi dan kita harus menatap masa depan. Aku minta tolong padamu untuk membangun kembali markas di tempat yang baru dan segeralah membuat ramuan X dalam satu bulan. Mengenai Bulan Kegelapan dan Harimau, serahkan mereka padaku. Fokuslah untuk membangun kembali markas kita." Setelah ucapan terima kasih Yuna, Randika segera mematikan komputernya dan membuka jendela kamarnya. Sambil menghirup udara malam yang dingin, dia melihat sebuah bayangan yang bergerak di tengah kegelapan malam. "Hmmm.. cepat sekali. Sepertinya musuh kali ini bertindak dengan cepat dan efisien. Seharusnya semua serangan ini sudah dipersiapkan sejak lama." Chapter 5: Hanya Kamu Sendirian? Hari sudah gelap. Lampu-lampu setiap rumah sudah mulai menyala semua. Orang-orang mulai mengantuk dan beristirahat di kamar mereka masing-masing. Inggrid pun tidak luput dari hal ini. Hari ini dia merasa lebih lelah daripada biasanya. Bisa dikatakan bahwa beberapa hari ini adalah hari-hari yang sangat melelahkan dalam hidupnya. Namun dari balik semua kegelapan yang hening ini, sebuah sosok manusia dapat terlihat sedang berdiri diam di sebuah atap rumah. Dia bukanlah maling pakaian dalam yang tidak bisa turun, dia tidak lain adalah Randika. Randika terlihat seperti serigala kesepian yang sedang mengawasi teritorinya. Setelah beberapa saat, dia melesat dan menjauh dari kediaman Inggrid. Di belakangnya, dari balik bayangan pula, beberapa sosok mulai mendekatinya secara perlahan dan diam-diam. Namun setelah beberapa saat, tiba-tiba Randika berhenti dan mengatakan, "Keluarlah, aku tahu kalian sudah mengikutiku." Randika yang sudah bergerak bagai angin telah bergerak sejauh 1 km hanya dalam 1 menit. Dia telah berhasil memancing mereka ke tempat yang sepi. Setelah beberapa saat, beberapa sosok berbaju hitam keluar dari balik bayang-bayang. Melihat penampilan mereka, Randika mengatakan, "Kalianˇ­ Mafia Italia?" Para orang berbaju hitam ini saling memandang satu sama lain. Mungkin mereka tidak mengira bahwa dalam sekali tatapan mata, identitas mereka akan terbuka begitu saja. Dengan satu anggukan kepala dari pemimpin mereka, para pembunuh dengan baju serba hitam ini segera mengeluarkan senjata mereka dan menerjang Randika. Bagi pembunuh profesional, yang paling penting hanyalah keberhasilan misi mereka. Mereka tidak akan peduli mau identitas mereka ketahuan ataupun kedatangan mereka sudah diketahui. Kesalahan apa pun bisa diampuni apabila misi utama mereka telah berhasil. Apalagi dalam misi mereka terdapat faktor X yang bisa membuat misi mereka tidak berjalan mulus contohnya saja adanya keterlibatan pihak ketiga ataupun misi yang dilaksanakan di luar teritori mereka. Hanya karena Randika berhasil mengetahui identitasnya, hal ini tidak membuat mereka ragu untuk menuntaskan misi mereka. Randika yang melihat formasi dan kecepatan mereka segera menganalisa daya tempur musuh. Mereka jelas bukan orang sembarangan. Lawannya kali ini adalah Mafia Italia yang dipimpin oleh 12 kepala keluarga. Konon, 1/2 Italia telah menjadi milik mereka baik itu di jajaran politik maupun hukum. Karena mereka telah repot-repot mengirim pembunuh mereka ke Indonesia, tentulah yang dikirim bukanlah orang sembarangan. Persenjataan para pembunuh ini terbilang lengkap. Ada yang memakai pedang, pisau dan tongkat logam. Semua senjata tersebut memancarkan kilau dingin dan aura membunuh. Dalam sekejap, sebuah bayangan sudah berada di depan Randika sambil menggenggam erat pedangnya. Pedang tersebut mengarah kepada perutnya. Apabila orang yang berdiri di posisi Randika adalah seorang prajurit terlatih pun, mungkin dia sudah berdoa dan meminta maaf atas dosa-dosanya kepada Yang Maha Kuasa. Serangan pertama lawan telah dilancarkan! Randika yang sudah mengalami ratusan pertarungan menghadapi serangan ini dengan kepala dingin. Dia segera mengelak dari tusukan orang tersebut dan menendang orang tersebut hingga terpental jauh. Orang tersebut berguling-guling di tanah namun segera bangkit kembali. Anehnya, dia seakan tidak merasakan tendangan keras Randika. Tidak mempedulikan debu dan darah yang ada di wajahnya, pria ini segera menerjang kembali pada Randika. Randika merasa ada yang aneh. Seharusnya tendangannya itu sudah mematahkan beberapa tulang musuhnya. Akhirnya dia tersadar sesuatu. "Hmm.. Obat penguat ya? Kalian meminumnya sampai-sampai menghilangkan saraf sakit kalian? Sudah kuduga bahwa mafia Italia bukan orang sembarangan, kalian pasti sudah mempersiapkan semua ini sejak lama!" Tidak ada penjelasan lain terhadap situasi musuhnya ini. Mereka bahkan tidak memancarkan rasa takut, rasa sakit, ataupun emosi-emosi lainnya ketika orang bertempur dengan nyawa sebagai taruhannya. Melihat hal ini, Randika segera memasang kuda-kuda bertarungnya. Dia tahu bahwa pertarungan ini akan berlangsung sengit dan dengan banyaknya orang yang ada, dia tidak boleh mengendurkan kewaspadaannya. Dugaannya betul. Musuh yang sarafnya sudah mati rasa ini segera menerjang Randika secara bersamaan dengan formasi menyerang mereka yang terpadu. Randika hanya bisa bertindak defensif. Tapi defensif belum tentu tidak bisa menyerang. Di sela-sela menangkis serangannya, Randika akan memberikan serangan balasan yang cukup fatal seperti mengincar dada ataupun perut lawannya. Dengan menghancurkan beberapa tulang, keefektifan serangan musuh akan berkurang setidaknya 20% sehingga Randika bisa mengikis perlahan kekuatan musuh. Setelah beberapa menit bertukar serangan, Randika merasa ada yang aneh dengan serangan musuh-musuhnya ini. Seakan tujuan mereka bukanlah membunuh dirinya melainkan mengulur waktu dan menghabiskan stamina dirinya. Apakah orang-orang ini menyadari bahwa ada kekuatan misterius di tubuhnya? Apakah mereka ingin membuat dirinya lepas kendali? Memikirkan kelemahannya ini, Randika mau tidak mau harus menyelesaikan hal ini dengan cepat. Tidak ada cara lain selain membunuh mereka. Tapi bagaimana bisa? Mereka bergerak dalam formasi dan kecepatan mereka juga tidaklah biasa. Terlebih, Randika tidak membawa senjata jadi membunuh mereka terbilang agak sulit. ''Oke, fokuslah terhadap satu orang dulu, rebut senjatanya dan perlahan kurangi jumlah musuh'' pikir Randika Trang! Randika berhasil menangkap satu orang dan membuat pisau yang digenggamnya jatuh. Setelah membanting lawannya, Randika segera mengambil pisau tersebut dan menikam lehernya. Satu orang terbunuh. Namun Randika tidak bisa menikmati momen kemenangannya ini. Ketika dia mencabut pisaunya, dia sudah menerima tendangan yang datang dari punggungnya. Apabila ini hari-hari sebelumnya, mungkin Randika hanya akan tertawa dan mengejek lawannya untuk menendang dirinya lebih keras. Namun hari ini berbeda. Tenaga dalamnya sudah terkuras ketika menyelamatkan Inggrid sebelumnya. Tenaganya tinggal 60% dari biasanya. Belum lagi, dari tadi dia mendapatkan serangan gabungan dari formasi tempur lawannya. Itulah mengapa Randika daritadi tidak melawan dan bersifat defensif. Dia tidak ingin membuang-buang tenaga untuk mengejar musuhnya. Namun, sekarang dia merasa dirinya dalam bahaya dan dia tidak boleh terbawa oleh ritme musuh. Randika yang sudah berdiri kembali menatap semua musuhnya dalam-dalam. Matanya memancarkan aura membunuh yang kental. Hanya satu tendangan yang dia terima tetapi hal itu sudah menyulut hawa membunuhnya hingga ke tingkat ekstrim. Rasa sakit? Tidak! Dia tidak akan mengijinkan musuhnya merasakan hal tersebut. Secara cepat Randika melesat bagai cahaya hitam. Setiap tubuh yang dilewati cahaya hitam ini akan meninggalkan segenang darah dan anggota tubuh yang jatuh. Cepat dan akurat! Setiap tebasan Randika berhasil membunuh musuhnya dan hanya butuh waktu 2 menit untuk membunuh semua musuhnya. Sosoknya yang terlihat mengerikan dan napas terengah-engahnya yang sangat berat membuat musuhnya teringat akan legenda dewa pembunuh dari dunia bawah tanah. Setiap langkah yang diambil sang dewa, satu tubuh tanpa kepala akan tergeletak. Randika, yang bersimbah darah mulai dari wajah hingga bajunya, menatap kembali pada mayat musuh-musuhnya. Saat ini mungkin dia terlihat kuat dan mengerikan, tetapi di balik topengnya ini dia sudah sangat kesakitan dan kekuatan misterius dalam tubuhnya mulai meronta-ronta. Dalam acara pembantaiannya ini, dia hampir menggunakan seluruh tenaga dalamnya. Mungkin tanpa ramuan X yang diminumnya sehari yang lalu, kekuatan misterius dalam tubuhnya sudah mengambil alih tubuhnya. Di saat dia berusaha menenangkan diri, sebuah suara tepuk tangan terdengar. Plak! Plak! Plak! Randika yang masih berdiri diam di tengah genangan darah membelakangi sosok yang bertepuk tangan tersebut. "Luar biasa! Nama dewa perang dari dunia bawah tanah sangatlah luar biasa! Bravo! Legenda tentang kau membunuh tim pembunuh ayahku yang berjumlah 1000 orang ternyata bukanlah isapan jempol. Tidak ada yang berani melawanmu sejak saat itu. Tidak heran tim pembunuhku tidak bisa apa-apa. Sekali lagi kuucapkan Anda memang luar biasa!" Suara orang ini terdengar sangat menjengkelkan dengan aksen aneh seperti suara perempuan. Tapi Randika tahu bahwa dia adalah laki-laki karena suara ini sudah pernah dia dengar sebelumnya. "Naoki Moretti. Sang bocah akhirnya lepas dari pelukan ibunya ya. Berani-beraninya kau datang menghadapiku!" Randika sangat mengenal Naoki Moretti. Anak dari Sylvester Moretti, salah satu kepala keluarga dari 12 kepala keluarga mafia Italia, Naoki merupakan keturunan Jepang yang berasal dari ibunya. Selama hidupnya dia sudah berada di bawah naungan ayahnya dan posisi ayahnya akan diteruskan olehnya. Dengan figurnya yang seperti perempuan, wajahnya sangat putih dan mungil seperti orang Asia. Dia terlihat cantik. Jika dia adalah perempuan maka dia akan menjadi rebutan banyak lelaki di dunia. Tetapi ketika Randika melihat dirinya, dia langsung memasang kuda-kuda karena dia tahu bahwa lawannya ini sangatlah berbahaya. Bisa dikatakan bahwa Naoki Moretti berada di peringkat 20 dari ranking para Dewa. Di dunia ini, terdapat manusia-manusia yang berada di puncak ilmu bela diri. Maka dari itu, munculah sebuah daftar yang meranking para talenta ini. Terdapat tiga daftar yang membedakan daya tempur mereka yaitu Dewa, Manusia Peranakan dan Manusia. Dalam ranking Dewa ada 100 daftar nama, Manusia Peranakan 1.000 nama dan Manusia ada 10.000 nama. Namun, di atas mereka masih ada sebuah daftar yang melampaui mereka semua dan mereka dikenal sebagai 12 Dewa Olimpus. Orang-orang yang benar-benar bisa dikatakan mendekati ranah Dewa sesungguhnya. Randika berada di daftar nama tersebut. Dia dikenal sebagai Ares, sang dewa perang. Dalam daftar 12 Dewa Olimpus, perbedaan kekuatan di antara mereka sudah sangat kecil. Jadi apabila mereka diurutkan oleh sebuah nomor, mungkin hal ini akan menyebabkan perdebatan di antara mereka mengenai siapakah yang paling terhebat dan bisa-bisa akan terjadi pertarungan yang mengguncang bumi hingga tersisa 1 orang. Randika bisa masuk dalam daftar ini disebabkan oleh pencapaian tidak masuk akalnya yang telah membantai 1000 orang yang dikirim Sylvester Moretti dalam semalam. Karena hal ini Randika dikenal sebagai Ares sang Dewa Perang dari dunia bawah tanah karena sosoknya yang bersimbah darah setelah membantai lawannya. Dihadapkan beratus-ratus situasi hidup dan mati, Randika tentu tidak takut dengan sosok Naoki Moretti seorang. Tapi hari ini berbeda, hari ini dia berada di kondisi terlemahnya. "Ares oh Ares, kenapa kau memasang wajah garang seperti itu? Apakah kau berusaha memancarkan aura pembunuhmu ataukah kamu menahan rasa sakit?" Dengan kata lain, Naoki mengetahui bahwa kondisi Randika tidak dalam kondisi prima. "Kamu kira aku keluar hari ini adalah suatu kebetulan? Kamu kira hancurnya markasmu juga kebetulan? Akulah yang melakukan semua itu! Akulah yang akan mengakhiri hidupmu dan meneruskan nama Ares yang tidak pantas kau sandang!" Naoki Moretti segera memancarkan aura membunuhnya dan tatapan matanya menjadi serius. Melihat hal ini, Randika cuma menyeringai dan berkata dengan nada ejekan, "Hahaha, yang datang cuma kamu? Naoki, bocah sepertimu mana mungkin bisa menghancurkan markasku kalau sendirian? Kalau cuma bocah bau kencur sepertimu, sudah lama aku mengirimkan ayahmu bunga untuk pemakamanmu!" Setelah Randika mengatakan itu, tatapan mata Naoki semakin menajam. Chapter 6: Mari Kita Bertarung! Perkataan Randika sangatlah blak-blakan dan lugas. Sudah jelas bahwa kau, Naoki Moretti, hanyalah seorang bocah ingusan yang masih menikmati momongan orang tua itu mana mungkin bisa menghancurkan markasku sendirian? Tentu kau pasti mendapat bantuan orang lain. Mengerti arti dari perkataan Randika, Naoki tidak terpancing dan berkata sambil tertawa, "Haha, Ares kau pikir aku memiliki pemikiran sedangkal itu? Tentu saja aku tahu bahwa diriku bukan lawanmu baik dalam kondisimu yang seperti sekarang ini ataupun saat kau sedang prima. Oleh karena itu, aku menunggu saat-saat terlemahmu seperti ini dan membawa kekuatan besar lain yang bisa menghabisimu!" Setelah berkata demikian, dua orang muncul di balik Naoki. Sosok kedua orang ini tidak asing bagi Randika. Bisa dikatakan bahwa beberapa tahun terakhir ini, mereka sudah dianggap saudara oleh Randika. Yang membuat bingung Randika adalah kenapa mereka bisa datang secepat ini ke kota Cendrawasih? Bukankah barusan mereka menghancurkan markasnya yang ada di luar negeri? "Adik Harimau dan Bulan Kegelapan, berani-beraninya kalian menantangku?" Randika terlihat menggelengkan kepalanya. Meskipun dia kecewa karena ditikam dari belakang oleh kedua orang yang dianggapnya dekat ini, dia masih merasa bersalah terhadap Yuna. Awalnya, Randika lah yang menjodohkan Yuna dengan Harimau. Sekarang Harimau malah berkhianat terhadap dirinya dan meninggalkan Yuna seorang diri. Randika khawatir bahwa Yuna akan merasa bersalah terhadap semua ini karena tidak bisa melihat niatan asli suaminya. "Jangan terlalu tegang seperti itu, sebentar lagi kau akan bisa beristirahat dengan tenang di alam sana." Kata Bulan Kegelapan. Harimau tampak terdiam. Dia hanya melirik tajam ke arah bosnya terdahulu dan ''kakak''nya itu. Mungkin karena mereka telah menjalani situasi hidup dan mati bersama-sama setelah bertahun-tahun, Harimau masih belum bisa melupakan semua itu dan berusaha membulatkan tekadnya. "HAHA! Cecunguk seperti kalian tidak akan pernah bisa membunuhku." Sambil berkata seperti itu, Randika mengacungkan jempolnya ke bawah kepada mereka bertiga. Tidak tahu diri! Ketiga orang ini benar-benar tidak sadar akan posisi mereka. Mendengar ejekan Randika, Bulan Kegelapan terpancing emosinya. Badannya bergetar dan aura tubuhnya mulai memancarkan niat membunuh yang besar. "Oke, mari kita lihat seberapa hebat dirimuˇ­" Setelah mengatakan hal tersebut, Bulan Kegelapan segera melesat menjadi bayangan. Dia mendapatkan nama tersebut karena dia bisa menyatu dengan kegelapan malam berkat kecepatannya yang tidak bisa diikuti oleh mata telanjang. Orang biasa mungkin hanya bisa melihat kilau pisaunya yang sudah menebas leher mereka. Kekuatan dari ranking 15 dari daftar Dewa memanglah bukan main-main. Tentu reputasi seperti itu disertai dengan kemampuan yang memadai. Namun, lawannya kali ini adalah sang Dewa Perang Ares. "Hmmm boleh juga." Randika yang melihat Bulan Kegelapan bergerak cepat itu segera menganalisa pergerakan musuhnya. Meskipun musuhnya cepat, apakah itu akan membuat dirinya bergetar ketakutan? Randika mengulurkan lengannya dan sebilah pisau keluar dari tangannya. ... Jleb! Terdengar suara pisau yang tertanam di tubuh orang. Di tengah-tengah udara, muncul sesosok tubuh pria yang hendak terjatuh ke tanah. Apabila diperhatikan dengan baik, terdapat pisau yang menancap di dada orang tersebut. Satu seranganˇ­ Satu serangan dan salah satu anggota Dewa telah mati begitu saja. Dia telah mati mengenaskan hanya karena satu serangan Randika. Naoki dan Harimau yang melihatnya benar-benar tercengang. Informasi yang mereka terima harusnya mengatakan bahwa Randika sedang dalam kondisi terlemahnya. Bagaimana mungkin rekan mereka akan mati hanya dalam 1 serangan? Sedangkan Randika, wajahnya benar-benar terlihat garang dan tatapan matanya memancarkan aura membunuh yang hebat. Sejujurnya, dia sedang menahan dirinya untuk tidak muntah darah. Sebelum serangan ini, dia tahu bahwa kekuatannya sudah hampir mencapai ambang batasnya jadi dia perlu menyelesaikan masalah ini dalam satu serangan. Dia juga berharap bahwa dengan tidak berdayanya Bulan Kegelapan, kedua musuhnya itu akan kehilangan niatnya untuk bertarung. Meskipun serangan Bulan Kegelapan sangatlah cepat, kekuatan yang terkandung di dalamnya tidaklah terlalu kuat jadi dia mengandalkan akselerasinya untuk membuat momentum. Tapi semuanya itu tidak akan berdaya apabila dihadapkan dengan serangan yang lebih cepat darinya. Dan hanya dengan begitu saja, serangan Randika yang lebih cepat telah menusuknya tepat di dada. Namun meskipun dirinya berhasil membunuh Bulan Kegelapan, Randika masih belum bisa santai. Rasa waspada ini bukan berasal dari Naoki maupun Harimau tetapi sesosok yang bersembunyi di balik bayangan. Oleh karena itu, dia tidak boleh terlihat lemah dan terus memasang muka garangnya, "Lho segitu saja? Ayo sini maju, kuhabisi kalian berdua." Randika harus memanfaatkan ketakutan mereka berdua untuk menghindari pertarungan tidak perlu. Dan betul saja, kedua tubuh Naoki dan Harimau bergetar ketika Randika menantangnya. Ketakutan Naoki itu membuat kakinya lemas dan tidak bisa bergerak. Namun, dia lebih takut lagi apabila dia lari dan membelakangi Randika, sebilah pisau akan melayang ke arahnya dan menancap di punggungnya. Harimau malah terlihat seperti orang bodoh. Dia merasa bahwa dirinya benar-benar bodoh karena bagaimana bisa dia tidak bisa menyadari kekuatan Randika meskipun telah bersamanya bertahun-tahun. Satu serangan dan Bulan Kegelapan mati! Apabila dibandingkan, Harimau memang sedikit lebih kuat dari Bulan Kegelapan. Namun dalam hal kecepatan, dia masih kalah. Randika sedang terluka dan tidak berada dalam kondisi puncaknya, namun dia masih bisa membunuh Bulan Kegelapan dengan mudah. Apakah informasi yang dimilikinya ini salah? Baru sekarang Harimau mengerti bahwa julukan Ares bukanlah hanya sekedar isapan jempol. "Kalian semua jangan bergerak!" Pada saat ini, terdengar teriakan dari suara yang dingin. Akhirnya pihak ketiga bergerak? Mendengar hal tersebut membuat Naoki Moretti sadar dari ketakutannya. Mendengar bahwa ada puluhan derapan kaki, dia segera mundur bersama Harimau. Anjing yang kabur sangatlah cepat apalagi orang yang berdiri di puncak dunia ilmu bela diri. Apabila mereka memutuskan untuk kabur, keberhasilan menangkap orang-orang ini sangatlah rendah. Randika tidak repot-repot berusaha mengejar mereka. Dia masih dalam keadaan waspada ketika menoleh ke arah suara tersebut. Seorang wanita dengan baju serba hitam segera muncul di jarak pandangnya. Meskipun diselimuti oleh kegelapan malam, kemolekkan tubuh wanita ini tidak bisa disembunyikan. Sayang, mukanya tidak dapat terlihat dengan jelas. Randika masih memasang kuda-kuda bertarungnya. Dia memiliki firasat bahwa perempuan ini lebih merepotkan dari musuhnya sebelumnya. "Tuan Ares, mengapa Anda memancing keributan? Apakah kau datang ke Indonesia untuk membuat kekacauan atau untuk menetap di sini?" "Haha.. Aku tidak bermaksud seperti begitu. Aku hanya ingin mencari istri di Indonesia karena kudengar di sini banyak perempuan cantiknya." Randika merasa bahwa niat lawannya ini tidaklah buruk jadi dia segera mengendurkan kekuatannya. Dia pun menjawab pertanyaan itu dengan santai. Randika sudah mengalami pertempuran hidup dan mati, jadi dia tahu mana situasi berbahaya dan yang tidak. Kali ini, pihak lain hanya ingin mengorek informasi. "Oh? Benarkah begitu? Aku khawatir bahwa perempuan Indonesia suka dengan pria lembut dan baik. Jadi aku rasa mereka akan kurang begitu suka denganmu." Nada perempuan ini masih dingin, yang di mana membuat Randika sedikit tidak senang mendengarnya. "Oya? Kenapa yang aku temui tidak seperti itu ya? Bukankah mereka suka dengan lelaki tampan dan energik sepertiku? Ketika aku pertama kali sampai di negara ini, aku menyamar menjadi penjual mie ayam dan apakah kau tahu apa yang terjadi? Perempuan cantik menghampiriku dan memintaku untuk menikahinya. Gila tidak? Dia benar-benar wanita tercantik yang pernah kutemui. Namanya Inggrid Elina, apakah kau pernah mendengar namanya? Kita bahkan sudah memiliki sertifikat pernikahan kita. Sedangkan untuk omonganmu tentang perempuan Indonesia suka dengan pria lembut, kurasa itu kurang tepat. Setidaknya istriku tidak seperti itu. Dia suka pria yang kuat yang bisa melindungi mereka dan bisa bermain semalaman tanpa henti. Tentu saja sebelum ini dia sudah kubuat dia mengerti arti kata pria dan sedang istirahat karena kelelahan." Tampan dan energik? Bajingan seperti dirimu dikatakan tampan? "Aku tidak butuh bualanmu tentang bulan madumu. Aku hanya ingin memperingatkan bahwa ini adalah Indonesia. Selama kau berada di sini, kau akan mematuhi hukum yang ada. Apabila kau berani melanggar, aku sendiri yang akan menumpasmu!" Perempuan ini terdengar seperti orang marah, mungkinkah perbuatan Randika telah mengusiknya? Sejujurnya, perempuan ini tidak berdaya. Dia tahu bahwa lawannya ini adalah dewa perang yang terkenal di dunia bawah tanah. Lelaki ini bahkan bisa melumpuhkan begitu banyak orang sendirian dan membuat kedua lawannya lari ketakutan. Perempuan ini berpendapat bahwa dengan adanya Ares di Indonesia, hal ini akan mengundang pentolan-pentolan lainnya di dunia bawah tanah untuk berulah di negaranya. Apabila diteruskan, hal ini bisa mengguncang negara ini. "Jadi maksudmu aku tidak tahu hukum negaraku sendiri? Tentu saja aku tahu, aku lahir di sini tahu!" "...ˇ­.." Mendengar hal ini, membuat perempuan ini kehabisan kata-kata. Dewa Perang Ares ternyata adalah orang asli Indonesia? Informasi ini benar-benar krusial dan apabila menyebar akan menimbulkan suatu gelombang tersendiri. "Omong-omong, kau berasal dari Arwah Garuda bukan? Di salah satu jajaranmu ada yang bernama Safira. Aku ingin bertemu dengannya. Tolong aturkan untukku." Randika tidak peduli dengan keterkejutan yang dimiliki perempuan itu. Dia hanya ingin bertemu dengan Safira segera mungkin. Tanpa adanya ramuan X, dia harus mencari solusi lain untuk mengatasi kekuatan misterius dalam tubuhnya. Baginya hanya Safira yang bisa menolongnya untuk sekarang. Setelah beberapa saat terdiam, wanita itu menjawab, "Oke, aku akan sampaikan pesanmu. Aku tidak bisa menjamin bahwa dia akan bersedia menemuimu atau tidak." Meskipun identitas rahasianya sebagai anggota Arwah Garuda terbongkar begitu mudah, suara perempuan ini masih terdengar tenang. "Bagiku itu sudah cukup. Sebutkan namaku dan dia akan bersedia menemuiku. Elva, bagaimana bisa kau memiliki tubuh indah seperti itu dengan dada yang kecil? Lebih perhatikan tubuhmu dan jagalah dirimu." Randika pun segera menghilang dengan senyuman lebar di wajahnya. Elva benar-benar linglung. Bagaimana bisa dia mengetahui namanya dan nama organisasinya hanya dalam beberapa menit? Apakah dia juga tahu bahwa dirinya berada di dalam daftar para Dewa? Namun mendengar kalimat terakhir Randika, membuat Elva membenci dirinya. "Sialan, berani-beraninya dia mengatakan dadaku kecil!" Chapter 7: Pertunangan dari Istriku yang Cantik! Randika segera kembali ke rumah Inggrid dengan secepat kilat. Saat dia masuk ke dalam rumah, dia tidak lupa memeriksa keadaan Inggrid. Untungnya perempuan itu sudah tertidur pulas, penyaluran tenaga dalam sebelumnya pasti sangat membantu kondisi Inggrid. Randika lalu memutuskan untuk beristirahat di kamarnya sendiri. Saat Randika hendak tidur di kasur, dia merasakan sesuatu di balik punggungnya yang mampu membuatnya merinding. Setelah merantau bertahun-tahun dan hidup di tengah bahaya, Randika telah memiliki indera yang lebih tajam. Bahkan niat membunuh sekecil apa pun tidak akan luput dari dirinya. Hal ini akan membuatnya selangkah lebih depan terhadap bahaya yang selalu mengintai. Namun kali ini, tatapan dari belakang punggungnya sukses membuatnya merinding. Ada bahaya yang bersembunyi di rumah ini! Orang ini pastilah orang yang kuat. Randika lalu mendekati pintu kamarnya secara perlahan. Dia mengandalkan pendekatannya yang tanpa suara untuk membuat musuh lengah. Dia harus selangkah di depan karena tubuhnya sudah benar-benar kelelahan. "Ya ampun Ibu Ipah! Bikin kaget saja, kenapa ibu ada di sini?" Setelah mengetahui bahwa Ibu Ipah yang ada di balik pintu, kepalan tangan Randika segera mengendur dan dia menjadi tenang kembali. Sejak saat keberadaannya diketahui, Ibu Ipah sudah memasang senyum kecil di wajahnya. Senyuman ini terlihat tanpa dosa dan ramah yang membuat orang merasa santai di dekatnya. Namun, Randika tidak bisa tidak melupakan bahwa aura berbahaya sebelumnya keluar dari orang yang sama dengan yang ada di hadapannya. Ibu Ipah ternyata bukan sekedar pembantu saja. "Ibu tadi lihat bahwa nak Randika keluar malam-malam. Ibu khawatir sama nak Randika jadinya ibu datang untuk melihat. Apakah kau baik-baik saja?" Dari nada suaranya, Ibu Ipah mengatakannya dengan penuh perhatian. Apakah kekhawatiran ini benar-benar dari hatinya? Randika akhirnya tersadar kembali bahwa dirinya telah menikah dengan orang paling berpengaruh di kota ini. Pasti istrinya ini memiliki kekuatan tersembunyi dan tentu saja, pembantunya ini mungkin adalah salah satunya. "Ohh.. Maaf ibu mungkin aku terlalu keras ya membuka pintunya? Aku hanya ingin menghirup udara malam kok. Saya juga tidak apa-apa, nih lihat sendiri." Kalau dilihat dari luar, penampilan Randika terlihat biasa-biasa saja. Namun apabila seorang pendekar yang melihatnya, dia akan mengetahui bahwa keadaan tubuh Randika benar-benar kacau balau. Tenaga dalamnya telah mengalir secara tidak teratur dan tubuhnya benar-benar telah rusak. Namun Ibu Ipah sepertinya tidak akan menyinggung hal ini, jadi dia hanya menjawab, "Kalau begitu syukurlah. Maaf ibu telah mengganggu istirahat malammu." Segera setelah Ibu Ipah pamit, Randika segera lari ke kamar mandi dan memuntahkan seteguk darah ... Ibu Ipah tinggal di lantai 1 sedangkan Randika dan Inggrid berada di lantai 2. Setelah masuk di kamarnya, Ibu Ipah segera mengambil handphonenya dan menelepon. "Selamat malam tuan, hari ini nona muda membawa pulang seorang pria. Mereka mengatakan bahwa mereka telah menikah bahkan sudah memiliki sertifikat pernikahan mereka." Ibu Ipah ternyata menelepon ayah dari Inggrid. "Apa? Bisa-bisanya anak itu melakukan hal itu!" Sang ayah terdengar tidak terima. "Tolong tuan jangan langsung bertindak. Aku sendiri akan menyelidiki masalah ini tanpa sepengetahuan nona. Kalau saya perhatikan, pernikahan ini tidaklah sesuai dengan perkiraan kita dan juga nona mengatakan bahwa pernikahannya ini hanyalah sementara." "Ini tidak bagus Ipah. Kau sudah bekerja untukku selama 40 tahun dan kamu sudah tahu bukan bahwa Inggrid telah bertunangan dengan anak dari keluarga Alfred? Meskipun kita tidak sering mengungkit masalah pertunangan ini, menurutmu apa yang akan terjadi apabila keluarga Alfred mendengar hal ini? Mereka akan menyeret perusahaan Cendrawasih dan keluargaku ke dasar jurang!" "Saya tahu tuan. Tapi bukankah anak dari keluarga Alfred sudah menghilang sejak dia kecil? Mana mungkin anak itu akan tiba-tiba muncul kembali begitu saja. Lagipula, bukankah nona memiliki perasaannya sendiri?" Ibu Ipah terdengar tidak sopan terhadap tuannya ini. Dia beranggapan bahwa nona mudanya memiliki hak untuk memilih siapa pasangannya. "Cukup! Aku tidak mau mendengar pendapatmu. Pokoknya, Inggrid tidak bisa menikah dengan bajingan itu. Sejak Inggrid masih kecil, dia sudah diputuskan akan menikah dengan keluarga Alfred. Ipah, aku percaya bahwa kau akan memastikan hal ini akan berjalan dengan semestinya. Lakukan cara apa pun yang kau perlukan untuk mengusir bajingan itu keluar dari kehidupan anakku!" Setelah berkata demikian, sang ayah segera menutup telepon. Ketika mendengar hal ini, wajah Ibu Ipah terlihat sedikit pucat. Tuannya telah menyampaikan perintahnya, meskipun dia memiliki pendapatnya sendiri Ibu Ipah tidak berdaya dan tidak memiliki pilihan lain. "Randika, kau sepertinya bukan orang sembarangan. Kau sepertinya orang yang cukup baik dan kuat. Jika nona bersama denganmu, mungkin dia akan menemukan kebahagiaannya. Namun ˇ­. Aku ˇ­. Ah sudahlah ini bukan masalah yang perlu dicemaskan orang tua sepertiku. Bukankah nona mengatakan bahwa pernikahan ini hanya berlangsung beberapa bulan? Semoga berita ini tidak bocor selama kurun waktu tersebut." ...ˇ­. Saat ini Randika masih sibuk berhadapan dengan kekuatan misterius yang ada di tubuhnya. Dia sedang duduk bersila di ranjangnya dan bermeditasi. Sebelumnya dia telah muntah seteguk darah segar di kamar mandi. Hal ini sebenarnya membantu dirinya mengeluarkan darah kotor yang ada di tubuhnya. Tiga jam telah berlalu dan Randika masih merasa lemas. Sudah lama dia tidak bertarung sesengit itu dan terluka sedemikian rupa. Tidak kurang dari 10 orang menyerangnya secara bersamaan yang di mana mereka memakai obat penguat. Terlebih, Randika masih seorang manusia walaupun dia dikenal sebagai salah satu 12 Dewa Olimpus. Di tengah-tengah meditasinya, dia tidak menahan pikirannya untuk memikirkan peristiwa hari ini. Berawal dari Inggrid yang diracuni hingga kedatangan Naoki serta dua orang dari organisasinya. Apakah ini memang semua ulah Naoki dan mafia Italia? Tidak, Randika sangat memahami kekuatan mereka. Bahkan jika mereka benar-benar mengerahkan kartu As mereka untuk membunuh dirinya, tidak mungkin mereka bisa menghancurkan markasnya yang dijaga begitu ketat. Meskipun Naoki berhasil membujuk Bulan Kegelapan dan Harimau, ada hal yang mengganjal hati Randika. Mengapa mereka berdua tiba-tiba mengkhianati dirinya? Apalagi si Harimau yang sudah dia anggap adiknya sendiri. Bahkan dia juga meninggalkan Yuna dan membuatnya terluka. Mungkin yang tidak terlalu mengherankan adalah Bulan Kegelapan. Memang dirinya merupakan orang yang haus kekuasaan dan licik. Tetapi apabila dilihat dari daya tempurnya, jelas dia bukan siapa-siapa bagi Randika. Mungkin Naoki melihat kegelapan dan rasa tidak puas di hati Bulan Kegelapan dan berhasil membujuknya untuk bergabung. Tapi ada satu pertanyaan terpenting yang masih belum dia bisa jawab. Bagaimana bisa mereka menyerang markasnya dan sudah ada di Indonesia? Bahkan Randika mulai ragu bahwa orang yang dihadapinya bukanlah Bulan Kegelapan dan Harimau. Markasnya yang di luar negeri berada di pegunungan terpencil di Jepang. Yuna mengatakan bahwa sekitar jam 3 sore markasnya telah diserang. Apabila diperhitungkan, serangan malam di Indonesia ini hanya berselisih 8 jam sejak mereka berhasil menghancurkan markasnya. Apakah Yuna berbohong pada dirinya? Tidak, tidak mungkin. Mungkin kesetiaan orang bisa berubah tetapi Randika yakin bahwa kesetiaan Yuna pada dirinya tidak perlu diragukan. Yuna pasti tidak akan pernah melupakan bahwa penyelamat hidupnya adalah dirinya. Saat itu, Randika mengajak Yuna dan adiknya yang terlantar di pinggir jalan untuk berpetualang dengan dirinya. Bisa dikatakan bahwa Randika lah penyelamat hidupnya dan yang memberikan Yuna serta adiknya sebuah masa depan. Dan Yuna membalas kebaikan Randika dengan menjadi penelitinya yang meramu ramuan X. Kemampuan Yuna dalam bidang perobatan sangatlah hebat. Mereka berdua saling mendukung dan merupakan sahabat dekat. Tidak mungkin Yuna mengkhianati dirinya dan Randika tidak pernah meragukannya sedikit pun. Memikirkan hal ini, Randika segera menghentikan meditasinya dan menyalakan komputernya lagi. Dia ingin melihat kondisi Yuna dan memberitahu informasi yang diketahuinya. Kali ini, Yuna sudah berada di depan komputernya. Penampilannya terlihat bersih dan terbalut perban. Di baliknya, terlihat beberapa orang sedang sibuk memindahkan barang. Karena markasnya yang telah hancur, untuk membangunnya kembali membutuhkan banyak sumber daya. Jadi untuk para peneliti ini, barang yang masih utuh dan data-data penelitian yang terselamatkan akan berguna untuk menekan pengeluaran dan waktu. "Yuna, apakah Bulan Kegelapan dan Harimau hadir di saat markas kita dihancurkan?" Tanpa berbasa-basi, satu pertanyaan langsung terlontar dari mulut Randika. "Iya mereka ada di sini. Tidak salah lagi kalau orang itu adalah Bulan Kegelapan dan aku sangat yakin akan hal itu!" Yuna mengatakan hal ini dengan nada serius. "Kalau begitu Yuna, bagaimana kalau aku mengatakan bahwa aku baru saja membunuh Bulan Kegelapan di tempatku berada?" "Apa?" Chapter 8: Kau Memiliki Semua Bahan yang Dibutuhkan! Malam ini dilalui oleh Randika tanpa tidur. Rasa kecewa karena dikhianati dan rasa sakit tubuhnya menemaninya sepanjang malam hari ini. Setiap kali dia memejamkan mata, sosok Bulan Kegelapan dan Harimau akan nampak di benaknya. Yang mengusik pikirannya adalah bagaimana bisa mereka berdua yang mengaku telah menyerang markasnya, kini sudah berada di Indonesia secepat itu? Apakah mungkin orang yang menghancurkan markasnya adalah ulah orang lain? Meskipun Yuna yakin bahwa musuh yang menghancurkan markasnya adalah Bulan Kegelapan, orang tersebut masih mengenakan topeng. Kecil kemungkinannya bahwa Yuna salah menebak identitas orang tersebut, karena Yuna telah bekerja sama dengan Bulan Kegelapan sejak lama. Jadi Bulan Kegelapan yang dia lawan adalah orang lain? Secara logika inilah yang paling masuk akal. Tapi wajah lawannya itu benar-benar mirip dan terlebih kecepatan si Bulan Kegelapan yang dia bunuh. Kecepatan seperti itu tidak akan mudah ditiru oleh siapapun di dunia ini. Randika yakin bahwa orang yang dilawannya adalah Bulan Kegelapan. Randika merasa masalah ini benar-benar tidak masuk akal. Pasti ada suatu petunjuk yang terlewatkan. Sambil memainkan pisau di tangannya, wajah Randika semakin serius memikirkan adegan pertarungan sebelumnya. Tiba-tiba, dia sadar bahwa ada jejak percikan darah di pisaunya. Darah ini tentu milik si Bulan Kegelapan. Pisau yang dimainkannya adalah pisau yang sebelumnya menancap di tubuh Bulan Kegelapan. Membunuh? Aku membunuhnya dengan pisau ini? Randika mulai memahami kunci permasalahan ini. Dia tidak mau menyombong, tetapi dalam kondisi terbaiknya membunuh Bulan Kegelapan bisa dia lakukan dalam 1 detik. Bahkan dalam kondisinya yang seperti sekarang ini, dia masih bisa melakukannya tanpa kesulitan. Namun, apakah Bulan Kegelapan benar-benar seceroboh itu? Naoki Moretti dan mafia Italia mungkin tidak memiliki pemahaman yang baik mengenai kekuatan dirinya, tetapi apakah Bulan Kegelapan sama seperti mereka? Setelah bersama-sama meraungi hidup selama 8 tahun, tidak mungkin Bulan Kegelapan tidak mengerti kekuatan sang Dewa Perang. Meski begitu, dia tetap melawan Randika seorang diri. Apakah dia sudah tidak memiliki niatan untuk hidup? Randika juga sangat memahami karakter Bulan Kegelapan. Orang ini adalah orang yang sabar dan penuh dengan skema licik. Hal terakhir yang akan dia lakukan adalah membahayakan nyawanya sendiri. Bulan Kegelapan yang dia bunuh nampaknya tidak memiliki pemahaman terhadap kekuatannya. Jadi apakah serangan yang dilakukan oleh Bulan Kegelapan terhadap Randika bertujuan untuk membunuh dirinya sendiri? ''Musuh dalam keadaan lemah, apa pun yang terjadi hari ini aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri.'' Prinsip seperti ini tidak mirip dengan karakter si Bulan Kegelapan. Jadi jelas, Bulan Kegelapan membuang prinsipnya. Jadi kunci permasalahan hal ini adalah kematian si Bulan Kegelapan! Randika akhirnya menemukan inti permasalahannya tapi, entah kenapa, dia merasa bahwa masalah ini masih terlalu tidak jelas. Pada saat ini, matahari sudah mulai terbit dan terdengar pergerakan dari kamar Inggrid. Randika segera terbangun dan meraup mukanya. Ketika dia keluar dari kamarnya, Inggrid juga berada di ambang pintu kamarnya. Inggrid baru saja bangun. Meskipun dia sudah cuci muka, muka ngantuknya masih belum bisa hilang. Tanpa adanya riasan, wajahnya masih terlihat cantik alami dan piyama yang dia pakai menambah kesan imut pada wanita cantik ini. Ketika Inggrid membuka pintu, dia disambut oleh wajah seorang pria yang sedang menatapnya lekat-lekat. Inggrid terlihat panik dan akhirnya sadar bahwa bukankah lelaki ini yang mengikat jalinan perkawinan dengannya? Apabila Randika memiliki kekuatan untuk membaca pikiran, dia pasti akan sedih. Bagaimana tidak? Istrinya melupakan dirinya, bahkan dia tidak ingat dengan wajahnya. "Hai istriku yang cantik, kok sudah bangun?" Entah kenapa setiap kali mereka berdua bertemu, Randika selalu ingin menggoda Inggrid. Istri? Mendengar hal ini, Inggrid langsung merinding. Dia kemudian memasang muka serius dan memandang wajah Randika dengan wajah yang dingin. "Jaga mulutmu! Aku tidak ingin mendengar kata-kata seperti itu lagi!" "Lha terus aku harus memanggilmu apa? Istriku, kau nampaknya malu-malu kalau hubungan kita diketahui orang. Bagaimana kalau aku memanggilmu sayang atau cintaku?" Randika terus menggoda Inggrid dibumbui dengan senyuman. "Kau! Jangan sampai kau memanggilku seperti itu!" Inggrid merasa bahwa pagi-pagi dia sudah dibuat menjadi gila. Dari sejak dia bertemu dengan Randika, perasaan Inggrid selalu buruk. Terlebih, pria ini sungguh tidak tahu malu. Dia benar-benar membencinya, apakah pria ini tidak bisa melihat hal ini? "Terus aku harus memanggilmu apa? Istri tidak boleh, sayangku juga tidak, bagaimana kalau beruangku yang kecil?" Setiap kata yang diucapkan Randika berhasil membuat Inggrid membenci dirinya. Pria ini benar-benar bodoh atau apa? Bukankah mereka hanya menjalin kawin kontrak? Kenapa dia berusaha membuat dirinya kesal terus-terusan? Inggrid tidak membalas perkataan Randika dan hanya turun ke lantai 1 begitu saja. Inggrid merasa percuma berdebat dengan lelaki bodoh itu. Semakin kau berdebat, semakin kesal dirinya. Jadi solusi terbaik adalah mengabaikannya! "Yuhuu Beruang kecilku yang cantik! Jangan kau lari dari cintaku yang membara ini. Mari kita nikmati hari ini bersama-sama " Randika hanya berteriak dari atas dan memberikan kecupan dari jauh sedangkan Inggrid turun dengan tangannya menutup telinganya. ...ˇ­.. Di lantai bawah, Ibu Ipah sudah mempersiapkan sarapan. Hari ini menu sarapannya adalah roti dan telur orak-arik dan aneka buah-buahan. Inggrid berusaha secepat mungkin memakannya. Dia tidak sabar untuk segera pergi meninggalkan rumah dan Randika. Meskipun begitu, Inggrid tidak bisa makan dengan cepat. Malahan, dia makan dengan elegan mirip seorang putri kerajaan. Mungkin ini adalah table manner yang telah mendarah daging di tubuh seorang kalangan atas. Sebaliknya, Randika makan dengan tata krama yang buruk. Dia duduk makan seperti sedang di warung dengan satu kakinya berada di atas kursi. Terlebih dia makan di samping Inggrid. Jelas dari suaranya, Inggrid menggeser kursinya dan tidak ingin dekat-dekat dengan Randika. Randika pun tidak berkata apa-apa. Dia hanya fokus terhadap makanan yang ada di depannya dan dia sudah tidak sabar untuk segera melahap semuanya. Untuk sesaat, Randika merasa bahwa di dunia ini hanya ada dirinya dan setumpuk makanan di hadapannya. Dia memakan semuanya dengan cepat dan dengan mulut yang terlihat penuh. "Wow, buah apa ini? Kok empuk sekali?" Randika yang sibuk mengambil segala macam makanan tidak sadar bahwa dia telah melakukan kesalahan. Aura membunuh segera memenuhi ruang makan kediaman Inggrid ini. Sadar akan tatapan ini, Randika segera melihat tangannya sendiri. Oh tidak! Ternyata dia salah mengambil buah milik Inggrid yang besar itu! "Uhuk, Uhuk.. Maaf aku makan terlalu cepat jadi tidak sadar akan perbuatanku. Ahhh, aku kok merasa kenyang ya? Aku akan menghirup udara segar dulu!" Randika pun lari terbirit-birit, takut akan omelan Inggrid yang siap melanda dirinya. Lagipula, aura membunuh yang keluar dari Inggrid sudah sangat pekat jadi kalau dia tidak lari bisa-bisa dia akan dibunuh beneran oleh istrinya! Sebenarnya, Randika mencari-cari alasan untuk bisa keluar dari rumah. Di depan Inggrid, dia tidak berbicara mengenai masalah yang dia alami. Kemarin, ajakan pernikahan Inggrid benar-benar menarik bagi dirinya jadi dia mengikuti pengaturan istrinya itu. Dan sekarang dia merasa bingung, apabila hal ini semua selesai apakah dia akan pergi ataukah akan tetap bersama dengan Inggrid seumur hidupnya? Hal ini membuat dirinya bingung. Ketika melihat sosok Randika yang menghilang, Inggrid segera cemberut. Alasan dia begitu sabar terhadap tindakan cabul Randika adalah kejadian semalam yang sedikit melelehkan hatinya. Inggrid sadar bahwa hidupnya telah diselamatkan oleh Randika. Setidaknya ada kebaikan di dalam diri Randika pikirnya Inggrid tahu bahwa hubungan mereka hanya terjalin berkat kesepakatan mereka yang berlandaskan uang. Walaupun itu terdengar salah, apa salahnya memiliki hubungan baik di antara mereka? Setidaknya Inggrid ingin tetap hidup dengan tenang dan tidak mencolok. ...ˇ­ Setelah berhasil keluar dari rumah, Randika segera berkeliling di area perumahan. Perumahan ini milik kalangan elit jadi sisi jalan maupun tanaman yang ada sangatlah bersih dan indah. Dia mulai berandai-andai dengan uang yang diberikan Inggrid nantinya dan berpikir bahwa dia akan membeli salah satu rumah di perumahan ini. Rumah yang dimiliki oleh Inggrid dekat dengan taman. Di taman ini ada sebuah danau buatan yang indah. Dengan adanya mainan untuk anak-anak dan fasilitas lainnya, membuat taman ini sangat nyaman dikunjungi. Ketika dia hendak mendekati taman tersebut, Randika kedatangan seorang tamu yang sedang bersembunyi di balik kegelapan. "Ohhh, Elva? Wow ternyata kegelapan malam kemarin membuatku salah menilai figurmu. Ternyata kau memiliki tubuh yang elok juga!" Tentu hal ini dikatakan oleh Randika sebagai candaan saja. Elva yang mendengarnya hanya berkata tanpa ekspresi, "Nona Safira setuju untuk bertemu dengan Anda. Aku akan membawamu ke tempatnya." "Aduh semua perempuan rasanya suka mengejarku. Apakah ketampananku sudah melegenda di negara ini?" Hal ini untungnya tidak terucapkan karena kalau sampai terucapkan, entah apa reaksi Elva. Untuk masalah Safira, Randika merasa bahwa hari ini adalah hari keberuntungannya karena dia sangat membutuhkan bantuannya. Dia hanya cemas apakah Safira masih mengingat dirinya? Chapter 9: Apa? Kamu Sudah Menikah? Elva dan Randika berjalan sekitar 2 menit menuju suatu tempat terpencil. Di sisi jalan, ada sebuah mobil parkir. Melihat sosok mereka berdua yang mendekat, orang di dalam mobil segera turun. Dengan rambutnya yang bergelombang, muka yang serius dan kacamata bulat yang mencolok membuat perempuan ini memiliki citra seorang profesor. Melihat perempuan ini, Randika sedikit kaget namun dia segera tenang kembali. Dia sudah lama tidak melihat sosok orang ini. "Apakah kamu Safira?" Randika memang mengenal orang ini sejak lama tetapi dia telah lupa dengan wajah Safira dan dia pun khawatir Safira tidak mengenal dirinya. Elva yang mengatur pertemuan ini hanya berdiri dengan tenang di samping sambil memperhatikan mereka berdua. "Iya ini aku sendiri dan kamu adalah?" Safira menyipitkan matanya sambil melototi Randika, berusaha mengingat siapakah orang tersebut. Kedatangan Safira hari ini juga patut dipertanyakan. Dia adalah anggota dari Arwah Garuda yang identitasnya sangat dilindungi. Safira bahkan jarang keluar dari markas karena pekerjaannya sebagai dokter organisasi. Meskipun begitu, kadang ada situasi mendesak yang perlu dia tangani sesegera mungkin. Oleh karena itu, hari ini Safira terlihat sedikit penasaran sekaligus bingung. Siapa orang yang meminta bertemu dengannya dan bagaimana bisa orang ini mengerti bahwa dia adalah salah satu anggota Arwah Garuda? Randika tidak menjawab pertanyaan Safira, malahan dia mengeluarkan sebuah kalung dan memberikannya kepada Safira. "Kalau kamu melihat bagian dalam kalung ini, kamu akan mengerti." Kalung ini terlihat biasa-biasa saja, tetapi di bagian dalam kalung terdapat ukiran ''R&S''. Orang-orang mungkin akan melihatnya dengan tatapan biasa saja namun Safira melihatnya dengan ekspresi serius. Kalung ini mau berapa kali Safira teliti terlihat asli dan pada akhirnya dia mengeluarkan kalung yang dia pakai. Bentuk yang sama dengan ukiran yang samaˇ­. Sudah pasti dia adalah orang itu! "Kamu adalah kak Randika?" Kata Safira sambil ragu-ragu. "Kenapa? Kamu lupa dengan wajah kakakmu sendiri walau sudah 10 tahun tidak bertemu?" Saat Randika mengatakan hal ini, Safira sudah berlari untuk memeluknya. Randika terlihat senyum-senyum sendiri ketika merasakan keempukan dada adiknya ini. Ketika Safira memeluknya dengan erat, aroma tubuhnya segera terhirup oleh Randika. Untuk sesaat, Randika tidak bisa berpikir dan menikmati momen ini. "Kak Randika ini benar-benar kamu! Ke mana saja kau akhir-akhir ini? Kenapa kau tidak memberi kabar apa pun? Kakak tahu tidak Safira sudah susah payah mencarimu tahu! Aku sudah mencari-cari di mana pun kau tetap tidak ada dan ternyata kau malah ada di Indonesia dan kakak tetap tidak memberiku kabar apa pun tentangmu!" Safira mengatakan semua hal ini dengan mata yang berkaca-kaca. Setiap kata yang dia lontarkan, menyayat hati Randika. Randika lalu berpikir bahwa waktu memang cepat berlalu. Sudah 10 tahun dia berkelana dan berpisah dengan adiknya. Ternyata selama 10 tahun ini, adiknya terus memikirkan dirinya. "Tenangkan dirimu terlebih dahulu. Lagipula, kakek pasti tidak memberitahumu ya? Aku selalu mengabari bagaimana keadaanku dan keberadaanku. Kalau bukan dari kakek, mana mungkin aku tahu bahwa kamu sudah menjadi salah satu anggota Arwah Garuda." Berkat kakeknya, Randika mengetahui bahwa Safira berada di salah satu organisasi rahasia di negaranya ini. Randika juga bukanlah kacang yang lupa pada kulitnya, sesekali dia akan mengabari keluarganya tentang keadaannya dan juga memperoleh informasi dalam negeri. Saat dia akhirnya pulang ke Indonesia pertama kali, dia tidak segera pulang kampung karena dia tidak tahu bagaimana cara menghadapi ''keluarga'' yang dia tinggalkan. Randika adalah anak yatim yang tidak tahu siapa orang tuanya. Masa kecilnya dia telah dibesarkan oleh beberapa kakek yang tinggal di kaki gunung. Dia terkadang masih mengingat bagaimana kakek ke-3 membawa keranjang bambu di punggungnya dan memetik tanaman obat di gunung setiap harinya. Setiap kali kakeknya itu kembali ke rumah, dia tidak lupa membawa makan malam seperti kelinci dan juga buah-buahan yang dia petik selama perjalanan. Dia juga mengingat kakek ke-4 yang mengajarinya serangkaian angka tidak jelas setiap harinya. Uniknya, sampai detik ini dia masih tidak tahu kegunaan dari angka-angka tersebut. Randika meninggalkan gunung pada umur 15. Dengan usianya yang muda, dia berharap bisa melihat dunia luar yang begitu luas dengan berbekal pengetahuan yang diberikan oleh para kakeknya. "Oya? Dasar kakek! Bisa-bisanya dia lupa akan sesuatu yang penting, kalau aku pulang akan aku cabutin jenggot mereka satu per satu!" Safira mengatakan semua hal ini dengan nada kesal dan muka yang cemberut. "Hahaˇ­ Kakek ke-2 belum pernah merasakan amarahmu sama sekali. Ketika kita masih kecil, kakek ke-3 selalu komplain ke kakek ke-2 bahwa dia menyesal telah membesarkanmu. Dia aslinya kepingin membesarkanku karena sifatku yang tenang dan tidak nakal. Kakakmu dari kecil memang sudah hebat bukan?" Randika dan Safira mulai terjebak di kenangan-kenangan masa lalu mereka yang indah. Memang mereka adalah anak adopsi yang telah dibesarkan oleh beberapa kakek di kaki gunung, tapi kenangan masa kecil mereka membuat mereka lebih dekat daripada saudara asli. Randika dibesarkan oleh 2 kakek sedangkan Safira 2 kakek lainnya. Mungkin pengaturan ini telah dilakukan oleh para tetua itu ketika melihat bakat kedua bocah ini. Kedua kakek yang membesarkan Randika ahli dalam bela diri sedangkan para kakek yang membesarkan Safira ahli dalam ilmu pengobatan. "Seharusnya dia menangis kalau beneran memilihmu! Dia kakek yang malas dan tidak mau melakukan pekerjaan rumah sama sekali, terlebih dia juga tidak bisa sama sepertimu. Apakah kalian mau makan serangga dan mati karena kelaparan? Sejak kecil aku semua yang mengerjakan pekerjaan rumah dan masak setiap harinya dan itupun aku masih disuruh beli rokok dan lagi ˇ­.. " Safira terus mengomel tanpa henti. "Oke oke, aku sudah mengerti bahwa kamulah anak yang terbaik!" Randika terpaksa mengalah, dia tidak menyangka bahwa adiknya ini kadang-kadang bertingkah seperti anak kecil. Elva yang melihat ini terlihat seperti orang bodoh dengan mulut yang ternganga. Nona Safira di Arwah Garuda dikenal sebagai ratu es karena sikapnya yang begitu dingin. Sekarang, dia terlihat seperti gadis remaja yang manja terhadap pacarnya dan berbicara tanpa henti. "Hahaha, akhirnya kakak sadar! Omong-omong kenapa kakak memanggilku? Apakah ada yang bisa aku bantu ataukah kakak ingin aku menemanimu pulang ke gunung?" Safira tentu sadar bahwa kakaknya tidak mungkin ingin bertemu hanya untuk bertukar sapa, pasti ada sesuatu yang dia perlukan dari dirinya. "Aku mungkin tidak akan pulang sementara waktu." "Ohˇ­" Ketika mendengar jawaban kakaknya, entah kenapa wajah Safira terlihat sedikit muram. Melihat hal ini, Randika segera menambahkan "Ahh.. Maksudku sebentar lagi kan sudah bulan Agustus. Bagaimana kalau kita kembali bersama pada waktu itu? Suasana rumah selalu meriah ketika memperingati 17 Agustus." Mendengar janji Randika, Safira akhirnya memasang wajah gembira. Lagipula bulan Agustus tinggal 4 bulan lagi dan dia juga tidak bisa tiba-tiba meninggalkan markas untuk waktu yang lama. Dengan begini, dia bisa mengatur jadwalnya agar bisa menikmati waktu bersama dengan Randika. "Kalau begitu, untuk sekarang apa yang bisa kubantu?" "Jadi begini, aku punya kekuatan misterius dalam tubuhku dan akhir-akhir ini susah untuk dikendalikan. Seingatku kamu telah menguasai teknik akupuntur kakek bukan? Bisakah kamu membantuku untuk mengobati tubuhku? Aku memang punya obat untuk mengatasi masalah ini tetapi persediaannya mulai menipis dan aku masih belum sempat mendapatkannya kembali." Randika mengatakan semuanya dengan lugas tanpa menutup-nutupi. "Oke akan kucoba, sini kuperiksa denyut nadimu terlebih dahulu." ...ˇ­ Setelah beberapa saat memeriksa keadaan Randika, wajah Safira terlihat serius. "Kak bisa kau jelaskan kenapa kau memiliki hal semacam ini di tubuhmu?" Sayangnya, Randika tidak bisa menjawabnya karena dia pun tidak tahu mengapa hal itu bisa terjadi. Yang hanya dia tahu adalah kekuatan misterius ini sangatlah kuat. Melihat Randika yang hanya menggelengkan kepalanya, Safira tidak menanyakan hal ini lebih lanjut. "Teknik akupuntur milikku belum aku pelajari sampai tuntas, tetapi untuk menekan kekuatan misteriusmu ini aku bisa membantumu. Untuk sekarang mungkin kekuatanmu tidak apa-apa tetapi aku sarankan jangan memakai kekuatanmu di luar batas selama 10 hari ke depan. Kalau tidak, kekuatan liar ini akan meledak dan apabila aku tidak ada di sisimu maka kau akan ˇ­.. " "Oke tidak apa-apa. Sepuluh hari sangatlah gampang. Oya, aku belum bilang ya? Aku sudah menikah jadi aku tidak mungkin akan berkeliaran di jalan setiap harinya seperti dulu." Ketika kata menikah keluar dari mulut Randika, ekspresi wajah Safira benar-benar berubah. "Apa? Kau sudah menikah?" Chapter 10: Aku Ingin Memiliki Semua yang Kau Miliki! "Ya, aku menikah beberapa hari setelah aku sampai di Indonesia. Tapi pernikahan kami cukup unik." Randika pun segera menjelaskan kronologi bagaimana dirinya bisa menikah. Ketika Safira mendengar bahwa kakaknya ini akan bercerai setelah 3 bulan, dia tersenyum lebar. "Kak kau menjual dirimu hanya karena uang?" Mungkin hal yang dikatakan kakaknya ini sangat tidak masuk akal, tetapi Safira percaya bahwa kakaknya tidak akan pernah berbohong padanya. "Bagaimana lagi, kakakmu sangat miskin ketika dia pulang. Pada waktu itu, aku tidak punya alat untuk berkomunikasi ataupun baju. Jadi apa salahnya menjual tubuhku demi uang?" Randika menjelaskannya dengan nada sedih yang mungkin akan membuat orang iba. Tapi Safira tidak percaya akan hal itu, pasti ada udang di balik batu. "Oke aku percaya padamu. Tapi yang membuatku penasaran, siapa wanita itu? Dia berani sekali membayarmu begitu mahal, jangan-jangan dia adalah tante-tante gemuk yang bergelimang harta ya?" Goda Safira. "Tettt, kau salah! Istriku sangat cantik bagai bidadari. Mungkin lebih jelasnya kau bisa tanya Elva yang ada di sampingmu." Kata Randika sambil menunjuk Elva. Randika aslinya melakukan hal tabu, karena dia menyebut Elva dengan namanya bukan nama samaran yang dia pakai dalam daftar para Dewa. Dalam peraturan tidak tertulis dalam daftar ahli bela diri tersebut, mereka tidak akan memakai nama asli mereka melainkan dengan nama samaran. Tetapi bagi Randika, karena Elva mengetahui nama aslinya jadi mengapa dia perlu memanggilnya dengan nama samarannya? "Perempuan itu berasal dari Perusahaan Cendrawasih bernama Inggrid Elina." Ketika mengatakan hal ini, Elva masih tidak percaya akan hal ini. Ketika dirinya melihat informasi ini pertama kalinya, dia sangat terkejut. Inggrid Elina adalah wanita terkenal di seluruh kota Cendrawasih dan dia sering menolak pria-pria tampan. Dan ternyata, Inggrid malah menikahi pria mesum di hadapannya ini. "Apa!? Kakak menikahi Inggrid Elina?" Safira juga sangat terkejut ketika mendengar nama perempuan ini. "Hahaha bagaimana? Kau terkejut bukan? Kakakmu telah menang banyak kali ini!" Kata-kata Randika sedikit tidak sopan. "Kak, apakah kau tidak tahu reputasi Inggrid di kota ini? Semua lelaki di kota ini ingin meminang hati Inggrid sejak lama. Bisa-bisanya kau malah mengatakan bahwa dia telah membayarmu untuk menikahinya! Dukun mana yang kau pakai?" Safira benar-benar ingin memukul kakaknya, dia benar-benar marah. Bisa-bisanya kakaknya mengatakan bahwa dia telah menjual tubuhnya demi uang dan ternyata yang membelinya adalah wanita paling berpengaruh di kota Cendrawasih ini. Apabila ada yang namanya keberuntungan, kakaknya ini mungkin memiliki keberuntungan yang luar biasa. Cewek cantik yang membayarnya untuk hidup bersamanya dan uang yang melimpah yang akan diterimanya ketika mereka bercerai. Kisah fiksi macam apa memangnya yang dia baca? "Jangan begitu, kakakmu ini berusaha mencari uang demi kita. Lagipula Inggrid juga dingin terhadapku. Aku juga sudah punya dirimu bukan? Bukankah kita sejak kecil berjanji untuk menikah? Saat kita pulang ke gunung apakah kau ingin meresmikan hubungan kita?" Randika segera membalas Safira dengan godaannya sendiri. Mendengar kata "menikah" membuat Safira tersipu malu. Memang benar mereka bukanlah saudara kandung dan mereka telah sepakat untuk menikah sejak mereka muda. Hal ini juga sudah disetujui oleh para kakek yang ada di rumah. Meskipun begitu, Safira masih akan tersipu malu apabila hal ini disinggung. "Huh siapa yang mau menikahimu? Lagipula kamu kan sudah menikah, aku nanti malah dicap pencuri laki orang tahu!" Safira mengatakan hal ini dengan muka cemberut. Elva melihat ini dengan sedikit terkejut. Orang dengan sifat dingin dan pendiam ini ternyata bisa cemburu dengan begitu mudah dan bisa tersipu malu. "Lalu kau mau aku bagaimana? Kau menyuruhku untuk menikahi kalian berdua? Kakakmu ini yang tidak kuat melakukan hal itu. Aku tidak ingin membuat kalian berdua cemburu satu sama lain karena kurangnya kasih sayangku. Jadi lebih baik giliran saja menikahnya." ....... Mereka masih berbincang-bincang cukup lama sambil Safira mengobati Randika. Randika segera merasa tubuhnya semakin membaik. Dengan tidak adanya ramuan X, Randika selalu cemas akan kekuatan tersembunyi yang mengintainya. Oleh karena itu, Randika selalu was-was. Apabila ada ramuan X tentu saja Randika tidak akan takut pada apa pun. Randika pun sempat berpikir untuk pulang ke gunung agar kakeknya bisa mengobatinya namun dia masih belum sempat melakukannya dan dia juga tidak ingin terburu-buru pulang. Randika lalu mengundang Safira untuk tinggal di rumahnya yang sekarang. Tentu saja hal ini ditolak oleh Safira. Dia merasa bahwa situasi akan canggung dan lagipula itu bukanlah rumah Randika melainkan Inggrid. Pernikahan mereka pun hanya berlangsung selama 3 bulan dan itu adalah waktu yang sangat cepat baginya jadi tidak ada alasan bagi Safira untuk ingin segera bersama dengan Randika. Akhirnya kedua pasang saudara ini memutuskan untuk pulang dan Safira masih sempat memeluk erat kakaknya itu. Waktu sudah menunjukan pukul 10 pagi ketika Randika kembali ke rumah. Ibu Ipah terlihat sedang bersih-bersih rumah, Inggrid sudah pergi dan, menurut perkataan Ibu Ipah, dia jarang pulang ketika makan siang. Jadi seharian ini, Randika akan menjalani hari seorang diri dan tidak ada hal yang bisa dia kerjakan. Ketika dia melihat sosok Ibu Ipah yang sedang menyapu, Randika selalu teringat akan identitas asli ibu satu ini. Dia tahu bahwa Ibu Ipah adalah pendekar yang kuat meskipun memiliki wajah yang ramah. Randika berpikiran bahwa dia pasti lawan yang menyusahkan meskipun dia sendiri yang turun tangan. "Ibu Ipah aku pulang!" Randika tidak lupa menunjukan keramahannya kepada Ibu Ipah. "Wah nak Randika sudah pulang, ada yang bisa aku bantu? Oya sebentar lagi makan siang, ada yang nak Randika mau makan? Ibu bisa membuatkan apa saja." Katanya sambil tersenyum. "Aduh kalau ibu memaksa sih aku sedang lagi kepengen iga bakar. Aku sudah lama mengidamnya!" "Baiklah ibu mengerti. Aku akan memasaknya untuk siang nanti jadi bersabarlah ya nak." "Hebat! Ibu Ipah memang terbaik! Kalau begitu aku akan istirahat di kamar dulu ya bu. Kalau ada apa-apa ketuk saja pintuku." Setelah selesai berbasa-basi, Randika pun kembali ke kamarnya. Sejujurnya, keseharian tanpa perlu melakukan apa pun ini adalah kehidupan yang dia damba-dambakan. Baginya hidup santai adalah hidup ideal baginya. Dia tidak perlu khawatir terhadap makanan, teriknya matahari, uang sewa bulanan, bahkan sekarang dia memiliki istri yang cantik! Satu-satunya penyesalannya adalah istrinya tidak ada bersama dengan dirinya. Meskipun mereka tinggal di satu atap, mereka masih memiliki jarak di antara mereka dan Randika tidak tahu bagaimana dia bisa memangkas jarak ini. Namun, dirinya yang sekarang sudah memiliki masalah dengan ramuan X dan tubuhnya, oleh karena itu dia tidak mau terlalu ambil pusing terhadap hubungannya dengan Inggrid. Ramuan X benar-benar krusial baginya. Tanpa itu, hidupnya benar-benar dalam bahaya. Dia masih belum bisa menentukan bahwa Bulan Kegelapan yang dia bunuh adalah yang asli atau yang palsu. Sedangkan untuk Naoki, Randika tidak terlalu peduli. Dia lebih khawatir terhadap orang-orang yang berada di belakang Bulan Kegelapan dan Harimau. Mereka berdua pasti telah dicuci otaknya hingga berani berkhianat. Tetapiˇ­ Siapa dalang sebenarnya? Setelah berpikir keras, Randika sudah mencoret beberapa nama dan akhirnya mengeluarkan handphone barunya. Dia merasa percuma berpikir tanpa petunjuk yang jelas, lebih baik menyelidiki hal ini secara menyeluruh. "Ares sang Dewa Perang!" Setelah teleponnya nyambung, hal inilah yang dikatakan pertama kali oleh Randika. "Selamat pagi tuan!" Terdengar suara perempuan di balik telepon. "Shadow bisakah kau tolong aku? Markasku di Jepang telah hancur. Tolong cari tahu siapa yang berani melakukan hal itu! Dan selagi kamu bekerja, tolong perhatikan satu nama ini. Namanya adalah Bulan Kegelapan. Dia dulu adalah rekan kerjaku dan seharusnya kamu mengenalnya. Ketika kau menemukan keberadaannya, segera beritahu aku!" "Baik tuan!'' "Satu hal lagi, jangan pernah tinggalkan jejak. Aku tidak ingin keberadaanmu diketahui siapapun!" "Baik tuan!" Randika segera menutup teleponnya. Dia tidak akan menyangka bahwa di kota Cendrawasih ini, di sebuah kediaman terpencil, ada sesosok wanita dengan senyum liciknya juga telah mendapatkan informasi berharga. Setelah itu, perempuan itu menoleh ke pria di sampingnya. "Sesuai perkiraanmu, dia telah menelepon Shadow dan mengira bahwa dia adalah kartu Asnya." Jatuh di pelukan pria itu, si perempuan segera membelai-belai dada pria tersebut. Pada saat ini mata si pria terlihat berbinar-binar, "Ares, aku tidak hanya ingin nyawamu tapi aku juga menginginkan semua wanitamu dan segalanya yang kau miliki!" Chapter 11: Istriku, Aku Datang Menemuimu! Inggrid Elina merasa lega ketika sudah keluar dari rumahnya. Dengan adanya Randika, Inggrid lebih senang berada di kantor. Dia merasa lebih santai mengurusi masalah yang dimiliki oleh perusahaannya daripada berurusan dengan pria mesum itu. Namun, dia tidak akan menyangka bahwa hari ini akan menjadi hari yang sangat buruk bagi perusahaannya. "APA? Peter pergi meninggalkan perusahaan kita dengan para penelitinya? Bagaimana mungkin dia melakukannya? Bukankah dia berjanji akan membantu kita mengembangkan produk baru kita? Aku sudah berhasil mengumpulkan uang dan hendak membeli peralatan yang dia minta!" Mendengar laporan dari sekretarisnya, Inggrid benar-benar meledak. Sekretarisnya ini sangat terkejut dengan reaksi Inggrid yang begitu panas. Selama ini, atasannya ini selalu memikirkan masalah dengan kepala dingin dan tegas. Tapi hari ini, atasannya terlihat bingung dan cemas ketika mendengar masalah ini. Seorang sekretaris tidak akan mengerti bagaimana perasaan Inggrid saat ini. Mungkin di perusahaan ini hanya sekumpulan kecil orang yang benar-benar tahu identitas asli Peter. Peter adalah orang Perancis yang dia sewa jasanya dengan harga yang sangat luar biasa besar. Para peneliti yang dimiliki Peter sangat berpengalaman dalam bidang parfum maupun kosmetik. Peter merupakan salah satu anggota dari brand terkenal yaitu Chanel. Selama kurun waktu 20 tahun, dia telah menjadi peneliti terkemuka dari brand tersebut. Untuk mendapatkan jasa Peter dan timnya, Inggrid sudah hampir menghabiskan 25 miliar rupiah dan sudah mendapatkan kesepakatan dengan Peter meskipun belum secara hitam di atas putih. Peter masih menunggu perlengkapan dan peralatan yang dibutuhkannya agar dia bisa bekerja di gedung perusahaan Cendrawasih ini, oleh karena itu mereka belum menandatangani kontrak. Bagi Inggrid, semua peralatan itu sangatlah mahal dan dia belum punya cukup uang pada saat itu. Tapi dia adalah seorang pebisnis yang ahli dalam melihat peluang. Oleh karena itu, dia bersedia membuat kesepakatan yang membuatnya menikah dengan Randika demi mendapatkan dana tersebut. Peter memberikan harapan baginya untuk membuat Perusahaan Cendrawasih menjadi tokoh besar dunia seperti Microsoft. Bagi Inggrid, peluang ini sudah ada di depan mata. Meskipun Peter meminta profit 50% dari hasil penjualan, Inggrid akan setuju detik itu juga. Namun, sekarang Peter telah mencampakkan dirinya dan Inggrid sudah terlanjur menjalin kawin kontrak dengan Randika demi uang 300 miliar. Dia benar-benar tidak menyangka tindakan Peter ini. Kalau begitu buat apa usaha dan pengorbanannya selama ini? Kalau Perusahaan Cendrawasih tidak segera membuat produk baru, produk-produk lama mereka akan ketinggalan jaman dan mereka akan keluar dari persaingan dunia parfum dengan sangat cepat. Namun kekhawatiran Inggrid terlihat berlebihan. Perusahaan Cendrawasih masih menjadi perusahaan yang menghasilkan profit 100 miliar per tahunnya. Tapi bagi Inggrid itu hanyalah uang kecil. Ambisinya tidak sekecil itu! Dia adalah wanita berambisi tinggi dan dia ingin menguasai pasar dunia bukan hanya lokal saja! Memikirkan hal ini, Inggrid akhirnya memutuskan untuk bertemu dengan Peter dan timnya. "Aturkan untukku segera mungkin. Pada siang hari, aku ingin bertemu dengan Peter beserta timnya dan mengajak mereka makan siang di Hotel Plaza. Pastikan 2 atasan dari HRD dan juru bicara perusahaan pergi bersamaku. Kita tidak boleh membiarkan Peter pergi!" .... Pada saat ini, Randika yang sedang bersantai-santai di rumah barunya merasa sangat bosan. Dia lalu memutuskan untuk pergi dan melihat perusahaan Cendrawasih milik istrinya. Mengapa dia memilih untuk melakukan hal tersebut? Alasannya sederhana. Dia ingin melihat seberapa besar perusahaan milik Inggrid tersebut. Seharusnya dengan sumber daya yang mereka miliki, mereka bisa membangun sebuah laboratorium bagi dirinya. Randika memang sudah terpikir cara tersebut. Markasnya berada di Jepang dan sedang dibangun ulang, semua itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Karena dia berada di Indonesia dan persediaan ramuan X sudah menipis, dia harus membangun sebuah markas yang bisa membuat ramuan X bagi dirinya. Dengan ini, dia akan bisa menjamin persediaan ramuan X baginya. Randika juga merasa bahwa dirinya menangani masalah ini dengan pasif. Sudah waktunya dia bergerak. Ketika dia sudah sampai di bagian depan perusahaan, dia segera menuju bagian lobi. "Permisi, bagaimana caranya saya bisa ke ruangan presiden?" Ini adalah pertama kalinya dia memasuki gedung perusahaan Cendrawasih jadi dia tidak tahu lantai mana Inggrid berada. Meskipun mereka sudah menikah, Inggrid masih tertutup terhadap dirinya. Jadi bisa dikatakan bahwa Randika tidak mengetahui apa-apa terhadap istrinya. Sejujurnya, Randika memiliki kekuatan besar di tangannya dan perusahaan seperti Cendrawasih tidak ada apa-apa baginya. Namun dia perlu tempat untuk membuat ramuan X. Kalau dia membuat markas baru dari awal, dia khawatir akan menarik beberapa mata yang mengawasi keadaan. Namun kalau markas barunya berada di Perusahaan Cendrawasih ini, mereka akan mengira bahwa Cendrawasih sedang mengembangkan produk baru dan juga tidak mengherankan apabila perusahaan ini menjadi besar. Ini bisa menjadi sebuah kamuflase yang menguntungkan bagi dirinya. "Hmm permisi pak, apakah bapak sudah memiliki jadwal pertemuan?" "Ha? Aku suaminya, buat apa aku mengatur jadwal untuk bertemu dengannya?" "Maaf pak, tolong jangan bercanda. Pemimpin kami masih belum menikah dan tidak ada informasi apa pun mengenai pembaharuan status pernikahannya. Jadi apabila bapak masih terus bercanda, saya akan meminta Anda untuk segera keluar." "Status? Jadi maksudmu dia masih bujang begitu? Kita baru saja menikah beberapa hari yang lalu. Mau aku tunjukan sertifikat pernikahan milikku?" "Saya sudah memperingatkan bapak. Saya tidak ingin memanggil keamanan ke sini untuk menyeret bapak keluar. Hal yang bapak ucapkan sudah cukup sebagai bukti bahwa bapak menjelekkan nama pemimpin kami." "Aduh, sungguhan aku ini suaminya atau mungkin kau bisa menghubunginya?" "Keamanan! Tolong di sini ada orang gila!" ... Pada akhirnya Randika diseret keluar oleh para petugas keamanan. Lebih parahnya lagi, dia mendapat larangan memasuki gedung dan para petugas keamanan di depan pintu masuk sudah memiliki gambar mukanya untuk mencegahnya masuk ke dalam gedung. Nampaknya hanya ada satu cara agar bisa masuk ke dalam gedung ini. Meskipun dia tidak tahu nomor handphone Inggrid maupun nomor kantornya, Randika memutuskan untuk menunggu di pintu keluar. Pada suatu titik pasti Inggrid perlu memakai pintu ini jadi Randika memutuskan untuk menunggu di pintu keluar. Inggrid mungkin tidak tahu apa yang telah terjadi di lantai dasar karena beberapa menit kemudian, dia keluar lewat pintu keluar. Apabila dia tahu bahwa Randika telah datang ke gedungnya ini, mungkin dia akan keluar secara menyelinap. Inggrid nampak cantik dengan pakaian kerjanya yang dibalut dengan riasan ringan. Di belakangnya dia diikuti oleh sekretarisnya yang berdada tepos. Iya tepos! Randika tidak mungkin salah melihatnya! Melihat kedua figur perempuan ini, para petugas keamanan langsung merasa cemas. Mereka bertanya-tanya mengapa sang presiden keluar pada jam segini? Mereka khawatir bahwa apabila pria gila di hadapannya ini melihat sosok Inggrid, dia akan menggila dan mungkin menerjang ke arahnya. Para petugas keamanan ini meremehkan kecepatan Randika. Di saat mereka kebingungan, Randika sudah melesat dengan cepat dan berada di jangkauan pandang Inggrid. "Istriku, aku datang untuk menemuimu!" Randika yang masih berada 1-2 meter dari Inggrid segera berteriak untuk mencegah Inggrid masuk ke mobil. Para petugas keamanan sungguh terkejut karena pria tersebut mendadak menghilang dan sudah berada di dekat pemimpin mereka. Mereka hanya bisa berharap bahwa hari ini mereka tidak akan dipecat. Inggrid yang mendengar suara ini langsung menjadi marah. Dia berpikir siapa yang begitu lancang berteriak-teriak di siang bolong dan mengatakan bahwa dirinya adalah wanitanya? Begitu dia menoleh, wajahnya menjadi pucat pasi. ''Ya tuhan, kok bisa pria ini ada di sini?'' Inggrid lalu meminta sekretarisnya dan supirnya untuk menunggu di dalam mobil. Para petugas keamanan sebelumnya semakin berkeringat. Mereka sudah pernah melihat ekspresi marah sang presiden sebelumnya dan sekarang ekspresinya justru berkali-kali lipat lebih bengis dari sebelumnya. Mereka beranggapan bahwa hari ini adalah hari terakhir mereka. "Kenapa kau bisa ada di sini?" Kata Inggrid sambil mengerutkan dahinya. Mendengar hal ini, Randika pun tersenyum "Tentu saja aku ingin bertemu denganmu. Perusahaan ini milikmu bukan? Berarti perusahaan ini juga milikku dong. Kamu mau pergi ke mana? Apakah aku boleh ikut?" "Jangan macam-macam! Urusanku kali sangat penting dan aku tidak mau kau terlibat. Masuklah ke dalam gedung apabila kau ingin melihat-lihat dan jangan berbuat macam-macam di sana." "Kau tidak akan menemaniku?" "Memangnya aku terlihat seperti pengangguran? Aku tidak punya waktu untuk bersantai seperti kamu! Kalau tidak mau kau bisa pulang saja ke rumah!" Setelah mengatakan ini, Inggrid segera memberikan penjelasan kepada para petugas keamanan bahwa Randika bisa masuk ke dalam gedung. Dia lalu pergi bersama dengan sekretarisnya. Melihat Inggrid yang terburu-buru membuat Randika mengerti bahwa hari ini istrinya pasti mengalami sesuatu yang merepotkan dan memutuskan untuk tidak mengganggunya lebih lanjut. Dengan begitu saja, Randika bisa bebas melihat-lihat gedung Perusahaan Cendrawasih. Chapter 12: Maksudmu Parfum Ini? Perusahaan Cendrawasih dikenal sebagai pelopor kota ini. Gedung yang dimilikinya sangat megah dengan 12 lantai. Bagian interior gedung yang dimilikinya sangat bagus mulai dari lantai, tanaman hingga fasilitas-fasilitas lainnya. Tiap departemen memiliki lantai mereka masing-masing. Setiap orang memiliki akses yang terbatas pada pekerjaan mereka jadi keamanan gedung ini bisa dikatakan terjamin. Saat Randika berkeliling sendirian di tiap lantainya, tak satu pun perempuan cantik yang luput dari matanya. Saat dia asyik melihat-lihat, dia menyadari sesuatu. Mulai dari tengah-tengah gedung sampai ke lantai paling atas, terdapat beberapa ruangan kosong yang tidak ada isinya! Di ruangan kosong tersebut tidak ada papan nama departemen apa yang memiliki hak atas ruangan tersebut. Akhirnya setelah berkeliling gedung selama setengah jam akhirnya dia menemukan tempat ideal untuk membangun laboratoriumnya! "Hmmm.. apakah perusahaan ini tidak sebesar yang orang kira? Ah sudahlah, yang penting ruangan ini sangat bagus untukku! Ruangan ini cocok untuk membangun laboratorium dan dengan ini aku juga tidak akan memancing perhatian para musuhku." Melihat kondisi dan besarnya Perusahaan Cendrawasih di kota ini, apabila dia mendatangkan beberapa macam peralatan maka kecil kemungkinan bahwa rencananya akan diketahui pihak lain. Namun, Randika sedikit khawatir bahwa kemungkinan berhasil dirinya meramu ramuan X masih tergolong rendah. Bagaimanapun juga, data penelitian ramuan X sudah hilang bersama markasnya dan juga Perusahaan Cendrawasih adalah perusahaan yang berfokus pada kosmetik, hal yang sangat berbeda dengan ilmu pengobatan. Dia lalu memutuskan untuk menelusuri lantai lainnya, dia berharap menemukan sesuatu yang menarik. Pada lantai 9, keamanan tempat ini jauh lebih ketat daripada lantai lainnya. Randika tidak bisa melihat dalam ruangan yang ada pada lantai ini. Untungnya, para karyawan lantai ini sedang hendak kembali ke ruangan mereka setelah jam makan siang. Dengan cepat Randika menyelinap di tengah mereka dan memasuki ruang penelitian. Pada ruangan ini, para peneliti terlihat sibuk semua. Randika tidak ingin berbicara dengan mereka ataupun menarik perhatian, tujuannya adalah melihat seberapa jauh teknologi mereka. Dia berharap mungkin ini akan membantu dirinya dalam membangun kembali laboratoriumnya. Setelah berkeliling beberapa saat, wajah Randika dipenuhi dengan senyuman dan semangat. "Wow aku tidak mengira peralatan perusahaan ini cukup bagus! Dengan sedikit tambahan mesin dan peralatan lainnya, meramu kembali ramuan X bukanlah mimpi! Terima kasih istriku, aku sungguh beruntung bisa bertemu denganmu hahaha!" Sebelum markasnya di Jepang hancur dan berkhianatnya Bulan Kegelapan dan Harimau, semua pekerjaan ramuan X dilakukan oleh Yuna dari awal dan terkadang dirinya pun ikut membantu. Dia merasa bahwa dia tidak bisa terlalu mengandalkan Yuna untuk sekarang. Dengan masih berkeliarannya Bulan Kegelapan, Harimau dan Naoki membuat Randika harus segera memiliki ramuan tersebut. Dia tidak bisa bersikap pasif dengan menunggu Yuna sedangkan dia bermalas-malasan di rumah. Sudah waktu bagi dirinya untuk aktif. "Ah! Benar juga. Istriku pasti tidak percaya kalau tiba-tiba aku meminta sebuah ruangan untuk membuat obat. Jika aku memintanya secara langsung, dia pasti mengomel dan mengatakan bahwa aku gila lagi." Randika pun kembali mengelilingi ruangan penelitian ini sambil memikirkan bagaimana caranya dia meminta sebuah ruangan yang kosong tadi dengan alasan yang cukup akal. Hanya dalam beberapa langkah, tiba-tiba suara amukan Inggrid terdengar olehnya, "Kalian semua berhenti bekerja dan dengarkan aku! Terakhir kali ketika Peter dan timnya mengerjakan sebuah contoh parfum baru kalian semua hadir pada waktu itu, bisa jelaskan kenapa kalian bahkan tidak mengerti bagaimana cara membuatnya ulang? Kalian semua mau kupecat?" Siang hari tadi jelas makan siang Inggrid dengan Peter dan timnya tidak berjalan lancar. Bahkan ini bisa dianggap sebuah bencana. Tidak ada satu pun orang yang hadir dari pihak Peter, dia hanya mengirimkan seorang sekretarisnya yang menyampaikan bahwa mereka menginginkan keuntungan sebesar 70% dari hasil penjualan atau kerja sama mereka akan berakhir! Keuntungan sebesar 70%! Demi menjadi raksasa di dunia internasional, Inggrid bahkan rela menuruti perkataan dan permintaan Peter sebelumnya. Tapi sekarang terlihat bahwa rekan kerjanya ini memanfaatkan dirinya untuk memperoleh keuntungan lebih dari kerja sama mereka. Hal ini tidak bisa dipenuhi oleh Inggrid. Dengan keuntungan yang sekecil itu, pengeluaran yang dia keluarkan tidak akan sepadan dengan keuntungan yang dia peroleh. Dia tidak bisa membuat perusahaannya mengalami hal tersebut. Inilah risiko mengandalkan pihak luar demi kemajuan perusahaannya. Inggrid lalu mengatakan kepada sekretaris Peter untuk membatalkan kerja sama mereka. Dia pun segera kembali perusahaannya dengan hati yang kecewa. Sekarang, Inggrid hanya bisa mengandalkan ahli parfum milik perusahaannya. Sebelum Peter dan timnya ???memberontak'', mereka telah membuat sebuah contoh produk baru. Meskipun Inggrid tidak terlalu menguasai cara pembuatannya, saat produk tersebut dibuat sebagian besar ahli parfum miliknya telah hadir dan melihat cara pembuatannya. Dia berharap meskipun dirinya tidak paham, para ahli parfum miliknya ini bisa mengetahui rahasia pembuatan yang dimiliki Peter dengan berbekal ilmu mereka. Oleh karena itu, ketika Inggrid mengetahui bahwa mereka sama sekali tidak bisa meniru produk Peter tersebut, pemimpin perusahaan Cendrawasih ini langsung meledak. Inggrid benar-benar dikelabui oleh Peter. Ketika dia membuat produk ini, bahan-bahan yang diperlukan sudah hampir habis dan formulanya tidak dia sebarkan. Setelah membuat 2 contoh produk baru, sudah hampir tidak ada bahan yang tersisa. "Ibu, kami sudah berusaha semaksimal mungkin! Peter dan orang-orangnya adalah peneliti terbaik di dunia dan terlebih kita tidak memiliki formula mereka. Dengan dedikasi dan sumber daya yang memadai, bahkan kita membutuhkan waktu beberapa tahun dan beribu-ribu kali eksperimen untuk kita benar-benar berhasil membuat hal yang sama dengan mereka!" Yang mengatakan fakta yang pahit ini adalah Kelvin, pemimpin departemen parfum perusahaan Cendrawasih. Dia mengatakan hal ini dengan tubuh yang bergetar dan nada yang sedikit mengandung rasa malu. Untuk membuat sebuah parfum baru tidaklah sulit, yang sulit adalah membuat parfum dengan kualitas internasional. Sungguh hal yang sulit dilakukan oleh perusahaan Cendrawasih ini. Semua orang setuju dengan perkataan Kelvin, bahkan di dalam hatinya Inggrid juga setuju. Inggrid sadar akan masalah ini sejak awal tetapi dia masih tidak terima! Tinggal selangkah lagi dia akan memasuki dunia internasional tetapi dia gagal! Hanya satu langkah tapi langkah itu sangatlah berat dan mustahil untuk dilakukan. Tanpa langkah krusial ini, impian Inggrid untuk membuat perusahaannya berskala internasional tidak akan mungkin tercapai. Wajah cantik Inggrid sampai terlihat mengerut dan pucat. Apakah benar tidak ada cara lain? Wajah Kelvin juga tidak kalah pucat. Sebagai pemimpin dari departemen parfum, dia telah gagal melaksanakan tugasnya dan membuat kecewa perusahaan ini. Beban yang dia tanggung di pundaknya sangat berat. Semua orang di ruangan penelitian ini juga terdiam. Pembuatan parfum cukup unik. Dengan sedikit saja perbedaan pada jumlah penggunaan bahan pada saat pembuatan, maka hasilnya akan berbeda dan aromanya pun juga berbeda. Pada saat ini, hanya satu suara yang terdengar menggema di ruangan ini, "Lho istriku, kenapa dirimu terlihat begitu pucat?" Randika keluar dari kerumunan dan mendekati Inggrid. Istri? Tentu saja, semua orang yang mendengarnya sedikit tercengang. Sejak kapan pemimpin mereka menikah? Kenapa mereka pada tidak ada yang tahu informasi ini? Kerumunan para peneliti ini segera memeriksa sosok Randika yang mengaku sebagai suami bos mereka ini. Mereka memperhatikannya dengan seksama menilai kelebihan apa yang dimiliki pria ini sampai-sampai bos mereka yang terkenal sebagai wanita tercantik di kota ini mau bersama dengan dirinya. Ketika Inggrid melihat wajah Randika, wajahnya semakin pucat. Tiba-tiba dia merasa ingin pingsan dan tidak berdaya. Masalah produk parfum ini sudah cukup membuatnya pusing sekarang malah semua orang mengetahui bahwa dia mempunyai seorang suami. Di lain sisi Randika terlihat tersenyum dan tidak terlalu peduli dengan masalah yang sedang dihadapi perusahaan ini. Dia hanya mengatakan, "Oiii istriku, kenapa kau tidak menjawabku? Kenapa kau tidak mau melihat wajahku ketika aku mengajakmu berbicara? Apakah kamu malu karena belum terbiasa mendengar panggilan sayangku?" Mendengar kata-kata Randika ini membuat semua orang di dalam ruangan tertegun. Apakah ini suami pemimpin mereka? Kenapa pria ini terdengar seperti kakek-kakek genit? Melihat Inggrid tidak mau membalas perkataan dirinya, Randika kembali melihat-lihat peralatan yang dimiliki departemen ini. Dia merasa bahwa peralatannya cukup bagus, hanya butuh sedikit tambahan. Setelah itu, Randika berkata sambil menganggukan kepalanya, "Istriku, aku dengar ada parfum yang ingin kau buat ulang?" "Randika tolong, aku tidak punya waktu untuk berurusan denganmu sekarang. Jangan menggangguku dan cepat keluar dari sini!" Inggrid benar-benar tidak habis pikir, kenapa bisa dia bertemu dengan si bajingan ini di ruangan ini! Hati Randika sedikit sakit ketika istrinya mengusirnya. Dia berusaha tetap tenang dan berpikir dalam hati, Kalau kau bukan istriku aku pasti sudah tidak peduli denganmu! "Kalau masalahmu cuma gara-gara sebuah parfum, suamimu ini bisa membuatnya dalam hitungan menit." Kata Randika. Perkataannya ini malah membuat semua orang menghela napas. Dalam hitungan menit? Bahkan mereka membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menyamai level Peter dan timnya sedangkan pria ini bisa hanya dalam hitungan menit? "Omong kosong!" Kelvin sedikit marah mendengar perkataan Randika. "Mungkin Anda tidak paham akan permasalahan ini, tapi kami sedang berbicara tentang kualitas yang bisa diterima dunia. Bahkan dengan hasil jerih payah kami, kami saja membutuhkan waktu dan percobaan yang tidak sebentar. Sedangkan Anda membual bisa membuatnya dalam hitungan menit? Jangan bercanda!" Inggrid pun juga ikut marah, "Kurang ajar! Kau benar-benar lelaki tidak tahu diri! Hari ini kau tidur di jalan!" Ketika mendengarnya, Randika sedikit ketakutan. Tidur di jalan? Aku sudah susah payah menikah dan tinggal di rumah yang besar, sekarang dia akan tidur di jalan? Tidak! Aku tidak akan mengecewakan istriku! "Sudahlah, serahkan semuanya pada suamimu ini. Beri aku sepuluh menit." Kata Randika. "Bu, jangan biarkan dia melakukannya," Kelvin segera berusaha mencegah Randika, "bahan yang tersedia dan contoh produk Peter hanya tinggal sedikit. Jika pria ini gagal, maka tidak mungkin kita bisa membuat ulang produk ini." "Oh?" Randika sedikit tersinggung dengan perkataan Kelvin dan dia pun bertanya, "Kalau begitu apakah kamu bisa membuat ulang produk ini? Bukannya kamu mengatakan bahwa itu membutuhkan sumber daya yang besar dan waktu yang lama. Belum lagi kamu tadi menyinggung membutuhkan ribuan percobaan sebelum benar-benar berhasil." Mendengar hal ini, Kelvin benar-benar marah sampai tidak bisa berkata apa-apa. Meskipun pria itu mungkin adalah suami atasannya, dia ingin menghajar Randika karena telah menghina dirinya dan orang-orangnya. Inggrid berusaha menghentikan Kelvin tetapi Randika tampak tidak peduli dan berkata dengan santai, "Maaf teman-teman, bisakah kalian memberikanku contoh produk itu?" Kelvin langsung menatap Inggrid dengan tatapan penuh makna. Ketika Inggrid kembali ingin menegur Randika, dia melihat tatapan Randika yang penuh dengan percaya diri, kebulatan tekad dan ketenangan tidak biasa. Entah kenapa hal ini membuat dirinya dipenuhi perasaan hangat. "Berikanlah pria ini contoh produknya." Kata Inggrid sambil menghela napas dalam-dalam. Kelvin pun juga ikut menghela napas yang dalam dan memberikan contoh produk itu kepada Randika. "Terima kasih." Randika segera mengambil produk tersebut dan menghirupnya dalam-dalam. Tatapan semua orang di ruangan ini tertuju pada Randika. Ketika mereka melihat Randika yang menghirup kuat produk mereka itu, mereka merasakan absurditas. Dia terlihat seperti seekor kuda yang menghirup bunga. Jelas sosok yang ada di hadapan mereka ini bukanlah orang yang pantas dibandingkan dengan mereka apalagi dengan Peter. "Aduh gatel sekali hidungku!" Tiba-tiba Randika tidak kuat menahan bersinnya. Setelah itu, dia baru sadar bahwa tatapan semua orang yang ada di ruangan ini ternyata tertuju padanya. "Maaf, sepertinya aku agak tidak cocok dengan bau parfum ini." Katanya dengan santai. Tidak cocok? Parfum yang telah dibuat orang terkemuka di dunia ini tidak cocok dengan hidung pria ini? Randika tidak peduli dengan tatapan mata mereka dan terus memperhatikan produk parfum di depannya ini. Dia lalu mengambil sebuah tabung kosong di meja dan mulai berkerja. Buktikan dengan karyamu! "Apakah orang ini adalah ahli parfum juga?" Tanya seseorang kepada temannya. "Dari tindakannya sepertinya tidak." Orang di sebelahnya juga terkejut ketika melihat tindakan Randika. Dalam menghasilkan produk parfum, jumlah penggunaan bahan sangatlah krusial. Bahkan kelebihan setetes saja akan menghasilkan produk yang berbeda dengan aroma yang berbeda. Oleh karena itu, selama ini mereka menggunakan pinset. Tetapi di hadapan mereka sekarang, pria tersebut meramu parfumnya dengan menuangkannya begitu saja tanpa memperhatikan kuantitas penggunaan bahannya. Bagaimana mungkin pria ini bisa membuat ulang produk yang sama? Kelvin benar-benar sudah tidak tahan dan berkata pada Inggrid, "Cukup bu, tolong hentikanlah dia. Jangan biarkan dia terus-terusan membodohi kita seperti ini." Inggrid menatap Randika, sepertinya dia tidak mendengar percakapannya barusan. Randika masih berusaha meramu parfum yang diinginkan istrinya. Dia lalu mengambil sebuah parfum lainnya dan mencampurkannya dengan yang dia bawa. Tabung itu sudah hampir penuh setengahnya dan Randika masih mengambil 2 parfum lainnya dan mencampurkannya lagi. Kelvin yang melihat hal ini sudah menutup matanya rapat-rapat. Dia merasa bahwa pria ini sudah gila! Kalau tindakannya ini benar-benar berhasil, dia bahkan rela menjilat sepatu pria itu! Randika masih terus mencampur beberapa parfum lagi namun dengan kuantitas yang lebih sedikit dari sebelumnya. Sejujurnya, meramu parfum ini lebih gampang dari dia kira. Ketika dia masih kecil, dia dan Safira benar-benar dilatih kakek ketiga untuk mengingat berbagai macam tanaman obat baik dari bau, rasa, tekstur sehingga mereka bisa mengenalinya dengan mata tertutup. Meskipun dia tidak mendalami hal ini dengan sungguh-sungguh, indera penciuman Randika adalah salah satu yang terhebat di dunia! Terlebih lagi, sebentar lagi dia harus meramu ramuan X yang jauh lebih rumit daripada hal ini. Kalau dia tidak membuatkan parfum ini untuk istrinya, lebih baik dia menunggu musuhnya dan bersiap-siap menemui ajalnya. "Lalala!" Mata Randika berbinar-binar kemudian dia mulai mengocok pelan tabung yang dia bawa di hadapan para penonton sambil bersiul. Para peneliti ini merasa bahwa acara gila ini sudah mencapai tahap akhir. Kelvin yang membuka matanya masih dalam keadaan marah. Setiap tindakan pria ini benar-benar menghina profesinya! "Ibu Inggrid jika Anda tidak mengusir pria ini segera mungkin, aku akan mengundurkan diri dari perusahaan ini!" Kata Kelvin dengan marah. Hati Inggrid sudah mulai mengepal. Dia juga sudah tidak sabar lagi. Ketika dia hendak memarahi Randika, sebuah aroma dari sebuah parfum segera menyebar di dalam ruangan. Kelvin juga sadar akan hal ini dan terkejut. Apakah hidungnya telah menipu dirinya? Aroma ini sangat mirip dengan yang dikerjakan oleh tim dari Perancis tersebut. Aroma ini tidak terlalu pekat namun sangat ringan dan membawa kesan aroma musim semi. Randika pun memberikan tabung yang dia pegang kepada Inggrid sambil mengatakan, "Parfum inikah yang kau cari?" Dengan segera Kelvin menghampiri atasannya tersebut. Dia mencium aroma sama persis dengan contoh produk sebelumnya. Beberapa peneliti yang lain juga setuju akan hal tersebut. Apakah ini bukan mimpi? Ternyata selama ini hanya butuh 10 menit untuk menghasilkan hal yang sama? Mereka benar-benar berdiri diam dengan wajah yang tidak dapat mempercayai apa yang telah mereka lihat. Inggrid benar-benar tidak percaya akan hal ini. Di saat dia masih dalam keadaan linglung, tangan kanannya ditarik oleh Randika. "Istriku, kenapa kau tidak mencobanya di tubuhmu?" Inggrid sudah berada di pelukan Randika dan leher putihnya sudah ditetesi oleh parfum baru tersebut. "Kau! Apa yang kau lakukan!" Inggrid benar-benar lengah dan langsung mendorong Randika. "Yah setidaknya itu harum ketika kau pakai." Kata Randika dengan senyuman. Muka Inggrid langsung memerah. Dia juga mencium aroma tersebut dan merasa bahwa hasil parfum milik Randika ini memang benar-benar sama persis dengan yang dibuat oleh Peter. Namun, dia masih butuh kepastian terakhir. "Istriku yang cantik benar-benar memiliki aroma yang menggoda." Randika masih berusaha menggoda Inggrid. Sebenarnya, aroma menggoda ini bukan mengacu pada parfum melainkan aroma tubuh yang dimiliki oleh istrinya tersebut. Setiap manusia memiliki aroma tubuh mereka masing-masing, aroma tubuh Inggrid adalah hal yang paling disukai oleh Randika. "Tolong jangan berkata mesum seperti itu, aku tidak ingin yang lain salah paham." Inggrid menghampiri Randika dan berbisik ke telinganya dengan wajah yang tersipu malu. Pria ini memang vulgar, pikirnya. "Bagaimana menurutmu tentang hasil karyaku?" Randika masih ingin mencari pengakuan dari istrinya ini jadi dia menanyakan hal ini dengan senyuman liciknya. Inggrid sepertinya mengerti trik suaminya ini. Dia akhirnya memutuskan untuk meminta Kelvin yang masih tercengang untuk membawa hasil produk Randika ini. Dia meminta Kelvin untuk mengedarkan contoh ini kepada semua orang yang ada di ruangan ini. Setiap orang yang mengendusnya akan memasang wajah tidak percaya. Bagi Randika, wajah-wajah terkejut ini adalah kesenangan yang tiada habisnya apalagi ketika Kelvin yang mengendus hasil parfumnya. Akhirnya semua orang sepakat dan menganggukan kepalanya. Dengan berat hati Kelvin berkata pada Inggrid, "Parfum iniˇ­. sama persis!" Segera setelah itu, tepukan tangan dan suasana sukacita memenuhi ruangan. Bahkan muka Inggrid dipenuhi dengan senyuman yang manis dan matanya tampak mengucurkan setitik air mata. Ketika Randika melihat istrinya ini merasa begitu bahagia, hal ini membuat hatinya senang dan merasa bahwa hasil kerja kerasnya sepadan. "Bagaimana dengan formulanya?" Tanya Inggrid kepada Kelvin. Tiba-tiba, wajah Kelvin kembali pucat dan melirik ke arah Inggrid, "Untuk hal tersebut Ibu harus memintanya kepada suami Anda." Berhasil mencuri dengar percakapan mereka, Randika hanya bersiul-siul sambil memalingkan wajahnya. Inggrid yang mendengar hal ini langsung menghela napas. Tidak ada pilihan lain, dia akhirnya berkata kepada Randika, "Kamu ikutlah denganku." "Ke mana memangnya kita mau pergi?" "Kita akan ke kantorku." ... Saat mereka tiba di kantor presiden Perusahaan Cendrawasih, mereka segera duduk berseberangan. Randika terlihat santai dengan menopang dagunya dengan satu tangannya sambil melihat Inggrid di seberangnya. "Cantik bagai bidadari, harum bagai bunga, kaulah wanita idamanku!" Randika memperhatikan wajah istrinya yang begitu cantik dengan bibir yang dilapisi oleh lipstik berwarna merah itu. Belum lagi aroma tubuh istrinya yang sangat menggoda dirinya. Mendengar hal ini membuat wajah Inggrid kembali memerah. Dasar pria genit! Melihat tingkah laku orang ini membuat dirinya terkadang ingin menghajarnya. "Aku ingin minta tolong bantuanmu." Kata Inggrid dengan muka serius. "Kau membutuhkan apa wahai istriku?" Kata Randika dengan senyuman. "Aku membutuhkan formula dari parfum yang barusan kau buat." Kata Inggrid. Chapter 13: Menangkap Ikan "Tidak masalah." Randika langsung berjanji akan membantu Inggrid dan perusahaannya. "Ingatlah akan satu hal ini, kau itu milikku. Buat apa khawatir aku akan menolak? Bukankah wajar suami membantu istrinya yang kesusahan?" Inggrid menggigit bibirnya. Ketika dia melihat wajah Randika, dia merasa bahwa lelaki ini memang vulgar dan tidak tahu diri. Dia ingin membalas perkataan suaminya tetapi dia tidak bisa membuka mulutnya sama sekali. Inggrid berambisi untuk menguasai pasar internasional dan membuat perusahaannya menjadi perusahaan terbesar di dunia. Salah satu cara untuk melangkah masuk ke dalam pasar ini adalah dengan produk parfumnya. Dan kemampuan Randika dalam membuat parfum sangatlah berharga. Selama keberadaan Randika di Perusahaan Cendrawasih ini solid maka tidak butuh waktu yang lama bagi mereka untuk masuk ke dalam jajaran perusahaan besar berskala internasional. Yang menjadi permasalahannya, hal ini membutuhkan sosok Randika yang dapat menghasilkan parfum dengan kualitas tinggi. Bagaimana caranya Inggrid menahan Randika agar terus bekerja bagi dirinya? Terutama setelah masa kawin kontrak mereka habis nanti, apakah Randika akan segera pergi dari hidupnya dan apabila itu terjadi apakah dia juga akan keluar dari perusahaan ini? Untuk sesaat hal ini membuat pusing Inggrid. ''Istriku cantik juga kalau sedang kebingungan seperti ini. Kenapa dia tidak mau mengatakan yang sejujurnya? Ayo kita lihat seberapa lama kau bisa menahan dirimu ini!'' Randika tentu saja telah berhasil melihat niatan Inggrid jadi dia menunggu mangsanya menarik umpannya. Setelah beberapa saat, Inggrid pun akhirnya mengatakan, "Aku ingin mempekerjakanmu sebagai ahli parfum dari perusahaanku." Hahaha, aku tahu bahwa kamu akan bilang seperti itu. Randika segera meluruskan badannya dan tersenyum, "Hmmm apakah aku masih harus tidur di jalan?" Inggrid pun tersipu malu dan membalas, "Tentu saja tidak." "Kalau begituˇ­" Randika segera menatap mata Inggrid. "Apakah aku tidur sekamar denganmu?" "Bajingan! Jangan kelewatan kalau ngomong!" Kata Inggrid. Bahkan ketika marah, Randika menganggap istrinya sangatlah cantik dan dia tidak sabar mencicipinya kembali. "Jangan marah dong, nanti cantikmu hilang lho." Kata Randika sambil berkedip. "Atau kalau tidak kamu yang tidur di kamarku?" "Hei Randika!" Inggrid benar-benar dibuat pusing oleh tingkah laku Randika. Kenapa bajingan ini sering memancing emosinya? "Kenapa kau malu-malu? Bukankah wajar kalau suami istri tidur bersama?" Kata Randika sambil tersenyum. "Kalau kau hanya ingin menguji kesabaranku, lebih baik kau keluar saja dari sini!" Inggrid benar-benar sudah tidak tahan, dia mengambil sebuah buku di mejanya dan hendak melemparnya. "Tunggu! Aku hanya bercanda kok hahaha. Maafkan suamimu ini!" Randika segera panik ketika istrinya itu hendak melemparinya. Dia segera mengambil buku tersebut dan menyuruh Inggrid menenangkan dirinya kembali. Sejujurnya, tindakan Inggrid ini dianggap imut oleh Randika. "Baiklah kalau begitu, aku akan membantumu." Kata Randika. "Tapi aku tidak bisa membantumu setiap harinya. Aku tidak ingin terjebak di ruangan untuk terlalu lama." Inggrid nampak sudah tenang kembali dan mengangguk, "Kalau begitu aku akan membayarmu 3x lebih banyak dari gaji Kelvin." "Istriku, kenapa kau berkata seperti itu?" Randika segera mengayunkan tangannya dan melihat sedikit perubahan dalam wajah Inggrid. Dia lalu mengatakan, "Aku tidak butuh uang. Aku hanya butuh sebuah janji darimu sebagai gantinya." Inggrid sudah menduga hal ini akan terjadi. "Apa syaratmu?" "Hanya tambahkan beberapa alat yang kubutuhkan." Kata Randika. "Nanti aku akan memberikan daftar untukmu." Inggrid pun mengangguk. "Kalau begitu, adakah yang bisa kubantu lagi untuk istriku tercinta?" Tanya Randika dengan nada genit. "Sudah cukup." Balasnya "Kalau begitu aku akan pulang dulu." Randika segera berdiri dan menatap Inggrid, "Aku sudah cukup capek berkeliling di perusahaanmu dan aku akan kembali nanti kalau aku sempat." Mendengar hal ini Inggrid sedikit tertawa pahit dalam hatinya. Dia berpikir bahwa dirinya lah yang lebih capek. Melihat sosok Randika yang hendak pergi, entah kenapa membuat Inggrid mengatakan, "Ingatlah untuk makan malam di rumah ya." Ketika mendengarnya, Randika kaget dan sempat berputar badan. Melihat wajah Inggrid yang tersipu malu, hatinya tersentuh. Istrinya yang cantik memperlakukan dirinya seperti seorang suami? Hal ini cukup langka dan membuat dirinya tambah semangat. "Hahaha, malam hari nanti aku hanya ingin memakan dirimu." Kata Randika sambil berkedip. "Dasar kau!" Wajahnya segera memerah kembali karena amarah. Setelah beberapa saat, dia berpikir pada dirinya sendiri, Kenapa pria itu selalu vulgar dan berpikiran mesum? Memikirkan bagaimana tindakan Randika hari ini membuat dirinya entah bahagia atau marah. Tetapi satu hal yang pasti, dia tidak bisa berhenti tersenyum ketika melihat sosok Randika yang berhasil memecahkan masalah terbesarnya. ........ Ketika dia sudah berada di luar gedung, Randika kebingungan. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Dia mengatakan ke Inggrid bahwa dia akan pulang, sebenarnya dia masih cemas dengan masalahnya sendiri jadi mana mungkin dia bisa bekerja secara maksimal. Masih belum ada kabar dari Yuna dan Shadow masih dalam proses penyelidikannya. Sedangkan Bulan Kegelapan dan musuhnya yang lain masih bersembunyi dalam kegelapan, mengintai dirinya. Randika merasa semua ini melelahkan dan akhirnya memutuskan sesuatu. "Aku sudah lama berada di kota ini tapi aku tidak pernah berkeliling. Lebih baik hari ini aku jalan-jalan saja dengan santai." Setelah menelusuri kota selama setengah jam, Randika tiba di taman kota yang paling luas di kota Cendrawasih. Terkenal akan keindahan dan kebersihannya, taman ini menjadi tempat favorit orang-orang di kota ini untuk bercengkerama ataupun berolahraga. Taman ini juga dilengkapi dengan danau buatan seluas 3 kilometer. Banyak orang juga senang memancing di sini. Di taman ini, syarat untuk memancing adalah orang harus menyewa peralatan yang ada di toko yang ada di samping danau. Ikan yang didapat tidak dipungut biaya jadi hal ini membuat orang berbondong-bondong untuk memancing di taman ini. Memancing menjadi hobi para warga kota Cendrawasih baik itu laki maupun perempuan. Memancing? Kata tersebut mengingatkan dirinya pada kenangan saat dia kecil yang memancing ikan di sungai bersama kakeknya. Mengingat hal ini membuat dirinya tersenyum. Dia akhirnya memutuskan untuk memancing di taman ini. Ketika dia sudah berada di depan toko alat penyewaan, dia tiba-tiba berhenti. "Aduh harusnya aku tadi minta uang ke istriku." Kata Randika sambil tersenyum pahit. Untuk memancing di taman ini orang perlu menyewa peralatan memancingnya. Apa boleh buat, dia akhirnya memutuskan untuk melihat orang memancing karena itu tidak dipungut biaya. Meskipun ini bukan akhir pekan, taman terbesar di kota ini masih dikerumuni oleh banyak orang dan juga pemancing. Baik itu keluarga, pasangan, manula, semuanya mengunjungi taman ini khususnya para manula yang mengisi keseharian mereka dengan memancing. Di saat dia melihat-lihat orang-orang sedang memancing, Randika menemukan seorang wanita yang sangat cantik. Pada saat ini, mata Randika benar-benar terpaku pada dirinya. Sepasang kaki putih yang bergelantungan di pinggir danau dengan paha mulus yang kencang membuat Randika terpana melihatnya. Wanita ini memakai hot pants yang menonjolkan kaki panjangnya yang putih. Tatapan mata Randika terfokus pada sekitar paha. Selama perempuan itu bergerak sedikit saja maka dirinya bisa melihat warna dalaman apa yang sedang dipakainya. Dari selera bajunya, Randika mengerti bahwa perempuan ini mengerti dunia busana. Di bagian atasnya dia memakai tema Cropped Top dengan dibalut oleh blus. Dia ingin menonjolkan perutnya yang rata dan figur tubuhnya yang seksi. Terlebih lagi, dadanya yang besar menjadi sorotan utama dari mata para lelaki. "Wahhh cantik sekali perempuan ini." Kata Randika dalam hati. Perempuan ini memiliki rambut pirang, bibir mungil dengan wajah yang terlihat masih muda. Bulu matanya yang lentik terus bergetar, bibirnya nampak sedang bersiul dan tatapan matanya terlihat serius ketika dia memperhatikan alat pancingnya dengan seksama. Melihat betapa cantiknya perempuan ini membuat Randika ingin melihatnya lebih dekat. Perempuan ini tidak menyadari keberadaan Randika karena dia masih fokus terhadap alat pancingnya. Alat pancingnya dari tadi terus bergetar sehingga dia merasa sudah ada ikan yang terkait di kailnya. Ketika dia mengangkat alat pancingnya, ternyata tidak ada ikan sama sekali. Randika tersenyum ketika melihatnya. Bukannya mustahil memancing dengan cara seperti itu tapi sangat sulit. Apalagi orang awam yang menggunakan teknik seperti itu. Pada saat ini, terdengar suara orang tua dari sampingnya yang mengatakan, "Hei kau! Bisa-bisanya kau memancing dengan cara seperti itu?" Setelah suara itu terdengar, suara-suara lain ikut menyusul, "Benar, kau tidak bisa memancing dengan cara seperti itu!" "Perempuan itu tidak memancing, dia hanya sedang bermain dengan ikan." Sindir orang lain. "Kalau kau seperti itu terus, kau akan mengganggu kami para pemancing yang lain!" Viona yang mendengar sindiran-sindiran tersebut merasa ketakutan. Dia hanya ingin bersantai dengan memancing di taman ini, mengapa para manula ini terlihat serius sekali? Dengan adanya dukungan, si manula yang pertama kali memulai hal ini menjadi sangat percaya diri. "Aku tidak tahu kau berasal dari mana, tapi kalau kau tidak berniatan untuk memancing dengan serius dan hanya bermain-main saja, lebih baik kau berhenti saja." Viona merasa malu dengan perkataan pak tua ini. Memangnya ada apa dengan dirinya? Dia hanya ingin bersantai sambil memancing dan menikmati suasana santai ini. "Sudahlah pak Kris, wajar kalau perempuan tidak tahu cara memancing. Apalagi dia masih sangat muda." Kata teman pak Krisna. "Hei kukasih tahu ya, masalahnya dia itu duduk di sampingku. Dia hanya akan mengusir para ikan kalau begini terus. Kau ingin aku makan kerikil hari ini?" Pak tua Krisna terdengar sangat marah. "Sudah dari pagi aku tidak dapat ikan, pasti gara-gara ulah gadis ini!" "Kau enak ngomong begitu karena sudah dapat 5 ikan, aku dari pagi tahu kailku tidak disentuh sama sekali. Setelah mendengar ini kau masih ingin membela gadis ini?" Lalu pandangan pak tua Krisna mengarah ke Viona, "Karena kamu tidak bisa memancing, buat apa kamu memancing?" Viona benar-benar merasa malu dan berurai air mata. Setelah menenangkan diri sebentar dia mengatakan, "Maafkan aku, aku akan pergi dan mencari tempat lain." "Pergi sejauh mungkin! Kuberitahu ya, kalau kamu memancing seperti itu terus kamu tidak akan mendapatkan apa-apa dan hanya akan menjadi pengganggu untuk orang lain!" Mendengar hal ini Viona kembali menangis, "Kalau begitu aku akan berhenti memancingˇ­." Pak tua Krisna menganggukan kepalanya, "Itu bagus. Jangan ganggu orang lain lagi." Ketika Viona hendak pergi dari tempat duduknya, sebuah tangan menahan pundaknya. "Kata siapa orang tidak bisa memancing dengan teknik seperti ini?" Viona menoleh dan melihat Randika yang datang untuk membelanya. Randika lalu membisiknya agar dia diam di tempat dan jangan mau mengalah kepada pak tua itu. "Anak muda, kau berkata sembarangan." Pak tua Krisna melihat Randika yang muncul di samping Viona dengan muka tidak menyenangkan, "Gadis itu daritadi mengusik para ikan dan membuat kami kehilangan ikan. Bukankah seperti itu teman-teman?" Orang yang ada di samping kiri Viona mengangguk pelan. "Nona sebaiknya kau pindah saja biar kita sama-sama enak." "Omong kosong! Danau ini diperuntukkan bagi semua orang dan ikan di dalamnya adalah hak semua orang. Kalau kau tidak mendapatkan ikan satu pun mengapa kau menyalahkan gadis ini bukan ikannya?" "Hei bocah, aku sudah memancing selama lebih dari 20 tahun dan kau pikir aku tidak tahu faktor apa yang membuat para ikan tidak menggigit kailku?" Viona semakin takut berada di sini dan ingin segera pergi. Tetapi tangan Randika masih menahan dirinya dan dia pun melihat wajah Randika yang penuh dengan percaya diri, wajahnya pun memerah. Randika tidak menanggapi perkataan pak tua itu. Dia tahu bahwa tindakan lebih berarti daripada perkataan. Duduk dengan memangku Viona, Randika membantu Viona memancing kembali dengan cara dia sebelumnya yaitu dengan menggoyang-goyangkan kailnya ke sana kemari. Melihat kedua pemuda ini tidak mempedulikan dirinya, pak tua Krisna merasa muak. "Oke aku akan berhenti memancing untuk hari ini. Aku akan melihat bagaimana caramu bisa memancing ikan dengan teknik seperti itu. Tanpa bantuan hantu ataupun jin, jangan harap mendapatkan sesuatu." Orang yang disamping kiri Viona juga merasa terganggu dengan mereka, "Dasar anak muda, mereka menganggap dirinya tahu segalanya. Kalian hanya bisanya memancing keributan." Orang-orang yang memancing di danau ini sudah menghentikan kegiatan mereka dan memperhatikan drama ini dari awal. Sekarang mereka penasaran dengan sosok Randika yang terlihat seperti orang bodoh itu. Mereka tidak sabar untuk mempermalukan dirinya. "Pffttt, lelaki itu hanya ingin sok keren di hadapan perempuan itu. Bagaimana mungkin dia bisa memancing dengan cara seperti itu?" "Kau benar. Selama bertahun-tahun memancing, aku belum pernah melihat orang berhasil memancing dengan cara amatiran seperti itu." "Bukankah pak Krisna adalah pemancing terhebat di taman ini? Bagaimana bisa lelaki itu percaya diri bisa mengalahkan pak tua itu dengan cara seperti itu?" Viona yang berada di pelukan Randika mulai gelisah, tetapi ketika dia melihat raut muka Randika, dia merasa hatinya tenang. "Jika kau tidak bisa mendapatkan ikan satu pun hari ini, jangan pernah datang ke sini lagi." Pak tua Krisna lalu menatap Viona, "Dan kau jangan pernah duduk di sampingku lagi ke depannya." "Kalau aku mendapatkan ikan bagaimana?" Nada suara Randika terdengar tenang. Ternyata, tenaga dalamnya sudah menyebar ke dalam danau melewati kail pancingnya. "Apakah kau bisa? Kau pikir kau dewa memancing? Bahkan lebih mudah bagi si Marlin untuk menemukan anaknya Nemo daripada kamu mendapatkan ikan!" Mendengar lelucon ini, para penonton pun ketawa. "Baiklah, lihat saja nanti." Kata Randika dengan santai. Tiba-tiba dia mencengkram erat tangan Viona dan menarik kembali kail pancingnya. Disertai teriakan Viona, ikan berukuran besar keluar dari dalam danau. Pak tua Krisna, yang awalnya tertawa, ketika melihat ikan besar yang berhasil dipancing Randika, dia benar-benar tercengang. Raut wajahnya segera menjadi jelek. "Apa? Dia bisa memancingnya?" "Ya tuhan, ternyata ada ikan sebesar itu di sini?" "Benar-benar lihai!" Para penonton di belakang mereka segera bersorak. Untuk pertama kalinya, mereka melihat ikan sebesar itu berhasil terpancing di danau ini. Viona merasa sangat bahagia di dalam hatinya. Dia berhasil membuktikan bahwa cara dia memancing tidak salah berkat bantuan lelaki ini. Randika masih bermuka datar selagi dia mengambil ikan dari kailnya. Lalu dia segera memasukkannya kembali ke dalam danau. Dalam beberapa detik, lagi-lagi ikan besar berhasil dia tangkap. "Gila! Hanya hitungan detik!" "Dewaˇ­ Benar-benar dewa!" Pak tua Krisna dan temannya benar-benar terkejut, mereka saling menatap dan terheran-heran. Mereka melihat bahwa tidak sampai 30 detik si Randika melempar kailnya dan dia sudah mendapatkan ikan yang sama besarnya dengan yang pertama. Mereka merasa bahwa ikan-ikan ini pasti sedang kesurupan karena mereka dengan bodohnya mau tertangkap oleh Randika. Semua penonton terus bersorak ketika Randika berhasil memancing ikan satu per satu. "Gilaˇ­ Ikan-ikan di danau ini sudah menjadi gila semua!" Pak tua Krisna hanya bisa bergumam pada dirinya sendiri. "Hei kalau kau lihat baik-baik, bukankah ikan-ikan ini sudah seperti mengantri untuk ditarik?" Mendengar hal ini membuat pak tua Krisna bernapas lega, ternyata yang berpikiran seperti itu bukan hanya dirinya. Dia sudah menganggap dirinya gila ketika dia melihat ikan-ikan tersebut seperti sudah menunggu kail Randika begitu saja. Setiap kail itu masuk ke dalam air, dalam hitungan detik seekor ikan sudah pasti menggigit kail tersebut. Kejadian ini membuat semua orang kebingungan. Bukan Randika yang mencari ikan dengan kailnya, para ikan mencari kail Randika! Pak tua Krisna berpikir bahwa lelaki ini pasti jelmaan dewa memancing. Randika pun tersenyum melihat semua ini. Dia lalu melepas genggamannya pada tangan Viona dan pergi begitu saja. "Hei apa aku sudah gila? Aku merasa bahwa ikan-ikan itu memang sengaja menghampiri kailnya." "Ini pertama kalinya aku melihat orang memancing dengan cara seperti ituˇ­ Dunia memang luas!" Chapter 14: Viona Para penonton masih terpukau dengan teknik memancing Randika yang sangat mendewa tersebut. Randika pun meninggalkan mereka dengan wajah yang terlihat puas. Sedangkan Viona, gadis ini merasa hatinya berdebar-debar terus menerus dan wajahnya terus tersipu malu. Senyuman puas Randika dan hangatnya pelukannya masih melekat erat di dalam benaknya. Menggigit bibirnya, dia memutuskan untuk mengejar pria tersebut. Ketika Randika pergi meninggalkan area memancing dia sedikit merasa kecewa. Tindakannya tadi sudah keren dan dia langsung pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada gadis itu. Kenapa gadis itu belum mengejarnya? Apakah pesonanya masih kurang? Kalau benar gadis itu tidak mengejarnya, apakah terlihat aneh kalau dirinya kembali dan meminta nomor handphonenya? Perempuan secantik itu jarang dia lihat terutama dengan dadanya yang besar itu. Akhirnya dia memutuskan apabila gadis itu tidak mengejarnya, dia akan kembali dan menanyakan nomor handphonenya. Persetan dengan gengsi! Pada saat itu juga, terdengar teriakan dari belakang punggungnya, "Tunggu!" Yes! Tampaknya pesona milikku tidak pudar! Memasang wajah sok serius, Randika berputar dan melihat Viona yang berusaha menghampirinya. Viona tampak sedang berlari mengejar Randika. Dadanya yang besar itu bergerak ke atas dan ke bawah secara konstan dan membuat Randika menelan air liurnya. Tidak ada satu detik pun tatapan matanya berubah arah. Mungkin punya istrinya tidak kalah besar tetapi dia merasa punya gadis ini lebih besar dan indah. "Aku belum berterima kasih atas kebaikanmu tadiˇ­ Namaku Viona, senang bertemu denganmu." Dengan napas terengah-engah, Viona segera berterima kasih kepada Randika. Wajahnya pun kembali tersipu malu ketika melihat sosok pria ini. "Namaku Randika." Randika lalu mengambil sapu tangannya dan mengusap keringat yang ada di wajah Viona. Ya tuhan lembut sekali kulitnya! Belum lagi pipinya yang begitu empuk dan bibirnya yang mungil ini, dia ingin mencicipinya. Wajah Viona semakin merah karena tindakan Randika yang jentelmen. Setelah selesai mengusap keringatnya, Randika menggenggam tangan Viona dan berkata dengan muka datar, "Tidak apa-apa, aku hanya tidak suka ketika orang mempermalukan seorang gadis di depan umum." Viona yang tersipu malu membalas, "Aku tetap ingin mengucapkan terima kasih atas tindakanmu. Belum pernah ada orang yang membelaku sebelumnya." Setelah itu Viona menarik Randika agar lebih dekat dengannya dan berbisik, "Hei, kasih aku nomormu dan kita bisa bertukar kabar setiap harinya." Randika langsung tersenyum, si Viona ini ternyata agresif juga dan dia tidak perlu repot-repot meminta nomornya. Setelah Viona memberikan nomor handphonenya dia mengatakan, "Kalau kau senggang dan bosan, kau bisa memanggilku kapan saja!" Setelah mengatakan hal tersebut, wajah Viona menjadi sangat merah. Bisa-bisanya dia mengatakan hal ambigu seperti itu. Randika juga tertegun ketika mendengarnya. Bukankah ini seperti mengatakan bahwa datanglah ke rumahku kapan saja, aku siap bermain denganmu kapan saja! Viona merasa kata-katanya benar-benar ambigu. Dia ingin membenarkan tetapi akhirnya dia memutuskan untuk berlari pergi. Randika yang melihat sosok Viona yang pergi merasa bahwa sifat seperti Viona ini cukup menyenangkan. Gadis polos yang bingung antara cinta dan nafsu sangatlah menggemaskan. Hal ini sangat berbeda dengan istrinya Inggrid. Setelah dia melarikan diri dari Randika dengan hati yang berdebar-debar, Viona tersadar bahwa dia hanya memberikan nomor miliknya dan tidak meminta nomor milik Randika. Kalau begini jadinya, dia takut bahwa pria tersebut tidak akan menghubunginya dan lupa terhadap dirinya. Dia lalu berpikir dalam hatinya, Apakah pria itu akan melupakan aku? Sesaat setelah dia berpikir seperti itu, handphonenya bergetar. Ternyata ada pesan dari nomor tidak dikenal. "Hei ini aku Randika, kamu tidak mencatat nomorku tadi. Lain kali kalau kau senggang, aku ingin mengajakmu makan malam berdua." Melihat pesan ini membuat Viona tersenyum lebar. ...ˇ­.. Ketika kembali ke rumah, waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Ibu Ipah tidak terlihat ada di rumah, dia pasti sedang berbelanja untuk makan malam. Memanfaatkan keadaan sepi ini, Randika segera pergi ke kamarnya dan menyalakan komputernya. Dia segera menghubungi Yuna. Yuna yang berpakaian minim itu pun segera muncul di layar komputernya. "Bagaimana keadaan di sana?" Randika sedang tidak ingin berbasa-basi. Ketika mendengarnya, tubuh Yuna sedikit bergetar "Tuan tidak perlu khawatir, markas baru kita telah mulai dibangun kembali. Lokasi markas hanya diketahui olehku dan orang-orangku jadi tidak ada orang lain yang mengetahui lokasi ini." Randika mengangguk puas. Pembangunan markasnya ini juga memerankan peran penting. Tanpa ramuan X, sangat sulit baginya untuk menahan kekuatan misteriusnya. Bahkan dengan bantuan Safira sekalipun, itu hanya bertahan 10 hari dengan catatan dia tidak bisa menggunakan tenaga dalamnya terlalu banyak. Jika orang-orang yang sedang bersembunyi di balik kegelapan itu keluar, dia yang sekarang tidak bisa melawan balik. "Baguslah kalau begitu, kalau ada apa-apa segera kabari aku." "Randika kau tidak perlu khawatir. Aku akan meramu ramuan X milikmu dalam sebulan." Yuna mengatakannya dengan muka serius. "Aku juga mengutus beberapa orang milikku untuk menyelidiki Bulan Kegelapan dan Harimau. Namun aku masih belum mendapat kabar dari mereka." "Susah bagimu untuk menemukan markas maupun keberadaan mereka," Kata Randika. "Kau tidak perlu repot-repot mengatasi mereka berdua, serahkan mereka kepadaku!" Ketika mengatakan hal ini, aura membunuh Randika sedikit keluar. Meskipun ada kemungkinan Bulan Kegelapan yang dia bunuh adalah palsu, mau yang asli keluar atau dalang yang asli juga ikut keluar, hal ini tidak membuatnya takut. Di bawah tatapan mata Ares, tidak ada orang yang bisa bersembunyi! Setelah menyelesaikan percakapannya dengan Yuna, Randika mulai berpikir kembali mengenai masalah-masalahnya. Tidak diragukan lagi bahwa pengkhianatan Bulan Kegelapan dan Harimau disebabkan oleh sesuatu tetapi yang mengganjal dirinya adalah kenapa mereka bisa menemukan dirinya begitu cepat? Hanya beberapa hari setelah dirinya tiba di Kota Cendrawasih, Naoki Moretti berhasil menemukan dirinya. Apakah Bulan Kegelapan dan Harimau memanfaatkan para mafia Italia itu? Randika tidak percaya akan hal itu. Apakah salah satu anggota dari 12 Dewa Olimpus bisa dilacak oleh sekumpulan cecunguk? Kalau hanya mengandalkan para mafia itu rasanya susah untuk dipercaya. Setelah memikirkan hal ini, Randika mengambil handphonenya dan memanggil Shadow. "Ares sang Dewa Perang!" "Selamat sore tuan!" Shadow membalas. "Bagaimana dengan penyelidikanmu?" "Bawahanku telah memastikan bahwa Bulan Kegelapan telah mati." Mati? Wajah Randika mengkerut ketika mendengar hal ini. "Tuan, laboratorium Anda telah dihancurkan oleh Naoki Moretti, Bulan Kegelapan dan Harimau." Suara Shadow terdengar tenang. "Aku mengetahui bahwa Bulan Kegelapan berada di Amerika dan aku mengejarnya hingga ke Eropa, tetapi ketika aku di Perancis aku kehilangan jejaknya. Kemudian aku mengetahui bahwa dia berada di Indonesia." Wajah Randika semakin mengkerut mendengarnya. Jadi Bulan Kegelapan yang dia bunuh ternyata adalah asli? "Shadow, apakah kau tahu bahwa Bulan Kegelapan telah kubunuh pada hari itu?" Kata Randika ragu-ragu. "Jika tuan berkata demikian, pasti Bulan Kegelapan telah mati." Kata Shadow. "Laporan intelijenku tidak menyinggung keberadaan sekaligus kabar mengenai Bulan Kegelapan sejak lama." Kali ini Randika bingung. Apakah orang yang dia bunuh sebelumnya adalah Bulan Kegelapan yang asli? Kenapa dia merasa bahwa orang itu adalah palsu? Keraguannya ini bukanlah dengan alasan tidak mendasar. Ini adalah insting, insting yang telah dia asah selama bertahun-tahun yang membuatnya pantas menyandang nama Ares. Tetapi Randika percaya akan kemampuan Shadow. Laporan intelijen Shadow tidak pernah menginformasikan hal yang salah. Jika dia mengatakan bahwa lawannya mati, pastilah orang itu mati. Keberhasilan Ares bertahan hidup hingga hari ini juga berkat informasi yang dikumpulkan oleh Shadow. Bisa dikatakan bahwa Shadow adalah mata dan telinganya di seluruh dunia! "Tetap perhatikan masalah ini dan jangan lengah." Kata Randika. "Baik tuan!" Setelah menutup percakapan mereka, Randika masih dilanda kebingungan. Jadi selama ini dugaannya salah? Tidak mungkin! Selama ini instingnya tidak pernah salah. Orang yang dia bunuh pada malam hari itu jelas bukan Bulan Kegelapan. Jadi di mana letak kunci permasalahan ini? Chapter 15: Pembangunan Kembali Laboratorium milik Randika! Kota Cendrawasih kembali menyambut hari yang baru. Orang-orang mulai bangun dari tidur mereka dan bersiap-siap memulai hari. "Wah mobilmu tidak kalah cantik dengan dirimu ya!" Kata Randika sambil masuk dan duduk di kursi samping pengemudi. Hari ini, Randika akan ikut dengan Inggrid pergi ke Perusahaan Cendrawasih untuk mengatur masalah pembuatan parfum. Mau tidak mau, mereka harus berangkat bersama agar mencegah Randika yang keluyuran. Tentu saja seorang pemimpin perusahaan terbesar di kota ini memiliki seorang supir tetapi hari ini Inggrid lah yang menyetir mobilnya sendiri. Usut dibalik usut, ternyata Randika sudah mengancam si supir agar dirinya absen hari ini. Dia ingin berduaan dengan istrinya! Mendengar ancaman tersebut, si supir dengan enggan hati ijin tidak masuk kerja karena masalah kesehatan dan membuat Inggrid harus menyetir sendiri. Di tengah-tengah perjalanan, Randika memperhatikan Inggrid dari samping. Matanya tertuju ke dada istrinya yang terbelah oleh sabuk pengaman. Pada saat ini dia sedang membandingkannya dengan milik Viona lalu menghela napas. Dia tidak tahu apakah gunung itu bisa dia pegang dengan satu tangan? Inggrid curiga kenapa Randika begitu diam hari ini dan akhirnya menoleh. Dia melihat bahwa pria itu sedang menatap dadanya. Dengan perasaan malu, dia memarahinya, "Hei! Ngeliatin apa kamu!" "Aku sedang mengagumi istriku yang cantik tiada duanya." Kata Randika tanpa ragu. Mendengar kata-kata ini, Inggrid tersipu malu dan merasakan hatinya menghangat. Dia lalu memperhatikan Randika sekali lagi dan melihat tatapan matanya tidak tertuju wajahnya dan tangannya nampak meremas-remas sesuatu. Menyadari hal ini, Inggrid pun langsung marah, "Dasar pembohong!" Randika segera terbatuk dan duduk tegak kembali sambil mengatakan, "Apakah alat-alat yang kubutuhkan sudah sampai?" Inggrid merasa Randika adalah lelaki kurang ajar. Bagaimana bisa dia mengalihkan topik pembicaraan begitu saja? Dia hanya mengangguk dengan muka cemberut dan fokus kembali menyetir. Setelah beberapa saat, Inggrid melirik Randika dan menyadari bahwa bajingan ini sedang menatap dirinya dengan mata cabulnya lagi! "Bajingan! Jangan curi-curi pandang!" "Memandang apa?" Balas Randika. "Randika! Kau memang lelaki berengsek!" ..... Inggrid dan Randika akhirnya sampai dan berjalan menuju lobi. Dengan dipimpin oleh Inggrid, mereka berdua terlihat mencolok. Ketika Randika melihat perempuan yang dulu melaporkannya ke keamanan, dia berkedip pada perempuan itu. Randika lalu meraih tangan Inggrid dan menciumnya di hadapan tatapan perempuan itu. Perempuan ini benar-benar tertegun. Apakah pria itu benar-benar suami dari pemimpinnya? Inggrid yang marah karena tangannya dicium segera menaiki lift disertai oleh Randika. Tidak lama kemudian mereka telah sampai di lantai 9. "Semua alat yang kau minta sudah ada di ruangan ini dan kita bisa memulai produksinya hari ini." Kata Inggrid. Sudah saatnya bagi dirinya memulai pengembangan ramuan X. Randika berharap bahwa alat-alat ini sudah cukup baginya untuk membuat kembali ramuan tersebut. Lagipula, Perusahaan Cendrawasih berfokus pada kosmetik jadi ruang penelitiannya sedikit berbeda dengan laboratorium miliknya. Pembuatan ramuan ini akan menjadi hal yang sulit. Namun dalam pengembangan awal dari ramuan X ini, Randika melihat sendiri proses pembuatannya. Jadi seharusnya tidak ada masalah. "Lebih baik mencoba daripada menyesal!" Sebelum mereka tiba, Kelvin dan timnya sudah pada sibuk. Mereka mencatat dan mengatur peralatan-peralatan yang datang, mereka tahu bahwa barang-barang ini dibutuhkan untuk menghasilkan parfum terbaru. Sejujurnya alat-alat ini diperuntukkan pengembangan dan produksi ramuan X. Ketika para peneliti melihat kedatangan Randika dan Inggrid, mereka semua serentak menyapa, "Selamat pagi Tuan dan Nyonya." Kelvin segera maju dan menyapa mereka lebih lanjut, "Suami Ibu Inggrid selamat pagi." Mendengar kata-kata suami membuat Inggrid sedikit terkejut sedangkan Randika menyambut mereka dengan senyuman lebar, "Selamat pagi semua! Jangan pedulikan kami pasangan suami istri ini, lanjutkan pekerjaan kalian." Inggrid hampir meledak karena perkataan Randika. Dia berpikir, Bajingan ini berani sekali mengumumkan status hubungan mereka, apalagi dia sudah bertindak bagai bos! Tapi Inggrid hanya bisa meredam amarahnya hari ini. Dia membutuhkan Randika demi memenuhi ambisinya. Randika di lain sisi, tersenyum lebar dan bisa menebak isi hati Inggrid. Dia merasa tak terkalahkan hari ini. Setelah bertukar sapa dan berbasa-basi, Kelvin segera mendekati Inggrid dan mengatakan, "Bu Inggrid, bisakah Anda meminta suami Anda untuk membantuku?" Wajah Inggrid semakin pucat dan senyum Randika semakin lebar. Walaupun Kelvin mengatakannya dengan suara yang kecil, Randika jelas mendengarnya. "Tidak masalah, tanya apa saja terhadap dirinya tidak perlu sungkan." Kelvin senang ketika mendengarnya. Menatap Randika, dia teringat akan perbuatannya sehari sebelumnya dan dia pun merasa bersalah, "Aku masih tidak paham dengan formula yang Anda buat kemarin. Aku ingin meminta pencerahan Anda." "Baiklah, istriku tunggulah di sini sebentar. Aku akan mengajarinya sebentar." Randika pun segera pergi dan menjelaskan formula miliknya lebih lanjut di papan tulis. "Sebenarnya parfum yang kemarin kubuat itu gampang. Tiga bahan utamanya adalah bahan yang mudah didapat, setiap bahan tersebut mengambil porsi 30% dan yang merupakan kunci dari pembuatannya adalah sisa 10% tersebut. Kamu perlu menambahkan 5 bahan yang berbeda." Selama dia menjelaskan, para peneliti dan Kelvin sendiri ikut tercengang. Mereka menyadari bahwa sosok pria ini terlihat berbeda dengan sosok yang kemarin ketika dia serius. Setelah selesai menjelaskan, Randika menepuk pundak Kelvin, "Apakah kamu paham semua yang kukatakan tadi? Apabila kamu mengikut perkataanku, produknya akan sama persis dengan yang kemarin." "Terima kasih banyak tuan!" Kata Kelvin dengan penuh hormat. Kelvin adalah orang yang oportunis. Meskipun kemarin dia menghina-hina Randika hingga mengancam dirinya akan keluar, setelah mengetahui kemampuan sesungguhnya dari Randika, Kelvin segera menjadi orang yang penurut. Ditambah lagi, orang ini adalah suami dari pemimpin perusahaannya. Randika kemudian menoleh ke arah Inggrid yang sedang memperhatikan dirinya. Dia mulai tertawa, "Bagaimana? Suamimu terlihat keren bukan?" Inggrid tersipu malu, "Huh siapa memangnya yang sedang melihatmu? Aku hanya sedang memperhatikan bawahanku saja!" Kata Inggrid. "Ah! Ini barang-barang yang kau butuhkan." Melihat barang-barang tersebut, Randika mengatakan "Istriku, aku butuh satu hal lagi. Bisakah kau membangun ruangan penelitian lain untukku?" Ketika mendengarnya, Inggrid pun terlihat bingung dan ragu. Randika langsung menyanggahnya, "Ini adalah salah satu syarat tambahan dan aku tidak akan meminta apa-apa lagi. Kau hanya perlu membangun satu laboratorium untukku dan aku akan membuatkan parfum untukmu!" Setelah berpikir sesaat, Inggrid setuju dengannya. "Oke aku janji. Untuk ruangannya pilih sendiri saja dan katakan kepadaku nanti." "Hahaha terima kasih istriku yang cantik." Kata Randika sambil tersenyum. Lagipula, Inggrid tidak punya hak untuk menolak setiap tuntutan dari Randika karena ini adalah salah satu risiko ketika bergantung pada orang. "Kamu membutuhkan orang tambahan untuk ruanganmu nanti?" "Tentu saja! Aku tidak mau sendirian di ruangan yang luas." Pembuatan ramuan X sangatlah rumit dan hanya beberapa orang saja yang mengerti formulanya. Tentu saja Randika mengerti langkah-langkah yang dibutuhkan dalam membuatnya. Karena banyaknya langkah tersebut, dia membutuhkan tenaga tambahan untuk membantunya. Dia tidak bisa membuat ramuan tersebut sendirian. Mereka berdua akhirnya memutuskan untuk meninggalkan ruangan penelitian milik Kelvin. Saat mereka berjalan berdua, Inggrid masih penasaran dengan syarat milik Randika. "Buat apa satu ruangan lagi? Apakah ruangan milik Kelvin kurang bagus?" "Aku ingin membuat sebuah obat untuk keperluan pribadi." Jawab Randika dengan santai. "Farmasi?" "Benar" Jawab Randika, "Jika kamu punya orang yang mengerti farmasi bisa kirim saja ke aku. Tidak butuh yang ahli, orang yang masih amatir saja tidak apa-apa kok. Obat ini tidak terlalu rumit." Inggrid mengangguk. "Kamu bisa mengambil orang dari divisi Kelvin, tetapi aku takutnya ada jarak pemisah yang jauh antara farmasi dan kosmetik." "Istriku kau khawatir pada diriku?" Randika tersenyum dan mencium tangan Inggrid. "Jangan khawatir, suamimu ini orang pintar. Semua masalah pasti bisa teratasi." "Hah! Siapa yang khawatir sama kamu!" Wajah Inggrid terlihat merah, "Aku hanya peduli dengan perjanjian kita." Mendengar hal ini, Randika berhenti berjalan dan menatap Inggrid. Dia nampak memikirkan sesuatu. "Kenapa? Apa yang sedang kau lihat?" Inggrid sepertinya sadar akan perkataannya tadi. Dia juga merasa hubungan mereka ini sedikit canggung. Setelah tiga bulan apakah pria ini akan pergi untuk selamanya? "Aku ingin menikmati momen ini dan melukis wajahmu di ingatanku sebelum akhirnya nanti kita berpisah. Aku masih takjub dengan kecantikanmu." Kata Randika sambil tersenyum "Terserah!" Kata Inggrid sambil berputar badan. Dia lalu mengatakan, "Aku akan mengatur orang untuk mempersiapkan ruanganmu." "Sebenarnya aku memerlukan bahan-bahan medis. Aku akan mencatat apa yang kuperlukan dan nanti akan kuberikan pada orang-orangmu." "Lakukan apa yang perlu kau lakukan. Aku harus mengurus beberapa hal lainnya." Melihat sosok Inggrid yang menghilang, Randika tersenyum. Tak lama kemudian, orang-orang suruhan Inggrid mulai mempersiapkan ruangan penelitian milik Randika. Setelah berberes-beres dan mengatur penempatan alat-alat, Randika memberikan sebuah daftar belanja kepada salah satu orang agar dapat segera membelinya. Selain beberapa barang merek luar negeri, sisanya adalah barang yang bisa ditemui di toko obat. Ramuan X adalah hasil karya markas Randika yang terdahulu. Tujuan ramuan X ini adalah menekan kekuatan misterius yang ada di tubuhnya. Bahan-bahannya sangat umum jadi tidak terlalu menghabiskan biaya. Namun kunci dari formula ini terletak di variasi bahan yang digunakan. Langkah pembuatan ini mirip dengan pembuatan parfum dan Randika juga pernah membantu Yuna dalam membuat ramuan ini. Jadi pembuatan ulang ramuan X ini seharusnya tidaklah susah. Di sisi lain, Inggrid yang sedang di kantornya terlihat sibuk mengurus beberapa laporan. Tak lama kemudian telepon di mejanya berdering dan ternyata sekretarisnya lah yang menelepon. "Maaf mengganggu waktu ibu, informasi mengenai beberapa ahli parfum yang lolos ujian penyaringan dan wawancara telah saya kirim ke email Anda." "Oke." Inggrid lalu menutup teleponnya. Seharusnya ini adalah tugas dari departemen HRD tetapi ahli parfum di perusahaannya ini memegang peran krusial terhadap kelangsungan perusahaannya, jadi dia harus mengawasi ini secara langsung. "Hmmmmˇ­" Inggrid membaca laporan yang dikirimkan sekretarisnya tersebut. "Yang ini punya pengalaman di bidang farmasi!" "Randika tadi ngomong kalau perlu orang yang paham akan farmasi bukan?" Inggrid merasa lega karena dia bisa langsung memenuhi kebutuhan Randika. Tetapi ada satu hal yang tidak dia sadari. Inggrid sekarang lebih sering memikirkan Randika. Perubahan ini masih belum dia sadari. -Ruangan penelitian Randika- Bahan-bahan medis yang diperlukan sudah datang. Sekarang Randika membagi-bagi tugas kepada tiap kelompok. Setiap kelompok akan melakukan prosedur masing-masing dalam pembuatan ramuan X ini. Dalam beberapa langkah nantinya, mereka perlu bantuan dan pengawasan langsung dari Randika. "Kau dan kau, kalian akan mengerjakan bagian ini. Kau yang ada di belakang bawa 1 temanmu untuk mengerjakan bagian ini." Ketika Randika sibuk mengatur orang, namun tiba-tiba handphonenya berbunyi. Melihat nomor yang tertera membuat wajah Randika menjadi serius. "Kalian semua kerjakan seperti yang aku omongkan tadi, apabila ada pertanyaan bisa tunggu saya kembali." Randika segera keluar ruangan untuk mengangkat telepon dari Shadow. "Tuan!" "Ada apa?" Tanya Randika. Suara milik Shadow masih tenang seperti biasanya, "Tuan, saya mendapatkan kabar terbaru dari agen lapangan. Hari ini dia mendapat kabar bahwa ada perintah baru yang keluar dari markas Bulan Kegelapan. Tujuan mereka adalah kota Cendrawasih." Cendrawasih! Muka Randika semakin mengkerut. Sesuai dugaannya, mereka mengincar dirinya. "Ditambah lagi, saya memiliki informasi tambahan mengenai Bulan Kegelapan." "Apa itu?" Tanya Randika. "Masalah ini terlalu sensitif. Saya hanya bisa menjelaskannya secara tatap muka." Kata Shadow. Randika menghela napas. "Baiklah kalau begitu." "Saya akan tiba di kota Cendrawasih dalam satu minggu." "Ketika kau datang, kau tahu di mana harus mencariku." Jawab Randika. "Baik tuan!" Setelah menutup teleponnya, Randika memandangi kota Cendrawasih dari jendela. Wajahnya tampak tenang, tinggal seminggu lagi informasi mengenai musuhnya akan sampai di tangannya. ...ˇ­.. -Di suatu kediaman terpencil di kota Cendrawasih- Seorang wanita cantik mengetuk pintu dan masuk. Pencahayaan ruangan tersebut sangat minim. Jendela ruangan juga nampak ditutupi oleh kain hitam jadi tidak ada cahaya yang masuk. Meskipun cahaya masuk dari arah pintu, hal ini hanya memperlihatkan sesosok manusia yang tidak terlihat jelas. Lelaki itu kemudian menatap ke arah perempuan tersebut. Dia bertanya, "Bagaimana situasinya Shadow?" Shadow memberi hormat dan berjalan ke arah pria tersebut, "Ares telah terpancing umpan kita. Dia mengira aku akan datang dalam waktu seminggu." Pria itu berputar untuk melihat wajah Shadow. Meskipun wajah Shadow tidak nampak terlalu jelas karena dia menunduk, pria ini yakin ada senyuman besar di wajah perempuan itu. Dia lalu menjulurkan tangannya dan meraih dagu Shadow, "Kerja bagus. Dia pasti tidak akan menyadarinya bahwa kartu Asnya selama ini malah menusuk dia dari belakang." Shadow terlihat terpesona dengan wajah pria ini dan jatuh dalam pelukannya, "Dalam seminggu Ares akan mati dan kau akan menggantikan dirinya." "Hahaha." Mata pria itu terlihat membara, "Tujuh hariˇ­. Tujuh hari lagi adalah hari di mana Ares akan mati!" Randika tidak tahu apa yang akan menimpanya dalam waktu 7 hari lagi. Setelah dia menutup teleponnya, dia kembali ke ruangannya untuk meramu kembali ramuan X. Baginya sekarang yang paling penting adalah ketersediaan ramuan X. Chapter 16: Bolehkah Aku Mengambil Alat Makanku yang Jatuh? Randika terlihat sibuk dengan pembuatan ramuan X ini. Meskipun dia sudah mendelegasikan langkah-langkah pengerjaannya menjadi beberapa kelompok, semua proses masih membutuhkan pengawasan dan persetujuan darinya. Ketika dia masih sibuk menjelaskan, pintu ruangannya terbuka. Ternyata itu adalah Inggrid yang sedang mencari dirinya. "Randika, ini aku menemukan orang baru yang pernah mempelajari ilmu farmasi. Aku akan mengenalkannya padamu." Kata Inggrid. Di saat Randika ingin menggoda istrinya itu, matanya terpaku pada seorang perempuan berdada besar yang ada di belakang istrinya. Dia berdiri diam ketika mengetahui siapa orang itu. Viona, yang berada di belakang Inggrid, juga kaget ketika melihat sosok Randika. Bukankah pria ini adalah pria yang menolongnya sebelumnya di taman? Melihat tatapan mata Randika membuat Viona tersipu malu. Hari ini Viona tidak memakai baju seterbuka kemarin. Dia memakai kemeja putih lengan pendek dengan rok biru. Tangan serta kakinya yang putih mulus itu masih dapat terlihat. Nampaknya rambutnya sudah dia cat kembali menjadi hitam. Wajahnya saat di taman yang terlihat muda itu dibalut dengan riasan ringan. Mulutnya masih sama mungilnya dengan kemarin dan terlihat seakan ingin mengatakan sesuatu tapi dia pendam. Viona masih tidak habis pikir, takdir macam apa ini? Bisa-bisanya pria ini yang menjadi atasannya? Dia nampak gelisah dan memegangi roknya dengan erat. Randika di lain sisi malah tersenyum lebar. Benar-benar suatu kebetulan bisa bertemu dengannya lagi. "Hmmm? Kenapa?" Inggrid merasakan suasana yang canggung ini. Dia kemudian memperhatikan wajah kedua orang itu, "Apakah kalian saling kenal?" "Aku baru mengenalnya kemarin." Kata Randika sambil tersenyum. "Dia sedang memancing dan aku membantunya mendapatkan ikan." Mendengar respon si Randika, Viona pun menambahkan, "Benar Bu Inggrid, kemarin beliau telah membantu banyak diriku." "Baiklah kalau begitu, dengan ini kita bisa menghemat waktu." Kata Inggrid. "Kalau begitu aku pergi duluan dan bekerjalah dengan baik." Melihat Inggrid yang sudah meninggalkan ruangan, Viona mengumpulkan keberaniannya dan mengatakan, "Benar-benar suatu kebetulan!" "Benar-benar suatu kebetulan!" Keduanya mengatakan hal tersebut secara bersamaan, kemudian mereka tertawa bersama. Viona mulai merasa dirinya sudah tidak terlalu malu lagi. Dia lalu mengatakan, "Aku merasa kemarin belum berterima kasih secara sopan. Aku berniat meneleponmu nanti malam, ternyata kita malah bertemu di sini sekarang." "Jadi kita memang ditakdirkan bersama." Kata Randika sambil berkedip. "Kita ditakdirkan bersama meskipun jarak memisahkan dan akhirnya kita dipertemukan kembali. Bisa dilihat bagaimana alam ingin kita bersama?" Viona mengangguk keras. "Sebenarnya untuk menyampaikan rasa terima kasihku, aku ingin mengajakmu makan malam." Setelah mengatakan hal ini, Viona menatap Randika sambil ragu-ragu. Randika memperhatikan tatapan mata Viona yang menawan dan berkata dengan senyuman lebar, "Kamu ingin mengajakku makan malam? Bagaimana kalau sekarang? Aku sudah lapar dan malam masih lama." "Baiklah!" Viona tampak bahagia lalu wajahnya tiba-tiba menjadi suram dan dia mengatakan, "Tapi bagaimana dengan pekerjaan?" "Tidak apa-apa." Kata Randika. "Aku yang berkuasa di sini jadi tidak akan ada yang berani membantahku. Kamu cukup menuruti perkataanku." Viona yang pundaknya tiba-tiba dirangkul itu merasa malu dan wajahnya memerah. Mereka berdua akhirnya pergi makan siang. .... -Restoran- Randika dan Viona tampak berbincang-bincang sambil menunggu makanan mereka tiba. Mereka duduk saling berhadap-hadapan. "Viona kenapa kau memilih untuk bekerja di perusahaan ini?" Tanya Randika. "Kalau tidak salah lihat, di laporanmu bukannya kamu adalah ahli parfum?" Viona tersenyum manis, "Karena aku suka parfum dan alat-alat kosmetik lainnya. Aku memiliki hobi untuk mengoleksi segala macam parfum." Randika mengangguk dan mulai memakan makanannya yang baru saja tiba. Sambil mengecap, dia mengatakan "Aku tidak menyangka bahwa kau akan dipindahkan ke divisiku." "Aku juga tidak menyangka Bu Inggrid akan memindahkanku ke divisimu." "Oh? Apakah kamu menyesal tidak bisa bekerja sesuai hobimu?" "Ah maksudku bukan begitu." Kata Viona dengan cepat, "Aku hanya tidak menyangka saja bahwa kau tiba-tiba menjadi atasanku, tetapi setelah mengetahuinya aku merasa lega." "Oh? Lega kenapa?" Senyum nakal mulai terlihat di wajah Randika. Melihat senyuman nakal ini membuat Viona tersipu malu. Apakah kurang jelas kenapa dia merasa lega? Bagaimana mungkin dia bisa mengatakannya! Melihat Viona yang malu-malu membuat Randika tersenyum lebar. Dia pun mengatakan, "Viona kamu mengerti mengapa aku memiliki ruangan laboratorium sendiri?" Viona menggelengkan kepalanya. "Karena aku adalah ahli parfum terbaik di perusahaan." Kata Randika dengan muka serius. "Aku adalah andalan perusahaan Cendrawasih dalam membuat produk parfum terbaru, oleh karena itu aku dibuatkan ruangan tersendiri." "Benarkah?" Mata Viona tampak berbinar-binar. "Tentu saja!" Randika mungkin tidak sadar bahwa dirinya yang sekarang bagaikan serigala yang sedang menipu domba. Jika ada orang yang berani mengatakan hal ini kepadanya, mungkin dia akan menamparnya dan menyuruhnya diam karena mangsanya sebentar lagi akan berhasil dia terkam. "Jadi Viona, aku bisa mengajarimu secara privat mengenai pekerjaanmu ini." Lanjut Randika dengan senyuman liciknya. "Aku bisa membuatmu menjadi orang terkenal di dunia parfum." Ketika mendengar hal ini, Viona terlihat bersemangat dan alisnya sedikit bergetar. "Kemarilah ke sisiku." Randika meraih tangan Viona. Dia lalu tersenyum dan mengatakan, "Aroma yang kau pancarkan wangi sekali, bolehkan aku menciumnya?" Ketika tangannya ditarik oleh Randika, Viona merasa hatinya bergetar dan membiarkan tangannya dicium. Tangan ini terasa lembut. Randika mengelus-elus terlebih dahulu tangan itu kemudian mencium tangan tersebut untuk mengetahui parfum apa yang dia pakai. Viona hanya terdiam ketika Randika mencium tangannya. Kemudian tak lama Randika mengangkat kepalanya dan mengatakan, "Hmmmˇ­ Kurasa tanganmu saja tidak cukup bagiku untuk menentukan parfum apa ini, bolehkah aku mendekatimu agar baunya bisa tercium lebih jelas?" Viona yang mendengar hal ini semakin tersipu malu. Wajahnya benar-benar merah. Dia mengetahui bahwa Randika sedang aji mumpung terhadap dirinya, tapi entah kenapa dia tidak bisa menolak pesona orang ini dan hanya bisa terpana ketika melihatnya. Viona akhirnya hanya menundukan kepalanya, tidak tahu harus berkata apa. Randika yang melihat hal ini langsung tersenyum nakal. "Viona, jika kau tidak berkata apa-apa aku akan anggap kau mengijinkanku." Randika segera berdiri dan duduk di samping Viona. Viona sama sekali tidak berbicara dan hanya menundukan kepalanya. Randika lalu mengatakan, "Mendekatlah, biarkan aku mencium parfum apa yang sedang kau pakai." Setelah mengatakan hal ini, Randika sudah berada di dekat wajah Viona. Dia mencium aroma sesuatu yang wangi. "Wangi!" Wangi parfum dan wangi dari seorang gadis yang masih suci membuat Randika tersenyum lebar dan menyukai bau tersebut. "Apakahˇ­ Kau mencium sesuatu?" Suara Viona terdengar sangat kecil. "Tentu saja! Itu sangat harum." Kata Randika sambil tersenyum. Viona kemudian mengangkat kepalanya dan menatap mata Randika. "Aroma apa yang kau cium?" "Burberry. [1]" Dalam sekejap wajah Viona kembali memerah. Kemudian Randika meraih tangannya kembali. Viona menatap wajah Randika yang terlihat sangat serius. "Viona, kau adalah wanita yang sangat cantik." "Hmmm terima kasih." Ketika tangannya kembali ditarik oleh Randika, dia berusaha untuk melepasnya namun gagal. Melihat hal ini, Randika segera melepas tangannya dan duduk kembali ke tempatnya. "Cepatlah makan makananmu, kita akan lanjutkan ini nanti." Ketika melihat sosok Randika yang menjauh, Viona merasa lega sekaligus kecewa seakan-akan dia ingin melanjutkan hal tersebut. "Baiklah." Viona kemudian mengambil sendok dan garpunya. Ketika Randika juga ingin mengambil alat makannya, sendoknya terjatuh. Randika kemudian meminta maaf dan membungkuk untuk mengambilnya. Dia memanfaatkan hal ini untuk mencuri-curi kesempatan untuk mengintip. Namun apa yang dilihatnya membuatnya benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Di saat dia ingin mengintip warna celana dalam apa yang dipakai oleh Viona ternyata dia disambut sebuah bibir berwarna merah muda. Ia begitu kecil dan rapat, terlihat sedikit basah. Viona tidak memakai dalaman! Randika merasa bahwa matanya telah menipu dirinya dan kepalanya mulai pusing. Viona penasaran kenapa Randika mengambil alat makannya yang jatuh itu tidak balik-balik. Dia tiba-tiba terpikirkan kejadian pagi hari ini, seketika itu juga dia ingin berteriak tetapi akhirnya hanya menunduk malu sambil menutup rapat-rapat kakinya. Pagi hari ini dia terlambat bangun dan terburu-buru ketika dia berangkat menuju kantor, oleh karena itu dia lupa memakai dalaman. Dia hanya berdoa bahwa Randika alias atasannya ini tidak melihat apa-apa ketika dia ada di bawah meja. Ketika Randika kembali duduk di tempatnya, Viona hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap langsung mata Randika. Tetapi dia merasa bahwa hatinya mengepal ketika tatapan mata Randika yang penuh makna melihatnya. Randika pun berusaha menenangkan nafsu birahi yang mulai naik dan melanjutkan makannya. Dia dalam hati berpikir, Randika tenanglah, kau adalah Ares sang Dewa Perang bukan lelaki mesum jadi tenangkanlah dirimuˇ­. Selama beberapa saat suasana makan siang ini berlangsung canggung. Randika berusaha menenangkan dirinya sedangkan Viona hanya menundukkan kepalanya sambil menahan malu dan menutup erat kakinya. Hanya ada keheningan pada saat ini. "Viona!" Pada saat ini Randika memecah keheningan. Viona kemudian mengangkat kepalanya dan melihat senyuman di wajah Randika, seketika itu hatinya mengepal. "Bolehkah aku mengambil kembali alat makanku yang jatuh?" Tanyanya sambil tersenyum. "Tidak!" Viona segera tersipu malu dan mengatakan ketidaksetujuannya dengan suara yang bergetar. Hatinya yang awalnya sudah tenang sedikit kembali berdegup kencang. Dia melihatnya, dia pasti melihatnya! Viona merasa sangat malu dan Randika sangat senang melihat tingkah laku Viona yang kebingungan ini sehingga dia ingin kembali menggodanya. Menggenggam tangan Viona, Randika kembali tersenyum dan mengatakan, "Viona tenang saja, aku tidak lihat apa-apa kok." "Hentikan berbicara bohong seperti itu, aku tidak akan takluk oleh kata-katamu yang manis itu." Viona benar-benar ingin mengubur dirinya dalam-dalam dan berteriak. Randika kemudian duduk di samping Viona dan membelai rambutnya. "Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu. Kalau kau marah, aku mempersilahkanmu untuk menampar diriku ini." "Tidak usah." Viona segera menolaknya. Setelah beberapa saat, Viona kembali menatap Randika. Randika pun membalasnya dengan senyuman dan melihat bahwa seluruh muka Viona benar-benar merah. "Jangan beritahu siapa-siapa tentang hal iniˇ­." Kata Viona dengan suara yang pelan. "Jangan khawatir, aku tidak akan membagi kebahagiaan ini dengan siapapun." Kata Randika sambil menyeringai. "Apa maksudmu!" Viona kembali tersipu malu. "Hahaha.. Ayo cepat selesaikan makanmu, kita harus segera kembali." Kata Randika. Di saat mereka ingin menyelesaikan makan mereka, terdengar kegaduhan dari samping serta suara piring dan gelas yang pecah bersamaan. "Tolong! Ada orang yang sedang menyandera!" Sebuah teriakan minta tolong muncul dan membuat seluruh restoran menjadi panik. [1] merek parfum mahal dari Inggris Chapter 17: Untuk Bajingan Seperti Kau, Satu Garpu Saja Sudah Cukup Dengan satu teriakan saja sudah cukup membuat seluruh restoran menjadi panik. Melihat orang-orang yang berbondong-bondong berlari menuju pintu keluar, membuat Viona menjadi panik juga. Ketika dia hendak lari, sebuah tangan menahan dirinya. Randika nampaknya berusaha menenangkan dirinya. "Jangan panik, aku ada di sini." Ares sang Dewa Perang di sini, buat apa takut? Seribu orang pernah dia bunuh sekaligus, apakah hanya satu penyanderaan membuat dirinya menjadi takut? "Ayo kita lihat apa yang sebenarnya yang telah terjadi." "Baiklah." Entah kenapa Viona menyetujui saran Randika. Selama dia berada di sisi Randika, dia merasa sangat aman. Di ruangan dalam, seorang pria sedang menodong pisau di leher seorang wanita yang dipeluknya. Dia lalu berteriak kepada kerumunan orang yang ada di dekatnya, "Jangan mendekat! Satu langkah saja maka dia akan mati!" Sebagian besar orang yang ada di restoran sudah keluar, sebagian kecil yang tersisa ingin menyelamatkan perempuan tersebut. "Kawan tenanglah. Letakkan pisau yang kau bawa dan mari kita bicara baik-baik." Seorang pria sedang berusaha menenangkan pelaku. "Apa yang telah dikatakannya benar, kamu masih muda dan hari-harimu masih panjang. Kau tidak perlu melakukan semua hal ini." Seorang tante-tante juga berusaha menghiburnya. "Kau hanya akan membuat dirimu menderita. Dengarkan nasihat orang yang lebih tua ini dan letakkan pisaunya. Jika kau mempunyai beban hati yang dalam, kau bisa menceritakannya pada kita." Manajer restoran segera tiba di lokasi kejadian dan berteriak marah pada bawahannya, "Apa yang sedang terjadi?" "Pak, kita tidak tahu bagaimana detailnya. Pria itu sedang memakan makanannya dengan perempuan tersebut. Lalu tiba-tiba dia mengambil pisau dan menyekapnya." Kata seorang pramusaji. Ini adalah salah satu mimpi buruk yang menimpa restoran ini! Si manajer berusaha menenangkan dirinya dan memijat ruang di antara alisnya, berusaha memikirkan apa langkah selanjutnya. Setelah beberapa saat, si manajer bertanya, "Apakah sudah ada yang memanggil polisi?" Si pramusaji mengangguk, "Sudah kami telepon." "Baguslah kalau begitu. Kejadian ini sudah di luar tanggung jawab kita, cepat evakuasi orang-orang dan aku akan mengamankan lokasi sebelum para polisi tiba." Pramusaji itu dengan cepat mematuhi instruksi si manajer dan si manajer pun segera mendekati si pelaku. "Halo tuan, aku adalah orang yang bertanggung jawab atas restoran ini. Bisakah kau ceritakan apa yang telah terjadi pada Anda?" Si manajer berusaha terlihat setenang mungkin sambil mengangkat tangannya, menunjukan bahwa dia hanya ingin berbincang. Pria itu terlihat marah, matanya sudah terlihat sangat merah dan dipenuhi oleh rasa benci. "Itu bukan urusanmu!" Si manajer kembali berusaha menjalin komunikasi, "Aku tahu ini bukan urusanku. Aku hanya peduli denganmu yang masih muda tetapi sudah menyia nyiakan hidupmu. Kau masih punya banyak waktu untuk berbuat benar tetapi kalau kau sampai masuk penjara, maka waktu itu akan hilang." "Aku tidak peduli!" Si pelaku kembali meraung marah kepada si manajer. Si manajer mengerutkan dahinya dan mengatakan, "Hei apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau sampai berbuat seperti ini? Kalau kau tidak menceritakan apa yang telah terjadi, kami semua tidak bisa membantumu." Kali ini pria tersebut hanya terdiam, kemudian dia menatap perempuan yang sedang dia cekik itu. Tiba-tiba pria itu menangis dan sambil tersedu-sedu mengatakan, "Febriˇ­ Si Febri ingin putus denganku!!" "Siapa itu Febri?" tanya si manajer. "Perempuan itu yang bernama Febri." Kata seorang pramusaji yang menemani si manajer. Semua orang yang masih ada di sana kaget. Orang yang disanderanya adalah pacarnya dia sendiri? Pria itu kemudian kembali menatap pacarnya dan berkata sambil menangis. "Aku mencintaimu sepenuh hatiku. Aku telah memberikan segalanya padamu. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan menemanimu sampai ajal menjemputku. Bukankah kau juga berkata demikian kepadaku? Apakah kau lupa masa-masa indah yang sudah kita lalui selama ini? Kau lupa tempat-tempat mewah yang kubawa kau ke sana?" Febri yang merasakan bilah pisau di lehernya semakin bergetar ketakutan. Dia tidak menyangka bahwa kejadian hari ini akan berubah menjadi seperti ini. Awalnya, hubungan mereka berjalan baik dan akhir-akhir ini hubungan mereka mulai renggang. Oleh karena itu, Febri membuat reservasi di restoran ini untuk mengakhiri hubungan mereka. Febri tidak menyukai gaya hidup pria tersebut. Dia suka bermalas-malasan dan hanya bermulut manis. Bagi Febri, pria ini bukanlah pria yang tepat dan dia ingin melanjutkan hidupnya. Tetapi setelah Febri telah menyatakan maksud dari pertemuan mereka hari ini, pacarnya itu mengambil pisau dan mulai menyandera dirinya. "Hei Feb, kenapa kau ingin putus denganku?" Kata si pria sambil menangis, "Bukankah kau mengatakan bahwa kau mencintaiku? Apakah kau berbohong selama ini? Apakah kau sudah menemukan lelaki lain selain diriku? Sambil berkata demikian, pisau yang dibawanya semakin menusuk ke leher Febri dan mulai meneteskan darah. "Heiˇ­ Katakan padaku, apakah kau masih mencintaiku?" Melihat darah tersebut, si manajer dan lainnya mulai panik. Si manajer hanya berharap bahwa semoga para polisi segera tiba. "Ah!" Ketika pisau itu menancap kecil di lehernya, Febri tidak bisa menahan untuk tidak berteriak panik. Dia benar-benar ketakutan. "Aku masih cinta!" Kata Febri sambil terbata-bata. "Tidak mungkinˇ­ Tidak mungkin kau mencintaiku! Kalau kau masih mencintaiku, kenapa kau meminta putus?" Teriakan pria ini semakin menjadi-jadi. "Dasar pembohong! Kau benar-benar mengkhianati perasaanku!" "Tenanglah terlebih dahulu. Sepertinya kau salah paham terhadap pacarmu itu. Pacarmu pasti memiliki alasannya tersendiri, jadi lebih baik kau membicarakannya dengan kepala dingin. Jadi letakkan pisau itu dan bicaralah baik-baik." "Pergi kalian dari sini!" Pria itu menarik pisau yang dia tempelkan di leher pacarnya dan mulai menganyunkannya ke depan, hal ini membuat takut si manajer. "Kalian semua saja! Kalian tidak tahu apa-apa mengenai perasaanku!" Pria itu kemudian mengambil satu langkah mundur dan menempatkan pisaunya kembali ke leher Febri sambil mengatakan, "Jika kalian mengambil satu langkah lagi, maka aku akan membunuh si jalang ini." "Baiklah, baiklah." Si manajer dengan cepat menurutinya, "Kami tidak akan bergerak lebih jauh lagi." Melihat para kerumunan tidak mengambil langkah maju lagi, pria itu menatap kembali si Febri dan bertanya, "Kenapaˇ­ Kenapa kau ingin mengakhiri hubungan kita?" Febri menelan ludahnya, dia menyesal bahwa dia merasa harus putus baik-baik dengan pria brengsek ini yang tidak bisa menerima kenyataan. Si manajer dari jauh berusaha mengirimkan pesan lewat gerakan tubuhnya. Dia ingin menyampaikan bahwa apa pun yang terjadi Febri harus tetap tenang. Tetapi Febri tidak mengerti apa yang disampaikan si manajer. Dia hanya menatap pacarnya itu dan mengatakan, "Kau ingin tahu kenapa kita putus? Apa kau kira aku senang melihatmu hanya bermalas-malasan setiap hari tanpa berusaha mencari kerja? Aku adalah wanita bodoh, bisa-bisanya aku dulu mau dengan pria malas dan tanpa harapan sepertimu." "Kau bohong. Kau pasti telah berkencan dengan pria lain sebelum akhirnya memutuskan untuk putus denganku." Si pria itu semakin erat menggenggam pisaunya. Setelah itu terdengar jeritan kesakitan dari Febri. Ternyata si pria telah merobek bajunya dan menyayat dirinya pada lengannya. Walaupun lengannya hanya tergores, darah masih mengucur dari bajunya. "Hei tenanglah." Si manajer ini benar-benar ingin menangis. Kejadian ini benar-benar tidak pernah dia pikirkan akan terjadi selama dia bekerja. Apes sekali nasibku bertemu kalian, pikirnya. Kenapa bisa hal ini terjadi di dalam kariernya. Di saat ini, sebuah sirine telah terdengar dari arah luar dan terdengar orang berteriak, "Polisi telah tiba!" Pada saat yang sama pula, seorang polisi perempuan dengan beberapa bawahannya masuk ke dalam restoran. Mata Randika terpaku pada pemimpin polisi tersebut, benar-benar bunga yang cantik. Meskipun sedang dibalut oleh pakaian polisi dan celana panjang, wajah perempuan ini tetap berhasil membuat Randika klepek-klepek. Hidung mancung, bulu mata lentik dan terlebih aura yang perempuan ini pancarkan terasa hangat menandakan bahwa perempuan tersebut memiliki kepribadian yang tenang, hal ini memberikan kesan tersendiri pada Randika. Kecantikannya tidak seperti istrinya maupun Viona. Memang masih perlu dipoles lagi, tapi kecantikannya yang sekarang sudah berhasil memikat hatinya. Polisi bernama Deviana ini memimpin timnya dalam kasus ini, dan tugas pertamanya adalah mengevakuasi orang yang tidak diperlukan. "Kalian bawa orang-orang ini keluar dan amankan lokasi." Perintah Deviana. "Siapa orang yang bertanggung jawab atas tempat ini?" Si manajer segera menghampirinya dan menjelaskan apa yang dia ketahui. Setelah mendengarnya, Deviana memasang wajah tidak percaya. Dasar lelaki bodoh, hanya masalah sepele seperti itu dia melakukan semua ini? Tapi keselamatan setiap orang adalah hal utama. Deviana kemudian menghela napas dalam-dalam dan berkata kepada para bawahannya, "Semuanya bersiaplah!" Kemudian dia segera menuju jarak pandang si pelaku dan mengatakan, "Selamat siang bapak, aku adalah Deviana dari satuan kepolisian kota Cendrawasih. Jika bapak membutuhkan bantuan, kami akan membantu bapak." "Pergi kalian semua! Aku tidak butuh bantuan apa-apa dari kalian!" Lelaki ini sudah tampak menggila dengan pisau yang masih diayun-ayunkan. "Si jalang ini telah bermain-main dengan pria lain di belakangku. Sekarang setelah mendapatkan pria yang lebih tampan dan lebih kaya, dia langsung mencampakkanku! Dasar wanita murahan!" Pisau yang dipegangnya kembali menuju leher Febri dan hal ini membuat siapapun yang melihatnya kembali ketakutan. Deviana menyimpulkan bahwa masalah ini sudah sangat gawat. Kalau hal ini terus berlanjut, dia takut bahwa pria ini akan melakukan hal nekat. Perempuan itu berada dalam bahaya. Di saat Deviana tengah berpikir, muncul suara dari alat komunikasinya. "Lapor, hasil pemeriksaan pelaku telah menunjukan bahwa dia memiliki karakter yang labil berdasarkan keterangan teman-temannya." "Hmmmˇ­ jadi dia memiliki kecenderungan untuk melakukan hal ini sampai akhir. Apakah kalian mampu menundukkannya?" "50%, kesempatan kita akan lebih baik apabila anggota unit khusus dikerahkan." "Hubungi markas dan jelaskan situasi kita." "Baik!" Setelah itu, Deviana kembali melangkah ke arah pelaku dan mengatakan, "Tenanglah, kau tidak perlu melakukan semua ini. Perempuan itu juga tidak bersalah." "Hahaha! Aku sudah tidak peduli lagi. Bahkan kalau hari ini aku mati, aku akan membawa si pelacur ini bersamaku ke dalam neraka." Deviana sedang mencari kesempatan. Pelaku sudah tidak bisa lari karena belakangnya sudah tembok tetapi masih terdapat barang-barang yang menghalanginya dari arah samping. Oleh karena itu, untuk menaklukan si pelaku hanyalah sebuah tembakan dari arah depan. Tetapi hal itu sulit dilakukan karena adanya sandera. Orang-orang yang mendengar hal ini mulai marah. Seorang tante-tante yang sebelumnya berusaha menenangkannya malah berteriak, "Dasar pria berengsek! Kalau mau mati jangan bawa-bawa orang lain!" Ini gawatˇ­. Deviana segera berbalik dan memarahinya, "Jangan memprovokasi tersangka." Ketika si pria itu melihat mereka bertengkar, dia hanya tertawa keras. "Ibu itu benar. Aku memang sudah pasrah dengan nyawaku, tetapi sebelum aku mati aku harus memastikan bahwa perempuan ini akan mati bersamaku." Febri semakin bergetar ketakutan. Mendengar kata-kata ini sekaligus merasakan pisau yang ada di lehernya itu semakin menancap, membuat dirinya berteriak sekencang mungkin. "Jangan bergerak!" Tiba-tiba si pelaku berteriak ke Deviana. "Jika kau berani mengambil satu langkah lagi, aku akan membunuhnya!" Sialan, bagaimana bisa dia begitu jeli. Deviana semakin memikirkan beberapa skenario terburuk yang bisa terjadi di benaknya. Dia tidak bisa mundur sekarang. "Bagaimana kalau kau meletakkan pisaunya terlebih dahulu? Kami di sini ada untuk membantu dirimu." Kata Deviana. "Pergi! Memangnya apa yang bisa kau lakukan untukku?" Katanya sambil tertawa. "Apa? Kau takut aku akan membunuhnya?" Di mana pasukan khusus? Deviana merasa situasi tiap detiknya semakin gawat. Di saat ini, sebuah suara membuatnya kaget. "Apakah kau yakin bisa membunuhnya?" Semua yang hadir di sana kaget, mata mereka segera menuju ke arah Randika. Deviana segera menjadi marah. Bodoh sekali orang itu, bisa-bisanya dia malah memprovokasi tersangka. "Hahaha! Bicara apa kau? Tidakkah kau lihat bahwa dia ada di tanganku dan pisau ini bisa menusuk lehernya dengan mudah?" Pria ini merasa bahwa kata-kata Randika sangat lucu. Randika membalasnya dengan senyuman di wajahnya, "Aku rasa tidak. Bagaimana kalau begini, cobalah membunuhnya. Untuk bajingan seperti dirimu, aku hanya membutuhkan satu garpu." Deviana menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Jika dia berada di samping Randika mungkin dia sudah membanting pria itu. "Baiklah kalau begitu!" Si pria ini segera mengangkat tangannya tinggi-tinggi berusaha menikam pacarnya di lehernya. "Ah!" Semua yang ada di sana segera berteriak, jantung Deviana seakan-akan berhenti berdetak ketika melihat ayunan pisau itu segera jatuh. Namun, yang terjadi bukanlah adegan berdarah yang dikira orang-orang. Randika yang memegang sebuah garpu telah melemparnya dengan kecepatan tidak biasa. Sebelum pisau itu sempat menancap di leher Febri, tangan yang memegang pisau sudah tertancap oleh garpu lemparan si Randika. "Ah!" Pria tersebut segera berteriak kesakitan. Tangannya melepas pisau yang digenggamnya erat. Deviana segera melihat kesempatan untuk mengamankan si pelaku. Dia segera maju dan membanting pria tersebut. Dia segera mengamankan tangan pelaku dengan memborgolnya. Selama proses ini, si pelaku hanya bisa menangis kesakitan. Para polisi yang ada di sana segera membantu atasan mereka itu. Hanya dalam sekejap, kasus penyanderaan ini telah selesai. Semua yang ada di sana masih terheran-heran. Di tangan si pelaku masih menancap garpu hingga setengahnya menancap dalam di area sekitar pergelangannya. Pria yang melemparnya ituˇ­ apakah masih manusia? Mata semua orang masih tertuju ke arah Randika. Mereka melihat dirinya dengan mata yang terkagum-kagum dan heran. Viona, yang selama ini di sampingnya, masih melihat semua ini dengan mulut yang ternganga dan merasakan kagum yang amat sangat pada Randika. Deviana yang sudah berhasil mengamankan si pelaku melihat sosok Randika yang menatap dirinya dengan wajah yang tersenyum. Polisi wanita ini masih terkejut dengan semua ini, kalau tidak ada campur tangan Randika maka korban mungkin tidak akan selamat tepat waktu. Chapter 18: Aku Ingin Menyentuh Dirimu! "Ayo Viona, kita pergi dari sini." Kata Randika sambil tersenyum. Viona, yang masih bingung dengan apa yang telah terjadi, mengangguk dan mengikuti Randika. Namun pada saat ini, seorang polisi mendekatinya dan sepasang mata cantik menatap Randika tanpa berkata apa-apa. Setelah beberapa saat dia mengatakan, "Kau! Kau ikut denganku!" Kata Deviana sambil meraih tangan Randika. "Randikaˇ­" Viona terlihat takut kalau Randika akan dibawa pergi. "Tidak apa-apa, tunggulah aku di sini." Kata Randika untuk menghibur Viona. Mengikuti Deviana, mereka berdua sudah berada di bagian samping restoran tanpa ada siapa-siapa selain mereka berdua. Randika pun berkata sambil tersenyum. "Ada apa? Apa kau ingin memujiku karena aku berhasil menyelamatkannya tepat waktu? Ataukah aku mendapatkan medali dan kau ingin menyerahkannya? Asal kau tahu saja, aku selalu menolong orang tanpa pamrih. Itu gayaku dan aku berusaha menjadi pria jentelmen." Deviana mengerutkan dahinya, "Kau pikir ini hanya lelucon? Siapa sebenarnya dirimu?" Randika sedikit kaget mendengar pertanyaannya. "Siapa aku? Tentu saja aku adalah aku. Siapa lagi memangnya?" Deviana menatap Randika lekat-lekat. "Jangan kira kau bisa menipuku. Asalkan kau tahu saja, jika tadi tidak berjalan seperti sekarang ini, kau mungkin sudah mendapatkan ganjarannya." Randika menghela napas, "Ganjaran? Maksudmu hukuman? Aku hanya melihat seseorang telah menyelamatkan perempuan itu dari todongan pisau pelaku. Bukankah harusnya orang tersebut mendapatkan pujian ataupun medali?" "Jangan mengalihkan pembicaraan." Nada suara Deviana sedikit meninggi. "Sepertinya kau percaya diri bahwa kau bisa melumpuhkan pelaku?" "Oh tidak kok." Kata Randika sambil menggelengkan kepalanya. "Kalau aku tidak bisa melakukan hal sekecil itu, mungkin lebih baik memesan tanah dan mengubur diriku sendiri." Penyanderaan dengan sebuah pisau menyusahkan Ares sang Dewa Perang? Dia pernah membantai 1000 orang suruhan mafia italia seorang diri. Kalau dia tidak bisa menyelesaikan masalah sepele ini, dia tidak pantas menyandang nama besarnya seperti sekarang. Jangan remehkan orang yang berada di daftar 12 Dewa Olimpus. "Itu maksudku." Kata Deviana dengan suara dingin. "Orang sekalibermu sudah dapat dibandingkan dengan satuan khusus. Sebagai penegak hukum di kota ini, aku berhak memeriksa identitasmu." Dibandingkan dengan satuan khusus kota ini membuat Randika sedikit kecewa. Ketika Arwah Garuda mendatangiku pun mereka memakai bahasa sopan padaku. Dan sekarang dirinya dibandingkan dengan satuan khusus kota ini? "Apa maksudmu?" Randika berusaha terlihat bingung. "Ada apa dengan identitasku?" Kemudian suara yang dipenuhi ejekan keluar dari mulut Randika, "Ataukah kamu sedang memakai wewenangmu sebagai pihak hukum agar dapat mengenalku dan menjadi dekat denganku? Kau juga mengincar kesucianku? Aku tahu bahwa aku tampan tetapi bisa-bisanya kau berbuat sejauh ini?" Deviana kembali mengerutkan dahinya. Pria ini benar-benar tidak tahu diri. Randika menatap polisi wanita ini dengan ekspresi datar. "Jika kau ingin pria kuat untuk memenuhi harimu maka aku tidak akan melawan. Baiklah jika kau ingin memilikiku, kita lakukan di sini sekarang juga. Aku harap dengan ini kau puas dan tidak mencari-cariku lagi. Dan kalau bisa jangan berbuat seperti ini lagi, biarkan aku menjadi yang terakhir." Setelah mengatakan itu Randika melepas bajunya, dia pun juga terlihat menutup matanya. Apabila orang-orang melihat situasi mereka berdua yang ada di pojokan restoran ini, entah cerita apa yang akan menyebar. Randika benar-benar pandai menyudutkan orang. Deviana menggelengkan kepalanya. Dia tidak tahu apa yang ada di kepala pria ini. Dia lalu memutuskan untuk meninggalkan Randika dan mengurungkan niatnya untuk menanya-nanyainya. "Pakai dulu bajumu!" "Apa? Baiklah." Randika pura-pura kaget dan kembali mengenakan pakaiannya. Deviana lalu berkata dengan nada dingin, "Jangan mengalihkan pembicaraan lagi. Aku hanya akan bertanya satu pertanyaan lalu kita selesai. Jika kau tidak mengerti situasimu sekarang maka kau akan kuanggap sebagai orang berbahaya." "Orang berbahaya?" Randika mengerutkan alisnya dan mengatakan. "Permisi ibu, apakah aku melakukan hal buruk? Apakah aku merampok bank atau menjarah toko perhiasan? Ataukah aku ditangkap karena telah melecehkan perempuan? Bahkan jika kau polisi, kau harus memiliki bukti sebelum berbicara yang tidak-tidak. Jangan mengintimidasiku, aku adalah warga negara yang taat akan hukum." Deviana menjadi murka ketika mendengarnya. Dia telah menjadi polisi beberapa lama dan tidak pernah bertemu dengan orang semacam Randika. Selama ini, orang-orang selalu bekerja sama dengannya ketika dia bertanya tetapi hari ini Randika malah menyerang balik dirinya. "Kemampuanmu itu sudah melebihi orang biasa. Hal ini bisa membahayakan dan menimbulkan keresahan masyarakat. Jadi aku hanya ingin kau bekerja sama denganku dan ikut denganku kembali ke kantor." "Kau juga sepertinya tidak mengerti situasimu sendiri." Kata Randika sambil menggelengkan kepalanya. "Kau tidak bisa mengatakan bahwa setiap orang yang tidak secara sengaja melempar garpunya adalah orang jahat. Bukankah kalau begitu setiap orang yang ada di restoran ini juga tersangka? Kau hanya berasumsi saja. Sebagai satuan penegak hukum, apabila kau menuduh seseorang bukankah itu perlu bukti? Jika kau asal menuduh tanpa adanya sebuah bukti, bukankah itu sudah menjadi kasus pencemaran nama baik?" Deviana merasa bahwa kesalahan dia berbicara dengan pria ini. Kemampuan pria ini dalam memutar balikkan kata benar-benar sangat hebat dan dirinya bukan saingannya. Jika kau tidak punya apa-apa, jangan kau ganggu aku! Deviana kemudian menatap kembali Randika, "Jadi kau tidak akan bekerja sama denganku?" "Aku akan menuruti kata-katamu. Bukankah kau ingin aku kooperatif?" Kata Randika dengan senyum nakalnya. "Kau!" Deviana sudah merasa dirinya di ambang batas kemarahannya. "Kalau begitu, tolong ikut aku ke kantor jika kamu ingin membantuku." Kata Deviana dengan suara dingin. Dia juga meraih borgolnya. "Tidak! Apa yang akan kau lakukanˇ­" Randika pura-pura merasa takut. "Aku lebih baik mati daripada ikut denganmu." "Keputusan itu bukan ada di tanganmu." Setelah berkata demikian, Deviana segera berlari ke arah Randika. Dia sudah bertekad untuk membawa Randika kembali dengannya. Tangan kanannya menahan tangan Randika, tangan kirinya menggenggam borgol berusaha memakaikannya ke Randika. Sedangkan Randika hanya berdiri diam ketika Deviana berlari ke arahnya. Ketika tangannya hendak terborgol, dia menarik tangannya dan menahan tangan Deviana. Deviana pun bereaksi tepat waktu dan berhasil menghindar. Namun di saat dia mengelak, Randika masih sempat menggenggam tangannya. Deviana tidak menyangka bahwa orang ini sangat cepat. Randika lalu menarik tangan Deviana dan menahan erat tangannya. Randika merasa bahwa tangan ini sangat halus dan lentur. Randika merasakan kelembutan kulit Deviana sambil terus beraksi. Dia lalu meraih borgol yang digenggam Deviana dan memakaikannya padanya. "Dasar bajingan!" Deviana benar-benar terkejut. Dia tidak menyangka bahwa dia akan tertangkap. Dia lalu menendang Randika di perutnya dengan lututnya. "Hahaha! Ternyata kau hebat juga." Randika mengelak dan memuji Deviana yang masih sempat berpikir untuk melawan dirinya. Serangan lutut itu hanya mengenai udara kosong. Di saat itu juga, Randika sudah berada di belakang Deviana. Dia lalu mengangkat tinggi tangannya lalu hendak meraih tangan Deviana satunya. Dia hendak memborgol kedua tangan wanita cantik ini. Deviana mengerti bahwa gerakan pria yang membelakanginya ini sangat krusial. Ketika dia ingin berputar badan, dia merasakan bahwa pihak lain telah menahan dirinya dan dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya dengan begitu saja, Randika berhasil memborgol kedua tangan Deviana di balik punggungnya. Setelah memastikan bahwa Deviana sudah benar-benar tidak bisa melawan, Randika berjalan ke depannya dan menatapnya sambil tersenyum. "Bagaimana rasanya? Apakah ini pertama kalinya kau berperan menjadi penjahat?" "Dasar bajingan, lepaskan aku!" Tatapan mata Deviana sangat berapi-api. "Kalau aku tidak mau bagaimana?" Randika tersenyum ketika melihat polisi yang tidak berdaya ini. Karena tangannya di borgol di belakang punggungnya, dada milik Deviana dalam keadaan membusung dan terlihat membesar. Wah ternyata perempuan berdada besar kembali muncul di hadapannya. Randika bingung siapa yang terbesar di antara mereka bertiga. Randika kemudian mendekat dan memeriksa siapakah yang terbesar di antara Inggrid, Viona dan polisi satu ini. Karena dia belum pernah memegang semua gunung besar itu, dia tidak bisa memutuskan siapa pemenangnya. Melihat bahwa Randika sedang memperhatikan badannya secara dekat, Deviana merasa bahwa dia telah dilecehkan. "Dasar pria bajingan! Lepaskan borgol ini dan aku menghajar otak mesummu itu!" Randika kemudian menghampiri telinga Deviana, di saat seperti ini pun perempuan ini masih meronta-ronta. "Apakah kau berpikir aku akan menurutimu? Apakah kau pikir aku bodoh?" Sambil berkata demikian, Randika membelai pipi Deviana. Karena di belakangnya adalah tembok, Deviana tidak bisa pergi ke mana-mana. "Aku tidak menyangka bahwa polisi sepertimu sangat memperhatikan penampilanmu hmmm Deviana?" Randika menikmati momen ini, momen di mana dia bisa menggoda seorang wanita cantik. Ketika Randika sedang asyik membelai pipinya, Deviana hendak menggigit tangan tersebut! Tetapi pada saat itu terjadi, Randika berhasil mengelaknya. "Kukira kau angsa putih yang cantik, siapa mengira bahwa kau ternyata seekor anjing." Kata Randika. Saat ini tatapan mata Deviana sangatlah dingin dan dia tidak menahan dirinya untuk tidak mencabik-cabik Randika hidup-hidup. Selain ayahnya yang dulu suka mengelus rambutnya, tidak ada yang pernah menyentuh dirinya! "Baiklah, baiklah tidak akan kuulangi lagi." Randika terlihat sedang tersenyum nakal. "Aku tidak akan menyentuhmu lagi." Setelah berkata seperti itu, Deviana terlihat sedikit tenang. Tiba-tiba Randika malah mencubit pelan pipinya. "Wah empuk sekali! Aku suka!" Kata Randika sambil tersenyum dan Deviana merasa dirinya telah lengah. Bisa-bisanya pria ini melakukan hal itu lagi. Di saat itu juga, Deviana terlihat berusaha menanduk Randika. Randika segera menahan tubuh perempuan ini dan menahannya di tembok. "Pria macam apa kau!" Kata Deviana dengan tatapan mata yang berapi-api. Dia menatap mata Randika yang sedang ada di hadapannya ini. Dia tidak bisa bergerak. Dia masih berpikiran untuk melawan kembali dengan menendang pria ini. Kali ini, Randika sudah tidak mau repot-repot dan membebaskan Deviana. "Sentuh aku sekali lagi maka kau akan menerima akibatnya!" Deviana yang sudah bebas sedikit merasa lega bahwa dia sudah tidak terborgol. Randika di lain sisi masih tersenyum, "Aku aslinya tidak puas hanya menyentuh mukamu saja, aku inginˇ­.." ??Ha? Kau mau menyentuh apa lagi?" Deviana merasa bahwa dirinya belum boleh merasa lega dan mengambil langkah mundur. "Aku ingin sekali meremas bokongmu." Randika segera menghilang bagai asap dan sudah berada di bagian belakang Deviana sambil memegangi pinggangnya. "Dasar pria mesum! Kau harus mati!" Deviana yang kaget melihat sosok Randika yang menghilang, segera merasakan tangan Randika yang ada di pinggangnya. Karena Randika memegang pinggangnya dengan kuat, Deviana tidak bisa berputar. Randika mengambil kesempatan ini untuk menghirup udara di sekitar leher Deviana. "Hmmm.. harum sekali kamu!" "Dasar bajingan! Mesum!" Dia merasa bahwa Randika adalah pria terberengsek yang pernah dia temui. "Karena aku mesum, tidak ada salahnya aku memegangnya sekarang. Lagipula aku juga tidak ingin mati dengan perasaan menyesal." Kali ini Randika memegangi bokongnya. Dia meremas pantat itu dengan sekuat tenaga. "Kau!" Deviana benar-benar tidak habis pikir. "Aku akan memastikan kamu mendapatkan ganjarannya!" "Oh? Apakah kau yakin bisa?" Randika kembali tersenyum nakal. Kali ini matanya terfokus pada dada milik Deviana. "Kauˇ­ Apa yang akan kau lakukan?" Deviana menoleh ke belakang dan melihat senyum lebar milik Randika. "Tidak apa-apa. Aku hanya takut sebelum hukuman itu tiba, aku masih tidak ingin mati dengan penuh penyesalan." Kata Randika sambil menyentuh pelan dada milik Deviana. Deviana ingin melawan orang ini tetapi dia bahkan tidak bisa membalikkan badannya. Apabila dia masih berusaha melawan dan berkata aneh-aneh, dia merasa bahwa kali ini target pria ini adalah dadanya. "Hmmm? Apakah kau sudah tenang?" Kata Randika ketika melihat bahwa perempuan ini sudah pasrah dengan keadaannya. "Baiklah kalau begitu, kita akhiri di sini saja. Sampai bertemu nanti." Randika tidak suka dengan wanita yang tidak memiliki reaksi sama sekali. Oleh karena itu dia tidak ragu untuk meninggalkannya. "Tidak ada kata lagi, ingat itu baik-baik!" Deviana benar-benar marah. Dia lalu menggertakan giginya ketika melihat sosok Randika yang semakin menghilang. Chapter 19: Bagaimana Caranya Bekerja Sama? Ketika mereka berdua berhasil keluar dari restoran itu dengan selamat, Randika dan Viona segera kembali ke perusahaan Cendrawasih. Mereka lalu berpisah karena Randika ingin bertemu dengan Inggrid terlebih dahulu. Ketika sampai di ruangan pribadi Inggrid, Randika melihat bahwa istrinya sedang duduk terdiam sambil memijat kepalanya. Melihat hal ini membuat hati Randika sedikit sakit dan segera menghampirinya. Inggrid merasa dirinya tidak enak badan jadi pandangannya sedikit kabur. Dia merasa bahwa ada orang yang mendekati dirinya dan ketika dia mengangkat kepalanya ternyata itu adalah Randika. "Ada apa denganmu? Apakah istriku ini sedang tidak enak badan?" Suara Randika terdengar tulus dan penuh perhatian. Ketika mendengarnya, Inggrid hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Mungkin aku terlalu lelah. Kau tidak perlu khawatir." Randika kemudian menempelkan tangannya pada dahi Inggrid. "Sayangku, tidak apa-apa kalau kau merasa capek dan butuh istirahat. Sini, suamimu akan mengecek dirimu terlebih dahulu." Ketika melihat tangan Randika yang besar itu mendekati dirinya, Inggrid tidak menolaknya. Kemudian Randika mengatakan, "Apakah kau sudah pergi ke dokter?" Inggrid tidak dapat mendengar perkataan Randika. Tetapi terdapat sedikit keraguan di mata Inggrid. "Hei jangan khawatir, suamimu ini sangat ahli dalam dunia perobatan." Randika yang menyadari keraguan istrinya ini segera mengecek suhu badan dan denyut nadi istrinya. Sekilas, tidak ada hal aneh yang nampak. Namun apabila Randika melihat lebih seksama, wajah Inggrid ini sangat pucat bagai tulang. Bibirnya yang cantik itu nampak kering dan terkelupas, kelopak matanya juga nampak ingin menutup terus seakan-akan dia sudah kehabisan tenaga. Hati Randika mengepal. Ini bukan gejala orang sakit tetapi gejala seperti orang telah diracuni. Dia sempat mempelajari dunia perobatan melalui ajaran kakeknya dan mengerti beberapa ilmu dasarnya. Melihat Inggrid, dia yakin bahwa ini adalah gejala orang yang telah diracuni. "Hei, apakah ada rasa tidak nyaman di tubuhmu?" Tanya Randika dengan nada cemas. "Ataukah ada rasa sakit yang muncul di suatu bagian tubuhmu?" Inggrid mengira-ngira dan berkata dengan suara pelan, "Ada rasa sakit sedikit di dadaku." "Kapan hal ini terjadi?" Mata Randika benar-benar terbelalak. "Hmmm aku lupaˇ­ Pagi hari aku tidak merasakan apa-apa." Suara Inggrid benar-benar sudah lemah. Baiklah, pagi hari ini dia merasa baik-baik saja, jadi mungkin siang hari tadi? "Tadi siang kau makan apa?" Tanya Randika lebih lanjut. "Sekretarisku membawakanku makanan dari luar." Inggrid merasa bahwa pertanyaan Randika mulai melenceng dan bertanya dengan suara pelan, "Memangnya ada apa?" Randika hanya bisa menggertakan giginya dan tersenyum pahit. "Dengarlah aku dan jangan panik. Kau telah diracuni dan menurutku makan siangmu tadi adalah penyebabnya." "Bagaimana ini bisa terjadi? Sekretarisku bukan orang setega itu." Inggrid masih menyimpan rasa percaya terhadap sekretarisnya itu. "Jangan khawatir, bukan dia pelakunya. Ini pasti ulah orang lain." Kata Randika berusaha menenangkan istrinya. "Istriku, ijinkan aku untuk memeriksamu lebih detail lagi." "Baiklah." Kata Inggrid dengan pelan. Randika kembali mengukur denyut nadi Inggrid. Setelah beberapa saat, muka Randika memucat. Dia tidak menyangka bahwa pelaku memakai racun semacam ini. Digoxin, racun yang memiliki tingkat kematian tinggi ini akan bekerja tanpa ada yang mengetahuinya. Racun ini sering diperjual belikan di dunia bawah tanah karena tingkat keberhasilannya yang tinggi. Tapi siapa yang ingin membunuh Inggrid? "Apakah situasiku gawat?" Inggrid melihat wajah Randika yang memucat dan merasa bahwa dirinya sedikit terharu melihat Randika yang begitu peduli pada dirinya. "Sayang, kau tenang saja. Kalau cuma sebuah racun, itu hanyalah masalah kecil bagi suamimu ini." Randika berusaha kembali ceria. "Untuk pengobatanmu kali ini, aku butuh kerja samamu." "Bagaimana caranya?" "Aku akan memakai teknik akupuntur padamu." Kata Randika. "Aku akan membuat racun itu keluar dari tubuhmu tetapi, aku tidak bisa mengeluarkannya kalau kau masih berpakaian." Inggrid yang lemas itu masih sempat tersipu malu, "Kau ingin aku membuka bajuku?" "Benar." Kata Randika sambil mengangguk. "Akupuntur membutuhkan akses ke titik-titik tertentu pada kulit." Inggrid merasa ragu, "Apakah lebih baik kita ke rumah sakit?" Inggrid masih merasa malu untuk bertelanjang. Randika sempat ingin membujuk istrinya itu untuk tidak menolak bantuannya namun tiba-tiba Inggrid berteriak kesakitan. "Ah!! Sakit!" Teriak Inggrid. Pada saat ini, Inggrid merasa dirinya semakin lemah dan tidak bertenaga. Randika yang melihat ini segera menjadi pucat dan mulai khawatir. Apabila tidak segera ditangani, Inggrid akan mati. "Istriku tenanglah, aku tidak akan mengintipmu atau mengambil kesempatan." Kata Randika kepada Inggrid. Randika lalu segera mengunci pintu dan menutup tirai jendela, dia segera melepas pakaian Inggrid. Hari ini Inggrid karena ada rapat, dia memakai jas sebagai atasannya. Kaos putih di dalamnya segera dibuka oleh Randika. Melihat bahwa Inggrid sudah di ambang batas kesadarannya, Randika segera mempercepat tindakannya. Dia yang awalnya membuka kancing satu persatu segera mempretelinya untuk menghemat waktu dan segera membersihkan barang-barang yang ada di atas meja dengan satu kali ayunan tangannya. Barang-barang berserakan di bawah dan membuat kegaduhan. Dengan lembut dia meletakkan istrinya itu dalam posisi terlentang. Dia segera mengambil sesuatu di dalam saku celananya dan meraih sebuah kotak kecil. Di dalamnya ada jarum tradisional yang dipakai dalam akupuntur. Menyimpan jarum tersebut merupakan kebiasaan Randika sebelum dia menjadi Dewa Perang di dunia bawah tanah. Hal ini dia dapat dari kakeknya. Ketika Randika bepergian, dia harus selalu membawa kotak kecil tersebut. Jadi suatu saat nanti apabila dia terluka, dia bisa menggunakan teknik akupuntur itu untuk memulihkan diri ataupun menghambat lukanya. Randika kemudian menutup matanya dan berkonsentrasi. Dia memusatkan tenaga dalamnya ke dalam jarum dan menusukkannya ke Inggrid. Satu jarum, dua jarum, tiga jarum! Penempatan jarum Randika sangat cepat dan akurat. Dalam melakukan akupuntur, hati dan pikiran yang tenang adalah kunci sebenarnya. Hanya dengan begitulah, penempatan jarum bisa dilakukan dengan akurat. Persediaan jarum Randika mulai menipis dan warna wajah Inggrid juga kembali normal. Dia merasa nyaman dengan banyaknya jarum yang menusuknya. Kemudian sepasang mata yang cantik ini mengarah kepada Randika yang masih berusaha menyelamatkan dirinya. Dia merasa bahwa Randika bukanlah pria biasa, dia bahkan mengerti akupuntur. "Hmmm? Apakah kau terkagum-kagum oleh keterampilan suamimu yang tampan ini?" Randika dapat merasakan bahwa Inggrid telah menoleh ke arah dirinya. Inggrid kemudian memalingkan wajahnya dan tersipu malu. "Tenanglah dulu sayang. Tinggal sedikit lagi maka kau akan sembuh." Kata Randika sambil mengelus rambut istrinya. Mendengar perkataan Randika, Inggrid merasa penasaran karena dia merasa bahwa punggungnya sudah penuh dengan jarum, "Kau akan menusuknya di mana lagi?" Mata Randika mulai bergerak turun dan jatuh pada beha yang dipakai oleh Inggrid. Warna ungu cerah ini membuat Randika tidak bisa lepas darinya dan terlebih dia harus melepasnya dan menusukkan jarumnya di bagian yang tertutup tali beha tersebut. Ketika beha miliknya dipegang, Inggrid segera tersipu malu dan berteriak, "Tidak!" Randika menelan ludahnya. Istrinya benar-benar memiliki dada yang besar di balik behanya ini. Dia merasa bahwa Viona telah kalah dari istrinya ini. "Sayangku jangan khawatir, aku tidak ngapa-ngapain kok." Kata Randika dengan nada menenangkan. "Jika kau tidak ingin melepasnya seluruhnya, ijinkan aku melepas pengaitnya dan aku juga berjanji tidak melihatnya." "Tidak mauˇ­ aku maluˇ­" Inggrid tidak mau melihat wajah Randika karena saking malunya. Hatinya benar-benar campur aduk. Apakah badannya yang telah dia jaga selama ini pada akhirnya akan terekspos oleh pria ini? "Sayangku jangan begitu. Percayalah pada suamimu ini. Aku juga tidak bisa menutup mataku sepenuhnya karena aku masih harus menemukan titik yang tepat untuk memasukkan jarum ini." Kata Randika. "Pokoknya aku tidak mau!" Muka Inggrid semakin memerah ketika mengetahui bahwa Randika tidak akan menutup matanya. Dia yang sekarang benar-benar terdengar seperti seorang perawan polos pikir Randika. Randika juga sedikit kebingungan. Bagaimana caranya dia bisa membujuk istrinya ini? Dia masih harus menusukkan beberapa jarum lagi agar hal ini bisa selesai. Tiba-tiba dia menemukan sebuah ide. "Sayangku, apakah kau tahu akibatnya kalau aku tidak menusukkan jarum ini tepat waktu?" Kata Randika. "Apa yang akan terjadi?" Inggrid mulai menggigit umpan. "Racun ini memiliki sifat yang bisa membusukkan jaringan pada penampilan orang. Awalnya akan terlihat seperti kerutan biasa pada wajah, kemudian kulitmu akan terasa mengendur dan dadamu akan mulai menggelambir. Lalu kau akan menjadi jelek dan terlihat tua, apakah kau ingin seperti itu?" Kata Randika dengan nada yang meyakinkan. "Tidak! Aku tidak mau!" Membayangkan apa yang dikatakan Randika, Inggrid merasa dia lebih mati saja daripada dirinya berubah seperti itu. "Jadi ijinkanlah suamimu ini menolongmu. Aku akan mengeluarkan seluruh racun dan aku akan menyelamatkan penampilanmu yang cantik ini." Kata Randika dengan lembut. Inggrid masih ragu-ragu. Kemudian dia mengatakan, "Baiklah, kau bisa melepas pengaitnya." Randika merasa senang tetapi Inggrid segera menambahkan, "Tapi jangan mengintip dan berbuat aneh." "Jangan kau khawatir, bukankah suamimu ini seorang jentelmen?" Kata Randika dengan penuh kebajikan. Tidak lama kemudian Randika melepaskan pengaitnya dan dada milik Inggrid seperti seakan mau tumpah. Besar! Bundar! Lembut! Randika benar-benar menahan dirinya untuk tidak meremasnya dan Inggrid juga tampak sangat malu dengan keadaannya ini. Dia terlihat menutup matanya dan berharap bahwa ini cepat selesai. "Hei sudahlah, kau tidak perlu khawatir. Aku akan cepat." Randika kemudian menyingkirkan beha yang menghalangi titik akupuntur yang akan dia tusuk. Di saat melihat punggung istrinya yang indah ini serta dada besar yang penyet, entah kenapa hidungnya terasa berair. Randika benar-benar kaget. Dia tidak menyangka bahwa dirinya yang dijuluki Dewa Perang ternyata mimisan ketika melihat punggung istrinya yang telanjang ini. Kalau orang melihat hal ini mungkin mereka akan mengejeknya. "Hei! Kau tidak boleh melihat!" Inggrid terdengar malu. "Tenanglah, aku tidak melihat apa-apa kok." Randika berusaha menenangkan dirinya dan kemudian melanjutkan penyembuhan istrinya ini. Setelah beberapa saat, dia bernapas lega. Dia akhirnya berhasil melakukan langkah pertama yang krusial dan menyelamatkan istri tercintanya. Sekarang sisanya adalah mengeluarkan racun tersebut hingga tetes terakhir. "Bersabarlah, sekarang tinggal tahapan akhir." Randika kemudian membantu Inggrid untuk duduk. "Aku akan menyalurkan tenaga dalamku padamu untuk mendorong racun itu keluar. Usahakan jangan bergerak dulu." Kata Randika yang nampak sudah bersila. Dia kemudian menyentuh punggung Inggrid dan mulai menyalurkan tenaga dalamnya. Tiba-tiba, Inggrid merasa bahwa tangan Randika benar-benar panas tetapi dia merasakan kenyamanan meskipun terasa panas. Dari punggungnya itu, rasa panas itu mulai menyebar di seluruh tubuhnya. Saking nyamannya, Inggrid pun mendesah. Randika masih berkonsentrasi menyalurkan tenaga dalamnya. Wajahnya terlihat pucat. Penyembuhan ini memiliki dua tahap. Tahap pertama adalah menahan laju penyebaran racun pada tubuh Inggrid dengan teknik akupuntur miliknya dan memaksa racun untuk berkumpul di titik-titik tertentu. Tahap kedua adalah dia menyalurkan tenaga dalamnya untuk mengeluarkan racun yang telah berkumpul tersebut. Tahap kedua ini lebih krusial lagi daripada yang pertama. Tidak boleh ada gangguan sekecil apa pun dalam proses ini. Pada saat ini, tangan Randika benar-benar panas seakan-akan kapan saja bisa muncul api. Tenaga dalamnya mengalir deras menuju punggung Inggrid. Tenaga dalamnya akan menyebar di tubuh Inggrid dan memaksa racun itu keluar dari sistem tubuh Inggrid! Randika harus memastikan bahwa penyaluran tenaga dalam ini tidak berhenti. Dia memiliki banyak tenaga dalam di dalam tubuhnya ini jadi dia tidak perlu khawatir akan kehabisan. Setelah beberapa saat, raut wajah Inggrid sudah kembali normal dan bibirnya yang putih itu kembali mendapatkan warna naturalnya. Istrinya yang cantik sudah kembali! Namun, di tengah-tengah pengobatan ini terdengar suara gaduh dari luar ruangan! Chapter 20: Tenanglah, Aku Sudah Ada di Sini Kegaduhan yang berasal dari luar ruangan mengejutkan Randika. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apakah perusahaan Cendrawasih ini diserang? Apabila dia mendengarkannya dengan seksama, dia dapat mendengar orang-orang berteriak, benda-benda pecah, dan dentingan logam. Randika mulai merasa semua masuk akal. Inggrid baru saja diracuni, sekarang terdengar kegaduhan hebat di luar ruangan, ini semua pasti serangan yang sudah terencana. Randika hanya berharap bahwa ruangan penelitiannya tidak disentuh sama sekali. Randika hanya bisa berdoa selagi masih menyalurkan tenaga dalamnya ke Inggrid. Selama suara gaduh itu bukan berasal dari arah ruangannya, dia tidak perlu khawatir. Namun ketika dia terus mendengarkan suara-suara tersebut, wajahnya semakin pucat. Suara gaduh tersebut, yang dicampur oleh teriakan orang-orang dan benda-benda pecah, terdengar dari ruangan sebelahnya yaitu ruangan miliknya. Wajah Randika semakin muram. Dia bisa mendengar beberapa orang mengatakan, "Hancurkan itu, banting semua alat-alat yang ada dan jangan lupa bakar semua kertas yang ada." Mati! Semua orang itu nyari mati! Randika sudah di ambang marah. Tenaga dalamnya mulai bergejolak. Dia ingin memancarkan aura membunuhnya tetapi erangan Inggrid membuat dirinya tersadar kembali. Sekarang adalah waktu krusial untuk melawan dan menaklukan racun yang ada di dalam tubuh Inggrid. Sekarang dia memiliki 2 pilihan. Pertama, dia bisa melupakan pengobatan Inggrid dan menangkap para penjahat yang berani menyerang ruangan miliknya. Kedua, dia bisa melupakan mereka dan meneruskan pengobatan ini dan nyawa Inggrid terselamatkan. Apabila dia memilih pilihan pertama, maka pengobatannya selama ini malah memberikan dampak buruk pada tubuh Inggrid. Di saat yang sama pula, ketika dia menarik kembali tenaga dalamnya dia juga akan menghadapi tenaga dalam yang bersifat negatif di dalam tubuhnya! Randika pun sudah membulatkan tekad. Dia juga tidak ingin kehilangan istrinya yang dia sayangi ini. Mata Randika tampak bersinar. Dia harus menuntaskan penyaluran tenaga dalamnya ini. Sambil menghiraukan suara yang berasal dari luar, Randika menenangkan dirinya kembali dan berkonsentrasi kembali untuk fokus mengeluarkan racun yang ada di tubuh Inggrid. Setelah beberapa saat, tenaga dalam Randika yang tidak teratur kembali menjadi tenang. Ia lalu menyebar kembali dalam tubuh Inggrid, memaksa racun untuk keluar. Selama proses ini berlangsung, suara gaduh tersebut tidak kunjung selesai. Malah terdengar suara derapan kaki orang banyak yang datang. Sepertinya tim keamanan perusahaan ini telah datang. Setelah itu terdengar suara orang bentrok dan orang terjatuh. Sepertinya terjadi pertarungan yang sengit. Setelah beberapa menit, pertarungan itu nampaknya telah selesai. Suara gaduh perlahan tidak terdengar kembali dan suara langkah kaki orang-orang menjadi tenang kembali. Pengobatan Inggrid sudah mencapai tahap akhir, Randika kembali berkonsentrasi. Dia menutup matanya dan mengarahkan tenaga dalamnya. Dengan satu dorongan kuat dari tenaga dalam Randika, Inggrid tidak bisa menahan dirinya untuk memuntahkan seteguk darah hitam dari mulutnya. "Sayangku, kau sudah tidak apa-apa tetapi jangan memaksakan diri untuk bergerak terlebih dahulu dan beristirahatlah. Aku akan melihat keadaan di luar." Setelah memastikan Inggrid terlentang tenang di mejanya, Randika bergegas keluar ruangan dan menuju ruangannya. Kecepatan lari Randika sangat cepat bahkan bisa dikatakan bahwa dia melebur menjadi cahaya. Di saat dia sampai di luar ruangannya, terdapat beberapa orang keamanan yang tergeletak di lantai dan mengerang kesakitan. Terdapat pecahan kaca di mana-mana. Alat-alat miliknya ada yang sampai berserakan di luar ruangan. Melihat hal ini membuat Randika murka tetapi dia masih menahan dirinya untuk tidak meledak dan segera menuju ruangannya. Melihat isi ruangannya, membuat dia semakin murka dan tidak bisa menahan dirinya. Ruangan penelitiannya benar-benar hancur total. Meja dan kursi semuanya terbalik, alat-alat miliknya sudah terbanting, semua peralatan kaca seperti tabung sudah menjadi pecahan dan kertas-kertas hasil penelitian mereka sudah hangus terbakar, semua komputer sudah remuk dan peralatan medis sebelumnya yang dia beli sudah pada berserakan di lantai dan isinya tumpah ke mana-mana. Orang-orangnya memiliki beberapa reaksi tersendiri, ada yang menangis, ada yang ketakutan, ada yang masih bingung dengan apa yang telah terjadi. Viona juga tidak terkecuali. Dia gemetar ketakutan sambil memeluk lututnya. Melihat Randika yang datang, dia tidak menahan diri untuk melompat ke pelukannya. "Hiksˇ­ Hiksˇ­ " "Tenanglah, aku sudah ada di sini." Randika berusaha menenangkan Viona dan mengusap air matanya. "Apa yang terjadi? Bisakah kau jelaskan detailnya?" Tanya Randika. Viona yang masih tersedu-sedu mengatakan, "Barusan saja sekumpulan orang membawa tongkat logam tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Mereka mulai membanting, memukul dan membakar semua yang ada di sini. Tuan Kelvin hendak mencegah mereka tetapi gagal dan terluka." Randika kemudian melihat beberapa ahli parfum dan Kelvin masih tergeletak kesakitan. Dia tanpa sadar meminta maaf dalam lubuk hatinya. "Ketika tim keamanan tiba, kedua pihak mulai bentrok dengan sengit. Tetapi orang-orang itu ada yang membawa pisau dan menusuk orang-orang kita." Kata Viona sambil bergetar ketakutan. Randika kemudian memeluk erat Viona, tetapi dalam hatinya dia berpikir dengan cepat. Penyerangan di ruangan penelitianku dan Inggrid yang keracunan, apakah semua serangan ini ditujukan untuk perusahaan ini ataukah diriku? Jika semua hal ini ditujukan pada dirinya maka seharusnya Inggrid tidak sampai kena musibah. Musuh hanya akan mengobrak-abrik ruangan miliknya. Apabila musuh sudah mengetahui keberadaan dirinya yang ada di perusahaan Cendrawasih ini, tidak heran mereka memakai taktik seperti ini. Untuk sekarang, teka-teki ini masih banyak bolongnya. "Randika bagaimana ini? Mereka terlihat seperti preman dan pembunuh." Kata Viona ketakutan. ???Bagaimana kalau mereka kembali ke sini?" "Viona tenanglah, kau tidak usah memikirkan hal yang aneh-aneh. Istirahatlah, aku berjanji bahwa mereka tidak akan berani macam-macam dengan kita lagi." Randika kemudian mengusap rambut Viona untuk menenangkan dirinya. Dia lalu berpikir, Kembali? Jangan harap mereka bisa berjalan ke sini kembali setelah aku mematahkan kaki mereka setelah ini. "Viona aku minta kamu untuk istirahat dan percayakan hal ini padaku." Randika kemudian mengangkat kepala Viona dan mencium keningnya. "Baiklah kalau begitu, tolong jagalah dirimu dengan baik." Kata Viona. "Jangan khawatir, atasanmu yang tampan ini pasti baik-baik saja." Setelah Viona pergi, Randika mengobati korban-korban luka yang masih tergeletak dengan menyalurkan tenaga dalamnya. Dia juga melakukan hal ini pada orang-orang yang ada di luar ruangan. Setelah selesai, dia bertanya pada salah satu orang keamanan. "Apakah kau ingat ciri-ciri orang yang menyerang kita?" "Semua orang yang datang menyerang memakai topeng dan dia menyandera salah satu orang kita. Berkat itu mereka bisa memiliki akses untuk pergi ke lantai ini. Ini adalah serangan yang terencana." Kata salah satu orang keamanan. "Apakah kamu ingat ciri-ciri khusus seperti tato atau lainnya?" "Tidak, keadaan sudah kacau saat kami datang. Saat kami datang, teman kami yang disandera itu langsung dibunuh." Katanya sambil menggelengkan kepalanya. Randika kemudian menanyakan ke orang lain, "Apakah ada di antara kalian yang ingat dengan jelas?" Semua orang yang di sana juga menggelengkan kepalanya, sepertinya mereka juga tidak tahu terlalu secara mendetail. Masalah ini tergolong rumit. Hati Randika mengepal. Kalau petunjuknya hanya orang yang memakai topeng maka hal ini sangat sulit dilacak. Meskipun kota Cendrawasih tergolong kecil, di dalamnya terdapat banyak sekali kelompok preman ataupun penjahat. Mustahil dirinya dapat memeriksa mereka semua. Bahkan dengan bantuan Shadow pun, hal ini akan membutuhkan waktu. "Bagaimana dengan kamera?" Tanya Randika. "Perusahaan seperti kita ini pasti memiliki kamera keamanan di setiap sisinya." "Sayangnya itu percuma." Kata salah satu petugas keamanan. "Mereka benar-benar sudah siap. Selain topeng untuk menutupi wajah, mereka juga mematikan kamera keamanan sebelum mereka tiba di gedung ini." Randika kembali mengerutkan dahinya. Sepertinya lawannya kali ini benar-benar siap. Apakah benar tidak ada jejak yang tertinggal? Randika menampar dirinya sendiri agar dia bisa lebih fokus. Dia lalu berdiri dan berjalan menuju lift. Dia memutuskan untuk mencari kebenaran ini di dunia bawah tanah yang ada di kota Cendrawasih. Mungkin dari situ dia akan menemukan jejak dan mencari siapa pelaku sebenarnya. Di saat dia hendak pergi, seorang petugas keamanan mencegatnya. Ketika Randika menoleh petugas itu mengatakan, "Aku berhasil mencopot salah satu topeng di saat kami bentrok tadi. Aku merasa bahwa mukanya sangat familiar." Oh? Seketika itu juga wajah Randika terlihat tertarik, dia segera mendatangi petugas tersebut. "Bagaimana ciri-cirinya?" "Kalau tidak salah dia memiliki julukan sebagai si rubah. Rambutnya merah, hidungnya memakai tindikan dan ada bekas luka sayatan di bawah bibirnya." "Aku sering melihat orang ini di salah satu bar di jalan Macetan bernama Drunken." Drunken bar di jalan Macetan? Randika tersenyum. ..... Malam hari Seperti malam-malam sebelumnya, kota Cendrawasih kembali diselimuti oleh kegelapan malam. Lampu-lampu menghiasi setiap sisi jalan dan kehidupan malam pun mulai muncul. Di kota ini pada malam hari, di pojokan jalan yang gelap, terdapat kejahatan di mana dosa berkumpul. Jalan Macetan, Drunken Bar. Si rubah dengan rambut merahnya masuk ke dalam bar. Suara musik metal yang keras bisa membuat telinga orang sakit, tapi dia sudah terbiasa dengan hal ini. Dia pun ikut menari mengikuti alunan lagu. Para pengunjung lainnya sedang menari-nari di lantai dansa. Ketika si rubah menerobos lantai dansa ini, tangan kanannya meremas bokong seorang wanita. Ketika wanita itu menoleh, si rubah sudah tidak bisa terlihat. Dengan dipenuhi sebuah senyuman, Dimas menyambut si rubah yang mendatanginya. "Hei kawan lama." Kata si rubah ketika melempar sejumlah uang padanya. Pramusaji kemudian membawakan dua gelas anggur kepada mereka dan mengambil uang tersebut. "Sepertinya kau berhasil melakukan sebuah pekerjaan besar." Kata Dimas. "Benar sekali." Si rubah mengajaknya bersulang dan mengambil dua kantong kecil yang ada di meja. "Ulah apa lagi yang kau lakukan kali ini?" "Hanya masalah kecil berkaitan dengan pekerjaan kelompokku." Si rubah kembali meneguk minumannya. "Siapa sasaranmu kali ini?" "Lebih baik tidak kuberitahu biar kau tidak terlibat." "Hahaha! Bagus, bagus, itu benar." Keduanya lalu tertawa dan meninggalkan meja, si rubah kemudian berjalan sendiri menuju ruangan yang ada di belakang bar. Setelah masuk dalam ruangan dan menutup pintu rapat-rapat, si rubah mengeluarkan isi kantong kecil tadi dan menghirupnya. "Ini baru nendang!" Si rubah kemudian menutup matanya dan merasa bahwa dirinya melayang ke atas langit bersama para bidadari. "Tempat ini selalu memiliki barang terbaik." Si rubah memuji Dimas. Dia kemudian menutup kembali matanya namun dia merasa ada yang aneh. Dia lalu membuka matanya dan mengangkat kepalanya, dia melihat orang asing sudah berada di hadapannya. Orang ini berdiri sendirian dengan wajah datar yang cukup menakutkan. SI rubah kemudian mengusap-usap matanya, apakah ini halusinasi? Bukankah sebelumnya dia sudah memastikan ruangan ini aman dan hanya ada dirinya sendiri di dalamnya? Selagi si rubah kembali mengusap matanya, orang itu bertanya. "Bagaimana? Enak?" "Lumayanˇ­ Hei siapa kamu?" Tanpa sadar si rubah menjawab pertanyaannya tetapi dia langsung curiga dengan identitas orang ini. Setelah dia melihat lebih jelas, orang ini sedang memegang sebuah pisau di tangannya! "Kalau begitu, aku akan buat harimu lebih enak lagi!" Randika mendekati si rubah dengan senyuman lebar. Tetapi si rubah merasa bahwa aura yang dipancarkan Randika sangat berbahaya. "Aku akan membunuhmu duluanˇ­" Si rubah kemudian mengambil pisau yang ada di samping tempat duduknya dan menebas ke arah Randika. Suara raungan perangnya terdengar keras sebelum pada akhirnya tidak terdengar lagi. Tangannya yang mengayunkan pisaunya tiba-tiba tergenggam erat, satu detik kemudian wajah si rubah menegang. Suara tulang yang remuk terdengar renyah dan rasa sakit yang luar biasa segera mengikutinya. Raungan perangnya tadi berubah menjadi rintihan kesakitan. Namun, di saat si rubah ingin berteriak untuk melampiaskan rasa sakitnya, kepalanya sudah dibanting pada meja kaca yang ada di ruangan. Duak! Untungnya meja kaca itu tidak pecah namun sekarang tubuh si rubah ditindih oleh pria itu dari belakang. Chapter 21: Geng Kapak "Bagaimana? Apakah sudah nendang?" Randika merapikan pakaiannya dan menginjak punggung si Rubah. Si Rubah mengeluarkan darah dari kepalanya dan terlihat menyedihkan. "Siapa kau?" Si Rubah meludahkan seteguk darah dan tersenyum, "Bajingan macam mana yang berani datang ke sini dan mengancamku?" Randika tersenyum. "Hahaha.. kau sok kuat tapi lihatlah dirimu. Bajingan ini bahkan hanya butuh satu gerakan maka dia bisa membunuhmu." Heningˇ­. Hanya ada keheningan. "Baiklah kalau begitu, kalau kau ingin sok kuat dan masih ingin membuktikan dirimu maka pertanyaan-pertanyaanku bisa kita tunda dulu." Setelah kata-kata Randika ini selesai, badan si Rubah sudah terlempar. Hanya dengan satu tangan, Randika melempar si Rubah ke arah tembok. Namun sebelum dia menabrak, Randika menarik keras lengan si Rubah. Dengan suara nyaring, tulang bahu si Rubah copot dari sendinya. "Ah!" Si Rubah benar-benar kesakitan dan berkucur keringat dingin di seluruh tubuhnya. Suaranya yang sok kuat sudah menjadi rintihan sakit yang menyedihkan. Randika tersenyum dan mengatakan, "Kenapa? Apakah tanganmu baik-baik saja? Sini kubantu." Si Rubah yang melihat Randika mendekat segera panik. Randika kemudian hanya mengeluarkan jempolnya dan menekan keras pada tulang bahunya. "Tidak! Hentikan!" Si Rubah merasa telah bertemu dengan sang maut. Lengannya sudah mati rasa dan sendi yang ditekan keras oleh Randika benar-benar membuatnya kesakitan. Dia berharap bahwa musuhnya ini segera membunuhnya. Cara efektif membuat orang berbicara adalah membuatnya kesakitan dan ketakutan. Randika tahu bahwa si Rubah ini bukanlah dalang sebenarnya jadi dia perlu informasi. "Hei jangan khawatir kawan, itu tadi hanya hidangan pembuka. Sebentar lagi aku akan memberikan hidangan utamanya." Pada saat yang sama, tulang jari telunjuk si Rubah telah dipatahkan oleh Randika. "Tolong hentikan!" Si Rubah ingin pergi dari sini secepatnya. Jeritan minta ampunnya ini benar-benar menyedihkan. Mendengar ini, Randika bertanya kembali. "Lho ada apa? Bukankah ini jauh lebih nendang dari obat-obatanmu?" Si Rubah menghela napas dalam-dalam. Dari tatapan mata Randika, si Rubah sudah mengerti bahwa penyiksaannya ini belum selesai. Ketika pria ini memegang jari tengahnya, si Rubah pun berteriak minta ampun. "Tolong jangan! Aku sudah tidak kuat! Aku akan mengatakan segalanya yang ingin kau dengar." Si Rubah mulai ketakutan akan kehilangan nyawanya. Masih dalam posisi menginjak dan menindih si Rubah, Randika bertanya. "Apakah kamu yang berulah di perusahaan Cendrawasih tadi siang?" Si Rubah mengangguk. "Aku ingin mendengarnya darimu." Randika menancapkan pisau di samping wajah si Rubah. "Kelompok kami yang melakukannya." Kata si Rubah tergesa-gesa, dia tidak ingin membuat orang ini marah. "Siapa yang menyuruhmu melakukannya?" Si Rubah ragu-ragu untuk mengatakannya, tetapi dia melihat Randika mengambil pisau yang tertancap dan hendak mengayunkannya pada dirinya. "Itu bosku, bosku yang menyuruh kita melakukannya. Kami tidak bisa menolak karena kami adalah bawahannya." "Siapa nama bosmu?" Tanya Randika. "Jangan membuatku bertanya lagi padamu!" "Kakak tertua kami bernama Macan. Kelompok kami adalah geng kapak. Kami telah menguasai 1/5 dari seluruh kota ini. Penyerangan perusahaan Cendrawasih berasal dari perintah kakak tertua kami. Dia memerintahkan beberapa dari kami untuk datang ke sana dan menghancurkan segalanya." Si Rubah mengatakannya hanya dalam satu tarikan napas, dia sekarang terengah-engah. Melihat tatapan mata Randika, dia telah menyadari bahwa nyawanya berada di tangan pria ini jadi dia tidak berani berbuat macam-macam maupun berbohong. "Di mana markasmu?" "Tidak jauh dari sini, 1 kilometer dari sini. Di sanalah markas kami." "Bawa aku ke sana." Randika kemudian berdiri sambil mengangkat si Rubah. "Ah?" Si Rubah mulai takut kembali. Dia tidak ingin bahwa kelompoknya tahu bahwa dia telah memberitahu segalanya pada pria ini. "Jangan khawatir, hari ini nama geng kapak tidak akan terdengar lagi di kota ini." Kata Randika dengan nada santai. ...ˇ­.. Tak jauh dari sana, di suatu ruangan terdapat seorang laki-laki berbadan besar dengan kumis yang tebal. Dia tampak seperti perompak. Di bangunan ini terdapat lebih dari selusin orang-orang elit dari geng kapak dengan pakaian serba hitam mereka. Di ruangan lelaki berbadan besar itu, terlihat seorang lelaki sedang terkapar di lantai. Dia menatap linglung ke arah bos geng kapak tersebut dengan kepalanya yang mengucurkan darah. "Bah, siapa yang bilang bahwa geng kapak hanya bisa bermain secara licik dan sembunyi-sembunyi? Kalau bukan karena aku yang memimpin kelompok ini, geng kapak sudah lama tidak ada di kota ini." Si Macan menghela napas dalam-dalam, "Katakan padaku Dimas, apakah aku naif atau polos? Dunia bawah tanah adalah tempat hina. Aku sebagai pemimpin geng kapak kecewa dengan kinerjamu. Lebih baik kau tidak usah berada di dunia seperti ini dan momong saja anakmu. Itu lebih cocok untuk pria lemah kayak kamu!" "Hahahaha!" Para geng kapak ikut tertawa. "Apakah kau tidak pernah berpikir bahwa aku bisa melahapmu hidup-hidup? Geng kecilmu itu menyedihkan." Macan berdiri dan mengangkat Dimas, "Aku hanya tidak ingin mencoreng namaku dengan menghadapi ikan teri macam kalian. Kau dan gengmu sama-sama menyedihkannya." "Hahaha!" Dimas pun ikut tertawa. "Apakah benar begitu? Kalau kelompokku lemah mengapa kau mengeroyokku sendirian? Apakah bukan karena kalian takut dengan kita?" Pria di sampingnya segera menendang Dimas dan si Macan mendekat dan menjambak untuk mengangkat kepalanya si Dimas, "Ikan teri macam kamu berani berkata sok di depanku? Lebih baik cepat katakan di mana kau mendapatkan obat-obatanmu? Jika kau mengatakannya maka aku akan membebaskanmu." Dimas kembali meraung kesakitan tetapi tatapan wajahnya masih terlihat garang. "Jika kalian ingin barangku, maaf aku sudah lupa di mana aku mendapatkannya." Macan pun mengeluarkan secarik kertas dan menunjukan sebuah alamat kepada Dimas. Melihat alamat yang tertera pada kertas itu, wajah Dimas segera berubah. "Kita mempunyai hukum sendiri mengenai bagaimana kita menjalankan usaha di dunia bawah tanah ini. Kau berani melanggarnya?" Kata Dimas dengan nada muram. "Hahaha peduli setan dengan hal seperti itu." Macan mengerti maksud Dimas dan hanya tertawa. "Baiklah, aku akan memberitahu di mana aku mendapatkan barang-barangku." Raut wajah Dimas dipenuhi oleh rasa dendam. Dia lalu melihat lekat-lekat ke wajah Macan. Dia bersumpah akan membalas dendam. "Kalau begitu cepat katakan." Setelah memberitahu detail mengenai lokasi barang-barangnya, Dimas mengatakan. "Aku memberitahumu satu hal. Jika kau terus seperti ini, suatu hari nanti geng kapak akan hancur dan kau akan mati." Ketika mendengarnya, Macan tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa, "Membunuhku? Geng kapak tidak akan pernah hancur di bawah perintahku!" "Lihat saja nanti!" Pada saat ini, pintu ruangan ini sudah didobrak oleh Randika. Nampaknya dia memakai tubuh seorang bawahan geng kapak untuk mendobrak jatuh pintu tersebut. Semua orang terkejut dan terdiam ketika melihat tubuh teman mereka yang jatuh di depan mereka. Mereka lalu melihat sosok Randika yang masuk ke dalam ruangan. Suasana canggung ini berlangsung sekitar 5 detik lalu seluruh orang di dalam ruangan kembali tertawa. Macan pun berkata dengan nada mengancam, "Hei bocah, apakah kau tidak tahu di mana kau sekarang? Kau berada di markas geng kapak dan kau berani berbuat seenakmu sendiri? Nyari mati?" "Bocah ini pasti sudah gila. Pasti ibunya sudah khawatir karena anak bodohnya ini tidak pulang-pulang!" "Hei bos, dia datang untuk mati kenapa kita tidak memberikannya saja?" Semua anggota geng kapak masih tertawa dan mengejek kehadiran Randika. Dengan senyum tipis, Randika menyeret si Rubah masuk ke dalam ruangan dan melemparnya. Melihat rambut merahnya si Rubah, wajah para anggota geng kapak segera berubah. "Bocah berengsek! Kau tidak akan pulang hidup-hidup hari ini!" "Bos, biarkan aku yang mengurus bocah bau kencur ini." Setelah mengatakan itu, orang ini menghampiri Randika dan mengatakan, "Aku akan mengajarkannya bahwa dunia itu kejam." Namun dia tidak akan menyangka bahwa dia berjalan mendekati ajalnya. Dalam sekejap, sosok Randika menghilang dari hadapannya dan muncul kembali di belakangnya. Dengan tenaganya yang kuat, dia membanting pria tersebut. Karena saking kuatnya dan momentum yang dia dapat darinya, pria itu segera tewas di tempat. "Banyak bacot." Randika meludah di tubuh pria itu. "Berikutnya." Kali ini suasana dalam ruangan menjadi tegang. Para anggota geng kapak lainnya mengetahui bahwa lawannya kali ini tergolong hebat. Hanya dalam satu detik dia bisa melumpuhkan salah satu anggotanya. Macan mengedipkan matanya untuk memberikan sinyal kepada salah satu bawahannya. Orang tersebut berdiri dan menatap tajam kepada Randika. Dia lalu menerjang maju sambil mengeluarkan pisaunya. Randika hanya menggeleng-gelengkan kepala. Dia kembali menyatu dengan bayangan. Karena pria ini sudah menerjang maju, dia tidak bisa berhenti mendadak meskipun sudah melihat sosok Randika yang menghilang. Ketika dia mulai melambat, Randika sudah berada di belakang pria ini dan mengambil tangannya yang memegang pisau dan menusukkannya ke dalam dada pria tersebut. Randika kemudian melepaskan pria itu dan kembali menatap seluruh orang yang ada di dalam ruangan. "Untuk menghemat waktu, bagaimana kalau kalian semuanya maju bersamaan?" Katanya dengan santai. "Jangan repot-repot meminta bantuan, bantuan kalian itu akan bertemu dengan kalian di neraka." Mendengar hal ini, wajah semua orang menegang. Bahkan pimpinan mereka, si Macan, juga ikut waspada. Lawan mereka kali ini sangat kuat. Setelah tidak ada respon, Randika memutuskan untuk menerjang maju. "Serang!" Melihat Randika yang menuju ke arahnya, Macan segera memerintahkan bawahannya yang tersisa untuk membunuhnya. Tapi sayang, mereka tidak bisa lari dari nasib tragis mereka. Tubuh Randika sudah bagaikan naga. Dia segera meliuk-liuk dan menjatuhkan orang satu per satu tanpa mengalami luka satu pun. "Ah!" ...ˇ­.. Ketika mendengar jeritan itu, salah satu dari mereka melihat bahwa temannya telah jatuh ke lantai. Ketika dia kembali mengangkat kepalanya, dia sudah terpental oleh tendangan kaki yang kuat. Randika yang fokus dengan sekelilingnya, segera menyadari bahwa ada serangan pisau dari arah belakangnya. Dalam sekejap dia melompat dan salto di udara dan sudah berada di belakang pria tersebut. Dia segera menangkap dan melempar pria tersebut ke arah temannya yang lain. Orang yang dilemparnya itu setidaknya berbobot 80kg dan Randika berhasil mengangkatnya dengan mudah dan melemparnya. Dimas yang melihat hal ini masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Orang itu seperti sedang membuang sampah. Orang yang terlempar itu menabrak salah satu temannya dan pingsan karena benturan tersebut. Di bawah kaki Randika, pisau yang tergeletak di tanah diambilnya dengan kaki lalu ditendangnya. Pisau segera melesat ke salah satu orang yang hendak menerjang dirinya dan menembus dada si pria tersebut! Masih tersisa beberapa orang. Randika masih dalam keadaan tenang dan fokus. Setiap dia bergerak maka satu mayat bertambah. Ini sudah bagaikan maut yang mengayunkan sabitnya. Setiap tebasan sabit tersebut, satu nyawa akan terpanen. Dalam beberapa menit, sekeliling Randika sudah kosong dan banyak tubuh yang tergeletak tak bergerak di lantai. Sebenarnya masih ada beberapa orang yang masih bisa berdiri tetapi setelah melihat temannya yang terluka ataupun terbunuh, mereka segera melarikan diri. Sedangkan Randika masih terlihat tenang, musuhnya tidak dapat menyentuh ujung bajunya sama sekali. Ketika Dimas melihat keahlian Randika, dia tidak bisa untuk tidak tersenyum. "Macan, sudah kubilang karma pasti ada. Geng kapak akan habis hari ini juga!" Randika menyadari bahwa tinggal seorang lagi yaitu bosnya. Dia menatap orang tersebut dan mengatakan, "Kau berikutnya." Macan segera berkeringat dingin ketika mendengarnya. Apakah lawannya ini setan? Setiap langkah yang diambil Randika, satu langkah mundur bagi Macan. Melihat bahwa dirinya sudah terpojok, Macan mengeluarkan pistolnya dari pinggangnya dan mengarahkannya pada Randika. Randika masih terus melangkah maju dengan ekspresi datar. "Hahaha! Mau sekuat apa pun dirimu, kau tidak akan bisa mengalahkan kecepatan peluru!" Meskipun dirinya ditodong oleh pistol, Randika malah tampak tersenyum. Chapter 22: Cincin Kerberos "Kau pikir dengan mengeluarkan pistol membuatku takut?" Kata Randika dengan santai. Dia pernah membunuh 1000 orang suruhan mafia Italia yang bersenjatakan lengkap, sekarang dia hanya dihadapkan satu pistol saja, ngelawak atau apa orang ini? Senapan otomatis, granat, tank, misil udara, bom ranjau pernah dia hadapi semua dan dia sama sekali tidak terluka. Kota-kota hancur, pemukiman terbakar dan orang-orang berteriak histeris, sedangkan Randika hanya berdiri dengan senyum tipisnya ketika berhasil menghadapi semua senjata itu. Macan melihat pemuda di hadapannya ini dengan perasaan takut. Melihat betapa tenangnya pemuda itu, tangannya semakin bergetar. Selama hidup di dunia bawah tanah di kota Cendrawasih, Macan telah memiliki insting tajam yang bisa mendeteksi bahaya. Entah kenapa hari ini ketika dia melihat pemuda ini, dia merasakan bahaya yang amat sangat besar. Dia dengan cepat membidik dan menembakkan seluruh pelurunya. Dor! Dor! Dor! Dor! Serangkaian tembakan ditujukan kepada Randika yang dari tadi hanya melangkah lurus ke depan. Tenaga dalam Randika sudah bersirkulasi secara maksimum. Kecepatan peluru baginya sekarang sama pelannya seperti semut yang merayap. Dia lalu mengelak ke kanan untuk menghindari peluru pertama, berputar ke kiri untuk menghindari peluru kedua dan menunduk untuk menghindari dua peluru terakhir. Lalu setelah itu, dia melebur satu dengan bayangan mendekati si Macan sambil sesekali menjatuhkan barang yang ada agar si Macan bingung dia ada di mana. Si Macan yang bingung hanya bisa melihat barang berjatuhan di sekitarnya tanpa bisa melihat sosok Randika. Apakah tembakannya tidak mengenai satu pun? Tangannya yang memegang pistol sudah bergetar hebat, di setiap ada suara jatuh dia akan segera membidik ke sana dan menembakan satu pelurunya. Namun sosok Randika masih tidak bisa dia lihat saking cepatnya. Klik! Klik! Setelah beberapa tembakan tambahan, peluru miliknya sudah habis dan dia pun hendak membantingnya. "Sudah habis?" Sosok Randika dengan cepat muncul di hadapannya sambil menahan pistol yang ada di tangan si Macan. Mereka berdua saling bertatapan mata. Melihat tatapan mata Randika, Macan segera panik dan berusaha menarik pistolnya kembali. Tiba-tiba seluruh pistol sudah terpretel dan bagian-bagiannya telah berserakan di lantai. Lemas dan tidak berdaya, Macan yang merangkak ketakutan di lantai sudah tidak berani menatap Randika. Melihat kaki Randika yang mendekat dia segera berteriak histeris. "Bagaimana bisa ada orang seperti kau! Kau bukan manusia!" Macan benar-benar ketakutan dan menganggap nyawanya akan berakhir hari ini. Randika mengatakan, "Sekarang adalah giliranku yang menyerang." Sebelum kalimat itu selesai, Randika sudah melayangkan tendangan dan tubuh si Macan melayang jauh dan menabrak dinding. Duak! Macan segera berbaring kesakitan setelah menabrak dinding, seteguk darah keluar dari mulutnya. Randika menghampirinya secara perlahan, setiap langkahnya membuat ngeri si Macan. "Siˇ­ siapa kamu?" Si Macan terlihat berusaha menjauhi Randika. "Aku rasa kelompok kami tidak pernah menyinggungmu. Kelompok kami pun juga tidak pernah bertemu denganmu. Mengapa kau melakukan semua ini?" Si Macan benar-benar kehabisan akal. Pertama kalinya dia menghadapi lawan bagai dewa kematian ini. Kapan memangnya dia pernah menyinggung orang seperti ini? Dia benar-benar tidak ingat. Meskipun geng kapak terkenal akan kebengisannya, mereka masih menghindari berkontak dengan orang yang berbahaya semacam Randika. "Kau yakin tidak pernah menyinggung aku?" Randika tersenyum tipis ketika mendengarnya merengek. Dia lalu menjambak rambutnya dan berkata dengan tersenyum, "Perlu kuberitahu ulah apa yang telah kau lakukan hari ini?" Hari ini? Si Macan aslinya sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Ketakutan ditambah dengan rasa sakit membuat dirinya tidak bisa berpikir walau dia mau. Hari ini? Apa yang telah dilakukan kelompoknya hari ini? "Hmm?" Randika mengerutkan dahinya. Randika lalu mengangkat si Macan dan melemparkannya kembali ke tembok. Si Macan lagi-lagi mengerang kesakitan. Apa yang telah diperbuatnya? "Sudah ingat?" Randika kembali menatapnya. Si Macan mengangkat kepalanya dengan segera dan mengatakan, "Apakah ini tentang Perusahaan Cendrawasih?" Ketika mengatakan hal ini, tenggorokan si Macan sudah kering. "Ingatanmu cukup bagus." Randika menamparnya pelan. "Sekarang katakan, siapa yang menyuruhmu melakukannya?" Ketika mendengar hal ini, si Macan berhasil mengetahui asal usul pria ini. Dia tidak menyangka bahwa tindakannya hari ini akan menyebabkan hasil seperti ini. Dia segera berkata dengan nada panik, "Maafkan aku tuan. Maafkan kebodohan hamba ini. Aku seharusnya tidak menerima pekerjaan itu dari perusahaan Mourin. Jika kau melepaskanku, aku berjanji kelompok kami tidak akan menyusahkan tuan maupun perusahaan Cendrawasih ke depannya nanti." Randika mengerutkan matanya ketika si Macan berbicara. Di saat dia mulai berbicara dari awal hingga akhir, dia menghindari kontak mata dengannya. Bohong! Randika tidak bisa dibohongi. "Terus mengapa kau mengincar salah satu ruangan di lantai 9? Kalian tidak mungkin tiba-tiba muncul di sana secara kebetulan karena kau telah menghancurkan ruangan pribadiku." Kata Randika. "Apakah ini juga suruhan dari perusahaan Mourin?" Wajah si Macan kembali memutih, dia tidak tahu apa-apa mengenai hal ini. "Tugas kami adalah menghancurkan dan mengobrak-abrik bagian dalam gedung Cendrawasih, tidak ada target spesifik dari klien kami. Aku juga memerintahkan anak buahku untuk menghancurkan secara asal." Kali ini muka si Macan tidak menunjukan tanda-tanda bahwa dia bohong. Randika menghela napas, "Kau juga yang meracuni Inggrid Elina, bos perusahaan Cendrawasih?" Walau tenggorokannya kering, si Macan tetap berusaha menceritakan segalanya demi nyawanya. "Tidak, kami tidak melakukannya! Tugas kami hanyalah mengobrak-abrik bagian dalam gedung Cendrawasih maka tugas kami sudah dianggap selesai oleh klien. Mengenai racun, kami sama sekali tidak tahu." Randika berdiri dan menyeret tubuh Macan, "Bajingan keras kepala! Karena kau tidak mau menyebut namanya, maka temuilah dirinya di neraka." Ketika mendengarnya, hati si Macan kembali menegang. Ketika dia hendak meminta ampun atas nyawanya, sebuah pisau sudah melayang dan menancap di kepalanya. Pimpinan geng kapak mati begitu saja pada malam hari ini. Dengan kematiannya ini, kota Cendrawasih akan mengalami perubahan khususnya di dunia bawah tanah kota ini. Randika tidak peduli dengan hal ini. Setelah membereskan seluruh anggota geng kapak, Randika mulai memeriksa ruangan ini. Seharusnya ada sebuah petunjuk mengenai dalang di balik layar ini. Ruangan ini tidak begitu besar. Dalam beberapa menit, Randika sudah selesai mengecek semua sudut ruangan. Ketika hal ini berlangsung, Dimas yang tergeletak di tanah masih kebingungan. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang ini. Dia ingin berbicara tetapi takut pihak lain ini akan membunuhnya. Jika dia menyinggung orang ini, mungkin lebih baik dia bunuh diri untuk menghemat waktu. Randika masih berusaha mencari-cari petunjuk di ruangan ini dengan seksama. Akhirnya Dimas memberanikan diri untuk memanggilnya dan mengatakan, "Kakak tertua." Randika mengabaikannya. "Aku rasa tadi si Macan membuka sebuah pintu berwarna hitam tadi." Randika langsung menoleh ke arah Dimas dan bertanya, "Di mana?" "Di sana! Di sana!" Dimas menunjuk sebuah rak buku yang ternyata bisa digeser. Randika kemudian menggesernya dan menemukan pintu rahasia di baliknya. Randika kemudian berkonsentrasi kembali. Dia memancarkan tenaga dalamnya melalui tangannya dan tiba-tiba pintu itu sudah melebur jadi serbuk! Dimas yang melihatnya segera ternganga. Setelah memasuki ruangan rahasia tersebut, Randika menyadari bahwa ada ruangan lagi di dalamnya. Terdapat banyak senjata di dalam sini bahkan yang sulit didapat pun di negara ini. Tempat ini adalah gudang senjata milik mereka. Di atas meja, ada berkas-berkas informasi seperti profil tokoh-tokoh besar di kota Cendrawasih dan catatan keuangan geng kapak selama ini. Di saat Randika mengecek seluruh ruangan, dia menemukan sebuah cincin merah di dalam laci. Mengambil cincin tersebut, Randika memeriksanya. Cincin merah ini terlihat biasa saja tetapi simbolnya sangat mencolok yaitu anjing berkepala tiga yang lebih dikenal sebagai Kerberos. Bulan Kegelapan! Dalam sekejap terlintas nama Bulan Kegelapan di benak Randika. Ketika dia bersamanya dulu, Bulan Kegelapan selalu memakai cincin seperti ini. Tidak salah lagi, Bulan Kegelapan memiliki keterkaitan dengan geng kapak. "Ternyata kau belum mati." Pikir Randika. Dia sekarang yakin bahwa Bulan Kegelapan pasti memiliki andil dalam kejadian hari ini, tetapi Randika masih ragu apa motif dia sebenarnya. Dia juga bingung mengapa Bulan Kegelapan masih berpura-pura mati dan bersembunyi. "Bersembunyi dan cuma menunjukan ekormu memang ciri khasmu." Randika kemudian mengambil cincin itu dan keluar dari ruangan rahasia ini. Dia lalu melihat Dimas yang masih duduk di lantai, "Dalam satu jam, polisi akan menyerbu tempat ini." Mengabaikan sosok Dimas, Randika segera melebur dengan kegelapan. Ketika Dimas mendengar peringatan Randika, dia juga segera pergi. ..... Randika kemudian mengambil handphonenya dan menelepon Shadow. "Tuan!" "Shadow, aku menemukan cincin merah yang biasanya dipakai oleh Bulan Kegelapan di salah satu gedung milik sebuah geng. Aku ingin kau memeriksa hal ini lebih lanjut." "Tuan, aku sudah mengetahui hal itu." Kata Shadow. "Selain itu, informasi yang akan kuberikan padamu secara langsung juga berkaitan dengan hal itu. Aku hanya bisa menyampaikan semua ini secara detail ketika sudah sampai di kota Cendrawasih. Kurang dari seminggu lagi saya akan sampai." Randika mengerutkan dahinya. Dia merasa bahwa ada yang aneh dengan Shadow. Ketika pertama kali dia meneleponnya dia masih belum sadar kejanggalan ini, tetapi dia merasa ada yang aneh kali ini. "Baiklah, setelah kau sampai tolong jelaskan semuanya." "Baik tuan!" Setelah menutup teleponnya, wajah Randika juga ikut kembali normal. Dia merasa ada yang aneh dengan Shadow tetapi tidak tahu apa itu. Dia lalu memutuskan untuk melupakan hal ini dan menunggu kedatangan Shadow. Chapter 23: Siapa Memangnya yang Khawatir Sama Kamu! Saat Randika tiba di rumahnya, hanya Ibu Ipah yang ada di sana. Sepertinya Inggrid belum kembali. "Ibu Ipah bagaimana acara televisi hari ini? Apakah bagus-bagus?" Tanya Randika sambil tersenyum. "Lho nak Randika sudah pulang. Iya hari ini banyak sinetron bagus nih. Kalau kalian tidak ada di rumah, ibu hanya bisa nonton TV saja." Kata Ibu Ipah sambil tersenyum. "Kenapa kok tidak pulang dengan nona? Apakah semuanya baik-baik saja?" Waktu sekarang menunjukan pukul 7 malam. Hanya setengah jam saja untuk Randika membereskan geng kapak dan menemukan petunjuk lainnya. Cara kerja Randika memang efisien. "Aku tadi keluar duluan karena aku ada perlu bertemu dengan orang. Mungkin Inggrid sebentar lagi pulang." Kata Randika dengan sedikit ragu. Randika masih ingat bahwa ibu-ibu ini bukan orang biasa, siapa tahu pertanyaannya ini adalah jebakan. Apakah dia sudah tahu insiden di perusahaan? "Baiklah kalau begitu." Ibu Ipah mengangguk. Ibu Ipah kemudian kembali menonton TV dan Randika pamit ingin istirahat. Ketika Randika sudah naik ke kamarnya, Ibu Ipah bergumam, "Setidaknya dia seharusnya membersihkan diri terlebih dahulu. Bau darahnya menyengat." Jika Randika tahu bahwa bajunya telah membawa bau darah, mungkin dia sudah membersihkan diri dan mengganti bajunya dulu sebelum kembali pulang. Sejujurnya Randika sudah kelelahan jadi dia tidak sempat berpikiran sejauh itu. Dia merasa tiba-tiba badannya menjadi dingin, napasnya tidak teratur dan wajahnya pucat. Hari ini dia sudah menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh Inggrid, dan juga memporak porandakan markas geng kapak sendirian. Meskipun dia tidak terluka, tenaga dalamnya terus beredar dengan hebat. Randika merasa bahwa tubuhnya mulai gemetar dan organ-organ dalamnya mulai melintir bersamaan. Dia merasa bahwa tenaga dalamnya akan mencabik-cabik dirinya. "Ah!" Saking sakitnya, dia berguling-guling di lantai kamarnya. Seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat dan matanya menjadi sangat merah. "Tidak. Aku tidak bisa mati hari ini!" Randika menahan rasa sakitnya ini dan mengeluarkan jarum akupunturnya. Dia segera mengobati dirinya sendiri. Tangannya yang memegang jarum bergetar hebat dan tidak bisa diam. Dia membutuhkan konsentrasi penuh dan energi banyak untuk menusukkan jarum di titik-titik tertentu. Setelah selesai, Randika segera menutup matanya dan mengatur pernapasannya. Wajahnya merah dan terlihat bengkak. Seakan-akan kepalanya akan meledak setiap saat. Setelah beberapa saat, Randika membuka matanya. Pada saat ini, dia merasa seakan-akan jiwanya ditarik keluar dan dirinya sangat kelelahan. Ketika dia mencabut jarum-jarum akupunturnya, dia merasa bahwa tubuhnya telah kehilangan banyak tenaga dalamnya. Sisa dari tenaga dalamnya dia gunakan untuk menahan kekuatan misterius yang ada di tubuhnya itu. Dia sudah lama mengeluarkan seteguk darah hitam dan sekarang dia tenggelam dalam pikirannya. Dia berpikir tentang hidupnya ketika dia sampai di kota Cendrawasih ini. Dia merasa pusing dengan segala hal yang telah terjadi. Sampai saat ini, dia tidak tahu apa yang diinginkan musuh darinya. Mengapa Harimau dan Bulan Kegelapan mengkhianati dirinya? Apakah semua kejadian sampai saat ini hanyalah kebetulan? Terlebih lagi, dia merasa bahwa tubuhnya mulai kelelahan. Dia juga takut bahwa dengan adanya ancaman serangan di masa depan, dia harus segera pulih dari keadaannya sekarang ini. Awalnya dia tidak takut tetapi dia merasa bahwa hal ini tidak bisa lagi ditunda. Setelah beberapa saat dia telah memutuskan, "Sepertinya aku harus pulang. Aku harus meminta bantuan para tetua itu." Setelah itu, Randika memutuskan untuk mandi. Setelah dia selesai, waktu telah menunjukan pukul 9 malam. Dia mengendalikan kekuatannya ini kurang lebih hampir 2 jam. Tiba-tiba suara kerucukan muncul dari perutnya. Dia merasa bahwa proses tadi telah menghabiskan energinya dan membuat dirinya lapar. Sudah waktunya dia menimbun energi lagi. Ketika dia berada di tangga, dia mengintip dari atas dan menemukan bahwa Ibu Ipah sudah tidak ada dan istrinya sedang duduk di lantai. Melihat pakaian rumah Inggrid, Randika tidak bisa menahan senyuman nakalnya. Dia masih berada di tangga. Dia mengintip dari atas untuk memperhatikan buah melon istrinya yang terlihat indah dari atas. Sungguh menggoda! Namun, beberapa detik kemudian si Inggrid berpindah posisi dan Randika tidak mendapatkan pemandangan indahnya lagi. Dia memutuskan untuk turun dan menyapanya. "Malam istriku yang cantik!" Randika segera menghampirinya dan matanya tidak bisa lepas dari penampilan sexy istrinya. Inggrid sedang memakai baju putih tanpa lengan dan celana rumah yang pendek. Dia juga terlihat membentangkan kakinya yang putih itu di lantai. Pahanya yang putih itu membuat Randika ingin mengubur mukanya di tengah-tengahnya. Melihat Randika yang mendekat, Inggrid segera duduk dengan benar dan merapatkan kakinya. Hal ini malah membuat sebuah celah di antara pahanya yang putih itu. Randika sekarang benar-benar ingin membenamkan mukanya di situ. Penampilan istrinya ini mengingatkan dirinya tentang Viona pada malam hari itu! Sayangnya pemandangan indah itu segera tertutup oleh selimut wol yang dipakai Inggrid. Ketika Inggrid ingin berkata sesuatu, dia menatap mata Randika yang terlihat sedih itu. Dia melihat tatapan mata Randika mulai naik menuju dadanya dan dia pun segera menutupinya dengan tangannya. "Dasar lelaki mesum!" Inggrid semakin malu ketika melihat senyuman Randika di hadapannya. Randika segera duduk berdampingan dengan Inggrid sambil mengelus pipinya. "Istriku, kenapa kau malu? Bukankah kita ini suami istri? Hubungan kita sudah diresmikan oleh hukum, jadi sudah sewajarnya bahwa aku sebagai suamimu melirikmu dengan tatapan penuh makna." Melihat dekat wajah Randika, membuat Inggrid teringat dengan kejadian sebelumnya di kantornya. Lelaki ini telah mencopot behanya dan hampir melihat dirinya telanjang, dia tiba-tiba menjadi marah. "Jangan lupa kalau kita itu hanyalah kawin kontrak! Kita akan bercerai dalam tiga bulan!" ???Apakah itu benar?" Dengan senyuman nakalnya, dia mendekatkan dirinya ke wajah Inggrid seakan-akan mereka akan berciuman. "Apakah kau rela meninggalkanku?" Inggrid segera memalingkan wajahnya dan mengatakan, "Kau hanyalah lelaki bajingan dan tidak tahu diri. Buat apa aku menginginkanmu?" "Benarkah?" "Tentu saja!" "Kalau begitu akan kutunjukan betapa jahatnya suamimu ini." Ketika mengatakan hal itu, Randika sudah berdiri dan gerakan tangannya seakan-akan siap meremas-remas sesuatu. "Kauˇ­. Apa yang hendak kau lakukan?" "Menurutmu apa yang akan kulakukan?" Randika mulai maju perlahan-lahan menuju mangsanya. "Tidak! Jangan dekati aku!" Inggrid berusaha melarikan diri. "Jika kau berani menyentuhku, aku akan berteriak minta tolong!" "Jika kamu berteriak pun, tidak akan ada yang menolongmu. Kamu mau berteriak 7 hari 7 malam pun tidak akan ada yang datang." Kata Randika sambil tersenyum. "Tidak! Dasar pria mesum, jangan dekat-dekat!" Inggrid kembali berlari dan sekarang dia sudah terpojok, dia tidak bisa lari lagi. "Hahaha! Mau ke mana kau sekarang sayang?" Kata Randika sambil tertawa jahat. "Akan kutunjukan betapa bengisnya suamimu ini." Inggrid yang terpojok hanya bisa berteriak satu nama, "Ibu Ipah!" Ketika mendengar nama itu, Randika langsung menjadi panik. Dia terlalu asyik bercanda dengan istrinya ini tetapi kalau Ibu Ipah sampai datang, maka situasi akan gawat. Dia dengan segera menerjang Inggrid dan berusaha menutup mulutnya. Namun tanpa disengaja, Randika tergelincir dan malah mencium Inggrid! "Hmmm!" Mulut Inggrid benar-benar diblokir oleh mulut Randika. Mereka hanya saling bertatapan-tatapan tanpa bergerak. Sepasang suami-istri ini hanya saling menatap satu sama lain dengan bibir mereka yang saling berciuman. "Aduh dasar anak muda. Mereka memanggilku hanya karena ingin pamer, mau jadi apa dunia ini." Ibu Ipah yang datang secepat kilat hanya geleng-geleng kepala ketika melihat mereka berdua berciuman. Setelah beberapa lama, Inggrid segera mendorong Randika. Randika yang masih terpukau dengan kelembutan bibir istrinya masih berharap bisa mencicipinya lagi. Inggrid merasa ingin menangis sekaligus merasa gila karena lelaki ini. Bagaimana bisa dia menciumnya secara tiba-tiba? Setetes air mata kemudian mengalir. Randika yang melihat Inggrid yang meneteskan air mata itu segera menghampirinya. Dia segera mengusap air mata itu dan mengatakan, "Maafkan aku sayangku. Aku tidak sengaja menciummu. Aku benar-benar tidak memiliki niatan seperti itu, lantainya saja yang terlalu licin." Inggrid hanya berdiri diam dan tidak bereaksi, Randika pun melanjutkan. "Kalau aku bohong, kau boleh memukulku sekali." Setelah kata-kata ini terlontarkan, Inggrid segera menginjak kaki Randika sekuat tenaga. "Ah!" Randika segera melompat kesakitan. "Kau yang menyuruhku melakukannya." Inggrid mengusap air matanya dan pergi dari situ. Dia sedikit merasa lega setelah menginjak kaki Randika. "Aku tidak pernah menyangka bahwa Ares akan terluka oleh seorang wanita cantik." Kata Randika sambil tersenyum pahit. "Yah setidaknya itu membuatnya sedikit senang." Melihat sosok istrinya yang pergi, Randika segera teringat tujuannya ingin bertemu istrinya. "Istriku, aku akan pergi sementara waktu selama beberapa hari." Inggrid terkejut ketika mendengarnya, dia merasa penasaran. "Ke mana kau akan pergi?" "Aku akan pulang ke rumahku di gunung untuk bertemu dengan beberapa orang." Randika lalu teringat akan sosok para kakeknya itu dan tanpa sadar tersenyum lembut. Ketika melihat senyuman ini, Inggrid pun bingung. Sejujurnya, dia tidak bisa menebak jalan pikir orang di hadapannya ini. "Jangan khawatir, aku akan kembali setelah beberapa hari. Aku hanya takut kau akan kesepian." Kata Randika dengan senyuman lembutnya lagi. "Huh! Siapa yang khawatir sama kamu! Kalau bisa jangan kembali lagi!" Inggrid pun segera pergi dari hadapan Randika. Jangan kembali? Bagaimana bisa aku melakukannya? Aku masih membutuhkan 5 miliar milikmu itu. Terlebih lagi, aku masih belum ingin berpisah dengan istriku yang cantik ini. Bagaimana mungkin aku akan meninggalkanmu? Mungkin jika Inggrid bisa mendengar isi pikiran Randika, dia sudah menghajarnya. Chapter 24: Namaku adalah Agus Kota Cendrawasih, terminal bus Terminal bus kota Cendrawasih hanya ada 1, jadi di sini selalu ramai. Bus antar kota menjadi salah satu alternatif kendaraan para warga ketika mereka ingin berpergian. Sebentar lagi, bus yang menuju ke Desa Jagad akan tiba. Desa Jagad adalah destinasi terjauh yang bisa diantarkan oleh terminal ini. Tempat tersebut sangat terpencil dan terkenal masih belum maju. Tempat inilah yang menjadi tujuan Randika. Sambil menunggu bus datang, Randika sempat berpikir bahwa dia sudah lama sekali meninggalkan tempat dia dibesarkan tersebut. Saat dia merasa sudah bisa hidup mandiri, dia mulai berkelana sendirian dan keluar dari negeri ini dan mendapatkan julukannya sekarang yaitu sang Dewa Perang Ares. Kenangan-kenangan masa lalu segera menghampirinya. Ketika dia naik ke dalam bus, dia tidak ingin berada di belakang dan di dekat jendela. Dia hanya ingin mencari tempat duduk yang sepi karena suasana hatinya sedang tidak ingin berinteraksi dengan orang. Dia juga merasa lelah sejak dia datang di kota Cendrawasih. Dia kewalahan terhadap serangkaian peristiwa yang menimpanya dalam waktu berdekatan itu. Setelah satu jam berkendara, akhirnya dia tidak bisa melihat lagi kota Cendrawasih. Karena desa Jagad ini dipenuhi oleh pegunungan, maka pemandangan kota berubah menjadi pemandangan alam. Randika mulai merasa ngantuk di dalam bus. Pada saat dia memejamkan matanya, dua orang perempuan di samping kanan belakangnya sedang berbincang-bincang dan suaranya cukup keras. "Hei, tempat ini penuh dengan hutan. Apakah menurutmu ada orang jahat yang akan keluar dari balik sana?" "Ah kamu itu ya! Bisa-bisanya berpikiran negatif seperti itu?" Temannya menambahi, "Berpikirlah yang positif-positif saja, toh ini juga bukan pertama kalinya kita pergi dengan bus ini." "Bahkan kalau ada orang jahat yang muncul, kalian tidak perlu takut." Di saat ini, seorang lelaki muda menghampiri kedua perempuan ini dan ikut nimbrung dalam percakapan mereka. Wajah lelaki ini terlihat biasa-biasa saja. "Kok bisa begitu?" Tanya Dewi kepada lelaki itu. Beberapa perempuan lainnya juga ikut tertarik dengan percakapan ini. "Karena aku ada di sini!" Lelaki itu tersenyum dan mengatakan, "Aku adalah pemegang sabuk hitam di karate. Kalau cuma penjahat saja bisa kupukul dia sampai mati dalam 10 detik." "Oya?" Dewi terdengar ragu dengan pengakuan lelaki ini. Perempuan yang mendengarnya pun juga ikut ragu ketika memperhatikan tubuh lelaki ini yang biasa-biasa saja. "Hmm? Sini kutunjukkan." Setelah berkata demikian, pria itu berdiri di tengah-tengah jalan dan menunjukan otot bisepnya. Otot bisepnya yang sekepal tangan itu dipadu dengan dada yang bidang. Ketika melihat perubahan ini, para perempuan mulai teriak kagum. Si Dewi pun juga tidak ketinggalan, dia kagum dengan otot yang dimiliki pria tersebut. Randika sudah malas mendengarkan mereka lagi. Dia kemudian menoleh ke samping kirinya dan berusaha tidur. Sosok Randika yang memutar badannya itu telah dilihat oleh lelaki ini. Dia merasa bahwa lelaki yang sedang berusaha tidur itu terlihat menyedihkan. "Kalian lihat pria yang sedang tidur itu? Aku bisa menghabisi 10 orang semacam itu hanya dalam satu gerakan." Ketika semua yang ada di sana melihat Randika, mereka tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa. Randika bahkan tidak ingin menggubrisnya dan masih berusaha untuk tidur. "Hei, hei, bagaimana kamu melatih ototmu hingga sebesar ini?" Seorang perempuan menghampiri pria itu dan ingin menyentuhnya. "Tentu saja dengan latihan dan makan makanan yang sehat." Pria ini kemudian berpose lagi. "Kalau kau melihat ototku ini, kau bisa merasakan bahwa otot ini terbentuk secara alami." "Apakah kita bisa memperkecil perut kita dengan cepat?" Tanya perempuan yang lain. "Tentu saja!" Pria itu menoleh ke perempuan tersebut. "Selama metode kalian benar maka mengecilkan perut hanyalah masalah gampang. Kalau kalian mau, aku akan membantu kalian mendapatkannya hanya dalam waktu 10 hari!" Perempuan-perempuan yang lain segera berteriak riang. "Wah! Bagaimana caranya? Ajarkan kami dong tolong!" "Kalau begitu, aku minta nomor kalian dulu. Ketika kita kembali ke kota Cendrawasih, aku akan mengajarkan kalian secara privat." "Baiklah kalau begitu." Semua perempuan di sana setuju. Randika dalam hati benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Caranya merayu cewek benar-benar hina menurutnya. Apakah lelaki itu perlu segitunya? Kalau dia sabar seperti dirinya maka cewek akan datang sendirinya dan mengajaknya menikah suatu saat nanti seperti dirinya ini. Bus berkendara dengan kecepatan yang lumayan pelan karena jalannya yang menanjak. Pemandangan alam di luar jendela semakin lebat. Dalam beberapa jam lagi, kota Kebon Raya akan terlihat. Kota Kebon Raya terkenal akan alamnya yang sangat rindang dan tempat ini sering menjadi tujuan wisata orang-orang. Tempat yang Randika tuju adalah salah satu desa terpencil yang ikut bagian dari kota ini. Saking terpencilnya, jarang orang mengetahui keberadaan desa ini karena letaknya yang ada di bawah kaki gunung. Sekumpulan anak muda itu masih berbincang-bincang. Pada saat ini, bus ini berhenti untuk mengisi ulang bahan bakar dan mendapatkan 5 penumpang baru. Setelah semua selesai, mereka kembali melaju. "Kalian tahu gak, ketika aku berlomba dulu dan menjadi juara 1 nasional, aku hanya membutuhkan 3 gerakan dan lawanku terpental jauh dari ring." Lelaki itu terus-terusan membual. Randika masih terus menutup matanya. Pria ini benar-benar tidak tahu kapan harus berhenti. Namun nyatanya para perempuan mendengarnya dengan antusias. Perjalanan antar kota ini membosankan, jadi mendengarkan cerita ataupun bercakap-cakap adalah salah satu hiburan. Untuk mencapai destinasi terakhirnya yaitu desa Jagad, bus harus melewati jalanan gunung. Oleh karena itu, jalan yang dilaluinya sangatlah sepi. Di saat itu juga, terdengar sebuah teriakan dari dalam bus, "Jangan bergerak! Keluarkan semua uang kalian!" Penumpang baru yang berjumlah 5 orang sebelumnya mengeluarkan pistol. Satu orang dengan cepat menuju kursi supir dan sisanya menodong ke arah penumpang. Ckit!!! Suara rem bus terdengar keras dan bus perlahan berhenti. Suasana di dalam bus juga menjadi hening. "Kalian semua turuti kata-kata kami dan tidak akan ada yang terluka. Sekarang keluarkan semua barang berharga dan uang kalian!" 3 orang bertugas untuk mengumpulkan barang jarahan dan 1 orang mengawasi keadaan dari belakang. Semua orang tampak menundukkan kepala dan Dewi gemetar ketakutan, "Bagaimana mungkin bus kita didatangi perampok." Teman-teman perempuan Dewi juga ketakutan semua, ini pertama kalinya mereka mengalami hal seperti ini. Seorang perampok mendatangi Randika dan orang yang duduk di samping Randika segera mengeluarkan dompet dan handphonenya. "Bisakah aku meminta KTP dan SIM milikku?" Tanya penumpang itu. "Baiklah." Perampok itu kemudian mengambil dompetnya dan melihat kartu ATM. Di saat yang sama, dia bertanya. "Berapa nomor pinnya?" "Ah!" Penumpang ini tidak menyangka akan ditanyai. "Kau tuli atau apa? Aku tanya sekali lagi, berapa nomor pinnya atau kutembak kau sekarang!" Perampok iki mulai geram. "123412" Kata penumpang itu sambil gemetar. "Anak pintar." Setelah itu dia melemparkan dompetnya kembali. "Hei sekarang giliranmu! Jangan pura-pura tidur." Perampok itu mendorong Randika. Randika yang baru bangun masih setengah sadar, "Hmm? Ada apa?" "Keluarkan barang berhargamu." Kata perampok itu sambil menodongkan pistolnya. Randika pura-pura ketakutan. Dia mulai meraba-raba kantongnya dan setelah beberapa saat dia hanya mengeluarkan sebuah tiket. Setelah menyadari keadaannya, Randika hanya menoleh ke arah si perampok dan mengatakan, "Aku sudah menghabiskan seluruh uangku untuk membeli tiket ini, aku sudah tidak punya apa-apa lagi." Si perampok kemudian mengambil tiket itu dan memeriksanya, "Desa Jagad? Ternyata bocah desa ini memanglah miskin." Teman-teman perampoknya ikut tertawa. Randika sendiri ingin tertawa sekaligus menangis. Reputasi desa Jagad sebagai desa miskin ternyata sudah menyebar. Melihat bahwa percuma terus-terusan memalak si bocah desa itu, si perampok segera menuju penumpang yang lain. Kali ini, si perampok mendatangi sekumpulan perempuan. "Keluarkan barang berharga kalian!" Semua perempuan itu ketakutan dan menuruti perampok ini. "Hei, bukannya kau mengatakan bahwa kau sabuk hitam di karate?" Tanya seorang perempuan kepada lelaki yang sebelumnya membual terus. Lelaki itu merasa jantungnya berhenti berdetak. Musuh membawa pistol dan dia hanya tangan kosong. Terlebih lagi, mereka berlima dan dia sendirian. Bagaimana bisa dia menjatuhkan mereka semua hanya dengan tangan kosong? "Apa yang barusan kau bilang?" Si perampok samar-samar mendengar percakapan mereka dan mulai mengokang senjatanya. Lelaki ini segera ketakutan. Tolong todong orang lain saja bukan aku. Namun pada saat itu juga, seorang perempuan berdiri dan mengatakan. "Dia ini adalah pemegang sabuk hitam karate dan juga juara tingkat nasional!" Mati aku! Lelaki itu segera menjadi pucat. Matanya tampak berair dan mulutnya tampak mengering. "Oh?" Si perampok segera menoleh ke arah lelaki itu dan para perempuan juga memberikan tatapan penuh makna. "Juara nasional?" Kata perampok itu sambil tersenyum. "Kalau begitu berdirilah!" Lelaki itu sudah tidak ingin menjaga citranya dan berusaha menyelamatkan dirinya dengan mengatakan, "Haha bohong itu, aku berbohong kepada para perempuan itu. Aku hanya bocah yang membawakan air." Sesaat setelah kata-kata itu keluar, Dewi dan teman-temannya merasa kecewa dan bodoh karena sudah mempercayai kata-kata orang itu. Bisa-bisanya dia bohong? "Ha? Memangnya aku peduli?" Si perampok menodong kepala lelaki itu dan mengatakan, "Aku ingin kau berdiri sekarang juga." Lelaki itu tidak punya pilihan dan berdiri sambil mengangkat tangannya. "Kalian tadi ngomong kalau orang ini adalah pemegang sabuk hitam karate? Aku tidak pernah melihat sabuk hitam menari jadi aku harap kau bisa menghiburku." Lelaki itu merasa bingung. Si perampok segera menambahkan, "Kenapa? Kau ingin mayatmu menari-nari di lantai? Cepatlah menari atau kutembak kau!" "Baiklah, baiklah aku akan menari." Lelaki itu segera menari. Karena tidak pernah menari sebelumnya, gerakannya sangat kaku bagai katak yang melompat. "Bah! Merusak mata saja." Si perampok menendang lelaki itu dan melemparnya kembali ke tempat duduknya. Para perempuan berteriak melihat kekerasan ini. "Jika kau tidak segera mengeluarkan uang kalian, akan kutambahkan satu lubang di kepalamu." Kata si perampok. Lelaki itu segera mengeluarkan isi kantongnya dengan cepat. "Ini semua yang kupunya." Si perampok melihat sekumpulan uang itu dan tersenyum, "Wah ternyata kau orang kaya." Uang yang diberikan lelaki itu lebih dari 5 juta, jumlah yang melebihi harapan para perampok ini. Pada saat ini, salah satu perampok lainnya datang. Dia bukan ingin menghajar lelaki ini tetapi matanya tertuju pada para perempuan. Tatapan matanya dipenuhi oleh nafsu. "Kak, lihatlah para perempuan ini. Mereka cantik-cantik dan muda-muda." Matanya tertuju pada Dewi. "Kita sudah lama tidak mencicipi hidangan seperti ini dan jumlah mereka juga ada 5, bagaimana kalau seorang mengambil satu dan bersenang-senang?" Si perampok itu kemudian melihat wajah-wajah para perempuan itu dan mengangguk. Dia kemudian menoleh ke temannya yang menyandera si supir. Dia kemudian berteriak kepadanya, "Hei, kita akan membawa kelima perempuan ini juga. Malam ini akan menyenangkan!" "Tidak!" Dewi segera diseret paksa oleh salah satu perampok. Dewi segera meronta-ronta sambil menangis, dia tahu bahwa kalau dia sampai dibawa oleh mereka maka dia tidak akan bisa kembali melihat keluarganya. Semua lelaki di bus cuma terdiam. Mereka aslinya ingin menghentikan ini tetapi para perampok ini memiliki pistol jadi mereka tidak bisa berbuat macam-macam. Ketiga perampok lainnya segera menarik keempat perempuan sisanya. Mereka juga meronta-ronta sambil memohon ampun, karena mereka perempuan mereka tidak bisa melawan tarikan para perampok ini. Namun pada saat ini, sebuah suara muncul. "Baiklah, kalau kalian hanya mengambil uang dan barang berharga orang-orang aku akan tetap diam. Tetapi sampai ingin menculik orang khususnya perempuan, aku sudah tidak bisa tinggal diam melihat kalian para sampah masyarakat ini bertindak semaunya." Para perampok segera berhenti dan melihat sosok Randika yang berdiri. Randika menatap tajam setiap perampok tersebut. Para perampok ini melihat sesama mereka dan tertawa. Bocah miskin dari desa berani berulah? Dalam sekejap mereka merasa bahwa bocah itu sudah gila. "Hei bocah miskin, jangan ikut campur. Bisa apa kau memangnya?" Kata salah satu orang. "Aku penasaran apa yang memangnya kau bisa lakukan? Jika kau ingin sok menjadi jagoan, aku akan dengan senang hati membunuhmu." "Omong kosong." Kata Randika sambil menggelengkan kepalanya. "Aku bisa menghabisi kalian semua dalam sekejap." Setelah mendengar perkataan Randika, para perampok ini segera menodongkan pistolnya ke arah Randika. Semua yang ada di sana segera tiarap. Namun tiba-tiba, sosok Randika sudah menghilang dan tiba di hadapan salah satu perampok. Dia segera menggenggam erat pergelangan tangannya. Ketika dia meremasnya, orang tersebut segera berteriak kesakitan dan menjatuhkan senjatanya. Randika segera mengamankan pistol tersebut. Berhasil merebut satu pistol, Randika segera mengokangnya dan membidik ke arah perampok yang berada di sebelah kursi supir. Dia lalu menembaknya. Klik! Klik! Randika kaget, ternyata selama ini pistol ini tidak ada pelurunya. Pistol palsukah? Namun di saat ini, salah satu perampok membidik Randika dan menembakkan pistolnya. Satu peluru tengah mengarah ke Randika! Dengan kecepatannya yang luar biasa, Randika segera mengelak dan melempar pistol palsunya itu. Teralihkan perhatiannya, Randika segera berubah menjadi bayangan dan melesat ke arah perampok itu. Tangan kanannya memiliki momentum kecepatan sehingga sekali pukul saja sudah berhasil membuat perampok itu pingsan. Keempat perampok lainnya hanya bisa melihat sosok Randika berada di atas tubuh kawan mereka yang pingsan dan sedang membidik mereka dengan pistol asli. "Dari lima orang, seharusnya satu adalah pistol yang asli." Kata Randika dengan santai. Salah satu perampok merasa panik dan menyandera salah satu orang, berusaha menutupi laju tembakkan Randika. Namun dalam sekejap Randika berhasil menembak pergelangan tangannya. "Ah!" Ringkikan kesakitan terdengar dan ketiga perampok lainnya tidak berani bertindak macam-macam. Randika segera menghampiri mereka semua dan memukul mereka hingga pingsan. "Ikat mereka dan serahkan mereka ke pihak berwenang." Setelah memastikan semua aman, Randika memutuskan untuk kembali tidur. Semua orang yang ada di dalam bus tercengang. Dewi melihat Randika dengan mata yang terkagum-kagum. Bagaimana mungkin orang biasa sepertinya bisa begitu kuat dan berani? Dia merasa malu karena sudah mengejeknya sebelumnya. Orang ini telah melumpuhkan para penjahat dengan tangan kosongnya. Bisa dipastikan kalau dia menginginkannya, dia bisa membunuh mereka kapan saja. Para perempuan lainnya juga memandang Randika dengan tatapan penuh syukur. Kalau bukan karena Randika, mungkin mereka sudah tidak akan pernah melihat keluarga mereka lagi. Meskipun mereka sempat mengejek Randika sebelumnya, Randika masih mau menyelamatkan mereka. Sungguh dermawan sekali. Tatapan mata Dewi benar-benar tidak bisa lepas dari Randika. Dia tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya, "Terima kasih atas pertolonganmu. Bolehkah aku tahu siapa namamu?" "Tidak perlu berterima kasih padaku." Randika masih menutup matanya. "Namaku Agus." Chapter 25: Empat Kakek Karena tujuan Randika adalah tujuan akhir, dia adalah penumpang terakhir yang turun dari bus. Setelah menurunkan Randika, bus menjadi kosong. Pada saat dia keluar, Randika segera mengendurkan otot-ototnya sambil melihat matahari yang mulai turun. Hari sudah mulai sore. "Aku tidak tahu apakah para kakek itu rindu padaku." Kata Randika dengan tersenyum. Keempat kakek yang membesarkannya adalah sesuatu yang disebutnya sebagai keluarga. Sejauh dia mengingat, dia tidak pernah memiliki ingatan tentang orang tuanya. Sampai dengan umur 15, dia tinggal bersama para kakeknya itu. Desa yang dia kenal, gunung yang dia daki setiap hari, sebentar lagi dia akan melihat itu semua. Randika kembali meregangkan tangannya dan ingin berteriak keras-keras. "Permisi, kau menghalangi jalanku." Sebuah suara muncul dari belakangnya. Randika menoleh dan menemukan bahwa dia menghalangi seorang bocah yang sedang bersepeda. Dia meminta maaf dan menyingkir dari tengah jalan. Burung-burung berkicau hendak pulang ke sarang mereka. Di saat Randika berjalan, dia menemui seorang pria tua sedang naik traktor miliknya. Dia lalu minta numpang ke pria tua yang sedang merokok itu. Suara traktor sangatlah keras jadi sedikit mengganggu Randika. "Jarang anak muda yang betah naik mesin tua ini." Kata pria itu sambil terus merokok. "Para pemuda di desa tidak tahu betapa bergunanya traktor ini. Sudah 10 tahun traktor ini berkendara dan masih saja hanya aku yang bisa mengendalikannya." Sepertinya Randika salah menumpang. Pria tua ini ternyata cukup cerewet dan suara traktornya sangat mengganggu. "Kamu baru kembali dari kota?" Tanya pria tua itu dengan gigi kuningnya. Randika mengangguk. "Iya, aku bermaksud untuk menemui kakekku yang ada di kaki gunung." "Cucu yang baik hati." Pria tua itu mengangguk. "Sudah jarang ada pemuda sepertimu. Anakku sendiri saja baru pulang tahun baru nanti." "Hahaha! Anakmu mungkin terlalu sibuk mencari uang." Kata Randika sambil tersenyum. Pak tua itu kembali mengeluarkan rokok dan mengatakan, "Apa pekerjaanmu di kota?" "Aku seorang manajer restoran." Kata Randika. "Wah hebat sekali, hebat sekali." Kata pria itu itu sambil tertawa. "Seorang manajer berarti sudah tinggi jabatannya, kalau tidak salah Erwin dari desa kami juga sudah menjadi manajer. Sekarang katanya dia sering memberikan uang ke orang tuanya. Kalian semua memang hebat." Setelah beberapa lama berbincang, hari sudah semakin gelap. Randika kemudian mengangkat kepalanya dan melihat langit, gunung, alam yang dia kenal. Di bawah kaki gunung itu ada sebuah desa yang tidak asing baginya. "Terima kasih pak, saya turun di sini saja." Kata Randika sambil meloncat turun. "Baiklah nak, jaga dirimu baik-baik." Pria tua itu tertawa dan pergi dengan traktornya. Desa Jagad! Desa kecil yang diapit oleh tiga gunung, Randika masih bertanya-tanya kenapa kakeknya ini membangun desa di tempat ini. Salah satu kakeknya hanya menjelaskan bahwa tempat desanya berdiri adalah tanah yang terberkati. Randika segera berlari ke arah desa tersebut. Saat dia sudah dekat, terdengar suara batuk yang paling dia kenal. Kakek anakmu telah kembali! Ketika dia bergegas menuju pintu, Randika dihentikan oleh sebuah suara. "Aku tahu kalau kamu sudah bukan anak kecil lagi, tapi bisa-bisanya kamu pulang semalam ini?" Randika kaget karena kakek-kakeknya itu seakan sudah tahu bahwa dialah yang di balik pintu. Randika segera membuka pintunya dan melihat tiga orang tua sedang duduk di tengah ruangan yang terang. Duduk di sebelah kiri adalah kakek keempat yang memakai jubah putih dengan janggutnya yang melayang di dadanya. Dengan wajahnya yang terlihat seperti anak-anak itu, keriputnya hampir tidak terlihat. Duduk di sebelah kanan adalah kakek ketiga yang memakai baju serba hijau. Karena dia ahli dalam ilmu pengobatan, bau yang dipancarkan kakeknya ini sangat pekat dengan tanaman obat. Kakeknya ini juga memiliki janggut yang panjang bagai seorang pertapa. Kakek yang duduk di tengah, kakek kedua memakai jubah biru. Kakek ini menghela napas dengan kuat dengan wajahnya yang terlihat serius. Namun ketika Randika masuk, kakek ini tidak bisa menahan senyumnya. "Kakek, aku kembali." "Dasar bocah berengsek! Kukira kau sudah lupa sama rumahmu, ternyata kau ingat juga dengan kami." Suara kakek ketiga dengan cepat menyambutnya. "Aku masih ingat bagaimana kau merusak tanaman obatku." "Jangan begitu dong kek. Aku masih kecil dan tidak tahu apa-apa, bukankah kau juga memiliki banyak lahan tanaman obat lainnya?" "Lho bocah kita sudah berani melawan. Yang kau hancurkan itu harta karunku tahu!" Tatapan mata kakek ketiga semakin serius. "Sudah, sudah, kemarilah. Biarkan kakek memelukmu dulu." Kata kakek keempat dengan gembira. Randika maju dan memeluk kakek keempatnya itu. "Haha! Sesuai dugaanku, kau semakin tampan setiap harinya. Apakah kau sudah berhasil memikat hati perempuan cantik?" Kata kakek keempat dengan bangga. "Tapi kau tidak boleh lupa dengan Safira. Terakhir kali aku lihat, dia juga menjadi perempuan yang menawan." Wajah Randika memerah. Dia lupa bahwa kakek keempatnya ini orang yang genit. Pada saat ini, sebuah garpu melayang tepat di depan wajahnya. Randika mengelaknya dan menoleh ke arah kakek kedua sambil mengambil garpu yang melayang itu. "Tidak ada kata lari dalam bela diri." Kakek kedua tersenyum kecil. "Bukankah aku sudah mengajarkanmu itu? Apakah kau sudah melemah?" Randika kemudian meletakkan garpu itu dan mengatakan, "Kakek pertama ada di mana?" "Dia masih mengurung dirinya." Kata kakek ketiga. "Tunggulah beberapa hari lagi." Randika mengangguk. Dari antara semua kakeknya, kakek pertama adalah yang paling misterius. Sejak dia masih kecil saja, dia sudah jarang melihatnya. Dia sering mengurung dirinya dan Randika masih tidak tahu mengapa dia melakukannya. "Omong-omong kenapa kalian tahu bahwa aku akan pulang?" Randika masih bingung. Kakek keempat kemudian menghampiri Randika dan memukul pelan kepalanya, "Apakah kau sudah lupa dengan kemampuan kami?" Randika tersenyum, "Tentu saja tidak. Aku sangat ingat ajaran kalian yang seperti neraka itu, tidak ada manusia yang seharusnya bisa selamat dari latihan semacam itu. Tapi berkat itu juga aku bisa bertahan hidup sampai hari ini. Tetapi kek, aku berharap kasih sayang kau berikan sama seperti orang tua lainnya." "Ha? Bagaimana bisa kau bandingkan kami dengan orang tua lemah di kota? Kau benar-benar anak tidak tahu terima kasih." "Maafkan aku kek, jangan marah." Kata Randika sambil tertawa. "Aku tahu kok kalian sangat menyayangiku dan Safira." Kakek kedua tertawa, "Kalau begitu, cepat katakan kenapa kau pulang? Apakah kau perlu salah satu keahlian kakekmu ini?" Ketika mendengarnya, mata Randika segera bersinar. Dia mulai menghentikan basa-basinya dan menuju topik utama. Sambil makan, Randika mengatakan, "Kakek ketiga, akhir-akhir ini badanku sering di luar kendaliku. Apakah ada yang salah denganku? Bisakah kau membantuku?" Kakek ketiga mengelus janggutnya, "Kau kira aku dokter?" "Bagaimana mungkin aku membandingkanmu dengan dokter?" Muka Randika pura-pura marah. "Seorang dokter tidak bisa dibandingkan dengan Dewa Pengobatan sepertimu kek. Siapa memangnya yang meremehkanmu? Sini akan kuhajar dia." Melihat sandiwara Randika, kakek ketiga tersenyum, "Hahaha! Dasar bocah munafik." "Sini ulurkan tanganmu. Kakak keempat tolong bantu aku" Meletakkan mangkuk makannya, Randika segera menjulurkan tangannya. Kakek ketiga dan keempat mulai memeriksa Randika. Mulai dari denyut nadi, keadaan fisik hingga luka-luka yang ada di tubuhnya. Ketika mengukur denyut nadinya, kakek ketiga kaget. Setelah beberapa saat, kakek ketiga berdiri. Dia mengambil kotak kayu dan membukanya. Di sana ada beberapa ukiran. Ini adalah papan Pa Kua. Papan ini digunakan untuk mengukur energi kehidupan dan kejahatan di kehidupan seseorang. Setelah meletakkan papan ini di meja, kakek ketiga menutup matanya dan muncul sebuah arah. "Xun Gua!" Kakek ketiga benar-benar tertegun dengan hasilnya. "Apa artinya kek?" Kata Randika dengan cemas. Kakek ketiga tidak berbicara, hanya mengelus janggutnya. Kakek kedua segera menghampirinya dan mengatakan, "Nak, beristirahatlah dan tunggu panggilan kami." "Oh." Melihat muka serius para kakeknya itu, Randika jelas merasa gusar. Ketika Randika sudah menghilang, kakek ketiga mengatakan, "Hasil dari heksagram ini tidak dapat aku mengerti. Heksagram utama mengarah pada Suifeng Xun yang berarti ikuti angin. Seorang pria bertindak berdasarkan tujuan hidupnya. Tetapi perubahannya adalah Shang Jiu yaitu Sembilan Teratas. Ketika Xun berada di bawah tempat tidur, dia akan kehilangan kekayaan dan senjatanya. Dia murni dan ganas. Seperti yang dikatakan gajah, Xun yang berada di bawah tempat tidurnya adalah orang miskin dan kehilangan segalanya." "Jadi yang kau katakan adalah bocah kita itu dalam bahaya berdasarkan ramalanmu? Sepertinya dia sedang dalam pengawasan banyak orang. Ini benar-benar gawat." Kata kakek keempat, "Jika kita membiarkannya, Randika akan benar-benar mati." "Apakah seserius itu?" Tanya kakek kedua. "Apakah kita bisa membuat ramalan ini berubah?" Kata kakek keempat. Kakek ketiga menggeleng. "Aku rasa tidak. Meskipun takdir bisa berubah-ubah, ramalan milik anak kita ini tidak bisa berubah. Aku tidak tahu cara mengubahnya." "Kakak ketiga, carilah cara lain!" Kakek kedua terlihat cemas. Kakek ketiga mengerutkan dahinya dan mengelus janggutnya. "Ini susah, kita hanya bisa membuat persiapan bagi Randika apabila situasi menjadi diluar kendali." Kakek keempat menghela napas, "Sepertinya di luar sana banyak orang yang ingin mencelakai anak kita. Tadi aku melihat banyak sekali luka di tubuhnya." "Apakah kita perlu menanyakan hal ini kepada kakek pertama?" Kata Kakek kedua. "Itu tidak perlu." Kakek ketiga menambahkan, "Meskipun ramalan ini agak kabur hasilnya, dengan campur tangan kita mungkin kita bisa mengubahnya meskipun sulit." "Sepertinya aku harus mengeluarkan pil obat harta karunku juga." Tambah kakek ketiga. "Aku tidak menyangka bahwa harta karunku yang tersimpan selama puluhan tahun itu malah bocah itu yang akan memakainya." .... Hari kedua Randika yang baru bangun segera keluar dari kamarnya dan menyambut matahari pagi. Ketiga kakeknya sudah ada di ruangan tengah. Randika segera menghampirinya setelah meregangkan ototnya sebentar. "Begini, kemarin hasil ramalan hidupmu sangatlah buruk. Berhati-hatilah di masa depan. Jangan percaya siapapun, ingat itu!" Kata kakek ketiga. Tentu Randika sangat percaya dengan ramalan kakeknya ini. Karena kakeknya sudah bertitah seperti itu, jelas dia akan menurutinya. "Kemarilah." Kata kakek ketiga sambil membuka kotak kayu yang berisikan peralatan medis dan jarum akupuntur. "Buat apa ini?" Tanya Randika "Untuk mengobatimu." Kakek ketiga mengerutkan dahinya. "Kalau aku tidak bisa melihat luka-lukamu, bagaimana mungkin aku bisa menyembuhkanmu?" Randika tertawa dan dengan cepat melepas bajunya. Teknik akupuntur kakek ketiga benar-benar enak, tidak ada rasa sakit yang terasa. "Kamu ini juga dalam kondisi aneh. Luka-lukamu ini tidak bisa kusembuhkan secara total. Aku hanya bisa menggunakan teknikku ini untuk menghambatnya." Randika sebenarnya tidak mendengar omongan kakeknya. Dia tersesat di perasaan nyaman ini, anggota badannya yang sebelumnya terasa sakit sekarang terasa nyaman. Setelah beberapa lama, kakek ketiga mengeluarkan jarum-jarum tersebut. "Selain luka-lukamu itu, aku menemukan bahwa ada kekuatan misterius di dalam tubuhmu. Sepertinya kau membiarkan dia berada di tubuhmu terus-menerus dengan menggunakan sebuah obat, itu tidak baik bagi dirimu." Kakek bisa melihatnya? Dia tahu bahwa yang dimaksud kakeknya adalah ramuan X. Tetapi untuk mencegah kekuatannya itu memberontak, dia membutuhkan ramuan X jadi dia tidak terlalu mempunyai pilihan. "Ambil ini." Kakek keempat kemudian menyerahkan sebuah kotak kecil padanya. "Ingatlah ini, kalau kondisi nyawamu tidak terancam, jangan pernah membuka kotak ini!" Randika mengangguk. Kakek kedua di samping juga menambahkan. "Randika, semua ilmu bertarung milikku sudah aku turunkan padamu. Berlatihlah lebih banyak lagi dan jangan sampai kau karatan." "Baik kek!" Kata Randika. Chapter 26: Apakah Kau Punya Surat Ijin Mengemudi? Setelah bersiap-siap dan berpamitan, Randika akhirnya kembali menuju kota Cendrawasih. Sekarang sudah memasuki hari ketiga sejak Randika meninggalkan istrinya. Kondisi tubuhnya sudah membaik berkat bantuan kakek ketiga. Setidaknya dalam satu bulan ini tidak akan ada masalah besar pada tubuhnya dan terlebih dia bisa menggunakan tenaga dalamnya seperti sedia kala. Saat akhirnya dia sampai di terminal bus kota Cendrawasih, waktu masih menunjukan pukul 3 siang. Dia memutuskan untuk pergi ke perusahaan Cendrawasih. Namun karena dia malas berjalan, dia akhirnya memutuskan untuk memanggil taksi. Tidak lama kemudian, sebuah taksi datang dan dia menaikinya. "Tolong ke perusahaan Cendrawasih." Karena terminal ini berada di ujung kota dan perusahaannya berada di tengah kota, bahkan dengan taksi pun akan membutuhkan waktu setengah jam. "Baiklah." Ketika Randika sudah masuk, si pengendara taksi langsung memacu mobilnya. Dalam sekejap, taksi tersebut sudah memasuki kecepatan tinggi. Randika yang tidak tahu apa-apa hampir saja terjatuh dari tempat duduknya. "Hei, bisakah pelan sedikit?" Randika yang masih kaget ini ingin memarahi si supir tetapi ketika melihat wajah si supir, dia lebih kaget lagi. Ternyata yang mengendarai taksi ini seorang perempuan, cantik pula. Perempuan ini sangat cantik dan terlihat polos. Apabila dilihat dari mukanya, sepertinya dia masih anak kuliahan. Apabila dia membandingkan dengan perempuan yang ada di desanya, perempuan ini sudah bisa dianggap perempuan tercantik! Mata bundarnya yang besar, hidung yang mancung, bibir yang kecil itu tidak bisa lepas dari pandangan Randika. Terlebih, lekukan badan perempuan ini sungguh bagus meskipun pakaiannya menutupinya. Tidak ada yang bisa menipu mata Randika! Glekˇ­ Randika menelan air liurnya. Loli [1] dengan dada besar, loli dengan dada besar! Perempuan ini dengan santainya menoleh dan mengatakan, "Biasanya kecepatanku segini sih." "Uhuk!" Randika pura-pura batuk agar aksi mengintipnya tadi tidak ketahuan, dia tidak mau terlihat mesum di depannya. "Baiklah kalau begitu." Setelah mengatakan itu, ada senyuman kecil yang naik di bibir perempuan itu. "Kalau begitu berpeganglah." Suaranya terdengar manis. Randika semakin menyukai perempuan ini. Namun, perempuan ini segera memacu gasnya lebih kuat dari sebelumnya. Taksi ini melesat dengan cepat! Untungnya, Randika kali ini sudah siap dan tidak terbang dari tempat duduknya. Taksi ini melaju dengan kencang, Randika melihat pemandangan kota yang dilaluinya. Tapi sebenarnya, pemandangan yang dia lihat lebih hebat lagi. Pantulan dada loli ini luar biasa! Sambil terus meliriknya, lama-lama Randika memutar kepalanya. Dada itu terus bergerak tanpa henti, siapa sangka dirinya akan mendapatkan supir taksi secantik ini. Kalau dipikir-pikir, apakah dadanya ini mengalahkan Viona? Randika kembali menatap tajam kepada dada tersebut. Dia lalu melihat panjang dadanya itu mengalahkan jurang dan mungkin jika meremasnya tangannya tidak akan cukup. Ya tuhan perempuan ini lebih besar dari Viona! Randika yakin bahwa ini adalah dada terbesar yang pernah dia lihat selama hidupnya. Yang lebih mengejutkannya lagi, perempuan ini masih muda. Perempuan ini jelas menyadari tatapan Randika yang berada di kursi belakang. Selagi menunggu lampu merah, dia menoleh ke arah Randika dan bertanya, "Kamu yakin mau ke perusahaan Cendrawasih?" "Maksudmu?" Randika kaget tiba-tiba diajak bicara. Wajahnya langsung dia alihkan, dia berharap perempuan itu tidak menyadarinya. "Maksudku sepertinya kau ingin melepaskan nafsumu itu." Katanya. "Aku sering membawa orang-orang ke tempat pelacuran, jadi jujur saja aku tahu tempat seperti itu tanpa perlu berpikir." Randika kaget ketika mendengarnya, dia pikir aku punya uang melakukan hal itu? Lagipula dia merasa dirinya juga tampan dan berkharisma, buat apa dia menyewa pelacur? Randika ingin membantah perkataan perempuan itu dengan keras. Apa kau pikir aku ini bapak-bapak mesum? Ketika dia melihat reaksi Randika, dia sepertinya mengerti bahwa ini hanyalah salah paham. Tapi dia memutuskan untuk menggodanya lebih lanjut, "Jangan malu, tempat pelacuran kota ini aman kok. Apakah kau datang ke kota ini untuk mencari gadis muda?" Randika mencucurkan keringat dingin. Mengapa supirnya ini tiba-tiba seakan-akan menjadi germo dalam sekejap? Penampilan lolinya dan sikapnya sungguh sangat berbeda. "Sejujurnya saja, kalau kau ke pusat kota malah gadis-gadis di sana kurang bagus. Mereka kurus-kurus dan hidupnya kurang menyenangkan. Rugi kalau kau ke sana." Perempuan ini terus-terusan berbicara mengenai tempat pelacuran. "Yah meskipun di pusat kota dikatakan sebagai tempat pelacuran paling murah tapi banyak mata yang mengintai. Polisi sering berpatroli dan apabila kau bernasib sial, kau bisa-bisa dibawa ke kantor polisi." Dia pun menoleh ke arah Randika. "Untuk keamanan kendaraanku dan keamananmu, aku bisa membawamu ke tempat pelacuran terbagus secara cuma-cuma." "Tempat yang paling bagus adalah jalan Semanggi. Jalan ini memang terkenal sebagai tempat pelacuran terbagus. Gadis-gadis di sana masih muda dan pelayanannya dikenal bagus. Jika kau mau membayar lebih, kau bahkan bisa mendapatkan pelayanan ekstra. Mereka juga menyediakan kostum seperti pramugari, polisi, seragam SMA dll. Seharusnya mereka memiliki semuanya." Randika benar-benar tidak habis pikir. Bisa-bisanya gadis secantik ini berbicara mengenai pelacuran dengan mudah. Apakah dia sehari-harinya hidup di tengah-tengah mereka? "Lagipula di jalan Semanggi juga banyak preman yang berkuasa. Jika tidak ada surat penangkapan ataupun penggeledahan, polisi tidak akan menyerbu tempat ini. Bisa dikatakan jalan Semanggi adalah tempat paling aman. Selama kau punya uang, kau akan hidup bagai raja di sana." Ketika selesai mengatakan ini, dia menoleh untuk melihat wajah Randika yang kebingungan. Dia tersenyum lebar dan menepuk pundak Randika. Perempuan itu menambahkan, "Jangan malu, laki itu punya banyak kebutuhan dan aku tahu itu. Tidak perlu sungkan." Randika benar-benar bingung harus berkata apa. Dia tidak habis pikir bahwa Ares si Dewa Perang ini disamakan dengan pria-pria mesum. "Kalau kau ingin yang lebih menggairahkan lagi, kau harus ke bagian barat kota. Di sana mereka lebih lengkap lagi dan lebih ke arah hal-hal eksotis, gadis-gadis dari luar negeri berada di sana. Kalau kau ingin mencoba hal baru dengan para bule, aku sarankan kita ke sana." Perempuan ini tidak kunjung berhenti berbicara. Randika yakin bahwa dirinya sudah dicap orang mesum yang sedang bernafsu. "Ah iya, minggu lalu aku dengar kalau mereka kedatangan cewek-cewek dari Rusia yang sangat berpengalaman. Keahlian mereka di ranjang akan membuatmu berada di surga katanya." Dia menjelaskan ini bagai sedang menjual celana. Melihat Randika yang tidak ada responnya dari tadi, perempuan ini pun bertanya. "Hei kenapa kau tidak bicara? Gadis macam apa yang kau suka?" Dia lalu membisiki Randika, "Jangan-jangan kau suka yang jauh lebih muda lagi?" "Ya tuhan! Bisa-bisanya kau abnormal seperti itu? Biarkan aku berpikir sebentar. Seharusnya ada orang yang menyediakan jasa gadis di bawah umur seperti itu." "Stop! Aku bukan pria mesum!" Randika sudah tidak sabar lagi. Perempuan ini kalau dibiarkan semakin menjadi-jadi. "Tidak mesum?" Perempuan itu segera menoleh ke Randika, "Kalau begitu ngapain dari tadi melirik tubuhku?" Randika tidak bisa membantahnya. Salah siapa punya dada sebesar itu! Randika hanya bisa diam dan memasang wajah senyum terpaksa. Dia lalu melihat bahwa mereka sudah tiba di pusat kota dan jalanan sudah mulai diisi banyak mobil. Randika mengerutkan dahinya. Untuk ukuran kecepatan di jalan ini, taksi ini terlalu cepat. Bukankah harusnya dia memelankan kecepatannya? Tapi dia merasa ada yang aneh juga dengan taksi ini, walaupun taksi ini terasa cepat tetapi suara mesinnya terdengar halus beda dengan taksi-taksi lainnya ketika mengebut. Randika kemudian berusaha mengintip kecepatan taksi ini. Dia benar-benar kaget ketika melihatnya dan memasang sabuk pengamannya kencang-kencang. 120 km/jam! Perempuan ini sudah gila! Bisa-bisanya dia memacu mobilnya secepat ini di jalan penuh mobil. "Sudah jangan khawatir, aku akan membawamu ke tujuanmu dengan aman. Duduk saja." Suara perempuan ini masih manis seperti sebelumnya. Dengan wajah tenang, dia kembali memacu mobilnya dan kecepatan mobilnya bertambah! "Aku mempercayaimu!" Sekarang baru teka-tekinya terjawab. Sepertinya ini bukan mobil taksi biasa, ini pasti mobil balap yang dimodifikasi. Meskipun kecepatannya lebih dari 120, suara mesinnya tidak terlalu kencang. Laju mobil ini semakin kencang. Di jalan sudah semakin banyak mobil berkendara. Randika hanya bisa percaya dengan kemampuan mengemudi perempuan ini. Kalau diumpamakan, mobil ini bagai kuda liar yang sedang mengamuk! "Hei, bisakah kau pelan sedikit?" Randika masih berpegangan pada kursinya. "Ha? Kenapa harus aku lakukan itu?" Perempuan itu terlihat bingung. "Tadi kamu juga bilang aku boleh mengendarai ini dengan cepat." "Ini sudah di dalam kota. Kau bisa celaka bila berkendara seperti secepat ini!" Teriak Randika. "Jangan khawatir, kau adalah penumpangku yang berharga jadi aku akan mengantarmu dengan selamat sampai tujuan." Meskipun dia terdengar perhatian, kecepatan mobilnya tidak berkurang. Tin!! Di saat mobilnya ini ingin menyalip, dari arah sebaliknya ada mobil yang melaju kencang juga. Randika sudah siap apabila terjadi sesuatu. Ckitt! Mobil taksi ini segera kembali ke jalurnya dan melaju lagi dengan kencang. Belum sampai 1 menit setelah perempuan itu mengatakan bahwa dia akan mengantar dirinya dengan selamat, Randika sudah dibuat jantungan. Perempuan ini malah terlihat bersemangat, di saat ini suara Randika terdengar panik. "Lampu merah!" Namun, si perempuan ini tidak berhenti sama sekali. Malah dia menerobosnya tanpa melihat keadaan. Mobil-mobil yang sedang melaju segera menginjak rem mereka. "Hahaha!" Selamat dari lampu merah yang pertama, adrenalin semakin mengalir deras di tubuh perempuan ini. Ketika dia melihat ada lampu merah lagi, dia memacunya terus tanpa ada niatan berhenti. Menunduk di kursi penumpang, Randika benar-benar ketakutan. Dia lebih memilih membunuh 1000 orang daripada harus duduk di mobil ini. Hidupnya benar-benar dalam bahaya dan dia malah mempercayakan hidupnya kepada seorang gadis muda. Walaupun wajah perempuan ini terlihat polos dan cantik, tetapi caranya mengemudi sudah bagaikan orang gila. Melihat perempuan tersebut yang bersemangat, Randika bertanya. "Hei apakah kau sudah punya surat ijin mengemudi?" Perempuan itu menoleh dan terlihat bingung lalu kembali fokus ke jalan. Randika segera panik dan mengatakan, "Jangan-jangan kauˇ­." Ketika dia menoleh, Randika sudah melihat kenyataan mengejutkan dari mata perempuan itu. Hidupnya benar-benar dalam bahaya. "Aku tidak punya surat seperti itu. Sebuah surat tidak akan menghalangiku untuk memacu mobilku." Randika segera menghela napas, "Kalau begitu, ini bukan taksi?" "Bukan, ini mobil pribadiku." Seketika itu juga, mobil ini mengepot dengan kecepatan tinggi. Randika kembali memegang sabuk pengamannya dengan erat. Kalau bukan taksi, ngapain kau mengambilku sebagai penumpang? Randika sudah pasrah. Hidupnya sekarang ada di tangan orang lain jadi dia hanya bisa berdoa bahwa dia tidak mengalami kecelakaan. Selagi dia memacu mobilnya, perempuan itu menoleh ke Randika dan bertanya. "Apakah kau takut?" ''Ya tuhan, kalau kau bukan perempuan sudak kumaki pasti dari tadi. Bagaimana aku tidak takut? Caramu mengemudi bagai orang kesurupan.'' Inilah cerminan wajah Randika sekarang. "Jangan khawatir, aku belum pernah menabrak kok selama ini." "Hei hati-hati!" Sebelum dia selesai bicara, Randika sudah menerjang ke setir mobil. Taksi ini hampir menabrak sebuah mobil mewah yaitu Ferrari. Karena rem mendadak ini, Randika hampir terlempar keluar dari mobil dan si perempuan cantik ini untungnya tidak mengalami luka apa pun. Hanya saja kaca samping kiri mobil ini pecah. Lokasi mereka sekarang ini adalah persimpangan. Sebelumnya, lampu lalu lintas mereka berdua masih hijau jadi mobil mereka melaju kencang. Tiba-tiba Ferrari tersebut berusaha menerobos jadi benturan pasti tidak terelakkan. Untungnya, Randika masih sempat mengerem dan menghentikan laju mobilnya. Kalau tidak, bisa-bisa kedua mobil ini akan hancur lebur! Apabila seperti itu, kelangsungan hidup dari kedua mobil bisa dipastikan nihil. Setelah mobilnya berhenti total, tatapan wajah Randika menjadi serius. Kalau bukan gara-gara Ferrari ini, dia tidak akan merasakan rasa sakit ini. Perempuan ini juga ikut marah, "Berengsek sekali dia! Lihat pembalasanku!" Kemudian tidak disangka-sangka, perempuan ini malah menantang balapan si Ferrari tersebut! [1] Istilah yang sering digunakan oleh para otaku Jepang terhadap remaja yang menjelang atau belum mengalami pubertas Chapter 27: Balapan Liar Perempuan ini memasang muka seriusnya. Tiba-tiba, dia kembali memacu mobilnya. Karena mobilnya ini adalah mobil balap yang telah dia modifikasi, jadi bisa dikatakan bahwa kecepatan mobil ini tidak kalah dari Ferrari. Randika pun kembali duduk di kursi penumpang, dia menyadari bahwa Ferrari itu tidak terlalu jauh di depan. "Berpeganglah!" Selesai mengatakan itu, perempuan ini menginjak pedal gas dengan sekuat tenaga. "Lihat saja! Akan kubalas kau!" Wushhhh! Mobil ini kembali menunjukan performa aslinya dan jarak di antara dirinya dengan Ferrari tersebut mengecil dengan cepat. Suara knalpot yang memekakan telinga, disusul dengan suara klakson tanpa henti yang ditujukan pada Ferrari tersebut. Dan seketika itu juga, mobil mereka berhasil menyusul dan sekarang mereka melaju berdampingan. Perempuan ini segera menurunkan kaca jendelanya, begitu pula si pemilik Ferrari. Tidak perlu satu kata pun, mata mereka yang membara sudah saling paham. Pemilik Ferrari itu adalah pemuda di sekitar usia 20an yang berambut pirang. Dia menatap mobil Randika dan memberikan isyarat "kau payah" berupa jempol terbalik kepada mobil Randika. "Oh?" Perempuan itu mendengus dan melakukan hal yang sama dengan pria muda itu. Mereka lalu saling menatap satu sama lain dan mengangguk. Kemudian, tanpa aba-aba, kedua mobil memacu mobil mereka hingga batasnya! Si pemilik Ferrari itu tidak mau mengalah dengan mobil murahan jadi dia tidak sungkan-sungkan memacu mobilnya. Ini adalah duel antar dua mobil balap. Randika yang duduk di kursi penumpang hanya terdiam. Dia ingin mengamati pertandingan ini. Randika mengakui kemampuan supirnya ini. Di tangan perempuan tersebut, mobilnya bagai naga yang meliuk-liuk di jalan. Mobil-mobil di jalan tidak bisa menghalangi lajunya, Ferrari itu pun juga tidak kalah lihai dengannya. "Kita sebentar lagi masuk di jalan Babatan." Randika mengingatkan si supir perempuannya ini. Perempuan ini malah menoleh ke arah Ferrari yang ada di belakangnya dan memacu kembali mobilnya. Ferrari itu juga tidak mau kalah dan menginjak pedal gasnya kuat-kuat. Jalan Babatan termasuk salah satu jalan tertua di kota Cendrawasih. Oleh karena itu, jalan di sini penuh lubang dan belokan. Tetapi hari ini, jalan tersebut ditakdirkan menjadi penentu kemenangan atas duel kedua mobil ini. Di depannya sekarang ada pertigaan. Muncul mobil di sebelah kirinya. Perempuan ini segera mengerutkan dahinya. Jika dia tidak mengerem, maka dia berada dalam bahaya. Karena posisinya sekarang sedang lampu merah jika dia tidak memperlambat kecepatannya, dia takut akan celaka. Setelah beberapa saat ragu-ragu, dia akhirnya menginjam rem dan menunggu lampu merah. Ferrari di belakangnya malah tidak mengerem sama sekali, dia menyalip mobil Randika dan mengepot dengan tajam. Untungnya dia tidak mengalami kecelakaan sama sekali. Ketika melihat hal ini, mata si perempuan ini segera membara dan mengabaikan lampu merah. Dia mengklakson terus menerus, berusaha menghentikan laju mobil dari arah kirinya agar dia bisa berbelok. Dia terjebak! Si pemilik Ferrari ini tertawa ketika melihat mereka dari kaca sampingnya. Dengan santai dia mengacungkan jari tengahnya keluar. Perempuan ini tidak terima, dia menggertakkan giginya dan memacu mobilnya kencang-kencang. Si pemuda itu dengan sengaja menunggu mereka sebelum akhirnya melaju kencang lagi. Karena mesinnya tidak kalah kuat, mobil Randika berhasil memperkecil jarak. Sekarang mereka ada di jalanan lurus yang panjang dan cukup lebar. Di sinilah saatnya mereka bisa menyalip! Namun, ketika mereka hendak menyalip, Ferrari tersebut selalu berhasil menghadangnya. Walaupun digocek ke kanan ke kiri, Ferrari ini tidak membiarkan dirinya disalip. "Dasar berengsek!" Mobil Randika masih tetap berusaha menyalip dari belakang sambil mengklakson. Si pemilik Ferrari tidak peduli dan mulai merokok. Mobil mereka berdua terus melaju dan sebentar lagi akan ada tikungan. Entah kenapa, Ferrari ini memperlambat kecepatannya. Ketika melihat hal ini, mobil Randika segera memacu dan menyalip Ferrari di depannya. Perempuan itu langsung tersenyum lebar. Tapi Randika malah mengerutkan dahinya melihat kejadian ini. Firasatnya benar. Ketika mobilnya belok, pemuda itu mengepot lalu menyalip kembali Randika. Ketika itu terjadi, dia menabrak mobil Randika dan melaju kencang sendirian. Duak! Karena tidak memperlambat kecepatan di saat belok, benturan tadi membuat mobilnya hilang kendali. Untungnya mereka berhasil berhenti sebelum menabrak pagar pembatas jalan. Pemilik Ferrari itu kembali berada di depan, dia tertawa ketika melihat mobil Randika yang lepas kendali itu. Setelah memberikan mereka jari tengahnya, Ferrari itu melaju kembali. "Bajingan!" Perempuan ini terus memaki si pemilik Ferrari yang bermain licik dari tadi. Dia menyalahkan dirinya kenapa tidak bisa menang dari orang selicik itu. "Biarkan aku yang mengalahkannya." Randika segera turun dan membuka pintu supir. "Kau?" Si perempuan ini masih ragu-ragu. Ketika melihat Ferrari itu semakin jauh, Randika segera masuk dengan paksa dan langsung memacu mobilnya. "Hei hentikan!" Perempuan ini yang dipaksa minggir mulai ketakutan. "Tenang saja." Randika memasang ekspresi tenang dan nada suaranya terdengar mantap. Bukannya kau daritadi menyetir dengan kecepatan tinggi juga? Kenapa kok sekarang aku yang menyetir dengan kecepatan yang sama malah kau ketakutan? Randika hendak mengatakan begitu tetapi dia mengurungkan niatnya. Sebaliknya, dia menyuruh perempuan itu duduk di belakang. Dengan begini, Randika bisa menyetir leluasa dan tidak terganggu dengan melonnya yang besar itu. "Eh tunggu jangan goyang!" Si perempuan ini masih berusaha ke belakang. Si perempuan ini kesusahan untuk pindah ke belakang karena saking cepatnya mobil ini. Sedikit saja setirnya belok, maka dia bisa kehilangan keseimbangan. Randika masih harus fokus mengejar ketertinggalan mereka jadi dia tidak bisa memperlambat. "Hei kau barusan pegang apa!" Perempuan itu kembali berteriak, kali ini dadanya telah disentuh oleh Randika. "Maaf aku tidak sengaja." Kata Randika, tetapi dalam hati dia senang karena telah berhasil memanfaatkan kesempatan ini. "Kau!" Perempuan ini tahu bahwa Randika pasti bohong, tetapi setelah melihat wajah serius Randika saat menyetir dia merasa bahwa tadi hanya ketidak sengajaan. Sekarang mereka telah berhasil menyusul Ferrari itu. Melihat cara menyetir Randika, si perempuan di belakang itu merasa ngeri. Kecepatan tinggi mobilnya terasa berbeda ketika dia yang menyetir dan ketika dia menjadi penumpang. Dia sekarang benar-benar ketakutan. Mobil ini semakin lama semakin cepat, tidak ada tanda-tanda berhenti. Perempuan ini akhirnya hanya bisa berpegangan erat pada kursinya. Randika di lain sisi malah bersemangat, dia sudah bisa melihat Ferrari yang tidak jauh darinya. Setelah beberapa saat, setelah menyalip beberapa mobil akhirnya dia berhasil berada di belakang Ferrari tersebut. Tin! Tin! Randika mengumumkan kehadirannya kepada lawannya itu. Tentu saja, Ferrari itu segera memacu lagi mobilnya dan disusul oleh Randika. Sama seperti sebelumnya, sekarang mereka berada di jalanan lurus yang panjang. Ferrari itu terus menghalangi Randika agar tidak menyalipnya. "Duduklah dan pegangan yang kuat." Di saat itu juga, Randika menggocek Ferrari itu dengan kecepatan tinggi. Setelah beberapa saat, Randika berhasil menipunya dan menyalipnya! Sekarang mereka berdampingan satu sama lain. Ketika si pemilik Ferrari itu menurunkan kacanya, dia melihat bahwa orang yang menyetir sudah berbeda. Randika tidak peduli dan memacu mobilnya sehingga dia ada di posisi depan. Pemilik Ferrari itu merasa terpukau dengan keahlian mengemudi Randika. Dia berpikir bahwa lawan barunya ini lebih jago daripada sebelumnya. Randika kemudian memperhatikan laju Ferrari tersebut lewat kaca samping kanannya. Sekarang giliran dia yang menghalangi agar dirinya tidak tersalip. Setiap gocekan Ferrari itu dengan sempurna dihalangi oleh Randika. Di saat ini, perempuan belakangnya berteriak awas dan pemilik Ferrari itu juga berwajah pucat. Ketika Randika melihat jalan di depannya, ternyata ini adalah perempatan terkenal di Jalan Babatan. Karena untuk melestarikan gedung-gedung tua yang ada di jalan ini agar orang-orang bisa melihatnya, pemerintah membentuk tiga belokan di jalan ini agar seluruh gedung dapat dilihat. Melihat bahwa ada belokan tajam di depannya, Randika memperlambat kecepatannya. "Ah! Dia akan menyalip!" Pemilik Ferrari itu melihat peluang ini. Kena kau! Ketika si Ferrari itu hendak menyalip dan mengepot, Randika mempercepat lajunya dan mengepot dari bagian dalam. Perempuan yang duduk di belakang itu terkejut. Mengepot dengan kecepatan penuh? Untuk mengepot diperlukan menarik rem tangan tetapi Randika sepertinya menggunakan metode lain. Belokan pertama sudah mereka lalui dan sebentar lagi mereka akan tiba di belokan lainnya. Pemilik Ferrari itu merasa marah dan khawatir. Ketika dia mengepot sekali lagi, dia melihat bahwa lawannya juga mengepot. Bedanya adalah kecepatan lawannya itu seakan tidak berkurang malah bertambah! Apa yang sedang terjadi? Randika kemudian berada di depan lagi dan mengunci mati si Ferrari itu jadi dia tidak bisa menyalip dirinya. Perempuan yang duduk di belakang itu tertegun, pria ini jago mengemudi! "Duduk dengan tenang." Kata Randika. Pada saat yang sama, Randika mengepot dengan tajam. Belokan ini sangat tajam bagaikan jalur putar balik jadi Randika mengepot hingga membentuk sudut 90 derajat tanpa mengurangi kecepatannya! Di belakangnya, pemuda itu tidak bisa mempercayai apa yang dia lihat. Dia tidak sadar bahwa dia masih dalam kecepatan tinggi saat berbelok. Jadi dia segera menginjam rem tapi sudah terlambat. Mobilnya lepas kendali saat dia mengepot dan menabrak pagar pembatas jalan. Randika kemudian melaju pelan dan memperhatikan Ferrari yang menabrak itu. Perempuan yang duduk di belakang Randika itu sudah terkejut dan terkagum-kagum oleh keahlian menyetir Randika. Mengepot seperti itu sudah bagaikan dewa! Yang membuatnya bingung adalah penampilan Randika yang terlihat biasa saja itu ternyata memiliki kemampuan hebat dalam menyetir. Benar-benar tidak disangka. Pemilik Ferrari itu turun dari mobilnya dengan kepala yang berdarah. Mobilnya bisa dikatakan sudah remuk. Pemuda itu merasa marah dan malu, bisa-bisanya dia kalah dengan mobil murahan itu. Dia benar-benar tidak habis pikir lawannya bisa mengepot seperti itu bahkan membentuk sudut 90 derajat. Ketika dia memperhatikan mobil lawannya itu, jari tengah sudah menyambutnya dan segera menghilang dari pandangannya. Perempuan itu menatap lekat-lekat Randika dan bertanya dengan suara manisnya. "Kenapa selama ini kau tidak mengatakan bahwa kau jago menyetir?" "Karena." Randika menoleh, "Aku adalah penumpang dan kau adalah pemilik mobil ini." "Apakah itu saja alasannya?" "Tentu saja tidak." Kata Randika dengan santai, "Berbeda denganmu, ketika aku berkendara aku memiliki tujuan dan yang terpenting adalah aku yang menentukan nasib hidupku. Ketika kau yang berkendara, hidupku bergantung padamu jelas aku tadi ketakutan." Si perempuan itu marah, apakah keahlian menyetirnya seburuk itu? Chapter 28: Berani-beraninya Kau Mengejar Istriku? Kuhajar Kau! "Akhirnya sampai." Kata Randika sambil menghela napas. "Hei jangan pergi dulu, kau masih belum mengajarkanku cara menyetirmu." Kata perempuan itu dengan mata yang memelas. Dia lalu menangkap tangan Randika yang hendak pergi dan membenamkannya di antara dadanya. "Aku mohon! Ajari aku dong!" Randika merasa berada di surga. Keempukannya benar-benar kelas atas, perempuan ini benar-benar tahu cara memanfaatkan tubuhnya. "Maaf tidak bisa." Kata Randika sambil berusaha melepaskan tangannya. "Maaf aku buru-buru, tolong lepaskan tanganku." "Tidak mau! Akan kulepas kalau kau setuju untuk mengajariku." Rengek si perempuan. Randika kemudian tersenyum. Dia kemudian mendekati perempuan itu dan wajah mereka berdekatan. Perempuan ini tidak menghindar ataupun malu. "Apakah kau benar-benar mau belajar?" Tanya Randika. "Iya!" Perempuan cantik ini segera mengangguk-anggukkan kepalanya. "Tapi pelayanan apa yang kau tawarkan sebagai gantinya?" Tanya Randika. ???Maksudnya?" Perempuan ini pura-pura tidak tahu maksud Randika. "Kalau begitu lupakan saja." Randika segera menarik tangannya dengan paksa. "Kumohon jangan pergi. Aku bisa membawamu ke tempat bagus." Kata perempuan itu. Randika tidak mempedulikannya. Dia segera menutup pintu mobil dan berjalan menuju gedung Cendrawasih. "Hei, setidaknya berikan nomor teleponmu." Kata perempuan itu sambil menjulurkan kepalanya dari jendela. "Jika kita ditakdirkan bersama, maka kita akan bertemu lagi suatu hari nanti." Kata Randika sambil melambaikan tangannya. Tentu saja dia bercanda. Dia sudah kapok berkendara dengan perempuan satu itu. Jika kau ingin cari mati, jangan ajak-ajak aku! "Hmmmˇ­." Perempuan itu menggigit bibirnya, baginya meminta nomor itu sudah jarang sekali. Akhirnya Randika sampai di gedung Cendrawasih. Perempuan yang bertugas di lobi kaget ketika melihat sosok Randika. Dia tidak tahu harus berbuat apa terhadap lelaki tersebut. Lelaki itu dikabarkan sebagai suami dari pimpinan perusahaan yaitu Inggrid Elina, tetapi pimpinannya itu tidak pernah mengatakan apa-apa padanya. Jadi dia ragu untuk memperbolehkan masuk Randika atau tidak. Akhirnya dia memutuskan untuk memperbolehkannya karena waktu itu Randika sempat berjalan masuk berdua dengan Inggrid. Pada saat Randika ingin ke lantai atas, sekerumunan orang sedang berkumpul di lobi. Randika merasa bingung, ada apakah kali ini? "Permisi, permisi." Randika mulai menerobos masuk kerumunan dan sudah berada di depan. Ketika dia melihat pemandangan itu, dia merasa murka. Dia baru pergi tiga hari dan sudah ada laki-laki yang berani mengejar istrinya? Apalagi nampaknya pria itu sedang melamar istrinya, apakah dia sudah bosan hidup? Randika memilih untuk diam dulu dan memperhatikan situasi terlebih dahulu. "Inggrid, aku tahu bahwa aku tidak pantas mendapatkanmu." Seorang pria nampak sedang berlutut dengan satu kaki, membawa seikat bunga dan memegang tangan Inggrid. Jelas bahwa dia sedang melamar istrinya! Bajingan kecil ini tidak tahu bahwa dia berusaha mencuri istri dari salah satu orang terkuat di dunia. Dia ingin membunuhnya sekarang juga. Tatapan mata Randika semakin dingin. "Hei bukankah kau tadi mengatakan bahwa Bu Inggrid akan menolaknya?" Dua orang di samping Randika sedang berdiskusi dengan suara pelan. "Iyalah, bagaimana mungkin Bu Inggrid menerimanya. Perusahaan ini miliknya dan kelas mereka juga berbeda." Balasnya. "Dan juga aku dengar bahwa Bu Inggrid itu sudah menikah!" "Apa? Aku kok tidak tahu?" Temannya ini tidak percaya, wanita tercantik di kota ini sudah menikah? "Hei pelan-pelan kalau ngomong. Aku juga baru tahu akhir-akhir ini. Para ahli parfum di lantai 9 yang kasih tahu aku. Kapan hari ada lelaki yang memanggil Bu Inggrid sebagai istrinya dan Bu Inggrid tidak menyangkalnya! Tetapi kata orang-orang, kalau dilihat dari cara mereka bicara mereka bukan seperti suami istri. Jadi, ini semua masih misteri." Randika mulai nimbrung, "Hei, kalian tahu siapa lelaki yang mengejar Bu Inggrid itu?" Ketika Randika menyela pembicaraan mereka, mereka dengan antusias menjawab. "Orang itu adalah manajer personalia kita. Dia sudah berada di perusahaan ini sejak lama jadi dia tahu perusahaan ini hingga seluk beluknya." Pada saat ini, Andre menatap mata Inggrid dan mengatakan, "Inggrid, aku sudah mencintaimu sejak awal kita bertemu. Aku meninggalkan perusahaan lamaku hanya demi bisa bersamamu." Inggrid benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Banyak orang yang berkerumun dan melihat mereka jadi dia tidak tahu harus bagaimana menolaknya dengan benar. "Inggrid, kau adalah wanita tercantik yang pernah aku temui. Kau mungkin masih belum mengerti cintaku ini, tapi aku yakin hatiku ini terbentuk untuk mencintaimu!" Randika berpikir bahwa kata-kata pria ini terlalu berlebihan dan menjijikan. Inggrid tersipu malu. Dia juga menyadari bahwa ada banyak orang yang sedang mengamati mereka berdua, jika hal ini tidak diselesaikan baik-baik dia takut ini akan membawa masalah besar nantinya. Terlebih dengan jabatan sebagai manajer personalia, Andre membawahi banyak orang. Jika Inggrid melukai hatinya, dia takut akan terjadi krisis internal. "Inggrid, beri aku kesempatan. Aku akan membahagiakanmu." Andre sekarang menyodorkan bunganya. Inggrid kau adalah milikku! Andre berpikir dalam hatinya bahwa jika dia ditolak, dia akan membuat perusahaan ini mengalami hari-hari yang susah. Dia sudah merancang hari ini dengan baik, dia sudah mendapatkan dukungan dari berbagai departemen-departemen penting jadi apabila Inggrid menolaknya, dia akan menjatuhkan perusahaan ini! Pada saat ini, muncul sebuah suara. "Wah bunga-bunga ini cantik sekali." Mendengar suara yang muncul tiba-tiba ini, Inggrid sedikit lega karena dia merasa ada yang hendak membantu dirinya. Saat dia menoleh ternyata pria itu yang malah datang. Randika keluar dari kerumunan dan menjadi objek pandangan seluruh orang di sana. Dia segera mengambil bunga tersebut dari tangan Andre sambil mengatakan, "Hmmm harum sekali. Dengan begini toiletku akan harum sepanjang hari. Terima kasih atas sumbanganmu, dengan begini aku tidak perlu membeli pengharum ruangan." Pfffttt! Para penonton tidak dapat menahan tawa mereka ketika melihat hal ini. Mereka tidak menyangka bahwa pria yang datang ini ternyata akan mengejek Andre sedemikian rupa. Inggrid juga ingin tertawa tapi dia berhasil menahan diri. Sekarang dia lebih khawatir terhadap Randika yang biasanya melakukan hal berlebihan. Dia hendak memperingati Randika tetapi Randika menoleh kepadanya dan mengatakan, "Permisi Bu Inggrid, ada hal penting yang ingin kusampaikan." Setelah berkata seperti itu, Randika menoleh kanan-kiri sambil melirik Andre sebelum akhirnya mengatakan, "Di sini kelihatannya ramai sekali, percakapan kita nanti terdengar. Bagaimana kalau kita melanjutkannya di kantorku saja? Ataukah aku yang mendatangi kantormu?" Inggrid tahu bahwa Randika ingin menyelamatkan dirinya dari situasi ini jadi dia hanya mengangguk dan pergi menuju kantornya. Ini mungkin cara terhalus untuk menyelesaikan situasi ini. Andre, yang masih berlutut dengan satu kaki, tidak bisa tidak merasa heran. Dia lalu berdiri dan menatap marah Randika. "Dari departemen mana kau?" Randika menoleh dan menatap Andre. Setelah beberapa saat dia mengatakan. "Kau sendiri dari departemen mana?" "Aku adalah manajer personalia perusahaan ini!" Kata Andre dengan berteriak. "Oh manajer personalia toh." Randika mengangguk lalu tersenyum dan menjulurkan tangannya. "Aku dari departemen orang gila, salam kenal." Beberapa orang langsung tertawa teredam, mereka heran kenapa pria ini begitu lucu. "Kau!" Andre hampir kehilangan kesabarannya dan segera menunjuk-nunjuk Randika. "Kau tidak lihat bahwa aku sedang menyatakan cinta?" "Maaf aku tidak melihatnya." Kata Randika sambil tersenyum. "Aku benar-benar buru-buru tadi. Aku perlu berbicara dengan Bu Inggrid secepat mungkin jadi aku hanya melihat sosok beliau sedang berdiri sendirian. Lalu aku melihat bunga itu, kukira kau adalah tukang pengirim bunga jadi kuambil saja. Maafkan kesalah pahamanku sebelumnya. Ini bungamu kukembalikan padamu kalau kau masih mau." Orang-orang di sekitar sedikit takjub pada Randika. Meskipun dia sudah tahu jabatan Andre yang sebenarnya, Randika masih tidak memberikannya wajah. Andre sudah tidak tahan lagi. Andre segera membanting bunga yang dikembalikan oleh Randika. Randika pura-pura kaget dan mengatakan, "Tuan Andre, aku tahu bahwa Anda marah tetapi jangan lampiaskan ke bunga itu. Aku tahu bahwa cintamu ditolak tapi tolong hargai orang yang telah susah payah menanam bunga itu." Melihat Randika, Andre semakin murka. Dia lalu menoleh ke beberapa bawahannya untuk membantu dirinya kalau terjadi apa-apa. "Tindakanmu ini sudah berlebihan tuan. Apakah seorang manajer personalia tidak bisa menahan emosinya?" Kata Randika. "Cukup." Andre sudah merasa dirinya mau meledak. "Enyahlah! Aku ada urusan dengan Inggrid." Ternyata manajer personalia ini berhasil menahan amarahnya dan hendak menuju kantor istrinya. Randika mulai bingung. Dia segera menemukan sebuah ide. Randika segera memfokuskan tenaga dalamnya ke jarinya dan menembakkannya ke sabuk yang dipakai Andre. Tenaga dalamnya segera menyebar dan menghancurkan sabuknya itu. "Tuan, celana Anda melorot!" Teriak Randika. Andre menoleh dan benar katanya, celananya melorot hingga ke lantai dan celana dalam merahnya terlihat dengan jelas. "Hahahaha!" Suara tawa muncul dari belakang. Andre sudah kehilangan kesabarannya. Dia segera memakai kembali celananya dan menatap tajam kepada Randika. Dia lalu bergegas ke lift sambil menahan celananya yang melorot, cara jalannya lucu sekali seperti penguin. Andre merasa malu 7 turunan. Sebelum pria itu datang, semuanya berjalan dengan baik. Bahkan jika Inggrid menolaknya, dia akan disaksikan oleh semua orang di perusahaan ini dan dia bisa memanfaatkan hal itu untuk menciptakan kekacauan. Mungkin rencananya semua itu telah hancur hanya gara-gara campur tangan pria itu. Andre kemudian menggertakan giginya sambil bersumpah dengan dirinya sendiri. "Dengan segala kekuatan yang kumiliki, aku akan memastikan kamu menerima ganjarannya!" Inggrid berada di ruangan kantornya. Dia mendengar suara ketukan pintu dan mempersilahkan masuk. Yang masuk adalah Andre dengan celananya yang sudah dia betulkan. "Inggrid, kau tahu aku suka denganmu. Jika kamu tidak memiliki perasaan yang sama denganku, tidak perlu kabur dengan cara rendahan seperti itu." Sejak dia masuk ke dalam ruangan, Andre tidak membiarkan Inggrid berbicara. Ketika mendengarnya Inggrid sedikit kebingungan, terus dia akhirnya menyadari bahwa Randika sepertinya telah melakukan sesuatu terhadap Andre. "Aku tidak tahu apa yang telah Randika lakukan terhadapmu." Inggrid mengatakannya dengan wajah dingin. Ketika melihat Inggrid masih tidak mau berkomentar, Andre menghela napas dan bertanya, "Kalau begitu, boleh aku tahu dari departemen mana orang itu?" "Dia adalah ahli parfum khusus milikku. Ada apa memangnya?" Tanya Inggrid. Andre membalas, "Barusan dia membuatku malu di depan publik, jika kau tidak membelaku dan menghukumnya maka aku akan berhenti dari perusahaan ini!" "Asalkan kau tahu, aku lah yang merekrut pekerja-pekerja di sini jadi aku juga bisa mengajak mereka keluar denganku juga!" Inggrid menanggapinya dengan tenang, "Jangan terlalu berlebihan, aku akan memanggil orang itu ke sini." "Tidak perlu mencariku, aku sudah di sini." Randika masuk ke dalam ruangan dengan santai. Melihat wajah senyum Randika, Andre sudah ingin memukulnya. Dia lalu hanya menggertakan giginya dan berusaha tenang demi ambisinya. "Bu Inggrid kenapa Anda memanggilku ke sini? Kau tahu kalau aku sibuk bukan?" Randika lalu menguap. "Aku sekarang benar-benar sibuk dengan pengembangan produk baru kita, hal ini juga cukup membuatku kelelahan dan kekurangan tidur." Inggrid mengerutkan dahinya ketika mendengarnya. Sibuk? Bukannya kau mengerjakan parfum milik Peter dalam beberapa menit saja? Dan bukankah kau barusan kembali setelah pergi beberapa hari? "Tolong perhatikan orang ini dengan seksama Inggrid. Dia tidak memiliki sopan santun." Andre menoleh ke Inggrid. "Bagaimana mungkin dia bisa menjaga citra perusahaan Cendrawasih ini? Kalau dia tidak keluar maka akulah yang akan keluar!" "Biarkan aku yang berbicara terlebih dahulu." Inggrid berusaha menengahi mereka berdua dan bertanya kepada Randika. "Randika, apakah kau membuat malu Andre di bawah tadi?" Randika tertawa, "Membuat malu? Bagaimana mungkin aku melakukan itu? Aku tadi sudah berkenalan secara baik dengan saudara Andre di bawah tadi, tetapi beliau memperlakukanku dengan buruk. Sekarang dia mengatakan bahwa aku seakan-akan melakukan hal jahat padanya, Anda benar-benar sadis." Randika menunjukan wajah suram. "Ibu Inggrid, aku harap Anda juga tidak bias terhadap hal ini." Inggrid segera mengerutkan dahinya. Dia berpikir, Kenapa kau melakukan ini? Tidakkah kau melihat aku sedang mendamaikan kalian? "Randika! Jelaskan apa yang telah kau lakukan di bawah tadi!" Teriak Inggrid. "Aku tidak ngapa-ngapain." Melihat bahwa Inggrid marah, Randika pura-pura kaget. "Sungguhan aku tidak berbuat apa-apa, jika kau tidak percaya kau bisa menanyakannya pada para karyawan yang berada di lantai bawah." "Bisa jelaskan apa yang terjadi?" Inggrid menyerah bertanya pada Randika dan beralih ke Andre. Andre kemudian menghela napas dalam-dalam dan mengatakan. "Dia membuat celanaku melorot." "Hei tuduhan apa itu! Aku tidak menyentuhmu sama sekali." Balas Randika. "Aku sama sekali tidak berada di sekitarmu sebelumnya, apakah kau punya bukti bahwa aku melakukannya?" Inggrid kemudian menatap Randika dengan dingin, dia melihat bahwa muka Randika tidak menunjukan penyesalan dan mengatakan. "Randika, minta maaflah kepada Andre." Minta maaf? Randika tersenyum pahit. Ares harus meminta maaf kepada manusia fana? Bahkan jika dia yang salah buat apa meminta maaf? Lagipula bukannya Andre berniat mencuri istrinya darinya, buat apa dia harus meminta maaf ke pencuri seperti itu? Randika memiliki ide, dia mendekati Inggrid dan mengangkat dagunya lalu mengatakan. "Ibu Inggrid yang cantik, apakah kau ingin membuatku meminta maaf dari lubuk hatiku?" Mendengar kata-kata Randika, Inggrid takut bahwa hubungan mereka berdua akan ketahuan oleh Andre. Tetapi setelah menatap tajam Randika, suaminya ini melepaskan tangannya dan Inggrid pun kembali bernapas lega. "Membuatku meminta maaf tidak gratis." Randika tersenyum nakal setelah mengatakan itu dan menarik Inggrid ke pelukannya dan mencium dirinya! Apa!? Andre yang melihatnya hanya bisa tertegun dan Randika terlihat memainkan lidahnya. Inggrid berusaha mati-matian mendorongnya. Tetapi kekuatan manusia tidak berdaya di hadapan Ares. Setelah 10 detik, Randika melepas Inggrid dan tertawa. "Masih harum seperti biasanya." "Kau! Dasar bajingan!" Andre merasa murka. Dia mendekati Randika dan mengangkat kerah bajunya. "Cari gara-gara kamu?" Randika segera membalas tindakan Andre dengan mendorongnya pelan. "Randika!" Inggrid segera menampar mejanya untuk menghentikan mereka berdua. "Inggrid cepat pecat dia!" Andre sudah tidak tahan lagi, adegan ciuman itu juga menambah rasa malu pada dirinya. Inggrid juga benar-benar marah. Randika kali ini bertindak keterlaluan, jika bukan karena ada Andre di sini dia mungkin sudah menampar Randika. Melihat ekspresi marah Inggrid, Andre merasa bahwa pria ini sudah tamat. Inggrid siap-siaplah menjadi milikku! Ketika Inggrid kembali ingin memarahinya, Randika terbatuk dua kali dan menundukkan kepalanya sambil berkata dengan pelan. "Hmmm kontrak kita masih berlaku." Inggrid yang mendengarnya segera terdiam. Bajingan ini malah mengancam dirinya dengan menyebut kontrak. Dia benar-benar lelaki menyebalkan! "Ha? Kontrak apa?" Andre samar-samar juga bisa mendengarnya. ???Itu adalah rahasiaku dan pemilik perusahaan ini yaitu Ibu Inggrid Elina. Kau yang orang asing tidak berhak tahu." Randika kemudian kembali tersenyum. Dia lalu membisik di telinga Inggrid, "Kontrak kita masih belum selesai, kau adalah wanitaku!" Pernyataan Randika sangat tegas! Wajah Inggrid menjadi putih dan Andre hanya bisa melihat mereka berdua berbisik. Hubungan mereka sebenarnya adalah? Tidak! Tidak mungkin! Andre menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak mungkin itu terjadi. Dia sudah memastikan bahwa Inggrid masih lajang, hal ini tidak mungkin salah. Melihat bahwa Inggrid tidak berkomentar apa-apa, Randika kemudian mengatakan. "Sepertinya pemimpin kita telah menyelesaikan masalah ini dengan keputusan yang bijak. Tuan Andre maafkan aku karena telah melihat celana Anda melorot." "Kau!" Andre sudah hendak meledak. Sepertinya dia harus menyelidiki kembali hubungan kedua orang tersebut. Setidaknya dia sudah berhasil memaksa pria bernama Randika ini meminta maaf, ini membuatnya tersenyum. "Kalau semuanya sudah selesai, saya pamit duluan. Pengembangan parfum baru ini tidak bisa saya tinggalkan sesuka hati." Kata Randika dengan muka serius. Kemudian Randika keluar dengan santainya. "Inggridˇ­" Karena sudah hanya ada mereka berdua, Andre memanggil Inggrid dengan nada yang lebih santai. Dia hendak bertanya tetapi dicegah Inggrid. "Masalah sudah selesai dan aku harap kau bisa kembali kerja dengan giat." Mendengar perintah Inggrid, Andre tidak bisa melawannya sama sekali. Dia juga tahu bahwa kalau dia bertanya sekalipun, dia tidak akan mendapatkan apa pun. Setelah keluar ruangan, Andre malah disambut dengan pria terberengsek yang pernah dia temui. "Berhenti!" Namun, Randika seperti pura-pura tidak mendengarnya dan terus berjalan. Andre segera menyusulnya dan menepuk pundaknya, "Aku bilang berhenti!" Kali ini Randika menoleh dan melihat ternyata Andre lah yang menepuk pundaknya. Lalu dia berkata dengan tersenyum, "Ternyata Tuan Andre, aku minta maaf karena tidak mendengarmu. Aku tadi mengira bahwa itu suara lalat lewat ternyata itu suara Anda." Andre sedikit marah mendengarnya tetapi dia berhasil mengendalikan emosinya. "Apa hubunganmu dengan Inggrid Elina?" "Hubunganku?" Kata Randika dengan nada ragu. "Iya hubunganmu dengan Inggrid." Andre menatap tajam pada Randika. "Apakah itu hubungan suami istri?" "Hubunganku dengan Inggrid adalah urusanku bukan urusanmu." Kata Randika dengan muka tegas. "Kau lebih baik mengurus dirimu sendiri sebelum mengusik hidup orang lain." Melihat Randika yang berusaha kabur, Andre kembali mencegatnya. "Kau harus menjelaskannya dengan jelas kepadaku." Andre menatapnya dengan tajam. "Jika kau tidak menjelaskannya padaku, aku akan keluar dari perusahaan ini!" Secercah cahaya dingin melintas di mata Randika, kemudian dia berkata sambil tersenyum. "Apakah kau benar-benar ingin tahu?" "Tentu." "Sini akan aku beritahu." Andre mendekatkan telinganya dan merasa senang. Namun tiba-tiba, Randika melayangkan sebuah pukulan ke hidungnya. "Persetan denganmu! Jika kau berani menyusahkan ataupun mengejar perempuanku lagi, bukan hanya hidungmu saja yang patah!" Kata Randika sambil menendangnya. Andre tidak bisa menahan tendangan Randika karena dia sibuk merintih kesakitan gara-gara hidungnya yang patah. Andre lalu tergeletak di lantai. Andre kebingungan, dia adalah manajer personalia di perusahaan ini sekarang malah dia dihajar oleh karyawannya. "Kau ingin tahu hubunganku dengan Inggrid bukan? Camkan ini baik-baik, dia adalah wanitaku! Dia adalah istriku!" Randika kembali menendang Andre yang sudah tersungkur di lantai. Tentu saja Randika sangat mengurangi tenaganya, kalau tidak mungkin hanya sepatu Andre saja yang tersisa. "Kau mau tahu apa lagi? Sini akan kujelaskan semuanya." Randika kemudian mengangkat tubuh Andre dan melayangkan satu pukulan ke perutnya. "Camkan ini baik-baik, jika kau berani menyentuh atau mengejar wanitaku lagi, aku akan memotong alat kelaminmu yang kecil itu." Kata Randika sambil menampar Andre. Sadis! Setelah ''berolahraga'' sedikit, Randika menghela napas. "Aku harap kau paham setelah kejadian ini." Randika kemudian mendudukkan Andre di sebuah kursi yang ada di lorong. "Ingatlah jangan pernah mengejar Inggrid lagi. Jika aku mengetahui kau masih berusaha, awas saja. Untuk sekarang, lebih baik kau ke rumah sakit untuk mengurus lukamu." Andre merasa seluruh tubuhnya kesakitan. Ketika sosok Randika sudah menghilang, tatapan matanya dipenuhi oleh rasa dendam. Chapter 29: Dia Berlari lalu Berlutut! "Halo apakah ini kakak Elang? Ini aku Andre. Terakhir kali kita bertemu saat kita minum-minum di bar minggu lalu, apakah kau ingat? Iya jadi begini. Aku butuh bantuan kakak untuk memberi pelajaran pada seseorang tetapi jangan sampai kau membunuhnya. Oh, jangan khawatir orang ini tidak punya dukungan politik siapa-siapa kok. Dia hanya rekan kerja dari perusahaanku saja. Oke kita sepakat! Aku minta tolong bawa beberapa orang tambahan ya, soalnya aku dengar dia jago berkelahi. Pada saat kau selesai menghajarnya, aku akan memberikan 25 jutanya pada saat itu juga." Andre kemudian menutup teleponnya. Tatapan matanya masih dipenuhi rasa balas dendam. Randikaˇ­ Lihatlah akan kutunjukkan kau siapa yang berkuasa! "Ah! Pelan-pelan!" Teriak Andre kepada perawat yang sedang membersihkan lukanya. "Tolong jangan bergerak." Kata perawat itu. Di tempat lain, seorang pemuda di usia 20an menutup teleponnya dan melemparnya ke sofa. "Kak, ikut aku!" "Kenapa kau Elang? Kau ingin aku antar ke mana lagi?" Tanya seorang pria botak. "Hahaha kali ini kita bukan pergi untuk bermain melainkan untuk bekerja. Temanku memintaku untuk menghajar seseorang dan dia akan memberikan 25 juta setelah kita selesai menghajarnya." "Bah! Mana ada pekerjaan semanis itu." "Serius aku kak, sudahlah percayakan hal ini padaku. Nanti uangnya kita buat minum-minum sepuasnya!" "Hidup kakak Elang!" Sekumpulan preman ini pun segera berangkat menuju perusahaan Cendrawasih. Tidak butuh waktu lama untuk para preman tersebut sampai di gedung perusahaan terbesar di kota ini. Petugas keamanan terkejut ketika melihat sekumpulan pria bertampang kasar ini datang. Salah satu dari mereka segera mencegat mereka dan salah satu dari preman itu berkata kepada petugas tersebut, "Aku hanya ingin bertemu dengan salah satu orang dari perusahaan ini, aku akan pergi ketika kami sudah bertemu." Para petugas keamanan ini tidak bisa mencegah mereka masuk tetapi mereka juga memiliki persiapan sendiri. Mereka segera memberitahu orang-orang di dalam untuk bersiap-siap menekan tombol alarm apabila terjadi sesuatu. Setelah mereka masuk, salah satu dari mereka bertanya kepada perempuan yang ada di lobi. "Hei, di perusahaan ini adakah yang bernama Randika?" Suara kasar ini mengejutkan perempuan tersebut. Ketika memperhatikan tampang dan pakaian yang dipakai sekumpulan orang ini, dia segera panik. "Adakah yang bisa saya bantu?" Suaranya sedikit gemetar. "Aku tidak butuh bantuanmu, aku hanya ingin bertemu dengan satu orang. Hubungi saja si Randika itu." Kata Elang dengan nada marah. Setelah Elang membentak wanita ini, para petugas keamanan sudah bersiaga dari luar dan tampak juga ada yang datang dari atas. "Aku minta maaf tuan. Jika Anda tidak bisa menjelaskan alasan Anda datang ke sini, saya tidak bisa membantu Anda." Ketika mendengarnya, Elang menjadi marah. Di saat dia hendak membentak lagi, handphonenya bunyi. Ternyata itu Andre! "Kau bisa langsung naik ke lantai 9.?? Kata Andre. Elang pun menatap tajam ke perempuan tersebut dan berjalan menuju lift. Saat petugas keamanan berusaha mencegahnya, mereka mendapatkan telepon dari Andre. "Mereka ini adalah calon petugas keamanan yang datang untuk melakukan wawancara. Biarkan mereka naik menemui saya." Andre menjelaskannya dengan nada tenang. Ketika petugas keamanan itu mendengar perkataan sang manajer personalia, tidak mungkin mereka membantahnya. Elang dkk akhirnya naik lift dan menuju lantai 9. Saat mereka sudah berada di lantai 9, mereka langsung disambut Andre. "Mana orang yang ingin kau hajar?" Tanya Elang. "Aku ingin segera menyelesaikannya dan mengambil uangku." "Jangan khawatir. Uang itu sudah ada di tanganku." Andre pun segera menjelaskan. "Dia ada di lantai ini namanya adalah Randika. Petugas keamanan di lantai ini sudah aku tarik mundur jadi kau bisa mengamuk sepuasnya." Di saat mereka berbincang, Randika keluar dari ruangannya dan melihat kerumunan orang ini. Dia lalu mendekati mereka. "Ah! Itu dia orangnya." Mata Andre segera menjadi merah. Karena dia belum ke rumah sakit, luka-lukanya masih belum terawat sepenuhnya meskipun klinik perusahaan ini sudah memberikan pertolongan pertama. "Oh?" Elang dan teman-temannya mendatangi Randika. Beberapa ahli parfum juga ikut keluar bersama Randika. Ketika mereka melihat gerombolan orang ini, mereka segera berbalik dan menuju ruangannya kembali. Mereka masih trauma dengan kejadian sebelumnya. Randika kini telah dikepung. "Jadi kamu yang namanya Randika?" Kata Elang sambil memeriksa Randika dari atas ke bawah. Randika malah tidak menjawab pertanyaan ini, dia lebih fokus kepada Andre yang ada di belakang. Dia lalu tertawa keras. Ketika mendengar tawa ini, Andre entah kenapa merinding. "Oh sepertinya kau kurang cerdas menghafal muka orang sampai-sampai kau tidak tahu yang mana yang kau cari." Kata Randika dengan santai. "Berengsek, kau belum menjawab pertanyaanku tadi." Elang sudah merasa marah dan menendang Randika, anehnya kakinya dengan cepat terayun kembali. "Ckckck jadi kalian ke sini cuma cari gara-gara?" Randika menggelengkan kepalanya. "Suasana hatiku sedang tidak bagus, jadi aku aslinya malas melayani kalian." "Bah kau kira kau punya pilihan? Hajar dia!" Elang pun sudah tidak sabar. TIba-tiba semua orang mengeluarkan pisau mereka dan menerjang Randika. Seketika itu juga Randika berubah menjadi sesosok cahaya. Dia nampak mengepalkan tangannya. Bahkan belum sampai 3 langkah, salah satu preman ini sudah ada yang melayang. Orang di sebelahnya bahkan sudah ikut melayang juga ketika dia menoleh ke arah temannya. Randika menyikut orang yang berada di belakangnya hingga hidungnya patah. Dia menambahkan tamparan keras pada pelipis orang itu hingga dia jatuh pingsan. Kemudian dia mengambil pisau orang itu dan melemparnya ke orang lain. Pisau itu segera menancap di lengannya! Meskipun tampaknya Randika telah dikepung, situasi ini bagai serigala yang berada di kandang ayam. Dengan kecepatan dewanya, setiap langkahnya membuat seseorang melayang. Preman-preman ini bahkan tidak bisa menyentuh ujung baju Randika. Randika kemudian melayang tinggi dan menerjang turun. Seketika itu juga, 5 orang langsung terkapar kesakitan. "Sepertinya orang yang kau panggil kurang tangguh." Randika mengatakan ini kepada Andre yang ada di belakang. Andre benar-benar ketakutan melihatnya, kakinya sudah lemas dan mulutnya mengering. "Kauˇ­. Kau bukan manusia!" Elang yang terkapar di lantai segera berdiri dan mengatakan, "Jangan bangga dulu kau! Kupanggil kakak tertuaku baru tahu rasa kau!" "Ah! Berarti pimpinan kalian ya?" Kata Randika. "Kalau begitu sekalian saja kalian kubereskan semua jadi aku tidak perlu repot-repot mencari lagi. Punya nomornya? Mau aku teleponin sekarang? Atau kau bawa telepon sendiri?" "Bacot saja terus, nanti baru tahu rasa saat kakak sudah ada di sini!" Elang segera mundur dan mengeluarkan handphonenya. Tak lama kemudian, panggilannya diterima. "Kak! Tolong aku, kami semua telah dihajar oleh seseorang." Tak lama kemudian, Elang tiba-tiba tertawa ke arah Randika. Para preman yang terkapar di lantai segera mengambil langkah mundur dan berkumpul di sekitar Elang. "Apakah kakak tertuamu itu kuat?" Tanya Andre. "Kakak tertua adalah orang paling tangguh yang kukenal!" Kata Elang dengan nada dingin. "Jangan khawatir, kakak tertuaku itu sudah menjadi salah satu penguasa kegelapan di kota ini! Tidak ada orang yang bisa berjalan lurus ketika mendengar namanya." Mendengar kepercayaan diri Elang, Andre merasa lega. Dia merasa mendapatkan kembali kepercayaan dirinya dan berkata pada Randika, "Lihat saja sebentar lagi!" "Jangan berlutut minta ampun ketika kakak tertuaku datang dan menghajarmu sampai sekarat." Elang juga menambahkan. Para preman yang awalnya tampak tidak berdaya, segera bersorak ketika tahu bahwa pimpinan mereka itu akan datang. "Randika, jika kau memberikan Inggrid kepadaku maka aku bisa mencegah hal ini terjadi." Kata Andre. Randika malah menguap, "Huahm! Aku suka dengan orang-orang lemah seperti kalian, kalian pintar ngelawak. Hei bawakan aku kursi." Ahli parfum yang mengintip dari ruangan masih berdiri kaku ketika melihat aksi pemukulan tadi. Setelah diajak bicara Randika baru dia tersadar dari keterkejutannya. Dia langsung membawakan kursi untuk Randika. Randika lalu duduk, melihat jam dan berkata dengan santai. "Sepuluh menit. Aku memberikan kalian sepuluh menit untuk menunggu bala bantuan kalian. Jika pimpinanmu itu tidak datang dalam 10 menit, kalian semua akan kubunuh dan mayat kalian akan kubuang di pinggir jalan." Setelah itu Randika menutup matanya. Ekspresi Elang sedikit berubah, dia lalu berteriak dengan lantang. "Kita lihat nanti apakah kau masih bisa berbicara seperti itu atau tidak!" Andre juga nimbrung, "Aku tahu kau cuma pura-pura tenang! Sebentar lagi kita lihat siapa yang akan tertawa!" Randika tidak peduli dan tetap terdiam. Setelah 10 menit berlalu, Randika membuka matanya. "Waktunya telah habis." Melihat Randika yang berdiri, Elang langsung panik. Namun, terdengar suara langkah kaki yang jumlahnya banyak datang dari belakang. Semua orang dari kelompok Elang telah datang! Semua orang yang ada di sana langsung bersorak gembira dan berteriak ke arah Randika. "Mati kau bajingan! Semua orang kami telah datang, jangan harap bisa pulang hidup-hidup!" Randika mengerutkan dahinya. Dari arah lift, turun seorang pria berjas hitam dan memakai kacamata hitam. Aura yang dipancarkannya berbeda dengan orang-orang ini. Randika menghela napas ketika melihatnya. Penampilan orang itu cukup keren, haruskah dia lain kali datang di saat genting dengan memakai baju seperti itu? "Kakak!" Elang segera menghampiri kakak tertuanya itu. Kemudian orang itu mengatakan, "Ada masalah apalagi kalian ini?" Melihat orang yang baru datang ini membuat Andre bernapas lega, Randika siap-siap saja kau! "Kak, kami semua tadi kalah.??? Elang langsung menunjuk ke arah Randika. "Orang itu yang menghajar kami. Dia juga mengancam akan membunuh kami dan melempar mayat kami di jalan! Kak, kau harus menghajarnya demi kehormatan kami." "Hmmm." Orang itu mendengus. Kemudian tatapan matanya menyapu ke arah orang yang menghajar bawahannya. "Dia cuma sampah!" Kemudian dia menghampiri Randika dan mengatakan, "Tidak ada orang di kota ini yang berani bermacam-macam dengan namanya Dim..." Namun, suara orang ini semakin kecil. Yang awalnya nada mengancam menjadi selembut kicauan burung. Bahkan para bawahannya tidak dapat mendengar perkataan pemimpin mereka. Andre dan Elang kebingungan, apa yang telah terjadi? Dimas melihat Randika yang tersenyum kepadanya. Dimas tidak percaya apa yang telah dilihatnya. Dia lalu mengusap-usapkan matanya dengan keras. Meskipun sudah melakukan hal itu, kenyataan tidak berubah. Ya tuhan orang itu! "Apa kau ingin melihat wajahku dari dekat?" Mata Randika sudah memancarkan aura membunuh. Takdir memang lucu, pria di hadapan Dimas ini adalah pria yang telah menghabisi geng kapak sendirian! Semua orang, termasuk Andre dan seluruh bawahan Dimas, mengira bahwa Randika akan mati hari ini. Tidak ada orang yang berani melawan kakak tertua ini. Mereka sudah berdebar-debar menanti adegan keren pemimpin mereka tetapi apa yang mereka lihat benar-benar di luar dugaan. Mereka melihat Dimas berlari ke arah Randika dan berlutut di hadapannya. "Kakak tertua, akhirnya Dimas berhasil menemuimu!" Chapter 30: Hormat pada Kakak Tertua! "Kakak tertua, aku akhirnya bisa menemukanmu!" Seluruh orang yang melihatnya terdiam. Para bawahan yang dibawa Dimas malah melihat adegan ini dengan mulut ternganga. Bukankah mereka datang untuk menghajar orang? Muka Elang sudah seperti orang bodoh. Apa-apaan ini? Kakak tertuanya berlutut di depan orang asing? Bahkan rasanya kakak tertua itu memuja pemuda itu. Apakah ini mimpi? Ekspresi Andre lebih bodoh lagi. Seharusnya situasi tidak berjalan seperti ini. Bukankah harusnya Randika yang berlutut dengan wajahnya yang babak belur? Kenapa bisa salah satu pimpinan dunia bawah tanah malah yang berlutut di hadapan Randika? Randika sendiri juga kaget. Orang ini ternyata punya akal juga, pikirnya. Randika kembali duduk di kursinya dan melihat Dimas, "Aku tidak ingat pernah membantumu, buat apa kau mencariku?" Muka Dimas penuh dengan rasa hormat, "Kalau bukan karena bantuan kakak tertua, Dimas ini sudah tidak bernyawa sejak hari itu. Meskipun kakak waktu itu hanya melakukan ''pembersihan'', justru aku tidak pernah melupakan aksi kakak tersebut." Adegan malam itu benar-benar melekat erat di pikiran Dimas. Malam itu Randika membantai geng kapak seorang diri. Tidak pernah ada dalam sejarah dunia bawah tanah yang mengatakan bahwa sebuah geng, apalagi sebesar geng kapak, hancur dalam semalam. Geng kapak sudah dipastikan hancur ketika Randika mendobrak pintu mereka. Yang membuat Dimas benar-benar kagum adalah saat pimpinan geng kapak itu mengeluarkan pistolnya. Bahkan peluru saja bisa dihindari! Bagaimana mungkin Randika itu seorang manusia? Setelah malam itu, Dimas memanfaatkan kekosongan kekuasaan dari geng kapak untuk menjadi salah satu geng terkuat di kota ini. Hanya butuh satu malam dan tatanan dunia bawah tanah di kota Cendrawasih berubah. Ini semua berkat bantuan Randika. Berkat satu pertemuannya dengan Randika itu, hidup Dimas berubah drastis. Kalau bukan karena Randika, dia pasti akan mati dibunuh oleh geng kapak. Jadi dia sangat menghormati Randika. Namun, hanya masalah waktu saja sebelum gengnya ini berpapasan dengan Randika. Jadi sebisa mungkin sejak saat dia berpisah dengan Randika, Dimas berusaha mencari dirinya untuk mendapatkan hatinya agar gengnya tidak bernasib sama dengan geng kapak. "Hei kalian! Kenapa kalian masih berdiri?" Dimas segera berbalik dan membentak ke seluruh bawahannya. "Bukankah kakak tertuaku adalah kakak tertua kalian? Berlutut sekarang juga!" Semua preman-preman ini masih bingung. Mereka saling menatap satu sama lain, tidak yakin harus melakukan apa. "Jika kalian tidak mau berlutut, kupatahkan kaki kalian satu per satu!" Bentak Dimas. Kali ini semua preman itu menuruti perkataan Dimas dan berlutut serentak. Bisa dikatakan hampir semua orang di lantai 9 ini berlutut ke arah Randika. Yang masih belum berlutut adalah Andre dan Elang. Mereka masih tidak dapat mempercayai apa yang mereka lihat. Ekspresi Andre sudah mulai berubah menjadi ketakutan. Perkembangan situasi yang seperti ini benar-benar di luar dugaannya. Mengenai apakah dia masih bisa bertahan di perusahaan Cendrawasih juga patut dipertanyakan. Glek! Andre menelan ludahnya dan terlihat menyesali perbuatannya. Bisa-bisanya dia menyinggung Randika. Meskipun sudah membentak mereka, Dimas masih melihat ada 2 orang yang belum berlutut. Ekspresinya segera menjadi marah. Elang yang melihat ekspresi Dimas itu segera berlutut, sekarang hanya Andre yang masih berdiri. Karena aku bukan bagian dari kalian, buat apa aku berlutut? Meskipun ketakutan, Andre masih belum goyah lalu Dimas terlihat membentaknya. "Kau tuli? Bukankah aku sudah menyuruh semuanya yang ada di sini berlutut? Aku tidak ngurus siapa dirimu tetapi ketika aku menyuruh semuanya berlutut, berlututlah atau kau akan kuhajar!" Duak! Saking lemasnya kakinya, Andre tidak bisa menahan tubuhnya dan berlutut. Wajahnya sudah dipenuhi oleh keringat, dia tidak tahu apa yang akan terjadi berikutnya. "Hormat pada kakak tertua!" Teriak Dimas sambil menyembah. "Hormat pada kakak tertua!" Para preman itu segera mengikuti gerakan Dimas. Para ahli parfum yang mengintip dari dalam ruangan ikut terkejut melihat adegan ini. Orang dari dunia bawah tanah sampai menyembahnya? Siapa Randika sebenarnya? Seorang petugas keamanan yang ada di lantai ini menelan ludahnya dan melaporkan apa yang dia lihat. "Keadaan di lantai 9 aman, tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Hmmm lumayan, pikir Randika. Dia lalu melihat Dimas sekali lagi. Orang ini berhasil menghemat waktunya dan tidak ada salahnya menerima hormat mereka. "Baiklah, baiklah." Randika mengibaskan tangannya dan mengatakan, "Kalian semua berdirilah." Semua orang lalu berdiri dan Randika segera menunjuk Elang dan Andre, "Kalian menyembahku sebagai kakak tertua kalian tapi di sana ada dua orang yang menganggapku musuh. Jika kalian tidak bisa satu suara maka bisa kusimpulkan kalian tidak tulus menghormatiku." Seketika itu juga, Dimas segera menghampiri mereka berdua dan mengatakan. "Dasar bajingan! Kalian berani memusuhi kakak tertuaku? Siap mati kalian?" Beberapa preman juga mengepung Elang dan Andre. Hidupku sudah di ujung tanduk! Seluruh tubuh Andre sudah basah oleh keringat. Di saat-saat menegangkan ini, dia masih sempat melihat Randika dan melihat senyuman kecilnya. Elang juga takut. Bukankah mereka adalah saudara? Kenapa mereka dengan cepat membuang dirinya, terlebih kenapa Dimas sangat menghormati orang itu? Dia berpikir bahwa hari ini adalah hari terakhirnya. Dua orang segera menahan Andre dan Elang. "Selama ini kau belajar apa ha?" Dimas pun memukul perut Elang dan dia pun terkapar di lantai. Elang segera berdiri dan membungkuk sambil meminta ampun. "Kakak tertua maafkan adikmu yang bodoh ini! Aku telah berbuat salah!" Saat membungkuk pun dia masih menerima pukulan. "Kau sudah dewasa dan masih saja berpikiran layaknya bocah gara-gara tergiur oleh uang." Kata Randika pada Elang. Kata-katanya ini menusuk hati dan membuat wajah Elang menjadi merah. "Kakak tertua, adik memang salah. Orang ini mengatakan bahwa dia ingin menghajar salah satu rekan kerjanya dan menjanjikan aku uang 25 juta setelahnya. Kakak, ini salahku karena tergiur dengan uang! Aku layak dihukum! Aku layak dihukum!" Sambil berkata seperti itu, dia menampar dirinya sebanyak 7x. Dimas meludahinya, "Cih! Nanti aku akan mengurusmu saat pulang nanti." Setelah itu, Dimas kembali menendangnya. Kali ini darah mengalir dari sudut mulut Elang. "Kak ini juga merupakan kesalahanku karena tidak bisa mengatur anak buahku sendiri." Dimas meminta maaf ke Randika. Tetapi kalimat berikutnya membuat Elang ketakutan, "Kalau kakak berkenan, kau bisa melakukan apa saja padanya nanti akan kami urus mayatnya." Ketika mendengar ini, wajah Elang sangat pucat. Randika mengibaskan tangannya. "Aku tidak mengerti bagaimana caranya kau mengurus berandalan di kelompokmu. Dia anak buahmu jadi hukumlah sesuai hukummu." Ketika mendengar ini, Elang bernapas lega. "Terima kasih kak!" Dimas segera membungkuk. "Terima kasih kakak tertua!" Elang juga segera membungkuk. Sekarang tatapan mata Randika jatuh pada Andre. Wajah Andre sudah putih sambil dipenuhi oleh keringat, matanya dipenuhi rasa takut dan hidungnya sudah berair. Kakinya bahkan tidak bisa berhenti bergetar. "Bagaimana Tuan Andre? Masih mau memecatku dari sini?" Tanya Randika. "Tidak, aku tidak akan berani." Andre segera menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bahkan kau bisa memecatku sekarang juga." "Ha? Bagaimana mungkin? Bukankah manajer personalianya Anda?" Di samping Randika, Dimas terlihat marah dengan cara Andre menjawab. "Berani tidak menghormati kakak tertua? Kubunuh kau!" Dimas melayangkan pukulan ke perut Andre. Andre pun terkapar di lantai kesakitan. "Berdiri!" Kata Dimas dengan nada dingin. Melihat Andre yang tidak segera berdiri, dua orang preman menopang dan memegangi tubuh Andre. "Bedebah, kubunuh kau hari ini demi kehormatan kakak tertua!" Dimas kembali memukulnya dan Andre sudah meringkik kesakitan. Karena Andre bukan anak buahnya, Dimas tidak segan-segan memukulinya dengan keras. Selama dia tidak membunuh orang ini seharusnya tidak ada masalah. Kalau pun orang ini terbaring di rumah sakit bukankah itu lebih bagus daripada dibunuh Randika? "Maafkan aku Randika! Aku salah! Aku seharusnya tidak mengusik dirimu ataupun wanitamu. Aku orang bodoh yang tidak sadar akan posisinya! Aku seharusnya tidak mengirim orang untuk mencelakaimu!" Andre benar-benar menangis dengan semua kejadian buruk hari ini. Randika tampak menutup matanya, seakan-akan tidak peduli dengan omongannya. Andre sudah merasa tubuhnya remuk. Melihat Randika yang menutup matanya, hatinya segera mengepal. "Bajingan, kau kira kau itu anjing?" Dimas segera memeriksa sepatunya. Di tengah-tengah penyiksaannya, Andre ternyata mengompol. "Tuan Randika tolong lepaskan aku. Aku hanya orang kecil dan tidak punya malu. Umurku masih muda dan aku tidak ingin mati." Andre sudah berurai air mata dan ingusnya sudah menetes-netes. "Aku berjanji tidak akan mengejar Inggrid lagi tuan, aku tidak akan menyentuh wanitamu lagi. Aku tidak akan mengusik kehidupanmu lagi. Tolong lepaskan aku tuan." Pada saat ini, Randika berkata dengan suara pelan. "Apa hubunganku dengan Inggrid?" Andre terkejut dan segera mengatakan, "Suami istri! Kalian berdua adalah pasangan suami istri!" "Ulangi lagi?" Kata Randika sambil mengerutkan dahinya. Melihat ekspresi Randika, Andre segera merubah kata-katanya. "Kalian berdua adalah atasan dan bawahan. Inggrid adalah bos, sedangkan Anda adalah karyawan perusahaan ini." "Terus?" Randika masih mengerutkan dahinya. Andre sudah ingin menangis, dia sudah tidak tahan dengan situasi ini. "Aku tidak tahu hubungan Anda dengan Inggrid yang sebenarnya. Aku hanya orang asing lainnya." "Itu benar, kau tidak tahu apa-apa tentang hubungan kami." Randika kembali menutup matanya. "Aku tidak ingin melihatmu di sekitar Inggrid lagi." "Anda tidak perlu khawatir, aku akan mengundurkan diri saat ini juga." Andre segera ingin pergi dari sini. Tetapi, lagi-lagi ekspresi Randika kembali masam. "Memangnya aku menyuruhmu untuk berhenti?" Kata Randika. "Kalau-kalau perusahaan ini mengalami kekacauan, kau tahu sendiri hukuman apa yang menantimu." Aku tidak diperbolehkan keluar dari pekerjaan ini dan masih harus bertemu dengan setan ini? Andre ingin menangis tetapi dia tidak bisa melawan perkataan Randika dan mengiyakan. "Dan kejadian apa yang terjadi hari ini?" Tanya Randika. "Tuan Randika tidak perlu khawatir, hari ini damai seperti biasanya." Balas Andre. "Terus kenapa kau terluka?" Andre segera membalas, "Aku terjatuh dari tangga karena terpeleset!" Ketika Dimas melihat bahwa Randika sudah puas, dia menyuruh 2 bawahannya yang memegangi Andre untuk melepasnya. "Pergi dari sini, berani mengganggu kakak tertua lagi kubunuh kau!" Andre segera membungkuk terima kasih dan lari menuju lift. Setelah itu, Dimas melihat Randika yang berbalik menuju ruangannya. "Kak? Mau ke mana kau?" Teriak Dimas. "Aku ada urusan, sebaiknya kau juga pergi." Balas Randika. "Ah?" Dimas masih bingung dengan tanggapan Randika. Chapter 31: Diam! Ada Seseorang di Luar! Malam hari. Ketika Randika kembali ke rumah, dia menyapa Ibu Ipah dan langsung menuju ke toilet yang ada di lantai 2. Ketika dia membuka pintu tersebut, dia malah melihat sesosok orang yang sedang duduk mengamati dirinya. Randika tertegun. Inggrid memakai baju putih transparan, celana dan celana dalamnya dia gulung hingga ke kaki. Kaki dan paha yang putih itu nampak indah sekali. Namun sayang, pemandangan ''gua'' tertutup oleh kausnya. Inggrid sendiri juga tertegun. Dia tidak menyangka Randika akan membuka pintu toilet tersebut. Dua orang ini saling bertatapan dan masing-masing juga tidak mengatakan apa-apa. Sesaat kemudian, Inggrid membuka mulutnya dan terlihat sudah siap berteriak sekuat tenaga. Teriakannya ini pasti akan terdengar hingga ke pelosok rumah. Randika yang melihat Inggrid hendak berteriak, mengerti bahwa dirinya dalam situasi berbahaya. Apalagi suara langkah kaki Ibu Ipah terdengar dari belakang. Dalam sekejap, tubuh Randika bagai panah melesat. Sesaat sebelum teriakkannya itu keluar, Randika berhasil menutup mulut Inggrid. "Ah!" Saat suara teriakan itu keluar, itu tidak lebih dari suara kicauan burung. Inggrid segera memberikan tatapan mematikan ke Randika sambil terus meronta-ronta dan berteriak. "Sssttt!" Randika menyuruh Inggrid diam. Namun yang lebih mengejutkan lagi, Inggrid tiba-tiba menutup mata Randika dengan tangannya. Posisi mereka saat ini sangat canggung. Tangan kanan Randika menutup mulut Inggrid dengan rapat, sementara Inggrid sendiri menutupi mata Randika dengan tangannya. Randika sekarang tidak bisa melihat dan Inggrid tidak bisa bersuara. Mata cantik Inggrid sudah lama terpenuhi oleh api kemarahan, Dasar pria tidak tahu diri! Bisa-bisanya dia aji mumpung ketika aku tidak bisa bergerak bebas? "Diamlah, Ibu Ipah ada di bawah." Bisik Randika. "Hum." Inggrid pura-pura tenang dengan cara menghela napas. Tiba-tiba dia menggigit tangan yang menutupi mulutnya itu! "Ah!" Randika langsung kesakitan, dia tidak bisa menahan teriakannya. Dia sampai lupa bahwa Ibu Ipah ada di luar. Inggrid yang sudah terlepas dari jeratan maut Randika masih menatapnya dengan tajam. Randika yang masih kesakitan terkejut melihat bekas gigi yang ada di tangannya itu. "Memangnya kau anjing?" Kata Randika sambil marah. "Jangan lihat ke sini!" Inggrid membentaknya sambil menutupi daerah-daerah sensitifnya. "Keluar sekarang juga!" Randika kemudian melihat Inggrid yang tidak bisa bergerak itu. Kenapa harus keluar, pikirnya. "Hmm? Kenapa aku harus keluar?" Senyum nakal naik di wajah Randika. "Apakah tidak boleh seorang suami melihat istrinya sedang buang air kecil? Bukankah akhirnya aku akan melihat hal yang lebih memalukan lagi?" "Mesum!" Inggrid menatapnya tajam. "Jika kau tidak keluar, aku akan memanggil Ibu Ipah!" Ekspresi Randika terlihat datar, "Kalau begitu aku akan menutup mulutmu lagi. Lagipula, aku tidak terlalu peduli lagi kalau Ibu Ipah datang kalau itu bisa membuatmu lebih bergairah." Ketika mendengar itu, Inggrid segera mengambil botol sabun di sampingnya dan hendak melemparnya. "Keluar dari sini!" Randika terkejut, "Oke, oke, aku akan keluar! Jangan melempar barang!" Ketika Randika keluar dari ruangan tersebut, dia tersenyum pahit. Dia bahkan belum mendapatkan giliran buang air kecilnya. Untungnya, banyak toilet di rumah ini jadi Randika tinggal milih salah satu yang ada. Inggrid yang masih ada di dalam toilet sudah meluap-luap. Dalam pikirannya, Randika si bajingan itu pasti sengaja masuk ke dalam toilet ini. Dia tidak sabar menamparnya setelah keluar dari sini. Ketika dia selesai, Inggrid tidak ingin berurusan dengan Randika lama-lama. Setelah membentaknya beberapa menit, dia langsung masuk ke kamarnya. Inggrid telah mengalami hari yang melelahkan di kantor, Randika malah memperburuk harinya dengan bertingkah seperti itu. Dia hanya ingin menenangkan diri di kamar, mandi lalu tidur. Randika juga kembali ke kamarnya. Ketika dia hendak mengontak Yuna, telinganya mendengar sesuatu! Seseorang membobol masuk rumah ini! Randika tidak mau memancarkan auranya begitu saja, dia memutuskan untuk mengamati situasi karena dia masih belum tahu apa target orang itu. Jendela yang ada di lorong lantai 2 itu terbuka dan suara langkah kaki terdengar. Suara langkah kaki itu pelan tetapi Randika memiliki indera yang super jadi dia bisa mendengar segalanya. Dari langkah kakinya itu, terdengar menjauh dari kamarnya. Kamar Inggrid pasti menjadi targetnya! Randika segera mengerutkan dahinya dan melesat cepat menuju kamar Inggrid. Ketika membuka pintunya, Randika segera memeriksa seluruh ruangan. Tetapi dia tidak dapat melihat siapa-siapa di sana dan jendela kamar Inggrid masih tertutup. Lampu kamar mandi masih menyala. Pada saat ini, tiba-tiba lampu kamar mandi mati dan suara pintu terbuka terdengar. Seketika itu juga, sebuah panah melesat hendak masuk dari celah pintu tersebut! Namun, ketika lampu kamar mandi itu mati, Randika sudah melesat duluan ke arah kamar mandi dan menyelinap masuk di detik yang sama saat pintu itu terbuka. Inggrid, yang hanya berbalut handuk, kaget ketika melihat sosok Randika yang tiba-tiba muncul di hadapannya. "Kauˇ­." Bahkan sebelum Inggrid selesai ngomong, Randika sudah menggotongnya. Panah itu kemudian menancap di dinding. "Dasar pria mesum, lepaskan aku!" Inggrid, yang masih belum sadar akan situasinya, meronta-ronta ketika digotong oleh Randika. Pria ini benar-benar berani mengintipnya saat lagi mandi! "Diam! Ada seseorang di luar!" Kata Randika dengan suara pelan. Inggrid sedang mandi jadi dia tidak menyadari apa-apa. Saat dia hendak handukan, tiba-tiba lampunya mati oleh karena itu dia berjalan keluar untuk menyalakannya kembali. Sekarang, hanya ada cahaya dari luar yang menerangi kamar mandi ini. Randika kembali memeriksa seluruh ruangan ini. Ternyata, kunci jendela tepat di luar kamar mandi itu telah dirusak. Tidak ada jejak sepatu di jendela tersebut. Musuh pasti hanya memanfaatkan celah jendela itu untuk mematikan lampu dan menyerang! Sekarang dia berada di posisi buruk. Dia berada di bawah cahaya bulan sedangkan musuhnya masih bersembunyi di tengah kegelapan. "Randika aku tidak percaya kau sampai melakukan hal seperti ini. Kau memang pria tidak tahu diri!" Inggrid masih sibuk menutupi tubuhnya, dia tidak percaya sama sekali terhadap kata-kata Randika. "Lepaskan aku!" Melihat Inggrid yang meronta-ronta, dia memutuskan untuk memeluknya dengan erat dengan wajahnya bersandar di dadanya. Sebelum ini, Inggrid baru saja selesai mandi dan tubuhnya hanya dililit oleh handuk. Tidak diragukan lagi bahwa aroma yang dipancarkannya sangat harum. Di bawah pelukannya Randika, tubuh montok Inggrid ini terasa empuk. Randika yang masih berpakaian saja tetap bisa merasakan kelembutan Inggrid. Apalagi Inggrid terus meronta-ronta jadinya handuknya itu semakin lama semakin merosot dan semakin banyak area yang tidak tertutupi. Randika menghela napas. Inggrid memang wanita luar biasa, dadanya yang besar itu menempel erat di dadanya. Kaki putihnya yang panjang melilit salah satu kakinya dan perutnya yang ramping terasa lembut ketika dia peluk. Inggrid sudah ingin menangis. Dia merasakan napas Randika yang menggebu-gebu dan ototnya yang kekar itu tetap terasa walaupun dia memakai baju. Apakah kesuciannya hari ini akan hilang? Pria ini memang tidak tahu diri! "Lepaskan aku! Kalau tidak, aku akan membencimu!" Inggrid semakin keras meronta. Pada akhirnya Randika tetaplah lelaki sehat. Gerakan meronta Inggrid ini justru memberikan stimulus tersendiri pada dirinya. Dan di situasi menegangkan seperti ini, dia tidak bisa mengendalikan ''adiknya'' itu. "Kau!" Inggrid segera memucat. Dia merasakan ada sesuatu yang mengeras di bagian bawahnya. "Jika kau terus meronta seperti ini, kita akan mati!" Randika pura-pura marah dan memasang wajah garangnya agar Inggrid tidak memperparah situasi. Ketika Inggrid melihat ekspresi Randika yang marah itu, dia ketakutan. Dia tidak berani bergerak lagi. Melihat Inggrid yang sudah tidak melawan dirinya, Randika menghela napas lega. Sekarang konsentrasinya bisa sepenuhnya tertuju pada si penyerang. Musuh masih belum bergerak kembali. Randika mengintip dari pintu untuk mengamati situasi. Di saat dia melakukannya, ada sesosok bayangan di jendela! Musuh menyadari keberadaan Randika dan langsung memasang penutup wajahnya. "Awas!" Randika kaget. Dia segera memeluk erat Inggrid dan berguling di lantai. Senjata lempar yang digunakan musuh langsung tertancap di lantai. Inggrid langsung terbeku. Senjata pembunuh itu tertancap di lantai persis di sampingnya. Randika mengatakan sejujurnya! Pada saat ini, Randika mengeluarkan keringat dingin. Sepertinya sebuah panah kecil berhasil mengenai bahunya. "Huahaha!" Tawa keras dan jahat itu berasal dari pembunuh itu. Senjata yang dia bawa hari ini semua adalah senjata beracun termasuk panah yang menancap di bahu Randika. Riwayat Randika sudah tamat kalau tidak mendapatkan penawarnya. "Randika! Kau tidak apa-apa?" Tanya Inggrid dengan khawatir. Dia melihat wajah Randika yang dipenuhi keringat dan merasa cemas. "Tidak apa-apa." Di nada bicara Randika, ada sedikit rasa sakit yang dia tahan. "Mati kau Ares!" Setelah tawa itu selesai, sejumlah panah beracun kembali mengarah kepada Randika. "Randika! Tidak!" Inggrid sudah menangis di tahap ini. Bagaimana tidak? Sejumlah panah itu kembali mengenai Randika. "Hahaha! Dia dijuluki dewa perang tapi dia sama sekali tidak berdaya sekarang. Akan kuakhiri kisah legendamu itu!" Pembunuh ini pun mendekati Randika sambil membawa pisau. Inggrid, yang masih dipeluk erat Randika walau sudah pingsan, merasa ketakutan melihat pembunuh itu mendekati mereka berdua. "Randika! Cepat bangun!" Inggrid menggoyang dan menampar Randika tetapi tidak ada reaksi. Sosok pembunuh itu sudah dekat dan dia mulai mengayunkan pisaunya yang panjang itu menuju kepala Randika! Tetapi dalam sekejap, Randika membuka matanya, menampar lantai dengan tangannya dan melesat maju menuju si pembunuh! Pembunuh ini tidak menyangka bahwa Randika masih bergerak dan dia sudah tidak bisa menghentikan serangannya. Randika yang melayang itu segera menendang keras pembunuh itu. Si pembunuh terpental dan memegangi dadanya yang seakan-akan telah dipukul oleh palu. Sambil terengah-engah, dia menatap Randika dengan muka tidak percaya dan mengatakan, "Kauˇ­. Belum mati?" "Terkejut?" Tenaga dalam Randika sudah bersirkulasi. Panah yang menancap di tubuhnya tiba-tiba terjatuh hanya karena kontraksi ototnya. Bahkan, tenaga dalamnya Randika sudah melindungi dirinya sejak tadi. Hasilnya, panah itu hanya mengenai permukaan kulitnya saja dan tenaga dalamnya menahan laju racun agar tidak bisa menyebar. Kau pikir salah satu dari 12 Dewa Olimpus bisa dikalahkan hanya dengan beberapa panah beracun? "Kalau aku tidak pura-pura mati dan keracunan, bagaimana bisa aku membuatmu maju?" Kata Randika dengan santai. "Jika kau terlalu jauh dariku, aku takut aku tidak bisa menangkapmu hidup-hidup." Randika menghela napas dalam-dalam dan melaju pesat menuju pembunuh itu. Tidak pakai lama, karena sudah tahu misinya telah gagal, si pembunuh itu tidak ragu-ragu untuk segera kabur dari sana. Namun, Randika sudah mengerti niatan musuh dan memblokir pintu keluar. Tiba-tiba, si pembunuh itu mengangkat tangannya dan sejumlah panah melesat ke arah Inggrid. Mau tidak mau si pembunuh melakukan tindakan pengecut ini. Randika tidak memiliki pilihan dan segera berlari menyelamatkan Inggrid. Si pembunuh memanfaatkan kesempatan ini untuk kabur. Ketika Randika berhasil menyelamatkan Inggrid dan ingin mengejarnya, dia menatap Inggrid yang masih tergeletak di lantai. Dia masih tidak tahu misi pembunuh itu sebenarnya. Kalau misinya adalah Inggrid, dia takut apabila dia mengejar pembunuh itu akan ada pembunuh lain yang menyerang. Namun jika dia tidak mengejarnya, Randika akan kehilangan informasi berharga mengenai siapa dalang sebenarnya dari kejadian ini. Dari perkataan pembunuh tadi, dirinya merupakan targetnya jadi pembunuh itu adalah petunjuk penting bagi dirinya. Mungkin dia bisa memberikan informasi banyak tentang musuhnya. Di tengah-tengah keraguannya, terdengar sebuah suara dari pintu luar. "Jangan khawatir tentang keselamatan nona, lakukan apa yang kau lakukan." Mendengar hal ini membuat Randika bernapas lega, dia lalu berkata pada Ibu Ipah. "Sisanya aku serahkan padamu!" Setelah mengatakan itu, Randika segera melompat keluar dari jendela dan menjadi serigala yang memburu mangsanya. Chapter 32: Organisasi Jeratan Neraka Pembunuh itu berlari sekencang mungkin. Meskipun dia cepat, gerakannya itu terlihat lambat di mata Randika. Terlebih, dia sempat menendang dada pembunuh itu sebelumnya jadi musuhnya itu tidak berada di kondisi puncaknya. Jadi, jika dirinya tidak bisa mengejar si pembunuh itu, nama Ares tidak pantas disandang oleh Randika. Kedua orang ini berlari bagaikan setan. Si pembunuh memanfaatkan sudut-sudut jalan yang gelap menuju ke pusat kota. Karena perumahan Inggrid ini masih tergolong baru, lampu-lampu jalan masih sedikit dan mobil jarang lewat. Randika mengejar pembunuh itu sekuat tenaga. Ketika pembunuh itu menoleh ke belakang, aura membunuh dari tatapan mata Randika membuatnya ngeri. Jarak di antara mereka sudah dekat. Pembunuh itu tidak ragu-ragu untuk mengalirkan sisa tenaga dalamnya menuju kakinya dan melesat lebih cepat. Randika sudah hampir berhasil menangkap pembunuh tersebut, tinggal beberapa detik lagi dia akan berhasil. Namun tiba-tiba, pembunuh itu membajak sebuah mobil dan melempar keluar orang yang mengendarainya dan langsung menancap gas dengan sekuat tenaga. Randika mengerutkan dahinya. Apa pun caranya yang kau pakai, kau tidak akan lepas hari ini. Pembunuh itu tidak memiliki pilihan lagi, tenaga dalamnya sudah habis jadi dia terpaksa mencuri mobil. Terlebih, aura membunuh Randika benar-benar membuatnya ngeri. Pembunuh itu segera mencapai kecepatan 120 km/jam. Selagi dia mengebut, dia mengintip dari kaca samping dan melihat tidak ada mobil yang mengejarnya. Dia bernapas lega. Namun, tiba-tiba ada sesosok manusia yang mengejarnya dari belakang dan perlahan mendekatinya. Bahkan dengan kecepatan seperti ini, orang itu masih bisa mengimbanginya? Orang itu benar-benar seperti setan! Pembunuh ini mulai panik. Dia tidak peduli dengan rambu lalu lintas dan menerobos semuanya. Randika masih mengejarnya dengan ketat, dia bahkan menggunakan kecepatan mobil lain untuk beristirahat sejenak. Dalam sekejap mereka sudah mencapai Jalan Macetan dan Randika sudah hampir mengejar mobil tersebut. Namun, tiba-tiba pembunuh itu memanfaatkan titik buta setelah dia berbelok dan meloncat keluar dari mobil. Mobil tersebut segera menabrak dinding salah satu gedung dengan kecepatan tinggi. "Ah!" Para pejalan kaki yang ada di sisi jalan terkejut melihat kecelakaan tersebut. Pembunuh ini memanfaatkan kerumunan orang dan lari sekuat tenaga. Melihat tidak aja jejak Randika setelah sampai di suatu gang, dia menghela napas lega. Dia segera memegangi dadanya yang terluka dan memuntahkan darah seteguk. "Aresˇ­ Kau memang luar biasa." Pembunuh ini merasa bahwa targetnya melebihi apa yang dia bayangkan. "Aku harap kau masih mau bermain denganku." Namun tiba-tiba terdengar suara dari arah atasnya. Dia mendongak dan melihat Randika ada di salah satu atap gedung. Randika nampak santai sambil meletakkan tangannya di saku celana. Pembunuh ini segera menghela napas panjang dan sudah menerima nasibnya bahwa dia sudah tidak bisa kabur. Mengeluarkan sebuah pisau, dia menatap dingin Randika. "Ha? Masih mau melawan? Jangan menyesali perbuatanmu ini kelak." Kata Randika. Ketika itu juga, pembunuh itu melempar sebuah bola kecil ke arah Randika. Seketika itu juga bola itu meletus dan asap hitam segera menyebar. Di tengah-tengah asap itu, sebuah kilau pisau keluar. Pembunuh itu dengan cepat melancarkan serangannya! Tetapi sayang, bahkan bayangan Randika pun tidak bisa dia sentuh. Di saat dia menusukkan pisaunya keluar dari kepulan asap, Randika sudah memegang pergelangan tangannya dan menendangnya dengan keras. Pembunuh itu terjatuh dan terkapar di tanah dengan mulutnya yang terus mengeluarkan aliran darah. Randika dengan perlahan mendekatinya. Ketika pembunuh itu mendongak, Randika sudah berada di atasnya. Saat dia hendak mengeluarkan pisaunya lagi, Randika sudah menginjak tangannya dan menendang pisau tersebut. Ketika dia mau berbalik badan dan berdiri, sebuah pukulan sudah melayang menuju mukanya dan dia terpental kembali. "Uhuk!" Pembunuh ini tidak pantang menyerah dan berusaha untuk bangun kembali, tetapi kakinya sudah tidak bertenaga. "Jadi ini kekuatan Ares? Aku benar-benar meremehkan dirimu." Katanya. "Siapa yang mengirimu?" Tanya Randika. "Kau kira aku akan mengatakannya?" Pembunuh itu tersenyum. "Mustahil orang seperti kita menjual nama penyewa kita." "Kalau begitu apa boleh buat." Randika memasang wajah yang datar. "Di tangan Ares, tidak ada mulut yang tidak berbicara." Kata Randika. "Kau ingin menyiksaku? Tulangku lebih keras daripada tinjumu!" Kata pembunuh itu sambil tertawa. Randika tidak membalasnya, dia hanya mengepalkan tangan kanannya. Dia langsung melayangkan sebuah pukulan ke pergelangan pembunuh itu dan meremukkan tulangnya. Pembunuh itu merasakan rasa sakit yang luar biasa. Hebatnya, dia hanya menggertakan giginya dan tidak mengeluarkan satu suara pun dari mulutnya. Randika juga sama, setelah pergelangan tangan dia lalu meremukkan tulang kaki orang tersebut. Setelah beberapa saat menahan rasa sakit, pembunuh itu berkata sambil tertawa. "Cuma segini keahlian Ares dari 12 Dewa Olimpus?" Randika menatapnya dengan dingin, "Aku khawatir kau akan mati karena syok setelah ini." Ketika mendengar hal itu, pembunuh ini langsung berwajah pucat. Dia merasakan firasat buruk. Randika kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dari sakunya dan mengeluarkan jarum akupunturnya. Randika lalu berkata dengan nada serius. "Aku harap kau bisa menahan rasa sakit iniˇ­ Semoga tulang kerasmu membantumu melaluinya." Setelah itu, Randika menusukkan beberapa jarum ke tubuh pembunuh tersebut. Dalam sekejap, tubuh pembunuh ini merasa sangat panas dan setiap tetes darahnya menjadi mendidih. "Ah!!!" Pembunuh itu akhirnya berguling-guling kesakitan. "Siapa yang mengirimu?" Tanya Randika sekali lagi. Melihat pembunuh ini menggertakan giginya dan menolak memberitahunya, Randika mengeluarkan beberapa jarum lagi. Pembunuh ini masih berguling-guling kesakitan, dia merasa tubuhnya sedang direbus. Randika lalu memeganginya dan menusukan jarumnya di bagian leher. Ketika menancap, pembunuh ini langsung meringkuk ke atas membuat figur jembatan. Dia merasa setiap otot dan seluruh tubuhnya sedang digigit oleh ribuan semut merah. Dia juga merasa bahwa setiap tetes darah di tubuhnya digigit semut dan sesuatu hendak keluar dari mulutnya. Pembunuh ini membuka mulutnya lebar-lebar dan matanya terbelalak kemudian dia akhirnya terjatuh ke tanah lagi. "Siapa yang mengirimmu?" Randika terus bertanya sambil menancapkan jarumnya lagi. "Jeratan! Jeratan Neraka!" Pembunuh ini sudah di ambang batas dan mengeluarkan semua informasi yang dia tahu. Jeratan Neraka? Randika terkejut mendengarnya. Dia belum pernah mendengar organisasi tersebut. Apabila organisasi tersebut bisa menyewa pembunuh bayaran, dia pasti memiliki nama di dunia bawah tanah. Randika mengerutkan dahinya dan bertanya, "Organisasi apa itu?" Pembunuh itu masih kesakitan dan berteriak, "Cabut jarumnya! Cabut!" Randika kemudian mencabut beberapa jarum dan pembunuh ini segera menarik napas bagai sudah keliling dunia. "Jadi, seperti apa itu Jeratan Neraka?" Pembunuh itu kemudian menatap Randika sambil tersenyum kecil, dengan napas terengah-engah dia mengatakan. "Sayangnya kau tidak akan pernah tahu." Randika merasakan firasat buruk ketika mendengarnya. Dia lalu menyalurkan tenaga dalamnya ke tangannya dan memeriksa leher pembunuh itu. Dengan sentakkannya, pembunuh itu memuntahkan gigi palsu. "Kau sudah terlambat!" Pembunuh itu tertawa keras sambil busa hitam keluar dari mulutnya. Tertawa terus menerus dan busa itu mulai menutupi seluruh muka pembunuh tersebut. Kemudian dia terkapar di tanah dan tubuhnya menjadi kurus kering dan membusuk di depan Randika. Setelah itu, tubuh ini hanya meninggalkan genangan darah saja! Randika lalu mengambil gigi palsu yang dimuntahkan sebelumnya dan memeriksanya, "Racun asam super?" Hanya dengan setetes saja dari asam tersebut, seekor gajah saja bisa mati dan tubuhnya bisa larut dalam sekejap. Ini adalah racun super. Agar tidak membocorkan informasi ketika ditangkap, racun seperti ini biasanya diberikan kepada pembunuh bayaran ataupun mata-mata. Ketika mereka tertangkap, mereka hanya perlu menggigit gigi palsu mereka itu dan mati tanpa memberitahu informasi apa pun. Yang lebih menjadi fokus Randika adalah racun seperti ini sering dipakai oleh Bulan Kegelapan. Bulan Kegelapan memberikan racun ini kepada para bawahan Randika jadi dirinya paham benar. Hanya dalam sekejap saja, pembunuh tersebut sudah menjadi genangan darah. Randika mengerutkan dahinya ketika berjalan meninggalkan lokasi. Jeratan Neraka pasti ada hubungannya dengan Bulan Kegelapan. Apakah Bulan Kegelapan berhasil memanipulasi Jeratan Neraka atau Bulan Kegelapan menyewa Jeratan Neraka untuk keperluan pribadinya? Semua masih teka-teki dan potongan informasinya masih kurang. Sambil memegang gigi palsu tersebut, dia segera menghancurkannya dengan bantuan tenaga dalamnya. Untuk sekarang, dia harus mencari informasi mengenai Jeratan Neraka. "Bulan Kegelapan di mana dirimu?" Randika bergumam sambil dia berjalan keluar dari gang itu. Dia merasa bahwa Bulan Kegelapan memantau dirinya dari dalam kota Cendrawasih. Ketika dia hendak pulang, pintu samping gedung yang ada di sebelahnya terbuka! Gedung itu adalah sebuah bar. Dari dalam sana keluar sesosok wanita yang jalannya compang-camping dan jatuh tepat di pelukan Randika! Chapter 33: Aku Suka dengan Perempuan yang Lebih Tua Sosok perempuan ini langsung jatuh di pelukan Randika. Dia langsung berusaha menopang perempuan ini yang kelihatannya mabuk berat karena kaki perempuan itu terlihat lemas. Setelah merasakan beberapa detik dada perempuan itu yang menempel di perutnya, Randika segera berusaha membangunkannya. "Hei, hei, bangunlah!" Perempuan itu mendongak dengan sekuat tenaga dan seketika itu juga Randika terkejut melihat wajahnya. "Elva?" "Ah?" Randika terkejut melihat ''temannya'' ini. Elva memakai baju sexy bukan seragam biasanya jadi awalnya dia tidak menyadari ketika dia jatuh di pelukannya. Yang membuatnya heran, salah satu pentolan dunia bela diri seperti Elva mengapa bisa tampak lemah seperti ini? Elva sendiri merasa familiar dengan muka yang berusaha membantunya berdiri ini. Sebelum ini, Elva mengalami hari yang buruk dalam pekerjaannya jadi dia datang ke bar untuk mabuk-mabukkan. Tanpa diduga, Elva menjadi sorotan beberapa preman di sana. Elva jelas tidak takut dengan mereka dan berusaha cuek. Tetapi minumannya yang dia minum ternyata telah diberi obat! Ketika obatnya mulai bekerja, para preman itu menghampirinya. Di bawah pengaruh obat ini, kekuatan Elva menjadi kurang dari 10%. Dia pun berusaha mencari pintu keluar sambil berhadapan dengan para preman tersebut. Yang menerjangnya lumayan banyak dan musik keras serta pencahayaan yang remang membuat dunia di sekitarnya seakan-akan berputar. Setelah berhasil menghajar 2 orang, dia melihat celah dan langsung lari menuju luar gedung. Namun pada akhirnya dia tidak bisa melawan pengaruh obat tersebut dan kehilangan tenaganya saat berjalan di luar. Ternyata, orang yang dia tabrak itu kebetulan adalah Randika. Melihat Elva yang aduhai ini, pikiran Randika mulai ke mana-mana. Dia segera menyeret Elva ke tempat aman sambil berpikiran kotor. Hmmmˇ­. Lumayan juga dia! Figur Elva sangat bagus terutama pinggangnya yang ramping yang sedang dia pegang. Pinggangnya terasa halus dan empuk. Tangan Randika tidak bisa tidak mencuri kesempatan di saat seperti ini, dia meremas dada Elva dan terkejut. "Wah bukannya dulu ini kecil? Ternyata boleh juga punyamu!" Tangan Randika yang meremas itu tidak bisa menggenggam seluruh dada Elva. Elva yang pandangannya kabur merasa bahwa dia telah dipegang-pegang oleh orang yang membantunya. Dia tidak menahan rasa amarahnya dan berusaha mengembalikkan pandangannya. Setelah berusaha keras ternyata dia mulai sadar bahwa orang itu adalah Randika. "Kau! Lepaskan aku!" Kata Elva dengan pelan. Randika masih meremas-remas dadanya jadi desahan Elva ini gara-gara teknik dewanya atau pengaruh obat siapa yang tahu? "Kalau aku melepasmu, yakin bisa berdiri? Kau akan terjatuh ke tanah." Kata Randika sambil tersenyum. "Yakin ingin aku melepasmu?" Mendengar ini Elva berusaha menjejakkan kakinya di tanah dan menyadari bahwa dia sudah tidak bertenaga. Jika bukan karena bantuan Randika, dia pasti sudah tergeletak di tanah. "Kalau begitu, cepatlah pergi dari sini." Kata Elva dengan susah payah. Randika kembali berjalan lagi. Elva tahu bahwa sekarang waktu adalah kuncinya. Meskipun dia sudah lemas, dia masih bisa merasakan tangan Randika yang nakal itu. "Tolong berhenti menyentuhnya." Randika tidak terlalu peduli dengannya dan berkata sambil tersenyum. "Aku tidak tahu bahwa kau memiliki tubuh yang bagus apalagi dadamu ini. Aku suka perempuan sepertimu, apakah lebih baik kita menjadi Teman Tapi Mesra (TTM)?" Kemudian tangan Randika kembali meremas Elva. "Berani-beraninya kau melakukan ini!" Elva merasa dirinya marah tetapi suaranya begitu pelan jadi ancamannya itu tidak menakutkan sama sekali. "Jangan malu seperti itu. Baiklah aku tidak menyentuhmu lagi." Kata Randika sambil tersenyum nakal. "Aku sebenarnya suka dengan perempuan yang lebih tua. Tidak peduli aku yang di atas ataupun di bawah, aku bisa menjamin kepuasanmu. Jika kau tidak puas maka kau boleh tidak memanggilku lagi. Jadi bagaimana? Apakah kita TTM?" Elva kehabisan napas. "Aku tidak sudi berteman denganmu, jika aku sudah pulih akan kupotong tanganmu itu!" Perempuan ini keras kepala juga, sudah jelas dia tidak bisa apa-apa tanpa bantuanku ini malah dia mengancam memotong tanganku! "Ulangi lagi tolong, aku tidak mendengarmu." Randika kemudian menempelkan mukanya ke Elva. "Kau suka denganku? Jadi kau mau mengatakan bahwa kau mau menjadi TTM denganku bukan?" Hati Elva mengepal, dia benar-benar membenci pria ini tetapi dia yang sekarang tidak bisa apa-apa. Pada saat ini, sekumpulan preman keluar dengan terburu-buru dari pintu samping bar. Mereka segera melihat bahwa mangsanya sedang dituntun oleh seorang pria. "Kak di depan! Jangan biarkan wanita itu kabur!" "Hei kau! Berhenti sekarang juga!" Para preman itu segera mengepung mereka berdua. "Hei kau, wanita itu adalah teman kami." Randika mengecek situasi sambil terus menuntun Elva. Dia terlihat enggan menyerahkan Elva. "Kukatakan sekali lagi, tinggalkan wanita itu atau kupatahkan kakimu!" Randika pura-pura takut, "Tunggu, tunggu, aku hanya menemukan perempuan ini di tanah tadi." "Aku tidak peduli dengan nasib burukmu ini, karena kau berusaha menyembunyikan wanita kami maka hari ini kau akan mati!" Preman itu segera mencabut pisaunya dan mengarahkannya kepada Randika. Randika yang masih sandiwara ini berkata dengan suara pelan kepada Elva. "Bagaimana? Kau masih mau menjadi temanku?" Elva menatapnya dan tidak menjawab apa-apa. Bajingan ini memanfaatkan situasi ini untuk memerasnya? "Karena aku baik hati, aku akan memberikanmu 3 detik untuk pergi dari sini atau nyawamu benar-benar akan melayang!" Melihat Randika yang masih tidak lari, preman ini sudah tidak sabar dan mengancamnya sekali lagi. "Ah!" Randika terlihat buru-buru dan meletakkan Elva di tanah. "Maafkan aku kawan, aku hanya tidak tega melihat perempuan cantik ini tergeletak tadi. Karena dia adalah wanitamu, ambilah kembali." Setelah mengatakan itu, Randika berbalik dan hendak pergi. Elva tertegun. Bisa-bisanya pria itu meninggalkan dirinya. "Kau menyebut dirimu pria?" Teriak Elva dengan sekuat tenaganya. Randika yang masih membelakangi Elva tersenyum. Berbalik, Randika berkata pada Elva. "Jadi kau sepakat?" "Apa yang kita sepakati?" Elva terlihat bingung. Randika pura-pura terlihat malu dan mengatakan, "Aku suka dengan perempuan yang lebih tua, jadi aku ingin menjadi TTM denganmu." Elva benar-benar kehabisan kata-kata dan para preman itu lebih terkejut lagi. Pria ini masih sehat? "Cepat pergi atau kubunuh kau!" Preman itu mengancam kembali. Randika masih tidak mendapatkan jawaban dari Elva jadi dia hanya berdiri diam. Melihat Elva tidak menjawab, dia segera berbalik dan berniat untuk pergi. "Okeˇ­ Aku setuju." Kata Elva dengan suara pelan. Randika langsung tersenyum lebar. "Bagus! Aku tahu bahwa kau pasti setuju denganku." Lalu sambil disaksikan oleh para preman itu, Randika berjalan kembali ke Elva, mengambilnya, dan berjalan meninggalkan lokasi. Kau pikir kami pajangan? Para preman ini baru pertama kali melihat pria yang benar-benar ingin mati. "Berhenti kau bajingan!" Para preman itu segera mengepung Randika dan mengatakan, "Aku tidak peduli kau ini bodoh atau tidak, segera berikan wanita itu padaku atau kami akan membunuhmu!" Randika tampak bingung, "Kalian tadi tidak dengar?" "Dengar apa?" "Perempuan ini setuju berteman denganku." Randika kemudian menatap mereka dengan tatapan dingin. "Jadi perempuan ini adalah milikku." "Mati saja kau!" Para preman sudah kehabisan kesabaran. Mereka menerjang maju hendak membunuh Randika. Namun Randika masih terlihat tenang dan tidak melepaskan Elva sama sekali. Dia hanya tertawa pahit ketika melihat para preman itu menerjang maju. Dengan mengandalkan satu sisi tubuh saja, Randika memukul dan menendang mereka hingga terpental. Elva kemudian dia lempar ke atas sesaat sedangkan Randika memanfaatkan momen ini untuk menghajar mereka. Di saat Elva kembali jatuh, Randika menangkapnya dan menggendongnya dengan kedua tangannya. Sekarang Elva berada di pelukan Randika dan Randika memintanya untuk berpengan erat di lehernya. Randika lalu menangkap menangkap salah satu pisau dan mundur selangkah. Pisau yang digenggamnya segera dia lempar dan menancap di salah satu preman. Orang tersebut langsung terkapar di tanah. Kemudian Randika mengayunkan Elva dan membuat kakinya melayang. Kaki indahnya itu mengenai wajah salah satu preman dan akhirnya terpental. Randika lalu mengangkat kakinya dan menendang musuh yang ada di depannya. Dalam sekejap, seluruh preman itu terkapar sedangkan Randika masih menikmati pelukan Elva. Randika lalu mengerutkan dahinya. Tidak jauh dari tempat dia berdiri, salah satu preman berniat kabur. Tiba-tiba Randika mengambil salah satu pisau yang ada di tanah dan melemparnya dengan kuat. Gagang pisaunya itu mengenai kepala orang yang hendak kabur itu. "Jika salah satu dari kalian berani kabur dariku, jangan salahkan aku apabila pisau yang kulempar berikutnya menancap di kepala kalian." Teriak Randika. Seluruh preman yang terkapar ini gemetar ketakutan. Orang yang mereka hadapi bukan orang biasa dan mereka tidak bisa apa-apa. Bisa-bisanya mereka bertemu orang seperti ini? Elva yang masih berada di pelukan Randika masih dalam posisi setengah sadar. Yang dia tahu hanyalah Randika telah menyelamatkannya. "Sekarang aku akan memberikan kalian tiga detik." Teriak Randika. "Dalam hitungan ketiga, aku akan meminta kalian semua berdiri!" "Satu!" Para preman ini takut terhadap Randika dan dengan cepat mereka berdiri. "Dua!" Randika lalu berkata dengan nada mengancam, "Jika kalian tidak berdiri di hitungan ketiga, akan kupatahkan kaki kalian." Para preman yang masih ragu-ragu untuk menuruti perintah Randika langsung berdiri tanpa banyak bicara. "Bagus!" Randika mengangguk puas. "Sekarang kalian semua lepaskan baju dan celana kalian!" "Ah?" Para preman ini tampak seperti orang bodoh. Lepas baju dan celana? Apa mereka tidak salah dengar? "Jangan membuatku mengatakannya lagi! Cepat lepas!" Tatapan mata Randika kembali memancarkan aura membunuhnya. Melihat tatapan mata ini, para preman ini ketakutan dan mulai melepas baju dan celana mereka. Tidak lama kemudian, para preman ini berdiri hanya dengan celana dalam mereka. Elva segera memalingkan wajahnya, tidak mau melihat pemandangan buruk ini. "Lepaskan sisanya." Kata Randika dengan santai. "Ah?" Kali ini para preman ini ragu-ragu. Bertelanjang di tengah jalan? Di mana mereka akan menaruh harga diri mereka setelah ini? Di saat mereka ragu-ragu, Randika mengambil salah satu pisau di tanah dengan kakinya dan menendangnya. Pisau itu melesat di antara para preman ini dan tertancap di tembok hingga gagangnya saja yang tersisa. Apa-apaan barusan!? Semua preman ini terkejut dan mulai melepas celana dalam mereka satu per satu. Dalam sekejap para preman yang ditakuti masyarakat sedang berdiri telanjang di tengah jalan. Randika mengangguk puas dan mengatakan, "Sekarang, aku ingin kalian berdiri di samping." Chapter 34: Malam Masih Panjang "Sekarang aku minta kalian berbaris!" Para preman itu dengan cepat mematuhi Randika sambil menggigil kedinginan. "Lari keliling 3x dari sini hingga ke ujung jalan." Kata Randika, "Siapapun yang tidak berlari ataupun berusaha kabur, aku akan menggantung telanjang kalian di pintu bar ini selama 3 hari." "Ketika kalian berlari jangan lupa untuk berteriak ''aku telanjang dan aku bangga'' setiap 10 detik." "PAHAM?" Teriak Randika. "Paham." Nyali para preman sudah menciut begitu pula ''adik'' mereka yang kedinginan. "Sana cepat lari!" Dengan begitu, semua preman ini berlarian dalam barisan mereka sambil berteriak. "Aku telanjang dan aku bangga!" Saat mereka mencapai kerumunan orang yang ada di sisi jalan, semua pejalan kaki itu memiliki reaksi sendiri-sendiri. Ada yang terkejut, tertawa, bahkan ada yang memfoto mereka. "Aku telanjang dan aku bangga!" Para preman ini sudah ingin mengubur diri mereka. Namun ketika mereka menoleh ke belakang dan melihat tatapan tajam Randika, bisa-bisa mereka dikubur beneran. "Aku telanjang dan aku bangga!" Teriakan mereka semakin keras. Ketika mereka sudah mencapai ujung jalan, teriakan mereka sudah tidak terdengar oleh Randika. Randika lalu menaruh Elva di tanah dan mulai merogoh-rogoh kantong celana para preman itu. "Kau mencari apa?" Elva makin mendapatkan kesadarannya walaupun masih lemas. Dia melihat tindakan jahil Randika kepada para preman itu. Dia benar-benar tidak bisa memahami jalan pikir Randika. "Nyari uang." Randika bahkan tidak repot-repot menoleh. Dia memeriksa semua dompet dan mengambil seluruh uangnya. "Ha? Uang buat apa?" Elva nampak bingung. Apakah Randika kekurangan uang? Randika menoleh ke Elva dan tersenyum. "Bagaimana caranya aku membuka kamar kalau tidak pakai uang?" Ketika mendengarnya Elva merasa malu dan marah. Bisa-bisanya bajingan ini masih berpikiran mesum. Ketika Randika hendak berdiri dan berjalan menuju Elva lagi, dia menyadari bahwa ada sebuah kotak di salah satu kantong celana. Ternyata itu kondom. Seketika itu juga, mata Randika bersinar dan segera mengambilnya. Ketika Elva melihatnya, dia memalingkan wajahnya dengan jijik. "Hahaha walaupun ukurannya agak kecil, kurasa 24 ronde buat kita cukup bukan?" Randika tertawa dan memasukkan kondom itu ke kantongnya dan menggendong kembali Elva. "Malam masih panjang, ayo kita buka kamar dan bersenang-senang!" Randika menggendong Elva dengan gembira dan menghilang. "Dua kotak kondom untuk satu malam? Kau yakin tidak akan loyo?" Tanya Elva dengan muka bingung. Meskipun dia tidak ingin bersetubuh dengan pria ini, dia benar-benar tidak bisa apa-apa dan hanya bisa pasrah. Jadi dia hanya bisa menggertak dan berharap bahwa pria ini tidak akan benar-benar melakukannya. "Jangan khawatir, staminaku itu luar biasa dan kalau hanya segitu bukan masalah bagiku. Apakah kau merasa kurang sayangku?" Randika tertawa keras. "Kau akan mencintaiku setelah 10 ronde nanti." Melihat gertakkannya tidak berhasil, Elva menjadi marah. "Kalau kau berani menyentuhku, kupatahkan alat kelaminmu nanti!" Randika tersenyum, "Hmm? Bagaimana kau akan mematahkannya? Dengan mulut kecilmu itu? Atau dengan jepitan mulut bawahmu?" Elva semakin jijik ketika mendengar lelucon mesum Randika terutama saat dia membahas mulut bawah tersebut. Oleh sebab itu dia benci semua pria. "Jangan khawatir, alat milikku ini sangat keras kalau sudah tegang." Lanjut Randika. Melihat kesuciannya terancam, Elva tidak memiliki pilihan lain selain melarikan diri dari orang ini. Jadi dia mulai meronta-ronta. "Maaf tapi kau harus diam dulu." Randika mulai was-was, apakah pengaruh obat para preman itu akan hilang? Randika lalu segera mempercepat langkahnya sambil terus menggendong Elva dengan kedua tangannya. Di tengah larinya itu, Elva yang meronta-ronta itu melorot dari pegangannya dan dia pun membetulkannya. Ketika itu juga, tangannya secara tidak sengaja meremas dada Elva. Randika merasakan kelembutan bakpao di tangannya. "Luar biasa!" Randika tidak bisa berkata apa-apa sambil terus memandangi dada milik Elva. Dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menelan ludahnya. "Aku semakin tertarik denganmu!" Sambil terus berlari, dia melihat bahwa hotel sudah tidak jauh dari tempatnya. Elva merasa bahwa tubuhnya semakin panas ketika dia dipegang-pegang oleh Randika. Dia mulai memeluk leher Randika, seakan-akan dia ingin Randika memainkan tubuhnya lebih kuat lagi. "Gawat." Randika tersenyum pahit. Dirinya bukanlah orang mesum yang suka memamerkan hubungan intimnya di depan publik. "Badanku panasˇ­" Elva bergumam dan tangannya semakin mencengkram erat leher Randika. Sepertinya dia sudah memiliki tenaganya kembali tetapi pikirannya tidak dapat berpikir jernih akibat rangsangan Randika. Karena menggenggam erat leher Randika, bibir Elva berada di dadanya. Dia mulai mencium dan menjilati Randika. "Sialan, foreplaymu boleh juga!" Randika sudah tidak sabar dan nafsu mulai menguasainya. Elva kemudian mencium Randika. Kedua bibir mereka bertemu, dan Randika segera meledak. Randika berhenti berlari dan memeluk erat Elva sambil memainkan lidah. Pada saat yang sama, orang-orang di jalan melihat takjub pada mereka. Bisa-bisanya mereka berciuman sepanas itu di tempat terbuka. Orang-orang di Indonesia cukup cuek terhadap pelanggaran norma asalkan tidak merugikan mereka tetapi melakukan ciuman ekstrim seperti itu di tengah jalan? Pasangan itu cukup nekad. Elva lalu merangkulkan kakinya di pinggang Randika dan Randika memegangi bokong indahnya itu. Mereka lalu berhenti di dinding sebuah toko sambil terus berciuman. Dari awal hingga akhir, lidah mereka tidak pernah berhenti dan begitu pula tangan Randika. Seorang penatua melewati mereka berdua dan melihat aksi gila pasangan muda tersebut. Dia langsung menggelengkan kepalanya. "Mau jadi apa negara ini ckckckˇ­." Randika tidak peduli dengan tatapan sinis semua orang. Dia merasa bahwa dirinya semakin tegang. Namun dia merasa tatapan tajam seseorang di belakangnya dan menoleh. Elva yang masih horny segera meminta kembali bibir Randika dan menciumnya lagi. "Sayang mari kita tuntaskan ini." Randika tersenyum dan mulai menyentuh bagian mulut bawah Elva. Namun, tiba-tiba Elva pingsan. Seketika itu juga mobil polisi menghampiri mereka berdua. "Hei kau! Keluarkan KTP-mu!" Sebuah suara yang tidak asing terdengar dari balik punggungnya. Randika menoleh dan terkejut. Ada apa hari ini? Kenapa semua cewek rasanya menginginkan dirinya hari ini? Polisi cantik kenalannya yaitu Deviana juga terkejut. Orang ini bukannya pria yang ada di restoran kapan hari? Mengesampingkan keterkejutannya, Deviana kembali fokus. "Tunjukkan KTP-mu, aku mendapatkan laporan bahwa ada sepasang kekasih yang menggunakan obat-obatan dan bermesraan di tempat umum." Randika lalu menyandarkan Elva di dinding. Seketika itu juga, 3 orang polisi lainnya yang masih berada di dalam mobil melihat bahwa Elva sepertinya tidak sadarkan diri. Satu per satu dari mereka keluar dari mobil. "Hei bukankah kita teman?" Randika tersenyum dan meraih tangan kanannya Deviana. "Aku ingat bahwa aroma yang kau pancarkan sangat harum. Bolehkah aku menciumnya lagi?" Melihat candaan Randika yang terdengar vulgar itu, Deviana merasa dirinya dipermalukan dan segera mengeluarkan borgol miliknya. "Aku tidak mengenalmu dan aku menduga kau memiliki obat-obatan terlarang. Ikut aku ke kantor!" "Dev, apakah orang ini tersangkanya?" Seorang polisi laki-laki segera menghampiri mereka. "Berani sekali kau melanggar hukum? Kalian berdua tangkap dia." Randika menatap tajam ke arah ketiga polisi tersebut dan menyadari tatapan mesum mereka terhadap Elva. Randika menghela napas. Dengan santai dia mengatakan, "Kalian ini gila atau apa? Apakah salah satu dari kalian melihat aku membawa ataupun memakai benda tersebut? Jelas-jelas aku sedang menggendong pacarku yang ngantuk ini ke rumahnya." "Pembohong!" Deviana menatap tajam Randika. "Laporan yang ada mengatakan kalian sedang berbuat hal-hal tidak senonoh di tengah jalan dan kalau aku lihat perempuan itu sekarang, jelas-jelas dia berada di bawah pengaruh obat. Selama kau bisa membuktikan hal ini di kantor, aku baru akan percaya kata-katamu." "Buat apa kau menjelaskan pada sampah masyarakat itu?" Kata temannya Deviana itu. Kedua polisi lainnya segera menghampiri Randika. Salah satu dari mereka hendak menyentuh Elva tapi pergelangan tangannya tiba-tiba dicengkram erat. Orang itu terkejut dan Randika berkata dengan nada dingin. "Jika kau berani menyentuhnya dengan tangan hinamu itu, akan kupotong habis tanganmu itu!" Polisi itu merinding ketika menatap tatapan tajam Randika. Dia lalu segera menghilangkan perasaan takut itu. Dia adalah penegak hukum yang sedang bekerja, buat apa dia takut dengan ancaman bocah ingusan seperti Randika? "Kau menghalangi tugas dari seorang polisi. Apakah kau tahu akibatnya?" Polisi itu segera menarik kembali tangannya tetapi tidak bisa. Oleh karena itu, dia mengancam Randika. Randika lalu melepaskan sekaligus mendorongnya hingga polisi itu jatuh. Deviana langsung menegurnya. "Randika! Apa yang kau lakukan!" "Wah ibu polwan akhirnya ingat namaku. Bukankah itu menandakan bahwa kita teman?" Kata Randika sambil tertawa. Deviana tidak bisa berkata apa-apa. "Berdasarkan hukum yang berlaku di negara ini, kami berhak membawa kembali orang yang diyakini melanggar hukum ke kantor polisi untuk memberikan keterangan. Jadi apabila kami tidak memiliki bukti, maka kami tidak sembarangan menuduh orang. Karena kau telah mendorong salah satu dari kami jadi kami harus membawamu bersama kami. Ketika kita tiba di kantor, barulah kita bisa menentukan apakah kau bersalah atau tidak." "Memangnya apa yang perlu kusampaikan?" Randika hanya menatap Deviana. Deviana ingin menjelaskan tapi dia tahu bahwa percuma berdebat dengan orang ini berdasarkan pengalamannya di restoran jadi dia tahu harus memilih kata-katanya dengan baik. "Mengenai siapa perempuan itu, apa hubungan di antara kalian dan apa yang hendak kau lakukan terhadap perempuan itu." Napas Deviana tampak sedikit terburu-buru. "Sayang sekali." Randika menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa beritahu namanya dan tadi kan sudah aku bilang bahwa dia itu pacarku. Aku mau membawanya pulang ke rumah dan karena rumahnya itu terlalu jauh, aku bermaksud bermalam di hotel depan sana." Randika lalu melirik Deviana dengan tatapan mesum dan mengatakan, "Apakah kau juga ingin membuka kamar denganku?" Deviana benar-benar marah tetapi ketiga polisi yang mendengarnya jauh lebih marah. Salah satu polisi yang bernama Rohim berteriak. "Aku tidak bisa mendengar ocehanmu lebih lama lagi. Aku curiga bahwa perempuan ini telah diberi obat-obatan terlarang. Jadi kau harus ikut dengan kami ke kantor untuk interogasi!" Chapter 35: Ares yang Bersembunyi Bukan Berarti Dia Tidak Berdaya Seketika itu juga, Rohim dan kedua polisi lainnya segera mengelilingi Randika. Randika hanya berdiri diam, sedangkan Deviana sudah telat untuk memperingati para rekannya. Kedua polisi itu, satu dari kanan satu dari kiri, menerjang ke arah Randika. Tapi mereka hanya bertemu dengan udara kosong. Randika tiba-tiba muncul di belakang salah satu dari mereka dan telah mengambil borgol miliknya. Dia lalu memborgol salah satu tangan dari polisi tersebut. Randika lalu mencengkram tangan tersebut kuat-kuat. Melihat hal itu, polisi satunya, yang masih bisa bergerak bebas, menerjang kembali ke arah Randika. Seketika itu juga, Randika dan polisi yang terborgol itu berputar sekali bagaikan mereka sedang menari. Randika lalu memborgol tangan polisi satunya yang masih bebas tersebut. Dalam sekejap, kedua polisi itu saling terborgol satu sama lain. Salah satu dari mereka tidak bisa bergerak dengan bebas karena tangannya berada di belakang punggungnya. Lalu mereka didorong oleh Randika dan terjatuh bersama, Randika lalu berkata dengan tersenyum. "Dengan semua latihan yang kalian terima, apakah susah menangkap orang yang kalian sebut sampah masyarakat ini?" "Kau!" Deviana marah ketika mendengarnya. Namun, dia masih memiliki pemikiran yang tenang, dia segera mengambil kunci untuk melepaskan kedua rekannya itu. Di lain sisi, Rohim sudah tidak bisa menahan amarahnya. Dia menatap tajam ke Randika sambil mengatakan, "Melawan dan menyakiti polisi, kau dalam masalah besar bocah!" "Aku tidak mempunyai pembelaan apa-apa untukmu yang memiliki mata mesum itu." Kata Randika sambil menggelengkan kepalanya. "Kau tahu bahwa aku hanya berjarak satu nomor saja dan seluruh kepolisian kota ini akan memburumu?" Balasnya. Randika tidak peduli dan berkata dengan nada tenang, "Aku tidak peduli, karena aku tidak bersalah. Tapi jika kau ingin menuduhku sebagai teroris, maka akan kutunjukkan bagaimana teroris sebenarnya bertindak." Begitu Randika selesai berbicara, dia mengeluarkan sesuatu yang berhasil membuat semua orang di sana ketakutan sekaligus terkejut. Randika mengeluarkan sebuah pistol yang telah diambilnya sebelumnya dari kedua polisi sebelumnya, wajahnya masih terlihat tenang sambil membidiknya ke arah Rohim. Deviana dan kedua polisi lainnya merasa bahwa situasi menjadi gawat. Tetapi, Randika tiba-tiba melemparkan pistol tersebut ke tanah sambil mengatakan, "Lain kali jangan menuduh sembarangan dan merepotkan orang lain. Jika kalian menangkap, pastikan membawa surat penangkapan ataupun bukti yang kuat." Setelah mengatakan semua itu, Randika sudah malas untuk berurusan dengan mereka lagi. Ketika dia hendak menggendong Elva lagi, Rohim merasa dirinya terhina dan mengeluarkan pistol miliknya dan membidik punggung Randika! "Kau akan ikut dengan kami!" Kata Rohim dengan muka serius. "Pak Rohim!" Deviana terkejut. Meskipun dia membenci Randika, Randika tidak terbukti bersalah. Tetapi sekarang salah satu rekannya membidik orang awam, ini tidak mencerminkan perilaku dari penegak hukum. "Pak Rohim tolong letakkan pistol bapak! Kita tidak berkerja dengan cara seperti ini!" Teriak Deviana. "Kau diam saja dan tidak perlu khawatir!" Rohim sudah tidak punya kesabaran. Selama dia bekerja puluhan tahun, dia belum merasa terhina seperti sekarang. Dia ingin memberi pelajaran kepada Randika bahwa martabat polisi bukanlah sebuah permainan. Muka Randika terlihat malas. Dia sudah tidak ingin mencari gara-gara tetapi pihak lain ingin meneruskan masalah ini. Apakah mereka belum pernah menyaksikan amarah seorang dewa? Randika perlahan membalikkan badannya dan berkata dengan pelan, "Kalau aku tidak mau?" "Tidak mau?" Rohim tertawa. "Aku memerintahkanmu untuk ikut kita sekarang! Jangan anggap remeh kami para penegak hukum!" Rohim terus membidik Randika dengan pistolnya. "Lagipula, kau lari pun tidak akan lebih cepat daripada peluruku ini." Randika tertawa mendengarnya. Anjing tetaplah anjing, mereka hanya bisa menggonggong. Ares telah ditantang! "Kau yakin dengan perkataanmu?" Randika menatapnya dengan remeh. "Kau yakin bisa menakutiku hanya dengan sebuah pistol? Jangan pernah lupa bahwa anjing hanya bisa menggonggong." Rohim merasa firasat buruk tetapi pistol di tangannya membuat dirinya tidak cemas terhadap apa pun. Deviana dan kedua polisi lainnya sudah merasa ketakutan. Mengapa situasinya berkembang seperti ini? Randika menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu tembak saja, kita lihat seberapa cepat pelurumu itu!" "Pak Rohim jangan!" Teriak Deviana. Rohim merasa muak dengan muka meremehkan Randika. Dia merasa ingin membunuh bajingan tengik ini. "Kenapa? Tidak punya keberanian untuk menembaknya kah?" Kata Randika sambil menyeringai. "Memang benar kalau anjing menggonggong dia hanya sok kuat tetapi aslinya dia ketakutan." "Mati kau!" Rohim sudah tidak kuat lagi. Dia akan membunuh pria ini! Tetapi, sebelum suara pelatuk terdengar, dia merasa hembusan angin kuat dan detik berikutnya dia menarik pelatuknya dan menembak. Klik! Deviana terkejut tetapi Rohim lebih terkejut lagi terhadap kejadian yang menimpanya. Tidak ada peluru yang keluar! "Mencari pelurumu?" Randika memecah keheningan dan seketika itu juga dia menjatuhkan peluru yang ada di tangannya. Rohim benar-benar terkejut dan tidak sempat menoleh ke arah Randika. Bagaimana bisa pistolnya tidak ada peluru? Dia jelas-jelas ingat bahwa pistolnya ada isinya. Deviana dan kedua polisi lainnya terkejut ketika melihat peluru yang dijatuhkan oleh Randika. Mereka kebingungan, bagaimana bisa orang mengeluarkan peluru dari pistol dalam sekejap? Yang mengejutkannya lagi adalah pistolnya masih dipegang oleh Pak Rohim. Detik berikutnya, Randika sudah berada di depan Rohim yang kebingungan dan mengangkat orang tersebut dengan tangannya. Deviana dan kedua polisi lainnya masih belum bertindak. Randika membuka paksa mulut Rohim dengan tangan kirinya dan tangan kanannya memegang sebuah peluru dan hendak menyuruhnya menelannya! Ketika dewa perang dunia bawah tanah ini marah, seribu mayat pun tidak akan berhasil menghilangkan amarahnya! Kata-kata itu tidak dilebih-lebihkan. Ketika dia di luar negeri, ketika orang mendengar nama Ares maka orang-orang akan menghindari dirinya. Tetapi sekarang, di Indonesia tempat kelahirannya, nama Ares tidak ditakuti bahkan ada yang berani menantangnya! Bukan berarti Ares yang sedang bersembunyi adalah Ares yang tidak berdaya, dia hanya sedang melindungi dirinya dengan tidak berbuat apa-apa. Deviana dan kedua polisi lainnya menatap tajam Randika. Randika telah memasukkan peluru itu ke dalam mulut rekan mereka dan memaksanya untuk menelannya dengan menutup jalur udaranya! Benar, Rohim dipaksa untuk menelan sebuah peluru! Kedua polisi itu benar-benar ketakutan dan kaki mereka gemetar. Melihat wajah marah Randika, mereka berdua semakin merinding. Apakah dia masih manusia? Deviana langsung berteriak kepada Randika. "Randika hentikan! Dia bisa mati!" Randika tidak berhenti. Jika dia sebelumnya tidak diberi kesempatan maka dia tidak akan memberikan kesempatan untuk lawannya. Jika dia tidak menghormatiku, jangan harap dapat penghormatan dariku. Apalagi, pria ini hendak membunuhnya tadi. Rohim menatap mata Randika dan terus meronta-ronta. Dia benar-benar ketakutan sekarang. Ketika dia berusaha mati-matian menutup mulutnya, Randika mencekik lehernya dan dia terpaksa membuka mulutnya. Sekarang jalur pernapasannya ditutup dan dia dipaksa menelannya. Sekarang, dia sudah menelan 2 buah peluru dan dia merasa tidak bisa bernapas dengan benar. Melihat pada tangan Randika, masih ada sekitar 5 peluru lagi. Rasa putus asa dan tidak berdaya terpampang jelas di mukanya! Bisa-bisanya situasinya menjadi seperti iniˇ­. Pria di hadapannya ini benar-benar setan. Rohim sudah meneteskan air mata sambil minta ampun tapi muka Randika tidak berubah sedikit pun. Rohim segera menoleh ke arah rekan-rekannya dan meminta tolong sambil menangis. Jika dia menelan peluru itu sekali lagi ataupun peluru yang sudah ditelannya tidak segera dikeluarkan maka dia akan mati! Deviana benar-benar cemas dengan situasi ini, dia segera menghampiri Randika untuk menghentikan semua ini. Chapter 36: Menginap Satu Malam Ketika Randika hendak memasukkan peluru ke-3 itu ke mulut Rohim, tangan kanannya ditarik oleh seseorang. Ketika dia menoleh, ternyata itu adalah Deviana yang sudah berurai air mata di wajahnya. "Randika jika kau teruskan lama-lama dia akan mati!" Deviana menangis, karena bagaimanapun juga Rohim adalah atasannya. Meskipun cara yang dipakai Rohim terlihat salah ketika meminta Randika kembali ke kantor bersama mereka, apabila menyangkut keselamatan masyarakat, seluruh penegak hukum tidak akan takut apa pun demi menegakkan hukum dan mencegah hal buruk terjadi. "Bukankah tadi itu adalah penyalahgunaan kekuasaan?" Kata Randika sambil menyeringai. "Sekarang karena sudah tidak berdaya, dia merengek minta ampun? Kalau aku tidak mengeluarkan peluru itu sebelumnya, maka peluru itu sudah bersarang di tubuhku!" "Aku tahu itu dan kami minta maaf." Deviana terus menangis sambil menggigit bibirnya. Randika memperhatikan wajah cantik Deviana yang bergelimang air mata itu. Dia merasa hatinya melunak ketika melihatnya. Dia lalu memperhatikan muka pucat Rohim dan melemparkannya kepada kedua polisi lainnya itu. "Kukembalikan teman mesummu itu." Randika lalu berjalan dan menggendong Elva. "Untuk peluru yang sudah dia telan, segera bawa dia ke rumah sakit dan dia akan selamat." Kedua polisi tersebut dan Deviana tidak berkata apa-apa dan segera membawa Rohim ke mobil mereka. Mereka langsung menuju rumah sakit. Di sisi lain, Randika sudah sampai di hotel sambil menggendong Elva di kedua tangannya. "Selamat malam tuan, apakah ada yang bisa kami bantu?" Resepsionis hotel menyambut Randika dengan senyuman walaupun Randika masuk sambil menggendong Elva. "Kami mau memesan kamar untuk satu malam." "Pertama-tama saya minta KTP tuan dan kami akan segera memprosesnya." Randika lalu meletakkan Elva di sofa dan berusaha mengambil dompet di saku celananya. Namun saku celananya terasa penuh dan dia memutuskan untuk mengeluarkan semua benda itu terlebih dahulu. Di depan resepsionis ini, Randika menaruh kotak kondom-kondomnya di meja bahkan ada yang terjatuh dan isinya sampai keluar. Randika mengintip perempuan itu dan melihat keterkejutan di mukanya. Kenapa pria ini punya banyak sekali kondom? Meskipun kita sama-sama dewasa dan kita tahu bahwa arti dari menginap semalam, bisa-bisanya pria ini membawa kondom segitu banyaknya? Randika lalu memecah keheningan dengan tertawa dan resepsionis ini segera sadar kembali. "Hahahaˇ­ Maaf." Randika tidak malu sama sekali. "Sebelumnya temanku itu sudah sangat antusias dan kami terlanjur membelinya terlalu banyak." "Aku mengerti tuan." Perempuan itu berusaha tetap tersenyum. Setelah itu, Randika menyadari bahwa dia lupa membawa dompet. Sebelumnya dia mengejar pembunuh itu dengan terburu-buru dan dia tidak membawa apa-apa dengannya. "Maaf, aku lupa membawa dompet." Kata Randika kepada resepsionis tersebut. Lalu, di bawah tatapan tajam resepsionis itu, Randika mencari-cari dompet di tubuh Elva. Hei aku tidak berbuat mesum, aku hanya sedang mencari dompetnya! Randika lalu menyadari bahwa Elva sedang memakai gaun pesta mini dress dan tidak ada kantongnya sama sekali. Lalu dia berpikir karena sebelumnya Elva berada di bar, bagaimana dia akan membayar tagihannya? Lalu dia teringat ketika dirinya berciuman panas dengan Elva sebelumnya, dia merasakan sesuatu yang keras di pantat Elva, apakah itu dompetnya? Lalu diam-diam dia mengeceknya dan menemukan dompet tersebut. Dia berusaha terlihat tenang meskipun tatapan mata resepsionis itu menusuknya. Randika lalu memberikan KTP milik Elva dan tidak lama kemudian kamar mereka telah siap. "Ini kunci kamar Anda tuan. Selamat menikmati malam hari ini." Mendengar perkataan itu, Randika tersenyum dan berjalan menuju lift. Ketika dia masuk, dia segera menidurkan Elva di ranjang. "Kau berhutang budi padaku kali ini." Randika menatap Elva yang masih tidak sadarkan diri dan menanggalkan pakaiannya. Tidak lama kemudian, bagian atas Elva hanya tertutup oleh beha putihnya. Luar biasa! Randika tidak bisa menahan diri untuk tidak menelan air liurnya. Dada wanita ini besar, sama seperti istrinya dan Viona. Melihat Elva yang tidak sadarkan diri itu, Randika secara tidak sadar menjulurkan tangannya dan meremasnya. Keempukan yang luar biasa itu segera dia rasakan. Ketika dadanya dipegang, Elva membuka matanya sedikit dan memeluk erat Randika. Asyik! Aku tidak tahu bahwa kau masih ingin melanjutkannya. Merasa bahwa dirinya telah diundang, Randika tidak sungkan dan meremasnya beberapa kali lagi. "Ketika waktunya tiba, aku akan meminta hutang ini dibayar lunas." Namun secara tiba-tiba, wajah Elva menjadi pucat pasi dan tubuhnya mulai kejang-kejang. "Gawat!" Randika terkejut. Sebelumnya dia sudah menekan titik-titik tubuh akupuntur Elva ketika mereka bermesraan di jalan sebelumnya. Dengan bantuan tenaga dalamnya juga, dia telah menghentikan penyebaran obat yang telah dia terima dari para preman itu. Namun, rupanya tenaga dalam Randika tersalurkan terlalu banyak dan membuat tubuh Elva terguncang. Begitu ini terjadi, mustahil untuk disembuhkan. Hanya ada satu cara untuk menyelamatkan Elva dan dirinya. Elva merupakan salah satu anggota Arwah Garuda, jadi apabila perempuan ini mati karena dirinya, bisa-bisa terjadi keributan yang tidak perlu. Tanpa ragu-ragu lagi, Randika segera mencopot celana pendek ketat yang dipakai Elva di balik gaunnya dan sepasang paha putih yang mulus menyambutnya. "Aku tidak menyangka ada sisi kekanak-kanakkan di dirimu." Randika melihat celana dalam doraemon yang dipakai Elva dan sedikit tertawa karenanya. Di saat yang sama, Randika juga melepas baju dan celananya. Seluruh otot kekarnya dan luka-lukanya terekspos. Dia perlu menggunakan tenaga dalamnya yang murni ini untuk menyelamatkan Elva. Semakin pori-pori tubuh yang terbuka, semakin bagus. Ketika semuanya sudah siap, dia segera menancapkan jarum akupuntur untuk menjaga detak jantung Elva. Kemudian dia menancapkan beberapa jarum sekaligus menaruh tangannya di dada Elva! Bukan waktunya untuk dirinya terpesona dengan keempukan dada Elva. Tenaga dalamnya yang berada di tubuh Elva segera mengalir kembali ke tubuhnya dengan cepat. Tiba-tiba, Elva meresponnya dengan suara desahan yang cukup erotis. Tangan kanan Randika masih terus menancapkan jarum di titik-titik tertentu pada tubuh Elva. Karena serangkaian tindakan Randika ini, Elva mulai memancarkan asap berwarna pink dari tubuhnya. Asap-asap pink ini dipaksa keluar oleh Randika. Mereka keluar dari pori-pori tubuh Elva dan menyebar ke seluruh ruangan. Kamar yang terang ini segera dipenuhi asap berwarna pink ini. Karena proses penyembuhan ini, seluruh tubuh Randika sekarang dipenuhi oleh tenaga dalamnya. Muka Randika terlihat penuh konsentrasi. Ketika dia mengangkat tangan kirinya dari dada Elva, dia menepuk pelan dada itu dan tiba-tiba Elva tidur telungkup dengan sendirinya. Tangan kirinya sekarang diletakkannya di punggung Elva dan tangan kanannya masih menusukkan beberapa jarum lagi. Kecepatan asap pink yang keluar dari tubuh Elva tersebut mulai berkurang dan rona wajahnya kembali menjadi normal. Setelah beberapa saat, Elva terlihat bernapas kembali dengan normal. Kemudian Randika mendudukkan Elva dan mulai mencabuti jarum-jarumnya. Melihat bahwa Elva sudah kembali normal, Randika bernapas lega. "Aku mengharapkan imbalan yang sepadan!" Asap pink di kamar ini juga perlahan mulai hilang. Randika lalu beristirahat di samping Elva dan tidak perlu menunggu waktu lama untuk dirinya mengantuk. Sebelum dia tertidur, dia memastikan bahwa Elva sudah tertidur dengan pulas. Butuh beberapa waktu untuk perempuan itu agar tersadar kembali jadi dia tidak perlu khawatir ketika tidur di sampingnya. Lalu ketika dia menutup matanya, dia melupakan sesuatu. Mereka berdua hanya memakai celana dalam! Dia bisa-bisa dibunuh Elva kalau dia terbangun dengan keadaan mereka seperti ini. Dia segera melompat berdiri dan mulai berpakaian. Setelah itu, dia berusaha memakaikan Elva gaunnya dan celana ketatnya. Ketika dia selesai memakaikannya, paha mulus dan dada empuk itu tertutup lagi. Dia merasa sayang kalau dia tidak melihatnya sekali lagi dan dia melonggarkan gaun tersebut hingga ke perut. Dia ingin merasakan keempukkan itu sekali lagi. Ketika tangannya hendak meraih kegembiraannya itu, bel kamarnya berbunyi. "Ha? Siapa?" Randika segera waspada. Apakah anggota Jeratan Neraka lainnya telah menemukan dirinya? Randika segera menempelkan telinganya pada tembok dan berusaha mendengarkan suara apa saja yang bisa dia tangkap. "Iya siapa?" Teriak Randika. Namun tidak ada jawaban dari pihak luar meskipun suara bel itu tidak berhenti. Randika mulai waspada. Dia memancarkan aura membunuhnya ketika dia berjalan menuju pintu. Chapter 37: Tunggu Saja Pembalasanku! Ketika Randika membuka pintunya dia disambut oleh sosok yang tidak terduga. Dia adalah Inggrid! Bagaimana bisa istrinya itu ada di tempat ini? Ketika melihat Randika yang ada di balik pintu, Inggrid bernapas lega. Dia pada saat itu hanya melihat Randika yang mengejar pembunuh tanpa bisa berbuat apa-apa. Karena khawatir akan keselamatan Randika, dia memutuskan untuk mengejarnya bersama Ibu Ipah. Dengan bantuan Ibu Ipah, melacak pergerakan Randika hanyalah masalah sepele. Mereka juga mengikuti petunjuk berupa para preman yang berlarian sambil telanjang. Di dunia ini, mungkin hanya Randika yang memiliki keberanian dan ide absurd seperti itu hingga dapat memaksa para preman itu. Ketika mereka melihat Randika menggendong seorang wanita ke arah hotel, hati Inggrid sedikit terasa sakit. Setelah meminta nomor kamar Randika di resepsionis, dia segera menuju kamar tersebut. Randika masih terkejut di balik pintu sedangkan Inggrid ingin mendobraknya. Ketika Inggrid hendak masuk, Randika mencegahnya. "Istriku yang cantik kenapa kau ada di sini?" Kata Randika dengan senyuman canggung. Inggrid merasa ada yang aneh dan tetap berusaha masuk. Dia menggocek ke kanan dan ke kiri tetapi tetap tertahan oleh Randika. "Bukannya kau sedang mengejar orang tadi? Ngapain kau di sini sekarang?" Nada Inggrid terdengar dingin. Dia selalu merasa bahwa Randika orang tidak tahu diri dan teraneh yang pernah ditemuinya tetapi dia masih tidak mau mempercayai bahwa Randika adalah orang yang suka selingkuh. Sepasang lelaki dan perempuan berjalan menuju hotel berdua, orang bodoh pun tahu apa yang akan mereka lakukan di dalam. Randika lalu memberitahu bahwa dia ingin istirahat dulu sebelum pulang karena rumahnya jauh dan sudah mengejar pembunuh itu cukup lama. Inggrid benar-benar tidak percaya dengan perkataan Randika. Dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Randika menggendong seorang wanita ketika mereka masuk ke dalam hotel. "Yah begitulah ceritanya haha!" Randika memaksakan diri untuk tertawa. "Kalau begitu aku akanˇ­ Ah!" Ketika perhatian Randika sedikit teralihkan, Inggrid segera mendorong Randika dan masuk secara paksa! Gawatˇ­. Ini benar-benar gawat! Randika tersenyum pahit melihat adegan ini. Inggrid telah melihat Elva yang gaunnya sedang terbuka dan menampilkan behanya yang putih itu. Dia benar-benar terkejut dengan kenyataan ini dan sebenarnya berharap bahwa matanya tadi menipunya. "Hmm.." Inggrid mendengus dingin dan berjalan balik menuju pintu. Sesuai dugaanku pria ini hanya pria mesum dan memikirkan dirinya, pikirnya. Hati Inggrid sekarang sedang mengalami gejolak batin. Dia tahu bahwa hubungan mereka hanyalah kawin kontrak dan akan berakhir dalam 3 bulan. Lalu kenapa dirinya merasa hatinya sakit ketika dia melihat Randika hendak melakukannya dengan wanita lain? Kenapa dia sebelumnya peduli dengan pria semacam ini yang bermain di belakangnya? Inggrid merasa muak dengan semua ini jadi dia ingin segera keluar dari sini. Namun, sekarang dia dicegah oleh Randika. "Minggir!" Teriak Inggrid. "Tunggu!" Randika langsung mencegah Inggrid yang hendak keluar itu. Permainan menggocek kembali terjadi. "Inggrid tunggu dan dengarkan aku." Kalau Randika menjelaskan hal ini sambil bercanda mungkin Inggrid benar-benar akan meninggalkannya. Akhir-akhir ini, dia merasa bahwa hati Inggrid sudah mulai terbuka untuk dirinya. Terutama setelah percobaan pembunuhan di rumah mereka itu. Dengan datangnya Inggrid ke tempatnya ini merupakan bukti tak terbantahkan bahwa dirinya sudah menjadi orang penting di hidup istrinya itu. Yang terpenting sekarang adalah menjelaskan bahwa situasi yang tampak erotis ini hanyalah sebuah pertolongan yang dibutuhkan untuk menyelamatkan wanita yang setengah telanjang tersebut. Randika benar-benar ingin menangis sekarang. Dia sebelumnya tidak mendapatkan apa-apa ketika bersama Elva sekarang istrinya hendak meninggalkannya. "Jelasin apa?" Inggrid berteriak keras pada Randika. "Aku tidak peduli kamu mau berbuat apa dengan wanita itu!" "Tenanglah, ini semua tidak seperti yang kau bayangkan." Randika segera menampar dirinya sendiri, dia merasa telah berbuat sesuatu yang sangat buruk terhadap istrinya itu. "Apa? Kau ingin memamerkan hubunganmu dengan wanita itu di depanku?" Entah kenapa kali ini, suaranya terdengar serak. "Istrikuˇ­ Aku mohon dengarkan aku." Randika benar-benar memohon kepada Inggrid. "Siapa yang kau sebut istri?" Inggrid memalingkan wajahnya. "Ingat hubungan kita ini terjalin cuma karena kontrak, kita akan berpisah dalam 3 bulan!" Inggrid lalu mengangkat kakinya dan menginjak keras kaki Randika. Karena Randika sibuk dengan kakinya yang sakit, Inggrid segera meninggalkan ruangan terkutuk itu. Melihat Inggrid yang berjalan keluar itu, hati Randika terasa sakit. Kenapa semuanya menjadi seperti ini? Bukankah awalnya dia sedang mengejar pembunuh dari Jeratan Neraka lalu tiba-tiba bertemu dengan Elva yang telah diberi obat? Lalu karena suatu alasan dia bertemu Deviana dan sekarang setelah menyelamatkan hidup Elva, istrinya malah mengira dirinya selingkuh? Akhirnya, setelah beberapa saat terdiam, Randika menghela napas. Dia hanya menyalahkan ketampanan dirinya itu dan para perempuan yang klepek-klepek karena pesonanya itu. ''Yah nanti aku akan jelaskan lagi saat tiba di rumah.'' Pikirnya. Lagipula, mereka tinggal seatap dan agar dirinya tidak diusir dan untuk menyelamatkan citranya, dia harus menjelaskan situasi ini dengan sejelas mungkin. Menutup pintu kamarnya, Randika kembali menuju tempat tidur. Seharusnya efek obat dalam tubuh Elva sudah hilang sekarang dan seharusnya dia sudah bangun sekarang. Namun, di tempat tidur tidak ada siapa-siapa. Di saat Randika terkejut, sebuah bayangan sudah menerjang turun ke arah kepala Randika. Tanpa peringatan apa-apa dia hendak memukul Randika! Namun, reaksi Randika jauh lebih cepat. Dia langsung mengelak dan mencengkram erat pergelangan tangan bayangan tersebut. Dia lalu menariknya jatuh! Namun, bayangan tersebut sangatlah lentur. Dia memanfaatkan momentum jatuh tersebut untuk bersalto di udara dan menerkam punggung Randika. Keempukan dada perempuan itu menempel dan kaki panjangnya yang mulus itu mengapit leher Randika. "Kau sudah gila apa?" Sambil berteriak pada Elva, dia masih sempat menikmati dan menggigit kecil paha putih itu. Merasa bahwa Randika malah memanfaatkan keadaan ini untuk aji mumpung, dia segera melepas pelukan mautnya itu. Namun, Randika segera mengunci salah satu kaki Elva dengan salah satu lengannya. Elva berusaha melarikan diri tapi tidak bisa. "Kau harusnya berterima kasih padaku bukan menyerangku!" Randika mengerutkan dahinya. Melihat pria paling dibencinya di dunia ini, dia segera mengangkat tangan kanannya untuk menghajar pria itu. Namun tangannya malah tertangkap dan posisinya menjadi canggung. Elva lalu menganalisa situasinya sambil terus memberikan tatapan tajam, dia lalu mengangkat tangan kirinya dan memukul ke arah kepala Randika. Melihat Elva yang terdiam beberapa saat, Randika juga sudah mengetahui bahwa perempuan ini tidak akan menyerah. Dia lalu berdiri sambil menggenggam erat kedua kaki Elva dengan capitan lengannya itu. Dengan begini, Elva tidak bisa menggapai Randika sama sekali. Elva, yang merasa posisinya sudah skak mat, berhenti melawan dan terdiam. "Kau gila atau apa?" Melihat Elva, Randika masih sedikit jengkel. Dia sudah susah payah menyelamatkan hidup perempuan itu, sekarang malah dia menyerang dirinya tanpa berkata apa-apa. Apakah dia lupa momen panas mereka? Dan mana imbalanku karena telah menyelamatkanmu? "Huh!" Elva merasa muak ketika melihat muka Randika. Ketika dia terbangun tadi, gaun yang dipakainya telah terlipat dan memperlihatkan dadanya. Celana pendek ketatnya yang dia pakai di balik gaunnya ternyata terpakai terbalik. Hanya ada satu penjelasan logis. Ketika dia tidak sadarkan diri, Randika pasti telah berbuat tidak senonoh terhadap dirinya! Terlebih lagi, ruangan ini nampak seperti kamar sebuah hotel. Jadi Randika pasti telah berbuat aneh-aneh terhadap dirinya. "Apa yang kamu lakukan padaku saat aku tidak sadarkan diri?" Tanya Elva dengan tatapan dingin. Randika terkejut, bajingan berarti kau ingin memukulku hanya karena itu? Kenapa tidak berbicara dengan kepala dingin saja? "Aku cuma membantumu mengeluarkan obat para preman itu keluar dari tubuhmu itu!" Senyum canggung naik di wajahnya. "Kalau tidak, kenapa kau merasa enakan sekarang?" "Bukan itu inti permasalahannya!" Elva melihat senyum canggung Randika itu dan mengamuk. "Bukankah itu saja yang terpenting?" Randika pura-pura kaget. Setelah berpikir beberapa saat, dia mengatakan. "Apakah kau mau tahu kalau aku suka doraemon atau tidak?" "Kurang ajar!" Ketika mendengarnya, dia ingin menampar Randika tetapi dia tidak bisa bergerak. Dia memaki-maki Randika sambil mengutuknya dengan tatapan matanya. Dasar pria tidak tahu diri! Aku akan membalas perbuatanmu! Randika hanya bisa tersenyum pahit, sebagai seorang pria dia tidak bisa melewatkan kesempatan emas seperti itu. "Jika kau tidak segera diam, aku akan tunjukan apa saja yang kulakukan tadi." Randika tersenyum nakal padanya. Posisi mereka sekarang terlihat canggung, intinya Randika memeluk erat kakinya Elva. Elva tidak bisa bergerak karena pahanya telah dirangkul oleh Randika. Randika hanya perlu membenamkan kepalanya di antara paha Elva dan itu sudah cukup untuk menyulut api peperangan. "Kau!" Elva menatapnya tajam. Randika tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menghela napas. Kenapa gadis ini begitu naif? Seorang Ares takut dengan ancaman manusia? Dirinya semakin tertantang untuk melakukannya. Seketika itu juga, bukannya membenamkan kepalanya tetapi Randika menurunkan posisi Elva hingga wajah mereka berhadap-hadapan. "Kau!" Elva merasa malu sekaligus marah. Karena wajah Randika ada di hadapannya, dia segera memalingkan wajahnya. Percuma untuk memalingkan wajah, dia sudah merasakan bahwa hidung Randika sudah menempel di wajahnya dan turun ke lehernya. "Sungguh leher yang menggoda..." Randika lalu menjilatinya! Elva merasa jijik dan menutup matanya. Dia berusaha menahan rasa malu ini. Randika lalu berbisik di telinganya. "Telinga yang kelihatan lezat..." Dia lalu menggigit telinga Elva dan suara desahan yang imut keluar dari mulut Elva. Elva merasa tubuhnya akan dinodai seluruhnya jadi dia berusaha melepaskan diri. Namun usahanya percuma, dirinya sedang dipeluk oleh salah satu orang terkuat di dunia jadi dia tidak bisa melawan sama sekali. Elva hanya bisa memendam amarah ini dan memaki-maki Randika dalam hatinya. Bahkan orang-orang di Arwah Garuda tidak berani melecehkannya seperti ini. "Hmm? Mulut berkata tidak tapi tubuhmu berkata cukup jujur." Randika menyadari di bagian dadanya ada yang mengeras dan suara napas Elva semakin berat. Berarti titik erotis Elva berada di telinga itu telah merespon dirinya. Dia sendiri tidak bisa mengontrol miliknya lagi. "Jika kau tidak melepaskan aku, aku akan memburumu seumur hidupku! Seluruh Arwah Garuda akan menghantui hidupmu!" Teriak Elva. Sejujurnya, ancaman ini tidak berguna di depan Randika. Arwah Garuda menghantui dirinya? Para bawahan milik Randika jauh lebih kuat daripada mereka, jadi kenapa perlu takut? "Angsa putihku yang cantik ternyata tidak mau lepas dariku?" Randika terus menyerang telinga Elva. "Apakah kau ingin bersamaku hingga ujung bumi?" "Kau!" Elva ingin memberontak tapi telinganya selalu digigit ataupun disebul, jadi kekuatan tubuhnya menghilang. Dia merasa malu karenanya. "Sudah jujur saja, meskipun mukamu biasa saja, dadamu biasa saja, pantatmu kurang semok, kulitmu kalah mulus dan kakimu kalah panjang, aku tetap menerimamu dengan senang hati." Kata Randika sambil tertawa. "Mimpi!" Elva sekarang diserang secara verbal juga, ini membuatnya lebih marah lagi. Randika tiba-tiba teringat akan jam dan istrinya yang masih ngambek di rumah. Dia merasa sudah cukup main-mainnya dan melepas Elva dari pelukannya. Elva yang terkejut hampir saja terjatuh. Setelah membenarkan pakaiannya, Elva menyadari bahwa Randika sudah ada di depan pintu dan dia berkata pada dirinya. "Lain kali, aku akan berpikir dua kali sebelum menyelamatkanmu. Aku membuka baju dan celanamu bukan karena aku memiliki pikiran aneh-aneh. Pilihannya hanya melakukan itu dan menyelamatkanmu atau melihatmu mati overdosis." Wajah Elva masih dipenuhi api amarah. Dia langsung memasang kuda-kuda menyerangnya dan hendak menerjang Randika. Namun, dia dihentikan oleh kata-kata Randika, "Serang aku sekali lagi maka aku akan menganggapmu ancaman." Ketika aura yang dipancarkan Randika keluar, Elva memilih untuk memandam rasa amarahnya itu. "Huh!" Kemudian Elva membalikkan badannya dan melompat sambil mengambil semua barangnya di tempat tidur. "Tunggu saja pembalasanku!" Kata Elva dengan nada tidak enak didengar. Dia lalu melompat keluar dari jendela! Saking marahnya, Elva tidak mau menyentuh apa yang Randika sentuh dan keluar dari jendela. Randika hanya geleng-geleng ketika melihatnya. Perempuan itu benar-benar berpikiran dangkal. Menunggu balasannya? Kalau perempuan itu berani menyerangnya lagi, dia tidak segan-segan memberinya pelajaran. Lagipula mereka berdua adalah sama-sama ahli bela diri jadi sedikit luka bukanlah suatu masalah. Sekarang karena Elva sudah tidak ada, Randika tidak perlu lama-lama lagi di hotel ini. Dia masih harus menjelaskan situasinya ke istrinya yang sedang ngambek di rumah. Ketika dia berjalan hendak pulang ke rumahnya, dia melirik kembali ke bar sebelumnya. Ternyata, dia melihat sesosok orang yang dikenalnya dan mengintipnya dari luar. Chapter 38: Sini Kubuktikan agar Kau Percaya! Di bar itu, Randika melihat Viona sedang duduk di sana. Viona sedang bersama seorang pria. Melihat ini, Randika mengerutkan dahinya. Berani merebut milikku? Mulutnya juga ikut tersenyum selagi dia berjalan masuk ke dalam bar. Pada saat ini, Kevin sedang berbincang-bincang dengan Viona. Dari topik yang dibicarakannya, nampaknya pria ini sudah hampir kehabisan. Sebelum ini, Kevin sudah berkenalan dengan Viona. Bisa dikatakan, itu adalah jatuh cinta pada pandangan pertama. Dari awal pertemuan mereka hingga sekarang, Kevin mengejar-ngejar Viona dengan susah payah tetapi tidak ada kemajuan di antara mereka. Viona selalu tidak responsif ketika mereka berbicara, menjaga jarak dengannya, membalas pesannya setelah lama terkirim dll. Hal ini membuat Kevin murung. Jadi, hari ini dia mengajak Viona untuk bercengkerama agar hubungan mereka semakin baik. Jika hari ini tidak berjalan dengan baik, mau tidak mau Kevin harus menggunakan cara liciknya. "Viona, coba pikirkan dulu saja mengenai hubungan kita ini." Kevin terlihat kecewa. Sejujurnya, Kevin sendiri tidaklah jelek, dia tergolong orang yang tampan. Tapi entah kenapa, hal ini tidak menarik hati Viona dan dia merasa ada yang aneh dengan Kevin. "Aku tidak perlu memikirkannya." Viona menggeleng. "Maafkan aku, aku hanya menganggap dirimu sebagai teman." "Ayolah Viona, setidaknya berikan aku kesempatan." Kata Kevin. "Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu, setidaknya berkencanlah sekali denganku. Kita akan menjalani ini dengan pelan kalau perlu." "Aku akan mengatakan sejujurnya kepadamu. Aku tidak suka denganmu dan aku tidak bisa memaksakan perasaanku." Kata Viona dengan muka serius. "Kamu tidak perlu membuang waktumu denganku. Aku yakin, tidak perlu waktu lama bagimu kalau mengejar perempuan lain." "Bisa katakan apa penyebabnya?" Kevin tersenyum pahit. "Atau kau mencintai dirimu sendiri sampai-sampai menolak orang lain? Atau ada yang salah dariku?" Viona menggelengkan kepalanya. "Kau tidak mengerti perkataanku tadi. Aku tidak punya perasaan apa-apa ke kamu dan aku tidak bisa memaksa diriku untuk mencintai orang. Setiap orang juga memiliki kekurangan dan aku mencari orang yang bisa membantuku mengatasi kekuranganku dan membawaku menjadi pribadi yang baik." Di saat Viona berkata demikian, tiba-tiba, dalam pikirannya muncul sosok Randika dengan senyuman nakalnya itu. Mungkin sejak dia menolong dirinya di taman itu, dia sudah jatuh cinta padanya. Viona lalu memejamkan matanya dan berusaha menenangkan dirinya. "Dengan begini aku harap kau sadar telah membuang waktumu untukku. Aku punya urusan lain dan aku perlu mengurusnya segera mungkin." Ketika Viona hendak pergi, tangannya ditarik oleh Kevin. Melihat Viona yang mengerutkan dahinya, Kevin dengan cepat mengatakan. "Viona, aku tahu kita tidak bisa berpacaran setidaknya aku harap kita bisa tetap menjadi teman. Sebagai teman, aku minta tolong temani aku sebentar." Melihat muka melas Kevin, Viona sedikit ragu. "Jangan khawatir, kita hanya minum dan mengobrol. Aku tidak akan berbuat aneh-aneh." Kevin memaksakan dirinya tersenyum tetapi dalam hatinya dia sangat marah. Dia sudah membulatkan tekadnya untuk memakai obat yang dibawanya untuk membuat teler Viona. "Baiklah." Mendengar Kevin ingin menjaga hubungan pertemanan mereka, Viona menganggap tidak ada salahnya dengan hal itu. "Aku cuma tidak habis pikir, pria mana yang beruntung yang bisa mendapatkan dirimu yang cantik ini sebagai pasangannya." Ketika berbicara, Kevin memasukkan obatnya ke dalam minuman Viona tanpa disadarinya. Namun, hal ini tidak luput dari penglihatan Randika. "Mungkin ini adalah hari terakhir kita bertemu." Kevin mengangkat gelasnya dan ingin bersulang dengan Viona. "Aku harap besok kita akan sama-sama membuka lembaran baru." "Bersulang untuk kebaikan kita masing-masing," Kata Viona sambil tersenyum. "Aku harap kau mendapatkan pasangan hidupmu segera mungkin." "Bersulang." Mata Kevin sudah dipenuhi sinar kelicikkan. Dia menempelkan bibirnya di gelasnya tetapi tidak meminumnya. Dia menunggu Viona meminum minuman miliknya. Malam ini kau milikku! Pikiran mesumnya sudah ke mana-mana. Karena dirinya tidak bisa memiliki Viona, setidaknya malam dia akan menjadi milikku! Tetapi seketika itu juga, sebuah tangan menampar meja mereka. Kevin terkejut dan bahkan Viona memecahkan gelasnya saking terkejutnya. "Siapa kamu?" Wajah Kevin terlihat jelek karena rencananya telah gagal. Karena pria ini, gelas Viona telah pecah dan minumannya telah tumpah di lantai. Viona menoleh dan melihat bahwa orang tersebut adalah Randika. Dia terdiam membeku bukan karena keterkejutannya tetapi karena kata-kata yang dilontarkan Randika. "Aku pacarnya Viona, kamu siapa?" Randika tersenyum dan meminta pelayan untuk membersihkan minuman yang tumpah. Dia lalu menarik tangan Viona dan mengatakan. "Sayang kenapa kamu pergi sendirian tanpa mengabariku?" Setelah itu, tanpa mempedulikan tatapan Kevin, dia duduk di sebelah Viona. "Sayang maafkan aku yang terlalu cemburu ini. Minumanmu juga sampai jatuh, sini akan kubelikan yang baru." Randika lalu mengambil menu dan memanggil pelayan yang lain. "Minuman ini cocok dengan seleramu yang suka manis itu, yang ini juga terlihat enak." Randika merangkul bahu Viona sambil terus melihat menunya. Kevin, yang dari tadi melihat mereka berdua bermesraan, mulai tidak dapat menahan diri karena diabaikan. "Kalau begitu kami pesan ini dan segelas air untukku." Randika lalu menurunkan buku menu dan bertanya. "Sayang, apakah kamu yang membayar minuman kita nanti?" "Tidak." Viona menggelengkan kepalanya. "Temanku Kevin ini ngomong kalau dia akan mentraktirku." "Oh?" Pandangan Randika mengarah kepada Kevin. "Wah terima kasih bro! Kau memang dermawan sekali. Kalau begitu aku pesan yang lain ya!" Melihat senyuman Randika itu, Kevin tersenyum canggung. Malam penuh gairahnya telah gagal? Bajingan ini berani-beraninya ingin mengambil apa yang telah menjadi milikku. Beruntung aku tidak membunuhmu! Randika juga berpikir kalau dia membunuhnya, siapa yang akan membayar minuman mahal ini. "Pesan saja, temannya Viona adalah temanku juga!" Kevin segera tersenyum hangat dan Randika membalas senyumannya. "Kau benar-benar dermawan sekali. Senang berkenalan denganmu." Kemudian Randika mengajaknya bersalaman. Untuk menghindari kecanggungan, Kevin berjabat tangan dengan Randika. Seketika itu juga, tangannya diremas kuat oleh Randika. Dia merasa bahwa tangannya itu mulai remuk. "Lho? Kenapa mukamu jadi pucat begitu?" Randika pura-pura bingung dan memegang bahu Kevin. "Apakah kamu perlu ke dokter?" Katanya sambil meremas bahu Kevin. Meskipun begitu, Kevin tidak berteriak sakit karena dia masih ingin menunjukan sisi kerennya kepada Viona. Namun, tatapan mata Kevin menjadi tajam dan melototi Randika. Ketika dia mengetahui bahwa Viona memperhatikan mereka, dia mengatakan. "Ah tidak apa-apa, perutku tiba-tiba sakit." "Oh begitu! Kalau kau minum alkohol sebanyak itu tidak heran perutmu tidak kuat. Kau malah membuang uangmu dengan memuntahkannya. Spesialis bar ini bukan di alkoholnya tetapi mocktailnya. Sini aku bantu pilihkan, pelayan kami mau pesan!" Ketika pelayan itu datang sambil membawa menu, Randika langsung memesan. "Aku ingin yang ini, ini, itu dan ini." Seluruh mocktail yang paling mahal dipesan oleh Randika. Kemudian dia membisiki pelayan tersebut. "Nanti tolong bungkuskan aku 10 tiap minuman itu ya, kira-kira 30 menit lagi aku ambil." Pelayan itu terkejut tetapi Randika langsung mengatakan, "Jangan khawatir, temanku ini sangat kaya bahkan dia sanggup membeli bar ini hahaha." Pelayan itu segera memperhatikan cara berpakaian Kevin dan mengangguk. Lalu Randika menoleh sambil tersenyum, "Jangan khawatir, aku sudah pesan untuk kamu bawa pulang biar kamu nanti nyaman di rumah. Omong-omong ini semua dibayar olehmu kan? Dompetku ketinggalan soalnya di rumah hahahaha!" Kevin benar-benar naik pitam ketika mendengarnya. Bisa-bisanya pria ini tidak tahu diri seperti itu? "Tentu saja!" Kata Kevin dengan nada dingin. Harga minuman di bar ini tidak terlalu mahal, tetapi mocktail yang dipesan Randika itu setidaknya berharga 4x lebih mahal daripada minuman biasa. Tiap minuman hampir mencapai 200 ribu rupiah." Di sisi lain, Randika merasa beruntung karena dia bisa minum secara gratis. Kevin merasa ada yang janggal dan ingin mengorek informasi lebih lanjut. Dia berkata pada Viona, "Vi, apakah dia beneran pacarmu?" Viona terkejut ketika mendengar pertanyaan itu. Dia lalu menoleh ke arah Randika dan mukanya memerah. Dia tidak menjawab ataupun menyangkal pertanyaan itu. Melihat Viona yang tertunduk malu itu, hati Kevin terasa sakit. Hampir 10 bulan dia mengejar-ngejar Viona. Pertanyaan utamanya adalah mengapa bajingan tidak tahu diri ini mampu mencuri hati Viona sedangkan dirinya tidak? Kevin tidak habis pikir. Randika melihat muka Kevin dan menebak apa yang sedang dipikirkan orang itu. Oke mari kita berdansa! "Eh ini enak lho beib, cobalah! Jangan takut gemuk, kau cantik apa adanya kok!" Randika menyodorkan mocktail yang dipesannya sebelumnya sambil mencium pipi Viona. Melihat tindakan Randika itu, Kevin kembali naik pitam. Dia sudah memeras dirinya dengan memesan minuman sebanyak itu dan sekarang wanita incarannya dia cium dengan mudah? Yang lebih membuatnya marah adalah dia hanya bisa menyaksikan semua ini tanpa bisa berbuat apa-apa. "Oh ya, ini yang tadi aku rekomendasikan kepadamu. Cobalah." Randika melihat bahwa api dendam mulai membara di hati Kevin jadi dia bermaksud untuk memberinya minyak agar lebih berkobar lagi. Saat menyodorkannya, Randika dengan sengaja menumpahkan sedikit minuman tersebut ke Kevin. "Wah maaf bro! Aku tidak sengaja. Pelayan bisa minta lap tidak?" Randika pura-pura terlihat peduli. Kevin hanya memelototi Randika dengan wajah muramnya. Hanya orang licik yang bisa melihat kelicikan orang lain, Randika pasti berusaha memanas-manasi dirinya. Sepertinya orang ini juga tahu tentang rencanaku untuk membuat teler Viona. Menghela napas panjang, Kevin menatap Randika dan bertanya. "Viona, apakah pria ini benar-benar pacarmu?" Viona mengerutkan dahinya, bukankah kau sudah bertanya? "Hei kenapa kau ragu begitu? Aku bisa memberikanmu sebuah bukti agar bisa percaya!" Randika lalu berdiri dan memeluk Viona. Seketika itu juga dia mencium bibirnya! Kedua bibir itu bertemu dan mempersilahkan lidah mereka untuk bersilaturahmi. Viona aslinya terkejut dengan tindakan Randika ini. Kemudian dia merasakan dada bidang Randika dan tidak bisa menahan diri untuk mengelusnya. Dia lalu berusaha melepaskan diri tetapi lidah Randika tidak memberi kesempatan itu. Kevin benar-benar patah hati. Dia bahkan bisa mendengar hatinya yang hancur menjadi debu. Kevin menatap Randika sambil menggertakan giginya. Dia merasa Randika berkata pada dirinya bahwa dia bisa mendapatkan apa yang dia tidak bisa dapatkan. Selama 10 bulan ini, dia merasa bahwa Viona pada akhirnya akan jatuh pada pelukkannya dan menjadi wanitanya. Mimpi indah itu sekarang telah hancur! Setelah 20 detik, mereka berdua akhirnya selesai berciuman. Viona terlihat kecapekan. Randika memperhatikan ekspresi Kevin. Wajahnya benar-benar menjadi buruk rupa dengan tatapan matanya penuh dengan amarah. "Maafkan aku, aku perlu ke toilet." Kevin kemudian berdiri dan meninggalkan mereka berdua. "Apa maksudmu tadi?" Viona bertanya sambil tersipu malu. "Hmm? Aku hanya menegaskan bahwa tidak ada yang boleh mengusik wanitaku!" Kata Randika sambil tersenyum. "Maksudmu aku?" Viona semakin tersipu malu. "Tentu saja meskipun hubungan kita belum resmi." Randika lalu meraih tangan Viona. "Kalau kau mau, sebentar lagi kita ke hotel dan meresmikan hubungan kita. Dengan begitu kau akan menjadi milikku!" "Akan kupikirkan." Viona kembali menundukkan kepalanya sambil menikmati minumannya. Chapter 39: Apa Perlu Aku Memakai Kedua Tanganku? Kevin segera menuju ke kamar mandi dengan berwajah muram. Dia segera menelepon seseorang sesampainya di sana. Tidak butuh waktu lama untuknya terhubung. Suara di balik teleponnya sangat bising. "Siapa? Aku sedang main poker tahu! Ganggu saja!" "Aku punya kerjaan buatmu, mau tidak?" Hati Kevin masih penuh dengan kebencian terhadap Randika. "Kerjaan apa?" "Menghajar orang." "Bah, aku tidak punya waktu untuk itu. Sudah jangan telepon lagi, aku masih bermain" Kevin langsung mengerti bahwa dia harus memasang harga terlebih dahulu. "Sepuluh juta." "Aku sudah bilang, aku tidak punya waktu." "Dua puluh." "Hmmm baiklah, besok akan kami urus orang itu." "Tiga puluh dan kau harus menghajarnya sekarang!" Kevin benar-benar ingin melihat Randika yang bonyok di depan Viona. "Lima puluh dan aku berangkat sekarang." Bajingan tidak tahu diri, masih sempat untuk menawar? Kevin tidak punya pilihan selain menggertakkan giginya. Walaupun dia kaya, perasaan diperas seperti ini tidaklah menyenangkan. "Baiklah, cepat bawa orang-orangmu ke sini. Aku di tempat bar kapan hari." Setelah menutup teleponnya, Kevin menghela napas. Kembali ke tempat duduknya, dia melihat Randika dan Viona yang asyik mengobrol dengan mesra selagi dirinya tidak ada. "Maaf aku agak lama." Kevin duduk kembali. Randika menatapnya dan melihat wajah pria itu sudah tenang kembali. Dia tersenyum di dalam hatinya. "Akhirnya kau kembali, ini minumlah yang baru kupesan. Rasanya sepadan dengan harganya!" Randika kembali menyodorkan minumannya. Kevin ragu ketika diberi minuman tersebut, dia tidak tahu apa isi dari minuman tersebut. "Maaf, perutku sedang tidak enak. Aku berhenti dulu minumnya." Kevin membuat alasan masuk akal agar tidak meminumnya. "Sayang sekali." Randika menggelengkan kepalanya. Dia lalu menoleh ke Viona dan mengatakan, "Viona sudah waktunya untuk kita pulang." "Ah, jangan pergi dulu! Temani aku sebentar." Kevin langsung mencegat mereka. Kalau mereka pulang, buat apa dia membayar 50 juta? Randika dan Viona saling bertatapan, tapi Randika mengetahui bahwa Kevin ingin mencegahnya pulang. Tatapan mata Kevin mengindikasikan bahwa dia memiliki rencana. "Baiklah, kita akan menemanimu sebentar. Tidak baik juga tiba-tiba meninggalkanmu ketika kau baru balik." Randika sebenarnya penasaran, rencana licik apalagi yang dipersiapkan olehnya. Kevin mulai was-was, apakah pria itu mengetahui rencananya? Dia hanya bisa berharap bahwa Randika tidak mengetahuinya. Lagipula, setelah para preman itu datang maka dirinya lah pemenang sesungguhnya. "Omong-omong, bagaimana pria ini bisa meluluhkan hatimu Viona? Coba ceritakan kisah kalian." Kevin segera mengganti topik dan berusaha mengulur waktu. Viona mulai bercerita ketika dirinya yang memancing di taman dan Randika menyelamatkan dirinya. Ketika dia bercerita, terdengar suara gaduh dari luar. Akhirnya semua tatapan mata di bar menuju suara itu berasal. Ternyata itu adalah segumbulan orang yang membawa tongkat logam di tangan mereka. Muka Kevin tidak bisa berhenti tersenyum dan tidak sabar melihat muka bonyok Randika. "Lho kok kamu tersenyum ke arahku? Maaf aku tidak homo karena aku punya Viona." Kata Randika dengan santai. "Hahaha kita lihat apakah sebentar lagi kau bisa bacot seperti sekarang. Kau telah mencuri Viona dariku dan sekarang kau akan menerima ganjarannya!" Kata Kevin dengan suara dingin. Viona terkejut dengan perkataan Kevin, jadi orang-orang itu adalah suruhannya? "Tunggulah aku di sini." Bisik Randika pada Viona. Randika lalu berdiri dan berbicara di depan wajah Kevin. "Ternyata kau bukan hanya modal tampang saja ya, pintar juga kau memanggil orang ke sini." "Tentu saja, aku tidak mau mengotori tanganku dengan darah hinamu itu." Penampilan tenang Kevin benar-benar hilang dan sekarang dia terlihat jahat dan licik. "Kau salah akan satu hal." Randika menghela napas. "Yang hina itu yang menaruh obat di minuman orang." "Kau!" Kevin benar-benar marah. "Aku akan menghajarmu sendiri!" "Ayo kita keluar, jangan membuat keributan di sini." Randika lalu berjalan keluar sambil diikuti Kevin dan teman-temannya. Ketika mereka semua keluar, orang-orang di jalan langsung menyingkir karena penampilan menakutkan dari para preman itu. Mereka segera mengepung Randika dan bermain-main dengan tongkat logam mereka, menghasilkan kegaduhan. "Hmmm? Kalian ingin kuhajar juga?" Randika berkata dengan nada datar pada para preman itu. Salah satu dari mereka maju dan mengatakan. "Jadi kau adalah mangsa kami?" Dia adalah yang ditelepon oleh Kevin sebelumnya. Orang yang bernama Rio ini sudah melakukan pekerjaan kotor Kevin berkali-kali. "Hajar dia sampai mati dan akan kuberikan 50 juta itu setelahnya." Ketika para preman ini mendengar nominalnya, mereka segera bersorak dan darah mereka mendidih. Rio juga tidak kalah bersemangatnya, dia menunjuk Randika dengan tongkatnya. "Akan kuberi kau pilihan, mati secara cepat atau mati perlahan?" "Perlahan saja." Kata Randika dengan santai. "Oke, akan kukabulkan." Setelah itu, Rio memberi sinyal pada bawahannya dan mereka menyerbu Randika. "Tunggu! Apakah aku perlu memakai kedua tanganku?" Randika pura-pura takut. Ketika mendengarnya, Rio dan semuanya terkejut lalu tertawa. "Sebentar lagi tanganmu itu tidak bisa bergerak!" "Baiklah kalau begitu, aku tidak perlu menahan diri." Kata Randika. Seketika itu juga, Randika menerjang maju. Para preman yang masih sibuk tertawa tidak bisa bereaksi terhadap kecepatannya. Duak! Salah satu dari mereka telah melayang dan menabrak temannya yang lain. Dari arah belakangnya, sebuah tongkat sudah mengarah padanya. Randika tidak menghindari melainkan memuku perut orang tersebut yang terbuka dan membantingnya hingga pingsan. Mengambil tongkat yang jatuh, dia melemparnya dan mengenai salah satu kepala hingga akhirnya berdarah-darah. Salah satu dari mereka lalu meraung dan menerjang maju, Randika hanya menendangnya dan dia pun tergeletak di tanah. Sekarang, semua preman itu menerjang Randika dan Randika hanya perlu 2 menit membereskan mereka semua. Dari awal hingga akhir, Rio hanya berdiri di samping Kevin. Sekarang dia tidak bisa berhenti gemetar, begitu pula si Kevin yang wajahnya bertambah pucat tiap detiknya. Apa yang terjadi? Pria itu ternyata jago berkelahi? Memangnya dia mantan pasukan khusus kok bisa-bisanya menghajar suruhannya semua? Bahkan pasukan khusus pun pasti akan kewalahan. Melihat Randika yang berjalan mendekati dirinya, Rio berteriak dengan suara serak. "Mau apa kau ke sini?" Randika tidak menjawab dan terus berjalan ke arahnya. "Tidak! Jangan bunuh aku!" Rio pun lari terbirit-birit dan tersandung setelah beberapa langkah. Pejalan kaki yang melihatnya langsung tertawa. Jleb! Saat dia hendak berdiri, sebuah tongkat telah menancap di antara pahanya. "Bukannya kau berniat membunuhku?" Randika sudah berada di depannya dan Rio tidak bisa berhenti ketakutan. Meskipun dia membawa senjatanya sendiri, dia tidak punya tenaga untuk melakukannya. Bahkan, dia mulai mengompol dan menangis. Randika lalu mengambil tongkat yang menancap itu dan mengarahkannya kepada Rio, "Kuberi 3 detik buat kalian lari dari sini. Kalau tidak mayat kalian akan mengapung di sungai." Rio yang mendengar hal itu langsung kabur tanpa mempedulikan apa-apa. Para bawahannya juga lari semburat. Sedangkan yang pingsan telah digendong oleh teman mereka. Mereka takut dengan pria mirip iblis ini. Randika lalu merasa puas bahwa satu masalah telah selesai. Dia lalu menoleh ke arah Kevin yang masih berdiri beku di samping. Kevin masih tidak dapat percaya dengan kejadian yang di depannya, saat dia menyadari tatapan Randika, dia langsung bergetar tanpa henti. Ketika Randika menghampirinya, dia mengambil langkah mundur tetapi tersandung dan jatuh. Semua orang yang di bar tertawa. Muka Kevin yang pucat menjadi merah ketika mendengar ejekan tawa itu. Hari ini dia benar-benar kalah. Yang lebih penting, kesempatannya untuk mendapatkan Viona sudah benar-benar hilang dan dia sudah tidak memiliki wajah untuk kembali ke bar ini. Ketika Randika sudah berdiri di hadapan Kevin, raut wajahnya yang sombong tadi itu benar-benar menjadi putih. "Tidak sepertimu, aku tidak perlu memanggil orang untuk mengatasi masalahku." Randika lalu mengangkat Kevin dengan satu tangannya. "Pergi dan jangan pernah tunjukan batang hidungmu lagi!" Randika lalu melempar Kevin hingga terjatuh dan berbalik menuju bar. Setelah itu, dia menjemput Viona dan memeluk pinggangnya lalu berjalan pergi dari bar itu. Chapter 40: Dengarkan Penjelasanku! Setelah merangkul pinggang Viona dan keluar dari bar, Randika menanyai Viona. "Kok bisa kamu kenal pria bajingan seperti itu?" Tanya Randika. "Dia adalah kenalan dari kenalanku." Viona mengerutkan dahinya. "Dari awal aku juga tidak suka dengannya tapi aku tidak menyangka dia sampai memanggil para preman itu." "Yang sudah berlalu biarlah berlalu." Randika tersenyum. "Asalkan kau selamat aku sudah senang." "Kau memang pintar berbicara manis ya." Viona juga ikut tersenyum. "Aku bukan hanya pintar dengan kata-kataku saja, sebenarnya kekuatanku jauh lebih hebat dari yang tadi lho." "Kekuatan apa?" Viona sedikit penasaran. Dia tahu bahwa Randika jago berkelahi ketika dia membuat para preman di perusahaan Cendrawasih berlutut semua. Randika lalu menarik Viona ke sebuah gang kecil di mana tidak ada orang dan memojokkannya pada tembok. Dia lalu mencium Viona sekali lagi! Kali ini Randika berusaha mendapatkan lidah Viona. Kepala Viona mulai tidak bisa bekerja lagi, sensasi nikmat dari ciuman panjangnya ini tidak bisa membuatnya berpikir. Tangan kecilnya itu mulai memukul-mukul ringan dada Randika, entah dia hendak mendorong Randika atau memintanya agar menciumnya lebih intim lagi. Randika masih menikmati kelembutan bibir Viona sambil mulai meraba-raba bagian lain. Tangan kirinya mulai bergerak ke bagian bawah dan menyelinap masuk dari balik celana dalam Viona sedangkan tangan kanannya meraba bagian dada Viona. Merasakan gerakan tangan Randika, Viona mulai sadar dari kenikmatannya dan berusaha melepaskan diri. Dia mendorong dan memalingkan wajahnya tetapi percuma, Randika mengecup lehernya sambil terus merabanya. Viona akhirnya menggigit telinga Randika! "Ah!" Randika terkejut dan Viona memanfaatkan hal ini untuk melepaskan diri. "Kenapa?" Randika tersenyum pahit, apakah ada yang salah dengan tekniknya? Hati Viona masih dilanda galau. Dia menyukai Randika sejak pertemuan mereka di taman, tetapi dia merasa belum ada kejelasan di antara mereka berdua. Dia merasa bahwa hubungan mereka yang sekarang terlalu cepat untuk dibawa ke ranjang. Melihat Viona yang terdiam dan menundukkan kepalanya, Randika tersenyum dan mengusap kepala perempuan itu. "Viona, kalau kamu merasa malu karena belum pernah melakukannya kau tidak perlu terlalu memikirkannya. Kita lalui ini secara perlahan saja. Untuk sekarang, bagaimana kalau kita membiasakan diri dengan ciuman saja? Lama-lama kamu akan terbiasa." Maksudnya membiasakan dengan ciuman itu apa? Viona sedikit kecewa dengan Randika dan berkata dengan nada sedih. "Biarkan aku pulang sendirian." Randika mengangguk dan ketika Viona lengah, dia menciumnya lagi! Namun kali ini ciuman itu biasa saja dan hanya beberapa detik. Viona kembali menjadi murung. "Huh!" Melihat senyuman nakal Randika, Viona menjadi marah. Jangan harap kau bisa menciumku lagi! Pikirnya. Ketika melihat Viona naik taksinya, Randika menggelengkan kepalanya dan memutuskan untuk pulang. Masalah utamanya belum dia selesaikan. ...ˇ­ Setelah kembali di rumah, Randika bertemu dengan Inggrid yang ada di ruang tamu. "Istriku tercinta, suamimu pulang!" Kata Randika sambil minta peluk. Inggrid hanya menanggapinya dengan muka cemberut dan berjalan menjauhinya. Wah, wah masalah ini ternyata lebih susah dari perkiraannya. "Tunggu! Yang tadi itu kau benar-benar salah paham." Randika segera mengejar Inggrid. "Hidupmu tidak ada hubungannya denganku." Kata Inggrid dengan nada dingin. "Kita hanya menjadi suami istri selama 3 bulan saja dan setelah itu kita tidak akan bertemu selamanya. Ingat itu baik-baik." Kali ini Randika merasa Inggrid benar-benar membencinya. "Setidaknya dengarkan aku dulu." Randika segera menyusul Inggrid dan berdiri di hadapannya. Inggrid langsung berputar arah, tidak mau melihat wajah Randika. Randika lalu mencengkeram bahu Inggrid. "Apa yang terjadi malam ini hanyalah salah paham. Aku bersumpah pada Yang Maha Esa kalau aku berbohong, dia boleh memotong alat kelaminku!" Inggrid menatapnya tajam dan wajahnya memerah, bisa-bisanya pria ini membawa alat kelaminnya? Dasar pria bar-bar. "Istriku aku mohon berikan aku beberapa menit untuk menjelaskannya! Beberapa detik saja sudah cukup kok." Kata Randika sambil tersenyum. "Siapa memangnya yang mau mendengarkan alasanmu? Lepaskan aku!" Teriak Inggrid. "Kau harus mendengarkannya." Randika tetap bersikeras ingin menjelaskan. Inggrid yang berjalan menuju ke lantai 2 segera disusul oleh Randika. "Sejujurnya aku tidak menyangka akan bertemu dengan wanita itu. Setelah aku berhasil mengejar pembunuh itu, aku bertemu dengan wanita yang bernama Elva itu dan kondisinya waktu itu ˇ­. " "Aku tidak peduli, aku tidak peduli!" Inggrid segera menutup telinganya dan berlari menaiki tangga. Randika kembali menyusulnya. "Kau harus mendengarnya sampai habis!" Inggrid lalu berhenti dan menoleh. "Buat apa repot-repot menjelaskan? Aku punya mata dan aku bisa menyimpulkan sendiri. Aku melihatmu membawa wanita itu ke hotel dan wanita itu sudah setengah telanjang dan pura-pura tidur pas aku sampai di sana. Buat apa menjelaskannya lagi?" "Jangan percaya dengan apa yang kau lihat, itu bisa menipumu! Aku tahu kau tidak percaya aku akan melakukan hal itu padamu." "Aku tidak butuh penjelasanmu dan kau tidak perlu repot-repot berusaha menjelaskannya." Inggrid lalu menaiki tangga lagi, dan Randika menyusulnya lagi. "Aku hanya membantunya mengeluarkan racun di tubuhnya. Bajunya terlepas karena pori-pori tubuhnya perlu terbuka. Semua itu sama dengan ketika aku menyelamatkanmu dari keracunan di kantor." "Aku tidak mau dengar, aku tidak mau dengar!" "Kau harus mendengarnya! Kejadiannya sama persis ketika aku menyuruhmu membuka baju pada saat itu." Randika mengikuti Inggrid ke mana-mana seperti magnet. Ke mana pun dia pergi, Randika akan mengikutinya. Kalau perlu, dia tidak akan membiarkan Inggrid tidur sebelum dia mendengarkan dirinya. Randika tetap bersikukuh menjelaskan sedangkan Inggrid tidak peduli dan percaya dengan apa yang dilihatnya. Apalagi, pria ini ahli dalam mempermainkan kata-kata jadi dia tidak boleh terlena dengan kata-kata manisnya. "Aku tidak mau mendengarmu dan aku tidak peduli denganmu." Inggrid tetap berjalan tanpa henti. Randika segera berdiri di hadapannya dan memintanya berhenti. "Kau harus mendengarkanku sampai selesai. Semua ini hanya salah paham. Setelah aku berhasil mengejar pembunuh itu, aku bertemu dengan Elva yang diberi obat oleh ˇ­. " "AAAAAA!" Tiba-tiba Inggrid berteriak keras dan mengalahkan volume suara Randika. "Sudah aku bilang kau tidak perlu menjelaskan dan aku tidak mau mendengar alasanmu!" Setelah itu Inggrid berlari menuju toilet. Randika mulai jengkel. Memang benar dia membuka pakaian Elva dan menikmati pemandangan itu, tetapi dia melakukannya untuk menyelamatkan nyawanya sama seperti waktu dia menyelamatkan Inggrid di kantornya. Kalau saja Inggrid mau memahami hal ini, semua kesalahpahaman ini bisa terselesaikan. Inggrid dengan cepat menutup pintu dan duduk di toilet dengan celananya digantung di pintu. Ketika mendengar tidak ada suara Randika lagi, dia bernapas lega. Sesaat kemudian, pintu toilet itu terbuka dan wajah pria paling dibencinya nampak dari balik pintu. Inggrid membeku, pria ini tidak tahu arti kata dari privasi? Ketika Inggrid hendak berteriak, Randika sudah berlari sekuat tenaga dan menutup mulutnya. Lagi-lagi Randika berhasil mencegahnya untuk berteriak. Namun, suara langkah kaki dari luar ruangan membuat hatinya berdegup kencang. "Waduh, Ibu Ipah ngapain juga tiba-tiba naik ke sini." Inggrid yang tidak memakai celana itu menatap Randika. Benar-benar pria tidak tahu diri, ini kedua kalinya kau menyekapku di kamar mandiku. ''Huh ketika Ibu Ipah sampai di depan pintu, aku akan berteriak sekuat tenaga dan dia akan menghajarmu!'' Pikir Inggrid. Ketika mendengar suara langkah Ibu Ipah semakin dekat, Inggrid berusaha menggigit tangan Randika seperti sebelumnya. Tetapi Randika sudah belajar dari pengalaman dan tidak memberi kesempatan yang sama. Inggrid masih belum menyerah. Kali ini dia tidak repot-repot menutupi bagian bawahnya yang terekspos dan berusaha melepas tangan Randika. "Diamlah sebentar! Ibu Ipah ada di luarˇ­" Kata Randika dengan suara pelan. Inggrid masih berontak dan berusaha memberitahu keadaannya kepada Ibu Ipah yang ada di luar. Mengetahui bahwa melepaskan tangan Randika adalah tindakan percuma, dia mulai menancapkan kukunya ke tangan Randika! "Hissss." Randika berusaha menahan rasa sakitnya itu sambil menggertakan gigi. Dia tidak punya pilihan, Ibu Ipah sekarang ada di depan pintu kamar mandi. Ibu Ipah menempelkan kupingnya di pintu untuk beberapa saat. Dia mendengar suara teriakan teredam dan juga suara seperti pinggang yang bertabrakan. Sepertinya ini suara mereka melampiaskan hasrat mereka? Suara di dalam mengindikasikan bahwa kegiatan mereka tidak ingin terdengar. Memang sih pasangan suami istri ini pernah melakukannya di lantai 1 di ruang tamu, tetapi masa melakukannya di kamar mandi? "Ya ampun, generasi muda memang tidak pilih-pilih tempat. Bahkan kamar mandi saja dijadikan tempat pemuas nafsu. Mau jadi apa negara ini ckck." Meskipun suara Ibu Ipah pelan, suara ini terdengar oleh Randika dan Inggrid. Inggrid merasa malu dan menyalahkan Randika, sedangkan Randika hanya tertawa. Ibu Ipah ternyata pengertian juga, memang dia yang terbaik. "Tolong, aku hanya minta kau mendengarkan tanpa memotong penjelasanku kali ini." Kata Randika. Inggrid masih berusaha berteriak dari balik tangan Randika. Bajingan, kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk melawan. "Aku anggap kamu setuju." Randika mulai menjelaskan. "Setelah aku berhasil mengejar pembunuh itu, aku bertemu dengan Elva, wanita yang ada di hotel itu. Dia rupanya telah diberi obat sama seseorang dan keadaanya benar-benar buruk. Aku membawanya ke hotel untuk menyelamatkan nyawanya. Aku menggunakan akupuntur jadi aku harus membuka bajunya. Tentu saja aku tidak membuka pakaian dalamnya dan setelah aku selesai dan mau memakaikannya kembali, kamu mengebel pintu. Percayalah padaku, aku tidak akan mengkhianati istriku yang mencintaiku. Jika aku melakukannya, aku akan melakukannya denganmu." Setelah Randika selesai berbicara, dia memperhatikan ekspresi Inggrid dan melihat bahwa dia menerima penjelasannya cukup baik. "Istriku, kau percaya kan padaku? Kalau kamu percaya aku akan melepaskanmu." Inggrid hanya menatap tajam pada Randika dan tidak menganggukan kepalanya. Randika pusing terhadap istrinya satu ini. Dia harus meyakinkan Inggrid. "Baiklah, aku keterlaluan dengan mengancammu seperti ini. Aku akan melepaskanmu dan mendengarkan jawabanmu." Setelah melepaskannya, Inggrid segera mengatakan. "Jangan lihat ke sini!" Ha? Randika tidak menyangka mendengar perkataan seperti itu, barulah dia sadar bahwa Inggrid sedang tidak memakai celana. Setelah Randika tidak melihat, Inggrid segera memakai celananya. Di tengah-tengahnya, Randika menoleh. "Kamu belum memberikan jawabanmu." "Kyaa!" Inggrid langsung berteriak. Randika langsung menyekap Inggrid sekali lagi. Pria ini pasti ingin mengintip! Dia hanya pura-pura menyekapku hanya untuk melihatku telanjang! Inggrid mulai jengkel. Celananya baru separuh dia pakai dan setelah Randika menerjangnya secara tiba-tiba, celananya melorot hingga ke kaki. Melihat tatapan marah Inggrid, Randika langsung sadar bahwa dia memakai cara yang salah lagi. Dia segera ingin menangkap kedua tangan istrinya itu ternyata salah sasaran. Kedua bakpau mengisi penuh tangannya. Randika dan Inggrid sama-sama terdiam. Tangan Randika yang menyentuh dada Inggrid itu tiba-tiba meremas sekali. "Ah maksudku bukan begini!" Randika langsung menarik tangannya. "Pergi!" Inggrid nampak ingin mencabik-cabik Randika. "Aku belum mendapatkan jawabanmu. Apakah kau percaya denganku?" Randika masih bersikukuh. Inggrid benar-benar kehabisan kata-kata. Pria ini benar-benar keras kepala, apa gunanya memang kalau aku mempercayainya atau tidak? Tiga bulan lagi mereka akan berpisah dan tidak bertemu lagi. "Iya percaya, percaya! Keluar sekarang!" Inggrid merasa dirinya menggila. "Akhirnya! Ternyata istriku pengertian juga." Randika lalu tersenyum. "Kalau begitu aku keluar." Setelah Randika berada di ambang pintu, Inggrid menghela napas lega. Namun, kepala Randika menoleh dan mengatakan. "Kutunggu di kamar beruangku yang manis!" Seketika itu juga, benda-benda mulai melayang. Pria mesum tak tahu diri! Dirinya memang benar-benar benci dengan pria satu ini! Chapter 41: Apakah Dia Masih Manusia? Hari berikutnya Randika dan Inggrid berangkat bersama ke kantor. Hari ini, Randika berencana untuk membangun kembali ruangannya. Setelah sebelumnya dihancurkan oleh geng kapak, Randika baru hari ini memiliki kesempatan untuk membangun kembali. Namun kali ini dia ingin membangunnya di lantai lain. Meskipun ada kemungkinan musuh sudah mengetahui rencana Randika membuat ramuan X di perusahaan ini, perusahaan Cendrawasih ini masih merupakan tempat terbaik untuk membangun laboratoriumnya. Dan kali ini dia berniat membuatnya di tempat yang tidak terlalu menyolok. Baginya tempat untuk pengembangan ramuan X ini sangat penting. Meskipun kakeknya telah membantunya dalam menahan kekuatan misteriusnya, itu hanya bertahan 1 bulan. Jika tidak ada tempat baginya untuk memproduksi ramuan X, maka setelah 1 bulan nama Ares hanyalah mitos saja. Kekuatan miliknya akan sangat berkurang dan dirinya menjadi mangsa empuk. Inggrid sendiri sudah lebih tenang daripada kemarin, Randika merasa lega melihatnya. Setelah berpamitan, Randika ingin mengecek pekerjaan parfumnya terlebih dahulu. "Pagi semua." Randika menyapa semua bawahannya dan melihat Viona di pojokan dan menghampirinya. Viona yang sedang fokus akhirnya menoleh dan melihat sosok Randika. Dia langsung terpikir kejadian kemarin dan tersipu malu. Dia menundukan kepalanya dan menjawab salam dari Randika dengan suara pelan lalu pergi dari situ. Melihat Viona yang cuek, Randika mengerutkan dahinya. Ada apa dengannya? Mengesampingkan hal itu, Randika mulai mengarahkan timnya terlebih dahulu. Setelah menjawab beberapa pertanyaan Kelvin dan bawahannya yang lain, Randika meninggalkan ruangan tersebut. Dia lalu memutuskan untuk mengamati seluruh gedung. Lantai 9 ini sudah tidak cocok untuknya, dia harus mencari ruangan lain. Dia mulai mengecek dari lantai 2. Setiap lantai di gedung ini memiliki kegunaannya tersendiri. Contohnya lantai 5, karena tempat ini dikhususkan untuk tempat penelitian parfum, ruangan mereka lebih sedikit dan lebih banyak orang berada di lantai ini. Ruangan kosongnya pun tidak sebanyak lantai 9. Ketika berjalan-jalan di lantai 5 ini, dia menemukan sebuah ruangan kosong yang cocok untuknya. Ruangan ini sebelumnya digunakan untuk tempat penyimpanan tetapi karena departemen pembuatan parfum pindah ke lantai 9, tempat ini tidak terpakai lagi. Randika lalu mengamati ruangan ini dengan seksama. Mantap! Karena lantai 5 ini juga banyak para penelitinya, membuat laboratorium di lantai ini seharusnya tidak terlalu menyolok! Setelah memutuskannya, dia segera memanggil beberapa orang untuk membersihkan ruangan ini. Untuk ijin menggunakannya, Inggrid pasti setuju toh pikirnya ruangan ini juga tidak terpakai. Butuh 2 jam untuk membersihkan dan memindahkan peralatan yang dibutuhkan ke ruangan baru ini. Setelah itu, Randika memulai kembali penelitian dan pengembangan ramuan X miliknya. Selama proses ini, Viona bekerja keras dalam membantu Randika. Dia melakukan apa pun yang ditugaskan tetapi, dari awal hingga akhir, dia tidak berbicara satu kalipun. "Viona, ambil dan bersihkan alat itu." "Vi, tolong ambil catatan di lantai atas." "Vi, tolong campurkan cairan itu." "Vi...." Randika merasa sikap dinginnya Viona ini mungkin karena kejadian semalam oleh karena itu, dia memanggil Viona terus menerus untuk mencari kesempatan berbaikan. Tapi dari awal hingga akhir, Viona sama sekali tidak berbicara, dia hanya menganggukan kepalanya. ...ˇ­.. Setelah bekerja dua jam penuh, Randika mulai lelah. Melihat tidak ada kemajuan pada Viona, dia memiliki rencana. "Vi, bisa minta tolong? Tolong belikan minuman untukku, tapi jangan beli di kantin ini ya. Minumannya tidak ada yang segar, beli saja di luar dan carikan aku es degan." Permintaan Randika cukup aneh tetapi Viona tidak menolak dan berjalan keluar dari ruangan. Masih saja dingin? Randika menggelengkan kepalanya. Semalam mereka baru saja berciuman mesra, kenapa hari ini sikapnya berubah drastis begini? Lalu dia berpikir dalam hatinya bahwa lebih baik hari ini dia bermesraan dengan Inggrid saja. Randika lalu kembali bekerja sambil menunggu Viona kembali. Beberapa menit kemudian ketika Randika sibuk menjelaskan, terdengar suara teriakan dari luar gedung. "Tolong, tolong aku! Randika tolong!" Viona? Viona! Dengan pendengaran supernya itu, dia mengetahui bahwa yang berteriak adalah Viona Randika lalu bergegas menuju jendela dan fokus kembali ke telinganya. Suaranya itu tiba-tiba sudah hilang. Apakah dia berhalusinasi karena kecapekan? Tetapi seorang Ares berhalusinasi? Dia bukan jomblo yang berimajinasi punya pacar, dia salah satu dari 12 Dewa Olimpus. Dari segala aspek, pendengarannya sudah mencapai ranah tertinggi. Kali ini suara Viona kembali terdengar, "Tolong, tolong aku! Randika tolong!" Viona! Dia sekarang yakin bahwa itu adalah suara Viona! Setelah itu dia membuka matanya dan melihat ke bawah. Dia melihat Viona sedang disekap oleh beberapa orang memakai topeng dan berusaha memasukkannya ke dalam mobil. Penculikan! Mata Randika langsung mengerut ketika melihat Cincin Kerberos di tangan mereka. Bukankah itu Jeratan Neraka? Api amarah Randika mulai terbakar. Karena mereka tidak bisa melukai dirinya apakah mereka beralih ke orang-orang terdekat Randika yang tidak berdosa itu? Hal ini membuat Randika benar-benar marah. Jika Ares marah, kematian selalu mengikuti setiap langkahnya! Saat ini, Viona sudah dibawa ke dalam mobil dan mereka hendak pergi. "Viona!" Dengan teriakan kerasnya itu, semua orang memandangi Randika yang berdiri di atas jendela. Randika sekarang berada di lantai 5, jika dia melompat sembarangan dia akan terluka. Dia lalu menyadari bahwa di bawah ada sebuah tong sampah besar yang tertutup. Salah satu dari penculik menyadari sosok Randika yang ada di lantai 5 itu. Dia mengejeknya dengan memberinya jari tengah dan masuk ke dalam mobil. Tanpa ragu-ragu, Randika melompat turun! "Pak!" Semua orang di ruangan terkejut melihatnya. Ada apa? Apakah pemimpin mereka itu sudah gila? Randika jatuh dengan kecepatan tinggi. Sebelumnya dia sudah mensirkulasikan tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya dan menyesuaikan sudut tubuhnya di tengah udara. Para pejalan kaki yang mendengar teriakan Randika sebelumnya telah menyadari bahwa ada seseorang yang melompat dari lantai atas. Segera terjadi kehebohan. "Ada yang bunuh diri!" Seorang penjual rujak menunjuk ke arah Randika dan semua pelanggannya segera melihatnya. Reaksi orang-orang pun berbeda-beda. "Cepat panggil ambulan atau polisi!" "Cepat sekali jatuhnya!" "HPku mana! Pasti bakal viral ini!" Tetapi mereka semua satu suara yaitu hidup orang yang meloncat itu sudah pasti tamat bahkan menelepon superhero pun rasanya terlambat. Wajar jika mereka berpikiran seperti itu, kecepatan jatuh Randika benar-benar cepat Namun, di tengah udara Randika sudah memperkirakan arah jatuhnya dan mempersiapkan tenaga dalamnya. Ketika jaraknya dengan tanah sudah berada 50 meter, dia mengumpulkan tenaga dalamnya di kakinya dan dia jatuh dengan kakinya menghadap ke bawah. Gaya jatuhnya bagai superhero yang turun ke bumi. DUAR! Suara yang dihasilkan sangat keras. Tong sampah itu tidak kuat menahan Randika yang jatuh dengan kecepatan tinggi itu. Tong sampah itu sudah remuk dan tak berbentuk. Melihat orang tersebut sudah jatuh, para pejalan kaki itu mengepalkan hati mereka dan menghampiri untuk melihat mayat yang mati mengenaskan itu. Namun, para pejalan kaki ini tidak menyangka bahwa mereka akan dikecewakan. Bukannya melihat mayat dengan organ yang berceceran, mereka melihat Randika yang bangkit dari dalam tong sampah itu. "Buset orang itu masih hidup!" Orang yang merekam kejadian ini bahkan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Benar! Orang itu masih hidup! Randika tidak peduli dengan tatapan mata orang-orang dan fokus mencari mobil penculik. Setelah memastikan jalur mobil tersebut, dia mulai berlari dan menghilang dari kerumunan orang. Dari atas, para bawahan Randika akhirnya menghembuskan napas lega dan masih tidak percaya bahwa Randika benar-benar selamat dari insiden lompatnya itu. Hati mereka masih berdegup kencang ketika memikirkannya. Lompat dari lantai setinggi ini dan langsung berlari entah ke mana seakan-akan tidak terjadi apa-apa .... Apakah atasan mereka itu manusia? Dalam hati mereka semua berpikir seperti itu. Sebenarnya mereka tidak ingin membahasnya tetapi pertanyaan ini terlintas di pikiran mereka semua. Memangnya ada orang normal yang bisa lompat dari lantai 5 dan tidak mati? Paling cuma HP Nokia saja yang masih bisa bertahan. Randika, yang menjadi bahan perbincangan orang-orang, masih mengekori mobil yang menculik Viona tersebut! Chapter 42: Masih Berani Melawanku? Mata Randika tidak pernah lepas dari mobil para penculik itu. Saat ini, mobil tersebut sudah melaju kencang dan jarak di antara mereka cukup jauh. Randika mengumpulkan kembali tenaga dalamnya ke kakinya, bahkan samar-samar terdengar suara berdesis dari sepatunya. Dalam sesaat, Randika sudah mengejar dengan kecepatan luar biasa. Ketika dia pulang ke gunung kapan hari, kakeknya telah memberikan pengobatan padanya jadi selama satu bulan dia bisa memakai tenaga dalamnya tanpa perlu khawatir terhadap kekuatan misterius dalam tubuhnya. Dengan begitu, dia tidak perlu menahan diri lagi. Para pejalan kaki yang melihat Randika melompat itu terkejut kembali. Sudah lompat dan selamat saja sudah mukjizat, sekarang malah lari secepat itu? Dan hanya butuh beberapa detik saja sosok Randika sudah menghilang dari jarak pandang mereka. Semuanya merasa bahwa apa yang mereka lihat hari ini kemungkinan besar adalah mimpi, mana mungkin orang itu masih manusia? "Ma dia pasti Superman!" Teriak salah satu anak yang digendong ibunya. Matanya penuh dengan kekaguman sedangkan ibunya masih bingung dengan apa yang terjadi. Randika tidak peduli dengan pendapat orang yang melihat dirinya melompat dari lantai 5 sebelumnya, yang dia pedulikan hanyalah keselamatan Viona. Dia adalah penguasa dunia bawah tanah, berani-beraninya mereka merampas apa yang menjadi miliknya? Bahkan sesama 12 Dewa Olimpus tidak berani melakukannya. Kecepatan mobil para penculik termasuk cepat tapi Randika lebih cepat lagi. Jarak di antara mereka dengan cepat berkurang. Orang-orang yang sedang nongkrong di pinggir jalan tiba-tiba merasakan hembusan angin kuat melewati mereka. Mereka lalu menyadari bahwa angin tersebut berasal dari seorang yang berlari lebih cepat dari para mobil. Tidak cuma orang-orang itu saja yang kaget, para pengendara mobil juga kaget ketika Randika menyalip mereka. "Sayang, sungguh aku kemarin pulang itu ada urusan pekerjaan. Percayalah padaku, semua itu salah paham. Aku tidak mungkin aneh-aneh sama orang lain, hanya kamu satu-satunya di hidupku." Salah satu pengendara mobil yang sedang menelepon tiba-tiba merasakan hembusan angin kuat melewatinya dan melihat Randika menyalipnya! Setelah itu, dia melihat kecepatan mobilnya dan tanya ke istrinya dengan bingung. "Hei aku baru saja disalip orang yang lari dengan kakinya padahal aku nyetir 100 km/jam. Jangan-jangan aku masih tertidur di hotel ya?" Orang-orang juga menanyakan hal yang sama, apakah orang itu superhero? Randika menyalip mobil-mobil dengan cepat dan luwes. Mobil para penculik itu sudah ada di depan matanya! Namun, salah satu penculik sepertinya menyadari keberadaan Randika yang sudah sangat dekat itu dan mempercepat lajunya. Sayangnya semua itu percuma. Randika tetap mengekori mereka bahkan jarak di antara mereka semakin dekat. Tidak ada yang bisa lari dari Ares! Tak lama kemudian mereka mencapai perempatan. Pengendara dari arah sebelah kanan dan kiri sedang melaju. Namun, para penculik ini tidak peduli dan menancap gas mereka untuk menerobos paksa. Semua mobil mengebel tanpa henti dan tabrakan tidak terhindari. Meskipun mobil paling depan berhasil berhenti mendadak, mobil belakang mereka tidak bisa berhenti tepat waktu. Tabrakan beruntun! Para pengendara ini pada bingung, kenapa mobil depan mereka tiba-tiba berhenti? Mereka semua turun dan saling menyalahkan satu sama lain dan semuanya meminta ganti rugi. Selagi keadaan kacau, mobil para penculik itu berhasil menerobos dan melaju kencang kembali di jalan yang sepi. "Kak, kau masih melihat orang itu?" Di dalam mobil, salah satu penculik terlihat mengucurkan keringat dingin setelah mengetahui bahwa Randika berhasil mengejar mobil mereka. Memangnya ada manusia yang bisa seperti itu? Mana ada yang bisa mengalahkan kecepatan mobil? Orang yang duduk di belakang itu menoleh dan tidak melihat sosok Randika. "Kita berhasil mengecohnya." Semuanya menghembuskan napas lega. Si supir, yang jantungnya berdegup kencang dari tadi, ingin merokok untuk menenangkan diri. Dia membuka jendela mobilnya dan terkejut bukan main. Randika ada di sebelah kanan mereka! "Bajingan! Dia di kanan kita!" Si supir langsung banting ke kiri. "Orang ini ˇ­ pasti bukan manusia! Keluarkan senjata kalian dan bunuh dia secepatnya!" Viona yang wajahnya ditutupi kain terkejut ketika mobil banting ke kiri. Setelah itu orang-orang di sekitarnya sepertinya panik dan bergerak tanpa henti. Apakah Randika datang untuk menyelamatkannya? Dia percaya bahwa yang bisa menyelamatkan dirinya hanyalah Randika. Dia berdoa bahwa orang yang dikaguminya itu datang menyelamatkannya. Laju mobil masih cepat, namun si supir menyetirnya dengan satu tangan dan tangan satunya memegang sebuah pistol dan mengarah pada Randika. Dor! Tanpa ragu-ragu dia menembakkan pistolnya tetapi sosok Randika sudah menghilang. Dia terkejut sampai hampir kehilangan kendali mobil. Bukannya orang itu ada di sana sebelumnya? Apakah pelurunya sudah mengenainya dan pria itu terjatuh? Tetapi sosok orang itu menghilang sesaat setelah pistolnya menembak, harusnya bidikannya meleset. "Hei dia sekarang di belakang!" Teriak yang duduk di belakang. "Lho dia mau apaˇ­.. Eh dia lompat!" Duak! Suara keras terdengar di atap mobil mereka. "Dia ada di atas kita! BUNUH!" Orang yang duduk di belakang mengeluarkan AK 47 dan menembakkannya ke atap mobil. Suara tembakan yang memekakan telinga terdengar sangat keras. "Ah!" Viona segera menunduk dan menutup telinganya sambil berteriak keras. Seluruh atap terlihat bolong dan masih tidak ada jejak Randika. Mereka semua merinding dalam hati. Seketika itu juga, jendela mobil belakang tiba-tiba tertendang keras dan kacanya langsung pecah. Orang-orang yang masih kebingungan itu tidak dapat bereaksi selain menunduk saking kagetnya. Si supir langsung mengarahkan pistolnya ke kanan belakang tetapi sosok Randika tidak ada. Lalu ada suara langkah kaki di atap dan mereka kembali menembak atap mobil. Pada saat itu, Randika melayangkan sebuah pukulan ke jendela supir yang terbuka. Si supir yang juga ikut menembaki atap mobil itu tiba-tiba sudah tidak sadarkan diri. Namun, yang mengerikannya lagi ternyata lehernya telah patah dan kepalanya menghadap ke belakang. Satu pukulan dan Randika membunuh orang itu! Mobil lepas kendali dalam kecepatan tinggi lalu tanpa perlu perintah, orang yang duduk di depan segera mengambil kendali setirnya. Sedangkan sosok Randika sudah menghilang lagi. Lalu orang tersebut membuka pintu si supir dan menendang mayat temannya itu. "Sialan orang itu menghilang lagi." Orang-orang ini tampak acuh tak acuh terhadap kematian temannya itu. Mobil kembali melaju dengan cepat. Pada saat ini, jendela belakang bagian kiri tiba-tiba pecah. Orang-orang langsung membidik dan lagi-lagi tidak ada orang di sana. Lalu sepasang kaki muncul dari jendela kanan belakang dan mengenai salah satu penculik. Ketika temannya melihat Randika sudah masuk di mobil, dia hendak menembaknya tetapi tubuh temannya menghalanginya. Di saat dia ragu-ragu itu, Randika sudah melempar beberapa jarum dan menancap di pergelangan tangan orang tersebut. Tangannya tiba-tiba lemas dan tidak bisa bergerak. "Randika!" Viona yang kainnya dilepas oleh Randika itu merasa bersyukur bisa melihat wajah atasannya itu. Si supir baru itu benar-benar terkejut karena temannya tidak berdaya melawan Randika. Randika masih tidak mempedulikannya dan membuka pintu di kanannya dan melempar kedua penculik yang duduk di belakang itu! "Ahhhh!" Mobil yang di belakang mereka terkejut ketika melihat orang yang lompat dari mobil. Dia langsung menginjak remnya kuat-kuat tapi sudah terlambat. Orang yang jatuh itu dilindas berkali-kali oleh beberapa mobil. Darahnya muncrat ke mana-mana. Di dalam mobil cuma ada Randika, Viona dan si supir. Ketika si supir hendak membidik Randika, pisau sudah mendarat di lehernya. "Kalau kau ingin selamat, hentikan mobil itu di gang depan." Randika sepertinya ingin menangkap orang ini hidup-hidup. Karena sebelumnya pembunuh Jeratan Neraka tidak mengatakan apa-apa, kali ini dia harus mendapatkan informasi. Herannya, orang ini tidak melawan dan menuruti kata-kata Randika. Mereka lalu berhenti di suatu gang yang sepi. Randika lalu menyuruh Viona untuk tetap di mobil sebentar selagi dia mengurus orang tersebut. Saat mereka turun, sebuah mobil berhenti di belakangnya. Ternyata mereka diikuti oleh mobil! Mobil itu sepertinya bala bantuan musuh. Lima orang turun dari mobil tersebut. "Kau kira kami datang sendirian?" Si supir ini masih disandera Randika dengan pisau di lehernya. Lalu yang mengejutkannya adalah Randika melepaskannya! Kemudian bersama dengan teman-temannya itu, mereka mengepung Randika. Para penculik ini tidak berkata apa-apa melainkan hanya memandang satu sama lain. Tatapan mata mereka dipenuhi kebulatan tekad. Tiba-tiba salah satu dari mereka menerjang Randika sementara lainnya mengeluarkan pisau militer mereka dan menyusulnya. Randika sang Dewa Perang ini hanya tersenyum ketika melihat mereka berusaha membunuhnya. Sejak kapan cecunguk-cunguk seperti kalian berani menantangku? Randika langsung berubah menjadi bayangan, dia menghajar terlebih dahulu orang paling depan. Mungkin karena sudah jarang menggunakan kekuatan penuhnya, Randika tidak bisa mengira-ngira kekuatannya. Karena ketika dia memukul keras dagu orang tersebut, seluruh tubuhnya sampai melayang dan mendarat di mobil mereka. Satu orang sudah tewas. Kedua orang lainnya segera menggabungkan serangan mereka tetapi semua itu percuma. Kedua pisau mereka hanya menancap di dada mereka masing-masing. Kecepatan dari Randika yang berkekuatan penuh ini sudah tidak bisa mereka ikuti dengan mata mereka. Yang hanya mereka tahu bahwa hidup mereka sudah berakhir. Ketiga penculik lainnya berhenti menerjang dan menatap satu sama lain. Mereka tahu bahwa mereka akan mati hari ini. "Masih berani melawanku?" Tanya Randika dengan santai. Chapter 43: Alamat Misterius "Hahaha." Ketiganya tertawa, dengan macam tawa yang hanya bisa bersumber dari orang yang sudah mengetahui bahwa ajal mereka sudah dekat. "Kami juga ingin merasakan bagaimana kekuatan sebenarnya dari salah satu dewa dari 12 Dewa Olimpus." "Apakah kalian dari Jeratan Neraka?" Randika masih ingin mengorek informasi sebelum membunuh mereka. "Tidak usah repot-repot berbohong, karena kalian tahu identitasku berarti kalian mengerti kemampuanku." "Ngimpi kalau kau berharap mendapatkan sesuatu dari kita!" Salah satu dari mereka tertawa keras. "Bahkan jika kau adalah penguasa dunia bawah tanah, kau tidak akan mendapatkan apa-apa dari kami!" "Bahkan jika nyawa kalian taruhannya?" Randika mengerutkan dahinya. Ketika dia tidak mendapatkan jawaban, dia lanjut berkata, "Mengapa kalian begitu setia kepada mereka? Dan jangan kira obat di dalam gigi kalian itu berguna, aku bisa menghancurkannya dalam 1 detik." Ketika mendengarnya, mereka bertiga merinding dan tidak bisa tertawa lagi. Walau mereka berusaha untuk tidak menunjukkan keraguan, sesungguhnya mereka tahu bahwa kata-kata Randika itu benar. "Aku tahu bahwa kau itu sangat kuat." Salah satu menatapnya dengan tajam. "Tapi jangan harap kami akan takut padamu dan menjual organisasi kami!" "Oh? Apakah itu akan berlaku setelah aku menyiksamu?" Randika tersenyum. "Jangan harap kau bisa menyiksa kami, kematian adalah kehormatan bagi kami. Kekuatan organisasi kami melebihi apa yang kau bayangkan. Bahkan jika kau adalah Ares, bahkan kau pada akhirnya akan berlutut di hadapan kami!" "Sebuah kehormatan bisa mati demi organisasi." Salah satu mereka tertawa keras. "Tunggu dan lihatlah pembalasan dari Jeratan Neraka!" Seketika itu juga, mereka bertiga menggigit obat di dalam gigi mereka. Randika tidak berusaha mencegah mereka. Mereka adalah orang-orang terlatih dan setia pada organisasi mereka, jadi mengorek informasi dari mereka merupakan hal mustahil. Mereka semua mati sambil tertawa sebelum akhirnya meleleh dan meninggalkan genangan darah di jalan. Pada saat mereka meleleh, Randika bergegas menuju Viona agar tidak melihat proses kematian yang mengenaskan ini. Viona yang melihat Randika itu tiba-tiba menangis. Dirinya bersyukur sekali bisa selamat dari kejadian ini. Randika pun memeluknya dan berusaha menenangkannya. "Tenanglah, aku sudah ada di sini." Setelah beberapa saat, Randika berkata dengan nada serius. "Aku akan memeriksa mobil mereka sebentar untuk mencari petunjuk." Viona mengangguk sambil masih sedikit menangis. Meskipun dia tidak paham sama sekali dengan percakapan para penculiknya dan Randika, dia paham bahwa Randika bukanlah orang biasa. Randika lalu memeriksa kedua mobil tersebut. Dia berharap bisa mendapatkan petunjuk mengenai Jeratan Neraka. Meskipun peluangnya kecil, dia harus tetap mencoba. Kemunculan mendadak para anggota Jeratan Neraka ini membuatnya was-was. Selama dia menemukan tempat persembunyian mereka, mereka akan berharap ibu mereka tidak pernah melahirkan mereka. Seluruh mobil dipenuhi oleh senjata terlebih mobil pertama yang penuh lubang peluru. Randika mencari-cari mulai dari kursi pengemudi hingga ke bagasi. Dia tidak bisa melewatkan satu jengkal pun yang terlewatkan. Setelah mencari-cari beberapa menit, dia menemukan sebuah kertas kecil. Di kertas tersebut hanya ada satu alamat. "Villa Gunung Perak nomor 87?" Melihat hal ini mata Randika langsung bersinar terang. Setelah melaporkan dan menunggu kedatangan polisi, Randika memanggil taksi dan mengantar Viona kembali ke perusahaan. Dia harus memastikan keselamatan Viona benar-benar aman terlebih dahulu. Di dalam taksi, Viona selalu bersandar di bahu Randika sambil terus memeluknya. Matanya tertutup sambil sesekali dia akan bergetar tanpa henti. Sepertinya kejadian sebelumnya telah mengguncang dirinya. Hati Randika merasa sakit ketika melihatnya. Hal tragis semacam ini pasti sangat berat bagi gadis biasa seperti Viona. Namun dalam pikirannya masih dipenuhi oleh Jeratan Neraka. Karena dia tidak memiliki sumber daya untuk menyelidikinya, organisasi tersebut benar-benar misterius baginya. Dia merasa bahwa organisasi kejahatan ini muncul bersamaan dirinya, seakan-akan tujuan mereka hanyalah dirinya. Kemungkinan ini paling masuk akal baginya. Dengan dirinya datang ke alamat itu, dia akan tahu siapa dalang di baliknya dan barulah setelah itu dia bernapas dengan leluasa lagi. Randika mengerutkan dahinya, kejadian sebelumnya telah berulang. Kejadian di mana teman-temannya yang menjadi target, karena hal itulah Randika bersembunyi di Indonesia. Dia ingin menaklukkan kekuatan misteriusnya dan bisa menjaga semua orang yang dia sayangi! Seharusnya Shadow sebentar lagi datang ke kotanya, waktunya untuk dirinya menyerang! Randika lalu menutup matanya sejenak dan ingin melupakan masalah ini sejenak. Tidak lama kemudian, taksi sudah sampai di gedung perusahaan Cendrawasih. Randika lalu membawa Viona ke ruangan barunya di lantai 5. "Viona kau baik-baik saja?" Saat berada di lift, Randika menyadari bahwa Viona berwajah pucat. "Apakah kau ingin pulang saja?" Tanya Randika dengan nada khawatir. "Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa." Viona memaksakan dirinya untuk tersenyum. Dia juga tidak ingin membahas apa yang telah terjadi dengannya. "Aku rasa kau masih trauma dengan kejadian barusan." Randika menggelengkan kepalanya lalu memeluk Viona. "Maafkan aku Viˇ­ Aku tidak mampu untuk melindungimu." Ketika dipeluk, Viona sedikit merinding. "Jangan berkata seperti itu, jika bukan karenamu aku tidak tahu nasibku bagaimana." Kata Viona dengan suara pelan. Salah satu alasan dirinya masih ketakutan adalah identitas asli Randika. Memang kejadian hari ini sungguh menakutkan baginya tetapi hal itu membuatnya melihat jati diri Randika. Keahlian bela diri Randika benar-benar melekat di benaknya. Apalagi setelah membunuh para penculiknya dengan mudah, hal ini membuat dirinya meragukan identitas Randika. Seakan-akan Randika yang di hadapannya ini hanyalah sebuah kamuflase dari suatu sosok yang mengerikan. Orang macam apa itu Randika? Viona penasaran. "Aku tidak pantas mendapatkan penghiburanmu itu." Randika berkata dengan sedih. "Lebih kau istirahat saja di laboratorium nanti. Lagipula tidak ada pekerjaan mendesak juga." Viona mengangguk. Melihat Viona yang masih terguncang itu membuat hati Randika kembali sakit. "Vi, cobalah lihat ke atas." Setelah mengangkat kepalanya, Randika menciumnya sambil terdiam. "Ah!" Mata Viona terbuka lebar ketika dicium paksa oleh Randika. Ini sudah keempat kalinya! Entah kenapa Viona tidak membencinya kali ini dan menikmati momen ini. Setetes air mata keluar dari matanya. Namun suara nyaring decitan lift yang berhenti terdengar, dia tiba-tiba sadar bahwa pintu akan segera terbuka! Viona langsung mendorong Randika dan pintu lift pun terbuka. Ketika mereka berjalan keluar, Randika tiba-tiba berhenti berjalan karena mengingat sesuatu dan bertanya sambil tersenyum. "Sudah baikan?" Viona tersipu malu ketika mendengarnya. Dia mengangguk dan berlari menuju ruangan Randika. Randika tersenyum ketika melihat kelakuan Viona yang seperti anak kecil itu. Dia tidak kembali ke ruangannya dan kembali menaiki lift. Dia lalu mengeluarkan kertas yang ditemukannya di mobil. "Tunggulah kedatanganku!" Gumam Randika. Chapter 44: Karma Selalu Datang! Kota Cendrawasih adalah kota yang masih dalam tahap perkembangan. Gedung-gedung pencakar langit sedang mulai dibangun dan perumahan-perumahan elit juga mulai bermunculan. Harga rumah di kota ini tiap tahunnya naik terus-menerus. Apalagi perumahan elit yang baru selesai dibangun seperti Villa Gunung Perak. Mereka baru resmi dihuni 2 bulan yang lalu. Fasilitas di gedung serbaguna perumahan ini sangat mewah seperti kolam renang, gym, lapangan golf hingga aula yang dapat menampung 3000 orang. Rumah di perumahan ini hanya mampu dibeli oleh orang-orang kaya. Di suatu rumah, di basemen Selain cahaya matahari yang melewati celah-celah pintu, pencahayaan di basemen ini sangatlah minim. Hampir tidak terdapat lampu di tempat ini. Mungkin pencahayaan yang buruk ini ingin menutupi apa yang ada di balik pintu. Kalau orang melihat dalamnya, mungkin mereka akan tidak akan percaya akan pemandangan tidak manusiawi ini. Dalam basemen ini terdapat sel kurungan yang cuma ada satu ranjang saja dan sebuah ember. Di setiap sel tersebut ada seorang wanita di dalamnya! Beberapa ada yang tidak memakai baju sedangkan yang lainnya memakai baju compang-camping. Wajah mereka terlihat sakau. Tiap hari mereka dipaksa memuaskan nafsu para pria. Wanita-wanita ini sesungguhnya cantik-cantik. Meskipun tidak secantik Viona ataupun Inggrid, para wanita ini sudah cukup membuat para lelaki mengejar mereka. Tetapi sekarang kondisi mereka menyedihkan, mereka telah menjadi budak seks! Terlebih lagi, terdapat alat-alat penyiksaan dan alat-alat seks. Suasana di basemen hening. Ada yang masih di bawah pengaruh obat, ada yang menundukkan kepalanya dan ada yang menangis. Ketika mendengar suara pintu berderit, mereka semua langsung gemetar ketakutan. Ada yang datang! Ketika mendengar suara langkah kaki yang sudah mereka kenal itu, mereka ingin mencabik-cabik orang itu hidup-hidup. Dialah yang membuat hidup mereka sengsara. Ketika tiba di bawah, Kevin sedang bingung memilih perempuan mana yang akan menjadi mainannya hari ini. Dia tersenyum puas ketika melihat koleksinya yang banyak ini. Semua wanita ini diculik oleh Kevin dengan berbagai cara tetapi cara yang sering dipakainya adalah membius mereka ketika mereka pergi berkencan. Kalau para wanita ini menolak dirinya, dia akan menculik mereka! Benar-benar lelaki biadabˇ­. Kevin memandangi satu per satu koleksinya dan para wanita itu segera meringkuk ketakutan. "Nomor satu angkat kepalamu!" Teriak Kevin sambil menendang sel nomor satu berada. Wajah Kevin sudah terlihat bengis dan penuh nafsu. Wanita itu ketakutan ketika sel miliknya ditendang keras oleh Kevin, dia tidak punya pilihan untuk mengangkat kepalanya. Wajah cantiknya itu penuh dengan air mata. Ternyata setelah diperhatikan, mulutnya telah diikat oleh kain dan tangannya diborgol. Benar-benar tidak manusiawi! "Kau sudah lupa harus ngapain kalau aku turun ke tempat ini?" Muka Kevin terlihat marah. Wanita yang dipanggil nomor 1 ini panik dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Jika didengar dengan seksama, wanita ini mengeluarkan suara seperti anjing. "Guk! Guk!" Ketika melihat budaknya itu patuh, Kevin mengangguk puas. Lalu dia menuju sel lain di mana wanita-wanita cantik lainnya menunggu dirinya. "Hmmmˇ­. Aku cuma punya lima orang saja." Kevin sudah berada di ujung sel yang masih kosong. "Tidak masalah, sebentar lagi tempat ini akan diisi oleh Viona. Ahhhhˇ­ Aku sudah tidak sabar bermain denganmu!" Senyuman Kevin diisi oleh kelicikan dan kebejatan. Dia telah menyiapkan banyak mainan untuknya, Viona akan menjadi budak seks miliknya yang terbaik! Aku tidak akan menomorimu, aku akan memberimu nama. Memejamkan matanya, dia membayangkan tubuh seksi Viona yang telanjang itu akan dia mainkan sesuka hatinya. Kevin benar-benar tidak sabar, karena baginya Viona adalah cewek tercantik yang pernah dia lihat. Di saat Kevin sibuk dengan fantasinya, salah satu wanita di dalam sel memberanikan diri untuk memaki Kevin. "Manusia biadab sepertimu tidak pantas untuk hidup!" Kevin membuka matanya dan tertawa keras. "Nomor 4, kau sepertinya tidak punya sopan santun. Apakah itu caramu menyapa tuanmu?" Namun nomor 5 juga ikut menyaut. "Aku harap kau membusuk di neraka! Lihat sekelilingmu, dosamu itu sudah tidak termaafkan dan neraka saja sudah jijik sama jiwamu!" Nomor 3 benar-benar ketakutan. Dia tidak memiliki nyali seperti teman-temannya itu, dia hanya meringkuk ketakutan di pojokan. Semua wanita ini diculik berurutan oleh Kevin. Nomor 1 adalah yang pertama dan nomor 5 adalah yang terakhir. Jadi kondisi psikologis wanita yang datang terakhir itu masih belum tunduk. "Hmmmˇ­ Bagaimana caranya tuanmu ini membuatmu paham?" Kevin mulai menelanjangi nomor 5 dengan matanya. "Setiap dari kalian adalah karya seni milikku, aku akan membuat kalian budak seks terindah di seluruh dunia!" "Biadab!" Nomor 5 kehilangan kesabarannya. "Sampah sepertimu cuma bisa menodai tubuhku tapi tidak tekadku! Setiap hari aku akan melawanmu!" "Tidak, tidak, tidak.??? Kevin menggelengkan kepalanya dan mengatakan. "Aku tidak akan mematahkan tekadmu ataupun mencuri hatimu, pada akhirnya kau akan menerima cintaku ini." Setelah itu, Kevin membuka sel nomor 5 dan berjalan masuk. Kaki dan tangan nomor 5 terborgol jadi dia tidak bisa melawan. Kevin lalu menjambak dan mengangkat kepalanya nomor 5. "Hari ini aku akan membuatmu milikku." Lidah Kevin langsung menjilati wajah nomor 5. Kau milikku! Selamanya kau adalah milikku! "Selamanya aku tidak akan pernah menjadi milikmu!" Perempuan ini masih memperjuangkan hidupnya. Nomor 1 dan 2 tidak mau melihat, nomor 3 mengintip dari celah pahanya dan nomor 4 menatap Kevin dengan tatapan marah. Melihat temannya itu hendak diberi obat, dia berteriak marah. "Kau pada akhirnya akan mendapatkan ganjaran yang setimpal!" "Hahaha, bahkan Tuhan pun tidak bisa menghukumku." Kevin tertawa. "Aku hanya percaya pada diriku sendiri." Ketika mendengar hal tersebut, semua perempuan itu memasang ekspresi tidak berdaya. Mungkin apa yang dikatakan Kevin benar, kesempatan mereka untuk bebas sangatlah kecil. Mungkin Tuhan sebenarnya sudah meninggalkan mereka. "Wah kebetulan sekali, aku juga percaya pada kemampuanku sendiri!" Suara itu terdengar dari arah pintu. Kevin yang masih tertawa itu segera terdiam ketika mendengar suara itu. Dia segera menoleh ke arah pintu dan bertanya, "Siapa di sana?" Kevin merasakan firasat buruk, tempat ini adalah tempat tersembunyi miliknya. Bahkan dia memiliki pengawal yang banyak di rumahnya ini. Bagaimana bisa ada orang yang bisa masuk ke basemennya ini? Terlebih lagi, kenapa dia merasa pernah mendengar suara orang itu? Ketika berusaha mengingat-ingatnya, dia merinding karena akhirnya dia mengerti milik siapa suara itu. Semua perempuan di basemen ini segera mendapatkan semangat hidupnya kembali. Mereka juga mendengar suara orang lain dari arah pintu. Apakah pertolongan akhirnya telah tiba? Kevin menutup matanya dan berdoa bahwa orang tersebut bukanlah yang dia kira. Kemudian orang itu berjalan turun dengan tangan di saku celananya. Ketika Kevin membuka matanya, mimpi buruknya menjadi kenyataan. "Randika!" "Halo bro ketemu lagi." Randika lalu memperhatikan perempuan-perempuan yang ada di sel itu. "Pintar juga aktingmu selama ini." "Mustahil, bagaimana caranya kau bisa sampai ke sini?" Kevin berjalan mundur selangkah demi selangkah, beriringan dengan langkah maju Randika. "Aku sudah bilang kan sebelumnya? Jangan pernah mengganggu Viona lagi!" Randika melihat ekspresi perempuan-perempuan ini dan aura membunuhnya memancar dengan kuat. Seorang wanita tidak pantas diperlakukan seperti budak! Jika sebelumnya dirinya gagal menyelamatkan Viona, apakah dia akan menjadi seperti mereka? Apakah wanita miliknya itu akan memiliki wajah tanpa ada harapan hidup seperti mereka? Terlebih lagi, Kevin berkerja sama dengan Jeratan Neraka. Benar-benar tidak termaafkan! Melihat ekspresi mengerikan Randika, Kevin ketakutan. Dia tahu bahwa nyawanya terancam dan dia segera berlari ke sel nomor 5, hendak menyanderanya. Namun, Randika mengeluarkan sebuah pisau dan melemparkannya ke kaki Kevin. "Ah!" Pisaunya itu mengenai paha Kevin dan membuatnya terjatuh! Kemudian Kevin mendongak dan menyadari bahwa Randika sudah ada di atasnya. "Ampun! Ampun!" Posisi Kevin sudah diangkat oleh Randika. "Setelah berbuat seperti itu pada para perempuan ini, kau masih berharap ampun?" Nomor 5 mulai tertawa lepas. "Rasakan! Mampus hidupmu!" "Karma selalu datang! Mati kau!" Nomor 4 juga ikut menyaut dan tertawa. Sesaat kemudian, air mata kebahagian mulai menetes. Perempuan lainnya awalnya tidak mempercayai apa yang terjadi, tetapi setelah teriakan nomor 4 dan 5 mereka berteriak. "Bunuh!" "Bunuh!" "Bunuh!" Sorakan itu membuat Kevin mengompol sedikit. "Jangan hiraukan mereka." Kata Randika dengan tersenyum. "Sekarang aku akan bertanya dan kalau kau berbohong maka kutusuk kau sekali." "Aku tidak berani berbohong!" Seluruh tubuh Kevin sudah basah oleh keringat. "Apa hubunganmu dengan Jeratan Neraka?" "Jeratan Neraka? Apa itu?" Kevin terkejut dengan pertanyaan aneh itu. Tetapi Randika mengambil pisaunya kembali dan menusuk bahu Kevin! "Arghh!" Kevin berteriak kesakitan. "Aku tidak tahu apa-apa, aku tidak pernah mendengar nama mereka!" Randika mengerutkan dahinya. Bukankah dia salah satu anggota dari Jeratan Neraka? Setelah memikirkannya, Randika mengerti bahwa Jeratan Neraka hanya menggunakan Kevin. "Pertanyaan berikutnya, tadi pagi kau nyuruh orang untuk nyulik Viona?" Wajah Kevin segera membeku. Randika tidak ragu-ragu mencabut pisaunya lagi dan menusuk kembali bahu Kevin. Darah langsung membasahi wajah Randika. "Arghˇ­. Iyaˇ­ Aku menyuruh orang tadi pagi." Kevin tidak dapat menahan rasa sakitnya dan menjawab dengan terbata-bata. "Baiklah." Randika lalu melempar Kevin. "Tapi aku tidak puas dengan jawabanmu." Ketika mendengarnya, Kevin langsung memohon ampun. "Tolong ampuni akuˇ­. Aku tidak akan berbuat jahat lagi!" "Bacod!" Seketika itu juga, Randika menginjak alat kelamin Kevin dengan keras. KRAK! Seperti suara telur yang pecah, telur Kevin nampaknya sudah tinggal kenangan. Wajah Kevin segera menjadi putih. Dia memegangi alat kelaminnya dan berguling-guling di lantai tanpa henti. Randika sudah menghancurkan keturunannya! "Semoga dengan ini kau tidak bisa berbuat aneh-aneh lagi." Randika meludahi Kevin. "Kalau kau masih belum kapok, kubunuh kau ketika kita bertemu lagi." "Hahaha kapok! Cari laki saja sana mulai dari sekarang, punyamu sudah tidak bisa berdiri!" Nomor 5 benar-benar kasar kalau bicara. Tapi melihat kehidupan mereka yang mengenaskan ini, melihat Kevin mendapatkan penghakiman ini adalah momen yang mereka tunggu-tunggu. "Tolong keluarkan kami!" Salah satu perempuan berteriak pada Randika. Randika secara tidak sadar mengamati ekspresi mereka semua. Ekspresi mereka penuh dengan sukacita dan mereka melihat dirinya sebagai sang penyelamat. Chapter 45: Dari Mangsa jadi Pemangsa! Randika lalu membebaskan semua perempuan yang tertangkap itu. Namun setelah itu, terdengar suara gaduh dari luar dan mendatangi pintu besi basemen ini. Beberapa orang dengan baju serba hitam masuk ke dalam. Mereka tidak peduli dengan Kevin yang masih berguling-guling kesakitan. Mereka hanya tertawa ke arah Randika. "Wah wah ternyata Ares toh?" Salah satu dari mereka memecah keheningan. Dia menatap Randika bagai melihat sampah. "Jadi kalian dari Jeratan Neraka?" Randika mengerutkan dahinya. "Kalau iya kenapa?" Mereka semua segera menghalangi jalur kabur Randika. Jumlah mereka lebih dari 10 orang dan semuanya membawa pistol. Kevin, yang berguling-guling kesakitan, melihat bahwa pengawalnya sudah tiba mulai tersenyum dan berteriak kepada mereka. "Cepat bunuh bajingan itu!" "Mati kau Randika!" Mata Kevin dipenuhi api kebencian. Nanti dia akan bersenang-senang dengan mayat Randika dan memajang kepalanya sebagai piala kemenangannya. Namun, tiba-tiba salah satu perempuan menginjak kembali alat kelamin Kevin. "Ah!" Rengekan Kevin terdengar lagi dan perempuan-perempuan itu meludahi Kevin. "Simpan tenaga kalian buat nanti, masih ada masalah serius di hadapan kita." Kata Randika pada para perempuan itu. Dia lalu menatap para anggota Jeratan Neraka, "Syukurlah kalian datang, aku tidak perlu repot-repot mencari petunjuk lagi." "Aku tidak tahu Ares ternyata suka membual." Ejek salah satu dari mereka. "Apakah kau pikir tempat ini juga markas kami?" Randika tersenyum, "Di mana pun markas kalian berada, kalian pasti akan memberitahuku." Setelah berkata demikian, Randika berubah menjadi gumpalan asap dan menerjang maju. Ketika orang yang di depan hendak menembakkan pistolnya, di saat yang sama Randika sudah memegang pergelangan tangannya dan melemparnya ke temannya. Pistol yang terjatuh itu segera diambil Randika dan dia pukulkan ke salah satu kepala orang. Tiga orang sudah dia kalahkan dalam sekejap! Dor! Dor! Dor! Para penjahat ini bahkan belum bisa bereaksi tetapi mereka sudah ditembaki oleh Randika. Dua orang dari mereka langsung mati di tempat. Ketika mereka hendak membalas menembak, Randika memakai tubuh orang yang dia buat pingsan sebelumnya dan menjadikannya tameng. Ketika peluru mereka habis, Randika kembali menjadi gumpalan asap dan melempar tamengnya itu. Dia segera menerjang kembali dan menendang salah satu dari mereka sekaligus mengambil kembali pistol yang baru. Randika lalu melompat untuk menghindari tembakan dan mendarat di salah satu bahu musuhnya. Dia langsung menembak ke kepalanya, isi kepalanya semburat di kakinya. Dia lalu menggunakan mayat itu sebagai pijakan dan melesat ke arah musuhnya yang lain. Dalam sekejap, semua orang berhasil dia bunuh. Hanya tersisa 3 orang yang masih hidup tergeletak di tanah. Tangan dan kaki mereka telah dipatahkan oleh Randika jadi mereka tidak bisa berbuat macam-macam. "Nah mari kita diskusi tentang di mana markas kalian." Ketiga orang ini mendongak dan melihat Randika sedang berdiri di atas mereka dengan senyumannya yang menakutkan. "Ah omong-omong aku pinjam alat menyiksamu ya." Kata Randika kepada Kevin. Melihat pemandangan berdarah ini, Kevin hanya meringkuk ketakutan di pojok. ... Tidak butuh waktu lama untuk Randika mendapatkan informasi yang dia perlukan. Setelah mendapatkannya, dia membawa kelima perempuan itu keluar dari basemen terkutuk itu. Setelah mereka ke halaman rumah, Randika memecahkan kaca jendela mobil yang terparkir di situ. "Ayo semuanya naik." Ketika mendengar perintah itu, semuanya naik ke mobil. "Aku akan mengantar kalian ke tempat yang aman dulu." Kata Randika sambil menyalakan mobil. "Kita akan ke polisi untuk melaporkan hal ini." Para perempuan ini terdiam. Kalau mereka melaporkan hal ini, maka semua orang akan tahu kejadian apa yang menimpa mereka. Jika ini terjadi, mereka tidak akan punya wajah untuk bertemu dengan orang. Manusia itu termasuk makhluk yang aneh, mereka suka mengingat hal-hal buruk yang telah dilakukan orang tanpa pernah mengingat kebaikan yang dilakukannya sebelumnya. Ketika kenalan, tetangga, sahabat mereka mengerti bahwa mereka diperlakukan sebagai budak seks, entah hinaan seperti apa yang menanti mereka. Setidaknya mereka akan dicap sebagai pelacur. "Jika kalian tidak melaporkan kejadian ini, Kevin tidak akan mendapatkan hukuman yang dia pantas dapat. Kalian mau Kevin bebas?" Randika mengerti apa yang ada di benak mereka. "Aku punya teman di kantor kepolisian, dia pasti melindungi identitas kalian. Kita akan bertemu dengannya sesampainya di sana. Tetapi pada akhirnya ini tetap keputusan kalian, aku akan menghormati apa pun yang kalian putuskan." Mendengar penjelasan Randika, salah satu dari mereka menjawab. "Baiklah, aku akan bersaksi terhadap Kevin. Kita harus memastikan dia menerima hukuman yang pantas!" "Setuju!" "Baiklah!" Tidak butuh waktu lama kelima perempuan ini setuju. Randika hanya tersenyum mendengarnya dan membawa mereka ke kantor polisi di mana Deviana berada. Selama perjalanan, kelima gadis ini meluapkan emosi mereka. Ada yang berpelukan, ada yang bergelimang air mata dan bahkan ada yang menghirup udara panjang terus menerus, menikmati kebebasannya. Setelah beberapa saat, salah satu dari mereka mengajak bicara Randika. "Namamu siapa?" "Randika." "Kamu tadi luar biasa sekali! Kamu bisa membunuh mereka dengan tangan kosong." "Yah tanganku juga hebat kok di ranjang." "Ah bisa saja kamu!" Suasana gembira segera mengisi mobil ini. "Eh kamu harus mengajarkannya pada kita kapan-kapan." "Betul! Biar nanti kejadian ini tidak terulang lagi." "Tidak perlu latihan sampai seperti itu, kalian hanya perlu pintar memilih pasangan." ...ˇ­ Satu per satu pertanyaan keluar dari masing-masing mereka. Mereka ingin menghapus memori kelam itu. Namun, pertanyaan terpenting bagi mereka akhirnya keluar dari salah satu mulut mereka. "Apakah kau sudah punya pacar?" Setelah pertanyaan ini terlontar, semuanya terdiam. "Wah ada yang jatuh cinta nih!" "Memangnya siapa yang tidak jatuh cinta terhadap penyelamatnya?" Perempuan yang duduk di samping Randika ini terlihat serius. Randika menoleh dan mengusap kepalanya. Tidak heran menurutnya kalau salah satu perempuan ini jatuh cinta padanya. Randika datang di mana hidup mereka sudah sengsara. Bisa dikatakan bahwa Randika adalah pangeran berkuda putih yang menyelamatkan mereka dari balik kegelapan. "Hahaha mungkin?" Randika membalasnya dengan nada tak pasti. Semua perempuan merasa bahwa jawaban Randika ini setengah-setengah. Viona dan yang lain bukan pacarnya sedangkan Inggrid kan istrinya. Jadi Randika sendiri ragu mau menjawab apa. "Yah eman sekali, kami benar-benar jatuh cinta padamu." "Kalian pasti bisa menemukan pria yang bisa membahagiakan kalian." Kata Randika sambil tersenyum hangat. "Siapapun pasangan kita nanti, aku tidak akan pernah melupakanmu!" Kata mereka semua. "Hei hei, kalian harus setia sama pasangan." Randika hanya bisa tersipu malu. "Lagipula aku juga tinggal di kota ini dan mungkin suatu saat nanti kita bisa bertemu lagi." "Wah itu bagus! Nanti kita kencan ramai-ramai." Semua yang di dalam mobil ketawa. Perbincangan ini terus berlangsung hingga mereka sampai di kantor polisi. "Bagaimana caramu melatih otot-ototmu?" Salah satu dari mereka bahkan langsung meraba-raba lengan Randika. Otot yang keras itu membuatnya terpukau. "Eh curang! Aku juga mau!" "Aku juga!" Mereka semua akhirnya meraba-raba lengan Randika bahkan ada yang meraba perut dan dadanya! Kalian ingin membuatku terangsang atau apa? Imanku sedang diuji! Biasanya Randika lah yang meraba-raba tubuh sedangkan sekarang dia diraba-raba oleh 5 perempuan sekaligus. Perasaan aneh sekaligus nikmat ini lumayan enak juga. "Heiˇ­ Sudah nanti aku malah nafsu dan meniduri kalian semua bagaimana?" Kata Randika. Semuanya menjadi terdiam dan hanya seorang saja dengan suara pelannya yang membalas Randika. "Kita ke hotel dulu saja kalau begitu?" "Ealah ternyata kita semua ini cinta sama Randika ya. Kita dari mangsa jadi pemangsa!" Seketika itu juga mereka tertawa semua. "Aku dengan senang hati berada di atas!" Kata salah satu perempuan. "Ya sudah ke hotel saja dulu!" Yang lainnya setuju. Mati aku! Randika mulai kebingungan. Kesuciannya ini seperti sedang dilelang, apalagi mata para perempuan ini sudah bagai predator. Apakah mereka tidak malu membicarakan seks seperti ini? Dunia makin bejad ternyata. Tapi Randika hanya bisa menyalahkan ketampanannya dan kemampuan ahli bela dirinya. Memang susah jadi orang ganteng itu, semua perempuan pasti mengejarnya. Randika menghela napas dalam hati. Susahnya jadi orang ganteng. ...ˇ­. Hari sudah sore ketika mereka tiba di kantor polisi. Kelima perempuan ini turun semua. Randika lalu menurunkan kaca jendelanya dan mengatakan. "Kalian masuklah dan cari polisi yang bernama Deviana. Katakan bahwa aku yang mengirim kalian dan jangan percaya siapapun selain Deviana itu." Semua perempuan itu mengangguk. Lalu salah satu dari mereka maju dan mengatakan. "Terima kasih Randika!" Lalu tanpa sempat membalas ucapan terima kasih itu, Randika dicium! Oh! Mereka berciuman! Mata Randika terbuka lebar, inikah perasaan Viona kapan hari? Perempuan itu mundur dan wajahnya tersipu malu. Sekarang, keempat perempuan lainnya juga minta giliran. Semua ciuman mereka melibatkan lidah jadi Randika cukup pusing setelah semuanya selesai. "Semoga kalian mendapatkan kebahagian yang baru!" Randika berharap dalam hati pada kelima gadis yang telah menjalani kehidupan tragis itu. Hatinya terasa hangat. Setelah melihat sosok kelima perempuan itu masuk ke dalam, Randika mulai fokus kembali. Sekarang dia perlu pergi ke alamat baru, hasil dari penyiksaannya sebelumnya. Tidak lama kemudian, dia telah mencapai gedung terlantar di jalan Pendopo. Ketika dia naik ke lantai 3, dia menyadari bahwa aula depan ruangan itu tampak terawat. Ruangan markas mereka pasti berada di lantai ini! Setelah memastikan tidak ada jebakan yang terpasang di pintu, Randika lalu membuka pintu tersebut. Pemandangan di depannya ini membuat dirinya terkejut. Kosong! Ruangan itu benar-benar kosong seperti baru. Ketika dia masuk, Randika langsung memeriksa seluruh ruangan. Dia tidak dapat menemukan apa-apa. Sepertinya mereka telah lama pergi. Sepertinya mereka tahu bahwa para bawahannya itu akan membocorkan markas mereka jadi seluruh organisasi telah meninggalkan tempat ini. Namun, Randika bersumpah dalam hati bahwa dia akan menemukan mereka! Chapter 46: Kau Merabaku! Setelah selesai memeriksa gedung kosong ini mau tidak mau Randika kembali dengan tangan kosong. Namun, dari seluruh informasi yang dia kumpulkan, dia bisa menyimpulkan bahwa organisasi ini bukan organisasi amatir. Mengingat kata-kata kakeknya, Randika menghela napas. ...ˇ­.. Hari sudah menjelang malam ketika dia kembali ke rumah. Hari ini sungguh melelahkan bagi Randika. Seperti biasa, Inggrid kemungkinan masih belum pulang. Akhir-akhir ini pekerjaan membuatnya pulang telat. Tetapi ketika dia membuka pintu ruang tamu, dia dikejutkan oleh sosok tak terduga yang sedang berdiri diam. Lho? Kok Inggrid sudah pulang? Dan kenapa hari ini dia terlihat cantik sekali? Tubuh Inggrid yang elok itu memakai celana jeans pendek yang ketat, menonjolkan paha dan kakinya mulus dan panjang itu. Kalau diperhatikan baik-baik, tali celana dalamnya mencuat sedikit dari balik celana. Bisa dikatakan, sisi nakal seperti itu membuat Randika makin suka dengannya. Yang lebih menakjubkan lagi, bagian atasnya dia hanya memakai baju kutang putih dengan warna beha yang mencolok. Seakan-akan secara tidak langsung dia meminta Randika untuk melepaskan pengaitnya. Memang istri idaman! Sejak kapan Inggrid menjadi berani seperti itu? Hanya ada satu kesimpulan, dia kangen dengan pelukan hangatku dan memutuskan untuk menggodaku! Terima kasih sayangku!! Suamimu ini peka kok! Hati Randika sudah tidak sabar, dia tersenyum lebar dan tidak sabar menikmati hidangan lezat ini! "Sayangku, jika kau menginginkan diriku kau tinggal ngomong saja. Tidak usah memakai baju seksi seperti ini tapi aku suka sisi nakalmu ini." Randika langsung memeluk dari belakang sambil meremas bokong indah itu. Sialan! Empuk sekali pantat ini! "Kamu kok cepat sekali pulangnya hari ini?" Kata Randika sambil mencium leher Inggrid. Ketika pantatnya diremas, perempuan ini sudah menekan nomor polisi dan hendak berteriak. Namun, ketika lehernya dicium, dia ketakutan dan melepaskan diri dari pelukan pria itu dan menamparnya. Randika terkejut ketika dia ditampar. Bukan karena tiba-tiba dia ditampar, tapi orang ini bukan Inggrid! Bagaimana mungkin orang ini mirip sekali dengan Inggrid? Pikir Randika. Bagaimana mungkin ada pria di rumah ini? Pikir perempuan itu. "Siapa kamu!" "Siapa kamu!" Pertanyaan ini muncul secara bersamaan. "Siapa kamu!" Perempuan ini bertanya sekali lagi dengan nada marah. Dia tidak habis pikir, bisa-bisanya dia diraba-raba oleh pria tidak dikenal ini. "Siapa kamu!" Randika tidak mau menjawab karena dia adalah kepala keluarga rumah ini, dia berhak mengetahui siapa yang memasuki rumahnya tanpa ijin. Tapi dia sedikit was-was juga, karena dia telah meraba perempuan itu. "Kau sudah melecehkanku!" Perempuan itu segera menutupi dadanya. "Kulaporkan kau ke polisi!" "Eh apanya! Jelas-jelas kau yang mengundangku untuk merabamu! Kalau kau tidak berpakaian seksi begitu jelas aku tidak akan berbuat seperti itu." Tatapan mata perempuan itu semakin tajam. Logika macam apa itu? Memangnya apa salahnya berpakaian santai? "Sebentar, sebentar, memangnya siapa kamu? Kamu kok bisa masuk ke rumah ini?" Perempuan ini masih terus waspada, bisa-bisa pria di depannya ini adalah pemerkosa. "Lha kamu sendiri siapa? Kamu kok bisa masuk ke rumah ini?" Randika juga waspada, bisa saja perempuan ini pencuri. Meskipun Randika merasa tidak ada pencuri secantik dia dengan dada dan pantat yang menggiurkan seperti itu, Randika mesti tetap waspada mengingat Jeratan Neraka masih berkeliaran di luar sana. Tidak ada yang mau menjawab dan situasi ini mengalami kebuntuan. Perempuan itu berteriak sekali lagi. "Aku yang tanya duluan jadi kau mesti jawab duluan!" "Aku jawab kalau kau jawab duluan!" Balas Randika. Dia memutuskan untuk pura-pura bodoh, mungkin saja nanti perempuan itu lelah dan mengalah duluan. "Ini rumahku!" Kata perempuan itu sambil marah-marah. "Ini juga rumahku!" Kata Randika dengan muka datar, tentu saja rumah ini sudah menjadi milikku karena dia suami Inggrid bukan? "Bohong!" Ekspresi perempuan ini makin marah. "Tidak pernah ada pria yang tinggal di rumah ini." "Kalau begitu akulah yang pertama!" Ekspresi bangga terpampang jelas di muka Randika. "Akulah kepala rumah tangga di rumah ini!" Lalu perempuan ini bertanya kepada Randika. "Siapa nama pemilik yang tinggal di sini?" "Inggrid Elina, memangnya kenapa?" Perempuan ini segera memasang ekspresi penasaran. Dia segera menghampiri Randika dan memeriksa dirinya. Ya tuhan besar sekali! Mata Randika melirik ke buah dada yang indah dari perempuan ini. Karena dia memakai baju putih, Randika bisa melihat beha sekaligus bentuk dada itu! Ahhhh betapa kuingin menyentil kedua pucuk indah itu! Perempuan itu tidak menemukan keanehan pada Randika. Lalu dia bertanya dengan nada bingung. "Kamu siapa?" "Ha? Tentu saja aku suaminya Inggrid." Kata Randika dengan nada bangga. "Suami!?" Mulut perempuan itu menganga lebar ketika mendengarnya. "Memangnya apa yang salah dengan itu?" Randika mendengus dingin. "Hahahaha!" Tiba-tiba perempuan itu tertawa. "Bercandamu lucu juga, kakakku itu belum menikah. Kalau pun menikah, menurutmu adiknya tidak akan tahu hal itu?" Apakah perlu dia memberitahu bahwa mereka berdua hanya menikah selama 3 bulan? Randika mengurungkan niatnya karena hal seperti ini lebih baik Inggrid yang menjelaskan. Tapi dari percakapan mereka, Randika tahu bahwa perempuan ini adalah adik Inggrid. Jika dia perhatikan baik-baik, dia memang mirip Inggrid tapi kalau dilihat dari sifatnya dia benar-benar tidak mirip sama sekali. "Hahaha kita menikah dengan terburu-buru jadi tidak ada persiapan." Randika mengambil sesuatu dari laci kamarnya. "Nih lihat sertifikat menikah kita." "Hah!! Kalian benar-benar sudah menikah?" Adiknya ini masih tidak percaya. "Buat apa aku berbohong? Lagipula mana bisa memalsukan sertifikat seperti ini?" Randika masih tidak mengerti apakah benar-benar hal mengejutkan kalau dirinya menikah dengan Inggrid? Memang mereka belum pernah melakukan hubungan badan, tapi dalam perkara hati bukankah mereka sudah saling terbuka? Melihat bahwa tidak aja jejak-jejak kebohongan di mata Randika, Hannah merasa bahwa Randika berkata jujur. Dia lalu bertanya kembali. "Kalau begitu kau adalah kakak iparku?" "Jelas!" Randika terlihat bangga. Inggrid dikenal sebagai perempuan tercantik di kota ini, jadi sebuah kesenangan tersendiri baginya untuk bisa menikahinya. "Meskipun kau kakak iparku, bukan berarti kau boleh meraba tubuhku!" Kata Hannah dengan wajah yang memerah. Randika melupakan masalah itu. "Hei kau yang menggodaku tahu, bisa-bisanya kau memakai baju seseksi itu?" Kata Randika. "Lagipula kau mirip sekali dengan istriku kalau dilihat dari belakang, jelas aku salah sangka." "Ha? Apa salahnya pakai baju santai di rumah dan siapa yang memangnya menggodamu?" Hannah merasa Randika tidak mau mengakui kesalahannya. "Dan aku juga tidak tahu kalau ada pria di rumah ini. Kalau tahu aku pasti tidak akan memakai baju seperti ini sehabis mandi!" "Mandi? Jadi kau membersihkan diri dulu sebelum memberikannya padaku?" Canda Randika. "Kau!" Hannah merasa jengkel, bisa-bisanya kakak iparnya mesum seperti ini. Randika jelas bercanda, dia tidak akan mungkin menyentuh adik iparnya. Yang ada hanya masalah kalau dia melakukannya. Jadi dia tidak bisa mengakui perbuatannya sebelumnya, dia harus membuat Hannah merasa bersalah! Hannah menghela napas, dia merasa lelah berdebat dengan orang ini. "Yang penting, kau sudah meraba pantatku dan itu adalah fakta." "Ha? Kalau kau tidak mengundangku untuk melakukannya jelas aku tidak akan bertindak seperti itu. Lagipula kenapa kok kamu tidak langsung teriak saja dari detik aku memelukmu?" "Ah?" Hannah mulai terpojok. "Maksudku kalau kau ingin menolakku sebelumnya, bukankah itu lebih logis daripada berdiri diam?" Bela Randika. Melihat Randika yang mulai menang, Hannah mengeluarkan jurus yang dipelajarinya untuk menaklukkan pria manapun. Dia membusungkan dadanya dan menempel erat Randika dan mendongak ke atas. "Bukankah kau melakukannya karena aku cantik?" Dadanya yang besar itu menempel di tubuh Randika, jurus macam apa ini! Tapi memang Hannah ini luar biasa cantik. Bahkan kecantikannya mampu menandingi Inggrid, yang berbeda hanyalah sifat mereka berdua. Inggrid lebih dewasa sedangkan Hannah masih kekanak-kanakan. Randika melihat mata Hannah yang berbinar-binar di bawah wajahnya dan terpukau olehnya. Serangan perempuan ini dahsyat! "Iya cantik." Randika mengangguk, lalu memarahinya. "Apa yang sedang kau rencanakan?" "Tidak ada." Hannah lalu tersenyum nakal dicampur licik. "Barusan kau mengakuinya kan? Kau merabaku karena tidak tahan dengan kecantikanku! Aku akan cerita ini kepada kakak." Apa! "Eh kau yang menempelkan badanmu ke aku! Salahku di mana coba?" Randika marah karena dirinya merasa ditipu. "Kau ngapain teriak-teriak?" Suara pelan muncul di belakang Randika. Inggrid lalu berdiri linglung ketika melihat adiknya. "Hannah?" Inggrid benar-benar terkejut, mengapa adiknya bisa ada di sini? "Kak!" Hannah langsung berlari untuk memeluk Inggrid, setelah itu dia bertanya. "Kak, kenapa kamu menikah tidak bilang-bilang?" Ketika Inggrid mendengar hal ini, dia terkejut. Dia segera memikirkan berbagai macam jawaban di benaknya tetapi tidak bisa menemukan jawaban yang tepat. "Tentu saja karena cinta kami itu sedang panas-panasnya. Kami sudah tidak sabar untuk menikah dan melakukannya begitu saja." Randika berusaha membantu Inggrid. "Asalkan kau tahu ya, kakakku ini super terkenal atas kecantikannya di negara ini. Bagaimana mungkin dia menikah dengan pria biasa sepertimu!" Hannah tersenyum mengejek ke Randika. "Ganteng begini kau bilang biasa? Aku itu bukan pria sembarangan seperti mereka-mereka yang ada di luar sana tahu!" "Kau cuma pria barbar yang mesum, bukankah kau barusan melirik dadaku barusan?" "Eh kau sendiri yang menunjukkannya!" "Aku yang menunjukkannya?" Hannah tertawa, "Kak kau harus hati-hati terhadap pria ini. Kakak ipar itu hidung belang, jangan mau didominasi." Hannah benar-benar tidak menahan diri untuk mengejek Randika. Randika menggertakan giginya, adik iparnya ini membuatnya menjadi gila! Inggrid mendengarkan semua ini dengan wajah tenang, dia sudah paham betul sifat adiknya ini. "Kamu kok tiba-tiba datang ke sini?" "Aku bosan dan datang untuk bermain!" Kata Hannah sambil tersenyum. Melihat kedua kakak adik ini mengabaikan dirinya, Randika sedikit sedih. Dia lalu memasang ekspresi cemberut sambil menunggu mereka berdua selesai berbicara. Ketika Hannah hendak menuju kamarnya, dia menoleh ke arah Randika sambil tersenyum bangga. Baiklah kita sudah impas. Randika lalu melihat Inggrid yang terlihat kelelahan. "Kenapa kamu? Pusing?" Randika menghampirinya. "Sedikit, terlalu banyak masalah di kantor. Aku jadi pusing karenanya." Randika lalu berbisik kecil di telinga Inggrid. "Datanglah ke kamarku, aku akan menyembuhkanmu." "Ah!" Inggrid kaget ketika mendengarnya dan tersipu malu. "Mesum!" "Ha bukannya wajar kalau aku mengkhawatirkanmu? Kita kan suami istri jadi kalau kita sekamar bukan masalah besar, atau kau ingin menjelaskan pada adikmu kalau kita hanya kawin kontrak?" Mendengar kata-kata terakhir itu, Inggrid tersadar. Dia tidak boleh membiarkan adiknya tahu bahwa dia hanya kawin kontrak dengan Randika. Bisa-bisa mulut embernya itu menceritakannya ke mana-mana. Inggrid langsung mengangguk. Randika sangat senang, berkat adik iparnya itu akhirnya dia bisa berduaan dengan Inggrid. Setelah mereka masuk ke kamar, Hannah yang melihat mereka berdua bergumam. "Bisa-bisanya kakak mau masuk ke kamar pria itu! Jangan-jangan mereka beneran menikahˇ­." Mengingat sifat kakaknya itu, bisa-bisanya dia memilih pria barbar seperti itu? Mengingat kejadian memalukan tadi, Hannah menjadi cemberut sekaligus marah. Chapter 47: Aku Bisa Membantumu Tetapi... Ketika Inggrid masuk ke kamarnya, sifat nakal Randika mulai muncul kembali. Bagaimana mungkin dia melepaskan kesempatan emas seperti ini? Ketika mengobati Inggrid menggunakan akupunturnya, Randika mencuri-curi kesempatan. Inggrid tidak mempersalahkan hal ini karena dia telah belajar satu hal ketika menghadapi Randika. Abaikan saja! ...ˇ­ Hari berikutnya Randika yang kepingin nasi uduk akhirnya sarapan di luar. "Bu tambah mienya dong, kok dikit sekali." "Wah enak sekali nasi uduknya ibu, tambah seporsi lagi!" "Gila sudah lama sekali aku tidak makan enak seperti ini, tambah ayam sama tahunya juga." "Hmm? Takut aku tidak habis? Santai saja bu aku masih muat banyak kok ini hahaha. Tambah lagi seporsi sama ayamnya 2 aja sama sambalnya juga banyakin." Semua orang yang sedang makan melihat Randika makan bagai monster. Belum makan 7 hari memangnya orang ini? Atau orang ini saingannya Yuka Kinoshita, youtuber dari Jepang, yang doyan makan banyak itu? Di meja Randika sekarang sudah ada 4 piring kosong dan tulang ayam yang banyak. Bungkus kerupuk juga berserakan di meja berserta 3 gelas teh hangat. Orang ini makan tanpa henti sejak pertama kali dia duduk. Randika lalu menegak tehnya itu dan berdiri lagi. "Bu!" Kali ini, penjualnya tidak dapat menahan dirinya. "Nak, ibu senang kau membeli banyak tetapi pagi-pagi makan sebanyak itu tidak baik untuk tubuhmu." Randika terkejut dan tersipu malu. "Baiklah terima kasih saran ibu tapi tolong bungkusin 2 ya, sama kayak tadi ayamnya 2 tiap bungkus." "..." Pelanggan adalah raja jadi ibu ini hanya bisa membungkuskannya. Ketika selesai membayar makanannya, Randika menyadari sosok orang yang dia kenal. Dia lalu perhatikan orang itu baik-baik, bokong tepos dan wajah samping yang cantik, bukankah itu Deviana? Hari ini Randika cukup memuji penampilan Deviana. Hari ini dia memakai baju santai dan celana jeans, lengan putihnya yang panjang itu cukup menggoda. Yang lebih penting, wajah cantiknya itu memang enak dipandang. "Pagi ibu Devi!" Deviana sedang berpura-pura beli makanan sambil terus memperhatikan tersangka. Tiba-tiba, ada suara orang yang sepertinya ingin menggodanya dan orang itu menghalangi jarak pandangnya! Tersangka itu tidak terlihat lagi! Deviana sangat marah tetapi dia memilih untuk menenangkan diri dan bergeser ke samping agar bisa melihat tersangkanya lebih baik. Randika merasa kecewa karena Deviana bahkan tidak menoleh dan tidak membalas salamnya. Dia terlihat cuek, apakah pesonaku telah memudar? Tidak, tidak, itu tidak mungkin! Pasti ada suatu masalah yang membuat perempuan itu tidak merespon pesonanya. "Hei minggir, kau menghalangiku!" Deviana mendorong Randika yang ikut bergeser. Deviana sedang membuntuti seorang pencuri, dia sedang mengekorinya untuk menemukan markas orang itu dan sekarang malah muncul masalah baru. Deviana masih menundukkan kepalanya agar wajahnya tidak terlihat jadi dia masih belum menyadari bahwa orang itu adalah Randika. "Hei kau lupa padaku?" Randika bersikukuh ingin mengobrol dengannya. "Aku tidak peduli bahkan kau itu seorang ˇ­.. " Deviana terdiam sejak dia melihat wajah Randika. "Cih kenapa kau malah muncul di saat penting seperti ini!" Kata Deviana dengan suara pelan. Dia lalu mendorong kembali Randika dan menyadari bahwa targetnya telah hilang. "Tuh kan gara-gara kamu!" Deviana langsung berlari meninggalkan Randika. Randika terkejut dan berpikir, Sudah baik aku menyapamu ketika melihatmu tapi sekarang kau malah lariˇ­ Setelah itu, Randika menyusul Deviana. Pencuri ini termasuk dalam organisasi pencuri yang mengakar di kota Cendrawasih ini, mereka bertanggung jawab lebih dari 100 kasus pencurian di kota ini. Polisi belum bisa menangkap kepala dari organisasi ini jadi mereka menjadi was-was. Organisasi ini memang pintar dan licik jadi mendapatkan petunjuk maupun pengakuan menjadi pekerjaan yang sulit. Satu-satunya petunjuk kuat adalah orang tersebut. "Berhenti! Menyerahlah dan ikut bersamaku!" Teriak Inggrid. Namun, pencuri tersebut masih terus berlari dan tiba di area perkampungan. Di tempat ini banyak sekali gang, rumah yang saling berhubungan dan nyaris tidak ada pagar di tiap rumah. Saat mereka tiba di perkampungan ini, wajah Inggrid mulai pucat. Dia takut bahwa targetnya ini bisa lepas. Apalagi, pencuri itu sepertinya paham betul dengan medan yang dia lalui. Setiap kali dia berbelok, Deviana merasa jarak mereka semakin jauh. Situasi menjadi gawat! Deviana menggertakkan giginya ketika tidak bisa melihat sosok pencurinya itu lagi. Dia memperhatikan sekelilingnya dan tidak dapat menemukan petunjuk apa pun. "Hmmm apakah kau mencariku?" Suara ini tiba-tiba terdengar dari belakangnya dan Deviana melihat pencuri itu tersenyum ke arahnya sambil bersandar di pagar sebuah rumah. "Apakah kau tidak capek mengejarku sejak pagi tadi? Masuklah ke dalam rumah dan beristirahatlah denganku di ranjang." Ketemu! Deviana kaget, kenapa orang ini tiba-tiba menunjukkan dirinya? Tetapi dia berusaha tidak memperdulikannya dan bersumpah akan membawa orang ini bersamanya! Pencuri itu menyadari wajah kebingungan Inggrid dan tertawa mengejek. "Meskipun kau dari kesatuan khusus, bagaimana mungkin kau melupakan latihan yang sudah kau terima? Bisa-bisanya kau mengejarku sendirian?" "Cukup aku seorang untuk menangkap orang sepertimu!" Kata Inggrid dengan nada dingin. "Hahaha di situlah kesalahanmu!" Pencuri itu menggelengkan kepalanya dan bersiul. Tiba-tiba sekitar 20 orang keluar dari rumah di belakangnya. "Masih berani berkata seperti itu?" Tanyanya sambil ketawa. "Waduh kak, cewek ini polisi ya?" Tanya salah satu rekannya. "Aku belum pernah mencoba seorang polisi apalagi yang secantik ini." Wajah Deviana benar-benar pucat, dia telah masuk ke kandang singa! Begitu banyak orang telah mengepungnya, dia tidak bisa melarikan diri. Pencuri itu, yang bernama Samuel, tersenyum. "Kenapa? Belum pernah melihat penjahat sebanyak ini?" "Kakak tertua sudah membawamu ke sini, riwayatmu sudah tamat!" Beberapa penjahat itu tertawa melihat Deviana yang masih sok tegar. "Kau benar-benar dibodohi oleh kakak!" Deviana menatap tajam Samuel, ternyata orang itu adalah salah satu kepalanya! "Kak mari kita ikat dia!" Para penjahat ini sudah mengepung Deviana, tidak sabar mencicipinya. "Silahkan." Samuel tidak ragu-ragu. "Identitas kita sudah terbongkar, jadi tidak ada salahnya kita memiliki asuransi." "Kak aku rasa keadaan kita tidak seburuk itu. Dia saja mengejar kita sendirian tanpa mengerti bahwa ini markas kita." Seorang penjahat berhasil melihat kebenaran di teka-teki ini. "Kalau dia tahu identitas kita, dia pasti datang dengan sebuah pasukan bukan sendirian. Aku rasa teman-temannya pun tidak tahu bahwa dia datang ke tempat ini. Jadi lebih baik kita jual saja perempuan ini atau buat dia menjadi budak seks kita juga tidak masalah. Asalkan kita mengganti tempat persembunyian." Deviana mulai gemetar ketakutan. Analisa orang ini benar dan jika dia sampai dijual, bisa-bisa dia tidak pernah melihat matahari lagi. "Jangan, kita bukan penjahat semacam itu." Samuel mengerutkan dahinya. "Kak, bukankah kita ini penjahat? Kenapa kakak bersikap suci seperti itu?" Sahut seseorang. "Dia itu polisi dan berusaha menangkap kita semua. Apakah kakak ingin melepasnya? Bagaimana kalau nanti dia malah memburu kita lagi di masa depan? Aku tidak akan membiarkannya itu terjadi!" Deviana hanya terdiam. Sekumpulan penjahat ini sepertinya mempunyai banyak rencana jahat terhadapnya, dia sudah tidak memiliki harapan untuk kabur. Beberapa orang tidak peduli dengan Samuel, mereka sudah tidak sabar mencicipi buah segar di hadapan mereka ini. Bahkan beberapa sudah ada yang mengeras. Melihat hal ini, Deviana makin jijik dan tidak membayangkan apa yang akan terjadi padanya. "Tangkap polisi itu! Hari ini kita akan berpesta!" Teriak salah satu penjahat. Samuel merasa ragu, karena identitas dirinya terbongkar, dia ingin memiliki sebuah jaminan apabila para polisi menyerbu dirinya. Apabila dia menuruti kata teman-temannya ini, bukan hanya pasal pencurian saja yang dia langgar, pemerkosaan dan perdagangan manusia menanti dirinya "Tangkap!" Ketika perintah itu akhirnya datang, para penjahat ini segera menerjang ke arah Deviana. Deviana yang terpojok hanya bisa pasrah dan berdoa bahwa mujizat akan datang. Lalu tiba-tiba sebuah suara menggema di telinga mereka. "Semuanya mundur!" Apa? Semua orang menoleh dan melihat seorang pria sedang berdiri di atas rumah dengan kresek nasi bungkus di tangannya. "Bajingan itu bicara sama kita?" "Rasanya, acuhkan saja bedebah itu. Kita tangkap dulu saja wanita itu!" Para penjahat itu kembali menghampiri Deviana dan ketika salah satu mereka hendak menangkap Deviana, wajahnya terkena sesuatu. Itu adalah sebuah nasi bungkus, dan semua isinya segera berserakan di tanah. "Bangsat, maumu apa?" Penjahat itu sadar bahwa Randika lah yang melemparinya nasi bungkus itu. Dia marah karena sambalnya juga mengenai matanya. "Turun sini kalau kau berani!" "Kau saja yang naik ke sini kalau berani. Kalian sendiri saja beraninya keroyokan meskipun lawanmu perempuan." Ejek Randika. Ada jejak kebingungan di wajah Deviana dan Samuel, bagaimana bisa orang ini muncul tiba-tiba? Deviana bernapas lega, setidaknya dia tidak sendirian menghadapi orang-orang ini. "Oke, kau pikir aku takut?" Penjahat itu segera memanjat atap. "Hahaha aku memang butuh sedikit olahraga untuk menurunkan makananku, kau memang tidak pernah membuatku bosan!" Teriak Randika ke Deviana. Wajah Randika terlihat santai ketika dia menginjak kepala penjahat yang berani memanjat itu. Dia lalu menendangnya jatuh ke tanah dan melompat ke sisi Deviana. Setelah itu, dia merangkul pinggangnya dan mereka berdua melompat dan berada di atap sebuah rumah. "Bagaimana? Lega ketemu aku?" "Lepaskan tanganmu!" Deviana merasa bahwa tangan Randika sengaja menyenggol dadanya. "Ah maaf, aku tidak sengaja hehehe." Randika lalu melepas pelukannya dan menatap para penjahat itu. Deviana lalu berkata pada Randika, "Tangkap mereka semua untukku." "Ha? Buat apa aku melakukan itu? Aku bukan polisi." Randika pura-pura tidak tertarik, bahkan dia menguap. Deviana langsung marah. Dia tahu bahwa Randika mampu menangkap semua orang ini tetapi sepertinya orang ini tidak mau melakukannya secara gratis. "Randika, mereka ini penjahat dan pencuri yang bertanggung jawab lebih dari 100 kasus, mereka bahkan ˇ­. " "Tunggu! Aku tidak mau mendengarnya lebih lanjut." Randika langsung menyela. "Aku bisa membantumu tetapi akuˇ­." Randika langsung menjulurkan tangannya ke dada Deviana, jelas dia harus memiliki motivasi untuk menangkap para penjahat ini. Jika kau mau aku menangkap mereka, tentu inilah imbalanku! "Baiklah aku berjanji." Deviana menggigit bibirnya ketika mengiyakan Randika. "Tapi setelah kau berhasil mereka." "Oke!" Randika merasa dirinya mendapat jackpot. "Kalian semua dengar? Kalian akan kujadikan persembahan untuk perempuan cantik ini!" Para penjahat itu melihat Randika seperti orang bodoh. "Kau pikir kau superhero?" "Tentu saja aku lebih dari itu." Setelah berkata demikian, Randika berubah menjadi gumpalan asap dan menghilang. Lalu tiba-tiba sosoknya sudah berada di tengah para penjahat ini. Dalam hitungan menit, kedua puluh orang ini sudah babak belur. Membersihkan debu yang ada di bajunya, Randika berteriak ke Deviana yang masih ada di atap rumah. "Bagaimana?" "Kau ketinggalan seseorang!" Kata Deviana dengan terburu-buru, "Orang yang berbaju merah jangan sampai dia lolos!" Deviana mengetahui bahwa Samuel adalah salah satu kepala dari organisasi pencuri itu, jadi dia tidak bisa membiarkannya kabur. "Oke tunggu saja di situ." Setelah itu, Randika menemukan Samuel yang sedang bersembunyi dan membuatnya pingsan. Dia lalu melemparkan orang itu ke hadapan Deviana. "Tuh orangnya." Randika lalu menghampiri Deviana dan berkata dengan senyum lebar. "Sekarang biarkan aku menerima hadiahku." Wajah Deviana menjadi merah, "Lancang!" "Hmmm bukannya kamu setuju memberikannya kepadaku?" "Aku cuma bilang aku berjanji memberikanmu sesuatu dan aku tidak pernah berjanji kau boleh merabaku." Setelah itu Deviana mengambil handphonenya. "Tolong kirim bantuan ke perkampungan Sukamaju, semua tersangka telah diamankan." Randika berdiri diam dan merasa dirinya dibodohi. Sejak kapan Deviana bisa menjadi selicik itu? Apakah ini Deviana yang polos yang dia kenal itu? Chapter 48: Bocah Sepertimu Lebih Cocok di Rumah dan Menyusu! Tak lama kemudian, sejumlah mobil polisi telah tiba. Samuel dan teman-temannya telah ditangkap. Melihat para penjahat itu tertangkap, Randika mengikuti Deviana dengan muka cemberut. "Hei mana hadiahku!" Randika masih berharap bisa meremas-remas dada itu. "Aku tidak menjanjikanmu hadiah semacam itu." Teriak Deviana dengan malu. "Kalau begitu, traktir aku makan." Kata Randika. "Aku harus membuat banyak kenangan bersamamu sebanyak mungkin karena tidak ada hati wanita yang tidak bisa kutembus. Suatu hari nanti, kau akan menjadi milikku!" Tentu saja, kata-kata terakhir Randika ini tidak dia ucapkan. Kali ini Deviana tidak menolak permintaan Randika dan membawanya ke depot masakan Cina. "Cobalah nasi gorengnya ini." Randika menawarkan makanannya ke Deviana. "Hmm! Enak juga ya." Deviana mengangguk setuju. Randika hanya menatap Deviana dalam-dalam. Deviana yang tersipu malu itu bertanya, "Kenapa kau tidak makan?" "Aku hanya ingin memakan dirimu." Randika terpukau dengan mulut kecilnya Deviana yang menggiurkan itu. Dia juga suka Deviana yang santai seperti ini. "Dasar mesum!" Deviana tidak habis pikir pria ini masih tidak menyerah untuk meraba dirinya. "Lho sungguhan, yang aku inginkan hanya dirimu." Mata Randika mengatakan segalanya, dia lalu tersenyum. "Sebenarnya dari dulu aku sudah tertarik padamu." Deviana tidak bisa berkata apa-apa sementara waktu. Jika Randika tidak bertingkah seperti om-om genit seperti itu, sebenarnya dia adalah pria yang lumayan tampan. "Aku tidak percaya kata-katamu." Kata Deviana. "Benarkah? Perlu aku membuktikannya?" Randika menjulurkan tangannya. "Jika kau menyentuhku, kupotong tanganmu itu." Deviana menatap tajam Randika. "Padahal kau tadi menjanjikannya padaku." Kata Randika dengan nada sedih. "Maksudku aku berjanji membayarimu makan." Deviana menyodorkan piring nasi goring Randika. "Nih cepat makan hadiahmu ini. Nanti keburu dingin dan tidak enak." Menyedihkan! Situasi menyedihkan apa ini? Randika merasa benar-benar bodoh ketika dia berhasil ditipu oleh Deviana. Bagaimana mungkin perempuan polos sepertinya tiba-tiba bisa melawan dirinya? ...ˇ­.. Randika, yang tidak bisa meraba Deviana, pulang dengan keadaan sedih. Saat dia sampai, dia melihat Hannah. Hari ini dia memakai baju yang lebih berani lagi daripada kemarin. Dengan hotpantsnya, kakinya yang putih dan panjang itu menjadi senjata berbahaya. Belum lagi dia memakai atasan Cropped top yang menonjolkan perutnya yang rata dan pusarnya. Semua ini membuat Hannah lebih cantik lagi daripada kemarin. Benar-benar seksi! Tatapan mata mesum ini disadari oleh Hannah tetapi karena dia adalah kakak iparnya, dia tidak terlalu mempedulikannya. Dia lalu menghampiri Randika. "Wah pagi-pagi dandan begini mau ke mana?" Tanya Randika sambil tersenyum. Aslinya Hannah malas berurusan dengan Randika tetapi dia mau tidak mau harus akrab dengannya. "Aku mau ke tempat yang asyik, mau ikut?" "Di mana?" Randika penasaran. "Ikut saja aku, aku jamin tempatnya menyenangkan!" Hannah langsung menggandeng Randika. Dengan pakaian seksi begini apakah dia ingin merayu om-om? Mungkinkah adik iparnya itu perempuan semacam itu? "Hannah, kau tidak boleh pergi ke tempat yang aneh-aneh." Randika berusaha menjadi orang dewasa. "Tenang saja, kita tidak dalam masalah kalau tidak ada yang tahu kan? Lagipula kita hanya akan pergi belanja." Hannah sudah tidak ingin berdebat lagi dan menyeret Randika masuk ke mobilnya. Mobil sport Hannah benar-benar bagus dan mulus. Randika hanya terdiam di mobil, dia merasa malu dengan pikiran mesumnya sebelumnya. Adik iparnya ini hanya ingin ditemani belanja tetapi dia beranggapan yang aneh-aneh. Hannah melirik Randika yang duduk di sampingnya itu dan tertawa dalam hati. Hari ini akan kubuat kau jantungan! Mobil lalu melaju ke arah selatan, menuju perbatasan kota. Randika merasa ada yang aneh, seharusnya tidak ada mall di arah mereka tuju. "Hei, sebenarnya kita mau ke mana?" Tanya Randika. "Tentu saja jalan-jalan!" Setelah itu, Hannah memacu mobilnya dengan cepat. Dari 30 km/jam langsung dia tancap menjadi 120 km/jam dalam beberapa detik! Randika tersentak ketika mobil itu tiba-tiba melaju cepat. Dia langsung memasang sabuk pengamannya erat-erat. Adik iparnya ini ternyata gila juga, bagaimana bisa perempuan secantik ini ternyata suka balapan? Ya tuhan kenapa aku harus mengalami ini lagi? Randika teringat saat dia naik taksi sehabisnya dia kembali dari kampung halamannya. Randika lagi-lagi khawatir dengan nyawanya. "Hahaha wajahmu lucu juga!" Hannah yang melihat wajah panik Randika tertawa puas, dia juga merasakan sensasi enaknya balas dendam. Siapa suruh merabaku! "Biasanya aku dan kakakmu lebih cepat lagi." Randika tidak mau terlihat lemah di hadapan adiknya ini. "Ahhh bohong kamu!" Melihat Randika yang masih sok kuat, dia kembali memacu mobilnya dan sekarang telah mencapai 140 km/jam. Lalu di saat yang sama, Hannah dengan sengaja membuka jendela Randika dan angin kuat berhembus melewati Randika. Tuhan tolong selamatkan hambamu ini! Di saat yang sama, mobil ini menuju gunung yang ada di perbatasan kota. Jalanan menuju gunung ini banyak tanjakan dan banyak belokan tajamnya. Belum lagi tidak ada pembatas jalan di sisi jalan. Kedua hal ini sudah banyak membuat kecelakaan cukup sering terjadi. Tapi para pembalap liar menamakan jalan ini jalan menuju kematian. Melihat bahwa mereka sampai, Randika menghembuskan napas lega dan tidak lupa berterima kasih dengan Yang Maha Kuasa. Lalu dia melihat sekelilingnya, banyak orang berkumpul dan banyak mobil balap parkir. Di manakah dia sebenarnya berada? Randika tidak mengerti daerah ini jadi dia tidak tahu bahwa mereka telah tiba di balapan liar yang diadakan di gunung tersebut. Orang-orang di sini minum di siang bolong sambil menikmati alunan musik rock, perempuan-perempuannya terlihat nakal dan cantik-cantik. "Tempat apa ini??? "Tentu saja ini tempat balapan mobil." Kata Hannah sambil tersenyum. Randika menoleh padanya dan berpikir dalam hati, d¨¦j¨¤ vu? Randika benar-benar dibuat pusing oleh adik iparnya ini. Jika adiknya ini benar-benar ingin balapan, mengingat medan balap yang akan dilaluinya dan keselamatan hidupnya, Randika lah yang harus menyetir. "Kau ingin balapan?" Randika penasaran dan masih bingung apakah dia harus mencegahnya atau ikut saja dengan pengaturannya. "Kamu takut?" Hannah tersenyum. "Takut? Mana mungkin aku takut!" "Hahaha sudah tidak usah akting terus, aku tahu kalau kamu takut." Hannah menepuk bahu Randika. "Tidak usah khawatir, aku di sini hanya ingin menikmati suasana." Randika lega ketika mendengarnya, lebih baik menghindari masalah yang tidak perlu. "Hei cantik!" seorang pemuda menghampiri mereka sambil mengunyah permen karet. Dia tersenyum ke Hannah. "Kau ingin balapan denganku?" Hannah mengerutkan dahinya dan membalasnya dengan suara dingin. "Tidak perlu, hari ini aku hanya ingin melihat-lihat." "Wah ternyata kamu penakut toh?" Ejek pemuda itu. "Jika kau pernah ke sini jadi kau tahu arti balapan terhadap kita para pembalap. Masuklah ke mobilmu sayang dan tunjukan kalau kau pantas berada di sini, kalau tidak pergi saja dari sini." "Hei hei jangan menakut-nakuti perempuan seperti itu dong." Kata temannya pemuda itu. Pemuda itu hanya tertawa dan melihat Randika yang ada di samping Hannah. "Sayang sekali wanita cantik sepertimu bersama orang jelek seperti itu. Apa bagusnya coba lakimu itu? Sini ikut aku saja dan kuajari apa arti laki itu sesungguhnya." Bajingan, maksudmu aku tidak cukup ganteng? Randika marah besar ketika mendengarnya dan matanya menjadi merah. Kalau kalian ingin bertanding, mari kita bertanding! "Lho ibumu mana?" Randika langsung pasang badan. "Bocah sepertimu lebih cocok di rumah dan menyusu." "Oh? Kalau begitu orang tua sepertimu lebih cocok berbaring di kuburan?" Pemuda itu awalnya terkejut Randika berani melawannya, tapi dia tertawa ketika memperhatikan perawakan Randika dan mengejeknya balik. "Bahkan dalam keadaan mati pun aku bisa mengalahkan bocah sepertimu!" Kata Randika dengan nada mengejek. "Oya? Mari kita buktikan pak tua!" Pemuda itu lalu menghampiri Randika dan berkata tepat di wajahnya. "Jangan salahkan aku kalau tulang rapuhmu itu patah!" Pemuda itu benar-benar tidak pandai memilih lawan, tentu saja Randika dengan senang hati melayaninya! Chapter 49: Pembalap Menyelesaikan Masalahnya di Jalan! Plak! Suara tamparan terdengar dan jejak tangan muncul di muka pemuda itu. Hannah dan teman-teman dari pemuda itu semua terkejut. Randika dengan santainya menampar si pemuda itu! Bahkan bekas tangannya mengecap di wajahnya. Pemuda itu benar-benar marah dan memaki Randika. "Dasar tua Bangka!" Setelah dia selesai berbicara, Randika menamparnya sekali lagi. Plak! Suara tamparan itu terdengar sekali lagi dan Randika mengatakan. "Ini pertama kalinya ada orang yang berani memasang badan melawanku. Aku cukup salut padamu tapi kalau kau hanya ingin bacot saja, pergi sana dan cari orang lain yang takut sama orang sepertimu." "Bangs**! Hari ini kau tidak akan pulang hidup-hidup!" Pemuda itu benar-benar marah sambil menutupi wajahnya. Namun, dadanya tiba-tiba terdorong dan dirinya terpental! Ternyata Randika dengan santai menendangnya tepat di dada dan mengirimnya melayang. "Kalau kau kira aku adalah mangsa mudah, kau salah besar." Randika menggelengkan kepalanya. "Tindakan bodoh mengajakku berkelahi tanpa tahu siapa diriku sebenarnya." Di dunia ini, tidak ada musuh yang selamat dari amarah sang Ares! Para pemuda itu menjadi murka pada Randika dan menatapnya dengan tajam. Hannah yang berada di samping mulai ketakutan. Bisa-bisanya kakak iparnya itu menantang mereka berkelahi? Kalau dia membawanya pulang dengan kondisi babak belur, bagaimana bisa dia menjelaskannya pada kakaknya? Melihat perawakan dan niat buruk mereka, Randika tidak sungkan-sungkan meskipun mereka masih muda. Dia lalu menyandera salah satu dari mereka dan mengayun-ayunkan orang itu bagaikan senjatanya. "Ah!" Orang yang ditangkap Randika ini tidak bisa menggambarkan perasaannya. Dia merasa tangannya mau copot dan kepalanya mulai pusing. Teman-temannya tidak bisa mendekat karena mereka terus tertendang oleh kakinya itu. Setelah beberapa orang terjatuh, Randika melempar orang itu ke temen-temennya dan menghilang jadi gumpalan asap. Beberapa detik kemudian, para pemuda itu sudah terkapar semua. Semua kejadian ini terjadi begitu cepat bahkan mereka yang mulai siuman sudah dibuat pingsan kembali oleh Randika. Hannah yang bersembunyi di mobil cuma bisa diam membeku di dalam. Kakak iparnya ini ternyata kuat? "Masih berani macam-macam denganku?" Kata Randika pada para pemuda itu. "Jangan sombong kau!" Pemuda yang sedang terkapar itu mengambil handphonenya dan memanggil orang. "Kak Nico!" Setelah beberapa saat, orang berbadan besar dan berotot bersama teman-temannya datang. Melihat orang-orang yang terkapar di tanah ini, pria bernama Nico itu mengerutkan dahinya. "Ada apa ini?" "Kita dihajar sama orang itu." Pemuda itu menunjuk Randika. Nico segera menoleh ke Randika dan bertanya dengan suara dingin. "Kau menyentuh bawahanku?" "Bawahanmu itu melecehkan wanitaku, aku harap kau lebih pandai lagi mengurus mereka." Hannah yang terdiam itu menjadi marah ketika mendengarnya. Sejak kapan dia jadi perempuannya Randika? Hannah menggertakan giginya sambil terus menonton. Nico menghampiri bawahannya yang terkapar itu sambil berkata kepada Randika. "Hanya karena sepele itu mereka semua babak belur?" Randika tidak peduli, "Salah sendiri mereka berurusan dengan orang yang salah, kalau kau tidak terima kau juga boleh mencicipi tinjuku ini." Semua orang yang ada di belakang Nico menjadi marah ketika mendengarnya, "Kak, kita hajar saja orang tidak tahu diri itu!" Nico tidak menjawab apa-apa. Dia hanya berjalan maju secara perlahan. Dia lalu berkata di depan wajah Randika. "Berurusan dengan cecunguk sepertimu cukup aku seorang." "Oh? Coba saja." Nico sudah tidak sabar menghabisi bocah ini. Pukulan mautnya melayang ke arah Randika, tetapi di tengah-tengah jalan matanya terbelalak. Wajahnya menjadi pucat pasi dan ayunan tangannya berhenti. Randika masih memasang ekspresi datar dengan satu kaki mengarah tepat ke dagu Nico. Dua detik kemudian, Nico yang berbadan besar itu jatuh tersungkur dan wajahnya kesakitan. "Lho? Kok sudah jatuh?" Randika pura-pura bingung dan mengatakan. "Aku tidak punya urusan dengan bocah yang isinya otot saja tapi tidak punya otak." Wajah Nico menjadi ketakutan dan dipenuhi rasa bingung. Serangan lawannya ini benar-benar cepat. Tetapi, para bawahan Nico menjadi naik darah ketika melihat bosnya tersungkur. "Persetan dengan dia, ayo kita hajar!" Randika malah menantang mereka agar maju. "Sini akan kulayani kalian semua sekaligus." Para bawahan ini mengepung Randika terlebih dahulu, memotong jalur kaburnya. Hannah yang ada di mobil, menarik lengan baju Randika dan memintanya untuk pergi saja. Melihat jumlah orang yang banyak itu membuat Hannah ketakutan. Ares kabur? Bercanda apa? Meskipun dia kalah jumlah, apakah itu membuatnya takut? Jelas tidak! "Tenang saja, duduk dan lihatlah kakakmu ini." Randika mengelus tangan Hannah dan melepasnya. Lalu dia menerjang mereka semua. Pertarungan dimulai! Hannah menutup matanya, takut apa yang akan terjadi berikutnya. Randika kemungkinan besar akan mati dan dia tidak bisa berbuat apa-apa. Sesaat kemudian, suara teriakan terdengar. Apakah kakaknya sudah tamat? Mendengar suara teriak yang semakin banyak itu, Hannah merasa penasaran dan membuka matanya. Randika bagaikan superhero yang melawan penjahat figuran. Dia hanya perlu memukul mereka sekali dan mereka semua terkapar. Semua musuhnya itu benar-benar terlihat lemah. Seluruh pertarungan ini berlangsung sebentar. Semua bawahan Nico meringkuk kesakitan sedangkan Nico sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Saat itu juga, Randika menoleh ke arah Nico. "Sekarang giliranmu." Meskipun nada Randika datar, suaranya bagaikan guntur di siang hari. Kuat! Mata Hannah berbinar-binar melihat kakak iparnya yang kuat ini, dia merasa bahwa Randika jadi menawan. Kalau saja dia tidak meraba-raba dirinya sebelumnya, mungkin dia sudah jatuh cinta sekarang. Nico sekarang berada di situasi genting, sudah tidak ada orang yang bisa menjadi tamengnya. Dari preman berbadan besar sekarang dia menjadi sapi yang siap dipotong. Namun sebuah ide terlintas di kepalanya. "Seorang pembalap menyelesaikan masalahnya di jalan bukan dengan baku hantam begini!" Randika hanya tersenyum tidak mengatakan apa-apa. Nico segera menjadi panik, "Hahaha ternyata kau tidak percaya diri dengan kemampuan menyetirmu ya?" "Bukan itu masalahnya." Randika tersenyum lebar. "Bahkan balapan pun kau bukan tandinganku." "Kalau begitu buktikan!" Nico mulai memanas-manasi Randika. "Jangan omong doang." "Oke. Tunggulah di garis awal." Randika lalu berbalik menuju mobilnya. Hannah terkejut ketika mendengar persetujuan Randika. "Ha? Gila apa kau? Mobil ini bukan mobil balap tahu!" "Hahaha laki kalau sudah ditantang haram hukumnya kalau lari." "Memangnya kau bisa balapan?" Hannah khawatir. "Bahkan kalau kau percaya diri dengan kemampuanmu, jalanan yang akan kalian lalui itu sungguh berbahaya. Jangan harap kau bisa menang! Sudah lebih baik kita pulang saja." Randika mengerutkan dahinya, kenapa adik iparnya ini tidak percaya pada dirinya? "Kalau cuma orang macam mereka, sambil nutup mata aku juga pasti menang." Kata Randika sambil tersenyum. "Sudahlah ngikut saja sama kakakmu ini. Oh iya, kau hari ini akan jadi pemanduku!" "Mimpi!" Hannah langsung menolak. Di lain sisi, Nico sudah siap dengan mobil balapnya dan berteriak ke arah Randika. "Oi jangan lari kau!" Mendengar itu, Randika segera masuk dalam mobil. "Percayalah padaku." Kata Randika. Hannah cuma bisa menghela napas. "Aku tidak peduli jika kau menang atau kalah asalkan kau tidak merusak mobilku ini." "Tenang saja." Kata Randika dengan santai. "Kau akan menjadi saksi hidup atas lahirnya legenda Drift King asal Cendrawasih!" Hannah tersenyum dan memasang sabuk pengamannya. Chapter 50: Lahirnya Raja Drift Baru Peraturan balapan ini gampang. Mereka hanya perlu melalui jalanan gunung ini. Siapa yang paling cepat menuntaskan jalanan ini, dialah pemenangnya. Untuk menghindari kecurangan, ada beberapa orang yang diletakkan di titik-titik tertentu untuk memberi informasi berjalannya pertandingan. Para penonton akan berada di garis akhir. Randika memasuki garis awal dengan mobil sport milik Hannah. Total ada 9 orang yang mengikuti balapan kali ini, semuanya merupakan mobil rakitan. Meskipun begitu, performa dan kecepatan mereka tidak lebih jelek daripada mobil sport. Whoa! Whoa! Penonton mulai bersorak, para gadis mulai menari-nari sambil menggoyangkan dada mereka dan juga banyak yang memasang taruhan. Pemandangan di garis awal ini sungguh liar. "10 juta buat Nico!" "Gila apa? Jelas-jelas yang menang itu si kuda hitam Sindu!" "Sayang sekali Naomi tidak datang, kalau ada perempuan itu pertandingan ini pasti lebih seru." ..... Orang-orang yang hadir semuanya menikmati dengan cara mereka sendiri-sendiri. Ketika mereka semua asyik bercanda, seorang perempuan membawa bendera putih maju ke tengah jalan. Pertandingan akan segera dimulai! Melihat penonton yang begitu banyak, Hannah menjadi gugup. Meskipun dia suka acara seperti ini, dia lebih menikmatinya menjadi penonton bukan seorang pembalap. Menoleh ke samping, dia melihat wajah Randika penuh dengan keringat! Bajingan ini gugup? Saat pertandingan belum dimulai, Nico membuka kaca jendelanya dan berteriak ke Randika. "Siap kalah bocah?" "Semua peserta harap siap-siap!" Perempuan itu mengangkat tinggi bendera yang dia bawa, semua mobil menyalakan mesinnya. Di saat bendera itu jatuh, pertandingan resmi dimulai. "Tiga!" "Dua!" "Satu!" Seketika itu juga, ke-9 mobil langsung memacu mobil mereka dan disusul oleh sorakan para penonton. Namun, pemandangan di depan mereka ini membuat mereka terheran-heran dan bertanya-tanya. Kenapa mobil sport itu tidak melaju? Mogok? Hannah juga tidak tahu mengapa Randika tidak bergerak. "Hei pertandingan sudah dimulai!" "Santai saja." Ekspresi Randika terlihat tenang. "Tidak seru kalau aku menang terlalu mudah." Ketika mendengarnya Hannah hanya tersenyum. Pria ini percaya diri atau sudah gila?! "Hahaha kau sudah gila!" Hannah tersenyum dan mulai menutup matanya. Kepala kakak iparnya ini mungkin terbentur pas dia berkelahi tadi jadi dia merasa bahwa berkendara dengannya merupakan kesalahan terbesar. Dia memasang sabuk pengamannya dengan erat. Para penonton saling bertanya satu sama lain. "Mobil itu mogok atau apa?" Tanya seorang penonton yang agak gemuk. Pria di sebelahnya pun menyahut "Aku rasa kuncinya jatuh." Semuanya mulai tertawa. Perempuan yang mengibarkan bendera juga ikut bingung. Sudah lebih dari 30 detik dia mengibarkan bendera mulai tapi mobil ini masih diam di tempat. Tiba-tiba, Randika memacu mobilnya dan melesat bagaikan panah. Melihat bahwa akhirnya mobil terakhir berjalan, salah satu panitia berbicara melalui HT. "Semua mobil di garis awal telah melaju dengan lancar, titik pertama harap bersiap-siap." Meskipun mereka melaju dengan cepat, Hannah tidak melihat mobil balap lainnya. "Tuh kan, salahmu sendiri aneh-aneh kayak tadi. Kalah kan jadinya kita." "Santai saja." Kata Randika dengan santai. "Pertandingan sesungguhnya belum dimulai." Hannah hanya tertawa pahit di dalam hatinya. Memang mobil sport miliknya itu tidak kalah cepat dengan mobil balap lawannya itu tapi itu hanya di jalan yang lurus. Jalanan gunung ini banyak belokkannya dan dia takut bahwa ban miliknya itu tidak akan bertahan hingga akhir. Selama jalannya penuh dengan belokan, Randika tidak mungkin bisa menang. "Di sini titik pertama, mobil Nico sudah terlihat dan di belakangnya ada Sindu." Ketika mendengar hal ini, banyak penonton bersorak. "Wohooo! Malam ini aku makan enak!" "Kau pasti bisa Sindu!" Lalu suara dari HT para panitia kembali terdengar, "Dengan ini 8 mobil sudah lewat dengan aman." Lalu yang bertugas di garis awal membalasnya. "Hei jumlah mobilnya 9 tahu." Para penonton yang mendengarnya semua tertawa. "Hahaha maaf, maaf. Aku belum melihat mobil itu daritadi. Oh? Itu dia!" "Hahaha mobil itu terlihat buru-buru. Eh? Dia tidak ngerem? Dia mau belok dengan kecepatan penuh?" Tiba-tiba para penonton menahan napas mereka karena mereka penasaran dengan apa yang terjadi. Mereka menunggu laporan lengkapnya. "Ya tuhan! Dia melewati belokan tajam tanpa mengerem sedikitpun!" APA?! Semua penonton terkejut ketika mendengarnya. "Memangnya bisa belok dengan kecepatan penuh?" Lelucon macam apa itu? Pasti panitia itu lagi mengigau. Panitia yang berada di titik pertama itu juga tidak bisa percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia melihat mobil sport itu melaju kencang sambil mengepot. Bahkan jarak antara mobilnya dan pembatas jalan hanya setipis kertas. Awalnya dia mengira bahwa mobil itu akan lepas kendali tapi nyatanya dia mengepot dengan sempurna tanpa kehilangan kecepatannya! Hannah yang ada di dalam mobil juga terkejut, dia memandangi Randika dengan wajah kagum. "Pegangan yang erat." Kata Randika sambil memacu mobilnya lagi. Setelah dua belokan lagi, akhirnya mereka berdua melihat mobil balap lainnya. "Di sini titik kedua, kami melihat mobil sport itu berhasil menyalip satu mobil dan berusaha menyalip mobil lagi." Penonton menjadi antusias menunggu kabar mobil sport yang unik itu. "Mereka memasuki tikungan!" Penonton menahan napas mereka. Pada saat ini, Randika sedang mencari kesempatan emas untuk menyalipnya. Setelah mereka tiba di tikungan tajam, mobil tersebut langsung mengepot dan disusul oleh Randika. "Kedua mobil itu mengepot dan mobil sport itu berhasil mendapatkan sisi dalam dan berhasil menyalipnya!" Para penonton bersorak! Mereka semua takjub dengan mobil sport itu. Sekarang mereka penasaran, siapakah yang berada di balik kemudi itu? Bagaimana mungkin mereka tidak pernah mendengar namanya selama ini? Randika berhasil mengambil celah ketika mobil lawannya itu terlalu luas mengambil haluannya. Terlebih lagi, di saat dia mengepot Randika tidak mengerem sama sekali jadi dia memiliki keunggulan kecepatan. "Mobil sport itu berhasil menjadi nomor 7!" Hannah memperhatikan Randika dengan muka terkejut sedangkan Randika masih fokus dengan pertandingan ini. Hanya butuh beberapa belokan saja mereka sudah menyusul sejauh ini. "Sekarang Nico telah disalip oleh Sindu!" Penonton tidak terlalu antusias mendengar hal tersebut. Mereka lebih senang mendengar kabar dari mobil sport yang misterius itu. Saat ini, Randika dihadapi dengan belokan tajam yang membentuk sudut 180 derajat. Mukanya masih tenang ketika melihat rintangan ini sedangkan wajah Hannah semakin pucat karena mobilnya malah bertambah cepat. Belum lagi, di depan mereka ada mobil yang sudah mulai siap mengepot. Ketika mobil itu mengambil jarak lalu mengepot, Randika menyalipnya dan mengepot dengan sempurna. Mobil lawannya itu hanya bisa melongo melihat Randika yang begitu cepat. "Luar biasa! Dia lagi-lagi mengepot dengan kecepatan penuh! Dia sekarang ada di posisi ke-6!" Penonton kembali bersorak. "Sialan harusnya aku bertaruh orang itu!" "Siapa sebenarnya orang misterius ini?" Semua penonton tidak bisa berhenti bertanya-tanya. Seorang dengan keahlian dewa seperti itu belum pernah mereka dengar. "Hei, kenapa kau hebat sekali?" Tanya Hannah sambil tersenyum. Dia terpukau dengan beragam keahlian Randika. Dia jago berkelahi, jago ngepot dan belum lagi lengannya yang kekar itu! "Karena seorang pria sejati tidak pernah kabur dari tantangan." Canda Randika. Dia sama sekali tidak menoleh karena dirinya masih harus fokus ke jalanan dan juga, kecepatan mereka sudah mencapai 150 km/jam! Dari semula yang cuma ada pemandangan gunung, sekarang sosok-sosok mobil balap lainnya telah terlihat. Randika akhirnya bisa melihat mobil yang ada di paling depan meskipun masih ada jarak di antara mereka. "Yah nanti kalau ini sudah selesai, kau harus menjelaskannya." Kata Hannah sambil tersenyum. "Sindu dan Nico sudah melewati belokan maut dan mobil-mobil lainnya membuntuti di belakang mereka." Panitia yang bertugas di titik ini melaporkannya melalui HT yang akan didengar oleh semua penonton. Tak lama kemudian, mobil-mobil lainnya ini akan melewati belokan maut. Di jalanan gunung ini terdapat beberapa belokan maut yang mematikan. Yang pertama berbentuk huruf ''S'', yang kedua jalurnya sangat sempit dan mereka saling berhubungan. Sangat sulit melaluinya dengan kecepatan tinggi. Terlebih lagi, pembatas jalannya rusak dan belum diperbaiki jadi sedikit kesalahan saja maka mobil itu bisa lompat dan jatuh di dasar gunung! "Mereka semua melambat!" Para pembalap mulai melambat agar bisa belok dengan aman. Tetapi, hanya ada satu mobil yang tidak melambat sama sekali. Bahkan dia berhasil menyalip 1 mobil dalam prosesnya. "Orang ini gila!" Kata mobil yang disalip oleh Randika. Hannah sudah gemetar ketakutan dan Randika masih memasang ekspresi tenang. "Pegangan!" Mobil sport Randika memasuki belokan maut tanpa melambat sama sekali. "Gila sekali saudara-saudara! Mobil sport itu sama sekali tidak menginjak remnya!" Saat melewati tikungan pertama, Randika malah menyalip mobil di depannya sambil mengepot. "Mobil itu akhirnya kehilangan kendali! Dia akan jatuh!" Suara panitia itu terdengar panik sekali tetapi dia segera terdiam setelah melihat keajaiban di depan matanya. Di detik-detik terakhir, ban mobil Randika memang sudah melayang di luar pembatas jalan tetapi ajaibnya dia berhasil kembali ke jalan dan melesat lebih cepat lagi. "Diaˇ­. Dia berhasil kembali ke jalan!" Panitia itu benar-benar terkejut melihat pemandangan di depannya. Setelah mobil-mobil lainnya juga berhasil melalui belokan maut ini, dia kembali berkomentar di HT. "Mobil sport itu sama sekali tidak melambat saat melewati belokan maut ini! Gila sekali orang itu!" "Semua mobil sudah melalui belokan maut pertama. Mobil sport itu menyalip mobil di depannya saat dia mengepot di tikungan kedua dan sekarang berada di posisi ke-4!" Mendengar hal itu, penonton bersorak kembali dan suasana menjadi heboh. Mereka semua tahu kengerian yang dimiliki belokan berbentuk ''S'' itu, terlebih lagi pembatas jalannya yang sudah rusak itu. Mereka bisa dengan mudah jatuh ke dasar gunung kalau tidak hati-hati. Besar sekali bola orang itu. Skill drift orang itu sudah sangat tidak masuk akal. Perempuan yang membawa bendera mulai itu menatap linglung ke arah gunung, dia merasa bahwa mobil aneh itu bisa-bisa juara 1. Di dalam mobil, Hannah sudah berwajah pucat. Dia tadi sudah merasa riwayatnya akan tamat ketika mobil mereka melayang di udara, dia sampai sudah meminta ampun kepada Tuhan. Kemudian, secara ajaibnya Randika berhasil membawa mobilnya kembali ke jalan dan mereka berhasil mengepot dengan sempurna. "Jantungku sudah tidak kuat, bisa turunkan aku?" Hannah sudah merasa umurnya berkurang. Randika menoleh dan tertawa. "Bukankah tadi itu seru?" Hannah langsung memukul pelan Randika. Awalnya dialah yang harusnya menakut-nakuti Randika malah sekarang dia yang jantungan. Dia sama sekali tidak tahu kalau Randika jago balapan. Mobil Randika sudah terlihat di kaca samping mobil yang berada di posisi ke-3. "Ha? Dari mana bocah itu datang." Kata orang tersebut. "Mobil sport itu mulai mendekati mobil didepannya, jarak di antara mereka benar-benar dekat." Panitia terus memberikan komentar. Semua orang mulai menahan napas mereka. "Nico dan Sindu mengalami persaingan yang sengit dan mereka saling menyalip satu sama lain." "Wow! Posisi ke-3 mulai mengepot disusul oleh posisi ke-4." Panitia itu langsung berdiri karena dia tahu bahwa posisi ke-4 adalah mobil sport yang misterius itu. Belokan maut kedua ini tidak terlalu tajam seperti sebelumnya tapi jalan yang dimilikinya sangat sempit jadi sangat susah untuk menyalip dari sini. Randika berusaha menyalipnya ketika mengepot, tetapi dia dihalangi dengan sempurna oleh lawannya itu. Lawannya kali ini bukan amatiran. Randika terpaksa menginjak rem dan mengekorinya. "Ohhhh mobil sport itu tidak bisa menyalip karena jalurnya tertutup sempurna oleh mobil di depannya!" Sebenarnya lawannya itu melakukan tindakan kotor, di saat dia mengepot dia mengambil ruang 2 mobil yang memperlambat mobilnya. Jadi selain menutup jalur, dia juga memaksa Randika untuk mengerem. Tetapi karena ini balapan liar, semua cara bisa dipakai asalkan tidak membahayakan nyawa. "Berengsek sekali orang itu!" Hannah mengerti niatan mobil di depannya itu. "Pegangan!" Kata Randika dengan nada dingin. "Belokan maut ketiga sudah terlihat dan Nico serta Sindu mulai melambat." Tak lama kemudian, Randika dan mobil satunya juga sampai di belokan maut ini. Belokan maut ini mirip huruf ''M'', jalur lurusnya sangat pendek dan tiga tikungannya sangat tajam. Meskipun ada pembatas jalan di tiap sisi jalan, jika mobil menabraknya terlalu cepat maka dia bisa berguling tanpa henti. Mobil di depan Randika mulai melambat karena tikungan pertama sudah terlihat. Sekarang! Mata Randika bersinar dan dia menginjak pedal gas kuat-kuat. Mobilnya berbelok dengan kecepatan penuh dan menabrak mobil depannya itu! Mobil itu langsung kehilangan kendali dan berputar-putar. Pengemudinya memutuskan untuk mengerem kuat-kuat namun hal itu justru membuat kendali mobilnya tidak terkendali dan akhirnya menabrak pembatas jalan. Dia cukup beruntung bisa selamat. Randika di lain sisi berhasil mengepot dengan sempurna. Dia memanfaatkan tubrukan itu untuk memperbaiki posisi mobilnya dan melesat kembali. "Buset mobil sport itu menabrak mobil di depannya saat mereka mengepot dan berhasil menyalipnya!" Hannah menatap Randika dengan kengerian di matanya. Kalau saja mobil depan mereka itu tidak mengerem setelah tabrakan, mobil mereka berdua mungkin sudah berada di dasar gunung. "Eh bukankah sudah kubilang jangan menabrakan mobilku!" Kata Hannah sambil tersenyum. "Pilihannya itu atau kita berdua jatuh ke dasar gunung." Kata Randika dengan santai. "Mobilmu tidak begitu lecet kok jadi tenang saja. Huh! Ekspresi Hannah menjadi cemberut dan dia memalingkan wajahnya. Enak sekali dia bilang, ini kan bukan mobilmu! "Mobil sport itu dengan cepat menyusul Sindu dan Nico!" "Ya ampun mobil sport itu mengepot dengan kecepatan penuh lagi!" "Wow dia berhasil tepat di belakang Sindu dan Nico!" Nico lalu melihat kaca di sampingnya itu dan menyadari bahwa Randika tepat di belakangnya. Dia cukup terkejut karena dia tahu bahwa mobil Randika itu mulai terlambat sekitar 30 detik setelah mereka semua melaju. "Bajingan dia sudah di sini?" Nico mengerutkan dahinya. Ketika mereka bertiga sudah berada di jalur lurus, ketiga mobil ini membentuk garis lurus dengan jarak yang sangat dekat. Sindu, yang berada di tengah, terkejut melihat mobil sport yang tidak pernah dia lihat sebelumnya selama pertandingan ini. Jarak antara mereka bertiga sangat dekat, dan Randika masih belum menemukan kesempatan menyalip yang dia tunggu. Ketika mereka sampai di belokan, mereka bertiga mengepot bersama. Saat Randika ingin menyalip Sindu, dia tidak diberi kesempatan sama sekali. "Belokan maut keempat sudah ada di depan mata! Lima belokan tajam!" "Oh? Mereka bertiga tidak melambat sama sekali! Mereka akan melewatinya dengan kecepatan tinggi?!" Nico terus memantau kedua mobil di belakangnya, dia benar-benar khawatir akan kalah. Oleh karena itu, dia harus mencobanya. Sindu, yang melihat Nico sama sekali tidak melambat, juga tidak melambat sama sekali. Dia sudah latihan berpuluh-puluh kali melewati belokan ini dengan kecepatan tinggi. Belokan maut keempat ini benar-benar menguji keahlian pengemudi ke tingkat ekstrimnya, bahkan pembalap profesional pun akan kewalahan. Terlebih lagi, jika mereka tidak mengurangi kecepatan maka kecelakaan pasti tidak terhindarkan. Ini dia! Randika tidak melambat sama sekali dan tikungan pertama sudah terlihat di depan mata. Menginjak pedal gasnya, dia mengepot dengan mengambil jalur luar. Dia dengan sempurna mengepot dengan ban mobilnya yang melayang. "Melayang, mobilnya melayang!" Panitia itu tidak dapat percaya dengan apa yang dilihatnya. "Ketiga mobil itu berhasil melewati tikungan pertama dan mobil sport itu bahkan mengepot di luar jalur!" Para penonton mendengarkannya dengan seksama, takut kelewatan. Randika sukses menyalip Sindu di tikungan pertama, dia berhasil memanfaatkan momentum ngepot Sindu itu dan menyalipnya. "Mobil sport itu berhasil mengambil posisi ke-2 dan sekarang tepat berada di belakang Nico. Tapi mereka segera berhadapan dengan tikungan kedua." Keahlian mengepot Nico sungguh bagus, tetapi kali ini dia mengepot tidak sempurna karena terlalu jauh mengambil haluan. Yang mengejutkannya adalah mobil Randika yang mengepot di bagian dalam! Mereka sekarang mengepot berdampingan! Sebelumnya Randika memanfaatkan jalur luar untuk menyalip Sindu sekarang dia mengambil sisi dalam untuk menyalip Nico. Randika berhasil mengapit Nico tetapi tikungan ketiga langsung menunggu mereka. "OHHH!! Mobil sport hampir berhasil menyalip Nico dan sekarang mereka melaju berdampingan! Tikungan ketiga sudah di depan mata!" Kali ini, Randika sudah berada di jalur dalam jadi dia memiliki keunggulan. Dia tersenyum ketika mengepot untuk yang ketiga kalinya. Sama seperti sebelumnya, dia mengepot dengan kecepatan tinggi namun tetap berhasil mempertahankan posisinya dengan sempurna. Sedikit demi sedikit mulai tercipta jarak di antara dia dan Nico, Randika akhirnya berada di posisi pertama! "WOW mobil sport itu berhasil menyalip dan sekarang berada di posisi pertama!" Semua penonton bersorak, mereka tidak percaya dengan apa yang mereka dengar. Mobil yang awalnya dikira mereka mogok itu sekarang telah menjadi posisi pertama. Benar-benar suatu keajaiban! Tapi pertandingan belum selesai. Setelah melalui belokan maut keempat ini, belokan maut terakhir menanti mereka di mana itu sudah dekat dengan garis akhir. Wajah Nico mulai menjadi pucat. Dia menatap takjub pada mobil yang ada di depannya itu. Dia berusaha menyalipnya lagi tapi itu merupakan hal yang percuma, mobil depannya itu tidak memberikan kesempatan sama sekali. Dan akhirnya Randika meninggalkan jauh Nico dan menyelesaikan lomba ini dengan status juara pertama. "Keren bukan?" Randika menoleh ke Hannah yang memasang muka terpukau. Awalnya dia pesimis Randika bisa memenangkan pertandingan ini tetapi lihat di mana mereka sekarang! Bukankah tadi kita mulai lebih lambat daripada mereka semua? Dan sekarang mereka ada di posisi pertama! Hannah terkejut, para pembalap terkejut, semua orang terkejut! Orang yang mengibarkan bendera di garis akhir terkejut ketika dia melihat timer yang dia pegang. Dia lalu mengumumkan hasilnya melalui HT. "25 menit dan 14 detik." APA! Semua yang mendengarnya benar-benar terkejut, Randika hanya perlu waktu 25 menit 14 detik untuk menyelesaikan jalur gunung ini? Dia masih manusia atau bukan? Waktu terbaik yang pernah tercatat adalah 29 menit dan 49 detik, itupun dilakukan oleh legenda balap gunung ini yang bernama Bintang. Bahkan tadi Randika tidak memacu mobilnya ketika bendera mulai berkibar, kalau dia tidak melakukan itu mungkin waktunya bisa 20 menit! Setelah beberapa saat, salah satu panitia mengambil handphonenya dan menelepon seseorang. "Kak Bintang, rekormu terpecahkan." "Oh? Berapa catatan waktunya?" Tanya Bintang penasaran. "25 menit dan 14 detik." "Ha? Mustahil!" Bintang yang sudah dianggap raja drift oleh orang-orang tidak percaya dengan perkataan orang itu. "Dia sebelumnya tidak bergerak selama 30 detik di awal." Orang ini benar-benar tidak habis pikir dengan keajaiban yang dilihatnya. Benar-benar absurd! Chapter 51: Menagih Janjimu Pagi Tadi! Semua mobil-mobil yang ikut bertanding akhirnya telah melewati garis akhir dengan selamat. Mereka masih menunggu keputusan resmi dari panitia. Tetapi ketika Randika keluar dari mobilnya, seseorang bersorak padanya. "Hormat pada Raja Drift!" Lalu semua orang yang ada di garis akhir itu bersorak bersamaan. "Hormat pada Raja Drift!" "Hormat pada Raja Drift!" "Hormat pada Raja Drift!" ..... "RD, apakah kamu nganggur habis ini? Aku ingin bersenang-senang denganmu di mobil." Puluhan perempuan cantik segera menghampiri Randika sambil menggodanya. Isi hati Randika hampir kecoplosan, Hannah ada di sisinya jadi dia menolak mereka semua. "Hei RD, kamu baru pertama kali balapan di sini ya? Sering-seringlah ke sini, semua orang menyukai penampilanmu." "RD kau belum bergabung dengan tim manapun kan? Bergabunglah denganku dan kita akan menguasai dunia!" ...ˇ­.. Semua orang memuji Randika dan dia pun sendiri mulai malu mendengarnya. Tapi di tengah-tengah kegembiraan ini, terdengar suara sirine mendekat. Mereka semua menoleh dan melihat ada 5 mobil polisi yang datang ke arah mereka. "Bajingan, polisi!" Orang-orang langsung panik. "Sialan mereka sudah menghalangi jalan keluar kita." Orang-orang cerdas di sana sudah tahu bahwa mereka sudah tidak bisa kabur. Randika juga melihat puluhan polisi yang segera mengamankan area perlombaan ini. Tetapi, dia tidak menyangka bahwa dia akan bertemu dengan angsa putihnya yang cantik itu, Deviana. Kenapa perempuan ini terus-terus mengejar dirinya? Apakah pesonanya itu memang tidak tertahankan? Salah satu polisi berteriak dengan keras. "Kami datang dengan adanya laporan bahwa ada balapan liar yang diadakan di jalanan gunung ini. Sekarang kami akan membawa kalian semua ke kantor polisi untuk memberikan keterangan lebih lanjut." "Oh? Memangnya siapa yang balapan? Apakah ada buktinya?" Seorang panitia maju tanpa takut. "Kalau kau ingin membawa kami, coba kejar saja kami kalau bisa." "Baiklah, siapa lagi yang mau mengaku kalau dirinya adalah pembalap juga?" Polisi itu menangani hal ini dengan kepala dingin. "Kami semua hanya suka berkendara lebih cepat daripada yang lain, apakah itu salah? Lagipula apa bedanya balapan sama berkendara biasa?" Para pembalap ini tidak takut, mereka tahu bahwa polisi ini tidak memiliki bukti. Para pembalap, termasuk Nico dan bawahannya, memandangi para polisi dengan mata dingin. Deviana yang berada di barisan mengerutkan dahinya. Pihak lain punya orang cukup banyak, kalau keadaan menjadi buruk maka situasi bisa jadi kacau. Saat dia masih kebingungan, matanya menyapu ke arah Randika. Kenapa pria itu bisa ada di sini? Deviana akhirnya menatapnya dengan tajam. Randika mulai bosan, tetapi dia tidak mau ikut campur dan memutuskan hanya untuk melihat. Randika tetapi khawatir keadaan akan menjadi kacau jadi dia meminta Hannah untuk tetap berada di mobil sambil dirinya terus mengamati situasi. "Sudah kita bahas semua ini di kantor." Kata polisi itu dengan nada dingin. "Kita lihat apakah kalian bisa berkata searogan ini ketika kita memisahkan kalian." Setelah itu, polisi itu menoleh dan memberikan perintah untuk menangkap mereka semua. Nico melihat hal tersebut dan memberikan perintah juga kepada para bawahannya dan semua yang ada di sana. Para pembalap ini tidak akan pergi tanpa perlawanan. Beberapa sudah siap baku hantam, beberapa menelepon kawan-kawan mereka yang masih ada di garis awal. Ketika situasi ini berkembang ke arah yang buruk, Randika langsung melirik Deviana. Dia tidak habis pikir kenapa perempuan itu selalu mengurus perkara yang berbahaya. Deviana tidak ikut bersiap-siap menangkap, instingnya berkata bahwa ada sesuatu yang aneh. "Makan ini!" Sindu tiba-tiba berteriak keras dan menembakkan pistolnya ke salah satu polisi. Polisi tersebut langsung terkapar. "Berlindung!" Kepala polisi tersebut langsung menyuruh anak buahnya berlindung dan menggunakan mobil mereka sebagai tameng. Pada saat yang sama, semua orang panik, berteriak dan bingung melakukan apa. Yang tidak mau terlibat segera masuk ke mobil ataupun lari sejauh mungkin. Randika langsung menyuruh Hannah menaiki gunung kembali agar jauh dari baku tembak yang akan datang ini. Randika terus bersembunyi di antara kekacauan ini dan mengamati situasi. Di antara pembalap ini masih ada senjata api. Selain itu, mereka juga membawa tongkat bisbol. "Berani-beraninya bajingan seperti mereka menembaki kita?" Kepala polisi itu langsung marah ketika melihat salah satu anggotanya tertembak. "Tembak bajingan-bajingan itu! Aku akan bertanggung jawab." "Pak, kita tidak membawa senjata untuk penangkapan kali ini." Salah satu polisi mengatakannya dengan nada gemetar, mereka semua tidak menyangka akan terjadi baku tembak. Dor! Suara tembakan kembali terdengar dan suara ringkikan perang terdengar. "Bunuh mereka semua!" Nico lalu membidik dan menembak ke arah Deviana! Namun di saat yang sama, sebuah bayangan telah melewati Deviana dan menjegalnya hingga terjatuh. Peluru tersebut langsung bersarang di mobil. "Dasar bodoh! Nyari mati kamu ya?" Randika langsung memarahi Deviana, bisa-bisanya dia melongo ketika ada baku tembak. Pada saat ini, para pembalap ini sudah mulai bergerak sambil bersenjatakan tongkat bisbol. Dan di belakang mereka ada beberapa orang yang bersenjatakan pistol yang berfungsi sebagai pengontrol massa. "Lepaskan aku!" Deviana meronta sambil berwajah merah. Randika terdiam sambil berpikir, Dasar tidak tahu terima kasih! Lalu saat dia mau berdiri, tangannya merasakan keempukan yang luar biasa. Apakah ini hidangan yang dia nanti-nantikan? Randika lalu menoleh dan benar saja, tangannya berada di dada Deviana! Pantas saja dia memberontak. Bundar dan empuk, inilah hadiah yang ditunggu-tunggu oleh Randika. Deviana sudah siap menampar Randika, tetapi pria itu tiba-tiba berkata di telinganya. "Ingat janji kita pagi hari tadi." Setelah berkata seperti itu, dia mengambil pistol yang dibawa oleh Deviana. Itulah satu-satunya senjata api milik para polisi ini. Randika langsung melompat ke atas mobil dan dia langsung menembakkannya dengan akurasi tinggi. Pergelangan tangan Nico menjadi korban pertama. Randika lalu menembak beberapa kali lagi dan semua peluru itu berhasil bersarang di pergelangan tangan para pembalap yang membawa pistol. Lalu tiba-tiba, seseorang menerjang dirinya yang masih berusaha membidik. Randika langsung mencengkram pergelangan tangannya dan mengambil tongkat bisbolnya sambil menghajarnya sampai pingsan. Kepala polisi itu melihat bahwa salah satu dari mereka menerjang maju ke arah para pembalap itu dan segera berteriak. "Bantu orang itu dan amankan para tersangka." Meskipun masih ada tembakan yang berasal dari musuh, para polisi ini tidak gentar dan menerjang maju. Pada saat ini Randika sudah menghajar beberapa orang. Dengan bermodalkan tongkat bisbol, Randika sudah menghajar 10 orang dalam 30 detik. Setiap hantamannya membuat mereka pingsan seketika. Para polisi itu merasa kebingungan, siapa pria itu yang dengan mudahnya menghajar para pembalap itu? Mereka mau tidak mau mempercayai orang tersebut dan mengamankan orang-orang yang telah pingsan. Keadaan benar-benar kacau dan Hannah, yang tidak menuruti perkataan Randika, mengintip dari balik jendela dan terpukau olehnya. "Kakak iparku memang hebat!" Hannah tersenyum bangga. Hari ini dia dibuat terkejut berkali-kali oleh Randika. Deviana juga tidak tinggal diam dan ikut mengamankan para tersangka. Namun, ada beberapa polisi yang masih melongo melihat Randika. "Hei kalian jangan melongo seperti orang bodoh! Cepat tangkap orang-orang itu." Kepala polisi ini aslinya juga kaget dengan aksi Randika. Apakah orang itu adalah pasukan khusus negara? Nico yang tangannya bersimbah darah itu melihat Randika dengan ketakutan. Dia bersyukur tidak menantang Randika. Karena aksi heroik Randika ini, dia menjadi pusat perhatian. Setelah beberapa saat, para polisi, para pembalap, para penonton, semuanya melihati Randika dengan mata terpukau. Berkat ini, situasi menjadi reda. "Aku tahu kalau aku dari awal memang tampan dan mempesona, jadi tidak heran perempuan-perempuan mengejarku. Para pria hanya bisa iri denganku. Ahhh setelah berolahraga begini enaknya memang makan siang sambil ditemani perempuan cantik. Eh, bukannya sekarang waktu yang tepat memberikan hadiah yang kau janjikan kepadaku?" Deviana langsung menampar dahinya ketika Randika menghampirinya. Chapter 52: Hari Penghakiman Segera Tiba! "Kak, bagaimana caranya menjadi pembalap hebat seperti kakak? Ajari aku dong!" "Eh kak, ayolah kasih tahu caranyaˇ­." "Kak..." Randika merasa bahunya mau copot karena terus-menerus ditarik Hannah tanpa henti. Randika lalu menatap Hannah dalam-dalam dan berkata dengan wajah datar. "Pertama, kau harus memiliki kepercayaan diri." "Mm-Hmm." Hannah langsung sigap dan mendengarkannya dengan seksama. "Kemudian teruslah berlatih tanpa henti." Randika berkata semua ini dengan wajah datar karena dia sendiri hanya ingin Hannah berhenti mengusiknya. Sedangkan Hannah seperti anak kecil yang mendengarkan seorang guru, tidak sabar menimba ilmu. "Terus?" Hannah sudah tidak sabar mengetahui rahasia Randika hebat dalam menyetir maupun berkelahi. "Apanya yang terus?" Randika pura-pura bingung. "Lho rahasianya apa?" Hannah menjadi sedikit marah, dia tahu kakak iparnya ini pura-pura bodoh. "Bukannya barusan aku memberitahu kamu seluruh rahasianya? Percaya dirilah dan berlatihlah tanpa henti." "Hah? Cuma itu?" Hannah memasang wajah tidak percaya. Di saat yang sama, dia sama sekali tidak percaya sama sekali dengan apa yang dikatakan kakak iparnya itu. Pasti ada semacam rahasia yang membuatnya jago drift seperti sebelumnya. Melihat Hannah yang terdiam membuat Randika menghela napas lega di hatinya. Selama ini bahunya terus ditarik-tarik dan telinganya tidak pernah berhenti bekerja. Meskipun tangannya itu masuk di lembah milih Hannah, Randika harus menjaga martabatnya sebagai kakak ipar. Tidak mungkin kan dia akan terangsang? Jika kau memaksa, setidaknya biarkan aku meremasnya! "Hannah, semua kejadian hari ini itu berbahaya sebaiknya kau menghindari acara semacam ini. Lebih baik kau hanya menonton saja." Randika berusaha mencegah adik iparnya itu menjadi seorang pembalap. "Tapiˇ­. Aku senang balapan." Hannah tersenyum dan memeluk erat tangan Randika. Kedua dadanya itu menangkap tangan Randika dengan sempurna dan membenamkannya jauh lebih dalam daripada sebelumnya. Oooo Tuhan, kenapa ini terjadi padaku? Randika menelan air liurnya, Hannah benar-benar tidak jauh berbeda dengan kakak perempuannya. Hannah menyadari bahwa Randika diam-diam melirik dan menikmati dadanya, dia lalu berbisik di telinga Randika. "Kak, jika kamu tidak mau mengajariku, aku akan beritahu kakakku kalau kamu merabaku." "Siapa memangnya yang merabamu?" Randika terkejut, bukannya kamu yang menyodorkan buah melon itu? "Kamu sendiri yang datang ke aku, aku tidak ngapa-ngapain." Randika langsung kelabakan. "Terserah!" Hannah langsung berputar balik dan lari, ingin menjauh dari Randika. Namun, tiba-tiba ada mobil yang melaju kencang melewatinya dan Randika dengan cepat berusaha menyelamatkan Hannah. "Awas!" Randika dengan cepat menjulurkan tangannya, berusaha menghentikan Hannah. Tetapi, tangannya merasakan sensasi empuk yang tiada duanya. Sungguh perasaan yang nikmat. Randika secara tidak sadar meremasnya, seketika itu juga Hannah langsung meraung marah. Seketika itu juga, Randika tahu apa yang telah dia lakukanˇ­. Dia beneran telah merabanya. Sambil menoleh ke arah Hannah, yang mukanya tersipu malu sekaligus marah, mereka berdua masih berdiri membeku. Namun dengan cepat Randika menarik tangannya dan mengatakan. "Maaf aku tidak sengaja!" "Berani-beraninya kau meraba dadaku!" Hannah menjadi marah. Ternyata kakak iparnya itu benar-benar pria barbar. "Aku harus melaporkannya ke kak Inggrid." Randika tidak tahu harus berbuat apa. Namun, sebuah ide muncul dengan cepat. Karena dia mau dilaporkan ke Inggrid, apa salahnya bermain dengan dada adik iparnya itu sekali lagi? Toh pada akhirnya saja dan lagipula sensasi nikmat yang dia rasakan tadi benar-benar luar biasa. ...ˇ­ Ketika mereka tiba di rumah, Hannah dengan buru-buru keluar dari mobil sambil ngamuk-ngamuk. Dia ternyata langsung berlari menuju kamar Inggrid! Hari penghakiman segera tiba! Randika hanya bisa lari ke kamarnya dan menguncinya. Hari ini Inggrid tidak masuk kerja, tetapi dia masih membaca laporan perusahaan di kamarnya. Tiba-tiba, pintu kamarnya itu terbuka. "Kak! Kakak ipar tadi meraba dadaku!" Inggrid mengerutkan dahinya, dia lalu melihat setetes air mata di mata adiknya itu. Dia lalu bertanya. "Coba kau jelaskan lebih lengkap." "Kakak ipar dengan teganya meraba-rabaku saat aku tadi pergi bersamanya! Aku padahal hanya ingin mengenal pria yang akan menjadi keluargaku itu. Tapiˇ­. Tega-teganya dia memanfaatkanku!" Hannah menjelaskan ini dengan antusias hingga berurai air mata. "Tenanglah, aku akan menanyakan maksudnya ke dia." Inggrid lalu berdiri. "Tunggulah aku di sini." Melihat bahwa kakaknya itu hendak mendengar kejadian sebenarnya dari kedua sisi, ekspresi Hannah menjadi rumit. Sejak kapan kakaknya itu tidak percaya dengannya? Tidak lama kemudian, pintu kamar Randika terbuka. "Hei Randika, kalau kau berani menyentuh adikku, kau akan ..... Ah!" Bahkan sebelum Inggrid selesai bicara, dia sudah digendong oleh Randika. "Lepaskan aku!" Inggrid tersipu malu sambil meronta-ronta, tetapi Randika tidak akan membiarkan dia lepas. "Bisa-bisanya kau ragukan suamimu ini." Kata Randika sambil mengecup dahinya. "Kau itu istriku, jangan pernah ragukan kesetiaanku. Dia hanya ingin menguji cinta kita." Setelah berkata demikian, tangan Randika meremas sedikit pantat Inggrid. "Kau!" Muka Inggrid semakin memerah. Bukannya dia datang untuk menanyai pria ini? Bisa-bisanya dia malah diraba dan dahinya dicium? "Lepaskan aku dulu!" Inggrid masih berusaha lepas. "Aku akan melepasmu kalau kau menciumku!" Kata Randika sambil tersenyum nakal. Inggrid langsung memalingkan wajahnya. "Istriku, tadi semua itu hanya salah paham. Tadi aku pas nyetir, tiba-tiba ada mobil menerobos lampu merah dan aku langsung menginjak rem kuat-kuat. Aku langsung reflek melindungi Hannah dan secara tidak sengaja aku malah menyentuh dadanya itu." Tangan Randika mulai berenang di leher Inggrid. "Lagipula, adikmu itu masih muda dan belum matang. Buat apa repot-repot menunggu pisang yang belum matang sedangkan aku punya dirimu yang menawan ini?" Cuma dengan kata-kata manisnya itu Inggrid mulai luluh, membuat hatinya menjadi bimbang. Wajah Randika penuh dengan kelicikan. Sebelum dia dimakan hidup-hidup oleh istrinya, dia akan meluluhkan hatinya! Hahaha jika kau ingin menghukumku, akan kurebut hatimu terlebih dulu! "Baiklah kalau begitu." Kata Inggrid sambil tersipu malu dan meminta Randika untuk menurunkannya. Setelah itu Inggrid langsung keluar dari kamar Randika. Tak lama kemudian, Hannah memasuki kamarnya. "Dasar pria barbar! Tunggu pembalasanku!" Bisa-bisanya dia membuat kakaknya yang tersayang membelanya, dia pasti memegang kelemahan kakaknya! "Hahaha jurus memanggil kakakmu itu sudah tidak berguna lagi!" Kata Randika sambil tertawa jahat. "Lain kali, aku akan menghadapi lelucon nakalmu itu dengan lebih bebas lagi." Wajah Hannah semakin memerah, dadanya menggebu-gebu dengan perasaan balas dendam. Dia percaya suatu hari nanti Randika akan menerima ganjarannya. Tidak butuh lama untuk Hannah membanting pintu kamarnya Randika. Setelah tertawa puas, tiba-tiba handphone Randika berdering. Ternyata Safira yang meneleponnya. "Hmmm kenapa dia tiba-tiba telepon?" Randika bertanya pada dirinya, seharusnya adiknya itu tidak akan menelepon kalau tidak ada sesuatu yang penting. Yang berarti adiknya mungkin butuh bantuan dirinya. "Kak tolong aku!" Chapter 53: Bagai Mentimun Dengan Durian Randika langsung berteriak panik, "Safira kau kenapa!?" Namun, telepon itu segera mati tanpa ada jawaban apa-apa. Apa yang telah terjadi? Randika langsung menjadi panik. Safira pasti dalam keadaan genting, tapi dia tidak tahu apa-apa tentang situasi adiknya itu. Bagaimana dia bisa membantu kalau dirinya tidak punya petunjuk apa pun? Randika langsung terselubungi dengan aura membunuh. Bajingan mana yang berani melukai keluarganya itu? Dia lalu menghela napas dan berusaha mengontrol diri. Sekarang bukannya waktu untuk bertindak gegabah, sekarang adalah waktunya mengumpulkan informasi dan mencari keberadaan Safira. Di saat ini, handphonenya kembali berdering dan ternyata itu pesan singkat yang berisikan sebuah alamat. Melihat pesan singkat itu, Randika menghela napas lega. Bisa mengirimkan pesan menandakan bahwa Safira belum berada di situasi berbahaya dan masih ada waktu untuk dirinya bertindak. Randika tidak ragu loncat dari jendela kamarnya. Dia dengan cepat menyatu dengan bayangan dan melesat bagai panah. Di area industri kota Cendrawasih, terdapat area industri kayu terkenal di seluruh Indonesia. Namun, setelah area itu mengalami kebakaran, tempat itu telah ditelantarkan dan belum ada tanda-tanda pembangunan kembali. Di salah satu gedung, Safira berbaring di tanah dengan baju yang kotor sedangkan baju Elva terlihat compang-camping. Darah menetes dari sudut mulut Elva dan membuat bajunya semakin kotor. Di hadapan mereka, terlihat sosok laki-laki berbaju hitam yang mengenakan kacamata hitam. Mereka melihat kedua perempuan itu dengan tatapan acuh tak acuh. "Ternyata segini aja kekuatan Arwah Garuda yang terkenal itu?" Nada suara orang ini penuh dengan ejekan dan caranya berbicara sedikit aneh. Jelas orang ini bukan orang Indonesia. Orang ini bernama Brian, dia adalah buronan internasional. Arwah Garuda mendapatkan perintah untuk mengejarnya ketika mengetahui bahwa Brian bersembunyi di Indonesia. Namun, mereka tidak menyangka bahwa orang ini ternyata pintar dan kuat. Dia berhasil memancing Safira dan Elva ke gedung terbengkalai ini dan menangkap mereka berdua. Saat Elva bertarung dengan tangan kosong dengan Brian, ternyata dia sama sekali tidak bisa menyentuh pria itu sedikitpun. Dia terus-terusan dipermainkan hingga kelelahan dan dihajar hingga hampir tidak sadarkan diri. "Meskipun kalian lemah, tapi pelacakan kalian boleh juga." Kata pria itu dengan terbata-bata. "Tapi aku bingung, kenapa anjing-anjing seperti kalian ingin menangkapku?" "Memangnya perlu alasan untuk menangkap buronan?" Elva mendengus sambil berusaha berdiri lagi. "Sudah merupakan tugas kami untuk menangkap penjahat sepertimu." "Itu percuma." Pria itu menggelengkan kepalanya dan berkata kembali dengan nada dingin. "Yang perlu kau tahu, semua orang yang mengejarku sebelumnya sudah mati." "Lagipula, aku sama sekali tidak takut dengan polisi. Bahkan aku sangat menyukai kalian khususnya orang yang secantik dirimu." Kata-kata Brian dipenuhi dengan kengerian tersendiri. "Aku belum pernah mencicipi perempuan negara ini." "Cuih." Elva meludah. "Semua buronan yang aku hadapi telah kubunuh dan sebentar lagi kau akan bergabung dengan mereka." "Hahaha, Oh betapa menariknya dirimu nona. Kau benar-benar energik dan aku tidak sabar mendengar desahanmu itu." Mata Brian dipenuhi dengan aura jahat. "Aku tidak menyangka bahwa Arwah Garuda akan memberikan diriku dua gadis cantik untuk aku cicipi." Safira memperhatikan kedua orang ini dari samping, dia mulai khawatir. Dia tidak menyangka bahwa Brian akan sekuat ini. "Kak Randika cepatlah datang." Safira terus berdoa dalam hatinya. "Jangan khawatir, aku akan memotong alat kelaminmu itu!" Elva mulai jengkel, aura membunuhnya segera menyelubunginya. "Aku rasa kau tidak ingin melakukannya, kalau kau memotongnya bagaimana mungkin aku dapat memuaskanmu dan temanmu itu?" Brian mengetahui bahwa kunci kemenangannya adalah membunuh ataupun membuat pingsan Elva. Setelah itu, dia bisa menikmati dua piala itu dengan leluasa. Elva tidak mendengarkan Brian sama sekali, dia berfokus mengumpulkan tenaga dalamnya. "Kalau kata orang Indonesia itu kalian seperti ''bagai mentimun dengan durian''. Tidak peduli kalian mau berontak berapa kalipun hasilnya akan sama." Kata Brian. Namun, Elva tidak mempedulikannya dan sudah menerjang maju. Kebulatan tekad Elva sudah bulat. Meskipun sudah dikalahkan dua kali oleh Brian, itu tidak melemahkan semangat tarungnya. Malahan, hal itu membuat dirinya semakin membara-bara. Sebuah pukulan sudah dia layangkan ke arah wajah Brian. Ketika dia berusaha memblokirnya, Elva menarik tinjunya dan melayangkan tendangan ke dadanya. Brian bereaksi dengan cepat dan menangkap kaki Elva. Di saat yang sama, dia melancarkan serangan sikut ke paha Elva. Merasa sudah terlambat untuk memblokirnya, Elva menggunakan kakinya yang tertangkap itu sebagai tumpuan dan menendang belakang kepala Brian. Namun, sebelum keduanya melancarkan serangan balik itu, Brian melepas dan mendorong kaki Elva dan itu membuat Elva terjatuh. Brian masih ingin bermain-main dengan mangsanya itu, dia tidak ingin membuat pincang gadis manis ini. Ketika dia terkapar di tanah, wajah Elva dipenuhi api balas dendam dan berusaha menjegal Brian. Namun, Brian sepertinya sudah mengetahui serangan itu dan menghindarinya dengan mudah. Dia lalu melompat dan berusaha menginjak Elva yang masih terkapar! Elva langsung berguling-guling. Tetapi, Brian berhasil menginjak dada Elva! Seteguk darah langsung keluar dari mulut Elva, dia merasa dirinya seakan-akan ditekan oleh sebuah gunung. "Kan dari awal sudah kubilang kalau kau itu bukan tandinganku. Sayang aku harus membunuhmu sebelum mencicipi dadamu indah ini." Setelah itu, Brian segera melancarkan pukulan mematikan ke wajah Elva. Safira langsung berteriak. "Elva bertahanlah! Kak Randika sudah dekat!" "Mau berapapun orang yang dikirim Arwah Garuda, semua akan kubunuh." Brian menghentikan pukulannya ketika mendengar teriakan Safira. ???Dan bantuanmu mungkin datang dengan percuma, karena setelah membunuh perempuan ini kau akan kuperkosa dan kubunuh! Hahahaha!" Ketika Brian tertawa keras, sebuah suara terdengar dari atas. "Sayangnya tidak seperti itu." Ketika ketiga orang ini mendengar suara itu, semuanya terkejut. Safira berurai air mata, Elva menghembus napas lega dan Brian menatap orang itu dengan kebingungan. Bagaimana mungkin orang bisa menemukan dirinya semudah itu? Ketika mereka masih terpukau dengan kehadiran Randika, detik berikutnya dia telah menghilang. Tanpa disadari dia telah membawa Elva ke samping Safira dan mengecek keadaan mereka. Brian benar-benar terkejut, dia tidak dapat mengikuti kecepatan Randika sama sekali. Dia langsung menjadi waspada. "Siapa kamu?" Tanya Brian. "Kau tidak perlu tahu namaku, kau tidak layak mendengarnya." Kata Randika dengan santai. "Kata-katamu sombong jugaˇ­" Brian jelas telah terpancing emosinya. "Mari kita buktikan." Randika lalu tersenyum. "Jangan menahan kekuatanmu atau kau akan menyesal." Tanpa menunggu Randika selesai berbicara, Brian sudah menghilang menjadi bayangan. Randika juga segera menyusulnya. Keduanya menghilang saking cepatnya! Randika mengerutkan dahinya, sosok Brian di depannya tiba-tiba menghilang. Lalu pukulan mematikan dilayangkan Brian ke arah belakang kepala Randika. Ketika berada di kecepatan tinggi seperti ini, satu pukulan saja bisa membuatmu pingsan. Randika langsung berputar badan dan berkata pada Brian. "Lambat!" Brian terkejut ketika dirinya terpental karena tendangan Randika. Brian memang sudah tahu kalau Randika memang cepat tetapi dia tidak menyangka ketika dia sudah mengeluarkan kekuatan penuhnya, dia masih tidak bisa mengimbangi Randika. "Penuh celah!" Ketika Brian berusaha berdiri kembali, Randika sudah berada di depannya dan melancarkan beberapa pukulan. Brian dengan sigap langsung memblokirnya tetapi 2 pukulan tidak bisa dia blokir dengan baik. Dengan bantuan tenaga dalamnya, Brian dengan cepat terpental kembali. Brian berguling di udara hingga kacamata hitamnya terjatuh. Wajahnya dipenuhi dengan keterkejutan. Bagaimana mungkin lawannya ini begitu cepat, jauh lebih cepat dari dirinya. Brian menghela napas dalam-dalam, mukanya terlihat serius. Dia berdiri kembali dan mengambil ancang-ancang dan menerjang Randika dengan kecepatan penuh. Randika hanya berdiri diam dengan tatapan mata yang dingin. Ketika serangan Brian sudah dekat dia hanya mengangkat satu tangannya dengan santai dan menghindar ke samping sedikit dan melayangkan pukulannya tepat di wajah Brian! Satu pukulan itu cukup membuat Brian terbenam di tanah. Brian langsung memuntahkan seteguk darah sambil menyadari bahwa Randika memanfaatkan kecepatan dirinya. Brian mulai mengeluarkan keringat dingin di dahinya. Siapakah orang ini? Bagaimana mungkin orang ini begitu kuat dan bisa menghajar dirinya dengan mudah? "Segini doang?" Kata Randika dengan santai. Seketika itu juga, Brian menggertakan giginya dan berdiri kembali. Dia mengambil beberapa langkah mundur dan kembali mengambil ancang-ancang. Randika hanya berdiri diam dan tidak bergerak sama sekali. Sekarang, Randika hanya memblokir serangan Brian. Elva melihat pertarungan ini dengan wajah tidak percaya. Kedua orang itu bertarung dengan kecepatan tinggi yang bahkan dirinya tidak bisa lihat dengan jelas. Tetapi, perbedaan kekuatan dari keduanya mulai terlihat. Tiba-tiba, Randika, yang sedang memegang kedua tinju Brian, mengangkat Brian dan melontarkannya dengan mudah. "Bagaimana mungkin dia begitu kuat?" Ketika dirinya melayang di udara, dia sudah memutuskan untuk kabur. Dia memanfaatkan momentum yang diberikan Randika itu untuk kabur ke arah jendela. Jendela gedung itu langsung pecah ketika ditendang oleh Brian, sosoknya langsung hilang tanpa jejak. "Safira, kau baik-baik saja?" Randika langsung menghampiri adiknya itu. "Kak, jangan biarkan dia kabur!" Meskipun dirinya sedikit terguncang, Safira masih baik-baik saja. Tugasnya adalah menangkap orang itu jadi dia tidak bisa membiarkannya kabur setelah melukai Elva sedemikian rupa. "Jangan khawatir, aku tidak akan membiarkannya kabur. Tunggulah di sini." Randika tersenyum dan menghilang dari gedung. "Percumaˇ­." Elva bergumam pada dirinya. Karena dirinya telah hidup lama di dunia kegelapan, dia mengetahui bahwa Brian memiliki kemampuan untuk menghilang tanpa jejak. Bahkan jika kau kehilangan dirinya cuma satu detik saja, maka Brian tidak akan bisa terkejar. Bagaimana mungkin buronan internasional semacam Brian tidak memiliki kemampuan mendasar seperti itu. "Elva kau tidak perlu khawatir. Kak Randika pasti menangkapnya, dia selalu menepati janjinya." Kata Safira sambil tersenyum. Ketika dia keluar dari jendela, baju serba hitam Brian langsung dia lepas dan pakaiannya sudah menjadi orang miskin yang mabuk. Dia tidak lupa membawa botol bir dan berjalan terseok-seok, biar penyamarannya semakin nyata. Sekarang dari luar, dia benar-benar seperti orang tengah baya yang kerjanya cuma mabuk-mabukan. Dia sudah menyiapkan jalur kabur bahkan sebelum dia memancing Elva dan Safira ke gedung terlantar tersebut. Lebih baik berjaga-jaga daripada menyesal. Tetapi, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa takut terhadap Randika. "Akan kuingat kejadian memalukan ini, tunggu saja akan kubalas perbuatanmu!" Brian langsung membaur dengan kerumunan orang dan memastikan bahwa dia tidak bisa dilacak dengan mudah. Setelah berjalan beberapa saat, Brian berjalan menuju ke sebuah gang sepi. Dia langsung melompati dinding dan berada di atap sebuah bangunan. Saat dia mencapai atap bangunan tersebut, dia sudah ditunggu oleh Randika. "Ha? Bagaimana mungkin?" Mata Brian terbelalak melihat sosok Randika. "Kauˇ­. Bagaimana bisa kau menemukanku!" Brian benar-benar tidak percaya dengan kejadian ini. Bagaimana bisa pria itu ada di sini? Bagaimana bisa penyamarannya ketahuan secepat itu? Bahkan Arwah Garuda saja kesusahan melacaknya. Bahkan kalau dia sendiri tidak memberikan petunjuk buat Elva mengejarnya, mungkin Arwah Garuda tidak akan pernah bisa menemukan dirinya. Tetapi, pria di depannya ini bisa menemukan dirinya dengan mudah. Hal ini masih sulit untuk dia percayai. Randika hanya tersenyum kecil, "Maksudmu bagaimana bisa aku melihat penyamaranmu atau kenapa aku bisa berada di sini duluan?" Brian mengambil langkah mundur sambil mengatakan, "Bagaimana bisa kau membongkar penyamaranku? Kau pertama kalinya yang bisa." "Yah aku harus memujimu karena penyamaranmu memang bagus." Randika menghampirinya perlahan. "Kalau bukan karena tenaga dalammu yang besar itu, aku mungkin tidak bisa menemukanmu." Setelah selesai berbicara, sosok Randika sudah berubah menjadi asap dan menerjang ke arah Brian. Tangan kanannya berhasil mencengkram pergelangan tangan Brian sedangkan Brian langsung berusaha kabur ketika Randika sudah bergerak. "Jangan harap kau bisa kabur!" Randika segera menarik paksa Brian. Brian memanfaatkan momentum dari tarikan Randika itu untuk berguling dan menendang tanah lalu meloncat turun gedung. Yang mengejutkannya bahwa dia disambut oleh pukulan Randika di saat dia berada di udara. Pukulannya mengenai perutnya dan Brian langsung tersungkur di tanah. Randika langsung menendang Brian dan berdiri di atas punggungnya. "Sekarang kau tidak bisa kabur." Kata Randika dengan santai. Brian hanya bisa meringkuk kesakitan. Ketika dia berusaha melepaskan diri, Randika memukulnya tepat di punggungnya. "Kalau kau bergerak sekali lagi, aku tidak akan sungkan mematahkan beberapa tulangmu." Kata Randika. Ekspresi Brian langsung menjadi dingin. [1] Orang yang lemah tidak berdaya melawan orang yang berkuasa Chapter 54: Aku Suka Menggoda Wanita yang Lebih Dewasa " Ini sudah terlalu lama. Kakak kebanggaanmu itu tidak balik-balik. Sepertinya dia gagal menangkapnya." Kata Elva sambil menahan rasa sakit di dadanya. "Elva, kau harus percaya dengan kak Randika. Kenapa kau begitu kasar padanya? Kak Randika pasti ngapa-ngapain kamu ya?" Safira tertawa sambil menusukan jarum akupuntur ke Elva. "Cedera internalmu cukup serius, aku hanya bisa membantu untuk menahannya untuk saat ini. Kau harus ke rumah sakit setelah ini." Kata Safira. "Tidak usah khawatir, luka semacam ini bukan apa-apa." Kata Elva. "Yang aku tidak habis pikir adalah kenapa kau bisa segitu percayanya dengan Randika? Penyamaran Brian sudah kelas dunia, mustahil dia bisa menemukan Brian." Safira kembali tersenyum. "Aku akan menunggu kak Randika pulang sampai kapan pun itu. Dia selalu pulang dan menepati janjinya." "Kau benar-benar mencintainya segitunya?" "Ha? Apanya!" Safira langsung tersipu malu. "Segitu bencinya kamu dengan kak Randika?" "Tentu saja! Aku tidak sabar ingin mengoyak tubuhnya dan memotong alat kelaminnya itu." Sejak hari di hotel itu, ambisi balas dendam Elva sama sekali tidak mereda. "Hahaha jarang-jarang perempuan cantik selalu memikirkanku setiap hari. Aku bersyukur mempunyai kalian." Tawa keras terdengar dari belakang dan Elva langsung mengerutkan dahinya. "Kak! Kau sudah kembali." Mata Safira langsung bersinar dan Randika menghampirinya sambil menggotong Brian. "Iya aku kembali dengan selamat." Randika tersenyum sambil mengelus kepala adiknya itu. "Nih buronanmu." Safira lalu mengecek kondisi Brian terlebih dahulu dan menusukan jarumnya agar dia tidak sadarkan diri selama beberapa jam. "Terima kasih kak, aku akan menelepon markas dan meminta bantuan." "Eits sebelum itu mana dulu?" Randika langsung menyela. "Hmmm? Maksudnya?" "Ciuman terima kasihku." Randika lalu menunjuk pipinya. Safira hanya tersipu malu sambil memukul kakaknya itu. Tidak butuh waktu lama, sebuah van berwarna hitam tiba di gedung terbengkalai ini. "Kak, aku akan membawa Brian pergi. Aku minta tolong sesuatu, cedera Elva cukup serius aku minta tolong kakak untuk membawanya ke rumah sakit." Safira lalu tersenyum. "Aku hanya bisa memberikan pertolongan pertama jadi dia butuh penanganan secepat mungkin." "Ah?" Elva terkejut ketika mendengar perkataan Safira, dia harus ke rumah sakit dengan bajingan ini? Randika melirik Elva yang masih terkapar dan memegangi dadanya itu. "Saf, mau dilihat bagaimanapun juga, kaki dan tangan Elva sama sekali tidak patah. Dia pasti kuat pergi ke rumah sakit seorang diri. Lebih baik sekarang aku mengantarmu kembali ke markas dan kita bisa mengobrol lebih lama." "Kau!" Tatapan Elva semakin tajam dan penuh dengan amarah. Bajingan ini benar-benar pintar bersandiwara. Safira tertawa melihat kedua orang ini. "Kak, jangan menggoda Elva terus-terusan. Lagipula semua orang organisasiku ada di sini jadi Brian tidak akan bisa kabur lagi. Kau lebih baik membawa Elva ke rumah sakit saja." Setelah itu, Safira dan Brian, yang masih pingsan dan terikat, masuk ke dalam van. "Ingat bawa Elva ke rumah sakit, bukan ke tempat yang aneh!" Kata Safira sebelum menutup pintu. Setelah van itu pergi, tinggal Randika dan Elva saja yang berada di gedung terbengkalai ini? Elva langsung mendengus dingin dan memalingkan wajahnya. Dia terdiam cukup lama dan ketika dia menoleh ke arah Randika, bajingan itu sudah tidak ada. "Bajingan tengik, aku benar-benar membencimu!" Elva langsung berteriak keras. Dia lalu berusaha berdiri sambil menggertakan giginya. Seluruh tubuhnya bercucuran keringat ketika dia berusaha berdiri. Ketika dia bertarung melawan Brian, dia mendapatkan 3 pukulan serius dan kondisi internalnya cukup kacau. Saat dia terhuyung-huyung, sebuah tangan menopangnya agar bisa berjalan. "Hmmm tercium aroma-aroma orang yang malu-malu kucing." Elva menoleh dan tentu saja itu Randika dengan senyuman menyebalkannya. "Cih siapa memangnya yang butuh bantuanmu?" Elva mulai memberontak. "Perasaan tadi ada yang menelepon butuh bantuanku deh, apakah ini sikap yang pantas terhadap orang yang telah menolongmu tadi? Ayolah Elva, sampai kapan kau malu-malu begini?" "Sampai mati pun aku tidak sudi menerima bantuanmu." Kata Elva dengan nada mengancam. "Oh? Apakah itu berlaku juga saat aku menolongmu di bar kapan hari? Atau di saat menyenangkan kita di hotel?" Randika menghampirinya dengan senyuman nakalnya. Saat Randika menyinggung kata ''hotel'', wajah Elva langsung memerah dan mendorong tubuh Randika. "Bercanda, bercanda. Jangan marah-marah terus nanti cantiknya hilang lho." Randika tertawa puas. Meskipun Elva menolaknya, Randika tetap menggendongnya. "Hei lepaskan aku!" Elva masih menolak bantuan Randika. "Sudah, aku akan membawamu ke rumah sakit." Randika dengan cepat membawa Elva ke mobil. "Sudah jangan berontak terus, kalau bukan permintaan Safira kau sudah kutelantarkan dari tadi." "Hei tanganmu menyentuh apa?" "Eh maaf-maaf tidak sengaja." Bahkan dalam perjalanan mereka ke mobil, mereka masih saling bertengkar. Mereka kemudian segera menuju rumah sakit dengan mobil yang ditinggalkan Safira. "Ayo turun." Kata Randika. Elva hanya menatapnya tajam meskipun Randika sudah mengulurkan tangannya. Dia akhirnya terpaksa menggendongnya. "Aku tidak menyangka kamu ingin kita terlihat intim di rumah sakit. Segitunya kamu ingin memamerkan cinta kita?" Randika tertawa tanpa mempedulikan omelan marah Elva, dia langsung membawanya ke UGD. Cedera Elva ini butuh ditangani segera mungkin, kalau tidak bisa-bisa terjadi pendarahan internal. "Jangan harap aku berhutang budi padamu gara-gara kejadian hari ini." Elva masih menatap tajam Randika yang duduk di sebelahnya. "Jangan khawatir, aku tahu bahwa kamu selalu memikirkan diriku setiap hari." Randika tersenyum. "Dasar pria barbar!" Setiap kali dia berbicara, dia merasa bahwa Randika selalu bercanda dan menggodanya. Dia merasa bahwa percuma berdebat dengan orang ini. Namun, Elva adalah wanita yang kuat jadi dia tidak akan kalah dengan mudah. "Hahaha Elvaku yang cantik cuma perlu tahu satu hal." Kata Randika dengan senyuman nakal. "Suatu saat nanti aku akan meminta imbalan dari kejadian hari ini, jadi jangan lupakan hal ini oke?" Dada Elva menggebu-gebu, pria ini benar-benar menguji kesabarannya. Tak lama kemudian, suara seseorang membuat Randika terkejut. "Tolong obat ini diminum terlebih dahulu." Ketika Randika menoleh, dia terkejut. Betapa cantiknya perawat ini! Benar-benar luar biasa! Dari saat dia memandanginya, Randika langsung memindai perawat satu ini. Perempuan ini benar-benar memiliki wajah dan badan yang bisa membuat para supermodel menangis. Kulitnya terlihat mulus sekali dengan hidung mancung ala orang luar negeri. Belum lagi dadanya ya tuhan, mungkin ini tidak kalah besar dengan milik Inggrid. Terlebih lagi, dengan baju putih perawatnya yang ketat itu Randika tidak sabar memainkan roleplay dokter dan perawat dengannya. Kalau diperhatikan lagi, kancing baju perawat itu seakan-akan sedang berjuang sekuat tenaga untuk terus menutupi pemandangan surgawi itu. ''Setidaknya dia F'' Randika langsung menelan air liurnya. "Permisi tuan, nyonya ini perlu meminum obatnya." Perawat ini mulai merasa jengkel karena Randika terus memelototinya. "Hahaha maaf, maaf, silahkan." Randika langsung menyingkir. "Aku hanya terpukau dengan kecantikan nona yang begitu menawan. Maafkan diriku ini." Ketika mendengarnya, wajah perawat ini sedikit memerah. Hatinya terasa hangat. Siapa memangnya yang tidak suka mendengar kata-kata manis? Melihat tingkah laku Randika ini, Elva langsung jijik. Dia benar-benar tidak bisa melihat pemandangan ini dan memalingkan wajahnya. "Pacarmu butuh beberapa hari menginap di rumah sakit." Kata perawat itu. "Ah kau salah, dia bukan pacarku. Dia hanya rekan kerjaku, aku hanya membantu membawanya ke sini." Randika tertawa. "Jika aku ingin mempunyai pacar, aku mungkin akan memilih perempuan sepertimu. Cantik dan menawan. Aku langsung bisa membayangkan anak-anak kita seperti apa kelak, menemuimu mungkin adalah salah satu tujuan hidupku." Randika memang jago berkata manis. Perawat itu semakin tersipu malu sambil tersenyum. Elva semakin jijik lama-lama mendengar Randika. Bajingan ini benar-benar tahu caranya berkata manis. "Nona perawat, kau menjatuhkan bolpenmu." Ketika perawat itu hendak mengambilnya, tangannya bersentuhan dengan Randika. Sentuhan tangan ini membuat perawat itu makin tersipu malu tetapi mata Randika benar-benar tidak bisa lepas dari dada besar itu. "Nona perawat, kau sungguh menawan dan besar." Puji Randika. Besar? Perawat itu terkejut mendengarnya. "Makanan apa yang kau makan sampai milikmu bisa sebesar itu?" Randika terus mengagumi dada indah itu. "Kau!" Perawat itu segera menutupi dadanya dan menampar Randika. Dia benar-benar malu dan segera meninggalkan ruangan milik Elva. Randika langsung berteriak. "Hei nanti malam kau senggang tidak? Kita bisa bercakap-cakap di bawah rembulan." Hal ini membuat perawat itu berjalan semakin cepat. Ketika perawat cantik itu pergi, Elva memasang wajah jijik dan berkata pada Randika. "Sampah sekali caramu merayu cewek." "Oh? Aku punya banyak kemampuan selain berkata-kata manis, kau mau mencoba?" "Huh! kau hanya bisa menggoda wanita polos!" "Aku tidak suka menggoda yang polos, aku suka menggoda wanita yang lebih dewasa." Mata Randika berkedip-kedip melihat Elva. "Heiˇ­ Apa yang mau kau lakukan?" Elva merasakan firasat buruk. "Aku akan membuktikan padamu kalau aku lebih suka dengan wanita yang matang." Setelah berkata seperti itu, dia menghampiri Elva dan menciumnya! Lidah Randika langsung menyelam dengan ganasnya! Elva benar-benar lengah, dia tidak menyangka bahwa Randika akan menciumnya. Matanya terbelalak dan dia tidak bisa berpikir apa-apa. Bisa-bisanya pria ini menciumku! Bahkan di tempat umum seperti ini! Hampir 2 detik setelahnya, Elva langsung mendorong Randika sekuat tenaga. "Bajingan!" Elva sudah hampir lepas kendali. Randika menjilati bibirnya dan berkata sambil tersenyum puas. "Bagaimana? Masih butuh bukti lagi?" Elva tidak membalas, dia hanya menatap tajam ke arah Randika. "Pergi dari sini!" Teriak Elva. "Anggap ini sebagai imbalan atas hari ini, meskipun nanti akan kutagih lagi sih. Jadi jangan cemberut, nanti cantikmu hilang lho." Kata Randika. "Aku tidak peduli! Cepat keluar!" Elva segera mengambil bantalnya dan melemparnya ke Randika. Ketika Randika sudah keluar, Elva menyentuh bibirnya. Itu ciuman pertamaku dasar pria bajingan! Ketika Randika berjalan di koridor, dia mendengar suara teriakan. "Ah! Pak tua Ardi mati!" Chapter 55: Aku Berharap Bisa Bertemu Denganmu Lagi Mendengar teriakan itu, semua orang yang ada di koridor menjadi panik. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Randika menghampiri dan melihat ada seorang lelaki tua yang tergeletak di lantai. Dia terlihat sudah tidak bernyawa. "Pak Ardi, kenapa kau meninggalkan kami?" Salah satu kenalan pasien menangis dengan keras sambil memegangi guru semasa SMAnya itu. Semua orang termasuk para perawat terdiam. Pak Ardi ini mempunyai riwayat penyakit jantung, sewaktu-waktu dia bisa terkena serangan jantung. Sangat sulit memangnya untuk merelakan orang yang telah membesarkan kita. Randika mengerutkan dahinya. Pak Ardi ini memang terlihat tidak bernyawa tetapi menurut dirinya, dia masih bisa dihidupkan kembali. Saat ini, detak jantung Pak Ardi sudah berhenti. Satu-satunya cara adalah membuatnya berdetak kembali dan dia akan berjalan kembali seperti sedia kala. Pada saat ini, perawat cantik yang digoda Randika tadi tiba. Pertama dia langsung mengecek denyut nadi Pak Ardi, kemudian dia berkata dengan nada menyesal. "Maafkan kami, beliau sudah tiada." Kemudian, dia mengambil handphonenya dan memberi pesan kepada temannya untuk membawa brankar agar bisa memindahkan jenazah korban. "Dia masih hidup." Tiba-tiba, suara itu terdengar dari arah kerumunan. Semua orang langsung melirik Randika. "Kau memangnya dokter?" Para penonton langsung merasa Randika ini sedang bercanda. "Hei, aku tahu kalau kau juga tidak dapat menerima kenyataan ini. Tetapi kalau kau ingin bercanda tolong lihat waktu yang tepat. Semuanya sedang berduka." Kata orang di sampingnya. "Sudahlah biarkan dia pergi dengan tenang." Membiarkannya dia pergi? Padahal jelas-jelas orang ini bisa diselamatkan? Randika tertawa dalam hati. Dia segera menghampiri korban. "Aku yakin orang ini masih bisa diselamatkan." Kali ini semua orang langsung marah-marah. Orang yang menegur Randika tadi langsung menyaut. "Orang itu sudah mati, tidak ada denyut nadinya. Bisa-bisanya kau masih berkata seperti itu!" "Benar, kau sudah gila ya?" Perawat cantik itu menyadari bahwa pria yang melantur itu ternyata Randika, orang yang menggodanya tadi. Dia benar-benar tidak habis pikir, bahkan orang mati pun dia anggap sebagai lelucon? "Orang ini telah meninggal dunia. Jangan menyimpulkan sendiri." Nada suara perawat itu berat dan wajahnya benar-benar serius. Randika mengerutkan dahinya dan mengatakan. "Kalian benar-benar membiarkannya mati begitu saja? Dia belum benar-benar mati, kalau kita membiarkan kondisinya seperti ini maka dia akan mati sungguhan." "Hanya seorang dokter yang bisa menentukan hidup dan mati pasien. Sesuai hukum negara yang berlaku, tidak ada orang lain yang memiliki hak untuk memutuskannya." Kata perawat itu. "Masalahnya, kau hanyalah seorang perawat. Bagaimana mungkin kau memiliki hak untuk menentukan orang itu telah mati atau tidak?" Randika langsung mengacuhkan semua orang dan memeriksa denyut nadi Pak Ardi, yang denyutnya sangat lemah. Jika dia ragu-ragu seperti sebelumnya, orang ini akan benar-benar mati. "Kalian tega melihat orang ini mati tanpa berjuang sama sekali?" Randika menyapu pandangannya. "Aku tidak rela dia mati begitu saja. Sekarang cepat carikan aku jarum perak, jarum yang digunakan untuk akupuntur. CEPAT!" Setelah berkata seperti itu, Randika dengan cepat mengumpulkan tenaga dalamnya dan menyalurkannya ke Pak Ardi ini. Melihat seorang awam menangani pasiennya, perawat ini dengan marah mengatakan. "Apa yang kau lakukan!?" "Jika kau di sini hanya untuk mengomel pergi sana, jangan menggangguku menyelamatkan nyawa." Kata Randika dengan dingin. "Bukankah rumah sakit ada untuk menyelamatkan nyawa orang? Jelas orang ini masih bisa diselamatkan tetapi jika kau lelet seperti ini, dia akan mati sungguhan." Saat ini banyak sekali orang yang berkumpul di koridor. Semua penasaran dengan drama yang telah terjadi. "Pak Ardi memang sudah sakit-sakitan sebelum ini, mungkin ini memang waktunya dia." Beberapa orang mulai bergumam. "Siapa pemuda itu? Dokter?" Beberapa orang mulai mencurigai Randika. Perawat cantik itu masih terkejut oleh kata-kata Randika. Dia benar-benar marah olehnya. Oke kalau kau ngomong dia belum mati, mari kita lihat bagaimana caranya kau menyelamatkannya! "Mana jarum akupunturku? Kok belum datang?" Randika membentak ke perawat tersebut. Jarum miliknya patah saat dia membawanya ke markas Kevin kapan hari dan belum sempat menggantinya. Meskipun dia sudah memberikan pertolongan pertama dengan tenaga dalamnya, efek yang diberikannya dibandingkan dengan jarum akupuntur sudah bagai bumi dan langit. Dengan jarum tersebut, Randika bisa memastikan bahwa nyawa orang tua ini akan terselamatkan. Perawat itu menggigit bibir bawahnya, dia lalu berdiri dan berjalan menuju ruangannya. Tak lama kemudian, jarum yang diminta Randika sudah siap. "Ini." Perawat itu memberikannya dengan ogah-ogahan. "Sudah steril?" "Belum." Perawat itu hanya menggelengkan kepalanya. "Ambilkan aku korek api." Waktunya sudah mepet dan perawat ini masih bisa santai. Untungnya, perawat ini membawa korek api. "Nyalakan cepat! Atau aku juga perlu mengajarkannya?" Kata Randika dengan nada dingin. Perawat itu marah ketika Randika membentaknya terus-menerus, tetapi dia masih menyalakan korek apinya itu. Randika dengan cepat mensterilkan jarumnya dan menyalurkan tenaga dalamnya ke jarum. Setelah itu, dia langsung membuka baju Pak Ardi dan menusukannya di jantungnya! Meskipun orang-orang menjadi histeris, Randika tidak mempedulikannya dan masih tetap fokus. Dengan cepat Randika menusukkan beberapa jarum dan menyalurkan tenaga dalamnya kembali ke jarum tersebut. Saat ini, hanya ada tubuh Pak Ardi di matanya. Berkat ajaran kakeknya, kemampuan Randika menggunakan teknik akupuntur setara dengan seorang dokter. Jadi dia yakin bisa menyelamatkan orang ini. Meskipun begitu, dia tidak begitu menguasai teknik akupuntur ini jadi dia membuang terlalu banyak tenaga dalamnya. Ketika jarum terakhir dia tusukkan, semua jarum itu membentuk sebuah jejak yang aneh di daerah jantungnya. Namun, masih tidak ada tanda-tanda pergerakan dari Pak Ardi. "Seharusnya ini sudah cukup." Randika menyeka keringat di dahinya dan tertawa pahit dalam hatinya. Memang teknik pengobatan ini bukan keahliannya, coba saja Safira ada di sini. Di sisi lain, Pak Ardi masih tergeletak di lantai. Semua orang yang menyaksikan ini mulai mengomel masing-masing. "Tuh kan, orang itu benar-benar gila. Mana bisa membangkitkan orang yang sudah mati?" "Gitu awalnya dia yakin bisa menyelamatkannya, ngomong doang mah gampang! Sudahlah biarkan Pak Ardi pergi dengan tenang." "Untung keluarga Pak Ardi belum melihat drama ini, bisa-bisa pemuda itu sudah dihajar habis-habisan." Perawat cantik itu hanya menatap tajam ke arah Randika. Dia lalu bertanya dengan nada dingin. "Sekarang, apa yang akan kau lakukan?" Randika malah bertanya. "Jam berapa sekarang?" "23.15" Randika hanya mengangguk dan tidak menjawab. Dia memejamkan matanya. "Hei, sudah puaskah kamu menjadi dokter abal-abal? Aku masih perlu memproses tubuh orang ini untuk keluarga mereka." Perawat itu mulai jengkel ketika Randika mulai mengacuhkan dirinya. Para penonton mulai marah pada Randika. Dia sudah memberikan harapan palsu kepada mereka, sekarang pemuda itu malah duduk sambil memejamkan matanya tanpa menjelaskan apa-apa? Pada saat ini, beberapa dokter tiba di lokasi. Perawat cantik itu berdiri dan membiarkan para dokter untuk mengambil ahli. Di saat dokter itu hendak menyentuh tubuh Pak Ardi, Randika langsung mencengkram erat tangan sang dokter. "Tunggulah satu menit." Kata Randika. Dokter itu mengerutkan dahinya. "Pak, ini adalah rumah sakit dan aku adalah dokter." Di saat dia berusaha kembali menyentuh tubuh Pak Ardi, Randika kembali mencegahnya. "Apa maksudmu?" Dokter itu menjadi marah. Para penonton pun menjadi marah pada Randika. Dokter telah tiba, biarkan para profesional yang bekerja. "Lepaskan tanganku!" Dokter itu mulai tidak terima. Randika langsung melepasnya sambil mendorongnya, dokter itu langsung terjatuh. Seketika itu juga, dari kejauhan muncul suara panik. "Ayah! Di mana kamu!" Anak dari Pak Ardi segera menghampiri ayahnya. Dia mendorong-dorong para penonton sampai dirinya berada di depan. Seketika itu juga dia melihat bahwa ayahnya setengah telanjang dan area dadanya penuh dengan jarum. "Apa yang kau lakukan pada ayahku!" Sang anak langsung ingin menghajar Randika. "Diam! Ayahmu akan bangun dalam 20 detik." Randika hanya berdiri dan berkata dengan wajah datar. "Sekarang tinggal 15 detik." "Orang ini masih saja berkhayal." "Sudah tangkap saja orang itu dan jebloskan ke penjara." "Sudah cukup sandiwaramu." Perawat cantik itu sudah tidak tahan dengan semua drama ini. Namun, di saat ini terdengar suara batuk dari lantai. Dalam sekejap seluruh koridor menjadi hening dan semua mata fokus pada Pak Ardi yang terbaring di lantai. Mereka melihat Pak Ardi yang membuka matanya sambil terbatuk. Dia memperhatikan sekelilingnya dan bertanya pada anaknya. "Ada apa ini kok ramai-ramai?" "Ayah? Ayah!" Sang anak langsung menangis di tempat. "Bajingan, dia benar-benar hidup!" Semua orang tidak percaya akan keajaiban yang terjadi di depan mata mereka. Para dokter lebih terkejut lagi sedangkan perawat cantik itu hanya melongo seperti orang bodoh. Pemuda itu benar-benar memiliki kemampuan untuk membangkitkan orang mati? Setelah Randika melepaskan jarum-jarumnya, sang anak langsung memeluk erat ayahnya. "Syukurlah ayah baik-baik saja." Randika dengan santai berjalan keluar sambil menyerahkan jarum itu ke perawat cantik itu. "Tolong bereskan ini." Melihat Randika yang meninggalkan tempat, para penonton itu merasa kagum dengan sentuhan ajaib Randika itu. Mereka langsung membukakan jalan pada sang penyelamat! Sudah kodratnya kalau ajal menjemput maka kita hanya bisa pasrah. Tetapi pemuda itu tidak menyerah dan berhasil menyelamatkan nyawa Pak Ardi! Mata si perawat cantik dipenuhi dengan kebingungan. Ketika dia sadar dan mencari Randika, ternyata pemuda itu sudah menghilang. "Benar-benar mukjizat, bocah itu hanya pakai jarum dan dia berhasil menyelamatkan Pak Ardi!" Semua orang mulai menyebarkan berita menghebohkan ini. "Orang itu benar-benar luar biasaˇ­." Perawat cantik itu lalu ingat bahwa dia telah digoda olehnya sebelumnya, dengan cepat dia tersipu malu. Dia menyesal tidak memberikan nomornya kepada Randika. Aku berharap bisa bertemu denganmu lagi... Chapter 56: Pengkhianatan Shadow Setelah mengalami hari yang luar biasa ini, Randika memutuskan untuk kembali ke rumah. Namun, tiba-tiba dia mendapat telepon. "Tuan, aku sudah sampai di kota Cendrawasih." "Baiklah, tunggulah aku. Aku akan mengirimkan alamatnya." "Baik tuan." Apakah kau benar-benar baru sampai? Randika tersenyum kecil. Akhirnya waktu ini telah tiba, apakah tirai misterius ini akan terungkap hari ini? Randika memilih gedung terbengkalai tempat di mana Safira dan Elva disekap sebelumnya, daerah itu memang terkenal sepi. Jika memang terjadi sesuatu, tidak akan ada orang yang mengetahuinya. Pertanyaan ini selalu terngiang-ngiang di benak Randika sejak lama. Apakah kau masih Shadow yang kukenal? Aku harap kau tidak mengecewakanku. Tatapan mata Randika terlihat dingin. Kemudian Randika segera menuju gedung itu kembali. Tak lama kemudian, Randika telah sampai dan berjalan masuk dengan santai. Karena hari sudah malam, angin sepoi-sepoi berhembus melewati dinding-dinding yang bolong yang membuat suasana menjadi dingin. Karena tidak melihat sosok Shadow di mana pun, Randika berteriak. "Keluarlah dan tunjukan dirimu Shadow." "Selamat malam tuan." Tiba-tiba suara perempuan yang lemah lembut terdengar dari arah belakangnya. "Shadow, karena kau sudah tiba di kota ini, aku harap kau sudah menyelidiki masalah ini secara menyeluruh." Lalu Randika menekankan kata-katanya. "Aku harap kau tidak mengecewakanku." "Tentu saja aku tidak akan mengecewakan tuan. Hasil penyelidikanku mengatakan bahwa Bulan Kegelapan berada di kota Cendrawasih." Ketika Shadow selesai berbicara, sebuah kilatan cahaya terlihat dan Randika segera melangkah ke samping dengan cepat. Sebuah peluru segera menembus lantai di tempatnya berdiri tadi. "Aku tidak menyangka kalau tuan begitu hebat." Wajah Randika benar-benar terlihat dingin. "Pada akhirnya kau tetap mengecewakanku." Nada suara Shadow sudah tidak sopan sama sekali, "Aku sudah tidak peduli denganmu, lagi pula kau juga sudah tidak memiliki kekuatan untuk melakukan apa pun." "Kau sudah lama bekerja untukku Shadow, kau seharusnya tahu apa yang menantimu." Kata Randika. Mendengar itu, tubuh Shadow gemetar sedikit tetapi langsung menjadi normal kembali. "Tentu saja aku tahu, oleh karena itu aku sudah memiliki persiapan untuk hari ini. Sayangnya kau tidak akan keluar hidup-hidup hari ini." "Oh? Memangnya kau bekerja dengan salah seorang dari 12 Dewa Olimpus?" Randika menggelengkan kepalanya. "Cuma aku saja cukup untuk menghadapimu." Suara orang lain terdengar. Seorang pria muncul dari belakang Shadow dan dialah Bulan Kegelapan. Randika mengerutkan dahinya. Dia melihat Bulan Kegelapan menghampiri Shadow dan memeluknya. "Kaget? Hahaha." Bulan Kegelapan tertawa keras sambil menatap Randika. "Jadi itu hubungan kalianˇ­." Randika menghela napas. "Ternyata selama ini aku dibuat buta arah sama kalian berdua, harus kuakui boleh juga kerja sama kalian." "Dan untukmu Shadow, sebentar lagi akan kuajari betapa kejamnya nasib si pengkhianat." Randika langsung mengeluarkan aura membunuhnya yang pekat. "Kau masih bisa berkata besar walaupun nyawamu sudah di ujung tanduk. Kau bahkan tidak bisa melihat pengkhianatan Shadow, masih pantaskah kau menyandang nama Ares?" Bulan Kegelapan kemudian meremas dada Shadow sambil mengatakan, "Segala milikmu adalah milikku, mau itu perempuan ataupun harta." "Jika aku tidak bisa menebaknya, menurutmu mengapa aku datang?" Dari awal dia sudah tahu bahwa Shadow telah mengkhianatinya. Tujuannya datang adalah menghukum siapapun yang berani menentangnya. Dan hanya ada satu hukuman yang pantas, kematian! Bulan Kegelapan dan Shadow terbeku di tempat, sejejak panik muncul di mata mereka. Mereka sudah bekerja di bawah Randika selama beberapa tahun, jadi mereka tahu kengerian seperti apa yang menanti mereka. "Tidak usah banyak bicara, hari ini kau akan mati!" Kata Bulan Kegelapan sambil memancarkan aura membunuhnya. "Kalau begitu tunjukkan kemampuan kalian!" Randika lalu berubah menjadi bayangan dan menerjang Bulan Kegelapan. Aura membunuh Randika yang pekat membuat Bulan Kegelapan dan Shadow terintimidasi. Tetapi, mereka berdua segera tersadar dan menggabungkan kekuatan. Shadow bertugas untuk menangis serangan Randika dan Bulan Kegelapan bersiap melancarkan serangan balik. Melihat hal ini, aura membunuh Randika semakin tidak terkendali. Namun, meskipun mereka berdua telah menggabungkan kekuatannya, mereka tetap terpental karena serangan Randika. "Orang lemah tetaplah lemah!" Randika mendengus dingin dan kembali menerjang. Hari ini kedua orang ini akan mati! Bulan Kegelapan terkejut melihat Randika yang bertenaga ini. Bukankah dia seharusnya sedang cedera? Seluruh tubuh Bulan Kegelapan mulai merinding. Dia tidak bisa lengah karena Randika sudah menerjangnya dan bisa membunuhnya kapan saja. Dia tidak punya pilihan lain, daripada diam dan menunggu kematiannya lebih baik dia bertaruh dengan menantang duel Randika. Dalam sekejap, serangkaian serangan pisau tepat mengarah ke wajah Randika! Randika tetap berwajah datar. Dalam sekejap dia melompat zig-zag dan menghindari seluruh serangan dan mencengkram pergelangan tangan Bulan Kegelapan dengan erat. Kemudian dia menarik Bulan Kegelapan dan menendangnya tepat di dada dengan keras. Bulan Kegelapan dengan cepat terpental dan mengerang kesakitan. "Sejak kapan seekor semut berusaha memanjat puncak dunia?" Tatapan mata Randika terlihat dingin. Di saat Bulan Kegelapan terpental, dia sudah menerjang maju kembali. Di saat Bulan Kegelapan berusaha berdiri kembali, Randika sudah berada di hadapannya dan melayangkan pukulannya ke dagunya. Sekarang Bulan Kegelapan melayang di udara sambil memuntahkan seteguk darah. Randika di lain sisi kembali memukul bagian rusuk Bulan Kegelapan dan dia pun tersungkur di lantai sambil memegangi tulang rusuknya yang patah. "Berani-beraninya kau mengkhianatiku?" Randika menatap Bulan Kegelapan dengan tatapan jijik. "Dewa perang dari dunia bawah tanah memang hebat, tetapi apakah kau percaya kalau aku punya kekuatan untuk mengakhiri hidupmu hari ini?" Bulan Kegelapan sama sekali tidak gentar meskipun dia cedera berat. Randika mengerutkan dahinya. Bulan Kegelapan sudah babak belur tapi masih bisa banyak omong, memang anjing Cuma bisa menggonggong. "Aku harus mengakui kalau kemampuanmu sangat luar biasa." Bulan Kegelapan terengah-engah. "Memang aku meremehkan kemampuanmu itu tapi itu juga berlaku untukmu." "Aku tidak perlu serius ketika menginjak seekor semut sepertimu." Ejek Randika. "Shadow, meskipun aku tidak tahu kenapa kau mengkhianatiku, karena kau telah memilih untuk melawanku maka bersiaplah menerima hukuman yang sama dengannya." Randika menoleh ke Shadow. Randika lalu mengeluarkan pisau yang dipungutnya tadi dan melemparkannya ke arah Bulan Kegelapan yang terkapar di lantai. Dengan akurat, pisau tersebut menembus tenggorokan Bulan Kegelapan! Bulan Kegelapan tewas di hadapan sang Ares! Randika menoleh dan menghadap ke arah Shadow. "Sekarang terimalah hukumanmu." Wajah Shadow dipenuhi oleh kengerian. Bagaimana mungkin Bulan Kegelapan sama sekali tidak berkutik melawan Randika yang seharusnya cedera ini? Kenapa situasi berjalan seperti ini? Melihat serangan Randika tadi pada Bulan Kegelapan, Shadow tahu bahwa Randika masih belum serius. Nama Ares yang disandangnya bukanlah lelucon. Tanpa diragukan lagi, nyawanya sudah berada di genggaman Randika! Randika menatap dingin ke Shadow, wajahnya tanpa ekspresi ketika dia menghampirinya. "Kau benar-benar mengecewakanku." Randika benar-benar kecewa kartu Asnya itu ternyata malah menjadi senjata makan tuan. Shadow sama sekali tidak berbicara. Detik berikutnya, sosoknya menghilang menjadi gumpalan asap. Di saat itu juga, Shadow telah melempar bom asap di tempatnya berdiri dan semacam granat ke arah kaki Randika. Randika bereaksi dengan cepat dan mengambil langkah mundur. Ledakannya cukup kuat, hal ini membuat Randika cukup jauh mengambil langkah mundurnya. Untungnya gedung ini tidak ikut runtuh, namun api mulai menjalar. Randika tidak repot-repot mempedulikannya dan mengejar langsung Shadow yang lari tersebut. Si pengkhianat tidak akan bisa bernapas lega selama dia masih hidup! Randika berlari dengan sangat cepat, tidak butuh waktu yang lama untuknya mengejar Shadow. Namun tiba-tiba sebuah pisau melayang ke arah wajahnya. Randika yang berkecepatan tinggi itu hampir saja tidak bisa menghindarinya. Dia lalu menoleh ke arah pisau itu berasal dan terkejut. Dia melihat sesosok orang yang seharusnya sudah dia bunuh, dia adalah Bulan Kegelapan! Apa yang sebenarnya yang terjadi? Bisa-bisanya orang itu masih hidup? Chapter 57: Kloning "Hahaha sudah kubilang hari ini adalah hari kematianmu!" Bulan Kegelapan tertawa keras ketika melihat keterkejutan di wajah Randika. Randika mengerutkan dahinya, dia masih tidak paham kenapa bisa Bulan Kegelapan berada di sini. Tenggorokannya jelas-jelas tertembus oleh pisaunya tadi. Ataukah tadi Bulan Kegelapan yang palsu? Namun, kejutan yang dihadapi Randika tidak sampai situ saja. Ternyata dia telah dikepung oleh 20an orang. Yang membuat matanya terbelalak adalah semua orang itu adalah Bulan Kegelapan! Dia mengira matanya telah menipunya tetapi kedua puluh orang tersebut benar-benar adalah Bulan Kegelapan. Mulai dari wajah, perawakan dan tenaga dalam yang mereka pancarkan sama persis. Di saat genting seperti ini, Randika juga merasakan kekuatan misteriusnya mulai memberontak sekali lagi. Memang kakeknya itu telah menahannya dan memberikan dia waktu satu bulan, tapi dengan catatan bahwa dia tidak memakai tenaga dalamnya terlalu banyak. Dan hari ini dia sudah memakai tenaga dalamnya terlalu banyak, mulai dari Brian, di rumah sakit dan sekarang. Dan sekarang dia dihadapi oleh 20 Bulan Kegelapan yang memiliki kecepatan dan kekuatan yang sama. Dia sekarang mengerti bahwa kengerian di muka Shadow, pertarungannya tadi, semua itu adalah perangkap yang akhirnya membawa dirinya ke jebakan ini! Semua misteri ini akhirnya mulai masuk akal, Bulan Kegelapan yang dia bunuh pada hari pertama dia menikah dan Bulan Kegelapan yang menghancurkan markasnya, semuanya dilakukan oleh orang yang sama. Randika lalu menoleh ke sekelilingnya dan berkata dengan nada dingin. "Jadi senjata rahasiamu adalah kloning?" "Benar! Bahkan jika kau Ares, kau hanya seorang diri. Dan kami semua ini sudah lebih dari cukup untuk membunuhmu!" Randika tidak membalas sama sekali. "Sejujurnya, kalau bukan karena sumber daya milikmu itu maka aku tidak akan menemukan rahasia di balik kloning manusia." Kata Bulan Kegelapan yang merasa dia telah memenangkan pertarungan ini. "Kenapa kau diam saja sekarang? Mana kelakuan sok hebatmu itu? Ayolah Ares jangan buat aku kecewa, aku ingin melihat wajah sengsaramu itu!" Semua Bulan Kegelapan memancarkan aura membunuh mereka yang kuat. Lalu mereka semua tertawa serentak. "Mau berapapun yang berkumpul, semut tetaplah semut." Kata Randika dengan santai. Dia sudah tidak merasa ragu lagi dan menerjang ke arah salah satu Bulan Kegelapan. Melihat bahwa Randika sudah bergerak, seluruh Bulan Kegelapan segera mengepung. Dari segala arah Bulan Kegelapan mulai melompat dan menyerang. Randika yang bagai Dewa Perang itu, mematahkan tulang leher Bulan Kegelapan di depannya dengan satu pukulan sambil menghindari serangan dari sisi kirinya. Tiba-tiba, tiga orang langsung berusaha menyerang bersamaan. Randika langsung bersalto di udara, menghindari serangan gabungan tersebut. Tapi di saat dia di tengah udara, sebuah pisau melesat dan mengenai bahu Randika. Mereka tidak perlu membunuh Randika secepat mungkin, kikis staminanya dan pada akhirnya dia akan mati karena kelelahan. Hati Randika mulai mengepal. Serangan Bulan Kegelapan datang dari segala arah dan terasa tidak pernah ada habisnya. Tidak peduli dia hajar sekalipun, mereka akan segera berdiri kembali. "Hmmmˇ­ Obat penguat?" Jelas bahwa mereka sudah memiliki persiapan yang memadai untuk membunuh dirinya hari ini. Tujuan mereka adalah membuatnya lelah dan mengakhirinya pada saat itu. Satu-satunya cara adalah membunuh mereka! Pada saat ini, Randika sudah membunuh 5 orang. Tetapi, serangan Bulan Kegelapan masih berasal dari segala arah dan tidak ada habisnya. Ini membuat Randika kecapekan karena tenaga dalamnya sudah mulai menipis. Apalagi, dia juga harus menahan kekuatan misteriusnya itu. Tiba-tiba, dia mendapatkan serangan di punggungnya. Bulan Kegelapan melihat keraguan di wajah Randika dan berhasil mengenainya. Serangan itu sangat cepat jadi lengah 1 detik saja Randika bisa celaka. Randika sudah berusaha sekuat tenaga membunuh siapapun yang mendekat, tetapi Bulan Kegelapan yang lain akan segera menyerang titik butanya tanpa lelah. Mereka rela kehilangan satu kloning kalau itu bisa menyederai Randika! Whush! Sebuah pisau menyayat baju Randika tapi sayang serangannya kurang dalam. Ketika Randika menghindarinya dengan melompat mundur, dari belakangnya sudah ada pukulan melayang yang mengarah ke belakang kepalanya. Randika bereaksi dengan cepat dan menangkap tangan itu dan membanting orang tersebut. Randika mulai kehabisan napas. Kekuatan misterius dalam tubuhnya seakan-akan terus menggedor-gedor pintu kesadarannya, hendak menelan dirinya secara utuh. Keringat dingin mulai keluar dari dahinya dan Bulan Kegelapan di sekelilingnya mulai tertawa. "Hahaha kau akan tamat sebentar lagi!" Para Bulan Kegelapan ini sudah merasa berhasil membuat Randika kelelahan, jadi mereka menikmati momen berharga ini. "Matilah!" Saat itu juga, salah satu Bulan Kegelapan menerjang dan menendang ke arah Randika. Di saat orang itu melayangkan kakinya, Randika hanya berdiri diam dan menjulurkan kepalan tangannya ke arah selangkangannya. Dalam sekejap Bulan Kegelapan itu tersungkur sambil memegangi alat kelaminnya. Ternyata mereka masih senaif itu merasa bisa mengalahkannya dengan mudah. "Seperti kata pepatah ''Harimau mati karena belangnya'' [1], hari ini neraka akan menyambutmu!" Beberapa Bulan Kegelapan langsung menerjang kembali dan Randika bertahan dengan susah payah sambil menahan kekuatan misteriusnya. Dia lalu merasa kelima inderanya kehilangan fungsinya dan serangan Bulan Kegelapan telah mengenainya dari seluruh arah. Dia merasa bahwa dadanya telah dipukul dan ketika dia terpental karena momentumnya, dia ditendang dari belakang. Di saat yang sama dari sebelah kiri dan kanan, Bulan Kegelapan menyerang rusuknya dan semua itu ditutup dengan tendangan yang mengarah kepada wajahnya. Namun, serangan itu tidak berhenti. Serangan siku yang mengenai dagunya membuat Randika tersungkur di tanah. Rasa sakit dari luar dan dalam tubuhnya membuat dirinya berada di ujung tanduk. Dia bahkan merasakan hawa kehadiran Dewa Kematian di dekatnya! Apakah ini akhir dari hidupnya? Apakah tidak ada jalan lain? "Hahaha bahkan seekor gajah akan kalah sama kawanan semut! Kau benar-benar menyedihkan!" Suara tawa menyebalkan itu bergema di telinga Randika dan di dalam benaknya dia telah memutuskan sesuatu. Dia tidak boleh mati, dia tidak boleh mati di tangan sang pengkhianat! Namun, rasa sakit yang dirasakannya benar-benar melelahkan jiwanya. Dia berusaha berdiri dengan susah payah. "Wah wah wah, belum menyerah juga bajingan tengik satu ini? Sini kalau kau masih kuat, bukankah kau ingin membunuh kami semua?" Ketika Bulan Kegelapan melihat Randika yang berdiri saja sudah susah payah, dia benar-benar merasa di atas angin. Beberapa Bulan Kegelapan juga kembali menyerang. "Aku tidak boleh mati!" Randika yang kembali tersungkur di tanah itu terus menanamkan tekadnya. Dia terus menerus mengatakan hal itu untuk membuatnya tersadar, namun rasa sakitnya mulai mengalahkan dirinya. Apakah ini akhir dari perjalanannya? Di saat dia mulai menerima kenyataan ini, sebuah ide muncul di benaknya. Bukannya kakeknya memberikan sebuah obat padanya? Yang hanya boleh diminumnya di saat-saat genting. Tanpa ragu-ragu Randika berusaha mengambil obat tersebut sambil terus bertahan dari serangan Bulan Kegelapan. Namun, serangan gabungan itu mempersulit Randika mengambil obat yang ada di saku celananya itu. Belum lagi kekuatan misteriusnya itu menggerogoti dari dalam. Aku tidak akan mati oleh para pengkhianat ini! Randika menggigit bibirnya, berusaha memikirkan cara untuk mencari celah bagi dirinya mengambil obatnya itu. Satu-satunya cara adalah pura-pura terkena pukulan dan tersungkur kembali, karena pada waktu itu Bulan Kegelapan sibuk menertawai dirinya. DUAK! Randika kembali menerima pukulan di dadanya dan tersungkur kembali. Bulan Kegelapan yang melihatnya semakin tersenyum lebar. Di saat inilah Randika mengambil obatnya dan menelannya dengan susah payah. Melihat bahwa Randika mengambil sesuatu dari celananya dan menelannya, Bulan Kegelapan tidak mempedulikannya dan tertawa. "Kenapa? Apakah Ares lupa meminum obat diarenya? Ah aku lupa kalau kau sebenarnya sedang sakit. Tapi sebentar lagi kau tidak perlu menderita lagi." Setelah berkata demikian, para Bulan Kegelapan mengeluarkan pisau mereka. "Sudah saatnya kau mati!" Kemudian beberapa Bulan Kegelapan menerjang maju. Pada saat ini, Randika merasa ada tenaga luar biasa dahsyat yang memasuki tubuhnya. Tenaga itu bertemu dengan kekuatan misterius dan bertarung dengan intens. Berkat obat itu, kekuatan misterius Randika kembali tenang dan tubuhnya sudah tidak merasakan sakit sama sekali. Namun, bukan itu saja yang dirasakan Randika. Dia merasakan bahwa tenaga dalamnya menjadi melimpah! Dalam sekejap, Randika pulih seperti sedia kala. Cedera tubuhnya mulai menghilang dan tubuhnya berlimpahkan tenaga dalam. Di tengah keterkejutannya ini, beberapa pisau sudah melayang menuju Randika. Randika dengan cepat menampar tanah dan berdiri kembali. Tubuhnya dengan cepat menjadi gumpalan asap dan menerjang maju. Seluruh pisau yang melayang itu dia tangkis dengan sigap. Kebangkitan Randika ini membuat Bulan Kegelapan terkejut. Saat ini, Randika sudah berada kembali di tengah-tengah mereka. "Saatnya kalian mati!" Randika mengatakannya dengan nada dingin dan aura membunuh yang luar biasa. Bulan Kegelapan langsung merinding, dia merasa bahwa Ares yang ada di hadapannya ini berbeda dengan yang tadi. Randika kembali menjadi asap, dia dengan cepat menerjang ke arah beberapa Bulan Kegelapan dengan pisau di tangannya. Yang terakhir dilihat oleh kelima Bulan Kegelapan hanyalah kilau pisau Randika, karena setelah itu yang mereka lihat adalah kepala mereka yang menggelinding. Cepat dan bersih! Randika lalu melempar pisau tersebut dan satu Bulan Kegelapan lagi yang tewas dengan pisau menancap di dada. Di saat pisau itu menancap, Randika sudah mematahkan leher salah satu Bulan Kegelapan. Para Bulan Kegelapan ini berusaha menghindar tapi semua itu percuma. Kecepatan dan kekuatan Randika yang sekarang sudah berbeda dengan yang tadi dan benar-benar mengerikan. Hanya dengan satu langkah saja Randika sudah mencabut nyawa. Randika yang sekarang menjadi jelmaan Dewa Perang sesungguhnya, satu ayunan saja sudah cukup melayangkan sebuah kepala! Bulan Kegelapan yang sekarang benar-benar terdiam. Mana keberanianmu yang tadi? Dalam sekejap, semua kloning Bulan Kegelapan mati di tangan Randika. Sekarang hanya Randika yang berdiri sendirian, wajah dan bajunya bersimbah darah. Ketika Ares sang Dewa Perang marah, seribu kematian tidak cukup memuaskan nafsunya! [1] Mendapatkan nasib buruk (kematian) karena memamerkan kehebatannya. Chapter 58: Malam yang Panas untuk Pasangan Suami-Istri Randika berdiri sendirian di tengah tumpukan mayat Bulan Kegelapan. Memperhatikan sekelilingnya, Randika bisa menebak bahwa yang bertarung dengannya semua adalah kloning. Bulan Kegelapan yang asli tidak mungkin membahayakan nyawanya, lagipula Shadow juga tidak ada di sini. Dirinya sudah lama mengira bahwa Shadow telah mengkhianatinya. Dia juga tahu bahwa pertemuan mereka hari ini adalah jebakan tetapi dia tetap datang. Dia merasa bahwa gabungan kekuatan mereka berdua tetap bukan sebuah masalah bagi dirinya. Tanpa diduganya, cloning merupakan senjata rahasia Bulan Kegelapan. Randika mengerutkan dahinya. Shadow dan Bulan Kegelapan berhasil kabur, jadi ada kemungkinan mereka akan menyusun kembali rencana jahat lainnya. Mereka berdua harus mati, pikir Randika. Dengan tangan kosong, Randika segera meninggalkan tempat ini. Pertarungan pertama mereka ini benar-benar berbahaya bagi Randika, dia benar-benar tidak menyangka akan ditawur seperti itu. Jika bukan karena obat yang diberikan kakeknya itu, mungkin sekarang dia sudah mati. Saat di perjalanannya, dia memeriksa kondisi tubuhnya. Tidak ada keanehan di dalam maupun di luar tubuhnya, seluruh cederanya sembuh dengan sempurna. Obat kakeknya benar-benar luar biasa. Pertanyaannya adalah berapa lama efek ini akan berlangsung? Dia berharap bahwa efeknya tahan beberapa hari. Ketika sampai di rumah, suara langkah kaki Randika terdengar oleh Inggrid. Dia sudah menyiapkan diri secara mental menghadapi tingkah laku Randika yang akan datang. Anehnya, Randika hanya berjalan melewatinya. Hmmmm? Inggrid penasaran dan bertanya pada Randika, "Kau sakit?" Randika, yang berniat langsung masuk kamarnya, merasa malu. Bisa-bisanya dia tidak menyadari bahwa Inggrid ada di bawah? "Gak!" Randika langsung memasang topengnya. "Suamimu ini tahan banting tahu hahaha." Namun, Inggrid tahu ada yang aneh dan menghampirinya. "Kau jelas-jelas lagi tidak sehat, sini kasih lihat mananya yang sakit." Memang darah di baju dan wajahnya sudah dia bersihkan tadi, tapi raut wajah Randika benar-benar pucat dan celananya terlihat compang-camping. Bahkan bibir sampingnya tampak berdarah. Randika lalu merenung. Keadaannya ini benar-benar memalukan bagi dirinya. Dia memikirkan bagaimana bisa cecunguk seperti Bulan Kegelapan dan Shadow bisa melukainya segini parah. Dia sekarang juga mengerti kenapa dirinya tidak ingin mati hari ini, salah satu alasannya adalah wanita di hadapannya ini. Sayang sekali dia tidak bisa memeluk erat istrinya ini dengan leluasa. "Ikut aku." Tiba-tiba, Inggrid menggandeng Randika dan membawanya ke kamarnya. "Aduh pelan sedikit dong, suamimu ini sedang kesakitan. Aku tahu kau ingin cepat-cepat melihat apa yang di balik bajuku ini, aku cuma minta tolong yang lembut aja ya nanti." Inggrid langsung cemberut. Mau sakit mau sehat, kenapa pria ini tidak bisa berhenti membuatnya jengkel? Meskipun terlihat pucat, luka Randika hanyalah luka goresan. Cedera internalnya sama sekali tidak serius, berbeda dengan Elva sebelumnya. Ketika sampai di kamar Inggrid, dia meminta Randika mengangkat bajunya sedikit dan mulai merawat luka-lukanya. "Sakit kah?" Inggrid mengelus punggung Randika yang tersayat oleh pisau. Entah kenapa hatinya terasa sakit. "Ah! Tolong pelan sedikit." Randika langsung merintih kesakitan. "Maaf, aku baru pertama kali melakukannya." Inggrid langsung menarik tangannya. Pertama kali melakukannya? Entah kenapa itu terdengar ambigu di telinga Randika. Randika menatap Inggrid dalam-dalam. Inggrid yang masih sibuk itu akhirnya menyadari tatapan Randika, dia lalu bertanya. "Ada apa?" "Oh tidak apa-apa, aku hanya merasa kau semakin cantik saja." Randika langsung memalingkan wajahnya yang memerah. "Luka-lukamu cukup banyak dan cukup susah jika kau duduk, bisa kau lepaskan bajumu dan tiduran?" Kata Inggrid. "Oh? Baiklah." Randika langsung melepas bajunya dan tubuh kekarnya langsung memenuhi mata Inggrid. Inggrid mengalami gejolak batin, di sisi lain dia malu dan terpukau melihat tubuh kekar itu dan di sisi lain hatinya merasa sakit ketika melihat tubuh Randika yang penuh luka itu. Luka-luka lama Randika terlihat mengerikan, ada bekas peluru dan sayatan panjang. Inggrid akhirnya hanya terdiam dan berpikir dalam hatinya, bagaimana bisa Randika memiliki begitu banyak luka? Tanpa sadar dia mengelus luka lama Randika. Inggrid berpikir bagaimana bisa suaminya ini menderita begitu hebatnya dan masih terlihat sehat-sehat saja. "Hmmm? Kenapa kau bengong?" Kata Randika. Dia lalu menoleh dan melihat Inggrid yang meneteskan air mata. Seketika itu juga dia tahu apa yang dipikirkan istrinya itu dan memeluknya. "Hahaha tidak perlu khawatir, mau itu peluru atau pedang selama aku bisa melindungimu semuanya sepadan." Inggrid langsung tersipu malu dan mendorong Randika. "Hah? Kenapa kau tiba-tiba melantur seperti itu? Sudah cepat tiduran dan biarkan aku membersihkan lukamu." Setelah itu Inggrid membersihkan luka-luka Randika yang ada di punggung. ???Jika sakit kasih tahu." Kata Inggrid. Meskipun sederhana, kebaikan Inggrid ini menghangatkan hati Randika yang terbiasa sendirian ini. Meskipun istrinya ini tidak mengatakannya, dia tahu bahwa Inggrid peduli dengannya dan begitu pula sebaliknya. Mungkin penyangkalan itu adalah bentuk pertahanan Inggrid yang terakhir. Randika tidak berbicara sama sekali dan menikmati kasih sayang Inggrid ini dengan mata tertutup. Tidak lama kemudian, Inggrid telah selesai mengobati lukanya dan menutupi dengan perban. Lalu Inggrid bertanya, "Masih sakitkah?" "Sudah enggak." Randika berkata dengan nada santai, dirinya benar-benar telah pulih. "Aku tidak tahu apa yang kau lakukan di luar sana, tapi coba sayangi tubuhmu sendiri." Ada sedikit kebingungan di nada Inggrid. Apa memangnya yang dilakukan Randika sampai-sampai terluka seperti ini? Setelah itu, Inggrid mengambilkan minum dan baju baru buat Randika. "Lain kali hati-hati ya." Saat dia menyerahkannya, dia menyadari bahwa Randika hanya terdiam dan menatap dirinya dalam-dalam. "Hmmm? Kenapa kau melototiku seperti itu?" Inggrid benar-benar tidak paham dengan Randika hari ini. Kenapa dia begitu diam dan nurut? Biasanya dia sudah melontarkan lelucon mesum. "Kau benar-benar menawan." Sebelum Randika mengatakan itu, dia sudah memeluk erat Inggrid dan membanting dirinya ke tempat tidur. Setelah itu dia menciumnya dan tangannya segera bermain-main dengan tubuh seksi istrinya itu. Inggrid benar-benar lengah, karena Randika hari ini pendiam bukan berarti dia Randika yang berbeda! Namun, otaknya berhenti bekerja setelah sensasi nikmat yang diberikan Randika mulai naik ke otaknya. Lidah mereka terus bersilat tanpa henti, putingnya tidak ada habisnya dimainkan. Dengan napas yang terengah-engah, Inggrid berkata pada Randika. "Jangan lakukan iniˇ­." Namun, melihat istrinya itu setengah hati menolaknya membuat Randika makin sayang. Hari ini istrinya itu benar-benar menawan dan dia sudah kehilangan kendali diri untuk tidak menyentuh istrinya itu! Tangan kanan Randika masih bermain-main di dada Inggrid sambil sesekali menyentil bahkan menjepit puting Inggrid yang mengeras. Ketika mereka berdua tidak berciuman, Randika bahkan menjilati leher putih istrinya itu ataupun menggigit telinganya. "Ahhnn! Tidak! Tolong hentikan!" Desahan Inggrid itu justru membuat birahi Randika menjadi-jadi. Saat ini, Randika sedang berusaha melepaskan baju istrinya itu. Namun, entah dari mana, Inggrid memiliki kekuatan kembali dan kedua tangannya berusaha mendorong Randika kuat-kuat. Randika terkejut ketika Inggrid mendorong dirinya. Dia lalu memandangi wajah Inggrid yang masih merah tersebut. Jelas bahwa Randika masih dikuasai nafsu jadi napasnya masih menggebu-gebu. "Stop Randika! Kita tidak bisa melakukannya." Butuh tenaga yang banyak untuk membuat Inggrid mengatakan sepatah kata tersebut. Randika langsung kecewa dalam hati, dia lalu berkata sambil tersenyum. "Aku hanya bisa menyalahkan dirimu yang begitu menawan hari ini." Walaupun muka marah Inggrid masih belum hilang, dia tersipu malu dan terdiam. Dia hanya berdiri dan keluar dari kamar. Randika memasang wajah kecewa, kenapa kau masih menolakku? Tetapi, tiba-tiba Inggrid kembali masuk. Dia memandang Randika dengan wajah merah. "Aku lupa kalau ini kamarku." Randika langsung tertawa keras. "Baiklah, aku yang akan keluar." Ketika Randika sudah keluar, Inggrid hanya berjongkok di depan pintu. "Kenapa aku membiarkan dirinya mempermainkan diriku terus-menerus?" Chapter 59: Kegelapan yang Mengintai! Kembali ke kamarnya Randika dengan cepat menyalakan komputernya dan mengontak Yuna. Dia harus memberitahu informasi mengenai Shadow dan Bulan Kegelapan secepatnya. Dia juga harus memastikan bahwa tidak ada anak buah Shadow yang berada di markas barunya yang tersembunyi itu. Himbauan kakeknya benar. Kakek keempatnya mengatakan bahwa dia harus waspada dengan orang-orang di sekitarnya. Tanpa diduganya, ternyata Shadow mengkhianatinya. Untungnya dia menyadari hal tersebut sejak lama dan obat buatan kakeknya telah menyelamatkan dirinya. Sejak pertama kali Shadow melaporkan bahwa dia hendak datang ke kota Cendrawasih, hal itu sudah membuat curiga Randika. Dari nada bicara, bahkan penggunaan kata Shadow berbeda dengan biasanya. Dia langsung merasa ada yang aneh dengan Shadow dan sejak saat itu dia menaruh kecurigaannya pada Shadow. Tak lama kemudian, Yuna muncul di layar komputernya. "Lho Randika? Tumben sekali nelpon?" Dada Yuna masih sama besar dan pakaiannya membuat kedua putingnya itu sedikit lagi terlihat. "Apakah kau ingin bertanya tentang markas baru kita? Seharusnya tidak lama lagi pembangunannya selesai kok." "Bukan itu yang kuingin bicarakan." Wajah Randika terlihat serius. Yuna yang awalnya bermuka santai langsung menjadi serius. "Ada apa?" "Kau tahu kan kalau aku menyimpan kartu As." Kata Randika dengan tatapan kebencian. "Dia mengkhianatiku dan bergabung dengan Bulan Kegelapan. Hari ini mereka berdua berusaha membunuhku." "APA?" Yuna benar-benar kaget. "Bagaimana mungkin itu bisa terjadi?" Apa itu kartu As? Itu adalah faktor pembalik keadaan yang tersembunyi yang dimiliki seseorang. Dan Randika bukanlah seseorang melainkan salah satu 12 Dewa Olimpus. Sekarang, kartu As tersebut malah berani berkhianat! Yuna sangat tahu betul betapa marah dan kecewa Randika sekarang. Kepercayaan bukanlah sesuatu yang mudah didapat, hal tersebut tumbuh seiring waktu dan tidak mudah terbentuk. Meskipun Randika sudah dari awal tahu bahwa Shadow memberontak, hal ini masih membuatnya kecewa. Bulan Kegelapan dan Shadow, kalian berdua harus mati! Kubunuh kalian dengan kedua tanganku! Yuna lalu bertanya dengan nada serius. "Ada yang bisa kubantu?" "Tolong periksa apakah ada orang mencurigakan di markas kita, kita tidak boleh kecolongan lagi. Dan tolong cari keberadaan Bulan Kegelapan, ketika kau menemukannya segera beritahu aku." Kata Randika. "Baiklah." "Ah kartu Asku bernama Shadow, dia itu hebat dalam mengumpulkan informasi. Dia ahli dalam menghapus jejaknya jadi lebih baik kau fokuskan perhatianmu ke Amerika dan Indonesia." "Baik!" Yuna mengangguk. "Satu lagi, Bulan Kegelapan berhasil menciptakan teknologi kloning manusia sempurna. Dia bisa mengkloning dirinya sendiri dan menghasilkan kekuatan serta kecepatan yang sama persis dengan dirinya." "APA?" Yuna terkejut kembali. Kloning? Memang benar kalau kloning sudah mulai berkembang di zaman ini dan mulai diterapkan pada hewan. Yang menjadi permasalahannya adalah kloning manusia tidak pernah mengalami kemajuan sama sekali, karena rumitnya menurunkan kecerdasan dan kemampuan yang dimiliki individu tersebut. Kloning manusia yang dikatakan Randika ini mungkin sudah bisa dikatakan kemajuan teknologi yang luar biasa. Melihat ekspresi terkejut Yuna, Randika menghela napas. "Kloning yang dilakukannya benar-benar rumit. Dia pasti memiliki markas untuk percobaannya, jadi coba kau juga cari di mana markas itu berada." "Baiklah." "Aku percayakan semua ini padamu." Setelah selesai menelepon, Randika mengerutkan dahinya. Ekspresi Yuna seharusnya tidak dibuat-buat. Sebelumnya Bulan Kegelapan mengatakan bahwa dia memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya untuk menghasilkan kloningnya. Mungkin yang dikatakannya itu bermaksud untuk memecah belah dirinya dengan Yuna. Randika menggaruk-garuk kepalanya. Meskipun dia sangat mempercayai kesetiaan Yuna, dia masih was-was. Karena pengkhianatan Shadow ini, dia mulai ragu dengan kesetiaan bawahannya. Seharusnya Shadow adalah kartu Asnya yang tersembunyi namun dengan mudahnya dia beralih pihak. Ini membuat Randika makin was-was. Hal ini juga berlaku kepada seluruh bawahannya, apakah ada pion tersembunyi di markas barunya itu? Sebelum mengklarifikasikan hal ini, Randika masih harus waspada meskipun itu Yuna sekalipun. "Aku tahu kalian berdua masih di kota ini!" Randika mengepalkan tangannya. "Aku menantikan rencanamu berikutnya karena lain kita bertemu, kalian berdua akan mati!" -Di suatu rumah di daerah pinggir kota- Di ruangan yang hampir sama sekali tidak ada lampu, sesosok pria terlihat sedang meminum sesuatu. Prang! Pria itu membanting gelasnya. "Bukannya kau bilang dia sedang terluka?" Pria itu benar-benar marah dan melampiaskannya ke gelasnya itu. Bulan Kegelapan masih belum bisa mempercayai rencananya membunuh Randika masih saja gagal. Shadow yang berdiri di hadapannya terlihat tenang. "Dia memang sedang terluka, informasiku tidak mungkin salah." Bulan Kegelapan mendengus dingin. "Terus kenapa hari ini kita masih gagal membunuhnya? Kloningku seharusnya tidak kalah hebatnya dengan diriku ini. Dan benar saja, 20 kloningku itu dengan menyedihkannya mati semua tanpa satu pun hidup!" Shadow terdiam beberapa saat, "Aku sudah membuntuti Randika selama beberapa waktu. Dia benar-benar sedang terluka. Waktu dia bertarung, dia sempat meminum sebuah obat, kurasa obat itulah yang membuatnya berhasil bertahan hidup." "Cukup, aku tidak butuh analisismu itu. Aku hanya ingin Ares mati!" Bulan Kegelapan ini sudah naik pitam. Shadow hanya terdiam. Ketika dia mengingat kembali kemampuan Randika tadi, tubuhnya tanpa sadar merinding. Dialah yang paling memahami kemampuan mantan tuannya itu jadi dia benar-benar tahu apa yang mampu dilakukan Randika. Dan sekarang karena kedoknya telah terbongkar, satu-satunya nasib yang menantinya adalah kematian! Tapi Shadow tidak akan mati tanpa perlawanan, kau yang mati atau aku yang mati! Tidak ada jalan lain. "Dia pasti sudah mengetahui bahwa selama ini aku berada di kota Cendrawasih ini." Bulan Kegelapan tiba-tiba berkata dengan nada dingin. "Dia bahkan tahu kalau kau akan berkhianat." Shadow menggelengkan kepalanya. "Aku rasa tidak begitu." Shadow percaya bahwa sebelumnya Randika hanya mencurigainya dan dia datang ke jebakannya untuk mengkonfirmasi kecurigaannya itu. "Sekarang karena semua kartu tersembunyi kita telah terekspos, kita tidak perlu repot-repot menyusun rencana." Bulan Kegelapan mendengus. "Kita akan menyelesaikan ini secara langsung!" "Bahkan jika kau adalah salah satu dari 12 Dewa Olimpus, aku percaya aku bisa membunuhmu!" Bulan Kegelapan menggebrak mejanya dan meja tersebut langsung terbelah dua. Di rumahnya, Randika sedang bersemedi dan memfokuskan pikirannya. Hingga detik ini, tenaga dalamnya masih berlimpah. Efek dari obat kakeknya itu belum hilang, membuat Randika penasaran dengan kekuatannya yang baru ini. Apakah dia bisa memilikinya atau tidak? Ketika Randika masih kecil, kakeknya selalu berpesan untuk berlatih setiap saat dan bersemedi untuk meningkatkan tenaga dalamnya. Sejak saat itu, dia terus berlatih siang harinya dan malamnya dia akan bersemedi melatih tenaga dalamnya. Berkat itu dia mendapatkan julukannya sebagai Ares sang Dewa Perang. Tanpa menunggu lama, pikiran Randika sudah memasuki alam sadarnya. Chapter 60: Lihatlah Diriku Ini! Sambil duduk bersila, Randika dengan cepat memasuki alam sadarnya. Tenaga dalamnya yang bersirkulasi mengalir dengan tenang di seluruh tubuhnya. Dengan arahan Randika, seluruh tenaga dalam itu segera mengalir ke luka-lukanya. Dia merasakan ketenangan luar biasa. Dia benar-benar merasa nyaman dan ingin mendesah nikmat. Seketika itu juga, Randika melupakan segala sesuatu. Namun, dia segera duduk tegak setelah menyadari sesuatu. Menerobos batasan? Ide ini benar-benar muncul secara tidak sengaja. Selama ini dia berlatih untuk mengontrol kekuatan misterius di tubuhnya ini. Meskipun dia mengalami kemajuan di beberapa percobaan pertamanya, dia tidak bisa menjinakkannya sama sekali. Hingga hari ini, dia menyadari bahwa sebelumnya efek dari obat kakeknya ini bisa menenangkan kekuatan misterius ini. Saat ini Randika berkonsentrasi untuk menyalurkan tenaga dalamnya ini ke kekuatan misterius tersebut. Tenaga dalamnya bagaikan air sungai yang mengalir dengan tenang. Mata Randika semakin tertutup rapat, dia sekarang sedang berusaha mencampurkan tenaga dalamnya dengan kekuatan misterius itu. Ini adalah momen penentuan. Dengan bantuan obat kakeknya itu, dia mungkin bisa melampaui batasan yang dimilikinya dan bertambah kuat. Dia sama sekali tidak boleh lengah dan harus fokus 100%. Tetapi, mimpi buruknya menjadi kenyataan. Dia lupa mengunci kamar tidurnya dan terdengar suara dari pintu! Hati Randika mengepal, meskipun matanya tertutup rapat namun inderanya yang lain masih berfungsi dengan baik. Seseorang berjalan masuk ke kamarnya tetapi dia tidak bisa membuyarkan konsentrasinya ini. Kalau tidak, tenaga dalamnya yang sudah tercampur itu malah kesedot oleh kekuatan misteriusnya itu dan seluruh tubuhnya akan mengalami luka internal dan bisa-bisa dia mati. "Kak, kau sedang ngapain?" Suara Hannah yang lembut terdengar. Hannah datang untuk menjahili kakak iparnya itu, tetapi saat dia membuka pintu kamarnya dia malah melihat Randika yang sedang bersila di atas tempat tidurnya. Wajah kakaknya itu terlihat pucat dan terlebih seluruh tubuhnya mengeluarkan asap putih. Apakah kakaknya ini berlatih sulap? Bisa-bisanya dia memancarkan asap putih seperti itu? Hannah semakin penasaran dan menghampiri Randika. "Hei kak! Oiiii!" Kata Hannah sambil tersenyum. Sialan! Randika benar-benar tidak habis pikir, ngapain coba Hannah tiba-tiba datang ke sini? Keringat dingin mulai membanjiri dahi Randika, situasi ini benar-benar berbahaya. Di saat ini, Hannah berada tepat di depan wajahnya tetapi dia tidak bisa menjawab maupun menggerakan tubuhnya sama sekali. Dia juga dapat merasakan lambaian tangan Hannah yang memeriksa dirinya ini. "Hmmmˇ­" Hannah merasa mungkin kakaknya ini ketiduran. Setelah beberapa saat, tidak ada suara dan pergerakan sama sekali. Apakah adik iparnya itu telah pergi? Randika segera menghela napas lega, jika tadi Hannah menyentuhnya dan menggeser posisinya maka hidupnya mungkin akan berakhir. Namun, Hannah tidak benar-benar pergi. DIa malah memutari Randika dan sekarang berada di belakangnya dan sedang memperhatikan asap putih yang keluar dari punggungnya itu. "Bagaimana bisa asap ini keluar dari tubuhmu?" Hannah mulai bingung. "Kak apakah kau sedang belajar sulap?" "Hei jawab aku! Jangan cuekin aku terus." Hannah menjadi kegirangan karena dia menemukan sesuatu yang menarik. Randika masih terdiam membeku, tidak bergerak tidak bersuara. ''Ya Tuhan, semoga dia tidak apa-apain aku.'' Pikir Randika. Randika kembali berdoa sama seperti dia berdoa saat adiknya ipar itu membawa dirinya dan mengebut dengan mobilnya. Dia merasa bahwa adik iparnya ini benar-benar muncul di saat yang tidak tepat. "Hei kenapa kok cuekin aku terus? Kau masih marah gara-gara aku ngelaporin kamu ke kakak?" Hannah mulai jengkel dirinya dicuekin terus. Tolong hamba ya Tuhan, biarkan dia pergi! Hati Randika mengepal, dia benar-benar berharap bahwa adiknya itu tidak menggoyang-goyangkan tubuhnya seperti biasanya yang dia lakukan. Meskipun dalam hati Randika terlihat panik, ekspresi mukanya masih datar. Hannah sudah memperhatikan kakak iparnya sejak beberapa hari yang lalu. Dia hampir mengetahui segala ekspresi yang dimiliki pria ini. Setelah mengamati beberapa saat, Hannah berdiri dan menyentil punggung Randika. Dalam sekejap, Randika merasa seluruh tubuhnya terikat erat dan tenaga dalamnya hampir buyar. Untungnya Randika masih sempat menyelamatkan dirinya dan melanjutkan prosesnya. Aku mohon menyerahlah dan keluar dari kamarku! Randika benar-benar ingin menangis, kenapa kok adik iparnya ini begitu usil. Hannah merasa kesetrum ketika menyentil Randika. Dia menarik tangannya dengan cepat. Namun, masih belum ada reaksi dari Randika dan itu membuatnya semakin jengkel. Hannah kemudian bergeser dan melihat Randika yang masih memejamkan matanya dan mencueki dirinya. Ini membuat dirinya marah. Bisa-bisanya kakak iparnya ini keras kepala seperti ini? Memangnya salah apa dirinya hingga dicuekin seperti ini? Dengan senyuman nakal, Hannah memutuskan sesuatu. "Hei lihatlah diriku ini!" Kata Hannah sambil menggoyang-goyangkan bahu Randika dengan cepat! Randika yang masih mengalirkan tenaga dalamnya itu langsung merasakan aliran tenaga dalamnya menjadi tidak terkendali dan berbalik menyerang dirinya. "Kau!" Seketika itu juga Randika membuka matanya sambil memuntahkan seteguk darah. "Ah!" Hannah ketakutan melihatnya. Kenapa dia muntah darah? Aku hanya ingin diperhatikan! Randika lalu terjatuh di kasurnya dan mulai kejang-kejang. Seluruh tubuhnya mulai melompat-lompat tanpa henti. "Kak! Kenapa kamu!" Hannah benar-benar ketakutan. Setelah memuntahkan darah sekarang kakak iparnya itu kejang-kejang tanpa henti. Ketika dia berbaring di kasurnya ini, dia sudah memuntahkan darah 4x dan seprainya menjadi merah. Dia lalu membuka matanya dan melihat Hannah yang sedang panik. Dia lalu berpikir dalam hatinya, Lihat pembalasanku nanti! "Kak jangan mati kak! Nanti aku dimarahi kak Inggrid kak, aku takut." Hannah benar-benar panik. Bagaimanapun juga, ini semua salahnya. Sambil memuntahkan darah, Randika berusaha mengatur kembali tenaga dalamnya itu. Namun, tenaga dalamnya yang bercampur dengan kekuatan misteriusnya itu bagaikan kuda liar, susah untuk dijinakkan. Memakai seluruh tenaganya, dia berkata pada Hannah. "Aku belum mati!" "Oh!" Namun setelah itu Randika memuntahkan darah lagi untuk ke-6 kalinya. Hannah yang panik tidak tahu harus berbuat apa. "Kak maafkan aku! Aku tidak bermaksud apa-apa!" Hannah mulai menangis histeris. Randika, sambil terbatuk-batuk, berkata padanya dengan suara pelan. "Panggilˇ­. Ibuˇ­ Ipahˇ­" "Ha? Apa barusan yang kau katakan?" Hannah tidak jelas mendengarnya karena suara Randika yang begitu pelan dan tidak jelas. Ketika mendengar kata-kata adik iparnya ini, Randika benar-benar jengkel. Dia sedang bertarung dan berusaha bertahan hidup tapi adiknya ini malah tidak bisa diandalkan. Dia lalu memutuskan untuk fokus mengendalikan tenaga dalamnya. Hannah dengan cepat berkata pada Randika. "Bertahanlah, aku akan memanggil kak Inggrid." Kemudian dengan secepat kilat Hannah keluar dari ruangan. Muka Randika benar-benar pucat. Dia tidak menyangka bahwa keusilan adik iparnya ini malah yang akan membunuhnya. Tak lama kemudian, Inggrid segera masuk sambil berwajah khawatir. Melihat kondisi Randika yang bersimbah darah, dia dengan cepat menghampirinya. "Hei Randika kau baik-baik saja?" "Ini salahku kak!" Hannah masih menangis. "Aku menggoyangkan tubuhnya sedikit lalu dia tiba-tiba kejang-kejang dan muntah darah." Inggrid benar-benar cemas, dia tidak punya waktu memarahi adiknya itu. Dia lalu berteriak. "Ibu Ipah! Cepat ke sini!" Hannah langsung berinisiatif turun dan memanggil Ibu Ipah. "Bertahanlah, aku akan membawamu ke rumah sakit secepat mungkin." Inggrid menggenggam erat tangan Randika. Sebelumnya dia sudah terluka sekarang dia benar-benar menjadi lemah seperti ini, kenapa kau terus membuatku khawatir? Inggrid cuma bisa berdoa dan berharap yang terbaik. Tak lama kemudian, Ibu Ipah datang dan terkejut ketika melihat banyaknya darah yang ada di tempat tidur. "Ada apa ini?" "Ibu! Cepat kita bawa Randika ke rumah sakit!" Dengan kerja sama ketiga orang ini, mereka berhasil memindahkan Randika ke dalam mobil. Randika berbaring di belakang di bawah bantal paha Hannah. Inggrid langsung memacu mobilnya itu dengan cepat, setiap detik sangat berharga untuk Randika. Ketika mobil itu pergi dari rumah, sepasang mata di kegelapan bersinar terang. "Apa kau bilang? Dia sekarang sedang sakit?" Ada keterkejutan di tatapan mata Bulan Kegelapan saat dirinya melihat Shadow. Shadow mengangguk. "Informasiku tidak mungkin salah, Ares sedang terluka parah dan sedang menuju rumah sakit." "Aneh sekaliˇ­. Kenapa dia tiba-tiba terluka?" Bulan Kegelapan mengerutkan dahinya. Bukannya tadi dia baik-baik saja? Bagaimana bisa dia tiba-tiba terluka parah? "Menurutku ini luka internal." Shadow mulai menyusun teka-teki ini. "Kekuatan Ares terlalu misterius, mungkin ini karena dia berlatih tenaga dalamnya terlalu ekstrim." "Kita sampingkan dulu bagaimana dia bisa terluka, ini adalah kesempatan terbaik kita untuk membunuhnya!" Tatapan mata Bulan Kegelapan terlihat bersemangat. Tidak butuh waktu lama buat Inggrid tiba di rumah sakit. Dokter segera membawanya ke UGD, dia juga terkejut ketika melihat Randika. Bukankah dia yang tadi menyelamatkan Pak Ardi? Dari sang penyelamat menjadi pasien, roda kehidupan memang berputar secepat itu. Randika hanya bisa tertawa pahit ketika dirinya melihat sosok Inggrid dan Hannah. "Bagaimana keadaanmu? Apakah kau sudah merasa baik?" Melihat Randika yang masih berwajah pucat membuat Inggrid tidak bisa berhenti cemas. "Maafkan aku kak, aku tidak menyangka kau selemah ituˇ­ Nanti kalau sudah sembuh kau boleh merabaku sebagai gantinya." Kata Hannah sambil menggenggam erat tangan Randika. Randika benar-benar tidak habis pikir, hadiahnya begitu menggiurkan! Keadaan Randika mulai membaik, berkat penanganan dokter dan infus yang dia dapat membuat tubuhnya menjadi stabil. Sekarang dia perlu menenangkan aliran tenaga dalamnya itu. Melihat bahwa Randika mengangguk, Inggrid meneteskan air mata. "Syukurlahˇ­" Tapi tidak ada yang tahu apakah Randika mengangguk untuk mengatakan dia baik-baik saja atau setuju terhadap penawaran Hannah. Chapter 61: Serangan Mendadak "Hannah, lain kali jangan usil lagi ya." Kata Randika dengan suara pelan. Meskipun wajahnya masih pucat, kondisinya lebih baik dari tadi malam. "Aku kan sudah minta maaf." Hannah masih merasa bersalah. Dia tidak menyangka hanya dengan menggoyangkan bahu kakak iparnya itu, dia akan menginap di rumah sakit. Randika lalu membalas sambil tersenyum pahit. "Kemarin aku benar-benar rapuh." "Memangnya kemarin kau sedang ngapain?" Hannah mulai penasaran kembali. "Aku melihat kalau kamu mengeluarkan asap putih dari punggungmu. Kau memiliki kelainan atau sedang melatih sulap?" "Mungkin itu terlalu rumit untuk menjelaskannya padamu." Randika tidak habis pikir, setelah kejadian semalam adiknya masih penasaran? "Nanti kalau kau sudah besar akan kujelaskan lebih lanjut." "Ah curang! Aku mengerti kok kalau kau jelaskan." Hannah tidak akan pernah menyerah. Randika menatapnya, "Kau benar-benar ingin tahu?" "Tentu saja!" Hannah mengangguk cepat seperti ayam mencari makanan. "Kalau gitu pijat dulu punggungku." Kata Randika dengan santai. "Aku hampir saja mati karenamu." Hannah sama sekali tidak menolak setelah ''diingatkan kembali'' oleh Randika. Dia duduk dan mulai memijat Randika walau ogah-ogahan. "Hei yang kuat dong! Ya bagian itu enak sekali! Turun sedikit, yak di situ!" Randika benar-benar menikmatinya. Melihat kakak iparnya yang terlihat puas itu, Hannah menagih janjinya. "Hei katanya kau mau beritahu aku." "Ha? Beritahu apa?" Randika pura-pura bodoh. "Asap yang keluar dari punggungmu itu." "Aku cuma sedang berlatih." Balas Randika dengan santai. "Ayo tanganmu jangan berhenti, pijatanmu sangat enak lho." "Latihan? Latihan apa memangnya?" Hannah malah semakin penasaran. "Apa hubungannya dengan asap yang keluar dari punggung itu?" "Kau tidak perlu tahu itu." Randika memberi batasan jelas pada rasa penasaran Hannah. "Omong-omong, bukankah kemarin kau mengatakan aku boleh merabamu sebagai ganti kejadian kemarin?" Hannah tersipu malu dan menyangkalnya secepat mungkin, "Ha? Mana mungkin aku berkata begitu! Mungkin kakak kebanyakan dikasih obat sampai berhalusinasi seperti itu." Randika tidak bisa berkata apa-apa. Adik iparnya ini sama liciknya dengan Deviana. "Sampai kapan aku perlu memijatmu? Tanganku sudah pegal." Kata Hannah. "Aduh, kakakmu ini sedang sakit kok kamu manja begini? 5 menit lagi deh." "Kak, tanganku benar-benar capek!" Hannah mulai malas meladeni Randika. "Hannah, jangan lupa kalau kau yang membuatku berada di sini, aku Cuma memintamu memijatku sebagai gantinya. Apakah kau ingin aku merabamu saja?" "Tapiˇ­.. tanganku sudah capek kak." Kata Hannah sambil tersenyum pahit. .........ˇ­.. Ketika mereka masih berdebat, Randika sudah tidak tega melihat adik iparnya itu dan menyuruhnya berhenti. Kali ini Hannah telah melakukan yang terbaik, walau mulutnya tidak bisa berhenti bicara, jadi dia cukup puas dengannya. Yah masalah kemarin sebagian juga salahku tidak mengunci pintu jadi aku tidak akan mengungkit-ungkitnya lagi, pikir Randika. Tapi mumpung rasa bersalah masih menguasai Hannah, Randika memikirkan bagaimana cara untuk mengeksploitasi adik iparnya itu. Di tengah keheningan itu, terdengar suara dari arah pintu. "Aku tidak menyangka Dewa Perang dunia bawah tanah ternyata lemah begini." Randika langsung memasang muka serius, siapa yang baru datang itu? Hannah juga menoleh ke arah pintu dan menemukan ada sosok pria tidak dikenal. "Kak, orang itu menakutkan." Hannah segera memeluk tangan Randika. Kalau pembunuh yang mengetuk pintumu sudah jelas itu menakutkan! Randika tidak bisa berkata apa-apa, wajahnya masih tanpa ekspresi. "Jadi Bulan Kegelapan mengirimmu ke sini? Aku tidak menyangka kabar tentang diriku yang sakit ini tersebar begitu cepat." "Hahaha tidak peduli siapa yang mengirimku, yang penting Ares sang Dewa Perang akan mati di tanganku!" Pembunuh ini berbicara dengan nada dingin. Di saat yang sama, dia mengeluarkan sebuah pisau dari balik bajunya. Seketika itu juga Hannah berteriak ketakutan, orang ini pembunuh? Randika masih tidak bergerak, tetapi tenaga dalamnya yang masih tersisa sudah bersirkulasi. Selama pembunuh ini mendekat, dia bisa mengalahkannya meskipun dalam kondisinya yang sekarang. "Sepertinya reputasiku sudah menyebar luas di dunia para pembunuh." Randika mendengus dingin. "Tentu saja." Dengan membunuh Randika, reputasi pembunuh ini pasti melesat jauh. Dia langsung menerjang Randika. "Kak awas!" Hannah hanya bisa menutup matanya, sedangkan Randika dia sudah siap melancarkan serangan balik. Di saat pisau itu hampir mengenai dirinya, dia sudah melayangkan pukulan tepat ke arah wajah pembunuh itu. Seluruh badannya terpental dan pisaunya ikut terjatuh. Seketika itu juga, tenaga dalam Randika habis tak tersisa. Sial aku masih butuh waktu untuk pulih, pikir Randika. Randika masih dalam proses mengumpulkan tenaga dalamnya kembali yang sebelumnya telah tercampur di kekuatan misteriusnya itu. Sekarang dengan kedatangan pembunuh ini, tenaga dalamnya yang awalnya sudah sedikit itu sudah benar-benar habis. "Memang kau tidak boleh diremehkan meskipun kondisimu seperti ini." Pembunuh itu meludahkan darah yang ada di mulutnya dan berdiri kembali. "Tetapi hari ini kau akan mati!" Pembunuh itu melesat kembali sambil mengeluarkan pisau keduanya yang mengarah ke tenggorokan Randika. Situasi dirinya benar-benar gawat. Randika sudah tidak memiliki cara lain untuk mengatasi serangan kedua ini. Tetapi, sebuah pukulan datang dari samping dan mementalkan pembunuh itu. Pembunuh itu tidak bisa menghindar dan hanya bisa tersungkur kesakitan. Randika terkejut dan Hannah menangis bahagia, Ibu Ipah sudah datang! "Aku harap kau bisa mengimbangiku!" Ibu Ipah terlihat sangat bersemangat. Melihat kehadiran Ibu Ipah membuat Randika bernapas lega, dia langsung memfokuskan dirinya mengumpulkan kembali tenaga dalamnya. Dia harus berjaga-jaga karena dia tidak tahu berapa pembunuh yang dikirim untuk membunuhnya. "Ibu Ipah!" Meskipun terkejut, Hannah lega karena pembantunya berhasil mengatasi keadaan. "Jangan khawatir, tidak akan ada yang bisa melukai kalian." Pembunuh itu lalu berdiri dan menyadari yang memukulnya barusan adalah seorang nenek-nenek. Dia sedikit malu karenanya. Seorang tua bangka sepertinya bisa memukulku? Kubunuh kau! "Sudah tua tapi masih berlagak muda, jangan salahkan aku kalau tulang rapuhmu itu patah." Pembunuh itu tidak peduli siapa lawannya itu, jika dia menghalanginya maka orang itu akan mati. "Rapuh?" Ibu Ipah menggelengkan kepalanya. "Kita lihat siapa yang akan tertawa pada akhirnya." "Kalau begitu matilah!" Pembunuh itu mengganti target dan menerjang Ibu Ipah. Namun, ketika pembunuh itu menerjang maju, Ibu Ipah mencengkram pergelangan tangannya dan membanting pembunuh itu. Di saat tubuhnya di tengah udara, Ibu Ipah tidak lupa melayangkan pukulan ke arah dadanya. Dalam sekejap pembunuh itu meringkuk kesakitan. "Ibu Ipah luar biasa!" Hannah menjadi bersemangat. "Hajar dia!" Hati si pembunuh mengepal, bagaimana bisa nenek-nenek mengalahkannya? Tanpa disadarinya, Ibu Ipah sudah menghentakan kakinya hendak menginjaknya hingga mati. Pembunuh itu nyaris tidak berhasil menghindarinya. Ketika dirinya berdiri susah payah sambil memegangi dadanya yang sakit, pembunuh itu menatap tajam ke arah Ibu Ipah. Kekuatan orang tua itu benar-benar di luar dugaan. Serangan pertamanya adalah serangan mendadak jadi wajar saja dia lengah, tetapi di serangannya yang kedua dia sama sekali tidak berkutik. Bagaimana bisa itu terjadi? Ibu ini meskipun terlihat tua tetapi aura membunuhnya begitu pekat, apakah dia sedang memakai penyamaran? "Seperti kata pepatah, Air beriak tanda tak dalam. [1]" Ejek Ibu Ipah. Ketika dirinya dihina, pembunuh itu menerjang kembali. Dia terlihat menerjang dengan kecepatan tinggi tetapi di detik terakhir dia mengambil langkah samping. Dia langsung melemparkan beberapa pisau. Ketika Ibu Ipah menghindari serangan pisau itu, pembunuh itu melancarkan serangan aslinya yaitu tendangan yang mengarah ke wajah Ibu Ipah. Tetapi Ibu Ipah dengan sigap menangkap kakinya itu dan membanting dirinya lagi. Dia terpental ke arah pintu. "Ibu Ipah benar-benar kuat!" Hannah ingin melompat kegirangan sedangkan Randika hanya tersenyum lega, untung dirinya tidak macam-macam dengan Ibu Ipah! Ketika pembunuh itu berusaha berdiri lagi, dia diinjak oleh Ibu Ipah. Dia serasa ditindih oleh mobil. Meskipun dia berusaha melepaskan diri, dia tidak bisa lepas. "Percuma memberontak, kau sudah tamat." Ibu Ipah benar-benar tidak memberi ampun. Dia lalu berlutut di dada pembunuh itu dan menghajarnya berkali-kali tepat di wajahnya. Yang terdengar hanyalah suara kesakitan dan gigi jatuh. Nenek tua ini ternyata kejam! Pukulan terakhir Ibu Ipah sukses membuat pembunuh ini pingsan sambil meneteskan air mata. Pipinya begitu bengkak dan bibirnya mengucurkan darah. "Ibu Ipah kau luar biasa! Aku tidak menyangka kau begitu hebat." Hannah segera memeluk Ibu Ipah. Pembunuh itu tidak berdaya di hadapan pembantunya yang perkasa ini. Namun, Randika mengerutkan dahinya dan ekspresi Ibu Ipah juga ikut berubah. Hannah yang menyadari situasi canggung itu bertanya, "Ada apa?" Seketika itu juga, pintu ruangannya terbuka dan dua pria masuk. Mereka langsung mengeluarkan pisau mereka dan memancarkan aura membunuh yang pekat ke arah Randika. Kloning Bulan Kegelapan! Musuhnya kali ini ingin memanfaatkan kondisinya yang tidak sehat ini untuk membunuhnya. Benar-benar ciri khas seorang Bulan Kegelapan. "Mereka berduaˇ­. Kuat!" Ibu Ipah menelan air liurnya. Jika satu lawan satu mungkin dia memiliki kesempatan tetapi di hadapan serangan gabungan, dia akan kewalahan. "Mati kau Ares!" Kedua kloning Bulan Kegelapan ini segera menerjang Randika! Tidak peduli kau sehat ataupun sakit, kau akan mati di tanganku! Randika mengerutkan dahinya. Tenaga dalamnya masih belum pulih sama sekali, pemilihan waktu Bulan Kegelapan sangat tepat. Di saat yang sama, Ibu Ipah juga menerjang maju. Di udara sekarang ada 3 orang sedang beradu tinju. Ibu Ipah tidak repot-repot bertahan dan melancarkan pukulan serta tendangannya tanpa mempedulikan dirinya. Ketiganya jatuh ke lantai dan langsung berdiri kembali. "Tidak akan ada yang mati di bawah pengawasanku." Kata Ibu Ipah sambil mengambil ancang-ancang menyerang. "Kami hanya ingin membunuh pria itu. Kalau kau halangi kami sekali lagi, kau akan ikut mati bersamanya!" Bulan Kegelapan tidak bercanda. "Oh? Kalau begitu mari kita berdansa!" "Mati!" Bulan Kegelapan segera menerjang ke arah Ibu Ipah, mereka melancarkan serangan gabungan untuk segera membunuh nenek peyot itu. Satu melompat di udara, satu bertarung dengan Ibu Ipah. Setelah dia mendarat, dia segera menendang punggung Ibu Ipah. Ibu Ipah terpental ke depan, di mana pukulan Bulan Kegelapan sudah menantinya. Dia menangkap tinju itu tapi dari belakangnya sudah ada serangan siku menantinya. Dia segera melepaskan tangannya dan melompat ke udara. Dia mendarat di meja dan menggunakannya sebagai pijakan untuk melesat maju. Dengan kecepatan tingginya itu, dia berhasil melayangkan tendangan di wajah Bulan Kegelapan dan memakainya sebagai pijakan untuk melesat ke Bulan Kegelapan yang satunya. Bulan Kegelapan itu segera mengambil langkah mundur sambil melihat kondisi temannya. Mereka berdua lalu menatap tajam ke Ibu Ipah. "Boleh juga kau nenek peyot, tapi hari ini kau akan bergabung dengannya di neraka." Kedua Bulan Kegelapan ini menerjang kembali. Ibu Ipah mau tidak mau menjadi defensif karena serangan gabungan kedua orang itu sangat bagus. Jika tadi dia lengah sedikit saja, mungkin dialah yang terkapar. Hannah hanya bisa menonton ini dari samping. Dia berdoa sepenuh hati bahwa Ibu Ipah berhasil mengalahkan kedua orang itu. Randika mulai cemas dalam hatinya. Sialan, berani-beraninya kalian bermain licik seperti ini? Selama beberapa waktu, ketiga orang ini bertukar pukulan. Pada awalnya, pertarungan ini seimbang tetapi lambat laun perbedaan stamina mulai terlihat. Ibu Ipah harus bertahan dari dua serangan kombinasi sambil mencari celah untuk menyerang balik. Pada saat ini, salah satu Bulan Kegelapan berhasil mengunci kedua tangan Ibu Ipah. Bulan Kegelapan dengan cepat melayangkan tendangan ke dada Ibu Ipah, yang membuat Ibu Ipah melayang dan membentur tembok. Duak! Ibu Ipah yang tangannya terkunci itu tidak bisa menghindar sama sekali. Namun, dalam sekejap dia berdiri kembali dan memasang kuda-kuda menyerang. Mulutnya mulai mengucurkan darah. "Cepatlah mati nenek peyot." Kata Bulan Kegelapan. "Masih ada Ares yang menunggu kami!" Kedua kloning itu segera menerjang kembali dan kali ini aura membunuhnya memancar kuat. Ini serangan pamungkas mereka! Ibu Ipah mengerti bahwa ini momen krusial dari pertarungannya. Tetapi, dia tidak bisa menghindar karena Hannah dan Randika berada tepat di belakangnya! Randika saat ini merupakan suami dari nona mudanya, jadi dia adalah salah satu keluarganya. Meskipun pria itu sering membuat marah majikannya, dia tahu bahwa nonanya benar-benar peduli dengannya. Lagipula, dia merasa bahwa Randika adalah pasangan yang cocok untuk nona mudanya itu. Demi masa depan nona mudanya itu, dia tidak akan menyerah dan rela memberikan nyawanya. Ibu Ipah tidak tinggal diam dan menerjang ke arah Bulan Kegelapan! Inilah momen penentuan! Randika menghela napas dalam-dalam. Sepertinya tenaga dalamnya bereaksi terhadap dirinya dan mulai mengalir deras kembali ke dirinya! Cepatlah! Randika butuh waktu sekitar 1 menit lagi untuk mengembalikan tenaga dalamnya, sekarang dia hanya bisa menonton Ibu Ipah dari samping dan berharap yang terbaik. Di tengah udara, Ibu Ipah terlihat sedikit kehilangan keseimbangan ketika dadanya berdenyut kesakitan. Bulan Kegelapan melihat hal ini dan memanfaatkannya. Kedua pukulan itu berhasil ditangkis oleh Ibu Ipah namun dia masih terpental oleh kekuatannya. "Cih, ternyata aku sudah tua." Ibu Ipah menghembuskan napas dingin, musuhnya mengerti bahwa dirinya sudah di ambang batas. Mereka benar-benar tidak memberi ampun pada dirinya, karena kedua orang itu sudah menerjang kembali! "Awas!" Teriak Hannah. Ibu Ipah dengan cepat berdiri tetapi dia segera diapit oleh Bulan Kegelapan. Kedua kloning ini memanfaatkan sudut mati ini untuk memberikan Ibu Ipah dua pilihan. Melompat dan mati di tengah udara atau menangkis satu serangannya dan mati oleh serangan satunya. Yang ada hanyalah kematian! Bisa dikatakan bahwa Ibu Ipah sudah tamat riwayatnya. Sebelum melancarkan serangannya, Bulan Kegelapan masih sempat menoleh ke arah Randika dan menatapnya dengan tatapan mengejek. Apanya yang Dewa Perang? Kau membiarkan orang lain mati hanya karena kau tidak rela dirimu mati, sekarang saksikan temanmu ini mati! Setelah nenek tua ini mati, giliran perempuan di sampingmu itu yang akan mati! Aku akan membunuh semua orang yang kau sayangi! Bulan Kegelapan benar-benar bahagia. Dia tahu bahwa nenek peyot di depannya ini sudah pasti mati. Hari ini, legenda Ares akan berakhir! Melihat tatapan mengejek Bulan Kegelapan membuat Randika meledak. Dia hanya seekor semut, bagaimana bisa dia dengan arogannya mengancam membunuhku? "Matilah!" Melihat dua serangan Bulan Kegelapan itu mengarah pada Ibu Ipah, sesosok bayangan segera melesat ke arah mereka bertiga. Ibu Ipah segera menangkis serangan dari kanannya dan sosok bayangan itu menangkis serangan dari kirinya. Bulan Kegelapan dengan cepat mengambil langkah mundur. Melihat bahwa Randika berdiri kembali, membuatnya harus menyusun kembali rencananya. "Hanya seorang Dewa yang bisa menentukan hidup dan mati seseorang, kau hanya seekor semut yang bisanya Cuma diinjak-injak." Tatapan mata Randika dipenuhi api amarah, dia tidak akan memberi ampun pada dua kloning itu. Dia menerjang Bulan Kegelapan dengan aura membunuhnya yang pekat. Salah satu Bulan Kegelapan dengan cepat melompat dan satunya berusaha menangkis serangannya. Kedua orang itu sangat kompak, satu bertahan dan satu menyerang dari belakang. Tetapi, di hadapan sang Ares semua itu percuma. Randika dengan cepat melayangkan dua pukulan, satu ke depannya dan satu ke atasnya. Membuat kedua Bulan Kegelapan itu terpental! Kedua Bulan Kegelapan itu terkejut, kekuatan pukulan Randika benar-benar tidak masuk akal. Keduanya membentur tembok dan meringkuk kesakitan. Randika perlahan menghampiri mereka. "Karena kau berani membunuhku, aku tidak akan segan-segan membunuhmu!" Setelah berkata demikian, dengan satu tangannya Randika mengangkat tempat tidurnya. Mata Hannah terbuka lebar, kakak iparnya begitu kuat! Kedua Bulan Kegelapan ini terkejut, bukankah orang ini sedang terluka parah? Keduanya merasa nyawa mereka terancam dan berusaha mencari celah untuk kabur. "Tidak peduli berapa kloning yang kau buat, aku akan membunuh semuanya!" Tatapan mata Randika menjadi dingin sambil dirinya melempar tempat tidurnya itu. Selagi kedua Bulan Kegelapan itu menahan tempat tidur itu, Randika melayangkan pukulannya ke arah kedua paha Bulan Kegelapan Krak! Suara tulang patah terdengar jelas di telinga Hannah dan Ibu Ipah. "Nak Randika memang kuat." Ibu Ipah bernapas lega melihat pria yang dianggap putranya itu sudah pulih. Hannah benar-benar terkejut, kakak iparnya ternyata lebih kuat dari Ibu Ipah! Dan entah kenapa dia terlihat gagah dan tampan! Bulan Kegelapan hampir tidak bisa berdiri dengan dua kaki. Satunya berusaha melayangkan pukulan tetapi tangannya malah tertangkap oleh Randika. Dalam sekejap, bahunya telah lepas dari sendinya. Kaki Randika dengan keras menendang Bulan Kegelapan yang satunya dan tulang rusuknya segera patah. Apabila Shadow melihat dirinya ini, dia pasti lebih ngeri lagi melihat Randika yang sekarang. Benar-benar kuat! "Semut tidak pantas berkoar." Randika melempar Bulan Kegelapan yang bahunya lepas itu. Randika lalu menghampiri Bulan Kegelapan yang tulang rusuknya patah itu. Kedua Bulan Kegelapan ini ingin melawan tetapi mereka sudah tidak bertenaga lagi. "Matilah!" Randika kembali menginjak dadanya dan tulangnya yang patah itu telah membunuhnya. Randika dengan cepat menghampiri Bulan Kegelapan yang bahunya lepas itu dan mematahkan lehernya. Karena tenaga dalamnya itu mengalir dengan deras, dia jadi terlalu sedikit bersemangat. Akhirnya kedua Bulan Kegelapan telah mati di tempat dan pembunuh yang masih pingsan itu dia ikat di kursi. Setelah semuanya selesai, Hannah menghampiri Randika dan memeluknya. "Kakak begitu kuat!" Ibu Ipah yang duduk di lantai sambil memegangi lukanya hanya bisa berkata pada dirinya sendiri bahwa dia sudah tua. [1] Sindiran terhadap orang yang banyak bicara tapi sedikit ilmunya. Chapter 62: Takdir Dari Seorang Pengkhianat adalah Kematian! "Kak, kau baik-baik saja?" Hannah yang masih memeluk Randika menoleh ke atas. Randika yang bisa melihat kedua gunung Hannah itu tersipu malu. Meskipun begitu, dirinya sedang berdiri di tengah mayat Bulan Kegelapan dan pembunuh yang terikat itu. "Aku baik-baik saja." Kata Randika sambil mengelus kepala Hannah. Dia lalu memindahkan mayat itu ke pinggir dulu. Ketika Ibu Ipah melihat dua musuhnya yang mati dengan mudah itu, dia sekarang paham betul kekuatan Randika yang sebenarnya. "Hahaha kau memang bukan pria sembarangan. Aku yakin nona akan menemukan kebahagiaannya kalau bersama dirimu." Pikirnya dalam hati. Tapi tiba-tiba, Randika yang berdiri tegak itu memuntahkan seteguk darah dan seluruh tubuhnya jatuh ke lantai. "Kak!" Hannah dengan cepat memangku kepala Randika di pahanya. "Kak, kau kenapa? Jangan buat aku takut lagi." "Nak kau baik-baik saja?" Ibu Ipah juga menghampiri Randika. Wajah Randika semakin pucat daripada sebelumnya. Tenaga dalamnya yang sebelumnya mengalir deras itu ternyata bukan karena dia berhasil menjinakkannya tetapi karena kekuatan tekadnya yang berhasil membuatnya berhasil. Sekarang, karena keadaan sudah kembali damai, kondisi tubuhnya kembali memburuk. Mungkin kondisinya yang sekarang hanya bisa disembuhkan oleh kakek ketiganya yang ahli dalam pengobatan tradisional. Kalau dia mengandalkan dirinya sendiri, mungkin akan butuh beberapa bulan agar bisa sembuh total. "Uhuk!" Randika mengeluarkan seteguk darah lagi. Kepalanya terasa pusing. Hannah dan Ibu Ipah melihat dirinya dengan wajah khawatir. "Akuˇ­ tidak apa-apa." Kata Randika sambil tersenyum. "Mukamu saja pucat seperti mayat, bagaimana mungkin kau baik-baik saja?" Ibu Ipah segera membantu Randika duduk. "Kalau kau mati bagaimana aku akan menjelaskannya ke nona muda?" "Ah? Kak jangan mati!" Hannah langsung memeluknya lagi. Randika masih kesusahan bernapas, sekarang badannya merupakan medan pertempuran. Kekuatan misteriusnya berusaha mengambil alih kesadarannya dan alam sadarnya meminta dirinya untuk pingsan agar bisa menjinakkannya dengan lebih baik. Tapi Randika tidak boleh pingsan, Bulan Kegelapan masih mengintai dirinya dari balik kegelapan. Bagaimana kalau tiba-tiba kloningnya itu menyerang kembali? Bagaimana nasib Hannah dan Ibu Ipah kalau itu benar-benar terjadi? Dia tidak boleh pingsan. Randika memaksakan dirinya untuk tetap sadar. Seluruh tubuhnya mengucurkan keringat dan darah kembali naik ke mulutnya. Tubuhnya benar-benar terluka. Dia menggertakan giginya tetapi darah masih merembes keluar dari celah giginya. "Kak Randika!" Tiba-tiba ada suara memanggilnya dari arah pintu. Safira! Safira melihat kondisi mengerikan Randika ini dan mulai meneteskan air matanya. Dia segera memegang erat tangan kakaknya itu dan mengatakan, "Tenanglah kak, tidurlah dengan tenang. Aku membawa Arwah Garuda bersamaku." Arwah Garuda! Beban hati Randika sudah terpecahkan dan dirinya langsung menutup matanya dan pingsan. Melihat bahwa Randika sudah tidak sadarkan diri, Safira menghembuskan napas lega. Dia lalu berdiri dan berkata pada Hannah dan Ibu Ipah. "Luka kak Randika tidak bisa disembuhkan di tempat ini, aku akan membawanya pergi." ......ˇ­.. Randika merasa dirinya dikejar-kejar oleh belasan Bulan Kegelapan. Tidak peduli seberapa banyak yang dia bunuh, mereka terus mengejarnya tanpa henti. Tiba-tiba pergelangan tangannya tertangkap dan dirinya ditahan oleh empat orang. Lalu dia dipukul bergantian oleh belasan Bulan Kegelapan. "Ah!" Randika langsung terbangun dari mimpi buruknya itu. Napasnya terengah-engah sambil berusaha mengingat apa yang telah terjadi. Dia memperhatikan sekelilingnya dan menyadari bahwa dia ada di sebuah ruangan hangat yang tidak dia kenal tapi hal ini tidak membuatnya panik karena ingatan terakhirnya adalah Safira yang menjemput dirinya. Tapiˇ­ mimpinya benar-benar buruk sekali. Dia tidak bisa mengerti mengapa Bulan Kegelapan ini begitu menghantui dirinya? Apakah dia takut pada akhirnya terbunuh olehnya atau mungkin dia tidak bisa melindungi orang yang disayangnya dari musuh-musuhnya? "Hmmm? Kakak sudah bangun?" Randika menoleh dan melihat bahwa Safira berada di sampingnya sambil membaca buku. Lalu Safira pergi dari ruangan dan membawa kembali semangkuk bubur. "Makanlah ini dulu kak, perutmu harus terisi dan kita harus tetap membuat tubuhmu hangat." Safira duduk kembali di samping Randika dan menyuapkannya. Randika tersenyum dan melahapnya. "Hmmm enak sekali! Aku tidak menyangka kalau kamu pintar masak seperti ini." "Tentu saja!" Safira tersenyum lebar. Melihat Randika yang lahap memakan makanannya, membuat hatinya gembira. "Ini bubur yang diajarkan kakek ketiga." "Bubur ini enak karena mengandung cintamu kepadaku, aku bisa merasakan kehangatan di dalamnya." Randika memegang erat tangan adiknya itu. "Terima kasihˇ­." Safira langsung tersipu malu sambil terus menyuapi Randika. Dalam hatinya dia sangat senang bisa berguna untuk kakaknya. Randika menatap Safira dan mengatakan, "Saf, aku ingin kau menyuapiku setiap hari." "Baiklah kalau itu maunya kakak, Safira senang kok bisa berduaan dengan kakak." Senyum Safira dipenuhi kehangatan. Namun, suasana romantis ini tidak berlangsung lama karena mangkok bubur itu akhirnya telah habis. Safira mengelap mulut Randika yang belepotan sambil mengatakan, "Kak, kau barusan mimpi buruk kah? Kau terlihat tidak nyaman saat tidur tadi." "Begitulah." Randika tidak perlu menutup-nutupinya dari Safira. "Bulan Kegelapan dan Shadow masih ada di luar sana dan mereka selalu mengincarku setiap saat. Jika mereka belum kubereskan maka aku belum bisa bernapas lega." Masalahnya Bulan Kegelapan dan Shadow benar-benar ahli dalam menutupi jejak mereka. Hal ini membuat Randika tidak memiliki petunjuk di mana mereka berada. Dia merasa was-was dengan perasaan tidak berdaya ini. Terlebih lagi, ketika Bulan Kegelapan dan Shadow melihat bahwa dirinya sedang terluka langsung memanfaatkannya dan menyerang dirinya. Oleh karena itu, mereka berdua harus mati! "Kakak tidak perlu khawatir, Arwah Garuda juga ikut menyelidiki keberadaan mereka." Kata Safira. "Kau meminta Arwah Garuda untuk membantuku?" Randika terkejut. "Benar." Safira mengangguk. "Kak Randika sudah menolong kami sebelumnya jadi anggap saja ini hadiahnya. Lagipula, kakak kan orang warga negara sini jadi sudah menjadi tanggung jawab kami untuk melindungimu dari serangan." Randika menggaruk kepalanya, dia tidak menyangka bahwa adiknya ini begitu dermawan. Ini benar-benar berita bagus. "Bagaimana cara kalian melacaknya?" "Sayangnya aku tidak bisa menjelaskannya secara detail." Kata Safira dengan nada menyesal. "Tapi yang perlu kakak tahu, kita telah menemukan markas mereka berdua. Tetapi sayang, mereka berdua sudah kabur dan meninggalkan negara ini. Sepertinya keberadaan kami sudah diketahuinya sejak lama." Kabur? Randika sedikit bingung dengan perasaannya. Di satu sisi dia merasa lega karena dia bisa fokus memulihkan diri tetapi di sisi yang lain dia masih tidak terima bisa disudutkan hingga sedemikian rupa oleh mereka berdua. Tetapi, dia memutuskan untuk menyimpan dendamnya itu dan menikmati gencatan senjata ini. Sekarang dia tidak perlu khawatir akan serangan mendadak mereka. Terlebih, meskipun Bulan Kegelapan dan Shadow sembunyi di ujung dunia pun, mereka tidak akan bisa lepas dari takdir mereka. Takdir dari seorang pengkhianat adalah kematian! Hal ini menyangkut harga diri Randika sebagai salah satu Dewa dari 12 Dewa Olimpus dan yang lebih penting lagi, mereka telah mengkhianati kepercayaan yang diberikannya itu. "Jangan khawatir kak, mereka tidak akan berani menyentuhkan kakinya lagi di negara ini." Safira menegaskan. "Arwah Garuda sudah mengirimkan beberapa orang untuk mengejar mereka dan menempatkan beberapa orang di titik-titik tertentu jadi kalau mereka masuk kembali ke negara ini maka kau pasti akan pertama yang tahu." "Wow terima kasih!" Randika mencium kening adiknya itu. Dia benar-benar bangga adiknya menjadi bisa diandalkan seperti ini. "Ah kak Randika ingat kau masih menikah dengan orang lain." Muka Safira segera memerah. "Benar." Randika lalu menarik Safira ke kasurnya dan menahan dirinya. Dia lalu membelai muka cantik Safira dan berbisik di telinganya. "Hari ini kau adalah istriku, karena kita suami istri jadi tidak masalah kalau kita sedikit intim." "Kak!" Safira tersipu malu. "Kakek, kakek belum merestui hubungan kita." "Lupakan para penatua itu, mereka sudah pelupa." Kata Randika sambil tersenyum. "Saf, hari ini kau adalah istriku, aku tidak mau mendengar kata tidak!" "Ah kompornya lupa aku matiin, tadi aku merebus air buat teh hangat." Safira segera mencari alasan dan berusaha mendorong Randika. Melihat muka panik sekaligus malu Safira membuat Randika semakin menyayanginya. Adiknya ini benar-benar seperti pengantin baru yang malu-malu. Sifatnya itu makin membuat Randika menyukainya. Randika lalu melepasnya dan membiarkan Safira pergi ke dapur. "Saf, bagaimana keadaan tubuhku?" Safira lalu berputar dan berkata dengan nada serius. "Kak, aku Cuma bisa menahannya sementara waktu. Kemarin, tenaga dalammu benar-benar kacau dan seluruh pembuluh darahmu membengkak. Aku rasa butuh 1 bulan untukmu sembuh." "Bisakah tubuhku kembali ke keadaan semula?" "Sayangnya tidak kalau aku yang merawatmu." Safira menggelengkan kepalanya. "Kemampuanku belum memadai dan aku tidak bisa menjinakkan tenaga dalammu yang luar biasa kuat itu." "Tidak apa-apa, kakek ketiga pasti bisa mengatasinya." Randika memang harus kembali ke kampung halamannya. Tapi untuk sekarang, dia ingin bermanja-manja dengan istrinya hari ini. "Katanya kau ingin membuat teh hangat untukku?" "Ah iya sampai lupa aku. Tunggulah di sini." Setelah Safira kembali pun Randika masih menggoda adik kecilnya itu. Setelah beberapa saat, Safira pamit sebentar untuk memasak. Randika sekarang duduk sendirian sambil memegangi gelas teh hangatnya. Dia lalu melamun dan memikirkan kelanjutan kehidupannya ini. Untuk sekarang, kesembuhan badannya benar-benar krusial. Tubuhnya ini benar-benar berantakan, dia sama sekali tidak bisa mengeluarkan kekuatannya 100%. Teknik akupuntur milik kakeknya itu hanya memberikan dirinya sekitar 80% tenaga dalamnya kembali. Yang lebih parahnya lagi, dia tidak bisa dengan cepat mengisi kembali tenaga dalamnya itu. Oleh karena itu, dia hampir saja kalah dengan 20 kloning Bulan Kegelapan. Hanya dengan menguasai tubuhnya 100% dia bisa bernapas lega dan tidak takut apa pun. Dia harus berjaga-jaga apabila salah satu Dewa dari 12 Dewa Olimpus menyerangnya. Meskipun kecil kemungkinannya, kemungkinan itu masih ada. Randika memutuskan, saatnya dia pulang kampung dan memulihkan diri. Satu-satunya harapan baginya adalah para kakeknya. "Hei jangan melamun begitu!" Pada saat ini, Safira masuk sambil membawa sup. "Coba makananku ini." "Tidak mau kalau aku tidak kamu suap." "Ah kakak kok jadi manja begini sih?" Meskipun begitu, Safira tetap mendulangnya. "Wah enak sekali, kau benar-benar cocok menjadi istri." Randika puas dengan makanan adiknya. "Syukurlah kalau kamu suka." Safira tersenyum dan mengatakan. "Setelah ini selesai, aku akan merawat tubuhmu." "Hmm merawat?" Randika menatapnya. "Iya." Safira mengangguk. "Kakak masih memiliki luka di tubuhmu, aku harus memeriksanya." "Berarti aku akan tinggal di sini selama sebulan?" Randika tersenyum pahit. "Bukan itu." Safira tertawa melihat kakaknya yang panik. "Cuma luka luarmu saja kok. Tetapi tenaga dalammu memang masalah utamanya." "Tidak masalah, aku sudah memutuskan cara untuk mengatasinya." Randika kemudian mengambil supnya itu dari Safira dan melahapnya langsung. "Aku akan kembali ke kakek setelah keluar dari sini. Seharusnya kakek ke-3 punya solusi untuknya." "Kakek ke-3 memang memiliki kemampuan untuk itu. Jika kakek yang merawatmu, kemungkinanmu untuk sembuh sangat besar." Setelah itu, Randika langsung menghabiskan supnya dan menatap Safira. "Masih adakah supnya? Aku masih lapar." Karena belum makan sama sekali sejak kemarin, perutnya terasa kosong dan sup saja tidak cukup memenuhinya. "Kak, tadi itu sup obat bukan sarapanmu." Safira tertawa ketika mendengarnya. "Kita akan mencari sarapan ketika aku selesai merawatmu." "Untuk sekarang berbaringlah." Safira mengeluarkan jarum akupunturnya. Randika berbari di tempat tidur dan Safira mengangkat bajunya itu. Saat jarumnya itu menusuk punggungnya, kehangatan segera menyebar ke seluruh tubuhnya. Nyaman, enak dan hangat bagaikan sinar matahari pagi. Di saat yang sama, Safira juga memijat punggung Randika. "Ahhh enak sekali, coba turun sedikit. Nah itu! Nikmatnyaˇ­" Randika memejamkan matanya, menikmati sensasi nikmat ini. Berkat perawatan adiknya ini, untuk pertama kalinya dia bisa rileks setelah kejadian-kejadian yang menimpanya. "Baiklah kak, untuk hari ini sudah cukup." Safira segera mencabuti jarum-jarumnya. "Lho sudah selesai?" Tanpa disadarinya, satu jam telah berlalu. Safira tertawa kecil, "Kak, bukannya tadi kau lapar? Ayo kita sarapan sekarang." "Makan? Yuk!" Randika langsung meloncat dan memakai bajunya. Perutnya benar-benar sudah tidak tahan lagi. Sekarang waktu sudah menunjukkan jam 12 siang, Randika baru terbangun dari tidurnya itu jam 10 pagi. Meskipun ini jam makan siang, untuk Randika ini masih waktunya sarapan. Setelah mencari-cari tempat makan, mereka akhirnya tiba di restoran iga penyet. Randika segera memesan makanannya. "Ini, ini, itu dan ini." "Total 4 hidangan ya?" Pelayannya memastikan kembali pesanannya. Randika terlihat bingung, "Ha? Kau salah dengar, maksudku semua yang ada di kolom ini selain 4 makanan tadi. Aku kurang begitu suka dengan tumisan sayur." "Hah?" Pelayan itu terkejut. Ketika dia melihat menunya, ada lebih dari 10 makanan utama di kolom itu. Memangnya bisa 2 orang menghabiskan itu semua? Safira tertawa lepas melihatnya, lalu dia menatap Randika dan berkedip-kedip. Randika menghela napas dan mengerti maksud adiknya. "Maaf yang tadi lupakan saja, aku hanya memesan 5 makanan ini saja." "Oya, nasinya 4 ya!" "Kak, kenapa kau begitu rakus?" Safira menjadi sedikit malu. "Aku lapar sekali." Randika menatap Safira dan mengerti apa yang dikhawatirkan adiknya itu. "Jangan khawatir, aku masih bisa memakanmu nanti kok!" Muka Safira langsung memerah, sejak kapan kakaknya ini menjadi begitu genit. Melihat wajah merah adiknya, Randika tertawa. "Hahaha aku belum makan sejak kemarin siang jadi maafkan kakakmu ini." Tentu saja karena pemakaian tenaga dalamnya yang berlebihan itu membuat Randika harus mengisi ulang tenaganya. Tak lama kemudian makanan mereka datang. Meja mereka penuh dengan piring dan nasi yang dimakan Randika benar-benar seperti gunung. Namun, Randika melahap makanannya seperti vacuum cleaner, habis tidak tersisa. Pemandangan ini menarik perhatian pelanggan yang lain. "Kak pelan-pelan makannya, kita dilihati orang tahu!" Safira berbisik. "Tidak usah mempedulikan mereka, kita kan bayar." Randika lalu memegang tangan adiknya. "Ahˇ­ Tanganmu begitu lembut." Randika tersenyum. "Kakak benar-benar ingin memakanmu." "Kak ini tempat umum!" Safira benar-benar malu mendengarnya. "Tidak apa-apa. Pada akhirnya kau akan menjadi wanitaku dan aku akan mengumumkannya ke dunia. Buat apa malu menunjukan cinta kita? Biarkan cinta kita membakar mereka yang iri." Randika lalu menatap Safira dalam-dalam dan menciumnya! Oh! Safira menutup matanya dan membiarkan kakaknya itu menuntun dirinya. Tetapi kesenangannya harus berhenti, "Maafˇ­ ini pesanan Anda." Safira langsung mendorong Randika yang masih mengunci lidahnya itu. Namun, Randika tidak peduli dan masih ingin bermesraan. Merasa tidak dihiraukan, pelayan itu terbatuk sebagai usaha terakhirnya. Randika menoleh dan menyadari bahwa pelayan itu datang sambil membawa makanannya. Mau tidak mau Randika melepas ciumannya. Saat pelayan itu pergi Randika memasang ekspresi kecewa. Kenapa orang itu tidak peka? Dia masih asyik bermesraan dan dia malah mengganggu dirinya. Safira, yang sudah terbebas, tidak memberikan kesempatan Randika untuk menciumnya kembali. Dia lalu berkata dengan nada sedikit marah, "Cepat habiskan kak." Setelah mereka selesai makan, mereka segera keluar dan berpamitan. "Kalau kakak membutuhkanku, telepon saja dan aku akan segera datang." "Baiklah." Randika mengangguk dan kemudian memeluknya. "Maafkan kakak yang sudah merepotimu, kakak akan segera bertambah kuat dan giliran kakak yang akan melindungimu!" Ketika mendengarnya, Safira semakin erat memeluk kakak sekaligus calon suaminya itu. Kemudian mereka berdua saling menatap dan berciuman. Kali ini mereka ada di gang di sisi gedung restoran tadi, tidak akan ada orang yang mengganggu mereka. Ciuman itu sangat panjang hingga Safira kehabisan napas, Randika benar-benar tidak ingin berpisah dengan bibir lembut itu. Setelah selesai, Safira hanya bisa menunduk malu tidak berani menatap mata Randika. Randika hanya tertawa dan memanggil taksi. Setelah ini, Randika harus pulang dulu ke rumah Inggrid dan berkemas untuk pulang ke gunung lagi. Tidak butuh waktu lama untuk Randika tiba di rumahnya. Ketika dia masuk ke dalam rumah, pemandangan di depannya membuat dia ngiler tidak karuan. Buset sexy sekali! Randika lalu menutup pintu dengan pelan sambil menelan air liurnya itu. Chapter 63: Terpujilah Engkau ya Tuhan! Randika masih berdiri melongo melihat Inggrid, istrinya itu benar-benar membuat darahnya naik ke otak! Dada itu, pantat itu, pinggang yang ramping itu! Sempurna! Terpujilah engkau ya Tuhan! Randika menatap linglung ke arah pantat bundar Inggrid yang menggoda itu. Inggrid masih tidak sadar kalau Randika sudah kembali. Dia sedang mengikuti video gerakan senam aerobik di ruang tamu. Dia sekarang sedang memakai sport bra dengan celana yang super pendek. Dadanya yang besar itu naik turun seakan-akan bisa membelah bumi. Belum lagi yang membuatnya terpukau adalah perutnya yang ramping serta pahanya yang putih mulus itu! Hmmm lezat! Rupanya istrinya menjaga tubuhnya tetap sexy untuk dirinya, bagaimana mungkin dia tidak terharu? Randika menelan air liurnya, matanya benar-benar tidak bisa lepas dari tubuh sexy istrinya itu. Dia lalu menghampirinya. Suara gerakan senam itu menutupi suara langkah kaki Randika jadi Inggrid benar-benar tidak bisa mendengar Randika yang mengendap-ngendap. Melihat pantat yang terus bergoyang ke sana kemari, Randika memutuskan untuk meremasnya sekali. Empuk! Tangannya langsung dipenuhi oleh keempukan sebuah bakpau dan dia pun tersenyum lebar. Sedangkan Inggrid, yang pantatnya diremas, terkejut dan berteriak. Dia akhirnya menyadari bahwa orang yang menyerangnya adalah Randika. "Ah! Kau sudah kembali?" Muka marah Inggrid segera berubah menjadi terkejut. Hilangnya Randika kemarin membuatnya khawatir. Ketika Inggrid menghadap ke arahnya, Randika menyadari bahwa puting Inggrid mengeras dan memelototinya. Dia sangat ingin menyentilnya. "Hei, kau tidak apa-apa?" Melihat Randika yang bengong membuat Inggrid khawatir, jangan-jangan dia masih sakit. Lalu dia menyadari bahwa tatapan mata Randika tepat menuju dadanya, seketika itu juga dia langsung menutupi dadanya. Pria ini benar-benar mesum! Inggrid merasa malu karena berpakaian minim seperti ini, dia benar-benar tidak menyangka Randika akan pulang hari ini. "Uhuk!" Randika segera memalingkan wajahnya. "Lukaku sudah dikatakan baik-baik saja, hei kau sedang aerobik kah?" Inggrid langsung menatap curiga pada Randika, jangan-jangan ini siasat mesumnya lagi. Randika menyadari tatapan waspada istrinya itu dan mengatakan, "Jangan ikuti gerakannya itu, mubazir! Hasilnya tidak akan sepadan." Kemudian Randika membuka bajunya dan berkata dengan nada semangat, "Ayo aku akan mengajarimu teknik yang benar agar kau bisa menjaga bentuk tubuhmu yang indah itu. Ikuti gerakanku, satu, dua, tiga, empat!" Melihat Randika yang mulai menari itu membuat Inggrid tertawa lepas, gerakan Randika benar-benar berbeda dan unik. "Hei jangan tertawa saja, ikuti gerakanku!" Randika mulai bergerak sesuai irama. Melihat Randika yang begitu antusias membuat Inggrid memutuskan untuk menurutinya. Bisa dikatakan Inggrid memang orang yang berbakat, dalam sekejap dia bisa mengikuti pergerakan Randika dengan lancar. Tetapi, gerakan Randika lama-lama mulai berubah. Melihat Randika yang membungkuk dan menggoyangkan pantatnya secara liar, Inggrid merasa ada yang aneh dengannya. ''Gerakannya malu-maluin'' Pikirnya. "Hei, kenapa gerakanmu kaku begitu?" Pemilihan waktu Randika bisa dibilang tepat sekali ketika Inggrid ragu-ragu mengikuti gerakannya. Randika lalu mematikan videonya. "Sebentar, aku peragakan lagi ya." Randika tidak boleh membiarkan Inggrid berpikir kalau tidak tujuannya tidak akan tercapai. "Coba sekarang kamu. Pelan-pelan dulu saja." Inggrid lalu membungkuk badannya hingga membentuk sudut 90 derajat. Tapi karena badannya yang kurang lentur, dia kesusahan. Randika lalu menghampirinya dan berkata dengan nada santai. "Sini kubantu." Kemudian Randika berjalan menuju belakang Inggrid dan tangannya menyentuh pinggangnya. Ahhhh nikmatnya! Randika menahan air liurnya tidak menetes dan berusaha merasakan sensasi surgawi ini sediam mungkin. "AH? Randika kauˇ­." Inggrid terkejut Randika tiba-tiba menyentuhnya. Randika dengan cepat membalas. "Istriku, aku hanya membantumu untuk mendapatkan tubuh idealmu. Setelah kau paham gerakannya kita akan memulainya dari awal lagi. Nih, posisi yang benar. Sudah paham?" "Oke kita coba dari awal ya, setelah membentuk sudut 90 derajat itu tekuklah pahamu dan membentuk kuda-kuda melayang." "Ah kau kurang membungkuk barusan, sedikit lagi." Randika berada di belakang Inggrid, dia memperhatikan pantat bundar itu dengan seksama. "Turun lagi!" "Aku tidak bisa!" Inggrid benar-benar sudah di batasnya, karena saking fokusnya dia tidak menyadari bahwa Randika hanya ingin melihat pantatnya yang menonjok itu dari belakang. "Baiklah kalau begitu, tahan posisimu itu dan untuk gerakan keduanya goyangkan pinggangmu itu." "Ah?" Inggrid terkejut. "Sayang, ini untuk melatih pinggangmu dan otot pahamu. Nanti kau akan merasakan manfaatnya jika sudah selesai." Kata Randika dengan nada meyakinkan. "Baiklah." Meskipun posisinya ini memalukan, demi tubuh ideal dia menahan rasa malu itu dan melakukannya sesuai arahan Randika. Randika menyaksikan bakpau itu bergetar hebat! "Ya betul! Hebat sekali!" Pujian Randika ini tidak jelas diarahkan pada usaha Inggrid atau pantat Inggrid yang bergoyang ria. Tapi yang jelas, Randika memberi nilai 100 untuk pantat empuk itu. Setelah beberapa saat, Inggrid mulai lelah dan berhenti. Randika segera memalingkan wajahnya. "Baiklah untuk berikutnya kita latih otot punggungmu, kita akan mencoba posisi kayang." Randika memanfaatkan kepercayaan Inggrid ini hingga ke batasnya. Sekarang dia ingin menikmati pemandangan gunung kembar itu berdiri tegak. Dengan posisi kayang ini, dia juga bisa menyentuh pinggang Inggrid lagi. Sayangnya, Inggrid bisa melakukan kayang dengan sendirinya jadi Randika harus puas dengan pemandangan dadanya saja. "Tahanlah posisi ini untuk beberapa detik." Randika lalu mundur dan memperhatikan gunung Everest itu menjulang tinggi. Gunung kembar itu memiliki puncak yang runcing, dia benar-benar ingin menjelajahinya. Inggrid sama sekali tidak curiga dan berusaha sekuat tenaga menahan posisi kayang tersebut. Karena wajah Inggrid berada di bawah, dia bisa menatap Randika. Dia melihat bahwa bagian bawah Randika itu mengeras. Tiba-tiba dia menyadari siasat di balik semua ini. "Bagaimana? Indahkah pemandangannya?" Pancing Inggrid. "Sangat indah, ahˇ­. Maksudku kau hebat bisa bertahan selama ini! Aku kagum!" Randika langsung menutupi wajahnya yang terlihat mimisan itu. "Dasar pria mesum!" Inggrid langsung pergi dari situ. Ternyata Randika selama ini membuat gerakan aneh untuk mengeksploitasi dirinya. "Sayangku jangan pergi!" Tiba-tiba, Randika terbatuk keras dan memuntahkan setetes darah. Inggrid langsung menoleh dan melihat Randika tersungkur kesakitan. "Kenapa!?" Inggrid langsung menjadi khawatir lagi dan berlari ke arah Randika. Randika lalu berdiri sambil ditopang oleh Inggrid, "Uhuk, uhuk, aku tidak apa-apa kok sayang. Mungkin karena aku banyak bergerak, badanku jadi sedikit lelah." "Aku akan membawamu ke rumah sakit." Inggrid benar-benar terlihat cemas. Randika yang hampir pingsan itu berkata dengan suara pelan, "Tidak apa-apa, aku hanya perlu istirahat." Setelah berkata seperti itu, Randika terjatuh tepat di tengah dada Inggrid. "Randika!" Inggrid panik. Besar, empuk dan nikmat. Randika menikmati sensasi dada empuk Inggrid dan berusaha mati-matian tetap tersadar. "Sayangku tidak perlu khawatir, aku hanya perlu istirahat sebentar." Kata Randika sebelum menutup matanya lagi. Melihat kondisi Randika seperti ini membuat Inggrid tidak tahu harus berbuat apa. Randika hanya berpura-pura sakit saja biar bisa membenamkan wajahnya di dada istrinya itu. Dia benar-benar tidak ingin pisah dengan bantal empuk ini. "Hei Randikaˇ­ Ayo bangun!" Sudah 2 menit berlalu dan Randika masih belum terbangun, apakah kondisinya memburuk lagi? "Akuˇ­ Tidakˇ­. Apa-apa." Kata Randika dengan pelan. Bersandiwara seperti ini sangatlah mudah baginya. Inggrid merasa ada yang aneh. Meskipun suaranya yang pelan dan tubuhnya yang panas, kenapa wajah Randika masih baik-baik saja? Mengingat dua hari yang lalu dia memiliki wajah yang sangat pucat dan tidak berhenti batuk. Muka Randika terlihat sehat dan berwarna, apakah dia pura-pura sakit? Inggrid lalu mengintip tanpa menggerakkan kepalanya ke arah wajah Randika. Dan benar saja, satu mata Randika terbuka dan sedang memperhatikan dadanya! "Ah!" Inggrid langsung menjatuhkan tubuh Randika ke lantai. Karena masih begitu menikmatinya, Randika tidak siap dan terjatuh keras di lantai. "Aw!" Kali ini dia benar-benar kesakitan. "Dasar pria tidak tahu diri, aku kira kau sekarat seperti kemarin! Sekarang kau malah memanfaatkan kebaikanku, dasar pria mesum!" Inggrid langsung meninggalkan Randika sambil marah-marah. Randika tidak membalas apa-apa, dia hanya tetap mengamati pantat indah yang naik turun itu ketika menaiki tangga. Rasa sakit yang dia alami hari ini sepadan dengan memori indah yang dia dapatkan. Benar-benar luar biasa! Chapter 64: Namaku Indra Randika menatap cahaya mentari yang begitu hangat. Ya hari ini benar-benar terlihat sempurna! Ketika dia turun dari bisnya, Randika memulai perjalanan kakinya dari Kota Kebon Raya menuju Desa Jagad. Keempat kakeknya merupakan pendiri dari desa tersebut jadi bisa dibilang, desa itu adalah milik kakeknya. Tidak butuh waktu yang lama untuk Randika melihat pemandangan pedesaan. Banyak petani sedang bercocok tanam, anak-anak dari desa sebelah yang sedang bermain dan yang paling mencolok di matanya adalah seorang pesumo yang sedang duduk sambil makan nasi bungkus! Randika belum pernah melihat orang segemuk itu. Bukan hanya itu, dia juga tinggi mungkin sekitar 190 cm. Tinggi dan gendut, bobotnya mungkin mencapai 175 kg! Pria gemuk itu memakai jubah longgar seperti yang biasa dipakai kakeknya. Maklum, mungkin tidak ada baju yang bisa menutupi badan itu! Dia lalu melihat leher orang itu yang setebal kepalan tangannya. Cuma ada satu ciri khas yang dimiliki orang segemuk dia, mau dilihat dari sisi manapun, hanya daging yang terlihat! Bisa dikatakan bahwa orang ini adalah daging berjalan. Randika lalu berpikir kalau dia ditindih orang ini mungkin dia akan mati dalam sekejap. Lalu, dia melihat bahwa pria gemuk itu sedang duduk bersama seorang petani tua dan ada tumpukan kayu di sampingnya. Rasanya nasi bungkus itu merupakan hadiah karena sudah membantu kakek tua itu. Kemudian setelah dia selesai makan, pria gemuk itu berdiri dan berjalan menuju ladang. Dari caranya bernapas dan berjalan sudah menunjukkan bahwa dia bukan orang gemuk sembarangan. Langkah kakinya mantap dan terlihat ringan, napasnya teratur dan tidak tergesa-gesa. Sepertinya orang itu telah berlatih bela diri. Karena penasaran, dia menghampiri orang tersebut. "Selamat siang pak." Randika menyapa petani tua yang masih duduk. Petani itu membalas sapaannya. "Siang juga nak." Orang gemuk itu juga menyadari Randika dan berjalan kembali ke arahnya. Ketika Randika melihat wajahnya, dia langsung teringat Krilin dari Dragon Ball. Bundar dan sipit, bedanya mungkin cuma ukuran kepalanya saja. "Selamat siang, namaku Indra." Pria gemuk itu menyapa Randika. Ketika berdekatan seperti ini, Randika baru benar-benar merasakan betapa tingginya orang ini. "Hahaha Indra jangan buat kaget orang luar. Dia ini pemuda kebanggaan kami, tubuhnya besar dan hatinya juga besar. Dia selalu ada untuk menolong kami para petani tua ini." Petani tua itu terlihat senang. Indra hanya tersenyum diam mendengarnya. "Maafkan kalau aku lancang, berat badanmu berapa? Kenapa bisa kau begitu gemuk?" Randika tidak bisa menahan rasa penasarannya tersebut. Kalau dilihat dari dekat, orang ini benar-benar sehat. Randika tidak bisa dikelabui, kemampuan orang ini termasuk hebat. "Aku tidak tahu, aku lahir-lahir sudah gemuk." Indra menjawabnya sambil tersenyum. "Dari kecil dia sudah besar dan gemuk seperti ini. Meskipun begitu, dia tidak pernah kelelahan ataupun mengeluh sakit. Hebat bukan? Hahahaha." Petani tua itu seakan membanggakan anaknya sendiri. Yah Randika bisa menyimpulkan satu hal dari pertemuan singkatnya ini. Meskipun orang ini ramah tetapi dia bodoh. Wajahnya terlihat bloon ketika dia tersenyum. "Hmm? Kenapa kau terus menatapku?" Tanya Indra. Inderanya tajam! Dia hanya meliriknya dari sudut matanya dan Indra bisa mengetahuinya. Randika lumayan terkejut dan menjawab sambil tersenyum. "Hahaha aku hanya takjub saja, kau orang tergemuk yang pernah kulihat." Karena markasnya dulu berada di Jepang, Randika familiar dengan para pesumo. Mereka sangat gemuk dan ketika mereka berjalan sedikit saja sudah berkeringat sekaligus tarikan napasnya menjadi singkat. Berbeda dengan Indra yang pernapasannya stabil dan terlebih lagi inderanya yang tajam itu. "Kau benar. Banyak orang yang terkejut ketika melihatku." Kata Indra dengan polos. Karena matahari sudah mulai turun, petani tua itu hendak kembali ke rumah. Indra membantunya membawa kayu bakar tadi dan menuntunnya pulang. Karena arah yang ditujunya sama, mereka bertiga berjalan sambil berbincang-bincang. Ketika mereka sampai di rumah petani tua itu, Indra menaruh kayu bakarnya. "Kau benar-benar pemuda yang baik Indra." Petani tua itu merasa bersyukur. Sekarang Indra dan Randika berjalan berdua meninggalkan rumah si petani. Randika mulai bertanya untuk memecahkan keheningan, "Kau tinggal di mana?" Indra tampak bingung untuk menjawabnya dan akhirnya mengatakan, "Aku tidak bisa bilang." "Hmm? Kenapa?" Randika penasaran. "Guruku bilang jangan beritahu siapa-siapa tempat tinggalku." Randika terkejut, dugaannya tentang Indra seorang ahli bela diri ternyata benar. "Oh? Siapa nama gurumu memangnya?" "Aku tidak bisa bilang." Wajah simpel Indra terlihat semakin serius. "Gurumu melarangmu bicara tentang itu juga?" Randika mengerutkan dahinya. "Eh? Kenapa kau bisa tahu?" Mata Indra terlihat berbinar. "Kau pintar juga ya." Anak kecil pun juga tahu kalau kau mengulangi jawaban yang sama, pikir Randika. "Apakah tempat tinggalmu di Kota Kebon Raya?" Randika terus mengorek informasi. Indra berpikir keras sambil menyilangkan tangannya. Karena gurunya menyuruhnya tidak mengatakan di mana dia tinggal, seharusnya tidak apa-apa jika dia menjawab iya atau tidak. "Aku bukan tinggal di sana." Eh? Bukan dari Kebon Raya? "Terus kenapa kamu berada di pinggiran desa begini?" "Ituˇ­" Indra berpikir keras lagi. "Aku tidak bisa bilang." Randika heran dan bertanya kembali, "Kenapa kau tidak bisa bilang?" "Selain dari larangan guru, aku akan menjawabnya." Indra benar-benar naif dan polos. Ketika mereka berjalan berdampingan begini, Randika benar-benar tertutup bayangan. Randika lalu memalingkan wajahnya dan merasa malas untuk berbicara lagi. "Kenapa menjadi diam?" Indra penasaran. "Sepertinya kau dilarang banyak hal oleh gurumu itu, jadi aku tidak tahu harus bertanya apa." "Oh!" Indra menggaruk-garuk kepalanya. "Benar juga." Randika kehabisan kata-kata, kenapa orang ini begitu patuh? Mereka lalu berjalan berdampingan tanpa mengatakan sepatah kata pun. Tak lama kemudian, Desa Jagad sudah terlihat di depan mata. Melihat pemandangan yang familiar ini membuat Randika menjadi rileks. Entah kenapa dia merasa bahagia ketika pulang ke rumahnya satu ini. Bagaimanapun juga, ini adalah tempat dia tumbuh besar. Ketika mencapai di perbatasan Desa Jagad, Randika merasa ada yang aneh. "Kenapa kau mengikutiku ke desa ini?" Arah Randika tepat menuju Desa Jagad, seharusnya Indra sudah lama berpisah dengannya. "Aku.... Aku tidak bisa bilang." Randika menjadi jengkel dan mencuekinya. Melihat bahwa Indra terus mengikutinya, Randika memutuskan untuk berlari sekuat tenaga. "Hei tunggu aku!" Indra masih bingung dengan tujuan Randika. Setelah berlari beberapa detik, Randika berhenti dan melihat kedua kakeknya sedang memanen tanaman obat. "Kakek!" Randika berteriak keras. Kedua kakek itu menoleh dan kakek kedua langsung mengomel. "Bah bocah ingusan ini kembali lagi." "Hahaha ini dia anak kebanggaan kakek." Kakek keempat segera menghampiri Randika. Senyuman di wajahnya sangat lebar. "Randika sudah balik?" Kakek ketiga yang ada di rumah segera keluar dan menyambut Randika. Dengan sedikit tersenyum dia mengatakan. "Hahaha ramalanku memang tepat." "Kakek ketiga memang hebat." Kata Randika. "Omong-omong, bagaimana dengan ramalanku sebelumnya tentangmu?" Tanya kakek ketiga. "Berkat bantuan kakek berikan sebelumnya, aku berhasil selamat dari maut." Kata Randika. "Syukurlah kalau begitu." Kakek ketiga tersenyum lebar. "Aku juga meramal ulang tentang nasibmu ketika kau pergi kapan hari. Hasilnya sudah jauh lebih bagus." "Oya kek, obat kakek benar-benar manjur lho." Kata Randika. "Tentu saja!" Janggut kakek ketiga bergetar, dengan muka bangganya dia mengatakan. "Itu obat yang kukembangkan bertahun-tahun, mana mungkin tidak manjur?" "Kalau begitu aku minta lagi kek, sudah kuminum kapan hari soalnya." "Apa?" Kakek ketiga terkejut. "Bajingan, kau kira gampang membuat obat seperti itu? Aku kerja susah payah tahu, bagaimana bisa aku membuatnya semudah itu?" Saking antusiasnya kakek ketiga mengomeli Randika, air ludahnya itu berterbangan. Kakek keempat terlihat senang melihat pemandangan penuh nostalgia ini, dia lalu mengatakan. "Oya, akhir-akhir ini kami menerima murid baru. Kemampuannya cukup hebat." "Murid?" Randika terkejut. Berarti kakeknya ini mengadopsi anak lagi? "Butuh beberapa waktu untuk kita semua setuju mengangkatnya." Kakek kedua menghampirinya. Dia lalu berkata sambil tersenyum, "Dia adalah pendekar hebat yang lahir 100 tahun sekali." "100 tahun sekali?" Randika terpukau ketika mendengarnya. Sehebat apa orang itu? "Siapa dia?" Randika penasaran. Kalau para kakeknya ini berani mengatakan seperti itu, maka orang tersebut sudah jenius sejak lahir. "Sebentar lagi seharusnya dia pulang." Lalu kakek kedua menunjuk ke arah jalan yang dilalui Randika tadi. Yang dilihat Randika hanyalah Indra! "Kek, jangan omong itu murid baru kakek?" Tanya Randika. "Benar orang gemuk itu." Kakek kedua lumayan bingung dengan pertanyaan Randika, masa bocahnya itu tidak bisa merasakan tenaga dalam Indra yang melimpah? "Ah!" Mulut Randika terbuka lebar ketika mendengarnya. Ketika dia masih melongo, Indra sudah sampai di belakangnya. "Salam kepada ketiga guru!" Indra memberi hormat pada ketiga gurunya. APA? Randika masih tidak percaya mendengarnya. Tiga guru? Berarti Indra belajar tentang ilmu pengobatan dan bela diri? Ini benar-benar masih tidak dapat Randika percaya. "Indra ini adalah Randika. Dia adalah kakak seperguruanmu." Kata kakek kedua sambil tersenyum. "Baik." Indra lalu berbalik ke arah Randika dan berkata sambil membungkuk hormat. "Salam kakak seperguruan, namaku adalah Indra." Chapter 65: Memulihkan Diri Melihat Indra yang membungkuk pada dirinya, Randika tidak bisa menahan diri untuk menampar jidatnya. Kakek-kakeknya ini sedang bercanda? Yang dimaksud 100 tahun sekali itu bakat atau tubuh gemuknya itu? Memang benar Indra memiliki aura yang berbeda, tapi apakah penilaian kakeknya itu benar? Inikah jenius yang lahir 100 tahun sekali? Melihat Randika yang tidak merespon, Indra berkata sambil tersenyum. "Aku tidak menyangka kau adalah kakak seperguruan." "Yah aku juga tidak menyangka juga kalau kau adalah adik seperguruanku." Randika benar-benar tidak bisa berkata apa-apa. Bagaimana mungkin tubuh sebesar ini bisa bela diri? Masuk akal kalau kakek hanya mengajarinya ilmu pengobatan, tetapi bela diri? Melihat keraguan di wajah Randika, kakek kedua mengatakan. "Jangan menilai buku dari sampulnya nak." Kakek kedua memiliki ide, "Menurutmu, bagaimana kekuatan adik seperguruanmu itu? Jangan menilai fisiknya saja." "Oh? Tenaga dalamnya lumayan besar." Randika baru menyadarinya. "Menurutmu, seberapa kuat dia?" "Kalau dinilai dari peringkat dunia, mungkin dia bisa dikatakan masuk ke peringkat Dewa. Mungkin dia berada di angka puluhan dengan kekuatan yang 1/50 milikku." "Kalau begitu coba bertarunglah dengan Indra." Kata kakek kedua sambil tersenyum. "Pakailah kekuatan penuhmu." Karena kakeknya menyuruhnya, Randika pun menurutinya. Randika menatap Indra yang masih memasang ekspresi bodohnya itu, lalu Randika tiba-tiba memukulnya! Pukulannya tidak rumit maupun cepat, itu hanyalah pukulan sederhana dan pelan yang mengandung seluruh kekuatan Randika. Meskipun dia dalam kondisi puncak, dia sendiri tidak ingin terkena oleh pukulan tersebut. Melihat pukulan itu mengarah padanya, Indra membalas pukulan itu dengan pukulannya sendiri! Kedua pukulan itu beradu dan kedua kekuatan itu bertemu. Kekuatan yang dimiliki oleh Indra membuat Randika terkejut. Karena ledakan kekuatan ini membuat keduanya terpental ke belakang. Indra terpental sejauh 5 langkah sedangkan Randika tidak bisa berhenti, dia terpental sejauh 12 langkah! Bagaimana mungkin ini terjadi? Randika menatap Indra dengan mata terbelalak, kekuatannya luar biasa! Dia yakin kekuatan Indra lebih lemah daripadanya tetapi pukulannya barusan mengandung kekuatan yang amat luar biasa. Randika lalu tersadar, itu bukan pukulan tenaga dalam tetapi pukulan murni kekuatannya! Jika Indra bisa menyalurkan tenaga dalamnya seperti dirinya ini, mungkin apa yang dikatakan kakeknya itu benar. Indra adalah pendekar jenius yang lahir 100 tahun sekali! Melihat wajah terkejut Randika kakek kedua tersenyum lebar, "Jadi kamu menyadari bahwa tenaga dalam Indra masih lemah, jujur kami baru melatih tenaga dalamnya beberapa hari saja." "Apa?" Randika tidak habis pikir. Cuma beberapa hari melatih tenaga dalamnya Indra sudah setara dengan orang yang di peringkat Dewa? Randika benar-benar tidak bisa berkata-kata, ini adalah bakat dari seorang jenius dari lahir! Namun, adik seperguruannya ini nampak sedikit bodoh. Kakek kedua tersenyum, "Jadi kau paham kan mengapa aku menyebutnya bakat yang lahir 100 tahun sekali?" Randika mengangguk cepat, dunia ini memang luas. "Kalau begitu, Indra pergilah ke kamarmu dan lakukan apa yang kuajarkan kemarin." Kata kakek kedua. "Baik guru." Indra membungkuk hormat dan pergi menuju kamarnya. "Ran, kedatanganmu pasti mengenai kekuatan misteriusmu itu lagi kan?" Kata kakek ketiga sambil mengelus-elus janggutnya. Randika menoleh sambil tersenyum, "Hehehe kakek memang pintar." "Hum." Kakek ketiga memasang wajah bangga, "Tentu saja, bocah sepertimu hanya pulang ketika ada masalah." Randika mulai berkeringat dingin ketika mendengarnya. "Sini mana tanganmu." Randika dengan cepat menjulurkan tangannya dan kakek ketiga segera mengecek denyut nadinya. Dengan cepat kakeknya itu mengetahui kondisi Randika. "Kau itu ya, sudah minum obatku kok ya bisa tenaga dalammu sampai tidak teratur seperti ini?" Kakek ketiga benar-benar tidak habis pikir. Randika sedikit malu, dia lalu menceritakan pengalaman hampir matinya itu dan kakeknya menggelengkan kepalanya tanpa henti. "Bisakah kakek menyembuhkanku?" Randika menahan napasnya. "Bah! Kalau bukan aku memangnya siapa lagi yang bisa menyembuhkanmu?" Lalu mereka berdua masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu. "Tenaga dalammu itu bercampur dengan kekuatan misteriusmu itu dan kita harus memisahkannya dulu." Lalu kakek ketiga pergi ke kamar mandi dan mengambil handuk. "Mandilah dulu dengan campuran obatku dulu, setelah itu aku akan memberikan akupuntur." Randika mengangguk, di kamar mandi sudah ada ember air yang sudah dicampuri obat-obatan khusus kakeknya. Ketika air hangat itu menyentuh kulitnya, pori-porinya membuka dan obat-obat yang terkandung di dalam air serasa masuk ke dalam tubuhnya. Dia merasa sangat nyaman dan merasakan bahwa tenaga dalamnya yang mengamuk itu mulai menjadi jinak berkat obat-obat ini. Setelah itu, kakek ketiga mulai menusukkan jarum akupuntur miliknya ke punggung Randika. Randika menutup matanya dan merasakan putaran energi dalam tubuhnya. Tenaga dalamnya yang terlilit itu mulai menjadi lurus kembali dan memisahkan diri dengan kekuatan misteriusnya. Setelah setengah jam, Randika membuka matanya dan merasa tubuhnya sangat ringan. "Hei bocah bandel, aku masih belum bisa menyentuh kekuatan misteriusmu itu. Tetapi kakek sudah memikirkan bagaimana caranya untuk mengendalikannya." Kata kakek ketiga sambil memainkan janggutnya. Mendengar itu, Randika langsung memasang muka kagum pada kakeknya itu. "Berdirilah dan pakai bajumu." Seperti anak kecil yang menurut, Randika dengan cepat berdiri. Tetapi setelah itu Randika hanya berdiri diam, "Kek, jarumnya belum kakek lepaskan." "Lepaskan sendiri." "Ha? Jarumnya kan ada di punggungku, bagaimana caranya aku melepaskannya?" "Ah rewel kamu!" Kakek ketiga berjalan keluar. Hmmm? Randika tidak bisa berkata-kata, rupanya kakeknya ini masih dendam karena dirinya dulu merusak tanaman obatnya pas masih kecil. Dengan bantuan kakek kedua, Randika sudah melepas semua jarumnya dan memakai bajunya. Dia lalu menyusul kakek ketiga yang duduk di teras. Tak lama kemudian, kakek ketiga memberi secarik kertas pada dirinya. "Setelah meneliti buku-buku milikku, kakek menemukan cara ini. Kau harus mengikuti setiap langkah yang kutulis dan rebuslah semua tanaman obat itu. Setelah tiga tahun, kau pasti bisa mengendalikannya dengan sempurna." "Tiga tahun?" Randika terkejut mendengarnya. "Tidak ada yang namanya jalan pintas." Kakek ketiga mengusap kepala anaknya itu. "Ini satu-satunya cara yang kakek temukan tanpa perlu merusak tubuhmu, bersyukurlah kamu bisa mengendalikannya dalam 3 tahun." Ketika mendengar itu, hati Randika terasa hangat. Dia lalu membalas kakeknya sambil tersenyum, "Iya terima kasih kek, kakek memang yang terhebat." "Kalau begitu, kita akan ke Kebon Raya besok untuk mencari bahan yang tidak ada. Aku akan mengajarkanmu sekali untuk membuat sup obat itu." Ketika Randika hendak menjawab, kakeknya segera menyela. "Jangan lupa untuk membersihkan ladang obat kita sama rumah kita agak kotor." Randika terdiam, kakeknya ini memang malas. .........ˇ­.. Hari berikutnya, Randika mencoba membuat sup obat didampingi kakek ketiga. "Pahit sekali!" Randika baru minum seteguk dan dia sudah tidak kuat. Ini adalah obat yang paling pahit yang pernah dia minum. Saking pahitnya, Randika ingin muntah. Namun, kakek ketiga dengan cepat memarahinya. "Makin pahit makin bagus buat tubuh. Mau sembuh tidak?" "Iya kek." Randika tidak bisa membantah kakeknya itu. Setelah sepagian membersihkan ladang dan rumah, Randika pamit untuk pulang ke Cendrawasih. Dia menyimpan baik-baik resep yang diberikan kakek ketiga di saku celananya. Luka internal tubuhnya sudah baik-baik saja jadi dia tidak perlu khawatir apabila diserang dalam waktu dekat. "Nak, tunggu sebentar." Tiba-tiba kakek kedua menyuruhnya jangan pergi dulu. Randika menoleh dan memasang muka bingung. "Indra!" Suara kakek kedua sangat keras, kamar Indra berada di balik rumah jadi dia lari sekuat tenaga ke hadapan gurunya. "Guru kedua, Indra sudah datang." Indra menyeka keringatnya. Kakek kedua mengangguk dan menunjuk ke arah Randika. "Mulai hari ini, pergilah bersama kakak seperguruanmu." "Ah?" "Ah?" Randika terkejut, Indra pun terkejut. Apa maksudnya? DUAK! Kedua lutut Indra dengan cepat terbenam di tanah. "Guru apa salah Indra sampai kau mengusirku?" "Kek, apa kakek tidak terlalu keras?" "Indra berdirilah dulu, bukan itu maksud kami. Kita tidak bermaksud mengusirmu." Kakek kedua lalu menjelaskan. "Kami ingin kau mengikuti kakak seperguruanmu itu." "APA?" Randika sampai menjatuhkan tasnya. Randika tidak habis pikir, meskipun bela diri Indra sangat hebat, kecerdasannya kurang jadi kurang cocok baginya untuk tinggal di perkotaan. "Baiklah guru, Indra akan belajar di bawah arahan kakak seperguruan." "Randika, kau akan belajar banyak pada akhirnya." Kata kakek keempat sambil tertawa. Randika cuma bisa mengangguk. Ketika Indra berkemas, Randika menatap langit dan cuma bisa menghela napas. Dia harus menuruti perkataan kakeknya ini dan membawa Indra bersamanya. Selama ini ramalan kakek keempatnya tidak pernah salah, dia hanya harus percaya bahwa pada akhirnya semua akan menjadi indah. Chapter 66: Sang Jenius Bela Diri Beraksi! Bersama dengan Indra, Randika menaiki bis menuju kota Cendrawasih. Dalam perjalanan mereka, Indra tidak pernah berhenti bicara. "Kakak seperguruan apa itu?" Indra menunjuk pemandangan luar dan mulai penasaran. "Kakak seperguruan, anjing itu mirip anjing di desa!" Indra menunjuk kedua anjing yang sedang berlari dengan majikannya. "Oh? Kau punya anjing?" Randika bertanya. "Bukan, biasanya aku melihatnya di hutan saat aku mencari kayu. Mereka selalu ngiler dan berteriak ''Aummm'' setiap kali melihatku." Bukankah itu serigala? Randika merasa bahwa serigala-serigala itu sudah lama menerkam Indra kalau tidak merasakan tenaga dalam Indra. "Kakak seperguruan lihat gedung itu tinggi sekali!" Indra benar-benar seperti anak kecil. "Hei, apakah kakak sudah pernah pergi ke sana?" "Sudah." Randika menjawab tanpa menoleh. Dia sudah lama lelah meladeni Indra. "Wahhh, kakak seperguruan memang hebat." Indra menatap kagum pada Randika. Percakapan mereka ini didengar oleh beberapa orang di belakang maupun depan mereka, mereka menganggap hal ini lucu. Randika lalu menggaruk-garuk kepalanya dan menoleh ke Indra, "Indra, nanti jangan panggil aku kakak seperguruanmu." "Baik kakak senior." Indra bingung. Randika benar-benar frustasi, dia lalu bingung harus berkata apa. Indra yang melihatnya ikut tambah bingung, "Kalau begitu aku harus memanggilmu apa?" "Kak Randika." Randika mulai menutup matanya. "Baiklah, nanti aku akan memanggilmu kak Randika, kakak seperguruan." Kata Indra sambil tersenyum. Sepanjang perjalanan Indra selalu mengoceh tidak jelas dan Randika harus meladeninya sampai mereka tiba di Cendrawasih. Setelah turun dari bis, Indra mengatakan. "Kakak seperguruan, eh maksudku kak Randika aku haus." "Ikuti aku." Randika membawanya ke toko kelontong kecil yang ada di luar terminal dan membelikannya es teh manis. Saat mereka sedang asyik menikmatinya, Indra melihat sesuatu. "Kak Randika, ada orang berkelahi." Saat Randika menoleh ke arah gang yang ditunjuk Indra, dia melihat beberapa orang sedang memegang golok dan tongkat logam. Belum lagi ada sejumlah orang yang sudah meringkuk kesakitan di tanah. Sepertinya itu pertarungan antar geng, Randika tentu tidak ingin campur dengan masalah seperti itu. Mau mereka saling bunuh, itu bukan urusannya. Ketika dia hendak membawa Indra pergi, Indra berkata dengan nada bingung. "Kak Randika, apakah mereka sedang berkelahi? Kata guru berkelahi itu buruk." "Bukan, bukan, itu mereka cuma berdebat saja." Randika mencium bau-bau merepotkan dan berusaha menarik Indra pergi, namun semua itu percuma karena dia tidak bisa menariknya 1 cm pun. "Kenapa kau melototi mereka? Kau ingin berkelahi juga seperti mereka?" Randika tahu percuma berbohong terus sama Indra, yang bisa dilakukannya adalah membuatnya kehilangan rasa penasarannya. "Tidakˇ­" Indra menggelengkan kepalanya, "Aku orang yang baik, guru mengatakan berkelahi itu kegiatannya orang jahat." Randika tersenyum pahit, adik seperguruannya ini benar-benar polos. "Sudah kita pergi saja dan biarkan mereka berkelahi semaunya." Kata Randika. "Kakak tidak peduli dengan mereka?" Indra mulai ragu meninggalkan orang-orang tersebut. "Bukankah kata guru kau harus mengikutiku?" Randika menatap Indra, "Apakah kau akan membantah perintahnya sekarang?" Indra berpikir sesaat dan mengatakan, "Aku akan mendengarkan kakak seperguruan." Namun, keadaan di gang semakin memanas. Terlihat dua orang sedang beradu mulut. Salah satu mereka berteriak keras, "Ternyata cuma segitu kekuatan geng gagak?" "Hah? Teman-temanmu sudah terkapar begitu masih berani bacot?" "Kau kira kami takut sama kalian?" Pria ini segera membalas, "Kalian saja yang tidak sadar kalau pertarungan kita direkam sama kedua orang itu!" Pria yang sepertinya pemimpin geng ini sedang mencari cara untuk mengulur waktu agar bala bantuannya datang. Pemimpin geng gagak itu juga dari tadi menyadari keberadaan Indra dan Randika. Dia tidak peduli dengan keduanya tetapi karena perkataan rivalnya itu, dia mulai curiga bahwa perkataannya itu benar. Gengnya terkenal di internet bukanlah pertanda bagus. Randika baru saja berhasil membuat Indra mau pergi dari situ tetapi tiba-tiba mereka didatangi 2 orang. Kedua orang itu dengan cepat berteriak. "Kalian berdua, ikut kami!" Randika lalu menoleh dan melihat kedua pemimpin geng yang melototi dirinya. Dia dengan santai mengatakan, "Aku hanya sedang lewat dan tak mau berurusan dengan kalian. Lanjutkan saja." Apa? Pemimpin geng gagak dan pemimpin satunya terkejut mendengarnya. Tidak mau berurusan? Bukankah kau sudah merekam tawuran ini? Hal ini sama seperti ketika sepasang kekasih ingin berhubungan badan dan tiba-tiba muncul seseorang dari balik pintu dan merekam kejadiannya. Apakah itu masih bisa dibilang tidak ada urusannya dengan kita? Pemimpin geng gagak itu marah, ini sudah bukan perkara video rekaman lagi. Ini masalah harga diri! ???Hei bocah, berani membantah kami?" Para preman bawahan geng gagak mulai mengayun-ayunkan senjata mereka. Mereka tidak terima tidak dihormati seperti itu. Randika mengerutkan dahinya, secercah kilau dingin melewati matanya. Dia lalu berkata pada Indra, "Indra, berilah mereka pelajaran." Indra segera menggelengkan kepalanya. "Kak, guru mengatakan bahwa aku tidak boleh bertarung sembarangan." "Kalau kau tidak mau memberi mereka pelajaran, mereka akan menghajar kita." Muka Randika menjadi serius. "Kau juga dengar kalau mereka sendiri yang nyari gara-gara sama kita. Kita hanya membela diri, tidak lebih. Lagipula bukankah kau berkata akan mendengarkanku? Jangan meragukan penilaianku." Indra menganggukan kepalanya dan maju ke arah gang, tempat geng itu berada. "Wow dia cukup nindih kita dan kita pasti mati." Salah seorang preman terpukau melihat betapa besar Indra. Semua orang yang melihat Indra juga terdiam, mereka baru pertama kali melihat menara daging sebesar ini. "Jangan kira mentang-mentang badanmu besar kita akan takut! Aku akan menghajarmu duluan!" Teriak pemimpin geng gagak. Para geng gagak segera menyerbu Indra. Namun, Indra tiba-tiba menoleh ke arah Randika. "Kak, mereka semua lemah. Guru mengatakan aku tidak boleh menindas yang lebih lemah." Randika yang mendengarnya benar-benar menjadi frustasi. "Indra, gurumu untuk sekarang adalah aku. Mereka semua itu ingin membunuh kita dan kita hanya membela diri. Lihat mereka semua membawa senjata, bukankah niat mereka jelas? Justru mereka yang ingin menindas kita, kita hanya membela diri kita!" Indra mengangguk dan merasa semua perkataan Randika masuk akal. "Baiklah." Setelah mereka selesai berdebat, 3 orang preman sudah berada di depan mereka. Indra hanya mengayunkan tangannya dan mereka bertiga sudah melayang bagai lalat. Ketiga orang itu langsung terkapar tak sadarkan diri. Para preman yang lain melihat teman mereka sambil melongo. "Dasar bodoh! Ngapain ragu? Kepung dia dan serang bersamaan!" Teriak pemimpin geng gagak. "Mati kalian!" Para preman itu segera menyerang dari segala arah tetapi Indra dengan muka polosnya itu tidak peduli. Pukulan dan ayunan tongkat logam para preman ini berhasil mendarat di tubuh Indra, tetapi tidak ada perubahan ekspresi ataupun suara kesakitan dari Indra. Semua serangan itu hanya mengenai dagingnya bahkan tidak mengenai tulangnya. Para preman itu melongo, daging orang ini tebal sekali! Indra lalu mengangkat satu orang dan melemparnya ke kerumunan. Seketika itu juga beberapa orang terjatuh di tanah. Pada saat yang sama, seseorang menebas golok mereka. Tetapi, dalam sekejap pergelangan tangannya patah dan dia meringkik kesakitan. "Indra, kau harus lebih luwes dan tidak boleh membiarkan pukulan mengenai dirimu." Randika memberi evaluasi. "Baik." Indra segera merubah gaya bertarungnya. Indra berubah dari pasif menjadi aktif menyerang. Ketika kaki gajahnya itu menginjak tanah, tanah pun ikut terguncang. Indra menahan serangan-serangan yang ada bahkan meremuk tongkat logam yang dia tangkap! Kepungan para preman ini terasa percuma. Ketika mereka berusaha menyerang dari belakang, Indra langsung berputar dengan cepat dan menjatuhkan siapapun yang mendekat. Setiap senjata yang ada menjadi debu di tangannya. Benar-benar pendekar jenius yang lahir 100 tahun sekali! Para preman ini terheran-heran, mana ada orang gendut yang lincah seperti ini? Indra segera merusak formasi kepungan para preman itu dengan cepat. Seluruh senjata yang mereka bawa telah hancur ataupun telah terjatuh di tanah bersama tuan mereka. "Indra, kecepatanmu masih kurang." Randika yang berada di belakang nampak sedang mengupil. Indra benar-benar luar biasa, dia cuma masih kurang pengalaman saja. Meskipun dia memiliki reaksi yang cepat, seorang pendekar sebenarnya tidak akan membiarkan dirinya disentuh oleh seekor nyamuk. Mungkin ada enaknya dia membawa Indra bersamanya. Pada saat ini, Indra bagaikan dewa perang. Dia menghabisi seluruh preman yang berani menerjang. Ketika 6 orang hendak menyerangnya dari segala arah, dia melompat dan menghentakkan kakinya keras-keras. Ketika para preman itu kehilangan keseimbangan, mereka sudah melayang jauh berkat pukulan Indra. "Kalian semua bodoh! Sama orang segendut itu bisa kalah? Mana harga diri kalian sebagai geng terkuat wilayah ini?" "Bos, orang gendut itu sangat kuat! Kita bukan tandingannya." Para preman ini mulai merasa malu. Dari segi jumlah dan senjata mereka unggul jauh tetapi serangan mereka tidak mampu menembus lapisan daging tebal itu. Bagaimana caranya mereka menang kalau begitu? "Kepung dia!" Pemimpin geng lainnya tiba-tiba menyela. "Kami akan membantu, kita akan kepung dia sampai dia tidak bisa bergerak!" Semua preman yang tidak ikut bertarung dari kedua kubu langsung menerjang maju. Pertarungan ini harus segera diselesaikan untuk menyelamatkan muka mereka. Ketika Indra sibuk menghajar, 2 orang melompat ke punggungnya berusaha untuk menahannya dan menjatuhkannya. Beberapa orang juga ikut melompat. Beberapa orang lainnya menyerang dan beberapa orang bergelantungan di tubuhnya, pertarungan ini benar-benar sudah bagaikan godzilla melawan manusia. Orang-orang yang bergelantungan itu berusaha menutup mata Indra, menahan lengannya agar tidak bisa menyerang bahkan ada yang menggigitnya. Randika yang melihat taktik musuh yang baru ini masih tetap mengupil dengan santai. Dia masih penasaran teknik apa yang akan dipakai oleh Indra. Chapter 67: Ares Beraksi! Masih sambil mengupil, Randika memperhatikan Indra dengan seksama. Setelah semua preman itu mengepung, entah itu memukul ataupun menindih Indra, tiba-tiba udara terhisap ke tubuh Indra dan meledak. Kerumunan orang itu terpental jauh sebanyak 10 langkah! Ternyata itu adalah ledakan tenaga dalam Indra. ''Menggunakan taktik lautan manusia ke Indra mentang-mentang dia gemuk? Polos sekali mereka, tenaga dalam Indra jauh lebih besar dariku tahu!'' Pikir Randika. "Bagus, bagus." Randika bertepuk tangan sambil memuji Indra. "Hehe." Indra malu-malu mendengarnya. Setelah menyelesaikan masalah ini, Randika sudah berniat pergi dari situ. Tetapi, dalam sekejap ada teriakan muncul dari arah gang. "Kalian berdua jangan bergerak!" Menoleh ke belakang, pemimpin geng gagak menatap dirinya dengan tajam. Di tangannya sudah ada pistol membidik ke arahnya. "Indra, berlindunglah di belakangku." Kata Randika dengan pelan, lalu Randika maju perlahan. "Kenapa? Kau ingin dihajar juga?" "Bedebah!" Muka si pemimpin ini buruk sekali. Hari ini dia hanya sedang menghajar geng yang berani melangkahi wilayahnya, tidak pernah terpikir dia akan bertemu dengan duo bocah seperti mereka itu. Meskipun mukanya terlihat bodoh, orang gemuk itu sungguh kuat. Dia bisa menghajar gabungan kekuatan antara dua geng dalam sekejap! Mau ditaruh mana wajahnya kalau dia membiarkan kedua orang itu pergi begitu saja? "Kalian semua cukup main-mainnya, berdiri dan bunuh bedebah satu itu." Teriaknya. Beberapa preman yang meringkuk kesakitan segera berdiri dan berjalan kembali ke mobil dan mengambil senjata api mereka. Tak lama, 12 orang sudah membidik ke arah Randika. "Sebentar, sebentar, aku sudah ngomong kalau kami cuma lewat." Randika lalu tersenyum. "Kami hanya kebetulan saja melihat ke arah kalian dan tiba-tiba kalian mendatangi kami. Tentu saja kami harus membela diri kami bukan?" "Setelah melihat pistol ini kau menjadi takut?" Pemimpin geng gagak ini mulai besar kepala. ??Hari ini kau akan makan malam di neraka kalau tidak menuruti kata-kata kami." Randika hanya menghela napas, kenapa nasibnya selalu bertemu dengan orang-orang seperti ini? Randika lalu menganalisa situasinya. Ke-12 orang ini jaraknya cukup berdekatan jadi cukup mudah baginya untuk menaklukan mereka. Tapi dia harus memikirkan Indra yang berdiri di belakangnya. Dia tidak punya kemampuan untuk bergerak cepat jadi apabila musuh menembak maka mereka bisa celaka. Terlebih lagi, api kebencian mulai membara di mata para preman ini, situasinya bisa lebih buruk lagi. "Ikat mereka berdua! Kita lihat pria gemuk itu bisa sok hebat lagi tidak saat kita siksa dia." "Kak, aku ingin mengalahkan mereka." Indra tidak bisa menerima ejekan yang dilontarkan tersebut. "Jangan khawatir, serahkan ini padaku." Kata Randika dengan santai. Beberapa preman mendekati mereka berdua dan Randika hanya berkata sambil menghela napas, "Tidak ada jalan damai kah?" "Mimpi! Berlutut dan menyerahlah!" "Kalau begitu, nanti jangan meminta ampun padaku!" Tiba-tiba Randika sudah berubah jadi gumpalan asap! Para preman tersebut terkejut target bidikan mereka tiba-tiba menghilang. Dalam sekejap, tenaga dalamnya yang dia alirkan di tangannya sudah memutar pergelangan tangan si pemimpin geng gagak dan pistolnya melayang di udara. Dia sama sekali tidak bisa melawan saat dia dibanting oleh Randika. Para preman itu terkejut ketika pemimpin mereka tiba-tiba meringkuk kesakitan, mereka segera membidik Randika kembali. Tapi Randika sudah melompat tinggi bahkan sebelum mereka menoleh. Senjata yang ada di udara itu dia ambil dan tembakkan. Dor! Dor! Dor! Hanya dalam satu detik sejak dia memegang pistolnya itu, Randika sudah menembak ke-11 orang lainnya yang membawa pistol. "Ah!" Ke-11 orang itu langsung memegang tangan mereka yang tertembak itu. "Apa yang terjadi?!" Para preman lainnya hanya bisa melongo melihat teman-teman mereka tertembak. Mereka bingung harus berbuat apa. "Dasar bodoh! Ambil senjata dan tembak dia!" Teriak pemimpin mereka. "Mana orangnya?" Para preman itu masih tidak bisa melihat di mana sosok Randika. Di saat mereka masih kebingungan, Randika sudah berada tepat di depan mereka. Randika bagaikan asap yang menyelimuti mereka semua, setiap kali dia melewati seseorang maka orang itu akan berteriak kesakitan. Setiap teriakan akan membuat ketakutan para preman yang lain, mereka tetap tidak bisa melihat sosok yang menyakiti kawan mereka. Dalam sekejap, ke-12 pistol berhasil dia ambil ataupun hancurkan dan 20an orang telah Randika taklukan dengan mudah. Para preman sisanya itu berdiri membeku, apakah musuh mereka ini masih bisa dibilang manusia? Randika lalu berjalan menuju kedua pemimpin geng yang meringkuk ketakutan di belakang. Para preman tanpa sadar membukakan jalan untuknya. "Hiiii apa yang kau mau!" Randika membidik kepala mereka berdua, dalam sekejap mereka berdua ketakutan dan berkeringat deras. "Ampuni aku!" Pemimpin geng ini sudah tidak memikirkan harga diri atau semacamnya, baginya nyawanya adalah segalanya. "Hmm? Bukankah kau ingin membunuhku tadi?" Tanya Randika dengan nada datar. "Ah! Kau salah dengar, aku tidak pernah berkata seperti itu." Pemimpin itu langsung menunjuk si pemimpin geng gagak. "Dia yang berkoar ingin membunuhmu, bukan aku!" Pemimpin geng gagak ini langsung berkeringat deras, dia tidak bisa membantah omongan rivalnya ini. "Oh benar juga." Randika lalu cuma membidik si pemimpin geng gagak itu. Ketika para bawahannya melihat ini, beberapa dari mereka yang nekat hendak merebut senjata yang dibawa oleh Randika itu. Tetapi setelah 3 langkah, Randika dengan akurat menembak salah satu kaki orang yang paling depan. Detik itu juga, orang-orang nekat itu tidak berani bertindak gegabah lagi. Lawannya ini sudah bukan manusia! "Nah kita kembali ke urusan kita lagi." Randika lalu berkata dengan nada dingin. "Bukankah kau akan membunuhku?" "Geng gagak tidak akan pernah berhenti memburumu!" Pemimpin ini berusaha mengintimidasi Randika. Tetapi Randika dengan cepat menggelengkan kepalanya. Dia lalu mempreteli ke-12 senjata yang ada dan mencengkram erat tangan si pemimpin gagak itu. Dalam sekejap dia meringkik kesakitan. "Berani menunjukan mukamu lagi, aku akan membunuhmu!" Randika lalu berjalan pergi. Melihat punggung Randika, api kebencian berkobar di mata si pemimpin ini. Dia lalu mengambil pistol yang dia sembunyikan di celananya dan menembak Randika. Dor! Ketika peluru itu melesat, dia tersenyum lebar. Tetapi detik berikutnya sosok Randika sudah menghilang dari jalur peluru tersebut. Apa? Bagaimana bisa? Mata pemimpin geng gagak ini terbelalak dan suara Randika terdengar dari arah belakangnya. "Pistolmu terlalu lambat." Ketika dia menoleh, dia sudah menerima pukulan Randika yang membuatnya terpental jauh. Randika lalu menghampirinya dan meremukkan kedua tulang tangannya, dia memastikan bahwa orang ini akan cacat seumur hidupnya. Para preman lainnya hanya bisa melihat semua ini terjadi. Mereka sudah tahu bahwa mereka bukan tandingan setan satu itu. "Kakak seperguruan memang hebat!" Muka Indra penuh dengan kekaguman. "Sudah kubilang, panggil aku kak Randika." Randika menepuk jidatnya, bisa-bisanya Indra sudah lupa. "Baik kak Randika." Kata Indra sambil tersenyum. Chapter 68: Perusahaan Galaksi (1) "Hari ini kamu tinggal di sini." Kata Randika. "Baik kak Randika." Indra masih berwajah polos. Tidak mudah untuk Randika membawa Indra kembali ke rumahnya. Dia akhirnya menyewakan rumah untuk Indra tidak jauh dari rumahnya. Baru setelahnya dia akan memikirkan sesuatu. "TIdak ada aku bukan berarti tidak latihan!" Randika lalu memberikan sejumlah uang kepada Indra untuk dia pakai kebutuhan sehari-hari. "Ini uang untuk makanmu selama 1 minggu, nanti pas kita ketemu lagi aku akan memberimu lebih." "Baik kak Randika." Indra tersenyum. Randika lalu meninggalkan Indra dan kembali ke rumahnya. Ketika dia sampai di rumah, tidak ada orang di lantai 1. Dia lalu pergi ke lantai 2 dan pergi menuju kamarnya Inggrid. Ketika dia membuka pintunya pelan-pelan, dia melihat Inggrid sedang duduk di meja kerjanya. "Istriku yang cantik, aku pulang!" Randika tersenyum lebar. Inggrid hanya menoleh, mengangguk dan memegangi kepalanya. Hmmm? Randika tersenyum pahit, jarang sekali dia melihat Inggrid yang kesusahan seperti itu. Pasti ada masalah besar di perusahaannya. "Kenapa kamu? Ada masalah apa?" Dia lalu menghampiri dan mengelus kepalanya. "Kalau ada masalah bilang saja ke suamimu yang tampan ini, akan kuselesaikan semuanya." "Tidak ada masalah." Inggrid hanya memalingkan wajahnya. "Jangan pura-pura tidak ada masalah gitu, apa kau barusan dilecehkan orang lagi? Sialan aku saja belum merabamu hari ini! Kubunuh dia!" Wajah Inggrid memerah mendengarnya, dia lalu menoleh dan berkata dengan nada dingin. "Ini masalah perusahaan, kau tidak ada hubungannya dan aku jelaskan juga pasti tidak mengerti." "Bagaimana caranya aku mengerti kalau kamu tidak menjelaskan permasalahannya?" Randika lalu duduk di sandaran kursi Inggrid dan memeluk kepalanya ke dadanya. "Apakah si bajingan Andre itu berbuat ulah lagi? Kalau iya ngomong saja, kali ini tangannya yang kupatahkan!" Inggrid langsung mendorong Randika sambil marah-marah, "Pantas saja dia begitu diam akhir-akhir ini, ternyata kamu yang membuat dia seperti itu!" "Selama dia tidak menyentuh wanitaku, aku tidak apa-apain dia kok. Siapapun yang berani mendekatimu, akan kubunuh semuanya!" "Kau!" Inggrid menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sayangnya Andre tiba-tiba mengajukan surat mengundurkan diri, aku takut efek yang ditimbulkannya akan buruk bagi perusahaan." "Jangan khawatir, kalau dia sampai berani keluar akan kupatahkan tangannya." Randika lalu tersenyum. "Dia selamanya akan bekerja untukmu." "Sudah kita kembali ke topik utama." Melihat Inggrid hendak mengomentarinya, Randika dengan cepat mengalihkan perhatiannya. "Apa sebenarnya masalahmu itu?" Mendengar itu, Inggrid kembali murung. "Kali ini perusahaanku menjadi target." "Maksudnya?" Randika bingung. "Perusahaan Galaksi yang ada di kota ini mulai menarget kita. Baru-baru ini perusahaan mereka melejit ke atas dan menjadi salah satu perusahaan besar seperti milikku, bahkan asset mereka lebih banyak." "Memangnya mereka menjual produk apa?" "Barang produksi mereka bukan kosmetik, jadi mereka tidak ada hubungannya dengan perusahaanku." Inggrid lalu mengerutkan dahinya. "Tetapi akhir-akhir ini mereka mengincar pasar milik perusahaanku." "Aku tidak tahu apakah mereka sengaja atau tidak ingin bersaing denganku, aku mendengar rumor bahwa mereka membangun departemen kosmetik di perusahaan mereka. Ini bisa dijadikan bukti bahwa mereka tengah melebarkan sayap mereka di pasarku." Kosmetik yang dimiliki oleh Perusahaan Cendrawasih terkenal di dalam negeri, tidak mudah untuk melawan perusahaan milik Inggrid ini. PT Galaksi dengan beraninya mulai menantang Inggrid dan menyerangnya di saat perusahaannya sedang mengembangkan produk baru. Jika saat peluncuran produk baru Inggrid bersamaan dengan mereka, maka akan ada perang besar-besaran. Apabila hal ini terjadi, akan sangat sulit bagi Inggrid untuk bersaing. Karena finansial PT Galaksi itu lebih kuat darinya, akan sulit bagi Inggrid. "Aku takutnya mereka ingin menghancurkan nama perusahaanku di pasar internasional." Kata Inggrid dengan cemas. Karena ambisi Inggrid yang besar, dia ingin melebarkan sayapnya ke luar negeri. Produk baru yang akan diluncurkan, parfum yang dikembangkan dengan bantuan Randika, ditujukan untuk seluruh dunia. Jika mereka mendapatkan persaingan yang ketat dari PT Galaksi, bisa-bisa Inggrid tidak bisa balik modal dan menyatakan bangkrut. Apabila Perusahaan Cendrawasih bangkrut, ribuan orang akan menderita. "Jangan khawatir, kalau dia berani macam-macam dengan perusahaanmu, suamimu ini akan membuatnya babak belur!" Randika mencium bau-bau konspirasi. Tentu saja karena ini persaingan bisnis istrinya, sebagai suaminya dia harus membantunya. Berani menghadapi istrinya? Orang itu nyari mati? .......... Hari berikutnya Inggrid dan Randika bersama-sama menuju kantor. Ketika mereka tiba di pintu masuk, semua petugas keamanan memberi hormat kepada mereka berdua. Setelah beberapa kejadian, para petugas ini mengetahui bahwa Randika adalah salah satu pimpinan mereka. Meskipun rumor mengatakan bahwa dia adalah suami dari Nyonya Inggrid, tidak ada bukti nyata akan hal tersebut. Tepat ketika mereka berdua masuk ke gedung, ada seseorang yang menghampiri mereka. "Ibu Inggrid, kau telat." Inggrid, yang berada di samping Randika, saling bertatapan satu sama lain. Orang yang menghampiri mereka ini terlihat kelelahan dengan kantong mata yang gelap, jelas orang ini adalah pekerja keras. Sekilas Inggrid menampilkan ekspresi suram di matanya tetapi mulutnya berkata lain, "Maafkan aku Pak Bagus, aku tidak menyangkan akan kedatangan tamu dari Perusahaan Galaksi hari ini." Bagus menatap Inggrid lekat-lekat dan tidak sungkan-sungkan menunjukkan tujuannya. "Saya hari ini datang untukmu dan panggil aku Bagus saja." Randika mengerutkan dahinya, berani-beraninya pria ini mengincar wanitanya? Pria ini benar-benar nyari mati! Inggrid tetap terlihat tenang, "Karena anak dari pemilik Perusahaan Galaksi ingin bertemu denganku pasti ini mengenai urusan pekerjaan, mari kita bahas di kantorku." Selesai berbicara, Inggrid langsung menuju lift. "Ah tunggu!" Bagus dengan cepat mencegat Inggrid dan mengatakan. "Untuk naik ke atas terlalu buang waktu dan aku tidak mau membuang waktu sedetik pun ketika bersamamu. Kita bicara di sini saja." Ketika para karyawan yang mendengar teriakan Bagus, mereka mulai berdiskusi satu sama lain. "Wah, Ibu Inggrid dikejar-kejar lagi sama pria lain!" "Kali ini orangnya biasa aja gak sih? Lebih ganteng aku perasaan." "Bah! Hari ini sudah ngaca belum? Muka boleh ganteng, dompetmu bro yang kurang ganteng masalahnya hahaha!" Di saat mereka bercanda, ada seseorang yang berbisik ke arah mereka. "Ssttt kau tidak tahu siapa orang itu?" "Kau memangnya tahu?" Dia mengangguk, "Aku dengar dia adalah anak dari perusahaan Galaksi. Dia terkenal suka berhura-hura setiap harinya. Dia benar-benar buaya darat. Dia bisa berbuat sesuka hatinya dengan dukungan finansial ayahnya!" Lalu orang itu menyuruh temannya mendekat. "Aku dengar kemarin dia memuaskan 4 perempuan Rusia sekaligus!" "Ha? Empat?" Orang yang mendengarnya benar-benar terkejut. "Bukankah wanita asing lebih susah dipuaskan daripada wanita lokal? Bisa-bisanya dia kuat memuaskan mereka sekaligus!" "Pantas saja kantong matanya gelap sekali, dia pasti tidak tidur sama sekali kemarin. Tapi kalau dilihat dari tubuhnya yang gemuk itu, dia pasti pakai obat kuat sehari-harinya!" Yang lain pun tertawa mendengarnya dan semua sepakat satu hal. Orang itu akan diinjak-injak oleh pemimpin mereka. Lalu para karyawan yang senang bergosip ini segera kembali bekerja karena mereka merasa nasib pria itu sudah pasti apes. Inggrid yang mendengar teriakan Bagus itu sedikit marah tetapi karena pihak lain merupakan anak dari perusahaan besar, dia tidak boleh menunjukkan ketidak sopanan. "Kalau begitu, apa yang ingin Anda bicarakan?" Inggrid hanya menoleh dan tidak mendekat ke arah Bagus. Seketika itu juga, senyum nakal terpampang di wajah Bagus. Dia menatap lekat-lekat ke tubuh Inggrid yang bahenol itu. Inggrid memang terkenal sexy dan cantik, tapi dia tidak menyangka bahwa Inggrid jauh melebihi ekspektasinya. Bagus sudah tidak sabar mendengar rintihan kenikmatan Inggrid ketika dia menidurinya. "Ketika kita pertama kali bertemu, aku bersumpah dalam hati akan membuatmu menjadi wanitaku." Bagus lalu tersenyum. "Hari ini kedatanganku adalah untuk mengajak Anda bercengkrama denganku." Apa? Randika hanya menatap Bagus si pencuri nakal ini. Dia sedang berpikir bagaimana cara terbaik menghajar bajingan tengik ini. Apakah dengan tamparan sepatunya atau dia patahkan saja kakinya? Inggrid mengerti ekspresi Randika dan menyuruhnya untuk menahan diri. "Maafkan aku, hari ini aku sibuk dengan urusan kantor. Aku tidak mungkin bisa pergi bersamamu." Bagus mengerutkan dahinya, salah satu pengawalnya mengerti arti sinyal tersebut dan maju sambil mengatakan. "Ibu Inggrid, Anda lebih baik menuruti tuan muda atau Anda akan menyinggung perasaannya. Anda tidak akan ingin itu terjadi." "Bajingan, siapa menyuruhmu berkata seperti itu?" Bagus menampar pengawalnya itu tetapi dalam hati dia merasa senang. Ketika dia kembali dia akan memberi bonus kepada pengawal pintarnya ini. Melihat sandiwara ini, Inggrid merasa mual dan jijik. "Maafkan aku, urusanku hari ini sangat penting dan membutuhkan kehadiranku. Apabila Pak Bagus ingin bersenang-senang lebih baik Anda mencari orang lain." Inggrid lalu menuju lift sekali lagi dan sudah tidak peduli dengan Bagus. Tetapi, Inggrid kembali dicegat dan Bagus sudah berada di depannya dengan muka muram. Hatinya sudah terbakar oleh api. Tidak pernah ada orang yang pernah berani menolaknya. "Inggrid Elina, sepertinya kau tidak memahami situasimu." Bagus lalu berbisik padanya. "Perusahaanmu bagaikan semut, perusahaanku bisa menginjak-injakmu kapan saja." "Meskipun kami kecil di hadapanmu, perusahaan Cendrawasih tidak akan pernah tunduk pada siapapun!" Inggrid tidak bisa menerima ancaman tersembunyi dari Bagus. "Sekarang cepat keluar dari sini!" "Hahaha!" Bagus tertawa keras. "Belum pernah ada orang yang berani menolakku, kau memang unik! Justru ini membuatku semakin ingin memilikimu. Turuti aku dan aku akan mengampuni kata-katamu barusan." Inggrid sudah naik pitam sampai tidak bisa berbicara. "Inggrid," Bagus berkata dengan nada mengancam. "Kau sebaiknya menurutiku atau besok perusahaanmu akan bangkrut." Ancamannya ini justru membuat Inggrid semakin membara. "Pikirkan jawabanmu baik-baik atau seluruh karyawanmu akan mati kelaparan." Bagus menunjukkan ekspresi tidak sabar mencicipi makanan lezat di depannya ini. Detik itu juga, Inggrid tertarik ke belakang oleh seseorang. Ternyata itu Randika yang akan membela dirinya, entah kenapa hal ini membuat hati Inggrid menjadi hangat. Randika melangkah maju dan berkata sambil tersenyum. "Memangnya siapa kamu sampai berani mengatakan perusahaan ini akan bangkrut besok?" Ketika Bagus melihat Randika yang maju, dia sama sekali tidak peduli. Dia hanya mendengus dingin, "Aku adalah anak pertama dari Perusahaan Galaksi!" "Ah! Berarti kau orang hebat ya!" Randika pura-pura terkejut, hal ini membuat Bagus semakin besar kepala. Memangnya siapa yang tidak pernah mendengar kerajaan yang ayahnya bangun itu? "Aku hanya ada satu pertanyaan, maukah Anda menjawabnya?" "Hahaha lontarkan! Biarkan orang hebat ini menjawab pertanyaan orang awam sepertimu." Bagus berusaha terlihat dermawan di hadapan Inggrid. "Apa itu perusahaan Galaksi?" Randika tampak bingung. Chapter 69: Perusahaan Galaksi (2) Ketika Bagus mendengar pertanyaan Randika itu, dia ikut bingung. Namun, ketika dia melihat wajah bodoh Randika dia semakin murka. Orang-orang yang melihat pertikaian mereka mulai tertawa. Mereka yang sudah mengerti Randika seperti apa, setelah insidennya dengan Andre, justru tertawa paling keras. Orang yang mengaku sebagai suami pemimpin mereka itu suka sekali membuat malu lawannya terlebih dahulu sebelum menghajarnya, adegan ini semakin mulai menarik! "Berani-beraninya kau menghinaku?" Bagus benar-benar malu. "Kalau aku ingin, aku bahkan bisa membeli kota ini!" "Ah maksudku bukan begitu," Randika memasang muka kelabakan. "Anda salah memahami pertanyaanku. Aku bertanya apa yang dilakukan Perusahaan Galaksi sehari-harinya karena aku ini hanya orang awam." Bagus kebingungan ketika melihat Randika, entah dia bodoh beneran atau dibuat-buat. Sandiwara Randika benar-benar sempurna, hal ini justru membuat Bagus semakin marah melihat muka bodohnya. "Kau tidak perlu tahu itu. Yang perlu kau tahu adalah perusahaanku bisa dengan mudah menginjak-injak perusahaan Cendrawasih ini dalam semalam!" "Oh." Randika mengangguk, mukanya terlihat bingung sekali lagi dan bertanya. "Kalau begitu aku punya beberapa pertanyaan lagi." "Kenapa kau punya banyak pertanyaan?" Bagus sudah mulai lelah terhadap orang ini. Bagus lalu menghela napas, "Kau hanya perlu tahu bahwa Perusahaan Galaksi suatu hari akan menjadi milikku." Randika lalu mengatakan "Oh...." cukup lama, lalu dia menambahkan. "Tapi aku masih bingung, berarti perusahaan Galaksi itu perusahaan besar yang dibesarkan oleh ayahmu bukan? Lalu kenapa kau yang menyombongkan diri?" Inggrid yang mendengarnya tertawa kecil dan sekarang Bagus mengerti bahwa pria di depannya itu hanya ingin mempermainkan dirinya. "Jika kau segitu inginnya mati, aku bisa pastikan mayatmu terapung di selokan besok." Butuh sekuat tenaga untuk Bagus tetap mempertahankan amarahnya tidak meledak. "Maksudmu kau ingin mengajakku berenang? Aku pandai berenang, mana mungkin aku bisa mati tenggelam seperti itu?" "Cukup! Bunuh dia!" Bagus sudah tidak ingin terlibat lebih lama lagi dengan lelucon ini, dia lalu memerintahkan pengawalnya untuk menghajar Randika tanpa ampun. Kedua pengawal yang mengikuti Bagus berbadan besar dan kekar, namun hal ini tidak membuat takut Randika. Ketika mereka menerjang ke arahnya, dia hanya akan meladeninya dengan satu tangan. Hanya bermodalkan satu kaki yang menjulur, pengawal itu tersandung dan jatuh ke arah Randika. Lalu Randika mendorong wajahnya ke lantai hingga wajahnya terbenam. Pengawal kedua juga sama cepatnya kalahnya, bedanya Randika hanya menggunakan tinjunya untuk membuatnya tersungkur di lantai. Hanya butuh 10 detik untuk membuat kedua pengawal berbadan besar tersebut untuk meringkuk kesakitan di lantai. "Sepertinya pengawalmu itu tidak bisa membuatku menjadi mayat." Randika menatap tajam Bagus. Bagus hanya berdiri melongo. Para pengawalnya ini adalah mantan pasukan khusus yang ditarik oleh ayahnya untuk melindunginya. Tetapi mereka berdua dengan mudah kalah hanya dalam hitungan detik? "Kau! Apa yang sudah kau lakukan? Tidakkah kau tahu bahwa perbuatanmu ini telah menyinggung perusahaan Galaksi?" Meskipun terlihat mengancam, nyatanya Bagus terus mengambil langkah mundur. "Bukankah kau tadi mengatakan bahwa kau akan membunuhku?" Randika hanya tersenyum ke arah Bagus. "Aku benci jika diancam seperti itu, biasanya aku yang membunuh mereka duluan." Setelah selesai berbicara, Randika melesat dengan cepat dan mencengkram erat tangan Bagus. "Ah!" Bagus merintih kesakitan. "Apa maksudmu ini? Aku adalah pewaris perusahaan Galaksi!" Bagus tidak punya pilihan selain menggertak dan berharap bahwa Randika akan mundur. "Hmmm? Mana ada pewaris perusahaan yang buruk rupa sepertimu?" Dalam sekejap Randika menampar keras Bagus tepat di wajahnya. PLAK! "Kau!" Tamparan Randika sangat keras dan membuat pipinya bengkak. Tak lama kemudian, tamparan kedua terdengar. PLAK! Suara nyaring itu menyebar, para penonton terpana melihatnya. Pewaris perusahaan Galaksi sedang dieksekusi di depan umum? PLAK! Randika benar-benar tidak peduli dengan tatapan orang-orang. Dia hanya menampar Bagus berkali-kali. Setelah 5-7 kali tamparan lagi, Randika berhenti dan berbisik di telinga Bagus. "Aku hanya sedang memperbaiki wajahmu yang jelek itu." Randika benar-benar tidak menahan diri, muka Bagus sudah bagaikan balon. Randika lalu menamparnya lagi beberapa kali. Darah mulai mengucur dari sudut mulut Bagus yang bengkak. "Tolongˇ­ Hentikanˇ­" Bagus sudah tidak kuat lagi. "Oh? Bukankah orang hebat biasanya telah ditempa dari kecil? Bukankah pewaris suatu perusahaan besar seharusnya tidak terlihat menyedihkan?" PLAK! "Berani-beraninya kau menatap mesum Inggrid?" PLAK! "Berani-beraninya kau mengatakan bahwa akan menginjak-injak perusahaan yang dibangunnya!" PLAK! Setelah tamparan penuh amarah itu, Bagus sudah nyaris pingsan. "Randika!" Inggrid lalu menarik Randika, dia tidak ingin Randika melakukan hal yang berlebihan. Bagaimanapun juga, orang itu tetap salah satu pentolan dari Perusahaan Galaksi. "Tolongˇ­ Hentikanˇ­" Wajah balon Bagus sudah meneteskan air mata, dia belum pernah diperlakukan seperti ini selama hidupnya. Melihat senyuman Randika, emosi Bagus sangatlah rumit. Campuran antara ketakutan dan kemarahan membuatnya melihat Randika sebagai jelmaan dari setan. "Baiklah kalau begitu, demi menjalin hubungan baik denganmu aku akan memberimu sedikit wajah." Randika lalu melepas Bagus. "Tetapiˇ­ Aku masih punya beberapa pertanyaan, kalau aku tidak puas dengannya maka aku tidak akan segan-segan melihatmu sebagai musuh." Ketika Bagus mendengarnya, dia sedikit menghembuskan napas lega. Paling-paling pertanyaan yang dilontarkan hanyalah hal-hal remeh. "Tujuanmu bertemu dengan Inggrid hari ini apa?" Tanya Randika. Mendengar pertanyaan itu, Bagus sedikit ragu-ragu. Ketika dia melihat tatapan Randika, dia segera berkata dengan mantap. "Aku hanya ingin bercengkrama dengan Inggrid." PLAK! Randika lalu bertanya kembali, "Jangan berani berbohong di depanku." Bagus sudah berurai air mata, dia benar-benar sudah tidak kuat. "Akuˇ­ ingin meniduri Inggrid." PLAK! Walaupun Randika sudah tahu tujuan orang ini dari awal, mendengarnya langsung masih membuatnya marah. Bagus hanya bisa menerima nasibnya. "Pertanyaan berikutnya, kenapa perusahaanmu menarget perusahaan ini?" Randika ingin membuat hati Inggrid menjadi lega. Apakah perusahaan Galaksi benar-benar ingin bersaing ataukan membunuh perusahaan Cendrawasih? "Akuˇ­ tidak tahu." Jawaban Bagus terlihat setengah-setengah jadi dua tamparan menghampirinya lagi. Melihat ekspresi Randika yang menunjukan tidak akan berhenti sebelum dia menjawabnya dengan benar, Bagus langsung mengatakan. "Perusahaanku ingin menggulingkan perusahaan Cendrawasih." Randika lalu mendengus dingin, "Terus apakah kau akan membiarkan itu terjadi?" "Tidak, tidak akan kubiarkan." Bagus sudah gemetar ketakutan. "Cukup Randika." Inggrid sudah mendapatkan jawabannya dan dia dengan cepat menghentikan Randika. "Kau dengar itu? Sana pergilah sebelum kubunuh kau." Kata Randika dengan santai. Mendengar hal ini, Bagus langsung lari menuju mobilnya tanpa mempedulikan kedua pengawalnya yang masih berbaring di lantai. "Kau benar-benar tidak takut akan apa pun." Inggrid menggeleng-gelengkan kepalanya. "Demi istriku tercinta, langit pun akan kulawan bila perlu." Inggrid yang mendengarnya tersipu malu. Chapter 70: Serangan Balasan Setelah memberi pelajaran pada Bagus, Randika langsung menuju ruangannya. Tentu saja, Randika tidak peduli efek apa yang akan timbul dari kejadian barusan. Baginya Bagus adalah sebuah batu kerikil, buat apa dirinya mempedulikan hal kecil seperti itu? Kejadian di lantai 1 tadi sudah menyebar di seluruh perusahaan. Semua orang takjub bahwa suami dari pemimpin mereka tidak menciut di hadapan perusahaan besar seperti perusahaan Galaksi. Hal seperti inilah yang membuat mereka semakin bersemangat bekerja. Namun pada siang hari, mereka semua terkejut dengan pemandangan di depan gedung mereka. Puluhan orang berjas hitam dengan kacamata hitam sedang berbaris rapi di depan gedung. Mereka seperti para FBI yang siap menangkap buronan internasional. "Hei ada apa ini!" Semua orang penasaran dengan kehadiran para orang berjas hitam tersebut. "Hush jangan lihat! Nanti kau terlibat masalah!" Dengan cepat temannya mengajak pergi dari gedung dan makan di luar. Para petugas keamanan sudah bersiaga sejak tadi. Selama orang-orang tersebut bergerak, mereka akan menelepon polisi. Keamanan dari perusahaan Cendrawasih tidak terlalu bagus ditambah lagi mereka tidak punya senjata jadi pilihan terbaik adalah memanggil polisi untuk situasi berbahaya seperti ini. Bagus, yang berdiri di paling belakang, menatap gedung di hadapannya dengan tatapan penuh amarah. Mukanya masih bengkak parah. "Jika aku tidak bisa membuat orang itu mati, selamanya penghinaan ini tidak akan pernah hilang." Hanya dengan satu sapuan tangan dari Bagus, semua orang berbaju hitam itu segera bergerak menuju lobi gedung. Melihat barisan orang itu maju, para petugas keamanan segera mencegat. "Apa yang hendak kalian lakukan! Berhenti atau kami akan memanggil polisi!" Para pengawal Bagus ini tidak mempedulikannya dan masuk begitu saja. Para petugas keamanan ini tidak bisa mencegah mereka, lebih tepatnya mereka semua ketakutan. Satu menit sebelum mereka masuk, seorang resepsionis mencegat seorang pria tinggi besar dan gemuk yang hendak menuju lift. "Maaf, Anda tidak bisa masuk." "Kenapa aku tidak boleh masuk?" Wajah Indra terlihat bingung. "Aku hanya ingin bertemu dengan kakak seperguruanku." "Siapa nama dari kakakmu itu?" Perempuan itu tidak bisa memahami perkataan pria gemuk ini. Ini adalah gedung perusahaan Cendrawasih, bukan tempat latihan ilmu bela diri. "Oh!" Indra menggaruk-garuk kepalanya. "Kalau tidak salah, panggilannya adalah kak Randika di kota ini." "Pak, kami tidak bisa mengijinkan bapak lewat kalau alasan kehadiran bapak tidak jelas." Resepsionis perempuan itu masih menggeleng-geleng melihat wajah bodoh Indra. Namun di saat ini, Bagus dan para pengawalnya sedang berjalan menuju dirinya. Aura membunuh yang pekat dan orang-orang yang terlihat sangar itu membuat si resepsionis ketakutan. Pada saat ini, kebetulan Randika ingin keluar mencari rujak. Ketika dia sampai di lobi, dia melihat Bagus dan teman-temannya sedang berjalan menuju lift dan seorang pria gemuk sedang berdiri di resepsionis. Kenapa ada Indra di sini? Randika berdiri terbeku di tempat, Bagus dengan cepat menyadari kehadiran Randika dan menunjuknya sambil berteriak, "Itu dia!" Dalam sekejap, seluruh pengawal Bagus menerjang ke arah Randika. Tidak peduli siapa orang itu, bagi pewaris perusahaan Galaksi tidak akan ada orang yang selamat setelah membuat dirinya malu! Bagus menggertakan giginya. Sekarang dia membawa begitu banyak orang, kita lihat seberapa besar keberaniannya. Di saat ini juga, Indra telah melihat kehadiran Randika dan berlari ke arahnya sambil tersenyum. "Kakak seperguruan!" Ketika dia berlari, seluruh gedung seakan bergetar. Tidak peduli seberapa lambat Indra, dia masih lebih cepat daripada para pengawal Bagus. Dalam sekejap dia sudah berada di hadapan Randika dan memeluknya. "Kakak seperguruan!" Randika yang melayang tidak bisa berkata-kata. "Bukankah harusnya kau memanggilku kak Randika?" "Tapi aku merasa kakak seperguruan lebih enak didengar." Kata Indra sambil tersenyum dan meletakkan Randika. Pada saat ini para pengawal sudah hampir sampai dan semua pegawai yang ada di lobi sudah bersembunyi. "Minggir dulu sebentar, orang-orang itu mau menghajarku. Biarkan kakakmu ini menghajar mereka dulu." Melihat salah satu musuhnya sudah berada tepat di belakang Indra, Randika memancarkan aura membunuhnya. Dia sudah memberikan muka kepada Bagus dan dia malah menghampirinya, jangan salahkan jika kau mati! "Ada orang yang berani menghajar kakak?" Indra segera membeku di tempat. "Kak, aku akan membantumu." "Baik! Itu ada satu di belakangmu." Randika langsung memasang kuda-kuda menyerang. Bagus, dari jauh, berteriak kencang. "Hei bocah gemuk! Minggir!" Ketika Indra menoleh, dia melihat seorang pengawal sudah mengayunkan tongkat logamnya. Dalam sekejap, Indra menahan pergelangan tangannya dan mengangkat seluruh tubuhnya. Orang tersebut terkejut, bisa-bisanya dia diangkat dengan mudah oleh orang gemuk itu? Lalu dalam sekejap, badannya terlempar ke arah kerumunan. DUAK! Sekitar 5 orang tersungkur karena temannya itu. Namun, seorang pengawal berhasil memukul Indra tepat di perutnya. Yang mengejutkannya adalah ketika pukulannya mendarat, sebagian perut Indra terbenam dan dalam sekejap langsung memantul kembali seperti semula. Orang tersebut langsung terpental kuat dan menabrak salah satu temannya. Puluhan pengawal melihat beberapa temannya sudah terkapar dan berhenti sejenak. Bagi mereka siapapun yang menghalangi tujuannya merupakan musuh, oleh karena itu mereka juga menerjang ke arah Indra. Indra juga tidak tinggal diam, dia sekarang ikut menerjang ke arah para manusia berbaju hitam tersebut. Bagaikan banteng yang menyerbu, tidak ada orang yang bisa menahan terjangan Indra. Terlebih lagi, daging Indra sangat tebal yang membuatnya tidak takut apa pun saat dia menerjang ke arah kerumunan tersebut. Para pegawai Cendrawasih takjub melihatnya. Mereka semua melihat bahwa orang-orang kekar tersebut melayang dengan mudahnya, benar-benar sebuah pemandangan menakjubkan. Ketika Indra melayangkan pukulan, seorang pasti terbenam di lantai ataupun melayang jauh. Sedangkan taktik lautan manusia musuh sangat tidak efektif. Setiap pukulan mereka tidak berpengaruh sama sekali malah justru mereka terpental karena dorongan tenaga dalam Indra. "Buset, orang gemuk itu ganas sekali!" Semua orang terkagum melihat Indra yang begitu kuat. Apakah dia manusia? Si resepsionis justru yang paling terkejut melihatnya, mulutnya yang menganga bisa muat sebuah semangka. Orang gemuk itu ternyata seorang ahli bela diri? Dia benar-benar tidak menyangka. Bagus yang berdiri di paling belakang juga terlihat pucat. Siapa orang gemuk itu yang menghajar pengawalnya? Ketika orang terakhir berhasil dihajarnya, seluruh ruangan menjadi sunyi. Yang terdengar sekarang adalah erangan kesakitan para pengawal yang tersungkur di lantai. Semua menatap Indra dengan terkagum-kagum dan tidak menyangka orang segemuk itu bisa menghajar puluhan orang tanpa berkeringat! "Kenapa kalian semua menatapku?" Wajah Indra masih terlihat polos dan bodoh. Dia menoleh ke sekelilingnya dan merasa resah ketika semua memperhatikan dirinya. "Luar biasa!" Seseorang mulai bertepuk tangan dan semuanya juga mengikutinya. Dalam sekejap semua pegawai Cendrawasih bersorak dan bertepuk tangan sekaligus menghampiri Indra. Indra tersipu malu, dia hanya bisa menikmati momen ini sambil menggaruk kepalanya. Dia lalu berkata sambil menahan malunya. "Kalian terlalu berlebihan memujiku, kakak seperguruanku jauh lebih kuat dariku." "Hahaha siapa memangnya kakak seperguruanmu itu?" Suasana sukacita masih memenuhi lobi gedung ini. Indra hanya menoleh dan menunjuk ke arah Randika sambil tersenyum. "Kakak seperguranku adalah kak Randika." Dalam sekejap, semua pegawai melihat ke arah Randika. Ha? Semua orang terkejut sekali lagi. Orang gemuk ini saja sudah kuat seperti Dewa, suami Ibu Inggrid ini ternyata justru lebih kuat lagi? Orang-orang yang sudah pernah melihat aksi Randika mulai menganggukan kepalanya. Mereka sudah tahu bahwa Randika memang bukan orang sembarangan tetapi mereka tidak tahu seberapa kuat aslinya Randika. Namun setelah pria gemuk ini mengatakan bahwa Randika jauh lebih kuat darinya, seberapa mengerikannya suami pimpinan mereka itu? Namun, ekspresi para ahli parfum terlihat biasa saja. Sebelumnya mereka telah melihat dengan mata kepala mereka sendiri bahwa Randika telah melompat dari lantai 5 dan masih bisa berlari dengan cepat. Mereka sudah menganggap Randika bukan manusia biasa. Melihat tatapan kagum dan penasaran orang-orang, Randika sedikit tertawa puas di hatinya. Indra memang anak baik, dia tidak melupakan untuk mengagungkan kakak seperguruannya ketika dia sedang dipuji. Perhatian semacam ini tidak buruk, bohong kalau Randika tidak menikmati perasaan ini. Randika lalu berjalan sambil bertepuk tangan, "Hei Indra, aku tidak ingin menjadi pusat perhatian. Seharusnya kau merahasiakan fakta itu." ???Oh?" Indra tidak mengerti masalah rumit seperti itu dan hanya mengangguk. Bagus yang berdiri diam masih tidak dapat percaya dengan semua ini. Randika lalu menatap Bagus yang tidak jauh darinya. Bagus juga mendengar perkataan Indra barusan, seberapa kuat memangnya pria yang menghajarnya sampai babak belur itu? Sekarang, ketika tatapan Randika jatuh di matanya, Bagus tidak bisa berhenti bergetar. Dia segera berputar dan ingin melarikan diri secepatnya. "Berhenti!" Randika tiba-tiba berteriak keras. Hal ini membuat Bagus yang sudah melangkahkan kakinya berhenti dan dia sudah menangis dalam hati. Berjalan melewati banyak orang yang meringkuk kesakitan di lantai, Randika sampai di belakang Bagus dan berkata dengan nada datar. "Apakah aku menyuruhmu untuk pergi?" "Tiˇ­ dakˇ­ " Bagus sudah tidak bisa berhenti gemetar. Jika dia tahu bahwa pria yang sedang dihadapinya sekuat ini, dia lebih baik bermain-main dengan perempuan Rusia yang dia bayar kemarin. Para pengawal elitnya saja tidak bertahan 5 menit melawan pria gemuk itu, apabila mereka melawan Randika apakah akan jauh lebih cepat lagi? Kemungkinan tersebut terus memenuhi benak Bagus, apakah hari ini dia akan mati? "Hadap ke aku." Kata Randika dengan santai. "Semut sepertimu tidak pantas berdiri dan membelakangiku." DUAK! Bagus dengan cepat berlutut dan berurai air mata. "Tolong jangan bunuh aku! Masih ada cewek cantik lainnya yang sedang menungguku di luar sana, tolong ampuni aku!" Melihat Bagus yang menangis itu, semua orang terkejut. Dia berani menerobos masuk ke sini dengan membawa pasukan dan sekarang dia meminta ampun atas nyawanya. Sehat? Para perempuan yang mendengarnya ingin segera meludahinya, orang ini benar-benar mesum. Randika juga jijik ketika mendengarnya. Rasanya pewaris dari Perusahaan Galaksi ini memiliki IQ yang rendah. "Berdiri." Randika mulai lelah meladeni orang ini. Bagus ragu-ragu awalnya namun ketika melihat tatapan tajam Randika dia langsung berdiri. "Tolong jangan bunuh aku." Ketika mereka sudah berhadap-hadapan, Randika lalu merogoh-rogoh sakunya sambil mengatakan. "Jangan khawatir, aku tidak akan membunuhmu. Aku hanya akan memberimu pelajaran supaya tidak akan menggangguku lagi." "Aku tidak berani!" Bagus dengan cepat membantahnya, lawannya ini bagaikan setan jadi mana berani dia mendatanginya lagi. "Itu perkataanmu tadi pagi tuan pewaris dari perusahaan Galaksi." Selesai mengatakannya, dia menusukkan jarum akupunturnya ke daerah dada Bagus. Jarum tersebut langsung menyebarkan tenaga dalam Randika yang ada di dalamnya. "Kau! Apa yang kau lakukan!" Bagus ketakutan, apakah ini momen terakhirnya? "Jangan khawatir, kau tidak akan mati." Randika berkata dengan santai. "Hanya saja dalam sebulan ini kau akan merasakan sensasi tersengat ini beberapa kali dalam sehari." Ketika dua jarum lagi tertusuk di dada Bagus, dalam sekejap dia merasakan sensasi tergigit semut merah di seluruh tubuhnya. Dalam sekejap dia berguling-guling kesakitan. "AHHH!!" Randika lalu mengangkat tubuh Bagus dan berbisik di telinganya. "Situasi ini akan berlangsung selama sebulan, jika aku tahu kalau kamu ataupun anak buahmu menggangguku, maka siksaan ini akan berlangsung selamanya." Bagus yang masih kesakitan mengangguk dengan cepat. Ketika dia dilepas oleh Randika, dia dengan cepat berlari keluar dari gedung. Hari ini benar-benar mimpi buruk baginya. Dia merasa bahwa ketika dirinya bertemu Randika di masa depan nanti, lebih baik dia bersembunyi saja. "Kenapa kau bisa tahu tempat ini?" Randika menghampiri Indra dan membawanya keluar dari gedung. Dia tidak menyangka Indra bisa melacak keberadaannya. "Aku sendiri tidak mengerti. Aku hanya melacak tenaga dalammu saja kak. Ah aku ingat! Aku ingin bertanya sesuatu tentang perkembangan jurusku kak. Jadi aku memutuskan untuk mencarimu." Indra berusaha menjelaskannya sederhana mungkin. Tenaga dalam? Randika lalu menampar dahinya. Dia menggunakan teknik ini untuk melacak keberadaan Brian, berarti Indra juga bisa melacak dirinya dengan cara yang sama. Dengan begini, kedua murid seperguruan ini bisa melacak keberadaan satu sama lain. "Apakah cuma karena itu saja kau ingin menemuiku?" Randika masih tidak habis pikir. "Ah iya!" Indra teringat akan masalah terbesarnya. "Aku lapar kak, aku sudah tidak punya uang." Mendengar hal itu Randika langsung menampar dahinya lagi. Sepertinya Indra telah dibohongi oleh seseorang dan menyerahkan semua uangnya ketika dia pergi makan untuk pertama kalinya. Kehidupan kota memang kejam! Chapter 71: Bersantai di Rumah Setelah mengantar kembali Indra ke rumah kontrakannya dan memberikannya sejumlah uang, Randika kembali ke rumahnya. Di rumah, dia bertemu dengan Hannah yang sedang menonton TV. Ketika dia mendekat, Hannah tidak menyadari keberadaannya karena benar-benar terpaku dengan film yang dia tonton. Hari ini Hannah tidak berpakaian sexy seperti biasanya. Namun, Randika tetap melirik ke arahnya. Rambut yang tidak diikat, baju putih biasa yang menonjol, hot pants yang menonjolkan paha dan kakinya yang mulus tetap membuat Hannah terlihat sexy. Belum lagi aroma sabun yang memancar darinya mengingatkannya pada Inggrid yang baru selesai mandi. Mungkinkah Inggrid saat masih kecil persis seperti adiknya? Randika lalu duduk perlahan-lahan di samping Hannah dan mengangetkannya. "Eh! Kak kurang ajar sekali kamu! Kaget tahu aku, lain kali kasih salam gitu kalau sudah pulang." Hannah langsung mengomel tanpa henti namun, dia langsung terpaku kembali ke TV kembali. "Kau terlalu terobsesi sama drama Amerika itu." Randika menghela napas. "Aku sendiri kurang paham kenapa orang-orang suka melihat drama seperti itu." "Ha? Kakak kan belum pernah melihatnya, jangan menghakimi gitu dong." Hannah lalu menyadari sesuatu dan menoleh. "Jangan-jangan kakak cemburu ya?" "Cemburu?" Randika kebingungan. "Buat apa aku cemburu?" Hannah langsung memasang wajah mengerti segalanya. "Kau cemburu karena semua lelaki di drama Amerika lebih tampan darimu, lebih pintar darimu dan cewek-cewek mereka juga cantik-cantik. Aku mengerti perasaanmu kok kak, aku sangat mengerti!" Apakah kali ini kakak iparnya akan meledak karena kejahilannya? "Kamu salah paham." Randika berkata sambil tersenyum. "Lihat betapa putihnya mereka, jelas mereka kurang latihan sepertiku. Apakah mereka sekuat kakak iparmu ini? Jangan repot-repot bersandiwara, kau tahu bahwa perkataanku benar. Kalau melawan mereka, aku bisa menghajar mereka 1000 orang sekaligus!" Randika tertawa dan Hannah hanya bisa mengangguk. Kejadian di rumah sakit sebelumnya benar-benar melekat di benak Hannah. "Apanya yang kuat, aku dorong sedikit saja sudah langsung muntah darah!" Hannah tidak mau tunduk. "Hei kau menggangguku saat aku butuh konsentrasi penuh, gara-gara kamu aku hampir mati!" Randika lalu menjewer adiknya itu. "Ah iya, iya, ampun kak!" Hannah menyesali perbuatannya. Sial benar, kakak iparnya ini sudah menemukan jurus ampuh untuk melawan dirinya! "Sudah jangan membahas hal itu lagi," Randika lalu berdeham. "Pertanyaanku selanjutnya, memangnya aku tampak sebodoh itu daripada mereka?" Hannah tersenyum dan memeletkan lidahnya. "Iya kakak itu bodoh dan miskin." Randika mau marah tidak bisa karena memang itu kenyataannya, tapi semua itu berubah ketika Inggrid hadir di hidupnya. "Hahaha kau salah anak muda!" Randika menggelengkan kepalanya. "Pertama, sikap rendah diri itu adalah kunci jadi aku tidak akan mengumbar kepintaranku begitu saja. Dan kedua, aku sudah menikah dengan kakakmu, bagaimana mungkin aku miskin?" "Hush!" Hannah sedikit marah ketika mendengarnya. "Bisa-bisanya kakakku itu menikahimu, aku rasa dia butuh kacamata baru." "Kalau bukan aku kakak iparmu, saat kita di gunung itu kau bisa-bisa tertembak gara-gara hobi liarmu itu. Syukuri saja." Randika memberi fakta yang tidak bisa terbantahkan. "Hmmmˇ­" Hannah tidak bisa membantah dan menghela napas. "Selain kakakku, pernahkah wanita cantik lainnya mendekatimu?" Randika lalu menatap Hannah dan berkata dengan nada kecewa. "Sejauh ini belum ada, karena yang didekatku sekarang wajahnya masih kekanak-kanakan dan tidak cantik." Hannah langsung tersinggung. Bajingan, dia mengatakan aku itu jelek? "Ketika aku bersamamu, aku selalu mendapatkan masalah." Randika menghela napas. "Kalau aku terluka begitu banyak, jelas kakakmu hanyalah satu-satunya yang akan mewarnai hidupku." "Hahaha kakak benar juga." Setelah dipikir-pikir perkataan Randika ada benarnya juga. Setiap dirinya berduaan dengan Randika, selalu ada masalah yang berbahaya. "Lagipula, para aktor itu semua bukan tandinganku sama sekali. Sedikit berjemur di matahari saja mungkin mereka sudah mengomel!" Hannah lalu tertawa dan meliriknya. "Memangnya kakak sendiri sekuat apa?" Ketika mendengarnya, Randika tertawa nakal dan menemukan kesempatan menyerang balik adiknya. "Apakah kamu tidak pernah melihat kakakmu ketika bangun? Bukankah dia sering mengeluh kurang tidur dan pinggangnya capek? Kurasa 10 ronde semalam membuatnya kecapekan meskipun tiap malam dia terlihat puas sekali setelah kita selesai melakukannya." Ha? Apa hubungannya kakaknya dengan seberapa kuat Randika? Ketika Hannah mendengar ''10 ronde'' barulah dia mengerti artinya. Dalam sekejap dia tersipu malu. Dasar lelaki mesum! Bisa-bisanya dia mengumbar hubungan suami-istri kakaknya itu? Hannah ingin marah dan memukulnya tetapi mengingat betapa kuatnya Randika membuat dirinya mengurungkan niatnya. Setelah menenangkan diri, Hannah hanya menatap Randika dan berkata dengan nada dingin. "Kakˇ­ Kau benar-benar mesumˇ­" Randika justru tersenyum dan tersipu malu. "Ah bisa saja kamu. Kalau aku tidak hebat seperti itu di ranjang, mana mungkin kakakmu mau sama aku?" Karena Inggrid tidak ada di sini, Randika bisa bebas menggoda adik iparnya ini. "Kak!" Hannah tidak tahan dengan lelucon mesum kakak iparnya itu. Hannah lalu memalingkan wajahnya dan menonton kembali TV. "Setidaknya para aktor ini tidak semesum dirimu." "Ha? Kau ini bodoh apa polos?" Randika menghela napasnya. "Bukankah mereka juga makan dan minum seperti kita? Urusan seksual juga sama, itu kebutuhan dari seorang pria. Aku rasa mereka juga mesum dan tidur dengan banyak wanita. Kecuali kalau mereka bukan pria, itu baru lain cerita." Kali ini Hannah terdiam, kenapa pria ini selalu tidak mau kalah? "Apa lagi kekurangan mereka?" Hannah lalu menoleh ke Randika dan mematikan TV, dia sudah kehilangan minatnya untuk menonton. Randika tertawa ketika melihat reaksi adik iparnya ini. Apakah dirinya terlalu kelewatan ataukah adiknya ini memang setuju dengannya? Pada saat ini, tiba-tiba handphone Hannah berbunyi. Hannah lalu melihat siapakah yang meneleponnya. "Halo Mon, ada apa?" Hannah melihat bahwa itu adalah Monika teman kuliahnya, dia sangat senang temannya itu menyelamatkan dirinya. "Han! Tolong aku!" Suara Monika terdengar ketakutan. Randika, yang ada di samping Hannah, memakai pendengaran supernya dan bisa mendengar percakapan mereka dengan baik. "Eh? Kenapa kamu Mon?" Hannah langsung panik. "Tolong cepat datang ke Hotel Mawar kamar 779, aku mohon cepatlah!" Kata Monika sambil menangis. "Tunggu aku Mon! Aku akan datang secepatnya!" Hannah tidak bisa mendengar suara Monika lagi. Hannah lalu menahan air matanya dan segera pergi ke kamarnya untuk ganti pakaian. Dia akan pergi untuk menyelamatkan teman baiknya itu. Ketika Hannah sudah selesai berganti pakaian, Randika sudah menunggunya tepat di luar pintu kamarnya. "Mau apa kamu? Mau meniru pahlawan di komik?" Randika mengerutkan dahinya. Hannah tidak ingin mengomentarinya dan hanya berjalan melewatinya, dia tidak punya waktu untuk berurusan dengan Randika. Randika sebagai kakak iparnya jelas merasa khawatir terhadap adik iparnya ini, tetapi dia bangga bahwa Hannah sangat peduli dan berani menyelamatkan temannya tanpa berpikir panjang. Chapter 72: Hotel Mawar (1) Hotel Mawar adalah salah satu hotel bintang 5 yang terkenal sebagai hotel tempat mereka bermain dengan simpanan bagi orang kaya. Fasilitas dan kerahasiaan identitas yang diberikan hotel ini membuat para orang kaya tidak perlu khawatir akan terjadinya penggerebekan. Kamar 779 Seorang pria paruh baya menatap dingin ke arah toilet yang terkunci rapat itu. Suasana hatinya sedang tidak bagus. Perempuan itu benar-benar terlalu lama di toilet, seharusnya dia tidak membiarkannya menggunakan toilet. Namun pada saat ini, terdengar suara air mengalir dan wajah pria itu kembali hidup. Ketika pintu itu terbuka, sesosok wanita cantik keluar dan terlihat ketakutan. Monika berharap Hannah segera menyelamatkannya. Melihat pria itu sudah setengah telanjang, Monika semakin takut. "Mon, apakah kau sakit perut?" Pria itu segera menghampiri Monika, senyumannya terlihat nakal. "Tidak, tidak." Monika menggelengkan kepalanya dengan cepat. Di bar sebelumnya, pria ini memberinya minum alkohol sebanyak 2 botol. Ketika dia sudah mulai sadar, ternyata dia sudah berada di hotel ini bersama pria ini. Menyadari situasinya, dia pura-pura mual dan lari ke dalam toilet di mana dia menelepon Hannah dengan panik. Untungnya, ketika dia digotong ke hotel ini, dia melihat nomor kamarnya. Kalau tidak, mungkin riwayatnya sudah tamat dan tubuhnya sudah ternoda. Hannah, aku mohon cepatlah datang... Satu-satunya harapan adalah Hannah teman baiknya itu. "Kalau begitu, ayo kita ke tempat tidur." Pria itu memeluk Monika sambil mengendus lehernya, berusaha membawanya ke ranjang. Monika sedikit melawan tetapi karena dirinya masih setengah mabuk, tenaganya tidak banyak. "Lepaskan aku!" Kata Monika sambil memberontak. "Hahaha Monika kau ini lucu sekali. Bukankah kau yang mengundangku kemari?" Pria itu semakin memeluk Monika semakin erat dan mulai menjilati mangsanya itu. Kelembutan dan aroma wanita muda di pelukannya ini membuat dirinya semakin terangsang. Perempuan muda memang menawan dan terlihat masih polos, pria ini suka dengan sifat memberontak yang dimiliki perempuan muda ini. "Malam ini, tubuhmu adalah milikku." Pria itu lalu melempar Monika ke ranjang sambil melepaskan pakaiannya. Monika yang hanya memakai atasan itu berusaha melepaskan diri. Namun semua usahanya sia-sia, pria itu menahan kedua tangannya dan sudah menyelam di tubuh Monika yang masih belum matang ini. Tangannya meraba-raba dadanya sambil berusaha melepaskan semua pakaian Monika hingga telanjang. "Tidak! Akuˇ­ tidak mau!" Monika hanya bisa berkata tidak sambil menangis, dia sama sekali tidak bisa melawan. "Mon, tidak usah khawatir. Aku akan mengajarkanmu arti dari kebahagiaan." Mata pria ini semakin membara. Monika sungguh cantik dan menawan, dia harus mencicipi tubuh ini! Monika merasa dirinya telah tamat. Pakaian yang tersisa hanyalah beha dan celana dalamnya saja. Pria itu kemudian menatap dan mengagumi tubuh Monika terlebih dahulu lalu menghirup leher putihnya itu. "Tidak ada yang bisa mengalahkan bau perempuan muda!" Pria itu benar-benar puas. "Sekarang kita lihat bagaimana pemandangan indah yang ada di balik beha itu." Kemudian tanpa menunggu lama, dia berusaha melepaskan pengait beha milik Monika. "Tidak! Kau bau!" Monika berusaha melawan. Pria itu terkejut ketika mendengarnya, kemudian dia tertawa. "Hahaha kalau begitu aku akan mandi dulu. Mon, tunggulah di sini dan menjadi anak yang baik." Kemudian pria itu memasuki kamar mandi dan mandi sambil bersiul. Dia sudah lama tidak mencicipi tubuh seorang gadis muda jadi dia harus memastikan semuanya berjalan dengan sempurna. Bagaimana mungkin orang mencicipi buah terbaik dengan kondisi terburuknya? Jika dia ingin melakukannya, dia harus berada dalam kondisi terbaiknya! Melihat pria itu pergi, Monika berusaha memakai bajunya dan berlari menuju pintu. Meskipun pemandangannya sedikit kabur dan kakinya gemetar tanpa henti, setidaknya dia bisa berjalan sambil bersandar di tembok. Ketika dia berhasil keluar, Monika segera mencari jalan keluar ataupun seseorang. Namun, pria tersebut mandi dengan cepat. Hanya butuh semenit untuk dirinya selesai. "Beruang kecilku aku datang!" Meskipun wajahnya masih berminyak, pria ini sudah merasa segar dan tersenyum lebar. Ketika dia siap mencicipi hidangannya, dia terkejut ketika melihat Monika tidak ada di kamar. Sialan, ke mana perempuan itu pergi?! Pria itu segera berlari keluar kamar dan mengetahui bahwa Monika baru saja berbelok ke kiri. Monika segera tersusul dan tertangkap. "Mau lari ke mana kau?" Pria itu segera menjambak dan menyeret Monika kembali ke kamarnya. "Ah! Sakit, hentikan!" Monika kesakitan ketika rambutnya dan badannya diseret oleh pria itu. Untuk menghindari yang tidak-tidak, Monika segera dia gendong. "Lepaskan aku!" Monika mulai menangis. "Lepaskan kamu?" Pria itu hanya tertawa. "Kau tidak akan lepas dariku, malam ini kau ada untuk melayaniku." "Jadilah wanitaku dan aku tidak akan menyebarkan foto bugilmu di sekolahmu nanti." Kata pria itu dengan nada dingin. Monika benar-benar tidak berdaya. Bagaimana bisa ada orang tidak tahu diri seperti ini? Ketika sampai di kamar, Monika langsung dilempar ke kasur dan pria itu langsung membuka jubah mandinya. Dia hanya memakai celana dalam saja dan segera memeluk Monika. "Tolongˇ­ Lepaskan akuˇ­" Monika menangis kembali, dia tidak mau hidupnya berakhir hari ini. Pria tersebut hanya menatap Monika dan menamparnya, dia lalu tersenyum. "Sudah cukup menangisnya, kau ingin kubuat pingsan?" Pria tersebut kemudian menanggalkan baju Monika, tetapi karena Monika terus memberontak akhirnya dia merobek baju tersebut. Setelah terobek dengan sempurna, sepasang gunung menyambut dirinya. Dia mengangguk puas dan menghirup di lembah gunung itu. "Hmmm harum sekali." Pria itu kemudian meraba-raba dadanya Monika sambil mengulurkan tangannya ke bawah. "Tidakˇ­ Aku tidak mauˇ­" Monika kembali menangis, dia berharap tadi menuruti kata orang tuanya dan tinggal di rumah. Pria itu tidak peduli dan kembali memainkan bagian atas dan bawah Monika. Dia merasa tubuhnya sudah tidak kuat lagi dan mulai menurunkan celana dalamnya. Pria itu menatap Monika dan melihat wajahnya yang penuh air mata. "Tolong lepaskan aku." Monika berusaha melawan dan pria itu kembali menamparnya. "Diam atau akan kurekam kamu! Aku akan pastikan video itu tersebar dan aku sendiri akan mengirimkannya ke orang tuamu agar mereka bisa melihat dirimu yang menyedihkan ini!" Hal ini membuat Monika ketakutan dan terdiam, dia masih menangis kecil. Melihat Monika yang sudah pasrah dan terdiam, dia kemudian ingin melepas celana dalam milik Monika dan memulai permainan sesungguhnya. Namun, tiba-tiba pintu kamarnya digedor. "Siapa?" Pikirnya. Pria itu mengerutkan dahinya dan memakai jubahnya. Siapa yang berani mengganggunya menikmati makan malamnya ini? Dia lalu menghampiri pintu. Pintunya terus digedor tanpa henti, hal ini membuat dirinya semakin marah. Dia tidak sabar memaki siapapun yang ada di balik pintu tersebut. Chapter 73: Hotel Mawar (2) Tapi ketika pria itu membuka sedikit pintunya untuk mengintip, pintunya tiba-tiba terdorong dengan kuat! Seketika itu juga, pintu terbuka lebar dan pria ini terjepit di balik pintu gara-garanya. "Aku kan sudah bilang lebih baik dobrak saja daripada menggedor begitu." Randika hanya tersenyum ke arah Hannah. Hannah yang panik segera menerjang masuk dan mencari sahabatnya. "Monika!" Hannah segera melihat Monika yang penuh air mata dengan pakaian dalamnya saja di atas kasur. Dia lalu mengambil sebuah jubah dan menutupinya sambil memeluk erat sahabatnya itu. "Tenanglah, aku sudah di sini." "Hannah!" Monika menangis semakin keras, dia merasa lega temannya berhasil menyelamatkannya. "Sudah, sudah." Hannah sedikit meneteskan air mata sambil mengelus kepala Monika. Di sisi lain, Randika sedang memeriksa sekelilingnya. Mana orang yang bertanggung jawab atas perbuatan hina ini? Seketika itu juga, dari balik pintu terdengar orang menangis. Randika lalu menyadari ada kaki yang mencuat dari balik pintu dan ternyata ada orang di baliknya. "Siapa kalian?" Pria tersebut marah-marah pada Randika. "Berani-beraninya kalian menerjang masuk tanpa ijin! Akan kubuat kalian masuk penjara!" "Aku sadar akan perbuatanku ini." Randika hanya menggelengkan kepalanya. "Baguslah kalau begitu, aku ingin kalian segera keluar!" Pria itu mengusir Randika dan Hannah, dia lalu mencengkram tangan Monika dan berkata dengan nada dingin. "Kau ikut denganku!" "Bajingan rendahan!" Hannah langsung menampar pria tersebut. Pria itu sudah hendak memukul Hannah karena sudah merusak malam indahnya ini. Tiba-tiba, suara kamera handphone terdengar dan ketika dia menoleh, dia tertampar sekali lagi. "Kau!" Pria itu terkejut, bisa-bisanya pria itu masih berani melawannya juga? Namun, Randika menamparnya sekali lagi. "Hei pak tua, sepertinya kau tidak sadar akan situasimu saat ini." Ketika pria tersebut hendak menjawab, Randika menamparnya sekali lagi. Dia lalu berkata dengan dingin. "Apakah aku menyuruhmu untuk menjawab?" Beda dengan tamparan para perempuan itu, tamparan Randika sangat keras dan menyakitkan. Ketika dia berusaha menghindar, tamparan Randika masih tetap akurat mendarat di wajahnya. "Apakah anjing sepertimu pantas menatapku seperti itu?" Wajah Randika mulai terlihat bengis. "Kau membuat mabuk perempuan yang masih muda dan membawanya ke hotel, kau adalah sampah dari sampah." "Apakah kau punya bukti?" Pria tersebut sudah siap dengan pertanyaan seperti itu. "Apakah kau punya bukti bahwa aku memaksanya? Dia sudah 18 tahun dan kita sama-sama menginginkannya!" Tanpa berbicara, Randika menendangnya keras. Pria tersebut segera menatap tembok dan mengerang kesakitan di lantai. "Aku tidak perlu bukti," Randika lalu menghampirinya. "Lelaki macam kamu memang tidak layak untuk hidup." Setelah mengatakan seperti itu, Randika menendangnya lagi. Kali ini pria tersebut menahan dengan tangannya tetapi dia masih kesakitan. ???Jangan pura-pura mati." Kata Randika dengan nada mengancam. "Aku masih belum selesai denganmu." "Hajar dia sampai mati kak!" Hannah benar-benar marah, tega-teganya pria itu membuat temannya seperti ini? "Kauˇ­ Apakah kau tidak tahu siapa aku?" Pria tersebut terbatuk berkali-kali dan darah mulai mengucur dari sudut mulutnya. "Oh? Apakah kau orang terkenal? Kalau begitu akan kudengar terlebih dahulu." Kata Randika dengan santai. "Hahaha!" Pria itu tertawa keras sambil menatap tajam Randika. "Jangan kabur ketakutan kalau sudah mendengarnya, aku adalah salah satu atasan dari Perusahaan Galaksi." Perusahaan Galaksi? Randika hanya terdiam membeku, dia menatap bingung ke arah pria tersebut. Bisa-bisanya dia berurusan dengan orang Perusahaan Galaksi 3x sehari? Apakah mereka fansnya? Melihat ekspresi Randika yang tampak kebingungan itu, si pria ini semakin besar kepalanya. "Kalian semua akan kukubur dalam-dalam! Dengan kekuatan perusahaanku, tidak aka nada masa depan bagi kalian semua!" Randika hanya tersenyum ketika mendengarnya. "Aku rasa semua orang dari Perusahaan Galaksi ternyata busuk-busuk." "Kau masih tidak mengerti situasimu bocah?" Pria itu meludahi sepatu Randika. "Jika kau menyentuhku sekali lagi, akan kupastikan keluargamu ikut terseret ke jurang bersamamu!" Namun, tiba-tiba, Randika menghampirinya dan menendangnya sekali lagi. "Memangnya kenapa kalau kau berasal dari Perusahaan Galaksi?" "Kau! Kau masih berani menyakitiku?!" Pria itu benar-benar marah. "Mau kamu itu utusan negara atau presiden suatu perusahaan, aku tetap tidak peduli. Hari ini kau akan tetap kusiksa." Randika lalu mengambil tali raffia yang dibawanya dan mengikatnya ke kursi. Setelah dirinya terikat, pria ini benar-benar ketakutan. Ada apa dengan pria satu itu? Apakah dia tidak tahu kekuatan sebesar apa yang dimiliki Perusahaan Galaksi? Apakah pria ini masih waras? Melihat Randika yang mengutak-atik celana panjangnya, pria tersebut segera marah kembali. "Apa yang kau lakukan?" "Aku hanya ingin melihat namamu siapa sebelum membuatmu merasakan apa yang telah kau lakukan kepada perempuan itu tadi." Setelah mengambil foto KTP pria tersebut, Randika mulai memikirkan cara untuk menyiksa orang ini. Pertama-tama dia membuka jubah mandi orang tersebut. Badan penuh bulu yang menjijikkan dan bau ketiaknya sangat menyengat membuat Randika ingin muntah di tempat. Hannah langsung memalingkan wajahnya, tidak ingin melihat tubuh menjijikkan pria itu. Apa yang akan dilakukan kakak iparnya tidak sebanding dengan penderitaan yang telah diterima oleh Monika. Hannah berharap pria itu mati saja. "Tunggu! Kita sepertinya salah paham dengan semua kejadian ini." Wajah pria itu menjadi pucat ketika melihat bahwa Randika kembali membawa pisau makan yang ada di laci. "Aku bekerja di Perusahaan Galaksi jadi kalau ini masalah uang, aku akan memberikan padamu berapapun!" Namun, di bawah tatapan minta ampun pria itu, Randika menggores pisaunya tepat di pipinya. Setelah itu Randika kembali mengiris orang tersebut beberapa kali lalu berbisik padanya. "Jangan khawatir, luka itu tidak dalam. Semua ini hanyalah hidangan pembuka, nanti akan kuberi obat agar lukamu itu cepat menutup. Lagipula mati dengan 1000 sayatan membutuhkan lebih dari 1 hari." Mati dengan 1000 sayatan? "TIDAK! Lepaskan aku! Katakan berapa uang yang kau mau! Aku akan berikan seluruhnya padamu!" Pria itu segera meraung ketakutan seperti anjing menggonggong. "Percuma memohon ampun sekarang." Randika lalu duduk dan menunjuk ke arah Monika. "Minta maaf padanya." Pria itu segera menoleh dan berkata sambil menangis. "Monika maafkan aku. Kau perempuan tercantik yang pernah kulihat dan aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Maafkan aku dan aku akan memberikanmu uang yang banyak." Monika hanya terdiam, dia sudah tidak sudi melihat wajah pria itu sedetik pun. Hannah tertawa lalu mengatakan. "Uang? Kau kira rasa malu ini bisa digantikan dengan uang?" "Malu? Aku bahkan belum melakukan apa pun terhadap tubuhnya. Lepaskan aku dan aku jamin uang yang kau terima bisa tahan 7 turunan." Monika lalu mengumpulkan seluruh keberaniannya dan menatap ke arah pria yang hampir menodai tubuhnya itu. "Aku akan melaporkan kejadian ini kepada polisi." "Baiklah, kita akan menurutimu." Hannah lalu memeluk erat temannya itu. "Polisi?" Pria itu segera menghela napas lega. Dia memiliki teman kuat di dalam kepolisian kota ini, dengan bantuannya dia akan lolos dari kejadian mengerikan ini. Tapi, Randika dengan cepat mengatakan, "Aku akan membawa orang ini ke kenalanku di satuan khusus kepolisian kota ini. Dengan bantuan polisi tersebut, aku jamin orang ini tidak akan pernah bisa lepas dari penjara." Ketika mendengarnya, orang tersebut segera panik dan meronta-ronta. Randika lalu memukul bagian belakang kepalanya dan membuatnya pingsan. Setelah keadaan menjadi tenang, Hannah melepas jaketnya dan membantu Monika berdiri. Setelah memanggil keamanan hotel dan menjelaskan situasinya, Hannah dan Randika membawa pria tersebut ke Deviana. "Masuklah ke dalam dan ceritakan segalanya kepada temanku itu. Aku akan menunggu di luar untuk memberikan temanmu itu privasi." Kata Randika dengan santai. "Baik kak." Hannah tersenyum dan mengangguk. Kemudian dia menyuruh Randika menunduk dan mencium pipinya. "Terima kasih kak!" "Hahaha bisa saja kau!" Randika lalu mengelus-elus kepala adik iparnya itu sambil tersenyum. Hannah tersipu malu, entah kenapa dia terpikir untuk mencium kakak iparnya itu! Chapter 74: Geng Golok? Maksudmu Geng Goblok? "Apa?" Satria, ayah dari Bagus, marah ketika mendengar cerita anaknya itu. Wajah Bagus yang masih bengkak itu tampak tertunduk malu. Melihat ayahnya yang marah itu dia benar-benar tidak berani menatapnya. Memang kalah berkelahi itu memalukan, tetapi anaknya ini telah dihajar di depan publik dan menjadi viral di media sosial. Ditambah lagi, orang-orang tahu bahwa dia adalah anak dari bos perusahaan Galaksi. Hal ini membuat ayahnya pusing bukan main. Tetapi, yang membuat Satria benar-benar marah adalah anaknya dihajar sampai wajahnya berubah drastis. Mana ada seorang ayah yang terima anaknya dihajar habis-habisan seperti ini? "Kau tidak mengatakan bahwa kau berasal dari perusahaan ayah?" Satria mengerutkan dahinya, seharusnya orang di kota ini ketika mendengar nama perusahaannya langsung bergetar tanpa henti. "Sudah ayah, tapi dia sama sekali tidak takut." "Kalau begitu bisa jelaskan kenapa kau tetap bisa dihajar seperti ini walaupun sudah membawa pengawal sebanyak itu?" Anaknya sudah membawa puluhan pengawal elit dan masih kalah? Lelucon macam apa itu? Satria paham tempat seperti apa anaknya itu suka bermain ketika malam hari, oleh karena itu dia memberikan banyak pengawal elit untuk melindungi anaknya. "Ituˇ­." Bagus hanya bisa bergetar tanpa henti. "Apa yang mau kau katakan?" "Semua pengawal ayah itu tumbang dalam 1 menit." Kata Bagus dengan suara yang kecil. "APA!?" Kali ini Satria benar-benar terkejut bukan main. Sambil menghirup napas dalam-dalam, dia lalu bertanya. "Tolong kau jelaskan lebih detail." Bagus kemudian menceritakan semua kejadian hari ini dari awal. Mulai dari dia bertemu Inggrid sampai dia membawa puluhan pengawal untuk menghajar Randika kembali. Satria mendengarnya dengan wajah datar sampai dia mendengar ancaman Randika itu, ekspresi Satria berubah menjadi serius. "Bajingan itu benar-benar mengatakan hal itu?" "Benar ayah, dia mengatakan bahwa kalau kita berani menghancurkan Perusahaan Cendrawasih maka dia akan membunuhku dan menggantung mayatku di tempat umum." Bagus sedikit menambah-nambahkan. "Menarik." Wajah Satria terlihat bengis. Pertama kalinya dia menemui orang yang berani berhadapan dengan perusahaannya, hal ini membuat darahnya mendidih. "Apakah kau tahu namanya?" Satria segera ingin melenyapkan orang ini, jika orang ini masih bernapas maka anaknya itu masih belum aman. Demi kerajaannya dan keluarganya, Satria rela melakukan apa saja. "Randika." Jawab Bagus. Namun, pada saat ini teleponnya tiba-tiba bunyi. Suara panik sekretarisnya segera memenuhi telinganya. Mendengar kabar tersebut, wajah Satria langsung menjadi muram. "Bagaimana bisa dia tertangkap?" Satria benar-benar tidak habis pikir bahwa salah satu pimpinan di perusahaannya tertangkap atas tuduhan memperkosa. Lalu dia bertanya kembali kepada sekretarisnya. "Bagaimana dengan orang-orang kita di kepolisian? Apakah dia tidak bisa membantunya?" "Maafkan aku tuan, pemimpin kasus ini seorang wanita dari satuan khusus, kita tidak bisa apa-apa terhadapnya." "Siapa yang melaporkannya?" "Aku telah meminta laporan tersebut dan ternyata itu adalah Hannah, adik dari pemimpin Perusahaan Cendrawasih Inggrid Elina. Hannah dan temannya Monika melaporkan bahwa orang kita telah mencoba memperkosa Monika dengan cara memberinya alkohol sampai tidak sadarkan diri. Lalu orang kita tersebut dibuat mengaku oleh seseorang bernama Randika dan memberikan sebuah foto sebagai buktinya." PRANG! Tiba-tiba, asbak yang ada di atas meja sudah melayang ke tembok. Pria itu lagi! Bagaimana bisa dalam sehari perusahaannya diserang oleh pria itu terus-menerus?? "Tuan?" Sekretaris itu masih bingung dengan apa yang harus dia lakukan. "Baiklah, aku akan mengurus masalah ini sendiri. Aku akan mengabarimu jika aku perlu apa-apa." Setelah menutup teleponnya, Satria lalu menelepon seseorang. "Halo David? Bantu aku untuk membunuh seseorang." ......ˇ­ Pagi berikutnya, Randika kembali sarapan di luar. Hari ini dia berniat memakan nasi pecel di dekat rumahnya. Namun, dia sudah diikuti oleh beberapa orang sejak dia keluar dari kompleks perumahannya. Randika pura-pura cuek dan memesan makanannya. Dia tahu bahwa pihak lain tidak akan membuat keributan di tempat umum. Setelah selesai makan dan membungkus, Randika segera menuntun mereka ke gang sepi. Setelah dia berjalan beberapa menit, dia mencuri pandang ke belakang dan sudah ada puluhan orang mengikutinya. Sepertinya pemimpinnya berada di belakang sambil membawa golok itu. "Hoi berhenti!" Mendengar ini Randika lalu menoleh dan melihat puluhan orang mulai mengepungnya. Ekspresinya tetap sama dan dia lalu memasang ekspresi bingung. "Apakah kalian mencariku?" "Kau buta ya? Jelas-jelas di sini cuma ada kamu seorang." Salah satu preman itu muak dengan sikap pura-pura bodohnya Randika. "Kalian mau apa? Perasaan aku tidak punya hutang." Randika bertanya sambil memakan peyeknya. "Salahmu adalah menyinggung orang yang salah." David, si pemimpin dari geng golok ini, maju dan menghampiri Randika. "Ah? Apakah ini gara-gara aku ketahuan mengambil kerupuk 4 tapi aku ngakunya 1? Atau apakah karena kapan hari aku mengambil uang jatuh di jalan? Atau jangan-jangan aku ketahuan mengintip kamar mandi perempuan di taman itu ya? Jadi kalian orang suruhan yang mana? Bisa dikatakan bahwa aku telah menyinggung banyak orang." Kata Randika sambil tersenyum. Meskipun sedikit terhibur dengan ocehan Randika, David segera memberi sinyal kepada bawahannya untuk melemparkan golok ke arah Randika. Saat golok itu melesat, Randika sudah hilang dari tempatnya berdiri. "Ah kalau kau berniat membunuhku seperti itu, berarti satu-satunya orang yang kupikirkan adalah orang-orang dari Perusahaan Galaksi. Apakah salah satu dari mereka mengirim kalian?" Randika mulai paham akan situasinya. Semua orang terkejut ketika mengetahui Randika sudah berada di belakang David. David segera mengambil langkah mundur, dia merasakan sensasi bahaya yang memancar dari targetnya ini. Meskipun dia sudah membawa banyak orang bersamanya hari ini, dia masih merasa ketakutan. "Karena kalian adalah suruhan Perusahaan Galaksi, aku tidak perlu menahan diri." Tatapan mata Randika menjadi dingin dan tanpa aba-aba, dia sudah menghilang kembali. Para preman ini terkejut melihat sosok Randika yang sudah menghilang lagi. Yang mereka tahu adalah teriakan ketakutan dan kesakitan yang berada di sisi kanan mereka. Satu per satu preman telah dipukul hingga pingsan oleh Randika. "Tunggu apa lagi? Bunuh dia!" Semua orang yang masih bengong langsung tersadar dan menyerang. Namun, ketika mereka sampai di tempat Randika, sosok Randika sudah menghilang lagi. Hal ini membuat bingung para preman namun, teriakan kesakitan dari pihak mereka sama sekali tidak berkurang. "Berpencar!" Kata David dengan keras. Randika masih menggunakan taktik Hit and Run, Randika menggunakan kelincahannya untuk membuat mereka bingung. Ketika dia tiba di hadapan seseorang, Randika akan melayangkan pukulannya dengan keras ke wajah ataupun perut. Setelah itu dia akan kembali menjadi gumpalan asap, memukul orang di arah lainnya. Di mana pun Randika terlihat, seseorang akan terjatuh di tanah. Lama kelamaan sudah lebih dari 12 orang pingsan hanya dalam waktu 1 menit. Para preman yang tersisa mulai mengucurkan keringat dingin, mereka benar-benar tidak bisa melihat sosok Randika sama sekali. Tetapi, Randika tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka sambil menguap. "Pertarungan yang membosankan, aku sampai ngantuk begini. Sudah sini kalian semua maju saja bersamaan, akan kuhabisi kalian." David dan bawahannya tersinggung lalu menerjang ke arah Randika. Ketika semua preman berlarian ke arahnya dari segala arah, Randika menginjak keras kaki mereka hingga gepeng. Hanya satu serangan dari Randika sudah mampu membuat 10 orang kesakitan dan terjatuh. Lapisan kedua sudah mendekati dirinya dan yang dilakukan Randika di luar ekspetasinya mereka. Randika menyalurkan tenaga dalamnya ke tinjunya dan menghantamkannya ke tanah! Dalam sekejap tanah mereka berdiri runtuh dan mereka terjatuh ke dalamnya. Setelah itu Randika hanya perlu membereskan mereka satu per satu. David, yang tidak ikut menerjang, menelan air ludahnya sambil terus memegang goloknya dengan erat. Saat dia menerima tugas ini dari Satria, kenapa dia tidak menyinggung bahwa orang ini sangat kuat? Jika targetnya ini bisa menghajar seluruh bawahanku sendirian, bahkan aku lari ke ujung dunia pun rasanya aku tetap akan mati. Hati David dipenuhi dengan penyesalan. Sekarang setelah semua bawahannya sudah meringkuk di tanah, Randika mulai berjalan menghampirinya. "Hiii apa maumu?" "Apa mauku?" Randika terlihat bingung. "Memangnya tadi apa yang mau kau lakukan ke aku?" "Kauˇ­ salah paham!" David berharap polisi atau siapapun lewat dan menyelamatkan dirinya. "Kami hanya sedang lewat, kami hanya ingin sarapan." "Lewat? Bukankah itu aneh?" Randika berkata sambil tersenyum. "Sejak aku keluar dari rumah bukankah kalian sudah mengikutiku? Saat aku makan pun kalian mengawasiku dari dekat." David terkejut, orang ini sudah tahu bahwa dia telah diikuti sejak awal? "Bukankah orang-orang dari Perusahaan Galaksi menyuruhmu untuk membunuhku?" Kata Randika dengan nada dingin. David tidak bisa berhenti gemetar. "Benar, ini salah mereka!" David sudah tidak berani berbohong, orang di depannya ini sudah bagaikan setan di siang bolong! Randika lalu bertanya kembali, "Siapa yang menyuruhmu?" "Satria, dia pemimpin dari Perusahaan Galaksi." Kata David tanpa ragu. "Kau tahu tempat tinggalnya?" "Pondok Indah." "Nomor rumahnya?" "Pondok Indah N/23." David berharap dengan mengatakan segalanya orang ini akan mengampuninya dan Satria akan mendapatkan pengalaman horror ini juga. Randika tidak berbicara lagi dan berdiri diam menatap David. Randika lalu berkata dengan dingin, "Golok itu buat apa?" Dalam sekejap David membuangnya jauh-jauh. "Apa yang harus kulakukan ketika aku bertemu denganmu suatu saat nanti?" Tanya Randika sambil tersenyum. "Kami akan menuruti apa kata kakak tertua, apabila kakak menyuruh kami terjun ke jurang kami akan terjun!" Randika mengangguk puas lalu bertanya, "Apakah kau masih ingin membunuhku?" "Kami tidak berani berpikiran seperti itu!" David segera sujud di hadapan Randika. Randika mengangguk lagi dan meninggalkan gang sepi tersebut. Melihat Randika yang berjalan meninggalkan dirinya, David menghela napas lega. Namun, tiba-tiba Randika berhenti berjalan dan bertanya. "Omong-omong." David langsung menjadi tegang kembali dan menahan napasnya. "Apa nama gengmu ini?" "Geng golok." Jawab David dengan cepat. "Nama yang buruk, cepat ganti." Randika berpikir keras selama beberapa detik. "Aku rasa geng goblok lebih cocok buat kalian." Kata Randika sambil mengangguk puas. "Baik, kami akan dikenal sebagai geng goblok mulai dari sekarang." David hanya berharap Randika sudah puas dan pergi meninggalkan hidupnya. "Aku punya teman di dunia malam, jangan kira aku tidak tahu apa-apa. Jika aku dengar nama kalian tidak berubah, kalian tahu apa yang akan terjadi bukan?" "Kakak tidak perlu khawatir, kami adalah geng goblok." Teriak David. Randika meninggalkan gang itu dengan perasaan puas. David dan bawahannya tertawa pahit dalam hati. Mulai sekarang mereka akan diejek terus-terusan karena nama baru mereka. Chapter 75: Pondok Indah Pondok Indah adalah perumahan elit lainnya yang dimiliki oleh kota Cendrawasih. Tempat ini bukan hanya rumah orang kaya, pejabat-pejabat korupsi dan pemilik bisnis illegal tinggal di tempat ini. Bisa dibilang perumahan ini adalah perumahan orang pendosa. Wajah Randika menunjukkan kejijikan ketika dia mengingat fakta tersebut. Tanpa butuh waktu lama, tubuhnya sudah menjadi gumpalan asap dan menuju rumah N/23. Jika kau berani menyuruh orang untuk membunuh, berarti kau sudah siap untuk dibunuh juga. Sebelum tiba di luar rumah Satria, Randika yang pejalan kaki itu sangat mencolok. Para petugas keamanan menyadari kejanggalan ini dan melaporkannya melalui HT. "Lapor! Terlihat target mencurigakan di luar rumah!" "Laporan diterima!" Randika masih memperhatikan sekeliling rumah dan menyadari ada beberapa orang yang bersembunyi di balik kegelapan. Randika lalu menghela napas dan meloncat melewati pagar. Tiba-tiba, beberapa petugas dan orang-orang yang bersembunyi itu sudah membidik Randika dengan pistolnya! "Siapa kamu!" Salah satu petugas maju dan bertanya. "Aku mencari seseorang." Kata Randika dengan wajah datar. "Siapa?" "Satria, pemimpin dari Perusahaan Galaksi." Para petugas ini mulai ragu. Pemuda ini terlihat tenang dan jujur tetapi dia sudah meloncati pagar rumah tuan mereka. Apakah dia tamu atau musuh? "Siapa namamu? Aku akan melaporkannya ke atas." Petugas itu meminta Randika tidak bergerak. "Setelah mendapat balasan, kami akan mengabarimu." "Oh?" Randika sudah malas untuk berbasa-basi. "Namaku Randika, aku orang yang majikanmu cari selama ini. Lagipula, aku bisa menerobos masuk dan mencarinya sendiri kalau aku mau." "Kau!" Petugas itu hendak memborgol Randika tetapi dalam sekejap Randika menendangnya dengan keras. Orang-orang yang berada di balik kegelapan langsung menembakkan pistol mereka. DOR! Reaksi mereka cepat tetapi Randika lebih cepat lagi! Sesaat setelah peluru itu melesat, Randika sudah menghilang dan peluru itu terbenam di tanah. Orang itu menghilang! Ketika mereka semua mencari di mana keberadaan Randika, tiba-tiba matahari tertutup oleh bayangan dan ternyata itu Randika yang meloncat tinggi! Ketika mereka menoleh ke atas, Randika sudah melemparkan jarum akupunturnya ke arah mereka semua. Semua orang terkejut dan tidak bisa menghindar, jarum itu menancap di dahi mereka. Saat itu juga, sensasi terbakar langsung menyebar di seluruh tubuh mereka! "Ah!" Saat raungan kesakitan ini terdengar, para pengawal yang ada di dalam rumah segera berlari menuju mereka. Yang mereka lihat hanyalah para petugas keamanan yang telah pingsan dan seorang pemuda yang berdiri di tengah mereka. Tanpa ragu-ragu, para pengawal elit ini segera mencabut senjata mereka dan menembakkannya. DOR! DOR! DOR! Namun, mereka hanya menembak udara kosong. Apa yang sedang terjadi? Semua pengawal itu terkejut, mereka telah melatih keahlian menembak mereka setiap saat bukankah harusnya lawannya itu sudah terkapar di tanah? "Kalian mencariku?" Suara itu muncul di belakang mereka. Seketika itu juga mereka terkejut karena musuhnya sudah ada di belakang mereka! Saat mereka hendak menoleh, Randika sudah bergerak kembali. Dengan kedua tangannya itu, dia memukul kedua pengawal dengan sangat cepat dan keras. Keduanya langsung pingsan di tempat. Di satu sisi, ada seorang pengawal yang menghunuskan pisaunya. Randika segera mencengkram pergelangan tangannya dan merebut pisaunya lalu menancapkannya di perut orang tersebut. Di saat kedua pengawal lainnya membidik Randika, mereka kehilangan sosok Randika lagi. Yang mereka ingat terakhir hanyalah sebuah kaki yang menendang mereka tepat di wajahnya. Mereka terpental jauh sampai menatap tembok. Satu per satu pengawal itu tumbang dan pingsan. Randika lalu berjalan santai sambil bersiul ketika memasuki rumah. Saat Randika masuk melalui pintu, dia disambut oleh sebuah flashbang, itu benar-benar trik murahan. Di saat itu juga, rentetan senapan serbu menembakinya. Setelah menghabiskan satu magasin penuh, para pengawal itu baru menyadari bahwa target mereka sudah tidak ada. Randika, yang sudah bergerak secepat kilat itu, sudah berada di lantai 2. Dia malas berurusan dengan orang banyak dan sedang mencari bos terakhir. Tetapi, di lantai 2 dia disambut oleh seorang pengawal asing yang tinggi dan kekar. "Cukup sampai di sini saja perjalananmu, aku akan membunuhmu!" Kata orang asing itu dengan Bahasa Indonesia yang fasih. Orang itu berlari dengan langkah kaki yang besar dan setiap hentakan kakinya menggetarkan lantai. "Membunuhmu hanya butuh 1 detik." Kata Randika dengan santai. "Mimpi!" Orang itu melayangkan sebuah pukulan keras ke wajah Randika! Meskipun pukulan itu bertenaga, di mata Randika pukulan itu sangat pelan. Orang asing itu benar-benar murka ketika melihat Randika hanya berdiri diam dan wajahnya terlihat menyebalkan. Berani meremehkanku kau akan mati bocah! Pikirnya. Namun, Randika hanya menggerakan satu kakinya dan orang asing itu berhenti dalam sekejap. Satu cm lagi pukulannya akan mencapai wajah Randika namun Randika benar-benar menghancurkan bolanya dengan tendangan yang keras. Wajahnya berubah menjadi pucat pasi. Orang asing itu segera berlutut kesakitan dan dipukul keras oleh Randika hingga pingsan. Setelah membereskan orang itu, Randika masuk ke dalam kamar Satria yang sudah tidak terjaga. Satria menatap Randika dengan tubuh yang gemetar tanpa henti. "Siapa kamu? Berani-beraninya kau menerobos masuk ke rumahku!" Satria tidak habis pikir. Belum sampai 5 menit petugas keamanan yang di luar mengatakan ada orang mencurigakan di luar dan sekarang orang tersebut sudah ada di hadapannya. Kekuatan orang itu benar-benar luar biasa! Perlu diketahui bahwa petugas keamanan dan pengawal yang dipekerjakannya adalah mantan pasukan khusus dari militer. Setiap bulannya dia akan mengeluarkan 200 juta buat keamanan rumahnya dan hanya butuh 5 menit saja mereka semua tumbang. "Ah aku memang orang biasa yang tidak terkenal, wajar saja kau lupa dengan wajahku." Kata Randika sambil tersenyum. Dia lalu mengambil sebuah kursi dan duduk di depan Satria. Satria berpikir dalam hati, siapa orang yang berani melawannya di kota ini. Dalam sekejap punggungnya basah oleh keringat dan bertanya sambil menelan air ludahnya. "Kau Randika?" "Ah aku tersanjung pemilik Perusahaan Galaksi bisa mengingat diriku." Randika mengangguk puas. "Benar aku Randika yang kau cari." Kali ini Satria benar-benar skakmat. Kalau lawannya ini berada jauh darinya, dia bisa mengirim tim pembunuh ataupun wanita sexy untuk menjebak orang tersebut. Beda cerita kalau lawannya yang mendatanginya, dia sekarang sudah benar-benar tamat. Satria menggertakan giginya dan mengatakan, "Maafkan aku telah menyinggungmu. Ini murni salahku, setelah ini aku ataupun anakku tidak akan pernah menyinggungmu lagi." "Perusahaanmu telah merepotkanku berkali-kali, dan kau minta aku melupakan semuanya?" Secercah rasa jijik memenuhi wajah Randika. "Sepertinya kau masih belum mengerti situasimu saat ini?" "Apa yang kau mau? Aku akan berikan semuanya asalkan nyawaku selamat." Satria langsung berusaha membeli nyawanya, karena yang paling penting baginya bukan kerajaannya ataupun keluarganya melainkan nyawanya sendiri. "Wah tuan Satria salah paham. Bagaimana mungkin bos Perusahaan Galaksi mati begitu saja? Bisa-bisa dunia gempar mendengarnya." Kata Randika sambil tersenyum. "Aku tidak ingin apa-apa, aku hanya ingin memberi pelajaran padamu." Mendengar kata-kata Randika, Satria terkejut. Jika orang ini datang untuk membuatnya cacat seumur hidup, lebih baik dia mati. Randika berdiri dan Satria merangkak mundur sambil merinding. "Kau! Mau apa kau!" "Kau milih yang mana? Tangan kirimu atau tangan kananmu?" Randika lalu membanting kursi yang didudukinya dan mengambil pecahan kayu yang runcing, Melihat kayu tersebut, Satria tidak bisa berhenti gemetar. Dia merasa bahwa hari ini dia akan kehilangan salah satu tangannya. Chapter 76: Hadiah Pernikahan Dariku "Apakah tidak ada pilihan lain?" Satria menelan air ludahnya ketika Randika sudah berada di dekatnya. Matanya dipenuhi oleh perasaan ngeri. Sebagai orang yang juga bergumul di dunia kegelapan, Satria tahu metode-metode penyiksaan seperti apa yang ada di dunia tersebut. "Tuan Satria memang seorang pebisnis yang handal, aku suka itu." Randika mengangguk puas. "Mari kita bahas kesepakatan kita." "Baiklah." Randika segera menjongkok dan menaruh bagian runcing kayu yang digenggamnya di dagu Satria. "Tolong jelaskan mengapa Perusahaan Galaksi menginginkan Perusahaan Cendrawasih jatuh?" Satria terkejut dan segera menjawab, "Perusahaan Cendrawasih merupakan pelopor di dunia kosmetik dalam negeri. Aku ingin memberi tekanan pada Inggrid agar perusahaanku bisa bersaing dengannya. Kudengar rumor juga bahwa keuangan mereka sedang tidak sehat jadi aku mengambil risiko untuk menekannya lebih keras lagi." "Tapi aku tidak perlu khawatir, aku tidak akan menyentuh perusahaan Inggrid lagi dan tidak akan pernah memasuki pasar kosmetik." Satria menambahkan. "Bahkan aku akan mengembalikan formula milik Peter dan timnya kepada kalian. Apakah itu sudah cukup?" "Hahaha kau memang orang tua yang licik." Randika tersenyum, misteri Peter dan timnya yang memberontak akhirnya terkuak. "Tapiˇ­. Yang ingin kudengar bukan itu." "Apa? Apa yang kau minta! Selama aku bisa mengabulkannya, akan kuberikan!" Satria sudah menduga pemerasan ini. "Apa yang kuminta itu sederhana. Aku sudah bosan dan lelah berurusan dengan orang-orangmu. Kau mengerti maksudku?" "Aku mengerti." Satria dengan cepat mengangguk. "Jangan khawatir, aku tidak akan mengganggumu lagi dan Perusahaan Cendrawasih." "Baiklah." Randika lalu berdiri. "Namun, aku tetap akan memberimu pelajaran hari ini." Satria terkejut mendengarnya tetapi Randika dengan cepat memukulnya hingga pingsan. Lalu dengan santainya Randika meloncat keluar dari jendela. ...ˇ­ Satria itu adalah seekor rubah yang licik. Kalau Randika tidak memberi dia pelajaran, maka dia tidak akan menganggap serius ancaman Randika. Setelah memberinya pelajaran seperti itu, seharusnya tidak ada masalah lagi yang menimpanya ataupun perusahaan milik istrinya. Setelah urusan dengan Perusahaan Galaksi ini telah selesai, Randika kembali menuju perusahaan milik istrinya itu. Pada saat dia mengintip dari balik pintu, Inggrid nampak memegang kepalanya sambil membaca beberapa laporan sekaligus. Sepertinya dia sibuk sekali sampai-sampai tidak sadar akan kehadirannya. "Istriku, sedang apa kamu?" Randika menyelinap ke belakang Inggrid dan memeluk pinggang istrinya itu. "Mengurus beberapa masalah perusahaan. Mau apa kamu sekarang?" Inggrid terkejut ketika dirinya dipeluk seperti itu. Namun setelah melihat pintu ruangannya tertutup, dia merasa sedikit lega. "Memangnya salah jika aku kangen dengan istriku yang cantik?" Randika lalu mencium tangan istrinya itu. Inggrid sudah kebal dengan tindakan genit Randika ini, setidaknya hal ini tidak dilihat oleh orang. Dia hanya menatap Randika tajam-tajam dan menghela napas. "Kenapa sih kau tidak pernah bekerja dengan serius?" "Hahaha aku akan kerja nanti." Randika lalu menunduk dan berbisik di telinganya. "Aku di sini untuk bermesraan dengan istriku tercinta." Inggrid tersipu malu ketika mendengar perkataannya. "Randika!" Randika yang melihatnya tertawa dan memangku Inggrid, herannya Inggrid tidak melawan dan entah kenapa dia menyukai perasaan hangat ini. "Bagaimana dengan Perusahaan Galaksi?" "Masih kurang jelas." Inggrid menggelengkan kepalanya. "Semua bergantung pada langkah mereka selanjutnya." Tiba-tiba, pintu ruangannya diketuk dan Inggrid terkejut. Dia segera mengusir Randika dari tempat duduknya dan duduk dengan tegak. "Silahkan masuk." Ketika sekretaris Inggrid itu masuk, dia melihat Randika yang sedang bersandar di tembok. Meskipun dia sedikit ragu, dia langsung melaporkan laporannya. "Ibu Inggrid, mohon maaf mengganggu, ini berkas dari Perusahaan Galaksi untuk Anda." Sekretarisnya itu dengan cepat memberikan dokumennya. Setelah menelitinya dengan baik, Inggrid terkejut bukan main. "Bukankah ini formula milik Peter yang dulu?" "Aku juga kurang paham bu." Sekretaris itu menggelengkan kepalanya. "Hanya ada satu pesan yang terjepret di dokumen itu sebelumnya ''Aku harap Ibu Inggrid mau memaafkanku'' saat dokumen itu tiba di kantor." "Memaafkannya?" Inggrid bingung dengan surat itu. Dia lalu menoleh ke arah Randika yang hanya bersiul sambil menatap dinding. "Baiklah aku mengerti, tolong tutup pintunya saat kau keluar." Kata Inggrid. Ketika mereka sudah berdua, Inggrid menoleh ke Randika. "Apa yang telah kau lakukan?" "Hah? Apa memangnya yang telah kulakukan?" Randika pura-pura bingung. "Jangan bohong, aku tahu ini ulahmu." Inggrid memasang wajah serius. "Jangan kira aku tidak tahu kejadian di lobi kemarin, aku tahu pasti kamu ikut bagian dari semua ini." "Hahaha istriku memang cerdas." Randika mendekatinya sambil tersenyum. "Apa yang telah kau lakukan?" Inggrid masih penasaran. "Kau tidak perlu khawatir, aku tidak melakukan hal buruk apa pun kok. Aku hanya mengunjungi Satria si pemimpin dari Perusahaan Galaksi. Dengan kemampuan negosiasi suamimu yang hebat ini, aku berhasil membuat Perusahaan Galaksi percaya dengan visi misi kita dan memberi kita hadiah formula Peter yang dulu itu." "Awalnya aku terkejut dengan kebaikan mereka dan di saat aku menawarkan pembagian profit, dia mengatakan tidak butuh sepeserpun! Bagaimana mungkin aku tidak menyukai teman yang dermawan seperti itu? Kita lalu minum bersama-sama untuk beberapa jam." "Mana mungkin mereka melakukan ikhlas seperti itu? Formula ini berharga miliaran di luar sana. Meskipun kekayaan mereka melebihi kita, mereka seharusnya mengerti betapa berharganya formula ini." Inggrid masih tidak percaya. Randika lalu berpikir, Kenapa istrinya begitu naif? Randika hanya menatap Inggrid lalu menciumnya! Inggrid terkejut dan memukul bahu Randika agar dia segera berhenti. Setelah 2 menit mereka berciuman, Randika mengatakan dengan nada puas. "Anggap ini hadiah pernikahanku untukmu." Randika lalu mencium tangan istrinya itu. "Kau tidak perlu banyak tanya, yang terpenting adalah Perusahaan Galaksi tidak akan pernah mengusikmu lagi." Setelah mengatakan itu Randika keluar dari ruangan Inggrid dengan muka bahagia. Melihat sosok Randika yang menghilang, perasaan Inggrid masih tercampur aduk. Dia masih tidak habis pikir bagaimana caranya Randika berhasil memecahkan masalah Perusahaan Galaksi ini? Selama ini, Inggrid masih tidak bisa memahami Randika sama sekali. Setiap saat Randika akan bertindak mesum dan tidak tahu diri tetapi di saat terpenting dia akan menyelesaikan semua masalah dengan sempurna. Apakah dia benar-benar seorang penjual mie ayam pinggir jalan? Inggrid lalu tenggelam dalam pikirannya. Setelah 3 bulan kontrak kawinnya selesai, apakah dia rela melepas Randika? Lalu dia melihat tangannya yang dikecup oleh Randika sebelumnya, dia menatapnya dan berpikir. Apakah dia sudah jatuh cinta dengan pria itu? Berbagai pertanyaan memenuhi benak Inggrid, tetapi dia memutuskan untuk melupakan semua itu terlebih dahulu dan fokus terhadap masalah perusahaannya. Karena Perusahaan Galaksi sudah tidak mengusiknya lagi, perusahaan miliknya ini harus memikirkan strategi pemasaran yang baru. Chapter 77: Monster? Saat kembali di ruangannya, Randika dan timnya kembali mengerjakan ramuan X. Meskipun pengobatan yang diberikan kakeknya itu mampu membuatnya mengontrol dengan sempurna kekuatan misteriusnya itu, itu masih membutuhkan waktu 3 tahun. Jadi tanpa ramuan X Randika masih belum bisa bernapas lega. Jika situasi di mana dia memakai tenaga dalamnya hingga batasnya seperti melawan Bulan Kegelapan sebelumnya, bisa-bisa kesadarannya diambil alih oleh kekuatan misterius itu dan dia akan mati. Meskipun tim yang dibentuknya ini diambil dari para ahli parfum, pembuatan ramuan X tidak serumit itu. Dengan bantuan rekrutan baru yang mengerti farmasi, perkembangan ramuan X berjalan lancar. Tetapi kenapa dirinya masih gagal terus membuatnya? Di mananya yang salah? Randika menggaruk-garuk kepalanya, seharusnya prosedur yang dia lakukan sama persis. Kenapa dia masih tidak bisa meramunya? Viona yang melihat Randika sedang kesusahan itu menjadi sedih di hatinya. Meskipun dia tidak tahu fungsi dari obat yang mereka buat ini, dia tahu bahwa obat ini adalah sesuatu yang berharga bagi Randika. Viona lalu memberikannya handuk hangat, Randika yang melihat kebaikan Viona ini tersenyum kembali. "Terima kasih Viona." "Karena kau sedang buntu, jangan terlalu keras memikirkannya sekarang." Viona lalu tersenyum. "Pergilah keluar dan hirup udara segar. Biasanya itu membantuku." Randika mengangguk, lalu dia berteriak kepada para bawahannya. "Kalian semua, istirahatlah 30 menit. Carilah udara segar." Tanpa menunggu lama, semua orang sudah keluar dari ruangan. Namun, di aula luar benar-benar penuh dengan orang. Ternyata, untuk mendukung perkembangan produk internasional, Inggrid membeli banyak peralatan baru dan bahan mentah yang banyak. Ekspansi ini sangat sempurna sebagai kamuflase laboratorium milik Randika jadi dia tidak terlalu khawatir para musuhnya yang mengintai dari balik kegelapan. Semua orang tampak sibuk khususnya Kelvin. Dengan adanya formula dari Peter, beban pekerjaan Randika menjadi berkurang jauh. Jadi ini adalah saat yang tepat baginya mengembangkan ramuan X. Namun, di saat Kelvin melihat Randika dia langsung menghampirinya. Dia berkata sambil tersenyum. "Pak Randika, tolong coba cium hasil percobaan kami. Ini adalah salah satu parfum yang kami kembangkan dari formula yang diberikan oleh Ibu Inggrid." Bisa dikatakan juga bahwa tugas Randika sekarang adalah memfinalisasi apakah parfum itu layak atau tidak. "Wah aku kurang pandai masalah begituan, mungkin kau bisa tanya langsung ke Inggrid?" Randika sedang tidak ingin diganggu. "Ah Bapak kok merendah gitu, keahlian Anda dalam membuat parfum sudah melegenda jadi saya harap bapak bisa menilai pekerjaan saya." Kata Kelvin sambil tersenyum. Randika tidak punya pilihan lain. Setelah menciumnya, hidungnya dalam sekejap dipenuhi dengan aroma yang kuat. Namun, aroma kuat itu berubah menjadi aroma melati. "Sedikit terlalu kuat." Randika lalu memberikan sampel itu kepada Viona yang ada di sampingnya. "Vi, bukankah kau bilang kalau kau mengoleksi parfum? Cobalah hirup ini." Viona mengambilnya dan menghirupnya dengan seksama. Kemudian dia mulai berkomentar panjang lebar dan dengan sangat cepat. Randika sampai tidak percaya Vionanya akan menjelaskannya seperti kerasukan setan seperti itu. Herannya, sepertinya Kelvin mengerti apa yang dimaksud oleh Viona. Padahal Randika sendiri hanya bisa mendengarnya bergumam dengan cepat. Setelah selesai menjelaskan, Viona kembali menjadi semula. Kelvin mengangguk puas. "Timnya bapak ternyata hebat semua ya. Akan kupertimbangkan saran kalian berdua dan membuat yang baru." Setelah Kelvin pergi, Viona langsung tersipu malu dan mengatakan. "Maafkan aku, aku kalau sudah berbicara tentang parfum sudah mirip maniak." "Hahaha kau memang luar biasa Viona!" Randika tertawa keras. Ketika mereka berdua sedang bercanda, terdengar suara teriakan orang-orang di dekat mereka. "Ah! Monster!" Monster? Randika dan Viona terkejut bersama, memangnya ada monster di dunia nyata? Mereka berdua dengan cepat masuk ke dalam ruangan teriakan itu berasal. Banyak orang yang berdiri membeku, beberapa terkejut, beberapa ketakutan dan semua mata mereka tertuju pada sebuah kotak yang setengah terbuka yang ada di tengah ruangan. Dari dalam kotak itu, muncul sebuah lobak yang bergerak! Dia memiliki kaki dan tangan, dan dia sedang berusaha keluar dari kotaknya. Orang-orang yang melihatnya segera bersembunyi sambil berteriak histeris. Mereka semua menatap lobak itu dengan ngeri. "Lobak apa itu?" Pertanyaan semua orang tetaplah sama, kenapa lobak itu bisa bergerak? Ini pasti salah satu fenomena supernatural yang sering terjadi. Randika sendiri juga bingung tetapi, dia merasakan ketertarikan yang kuat dengan lobak itu. Instingnya mengatakan dia akan cocok untuk memperkuat tenaga dalamnya. Di bawah tatapan mata orang, lobak itu jatuh dari kotak lalu berdiri dengan santai. Lalu yang paling mengagetkan mereka adalah, mata, hidung, mulut dan telinga tiba-tiba muncul begitu saja! Kemudian, lobak itu seakan-akan sedang meregangkan ototnya dengan melakukan gerakan senam. Meskipun sekarang dia terlihat seperti boneka, orang-orang jelas melihat bahwa itu adalah sebuah lobak sebelumnya. Boneka itu lalu melihat sekelilingnya dan tampak malu-malu. Kemudian dia menjulurkan tangan kanannya seakan-akan memberi salam kepada para manusia. Semua orang semakin ketakutan dan berlarian keluar, "Monster!" Paniknya orang-orang ini membuat suasana menjadi kacau. Beberapa ada yang terdorong hingga terjatuh, beberapa tercakar temannya dll. "Lucunya!" Viona menatap boneka itu dan terpukau olehnya. Boneka itu kebingungan kenapa manusia-manusia itu pada berlarian dengan cepat. Karena takut terinjak, ia bersembunyi di balik kotaknya lagi dan menanti suasana menjadi tenang kembali. Tiba-tiba, ada seseorang yang hendak menangkap dirinya. Tanpa diduga, boneka ini benar-benar lincah. Ketika orang itu hendak menangkapnya, ia sudah melompat tinggi. Kemudian ia mendarat di kepala orang tersebut. Boneka itu hanya menggelengkan kepalanya sambil meloncat-loncat di atas kepala, menunjukan bahwa manusia itu terlalu lambat. Ketika mengerti maksud dari boneka itu, Randika heran bahwa boneka itu punya kecerdasan dan kesadaran sendiri. Ketika dia berusaha menangkapnya lagi, boneka itu sudah melompat ke meja. "Tangkap benda itu!" Teriak Randika dengan cepat. Randika harus mendapatkan boneka itu agar bisa mengerti apa sebenarnya yang sedang dihadapinya itu. Dia merasa bahwa pernah melihat boneka itu di suatu tempat. Randika lalu menghampiri kotak tempat boneka itu berasal dan membaca isi pamfletnya. Itu bukan lobak, itu ginseng! Kotak ini penuh dengan ginseng. Salah satu bahan yang dibutuhkan perusahaan ini adalah ginseng yang diimpor dari Cina. Yang mengejutkannya adalah salah satu ginseng itu ada yang berumur ribuan tahun! Ginseng dikenal sebagai tanaman obat yang menyerap esensi bumi dan langit. Apabila ia bertumbuh hingga ratusan tahun, akan muncul kesadaran pada tanaman tersebut. Contohnya adalah boneka yang hendak ditangkapnya tadi, umurnya pasti sudah ribuan tahun! Alam memang misterius, umat manusia belum bisa memecahkan seluruh misteri alam seperti boneka ginseng ini. Boneka ginseng ini saja sudah bagaikan legenda, sangat jarang mendengar cerita keberadaannya. Namun, di cerita tersebut dikatakan bahwa boneka ginseng ini sangat berkhasiat untuk kesehatan pemakainya. Darah Randika mendidih, dia lalu menatap boneka ginseng itu yang masih lompat ke kanan dan ke kiri itu. Tidak salah lagi, boneka itu akan berguna bagi dirinya. Namun, boneka ginseng itu sangat lincah. Bahkan kepungan 3 orang pun dia lewati dengan mudah! Saat ini, boneka itu seakan-akan tertawa ketika melihat Randika dan menerjang ke arah 5 orang yang hendak menangkapnya. Salah satu dari mereka menerjang dan berusaha menangkapnya dengan kedua tangannya. Sayangnya boneka itu dengan santai menghindarinya dan melompat-lompat di tangan, lengan, bahu hingga sampai di telinganya. Ia lalu menjewer orang itu dengan kuat. "Ah!" Orang itu langsung kesakitan dan boneka ginsengnya hanya tertawa melihatnya. Adegan ini memang lucu kalau orang melihatnya, tetapi suasana masih tegang karena monster ini bisa menyakiti mereka kalau ia mau. Melihat banyak orang berkumpul di satu tempat, si boneka ginseng dengan cepat melewati celah kaki mereka dan bergerak bagai ular. "Di situ!" "Kepung dia!" "Eh tahan arahnya di kanan!" ......ˇ­ Dalam sekejap 5 orang sudah kehilangan tenaganya, boneka itu benar-benar lincah! Boneka itu hanya tertawa melihat mereka dan melompat-lompat kegirangan di atas meja. Randika, yang dari tadi mengamati, mengetahui bahwa boneka itu sangat pintar. Dia menggunakan kelincahannya untuk menghindari segala sesuatu dan memanfaatkan titik buta untuk membuat mereka saling bertabrakan. "Sekarang giliranku." Randika mulai unjuk gigi kembali. Boneka itu menoleh dan melihat adanya mangsa baru. Dia hanya tertawa dan segera berlari menuju celah kaki Randika. Randika menghentakkan kaki kirinya, berusaha menginjaknya hingga gepeng. Namun, boneka itu dengan cepat menghindar dan menggoyangkan pantatnya ke arah Randika. Randika tidak mempedulikannya dan hendak menyepaknya. Namun, dalam sekejap boneka itu sudah ada di udara berhasil menghindari sepakan Randika itu. Kena kau! Randika menunggu kesempatan ini dan segera menangkapnya di tengah udara. Wajah boneka itu menjadi serius, manusia ini ternyata berbeda dengan yang sebelumnya. Hebatnya, saat kedua tangan Randika hendak menangkapnya boneka itu menampar tangannya dan berusaha memanjat ke bahu Randika. Randika dengan cepat menggoyang-goyangkan lengannya, berusaha membuat boneka itu melayang sekali lagi. Tapi boneka itu melompat ke dadanya dan meluncur dari atas hingga ke lantai. Pintar sekali! Randika dengan cepat mengejarnya dan boneka itu akhirnya bersembunyi di bawah lemari. Ia tidak menyangka bahwa Randika akan segera melempar lemari tersebut. Boneka itu mulai terlihat panik dan langsung lari kembali. Randika tidak berusaha menangkapnya, sebaliknya dia berusaha memojokkannya. Setiap boneka itu lari ke arah yang tidak diinginkannya, dia akan berusaha menginjak boneka itu dan ia akan berlari ke arah sebaliknya. Tak butuh waktu lama untuk boneka ginseng itu terpojok dan sudah tidak bisa lari ke mana-mana. Randika tersenyum mengejek, seakan-akan ingin melihat trik macam apa lagi yang akan digunakan boneka tersebut. Wajah boneka itu terlihat panik dan cemas. Dia lalu menutup matanya dengan tangannya, membuat tanda dia menyerah. "Kena kau!" Randika langsung menerjang dengan kedua tangannya. Kali ini boneka itu sudah terpojok, tidak ada jalan lain untuknya bisa kabur. Namun, ketika Randika sudah mengatupkan tangannya, dia tidak merasakan apa-apa! Mana mungkin dia menangkap udara kosong? Mustahil boneka itu bisa kabur dari pandangannya, apakah dia punya teknik teleportasi? Orang-orang yang melihatnya terkejut dan segera berteriak ke Randika. "Pak, dia ada di balik celanamu!" Ternyata boneka itu menggunakan lantai yang licin untuk meluncur cepat ke arah celah kaki Randika dan bergelantungan di ujung celana panjang Randika. Taktik menyerah itu adalah tipuan! Randika kehabisan kata-kata, bisa-bisanya dia ditipu oleh sebuah tanaman? Bagaimana caranya dia mendapatkannya sekarang? Randika langsung berusaha menangkap kakinya dan tentu saja, boneka itu sudah meloncat sekali lagi dan mendarat di kepalanya lagi. "Dia ada di kepalamu!" Teriakan histeris mulai bermunculan kembali, bahkan tombak terkuat mereka dijadikan mainan oleh monster itu. Karena sudah merasa bosan bermain, boneka itu meloncat turun dan melambaikan tangannya. Dalam sekejap dia sudah menghilang! Melihat figur yang menghilang itu, semua orang jadi ketakutan. Apakah yang mereka lihat itu sebenarnya jelmaan ilmu hitam? Namun Randika justru merasa tertantang. Pertama kalinya dia merasa darahnya mendidih seperti ini. Namun, Randika perlu merubah taktiknya. Satu-satunya cara adalah bertanya kepada para kakeknya yang ada di gunung. Chapter 78: Boneka Ginseng Jika dugaan Randika benar soal hal itu, boneka ginseng tersebut bisa memperkuat dirinya untuk melawan kekuatan misterius dalam tubuhnya. Seharusnya kakeknya mengerti suatu trik untuk menangkapnya. Randika lalu menuju pojokan ruangan dan menelepon kakek ketiga. Tak lama kemudian teleponnya diangkat. "Kenapa lagi sekarang?" Suara kakeknya terdengar malas. Ketika Randika hendak berbicara, suara orang-orang bekerja kembali terdengar sangat keras. Randika lalu berjalan keluar agar bisa berbicara lebih nyaman dengan kakeknya. "Halo kek, suaraku kedengaran?" Randika dengan cepat keluar ruangan agar pembicaraannya dengan kakeknya itu bisa dilakukannya dengan nyaman. Dia juga menyuruh Viona pergi duluan tanpa dirinya. "Mau apa lagi sekarang? Apa kamu butuh uang? Kakek cuma punya cukup uang untuk beli rokok!" Kakek ketiganya ini sedang asyik merokok tetapi tiba-tiba dia ditelepon oleh Randika. Randika masih kehabisan kata-kata, apakah kakeknya ini menyinggung dirinya tidak pernah memberikan uang? "Kek, aku menemukan sesuatu yang hanya ada seribu tahun sekali! Tapi sayang, kakek rasanya sedang tidak ingin diganggu. Kalau begitu aku kerja lagi ya kek." "Ah! Bisa-bisanya kau menggoda dan mencampakkan kakekmu ini?" Kakek ketiga segera tertawa. "Apakah ini mengenai keadaan tubuhmu?" "Bukan kek." Randika lalu menjelaskan mengenai boneka ginseng yang berkeliaran di kantornya tadi. Tiba-tiba, Randika mendengar suara handphone yang jatuh dari balik teleponnya. "APA?" Kakek ketiga benar-benar tidak percaya dengan apa yang didengarnya sedangkan Randika merasa telinganya menjadi tuli gara-gara teriakan kakeknya itu. "Kek jangan lebay begitu!" Randika menggosok-gosok telinganya. "Nak, kau tidak mengerti betapa pentingnya penemuan itu?" Kakek ketiga sampai lupa menghisap rokoknya saking semangatnya, sudah lama dia tidak merasa begitu semangat. "Kalau aku mengerti aku tidak mungkin bertanya pada kakek." Randika menggelengkan kepalanya. "Itu ginseng yang berumur ribuan tahun! Esensi bumi dan langit memberikannya kesadaran, harusnya aku sudah mengajarkanmu ini?" Kakek ketiga mulai mengomel. "Harganya itu sangat mahal, kita bahkan bisa memakai uangnya sampai 3 keturunan." Randika lalu bertanya, "Khasiatnya memangnya apa?" "Ginseng itu bukan hanya akan memperkuat kesehatanmu saja, benda itu akan menyembuhkan luka-luka internalmu. Kalau benda itu kamu minum, kekuatan misteriusmu itu juga akan menghilang dan menyatu denganmu!" "APA?" Randika benar-benar terkejut. Dia hanya menduga bahwa boneka ginseng itu akan membuat dirinya menjadi kuat tetapi dia tidak menyangka bahwa kekuatan misteriusnya itu bahkan akan menyatu dengan dirinya! Meskipun sup obat yang kakeknya berikan itu berefek sama, namun semua itu membutuhkan 3 tahun penuh sebelum akhirnya dia dapat mengendalikan kekuatan misteriusnya itu. Dan sekarang dia mengetahui bahwa boneka ginseng itu bisa menyelesaikannya dalam sekejap, jelas Randika menjadi bersemangat. "Benar-benar keajaiban! Menurut kakek, berapa persen itu akan berhasil?" "Sembilan puluh persen kalau kakek yang meramunya sendiri." Nada suara kakeknya itu terdengar penuh percaya diri. "Dulu kakek pernah menemukan boneka ginseng itu sekali. Saat kakek masih muda dan berguru pada guru kakek, kami mendapat kasus seorang penatua berumur 88 tahun yang sakit keras. Hidupnya sudah di ujung tanduk dan kami sudah menyerah tetapi keluarganya memberikan kita petunjuk letak dari ginseng yang berumur ribuan tahun." Kakek ketiga mulai terjebak dengan nuansa nostalgia. "Guru lalu membawaku ke lokasi tersebut dan mencari tanaman ginseng itu. Akhirnya kami menemukannya di ujung bukit. Ketika guru mencabutnya, ginseng itu berubah menjadi boneka ginseng dan bahkan sempat menangis waktu itu. Kakek yang masih muda itu ketakutan melihatnya." "Jika ginseng sudah berubah menjadi boneka ginseng, dia akan memiliki kesadaran sendiri dan sangat lincah. Hampir mustahil untuk menangkapnya kalau sudah kabur." Kakeknya mengingatkan Randika. "Pasien kakek bagaimana?" "Guru kakek membuat boneka ginseng itu menjadi sup obat. Ketika diminumkannya kepada penatua itu, bukan hanya dia selamat, dia hidup dengan sehat sampai umur 125 tahun!" "Cerita kakek seperti mengada-ngada begitu." Sulit membayangkan kakeknya yang malas ini menjadi dokter keliling begitu. "Kapan memangnya kakek pernah bohong? Kalau kakek tidak berkelana dengan guru kakek dulu, kau sudah lama mati tahu!" Kakek ketiga mulai marah-marah pada Randika. "Hahaha aku bercanda kek." Randika merasa puas sudah menggoda kakeknya itu. "Susah bayangin kakek bepergian seperti itu, habisnya kakek kalau di rumah malas bener." "Huh dasar anak tidak tahu terima kasih!" Lalu kakek ketiga terdiam sesaat. "Randikaˇ­ ini waktu yang tepat untuk menyembuhkan luka di tubuhmu itu. Jika kau berhasil mendapatkan boneka ginseng itu, aku akan membuatkan obat untukmu." Randika tersenyum pahit mendengarnya. Mungkin kakeknya tidak tahu seberapa sulit menangkap boneka sialan itu. Dia bahkan kehilangan jejak boneka ginseng itu! "Apakah ada cara untuk menangkap boneka ginseng itu?" Tanya Randika. "Kakek tidak tahu." "Tidak tahu?" "Tentu saja kakek tidak tahu." Kakek ketiga mulai marah-marah lagi. "Guru kakek langsung mencabutnya dari tanah jadi boneka itu tidak bisa lari darinya." "Boneka ginseng itu sangat lincah, aku tidak bisa menangkapnya." Randika terdengar kecewa. "Bagaimana kalau meminta kakek ke sini dan membantuku?" "Kau saja yang muda tidak bisa, apalagi kakek yang tua ini!" Ketika mendengarnya, Randika hanya tertawa. "Kakek sebenarnya ingin membantumu dan melihat sendiri bagaimana boneka ginseng itu." Kakek ketiga menghela napas. "Aku sedang sibuk membuat obat sekarang. Jika kau tidak meneleponku, mungkin kakek sudah lama selesai menyelesaikan kuota hari ini." "Bisakah kakek melakukannya besok-besok?" "Tentu saja tidak. Tanaman obat di ladang sedang bagus-bagusnya. Lagipula kakek datang pun tidak bisa terlalu banyak membantumu. Boneka ginseng itu hanya kau yang bisa menangkapnya." Randika sedikit kecewa. "Baiklah kalau begitu, nanti setelah mendapatkannya aku akan menemuimu." Setelah menutup teleponnya, pikiran Randika dipenuhi oleh boneka ginseng itu. Dia tidak menyangka bahwa itu adalah kunci untuk menyembuhkan dirinya. Dia benar-benar harus mendapatkannya. Sekarang permasalahannya adalah melacak keberadaan boneka ginseng itu. Setelah ia kabur dari ruangan, susah untuk melacaknya lagi. Apakah dirinya harus mencari hingga ke pelosok kota? Malas berpikir panjang, Randika akhirnya memutuskan untuk keluar dari gedung terlebih dahulu dan menghirup udara segar. Dia sekarang bergantung pada nasib baiknya saja. Setelah mengetahui khasiat boneka ginseng ini, Randika jadi malas untuk membuat ramuan X lagi. Dalam benaknya, cuma ada boneka ginseng. Tapi bergerak secara pasif seperti ini bukanlah seorang Ares. Tapi dirinya sendiri sudah tidak berdaya, boneka itu benar-benar licin dan menghilang tanpa jejak. Mencari tanpa petunjuk hanyalah membuang waktu. Setelah berjalan dengan penuh pemikiran selama 10 menit, dia melihat sosok wanita cantik yang sedang berteduh sambil mengawasi seseorang dengan tatapan tajamnya itu. Setelah dia perhatikan baik-baik, perempuan cantik tersebut adalah Deviana! Apakah dia sedang mengintai pencuri lagi? Chapter 79: Aku Tahu Cara Menjadi Romantis Randika mengikuti Deviana dari belakang. Deviana sama sekali tidak sadar akan kehadiran Randika, dia masih fokus pada targetnya. Targetnya kali ini adalah seorang pria paruh baya yang memakai topi dan kacamata hitam. Orang itu berjalan dengan santai sambil mengamati calon mangsanya yang melewati dirinya. Deviana juga sedang menunggu targetnya itu beraksi sebelum akhirnya menangkapnya. Lalu, mata pencuri itu jatuh pada seorang wanita muda dengan tas yang terlihat mewah. Perempuan itu sedang asyik dengan handphonenya sambil berjalan pelan. Pencuri itu menunggu sampai keadaan jalan menjadi sepi sehingga jalur kaburnya tidak akan terhalang. Ketika dia melihat sebuah gang di depan sana, dia memutuskan saat inilah waktunya dia beraksi. Dengan cepat dia berlari dan menjambret tas tersebut sambil mendorong jatuh perempuan itu. Dengan cepat dia menuju gang yang ada di depan, di sana dia bisa mengecoh arah mana dia pergi. "Tolong copet!" Perempuan itu terjatuh dan hanya bisa melihat pencopet itu berlari kencang meninggalkan dirinya. Pada saat ini Deviana juga langsung berlari mengikuti pencopet itu. "Berhenti!" Teriak Deviana. Tentu saja pencopet itu tidak berhenti. Jarak antara mereka sangatlah dekat, Deviana kemudian menggertakan giginya dan melompat. Dia berhasil menangkap pencopet tersebut dan membantingnya ke tanah. Namun, pencopet itu terus-menerus meronta dan membuat Deviana kesulitan menahannya. "Kau telah tertangkap." Meskipun Deviana berhasil menginjak punggung pria itu dengan lututnya, karena dia terus meronta akhirnya dia berhasil lepas dan kabur kembali. "Hoi jangan lari kau!" Kali ini yang berteriak adalah Randika. Deviana yang terjatuh, menatap Randika dan pencopet itu dengan penuh kebencian. "Kalau aku barusan tidak melihatmu dan terkejut, orang itu sudah tertangkap!" Deviana segera mengejar kembali pencopet tersebut. Kemampuan fisik Deviana termasuk hebat di kalangan polisi wanita. Tetapi, barusan dia lengah karena terkejut melihat sosok Randika yang melototinya. "Berhenti!" Pencopet itu jelas tidak berhenti, dia semakin memacu larinya itu. Selama dia berhasil masuk ke gang itu, dia bisa mengecoh polisi itu. Deviana sudah terpacu adrenalinnya dan mengejar orang itu dengan cepat. Ketika pencopet itu berbelok, Deviana kehilangan sosoknya. Ketika dirinya yang berbelok, tiba-tiba Deviana mendapatkan tendangan tepat di perutnya. Deviana pun tersungkur di tanah dan pencopet itu menatap tajam orang yang mengejarnya ini. Jelas kalau dia kepingin kabur dengan sukses, dia harus melumpuhkan pengejarnya ini. Namun, tas yang telah dia copet telah berhasil direbut oleh Deviana. Pencopet itu menatap marah Deviana dan ingin membunuhnya. Deviana lalu berdiri dan memasang kuda-kuda bertarungnya. Pencopet itu meraung dan menerjang maju. Ketika Deviana ingin mencengkram pergelangan tangan pria itu, dia diseruduk oleh pria itu. Bagaikan diseruduk sapi, Deviana segera terjatuh karena dorongan pria tersebut. Pria ini kuat! Deviana yang sikunya terluka itu segera berdiri dan sekarang dia yang menerjang maju. Dia meniru serangan pria itu dan menyeruduknya hingga jatuh bersamaan. Deviana segera mengunci lawannya dan mencekik lehernya, berusaha membuatnya pingsan. Tetapi, kekuatan pria itu lebih kuat darinya. Orang tersebut terus meronta dan memberikan serangan sikut pada tulang rusuk Deviana. Saat pria itu hendak menggigit tangan Deviana, sebuah batu mengenai kepalanya. Ternyata itu adalah Randika yang hanya mengamati mereka dari samping. "Hei Randika tolong aku, aku sudah mulai tidak kuat!" Teriak Deviana. Namun, pria tersebut berhasil lepas setelah melayangkan sikutnya 3x dan kabur kembali sambil membawa jarahannya. "Ckckck kau polisi tapi membiarkan tersangka kabur bersama jarahannya." "Gara-gara kamu cuma melihat dari samping!" Deviana masih kesakitan setelah bagian sampingnya disikut beberapa kali. Kalau tadi Randika membantunya, orang itu sudah tertangkap dari tadi. "Bukankah dulu kau tidak mau kubantu?" Randika tersenyum dan membantu Deviana berdiri. "Kalau begitu apakah kamu sekarang bisa membantuku?" "Buat apa aku membantumu menangkap orang? Aku bukan polisi tahu, aku hanya seorang warga yang taat hukum." Kata Randika dengan senyum nakal. Deviana mendengus, "Kalau begitu ini permintaan seorang teman." "Ini bukan masalah aku mau membantu atau tidak." Randika lalu tersenyum nakal. "Terakhir kali aku membantumu, aku tidak mendapatkan apa yang kuinginkan." "Mimpi!" Inggrid segera menutup dadanya itu. "Kalau begitu kita berharap saja orang itu akan kembali mencopet." Randika lalu berbisik di telinganya. "Kau akan membiarkannya pergi begitu saja?" Deviana menggigit bibirnya, mendengar kata-kata Randika dia aslinya tidak rela. "Baiklah." Wajah Deviana segera menjadi merah karena malu. Mendengar janji Deviana itu, Randika segera menghilang menjadi asap dan mengejar pencopet itu. Sambil membawa tas rampasannya itu, pencopet itu berlari dengan sangat cepat. Dia sama sekali tidak menoleh ke belakang, tetapi tiba-tiba seorang laki-laki berada di hadapannya. "Kau tidak bisa kabur lagi." Kata Randika dengan santai. Bagaimana mungkin orang ini bisa tiba-tiba ada di depannya? Karena saking cepatnya, pencopet ini tidak bisa mengerem dan memutuskan untuk menabraknya. Namun, kenyataannya tidak sesuai ekspektasinya. Pria di hadapannya itu bergeser sedikit dan mencengkram tangannya dan membantingnya ke tanah. Pada saat itu juga, punggungnya telah diinjak oleh kaki Randika. Randika dengan cepat melumpuhkan orang ini dan menggotongnya kembali ke tempat Deviana berada. Randika lalu melempar pencopet yang sudah pingsan tersebut ke Deviana dan berkata dengan nada semangat. "Sekarang tepati janjimu itu." Deviana dengan cepat tersipu malu dan menatap Randika dengan dingin. Namun, jantungnya berdetak dengan cepat dan dia menutup matanya. "Tenang saja, aku tidak akan membunuhmu. Buat apa kau setegang itu?" Randika tidak habis pikir, dia hanya ingin mengambil hadiahnya bukan membunuhnya. "Sudah cepatlah!" Deviana sebenarnya malu melakukan hal ini. Terlepas dari dia seorang polisi, dia hanya belum pernah merasakan sentuhan lelaki sebelumnya. "Kau yang meminta hal ini terjadi, jangan lupakan hal itu." Randika lalu menghampirinya. Deviana semakin erat menutup matanya. Dia sudah bisa merasakan bahwa Randika sudah sangat dekat dan dia merasa bahwa tangannya sebentar lagi akan meraba dadanya. Namun, yang mengejutkannya adalah Randika hanya memegang kedua tangannya dan mencium pipinya. "Baiklah, hutangmu sudah lunas untuk hari ini." Randika melangkah mundur dan tersenyum hangat. "Hah?" Muka Deviana terlihat bingung. Cuma itu yang dilakukannya? Apa benar orang ini Randika? "Apa? Kenapa kau melihatku seperti itu?" Randika lalu tersenyum. "Pikiranku ini isinya bukan hanya hal mesum tahu, aku tahu cara menjadi romantis. Atauˇ­ Apakah kau berharap sesuatu yang lebih? Aku bisa memberikannya padamu sekarang kalau kau mau." Melihat Randika yang hendak menghampirinya, Deviana segera memalingkan wajahnya. "Bukankah kau tadi berkata kalau hari ini sudah cukup!" "Tentu saja, laki-laki sejati tidak pernah melanggar kata-katanya." Randika lalu mundur beberapa langkah. Untuk mendapatkan hati Deviana, Randika harus mengubah citra mesumnya itu menjadi pria romantis. Tapi hal itu tidak membuatnya berhenti menggoda perempuan satu ini. "Kalau kau nanti kesusahan lagi, aku tidak keberatan dimintai tolong olehmu lagi." Deviana yang mendengarnya menjadi marah dan berjanji padanya bahwa dia tidak akan meminta bantuannya lagi! Chapter 80: Universitas Cendrawasih Setelah meninggalkan Deviana dengan wajah yang puas, Randika kembali berpetualang mencari boneka ginseng. Ketika dia dengan santai berjalan, handphonenya tiba-tiba berdering nyaring. Ketika dia menerima telepon itu, Hannah langsung tawa pecah tepat di telinga Randika. "Kak! Coba tebak apa yang aku temukan." Hannah terdengar begitu antusias. Memangnya apa yang adik iparnya itu temukan? Mungkin dia sedang bosan dan iseng meneleponnya. "Kakak menyerah, apa memangnya yang kau temukan?" Randika sedang tidak ingin meladeninya, dia sudah ingin cepat-cepat menutup teleponnya. "Kakak tidak akan mungkin percaya kalau aku bilangi, aku sendiri juga masih tidak percaya!" Hannah masih terlalu bersemangat. "Han jangan terlalu girang seperti orang gila, tidak elegan tahu. Sekarang cepat katakan apa yang barusan kau temukan." Karena telah mengarungi dunia selama bertahun-tahun, sudah tidak ada yang bisa mengejutkan seorang Ares. "Baiklah." Hannah menghirup udara dalam-dalam. "Sebenarnya yang menemukannya adalah temanku lalu dia membawaku untuk melihatnya. Kalau dibilang itu boneka sih bisa saja tapi dia jauh lebih mirip seperti bayi, nah di situ uniknya kami tahu bahwa itu bukan manusia! Kalau aku posting di internet apakah aku menjadi viral ya kak?" Kata-kata Hannah itu segera menarik perhatian Randika, bukankah itu boneka ginseng yang dicarinya? "Aku tidak bisa menjelaskan bentuknya secara detail, yang perlu kakak tahu benda itu lucu sekali." Hannah kembali bersemangat. "Tahu tidak, dia bahkan mengikuti kita ke asrama dan menari bersama kita!" "Bisa kau jelaskan bentuknya?" "Aku benar-benar tidak tahu kak, tapi kalau kubilang itu mirip lobak yang putih sekali. Masa bodoh, aku akan memposting fotonya di media sosialku." Tidak salah lagi, seharusnya apa yang ada di asrama Hannah itu adalah boneka ginseng! Randika tidak menyangka bahwa boneka itu akan menari di asrama perempuan. "Han, apakah benda itu masih ada di sana?" Randika menahan napasnya, dia tidak boleh melepaskan kesempatan ini lagi. "Iya." "Kamu ada di mana sekarang? Boneka itu sangat berarti bagiku, aku harus mendapatkannya kembali." Randika terdengar cemas, dan di saat yang sama, dia sudah berlari menuju Universitas Cendrawasih. "Ohˇ­" Hannah hanya mengangguk dan berpikir kenapa bisa boneka lucu itu penting untuk kakak iparnya? Universitas Cendrawasih merupakan universitas favorit di kota ini. Berdasarkan salah satu voting, universitas ini masuk dalam kategori universitas yang paling diminati oleh banyak. Mungkin dengan semakin berkembangnya kota Cendrawasih, membuat orang-orang mulai tertarik untuk tinggal maupun belajar di sini. Universitas Cendrawasih berada di pusat kota, cukup jauh dari perusahaan milik Inggrid. Tetapi, Randika bukanlah manusia biasa dan dia berlari secepat mungkin. Dia tidak perlu waktu lama untuk dapat tiba di Universitas Cendrawasih. "Aku sudah di sekolahmu, bagaimana caranya aku masuk ke asramamu?" Randika dengan cepat menelepon Hannah sekali lagi. "Ha? Kakak sudah ada di sekolahku?" Hannah terkejut. Belum lima menit dia menelepon dan kakak iparnya sudah ada di sini. Bukankah harusnya dia sedang bekerja ya? Bahkan jika dia mengebut dari tempat kakaknya bekerja itu tetap membutuhkan waktu 20-30 menit. Hannah masih terdiam di balik telepon sedangkan Randika tidak berhenti berlari. "Hannah, di mana asramamu itu? Aku sudah ada di gedung Bahasa." "Kakak mau apa?" Hannah langsung tersadar niatan Randika itu. "Kakak mau menerobos masuk asrama perempuan?" Randika bingung, memangnya kenapa dengan hal itu? Dia yang sudah pernah masuk ke tempat pelacuran harus takut ketika masuk ke asrama perempuan? "Han, apakah boneka itu masih ada di sana?" Randika berusaha mengembalikan topik pembicaraan. Selama boneka masih ada di asrama, kesempatannya untuk menangkapnya masih besar. "Barusan saja dia menghilang." Hannah lalu bertanya. "Kak, memangnya boneka itu segitu pentingnya?" Randika langsung kecewa ketika mendengarnya. Nasibnya benar-benar sedang sial. Entah kapan dia akan menemukan jejak keberadaan boneka itu lagi. "Halo kak, kau masih di situ? Apa kakak beneran sudah ada di gedung Bahasa?" Hannah masih penasaran. "Memangnya kapan kakakmu ini pernah bohong?" Randika lalu menggaruk-garuk kepalanya. "Ya sudah, karena boneka itu sudah tidak ada, kakak pulang dulu ya." "Eh jangan! Kakak kan sudah capek-capek datang ke sini, masa sudah langsung mau pulang?" Hannah lalu berkata sambil tersenyum. "Tunggu di situ 5 menit, Hannah akan menghampirimu." Randika lalu mengatakan. "Baiklah, aku ada di aula depan ruangan dosen." "Baiklah, tunggu aku sebentar." Ketika dia duduk menunggu, Randika baru sadar bahwa punggungnya basah oleh keringat. Dia sudah berlari sekuat tenaga tadi dan hari ini juga panas. Karena bosan, dia berkeliling di lorong dan memperhatikan perempuan-perempuan muda yang berjalan. Bisa dikatakan bahwa Universitas Cendrawasih penuh dengan bunga-bunga yang cantik dan menawan. Randika sampai ngiler melihat tubuh-tubuh mereka yang bahenol dan sexy, semua perempuan ini akan menjadi gadis-gadis yang cantik beberapa tahun lagi. Saat dia mengagumi perempuan-perempuan itu, seseorang berdiri di hadapannya. Meskipun baju dan celananya terlihat formal, dada perempuan itu sungguh besar. Dia memberikan jempolnya terhadap kedua melon itu! "Kak... sudah cukup." Pemilik dari kedua melon yang indah itu menegurnya. Melihat kelakuan mesum kakak iparnya ini benar-benar membuat malu Hannah. Randika lalu menaikkan kembali pandangannya dan tertawa. "Hahaha akhirnya kau datang juga. Lalu kita mau ngapain sekarang?" "Karena kakak sudah capek-capek datang ke sini, aku akan membawamu keliling kampusku ini." Hannah lalu menarik paksa tangan Randika. "Eh buat apa juga aku keliling gedung universitasmu? Hari ini mataharinya menyengat tahu, nanti kita berdua jadi hitam bagaimana?" Matahari benar-benar terlihat panas hari ini, bahkan orang bisa gosong kalau berjemur sekarang! "Oh kakak benar juga." Hannah lalu tersenyum dan menoleh ke arahnya. "Kalau begitu, aku akan mengajak kakak untuk berenang." "Berenang?" Randika terkejut. "Iya kita akan berenang." Hannah tersenyum dan menarik kakaknya itu. "Banyak cewek cantik di sana kak, kau tidak akan menyesal." Dalam benak Randika sudah berisikan gambaran perempuan-perempuan cantik memakai bikini, kumpulan dada-dada besar, kaki dan paha yang mulus-mulus dan terlebih lagi mereka semua masih muda! Ya tuhan apakah itu surga dunia? "Kak, kau barusan berpikiran mesum ya?" "Ha? Kau pikir kakak iparmu ini hidung belang?" Randika dengan cepat mengusap ilernya. "Aku hanya berpikir mungkin ada benarnya juga kamu mengajakku berenang, tapi aku tidak bisa berhenti memikirkan kakakmu Inggrid. Aku takut dia cemburu nanti kalau cewek-cewek mendekatiku." "Kalau kakak tidak mau, kita bisa nongkrong di cafe sana saja kalau kakak mau." Kata Hannah sambil tersenyum nakal. "Ah! Kakak bercanda tadi hahaha. Kakak ingin berenang kok, ayo tunjukkan di mana kolam renangnya!" Randika lalu berjalang dengan penuh semangat. Chapter 81: Maju Sini Pak Tua Universitas Cendrawasih memiliki fasilitas lengkap untuk para mahasiswanya mengembangkan bakat-bakatnya. Mulai dari lapangan basket, sepak bola, badminton, kolam renang, tenis dll. Karena tidak ada kegiatan apa-apa di kampus, kolam renang pun dibuka untuk umum. Selama pengunjung membayar dan mematuhi aturan, mereka bisa berenang dengan nyaman di tempat ini. Ketika Randika masuk di ruangan kolam renang tersebut, matanya langsung dipenuhi pemandangan indah. Ya tuhan banyak sekali cewek cantiknya! Mereka semua terlihat putih mulus dan cantik. Bikini yang mereka pakai dengan sempurna menonjolkan aset-aset mereka. Ketika dia berjalan, dia melihat seorang cewek yang keluar dari kolam renang. Mata Randika tidak bisa lepas dari perempuan tersebut, dia pasti 36D! Kepala Randika mulai panas, di mana pun dia menoleh, dia pasti menemukan cewek cantik lainnya. "Kak matamu itu lho, malu-maluin saja." Hannah tertawa ketika melihat Randika yang celingak-celinguk. "Jangan khawatir, kakak sudah biasa." Mata Randika masih tertuju pada kumpulan malaikat itu. "Setidaknya ganti baju dulu." Hannah kehabisan kata-kata. Mungkin dirinya salah mengajak Randika ke sini, Hannah merasa sedang menuntun serigala ke kandang ayam. "Baiklah." Randika terpaksa menahan diri dan cepat-cepat ganti baju. Kemudian, Randika dengan celana renangnya keluar lagi menyambut pemandangan surga ini. Perutnya yang sixpack dan luka-luka yang dia dapat, memberi kesan dia seorang pria penuh dengan pengalaman hidup. Ketika dia mendekati kolam renang, Randika melihat sekumpulan perempuan cantik yang sedang bermain. Randika lalu masuk ke kolam dan menyapa mereka. "Siang." Para perempuan ini sedang asyik mengobrol dan bermain air dengan gembira dan tiba-tiba ada seorang lelaki yang menyapa mereka. "Pergi sana, kami tidak menerima laki mesum di sini." Salah satu dari mereka langsung menolak kehadiran Randika. Teman-temannya tertawa ketika mendengarnya dan berenang menjauhi Randika. Hmmm? Apakah pesonaku sudah hilang? Bukan, bukan, ini pasti suatu kesalahan. Randika merasa targetnya barusan terlalu tinggi jadi dia berenang ke arah perempuan muda lainnya. "Hai sendirian aja nih?" "Wow teknik berenangmu sungguh indah!" "Wah bikini yang kau pakai sangat cocok untuk dirimu yang menawan ini." ........ Setelah beberapa kali berusaha, Randika keluar dari kolam dan duduk di pinggir kolam dengan wajah cemberut. Semua usahanya gagal dan dia sekarang dipaksa hanya melihat dari samping, sungguh sial nasibnya hari ini. "Kenapa kak? Apakah mereka semua mencuekimu?" Tiba-tiba dari belakang Hannah muncul sambil tersenyum. Randika menoleh dan melihat Hannah juga memakai bikininya. Memang adik iparnya ini juga seorang bidadari. Bisa dikatakan bahwa dia dan Inggrid benar-benar bagai pinang dibelah dua. Dadanya yang besar itu serta kaki putih yang mulus itu berhasil membuat Randika terpukau. Bikini putihnya membuat dia bagaikan supermodel dan terlebih senyuman indahnya itu membuat Hannah menjadi wanita tercantik di kolam renang ini. Kecantikan adik iparnya ini dengan mudah melampaui semua perempuan cantik yang ada di sini. "Han, kau sungguh cantik." Randika tersenyum hangat. "Tentu saja!" Hannah membusungkan dadanya dan meloncat ke dalam kolam. Dia berenang beberapa meter tanpa menarik napas. Melihat cara berenang Hannah, Randika merasa dia bagaikan putri duyung. Sungguh menyenangkan melihat perempuan itu berenang, mungkinkah adik iparnya ikut klub berenang? Para lelaki lainnya juga terpaku pada sosok Hannah yang menawan, apalagi lelaki sebaya dengan Hannah. "Hei Jim, bukankah itu cewek yang kau suka?" Teriak salah satu orang pada temannya. Jimmy, yang sudah menyukai Hannah sejak dia pertama kali bertemu, segera menoleh dan melihat pujaan hatinya itu. Dia dengan cepat menjadi malu. "Wah gadis itu sungguh sexy, aku tidak menyangka ada cewek secantik itu di kampus kita. Jurusan apa ya dia?" Tatapan mata Jimmy tidak pernah meninggalkan Hannah sedetik pun. "Aku tidak tahu. Aku hanya pernah melihatnya sekali waktu dia berenang di sini." "Wah cinta lokasi ya?" Temannya itu terkejut. "Bukan, cintaku hanya sepihak." Jimmy lalu memutuskan untuk berkenalan dengan Hannah, dia harus mendapatkan hatinya. Bermodalkan sebagai kapten tim renang universitas ini, Jimmy yakin akan bisa mendapatkan hatinya. Setelah mereka berenang sebentar bersama-sama, tidak lama lagi mereka berdua akan berenang-renang di ranjang. Namun, Hannah hanya berenang sebentar dan langsung berenang kembali ke pinggir kolam tempat Randika duduk. "Hmm? Cepat sekali kau keluar?" Tanya Randika. Hannah hanya tersenyum nakal dan ketika dia keluar dari kolam, dia menyelam terlebih dahulu dan langsung melompat keluar. Hal ini menyebabkan air bermuncratan ke arah Randika. "Hei! Aku jadi basah lagi kan!" Randika menjadi muram kembali. "Hahaha aku tidak suka melihat kak Randika yang murung seperti itu." Hannah lalu duduk di samping Randika. Hal ini membuat Jimmy terdiam, tatapan matanya menjadi tajam. "Aku tidak menyangka bahwa kau pintar berenang, aku sempat berpikir kamu seperti putri duyung tadi." Kata Randika sambil memberi handuk pada Hannah. Mendengar pujian itu, Hannah semakin menjadi-jadi. "Benarkah aku sehebat itu?" "Mana mungkin kakakmu ini bohong? Sudah cantik, kau juga pintar berenang jadi tidak salah jika aku mengiramu sebagai putri duyung." Kata Randika sambil mencuri pandang pada tubuh adik iparnya itu. Randika aslinya masih belum puas, dia masih merasa kecewa karena ditolak banyak perempuan di sini. Hannah bisa memahami apa yang membuat kakak iparnya itu murung, dia lalu menatap Randika. "Kak, kenapa kau tidak mau berenang denganku? Sudahlah lupakan saja mereka, lagipula kau terlalu tua buat mereka." Kata-kata ini menyayat hati Randika. Sialan, aku tidak setua itu tahu! Randika dengan cemberut menjawab. "Aku kan sudah tua jadi aku hanya akan melihatmu di pinggir saja." Namun, di saat ini Jimmy nimbrung di percakapan mereka berdua. "Ngomong saja kau tidak bisa berenang pak tua." Randika dan Hannah terkejut ketika mendengarnya. Siapa memangnya kamu? Ketika Hannah melihat lelaki yang merasa sok ganteng dan hebat itu tersenyum ke arahnya, dia merasa jijik dan memalingkan wajahnya. Namun, Jimmy tidak mudah menyerah. "Hei manis, kau ingin berenang bersama? Aku akan mengajarimu beberapa trik." Sejak jaman dulu, punya kecantikan yang menonjol pasti mendatangkan pria-pria mesum seperti ini. Hannah sudah kebal dengan teknik merayu murahan seperti itu. Ketika Randika memahami niat lelaki itu, dia tertawa dalam hati. "Tidak butuh, kau tidak lihat aku sedang berbicara?" Hannah merasa orang ini tidak sopan sama sekali. "Jangan cemberut begitu, nanti cantikmu hilang lho. Aku tadi sempat lihat teknik berenangmu yang cantik itu, aku akan mengajarimu beberapa trik lainnya." Rayu Jimmy. Lalu Jimmy menatap Randika. "Orang tua sepertinya cuma bisa mengajarimu mengapung, percayalah padaku." Randika terkejut, dia sudah diam dan hanya memperhatikan kenapa dia masih tetap kena? Bocah ini nyari gara-gara memangnya. "Orang tua seperti dia hanya datang ke tempat ini untuk melirik cewek-cewek dengan mata mesumnya, jelas dia aslinya tidak bisa berenang." Randika masih berusaha tenang dalam hatinya. Dia tidak boleh meledak gara-gara omongan seorang bocah. Demi mempertahankan martabatnya sebagai yang lebih tua, Randika memilih untuk bersabar. Randika hanya memalingkan wajahnya, pura-pura tidak mendengar. Melihat Randika tidak bereaksi, Jimmy semakin menjadi-jadi. "Pinggangnya yang rapuh sudah tidak kuat berolahraga keras seperti ini, sudah lupakan saja dia dan berenang bersamaku." Hannah langsung memasang wajah dingin. "Pergi sana, aku selamanya tidak akan berenang bersamamu. Lagipula kau sama sekali tidak sebanding dengannya." Randika tersenyum, adik iparnya ini pintar membela dirinya. Ekspresi Jimmy semakin jijik ketika mendengarnya. "Maksudmu aku yang merupakan ujung tombak klub renang sekolah ini kalah cepat dengan pak tua ini? Aku bahkan tidak perlu membuka mataku ketika melawannya." Randika menatap tajam bocah itu. Bocah ini lama kelamaan semakin menjadi-jadi dan Randika sudah mulai tidak suka dengan sikap sombongnya itu. Mata tertutup ketika adu renang dengannya? "Hei bocah, jangan sombong seperti itu atau nanti kau akan malu sendiri." Kata Randika dengan santai. Melihat Randika yang sudah terpancing, Jimmy dengan cepat membalas. "Apa? Kau ingin adu cepat denganku? Buat janji dulu dengan dokter tulangmu, kita bisa repot nanti menggotongmu ke rumah sakit." "Ha? Buat apa adu cepat kalau aku sudah tahu hasilnya dari awal?" Randika tertawa, bocah ini sepertinya tidak mengerti siapa lawannya ini. "Omong saja takut!" Jimmy langsung keluar dari air dan menghampirinya. "Ayo kita bertanding pak tua, kalau kau kalah kau harus berteriak ''aku pria mesum'' tiga kali di sini." Kalah? Randika masih terheran-heran, anak ini percaya diri sekali dengan kemampuannya. "Sudah sana pergi, jangan pernah sok hebat di depan cewek lagi seperti itu. Malu-maluin tahu." Hannah yang mendengarnya mengangguk setuju, dia merasa bahwa Jimmy adalah pria tidak sopan dan sok tampan. "Kau!" Jimmy dengan cepat menjadi marah dan menantangnya sekali lagi. "Baiklah, kita ganti taruhannya. Siapapun yang menang akan telanjang dan menggonggong sebanyak 5x!" Jimmy sudah kehilangan akal sehatnya, dia benar-benar ingin menginjak harga diri pria yang merebut pujaan hatinya itu. Randika lalu menjawab dengan muka serius. "Nak, aku sudah memperingatkanmu lebih dari satu kali. Cepat pergi atau kau akan menyesalinya." "Ngomong saja kau takut, bagaimana pak tua? Berani atau tidak?" Anak ini benar-benar bajingan ya, Randika sudah hilang kesabarannya. "Baiklah kalau begitu, jika kau ingin memamerkan burungmu yang kecil itu akan kulayani permintaanmu." Randika lalu berdiri. "Bermimpilah terus pak tua!" Chapter 82: Pertandingan yang Mudah Setelah sepakat untuk bertanding, Jimmy memanggil teman-temannya dari klub berenang. Mereka memastikan jalur renang mereka dikosongkan untuk mereka berdua dan penonton dipaksa minggir dari kolam sebentar. Semua orang mulai bersemangat ketika mendengar akan ada pertandingan. "Peraturannya sederhana, siapa duluan yang berhasil 15 kali bolak balik maka dialah pemenangnya. Di setiap ujungnya, akan ada orang yang menghitung waktu dan memastikan agar tidak terjadi kecurangan." "Tidak masalah, jika aku tidak menyelesaikannya sebelum kau berhasil 5 putaran maka kau adalah pemenangnya." Kata Randika dengan santai. Lima belas kali bolak-balik, kolam renang ini memiliki panjang 50 meter jadi bisa dibilang adu cepat ini berjarak 1500 meter. Jarak 1500 meter bagi orang awam sangat melelahkan, kebanyakan orang tidak dapat menyelesaikannya. Justru inilah yang diincar oleh Jimmy, selama dia bisa berhasil membuat Randika malu karena tidak bisa berhasil menyelesaikan pertandingan ini maka tujuannya sudah tercapai. Tapi, yang justru membuatnya lebih kesal lagi adalah kata-kata dari Randika yang penuh dengan kesombongan. Jika Randika belum selesai menyelesaikan 15x bolak-balik (1500 meter) sebelum dirinya selesai 5x bolak-balik (500 meter) maka dirinya adalah pemenangnya! Benar-benar konyol, orang awam mengalahkan ujung tombak klub renang? Sehat bro? Ketika mendengar sesumbar Randika itu hanya tersenyum lebar. "Baiklah kalau begitu." "Bersedia!" Di sisi lain, beberapa teman Jimmy menjadi wasit di kedua ujung dan penonton antusias menonton mereka. "Berani sekali orang itu nantang Jimmy ya?" "Aku juga heran, orang itu benar-benar bodoh." "Sudah pasti Jimmy yang menang, dia kan jagoan sekolah kita!" "Tentu saja! Jimmy adalah kebanggaan sekolah ini!" ............. Semua penonton menyoraki Jimmy sedangkan yang menyoraki Randika hanyalah 1 orang. Hannah dengan bersemangat menyoraki Randika dari samping. "Randika! Berjuanglah!" Mendengar sorakan adik iparnya itu, Randika mengacungkan jempol dan tersenyum ke arahnya. Namun, Jimmy malah semakin kesal ketika melihat mereka bermesraan seperti itu. "Mulai!" Kedua perenang itu segera melompat masuk dan air muncrat ke mana-mana. Penonton mulai bersorak kembali. Di saat dirinya masuk ke dalam air, Jimmy sudah mengatur napas dan ritme gerakannya. Karena jarak 1500 meter juga merupakan tantangan baginya. Selama dia menjaga ritmenya dengan stabil, dia yakin bisa menang dengan mudah. Apalagi sesumbar Randika membuat dirinya memiliki keunggulan mutlak! Namun, pada saat ini, para penonton bersorak semakin keras! "Gila!" "Kok bisa pak tua itu berenang cepat sekali!" "Orang itu pasti curang!" .........ˇ­ Semua yang melihat kecepatan Randika tidak bisa mempercayai apa yang mereka lihat. Bahkan Hannah pun terpukau melihatnya, siapa sebenarnya kakak iparnya ini? Ketika Randika dan Jimmy sama-sama memasuki air, posisi mereka masih seimbang tetapi detik berikutnya, Randika seperti memasang roket di kakinya dan melesat cepat. Dia dengan mudah meninggalkan Jimmy dengan jarak yang jauh. Ketika Randika sampai ujung, Jimmy baru sampai setengahnya. Yang lebih hebatnya lagi, setengah jalan yang dicapai Jimmy itu berkat bantuan pertama kali meloncat ke dalam air, kalau tidak menghitung itu maka Jimmy baru mencapai 1/4! Jimmy merasa aneh, sorakan itu rasanya bukan ditujukan pada dirinya. Pada saat ini, dia merasa bahwa dirinya telah dilewati dan detik berikutnya dia sudah ada di sampingnya lagi! Jimmy jelas terkejut. Bagaimana mungkin Randika bisa menyelesaikan 1 1/2 putaran bahkan dirinya belum menyelesaikan 1 putaran? "Wow kak Randika memang luar biasa!" Hannah semakin bersemangat dan melompat kegirangan. Tiba-tiba penonton bersorak kembali, mereka tidak menyangka gerakan Randika berikutnya itu! Yang semulanya memakai gaya bebas itu tiba-tiba Randika memakai gaya punggung! Semua penonton terpukau dengannya, dan para perempuan itu menatap Randika dengan mata yang nakal. "Kuat sekali orang itu, siapa dia sebenarnya?" Bahkan dengan gaya punggungnya, kecepatan Randika sama sekali tidak melambat. Ketika Jimmy berhasil menyelesaikan 1 putaran (50 meter), Randika sudah 2 putaran (100 meter). Dalam sekejap Randika sudah berhasil unggul 1 putaran! Saat dirinya mengambil napas, Jimmy melihat lawannya itu melesat bagai panah melewati dirinya. Matanya dipenuhi kengerian, bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Bagaimana caranya orang bisa berenang secepat itu? Berdasarkan perhitungannya, lawannya ini sudah unggul 1 putaran darinya. Dalam sekejap, ritme dan pernapasan Jimmy menjadi kacau. Butuh beberapa waktu untuk dirinya tenang kembali, asalkan dia menyelesaikan 5x bolak-balik maka dialah pemenangnya. Sekarang Jimmy sudah membuang ambisinya menyelesaikan 1500 meter, yang dia butuhkan adalah menang dari Randika. "Kak kau luar biasa! Ayo lebih cepat lagi!" Hannah benar-benar bersemangat, Randika sudah berhasil menyelesaikan 5 putaran. Ketika Randika berputar, dia tiba-tiba mengganti gaya berenangnya lagi. Gaya dada! Para penonton kembali bersorak, ini sudah ketiga kalinya Randika mengganti gaya berenangnya. Dari gaya bebas menjadi gaya punggung dan sekarang gaya dada! Di tengah sorakan ini, Randika masih memacu kecepatannya. Jimmy di lain sisi masih terlihat pelan dan terlihat cemas. Randika terus-menerus melewati dirinya, ini membuat Jimmy cemas di dalam hatinya. "Sudah berapa meter dia?" Wasit yang mencatat ini masih linglung gara-gara melihat kecepatan Randika yang tidak manusiawi. "Jimmy baru 250 meter dan orang itu sudah 1000 meter." Temannya itu juga seperti orang bodoh. Bagaimana mungkin jagoan sekolah mereka dibantai sedemikian rupa? Orang itu sudah bukan manusia pikirnya. Dan di saat ini, Randika mengubah gaya berenangnya menjadi gaya kupu-kupu. Para penonton lagi-lagi bersorak, mereka penasaran apakah orang ini adalah wakil negara untuk olimpiade? Namun, setelah 2 putaran memakai gaya kupu-kupu, semua orang tertawa ketika melihat cara berenang Randika. Dia memakai gaya anjing! Hannah pun tertawa melihatnya, kakak iparnya ini memang suka malu-maluin dirinya! "Eh gila, gaya anjing saja dia masih cepat!" Semua orang mulai menyadari kecepatan Randika yang masih tetap sama walaupun gaya berenangnya berubah-ubah. Sekarang tinggal 100 meter lagi Randika akan menyelesaikan pertandingannya. "Hei kurang berapa jauh lagi?" Salah satu orang bertanya pada wasit. "Mereka berdua sama-sama kurang 100 meter!" Hannah benar-benar bingung, Jimmy yang memiliki keunggulan 1000 meter sekarang malah sudah terkejar dan hampir kalah. Kakak iparnya itu hanya butuh menyentuh dinding 2x lagi agar bisa menang! Ketika Randika menyelesaikan 1 putaran dan tinggal 50 meter lagi, dia mengubah gaya berenangnya lagi. Kali ini tangannya berada di belakang kepalanya dan hanya kakinya saja yang mengayun cepat. Benar-benar meremehkan! "Wah pria itu keren!" "Sialan, tahu gitu tadi aku tidak mencueki dirinya!" Jimmy sudah melakukan yang terbaik. Dia tahu bahwa dia kurang sedikit lagi selesai, asalkan dia memegang tembok terakhir itu maka dialah pemenangnya. Namun, pada saat ini, suara teriakan Hannah terdengar paling keras. "Randika berjuanglah! Sedikit lagi!" Randika lalu dengan mudah melewati Jimmy dan menyentuh ujung tembok. Randika telah menyelesaikan 1500 meter! Chapter 83: Kubantu Kau untuk Memilih Nomor 2 Tak lama kemudian Jimmy menyentuh ujung tembok dan ketika dia menoleh ke atas, tangan Randika sudah menjulur dari atas untuk membantunya keluar dari kolam. Penonton masih heboh dan berteriak histeris. Mata para perempuan masih tertuju pada tubuh sixpack Randika. Di mata para perempuan ini, Randika yang sekarang benar-benar tampan. Pertandingan ini benar-benar mencolok, variasi gaya berenang ditunjukkan oleh Randika. Gaya bebas, gaya dada, gaya kupu-kupu, gaya santai dan yang paling lucu adalah gaya anjing. Semua gaya itu dengan mudah dilakukan oleh Randika! "Siapa sebenarnya orang itu!" Kata seorang perempuan yang sudah klepek-klepek oleh penampilan Randika. "Aku akan meminta nomornya!" Teriak temannya di sampingnya. "Sial, bukannya dia yang tadi mengajak ngobrol kita terus kita usir?" Ketiga perempuan ini langsung terdiam. Melihat Randika menang, Hannah melompat kegirangan. Kakak iparnya ini benar-benar luar biasa dalam semua bidang, dia benar-benar bangga! "Ambilah tanganku." Kata Randika dengan santai pada Jimmy. Mau tidak mau Jimmy meraih tangan Randika, tindakan tidak sportif akan semakin memalukan dirinya. Jimmy sekarang tidak berani mengangkat mukanya, dia benar-benar malu. Dia tidak menyangka akan kalah memalukan seperti ini. "Hmmm? Kamu lupa taruhan kita?" Tanya Randika. Dalam hatinya, dia benar-benar membenci pria ini, Jimmy lalu mengatakan. "Apa? Kau sudah membuatku malu di depan banyak orang dan masih belum puas?" Randika mengerutkan dahinya. "Jadi kau tidak mau membayar taruhanmu itu?" "Taruhan apa?" Jimmy tersenyum dan tertawa. Tidak ada orang yang mendengar taruhan mereka sebelumnya kecuali mereka berdua dan Hannah. Mau Randika ngomong apa pun, dia tidak akan mengakui kalau sebelum pertandingan ada taruhan yang dipertaruhkan. Bagi Jimmy, kekalahan tadi sudah cukup menghantuinya. Jika salah satu orang ada yang merekamnya dan mempostingnya di media sosial, namanya sebagai jagoan sekolah ini akan tercoreng. Jadi, dia berusaha sekuat mungkin menolak taruhan tersebut. Kalau akhirnya Randika menggunakan kekerasan untuk memaksanya, seluruh teman-temannya ada di sini, dengan banyaknya orang ini membuat dirinya tidak takut sama sekali. Randika lalu menatapnya dengan dingin, "Kau tahu apa? Aku dari awal benci muka sombongmu dan mental bancimu itu. Kalau kau tidak mau melakukannya hari ini, aku akan membantumu!" Pada saat ini, teman-teman Jimmy melihat bahwa Jimmy dan orang tadi sedang berdebat. Dengan cepat mereka nimbrung. "Ada apa ini?" "Nih orang katanya mau menghajarku." Kata Jimmy sambil menunjuk Randika. "Kau sudah menang di pertandingan tadi, jangan bawa permusuhan ini keluar dari kolam. Kau juga bukan orang sekolah ini, bisa-bisanya kau ingin menghajar teman kami?" Teman-teman Jimmy segera membelanya. Jika Randika ingin menghajar temannya itu, mereka dengan senang hati membela Jimmy. Randika tidak peduli dengan orang-orang itu, dia hanya berkata pada Jimmy. "Sebelum kau melakukan hal bodoh, pikirkan baik-baik konsekuensinya sebelum terlambat. Aku akan memberi peringatan terakhir untukmu agar kau segera membayar hutangmu itu." "Kau banyak omong pak tua." Jimmy dengan cepat menjadi marah. Teman-teman Jimmy lalu bertanya. "Apa taruhannya memangnya?" "Dia ini tiba-tiba nantangin kita dan bertaruh siapa yang kalah akan telanjang dan menggonggong sebanyak 5x. Sekarang dia sudah kalah malah berdalih." Hannah menghampiri Randika dan Jimmy, menjelaskan kronologinya. Ini membuat Jimmy benar-benar malu, tetapi dia mengatakan. "Aku cuma bercanda, kalau pun aku menang aku tidak akan menyuruhnya seperti itu." "Apanya yang bercanda? Kamu jelas-jelas nantangin dengan muka sombong gitu." Hannah mulai menggebu-gebu. "Sudah kalah saja nyalimu ciut, potong saja sana alat kelaminmu. Tidak pantas kau menyebut dirimu laki-laki." Orang-orang yang mendengarnya merasa masalah ini sedikit rumit, tetapi karena Jimmy adalah temannya jadi mereka membelanya. "Sudah lupakan saja, kayak anak kecil saja kalian. Sudah minta maaf saja Jim." Temannya Jimmy mulai memberi saran tersembunyi. "Ha? Buat apa aku minta maaf?" Jimmy yang mendengarnya menjadi marah. "Memangnya apa yang akan dilakukannya? Membunuhku?" "Orang sepertimu tidak pantas menyebut diri sebagai laki-laki, dasar tidak tahu malu!" Hannah meludah ke lantai, namun tiba-tiba dia ditarik dari belakang. "Biarkan aku yang mengurusnya." Randika berbisik ke Hannah. Dia lalu tersenyum. "Tidak masalah jika kau tidak mau membayar hutangmu." Melihat Randika yang tersenyum, Jimmy merasakan firasat buruk. "Kau tahu apa? Aku aslinya suka berkelahi karena cara itu paling ampuh dan paling cepat untuk membungkam mulut-mulut kayak kamu itu." Kata Randika sambil mencabut pegangan kolam yang terbuat dari besi. Lalu dia mematahkan pegangan itu dan mengarahkan bagian runcingnya ke Jimmy. "Kau! Apa yang kau lakukan!" Jimmy ketakutan. Ketika melihat besi itu dipatahkan dengan mudah, nyalinya segera menciut. "Menurutmu?" Randika lalu mengayun-ayunkan pegangan yang patah itu. Teman-teman Jimmy yang melihatnya mulai mengambil langkah mundur dan membiarkan mereka berdua mengurusi masalahnya sendiri. Randika lalu berkata pada Jimmy dengan nada dingin. "Sekarang, pilihanmu ada dua. Pertama, kau melepas celanamu sekarang dan sesuai janji kita kau merangkak dan menggonggong sebanyak 5x. Yang kedua, setelah kupatahkan kaki dan tanganmu itu aku akan menelanjangimu dan membiarkanmu menggonggong sebanyak 5x sebelum orang-orang bisa membawamu ke rumah sakit. Cepat pilih salah satu." Bocah ini sudah menghina dan memprovokasi dirinya berkali-kali, tidak mungkin Randika membiarkannya pergi begitu saja. Sejujurnya, selama dia meminta maaf dan mengerti salahnya di mana, dia akan memaafkannya. Tetapi melihat dia tidak akan pernah berubah, Randika memutuskan untuk memberinya pelajaran. Jimmy menelan air ludahnya. Ketika dia melihat tatapan tajam Randika, dia merasa bahwa kata-kata orang ini benar-benar serius. Dia merasa bahwa kaki dan tangannya benar-benar akan dipatahkan apabila dia menolak. "Mana mungkin aku bisa memilihnya!" "Aku beri kamu 5 detik untuk memutuskan, jika kau tidak membuat keputusan maka akan kubantu kau untuk memilih nomor 2." "Lima." Mendengar hitung mundur Randika, Jimmy semakin bingung. "Empat." Apa yang harus dia lakukan? "Tiga." Ketika Jimmy masih ragu-ragu, pegangan besi yang dipatahkan Randika itu dia lempar ke tembok. Dan di bawah tatapan orang-orang, tongkat itu menancap dalam di tembok! Setelah pertunjukan itu, Jimmy merasa lututnya lemas dan mulai merangkak sambil melepas celananya. Tetapi dia tidak mau melepas celana dalamnya. Setelah itu dia menggonggong sebanyak 5x. "Hahaha!" Orang-orang mulai tertawa melihatnya, wajah Jimmy benar-benar sudah merah karena malu. Dia benar-benar kehilangan wajahnya, dia sudah tidak berani menatap orang-orang setelah kejadian ini. "Jim!" Teman-teman Jimmy segera melindunginya setelah dia selesai membayar hutangnya. "Kak, kau benar-benar hebat bisa membuatnya menurutimu!" Hannah menatap kagum Randika. "Tentu saja!" Randika tersenyum. "Bahkan Inggrid saja menurutiku setiap hari, bocah sepertinya bukan apa-apanya!" Hannah hanya terdiam, kakak iparnya memang bajingan! Chapter 84: Kau Butuh Operasi Pembesaran Dada Setelah kejadian di kolam renang itu, Randika tidak mau lama-lama lagi di sana. Meskipun para perempuan penasaran dengan dirinya, Randika masih tidak bisa melupakan kekecewaan yang diterimanya sebelumnya. Jadi dia memutuskan untuk pergi dari sana dan berkeliling lagi bersama Hannah. Karena cuaca sudah tidak sepanas tadi, mereka berdua sudah hampir selesai berkeliling seluruh universitas. Hannah benar-benar menjadi pemandu tur yang handal. Setelah 1 jam mereka berkeliling, Hannah tiba-tiba ditelepon temannya dan ternyata dia diajak untuk pergi karaoke. Dia lalu pamit duluan dan memberi tahu cara Randika keluar dari kompleks universitasnya. Tega sekali adik iparnya ini menelantarkan dirinya. Randika berjalan keluar sambil berwajah murung. Saat dia mau berbelok keluar dari gedung, ada seorang dosen yang sedang berjalan dengan kesusahan sambil membawa banyak buku. Karena tidak bisa melihat dengan baik, dosen ini tetap berjalan dan menabrak Randika. Dalam sekejap dia terjatuh dan bukunya jatuh berserakan. "Ah!" "Maaf, aku tidak menyangka akan menabrakmu." Randika segera meminta maaf dan membantunya untuk berdiri. "Kalau jalan hati-hati ya!" Dosen itu segera memarahi Randika. Ketika dia menggenggam tangannya, Randika terpukau dengan kecantikannya. Dosen ini, tidak, perempuan cantik ini benar-benar menawan. Umurnya mungkin sekitar 27, cukup muda bagi dosen. Dengan make upnya yang tipis, hidung mancung dan bibir mungilnya membuat ekspresi marahnya ini terlihat imut. Namun, yang sangat disayangkan adalah dadanya yang kecil. Untuk kategori ini Randika harus sedikit bersabar menerimanya. "Maafkan aku, aku tadi melamun." Kata Randika sambil tersenyum, dia lalu membantu untuk mengumpulkan kembali buku-bukunya. "Anda dosen di sini?" Kata Randika. "Iya." Melihat tingkah laku Randika yang sopan, dosen ini sedikit lebih tenang. Setelah selesai memungut semua buku itu, 3/4 buku dibawa oleh Randika. "Sebagai permintaan maaf, biarkan aku membantu dirimu.?? Dosen ini awalnya sedikit ragu, tetapi mendengar bahwa niatan orang ini baik, akhirnya dia mengangguk. Randika tersenyum dan menjulurkan tangannya. "Namaku Randika." "Aku Christina." Lalu keduanya berjalan bersama dan bertukar kabar. "Kamu mengajar bagian apa?" Tanya Randika. "Psikiologi." Jawab Christina. "Kalau kamu? Kamu murid sini?" "Bukan," Kata Randika sambil tersenyum. "tapi aku anggap barusan sebagai pujian darimu." Keduanya berbincang-bincang dengan senang dan melihat saatnya sudah tepat, Randika melancarkan serangannya. Dia bertanya. "Kamu sudah menikah?" Christina yang mendengarnya terkejut. "Belum." Sesuai dugaannya, meskipun dia cantik ternyata dia masih jomblo. Ketika melihat wajah serius Randika, Christina bertanya. "Ada apa?" Randika lalu mengangkat wajahnya dan berkata dengan serius. "Christina, aku menguasai beberapa ilmu pengobatan tradisional tetapi aku tidak tahu aku harus mengatakanmu secara terus terang atau tidak." "Katakan saja!" Christina penasaran. "Kau memiliki beberapa masalah di bidang kewanitaan, kita harus mengobatinya secepat mungkin." "Ah?" Mendengar jawaban Randika, Christina dengan cepat tersipu malu. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu? Lalu tiba-tiba Christina tersadar, sudah banyak laki yang mengejarnya selama ini dan memakai banyak cara untuk mendekatinya. Namun, yang ini benar-benar baru! "Masa?" Christina sudah mengecap Randika sebagai salah satu orang yang ingin mendekatinya, nada bicaranya menjadi dingin. Kalau Randika mengerti isi kepala Christina, mungkin dia sudah menggodanya hingga dia menjadi gila. "Kau benar-benar memiliki masalah kewanitaan." Kata Randika dengan serius. "Randikaˇ­ kau memakai cara seperti ini ketika mendekati cewek?" Randika terkejut, dia sudah dianggap mengejar dirinya. Baiklah, dirinya memang berusaha dekat dengan Christina tapi kenapa dia percaya diri sekali seperti itu? "Christ, aku tidak bercanda. Masalahmu ini sudah serius." Randika kembali menegaskan. Melihat Randika yang serius itu, Christina ingin mendengar taktik apa yang dipakainya. "Kalau begitu jelaskan padaku masalahnya apa?" "Beginiˇ­" Randika sedikit ragu. "Kenapa?" Christina mengerutkan dahinya, Dasar cowok, bisanya bermulut manis doang! "Bukannya aku bersikap lancang, tetapi jangan terkejut ketika aku mengatakannya." Randika mulai bersiap-siap dalam hatinya. "Tidak apa-apa, katakan saja. Aku tidak akan marah kok." Kata Christina dengan santai. "Beginiˇ­" Randika menghirup napas dalam-dalam dan berkata dengan nada serius. "Kau perlu operasi dada." "Apa? Coba ulangi?" Apakah dirinya salah dengar? "Kau butuh operasi pembesaran dada!" Randika mengulanginya lagi dengan lebih pelan. "Dasar mesum! Sini buku-bukuku." Christina marah, buat apa dirinya operasi pembesaran dada? Dasar pria, semuanya hanya tertarik sama wajah cantik atau dada besar. Memang dirinya tergolong kecil tetapi memangnya kenapa dengan itu? Dan orang ini dengan beraninya mengatakan aku harus membesarkan dadaku karena dadaku kecil? Apakah dia tidak mengerti kalau aku sadar akan hal itu? "Sebentar, sebentar, aku hanya bercanda." Melihat Christina marah, Randika dengan cepat berusaha menghiburnya. "Kau hanyalah pria mesum, aku tidak sudi bersamamu! Kembalikan bukuku atau aku akan teriak." Christina sudah menganggap Randika pria mesum dan tak tahu diri. "Christina tolong dengarkan aku." Sebenarnya itu isi hati Randika sebenarnya, menurutnya sayang sekali apabila perempuan cantik memiliki dada kecil. Melihat Randika tidak mau mengembalikan buku-bukunya, Christina dengan cepat menginjak kaki Randika. Serangan mendadak ini membuat Randika mengerang kesakitan. Sepatu haknya itu benar-benar menyakitkan! Setelah mengambil buku-bukunya, Christina berkata pada Randika. "Aku harap aku tidak akan bertemu denganmu lagi." Sialan, kenapa sekarang dia jual mahal begitu? Lain kali kalau kita bertemu lagi, aku akan memberimu pelajaran. Randika menggertakan giginya, memangnya apa salahnya dengan operasi pembesaran dada? Setelah sosok Christina hilang dari pandangannya, Randika memutuskan untuk pulang. Setelah sampai di rumah, Randika melihat Inggrid sedang duduk di ruang tamu. "Ran, aku akan pergi selama seminggu untuk melakukan kunjungan." "Baiklah." Randika lalu berjanji pada Inggrid. "Tepati janjimu itu kalau tidak, suamimu ini akan mencarimu walau itu di ujung dunia." Inggrid segera tersipu malu, pria ini memang ahli dalam menggoda. Randika lalu pergi ke kamarnya hendak beristirahat, dia menghabiskan siang harinya bersama Hannah. Namun, pada saat ini dia menerima telepon dari Viona. "Kenapa Vi?" Tanya Randika. "Ran, di perumahanku pakaian-pakaian orang-orang menghilang secara misterius." Suara Viona terdengar cemas di balik telepon. "Maling?" "Bukan." Viona dengan cepat menjelaskan. "Ini ulah boneka yang ada di perusahaan tadi pagi." "Apa?" Randika langsung berdiri dari tempat tidurnya. "Kau lihat sendiri?" "Iya, sekitar 30 menit yang lalu rumah di samping-sampingku melaporkan kehilangan baju-baju mereka. Jarak antar rumah terlalu sempit untuk maling biasa jadi tidak mungkin manusia yang melakukannya. Mereka juga bilang ada semacam boneka yang menginjak-injak kepalanya." "Lalu aku sempat melihat boneka itu berjalan di tengah jalan sambil membawa pakaian orang-orang." Lanjut Viona. "Baiklah, aku akan segera ke sana." Kata Randika. Ketika Randika buru-buru turun dari tangga, Inggrid menjadi penasaran. Apakah ada sesuatu yang terjadi? "Mau ke mana?" "Keluar sebentar." Randika langsung pergi ke perumahan Viona berada. Chapter 85: Biarkan Aku Melihatnya Boneka ginseng ini benar-benar sulit ditemui, karena Randika mendapat informasi keberadaannya tidak ada alasan bagi Randika untuk tidak segera mengejarnya. Kalau tidak, bisa-bisa berikutnya bisa saja boneka ini ada di kota lain. Dengan bermodalkan motivasi tubuhnya akan sembuh, Randika tidak akan pernah menyerah untuk menangkapnya. Viona tinggal di dekat Universitas Cendrawasih. Meskipun tempat perumahannya tidak seelit miliknya, perumahan Viona itu masih tergolong kelas menengah ke atas. Setelah sampai di Universitas Cendrawasih, dia menelepon kembali Viona dan sepakat bertemu di tamat dekat sana. Setelah sampai di taman, Randika melihat Viona sedang duduk di kursi menunggunya. "Viona!" Randika segera menghampirinya. "Randika!" Viona masih terkejut, kenapa bisa Randika secepat itu datang ke sini. "Bonekanya?" Viona menggelengkan kepalanya, "Dia menghilang cukup lama. Aku tidak tahu arah mana dia pergi, tetapi seharusnya masih ada di sekitar sini." Randika mengangguk. Karena boneka itu masih ada di sekitar sini, tinggal masalah waktu sampai mereka bertemu dengannya. "Ran, sambil menunggu kenapa kita tidak beristirahat dulu saja di rumahku?" Kata Viona dengan sedikit malu. "Baiklah." Viona lalu menuntun Randika ke rumahnya. Ketika mereka sampai, mereka segera duduk di ruang tamu. "Vi, memangnya apa yang diambil sama boneka itu?" Tanya Randika. Viona yang duduk di samping Randika itu berdiri dan mengambil minuman. "Aku tidak tahu, tapi yang sempat kudengar dia mencuri pakaian milik perempuan. Ah, kau ingin minum apa? Teh hangat, coca cola atau bir?" "Yang tidak merepotkanmu saja." Randika melihat-lihat rumah Viona ini. Meskipun tergolong kecil, kalau yang tinggal Viona saja maka rumah ini seharusnya cukup. "Vi, boleh aku melihat-lihat ruanganmu?" Randika menoleh dan bertanya. "Silahkan." Viona dengan cepat menjawab. Lagipula, tidak ada yang dia sembunyikan di rumah ini. Tetapi, dalam sekejap mukanya menjadi pucat dan melihat Randika menuju kamar itu! Dengan cepat Viona berlari dan berusaha menghentikan Randika memasuki ruangan itu. "Tidak! Jangan buka pintunya!" Tapi semua sudah terlambat. Randika sudah membuka pintunya dan sedang berdiri terpana oleh pemandangan yang dilihatnya. Tempat ini bisa dibilang lemari pakaian tipe walk in closet tetapi dekorasi dan isinya bukan pakaian. Viona sudah lama tersipu malu. Rahasia tergelapnya telah dilihat oleh Randika. Tepat di tengah ruangan ada meja bundar kecil terdapat banyak sekali celana dalam. Celana dalamnya bervariasi, ada thong berwarna hitam, G-String, Bikini Lingerie, Open Crotch, transparan dsb. Bisa dikatakan celana dalam yang membuat pria terangsang ada di sini semua. Randika tidak bisa berkata-kata selama beberapa saat sedangkan Viona menutupi wajahnya sambil menunduk. Dia merasa wajahnya sedang terbakar dan tidak berani melihat Randika. Bagaimana ini? Randika melihat koleksiku! "Viona, kau memang tiada duanya." Randika memecah keheningan. Viona hanya berteriak teredam, dia benar-benar malu. Dalam hatinya Randika semakin suka dengan Viona. Ternyata selama ini Viona memakai lingerine yang sexy dan menggoda tanpa diketahuinya, ini bahkan lebih menggairahkan daripada saat dia tidak memakai apa-apa di restoran waktu itu. Randika masuk dan mengambil salah satu G-String! Dia sangat menyukai warnanya dan membayangkan Viona yang memakainya, ulala! "Tidakkkk! Jangan pegang!" Viona segera berlari dan berusaha mengambilnya kembali. Namun, Randika yang lebih tinggi mengangkatnya tinggi-tinggi agar Viona tidak bisa mengambilnya. Viona yang melompat-lompat dan menempelkan badannya di Randika itu membuat Randika semakin bersemangat. Dia lalu menahan kedua tangan Viona dan menyudutkannya hingga ke tembok. Dia lalu berbisik pelan sambil tersenyum. "Vi, dalaman apa yang sedang kau pakai?" Wajah Viona kembali memerah ketika mendengarnya. Entah kenapa dia terpikir kejadian di restoran yang lalu, di mana Randika melihat dirinya tidak memakai celana dalam. Dalam sekejap, dia merasa seluruh tubuhnya menjadi panas. "Vi, biarkan aku melihatnya." Randika sudah memeluk erat Viona dan tangannya sudah berenang melintasi tubuhnya. "Akuˇ­." Ketika Viona hendak membalas, bibirnya tiba-tiba dihalangi oleh bibir Randika! Dengan kedua lidah mereka berenang mengarungi mulut mereka, Viona merasa kepalanya melayang. Semua masalah dunia seakan menghilang dan Cuma ada sensasi nikmat yang masuk ke dalam otaknya. Keduanya berciuman cukup lama dan ketika mereka sudah terpisah, Randika melihat Viona yang kehabisan napas itu sudah amat sangat terangsang. Erotisme yang ditunjukan oleh ekspresi Viona itu membuat Randika semakin bernafsu. Dengan cepat, dia menggendong Viona dan membawanya keluar menuju kamar tidurnya. Sekarang adalah event utamanya! Viona merasa gugup namun di matanya hanya ada Randika sekarang dan di benaknya hanya ada kehangatan tubuh Randika yang mengalir ke dalam dirinya tadi. "Vionaku yang cantik, biarkan aku melihat dalaman apa yang kau siapkan untuk diriku ini." Randika tersenyum dan memegang pinggang Viona dengan kedua tangannya dan berenang ke atas. "Tidak mau." Suara Viona seperti suara anak kucing, lemah dan imut. "Tenanglah, aku tidak akan ngapa-ngapain kamu kok. Aku hanya ingin melihat dalaman seperti apa yang kau pakai sehari-hari." Randika sudah seperti buaya darat dan Viona adalah sebuah kelinci putih yang polos, Viona tidak bisa lolos dari genggaman Randika. Perlawanan Viona semakin kecil dan Randika mulai membuka bajunya itu. Perlahan namun pasti, pakaian dalam yang dipakai Viona semakin nampak. Satu set pakaian dalam berwarna hitam dengan celana dalam bertali samping G-String, dewasa sekali pilihannya. Mata Randika semakin bersinar terang ketika melihatnya. Khususnya setelah melihat kedua melon besar milik Viona itu, Randika sudah tidak sabar memainkannya. Sayangku, betapa menawannya dirimu itu!! Randika menelan air ludahnya. Meskipun kedua melon itu masih terbungkus, beha yang dipakai sepertinya tidak bisa menahan lebih lama lagi. Viona sudah menutup matanya dan wajahnya sudah sangat merah. Randika sudah perlahan-lahan memainkan dadanya. Ah! Tangannya mulai masuk ke dalam behanya, sedikit lagi dia akan menemukan putingnya. Kiri sedikit, ah benar di situ! Ketika Randika baru menemukan harta karunnya, tiba-tiba terdengar suara teriakan dari jauh. "Tolong!" Suara teriakan itu menembus dinding kamar, pintu yang tertutup rapat, dan masuk ke telinga mereka berdua. Viona yang mendengarnya segera tersadar kembali. "Ran, ada suara perempuan berteriak!" "Hmm? Mana? Aku tidak dengar apa-apa." Randika pura-pura bodoh, setiap kali keadaan mulai memanas dan intim seperti ini kenapa tiba-tiba selalu ada saja yang mengganggunya. "Hahaha mungkin kau sudah berhalusinasi, sudah lupakan saja dan kita lanjutkan." Randika tertawa dan teriakan minta tolong kedua terdengar. Suara itu terdengar keras dan jelas. Ya ampun, kenapa aku tidak boleh menikmati momen-momen seperti ini? Randika sudah ingin menghantamkan tinjunya itu untuk melampiaskan kekesalannya. "Ran, beneran ada suara orang teriak minta tolong." Viona langsung mendorong Randika. "Cepat tolong dia." "Baiklah." Muka Randika benar-benar muram seperti orang yang kalah lotre. Viona tertawa dalam hati ketika melihatnya. Chapter 86: Aku Ingin Membuktikan Sesuatu Berdiri sambil bermuka muram, Randika menyadari sesuatu dan bergumam pada dirinya sendiri. Kenapa dirinya seperti mengenal suara itu? Di mana ya dia pernah mendengarnya? Apa ini cuma halusinasinya saja? Di saat Randika masih tenggelam dalam pikirannya, teriakan itu berganti menjadi tangisan. Dalam sekejap akhirnya Randika sadar, bukankah itu suara Christina? Dan kalau didengar baik-baik, bukankah suara itu berasal dari samping rumah? Randika segera keluar dari rumah Viona dan menggedor rumah Christina, namun tidak ada respon. "Vi, mundurlah." Kata Randika dengan santai, lalu dia mengangkat kakinya dan mendobrak pintunya! DUAK! Pintu itu segera copot dan menabrak tembok dengan mudah. Ketika Randika masuk, dia langsung terkejut dengan apa yang dia lihat. Christina terlihat menangis sambil mempertahankan celana dalamnya yang dia pakai itu agar tidak dipelorot oleh si boneka ginseng. Boneka ginseng itu terlihat tertawa seperti om-om genit yang penasaran dengan dalaman apa yang dipakai Christina ini. Randika benar-benar tidak habis pikir, boneka ginseng ini ternyata mesum? "Tolong aku singkirkan benda itu!" Christina tidak menyadari bahwa Randika lah yang masuk ke rumahnya dan berusaha menolongnya, dia yang sekarang benar-benar ketakutan. "Vi, pulanglah ke rumahmu dulu dan kunci pintumu rapat-rapat." Mata Randika sudah mengunci boneka ginseng itu lekat-lekat. Kali ini dia tidak akan membiarkannya lolos. Boneka ginseng itu menoleh dan tertawa ke arah Randika. Dia lalu berlompat-lompat hingga naik di atas meja dan tersenyum ke arahnya. Sepertinya dia menantang Randika. "Kali ini kau tidak bisa lari!" Tatapan mata Randika menjadi serius dan menerjang maju. Di tangannya, dia memegang sepatu yang ada di pintu masuk dan melemparnya! Boneka ginseng ini sangat lincah jadi satu-satunya cara adalah menangkapnya di udara. "Hei bukankah kau yang tadi pagi?" Saat Randika menerjang maju, Christina akhirnya sadar bahwa pria ini adalah pria yang ditemuinya tadi siang. Randika tidak mempedulikannya, perhatiannya benar-benar terfokus pada boneka ginseng. Boneka ginseng itu melihat sepatu yang melayang ke arahnya, dia hanya tersenyum. Ia kemudian menjulurkan tangannya dan menangkap sepatu tersebut, karena sepatu itu tidak memenuhi seleranya maka dia langsung membuangnya. Pada saat ini, Randika sudah sangat dekat. Randika meloncat dan menangkap boneka ginseng itu dengan kedua tangannya. Sayangnya, boneka ginseng itu melompat dan memanjat lengan Randika sampai ke atas bahunya sambil tertawa. Randika langsung bereaksi dan berusaha menangkapnya tetapi si boneka ginseng melakukan salto di udara dan mendarat dengan indah di lantai. Boneka ginseng ini benar-benar terlalu lincah. Randika tidak mau menyerah, sekarang permainan kejar-kejaran ini melibatkan seluruh pelosok rumah. Boneka ginseng ini tidak henti-hentinya tertawa ketika setiap usaha Randika itu gagal. Randika juga tidak bisa terlalu menggunakan kekerasan untuk menangkapnya, bagaimana kalau boneka ginseng ini mati dan khasiatnya hilang? Jadi dia hanya bisa menangkapnya dengan hati-hati. Sekarang, boneka ginseng itu meloncat-loncat di tempat tidur. Sepertinya dia menyukai kasur empuk itu. Saat itu juga Randika tahu inilah kesempatan terbesarnya. Dia menunggu lompatan tertinggi dan langsung meloncat maju. Sayangnya, usahanya benar-benar sia-sia. Kali ini boneka ginseng tersebut menggunakan tangan Randika sebagai pijakan dan mendarat di kepalanya. Dia menginjak-injak kepala Randika dengan girang sambil tertawa. Kalau aku berhasil menangkapmu, aku akan benar-benar merebusmu! Randika berdiri dan boneka ginseng itu segera meloncat turun. Ia lalu menoleh ke belakang dan tertawa ke Randika. Randika sudah menyalurkan tenaga dalamnya ke kakinya yang membuatnya bisa berlari secepat angin. Tetapi, boneka ginseng ini jauh lebih cepat dan Randika sama sekali bukan saingannya. Apakah ini esensi sejati dari bumi dan langit? Randika hanya bisa bersedih ketika sosok boneka ginseng itu menghilang kembali tanpa jejak. Boneka itu benar-benar berengsek, ia menganggap dirinya ini hanya sebuah lelucon. Ares sang Dewa Perang ini benar-benar diremehkan. Setelah boneka ginseng itu menghilang, suasana rumah menjadi hening. Christina yang mengintip dari pintu menghampiri Randika, "Makhluk apa itu barusan?" "Bisa dikatakan dia makhluk supernatural." Randika menghela napas. Menangkapnya benar-benar sebuah ujian. "Makhluk supernatural?" Christina terkejut. Meskipun dia awalnya tidak percaya tetapi penjelasan itu mungkin masuk akal baginya. "Jangan khawatir, makhluk itu tidak berbahaya. Tapi cuma sedikit jail saja." Randika duduk di kasur dan tersenyum. "Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi secepat ini." Muka Christina segera menjadi jelek. "Jangan membual seperti ini semacam takdir atau apa, ingat caramu menggodaku tadi benar-benar buruk!" "Menggodamu?" Randika terlihat bingung. "Kapan aku menggodamu?" "Kau!" Christina menjadi marah. "Tadi siang kau mencari alasan untuk berbicara denganku bukan? Caramu menggoda juga benar-benar biadab!" "Maksudmu tentang operasi pembesaran dada?" Randika menghela napas. "Christina sepertinya kau salah memahaminya. Operasi pembesaran dada itu tidak ada hubungannya denganku menggodamu. Kau benar-benar membutuhkannya, itu pendapatku dari sudut pandang seorang dokter." "Terserah! Sekarang cepat kau keluar dari sini!" Ekspresi Christina masih marah-marah. "Bukankah barusan aku menolongmu? Sekarang kau marah-marah mengusirku, apakah itu caramu untuk berterima kasih?" Randika selalu melakukan sesuatu dengan harapan imbalan. "Ini rumahku dan aku punya hak untuk mengusirmu!" Katanya dengan nada dingin. "Sudahlah jangan marah-marah." Randika lalu rebahan. "Biarkan aku istirahat dulu." Christina benar-benar tidak habis pikir dengan orang ini. "Kalau aku bilang keluar ya keluar!" Randika berdiri dan menghampiri Christina. "Kauˇ­ apa yang kau lakukan?" "Aku ingin membuktikan sesuatu." Randika lalu berbisik padanya. "Aku ingin membuktikan bahwa kau juga seorang wanita!" Dalam sekejap, Randika memeluk erat Christina dan menciumnya! Untuk perempuan keras kepala semacam Christina, Randika mulai malas berdebat dengannya. Christina bilang bahwa dia menggodanya, jadi dia langsung menunjukan bagaimana caranya dia mendapatkan hati wanita yang sebenarnya! Christina benar-benar terkejut. Tiga detik pertama dia terpana dengan kenikmatan yang dia rasakan tetapi, tiga detik setelahnya dia baru sadar akan situasinya dan melawan mati-matian. "Hm, Hm, Hm!" Christina mulai berteriak dan melawan mati-matian. Dia ingin mengatakan pada Randika untuk melepaskannya tetapi bibir Randika dengan sempurna menutupi suaranya. Christina terus memukul-mukul dada Randika, tetapi bagi Randika itu hanya bagaikan gigitan semut. Terlebih, Randika memegang erat leher Christina jadi dia tidak bisa ke mana-mana. Berada di bawah serangan gigih Randika, Christina mulai khawatir. Selama ini dia menggertakan giginya, menahan serangan lidah Randika yang intens. Sepertinya pria ini ingin mempertemukan kedua lidah mereka. Dasar pria bajingan! Tatapan mata Christina benar-benar tajam. Tiba-tiba, Randika berteriak kesakitan dan melepas Christina dari pelukannya. Ternyata bibirnya telah digigit olehnya. "Keluar dari sini!" Christina mulai mengambil barang-barang di dekatnya dan melemparnya ke Randika. "Hei santai saja! Itu cuma ciuman biasa!" Kata Randika dengan santai. Namun, Randika melihat bahwa Christina meneteskan air mata. Ciuman pertama? Mustahil, untuk seumuran Christina dia baru pertama kali berciuman? Randika dengan cepat membuang pemikiran ini, karena mustahil bukan? "Cepat pergi!" Christina benar-benar sudah naik pitam. "Oke, oke, aku keluar. Jangan melempariku lagi." Ketika Randika sudah pergi, tangisan Christina semakin menjadi-jadi. Kenapa pria itu melakukan semua itu padanya? Chapter 87: Momen Intim yang Dirusak Lagi Randika keluar dari rumah Christina dengan terbirit-birit, dia berlari dengan cepat menuju kamar Viona. Randika menyadari bahwa pintu yang dia dobrak masih tergeletak begitu saja, dia harus pergi secepat mungkin untuk menghindari masalah. Di kamar Viona, Randika disuguhkan es teh manis yang sudah dipersiapkan oleh Viona. "Ran, kamu pasti haus." Kata Viona sambil memberikan gelasnya pada Randika. "Vi, aku bukan hanya haus tapi juga lapar." Senyuman nakal milik Randika mulai naik kembali. "Ah? Baiklah aku ambilkan cemilan dulu." Viona lalu berdiri hendak ke dapur untuk membuatkan cemilan. "Maksudku aku lapar akan kasih sayangmu, biarkan aku menikmatimu sekali lagi." Kata Randika sambil tersenyum sekaligus menahan tangan Viona agar dia tidak bisa kabur. "Ranˇ­." Wajah Viona sudah tersipu malu. Kata-kata Randika mengacu pada keterusan momen mesra mereka tadi. "Vi, tadi kita diganggu di tengah jalan. Sekarang biarkan aku menyelesaikannya." Randika sudah memeluk Viona dari belakang dan menyebul leher putih Viona yang mulus itu. "Ranˇ­ Jangan!" Viona kembali malu. Randika benar-benar menyayangkan kejadian tadi, kalau bukan karena teriakan Christina itu maka dia sudah bersatu dengan Viona. "Tidak usah malu." Kata Randika dengan senyuman hangat. "Aku cuma ingin melihat dalaman yang kau pakai." Mendengar kata-kata itu, wajah Viona kembali memerah. Mungkin perempuan lain sudah menampar Randika sekaran tetapi, Viona telah berkali-kali diselamatkan oleh Randika jadi sulit bagi dirinya untuk menolak cinta pria ini. "Kau tidak perlu khawatir. Aku mencintaimu baik dirimu yang polos maupun yang nakal!" Randika sudah berhenti berbicara dan membiarkan tangannya bekerja. Dia lalu melorot sedikit celana Viona sambil mengatakan. "Khususnya dirimu yang memakai G-String." Viona sudah malu setengah mati, kata-kata terakhir Randika itu menyerang pertahanan terakhirnya. Dirinya memang memiliki sifat nakal tetapi selama ini dia tidak punya pasangan untuk melampiaskannya jadi ini pertama kalinya dia merasa didominasi. "Vi, aku akan membuka bajumu dulu." Randika lalu mengangkat baju Viona hingga terlepas. Pinggang ramping Viona benar-benar enak dipegang. Beha berwarna hitam itu segera menunjukan kedua gunung yang disembunyikan oleh Viona. Kulit Viona benar-benar mulus bagaikan sutera. Randika suka mengelus-elus Viona khususnya dadanya yang besar itu! Melihat Viona yang menjadi penurut, Randika tidak tergesa-gesa. "Vi, biarkan aku membuka celanamu lagi. Aku ingin melihat dalamanmu sekali lagi." Viona memakai celana hot pants yang ketat. Paha dan kakinya yang panjang itu sudah lama terpaku di mata Randika. Tetapi, untuk momen berikut ini Viona tidak membutuhkan celananya itu. Randika lalu memangku Viona di sofa dan tangannya yang memegang pinggang Viona mulai turun ke kancing celananya. Dia perlahan menurunkan risleting celana Viona itu. Randika lalu menggunakan kedua tangannya untuk melepasnya secara perlahan melewati paha dan kaki Viona. Viona membantu Randika dengan mengawang sedikit untuk mempermudah Randika melepaskannya. "Kita lanjutkan ini di kasur." Randika tersenyum lebar sambil menggendong Viona ke kasur. Selama proses ini, Viona menutupi wajahnya. Setelah meletakkan Viona di kasur, Randika menatap puas pada tubuh Viona yang sungguh menawan ini. Randika sudah terbakar oleh api nafsu, tidak sabar dengan apa yang akan mereka lakukan. Mengintip dari celah tangannya, Viona memperhatikan tatapan buas Randika tersebut. Dia lalu menutup wajahnya lagi. "Ranˇ­ aku malu." Kata Viona dengan suara pelan. "Tenanglah Vi, aku ada di sini dan kita akan lalui ini bersama." Kata Randika dengan lembut sambil mencium dahinya. Dia lalu berusaha melepas pengait behanya. Randika sudah berhasil menemukan pengait tersebut dan berusaha melepasnya. Hari ini adalah hari di mana Viona menjadi wanitanya. Klik! Dok! Dok! Bersamaan dengan pengait itu lepas, terdengar suara pintu digedor keras dari luar. Mata Viona terbuka lebar dan mengatakan. "Ran, ada yang menggedor pintu rumah." Bajingan, bajingan, siapa lagi coba yang mengganggu dirinya? Randika benar-benar kehabisan kata-kata. Bajingan mana lagi yang berani mengganggu dirinya? Setiap kali momen intim seperti ini ada aja halangannya. "Sudah biarkan saja orang itu. Mungkin itu cuma anak-anak yang lagi iseng saja." Kata Randika sambil berusaha melepas beha Viona yang sudah tidak terikat itu, sedikit lagi kedua pucuk itu akan terlihat. Namun, dengan cepat Viona berdiri dan menutupi dadanya. "Aku serius!" Penolakan ini membuat hati Randika benar-benar hancur. "Baiklah kalau begitu." Randika berdiri dan berjalan menuju pintu dengan wajah kecewa. Ketika dia membuka pintu rumah, ternyata Christina lah yang lagi-lagi mengganggu dirinya! "Hmmm? Kenapa kau mengganggu waktuku yang berharga?" Ketika melihat orang itu adalah Christina, Randika menjadi marah. "Bukankah kau sudah muak denganku?" Christina mendengus dingin dan menunjuk pintu rumahnya. "Pintuku kau yang rusaki kan? Cepat perbaiki hari ini!" "HAH?? Kau memanggilku cuma karena itu?" Randika langsung menampar dahinya. "Kau kira aku tukang?" "Pokoknya itu tanggung jawabmu!" Kata Christina sambil meninggalkan rumah Viona. Randika benar-benar kehabisan kata-kata. Setelah memperbaiki pintu Christina dengan ogah-ogahan, Randika kembali ke rumah Viona dan memintanya agar mereka meneruskan momen intim tadi. Tetapi, Viona menolak melakukannya. Randika benar-benar kecewa mendengarnya. Hal ini membuat Randika memaki Christina tanpa henti di hatinya. Gara-gara wanita itu, momen sempurna membuat Viona menjadi wanitanya benar-benar telah hilang. Momen yang dia bangun selama ini telah hancur berantakan. Dengan muka kecewa, Randika hanya bisa berjalan pulang. Langit sudah gelap dan kota Cendrawasih kembali dihiasi lampu-lampu terang. Tin! Tin! Meskipun sudah gelap, pusat kota ini masih dipenuhi oleh mobil. Serasa tidak mau kalah, para pejalan kaki juga memenuhi kedua sisi jalan. Randika masih berjalan dengan wajah kecewa ketika dia hendak memanggil taksi, tiba-tiba ada seorang perempuan muda melewati dirinya. Randika tidak bisa tidak memelototinya, perempuan ini benar-benar cantik! Perempuan ini berumur sekitar awal 20an dan berambut pirang. Dia memiliki wajah yang lonjong dan memakai make up tipis, lipstik merah yang cerah, hidung mancung dan alis yang disulam. Dia memakai high heels dan rok pendek yang ketat. Sepertinya perempuan ini hendak berkencan. Mungkin ini adalah semacam penghiburan dari atas jadi Randika tidak segan-segan menikmati pemandangan indah ini. Setelah memelototinya beberapa detik, Randika memalingkan wajahnya dan kembali mencari taksi. Tiba-tiba, terdengar suara teriakan dari samping. Ketika dia menoleh, Randika melihat bahwa perempuan muda tadi telah digiring oleh beberapa orang ke samping gang yang sepi. Salah satu dari mereka menutup mulut perempuan itu dengan mulutnya dan sisanya segera memperhatikan sekelilingnya. Penculikan? Meskipun pejalan kakinya yang berlalu sedang tidak terlalu banyak, para penculik itu benar-benar berani beraksi di tengah keramaian. Randika hanya menghela napas dan memutuskan untuk membuntuti mereka. Chapter 89: Semua Hanyalah Masalah Waktu Ketika Randika naik ke lantai 2, dia bertemu dengan Inggrid yang hanya berbalutkan handuk. Sepertinya dia sedang mengambil hair dryer di kamar Hannah. Hanya sebuah handuk yang menghalangi dirinya melihat tubuh bahenol dan sexy itu. Tetapi, justru pemandangan seperti ini memiliki sisi erotismenya tersendiri dan membuat Randika tersenyum lebar. Apalagi Inggrid sangat wangi sekali, Randika makin suka. Karena dia dan Viona telah diganggu 2x, mungkin Tuhan ingin menebusnya agar dia bisa bermain dengan Inggrid. "Istriku yang cantik baru selesai mandi ya." Randika memeluk Inggrid dari belakang. "Hei jangan pegang-pegang." Kata Inggrid dengan nada dingin, tetapi dia tidak semarah seperti dulu. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan kegenitan Randika. "Hahaha salahmu karena kau begitu menawan." Randika menghirup dalam-dalam di leher Inggrid dan Inggrid menatapnya tajam. Tangan Randika semakin tidak sabar. Meskipun terhalangi handuk, Randika bisa merasakan kelembutan kulit Inggrid yang begitu luar biasa, dan dia benar-benar tahu bahwa istrinya ini tidak memakai apa-apa di balik handuk ini. Ketika mengingat pakaian dalam Viona yang tadi, Randika makin tidak bisa menahan nafsunya. "Sayang, kau begitu cantik hari ini." Randika lalu menghirup sekali lagi di leher Inggrid dan bermaksud ingin menciumnya. Inggrid berpikir dalam hati bahwa pria ini lagi-lagi ingin mencabuli dirinya. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya tetapi, dari badan Randika tercium bau parfum. Ketika Randika ingin menciumnya, Inggrid justru memeluknya erat. Randika mengira Inggrid malu-malu dan merasa bahwa reaksi hari ini Inggrid lebih imut daripada biasanya. Inggrid justru ingin memastikan bau apakah yang dia cium itu? Setelah menghirupnya, jelas itu parfum wanita. Dalam sekejap ekspresi Inggrid menjadi dingin. Dengan cepat dia mendorong Randika dan berkata dengan nada dingin, "Dari mana kau?" Randika terkejut dan berkata sambil tersenyum, "Aku hari ini banyak urusan, petualanganku yang mana yang ingin kau dengar?" "Sesaat setelah meninggalkan rumah dengan terburu-buru." Inggrid menajamkan tatapannya. "Ke mana kau pergi?" Randika merasa aneh, kenapa tiba-tiba Inggrid bertanya seperti itu? "Hahaha ternyata istriku mengkhawatirkanku ya?" Randika memeluk pinggang Inggrid. "Siapa yang peduli sama kamu?" Inggrid langsung berjalan ke kamarnya. "Terserah kamu mau mengatakannya atau tidak." "Ah! Maksudku bukan begitu." Melihat Inggrid yang segera meninggalkannya, Randika langsung menyusulnya. "Aku ada urusan dengan salah satu bawahanku Viona, kamu ingat kan sama dia?" Randika dengan cepat meraih tangan Inggrid, menahannya agar tidak pergi. "Urusan?" Inggrid penasaran, tetapi mengingat bau parfum yang menempel itu, entah kenapa hatinya terasa sedih. "Perempuan muda yang cantik kapan hari itu ya, ada urusan apa kamu sama dia?" "Aww ? Istriku ternyata cemburu ya." Randika tersenyum. "HAH? Buat apa aku cemburu?" Inggrid tersipu malu dan langsung lari ke kamarnya. Dia sudah tidak mau berurusan dengan Randika. Tetapi, ketika dia membanting pintu kamarnya, Randika sudah berhasil menyelinap masuk. "Sayang, aku benar-benar tidak ada maksud apa-apa." Randika segera menjelaskan. "Aku tidak tahu kalau kamu sudah mendengar kejadian boneka ginseng di perusahaan kita atau belum." "Sekretarisku yang mengatakannya, aku tidak terlalu mempedulikannya." "Boneka ginseng itu benar-benar penting bagiku. Viona menemukannya di sekitar perumahannya, mangkanya aku buru-buru pergi menemuinya. Boneka itu benar-benar sulit ditangkap." Randika kembali memeluk Inggrid dengan mesra. "Baiklah aku percaya sama kamu. Sekarang keluarlah, aku mau pakai baju." Inggrid melihat keseriusan di mata Randika jadi dia mempercayainya. "Sayang, apakah kau lupa kalau kita itu suami istri? Memangnya kenapa kalau kau pakai baju di hadapanku? Aku tidak keberatan melihat tubuhmu yang indah itu." Kata Randika sambil tersenyum. "Kau juga barusan meragukan kesetiaan suamimu, aku harus menghukummu ?" Inggrid mulai pasrah menghadapi orang ini dan ketika dia hendak mendorong Randika, Randika justru mengangkatnya dan membantingnya ke kasur. Randika dengan cepat menindih Inggrid dan berkata sambil tersenyum nakal. "Inilah hukumanmu hari ini." Randika dengan cepat mencium Inggrid tetapi Inggrid berhasil menghindar. "Cepat keluar sana!" Teriak Inggrid. "Aku tidak akan ke mana-mana sebelum mendapatkan bibirmu yang cantik itu." Randika mulai sedikit kasar. Ketika Inggrid ingin melepaskan diri, Randika memeluknya erat dan mereka berguling bersama. Sekarang posisi Inggrid berada di atas, di pelukannya Randika. "Hahaha ternyata kamu ingin di atas?" Randika tersenyum. "Baiklah hari ini suamimu akan menurutimu." Inggrid tersipu malu ketika mendengarnya. Ketika dia ingin memberontak, handuk di tubuhnya semakin melorot dan ini membuatnya tidak bisa bebas melawan. "Kau tidak bisa ke mana-mana." Randika juga menyadari handuk yang dipakai Inggrid hampir lepas. Senyumannya justru semakin lebar. "Sayang, karena kau tadi meragukanku maka aku harus memberimu kejelasan bahwa kaulah satu-satunya untukku. Jadi jangan anggap hukuman ini sebagai hukuman, anggaplah ini sebuah pernyataan." Inggrid semakin terpojok dan mengeluarkan jurus andalannya. "Jika kau tidak melepaskanku, aku akan memanggil Ibu Ipah." "Tidak apa-apa, dia hanya akan mengira bahwa kita sedang bermesraan." Setelah berkata demikian, Randika meremas pantat Inggrid. Serangan mendadak ini membuat Inggrid terkejut dan mengangkat badannya sedikit. Pada saat ini, handuk yang sudah hampir lepas itu akhirnya jatuh karena Inggrid mengangkat badannya. Inggrid langsung menutup dadanya itu dengan memeluk Randika dengan erat, tidak ingin Randika melihatnya. Di mata Randika, pegunungan yang besar itu penyet di dadanya. Benar-benar empuk dan nikmat. Randika kemudian mengelus rambut Inggrid dan berkata dengan lembut. "Sayang, jangan khawatir. Aku hanya ingin menciummu." Mendengar suara yang lembut itu, entah kenapa hati Inggrid menjadi luluh dan menutup matanya. Hari ini Randika terlihat tampan di matanya. Randika lalu mengangkat dagu Inggrid dan menciumnya. Dalam sekejap, kelembutan bibir Inggrid segera menguasai dirinya. Hari ini Randika telah berciuman dengan 3 perempuan berbeda. Harus dikatakan bahwa mereka semua memiliki teknik dan ciri khas masing-masing. Bibir Inggrid benar-benar lembut, berbeda dengan April yang sedikit lebih tebal dan cara berciumnya sedikit liar. Setelah berciuman beberapa saat, Randika melepas pelukannya dan mengambil handuk yang jatuh itu dan menutupi tubuh mungil Inggrid. "Selamat beristirahat cintaku." Kata Randika sambil berjalan keluar dan memberi kiss bye. Inggrid hanya bisa menatap linglung ke arah Randika. Dia ingin marah pada pria itu tetapi perasaan hangat di hatinya membuat dia bingung dengan perasaannya. Inggrid berusaha tidak memikirkannya dan memakai bajunya. .........ˇ­. Keesokan harinya, ketika Inggrid keluar dari kamar dia bertemu dengan Randika. "Selamat pagi sayang." Melihat Inggrid yang masih memakai piyamanya, membuat Randika berpikir kapan dia akan sekamar dengan Inggrid. Sedangkan untuk hubungan badan, itu hanyalah masalah waktu. Yang terpenting adalah mereka harus tidur sekamar dulu. Setelah mereka berdua sarapan bersama, mereka berdua pergi ke perusahaan bersama-sama. Melihat kedua orang itu pergi bersama, Ibu Ipah bergumam pada dirinya sendiri. "Mungkin sebentar lagi aku harus memanggilnya tuan." Chapter 90: Aksi Ala Hollywood Randika dan Inggrid duduk di belakang, hari ini mereka memakai jasa si supir. "Omong-omong, bukankah kemarin kamu ngomong kalau mau pergi sementara waktu?" Tanya Randika. "Iya." Inggrid mengangguk. "Aku harus memastikan sendiri kelancaran kunjungan bisnis ini." "Kapan kamu berangkat?" "Besok." Kata Inggrid sambil memeriksa buku hariannya. Melihat jadwal kerja Inggrid yang tebal di buku tersebut membuat hati Randika sedikit sedih lalu dia berkata sambil memegang tangan Inggrid. "Jangan terlalu keras bekerja, yang terpenting adalah kesehatanmu." Melihat kekhawatiran di mata Randika, hati Inggrid terasa hangat dan dia pun mengangguk. Pada saat ini, mobil mereka tiba-tiba mengerem. "Kenapa?" Tanya Randika. "Maaf tuan, sepertinya ada kecelakaan di depan. Semua mobil berhenti dan beberapa ada yang turun." Inggrid mengerutkan dahinya ketika mendengarnya. Hari ini banyak urusan yang perlu dia kerjakan di kantor, kenapa hari ini justru ada musibah semacam ini? Mau tidak mau dia harus menunggu, karena menyalahkan orang lain juga tidak akan menghasilkan apa-apa. Randika juga tidak berdaya, setidaknya istrinya ada di sampingnya untuk menghilangkan kebosanannya. Namun, berkat pendengaran super Randika, dari arah depan justru terdengar suara tembakan. Apa yang sedang terjadi? Randika terkejut dan setelah mengamati keadaan dengan baik, orang-orang yang keluar dari mobil itu justru berlarian ke arah belakang. Dia mendapatkan firasat buruk. "Tunggu di sini dan jangan keluar dari mobil, aku akan melihat keadaan." Randika dengan cepat keluar dan berlari ke arah suara tembakan itu. Sekitar 150 meter di depan, beberapa orang bertopeng memegang erat senapan serbu mereka. Di tengah jalan terdapat mobil yang membawa uang sedang terguling. Kedua pintu depan tampak terbuka dan kedua pengawal yang menjaga mobil uang itu tampak terluka. Dan polisi yang mengawal mereka sudah tergeletak di tanah. Meskipun mereka tidak mati, jika keadaan terus seperti ini mereka akan kehabisan darah. Seluruh keadaan benar-benar kacau dan tembakan ada di mana-mana. Lalu para penjahat itu berhasil melumpuhkan kedua pengawal tersebut dan mulai memindahkan uang tersebut ke sebuah mobil van. Apabila diperhatikan dengan baik, terlihat 3 mobil menutupi jalan mobil uang itu. Jelas ini adalah perampokan terencana! Semua berawal dari ketiga mobil ini tiba-tiba menerobos lampu merah dan menghentikan laju mobil uang itu. Para pengawal itu benar-benar kesal karena dia hampir menabrak gara-gara tindakan ceroboh ketiga mobil itu. Mereka ingin memaki dan ketika mereka keluar, para penjahat itu dengan cepat keluar dan menembaki mereka. Pa pa pa pa! Rentetan tembakan terdengar dan para pengawal mobil uang dan polisi yang mengawal mereka dihujani peluru. TIdak butuh waktu lama bagi para penjahat ini untuk melumpuhkan mereka. Pengemudi-pengemudi yang mendengar suara tembakan itu segera keluar dari mobil dan melarikan diri. "Ah!" "Tolong ada perampokan!" Para penjahat ini jelas orang-orang terlatih. Setelah berhasil melumpuhkan semua penghalang, mereka dengan cepat memindahkan uangnya ke mobil van mereka dan meninggalkan TKP secepat mungkin. Tapi, tidak jauh di belakang mereka terdengar suara sirine polisi. "Sialan! Kenapa reaksi mereka begitu cepat?" Salah satu dari mereka dengan cepat menjadi serius. Menurut rencana mereka yang telah mereka susun sejak lama, respon para polisi tidak akan secepat ini. "Sepertinya itu mobil polisi yang patroli di dekat sini. Cepat habisi dia!" Penjahat itu dengan cepat mengeluarkan senjata serbunya dan membidik mobil polisi tersebut. "Tiarap!" Polisi yang melihat penjahat itu mengeluarkan senjatanya langsung membanting setir dan rekannya langsung menunduk. "Laporkan ini ke markas!" Bersamaan dengan raungan keras, rentetan peluru kembali terdengar dan menembaki mobil polisi tersebut. Mobil tersebut dengan cepat penuh dengan lubang dan menepi. Merasa bahwa mereka telah berhasil, para penjahat itu tertawa lega. Tetapi, yang tidak mereka kira adalah mobil patroli lain yang menabrak mereka dari samping. Hal ini membuat mereka berguling sebanyak 3x. "Tersangka berhasil dilumpuhkan, laporkan markas lokasi kita dan suruh mereka mengirim bantuan sekaligus ambulans." Polisi itu dengan cepat mengevakuasi dan mengecek temannya yang tertembak sebelumnya. Di dalam mobil, para penjahat ini cukup terluka. Meskipun begitu, mereka semua masih bisa berdiri dan siap bertarung hingga mati. "Bagaimana kita akan menghadapinya?" Beberapa penjahat ini mulai tidak bisa melihat jalan keluar. Para polisi sudah melumpuhkan mobil mereka dan terlihat 2 mobil polisi sudah mengepung mereka. Senjata para polisi itu sudah diarahkan pada pintu mobil van mereka. "Bawa uangnya." Pemimpin mereka yang bernama Handoko segera mengisi ulang senjatanya dan ekspresinya menjadi serius. "Mulai dari sini kita akan lari." Mereka semua berenam dan tas yang ada 15, jadi satu orang akan membawa satu senapan serbu dan 2 tas yang mereka bawa. Ketika mereka keluar dari mobil, mereka harus segera menembak agar mendapatkan ruang untuk melarikan diri. Mereka akan menggunakan taktik hit and run, setelah 4 orang berhasil mencapai jarak tertentu maka mereka akan bergantian menembak dengan 2 orang yang melindungi mereka sebelumnya. Karena mereka unggul dalam hal senjata, para polisi ini tidak akan bisa menahan mereka. "Kak, bagaimana dengan 3 tas sisanya?" "Lupakan saja, cepat kita keluar!" Teriak Handoko. Kemudian 2 orang dengan cepat turun dan menembaki sedangkan 4 orang lainnya berlari dengan cepat. Meskipun tadi para polisi sudah mengevakuasi tempat tersebut, karena kurangnya orang dan mereka juga harus waspada dengan mobil tersangka, masih ada orang yang duduk di mobil mereka dan mobil masih lalu lalang melewati mereka. Meskipun mereka melihat para polisi itu dan mobil van yang rusak parah, mereka hanya menganggap itu kecelakaan dan cuek dengannya. Setelah rentetan tembakan pertama, barulah mereka semua ketakutan dan lari semburat ke segala arah. Para penjahat ini menggunakan mereka sebagai samaran dan menggunakan mobil mereka yang tertinggal sebagai perlindungan. Para polisi yang sedang ditembaki, mengetahui pergerakan para penjahat itu dan maju perlahan sambil terus menghubungi markas. Inggrid yang masih menunggu Randika di dalam mobil tiba-tiba menjadi cemas. Dia melihat begitu banyak orang berlarian ketakutan dan mobil polisi yang banyak. Apa memangnya yang sedang terjadi? "Cepat!" Handoko dan teman-temannya mulai menghemat peluru karena mereka sudah memiliki jarak dengan para polisi. Karena hal ini, para polisi semakin dekat dengan posisi mereka dan dia mulai cemas. Jika mereka tidak bisa segera mengecoh mereka, maka mereka akan mengalami pengejaran skala besar. Cuma gara-gara mobil patroli itu, rencananya benar-benar menjadi berantakan. "Kenapa respon mereka cepat begini!" "Bagaimana ini kak?" Para penjahat ini dengan cepat menjadi gugup. "Tidak ada pilihan lain, culik dan sandera orang lain!" Handoko tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara agar mereka semua bisa selamat. Selama dia memiliki sandera, para polisi tidak akan bertindak gegabah. Mendengar saran kakak tertuanya ini, mereka dengan cepat mencari dan menarik orang yang masih duduk di mobil mereka. Di sisi lain, para polisi sepertinya mengetahui niatan mereka dan mempercepat laju mereka sambil masih waspada. Sambil menyembunyikan senjatanya, salah satu penjahat itu mengetuk jendela orang yang masih di dalam mobil. Ketika jendela mobilnya diketuk, pengemudi itu ingin membuka jendelanya dan bertanya ada apa dengan keributan di luar ini. Tetapi ketika dia membuka sedikit jendelanya, tiba-tiba penjahat itu mengeluarkan senjatanya dan menodongnya. Prang! Penjahat itu berusaha memecahkan kaca jendelanya! Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya kaca tersebut pecah dan dia berkata sambil menodong. "Keluar dari mobil!" Pengemudi itu ketakutan dan menurutinya sambil gemetaran. Namun, pada saat ini, bahu si penjahat itu ditepuk dan dia pun menoleh. Ternyata itu adalah sebuah tinju yang melayang tepat ke arah wajahnya! Dalam sekejap, hidungnya patah dan dia jatuh kesakitan. Ketika dia mulai sadar dari kesakitannya itu, dia melihat bahwa penyerangnya berdiri di hadapannya. Dengan cepat, penjahat ini meraih senjatanya dan sebelum dia dapat menembakannya, pria itu melayangkan sebuah pukulan lagi ke wajahnya dan dia pun jatuh pingsan. Randika lalu mempreteli senjata orang tersebut dan berkata pada pengemudi yang ketakutan itu. "Duduklah dan tiarap sampai keadaan membaik." Dengan cepat dia masuk ke dalam mobilnya dan Randika berjalan menuju ke 5 penjahat lainnya. Ketika Randika berusaha menghampiri salah satu dari mereka, orang tersebut menyadari Randika dan membidiknya. "Berhenti!" Namun, Randika dengan cepat menjadi gumpalan asap. Ketika senjata itu diarahkan padanya, dia sudah bergerak dan melesat tepat di hadapannya dan mencengkram pergelangan tangan orang itu! Randika dengan kuat meremasnya hingga remuk dan memukulnya hingga pingsan. Setelah mempreteli senjatanya, Randika kembali menghampiri yang lain. Menyadari teman yang di depannya menghilang, salah satu penjahat dengan waspada mengawasi sekelilingnya. Ketika dia memperhatikan sekelilingnya dia tidak menemukan apa-apa, tetapi tiba-tiba terlihat bayangan dari belakangnya. Dia terkejut dan langsung menoleh, namun tinju Randika sudah melayang dan dia terpental hingga menabrak sebuah mobil. Randika dengan cepat menutup mulutnya itu agar teman-temannya yang lain tidak menyadarinya. Setelah membuatnya pingsan dan mempreteli senjatanya, Randika kembali menghampiri yang lain. Dalam sekejap Randika berhasil menumpas tiga orang. Dia lalu menatap ketiga orang sisanya yang berkumpul menjadi 1. "Sialan, mana bocah-bocah itu pergi?" Handoko menunggu ketiga bawahannya itu membawa sandera sambil berlindung di balik mobil. "Kak, kita harus pergi dari sini!" Kata salah satu penjahat. "Kenapa kalian buru-buru?" Tiba-tiba di arah samping mobil mereka berlindung terdengar suara. Ketiga orang ini terkejut dan mengangkat senjata mereka. Mereka dengan cepat menembak ke Randika tetapi usaha mereka ini sia-sia. Randika benar-benar terlalu cepat. Dalam sekejap dia sudah melompat dan berada di tengah-tengah mereka. Handoko tiba-tiba merasa punggungnya patah dan dia pun hanya bisa jatuh tersungkur. Dan ketika kedua bawahannya itu melihat Handoko terjatuh, hal yang mereka ingat hanyalah sebuah kaki yang melayang ke wajah mereka. Ketika salah satu dari mereka ingin melawan balik, Randika hanya menatap balik dan menghajarnya sekali lagi. Dengan begini misinya telah selesai. Setelah membereskan keenam penjahat ini, Randika sudah ingin balik ke mobilnya. Namun, para polisi yang mengejar para penjahat ini berhasil mengejar dirinya dan terkejut melihat para penjahat ini sudah jatuh pingsan. Pengemudi yang tadi diselamatkan oleh Randika sudah merekam semua kejadian ini. Dia ingin mengirimkannya ke media sosial, siapa tahu videonya akan viral dan cerita ini diangkat menjadi film Hollywood. Aksi orang itu benar-benar hebat! Ketika baru berjalan beberapa langkah, terdengar suara perempuan yang lembut memanggilnya. "Randika!" Chapter 91: Bukan Urusanmu Aku Dekat dengan Siapa Ketika Randika menoleh kearah orang diseberangnya, ''bukankah itu Deviana?'' benaknya. "Wah kebetulan sekali bertemu denganmu." Kata Randika sambil tersenyum pada wanita itu. Deviana dan petugas polisi lainnya langsung mengamankan lokasi. Mereka semua menatap Randika dengan penuh hormat. Dalam hati mereka, mereka sudah menganggap orang ini sekutu mereka. Para polisi yang sudah mengetahui kehebatan Randika di kejadian balapan liar di gunung kapan hari justru semakin hormat padanya. "Tanpa bantuanmu hari ini, aku tidak tahu masalah buruk apa yang akan terjadi." Deviana menghampirinya sambil tersenyum. Pada saat ini, Deviana memakai seragam polisinya dan rok pendek. Meskipun begitu, semua ini tidak bisa menutup kemolekan tubuhnya itu. "Hahaha ini cuma masalah kecil." Randika lalu tersenyum. "Selama kau mengingat perjanjian kita." "Janji? Janji apa?" Deviana bingung. Randika lalu berbisik padanya. "Bukankah kau sudah berjanji kalau aku menolongmu sekali maka aku boleh merabamu sekali?" Ketika mendengarnya, Deviana tersipu malu. Tetapi dia tidak bisa marah ataupun berkomentar di depan teman-temannya. "Baiklah." Senyuman Deviana itu segera memenuhi mata Randika. Dia benar-benar terlihat cantik dengan baju apa pun. "Kalau begituˇ­." Randika tertawa kecil dan menjulurkan tangannya. Deviana yang melihatnya segera mengambil langkah mundur. "Tapi yang menjadi perjanjian kita adalah ketika aku meminta pertolonganmu. Kali ini aku tidak minta pertolonganmu jadi bisa dikatakan yang barusan tidak dihitung." Randika tertawa pahit, dia dari awal sudah tahu trik semacam ini yang akan digunakan Deviana. Melihat wajah Randika yang kecewa itu, Deviana tertawa dalam hatinya. "Lain kali kalau ada kejadian seperti ini kau bisa bekerja keras lagi." Dengan adanya Randika menjaga kota ini, Deviana bisa bernapas sedikit lega karena ada orang yang bisa diandalkannya. Kedua orang ini terlihat sangat dekat di mata orang-orang. Semua orang yang hadir mencium bau-bau romantisme di antara mereka berdua. Hal ini cukup menciptakan gelombang tersendiri di kalangan para polisi ini, khususnya bagi para polisi muda yang menganggap Deviana sebagai Dewi di antara mereka. Hal ini dianggap Kenny sebagai hinaan, kenapa pria itu bisa bermesra-mesraan dengan pujaan hatinya? Kenny menggertakan giginya dan berjalan mendekati mereka berdua. "Dev, kita perlu menyelesaikan pekerjaan kita secepat mungkin." Kata Kenny pada Deviana. "Baiklah." Ketika Deviana pergi meninggalkan Randika, dalam sekejap senyuman Kenny berubah menjadi wajah yang dingin. "Siapa kamu?" Tanya Kenny pada Randika dengan muka masam. Namun, Randika tidak mempedulikannya dan pergi meninggalkannya. Orang itu datang-datang sudah berwajah dingin dan arogan seperti itu, memangnya aku hutang uang sama kamu? "Hei berhenti!" Kenny langsung berteriak. Meskipun dia baru bergabung di kepolisian, atasannya memuji kinerjanya dan promosi hanyalah masalah waktu bagi dirinya. Semua polisi perempuan menyukai dirinya karena wajahnya yang tampan. Dengan kemampuannya yang luar biasa dan penampilannya yang tampan membuat Kenny yakin pada masa depannya. Namun, semua itu tidak terasa lengkap apabila tidak ada pasangan hidup. Dia menyukai Deviana namun, Deviana selalu dingin padanya dan menjaga jarak. Kenny tidak mau menyerah dan menganggap keuletan adalah kunci meluluhkan hati Deviana. Tapi hari ini dia melihat pujaan hatinya tersenyum di depan pria lain, mana mungkin hal ini tidak membuatnya cemburu dan marah? Tangan kanan Kenny hendak meraih pundak Randika tetapi dengan cepat Randika meraihnya dan memutar tangan Kenny dengan kuat. Ketika Kenny ingin melepaskan diri, Randika semakin keras memutarnya dan Kenny hanya bisa meringis kesakitan. "Sebagai polisi, keselamatan warga adalah yang terpenting." Sesaat setelah Randika melepaskan tangannya, Kenny dengan cepat mengambil langkah mundur. Randika lalu berkata padanya dengan nada dingin. "Jika polisi bertindak atas kepentingan pribadi, aku bisa melaporkanmu!" "Kau!" Kenny benar-benar marah. "Mana mungkin kau bisa disebut warga biasa? Sebagai polisi aku berhak memeriksa identitasmu, sekarang ikut aku ke kantor!" "Apa salahnya warga biasa mempunyai keahlian mempertahankan dirinya sendiri?" Randika menggelengkan kepalanya. "Kalian punya senjata, jadi wajar kan kalau aku bisa berkelahi?" "Aku omongin ya, jangan salahkan orang lain jika kau tidak mampu mendapatkan perempuan yang kau mau. Mencuri hatinya itu tergantung pada sikap kita padanya." Randika segera pergi meninggalkannya. Mendengar ceramah Randika justru membuat Kenny semakin kesal dan marah. Dia menghentakan kakinya dengan keras. "Berhenti!" Teriakan dan hentakan kakinya itu mengundang perhatian semua orang termasuk Deviana. Kenny mengeluarkan borgol miliknya dan menghampiri Randika. Tetapi, yang Kenny tidak tahu adalah sosok Randika sudah tidak ada di depannya. Ketika dia kebingungan mencari Randika, ternyata pergelangan tangannya sudah dicengkeram erat oleh Randika. Kemudian Randika mengambil borgol tersebut dan memborgol kedua tangan Kenny di belakang punggungnya. "Bajingan!" Kenny benar-benar terkejut dan lengah, dia tidak menyangka orang ini sangat cepat. "Sepertinya kamu cocok menjadi polisi di belakang meja deh." Randika tersenyum. "Sayang jika wajah putihmu itu terkena debu dan terlebih lagi kau tidak punya kemampuan fisik yang bagus. Bagaimana rasanya tidak menjadi nomor 1 lagi?" "Cepat lepaskan aku!" "Hah? Buat apa aku melakukannya?" Randika menghela napas. "Apakah kau merasa bahwa jika borgol itu terlepas kau bisa mengalahkanku? Di depan seekor singa, semut sepertimu bukanlah apa-apa." "HEI! Apa yang kalian berdua lakukan?" Deviana berlari menghampiri mereka. Dia lalu menatap tajam Kenny. "Kau ingin mempermalukan pekerjaan kita?" Kenny hampir muntah darah mendengarnya. Jelas aku yang sedang dipermalukan dan bukannya mendukungku yang merupakan rekan seprofesi, kau justru membela orang luar ini? "Randika, kau baik-baik saja?" Tanya Deviana dengan cemas. Randika terkejut karena tangan Deviana sudah menyeka keringat di wajahnya. Ahˇ­ perempuan ini rupanya sudah jatuh pada pesonaku! Randika tersenyum melihat Deviana yang penuh perhatian ini. Dia lalu melepas Kenny dan mengatakan. "Aku tidak apa-apa, cuma temanmu ini kurang sopan." "Kenny! Kenapa kau terus mencari gara-gara sama orang lain?" Deviana menjadi marah melihat tingkah laku Kenny yang kekanak-kanakan ini. Setiap kali dirinya berbicara dengan orang, Kenny selalu saja nimbrung. "Ah! Maksudkuˇ­. Maksudku bukan begitu." Kenny ingin menjelaskan tetapi tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Randika lalu mengatakan. "Dia barusan mengancamku karena aku terlihat dekat denganmu. Bahkan dia mengancam akan membawaku ke kantor polisi." Kali ini hati Kenny benar-benar hancur. Penjelasan macam apa yang bisa dia jelaskan? "Anuˇ­ ituˇ­" Kenny benar-benar tidak bisa berkata-kata. Deviana menatapnya dengan dingin. "Bukan urusanmu aku dekat dengan siapa. Jangan pernah mengajakku ngomong lagi!" Setelah berkata seperti itu, Deviana sudah malas melihat wajah Kenny dan meninggalkannya. Hati Kenny benar-benar hancur sementara Randika hanya menggelengkan kepalanya dan ikut pergi. Kenny yang masih terborgol itu hanya bisa jatuh berlutut dan menangis. Chapter 92: Suara Tawa yang Menyebalkan Tak butuh waktu lama untuk para polisi mengamankan dan menertibkan lokasi. Para penjahat sudah berhasil diamankan dan sedang menuju kantor polisi. Randika berjalan dengan santai menuju ke mobilnya. Dia merasa hari ini adalah hari yang cerah dan ''olahraga'' tadi benar-benar telah membuat tubuhnya menjadi bersemangat. Meskipun Inggrid terlihat bingung, dia tidak bertanya apa-apa pada Randika ketika dia masuk kembali ke mobil. Tak lama kemudian, mobil mereka telah tiba di perusahaan Cendrawasih. Keduanya segera masuk dan pergi ke ruangan mereka masing-masing. Hari ini, Randika akan meninjau hasil parfum buatan Kelvin dan timnya. Ketika Randika baru masuk di ruangannya Kelvin, terdengar suara teriakan histeris dari tengah ruangan. "Imut sekali boneka ini!" "Hahaha sejak kapan teknologi sudah secanggih ini?" Ketika Randika berusaha melihat apa yang sedang terjadi, dia terkejut bukan main ketika dia melihat bahwa sumber keributan itu adalah boneka ginseng yang dia cari! Dia benar-benar tidak menyangka bahwa boneka itu akan ada di sini untuk menari! Iya dia tidak salah lihat, boneka ini benar-benar menggoyangkan pantatnya! Salah satu bawahannya memutar lagu dan boneka ginseng itu menggoyangkan pantatnya di atas meja. Para ahli parfum ikut menari bersamanya. Mereka mengikuti irama lagu Lady Gaga Bad Romance. "I want your love and I want your revenge. You and me could write bad romance." "Oh-oh-oh-oh." Mereka benar-benar menghayati lagu ini. Seluruh ruangan benar-benar meriah. Para ahli parfum ini menikmati waktu senggang ini dengan menari sekuat tenaga dan seliar mungkin bersama dengan boneka ginseng. Boneka ginseng ini justru lebih gila lagi, dia menampilkan beberapa gaya freestyle dan pintar mengatur para kerumunan orang gila ini. Suasana semakin menggila ketika lagu mencapai Reff. Boneka itu menggoyangkan pantatnya dengan liar dan ditutup dengan headspin. Randika makin ragu dengan boneka tersebut, yakin dia bukan manusia? Boneka ginseng ini terlihat seperti orang mabuk. Dia terus-terusan terlihat tertawa. Setelah headspinnya itu, dia seakan-akan berlari mengelilingi meja dan sambil meminta tos. Semua orang langsung menjulurkan tangannya dan tos dengan boneka yang mereka anggap imut itu. Ketika Kelvin melihat Randika, dia langsung menghampirinya sambil tertawa. "Sesekali berpesta bukanlah hal yang buruk bukan? Berkat boneka itu suasana ruangan menjadi meriah sejak pagi tadi. Orang-orang menyukainya." Pada saat ini, boneka ginseng itu menoleh ke arah Randika dan mengarahkan pantatnya pada Randika. Dia lalu menggoyang-goyangkannya sambil menepuk pantatnya. Benar-benar suatu provokasi yang memicu kemarahan. Ketika Ares diremehkan seperti itu, darahnya benar-benar menjadi mendidih. Hari ini dia akan merebusnya hidup-hidup! Randika berjalan perlahan ke boneka ginseng tersebut. Para ahli parfum yang melihat Randika langsung terdiam. Boneka ginseng itu juga berhenti dan menatap Randika. Tatapan matanya terlihat tertawa dan tangan kecilnya itu dia julurkan, dia ingin bersalaman dengan Randika. Boneka ini mengajaknya damai? Randika berusaha meraih tangan boneka ginseng tersebut. Tetapi, karena aura membunuhnya Randika tidak bisa dia tahan, boneka ginseng itu malah meloncat. Dia meloncat ke lantai dan berlarian ke sana kemari. Randika langsung menerjang dan boneka ginseng itu meloncat-loncat di kepalanya. Ketika Randika berusaha menangkapnya, boneka itu sudah meluncur turun dari punggungnya dan menghilang. Melihat boneka ginseng itu menghilang, Randika makin marah. Kenapa boneka ginseng ini begitu lincah? "Lihat apa kalian? Cepat kerja!" Teriak Randika setelah ditatap oleh begitu banyak orang. Beberapa jam kemudian merupakan waktu yang menyebalkan bagi Randika, pikirannya penuh dengan si boneka ginseng itu. Di tengah kemarahannya, tiba-tiba Randika ditelepon oleh Indra. Ketika bertemu dengan Indra terakhir kali, Randika memberinya handphone agar adik seperguruannya itu bisa menghubunginya dengan lebih mudah. "Kakak seperguruan." Suara Indra terdengar bersemangat. "Kenapa?" Setelah tadi berurusan boneka ginseng, suasana hati Randika masih belum membaik. Ini pertama kalinya dia tidak bisa meraih apa yang ada di depan matanya. Perasaan semacam ini belum pernah dialaminya. "Kak, coba tebak apa yang barusan aku temukan?" Kata Indra. "Jika kau ingin bercerita, cepatlah. Aku banyak urusan hari ini." Mengingat sifat Indra yang seperti anak kecil, mungkin itu cuma seekor anjing ataupun kucing. "Hahaha jangan murung begitu dong kak. Aku menemukan bayi yang super lucu. Terlebih, dia mirip sebuah lobak!" Kata Indra. Lobak? Boneka ginseng! Randika terkejut bukan main, boneka itu mendatangi Indra? Jika dipikirkan baik-baik, boneka itu mendapatkan kesadarannya dari esensi bumi dan langit jadi mungkin dia tertarik dengan tenaga dalam Indra yang besar itu? "Indra, apakah lobak itu mirip sebuah boneka?" Tanya Randika dengan buru-buru. "Hmmˇ­ Wah benar juga, kakak seperguruan memang hebat!" Indra tersenyum. "Cepatlah ke sini kak, dia sangat lucu." "Baiklah, tolong pastikan jangan sampai kau kehilangan boneka itu. Aku segera ke sana." "Jangan khawatir kak, aku dan boneka ini tidak akan ke mana-mana. Kami sangat akrab." Setelah menutup telepon, Randika bergegas ke tempat Indra. Akhir-akhir ini, pikirannya benar-benar dipenuhi oleh boneka ginseng tersebut. Karena perkataan kakek ketiga, dia harus mendapatkan boneka itu untuk menyembuhkan tubuhnya. Tidak lama kemudian, Randika tiba di rumah Indra. Ketika dia masuk ke dalam rumah, suara tawa boneka tersebut langsung menggema di telinga Randika. Randika tidak akan pernah melupakan suara tawa yang menyebalkan itu. Randika masuk ke kamar tidur Indra dan melihat boneka itu duduk bersama Indra, saling tersenyum pada satu sama lain. "Kak, kemarilah dan lihatlah dia!" Indra yang menyadari kehadiran Randika menjadi bersemangat. Boneka ginseng itu menatap Randika lebar-lebar dan menirukan suara bayi sambil mengemut jempolnya. Ia kemudian memanjat ke pundak Indra dan mencubit pipinya. "Hahaha imut sekali kan dia kak?" Indra sangat menyayangi boneka itu. Boneka ginseng itu memanjat ke kepala Indra dan menggunakannya sebagai kasur. Mengerti bahwa boneka itu ada di kepalanya, Indra menjaga agar kepalanya tetap stabil. "Kak, apakah menurutmu aku bisa memilikinya?" Melihat bahwa boneka ginseng tampak tertidur, Randika mulai bergerak. Dia dengan sigap menangkapnya dengan tangan kanannya tetapi boneka itu dengan mudah menghindarinya. Di saat Randika menjulurkan tangannya, boneka itu sudah melompat ke kasur. "Kak! Apa yang kau lakukan?" Indra mendadak menjadi cemas. "Sstt diamlah, biarkan aku berkonsentrasi." Randika mulai serius, jika dia tidak bisa menangkapnya hari ini maka lama-lama dia bisa menggila. Melihat Randika yang begitu, boneka ginseng itu bersembunyi di belakang Indra dan menirukan suara minta tolong. Indra menatapnya dan melihat bahwa boneka itu menutup matanya dengan kedua tangannya, memperlihatkan bahwa ia terlihat ketakutan. "Kak, kau menakutinya!" Teriak Indra. Boneka itu bahkan menggunakan taktik licik seperti itu, benar-benar luar biasa! Chapter 93: Aku Akan Memeliharanya "Boneka itu adalah boneka ginseng. Guru ketiga mengatakan bahwa boneka itu bisa menyembuhkan penyakitku." Kata Randika pada Indra dengan nada menenangkan. "Maksud kakak adalah kau ingin memakannya?" Mata Indra terbelalak. "Tentu saja tidak." Ekspresi Randika benar-benar terlihat serius. "Aku hanya memberikannya pada guru ketiga." "Apa yang akan dilakukan guru ketiga dengannya?" Indra memeluk boneka ginseng itu. Boneka itu tampak menikmati pelukan hangat Indra. Melihat adegan itu Randika menjadi tidak bisa berkata-kata. Kenapa bisa boneka itu begitu akrab dengan Indra? Seharusnya ia sangat waspada terhadap manusia. "Aku kurang tahu mengenai itu. Aku yakin guru ketiga akan menanganinya dengan baik." Kata Randika. "Kakˇ­. Kau bohong padaku. Guru ketiga jelas akan membuatnya menjadi obat-obatan." Kata Indra dengan nada serius. Bajingan, sejak kapan Indra menjadi bisa berpikir? Dia menjadi pintar di saat yang tidak tepat. "Indra, tubuhku benar-benar terluka. Boneka itu adalah satu-satunya kesempatanku untuk sembuh." Kata Randika dengan tulus. "Dengan begitu barulah aku bisa bertarung sekuat tenaga." "Kak, kenapa kau perlu bertarung sekuat tenaga? Kau sudah sangat kuat sekarang." Tanya Indra. "Karena selalu ada orang yang ingin menyakitiku. Aku tidak bisa melindungi diriku setiap saat." Randika lalu menatap Indra lekat-lekat. "Berikan boneka itu padaku." "Kalau begitu aku akan melindungimu! Kau tidak perlu boneka ini." Indra kemudian meletakan boneka itu di pundaknya. Boneka ginseng itu terlihat tertawa dan duduk dengan santai di pundak Indra, ia sama sekali tidak takut terhadap Indra. Mendengar kata-kata Indra itu, Randika menjadi sedikit marah di dalam hatinya. "Apa kau masih menganggapku kakak seperguruanmu?" Randika pura-pura menjadi marah. "Apa kau sudah lupa kata-kata guru sebelum kau meninggalkan gunung? Kau harus mendengarkanku selama kau mengikutiku. Dan sekarang kau berani melawan kakak seperguruanmu?" Indra menggelengkan kepalanya. "Aku hanya mendengar kata-kata bijak kakak saja." Bajingan! Dia jadi pintar bermain dengan kata-kataˇ­. Randika sudah hampir gila, dia serasa ingin menguliti Indra hidup-hidup. "Kak, kenapa mukamu menjadi seperti itu? Apakah kakak kebelet eek?" Tanya Indra. Ya tuhan, kenapa dia menjadi polos kembali? Randika dengan cepat berpikir keras jawaban apa yang cocok untuk Indra. Dia harus meyakinkan Indra untuk menangkap boneka itu. Karena Indra sangat akrab dengan boneka tersebut, dialah satu-satunya harapan bagi Randika. "Kak, coba lihat boneka ini sekali lagi." Indra mengambil dan menaruh boneka ginseng itu di tangannya. "Bukankah dia sangat lucu?" Lucu? Boneka mesum dan licik seperti ini lucu? Randika sudah hampir muntah darah. Baiklah, adik seperguruannya ini telah menang. Randika menghela napas dalam-dalam. Tiba-tiba, boneka ginseng itu memanjat ke pundak Randika dan sambil tersenyum mencubit pipinya. Melihat tindakan boneka ini, Randika tahu bahwa boneka ini sedang mengejeknya. "Terus mau kau apakan boneka ini?" Tanya Randika. "Aku ingin memeliharanya dan menatap keimutannya setiap hari." Kata Indra sambil tersenyum. Memeliharanya? Randika terkejut, dia lalu menatap Indra dengan bingung. Adik seperguruannya ini ingin memelihara boneka ginseng seperti anjingnya? Tetapi setelah dilihat-lihat, mereka berdua memang memiliki sifat yang sama. Boneka ginseng itu kembali memanjat pundak Indra dan meluncur dari punggung Indra ke kasur. Ia terlihat bahagia sekali. "Kak, aku rasa luka di tubuhmu bisa sembuh oleh waktu. Sedangkan boneka ini adalah makhluk bernyawa, guru selalu mengingatkanku untuk menghargai seluruh makhluk hidup." Indra lalu menatap Randika dengan serius. "Jadi kak, aku mohon kakak tidak akan menangkap boneka ini lagi." Kau ingin aku menyerah? Randika menampar dahinya keras-keras, dia tidak menyangka Indra akan mengajarkannya tentang moral. Dia benar-benar sudah belajar caranya memberontak. "Baiklah, aku tidak akan berusaha menangkapnya lagi." Randika lalu melirik boneka ginseng itu dari sudut matanya. Dia melihat boneka itu sedang asyik berlompatan di kasur, Randika benar-benar ingin menerjangnya dan menangkapnya di udara. "Kakak seperguruan memang pengertian! Aku benar-benar menghormatimu." Indra terlihat senang. "Sekarang aku lapar, aku akan membawanya mencari makan bersamaku." Ah? Randika berdiri membeku beberapa saat, lalu dia hanya bisa tersenyum pahit. "Kalau begitu aku akan ikut denganmu." Dia lalu menatap boneka ginseng tersebut. Dia harus memikirkan cara untuk menangkapnya tanpa diketahui oleh Indra. Mereka bertiga lalu pergi bersama-sama. Boneka ginseng itu duduk dengan manis di pundak Indra, kedua pasangan ini terlihat menggemaskan. Semua pejalan kaki yang melihatnya tersenyum olehnya, bahkan beberapa perempuan berteriak histeris melihatnya. Mereka benar-benar menganggapnya menggemaskan. Boneka ginseng itu sepanjang jalan terlihat tersenyum setiap saat, dia sepertinya menikmati dunia manusia yang menarik ini. "Kau mau makan apa?" Indra bertanya pada boneka ginseng. "Ah, aku lupa kalau kau tidak bisa berbicara." "Kalau begitu bagaimana kalau nasi padang?" Indra memutuskan apa yang ingin dia makan. Randika hanya bisa mengikutinya dengan wajah sedih. Pada saat ini, tiba-tiba dari belakang mereka terdengar suara yang memanggil mereka. "Berhenti!" Mendengar suara itu, Randika dan Indra berhenti berjalan dan menoleh ke belakang. Mereka terkejut karena seorang perempuan paruh baya yang berpakaian mewah ternyata yang memanggil mereka. Tante-tante ini terlihat gemuk dan jari-jarinya dipenuhi cincin. Belum lagi pakaian yang dia pakai serasa bisa robek kapanpun karena perut yang gemuk itu. Yang paling membuat tante ini mencolok adalah lipstik yang tebal, kalung berlian yang dikenakannya dan kedua pengawal yang ada di belakangnya. Para sobat miskin akan minder dan menangis di bawah aura orang kayanya ini. Mata Vero, si perempuan kaya gemuk itu, segera terkunci pada boneka ginseng yang ada di pundak Indra. "Apa itu yang ada di pundakmu? Akan kubeli dia!" Vero benar-benar mengatakannya dengan arogan. Dia tidak menganggap kedua orang lainnya, dia hanya tertarik dengan boneka ginseng tersebut. "Benda itu sangat mencolok dari manapun kau lihat. Aku akan membawanya untuk menjadi koleksiku." Nada Vero terdengar menyebalkan. Tetapi, Randika dan Indra tidak mempedulikannya dan berjalan pergi dari sana. Vero berdiri linglung, terkejut karena dirinya dicuekin. Dia lalu merasa malu dan marah. "Kak, kenapa kita meninggalkan orang itu?" Wajah Indra terlihat bingung. Barusan Randika menarik paksa Indra dan bergegas meninggalkan perempuan kaya itu. Hal ini membuatnya bingung. "Memangnya kau ingin menjual boneka yang ada di pundakmu itu?" Tanya Randika dengan santai. "Tentu saja tidak!" Indra dengan cepat menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu percayalah padaku, orang tadi berniat membeli boneka ginseng itu. Dan dari cara bicaranya saja dia sudah terlihat seperti orang sombong, apakah kau tidak kesal mendengarnya?" "Sedikit." Indra mulai memahami apa yang dikatakan Randika. "Tapi guru mengajarkanku bahwa jangan sembarangan menghajar orang, jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa." Sepertinya Indra kembali menjadi dirinya yang merupakan orang pedesaan lagi. "Hei! Kalian tidak mendengarku tadi? Aku ingin membelinya!" Suara Vero masih dapat terdengar dari belakang, dia berlari menghampiri Randika dan Indra. Randika sudah malas untuk menoleh dan tetap berjalan. Chapter 94: Uang Tidak Bisa Membeli Segalanya! Ketika Vero melihat kedua orang itu tidak menoleh sama sekali, dia dengan cepat menjadi marah dan menyuruh kedua pengawalnya untuk menghentikan mereka. "Aku bilang berhenti!" Suara Vero benar-benar keras, dia tertatih-tatih mengejar Randika dan Indra. Untungnya kedua pengawalnya berhasil mencegat mereka. Randika mengerutkan dahinya dan menoleh ke arah Vero. "Kau memanggil kami?" "Siapa lagi memangnya yang ada di sini? Apa kau tidak dengar aku berteriak dari tadi?" Omel Vero dengan napas terengah-engah. Keringatnya mengalir deras dan membuat bajunya menjadi basah. "Banyak pejalan kaki yang berjalan sama kita, bagaimana caranya aku tahu kau memanggilku? Aku punya nama dan jelas itu bukan ''hei'' ataupun ''berhenti''." "Kau!" Vero tidak menyangka Randika akan bersifat kurang ajar seperti itu. Dia sekali lagi meledak. "Aku tidak punya urusan denganmu, pergi sana dasar pria miskin!" Vero dengan cepat menoleh ke arah Indra dan berkata dengan nada dingin. ??Aku ingin membeli benda itu, katakan hargamu." "Aku tidak berniat menjualnya." Indra menggelengkan kepalanya. "Ha? Ini yang membuatku benci dengan orang macam kalian. Dikasih kesempatan menjadi kaya kalian malah menolaknya." Vero menggelengkan kepalanya. "Lima juta!" Randika dengan santai mengatakan. "Lima juta? Apa kau tidak sekaya seperti dugaan kami? Jelas-jelas kau bisa membelinya dengan lima puluh juta." Vero menatap tajam ke arah Randika. "Siapa memangnya kamu? Tiba-tiba nimbruk tidak jelas." "Dia adalah kakak seperguruanku, aku mendengarkan kata-katanya." Jawab Indra. Vero terkejut mendengarnya, dia lalu menatap Randika dan mengatakan. "Sepuluh juta!" Randika menatap jijik padanya. "Yakin kau itu orang kaya?" "Lima belas juta!" Jawab Vero. "Sudahlah, jika kau tidak punya uang jangan memaksa. Aku tidak peduli dengan penawaranmu yang rendah itu." Mata Randika lalu menjadi dingin dan pergi meninggalkannya. "Kau harus menjualnya padaku hari ini! Apa pun yang terjadi, boneka itu akan pulang denganku!" Vero mulai marah, tidak ada barang di dunia ini yang tidak bisa dia beli. "Dua puluh lima juta!" Vero terus menawar tanpa henti. Meskipun sudah tidak berjalan, Randika tidak menoleh sama sekali. "Dua puluh lima itu sudah cocok buat kalian. Dengan uang sebanyak itu kalian tidak perlu khawatir membayar kos-kosan kalian lagi, jangan terlalu serakah." Randika menoleh dan membentak Vero. "Mau berapa juta pun, aku tidak sudi menerima uang haram dari orang tidak tahu diri sepertimu!" Anggapan bahwa uang bisa membeli segalanya membuat Randika jijik terhadap perempuan ini. Apalagi dia menganggap dirinya ini orang miskin, ini yang benar-benar tidak bisa diterima oleh Randika. Uang tidak bisa membeli segalanya! "Apa?" Vero menjadi marah dan menjulurkan telunjuknya ke hidung Randika. Sebelum dia bisa mengancamnya, Randika sudah mencengkeram erat jari itu dan meremasnya dengan kuat. Tiba-tiba Vero berteriak kesakitan. "Uang bukanlah segalanya di dunia ini, jika kau meremehkan setiap orang yang kau lihat maka orang yang kau remehkan sekarang ini bisa membunuhmu!" Tatapan Randika menjadi serius. "Lain kali kalau kau berani meremehkanku lagi, aku akan memotong jarimu ini." Namun, Vero berteriak keras. "Tolong aku! Ada pencuri" Mendengar hal itu, Randika menghela napas dingin. Dia lalu melepas jari Vero tetapi dia berhasil menekan beberapa titik akupuntur sebelum dia melepasnya. Vero dengan cepat berlindung di balik kedua pengawalnya. Tatapan matanya dipenuhi dengan kebencian pada Randika. Pada saat ini, orang-orang mulai berkumpul karena teriakan minta tolong Vero. Boneka ginseng di pundak Indra merasa penasaran kenapa begitu banyak orang berkumpul. Ia menjadi cemas dan melompat tidak karuan di atas kepala Indra. Randika tidak berbicara maupun bergerak. Namun, tiba-tiba para penonton ini berteriak histeris. Vero merasa bangga atas kepintarannya itu, dia tidak ingin membunuh Randika melainkan membuatnya malu. Tetapi, dia merasa ada yang aneh. Para pejalan kaki itu menunjuk ke arahnya. Ada apa memangnya? Tiba-tiba, Vero merasa ada yang mengalir ke celananya dan raut wajahnya segera berubah. Kenapa dia mengompol? Para pejalan kaki yang melihatnya semua tertawa melihatnya. Air pipis yang kuning itu dengan cepat menjadi genangan air dan Vero tidak bisa menghentikannya meskipun sudah ngeden. "Hahaha!" Semua pejalan kaki itu merasa terhibur. "Wah nenek lupa pakai popoknya!" "Percuma kaya kalau tidak bisa menjaga tata krama, masa pipis saja di jalan." "Ternyata orang kaya bisa ngompol juga." Mendengar ejekan ini, Vero merasa sudah tidak punya wajah. Dia menatap pria yang dia rasa bertanggung jawab terhadap semua kejadian memalukan ini. Dasar bajingan! "Aku akan membunuhmu bocah desa!" Kedua pengawalnya dengan cepat menerjang Randika. Namun, keduanya dibuat melayang oleh Randika dengan satu tendangan dan menabrak Vero dengan keras. "Jangan sentuh aku, aku ini gila kebersihan tahu!" Kata Randika dengan santai. Pada saat ini, Vero tertindih oleh salah satu pengawalnya. Genangan air pipisnya membuat bajunya semakin basah, hal ini membuatnya menjadi semakin malu. Para pejalan kaki yang melihatnya semakin tertawa keras. "Apanya yang lucu!" Vero dengan cepat berdiri dan berteriak ke arah kerumunan. Randika sudah berniat untuk pergi meninggalkan tempat itu tetapi tiba-tiba Vero berteriak ke arahnya. "Hei bocah miskin, aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!" Vero dengan cepat menghampiri Randika dengan sebuah pisau yang dibawanya. Tetapi, tatapan dingin Randika membuatnya merinding ketakutan. Vero menghentikan langkahnya dan merasa panik di dalam hatinya. Selama perempuan ini yang menyerangnya, Randika akan dianggap membela diri. Tetapi perempuan ini sekarang terdiam jadi dia tidak bisa menyerangnya. Justru keadaan buntu ini membuat Randika bisa berpikir jernih. Berapa persen kekuatan tendangan yang perlu dia berikan pada perempuan gemuk ini, dia khawatir akan membunuhnya apabila terlalu kuat menendangnya. Melihat tatapan dingin dan tajam Randika, tanpa sadar membuat Vero mengambil satu langkah mundur. Tetapi mendengar suara tawa para pejalan kaki membuat dia membulatkan tekadnya. "Mati kalian berdua!" Teriak Vero sekuat tenaga. Para penonton terkejut mendengar teriakan Vero itu. Kedua pengawal Vero tidak punya pilihan selain untuk ikut menerjang. "Jangan biarkan kedua bocah miskin ini lari dari sini, aku ingin melihat mayat mereka dikubur hari ini juga!" Kemudian Vero menunjuk ke arah boneka ginseng. "Benda itu jangan kalian bunuh, benda itu milikku!" "Nyonya tidak perlu khawatir." Meskipun mereka terpental tadi, tatapan mata mereka tidak menunjukan rasa takut sedikitpun. "Sekarang kalian akan menyesal tidak menerima penawaranku yang tadi. Sekarang aku akan membuat kalian menderita!" Tatapan mata Vero sudah seperti orang gila, dia merasa bahwa kedua orang ini akan tergeletak di rumah sakit sebentar lagi. Beberapa pejalan kaki hanya bisa melihat mereka. Perempuan paruh baya itu benar-benar kejam. Dengan adanya senjata dan kedua pengawal itu, para pejalan kaki itu sudah siap menelepon ambulans buat Randika. "Kak, biarkan aku yang menghajar mereka." Kata Indra dengan ekspresi serius. Randika lalu menghalanginya sambil mengatakan. "Biarkan aku saja, kau tidak bisa mengatur kekuatanmu dengan baik." Kedua pengawal itu mencoba pendekatan yang berbeda, mereka akan mengepung kedua orang yang menyinggung perasaan majikannya itu. Mereka merasa tendangan Randika yang tadi hanyalah kebetulan karena mereka meremehkannya. Sekarang mereka akan bertarung sekuat tenaga. Keduanya segera menerjang Randika dan Vero sudah tertawa seperti orang gila di samping. Para pejalan kaki sudah berdoa untuk kesalamatan Randika. Tetapi, salah satu dari pengawal itu mendarat tepat di kaki Vero. Tawa Vero tidak lagi terdengar dan keprihatinan para pejalan kaki menjadi kebingungan. Apa yang sebenarnya terjadi? Ketika mereka menatap Randika, dia ternyata sudah berhasil menangkap pergelangan tangan si pengawal dan menaruhnya di belakang punggungnya. Lalu Randika menendangnya dan dia mendarat tepat di kaki Vero. "Kalian menganggap diri kalian seorang pengawal? Kalian hanya dua orang lemah!" Kata Vero pada kedua pengawalnya itu. "Kalian bahkan tidak bisa mengalahkan dua bocah miskin itu, kalau kalian tidak segera membunuhnya kalian akan kupecat!" Kedua pengawal ini dengan cepat berdiri dan perlahan menghampiri Randika. Randika lalu mengejek mereka dengan meludah di tanah dan menyuruh mereka menyerangnya bersamaan. Kali ini, kedua pengawal ini menyerang dari kiri dan kanan. Randika dengan cepat menghampiri salah satu dari mereka dan mencengkeram erat pergelangan tangannya. Randika lalu memutar tangannya dan tubuh si pengawal tersebut langsung berlutut di tanah. Dia merasa tangannya mau patah. Saat ini, serangan pengawal satunya sudah hampir mengenai Randika. Hanya menggeser kepalanya sedikit Randika berhasil menghindarinya. Lalu Randika mencengkeram erat pergelangan tangannya dan sekarang kedua pengawal tersebut ditahan oleh Randika. Satu per satu lalu dibuat pingsan oleh Randika. Setelah itu Randika menatap tajam pada Vero yang tidak jauh darinya. Melihat hal ini Vero sudah gemetar ketakutan. "Kalianˇ­ Kalian mau apa!" Randika berjalan menghampirinya dan berkata dengan nada dingin. "Jangan khawatir, aku tidak akan membunuhmu. Aku tidak mau mengotori tanganku yang bersih ini." Dengan cepat Vero berlari menjauhi Randika namun dia tersandung. Bajunya yang sudah tidak muat itu menjadi robek oleh karenanya. Perut gemuknya dengan cepat menyembul keluar dan terekspos. "Ah!" Vero berteriak kesakitan dan para pejalan kaki ini menikmati hiburan tidak biasa ini. "Indra, cepat ikat orang ini di sana!" Kata Randika pada Indra. "Ohˇ­" Indra lalu menuruti Randika dan mengangkat Vero yang masih tergeletak di tanah. Dia lalu mengikat Vero di tiang rambu yang ada di pinggir. Vero, dengan perutnya yang menyembul keluar, terikat kuat di tiang dan menjadi bahan tertawaan banyak orang. Randika dan Indra lalu meninggalkan perempuan tua itu dan melanjutkan rencana makan siang mereka. Selagi mereka berjalan, boneka ginseng itu tiba-tiba mengeluarkan suara seakan-akan sedang meminta maaf pada Indra. Lalu, di bawah tatapan tajam Randika, boneka ginseng itu meluncur turun dari pundak Indra dan belari. "Kau tidak bisa kabur!" Randika dengan cepat berusaha menangkapnya tetapi usahanya lagi-lagi gagal. Boneka ginseng ini sekali lagi menghilang. Randika menampar tanah dengan keras sedangkan Indra hanya menggaruk-garuk kepalanya. "Kak, aku tidak mengerti mengapa dia pergi." Randika lalu berdiri. "Tidak apa-apa. Nanti kalau dia datang lagi, beritahu aku." "Baiklah." Indra menganggukan kepalanya. Lagi-lagi misi Randika untuk menyembuhkan dirinya itu tertunda lagi. Chapter 95: Tahan Imanmu Randika! Karena boneka ginseng ini sudah menghilang tanpa jejak, Randika tidak memiliki pilihan lain selain pulang ke rumah. Setelah sesampainya di rumah, Inggrid ternyata belum pulang dan cuma ada Hannah dan Ibu Ipah. "Wah nak Randika sudah balik." Seperti biasa, Ibu Ipah menyapanya dengan senyuman yang hangat. "Hahaha aku pulang." Randika tersenyum lebar. Hannah sedang menonton TV bersama Ibu Ipah. Ketika dia melihat Randika sudah pulang, dia menoleh sambil tersenyum. "Kakˇ­" Hmmm? Suara Hannah terdengar aneh tidak seperti biasanya, Randika merasakan firasat buruk dihatinya. Biasanya suara adik iparnya itu terdengar semangat dan tegas, akan tetapi sekarang terdengar lembut dan memelas. Randika mencium bau-bau masalah yang merepotkan. Randika langsung bergegas menjawab. "Maaf aku perlu ke toilet, perutku sakit!" "Kak, jangan kabur!" Hannah dengan cepat meraih tangan Randika. Sialan, gadis ini ternyata ada maunya! Aku harus segera kabur darinya. Di saat Randika berlari menaiki tangga, Hannah berhasil menyusulnya. "Kak, kenapa kau berusaha menghindariku hari ini?" Tatapan mata Hannah terlihat seperti kucing yang memelas. "Apakah kau sudah tidak senang bersamaku?" Randika dengan cepat menjawab. "Ha? Aku hanya sedang sakit perut! Aku ingin ke toilet dan beristirahat di kamarku." "Apa ada yang sedang kau sembunyikan?" Kata Hannah sambil tersenyum. "Sudah kita hentikan saja basa-basinya. Kau pasti minta sesuatu bukan? Sana pergi, aku tidak punya waktu luang." Tanya Randika. "Hehe kakak tahu saja." Hannah langsung tersenyum lebar. Dan dalam sekejap dia merangkul kedua tangan Randika dan memasukkannya ke celah dadanya. "Kak dengarkan aku dulu! Ayolah kak!" Hannah tahu bahwa melakukan hal ini akan membuat kakak iparnya luluh. Tahan imanmu Randika! Tahan! Kita harus bertahan dari kenikmatan duniawi ini! Sebagai kakak ipar kita harus menunjukan martabat kita! "Percuma kamu bersifat manja seperti itu, kalau kakak berkata tidak ya tidak!" Randika berkata seperti itu meskipun dia menikmatinya. Hannah tersenyum dan mengatakan. "Kenapa kakak menolakku terus? Apakah kakak membenciku?" "Dari dulu aku membencimu!" "Kau!" Hannah lepas kendali dan melepas tangan Randika. "Akan kubilang pada kak Inggrid kalau kau merabaku!" Sialan, adik iparnya ini memang licik. "Baiklah, baiklah, aku akan mendengarkanmu." Kata Randika dengan wajah malas. "Kak, aku punya permintaan." Hannah tersenyum lebar. "Aku akan mendengarmu dulu baru memutuskan." Kata Randika. "Begini, kemarin kan kak Randika menunjukan kita kemampuan renang yang luar biasa. Sebentar lagi akan ada kompetisi antar sekolah dan kita ingin agar kak Randika menjadi pelatih kita. Bagaimana kak? Mau ya?" "Tidak mungkin." Dengan cepat Randika menolak, lagipula kemampuannya ini mustahil untuk diajarkan. Masa dia akan mengajarkan tentang kultivasi dan tenaga dalam pada para perenang yang masih muda ini? Lagipula, waktu adalah hal paling penting baginya, dia tidak akan membuangnya dengan mengajarkan beberapa bocah bagaimana caranya berenang cepat. "Kak, kenapa kakak tidak memikirkannya dulu?" Hannah terdengar sedih. "Sebagai informasi, biasanya banyak perempuan cantik yang ikut berlatih juga. Mereka semua memakai bikini mereka, apakah kakak tidak tertarik?" Hati dan jiwa Randika tercampur aduk. Apa yang dikatakan Hannah ada benarnya, banyak perempuan cantik di universitasnya itu. Tetapiˇ­ itu saja tidak akan cukup membuatnya goyah. "Tidak akan." Randika menolak sekali lagi. "Aku ini kakak iparmu tahu, aku sudah punya Inggrid!" "Kak ayolah." Hannah mulai memohon, suaranya semakin terdengar manja. "Jangan cuma gara-gara Jimmy kakak menjadi malas mengajar mereka." "Hanˇ­ apakah mereka membalas dendam padamu?" Randika mulai cemas. Hannah tersenyum dan mengatakan. "Tidak terjadi apa-apa setelah itu. Semua berjalan seperti biasa kok." "Kalau begitu kakak mau ya mengajari kami." Hannah masih berusaha terus. Randika menatapnya sambil menampar dahinya. "Tidak akan." Melihat Hannah yang masih rewel, Randika dengan cepat memberi penjelasan. "Han, kemampuanku itu tidak bisa diajarkan sembarangan. Tidak mungkin bisa mengajari mereka kemampuanku itu." "Memangnya kemampuan apa itu?" Tanya Hannah penasaran. "Bisa dikatakan itu kemampuan alami milikku. Sudahlah percaya aku, mereka tidak akan mungkin bisa sepertiku." "Ayolah kak, jangan pakai alasan payah seperti itu. Dengan bantuan kakak, aku yakin sekolahku bisa menang mudah." Kata Hannah sambil tersenyum. "Percuma kau terus memohon, aku tidak akan melakukannya." Randika menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu aku akan bilang ke kak Inggrid kalau kakak merabaku!" "Hanˇ­ dia tidak akan percaya." Randika menghela napas, dia tidak menyangka Hannah masih menggunakan taktik licik itu. "Kak kalau kau membantu sekolahku, aku akan..." Hannah tampak ragu dan menggigit bibirnya. "Apa?" Randika penasaran. "Aku akan membiarkanmu merabaku secara gratis!" Hannah mengeluarkan semua keberaniannya. "Kau masih muda dan belum berkembang sepenuhnya. Meskipun punyamu besar, aku tidak tertarik dengan tubuh anak ingusan." Kata Randika dengan tegas. Setelah mendengarnya, Hannah langsung pergi dengan muka marah. Randika tidak peduli. Lagipula sikap Hannah yang seperti itu akan mereda dengan sendirinya setelah beberapa hari. Tidak lama kemudian Inggrid pulang. Melihat ekspresi capek Inggrid, hati Randika terasa sakit. "Sayang, kemarilah. Biarkan suamimu ini menghilangkan rasa capekmu itu dengan pijatannya." Randika tersenyum dan membawa Inggrid ke kamarnya dan memijatnya sambil duduk sambil menyalurkan tenaga dalamnya. Setelah beberapa waktu, Inggrid merasa rasa lelahnya mulai hilang. "Apakah hari ini banyak kerjaan di kantor?" Randika membuka perbincangan. Inggrid menjawab. "Akhir-akhir ini banyak yang terjadi di kantor. Ditambah lagi aku besok sudah harus pergi." Sebelumnya, Inggrid mengatakan bahwa kunjungan bisnis ini cukup penting jadi dirinya sendiri harus memastikan semuanya aman dan terkendali. Randika lalu berpikir bahwa besok dia tidak ada kerjaan jadi dia dengan santai mengatakan. "Sayang, aku besok tidak ada pekerjaan mendesak, biarkan aku ikut bersamamu." "Kau mau ikut?" Inggrid terkejut. "Hahaha kenapa kau meragukanku seperti itu? Banyak hal yang hanya bisa dilakukan oleh suamimu ini lho." Randika lalu pura-pura marah. "Aku juga tahu bahwa kau pasti sedih apabila tidak melihat bokong suamimu ini sehari saja." Ketika mendengarnya Inggrid tersipu malu. Randika benar-benar tidak berubah. "Baiklah kalau begitu." Inggrid mengangguk. "Tetapi bagaimana dengan Hannah?" "Biarkan aku memberitahunya bahwa aku juga akan ikut." Randika mengomel di hatinya, adik iparnya itu pasti masih cemberut dengannya. ........ Hari berikutnya Randika berangkat bersama Inggrid. Sebelum berangkat, Randika sudah berpenampilan rapi dengan memakai jas berwarna hitam dan rambut yang tersisir rapi. Setelah sepagian diomeli oleh Inggrid, sekarang Randika terlihat tampan. Tetapi tepat sebelum dia berangkat, tatapan Hannah pada Randika benar-benar tajam. Bahkan adik iparnya itu tidak berkata apa-apa pada dirinya! Mengingat sifat adik iparnya itu, sepertinya perempuan satu itu sudah memikirkan rencana balas dendam buat dirinya ketika dia pulang nanti. Chapter 96: Lika-liku Cinta Di bandara, Randika dan Inggrid dengan cepat memasuki pesawat mereka. Mereka duduk bersama, Inggrid di bagian dalam dan Randika di bagian luar. Inggrid kali ini tidak membawa siapa-siapa dari perusahaannya. Dia meminta sekretarisnya untuk mengurusi beberapa hal di kantor. Awalnya Inggrid ragu untuk membawa sekretarisnya itu atau tidak, tapi karena sudah ada Randika, perasaanya jauh lebih ringan. "Para penumpang yang terhormat, selamat datang di penerbangan Cendrawasih bernomor LC1232 dengan tujuan penerbangan ke kota Merak yang akan kita tempuh dalam waktu kurang lebih 1 jam dan 55 menit. Perlu kami sampaikan bahwa dalam penerbangan ini ada beberapa hal yang dilarang antara lain asap rokok, sebelum lepas landas...ˇ­.." Ketika suara pengumuman pesawat hendak lepas landas ini terdengar, Randika dan Inggrid dengan sigap mematuhinya. Para pramugari dengan cekatan memeriksa seluruh penumpang. "Kami mohon sabuk pengamannya dipakai dengan benar ya pak." Suara lembut itu terdengar dari samping. Ketika Randika menoleh dan ternyata itu adalah pramugari yang super cantik. Randika tidak kuasa menahan dirinya untuk tidak menggodanya. "Aduh aku tidak bisa memasangnya." Kata Randika. "Akan saya bantu ya pak." Setelah itu pramugari ini menjongkok dan membantu Randika memasangkan sabuk pengamannya. Randika dengan tidak berdaya menyerahkan tubuhnya. Pada saat ini, tentu saja, Randika tidak bisa tidak aji mumpung. Kedua bola matanya tidak bisa lepas dari dada pramugari tersebut. Selain wajahnya yang cantik, dada perempuan ini cukup besar dan sifat telatennya membuat Randika makin suka. Belum lagi pakaian kerjanya yang berwarna merah membuatnya semakin mencolok. "Ada yang bisa saya bantu lagi pak?" Pramugari ini sedikit malu tetapi tetap berbicara dengan sopan. "Oh, aku sedikit haus." Jawab Randika. "Mohon maaf pak, sebentar lagi kereta makannya akan tiba. Mohon ditunggu dulu ya." Kemudian pramugari itu pergi. Randika masih memperhatikan pantat pramugari itu dari belakang, dia masih ingin menggodanya. Namun, dari samping terdengar suara dingin yang membuatnya merinding. "Secantik itukah dia?" "Sangat cantik." Randika tanpa sadar menjawab dan terkejut ketika dia tersadar siapa yang sedang menanyainya itu. Ketika dia menoleh, tatapan tajam Inggrid sudah mampu membunuh seseorang. "Hahaha kau bisa cemburu juga ternyata." Randika tertawa pahit. "Ngapain aku cemburu?" Inggrid memalingkan wajahnya. "Bisa-bisanya kau menggoda perempuan semudah itu?" "Bisa-bisanya kau menganggapnya seperti itu? Sayang, dia hanya membantuku memasangkan sabuk saja. Dia memastikan kita semua dapat menikmati penerbangan ini semaksimal mungkin, sama seperti yang dikatakan oleh pilot tadi." Randika lalu tersenyum. "Jadi semua itu salah paham saja." Pada saat ini, tangan Randika sudah berada di pinggang Inggrid dan perlahan mulai naik. Ketika tangannya berada tepat di ujung dadanya, Inggrid dengan cepat menampar tangan Randika. "Hei maksudmu apa!" Inggrid tersipu malu, mereka sekarang di atas pesawat bukan di rumah. Randika tertawa. "Sayang, aku hanya ingin membuktikan bahwa aku setia padamu." "Cepat lepaskan tanganmu itu, banyak orang yang melihat!" Wajah Inggrid sudah merah. Melihat Inggrid yang kelabakan itu, Randika menjadi jail. "Kalau begitu, kau tidak cemburu dengan pramugari tadi kan?" "Memangnya siapa yang cemburu?" Inggrid dengan cepat membantahnya. Randika berpikir istrinya ini bahkan tetap cantik meskipun sedang cemburu. Pada saat ini, pramugari tadi mendorong kereta makan dan menawarkan beberapa minuman. "Silahkan dinikmati bapak minumannya." Pramugari itu berbicara dengan nada lembut. Randika mengambil jus jeruk tersebut dan meletakkannya di tatakan gelas. "Apakah ada yang bisa saya bantu lagi pak?" Tanya pramugari tersebut sambil tersenyum. "Sebenarnyaˇ­" Randika duduk semakin tegak dan wajahnya menjadi serius. "Pertanyaanku ini sedikit aneh tetapi aku tetap harus menanyakannya walau nyawa menjadi taruhannya." "Silahkan bapak, saya akan menjawab semampu saya." Pramugari itu terus tersenyum sepenuh hati. "Baiklah." Randika lalu memperhatikan dada di pramugari dan bertanya dengan santai. "Aku bingung, apakah dadamu itu beneran D?" Pramugari itu terbeku di tempat. Dalam sekejap dia tersipu malu. Bisa-bisanya orang ini menanyakan pertanyaan semacam ini? Bukankah pasangannya ada di sampingnya? Inggrid malu bukan main, dia sudah pura-pura tidur. Dia tidak habis pikir kenapa Randika selalu bertingkah genit ke perempuan cantik mana pun. "Pakˇ­ Iniˇ­." Pramugari itu benar-benar dilemma. Randika lalu berkata sambil tersenyum. "Kau hanya perlu mengangguk jika itu benar." Setelah ragu-ragu sedikit, pramugari itu mengangguk pelan. Randika lalu mengangguk puas. "Sudah kuduga, mataku tidak bisa ditipu." Pramugari itu benar-benar malu. "Baiklah, cukup dariku." Randika lalu melihat pramugari itu lari dengan cepat. Randika lalu meminum jus jeruknya dan melihat Inggrid hanya menghadap jendela tanpa mau menoleh ke arahnya. "Sayang, apa bagusnya melihat awan-awan itu?" "Setidaknya ini lebih bagus daripada dada perempuan." Kata Inggrid dengan nada dingin. Inggrid sedang cemburu, sedangkan Randika terlihat puas. Inilah lika-liku cinta. "Sayang, kau salah satu hal." Randika lalu mendekatinya dan memeluk Inggrid dari belakang. "Dada perempuan itu memang sangat bagus, tetapi milikmu adalah nomor satu di hatiku." Setelah berkata demikian, Randika dengan cepat meremas dada Inggrid. "Hei!" Inggrid langsung menampar tangan Randika. "Tenanglah, aku harus membuktikan kata-kataku barusan." Randika tersenyum. "Kau ini ya!" Inggrid kembali menjadi marah, orang tak tahu diri ini tidak pernah berubah. "Hahaha jangan marah begitu dong." Randika lalu berbisik di telinganya. "Perlukah aku menciummu untuk membuktikan bahwa aku mencintaimu?" Inggrid hanya bisa menggeleng-geleng ketika berhadapan dengan Randika. Randika tertawa dan mengambil minumannya. Pada saat ini, pesawatnya mengalami guncangan dan tanpa disengaja minumannya tumpah ke celananya. Kali ini Randika benar-benar ceroboh. "Kau pantas mendapatkannya." Lirik Inggrid. Tetapi, teriakan Randika pada pramugari itu membuat Inggrid ingin mengubur kepalanya dalam-dalam. "Pramugari, tolong lapkan celanaku ini!" .............. "Jangan marah terus dong sayang." "Tadi itu salahku, jadi jangan cemberut terus ya." Ketika mereka turun dari pesawat, Inggrid mengabaikan Randika dan berjalan tanpa henti. Randika berusaha menyenangkan hati istrinya itu dengan susah payah. "Aku tidak marah." Inggrid menghela napas. "Itu bukan urusanku jika kau ingin bermesraan dengan seorang pramugari." Kau tidak marah? Terus kenapa kau begitu dingin denganku? Randika tertawa pahit dalam hatinya. Keduanya berjalan keluar dari bandara dan memanggil taksi. Karena letak bandara kota Merak agak jauh dari pusat kota, akan membutuhkan waktu setengah jam ke hotel yang sudah dipesan Inggrid. Randika masih berusaha memenangkan hati Inggrid dengan membawakan kopernya. Ketika taksi itu tiba, Randika bahkan membukakan pintu buat Inggrid. "Silahkan masuk sayang." Kata Randika dengan berkedip. Inggrid menatapnya tajam, siapa memangnya yang mengatakan mereka bisa naik taksi berdua? Inggrid hanya memalingkan wajahnya dan masuk. Randika dengan cepat meletakan kopernya di bagasi dan masuk. Chapter 97: Cukup Aku Seorang Untuk Menghajar Kalian Semua Sepanjang perjalanan mereka, Randika hanya menatap Inggrid berwajah dingin itu. "Sudahlah sayang, sampai kapan kau akan membohongi dirimu seperti itu? Aku tahu hatimu itu milikku seorang." Kata Randika sambil tersenyum. Mendengar hal itu, si supir taksi mengatakan. "Suamimu benar-benar orang yang perhatian ya." Di saat Inggrid belum sempat berkata apa-apa, Randika dengan cepat mengatakan. "Hahaha kau benar. Kita mungkin terlihat tidak akur di luar tetapi di dalam kamar kami sangat akur." Bajingan, siapa yang memangnya ingin akur sama kamu! Inggrid hanya menggigit bibir bawahnya dengan kuat, dia tahu tidak bisa menang dengan Randika kalau adu mulut. Dia hanya mengabaikannya dan mengeluarkan buku kecil dari balik jasnya dan mulai mempelajari detail kontraknya. "Kalian bukan orang sini ya?" Si supir taksi mulai membuka percakapan. "Benar pak, kau punya mata yang bagus." Jawab Randika. "Hahaha setelah bertahun-tahun menyupir kau akan bertemu dengan seluruh macam orang. Kadang aku sampai bingung." Si supir mulai menceritakan pengalamannya. "Dan seharusnya kalian datang ke kota besar ini untuk berbisnis. Aku bisa melihatnya dari betapa seriusnya istrimu itu." "Hahaha dia memang sedikit gila kerja." Randika menjawab sambil tertawa. Namun, tiba-tiba pahanya terasa sakit dan ternyata Inggrid sedang mencubitnya! Randika hampir berteriak kesakitan dan Inggrid melakukan penyiksaan ini tanpa memalingkan wajahnya. Randika lalu berpikir, apakah istrinya ini akan secemburu dan menakutkan seperti ini ketika mereka beneran menikah? Randika sadar bahwa mereka hanya menikah sementara, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa Inggrid tidak ingin meninggalkan dirinya. "Jangan berisik." Kata Inggrid dengan pelan sambil terus belajar. Memangnya gila kerja itu salah? Randika tertawa pahit melihatnya. Si supir taksi tertawa ketika melihat keduanya bertengkar dari kaca. "Hahaha kadang menyenangkan hatinya adalah kunci keberhasilan rumah tangga. Kalian masih muda pasti bisa mengatasinya." Sudah sepuluh menit sejak taksi mereka berangkat dari bandara. Namun, belum ada pemandangan kota di jendela mereka. Malah, sepertinya mereka justru pergi ke tempat terpencil. Hal ini membuat Randika merasa curiga dan bertanya. "Pak, seberapa jauh lagi hotel kami?" "Hahaha kita masih cukup jauh." Kata si supir dengan nada menenangkan. "Maaf aku lupa memberitahu, kemarin jalan langsung menuju kota dari bandara rusak berat dan sekarang sedang diperbaiki. Jadi aku harus mengambil rute alternatif untuk bisa ke pusat kota. Tenanglah, aku akan membawa kalian ke hotel dengan selamat." Mendengar penjelasan itu, Randika tidak berkomentar apa-apa. "Ah pak, di kota Merak ini apakah ada tempat yang perlu dihindari?" Randika tiba-tiba bertanya. "Tentu saja ada, semua kota rasanya memiliki tempat semacam itu." "Oya? Bisa tolong kasih beritahu saya?" "Hahaha, pak tua ini tidak tahu detailnya tetapi aku bisa mengatakan padamu siapa yang paling berkuasa di kota ini. Bisa dikatakan dia seperti pemilik kota ini baik buruk ataupun bagusnya. Hampir semua orang akan memberinya wajah ketika bertemu dengannya." "Siapa orang itu?" Randika bertanya dengan nada santai tetapi posisi duduknya sedikit maju ke depan, dia perlu tahu ancaman seperti apa yang ada di kota asing ini. "Yosuaˇ­ atau lebih tepatnya Tuan Yosua." Mendengar nama tersebut, Inggrid menjadi terlihat bingung. Dari mana dia pernah mendengar nama itu? Randika lalu bertanya dengan santai. "Pak, kenapa kau argonya tidak jalan?" "Ah! Sialan benar juga!" Si supir terlihat panik. "Maaf, taksi ini sudah tua dan sering rusak. Untuk biayanya nanti tidak akan kulebih-lebihkan, aku sudah sering mengantar orang ke hotel kalian jadi harganya nanti adalah harga pasaran." "Baiklah." Randika lalu bersandar kembali. Taksi mereka terus melaju cepat, tetapi pemandangan sekitar tidak berubah sama sekali. Justru Randika merasa tempat mereka semakin terpencil, Randika lalu bertanya. "Pak, nama gengmu apa?" Si supir terkejut bukan main, dia lalu menoleh sambil tersenyum. "Aku bukan anggota geng, aku hanya seorang supir. Aku akan membawa kalian ke orang-orang geng sebenarnya barulah aku bisa mendapatkan uangku." Kata si supir sambil tersenyum. Dan pada saat ini, taksi mereka tiba di suatu bangunan terlantar. "Selamat menikmati." Si supir turun dan bersembunyi. Randika hanya bisa tertawa pahit, dugaannya benar bahwa taksi ini bekerja sama dengan para gangster. Ketika Inggrid tiba-tiba menyadari keanehan ini, dia terlihat panik. Randika lalu menenangkan Inggrid dengan menggenggam tangannya. "Jangan khawatir, aku ada di sini." Saat ini, sudah banyak orang yang mengepung taksi mereka. Randika mengerutkan matanya dan berkata pada Inggrid. "Apa pun yang terjadi, tetaplah di mobil." Randika lalu keluar dan menampilkan muka garangnya. Sesaat dia keluar, Randika melihat si supir berada di barisan paling belakang. "Kak, ini dia si sapi gemuk itu." Wajah si supir yang ramah tadi berubah menjadi bengis dan kejam. "Dan perempuan yang masih duduk di dalam itu benar-benar cantik." Orang yang diajaknya berbicara adalah Riko yang terlihat seperti pemimpin dari para gangster ini. Setelah mendengar cerita si supir, dia menatap mangsanya yang lezat itu. "Ada perempuan di taksi itu? Bawa dia ke sini." Kata Riko ke salah satu bawahannya. Orang itu dengan cepat maju dan menghampiri taksi tersebut. Namun, dia dengan cepat dibuat terpental oleh tendangan Randika. Preman ini tidak menyangka Randika akan memiliki kekuatan semacam itu dan dia segera berdiri dengan cepat. Melihat bawahannya yang terkapar itu, Riko mulai menatap Randika. "Karena kalian berani bertindak serendah seperti ini, jangan salahkan aku jika bertindak kasar. Jangan pernah meremehkan seekor singa yang terpojok." "Hahaha jangan serius begitu." Si supir menatapnya sambil tertawa. "Hanya istrimu saja yang akan hidup melayani kita." ??Sudah cukup bicaranya." Riko mengambil tongkat logam yang ada di sampingnya. "Apakah tidak ada cara yang lebih bersahabat?" Randika menggelengkan kepalanya. "Tidak ada." Riko mendengus dingin. "Sayangnya, kalian semua akan mati." Kata Randika. "Hahaha." Semua orang tertawa, lalu Riko mengatakan. "Kau benar-benar menarik. Kita lihat seberapa banyak kau masih bisa berbicara setelah kugantung kau di tiang itu." Randika lalu tersenyum padanya. "Kalian yakin ingn melawanku?" Riko dengan santainya menyuruh Randika melihat sekelilingnya. "Tidakkah kau lihat betapa banyaknya kita?" "Jumlah bukanlah segalanya." Randika tersenyum. "Sudah, kita hentikan basa-basinya. Cepat maju semua ke sini dan kuhajar kalian." Mereka semua yang mendengar Randika benar-benar menganggap mangsanya kali ini sudah gila. "Cukup aku seorang untuk menghajar kalian semua." Randika membuang senyumnya dan dalam sekejap dia berubah menjadi gumpalan asap! Dalam sekejap, Randika sudah berada di tengah-tengah mereka dan berhasil menendang satu orang dengan keras. Orang tersebut terpental jauh dan menabrak teman-temannya. Pada saat yang sama, Randika sudah menghindari serangan para preman yang mendatanginya dan melayangkan pukulannya ke dada orang tersebut. Kemudian Randika mengambil tongkat logam yang jatuh dari lawannya itu dan mulai menghajar mereka satu per satu. Tidak ada yang bisa dilakukan oleh para preman tersebut. Setiap ayunan Randika berhasil membuat pingsan satu orang. Hal terakhir yang mereka ingat adalah wajah Randika yang terlihat kejam itu sama sekali tidak berkedip. Randika lalu menggunakan tubuh salah satu dari para preman sebagai tameng sambil menyerang. Setelah itu, dia mengangkat dan melempar tubuh tersebut ke arah kerumunan. "Ah!" Orang itu melayang dengan cepat dan menabrak temannya. Riko, yang berada di belakang, menatap ngeri pada Randika. Saat ini dia sedang dilindungi 4 orang terbaiknya dan dirinya sudah tidak bisa menerima penghinaan ini. "Maju! Jangan biarkan dia berbuat semaunya." Riko benar-benar marah ketika melihat para bawahannya dengan cepat berjatuhan. Sambil membawa tongkat logamnya, dia mendekati Randika bersama-sama dengan bawahan terbaiknya. Saat melihat Riko sudah mendekat, Randika tersenyum lebar. Riko menerjang Randika dengan darah yang mendidih. Namun, ketika tongkatnya menebas turun, sosok Randika sudah menghilang dari matanya. "Ah!" Malah bawahannya yang ada di sampingnya menghilang dan ternyata sudah terkapar sejauh 5 langkah di belakang. Apa yang sedang terjadi? Riko mulai ragu dengan keadaannya. Saat dia merasa ada tepukan di pundaknya, dia tidak berani menoleh sama sekali. Namun, lagi-lagi ada teriakan dari arah sampingnya! Riko tidak tahu harus menyerang ke arah mana, dia membenci perasaan tidak berdaya seperti ini. Di sekitarnya, suara teriakan kesakitan bawahannya itu tidak berhenti dan tidak butuh waktu lama tinggal dia sendirian. "Jangan menoleh, aku ada di belakangmu." Kata Randika dengan suara pelan. Ketika Riko menoleh, dia disambut dengan senyuman Randika yang menakutkan itu. "Bagaimana? Masih berani bilang aku banyak omong?" Melihat semua bawahannya terkapar di tanah, Riko tidak bisa menahan ketakutannya. "Kalau aku jadi kamu aku tidak akan bergerak kalau kau masih sayang dengan nyawamu." Randika berteriak ke arah supir yang membawanya ke sini. Si supir berusaha kabur diam-diam, sekarang dia tidak berani melangkah satu kaki pun. "Apa yang kau inginkan?" Riko sudah tahu bahwa hidupnya sudah tamat. Memang benar perkataan Randika tadi, jangan pernah remehkan singa yang terpojok! "Simpel. Aku memberi kalian 2 pilihan." Kata Randika sambil tersenyum. "Pertama kalian akan memberikan uang kalian semua. Kedua aku akan mengambil uang kalian semua setelah kubunuh kamu." "Kau!" Riko benar-benar marah, sekarang dialah yang dirampok! "Seekor semut tidak punya hak berbicara di depan seekor singa." Di bawah kaki Randika tergeletak sebuah pisau. Pisau tersebut tiba-tiba melayang dan terlempar ke arah kepala Riko! Chapter 98: Bantuan dari Langit Pisau itu dengan mudah menancap di dahi Riko. Si supir taksi itu menjadi panik melihat rekannya itu tergeletak mati di tanah. Satu detik kemudian, sebuah pisau juga melayang ke arah dahinya. Lima menit kemudian, semua preman itu sudah ditelanjangi Randika dan masih terkapar tidak sadarkan diri di tanah. Randika, di lain sisi, membawa sejumlah uang tunai yang banyak kembali ke mobil dan menaruhnya di bagian belakang. "Hahaha kita menjadi kaya mendadak." Randika tertawa puas. Inggrid hanya menatapnya tanpa berkata-kata. Kenapa orang ini merampok mereka? .........ˇ­ Tidak lama kemudian, mereka tiba di kota Merak dengan bantuan para polisi. Setelah menceritakan segalanya sejenak di kantor polisi, mereka diantar ke hotel tempat mereka akan menginap. Hotel Melati "Permisi, aku sudah memesan kamar sebelumnya." Kata Inggrid pada resepsionis. Setelah memeriksa pemesanan dari sistem, muka resepsionis sedikit pucat dan mengatakan. "Maafkan aku ibu, tetapi kamar Anda sudah ditempati." "Apa?" Inggrid terkejut sementara waktu dan menjadi marah. Hotel ini bukannya hotel bintang 5? "Jadi seperti ini ibu, kami telah memeriksa nomor pemesanan ibu tetapi sistem kami mengalami double booking. Kami benar-benar minta maaf atas ketidaknyamanan Anda." Si manajer membantu menjelaskan keadaan yang dialami Inggrid sambil meminta maaf. "Kalau begitu siapkan dua kamar pengganti." Kata Inggrid dengan nada yang masih marah. Si manajer tidak bisa menyembunyikan wajah pucatnya. "Begini ibu, yang tersisa hanya 1 kamar untuk beberapa hari kedepan." Kali ini Inggrid tidak berbicara sama sekali, dia hanya menoleh ke Randika. Randika memalingkan wajahnya, pura-pura tidak menyadari tatapan Inggrid. Ah! Vas bunga itu indah sekali! "Kalau begitu baiklah." Inggrid menghela napas dalam-dalam. Randika tersenyum puas di dalam hati. Langit ingin mereka meresmikan hubungan suami-istri mereka. Jangan pernah meragukan rencana yang di atas! Mereka berdua dengan cepat pergi ke kamar mereka. Ketika pintu kamar mereka terbuka, pemandangan mewah menyambut mereka. Bisa dikatakan bahwa kamar hotel bintang 5 benar-benar tidak mengecewakan. Lantai yang bersih mengkilap, mesin kopi yang canggih, kamar mandi yang luas dan pemandangan kota yang megah dari balik jendela, semua sepadan dengan uang yang dikeluarkan. Ruangan mereka memiliki sebuah kasur yang besar dan sofa yang berada di bagian samping. "Wow! Kasurnya besar sekali!" Dalam sekejap Randika sudah meloncat ke kasur dan karena keempukannya, Randika tidak bisa berhenti melompat-lompat. "Ayo sayang, sini rebahan di sampingku." Kata Randika sambil menepuk-nepuk kasurnya. Inggrid tersipu malu untuk sesaat. Ruangannya hanya memiliki satu kasur dan dia harus membaginya dengan pria mesum ini? Kita hanya pura-pura menikah, bagaimana mungkin dirinya akan tidur bersama orang ini? "Kita tidak akan tidur sekasur." Kata Inggrid pada Randika dengan wajah serius. "Ayolah, kenapa kau malu-malu gitu coba?" Randika lalu berdiri sambil tersenyum. "Kau dan aku adalah suami istri, bagaimana mungkin kita akan tidur terpisah? Dan bukankah kasur ini sangat besar?" "Sayang, kau pasti akan kesepian di kasur sebesar ini. Lagipula tidak akan terjadi apa-apa kok kalau kita tidur satu kasur." Randika mengedipkan matanya. "Aku mau mandi." Inggrid memalingkan wajahnya, dia tidak mau berdebat dengan Randika. Randika tertawa melihatnya. Kau mungkin bisa kabur dari kejaran satpam saat kau masih bersekolah, tapi kau tidak akan bisa lepas dariku! Setelah kau mandi, kau kira aku akan melupakan masalah ini? Sementara ini, aku akan membiarkanmu bersembunyi di kamar mandi. Sepuluh menit kemudian, Inggrid keluar dari kamar mandi. Ketika dia hendak mengambil sesuatu di kopernya, Randika sudah tiduran di kasur dengan pose miring dan satu tangannya menopang kepalanya. Inggrid terkejut dan bertanya pada Randika. "Apa yang sedang kau lakukan?" "Kemarilah dan tidur bersamaku." Kata Randika sambil menepuk-nepuk kasur yang luas itu. "Mimpi!" Inggrid berpaling dan kembali menuju kamar mandi. "Aku tidak akan membiarkanmu kabur begitu saja!" Tiba-tiba dari belakang Randika menggendong Inggrid dan membawanya ke kasur. "Sayang, kamu mau teriak sekeras apa pun tidak akan ada yang mengganggu kita." Bisik Randika di telinganya. Pria ini memang bajingan, pikir Inggrid. Ketika dia berusaha melepaskan diri, dari kamar sampingnya terdengar suara wanita yang seperti berteriak. Apabila didengarkan dengan baik, teriakan itu seperti desahan orang yang melakukan hubungan badan. Randika dan Inggrid terkejut dan terdiam. Mereka hanya saling menatap satu sama lain. Tembok hotel ini ternyata setipis itu? Lagipula perempuan di kamar samping mereka mendesah dengan sangat keras, sepertinya dia sudah lama tidak melakukannya. Mendengar suara itu, Inggrid hanya tersipu malu. Sesaat kemudian, Randika berkata sambil tersenyum. "Sayang, apa kau ingin mendesah nikmat seperti itu?" "Jangan sekali-kali kau memiliki pemikiran seperti itu!" Inggrid tersipu malu dan memalingkan wajahnya. "Sayang, kita tidak punya kegiatan untuk membunuh waktu. Lagipula kita juga punya kasur besar ini." Randika berusaha membuka pertahanan Inggrid. "Apakah kau tidak ingin bermanja di pelukan suamimu? Atau kau lebih suka mendengar pasangan sebelah yang sedang bermain itu?" "Siapa yang menyuruhmu untuk tidur di kasur hari ini?" Inggrid berkata dengan nada dingin. "Hari ini kau akan tidur di sofa. Tidakˇ­. Orang sepertimu cocok tidur di lantai!" "Ah?" Randika terlihat bingung. Kenapa istrinya tiba-tiba menjadi galak seperti itu? "Jadi kau ingin turun dari kasur ini sendiri atau perlu aku menendangmu?" Inggrid berkata demikian dengan wajah yang datar. "Baiklah kalau kau tidak mau melakukannya." Randika segera berdiri. Namun, tiba-tiba Randika terjatuh dan mengerang kesakitan. Inggrid yang melihatnya menjadi marah besar. "Kau memang lelaki kurang ajar!" Randika terkejut ketika mendengarnya, bukankah ini saatnya Inggrid berusaha menyelamatkannya? "Jangan pura-pura seperti itu." Inggrid berkata dengan nada dingin. "Terakhir kali kau pura-pura sakit, kau malah menyerangku sesaat kemudian. Aku tidak akan tertipu kali ini!" Randika lalu berdiri dengan wajah kecewa, istrinya benar-benar menjadi pintar. "Kalau begitu, kamu tidak mau makan?" Randika sudah memencet telepon dan siap memesan makan. "Makanlah duluan, aku masih punya banyak urusan." Inggrid membuka laptopnya dan memeriksa kembali pekerjaannya. Setelah beberapa saat, dia menyadari ada sebuah nama di dokumennya. Yosuaˇ­ "Ran, kau ingat nama yang disebut sama si supir taksi tadi?" Inggrid menoleh ke arah Randika. "Ha? Yang mana?" "Orang yang paling berkuasa di kota Merak, bukankah dia bilang nama orang itu Yosua?" Randika terkejut, apakah istrinya tertarik sama orang lain? "Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya?" "Karena orang yang aku temui besok bernama Yosua." Inggrid mengerutkan dahinya. Inggrid mulai menganalisa keanehan di dalam kontrak kerja kali ini. Surat kontrak ini dibuat oleh perusahaan Yosua dan isinya lebih menguntungkan Inggrid. Pebisnis macam apa yang melakukan kesalahan seperti itu? Terlebih lagi, kenapa dirinya yang harus menandatangani surat kontrak ini secara langsung? "Hahaha." Randika tertawa dan menghampiri Inggrid. Dia lalu memijat pundak istrinya dan mengatakan. "Sayang, kau tidak perlu takut sama orang macam itu. Kalau dia macam-macam, suamimu ini akan menghajarnya." "Jangan khawatir, tidak akan ada yang bisa melukaimu." Randika berkata dengan nada tulus. Tidak disangka, Inggrid menatap Randika sambil tersenyum. Melihat senyuman manis Inggrid ini, Randika membeku dan kemudian bertanya sambil tersenyum. "Kalau begitu, apakah kita akan segera tidur?" "Kau tidak akan tidur denganku." Inggrid dengan cepat memalingkan wajahnya. Cih, belum luluh juga ternyata! Randika lalu dengan murung kembali ke kasur. "Padahal aku sudah menantikan malam yang menggairahkan denganmu." Detik berikutnya, Randika tertendang dari tempat tidur dan terjatuh. Chapter 99: Temanilah Aku Sehari Hari kedua. Inggrid membawa Randika ke tempat perjanjiannya dengan Yosua. Di dalam taksi, Inggrid terlihat segar. Sepertinya kemarin dia tidur dengan nyenyak. Sedangkan Randika terlihat buruk dan menyedihkan, bahkan di bawah matanya ada kantong mata. Itulah bukti nyata kekerasan istrinya semalam. Melihat wajah Randika yang seperti itu, Inggrid tidak bisa menahan tawanya. "Bisa-bisanya kau tertawa." Randika berkata dengan dingin. "Kalau wajah tampan suamimu ini rusak, nanti cinta kita tidak abadi lho." "Ohˇ­" Inggrid menoleh padanya. "Jika kau menuruti kata-kataku kemarin, kau tidak akan kesakitan seperti ini." "Terlebih, kau mampu menghajar beberapa orang sekaligus tetapi kau tidak bisa bertahan dariku. Bukankah itu lucu?" Inggrid tertawa kecil ketika mengingat kejadian di kamar kemarin. Randika mau marah tapi tidak bisa. Seorang jentelmen tidak akan pernah menyakiti seorang wanita, itulah prinsip yang dia pegang. Taksi mereka melaju dengan cepat, tidak lama kemudian mereka berdua tiba di suatu perusahaan besar. Setelah mereka mendatangi resepsionis, ada seseorang yang memandu mereka untuk naik ke dalam lift. Setelah itu mereka berdua dibawa ke ruangan rapat. "Mohon menunggu kedatangan Tuan Yosua di sini. Beliau sedang ada rapat." Kata pemandu tersebut. "Baiklah." Jawab Inggrid. Pemandu tersebut segera meninggalkan mereka berdua sendirian di ruangan tersebut. Inggrid sudah bersiap-siap dengan mengeluarkan fotocopy powerpoint, menyambungkan laptopnya dengan proyektor dan berlatih menjelaskan kembali. Melihat serangkaian persiapan ini, bisa dilihat bahwa Inggrid sudah terbiasa rapat seperti ini. "Kau terbiasa menjelaskan sendiri tentang bisnismu?" Randika duduk sambil memandang istrinya itu. "Iya, sebagai direktur aku harus mengerti bisnis apa yang kujalani dan kutawarkan. Jadi aku sering menyempatkan diri untuk mempresentasikan bisnis milikku ini." Randika tersenyum. "Kalau begitu, sebuah kehormatan bagiku melihat kemampuan direktur Inggrid." Inggrid memandangnya dengan dingin. Waktu terus berlalu, sekarang sudah setengah jam sejak mereka masuk di ruangan ini. "Kenapa mereka lama sekali?" Randika mengerutkan dahinya. Bagaimana mungkin mereka membuat rekan bisnis menunggu mereka begitu lama? "Bersabarlah. Perusahaan ini sangat besar, jadi wajar jika mereka rapat begitu lama. Pasti banyak yang perlu mereka bahas jadi sabar saja, semuanya akan sepadan pada akhirnya." Melihat ekspresi Inggrid yang sabar itu membuat Randika tanpa sabar memegang tangan kecilnya itu. "Kalau begitu aku akan mendengarkan nasihat istriku." Setengah jam kembali berlalu, mereka sudah menunggu satu jam. Randika sudah benar-benar bosan menunggu, dia hampir tertidur. Kemarin malam dia tidak bisa tidur dengan nyenyak, sofa yang ditidurinya kurang panjang baginya. Namun, pintu ruangan rapat ini tiba-tiba terbuka dan suara keras yang menggelegar membuat kaget Randika. "Maafkan aku Inggrid, aku benar-benar sibuk tadi.??? Randika yang setengah sadar itu benar-benar terkejut, dia sudah hampir reflek menghajar orang tersebut tetapi dia sadar itu adalah klien bisnis istrinya. "Aku juga baru menunggu sebentar, Pak Yosua benar-benar melebih-lebihkan." Inggrid lalu berdiri dan bersalaman dengan Yosua. "Jangan seperti itu." Yosua tersenyum padanya dan mencium tangan Inggrid. "Sudah lama aku menantikan pertemuan kita ini. Terus apa ada yang bisa saya bantu?" Sekretaris Yosua lalu maju dan berbisik padanya. "Pertemuan ini akan membahas kontrak kerja sama kita dengan perusahaannya." "Baiklah, memang lebih baik hal seperti ini didiskusikan secara langsung." Yosua tertawa dan menatap Inggrid. "Kau pasti lelah karena jauh-jauh datang kemari." "Tidak kok, saya bersemangat bisa bertemu dengan bapak." Inggrid juga membalas senyumnya dan ingin menarik tangannya. Tetapi, tangannya itu masih ditahan oleh Yosua. "Ohˇ­" Yosua merasakan kelembutan yang tidak biasa dari tangan Inggrid. "Memang julukan bunga tercantik dari kota Cendrawasih bukanlah isapan jempol belaka." Melepaskan tangan Inggrid, Yosua duduk di seberang Inggrid. Pada saat ini, matanya tertuju pada Randika. "Oh? Sekretarismu sepertinya sudah bangun dari tidurnya." Yosua lalu tertawa. Randika menatapnya dalam-dalam. Meskipun Yosua memakai jas berwarna hitam, perutnya itu menyembul keluar dan kalung emas menggantung di lehernya. Cincin emas yang dipakainya pun lebih dari 3, benar-benar bukan terlihat seperti pebisnis. Orang nomor 1 di kota ini justru terlihat seperti pemimpin gangster. "Kalau begitu, mari kita mulai." Melihat semua orang sudah duduk, Inggrid ingin memulai presentasinya. Namun, sebuah tangan menutupi proyektor. "Ah, kenapa Anda buru-buru? Kita masih punya banyak waktu hari ini untuk membicarakan bisnis." Yosua mengibaskan tangannya. "Justru aku lebih tertarik mendengar tentang dirimu. Reputasi Inggrid Elina sebagai direktur sekaligus bunga kebanggan kota Cendrawasih sudah menyebar hingga ke pelosok negeri." "Anda terlalu berlebihan." Inggrid tersenyum walaupun dalam hatinya dia mengutuk orang ini. Tatapan mata Randika terlihat dingin, dalam hatinya dia sudah siap menghajar orang ini. Berani-beraninya dia menggoda istrinya di depannya? Apakah orang ini segitunya ingin mati? "Ah, kau memiliki kecantikan yang patut dibanggakan." Yosua menambahkan. "Aku dengar banyak pria yang mengejar hatimu justru tenggelam dari air matanya karena tidak kuat menahan rasa patah hati mereka." "Pak Yosua itu semua hanya rumor belaka. Banyak perempuan muda yang lebih menawan dariku." Kata Inggrid sambil tersenyum. "Bagaimana kalau kita membicarakan bisnis kita? Saya akan menjelaskan bagaimana strategi dan tujuan perusahaanku untuk 10 tahun ke depan." "Ah, Ibu Inggrid tidak usah terlalu antusias begitu." Yosua mencegat Inggrid sekali lagi. "Aku tidak bisa memutuskan keputusan penting seperti ini dalam sehari. Lagipula, aku juga sudah mengerti reputasi perusahaan Cendrawasih di negeri ini sangatlah luar biasa." "Kalau begitu, kita akan membahas masalah kontrak kerja sama kita." Inggrid langsung menembak. "Hahaha sudah kubilang jangan terlalu antusias begitu." Perut Yosua bergetar karena tawanya itu. "Kita punya waktu seharian untuk membahas hal tersebut." Setelah itu, Yosua melihat jam tangannya dan mengatakan. "Bagaimana kalau kita makan siang dulu? Aku tahu bahwa kamu belum makan, biarkan aku mentraktirmu makan siang baru setelah itu kita membahas bisnis." "Tetapi banyak hal yang harus kita bahas dalam kontrak kerja sama ini. Aku harap kita dapat membahasnya secepat mungkin agar kita bisa menandatanganinya segera mungkin." Inggrid dengan sopan menolak ajakan Yosua. "Pak Yosua, menurut saya lebih baik kita membahas bisnis kita lebih dulu. Setelah kontrak kita tertanda tangani barulah kita bisa membahas hal lain." "Hahaha." Yosua tertawa keras, Inggrid tidak tahu apa yang dia tertawakan. "Maaf, apakah ada yang salah dari omongan saya?" Inggrid terlihat bingung. "Baiklah, kita akan membahas kontrak kita." Yosua bersandar di kursinya, dia terlihat santai. "Kalau begitu, karena Pak Yosua tidak meragukan kemampuan perusahaan milik saya, saya akan membahas bagaimana kita akan bekerja sama." Inggrid membuka powerpoint miliknya. "Berdasarkan isi kontrak yang diajukan perusahaan Anda, ini adalah poin-poin yang perlu kita perhatikan. Yang pertama adalah ......ˇ­ " Randika mendengarkannya dengan seksama. Namun, dia sekaligus memperhatikan ekspresi Yosua dengan mata dingin. Mau dilihat bagaimanapun juga, kontrak ini lebih menguntungkan perusahaan Cendrawasih. Bagaimana mungkin perusahaan besar seperti ini akan bekerja sama dengan perusahaan lain dengan keuntungan yang kecil seperti itu? Jelas bahwa keuntungan yang diinginkan oleh Yosua tidak tertulis di kontrak. "Demikian pembahasan yang perlu kusampaikan. Jika tidak ada masalah dengannya, kita bisa menandatangani kontraknya sekarang." Kata Inggrid sambil tersenyum. "Setelah kudengarkan baik-baik, menurutku ada yang kurang dari kontrak tersebut." Kata Yosua. Inggrid terkejut dan bertanya. "Apakah ini mengenai keuntungan yang diterima? Saya sudah membahasnya tadi." "Hahaha." Yosua tersenyum lagi dan memberi isyarat untuk menampilkannya lagi. Inggrid dengan cepat menuju laptopnya dan ingin menampilkan lagi mengenai keuntungan yang didapat. Tetapi, tangan Yosua tiba-tiba meraih tangan Inggrid. Inggrid terkejut bukan main, tetapi, sebuah tangan tampak memegangi tangan Yosua dengan erat. Ketika Yosua menoleh, ternyata Randika lah yang mencengkeram tangannya. "Inggrid, sepertinya dia bukan sekretarismu melainkan pengawalmu?" Kata Yosua sambil menatap jijik Randika. "Saya khawatir tangan Tuan Yosua akan menyakiti tangan direktur saya." Kata Randika sambil tersenyum. Ketika Randika melepaskan genggamannya, Yosua langsung menarik tangannya. Inggrid yang melihat hal ini berdoa dalam hati bahwa jangan sampai peluang bisnisnya hancur gara-gara Randika. "Kalau begitu, apakah ada pertanyaan lain? Bagian mana dari kontrak ini yang ingin Anda bahas?" Tanya Inggrid sekali lagi. "Tidak ada." Kata Yosua sambil mendengus dingin. "Selama kau menambahkan satu syarat di kontrak kita maka semuanya akan baik-baik saja. Bagaimana kalau isinya adalah kau akan menemaniku makan malam setiap hari?" "Syarat ituˇ­" Inggrid kehabisan kata-kata untuk sesaat. Tetapi, pada saat ini Randika berkata dengan santai. "Tuan Yosua, Ibu Inggrid akhir-akhir ini sedang tidak enak badan. Beliau tidak bisa pergi menemani Anda, kami mohon maaf atas ketidaknyamanan ini." "Siapa yang menyuruhmu berbicara?" Suara Yosua terdengar kasar dan tatapan matanya menjadi tajam. Orang itu hanya seorang pengawal, bagaimana mungkin dia punya hak untuk berbicara dengannya. "Maaf jangan terlalu dibawa hati Pak Yosua. Dia memang sedikit kasar." Inggrid dengan cepat menengahi. "Selain syarat tersebut, apakah ada hal lain yang perlu kita bahas dalam kontrak kita?" "Tidak ada." Yosua mendengus dingin dan bersandar di kursinya. "Sejujurnya, aku hanya memiliki satu syarat yang harus dipenuhi. Bahwa kau harus menemaniku seharian ini dan aku akan menandatangani kontrak ini." Inggrid mengerutkan dahinya. "Pak Yosua, sebaiknya kita membedakan urusan pribadi dengan urusan bisnis." "Tentu saja ini adalah syarat bisnis. Aku adalah pebisnis sejak kecil, tentu saja bahwa aku paham sekali tentang bisnis." "Bagaimana?" Yosua menegakkan tubuhnya. "Selama kau menemaniku seharian ini, aku akan tanda tangan kontrak ini. Jumlah itu seharusnya cukup besar untuk perusahaanmu bukan?" Inggrid menjadi sedikit marah. Dia pikir dia siapa? "Ibu Inggrid, syarat yang diajukan Tuan Yosua sangat simpel. Sebaiknya Anda menyetujuinya." Kata Randika tiba-tiba. "??" Inggrid terkejut ketika mendengar perkataan Randika. Bajingan ini malah memperburuk situasinya. "Bukankah Anda akan menemaninya satu hari saja? Kita belum pernah berkeliling kota ini, jadi aku yakin kita akan melihat pemandangan yang bagus bersama Tuan Yosua." Kata Randika sambil tersenyum. Muka Inggrid menjadi pucat pasi. Chapter 100: Tanda Tangan atau Tidak? Ekspresi Yosua menjadi dingin. "Inggrid, aku tidak senang pembicaraan kita dipotong oleh orang lain." "Kalau begitu, tunggulah aku selesai berbicara dengan direktur saya." Kata Randika dengan santai. Apa? Yosua sudah meledak-ledak di dalam hatinya. Ketika dia masih menjadi pimpinan gangster, tidak ada orang yang berani berbicara lancang di depannya. Sekarang dia menguasai kota ini baik bagian terang ataupun gelapnya. "Baiklah kalau begitu." Karena lawan bicaranya ini pura-pura bodoh, Yosua sudah tidak sungkan lagi. "Inggrid, aku hanya ingin kau tidur bersamaku malam ini dan aku akan menandatangani kontrak ini. Apakah kau sudah mengerti maksudku?" Wajah Inggrid benar-benar menjadi buruk. Calon rekan bisnisnya ini ternyata mengincar tubuhnya. "Tidakˇ­ Tidak akan!" Wajah Inggrid benar-benar dingin seperti es. "Hahaha jangan sok suci seperti itu." Yosua tertawa keras. "Ini adalah satu syarat yang harus kau penuhi untuk mendapatkan tanda tanganku. Jika kau tidak mau, maka kerjasama kita akan batal!" "Dan jangan pura-pura kau tidak ingin menginginkan kontrak ini." Yosua melihat ambisi Inggrid dari matanya itu. "Tidak peduli sekuat apa perusahaanmu, kau tidak mungkin bisa mengalahkanku. Percayalah, kau tidak ingin melawanku. Banyak cara untuk menjatuhkan perusahaan sepertimu." Perkataan Yosua benar-benar berani, sombong dan penuh percaya diri. Dengan kata lain dia berkata bahwa demi kelangsungan perusahaan Cendrawasih, Inggrid harus menyetujui apa pun yang diinginkan oleh Yosua. "Aku tidak pernah takut dalam hidupku." Kata Inggrid dengan dingin. "Jangan anggap remeh ancamanku ini." Mata Yosua penuh dengan ancaman. "Bagaimanapun caranya, pada akhirnya kau tetap akan melayaniku di tempat tidur." Wajah Inggrid sudah benar-benar jijik melihat Yosua, dia lalu berdiri dan bersiap meninggalkan tempat terkutuk ini. Yosua dengan cepat mencegat Inggrid untuk pergi. "Bahkan di kotaku ini, seekor naga akan tunduk padaku." Nada bicara Yosua penuh dengan kesombongan. "Kau tidak akan pergi ke mana-mana." "Kebetulan, itulah yang ingin kusampaikan." Pada saat ini, Randika masih tersenyum lebar. Tetapi, matanya dipenuhi dengan api kemarahan. Ketika Yosua menoleh ke arah Randika, sebuah pukulan sudah mendarat di wajahnya! "Ah!" Inggrid terkejut, dia tidak menyangka Randika akan berbuat seperti itu. Sekretaris Yosua juga terkejut bukan main, dia hanya bisa linglung melihatnya. Pukulan Randika dengan mudah mematahkan hidung Yosua. "Kau sudah gila? Berani-beraninya kau melukaiku!" Namun, Randika tidak berhenti di situ saja, dia menampar Yosua dengan keras. Dasar bajingan, berani-beraninya kau menindas istriku? Kau mengincar tubuh istriku? Kau akan mati hari ini! Tangan Randika yang besar itu dengan keras menampar Yosua hingga bekas tangannya mengecap. "Kau ingin Inggrid tidur melayanimu? Mimpi apa kamu?" Randika terus menampar pipi kiri dan kanan Yosua bergantian. Lalu kaki Randika menendang Yosua dan dia terpental ke tembok! Randika lalu mengangkatnya dan memukulinya lagi. "Kau pikir akan lolos setelah ini?" Duak! "Kau tidak tahu siapa aku ini?" Duak! "Aku adalah penguasa sejati kota ini!" Duak! Setiap kata yang dilontarkan Yosua akan disambut dengan pukulan ke perut oleh Randika. "Kauˇ­ Kau benar-benar mencari mati!" Yosua memuntahkan seteguk darah, tetapi ini tidak menghentikan pukulan Randika. "Sepertinya kau tidak mengerti posisimu sekarang ini." Randika tersenyum. "Aku akan mengajarimu sampai kau mengerti." Setelah itu, Randika melepas Yosua dan menendangnya di lantai. Yosua hanya bisa meringkuk kesakitan seperti udang. Setelah beberapa saat, Yosua berdiri dan tatapan matanya penuh dengan kebencian. "Kau tidak tahu siapa aku?" "Aku tidak peduli kau siapa." Randika memukulnya lagi tepat di hidung. "Mau kamu ular ataupun tikus, kau harus tunduk di depanku." Yosua kembali terpental dan menabrak tembok. Randika belum puas menghajarnya dan ketika dia menghampiri Yosua, tangannya ditahan oleh Inggrid. "Jangan! Aku tidak ingin kau terlibat masalahku." Kata Inggrid dengan penuh kekhawatiran. Kata-kata itu membuat hati Randika tersentuh. "Siapa suruh menggoda istriku di depan diriku!" Randika menatap Yosua. "Aku ingin membunuhnya." Setelah berpikir baik-baik, Randika mengeluarkan surat kontrak yang dibawa Inggrid. "Mau apa kamu?" Tanya Inggrid. Randika tidak menjawab dan menghampiri Yosua yang masih meringkuk kesakitan. "Hari ini kau akan menandatangani kontrak ini." "Mimpi!" Yosua meludah ke wajah Randika. Dan Randika dengan santai menamparnya dengan keras. "Tanda tangan atau tidak?" Tanya Randika sambil menyeka wajahnya. "Jika kau tidak mau, aku akan menamparmu hingga kau mau." Plak! Melihat Yosua masih tidak mau, Randika melayangkan tamparannya lagi. Plak! Melihat pimpinannya ini dihajar habis-habisan, sekretarisnya hanya bisa terdiam melihatnya. Bosnya ini memerintah seluruh kota dan belum pernah menunduk ke siapapun. Dan sekarang keadaannya menyedihkan. Ketika Randika masih sibuk menampar Yosua, pintu ruangan rapat ini tiba-tiba terbuka dan sekumpulan pengawal berbadan kekar masuk. "Mati kau bangsat!" Yosua tertawa sambil bersimbah darah. Ketika nanti dia berhasil menangkap orang ini, dia akan menyiksanya sampai mati! "Menurutmu aku takut?" Kata Randika dengan santai. Randika lalu melempar surat kontrak itu ke udara dan sosoknya sudah menghilang dari depan Yosua. Tiba-tiba, suara rintihan kesakitan para pengawal sudah terdengar. Randika langsung menerjang ke tengah-tengah para pengawal itu. Bagaikan serigala yang masuk ke kandang ayam, Randika membantai mereka dengan cepat dan mudah. Para pengawal ini tidak bisa mengikuti pergerakan Randika sama sekali. Ketika para pengawal ini bertahan dari serangan samping, Randika akan menendangnya kuat di dada. Ketika mereka berjaga dari serangan depan, Randika akan memutari mereka dan memukul bagian belakang kepala mereka. Dalam sekejap, pecahan kaca jendela dan pecahan tembok memenuhi ruangan ini. Ketika para pengawal itu membalas menyerang, mereka justru dibuat melayang oleh Randika. Di saat udara, Randika pun masih sempat memberikan 2 pukulan tepat di dadanya. Sekarang, tinggal 3 orang yang masih berdiri dan ketiganya dengan cepat pingsan di lantai. Ketika tubuh pengawal terakhir itu jatuh, surat kontrak yang dilempar Randika ke atas itu mendarat dengan tepat di tangannya. Wajah Inggrid dan sekretaris Yosua benar-benar dipenuhi rasa tidak percaya. Orang ini benar-benar manusia? Dalam waktu 5 detik, Randika berhasil mengalahkan semua pengawal yang masuk ke dalam ruangan ini. Betapa kuatnya orang ini! Yosua, yang melihat hal ini dari bawah, sudah mulai gemetar ketakutan. Lawannya benar-benar kuat! Perbedaan kekuatan keduanya terlalu besar, tidak ada jalan lain selain pasrah. Bisa dikatakan bahwa satu jari Randika sudah cukup untuk membunuhnya. "Tanda tangan atau tidak?" Randika bertanya sekali lagi. Melihat Yosua sama sekali tidak merespon, Randika menamparnya lagi. "Baiklah, baiklah, aku akan menandatanganinya." Yosua sudah kapok. Tetapi, Randika kembali menamparnya. "Aku sudah bilang aku akan menandatanganinya!" Mata Yosua sudah dipenuhi rasa ketakutan. Bukankah dia diampuni setelah mengatakan bahwa dia setuju? "Maaf, aku tidak bisa menahannya." Randika tertawa. Yosua benar-benar marah atas rasa malu yang besar ini. Tangannya tidak bisa berhenti gemetar ketika dia menandatangani kontraknya. "Kalau begitu, mohon kerja samanya Tuan Yosua." Randika lalu mengambil kontrak itu dan tersenyum. "Aku harap pertemuan kita berikutnya tidak seberantakan seperti ini." Randika lalu menghampiri Inggrid dan berkata dengan santai. "Nih surat kontrakmu." Chapter 101: Hukuman Keluarga Randika dan Inggrid kemudian kembali ke hotel mereka. Randika berkata pada Inggrid sambil tersenyum. "Bagaimana tadi? Suamimu ini bisa diandalkan bukan?" Namun, Inggrid membalasnya dengan nada dingin. "Kenapa kau begitu gegabah?" "Gegabah?" Randika nampak bingung untuk sesaat. "Dia menggodamu dan merendahkanmu, mana mungkin suamimu ini bisa tahan melihatnya?" "Memangnya kenapa dengan itu? Aku bisa menjaga diriku sendiri." Inggrid membanting tasnya ke atas kasur. "Kau itu istriku, mana mungkin aku tidak tersinggung mendengar dia berbicara seperti itu? Aku sebagai suami jelas akan merasa sangat marah." Kata Randika dengan santai. "Sudah untung dia tidak kubunuh, dia sudah berani menyuruhmu tidur dengannya padahal aku sendiri saja belum." "Apa?" Inggrid menoleh dengan wajah marah. "Tidak apa-apa. Maksudku dia menerima apa yang pantas diterimanya." Kata Randika. "Maksudku kau itu benar-benar bertindak tanpa berpikir." Mata Inggrid penuh dengan kekhawatiran. "Aku telah melihat bisnis seperti apa yang dijalankan Yosua di kota ini. Dia benar-benar memiliki kota ini di tangannya. Belum lagi finansialnya dia lebih kuat daripada aku. Jika dia memutuskan untuk menyerangku, perusahaanku akan mengalami kesulitan." "Sayang, kau tidak perlu khawatir dengan hal seperti itu. Jika dia berani berbuat macam-macam sama kamu, bukankah ada aku di sisimu?" "Apa kamu sudah lupa dengan perusahaan Galaksi?" Randika duduk di kursinya. "Selama dia berani mengganggu perusahaan kita, dia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak!" Randika menjelaskan semua ini dengan nada percaya diri dan tegas. Memangnya penguasa dunia bawah tanah akan tunduk dengan seekor ular yang cuma menguasai satu kota kecil? Dia punya seribu cara untuk menjatuhkan ular tersebut. "Jadi, istriku yang cantik tidak perlu khawatir dengan ancaman kecil seperti itu. Dengan adanya aku di sisimu, kau hanya perlu menjaga dirimu dengan baik." Kata Randika sambil tertawa. Namun, Inggrid masih mengerutkan dahinya. "Mudah untukmu mengatakannya. Surat kontrak ini ditandatangani dengan keuntungan yang sangat menguntungkan bagi perusahaanku. Bagaimana kalau dia tidak mematuhinya? "Beritahu aku kalau dia berbuat macam-macam." Kata Randika dengan santai. "Aku punya cara agar dia mematuhi kontrak itu." Randika akan mengenalkannya penyiksaan yang tiada akhir padanya apabila dia berani membohongi istrinya. "Kamu ini ya." Inggrid menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu sebaiknya kita segera pergi dari sini. Jangan sampai kita bertemu lagi dengannya." Kekhawatiran Inggrid sebenarnya simpel. Mereka baru saja menghajar seorang bos hingga babak belur, mana mungkin dia tidak balas dendam? Dan kali ini dia telah menyinggung penguasa kota yang menguasai bagian gelap maupun terang kota ini, bisa jadi sudah ada rencana jahat yang menantinya. "Sudahlah santai saja." Randika lalu berdiri. "Percayakan semua padaku, suamimu ini akan melindungimu 24/7." Inggrid mengangguk tetapi sekaligus masih terlihat khawatir. "Hei kubilang santai." Randika menghampirinya dan memeluknya. "Ini bukan seperti istri yang biasanya kucintai. Sejak kapan kau menjadi cemas seperti ini? Jika kau meragukan kemampuan suamimu lagi, aku akan menghukummu dengan hukum keluarga kita." Randika ingin kembali menghidupkan suasana. "Tapiˇ­ Yosua itu bukan orang sembarangan. Dia punya latar belakang sebagai seorang gangster." Inggrid benar-benar khawatir, tetapi dalam sekejap dia sudah didorong ke tembok oleh Randika. "Tadi sudah kubilang bukan? Jika kau tidak mempercayaiku maka aku akan menghukummu dengan hukum keluarga kita." Kata Randika. "Hukum keluarga apa?" Inggrid memberontak tetapi Randika tidak memberinya kesempatan untuk kabur dan menahannya dengan kuat. "Tentu saja kau tahu apa yang kumaksud." Randika berkedip dan menggendong Inggrid ke kasur. Sekarang Randika berada di atas Inggrid. "Mau apa kau!" Terdengar nada kesal di nada suara Inggrid. "Tentu saja menghukummu dengan hukum keluarga kita." Randika membuka resleting celana Inggrid dan menahan kedua tangannya agar tidak bisa memberontak. Sambil menahan nafsunya, dia memutar Inggrid dan sekarang posisi mereka bagaikan orang tua yang siap menghukum anaknya dengan cara memukul pantatnya. Plak! Suara nyaring itu terdengar, pantat empuk Inggrid itu benar-benar enak dipukul. "HEI!" Inggrid benar-benar malu, dia meronta-ronta tiada henti. "Sayang, maafkan aku tapi ini hukuman karena kau tidak mempercayaiku." Randika memukul pantat Inggrid sekali lagi. Pantat Inggrid dengan cepat menjadi merah meskipun tamparan Randika tidak terlalu keras. "HENTIKAN!" Inggrid tidak habis pikir Randika akan melakukan hal memalukan seperti ini. Namun, entah kenapa, kedua tamparan di pantatnya itu tidak sesakit yang dia kira. Justru Inggrid merasa bahwa sedikit sengatan ini mengalir ke seluruh tubuhnya dan tubuhnya menjadi panas. "Tidak, aku harus menghukummu." Baru dua kali dia menepuk pantat empuk ini, mana mungkin dia puas? Randika menepuk pantatnya sekali lagi. Dengan tenaga dalam Randika, setiap tamparannya ini akan merangsang tubuh Inggrid dan membuatnya menjadi tidak bisa menolak dirinya. Tentu saja, tamparannya yang ketiga ini membuat Inggrid mendesah erotis. Randika tidak bisa berhenti tertawa melihatnya. Bagi Randika, meresmikan hubungannya ini adalah tujuan akhirnya. "Bagaimana? Masih tidak percaya dengan suamimu?" Randika berbisik tepat di telinga Inggrid. "Baiklah aku percaya padamu. Sekarang lepaskan aku." Muka Inggrid sudah benar-benar merah, dia sudah tidak tahan dengan kejadian memalukan ini. Namun, Randika justru berbisik di telinganya. "Sayang, mana mungkin aku akan melepasmu?" Randika dengan cepat mendudukkan Inggrid di pangkuannya dan mulai menikmati leher indah dan mulus milik Inggrid itu. "Randika! Jangan!" Inggrid mulai memberontak lagi. Plak! Pada saat ini, Randika menepuk pantatnya sekali lagi. Tiba-tiba, Inggrid tidak bisa mengumpulkan tenaganya dan mendesah keras yang sangat terdengar erotis! Inggrid tidak menyangka dirinya bisa mendesah seperti itu, dia benar-benar malu karenanya. Kenapa dia selalu tidak berdaya ketika berhadapan dengan pria ini? Inggrid berusaha mendorong Randika sekuat tenaga, sekarang ada sedikit celah di antara mereka. "Sayang, kenapa kau begitu malu?" Ketika Randika berusaha memeluknya lagi, tiba-tiba dari luar terdengar suara derapan kaki orang banyak. Randika berusaha mendengarnya dengan pendengaran supernya dan dia sadar bahwa orang-orang ini berjumlah banyak dan hanya beberapa langkah lagi dia sudah sampai di luar pintu mereka. Apakah ini orang suruhan Yosua? Randika menghela napas dalam-dalam. Hanya Yosua yang mempunyai sumber daya mengerahkan orang sebanyak ini. Klik! Randika mendadak berubah menjadi serius. Kenapa begitu banyak suara senjata? Randika dengan cepat berbisik di telinga Inggrid. "Diamlah, ada seseorang di luar kamar kita." "Lepaskan aku!" Inggrid tidak akan tertipu dengan trik Randika lagi. "Aku serius! Jangan bergerak." Randika dengan cepat menutup mulut Inggrid dengan tangannya. Namun, Inggrid dengan cepat menggigit tangannya. "Hei! Sakit tahu!" Randika berteriak kesakitan. Namun, suara dari luar sudah tidak terdengar. Hal ini membuat Randika semakin resah. Saatnya bertarung telah tiba! Chapter 102: Kau Pikir Kau Lebih Cepat Daripada Peluru? DUAR! Tiba-tiba pintu kamar Randika dan Inggrid itu meledak dan hancur menjadi serpihan. Lalu dari arah pintu sana muncul bom asap yang dengan cepat memenuhi isi ruangan. Satuan khusus? Randika mulai cemas terhadap keselamatan Inggrid. Dia dengan cepat membawa Inggrid berlindung di bawah kasur dan mengatakan. "Apa pun yang terjadi, jangan berisik dan jangan keluar dari sini." Inggrid yang ketakutan hanya menganggukan kepalanya. Randika dengan cepat bergerak dan menendang bom asap itu ke arah pintu. Pada saat ini, seorang polisi dengan perlengkapan lengkap menerjang masuk dengan senapan serbu di tangannya. Begitu dia melihat Randika, dia segera mengangkat senjatanya. Namun, Randika jauh lebih cepat darinya. Ketika dia berusaha membidik Randika, Randika sudah menahan senjatanya dan dia tidak bisa bergerak. Polisi tersebut bereaksi dengan cepat, dia segera melepas senjatanya yang ditahan oleh Randika. Polisi tersebut dengan cepat memberikan serangan siku pada Randika. Namun, Randika menghindarinya dan menendangnya. Polisi tersebut terpental mundur beberapa langkah. Polisi tersebut meraung kesakitan tetapi Randika sudah berada di depannya! DUAK! Polisi tersebut menatap tembok yang ada di luar ruangan. Satuan khusus yang ada di luar terkejut melihatnya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Teman mereka yang merupakan salah satu yang terhebat di antara mereka hanya bertahan 10 detik di dalam? Tetapi berkat pelatihan khusus yang mereka terima, mereka sama sekali tidak gentar dan mencengkeram erat senjata mereka. Mereka dengan cepat memantau situasi tetapi tidak ada pergerakan di dalam. Keheningan ini sangat mencekam. Dua polisi satuan khusus mulai masuk bersamaan. Mereka berdua berbaris sambil memberi isyarat di punggung ataupun isyarat tangan. Namun, ketika mereka memeriksa kamar mandi, sesosok bayangan meloncat keluar. DUAK! Suara orang bertarung tangan kosong terdengar dari dalam. Kali ini, kedua polisi tersebut tidak merespon sama sekali setelah 20 detik masuk ke dalam. Para polisi yang di luar mulai menjadi cemas, lawannya kali ini sangat kuat! "Kalian sudah terkepung, menyerahlah dan keluar dari ruanganmu!" Seorang polisi berteriak. "Masuklah dan coba buat aku menyerah kalau bisa!" Suara Randika terdengar penuh dengan percaya diri. "Aku akan melempar granat jika kalian tidak keluar." Balas polisi tersebut. Ini hanyalah gertakan, sebuah granat bisa berdampak sangat buruk jika diledakan di hotel ini. "Baiklahˇ­ Aku akan keluar, jangan tembak aku." Randika dengan santai keluar dengan tangan di belakang kepalanya. Namun, tatapan matanya sama sekali tidak menunjukan ketakutan sama sekali. Melihat lebih dari 10 orang satuan khusus ini di koridor, Randika menyadari bahwa Yosua berada di barisan paling belakang. Dengan muka mengejek, Randika mengatakan. "Selamat malam Tuan Yosua." Pada saat ini, Yosua sudah bagaikan mumi. Seluruh mukanya dibalut oleh perban kecuali daerah mata dan hidung. Tatapan matanya penuh dengan kebencian dan kemarahan. "Hari ini aku akan mengulitimu hidup-hidup!" "Jangan suka sesumbar, tidak baik untukmu." Randika menggelengkan kepalanya. Lalu dengan santai dia berkata pada para polisi tersebut. "Jadi cuma segini harga nyawaku? Selusin orang saja? Kenapa tidak menyuruh 50 orang untuk memburuku?" Orang ini gila! Semua polisi ini memakai ekspresi dingin dan Yosua sudah tidak sabar untuk menyiksa Randika. "Kau pikir kau lebih cepat daripada peluru?" Sambil tertawa keras Yosua mengatakan. "Sekarang lebih dari 10 senapan membidikmu, kau masih berharap bisa hidup?" "Kau pikir senjata itu membuatku takut?" Randika menatap mereka dengan tatapan mengejek, baginya satuan khusus ini hanyalah sebuah debu. "Takut? Mari kita lihat apakah kau bisa bicara begitu besar ketika tubuhmu penuh dengan lubang." "Coba saja," Kata Randika sambil tersenyum. "percuma aku menjelaskan, lebih baik kutunjukan." "Ayo tembak aku!" Randika menghentakan kakinya ke arah para polisi itu. Para polisi ini bertukar pandang dan mengangguk bersamaan. Dalam sekejap, mereka telah menembakkan seluruh peluru mereka! Inggrid yang berada di bawah kasur semakin cemas ketika mendengar rentetan tembakan itu. "Tuhan selamatkan Randikaˇ­" Inggrid berdoa dalam hatinya. Tembakan dari selusin polisi ini tidak menyisakan ruang untuk Randika menghindari ke samping. Di barisan paling belakang, Yosua sudah bertepuk tangan dan tersenyum lebar ketika melihat polisi yang dibayarnya itu mulai menembak. Tetapi, dalam sekejap muka bahagianya itu menjadi suram. Matanya terbelalak melihat adegan tidak masuk akal di depannya. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Menggosok-gosok matanya, Yosua tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Itu benar-benar tidak masuk akal! Seperti di film-film aksi dari barat, Randika berlarian di tembok dan menghindari seluruh peluru yang menuju dirinya! Bahkan gravitasi seakan-akan tidak ada bagi Randika. Ketika senapan itu mengarah ke langit-langit, Randika sudah berada di bagian kanan tembok. Ketika Randika dibidik lagi, sosoknya sudah tidak ada kembali. Ratusan butir peluru dengan cepat melesat tetapi orang di hadapan mereka masih bisa bergerak bagaikan bayangan. Semua orang terkejut, bagaimana mungkin orang ini bisa disebut manusia? Di koridor hotel ini sekarang, sosok Randika bahkan terlihat bertambah. Saking cepatnya dia berlari, dia meninggalkan sosok bayangannya. Sesaat dia ada di atas langit-langit, di belakang vas, di samping tembok dan berada di tengah udara. Orang ini jelas-jelas monster! Semua polisi ini mulai ragu dan bingung, mereka hanya bisa menembaki di mana sosok Randika berada. Yosua yang ada di barisan paling belakang mulai berkeringat deras. Sialan, orang itu bukan manusia! Setelah 20 detik menembak tanpa henti, semua senapan polisi ini telah kehabisan peluru. Randika dengan santai bertanya. "Sudah selesai?" Dan di bawah tatapan mata orang banyak, Randika berdiri diam di tempat awalnya! Dia bahkan terlihat tidak bergerak sama sekali. Seberapa cepat memangnya kecepatan orang ini? Lagipula, senjata mereka sudah menghalangi seluruh jalur lari targetnya. Setelah menerima seluruh magasin dari selusin polisi, koridor ini sudah tidak berbentuk dan banyak lubang peluru. Semua hiasan dinding maupun vas sudah hancur berantakan. Pemandangan ini benar-benar mirip dengan pemandangan pasca gempa. Sedangkan target mereka, nampak baik-baik saja. Siapa yang akan mempercayainya jika mereka tidak melihat hal ini dengan mata mereka sendiri? Semua polisi ini tidak tahu harus berbuat apa. Randika lalu berteriak ke arah Yosua. "Sudah mengerti maksudku tadi?" Punggung Yosua sudah basah oleh keringat, saking takutnya dia tidak bisa mengeluarkan suara sama sekali. Selama dia menjadi gangster, dia belum pernah melihat orang yang berada di peringkat Dewa. Dan sekarang, dia telah menyaksikan salah satu dari 12 Dewa Olimpus! "Kalau kalian sudah selesai, sekarang giliranku." Randika menatap para polisi itu dengan wajah tersenyum yang mengerikan. "Paling parah mungkin kalian tidak akan bisa berjalan lagi." Pada saat ini, para polisi itu sudah gemetar ketakutan. Dan benar saja, detik berikutnya mimpi buruk mereka benar-benar terjadi. "Ah!" Di barisan paling depan, seseorang telah dipelintir tangannya oleh Randika. Dengan mudah, Randika menendangnya hingga terbenam di lantai. Detik berikutnya, Randika sudah mencekik salah satu polisi dan menghantamnya ke tembok. Seluruh tubuh polisi itu sampai masuk ke dalam tembok. Sepuluh polisi sisanya itu langsung mengepung Randika, satu per satu mulai menyerangnya dengan tangan kosong. Jeritan tragis mereka mulai menggema di telinga Yosua, para polisi ini tidak berdaya di hadapan Randika. Randika sendiri tidak segan-segan menahan kekuatannya. Karena mereka semua adalah polisi korup sewaan Yosua, Randika harus menegaskan bahwa mereka tidak bisa macam-macam dengan dirinya. Di hadapan kekuatan absolut, mereka harus tunduk atau dipaksa tunduk. Melihat pembantaian yang dilakukan Randika, Yosua dengan cepat mengambil handphonenya. Namun, handphone tersebut jatuh karena tangannya tidak bisa berhenti gemetar. Ketika Yosua berusaha mengambilnya dan meminta bantuan, kaki Randika sudah berada di samping handphonenya. Secepat itu!? Yosua menelan ludahnya dan mengangkat wajahnya yang sudah pucat pasi itu. Pemandangan di depannya benar-benar mengenaskan. Seluruh polisi terkapar di lantai dan muka senyum Randika sedang menatapnya. "Hm? Mau nelepon siapa?" Randika mengambil handphone milik Yosua itu dan melihat nama dari nomor yang mau dia panggil. "Kepala polisi?" Randika terkejut kemudian menghela napas. "Kenalan Tuan Yosua memang benar-benar luar biasa. Apakah dia harus tunduk padamu juga seperti orang lain?" "Aku cuma salah pencet." Pada saat ini Yosua sudah hampir mati ketakutan. Randika memberikan handphonenya dan mengatakan. "Tidak apa-apa, telepon saja dia." "Ah?" Yosua terkejut mendengarnya. "Aku ingin kau meneleponnya, aku ingin tahu berapa banyak orang yang akan dikirimnya lagi." Randika lalu berkata dengan santai. "Kalau kau tidak mau meneleponnya, kau akan mati sekarang." Mendengar ancaman Randika, Yosua tidak berani untuk membantah. Orang ini benar-benar dewa kematian, benar-benar menakutkan! Setelah berhasil menelepon temannya itu, Yosua dengan gemetar mengatakan. "Tolong kirimkan orang lagi." "Aku sudah mengirimkanmu 15 orang bersenjata lengkap, masa kurang?" Suara di balik telepon itu terdengar tidak puas. "Semuanya sudah kalah." Yosua sudah ingin menangis ketika mengatakannya. Bahkan temannya ini mengirimkan 100 orang pun rasanya sudah percuma. "Mustahil!" "Hei, bawahanmu ini sudah terkapar dan sekarat di hadapanku." Kali ini Randika yang berbicara. "Aku tidak tahu siapa namamu tapi, jika kau tidak segera menyelamatkan mereka aku rasa sudah terlambat untuk membawanya ke rumah sakit." Lalu Randika dengan cepat menutup teleponnya. Yosua lalu menangkap handphone miliknya yang dilempar oleh Randika. Dia lalu menelan ludahnya dan dengan suara pelan bertanya. "Bolehkah aku pergi sekarang?" "Pergi?" Randika lalu tersenyum. "Mau pergi ke mana memangnya kau?" Randika menatap Yosua yang tersandung itu, dengan tatapan dingin Randika mengatakan. "Aku belum selesai denganmu, ngapain kamu buru-buru ingin pergi seperti ini?" Yosua menggigil ketakutan dan mengatakan. "Aku sudah menurutimu, sekarang biarkan aku pergi!" "Eh? Memangnya aku mengatakan kau boleh pergi setelah menelepon?" Randika lalu dengan keras menginjak kaki Yosua. KRAK! Suara tulang patah terdengar dengan jelas, dalam sekejap Yosua merasakan rasa sakit yang luar biasa pada kakinya. Kali ini Randika harus memberi kesan yang mendalam pada Yosua. Kakinya yang patah itu benar-benar dia remukan, sudah sangat susah disembuhkan bahkan dengan bantuan dokter ahli sekalipun. "Hahaha, kau suka hadiah dariku ini?" Randika menjongkok dan tersenyum. "Mana mungkin aku menyukainya!" Wajah Yosua sudah penuh dengan keringat. "Kalau begitu, mungkin kau akan suka dengan hadiahku untuk tangan kananmu?" Randika memegangi tangan kanan Yosua dengan erat. "Tolong ampuni aku." Mendengar ancaman Randika itu, Yosua benar-benar ketakutan. "Hahaha baiklah, karena aku orang yang murah hati maka aku tidak akan melakukannya." Kata Randika dengan santai. "Sekarang, aku ada urusan lain di bawah. Jadi mari kita ke bawah bersama-sama." Randika lalu menyeret Yosua yang kakinya patah itu ke dalam lift. Chapter 103: Kekacauan di Depan Hotel Melati (1) Tidak lama kemudian di lantai paling bawah dari Hotel Melati. Suara sirine polisi bisa terdengar sangat keras, belasan mobil polisi memadati hotel bintang 5 ini. Para pejalan kaki dan para tamu terkejut, apakah ada penggerebekan teroris? Kali ini bantuan yang dikerahkan untuk menyelamatkan Yosua bukan main-main, hampir 20 mobil polisi yang mengepung jalan masuk dan keluar Hotel Melati. Meskipun sudah mengetahui situasi yang terjadi di lantai atas hotel mereka, si resepsionis hotel tidak menyangka bahwa polisi akan mengerahkan pasukan sebanyak ini. Seluruh orang mulai turun dari mobil mereka, lengkap dengan baju pelindung dan senapan serbu mereka. Mereka telah mengepung seluruh gedung ini dengan sempurna. Kenalan Yosua yang merupakan kepala polisi itu, Gunawan, turun dari mobil mewahnya. Dia memandangi hotel ini dengan muka dinginnya. Ketika dia ingin mengarahkan bawahannya untuk segera masuk, terlihat orang yang sedang menyeret kakinya keluar dari pintu depan. "Sudah kubilang, tidak ada orang yang keluar ataupun yang masuk sebelum kita memeriksa seluruh orang yang ada di hotel itu!" Gunawan benar-benar dalam keadaan murka. "Ini akuˇ­." Kata Yosua sambil tertatih-tatih. "Ah! Tuan Yosua, keadaan Anda terlihat sangat buruk!" Gunawan benar-benar terkejut ketika melihatnya. "Siapa yang melakukan ini? Bagaimana dengan anak buahku?" "Mereka semua ada di atas." Tatapan mata Yosua masih terlihat tanda-tanda ngeri ketika dia mengingat kejadian tadi. "Lalu siapa yang bertanggung jawab atas kejadian ini? Berapa orang mereka?" Tanya Gunawan dengan nada cemas. "Diaˇ­ seorang diri." Yosua tersenyum pahit. "Anak buahmu hanya pingsan, tinggal bawa mereka ke rumah sakit dan mereka akan baik-baik saja." "Cuma satu?" Gunawan terkejut ketika mendengarnya. "Aku mengirimmu 15 orang bersenjata lengkap dan mereka semua dikalahkan oleh satu orang?" "Kau pikir aku bercanda? Kau harus menyelesaikan masalah ini dengan benar untukku!" Kata Yosua dengan nada serius. "Jangan khawatir, mau dia sehebat apa pun, dia tidak akan bisa mengalahkan orang sebanyak ini." Gunawan lalu berteriak pada anak buahnya. "Semuanya bersiap!" KLIK! Semua senjata para polisi ini sudah siap dan beberapa membawa tameng yang cukup besar sampai-sampai menutupi seluruh badannya. Seluruh orang yang melihat kejadian ini sudah mengira ada teroris di hotel tersebut. Kejadian yang unik untuk kota yang biasanya damai ini. Namun, terdengar suara orang berteriak cukup keras dari pintu masuk hotel tersebut. "Kenapa kalian lama sekali datangnya?" Gunawan dan para polisi terkejut. Mereka sudah menginstruksi para staff hotel untuk menyuruh para tamu tetap diam di kamarnya. Dan sekarang, ada seseorang yang dengan santainya keluar dan menyapa mereka? Yosua menatap orang tersebut dengan perasaan ngeri bercampur benci. "Apakah itu orangnya?" Gunawan dengan cepat bertanya. Yosua hanya mengangguk pelan. Gunawan lalu mengambil megafon dan mengatakan. ???Diam di tempat! Kau sudah terkepung dan bersalah atas penyerangan terhadap petugas aparat hukum." "Hei itu bukan salahku tahu!" Randika menggelengkan kepalanya. "Kalian yang mendatangiku cuma karena disuap oleh orang di sampingmu itu." "Atas dasar apa kau berkata seperti itu?" Gunawan mengerutkan dahinya. "Fakta bahwa kau telah menyerang polisi sudah tidak terbantahkan, kau tetap akan kami bawa." "Buat apa kalian membawaku?" Randika dengan cepat memeriksa keadaan. Dia melihat ada sekitar 20 mobil polisi dan setiap orangnya membawa senapan serbu. Mereka semua berlindung di balik mobil mereka dan semuanya membidik tepat ke arahnya. "Untuk mempertanggung jawabkan atas aksi biadabmu!" Kata Gunawan dengan dingin. Selama dia berhasil membawa Randika, maka dia bisa memanipulasi informasi dengan mengatakan bahwa dia adalah teroris. Randika juga tahu bahwa jika apabila dia tertangkap, tuduhan-tuduhan palsu akan melayang pada dirinya. Bisa-bisa dia tidak akan melihat matahari lagi. "Maaf, aku alergi dengan kantor polisi." Kata Randika sambil tersenyum. "Lagipula, kau tidak ingin kantormu yang busuk itu hancur karenaku kan? Kalau begitu lebih baik kita bicara di sini." "Kau tidak bisa menolak!" Bentak Gunawan. "Bukankah aku punya hak?" Randika tetap terlihat tenang. Dia perlahan-lahan menghampiri Gunawan. "Apakah kau sendiri yang akan memaksaku pergi?" "Cukup! Jangan bergerak lagi!" Gunawan sudah membanting megafonnya dan membidik pistolnya ke arah Randika. "Oh? Yosua belum menceritakan tentang diriku?" Randika lumayan terkejut. Tatapan matanya sekarang mengarah pada Yosua. "Cerita tentang apa?" Gunawan mengerutkan dahinya. Yosua dengan cepat mengatakan. "Kemampuan bela diri orang itu sangat menakutkan, anak buahmu harus waspada!" "Cuma itu?" Gunawan menyeringai. "Aku sudah membunuh ratusan penjahat yang lebih kejam daripada bocah itu!" "Tangkap dia!" Gunawan segera memberi sinyal pada anak buahnya, nampaknya dia ingin menangkap Randika hidup-hidup. Randika sudah menguap karena bosan. "Bukannya aku sudah bilang agar kita berbicara baik-baik saja? Belum terlambat jika kau ingin mundur dari sini, aku sedang tidak ingin menghajar kalian." Melihat tatapan meremehkan Randika, Gunawan tertawa keras. Dia sudah tidak sabar ikut menyiksa bocah itu. Tetapi, dari belakang Randika terdengar suara perempuan. "Sedang apa kalian?" Suara itu terdengar dingin dan tegas, tapi bagi Randika suara itu sangat familiar baginya. "Turunkan senjata kalian!" Perempuan itu dengan cepat menyuruh mereka menurunkan senjatanya. Gunawan dan Yosua terkejut, memangnya siapa orang itu? Gunawan yang melihat perempuan muda itu hanya tertawa. "Memangnya siapa kamu sampai berani memerintahku? Aku adalah kepala polisi kota ini, apa kau pikir aku akan tunduk pada seorang wanita?" "Cukup satu telepon maka aku bisa menggulingkanmu dengan mudah." Kata perempuan tersebut dengan santai. Lalu, dia mengirim pesan pada handphone Gunawan yang berisikan data-data yang dapat menjatuhkan dirinya dari posisinya yang sekarang ini. Gunawan yang melihat hal tersebut terkejut bukan main dan merinding. Yosua yang juga ikut melihat menjadi linglung. Kenapa transaksi gelapnya dengan Gunawan bisa terungkap begitu mudah? "Semuanya, turunkan senjata kalian!" Gunawan berteriak dengan sepenuh hati, dia tidak punya pilihan selain menuruti perempuan tersebut. Randika menoleh dan dugaannya benar, perempuan ini mungkin sudah terpesona dengan dirinya sampai-sampai bisa muncul di kota ini. "Kok bisa kamu buat masalah sampai ke kota lain?" Elva menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak habis pikir, setiap kali dia bertemu dengan pria ini ada saja masalahnya. "Aku hanya sedang lewat hehehe." Kata Randika sambil tersenyum. Elva lalu berjalan melewati Randika. "Eh! Mau ke mana kamu?" Randika dengan cepat mencegat Elva. "Kenapa buru-buru? Lebih baik kita pergi dari sini dan makan malam bersama." "Huh! Aku tidak mau satu ruangan denganmu." Elva malas berurusan dengan Randika. Setiap kali dia bertemu dengan pria ini, dirinya selalu mendapatkan pengalaman buruk. Hal ini sudah sangat melekat di benak Elva, pria ini jelmaan dewa mesum! "Ckckck, padahal aku sudah menyelamatkanmu sebelumnya." Randika menghela napas. "Aku hanya meminta kita pergi makan bersama saja sebagai imbalannya." "Dengan campur tanganku ini, hutangku sudah lunas." "Tidak! Aku tidak minta bantuanmu." Randika dengan cepat protes. Elva lalu mengabaikan Randika dan, di bawah tatapan para polisi, dia menghampiri Gunawan lalu mengatakan. "Ikuti aku." Chapter 104: Kekacauan di Depan Hotel Melati (2) Gunawan sudah berkeringat dingin, dia sama sekali tidak tahu identitas perempuan ini. Tapi dari gelagatnya, orang ini bukan orang sembarangan. Yosua menatap perempuan itu dengan gugup, dia tidak tahu harus berbuat apa. Elva lalu membawa Gunawan ke pojokan dan mengeluarkan sebuah token dari balik saku bajunya. Tiba-tiba, wajah Gunawan dengan cepat menjadi pucat dan tegang. "Maafkan aku, aku tidak tahu bahwa Anda berada di kota ini." Dengan cepat Gunawan menundukan kepalanya. Perempuan ini adalah salah satu anggota dari organisasi paling misterius di dalam negeri, dia benar-benar tidak beruntung bisa bertemu dengannya. Sebagai salah satu pentolan di dunia kepolisian, Gunawan mengetahui bahwa ada sebuah organisasi misterius yang berjalan di negara ini. Semua anggotanya adalah yang terbaik dari yang terbaik dan mereka bagaikan hantu. Tidak ada yang tahu tugas maupun keberadaan mereka. Tetapi yang dia tahu adalah tiap anggota organisasi tersebut memiliki hak istimewa yang mutlak. Kata-kata yang keluar dari mereka sama beratnya dengan presiden. "Aku tidak peduli masalahmu apa dengan orang itu tetapi aku ingin kau tidak menyentuh orang itu sama sekali." Elva mengambil kembali tokennya. "Jika kau menyentuh ujung baju orang itu, aku akan menguburmu dalam-dalam. Paham?" "Saya paham." Gunawan terus menundukan kepalanya. "Jangan pikir kita tidak tahu transaksi gelapmu selama ini, jika aku mau kau bisa mendekam di penjara detik ini juga." Mendengar hal ini, wajah Gunawan dengan cepat menjadi pucat. Ancaman perempuan ini benar-benar nyata. Dikatakan bahwa anggota Arwah Garuda sudah dilatih untuk unggul dalam semua kemampuan, bahkan ada desas-desus bahwa mereka bisa mengetahui apa yang kau cari di internet bertahun-tahun yang lalu. Tetapi di dalam hatinya Gunawan bernapas lega. Untuk sekarang belum ada aksi sama sekali yang memberatkan dirinya yang berarti masih ada ruang untuknya untuk berbenah diri. "Lagipula," Elva lalu menatap Randika dan menoleh kembali. "jika kalian terbunuh barusan, berita kalian terbunuh sama sekali tidak akan keluar. Kau paham maksudku?" "Iya." Berarti jika tadi semua bawahannya dan dirinya terbunuh, Randika tidak akan terkena konsekuensi hukum apa pun. Malahan dirinya bisa diberitakan kabur membawa seluruh uang kotornya selama ini. Inilah keuntungan dari manipulasi berita dan menjadi anggota Arwah Garuda. "Baiklah, kau seharusnya sudah mengerti apa yang harus kau lakukan setelah ini." Elva lalu meninggal Gunawan yang masih menundukan kepalanya itu. Dengan cepat, sosok Elva menghilang dari lokasi. Wajah Gunawan sudah kembali memiliki warna. Mungkin, dia telah selamat dari kejadian yang bisa menghancurkan hidupnya. Ketika dia berjalan kembali ke Yosua, Yosua bertanya. "Siapa perempuan itu?" "Jangan menanyakan hal yang tidak ingin kau ketahui." Gunawan menatap tajam Yosua kemudian menghampiri Randika sambil mencopot topinya. Melihat kepala polisi itu mendekat, Randika dengan santai mengatakan. "Jadi masih perlu aku datang ke kantormu?" "Hahaha tadi aku bercanda." Gunawan tersenyum pahit. "Aku benar-benar minta maaf. Aku ini orang bodoh jadi sering melakukan kesalahan seperti ini." Randika tertawa puas di dalam hatinya. Elva benar-benar membantunya hari ini. "Aduh jangan begitu, lagipula aku dengan kantor polisi di kota Merak punya gedung yang megah. Aku ingin melihatnya." Goda Randika. "Bangunan kami sempit dan kotor, orang hebat seperti Anda pasti merasa kotor di sana." Gunawan sudah ingin menangis, pertama kalinya dia menunduk serendah ini ke orang. Terlebih lagi, perempuan tadi mengatakan bahwa jika dia menyentuh ujung baju orang ini maka transaksi gelapnya selama ini akan terkuak pada publik. Jadi candaan Randika barusan ini benar-benar tidak lucu baginya. "Aduh bapak ini ngomong apa? Sudah jelas bawahan bapak di atas itu terluka gara-gara saya. Sudah tangkap saja aku sekarang, aku bertanggung jawab atas aksi cerobohku itu." Gunawan benar-benar lupa akan hal tersebut. Orang ini benar-benar tahu cara merendahkan orang! "Hahaha semua anak buahku itu terpeleset hingga pingsan, ini bukan salah siapa-siapa." Kata Gunawan sambil tersenyum. "Aku akan menegur mereka agar berhati-hati lain kali." "Bukannya tadi kau mengatakan bahwa itu salahku? Semuanya pasti mendengarnya dengan jelas lewat megafonmu itu." Wajah Gunawan benar-benar putih ketika mendengarnya. "Sudahlah pak, aku mengaku bahwa semua itu adalah salahku. Tidak baik melanggar hukum itu, aku harus dibawa ke pengadilan." Kata Randika sok bijak. Namun, semakin Randika berbicara semakin Gunawan ingin menangis. Dia berharap orang ini segera pergi, hati tuanya ini sudah tidak tahan. "Itu semua hanyalah salah paham. Mana mungkin orang baik seperti Anda melukai polisi? Semua itu hanyalah salah paham!" Gunawan sudah tidak tahu berapa ember keringatnya ini merembes keluar. Harapan satu-satunya adalah orang ini segera melepaskan dirinya. Tangan Gunawan benar-benar terikat, dia tidak bisa menyentuh orang ini sama sekali. "Berarti bukan aku yang melukai mereka hingga pingsan? Apakah aku tidak salah dengar barusan?" Randika pura-pura bingung, tetapi dalam hatinya dia tersenyum lebar. "Tidak, tidak, tidak. Aku bersumpah atas namaku." Gunawan dengan cepat menjawab. "Anda adalah warga negara yang baik dan merupakan tugas kami untuk melindungimu." "Terus buat apa kau memanggil semua orang ke sini?" Randika menoleh ke arah polisi yang masih berwajah tegang itu. "Hahaha mereka semua terkejut ketika mendengar temannya itu terpeleset hingga pingsan, mereka buru-buru ke sini untuk menengok mereka." Kata Gunawan sambil tersenyum. "Kau memang punya wajah yang tebal, aku suka." Kata Randika sambil tertawa. Ketika Randika tertawa, Gunawan ikut tertawa. Selama pihak lain senang, aku juga ikut senang. "Kalau begitu, apakah aku bolehˇ­." Gunawan bertanya dengan hati-hati. "Iya, pergilah. Aku sudah puas." Randika mengibaskan tangannya. Ketika Gunawan baru melangkah sekali, Randika berteriak padanya. "Tunggu!" Ya Tuhan, salah apa hambamu ini? Ketika menoleh, Gunawan sudah memasang topengnya. "Tidak usah tegang seperti itu. Aku hanya ingin mengingatkan, selama aku di kota ini, aku tidak ingin diganggu sama sekali." Kata Randika. "Jangan khawatir, siapapun yang berani mengganggumu maka dia adalah musuh dari seluruh kepolisian kota ini!" Gunawan dengan cepat menunduk hormat. Gunawan lalu berbalik dan meninggalkan Randika. Dia sudah tidak bisa membedakan celananya yang basah itu karena keringat atau dia sedikit mengompol. "Gun, apa-apaan tadi itu?" Yosua segera menghampiri temannya itu. Ketika dia melihat Gunawan menunduk pada Randika, dia merasakan firasat buruk. Apa Randika mempunyai teman di kepolisian yang lebih kuat? Oleh karena itu, Yosua harus memastikan apa yang sebenarnya terjadi. "Jangan pernah mengontakku lagi." Gunawan lalu mendorong Yosua, orang yang hampir menjatuhkan dirinya dari singgasananya. Dia lalu menambahkan. "Lain kali, jika kau ingin mati jangan bawa-bawa aku!" Gunawan lalu meninggalkannya dan menyuruh anak buahnya membawa teman-temannya yang pingsan di lantai 9 itu. Ketika mendengar respon tersebut, Yosua benar-benar terkejut. Bisa dikatakan bahwa selama ini dia bekerja sama dengan Gunawan untuk menguasai kota Merak ini baik luar maupun bagian dalamnya. Terlebih, dari Gunawan lah Yosua bisa mengetahui banyak hal. Bisa dipastikan bahwa perempuan sebelumnya itu telah mengatakan sesuatu pada Gunawan. Karena setelahnya, perilaku Gunawan langsung berubah drastis. Lawannya kali ini benar-benar mengalahkannya! Yosua tidak berani menoleh ke arah setan yang membuatnya menjadi seperti ini. Seluruh tubuhnya sudah lemas, dia benar-benar sama sekali tidak bisa berjalan. Tetapi, suara Randika memecah keheningan. "Wah Tuan Yosua belum pulang?" Wajah Yosua itu sudah tidak berbentuk, wajahnya benar-benar buruk rupa. "Kalau begitu, ada hal yang ingin kubicarakan dengan Tuan Yosua sebelum Anda pergi." Kata Randika sambil menghampirinya. "Apa itu?" Kata Yosua sambil pura-pura tenang. "Begini, hari ini kedua perusahaan kita baru saja menandatangani kontrak kerja sama." Sambil menyeringai Randika mengatakan. "Aku tidak tahu apakah kontrak itu sah atau tidak?" "Sah! Sah!" Kata Yosua dengan cepat. "Apakah masih ada syarat tambahannya?" Tanya Randika dengan nada dingin. "Tentu saja tidak!" Keringat dingin mulai mengucur kembali. "Kalau begitu, kalau aku ingin menambahkan syarat tambahan bagaimana?" "Silahkan tambahkan, aku akan menuruti seluruh isi kontrak itu." Yosua dengan cepat menjawab. "Hahaha, Anda memang pebisnis yang murah hati yang pernah kutemui." Kata Randika sambil tertawa, lalu dia meraih pundak Yosua dan berbisik padanya. "Mohon bantuannya." "Sama-sama." Kata Yosua sambil gemetaran. "Kalau begitu, sampai kita bertemu lagi." Randika lalu menepuk punggung Yosua dan pergi. Yosua tersenyum pahit dalam hatinya. Apanya yang bekerja sama? Ini jelas-jelas pemerasan! "Oh ya, omong-omong aku tidak punya cukup uang untuk mengganti kerusakan di hotel tadi." Randika menoleh kembali ke Yosua. "Jangan khawatir, aku yang akan membayarnya." Kata Yosua dengan cepat. Randika hanya mengangguk puas. Setelah menyelesaikan ini semua, Randika naik lift dan kembali ke kamarnya. Dia melihat Inggrid sedang berlutut dan berdoa. "Sayang, sedang apa kamu?" Kata Randika dengan suara pelan. "Randika!" Melihat Randika yang tidak terluka, Inggrid meneteskan air mata. "Hahaha apakah kau pikir aku akan meninggalkanmu?" Mungkin ini adalah senyuman terhangat selama hidupnya. Inggrid lalu mengusap air matanya. "Habis, aku pikir kau terluka parah." "Sudahlah, kalau kau ingin memelukku jangan sungkan. Aku tahu kau mencintaiku jadi jangan sungkan untuk bermanja-manja di depan suamimu ini." Dalam sekejap, suasana haru ini menjadi rusak oleh candaan Randika itu. Inggrid dengan cepat memalingkan wajahnya yang cemberut. "Hahaha masih saja tidak mau jujur. Oh ya, kontrakmu sudah terjamin jadi kau tidak perlu khawatir. Bahkan kau bisa mengubahnya kalau kau merasa kurang menguntungkan. Jadi bagaimana kalau besok kita bermain dan menikmati kota ini bersama-sama?" Kata Randika sambil tersenyum. Mendengar kata-kata Randika itu, Inggrid senang bukan main dan mengiyakan saran Randika. Chapter 105: Perampokan Keesokan harinya Randika dan Inggrid pergi jalan-jalan bersama. Ketika kontrak kerja sama itu telah selesai, Inggrid terlihat lebih santai dan senang. Randika tentu saja menikmati momen kebersamaan dengan istrinya itu. Mereka berbelanja, makan makanan enak bahkan dia sempat menggandeng tangannya! Benar-benar suasana yang menyenangkan. "Sayang, coba kamu cicipi ini." "Wah kamu cantik sekali pakai baju itu." "Sini tanganmu, aku tidak ingin kau jauh dariku." ...... Kedua orang ini sudah bagaikan pasangan yang jatuh cinta, Inggrid tidak menolak sama sekali dan merasa bahwa Randika yang perhatian seperti ini tidaklah buruk. Puncaknya adalah mereka bergandengan tangan dan kata-kata Randika yang terdengar romantis itu, wajahnya benar-benar merah karena malu. Keduanya menikmati waktu yang seakan abadi itu, keduanya menyukai perasaan ini. Namun, tidak jauh di depan mereka terlihat sebuah kerumunan yang benar-benar ribut. Dari suara-suara yang terdengar, suara orang mengamuk paling keras terdengar. Tiba-tiba Randika merasa penasaran. Di antara kerumunan orang tersebut, Rangga, yang sebelumnya merupakan wakil dari Riko, sedang memegang sebuah pisau. "Kau tahu siapa yang menguasai kota ini dari balik layar?" Rangga benar-benar besar kepala setelah mengambil posisi Riko sebagai kepala gangster. "Aku beritahu ya, orang itu adalah aku! Semua preman di kota ini akan menunduk padaku jika melihat aku." "Maaf pak maaf." Pejalan kaki yang dikerubungi oleh para preman ini sudah menciut tidak karuan. Dia terus-terusan menundukan kepalanya, tidak berani memandang sama sekali. "Aku benar-benar tidak sengaja menabrakmu." "Siapa suruh kamu menjawab aku!" Rangga menempelkan pisaunya di leher orang tersebut. "Apakah aku menyuruhmu untuk berbicara?" Orang ini sudah hampir mengompol, dia hanyalah pegawai toko dari toko kecil. "Hah? Lihat apa kalian? Mau kubunuh juga?" Kata salah satu bawahan Rangga pada para pejalan kaki yang berhenti dan menatap mereka. Aura yang dipancarkan para gangster ini benar-benar mengintimidasi. Semua orang memalingkan wajah mereka dan berjalan kembali. Meskipun mereka ingin menolong orang tersebut, itu tetap tidak sepadan dengan merelakan nyawa mereka. Manusia memang makhluk egois. Melihat gertakan mereka berhasil, para gangster ini makin besar kepala. Rangga lalu menatap mangsanya sekali lagi dan berkata dengan nada mengancam. "Jadi, bagaimana kau akan menebus kesalahanmu itu?" "...ˇ­" Orang ini benar-benar tidak tahu harus berkata apa, untuk makan saja dia sudah kesusahan. "Sekarang kau malah jadi bisu?" Rangga meludahi sepatu orang tersebut. Perasaan kesal Rangga ini disebabkan oleh kematian sosok pemimpinnya yaitu Riko. Sekarang, setelah membayar para polisi agar semua anggotanya bisa berjalan bebas lagi, Rangga dan kelompoknya benar-benar kehabisan uang. Ini sama saja harus mengulang dari awal. Tetapi, sosok seperti setan yang membunuh Riko itu tetap melekat di benaknya. Dia bersyukur waktu itu pura-pura pingsan setelah melihat anggotanya yang lain itu dihajar babak belur. Mengingat sosok Randika tersebut, Rangga semakin kesal dan menendang mangsanya itu. Dengan cepat, orang tersebut merintih kesakitan. "Baiklah, baiklah, aku akan menuruti apa maumu." Orang ini sudah benar-benar takut. "Pilih aku menghajarmu sampai mati atau berikan seluruh uangmu dan aku mungkin akan melepaskanmu?" Rangga ingin melampiaskan kekesalannya ini ke suatu tempat. Orang ini dengan cepat merogoh celananya. Lalu dengan wajah pucat, dia mengeluarkan uangnya satu-satunya yaitu 10 ribu. Orang ini menelan ludahnya dan merasa bahwa ini adalah akhir dari dirinya. Dia hanya menatap Rangga dan menyerahkan uangnya itu. "Tidak punya dompet?" "Aku tidak punya!" Orang ini sudah ingin menangis, daripada dompet dia lebih memilih beli beras. "Kalau begitu, aku akan memotong tanganmu itu." Rangga dengan cepat mengeluarkan pisaunya lagi dan mengangkat tinggi, berusaha menggertak. "Aku bersumpah aku tidak punya dompet!" Orang tersebut segera panik. "Geledah dia!" Kata Rangga pada bawahannya. Dengan cepat dua bawahannya itu menggeledah seluruh tubuh orang tersebut dan masih tidak dapat menemukan apa-apa. Sialan, mangsanya kali ini miskin! Rangga benar-benar menjadi kesal, akhir-akhir ini nasibnya sial terus. Pada saat ini, seseorang mendekati mereka dan menyapa mereka. Salah satu preman langsung membentak orang itu dengan nada tinggi. "Mau apa kau bajingˇ­.." Setelah mengamati satu sama lain, suara yang keras itu perlahan menjadi pelan dan tak terdengar lagi. Melihat sosok Randika, semua preman ini nyalinya menciut dan tanpa sadar melangkah mundur membuat jalan bagi Randika dan meninggalkan Rangga pemimpin baru mereka. Tangan kokoh Randika dengan santai berada di pundak Rangga. "Sudah kubilang, jangan pernah sentuh aku dari belakang!" Rangga langsung menipis tangan yang ada di pundaknya itu dan menoleh dengan muka sangarnya. Randika hanya berdiri di situ sambil menyeringai. SIALAN! Rangga sudah gemetar ketakutan, si setan ini muncul kembali? Apakah ini mimpi? Rangga menggosok matanya kuat-kuat, sosok setan yang menghancurkan kelompoknya ini tidak menghilang dari hadapannya. "Hahaha aku pasti lagi di dunia mimpi." Rangga lalu berbalik dan mengendap-endap pergi. "Kalau begitu aku akan berlarian mencari cewek." Namun, suara Randika yang tenang itu membuatnya berhenti melangkah. "Siapa suruh kamu pergi?" Mendengar hal tersebut, Rangga tidak berani melangkah lagi. Dia lalu menoleh dan berkata dengan kaki gemetar. "Wah kakak tertua sedang belanja?" "Siapa yang kakak tertuamu?" Randika lalu berkata dengan santai. "Dan kalian semua, siapa yang menyuruh kalian memencar seperti itu? Berdiri semua di depanku sekarang. Dalam sekejap, semua preman dan Rangga berbaris dengan rapi menghadap Randika. Mereka sudah bagaikan mengikuti upacara. Randika lalu menatap Rangga yang menurutnya merupakan ketua yang baru. Senyuman Randika sudah mengatakan segalanya. Melihat senyuman itu, Rangga hanya merinding dan mengerti maksudnya. Kemudian dia merogoh saku celananya dan cuma ada 500 ribu. "Kak, tolong lepaskan kami." Wajah Rangga sudah sangat jelek. "Kami berjanji kita tidak akan bertemu lagi." "Ha? Kalian tidak ingin bertemu denganku gitu maksudmu?" Kata Randika. "Padahal aku menyukai setoran uang kalian lho." Orang yang ditolong Randika itu kebingungan, para preman itu terlihat sedang dirampok oleh orang di depannya itu. Semua preman ini sudah ingin menangis ketika mendengarnya. Sekarang lagi-lagi mereka harus menyerahkan uangnya pada pria ini dan kalau mereka bertemu lagi nantinya maka mereka harus membayar lagi. "Ayo cepat, aku tidak punya banyak waktu hari ini." Kata Randika. Muka Rangga penuh dengan ekspresi kesal, takut dan sedih. Sejak kapan kepercayaan dirinya menjadi serendah ini? Tetapi ketika melihat senyum Randika, seluruh tubuhnya gemetar dan nyalinya menjadi ciut. Dengan gemetaran, tangan kanannya meraih dompetnya. "Ini kak, semua uang kita ada di situ." Secercah ketakutan melintas di mata Rangga ketika menyerahkan dompetnya. Randia mengambilnya, mengeluarkan semua uangnya dan berteriak pada orang yang ditodong tadi. Orang tersebut menghampiri Randika dan menerima uang tersebut. Orang itu terkejut dan Randika hanya berkata padanya dengan santai. "Anggap itu kompensansimu." Rangga yang melihat ini terkejut. Dia telah dirampok oleh Randika dan sekarang mangsanya tadi itu malah yang menerima uangnya? Orang tak bersalah itu menjadi senang ketika mendapatkan uang itu. Ketika melihat punggung Randika itu, tubuhnya ikut gemetaran. Namun, gemetaran itu bukan karena takut melainkan dia bersyukur mendapatkan uang itu karena bisa meringankan hidupnya beberapa hari ke depan. "Jangan khawatir, aku akan mematahkan kaki mereka satu per satu kalau mereka masih mengganggumu. Sekarang pergilah." Mendengar hal tersebut, orang itu langsung berlari dengan kantong penuh uang. Dalam benak para preman ini, mereka telah berpikir betapa kecilnya dunia ini karena mereka bisa bertemu dengan Randika. Mereka benar-benar tidak beruntung. "Ah kakˇ­" Rangga memecah keheningan. Randika mendengus dingin. "Apa? Kau tidak terima?" "Bukan, bukan." Rangga dengan cepat menjadi panik. Mau dia tidak menerima keputusan Randika pun, dia tidak bisa apa-apa. "Lho tidak apa-apa kalau kamu tidak terima, kamu bisa memukulku 2 kali." Kata Randika dengan nada serius. "Tidak! Aku tidak akan pernah selancang itu! Kami semua tunduk pada kakak tertua, percayalah pada kesetiaan kami." Rangga sudah ingin menangis, matanya sudah memerah. "Bagus, bagus, jadi kalian akan hidup dengan jujur setelah ini?" Randika menepuk pundak Rangga. "Kami akan hidup jujur mulai hari ini." Rangga sudah ingin meninggalkan tempat ini, tetapi tangan Randika mencegahnya untuk pergi. "Tetapi kata-kata saja tidak cukup menurutku. Bagaimana kalau kalian mengumumkan niat baik kalian ini pada orang-orang? Aku akan membantu kalian untuk memperbaiki citra kalian yang buruk itu." "Ah?" Semua preman terkejut mendengarnya. Uang kami sudah kau rampok dan sekarang kau ingin kami mempermalukan diri? Semua orang saling bertatap-tatapan dengan muka bingung. Mereka semua ini adalah preman, siapa yang mau menjalani hidup jujur? Tetapi, Rangga merasakan tatapan tajam Randika lalu dia berteriak pada para bawahannya. "Kalian semua, tiru kata-kataku!" Si bos sudah berkata dan para preman ini tidak punya pilihan. Mereka semua segera berteriak ''Mulai hari ini kami akan hidup jujur dan tidak akan pernah berbuat jahat lagi!'' Randika yang mendengarnya mengangguk puas dan berkata dengan santai. "Bagus, bagus, lebih sempurna lagi kalau kalian berteriak 5x lagi." Semua preman ini sudah ingin menangis, bahkan beberapa sudah meneteskan air mata. "Semua, tiru aku 5x lagi!" Rangga tidak punya pilihan selain menuruti Randika. Lalu, semua para preman ini sambil disaksikan orang banyak berteriak lagi. ''Mulai hari ini kami akan hidup jujur dan tidak akan pernah berbuat jahat lagi!'' Suara mereka sangat keras dan menghentikan laju para pejalan kaki yang melewati mereka. Para gangster itu masih sehat? Inggrid yang ada di sebelah Randika hanya bisa tertawa terus-menerus. Randika memang pintar membuat orang lain malu. Setelah 5x berteriak keras, Rangga menatap Randika dan berkata dengan suara pelan. "Bagaimana kak? Apakah kita sudah boleh pergi?" "Suara kalian tidak terdengar tulus." Randika mengerutkan dahinya. Dalam sekejap hati Randika menjadi panik, apakah mereka akan dihajar lagi? "Tapiˇ­ yah bolehlah usaha kalian itu." Randika mengangguk puas. "Kalau begitu apakah kami boleh pergi?" Rangga tersenyum lebar, dia berharap Randika mau melepaskan mereka. "Pergilah." Randika mengibaskan tangannya dan mengatakan. "Aku akan tinggal di kota ini sebulan lagi, mungkin nanti kita akan bertemu lagi di lain kesempatan." Ketika Rangga mendengar hal ini, dia nyaris jatuh pingsan. Sebulan hidup di bawah ketakutan? Dia tidak yakin bisa melaluinya. Setelah para gangster itu pamit pulang, Inggrid tidak bisa berhenti tertawa. "Aku kadang heran, kau itu orang baik atau jahat." "Mereka lebih jahat dariku tahu." Randika lalu menghampiri Inggrid dan memeluknya di pinggangnya. Inggrid melototinya dan menghela napas. Karena Randika telah membantunya menyelesaikan kontrak dengan Yosua, Inggrid membiarkannya. Chapter 106: Truth or Dare? Setelah bersantai-santai hingga malam, Randika dan Inggrid akhirnya kembali ke kota Cendrawasih dengan penerbangan terakhir. Bisa dikatakan bahwa kunjungan bisnis kali ini benar-benar sukses. Kontrak yang dijalin dengan Yosua itu tidak perlu dikhawatirkan akan dilanggar. Dengan bantuan Randika, Yosua memenuhi semuanya yang tertera pada kontrak tersebut. Setelah turun dari pesawat, waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Kemudian mereka segera menuju rumah dengan banyak barang bawaan. Saat mereka masuk ke ruang tamu, mereka tidak menyangka akan disambut seperti itu. Suara musik yang keras, lampu yang berkedip-kedip dan banyak orang sedang menari-nari. Ada apa ini? Randika dan Inggrid hanya bisa melihat semua ini dengan mata terbelalak. Lampu ruang tamu ini telah diganti dengan lampu berkedip-kedip, banyak perempuan yang menari diiringi lagu yang menggelegar. Bahkan di antara mereka terlihat membawa gelas anggur bersama mereka. Suara orang tertawa, gerakan menari yang erotis, paha-paha yang mulus dan dada yang bergoyang-goyang membuat Randika menelan air liurnya. Mereka semua bagaikan supermodel! Pada saat ini, dua perempuan yang berdiri di dekat pintu masuk tertawa ketika melihat Randika dan Inggrid. Kemudian mereka menarik tangan Randika dan membawanya ke lantai dansa. "Jangan tegang begitu, menarilah bersamaku." Perempuan cantik ini terdengar mabuk, jelas dia sudah mabuk berat. Inggrid sudah tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa menghela napas. Adiknya Hannah itu pasti telah memanfaatkan kepergiannya untuk mengadakan pesta. "HANNAH!" Teriakan Inggrid benar-benar percuma, teriakannya itu kalah dengan suara musik. Inggrid lalu memutuskan untuk membawa barang-barangnya itu dan naik ke kamarnya. Dia akan memarahi Inggrid setelah semua ini selesai. Namun, Randika justru dioper-oper oleh para perempuan untuk menari dengan mereka semua. Jelas mereka semua ini sudah mabuk. Melihat perempuan yang pertama kali mengajaknya menari, Randika terpaku pada dadanya yang bundar dan menawan itu. Meskipun tidak besar, bentuknya sangat indah. "Kakak dari jurusan apa kamu?" Perempuan itu sempat menanyakan di tengah dansa mereka. Kakak? Jadi dirinya disangka sebagai salah satu murid? "Dari jurusan Bahasa." Kata Randika sambil tersenyum. "Apa kakak punya pacar?" Wajah perempuan itu sudah merah, entah karena mabuk atau malu sudah bertanya. Randika menyukai orang mabuk seperti ini, inilah saat-saat orang akan jujur pada diri mereka sendiri. Ketika Randika ingin menjawab, perempuan itu memeluknya dan mengelus dadanya. "Wahˇ­ otot dada kakak keras sekali." Jari-jemari perempuan tersebut berenang-renang di dada Randika. Randika lalu menatap mata perempuan tersebut, tatapan matanya seperti serigala yang telah menemukan makan malamnya hari ini. Apakah dirinya akan ''dimakan''? Namun, di saat Randika masih berkhayal, terdengar suara ngorok dari bawah. Ternyata perempuan itu tertidur! Randika yang menghela napas itu lalu membawa perempuan di pelukannya ini ke sofa. Pupus sudah harapannya untuk bersenang-senang hari ini. Randika bukan orang yang memanfaatkan kesempatan seperti ini untuk mencari keuntungan, inilah sifat jentelmen sejati! "Feli!" Kedua teman dari Feli itu terkejut ketika dia dibawa oleh seorang pria. Mereka lalu menidurkan Feli di sebuah sofa dan Randika menjelaskan semuanya. Lalu kedua temannya itu mengajak Randika meminum anggur yang ada untuk mengucapkan terima kasih. Mereka senang dengan sifat jentelmen Randika. Kegiatan pesta ini terus berlanjut, di lantai dansa semuanya makin menari dengan liar. Meskipun mayoritas semuanya adalah perempuan, masih ada laki-laki di antara mereka walaupun jumlahnya sedikit. Yang paling mencolok adalah pakaian yang dipakai para perempuan ini. Semua menggulung pakaiannya hingga pusarnya terlihat dan hotpants mereka menonjolkan kaki mulus mereka yang panjang. Melihat para perempuan muda ini membuat mata Randika puas melihatnya. Di sampingnya, beberapa perempuan sedang main "truth or dare." Mereka memakai kartu dan siapapun yang mendapat kartu joker akan ditanya truth or dare oleh peserta lain. "Hahaha Putri kau kalah! Cepat kamu pilih truth or dare?" Beberapa perempuan lainnya menjadi histeris. Perempuan bernama Putri itu terlihat ragu. "Aku pilih truth." "Baiklahˇ­" Temannya yang disampingnya itu menjadi bersemangat. Dia lalu menyuruh semuanya mendekat dan bertanya. "Putˇ­ malam itu, apakah kamu dan pacarmu melakukannya?" "Kyaaaa!" Semuanya menjadi histeris mendengarnya. "Malam yang mana?" Putri sepertinya punya kulit yang tebal, dia tetap tenang menghadapi mereka. "Kamu mengerti maksudku, jangan mengelak. Apakah kalian melakukannya?" Semua mata tertuju pada Putri. Di bawah tatapan tajam teman-temannya, wajah Putri menjadi merah dan dia mengangguk. Dalam sekejap teriakan histeris dan kaget terdengar keras. "Hei, hei, apakah tidak sakit?" Beberapa temannya ingin tahu lebih lanjut tetapi Putri dengan sigap menjawab. "Cuma satu pertanyaan." Dengan begitu mereka mulai bermain lagi. Randika masih duduk di tempatnya dan hanya tersenyum melihatnya. Ahˇ­ Masa muda memang harus begini. Namun, dari belakangnya terdengar suara yang familiar. "Kak, mau minum anggur?" Randika menoleh dan melihat Hannah memakai kostum kelinci dewasa berwarna hitam dengan stoking jala. Randika melongo melihat adik iparnya ini. Dadanya yang seakan mau tumpah itu dan kaki putihnya yang panjang itu kontras dengan stokingnya. Dan belum lagi telinga kelinci yang dipakainya, membuat adik iparnya ini terlihat sexy! "Baiklah aku akan minum segelas." Randika lalu mengambil gelas dan tersenyum. "Aku tidak menyangka kau akan memakai baju senakal itu." "Eh, bukannya ini imut?" Hannah lalu berputar untuk memperlihatkan ekornya sambil tersenyum. "Imut sekali." Randika mengacungkan jempolnya. Duduk di sebelah Randika, Hannah tersenyum. "Kenapa kakak cepat sekali kembalinya? Bukannya harusnya 3 hari lagi ya?" "Pekerjaan kita cepat selesai kali ini jadi kami tidak ingin berlama-lama di sana." Randika bingung kenapa adiknya ini menanyakan hal ini di tengah pesta. "Kak Inggrid juga sudah pulang?" Mendengar hal ini Randika sudah bisa menebak alasannya, adik iparnya ini takut! "Kakakmu ada di kamarnya." Ekspresi Hannah menjadi sedikit panik. "Apa kak Inggrid terlihat marah?" "Aku rasa sedikit." Randika lalu tertawa melihat ekspresi Hannah yang panik itu. "Kak Randikaˇ­." Tiba-tiba Hannah tersenyum dan memeluk tangan Randika. Dengan ekspresi memelas dia berkata dengan nada lembut. "Kakak akan membantuku kan?" Sambil menikmati sensasi empuk itu, Randika mengelus kepala adiknya. "Tentu saja, serahkan ini padaku." "Hehehe aku tahu kakak adalah orang baik." Hannah tersenyum. Pada saat ini, ada seorang perempuan super cantik mendekati mereka berdua. Randika menoleh dan bertanya-tanya, ada masalah apa sekarang? Namun, kedua tangan Randika itu ditahan dan tanpa aba-aba, perempuan cantik itu mencium Randika. Iya, mencium! Kali ini bukanlah Randika yang memaksa namun dia yang dipaksa! Dalam sekejap, semua perempuan yang duduk di sekitar sofa tertawa dan bersemangat. Hannah pun juga ikut tertawa. Setelah berciuman panas melibatkan lidah, perempuan itu mengatakan. "Maaf, aku memilih dare." Kemudian dengan santai perempuan itu kembali ke teman-temannya. Randika berusaha terlihat tenang dan keren, dalam hatinya dia cuma berpikir. Tidak masalah kalau kau kalah taruhan, tapi kalau bisa jangan gigit bibirku itu! Randika lalu memegangi bibir bawahnya itu dan terlihat ada sedikit darah. "Han, cepat ke sini dan ikut bermain." Teriak salah satu perempuan. "Sebentar, tunggu aku!" Hannah dengan cepat menyeret Randika untuk ikut. "Wah, sejak kapan kau punya pacar setampan ini?" Semua temannya mulai bersemangat. Hannah cuma tertawa. "Sudah ayo cepat!" "Hahaha ada yang malu-malu nih cieee!" Setelah menambahkan 2 kartu, permainan truth or dare dimulai. Lalu setelah semua orang memilih kartu, Randika mendapatkan kartu joker. Sialan, kenapa dirinya begitu sial? "Truth or dare?" Tanya mereka semua. "Truth." Kata Randika tidak berdaya. "Oh, oh, aku punya pertanyaan bagus." Seorang perempuan lalu bertanya sambil menyeringai. "Seberapa panjang punyamu itu?" "Dasar mesum!" Teman-temannya itu tertawa mendengar pertanyaan tersebut. Mungkin cuma Hannah yang terlihat malu, perempuan-perempuan lainnya memang berani! Namun, dalam hati Hannah juga penasaran. Seberapa besar punya kakak iparnya itu? Randika hanya menggelengkan kepalanya, perempuan jaman sekarang pada sakit semua! Namun, Randika adalah orang yang kaya pengalaman, dia tidak akan tunduk pada generasi muda. Di bawah tatapan para serigala ini, Randika tersenyum dan berkata dengan santai. "Sebelum itu mengeras, kurasa 12 cm." "Hah! BOHONG!" Jelas semua yang mendengarnya tidak percaya. Hannah sendiri matanya sudah terbalalak ketika mendengarnya. "Percaya atau tidak terserah kalian, tapi kalau kalian mau mengecek silahkan saja." Randika lalu tertawa. Cara menghadapi orang seperti ini adalah menantang mereka maka mereka akan mundur dengan sendirinya. Sesuai dugaannya, setelah berkata seperti itu, para perempuan serigala ini segera menciut nyalinya dan hanya tertawa. Mereka tentu ingin mengecek tetapi tidak berani, semua sahabatnya ada di sini jadi mereka sungkan. Permainan kembali dimulai, kartu sudah diacak dan sekarang waktunya mereka mengambil. Semua membuka kartunya dan yang mendapat kartu joker adalahˇ­. Randika! Dengan cepat muka Randika menjadi muram, hari ini dia begitu sial. "Yeiii!" Semua perempuan itu bersemangat. "Truth or dare?" "Dare!" Randika sudah menggigit bibirnya sendiri dan mengatakan. "Kenapa aku begitu sial hari ini?" "Karena kamu memilih dareˇ­" Semua perempuan itu menatap satu sama lain lalu menatap Hannah. "Han, karena dia pacarmu, saatnya kamu menghukum dia." Hannah menatap Randika dan Randika menatap Hannah. Tatapan mata Hannah penuh dengan kejahilan dan akhirnya dia bisa menemukan momen balas dendamnya. Hannah lalu tersenyum dan berkata. "Serahkan tubuhmu itu untuk kita raba selama 15 menit." APA? Semua serigala itu berteriak histeris, Hannah telah menjual pacarnya sendiri! Randika hanya bisa tersenyum pahit dan membiarkan tubuhnya dipegang-pegang. "Ah baju ini menghalangi saja!" "Wah dadamu keras sekali!" "Pantatmu juga keras!" "Wah otot perutmu keras sekali!" "Wah..." ......... Para perempuan yang haus ini dengan cepat menjelajahi seluruh tubuhnya, mereka benar-benar tidak memberi ampun pada Randika. Hannah hanya melihat semua ini, dia tidak berani bertindak aneh-aneh pada kakak iparnya. Setelah 15 menit penuh pelecehan ini, Randika akhirnya bisa bernapas normal kembali. "Lagi!" Randika tidak terima dirinya yang kalah terus. Permainan truth or dare dimulai kembali. Setelah kartu dibagikan, saatnya penentuan. Wajah Randika segera menjadi pucat, dia benar-benar harus mandi 7 kembang. "Hahaha! Truth or dare?" Randika sudah ingin menangis mendengarnya. Chapter 107: Hanya Aku yang Bisa Menyembuhkan Dirimu Keesokan harinya. Randika terbangun dan menyadari bahwa dirinya tertidur di sofa. Semalam benar-benar gila, para perempuan itu mengajaknya bermain semalaman. Randika benar-benar mabuk dan pingsan. Di tengah ruangan, Hannah dan teman-temannya pada tidur di lantai dengan segala macam suara ngorok dan gaya tidur. Beberapa bahkan memeluk satu sama lain, terlihat sangat erotis. Bahkan di dada Randika ada seseorang yang tidur. Semalam memang benar-benar gila, setelah mereka bermain truth or dare, Randika dibawa ke lantai dansa dan menari sambil mabuk-mabukan. Yang terakhir mereka ingat hanyalah suara musik yang keras dan canda tawa mereka. Randika lalu memindahkan perempuan yang tidur di atasnya dan berdiri. Dia lalu melihat lautan manusia yang memenuhi lantai itu. "Gila, berapa banyak orang yang diundang Hannah?" Randika tersenyum pahit. Randika lalu menyadari bahwa Hannah lah yang tidur di atasnya tadi. "Hei bangun, ayo cepat bangun." Di bawah serangan guncangan Randika, Hannah akhirnya terbangun. Setelah menguap dan mengucek matanya, Hannah akhirnya tersadar. Pada saat ini, Ibu ipah berjalan ke ruang tamu dengan sapu di tangannya. Melihat anak-anak muda ini masih pada tidur, dia hanya bisa menghela napas. "Anak muda jaman sekarang memang mengecewakan, mau jadi apa negara ini." "Nak Randika, sarapan sudah siap. Tolong bawa nona muda untuk makan juga." "Ah Bu Ipah, sebelum itu kita harus membawa anak-anak ini pulang dulu." Randika lalu meminta Ibu Ipah menelepon bis sewaan dan membangunkan anak-anak ini. Satu per satu dari mereka mulai sadar. Para perempuan yang kemarin berpesta dengan liar sudah berganti menjadi perempuan feminim kembali. Mereka tersipu malu karena telah menunjukan diri mereka yang begitu liar kemarin malam. "Kak, tolong bantu aku antar mereka kembali dengan selamat." Kata Hannah sambil tersenyum. "Kau hanya ingin cepat kabur dari kakakmu kan?" Kata Randika sambil menatapnya tajam. "Bukan begitu, aku takut ada kenapa-kenapa dengan mereka. Kalau nanti kejadian di hotel Mawar itu terulang lagi bagaimana? Kalau ada kak Randika aku jadi tenang deh." Dengan cepat Hannah memberikan penjelasan. Setelah berdebat sedikit, Randika akhirnya setuju membawa teman-temannya ini kembali ke asrama. Universitas Cendrawasih cukup jauh dari sini, jadi kekhawatiran Hannah memang ada dasarnya. Tidak lama kemudian, dua bus sewaan telah datang dan membawa mereka semua pergi. Hannah dan Randika berbagi tugas dan berpisah. Setelah bus tersebut tiba dengan selamat, Randika lalu menghampiri Hannah. "Kak terima kasih ya." Hannah tersenyum manis dan mengatakan. "Aku masih ngantuk jadi aku duluan ya." Randika lalu menatap adik iparnya itu sambil menggelengkan kepalanya. Sudah dia yang harus membayar bus tersebut sekarang dia disuruh jalan kaki ke rumah? "Hahaha jangan marah begitu dong kak. Tadi itu aku butuh bantuanmu, aku tidak mau temanku terlibat bahaya lagi seperti sebelumnya. Bagaimana kalau kak Randika jalan-jalan saja di kampusku ini? Sapa tahu ada perempuan yang terpincut denganmu." Hannah lalu melihat jam dan menjadi panik. "Sialan, sudah jam 10! Aku ada kelas yang tidak bisa kutinggal, sampai sini dulu ya kak!" Melihat sosok Hannah yang lari meninggalkan dirinya, Randika hanya bisa menepuk dahinya. Setelah membayar dua bus itu, Randika sudah tidak punya uang untuk membayar taksi. Jadi dia memutuskan untuk jalan-jalan dulu saja, menikmati hari yang cerah ini di bawah pemandangan indah para bibit muda. Namun, baru berjalan sebentar Randika sudah bertemu dengan temannya. Di hadapannya, ada seorang dosen yang berjalan menuju dirinya. Bukankah itu Christina? Christina tampaknya sedang memikirkan sesuatu dan tidak memperhatikan jalan. Ketika dia berjalan, tiba-tiba ada seseorang yang berdiri diam di hadapannya. Dengan cepat dia bergerak ke samping tetapi orang tersebut juga ikut bergerak ke samping. Ketika Christina mengangkat kepalanya, wajah itu terlihat familiar. "Selamat pagi Christina, senang bertemu denganmu." Wajah yang familiar, senyum nakal yang familiar. Menatap Randika dengan tajam, wajah Christina segera menjadi buruk. "Rupanya itu kamu." Christina langsung memalingkan wajahnya. "Minggir, aku ada urusan." "Hei jangan terburu-buru begitu, aku hanya ingin bertukar kabar." Kata Randika sambil tersenyum. "Memangnya apa yang ingin kau bicarakan?" Christina mencopot kacamatanya dan matanya dipenuhi rasa jijik. "Apa kau ingin membicarakan operasi pembesaran dada lagi?" "Ha? Operasi apa? Mana mungkin aku sevulgar itu!" Randika langsung terlihat panik. Christina mendengus dingin. Bagaimanapun juga, orang ini sudah menyelamatkan dirinya dari benda aneh itu sebelumnya. Mungkin dia hanya sedang khawatir pada dirinya ini. "Tapiˇ­ topik hari ini tetap tentang dada kecilmu itu." Ketika mendengar hal tersebut, ekspektasi Christina benar-benar hancur dan dia sudah muak melihat wajah Randika. "Pergi sana!" Randika masih menghalangi Christina untuk pergi. Wajah Christina yang marah namun tetap cantik itu membuat Randika tidak bisa meninggalkannya tanpa mencicipinya. "Christ, aku cuma bercanda barusan. Aku hanya ingin kita berbicara denganmu mengenai masalah yang serius." Randika terus menghalangi jalur kabur Christina. Wajah Christina masih sedingin sebelumnya. "Topikmu hanya topik yang menyinggung diriku." Randika mengerutkan dahinya. "Apakah akhir-akhir ini dadamu terasa sakit?" Christina yang awalnya ingin kabur itu tiba-tiba berhenti. Dia lalu melihat tatapan mata Randika terlihat serius ketika mengatakannya. Bagaimana mungkin orang ini tahu keadaan dirinya yang sakit ini? Memang awalnya dadanya hanya terasa sedikit sakit, tetapi lama kelamaan, rasa sakit itu terus terasa dan makin kuat. Christina sudah pergi ke rumah sakit untuk memeriksanya, tetapi kata dokter tidak ada masalah apa pun. Christina juga memastikannya dengan pergi ke 3 rumah sakit lainnya, tetapi rasa sakit itu masih terus terasa hingga sekarang. "Bagaimana kau bisa tahu?" Christina menatap Randika. Randika lalu menjawab sambil tersenyum. "Tentu saja aku tahu, aku bisa melihatnya ketika aku menciummu waktu itu." "Kau!" Christina sudah muak melihat Randika dan dia sudah berjalan menjauhinya. Tiba-tiba Randika menghalanginya lagi. "Tunggu! Aku hanya bercanda tadi." Kata Randika sambil tersenyum. "Sejujurnya, penyakitmu ini agak sedikit berbeda dan rumit, rumah sakit tidak mungkin bisa melihatnya. Apakah kamu sudah mencoba pergi ke sana sebelumnya?" Melihat Christina tidak membantahnya, Randika melanjutkan. "Penyakitmu masih tahap awal, selama kamu tidak menyembuhkannya maka rasa sakitmu itu akan bertambah sakit setiap harinya. Bisa-bisa nyawamu terancam." Mendengar penjelasan Randika, Christina sedikit ketakutan. Apakah orang ini serius? "Jangan meremehkan penyakitmu." Randika sepertinya bisa menduga apa yang ada di pikiran Christina saat ini. "Jika kau tidak mengobatinya segera maka hidupmu bisa-bisa berakhir tidak lama lagi." "Bagaimana caranya untuk menyembuhkannya?" Tanya Christina. "Simpel." Randika menyeringai. "Tuhan telah memberikan jawabannya di hadapanmu ini." "Maksudnya kamu?" Wajah Christina langsung dipenuhi dengan keraguan. Dia mencurigai bahwa ini mungkin saja taktik Randika untuk mendekati dirinya. "Hahaha kenapa wajahmu meragukanku begitu? Aku pernah belajar ilmu pengobatan tradisional. Meskipun aku tidak sampai menjadi ahli, aku masih bisa menyembuhkan beberapa penyakit." Melihat ekspresi Christina yang ragu itu, Randika langsung berusaha meyakinkannya. Christina mengerutkan dahinya. "Sungguhan?" "Hanya aku yang bisa menyembuhkan dirimu." Kata Randika dengan serius. "Masa?" Randika sedikit jengkel mendengarnya, apa perempuan ini tidak takut nyawanya akan melayang? Christina masih berpikiran bahwa orang ini hanya berusaha mendekatinya. "Jadi cuma itu yang ingin kau sampaikan?" Tanya Christina. "Iya." "Kalau begitu pergi sana, aku ada urusan." Kata Christina dengan nada serius. "Ah? Tunggu!" Randika tidak habis pikir, perempuan ini benar-benar bodoh atau apa? Christina sudah malas berurusan dengan Randika, jadi dia hanya melewatinya dengan muka dingin. Melihat sosok Christina yang pergi itu, Randika menggaruk-garuk kepalanya. Padahal aku sudah menghindari topik pembesaran dada, kenapa dia masih mengamuk? Penyakit Christina itu masih sedikit lama untuk mencapai tahap membahayakan, jadi Randika berusaha melupakannya dan menyelamatkannya di saat yang tepat. Setelah berjalan beberapa menit, handphone milik Randika bergetar. "Han, kenapa meneleponku? Bukannya kau ada kelas?" Randika tidak tahu masalah apa lagi yang menimpa adik iparnya ini. "Kak, cepat ke sini! Ada orang bajingan yang melabrakku." Di balik suara Hannah, terdengar nada jengkel dan marah. Dilabrak? "Kamu di mana sekarang? Aku segera ke sana!" Randika menjadi cemas. Chapter 108: Cukup Satu Tangan "Aku berada di dekat kolam renang kemarin kak. Cepatlah ke sini!" Suara Hannah benar-benar seperti orang yang menangis sedih. "Tunggu aku!" Randika langsung menutup teleponnya dan langsung berlari menuju lokasi. Tak lama kemudian, Randika sudah berada di tempat pertemuan dan Hannah menunggu di depan pintu. "Han, kamu baik-baik saja? Siapa yang melabrakmu?" Randika bertanya sambil terengah-engah. Mana bajingan yang berani mengganggu keluarganya? Namun, aksi ini hanya agar dia terlihat keren dan peduli saja. Mungkin teman-teman perempuannya akan kepincut dengan kepedulian dirinya itu. Sudah, sudah, hentikan khayalanmu Randika! "Kak!" Melihat Randika, muka Hannah bukannya terlihat menangis malah terlihat seperti orang kesal. "Jangan khawatir, aku sudah di sini! Sekarang kasih tahu aku kejadiannya." Randika sebenarnya sedikit cemas dengan adik iparnya ini. Bunga cantik seperti dirinya itu bisa jadi bahan penindasan oleh perempuan lain ataupun jadi rebutan para lelaki. "Kak, aku tadi dipukul orang." Namun, muka Hannah sekarang terlihat ingin menangis. "Tenanglah, kakakmu ini akan mengurus orang itu." Sambil mengelus kepala adiknya, Randika bertanya. "Jadi, ceritakan apa yang terjadi sebenarnya." "Jadi begini." Hannah menenangkan dirinya dan menceritakan apa yang terjadi. "Jadi setelah titip absen untuk kelasku itu, aku pergi mengunjungi klub karateku. Namun, orang dari klub taekwondo mendatangi kita dan menantang kita. Tentu saja kita menerimanya! Tapiˇ­ Kami kalah dan kami diejek habis-habisan oleh mereka. Jadinya aku langsung menelepon kak Randika." Hannah lalu memperhatikan ekspresi Randika yang semakin lama semakin terlihat malas tersebut. Adik iparnya ini memang licik, karena dia tidak bisa menang maka dia mencari seseorang yang bisa menjadi ujung tombaknya. Terlebih, Hannah mengatakan bahwa dia dilabrak untuk memancing Randika untuk datang ke tempatnya. Adik iparnya ini bahkan pura-pura menangis agar Randika semakin percaya. Kemampuan akting Hannah benar-benar patut diacungi jempol. Randika sudah menebak arah pembicaraan ini ke mana. "Terus apa hubungannya kau dilabrak?" "Tentu saja ada." Hannah langsung menjawab. "Meskipun aku ikut karate hanya untuk poin saja, tetapi setelah ditantang begitu masa kita diam saja? Jadi kita lawan mereka dan ternyataˇ­." "Dan ternyata kalian kalah? Terus kamu menghubungiku untuk balas dendam pada mereka? Sejauh ini apakah aku salah?" Randika menghela napas dalam-dalam. "Benar! Ah! Maksudku bukan begitu, mana mungkin gadis secantik diriku ini menyimpan dendam? Aku hanya ingin mengenalkan mereka pada kakak. Nanti kak Randika tahu sendiri kalau mereka itu menyebalkan." Kata Hannah sambil tersenyum lebar. "Tunggu sebentar!" Randika dengan cepat menghentikan Hannah. "Han, biar aku jelaskan padamu kenapa aku tidak bisa membantumu. Pertama, aku bukan klub karatemu. Kedua, aku bukan mahasiswa sekolah ini. Terus buat aku membantumu?" "Kak Randika tunggu!" Hannah kembali menggunakan jurus mautnya. Dia dengan erat memegang tangan Randika dan meletakannya di antara belahan dadanya. Lalu suaranya menjadi sangat memelas bagaikan suara kucing, dia juga menarik-narik tangan Randika itu. Selain rasa nikmat itu, Randika juga merasa tangannya mau copot. Randika dengan cepat lepas dari cengkraman adiknya itu dan mengatakan. "Maaf, aku tidak bisa membantumu kali ini. Sudah itu saja yang ingin kau bicarakan? Aku masih ngantuk dan ingin tidur lagi." Melihat Randika yang mau pergi itu, dengan cepat Hannah menghalanginya. Jika tidak bisa dengan sifat manja, saatnya menggunakan cara yang lebih keras! "Ayolah kak, tolong bantu aku." Hannah menyeret Randika. "Aduh sudahlah." Randika tidak habis pikir dengan adik iparnya ini, dikira dirinya ini ada untuk menyelesaikan semua masalahnya? "Ayolah kak, kali ini saja aku minta tolong. Bagaimana kalau nanti aku akan memujimu di depan kak Inggrid?" Hannah mengedipkan matanya dan mengatakan. "Aku juga berjanji tidak akan menjebakmu ataupun menjelek-jelekanmu di depan kak Inggrid lagi. Jadi tolonglah kak, nanti klub karateku bubar gara-gara klub taekwondo bagaimana?" Randika menggeleng-gelengkan kepalanya. "Pegang kata-katamu itu ya." Melihat Randika yang sudah luluh itu, Hannah senang bukan main. "Kalau begitu, hajar mereka semua kak!" Dalam hatinya Hannah sudah tertawa licik, dia telah berhasil menipu kakak iparnya itu karena dia tidak mengatakan kapan dia akan menepati janjinya itu. Akhir kata, Hannah membawa Randika ke ruangan klub karate. Ketika Randika masuk ke ruangan yang luas ini, terlihat kerumunan orang yang terpisah menjadi dua. Sudah jelas bahwa satu adalah anggota klub karate dan satunya adalah si penantang yaitu anggota taekwondo. Pada saat ini, mereka terlihat sedang sparing dan semuanya dengan semangat menyoraki mereka. Hannah lalu menyeret Randika ke tengah-tengah anggota klub karatenya. "Lihat kak, ketua klub kami sedang bertanding!" Randika lalu melihat arena sparingnya. Pada saat ini, klub taekwondo berada di posisi unggul. Anggota klub karate itu sudah di ujung tanduk, kemampuannya kalah jauh dengan lawannya. "Bahkan ketua Felix tidak bisa apa-apa?" "Ayo kak Felix! Kakak pasti bisa!" "Habisi cecunguk itu!" Kedua belah pihak saling menyemangati anggotanya. Ketua klub karate, Felix, bahkan turun tangan langsung sementara ketua klub taekwondo masih duduk dengan santai di pinggir. Lawannya Felix kali hanya merupakan anak semester 3, tetapi Felix tidak berdaya sama sekali. Tiba-tiba anggota klub taekwondo itu menggunakan taktik menerjang untuk mengelabui Felix dan menendangnya tepat di dada. Dalam sekejap, Felix terkapar sambil memegangi dadanya. "Makan itu!" "Cepat habisi!" Sorakan para anggota taekwondo semakin keras dan senyuman ketua klubnya semakin lebar. Baginya sparing ini bukanlah hanya menentukan siapa yang lebih kuat. Kalau video di mana klub taekwondo menang dengan mudah tersebar, maka popularitas klub miliknya akan meroket. Bisa dikatakan ini membunuh dua burung dengan satu batu. Melihat ketua mereka terkapar kesakitan, hati para anggota klub karate mengepal dan bisu seribu bahasa. Bahkan ketua mereka sama sekali tidak berdaya? "Ternyata mereka begitu kuat." Kata salah satu anggota klub karate. Mereka seharusnya tidak melawan klub taekwondo. "Kak, sekarang adalah waktumu bersinar!" Kata Hannah di telinga Randika. Pada saat ini, semua anggota taekwondo sudah besar kepala. "Ternyata klub karate cuma segitu saja kemampuannya, tidak ada apa-apanya dengan kita!" "...ˇ­." Meskipun kesal, para anggota klub karate tidak bisa membantahnya. Lalu salah satu anggota klub taekwondo maju dan berteriak. "Jadi apakah kalian mengerti mengapa klub kami adalah kebanggaan dari sekolah ini?" Para anggota klub karate sudah membantu ketua mereka berdiri. Hannah yang melihat lawannya itu begitu arogan sudah mendorong-dorong Randika ke depan. "Jangan sombong dulu!" Hannah berteriak dengan keras dan menjadi pusat perhatian. "Kak, sekarang kesempatanmu!" Hannah berbisik di telinga Randika. Didorong maju oleh Hannah, Randika hanya bisa menghela napas. Lawan Felix tadi melototi Randika dan bertanya dengan nada arogan. "Apa? Kau juga ingin menantangku?" Wah, nantang Ares si Dewa perang? "Sudah jangan banyak bacot, sini maju." Randika juga tidak kalah arogan. "Baiklah." Pemuda itu menyengir. "Orang macam kau cuma butuh 1 menit!" "Maju!" "Kau pasti bisa!" Meskipun tidak tahu siapa yang mewakili mereka itu, anggota klub karate tetap menyoraki Randika. Tetapi, kata-kata Randika berikutnya mengejutkan semua orang yang ada di ruangan itu. "Bagaimana kalau aku memberikan keringanan pada klub kalian? Aku hanya akan menggunakan satu tangan dan akan menghabisimu dan temanmu berikutnya dalam 1 menit." Randika lalu meletakan tangan kirinya di belakang punggungnya. Semua orang benar-benar dibuat linglung dengan Randika. Orang ini sombong sekali! Lawannya ini justru marah mendengarnya, dia yang sudah berhasil mengalahkan ketua klub karate dianggap sampah oleh lawannya kali ini? Chapter 109: Maju Sini Kalian Semua! "Bacotnya setelah kau menang saja, kalau di awal begini kau nanti malah menjadi badut kalau kalah nanti." Tatapan mata lawannya Randika itu menjadi dingin. Randika hanya berdiri diam, menunggu pergerakan lawannya. Hannah menatap Randika sambil berdoa, berharap yang terbaik untuknya. Meskipun dia kadang-kadang jahil dan sombong, tapi sosoknya itu selalu gagah di matanya. Anggota klub taekwondo itu menerjang maju dan berhenti tepat di depan Randika, dia lalu melayangkan tendangan keras tepat ke arah kepala Randika! Pergerakan ini bisa dibilang sangat cepat dan indah. Dalam sekejap sorakan para anggota klub taekwondo itu makin keras dan sorakan para anggota klub karate menjadi semakin pelan. Mereka menganggap riwayat orang asing itu sudah tamat. Selain cepat, tendangan itu sangat keras bahkan ketua mereka langsung kalah gara-gara tendangan tersebut. Namun, tendangan itu sama sekali tidak mengenai kepala Randika. Jika diperhatikan baik-baik, tangan Randika dengan sempurna mencengkram kaki musuhnya itu. "Mustahil!" Kedua kubu sama-sama terkejut melihatnya. Tendangan yang mematikan itu berhasil ditahan oleh Randika hanya dengan satu tangan! Randika bisa merasakan bahwa tenaga lawannya ini ternyata lumayan juga buat usianya. Tetapi, dalam bertarung rasa toleransi ini hanyalah penghalang. Dalam sekejap Randika membanting pemuda itu. Dilempar begitu mudah membuat anggota klub taekwondo ini malu. Apalagi setelah mendengar ejekan dari para anggota klub karate, dia makin marah. Setelah berdiri, dia menjadi serius. Melihat Randika yang masih menggunakan satu tangan, dia mendekatinya secara perlahan. Dia lalu menghantamkan tinjunya ke bagian kiri Randika, yang merupakan titik lemah pertahanan Randika. Namun, Randika tidak panik dan buru-buru bertahan. Dia dengan cepat bergeser ke kiri, menghindari pukulan lawannya itu dengan sempurna. Lalu dengan satu tangannya itu dia memegangi tangan lawannya dan membantingnya dengan satu tangan! Semua berjalan dengan cepat, semua penonton hanya melihat Randika sudah berhasil membanting lawannya itu. Terkapar di lantai, lawannya Randika ini segera berdiri lagi. Tetapi, langkahnya benar-benar terhuyung dan akhirnya jatuh dengan pantatnya duluan. "Hahaha!" Para anggota klub karate puas melampiaskan kekesalannya yang tadi itu. Sekarang anggota klub taekwondo lah yang terdiam seribu bahasa. Lawannya Randika itu benar-benar merasa malu sekaligus marah. Setelah menenangkan diri, dia berdiri kembali dan menerjang kembali. Sekarang dia tidak memakai cara licik lagi, dia akan berhadap-hadapan langsung dengan orang tersebut. Namun, setelah dia mendekat, Randika menamparnya dengan keras sampai-sampai suara tamparannya itu menggema. Lawannya itu berputar-putar seperti seorang pebalet. "Hahaha! Sehat bro?" Para anggota klub karate sudah besar kepala, sedangkan ketua klub taekwondo itu sedikit menjadi serius. Setelah berputar-putar 3x, Randika menamparnya lagi dan dia langsung jatuh pingsan di lantai. "Berikutnya!" Randika lalu menatap para anggota klub taekwondo. Suaranya masih penuh dengan aura arogan dan kali ini para anggota klub taekwondo itu merasakan tekanan yang berat itu. "Kakakku memang hebat!" Hannah menjadi bersemangat melihat Randika yang gagah itu. Teman-temannya juga ikut bersemangat. Melihat lawannya yang arogan tadi itu pingsan, hanya satu kata yang cocok bagi penyelamat mereka itu. Keren! Para anggota klub taekwondo segera menggendong temannya yang pingsan itu ke samping. Dennis, ketua klub taekwondo, berwajah masam. Sejak kapan klub karate punya orang sekuat itu? Dia belum pernah mendengar hal ini sebelumnya. Meskipun lawannya ini terlihat kuat, Dennis tidak bisa membiarkan wajah klub taekwondo tercoreng. Saatnya dia beraksi telah datang! Dennis lalu maju dan menatap Randika. Semua anggota klub karate langsung terdiam, dan para anggota klub taekwondo menelan air ludahnya. Dennis terkenal sebagai orang terkuat di universitas ini jadi setiap kali Dennis yang maju untuk bertarung, lawannya akan gemetar ketakutan. "Kak, kau pasti bisa!" Hannah tidak peduli dengan rumor seperti itu. Dia mempunyai kepercayaan mutlak pada kakak iparnya itu. "Kau telah membuatku marah." Dennis lalu berhadap-hadapan dengan Randika. "Ah, kau pasti pemimpinnya?" Randika lalu menguap. "Ayo cepat kita selesaikan, aku sudah ngantuk." Wajah Dennis makin terlihat marah, pertama kalinya dia melihat lawannya itu tidak takut pada dirinya. Malahan, lawannya ini meremehkan dirinya. Dia adalah orang terkuat di universitas ini, kemampuan bertarungnya sudah menyebar hingga ke pelosok kampus. Dan sekarang orang ini sama sekali tidak menghormatinya? "Mampus kau, Dennis akah menghabisimu!" "Pulang saja daripada dihajar babak belur kau!" "Lumat dia!" Berbagai sorakan datang dari para anggota klub taekwondo. Tetapi, anggota klub karate juga tidak mau kalah. Dalam sekejap mereka bersorak menyemangati sang penyelamat mereka. "Kau masih bertarung dengan satu tangan???? Dennis mengerutkan dahinya. "Satu saja sudah cukup." Kata Randika. "Bagus!" Dengan kecepatan tinggi, Dennis menerjang maju dan melayangkan sebuah tendangan dengan kakinya yang panjang itu. Tendangan kali ini lebih cepat dan lebih kuat daripada orang sebelumnya. Para anggota klub taekwondo sudah bersorak keras. Tetapi, sorakan mereka itu menjadi suara keterkejutan pada detik berikutnya. Mereka melihat Dennis mundur dengan cepat dan hampir terjatuh sedangkan Randika terlihat sama sekali tidak bergerak. "...ˇ­.." Suasana menjadi hening. Tidak ada yang mempercayai hal ini, namun detik berikutnya para anggota klub karate berteriak keras. Mereka menyoraki wakil mereka itu dengan semangat tinggi. Dennis langsung mengambil sikap waspada. Lawannya ini benar-benar kuat. Setelah menganalisa strategi di benaknya, Dennis kembali menyerang kembali. Kali ini Dennis melayangkan sebuah pukulan ke arah perut Randika yang masih tidak bergerak itu. Pada saat itu juga, pergelangan tangan Dennis telah digenggam erat oleh Randika. Inilah saat-saat yang ditunggunya, dalam sekejap Dennis mengangkat tinggi kakinya dan menendang keras dengan satu kaki. Namun, Randika sudah menendang tumpuan kaki Dennis dan sekarang Dennis kehilangan keseimbangan. Dengan suara yang keras, Dennis terjatuh dan terkapar di lantai. Sorakan anggota klub karate makin keras. Dennis yang terkapar itu benar-benar bingung. Dia menganggap lawannya ini sudah bagaikan dewa bertarung, tidak ada celah sama sekali! Melihat Dennis yang berdiri kembali, Randika mengerutkan dahinya. Rasanya tidur siangnya ini akan tertunda lagi. Tiba-tiba, Randika menerjang maju! Hembusan angin dari kecepatan lari Randika itu dirasakan oleh Dennis, dia dengan cepat masuk ke mode bertahan. Namun, Dennis hanya bisa melihat bahwa lawannya itu sudah melompat dan pipinya telah tertampar keras. Saking kerasnya Dennis sampai terpental jauh. "Dennis!" Teman-temannya itu langsung terkejut bukan main. Dennis yang dikatakan sebagai orang terkuat itu terpental dan tersungkur di dekat mereka hanya karena sebuah tamparan? Dennis terjatuh di antara teman-temannya itu tampak tidak mampu berdiri lagi. Sekarang, hanya Randika seorang diri di arena dan menatap para anggota klub taekwondo. "Lemah sekali." Randika menggelengkan kepalanya dan berkata dengan nada santai. "Bagaimana kalau kalian semua menyerangku?" Mendengar hal ini membuat seluruh anggota klub taekwondo menjadi marah. Bahkan jika kau memang kuat, tidak usah berkata sombong seperti itu! "Kalau begitu kita hajar dia rame-rame, kita buktikan bacotnya itu salah." Kata salah satu dari mereka. Jumlah mereka mencapai 20 orang, kalau mereka mengeroyoknya sekarang maka mereka bahkan bisa membunuhnya. Tidak banyak berpikir, ke-20 orang ini dengan cepat menerjang ke arah Randika. Kali ini, anggota klub karate menjadi khawatir. Bahkan Hannah terlihat cemas. Kenapa sparing ini menjadi tawuran? Randika memberi isyarat pada mereka untuk diam di tempat. Dengan tangan kirinya masih di belakang, Randika akan menghadapi mereka semua dengan satu tangan. Tangan kanan Randika itu sudah bagaikan cambuk. Dengan cepat dia menampar pukulan-pukulan orang-orang itu sekaligus menyerang mereka. Lalu tangan kanannya itu dia ambil tarik kembali dalam-dalam dan serangat sikutnya itu terlontar dengan kuat mengenai dada seseorang dan orang tersebut terpental jauh membawa beberapa temannya bersamanya. "Ah!" Teriakan kesakitan satu per satu mulai terdengar. Para anggota klub karate hanya melongo melihat aksi Hollywood ini. Para anggota klub taekwondo itu satu per satu benar-benar melayang ke udara lalu jatuh ke lantai. "Ya ampun, tampan sekali orang itu!" Salah satu perempuan mengagumi Randika. Mereka mulai bersorak dan bersemangat kembali. Sedangkan Hannah terlihat tenang, dia tahu bahwa orang-orang itu bukan tandingannya kakak iparnya itu. Dalam waktu 30 detik, semua orang yang menerjang maju ke arah Randika sudah terkapar kesakitan di lantai. Sekarang hanya tinggal Randika yang berdiri di tengah-tengah arena. Sosoknya yang bertarung dengan satu tangan itu benar-benar melekat di benak semua orang. Hanya satu tangan pun dia masih bisa menghajar 20 orang. "Kakak memang luar biasa!" Hannah sudah berlari menuju Randika dan memeluknya. Diserang oleh adik iparnya itu, Randika memasang muka bangga. Dennis tertawa getir. Sepertinya rencananya ini telah hancur berantakan gara-gara sosok misterius itu. "Kak! Terima kasih ya!" Kata Hannah sambil tersenyum manis. "Hahaha kau hanya perlu memegang kata-katamu tadi itu." Randika kembali mengingatkan perjanjian mereka itu. "Hmmm?" Hannah memiringkan wajahnya. "Memangnya aku bilang akan menepatinya sekarang?" Eh? Hannah menatap Randika dengan muka tidak berdosa. Randika hanya bisa menampar dirinya dan muntah darah, dia ditipu lagi! Chapter 110: Tak Ada Akar, Rotan Pun Jadi! Setelah menyelesaikan masalah klub karate, Randika dengan cepat beranjak keluar dari universitas itu dan memutuskan untuk menuju perusahaan Cendrawasih. Saat dia berada di lobi, dia berkedip pada resepsionis perempuan yang biasanya berjaga disitu. Perempuan itu terlihat malu dan Randika melewatinya sambil bersiul. Dengan cepat dia tiba di kantor Inggrid. Randika masuk ke ruangannya dengan pelan dan mendapati biasa Inggrid duduk sambil membaca beberapa dokumen seperti biasanya. Tidak ingin mengejutkannya, Randika pura-pura mengetuk pintu yang sudah tertutup rapat itu dengan pelan. Mendengar suara ketukan pintu yang pelan itu, Inggrid menjawab tanpa menoleh. "Masuk." Randika tersenyum dan berjalan mengendap-endap. Melihat sosok bayangan yang mendekatinya, Inggrid langsung menoleh dan mendapati Randika sedang tersenyum pada dirinya. Dia tidak bisa tidak menghela napas. Kenapa bajingan ini selalu memainkan dirinya? "Sedang ngeliatin apa kamu?" Randika berusaha mengintip. "Peduli apa kau memangnya?" Inggrid memberinya tatapan dingin lalu dia mengatakan. "Bukannya kamu tadi pagi pergi bersama Hannah?" Randika terkejut, bagaimana mungkin istrinya yang pergi dari pagi itu tahu? Melihat wajah bingung Randika, Inggrid dengan santai menjawab. "Ibu Ipah yang memberitahuku." "Oh begitu." Randika lalu menjelaskan. "Aku tadi khawatir terhadap teman-temannya yang masih setengah sadar itu mangkanya aku membantu Hannah memulangkan mereka. Adikmu itu memang benar-benar bertanggung jawab." Tenang Hannah, kakak iparmu berusaha semampunya demi kamu! "Apanya yang bertanggung jawab." Inggrid menghela napas dalam-dalam. Adiknya itu memanfaatkan ketidak hadirannya untuk mengadakan pesta diam-diam. "Sayang, adikmu itu masih muda. Sudah tugas kita untuk menuntunnya." Kata Randika. Inggrid mengangguk. "Oh ya, bagaimana dengan produk parfum baru yang dikembangkan itu? Aku berniat memberi sampelnya pada perusahaan Yosua dan menyuruh mereka untuk mengetes pasar." "Kelvin seharusnya sebentar lagi selesai dengan produk itu. Tidak lama lagi harusnya dia membawakannya padamu." Kata Randika. "Bukannya kamu yang bertanggung jawab sama produk itu? Kenapa kamu terdengar tidak yakin seperti itu?" Inggrid mengerutkan dahinya. "Apa selama ini kamu tidak kerja sama sekali?" "Mana mungkin aku seperti itu!" Randika dengan cepat membantah. "Aku hanya bertanggung jawab mengajari mereka dan mengetes hasil akhir, merekalah yang tetap harus menyelesaikannya. Memangnya kau pernah melihat pelatih sepakbola bermain bersama timnya?" "Jangan khawatir." Randika lalu berjalan ke belakang Inggrid dan berbisik di telinganya. "Apa pun yang diinginkan istriku pasti akan aku wujudkan, jika mereka tidak bekerja dengan benar maka aku akan memarahinya." Memarahinya? Jadi dia memang malas untuk bekerja begitu? Inggrid kehabisan kata-kata ketika mendengar Randika. Dan tentu saja, Randika tidak hanya berbisik di telinganya. "Hei! Sedang apa kau?" Wajah Inggrid sudah memerah, bajingan ini lagi-lagi aji mumpung. "Tentu saja memanjakan istriku." Randika memijat pundak Inggrid sambil menggigit telinganya itu. Dalam sekejap sensasi nikmat itu langsung memenuhi benak Inggrid. Inggrid benar-benar menikmatinya, tetapi tiba-tiba pintunya diketuk. Randika langsung menjadi cemberut, kenapa momen intim seperti ini selalu dirusak oleh orang? "Masuklah." Inggrid lalu mendorong Randika, isyarat agar Randika tidak macam-macam. Ternyata sekretaris Inggrid lah yang mengetuk pintu. Ketika dia masuk, dia melihat wajah bosnya itu merah, dua kancing bajunya yang paling atas terbuka dan napasnya terengah-engah. Terlebih, dia melihat sosok Randika berdiri di samping Inggrid. Apakah mereka benar-benar telah menikah? Namun sebagai seorang pegawai dan sekretaris pribadi, dia tidak boleh berpikiran yang aneh-aneh. Melihat dari tingkah laku sekretarisnya itu, Inggrid bernapas lega. Untung sekali tindakan mereka tadi itu tidak ketahuan, lain kali dia harus berhati-hati dengan Randika. Randika melihat bahwa yang dibahasnya itu terlihat penting, dia perlahan-lahan keluar dengan sendirinya dan mengunjungi laboratorium milik Kelvin. Dengan cepat Randika menemukan Kelvin sedang bereksperimen dengan produk terbaru mereka. "Ah! Pak Randika tumben ada di sini?" Kelvin terkejut. "Apakah produk parfum baru itu telah selesai?" Tanya Randika. "Sudah ada beberapa contoh yang telah jadi tetapi aku masih kurang puas dengan hasilnya. Seharusnya semua akan selesai 1 hari lagi." Kelvin lalu mengambil salah satu produk dan membiarkan Randika menciumnya. Randika menciumnya dan mengatakan. "Hmmˇ­ Kamu lebih baik mengganti proporsinya." Setelah memberikan instruksi, Randika menyuruh Kelvin mengulang lagi. Pada saat ini, Randika menyadari sosok Viona di tengah ruangan. Karena laboratorium miliknya sedang tidak ada kerjaan, sebagian besar orang yang bekerja di bawah Randika dipindah untuk membantu Kelvin. Dan terlebih, Viona menyukai parfum dan mempunyai kemampuan sehingga dia dengan cepat beradaptasi. "Viˇ­" Viona yang masih berkonsentrasi bekerja itu tiba-tiba terkejut karena ada suara yang memanggilnya, hasilnya dia menjatuhkan tabung gelasnya. Tapi dengan cepat sebuah tangan mencegah tabung itu jatuh ke lantai. Viona dengan cepat berubah menjadi malu. "Randikaˇ­" "Hahaha bekerjalah seperti sebelumnya." Kata Randika sambil tersenyum. Karena istrinya itu sedang sibuk, tidak ada salahnya dia bermesraan dengan Viona. "Sebentar, cara kerjamu bisa lebih sempurna lagi. Sini aku ajari." Randika dengan lihai menemukan cara terselubung untuk bermesraan. Dia lalu memegang tangan lembut Viona itu. "Randika janganˇ­" Viona merasa malu, mereka sedang berada di ruangan penuh orang. Randika hanya tertawa. "Hahaha aku hanya mengajarimu kok." Di tengah ajarannya ini tentu saja Randika menyempatkan diri mencuri-curi kesempatan. Hari berlalu dengan cepat. Sekarang, jam kerja sudah selesai dan semuanya sudah siap-siap pulang. Namun, tiba-tiba Randika mendengar Viona berteriak. Randika dengan cepat menghampiri Viona yang sedang duduk di lantai itu. Wajahnya terlihat kesakitan. "Kenapa kamu?" Randika bertanya dengan nada cemas. Melihat high heels Viona yang patah itu, Randika bisa menyimpulkan. Randika dengan hati-hati melepaskan kedua high heels milik Viona dan mulai memijat kakinya yang kesakitan itu. "Vi, kenapa kau begitu ceroboh?" Randika menggoda Viona, dia tahu bahwa Viona jarang memakai sepatu seperti itu. Wajah Viona terlihat memerah. Dengan bantuan pijat Randika itu, kakinya berangsur-angsur membaik. Setelah beberapa lama, kakinya benar-benar sudah tidak sakit lagi. "Vi, aku akan menemanimu pulang." Randika membantu Viona untuk berdiri dan menopangnya. "Ranˇ­" Viona ingin memberontak tapi tidak bisa, kakinya masih tidak kuat untuk menopang dirinya sendiri. "Hei jangan bergerak seperti itu, lama-lama kugendong kamu." Kata Randika sambil tertawa. Wajah Viona justru makin merah, mereka masih berada di ruangan kerja dan orang-orang melihati mereka. Menuntun Viona ke mobil taksi, Randika ikut dengannya. Tangannya yang mengtowel-towel dada Viona itu benar-benar bahagia. Benar-benar hari yang menyenangkan baginya. Tak lama kemudian mereka telah sampai di depan rumah Viona. Setelah membayar taksi itu, Randika lalu keluar dan membukakan pintu untuk Viona. Ketika Viona hendak berjalan, Randika sudah berlutut di hadapannya. "Ayo cepat, aku akan menggendongmu ke kamarmu." Chapter 111: Cobaan Ilahi "Ah?" Viona yang masih ragu itu tiba-tiba sudah digendong oleh Randika. Dalam sekejap wajahnya menjadi merah. Tetapi, perasaan aman dan nyaman ini benar-benar baru dia rasakan ketika bersama dengan Randika. Bersandar di dada Randika yang kekar itu, Viona bisa mendengar detak jantung Randika yang berdegup dengan tenang. Si supir taksi hanya bisa melihati mereka dengan tatapan iri. Sialan anak muda ini, mereka malah bermesraan di depanku! "Tahan sebentar ya." Randika tersenyum pada Viona. "Baik." Viona menutup matanya. Randika menyukai aroma yang memancar dari Viona ini, baginya dia benar-benar harum. Langkah demi langkah, Randika masuk ke rumah dan mengantarnya ke kamar tidurnya di lantai 2. Viona yang digendong itu merasa waktu seakan berhenti, perasaan nyaman ini benar-benar menenangkan bagi dirinya. Bahkan selama dirinya digendong, wajahnya benar-benar dekat dengan Randika. "Sudah sampai." Randika tersenyum menatap Viona yang terlihat malu-malu itu. Ha? Cepat sekali!? Tatapan mata Viona sedikit mengandung rasa menyesal. Setelah mendudukan Viona di atas kasurnya, Randika membantu menyimpankan tas yang dibawa Viona ke tempatnya sekaligus membawakan air untuknya. "Vi, kakimu akan kupijat lagi ya biar enakan." Randika lalu mencopot sepatu Viona dan menyuruhnya untuk menyender di ujung kasur. Dengan pelan, Randika mulai memijat kakinya itu. Wajah merah Viona itu dia sembunyikan di balik bantal. Meskipun tidak ada orang selain mereka berdua, Viona masih merasa malu ketika berduaan dengan Randika yang dicintainya itu. "Vi, kakimu ini mulus sekali." Randika memijat bagian tumit Viona dengan pelan dan lembut. Setiap kali dia mengurutnya, tenaga dalamnya akan mengalir ke dalam tumit Viona dan meredakan rasa sakitnya. Selama dia memijatnya, tatapan matanya tidak bisa lepas dari kaki panjang dan mulus milik Viona. Kakinya itu benar-benar putih seperti kain sutera. Belum lagi pahanya yang menggiurkan itu, dia harus menahan dirinya kuat-kuat agar tidak membenamkan kepalanya di situ. Di balik bantalnya itu, Viona sudah mendesah erotis berkali-kali. Setiap pijatan Randika itu membuat dirinya tidak bisa menahan dirinya untuk mendesah nikmat. Setelah beberapa saat, Randika bertanya. "Bagaimana? Apakah sudah membaik?" Viona lalu meletakan bantalnya dan menggerak-gerakan kakinya beberapa saat. Dia benar-benar terkejut. "Wah sudah tidak sakit!" "Hahaha tentu saja." Randika tertawa namun masih belum melepaskan kaki Viona dari pelukan tangannya itu. "Viˇ­ Apakah kita sebaiknya melanjutkan apa yang tertunda kapan hari?" Randika mulai menyerang, dia tidak akan melepaskan kesempatan ini. "Hmm? Yang mana?" Tatapan mata Viona terlihat bingung, jelas dia tidak mengerti apa yang Randika maksud. "Sini akan kuberitahu." Randika langsung memeluk pinggang Viona dengan tangan kanannya dan menariknya hingga ke pelukannya. Tangan kirinya lalu mengelus rambut Viona. "Apakah kau masih tidak tahu maksudku?" Randika tersenyum. Sekarang wajah mereka berdua sudah sangat dekat. Wajah Viona menjadi merah dan sambil menundukan kepalanya sambil mengatakan. "Ranˇ­ ini masih pagi." "Memangnya kenapa?" Randika lalu menempelkan dahinya ke dahi Viona. "Di rumah ini hanya ada kita berdua dan kita tidak perlu khawatir akan ada orang yang mengganggu kita." Jantung Viona sudah berdetak sangat cepat. "Aku masih belum siap." "Jangan khawatir, serahkan padaku." Randika lalu menyebul telinga Viona. Dalam sekejap yang ada hanyalah suara desahan Viona. Hanya satu tarikan napas, Randika berhasil membuat tubuhnya kehilangan kendali. Merasakan Viona mulai lemas di pelukannya, Randika tertawa. Sepertinya dia memang ahli membuat perempuan terangsang. "Tenanglah dan nikmati sensasinya, aku akan melakukannya selembut mungkin." Kata Randika di telinga Viona. Randika lalu menggigit telinga Viona dengan lembut. Kedua tangan Randika sudah berenang-renang di seluruh tubuh Viona. Dengan rangsangan tangan Randika dan telinganya yang tergigit itu, Viona sudah seakan melayang di awan. Randika tidak terburu-buru untuk masuk ke babak utama, kali ini tidak akan ada yang bisa mengganggu mereka. Dia sudah diganggu oleh Christina 2x dan tiap momennya hampir mencapai babak utama. Randika sudah lama menantikan momen penyatuan ini. Sebagai dosen, Christina pasti masih ada di tempat kerjanya jadi sekarang adalah momen sempurna. Tangan kiri Randika menahan kepala Viona, bibirnya sedang sibuk menjelajahi leher Viona yang mulus dan tangan kanannya sedang berusaha melepas baju Viona. Viona sudah tidak bisa berpikir apa-apa. Dia merasa seluruh tubuhnya menjadi panas. Detak jantungnya sudah berdetak tidak karuan dan tiap helaan napasnya terasa panas. Namun, perasaan ini sangat nikmat baginya. Setiap tubuhnya yang disentuh oleh Randika akan memberikan sensasi nikmat yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Dia ingin melanjutkannya tetapi masih ada sedikit rasa takut menggenang di hatinya. "Vi, tenanglah." Melihat Viona yang sedikit bergetar itu, Randika berusaha menenangkannya dan mencium dahinya. "Aku tidak akan pernah menyakitimu." Sekarang baju Viona sudah berhasil dilepas oleh Randika, sekarang hanya beha berwarna ungu lah yang menutupi kedua gunung milik Viona. Randika tidak pernah bosan melihat dada Viona yang besar dan sempurna itu, meskipun belum terbuka semuanya, keempukan dan keindahan itu tidak bisa tertutupi oleh apa pun. Tidak mau buru-buru, Randika lalu memfokuskan diri ke bagian atas Viona dulu. Mulai dari menciumnya hingga hanya berpelukan, Randika berusaha meyakinkan Viona bahwa dia tidak perlu takut. Perasaan tenang ini membuat Viona semakin rileks dan terfokus pada bagian nikmatnya saja. Sedangkan untuk babak utamanya, Randika memutuskan semuanya bergantung pada Viona. "Vi, lepaskan celanamu." Ketika mereka berpelukan, Randika berbisik pada telinga Viona. Viona yang sudah rileks ini menuruti kata-kata Randika. Tidak lama kemudian, Viona dengan sendirinya melepas celananya. Melihat Viona yang hanya memakai pakaian dalamnya membuat Randika semakin bersemangat. Senyuman wajahnya menunjukan bahwa inilah saatnya mereka berdua bersatu. Asyik! Randika benar-benar bersemangat dari lubuk hatinya, masih tidak terdengar suara ketukan pintu ataupun teriakan orang. Saat tangan Randika sudah hendak mencopot celana dalam itu, tiba-tiba suara bel pintu terdengar. Ya ampun, lagi!? Viona yang terkejut itu mengatakan. "Ran, ada orang." Viona lalu berdiri dan memakai bajunya lalu keluar dari ruangan itu dan bersembunyi. Seluruh proses ini sangatlah cepat tidak sampai 20 detik. Randika hanya duduk melongo di tempat, sambil meneteskan air mata darah dia bergumam. "Ya Tuhan, kenapa kau memberi cobaan seperti ini? Selalu di detik terakhir aku akan melakukannya selalu saja ada masalahnya." Muka Randika menjadi serius, bajingan mana yang mengganggunya kali ini. Ketika Randika turun untuk melihat siapa pengganggunya itu, mukanya tidak terkejut. Tentu saja tetangga Viona satu itu selalu mengganggunya dan ini sudah ketiga kalinya! Randika menggertakan giginya kuat-kuat, dosa apa yang diperbuatnya pada perempuan itu sampai-sampai dia selalu diganggu olehnya. Chapter 112: Menyelamatkan Christina Christina lagi-lagi yang menghalanginya untuk berhubungan badan dengan Viona. Hal ini membuat Randika membencinya bukan main. Tetapi, ketika melihat wajah Christina yang pucat itu, dia mengerutkan dahinya. Pada saat ini wajah Christina sudah tidak berwarna dan pucat, benar-benar sudah seputih kertas. Dan pandangannya kini sudah tidak bisa melihat apa-apa setelah berhasil mengebel rumah Viona. Seluruh badannya tidak bisa berhenti gemetar, dirinya seakan-akan bisa mati kapan saja. "Tolongˇ­ Akuˇ­" Mulut Christina hanya bergerak sedikit, kalau bukan karena pendengaran supernya maka Randika tidak akan bisa mendengarnya. Setelah mengatakannya dengan suara pelan, Christina sudah kehilangan kekuatannya dan tubuhnya jatuh ke depan. Randika dengan cepat menahannya dan menggendong Christina. "Sudah kubilang apa." Randika menggelengkan kepalanya. Dia sudah memperingatkan Christina tentang penyakitnya ini tapi dia tidak mendengarkannya. Untungnya, dia masih sempat datang ke sini dan bertemu dengan dirinya. Dia lalu mengambil kunci yang dipegang oleh Christina dan masuk ke rumahnya. Setelah meletakannya di kasurnya, Randika menulis pesan singkat pada Viona melalui handphonenya. Rupanya Christina ijin pulang cepat karena rasa sakit di dadanya itu makin sakit. Namun, di tengah perjalanannya rasa sakit itu mereda jadi dia tidak jadi memeriksakannya. Ketika dia hendak membuka pintu rumahnya, rasa sakitnya itu muncul kembali dan jauh lebih kuat. Dengan sisa tenaganya, dia berjalan pelan ke tetangganya yaitu Viona. Randika lalu membuka baju Christina dengan cepat. Sekarang, Christina hanya berbalutkan pakaian dalam saja. Tetapi Randika tidak berhenti di situ, dia dengan cepat memutar badan Christina dan melepas pengait behanya itu. Sekarang, dada Christina dengan jelas mencuat keluar dan memenuhi mata Randika. Bundar dan besar serta putingnya yang pink itu benar-benar membuat Randika menelan air liurnya. Hal ini membuatnya kaget dan setelah memikirkannya, ternyata ukuran dada Christina yang sebenarnya adalah D! Sialan, ternyata selama ini dia salah dan tertipu. Melihat bagian atas Christina yang telanjang itu dan wajahnya yang tenang, perempuan ini benar-benar terlihat cantik. Oh! Mikir apa kau Randika? Selamatkan dia dulu dan mungkin nanti dirinya akan mendapatkan yang lebih! Randika berhasil menenangkan dirinya dan mengeluarkan jarum akupunturnya. Stok jarum akupuntur Randika telah berhasil kembali diisi ketika dia pulang ke gunung kapan hari oleh kakek ketiganya. Randika sudah berkonsentrasi penuh. Tenaga dalamnya sudah mengalir deras pada jarumnya dan tangannya, dia lalu menusukannya ke dada Christina. Penyakit Christina berkonsentrasi pada dadanya yang disebabkan oleh depresi dalam jangka lama dan bawaan sejak lahir. Penyembuhan ini memiliki dua tahap. Yang pertama adalah menyalurkan tenaga dalam Randika dan menghentikan penyebaran penyakit itu. Tenaga dalamnya akan berfungsi sebagai pelindung sekaligus menekan penyakit tersebut. Baru setelah tahap mudah ini berhasil maka sisanya adalah momen penentuan hidup dan mati. Randika dengan cepat mengeluarkan jarum yang kedua dan menusukannya kembali. Dalam sekejap 9 jarum sudah menancap di dada Christina. Puting milik Christina benar-benar menggoda di mata Randika, tetapi dia tidak boleh kehilangan fokus saat melakukan penyembuhan ini. Randika selalu kehilangan fokus pada momen-momen krusial seperti ini, tidak jarang kakek ketiga akan memakinya keras-keras karena hal ini. Oleh karena itu, berbagai cara telah dilakukan oleh kakeknya itu untuk membuat Randika tetap terfokus. Setelah merasa Randika sudah cukup mampu, kakeknya itu mengajarkannya pada tubuh manusia secara langsung. Ketika pengobatannya itu sudah tengah jalan, kakek ketiganya berdiri dan mengatakan bahwa pasien tersebut akan mati kalau dia kehilangan fokus. Randika pada saat itu jelas gugup tetapi berkat arahan dan kepercayaan kakeknya itu, Randika bisa memahami betapa berharganya nyawa dan kebulatan tekad. Oleh karena itu, walaupun menggoda, Randika tetap fokus pada pengobatannya dan melupakan puting yang indah itu. Setelah mendudukkan Christina, Randika meletakan tangannya di punggung Christina dan membiarkan tenaga dalamnya mengalir. Tiba-tiba, tangan Randika sudah panas bagaikan oven. Christina merasakan tubuhnya menjadi hangat dan rasa sakitnya di dadanya mulai menghilang. Dengan aliran tenaga dalamnya itu, wajah pucat Christina perlahan mendapatkan warnanya kembali. Bibirnya kembali mendapatkan warnanya dan tubuhnya mulai merespon dengan baik. Proses ini berlangsung beberapa menit. Lalu mata Randika terbuka dengan cepat dan tamparan tangannya pada punggung Christina membuat seluruh tubuh perempuan ini berbalik. Dengan gerakan secepat kilat, Randika melepas semua jarum di dada Christina. Kemudian tangan Randika menempel di tengah-tengah dada Christina. Inilah tahap terakhir dan paling krusial. Ketika tangannya itu menyentuh Christina, tenaga dalamnya langsung mengalir deras dari tangannya. Saking terkonsentrasinya, Randika lupa kalau Christina ini adalah perempuan. Sensasi empuk dari apitan dada Christina itu terasa nikmat. Tanpa sadar, tangan Randika satunya malah mencubit pucuk gunung milik Christina itu. Christina yang tak sadarkan diri itu merasakan cubitan itu dan sensasi hangat dari dadanya. Namun, karena tindakan nakalnya ini, tenaga dalamnya Randika menjadi kacau dan wajah Christina menjadi pucat kembali. Randika lengah, dia dengan cepat berkonsentrasi kembali dan menyalurkan kembali tenaga dalamnya. Namun, wajah Christina berangsur kembali normal dengan cepat. Randika menutup matanya kembali, inilah saat-saat penentuan. Dia tidak boleh lengah ataupun terlalu rileks. Setelah 10 menit berlangsung, rona wajah Christina sudah kembali sedia kala dan Randika sudah bernapas lega. Membuka matanya dan dia melihat Christina sudah bernapas dengan normal. Randika tersenyum lebar, perempuan ini berhutan budi padanya. Pada saat ini, Randika justru mengamati kecantikan Christina. Christina memang bukan sembarangan perempuan. Kecantikannya yang terpancarkan benar-benar natural. Wajahnya yang bulat dan bibirnya yang kecil membuat Randika tidak tahan ingin menciumnya. Belum lagi, puting milik Christina ini benar-benar indah sekali. Warna pinknya sangat cerah. Meskipun Christina sudah tergolong tidak muda di usianya sekarang, tubuhnya ini bisa membuat para supermodel menangis. Randika diam-diam memuji Christina yang benar-benar merawat dirinya ini. Melihat Christina yang masih menutup matanya itu, Randika teringat akan sensasi tangannya yang diapit oleh kedua gunung ini. Benar-benar empuk! Seharusnya memegangnya lagi tidak masalah bukan? Lagipula dia masih belum bangun dan dia sudah menyelamatkan hidupnya. Yah anggap saja ini pajak. Semakin Randika memikirkannya, semakin dia tergoda melakukannya. Kemudian dia menjulurkan tangannya itu. Sekali lagi, hati Randika menjadi gembira bukan main. Kedua tangannya itu berhasil menopang kedua gunung ini dan baginya ini adalah sensasi empuk yang sudah lama dia dambakan. Tanpa sadar, Randika menyebul salah satu pucuk yang menjulang tinggi itu. Tiba-tiba, Christina mengeluarkan desahan. Randika yang terkejut langsung menarik tangannya. Setelah beberapa detik, Christina tampak masih belum bangun. Randika terkejut bukan main barusan, benar-benar menakutkan. Kemudian, Randika memutuskan lagi untuk berpetualang. Christina merasa dadanya itu seakan tertutup oleh sesuatu dan seperti ada yang meremas-remas dadanya itu. Sensasi aneh ini membuatnya mengangkat kelopak matanya tetapi rasa lelah membuatnya tertidur sekali lagi. Namun, sensasi aneh itu terasa lagi di dadanya. Kali ini sensasi itu terasa seperti sebuah tangan memegang dadanya dan mencubit putingnya. Terlebih, tangan itu tidak bisa berhenti bergerak. Lalu Christina yang masih setengah sadar itu terbangun dan menyadari sesosok orang muncul di hadapannya. Siapa dia? Kenapa dia di depanku? Dalam hitungan detik sosok orang ini mulai terlihat jelas di matanya. Meskipun masih buram, sosok orang ini jelas seorang laki-laki dan entah kenapa senyumannya itu familiar sekali. Saat dia menutup matanya kembali, dia merasakan sensasi aneh di dadanya itu masih berlangsung. Tiba-tiba, Christina dengan cepat membuka matanya dan melihat ke bawah. Tangan lelaki itu ada di dadanya! Dan dia tidak memakai apa-apa selain celana dalam! Randika yang masih fokus memainkan mainan barunya itu benar-benar tidak sadar bahwa Christina sudah terbangun. Dia terus menilai manakah yang lebih empuk dan lebih bundar, milik istrinya atau Viona atau Christina? Christina sudah naik darah dan mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. "Dasar mesum!" Mendengar suara ini, Randika mengangkat wajahnya dan mendapatkan souvenir yang menyenangkan. PLAK! Nyaring dan enak didengar, Randika yang tertampar itu tidak bisa berkata apa-apa. Kapan dia bangun? Ada sedikit kecanggungan di senyuman Randika. "Yah setidaknya kamu sehat kembali. Biarkan aku jelaskan semua ini.?? "Penjelasan apa? Jelas-jelas kamu ingin memperkosaku!" Christina sudah menutupi dadanya dengan tangannya. "Wow, tunggu dulu, dengarkan penjelaskan dulu." Randika mulai panik. "Tidak perlu berdalih, lelaki macam kamu selalu mengincar perempuan rapuh sepertiku." Christina sudah ingin menangis tetapi dia menyadari Randika hanya memandanginya sambil terdiam. Dia lalu tersadar bahwa dia masih setengah telanjang, dia lalu berteriak keras. "Ahhh!" Chapter 113: Kutunjukan Betapa Bengisnya Diriku "Tidakkk!" Christina berteriak keras sampai-sampai telinga Randika terasa ingin pecah. Christina bertindak dengan cepat. Dia mengambil selimut yang ada di kasur untuk menutupi tubuh bagian atasnya yang telanjang itu. "Aku tidak menyangka kamu adalah pria seperti itu, kau bahkan hendak memperkosaku!" Christina sudah di ambang menangis, pengalaman pertamanya hampir saja dipaksa ambil. "Dengarkan aku dulu sebelum kau mengambil kesimpulan oke?" Randika mulai kesal. Benar memang aku yang membuka pakaianmu itu. Benar aku mencuri-curi kesempatan merasakan buah melonmu itu. Tapi bukankah aku sudah menyelamatkanmu? Anggap itu sebagai imbalannya. Lagipula, aku bermain-main dengan dadamu itu malah memberikan sensasi nikmat bukan? "Dasar pria mesum!" Christina sudah tidak peduli. Dia dengan cepat melayangkan sebuah tamparan lagi pada Randika. Tapi kali ini tangannya dicengkram erat di tengah udara. Meskipun sudah meronta-ronta, Christina tidak bisa lepas dari genggaman Randika. "Tidak! Lepaskan aku!" Christina mulai panik. "Kalau kau ingin aku menjadi bengis, aku akan menunjukannya." Randika menyeringai, wajahnya terlihat marah. "Mau apa kau!" Christina menjadi takut. "Bukannya kamu bilang aku orang mesum? Akan kutunjukan bagaimana orang mesum akan bertindak." Setelah berkata seperti itu, Randika menindih Christina di atas kasurnya. Selimut yang menyelimuti bagian atasnya terjatuh dan dia kembali telanjang. Randika tidak memberinya kesempatan untuk melepaskan diri. "Bagaimana? Apakah ini disebut memperkosa? Sayangnya ini masih belum apa-apa." Setelah itu Randika mencium paksa Christina, tidak membiarkan dia lari. Christina awalnya ingin melawan tetapi bibir Randika dengan sempurna menghalangi bibirnya. Meskipun dia berusaha untuk berteriak, yang keluar hanya desahan dan air liur. Mata Christina terbuka lebar, tetapi dia berhasil menampar Randika dengan keras. Namun, bagi Randika tamparan itu bagaikan sengatan kecil saja. Saat mereka berciuman, Christina mati-matian menggertakan giginya untuk mencegah Randika masuk lebih jauh. Mengetahui hal ini Randika tersenyum, berani melawanku? Tangan Randika sudah berenang-renang di tubuh mulus Christina. Hal ini membuat Christina makin panik, di tengah kepanikannya itu dia berteriak keras untuk meminta tolong. Namun, hal ini dimanfaatkan Randika untuk mengincar lidahnya. Di saat mereka bertemu, Christina berusaha menggigitnya. Untung saja Randika berhasil menarik miliknya tepat waktu. "Hei!" Randika melepas bibir Christina sambil marah-marah. "Memangnya kau anjing?" Serangan Christina itu hampir saja memutus lidah Randika. "Dasar bajingan! Lepaskan aku!" Christina meronta-ronta. "Aku benar-benar akan memperkosamu kalau kau tidak diam!" Randika pura-pura terlihat kejam. "Kugigit hingga putus kalau kau berani!" Christina sudah tidak mau tunduk lagi. "Aku pria mesum, yang di otakku hanyalah wanita dan sex." Canda Randika. "Aku sarankan kau jangan bergerak dan memamerkan tubuhmu itu. Jangan salahkan aku kalau aku tergiur melakukannya." Mendengar ancaman Randika itu Christina sedikit takut. Dia dengan cepat menutup dadanya dengan satu tangannya. "Dengarkan aku." Muka Randika menjadi serius. "Aku hanya akan menjelaskannya sekali." Christina memalingkan wajahnya, memangnya siapa yang mau mendengar penjelasanmu? "Aku sudah memperingatimu untuk berhati-hati terhadap penyakit di dadamu itu. Kalau aku tidak merawatmu tepat waktu tadi, kau benar-benar sudah mati sekarang." Kata Randika dengan nada serius. Dia lalu mengeluarkan jarum akupunturnya dan memperlihatkannya. "Ini alat-alat yang kugunakan padamu, dulu aku sudah bilang bukan kalau aku bisa teknik akupuntur." Christina lalu meliriknya diam-diam. Setelah dipikir-pikir memang dadanya sudah tidak sakit lagi, berarti perkataan Randika ini memang benar! Tapiˇ­ mana mungkin dia mengakui kesalahannya? Wanita tidak pernah salah! "Akupuntur perlu akses langsung ke kulit agar titik-titik tertentu itu mendapatkan hasil maksimal. Penyakitmu ini terpusat di dadamu jadi wajar saja aku perlu kau bertelanjang dada atau aku tidak bisa menyelamatkanmu." Muka Randika lalu terlihat khawatir. "Pada saat itu mukamu benar-benar sudah putih pucat, aku kira kau akan mati. Jadi aku terpaksa membuat keputusan sepihak." Christina mendengus dingin. "Jadi dengan alasan itu kau meraba dadaku sesuka hatimu?" "Akupuntur adalah tahap pertama dan tahap kedua adalah mengeluarkan penyakit itu keluar dari tubuhmu. Aku harus menyalurkan tenaga dalamku tepat di mana penyakit itu berada." "Apa kamu tidak merasakan sensasi hangat saat aku menyentuhnya tadi? Bukankah rasa sakit itu sudah hilang?" Christina memikirkan kata-kata Randika ini, penyakitnya memang sudah tidak terasa sama sekali. "Dan saat kau membuka matamu itu, aku sudah hampir selesai menyembuhkanmu. Setelah merasakannya sendiri, apakah kau masih berpikir aku berbohong?" Christina mengerutkan dahinya, ekspresi mesum Randika saat meraba dadanya itu tidak mungkin dia lupakan. Dirinya tidak akan salah menilai orang! Setelah beberapa saat, Christina mengatakan. "Baiklahˇ­ Lepaskan aku dulu." "Minta maaf padaku dulu." Kata Randika dengan nada serius. "Kamu selalu mengira aku mengejar hatimu selama ini dan bahkan menuduhku pemerkosa. Minta maaf atau aku tidak akan melepaskanmu." Randika pintar memanfaatkan keadaan untuk mendapatkan keuntungan. Meskipun aksinya tadi benar-benar berlandaskan nafsu, dia berhasil memutar balikan fakta menjadi dirinya yang benar. Bahkan dia berhasil membuat Christina terlihat bersalah. Kemampuan ini cuma dimiliki dirinya seorang! Christina mendengus dingin, mana mungkin dia melakukannya. Karena Christina tidak mau mengatakannya, keduanya terdiam beberapa saat. "Hah, ya sudahlah. Aku sudah capek meladenimu." Randika lalu melepaskan Christina. "Jangan lihat ke sini!" Kata Christina. "Hah? Memangnya kenapa?" Randika penasaran. "Apa kau ingin aku tidak memakai baju terus-terusan?" Kata Christina sambil marah-marah. Randika aslinya ingin mengatakan jangan tetapi takut. "Sudah jangan lihat ke sini!" Bentak Christina. Randika lalu menuruti Christina. Sambil melototi Randika, Christina dengan cepat mengambil pakaiannya yang berserakan dan memakainya. "Hei tidak usah lirik-lirik!" Christina menyadari bahwa Randika menatapnya dari sudut matanya. Randika hendak bercanda tetapi dia mendengar ada suara langkah kaki orang. "Kau tinggal sendirian?" Randika mengerutkan dahinya. "Iya, kenapa?" Lalu tatapan mata Randika lalu berubah menjadi serius. "Kenapa kok aku mendengar ada orang yang masuk dari pintu?" "Hah? Ngomong apa kamu?" Christina kelihatan bingung. Tetapi, pada saat ini terdengar suara pintu tertutup dari lantai bawah. Setelah beberapa saat, pintu kamar Christina dibuka. Sebuah kepala seperti sedang mencungul dari baliknya. Randika dan Christina terkejut tetapi yang paling terkejut adalah pria di balik pintu. Setelah beberapa saat hening, Christina terkejut dan mengatakan. "Jansen!?" Muka Jansen terlihat pucat pasi. Christina sedang bersama seorang pria dan yang lebih parahnya adalah Christina yang hanya memakai beha itu sedang memakai bajunya. Sudah jelas bahwa mereka telah selesai melakukannya. "Kalian habis ngapain hah!" Sebelum Christina bisa berbicara, Jansen sudah meledak-ledak. Dia sudah membuka lebar pintu dan membentak mereka dengan keras. Randika kebingungan dengan situasi ini dan memutuskan untuk diam. Pria ini jelas mengenal Christina, kalau tidak maka pria ini tentu tidak mempunyai kunci rumahnya bukan? Jadi diam adalah emas sekarang. "Aku tidak menyangka kau adalah perempuan murahan seperti ini Christina." Ekspresi Jansen benar-benar terlihat sedih. Dia lalu menunjuk Randika. "Hari masih pagi tapi kenapa kau tega melakukannya dengan orang hina ini!" "Maksudmu apa hah!" Christina juga ikut marah. Jansen memang orang yang keras kepala dan tak tahu diri, kejadian sekarang tidak ada hubungannya dengan dia. Apa yang sedang dia lakukan adalah haknya. "Jangan pura-pura kau tidak tahu maksudku. Kau ini guru tahu, pembimbing bibit-bibit negara ini." Jansen lalu menatap Randika dengan tajam. "Dan kau, aku akan memanggil polisi dan menyerahkanmu." Pura-pura takut, Randika tampak gemetaran. "Apaˇ­ dia suamimu?" "Mana mungkin aku mau sama pria macam dia?" Christina mendengus dingin. "Aku sudah mengakhiri hubunganku dengan dia, dia sudah tidak punya hak untuk ikut campur dengan hidupku." Christina lalu menatap Jansen. "Lagipula kenapa kau bisa masuk ke rumahku? Apa yang sedang kulakukan juga bukan urusanmu." Mantan pacar? Randika merasa ini semakin menarik. Chapter 114: Mantan yang Kurang Ajar Ternyata orang yang masuk tanpa ijin ini adalah mantan pacar Christina yaitu Jansen. Randika sedikit bingung, kenapa bisa dia punya kunci rumah ini kalau sudah menjadi mantan? "Christ, kau itu cewekku! Mana mungkin aku tidak ada hubungannya denganmu?" Jansen masih dalam keadaan marah. "Siapa yang cewekmu? Kita ini sudah tidak ada apa-apa! Sudah cepat pergi sana, aku sudah muak melihat mukamu." Christina mulai menggila, pertama dia dihadapi Randika dan sekarang mantannya malah masuk tanpa ijin. Ketika Jansen mau membalas perkataan Christina, dia merasa bahwa pundaknya ditahan. Saat dia menoleh ternyata itu adalah Randika. "Jangan sentuh aku, orang hina sepertimu memang pantas membusuk di penjara. Kau bisa-bisanya memperdayai cewekku, kau pasti memaksanya berhubungan badan dengamu kan!" Kata Jansen dengan marah-marah. "Sudah cukup!" Christina yang sudah memakai bajunya dengan benar ini sudah ingin menampar mulut Jansen. "Kau juga sama saja, sejak kapan kamu punya kunci rumahku? Aku tidak pernah memberikannya padamu, aku bisa melaporkanmu ke polisi juga." Muka Jansen terlihat sedikit tegang, dia lalu berkata dengan santai. "Tentu saja aku punya kunci, aku adalah pacarmu jadi wajar saja bukan?" Christina sudah kehabisan kata-kata. Kenapa bisa dia dulu mau sama pria tidak tahu diri seperti ini? Sudah menduplikat kunci rumahnya tanpa ijin, sekarang dia berceramah tentang apa yang tidak boleh dia lakukan di rumahnya. Randika juga mengerti bahwa pria ini menduplikat kunci sembarangan dan ini membuat kesal Christina. Pria ini benar-benar mengekang Christina. "Dan kau, kau jangan lari. Aku akan melaporkanmu pada teman polisiku." Jansen menahan tangan Randika. Namun, Randika bertanya sambil tersenyum. "Memangnya kau tahu apa yang kami lakukan barusan?" Mendengar pertanyaan ini, Jansen sedikit menjadi marah. "Memangnya apa yang kalian lakukan?" "Tentu sajaˇ­.." Randika sengaja menghentikan kata-katanya dan membuat jengkel Jansen. "Tentu saja kami melakukan hu-bu-ngan ba-dan." Kata Randika dengan nada yang menjengkelkan. Tentu saja, ekspresi Jansen benar-benar menjadi marah. Meskipun mereka telah putus, Jansen masih mencintai Christina. Meskipun mereka tidak bertemu sama sekali sejak putus, dia diam-diam mengamati Christina dari jauh. Dan setelah mengetahui Christina masih belum mempunyai pacar baru, Jansen mengira bahwa Christina masih mencintai dirinya. Jadi, demi memperbaiki hubungan mereka, Jansen menduplikat kunci rumah Christina diam-diam. Tanpa diduganya, dia memergoki Christina yang tidak memakai baju sedang bersama seorang pria. Wajahnya benar-benar menjadi merah setiap detiknya. Namun, Randika menyiram api ini dengan minyak. "Tadi, Tina benar-benar liar. Kelembutan dadanya di mukaku benar-benar luar biasa dan bibirnya tidak pernah lepas dariku." Tina? Christina yang mendengarnya juga mulai marah. Namun, wajah Jansen justru lebih muram lagi setelah mendengarnya. Randika justru menyiram minyaknya lagi. "Tidak sampai di situ, Tina benar-benar dikuasai nafsu dan melepas semua bajunya sendiri. Oh ya, apa kau sudah tahu celana dalam kesukaannya apa? Dia suka celana dalam putih, benar-benar bagaikan malaikat." Jansen sudah tidak bisa menahan diri lagi. Christina justru tersipu malu ketika mendengarnya. Bajingan itu benar-benar tidak tahu diri! Sedangkan Randika sepertinya masih menghayati peran pendongeng. "Terus di tengah-tengah ciuman panas kami, perlahan aku membuka pengait behanya itu." "Randika!" Christina dengan cepat memotong. Entah ini karena dirinya marah atau malu, yang penting dia tidak bisa mendengar ini lebih jauh. Jansen yang mendengar semua dongeng panas ini sudah hampir gila. Christina yang memotong cerita pria tidak dikenal ini malah makin memperjelas situasi. "Aku tidak menyangka bahwa kamu semesum itu. Bukankah dulu kau tidak ingin melakukannya sebelum menikah? Sekarang coba lihat dirimu itu? Bisa-bisanya seorang guru sepertimu berhubungan badan di siang hari!??? Dada Jansen sudah terasa sakit. Dia lalu menunjuk Randika. "Ambil perempuan murahan itu, aku tidak membutuhkan barang bekas." Setelah melampiaskan kekesalannya, Jansen sudah berniat untuk pergi dari tempat terkutuk ini. Namun, Randika dengan santai mengatakan. "Apakah aku menyuruhmu untuk pergi?" "Maksudmu?" Jansen mendengus dingin. "Kau datang ke sini hanya untuk menceramahiku lalu ingin pergi begitu saja?" Wajah Randika menjadi dingin. "Kau itu makhluk yang lebih hina dariku. Kau tanpa ijin masuk ke rumah orang dan sudah memata-matai orang. Aku juga punya teman di kepolisian yang akan senang berbincang-bincang denganmu." "Kau pikir aku takut?" Setelah berkata seperti itu, Jansen merasa tubuhnya melayang. Ternyata Randika sudah mengangkat dirinya. Setelah membantingnya ke tembok, Randika berkata dengan nada serius. "Kau adalah orang yang paling tidak tahu diri yang pernah kutemui. Kau benar-benar telah melanggar privasi Christina, lelaki macam apa kau?" Christina hanya melihat ini sambil mengerutkan dahi. Bukannya Randika yang tidak tahu diri dengan menyentuh dirinya? Tetapi melihat Randika membela dirinya, dia sedikit bernapas lega. "Setidaknya aku lebih baik dari pencuri macam kamu! Sudah ambil saja pelacur itu, aku tidak butuh barang bekas semacam dirinya!" Tiba-tiba, sebuah pukulan melayang ke arah mata Jansen. Sekarang, mata kiri Jansen benar-benar hitam dan tidak bisa dibuka. "Kau bisa menghinaku tapi jangan sekali-kali mengata-ngatai Christina!" Randika lalu berbisik padanya. "Sepertinya kau belum paham apa maksudku, jadi biarkan aku menemanimu hari ini." "Kau mau aku bilang apa? Jelas-jelas dia selingkuh dari aku!" Setelah itu, mata kanan Jansen terkena pukulan. Sekarang kedua matanya menjadi hitam. Serangan kedua ini lebih pelan jadi Jansen masih bisa membuka mata kanannya. "Sepertinya kamu masih belum paham terhadap situasimu. Kau dan Christina itu sudah MANTAN. Kalian sudah tidak punya hubungan apa pun." Kata Randika. "Bah!" Jansen menatap Christina dengan jijik. "Perempuan itu menjanjikan segalanya untukku, dan sekarang pelacur itu sudah melupakan janjinya?" Tanpa aba-aba, Randika memukul perut Jansen dengan keras. Jansen hanya bisa merintih kesakitan. "Ah! Kenapa kau menyiksaku seperti ini? Lepaskan aku!" Cara bicara Jansen masih tidak berubah. "Kenapa aku harus menurutimu?" Randika lalu menatap tajam Jansen. "Apa kau pikir aku bodoh?" "Kau harus memanggil perempuan dengan namanya, bukan dengan sebutan kasar seperti tadi." Randika lalu menamparnya. "Dan dia itu sudah mantanmu bukan pacarmu." "Pelacur tetap pelacur!" Jansen tidak peduli, namun Randika menamparnya lagi. "Coba ulangi lagi?" Kata Randika. "Murahan!" Jansen menggertakan giginya. Randika sudah tidak tahan lagi. Tangan kanannya memelintir pinggang Jansen dengan keras. "Ah!" Jansen sudah merintih bagai babi berteriak. Namun, Randika menutup mulutnya membuat Jansen tidak bisa melampiaskan rasa sakitnya itu. "Baiklah, kita ulangi lagi." Kata Randika sambil tersenyum. "Christinaˇ­ Namanya adalah Christina!" Jansen sudah ketakutan, dia menyadari bahwa pria di depannya ini benar-benar kejam. Jika dia tidak menurutinya mungkin saja dia akan dibunuhnya. "Nah begitu dong." Randika mengangguk puas. "Nah sekarang kau perlu tahu kesalahanmu apa saja sampai-sampai merepotkan Christina seperti ini. Sekarang aku akan bertanya dan kau akan menjawab." Jansen hanya merinding ketakutan ketika melihat senyuman Randika tersebut. "Menduplikat kunci rumah ini merupakan kejahatan, mengerti?" Jansen mengangguk. "Karena kalian sudah putus, apakah kau memiliki hak untuk mengatur apa yang dia lakukan pada waktu luangnya?" Jansen mengangguk. Tetapi setelah melihat wajah Randika yang menjadi marah itu dia segera menggelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka akan ada permainan kata di tengah-tengah interogasi yang menakutkan ini. "Karena kau sudah mengerti, apakah berarti selama ini yang kau lakukan itu salah?" Randika sudah seperti guru anak TK yang menghukum muridnya. Jansen mengangguk. "Karena kau salah, apa yang harusnya kamu lakukan?" Randika lalu meletakan Jansen dan membantunya merapikan bajunya. "Meminta maaf." Kata Jansen sambil menundukan kepalanya. "Bukan ke aku." Lalu Randika menunjuk ke arah Christina. Jansen lalu menoleh dan mengatakan. "Maafkan aku, aku benar-benar tidak tahu diri selama ini. Aku tidak akan pernah menemuimu lagi." Jansen sudah ingin muntah darah setelah mengatakannya. Lalu Christina mengerutkan dahinya. "Kalau begitu pergilah dari rumah ini." Ketika Jansen hendak pergi, Randika mencegahnya. "Mana kuncinya." Jansen lalu mengambil kuncinya dari saku dan berjalan keluar dari rumah dengan wajah suram. Ketika Jansen sudah benar-benar pergi, Randika berkata sambil tersenyum. "Tina, kenapa kau tidak pernah memberitahuku bahwa kamu pernah punya pacar?" "Hah? Kenapa kau sok akrab begitu?" Christina mengerutkan dahinya. "Sana kamu juga pergi." "Kenapa aku harus pergi?" Randika terlihat bingung. "Bukankah barusan aku membantumu mengusir mantanmu yang agresif itu? Harusnya aku mendapatkan hadiahku dari kamu." "Apakah kau ingin aku melepas bajuku lagi?" "Tentu saja!" Randika dengan cepat mengangguk tetapi sebuah bantal sudah melayang ke wajahnya. "Mati sana dasar pria mesum!" Chapter 115: Salah Masuk Christina sudah di ambang batas kesabarannya menghadapi Randika. Bahkan seorang terpelajar seperti dirinya memiliki kesabaran. Dan dia merasa bahwa pria ini justru lebih tidak tahu diri daripada Jansen. Setelah keluar dari rumah Christina, Randika menghampiri Viona terlebih dahulu untuk memastikan bahwa dia tidak apa-apa. Setelahnya dia kembali ke rumahnya. Sesampainya di rumah, dia melihat Ibu Ipah sedang menonton TV di ruang tamu. "Wah nak Randika sudah pulang?" Kata Ibu Ipah sambil tersenyum. "Iya Bu, tadi habis main dengan teman dulu." Kata Randika sambil tertawa. Lalu Randika naik ke lantai 2 dan bertemu dengan Inggrid yang baru saja selesai mandi. "Wah istriku ternyata juga sudah pulang. Tumben sekali kamu pulang cepat?" Randika menyunggingkan senyuman lembut. Inggrid masih mengeringkan rambutnya. "Iya tapi masih ada kerjaan yang harus aku selesaikan. Dan jangan coba-coba kamu melangkah satu langkah pun. Ibu Ipah ada di bawah." "Hahaha." Randika menarik kembali tangannya yang nakal itu. Bagaimana dirinya tidak tergoda? Bau yang harum sekaligus baju santainya itu seakan mengundangnya untuk melakukannya. "Tapi harus kuakui, kecantikanmu tiap hari selalu bertambah. Sungguh beruntung aku memilikimu." Tiba-tiba Randika memuji Inggrid. Inggrid yang mendengarnya merasa hatinya menghangat, tetapi semua itu menjadi rusak ketika Randika mengatakan. "Kemarilah dan peluk aku sayang." Apakah bajingan ini tidak bisa sesekali diam? "Pergi sana." Inggrid menampar tangan Randika yang hendak memeluknya, Inggrid lalu berjalan ke kamarnya. Randika tentu saja mengikutinya tetapi Inggrid dengan serius mengatakan. "Aku masih ada pekerjaan mendesak, jangan ganggu aku." Menggaruk-garuk kepalanya, Randika hanya bisa kembali ke kamarnya dan tidur. ........ Keesokan harinya Randika masih bermalas-malasan di kasur sambil bermain handphonenya. Tiba-tiba dia mendapatkan telepon dari nomor tidak dikenal. "Selamat pagi, saya dari Bank Merah ingin menawarkan pinjaman kredit pada Anda. Bisa saya minta waktunya sebentar?" "Halo? Halooo?" ......ˇ­ Karena tidak menjawab sama sekali akhirnya pihak penelepon menyerah dan mematikannya. Randika kembali melihat-lihat berita di handphonenya. Namun, tidak sampai 2 menit handphonenya kembali bergetar. Randika sudah tidak mau diganggu lagi dan mengangkatnya sambil berkata dengan nada kasar. "Tolong jangan ganggu aku dulu, aku sedang sibuk!" Saat Randika mau menutupnya, suara familiar terdengar olehnya. "Kak Randika, boneka ginseng ini datang lagi di tempatku!" Apa? Boneka ginseng? Randika, yang masih tiduran, langsung berdiri tegak. Matanya yang sayu itu menjadi terbuka lebar dan rasa malasnya dalam sekejap menghilang. "Tunggu aku, aku akan segera ke sana." Randika dengan cepat menutup teleponnya dan langsung mencuci mukanya sekaligus berganti baju. Bagaikan angin, dia berlari menuju pintu keluar. "Eh nak, sarapannya lho." Ibu Ipah yang sedang menyiapkan sarapan terkejut ketika Randika pergi dengan buru-buru. Lalu Randika menghampiri meja makan dan hanya mengambil 2 pisang bersamanya. "Maaf bu, aku ada perlu." Randika langsung lari ke rumah sewaan Indra. "Kenapa akhir-akhir ini aku merasa kesepian." Kata Ibu Ipah sambil berkaca-kaca. Dalam sekejap, Randika sudah berada di rumah Indra sambil mengunyah pisangnya. Dan tentu saja, boneka ginseng itu sedang bermain bersama Indra. Melihat sosok kakak seperguruannya, Indra tersenyum. "Kak! Cepat sekali kau datang!" Ketika boneka ginseng itu melihat Randika, ia tertawa dan melambaikan tangannya seakan-akan memberi salam. Kau tidak akan bisa kabur hari ini! Randika menyalurkan tenaga dalamnya terlebih dahulu dan karena ini masih pagi, tenaganya masih berlimpah. Tetapi, bahkan Randika belum bergerak sama sekali, boneka ginseng itu berdiri dan melompat ke lantai lalu berlari ke arah jendela dan menghilang. Randika benar-benar melongo beberapa menit. Kali ini boneka ginseng itu sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk dirinya berbuat apa-apa. Benar-benar kurang beruntung! "Yahˇ­ dia hilang lagi kak." Indra terlihat sedih. "Aku tahu." Randika justru lebih sedih lagi, dengan lunglai dia hendak pergi dari sini. "Kak, mau ke mana kamu?" Tanya Indra. "Tidur lagi." Pada saat yang sama, Randika melempar sebuah pisang pada Indra. "Wah kakak baik sekali membawakanku makan." Kata Indra sambil tersenyum. Randika benar-benar sedang bersedih. Dia sudah repot-repot datang sekuat tenaga untuk menangkap boneka ginseng itu, eh boneka itu malah sama sekali tidak memberinya kesempatan. Bagaimana caranya menangkapnya! Randika benar-benar marah pada dirinya sendiri. Jika saja dia tahu trik untuk membuat boneka itu lengah pada dirinya. Dia sama sekali tidak punya cara untuk menangkapnya. Melihat jam pada handphonenya, sudah terlambat baginya untuk tidur lagi. Dia lalu mencari makan pagi di pinggir jalan dan makan di tempat. Setelahnya dia mencari taksi dan langsung berangkat menuju kantornya. Seperti biasa, Randika segera ke lantai 9 dan menuju ruangannya. Tetapi, panggilan alam memanggilnya. Jadi Randika mampir dulu di toilet. Lalu dengan kecepatan dewanya, Randika membuka celananya dan mengeluarkan isi perutnya. Ketika sudah selesai, dia segera keluar tetapi pintunya itu menatap wajahnya. Hendak memakinya, Randika terkejut ketika melihat siapa yang mendorong keras pintunya itu. "Viona?" Terlebih lagi, Viona tidak memakai pakaian kerjanya sekarang melainkan hot pants yang dipadu dengan tank top hitam. Kakinya yang putih dan belahan bajunya itu membuat dia terlihat sexy sekali. Dari tipisnya bajunya itu, Randika jelas melihat bahwa hari ini Viona memakai dalaman berwarna biru. Pada saat ini Viona terlihat memegang perutnya, sepertinya dia sudah benar-benar kebelet. "Randika?" Viona juga terkejut melihat Randika. Ngapain dia ada di toilet perempuan? "Hei kenapa kau bisa ada di toilet perempuan?" Viona hampir lupa bahwa dia kebelet pipis. Randika menampar dahinya, bisa-bisanya Viona melakukan kesalahan seperti ini. "Vi, ini toilet laki-laki. Kamu salah masuk." "Ah?" Viona tersipu malu. "Maaf aku buru-buru tadi, aku tidak melihat dengan jelas. Viona langsung bergegas keluar tetapi, terdengar suara tawa beberapa orang dari luar. Sepertinya sekumpulan orang hendak memakai toilet ini. Gawat! Viona tidak bisa lari, jika dia keluar sekarang jelas mereka berpapasan. Melihat adanya Randika di toilet ini, bisa-bisa gosip tidak benar akan menyebar dengan cepat. Apa yang harus dia lakukan? Viona benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Pada saat ini, Randika sudah memeluk Viona, membuka pintu toiletnya dan masuk bersama. Setelah mereka masuk dan mengunci pintunya, beberapa orang masuk sambil bercanda ria dan pipis di urinal. Tetapi, ada seseorang yang masuk ke toilet di samping Randika. "Hei, aku dengar sahammu jatuh ya kemarin?" Salah satu dari mereka bertanya. "Aduh jangan ingatkan aku lagi. Aku benar-benar ingin bunuh diri kemarin itu." Suara orang paruh baya terdengar sedih. "Hahaha, anggap saja itu pajak dari kapan hari. Kamu kan sudah dapat banyak yang waktu itu. Sabar saja, beberapa hari lagi harusnya saham membaik kok." "Aduh aku sudah tidak punya uang, aku rasanya baru investasi lagi tahun depan. Hei aku dengar ponakanmu masuk ke universitas ternama di kota ini kan?" "Hahaha tahu saja, dia memang pintar." Suara temannya ini terdengar bangga. Di dalam bilik, Randika sedang memangku Viona. Mereka berdua mendengarkan pembicaraan bapak-bapak ini dengan tenang. Chapter 116: Aku Tidak Akan Mengintip Posisi Randika dan Viona ini sangat canggung. Meskipun ini adalah perusahaan besar, satu bilik toilet didesain untuk menampung satu orang jadi keadaan mereka berdua bisa dikatakan sangat sempit. Pada saat ini, keduanya benar-benar berdekatan dan bisa mendengar suara napas masing-masing. Viona duduk menghadap pintu di pangkuan Randika sedangkan Randika merangkulnya di pinggangnya. Bau harum dan kelembutan kulit Viona benar-benar bagaikan ekstasi bagi Randika. Apalagi salah satu tangannya itu sedang beristirahat di paha putih Viona. Benar-benar perasaan yang nyaman baginya. Mendengar napas Randika, Viona sedikit tersipu malu. Namun, dia merasakan bahwa napas Randika semakin keras dan tangan Randika perlahan mulai bergerak, benar-benar tidak bisa diam. "Ranˇ­" Viona berkata dengan suara pelan. Randika tersenyum dan berbisik pada telinganya. "Tenanglah, mereka tidak akan menemukan kita di sini." Pada saat ini, terdengar suara besi dari sabuk yang menatap lantai. Orang di samping bilik ternyata buang air besar. Setelah itu, tidak butuh waktu lama untuk mencium aroma tidak sedap dan suara bom terjatuh. Mendengar suara air yang keras itu, Randika tidak tahu harus tertawa atau menangis. Wajah Viona semakin merah dan perasaan aneh mulai muncul di dalah hatinya. Tangan Randika tidak berhenti sama sekali dan meraba-raba tubuh Viona. Viona hanya bisa menggigit jarinya, takut suara desahannya itu terdengar. Dua orang yang di luar tidak selesai-selesai dan masih saja berbincang-bincang. Mereka terus menceritakan keseharian mereka yang penuh warna. "Hei, sabtu malam nanti kau mau ke bar untuk bersenang-senang?" "Hahaha, kau tahu kalau aku tidak bisa bukan? Macan di rumahku bisa mengamuk dan aku bisa-bisa tidur di teras." Temannya itu langsung tertawa lebar. Bersamaan dengan tawa itu, suara air diguyur terdengar. Setelah itu mereka berjalan keluar sambil terus tertawa. Akhirnya aku bebas! Viona menghela napas lega. Ketika dia hendak keluar, terdengar suara orang berjalan masuk dan membuka pintu kamar mandi ini. "Kau tidak perlu khawatir." Randika berbisik di telinga Viona sambil menyuruhnya duduk lagi. "Ran, aku sedang buru-buru." Wajah Viona sudah benar-benar merah, perasaannya benar-benar sudah bercampur aduk antara malu dan kebelet. "Tunggulah sebentar, mereka seharusnya akan pergi sebentar lagi." Randika berusaha menenangkan. Namun, mereka terlupa dengan bilik samping mereka. Sekarang setelah dia selesai, dia mengguyur dan keluar. Setelah itu dia menyapa temannya yang sedang pipis di luar. Lagi-lagi mereka harus menunggu kedua orang itu. Byur! Setelah suara urinal itu terguyur terdengar, kedua orang itu meninggalkan kamar mandi sambil terus bercanda. "Nah, cepat keluar sekarang!" Randika berbisik pada Viona, seharusnya sekarang kamar mandi cowok ini sudah kosong. Viona dengan cepat berdiri dan hendak membuka pintu bilik toiletnya. Tetapi, suara pintu kamar mandi itu terbuka lagi dan beberapa orang terlihat memasuki kamar mandi ini. Viona sudah benar-benar ingin menangis. Mengapa pagi hari banyak orang yang ke kamar mandi? Biasanya yang pergi berbondong-bondong adalah perempuan, dia sama sekali tidak tahu ternyata laki-laki juga sama dengan perempuan. Randika tidak berdaya, dia memangku Viona lagi. "Ran, aku sudah tidak tahan." Viona berbisik padanya sambil merasa malu. "Kalau begitu, lakukanlah di sini." Kata Randika dengan nada serius. "Ah?" Viona tersipu malu. Melakukannya di sini? Di hadapan orang yang dia suka? Gila! Tidak akan! "Jangan khawatir, aku tidak akan mengintip." Ekspresi Randika terlihat tulus, meskipun dari luar saja dia terlihat tulus. "Perlu aku menutup mata atau aku menghadap pintu saja?" Kata Randika. Viona masih merasa ragu, kejadian ini benar-benar memalukan kalau benar-benar terjadi. Tetapi, dia tidak bisa menahan pipisnya lebih lama lagi. Beberapa orang memasuki kamar mandi ini lagi, suara dan tawa mereka seakan tidak akan pernah berhenti. Bisa dikatakan bahwa dirinya terjebak di dalam bilik selama beberapa menit lagi. Viona sudah tidak tahan, seharusnya dia tidak minum sebanyak itu sebelum ke sini. "Tutup matamu dan berdirilah menghadap pintu." Kata Viona. Ini benar-benar memalukanˇ­. Randika dengan cepat berdiri dan menutup matanya. "Jangan khawatir Vi, jika kamu belum selesai aku tidak akan bergerak sama sekali." Melihat Randika mematuhi kata-katanya dia sendiri, Viona dengan cepat membuka risleting dan mengangkat dudukan toiletnya. Sudah terlambat untuk menyesal, Viona menutup matanya dan duduk di toilet. Randika yang menutup matanya justru membuat indera pendengarannya lebih tajam. Dia sebentar lagi akan mendengarkan air mancur itu keluar dan dia sudah bersiap-siap membayangkan posisi dan wajah Viona seperti apa sekarang. Namun, kenapa dia merasa bersalah? Tetapi, Randika tidak mendengar suara air keluar sama sekali. Dengan nada bingung, Randika bertanya. "Vi, kau baik-baik saja?" "Akuˇ­ aku tidak bisa melakukannya." Suara Viona seperti orang yang mau menangis. "Sudah tenang saja, jangan terlalu tegang seperti itu." Randika masih tidak menoleh. "Sudah lepaskan saja, aku tidak lihat apa-apa kok." Meskipun suara di luar semakin sedikit, orang-orang baru akan kembali meramaikan kamar mandi cowok ini. Viona yang berkonsentrasi itu semakin gugup mendengar orang-orang itu. Semakin dia memikirkannya, semakin dia tidak bisa melakukannya. Namun, tubuhnya tidak bisa menahan perasaan ingin buang air kecilnya ini. Randika tidak membuatnya buru-buru, dia hanya berdiri dengan tenang. Masalah seperti ini perlu sebuah ketenangan. Mendengar tidak ada orang lagi di luar, Viona bernapas lega. Suara air mancur itu akhirnya terdengar. Mendengar suara air mancur itu, otak Randika langsung membayangkan muka malu Viona yang terlihat imut itu. Setelah beberapa detik, suara air mancur itu berhenti. Viona sudah membuka matanya dan mengintip sosok Randika yang berdiri di depannya. Sepertinya dia tidak menoleh sama sekali. Entah kenapa dia menyukai sifat jentelmen Randika ini. "Ran aku sudah selesai." Viona sudah kembali memakai celananya. Randika menoleh dan melihat wajah merah Viona itu. Dia lalu mengingat gambaran Viona yang pipis tadi dan tidak bisa menahan dirinya. Dia segera mengangkat dagu Viona dan menciumnya. Hm!! Viona terkejut tetapi tidak melawan. Perasaan nyaman ini dirindukan olehnya. Tetapi, suara orang cuci tangan tiba-tiba terdengar dan mereka berdua langsung tersadar. Viona sudah tidak bisa menatap wajah Randika saking malunya. Setelah mendengar tidak ada orang, Randika keluar dari bilik toilet dan mengatakan dengan pelan. "Aku akan keluar dulu, setelah aku memastikan tidak ada orang barulah keluar." Viona mengangguk. Tidak lama kemudian, Randika memperhatikan sekelilingnya dan melihat sudah tidak ada orang di sana. Randika lalu memanggil Viona agar segera keluar. Melihat Viona yang lari terbirit-birit menjauhi dirinya membuat Randika tidak bisa berhenti tersenyum. Masih pagi tetapi dia sudah mengalami kejadian menyenangkan, apakah hari ini adalah hari keberuntungannya? Chapter 117: Liburan Bersama Saat mereka di ruangan kerja, Viona diam-diam melirik Randika. Dia tidak bisa menghilangkan rasa malunya ini. "Pak Randika selamat pagi." Kelvin masuk ke dalam sambil tersenyum. "Bagaimana dengan sampel produk barunya?" Randika tidak mau berbasa-basi. "Sukses sekali berkat bantuan Anda!" Kelvin tertawa puas. "Sampel produk baru telah disebarkan ke pasar untuk dites. Sekarang kami sedang mengembangkan produk baru lainnya. Tetapi tentu saja, produk baru ini tetap butuh bantuan Anda dan kelompok Anda. Setidaknya, kau harus meminjamkan tenaga Viona untuk kelompokku selama beberapa hari." Randika menoleh ke arah Viona dan menyadari bahwa Viona sedang meliriknya. Sepertinya dia sedang curi-curi dengar. "Demi perkembangan kemampuannya, tolong ajari Viona dengan baik." Pada saat ini, sekretaris yang biasanya bersama Inggrid masuk ke ruangannya. "Pak Kelvin dan Pak Randika, Anda sudah ditunggu oleh Ibu Inggrid di ruang rapat. Mohon mengumpulkan kelompok Anda masing-masing." "Ibu Inggrid meminta kita semua hadir?" Kelvin bingung dan khawatir. "Benar, Ibu Inggrid menginginkan kehadiran semuanya." Sekretaris itu tersenyum. "Jangan khawatir, suasana hati Ibu Inggrid sedang bagus. Jadi seharusnya tidak ada masalah." "Baiklah, kami akan berkumpul di ruang rapat segera mungkin." Kata Kelvin sambil tersenyum. Tidak lama kemudian, seluruh kelompok Kelvin dan Randika sudah berkumpul di ruangan rapat. Inggrid sudah menunggu mereka dan duduk di kursi pemimpin. "Baiklah, silahkan duduk." Kata Inggrid sambil tersenyum. Hampir 20 orang berkumpul di ruangan ini, tetapi karena ruangan rapat ini besar mereka berkumpul di satu sisi saja. "Baiklah, aku hanya ingin mengabarkan berita bagus buat kalian semua." Kata Inggrid sambil tersenyum. "Seperti yang sudah kalian ketahui, produk baru parfum kita telah disebarkan di pasar kemarin lusa. Setelah tim kita mempromosikan dan menjual beberapa sampel, bisa dikatakan bahwa kita sukses besar. Dari segi kualitas dan komentar orang-orang, ini semua benar-benar jauh melebihi ekspektasi perusahaan. Bisa dikatakan bahwa ini adalah langkah besar pertama kita menuju kesuksesan." "Benarkah?" Kelvin dan para ahli parfum lain masih belum bisa memproses informasi ini. Beberapa minggu ini mereka benar-benar bekerja keras dan bisa dikatakan bahwa produk baru itu adalah darah dan keringat mereka. Dan setelah mereka mengetahui bahwa produk baru mereka itu sukses di pasar, perasaan lega dan senang melebur menjadi satu. "Dengan tahap pertama yang sangat bagus ini, aku rasa penjualan besar-besarannya akan sukses. Tahap berikutnya adalah bagian promosi jadi kalian tidak perlu khawatir." Inggrid lalu berdiri. "Tanpa usaha kalian semua, perusahaan kita tidak akan bisa melangkah sejauh ini. Untuk itu aku ingin berterima kasih pada kalian secara langsung." Setelah itu Inggrid membungkuk hormat pada orang-orang. "Bu Inggrid tidak perlu terlalu berlebihan." Kelvin dengan cepat meminta Inggrid menaikan kepalanya. "Ini adalah pekerjaan kami. Sebuah kebanggaan tersendiri bagi kami untuk bisa melayani dan maju bersama-sama dengan perusahaan ini." Kelvin dan para ahli parfum lain tergerak dengan tindakan Inggrid barusan. Mereka semua setuju dengan kata-kata Kelvin. "Sebagai hadiah dari kerja keras kalian, aku memutuskan bahwa kalian semua berhak mendapatkan libur selama 3 hari!" Kali ini semua orang bersorak gembira. Empat hari libur benar-benar luar biasa! "Ditambah lagi, perusahaan akan mengatur kegiatan liburan bersama secara cuma-cuma." Kata-kata Inggrid ini makin membuat mereka bersorak gembira. "Namun, sayangnya kalian harus memilih apakah kalian akan liburan sendiri selama 3 hari atau berpartisipasi liburan bersama yang diatur oleh perusahaan." Setelah mendengar hal tersebut, semua orang saling memandang satu sama lain. Beberapa ingin pergi tetapi beberapa juga memikirkan ingin bersantai di rumah bersama keluarganya. Bagaimanapun juga, 3 hari libur ini benar-benar suatu berkah di tengah pekerjaan mereka yang melelahkan. "Jangan khawatir, pikirkan baik-baik dulu. Kalian bebas menentukan pilihan, tidak ada paksaan." Kata Inggrid. Pada saat ini, Randika berdiri. "Bu Inggrid, kemanakah memangnya kita akan pergi?" Melihat Randika yang berdiri itu, Inggrid sedikit mengerutkan dahinya. Tapi dia tahu bahwa Randika hanya berusaha mencairkan suasana. "Kami telah memesan hotel di pulau kura-kura." Kata Inggrid sambil tersenyum kembali. "Wah kalau begitu aku ikut!" Kata Randika sambil tertawa. "Aku juga!" "Aku juga mau!" Tiba-tiba satu per satu mulai menyuarakan persetujuannya. Randika lalu menoleh ke arah Viona dan berkata sambil tersenyum. "Vi, ayo kamu juga." "Oh? Baiklah." Viona mengangguk sambil tersenyum. Adegan ini tidak luput dari mata Inggrid. "Kalau begitu, mari kita berlibur bersama!" Pantai, bikini, seafood aku datang! ......ˇ­.. Pulau kura-kura menjadi salah satu alternatif tujuan wisata ketika para turis mengunjungi kota Cendrawasih. Perjalanan memakai perahu akan memakan waktu 20 menit dari pelabuhan. Tujuan wisata ini benar-benar populer karena banyaknya kura-kura dan hewan laut lainnya. "Hahaha!" Randika tertawa ketika melihat ombak. "Hei ngapain kamu tiba-tiba tertawa?" Inggrid yang duduk di sampingnya tertawa. "Barusan ada bikini yang hanyut." Semua orang ikut tertawa mendengarnya. "Baik semuanya, kita akan menginap di hotel Oceana untuk liburan kali ini. Untuk hari ini, kalian bebas melakukan aktivitas apa pun." Inggrid lalu tersenyum pada bawahannya itu. "Sayang, kalian sepertinya tidak ingin bersamaku." "Lho Bu, jangan begitu dong." Semua para lelaki tertawa, mata mereka sudah lama tertuju pada cewek-cewek yang memakai bikini di pantai. Ahhhˇ­. Masa muda memang menyenangkan. Kelvin menghela napas dalam-dalam. Untuk liburan kali ini dia membawa istri dan anaknya yang masih kecil ke sini. Jadi dia tidak mencuci mata bersama rekan-rekannya itu. Kerumunan orang ini dengan cepat menghilang, mereka semua sedang menuju ke pantai dan hendak menggelar tikar dan menikmati suasana pantai. Sedangkan Randika, dari awal dia sudah menghilang. Dia diam-diam sudah mendekati sepasang cewek yang sedang berjemur di kursi pantai. "Hai cantik, tidak baik lho berjemur terus-terusan." Kata Randika sambil tersenyum. Matanya Randika juga tampak sudah menelanjangi mereka. Setelah bertahun-tahun berkelana, hanya dengan sekali lirik saja Randika bisa mengetahui tipe-tipe cewek nakal yang mana. Tentu saja, kedua perempuan yang sedang dia dekati ini adalah tipe orang yang tidak masalah dengan permainan tiga orang. "Bagaimana mau menjemur kalau kau menghalangi?" Perempuan cantik itu menatap tajam Randika yang menghalangi matahari. Tetapi setelah melihat tubuh kekar Randika, dia tersenyum manis. Perempuan yang di sebelahnya juga ikut tersenyum pada Randika. "Ah maksudku bukan begitu, cuman sayang sekali jika tubuh kalian yang cantik itu akan kesakitan kalau berjemur terus-terusan." Kata Randika sambil duduk di pucukan kursi. "Kami sudah memakai tabir surya." Perempuan yang di sebelah kiri tersenyum. "Sayang sekali kamu tidak bisa mengoleskannya pada kita." "Hahaha." Randika sama sekali tidak malu. "Tapi kalau dilihat-lihat, cara pemakaian kalian ini salah." "Oh? Benarkah? Kalau begitu bagaimana cara yang benar?" Keduanya mulai tertarik dengan Randika. Chapter 118: Cara Mengoleskan yang Benar Pada saat ini, Randika masih berusaha menggoda 2 perempuan cantik yang berjemur. Dengan kemampuannya berbicara, Randika berhasil membuat kedua perempuan ini tertarik padanya. "Pemakaian tabir surya itu aslinya memiliki kaitannya dengan ilmiah. Tetapi, sebelum aku memberitahu kalian, bagaimana cara pemakaian kalian sebelumnya?" "Bukannya kita tinggal memakainya di tempat yang kita inginkan?" "Salah." Randika sudah bagaikan sarjana. "Cara pemakaian tabir surya itu punya cara yang benar, jika salah memakainya maka hasilnya tidak maksimal dan usahamu terbuang sia-sia. Kalian harus memakainya dari atas ke bawah." Meskipun awalnya mereka hanya bertanya karena penasaran, Randika berhasil meyakinkan mereka dengan nada dan muka seriusnya. Sekarang mereka benar-benar tertarik pada Randika. "Kenapa harus dari atas ke bawah? Karena tabir surya itu hanya teroles di pori-pori dan tidak diserap kulit maka tugasnya hanya sebagai pelindung." Kedua perempuan ini mengangguk, penjelasan Randika masuk akal. "Beda orang beda cara pemakaiannya, mulai dari jumlah dan cara memakainya akan berbeda setiap orang. Tetapi, kita jangan ke situ dulu. Lebih baik kita membahas bagian tubuh mana yang paling penting." Kedua perempuan ini bahkan tidak berkedip, mereka fokus pada penjelasan Randika. "Contohnya, ketika berjemur di bawah matahari seperti ini, bagian wajah adalah bagian yang terpenting. Khususnya untuk perempuan cantik seperti kalian, aku tidak menyarankan menggunakan kacamata hitam sambil berjemur karena nantinya akan menghasilkan hasil yang tidak merata. Dan sebagai hasilnya, bukannya semakin cantik tetapi kalian akan terlihat aneh." "Ah! Benarkah?" Salah satu dari mereka bertanya. "Tentu saja." Randika terlihat serius. Meskipun omong kosong ini adalah ciptaannya, kunci utama adalah percaya diri maka orang lain akan mempercayainya. "Ketika menyangkut wajah, kita harus memperhatikan beberapa titik penting. Setelah mengolesnya dengan benar, barulah kita akan mendapatkan hasil yang maksimal dan kalian akan lebih cantik." Randika berhenti, dia melihat reaksi kedua perempuan ini dan meneruskan penjelasannya. "Jadi, lebih baik kali ini kutunjukan bagaimana cara pemakaiannya yang benar di wajah kalian. Jadi lain kali kalian ingin berjemur, kalian sudah tahu cara bagaimana memakainya." Umpan sudah ditebar, sekarang apakah mereka akan memakannya tergantung pada mereka. Penjelasan Randika ini memang semuanya terdengar masuk akal tetapi mereka mencium sesuatu yang janggal. Pasti ini semua adalah siasat pria ini! Randika menambahkan. "Ini demi kebaikan kalian, nanti kalian sendiri yang mendapatkan manfaatnya." Perempuan yang di sebelah kiri mengatakan. "Kalau begitu, siapa duluan?" "Bagaimana kalau kamu?" Randika berkata sambil tersenyum. "Baiklah." Perempuan ini tersenyum manis dan temannya itu mencubit dirinya karena merasa temannya ini bertingkah genit pada orang asing. Randika mengambil tabir surya yang ada di kursi dan menaruhnya di tangannya. Dia lalu mengoleskannya di wajah perempuan tersebut. "Kunci yang pertama adalah kita harus menaruhnya di tangan dulu bukan di bagian tubuh yang kita inginkan." Kedua perempuan itu mengangguk. "Setelah meratakannya di tanganmu, baru kalian bisa mengoleskannya di bagian tubuh yang kalian inginkan." Randika lalu mengoleskan sedikit demi sedikit di beberapa titik pada wajah perempuan tersebut. Untuk memberikannya perasaan berbeda, dia menambahkan sedikit tenaga dalamnya. "Tutup matamu dan rasakan." Kata Randika sambil meratakan tabir surya itu pada pipinya. Ahhh ? empuk sekali! Setelah di pipi, Randika lalu mengoleskannya di leher. "Seharusnya kamu sudah bisa merasakan perbedaannya, meskipun aku mengoleskannya sedikit tetapi efek yang dihasilkannya berbeda. Bagaimana? Apakah kau merasakannya?" "Iya!" Perempuan itu mengangguk, "Terasa nyaman sekali." "Ah, benarkah!?" Temannya itu sedikit terkejut. "Kalau begitu, kita lanjutkan mengolesnya di badanmu." Randika tentu saja sudah ahli mengenai hal-hal seperti ini. Kuncinya adalah jangan meminta ijin untuk ke tahap berikutnya tetapi langsung melakukannya dan tidak memberikan kesempatan lawan untuk menolak. "Baiklah." Perempuan itu mengangguk. Kemudian Randika mengoleskan tabir surya lagi di tangannya dan mulai mengoleskannya di pundak perempuan itu. Perasaan lembut ini menyenangkan, meskipun dadanya tidak besar namun terlihat kencang. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah warnanya masih pink atau tidak. Randika merasakan kelembutan ini makin nyaman setiap detiknya lalu hatinya menjadi gelap. Dia lalu mengatakan. "Kalau berbicara mengenai mengoleskannya pada badan itu sedikit rumit. Semua tergantung pada berapa lama kau ingin berjemur untuk bagian depan dan belakang. Jika kalian memutuskan untuk ingin berjemur sebentar untuk salah satu bagian, maka lebih baik tidak terlalu banyak mengoleskannya sehingga efeknya lebih maksimal." Kedua perempuan ini mengangguk, masuk akal juga pikirnya. Kemudian, dari pundak sekarang Randika berada di dada perempuan ini. Sengaja atau tidak, Randika menyelipkan jarinya untuk melihat pucuk dari gunung tersebut. Meskipun Randika diam-diam melakukannya, kedua perempuan ini hanya tertawa. Bikini yang sedang dipakai perempuan ini bisa dikatakan hanya terdiri dari kain yang minim. Jadi bisa dikatakan bahwa mereka memang sedang mencari lelaki untuk mengisi hari mereka. Lalu dengan penglihatan super Randika, dia menduga bahwa perempuan ini hanya berukuran B. Setelah insiden menyenangkan itu, Randika mengoleskan pada perut ratanya itu. Meskipun perempuan ini terlihat tidak berotot, perutnya benar-benar rata tidak menunjukan adanya lemak berlebihan. Berbeda dengan Viona dan istrinya, pinggang yang kecil ini memberikan sensasi tersendiri bagi Randika. "Untuk bagian tubuh seperti perut ini, lebih baik kita memberikannya porsi lebih banyak. Tetapi untuk kaki, sebaiknya porsinya lebih sedikit karena kaki yang terlalu putih tidak terlalu bagus dipandang." Randika mulai mengoleskannya di bagian samping celana perempuan ini. Jika hanya ada mereka bertiga, mungkin Randika sudah tidak sengaja menarik benang celana itu hingga copot. Lalu tangan Randika sudah berada di kedua paha kencang dan mulus perempuan ini. Benar-benar sensasi kelas atas. Randika yang biasanya hanya mengoleskannya sekali dari atas ke bawah, sekarang cara mengolesnya nampak berbeda. Dia mengurutnya berkali-kali seakan tidak ingin lepas darinya. Setelah selesai mengoleskannya, Randika mengatakan. "Barusan itulah cara pemakaian yang benar untuk bagian depan, untuk bagian belakang yaitu punggung memiliki cara yang beda. Bagaimana kalau kita coba?" "Ah, karena bagian depanmu sudah teroles dengan baik jadi lebih baik kamu berjemur dulu bagian depanmu. Aku akan mempraktekkan bagian belakang ini dengan temanmu yang cantik ini." Randika menatap perempuan yang di sebelah kanan itu sambil tersenyum. "Baiklah." Selama ini dia hanya memperhatikan dari samping. Dia telah melihat ekspresi temannya yang seperti ketagihan itu. Setelah bertahun-tahun bersama, dia tahu bahwa ekspresi temannya itu tidak pura-pura. Lagipula, sekarang dia masih sendirian. Meskipun pria ini tidak terlalu tampan, orang yang penuh perhatian dan terlihat baik ini memikat hatinya. Mungkin saja dia akan membawanya ke kamar malam ini. "Kalau begitu, bisakah kau berbalik?" Kata Randika. "Baiklah." Perempuan di kanan itu segera berbalik dan menunjukan punggungnya pada Randika. Randika sedikit bingung dalam hatinya. Dia kehabisan akal untuk bagian punggung ini. Lalu dia berpikir keras-keras, tidak penting bagaimana caranya dia mengoleskannya, yang terpenting adalah terdengar meyakinkan dan bagaimana caranya mendapatkan hati para perempuan ini. Setelah mengoleskan tangannya dengan tabir surya, Randika dengan cepat mulai mengoleskannya pada punggung perempuan ini. Tentu saja, ada sedikit tenaga dalam yang dia berikan. Perempuan ini segera mendapatkan sensasi nyaman ketika Randika menyentuhnya. Benar-benar berbeda dan terasa hangat sekaligus nyaman. Cara Randika mengoleskannya sudah seperti tukang pijat profesional, perasaan hangat dari tenaga dalamnya Randika ini hampir membuatnya mendesah nikmat. Dia semakin menyukai pria ini. Jika malam ini dia membawanya ke kamarnya, mungkin nanti saat lebaran dia tidak akan ditanya kapan menikah lagi sama saudara-saudaranya. "Eh? Mukamu terlihat seperti orang candu begitu." Temannya itu tertawa ketika melihat wajah temannya terlihat seperti itu. "Jika kau suka sudah katakan saja. Lelaki tampan ini mau kok membawamu ke kamarnya." "Ngomong apa sih kamu!" Perempuan yang bernama Nadine ini pura-pura marah tetapi tidak menolak ide tersebut. "Sebenarnya, aku tidak keberatan kalau kamu mau bermain di kamarku malam ini. Akhir-akhir ini aku belajar cara memijat dari temanku jadi aku harap kamu bisa membantuku berlatih." "Hahaha!" Temannya itu tertawa sambil menutup mulutnya. "Nad, dengar tidak? Lelaki ini benar-benar serius, sudah kalian berdua cocok kok jadi pasangan." Nadine hanya menutupnya sambil tersipu malu, dia tidak tahu harus berbuat apa. Pada saat ini, Inggrid juga ingin berjemur di cuaca yang indah ini. Dia awalnya ingin pergi bersama Randika tetapi dia tidak bisa menemukannya. Saat dia hendak menyewa kursi pantai ternyata Randika sedang asyik bercanda dan tertawa bersama 2 perempuan. Bajingan, kenapa otak orang ini isinya hanya perempuan saja? Ada perasaan marah yang muncul dari dalam hatinya. Ketika Inggrid memutuskan untuk mencuekannya, entah kenapa kakinya justru mengarah pada Randika berada. Randika terfokus pada punggung perempuan ini, jadi ketika Inggrid datang dia sama sekali tidak tahu. "Ah, kau sedang mengoleskan tabir surya?" "Iya." Randika menjawab dengan santai. Namun, ketika dia menoleh sudah ada Inggrid dengan muka dinginnya itu. Randika yang terkejut langsung menarik tangannya dan menyembunyikannya. "Hahaha." Randika sudah berkeringat dingin. "Yah kita hanya berdiskusi bagaimana caranya mengoleskannya dengan benar. Dua perempuan ini cuma minta bantuanku saja kok." "Oh? Jadi itu alasanmu biar kamu bisa meraba-raba mereka tanpa perlu dicurigai?" Kata Inggrid dengan nada dingin. Chapter 119: Mau Memerasku? Ah! Kok istrinya ini bisa tahu modus yang dilakukannya? "Benar, eh maksudku bukan! Bisa-bisanya kau berkata seperti itu? Aku hanya sedang menjelaskan saja bagaimana mengoleskan tabir surya yang benar pada kedua perempuan ini. Tidak ada maksud lainnya! Bukankah kita perlu membagi ilmu pada sesama?" Kata Randika sambil terbata-bata dan muka yang panik. Inggrid mendengus dingin. Tanpa berkata apa-apa, dia pergi meninggalkan Randika begitu saja. Randika yang melihat hal itu menjadi panik. "Ah maaf, aku harus pergi. Lain kali kita bisa berbicara lebih leluasa." Setelah pamit pada 2 perempuan cantik itu, Randika mengejar Inggrid. "Ah sayang sekali kamu Nadine, orang itu sudah punya pasangan. Kau benar-benar terlambat." Perempuan yang di sebelah kiri tertawa. "Siapa memangnya mau sama orang itu? Bukannya kamu sendiri yang mukanya mengharapkan laki-laki itu?" Nadine tidak mau kalah. Keduanya lalu tertawa lebar. Randika berhasil mengejar Inggrid. "Sayang, jangan cemburu begitu dong. Cantiknya hilang lho nanti." "HAH? Siapa yang cemburu?" Muka Inggrid benar-benar dingin. "Terserah kamu ingin berbicara dengan siapa, itu semua tidak ada hubungannya denganku!" "Aduh sayang jangan begitu dong. Mukamu sekarang menakutkan lho. Jujur tadi aku hanya mengajari mereka bagaimana caranya mengoleskan tabir surya, tidak lebih." Kata Randika sambil tersenyum. "Oh ya? Cuma menjelaskan saja?" Inggrid menatap tajam Randika. "Bukankah kau mengoleskannya pada mereka?" "Mereka sudah memakainya dari awal, ngapain coba aku mengoleskannya lagi?" Randika langsung menunjukan muka seriusnya. Untung Inggrid melihat dirinya yang sudah selesai mengoleskannya, kalau tidak bisa gawat! "Kalau begitu, apakah kamu mau aku memakaikannya padamu? Aku jamin kau akan menikmatinya." Randika memeluk Inggrid dari belakang. "Huh siapa memangnya yang mau memakainya?" Inggrid dengan cepat melepaskan diri. "Aku tidak butuh barang begituan." "Sayang, jangan berbicara seperti itu." Randika menggenggam erat tangan istrinya itu. "Kalau kulitmu yang cantik ini menjadi hitam, itu tidak baik untuk tubuhmu. Coba kau perhatikan matahari di atas, benar-benar menyengat! Kalau kau tidak memakainya, bisa-bisa setelah kamu berjemur anak buahmu tidak akan mengenalimu!" "Ayo sini, akan kubantu kamu memakainya." Randika menyeret Inggrid ke kursi pantai yang kosong. Inggrid sama sekali tidak bisa melawan, jadi dia hanya terdiam sambil digandeng Randika menuju kursi pantai. "Baiklah, sekarang kamu berbaring dengan tenang dan biarkan suamimu ini memanjakanmu dengan tekniknya." Randika menggosok-gosokan tangannya. Inggrid menatapnya dengan dingin. "Memangnya kamu bawa tabir suryanya?" Ah! Randika teringat bahwa dia sama sekali tidak membawa barang semacam itu. Kedua perempuan tadi yang meminjamkannya padanya. "Jangan khawatir, aku akan mencarinya." Randika langsung berlari dengan cepat. Dia tidak boleh melewatkan kesempatan emas ini. Namun, ketika Randika kembali ke tempat Inggrid, istrinya itu sudah tidak ada di sana. "Padahal aku ingin bermesraan denganmu." Gumam Randika dengan muka muram. .......... Orang-orang bermain hingga sore di pantai ini. Tentu saja Randika juga menikmati momen-momen indah ini dengan berbicara dengan banyak perempuan cantik. Pada saat itu juga, dia sempat mengoleskan tabir surya pada tubuh sexy Viona. Inggrid sudah malas berhadapan dengan Randika. Dia mencari tempat yang sepi dan berjemur di sana sendirian. Kelvin dan teman-temannya menikmati liburan ini dengan maksimal. Waktu berjalan dengan cepat, sekarang waktu sudah menunjukan pukul 4 sore dan semua orang sudah bersiap-siap kembali ke hotel. Inggrid sudah menyampaikan pada mereka semua bahwa mereka bisa pulang sendiri-sendiri. Karena ini bukan tur kelompok, mereka tidak perlu bersama-sama setiap waktu. "Vi, ayo kita pulang." Randika mengajak Viona kembali ke hotel. Di lain sisi, Inggrid tiba-tiba mendekati Randika. ???Cepat masuk ke mobil, aku tunggu di sana." Kata Inggrid dengan wajah dingin. Hei, hei, ternyata kamu masih cinta denganku. Dasar malu-malu kucing! Sambil tersenyum, Randika segera menuju mobil Inggrid bersama dengan Viona. Mereka bertiga akhirnya berangkat menuju hotel mereka. Hotel Oceana lumayan jauh dari tempat mereka sekarang, butuh 10 dengan mobil. Karena ada sekretaris Inggrid bersama mereka, Randika dan Viona duduk di belakang bersama. Randika dan Viona sama-sama menikmati pemandangan tetapi mata Randika justru tertuju pada baju Viona yang basah dan menempel di dadanya itu. Viona dan Inggrid memang bukan sembarangan, mereka berdua memang perempuan kelas atas. Baik dari wajah maupun tubuh, mereka mampu membuat pria manapun menelan air ludahnya. Untuk sifatnya, sifat malu-malu tapi mau milik Viona itu membuatnya imut. Sedangkan sifat dewasa dan keras milik Inggrid terdapat hati lembut di baliknya. Mereka berdua memang unik dengan cara mereka sendiri. Ketika Randika menikmati pemandangan ''indah'' itu, tiba-tiba mobilnya mengerem mendadak. Randika dan Viona yang tidak siap, hampir saja menabrak kursi depannya. Untung saja, Randika dengan cepat melindungi kepala Viona. "Ada apa?" Randika bertanya pada Inggrid dengan nada cemas. "Aku... Menabrak orang." Wajah Inggrid benar-benar menjadi buruk. Meskipun sambil membahas pekerjaan, matanya tidak pernah lepas dari jalan. Namun, tiba-tiba ada orang berlari menuju mobilnya dan terjatuh. Menabrak? Randika mengerutkan dahinya. Inggrid menyetir mobil ini pelan-pelan dan tidak ada suara tabrakan yang terdengar. Jelas bahwa ada hal yang aneh sedang terjadi. Mobil-mobil belakang mereka sudah mengklakson tanpa henti dan orang yang mereka tabrak masih tergeletak di depan mobil mereka. "Tunggulah di sini, aku akan turun sebentar." Inggrid tidak punya pilihan selain turun dan bertanggung jawab atas perbuatannya. Randika meminta Viona dan sekretarisnya Inggrid untuk duduk dan jangan keluar dari mobil. Setelah itu Randika menyusul Inggrid. Ketika dirinya turun, dia menemukan sudah banyak orang mengerumuni mobil mereka. Tepat di depan mobil mereka si korban masih tergeletak kesakitan. Namun, ketika Randika memperhatikan mobil bagian depannya dia tertawa. Karena orang ini tidak pandai menghitung jarak, dia maju perlahan mendekati mobil mereka sambil pura-pura kesakitan. Benar-benar sandiwara yang murahan. Melihat si pengemudi turun dari mobilnya, si korban makin keras menyuarakan kesakitannya. "Ah! Sakit sekali! Tolong, aku akan mati!" Suara yang keras dan bertenaga itu membuat orang-orang kasihan padanya. Mereka tidak tahu siapa yang salah ataupun apa yang telah terjadi, tetapi bagi mereka kejadian seperti ini cukup menarik ditonton khususnya menentukan siapa yang salah. "Kau yang menabrakku ya! Kalau punya mata itu dipakai dong, jangan dibuat pajangan. Sekarang aku minta ganti rugi sebagai tanda permintaan maafmu." Si korban meraung minta ganti rugi. Inggrid yang panik tidak bisa berpikir apa-apa. "Serahkan padaku." Randika menarik tangan Inggrid dan mendatangi korban. Mau memerasku hah? Mari kita lihat siapa yang lebih pintar bersandiwara. "Aduh maaf ya, apa perlu kami membawamu ke rumah sakit?" Kata Randika sambil tersenyum. Chapter 120: Sandiwara yang Payah "Tidak butuh! Kau hanya perlu memberikanku uang dan aku akan pergi sendiri nanti." Ketika si korban mendengar penawaran Randika, dengan cepat dia menolak. "Bagaimana mungkin aku membiarkanmu?" Randika mengerutkan dahinya. "Aku adalah orang yang bertanggung jawab. Jika aku menabrak orang maka aku akan membawanya ke rumah sakit. Jangan khawatir, aku yang akan membayar biayanya." Setelah itu Randika berusaha membantu mengangkat si korban tersebut. "Aduh, duh, duh, sakit! Jangan paksa aku berdiri, sakit tahu!" Si korban langsung merintih kesakitan. "Kau menabrakku dengan keras, kakiku sampai tidak bisa dibuat jalan. Sudah cepat beri aku uangnya dan aku akan pergi sendiri." Sambil tersenyum dingin Randika mengatakan. "Jadi kau tidak mau ke rumah sakit? Kebetulan aku sempat belajar ilmu pengobatan jadi biarkan aku merawatmu." Setelah itu Randika memeriksa denyut nadi si korban. "Ah! Apa yang akan kau lakukan, jangan sentuh aku!" Teriak si korban. "Santai saja. Orang sakit harus dirawat jadi jangan bergerak." Tangan Randika sudah dipenuhi oleh tenaga dalamnya. Tiba-tiba, si korban merasa tangan Randika ini benar-benar panas yang berusaha untuk memanggang dirinya. Setiap detiknya dia merasa seluruh tubuhnya terasa gatal sekali! Ekspresi si korban benar-benar buruk dan tangan Randika yang menyentuhnya semakin panas dan memberikan sensasi gatal terus menerus. "Waduh, kau benar-benar sakit!" Randika pura-pura terlihat terkejut. Tetapi dalam hatinya, Randika hampir tidak bisa menahan tawanya itu. Si korban sudah tidak tahan dengan rasa gatal ini, dia berusaha melepaskan diri dari Randika. Randika sudah di ambang tertawa lepas, dia memutuskan untuk menggodanya lebih lanjut. "Tulang rusukmu sepertinya patah, jantungmu berada dalam bahaya. Belum lagi ginjal dan ulu hatimu bermasalah." Kata Randika dengan wajah serius, dia merasa seakan-akan telah menjadi dokter. Tetapi ketika orang-orang yang melihat mendengar Randika mereka justru terlihat bingung. Apa orang ini kepalanya ikut terbentur? Bagaimana mungkin memeriksa denyut nadi bisa tahu penyakit sebanyak itu. Tetapi pada saat itu, si korban tiba-tiba berteriak. "Ahhhh! Aku sudah tidak tahan!" Dalam sekejap dia menggigit tangan Randika. "Ah! Memangnya kau anjing?" Randika kesakitan. Namun, si korban ini sudah tampak menggaruk-garuk seluruh badannya dengan kedua tangannya. Semakin keras dia menggaruknya, semakin nyaman dirinya. "Katanya tidak bisa jalan sekarang lari-lari kayak orang gila hahaha!" Semua orang tertawa ketika melihat si korban berlarian tidak jelas. Randika terlihat bingung. "Lho? Kau ternyata bisa jalan! Bukankah ini bagus? Kalau begitu kau tidak perlu ke rumah sakit." Si korban yang sedang menggaruk-garuk ini terkejut mendengarnya, dia lupa dengan pengaturan sandiwaranya. Dengan pura-pura pucat, orang ini kembali berkata pada Randika. "Ahˇ­ Aku merasa pusing." SI korban pura-pura terhuyung-huyung lalu gemetaran dan terjatuh di tanah lagi. Melihat adegan menyedihkan ini, para penonton tertawa keras. Pertama kalinya mereka melihat ada orang yang bersandiwara seburuk ini. Melihat orang itu pura-pura mati lagi, Randika hanya berkata dengan santai. "Bro, aktingmu itu payah sekali. Sudahlah menyerah saja dan kita akhiri sandiwara menyedihkan ini." Si korban masih pura-pura meringkuk kesakitan. Dia berpikir kenapa hari ini triknya tidak bekerja seperti biasanya, harusnya saat ini dia sudah menerima uang miliknya itu. Tidak! Aku tidak akan menyerah, jika aku tidak menerima uangku maka aku akan terus pura-pura sakit! Melihat kekeras kepalaan orang ini, Randika hanya berjongkok dan menyentuh salah satu titik akupunturnya. Orang tersebut langsung melompat kaget. Para penonton langsung tertawa ketika melihatnya, akting orang itu benar-benar payah. "Cukup berpura-puranya, kami sama sekali tidak menabrakmu." Kata Randika sambil menghela napas. "Kata siapa kau tidak menabrakku? Jelas-jelas kau menabrakku dan tubuh bagian dalamku terluka. Jika kau tidak memberiku uang sekarang maka aku tidak akan pernah pergi dari sini." Jika tidak bisa memelas, maka ancam dia! Randika hanya tersenyum. "Jelas-jelas kau bisa berlarian dengan mudah tadi, bagian mana yang sakit memangnya?" "Hahaha." Para penonton tertawa sekali lagi. Si korban ini pura-pura marah. "Aku kasih tahu sesuatu ya, kenalanku adalah orang terkuat di dunia bawah tanah dari pulau ini. Jika kau menyinggungku, jangan salahkan aku kalau dia menyuruh orang untuk membunuhmu. Sudah cepat kasih uang atau aku akan memanggilnya." Randika hanya menyeringai. "Siapa kenalanmu itu? Aku sudah menjadi gangster bertahun-tahun tapi belum pernah mendengar adanya orang kuat di pulau ini." Mendengar hal tersebut, si korban sedikit terkejut. Dia tidak menyangka bahwa orang ini adalah gangster juga. Tapi, dia tidak boleh menyerah! Hari ini dia akan minum-minum sepuasnya dari hasil kerja kerasnya ini! "Halim!" Kata si korban itu dengan muka bangga. ??Dia adalah penguasa di pulau ini. Bahkan ketika pejabat datang, dia saja harus menunduk hormat padanya. Jadi beri aku uang dan kau akan selamat." Halim? Randika mengerutkan dahinya, dia tidak pernah mendengar nama orang itu. "Panggil dia, aku sama sekali tidak pernah mendengarnya." Kata Randika dengan santai. Si korban itu tidak menyangka bahwa Randika akan meresponnya seperti itu. "Baiklah, karena kau tidak mau memberikan aku uang jangan menangis kalau dia menghajarmu sampai babak belur." Randika menggelengkan kepalanya. "Apakah kau rela mati demi uang?" Para penonton mulai tegang melihatnya. Randika nampak mulai melawan balik ketika dia diancam seperti itu. "Jangan pikir kenalanmu itu bisa membantumu, aku bisa membunuhnya dengan mudah. Jadi lebih baik kau akhiri sandiwaramu itu dan pergi dari sini." Kata Randika sambil tersenyum. Melihat Randika yang hendak kembali ke mobilnya, si korban dengan cepat menerjang dan berusaha mencegatnya. Semua orang berteriak histeris, mereka menganggap orang itu mau memukul Randika dari belakang. Namun, Randika benar-benar cepat. Dalam sekejap dia berbalik badan dan menyentil dahi si korban dengan keras. Orang tersebut jatuh ke tanah dengan keras. "Karena kau keras kepala, aku akan membantumu untuk menyerah." Randika lalu menekan titik akupuntur pada orang itu. Dalam sekejap si korban merasa seluruh tubuhnya terasa aneh. "Hahaha! Hahaha!" Tiba-tiba, si korban ini tidak bisa berhenti tertawa sambil menari-nari meninggalkan mereka. Semua orang terkejut, kenapa orang-orang itu tiba-tiba menari tidak jelas? "Ranˇ­ Apakah orang itu baik-baik saja?" Inggrid yang dari tadi melihat dari samping mulai cemas. "Jangan khawatir, dia hanya akan seperti itu selama 10 jam." Randika tertawa. "Ayo kita kembali ke hotel." Setelah menyelesaikan masalah ini, mereka kembali menuju hotel mereka. Hotel Oceana adalah hotel terbaik dan terbagus di pulau kura-kura ini. Tiap-tiap orang memiliki kamarnya sendiri dengan fasilitas terbaik hotel. Namun, Randika terlihat tidak puas dengan pengaturan ini. Kenapa dia bisa pisah kamar dengan istrinya itu? Chapter 121: Kami Ini Pedagang Melihat kunci kamarnya, Randika entah kenapa merasa murung. Kenapa dirinya bisa pisah kamar dengan istrinya itu? Mengingat kejadian di kota Merak, Randika tersenyum lebar. Dia harus tidur dengan istrinya mala mini! Berdiri di koridor, Randika memperhatikan sekelilingnya. Di serong kanannya adalah kamar Viona dan kamar Inggrid berada di samping kanannya persis. Ketika Viona melihat tatapan Randika, dia tersenyum manis dan masuk ke kamarnya. Sedangkan Inggrid menatapnya tajam lalu masuk ke kamarnya. Orang-orang dari perusahaannya juga sudah memasuki kamar mereka. Dalam sekejap tinggal Randika saja yang ada di koridor. Setelah beberapa saat, Randika berjalan ke kamar Inggrid dan mengebelnya. "Siapa?" Suara Inggrid terdengar dari dalam. "Sayang, aku ada perlu sama kamu." Kata Randika sambil tertawa. Ketika Inggrid membuka pintunya, Randika langsung menerjang masuk dan duduk di sofa. "Kenapa? Masalah apa yang ingin kau bicarakan?" Inggrid terlihat waspada sekaligus penasaran. "Tidak ada apa-apa." Randika lalu berdiri dan memeluk Inggrid. Dia lalu berbisik. "Apakah kamu sudah lupa dengan hari-hari indah kita di kota Merak?" "Jangan sekali-kali kau punya pemikiran seperti itu." Inggrid mendorong Randika. "Cepat kembali ke kamarmu. Aku tidak mau terlihat bersamamu di kamarku sama para bawahanku." "Sayang, tidak ada orang yang akan melihat kita." Randika lalu duduk di sofa. "Lagipula, kamarmu yang luas ini terlalu luas untuk satu orang. Aku khawatir kamu akan kesepian." Inggrid hanya menatap tajam Randika. "Kamu sudah masuk ke kamarmu? Semua kamar yang kupesan semuanya seluas ini." "Hahaha." Randika tertawa canggung. "Yah bagiku itu tidak sama. Aku hanya ingin menghabiskan hariku dengan istriku tercinta. Dan aku sudah memutuskan untuk tidur di kamar ini bersamamu." "Terserah kau mau ngomong apa, aku tidak akan membiarkanmu menyentuhku." Kata Inggrid dengan muka dingin. "Lho, kamu mau ke mana?" Randika terlihat panik, dia berusaha mencegah Inggrid pergi. "Aku hanya ingin tidur di sampingmu, tidak ada niatan lain." Inggrid sama sekali tidak menoleh. Pria ini memang bajingan dan tidak tahu diri, pikirnya. "Tidur sendiri sana, aku mau mandi." Inggrid lalu pergi ke kamar mandi dan menguci pintunya rapat-rapat. Dalam sekejap Randika duduk sendirian di ruangan yang luas ini. Randika lalu memperhatikan baju dan celananya. Dia baru saja kembali dari pantai dan banyak pasir menempel di pakaiannya. Perasaan gatal mulai melanda tubuhnya. Dia lalu berpikir untuk mandi. "Kalau begitu, aku juga mandi ah." Meninggalkan kamar Inggrid, Randika pergi menuju kamarnya. ............ Setelah merasa segar setelah mandi, bel pintu kamar Randika bunyi. Randika lalu membukanya dan beberapa perempuan berdiri di depan pintunya. Rupanya orang-orang ini adalah Inggrid, Viona dan beberapa perempuan lainnya dari departemennya. "Kita mau pergi nyari makan, apakah kamu mau ikut?" Kata Viona sambil tersenyum. "Makan?" Randika tersenyum. "Tentu saja aku mau!" Setelah berganti baju, Randika pergi dengan para perempuan ini. Awalnya Randika mengikuti mereka karena khawatir pada Inggrid. Dia takut status Inggrid sebagai bos akan membuat para perempuan lainnya sungkan dan takut padanya. Namun, kekhawatirannya ini ternyata berlebihan. Mereka menganggap Inggrid sebagai temannya saat di luar pekerjaan. Meskipun Inggrid jarang berbicara, terlihat bahwa mereka semua berteman baik. Randika berjalan di paling belakang sambil mendengar omongan mereka. Mulai dari pembicaraan mengenai artis idola mereka, makeup, kehidupan sehari-hari mereka bahkan hewan peliharaan mereka, akhirnya topik mengarah pada apa yang akan mereka makan. "Makanan di dekat pantai itu enak-enak. Kapan hari aku pernah makan seafood mereka dan itu benar-benar luar biasa enak! Jadi lebih baik kita ke sana sambil menikmati bir." Saran salah satu orang. "Aduh aku kurang suka seafood nih, malas kotor-kotornya aku. Bagaimana kalau Chinese food saja?" Kata salah satu lainnya. "Kita bisa makan tengah." "Kalau begitu, Bu Inggrid mau makan apa?" Tanya salah satu dari mereka pada Inggrid. "Aku makan apa saja bisa kok." Kata Inggrid sambil tersenyum. Semuanya mulai berdebat ingin makan apa. Semua yang mereka sarankan terdengar enak. "Kalau begitu, mungkin Randika ada saran apa?" Viona melempar tanggung jawab ini pada Randika. Randika yang sedang melamun ini terkejut, dia lalu berkata dengan santai. "Bagaimana kalau kita ke food truck? Aku tadi melihat ada sekumpulan food truck parkir di dekat pantai." Food truck? Viona tersenyum dan salah satu temannya juga mendukung saran Randika. "Itu terdengar enak." Semuanya mengangguk dan terlihat setuju. Inggrid lalu berkata sambil tersenyum. "Baiklah, kalau begitu kita akan makan di food truck yang ada di pinggir pantai." "Wah Bu Inggrid saja sampai setuju, ayo tunggu apalagi! Aku sudah lapar nih." Semuanya tertawa lepas dan tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai di tujuan. "Di sana kosong!" Setelah mendapatkan 2 meja berjejer, mereka lalu mengambil menu dan pesan satu per satu. Randika lalu memperhatikan kumpulan food truck ini. Tempatnya tidak terlalu besar tetapi orang-orang memenuhi tempat ini. Bermodalkan pemandangan pantai dan konsep makanan yang berbeda, tempat ini berhasil menarik minat para pengunjung. Di meja, obrolan para perempuan ini semakin menjadi-jadi. Bahkan Randika dipaksa ikut berdiskusi dengan mereka. Untungnya saja, makanan mereka akhirnya datang dan semuanya langsung fokus dengan makanan mereka. "Wah ternyata enak sekali makanannya." Beberapa orang mulai berkomentar. Randika di lain sisi hanya terdiam. Dia belum makan apa-apa dari siang tadi dan setelah berbicara terus-menerus dengan para perempuan ini, dia sangat lapar. Setelah makan dan bercanda ria, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Inggrid berinisiatif meminta tagihannya dan berniat untuk membayarnya. Namun, dia segera mengerutkan dahinya. "Apa? Semuanya ini 5 juta?" "Lima juta?" Semuanya terkejut. Lelucon macam apa ini? Cuma 7 orang yang makan dan habisnya 5 juta? "Sini aku lihat." Randika dengan cepat mengambil tagihan itu, dia melihat angka-angka ini tidak masuk akal. Sebagai contohnya dia melihat harga udang yang mencapai 200 ribu! Padahal mereka hanya mendapatkan udang berukuran sedang sebanyak 5 biji. Semua makanan harganya sama seperti udang itu, tidak masuk akal. "Permisi, apakah saya bisa mengambil tagihannya." Orang yang memberikan tagihan pada Inggrid kembali ke mejanya dan ingin mengambil uangnya. "Permisi, apakah ini tidak salah? Bagaimana mungkin totalnya sampai 5 juta?" Inggrid mengerutkan dahinya. "Permisi boleh saya lihat dulu tagihannya." Pelayan itu lalu mengambil tagihan tersebut. "Tidak ada yang salah menurut saya, harga yang terlampir dengan total seharusnya tidak ada masalah." "Aku bukan mempermasalahkan itu. Yang aku permasalahkan adalah harga di menu dan di tagihan benar-benar berbeda!" "Oh maksud Anda adalah harga di menu." Pelayan itu menyeringai. "Maaf, mungkin Anda tidak melihatnya dengan baik." Inggrid lalu mengambil menu yang ada di mejanya dan melihatnya kembali. Dia lalu menunjukan perbedaannya, tetapi si pelayan itu hanya berkata dengan santai. "Tolong dilihat bagian bawahnya." "Harga makanan kami akan naik apabila berada di musim liburan dan kami bisa menaikannya sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Apabila ada keluhan, maka pelanggan dianggap lalai tidak memperhatikan peringatan yang sudah kami cantumkan di bawah ini." Inggrid membaca peringatan yang ukurannya sangat kecil ini. Tiba-tiba semua orang mulai memaki-maki. "Kalian ini perampok?" Salah satu dari mereka mulai marah. "Kok tidak sekalian saja kau rampok tas kami?" "Ibu, Anda terlalu berlebihan. Kami ini pedagang, kami mencari untung dengan melihat kondisi pasar. Kami sudah memberikan peringatan sebelumnya di menu kami. Jadi kalau Anda merasa tertipu, itu bukan tanggung jawab kami." Pelayan itu menyeringai pada tamu-tamunya itu. Chapter 122: Aku adalah Orang yang Rasional "Kau pikir udang ini lobster? Mana ada udang kecil kayak punya kalian bisa semahal ini!" Beberapa dari mereka mulai meraung. "Kita tidak akan membayar makanan ini." "Tidak membayar?" Pelayan itu menyeringai. "Saat kalian masuk ke tempat kami dan memesan makanan, kenapa kalian tidak membaca menu kami sampai habis? Sekarang kalian malah menyalahkan kami dan bahkan mengancam tidak membayar. Jangan sampai aku memanggil bosku, bisa-bisa kalian membayar lebih mahal lagi." Setelah berkata seperti itu, pelayan itu menunjuk meja bosnya. Bosnya yang tinggi dan kekar itu menatap tajam pada meja Randika dkk. "Bagaimana ini?" Melihat tatapan tajam itu, salah satu dari mereka mulai khawatir. "Aku juga tidak menyangka tempat ini adalah tempat pemerasan." Memang di seluruh tempat di Indonesia terdapat tempat-tempat seperti ini. Kejadian seperti ini biasanya menarget para turis khususnya turis asing. "Bu Inggrid, kita tidak boleh menyerah begitu saja. Kita lebih baik memanggil polisi." Saran salah satu perempuan. Inggrid tidak membalasnya sama sekali, dia hanya menoleh ke arah Randika. Dia sama sekali tidak menyadarinya, tetapi di saat terdesak seperti ini, dia mulai bergantung pada Randika terhadap masalah-masalah penting seperti ini. Sepertinya sosok dan pendapat Randika dapat menenangkan hatinya. "Jangan khawatir." Randika tersenyum. "Lebih baik kita tunggu sebentar dan melihat keadaan, mungkin saja bosnya itu tidak segalak penampilannya." "Ah? Pak Randika sudah gila? Jelas ini tempat pemerasan, mana mungkin bosnya itu tidak galak? Menurutku memanggil polisi adalah langkah yang benar." Kata salah satu dari mereka. "Sudah tenang saja." Kata Inggrid dengan tenang. Pada saat ini, terdengar suara teriakan dari meja samping. "Apa? Mana mungkin total semuanya 10 juta?" Mendengar hal itu, mata semuanya tertuju pada suara orang itu. Di meja itu, orang dengan setelan jasnya itu sedang makan bersama istri dan anaknya yang masih kecil. ??Maaf salahnya di mana ya? Totalnya sudah tertera dengan benar di tagihan bapak." Pelayan lainnya melakukan hal yang sama dengan pelayan dari meja Randika, dia menunjukan tulisan kecil di bagian paling bawah menu. Setelah pria itu membacanya, dia membentak si pelayan. "Kalian ini sampah! Aku tidak akan membayar makanan-makanan sampah ini." "Bisa diulangi lagi?" Pria berbadan kekar mendekati pria berjas ini. "Jika kau tidak mau membayar maka aku akan menghajarmu hingga babak belur. Lagipula, apakah kau tidak khawatir dengan istrimu yang cantik itu kenapa-kenapa?" "Apa maksudmu itu?" Si pria berjas itu terlihat panik. "Percayalah, kau tidak ingin itu semua terjadi." Pria kekar itu membanting mejanya. Istrinya sudah berwajah pucat dan menarik lengan suaminya. Anaknya yang masih kecil itu sudah ketakutan dan berlindung di balik pelukan ibunya. Melihat istri dan anaknya yang ketakutan itu, pria berjas itu menggigit bibirnya dan mengatakan. "Baiklahˇ­. Aku akan membayarnya." Setelah itu, dia mengambil amplop yang ada di balik jasnya dan mengeluarkan segepok uang. Melemparnya ke meja, dia lalu pergi dengan istri dan anaknya itu. Tiba-tiba, seluruh tamu yang duduk termenung sementara waktu. Bahkan orang-orang yang makanannya baru datang ada yang langsung mengamuk. "Hei, aku tidak memesan makanan ini." "Bajingan, berarti harga makanan ini 300 ribu?" "Cepat kita pergi saja sebelum dipalak." "Tidak secepat itu!" Melihat orang-orang mau pergi, beberapa pria kekar segera menghampiri meja itu. "Pesanan kalian sudah dibuat dengan susah payah. Kalian tidak bisa pergi begitu saja tanpa membayar." Kata pria kekar itu. "Kalau begitu berapa maumu?" Tamu itu menelan air ludahnya. "Tidak banyak, 250 ribu." Tanpa berkata banyak, orang itu langsung membayar 250 ribu. Dia berpikir keadaannya masih baik daripada pria berjas tadi sebelumnya. Pelanggan-pelanggan yang lain memandangi makanan mereka yang sudah termakan setengah itu. Mereka ragu apakah harus menghabiskannya atau tidak. Dalam sekejap, tempat ini hanya tinggal Randika dan beberapa meja saja. Mereka yang masih belum pergi tidak berani pergi karena meja mereka penuh dengan piring makanan. "Hahaha meja itu totalnya juga 10 juta." Tawa salah satu pria kekar sambil memegang tagihan salah satu meja. "Hahaha bisnis seperti ini sangat mudah." Kata salah satu pelayan. "Besok kita akan memalak orang-orang bodoh ini lagi." "Benar, banyak orang bodoh yang datang ke pulau kita setiap harinya." Pria kekar itu tertawa. Semakin banyak turis yang datang, semakin banyak uang yang dia dapat. Mendengar obrolan menjijikan pria kekar yang merupakan dalang di balik kejadian ini, seluruh orang di meja Randika benar-benar tidak habis pikir. Ini namanya sudah perampokan bukan bisnis lagi. Pada saat ini, pelayan sebelumnya mendatangi meja mereka lagi bersama bosnya yang kekar itu. Ketika Randika melihat pria kekar itu, dia melihat tato yang menutupi seluruh tubuhnya, telinga yang ditindik, gaya pakaian yang berantakan, bisa dikatakan bahwa orang ini adalah preman yang sudah bergelut di dunia gangster bertahun-tahun. Slamet, pria berbadan kekar itu, menghampiri meja Randika sambil mengemut sebuah tusuk gigi. Tatapan matanya benar-benar bengis, didukung oleh wajah sangarnya itu. Orang-orang yang melihatnya pasti segera ketakutan. "Aku dengar kalian menolak untuk membayar?" Slamet menatap dingin mangsanya sambil mengangkat kakinya ke meja. Para perempuan di meja ini segera panik. Randika hanya berdiri dan tersenyum. "Oh? Siapa memangnya kamu?" "Aku adalah Slamet, bos dari tempat ini." "Hahaha." Randika lalu tertawa tanpa sebab. "Pelayanku ini ngomong kalau kalian keberatan dengan harga makanan kalian?" "Siapa yang memangnya mau membayar orang jahat semacam kalian? Ini jelas-jelas perampokan." Salah satu perempuan memberanikan diri memprotes. "Kalian memang pintar, aku dulu memang perampok." Slamet tertawa. "Tagihanmu ini memang salah. Sebentar aku akan menghitungnya lagi. Untuk makanan dan minuman kalian habis 5 juta, untuk membuang waktu dan tenagaku kalian kukenakan 5 juta lagi. Karena kalian telah menyinggung perasaan kami, maka totalnya mencapai 15 juta." Mendengar penjelasan Slamet ini, semua orang di meja terkejut. Pria ini dengan santainya menagih mereka 3x lipat dari sebelumnya. Bahkan salah satu dari mereka merasa ingin pingsan. "Kenapa? Harga ini sudah termasuk adil menurutku." Slamet lalu mengangkat kakinya ke meja. Tiba-tiba aura mengerikan terpancar dari dirinya. Slamet merasa targetnya kali ini sangat mudah. Dia harus memerasnya sekeras mungkin. Para wanita ini, khususnya Inggrid, benar-benar terlihat kaya. Dia sangat yakin bahwa para wanita ini pada akhirnya akan membayarnya. "Lha kok murah sekali? Seharusnya tidak semurah itu." Randika memecah keheningan. Tawa Randika itu juga menarik perhatian Slamet. "Oh? Kok bisa begitu?" Slamet pertama kali melihat orang yang seperti ini. "Tentu saja ini masih kemurahan. Bagaimana mungkin 3x lipat sudah cukup? Aku juga telah menghitung waktu dan tenaga yang kami perlukan untuk datang ke sini dan makan. Jadi menurutku kau perlu membayar kami 50 juta." "Ah?" Semua orang yang ada di meja terkejut bukan main. Mereka sudah menahan napas ketika mendengar kata 50 juta tetapi mereka justru lebih kaget lagi ternyata Randika meminta pria jahat itu untuk membayar mereka 50 juta! Pemikiran seperti itu benar-benar gila. "Apakah Randika sudah gila?" Semua pertanyaan ini menggenang di hati mereka. Slamet juga bingung mendengarnya. "Maksudmu apa?" "Kau tidak dengar? Aku minta kalian membayar kami 50 juta karena sudah menghabiskan waktu dan tenaga kami. Tentu saja jika kau merasa itu kemahalan, aku akan memberi potongan. Bagaimana kalau 45?" Slamet benar-benar merasa bodoh. Orang yang diajaknya berbicara ini sehat atau tidak? "Hahaha pertama kalinya aku bertemu dengan orang sebodoh kamu ini." Slamet tertawa lepas. Randika lalu berkata dengan muka serius. "Aku orang yang rasional bukan bodoh. Sebaiknya kamu segera memberi uangku atau aku akan mengobrak-abrik tempatmu ini." Slamet lalu berhenti tertawa. "Orang dengan keberanian itu masih belum lahir." Randika tersenyum mengejek. "Mau dicoba?" "Baiklah." Ekspresi Slamet segera berubah menjadi dingin. "Kalian berdua, hajar dia!" Dalam sekejap, dua pria kekar mendatangi meja Randika dengan wajah bengis mereka. Beberapa perempuan sudah ketakutan ketika melihat wajah kedua orang tersebut. Mengapa makan malam mereka yang menyenangkan menjadi menakutkan seperti ini? Tetapi, Randika tiba-tiba menghilang bagaikan asap. Dia sudah tiba di depan kedua orang itu dan menghajarnya. Tanpa menahan kekuatannya, Randika memukul wajah kedua orang itu sampai terpental jauh dan menabrak meja. DUAK! Suara meja yang patah dan kursi yang berterbangan terdengar keras. "...." Kedua preman itu terlihat sama sekali tidak bergerak dan langsung pingsan. Tindakan tiba-tiba Randika ini mengejutkan semua orang. Para pengunjung memanfaatkan keadaan ini untuk kabur dari tempat itu. Sedangkan bos dari para preman itu, Slamet, hanya menatap bodoh ke arah Randika. Lawannya ini benar-benar terlihat seperti seorang dewa, dia dengan mudah menghajar kedua bawahannya itu. Sambil menggigit bibir bawahnya, Slamet meraung keras. "Mati kau!" Mendengar raungan bosnya, pria kekar lainnya menerjang maju ke Randika. Randika yang berdiri di tengah-tengah itu hanya terdiam. Inggrid, Viona dan perempuan lainnya hanya melihat Randika yang sudah terkepung oleh preman-preman itu. Randika dengan cepat menjadi setitik cahaya dan mengayunkan tinjunya. Dalam sekejap semua preman itu sudah melayang jauh dan jatuh kesakitan. Yang paling parah adalah ketika Randika mencekik salah satu preman dan melemparkannya pada salah satu food truck hingga mobilnya ikut terjatuh! Dalam sekejap preman-preman berbadan kekar itu sudah meringkuk kesakitan. Namun, Randika hanya tersenyum ke arah Slamet. "Hargaku naik lagi setelah berolahraga seperti ini." Slamet yang mulutnya ternganga lebar itu masih tidak dapat percaya dengan pemandangan di hadapannya ini. Kenapa yang jatuh malah para bawahannya? Teman-teman Randika juga tidak percaya dengan adegan ini. Randika memang luar biasa! Viona yang sudah tahu kekuatan asli Randika itu justru terlihat bangga ketika teman-temannya itu menyadari kehebatan Randika. Dia adalah orang terkuat yang mereka kenal! Melihat Randika yang menghampirinya, Slamet mulai berkeringat dingin. Sekarang dia memandang mangsanya ini dengan kacamata yang berbeda. Dari lubuk hatinya muncul rasa kagum sekaligus takut. Hanya kekuatan sejati yang bisa memerintah dunia! Chapter 123: Randika adalah Orang yang Sabar Slamet menatap Randika, berusaha menekan rasa takutnya yang muncul dari dalam hatinya. Namun, badannya terus bergetar tanpa henti dan keringatnya tidak bisa berhenti mengalir. "Kau boleh mengatakan ini adalah nasib buruk ketika kau bertemu denganku." Randika tertawa. "Aku sangat ahli mengubur orang-orang sepertimu. Tetapi karena aku orang baik, jadi aku mengampunimu. Jadi kau mau ngasih uangku atau tidak?" Mendengar kata-kata Randika dengan nada mengancam itu, Slamet seakan ingin pingsan. "50 juta?" Slamet menelan air ludahnya. "Benar, kalau tidak kau mengerti apa yang akan terjadi kan?" Randika menepuk bahu Slamet. "Sudah ayo cepat, bukankah kau tadi mengatakan kau mendapatkan puluhan juta tiap harinya?" Randika meremas bahu Slamet. "kesabaranku mulai menipis." "Lagipula, ini bukan pertama kalinya kau melakukan pemerasan ini bukan?" Slamet benar-benar sudah berkeringat deras. Kali ini, dialah yang ada di ujung jurang. "Aku tidak punya sebanyak itu, aku hanya punya 40." Kata Slamet dengan menggertakan giginya. Randika terkejut, pria ini kaya juga. "Uang tetaplah uang, kamu beruntung aku adalah orang yang sabar." Randika menghela napas. "Jarang ada orang sesabar aku." Wajah milik Slamet sudah benar-benar jelek. Ketika dia memberikan uangnya pada Randika, Randika hanya tersenyum. "Kalau aku tidak punya uang lagi, aku akan kembali ke tempat ini." Mendengar hal tersebut, Slamet benar-benar ingin pingsan. Setelah mendapatkan uangnya, Randika beserta yang lain keluar dari tempat makan itu. Sedangkan Slamet, dia hanya berdiri di tempat sambil melihat sosok Randika yang segera menghilang. Di tengah-tengah tempatnya yang berantakan itu, dia menghela napas dalam-dalam. Hatinya benar-benar dipenuhi dengan rasa takut bercampur benci. Dia lalu membalik sebuah meja sambil memaki keras. Tatapan matanya benar-benar dikuasai oleh rasa marah dan benci. Akan kubuat kau merasakan akibatnya! .........ˇ­.. Randika dan para perempuan ini kembali berjalan-jalan. Meskipun hari sudah malam, tempat pariwisata ini dipenuhi dengan keramaian dan cahaya lampu yang terang. Para perempuan kembali mengobrol dengan riang. Sekarang, topik obrolan mereka bukanlah tentang make up ataupun makanan melainkan Randika. "Pak, kenapa kau begitu hebat tadi?" Kata salah satu perempuan dengan mata berbinar. "Pak, apakah kau dulu belajar silat?" "Pak, apakah kau bisa mengajarkanku?" Beberapa perempuan berbicara bersamaan membuat Randika menjadi pusing. Namun, situasi ini membuat Randika merasa dirinya sangat keren. Inggrid menatap tajam Randika, yang wajahnya sudah nyengir tidak karuan. Bajingan ini akan dipuji-puji lagi? "Itu semua rahasia, aku tidak bisa menceritakannya." Randika tertawa. "Lagipula, meskipun para preman tadi itu kekar, mereka sama sekali tidak kuat." "Oh? Kenapa begitu?" Tanya para perempuan dengan rasa penasaran. "Dari cara mereka bergerak sudah kelihatan. Napas mereka juga terburu-buru, otot mereka juga tidak wajar berkembangnya jadi jelas itu pengaruh obat." ............ˇ­.. Kelompok ini terus berjalan mengitari kota sambil mengobrol. Sekarang, topik mereka berubah menjadi lelucon. "Aku punya jokes lucu. Makanan apa yang pandai menyanyi? Telor Swift!" "Ah, punyamu kurang lucu. Aku punya cerita lucu yang kualami sendiri. Ketika aku naik pesawat kapan hari, ada bapak-bapak yang duduk di sampingku menyapaku dan menanyakan tujuanku. Setelah aku ngomong mau ke Cendrawasih, dia dengan santainya mengangguk dan mengatakan kalau tujuannya kita sama. Ya iya kita kan satu pesawat masa dia mau turun di tengah-tengah perjalanan? Hahaha" "Masih kurang lucu, coba dengarkan punyaku! Jadi ada seekor katak menemui seorang peramal untuk mengetahui apakah dia akan beruntung dalam urusan asmara atau tidak. Peramal itu kemudian membaca telapak tangan si katak dan mengatakan bahwa dia memiliki kabar buruk dan baik. Karena ingin mendengar kabar baik dulu, si peramal mengatakan bahwa si katak akan bertemu dengan seorang gadis cantik. Perempuan itu akan tertarik padanya dan ingin mengetahui segala sesuatu tentang dirinya. Dia ingin mendapatkan hati si katak. Mendengar hal tersebut, si katak benar-benar senang dan bertanya apa kabar buruknya. Si peramal hanya menghela napas dan berkata bahwa dia akan menemuinya di kelas biologi." Randika mendengar semua ini dari samping. Entah kenapa baginya jokes-jokes seperti ini kurang lucu baginya. "Mungkin pak Randika punya sesuatu?" Randika tiba-tiba ditanya oleh salah satu perempuan. "Ah?" Randika yang melamun terkejut mendengarnya. "Ayo pak! Beri kami satu." Beberapa lainnya mulai mengompori. Tatapan mata Inggrid dan Viona juga berharap Randika mau bercerita juga. "Baiklah kalau begitu." Randika menelan air ludahnya dan mulai bercerita. "Suatu hari, ada seorang pria yang ingin menurunkan berat badannya. Tetapi karena malas berolahraga dan membatasi makannya, dia mendatangi sebuah gym yang menawarkan program menurunkan badan dengan cepat." Randika berhenti berbicara sebentar dan melihat bahwa tatapan mata semua perempuan tertuju pada dirinya. "Saat dia mendatangi resepsionisnya, dia ditawari mau membakar berapa kalori. Ada yang 500, 1000 dan 1500. Setelah memikirkan matang-matang, pria itu memilih yang 500 kalori. Saat dia masuk ke dalam sebuah ruangan, sudah ada wanita cantik yang menunggu dirinya. Perempuan itu mengatakan bahwa jika dia bisa mengejar dirinya, maka dia akan memperlihatkan dadanya." Mendengar lelucon mesum ini, wajah para perempuan menjadi merah. Mereka tidak menyangka lelucon Randika akan menjadi mesum. "Dengan semangat menggebu-gebu, pria itu berhasil mengejar perempuan itu setelah 30 menit. Mendapatkan hadiahnya dan sebuah ciuman, pria itu mengetahui bahwa dia berhasil turun 1 kg dalam sehari. Merasa bahwa efek yang diberikan gym ini bagus, pria ini datang lagi besoknya. Kali ini dia meminta yang 1000 kalori. Setelah dia masuk ke ruangan, sudah ada wanita cantik lainnya yang menunggunya. Kali ini perempuan itu mengatakan bahwa jika dia berhasil mengejar dirinya, dia akan berhubungan badan dengannya. Setelah mengejarnya lebih dari 45 menit, pria itu berhasil mengejar dan berhubungan badan dengan wanita itu selama 1 jam." Inggrid sudah tidak berani menatap Randika. Bisa-bisanya dia bisa sevulgar itu? "Pria ini jelas merasa senang dan berat badannya terus turun dua hari ini. Untuk ketiga kalinya dia mendatangi gym itu dan memilih 1500. Seperti biasa, dia masuk ke sebuah ruangan." Tiba-tiba Randika berhenti bercerita. Para perempuan ini penasaran. "Kenapa? Ayo lanjutin." "Pria itu menemukan seekor orang utan sedang duduk." Randika tersenyum. "Perawat orang utan itu terus mengatakan bahwa jika orang utan ini berhasil mengejarnya maka dia akan berhubungan badan dengannya. Alhasil, orang itu berlari dengan sekuat tenaga." Viona tertawa sembunyi-sembunyi, ending tak terduga Randika benar-benar lucu baginya. Setelah selesai bercerita, Randika menyadari bahwa beberapa perempuan sudah tersipu malu. Sepertinya mereka jarang mendengar lelucon mesum. "Bisa-bisanya kau bercerita vulgar seperti itu?" Inggrid menggeleng-gelengkan kepalanya. "Hahaha kita semua sudah dewasa, pengalaman kita juga sudah banyak." Kata Randika sambil tertawa. Inggrid lalu memalingkan wajahnya. Dia lalu berpikir, Aku belum pernah melakukannya! "Sekarang giliran bu Inggrid!" Kata salah satu perempuan. Tiba-tiba semuanya menyemangati Inggrid. "Ayo bu, ibu pasti punya kan!" Inggrid merasa tidak berdaya. "Aku tidak pandai beginian." "Santai aja bu, semua orang pasti punya lelucon lucu yang pernah dia dengar." Beberapa perempuan tidak menyerah. "Kalau begitu baiklah. Jadi suatu hari ˇ­.." Inggrid benar-benar payah dalam bercerita. Namun, untuk menghormati atasan mereka ini, para perempuan ini tertawa kecil. Setelah berkeliling kota selama 1 jam, mereka memutuskan untuk kembali ke hotel dan beristirahat. Chapter 124: Pembalasan Randika dan yang lain segera berjalan kembali menuju hotel mereka sambil tetap mengobrol dengan meriah. Namun, tiba-tiba beberapa petugas polisi mencegat mereka. "Itu mereka!" Ketika Randika mendengar dan melihat para petugas ini, dia menyadari bahwa Slamet tidak jauh dari posisi mereka. Slamet menatap mereka dengan dingin. "Kalian semua harap mengikuti kami ke kantor." Para polisi ini benar-benar tidak mengenal kata tidak. Tanpa menunggu jawaban dari Randika dkk, mereka segera menghampiri dengan borgol di tangan mereka. Randika hanya menatap dingin selama kejadian ini. Tangannya lalu bergerak dengan cepat, tanpa bisa diikuti oleh pergerakan mata orang awam. Polisi yang hendak menangkap Randika tiba-tiba menyadari bahwa tangannya telah terborgol! "Kau berani menyerang seorang polisi?!" Polisi ini menjadi murka. Ketiga polisi lainnya meninggalkan para perempuan dan mengepung Randika dengan wajah marah. "Aku sarankan kalian untuk tidak berbuat macam-macam." Kata Randika dengan santai. "Kalian juga tidak berhak menangkap kami!" Beberapa perempuan juga mulai marah. "Tidak peduli kalian polisi, maksudnya apa tiba-tiba menangkap dan mau membawa kami?" "Iya! Kami sama sekali tidak melanggar hukum apa pun, buat apa kalian tiba-tiba menangkap kami?" "Kalian hanya perlu diam dan ikut kami ke kantor." Para polisi ini tetap bersikukuh ingin membawa Randika dkk bersama mereka. Randika lalu meminta teman-temannya itu untuk diam dan menyerahkan semua masalah ini pada dirinya. Dia lalu berkata dengan santai. "Sayangnya, tangan kotor kalian tidak bisa menyentuhku." "Oh? Kalau begitu tangan kotormu yang telah mengobrak-abrik usaha orang justru lebih bersih dari kita begitu?" Kata salah satu polisi dengan nada dingin. "Oh? Jadi begitu?" Randika lalu menatap dingin Slamet, yang tidak jauh dari posisi mereka, dan tersenyum. Ketika Slamet melihat senyuman itu, dia tidak bisa menahan tubuhnya untuk tidak merinding. "Kalau begitu kenapa kalian tidak menanyakan padaku kenapa aku mengobrak-abrik tempat itu?" Kata Randika dengan santai. "Tidak ada penjelasan yang cukup baik untuk menjelaskan kenapa penjahat sepertimu menghancurkan usaha orang." Salah satu polisi mendengus dingin. "Ceritakan semua dosamu itu di kantor!" "Eh? Bukankah kalian polisi? Bukankah kalian harusnya melihat semuanya dengan baik?" Seorang perempuan dari kelompok Randika ini tiba-tiba maju ke depan sambil marah-marah. "Tempat itu adalah tempat pemerasan! Mereka memberikan kita harga yang tidak masuk akal dan mengancam membunuh kita kalau tidak mau bayar. Sudah untung temanku ini mau bertindak agar orang-orang tidak bernasib sama seperti kita." Randika lalu memotong perempuan itu dan berkata dengan nada dingin. "Para preman itu pantas mendapatkan apa yang mereka dapatkan. Jika kau ingin menangkap kami, tangkap mereka dulu." Para polisi itu menatap satu sama lain beberapa saat. Akhirnya, salah satu dari mereka mengatakan. "Kita akan mengurus hal itu nanti. Sekarang, kalian semua perlu ikut kami ke kantor polisi. Tindakan kalian tadi telah melanggar hukum." Randika menggelengkan kepalanya. "Memangnya kalian dibayar berapa sampai bisa keras kepala seperti ini?" "Coba ulangi apa yang kau katakan barusan!" Salah satu polisi menjadi marah ketika mendengarnya. "Kenapa? Sekarang kau jadi tuli?" Randika merasa jijik dengan polisi korup seperti ini. "Sudah jelas bahwa kalian berempat dibayar oleh orang itu. Jadi aku akan bertanya pada kalian. Apakah kalian masih ingin menerima uang itu ataukah kalian ingin pulang dengan keadaan selamat?" Para polisi yang sudah ketahuan ini langsung membentak. "Omong kosong! Jika kalian tidak ikut dengan kami, status kalian akan menjadi buronan." "Ancaman seperti itu tidak berguna untukku." Kata Randika dengan wajah serius. "Aku tidak masalah menjadi buronan. Tetapi, kalian berempat akan tergeletak tidak berdaya di rumah sakit selama beberapa bulan dan mendekam di penjara setelahnya." "Sudah cukup berbicaranya, tangkap dia!" Kata salah satu polisi sambil mengeluarkan borgolnya. Keempat polisi ini menerjang Randika. Sosok Randika hanya terlihat bergerak sedikit. Tiba-tiba, borgol keempat polisi ini sudah terlempar cukup jauh dari posisi mereka. Randika lalu bertanya dengan santai pada mereka. "Segini aja kemampuan kalian?" Terdapat rasa takut di tatapan mata para polisi ini. Mereka benar-benar tidak bisa melihat kapan dan dengan cara apa borgol mereka diambil dan dilempar dengan mudah. Slamet, yang tidak jauh, menghela napas dalam-dalam ketika melihat aksi Randika. Jauh di dalam hatinya dia merasa bahwa dirinya telah salah mengajak geger orang. "Hajar saja dia!" Beberapa perempuan mulai menyoraki Randika. "Mereka para polisi korup yang tidak layak memakai seragam itu! Bisa-bisanya dia menerima uang suap dan tidak menangkap para preman tadi!" Inggrid mengerutkan dahinya, meskipun dia ingin sekali mengubur para polisi itu tetapi dia mengerti inti permasalahannya apa. Jika Randika benar-benar menghajar para polisi itu, tuduhan mereka akan berubah menjadi pemukulan terhadap polisi. Hal ini benar-benar tidak bagus buat mereka. Randika masih berdiri diam di hadapan para polisi itu. Para polisi itu menatap Randika dengan tatapan waspada, bagaikan mereka menatap teroris. Orang ini sepertinya bukan orang biasa. "Aku akan memberikan kalian kesempatan." Kata Randika dengan muka serius. "Pergi sebelum aku marah." "Kau pikir kau ini siapa?" Salah satu polisi yang sudah menaklukan rasa takutnya itu menjadi marah. Mengeluarkan pistolnya, dia membidik Randika. Sesaat itu juga, hembusan angin kuat berhembus dari arah Randika. Dia sudah memancarkan tenaga dalamnya yang kuat itu dan bergerak dengan cepat. "Sekarang kalian semua akan ikut dengan kami! Kalau tidak, jangan salahkan aku menembak kalian karena tidak menuruti kata-kata seorang penegak hukum!" Kata polisi itu dengan nada dingin. "Kamu yakin?" Randika kemudian mengangkat tangan kanannya. Polisi itu terkejut ketika melihatnya. Dia melihat apa yang ada di tangan Randika dan memeriksa pistolnya. Pistolnya tidak ada pelurunya! Dia menatap Randika dengan wajah terkejut, bagaimana caranya pria itu melakukannya? Randika lalu melempar peluru yang ada di tangannya ke kaki para polisi itu sambil tersenyum. "Kesempatan terakhir, pergi dan jangan ganggu kita." Para polisi itu merinding ketika melihat senyuman Randika. Melihat tidak ada tanggapan, Randika lalu bergerak dengan cepat. Yang dirasakan para polisi ini hanyalah hembusan angin yang kuat. Sesaat setelah itu, mereka hanya merasakan rasa sakit yang luar biasa di perut mereka. Mereka hanya merasakan kesadaran mereka perlahan-lahan menghilang dan jatuh di tanah secara serentak. "Malam ini kalian akan tidur di luar." Kata Randika yang sudah berdiri di belakang mereka. Sekarang, tatapan matanya jatuh pada Slamet yang masih menatap takut pada Randika. Melihat tatapan mata Randika, Slamet hanya bisa melangkah mundur sambil gemetaran. Melihat Slamet yang terus menerus mundur, Randika membentaknya dan menyuruhnya berhenti. "Kita bertemu lagi, sungguh kebetulan." Kata Randika dengan santai. "Jangan khawatir, setelah ini kita tidak akan pernah bertemu lagi. Percayalah padaku." Slamet sudah bermandikan keringat dingin. "Tentu saja aku percaya pada temanku." Randika tersenyum lebar. Namun bagi Slamet, kenapa senyum itu seperti mengandung sesuatu yang menakutkan? "Sebelumnya aku sudah ngomong bukan bahwa aku akan menemuimu jika butuh uang?" Randika menghampirinya sambil terus tersenyum. "Sekarang karena kita sudah bertemu, bagaimana kita berbicara tentang bisnis? Karena kau menyinggung perasaanku dan menghabiskan energiku menangani para suruhanmu itu, setelah kuhitung-hitung mungkin totalnya 150 juta." "Ah! Aku tidak punya uang sebanyak itu." Slamet menelan air ludahnya. "Sayang sekali, setelah semua hal ini terjadi aku sedang tidak ingin memberi diskon. Kalau begitu, kau ingin tangan atau kakimu yang aku patahkan?" Kata Randika dengan santai. Mendengar hal ini, Slamet benar-benar ketakutan setengah mati. Nasibnya benar-benar sial, dia tidak menyangka bahwa dia akan bertemu setan seperti orang ini. "Maksudku, aku akan mencarinya! Aku mohon kakak menunggu uangnya!" Kata Slamet dengan cepat. Chapter 125: Berselancar Setelah menelepon beberapa orang dan mentransfer uangnya ke rekening Randika sebanyak 150 juta, Randika pergi meninggalkan Slamet seorang diri. Sekarang, Slamet bisa menghela napas lega. Setelah menghapus keringat dinginnya, dia bersumpah tidak akan mengganggu Randika lagi. Perasaan ngeri ini baru pertama kali dia rasakan selama hidupnya dan dia tidak mau merasakannya lagi. ....... Setelah beristirahat sendiri di kamarnya, Randika mengajak Inggrid untuk berselancar keesokan paginya. "Benar-benar pemandangan indah!" Randika menatap sekumpulan perempuan muda yang berlarian menuju ombak sambil membawa papan selancar mereka. Randika mengangguk puas. Bikini dan dada yang gondal-gandul itu membuat pagi harinya menjadi indah. Belum lagi, dia menunggu momen di mana mereka membutuhkan bantuannya. "Sudah melihat perempuan cantik lainnya?" Inggrid yang ada di samping Randika berkata dengan nada dingin. Melihat mata Randika yang ke mana-mana itu, Inggrid hanya bisa menghela napas. "Sebenarnya mataku selalu tertuju padamu sayang. Tidak ada keindahan di dunia ini yang bisa mengalahkan kecantikan istriku yang tercinta." Tanpa menunggu lama, wajah Inggrid benar-benar menjadi merah. Malas mendengar kata-kata manis Randika, Inggrid meninggalkan Randika dan menuju pinggir pantai. Melihat bikini Inggrid yang super ketat itu, Randika menghela napas. Kenapa istrinya memakai yang seseksi itu? Bagaimana kalau ada orang yang menggodanya? "Ran, ayo kita juga pergi!" Randika akhirnya tersadar dari linglungnya itu satelah Viona menghampirinya. "Tentu saja, aku akan mengajarimu bagaimana caranya berselancar." Kata Randika sambil tertawa. Hari ini Viona memakai bikini warna kuning. Benar-benar memikat mata, khususnya betapa besar dadanya itu! Menyadari tatapan panas Randika, Viona dengan cepat tersipu malu. Namun, alih-alih kabur dan melarikan diri, Viona justru membusungkan dadanya. Hal ini membuat dadanya nampak lebih besar lagi. Mulut Randika sudah belepotan air liur. Ya ampun, kenapa dia merasa bahwa Viona tambah besar? Hari ini dada Viona benar-benar luar biasa! "Ayo cepat!" Para perempuan lainnya juga menerjang maju ke arah ombak dengan gembira. Randika lalu menyusul mereka bersama Viona, dia takut kalau berlama-lama berduaan dengan Viona maka insting laki-lakinya akan membuat dirinya lepas kendali. Meskipun masih pagi ombak di laut ini tergolong banyak, cocok untuk berselancar. Terlebih, ombak-ombak di laut ini tergolong besar. Jadi jika orang awam yang berselancar maka mereka akan kesusahan. Pada saat ini, sudah banyak orang berkumpul di laut ini. Beberapa dari mereka terlihat mempunyai keahlian, tetapi setelah berdiri di papan seluncur mereka selama beberapa detik, pada akhirnya mereka juga terjatuh. "Wow, liat itu Ran! Orang itu jago ya." Viona memperhatikan seorang laki-laki yang sedang berselancar dengan indah. Orang itu berhasil mengatasi ombak besar yang ganas itu dengan mudah, jelas terlihat bahwa dia bukan orang awam. ??Hmm? Aku juga jago berselancar lho. Apa kamu mau melihatnya?" Tanya Randika. "Benarkah? Kamu juga bisa berselancar?" Viona terlihat kaget. "Hahaha tidak ada di dunia ini yang tidak bisa aku lakukan. Tunggulah di sini, aku akan memperlihatkanmu keahlianku." Kata Randika dengan penuh percaya diri. Karena kebanyakan orang belum bisa berselancar, Viona dan teman-temannya berlatih di pinggir pantai. Meskipun begitu, suasananya tetap heboh. Randika lalu berenang menjauh dan mendekati ombak. Ketika melihat ombak datang, Randika mulai berdiri di atas papannya dan bergerak mengikuti ombak. "Wow! Randika memang hebat!" Viona, yang dari awal memperhatikan Randika, menjadi bersemangat ketika melihat Randika berdiri di atas papannya. Randika menyadari tatapan Viona dan tersenyum kecil. Cuma ombak kecil gini apa susahnya coba? Ketika ombak makin besar, Randika mulai berenang mendekatinya. Sekarang, ada beberapa orang yang mengikuti dirinya. Posisi mereka yang berdampingan berdiri di tengah ombak ini menjadi tontonan orang-orang. Mereka mengira bahwa mereka yang berselancar itu sedang berlomba. Ketika ombak yang dinaikinya itu membesar, bagian bawah ombak mulai mengancam para peselancar ini. Randika dengan sigap menyesuaikan tubuhnya dan berhasil berdiri dengan stabil. Dia mengikuti ombak bersama para saingannya itu. Namun, ombak ini tidak berhenti begitu saja. Di belakangnya, ada ombak lagi yang berusaha menghantamnya dari belakang. "Kau pasti bisa!" Viona semakin bersemangat menyoraki Randika. Tatapan mata orang-orang juga semakin bersemangat melihat mereka. Melihat ombak yang menyusul itu, mereka merasa bahwa akan ada beberapa yang jatuh. Ketika ombak susulan itu menghantam, Randika sudah siap dan bersiaga. Ombak itu berhasil menenggelamkan mereka semua, para penonton berteriak histeris melihatnya. Namun, pada saat-saat terakhir, terlihat 3 sosok peselancar yang berhasil keluar dan berdiri di papan mereka. Awalnya ada 5 orang yang berselancar dan sekarang tersisa 3. Kedua peselancar lainnya sudah tersapu ombak dan tersingkir dari perlombaan ini. Tatapan mata orang-orang sekarang jatuh pada Randika dan dua orang lainnya. Pada saat yang sama, ombak mulai naik lagi. Kali ini, ombak benar-benar tinggi. Meskipun masih sedikit jauh, ombak itu sudah mencapai 2 meter tingginya. Namun, Randika dan kedua orang lainnya berhasil berdiri di papan mereka di tengah-tengah ombak tersebut. Yang mengejutkan adalah mereka tidak turun-turun, melainkan ombak itu semakin tinggi. "Ah!" Semua yang menonton mereka mulai berteriak histeris. Mereka melihat ombak yang dinaiki ketiga peselancar itu mencapai 3 meter dan masih belum terlihat akan turun. Pada saat ini, ketiga orang ini terlihat hebat menguasai ombak yang ganas itu. Namun, hanya menaiki ombak dan berdiri diam bukanlah gaya Randika. Dia lalu bermanuver dengan papannya. "Wow!" Viona benar-benar terpukau, Randika memang hebat! Pada saat yang sama, salah satu peselancar itu kehilangan keseimbangan dan jatuh ke air. Meninggalkan Randika dan seorang peselancar sendirian. Randika masih merasa bahwa ombak ini masih belum ada tanda-tanda untuk turun jadi dia memutuskan untuk pergi ke puncak ombak. Dan akhirnya ombak itu akan jatuh! Ketika Randika sudah mencapai puncak, ombak itu mulai turun dengan cepat. Para penonton mulai menahan napas mereka, ombak yang turun itu bagaikan air bah yang siap menghantam siapapun yang ada di bawah lajunya. Namun, pada saat-saat seperti inilah kehebatan dan kemampuan peselancar diuji. Randika lalu mencondongkan tubuhnya agar menurunkan titik pusat gravitasinya. Ketika ombak itu menghantam ke bawah, lawan dari Randika nampak tidak bisa mempertahankan keseimbangannya. Dalam sekejap, orang tersebut tercebur dan jatuh dari papannya. Bagaimana dengan Randika? Seluruh orang bertanya-tanya apakah Randika berhasil melewati ombak besar tersebut atau tidak. Kemudian, Randika terlihat baik-baik saja dan masih berdiri di atas papannya selagi ombak membawanya. Melihat hal ini, para penonton bersorak dan bersemangat melihat Randika. "Wow! Hebat sekali!" Para perempuan dari kantornya terlihat bertepuk tangan. Mereka tidak menyangka bahwa Randika memiliki keahlian berselancar yang luar biasa. Randika kemudian berenang bersama papannya hingga ke pinggir pantai. Di sana dia sudah dikerubungi oleh perempuan-perempuan cantik. "Hai tampan, mau ajari aku tidak?" Melihat kemunculan para perempuan ini, Randika menjadi besar kepala. "Maaf, aku sudah punya pacar." Melihat Randika yang menolak mereka secara langsung, para perempuan ini pergi dengan hati yang kecewa. Satu per satu perempuan yang mendekatinya dia tolaki dan akhirnya Randika berada di samping Viona. "Bagaimana? Aku keren bukan?" "Sangat keren!" Viona bertepuk tangan dengan gembira. "Kalau begitu, aku akan mengajarimu secara cuma-cuma." Kata Randika sambil tertawa. Tentu saja Viona mengangguk dengan cepat. Kemudian Randika membawa Viona ke perairan yang lebih dalam. ??Pertama-tama, kau perlu belajar cara berdiri di atas papanmu. Sekarang coba kau tiduran dulu di papanmu." Kata Randika. Viona menuruti setiap kata yang diucapkan Randika. Randika sendiri sedang berjuang menahan diri, pantat Viona benar-benar menggoda! "Uhuk! Kalau begitu, coba kamu berenang di atas papanmu ini. Setelah itu aku akan membetulkan posturmu." "Oke." Viona segera melakukannya. "Ah! Salah, seharusnya seperti ini." Randika lalu memegang pinggang Viona yang ramping itu. "Tubuhmu harus tetap tegak selama kamu berenang." Wajah Viona sedikit merah, tangan Randika yang ada di pinggangnya ini benar-benar membuatnya mengingat masa-masa mereka di rumahnya. Terlebih lagi, bagaimana bisa dia berenang jika Randika terus-menerus memegangi dirinya! Sedangkan Randika sendiri, dia sedang asyik menikmati situasi ini sampai-sampai lupa bahwa dia menahan Viona. "Vi, sekarang justru kakimu yang bermasalah. Kakimu tidak boleh bergerak sama sekali. Coba kamu berenang lagi selagi aku menahan kakimu." Randika berpindah ke paha mulus Viona. Wajah Viona semakin merah, tapi dia sama sekali tidak mengatakan tidak pada Randika. Justru dia sendiri menikmati momen intim ini. "Oh? Vi, apa kamu gendutan?" Randika meremas-remas paha milik Viona. Dia merasa bahwa pahanya semakin besar. "Ah? Masa?" Viona terkejut. Dia percaya diri dengan tubuh yang dimilikinya. Bagaimana mungkin dia tambah gemuk? "Yah maksudku kamu lebih berisi daripada dulu. Tapi tidak apa-apa, justru seperti ini aku lebih suka." Kata Randika sambil tersenyum. Wajah Viona semakin merah, dia lalu menetapkan tekad di dalam hatinya. Setelah liburan ini selesai, dia harus berdiet dan berolahraga untuk menjaga bentuk tubuhnya. Dia tidak boleh membiarkan Randika membencinya gara-gara dia bertambah gemuk. Setelah setengah jam, tidak ada kemajuan di pembelajaran Viona. Selama ini Viona cuma belajar cara berenang dengan tiduran di papan sambil terus-terusan dipegang oleh Randika. Untungnya, para perempuan lainnya datang untuk membantu Viona. Randika secara otomatis melepaskan tangannya dan bermain aman. Waktu memang cepat berlalu kalau sedang senang, itulah yang dirasakan Randika yang dikelilingi wanita-wanita cantik. Tanpa sadar, waktu sudah berlalu 2 jam sejak mereka datang di pantai ini. Semuanya mulai capek dan lapar. "Hei, ayo kita keluar dan nyari makan." Saran salah satu orang. "Ayo!" Dengan cepat beberapa perempuan menyetujui saran tersebut. Chapter 126: Menangkap Ikan "Kita mau nyari makan apa?" Tanya salah satu perempuan. Kalau berbicara pantai, tentu saja seafood! Setelah berdiskusi selama beberapa waktu, salah satu perempuan berkata dengan santai. "Lebih baik kita memancing dan meminta restoran untuk memasakannya buat kita nanti." "Hahaha masuk akal juga, pasti nanti jatuhnya juga lebih murah. Kadang kau ini pintar juga." Para perempuan ini tertawa dan hendak pergi menyewa alat pancing. "Kalian ingin memancing untuk dimakan? Aku rasa otak kalian agak rusak." Pada saat ini, seorang lelaki tiba-tiba nimbrung di tengah percakapan mereka. Sindiran itu segera menarik perhatian mereka. "Ha? Memangnya ada yang minta pendapatmu?" Salah satu perempuan bernama Bella menjadi marah ketika mendengarnya. Lelaki itu benar-benar tidak tahu diri, sudah tiba-tiba nimbrung, dia juga mengejek secara terang-terangan. Justru otak orang itu yang jauh lebih rusak daripada mereka. Randika geleng-geleng ketika melihat hal ini. Dia paling malas bertemu dengan orang semacam itu, dia pasti merasa paling benar dan keras kepala. Orang yang pantas untuk mati sendirian. Lelaki itu hanya menggelengkan kepalanya. "Aku hanya berkata apa adanya. Kau kira memancing itu mudah? Mana ada ikan besar yang ada di pinggir pantai? Atau jangan-jangan kalian mau berenang dan menangkap mereka dengan tangan kosong?" Lelaki itu tertawa keras. "Itu bukan urusanmu!" Salah satu perempuan juga ikut marah melihat tingkah laku laki-laki ini. "Ah, kau beneran mau berenang? Kalian orang kota memang aneh, mana mungkin bisa kalian menangkapnya dengan tangan kosong?" Lelaki itu lalu menghela napas. "Aku hanya berkata apa adanya." "Dari mana kau tahu kalau kami tidak bisa mendapatkannya?" Bella tidak mau mengalah. "Benar! Siapa yang bilang kalau kita tidak bisa mendapatkannya?" Yang lain mulai membela. Lelaki itu tertawa sekali lagi. "Hahaha sudahlah hentikan mimpi kalian yang fana itu. Cepat bangun dan hadapi kenyataan." Kata-kata itu benar-benar menusuk hati para perempuan ini. Orang ini benar-benar tidak tahu diri. "Siapa yang bilang tidak bisa menangkap ikan dengan tangan kosong?" Suara itu berasal dari Randika yang daritadi cuma terdiam. Lelaki itu menoleh dan menatap Randika, tatapannya terlihat jijik terhadap Randika. "Logika saja, jika kau tidak bisa lebih cepat dari para ikan, bagaimana bisa kau menangkapnya?" Lelaki itu menghela napas. "Seperti kata peribahasa ''Bagai pungguk merindukan bulan'' [1]" "Oh? Kalau begitu kau berani bertaruh denganku?" "Siapa yang takut? Apa yang kita pertaruhkan?" Lelaki ini langsung setuju dengan usul Randika. Baginya ini adalah taruhan yang mudah, siapa memangnya yang bisa menangkap ikan di laut lepas dengan tangan kosong? "Jika aku mendapatkan ikan dengan tangan kosong, kau harus berlutut dan meminta maaf pada perempuan ini." Kata Randika. "Ha? Cuma itu? Kalau kau bisa dapat ikan apa pun, aku akan memakannya mentah-mentah di sini!" Lelaki ini benar-benar meremehkan Randika. "Baiklah, kau sendiri yang ngomong begitu. Jangan menyesal karena telah mengatakannya." Kata Bella. "Tentu saja." Lelaki itu menatap Randika dan mengatakan. "Aku percaya diri bahwa kau tidak mungkin bisa menangkap 1 ikan pun. Ah! Jangan sampai kau cuma menangkap ikan kecil ataupun udang. Itu sama saja dengan curang." "Jangan khawatir, aku seorang jentelmen. Aku tidak akan berbuat selicik itu." Kata Randika dengan santai. "Hahaha, aku suka orang sepertimu." Lelaki itu tertawa dan berbalik lalu berteriak. "Semuanya dengar! Orang ini mau menangkap ikan dengan tangan kosong!" Tiba-tiba, sekumpulan orang sudah mengerubungi mereka. "Menangkap ikan dengan tangan kosong? Mustahil lha!" "Apalagi ini ikan laut, dikira nangkap di kolam ikan apa?" Ketika suasana mulai rame, lelaki itu dengan cepat berkata pada Randika. "Jangan kembali kalau tidak membawa ikan 20 kg! Omong-omong, apakah kau butuh perlengkapan menyelam?" "Tidak butuh.?? Randika tidak peduli dengan sindiran orang tersebut. Di bawah tatapan orang-orang, Randika menceburkan diri ke laut dan menyelam. Dalam sekejap sosoknya sudah tidak terlihat dan meninggalkan sekumpulan orang ini berdiri terdiam. "Orang itu benar-benar sakit, kenapa kau tidak membawanya ke rumah sakit sebelumnya?" Lelaki itu berkata pada Viona dan yang lain. "Kau yang sakit!" Viona langsung tidak terima ketika Randika diejek. "Hahaha jelas kalianlah yang sakit. Semua orang ini sudah tahu bahwa menangkap ikan laut dengan tangan merupakan hal yang mustahil. Tapi memang kata-kataku tadi mungkin kurang tepat, dia bukan sakit tapi jelas sudah gila!" Laki-laki itu tertawa keras, membuat para perempuan ini semakin marah. Namun, pada saat ini Inggrid datang. "Ada apa?" Melihat bawahannya yang berkumpul bersama banyak orang, Inggrid merasa penasaran. "Bu, orang ini bertaruh sama pak Randika. Sekarang pak Randika sedang berusaha menangkap ikan dengan tangan kosongnya." Salah satu dari mereka menjelaskan. "Oh? Ya sudah, kalian tunggu saja." Inggrid hanya mengangguk dan menatap ke lautan. Lelaki itu dan orang-orang merasa Inggrid adalah wanita yang cantik, benar-benar cantik! Mereka berhenti berbicara satu sama lain dan menikmati pemandangan yang cantik tersebut. Pada saat ini, Randika masih sibuk mencari ikan di tengah laut. Dia melihat ada ikan besar tetapi tidak yakin kalau beratnya mencapai 20 kg. Dia lalu memutuskan untuk mencari yang lain. Namun, dia tetap tidak bisa menemukan ikan yang memenuhi harapannya. Tanpa sadar sudah 2 menit dia menyelam tanpa mengambil udara Ah! Tatapan mata Randika terlihat berbinar-binar, dia menemukannya! Beratnya pasti lebih dari 20 kg. Di tepi pantai, lelaki itu tertawa sekali lagi. "Sudah hampir 3 menit dan dia tidak keluar-keluar, jangan-jangan dia mati tenggelam? Sudah kubilang memancing dengan tangan kosong itu mustahil. Sekarang malah nyawanya yang hilang." "Tidak ada yang tidak bisa dilakukan oleh Randika, kau tunggu saja." Kata Viona dengan nada dingin. Dalam lubuk hatinya dia sendiri mulai sedikit merasa khawatir, kenapa Randika tidak muncul-muncul? "Kamu kira ada orang yang bisa menahan napas lebih dari 2 menit?" Lelaki itu menatap Viona sambil menggelengkan kepalanya. "Sudah jangan berharap terlalu banyak, panggil polisi dan ambulans. Kalian harus mengambil mayatnya dulu secepatnya sebelum dimakan oleh ikan." Para perempuan ini segera marah, tetapi Inggrid hanya menatap lautan dengan wajah yang tenang. Viona sendiri mulai bimbang, tetapi setelah dia memikirkan kejadian-kejadian sebelumnya, dia merasa lebih percaya diri terhadap Randika. "Tunggu saja, dia pasti akan keluar sebentar lagi." Kata Viona dengan wajah penuh percaya diri. "Aku punya waktu, sayangnya dia sudah tidak punya waktu lagi hahaha." Kata lelaki itu sambil tertawa. Pada saat yang sama, orang-orang juga mulai tertawa. Bahkan ada yang ikut nimbrung. "Sudah telepon saja ambulans, seharusnya mayatnya akan mengambang sebentar lagi." Pada saat ini, seseorang menyadari ada pergerakan di laut dan menunjuknya. "Itu dia!" Tiba-tiba, semua orang menatap Randika dan pancingannya. Semua orang terkejut bukan main, bahkan ada yang sampai menampar dirinya sendiri. Bukankah itu lebih dari 80 kg? Tatapan mata lelaki itu benar-benar terbelalak, dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Viona dan lainnya justru bersorak dan tertawa melihat sosok Randika. Sambil tersenyum, Randika menaruh kura-kura yang dia tangkap di depan kaki lelaki itu. "Bagaimana? Beratnya harusnya lebih dari 20 kg." Jelas seekor kura-kura berbobot lebih dari 20 kg! Inggrid tidak bisa berhenti tertawa. Kenapa Randika memutuskan untuk menangkap kura-kura? Para penonton mulai berkomentar. "Orang ini kuat menyeret kura-kura?" "Aku baru pertama kali melihat hal seperti ini." Bella justru yang paling besar kepala. "Tuh kan, siapa bilang tidak bisa memancing dengan tangan kosong? Mau bilang apalagi kau?" "Benar! Sekarang tepati janjimu makan tangkapan kita mentah-mentah. Meskipun agak sulit, dagingnya terkenal enak." Kata salah satu perempuan sambil menahan tawa. Para penonton mulai tertawa, orang itu mau makan kura-kura di tempat ini? Giginya bisa-bisa patah hanya untuk mencoba memecahkan tempurungnya. "Aku tidak akan memakannya." Lelaki itu menggeleng dengan cepat. "Ah! Kau mau mengingkari kata-katamu sendiri?" Semua perempuan ini tidak habis pikir. Lelaki ini sendiri yang mengusik mereka, sekarang setelah kalah malah mau kabur. Lelaki macam apa dia coba? "Itu bukan ikan." Kata lelaki itu. "Kura-kura termasuk seafood!" "Maksudku adalah kura-kura itu lambat, sangat mudah menangkapnya. Perjanjian kita adalah ikan, jadi bisa dianggap taruhan kita tidak terpenuhi." Kata lelaki itu. Bella benar-benar marah ketika mendengarnya. "Kura-kura ini jelas merupakan hewan laut yang bobotnya lebih dari 20 kg. Jangan kira kura-kura ini lebih bodoh darimu, di laut dia bisa berenang lebih cepat dari manusia." "Hahaha." Tiba-tiba para penonton tertawa ketika mendengarnya. Kata-kata wanita itu ada benarnya juga. "ˇ­." Wajah lelaki itu sudah merah karena marah. Namun, Randika berkata dengan santai. "Baiklah, aku akan menyelam lagi dan menangkap ikan sesuai kriteria." "Tidak usah!" Beberapa perempuan ingin menghalangi Randika. Randika hanya tersenyum pada mereka. "Santai saja, aku tidak lama kok." Setelah itu, Randika kembali menyelam lagi. Kali ini, dia tidak memerlukan waktu selama tadi. Dan kali ini dia membawa ikan besar bersamanya. "Seharusnya ikan ini lebih dari 20 kg." Randika melempar ikan yang ditangkapnya. Ketika melihat ikan itu, semua orang ternganga melihatnya. Lelaki itu juga terkejut, wajahnya benar-benar sudah berantakan. Ini pasti mimpi bukan? Tetapi, ikan besar itu ada di bawah kakinya dan banyak orang yang menyaksikan aksi Randika ini. "Mau alasan apalagi?" Bella dengan cepat berdiri di depan lelaki itu. "Akuˇ­ Aku menyerah." Kata lelaki itu dengan nada lesu. "Cepat makan! Katanya mau makan tangkapan kita mentah-mentah!" Seru yang lain. "..." Wajah lelaki itu benar-benar buruk. Dia hanya mengatakan apa yang terlintas di pikirannya tanpa berpikir panjang. Dia tidak menyangka bahwa dia akan kalah. "Sudah, orang itu sudah menerima pelajarannya. Aku harap kau tidak akan berbuat seperti ini lagi." Inggrid berusaha menengahi. Melihat atasan mereka yang bijak itu, semuanya setuju untuk melepaskan lelaki itu. Namun, hanya satu orang yang tidak melepaskannya dengan mudah. "Berlutut dan minta maaf pada mereka." Kata Randika dengan wajah sangarnya. [1] Seseorang yang membayangkan atau mengkhayalkan sesuatu yang tidak mungkin. Chapter 127: Masih Berani Melawan? "Hahaha kalian tadi lihat wajahnya seperti apa?" Selama mereka berjalan, para perempuan ini masih mengobrol dengan semangat. Mereka membahas ekspresi malu dan ketakutan lelaki yang meminta maaf pada mereka. "Pak Randika memang luar biasa! Omong-omong apakah kamu sudah memiliki pacar?" Tatapan mata Bella penuh dengan makna. Dia seakan bertemu dengan pangeran berkudanya. Mendengar pertanyaan ini, perempuan yang lain mulai tertawa. Namun, Viona dan Inggrid memiliki ekspresi yang berbeda. Hati Viona mengepal sedangkan Inggrid terbatuk keras tanpa henti. "Ah! Bu Inggrid kau tidak apa-apa?" Bella bertanya pada Inggrid. "Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Aku hanya tersedak saja." Kata Inggrid sambil tersenyum. Randika sendiri bingung harus berkata apa, pertanyaan ini benar-benar susah dijawab. "Hahaha." Randika hanya tertawa lalu menambahkan. "Rahasia." Entah kenapa Viona merasa kecewa dengan jawaban Randika. Sedangkan Inggrid hanya menatapnya dengan tajam. Hubungan mereka berdua sepertinya belum terekspos ke publik. Meskipun rumor sudah tersebar di perusahaan, hal tersebut masih belum ada kepastian. "Ah! Dari jawaban bapak yang ragu-ragu itu pasti ada ya!" Bella terlihat kecewa. "Sayang sekali, aku padahal tertarik dengan bapak." "Aku juga mau!" Teriak salah satu dari mereka. "Aku juga ingin jadi pacar pak Randika." Para perempuan ini bagaikan serigala mengelilingi ayam, Randika benar-benar dibuat terpojok. ...... Saat ini hari sudah berganti menjadi siang, mereka semua telah makan dan berganti baju. Karena besok pagi mereka harus pulang, hari ini merupakan hari terakhir mereka berjalan-jalan. Tentu saja, mengingat hari ini adalah hari terakhir mereka bebas, para perempuan tentu harus belanja! Mendengar kata belanja, hati Randika mengepal. Stamina perempuan saat berbelanja sangatlah kuat sampai-sampai bisa dibilang mengerikan. Bahkan seorang Ares pun sangat malas ketika menemani perempuan belanja. Randika mencari-cari alasan untuk kabur saat mereka masih makan siang. Tetapi dia tidak menyangka akan ditanya oleh bawahannya itu. "Pak Randika mau ikut?" Bahkan sebelum Randika menjawab, Inggrid berkata dengan santai. "Tentu saja dia ikut, dia tidak punya kegiatan apa-apa." Karena istriku sudah berkata demikian, mana mungkin dia kabur? Usut punya usut, akhirnya Randika menemani para perempuan berbelanja. Jalanan di pulau kura-kura ini sangat bersih dan suasana meriah selalu memenuhi jalanan selama 24 jam. Karena pulau ini terkenal akan lautnya tentu saja aksesoris, baju, celana dll bernuansa laut. Dan juga, harga mereka jauh lebih murah daripada di kota Cendrawasih! Sambil melihat kanan-kiri, mereka menelusuri kota kecil ini. "Wah, toko ini barangnya bagus-bagus! Ayo masuk!" "Ayo, ayo!" Semua perempuan terlihat antusias ketika masuk ke toko souvenir itu. Randika, tentu saja, tidak tertarik dan menunggu di luar. Setelah beberapa saat, para perempuan itu keluar dan berjalan kembali ke toko lainnya. Sedangkan Randika? Dia mengekori mereka dan membawakan barang belanjaan mereka dengan wajah suntuk. Inilah yang dia takutkan ketika menemani perempuan belanja, benar-benar neraka! "Bawain ini." Pada saat ini, Inggrid keluar dari toko, memberikan tas barang belanjaannya dan berjalan kembali ke toko lainnya tanpa menoleh ke arah Randika. Randika hanya bisa melihat senyuman kecil di wajah Inggrid. Kesempatan bagus untuk memanfaatkan Randika tentu tidak akan disia-siakan oleh Inggrid! Karena biasanya dia telah dipermainkan Randika, sekarang gilirannya untuk memainkan dirinya! Randika hanya bisa melongo dan mengekori para perempuan ini. Suasana belanja ini tetap meriah, para perempuan ini tidak ada capek-capeknya mengunjungi satu per satu toko. Ketika mereka hendak masuk, seorang lelaki menghentikan mereka. "Hei kakak-kakak cantik, aku punya sesuatu yang bagus nih. Coba dilihat dulu." Kata orang dengan nada manis. "Apa itu?" Beberapa orang mulai penasaran. Lelaki itu mengeluarkan kotak kayu kecil dari balik bajunya. Dan ketika dia membukanya, itu adalah sebuah kalung kecil. "Apa itu?" Bella penasaran. "Kalian tahu ketika perahu VOC Belanda masih berlayar, salah satu dari kapal mereka yang sedang membawa barang-barang berharga tenggelam di laut sekitar sini." Lalu lelaki itu menunjuk kalung tersebut. "Inilah salah satu dari barang berharga tersebut!" "Aku sedang kesusahan dan membutuhkan uang dengan cepat jadi aku menawarkan harta karun ini pada kakak-kakak cantik ini. Dari penampilan kalian, aku menduga bahwa kalian bisa membeli harta karun ini dengan mudah." Randika menyaksikan sandiwara lelaki itu dengan tatapan dingin. Benar-benar menyedihkan. Para penipu jaman sekarang benar-benar semakin ahli. Kalung itu benar-benar kecil, bahkan bagian perhiasannya terlihat sekali bahwa itu kaca. Seharusnya barang itu tidak lebih dari 20 ribu rupiah. "Aku rasa kita tidak mampu membeli barang semewah itu." Jelas Bella dkk tidak akan tertipu dengan mudah. "Aku rasa kalian tidak mengerti arti dari kalung ini." Kata lelaki itu. "Dikatakan bahwa kapal yang karam itu membawa banyak barang berharga untuk dibawa kembali ke negara asalnya. Benda ini benar-benar memiliki nilai sejarahnya." "Kalau aku tidak butuh uang, aku tidak akan menjualnya. Jika kalian memberikan aku satu juta maka barang ini milik kalian." Lelaki itu terlihat pura-pura menyesal, dia berusaha membangun koneksi. Mendengar kata ''nilai sejarah'', beberapa mulai tertarik tetapi sekaligus ragu. "Satu juta benar-benar terlalu mahal." "Kalau begitu, kalian ingin harga berapa? Aku sedang butuh uang cepat, kalau kalian menawarnya terlalu jauh maka aku akan mencari orang lain." Ketika Viona melihat kalung itu, dia juga ingin membelinya. Ayahnya yang menyukai benda-benda sejarah mungkin akan senang. "Tapi hargamu benar-benar terlalu mahal, aku harap kau bisa menurunkannya." Kata Viona. Lelaki itu melihat ketertarikan Viona terhadap kalungnya, dengan cepat dia mengatakan. "Kalau begitu, bagaimana kalau 900 ribu? Aku tidak bisa menurunkannya banyak-banyak." "Masih terlalu mahal." Viona menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu 800." Lelaki itu memalingkan wajahnya, seakan tidak rela menjualnya. "Maaf itu batasku." "Kau bercanda? 800 ribu buat barang rongsokan itu?" Pada saat ini Randika buka suara. "Kalung itu benar-benar cuma sampah yang kau pungut bukan?" "Tega-teganya kau berkata seperti itu? Ini adalah kalung yang didapat dari kapal yang karam beratus-ratus tahun yang lalu, mana mungkin benda ini tidak mahal?" Lelaki itu marah. "Jika itu adalah benda peninggalan sejarah, maka itu tidak apa-apa." Randika menggelengkan kepalanya. "Maksudnya pak Randika barang ini palsu?" Para perempuan ini terkejut mendengarnya. "Tentu saja palsu, coba perhatikan. Karena kalung itu berada di laut selama ratusan tahun, kenapa tidak ada tanda-tanda berkarat? Terus perhatikan bagian perhiasannya, jelas-jelas itu kaca. Berharga dari mana coba?" Mendengar kata-kata Randika itu, lelaki itu merasa nasibnya sial. "Ternyata kau mau menipu kami!" Para perempuan ini menjadi marah. "Hei maksudmu apa? Orang sedang nyari sesuap nasi malah kau permalukan?" Lelaki itu mendatangi Randika sambil marah-marah. Karena identitasnya terbongkar, dia sudah tidak peduli dengan para perempuan itu. "Lha aku cuma mengatakan apa adanya, memangnya salah?" Randika menatap penipu ini. "Oh? Sok bijak ternyata kamu?" Wajah lelaki itu menjadi hitam kelam. "Teman kami tidak salah, dia hanya memperingatkan kami untuk tidak membeli barang palsumu itu. Seharusnya kau yang kami laporkan pada polisi karena berusaha menipu kita." Seru salah satu perempuan. "Hahaha, memanggil polisi?" Lelaki itu tersenyum. "Aku rasa itu percuma, semua polisi di pulau ini adalah kawanku. Lagipula, kalian tidak akan pergi ke mana-mana sebelum membeli kalung ini!" "Kau mengancam kami?" Semuanya menjadi marah. "Di pulau ini, tidak ada bisnis yang tidak berada di bawah kendaliku." Tatapan orang itu menjadi bengis. "Aku bisa membuat kalian semua diusir dari toko-toko dan tidak akan ada tempat yang menyambut kalian dengan ramah." "Kau menjual barang palsu pada kami, memangnya siapa yang mau beli?" Bella mengamuk. Randika juga berkata dengan nada serius. "Aku juga bisa memberikanmu pilihan, kau ingin kaki atau tanganmu patah atau kau sekarang pergi dan tidak mengganggu kami." "Kau berani mengancamku?" Lelaki itu tertawa dan menepuk tangannya 2x. Tiba-tiba, beberapa pria kekar dengan wajah bengis muncul dari samping dan berjalan mendekati Randika. Mereka menatap tajam pada Randika. "Masih berani melawan?" Kata lelaki itu sambil tertawa. "Tentu saja, kumpulkan semua orang-orangmu dan majulah bersamaan." Kata Randika sambil tersenyum. Randika lalu menaruh barang belanjaannya, maju ke depan. Sambil menatap para pria kekar itu, dia mengacungkan jempolnya ke bawah. Arogan! Para preman ini jelas terprovokasi oleh Randika dan sudah tidak sabar melumatnya. Mereka akan menghajar Randika hingga tidak berbentuk dan menikmati jarahannya. Kelima pria kekar itu menerjang ke arah Randika bersamaan. Si penipu tadi sudah tertawa keras, menunggu bawahannya itu selesai bekerja. Tetapi, ekspresi penipu ini segera berubah hanya dalam 10 detik. Randika masih berdiri dengan wajah datar dan mencekik salah satu preman itu. Randika sama sekali tidak bergerak, dia membiarkan lawan-lawannya mendekatinya. Dua preman lainnya terlihat sudah melayangkan pukulan ke arah wajahnya dan kedua lainnya berusaha mengitarinya dan menyerang dari belakang. Setelah melempar orang yang dia cekik, Randika dengan cepat meninju kedua preman yang di depan hingga pingsan. Sedangkan kedua preman yang berada di belakangnya, mereka hanya sempat melihat teman mereka tergeletak sebelum akhirnya rasa sakit menghilangkan kesadarannya. Sambil membersihkan debu di tangannya, Randika berjalan pelan menuju si penipu. Penipu ini menggosok-gosok matanya, tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Kelima bawahannya yang kuat itu meringkuk tidak sadarkan diri di tanah. Apa yang sudah terjadi? Melihat Randika yang semakin mendekatinya, penipu ini terus berjalan mundur hingga menabrak dinding. DUAK! Randika menampar dinding sampingnya sambil tersenyum. "Hahaha, masih berani melawan kah kamu?" "Maafkan aku! Aku tidak akan berani menipu orang lagi." "Oh? Semua sudah terlambat." Dengan cepat Randika memukul penipu itu hingga pingsan. Untuk memberinya pelajaran, Randika menusukan jarum akupunturnya secara diam-diam dan membuat sensasi digigit semut pada orang ini selama 1 bulan. Untuk orang tidak tahu diri semacam ini, Randika benar-benar tidak memberi ampun. "Wah pak Randika memang tampan!" Beberapa perempuan menyoraki dan terpukau oleh Randika. Chapter 128: Elva Meminta Bantuan Keesokan harinya, semuanya balik ke kota Cendrawasih dengan selamat. Setelah berpamitan, semuanya pulang ke rumah masing-masing. "Capeknya!" Ketika masuk ke dalam rumah, Randika segera duduk di sofa setelah menaruh barang-barang belanjaan Inggrid yang berjibun. Hari kedua dari ''liburan'' ini benar-benar neraka bagi Randika. Para perempuan itu benar-benar tidak memberi ampun padanya. Dia merasa seluruh toko di pulau kura-kura itu sudah dia jelajahi dan setiap para perempuan itu keluar, mereka pasti membawa keluar barang belanjaan! Bagaimana bisa para perempuan itu begitu kuat? Inggrid mencuekin Randika dan memeriksa barang belanjaannya. Pada dasarnya dia suka berbelanja jadi liburan kemarin benar-benar menyenangkan baginya. Namun, tiba-tiba Randika memeluk Inggrid dari belakang dan berbisik di telinganya. "Sayang, kenapa kau beli begitu banyak barang?" "Karena ada kamu yang bisa membawakannya." Kata Inggrid dengan santai. Dia lalu kembali memeriksa belanjaannya itu. Randika bingung harus berekspresi seperti apa. Namun setelah melihat ekspresi senang Inggrid, semua kelelahan itu terasa hilang dari dalam dirinya. Meskipun dia telah menderita, bukankah pada akhirnya tujuannya adalah membahagiakan istrinya? Tiba-tiba, setan kecil di pundak Randika mulai berulah. Randika merasa bahwa sudah lama dia tidak bermesraan dengan istri tercintanya itu. Dia juga mulai mengerti titik-titik erotis milik Inggrid. Kalau dia tidak memberi istrinya pelajaran, bagaimana bisa dia bisa disebut suami? Randika lalu memeluk Inggrid sekali lagi. "Sayang, apa perlu kita kembali lagi ke sana setelah ini?" Inggrid hanya menatapnya dengan tajam. "Tidak mau!" "Ah?" Tiba-tiba, Randika menggandeng Inggrid dan menyeretnya ke sofa. Di sana, Randika mulai memainkan tipu muslihatnya. "Sayang, aku perlu tahu perkembangan tubuhmu setelah kamu berjemur seharian di sana. Jangan sampai kulit putihmu ini rusak." Kata Randika sambil tersenyum. Tangannya yang seperti capit itu sudah mengunci dada Inggrid. Pada saat ini, suara Ibu Ipah tiba-tiba terdengar dari belakang. "Selamat datang nona, apakah Anda perlu bantuanku untuk menyimpan semua barang ini?" Terkejut, badan Randika menjadi kaku dan Inggrid segera mendorong Randika dengan wajah merah. Randika segera berdiri dan membalikan badannya. "Ibu Ipah lama tak berjumpa." "Jangan khawatir, ibu tidak lihat apa-apa barusan." Kata Ibu Ipah dengan santai. "Aku hanya ingin membantu nona membereskan barang-barang ini." "Tidak apa-apa, aku bisa melakukannya sendiri." Inggrid merasa wajahnya masih panas karena rasa malunya itu. Ketika Ibu Ipah sudah pergi, Inggrid menatap Randika tajam-tajam. Randika sendiri justru tertawa ketika Ibu Ipah meninggalkan mereka. ......... Besoknya Inggrid dan Randika berangkat bersama-sama menuju kantor. Setelah pergi beberapa hari, ada yang harus diurus oleh Inggrid. Ketika Randika masuk ke dalam ruangannya, handphonenya tiba-tiba bunyi. Setelah mengangkatnya, terdengar suara super dingin seorang wanita. "Aku di bawah." Lalu telepon itu langsung ditutup. Randika sedikit kesal, perempuan itu kenapa tidak sopan sekali. Ketika dia di lobi, Randika celingak-celinguk dan menyadari bahwa Elva berada di luar gedung. Sambil berjalan keluar, tatapan Randika sama sekali tidak lepas dari dada Elva. Yah bisa dikatakan perempuan ini mengikat dadanya hingga rata seperti papan. Benar-benar pemandangan menyedihkan baginya, kenapa gunung yang indah itu harus menderita? Melihat tatapan mesum Randika, Elva mendengus dingin dan memalingkan wajahnya. Kenapa pria ini begitu mesum? "Kali ini butuh apa dariku?" Kata Randika sambil tersenyum. "Ada pengkhianat di organisasiku yang perlu untuk dibereskan." Kata Elva. "Oh? Terus?" Terus? Elva terkejut mendengar tanggapan Randika. Apa maksudnya ini kurang jelas? Pria ini bodoh atau apa? "Dia terlalu hebat, aku tidak bisa apa-apa melawannya." Kata Elva. Randika lalu memperhatikan Elva. Perempuan ini benar-benar perempuan tangguh dan harga dirinya tinggi jadi dia rasa Elva belum pernah meminta bantuan orang lain. Karena Elva terlihat judes di mata Randika, dia memutuskan untuk mendorong hal ini lebih lanjut. Randika lalu tertawa dan mengatakan. "Terus?" "Kau bodoh atau apa?" Elva membentak Randika. "Aku kira kamu cuma ingin curhat, bagaimana mungkin aku tahu apa yang kau inginkan dariku kalau kau tidak mengatakannya?" Randika menggelengkan kepalanya. Bajingan! "Baiklahˇ­ Jadi kau bisa membantuku menangani orang itu atau tidak?" Kata Elva sambil menenangkan dirinya. "Permintaanmu terdengar tidak tulus, aku mencium aroma amarah di kata-katamu." Randika memalingkan wajahnya. Elva ingin menangis darah sekarang juga. "Aku mohon pertolonganmu." Kata Elva sambil menggertakan giginya. "Masih terasa tidak tulus, mana magic wordnya?" Kata Randika sambil mengupil. Elva benar-benar ingin menangis darah. Pertama kali dalam hidupnya dia meminta bantuan ke orang lain dan kenapa orang itu harus bajingan di hadapannya ini. Apakah dia harus berlutut dan meminta tolong? "Tolong aku, aku benar-benar membutuhkan pertolonganmu." Kata Elva sambil tersenyum canggung. "Tidak mau." Jawaban Randika singkat, padat dan jelas. Tidak memberikan Elva kesempatan untuk menyanggahnya. "Kenapa kau tidak bisa membantuku?" Elva jelas terkejut bukan main mendengar jawaban Randika. Buat apa memangnya Randika membantunya secara cuma-cuma? "Jangan lupa kalau aku sudah membantumu di kota Merak kapan hari." Elva merasa ingin berteriak di samping telinga pria itu. Mendengar hal ini, Randika hanya tersenyum. "Kalau begitu, anggap bantuanku yang membawa ke rumah sakit sudah lunas." Bukan kau saja yang bisa memainkan kartu ini! Elva benar-benar tidak berkutik melawan satu orang ini. Setiap kata yang keluar dari mulut Randika berhasil memicu amarahnya. Perasaan seperti ini, baru pertama kali ini benar-benar dia rasakan selama hidupnya. Elva sudah memalingkan wajahnya dan tidak peduli lagi dengan Randika. Ketika dia mengintip, dia melihat Randika sudah berjalan meninggalkan dirinya dan berjalan menuju gedung. Elva lalu berbalik dan berteriak. "Apakah kau benar-benar tidak bisa membantuku?" Elva benar-benar sedang terburu-buru dan tidak tahu harus ke mana lagi. Randika lalu berputar sambil tersenyum padanya. "Kalau kau berjanji memperbaiki sikapmu padaku maka aku akan membantumu." Elva tidak berkutik, dia benar-benar butuh bantuan Randika jadi dia mengangguk. Setelah itu, Randika berjalan berdampingan dengan Elva. "Ceritakan padaku." Melihat Randika yang serius, Elva mulai bercerita tentang permasalahannya. "Nama orang ini adalah Leo, dia adalah anggota elit dari Arwah Garuda. Dia telah menjalani misi penting dan mendapatkan banyak informasi penting. Dia sempat memiliki pemikiran untuk berkhianat setelah mendapatkan informasi-informasi berskala internasional. Tidak lama ini, dia melarikan diri bersama informasi tersebut. Untungnya, kita mengetahui masalah ini dengan cepat dan berhasil memastikan keberadaan Leo. Dia seharusnya masih berada di kota Cendrawasih ini." "Maksudku bukan itu." Randika berhenti berjalan dan menatap kosong pada Elva. Elva bingung dengan maksud Randika barusan. Bukankah dia ingin mengetahui targetnya kali ini? "Maksudku." Randika lalu menatap dada Elva. "Kenapa kau begitu rata hari ini?" Ketika mendengar hal ini, Elva langsung mengamuk dan membentak Randika. "Dasar bajingan!" Chapter 129: Kau Bukan Tandinganku Elva lalu menuntun Randika ke tempat Leo bersembunyi. Dalam perjalanan mereka, Elva tidak mau berbicara apa pun ke Randika. Dia benar-benar marah terhadap pelecehan yang dilakukan Randika tadi. Namun, dia masih menjawab pertanyaan mengenai Leo. Setelah berjalan begitu jauh, mereka akhirnya tiba di perumahan lama. Perumahan lama ini bisa dikatakan merupakan pusat kota yang dulu. Karena kemajuan ekonomi dan kota ini melakukan ekspansi, perumahan lama ini menjadi rumah-rumah orang menengah ke bawah. Oleh karena itu, banyak orang berkumpul di area perumahan ini. "Itu dia." Ekspresi Elva terlihat serius. Randika lalu memperhatikan lingkungan yang sedikit ramai ini, orang-orang terlihat sedang menikmati hari mereka dengan santai. Dengan banyaknya kerumunan orang ini, tidak heran tempat ini menjadi tempat persembunyian. Targetnya kali ini terlihat cerdas. Dengan adanya orang-orang ini, akan memudahkan Leo untuk bersembunyi di antara mereka. Ketika Arwah Garuda mengintai tempat ini, mereka benar-benar tidak berdaya. Mereka tidak bisa terlalu melebarkan sayap mereka di antara kerumunan orang ini. Kalau keadaan menjadi buruk, keberadaan Arwah Garuda akan terekspos dan korban akan berjatuhan. "Jangan bilang kalian masih belum menemukan tempat dia bersembunyi?" Randika mulai pusing dengan orang yang lalu lalang melewatinya. Benar-benar padat penduduk. "Jangan melihatnya secara langsung, coba kau perhatikan gedung di arah serong kananmu itu. Di lantai 3 dengan jendela terbuka, di sanalah Leo berada. Namun, Leo memiliki kemampuan anti mata-mata yang hebat dan dia sangat mengenal Arwah Garuda hingga ke intinya. Jadi orang kami sama sekali tidak bisa mendekatinya." "Sangat mudah mengetahui bedanya orang awam dan tidak." Randika tersenyum dan mendekati gedung Leo berada. "Hei, ngapain kamu? Sabarlah dan jangan gegabah. Kita harus membuat rencana terlebih dahulu." Elva benar-benar cemas dengan Randika. Leo bukan sembarangan orang, dia adalah salah satu orang terbaik di Arwah Garuda. Randika belum pernah melihat kemampuan Leo, terus kenapa wajahnya nampak begitu tenang? Elva sudah pernah menjalani misi bersama Leo sebelumnya. Bisa dikatakan bahwa dirinya telah memahami kemampuan Leo. Misi tingkat tinggi yang berbahaya akan terlihat mudah apabila Leo yang mengerjakannya. Yang paling menempel di ingatan Elva adalah di mana Leo seorang diri menangani 5 ahli bela diri dari daftar Dewa. Bisa dikatakan bahwa Leo adalah petarung yang kuat. Tetapi, bajingan bernama Randika ini mencueki dirinya dan dengan santainya berjalan menuju target mereka berada. Melihat sosok Randika yang semakin menjauh, Elva hanya bisa menggigit bibirnya dan menyusulnya. Pada saat ini Leo sedang duduk di jendela kamarnya sambil memangku laptop. Sepertinya dia sedang mengirim file. Namun, pengirimannya ini benar-benar lambat. Baru 30% setelah berusaha mengirimnya selama 15 menit. Di tengah-tengah hal ini, dia tetap menaruh perhatian ke arah kerumunan orang di bawah. Sambil ditutupi sebuah baju yang dia gantung, Leo selalu memeriksa keadaan dari balik baju tersebut. Dia pada dasarnya telah menghafal orang-orang yang daritadi berkeliaran di sekitar gedungnya. Jadi, jika ada orang yang tidak dia kenal tiba-tiba masuk ke gedungnya dia akan tahu detik itu juga. Terlebih, dia harus memastikan file ini terkirim sebelum benar-benar kabur. Informasi yang dia curi ini benar-benar penting dan dia tahu bahwa Arwah Garuda tidak akan membiarkannya kabur membawa informasi ini. Oleh karena itu, dia terpaksa bersembunyi dan mengirimkan file ini ke tempat aman terlebih dahulu. Pada saat ini, Leo menyadari bahwa ada seorang laki-laki sedang berjalan menuju gedungnya. Dalam sekejap dia merasa ada yang aneh. Meskipun dia tidak pernah melihat pria itu di Arwah Garuda, langkah kakinya ataupun cara dia bernapas berbeda dengan orang biasa. Tidak mengambil risiko, Leo dengan cepat mencabut flashdisknya dan menghancurkan laptopnya. Dia lalu bergegas lari ke arah pintu. Dia yakin bisa kabur sebelum pria itu masuk ke gedungnya. Setelah ini dia akan bersembunyi lagi dan memastikan menutupi jejaknya sehingga Arwah Garuda tidak bisa menemukannya lagi. Ketika dia membuka pintu kamarnya, Leo terkejut ketika melihat pria itu sudah ada di depan kamarnya. "Maaf, aku hanya ingin mengecek AC kamar aja." Randika tersenyum pada Leo. Leo justru terkejut melihat sosok Randika. Bagaimana bisa orang ini begitu cepat naik dan sudah berada di depan kamarnya? Namun, reaksi Leo juga tidak kalah cepat. Dalam sekejap, tinju kirinya sudah mengarah pada perut Randika dan tangan kanannya masuk ke saku celananya dan melemparkan pisau! Cepat dan terarah! Namun, serangan tinju Leo seakan menatap tembok dan pisaunya berhenti dan bersarang di kedua jari Randika. "Kenapa buru-buru?" Randika tersenyum. Lalu, kedua jarinya itu dengan mudah menghancurkan pisau tersebut hingga beberapa bagian. Leo juga tersenyum. "Aku ada kencan." Setelah kata-kata itu terucap, hawa membunuh Leo segera memancar dengan kuat. Tatapan matanya seakan-akan ingin mencabik Randika hidup-hidup. Dalam sekejap, Leo menjadi gumpalan asap dan menghilang. Dia meloncat tinggi dan menyerang Randika secara beruntun. Namun, pergerakannya ini sepertinya telah diprediksi oleh Randika. Ketika Leo melancarkan sebuah tendangan, Randika menahan kaki itu dan memberinya serangan sikut pada dadanya yang membuatnya terpental. Lawannya kali ini benar-benar hebat! Tatapan mata Leo menjadi dingin, lawannya kali ini bergerak dengan cepat dan bisa menahan seluruh serangannya. Keduanya saling bertatap-tatapan. Randika terlihat tersenyum sedangkan Leo memasang wajah sangarnya. Pada saat ini, Elva tiba di lokasi. Melihat sosok Leo yang masih ada di sana, Elva menghela napas lega. Targetnya tidak kabur dan menghilang seperti bayangannya. "Leo, kau tidak bisa lari lagi. Kembalilah bersamaku, Arwah Garuda tidak akan membunuhmu." Kata Elva dengan tenang. "Hahaha, buat apa aku kembali?" Leo menatap Elva sambil tersenyum. "Karena aku telah kabur bersama informasi penting, mustahil mereka membiarkan aku hidup. Kau pikir membawa orang ini bisa menghentikan aku?" Leo lalu menatap Randika dengan tatapan membunuhnya. Elva berusaha menenangkan situasi dan berkata padanya. "Aku akan memastikan markas tidak akan bertindak apa-apa padamu. Lagipula kau adalah anggota kami, mana mungkin kami akan meninggalkanmu?" "Aku sudah bukan bagian dari kalian lagi. Lebih baik aku menjadi buronan daripada kembali ke tempat itu lagi." Leo lalu menatap Elva dengan serius. "Elva, kau yakin ingin menghentikanku?" Elva memasang kuda-kuda menyerang. "Aku setia pada organisasi, aku akan membawamu kembali!" "Sayang sekali, kalau begitu mereka akan menemukan 2 mayat di tempat ini." Leo menggelengkan kepalanya. Randika lalu berkata sambil tersenyum. "Oh ya? Kenapa kau memiliki pemikiran seperti itu?" "Kau sedikit kuat dari lawan-lawanku sebelumnya, tapi kau tetap bukan tandinganku." Leo meregangkan tangannya, menunjukan bahwa selama ini dia belum serius. "Yah kurang lebih sama sepertiku, aku juga menganggap kau bukan tandinganku." Setiap pertempuran, Ares jelas memandang rendah lawannya. Leo mendengus dingin. "Lucu sekali, aku tidak menyangka kau begitu arogan." Randika tidak membalasnya. Suasana lorong gedung ini menjadi dipenuhi niat membunuh yang pekat. Elva berdiri di tangga, menghalangi jalur kabur. Pada saat ini, tiba-tiba terdengar suara anak kecil menangis. Pada saat itu juga, Leo bergerak! Leo, yang berkecepatan tinggi, mengeluarkan sejumlah pisau dari balik bajunya dan melemparnya ke arah Randika! Dia sendiri memegang pisau di tangan kanannya, mengincar tenggorokan Randika. Chapter 130: Ada Orang yang Sedang Bergulat Rentetan pisau yang terlempar itu benar-benar padat. Serangannya ini benar-benar tidak bercela, apalagi Leo juga ikut menerjang maju. Jelas bahwa lawannya harus menghentikan laju pisau-pisau itu terlebih dahulu. Dan ketika lawannya sibuk menghindari dan menangkis, Leo akan mencari titik buta untuk menyerangnya. Namun, Randika hanya berdiri diam sambil menjulurkan tangan kanannya. Lalu dia tampak sedang mengayunkan tangannya seakan-akan sedang memandu paduan suara. Setelah itu, seluruh pisau tersebut tergeletak di tanah. Pada saat ini, tangan kanan Randika bergerak secepat kilat dan berusaha menangkap pergelangan tangan Leo. Meskipun terkejut, Leo berhasil menghindari tangkapan itu dengan melompat sedikit ke belakang. Namun, inilah momen yang ditunggu Randika. Dengan cepat sebuah pukulan melayang ke dada Leo dan membuatnya terpental jauh ke tembok. Pertarungan ini berakhir dengan cepat, bahkan tidak sampai 5 detik sejak Leo bergerak duluan. "Sudah kubilang, kau bukan tandinganku. Orang lemah sepertimu cukup aku tangani dengan satu tangan." Kata Randika sambil tertawa, dia lalu menoleh ke arah Elva dan mengatakan. "Sudah selesai!" "Awas!" Ekspresi Elva segera berubah, Leo sudah melayangkan pisaunya sekali lagi. Namun, lagi-lagi Randika menangkapnya dengan jari telunjuk dan tengahnya. "Serangan diam-diam seperti itu sama sekali tidak jantan." Randika lalu melempar pisaunya itu pada Leo. Pisau berhasil menancap dengan kuat di lengan atas tangan kanannya. Leo mendengus dingin, dia merasa bahwa pisau itu menancap di tulangnya. Rasa sakit dari lengannya itu membuatnya tidak bisa menggerakannya sama sekali. Melihat hal ini, Elva menjadi tenang. "Leo, kau benar-benar tidak bisa lari lagi." Leo sama sekali tidak memperhatikan Elva. Malahan dia menatap Randika dalam-dalam. "Kamuˇ­ benar-benar kuat!" "Kau saja yang terlalu lemah." Randika menggelengkan kepalanya. Dia lalu berjalan ke samping Leo dan mengeluarkan jarum akupunturnya. Setelah dia menancapkan ke titik tertentu, Leo segera meraung kesakitan. "Jangan coba-coba lari." Kata Randika sambil tertawa. Leo menggertakan giginya kuat-kuat. Tatapan matanya masih dipenuhi dengan tatapan kebencian pada Randika. Kalau bukan karena pria ini, dia sudah berhasil lari jauh dari tempat ini. Dengan tenaga terakhirnya, dia mengambil pisau terakhirnya dengan tangan kirinya. Namun, Randika segera menginjaknya, sama sekali tidak memberikan kesempatan untuknya berbuat macam-macam. "Ah!" Raungan kesakitan ketika tangannya diinjak benar-benar memekakan telinga. Randika lalu memukul Leo hingga pingsan. "Baiklah kalau begitu." Randika lalu berdiri dan menoleh ke arah Elva. "Maaf aku membuatnya pingsan, dia tidak bisa diam daritadi." Elva sendiri masih terkejut dengan hal ini. Dia tahu bahwa Randika memang kuat, tapi dia tidak menyangka bahwa dia akan sekuat ini. Pertarungannya dengan Leo tidak memakan waktu lebih dari 5 detik. Elva merasa bodoh karena sempat ingin membahas rencana dengan orang ini. Sepertinya di hadapan kekuatan absolut, manusia tidak bisa apa-apa. "Hmm? Kenapa kau memandangiku terus?" Randika sedikit bingung dengan Elva yang berdiri diam. Melihat tatapan mata Elva, Randika tidak bisa tidak menggodanya. "Jangan-jangan kamu terpesona dengan kemampuan dan ketampananku? Apakah kau suka dengan otot-ototku ini? Aku tidak menyangka kamu mempunyai fetish seperti itu. Mungkin perjalananmu mencari pasangan telah berakhir di sini. Kemarilah dan rasakan ototku ini secara langsung!" Tatapan mata Elva berubah menjadi jijik. Kenapa bajingan ini tidak bisa serius satu menit saja? Elva lalu menghampiri Leo dan memborgolnya dengan borgol khusus. Dia lalu menghubungi markas mengenai situasinya. Melihat Elva yang sedikit sibuk itu, Randika menghampirinya dan mengatakan. "Hei, kau ingat tidak malam di mana kita berdua berada di hotel?" Mendengar hal ini, Elva segera menutup teleponnya dan menoleh dengan wajah serius. "Jangan pernah menyinggung hal itu lagi.??? Kata Elva dengan nada serius. "itu adalah momen memalukan dalam hidupku, jangan pernah membahasnya!" "Baiklah." Randika lalu menyeringai. "Tapi malam itu aku menyelamatkan nyawamu. Jadi bukankah aku harusnya mendapatkan hadiah?" Elva mengerutkan dahinya. "Aku kan sudah menolongmu di kota Merak!" "Hei, hei, jelas kurang lha. Aku telah menyelamatkanmu 2x yaitu ketika aku membawamu ke rumah sakit dan malam itu di hotel. Jadi kalau dihitung dengan hari ini, kau masih hutang budi denganku sebanyak 2x." Wajah Randika terlihat serius. Elva merasa pusing. Kenapa otak pria ini berputar kalau menyangkut masalah tidak penting? "Jadi apa maumu?" Elva menatap Randika. "Tentu saja bibirmu itu." Randika dengan cepat bergerak ke depan Elva, memeluk pinggangnya dan mencium bibirnya. Tindakan tiba-tiba ini membuat Elva tidak bisa bereaksi sama sekali. Ketika dia ingin menepis tangan Randika yang ada di pinggangnya, Randika sudah terlebih dahulu menciumnya. Randika benar-benar menghisap habis bibir lembut itu. Jelas bahwa Elva tidak ahli dalam berciuman, hal ini membuat Randika tertawa dalam hatinya. Di tengah ciumannya itu, tangannya mulai menjelajahi tubuh Elva. Merasakan tubuhnya dalam bahaya, Elva bereaksi dengan cepat. Dia ingin mendorong Randika tetapi kedua tangannya ditahan oleh tangan kiri Randika. Bajingan! Elva benar-benar marah, dadanya sudah diraba-raba oleh Randika. Randika merasakan keempukan yang dipaksa bersembunyi di balik perban, dia merasa sayang bahwa Elva harus menyembunyikan kedua gunung ini. Tangan Randika juga berenang-renang di punggung Elva, dia merasakan kelembutan yang luar biasa. Di tengah momen panas ini, Elva akhirnya menemukan cara untuk lepas yaitu menendang kaki Randika! Ah! Tulang keringnya yang ditendang itu membuatnya menghela napas dalam-dalam. Dia tidak menyangka bahwa Elva akan memakai cara licik seperti itu. Elva memanfaatkan momen ini untuk kabur dari pelukan Randika. Lalu tanpa berkata apa-apa, salah satu kakinya sudah melayang tepat ke arah wajah Randika! Kaki putih itu bagaikan cambuk mengarah wajahnya. Namun, dengan mudah Randika menahannya dengan satu tangan. "Jangan begitu, hadiahku belum selesai kunikmati." Randika tersenyum nakal pada Elva. Elva, yang tidak peduli dengan kata-kata Randika, menggunakan kakinya yang tertangkap itu sebagai tumpuan untuk meloncat dan menghantam kepala Randika dengan kaki kirinya. Randika yang terkejut segera melepas genggamannya dan bersembunyi di dalam kamar. "Hei, apa kau ingin membunuhku?" Randika berteriak dari balik pintu, dia benar-benar lincah bagai monyet. "Aku heran kenapa kau masih malu-malu seperti itu? Bukankah kita sudah pernah mengalami yang lebih intim daripada ini?" Mendengar hal ini, Elva menggigit bibirnya dan mendobrak masuk. Tanpa berkata-kata, dia lalu melayangkan tendangan lagi ke arah wajah Randika. Kali ini Randika tidak bersembunyi lagi. Malahan dia menangkap kaki Elva itu dan mendorongnya hingga ke dinding. Sekali lagi Elva sama sekali tidak bisa bergerak. Posisi mereka benar-benar canggung, kaki Elva benar-benar melayang tinggi. "Wah, wah, wah." Randika tiba-tiba tertawa nakal dengan tatapan mata penuh makna. Elva yang mendengarnya merinding, dia tahu bahwa Randika akan aneh-aneh lagi, Tetapi, suara benda jatuh dari luar pintu mengagetkan mereka berdua. Saat mereka melihatnya, mereka melihat ada anak kecil yang menatap mereka. Ternyata suara itu berasal dari mainannya yang jatuh. "Ma, ada orang yang lagi gulat seperti mama dan papa kemarin." Anak itu berteriak keras pada ibunya. Chapter 131: Hannah Ingin Berbisnis Ketika mendengar anak itu berteriak pada ibunya, Randika dan Elva langsung merasa malu. Kata-kata anak itu benar-benar terdengar ambigu. Mereka berdua menatap mata satu sama lain lalu memalingkan wajah mereka secara bersamaan. Posisi mereka benar-benar canggung. Randika menyadari bahwa mereka pada dasarnya telah berpelukan. "Hahaha, anak kecil memang polos ya." Randika tersenyum kemudian melepas Elva dari genggamannya. Dia lalu berjalan menuju pintu. "Kamu ini bisa saja, lain kali kalau orang tuamu bergulat lebih baik kamu pura-pura tidur saja." Randika mencubit pipi anak itu dan pergi dari gedung tersebut. Melihat sosok Randika yang menghilang, Elva mendengus dingin. Bisa-bisanya dia dipermainkan lagi sama Randika. Melihat Leo yang masih tidak sadarkan diri berbaring dengan tenang, Elva makin marah dan menendangnya beberapa kali. Jika bukan karena Leo, dia tidak akan diperlakukan seperti itu oleh Randika. ............. Setelah meninggalkan Elva, Randika tidak berniatan kembali ke kantor. Lagipula, tidak ada pekerjaan yang penting untuk dikerjakannya. Jadi dia memutuskan untuk pulang dan bersantai. Ketika dia sampai di rumah, dia bertemu dengan Hannah. "Lho tumben kamu di sini?" Randika menyapanya dengan senyuman. "Kak!" Hannah senang melihat Randika yang pulang sendirian itu. Dia dengan cepat berdiri dan menyeret Randika untuk duduk di sofa. "Ayo duduk kak, sini duduk di sampingku." Hannah terlihat bersemangat. Randika langsung masuk mode waspada. Terakhir kali Hannah bertingkah seperti ini, dia pasti memiliki agenda tersendiri. Perempuan ini benar-benar licik, kadang bisa bertindak bagai malaikat kadang bisa bagaikan iblis. "Sekarang ada masalah apa? Klub karatemu ada masalah lagi?" Randika duduk dan menatap Hannah. "Kalaupun ada, aku sudah tidak peduli lagi." Randika langsung memberi jawaban yang jelas. Dia sudah tidak mau diseret Hannah untuk mengatasi masalah yang sepele lagi. "Kakˇ­." Hannah memeluk tangan Randika sambil mengelus-eluskan kepalanya di tangannya itu. Benar-benar menggemaskan. "Han, jangan begitu. Aku hanya mencintai kakakmu di dunia ini." Kata Randika dengan wajah serius. "Kak, dengarkan masalahku dulu." Randika lalu menghela napas. "Memangnya ada masalah apa lagi sekarang?" Wajah Randika terlihat bingung, terlibat masalah apalagi adik iparnya ini. "Kali ini tidak ada hubungannya dengan orang lain, murni ide brilianku saja." Hannah menatap serius mata Randika sambil tersenyum. "Jadi begini kak, akhir-akhir ini banyak anak kuliahan yang membuka usaha jadi aku ingin buka usaha sendiri." "Itu saja?" Sindir Randika. "Ya itu saja." Hannah makin mengencangkan pelukannya. "Aku Cuma ingin menjadi gadis yang mandiri." Randika menghela napas dan bersandar di sofa. "Terus bisnis apa yang ingin kamu buka?" Hannah langsung menjawab. "Aku kapan hari menyadari peluang usaha ini ketika di kamar asramaku. Orang-orang di universitasku kalau tiap sabtu dan minggu biasanya akan jalan-jalan dan membeli baju di mal. Bukankah aku akan untung besar kalau aku membuka toko baju di sekolahku itu?" Hannah makin bersemangat menjelaskan. "Menurutku ini adalah ide brilian, para perempuan itu benar-benar suka belanja baju baru. Terlebih, sekolahku mendorong para muridnya untuk membuka usaha jadi aku kepikiran untuk membuka toko baju." Randika mengangguk. "Bagus sekali! Aku setuju dengan pemikiranmu itu. Jadi, apa yang bisa kubantu?" "Kakak memang yang terbaik, aku tahu kakak akan mendukungku! Ah, tapi jangan beritahu kak Inggrid ya, dia selalu tidak setuju kalau aku ingin membuka usaha sebelumnya." Meskipun tidak tahu kenapa, Randika hanya mengangguk. "Han, kau sudah memikirkan mau buka di mana?" Randika mulai menganalisa situasi. "Terus bagaimana dengan harga sewa, modal yang dibutuhkan, supplier bajumu dll? Apa kamu sudah memikirkannya?" Hannah tersipu malu sambil tersenyum. "Ituˇ­ aku sama sekali belum memikirkannya.??? Randika langsung merasa pusing. Kalau tidak memikirkan hal-hal mendasar seperti itu, bagaimana bisa orang membuka usaha? "Han, apa kamu serius ingin membuka usaha atau kamu ingin main-main saja?" Lirik Randika. "Kak, aku serius ingin membuka usahaku sendiri!" Tatapan Hannah menjadi serius. Melihat wajah Randika yang terlihat malas dan ragu, Hannah dengan cepat memeluknya lagi. "Kak, kau tadi ngomong akan membantuku. Jangan tinggalkan aku sendirian!" "Iya, iya." Randika merasa tidak berdaya, dia tahu bahwa masalah ini akan melelahkan dirinya. "Aku sebelumnya sempat memikirkannya. Kalau lokasi, ada ruangan kosong yang bisa disewa di dalam sekolah. Ruangan itu cukup luas dan bagiku itu cocok sebagai toko baju. Kalau masalah modal, ada tabunganku selama ini. Seharusnya 200 juta cukup bukan?" Hannah tersenyum. Dua ratus juta? Jelas cukup! "Kalau mengenai supplierˇ­" Hannah terlihat bingung. "Aku tidak tahu harus mencari ke mana. Baiklah kalau begitu, kita sekarang akan berkeliling dan mencarinya!" "Ayo kak, kita pergi sekarang saja." Hannah menyeret tangan Randika. "Hari ini kita harus menemukannya!" Randika, yang baru pulang, terlihat malas. "Han, kenapa kau buru-buru begitu? Bagaimana kalau kita menyusun rencana dulu?" "Kak! Bukankah kamu bilang akan membantuku? Kalau tidak ada suppliernya, sama saja bisnisku tidak bisa berjalan. Kita harus menemukannya sekarang juga!" Hannah berhasil menyeret Randika dari sofa dan membawanya keluar rumah. Setelah itu Hannah membawa Randika ke mobil sportnya. Ketika mobil sudah menyala, Hannah menoleh dan bertanya. "Kita mau ke mana ini kak?" Ya ampun! Randika benar-benar ingin menampar dirinya sendiri, adik iparnya ini benar-benar menguji kesabarannya. "Sebentar." Randika lalu mengeluarkan handphonenya dan mencari lokasi dari Pasar Tunjungan. Setelah mendapatkannya, dia lalu memberi arahan pada Hannah. "Ikuti arahanku." Kata Randika pada Hannah. "Baik!" Hannah langsung memacu mobilnya. Pasar Tunjungan merupakan mall sekaligus pasar tradisional yang menjual aneka barang. Dibandingkan dengan mall lain, Pasar Tunjungan merupakan mall dengan harga termurah. Demi mencari untung yang lebih, Randika memutuskan untuk mencari di tempat ini dulu. Tidak lama kemudian, kedua orang ini berhasil sampai di Pasar Tunjungan. Melihat mobil mewah itu, para pengunjung dan para penjual terkejut sekaligus penasaran. Ketika Randika dan Hannah turun dari mobilnya, mereka menjadi pusat perhatian orang-orang. Kenapa orang kaya itu datang ke tempat seperti ini? "Wah bajunya benar-benar banyak!" Hannah cukup terkejut. Di mana-mana terlihat baju dipajang mulai dari baju anak-anak hingga dewasa. Melihat Hannah masuk ke sebuah toko, Randika menggandeng adik iparna itu. "Hanˇ­ Itu toko baju untuk anak-anak, toko yang ingin kita kunjungi ada di sana." Hannah merasa malu dan mengikuti kakak iparnya itu. "Selamat datang, nona lagi mencari baju?" Penjaga toko yang melihat Hannah dan Randika berjalan melewati tokonya langsung tersenyum lebar. "Iya." Jawab Hannah sambil tersenyum. "Kalau begitu coba lihat tokoku ini." Kata lelaki itu. "Tokoku punya banyak baju untuk segala usia. Harga dan kualitas kujamin bagus!" Chapter 132: Persiapan Lelaki itu benar-benar bersemangat setelah berhasil menarik perhatian dua orang kaya itu. Dia tanpa henti menjelaskan dan bercerita tentang kelebihan tokonya. "Di tempatku ini, kualitas bajunya yang terbaik daripada toko-toko lainnya." Hannah menatap Randika sambil tersenyum dan melihat ekspresi Randika tetap datar. Hannah akhirnya tidak bisa terdiam terus dan bertanya. "Harga dari baju ini berapa?" "Hahaha tidak mahal. Satu buahnya 100 ribu." Mata lelaki itu mulai berputar. "Murah sekali!" Hannah tersenyum lebar. Ketika dia ingin membelinya, Randika dengan cepat bertindak. "100 ribu? Itu sedikit mahal. Han, lebih baik kita melihat-lihat toko yang lain dulu." Setelah itu, Randika membawa pergi Hannah dari tempat itu. "Ah!" Penjaga toko itu menjadi panik. "Baiklah, untuk kalian hari ini harganya menjadi 90! Bukan 80 ribu!" Mendengar teriakan orang itu, Randika tetap berjalan tanpa menoleh. Setelah berjalan cukup jauh, dia menyadari wajah Hannah yang terlihat bingung dan polos itu. Setelah menghela napas, Randika mengatakan. "Han, aturan berbisnis yang paling sederhana yang perlu kau ingat adalah membeli dengan harga semurah mungkin dan menjualnya semahal mungkin untuk mendapatkan keuntungan besar. Jika kau tadi membeli tanpa menawar, bagaimana mungkin kau bisa mendapatkan keuntungan yang tinggi?" "Oh!" Hannah dengan cepat mengangguk. "Baiklah, aku sudah mengingatnya!" "Terlebih, kalau kamu tidak mengerti harga pasar berapa, lebih baik kita memeriksa beberapa toko. Kita perlu membandingkan harga sekaligus kualitas yang diberikan, tapi ingat juga kalau beberapa style baju memiliki harga yang berbeda." Hannah terus-terusan mengangguk seperti ayam yang sedang mematok tanah. Tatapan matanya terlihat kagum. "Kak Randika memang luar biasa!" "Tentu saja, kakak iparmu ini memang yang terbaik!" Randika menjadi besar kepala. "Kalau begituˇ­ apa yang harus kita lakukan sekarang?" Tanya Hannah sambil tersenyum. Randika mengatakan. "Tentu saja kita harus memeriksa beberapa toko dan membandingkan harganya nanti. Setelah menemukan tempat yang cocok, baru kita akan memborong dari mereka." "Baik!" Hannah dengan antusias menjawab. "Kalau begitu, lebih baik kita berpencar." Randika lalu menunjuk ke arah sebelah kanan. "Kamu periksa arah sana dan aku akan ke situ. Setelah 30 menit kita akan bertemu di tempat kita sekarang." Sungguh jarang Randika mau membantu orang tanpa pamrih, mungkin baginya ini adalah pertama kali dia melakukannya. Bagaimanapun juga, Hannah adalah adik dari istrinya jadi mungkin Hannah sudah dia anggap keluarganya. Di lain sisi, Hannah menuruti saran Randika dan mulai menjelajahi toko-toko. Sambil memperhatikan style baju serta harga, Hannah mulai mengerti harga pasarannya. Dia benar-benar merasa bodoh ketika dia senang mendengar kata 100 ribu saat pertama kali dia datang. Harga toko-toko lain benar-benar jauh di bawahnya, hampir mencapai angka 50-60 ribu. Dalam hatinya dia semakin kagum pada kakak iparnya itu. Setelah keluar masuk beberapa toko, akhirnya Hannah sudah memiliki pemikiran bagaimana mana nanti dia akan menjualnya. Namun, pada saat ini muncul lelaki gendut yang menghampirinya. "Hai cantik, sedang lihat-lihat baju?" Hannah menoleh dan menemukan bahwa pria gendut dengan wajah berkeringat itu sedang berusaha menggodanya. Tanpa menjawab, Hannah hanya mengangguk. "Kalau begitu mau aku antar?" Pria gendut ini langsung menjadi bersemangat. "Aku sudah bertahun-tahun bekerja di tempat ini, aku tahu selak beluk tempat ini dan aku punya selera baju yang bagus." "Tidak usah terima kasih." Hannah dengan sopan menolak. Pria gendut itu tidak mau menyerah, melihat sosok Hannah yang menjauh dia segera menyusulnya. "Sudah santai saja, aku akan mengenalkanmu ke toko-toko yang bagus dan murah secara gratis! Jadi baju seperti apa yang kamu inginkan?" Hannah hanya mengerutkan dahinya, pria ini benar-benar menyebalkan. Namun, sekarang pria gendut itu mencegat laju Hannah sambil tersenyum. "Sayang, kalau kau tidak menjelaskan bagaimana bisa aku membantumu?" "Aku sudah bilang kalau aku tidak butuh bantuanmu." Kata Hannah dengan nada dingin. "Hahaha ternyata kau malu-malu kucing, aku suka itu." Pria gendut itu tertawa. Dia masih mengekori Hannah dari belakang. "Hari ini aku akan menemanimu belanja." Pria gendut itu tersenyum. "Kau benar-benar beruntung." Hannah sudah tidak peduli, dia hanya berjalan sambil mencuekinya. Tetapi, pria gendut itu tetap mengekorinya. Dan ketika dia mau menyentuh pundak Hannah, Hannah dengan cepat menampar tangannya itu. "Kau sudah gila apa?" Hannah menjadi marah, kok ada orang tidak tahu diri seperti ini? "Kenapa kau tiba-tiba marah sayang?" Pria gendut itu terlihat bingung sambil mengerutkan dahinya. "Jangan mengikutiku terus!" Kata Hannah dengan nada marah. Pria gendut itu justru tersenyum. "Aku mengikutimu merupakan anugerah bagimu." Bersamaan dengan itu, pria gendut ini berusaha menggandeng tangan Hannah. Untungnya Hannah bereaksi dengan cepat dan membuat jarak dengan pria itu. Ketika pria gendut itu berusaha menghampirinya lagi, Hannah menyadari bahwa orang-orang di sekitarnya benar-benar tutup mata terhadap situasinya. Seolah-olah mereka telah menjadi orang buta. Ada peribahasa yang mengatakan ''Terpegang di abu dingin'' [1]. Jadi, orang-orang tidak ingin terlibat dengan mereka. Apalagi mereka tahu latar belakang dari pria gendut itu. "Jika kau berani mengikutiku lagi, jangan salahkan aku kalau bertindak kasar." Kata Hannah sambil memasang kuda-kuda bertarungnya yang dia pelajari di klub karate. "Oh, ternyata selain cantik kau cukup liar juga." Wajah pria gendut itu terlihat semakin bengis. "Aku penasaran bagaimana liarnya kamu di tempat tidur. Aku akan membuatmu tidak akan pernah melupakan diriku." Pada saat ini, pria gendut itu merasa pundaknya dipegang seseorang. Setelah dia menoleh, sebuah tinju sudah melayang dan mendarat di wajahnya. DUAK! Tinju itu mendarat di mata pria gendut ini dengan sempurna. Dia lalu merasa pusing sambil berjalan mundur beberapa langkah. "Kakak!" Hannah tersenyum gembira ketika melihat sosok Randika. Dengan cepat dia bersembunyi di belakang punggung Randika. Randika lalu menatap pria gendut itu dengan tatapan jijik. Berani menyentuh adik iparnya? Nyari mati apa? Aku sendiri saja belum pernah merasakannya secara langsung. Ah! Maksudkuˇ­ dia adalah adik iparnya yang berharga! Terlebih, pria ini jelek dan gendut. Kalau jelek saja mungkin masih tidak apa-apa orang ini sudah jelek, tidak tahu diri, bahkan menguntit orang. Akhirnya pria gendut ini sudah mulai kembali sadar. Tetapi rasa sakit di matanya masih belum hilang, sambil memegangi matanya itu dia menatap Randika. "Siapa kamu?" Randika tidak menjawab, pria gendut itu lalu melihat Hannah bersembunyi di belakangnya. "Ah, kau pacarnya?" "Berani-beraninya kau memukulku! Kau tahu siapa aku di tempat ini?" Bentak pria gendut itu. "Aku tidak tahu, coba kau bantu aku." Kata Randika dengan santai. "Aku dijuluki si Gajah Penghancur! Tidak ada orang yang berani menyinggungku di tempat ini, jika kau macam-macam maka aku pastikan tidak ada toko yang akan melayanimu!" Kata pria gendut itu. Gajah? Randika dan Hannah tertawa bersama, julukannya itu benar-benar cocok melihat betapa gendutnya orang itu. "Tertawain apa kalian?" Melihat kedua orang itu tertawa, pria gendut itu semakin marah. "Bukan apa-apa, julukanmu itu bagus kok." Randika justru makin tertawa keras. Melihat pria gendut itu yang marah-marah sendiri tidak jelas, Randika bergerak dengan cepat dan menekan titik akupunturnya. Tiba-tiba pria gendut ini merasa suaranya tidak bisa keluar sama sekali. Apa yang sedang terjadi? Pria gendut ini menjadi panik dan menatap Randika dengan perasaan ngeri. "Jika kau macam-macam denganku, kakimu selanjutnya yang tidak bisa bergerak." Kata Randika dengan santai sambil membawa Hannah pergi. Melihat sosok Randika yang pergi, pria gendut ini tidak tahu harus berbuat apa. Dia lalu memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. "Kak, untung kakak datang." Hannah tersenyum sambil memeluk tangan kakak iparnya itu. "Laki itu benar-benar menjijikan." "Aku tidak bisa menyalahkannya, kecantikanmu itu memang tidak ada duanya. Aku sendiri harus menahan diri supaya tidak sama seperti dia." Kata Randika sambil tersenyum. Mendengar pujian kakaknya itu, entah kenapa Hannah merasa malu. "Jadi bagaimana? Sudah tahu apa yang akan kamu borong?" Randika lalu kembali ke bisnis. Mereka berdua lalu berdiskusi dan menukar harga dan pendapat. "Baiklah." Setelah selesai berdiskusi, Hannah dengan cepat mengambil keputusan. Dia lalu pergi ke toko tempat yang telah mereka diskusikan. Randika terus mengikuti Hannah. Hari ini dia akan menjadi mentor dari Hannah, sedangkan masalah mencari uang nantinya, itu bukan hal yang harus diperhatikan. Yang dia perlu ajarkan adalah perencanaan serta eksekusi yang benar, setelah itu uang akan datang dengan sendirinya. Tapi, kekhawatiran Randika mungkin sedikit berlebihan. Hannah merupakan orang yang ahli dalam berbisnis dan tawar-menawar, hal ini sedikit mengejutkan Randika. Setelah setengah jam berkeliling, Hannah sudah membeli puluhan baju yang populer di kalangan anak muda dengan harga yang sangat murah. Ketika Hannah mencari-cari baju di toko lain, Randika mencegatnya. "Han, mungkin ini sudah cukup. Kita coba dulu seberapa dalam airnya baru setelah itu kita bisa memikirkan bagaimana ke depannya." Hannah mengangguk setuju, dia lalu mengatakan. "Kalau begitu, kita ke sekolahku!" Kemudian mereka dengan cepat masuk ke dalam mobil. Randika tidak lupa membeli hanger dan rak untuk menggantung baju-baju ini. Setelah selesai, mereka langsung menuju Universitas Cendrawasih. "Han, apakah ruanganmu itu sudah siap?" Tanya Randika. "Ada kakak kelasku yang masih menempati ruangan itu. Dia seharusnya keluar hari ini, sebentar akan kutelepon dia sekarang untuk memastikan." Tak lama kemudian, teleponnya itu diangkat. "Halo kak Amel? Ini aku Hannah, apa kakak sudah beres-beres tokonya kakak? Kalau begituˇ­.." Hannah mengeluarkan kemampuan negosiasinya. Tak lama kemudian Hannah menutup teleponnya dan mengangguk pada Randika. Sepuluh menit kemudian akhirnya mereka sampai di sekolahnya. Hannah dengan cepat turun untuk bertemu dengan Amel terlebih dahulu untuk serah terima ruangan. "Oke kak, semua sudah beres." Ketika Hannah kembali ke mobil, napasnya sudah terengah-engah. Namun, tatapan matanya terlihat bersemangat. Dia lalu mengeluarkan baju-baju serta barang-barang lainnya ke ruangan yang akan menjadi toko kecilnya itu. Ketika Randika membantunya menyiapkan toko ini, dia melihat sosok yang familiar. Dia melihat sosok Christina tidak jauh dari tokonya itu. Hari ini perempuan itu terlihat cantik dengan rok ketat merahnya itu. "Han, aku keluar sebentar ya." Kata Randika. "Baiklah." Hannah dengan cepat setuju. [1] Mencampuri sesuatu (urusan) yang menyusahkan atau mencelakakan diri sendiri. Chapter 133: Mengajari Christina Piano Ketika berjalan dengan santai, Christina merasa pundaknya ditepuk. Setelah menoleh, senyuman yang dia harap tidak pernah dilihatnya lagi muncul di hadapannya. "Hmm." Melihat orang itu adalah Randika, Christina dengan cepat memalingkan wajahnya. Meskipun ada sedikit rasa senang melihat Randika, dia tetap berusaha tenang. Melihat Christina yang cuek dan dingin itu, Randika tidak bisa berhenti tertawa. "Tina lihat sini dong." Mendengar nama itu, Christina hampir terpeleset. "Hei, jangan panggil aku itu!" Christina menoleh sambil marah-marah. Panggilan itu membuat dirinya teringat ketika Randika melihatnya setengah telanjang. Terlebih, dia teringat akan Randika yang meraba-raba dirinya di tengah kesulitannya itu. Randika lalu berkata sambil tersenyum. "Jika aku tidak memanggilmu seperti itu, kau tidak mau menoleh." Christina hanya memalingkan wajahnya. Kali ini wajahnya penuh dengan ekspresi dingin. "Tinaˇ­" Kata Randika lagi. "Jangan panggil aku itu!" Lagi-lagi Christina marah dan membentaknya. Namun, kali ini ada dua murid yang lewat. "Selamat siang Bu Christina." Mendengar suara itu, Christina dengan cepat menjadi seorang guru. Dia berbalik dan tersenyum manis. "Selamat siang." Ketika kedua murid itu pergi, Christina menatap tajam Randika yang sedang tertawa. Randika mendengar ucapan tersembunyi para murid itu yang menyangka dirinya adalah pacar dari gurunya. Setelah kedua murid itu sudah cukup jauh, Randika bertanya pada Christina. "Apakah mantanmu berbuat masalah lagi?" "Aku sudah mengganti kunci rumahku." Kata Christina. "Oh?" Randika mengangguk. Ternyata perempuan ini cukup pintar tetapi dia sedikit khawatir bahwa karena kejadian itu, Christina akan membangun dinding di sekitarnya agar tidak ada lelaki yang bisa mendapatkan hatinya lagi. "Sekarang apalagi yang membuatmu datang ke tempat ini?" Kali ini Christina yang bertanya. "Aku hanya ingin bertemu denganmu." Kata Randika sambil tersenyum. "Lagipula, anak-anak muda ini mengingatkanku masa-masa mudaku dulu." "Aku tidak bisa memahamimu." Kata Christina sambil menghela napas. Dia sempat senang mendengar kata pertama Randika tetapi kata-katanya berikutnya membuatnya tidak bisa memahami Randika sedang bercanda atau tidak. Melihat Christina yang sedikit kecewa itu, Randika menyadari betapa cantiknya orang ini meskipun terlihat sedih. "Apakah dadamu masih sakit?" Tanya Randika. "Sudah jauh lebih baik." Kata Christina. "Sama sekali tidak terasa sakit." Randika mengangguk puas. "Namun, jika kamu ingin itu sembuh total maka kamu perlu mendapatkan perawatan beberapa kali lagi. Kalau tidak, penyakit itu tidak akan pernah hilang." "Oh ya?" Wajah Christina itu segera terlihat dingin. "Bukankah waktu itu kamu memberitahuku bahwa aku telah sembuh total?" "Hahaha, apa aku berkata seperti itu dulu?" Randika terlihat malu dan memalingkan wajahnya. Melihat Randika yang salah tingkah itu, suasana hati Christina menjadi lebih baik. "Kamu sedang apa?" Randika melirik Christina yang tersenyum itu dan mengalihkan topik pembicaraan. "Aku sedang berlatih piano." Christina langsung menunjukan lembaran musik piano di tangannya. Randika mengambilnya dan memeriksanya. "Ada bagian yang aku tidak bisa mainkan dengan baik." Kata Christina. "Gampang sekali, aku akan mengajarkanmu." Mendengar hal ini, Christina menatap Randika tajam-tajam. Dia lalu mengambil lembarannya itu dari tangan Randika. "Kau bisa main piano?" Jelas pria ini berbohong! Randika lalu berkata sambil tersenyum. "Tanganku ini serba bisa, piano hanyalah mainan bagiku. Jangan khawatir, aku tidak pernah berbohong. Sini, aku akan mengajarkannya padamu." Christina benar-benar tidak percaya dengan kata-kata Randika. Tetapi setelah berpikir tentang bagaimana pria ini menyembuhkan penyakitnya, dia merasa mungkin saja dia tidak berbohong. Apakah dia benar-benar bisa bermain atau tidak? Pertanyaan itu terus menerus muncul di pikirannya. Christina lalu berkata pada Randika. "Ruangan praktik musik ada di sebelah sana." Randika tersenyum dan berjalan berdampingan dengan Christina. ........... Ruangan Praktik Musik Tidak peduli sekolah manapun, ruangan musik merupakan tempat favorit para pria. Kenapa? Karena sarang para perempuan cantik dan elegan adalah tempat ini! Bisa dikatakan bahwa orang-orang yang berada di jurusan musik biasanya adalah orang-orang tampan dan cantik, khususnya para perempuannya. Diiringi dengan melodi yang enak didengar, kecantikan mereka mendapatkan nilai tambahan di mata Randika. Apalagi jurusan musik di universitas ini adalah yang terbaik di kota Cendrawasih jadi para bunga-bunga ini berkumpul di satu tempat yang sama. Selain jurusan musik, jurusan perhotelan juga dikenal sebagai tempat perempuan cantik berkumpul. Kecantikan mereka cukup diacungi jempol dan menjadi bahan pembicaraan para lelaki. Selama perjalanan mereka ke ruangan praktik musik, mata Randika terpaku pada kaki-kaki para perempuan cantik ini. Dia memberikan mereka angka 8 untuk kemulusannya. Sedangkan perempuan yang sedang berlatih biola itu dia berikan nilai 10! Ketika melihat Randika yang seperti anak kecil itu, Christina sedikit merasa jengkel. "Bisakah kau biasa saja melihat mereka?" Randika lalu menarik tatapan matanya dan tertawa. "Tidak ada salahnya kan? Aku cuma mengapresiasikan kecantikan mereka." Kata-kata Randika benar-benar terus terang, Christina sampai tidak bisa berkomentar. Christina membawa Randika ke sebuah ruangan di lantai 2. Setelah membuka pintu, ruangan itu penuh dengan orang. Ruangan kelas ini kedap suara dengan berbagai instrumen musik yang terpasang. Di ruangan yang luas ini, terdapat 8 piano. Murid-murid jurusan musik ini sedang berlatih dan membaca lembaran musiknya. Di bagian pojok dekat jendela, ada piano yang tidak terpakai. Christina membawa Randika ke piano itu. "Baiklah." Randika lalu duduk sambil tersenyum. Dia lalu melemaskan jari-jarinya sambil menyesuaikan kursinya. Ketika dia hendak bermain, dia tiba-tiba berhenti. Di tengah kebingungan Christina, Randika dengan nada malu mengatakan. "Aku tidak hafal lagunya." "Aku kira kamu sudah menguasai lagu itu." Kata Christina sambil mendengus dingin. Dia lalu meletakan lembaran musik pianonya di depan Randika. Randika lalu membolak-balik halaman tersebut dan menanyakan bagian mana yang Christina bingung. Christina lalu menunjukan Piano Sonata No. 8 Beethoven bagian 3rd Movements dan Croatian Rhapsody oleh Maksim Mrvica. Baginya kedua musik ini sedikit sulit Setelah membaca skor itu dengan baik, Randika menoleh ke arah Christina. "Apa kamu tidak bisa memainkan musik yang cocok dengan gayamu?" "Hmm? Kedua itu cocok dengan gaya bermainku." Kata Christina dengan wajah serius. Lagu yang melankolis dan tragis seperti ini cocok buatmu? Randika lalu menutup matanya dan menutup lembaran musiknya. Ketika dia membuka matanya, dia sudah siap. Tiba-tiba, alunan piano sudah dia mainkan. Nada halus dan kecil, bagaikan orang depresi sedang berbisik. Piano Sonata No. 8 Beethoven bagian 3rd Movements merupakan salah satu kesukaan Randika, jadi dia sangat menghayati lagu ini. Randika bahkan bisa melihat sebuah ruangan gelap di mana api dari tungku menyala dengan kecil sambil ditemani air hujan. Seluruh ruangan itu terlihat kosong dan gelap, hanya ada seorang pria duduk sendirian di depan piano dan memainkannya dengan pelan. Melodi terus mengalir tanpa henti, lalu pria di ruangan itu seakan-akan mengeluarkan rasa depresinya yang terdalam dan tuts piano semakin cepat dimainkannya. Christina benar-benar terkejut ketika melihat Randika bermain piano dengan penuh penghayatan. Di depan piano, sosok Randika benar-benar berubah. Sosok yang biasanya bercanda dan tidak pernah serius itu benar-benar terlihat elegan. Christina sendiri merasa dirinya larut dalam melodi dan hatinya benar-benar merasakan kisah tragis dari lagu ini. Bagaimana bisa? Christina yang menutup matanya itu bisa membayangkan bahwa dia sedang berada di ruangan gelap bersama dengan Randika. Mereka sedang duduk berdampingan tetapi jarak Randika semakin jauh dari dirinya tiap detiknya. Suara dari piano ini semakin keras dan kencang, tiap tuts memberikan sensasi tragis. Tiba-tiba, suara yang cepat itu dengan cepat turun drastis dan menjadi tenang. Seakan-akan seluruh hatinya sudah dia luapkan semua dan sekarang dia sedang mencari orang untuk dia ajak bicara. Christina membuka matanya. Tanpa sadar dia ternyata duduk di samping Randika. Lalu setelah menutup matanya lagi, suara tuts piano itu tetap tenang dan memberikan sensasi unik yang membuat Christina larut di dalamnya. Sambil mencuri-curi pandang, Christina menyukai wajah serius Randika. Randika yang diam dan terlihat dewasa ini terlihat tampan. Akhirnya, perasaan depresi keluar dengan deras. Seperti air terjun, perasaan depresi ini meluap keluar dari hati pria yang duduk sendirian di ruangan gelap itu. Kesedihan, depresi, penyesalan Beethoven benar-benar bisa dibawakan oleh Randika dengan baik. Para murid di ruangan ini juga terkejut. Mereka semua mengerti bagaimana sulitnya Sonata yang dikenal sebagai Sonata Pathetique itu. Namun, orang itu bisa memainkannya dengan sempurna. Tidak bisa dipungkiri, semua orang berhenti beraktivitas dan memperhatikan Randika. Para murid ini menutup mata mereka, mendengarkan alunan melodi dan membayangkan hal yang sama dengan Christina. Sekarang suara piano terdengar melambat lagi. Setelah memainkan bagian terakhir dengan tangan kanannya, Randika membuka matanya. Sesaat setelah membuka matanya, Randika benar-benar terkejut. Semua orang di ruangan itu menatapnya lekat-lekat. Mereka semua berhenti beraktivitas dan melihat dirinya bermain piano bahkan Christina yang duduk di sampingnya memasang wajah serius. Ada apa ini? Apakah ada makanan nyangkut di gigiku? Tidak, aku tadi pagi sudah gosok gigi. Randika yang tidak tahu harus berbuat apa, tiba-tiba mendengar suara tepuk tangan yang keras. Plak, plak, plak, plak! Semua orang bertepuk tangan dengan semangat, mereka kagum dengan permainan orang itu. Bahkan Christina tersenyum lebar melihat Randika, dia benar-benar membuatnya kagum. "Terima kasih, terima kasih." Randika tertawa sambil tersipu malu. Dia hanya bermain menuruti isi hatinya, entah kenapa dia malah dipuji orang-orang. Melihat sosok serius itu menjadi sosok pria yang genit dan tidak tahu diri lagi, Christina sedikit bingung. Dia berharap Randika tetap menjadi sosok tampan seperti sebelumnya. "Lagi! Lagi!" Tiba-tiba semua murid itu bersorak meminta Randika bermain sekali lagi. "Lagi! Lagi!" Suasana ruangan musik ini menjadi heboh dan antusias. Randika sambil tersipu malu mengatakan. "Baiklah, karena semuanya yang meminta maka aku akan bermain beberapa lagu lagi." Setelah itu, Randika kembali duduk dan bermain sekali lagi. Tiba-tiba, seluruh ruangan sudah dipenuhi oleh melodi meledak-ledak seakan-akan mereka berada di tengah medan tempur. Seiring berjalannya lagu, pemandangan ini berubah menjadi pemandangan pasca perang. Di tengah tanah tandus itu, tumbuh sebuah bunga yang akhirnya mekar. Chapter 134: Jelmaan Iblis! Setelah itu Randika terus bermainkan beberapa lagu. Setelah suasana menjadi tenang, Randika mengajarkan Christina bagian mana yang menurutnya susah dimengerti. Sekarang Christina lah yang bermain dan Randika berdiri di sampingnya. Jika ada kesalahan, Randika langsung menyela dan membuat Christina memainkannya ulang. Bukan namanya Randika kalau tidak aji mumpung, sesekali dia akan menggenggam tangan halus milik Christina itu sambil menyenggolkan sikutnya di dadanya. Tujuan Randika adalah memanfaatkan kesempatan kecil ini sebanyak mungkin oleh karena itu dia sama sekali tidak berbicara dan berwajah tegas ketika memperbaiki kesalahan Christina. Waktu-waktu indah berlalu dengan cepat, tidak sadar sudah setengah jam mereka telah berlatih. Setelah itu mereka berdua keluar dari ruangan musik tersebut. "Aku masih tidak percaya kamu bisa bermain piano." Permainan Randika benar-benar membekas di benak Christina, dia masih tidak percaya Randika bisa bermain seindah itu. Bisa dikatakan bahwa permainan Randika tidak jauh berbeda dengan para profesional. "Lelaki sejati tidak akan pernah berbohong." Kata Randika sambil tertawa. "Bukan hanya piano, aku bisa alat musik lainnya lho. Aku bisa bermain gitar, biola, selo dan alat-alat musik lainnya. Apa lain kali kamu ingin mendengarnya?" Christina sangat tidak mempercayai kata-kata Randika barusan. Mustahil orang biasa dapat menguasai alat musik sebanyak itu. Pada saat ini, Christina menyadari ada seorang bayi sedang berjalan menghampirinya sambil tertawa. Ah? Sejak kapan bayi bisa berjalan? Tetapi detik berikutnya Christina sadar bahwa itu adalah monster yang menghampiri rumahnya! Monster yang mencuri pakaiannya sambil tertawa mesum! Memikirkan malam itu, Christina teringat dia hampir dibugili oleh sebuah boneka seperti ini. Dia benar-benar merasa malu. Namun, apabila dia perhatikan boneka ginseng ini benar-benar lucu dan imut! Apalagi mulutnya yang kecil dan caranya berjalan sudah cukup membuat hati para perempuan luluh. Randika masih belum sadar karena dia berjalan dengan menghadap lurus. Ketika dia melihat Christina yang terdiam, barulah dia sadar bahwa ada boneka ginseng! Randika senang setengah mati melihat boneka ginseng ini masih berada di kota ini. Namun perasaan senang ini segera berubah menjadi kenangan pahit. Boneka satu ini benar-benar sulit untuk ditangkap. Kecuali boneka itu menyerahkan dirinya, hampir mustahil untuk menangkapnya. Randika sendiri sudah gagal berulang kali hingga dia merasa frustasi. Selama boneka ginseng itu berada di tanah, sangat mustahil untuk menangkapnya. Dia harus menangkapnya di tengah udara, itulah satu-satunya kesempatan yang dia punya. Namun, menangkapnya di tengah udara masih aja sulit jadi hingga sekarang ia masih berkeliaran dengan bebas. Namun hal ini tetap tidak membuat Randika patah semangat, justru darahnya mendidih setiap dia bertemu dengan boneka ginseng ini. Boneka ginseng ini menyadari keberadaan Randika dan, dengan mata bulatnya, ia menatap Randika. Aura yang keduanya pancarkan benar-benar luar biasa pekat. Christina terlihat bingung. Kenapa Randika tiba-tiba terlihat serius ketika melihat boneka yang imut ini? Christina lalu melihat sesuatu yang mampu membuatnya tertawa terbahak-bahak setelah sekian lama. Ketika boneka itu beberapa detik menatap Randika, ia berbalik dan menunjukan pantatnya yang ia goyang-goyangkan. Tindakan seperti mengejek ini membuat Randika benar-benar murka. Hari ini dia pasti menangkapnya! Sambil berwajah serius dan tenaga dalamnya yang mengalir deras, Randika menerjang! Terjangan Randika benar-benar cepat, dia langsung berusaha menangkapnya dengan kedua tangannya. Namun, boneka ginseng itu lebih cepat lagi. Di saat Randika bergerak, ia segera berubah menjadi gumpalan asap dan menghilang tanpa jejak. Saat Randika jatuh tersungkur di tanah, dia tidak bisa melihat jejak boneka ginseng itu sama sekali. Dia sudah ingin menangis darah. Ternyata boneka ginseng itu bersembunyi di saku celana Randika! Di saat Randika masih kebingungan, boneka ginseng itu meluncur turun sambil melepaskan tali sepatu Randika yang terikat. Tatapan mata Randika masih terfokus pada sosok boneka ginseng yang muncul di kakinya secara tiba-tiba. Dia tidak akan membiarkannya kabur lagi. Boneka ginseng itu sudah lari cukup jauh dan menoleh ke belakang. Setelah memastikan Randika menatap dirinya, sekali lagi dia menggoyang-goyangkan pantatnya dengan liar. Hal ini semakin membuat Randika jengkel. Dia bersumpah akan mencincang, menggoreng, membakar, menggorengnya lagi sampai sosok boneka itu hancur lebur! Mengalirkan tenaga dalamnya ke kakinya, Randika menerjang kembali! Namun, Randika ternyata menginjak tali sepatunya dan dirinya terjatuh cukup keras. Christina yang melihat hal ini bingung harus tertawa atau tidak melihat Randika. Randika sendiri merasa malu sekaligus marah. Sempat-sempatnya boneka itu melepas ikatan sepatunya, selain lincah ternyata dia cukup pintar juga. Ketika dia berusaha berdiri kembali, Randika tidak langsung menerjang kembali. Dia lalu berlutut dan menali tali sepatunya. Seorang jentelmen harus tetap berpenampilan rapi dalam keadaan apa pun! Tiba-tiba, Christina merasa ada seseorang yang memegang pundaknya. Namun setelah menoleh ke kiri dan ke kanan ternyata tidak ada orang. Ketika dia menoleh ke arah boneka ginseng itu berada, ternyata ia sudah tidak ada. Apakah boneka itu berhasil lari lagi? Christina terlihat bingung. Namun, tiba-tiba dia merasa ujung celananya ditarik-tarik. Ketika dia menoleh ke bawah, ternyata boneka ginseng itu sedang menarik-narik celananya. Tindakannya ini benar-benar imut! Christina tidak tahu harus berbuat apa, tetapi boneka ginseng itu sudah mendaki celananya hingga sampai ke pundaknya. Christina jelas merasa terkejut dan mau berteriak tetapi mulutnya dihentikan oleh boneka ginseng itu. Lalu boneka itu hanya duduk sambil tersenyum di pundaknya sambil mengayun-ayunkan kakinya. Benar-benar lucu! Tidak tahan lagi dengan kelucuan boneka ginseng ini, Christina lalu berusaha merasakan pipinya. Ketika ia merasakan jari Christina di pipinya, boneka itu terlihat malu-malu sambil tertawa. Melihat boneka itu tertawa, Christina juga ikut tertawa. Ternyata monster ini lucu juga pikirnya. Randika yang berada di kejauhan hanya bisa melihat semua adegan ini dengan ekspresi bingung, taktik apalagi yang harus dipakainya. Sambil bercanda dengan Christina, boneka ginseng itu menyadari bahwa Randika telah selesai mengikat sepatunya. Setelah menatapnya dan melambaikan tangannya, boneka itu meloncat dan berlari tanpa jejak. Lagi-lagi boneka ginseng itu berhasil kabur. Randika benar-benar frustasi. Boneka itu seakan tidak memiliki kelemahan sama sekali. Baginya ini sudah bukan acara menangkap lagi melainkan ajang mengejek Randika. Sambil menghela napas dalam-dalam, Randika menatap langit. Dia sempat terpikir kenangan masa lalunya saat dia masih berkeliling dunia. Saat-saat di mana tidak ada rintangan ataupun musuh yang tidak bisa dia hadapi. Dan sekarang, boneka ginseng ini mempermainkan dirinya hingga sedemikian rupa. Ternyata di atas langit masih ada langit. "Itu monster yang di rumahku itu bukan?" Christina sudah menghampiri Randika. "Benar, jangan tertipu sama penampilannya yang lucu." Kata Randika dengan wajah serius. "Monster itu jelmaan iblis!" "Pfft!" Melihat wajah serius Randika, entah kenapa Christina tertawa sekali lagi. Sudah lama dia tidak tertawa sebanyak ini dalam sehari. "Aku pergi dulu ya, aku harus mengajar." Kata Christina sambil tersenyum. Melihat sosok Christina yang perlahan menghilang itu Randika masih dipenuhi rasa sedih di hatinya. Randika lalu memutuskan untuk kembali ke ruangan Hannah dan melihat sudah seberapa jauh adik iparnya menyiapkan toko bajunya. Tak lama kemudian Randika tiba di toko baju milik Hannah. "Kak, cepat ke sini dan bantu aku." Melihat Randika datang, Hannah merasa senang. Siapa yang tidak suka dengan tenaga kerja gratis? Chapter 135: Kejar-kejaran "Ayo kak cepat! Keburu malam nanti!" Kata Hannah sambil menyeret Randika masuk. Randika merasa tidak berdaya dan mulai membantu meletakan baju di etalase dan mengurus barang-barang yang lain. Karena adik iparnya yang butuh bantuannya, meskipun ogah-ogahan Randika tidak punya banyak pilihan. "Han, apa kamu terus yang akan menjaga toko ini?" Tanya Randika. Sebagai mahasiswa, Hannah jelas punya kewajiban sebagai pelajar jadi mustahil dia akan menjaga toko ini setiap harinya. "Tidak, tapi aku kenal banyak orang di sekolah ini. Aku akan meminta bantuan mereka untuk menyebarkan bahwa aku sedang mencari pekerja paruh waktu." Kata Hannah sambil tersenyum. Randika mengangguk puas. "Kau harus mempercayai para karyawanmu nanti. Kalau sudah menyangkut masalah uang, banyak masalah yang bisa timbul." Hannah lalu menjawab keraguan Randika dengan nada bangga. "Jangan khawatir, aku sudah memikirkan sistem di mana komunikasi berjalan dua arah dan aku juga akan memasang kamera." Ketika mereka masih sibuk menyiapkan, terdengar suara orang dari pintu. "Permisi, siapa yang bertanggung jawab terhadap ruangan ini?" Randika dan Hannah menoleh. Ternyata orang itu adalah mahasiswa yang berpakaian ala anak-anak nakal, dari kelakuannya itu Randika menyimpulkan bahwa mahasiswa itu sudah di semester akhir. "Iya ada apa?" Hannah menghampirinya sambil tersenyum. "Aku dengar ruangan ini bisa disewa?" "Ah maaf, aku sudah menyewa tempat ini dari kak Amel." Kata Hannah sambil meminta maaf. Melihat dada Hannah yang besar itu, mahasiswa akhir ini benar-benar terpukau. Sesuai dugaannya, adik kelasnya ini benar-benar menawan! "Baiklah kalau begitu." Lelaki itu menghela napas. "Aku sebenarnya tertarik sama ruangan ini tetapi kalau kamu sudah menyewanya apa boleh buat." "Terima kasih kak, sekali lagi aku minta maaf." Kata Hannah sambil tersenyum. Dia lalu kembali ke ruangan tengah. "Ah, aku akan membantumu." Mahasiswa akhir ini langsung dengan sigap membantu Hannah mengangkat kardus. "Dari jurusan mana kamu?" Randika geleng-geleng melihat hal ini. Dia merasa mahasiswa akhir ini hanya pura-pura tertarik sama ruangan ini untuk mendekati adik iparnya. Lebih parahnya lagi dia mencueki dirinya? Jangan harap kau akan mendapatkan restunya! "Maaf, kami sedang tidak membutuhkan bantuanmu." Kata Randika sambil tersenyum. Mahasiswa akhir itu menoleh dan menatap Randika. Dengan nada dingin dia mengatakan. "Aku tidak peduli kau siapa, tetapi kalau aku sedang berbicara dengan adik kelasku ini tolong jangan ganggu aku." Arogan sekali? Randika lalu menatap Hannah. "Han, karena kamu sedang belajar bagaimana lika-liku membangun usaha, tidak baik kamu menerima bantuan orang luar." Mendengar kata-kata Randika, Hannah lalu menoleh ke kakak kelasnya itu. "Maaf kak, aku sedang tidak butuh bantuan pada saat ini." Lelaki ini terlihat tersenyum tetapi kepalan tangannya semakin erat tiap detiknya. "Oh tidak apa-apa, kalau butuh apa-apa panggil aku saja." Lalu mahasiswa akhir itu berjalan menghampiri Randika dan menabrak pundaknya. "Kau ingin mati?" Randika hanya tersenyum. "Tidak, tidak, tidak, di luar sana masih banyak perempuan cantik. Kenapa kau terlihat sedih hanya karena satu orang menolakmu? Kau itu masih muda, hidupmu masih lama. Selama kau memiliki hati yang baik dan perilaku dewasa, maka para perempuan akan datang dengan sendirinya. Jangan terlalu memikirkan penolakan ini terlalu dalam." Melihat Randika yang sok bijak, Hannah hanya bisa tertawa kecil. Kakak iparnya ini memang suka mempermalukan orang. Mendengar hal ini, mahasiswa akhir itu menjadi marah. "Biarkan aku memberitahumu, jika kau tidak segera menghilang dari tempat ini maka akan kubuat wajahmu babak belur." Randika lalu menjulurkan jari telunjuknya dan menggoyangkannya. "Kau salah teman. Pertama-tama, para perempuan yang aku kenal mencintaiku dengan sepenuh hati jadi meski wajahku tidak berbentuk mereka masih mencintaiku. Meskipun aku tahu kau tidak terima bahwa aku lebih tampan darimu dan lebih populer, cara kasar seperti itu tidak akan membuatmu populer di kalangan wanita. Jadi pikirkan baik-baik sebelum kau malu sendiri. Kedua, tidak mungkin kau bisa membuatku babak belur." Randika mengatakan semua hal itu dengan cepat, mahasiswa akhir itu hanya membiarkannya masuk ke telinga kiri dan keluar di telinga kanan. Melihat Randika yang sudah diam, dia membunyikan tulang tangannya. "Kuberitahu, aku berlatih tinju dan sudah memenangkan beberapa kejuaraan. Pikir baik-baik kata-katamu berikutnya." "Justru karena aku tidak berlatih bela diri sepertimu, aku memakai otakku secara sempurna. Jadi meskipun aku kalah kekar darimu, setidaknya aku lebih berkharisma dan cerdas." Melihat senyuman di wajah Randika, mahasiswa akhir ini sudah tidak bisa menahan amarahnya. "Aku benar-benar ingin lihat apakah temanmu itu akan tetap mau bersamamu setelah wajahmu sudah tidak berbentuk." "Oh? Kalau begitu kita lakukan ini di luar saja." Randika lalu berjalan ke arah pintu. "Aku tidak ingin ruangan yang susah payah aku bereskan malah menjadi berantakan." Setelah itu Randika keluar dari ruangan dan menunggu mahasiswa itu untuk keluar. Setelah mereka berdua di luar, Randika mulai memberikan bumbu agar musuhnya menyerang duluan. Randika mengacungkan jempolnya terbalik! Melihat provokasi itu, mahasiswa akhir ini benar-benar sudah tidak tahan lagi. "Kau sendiri yang memilih mati." Tatapan mata mahasiswa akhir ini sudah benar-benar dipenuhi api kebencian. Dia lalu menerjang dan melayangkan pukulannya. Tapi di menghantam udara kosong dan pundaknya seakan telah dipegang oleh orang. Ketika dia menoleh, Randika sudah berdiri di belakangnya sambil tersenyum. Bukankah orang itu ada di depannya? Kenapa dia bisa muncul di belakangnya? Sedikit rasa ragu melintas di pikirannya, namun dia dengan cepat berusaha menangkap tangan Randika yang ada di pundaknya. Lagi-lagi dia gagal dan Randika sudah berada di belakangnya lagi! Sekarang tatapan mahasiswa akhir ini benar-benar bingung. Musuhnya ini bisa menghilang dengan cepat dan berada di belakangnya dalam sekejap. Gerakan apa itu? "Hei, hei, aku di sini. Coba tangkap aku." Kata Randika sambil tertawa. Melihat bocah itu masih menerjangnya, Randika berlarian tanpa henti. Randika sama sekali tidak melawan balik, dia terus mengajak mahasiswa itu berlarian ke sana kemari tanpa membuat dirinya tersentuh. Setelah beberapa menit, dahi dan punggung mahasiswa itu sudah basah oleh keringat. Selama ini dia bahkan belum bisa menangkap ujung baju Randika. "Ternyata bukan hanya kamu tidak sering memakai otakmu, kemampuan fisikmu ternyata lemah juga. Gimana caranya perempuan mau sama kamu kalau begitu?" Kata Randika sambil tertawa. Mendengar ejekan itu, mahasiswa ini meraung keras dan berusaha menangkap Randika. Kali ini, Randika tidak lari melainkan diam di tempatnya. Namun ketika mahasiswa itu berusaha menangkapnya, Randika hanya menghindarinya dengan gerakan sederhana. "Aduh nyaris saja, ayo sedikit lagi." Melihat kedua laki-laki ini sedang kejar-kejaran, Hannah hanya bisa menghela napas dan bekerja kembali tanpa banyak komentar. Sedangkan para murid yang berjalan melewati mereka, hanya memandang mereka dengan tatapan bingung. Sudah gede tetapi masih main kejar-kejaran? Setiap kali Randika hampir membuat dirinya tertangkap, dia berhasil menghindar dan membuat jarak di antara mereka. Mahasiswa itu sudah kecapekan bukan main, dia merasa lututnya sudah lemas. "Kauˇ­. Sebutkan namamu!" Mahasiswa itu menatap Randika dengan tajam. "Lho sudah selesai?" Randika lalu tersenyum. "Julukanku adalah pendekar tampan, tidak ada orang yang tidak mengenalku di jurusan bahasa inggris." "Baiklah, lihat saja kau nanti!" Kata mahasiswa itu dengan nada dingin. Dia lalu pergi meninggalkan Randika. Melihat lawannya kabur, Randika tertawa. Ketika dia menoleh, dia melihat Hannah sedang sibuk sendirian. "Han, aku ada urusan jadi aku pulang dulu ya." Randika tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk kabur! Sukses mempermainkan laki-laki yang arogan dan berhasil kabur dari jeratan adik iparnya, hari ini benar-benar menyenangkan bagi Randika. Chapter 136: Nenek Viona Masuk Rumah Sakit Karena masih harus memasang kamera dan membuat poster bahwa dia membuka lowongan pekerjaan paruh waktu, Hannah benar-benar sibuk. Dia bahkan rela membolos kelas untuk mempersiapkan bisnis tokonya ini. Sambil menutup mata terhadap semua masalah itu, Randika pulang sendirian. Saat dia mencapai rumah, Inggrid ternyata sudah sampai di rumah juga. "Sayangku ternyata sudah pulang." Kata Randika sambil tersenyum. Setelah melepas sepatunya, dia menghampiri Inggrid. "Dari mana kamu?" Melihat Randika yang baru pulang, Inggrid langsung bertanya. "Hmmˇ­" Randika awalnya ingin mengatakan bahwa dia sedang membantu adik iparnya tetapi Hannah memberitahunya jangan membicarakan masalah bisnis toko ini pada Inggrid. Jadi Randika memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan. "Wah aku tidak menyangka bahwa kau sangat peduli dengan suamimu ini. Sebelum itu, mana ciuman selamat datangku? Bukankah setiap istri akan menyambut kedatangan suaminya dengan ciuman hangat?" Melihat Randika yang benar-benar ingin menciumnya, Inggrid memalingkan wajahnya. "Pasti kamu sedang menggoda perempuan cantik lainnya." "Ah! Bisa-bisanya kau meragukan cintaku ini? Mau aku memberikanmu hukuman keluarga kita lagi?" Kata Randika sambil menyengir. Mendengar hal ini, Inggrid langsung berteriak dan lari ke dalam kamarnya. Tetapi siapa yang bisa kabur dari genggaman tangan Ares? Mereka berdua menghabiskan waktu di kamar selama 10 menit. Ketika Randika keluar, wajahnya sudah terlihat puas dan bahagia. Sedangkan Inggrid yang terbaring di kasurnya berwajah merah dan napas terengah-engah. Tentu saja, selain memberikan pukulan pantat, Randika bermain dengan tubuh Inggrid dan terakhir ditutup oleh ciuman panas. Ketika melihat Randika keluar, Inggrid bingung harus berekspresi apa selain malu. ........... Hari berikutnya Randika datang ke kantor seorang diri. Kejadian semalam membuat Inggrid tidak mau semobil dengannya. "Lho pak Randika tumben datang pagi sekali?" Seorang ahli parfum terlihat terkejut melihat Randika. Biasanya atasannya ini datang saat siang hari, jadi kedatangannya di pagi hari ini benar-benar tidak biasa. "Selamat pagi pak Randika." Meskipun terkejut, semua karyawan ini menyambut atasan mereka dengan senyuman hangat. Sambil membalas sapaan orang-orang, Randika menyapu seluruh ruangan ini dengan tatapan matanya. Dia merasa hari ini kekurangan satu orang. Di manakah Viona? Seharusnya Viona sudah berada di ruangan miliknya ini. Lalu dia kepikiran apakah dia sedang berada di laboratorium milik Kelvin? Setelah itu Randika mengambil handphonenya dan memanggil Kelvin. "Ah halo pak Randika, ada apa?" Tanya Kelvin dari teleponnya. "Apa Viona sedang kerja di tempatmu?" "Tidak, memangnya kenapa?" Jawab Kelvin. "Oke kalau begitu, nanti aku akan memeriksa hasil kerjamu." Kata Randika sambil menutup teleponnya. Berarti Viona terlambat masuk? Randika mengerutkan dahinya, kejadian seperti ini cukup tidak biasa. Merasa cemas, Randika segera keluar dari ruangannya dan menuju ke lift. Saat pintu lift itu terbuka, Viona keluar dari lift. Dalam sekejap rasa cemas Randika itu segera menghilang. "Pagi Vi." Kata Randika dengan senyuman hangat. "Randika." Melihat bahwa yang menyapanya adalah Randika, dia segera menutup wajahnya. Apabila diperhatikan, wajah Viona terlihat buruk dan matanya merah seakan-akan telah menangis semalaman. Melihat hal ini hati Randika terasa sakit. Dia dengan cepat bertanya. "Kamu kenapa? Kenapa wajahmu seperti itu?" Ketika mendengar hal ini, air mata Viona malah menetes kembali. "Ranˇ­ aku, akuˇ­" Viona sedikit ragu-ragu mengatakan masalahnya. Randika tanpa banyak tanya langsung memeluk Viona dan mengusap-usap rambutnya. "Apa pun yang telah terjadi, kau tidak perlu khawatir. Aku akan membantumu melaluinya." Kata Randika dengan nada menenangkan. Setelah menenangkan diri beberapa saat, Viona sudah tenang dan melepas pelukan Randika. "Kemarin nenekku masuk rumah sakit. Dia kemarin di ruangan UGD semalaman karena pertolongan tiba agak lama di rumahnya." "Tidak apa-apa, kau tidak usah khawatir. Hari ini setelah bekerja aku akan menemanimu ke sana." Randika perlu tahu penyakit apa yang diderita neneknya sebelum bisa mengatakan bahwa dia akan membantu neneknya. "Baiklah." Viona mengangguk sambil mengusap air matanya. Waktu berjalan dengan cepat dan hari sudah berganti menjadi sore. Ketika jam kerja mereka telah selesai, Randika dan Viona berangkat bersama menuju rumah sakit umum Cendrawasih. Selama perjalanan, Randika bertanya mengenai kejadian yang terjadi semalam. Ternyata tengah malam kemarin, nenek Viona tiba-tiba pingsan dan ambulans membutuhkan waktu yang cukup lama untuk tiba di rumah neneknya. Meskipun kondisinya sudah stabil, neneknya masih tidak sadarkan diri. Bisa dikatakan bahwa kondisi neneknya masih tidak diketahui. "Tenang saja, semua akan baik-baik saja." Kata Randika dengan nada menenangkan. Dia percaya diri bisa menyelamatkan nenek Viona. Setelah membeli beberapa barang, mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Tidak lama kemudian, Randika akhirnya bertemu dengan nenek Viona yang masih terbaring di ranjangnya. "Nenekˇ­" Ketika melihat neneknya terbaring lemah di ranjangnya, air mata Viona tidak bisa berhenti keluar. "Vi, kamu tenang saja." Kata Randika sambil memegang tangan Viona. Pada saat ini, dokter dari nenek Viona masuk ke ruangan. Dengan cepat Viona bertanya padanya. "Dok, apa nenekku akan baik-baik saja?" Dokter itu menatap Viona dan menggelengkan kepalanya. "Aku harap Anda bersiap dengan kemungkinan terburuk. Keadaan beliau tidak bagus." Ketika mendengar hal ini, Viona sudah nyaris pingsan. Untungnya Randika ada di sana bersamanya. "Saya minta maaf karena menyampaikan berita buruk ini secara terus terang. Saya pamit dulu." Kata dokter itu pada mereka berdua. Randika lalu menoleh dan menatap nenek Viona itu. Saat ini dia terbaring tenang dan tertidur lelap. Kemungkinan dia bangun mungkin sudah di angka 40-60. "Biarkan aku melihatnya dulu." Kata Randika pada Viona. Randika lalu memeriksa denyut nadi dan merasakan otot-ototnya. Setelah memeriksanya, kerutan di dahi Randika benar-benar besar. Situasinya benar-benar lebih buruk dari bayangannya. Bisa dikatakan bahwa nenek Viona tidak memiliki penyakit berbahaya. Sebaliknya, keadaan tubuhnya benar-benar sehat. Tetapi karena dia sudah terlalu tua, organ-organ di dalam tubuhnya sudah kehilangan fungsinya. Bisa dikatakan bahwa waktu nenek Viona telah habis jadi sangat kecil kemungkinannya untuk menyelamatkannya. Meskipun menguasai beberapa teknik pengobatan tradisional, Randika masih tidak bisa menemukan cara yang tepat untuk menyembuhkannya. Setelah berpikir keras dan mengingat-ingat ajaran kakeknya, Randika masih tidak dapat menemukan cara. Randika menghela napas. Bahkan jika kakek ketiganya berada di sini, mungkin situasinya tidak seberapa jauh berbeda. Meskipun kakeknya memiliki cara untuk memperpanjang umur nenek Viona, organ-organ internal neneknya ini tidak akan tahan terhadap stimulant seperti itu. Takutnya sebelum obatnya itu bekerja, organ-organ itu sudah berhenti berfungsi terlebih dahulu. Randika lalu menoleh ke arah Viona dengan wajah murung sambil menggelengkan kepalanya. Dalam sekejap, seluruh tubuh Viona terlihat bergetar dan akhirnya dia jatuh dan memeluk neneknya dalam keadaan menangis. "Vi jangan sedih seperti itu, aku akan memikirkan cara lain." Kata Randika dengan nada menenangkan. Setelah menangis beberapa saat, Viona akhirnya berhenti menangis. Matanya sekarang semakin bengkak dan merah. Randika ingin mengubah suasana dengan mengajaknya makan tetapi Viona bersikeras ingin tetap tinggal bersama neneknya. Jadi Randika pergi sendirian ke kantin. Setelah keluar dari ruangan, isi pikiran Randika benar-benar bercampur aduk. Dia belum pernah menangani kasus seperti ini. Setelah berpikir keras, dia masih mengalami kebuntuan. Sambil menghela napas, Randika mengambil handphonenya dan menelepon kakek ketiga. "Mau apalagi sekarang kamu? Kalau ada masalah baru ingat rumah, kakekmu ini bukan orang sakti tahu! Sudah cepat katakan masalahmu." Randika lalu menjelaskan situasi dari neneknya Viona dan setelah itu kakek ketiga langsung menjadi marah. "Kau ini ada-ada saja, masalahmu sendiri saja belum selesai malah ngurusin masalah orang lain. Kalau sudah buntu kamu larinya ke kakek, pusing kakek melihatmu ini." Males mendengar ceramah kakeknya ini, Randika dengan cepat menanyakan. "Bagaimana kek, kakek bisa menyelamatkannya?" "Tidak." Chapter 137: Pentingnya Komunikasi Mendengar jawaban kakeknya ini, Randika nyaris muntah darah. Dia tidak tahu harus berkata apa pada Viona. "Kalau begitu aku pergi dulu ya kek." Kata Randika dengan nada kecewa. "Ah tunggu dulu! Aku kan cuma bilang kalau aku tidak bisa menyelamatkannya bukan aku tidak tahu caranya." Kakeknya ini sudah merasa marah pada Randika. Bisa-bisanya bocahnya itu meremehkan pengetahuannya? Randika lalu kembali tersenyum. "Sudah kuduga kakek mau menggodaku, kakek memang tidak pernah mengecewakanku." "Hum." Randika bisa melihat dengan jelas meskipun mereka terpisah jauh bahwa kakeknya ini sekarang sedang mengelus-elus jenggotnya sambil berwajah bangga. "Jadi bagaimana caranya kek?" Tanya Randika. "Kadang kau ini bodoh bukan main ya." Kakek ketiga menggaruk-garuk kepalanya lalu berkata dengan sedikit membentak. "Boneka ginseng adalah jawabannya. Selama nenek dari temanmu itu meminum darahnya boneka itu, dia harusnya bisa hidup beberapa tahun lagi." Teman? Sepertinya kakeknya ini salah mengira, jelas-jelas Viona adalah ceweknya! Namun, mendengar nama boneka ginseng membuat Randika kembali kebingungan. Dia benar-benar tidak bisa menangkap boneka itu selama ini. Bahkan Randika tidak pernah bisa menyentuhnya sama sekali selama ini! Meskipun dia punya hubungan baik sama boneka ginseng itu, mana mungkin ia mau memberikan darahnya padanya? Bukankah itu sama saja dengan memotong sedikit bagian tubuhnya? Mana mungkin ia mau. "Kek, tapi aku sama sekali tidak bisa menangkapnya. Boneka itu benar-benar lincah." Kata Randika dengan nada mengomel. "Itu bukan urusanku." Kata kakek ketiga sambil tertawa. "Tapi aku yakin bahwa kamu sama boneka ginseng itu ditakdirkan bertemu." Ditakdirkan? Sejak kapan kakek ketiganya ini belajar meramal seperti kakek keempat? Randika lalu menggaruk-garuk kepalanya, bingung harus berbuat apa. Namun, tiba-tiba dari balik telepon terdengar suara ledakan yang keras. Seakan-akan atap rumah yang dijatuhi oleh bom. Suara keras itu segera membuat Randika menjadi cemas. Apa rumah kakeknya diserang? "Uhuk, uhuk, uhuk." Untuk beberapa saat, suara batuk terus terdengar dari handphonenya. Lalu tiba-tiba suara marah kakeknya terdengar sangat keras. "Jika kamu menelepon aku lagi saat aku membuat ramuan obat, aku akan membotakimu saat kamu pulang!" "Tutttttttt" Teleponnya langsung diputus oleh kakeknya. Randika tidak bisa berkata apa-apa selama beberapa saat, apa memang salah dirinya kalau panci obat kakeknya itu meledak? Setelah menyimpan handphonenya, Randika lalu berpikir bagaimana caranya dia bisa menemukan boneka ginseng itu. Seharusnya ia masih ada di kota Cendrawasih. Setelah berpikir keras, Randika menyadari bahwa tempat favorit boneka ginseng itu mungkin adalah Universitas Cendrawasih, kantornya, dan tempatnya Indra. Setelah dipikir-pikir, kemungkinan boneka ginseng itu berada di tempat Indra lebih besar karena tenaga dalamnya Indra yang melimpah dan murni. Oleh karena itu, Randika segera menuju rumah kontrak yang Indra tinggali. Jika boneka itu tidak ada di sana, barulah dia akan berpikir lagi. Lari bagaikan petir, tidak butuh waktu lama untuk Randika tiba di rumahnya Indra. Ketika dia masuk ke dalam kamar Indra, Randika melihat Indra sedang duduk di kasurnya. Kemudian boneka ginseng itu terlihat sedang duduk di sampingnya sambil menunjuk langit-langit kamarnya. Lalu kedua makhluk ini terjatuh dan terbaring di kasur sambil tertawa. Ternyata tebakannya benar! Randika benar-benar gembira, setidaknya dia menemukan keberadaan boneka ini. "Ah kakak seperguruan, tumben kamu datang ke sini?" Kata Indra dengan muka polosnya. Ketika mendengar Indra berbicara dengan seseorang, boneka ginseng itu menatap tamunya dan ternyata itu adalah Randika. Mulut kecilnya terlihat mengecap-ngecap, bagaikan sedang tertawa pada Randika. Kemudian boneka itu dengan cepat memanjat pundak Indra. Sepertinya ia memiliki hubungan persahabatan yang kuat dengan Indra. Randika merasa jengkel ketika melihat aksi boneka ginseng itu yang benar-benar arogan. Akan tiba waktunya tawa menyebalkan itu menjadi tangisan minta tolong tetapi waktu itu rasanya masih lama. Hari ini dia harus memohon pada boneka ginseng itu agar memberikannya darahnya. Randika lalu berjalan menghampiri Indra dan boneka ginseng itu secara perlahan. "Apakah kau mengerti apa yang kukatakan?" Melihat Randika yang membuka mulutnya, boneka ginseng ini juga menirunya; ia bagaikan bayi yang sedang belajar berbicara. Baiklah, boneka ini tidak mengerti bahasa manusia. Namun, hari ini Randika tidak boleh gagal. Nyawa nenek Viona adalah taruhannya jadi dia tidak boleh membiarkan boneka ini kabur lagi. "Bisa aku meminta darahmu?" Tanya Randika pada boneka ginseng. Randika merasa bodoh ketika dia bertanya. Mana mungkin boneka ini akan memberikannya secara cuma-cuma? Selama ini mereka adalah musuh. Tidak mengerti apa yang dimaksud Randika, boneka ginseng ini cuma tertawa sambil meniru gerakan mulut Randika. "Kak, apa yang akan kamu lakukan dengan darah itu?" Tanya Indra dengan wajah yang kebingungan. "Aku memerlukannya untuk menyelamatkan nyawa orang." Randika lalu duduk dengan wajah tidak berdaya di sisi Indra. Dia akhirnya sadar betapa pentingnya komunikasi. Setelah memikirkannya, Randika mengubah caranya berbicara menjadi bahasa isyarat. "Tolong beri aku setetes darahmu." Randika menjulurkan jari telunjuknya dan berkat tenaga dalamnya, setetes darah keluar dari telunjuknya. Melihat darah yang keluar dan ekspresi memohon Randika, ekspresi boneka ginseng tiba-tiba berubah. Lalu dia menggelengkan kepalanya sekuat tenaga. Dia melompat dari pundak Indra dan mendarat di lantai, seperti bersiap hendak kabur kapan saja. Reaksi dari boneka ginseng ini tidak mengherankan. Karena selama ini dia menyerap esensi bumi dan langit selama beratus tahun, seluruh bagian tubuhnya merupakan harta karun khususnya darahnya yang memiliki semua esensi itu. Dan sekarang Randika terus terang mengincar dirinya karena menginginkan darahnya, siapa yang tidak takut karenanya? "Tunggu! Tolong cegah dia untuk pergi!" Kata Randika pada Indra. Indra dengan cepat berusaha membujuk boneka itu agar tidak pergi. Di bawah tatapan serius kakak seperguruannya, Indra berhasil membujuk sahabatnya itu untuk tetap berada di sini. Namun, tatapan mata boneka ginseng itu pada Randika terlihat penuh dengan kebencian. Boneka itu merasa bahwa Randika adalah orang yang egois, manusia memang makhluk yang hanya memikirkan dirinya. Mulut dari boneka ginseng itu tidak berhenti bergerak, tampak seperti ibu-ibu yang mengoceh. Ia mengekspresikan unek-uneknya selama ini. "Aku benar-benar membutuhkan darahmu setetes saja. Kalau tidak orang yang kusayang akan mati." Terlepas dari boneka itu mengerti apa yang dikatakan oleh Randika, dia berusaha menjelaskannya secara perlahan melalui gerakan tangan dan isyarat lainnya. "Orang itu akan mati, kau tahu mati bukan? Seperti ini." Lalu Randika memutar matanya hingga terlihat putih dan wajahnya menjadi pucat. Lalu dia terjatuh ke belakang sambil tidak bernapas. Melihat hal lucu ini, boneka ginseng itu tidak bisa berhenti tertawa. Randika lalu berdiri dan melihat boneka itu tersenyum padanya. Dia sedikit merasa bodoh karena berusaha berkomunikasi dengan makhluk supernatural seperti dia. Namun, boneka ginseng itu justru tidak bisa tertawa ketika Randika berusaha menjelaskannya kembali dengan cara yang sama. Chapter 138: Menyelamatkan Randika Cuma bisa menahan malunya, hari ini ditakdirkan menjadi hari penuh dengan kemaluan dan acara memelas. "Kak, biarkan aku yang mencoba untuk berbicara dengannya." Kata Indra pada Randika. Kemudian Indra berpaling ke arah boneka ginseng itu dan mengeluarkan setetes darah dari telunjuknya. Dengan cepat dan sekuat tenaganya, boneka itu menggelengkan kepalanya. Randika langsung menghela napas. "Kami hanya membutuhkan setetes darahmu saja." Kata Indra dengan wajah serius. "Dengan itu kakak seperguruanku ini bisa menyelamatkan nyawa orang." Boneka itu masih menggelengkan kepalanya, tetapi ketika ia melihat wajah serius sahabatnya entah kenapa ia ekspresinya mulai berubah. Randika, yang melihat dari samping, berdoa dalam hati bahwa hal ini akan berhasil. Indra terus-menerus menatap boneka itu dengan wajah seriusnya dan ekspresi boneka itu berubah menjadi sedih. Setelah ditatap oleh Indra sekian lama, boneka itu berhenti menggelengkan kepalanya dan mengangkat kepalanya. Dia lalu ragu-ragu menjulurkan tangannya dan dengan ekspresi tidak rela ia mengeluarkan darahnya dari tangannya itu. Tiba-tiba manik-manik berbentuk bola keluar di tangannya dan ia memberikannya pada Indra. Randika melihat hal ini dengan ekspresi gembira, dia lalu menjulurkan jarinya untuk mengambilnya dari Indra. Dan secara ajaib, manik-manik berisikan darah itu bergulir sendiri ke jari Randika. Darah dari boneka ginseng ini memang unik, berwarna putih dan bertekstur lembut dan halus. Setelah memberikan darahnya, boneka ginseng itu melompat dan mendarat di atas kepala Indra. Dia menjambak rambut Indra dan berteriak ke dalam kepalanya, seakan-akan mengkomplain Indra karena memaksanya berbuat seperti itu. Indra hanya tersenyum ketika melihat sahabatnya itu sedangkan Randika berterima kasih pada Indra. Kemudian Randika dengan cepat membeli tabung reaksi untuk menyimpan darah berharga itu dan langsung berangkat menuju rumah sakit. Selain dari Viona yang duduk di samping ranjang neneknya, ada sepasang suami istri paruh baya yang duduk di sampingnya. Si istri tampak telah menangis seharian dan matanya sudah bengkak bukan main. Sedangkan yang laki berwajah serius namun tatapan matanya terlihat kosong. Tanpa perlu bertanya, kedua orang itu pasti orang tuanya Viona. Pada saat ini Viona masih menangis pelan ketika melihat banyaknya dokter dan perawat mengerubungi neneknya yang masih koma. Pengunjung yang lain dan pasien lainnya yang melihat hal ini hanya bisa menyampaikan belasungkawanya dalam hati. "Dok, apakah tidak ada cara lain untuk menyelamatkannya?" Tanya ayahnya Viona. "Kami telah berusaha sebaik mungkin." Seorang dokter senior menatap ayahnya Viona. "Kondisi beliau terus menurun setiap detiknya. Sayangnya beliau sudah berada di tahap akhir kehidupannya, kami hanya bisa memperpanjang hidupnya selama mungkin tetapi itu tidak bisa lebih dari tiga hari." Mendengar hal ini, ibunya Viona mengusap air matanya dan berdiri. "Dok, tolong selamatkan ibuku. Uang bukanlah masalah, selamatkan saja ibuku ini!" "Maaf, ini bukan perkara uang. Beliau memang sudah berumur dan tidak bisa diselamatkan." Dokter itu menghela napas. "Saya harap pihak keluarga siap merelakan kepergian beliau." Namun, pada saat ini Randika masuk ke dalam ruangan. "Viona.." Mendengar suara familiar itu, Viona mengangkat kepalanya dan melihat sosok Randika. "Randikaˇ­" Viona masih meneteskan air matanya. "Sudah berhentilah menangis, aku akan menyelamatkan nenekmu itu." Kata Randika sambil tersenyum. Namun ketika para dokter dan perawat mendengar hal ini, mereka semua menatap Randika dengan tajam. "Anak muda, jangan berkata yang tidak-tidak." Dokter senior itu langsung mengerutkan dahinya. Dia sudah berpuluh tahun menjadi dokter dan ribuan kasus sudah dia tangani, dan sekarang ada anak muda yang berkata lain? Bahkan dia sesumbar akan menyelamatkan pasiennya? Baginya tidak semua pasien bisa diselamatkan, mereka ini dokter bukan penyihir! "Nak, aku tahu kamu ingin menghibur anak kami." Kata ayah Viona pada Randika. "Tetapi kita tidak bisa melawan kehendak Tuhan dan kami keluarganya sudah siap melepas beliau ke tempat yang lebih baik." Para pasien dan pengunjung di samping mereka menghela napas lagi. Keluarganya begitu baik dan menyayangi si nenek, mereka tidak bisa membayangkan betapa kehilangannya mereka setelah nenek itu pergi meninggalkan keluarganya. Randika hanya tersenyum. "Om, aku tidak pernah berkata omong kosong. Aku yakin bisa menyelamatkannya!" Ayah Viona terdiam beberapa saat, dalam sekejap tatapan matanya penuh dengan harapan. "Apakah itu benar?" "Hei kau, hentikan omong kosongmu itu." Salah satu dokter sudah muak dengan Randika. "Kami sudah berusaha sebaik mungkin merawat nenek ini. Sudah jelas bahwa diagnosa kami mengatakan bahwa nenek ini sudah tidak bisa bertahan karena gejala usia yang sudah tua, organ-organnya sudah mulai tidak berfungsi dengan baik. Hal seperti ini sudah tidak bisa diselamatkan, mati karena usia adalah hukum alam!" Nada suara si dokter itu penuh dengan amarah dan para perawat di sampingnya tidak bisa berhenti mencemooh Randika. Mereka menganggap Randika benar-benar arogan. "Aku memahami dan merasakan ketulusanmu ingin menyelamatkannya." Ibu Viona berdiri sambil mengusap air matanya. "Tetapi nak, kita tidak bisa melawan yang namanya usia. Mungkin Tuhan sudah ingin bertemu dengan ibuku ini jadi yang bisa kita lakukan hanyalah menerimanya dan melepasnya dengan tulus." Mendengar kata-kata istrinya dan dokter, ayah Viona yang berwajah gembira itu segera menjadi murung kembali. "Apa yang mereka katakan benar, aku tidak menyangka kamu akan tega berkata seperti itu untuk menghibur anak kami." "Om, biarkan aku mencoba." Kata Randika dengan nada penuh percaya diri. "Aku yakin bisa menyelamatkannya." Melihat kekerasan kepalanya Randika, tatapan mata Viona menjadi penuh harapan. Ketika Randika penuh dengan percaya diri, keajaiban selalu terjadi. Hal ini menumbuhkan rasa percaya seiring berjalannya waktu. Jadi kalau Randika mengatakan bisa maka dia pasti bisa! Dan sekarang, wajah Randika benar-benar penuh dengan percaya diri. Viona benar-benar senang di dalam hatinya, dia yakin Randika bisa. Lalu dia menatap ayahnya dengan tatapan penuh makna. "Baiklah." Melihat tatapan mata anaknya itu, ayahnya Viona akhirnya setuju. Melihat keluarga pasien setuju, para dokter ini tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa menatap tajam Randika, orang ini benar-benar mencela nama mereka! "Permisi, tolong minggir." Melihat seorang dokter menghalangi jalannya, Randika memintanya untuk minggir. "Cih." Dokter itu mendengus dingin dan memberi jalan untuk Randika. Para dokter ini tidak pergi namun ingin melihat bagaimana pemuda ini akan menyelamatkan pasien mereka. Dalam lubuk hati mereka, mereka sama sekali tidak percaya bahwa Randika bisa menyelamatkan nenek itu. Jelas bahwa organ-organnya sudah kehilangan fungsinya, kematian adalah hal yang pasti jadi mana mungkin bisa menyelamatkannya. Terlebih lagi, tubuh nenek itu sudah terlalu tua dan tidak bisa menerima obat yang terlalu keras jadi estimasi 3 hari hidup itu sudah sangat bagus. Melihat tatapan mata para dokter itu, Randika hanya bisa tersenyum dan menatap mereka. "Bisa minta tolong bantu aku mengangkat badannya?" Dokter senior yang sebelumnya terdiam mengangguk pada perawat di sampingnya. Lalu dua perawat menghampiri Randika dan membantunya mengangkat si nenek. "Tolong lepaskan pakaiannya." Randika lalu mengeluarkan tabung reaksi yang berisikan darah dari boneka ginseng itu dan jarum akupunturnya. "Buat apa kamu membuka bajunya?" Seorang dokter mengerutkan dahinya. "Oh? Cara perawatan itu tidak biasa, aku menggunakan teknik akupuntur." Kata Randika sambil tersenyum. "Karena nenek ini sudah tua, kulitnya sudah kendur jadi aku kesusahan merasakan titik akupuntur dari balik baju. Jadi aku perlu melepas pakaiannya dan merasakannya langsung dari kulitnya." Chapter 139: Pengobatan Tradisional Penjelasan Randika masuk akal, kedua perawat itu menuruti Randika dan melepas pakaian sang nenek. Lalu, di bawah tatapan mata semua orang, Randika mulai menutup matanya dan menyalurkan tenaga dalamnya. Ketika dia membuka matanya, dalam sekejap ada aura menekan yang menyelimuti Randika. Dia lalu menusukan jarum akupuntur yang dilapisi oleh tenaga dalam itu. Jleb! Jleb! Tangan kanannya bergerak dengan cepat bagaikan petir, dalam sekejap sudah ada 5 jarum yang sudah tertancap. Kelima jarum ini melambangkan organ-organ sang nenek yang sudah mulai berhenti bekerja, jantung, hati, limpa, paru-paru dan ginjal. Dalam teknik akupuntur, kelima organ ini merupakan bagian terpenting dalam tubuh manusia. Setelah selesai menusukan kelima jarum itu, Randika membuka tabung reaksi yang dibawanya dan membuka paksa mulut sang nenek dengan tangan kirinya. Dia lalu membuatnya meminum manik-manik yang merupakan darah boneka ginseng tersebut. Randika lalu meletakan tangannya di punggung si nenek dan menutup matanya. Semua mata tertuju pada Randika seorang, penasaran apa yang akan dilakukannya. Setelah melihat Randika menempelkan tangannya pada punggung si nenek, para dokter tertawa dalam hati. Mereka berpikir bahwa orang ini sudah gila. "Bocah itu sudah gila." Dokter senior itu sudah menggeleng-gelengkan kepalanya, dia sudah tidak tahan melihat hal ini. Tetapi ada salah satu dokter yang berwajah serius, dia pernah mendengar pengobatan tradisional yang melibatkan tenaga dalam. Apakah ini adalah salah satunya? Apakah pemuda ini sedang mengobati penyakit internal dengan tenaga dalamnya? Randika tetap berkonsentrasi meskipun suasana sekelilingnya sedikit ramai. Dia menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam tubuh si nenek. Dan dengan bantuan darah dari boneka ginseng itu, dia memperbaharui sel-sel tubuh. Berbeda dengan obat, tenaga dalam Randika sangat lembut dan ringan jadi tidak akan menyakiti tubuh tua si nenek. Tiba-tiba, semua orang melihat tangan Randika yang berada di punggung itu mengeluarkan asap putih. Asap putih itu dengan cepat menghilang dan semua masih bertanya-tanya fenomena apakah itu? Randika masih terus menutup matanya dan berkonsentrasi. Namun, pada saat ini kedua perawat yang membantu Randika terkejut ketika mengetahui bahwa wajah si nenek mulai mendapatkan warnanya kembali. "Luar biasa!" Si perawat itu jelas terkejut, wajah pucat nenek itu tiba-tiba mendapatkan warna wajahnya kembali. Semua orang yang di sana ikut terkejut setelahnya. Dia berhasil menyembuhkannya? Semua para dokter itu tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Mana mungkin hal ini bisa terjadi? Ayah Viona senang bukan main, dia tidak menyangka bahwa teman Viona ini benar-benar berhasil membuat ibunya membaik. Ibu Viona sudah meneteskan air mata kebahagiaan. Di bawah tatapan semua orang, tangan si nenek mulai bergerak meskipun sebentar. Pada saat yang sama, si nenek sudah bisa bernapas dengan normal. Di dalam tubuh si nenek, darah dari boneka ginseng itu belum berhasil terserap secara sempurna. Tenaga dalam Randika ini bertujuan untuk membantunya menyerap darah tersebut secara sempurna. Beberapa menit kemudian, rambut putih si nenek mulai menghitam dan kulitnya yang mengendur itu terlihat mengencang. Seakan-akan pengobatan Randika ini berhasil membuat penatua ini menjadi lebih muda beberapa tahun. "Ya Tuhan, keajaiban macam apa ini?" Melihat kondisi fisik si nenek, semua orang tidak dapat mempercayai apa yang dilihatnya. Meskipun mereka tidak memahami apa yang sedang dilakukan Randika, mereka tetap dapat melihat hasilnya yang mengagumkan. Benar-benar luar biasa! Para dokter masih linglung, tidak dapat mempercayai apa yang mereka lihat. Salah satu dokter yang mengetahui metode tenaga dalam ini menatap Randika dengan tatapan kagum. Itu benar-benar tenaga dalam! Hanya pengobatan memakai tenaga dalam yang bisa memberikan efek seperti itu. Yang mungkin membuatnya kaget adalah efek dari tenaga dalam ini bukan hanya menyembuhkan, malah bisa membuat orang lebih muda beberapa tahun. Viona sudah dipenuhi dengan perasaan sukacita. Randika benar-benar tidak mengecewakan dirinya. Setelah sekian lama, Randika akhirnya melepaskan tangannya dan terbatuk seteguk darah hitam. Kemudian dia mencabut kelima jarum yang masih menancap di tubuh si nenek. Setelah dia mencabutnya, si nenek tiba-tiba terbatuk! "Uhuk, uhuk, uhuk." Si nenek membuka matanya. Setelah beberapa saat, dia terkejut melihat begitu banyak orang sedang menatapnya. Dia sepertinya juga tidak sadar ada di mana dia sekarang. Kenapa semua orang ini menatapku? Dan kenapa mereka sepertinya terkejut melihatku? Hal terakhir yang dia ingat adalah cucunya, Viona, membawa dirinya ke rumah sakit tadi malam. "Bisa bantu dia untuk memakai bajunya dan memberinya air?" Kata Randika dengan santai. "Ah? Oh!" Kedua perawat yang membantu Randika lalu tersadar dan membantu si nenek memakai bajunya. Seorang dokter yang berdiri di sana tiba-tiba mencubit temannya. "Hei! Ngapain kamu?" Tanya temannya itu sambil marah-marah. "Aku hanya ingin melihat apakah aku sedang bermimpi atau tidak." "Goblok, kalau itu harusnya kamu cubit dirimu sendiri bukan aku!" Jawab dokter itu sambil marah-marah. Tetapi berkat cubitannya ini, dokter itu sadar akan sesuatu. "Cepat! Cepat periksa kondisinya!" Mendengar kata-kata ini, dokter senior sebelumnya dengan cepat memeriksa si nenek dan menyuruh Randika segera minggir. Viona, yang berhati lega, melihat neneknya dikerubungi para dokter dan perawat sekali lagi. Randika, yang berdiri di sampingnya, menatapnya dengan wajah penuh senyum. Wajah si dokter senior benar-benar tidak bisa diungkapkan setelah selesai memeriksa kondisi si nenek. "Ada apa?" Para dokter yang lain menatapnya. "Bagaimana?" Dokter senior itu menganggukan kepalanya, keterkejutan di wajahnya belum bisa hilang. "Masalahnya adalah tidak ada masalah di tubuh nenek ini!" "Ah, kau jangan ngomong seperti itu." Dokter lainnya benar-benar tidak percaya. "Tubuhnya benar-benar sehat. Ketika dia dibawa kemari, kondisi tubuhnya tidak sesehat ini. Jantung dan paru-parunya sekarang justru dalam keadaan sempurna. Setelah aku periksa, dengan kondisi seperti ini maka nenek ini seharusnya bisa hidup selama 10 tahun lagi!" Dokter senior ini masih dipenuhi dengan keterkejutan dan hatinya masih tidak percaya dengan kejadian ini. Jelas-jelas dia sudah memastikan bahwa umur sang nenek tinggal 3 hari tetapi sekarang dia benar-benar seperti dilahirkan kembali. Terlebih, keajaiban seperti ini terjadi di depan matanya sendiri! Ini pasti ilmu hitam, pikirnya. Wajah ayah Viona sudah penuh dengan senyuman. "Ini benar-benar sebuah keajaiban, anak ini tidak berbohong." Ibu Viona yang berdiri di samping ayahnya itu tiba-tiba menyeret Viona dan membawanya agak jauh dari kerumunan. Dia lalu berbisik pada anaknya. "Vi, apa itu pacarmu?" Viona jelas terkejut mendengarnya, dia tidak menyangka ibunya akan bertanya seperti itu padanya. Dengan wajah tersipu malu dan ragu-ragu, Viona menganggukan kepalanya dengan pelan. Ibunya langsung tersenyum dan mengatakan. "Mama bangga kamu bisa menemukan laki sehebat dia. Mama lihat dia adalah lelaki yang tenang dan dapat diandalkan, dia adalah laki-laki yang pantas untukmu. Vi, kamu harus mempertahankan hubunganmu dengannya jangan sampai dia lepas. Ah, dia kerja apa?" Ibunya Viona tidak akan melepaskan kesempatan anaknya menikahi lelaki luar biasa semacam Randika, dia akan mati-matian membuat Randika menjadi menantunya. Namun pada saat ini, tiba-tiba Randika menghampiri mereka berdua dan tersenyum. "Om, tante, terima kasih tadi telah mempercayaiku. Aku sekarang harus pergi menemui orang jadi aku pamit dulu." Ketika Randika sudah pergi dari situ, ayah Viona mengangguk puas. "Sopan santunnya sangat bagus." Dia semakin menyukai pemuda itu, dia mengingatkan dirinya ketika masih muda. Chapter 140: Boneka Ginseng yang Sedang Mabuk Ketika dirinya dipamiti oleh Randika, ibunya Viona ini juga makin menyukai calon menantunya itu. Tatapan Randika pada Viona juga terlihat tulus, jelas dia ingin Viona merayakan suasana sukacita ini dengan keluarganya jadi dia sebagai orang luar lebih baik pergi dari sana. Melihat niat baik Randika ini, Viona ingin menyusulnya namun dia merasa malu. Pada saat ini dia merasa dirinya didorong dari belakang. "Pergilah, biar mama dan papa yang mengurus nenek." Kata ibunya. Setelah dimotivasi oleh ibunya sendiri, Viona langsung tersipu malu dan mengangguk. Dengan cepat dia menyusul Randika. "Randika tunggu!" Viona yang membuka pintu ruangan itu segera berlari namun melihat Randika ternyata sedang bersandar di tembok luar ruangannya. "Ran, aku sungguh berterima kasih padamu kali ini." Kata-kata Viona ini benar-benar tulus dari dalam hatinya. Kalau bukan karena Randika mungkin neneknya sudah tiada. "Sudah Vi, aku turut bahagia untuk keluargamu." Randika juga terlihat tulus mengatakannya. Ketika dia melihat Viona yang menangis sejadi-jadinya sebelumnya, entah kenapa dia tidak tega melihatnya. Oleh karena itu dia bersusah payah hingga memelas pada boneka ginseng itu. Setelah mereka berdua tersenyum satu sama lain, Randika tiba-tiba memeluk Viona. "Hei, apa sebenarnya hubungan kita ini? Kamu masih bersikap bahwa aku adalah atasanmu. Apa menurutmu aku ini bukan calon suami yang baik?" Randika berkata seperti ini dengan senyuman nakalnya. Ketika Viona mendengar kata-kata ini, dia tidak bisa menahan rasa malunya dan menundukan kepalanya. Sepertinya Randika mendengar pembicaraannya dengan ibunya sebelumnya. Lalu dengan tangan kanannya, Randika mengelus kepala Viona dengan lembut dan memintanya untuk menatapnya. Ditatap oleh mata lelaki yang dicintainya, Viona mengambil inisiatif untuk menciumnya. Randika yang tiba-tiba dicium itu tidak bisa menghentikan dirinya untuk meminta lebih dari sekedar ciuman. Setelah tangan Randika bermain di seluruh tubuhnya, Viona justru menyukai perasaan ini. Sambil terus memainkan lidahnya, Viona merasa seluruh tubuhnya menjadi panas. Randika dan Viona benar-benar tenggelam dalam dunia mereka sendiri hingga lupa di mana mereka berada. Setelah beberapa detik berciuman panas, tiba-tiba ada suara membentak terdengar dari samping mereka. "Hei! Kalian tidak punya malu atau apa? Ini rumah sakit bukan hotel!" Bentakan keras ini membuat Viona tersadar dan terkejut. Randika sendiri merasa malu dengan sendirinya ketika dia dimarahi oleh seorang perawat yang menatapnya dengan tajam. Viona tidak tahu kerasukan apa hingga berani melakukannya di tempat umum seperti ini. Randika hanya terus meminta maaf pada perawat itu dan langsung keluar dari rumah sakit. Melihat sosok kedua pasangan itu pergi, si perawat bergumam pada dirinya sendiri. "Mentang-mentang lagi kasmaran pamer ke orang lain. Aku sendiri juga kepengin pamer seperti itu tahu!" Ternyata perawat itu hanya iri pada mereka karena dirinya sudah menjomblo sejak lahir. Setelah keluar dari rumah sakit, Randika berencana pulang ke rumah. Sup obat jatah hari ini belum dia minum. Lagipula kantornya sedang tidak ada pekerjaan hari ini jadi tidak ada alasan untuk dirinya tidak bermalas-malasan hari ini. Saat tiba di rumah, ketika dia membuka pintu, hidungnya merasakan aroma yang pekat. Kenapa ada aroma wine yang pekat menyebar di dalam rumahnya? Dengan wajah kebingungan, Randika mengendus dan mengikuti jejak-jejak bau itu hingga ke sumbernya. Lalu dia akhirnya sadar bahwa bau itu berasal dari basemen rumahnya. Basemen rumahnya merupakan tempat Inggrid menyimpan wine miliknya. Namun, Inggrid tidak sering meminumnya. Dia hanya mengeluarkannya ketika menjamu orang-orang penting jadi dia tidak sering membuka pintu basemen ini. Ketika dia semakin mendekati basemen, aroma wine ini semakin pekat dan bervariasi. Aroma yang memabukan ini membuat dirinya ingin minum juga. Ketika lampu basemen dia nyalakan, Randika langsung menyapu seluruh ruangan dengan penglihatan supernya. Apa yang dia lihat benar-benar mengejutkan dirinya. Benar, seorang Ares terkejut. Setelah berkeliling dunia bertahun-tahun, dia telah melihat hampir seluruh kejadian yang belum pernah orang alami seperti kejamnya perang, dikejar oleh ratusan orang bersenjata. Tetapi kejadian di depan matanya ini baru pertama kali dia lihat seumur hidupnya. Dia tertawa dalam hati dan suasana hatinya benar-benar senang. Ini benar-benar seperti mereka berdua ditakdirkan bertemu. Di basemen ini, seorang bayi dengan setinggi lutut itu tampak sedang berteriak keras tidak jelas. Suara itu terdengar jelas seperti rengekan seorang bayi yang dotnya diambil. Di tangan putihnya yang gemuk itu dia masih terlihat memegang erat botol wine yang dia sayang bagaikan harta karun. Dia tampak kesusahan membuka penutupnya. Di rak terlihat sudah ada 2 botol yang menghilang dari sana dan ternyata 2 botol itu sudah terguling hingga menabrak tembok dalam keadaan kosong. Boneka ginseng itu sedang mabuk! Harus dikatakan bahwa boneka ini benar-benar kuat minum, 2 botol wine sendirian benar-benar bisa membuat orang dewasa tergeletak tidak sadarkan diri. Melihat hal ini, Randika tidak segera menangkapnya. Hari ini suasana hatinya sedang baik dan berkat bantuan boneka ini nenek Viona juga selamat dari maut. DIa memutuskan untuk membiarkannya dan melihat situasi terlebih dahulu. Dia ingin lihat bagaimana boneka itu akan lari dalam keadaan mabuk berat seperti itu. Randika perlahan mendekatinya. "Ah!" Boneka ginseng ini jelas sedang mabuk berat, ia sama sekali tidak sadar kalau Randika mendekat. Dan ketika Randika 2 langkah sebelum mencapai dirinya, barulah ia berteriak terkejut dengan wajah merahnya. Boneka itu tetap memegang botol wine yang hendak diminumnya. Tubuh kecilnya itu terhuyung-huyung terus menerus, bahkan berdiri saja susah baginya. Bahkan hanya butuh hembusan angin untuk merobohkan tubuhnya. Namun, tiba-tiba boneka ginseng ini menghentakan kaki kanannya ke depan dan mulutnya berteriak "Ciat!". Tangannya memasang pose menyerang, ia merasa dirinya adalah dewa mabuk. Melihat boneka ini, Randika merasa kejadian berikutnya akan menarik. Tentu saja, botol wine yang dipegangnya ia taruh dan dengan satu sapuan kakinya ia berhasil memecahkan ujung botol tersebut dan meminumnya. Setelah selesai meminumnya, boneka itu kembali terhuyung-huyung. Kali ini dia bagaikan sedang menari dengan irama musik yang liar. Terkadang pantanya itu bergoyang-goyang ke arah Randika. Boneka ini merasa bumi ini terus berputar, ia tidak tahu di mana ia sekarang berada. Randika lalu duduk bersila di depan boneka ini. Sambil tersenyum, dia menjulurkan tangannya dan memintanya untuk naik ke atasnya. Namun, boneka ginseng itu justru menampar tangan Randika. Seolah memintanya untuk pergi dari tempat ini. Dasar orang mabuk! Meskipun begitu, Randika masih tersenyum dan justru mengelus-elus pipi si boneka. Dengan kaki yang tidak bertenaga, jari Randika itu justru membuatnya tidak bisa berdiri dengan stabil. "Ah!" Boneka itu terus-menerus mencoba bertahan untuk berdiri di bawah serangan jari Randika, setiap detiknya ia akan berjalan mundur. Akhirnya dia tidak bisa bertahan lagi dan akhirnya jatuh dan terduduk di lantai. Melihat hal ini Randika tidak bisa menahan tawanya. Setelah terjatuh, boneka ini merasa dirinya tersadar kembali. Setelah menggeleng-gelengkan kepalanya, ia menyadari ada sesosok manusia berdiri di hadapannya. Setelah pandangannya mulai kembali, entah kenapa dia merasa familiar dengan wajah itu. Kemudian wajah senyum Randika nampak jelas di mata si boneka ginseng ini. Dalam sekejap ia langsung panik. Ketika dia hendak kabur ke dalam tanah, Randika sudah berhasil menangkapnya. "Kali ini kau tidak bisa lari." Kata Randika sambil tertawa. Tangan kanannya berhasil menggenggam erat boneka ginseng ini. Chapter 141: Randika di Hati Ibu Ipah Boneka ginseng ini berusaha melepaskan dirinya selama beberapa saat, tetapi semua itu percuma. Genggaman tangan Randika benar-benar luar biasa kuat. Setelah sukses menangkap boneka ginseng ini setelah sekian lama, tanpa berpikir panjang Randika langsung menuju dapur dengan wajah penuh gembira. Sebelum boneka ini diolah menjadi obat, lebih baik menggorengnya atau merebusnya? Boneka ginseng ini benar-benar terlihat enak. Tetapi apakah efeknya akan berbeda kalau metode mengolahnya berbeda? Randika lalu berpikir sejenak sambil memandang boneka ginseng yang ada di tangannya. Namun, dia melihat bahwa wajah boneka itu terlihat sangat memelas dan kedua matanya membengkak seakan-akan telah menangis seharian. Randika tidak peduli dan merasa bangga. Sekarang di mana sikap arogan milik si boneka ginseng ini? Setelah mengambil tali rafia, Randika mengikat erat si boneka ginseng ini dan membuatnya melayang di udara. Kali ini boneka itu tidak akan bisa lepas dari dirinya. Randika hanya tertawa melihat boneka itu bergelantungan di udara. Namun, boneka itu terlihat sedang memohon pada Randika agar dia melepaskan dirinya sambil mengeluarkan suara orang sedang bersedih. Melihat boneka ini, Randika merasa hatinya sedikit tergerak. Mungkin merebus dan membuatnya menjadi obat bukanlah keputusan yang bagus. Tetapi pemikiran tentang luka di tubuhnya dan pengkhianatan Bulan Kegelapan dan yang lain, membuat tekad Randika menjadi bulat. Demi keberlangsungan hidupnya dan menjaga teman-temannya, dia harus menyembuhkan dirinya. Setelah merebus boneka ginseng ini, Randika berniat membawanya kembali ke gunung untuk diberikannya pada kakek ketiga. Baru setelah itu kakeknya dapat membuat obat bagi dirinya. Terlebih dengan pengetahuan kakeknya mengenai teknik pengobatan tradisional, kakeknya itu bisa memaksimalkan potensi dari boneka ginseng ini. Bagaimanapun juga, seluruh tubuh boneka ginseng itu merupakan harta karun. Setelah sempat ragu, Randika menyalakan kompor dan merebus air. Dia lalu mengambil sehelai kain dan sudah siap untuk membungkus boneka ginseng itu. Namun, boneka itu tiba-tiba mengeluarkan suara tangisnya. Boneka ginseng, yang melihat dirinya akan mati, menangis sejadi-jadinya. Mendengar suara tangisan boneka ini, hati Randika kembali melunak. Dia hanya menatap bingung pada boneka ginseng tersebut. Boneka itu benar-benar merasa putus asa, dia menangis seperti bayi dengan tangannya terus menggosok matanya. Bahkan air matanya berwarna putih. Boneka ini ternyata menangis sungguhan? Randika terkejut, boneka ini benar-benar seperti makhluk hidup. Tiba-tiba Randika langsung merasa tidak tega. Bagaimanapun juga, boneka ginseng ini merupakan makhluk hidup yang berhasil hidup setelah tertanam dan menyerap esensi bumi selama ratusan tahun. Namun, pikirannya masih dipenuhi oleh godaan untuk menyembuhkan tubuhnya yang terluka itu. Randika benar-benar terjebak di dua pilihan yang sulit. Di satu sisi dia merasa kasihan pada boneka ginseng ini, di lain sisi dia kepikiran dengan kondisi tubuhnya. "Hei ayolah, kenapa kau tiba-tiba menjadi cengeng?" Kata Randika. Tetapi boneka ginseng itu sepertinya tidak dapat mendengarnya karena masih ketakutan kehilangan nyawanya. Justru ia makin keras menangisnya. "Aku sebenarnya tidak ingin membuatmu menjadi obat. Aku hanya ingin sebagian darimu untuk membantuku memulihkan diriku." Kata Randika sambil menggarukan kepalanya. Boneka ginseng itu masih tidak memperhatikan dirinya, bahkan daun di atas kepalanya ikut layu. Ia tampak menyedihkan. Randika mengerutkan dahinya, hatinya masih merasa ragu. Setelah beberapa saat, Randika tersenyum pahit. "Lukaku ini sangat parah, aku harus bertahan hidup demi orang-orang sekitarku. Aku harap kamu mengerti." Lagi-lagi dia masih dicueki dengan si boneka ginseng itu. Ia masih menangis sambil terkadang memohon pada Randika untuk melepaskannya. Dihadapi dengan keimutannya, Randika benar-benar sudah tidak tahan. Jika boneka ginseng ini hanya sebuah ginseng biasa, dia sudah merebusnya sejak lama. Tetapi boneka ini berbeda. Bisa dikatakan ginseng ini merupakan makhluk hidup bukan tanaman. Kehidupan yang dibentuk oleh ratusan tahun. Randika menghela napas dalam-dalam, lalu dia memotong tali rafianya dan melepaskan ikatan pada boneka ginseng. Randika lalu berkata dengan wajah sedih. "Aku akan membiarkanmu pergi kali ini. Lain kali kalau aku berhasil menangkapmu jangan harap ini terulang lagi. Pergilah." Setelah memotong tali tersebut, hati Randika masih menyimpan rasa tidak rela. Sejak kapan dia melunak seperti ini? Benar-benar disayangkan. Memalingkan wajahnya, Randika kemudian merebus sup obat resep kakeknya itu. Suara tangis boneka ginseng itu perlahan sudah tidak terdengar. Melihat sosok Randika yang mengabaikannya itu, boneka ini masih tidak dapat mempercayai apa yang telah terjadi. Tatapan matanya menjelaskan semuanya, kamu akan melepaskanku? Mengangkat tangannya, boneka ini tersadar bahwa tali yang mengikatnya sudah tidak ada dan dia benar-benar bisa pergi dari sini. Randika terlihat memotong-motong dan sibuk merebus. Ketika dia tersadar bahwa boneka ginseng itu masih ada di sini, dia mengerutkan dahinya. "Kenapa kamu tidak pergi? Kamu mau ikut masuk ke dalam panci ini?" Namun, boneka ginseng ini terlihat tersenyum dan lari ke arah kaki Randika. Ia lalu merangkak naik dan duduk di pundak Randika. Baru saja dia melepaskannya ternyata boneka ini sudah mau mengejeknya lagi? Namun, ternyata boneka ginseng itu malah mencium pipi Randika! MUACH! Suaranya sangat keras dan sangat jelas. Hal ini membuat Randika menjadi bingung, boneka ginseng ini juga memiliki perasaan? Di dalam hatinya Randika tidak tahu harus menangis atau bahagia. Dia adalah orang yang memiliki prinsip. Selain dari laki-laki, orang yang sudah tua, orang jelek, siapapun boleh mencium dirinya. Dia tidak menyangka bahwa makhluk supernatural seperti boneka ginseng ini akan menciumnya. Sepertinya prinsipnya ini harus diubah ke depannya, hanya manusia yang boleh menciumnya. Sekarang wajah Randika dipenuhi dengan senyuman pahit. Namun, boneka ginseng itu benar-benar sedang gembira. Dia masih duduk di pundak Randika dan merangkul lehernya. Kemudian dia mencium pipi Randika sekali lagi. "Sudah terserah kamu saja deh." Randika hanya bisa pasrah dicium. Sejak kapan boneka ginseng ini punya perasaan padanya, bukannya semenit yang lalu dia berusaha merebusnya? Kemudian boneka ginseng itu tetap duduk di pundak Randika dan melihat panci rebusan obat itu. Setelah berpikir sesaat ia menjulurkan tangannya. Randika menatapnya dengan ekspresi penasaran, setelah itu dia melihat bahwa ada manik-manik berwarna putih keluar dari tangan si boneka ginseng. Sesaat kemudian boneka ginseng itu menjulurkan tangannya pada Randika. Randika terkejut karena boneka ginseng ini mau memberikan darahnya yang berharga itu padanya. "Untukku?" Tanya Randika untuk memastikan. "Hmm." Boneka itu menganggukan kepalanya sambil memberikannya pada Randika. Melihat manik-manik ini, Randika merasa senang. Dia sudah melihat sendiri keajaiban yang dibawa oleh setetes darah dari boneka ginseng. Dia dengan cepat mencari tabung reaksi dan menyimpannya. Lalu Randika berkata sambil tersenyum. "Kalau begitu kita impas." Pada saat yang sama, pintu rumahnya terbuka. Randika lalu menyadari bahwa Ibu Ipah telah kembali dari pasar. "Selamat datang." Kata Randika sambil tersenyum. "Lho nak Randika kok sudah pulang?" Wajah senyum Ibu Ipah itu segera berubah ketika dia melihat sosok boneka yang ada di pundak Randika. Apakah itu adalah boneka sesuai dugaannya? Ibu Ipah mengerutkan dahinya dan menyipitkan matanya. Boneka itu benar-benar mirip dengan apa yang dilihatnya dalam buku. "Ah iya, perkenalkan ini adalah boneka ginseng. Ini semacam keajaiban alam." Melihat Ibu Ipah yang terdiam, Randika segera menjelaskan. Dugaannya benar! Ibu Ipah benar-benar terkejut. Dan ketika Ibu Ipah berusaha memegangnya, boneka ginseng ini mengeluarkan suara "ah!" dan melompat turun dari pundak Randika. Boneka itu benar-benar hidup! Keterkejutan Ibu Ipah sudah mencapai puncaknya. Dia awalnya tidak mempercayai isi buku yang dibacanya tetapi setelah melihat secara langsung dia hanya bisa tertegun. Keajaiban alam, esensi bumi dan langit yang menciptakan kehidupan. Namun pada saat ini boneka ginseng itu terlihat melambaikan tangan pada Randika dan menghilang tanpa jejak. "Ke mana dia pergi?" Ibu Ipah berusaha mencarinya. "Oh, dia mungkin pergi lagi. Lain kali pasti dia kembali ke rumah ini lagi." Kata Randika sambil tersenyum. Melihat senyuman dan ketenangan dalam diri Randika, Ibu Ipah merasa harus meninjau ulang Randika. Pada awalnya dia hanya mengira Randika hanyalah orang biasa. Namun, setelah beberapa serangan dalam rumah dan di rumah sakit, dia merasa bahwa Randika bukan orang biasa. Tetapi dia tidak terlalu memikirkannya karena ilmu bela diri yang dikuasai Randika itu mungkin berasal dari ajaran orang tuanya agar dia bisa mempertahankan dirinya. Jadi Ibu Ipah tidak terlalu memedulikannya. Dalam hatinya selama ini, Ibu Ipah hanya menilai bahwa Randika adalah orang biasa yang bisa berkelahi. Tetapi setelah kejadian ini nampaknya dia harus mengubah penilaiannya. Bisa dikatakan bahwa boneka ginseng itu sangat tidak ternilai harganya. Bagaimana mungkin Randika terlihat akrab dengannya? Menurut buku yang dibacanya, boneka ginseng benar-benar sulit untuk ditemukan dan ditangkap. Jelas Randika memiliki teknik tersembunyi hingga boneka ginseng itu tidak menganggap Randika sebagai ancaman. Sekarang sosok Randika menjadi sosok mencurigakan dan perlu diawasi dalam hati Ibu Ipah. "Sepertinya nona berurusan dengan orang tidak biasa." Ibu Ipah menghela napas di dalam hatinya. Namun, dia merasa sedikit lega karena kabarnya ayahnya Inggrid mengirim orang untuk membantu dirinya. Dengan bantuan tambahan itu, jika Randika macam-macam dengan nona mudanya maka dia tidak perlu khawatir lagi. "Oh iya, ibu hari ini mau masak kepiting lho. Nanti ibu akan memasaknya untuk makan malam." Randika langsung bergembira, masakan Ibu Ipah benar-benar enak. Mendengar kata kepiting mungkin dia bisa menghabiskan 10 kg kepiting kalau dia mau. "Aku sudah tidak sabar!" Kata Randika sambil tersenyum. Setelah meminum sup obatnya, Randika kembali ke kamarnya dan menghubungi Yuna tentang kemajuan pembangunan markasnya. Mereka berbincang-bincang cukup lama dan tanpa sadar waktu menunjukan pukul 6 sore, istri tercintanya harusnya sudah pulang. Dengan cepat Randika mandi dan turun ke lantai 1. Melihat bahwa Inggrid belum pulang, Randika mengobrol dengan Ibu Ipah yang sedang memasak itu sambil menunggu. Kali ini Inggrid tidak terlalu sibuk jadi dia pulang tepat waktu. Sambil menunggu Inggrid ganti pakaian, Randika sedang mencicipi bumbu yang ada pada kepiting itu. Benar-benar enak seperti Inggrid. Eh! Maksudku bukan begitu, kenapa dirinya memiliki pemikiran seperti itu? Tapi pemikiran itu tidak sepenuhnya salah. Ketika dia melihat istrinya yang cantik itu, dia benar-benar ingin memakannya. Chapter 142: Viona yang Sexy Setelah makanan sudah siap, akhirnya mereka berdua mulai makan. "Sayang, kau harus coba makan kepiting yang ini. Daging di dalamnya pasti banyak." Kata Randika sambil meletakan seekor kepiting di piring Inggrid. "Tahu dari mana kalau isi daging kepiting yang ini banyak?" Inggrid penasaran. "Sayang, itu simpel." Randika lalu menjelaskan sambil tersenyum. "Coba kamu perhatikan kepitingmu itu. Besar dan gendut apalagi kedua bola matanya itu. Meski sudah mati tatapan matanya terlihat kuat dan besar. Jelas bahwa selama dia masih hidup dulu dia makan dan bermain perempuan layaknya seorang raja. Ah, maksudku bukan begitu. Dulunya dia pasti raja dari para kepiting lainnya jadi dagingnya pasti banyak dan enak." Mendengar ocehan Randika yang tidak masuk akal itu, Inggrid hanya memalingkan wajahnya dan terdiam. Dia ingin menikmati hidangannya ini dalam keadaan hening. "Ibu Ipah, makanan yang kau masak ini luar biasa! Cobalah." Ketika dicueki oleh Inggrid, Randika beralih ke Ibu Ipah. "Maaf nak Randika, aku nanti akan makan sendiri di belakang." Kata Ibu Ipah sambil tersenyum. "Sebagai suaminya, Anda lebih baik menikmati makan malam ini berdua dengan nona." Tapi aku dicueki bu! Randika sungguh ingin menangis sekarang. Ketika mendengar kata-kata Ibu Ipah, Inggrid menatapnya. Kenapa Ibu Ipah tiba-tiba seperti setuju kalau pria ini adalah suaminya? Meskipun perasaan curiga dan waspada masih tergenang di hatinya, Ibu Ipah tetap percaya bahwa Randika adalah sosok yang tepat bagi nona mudanya itu. Bahkan Randika pasti bisa memberikan kebahagian pada majikannya yang sudah dia anggap anaknya itu. Sekarang adalah bagaimana caranya Randika meyakinkan keluarga besar Inggrid. Mengingat masalah itu, Ibu Ipah hanya bisa menghela napas dalam hati. ...ˇ­ Keesokan harinya Randika dan Inggrid berangkat bersama menuju kantor. Seperti biasa mereka berpisah setelah mencapai kantor. Randika segera pergi ke ruangannya dan seluruh bawahannya menyapanya sambil tersenyum. "Wah pak bos terlihat sehat hari ini. Bapak habis main wanita ya kemarin?" "Waduh pak, kenapa tidak bilang-bilang? Jangan-jangan kemarin yang kulihat itu bapak ya?" Karena Randika dari awal sudah merupakan sosok yang mudah diajak bergaul, para bawahannya ini senang bercanda dengannya apalagi setelah liburan mereka ke pulau kura-kura. Ikatannya dengan para bawahannya ini sudah seperti seorang sahabat tetapi dalam pekerjaan mereka tetap profesional. Namun terlepas dari pekerjaan, candaan ringan dan mesum kadang menjadi obrolan hangat para lelaki di ruangan ini. Maklum seorang laki-laki akan bercanda seputar wanita. "Selamat pagi pak Randika." Beberapa ahli parfum perempuan lainnya juga menyapa Randika. Randika menyapa mereka semua satu per satu. Namun pada saat ini dia melihat sosok Viona di pojok ruangan. Ketika dia melihat Viona, dia tidak bisa menahan air liurnya. Kenapa Viona terlihat sexy hari ini? Viona hari ini sedang memakai setelan blouse putih dengan pita di bawah lehernya. Yang membuatnya sexy adalah betapa ketatnya baju itu dan warna hitam dari behanya benar-benar nampak. Belum lagi rambutnya yang terurai itu apalagi ditambah dengan senyuman manisnya. Siapapun akan meleleh ketika mendapatkan senyumannya itu. Namun kecantikannya tidak sampai di situ saja, di bagian bawahnya dia memakai rok pensil yang ketat. Rok tersebut berhasil menonjolkan kedua bakpau yang kenyal itu, Randika benar-benar ingin meremasnya. Mengingat koleksi pakaian dalamnya, di balik rok itu pasti ada kejutan yang menyenangkan. Apalagi hari ini Viona memakai lance stocking yang setengah transparan. Perasaan ingin tidur di pangkuan pahanya itu benar-benar luar biasa menggoda. Penampilan sexy Viona ini membuat darah Randika mendidih, dia harus menunduk sementara untuk menyembunyikan adiknya yang bangun itu. Ruangan ini penuh dengan orang, Randika tidak bisa bermain dengan Viona sembarangan. Dia benar-benar ingin merobek baju itu dan meremas kedua gunung itu dengan tangan kosongnya. Melihat bahwa Randika menatapnya, Viona langsung tersipu malu. Namun dia memberanikan diri untuk membalas tatapan Randika dan tersenyum manis. Sialan, dia malah tersenyum begitu manis padaku! "Pagi Viona." Randika menghampiri Viona sambil tersenyum. Dia lalu berbisik padanya. "Hari ini kau begitu cantik, maukah kamu pergi bersamaku ke toilet?" Mendengar pujian Randika itu Viona merasa senang. Namun, setelah mendengar kata-kata toilet dia langsung tersipu malu. Kejadian mereka berdua sebelumnya di toilet itu benar-benar memalukan baginya. Melihat Viona tidak membalasnya sama sekali, Randika lalu berkata padanya sambil tersenyum. "Vi, bisa minta tolong ikut aku sebentar? Ada barang yang perlu aku bawa dari lantai bawah." "Baiklahˇ­" Wajah Viona masih terlihat merah, apakah ini taktik Randika untuk membuatnya mereka berduaan? Tidak ingin membuat orang curiga, Randika perlu membawa Viona keluar dari ruangan dengan alasan yang jelas. Setelah mereka berdua keluar, beberapa ahli parfum ini mulai bergosip dan berdiskusi. Cara Randika membuat alasan benar-benar payah jadi mereka sudah mencium kecurigaan ini jauh-jauh hari. Di mata mereka, Randika terlalu sering meluangkan waktu dengan Viona yang pengalamannya masih sedikit itu. Jelas bahwa dia tertarik pada wanita berumur 20an itu. Namun, sangat terlihat jelas bahwa Viona juga tertarik dengan Randika. Jadi tidak heran apabila mereka berdua mulai pacaran. "Sayang sekali perempuan tercantik di kantor kita ini jadi milik pak Randika." Kata salah satu orang. Lalu temannya hanya bisa tertawa mendengarnya. "Bro, jangan harap dia mau sama kamu!" Semuanya ikut tertawa. "Sudah jangan dipikirin, masih banyak bunga-bunga yang bermekaran. Bunga yang lain pasti akan segera datang." "Ini sebabnya aku tidak mau ikut berdiskusi kali ini. Jelas-jelas aku tidak kalah cantik tetapi kalian sama sekali tidak merebutkan diriku." Ahli parfum perempuan ini menghela napas. "Nampaknya aku ditakdirkan mati sendirian." Mendengar hal ini semua kembali tertawa dan salah satu menjawabnya. "Bisa jadi, bisa jadi." "Wah iya, kalau dilihat-lihat kamu cantik juga ya." Kata pria yang patah hati tadi. "Sudah terlambat, aku tidak akan tergoda sama kamu!" Suasana gembira ini berlangsung sesaat setelah muncul sebuah pertanyaan yang membuat mereka semua berpikir. "Bukankah pak Randika itu suaminya bu Inggrid ya?" "Nah itu masalahnya, aku jadi bingung mana yang benar." "Aduh jaman sekarang punya istri dan kekasih gelap bukannya wajar?" "Hush, ngomong apa kamu!" Pada saat ini, atasan mereka yang lain, Kelvin, masuk dan melihat mereka semua tidak bekerja. Dengan nada marah Kelvin berteriak. "Apa yang kalian lakukan? Cepat kembali bekerja!" Melihat atasannya yang marah itu, para ahli parfum ini kembali sibuk dan mengerjakan tugas mereka. Sedangkan Randika, dia membawa Viona ke ruangan kosong. Karena lantai 9 merupakan lantai khusus departemen perkembangan dan uji coba parfum, banyak ruangan kosong di lantai ini. Setelah menutup pintu, Randika dengan cepat memeluk pinggang Viona dan menciumnya. Viona menerima cinta Randika ini dengan senang hati. Dengan napas menggebu-gebu, mereka berciuman sambil meraba satu sama lain. Hari ini Randika tidak bisa menahan diri untuk tidak meremas pantat Viona. Mau bagaimana lagi, hari ini Viona benar-benar sexy! Randika memuji penampilan Viona hari ini tetapi Viona sendiri sepertinya sudah tidak bisa berpikir. Dengan wajah yang linglung, Viona hanya bisa merasa kecewa ketika bibir Randika lepas dari bibirnya. "Vi, apa kau hari ini berpakaian sexy seperti ini untuk menggodaku?" Tanya Randika. "Pikir saja sendiri." Viona terlihat memalingkan wajahnya, dia terlalu malu mengakuinya. Dia sendiri aslinya malu berpakaian seperti ini saat pergi ke kantor tadi pagi. Jika bukan untuk Randika, buat apa dia berpakaian seperti ini? Chapter 143: Pertemuan Randika dengan Deviana Seorang perempuan akan berdandan habis-habisan kalau demi pujaan hatinya, Randika merasa hal ini cukup benar. Sepertinya Viona sudah jatuh di dalam pelukannya. Jadi meneruskan ini sampai ke babak utama harusnya tidak masalah! Kemudian Randika kembali merangkul Viona. Sambil menggigit telinganya, kedua tangannya meremas-remas pantatnya yang kenyal itu. Asyik! Viona tidak bisa menahan desahan nikmatnya. Dia sendiri tidak percaya bahwa dia bisa mendesah erotis seperti itu. Randika memang benar-benar mengenal dirinya baik tubuhnya maupun hatinya. Viona sudah tidak bisa menahan perasaan sukanya ini. Sudah lama dia membuka hati dan tubuhnya pada Randika. "Vi, jawab aku dengan jujur atau aku akan menghukummu." Randika berbisik di telinga Viona. Viona saat ini sudah tenggelam dalam kenikmatan dan napasnya sudah terengah-engah. Melihat Viona yang sudah mulai lemas ini, Randika teringat sosok kucing yang tidak mau lepas dari majikannya. Sepertinya dia berhasil membuat Viona keluar? Randika sedikit terkejut sekaligus merasa senang. Sepertinya teknik miliknya ini tidak berkarat meskipun sudah lama tidak bermain. Di masa lalu, dia berhasil membuat perempuan-perempuan Eropa yang liar itu keluar dalam hitungan detik berkat tekniknya itu. Ah, kenapa aku melantur seperti itu? Yang membuat Randika khawatir adalah mereka sekarang masih berada di perusahaan tempat mereka bekerja. Terlebih mereka sedang ada di ruangan kosong dan tidak ada kasur, apakah mereka akan melakukannya dengan berdiri? Meskipun Randika tidak masalah dengan hal tersebut, bagaimanapun juga, ini adalah pengalaman pertama Viona, tidak mungkin Randika melakukannya di tempat seperti ini. Belum lagi nanti cara berjalannya Viona tidak karuan. Viona sendiri masih berdiri linglung melihat Randika, dia baru pertama kali merasakan sensasi keluar yang nikmat seperti ini. Memang dibuat keluar oleh orang lain berbeda dengan melakukannya sendiri. Setelah berpikir sejenak, Randika memutuskan tidak meneruskannya. Dia sendiri sudah merasa puas berciuman dan membuat Viona keluar. Kalau mereka sampai melakukannya, dia khawatir rumor akan beredar dan itu tidak bagus untuk karier Viona. Setelah menenangkan diri, Viona membetulkan roknya. Roknya menjadi saksi bisu kebrutalan tangan Randika sebelumnya. Belum lagi celana dalamnya yang basah itu harus dia tutupi seharian ini. Setelah mempersiapkan diri, keduanya keluar dari ruangan dengan santai. Randika lalu tersenyum saat melihat sosok punggung Viona. Sepertinya dia harus melatih Viona beberapa kali lagi sampai dia benar-benar tidak bisa lepas dari dirinya. Sifat masokis Viona mungkin juga akan makin kuat seiring berjalannya waktu. Viona hanya bisa berjalan sambil menundukan kepalanya. Ketika mereka berduaan Viona tidak bisa menahan rasa sukanya pada Randika tetapi, ketika mereka di depan publik Viona masih merasa malu untuk mengungkapkannya. Keduanya lalu kembali bekerja. ...ˇ­ Saat makan siang, Randika awalnya ingin mengajak Viona untuk makan bersama. Tetapi, dia melihat bahwa Viona sudah diajak oleh ahli parfum lainnya. Demi kerahasiaan mereka, Randika hanya bisa pasrah. Di perusahaan ini memang ada kantin tetapi kebanyakan orang senang makan di luar sambil menghirup udara segar ataupun memesan makanan. Bahkan Inggrid seringkali memesan makanan dari luar. Karena bosan dengan makanan kantin dan sedang tidak ada promo delivery, Randika memutuskan untuk makan di luar. Dia berjalan keluar dari gedung dan langsung disambut teriknya matahari. Randika cuma bisa menghela napas menghadapi panas matahari ini. Mau tidak mau, dia berjalan menuju restoran di dekat perusahaannya. Melihat-lihat restoran yang ada, Randika menyadari ada sosok familiar yang juga sedang berjalan. Bukankah itu Deviana? Sedang apa bunga indah dari kepolisian Cendrawasih ini? Melihat sosok Deviana yang tidak sendirian, Randika mengerutkan dahinya dan memutuskan untuk mengikutinya. Suasana hati Deviana sedang tidak bagus. Dia benar-benar memasang ekspresi jijik dan tegas di wajah cantiknya hari ini. Mungkinkah karena teman berjalannya itu? "Dev, makanan hotel itu enak-enak. Terakhir kali aku menginap, makanannya benar-benar mengena di perut." Teman berjalan Deviana hari ini adalah pria paruh baya bernama Yosef. Dengan senyuman di wajahnya, dia dengan santai menjulurkan tangannya dan berniat untuk merangkul pinggal Deviana. Namun reaksi Deviana jauh lebih cepat, dalam sekejap dia sudah menghindar. Tetapi Yosef sendiri juga cepat dan berhasil memegang pinggang ramping Deviana itu. Deviana terkejut dengan kecepatan pria ini, tangannya dengan cepat menyingkirkan tangan Yosef itu dari pinggangnya sambil mengatakan. "Maaf, aku gila kebersihan." "Ha ha ha." Yosef hanya bisa tertawa. "Kamu memang menarik. Tidak banyak orang yang berani melawanku. Sifat keras kepalamu itu cukup menarik." "Baiklah cepat kita pergi!" Kali ini Yosef tidak merangkul maupun menggandeng Deviana, dia hanya berjalan menuju hotelnya menginap. Tatapan mata Deviana benar-benar sedingin salju, tetapi dia hanya bisa mengikuti orang itu. Deviana benar-benar tidak ingin menemani pria berengsek itu, tetapi dia terpaksa. Lebih tepatnya dia bukan menemani pria itu tetapi dia sedang menjalankan tugas. Ketika dirinya pagi ini datang ke ruangan direktur karena panggilan tugas, dia menemukan atasannya itu sedang berbicara dan bercanda dengan pria bernama Yosef itu. Lalu secara tiba-tiba Yosef ingin dirinya menemaninya hari ini. Tentu saja Deviana menolaknya tetapi direkturnya berkata padanya dengan nada dingin. "Orang ini adalah tamu kehormatan dari kota besar. Kamu tidak bisa menolak permintaannya. Tuan Yosef akan berada di kota ini selama beberapa hari dan kamu harus menemaninya selama dia ada di sini." Dengan kata lain, Deviana sedang dijual! Ketika Deviana ingin menolaknya, atasannya itu dengan cepat membentak dirinya. "Ini adalah perintah!" Mau tidak mau, Deviana menemani Yosef pergi ke mana pun selama dia di kota Cendrawasih. Sepanjang jalan Deviana hanya bisa memasang ekspresi cemberut dan dingin, sama sekali tidak mau berbicara. Namun, Yosef sama sekali tidak peduli. Dia hanya terus berbicara tanpa henti dan memuji pemandangan kota Cendrawasih yang berkembang ini. Sekarang dia telah membeli sebotol wine dan akan menikmatinya di kamar hotelnya. Dia akan melihat bagaimana polisi cantik ini melayani dirinya ketika sudah berada di kamarnya. "Jangan khawatir, setelah beberapa hari bersamaku aku bisa menjamin posisimu hanya lebih rendah dari direktur. Bahkan ketika bajingan itu pensiun, kamu akan menggantikannya!" Lalu Yosef menatap Deviana dengan wajah tersenyum. "Tapi tentu saja, itu semua tergantung dengan pelayananmu padaku selama beberapa hari ini. Aku harap kamu bisa memuaskan diriku." "Huh!" Deviana hanya memalingkan wajahnya. "Ha ha ha, kau memang perempuan yang menarik." Yosef tidak marah, justru dia tertawa. "Beberapa hari ini kau akan menemaniku siang dan malam. Kalau tidak, siap-siaplah melepas seluruh atributmu itu dan mencari pekerjaan yang lain." "Kau mengancamku?" Deviana mengerutkan dahinya dan tatapan matanya dipenuhi dengan api kemarahan. Sebuah ancaman adalah hal yang paling dibencinya dalam dunia ini. "Sepertinya kau salah memahami kata-kataku." Kata Yosef sambil tersenyum. "Aku tidak pernah mengancam orang, aku hanya memberikan orang pilihan." Melihat Deviana yang pasrah, Yosef berkata sekali lagi. "Kamu ingin berhenti menjadi polisi?" Melihat senyuman menjijikan itu, Deviana benar-benar ingin memukulnya hingga mati. Dasar pria bajingan! Dalam hatinya Deviana sudah memaki habis-habisan orang ini. Namun pada saat ini, tiba-tiba suara orang terdengar dari arah belakang. "Oh? Selamat siang Bu Devi! Sedang mengintai lagi?" Mendengar suara ini hati Deviana benar-benar merasa lega. Entah sejak kapan namun sejak ada Randika, dia merasa bahwa ada orang kuat yang bisa dia andalkan. Mungkin hari ini dia akan bersandar pada temannya itu. Yosef juga menoleh ke arah Randika dan mengerutkan dahinya. Namun sebelum dia berhasil mengomentari kedatangan Randika, kata-kata berikut yang keluar dari mulut Randika membuatnya murka. "Hmm? Pria itu adalah penjahat yang kamu tangkap?" Chapter 144: Keluarga Alfred dari Jakarta? Siapa itu? Seperti kata pepatah, "Di alas bagai memengat." [1] Meskipun telah berkata seperti itu, Randika menunjukan sikap tidak peduli siapa orang itu yang sebenarnya. Yang jelas siapapun yang berani macam-macam sama ceweknya, jelas dia akan menghajarnya. Ketika kata-kata Randika itu terdengar di telinganya, Yosef berdiri diam di tempatnya berdiri. Matamu aku mirip penjahat, apa dia tidak melihat kalung emas 24 karat ini? Apa dia tidak melihat jam tangan Rolex Daytona yang hanya ada empat di dunia ini? Jelas perawakannya adalah seorang pengusaha kaya ataupun seorang bangsawan, bisa-bisanya orang itu mengatakan dirinya penjahat. Tatapan mata Yosef sudah dipenuhi dengan api kebencian, pertama kali dalam hidupnya dia merasa terhina seperti ini. Siapapun yang berani menghinanya tidak akan melihat matahari keesokan harinya! Deviana merasa lega ketika dia melihat senyuman wajah Randika itu. Dia lalu membalas sapaan Randika. "Benar-benar kebetulan bertemu denganmu hari ini." "Iya kebetulan aku sedang mencari makan siang. Terus aku melihat Bu Devi sedang mengawal penjahat ini. Tapi kenapa ibu tidak memborgolnya? Kalau dia lari bagaimana? Bisa-bisa dia akan menyerang dan menyandera orang-orang!" Saat di tengah perkataannya itu, Randika menatap Yosef dengan wajah cemas dan khawatir. Akting Randika benar-benar patut diacungi jempol. Kerutan dahi Yosef sudah tidak bisa bertambah lagi. Dalam hatinya Deviana merasa senang, Randika memang jago membuat malu orang. "Orang ini bukan penjahat." Namun pada akhirnya Deviana harus menjelaskan sebenarnya. "Beliau adalah tamu kehormatan atasanku, dan aku bertugas untuk mengawalnya beberapa hari ini." "Tamu kehormatan?" Wajah Randika tampak terkejut. Dia lalu tertawa canggung. "Kalau begitu maaf atas kata-kataku yang kasar tadi. Habisnya wajahnya mirip seorang penjaˇ­ Ah maksudku bukan begitu, ini semua salahku jadi aku minta maaf." Kesalahan? Kenapa dirinya merasa tindakan pemuda itu disengaja? Menahan rasa amarahnya, Yosef hanya mendengus dingin sambil mengatakan. "Aku memaafkanmu kali ini, tetapi lain kali kamu menghinaku lagi maka nasibmu tidak akan sebaik ini." Randika hanya menatapnya sambil tersenyum. "Terima kasih pak. Anda benar-benar berhati besar, pasti Anda orang terkemuka yang murah hati. Tetapi kenapa wajah Anda terlihat bengis dan kejam seperti itu? Apa dulu Anda mantan preman?" Mendengar kata-kata Randika ini Deviana hampir tertawa lepas. Randika terus mengomentari wajah pria ini yang terlihat kejam, khususnya bagian terakhir dari kata-katanya. Mana mungkin seorang tamu kehormatan merupakan mantan preman? Ketika mendengar pujian di awal kata-kata Randika, Yosef sudah merasa di atas awan. Namun ketika mendengar kata-kata selanjutnya membuat dia murka kembali dengan orang itu. "Hmm apakah mukaku semenakutkan itu?" Tanya Yosef sambil berusaha menenangkan diri. Randika justru terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya dan mengatakan. "Ah tapi orang tidak boleh menilai buku dari sampulnya. Tetapi wajah Anda memang menakutkan, aku khawatir anak-anak akan menangis kalau melihat wajahmu." Melihat Randika yang terus menerus berkomentar negatif tentang, akhirnya Yosef sudah tidak tahan dan seluruh amarahnya itu meluap-luap. Dia tidak peduli dengan anak-anak dari kota ini, dia datang ke kota kecil ini hanya untuk berbisnis dan bersenang-senang dengan beberapa perempuan. "Bu Devi kalau sedang senggang mungkin bisa menemaniku makan? Aku ingin membahas masalah yang kapan hari." Randika pura-pura melihat jam lalu menatap Deviana. Deviana tahu Randika sedang memberinya jalan keluar untuk pergi dari tempat ini, tetapi dirinya masih terjebak di pilihan yang sulit. Melihat bahwa dirinya dicuekin, Yosef lalu berkata dengan nada dingin pada Deviana. "Jangan lupa masa depan kariermu ada di tanganku, kalau kau masih ingin menjadi polisi maka kau harus menuruti kata-kataku." Mendengar kata-kata ini, wajah Deviana segera berubah menjadi cemberut dan jijik. Randika tiba-tiba menatap Yosef dan berkata dengan keras. "Aku tidak peduli kamu siapa tetapi kalau aku sedang berbicara dengan orang, jangan pernah menyela aku. Kalau tidak aku akan menendangmu keluar dari kota ini." Simpel dan arogan, ancaman Randika terdengar nyata. Wajah Randika terlihat sangar pada saat ini, seakan-akan dia ingin menantang orang ini bertarung. Deviana terkejut ketika melihatnya, sayang sekali Randika tidak bekerja sebagai aktor. "Oh? Memangnya bisa?" Yosef mendengus dingin. "Aku rasa orang kasar sepertimu tidak mungkin bisa berbuat seperti itu. Aku bisa menghancurkanmu hanya dengan jentikan jari. Dengar ya bocah, aku ini Yosef, suruhan dari keluarga Alfred dari Jakarta." Bersamaan dengan ini, Yosef menutup matanya, hanya mengatakan asalnya biasanya cukup membuat orang kabur ketakutan. Keluarga Alfred benar-benar terkenal di Jakarta, kekuatan keluarga itu sudah mengakar di hati para masyarakat. Namun, kata-kata Randika berikut ini membuat Yosef ingin muntah darah. "Keluarga Alfred dari Jakarta? Siapa itu?" Randika tidak yakin keluarga Alfred sekuat itu karena dia sendiri tidak pernah mendengarnya. Jadi buat apa dia takut? Kalau pun tahu ngapain dia takut? Yosef membuka matanya dan menatap Randika dengan wajah bingung. Dengan cepat ekspresinya berubah menjadi marah. Dia langsung menceritakan sejarah keluarga Alfred yang melegenda pada Randika. Namun, jika kamu menyebut nama gajah pada semut maka si semut tidak akan takut karena dia tidak tahu apa itu gajah. Dengan kata lain, Randika belum mencapai level di mana dia mengenal seluruh keluarga aristokrat di Indonesia. Setelah selesai menceritakan, Yosef yang sudah tertatih-tatih itu mengatakan. "Yang hanya kau perlu tahu adalah keluarga Alfred bukanlah lawan yang ingin kau lawan. Hanya dengan satu perintah maka kota ini bisa hancur lebur dalam 1 malam." Setelah melihat ekspresi kagum Randika, Yosef merasa puas. Untuk seekor semut seperti bocah di hadapannya untuk mengenal betapa luasnya dunia ini membuatnya sedikit bangga atas asal-usulnya. Namun, Randika menatap Deviana sambil bertanya. "Apakah kamu pernah mendengar keluarga Alfred dari Jakarta?" "Tidak." Deviana menggelengkan kepalanya, dia tidak pernah mendengar nama keluarga itu. Randika lalu menatap Yosef dan mengatakan. "Tuh kan, bualanmu ini tidak ada yang pernah mendengarnya. Aku juga berasal dari keluarga besar di kota ini, satu kata dariku bisa membuat kota ini gelap gulita. Bahkan aku bisa meminta walikota Cendrawasih turun dari jabatannya! Jadi jangan terus membual, tidak baik menyebar hoax. Kalau keluarga Alfred memang punya kekuatan seperti itu, kenapa kalian masih menapak di bumi? Lebih baik kalian berakar di atas sana saja." Kata-kata Randika ini sudah hampir membuat Yosef muntah darah. Nama besar yang telah dibangun oleh keluarga Alfred ini bisa-bisanya direndahkan oleh preman muda seperti ini. Dia merasa malu telah berdebat dengan seekor semut seperti dia. "Aku sudah muak berdebat denganmu, cepat pergi sana sebelum aku marah. Kalau tidak, jangan salahkan aku kalau kakimu atau tanganmu patah." "Wah masih saja terus membual." Randika menggelengkan kepalanya. "Sudah biar sama-sama enak bagaimana kalau begini? Aku akan pergi bersama Deviana dan membicarakan masalah kami dan kau jangan mengganggu kami." Mendengar kata-kata ini, Deviana menatap tajam Randika. Siapa memangnya yang mau pergi sama kamu? Tiba-tiba, pada saat ini suara tawa terdengar keras. "Terkadang ada orang yang tidak bisa menyadari seberapa besar bahaya yang dia terlibat." Yosef bergumam pada dirinya sendiri lalu menatap dingin Randika. "Kau pikir orang akan ketakutan melihat tatapan matamu itu?" Randika mendengus dingin. "Maju sini, perlihatkan padaku kekuatan keluarga Alfred seperti apa." Arogan! Mendengar kata-kata itu, Yosef sudah tidak tahan lagi. Setelah beberapa langkah berjalan pelan, seluruh tubuhnya melesat bagaikan panah. Memanfaatkan kecepatannya, dia mengincar dada Randika dan akan memberikan bocah kasar ini tinjunya yang mematikan. Yosef tidak menahan diri sama sekali. Serangannya ini bisa membunuh orang dengan sangat mudah. Meskipun enggan membuat keributan seperti membunuh orang, Yosef benar-benar sudah muak dengan sikap Randika. Dan apabila kasus pembunuhan ini menjadi sorotan, dia akan menggunakan koneksinya untuk bisa lolos dari tuntutan tersebut. Yosef sudah sangat percaya diri bisa membungkam lawannya ini, tetapi kadang ekspetasi tidak sesuai dengan kenyataan. Karena dia merupakan bawahan kepercayaan keluarga Alfred, dia telah mempelajari ilmu bela diri kuno dari sejak dia muda. Selama ini tidak ada lawan yang pantas merasakan kekuatannya yang sebenarnya. Namun, lawannya kali ini berhasil menangkis serangannya! Dan dilihat dari ekspresinya, lawannya ini bahkan tidak memakai kekuatan sama sekali untuk menahan serangannya! Randika menangkap tinju Yosef hanya dengan tangan kirinya. Tidak peduli seberapa kuat Yosef memberontak, dia sama sekali tidak bisa menarik tangannya. Sambil menyengir Randika bertanya. "Cuma ini?" Yosef yang mendengar ejekan ini semakin marah. Tangan kirinya dengan cepat menyerang wajah Randika. Serangannya ini cepat dan bertenaga, tetapi Randika justru menghantam tinju Yosef dengan tinjunya sendiri! Kedua tinju orang ini beradu di udara dan suara tulang retak dapat terdengar dengan jelas. Di bawah serangan tidak terduga ini, Yosef mengambil langkah mundur. Randika sudah melepas genggamannya. Yosef sepertinya tidak bisa berhenti mundur dan pada akhirnya dia terjatuh dan duduk di tanah. Dia merasakan rasa sakit yang luar biasa dari jari telunjuk dan jari tengahnya. Sudah jelas bahwa suara tulang retak tadi adalah tulang jari Yosef. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Yosef menatap Randika dengan keterkejutan sekaligus marah. Bukannya bocah itu hanya preman pasar biasa? Tidak mungkin orang seperti itu mengalahkan dirinya? Apa dia memakai senjata tersembunyi? Melihat wajah tenang Randika, Yosef takut bahwa dia akan dihabisi. Randika lalu menggelengkan kepalanya. "Ternyata bualanmu memang kamu hiperbolakan, apanya keluarga besar dari Jakarta? Dengan kekuatan seperti itu, seharusnya keluarga Alfred hanyalah keluarga sampah." "Tutup mulutmu itu!" Terprovokasi dengan kata-kata Randika, Yosef kembali menyerang. Tetapi kali ini, Deviana hanya bisa melihat sesuatu melesat di sampingnya. Dia melihat sosok Yosef yang melayang dan menabrak tembok parkiran hotel. Petugas keamanan hotel sedikit terkejut ketika mereka melihat ada orang yang tergeletak secara tiba-tiba di area mereka. Randika lalu menggelengkan kepalanya. "Kalau kamu bisa menjadi tamu kehormatan direktur polisi, bukankah aku bisa menjadi tamu kehormatan presiden?" Yosef terbatuk-batuk sejak dia menatap dinding, dia sudah muntah darah dari tadi. Serangan Randika benar-benar kuat! [1] Kalau berkata pikirlah dahulu baik buruknya agar tak dicela oleh orang lain. Chapter 145: Es Campur Melihat darah yang dirinya muntahkan, Yosef memiliki ekspresi tidak percaya. Baru saja dia mengeluarkan serangan tercepatnya dan lawannya dengan mudah mementalkannya hanya dengan satu pukulan. "Uhuk, uhuk!" Yosef masih terus terbatuk sambil menatap wajah tenang Randika. Randika lalu berjalan menghampirinya. "Jadi kita bisa menjadi orang suruhan keluarga Alfred dengan kemampuan sepertimu. Sayangnya aku ini jauh lebih kuat daripada ini. Kalau orang lain mungkin kau bisa menggertak mereka." Sambil tersenyum, Randika menggenggam tangan Yosef. "Yang aku paling tidak suka adalah sikap semena-menamu itu jadi kau harus menerima sebuah pelajaran. Kalau di hukum dunia bawah, pilih tangan yang mana?" Yosef benar-benar ingin muntah darah lagi ketika mendengarnya. "Akuˇ­ adalah orang suruhan keluarga Alfredˇ­" Bahkan sebelum Yosef selesai berbicara, Randika sudah menendang wajah Yosef hingga salah satu giginya copot. "Coba tebak aku siapa? Aku adalah preman di kota ini, semua orang akan berputar kalau melihat aku." Randika mendengus dingin dan menendangnya lagi. Rasa dominasi ini sudah lama tidak dia rasakan, masa-masa jayanya dia senang memukuli orang-orang arogan seperti Yosef ini. "Tolong hentikan." Yosef sudah diambang batasnya. Rasa sakit ini benar-benar sudah tidak tertahankan. Kenapa hari ini tidak berjalan sebagaimana semestinya? Hari ini benar-benar mimpi buruk baginya, dia harusnya menikmati hari ini di pelukan polisi cantik justru sekarang dia dihajar oleh seorang bocah. "Randika hentikan, sudah cukup. Kalau sampai ada yang mati maka masalah akan menjadi rumit." Deviana dengan cepat menghentikan Randika dan menariknya. Bagaimanapun juga, pria itu adalah tamu kehormatan direkturnya. Keadaan benar-benar akan menjadi rumit kalau dia sampai mati. "Kalau bu Devi yang mengatakannya, aku akan memberimu wajah." Randika tertawa lalu berjalan berjongkok dan berkata pada Yosef yang masih meringkuk kesakitan di bawah. "Kenapa kau masih ada di sini? Cepat berdiri dan pergi dari sini." Yosef, dengan perasaan malu, berdiri dan mengatakan dengan nada benci. "Ingat-ingat saja kejadian hari ini! Aku akanˇ­" "Apa? Kau mau apa?" Randika dengan cepat menyela dan tangan kanannya sudah terangkat. Sepertinya dia akan memukul Yosef lagi. Melihat hal itu Yosef dengan cepat bergemetaran. Lawannya kali ini benar-benar kuat, dia sama sekali tidak berdaya. "Tunggu saja pembalasanku!" Setelah berkata seperti itu, Yosef lari terbirit-birit tanpa melihat ke belakang. Kejadian berdarah ini membuat penasaran staff hotel dan orang-orang yang lewat, tetapi pada akhirnya mereka mencuekinya karena melihat ada seorang polisi di sana dan tidak ingin terlibat. Mungkin orang yang lari dan terluka itu seorang penjahat? Deviana menutupi tawanya itu dengan kedua tangannya. "Kamu memang misterius." "Kamu hanya menilai buku dari sampulnya saja, kamu masih belum mengenalku." Randika kemudian menghampiri Deviana dan menggandeng tangannya. "Karena hari sudah siang dan aku masih belum makan, ayo kita lanjut mengobrol di tempat makan." "Baiklahˇ­ APA?" Deviana terkejut mendengarnya. "Hmm? Bukankah tadi aku sudah mengatakannya? Aku ingin mengajakmu makan dan berbicara tentang masalahku, mungkin kita bisa membahas yang lain juga." Randika lalu tersenyum. "Siapa memangnya yang mau menemanimu?" Suasana hati Deviana kembali memburuk. "Aku tidak berjanji apa-apa padamu dan aku sedang sibuk. Aku harus melaporkan kejadian ini." Haloooo, bukannya aku barusan menyelamatkanmu? Sepertinya saraf cinta perempuan ini benar-benar tumpul. "Terkadang aku heran denganmu." Randika menghela napas lalu membiarkan Deviana pergi. "Lupakan saja masalah hari ini, aku sudah capek." Mendengar kata-kata tersebut, Deviana merasa sedikit tidak enak. Dia lalu berputar dan berkata pada Randika sambil tersenyum. "Terima kasih atas bantuanmu tadi." "Sama-sama, tetapi aku tidak akan melakukannya lagi." Kata Randika sambil berusaha terlihat keren. "Ran, berhati-hatilah sama orang itu." Kata Deviana dengan wajah serius. "Meskipun aku tidak tahu asal-usulnya, dia memiliki latar belakang yang kuat. Kalau tidak direkturku tidak akan menghormatinya sebegitu besar." "Aku tidak peduli sama mereka. Bahkan jika seekor naga yang datang padaku, aku akan mengulitinya. Terlebih lagi cecunguk tadi hanyalah seorang suruhan. Jika dia berani datang lagi maka aku jamin tubuhnya tidak akan meninggalkan kota ini utuh-utuh." Kata Randika. Deviana membalasnya dengan wajah marah. "Maksudku berhati-hatilah sama keluarga Alfred." "Keluarga Alfred?" Randika memiringkan wajahnya. "Aku tidak pernah mendengar nama itu, memangnya kamu pernah?" "Aku tidak pernah mendengarnya tetapi tetap saja kamu harus hati-hati." Deviana merasa berbicara dengan orang bodoh. "Jangan khawatir, bukannya keluarga itu cuma keluarga kaya lainnya?" Randika mengibaskan tangannya. "Mereka tidak akan bisa menyentuhku kalau aku tidak keluar dari kota ini." "..." Deviana sudah kehabisan kata-kata, kenapa bisa Randika bersikap begitu arogan? "Pokoknya ingatlah kata-kataku tadi, aku sekarang harus pergi." Kata Deviana. "Ah! Tunggu! Kenapa kamu terburu-buru begitu? Kita sudah tidak lama berjumpa." Melihat Deviana yang hendak pergi, Randika dengan cepat mencegatnya sambil tersenyum. Deviana sedikit merasa aneh dan mundur selangkah, tetapi pada saat ini, Randika berhasil merangkul pinggangnya. Kali ini Deviana tidak bisa kabur. "Bukankah aku tadi menyelamatkanmu? Berdasarkan perjanjian kita, aku harus meminta imbalan sebagai gantinya." Kata Randika sambil menatap bibir mungil milik Deviana. Meskipun Deviana tidak kalah cantik dengan Inggrid maupun Viona, karena rasa keadilannya yang tinggi dan pekerjaannya yang penuh dengan aksi, menaklukan hatinya benar-benar lebih sulit daripada memanjat langit. Deviana awalnya memberontak dan berusaha melepaskan diri tetapi genggaman Randika ini benar-benar kokoh. Sambil tersenyum, Randika berkata padanya. "Sudahlah, ngapain kamu malu-malu begitu?" Pada saat ini, sepasang tamu keluar dari hotel melirik mereka terus membuang tatapan mereka. Sedangkan sepasang kakek-nenek yang sedang berjalan menatap Randika dan Deviana hanya bisa bergumam. Dasar anak muda, selalu mencari rangsangan baru. Sejak kapan ada orang yang suka roleplay dengan menjadi polisi dan penjahat? Dunia ini benar-benar sudah menjadi gila! "Lepaskan aku!" Deviana terus-menerus melawan tetapi dia benar-benar bukan lawan Randika. Di tengah perlawanannya itu, bibir merahnya itu tiba-tiba dicium oleh Randika. Ah! Mata Deviana terbuka lebar dan untuk sejenak mereka berdua tenggelam dalam dunia mereka. Namun, setelah beberapa detik Deviana tersadar dan dia dengan cepat menjadi marah. Bisa-bisanya Randika menciumnya! Randika, tentu saja, tidak berhenti menciumnya sebelum dirinya puas. Setelah beberapa saat, dia mundur sambil menghindari tamparan Deviana dan berkata sambil tersenyum. "Dev, bibirmu terasa manis. Tadi kamu minum es campur?" Mendengar kata-kata itu Deviana semakin marah. Setelah mengomeli Randika selama beberapa menit, dia dengan cepat meninggalkannya dengan wajah cemberut. Dia sudah tidak ingin berbicara dengan Randika lagi, dia juga tidak peduli apabila Yosef akan membalas dendam padanya. Randika hanya menggelengkan kepalanya, dia lalu pergi mencari makan. Setelah makan, dia kembali ke kantornya. Saat dia kembali ke ruangannya, tidak ada pekerjaan sama sekali untuknya. Tugasnya hanya sebagai pengawas dan memberi arahan pada Kelvin, sekarang keadaan masih berjalan lancar jadi Randika tidak mempunyai pekerjaan. Chapter 146: Keluarga Alfred Randika penasaran sedang apa belahan jiwanya itu sekarang. Setelah berpikir sesaat, Randika memutuskan untuk mendatangi ruangannya Inggrid. Toh dia juga sekarang sedang nganggur. Ketika dia mendorong pintu ruangan Inggrid, sekretaris Inggrid tiba-tiba keluar dan mereka bertabrakan. Setelah meminta maaf, sekretaris itu dengan cepat pergi. Randika tidak terlalu memikirkannya dan masuk ke dalam ruangannya. Dia melihat Inggrid sedang memegangi kepalanya sambil membaca sebuah dokumen. "Sayang." Randika menghampiri Inggrid dan mulai memijat pundaknya. "Kenapa?" Inggrid sama sekali tidak marah. Dia sudah terbiasa dengan hubungannya dengan Randika. Meskipun kesan Randika di dalam dirinya sama sekali tidak berubah yaitu tidak tahu malu, penuh hawa nafsu dan tidak tahu diri. Tetapi, Randika punya suatu pesona yang tidak biasa. Inggrid tidak bisa mengatakannya secara jelas tetapi perasaan itu tumbuh setelah mereka hidup bersama selama ini. Randika lalu berbisik di telinganya Inggrid. ???Sudah makan belum? Kenapa kamu terlihat sibuk setiap saat?" "Kamu pikir semua orang bisa santai sepertimu?" Kata Inggrid sambil menghela napas. "Aku masih banyak urusan yang perlu penilaianku. Belum lagi rapat dengan perusahaan lain." "Tugasmu sebanyak itu dan kamu belum makan? Sayang, meskipun kamu sibuk kamu harus tetap makan. Cukup, sekarang kamu harus ikut aku dan kita akan makan bersama." Randika menggenggam tangan Inggrid, hendak mengajaknya pergi. "Aku tidak punya waktu untuk itu." Kata Inggrid sambil marah-marah, dia kurang suka dipaksa seperti itu. Kemudian dia menambahkan. "Sekretarisku sudah aku suruh membelikanku makan. Randika, sambil tersenyum, duduk di seberang Inggrid dan menatap istrinya yang sedang sibuk itu. Randika lalu mengatakan. "Sayang, aku tadi berhasil menyelamatkan orang saat nyari makan siang tadi." "Hmm? Kok bisa?" Inggrid masih terus menulis sambil menyimak kata-kata Randika. "Hahaha." Randika kagum dengan dedikasi istrinya itu, dia lalu bersemangat bercerita. "Jadi tadi aku melihat ada seorang bapak-bapak sedang berjalan dengan muka mesumnya. Kamu tahu dia sedang apa? Dia sedang menggoda cewek dan mau mengajaknya ke hotel. Semua orang hanya memalingkan wajahnya ketika melihat perempuan itu dilecehkan seperti itu. Tetapi kamu tahu kan sifat suamimu ini? Jelas sifat heroik dan titisan surga ini tidak bisa memalingkan wajahnya dari kejahatan seperti itu. Jadi aku dengan gagah berani memarahinya." Inggrid kemudian menatap Randika yang masih asyik menceritakan sepak terjangnya tadi siang itu. Sifat kekanakan itu terbilang lucu bagi Inggrid. Randika masih tenggelam dalam fantasinya. "Tapi bapak-bapak itu masih saja tidak mau mundur, dan dia malah menantangku berkelahi! Kemudian aku memberi dia pelajaran agar tidak berbuat jahat lagi. Aku memberikannya pukulan seribu tangan hanya dalam 1 detik, aku juga tidak lupa menendangnya di kemaluannya agar tidak ada orang lagi semacam dia." Setelah melihat ekspresi Inggrid yang biasa-biasa saja itu, Randika bertanya. "Sayang, bagaimana ceritaku tadi?" Inggrid mengangkat wajahnya. "Aku rasa tahun depan kamu akan menang piala Oscar." Yah bisa dibilang sindiran istrinya ini cukup mengena di hatinya. Randika lalu sambil tersenyum mengatakan. "Tapi yang aku tidak habis pikir itu ya, orang itu sangat arogan dan tidak tahu malu. Meskipun dia sudah meringkuk kesakitan, sifatnya itu tidak berubah!" "Oh ya? Memangnya ada orang yang tidak tahu malu melebihimu?" Kata Inggrid dengan nada dingin. "ˇ­." Randika merasa malu beberapa saat sedangkan Inggrid tersenyum ketika melihat Randika yang memerah itu. Bagi Randika semua ini sepadan, siapa yang tidak leleh melihat senyuman manis itu? Sekarang dia perlu melihat senyuman itu ketika mereka di atas ranjang. "Dan kamu tahu apa ancaman yang dia berikan?" Randika berdiri dan berdiri di belakang Inggrid. "Apa?" Inggrid penasaran. "Dia dengan sombongnya mengatakan bahwa dia berasal dari keluarga Alfred dari Jakarta, jika aku menyinggungnya maka aku akan mendapat akhir yang jelek. Dia juga menambahkan bahwa keluarga Alfred bisa menghancurkan kota kita ini hanya dalam semalam." Randika lalu menghela napas. "Bukankah orang seperti itu benar-benar sudah gila? Aku tidak ragu memukulnya biar dia bisa segera sadar dari halusinasinya itu." Namun ketika Inggrid mendengar nama keluarga Alfred, badannya mulai gemetaran. Nama itu ingin dia kubur dalam-dalam di tanah dan melupakannya. Apakah keluarga Alfred akan datang ke kota Cendrawasih? Beberapa saat Inggrid tidak bisa berhenti gemetaran, dia sama sekali tidak siap. "Hmm, kenapa sayang? Kamu kok terlihat takut begitu?" Randika menyadari tubuh Inggrid yang gemetaran itu. "Ran, apa kata-katamu itu benar?" Inggrid menggigit bibirnya dan menatap Randika. "Tentu saja benar, ngapain aku bohong? Jangan-jangan kamu kira aku sedang mendongeng tadi?" Randika sedikit terkejut. Setelah bercerita dengan sepenuh hati, tega-teganya Inggrid mengira bahwa dia sedang membual? "Apakah kamu mendengar orang itu mengatakan keluarga Alfred dengan jelas?" Tanya Inggrid dengan wajah serius. "Dengan pendengaran super suamimu ini, suara nyamuk 1 km jauhnya saja bisa terdengar. Tentu saja aku mendengarnya dengan jelas. Nama orang itu kalau tidak salah Yosef." Ternyata benar! Inggrid merasa tidak bisa mengontrol dirinya selama beberapa waktu. Bahkan dokumen yang dia pegang sudah remuk karena tangannya. Dia benar-benar kehilangan fokusnya. Bisa dikatakan bahwa dia pergi ke kota Cendrawasih ini dan membentuk perusahaannya karena keluarga Alfred yang ada di Jakarta. Dan sekarang keluarga Alfred telah mengirim orang. Bisa dikatakan bahwa kepentingan keluarganya lebih penting daripada kepentingan pribadi. Inggrid berdiri sambil terhuyung-huyung. Melihat tingkah laku Inggrid ini, Randika mengerutkan dahinya. Selama ini dia belum pernah melihat Inggrid panik. Benar, seorang Inggrid Elina panik! Sepertinya ini berhubungan dengan keluarga Alfred dari Jakarta karena setelah mendengar nama itu, ekspresi Inggrid menjadi berubah. Berjalan menuju belakangnya Inggrid, Randika memeluk istrinya itu dengan kedua tangannya. Tiba-tiba, aroma harum segera menyebar dan memasuki hidung Randika. Sedangkan Inggrid merasakan tangan yang kuat yang bisa dia andalkan dan perasaan hangat yang membuat hatinya bimbang. "Sayang, ada apa?" Tanya Randika dengan lembut. "Aku tidak pernah melihatmu seperti ini." "Tidak apa-apa." Inggrid memutar kepalanya dan berusaha tersenyum. Tetapi setitik air mata tidak bisa dia sembunyikan. "Apakah kamu tidak percaya denganku?" Randika lalu berbisik di telinga Inggrid. "Kalau kamu tidak mau percaya denganku, apa perlu aku menghukummu dengan hukuman keluarga kita?" Mendengar kata-kata itu, Inggrid hanya tersipu malu. "Apa ini berkaitan dengan keluarga Alfred dari Jakarta?" Tanya Randika. Inggrid mengangguk pelan. "Kenapa dengan mereka?" Randika tidak tahu kalau Inggrid punya koneksi dengan keluarga Alfred. Inggrid ingin menjelaskan tetapi tiba-tiba dia mengurungkan niatnya. Melihat keraguan Inggrid, Randika mengerutkan dahinya. Pasti ada rahasia di antara Inggrid dan keluarga Alfred. "Jangan khawatir, percayalah padaku." Kata Randika dengan nada menenangkan di telinga Inggrid. Mendengar ketulusan Randika, hati Inggrid terasa hangat. Meskipun Randika punya banyak kekurangan, dia punya kekuatan untuk membuat orang merasa nyaman dan tenang, khususnya di tengah-tengah situasi berbahaya. Mungkinkah ini adalah pesona Randika? Inggrid lalu berputar sambil terus memeluk Randika. Setelah terdiam beberapa saat dia berbisik pada telinga Randika. "Apa kamu tidak takut?" "Takut?" Randika berwajah bingung untuk sementara waktu. Lalu sambil mengusap rambut istrinya itu, dia mengatakan. "Sayang, ingat tidak saat kita pertama kali bertemu? Kamu mengancamku bisa melenyapkanku dengan ratusan cara. Pada saat itu aku sama sekali tidak takut dan ternyata yang aku takutkan hanya satu yaitu kehilangan dirimu." Mendengar kata-kata romantis Randika itu, Inggrid semakin erat memeluk Randika. "Kamu adalah istriku, meskipun langit menculikmu, aku akan mendaki dan menyelamatkanmu meski nyawaku adalah taruhannya." Randika lalu mengangkat kepala Inggrid. "Percayalah padaku." "Masalah ini terlalu besar." Inggrid terlihat masih ragu. "Aku takut kamu akan mati apabila ikut terlibat." "Sayang, jika kamu meragukanku sekali lagi aku akan memukul pantatmu." Kata Randika. "Jangan khawatir, serahkan semua masalahmu pada suamimu ini." Mendengar kata-kata Randika itu, Inggrid menjelaskan. "Sebenarnya aku bukan berasal dari kota ini. Kota asalku adalah Jakarta dan aku adalah anggota keluarga Alfred." Randika mendengar semuanya dalam keadaan diam. Dia tidak peduli dari mana asal Inggrid, yang terpenting sekarang dia adalah istrinya. Selama dia masih istrinya, tidak akan ada kekuatan di bumi ini yang bisa mengubah hal tersebut. "Ketika aku masih kecil, entah dengan alasan apa, keluargaku menandatangani perjanjian dengan keluarga Alfred yang mengatakan bahwa aku akan menikahi salah satu dari keturunan mereka. Bagiku, perjanjian sepihak itu sangat melanggar hakku. Terlebih, aku tidak tahu siapa yang akan menikahiku." "Kamu tidak tahu?" Tanya Randika. "Benar, aku sama sekali tidak tahu. Dalam perjanjian itu tidak disebutkan anak yang mana hanya keturunan saja. Lalu keluarga Alfred memutuskan untuk menikahkanku dengan anak ketiganya." Mendengar penjelasan Inggrid ini, Randika kehabisan kata-kata. Hubungan seperti itu benar-benar tidak masuk akal, tega sekali keluarganya menjual Inggrid seperti itu? "Pernikahan seperti itu membuatku muak." Inggrid menghela napas. "Apalagi aku sudah melihat sendiri tingkah laku anak ketiga dari keluarga Alfred itu, benar-benar seorang playboy." Randika tidak heran dengan sifat dan perilaku dari anak-anak orang kaya. Dengan banyaknya uang dan dimanja oleh orang tua mereka, tentu saja mereka dengan bebas mencicipi perempuan manapun yang dia suka. Benar-benar kehidupan yang menyenangkan! Ah, maksudnya benar-benar didikan orang tua yang salah! Randika kemudian kembali mendengarkan penjelasan Inggrid. "Lalu aku memutuskan untuk meninggalkan Jakarta dan datang ke kota ini dan mendirikan perusahaanku sendiri. Aku kira aku bisa lari dari masalah itu tetapi ternyata aku menyeret keluargaku bersamaku. Aku juga tidak menyangka keluarga Alfred akan mengirim seseorang ke kota ini." Randika mulai paham dengan seluruh situasinya, intinya istrinya ini kabur dari calon suaminya itu demi kebebasannya. "Jadi itu masalahku." Inggrid lalu menatap Randika. "Sayangnya kamu tidak akan bisa menghentikan kekuatan keluarga Alfred. Bagi orang-orang keluarga Alfred adalah puncak kekuatan, jika ada orang yang berani menyinggungnya maka mereka akan mati. Aku rasa lebih baik kamu lari saja." Melihat ekspresi Inggrid, Randika tanpa sadar mengangkat tangannya dan menampar Inggrid. Chapter 147: Inggrid Elina adalah Istriku PLAK! Randika menampar pipi Inggrid. Inggrid jelas terkejut. "Apa kamu tidak percaya padaku?" Randika pura-pura terlihat marah. "Kamu terlalu meremehkan suamimu ini. Jangan khawatir, itu hanya sebuah keluarga dari kota besar. Suamimu ini tidak akan lari begitu saja." "Terlebih, kamu itu istriku. Aku tahu bahwa hubungan kita itu rumit tetapi selama kamu masih menjadi istriku, tindakan mereka itu sama saja dengan merampok. Orang yang berani berbuat seperti itu padaku masih belum lahir." "Jadi aku hanya memohon padamu." Randika lalu berlutut dan mencium tangan Inggrid. "Percayalah padaku." Dalam hidup Inggrid, dia selalu berusaha menanggung semua bebannya seorang diri. Dan sekarang setelah Randika muncul di hidupnya, perlahan dia mulai bersandar di pundak Randika. Dan sekarang, setelah Randika menamparnya dan membuatnya dia sadar bahwa dia sudah tidak sendirian lagi benar-benar membuat hati seorang Inggrid Elina menjadi hangat. Dan entah kenapa, dia merasa bahwa Randika merupakan pria yang tepat baginya. "Aku percaya padamu." Inggrid mengangguk pelan. Tanpa sadar, Inggrid sendiri merasa bahwa Randika pasti memiliki cara. Sama seperti masalah-masalah sebelumnya, Randika selalu memecahkan masalahnya. Randika lalu berdiri dan tersenyum. "Untukmu, aku rela menyeret jatuh raja dari singgasananya. Keluarga Alfred hanyalah sebuah keluarga bukan seorang penguasa. Jadi kamu tidak perlu khawatir. Ketika keluarga Alfred berani merebutmu, aku akan menghajar mereka semua dan mempertahankanmu." Wajah Inggrid sudah benar-benar merah, Randika sudah benar-benar dekat dengan wajahnya. "Sayang, apa kamu barusan berpikir kalau suamimu ini keren dan tampan? Apakah aku telah mendapatkan hatimu? Sini beri aku ciuman yang panas." Yah meskipun tidak panas, ciuman itu hanya berlangsung 5 detik. .......... Setelah seharian sibuk, sekarang saatnya pulang ke rumah. Tiba-tiba banyak orang mulai keluar secara bersamaan dari dalam gedung. Perusahaan Cendrawasih memiliki karyawan 2000 orang lebih, oleh karena itu setiap jam pulang kerja fenomena gelombang tsunami berisikan orang-orang ini adalah hal yang wajar. Bagi kebanyakan karyawan, tidak ada perasaan yang lebih menyenangkan daripada jam pulang kerja. Akhirnya mereka bebas dari pekerjaan mereka dan bisa bersantai di rumah maupun bersama teman-teman mereka. Tetapi bagi Randika, hal seperti itu merupakan hal yang biasa saja. Lagipula dia jarang sibuk dan melakukan apa pun yang dia mau. Randika dan Inggrid keluar bersamaan dan hendak pulang bersama. Inggrid nampak tersenyum karena mendengar lelucon dari Randika. "Sayang, tahu tidak makanan para tentara di saat perang?" Awalnya Inggrid tidak tahu dan hanya menggelengkan kepalanya. Lalu Inggrid coba menebak. "Makanan yang diberikan?" Aduh ini jokes receh bukan pertanyaan serius, pikir Randika. Inggrid lalu menyerah. Randika lalu berkata sambil tersenyum. "Telur dadar." Hah? Apa hubungannya dengan dadar? Inggrid lalu menggelengkan kepalanya lagi. "Suara tembakan bunyinya seperti apa? Kan suaranya dor, dor, dor. Jadi makanan mereka sehari-hari adalah telur dordor (dadar)." Mendengar lelucon ini, Inggrid tidak tahu harus berekspresi seperti apa. Kenapa dia merasa lelucon itu tidak lucu? Pada saat ini, Yosef, yang sedang berada di luar gedung perusahaan Cendrawasih, sedang mencari orang. Menatap satu per satu orang yang keluar dari dalam gedung, dia mengerutkan dahinya. Sepertinya targetnya belum keluar. Namun, setelah beberapa saat mencari dan berkonsentrasi, akhirnya Yosef menemukan apa yang dia cari. Dia akhirnya menemukan nona Inggrid. Ketika Yosef ingin menghampirinya, dia melihat seorang pria sedang berjalan berduaan dengannya. Yosef langsung mengerutkan dahinya. Bagaimana mungkin nona Inggrid bersama dengan orang pria? Bukankah dia lajang? Yosef memperhatikannya dengan lebih jelas. Tiba-tiba dia merasa marah. Bisa-bisanya nona yang akan menikahi majikannya itu berjalan berdua bersama seorang preman? Apa wanita itu pantas untuk majikannya? Sambil mendengus dingin, Yosef menghampiri mereka. Randika dan Inggrid masih bercanda ria. Namun, yang berbicara hanyalah Randika tetapi yang terpenting baginya adalah membuat Inggrid tetap tersenyum. Pada saat ini, tiba-tiba ada suara yang nimbrung di percakapan mereka. "Nona Inggrid, bahkan jika kau jauh di selatan, Anda harus tetap memperhatikan tata krama dan tindakanmu." Oh? Entah kenapa suara itu terdengar familiar? Bukankah dia mendengar suara ini siang tadi? Randika menoleh dan dugaannya benar, orang itu adalah Yosef. "Bukannya aku menyuruhmu tidak menggangguku lagi? Kenapa kau muncul lagi?" Randika menatap tajam Yosef. "Apa pukulanku tadi kurang keras? Kau ingin tulangmu itu patah?" Mendengar ancaman dan tatapan tajam Randika itu, perasaan takut dan memori kelam di mana dia dikalahkan dengan mudah membuat Yosef berjalan mundur. Namun, ketika dia teringat dengan tugas dan identitas aslinya, Yosef berhenti dan berdiri dengan tegak. Buat apa dia takut sama seorang preman? Toh dalam beberapa hari lagi dia pasti mati. Yosef mencueki Randika dan hanya menatap Inggrid yang ada di sampingnya. Dia lalu mengatakan. "Nona Inggrid, jangan lupa bahwa Anda mempunyai perjanjian untuk menikahi anak dari keluarga Alfred. Tolong penuhi perjanjian itu dan jangan bermain-main di kota kecil ini terus-terusan. Jangan salahkan kami kalau reputasi keluargamu tiba-tiba hancur." Wajah Inggrid langsung menjadi buruk, dia lalu menatap Yosef dan mengatakan. "Perjanjian itu dibuat tanpa persetujuanku, semua itu tidak ada hubungannya denganku!" Pada saat ini, semua karyawan yang baru keluar melihat atasan mereka itu sedang berdebat dengan seorang pria. Meskipun ingin melihatnya, mereka tidak berani menatap dan menonton mereka. Bagaimana kalau tiba-tiba Inggrid marah dan memecat mereka yang menonton masalah ini? Ketika mendengar Yosef mengancam Inggrid, Randika langsung menjadi marah. "Kau memang tidak kenal kapok." Randika menghampirinya secara perlahan. Melihat Randika yang mendekat, Yosef segera ketakutan. "Ini semua tidak ada hubungannya dengan orang kasar sepertimu. Ini adalah masalah antara Inggrid Elina dan keluarga Alfred. Jika kau ikut campur, kau akan mati dengan cara paling mengenaskan." "Apanya yang tidak ada hubungannya?" Randika tersenyum dingin. "Inggrid adalah istriku, jelas ini adalah urusanku." Istri? Yosef terkejut bukan main dan dia menatap Inggrid. Wajahnya benar-benar terkejut. "Kauˇ­. Kau menikah?" Wajah Yosef berubah menjadi jijik. "Bukan hanya kabur, kau bahkan melanggar perjanjian keluargamu itu? Nona Inggrid kau benar-benar menyedihkan." "Karena anak ketiga dari keluarga Alfred telah menghilang, ditetapkan bahwa anak kelima akan menjadi suamimu. Beliau akan datang ke Cendrawasih sebentar lagi. Alasan apa yang akan Anda katakan padanya?" Yosef mendengus dingin, dia tidak menyangka bahwa masalah ini akan menjadi sebesar ini. Dia kira datang ke Cendrawasih hanyalah tugas yang gampang ternyata masalah yang ada benar-benar sudah besar. "Alasan? Kau butuh alasan?" Randika mengangkat tubuh Yosef dengan tangannya. "Suruh anak kelima itu datang ke aku, aku akan menghajarnya dan membuatnya pulang." "Jangan sok kuat." Yosef yang masih menggantung di udara ini tetap bersifat arogan. "Kau akan mati apabila menyinggung tuan muda kami. Mayatmu akan mengapung dalam hitungan hari!" "Benarkah begitu?" Randika lalu memukul Yosef tepat di wajahnya. Yosef sudah siap dengan serangan seperti ini tetapi serangan Randika benar-benar terlalu cepat dan akurat. Wajahnya dengan cepat menjadi bonyok. Chapter 148: Aku Akan Melindungimu Dalam sekejap darah mengucur dari hidung Yosef, darah tidak bisa berhenti keluar. Yosef memegangi hidungnya dan menatap Randika yang berdiri di hadapannya. Dia lalu menunjuk Randika dengan badan yang masih bergemetaran. "Kau, berani-beraninya kau berbuat seperti ini!" Meskipun tidak semuda lawannya ini, ahli bela diri Yosef tergolong kuat di tempat dia berasal. Tapi secara tidak terduga, dia bukanlah apa-apa dibandingkan preman dari kota kecil ini. Dia adalah tamu kehormatan dari keluarga Alfred. Umumnya orang-orang akan menghormati dan takut padanya tetapi pria di hadapannya ini tidak peduli dengan reputasi seperti itu. Apakah dunia sudah berubah? "Aku tidak takut pada apa pun." Randika terlihat menyengir. Tatapan mata Yosef sudah ketakutan, dia merasa bahwa semakin lama dia di sini maka semakin buruk kondisinya. "Tunggu saja pembalasanku." Ini adalah kedua kalinya Yosef berkata seperti itu. Dan di bawah tatapan Randika dan banyak orang, dia kembali lari sambil ketakutan. Melihat pria paruh baya yang lari itu, semua orang tidak bisa menahan tawanya. Semua orang sudah mengenal kehebatan Randika mempermalukan dan menghajar lawannya, jadi mereka sendiri heran kenapa masih ada orang yang mau melawan atasan mereka itu. Randika malas untuk mengejar lawan yang kabur jadi dia membawa Inggrid pergi dari situ. Sepanjang jalan, muka Inggrid terlihat tertekan. Meskipun ada Randika di sisinya, nama dan kekuatan dari keluarga Alfred masih membekas kuat di hatinya. Setelah sampai di rumah, Inggrid terus terdiam dan tidak fokus. "Hmm? Sayang, kenapa kamu punya kerutan di wajah?" Tiba-tiba Randika memecah keheningan. "Kerutan?" Inggrid terkejut mendengarnya. "Di mana?" Setelah itu Inggrid cepat-cepat ingin ke kamar mandi untuk melihatnya. Namun, Randika dengan cepat memeluk istrinya itu. "Kalau kamu terus-terusan berwajah masam seperti itu, bukan hanya kerutan yang ada, kamu akan tampak lebih tua. Bukankah aku sudah mengatakannya tadi? Serahkan masalah ini padaku, kamu tidak perlu khawatir." Mendengar kata-kata Randika itu, Inggrid merasa tertipu. Memang senjata utama untuk menipu wanita adalah membahas tentang penampilannya, khususnya pada perempuan cantik seperti Inggrid. "Tapiˇ­ Masalah ini menyangkut aku dan skalanya juga sudah besar." Bagaimanapun juga, hal ini menyangkut keluarganya juga jadi wajar bagi Inggrid merasa khawatir. Randika lalu mencubit kedua pipi istrinya itu. "Kenapa kamu tidak percaya dengan suamimu ini? Kamu tidak perlu khawatir dengan masalah seperti ini. Kamu hanya perlu bekerja seperti biasa, makan, tidur, dan menemaniku sambil tersenyum manis. Serahkan semua masalahmu ini padaku. Memangnya siapa keluarga Alfred itu? Suamimu ini bisa membunuh mereka semua hanya dengan satu jari." Inggrid memegangi pipinya yang sedikit sakit itu lalu menundukan kepalanya. Dia tahu bahwa Randika berusaha menghiburnya. "Kamu masih belum percaya?" Melihat ekspresi Inggrid, Randika menggaruk-garukan kepalanya. Lalu tanpa sadar dia mengeluarkan sebuah batu. "Coba kamu perhatikan, batu ini adalah keluarga Alfred dan tanganku ini adalah aku." Tangan kanan Randika meremukan batu itu dengan kuat. Dan di bawah tatapan Inggrid, batu itu sudah tidak ada dan menjadi serpihan. Ketika Randika ingin menjelaskan bahwa serpihan batu ini adalah keluarga Alfred, tiba-tiba Inggrid bertanya. "Kamu bisa sulap?" Randika tampak bingung, kenapa istrinya begitu polos kalau perkara seperti ini? "Intinya adalah, aku akan selalu melindungimu. Aku tidak akan membiarkan keluarga Alfred merebutmu dari aku. Kamu cukup tetap menjadi istriku yang tercinta." Kata Randika sambil tersenyum. Dengan perasaan hangat di hatinya, Inggrid tersenyum. "Sudah lebih baik?" Tanya Randika. Inggrid mengangguk. "Bagiku senyummu adalah tujuan hidupku." Randika lalu memegang pipi istrinya itu. "Ketika kamu tersenyum aku tahu bahwa dunia ini masih memiliki keindahan." Inggrid lalu memeluk tangan Randika itu dengan kedua tangannya. "Baiklah, aku akan tersenyum setiap saat." Melihat Inggrid yang sudah bangkit kembali, Randika menghembuskan napas lega. Ini pertama kalinya dia menghibur istrinya ini dan benar-benar sulit! Keduanya lalu mengobrol sebentar di ruangan tamu. Ketika Randika ingin bermesraan, Inggrid menolaknya dan mengatakan ingin mandi. Lagipula akhir-akhir ini matahari benar-benar terik jadi bagi Inggrid yang gila kebersihan mandi adalah hal utama. Randika yang melihat sosok Inggrid yang naik ke atas itu tersenyum. Setelah masuk ke kamar mandi, Inggrid mandi selama setengah jam sebelum akhirnya keluar. Sambil memakai handuk, dia kembali ke kamarnya dan memakai piyamanya. Menurut kebiasaannya sehari-hari, setelah mengeringkan rambutnya, Inggrid biasanya akan langsung tidur sebelum makan malam. Maklum, selama dia di kantor dia hampir tidak pernah istirahat. Ketika Inggrid mau tiduran, dia tiba-tiba terkejut. Kenapa ada sosok orang di balik selimutnya itu? Sambil ketakutan, Inggrid membuka selimut itu dan mendapati Randika sedang berpose miring dengan tangannya menopang kepalanya. Sambil tersenyum lebar, Randika berkata sambil menepuk-nepuk kasur di sampingnya. "Kemarilah sayang." Inggrid terkejut melihat Randika dan setelah terdiam beberapa detik, dia berteriak keras! Teriakan ini menggema di ruangan, keluar dari celah pintu dan bahkan terdengar sampai di lantai 1. Randika, yang tidak siap, sampai terjatuh ketika mendengar teriakannya itu. Apa istrinya ini mau membunuhnya dengan ultrasonik? Ibu Ipah, yang sedang memasak makan malam, mendengar teriakan Inggrid ini. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dasar anak muda yang sedang kasmaran. Ibu tahu kalian sedang melakukan hubungan badan tapi tidak perlu berteriak keras seperti itu. Saat ibu masih muda saja tidak pernah berteriak keras seperti itu. Dasar anak muda, inginnya pamer!" Setelah memikirkannya, Ibu Ipah memutuskan untuk kembali memasak. "Kenapa kamu ada di kasurku?" Inggrid yang memegang bantalnya itu menatap Randika yang sedang menutupi telinganya. Kalau Randika daritadi ada di sini, berarti dia melihat dirinya ganti baju tadi? Kalau dipikir-pikir, pasti orang ini mengintipnya! Randika lalu berkata sambil tersenyum. "Memangnya kenapa? Ini kasur kita bukan? Ayo cepat masuk, aku mulai kedinginan dan ngantuk." Tidur bersama? Mendengar ajakan Randika ini, Inggrid menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat. "Siapa memangnya yang mau tidur sama kamu?" Meskipun piyama yang dipakai Inggrid cukup longgar, itu tetapi tidak bisa menutupi keindahan dada istrinya itu. Randika tidak bisa menahan dirinya untuk membandingkannya dengan semua perempuan yang dia kenal. Sepertinya tangannya sudah gatal ingin menaklukan kedua gunung itu. Mata Randika bergerak secara perlahan. Randika sepertinya bisa melihat pucuk berwarna pink di balik piyama yang berwarna putih itu. GLEK! Randika menelan air ludahnya. Inggrid menyadari bahwa Randika sedang melototi dadanya itu. Dan dia akhirnya berteriak sekali lagi dan mengambil selimutnya itu dan menyekap Randika dengan itu. "Hei, kita kan suami istri jadi wajar kan kita tidur bersama. Sudahlah jangan malu-malu begitu." Kata Randika sambil melarikan diri. "Tidak, aku tidak akan membiarkanmu tidur bersamaku sebelum kamu menikahiku." Inggrid memukuli Randika dengan bantalnya, dia ingin pengalaman pertamanya itu dengan orang yang dicintainya. Tetapi Inggrid sepertinya tidak sadar bahwa kata-katanya itu sedikit canggung. Mendengar kata-kata itu, Randika tampak senang dan mengatakan. "Bukannya kita punya sertifikat yang mengatakan kalau kita sudah menikah?" Inggrid terkejut, saat dia mau menjelaskan maksudnya, Randika sudah menarik tangannya dengan keras. Dalam sekejap seluruh tubuhnya jatuh ke kasur. Ah! Inggrid berniat berteriak sekali lagi. Tetapi, Randika berhasil menutup mulut Inggrid dengan tangannya. Posisi mereka sudah sangat dekat, bibir mereka hanya berjarak 2 cm. Inggrid ingin kabur dari situ, tetapi Randika menahan Inggrid dengan kuat dan tidak membiarkannya pergi. Randika tidak akan membiarkan istrinya kabur setelah berkata seperti itu. Terlebih, Randika memiliki kecepatan yang sungguh luar biasa. Di saat dia membungkam teriakan Inggrid dengan tangan kirinya, tangan kanannya itu sudah melempar sesuatu dari saku celananya dan mematikan lampu. Sekarang kamar tidur Inggrid ini gelap gulita dan mereka masih bergulat di atas kasur. Memanfaatkan kegelapan ini, Randika tentu saja ingin merasakan tubuh molek istrinya itu. Sedangkan Inggrid masih berusaha kabur. Randika hanya tertawa dan terus memeluk Inggrid. Dengan tangan kirinya memeluk pinggang istrinya itu, Inggrid sama sekali tidak punya kesempatan untuk kabur. Oleh karena itu, tangan kanan Randika bisa bebas berenang-renang di tubuh Inggrid. "Beruang kecilku, jangan malu-malu seperti itu. Aku akan melindungimu dari dekat." Kata Randika di telinga Inggrid. Dia juga tidak lupa menyebul sekaligus menggigit telinga lezat itu. Bahkan di tengah kegelapan ini, Randika masih bisa melihat semuanya dengan jelas. Bahkan dia bisa melihat telinga Inggrid yang memerah itu. Dia memperkirakan bahwa wajah Inggrid pasti sudah merah karena malu. Tangan kanan Randika tidak pernah berhenti berenang. Dia sekarang mulai menyerang kedua pucuk gunung milik Inggrid yang pink itu. Bisa dikatakan bahwa gunung ada untuk ditaklukan, jadi dia harus menaklukannya! Randika benar-benar membuat puting Inggrid menjadi keras, Inggrid hanya bisa menahan teriakannya itu dengan menggigit bibirnya. Karena tidak bisa lari, Inggrid hanya bisa pasrah terhadap tindakan Randika ini. "Hentikan!" Inggrid masih berusaha menahan desahannya itu sambil terus menutup matanya. Randika yang menjepit putingnya itu memberikan sensasi tersendiri baginya. "Aku akan melindungimu selamanya." Kata Randika di telinga Inggrid. "Aku akan memanggil ibu Ipah." Inggrid merasa bahwa bisa-bisa mereka akan melakukannya malam ini jadi satu-satunya pilihan adalah meminta bantuan. "Percuma kamu memanggil ibu Ipah. Melindungimu adalah tugasku, Ibu Ipah juga tahu akan hal itu." Kata Randika sambil tersenyum. "Malam ini aku akan tidur bersamamu." "Tidak mau!" Inggrid tidak menyerah, dia lalu berteriak sekali lagi. Ternyata teriakan itu bukanlah teriakan minta tolong melainkan teriakan kenikmatan karena Randika membuatnya keluar hanya dengan memainkan dadanya. Chapter 149: Pesona Milik Randika Pada akhirnya, Inggrid bukan lawan bagi Randika. Perempuan ini mengalami ejakulasi pertamanya. Malam itu, Inggrid dan Randika tidak makan malam dan meneruskan kegiatan malam pertama mereka. Namun, Inggrid dengan tegas tidak ingin Randika sampai melakukan penetrasi. Randika memahami hal ini, baginya buru-buru melakukannya sama sekali tidak baik untuk hubungan mereka. Semuanya perlu dilakukan secara perlahan-lahan. Dinasti kerajaan tidak dapat dihancurkan dalam semalam. Menaklukan hati perempuan juga sama, tidak bisa dilakukan dalam semalam. Hari berikutnya, Randika membuka matanya dan menyadari bahwa kasurnya kosong. Sepertinya Inggrid sudah pergi duluan Melihat jam, ternyata sudah jam 9 pagi. Mungkin Inggrid sudah pergi ke kantor. Semalam benar-benar merupakan hal yang paling menyenangkan bagi dirinya. Sambil mengingat kejadian semalam, Randika tidak bisa berhenti tersenyum. Dia masih bisa mencium aroma badan Inggrid di bantalnya. Aroma itu benar-benar membuatnya terangsang kembali. Ketika dia keluar dari kasur, Randika meraup mukanya dan turun ke bawah. Karena dia bangun terlalu siang, dia memutuskan untuk datang ke kantor setelah makan siang. Lagipula tidak ada pekerjaan mendesak di kantor jadi dia malas datang pagi-pagi. Setelah sampai di bawah, Ibu Ipah yang sedang menyapu melihat Randika dan mengomel. "Nak, aku tahu bahwa hubungan badan itu wajar. Tetapi tidak perlu sekeras itu kalian berteriak, ibu takut nanti kalian kenapa-kenapa kalau bermain sekasar itu. Belum lagi leher nona tadi banyak cupangnya, nanti malah jadi bahan gosip bagaimana?" Randika sedikit terkejut, dia tidak tahu harus berkata apa. Memang kemarin mereka sedikit liar, tetapi Inggrid masih tidak mengijinkan Randika untuk benar-benar berhubungan badan jadi foreplay mereka jadi sedikit liar. Melihat bahwa Randika malu-malu dan mengangguk, Ibu Ipah mengatakan. "Nona sudah berangkat kerja duluan. Tunggu sebentar ya, ibu akan siapkan sarapan untukmu." Setelah sarapan ala kadarnya, Randika juga pergi dari rumah. Namun, dia tidak berniat pergi bekerja. Malah dia berniat untuk berbelanja. Sangat membosankan nganggur di kantor jadi lebih baik dia berjalan-jalan, siapa tahu dia menemukan barang bagus yang bisa dia hadiahkan pada istrinya? Tak lama kemudian, Randika tiba di jalan Kartini, jalan paling terkenal di Cendrawasih. Bahkan bisa dikatakan bahwa jalan Kartini adalah pusat dari kota ini. Meskipun kota Cendrawasih ini masih kalah jauh dari kota-kota besar seperti Jakarta atau Surabaya, kota Cendrawasih termasuk kota maju. Karena itu, banyak industri perbelanjaan yang berakar di kota ini. Randika berjalan dengan santai sambil memperhatikan sekelilingnya di jalan yang ramai ini. Dari waktu ke waktu, dia melihat perempuan-perempuan cantik yang berdandan cantik dan berkaki mulus. Bisa dikatakan bahwa orang-orang itu kemungkinan adalah orang-orang Eropa yang sedang berlibur. Figur mereka benar-benar kelas dunia. Saat Randika memuji satu per satu perempuan cantik, satu perempuan cantik menangkap perhatiannya. Bukankah itu Christina? Ini mungkin takdir! Pada saat ini Christina terlihat sedang membawa tas belanja di kedua tangannya. Tetapi, tiba-tiba dia dihentikan oleh seorang laki-laki berbadan besar. Orang itu memakai kemeja putih dengan perutnya yang gendut itu hampir membuat kancing bajunya itu terlepas. Wajah orang itu juga berjanggut tidak karuan, tangannya dipenuhi dengan rambut dan semua orang pasti tidak bisa melepas pandangannya dari perutnya yang besar itu. Belum lagi wajahnya yang jelek itu berkeringat deras. "Hai cantik, aku lihat kamu sendirian saja nih, mau aku temani?" Orang itu berdiri tepat di depan Christina, wajahnya yang berkeringat itu membawa kesan tidak higienis. "Maaf, aku sedang menunggu teman." Christina menolaknya langsung. Dia paling benci dengan orang yang tidak bisa menjaga penampilannya dan bau. Terlebih lagi, orang di hadapannya ini benar-benar jelek bagi dirinya jadi Christina sama sekali tidak tertarik. Dengan kata lain, dia membenci orang seperti yang ada di hadapannya ini. Lelaki itu mendengus dingin. "Sudahlah, aku tahu kamu berbohong. Aku tidak ingin menjalin hubungan denganmu, aku hanya ingin bersamamu sekali saja di kamar. Setelah itu aku akan memberimu uang yang banyak." Christina langsung berwajah dingin. "Kata-katamu itu sudah termasuk pelecehan wanita, aku tidak sudi bersama pria semacam kamu. Cepat pergi atau aku akan menelepon polisi." "Polisi?" Pria itu tertawa. "Kamu tidak tahu seberapa takutnya mereka padaku? Mau kamu teriak minta tolong ataupun menyeret mereka, mereka pasti akan mengabaikanmu!" Kata-kata orang ini benar-benar arogan, Christina benar-benar benci pria macam ini. Dan orang-orang di sekitarnya sepertinya mengabaikan mereka jadi meminta tolong merupakan hal yang sulit bagi Christina. "Kamu tidak memiliki banyak pilihan, temani aku satu malam saja maka aku tidak akan pernah mengganggumu lagi." Setelah berkata seperti itu, pria ini tiba-tiba tersedak. Dia lalu meludah di tanah, lendirnya benar-benar kental. Christina dengan sigap melangkah mundur, orang ini benar-benar jorok. "Tidak akan." Christina menggelengkan kepalanya. "Aku tidak akan pernah mau pergi bersamamu." "Aku ini orang berhati besar jadi aku tidak pernah memaksa orang. Tetapi penolakanmu ini membuatku kehilangan wajah." Pria bernama Hans ini mendengus dingin. "Mau tidak mau, kau harus menemaniku hari ini." Christina menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Aku tidak punya urusan denganmu, cepat pergi sana. Aku masih ada urusan." "Kamu sendiri yang memaksaku memakai kekerasan." Hans tiba-tiba mencengkram kuat tangan Christina dan menyeretnya bersamanya. "Hentikan! Apa yang kamu lakukan?" Christina sudah ketakutan. Hans sendiri sudah tidak peduli, hari ini pokoknya dia akan tidur dengan wanita ini. Tetapi pada saat ini, Hans merasa lajunya berhenti. Apa seorang perempuan bisa sekuat itu? Hans lalu penasaran dan menatap ke belakangnya dan menemukan bahwa ada seorang pria yang menahan Christina sambil tersenyum. Hans yang terkejut langsung marah. "Apa yang kau lakukan? Apa kau tidak lihat aku dan perempuan ini sedang menikmati hari?" Christina benar-benar lega melihat Randika, jika Randika tidak muncul entah apa yang akan terjadi pada dirinya. Randika hanya menatap Hans dengan wajah tersenyum. "Memaksa perempuan melakukan kehendakmu itu sangatlah salah. Kau harus menghormati seorang wanita. Jika dia tidak ingin pergi bersamamu, kamu tidak punya hak untuk memaksanya." "Kau ini memangnya siapa? Mau sok jadi pahlawan di hadapan perempuan ini?" Pria gemuk ini lalu menghela napas. "Percayalah, kau tidak bisa menyentuhku sama sekali." "Oh ya?" Randika tersenyum nakal. Dia melepaskan genggaman tangan Hans dari tangan Christina dan mendorongnya. Hans langsung terpental beberapa langkah ke belakang. Hans juga merupakan kekuatan dunia bawah tanah di kota ini dan dia sudah bertahun-tahun membantai orang-orang yang berani melawannya. Ditantang oleh Randika, dia justru makin bersemangat bukannya mundur dan pergi. "Ternyata pahlawan palsu ini juga mengincar perempuan cantik ini?" Hans mendengus dingin. "Kalau begitu, mari kita lihat seberapa seriusnya kamu." "Kenapa tidak?" Randika lalu tersenyum pada Christina. "Perempuan cantik ini memang lebih cocok dengan pria tampan sepertiku." "Jangan berkhayal." Perut besar Hans kembali bergoyang. "Motifmu itu tidak jauh berbeda denganku. Pada akhirnya kau juga ingin menidurinya bukan? Mana mungkin perempuan itu mau sama kamu." "Oh ya? Aku jelas berbeda denganmu." Kata Randika sambil tersenyum. Dia lalu berbalik dan menatap Christina. "Maukah kamu menghabiskan hari ini bersama denganku?" Mendengar percakapan mereka berdua dan ajakan Randika itu, Christina menjadi marah. Dia hanya memalingkan wajahnya dan tidak mau menjawab. Sialan, setidaknya bekerja samalah denganku untuk menyelamatkan mukaku! "Hahaha sudah kubilang, perempuan benci bocah sok tampan sepertimu.??? Hans tertawa lepas. Randika kehabisan kata-kata. "Kalau begitu baiklah. Karena perempuan ini tidak mau pergi bersamaku, aku akan pergi dan menonton film sendirian. Aku tidak peduli dia akan kamu perkosa atau bunuh, selamat tinggal." Randika hanya membalikan badannya dan berjalan menjauhi Hans dan Christina. Tindakan ini benar-benar mengejutkan Christina. "Hei, jangan pergi! Aku ikut!" Kata Christina dengan cepat. Randika yang baru melangkah beberapa langkah itu tersenyum dan berputar. Dia lalu menatap Hans dan mengatakan. "Bagaimana? Pesonaku mampu membuat dia tidak rela meninggalkanku bukan?" Hans tidak tahu harus berkata apa, dia sedikit bingung dengan situasinya saat ini. "Aku tidak peduli dia mau jalan sama siapa, yang pasti dia hari ini akan melayaniku." Hans lalu mengangkat tangannya. "Pergi dari sini atau aku akan menghajarmu." "Oh? Kau mau berkelahi?" Randika jelas menerima tantangan ini. "Sini majulah, karena kau yang menantangku maka aku tidak akan menahan diri." Hans juga tidak menahan dirinya. Meskipun perutnya itu gondal-gandul tidak karuan sampai-sampai kancing bajunya ada yang lepas, dia tetap menerjang Randika dengan kecepatan penuh! Namun, pada saat ini sebuah pukulan sudah mendarat di matanya! DUAK! Hans langsung meringkuk kesakitan di tanah. Randika dengan mudah meninju Hans hingga terjatuh di tanah. Suara keras yang timbul mungkin adalah jalanan aspal yang rusak karena pantatnya yang besar itu dengan kuat mendarat. Hans berdiri dengan satu mata tertutup. Dia sedikit terkejut mengetahui lawannya bisa berkelahi. Namun, dia kembali menerjang Randika. Kali ini dia terjatuh lebih keras lagi. Setelah terluka di mata dan di dadanya, rasa percaya diri Hans sudah setipis kertas. Dia lalu berdiri dengan susah payah dan mengatakan. "Lihat saja pembalasanku!" Kemudian dia lari dari tempat itu. Ketika pria gemuk itu sudah tidak terlihat, Randika menatap Christina sambil tersenyum. "Hari yang indah bukan?" Christina hanya menjawab. "Terima kasih atas bantuanmu." "Jangan khawatir, lagipula kita sudah bukan orang asing lagi bukan?" Randika mengibaskan tangannya. Mendengar hal itu entah kenapa Christina sedikit tersenyum, tetapi semuanya itu runtuh ketika Randika mengatakan. "Lagipula kamu masih berhutang budi denganku sekali jadi kalau hari ini dihitung maka hutang budimu sama aku menjadi 2." Christina benar-benar kehabisan kata-kata mendengarnya, wajahnya kembali menjadi cemberut. "Hei, hei, aku Cuma bercanda." Kata Randika sambil tertawa. "Sedang apa kamu di sini?" "Lagi belanja." Christina lalu mengangkat kedua tas belanjanya. "Kebetulan sekali, aku juga mau belanja." Randika lalu menyerang. "Mau pergi bersama-sama?" "Maaf lain kali saja." Sialan, Randika harus mengubah taktiknya. "Baiklah kalau begitu, aku hanya ingin menemanimu agar kejadian tadi tidak terulang lagi. Tetapi kalau kamu yang menolak maka aku tidak bisa memaksamu." Setelah berkata seperti itu, Randika pura-pura berjalan sambil melambaikan tangan. "..." "Tunggu!" Kena deh! ... "Kamu sudah beli apa saja?" Randika yang berjalan berdampingan dengan Christina ini penasaran dengan isi tas tersebut. "Selain keperluan pribadi, sisanya obat-obatan." Jawab Christina. "Obat? Obat apa?" Randika terlihat bingung. Seharusnya penyakit dada Christina itu sudah sembuh berkat dirinya, kenapa dia membeli obat? "Obat untuk rematik." Jawab Christina. "Ibuku sudah terkena rematik selama bertahun-tahun. Baru-baru ini obatnya habis jadi aku membantu membelikannya." Rematik benar-benar penyakit yang merepotkan, khususnya untuk orang yang sudah tua. Orang yang terkena tidak bisa jauh-jauh dari obatnya. Ketika udara dingin, penyakit ini akan terasa menyakitkan. Namun bagi Randika, penyakit semacam rematik hanyalah masalah sepele. Chapter 150: Kapan Kalian Akan Menikah? "Rematik? Penyakit simpel begitu tidak perlu obat, kamu sudah lupa siapa aku?" Kata Randika sambil tersenyum. Setelah mendengar Randika berkata seperti itu, Christina teringat penyakit dadanya itu telah disembuhkan oleh Randika. Belum lagi Randika pernah mengatakan bahwa dia menguasai pengobatan tradisional padanya. "Uhuk." Randika berusaha memecahkan keheningan, suasana canggung ini tidak asyik baginya. Namun, mereka tetap berjalan tanpa berkata apa pun. Christina masih tidak berkata apa-apa, Randika sedikit kecewa dengannya. Sudah jelas umpan yang dia tabur itu sangat menggoda, tapi kenapa Christina belum memakannya? "Kenapa? Kamu sedang sakit?" Christina yang tersadar dari pikirannya itu menatap cemas Randika. Randika hanya menggelengkan kepalanya, dia hanya pura-pura batuk agar suasana tidak canggung saja. "Aku benar-benar lupa kalau kamu ahli dalam pengobatan tradisional. Kalau bisa, apakah kamu bisa menengok ibuku itu?" Tanpa diduganya, Christina akhirnya mengambil umpannya. "Jangan khawatir, serahkan semua itu padaku. Aku akan memastikan bahwa penyakit ibumu itu hilang tanpa bekas. Bahkan dia akan merasa lebih muda beberapa tahun." Randika nampak percaya diri. "Kalau begitu, apakah kamu bisa melihatnya sekarang?" .........ˇ­ Christina lalu membawa Randika ke rumah ibunya. Randika sedikit terkejut, ibunya Christina ini tidak tinggal di rumahnya yang berseberangan dengan Viona. Justru rumahnya berada di perumahan menengah ke atas. "Ibumu tinggal sendirian?" Tanya Randika. "Karena aku mengajar, aku butuh tempat yang dekat dengan sekolah agar aku tidak terlalu kecapekan. Rumah yang kamu lihat waktu itu hanya sewaan saja, rumah ibuku ini adalah rumahku yang sebenarnya." Tak lama kemudian mereka tiba di rumah orang tuanya Christina. Christina lalu mengambil kuncinya dan membuka pintunya. "Ma, aku pulang." Christina berteriak sekaligus meletakan barang bawaannya ke atas meja. Randika yang masuk langsung menyapu seluruh ruangan itu dengan matanya. Ruangan tamunya ini cukup besar dan asri. Rumah berlantai 2 ini kurang lebih cukup luas, belum lagi ada piano yang besar di lantai bawah ini. Randika dengan santai langsung duduk di sofa. Pada saat yang bersamaan, ibunya Christina, yang berumur sekitar 60 tahun, keluar dari dapur. "Kok cepat sekali kamu pulangnya?" Ibunya Christina tampak lebih muda dari orang seusianya, meskipun kerutan di wajahnya itu dia tutupi dengan make up dan rambut putihnya dia cat, mungkin orang-orang akan mengiranya dia baru di usianya 50 awal. Saat dia keluar dari dapur, matanya tertuju pada anaknya. Namun, setelah itu dia melihat sesosok laki-laki sedang duduk di sofa. Dalam sekejap ibu ini langsung tersenyum lebar. "Selamat siang tante." Kata Randika sambil berdiri. Jangan-jangan diaˇ­.. Christina langsung ingin menjelaskan alasan kedatangannya Randika. "Ma, ini adalah Randika. Dia iniˇ­" "Aduh ngapain coba kamu jelaskan? Mama sudah tahu siapa dia. Mama Cuma kaget saja kamu tidak bilang-bilang kalau pacarmu akan mengantarmu pulang." Ibunya Christina ini tiba-tiba menjadi bersemangat. Selama ini putrinya ini selalu lajang bertahun-tahun sampai membuat dirinya cemas. Dua tahun lagi anaknya ini akan berkepala 3 dan masih belum punya calon suami. Tetapi sebagai ibu yang baik, dia tidak terlalu mencemaskannya. Dan hari ini tiba-tiba anaknya membawa seorang laki-laki ke rumah, bagaimana mungkin dirinya tidak bersemangat? Randika dan Christina terkejut ketika mendengarnya. Pacar? Kesalahpahaman ini benar-benar terjadi begitu cepat. Namun, Randika tidak bisa menahan tawanya sedangkan Christina terlihat malu karena ibunya ini. Melihat ibunya yang bersemangat itu, dia tidak tega mengatakan bahwa Randika bukanlah pacarnya. Ibunya Christina ini terus menerus menilai Randika. Semakin dia memperhatikannya, semakin senang hatinya. Wajah Randika terlihat tegas, terlihat bahwa orang ini tidak takut sama apa pun. Terlebih postur tubuhnya yang tegap membuat dia terlihat kekar dan tampan. Mengingat sifat putrinya yang sedikit kasar, keduanya terlihat cocok. "Ayo ngapain kamu terus berdiri? Ayo duduk, duduk." Randika lalu duduk kembali di sofa. Randika tidak masalah dengan sifat antusias ini tetapi Christina sedikit bingung harus bereaksi seperti apa. Ibunya ini sepertinya sudah tidak sabar memiliki cucu. "Tintin, sudah sana ke dapur dan buat minuman. Ah, tante lupa. Orang semuda kalian tidak suka minum teh ya? Bagaimana kalau bir?" Ibunya Christina itu terus mengoceh tanpa membiarkan Randika membalasnya. Tanpa daya, Randika hanya bisa mengangguk. Melihat ekspresi Christina itu, Randika bermaksud membantunya dengan mengatakan. "Permisi tante, hari ini akuˇ­" "Sudah, sudah, tante tahu kok maksud kedatanganmu ini." Ibunya Christina ini tersenyum. "Omong-omong sudah berapa lama hubungan kalian ini? Bagaimana ceritanya kalian bisa jadian? Umurmu berapa? Kerja di mana kamu? Kamu sudah beli rumah sama mobil sendiri belum? Tentu saja tidak masalah kalau kamu belum mampu membeli rumah atau mobil sendiri. Yang penting kamu sudah punya pekerjaan yang stabil sebelum kamu menikah. Terus kapan rencananya kalian akan menikah?" Rentetan pertanyaan ini bagaikan senapan serbu, hal ini membuat Randika tidak mampu berkata apa-apa. Dia hanya bisa menatap tanpa daya pada Christina. Tatapan mata Randika seakan-akan meminta maaf karena tidak bisa meladeni ibunya itu. Sepertinya ibunya Christina ini sudah tidak sabar melihat anaknya menikah. Christina sendiri merasa sedikit bahagia, baru pertama kali ini dia melihat ekspresi Randika yang kewalahan. Namun pada saat ini, ibunya Christina menyadari tas belanjaan yang banyak di atas meja. "Nak, aku senang dengan idemu membawa hadiah saat pertama kali bertemu dengan mertua. Tetapi yang aku ingin lihat adalah kalian cepat menjalin hubungan ini secara resmi. Kapan kalian ingin mempunyai anak?" Tanyanya sambil tersenyum. Melihat ekspresi senang ibunya Christina ini, Randika hanya bisa berkeringat dingin. Bukankah barusan dia ditanya kapan menikah? Kenapa sekarang melenceng jadi punya anak? Semua itu butuh proses dan aku bahkan belum pernah meraba Christina! "Ma cukupˇ­" Christina yang mendengar hal ini menjadi tersipu malu. "Tintin, mama ini sudah takut kamu akan hidup sendirian dan sudah menunggu momen ini sejak lama. Biarkan mama menikmati momen ini." "Ma, dia itu bukan pacarku." Kata Christina dengan wajah datar. Mendengar kata-kata itu, ibu berusia 60 tahun ini merasa rambutnya makin putih. Bukan pacarnya? Melihat ekspresi bingung ibu ini, Randika juga berkata sambil tersenyum pahit. "Tante, kami ini hanya teman. Untuk saat ini hubungan kami tidak lebih dari itu." "Oh.." Ibunya Christina ini sepertinya memahami maksud Randika. Dia lalu tersenyum sambil mengatakan. "Terus sampai kapan kalian ingin berteman? Anakku ini sedang tidak bersama siapa-siapa." Kenapa tiba-tiba ibunya sepertinya menjual dirinya seperti itu? Randika lumayan terkejut mendengarnya, ibu ini benar-benar gigih. Christina sudah tidak tahan dengan sandiwara ini, dia lalu berteriak keras. "Ma, cukup! Jangan bahas itu lagi, dia ke sini untuk melihat penyakit rematikmu." "Baiklah, baiklah, mama tidak akan membahasnya lagi. Mama cuma khawatir sama usiamu saja, umur 28 sudah waktunya untuk seorang perempuan menikah." Katanya sambil menghela napas. "Namamu Randika ya? Penyakit rematikku ini sudah bertahun-tahun dan aku sudah memeriksakannya ke rumah sakit berkali-kali. Mereka hanya memberikan aku obat dan jujur saja tidak terlalu manjur. Tapi tante bingung, obat apa memangnya yang kamu punya?" "Tante jangan khawatir, aku akan menyembuhkan tante." Kata Randika sambil tersenyum. "Selama ini tante sudah berusaha mengobatinya dengan pergi keluar negeri dan bahkan ke orang-orang pintar. Penyakit itu memang hilang tapi lama-lama penyakit ini akan balik lagi. Jadi maafkan tante kalau tidak percaya dengan omonganmu itu." "Lagipula anakku ini sudah membelikan obatku jadi kamu tidak usah repot-repot menolongku, dengan obat itu biasanya rasa sakitnya tidak terlalu terasa kok." "Maaf aku tidak bisa mengindahkan anjuran tante itu. Aku sudah berjanji dengan temanku ini kalau aku akan menyembuhkanmu." Kata Randika dengan wajah penuh percaya diri. "Jangan khawatir, sekali aku mengobatinya maka penyakit rematik ini tidak akan pernah kembali." "Sekali? Jangan bercanda seperti itu." Ibunya Christina ini menggelengkan kepalanya. "Ma sudahlah, coba saja dulu. Kan tidak ada salahnya mencoba." Kata Christina dari samping. "Baiklah kalau begitu." Jawab ibunya. "Bagaimana kamu akan mengobatiku?" "Sebentar tante, aku akan memeriksa denyut nadimu dulu." Kata Randika sambil tersenyum. Setelah memeriksanya, Randika berkata pada Christina. "Tolong ambilkan air hangat satu ember dan bawakan alkohol sama korek api." Christina dengan sigap mengambilkan semua barang yang dibutuhkan Randika. "Rematik itu bukan penyakit serius, tetapi rasa sakitnya itu luar biasa." Kata ibunya Christina ini. "Dan juga aku sudah tua." "Ah tante masih muda gini." Randika lalu mengobrol sebentar sebelum akhirnya Christina membawakan semua barang yang dibutuhkan Randika. Kemudian Randika menuangkan alkohol itu ke dalam air hangat dan mengambil korek api lalu menyalakan api di ember yang berisi air dan alkohol. Dalam sekejap, api menyala dengan kuat dan permukaan air itu penuh dengan api. Randika lalu mengeluarkan jarum akupunturnya dan berkata pada Christina. "Tolong kamu angkat baju mamamu itu." "Baik." Christina lalu mengangkat baju ibunya. Randika lalu mencelupkan tangan kanannya ke dalam ember, dia sepertinya mengambil api yang berkobar. Api tampak menyala kuat di telapak tangannya lalu dia dengan cepat menempelkannya pada pinggang si ibu. Teknik ini mirip dengan bekam tetapi bedanya adalah Randika menggunakan telapak tangannya. Dan pada saat yang bersamaan, dia menyalurkan tenaga dalamnya itu ke dalam tubuh si ibu. Hasilnya akan jauh lebih besar daripada metode bekam biasa. Ketika Randika menempelkan tangannya, ibunya Christina ini merasakan panas yang nyaman. Pada saat yang sama, dia merasakan sensasi ratusan semut yang menjalar dari pinggangnya itu ke seluruh tubuhnya. Randika lalu mengangkat tangannya dan menusukan beberapa jarum ke titik akupuntur tertentu. Seluruh jarum ini sudah mengandung tenaga dalam Randika dan sekarang mengalir dengan lembut. Setelah merasakan jarum itu menancap di tubuhnya, ibunya Christina ini merasakan rematiknya mulai menghilang dan dia mulai bisa bergerak dengan bebas. Perasaan ini benar-benar menyenangkan, bagaikan melihat matahari setelah musim salju. Randika lalu mengulangi proses ini, dia kembali mengambil api dan kali ini menempelkannya di punggung. Setelah itu dia menusukannya dengan beberapa jarum lagi. Waktu terus berjalan dan tanpa sadar pengobatan tradisional ini sudah lebih dari 5 menit. Akhirnya, jarum yang berada di punggung ibunya Christina ini tampak berhenti bekerja dan api di dalam ember juga ikut padam. Setelah mendapatkan perawatan dari Randika ini, ibunya Christina merasa segar bugar. Dia merasa bisa jungkir balik sekarang. Melihat dari reaksinya, sepertinya penyakitnya ini benar-benar sudah hilang. Christina merasa lega melihat ibunya yang sudah tua itu sembuh. Chapter 151: Singa yang Tertidur Beberapa menit kemudian, Randika mencabut jarum yang masih menempel. "Bagaimana tante?" Randika tersenyum kecil. "Seharusnya penyakit tante itu sudah hilang sepenuhnya. Aku jamin dia tidak akan kembali asalkan tante terus menjaga diri." Ibunya Christina lalu mencoba untuk berdiri dan memutar-mutar bahunya, dia benar-benar merasa ringan. Seakan-akan beban yang ada di pundaknya itu sudah diangkat, benar-benar ringan! Rasa nyaman ini sudah lama tidak dia rasakan, senyum lebar segera menghiasi wajahnya. "Apakah aku benar-benar sembuh?" Tanyanya sekali lagi. Randika hanya mengangguk. Christina juga terlihat tersenyum manis, dia sangat senang melihat ibunya itu lepas dari penyakitnya. "Kamu memang lelaki yang luar biasa. Omong-omong kamu sudah makan belum? Tinggalah di sini dan makan bersama kita." Kata ibunya Christina dengan antusias. Tinggal? Randika mulai ragu, dia sudah tidak ingin mendengar rentetan pertanyaan itu lagi. Dia sudah tidak mau tertekan seperti itu lagi. "Maaf tante, aku harus pergi karena masih ada urusan." Randika dengan cepat berdiri. Saat dia melihat jam, sekarang masih jam 11 mana mungkin orang makan siang di jam segini? Pasti ibu ini ingin menjadi mak comblang untuk anaknya itu. "Bisa-bisanya kamu menolak kebaikan tante?" Ibunya Christina ini mengerutkan dahinya. "Sudah makan siang saja di sini. Aku akan memasakanmu masakan spesial tante, aku jamin kamu suka." "Tintin, kamu temani Randika dulu ya. Mama mau belanja sebentar." Setelah menyukai sosok Randika ini, ibunya ini tidak akan melepasnya begitu saja. Dia dengan cepat memakai sepatunya dan hendak belanja. Randika benar-benar sudah tidak bisa lolos! "Aduh tante jadinya malah ngerepotin gini. Aku sebentar lagi ada urusan penting jadinya tidak bisa lama-lama. Lain kali saja, aku juga menantikan masakan tante kok." Apa pun yang terjadi, dia harus kabur. Melihat Randika yang berjalan menuju pintu, ibunya itu berkata pada Christina. "Setidaknya biarkan anakku ini mengantarmu pergi." Ketika mendengar hal ini, Christina sedikit terkejut sedangkan Randika tersenyum. "Baiklah kalau begitu, aku dengan senang hati menerimanya." Christina sedikit tersipu malu tetapi dengan cepat dia kembali normal. Buat apa dia malu? Dia hanya mengantar Randika pulang saja kan? Keduanya ini lalu berjalan keluar dan meninggalkan ibu itu sendirian. "Aku tidak menyangka kamu punya nama panggilan di rumah." Kata Randika sambil tertawa. "Tintin, benar-benar nama yang lucu." "Ah! Cukup jangan memanggilku seperti itu! Itu panggilanku saat masih kecil." Christina terlihat malu ketika mendengarnya. "Baiklah aku tidak akan mengulanginya." Randika lalu berdiri di hadapan Christina. "Kalau aku menikahimu apa aku boleh memanggilmu Tintin?" "Kau!" Christina langsung marah ketika mendengarnya. "Hahaha aku bercanda. Tapi serius, kamu setiap hari ditanya seperti itu sama mamamu?" Christina memasang ekspresi tidak berdaya. "Aku mengerti kekhawatirannya jadi aku hanya bisa terdiam." "Tenang saja, jawabannya gampang kok." Randika lalu berkedip. "Kamu tinggal menjadikanku pacarmu bukan? Dengan itu mamamu jadi tidak khawatir lagi dan aku bisa mencicipi makanannya." "Kalau itu kamu yang mimpi." Christina memalingkan wajahnya. "Aku rasa mamamu tadi tidak ingin melepaskanku." Randika lalu tertawa. "Aku merasa mamamu berusaha menjadikan aku menantunya dan dia juga sudah tidak sabar punya cucu." "Kenapa? Kamu tidak mau?" Ini cuma sarkasme dari Christina, dia bukannya ingin mendengar jawaban Randika! Kalian dengar? Ini cuma sarkasme! "Aku rasa itu tidak buruk." Kata Randika sambil berjalan. "Hidup denganmu aku kira cukup menyenangkan, selesai kita bekerja kita setiap hari akan disambut masakan enak ibumu dan kita bisa mewujudkan impian ibumu untuk mempunyai cucu dengan cepat." "Apaan sih!" Christina berusaha menutupi muka malunya itu, dia tidak menyangka Randika akan berkata seperti itu. ??Lha kamu padahal yang nanya kenapa sekarang marah-marah? Aku cuma mengutarakan perasaanku saja, aku tahu kamu sama sekali tidak memikirkan diriku ini." Randika tertawa sambil terus berjalan. Christina hanya terdiam selama beberapa waktu, dan setelah berjalan cukup lama dia mengatakan. "Terima kasih sudah menyembuhkan ibuku itu, penyakitnya itu sudah lama membuatnya kerepotan." "Sebentar, cara berterima kasihmu itu salah! Kamu harus menunjukannya dengan aksi bukan dengan kata." Kata Randika sambil tersenyum. "Aksi?" Wajah Christina dipenuhi dengan kebingungan. Sambil melihat tatapan bingung Christina, Randika menghampirinya dan memeluk pinggangnya. "Sini kuajari." Randika langsung merasakan kelembutan bibir milik Christina. Untuk sejenak Christina tidak bisa berpikir apa-apa. Setelah 5 detik, Christina mendorong Randika. Melihat senyuman nakal Randika itu, Christina merasa marah hingga dadanya menggebu-gebu. Bisa-bisanya dia dipermainkan oleh Randika lagi. Randika mengusap bibirnya, rasanya tidak buruk. Kalau diberi nilai mungkin Christina mendapatkan angka 9. "Itulah yang namanya balas budi yang benar." Kata Randika sambil tersenyum. "Lain kali aku akan menagihnya lagi, aku pergi dulu ya." Melihat Randika yang melarikan diri itu, Christina menggigit bibirnya. Rasa dari bibir Randika masih membekas di bibirnya. ......ˇ­ Randika kembali menganggur, dia juga masih malas untuk pergi ke kantor. Jadi dia memutuskan untuk menghabiskan hari ini dengan berjalan-jalan. Setelah bermain dan berjalan sekian lama, hari sudah menjadi sore. Randika bermaksud untuk pulang ke rumah, seharusnya sebentar lagi Inggrid juga dalam perjalanan pulang. Saat kembali ke rumah, Randika segera mengambil kuncinya dan membuka pintunya. Anehnya, pintu rumahnya ini secara otomatis terbuka sendiri. Randika langsung mengerutkan dahinya. Meskipun Ibu Ipah ada di rumah, pintu ini selalu terkunci jadi kejadian ini benar-benar mencurigakan. Saat Randika masuk ke dalam rumah, adegan di depannya benar-benar membuat dirinya terkejut bukan main. Di dalam ruang tamu itu, lebih dari 12 orang yang berpakaian serba hitam sedang berdiri di sana. Terlebih, Yosef berada di antara mereka! Di bawah kaki Yosef ada Ibu Ipah yang berwajah pucat sedang terikat. Bersamaan dengan bunyi pintu, Yosef dan anak buahnya itu langsung menatap ke arah pintu. "Wah wah wah, preman kecil kita sudah pulang?" Yosef tertawa keras sambil berwajah bengis. "Mana sifat aroganmu yang biasanya? Ups jangan macam-macam atau kubunuh orang ini." Randika tidak menjawab, wajahnya yang sekarang benar-benar memancarkan aura membunuh yang pekat. Randika berjalan perlahan ke arah Yosef, tetapi tatapannya jatuh pada Ibu Ipah. Ibu Ipah mengerti arti tatapan itu dan memohon pada Randika untuk tidak berbuat macam-macam. Lalu tiba-tiba Ibu Ipah ditendang oleh Yosef. "Kamu sendiri juga jangan macam-macam, aku tahu niatanmu dari tatapanmu itu. Orang-orang ini adalah para elit yang dilatih oleh keluarga Alfred kalau kalian macam-macam nyawa kalian akan melayang." Yosef lalu mendengus dingin dan menatap Randika. "Aku sudah menyelidiki tentangmu. Kau itu cuma penjual mie ayam dengan kata lain orang rendahan. Aku tidak tahu kenapa nona Inggrid tiba-tiba menikahimu dan aku tidak peduli alasannya. Namun hari ini riwayatmu akan tamat." Randika masih tidak berbicara, api kemarahannya hampir mencapai puncaknya. "Di mana Inggrid?" Randika tiba-tiba bertanya. "Masih peduli dengan orang lain meskipun nyawamu terancam?" Yosef mengerutkan dahinya. "Nona Inggrid sudah dibawa ke hadapan tuan mudaku." Tatapan mata Randika menjadi tajam, kepalan tangannya sudah mengepal keras. Aura membunuhnya terfokus pada Yosef yang sedang duduk di sofa. Jika seekor naga melihat Randika, maka naga itu akan lari ketakutan! Merasakan aura membunuh Randika yang pekat itu, Yosef terkejut. Dia benar-benar merasa sedang melihat iblis pembunuh di hadapannya. Dia belum pernah melihat aura membunuh yang sebesar ini. Namun, ada 12 orang lebih bawahannya yang merupakan pendekar elit di sampingnya, Yosef jelas merasa tidak takut. "Kenapa? Kau ingin membunuhku? Mari kita lihat seberapa tangguhnya kamu hari ini." "Nakˇ­ Larilahˇ­" Ibu Ipah mengeluarkan sisa tenaganya untuk menyuruh Randika lari, sepertinya dia sudah dipukuli cukup parah sebelum Randika datang. Randika menarik kembali api kemarahannya dan berjalan kembali ke arah Ibu Ipah. "Kau tidak perlu khawatir, Ipah tidak akan mati tetapi kau akan mati." Yosef tertawa keras. Pada saat ini, para elit ini sudah waspada ketika Randika sudah berjalan mendekati Ibu Ipah. Mereka mau tidak mau menyerang Randika. Randika sama sekali tidak bergerak, para pendekar itu sudah menerjang ke arahnya dari segala sisi. Yosef yang melihat ini sudah tertawa bagaikan penjahat yang sudah menang, hari ini dia akan membuang mayat Randika di sungai. Ketika para pendekar itu sudah dekat dan melayangkan pukulannya, Randika bergerak. Tangannya bergerak dengan cepat dan tidak ada orang yang bisa melihat sosoknya. Kemudian dia menghantam tenggorokan salah satu pendekar! DUAK! Di bawah tatapan orang-orang, pendekar itu melayang jauh dan terbenam di dalam tembok. Sudah dipastikan bahwa tinju Randika langsung menewaskannya. Dari dalam tembok muncul genangan darah. Untuk sejenak semua orang terdiam dan menatap pendekar tersebut. Tawa liar Yosef itu berhenti dan menatap diam salah satu anak buahnya itu. Para pendekar lainnya mulai ketakutan terhadap lawannya ini. Kekuatan dan aura yang dia tunjukan benar-benar sudah jauh di atas level mereka. Randika, seakan-akan tidak terjadi apa-apa, hanya mengambil kembali tangannya dan berjalan kembali ke arah Ibu Ipah. Keheningan yang mencekam! Para pendekar elit ini herannya memberi jalan pada Randika untuk lewat, mereka tahu bahwa mereka bukan tandingannya. Randika lalu mengambil tangan Ibu Ipah dan memeriksa denyut nadinya. Dia lalu mengeluarkan jarum akupunturnya dan menusukannya. Setidaknya dia telah memberikan pertolongan pertama. "Di mana Inggrid?" Tanya Randika. Namun, Ibu Ipah nampak menangis, sepertinya dia telah gagal melindungi nona mudanya itu. Pertanyaannya itu aslinya membuat hati Randika merasakan rasa sakit yang bukan main. Inggrid dan dia awalnya hanya menjalani kawin kontrak dan Randika mengikuti pengaturannya karena tergiur oleh imbalannya. Namun, hari demi hari hidup bersama, perempuan cantik, keras kepala, independen, dan berhati lembut itu telah mengisi kekosongan hatinya. Randika suka senyumannya, wajah marahnya, aroma tubuhnya, sikap cueknya, semuanya tentang Inggrid. Dialah kryptonite nya! Yosef yang sudah menjauh dari Ibu Ipah itu tiba-tiba mengatakan. "Hari ini mayatmu akan mengapung di sungai, bersiap-siaplah menyambut ajalmu!" Randika tidak menjawab, dia hanya terus mengobati Ibu Ipah. Ibu Ipah sendiri sudah merasakan aura membunuh Randika dan dia benar-benar terkejut. Pada saat ini, Randika bagaikan singa yang tertidur. Setiap saat dia bisa mengeluarkan kekuatan serta seluruh kemampuannya dalam sekejap. Hal ini bisa-bisa membuat bumi terguncang. "Nona sudah dibawah oleh tuan muda kelima dari keluarga Alfred bernama Henry." Kata Ibu Ipah sambil menenangkan diri. "Mereka baru saja pergi." Chapter 152: Kau Tidak Bisa Menyentuhku! Wajah Ibu Ipah benar-benar pucat. Dia tidak bisa mencegah orang-orang ini, para pendekar yang dibawa oleh Yosef terlalu banyak dan disamping Henry ada 2 orang yang jauh lebih kuat daripadanya. Bahkan menghadapi 2 orang itu Ibu Ipah tidak mampu, kemampuan mereka terlalu beda jauh. Dia hanya bisa melihat Inggrid dibawa oleh Henry. Henry adalah anak kelima dari keluarga Alfred. Yosef menatap tajam Randika yang terdiam dan tertawa. "Bagaimana rasanya tidak berdaya? Kau pasti merasa seperti sampah bukan? Aku beritahu sekali lagi padamu, di hadapan keluarga Alfred kau hanyalah seekor semut! Tidak ada apa-apanya!" Randika mengangkat kepalanya dan menatap Yosef. Tidak ada ekspresi di wajahnya. "Kenapa? Mau menghajarku lagi? Kau pikir dengan menghajarku kau bisa menyelamatkan istrimu itu? Kau harus membiasakan diri kalau di dunia ini ada kekuatan yang tidak bisa kau lawan." Yosef tertawa keras. "Oh ya?" Randika masih menatap tajam Yosef. "Hari ini kau tidak akan berjalan lagi." "Aku ingin sekali melihatmu berusaha." Yosef sudah merasa jijik dengan Randika, bocah itu sepertinya tidak sadar bahwa riwayatnya sudah tamat. "Hajar dia tetapi jangan sampai dia mati. Tangkap dan ikat dia, aku akan menyiksanya nanti!" Teriak Yosef. Dua belas pendekar elit ini sudah siap kembali bertarung. Karena lawannya kali kuat, mereka tidak boleh bertindak gegabah. Kerja sama adalah kunci untuk menaklukan musuhnya itu. Randika berjalan perlahan ke arah Yosef. Pada saat ini, seorang pendekar mengendap-endap dan menyerang Randika dari belakang. Ketika pendekar ini bergerak, seluruh situasi segera menjadi kacau. Secara bersamaan, 11 orang lainnya sudah menerjang ke arah Randika sambil melindungi teman di sampingnya! Pada saat ini, kemarahan Randika sudah meledak! Saat darah seorang Ares mendidih, seribu mayat tidak akan mampu menghapus nafsu membunuhnya itu. Para pendekar elit ini merasakan aura membunuh Randika yang luar biasa kuat. Sebelum mereka mendekat, mereka memberikan serangan pisau yang bertujuan untuk menutup jalur lari Randika. Tetapi pemimpin dari pendekar ini terkejut, Randika tiba-tiba menghilang dari tempatnya berdiri! Kemudian aura membunuh itu terasa dari arah samping. Semua pendekar itu terkejut, setelah berlatih bertahun-tahun dengan keras, serangan kombinasi mereka itu sempurna. Tetapi bagi Randika serangan itu sangat lambat. Kemudian Randika dengan cepat memukul dada dari pemimpin para pendekar itu. Tiba-tiba, sudah ada lubang sebesar lengan ada di dadanya. One hit kill! Pada saat yang sama dua pendekar kembali menerjang ke arah Randika. Satu melompat dan satu menyerang dari arah samping. Randika masih mempertahankan wajah tanpa ekspresinya. Dia dengan santai menangkap kaki dari orang yang melompat itu. Orang tersebut benar-benar terkejut, sejak kapan orang itu sudah ada di hadapannya? Tetapi sebelum dia sempat bereaksi, Randika sudah meremukan tulangnya. Setelah itu Randika melemparnya ke pendekar yang menyerangnya dari arah samping. Keduanya bertabrakan dan meringkuk kesakitan di lantai. Melihat aksi Randika ini, Yosef menjadi cemas sekaligus terkejut. Dia lalu membentak para bawahannya itu. "Serang dia bersama, aku ingin dia bertekuk lutut di hadapanku 1 menit lagi!" Sisa dari para pendekar itu langsung menerjang kembali ke arah Randika. Mereka sudah kehilangan 2 teman mereka dan pemimpinnya hanya dalam 1 serangan. Kekuatan lawannya ini benar-benar lebih mengerikan daripada bayangan mereka. Randika mengangkat kepalanya dan menatap mereka semua. Dia melihat para pendekar ini memakai taktik yang berbeda, mereka mengepung dirinya dari segala arah. Lalu serangan kombinasi dilancarkan secara bersamaan. Namun, Randika jauh lebih cepat dari mereka. Dengan satu hentakan yang kuat, Randika sudah melompat tinggi dan berputar di udara dengan indah. Gerakannya ini bisa dikatakan sangat elegan dan menarik. Para pendekar yang melihat hal ini langsung menoleh ke atas. Pada saat ini, salah satu dari pendekar itu melompat dan berusaha menyerang Randika. Memangnya siapa yang bisa mengelak di tengah udara? Dan juga teman-temannya itu sudah siap menyerang ketika Randika mendarat. Tetapi ketika dia baru melompat, wajahnya itu disambut oleh sebuah kaki. Serangan kaki Randika ini benar-benar kuat dan membenamkan kepala pendekar itu ke dalam lantai! Setelah mendarat, Randika sudah disambut oleh beberapa orang yang menerjangnya. Randika malah mencuekinya dan menatap tajam Yosef. Yosef yang ditatap langsung merinding ketakutan. Kenapa seorang penjual mie ayam bisa bertarung sehebat itu? Kemampuannya sudah mirip dengan orang-orang di daftar Dewa. Sisa dari para pendekar ini kembali mengepung Randika, mereka lalu saling bertatap-tatapan. Memahami arti tatapan satu sama lain, mereka sudah bertekad untuk berjuang sampai mati dan menerjang kembali ke arah Randika. Tetapi semua usaha mereka sia-sia. Satu per satu dari mereka entah dipukul hingga pingsan ataupun salah satu tulangnya dipatahkan oleh Randika dan tidak bisa bergerak lagi. Hanya dalam 5 menit, tersisa Randika yang berdiri di tengah tubuh para pendekar itu. Yosef tanpa sadar mengusap keringat dinginnya yang ada di dahinya. Dia tidak menyangka situasi akan berubah drastic seperti ini. Skenario yang sudah susah payah dia rancang langsung hancur berantakan. Pada saat ini, Randika menatap mata Yosef yang sudah ketakutan itu. Aura membunuh Randika masih belum padam! Kali ini Yosef sudah merasa ingin mengompol, keringat dingin sudah membasahi seluruh punggungnya. Ini pertama kalinya dia merasa tidak berdaya dan ketakutan seperti ini, semuanya karena pertemuannya dengan Randika. Dia merasa bahwa Randika bisa menghabisinya dengan satu jari. "Aku peringatkan kamu sekali lagi, aku ini adalah suruhan orang dari keluarga Alfred. Berani menyinggung aku maka kau akan menanggung akibatnya." Kata Yosef sambil merangkak mundur. Randika secara perlahan menghampirinya sambil mengepalkan tangannya. Randika sendiri tidak menjawab, dia hanya berjalan menghampirinya. "Kau tidak bisa menyentuhku! Statusku sangat tinggi di keluarga Alfred! Jika kau membunuhku, Inggrid juga akan menerima akibatnya!" Keringat dingin Yosef sudah menggenang di lantai, aura membunuh Randika benar-benar menekan. Yosef sendiri masih bingung, dari mana Inggrid menemukan orang sekuat ini? Apakah orang ini adalah senjata rahasianya Inggrid untuk melawan keluarga Alfred? Seharusnya Inggrid tahu bahwa semua ini lebih besar daripada hanya menikah, kelangsungan hidup keluarganya juga tergantung pada sikapnya. Bukan fenomena yang aneh keluarga kaya menikahkan anaknya secara paksa untuk mempertahankan kekayaannya, hal ini sudah berlangsung sejak lama. Melihat Randika yang masih terdiam dan aura membunuhnya yang makin mengecam, Yosef sudah kesusahan untuk bernapas. "Jangan mendekat, pergi sana!" Yosef terus menerus mundur dan akhirnya dia menatap tembok dengan keras. Sambil memegangi kepalanya yang kesakitan, ternyata dia melewatkan jalur kaburnya. Karena saking takutnya dengan Randika, Yosef gagal memperkirakan jaraknya berdiri dengan jendela. Dia sekarang malah menatap tembok dan tidak bisa lari ke mana-mana. Ketika dia mengangkat kepalanya, sebuah kaki sudah menghantam dadanya dan kekuatan tendangan ini membuatnya tersungkur kesakitan di lantai. Rambut Yosef lalu dijambak oleh Randika dan dia dihadapkan oleh mata dingin Randika. "Di mana Inggrid?" Chapter 153: Satu Melawan Dua "Di mana Inggrid?" Pertanyaan yang simpel, tapi, berisikan seluruh amarah dan niat membunuh Randika. Yosef merasakan dilemma yang kuat. Meskipun dia dan tuan mudanya menerobos masuk ke rumah Inggrid, dirinya tidak tahu tuan mudanya itu pergi ke mana membawa Inggrid. Dan melihat tatapan mata Randika, Yosef tahu bahwa dia akan disiksa apabila tidak bisa menjawab pertanyaannya. "Nona Inggrid dibawa oleh tuan muda." Yosef berharap jawabannya itu sudah cukup membuat Randika puas. Namun, tatapan mata Randika terlihat dingin dan dia terlihat mengangkat kakinya dan menginjak tangan kanan Yosef. KRAK! Suara tulang yang patah terdengar nyaring, disusul oleh teriakan kesakitan Yosef. "Ah! Aku hanya tahu itu, aku tidak tahu tuan muda membawanya ke mana." Keringat mulai membasahi punggung Yosef dan rasa sakit dari tulangnya yang patah sangat menyakitkan. Terlebih, dia sama sekali tidak bisa bergerak. Kaki iblis pembunuh ini masih menginjak tangannya dan melepaskan diri sama saja dengan mengangkat gunung. "Di mana Inggrid?" Mendengarnya untuk ketiga kalinya, Yosef mulai takut nyawanya akan melayang. Tulang tangan kanannya itu mencuat keluar, jika tidak ditangani dengan cepat bisa-bisa tangannya terinfeksi dan harus diamputasi. Bisa dikatakan bahwa hidupnya setelah ini benar-benar mengalami perubahan drastis. Otak Yosef berpikir dengan keras, sayangnya dia hanya mempunyai waktu 2 detik. Tatapan mata Randika kembali terlihat dingin dan tanpa berkata apa-apa, dia menginjak tangan kirinya Yosef. KRAK! "Hisss!" Mata Yosef seperti sudah ingin keluar dari tempatnya, wajahnya benar-benar menunjukan ekspresi kesakitan. Darah mulai menggenang dari tempat tulang tangannya itu mencuat. Kedua tangannya sekarang sudah patah. Yosef yang masih berusaha menahan rasa sakit ini mendengar pertanyaan yang sama untuk keempat kalinya. "Di mana Inggrid?" Aku tidak tahu! Yosef sudah ingin menangis, dia benar-benar tidak tahu apa-apa. Yang dia tahu adalah jika tidak memberi jawaban yang memuaskan Randika, dia akan mati hari ini. Tetapi pada saat ini, sebuah ingatan melintas di benak Yosef. Dia samar-samar mengingat bahwa Henry pernah berkata padanya bahwa dia akan menikmati tubuh Inggrid di kamar termewah Hotel Mega. Dua detik kemudian, Randika kembali mengangkat kakinya dan kali ini mengarah pada selangkangan Yosef. Dengan ekspresi panik, Yosef segera mengatakan. "Kamar suite Hotel Mega, tuan mudaku ada di Hotel Mega!" Setelah berkata seperti itu, Yosef sedikit merasa lega. Dengan ini mungkin dia telah berhasil menyelamatkan nyawanya. Tetapi, Randika masih menginjaknya sekali lagi! Kali ini kaki kanan Yosef yang menjadi korbannya. "Ah!" "Kenapaˇ­ Kenapa kau masih menyiksaku!" Yosef memegangi kaki kanannya sambil meneteskan air mata. Randika menginjak tepat di engkel kakinya, membuat tulangnya menjadi remuk dan mustahil untuk Yosef berjalan dengan normal lagi bahkan bisa dikatakan dia menjadi lumpuh. "Kapan aku janji tidak menyiksamu?" Kata Randika dengan santai. "ˇ­.." Yosef tidak bisa berkata apa-apa, hatinya benar-benar hancur. Setelah itu, Randika kembali menginjak kaki kirinya dan kali ini riwayat Yosef sudah benar-benar tamat. Seumur hidupnya dia akan perlu bantuan orang lain. Suara tangisan Yosef mulai menghilang, rasa sakit yang luar biasa terlalu besar untuk ditanggungnya dan mulai tidak sadarkan diri. Namun, Randika tidak akan membiarkannya pingsan begitu saja. Dia menusukan jarum ke titik akupunturnya jadi Yosef tidak bisa pingsan dan terus merasakan rasa sakitnya itu. "Aku akan ke Hotel Mega." Kata Randika pada Ibu Ipah. Bersama dengan ''mayat'' Yosef, Randika menghilang dan menuju Hotel Mega. Ibu Ipah menatap Randika dengan tatapan penuh harap. Sore hari itu, para pejalan kaki di kota Cendrawasih melihat penampakan yang tidak biasa. Mereka melihat seorang laki-laki sedang menyeret seseorang yang berlumuran darah sambil berlari dengan kecepatan tidak biasa. ......ˇ­.. Hotel Mega, lantai paling atas. Seluruh lantai paling atas ini merupakan kamar Suite termewah yang dimiliki Hotel Mega, harganya benar-benar fantastis. Di depan pintu kamar mewah ini, ada 2 orang paruh baya yang berjaga. Mereka menutup matanya bagaikan pendeta yang sedang bermeditasi. Mereka berdiri diam dengan pernapasan yang stabil, pikiran mereka menyatu dengan alam. Mereka berdua adalah pendekar kelas atas yang masuk dalam daftar Dewa di keluarga Alfred. Bisa dikatakan bahwa Henry tidak perlu khawatir apabila membawa mereka berdua. Di dalam ruangan, Inggrid duduk di kursi dengan tangannya terikat. Seorang lelaki berbaju putih sedang menatap Inggrid. Sambil meminum whiskey nya, dia berkata sambil tersenyum. "Aku tidak menyangka tunangannya kakak ketigaku itu masih cantik, aku tidak sabar melahapmu." Henry lalu menjulurkan tangannya dan mengelus rambut Inggrid. Inggrid memalingkan wajahnya dan berkata dengan nada dingin. "Kau tidak takut menghancurkan hubungan antara keluarga kita?" Jika kelakuan Henry ini sampai di telinga para tetua keluarganya, keluarganya pasti tidak akan tinggal diam. Itu akan mencemarkan nama baik keluarga Alfred dan menghancurkan hubungan keluarga Alfred dan keluarganya Inggrid. Jadi bisa dikatakan bahwa Henry sedang berjalan di antara ranjau. "Kamu akan menjadi istriku sebentar lagi, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Henry tertawa. "Mereka tahu pun maka mereka akan menganggap kita sedang kasmaran dan mungkin kita bisa menikah lebih cepat. Jadi tidak ada salahnya aku ingin bermain denganmu hari ini bukan?" "ˇ­.." Inggrid hanya menatap Henry dengan tatapan penuh kebencian. Dia merasa jijik dengan lelaki seperti ini. "Awww, jangan menatapku seperti itu. Sebentar lagi kau akan kubuat merintih tanpa henti." Henry tertawa dan mulai membuka pakaiannya. Melihat tubuh sexy Inggrid itu, Henry sudah tidak sabar dan mulai terangsang. Reputasi Inggrid Elina sebagai wanita tercantik kota Cendrawasih benar-benar bukan isapan jempol belaka. Menidurinya sekarang mungkin adalah hal yang tepat. Inggrid memalingkan wajahnya, pria di depannya ini sudah tak tertolongkan lagi. Reputasi Henry benar-benar gelap, sudah ratusan wanita telah dia paksa tidur bersamanya. Namun, di hadapan uang siapa yang bisa menolak dirinya? Uang dan kedudukan keluarganya merupakan kombinasi yang sangat kuat, hal ini membuatnya bisa melakukan apa pun yang dia mau. Inggrid benar-benar muak dengan pria hidung belang semacam Henry, dia mulai memberontak dan berusaha melepaskan diri. Namun, Henry yang sudah tidak pakai baju menghampiri Inggrid. Inggrid hanya menutup matanya dan memalingkan wajahnya. Henry lalu meremas kedua pipi Inggrid dengan satu tangan. "Kenapa? Takut melihat wajahku?" Inggrid hanya mendengus dingin dan tidak membalas. Di luar ruangan, kedua pendekar itu tiba-tiba membuka matanya bersamaan dengan lift yang terbuka. Dalam sekejap kedua orang ini langsung bersiaga dan memasang kuda-kuda bertahan. Tugas utama mereka adalah menjaga keselamatan tuan muda mereka yang kelima ini. Pintu lift terbuka dan pada saat itu juga, tampak seseorang dengan wajah bengis dan aura membunuh yang kuat. Namun di tangannya terlihat orang berlumuran darah yang tidak berdaya. Yosef! Tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa orang yang terluka itu adalah Yosef. Tanpa ragu-ragu, kedua pendekar ini maju secara bersamaan. Mengambil pisau dari balik baju mereka, kedua pendekar ini menyerang Randika dari jarak jauh. Randika, dengan wajah tenangnya, mengangkat Yosef dan menggunakannya sebagai tameng. Dalam sekejap seluruh pisau yang melayang itu menancap di tubuh Yosef. Yosef, yang sudah sekarat, menerima semua serangan itu tanpa bisa menahannya satu pun. Teriakan kesakitan sama sekali tidak terdengar, suara napasnya pun sudah tidak terdengar lagi. Kedua pendekar ini berhenti bergerak dan mengerutkan dahinya. Lawannya ini benar-benar kejam. Ketika mereka merasakan aura membunuh Randika, kerutan di dahi mereka bertambah. Selama bertahun-tahun ini, mereka belum pernah melihat aura membunuh yang sebesar itu. Kedua pendekar itu menatap Randika yang perlahan keluar dari lift dengan Yosef yang masih dipakainya sebagai tameng. Melempar Yosef ke samping, Randika dan kedua pendekar itu saling bertatapan. Kedua pihak tahu bahwa mereka sama-sama hebatnya. Suasana lorong ini sudah benar-benar mencekam, orang biasa sudah akan kesulitan bernapas. Lalu dalam sekejap, kedua pendekar itu bergerak dan menerjang ke arah Randika. Mereka menyerang dari kedua sisi Randika, satu di kiri dan satu di kanan. Serangan kombinasi mereka ini sudah mereka asah melalui pengalaman hidup mati selama bertahun-tahun. Bahkan jika lawan mereka itu lebih kuat, dengan serangan kombinasi ini tidak ada lawan yang berhasil bertahan hidup. Ekspresi wajah Randika masih tetap tidak berubah, tetapi ketika kedua pendekar itu bergerak dan sudah dekat dengannya, kaki kanannya menendang sesuatu! Bersamaan dengan kakinya itu, Yosef, yang sudah mati, melesat menuju kedua pendekar tersebut. Kedua pendekar ini terkejut dan melompat untuk menghindar, lawannya benar-benar kejam. Serangan Randika ini berhasil mengacaukan serangan kombinasi mereka. Dan pada saat ini, Randika sudah sangat dengan mereka berdua. Buruk! Keduanya masih belum mendarat di tanah, apabila Randika menyerang sekarang maka mereka tidak akan bisa menghindar. Jadi satu-satunya jalan adalah memblokir serangannya. Namun, perasaan ngeri mulai muncul ketika mereka melihat tatapan mata Randika. Serangan Randika benar-benar luar biasa cepat. Tanpa disangka, Randika sudah melayangkan lebih dari 20 pukulan pada keduanya. Mereka bertiga bertukar pukulan. Meskipun sempat memukul Randika, kedua pendekar ini lebih banyak bertahan. Serangan Randika yang bertubi-tubi itu benar-benar kuat dan cepat, sulit untuk menahannya. Di bawah serangan Randika, kedua orang ini mulai terpojok. Dua tangan melawan empat tangan! Semakin mereka bertukar pukulan, semakin terkejut mereka. Pada saat ini, di antara serangan-serangan Randika, tiba-tiba kepalan tangan itu berubah menjadi telapak tangan yang mendarat di tubuh mereka. Dengan ledakan tenaga dalamnya, kedua pendekar ini melesat jauh. Namun, kedua pendekar ini segera berdiri dan menatap Randika. Kali ini tatapan mereka berdua mengandung rasa takut. Masih muda tetapi sudah sekuat ini? Siapa dia sebenarnya? Sejak kapan tuan muda mereka menyinggung seseorang ahli bela diri seperti ini? Kedua pendekar ini mengerutkan dahinya, pertama kalinya mereka berdua terpojok seperti ini. Pada saat ini, di dalam ruangan, Henry sudah melepas celananya. Sekarang dia hanya memakai celana dalamnya. Henry memperhatikan Inggrid yang masih menutup matanya dan tertawa. Dia lalu melempar Inggrid ke kasur. "Ah!" Inggrid terkejut. Ketika dia membuka matanya, dia melihat Henry sudah menindihnya dan hampir telanjang. "Henry, apa kau tidak memikirkan akibat dari tindakanmu ini?" Kata Inggrid sambil marah-marah. "Sudahˇ­" Kata Henry sambil menjilati bibirnya. "Aku tidak peduli hubungan kedua keluarga kita menjadi rusak. Mereka hanya bisa pasrah kalau aku bisa menanam benihku di perutmu itu, aku tidak peduli selama aku bisa menikmati tubuhmu ini." "Kurang ajar!" Inggrid langsung meronta-ronta. Dia tidak menyangka bahwa Henry sudah serusak ini sampai-sampai berbuat di luar batas seperti ini. Henry yang menahan kedua tangan Inggrid itu lalu mengatakan. "Aku dengar kamu sudah menikah? Tidak apa-apa, aku sebenarnya suka perempuan yang lebih muda dariku." Chapter 154: Lahirnya Seorang Kasim Inggrid kembali berusaha melawan, tetapi karena tangannya terikat dan ditindih oleh Henry, dia sama sekali tidak berdaya. "Semakin kau melawan, aku semakin senang." Kata Henry sambil tertawa. Menatap Henry dengan tatapan marah, Inggrid berteriak keras. "Bahkan seribu tahun pun, aku tidak akan tunduk dengan pria mesum sepertimu!" "Mesum? Aku suka dengan julukan itu." Kata Henry sambil tersenyum. Dia lalu mulai merobek baju Inggrid, sudah tidak sabar melihat dada yang ada di balik baju tersebut. Apakah kesucianku akan diambil hari ini? Pemikiran seperti itu langsung terlintas di benak Inggrid. Tetapi di tengah keputus asaannya itu, sosok Randika tiba-tiba muncul. Dia dapat dengan jelas melihat sosok suaminya itu tersenyum padanya, hatinya lalu mengepal keras. Akankah kau datang untuk menyelamatkanku? Pada saat yang sama, di luar pintu ruangan, Randika masih bertarung dengan kedua pendekar andalan keluarga Alfred. Detik demi detik, aura membunuh Randika semakin besar. Inggrid yang ada di balik pintu itu sudah pasti sedang menunggu dirinya. Aura membunuh yang kian besar itu membuat kedua pendekar ini ketakutan dan sulit bernapas. Mengepalkan tinjunya, tatapan mata Randika menjadi serius. Dengan kecepatan cahaya, dia melesat ke arah kedua pendekar itu. Tangan kanannya yang bagaikan peluru dan jari-jarinya yang sudah penuh dengan tenaga dalamnya, melesat dan menusuk ke salah satu tenggorokan pendekar! Pendekar itu sudah tahu dan siap dengan serangan tersebut tetapi dia tetap tidak bisa menghindar. Kecepatan Randika benar-benar jauh lebih cepat darinya. Pendekar satunya benar-benar terkejut. Ketika dia ingin membantu temannya, Randika menghantamnya dengan tinjunya hingga dia terdorong mundur. Pukulan Randika benar-benar kuat, dia sama sekali tidak bisa berhenti mundur. Tahu-tahu dia sudah menabrak keras tembok. Pendekar paruh baya ini ingin kembali berdiri tetapi rasa sakit yang menyakitkan mulai menguasai tubuhnya. Dan di saat yang bersamaan, Randika sudah berdiri di hadapannya. Melihat tatapan mematikan Randika, pendekar ini ingin memohon ampun atas nyawanya. Tetapi Randika dengan keras menendang selangkangannya dan membuatnya pingsan. Sambil tangannya berlumuran darah, tatapan Randika jatuh pada pintu ruangan yang tidak terjaga. Pada saat ini, Henry sudah meneteskan air liurnya ketika melihat wajah tidak berdaya Inggrid. Dia sudah bersiap menurunkan celana dalamnya dan menanamkan benihnya. Namun pada saat ini, dari arah pintunya terdengar suara ledakan yang keras. Pintu itu dengan mudah lepas dari engselnya dan menatap tembok. Henry terkejut bukan main, dia lalu menatap ke arah pintu. Inggrid juga membuka matanya, apakah itu benar-benar dia? Sosok Randika muncul di mata mereka berdua, Henry langsung mengerutkan dahinya. "Siapa kamu?" Inggrid sudah menatap Randika dengan perasaan bahagia dan setetes air mata. Dia benar-benar datang untuk dirinya! Randika menatap kedua orang itu di atas kasur, dia melihat istrinya hendak diperkosa oleh anak manja dari keluarga kaya itu. Rasa marahnya itu segera memuncak dan membuat udara bergetar. Dalam sekejap dia sudah berada di depan Henry dan menendangnya. Dengan cepat Henry tergeletak di lantai dan meringkuk kesakitan. "Maaf aku terlambat." Tatapan mata Randika langsung melunak ketika berbicara dengan Inggrid, dia lalu melepas ikatan di tangannya. Setelah lepas, Inggrid langsung memeluk erat Randika. Hatinya merasa lega dan air matanya tidak bisa berhenti. Randika membalas pelukannya itu dan mengelus-elus rambut istrinya. "Maafkan aku, kamu mengalami semua ini gara-gara aku." "Aku kira aku tidak akan pernah melihatmu lagi." Inggrid tidak bisa berhenti menangis. Apabila dia benar-benar diperkosa oleh Henry, Inggrid tidak pernah akan berani bertemu dengan Randika lagi. "Sudah, sudah, tidak akan ada orang yang bisa memisahkan kita lagi." Randika kembali menenangkan Inggrid. Dan pada saat ini, Henry mulai berdiri dan melihat mereka berdua sedang berpelukan. Henry lalu mendengus sambil mengatakan. "Ternyata si suami yang datang." "Sayang, biarkan aku mengatasi orang itu dulu ya." Kata Randika sambil mengusap air mata Inggrid. Dia lalu datang menghampiri Henry. "Apaˇ­ Apa maumu?" Henry benar-benar ketakutan, celana dalamnya terlihat mulai basah. "Menurutmu apa yang akan kulakukan?" Randika menatap anak kelima dari keluarga Alfred itu dengan tatapan jijik, nada suaranya penuh dengan ancaman. Henry sudah merasakan niat membunuh Randika yang meluap-luap. Dia lalu berteriak. "Berani menyentuhku maka kau akan mati, aku punya anak buah yang mampu membunuhmu hanya dengan satu jari!" "Maksudmu dua kakek tua di luar itu?" Kata Randika dengan santai. Mendengar nada Randika itu, Henry mulai memiliki perasaan tidak enak. Dia menarik napas dan berteriak keras. "Oi tua bangka, ada musuh menerobos masuk!" Setelah beberapa saat, tidak ada orang yang menjawabnya. "Orang mati tidak akan bisa mendengar suaramu." Tatapan Randika menjadi dingin, dia lalu menampar Henry dengan keras. Dalam sekejap Henry merasa pusing dan salah satu giginya copot! Benar-benar kekuatan yang mengerikan. Henry benar-benar merasa bumi berguncang, dia sudah tidak mampu berdiri lagi dan jatuh di tanah. Setelah beberapa saat, Henry sudah kembali normal. Melihat wajah mengerikan Randika itu, dia mulai menjadi panik. "Kau tahu aku siapa? Aku adalah keturunan dari keluarga Alfred, kau tidak bisa menyentuhku! Jika kau macam-macam, keluargaku tidak akan tinggal diam." Mendengar ancaman kosong Henry itu, Randika hanya menggelengkan kepalanya. Semut tetaplah semut, di hadapan singa mereka bukanlah apa-apa. "Keluarga Alfred dari Jakarta?" Tanya Randika dengan wajah datar. Henry merinding ketika melihat ekspresi Randika. Dia lalu mengatakan. "Benar, aku adalah anak kelima dari keluarga Alfred dari Jakarta. Sekarang, lepaskan aku atau kau akan menerima takdir yang lebih kejam daripada kematian." "Oh ya? Kalau begitu aku akan membunuh mereka satu per satu." Tatapan Randika menjadi dingin dan tanpa berpikir panjang, dia menginjak keras selangkangan milik Henry! Dalam sekejap, suara telur pecah terdengar dengan jelas. Wajah Henry benar-benar pucat pasi seperti kertas. Randika sudah menghancurkan garis keturunan milik Henry. "AGHH!" Suara kesakitan seperti rintihan babi langsung terdengar, Henry merasakan rasa sakit yang bukan main. Dia memegangi buah zakarnya dan berputar-putar di lantai. Randika memastikan Henry tidak bisa lagi berbuat seperti ini pada wanita lain untuk selamanya. Henry resmi menjadi kasim, mungkin ini adalah waktu yang tepat baginya untuk bertobat. "Sialanˇ­ Kauˇ­ Berani-beraninya kau!" Henry masih kesakitan, tetapi menggunakan sisa tenaganya dia menatap Randika dengan tatapan kebencian. Dia ingin menguliti Randika hidup-hidup. "Jika aku melihat kau masih ada di kota ini, aku akan membunuhmu." Kata Randika dengan muka serius. Setelah mendengar hal tersebut, Henry sudah tidak berani menatap Randika. Randika lalu berkata sekali lagi. "Kali ini aku akan membiarkanmu pergi dari sini. Tetapi kalau kau ingin membalas dendam, datanglah kapan saja dan aku akan meladenimu. Tetapi kalau kau berani menyentuh Inggrid ataupun keluarganya, aku akan memburumu dan keluargamu. Mayat kalian akan kugantung di depan rumah kalian!" Chapter 155: Lampu Hijau Randika lalu membawa Inggrid kembali ke rumah. Melihat nona mudanya itu kembali, Ibu Ipah menangis bukan main. Mereka berdua langsung berpelukan dan Ibu Ipah tidak berhenti meminta maaf. Para pendekar yang dibawa Yosef ke rumah ini sudah tidak ada, tetapi kekacauan yang ditimbulkannya masih tetap ada. Luka Ibu Ipah tidak memungkinkannya untuk membereskan ini semua. Namun, semua ini hanyalah masalah kecil. Yang paling penting adalah Inggrid berhasil pulang dengan selamat. "Apa nona lapar? Ibu akan menyiapkan sesuatu." Kata Ibu Ipah dengan cepat. Inggrid mengangguk dan Ibu Ipah segera pergi ke dapur. Melihat wajah pucat Inggrid, Randika merasa hatinya menjadi sakit. Dia lalu menggendong belahan jiwanya itu ke sofa. Mereka berdua hanya duduk dengan diam sambil berpegangan tangan. Setelah makan malam bersama-sama, Inggrid merasa dirinya benar-benar capek dan ingin kembali ke kamarnya untuk tidur. Sambil menggendong Inggrid, Randika ikut masuk ke kamarnya. "Beristirahatlah dengan tenang ya sayang, besok kamu tidak usah masuk ke kantor." Kata Randika dengan nada lembut. Randika kemudian mengecup dahi Inggrid sambil tersenyum tulus. "Iya." Inggrid hanya mengangguk pelan. "Kalau begitu selamat beristirahat." Randika lalu berdiri. Setelah menutup tirai jendela, Randika hendak pergi dari ruangannya. "Tunggu..." Inggrid tiba-tiba menangkap tangan Randika. "Kenapa sayang?" Randika tampak bingung. "Tunggu aku sampai tertidur." Kata Inggrid dengan suara yang sangat pelan. Randika lalu tersenyum dan duduk di samping Inggrid yang sedang tiduran. "Kamu tidak perlu khawatir, aku akan menunggumu sampai kamu tertidur. Beristirahatlah dengan tenang." Inggrid langsung tersipu malu, hatinya terasa hangat. Setelah memejam mata beberapa saat, Inggrid mengatakan. "Ran aku tidak bisa tidur." "Hahaha kalau gitu ayo kita lihat TV." Inggrid masih khawatir dengan keluarga Alfred. Kekuatan dan pengaruh keluarga Alfred bukanlah main-main. Itulah kenapa seorang suruhan seperti Yosef berani berjalan dengan tubuh yang tegak. Itu semua karena reputasi keluarga Alfred yang benar-benar luas. Keluarga Alfred benar-benar mampu mengguncang bumi dan memutar langit hanya dengan satu malam. Hal ini membuat Inggrid tidak bisa tidur. Melihat wajah resah Inggrid, Randika memeluk pundaknya sambil terus menonton TV yang ada di dalam kamar. "Sayang, kamu tidak usah khawatir. Suamimu ada di sini dan selalu akan melindungimu. Keluarga Alfred itu tidak akan bisa menyentuhku ataupun menyurimu lagi seperti tadi. Mereka tidak punya kekuatan untuk melawanku." Namun Inggrid masih mengerutkan dahinya. Kata-kata Randika hanya terdengar seperti penghiburan sementara baginya. Yang membuatnya makin resah adalah Randika membunuh kedua pendekar kelas atas dan Yosef untuk menyelamatkan dirinya. Terlebih lagi Randika melukai Henry, keluarga Alfred pasti tidak akan tinggal diam. Inggrid menghela napas di dalam hatinya. Satu-satunya jalan terbaik adalah meminta maaf pada keluarga Alfred dan kembali ke Jakarta. Setelah dia memutus hubungannya dengan Randika, seharusnya mereka tidak akan mengincar suaminya ini. Setelah dia kembali ke Jakarta, dirinya akan memenuhi perjanjian keluarganya dan menikahi Henry. "Kenapa kamu masih terlihat khawatir seperti itu?" Randika pura-pura terlihat tidak senang. "Kalau kamu terus seperti itu, lama-lama aku akan menghukummu. Masih berani tidak percaya dengan suamimu ini? Inggrid hanya menatap diam Randika. Dia tidak bisa menahan dirinya untuk mengingat-ingat pertemuan pertama mereka. Pria ini hanyalah seorang penjual mie ayam yang kasar dan bau keringat, tetapi setelah itu dia membantu dirinya mengembangkan parfum, mengusir laki-laki mesum yang mengejar dirinya. Belum lagi dia menyelamatkan dirinya dari serangan seorang pembunuh, menemani dirinya ke kota Merak dan membantu dirinya secara diam-diam untuk mendapatkan kontrak kerja yang menguntungkan. Semua hal ini melintas secara bersamaan di pikiran Inggrid. Ketika Randika menggoda dirinya, meraba dirinya, bahkan kemarin dia semalaman bercumbu dengannya, semua itu membekas di dalam dirinya. Pada saat ini, Inggrid akhirnya sadar setelah hidup bersama-sama dengannya, dia telah jatuh cinta pada Randika. "Hmm? Kenapa?" Randika menatap Inggrid yang terus terdiam itu, dia lalu tersenyum hangat. Dia sendiri bingung, kenapa istrinya diam saja? "Ran, kamu ingat ketika kita pertama kali bertemu?" Tanya Inggrid. "Tentu saja aku ingat. Pada saat itu kamu mengancamku bisa melenyapkanku dengan 100 cara dari kota ini." Kata Randika sambil tertawa. Pada saat itu dia tidak menyangka akan diajak menikah oleh seorang perempuan cantik setelah dia tiba di Indonesia. Inggrid lalu berkata dengan wajah yang memerah. "Kamu sendiri yang memaksaku berkata seperti itu." Inggrid lalu mengenang masa lalu itu. Dia mengingat saat di mana perusahaannya membutuhkan uang dan seseorang misterius dari dunia bawah tanah menyuruh Inggrid menikahi Randika sebagai syarat peminjaman uang. Meskipun awalnya tidak mau, Inggrid terpaksa setuju demi ambisinya. Tapi Inggrid sendiri tidak menyangka, orang itu akan menjadi pangeran yang benar-benar mencuri hatinya. Jika Randika tahu hal tersebut, dia dapat dengan mudah menebak bahwa orang itu adalah Bulan Kegelapan. Musuhnya itu berusaha membuat Inggrid menjadi kelemahan Randika. Jika rencana Bulan Kegelapan berjalan lancar, Randika akan jatuh cinta pada Inggrid dan Ares akan mudah dikendalikan. Bulan Kegelapan menyadari ini sejak lama, kelemahan Ares sang dewa perang adalah perempuan. Pada saat itu Bulan Kegelapan beranggapan bahwa itu adalah kelemahan terbesar Randika. Beberapa kali Inggrid diracuni dan diserang, tetapi takdir berkata lain. Randika berhasil menyelamatkan Inggrid dan keduanya makin dekat karenanya. Kedua pasangan ini mulai bercerita mengenai pertemuan pertama mereka dan bagaimana Randika selalu meraba dirinya. Dari waktu ke waktu, Inggrid selalu tersenyum manis dan Randika akan mengusap kepalanya. Merasa malu, Inggrid memukul pelan Randika seperti anak kecil. Inikah kebahagiaan? Inggrid benar-benar merasa hangat, dia tidak menyangka jatuh cinta akan semenyenangkan ini. Waktu berjalan dengan cepat, tanpa sadar 1 jam telah berlalu. Randika lalu berkata dengan nada lembut. "Sayang, hari sudah malam dan kamu perlu istirahat. Besok kita akan menjauhi pekerjaan dan menikmati hari berdua saja bagaimana?" Inggrid mengangguk pelan. Tetapi ketika melihat Randika yang hendak berdiri, Inggrid menarik tangannya dan berkata dari balik selimut. "Kamu hari ini tidur di sini saja." Setelah mengatakannya, jantung Inggrid berdetak dengan hebat dan wajahnya sudah merah sekali. Tidur bersama? Randika terkejut kemudian dia menatap Inggrid yang bersembunyi di balik selimut. Mungkinkah penantiannya akan berakhir? Randika langsung tersenyum, sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang. "Baiklah." Randika tidak sungkan-sungkan. Dia segera masuk ke dalam selimut sambil tersenyum. Semua proses ini tidak lebih dari 3 detik. Melihat tubuh Randika dari balik selimut, Inggrid menjadi panik. "Tolong matikan lampunya." Oh? Pengen dalam keadaan gelap? Tidak masalah! Lebih cepat dari petir, Randika sudah mematikan lampu dan tiduran kembali di kasur. Kedua orang ini terdiam cukup lama. Ruangannya sudah gelap gulita dan hening. Oleh karena itu, suara detak jantung Inggrid benar-benar menggema di kedua telinga mereka. Tangan Randika secara perlahan bersentuhan dengan tangan Inggrid. Ketika tangannya itu bersentuhan, dia merasa Inggrid tiba-tiba gemetaran. Namun, Inggrid tiba-tiba menggenggam tangannya. Lampu hijau! Randika menjadi senang bukan main. Dia dengan cepat masuk ke dalam selimut dan menindih Inggrid. Inggrid hanya menutup matanya. Meskipun sedikit takut, hari ini dia memutuskan menerima cinta Randika. Tetapi setelah menunggu cukup lama, tidak terjadi apa-apa. Mau tidak mau, Inggrid membuka matanya sambil penasaran. Ternyata dia melihat Randika sedang menatap dirinya. "Kamu benar-benar cantik." Kata Randika sebelum mencium Inggrid! Chapter 156: Malam Pertama Ketika Randika menciumnya, rasa lembut itu langsung mengisi dirinya. Bagi Inggrid tubuhnya justru terasa kaku beberapa saat, tetapi kemampuan Randika dalam memimpin sangatlah bagus. Merasakan ketegangan yang dimiliki Inggrid, Randika tidak langsung bermain dengan lidahnya. Dia berusaha membuat Inggrid menikmatinya dan membuatnya tenang dulu, kelembutan ini membuat Inggrid makin lama makin tenang dan mulai menikmatinya. Sebelum malam ini, Inggrid selalu melawan ketika dicium oleh Randika. Kali ini dia benar-benar menggunakan hati dan jiwanya bersatu dengan pria yang dicintainya. Dia benar-benar tenggelam dalam sensasi ini, tetapi sekarang dia meminta lebih. Awalnya Randika lah yang mengatur tempo tetapi sekarang Inggrid lah yang semakin liar. Inggrid semakin erat memeluk Randika dan mulai memainkan lidahnya. Pada saat yang sama, Randika makin membuatnya leleh dengan kemampuan menciumnya. Randika dengan ganas menjelajah seluruh tubuh Inggrid, setiap inci tubuh ini, setiap tarikan napas, semua hal yang mengenai Inggrid adalah miliknya. Tangannya tidak pernah berhenti menyerang dada Inggrid. Rasa empuk yang luar biasa itu mengisi penuh tangannya, meskipun masih dibalut oleh beha keempukan itu sama sekali tidak berkurang. Puting Inggrid sudah lama mengeras berkat rangsangan Randika, seluruh tubuhnya seakan-akan menjadi ringan dan bertambah panas. Ciuman ini sudah berlangsung 1 menit, Inggrid benar-benar kehabisan napasnya. Randika sudah berniat untuk melanjutkan hubungan ini lebih lanjut. Inggrid membuka matanya dan melihat Randika sangat dekat dengan wajahnya. Randika tampak sedikit tertatih-tatih sambil tersenyum padanya. Namun, Inggrid sudah tidak bisa menahan desahannya ketika Randika kembali meremas dadanya. "Bagaimana sayang?" Kata Randika sambil tersenyum. "Apakah aku berhasil membuatmu keluar?" Inggrid tersipu malu, tentu saja dia sudah keluar lebih dari sekali. Ketika Inggrid ingin membalasnya, mulutnya kembali ditutup oleh Randika. Bagaikan badai, kedua lidah itu bertempur sekali lagi. Inggrid makin menggila dan makin antusias melakukannya. Mereka mulai berguling sambil terus berciuman, kadang Inggrid di atas, kadang Randika yang di atas. Setelah foreplay selama itu, Randika merasa bagian bawahnya sudah mulai sakit dan ingin meledak. Dia mulai membuka bajunya. Setelah bajunya terbuka, dia segera membuka celananya. Melihat Randika yang membuka bajunya di atasnya, Inggrid kembali menutup matanya. Tetapi rasa penasaran membuatnya membuka matanya, dia ingin melihat tubuh telanjang Randika. Dan tentu saja, dada bidang, perut sixpack dan otot-otot lainnya terlihat sungguh menggoda. Mau tidak mau Inggrid sedikit merasa kagum, tetapi tiba-tiba Randika membuka celana dalamnya! "Tidak!" Inggrid memalingkan wajahnya, dia masih belum siap melihat pemandangan vulgar itu. "Sayang, jangan khawatir. Bukalah matamu dan lihatlah." Kata Randika dengan nada yang lembut. "Tidak mauˇ­" Inggrid masih menutup matanya, dia masih merasa malu. Randika tidak terburu-buru meskipun hawa nafsunya sudah mencapai puncaknya. Dia kembali menindih Inggrid dan menciumnya kembali. Kali ini, dia bekerja dari atas dan mulai turun ke bawah. Pada saat yang sama tangannya sudah melucuti pakaiannya Inggrid. Piyama itu mulai terbuka dan sekarang hanya tinggal beha dan celana dalam Inggrid yang menghalangi Randika. Satu set beha dan celana dalam berwarna biru itu benar-benar menggoda. Di balik semua itu, ada keindahan yang sudah lama dinantikan oleh Randika. Randika kembali menatap Inggrid dalam-dalam. Pada saat ini Inggrid masih menutup matanya, dia benar-benar mempercayakan semuanya pada Randika. Randika mencium pundak dan leher Inggrid, kemudian dia mulai turun ke bawah dan mencapai ke bagian dada. Bersamaan dengan desahan erotis dan keadaan yang makin memanas, malam ini ditakdirkan akan menjadi malam pertama bagi pasangan suami istri ini. ............. Hari berikutnya, Inggrid terbangun dan membuka matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah Randika yang tersenyum sedang mengelus rambutnya. Sambil merasa malu, Inggrid bertanya. "Kenapa?" "Aku cuma tidak menyangka, kenapa istriku tercinta begitu cantik." Kata Randika sambil tertawa. Setelah hubungan badan mereka yang pertama, sifat Inggrid benar-benar telah berubah. Sebelum ini Inggrid bagaikan sosok orang dewasa yang keras, bagaikan bunga yang kehilangan kecantikannya meskipun bunga itu terkenal cantik. Tetapi setelah kejadian semalam, bunga itu berhasil mekar dengan sempurna dan memancarkan keindahannya pada dunia. Istrinya jadi jauh lebih cantik. Randika yang merasa bahagia mencium kembali Inggrid, yang tentu saja disambut dengan baik. "Sayang, kamu mau melakukannya lagi?" Randika berbisik di telinga Inggrid. "Tidak!" Inggrid tersipu malu dan menolaknya dengan cepat. Tubuh bagian bawahnya masih terasa sakit. Tubuhnya benar-benar merasa kebas, butuh beberapa saat bagi dirinya untuk menghilangkan rasa sakitnya ini. Randika juga tidak terburu-buru, istrinya ini juga tidak akan pergi ke mana-mana. Keduanya lalu tiduran lagi sambil menonton TV. Sambil berpelukan dan mengintip Inggrid yang masih bugil itu, nafsu Randika mulai naik kembali. Dan ketika Inggrid memakai pakaiannya, Randika masih berusaha mengajak Inggrid untuk melakukannya lagi. Meskipun kemarin mereka melakukannya lebih dari 4x, tubuh Inggrid benar-benar membuat Randika tidak bisa melupakannya. Setelah berusaha dengan keras menolak Randika, kedua orang ini berpakaian dan turun ke bawah untuk makan. Makanan sudah tertata rapi di atas meja, tetapi Ibu Ipah tidak terlihat. Sepertinya dia sedang pergi. "Ayo sayang makan yang banyak," Randika langsung menyodorkan banyak makanan di piring Inggrid. "kamu harus memulihkan staminamu itu agar nanti malam kita bisa melakukannya lagi. Inggrid menundukan kepalanya sedangkan Randika terlihat bingung. Mungkinkah dirinya terlalu memaksa? Tetapi, Inggrid Elina sudah berubah. Dia sudah tidak marah-marah lagi terhadap kegenitan suaminya itu. "Bukankah telur lebih bagus buatmu? Aku dengar-dengar itu lebih baik untuk vitalitas pria." Kata Inggrid. "Tidak masalah, suamimu ini punya tubuh yang kuat. Aku bisa melakukannya seharian kalau aku mau." Kata Randika sambil berkedip pada Inggrid. Inggrid langsung tersipu malu. Dia kembali mengingat malam pertama mereka dan Randika yang terus menerus menghantam pistonnya itu. Inggrid merasa dirinya melayang ke langit karena sensasi tersebut. "Lagipula kamu pasti capek sekali kan kemarin? Aku sendiri tidak menyangka kamu akan seagresif itu. Nanti kita kembangkan lagi kemampuanmu itu." Kata Randika sambil tertawa. "Apaan sih." Inggrid langsung memalingkan wajahnya, wajahnya sudah benar-benar merah. Kemarin malam ketika suasananya makin menggila, Inggrid menindih Randika dan mulai bergerak sendiri. Dengan dirinya yang berada di atas benar-benar membuat Inggrid bisa menemukan titik nikmatnya sendiri dan mengatur iramanya. Tetapi kata-kata Randika barusan membuatnya dia tergeleng-geleng, kenapa bisa dia bertindak seperti itu? Melihat rona wajah merah di wajah Inggrid, Randika ingin menggodanya lagi. Sarapan ini benar-benar paling menyenangkan yang pernah mereka berdua rasakan. Setelah sarapan yang menyenangkan ini Inggrid menatap Randika dan berpikir ketika dirinya meninggalkan Randika demi kembali ke keluarganya, apakah dia tidak bisa melihat sosok pria yang dicintainya ini? Memikirkan hal ini membuat Inggrid tidak bisa menahan rasa sedihnya itu. Dia baru pertama kali merasakan rasa bahagia seperti ini dalam hidupnya, dia tidak ingin hubungan ini berakhir. "Lagi mikirin apa?" Melihat Inggrid yang mengerutkan dahi, Randika penasaran. "Tidak apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan pekerjaan." Kata Inggrid sambil tersenyum. Inggrid lalu berdiri dan mengatakan. "Aku hari ini akan ke kantor." Namun, bukannya pergi ke lantai atas untuk berganti baju Inggrid justru menghampiri Randika. "Hmm? Kenapa sayang? Masih belum puas?" Randika kemudian mencubit hidung Inggrid dan tersenyum. Tiba-tiba, Inggrid mencium Randika! Ciuman mendadak ini membuat Randika terkejut tetapi dia secara otomatis meresponnya. Setelah 1 menit, kedua orang ini berpisah. "Aku pergi dulu ya." Kata Inggrid. "Baiklah, hati-hati di jalan. Nanti aku akan menyusulmu, kalau aku datang dan melihatmu menyiksa diri lagi, siap-siap menerima hukumannya." Kata Randika sambil tertawa. Dia tidak menyadari air mata yang menetes di mata Inggrid. Hati Inggrid benar-benar terasa sakit. Sambil membelakangi Randika, dia mengangguk. Perpisahan ini benar-benar membuat dirinya tidak bisa menahan air matanya. Setelah mengantar kepergian Inggrid, Randika benar-benar merasa bahagia. Dia merasa segar dan bertenaga, suasana hatinya benar-benar bagus. Bahkan luka internalnya sudah tidak pernah kambuh dan sup obat kakeknya itu benar-benar membantu dirinya. Dia merasa dirinya telah bertambah muda beberapa tahun. Dengan wajah gembira, Randika juga pergi dari rumah. Namun, dia tidak langsung pergi ke kantor, dia menuju rumah sewaannya Indra. Dia sudah lama tidak menengok adik seperguruannya itu. Dia tidak tahu kegiatan apa yang dilakukan oleh Indra akhir-akhir ini. Ketika dia sampai di rumahnya Indra, dia bisa mendengar suara tawa yang keras. Dan ketika dia membuka pintu kamarnya, dia melihat Indra dan boneka ginseng sedang tertawa bersama. Melihat Randika, Indra langsung tersenyum. "Kakak seperguruan!" Ketika boneka ginseng itu melihat Randika, ia juga bahagia. Dengan cepat ia memanjat ke pundaknya Randika kemudian menjulurkan tangannya yang gemuk dan putih itu. Dia mulai mencolek-colek pipi Randika. "Geli tahu, hentikan!" Randika merasa tidak berdaya, boneka ini lama-lama makin nakal. "Hah!? Kak, sejak kapan boneka ginseng ini akrab sama kakak?" Indra terlihat bingung. Selama ini kakak seperguruannya itu terobsesi dengan sahabatnya itu dan mereka bisa dikatakan adalah musuh. Kenapa mendadak mereka terlihat akrab? "Aku dan boneka ini sudah saling memahami satu sama lain." Randika tertawa dan duduk di samping Indra. Boneka ginseng itu lompat dan mendarat di kepala Indra. Sepertinya ia paling menyukai kepala Indra sebagai tempatnya untuk tidur. "Itu bagus sekali! Dulu kakak pernah ngomong mau memakannya, untung kakak sudah bersahabat dengannya." Kata Indra sambil tersenyum. Tetapi ketika mendengar kata ''memakannya'', boneka ginseng itu terlihat kaget dan melompat-lompat di kepala Indra. Kedua tangan mungilnya menjambak rambut Indra. "Oh? Aku salah ngomong?" Tanya Indra. "Omong-omong bagaimana perkembangan bela dirimu? Aku hari ini nganggur, aku bisa memberikanmu arahan." Kata Randika sambil tersenyum. Mata Indra tampak berbinar-binar, dia kemudian berdiri. "Kakak baik sekali! Tolong lihat teknikku ini dan katakan di mana salahnya." Indra yang tiba-tiba berdiri itu membuat boneka ginseng di kepalanya langsung jungkir balik dan terjatuh di kasur. Randika tidak bisa berhenti tertawa ketika melihat ekspresi sedih boneka ginseng tersebut. Sepertinya boneka itu pertama kalinya dicueki oleh Indra. .......... Setelah mengajari Indra, Randika meninggalkan rumahnya Indra dan berjalan menuju kantornya. Ketika dia sampai, Randika langsung menuju ruangannya seperti biasa. Saat dia sampai, Randika langsung disambut oleh para bawahannya. "Pak Randika terlambat lagi, hati-hati pak nanti bisa-bisa dipecat." "Bodoh kamu, atasan kok dipecat!" Semuanya tertawa mendengar lelucon ini. "Oh? Pak Randika hari ini terlihat senang, habis main cewek ya pak?" "Ceweknya pasti cantik ya pak, pantas rasanya dompet bapak terlihat tipis hari ini." Para lelaki mesum ini tidak pernah lepas dari guyonan mesum, Randika tidak mempermasalahkannya. Justru lelucon seperti ini membuatnya lebih dekat dengan bawahannya. "Sudahlah, pak Randika ini pantas mendapatkannya. Lagipula uangnya juga banyak." Randika kemudian tersenyum dan bercanda dengan mereka. Namun, tiba-tiba ada suara membentak datang dari belakang mereka. "Kalian ini ya, dilepas sedikit langsung malas. Sana kembali kerja." Melihat Kelvin yang datang, semuanya kembali bekerja. Kelvin sangat keras pada mereka, semuanya takut padanya. Jika Kelvin mau, mereka benar-benar akan dipecat. Randika menyadari hari ini Viona tidak ada di tempat, rasanya dia masih cuti untuk merawat neneknya itu. Setelah memberikan arahan pada Kelvin, Randika segera berjalan menuju kantornya Inggrid. Chapter 157: Aku Tidak Akan Melepasmu Begitu Saja Ciuman pagi hari tadi benar-benar masih membekas di bibir Randika. Bibir istrinya itu benar-benar lembut dan rasanya luar biasa nikmat. Karena sudah tidak ada pekerjaan yang mendesak, tentu saja Randika ingin bermesraan dengan Inggrid. Membuka pintu ruangannya Inggrid, Randika tersenyum. Tetapi dia terkejut ketika melihat tidak ada orang di dalamnya. Jarang sekali melihat Inggrid tidak ada di ruangannya jam segini. Apa dia sedang rapat? Randika kemudian duduk di kursi Inggrid dan memutuskan untuk menunggunya di sini. "Lama sekali rapatnya, aku lama-lama menjamur." Setelah menunggu selama setengah jam, Randika sudah membaca semua dokumen yang ada di meja Inggrid dan Inggrid sama sekali belum datang. "Kucari saja deh." Randika tidak mempunyai pilihan untuk mencari di mana Inggrid sedang rapat. Tetapi ketika dia sampai di ruang rapat, dia menyadari bahwa sama sekali tidak ada orang di sana. Pada saat ini Randika sudah merasakan firasat buruk. Di manakah Inggrid? Kalau dia tidak rapat kenapa dia tidak ada di ruangannya? Apa dia pergi ke perusahaan lain? Randika mengerutkan dahinya dalam-dalam, namun pada saat ini sekretaris Inggrid keluar dari salah satu ruangan. "Kamu melihat Inggrid?" Tanya Randika. "Tidak, bukannya Bu Inggrid hari ini tidak masuk?" Sekretaris itu mengerutkan dahinya. "Saya sudah menelepon handphonenya tapi sama sekali tidak diangkat. Bahkan aku rasa handphonenya mati." Tidak masuk? Firasat buruk Randika makin besar. Kalau Inggrid tidak masuk, kenapa dia mengatakan akan masuk ke kantor? Dalam sekejap satu dugaan muncul di benak Randika, Inggrid meninggalkan dirinya! Memikirkan hal ini, Randika langsung berlari menuju pintu keluar. "Pak, ada apa pak?" Sekretarisnya Inggrid itu benar-benar bingung melihat Randika yang tiba-tiba berlari. Randika tidak memedulikannya dan cepat-cepat menuju lift. Hatinya sekarang dipenuhi dengan rasa cemas. Jika istrinya itu benar-benar meninggalkan dirinya, dia pasti akan mengambil barang-barangnya yang ada di rumah! Randika dengan cepat berlari menuju rumahnya, kecepatannya benar-benar bagaikan cahaya. Orang-orang hanya bisa melihat sebuah bayangan hitam melewati mereka, tidak mengerti sosok apakah itu. Tanpa berhenti satu detik pun dan tidak peduli dengan tubuhnya, Randika berhasil mencapai rumahnya. Saat dia masuk ke ruangan tengah, sudah tidak ada apa-apa. Semuanya telah kosong! Randika langsung berlari ke lantai atas dan membuka kamar Inggrid, kamar tersebut juga telah kosong. Randika yang panik tidak bisa berpikir jernih, dia tidak tahu istrinya itu pergi ke mana. Randika lalu duduk di sofa di lantai bawah. Pada saat ini, matanya tertuju pada sebuah kertas yang berada di atas meja. Apabila diperhatikan, tulisan rapi itu ternyata adalah tulisannya Inggrid. "Terima kasih untuk selama ini, aku mencintaimu." Randika terdiam ketika melihat tulisan itu. Randika bingung kenapa Inggrid tiba-tiba meninggalkan dirinya, dia benar-benar cemas. Menemukan keberadaannya benar-benar merupakan hal terpenting untuk sekarang. Ke mana kira-kira Inggrid akan pergi? Ah, Ibu Ipah! Randika tiba-tiba teringat dengan pembantu super satu itu, dia pasti tahu ke mana Inggrid pergi. Dengan cepat Randika berlari ke kamar Ibu Ipah. Namun, ruangan tersebut juga kosong. Randika benar-benar merasa tidak berdaya. Mengingat-ingat pagi tadi, kelakuan istrinya itu benar-benar tidak biasa. Kenapa dia tidak menyadarinya? Sambil merasakan darahnya mendidih, Randika mengepalkan tinjunya. Aku tidak akan melepasmu begitu saja. Walau ke ujung bumi, aku akan menemukanmu! Namun, Randika tidak bisa melakukan semua ini sendirian. Dia harus mencari bantuan. Dia lalu teringat pada Elva dan Deviana, meminta bantuan mereka pasti akan menghemat waktunya. Tidak tahu cara untuk menghubungi Elva, Randika memutuskan untuk menemui Deviana. Dia akan meminta bantuannya dan memeriksa kamera di bandara dan stasiun kereta api. Tanpa ragu-ragu, Randika berlari menuju kantor polisi di mana Deviana berada. Di kantor polisi, dua polisi sedang asyik mengobrol. Randika tiba-tiba mendobrak pintu masuk. "Hei, kamu tidak bisa mendobrak masuk begitu saja." Kata seorang polisi yang marah terhadap Randika. "Aku mencari Deviana." Kata Randika dengan napas tertatih-tatih. "Dia memang ada di sini, kamu siapanya ya?" Mendengar basa basi ini, Randika tidak punya waktu dan langsung menerobos masuk. "Hei, kamu tidak boleh masuk sembarangan." Kedua polisi ini segera mengejar Randika. Pada saat ini, Randika berhasil menemukan Deviana. "Randika?" Deviana terkejut ketika melihat sosok Randika, kenapa dia bisa ada di sini? Pada saat ini, kedua polisi tadi akhirnya berhasil mengejar. "Pria ini menyarimu dan tiba-tiba menerobos masuk tanpa ijin. Apa dia memang kenalanmu?" "Benar ini temanku." Kata Deviana sambil mengangguk. Mendengar respon Deviana, kedua polisi ini kembali ke posisinya semula. Namun pada saat ini, polisi muda yang ada di dekat Randika itu mengerutkan dahinya. Mau apa pria tidak dikenal ini sama pujaan hatinya? "Aku minta tolong carikan seseorang dari kamera CCTV." Kata Randika. Deviana menatap Randika, dia tahu bahwa Randika sedang terburu-buru dan terlihat cemas. Tanpa berpikir panjang Deviana mengangguk setuju. "Terima kasih!" Polisi muda yang memperhatikan mereka dari samping tiba-tiba merasakan firasat buruk. Dia sudah lama mengejar dan berusaha merebut hati Deviana tetapi dia tidak pernah mendapatkan respon yang bagus. Kedatangan pria tidak dikenal ini membuat dirinya cemburu dan tidak rela melepas Deviana begitu saja. Terlebih, kenapa tatapan pujaan hatinya itu terlihat lembut? Hati Ruhul benar-benar merasa cemas. "Dev, kamu tidak boleh memberi bantuan seperti itu pada orang asing." Ruhul tiba-tiba nimbrung. "Tidak apa-apa, orang ini temanku. Dia sudah membantu kita berkali-kali." Kata Deviana sambil mengoperasikan komputernya. "Mau dia temanmu atau bukan, kamu tetap melanggar peraturan." Kata Ruhul. Deviana menatap Ruhul dan berkata dengan nada dingin. "Aku akan bertanggung jawab kalau ada masalah." Mendengar kata-kata Deviana yang dingin, Ruhul sama sekali tidak bisa apa-apa. Sedangkan Randika, dia tidak punya waktu dan tenaga untuk meladeninya. Pikiran dan tenaganya sekarang benar-benar terfokus untuk mencari Inggrid. "Kamu ingin memeriksa kamera pada jam berapa?" Tanya Deviana. "Dari jam 8 pagi. Periksalah kamera bandara terlebih dahulu." Jawab Randika. Deviana mengangguk. Setelah menelepon beberapa kali dan menggunakan otoritasnya, video dari kamera bandara Cendrawasih berhasil didapatkannya. Randika langsung melototi video tersebut. "Percuma kamu ingin memeriksa itu dengan mata telanjang. Mana mungkin bisa kamu menemukannya di antara lautan manusia itu?" Sindir Ruhul. Randika tidak menjawab, matanya terfokus pada video tersebut dan sama sekali tidak melewatkan satu wajah pun. Jika Inggrid benar-benar meninggalkan kota, dia hanya punya dua cara : bandara dan stasiun kereta api. Namun, bandara seharusnya memiliki persentase yang lebih besar. "Hush, siapa suruh kamu berkomentar?" Deviana mengangkat kepalanya, tatapan matanya benar-benar dingin. Kenapa Ruhul masih ada di sini? "Aku hanya berkata apa adanya. Itu sama saja mencari jarum di tengah tumpukan jerami." Ruhul menghela napas. Randika sama sekali tidak berkomentar. Dia masih melototi layar komputer, kamera keamanan benar-benar banyak. Namun, Deviana menyarankan Randika untuk berfokus pada pintu masuk. Jika orang yang dicarinya itu benar-benar pergi lewat bandara maka dia pasti muncul di kamera pintu masuk. "Siapa yang kamu cari?" Tanya Deviana. "Inggrid Elina." Jawab Randika sambil terus melototi layar. Deviana terkejut, Randika mencari bos perusahaan Cendrawasih? Tetapi Ruhul yang di samping justru terlihat sedang tersenyum. "Bos perusahaan Cendrawasih menghilang? Kamu ini sungguh lucu. Kalau dia benar-benar menghilang bukankah itu sudah menjadi berita menghebohkan dan kantor kita sudah penuh dengan wartawan." "Kenapa kamu masih ada di sini? Pergi sana." Deviana sudah muak, wajah cantiknya sudah hilang. "Aku cuma mengatakan yang sebenarnya." Ruhul menggelengkan kepalanya. Namun, melihat Randika yang tetap tidak menjawab, dia makin besar kepala. "Kejujuran memang menyakitkan." Deviana mendengus dingin, tetapi melihat Randika yang tidak berkomentar dia hanya bisa pasrah. "Ah, tapi aku sendiri penasaran. Apa hubunganmu dengan wanita tercantik dan terkuat di kota ini?" Ruhul makin besar kepala karena Randika sama sekali tidak melawannya. "Atau jangan-jangan kamu ini laki-laki yang mengincarnya juga? Dan Inggrid berusaha lepas darimu jadi dia meninggalkan kota ini?" Api amarah mulai berkobar di hati Randika, tetapi dia harus fokus mencari keberadaan Inggrid. Dia sama sekali tidak punya waktu meladeni cecunguk! "Hahaha atau jangan-jangan dia kekasih gelapmu? Dan sekarang setelah dia tidak puas denganmu dan kabur kamu berusaha mencarinya?" Ruhul tertawa keras dan pada saat ini, Randika yang sama sekali tidak berkomentar akhirnya berbicara. "Jika satu kata lagi keluar dari mulutmu, aku akan membunuhmu." Aura membunuh Randika mulai bocor! Ancaman kosong itu membuat Ruhul sama sekali tidak takut, dia justru tertawa. "Aku akan dengan senang hati melihatmu mencoba membunuhku." Melihat Randika sama sekali tidak melawan, Ruhul makin menjadi-jadi. "Aku heran kenapa kau masih mengejarnya? Bahkan kau sampai datang ke tempat ini dan mencarinya dengan susah payah. Kau tahu kenapa kau tidak bisa menemukannya? Karena dia sudah membuangmu!" Ruhul tertawa sekali lagi, tetapi, dia melihat Randika menatap dirinya dengan tatapan mata seekor serigala. Suara tertawanya itu berhenti dengan cepat. Kenapa tatapan pria itu seperti hewan yang buas? Ruhul tiba-tiba merinding, dan pada saat ini, tiba-tiba Randika sudah berada di depannya! Dalam sekejap, tangan kanan Randika sudah mencekik erat tenggorokan Ruhul. Kekuatan tangannya itu benar-benar membuat Ruhul tidak bisa bernapas. Dia merasa lehernya akan patah, tangan yang meremas lehernya itu sama sekali tidak melemah. KRAK! Sepertinya suara tulang patah sebentar lagi akan terdengar keras. Ruhul sudah takut bukan main, dia menatap Randika dengan ekspresi panik. "Randika!" Deviana dengan cepat berteriak, dia sangat paham kekuatan Randika. Dia khawatir Randika akan menggila lagi seperti kapan hari. Hari di mana dia membuat atasannya memakan peluru hingga masuk rumah sakit. Namun saat ini berbeda, Randika melakukannya di markas polisi dan di hadapan para polisi. Polisi yang memakan peluru itu, Rohim, sudah keluar dari rumah sakit dan mengundurkan diri tanpa menjelaskan apa-apa. Dan sekarang Ruhul sedang dalam bahaya. Randika sama sekali tidak berbicara, tangan kirinya tampak memukul perut Ruhul. Ruhul merasa nyawanya kian mendekati ujungnya dan rasa sakit di perutnya sudah hampir tidak terasa. Deviana bisa merasakan niatan Randika yang hendak membunuh Ruhul. Dia dengan cepat menahan Randika dan berbisik di telinganya. "Ran sudah, pikirkan Inggrid. Kamu masih ada tugas yang lebih penting." Randika tidak menjawab, dia hanya menatap Ruhul yang melayang itu. Para polisi sudah siaga ketika melihat adegan ini. Bahkan beberapa polisi sudah mencabut pistol mereka dan membidik Randika. Melihat wajah Ruhul yang sudah pucat pasi, Randika melepas genggamannya. Tiba-tiba Ruhul jatuh dengan keras di lantai. Tanpa berkata apa-apa, Randika kembali duduk dan melototi layar komputer. Deviana akhirnya bisa bernapas lega. Sedangkan untuk Ruhul, yang sedang duduk di lantai, bernapas dengan terengah-engah. Dia melihat sosok Randika yang diselimuti aura mengerikan itu, dia merasa bahwa pria itu bisa membunuhnya kapan pun dia mau. Ketakutan menyelimuti mata Ruhul dan rasa sakit di lehernya masih terasa. Belum lagi perut yang ditinju Randika tadi benar-benar menyakitkan. Dia lalu berdiri denan susah payah dan meninggalkan tempat itu. Randika benar-benar tidak peduli dengannya, matanya kembali fokus pada layar. Pada saat ini, setengah jam sudah berlalu. Tiba-tiba Deviana berhasil menemukan sosok Inggrid. "Itu dia!" Randika langsung memperhatikannya. Seorang wanita cantik dengan topi jeraminya dan seorang wanita paruh baya mengikutinya dari belakang. Jelas mereka adalah Inggrid dan Ibu Ipah! Hati Randika langsung bergembira, akhirnya dia menemukan Inggrid! "Bisa kamu periksa tujuan mereka ke mana?" Randika menatap Deviana. "Tunggu sebentar, aku akan memintanya." Randika menunggu dengan sabar, Deviana memerlukan beberapa kali telepon. Setelah menjelaskan situasi dan menggunakan otoritasnya sebagai penegak hukum, Deviana berhasil mendapatkan informasinya. "Mereka berdua memesan tiket untuk ke Jakarta." Kata Deviana. Tentu saja, kenapa Randika sama sekali tidak menyadarinya. "Apa kamu akan mengejarnya?" Deviana menatap Randika. Dia samar-samar menduga bahwa Inggrid adalah orang penting di hidup Randika. Sambil mengangguk pelan, Randika mengatakan. "Terima kasih atas bantuanmu." "Kamu sudah berkali-kali menolongku dan aku belum pernah berterima kasih. Kenapa sekarang kamu berterima kasih?" Deviana mengerutkan dahinya. Randika sedikit terkejut, dia lalu tersenyum. "Kalau begitu, lain kali biarkan aku mentraktirmu makan." "Nah itu baru Randika yang kukenal." Kata Deviana sambil tersenyum. Melihat sosok Randika yang pergi, Deviana merasakan akan ada badai yang melanda kota ini. Setelah pergi dari kantor polisi, Randika dengan cepat memesan tiket untuk ke Jakarta. Namun, tiba-tiba dia kepikiran soal Indra. Indra datang bersamanya ke kota ini karena arahan kakeknya. Dia tidak tahu akan berapa lama berada di Jakarta. Jadi lebih baik dia mengabari keadaannya pada Indra. Saat dia tiba di rumah Indra, dia melihat Indra sedang menyuapi boneka ginseng. Boneka itu sedang memakan bubur, boneka itu disuapi Indra dan memakannya dengan mulut kecilnya. Indra seperti ayah yang baru mempunyai anak. "Lho kakak! Kenapa kau datang lagi?" Melihat Randika yang tiba-tiba datang, Indra sedikit bingung. "Aku ingin memberitahumu kalau aku akan pergi ke Jakarta sementara waktu. Aku tidak tahu kapan akan pulang." Kata Randika. "Ngapain kakak mau ke Jakarta?" Indra tampak bingung, mau apa memangnya kakak seperguruannya itu pergi ke ibukota? Chapter 158: Menerobos Masuk Indra menatap Randika dengan rasa penasaran. Kenapa kakak seperguruannya ini tiba-tiba berkata akan pergi ke Jakarta? Dia hanya pernah mendengar Jakarta dari cerita-cerita gurunya. Dia tahu bahwa tempat itu adalah ibukota negara dan tempat paling maju di Indonesia. "Aku akan menyelamatkan seseorang!" Kata Randika dengan santai. "Aku tidak tahu akan pergi berapa lama, jadi jaga dirimu selama aku pergi." "Kak, aku akan ikut bersamamu!" Kata Indra dengan wajah serius. "Meskipun aku masih tidak tahu kenapa kakak pergi ke Jakarta, tapi jika kakak ingin menyelamatkan orang berarti kita akan menghajar orang jahat bukan? Kakak harus membawaku kalau ingin berhasil!" Randika menatap Indra, hatinya terasa hangat ketika dia mengetahui bahwa Indra khawatir pada dirinya. Tapi dia sendiri tahu bahwa Indra juga mulai bosan dengan kehidupan kota yang monoton. "Bukankah guru juga mengatakan bahwa aku harus mengikutimu selama di kota? Jadi kau harus membawaku bersamamu kak." Indra memang licik, dia menggunakan nama kakeknya untuk membuat dirinya membawanya. "Baiklah, kalau begitu bersiap-siaplah." Kata Randika sambil tersenyum. Pada saat ini, boneka ginseng di tempat tidur tiba-tiba melompat ke pundak Indra, menari dan tertawa. Randika menatap boneka ginseng itu, kenapa tiba-tiba ia bersemangat? Indra menatapnya dan bertanya. "Apa kamu juga mau ikut?" Boneka ginseng juga ingin ikut? Ketika boneka ginseng ini mendengar pertanyaan Indra, wajah mungilnya tersenyum lebar dan mulutnya seperti sedang berteriak ingin ikut. Ditambah lagi kepalanya tidak bisa berhenti mengangguk, sepertinya ia tidak ingin ditinggal sendirian. Tanpa menunggu lama, Randika segera membawa Indra dan boneka ginseng itu ke bandara. Pada saat di jalan, Indra sepertinya sedang memikirkan sesuatu. Dia lalu mengeluarkan handphonenya dan mulai menulis pesan untuk gurunya. Namun, Indra rasanya tidak mengerti caranya mengirim pesan. Dia malah menulisnya di bagian sebuah kertas dan mengirimnya via foto. Randika masih cemas dengan Inggrid jadinya dia tidak terlalu memedulikan Indra. "Guruˇ­ Indra pergi ke Jakarta bersama kakak seperguruan." ......ˇ­ Tak lama kemudian, mereka sampai di bandara dengan selamat dan naik pesawat yang paling cepat. Dua jam kemudian, Randika dan Indra tiba di Jakarta. Setelah itu Randika langsung mencari taksi. "Mau ke mana pak?" Supir itu bertanya dengan aksen yang berbeda. "Rumah keluarga Laibahas." Kata Randika. Laibahas merupakan nama keluarga Inggrid, mungkin karena dia kabur ke Cendrawasih, Inggrid tidak menggunakan nama keluarganya itu. Randika memiliki dugaan kuat bahwa hilangnya Inggrid berkaitan erat dengan masalah keluarganya. Meskipun dia tidak tahu alamatnya, dia berharap supir taksi ini tahu. "Baiklah." Supir ini tidak banyak omong dan memacu mobilnya. Mendengar nama keluarga Laibahas membuatnya sedikit tegang. Nama Laibahas sudah melekat di hati para penduduk Jakarta. Meskipun keluarga itu tidak mencolok, reputasi keluarga itu sudah menyebar luas. Beberapa keluarga aristokrat seperti keluarga Laibahas ataupun Alfred sudah menempati Jakarta bahkan sebelum kemerdekaan. Tidak lama kemudian, supir taksi ini membawa Randika dan Indra ke suatu perumahan yang benar-benar mewah dan berhenti di salah satu rumah paling besar di Jakarta. "Sudah sampai." Supir itu membantu membukakan pintu Randika dan berkata. "Totalnya 75 ribu." Randika mengeluarkan 100 ribu. "Tidak usah kembalian." Setelah keluar dari taksi, Randika menatap bagian depan rumah yang super gede ini. Di bagian tembok sebelah pagar, ada plakat besar yang bertuliskan "Laibahas". Bahkan pagar rumahnya ini terkesan kuno bagaikan yang ada di film-film dengan kepala singa sebagai genggamannya. Di setiap sisi pagar ada 2 patung singa yang menatap tajam siapapun yang berani datang ke rumah ini. Rumah keluarganya Inggrid ini benar-benar kuno, orang mungkin merasa telah berjalan melampaui waktu apabila pertama kali melihat rumah ini. Dari luar rumahnya saja orang bisa mengerti seberapa besar kekuatan keluarganya Inggrid ini. Harga tanah di Jakarta sudah benar-benar mahal dan mereka bisa mempunyai lahan yang seluas itu. Sebagian besar lahan tetap mempertahankan citra kunonya sedangkan gedungnya tampak telah mendapatkan pembaharuan. Orang akan tersesat dengan mudah kalau mereka tidak tahu jalannya ketika mereka masuk. Randika memperhatikan pagar ini dan mendorongnya. "Berhenti!" Kedua petugas keamanan segera menghentikan Randika ketika dia menerobos masuk. "Namaku Randika, aku ingin bertemu dengan kepala rumah." Kata Randika. Randika? Mereka tidak pernah mendengar nama ini. Dalam sekejap, mereka mengerti bahwa Randika bukanlah siapa-siapa. "Tunggu sebentar. Tuan sedang menerima tamu, tunggulah di sini." Kata salah satu dari mereka. "Baiklah aku akan menunggu." Randika kemudian bersandar di tembok bersama dengan Indra. Ini adalah rumah keluarga intinya Inggrid, Randika tidak boleh bertindak gegabah. Dia harus menunggu respon dari keluarganya. Bagaimanapun juga, Inggrid adalah istrinya jadi dia harus sopan terhadap keluarga mertuanya itu. Kalau tidak, bisa-bisa mereka meminta Inggrid membatalkan pernikahan mereka. Saat waktu kembali berjalan, kedua petugas itu mengawasi Randika dan Indra sambil tertawa. Mereka tertawa karena orang ini begitu polos. Kalian kira kami akan membiarkan kalian masuk? Sepuluh menit, setengah jam, empat puluh lima menit telah berlalu. Akhirnya kesabaran Randika sudah hilang, dia sudah capek menunggu. "Aku harap kalian memberitahu kedatangan kami." Kata Randika. "Aku di sini ingin bertemu dengan Inggrid." "Bukankah kita mengatakan bahwa tuan sedang ada tamu?" Balas salah satu dari mereka. "Aku juga tidak senganggur itu untuk memenuhi permintaanmu." Randika sudah marah dalam hatinya. Ketika dia mendengar nada bicara petugas keamanan yang meremehkan dirinya ini, mau tidak mau dia menjadi marah tetapi Randika berhasil menenangkan dirinya. Setelah menghela napas, Randika berkata sekali lagi. "Masuklah dan beritahu kedatanganku." "Kau pikir kau siapa? Kau boleh masuk apabila kami sudah mendapatkan ijin dari dalam. Rumah ini bukan sembarangan tempat, tidak sembarang orang boleh masuk." Indra lalu membalasnya dengan nada serius. "Kau cuma seorang satpam, kalau kau mengancam kakakku sekali lagi maka akan kuhajar kau sampai mati!" "Diam kau gendut! Pergi sana, perutmu menghalangi pemandangan saja." Kedua petugas ini mulai kehilangan kesabarannya ketika mereka diancam seperti itu. "Sekali lagi aku memperingatkan kalian." Tatapan mata Randika benar-benar dingin. "Masuk dan beritahu kedatanganku." "Tidak perlu dan tidak akan." Salah satu dari mereka mendengus dingin. "Aku sarankan kalian segera pergi dari sini dan kembali ke desa kalian. Bahkan seribu tahun pun aku tidak akan melaporkan kehadiran kalian hahaha." Kedua petugas ini tertawa keras, sementara tatapan mata Randika semakin tajam. Tidak ada ekspresi di wajahnya, tetapi, tiba0tiba tangannya sudah berada di kedua leher petugas itu! "Apa maksudmu ini!" Kedua petugas itu benar-benar terkejut. Mereka tidak menyangka orang ini akan menyandera mereka di salah satu tempat paling keramat di Jakarta. Randika tidak berbicara, dia sudah malas meladeni cecunguk. Tidak membiarkan aku masuk? Baiklah akan aku terobos rumah ini. Tidak ada benteng yang dapat menghalangi Ares mendapatkan apa yang dia mau! Kedua tangan Randika masih mencekik keras kedua petugas itu. Tiba-tiba Randika melepas genggamannya dan masuk menuju rumah sambil meninggalkan kedua orang yang pingsan tersebut. Indra dengan cepat menyusul. Namun, salah satu dari kedua petugas itu ternyata masih sadar dan mengambil HT miliknya. "Ada orang yang menerobos masuk!" Randika berjalan pelan di halaman rumah. Tiba-tiba, puluhan orang segera mengepungnya. "Tangkap mereka!" Melihat kedua penyusup itu, pemimpin keamanan itu segera menyuruh anak buahnya menyerbu. Lebih dari 20 orang segera menerjang ke arah Randika dan Indra. Randika hanya berdiri diam, tidak ada sedikit pun jejak takut di wajahnya. Melihat para petugas keamanan ini bergerak, dia juga ikut bergerak. Sosok Randika sudah bagaikan ninja, kadang muncul di kiri kadang di kanan. Tanpa bisa mengikuti pergerakannya, para petugas keamanan ini sudah tumbang satu per satu! Waktu seakan berjalan dengan cepat. Para petugas keamanan ini tiba-tiba menghilang satu per satu. Yang ada hanyalah sebuah tubuh melintas di antara mereka dan menabrak tanah dengan keras. Randika sedang sibuk menghabisi lawan-lawannya ini. Di tengah kerumunan itu, dia tampak sedang menendang salah satu dada orang. Para petugas ini sama sekali tidak bisa melihat sosok Randika, yang hanya bisa mereka rasakan adalah rasa sakit dan tubuh mereka yang terpental. Pergerakan Randika sudah mirip dengan angin, dia bergerak dengan cepat sambil terus menyapu lawannya. Saat dia menyadari ada 5 orang sedang mengepungnya, Randika menggunakan salah satu dari mereka sebagai senjata dan menghantam keempat orang sisanya. Semuanya terjadi dengan cepat, dan seakan waktu sama sekali tidak berjalan, Randika nampak berdiri di tempat dia berdiri awalnya dan ilusi dirinya menghilang. Dua puluh orang petugas keamanan itu sudah tergeletak kesakitan di tanah. "Aghhh!" "Sakit!" Teriakan-teriakan kesakitan itu segera menggema, si pemimpin merasa ketakutan sekaligus marah. "Kalian semua sampah! Buat apa kalian dibayar begitu mahal kalau segitu saja sudah kalah?" Di saat dia telah selesai memaki bawahannya, dia menyadari bahwa Randika sudah berada di hadapannya. Hatinya mengepal, dia tanpa sadar mengambil langkah mundur. Tetapi tangan Randika sudah melayang ke arah dadanya dan hanya dengan satu pukulan, si pemimpin itu sudah pingsan. Di halaman rumah yang luas ini, seluruh petugas keamanan keluarga Laibahas telah meringkuk kesakitan dan tidak ada yang mampu berdiri lagi. Randika tidak membunuh mereka, karena bagaimanapun juga mereka adalah bawahan dari keluarganya. Randika kemudian terus bergerak menuju pintu rumah. Indra, yang daritadi hanya menonton, segera menyusul Randika. Boneka ginseng yang ada di pundaknya itu terlihat mengangguk puas, mantan rivalnya itu ternyata tidak buruk. "Cukup sampai di situ." Tiba-tiba ada suara yang terdengar. Randika berhenti berjalan dan mencari siapa yang menghalanginya kali ini. Indra terlihat bingung, dia sama sekali tidak bisa melihat siapa yang berbicara dengan mereka. Randika sama sekali tidak berbicara, dan tiba-tiba, dari bawah kakinya muncul sebuah pisau! Randika berhasil menghindari serangan mendadak yang berasal dari dalam tanah ini, namun, dalam sekejap dia sudah dikepung oleh beberapa pembunuh yang muncul dari balik bayangan! Chapter 159: Konfrontasi Di saat Randika menginjakan kakinya di halaman rumah bagian tengah, beberapa pembunuh sudah menarget Randika dari berbagai sisi! Serangan mereka benar-benar tidak mempunyai celah. Cepat dan akurat! Aura membunuh mereka sudah menyebar ketika mereka menunjukan diri mereka. Jika aura ini memiliki wujud, mungkin aura itu sudah menyelimuti dan mencekik Randika. Terlebih lagi, tim pembunuh dari keluarga Laibahas ini sudah menganggap membunuh adalah cemilan sehari-hari. Oleh karena itu, hari ini mereka akan makan di atas mayat para penyusup ini. Para pembunuh ini sudah menutup jalur kabur Randika, jika penyusup ini orang biasa maka mereka sudah mengompol di tempat. Tetapi, tiba-tiba tubuh Randika memancarkan aura membunuh yang jauh lebih kuat daripada gabungan para pembunuh tersebut. Bahkan langit bisa terguncang olehnya. Di bawah ancaman aura membunuh ini, para pembunuh itu berhenti menerjang Randika dan mengambil langkah mundur. Bersembunyi di kegelapan, beberapa dari mereka merinding bahkan ada yang ingin kabur. Semua tatapan mata mereka tertuju pada Randika. Mereka harus mencari kesempatan emas untuk membunuh lawannya kali ini. Tetapi, siapa penyusup ini sebenarnya? Penyusup itu masih muda, namun kenapa aura membunuhnya begitu kuat? Yang tidak mereka ketahui adalah penyusup ini adalah salah satu 12 Dewa Olimpus dengan kode nama Ares. Ares sang Dewa Perang! Dia pernah membunuh 1000 orang suruhan mafia Italia hanya dalam satu malam dengan bermodalkan tinjunya saja! Randika kembali melangkah, sedangkan Indra terus mengikutinya. Ketika Randika mencapai tengah halaman, dia berhenti dan mengatakan. "Keluarlah." Namun tidak ada respon sama sekali. "Keluarlah atau akan kupaksa kalian keluar satu per satu." Kata Randika dengan nad dingin. Kemudian dia menoleh ke arah bangunan yang ada di samping kirinya. Di lalu menatap tajam pada orang yang sedang menyatu dengan genteng. Merasakan tatapan tajam Randika, orang itu sudah tidak tahan dan melompat keluar. Dia mendarat tepat beberapa langkah di hadapan Randika. Indra menatap orang yang tiba-tiba mendarat itu, orang itu adalah kakek-kakek jenggotan yang menatap Randika dan dirinya dengan tatapan tajam. Randika tidak menatapnya balik, justru tatapannya jatuh pada gudang di samping kanannya. Di balik barang-barang yang bergeletakan itu, seorang laki-laki terlihat sedang bersembunyi. Orang itu sudah merasa dirinya ketahuan, lalu sambil mengambil pedangnya dan menyusul temannya yang sudah menampakan dirinya. Setelah itu Randika menoleh ke arah taman yang memiliki batu besar di antaranya. Dari balik batu tersebut muncul seorang kakek dengan tongkat jalannya. Matanya dipenuhi dengan keterkejutan. "Satu lagi." Kata Randika dengan nada dingin. Randika sama sekali tidak bergerak. Tangan kanannya tiba-tiba membentuk sebuah pistol dan menembakan tenaga dalamnya itu ke arah sebuah pintu rahasia yang tertutup oleh tanah di arah serong kanan belakangnya. Tenaga dalamnya itu dengan mudah mengenai sosok pembunuh yang ada di dalamnya. Tak lama kemudian pintu rahasia itu terbuka dan pembunuh tersebut berkumpul dengan temannya. Total ada empat pembunuh! Bisa dikatakan bahwa empat pembunuh ini adalah pertahanan terakhir dan terkuat dari keluarga Laibahas. Meski terlihat tua, kekuatan mereka bukan main-main. Indra terlihat menggaruk-garuk kepalanya ketika melihat 4 penatua ini. Dia merasa bahwa dirinya lebih lemah daripada 4 kakek tersebut. Keempat pembunuh ini menatap Randika yang berdiri diam, mereka sama-sama diam. Untuk sesaat, keenam orang ini hanya saling menatap. Akhirnya, orang yang membawa tongkat jalan itu memecah keheningan. "Siapa kalian? Kenapa kalian menerobos tempat ini?" Randika menjawabnya dengan santai. "Kalian tidak perlu tahu siapa apa, aku hanya datang untuk Inggrid." Datang demi nona muda mereka? Keempat orang ini langsung bertatap-tatapan. Hari ini nona muda mereka mendadak pulang. Sekarang dia sedang diceramahi oleh tuan mereka. Menilai dari wajah nona muda mereka, seharusnya badai desar telah melanda keluarga ini. Jadi mereka masih ragu, apakah orang ini datang untuk membantu atau berbuat jahat pada nona muda mereka. Untuk beberapa saat keempat orang ini hanya terdiam dan bertukar pandang. Akhirnya orang yang muncul dari dalam tanah itu mengatakan. "Tidak, kau tidak kami ijinkan bertemu dengan nona muda. Pergilah dan kembali ke tempatmu." "Tidak ada yang bisa mencegahku." Kata Randika dengan santai. "Kau bocah yang terlalu arogan." Pembunuh yang ada di sebelah kiri marah ketika mendengar Randika. Pedang yang dipegangnya itu dia lemparkan menuju Randika! Ajaibnya pedang itu menjadi serangan pisau yang tak terhitung jumlahnya! Bersamaan dengan serangan pisau tersebut, ketiga pembunuh lainnya juga bergerak. Salah satu dari mereka bergerak dengan posisi rendah, mengincar kaki Randika. Dia bermaksud membuat Randika melompat. Kedua pembunuh lainnya bergerak ke arah samping Randika, mereka bertugas menghalangi jalur kabur Randika. Pria yang melemparkan pedangnya itu juga ikut menerjang ke arah Randika. Pertarungan hidup dan mati dimulai! Randika juga bergerak. Seluruh tubuhnya sudah dialiri oleh tenaga dalamnya khususnya tangan kanannya. Dengan tangannya itu, dia berhasil mengambil salah satu pisau yang melesat menuju dirinya dan menangkis seluruh pisau yang menuju dirinya. Namun, tangkisannya ini telah diaturnya agar melesat ke arah pembunuh yang mengincar kakinya! Pembunuh itu mengerutkan dahinya dan langsung menghindar. Randika sudah menerjang maju dan bergerak ke arah pembunuh yang ada di kirinya. Kedua pembunuh yang lain masih berusaha menerjang. Dengan tangan kirinya, Randika menangkis serangan tangan lawannya dan tangan kanannya berhasil menangkap pergelangan tangan lawannya. Pembunuh itu terkejut, dia dengan cepat melayangkan pukulan sebelum dia diapa-apakan oleh Randika. Randika sendiri juga bereaksi dengan cepat, dia melepas genggamannya dan melayangkan pukulannya ke arah tinju lawannya. Kedua energi itu bertarung dengan ganas, tetapi pembunuh paruh baya ini tidak kuat menahan kekuatan Randika dan terpental. Tetapi Randika terlihat tidak ingin melepas orang itu, dia mengejar lawannya yang terpental itu. Hal ini membuat pembunuh yang datang dari arah kanan bahagia, Randika mempunggungi dirinya. Dia dengan cepat mengangkat tangannya dan menghantam belakang kepala Randika. Tetapi, pembunuh ini merasakan aura membunuh dari sudut mata Randika. Tatapannya yang super tajam itu memberikan rasa ngeri dan bahaya. Pembunuh ini menggertakan giginya dan tetap meneruskan serangannya. Tetapi, Randika dengan sigap melompat dan mendarat di belakangnya. Habis sudah! Pembunuh ini terkejut, firasatnya tadi benar bahwa ini adalah jebakan. Pada saat ini, semua sudah terlambat. Ketika pembunuh itu ingin bereaksi, tinju Randika sudah mendarat di dadanya dan kesadarannya langsung menghilang. Dia melayang jauh dengan mata yang terbelalak, muntahan darah dan suara tulang yang patah. Sekarang tersisa satu pembunuh yang melempar pedangnya, dia sekarang sedang dihadang oleh Indra. "Minggir!" Teriak pembunuh itu. Dia sudah menimbun momentum kecepatan dan menaikkan tinjunya. Tinjunya mengandung daya kekuatan yang dahsyat! Muka Indra masih terlihat datar, dia sama sekali tidak berniat menghindarinya. Pembunuh itu melesat bagai panah dan menghantam perut Indra dengan kuat! Indra tidak tinggal diam ketika dirinya diserang. Tanpa perlu mengeluarkan teknik ataupun menggeser kakinya, dia hanya mengangkat tangan kanannya. Ternyata kedua tinju mereka saling berhadapan! Kedua pukulan itu bertemu dan menghasilkan daya ledakan yang besar. Pembunuh itu sampai terpental beberapa meter dari tempatnya berdiri. Kekuatan mereka yang bertabrakan itu benar-benar dahsyat. Tetapi, tatapan matanya terlihat ngeri dan ketakutan. Ketika dia melihat Indra, dia hanya berpindah setengah langkah ke belakang! Orang gendut itu benar-benar kuat! Di lain sisi, orang yang menghindar dari serangan pisau Randika sudah kembali menerjang Randika. Dia dibantu oleh temannya yang terluka pertama kali. Kedua ini terlihat bagaikan seekor serigala yang menerjang, tetapi hal ini tetap tidak membuat takut Randika. Salah satu pembunuh itu mengeluarkan serangan telapaknya dan menghantamkannya ke dada Randika. Namun, yang tidak diketahui oleh Randika adalah terdapat panah beracun dari balik lengan panjang bajunya itu. Untuk membuat Randika tidak melihatnya, pembunuh lainnya melompat ke atas untuk mengalihkan perhatian Randika. Serangan kombinasi sangat berguna untuk membereskan lawan yang sendirian. Randika hanya menatap dingin mereka berdua, dia melakukan split dengan sempurna dan berhasil menghindari serangan mereka berdua. Dalam sekejap, Randika memutar tubuhnya di tanah dan berhasil berada di belakang mereka. Tangannya berubah menjadi cakar dan menggenggam erat salah satu dari mereka. Tanpa memberi kesempatan, Randika langsung mematahkan kedua kaki lawannya itu. Teriakan kesakitan segera menggema di telinga semua orang. Tetapi, orang ini masih berusaha membidik Randika. Namun di hadapan Randika serangan licik ini tidak berguna, Randika hanya menghindarinya dan mematahkan lengannya juga. Meringkuk kesakitan di tanah, Randika menghabisinya dengan menendangnya hingga terpental. Semua itu terjadi dengan cepat, saat temannya itu sudah mendarat dan menoleh ke belakang, dia sudah melihat temannya terluka parah dan amarahnya menjadi memuncak. "Bajingan!" Amarahnya sudah benar-benar di ambang batasnya, dia ingin menguliti Randika hidup-hidup. Randika masih tetap berekspresi datar sambil mempertahankan postur menyerangnya. Tidak menunggu lama, akhirnya mereka berdua saling menerjang satu sama lain. Tetapi, tiba-tiba Randika merasa malas dan membiarkan lawannya berlari ke arahnya. Mereka berdua bertukar pukulan dan Randika berhasil menangkis semunya. Di suatu titik, Randika melihat celah dan berhasil menghantam dada lawannya. Pembunuh itu dengan cepat tersungkur di tanah. Randika lalu menatap Indra. Adik seperguruannya itu ternyata berhasil mendominasi dengan mudah. Setelah bertukar pukulan sebanyak 3x, lawannya itu sudah tidak kuat lagi. Tetapi Indra masih merasa darahnya mendidih dan mengharapkan pertarungan yang lebih sengit. "Ayo berdiri!" Indra benar-benar haus darah. Dia berlari dengan perut besarnya itu dan menghantam ke bawah. Pembunuh itu harus menghindarinya atau dia akan terbunuh olehnya. Mereka lalu kejar-kejaran beberapa waktu. "Kau ngaku laki? Jangan menghindar dan hadapi aku." Teriak Indra sambil mengejar. Randika tidak peduli dan berjalan menuju gedung rumah. Tetapi pada saat ini beberapa petugas keamanan telah tiba. Mereka semua terkejut, keempat pembunuh andalan keluarga Laibahas telah tergeletak dan salah satu dari mereka lari ketakutan sambil dikejar seekor gajah. Kemudian mereka menatap Randika yang memasang ekspresi dingin. Bagaimana mungkin penyusup ini bisa menang? Melihat Randika yang melangkah maju, semua orang tanpa sadar mengambil langkah mundur. Tidak ada yang berani menghalanginya! Chapter 160: Bersama Hingga Akhir Nanti Pada saat ini, anggota keluarga inti Laibahas sedang duduk bersama. Di tengah-tengah mereka, ada Inggrid dan Ibu Ipah. Jack, sang kepala keluarga, duduk di kursi terhormat bersama dengan petinggi keluarga lainnya. Ekspresi mereka semua terlihat serius sekaligus bingung khususnya Jack. "Kenapa kamu sampai kabur ke kota Cendrawasih? Kamu itu sudah mempermalukan nama keluarga kita, dan sekarang kamu malah membuat ribut sama keluarga lain." Jack menatap Inggrid yang terdiam. Inggrid menceritakan semua kejadian yang terjadi di kota Cendrawasih tetapi dengan sedikit perubahan cerita. Dia mengatakan bahwa orang suruhan Hans tiba-tiba datang dan mengajaknya kembali tetapi Ibu Ipah menghajar mereka atas permintaannya. Sedangkan insiden Randika menghajar Hans hingga babak belur, Inggrid menutupnya rapat-rapat. Bagi Jack, putrinya satu ini benar-benar merupakan masalah yang menyakitkan kepalanya. Ketika Jack dan Ivan, pemimpin keluarga Alfred yang sekarang, masih muda, mereka mengabdi bersama sebagai prajurit di angkatan darat. Mereka bertarung bersama, melewati bahaya bersama, bahkan pergi ke tempat pelacuran bersama. Bisa dikatakan mereka adalah sahabat yang saling melindungi punggung masing-masing. Kemudian, mereka mengambil alih keluarga inti mereka. Meskipun kadang terjadi konflik kepentingan yang menyangkut keluarga mereka, pertemanan mereka masih tetap erat. Kemudian, Jack dan Ivan bersepakat akan menyatukan keluarga mereka. Harapan mereka adalah keluarga mereka akan bersatu berkat pernikahan anak mereka dan keduanya bisa menjadi keluarga aristokrat terbesar yang pernah ada. Rencana sempurna ini hancur gara-gara Inggrid. Jack adalah orang yang sangat mementingkan wajah. Tindakan Inggrid ini benar-benar menghilangkan wajahnya. Hal ini bisa membuat hubungan keluarga Laibahas dan Alfred mencapai titik paling tegang. "Pa, aku tidak mau menikahi orang itu." Kata Inggrid. "Papa tidak tahu bagaimana sifat anak bernama Hans itu. Dia menculikku dan hampir memperkosaku dengan tangan terikat di hotel. Kalau Ibu Ipah tidak menyelamatku tepat waktu, aku benar-benar sudah diperkosa." "Semua itu hanya pengorbanan kecil demi tujuan yang lebih besar." Jack kemudian menyuruh Inggrid pergi. Inggrid menjadi marah, ayahnya ini benar-benar keras kepala. Ambisi dan reputasi merupakan hal paling penting bagi ayahnya itu, dia sama sekali tidak memikirkan kebahagiaannya. Pada saat ini, tiba-tiba suara seseorang terdengar. "Nona Inggrid, semua pernikahan ini berkaitan dengan kepentingan keluarga kita. Menyatukan kedua keluarga dengan pernikahan akan mendatangkan keluarga kita banyak keuntungan." "Kenapa kebahagiaanku harus dikorbankan untuk kepentingan keluarga?" Inggrid tiba-tiba berdiri dengan wajah serius. Dia ingin memperjuangkan haknya untuk bahagia. Ibu Ipah hanya bisa menundukan kepalanya sambil berharap yang terbaik untuk Inggrid. "Karena kamu adalah darahku, kamu tidak akan lepas dari tanggung jawabmu sebagai anggota keluarga ini." Pada saat ini, terdengar keributan dari luar. "Ada apa ini?" Jack mengerutkan dahinya. "Maaf tuan, sepertinya ada penyusup yang memaksa masuk ke dalam rumah." Lapor salah satu pengawal. "Kami sedang membereskannya." Jack hanya mengangguk dan tidak peduli. Bagaimanapun juga, keempat pembunuh andalannya semua ada di rumahnya hari ini. Musuh seperti apa pun tidak akan bisa berkutik. "Tangkap orang itu, aku ingin lihat siapa yang berani menyerang kita di siang buta begini." "Baik tuan." Pengawal itu lalu keluar dari ruangan. Jack kembali menatap putrinya dan berkata dengan nada dingin. "Aku tidak peduli dengan omong kosong yang kau katakan tadi. Sebentar lagi akan ada orang yang menyiapkanmu untuk menikah setelah itu kita akan pergi ke rumah keluarga Alfred dan meresmikan pernikahanmu hari ini juga." Inggrid hanya menundukan kepalanya, dia sama sekali tidak membalas. Di dalam benaknya hanya ada Randika dan senyumannya itu. Samar-samar dia masih bisa mendengar Randika memanggilnya dengan sebutan sayang sambil memeluk dirinya. Selamat tinggal suamiku, aku benar-benar mencintaimu. Inggrid benar-benar patah hati. Sekarang dia akan menjalani hidup sebagai alat keluarganya dan menikah dengan anak dari keluarga Alfred. Ibu Ipah tidak memiliki kata-kata yang bisa menghibur nona mudanya yang sudah dia anggap anak itu. Semua kejadian ini terjadi begitu tiba-tiba. Meskipun nona mudanya sudah tahu hari ini akan datang, perasaan sedih dan penderitaan ini tetap membuat nonanya sengsara. Ketika rapat keluarga ini mau selesai, keributan di luar sama sekali tidak mereda. Justru, teriakan minta tolong dan orang kesakitan terus terdengar. "Kenapa mereka mengurus penyusup saja lama." Jack mengerutkan dahinya. "Ros, cepat turun dan tangkap orang itu." "Baik." Rosidi, pengawal paling setia, segera turun dan memeriksa keributan. Bersama dengan bawahannya, Rosidi terkejut bukan main melihat pembunuh andalan keluarga Laibahas tergeletak di tanah dan satu sedang lari dari kejaran. Ketika dia menatap tatapan dingin Randika, mau tidak mau pengawal ini merinding. Melihat orang ini bagaikan berada di kutub utara! Melihat penyusup ini berjalan mendekatinya, tanpa sadar Rosidi mengambil langkah mundur. Melihat atasannya melangkah mundur, para bawahannya juga tidak berani pasang badan. Orang terkuat mereka saja tidak berdaya melawan penyusup ini, apalagi mereka? Meskipun gaji mereka besar, kehilangan nyawa adalah perkara lain. Randika semakin mendekati gedung tempat Inggrid berada, tidak ada orang yang berani lagi menghalangi dirinya. Semua akan minggir ataupun berjalan mundur. Keributan di luar sama sekali tidak mereda. Jack dan anggota keluarga lainnya malah merasa suara ribut itu mendatangi ruangan mereka. Semuanya saling bertatap-tatapan. Tiba-tiba, mereka menyadari bahwa Rosidi dan bawahannya justru lari masuk ke dalam gedung. Kenapa mereka malah kabur? Beberapa orang mulai jadi panik, Jack dan anggota inti lainnya sudah bersiap lari. Namun, sosok Randika sudah nampak di hadapan mereka. "Siapa kamu?" Jack dan lainnya menjadi tegang. Ketika Ibu Ipah melihat Randika, dia terkejut bukan main. "Nona lihat! Pangeranmu telah datang." Ibu Ipah berbisik di telinga Inggrid sambil tersenyum. Inggrid, yang sudah putus asa, langsung mengangkat kepalanya ketika mendengar itu. Kemudian dia melihat sosok Randika dikepung oleh beberapa orang. Inggrid hanya bisa melongo dan terdiam. Apakah dia sedepresi itu hingga berhalusinasi? Hati Inggrid mengepal, kenapa halusinasinya ini terlihat nyata? Ketika Randika berhasil menemukan Inggrid, ekspresi dinginnya segera berubah menjadi senyuman. Melihat senyuman Randika itu, Inggrid seperti melihat matahari. Hatinya yang gelap itu segera bersinar kembali dan menjadi cerah. Randika datang menyelematkan dirinya! Tetapi kenapa dia bisa tahu kalau dirinya ada di sini? Inggrid kemudian berdiri dan menghampirinya. "Kenapa kamu datang ke sini?" Tanya Inggrid dengan wajah serius. Inggrid yang tiba-tiba pasang badan begini membuat semua orang terkejut. Dia kenal sama penyusup ini? "Aku datang untuk membawamu kembali." Randika tersenyum dan berjalan menghampiri Inggrid, dia tidak peduli tatapan semua orang. Di matanya sekarang, hanya sosok Inggrid yang terlihat. "Ipah!" Jack naik pitam, dia langsung menoleh ke Ibu Ipah. Pasti pelayannya ini tahu sesuatu. Semuanya menatap diam ke arah kedua orang tersebut. Namun ketika Inggrid mendengar kata-kata Randika, hatinya menjadi lembut dan wajahnya penuh dengan senyuman. Pangerannya telah datang untuk menyelamatkan dirinya. Di dunia ini hanya Randika yang bersedia berdiri di sampingnya. Ketika orang rela mengarungi 7 lautan dan memanjat gunung untukmu dan melewati semua bahaya demi dirimu, terlebih dia telah mengisi hati dinginmu itu dengan kehangatan, siapa yang dapat menolaknya? Sejak pertama kali bertemu, pria ini terus memberi warna di hidupnya yang serba putih. Bersamanya Inggrid Elina bersedia menghabiskan hidupnya hingga akhir nanti. Chapter 161: Perang Inggrid mengangguk dengan keras. Air matanya sudah turun dengan deras sambil memberikan senyuman pada Randika. Sambil mengusap air matanya, Randika memeluk Inggrid. "Kamu sepertinya menderita selama ini, ayo kita kembali ke rumah dan serahkan semuanya padaku." Bersamaan dengan itu, Randika sudah menggandeng Inggrid dan berjalan keluar. Semua anggota keluarga dan Jack hanya menatap linglung ke arah mereka. Keberadaan mereka sama sekali tidak dipedulikan oleh Randika. Bagaimanapun juga, Inggrid adalah anggota inti keluarga Laibahas, bisa-bisanya dia kabur dari tanggung jawabnya? Jack menampar meja yang ada di depannya. "Jangan bercanda! Inggrid jangan kabur lagi kamu!" Tetapi sama sekali tidak ada tanggapan. Randika sama sekali tidak mengijinkan Inggrid menoleh ataupun berhenti berjalan, dia akan memberikan kebahagiaan yang pantas buat Inggrid. "Cepat hentikan mereka!" Jack mulai meneriaki bawahannya. Mendengar perintah itu, semua orang mulai bergerak. Tetapi ditatap tajam oleh Randika membuat mereka berhenti bergerak. Rasa takut dan ngeri membuat mereka tanpa sadar mengambil langkah mundur. Randika tidak peduli lagi dan keluar menuju halaman rumah. "Tidak akan kubiarkan kamu lari lagi!" Jack benar-benar marah, baru pertama kali ada yang berani menyusup ke rumahnya ini dan menculik anaknya. "Semuanya ikut aku atau akan kubunuh kalian dengan tanganku!" Semuanya dengan cepat mengikuti tuan rumah dan mengejar Randika. Tepat di depan pagar, Randika menatap Inggrid sambil tersenyum. Dia lalu mencium dahi Inggrid. "Apa pun yang terjadi, aku akan selalu bersamamu." Kata Randika dengan nada lembut. Inggrid tersenyum dan mengangguk. Jack secara tidak sengaja melihat adegan mesra mereka dan semakin marah. "Siapapun tangkap mereka!" Jack membentak ke semua bawahannya. Kedatangan Randika itu benar-benar di luar dugaannya. Jika penyusup itu berhasil membawa Inggrid pergi, dia tidak akan bisa menjelaskannya pada keluarga Alfred. Bagaimana mungkin dia membiarkan ini terjadi? Melihat kakak seperguruannya datang sambil menggandeng seseorang, Indra menggaruk kepalanya dan bertanya pada boneka ginseng yang ada di pundaknya. "Apa itu orang yang kakak ingin selamatkan?" "Woo, woo, woo." Boneka ginseng itu terlihat mengomel pada Indra, maksud boneka itu jelas bahwa ia sendiri tidak tahu apa-apa. Tetapi pada saat ini, di luar pagar rumah keluarga Laibahas, puluhan orang datang dan membuka pagar rumah ini. Ketika Jack melihat kerumunan orang itu, dia terkejut setengah mati. Kenapa keluarga Alfred tiba-tiba datang? Bahkan Ivan sang kepala keluarga juga datang, di sampingnya juga nampak ahli bela diri miliknya. Daya tempur kekuatan keluarga Alfred melebihi kekuatan milik keluarganya jadi tentu saja ahli bela diri atau bisa disebut tim pembunuhnya itu jauh lebih kuat daripada miliknya. Dalam sekejap, pintu keluar sudah diblokir dan Randika sudah dikepung. Ivan berjalan maju dan mendengus dingin, dia menatap Jack dengan tatapan dingin. "Jack, aku tahu bahwa kita dulu adalah sahabat. Tetapi tindakan anakmu ini sudah keterlaluan!" Jack sudah tahu bahwa sikap Ivan akan seperti ini, dia menghela napas dalam hati. Tetapi yang Jack tidak tahu adalah Ivan datang ke sini bukan mempermasalahkan pernikahan anak mereka melainkan tentang Hans yang dihajar babak belur hingga masuk rumah sakit. "Jangan khawatir. Aku akan mempersiapkan anakku Inggrid ini dan membawanya ke rumahmu sore nanti. Aku tidak menyangka akan ada penyusup yang berusaha membawa anakku kabur. Untung saja kalian semua datang, kalau tidak anakku benar-benar akan kabur." Nada bicara Jack benar-benar terdengar tidak berdaya. Tatapan mata Ivan jatuh pada Inggrid. "Kamu adalah Inggrid? Kamu benar-benar lancang! Berani-beraninya kamu membuat anakku babak belur sampai masuk rumah sakit? Menurut penyelidikanku kamu juga sudah menikah, berani-beraninya kamu melanggar perjanjian keluargamu!" Ivan sudah benar-benar naik pitam, seluruh kebenciannya tertuju pada Inggrid. Jack hanya terdiam, dia kehabisan kata-kata. Anaknya sudah menikah? Masalah ini rasanya semakin besar. Ivan menatap Randika dan mengacuhkannya, orang sekelas Ivan tidak peduli dengan orang luar. Namun pada saat ini, Randika berbicara. "Apa kamu ayah dari Hans? Tidak heran sifat anakmu bisa sebusuk itu, kamu sendiri saja bisa dengan mudah mempercayai apa yang dikatakan anakmu itu." Tatapan semua orang jatuh pada Randika. Ivan kembali menatap Randika, nada bicaranya penuh dengan nada merendahkan. "Kau siapa?" Randika membalas dengan santai. "Aku adalah suami Inggrid. Anakmu ingin menyentuh wanitaku dan sekarang dia tidak akan pernah bisa menyentuh wanita lagi." "Ternyata kamu pelakunya!" Tatapan mata Ivan menjadi penuh dengan amarah sekaligus kebencian. Ketika Hans dikabarkan masuk ke rumah sakit, Ivan mendapat kabar bahwa alat kelamin Hans sudah tidak bisa diselamatkan. Dokter memang bisa menyelamatkan fungsi alat kelaminnya sebagai alat ekskresi urine tetapi fungsi seksualitasnya sudah tidak bisa diselamatkan. Ivan benar-benar baru pertama kalinya mengalami kejadian memalukan seperti ini. Oleh karena itu, dalam sekejap dia sudah berangkat menuju rumah sahabatnya itu untuk meminta penjelasan. "Sudah untung dia kubiarkan hidup." Kata Randika dengan santai. "Hahahaha." Ivan hanya menepuk tangannya sambil tertawa, ekspresinya benar-benar dingin. "Hari ini aku akan mengulitimu hidup-hidup dan memotong semua jarimu. Tenang saja aku tidak akan membiarkanmu mati, setiap hari aku akan menyiksamu sampai kau berharap lebih baik mati!" "Kau tidak akan bisa." Kata Randika sambil menghela napas. Para bawahan Ivan sudah mengepung Randika dan tim pembunuhnya sudah mengeluarkan senjatanya. Kabur merupakan hal yang mustahil. Setelah menyuruh Inggrid pergi ke tempat Indra, Randika menatap Ivan dan mengatakan. "Lebih baik kalian semua menyerang bersamaan." "Hari ini kita akan berpesta di atas tubuhmu!" Semua orang menjadi marah ketika mendengar ejekan Randika itu terutama tim pembunuh keluarga Alfred. Keahlian mereka sudah bisa dikatakan terbaik di Indonesia dan orang itu menyuruh mereka untuk menyerang bersamaan? Pada saat ini, Indra yang bersama dengan Inggrid mendadak meninggalkan Inggrid dan berdiri di samping kakak seperguruannya. Dia merasa situasi berkembang ke arah tidak menguntungkan, dia dapat merasakan bahwa beberapa orang bahkan lebih hebat daripada dirinya. "Tangkap dia!" Teriak Ivan. Sesaat setelah perintah itu keluar, seluruh bawahan Ivan menerjang Randika! Randika justru tersenyum dan terlihat bersemangat, inilah ketegangan perang yang sudah lama tidak dia rasakan! Mengibaskan lengannya, Randika mulai bergerak dan berhadapan dengan lebih dari 12 orang. Pada saat yang sama pula, beberapa orang juga menerjang ke arah Indra. Indra juga memasang pose menyerangnya, dia menggunakan kaki dan tangannya dengan maksimal. Satu orang berhasil menyerang perut Indra tetapi perut itu memantulkan kembali serangan tersebut sekaligus orangnya. Kemudian kedua siku tangannya terbuka dan menyerang dua lawan yang berusaha menikamnya dari belakang. Indra dikatakan sebagai ahli bela diri jenius yang ada 100 tahun sekali. Belum lagi dia dilatih oleh kakeknya jadi kekuatannya benar-benar mengerikan. Setiap pukulan yang dia layangkan pasti menghasilkan suara tulang patah dari lawannya. Dan belum lagi ketika dia menghentakan kakinya, bumi ikut terguncang karenanya. Sedangkan serangan lawannya, itu semua bagaikan sengatan semut baginya. Daging tebal Indra menjadi tameng tebal yang melindunginya. Randika di lain sisi lebih luar biasa lagi. Nama Ares benar-benar cocok baginya, setiap langkahnya meninggalkan jejak mayat tak bernyawa! Pengalaman bertarungnya membuat dia tidak memiliki belas kasihan pada musuhnya. Setiap pukulannya akan membuat lawannya pingsan atau mati! Ivan mengerutkan dahinya melihat semua ini. Para bawahannya ini adalah para elit yang sudah lama melindunginya. Kekuatan mereka benar-benar ditakuti oleh semua orang. "Tuan, orang itu benar-benar kuat." Pengawal pribadi Ivan berbisik padanya. Ivan menganggukan kepalanya. "Orang ini akan jadi penghalang kita suatu hari nanti." Kemudian Ivan menatap pengawal pribadinya itu dan mengatakan. "Albert, bawa orangmu dan lenyapkan orang itu sama teman gendutnya itu." Tiba-tiba, para bawahan Ivan yang belum bertarung ikut ke dalam medan tempur. Benteng terakhir dari Ivan ini menerjang ke arah Randika dan Indra. Randika masih sibuk menghabisi teri-teri yang mengepungnya. Tetapi tiba-tiba dia merasakan bahaya dari belakangnya dan langsung mengangkat tangannya. Tangan kanan Randika berbenturan keras dengan tinju lawan barunya ini. Namun, bukanlah suara tulang patah yang terdengar, suara seperti besi berbenturan lah yang terdengar. Sepertinya lawannya ini bukan orang sembarangan. Wajah pembunuh ini benar-benar dipenuhi dengan keterkejutan, tetapi dia tidak membiarkan rasa kagetnya itu menumpulkan reaksinya. Sesaat kemudian dia langsung menendang ke arah Randika. Saat Randika ingin menyerang balik, dia merasakan rasa bahaya dari kiri dan kanannya. Dia dengan cepat mengambil langkah mundur dan berusaha menilai situasi yang dihadapinya. Namun, yang membuatnya terkejut adalah serangan dari arah belakangnya. Randika dengan cepat menghindarinya, dia benar-benar terkejut ketika menyadari ada 6 orang kuat yang menyerangnya secara bersamaan. Setiap dari orang tersebut lebih kuat daripada 4 pembunuh milik Jack. Serangan kombinasi keenam orang ini benar-benar mengerikan. Terlebih lagi, luka di tubuh Randika mulai memberontak lagi. Dia tidak bisa menggunakan seluruh tenaganya untuk bertarung, hal ini membuat Randika mengerutkan dahinya. Para bawahan Ivan yang masih berdiri juga tidak berhenti menyerang dan menguras tenaganya. Pada saat yang sama, keenam pembunuh itu berbaur dengan lautan manusia dan berusaha mendekati Randika secara diam-diam. Di lain sisi, Indra dikepung oleh Albert dan bawahannya. Mereka semua menggunakan pisau tajam untuk mengatasi pertahanan Indra. Sepuluh orang mengepung Indra secara bersamaan, Indra yang terpojok hanya bisa bertahan. Ketika Indra sibuk melayangkan pukulan, Albert melihat kesempatan dan berhasil menancapkan pisaunya ke kepalan tangan Indra! Indra merasakan rasa sakit yang luar biasa, namun pada saat ini, dia merasakan tubuhnya tertindih. Ternyata sudah ada 3 orang yang memanfaatkan kelengahan Indra untuk meloncat dan berpengangan di punggungnya. Ketika Indra memberontak, ketiga orang ini menancapkan pisaunya. Tiba-tiba, mata Indra sudah memerah. Di lain sisi, lautan manusia masih mengepung dan menyerang Randika. Pada saat ini, Randika mendengar raungan Indra. Ketika dia menoleh, dia melihat Indra sudah bersimbah darah dan terlihat berlutut. "Indra!" Randika kehilangan fokusnya, keenam pembunuh melihat celah ini dan menyerang! Pada saat bersamaan, keenam pembunuh ini keluar dari kerumunan dan melancarkan serangan pamungkas. "Kena kau!" Randika meraung keras dan seluruh tubuhnya tiba-tiba memancarkan tenaga dalamnya dengan kuat, seluruh tubuhnya diselimuti dengan aura membunuh yang pekat! Keenam pembunuh itu terkejut dan bermaksud untuk membatalkan serangan mereka. Tetapi semua itu sudah terlambat. Serangan Randika sudah bagaikan petir, dia dengan cepat melancarkan 100 serangan sekaligus! Keenam pembunuh ini sama sekali tidak punya kesempatan untuk bertahan dan pingsan di tempat. Mata Randika juga memerah, di hadapan seorang Dewa Perang, hanya ada kematian! Melihat Randika yang datang, Albert dan bawahannya tidak bertindak gegabah dan mundur beberapa langkah. "Kau baik-baik saja?" Randika berhasil menghampiri Indra dan langsung mengeluarkan jarum akupunturnya untuk menekan lukanya. "Tenang saja kak, aku tidak apa-apa." Indra tersenyum sambil menahan rasa sakitnya. Wajahnya sudah pucat pasi dan napasnya sudah tidak teratur, dia benar-benar terluka. "Berani-beraninya kau berbuat seperti ini!" Randika kembali meraung dan menerjang ke arah Ivan! Chapter 162: Kemunculan Kakek Kedua Ivan benar-benar terkejut, dan pada saat ini, Randika semakin dekat dengan dirinya. Semua bawahannya segera melindungi tuannya dan bahkan keenam pembunuh yang baru sadar itu kembali memasang badannya. Namun, semua orang yang berani menghalanginya dibuat melayang oleh Randika! Keenam pembunuh terkuat itu kembali memuntahkan darah, mereka tidak menyangka lawannya ini benar-benar kuat. "Tahan posisi kalian, dia tidak akan bertahan lama." Albert yang berada di sisi Ivan memberikan arahan pada bawahannya. Semua orang segera mengubah taktik mereka, mereka tidak menyerang Randika melainkan menyibukan Randika sampai dia kehabisan tenaga. Mereka segera mengepung Randika sambil terus saling melindungi. Randika, yang darahnya sudah mendidih, menerjang tanpa memedulikan apa pun. Dengan tangan kirinya yang menyerupai cakar, dia menggenggam kepala lawannya dan melemparkannya ke arah kerumunan. Kemudian tangan kanannya melayangkan pukulan ke dada seseorang. Lalu telapak tangannya yang mengandung tenaga dalamnya dia pukulkan ke tanah dan membuat tanah berguncang! Dalam sekejap semua orang kehilangan keseimbangannya. Namun pada saat ini, kekuatan misterius Randika kembali memberontak! Tubuh Randika segera menjadi kaku. Keringat dingin mengalir deras di dahinya dan seteguk darah hitam menyembur keluar dari mulutnya. Inilah saatnya! Keenam pembunuh yang terluka itu kembali menerjang Randika. Randika yang mengusap darah di mulutnya itu mengangkat tangan kanannya. Ledakan tenaga dalam tiba-tiba menyerang keenam pembunuh itu dan membuat mereka terpental! Jangan kira dirinya adalah mangsa yang mudah! Keenam pembunuh ini merasakan kengerian yang belum pernah ada. Jika lawannya itu tidak cedera, ledakan tenaga dalam sebelumnya itu akan membunuh mereka. Pada saat yang sama, Ivan menatap Randika yang sedang berlutut satu kaki. Ivan berpikir bahwa jika pria itu ada di sisinya, menguasai negeri ini bukanlah mimpi. Tanpa disadari, Ivan tertarik untuk merekrut Randika. "Kau sudah kalah." Kata Ivan pada Randika. "Menyerahlah dan aku tidak akan membunuhmu asalkan kau mau bekerja untukku." "Hahaha." Randika hanya tertawa, ini membuat Ivan mengerutkan dahinya. Tidak jauh dari situ, Inggrid menatap cemas Randika. Dia merasa tidak berdaya melihat Randika yang sudah diambang kematian itu. Air matanya sudah tidak bisa terbendung lagi. Jika kamu mati, aku tidak rela hidup di dunia ini. Sambil berurai air mata, Inggrid terus menatap Randika yang di ujung tanduk. Meskipun tidak bisa apa-apa, dia akan terus menemani Randika hingga akhir. Ivan sudah menggelengkan kepalanya. Randika sudah dikepung oleh 20 orang miliknya, kenapa bocah itu masih bisa sepercaya diri seperti ini? "Kau ingin aku menyerah? Kalau kalian ingin hidup, aku sarankan kalian menyerangku bersamaan." Wajah Randika mengandung rasa percaya diri yang besar. "Baiklah kalau itu maumu!" Ivan sudah tidak peduli lagi. Tiba-tiba, semua orang menerjang ke arah Randika! Randika menatap semua orang yang menerjang dirinya. Sambil menahan rasa sakitnya, Randika berdiri. Pada saat yang sama, dia mengumpulkan seluruh tenaga dalamnya dalam tubuhnya untuk menyiapkan satu serangan terakhir. Jika dirinya akan mati, dia tidak akan membiarkannya tanpa memberi perlawanan. "Randika!" Inggrid tidak bisa menahan dirinya lagi. Indra, yang berlutut di tanah, hanya bisa menatap Randika. Mulutnya nampak bergerak. "Maafkan aku kak, adikmu ini tidak berguna sama sekali." Melihat Randika yang berdiri dengan susah payah, rasa kagum sekaligus takut bercampur jadi satu. Meskipun lawannya ini sudah kehabisan tenaga dan tampak terluka, dia masih mampu membunuh mereka. Jadi keenam orang ini tidak boleh bertindak gegabah. Melihat kerumunan orang yang semakin mendekat itu Randika tertawa. Tangan kanannya yang mengandung seluruh tenaga dalamnya itu siap meledak. Tetapi, pada saat ini sebuah batu kerikil melayang di udara dan mengenai pergelangan tangan Randika. Serangannya ini terpaksa buyar karenanya. Randika sama sekali tidak berdaya. Batu itu mengenai titik akupunturnya dan memblokir saluran tenaga dalamnya. Melihat Randika yang kebingungan, keenam pembunuh itu menyadari ada yang aneh. Tetapi kesempatan seperti ini tidak akan datang lagi, jadi mereka tetap meneruskan serangan mereka. Namun, ketika mereka bergerak, satu per satu wajah mereka terkena oleh batu. Sudut serangan dan kekuatannya benar-benar luar biasa, itu membuat mereka berenam menghentikan serangannya. "Siapa?" Keenam pembunuh ini terkejut, masih ada orang kuat lainnya yang masih bersembunyi? Serangan batu ini bukan serangan biasa, dari jarak yang jauh dan akurasi yang luar biasa, serangan batu itu mengenai titik akupuntur keenamnya dan memblokir tenaga dalam mereka. Ivan juga menyadari keanehan ini dan memberi perintah mundur agar bawahannya berhenti menyerang. Ivan telah melalui banyak medan perang sehingga dia menumbuhkan indera yang dapat merasakan bahaya. Sekarang adalah salah satu contohnya. Jack juga menyadari ada yang aneh, dia nampak mengerutkan dahinya. Kenapa serangan batu itu terlihat familiar? Di bawah tatapan orang, seorang penatua dengan baju sederhana dan topi jerami keluar dan berjalan ke arah mereka. Rambut putihnya tampak berantakan dan tongkat berjalannya memberi kesan tua. Melihat sosok penatua itu, entah kenapa Ivan merasa tidak asing dengan pemandangan ini. Lalu penatua itu membuka topinya. "Ya Tuhanˇ­." Dalam sekejap Ivan menampar dahinya dan berkata dengan nada takut. "Kenapa orang itu bisa ada di sini?" Ingatan buruknya segera melintas di benaknya tetapi dia segera membuangnya jauh-jauh. Ingatan masa lalunya itu benar-benar mengerikan. Para bawahan Ivan terlihat bingung, kenapa tuannya tiba-tiba menjadi pucat? Dengan tubuh yang tidak bisa berhenti gemetar, lutut Ivan mulai lemas. Kenapa, kenapa pak tua itu bisa datang ke sini? Pada saat yang sama, Jack juga melihat wajah penatua itu. Dia langsung mengambil langkah mundur dan terjatuh. Tangan kanannya langsung mencengkeram jantungnya, seakan-akan dia terkena serangan jantung. "Kenapaˇ­ Kenapa dia ada di sini." Pertanyaanya Jack sama dengan Ivan, mereka berdua tidak menyangka hantu masa lalunya akan mendatangi mereka lagi. "Siapa orang itu?" Salah satu keluarga inti Jack bertanya padanya. "Jangan tunjuk orang itu, kau jangan sampai berurusan dengannya." Jack langsung memalingkan wajahnya dan menampar tangan keluarganya itu. Wajahnya benar-benar sudah penuh dengan ekspresi ketakutan. Dia tidak menyangka hantu itu akan tiba-tiba muncul di rumahnya. Randika menatap orang yang sedang berjalan ke arahnya itu, sambil terkejut dia mengatakan. "Kakek kedua!" Orang itu ternyata adalah kakek keduanya. Kenapa dia bisa ada di sini? Bukankah kakeknya itu ada di desa? Kakek kedua itu tersenyum. Di bawah tatapan orang-orang, dia mengambil jarum akupunturnya dan menekan luka yang diderita Randika. "Sudah jangan khawatir sama detail kecilnya. Kau tidak perlu khawatir lagi, kakek akan mengurus sisanya.?? Randika jelas tersenyum bahagia. Ketika dia berada di dekat kakeknya, dia benar-benar seperti anak kecil. Kakek kedua juga menghampiri Indra dan menekan luka-lukanya. Kemudian kakek kedua dengan pelan mengatakan. "Kalian berdua cepat ke sini." Semua orang bertatap-tatapan. Dengan siapa kakek itu berbicara? Bahkan beberapa orang terlihat meremehkan sosok tua itu. Tetapi tanpa diduga semua orang, kedua kepala keluarga yang berstatus tinggi tersebut berjalan menghampiri kakek itu dengan wajah pucat pasi. Chapter 163: Perjuangan yang Sepadan Di bawah tatapan semua orang, kedua kepala keluarga paling berpengaruh di Jakarta itu menghampiri si kakek. Seperti anak kecil yang patuh, mereka berdua menundukan kepalanya dan menunggu instruksi lebih lanjut. Jarak mereka sedikit jauh dari kerumunan jadi tidak ada yang dapat mendengar apa yang dikatakan si kakek. Mereka hanya bisa melihat si kakek seperti sedang memberi nasihat pada kedua kepala keluarga itu. Jack dan Ivan mengangguk dengan semangat, takut kalau mengangguk pelan akan membuat si kakek tersinggung. Kemudian kakek kedua datang menghampiri Inggrid dan menatapnya dari atas ke bawah. Inggrid awalnya bingung harus berbuat apa, tetapi kakek kedua hanya tersenyum sambil mengangguk puas. "Kau adalah gadis yang baik." "Jangan lupa bawa kedua orang itu ke rumah sakit." Kemudian kakek kedua memakai topinya dan pergi dari situ. Melihat kepergian si kakek, semua orang masih terdiam. Apa yang telah terjadi? Setelah kakek itu pergi, kedua wajah Ivan dan Jack segera cerah kembali. Ivan dengan cepat membawa orang-orangnya pergi dan Jack menutup rapat-rapat pintu rumahnya. Dalam sekejap, hanya Inggrid, Randika dan Indra berada di halaman rumah keluarga Laibahas. Boneka ginseng yang daritadi bersembunyi akhirnya keluar dan mendatangi Indra. Inggrid masih kebingungan, dia lalu tenggelam dalam pikirannya. Akhirnya dia bisa menyusun teka-teki ini, apakah kakek itu sedang memeriksa dirinya pantas untuk menjadi menantunya? Sambil menggelengkan kepalanya, Inggrid dengan cepat membawa Randika dan Indra ke rumah sakit. ...ˇ­.. Di rumah sakit, Randika dan Indra tidak berada di kamar yang sama. Alasannya sederhana karena luka yang dialami oleh Randika jauh lebih buruk daripada Indra. Meskipun Indra bersimbah darah di seluruh tubuhnya, itu semua tidak berbahaya bahkan dengan sedikit perawatan luka-luka Indra itu dapat segera sembuh. Namun, kondisi Randika jauh lebih mengkhawatirkan. Luka-lukanya itu menjalar sampai ke organ-organnya dan perlu perawatan ekstra. Randika sekarang sedang berbaring di ranjangnya sambil ditemani Inggrid yang duduk di sampingnya. Seluruh ruangan VVIP ini dikhususkan untuk Randika. Inggrid sedang mengupas apel dan Randika hanya menatap Inggrid sambil terdiam. "Dimakan ya." Kata Inggrid dengan lembut. Dia kemudian menyerahkan mangkok penuh apel pada Randika. Namun, Randika menggelengkan kepalanya. "Kenapa?" Tanya Inggrid dengan wajah bingung. Randika lalu berkata sambil tersenyum. "Tubuhku sakit semua dan tanganku tidak mau bergerak. Tentu saja aku berharap istriku yang cantik itu menyuapiku." Inggrid tersipu malu, tetapi dia tidak menolaknya. Dia mengambil sebuah apel dan menyerahkannya pada Randika. "Sayang, bukan begitu caranya menyuapi." Randika tertawa, senyuman nakalnya segera naik. "Terus bagaimana caranya yang benar?" Inggrid terlihat bingung. "Tentu saja dengan mulut." Kata Randika sambil tersenyum. Inggrid terlihat ragu-ragu. "Apa yang kamu takuti? Bukankah hal yang wajar seorang istri menyuapi suaminya? Sudah jangan takut, kalau ada yang berani macam-macam kuhajar mereka." Kata Randika sambil memperhatikan bibir lembut Inggrid. Setelah merasakan buah terlarang itu, dia semakin mendambakan bibir Inggrid lagi dan lagi. Dia tidak sabar mencicipinya lagi. Wajah Inggrid sudah benar-benar merah. Setelah ragu sedikit, dia menggigit sepotong apel dan menyuapkannya pada Randika dengan mulutnya. Randika, tentu saja, mengambil apel itu tanpa ragu sekaligus merasakan bibir istrinya. "Benar-benar enak." Randika mengangguk. Tetapi dia masih belum puas. "Sayang, aku masih lapar." Kata Randika. Inggrid tidak menolak, lagipula Randika adalah suaminya. Inggrid kembali mengambil sepotong apel dan memberikannya mulut ke mulut. Kali ini, Randika tidak membiarkan bibir Inggrid kabur. Mereka berciuman kurang lebih 2 menit. Ketika merasa istrinya itu kehabisan napas, Randika melepasnya. Melihat wajah Inggrid yang tersipu malu, Randika merasa puas. Lagipula dia tidak boleh melakukan hal yang berlebihan. Randika memang pria yang memikirkan perempuan selama 24 jam dalam hidupnya tetapi dia adalah orang yang berpengertian. Bisa dikatakan dia adalah lelaki mesum yang jentelmen. Semua ada tempat dan waktunya, bahkan dia tidak ingin melakukannya di tempat umum. Suasana intim dan romantis adalah kunci mendapatkan pengalaman menyenangkan. Randika lalu menatap Inggrid sambil tersenyum. Semua perjuangannya itu benar-benar sepadan. Inggrid juga menatap Randika, dan ketika dia menatap senyumannya Randika itu, entah kenapa hatinya jadi terasa sakit. "Maafkan aku." Melihat Inggrid yang tiba-tiba menangis, Randika menjadi panik. Dia tidak tahu mengapa Inggrid menangis. Randika duduk dan mengangkat wajah Inggrid yang tertunduk. "Sayang, kenapa kamu? Jika kamu masih ada masalah, katakan saja padaku." "Ini semua salahku, aku seharusnya tidak meninggalkanmu seperti itu. Kamu pasti kecewa denganku." Kata Inggrid terbata-bata. Randika menghela napas, istrinya ini terkadang bodoh! "Memang kamu yang pergi mendadak itu salah, aku harus menghukummu. Kamu ingin dihukum sekarang atau nunggu aku pulang?" Kata Randika. Inggrid mengangkat wajahnya, ekspresinya terlihat bingung. Randika memeluk Inggrid dan mengusap rambutnya. Perasaan hangat ini membuat Inggrid serasa melayang ke awan. Berbisik di telinga Inggrid, Randika dengan mudah membuat Inggrid tersipu malu. "Sepertinya aku harus menghukummu sesuai hukum keluarga kita." "Sekarang kamu tidak perlu menyalahkan dirimu seperti itu. Apa yang perlu kamu lakukan sekarang adalah menyuapiku apel." Kata Randika. Inggrid tersipu malu, namun hatinya sudah tidak dingin lagi. Setelah beberapa suapan, Randika tiba-tiba mengatakan. "Sayang, sejak kapan kamu tumbuh begitu besar?" "Apanya?" Inggrid sedikit bingung, tetapi ketika melihat tatapan Randika berada di dadanya, dia langsung mengerti arti kata-kata Randika. Randika kemudian mengulurkan tangan kanannya dan Inggrid segera menahannya. "Sayang, ini rumah sakit. Nanti kalau di rumah aku akan membiarkanmu merabanya setiap saat." Mendengar kata-kata nakal Inggrid ini, Randika tersenyum. "Kalau ciuman boleh kan?" Inggrid hanya mengangguk dan mencium Randika lagi. Namun ciuman ringan tidak dapat memuaskan nafsu Randika. Kedua lidah mereka segera melaksanakan tugasnya. Pada saat ini, sebuah suara seperti bayi tertawa membuat mereka berdua terkejut. Randika dengan cepat memeriksa seluruh ruangan dan menyadari bahwa boneka ginseng sedang duduk di ranjangnya. Ia melihat Randika dan Inggrid dengan wajah bingung dan penasaran sedang apa kedua manusia ini. Yang menjadi pertanyaan adalah sejak kapan boneka itu duduk di situ? Bisa-bisanya boneka ini mengintip dirinya sedang bermesraan? Keduanya segera berpisah tetapi boneka ginseng itu seakan tidak terima. Ia terlihat seperti berkata "Teruskan, teruskan, aku masih ingin melihatnya!" Kenapa ginseng ini seperti anak puber yang baru pertama kali lihat video porno? "Apa kamu tahu bahwa mengintip itu adalah tindakan kejahatan?" Randika menggelengkan kepalanya. Boneka ginseng itu terlihat bersemangat, tidak tahu apa yang dikatakan oleh Randika. "Kenapa kamu ada di sini?" Tanya Randika dengan rasa penasaran. Tiba-tiba wajah boneka ginseng itu terlihat kesakitan, tangan gemuknya itu lalu menyentuh telapak tangan Randika. Lalu di bawah tatapan mata Randika, setetes darah putih berupa manik-manik keluar dan jatuh di tangannya. Chapter 164: Hari yang Damai Sambil menahan rasa sakitnya, boneka ginseng itu memberikan Randika setetes darahnya. Ini adalah tetes darah ketiga yang diberikan oleh boneka ini. Pertama kali ia berikan untuk menyelamatkan nyawa neneknya Viona. Yang kedua Randika simpan di lemari rumahnya dan tetes ketiga ini berada di telapak tangannya. "Ini untukku?" Randika menatap boneka ginseng itu. Boneka ginseng itu mengangguk pelan. Setelah memberikan darahnya pada Randika, boneka itu kabur sekali lagi. Rasanya ia berusaha mencari Indra. "Apa itu?" Inggrid sedikit tertegun melihat fenomena itu. "Hahaha itu keajaiban dunia." Randika tersenyum dan menelan darah putih itu. ......ˇ­.. Keesokan harinya, mereka tiba di bandara kota Cendrawasih. Randika, Inggrid, Indra dan Ibu Ipah berhasil mendarat dengan selamat. Petualangan merebut Inggrid kembali dari Jakarta bisa dikatakan berakhir dengan sukses. Kedatangan kakek keduanya itu membawa gelombang tersendiri pada keluarga Alfred dan Laibahas. Kedua keluarga besar itu sudah tidak berniat mengungkit masalah pernikahan Inggrid ataupun menyentuh Randika. Setelah sampai di kota kesayangannya ini, Inggrid kepikiran dengan perusahaannya yang dia tinggalkan tanpa kabar itu. Jadi mau tidak mau dia harus masuk dan mengatur masalah yang ada. Mengingat sifat pekerja keras istrinya itu, Randika melepaskannya. Tetapi sebelum mereka berpisah, keduanya berciuman panas dan Randika mengingatkan Inggrid jangan pernah pergi tanpa kabar lagi. Namun, Randika masih sedikit cemas. Dia lalu memohon pada Ibu Ipah untuk mengawasi Inggrid untuk hari ini saja karena dia sendiri harus mengantar Indra ke rumahnya. "Bagaimana luka-lukamu?" Randika kemudian membuka perbincangan dan mulai bertanya tentang kondisi adik seperguruannya itu. "Aku tidak apa-apa." Kata Indra sambil tertawa. Setelah diperhatikan, Indra memang pulih dengan cepat. Tenaga dalamnya yang seperti lautan itu membantu proses penyembuhannya menjadi jauh lebih cepat dari dirinya. Sekarang, dia terlihat tidak pernah terluka sama sekali. Setelah memastikan Indra pulang dengan selamat, Randika kembali ke rumahnya. Membuka pintunya, Randika menyadari bahwa ada seseorang sedang sibuk memasukan bajunya ke koper. Ternyata itu adalah Hannah. "Han, sedang apa kamu di sini?" Randika penasaran. Hannah terlihat panik dan sibuk memasukan bajunya ke dalam kopernya. Ketika dia mendengar suara, dia menoleh dan menyadari bahwa itu adalah kakak iparnya. "Kak! Kau datang tepat waktu. Bantu aku beres-beres." Kata Hannah sambil berkeringat. "Kamu mau pergi ke luar kota?" Randika terlihat bingung. "Bukan itu! Ibu Ipah ngirim pesan ke aku kalau kak Inggrid kembali ke rumah kita di Jakarta. Aku sejak lusa kemarin itu tidak megang handphone karena ada ujian jadi aku baru sadar pesannya Ibu Ipah. Jadi cepat bantu aku beres-beres agar bisa cepat menyusul kak Inggrid. Aku dari dulu selalu khawatir dengan nasib kak Inggrid." Kata Hannah sambil menahan air matanya, dia menyesal tidak bisa mendampingi kakaknya. "Kamu sudah tidak perlu khawatir." Kata Randika sambil tersenyum. "Aku baru saja balik dari Jakarta, dan tentu saja aku membawamu kakakmu itu bersamaku." "Benarkah?" Hannah segera menoleh ke arah Randika dengan wajah terkejut. "Mana mungkin aku berbohong?" Kata Randika sambil tertawa. "Jelaskan semuanya kak! Apa saja yang telah terjadi?" Hannah dengan cepat menghampiri Randika, dia tidak ingin ketinggalan cerita. "Anak kecil tidak perlu tahu. Yang terpenting semuanya baik-baik saja dan kamu cuma perlu fokus dengan bisnis bajumu itu." Kata Randika. "Ah ayolah kak, jangan seperti itu." Hannah dengan cepat kembali menggunakan jurus andalannya. Dia menyelipkan tangan Randika ke lembah dadanya dan menggosok-gosokannya. "Baiklah, aku akan menceritakannya. Tapi aku capek berdiri." "Jangan khawatir, aku akan membawakanmu kursi." "Tapi aku tidak bisa bercerita dengan pundak yang sakit." "Jangan khawatir, aku akan memijatmu." "Tapi aku tidak bisa bercerita dengan tenggorokan kering begini." "Jangan khawatir, aku akan membawakan kakak air." Pada saat ini Hannah bagaikan pelayan yang mematuhi semua permintaan Randika. Apa pun yang diminta kakak iparnya akan dilakukannya dengan senang hati. Akhirnya di bawah omelan Hannah, Randika sudah siap bercerita. Hannah dengan cepat duduk dengan manis, tetapi tatapan mata Randika jatuh di dadanya Hannah. Lalu keheningan yang mencekam itu pecah karena pertanyaan Randika yang di luar dugaan itu. "Dadamu makin besar ya? Kamu cup berapa?" "Apa?" Hannah terkejut bukan main, dia langsung menutupi dadanya. "Kakak ipar memang pria mesum!" Plak! Suara nyaring itu tentu saja Randika yang tertampar. "Uhuk, maafkan aku. Jadi semuanya berawal dari Inggrid yangˇ­.." Randika segera menceritakan segalanya pada Hannah yang sudah menenangkan diri. Cara bercerita Randika dibuat dramatis dan menonjolkan kekerenannya ketika menyelamatkan istrinya. Tetapi kejadian Inggrid hampir diperkosa tidak dia ceritakan demi menjaga nama baik semua pihak yang terkait. Hannah mendengarkan semua ini dengan berbagai macam ekspresi. Pada saat ini, tiba-tiba Inggrid dan Ibu Ipah sudah pulang. Melihat Inggrid yang datang, Randika berkedip padanya. Janji Inggrid di rumah sakit jelas akan ditagihnya. Malam itu, Randika dan Inggrid memainkan roleplay di kamarnya. Randika menjadi tuan dan Inggrid menjadi pelayannya. Sedangkan apa yang terjadi di malam hari itu, lebih baik kita membayangkannya masing-masing di benak kita. .........ˇ­.. Keesokan harinya, Randika terbangun dan Inggrid masih tertidur pulas di lengannya. Mereka bangun kesiangan karena tadi malam mereka melakukannya hingga larut malam dan Inggrid terus meminta lebih. Ketika Randika melihat istrinya yang tertidur pulas itu, dia tidak bisa menahan senyumannya. Tangannya tidak sadar mengelus rambutnya dan dia mencium dahinya. Merasakan ciuman itu, Inggrid juga terbangun dan bertanya sambil masih setengah tertidur. "Jam berapa ini?" "Jam 8.40." Kata Randika. "Apa? Sudah hampir jam 9?" Inggrid menjadi panik. "Ya ampun, hari ini banyak rapat penting di kantor." Inggrid yang bugil dengan cepat bangun dan berpakaian. Randika sendiri masih menikmati momen indah ini dan terus memperhatikan istrinya yang imut itu. Turun dari kasur, Randika memeluk istrinya. "Sayang, ngapain buru-buru." "Ini juga salahmu, kenapa kamu melakukannya sampai larut malam begitu." Inggrid yang panik itu segera berhenti bergerak dan ikut memeluk Randika. Tetapi Randika justru tertawa. "Bukannya kamu sendiri yang terlalu semangat saat kau berada di atas? Apa kamu lupa betapa liarnya goyangan pinggangmu itu tadi malam?" Inggrid tersipu malu. "Pokoknya ini juga salahmu." Inggrid lalu mencium Randika dan buru-buru turun. "Ah, sayang tunggu aku! Aku juga harus ke kantor." Teriak Randika. Ketika mereka sampai di kantor, semuanya berjalan seperti biasa. Randika segera kembali ke ruangannya dan pagi itu berjalan dengan cepat. Tidak terasa sekarang adalah waktunya pulang kerja. Ketika Randika hendak pulang, dia menyadari bahwa Viona sedang berbicara dengan teman-temannya. Sambil merasa penasaran, Randika menghampirinya. "Vi, ayo kita nge-gym sama-sama." Ajak salah satu temannya. "Banyak cowok cakep lho di sana." Temannya yang lain tertawa. "Gini nih nasib orang jomblo, bukannya hidup sehat malah matanya yang main. Viona sudah punya pacar tahu. Kalau pak Randika tahu kamu ngajak Viona mencari cowok lain, bisa-bisa kamu dipecat!" Semuanya tertawa sedangkan Viona hanya tersenyum. "Bagaimana Vi? Ayo kita latihan bersama-sama. Apa kamu tidak mau membuat pak Randika senang melihatmu makin kurus? Aku yakin pak Randika juga nge-gym sendiri." "Eh yang gemuk di sini cuma kamu tahu! Viona langsing begini kamu omong gemuk?" "Kalian sedang ngomongin apa?" Randika tiba-tiba nimbrung. "Randika!" Ketika melihat pria yang dicintainya datang, Viona tidak bisa berhenti tersenyum. Teman-temannya ini langsung mengangguk bersamaan. "Pak, ayo kita nge-gym sama-sama." Chapter 165: Cara Termudah Mendapatkan Perhatian Wanita Oh? Mereka mengajak fitness? Randika tersenyum. "Baiklah, jangan kaget kalau otot-ototku nanti membuat kalian terpana ya." "Ah pak Randika jangan gitu. Saya sudah suka bapak bahkan sebelum bapak berotot." "Lho lho, kenapa kamu jadi genit begini?" Semuanya tertawa dan berangkat menuju gym. Beberapa ahli parfum ini memang rutin pergi ke gym dan kali ini mereka mengajak Viona sekaligus atasannya Randika. Sesampainya di sana, mata Randika sudah menyapu seluruh ruangan. Gym ini benar-benar luas dan menjadi pusat fitness kalangan menengah ke atas, oleh karena itu banyak perempuan cantik di sini. Perempuan-perempuan ini memakai celana pendek ketat dan sport bra, keseksian mereka hampir membuat semua laki-laki mimisan. Sebenarnya, khususnya untuk perempuan cantik, berpakaian minim dan ketat seperti ini sangat nyaman untuk dipakai. Khususnya bagi mereka yang berlatih kardio dan berkeringat deras. Sedangkan untuk laki, melihat para perempuan ini membuat mereka sedikit bernafsu, dada dan paha yang menonjol itu benar-benar menggugah selera! Mau bagaimana lagi, Randika terpaksa harus menilai mereka satu per satu di benaknya. Operasi mencari cewek cantik dan sexy dimulai! Karena gym ini diperuntukkan kalangan atas, berbagai macam alat tersedia di tempat ini. Treadmill, sepeda statis, climber dan alat-alat fitness lainnya membuat gym ini terkenal. "Bagaimana kalau kita kardio dulu pak?" Beberapa perempuan mulai tertarik mendengarnya, mereka segera mengerumuni Randika. "Iya pak kita pengen buang lemak berlebih nih." "Iya pak, kita pengen langsing seperti Viona." "Baiklah, baiklah." Randika lalu melihat alat-alat kardio yang tersedia. Karena jumlah mereka 5 orang, treadmill kurang cocok karena keterbatasan alat. Oleh karena itu, Randika memilih sepeda statis. Yang mungkin orang awam kurang tahu adalah sepeda statis ini benar-benar bagus untuk memperkuat otot dan membakar kalori. Dalam satu jam orang bisa membakar 600 kalori, tentu saja ini tergantung intensitas serta berat badan seseorang. Belum lagi sepeda statis merupakan cara yang efisien dan efektif untuk memperkuat jantung, paru-paru, otot punggung dan otot bagian bawah. Di bagian area sepeda statis, sudah ada beberapa perempuan dan laki yang sedang berlatih. Setelah memastikan semua mendapat tempat, Randika memberi instruksi. Yang pertama adalah pemanasan selama 2 menit dan mengayuh sekuat tenaga selama 1 menit. Di saat Randika mengayuh sekuat tenaga, semua orang di tempat itu terpana melihat betapa cepatnya Randika. Para perempuan ini menatap Randika dengan mata terbelalak, atasannya ini benar masih manusia? Kalau dibandingkan, laki di samping Randika terasa lambat. Meskipun laki itu juga mengayuh sekuat tenaga, Randika jauh lebih cepat daripadanya. Melihat Randika yang gagah seperti itu membuat Viona tersenyum. Mata para perempuan yang lain juga tidak bisa lepas dari Randika. Mereka belum pernah melihat keajaiban yang seperti itu. Yang mengejut mereka adalah senyuman hangat Randika ketika dia menoleh ke arahnya. Tiba-tiba semua perempuan itu menatap Randika dengan tatapan nakal. Sepertinya pesona Randika masih bekerja dengan luar biasa. Randika tersenyum dalam hati dan dia terus mengayuh secepat mungkin selama 5 menit. Sekarang waktunya berganti alat. Alat kedua yang dicobanya adalah butterfly machine yang berfungsi untuk melatih dan membentuk otot pada bagian dada khususnya pada bagian tengah. Cara menggunakannya pun terbilang mudah, orang hanya perlu membuka sandaran tangan ke arah depan dan juga belakang sama seperti dengan gerakan kepakan sayap kupu-kupu. Di area alat ini sudah berkumpul beberapa pria berbadan kekar. Mereka melihat Randika datang bersama bawahannya sekaligus para perempuan yang ada di sepeda statis tadi. Tanpa berkata apa-apa, Randika langsung mengatur beban menjadi paling berat! Para pria ini langsung menatap jijik Randika, mereka menganggap Randika hanya sedang ingin pamer. Mana mungkin pria kuru situ bisa melakukannya? Randika lalu duduk dengan santai. Di bawah tatapan mata para perempuan dan tatapan tajam beberapa pria, Randika menggerakan tangannya dengan kuat dan bertenaga. Tiba-tiba, butterfly machine ini berdenyit keras. Saat Randika melepaskannya, beban berat itu langsung membentur bagian bawahnya. Randika membuka dan menutup tangannya dengan cepat, semua gerakannya ini disusul oleh suara besi (dari bebannya) yang terbentur dengan kerangkanya. Orang-orang melihat Randika dengan entengnya melakukan semua itu dengan beban paling berat. Beberapa pria yang menatap Randika dengan jijik tadi sudah terkejut bukan main. Kekuatan pria yang baru datang itu benar-benar luar biasa, mereka semua baru pertama kali melihat kejadian seperti ini. Apa orang ini masih manusia? Mereka sudah pernah melihat orang memakai beban maksimal seperti itu, yang belum pernah mereka lihat adalah orang menggunakannya dengan enteng. Kecepatan Randika benar-benar sudah seperti kepakan sayap! Bahkan napas dan wajah Randika sama sekali tidak memperlihatkan adanya kesulitan. Bisa dikatakan bahwa ini adalah cara tergampang mendapatkan perhatian wanita! "Wow! Gila bener, sudah kuduga pak Randika bukan pria biasa!" Para bawahannya itu segera mengomentari kehebatan Randika. "Aku sepertinya jatuh cinta dengannya!" "Hei, hei, jaga omongan kalian. Kalian tidak lihat pacar pak Randika ada di sini?" Salah satu dari mereka segera mengingatkan mereka. Viona yang mendengarnya hanya tersipu malu. Randika terus menggunakan butterfly machine dengan kecepatan tinggi selama 3 menit. Semua lelaki tampak melongo sedangkan para perempuan cantik mulai bertanya-tanya. "Siapa pria itu?" "Kenapa memangnya? Bukannya kamu sudah punya pacar?" "Memangnya kenapa? Aku cuma penasaran apakah dia jago di ranjang atau tidak." Perempuan itu benar-benar tidak malu sama sekali. Mereka terus memuji Randika. "Lihat wajahnya, bukankah dia ganteng juga? Masa kalian tidak ingin tidur dengannya?" Mungkin kalau Randika mendengar percakapan mereka dia sudah besar kepala. Dia tahu bahwa dirinya tampan dan mempesona, sayangnya dia tidak suka dengan perhatian yang berlebihan. Sedangkan untuk urusan ranjang, tentu saja Randika jagoannya. Dia telah melatih tekniknya bertahun-tahun dan berhasil menyempurnakannya. Tentu saja, Randika juga pilih-pilih siapa yang akan dipuaskannya. Randika lalu memutuskan untuk berganti alat lagi. Kali ini bukan hanya para bawahan Randika dan perempuan yang di area sepeda statis saja, hampir semua laki dan perempuan yang ada di gym mengikuti dan penasaran dengan Randika. Mereka penasaran kejadian ajaib apa yang akan diperlihatkan Randika. Randika sama sekali tidak peduli. Randika memperhatikan alat-alat yang ada dan menemukan targetnya. Bench press! Jenis alat fitness ini cukup terjamin keamanannya karena dilengkapi dengan safety hook yang berfungsi sebagai penahan yang bisa memberikan keamanan pada setiap penggunanya. Fungsi dari alat ini adalah untuk melatih dan membentuk otot dada bagian atas, tengah dan bawah. Tingkatan kesulitannya juga bervariasi tergantung beban yang digunakannya. Yang paling ringan adalah 10 kg dengan beban 5 kg di setiap sisinya. Untuk di gym ini, yang paling berat adalah beban dengan total 100 kg. Dengan 50 kg di setiap sisinya, jarang ada orang yang memakainya. Dan mata Randika benar-benar terkunci pada beban tersebut! Saking beratnya, untuk memasangkan alat ini butuh tenaga beberapa orang karena saat paling berbahaya adalah memasang beban itu pada alatnya. Jika tidak hati-hati, beban itu bisa meremukan kaki orang dengan mudah! Melihat Randika yang menuju bench press, semua orang terkejut. Astaga! Randika dengan santai menyuruh orang untuk memasangkan beban 50 kg itu di setiap sisi sambil dirinya bersiap-siap. Dan di bawah tatapan orang-orang, Randika mulai tiduran. Apakah orang itu benar-benar kuat? Semua orang mulai menahan napas mereka. Pada saat ini, Randika berhasil mengangkatnya! Dia benar-benar mengangkatnya! Perempuan yang ingin tidur dengan Randika tidak bisa menahan air liurnya. "Orang itu pasti liar dan bertenaga di ranjang." Randika hanya tersenyum ketika mendengarnya. Jika kalian ingin tahu seberapa hebat dirinya di ranjang, kenapa mereka tidak menanyakannya pada Inggrid? Chapter 166: Salah Masuk Lagi! Di bawah tatapan kagum orang-orang, Randika tersenyum dalam hati. Tiangnya ini dia letakan persis di depan dadanya. Dengan berat tiang yang mencapai 20 kg dan beban 100 kg, Randika mulai mengangkat dan menurunkannya. Perlahan kecepatannya mulai menjadi tinggi. Dalam hitungan detik, Randika sudah melakukannya lebih dari 10x. Semua orang terkejut, apa pria ini masih bisa dibilang manusia? Apa yang mereka tidak tahu adalah beban ini masih ringan bagi Randika. Jika mereka bisa mengetahui isi pikiran Randika, pasti mereka sudah menganggap dirinya monster. Seluruh gym yang awalnya ramai itu menjadi terdiam, semua orang melihat Randika sedang mengangkat beban 100 kg dengan kecepatan yang luar biasa selama beberapa menit. Setelah lima menit, Randika meletakan tiang itu di tempatnya dan akhirnya menyadari bahwa semua orang sedang menatap dirinya. Kenapa mereka terlihat terkejut seperti itu? Ah! Pasti karena pesonaku yang tak tertahankan ya? Memang terlahir tampan itu kadang menyusahkan, namun hati ini mesti dijaga untuk orang yang pantas. "Pak Randika memang luar biasa!" "Pak, apa yakin bapak tidak mau simpanan? Saya siap pak!" Tiba-tiba, semua ahli parfum mulai mengerubungi dirinya. Randika hanya tersenyum manis yang membuat hati para perempuan ini makin leleh. Senyuman ini juga tidak luput dari tatapan beberapa perempuan lain, mereka makin penasaran dengan pria ganteng itu. Mayoritas laki-laki yang ada di sana mau tidak mau menjadi cemburu. Randika telah mengambil alih seluruh panggung. Randika kemudian menggunakan beberapa alat fitness lainnya, teriakan para perempuan tidak kunjung mereda. Viona, dan semua orang, mulai berlatih juga. Waktu berjalan dengan cepat dan semua orang juga menjalaninya dengan penuh kebahagiaan. Setelah 1 jam berlalu, Randika sudah basah oleh keringat. Jadi dia ingin ganti baju dan menyudahi kegiatan olahraga ini. Ketika dia berjalan ke loker, Randika sudah berniat berganti baju di tempat tetapi dia melihat orang sedang ganti baju di dalam ruang ganti. Randika menyadari bahwa orang itu adalah Viona dan ternyata dia sedang berganti baju sekarang! Viona yang sekarang hanya berbalut beha dan celana dalam, Randika tidak bisa menahan air liurnya. Randika mengendap-endap dan memeluk Viona dari belakang. Viona dengan cepat menjadi kaku dan takut, tapi dia pernah merasakan kehangatan dan tangan kekar ini sebelumnya. Setelah menyadarinya, Viona kembali rileks. "Ran, sedang apa kau di sini?" Randika tampak bingung. "Kamu kok tahu ini aku?" Viona tersenyum dan mengatakan. "Tentu saja aku tahu, kalau bukan kamu siapa lagi yang bisa membuatku berdebar-debar seperti ini?" Randika menatap wajah Viona. Viona benar-benar cantik, muda dan menawan. Ditambah lagi, sekarang dia hanya memakai beha dan celana dalam. Puting pinknya itu tampak mencungul dari balik behanya. Apalagi tubuh Viona basah oleh keringat sehingga memberi kesan erotis. Randika tidak mampu menahan dirinya lagi. Tatapan matanya sudah dipenuhi oleh hawa nafsu dan senyuman nakal mulai menguasai dirinya. "Vi, bisa-bisanya kamu salah masuk ruangan ganti laki-laki?" Ketika Viona ingin menjelaskan, Randika sudah mengangkat dagu Viona dan menciumnya! Tiba-tiba, kedua bibir itu bertemu dan serangan lidah Randika mulai menginvasi. Viona tidak tunduk dan malu seperti dulu, dia balik menyerang. Ciuman mereka ini bagaikan badai, api di dalam diri mereka sudah berkobar kencang. Randika merasa sejak dirinya berhubungan badan dengan Inggrid, kekuatan misteriusnya semakin susah dikontrol. Ketika dia lepas kendali, hawa nafsunya benar-benar menjadi sebuas hewan. Terlebih lagi, Viona yang setengah telanjang ini benar-benar menggoda dan membuatnya lepas kendali. "Arghh! Hisss!" Berbagai macam desahan keluar dari kedua mulut orang ini, mereka sudah benar-benar lupa diri. Randika sendiri benar-benar melupakan prinsipnya sebagai jentelmen. Tangan kanan Randika sudah meluncur ke bawah, tempat dada Viona bersarang. Sambil merasakan puting Viona yang mengeras, tangannya kembali meluncur dan meremas pantat empuk milik Viona. Semenit kemudian Viona mendorong Randika, wajahnya benar-benar takluk oleh kenikmatan dan air liurnya sampai menetes-netes. Dia tidak akan melepaskan kenikmatan itu kalau bukan karena tidak bisa bernapas. "Bagaimana? Kau ingin melanjutkannya?" Randika berbisik di telinga Viona, tidak lupa dia menggigit dan menjilat leher putih Viona. "ˇ­." Viona menutup matanya, Randika telah menyerang titik erotisnya yaitu telinganya. Sensasi nikmat ini langsung mengambil alih dan membuat dirinya sedikit mengalami orgasme. Dia ingin mengatakan pada Randika bahwa ini tempat umum, tetapi dia tidak sempat mengatakannya karena masih ingin menikmati momen ini. Jadi dia hanya menutup matanya dan menikmatinya. Randika kembali ke bibir Viona sambil memainkan kedua dada besar itu. Di tengah situasi memanas ini, Randika menggendong Viona dan membawanya ke kursi. Viona sekarang duduk di pangkuan Randika. Kemudian Randika mulai membenamkan dirinya di dada Viona dan menggeser beha Viona dan menjilati putingnya. Viona sendiri sudah benar-benar tidak tahu apa yang terjadi, dia benar-benar merasa dirinya sedang melayang. Randika mulai tidak sabar, dia ingin Viona menjadi perempuannya sekarang juga. Dirinya yang sekarang sudah tidak peduli tempat dan waktu, nafsunya sudah benar-benar mencapai batasnya. Namun pada saat ini, ruangan ganti ini tiba-tiba dibuka dan seorang perempuan masuk. Dia melihat dua orang sedang berciuman liar dan mau tidak mau dia terkejut. Randika dan Viona tidak sadar bahwa ada orang lain yang masuk. Perempuan itu lalu berteriak. "Hei! Kalian ini tidak tahu malu!" Viona terkejut dan panik. Dia dengan cepat turun dari pangkuan Randika. Randika menatap bajingan yang merusak acaranya itu dan terkejut ketika melihat seorang perempuan ada di ruang ganti laki-laki. "Ini ruang ganti laki-laki, kenapa kau ada di sini?" "Ruang ganti laki-laki?" Perempuan itu mendengus dingin. ""Ini ruang ganti perempuan tahu! Jangan kira kau bisa menerobos tempat ini dan bermesraan dengan perempuan mentang-mentang kamu ganteng. Setidaknya jangan melakukannya di tempat umum, perhatikan waktu dan tempat sebelum kamu melakukannya!" Viona sudah malu bukan main, wajahnya benar-benar merah. Dia dengan cepat ganti baju dan menyeret Randika keluar. Ketika kedua orang itu keluar, perempuan itu bergumam dalam hati. "Dasar mentang-mentang ganteng pengennya pamer. Aku juga ingin dicium sepanas itu tahu! Hahhhˇ­ Rasanya aku harus cari pacar tahun ini." Randika yang diseret keluar itu diomeli oleh Viona. Setelah mendengar omelan itu 5 menit penuh, Randika kemudian ganti baju di ruangan ganti laki-laki. Setelah berganti baju dan berkumpul dengan ahli parfum lainnya, mereka semua makan malam bersama. Randika sedikit merasa lepas kendali saat bermesraan dengan Viona tadi. Prinsipnya adalah melakukannya di tempat romantis sehingga kedua belah pihak mendapatkan pengalaman yang menyenangkan. Tindakannya tadi benar-benar melanggar prinsipnya. Citra seorang jentelmen harus dia pertahankan. Namun, kelembutan bibir sekaligus dada Viona itu benar-benar membekas dalam dirinya. Di dalam benaknya sekarang adalah kapan dia bisa membuat Viona menjadi ceweknya. Untuk menjalani hidup mewah dipenuhi cewek cantik, Randika harus membuat mereka tidak bisa lepas dari dirinya. Perlahan namun pasti, kerajaan haremnya akan terbentuk suatu saat nanti! Chapter 167: Kakek Yakin Itu Bukan Obat Perangsang? Namun, Randika memutuskan hari ini bukanlah hari yang tepat untuk menaklukan hati Viona. Setelah makan malam bersama orang banyak, Randika mengantar Viona pulang ke rumahnya dan dia pun langsung balik ke rumah. Namun, ketika dia membuka pintu rumahnya itu, Randika tiba-tiba merasakan badannya menjadi kaku, matanya terbelalak dan tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak. Dalam sekejap keringat dingin membanjiri dirinya! Tubuh Randika, yang kekuatan misteriusnya telah ditekan, tiba-tiba tanpa peringatan meledak dan memberontak! Perlawanan kekuatan misterius ini benar-benar tiba terlalu mendadak. Dalam sekejap, rasa sakit segera menumpulkan saraf Randika dan menguasai dirinya. Dia sama sekali tidak bisa menyebarkan tenaga dalamnya. Punggungnya sudah basah oleh keringat, napasnya sudah terengah-engah. Randika hendak duduk dan bermeditasi agar dapat menyalurkan tenaga dalamnya. Namun, rasa sakit yang tajam tiba-tiba menusuk jantungnya dan membuatnya tersungkur. Sambil menahan rasa sakitnya, kukunya menancap dalam di kedua lengannya dan kerusan gigi Randika terdengar keras. Rasa sakit di dalam tubuhnya terasa seperti organ dalamnya terpelintir semua, seolah-olah mereka ingin melepaskan diri. Randika hampir tidak bisa bernapas, seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat hingga membentuk genangan air. Setelah tiga menit menahan sakit, rasa sakitnya itu perlahan menghilang. Sama seperti hati gebetan kita, rasa sakit itu datang dan meninggalkan Randika dengan cepat. Randika mengangkat kepalanya dan berusaha menenangkan dirinya. Jika serangan mendadak ini terjadi beberapa kali, sama saja Randika tidak bisa hidup dengan tenang. Terlebih, rasa sakit ini bukanlah rasa sakit yang seperti biasanya dia rasakan. Serangan internal ini benar-benar mendadak dan tidak ada peringatan apa-apa. Sambil mengerutkan dahinya, Randika mengambil handphonenya dan menelepon kakek ketiga. "Kamu lagi, sekarang terkena masalah apalagi kamu?" Suara kakek ketiga terdengar jengkel. "Kek, apa kakek sedang sibuk?" Randika memastikan kakeknya tidak sibuk. "Bah, kau kira obat-obat ini bisa ngurus dirinya sendiri? Jika kamu nelepon untuk tanya kabar, kakek sedang sibuk." Kakek ketiga hendak menutup teleponnya. "Tunggu! Jangan ditutup kek, ini tentang penyakitku." Randika segera panik. Kakeknya mengerutkan dahinya sambil bertanya. "Bukankah aku sudah memberikan resep sup obatku?" Randika tidak bisa menjelaskannya dengan baik. Penyakit ini benar-benar kompleks dan misterius, Randika sendiri tidak tahu kenapa dia bisa mengidapnya. "Baiklah kalau begitu, cepat pulang ke sini dan aku akan memberimu obat yang baru." Setelah itu kakeknya langsung menutup teleponnya. Mendengar suara "tut, tut, tut." Randika hanya tersenyum pahit. Kakek ketiganya ini memang tsundere! Setelah berpikir sesaat, Randika menelepon Inggrid. "Halo sayang? Aku perlu pergi ke suatu tempat untuk beberapa hari, jadi kamu mungkin tidak mendengar kabarku selama itu. Tapi jangan khawatir, setelah aku balik nanti aku akan menebus semuanya dengan memberimu malam yang tidak terlupakan!" Setelah berpamitan dengan Inggrid, Randika segera membereskan bajunya dan cepat-cepat naik bus ke Kota Kebon Raya. .... Sesaatnya Randika tiba di Desa Jagad, pemandangan dan orang-orangnya sama sekali tidak berubah. "Kakek keempat!" Randika melihat kakeknya itu sedang bermandikan cahaya matahari pagi. Dia terlihat asyik memejamkan matanya sambil berbaring di kursi malasnya. Di sampingnya terlihat ada teh dan cemilan, kakeknya ini benar-benar sedang memanjakan dirinya. "Hohoho, kakek kemarin meramal bahwa kamu akan pulang hari ini dan ternyata kakek benar." Wajah kakek keempat terlihat bangga. Randika bergumam dalam hati, bukankah kemarin aku menelepon rumah? "Randika kemarilah." Pada saat ini, kakek ketiga keluar dari dalam rumah dan melambaikan tangannya pada Randika. Kakek keempatnya juga ikut mengikutinya dari belakang. "Pertama-tama mandilah dengan air hangat yang sudah kucampur dengan obat ini." "Aku akan mengganti airnya setiap satu jam sekali sebanyak 5x." Lima kali? Berarti lima jam! Randika benar-benar terkejut, lima jam dia tidak ngapa-ngapain selain berendam? "Sudah nurut saja, kamu ingin penyakitmu itu sembuh atau tidak?" Tatapan mata kakek ketiga terlihat tajam. Dia lalu menjewer telinga Randika dan menyuruhnya berbaring di dalam bak. Setelah masuk ke dalam bak, kakek ketiganya menuangkan beberapa ember air hangat berisi obat. Dalam sekejap, Randika merasakan kenikmatan duniawi. Dia ingin mendesah nikmat dan menikmati momen ini sambil memejamkan matanya. Di setiap jamnya mengisi kembali bak itu dengan air hangat, kakek ketiga juga memeriksa titik akupuntur anaknya itu. Setelah 5 jam, Randika keluar dari dalam bak dan kakek ketiganya langsung menyodorkannya semangkok sup obat. "Minumlah selagi hangat." Randika langsung meminumnya, dia sama sekali tidak menyisakannya. "Tinggalah di sini selama seminggu." Kata kakek ketiga. "Lama sekali!" Balas Randika. Kakek ketiga menjadi marah. "Salahkan dirimu yang lemah itu, kau kira membuat obat itu gampang?" Randika langsung tersenyum dan berusaha mengalihkan pembicaraan. "Omong-omong, mana kakek pertama dan kakek kedua?" "Kakek pertama masih mengurung dirinya." Kata kakek ketiga. "Kakek kedua sedang keluar." Randika masih tidak tahu kenapa kakek pertamanya itu mengurung dirinya. Sebelumnya kakek keempat pernah mengatakan bahwa kakek pertamanya itu sudah mengurung dirinya selama tujuh tahun dan enam bulan! Randika penasaran apa yang sedang dilakukan oleh kakeknya itu, apakah itu meditasi? Mendengar kakek keduanya sedang pergi tidak mengherankan bagi Randika. Sudah pasti kakeknya itu masih ada di Jakarta. Untuk 7 hari kedepan, Randika menjalani masa pemulihan bersama kakek ketiga dan bermandikan cahaya matahari pagi bersama kakek keempat. Kehidupannya ini benar-benar bagaikan liburan. Selama 7 hari ini, Randika terus-menerus mandi air obat, dan pada saat yang bersamaan, kakek ketiganya meramu obat baru untuk dirinya. Hari ini sudah merupakan hari ketujuh. Randika berdiri bersama kakeknya yang sedang mengaduk panci besar di atas tungku di dapur. Kakek ketiga terlihat sibuk, dia terus-menerus menambahkan bahan ke dalam panci. Dia juga bertugas untuk mengatur suhu tungku. "Cepat buka jendela yang di kanan itu." Kakek ketiga terus memberikan arahan pada Randika sambil terus mengaduk. Tiba-tiba, sesaat setelah jendela itu terbuka, asap hitam mulai keluar dan cairan di dalam panci menjadi merah. "Cepat tutup jendelanya!" Randika menutupnya saat itu juga. Kakek ketiga tetap terlihat fokus, dan pada saat ini, panci yang diaduknya itu tiba-tiba berguncang hebat. Panci itu sepertinya siap meledak kapan saja. "Kek, panci itu tidak akan meledak kan?" Tanya Randika sambil bersiap kabur. Kakek ketiganya menatap tajam Randika. "Kamu meragukan kakek? Apa kamu belum pernah melihat kakek meramu obat?" Namun tiba-tiba, panci itu tiba-tiba berdesis dan mengeluarkan asap merah! Hati Randika sudah mengepal dan dia sudah bersiap-siap. Apa kakeknya sudah lupa? Dulu dia sering menemani kakeknya ini membereskan sisa-sisa panci yang meledak, kalau hari ini meledak juga maka ini akan menjadi kasus ke-50 miliknya! Namun, ekspresi bahagia nampak jelas di muka kakeknya. "Selesai!" Sudah selesai? Randika masih menahan napasnya, dia tidak akan lengah. Sedangkan kakeknya mengambil kapsul dan mengisinya dengan ramuan yang dia buat. Kemudian kakeknya memberikannya pada Randika dalam wadah botol. "Nih bawa." Randika membuka botol yang diberikan kakeknya itu dan melihat lebih dari 20 butir kapsul berwarna merah di dalamnya. Aroma obatnya sedikit aneh tetapi entah kenapa enak untuk dihirup. "Apa ini kek?" Randika mengambil satu kapsul dan melihatnya dengan seksama. "Itu obat untuk mengontrol penyakit di dalam tubuhmu, tetapi bisa dikatakan obat itu sebagai sarana pembantu." Kata kakek ketiga. "Sarana pembantu bagaimana?" Tanya Randika. Kakek ketiga membelai jenggotnya. "Jujur saja, penyakitmu ini sangat misterius. Selama ini kakek mengobatinya dengan banyak ekstrak bahan alami tetapi kali ini kakek memakai metode yang beda. Kakek memanfaatkan metode harmonisasi Yin dan Yang untuk menekan laju penyakitmu itu." "Harmonisasi Yin dan Yang?" Semakin dia mendengar, semakin dirinya bingung. "Setiap 15 hari kamu wajib minum 1 butir. Setelah meminumnya, kamu bisa berhubungan dengan perempuan lebih banyak lagi. Obat ini akan menahan gejolak penyakitmu ketika berhubungan badan." Jadi serangan mendadak itu ada hubungannya dia berhubungan badan dengan perempuan? Randika makin bingung. Kakek ketiga menambahkan. "Tapi obat ini memiliki efek samping, setelah meminumnya nafsu birahimu meningkat dan kamu akan merasakan seluruh tubuhmu menjadi panas. Kamu tidak akan bisa mengontrol nafsumu itu." Randika mengangguk dan melihat kapsul obat itu lalu berkata dengan wajah serius. "Kek, apa kakek tidak salah buat obat untuk vitalitas pria?" "Bajingan, gitu caramu berterima kasih? Kamu kira kakek perlu barang begituan?" Kakek ketiga sudah menjewer telinga Randika saking marahnya. "Ah, ah, sabar kek aku cuma bercanda. Habis penjelasan kakek tadi seperti memberiku obat perangsang." Randika tersenyum. "Jadi memang serangan mendadak kemarin itu berhubungan dengan perempuan ya?" Kakek ketiga mendengus dingin. "Memang obat ini mirip obat perangsang, tetapi efeknya sama sekali tidak bisa dibandingkan. Itu cuma menurut kakek saja, obat itu juga akan menyerap tenaga dalam yang bersifat lembut pada dalam diri perempuan. Untuk mendapatkannya kakek tidak perlu menjelaskannya kan? Semakin kau menabrak rahimnya semakin bagus." Randika terkejut, berarti semakin dalam penetrasinya semakin bagus? Kakek ketiga memang terbaik! Tetapi Randika mengerti teori kakeknya ini. Semenjak dia berhubungan badan dengan Inggrid, dia semakin mudah terangsang dan badannya cepat menjadi panas ketika hanya foreplay. "Sudah itu saja dari kakek. Sudah sana cepat pulang, nanti balik lagi ke sini kalau obatmu sudah habis." Kata kakek ketiga. ...... Setelah sampai di kota Cendrawasih, hari sudah malam. Randika langsung menuju rumah tanpa mampir-mampir. Ketika dia sampai di ruang tamu, Inggrid terlihat sedang duduk di sofa. Randika tidak bisa berhenti tertawa di dalam hatinya. Dia ingin mencoba dan merasakan efek samping dari obat kakeknya itu. Setelah meminumnya, Randika langsung merayap ke sofa. Dari belakang dia menutup mata Inggrid. "Tebak siapa aku?" Randika menyamarkan suaranya. Inggrid tersenyum dan menyingkirkan tangan Randika. "Siapa lagi kalau bukan kamu?" Di balik semua ini, terlihat perubahan dalam diri Inggrid. Tangan Randika yang disingkirkannya ternyata Inggrid taruh di atas dadanya! "Istriku memang mengerti aku, suamimu ini sudah rindu denganmu." Randika tersenyum dan mulai meremas kedua dada Inggrid. APA!? Tambah besar lagi? Kekenyalan dan ukuran ini benar-benar luar biasa, apakah istrinya mengalami masa puber lagi? Randika tertawa. Namun pada saat ini wajah Inggrid sudah merah dan dia berdiri. "Jangan aneh-aneh dulu. Hannah sebentar lagi pulang." Chapter 168: Obatnya Bekerja dengan Baik "Tidak apa-apa sayang, dia masih lama kok pulangnya." Kata Randika sambil tersenyum. Di saat yang sama, dia juga merasakan efek obat kakeknya itu mulai bekerja. Sesuai kata-kata kakek ketiganya, tubuhnya mulai panas dan nafsunya mulai memuncak. Randika serasa ingin membuka bajunya. Randika memeluk Inggrid dari belakang dan menggigit kuping Inggrid. Dia lalu mengeluarkan satu tarikan napas hangat ke telinganya. Inggrid tidak berdaya, hal ini membuatnya sedikit tergoda juga. "Sayang jangan khawatir, lagipula sudah seminggu kita tidak melakukannya." Kata Randika sambil tangannya sudah berenang di tubuhnya Inggrid. Inggrid awalnya ragu-ragu, kemudian dia mencium Randika. Di saat kedua bibir itu bertemu, lidah mereka langsung bermain. Namun, hari ini Randika begitu liar dan ini membuat Inggrid makin sesak napas. Randika, yang masih berdiri di belakangnya Inggrid, berusaha mengeluarkan semua nafsu birahinya yang menumpuk. Dia seperti melampiaskan semua kerinduannya dalam satu ciumannya ini. Inggrid sendiri sedikit kewalahan, desahannya tidak bisa berhenti terdengar, wajahnya sudah sangat merah dan pikirannya sudah melayang. Teknik Randika benar-benar luar biasa. Tidak butuh waktu lama membuat Inggrid basah seperti air terjun. Tangan kanan Randika bergerak dengan cepat, dia segera melepas pengait beha Inggrid dan bertemu dengan gunung yang lebih indah daripada gunung yang ada di desanya. "Ahnn! Hmm!" Inggrid hanya bisa mengeluarkan desahan erotis dan menutup matanya. Randika tidak bisa berhenti meraba dan menjepit putingnya Inggrid. Tangan kirinya juga sudah menyelip ke dalam celana dalam Inggrid yang basah. Cuma butuh waktu 1 menit Randika berhasil membuat Inggrid orgasme. Bersamaan dengan ini, panas di tubuh Randika sudah tidak tertahankan. Dia sudah tidak tahan lagi. Dia langsung menindih Inggrid di sofa dan melepas semua pakaiannya. Melihat Randika melepas celana dalamnya, Inggrid semakin tersipu malu. "Di sini?" Inggrid sedikit malu, tetapi Randika berkata sambil tertawa. "Sayang, bahkan dapur juga bisa menjadi sarang cinta kita." Inggrid benar-benar malu. Randika sudah melucuti semua pakaian Inggrid dan sekarang mereka berdua sudah telanjang. Inggrid menutup matanya sambil menutupi dadanya, posenya bagaikan domba yang siap dimakan. Melihat tubuh yang lezat itu, hewan buas dalam diri Randika sudah meraung keras. Tangannya sudah mulai mengangkat kaki Inggrid. "Sayang, ngapain malu?" Kata Randika. Inggrid sudah tidak bisa menatap Randika karena saking malunya. Mendengar kata-kata Randika, dia sedikit membuka matanya. Randika sudah tidak tahan lagi. Pengaruh obatnya itu benar-benar membuatnya gila. Dia dengan cepat mengangkat kedua kaki Inggrid dan memegangnya lalu mulai memasukan pucuknya. "Aku mulai!" Randika memberi peringatan pada Inggrid. Inggrid mendesah ketika Randika makin masuk ke dalam dirinya, matanya terus tertutup. Penetrasi itu berlangsung selama sepuluh menit dan setelah itu Randika ingin berganti posisi, dia ingin Inggrid yang ada di atasnya. Sambil berpegangan di sofa, Inggrid mulai menurunkan pinggulnya dan mulai mengendarai Randika. Posisi ini memberikan kuasa pada Inggrid untuk mengatur tempo dan pergerakannya, gerakan pinggul Inggrid benar-benar luar biasa! Kedua tangannya berada di samping pinggang Inggrid sambil terkadang membantunya agar bisa masuk makin dalam. "Bagaimana sayang? Enak?" Inggrid tidak punya waktu untuk menjawab. Dia sibuk mendesah dan mengendarai Randika, setiap tusukan membuatnya mengalami sedikit orgasme. Dari semua posisi, posisi ini benar-benar paling nikmat baginya. Randika yang melihat reaksi istrinya itu makin menyukainya. Kali ini Randika ingin menusuknya dari belakang. Pada saat yang bersamaan, obatnya ini mulai bekerja. Randika tidak menyadarinya tetapi tenaga dalam Inggrid yang diibaratkan Yin sudah mengalir ke dalam tubuhnya. Kedua tenaga dalam mereka bersikulasi di dalam tubuhnya, harmonisasi Yin dan Yang ini menyentuh bagian luka di dalam tubuhnya. Jika diperhatikan lebih baik, luka di dalam tubuhnya terlihat makin membaik. Inilah metode harmonisasi Yin dan Yang yang dikatakan oleh kakeknya. Hubungan badan ini terus berlangsung. Randika makin ganas menusuknya yang membuat Inggrid kehilangan kesadarannya 3x. Kenikmatan itu membuat dirinya berkeringat deras di seluruh tubuhnya, hal ini malah membuat Randika semakin terangsang. Setelah sekian lama berganti posisi, menusukannya dalam-dalam, menggunakan jepitan dada, diemut dll, akhirnya Randika mengalami orgasme. Bersamaan dengan itu Randika melepas Inggrid dan keduanya sudah tertatih-tatih. Randika lalu tiduran sambil memeluk Inggrid. "Bagaimana rasanya sayang?" Inggrid hanya bisa menatap Randika. Sepertinya dia sama sekali tidak punya tenaga untuk berbicara. Jadi dia hanya berbaring di atas dada Randika dengan tubuh telanjangnya. Pada saat ini, pintu rumah tiba-tiba terbuka dan orang tersebut segera masuk ke ruangan tamu. "Kak, aku pulang!" Suara Hannah terdengar keras, semenjak kakaknya ke Jakarta Hannah jadi manja dan selalu kangen dengan kakaknya. Tetapi melihat tidak ada jawaban, Hannah menjadi bingung. Kakaknya belum pulang? Randika dan Inggrid sudah panik tidak karuan. Inggrid yang tidak punya tenaga itu segera mengambil pakaiannya dan memakainya dalam keadaan panik. Randika sudah tidak bisa berkata apa-apa, 1 detik lagi adiknya akan melihat kedua kakaknya ini telanjang. Pada saat ini, Hannah sudah melihat keduanya di atas sofa. Dalam sekejap, dia bisa tahu apa yang sedang dilakukan kedua orang dewasa itu. "Tidak!!" Suara teriakan itu menggema hingga ke pelosok rumah. Randika hanya menutupi bagian bawahnya dengan tangannya. Dan ketika Hannah berteriak, dia terdorong oleh Inggrid yang panik dan terjatuh di lantai. Randika sudah ingin menangis darah, hilanglah wibawanya sebagai kakak ipar. Hannah dengan wajah merahnya segera membalikan badan. "Kak, kenapa kalian melakukan hal mesum di tempat seperti ini?" Inggrid sudah tersipu malu, dia merasa sudah tidak punya wajah untuk melihat adiknya. "Ini semua salahmu." Inggrid memukul pelan dada Randika. Jika Randika tidak memaksanya melakukan di sofa, mereka berdua pasti sudah melakukannya di kamar. "Sudah tenang saja, biar aku yang mengurusnya. Bawa bajumu dan naik ke atas duluan." Kata Randika sambil mencium dahi Inggrid. Inggrid lalu berlari ke atas sambil masih telanjang. Randika lalu menatap Hannah dan berkata sambil memakai celananya. "Han, kamu bisa menoleh sekarang." Ketika Hannah berputar badan, wajahnya benar-benar merah dan ekspresinya masih terlihat terkejut. Adegan barusan benar-benar membuat dirinya bingung. Namun, Hannah menyadari Randika hanya memakai celana saja dan tubuh bagian atasnya masih tidak memakai apa-apa. Mau tidak mau dia berteriak lagi. "Kak! Kau memang mesum!" "Hah? Memangnya kenapa aku tidak pakai baju? Bukannya pas kita berenang kamu melihatku telanjang dada? Kenapa kamu mempermasalahkannya sekarang?" Randika tidak berdaya, dia dengan cepat memakai bajunya. Kata-katanya memang ada benarnya, Hannah sudah pernah melihat dirinya telanjang dada, terus kenapa perempuan ini tiba-tiba malu-malu gitu? Hannah masih tersipu malu, dia dengan cepat membentak kakak iparnya itu. "Kak, kenapa kalian melakukannya di sini?" Randika tertawa dan mengusap rambut Hannah. "Aku dan kakakmu itu suami istri. Memangnya ada hukum yang melarang untuk tidak melakukannya di rumah? Hubungan badan itu hal yang maklum, bahkan bisa dikatakan itu bukti cinta kita berdua. Suatu saat nanti kamu juga akan melakukannya, atau kamu sudah pernah?" "HAH! Bisa-bisanya kakak bertanya seperti itu!" Hannah sudah benar-benar marah. Kenapa orang semesum Randika ini bisa jadi kakak iparnya? "Maksudku adalah kenapa kalian melakukannya di sofa di ruang tamu? Kenapa kok tidak di kamar kalian saja?" Kata Hannah dengan tatapan tajam. "Ngapain harus di kamar?" Randika mengedipkan matanya. "Justru mencoba di seluruh ruangan rumah lebih menarik dan menggairahkan." Hannah sudah tidak tahu harus berkata apa, dia merasa tidak berdaya. Sambil dipelototi Randika bersama senyumannya itu, Hannah makin geleng-geleng. "Kalau begitu, pikirkan perasaanku juga dong." Hannah memberikan perlawanan terakhir. "Tentu saja kami khawatir. Tetapi aku tidak menyangka kamu pulang cepat." Randika terlihat menyesal. "Lain kali aku akan berusaha menyelesaikannya lebih cepat lagi." Hannah sudah pusing, pada akhirnya kakaknya ini tidak tahu malu. Sambil menggertakan giginya, Hannah menghentakan kakinya, dan dengan muka cemberut berjalan menuju tangga. Saat dia berjalan, Randika berkata padanya. "Han, kamu juga nanti akan melakukannya kok. Apa kamu mau aku kenalin beberapa orang biar bisa cepat merasakannya?" Hannah makin marah ketika mendengarnya, dia hanya menatap tajam Randika dan melet. Dia lalu bergegas kembali ke kamarnya. Randika hanya tertawa dan kembali ke kamar istrinya untuk mantap-mantap! Chapter 169: Christina Menghilang Keesokan harinya Randika dan Inggrid berangkat bersama menuju kantor. Hal pertama yang Randika lakukan adalah pergi ke ruangan khusus di perusahaan ini yang memproduksi ramuan X. Namun, Randika sedikit kecewa ketika sesampainya di sana. Ramuan X sama sekali tidak mengalami kemajuan dan masih membutuhkan waktu. Randika berharap apabila ramuan X sudah jadi, dia akan menggabungkannya dengan obat merah yang diberikan kakeknya itu. Tetapi karena ramuan X tidak ada kemajuan sama sekali, dia harus melepaskan angan-angannya itu. Kemudian Randika segera menuju lift dan hendak pergi ke ruangannya. Sesampainya dia di lantai 9, Viona hendak masuk. "Randika!" Melihat Randika di depannya, Viona tidak bisa menyembunyikan senyumannya. Randika lalu membalas senyumannya dan keluar dari lift. "Vi, tunggu!" Melihat Viona yang mau turun itu, Randika langsung menahan pintu lift dengan kakinya. "Kenapa?" Viona terlihat bingung. Tatapan mata Randika terkunci di dada Viona, behanya sedikit longgar. Viona sama sekali tidak tahu dan hari ini dia memakai baju berwarna putih jadi orang-orang bisa melihat apa yang dibalik bajunya itu. "Vi, behamu sedikit longgar." Kata Randika, sekaligus pada saat ini, dia sudah mengulurkan tangannya dan membantu membetulkannya. Viona terkejut, bagaimana bisa dia tidak menyadarinya. Pada saat ini, kedua tangan Randika sudah berada di balik baju Viona. Viona sudah tersipu malu, tangan Randika yang besar itu sudah ada di balik bajunya. Setelah Randika membenarkan posisi dadanya, dia mengencangkan behanya. "Vi, hanya aku yang boleh melihatnya. Jangan biarkan orang lain melihatnya." Kata Randika dengan senyuman nakal. Setelah itu dia meraba dada Viona, tangannya benar-benar penuh dengan kekenyalan. Viona kembali menjadi malu, dia merasa Randika semakin berani meskipun ini adalah tempat kerja mereka. Namun, Viona sama sekali tidak melawan. Dia berpikir karena tidak ada orang mungkin sedikit momen mesra ini cukup menyenangkan. "Baiklah kalau begitu, kembalilah bekerja biar tidak ada yang curiga." Kata Randika sambil keluar dari lift. "Berhati-hatilah lain kali." Ketika Viona sudah pergi, Randika menatap kedua tangannya. Pertumbuhan Viona benar-benar bagus, tetapi kalau dibandingkan dengan Inggrid, dia masih kalah. Bagaimanapun juga, Inggrid telah dilatih sendiri olehnya sedangkan Viona masih belum. Mungkin nanti pertumbuhan badan Viona juga lebih bagus kalau dilatihnya? Wajah Randika benar-benar terlihat mesum, dia berpikir lebih cepat meniduri Viona maka lebih baik. Saat masuk ke ruangannya, Randika, seperti biasa, berbincang dan bercanda dengan para ahli parfum lainnya. Setelah itu dia memberikan arahan pada para ahli parfum. Waktu berlalu dengan cepat, tidak kerasa sekarang waktunya untuk pulang. Randika jelas bersemangat, waktunya mantap-mantap di rumah. Hari ini enaknya permainan apa yang dilakukannya bersama istrinya? Borgol dan cambuk? Tidak, Inggrid pasti tidak mau melakukannya. Tuan dan pelayan? Terakhir kali baju pelayan ala Jepang yang dipakai Inggrid benar-benar membuatnya bergairah, malam itu benar-benar membekas di ingatannya. Apalagi pada saat itu Inggrid yang memiliki harga diri tinggi memanggilnya tuan dan melakukan apa pun yang dimintanya, momen itu benar-benar menyenangkan. Namun, mengulang hal yang sama kurang menarik baginya. Randika memikirkannya sesaat lalu tertawa. Baiklah, hari ini kita akan bermain perawat dan pasien! Tetapi dia tidak memiliki baju perawat. Jadi dia memutuskan untuk pergi dan membeli perlengkapannya. Dia juga berpikir sekalian membeli lingerie sexy buat istrinya, malam ini akan menyenangkan. Tiba-tiba handphonenya bergetar, tetapi nomor yang menghubunginya tidak terdaftar. Meskipun sedikit ragu, Randika memutuskan mengangkatnya. "Halo, ini benar Randika?" Suara yang menghubunginya terdengar familiar, Randika berpikir sesaat dan menyadari bahwa yang meneleponnya adalah ibunya Christina. "Iya tante ini Randika." Kata Randika, dia berharap tidak akan dijodohkan lagi. "Ran, apa anakku sama kamu?" Suaranya benar-benar terdengar cemas. "Wah enggak tuh tante, kami sudah lama tidak ketemu." Randika merasakan firasat buruk. "Ahˇ­ Bagaimana ini? Tante sudah tidak tahu harus ke mana lagi." Suaranya terdengar sedih. "Memangnya ada apa ya?" Tanya Randika. "Tintin sejak kemarin tidak ada kabarnya." Randika terkejut, orang yang peduli dengan keluarganya seperti Christina tiba-tiba menghilang? Christina sama sekali bukan tipe yang seperti itu. "Tante tunggu aku, aku akan segera ke rumah." Kata Randika sambil menutup teleponnya. Dia langsung berangkat menuju rumah ibunya Christina. Tak lama kemudian, Randika tiba di tujuannya. "Tante tolong jelaskan detailnya!" Randika terlihat cemas. Wajah ibunya Christina ini makin terlihat tua. "Kemarin Tintin ngabarin kalau dia mau ke rumah muridnya untuk pelajaran tambahan. Awalnya aku tidak curiga apa-apa, tetapi hari ini seharusnya kita makan siang bersama di rumahku tetapi Tintin tidak datang. Lalu tante telepon handphonenya tetapi handphonenya mati. Tante menjadi cemas terus tante telepon sekolahannya. Sekolahannya ngomong kalau Tintin hari ini tidak datang mengajar dan tetangganya juga ngomong tidak melihat anakku itu sejak kemarin malam. Aku pikir mungkin dia menginap di rumahmu jadi tante meneleponmu." "Tante tidak usah khawatir. Aku akan membawa Christina kembali." Randika berdiri. "Tante sekarang laporkan hal ini pada polisi, aku akan mencarinya." "Maafkan tante ya, tante sudah merepotkanmu." Ibunya ini berusaha menahan air matanya, dia masih belum menyerah. "Tante tahu alamat murid yang didatangi Christina?" Tanya Randika. "Seingat tante Tintin sudah beberapa kali ke rumah anak itu. Kalau tidak salah namanya Vero." "Alamatnya?" Ibunya berdiri dan menjawab. "Sebentar aku akan mencarinya." Kemudian ibunya mencari di kamar Christina dan setelah beberapa saat dia kembali sambil membawa secarik kertas. Ibunya kemudian memberikannya pada Randika. "Aku sekarang akan pergi ke alamat ini, tante tunggu kabar dariku." Setelah itu, Randika berlari sekuat tenaga ke alamat Vero tanpa berhenti satu detik pun. Satu-satunya petunjuk adalah murid ini. Tak lama kemudian, Randika tiba di alamat tersebut dan tiba di sebuah rumah yang cukup besar. Saat dirinya mengetuk pintu, terdengar suara dari dalam. "Iya sebentar." Kemudian seorang perempuan membukakan pintu, perempuan ini berjalan menggunakan tongkat dan kakinya dibalut oleh perban. Ketika Vero melihat Randika, dia terlihat bingung. "Siapa ya?" "Apa kamu Vero?" Tanya Randika. Vero hanya mengangguk. "Aku ingin bertanya sebentar. Apa kemarin Christina datang ke rumahmu untuk memberikanmu pelajaran tambahan?" Tanya Randika. "Benar." Vero mengangguk. "Kakiku retak jadi aku tidak bisa datang ke sekolah, jadi bu Christina dengan baik hati memberikan pelajaran tambahan." "Berapa lama pelajarannya?" "Kira-kira 2 jam, setelah itu bu Christina langsung pergi." Mendengar kata-kata Vero itu, Randika mengerutkan dahinya. "Kamu yakin Christina benar-benar pergi?" "Iya." Vero mengangguk. "Aku sendiri yang mengantar bu Christina keluar dari rumah, setelah itu beliau langsung pulang." Vero menatap Randika. "Apakah ada masalah dengan bu Christina?" "Tidak ada apa-apa. Aku permisi dulu ya." Setelah pergi dari rumahnya Vero, Randika mengerutkan dahinya. Dia memperhatikan tatapan mata dan gerak-gerik Vero, perempuan itu tampaknya tidak berbohong. Jadi Christina mulai menghilang saat perjalanannya pulang. Ini sedikit rumit, petunjuknya sangat kurang jadi dia tidak tahu harus mulai dari mana. Sambil terus berpikir, tiba-tiba ada suara. "Randika!" Ketika Randika menoleh, yang memanggilnya ternyata Deviana. "Kebetulan sekali!" Randika tersenyum. Chapter 170: Petunjuk Deviana cukup terkejut melihat Randika, dia tidak menyangka temannya ini akan muncul di depannya. "Bukannya kamu di Jakarta?" Deviana masih mengingat beberapa hari yang lalu Randika meminta bantuan darinya. Tanpa diduga ternyata dia sudah ada di sini. Karena masalahnya menyangkut orang terpenting di kota ini, Inggrid Elina, Deviana berpikir bahwa masalah yang dihadapi Randika akan memakan waktu berminggu-minggu. "Iya aku baru saja kembali." Kata Randika sambil tersenyum. "Jangan khawatir dengan masalahku itu, semua sudah beres. Omong-omong kenapa kamu ada di sini? Menangkap pencuri lagi?" Mendengar masalah Randika sudah selesai, Deviana ikut merasa lega. Mendengar sarkasme Randika mengenai menangkap pencuri, Deviana mengerutkan dahinya. "Maksudmu?" Randika menggelengkan kepalanya. "Kalau bukan nangkap penjahat, jangan-jangan kamu mau menangkap hatiku?" "Aku sedang mengerjakan tugas." Deviana mendengus dingin. "Tugasku bukan cuma menangkap penjahat asalkan kamu tahu. Hari ini aku menangani kasus orang hilang, aku ke sini untuk mengumpulkan informasi." Orang hilang? Randika mengedipkan matanya. "Apa orang hilang itu bernama Christina?" "Kamu kok tahu?" Deviana mengerutkan dahinya sambil menatap Randika. Lalu dia bertanya dengan wajah serius. "Apa kamu penculiknya?" "Mana mungkin aku berbuat hal memalukan seperti itu." Kata Randika sambil menghela napas. "Orang hilang itu adalah temanku, ibunya juga meminta bantuanku. Jadi bisa dikatakan aku sedang membantumu." "Apakah kamu sudah mengetahui sesuatu?" Tanya Deviana. "Sama sekali belum." Randika mulai kembali pusing. "Aku hanya bisa memastikan bahwa Christina mulai menghilang setelah dia meninggalkan rumah muridnya. Mengenai di mana dia menghilang atau siapa yang menculiknya aku benar-benar tidak tahu." Deviana kembali mengerutkan dahinya, kasus ini sepertinya akan memakan waktu banyak. "Misalnya kalau kantormu punya akses untuk kamera di daerah ini, seharusnya kita bisa mendapatkan petunjuk." Kata Randika. Deviana menggelengkan kepalanya. "Sayangnya kamera di daerah ini sedang rusak, apalagi di daerah ini hanya ada kamera lalu lintas. Dan semua kamera itu masih dalam tahap uji coba jadi kita tidak bisa berharap banyak." Mendengar kata-katanya Randika menghela napas, satu-satunya harapan telah hilang. Apakah tidak ada jejak Christina sama sekali? "Kalau begitu aku akan kembali ke kantor dan menyelidiki ini bersama tim investigasi." Kata Deviana. Randika mengangguk, itulah satu-satunya cara paling logis. Ketika mereka berdua hendak pergi, tiba-tiba ada suara ribut dari seberang jalan. Deviana menoleh dan melihat beberapa orang sedang berdebat hebat. Dilihat dari situasinya, keadaan akan makin buruk. Beberapa orang sudah terlihat mengeluarkan botol kaca di tangannya, sepertinya tidak lama lagi mereka semua akan berkelahi. Para pejalan kaki sudah ketakutan dan menghindari mereka semua. "Berkelahi di siang bolong?" Deviana mengerutkan dahinya dan menghampiri mereka. Randika mengikutinya. Dia aslinya tidak peduli dengan apa yang dilakukan orang-orang ini, di benaknya sekarang hanyalah kasus hilangnya Christina. Tetapi, satu-satunya harapan baginya adalah bantuan dari Deviana, jadi mau tidak mau dia harus mengikutinya dan memastikan dia baik-baik saja. "Sedang apa kalian semua!" Deviana segera berdiri di tengah-tengah keributan. Dia membentak, "Jika kalian berani berbuat bar-bar, aku akan membawa kalian semua ke kantor polisi." "Wah ada hidangan pembuka." Preman di sebelah kiri menatap Deviana dengan mata jahatnya. "Kau mau membawaku? Silahkan saja aku tidak takut sama sekali." Para preman di sebelah kiri langsung tertawa semua, bos para preman itu berkata pada preman lawannya itu. "Kalian sungguh beruntung ada polisi yang membantu kalian, lain kali nasib kalian tidak akan seberuntung ini!" Bos preman di sebelah kanan merasa terhina. Dia lalu menatap polisi yang tiba itu dan berkata dengan nada dingin. "Kau lebih baik pergi dari sini, jangan mengganggu urusan kami." Deviana benar-benar marah, dia lalu berteriak dengan suara yang keras. "Tidak ada satupun yang akan berkelahi hari ini! Satu pukulan saja maka kalian semua akan menginap di penjara." Preman yang di sebelah kiri sudah mulai mengayunkan tongkat dan botol kaca di tangan mereka. Mereka lalu menatap tubuh sexy Deviana. "Kau bersemangat sekali bu polisi, aku yakin kamu juga cukup bersemangat di atas ranjang!" "Rio, kita selesaikan dulu masalah kita. Setelah itu, siapapun yang menang bisa membawa gadis itu sebagai pialanya." Bos preman di sebelah kanan, Wilson, berkata pada Rio dengan nada dingin. "Cecunguk diam saja, kau tidak berhak mengaturku." Mata Rio masih berusaha menelanjangi Deviana, dia tidak sabar mencicipi tubuh itu. Pada saat ini Deviana masih berada di tengah-tengah kerumunan orang ini, dia dikepung lebih dari 20 orang. Namun, pada saat ini tatapan semua orang jatuh pada Randika yang berjalan menghampiri mereka. "Oh? Datang lagi satu orang?" Rio tertawa. Para preman yang darahnya sudah mendidih mulai tidak sabar. "Sudah kita sarankan kalian berdua minggir atau jangan salahkan kalau kalian terlibat masalah kita!" Para pejalan kaki sedikit heran dengan Deviana yang berusaha melerai para preman itu. "Kenapa tidak biarkan mereka saling bantai? Toh mereka juga preman, sampah masyarakat." Kata salah satu orang pada temannya. "Jangan-jangan mereka berdua ngira kalau mereka jadi polisi maka semua orang akan mendengar mereka." Kata temannya sambil tertawa. Keadaan Deviana dan Randika benar-benar buruk di mata orang-orang ini. Mereka cuma berdua sedangkan para preman itu berjumlah 20an. "Kedua polisi itu akan mati." Salah seorang pejalan kaki sudah siap menelepon ambulans. Namun, situasi berjalan di luar dugaan semua orang! Randika benar-benar sudah dibuat pusing dengan kasus Christina, suasana hatinya sedang tidak bagus. Pada saat ini, para preman ini sudah sok kuat dan sudah ingin tawuran. "Masih tidak mau pergi? Kuhajar kau!" Para preman sudah tidak sabar lagi, kubu Rio dan Wilson segera mengepung Randika dan Deviana. Deviana sudah bersiaga. Ketika dia ingin memperingati Randika agar berhati-hati, dia sudah melihat Randika menerjang maju bagaikan singa mengejar mangsanya. Randika yang sekarang benar-benar buas, kumpulan para preman ini bagaikan karung pasir yang dibuat khusus untuknya. Ketika tinjunya mengenai salah satu orang, tinju satunya sudah melayang dan mengenai dagu orang lainnya. Dalam sekejap 4 gigi sudah melayang di udara! Pada saat yang sama, kubu Wilson sudah meraung keras dan menerjang maju. Para preman ini sudah tidak peduli, bagi mereka semuanya adalah musuh. Ketika salah satu dari mereka sudah mendekat, dia dengan cepat mendapatkan tinju di wajahnya. Tinju Randika benar-benar bukan sembarangan, preman tersebut langsung melayang jauh dan menabrak temannya. Tidak lama kemudian, Randika sudah berhasil menghajar hampir seluruh preman dari kubu Wilson. Wilson sendiri sudah terheran-heran. Kenapa seorang polisi bisa seganas ini? Namun pada saat ini, Randika sudah tiba di depannya dan menendangnya tepat di dadanya. Dalam sekejap suara rintihan kesakitan terdengar keras dari mulut Wilson. Randika lalu menatap kubu Rio dengan tatapan tajam, tatapannya ini membuat semuanya merinding. Dan saat ini Randika sudah menerjang maju. "Siapapun hentikan orang itu!" Rio sudah ketakutan, para bawahannya satu per satu mulai tumbang. Namun tidak butuh waktu lama untuk Randika berdiri di depan Rio. "Tidak! Jangan wajahku, jangan wajahku!" Rio hampir mengompol. Randika lalu memukul Rio tepat di hidung dan Rio tersungkur di tanah. Pada saat ini, Randika sama sekali tidak berhenti dan sudah berlari untuk membereskan sisa-sisa preman yang masih berdiri. Di mana pun dia berada, seseorang akan tergeletak. Seluruh proses ini tidak lebih dari 2 menit. Apabila diperhatikan, sepanjang jalan sudah ada 20 orang lebih tergeletak di tanah sedang kesakitan. Semua pejalan kaki sudah menatap dengan wajah bingung, orang itu ahli bela diri? Melihat para preman yang merintih kesakitan, Randika mengibaskan tangannya. Kalau saja tidak ada orang-orang ini, Deviana mungkin sudah berada di kantornya. Randika lalu kembali memikirkan Christina sedangkan Deviana mengeluarkan borgolnya. "Kalian semua akan kubawa ke kantor polisi." Deviana mengerutkan dahinya, bagaimana caranya dia seorang diri membawa semua penjahat ini? "Maafkan kami, kami tahu kalau kami salah. Kami tidak akan mengulanginya lagi, tolong lepaskan kami." Rio dengan cepat memohon ampun sambil berlumuran darah. Wajahnya benar-benar menyedihkan. Bahkan air matanya ikut turun sambil terus meminta ampun. Para preman lainnya juga tidak kalah menyedihkan, mereka semua berlutut dan meminta ampun. "Omong kosong, sekarang kalian semua cepat berdiri dan berbaris!" Deviana tidak akan luluh dengan aksi tobat para preman ini, dia tahu bahwa ini hanyalah sandiwara. Randika yang masih sedang berpikir itu menatap para preman tersebut. Di salah satu orang, dia melihat sebuah kalung yang nampak familiar. Kenapa dia merasa pernah melihatnya? Sambil mengerutkan dahinya, Randika menghampiri Rio. Melihat Randika yang mendekat, wajahnya makin ketakutan. "Tolong jangan pukul aku lagi, aku akan menurutimu dan ikut ke kantor polisi." Namun, Randika memaksanya berdiri dan mengambil kalung di lehernya itu. Melihat aksi Randika yang kasar itu, Rio sama sekali tidak berani melawan. Setelah memeriksa dengan seksama kalung tersebut, wajah Randika semakin muram. Jelas itu adalah kalung milik Christina, dia sering melihatnya memakai kalung emas ini. "Kalian semua cepat pergi dari sini." Kata Randika dengan suara tegas. Para preman ini tidak ragu-ragu menerima pengampunan ini dan lari. Sedangkan Deviana sedikit terkejut mendengarnya dan hanya bisa menggelengkan kepalanya. Dia lalu menghampiri Randika yang sedang menginjak Rio dengan kakinya. "Dari mana kau mendapatkan kalung ini?" Rio terkejut, dia tidak menyangka cuma dirinya yang tidak diperbolehkan pergi. Matanya sudah ketakutan ketika dirinya diinjak oleh Randika. Rasa sakit segera menyerang sarafnya. "Jika kau tidak berbicara jujur, mayatmu hari ini akan mengapung di sungai." Kata Randika dengan wajah serius. "Ampun, ampun. Aku akan memberitahumu segalanya." Rio sudah diambang menangis. Dia sangat ingin hidup dan memberikan cucu pada orang tuanya. Chapter 171: Petunjuk (2) "Kenapa?" Deviana menatap Randika dengan wajah bingung. "Kalung ini punya Christina, aku pernah lihat dia memakainya." Kata Randika. "Dan tadi pria berengsek ini memakainya." Kali ini, tatapan tajam Deviana jatuh pada Rio. Di bawah tatapan tajam dua orang, Rio ingin menangis darah. Memangnya ada apa dengan kalung itu? "Di mana kau mendapatkan kalung itu?" Tanya Deviana dengan nada dingin. "Jangan coba-coba berbohong atau temanku ini akan menyakitimu lagi." Rio menjawab dengan senyuman pahit. "Kalung itu aku dapat dari bosku tadi malam." "Bosmu?" Tatapan mata Randika benar-benar dingin. "Bagaimana dia bisa mendapatkannya? Jelaskan padaku." Dengan tubuh gemetaran, Rio menjawab. "Kemarin malam aku dan teman-teman sedang jalan-jalan di sekitar sini. Terus kami lihat ada wanita cantik jalan sendirian dan jalanan terlihat sepi. Teman-temanku memutuskan untuk menculiknya." "Apa?" Deviana tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Kasus penculikan memang jarang terjadi di kota ini, tetapi dia tidak menyangka bahwa proses penculikan akan terjadi hanya karena ada kesempatan bukan dengan perencanaan detail. Randika lalu bertanya. "Lalu?" Nada suara Randika benar-benar menyeramkan bagi Rio, dia menjadi ragu dan berhenti berbicara. Randika menjulurkan jari telunjuknya dan menaruhnya di atas dada Rio, Rio merasa tulangnya akan patah. "Setelah kita mengikatnya, kita ingin memperkosanya tetapi wanita itu memberontak terus. Terlebih dia melukai salah satu temanku jadi kita kirim wanita liar itu ke bos sebagai hadiah. Oleh karena itu bos memberikanku balasan berupa kalung emas ini." Dengan tubuh basah oleh keringat, Rio memperhatikan ekspresi Randika. Dia takut ceritanya tidak dapat memuaskan orang mengerikan itu. Tapi tanpa diduga, jari telunjuk Randika terangkat dan telapak tangannya berada di dadanya. Dengan dialiri sedikit tenaga dalamnya, rasa sakit segera menyebar di seluruh tubuh Rio. "AH!!" Suara rintihan kesakitan ini tidak dapat terdengar, Randika dengan cepat menutup mulutnya dengan tangan kirinya. "Bagaimana keadaan perempuan itu?" Tanya Deviana. "Aku tidak tahu. Aku sama sekali tidak tahu keadaannya semenjak kuberikan pada bos." Ekspresi Rio benar-benar kesakitan, dia sama sekali tidak bisa menggerakan tangan Randika yang ada di atas dadanya. "Tunjukan jalannya." Kata Randika sambil menendangnya. Rio berdiri sambil menahan rasa sakitnya, rasa benci mulai memenuhi hatinya. Dia ingin menggunakan kesempatan ini untuk kabur. Tetapi, dari belakang Randika berbisik padanya. "Jika aku tidak melihat wajah bosmu dalam setengah jam, nyawamu akan melayang dari dunia ini." Singkat, padat dan jelas, ancaman Randika benar-benar membuat Rio tidak berani berbuat macam-macam. Rio merasa bahwa ancaman itu nyata dan membawa kedua orang ini ke markas bosnya. Deviana mengabari kantornya dan menolak bantuan yang akan dikirimkan. Kemungkinan besar dia akan menemukan markas perdagangan manusia, jadi dia tidak boleh membuat orang-orang tersebut waspada. Kejahatan seperti ini benar-benar tersembunyi dan biasanya memiliki mata di kepolisian. Setengah jam kemudian, Rio membawa Randika dan Deviana ke bangunan terpencil di bagian barat kota. Mereka dibawa ke distrik yang dikenal sebagai Sin City kota Cendrawasih. Tempat ini dipenuhi oleh prostitusi, tempat perjudian ilegal, sarang narkoba dll. Tingkat kejahatannya merupakan yang tertinggi daripada tempat lain. Para aparat penegak hukum sudah menutup mereka terhadap tempat ini tetapi pelaku kejahatan yang bertindak terlalu lewat batas seperti membunuh atau merencanakan serangan teroris maka mereka tidak akan sungkan-sungkan menangkap dan memenjarakan. "Ini tempatnyaˇ­" Rio menoleh dan mempersilahkan Randika untuk masuk. Namun, Randika mengangkat tangannya dan menamparnya dengan keras. Seluruh tubuh Rio berputar bagaikan sedang menari balet dan jatuh pingsan tanpa bisa berkata apa-apa. Setelah itu Randika dan Deviana masuk bersama-sama. Berjalan di gedung terbengkalai ini, kedua orang ini segera dihadang oleh 2 orang preman dengan tongkat bisbol di tangannya. "Siapa kalian?" Ketika dua preman ini melihat kedua orang asing ini, tatapan mereka justru jatuh pada tubuh sexy milik Deviana. Karena Deviana tidak ingin identitasnya sebagai polisi membuat kegaduhan di distrik ini, dia memakai baju santainya yang sederhana. Namun kemolekan tubuhnya masih tidak dapat dia sembunyikan. Kedua mata mesum itu terus menatap dada dan pantat Deviana. Sayangnya, kedua mata itu harus terpejam beberapa saat. DUAK! Keduanya mendapatkan pukulan bertenaga dari Randika, dalam sekejap mereka sudah pingsan tak sadarkan diri. Randika mengibaskan tangannya dan menggeledah kedua preman itu. Deviana lalu berjongkok dan hendak memborgol mereka. "Mereka ini cuma ikan teri, ikan kakapnya ada di dalam. Lebih baik kamu menyimpannya buat orang yang lebih layak memakainya." Kata Randika sambil menggeledah. Deviana mengangkat kepalanya dan menyadari bahwa Randika sama sekali tidak menoleh ke arahnya. Dari mana Randika tahu apa yang akan dilakukannya tanpa menoleh? Meskipun masih banyak pertanyaan tentang Randika yang menggenang di hatinya, Deviana menyusul Randika yang sudah berjalan agak jauh darinya. Di dalam gedung terbengkalai ini, terdapat beberapa preman di dalamnya. "Giliranku, flush sekop!" Seorang preman mengeluarkan 5 kartu sambil merokok. "Bajingan, kartumu bagus-bagus daritadi!" Lawannya murka karena kartunya dari tadi jelek. "Kalah ya kalah, jangan banyak alasan." Preman itu mematikan rokoknya dan sudah tidak sabar mengambil uang teman-temannya itu. Selain dari empat orang yang sedang bermain kartu itu, beberapa orang lainnya sedang asyik minum. Di tengah-tengah meja terdapat banyak jenis alkohol, makanan, cemilan. Kelompok lainnya terlihat hanya sedang mengobrol sambil merokok. Ketika Randika dan Deviana masuk, mereka sama sekali tidak memedulikannya. Randika hanya berdiri diam sambil memperhatikan mereka, para preman itu sama sekali tidak mencurigai dirinya. "Full tujuh!" "Tuh kan, kamu pasti curang. Dari tadi kamu dapat 5 kartu terus, kamu pasti curang." "Lha? Kamu sendiri yang mengocok kartunya bukan? Kok malah nuduh aku curang? Sudah sini mana uangmu!" Deviana mengerutkan dahinya, dia merasa bingung. Kenapa pemandangan ini mirip seperti kantornya? Tapi perbandingan ini sedikit tidak sopan, teman-temannya tidak akan berjudi dan mabuk-mabukan di tempat kerja. Randika lalu menghampiri preman yang sedang asyik minum. "Aku mencari bosmu." "Bos ada di lantai dua, naik sendiri saja sana." Preman itu lanjut meminum birnya. Deviana terkejut mendengarnya, dia tidak tahu harus tertawa atau merasa kasihan pada si bos. Di lain sisi Randika sama sekali tidak peduli, dia berjalan melewati kerumunan penjahat ini dan berjalan ke lantai 2. Deviana mengekorinya sambil terheran-heran, mereka sama sekali tidak dicegat oleh orang-orang ini! Ketika mereka sudah menaiki tangga, preman yang memegangi botol birnya itu mendadak teringat sesuatu. "Siapa tadi ya? Aku tidak pernah melihat orang itu dan dia mencari si bos." "Aduh ikan teri seperti kamu itu tidak tahu apa-apa. Kalau dia mencari bos, berarti dia sedang mencari narkoba jadi biarkan saja. Sudah minum lagi sini, hari ini kita akan memecahkan rekor minum terbanyak kita sebelumnya!" Pada saat ini, Randika dan Deviana sudah di lantai 2. Saat mereka masuk ke dalam ruangan, mereka melihat seorang pria gemuk sedang menggulung kertas. Pria gemuk itu menunduk dan menghisap yang sepertinya heroin di atas meja. HISSˇ­ Pria itu merasa dirinya sudah melayang di atas awan. Dia sama sekali tidak menyadari Randika yang duduk di hadapannya. "Sialan, barang ini selalu nendang." Setelah sekian lama, pria itu akhirnya membuka matanya dan menyadari ada sosok aneh di hadapannya. Pandangannya yang masih kabur itu membuatnya berpikir dia masih berhalusinasi. Namun dalam sekejap, setelah dia dapat melihat dengan jelas, pria itu mengeluarkan pistolnya dan membidik ke arah Randika, Klik! Bos para preman ini menembakan pistolnya tetapi ternyata tidak ada pelurunya. Pada saat ini, Randika mengangkat tangannya dan peluru mulai berjatuhan dari genggaman tangannya. "Apa kamu menculik seseorang kemarin?" Tanya Randika dengan wajah datar. "Siapa kamu?" Bos ini berwajah tenang, selama hidup di dunia kejahatan tidak ada yang dia takuti. Namun yang menjadi pertanyaannya adalah kenapa bawahannya itu semua membiarkan penyusup ini masuk ke dalam ruangannya? Apa mereka semua sudah dia kalahkan? Dan pada saat ini, suara di lantai bawah makin gaduh dan semua preman yang mabuk itu mulai bernyanyi bersama. Suasana benar-benar gaduh dan meriah sedangkan bos mereka di lantai 2 hanya bisa menatap Randika dengan topeng tenangnya sambil menahan rasa takutnya. Deviana berdiri di depan pintu, dia bertugas untuk memastikan tidak ada pengganggu. "Kalau kau berbohong atau jawabanmu tidak memuaskanku, aku akan mencabut nyawamu itu." Kata Randika dengan wajah dingin. "Kau mau membunuhku? Hahaha." Bos ini tiba-tiba tertawa dan suara tawanya itu menggema keras. "Sudah banyak orang yang mengancam membunuhku dan mereka semua tidak ada yang berhasil. Kau kira aku takut?" Randika menggelengkan kepalanya. "Percuma kamu pura-pura sombong begitu tapi pada akhirnya memanggil anak buahmu." Bos itu terlihat terkejut, lawannya ini tahu dia sudah memanggil bantuan? Dalam sekejap, para preman yang sedang asyik mabuk-mabukan di bawah segera naik ke lantai 2 sambil membawa senjata mereka. "Bos! Ada apa?" "Bos! Kau baik-baik saja?" Para preman ini segera mendobrak masuk dan menyadari sosok Randika. "Dev, bersembunyilah." Kata Randika pada Deviana. Deviana segera bersembunyi di pojok ruangan sedangkan Randika berdiri sambil terus menatap si bos. Si bos itu lalu berkata dengan nada arogan. "Aku suka nyalimu yang besar itu. Benar kemarin aku menculik seorang perempuan dan tubuhnya benar-benar sesuai dengan seleraku! Hahaha." Aura membunuh Randika segera menyebar ketika mendengar kata-kata itu. Bos para preman itu merasakan firasat buruk dan membentak bawahannya. "Ngapain diam? Cepat bunuh penyusup itu!" Tetapi sosok Randika yang ada di hadapannya itu menghilang dan meninggalkan jejak teriakan kesakitan. "Ah!" "Arghh!" "Tidak!!" Teriakan itu tidak lama, hanya butuh 5 detik dan keadaan kembali sunyi senyap. Dalam sekejap pula, Randika sudah berada di belakang bos tersebut. "Hari ini kita akan bersenang-senang." Kata Randika sambil tersenyum dan membenturkan kepala pria gemuk itu ke atas meja. Bos preman ini berteriak kesakitan, dia lalu bersumpah akan membunuh Randika. Deviana, tahu apa yang akan terjadi berikutnya, segera menutup matanya. Randika lalu menjambak rambut si bos dengan satu tangan dan memukulnya hingga hidungnya patah. "Di mana perempuan yang kau culik kemarin?" Tatapan Randika sudah bagaikan pembunuh berdarah dingin. "Jika kau tidak berbicara, aku akan membunuhmu sekarang juga!" Chapter 172: Kota Gunung Agung Awalnya, bos preman ini masih bersikap sok tangguh meskipun hidungnya sudah patah. Dia menolak untuk berbicara pada Randika. Tetapi seiring berjalannya waktu, siksaan Randika membuat dia akhirnya menyerah. "Aku lebih baik mati daripada memberitahumu!" Semenit kemudian. "Wanita itu sudah menerima bibitku dan mengandung anakku! Jangan harap dia masih perawan! Hahaha." Tiga menit kemudian. "Tidak! Hentikan, aku sudah tidak kuat." Lima menit kemudian. "Maafkan aku, aku sama sekali tidak bermaksud. Jangan! Tolong jangan pukul aku lagi!" Enam menit kemudian bos preman ini sudah sekarat dan Randika mendapatkan apa yang dia mau. Bos preman ini tidak menyentuh Christina sama sekali karena dia terus memberontak sampai-sampai menendang si bos ini di kemaluannya. Di tengah kemarahannya, si bos ini menghajarnya sampai pingsan dan menjualnya ke temannya yang melakukan bisnis perdagangan manusia. Sekarang temannya itu seharusnya sedang mencari pelanggan yang mau membeli Christina. Setelah mendengar tempat teman si bos preman itu berada, hati Randika sedikit mengepal. Desa Sukasari di Kota Gunung Agung! Ternyata Christina sampai dibawa ke desa terpencil di kota sebelah, benar-benar tempat yang cocok untuk melakukan bisnis haram dan gelap seperti perdagangan manusia. Yang membuatnya mengerutkan dahi adalah tidak ada jalan tol ataupun bandara di kota tersebut. Satu-satunya jalan adalah menaiki kereta ke kota Gunung Agung lalu berjalan kaki ke desa Sukasari. Setelah mendapatkan informasi tersebut, Randika melihat jam dan menyadari bahwa kereta yang akan membawanya itu akan pergi sebentar lagi. Deviana ingin ikut tetapi dicegah oleh Randika. "Kamu lebih baik tinggal di sini dan menangkap orang-orang ini. Aku akan mengurus sisanya." Kata Randika. "Kalau begitu berhati-hatilah." Deviana sendiri aslinya tidak tahu kenapa dirinya ingin bersama Randika, tetapi setelah mendengar kata-kata Randika, dia sadar bahwa kata-katanya itu masuk akal. Ketika Randika sudah pergi, Deviana mengeluarkan HT-nya dan melapor sekaligus meminta bantuan markasnya untuk mengirim beberapa mobil agar ke-20an orang ini bisa segera mendekam di penjara untuk waktu yang lama. ......ˇ­ Di dalam kereta, Randika duduk sendirian di dekat jendela. Meskipun pandangan matanya melihat pemandangan, isi pikirannya benar-benar hanya ada Christina. Dia berharap bahwa dirinya masih dapat menyelamatkan tepat waktu. "Ah? Kenapa pong? Tumben sekali telepon aku?" Namun pada saat ini, seorang pria yang duduk tidak jauh dari Randika tiba-tiba mengangkat teleponnya. Suaranya benar-benar keras! Ketika pria itu membuka mulutnya, seluruh gerbong bisa mendengar apa yang dia katakan. Randika mengerutkan dahinya, pria itu sama sekali tidak mempunyai sopan santun. "Kau ingin mengajakku cangkruk? Pasti ada maunya nih bukan? Sudah cepat katakan saja tidak usah sungkan." Orang-orang yang ada di gerbong ini mulai kesal tetapi mereka sama sekali tidak menegur orang itu. Mereka berharap telepon itu segera cepat selesai. "Mau mengambil uangmu? Pong, kamu sendiri tahu aku habis kena musibah apa." Pria itu benar-benar tidak peduli dengan orang lain, suaranya yang keras itu benar-benar membuat orang jengkel. "Jangan gitu dong Pong, kita kan sudah berteman lama. Kamu tahu sendiri aku minjam uangmu untuk apa, pasti akan kubayar kok. Hanya saja uangku dari pekerjaanku itu belum cukup untuk membayarmu." Beberapa orang sudah mulai mengeluarkan earphone mereka dan mengeraskan volume lagu mereka. Mendengar jilatan seorang yang sering berhutang bukanlah topik yang enak didengar. Sedangkan untuk seorang ibu yang baru saja menidurkan bayinya, dia harus kembali menenangkan bayinya yang tiba-tiba menangis. "Sudah percaya aku, bulan depan aku balikan semua oke? Bulan depan uangku akan cair jadi sabar saja." "Kalau begitu bagaimana kamu ke rumahku bulan depan? Kita akan makan sambil minum-minum dan bernostalgia tentang masa lalu!" Suara pria ini makin lama makin keras, tetapi mendengar percakapannya ini orang-orang merasa sedikit lega. Akhirnya telepon pria itu akan selesai, pikir mereka. Tetapi nampaknya harapan mereka itu sia-sia. "Omong-omong kenapa kau tiba-tiba nagih? Apa kamu sedang dalam masalah?" Sepertinya percakapan mereka masih lama. Seorang pria sudah tidak tahan dan menegurnya. "Suaranya bisa kecil sedikit tidak pas telepon?" Pria yang sedang telepon itu mengerutkan dahinya dan berkata pada pria itu. "Suka-sukaku kan untuk berbicara? Toh tidak ada larangan menerima telepon dan salah sendiri dengerin teleponnya orang." Semua orang yang mendengar alasan tersebut menjadi kesal. Apa orang ini melakukannya dengan sengaja? "Suaramu itu benar-benar keras, lihat sampai bayi yang tertidur saja sampai bangun. Kau ini tidak punya sopan santun ya?" Pria yang menegur itu tidak mau mundur. "Oh? Kalau begitu kenapa mereka tidak komplain? Sopan santun? Aku kasih tahu ya, bertelepon adalah hakku dan tidak ada yang bisa melarangku melakukannya. Aku tidak peduli kamu merasa terganggu, kalau kau merasa terganggu tuntut saja aku." Pria yang sedang bertelepon itu mendengus dingin. Ibu yang membawa bayinya itu sudah tidak tahan. Dia berdiri dan pindah ke gerbong lain. "Memang itu hakmu, tetapi suaramu itu sangat keras." Kali ini seorang perempuan juga ikut memarahinya. "Kalau begitu jangan dengarkan toh, gampang bukan? Gitu aja kok susah." Pria itu menatap perempuan tersebut dan kembali berbicara dengan temannya. Sepertinya topik mereka berubah jadi tentang sepakbola. "Suaramu kayak hentakan kaki gajah gitu, mana mungkin kita bisa pura-pura tidak mendengarnya?" "Kalau begitu jangan salahkan aku, salahkan telingamu." Jawab pria itu. Perempuan itu hendak menampar pria tidak sopan itu, sepertinya kata-kata saja tidak cukup. Tetapi temannya di sampingnya menahannya. "Sudah cuekin saja, percuma berdebat dengan orang keras kepala." Namun tiba-tiba pria tersebut menutup teleponnya. Dia lalu berdiri dan menatap orang-orang yang sepertinya membenci dirinya. "Kalian ini ya benar-benar tidak tahu diri. Apa salahnya aku mengangkat telepon? Apa salahnya berbicara dengan suara keras? Jika aku ingin berbicara keras maka itu adalah hakku." Bersamaan dengan itu, pria tersebut mengeluarkan handphonenya dan hendak menelepon lagi. "Jika kau masih ribut, aku akan membenamkan kepalamu di toilet." Suara tersebut berhasil membuat semua orang menjadi terdiam. Saat pria tersebut menoleh, ternyata Randika sedang menatapnya dengan tatapan dingin. "Kau kira aku takut?" Pria itu berdecak. "Kau tidak bisa memaksaku untuk diam." Kemudian teleponnya itu terangkat dan pria itu berkata dengan keras. "Halo? Ini ˇ­." Semua orang sudah muak dengan perilaku pria bajingan itu, tetapi pada saat ini, suara pria tersebut hanya sampai salam pembuka, tidak ada kelanjutannya. Ketika mereka menoleh ke arah pria tersebut, mereka semua melihat seorang pemuda sudah melempar handphone orang tersebut ke tengah-tengah gerbong. Orang tersebut terkejut sekaligus menjadi marah. "Kurang ajar!" Randika lalu menahan pukulan lemah itu dengan satu tangan. Randika lalu memelintir tangan pria tersebut dan dia langsung merintih kesakitan. Tapi orang itu masih tidak menyerah, tangan satunya langsung melayangkan pukulan. Namun usahanya benar-benar sia-sia, Randika berhasil menangkapnya dan melintir kedua tangannya. "Aku akan melaporkanmu kalau kau tidak melepaskanku." Pria itu masih tidak menyerah. Randika sudah malas berurusan dan melepaskannya. Ketika pria itu hendak berdiri, Randika menjambaknya dan menghantamkan kepalanya ke kursi! Kursi dari kereta ini terbuat dari besi jadi bisa dikatakan kursi ini keras. Ditambah lagi, suasana hati Randika sedang buruk karena khawatir dengan Christina jadi dia kurang bisa mengontrol tenaganya. Jadi gigi dan hidung orang tersebut menjadi berantakan. Semua orang terkejut, mereka tidak menyangka Randika akan berbuat sejauh itu. "Satu suara lagi darimu dan kepalamu akan tenggelam di toilet kereta ini." Pria itu sudah ketakutan bukan main, hidungnya terus mengucurkan darah. Dia menatap Randika yang wajahnya dingin tersebut, rasa takut sekaligus benci menjadi satu. Dia membuka mulutnya dan hendak mengatakan sesuatu tetapi orang tersebut langsung menutup mulutnya. Dia hanya berdiri dan berjalan menuju kursinya dalam keadaan diam. Melihat orang itu sudah tidak berisik lagi, Randika kembali sibuk memikirkan Christina. Dia berharap temannya itu tidak apa-apa. Setelah 5 jam menunggu di kereta, akhirnya Randika tiba di kota Gunung Agung. Setelah turun dari kereta, angin dingin langsung menerpa dirinya. Randika lalu bertanya dengan orang lokal dan mengetahui bahwa perjalanannya masih jauh. Desa Sukasari masih berada di pedalaman gunung, jika tidak ada transportasi maka Randika harus berjalan sekitar 2 jam dari tempatnya ini. Randika mengerutkan dahinya, dia tidak punya waktu selama itu. Dia memperhatikan sekitarnya dan menyadari ada toko sepeda motor. Namun, toko ini sepertinya toko bobrok. Sebagian besar motor adalah motor bekas dan tertutup debu. Orang yang seperti pemiliknya itu sedang memperbaiki sepeda motor di samping toko. "Ada motor bagus?" Tanya Randika. Pemilik toko itu mengangkat kepalanya dan menjawab. "Silahkan pilih bos, semuanya bagus-bagus kok." Melihat semua sepeda motor yang menyedihkan ini, Randika kehabisan kata-kata. "Apa tidak ada motor yang bagusan sedikit dan lebih cepat?" Kali ini pemilik toko mengajak Randika ke dalam dan menunjukan sebuah motor. "Bagaimana kalau ini? Motor ini baru selesai diperbaiki kemarin." Kata si pemilik toko. Randika lalu memerhatikan sepeda motor itu. Meskipun ada beberapa bagian terlihat karatan, sepertinya motor ini paling oke daripada motor-motor lainnya. "Tolong siapkan motor ini untukku." Kata Randika. Pemilik toko itu tersenyum. "Baiklah." Pada saat ini, di kota Gunung Agung sedang ada perlombaan lintas alam untuk sepeda motor. Kota Gunung Agung memang terkenal dengan jalanannya yang curam dan menanjak, cocok sebagai tempat untuk perlombaan ini. Kota ini bergantung pada event-event seperti ini. Chapter 173: Jangan Menilai Buku dari Sampulnya Di kejauhan terlihat jalan yang menuju ke pegunungan, tepat di ujung kota ini orang-orang berkumpul dan suasana benar-benar meriah. Orang-orang yang datang untuk melihat perlombaan lintas alam ini semua berkumpul di tempat ini. Belum lagi acara besar ini diikuti oleh para pembalap sepeda motor profesional sehingga menarik sejumlah media untuk meliputnya. Pada saat ini, lintasan lomba sedang dipersiapkan dan di sepanjang jalan akan ada panitia yang bertanggung jawab untuk melapor dan mengawasi. "Selamat siang saudara-saudara sekalian. Selamat datang di perlombaan lintas alam ke-13 di kota Gunung Agung yang indah ini. Saya Ronald mendapatkan kehormatan untuk menjadi komentator hari ini." Suara komentator mulai terdengar, orang-orang mulai melototi lancar tancap yang sudah terpasang. "Saya akan melaporkan bagaimana perjalanannya pertandingan dan rekan saya, Dio, akan melaporkannya dari helikopter agar dapat memberikan informasi dari atas sana. Yak yang kita tunggu-tunggu telah tiba. Seluruh peserta sudah bersiap-siap dan menempati posisinya. Perlombaan akan segera dimulai." "Untuk perlombaan kali ini, jalur lintasan akan dibagi menjadi dua. Yang pertama adalah lintasan yang berada di kota dan kedua adalah jalur lintasan gunung. Karena total jarak yang ditempuh cukup jauh, maka perlombaan ini hanya butuh satu putaran agar salah satu peserta menjadi juara." Di garis awal, kedua belas sepeda motor sudah siap di posisi mereka masing-masing. Helm terpasang, suara motor terdengar keras, tangan sudah siap beraksi dan darah sudah mendidih! "Woo Hoo Hoo!" Di dekat mereka, ratusan orang sudah bersorak dan menjagokan jagoan mereka. "Kali ini juaranya pasti Pinpin!" "Bicara apa kamu? Jelas yang pasti menang adalah Giant!" "Ahhh mimpi!" Suasana riuh ini membuat perlombaan ini semakin seru. Dan para pembalap ini sudah melototi lawan-lawannya, jiwa bertarung mereka sudah tersulut. Tidak lama kemudian, gadis pembawa bendera sudah bersiap untuk melambaikan benderanya. Dan dengan cepat, kedua belas motor tersebut langsung melaju sekuat tenaga. Persaingan di garis awal sangat kacau dan mereka saling susul menyusul. "Dan pertandingan pun dimulai, para peserta terlihat sengit merebut posisi pertama. Tikungan pertama segera datang dan semuanya melewatinya dengan sempurna tanpa perubahan posisi. Pinpin masih kokoh di posisi pertama." "Benar Ronald, untuk perlombaan kali ini adalah Pinpin yang masih muda itu. Meskipun tergolong muda bukan berarti dia tidak mempunyai kemampuan, para kompetitor harus memerhatikan anak muda satu ini." "Dan juga jangan lupa, Pinpin berhasil menjuarai posisi kedua saat perlombaan yang lalu meskipun dia mulai dari posisi ke-8. Perkembangan Pinpin memang layak untuk dinantikan." Kedua komentator itu berhasil membumbui perlombaan ini dengan baik. Sementara mereka asyik berbincang, Dio tiba-tiba mengatakan. "Oh, sebentar lagi Pinpin akan memasuki tikungan kedua. Tikungan itu benar-benar tajam, belum lagi setelah itu ada tikungan lagi yang cukup tajam. Sepertinya keahlian Pinpin akan dicoba dalam tikungan ini, apakah dia bisa mempertahankan posisi atau tidak? Mari kita lihat!" Pada saat ini, Pinpin melihat tikungan tajam itu. Dia makin memacu motornya sambil menggenggam erat pegangannya. Lalu pusat gravitasinya dia condongkan ke kiri. Motor dan badan bagian kiri Pinpin sama-sama hampir menyentuh tanah dengan kecepatan tinggi! Benar-benar teknik mengepot yang sempurna! "Ya ampun! Pinpin baru saja mengepot dengan sempurna untuk mengatasi tikungan kedua dan membuat jarak yang jauh dengan posisi kedua. Benar-benar luar biasa!" Dio yang melihatnya dari atas helikopter benar-benar terpukau. Kemampuan mengepot yang ditunjukan oleh Pinpin sangat jarang digunakan di jalur gunung yang curam dan terkadang rusak seperti ini. Namun, dalam balapan profesional semua teknik bermotor sangat dibutuhkan untuk menciptakan sebuah keajaiban. Bisa dilihat bahwa dari satu tikungan tersebut, kemampuan Pinpin sudah layak diacungi jempol. "Hei Pin, kamu baru saja dipuji komentator." Pinpin masih fokus memacu motornya dan tiba-tiba pelatihnya memujinya dari earphonenya. Pinpin tersenyum, dia membalas pelatihnya itu dengan nada bangga. "Wajar saja mereka memujiku seperti itu, mereka pasti tidak pernah melihat teknik seperti itu." "Sudah tetap fokus dan juaralah baru kamu bisa berbangga diri. Setelah kamu juara kita akan merayakannya dengan berpesta. Tak lama kemudian, kedua belas pembalap ini sudah memasuki area jalan pegunungan. "Semua peserta sudah meninggalkan kota." Ronald menjadi bersemangat, keadaan akan semakin menarik setelah ini. Tetapi, di saluran HT para panitia tiba-tiba terdengar suara panik. "Lapor! Ada orang yang masuk ke jalur lintasan lomba!" Menerobos? Bukannya jalur lomba sudah mereka kosongkan dan sudah ada pembatasnya? "Kok bisa dia menerobos?" Tanya Ronald lewat HT, kejadian ini benar-benar di luar dugaan. Sebuah abnormal seperti ini bisa mengganggu jalannya pertandingan. "Orang itu benar-benar cepat, dia sudah di luar jangkauan kita." Ronald langsung berdiri dan melihat garis awal. Di sana sudah ada sosok sepeda motor berkecepatan tinggi hendak melewati garis awal tersebut. "Sudah lupakan saja orang itu, aku rasa dia hanya sedang bercanda. Mana mungkin dia bisa mengejar para pembalap kita." Jawab Ronald lewat HT, dia kemudian melanjutkan komentatornya. "Baiklah maaf atas sedikit gangguannya sebelumnya. Bagaimana keadaannya di atas Dio?" Pada saat yang sama, Randika sedikit bingung kenapa ada banyak orang berkumpul di ujung kota? Apa mereka datang untuk menyemangatinya? Tetapi karena Randika punya banyak pikiran, dia sama sekali tidak memedulikannya. Dia kemudian terus memacu motornya dengan kecepatan tinggi, lagipula jalan menuju desa Sukasari hanya 1. Para penonton yang mendengar komentar Dio dan Ronald itu terus bersorak dan tenggelam dalam keseruan perlombaan. Namun, pada saat ini, mereka mendengar suara motor yang berisik bagaikan guntur lewat. "Broooommm!" Suara motor bobrok ini sangat nyaring, benar-benar motor yang sudah bobrok. Sepertinya motor itu bisa hancur berantakan kalau dipacu seperti itu. Sejujurnya, motor itu memang motor kuno yang dijual pemiliknya. Meskipun performanya tidak buruk, motor itu sudah terlalu jadul dan berisik jadinya motor itu dijual. Randika yang melewati para penonton ini benar-benar fenomena yang cukup aneh. Suara speaker itu kalah keras dengan suara motornya dan motornya sendiri terlihat seperti hendak hancur berserakan. Semua orang heran sekaligus terkejut dengan pemandangan ini. Saat sosok Randika sudah hilang, barulah orang-orang bertanya-tanya. "Orang itu juga pembalap?" "Sepertinya." Mereka semua tidak yakin, kemunculan motor bobrok itu benar-benar di luar dugaan. Sedangkan Randika sendiri sudah tidak bisa berpikir banyak, pikirannya hanya penuh oleh sosok Christina. Kecepatannya sama sekali tidak menurun dan saat dia berada di tikungan, dia mengepot sama persis dengan Pinpin. Kejadian ini hanya diketahui oleh panitia yang menjaga di tikungan tersebut. Pada saat ini, di jalur gunung, kedua belas pembalap itu masih terus bersaing. Pinpin masih memimpin di posisi pertama dengan jarak yang cukup jauh. Suara motor mereka yang nyaring bergema di seluruh gunung, membuat hewan-hewan menjadi waspada. Segala macam teknik mereka tunjukan, memang pembalap profesional beda dengan pembalap amatir. "Sekarang para peserta sudah melewati tikungan ketiga dan sesuai dugaan kami, Pinpin masih berada di posisi pertama dengan keunggulan yang cukup jauh dan posisi kedua adalah ˇ­.. " Di saat Ronald sedang sibuk berkomentar, tiba-tiba, dari HT-nya terdengar kata-kata yang membuatnya terkejut. "Lapor, penyusup tadi sudah berada di jalur gunung!" Ronald yang mendengarnya sampai kehabisan kata-kata dan berhenti berkomentar. Dia lihat sendiri motor itu sudah bobrok tetapi kenapa dia mulai menyusul para pembalap profesional? Ronald benar-benar tidak percaya, tetapi laporan demi laporan dari para panitia yang ada di jalur gunung itu melaporkan keajaiban ini melalui HT. Randika menyalurkan tenaga dalamnya ke dalam motornya, oleh karena itu motornya dapat bergerak dengan liar dan cepat. Yang paling mengejutkan adalah dia mengepot dengan kecepatan 120 km/jam! Setelah melewati tikungan kedua, dia kembali memacu motornya. Semua panitia yang melihatnya benar-benar terpukau, siapa orang itu? Bagaimana bisa dia mengepot dengan kecepatan setinggi itu? Tidak butuh waktu lama untuk Randika menyusul kedua belas pembalap itu. Dari kejauhan, Randika dapat melihat bahwa kedua belas pembalap itu membentuk satu garis lurus. Lewat HT, Ronald sudah mengetahui bahwa motor bobrok itu sudah dekat dengan para pembalap. Dia dan Dio menjadi ragu, apakah mereka harus melaporkannya pada para penonton? Namun, Ronald memutuskan untuk mengabarkan situasi mengejutkan ini pada para penonton. "Saya mendapatkan info bahwa ada seorang pembalap tanpa nama mengikuti perlombaan ini. Sekarang dia masih berada di posisi ke-12." Pembalap yang dibalap oleh Randika sangat terkejut. Bukannya pembalapnya cuma ada 12? Kenapa dirinya tiba-tiba disalip dari belakang. Randika terus berkendara dengan kecepatan tinggi, motornya sudah bagaikan cheetah. Ia melesat melewati angin dan membalap satu per satu. Dalam sekejap dia sudah berada di posisi kedelapan! Setelah tiba di tikungan, para pembalap ini menurunkan kecepatannya. Randika memanfaatkan hal ini dan mengepot dengan kecepatan penuh. Motor bobrok Randika melaju kencang di tikungan itu dan langsung membalap ketiga pembalap sekaligus! Dio yang melaporkannya dari atas helikopter sudah kehabisan kata-kata, siapa pembalap misterius itu? Randika benar-benar menggila, dia sudah berada di posisi kedua dan hendak menyalip Pinpin! "Pembalap misterius itu sudah berada di posisi kedua dan posisinya dengan Pinpin sudah sangat dekat!" Suara Ronald sedikit serak, apakah ini momen seorang amatir mengalahkan pembalap profesional? Pinpin sudah mengetahui berita menghebohkan ini lewat earphonenya. Melihat dari kaca sampingnya, dia melihat sosok Randika mengekorinya dengan kecepatan tinggi. Pinpin dapat melihat dengan jelas bahwa pegangan gasnya Randika dia putar hingga ke bawah. Benar-benar orang gila! Namun, semangat bertarung Pinpin semakin tersulut, dia tidak peduli orang itu siapa tetapi dia tidak akan oleh siapapun! Chapter 174: Desa Sukasari Suara motor yang saling beradu semakin nyaring, terlebih motor bobrok Randika suara mesinnya sudah bagaikan guntur. Ketiga belas pembalap ini masih meneruskan perjuangan mereka. Pinpin masih ada di posisi pertama sedangkan Randika mengekorinya dengan ketat. "Bajingan, orang itu masih tidak melepas pegangan gasnya?" Pinpin terus memantau Randika dari kaca sampingnya. Tekanan yang dia rasakan semakin besar tiap detiknya dan rasa ragu mulai muncul dari dalam hatinya. Sebelum ini, ketika pertama kali Pinpin melihat sosok Randika di kacanya, mereka sudah melewati sebuah tikungan. Ketika dia sedikit menekan remnya, dia melihat sosok Randika yang terus memacu motornya tanpa mengerem sama sekali. Jarak di antara mereka berdua langsung menipis drastis dan satu kesalahan akan membuat Pinpin terbalap. Randika benar-benar memberikan tekanan batin bagi dirinya. "Bagaimana caranya dia mengimbangiku dengan motor seperti itu?" Pertanyaan itu terus menerus menggenang di hati Pinpin, dia menduga bahwa pria tersebut pasti melakukan suatu trik pada motornya sehingga bisa menyusul dirinya. Namun, beberapa ratus meter ke depan hanyalah jalan lurus jadi seharusnya motor miliknya bisa membuat jarak yang cukup jauh dengan pembalap tersebut. Randika menatap motor di depannya itu makin menjauh dirinya, tetapi ekspresinya tetapi biasa-biasa saja. Dia berkendara secepat ini murni untuk menyelamatkan Christina. Pinpin mulai melesat jauh, yang dia tidak tahu adalah Randika sama sekali tidak menganggap dirinya rival. Namun, setelah beberapa tikungan Randika berhasil menyusul Pinpin lagi. "Ya ampun, pembalap misterius itu lagi-lagi sudah mendekati Pinpin! Jarak mereka berdua benar-benar setipis kertas!" Ronald sudah kehabisan kata-kata. Siapa pembalap misterius itu sebenarnya? Bagaimana dia bisa secepat itu? Pinpin tidak perlu mendengar informasi itu dari earphonenya, dia bisa lihat sendiri bahwa Randika benar-benar tepat di belakangnya. Medan yang akan mereka lalui berikutnya benar-benar rumit, sebentar lagi akan ada lubang besar di jalan dan hanya bisa dilalui dengan cara melompat. Setelah itu mereka akan disambut dengan tingkungan tajam. Biasanya orang-orang akan menghindari tempat ini dan menggunakan jalur alternatif, tetapi karena ini perlombaan yang memacu adrenalin, panitia menggunakan lubang ini sebagai jalur lintasan. Tentu saja mereka sudah menyiapkan beberapa tindakan pencegahan agar tidak terjadi apa-apa. Pinpin menggertakan giginya dan memacu motornya. Motornya tiba-tiba meraung keras dan seluruh motor tersebut melayang di udara. Namun, Pinpin merasa dirinya tertutupi oleh awan. Ketika dia menoleh ke atas, dia langsung terbeku! Melihat ke atasnya, pembalap misterius itu melompati dirinya dan melewati dirinya dengan mudah. Pinpin benar-benar seperti orang bodoh, bagaimana caranya orang itu bisa lompat setinggi itu? Pada saat ini, motor Randika yang masih melayang itu menjatuhkan beberapa sekrup. Sepertinya motor tersebut sudah di ambang batasnya. Karena mereka dalam kecepatan tinggi, sekrup yang mendarat di helm Pinpin menancap di kacanya. Pinpin sendiri melihat Randika berhasil mendarat dan melaju kencang di depannya. Namun hal ini membuat dirinya mengalami kesialan. Dia gagal menghitung kecepatannya dan terjatuh di dalam lubang. DUAK! Sepeda motornya dan Pinpin sendiri terjatuh cukup keras di lubang tersebut. Dalam sekejap dia langsung pingsan sambil terus berpikir kenapa lawannya itu bisa loncat setinggi itu. "GILA! Pembalap misterius itu berhasil menyalip Pinpin yang terjatuh di lubang!" Ronald benar-benar terkejut. "Pin, masuk pin! Hei, kau dengar suaraku?" Pelatihnya Pinpin menjadi cemas, anaknya itu tidak menjawab sama sekali. Semua rencana mereka menjadi kacau, seharusnya para media sebentar lagi akan mewawancarai timnya dan Pinpin karena berhasil menjuarai perlombaan ini. Sekarang mungkin berita tajuk utamanya adalah "pembalap misterius datang dan membuat malu para profesional." Atau "Tidak berdaya, para profesional hanya bisa malu dikalahkan oleh pembalap misterius." ......ˇ­ Desa Sukasari adalah desa miskin yang ada di dalam pegunungan. Karena akses jalan yang sulit dan air bersih yang susah dicari, membuat desa ini miskin sekali. Belum lagi masalah keturunan yang membuat pusing desa ini. Bisa dikatakan bahwa para perempuan dari desa ini kebanyakan memilih untuk menikah dengan orang dari luar desa untuk mengubah nasib mereka. Sedangkan para lelaki, mereka tidak bisa meninggalkan desa mereka dan susah untuk mereka mencari pasangan. Hal utama penyebab semua ini adalah uang. Alasan kedua adalah para perempuan desa ini tidak mau menikahi sesama penduduk desa. Mereka semua benar-benar terlalu miskin. Oleh karena itu, para penduduk di desa ini memutuskan untuk membeli perempuan. Para penduduk lelaki mencari uang di kota dan setelah beberapa tahun, mereka akan membeli perempuan untuk melanjutkan keturunan mereka. Melalui bantuan para pemain di dunia perdagangan manusia, orang-orang desa ini membeli dan menjadikan perempuan itu untuk meneruskan keturunan mereka. -Rumah kepala desa- Di dalam rumah tanpa lampu ini, Christina terikat baik di kakinya dan tangannya. Mulutnya ditutupi oleh sebuah lakban jadi sulit baginya untuk berteriak minta tolong. Christina menatap orang-orang yang ada di luar melalui jendela. Dia terus berusaha melepaskan diri sambil berteriak. Namun, tiba-tiba pintu rumahnya terbuka dengan keras. "Diam atau akan kubunuh kau!" Pria itu marah dengan Christina yang berisik itu. Sosoknya yang bengis itu berhasil menciutkan nyali Christina. Pria itu kemudian keluar dan kembali berbincang dengan temannya. Melihat ke luar jendela, Christina sekarang hanya bisa melihat wajah-wajah pria tidak dikenalnya. Tatapan matanya sekarang benar-benar penuh dengan keputusasaan. Mengingat kejadian semalam, dia mulai menangis. Dia tidak menyangka akan menjadi korban penculikan dan perdagangan manusia, hidup ini benar-benar kejam. Di saat depresi seperti ini, yang muncul di benaknya hanyalah sosok Randika yang tersenyum padanya. Pada saat ini, di luar jendela, ada tiga orang sedang berbincang. Salah satu dari mereka memakai baju biru lusuh dengan luka menyeramkan di pipinya. Satunya lagi adalah pria kejam yang tadi mendobrak masuk dan mengancamnya. Dan satu lagi adalah pria paruh baya yang sedang merokok. Pria paruh baya ini adalah kepala desa dari desa Sukasari. Dia telah mengalami pengalaman hidup yang pahit selama hidupnya, saat-saat menyenangkan adalah ketika para penduduk desanya ini membawa pulang wanita cantik dari hasil transaksi mereka. Mereka sepertinya sedang berbicara mengenai Christina. "Pak kepala desa, Anda tidak tahu betapa susahnya saya membawa perempuan secantik itu ke sini? Dan sekarang Anda ragu untuk membelinya?" Orang kejam yang mengancam Christina tadi rupanya adalah pemain di dunia bisnis perdagangan manusia. "Pak saya sarankan jangan." Orang berbaju biru itu berkata pada kepala desa. "Harganya terlalu mahal, kita tidak akan mampu membelinya." "Sepertinya kalian ini masih ragu-ragu." Penjual itu lalu tersenyum. "Coba kalian lihat dulu ke dalam. Perempuan itu putih, sexy, cantik dan terlebih dia berasal dari kota jadi dia adalah orang yang terpelajar. Nilai jualnya memang tinggi tetapi coba perhatikan kualitasnya sebagai seorang wanita, tidak heran dia itu mahal. Aku hanya akan melepasnya dengan harga 75 juta, tidak boleh kurang." "Aku sendiri harus membayar mahal untuk membawanya ke sini. Jika bukan karena parasnya yang cantik itu aku tidak mungkin menawarkannya padamu duluan. Dan sekarang kalian berpikir perempuan ini mahal? Kalau kalian ragu-ragu seperti ini terus, jangan harap aku mau berbisnis dengan kalian lagi." Penjual manusia ini benar-benar tidak mau mengalah, Christina benar-benar mesin penjual uang kelas atas baginya. "Sudahlah ayah, aku benar-benar ingin menikahi perempuan itu." Anak sang kepala desa yang mendengar ini diam-diam dari jauh segera nimbrung. Apa ayahnya itu buta? Perempuan yang di dalam rumahnya itu benar-benar perempuan tercantik yang pernah dilihatnya. Kulit putih mulusnya itu benar-benar berbeda dengan para perempuan di desa ini. Terlebih lagi, tubuh sexy milik Christina itu benar-benar menggairahkan. Anak ini benar-benar ingin meniduri Christina, jika ayahnya tidak membelikannya maka dia akan bunuh diri bersama perempuan itu! Kepala desa itu mengerutkan dahinya. "75 juta? Bisakah kau menguranginya sedikit?" "Maaf hargaku tidak bisa ditawar untuk barang kali ini." Penjual itu juga mencari untung. "Yah, aku sudah bekerja dan mengumpulkan uang 50 juta bukan? Biarkan aku meminjamnya dari penduduk lain ketika mereka pulang." Setelah memikirkannya sesaat, kepala desa itu mengangguk. "Baiklah kalau begitu, aku akan memberimu 50 juta dulu dan sisanya akan diberikan ketika kau datang ke sini lagi sambil membawa perempuan lainnya." "Waduh tidak bisa itu. Aku tidak bisa berbisnis dengan cara seperti itu, jika kau menginginkan perempuan itu maka kau harus membayar penuh. Jika aku melunak seperti itu, mau makan pakai apa aku?" Penjual itu menggelengkan kepalanya. "Lagipula banyak alasan yang bisa kalian gunakan untuk mengulur ataupun kabur bersama barangku. Jika seperti itu, pada siapa aku harus menagih?" Di dunia bisnis seperti ini, para pemain harus waspada dan tidak mempercayai siapapun. "Tapi hanya 50 juta saja yang kami punya." Kata sang kepala desa. "Aku tidak peduli, kalau kau tidak bisa membayar maka aku akan menjualnya kepada orang lain." Penjual itu langsung memalingkan wajahnya. Dia sepertinya hendak membawa Christina pergi dari desa ini. "Ah! Tunggu!" Anak sang kepala desa itu segera mencegatnya. Dia kemudian berkata pada ayahnya. "Yah, aku benar-benar suka dengan perempuan itu. Bagaimana kalau kita berhutang dulu sama penduduk di sini? Nanti kita balikan kalau kita sudah ada uangnya." "Mau pinjam ke siapa?" Kepala desa ini juga sudah pusing. "Kita harus melepas perempuan itu." Si anak langsung berlutut. "Jangan yah! Aku benar-benar ingin bersama perempuan itu." Penjual itu mendengus dingin. "Aku tidak peduli kau suka atau tidak. Kalau kalian tidak menunjukan uangnya, aku akan pergi dari sini. Banyak klien lain yang ingin membelinya." "Yah, bukannya ayah punya kalung giok dari peninggalan kerajaan kuno?" Sang kepala desa langsung terkejut. "Itu adalah peninggalan nenek moyang kita, mau ditaruh mana muka ayah nanti?" "Yah mereka semua sudah mati, lagipula ini juga untuk aku. Aku bersumpah akan menggantinya ketika aku kembali ke kota nanti. Aku mohon yah." Si anak ini sudah berlutut di kaki ayahnya. Sambil menghela napas, sang kepala desa mengangguk. "Kalau begitu tunggu di sini sebentar, aku akan mengambil kalungnya." Ketika mendengar kata-kata kalung giok, si penjual itu merasa senang. Kalau benar kalung itu berasal dari zaman kerajaan, harganya akan sangat tinggi! "Jika kamu menambahkan 5 juta bersamaan dengan kalung itu, maka perempuan itu bisa menjadi milikmu." Jawab si penjual. "Tapi kami harus memastikan dulu keaslian kalung itu sebelum terjadinya kesepakatan." Si anak itu langsung menjawab. "Setuju." Pada saat ini, terdengar suara motor yang berisik di pintu masuk desa. Si pengendara motor itu adalah Randika. "Selamat sore, siapa si kepala desa dari desa ini?" Randika langsung berteriak dan mencari orang yang bertanggung jawab. Kebetulan rumah kepala desa tidak jauh dari pintu masuk jadi teriakan Randika itu langsung masuk di telinga sang kepala desa. "Iya dengan saya sendiri." Kata sang kepala desa. Randika lalu berhenti dan memarkir motornya. Chapter 175: Bersatu Kembali "Ada apa ya?" Si kepala desa sudah menghampiri Randika dan menatapnya. Di desa ini, selain dari pemain dari bisnis perdagangan manusia ini, orang luar yang datang ke desanya dalam sebulan nyaris mencapai 0. "Apa ada orang yang menjual perempuan datang ke desamu ini?" Randika bertanya dengan santai, di saat yang bersamaan, dia menatap sang kepala desa lekat-lekat. Tubuh si kepala desa ini sedikit gemetaran awalnya. Ketika dia hendak menjawab, Randika menambahkan. "Santai saja, aku bukan polisi. Aku ke sini untuk mencari seseorang." Kepala desa itu menghela napas lega, tapi Randika bisa tahu dengan jelas dari reaksi si kepala desa ini bahwa dia berada di jalur yang benar. "Nama penjualmu itu apakah bernama Santoso?" Tanya Randika. Si kepala desa menganggukan kepalanya. "Benar, dia membantu kita mencarikan perempuan untuk dijadikan istri bagi desa ini." "Aku ke sini hanya ingin bertemu dengan Santoso." Kata Randika sambil tersenyum. Ketika mendengar Randika ingin bertemu dengan Santoso, kepala desa menganggap Randika adalah teman dari Santoso. Christina masih terikat di dalam ruangan gelap di rumah kepala desa. Dia mendengar ada suara langkah kaki yang mendekat, apakah ini akhir dari dirinya? Pada saat ini, anak si kepala desa masuk ke dalam ruangan dan melihat Christina menangis. "Kenapa nangis?" Si anak ini menjadi cemas. "Kamu tidak perlu takut." Tapi Christina sama sekali tidak memperhatikan pria itu, justru tangisannya semakin menjadi-jadi. Dia menundukan kepalanya dan air mata mulai mengucur deras. "Sudahlah berhenti menangis, aku kurang suka melihatmu menangis." Hati si anak ini mulai luluh, dia lalu berusaha mendudukan Christina dengan benar. "Sebentar lagi kau akan menjadi keluarga desa ini, bersabarlah ya!" Si anak itu mengusap air mata Christina. Tetapi mendengar kata-katanya itu, Christina semakin menangis. Dia berpikir sudah tidak akan pernah bertemu dengan ibunya lagi. Pada saat ini, Randika sudah berada di depan rumah kepala desa. Dan Santoso penasaran dengan sosok orang yang datang ini. "Pak kepala desa, siapa orang ini?" "Tenang saja, aku ke sini untuk bertemu denganmu." Kata Randika dengan santai. "Mana perempuan yang hari ini mau kau jual itu?" "Perempuan? Perempuan apa?" Santoso merasakan firasat buruk. Kenapa orang asing ini tahu bahwa dia menjual perempuan? Randika hendak menyiksa orang tersebut tetapi dia mendengar suara tangisan teredam dari dalam rumah. Meskipun kecil, suara itu berhasil ditangkap oleh telinga Randika. Christina! Dalam sekejap Randika sudah mendobrak masuk dan melihat seorang pria sedang memegang kedua tangan Christina sambil berusaha melepaskan bajunya. "Sudah tenang saja, tidak usah malu begitu dengan suamimu. Setiap hari kita akan berhubungan badan hingga punya anak." "Dasar pria laknat!" Randika benar-benar murka. Bahkan si anak kepala desa itu belum menoleh, Randika sudah melayangkan pukulannya dan membuat seluruh tubuh si anak tersebut melayang dan membentur tembok dengan keras. Christina, yang menutup matanya dan sudah pasrah itu, terkejut ketika mendengar suara yang mirip dengan Randika. Ketika dia membuka matanya dan melihat sosok orang yang melayang, dia berpikir bahwa semua ini nyata. Christina mengangkat kepalanya dan melihat sosok Randika, hatinya segera mengepal. "Jangan khawatir, aku sudah ada di sini." Randika dengan cepat melepaskan ikatannya Christina dan memeluknya. Dia memeluk sosok perempuan yang hampir hilang dari hidupnya itu. "Aku pikir aku sudah tidak bisa melihatmu lagi. Aku benar-benar takut kehilanganmu." Christina sudah tenggelam dalam air matanya. Dia merasa pelukan Randika ini adalah tempat terhangat dan ternyaman yang pernah ada. "Kau ini siapa? Berani-beraninya menyentuh barang daganganku!" Pada saat ini, Santoso sudah masuk ke dalam dan melihat pemandangan mengejutkan ini. Namun, Randika nampaknya tidak mendengarnya dan masih terus memeluk sekaligus menenangkan Christina. "Sudah berhentilah menangis, aku akan membawamu pulang. Atau kamu ingin di rumah ini selamanya?" Kata Randika sambil mengusap air mata Christina. Christina mengangguk dan dirinya digendong oleh Randika, mereka berdua lalu berjalan keluar dari rumah gelap itu. Pada saat ini, Santoso sudah marah-marah. "Hei mau ke mana kalian? Itu barangku yang kau curi! Berani-beraninya kau berbuat seperti itu, aku akan ˇ­.." Sebelum dirinya bisa mengancam Randika, dia sudah terpental jauh berkat tendangan Randika. Kata-katanya itu berubah menjadi ringkikan kesakitan. Seluruh tubuhnya menyebarkan rasa sakit dan membuatnya pingsan. Sambil terus menggendong Christina, Randika meludahi tubuh Santoso. Di satu sisi, si kepala desa hanya melihat semua ini dari samping dengan wajah ketakutan. "Kamu mau jalan sendiri?" Tanya Randika dengan nada lembut. Christina masih menangis pelan, tetapi tawaran Randika itu segera dia terima. Namun karena belum makan sejak kemarin, kaki Christina masih lemas dan akhirnya dia memutuskan untuk duduk terlebih dahulu. Sedangkan Randika, dia mendatangi Santoso dan menendangnya hingga terbangun. "Kau! Apa maumu!" Wajah Santoso ini benar-benar sudah ketakutan. Randika hanya menatapnya dengan ekspresi datar, dia benar-benar marah. Mau itu Christina ataupun orang lain, orang di hadapannya ini berani menjual sesamanya manusia hanya demi uang. Sifat busuk ini benar-benar memuakkan! Terlebih lagi, dia berani menyentuh dan menjual perempuan milik Ares! Tanpa berkata apa-apa, Randika mengangkat Santoso dengan tangan kanannya. "Aku peringatkan, kau tidak ingin berurusan dengan orang-orang yang berdiri di belakangku. Mereka bisa membunuhmu dengan mudah!" Kata Santoso dengan nada dingin. Tangan kiri Randika menggenggam erat tangan kanan Santoso. Dengan santai, Randika menariknya hingga bahunya copot dari sendinya! "Kenalkan aku dengan mereka." Kata Randika dengan pelan. Kemudian dia membawa Santoso ke dalam rumah dan mengambil tali yang mengikat Christina sebelumnya. Dia lalu melilitkannya di leher Santoso. Randika mencekiknya hingga dia sekarat. "Katakan siapa bosmu itu atau kamu akan mati di sini." "Baiklahˇ­." Santoso tidak memiliki pilihan, dia hanya bisa memberitahu informasi yang Randika inginkan agar terus hidup. Setelah lepas dari lilitan tali tersebut, Randika menendangnya dan menindihnya. Kali ini dia mengambil tangan kirinya yang masih utuh itu dan mematahkannya. Rasa sakit luar biasa langsung membuat Santoso merasa ingin mati. Tetapi rasa bencinya terhadap Randika membuatnya terus tersadar. "Aku akan mengingat wajahmu itu, ketika bosku mendatangimu aku akan menari di atas mayatmu sambil memerkosa perempuanmu itu! Tidak ada orang yang bisa lolos dari kejaran kami!" "Berisik!" Randika lalu menyumpal mulut Santoso dengan baju. Dalam sekejap Santoso sudah tidak bisa berbicara dan hanya bisa menahan rasa sakitnya. Sedangkan untuk masalah bosnya, itu adalah masalah lain. Selama bosnya itu tidak ngapa-ngapain maka Randika tidak akan menyentuhnya. Randika menatap tajam Santoso dan berencana membuatnya kapok dengan dunia perdagangan manusia. Profesi ini benar-benar haram dan tidak manusiawi. Sebagai sesama makhluk hidup, bisa-bisanya mereka menjual sesama mereka demi uang? Sudah berapa banyak orang yang sudah dijual oleh orang ini? "Aku rasa kamu sudah tidak butuh kakimu itu." Kata Randika dengan pelan. Kemudian dengan santainya dia mengangkat kakinya dan menginjak kedua tulang kering Santoso. Tulang-tulangnya itu benar-benar menjadi serpihan. "Mmm! Hmmm!" Santoso hanya bisa berteriak kesakitan, Randika benar-benar tidak memberi ampun. Setelah mematahkan tangannya dan mencopot bahunya dari sendinya, Randika memastikan bahwa orang ini tidak bisa berjalan lagi. Tidak ada pengampunan yang layak untuk orang semacam ini! Chapter 176: Pulang Santoso berteriak keras sebelum akhirnya pingsan, sedangkan si kepala desa yang melihat ini dari samping masih bergemetaran tanpa henti. Randika menatap tajam si kepala desa. Untuk para penduduk desa ini, Randika tidak bisa berbuat apa-apa. Meskipun aslinya merekalah yang salah karena membeli dari Santoso, mereka tidak bisa disalahkan karena itulah cara mereka untuk meneruskan keturunan mereka. Sedangkan untuk Santoso, Randika sudah memastikan bahwa dia akan menggunakan kursi roda seumur hidupnya. Itulah pelajaran yang diberikan oleh Randika. Tindakan Randika masih terbilang baik karena dunia sama sekali tidak memaafkan pelaku perdagangan manusia. Para pelaku tersebut akan dieksekusi apabila tertangkap. "Semua sudah selesai." Randika menghampiri Christina dan membantunya berdiri. Sambil menggandeng tangannya, Randika mengatakan. "Aku akan membawamu pulang." Christina hanya mengangguk pelan dan merasakan hatinya menghangat. Dia menyukai Randika yang penuh perhatian seperti ini. Ketika mereka sampai di sepeda motor bobroknya itu, Randika bertanya. "Kamu mau duduk di depan atau belakang?" Christina memperhatikan sepeda motor tersebut, dia mengerutkan dahinya. Sepeda motor itu terlihat akan hancur berserakan. Lampunya sudah tidak menyala, debu dan lumpur sudah menyelimuti hampir semua bagian dan terlebih tidak ada sandaran kaki untuk penumpang di belakang. "Apa motormu ini masih aman?" Christina jelas terlihat khawatir. "Santai saja." Randika menyalakan motornya dan posturnya dibuat-buat seperti di drama TV. "Naiklah, akan kuberikan kamu pengalaman terbaik dalam hidupmu." Kata Randika sambil tersenyum. ...ˇ­.. Keduanya ini langsung menuju Kota Gunung Agung. Pemandangan gunung sedikit demi sedikit mulai menghilang. Christina duduk di belakang sambil memeluk Randika dengan kedua tangannya. Diam-diam, Christina menempelkan wajahnya di punggung Randika. Dia merasa punggung pria ini sangat lebar dan kekar, inilah punggung pangeran berkuda putihnya. Mengingat pertemuan pertama mereka, Christina salah sangka dengan kebaikannya. Hal ini sebenarnya bukan salah dirinya, salahnya Randika tiba-tiba mengatakan bahwa dirinya butuh operasi dada. Mengingat semua kebaikan Randika dan senyumannya membuat Christina tersipu malu. Dia membenamkan wajahnya di punggung Randika sambil tersenyum. "Ran, kenapa kamu tahu aku ada di sini?" Jelas pertanyaan ini terngiang-ngiang di benak Christina. "Pertanyaan bodoh!" Randika mengendarai motornya sambil tersenyum. "Tentu saja aku tahu, aku sudah memasang pelacak universal di tubuhmu. Mau pergi ke mana pun kamu, aku selalu bisa menemukanmu. Contohnya jika kamu pergi ke toko lingerie untuk membeli pakaian dalam yang sexy atau kamu sedang mandi di rumah, aku bisa tahu semuanya." Mendengar perumpamaan Randika itu, Christina sedikit merasa malu. Randika memang tidak bisa diajak serius sedikitpun tetapi dirinya tidak marah karena dia tahu Randika berusaha memperingan suasana. "Jika aku tidak memasang pelacak itu, bagaimana bisa aku tahu kamu di mana?" Randika lalu menoleh dan mengatakan. "Mulai dari hari ini, kamu tidak boleh memberikan pelajaran tambahan saat malam hari. Apalagi kalau rumah muridmu itu dekat di bagian barat kota." "Baiklah." Christina setuju dengan saran Randika yang sangat memerhatikan dirinya itu. Pada saat ini, motornya sedikit melayang karena terkena lubang. Dari awal, motornya ini sudah hampir tidak bisa mempertahankan bentuknya. Oleh karena itu, saat terkena lubang ini motornya ini tidak bisa berhenti bergetar. Randika dan Christina merasa pusing dan ingin muntah karenanya. Beberapa ratus meter ke depan penuh dengan lubang jadi keadaan berguncang ini akan bertahan beberapa waktu. Ketika motor ini naik turun, bahkan plat nomor di belakang hampir copot. Sekrup yang menahannya tidak kuat dengan getaran yang kuat itu dan akhirnya plat tersebut lepas dan terjatuh di tanah. Christina sudah was-was. Dari awal dia sudah ragu dengan motor yang menakutkan ini dan sekarang dia merasa bahwa motor ini akan hancur sebentar lagi. Terlebih lagi, motornya yang tidak bisa berhenti naik turun ini membuatnya takut dan makin erat memeluk Randika. "Jangan khawatir, motor ini kuat kok." Randika berusaha meyakinkan Christina dan dirinya sendiri! Namun, motornya tiba-tiba mengenai batu yang cukup besar dan keduanya melayang cukup tinggi. "Ah!" Christina sudah menutup matanya dan berteriak, kedua tangannya semakin erat memeluk dan kedua dadanya menempel di punggung Randika. Apa!? Randika langsung merasakan kekenyalan seperti bakpau itu di punggungnya, sungguh perasaan yang menyenangkan. Meskipun terhalang oleh baju, dia masih bisa merasakan kelembutan dan kekenyalan dada Christina. Mungkin perjalanan ini sepadan jika dia bisa merasakannya langsung dengan kedua tangannya. Jika dia bisa mendorong dan menindih Christina di tempat tidur dan melihat kedua gunung itu dengan matanya, mungkin mereka juga bisa melakukan roleplay guru dan murid seperti film-film Jepang. Stop Randika! Kamu masih menyetir, jangan kehilangan fokus! Semua imajinasimu akan terbuang jika kalian jatuh ke dalam jurang. Motor mereka masih bertemu dengan beberapa lubang dan motornya yang naik turun itu masih terus berlangsung. Kedua dada Christina akan menempel ketika motornya itu bergetar, dia benar-benar takut motornya ini akan hancur. Mereka terus naik turun tanpa henti dan Randika terus merasakan kelembutan dada Christina di punggungnya. Randika dalam hati merasa senang, bahkan di tempat terpencil seperti ini dia bisa merasakan kasih sayang sang Pencipta! "Ran, pelan sedikit nyetirnya." Christina sudah tidak kuat lagi, dia sudah ketakutan dan memeluk erat Randika seperti koala. "Tidak bisa, jika kita pelan-pelan bisa-bisa kita ketinggalan kereta." Kata Randika. "Tapi tentu saja aku tidak keberatan bermalam denganmu di hotel. Bagaimana?" Christina tersipu malu dan tidak menjawab pertanyaan Randika. Motor ini masih melaju dengan cepat, mereka masih dihalangi beberapa lubang lagi sebelum akhirnya tiba di jalan yang rata. Randika sendiri berharap lubang ini tidak pernah habis. Saking senangnya, Randika bahkan bernyanyi. "Nempel, nempel, puncak gunungnya nempel, kenyal-kenyal sekali!" "Hmm? Kamu nyanyi apa?" Christina samar-samar mendengar nyanyian Randika. "Ah! Bukan apa-apa, bukan apa-apa. Aku hanya sedikit kepikiran pekerjaan yang cocok untukmu selain menjadi guru." Kata Randika. "Apa memangnya?" "Terapis pijat." Jawab Randika sambil tersenyum. Christina bingung, maksud Randika ini apa? Dia benar-benar tidak mengerti maksudnya. Randika lalu menoleh padanya dan tersenyum. "Aku yakin banyak orang yang akan mengantri karena cara memijatmu yang unik." Christina makin bingung dan bertanya. "Kok bisa?" "Orang lain memijat menggunakan tangannya sedangkan kamu menggunakan kedua dadamu itu." Randika mengangguk. "Benar-benar nyaman." Christina langsung menyadari maksud Randika itu dan langsung melepaskan pelukannya itu. Dia segera memalingkan wajahnya. "Kamu ini ya! Jangan berpikiran mesum seperti itu!" Kata Christina sambil marah-marah. Pada saat ini, mereka sudah tiba di jalan aspal yang rata. Perjalanan penuh lubang itu telah selesai, Randika kembali menjadi lemas. Setelah berkendara selama satu jam, akhirnya mereka tiba di Kota Gunung Agung. Sesaatnya mereka sampai di stasiun, motornya akhirnya sudah tidak tahan lagi. Seluruh motor hancur berserakan dan tidak bersisa! Motor itu sudah melampaui kemampuannya dan kali ini dia ingin beristirahat dengan tenang. "Sudah jangan diperhatiin lagi, ayo cepat kita naik ke kereta." Randika menarik Christina yang masih melongo melihat kendaraan yang baru saja dia naiki hancur menjadi debu. Chapter 177: Diam Sedikit, Dia Masih Tertidur! Setelah menunggu sebentar, akhirnya kereta mereka berangkat menuju kota Cendrawasih. Kursinya memang keras tetapi itu tidak masalah, yang terpenting Christina sudah ada di sampingnya. Randika duduk di sisi luar dan Christina duduk dekat jendela. Hampir tidak ada orang yang turun di stasiun ini, oleh karena itu banyak kursi yang masih ditempati orang. Randika mengamati mereka satu per satu, dia khawatir masalah di kota ini akan ikut bersamanya. Ketika dia masih memperhatikan, dia melihat pria yang bertelepon dengan suara keras tadi pagi. "Halo ini aku." Randika menyapanya dengan senyuman. "Aku harap mulutmu tetap bisa diam selama perjalanan." Pria itu menatap Randika dengan tatapan ketakutan dan tersenyum pahit. Tindakan kekerasan Randika tadi pagi masih membekas di pikirannya. Namun, pria ini berusaha melupakan kejadian itu dan berkata dengan nada dingin. "Santai saja, aku tidak akan berisik karena aku akan menari di atas mayatmu!" "Oh? Kita sudah tidak bertemu beberapa jam dan kau sudah berani sama aku? Tidak masalah, aku harap tinjumu itu lebih besar dari mulutmu." Randika terus menatapnya sambil tersenyum, suasana hatinya sedang baik jadi dia tidak masalah menemani pria ini. Tatapan mata pria itu terlihat dingin, dia terlihat ingin membalas tetapi dia menahan diri. "Lihat saja nanti!" Kemudian orang itu pergi ke gerbong lain. Tiba-tiba baju Randika ditarik dari samping. "Siapa orang itu?" "Sudah tenang saja, kamu istirahat saja ya? Nanti kalau sudah sampai aku bangunin kamu." Randika mengulurkan tangannya dan memeluk pundak Christina. Dia lalu mencium dahi Christina dan membelai rambutnya. Perasaan ini membuat Christina menjadi nyaman dan hangat. Setelah mengangguk pelan, dia kemudian menutup matanya dan tertidur di pundaknya Randika. Dasar, bisa-bisanya dia tidur dengan pulas di pundaknya dengan wajah cantik itu! Randika tersenyum pahit, tetapi dia tetap menahan dirinya. Dia juga sedikit menurunkan posisi duduknya agar Christina dapat tidur lebih enak. Pada saat ini, ada seorang lelaki berbadan besar masuk ke dalam gerbong. Di saat dia masuk, semua tatapan orang tertuju padanya. Alasannya mudah, orang itu benar-benar mencolok. Tingginya yang hampir mencapai 2 meter itu membuat orang-orang berpikir dia adalah pemain NBA! Belum lagi otot-ototnya yang kekar itu membuat orang semakin kagum. Untuk orang sebesar itu, rasanya tidak ada orang di dunia ini yang akan berani melawannya 1 lawan 1. Ketika para penumpang ini melihat pria kekar itu celingak-celinguk, mereka semua penasaran. Lalu mereka melihat pria kekar itu berhenti tepat di samping Randika. Kali ini semuanya bisa memahami apa yang akan terjadi, riwayat penumpang itu sudah pasti tamat. Bahkan beberapa penumpang sudah siap merekam kejadian berdarah ini sebagai barang bukti. Meskipun mereka tidak tahu alasannya, pria kekar itu sudah jelas akan membunuh penumpang satu itu. Pria kekar itu berkata dengan nada dingin pada Randika. "Jadi kau yang berani mengganggu Evan?" Semua mata tertuju pada Randika, tetapi Randika sepertinya mencuekin pria kekar itu dan masih terlihat membetulkan rambut Christina yang berantakan. Kemudian Randika menoleh dan berkata pada pria itu. "Jadi kau adalah tukang pukulnya?" Pria kekar itu mendengus dingin. "Kau tidak perlu tahu itu. Yang terpenting karena kau telah menyinggung temanku itu maka kau akan menerima akibatnya." "Oh," Randika mengangguk. "berapa jumlah uang yang dia tawarkan?" Pria itu sudah mengangkat tangan kekarnya itu, benar-benar seperti pukulan maut. "Jangan harap aku takut, pukulanmu itu sama sekali tidak mengandung tenaga." Kata Randika sambil menghela napas. Kata-kata Randika ini membuat pria kekar itu terheran-heran, baru pertama kali dia bertemu orang seperti ini. Sementara itu, para penumpang yang lain sudah tertawa dalam hati. Apa orang itu bodoh? Mana mungkin tinju sebesar itu tidak punya tenaga? Adanya dia akan mati dalam satu pukulan! Pria kekar itu tertawa dan mengatakan. "Kalau begitu kau berani menerimanya?" Randika menggelengkan kepalanya. Ketika pria itu hendak meninjunya, dia mendengar Randika mengatakan. "Buat apa aku menerima pukulanmu itu?" Pria kekar itu kembali menahan pukulannya, dia mendengus dingin. "Kalau kau takut bilang saja. Jika kau meminta maaf pada Evan, aku tidak akan memukulmu." "Kalau begitu suruh dia datang dan aku pastikan dia meminta maaf padaku karena sudah mengirim orang untuk melakukan pekerjaan kotornya." Kata Randika dengan santai. Semua penumpang terkejut, rupanya orang itu berani sekali menghadapi pria kekar seperti itu. Nyalinya benar-benar besar! Pria kekar itu sudah naik pitam, tetapi pada saat ini, Evan datang dari gerbong sebelah sambil marah-marah. "Kenapa kamu tidak memukulnya?" "Dia bilang kamu tidak memberinya cukup uang. Untuk orang seperti dirinya itu, upahmu terlalu kecil jadinya dia ragu untuk memukulku atau tidak." Jawab Randika. "Apa?" Mendengar hal ini, Evan hampir muntah darah. "Aku baru saja membayarmu 5 juta hanya untukmu menjadi pengawalku satu hari ini. Kamu masih berani ngomong itu kurang? Apa kau mau anak istrimu itu tidak makan lagi?" "Tunggu pak! Semua ini salah paham, apa yang dikatakannya itu semua bohong!" Jika sebelumnya pria kekar ini berwajah garang, di hadapan Evan mukanya sangat melas. Taktik adu domba ini benar-benar sempurna, Randika memang jago memanipulasi orang. Tetapi, apa yang terjadi berikutnya membuat orang-orang menutup mata mereka. Pria kekar itu melayangkan pukulannya ke arah Randika! Tinju dari lengan sebesar gajah itu benar-benar serangan mematikan, semua orang berpikir nasib Randika sudah jelas. Perempuan yang duduk di serong kiri Randika sudah menutup matanya, takut dengan apa yang akan terjadi berikutnya. "Ah!" Suara teriakan kesakitan itu membuat perempuan itu menutup telinganya, sepertinya penumpang satu itu sudah dibuat berdarah-darah. Ketika dia membuka matanya, dia sangat terkejut dengan pemandangan di depannya. Pemuda yang duduk itu berhasil menahan tinju si pria kekar itu hanya dengan satu tangan! Suara teriakan kesakitan itu bukan berasal dari Randika melainkan si pria kekar yang tangannya diremas oleh Randika! Randika masih menggenggam erat kepalan tinju pria tersebut. Tetapi anehnya, wajah Randika terlihat tenang dan tangan kanannya yang menggenggam itu sama sekali tidak bergerak. Pada saat ini, pria kekar itu sudah menggertakan giginya, wajahnya merah dan terlihat kesakitan dan tangan kirinya yang ditahan Randika itu bergetar hebat! Awalnya tangan itu bergetar sedikit tetapi lama kelamaan semakin bergetar hebat. Pada saat ini semua orang yang melihat mereka sudah terkejut, apa yang sebenarnya sedang terjadi? Randika lalu tersenyum pada pria itu. "Tuh kan tidak ada tenaganya." Sesaat setelah berkata seperti itu, Randika mengeluarkan tenaganya sedikit demi sedikit dan pria kekar itu makin lama makin berlutut sambil terus kesakitan. Wajahnya sudah penuh dengan keringat, dia berusaha melepaskan diri tapi semuanya itu percuma. Ketika pria itu hendak berteriak minta ampun, Randika membungkamnya dengan memasukan tangan pria itu ke dalam mulutnya! Pria kekar itu menatap Randika yang memberi isyarat tangan padanya untuk diam. "Sssttt! Dia masih tidur." Pria kekar itu menatap Christina yang masih tertidur pulas di pundak Randika. Chapter 178: Gejolak Batin Lima jam kemudian, Randika membangunkan Christina dan membawanya turun dari kereta. Meskipun sudah larut malam, kembali di kota kesayangannya yaitu Cendrawasih membuat Christina sedikit tidak percaya. Dia hampir menangis mencium aroma kebebasan ini. Jika bukan karena Randika, dia sudah akan menjadi korban dari praktek perdagangan manusia. "Menangislah kalau kamu mau. Aku ada di sini." Kata Randika. "Jika ada yang mengejekmu maka aku akan membunuhnya di tempat!" "Huh, memangnya siapa yang mau menangis." Christina menghapus air matanya. "Aku itu seorang guru jadi aku harus memberikan contoh yang baik." "Guru atau tidak, kamu tetaplah seorang perempuan yang nyaris mengalami kejadian mengerikan. Menangis air mata bahagia bukanlah contoh yang buruk." Christina lalu berjalan ke arah pintu keluar dengan kepala terangkat, dia tidak akan membiarkan kejadian mengerikan itu menghantui dirinya. Sambil tersenyum, Randika memanggil taksi dan masuk bersama Christina. "Kamu ingin pulang ke rumah ibumu atau ke rumahmu?" "Aku ingin bertemu mamaku." Christina sedikit ragu tetapi dia tahu bahwa ibunya itu pasti khawatir terhadap dirinya. Randika mengangguk dan memberi alamat rumah ibunya itu ke supir taksi. Setelah sampai di perumahannya, Christina tiba-tiba berkata pada supir taksi. "Pak tolong berhenti di taman itu." Randika sedikit bingung, kenapa Christina tiba-tiba minta turun di sini? Setelah membayar taksi dan turun, Christina berkata pada Randika. "Temani aku sebentar." Mendengar kata-kata Christina itu Randika langsung mengerti. Dia baru saja mengalami kejadian yang seharusnya tidak pernah dialami seorang perempuan. Dia diculik, dijual, dan hampir diperkosa. Perasaannya pasti sedang campur aduk. Di bawah sinar rembulan, mereka berdua berjalan berdampingan menelusuri taman. Tatapan Christina terlihat kosong ketika melihat bulan di langit. Semua perasaan takut, cemas, marah, malu, bahagia, lega, semuanya bercampur aduk di benaknya. Randika yang melihatnya terasa sedikit tidak berdaya, hatinya juga terasa sakit. Randika tahu penghiburan macam apa pun tidak akan membuat Christina melupakan pengalaman pahitnya ini. Apa yang harus dilakukan Christina adalah mengakui semua itu telah terjadi dan hidup sambil menanggungnya. Bagaimanapun juga, yang terpenting adalah dia selamat. Randika menggandeng tangan Christina dengan lembut. Christina awalnya sedikit terkejut tetapi tidak menolak digandeng, keduanya lalu berjalan bergandengan layaknya pasangan. Bagi Christina tidak ada pria lebih baik dari Randika di dunia ini. Memang terkadang dia mesum, tidak bisa diajak serius dan selalu bercanda. Tetapi dia selalu bisa diandalkan ketika dirinya membutuhkannya dan belum lagi ketika Randika menyelamatkannya dari pelaku perdagangan manusia itu, Christina menyadari bibir kering Randika yang pecah-pecah itu. Randika pasti telah bersusah payah untuk menyelamatkan dirinya. Mungkin baginya Randika adalah pangeran berkuda putihnya yang dia tunggu-tunggu selama ini? Tidak, tidak, mana mungkin itu benar? Tetapiˇ­ Siapa di dunia ini yang pergi menyelamatkannya selain Randika? Yang Christina tidak sadari adalah pikirannya secara tidak sadar selalu memikirkan sosok Randika bahkan di saat dia disekap sebelumnya. Dia tidak menyadari bahwa dia telah jatuh cinta sejak lama dengan Randika. Randika sendiri masih memikirkan betapa lembutnya dada Christina saat mereka berpelukan di motor. Dia bertanya-tanya kapan dia akan merasakan kedua gunung itu dengan tangannya. Mungkin kejadian ini akan membuat Christina sedikit trauma dengan lelaki, jadi mimpinya ini mungkin masih akan lama terwujudnya. Mereka berdua berjalan tanpa berbicara sama sekali, di mata orang-orang mereka bagaikan pasangan muda yang malu-malu. "Hei, hei, lihat mereka. Sudah gede tapi pacarannya seperti anak SMP." Kata seseorang pada temannya. "Ah cowoknya cupu, kalau aku sama perempuan secantik itu pasti sudah betah di kamar." Jawab temannya. "Pantes kamu jomblo, otakmu mesum gitu." Sekumpulan pemuda ini semuanya tertawa dan berjalan meninggalkan Randika dan Christina. Randika sendiri dapat mendengar dengan jelas, dia hanya tersenyum pada bocah-bocah itu. Seorang jentelmen tidak akan memaksa perempuan untuk melakukannya, jika dia berhasil mendapatkan hatinya maka perempuan itu yang akan terus meminta pada dirinya! Christina menyadari tatapan orang-orang yang menganggap dirinya dan Randika berpacaran, mungkin perasaan ini tidaklah buruk. Tidak lama kemudian, mereka berdua sampai di rumah ibunya Christina. Namun, Christina tidak mengebel pintu rumahnya itu. "Terima kasih untuk hari ini." Christina yang masih menggandeng Randika itu berputar dan menghadap Randika. "Tidak masalah, asalkan kamu berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Kata Randika sambil tersenyum. Christina tidak berbicara lebih lanjut. Untuk sesaat keduanya hanya saling bertatap-tatapan. Di depan pagar rumah yang lumayan gelap ini, keduanya hanya berdiri diam dan suasana yang ada terlihat romantis. Orang yang sedang jatuh cinta terkadang sulit mengungkapkan apa yang dia inginkan, mereka tidak ingin mempercepat dan menakuti pasangannya. Pada saat ini Christina benar-benar tenggelam di tatapan Randika, dia ingin menyalurkan perasaannya melalui sebuah ciuman. Oleh karena itu, suasana romantis yang hening ini tercipta di depan rumah ibunya. Christina tidak berani melangkah lebih lanjut, dia berharap Randika yang biasanya agresif akan memulai duluan. Randika menatap Christina, sepertinya dia memahami arti tatapan perempuan satu ini. Ketika Randika melangkah maju, Christina sedikit malu dan menundukan kepalanya. Namun, dalam sekejap dia mengangkat kepalanya sambil menutup matanya. Sepertinya dia sudah bertekad untuk memberanikan dirinya. Kemudian dia memeluk dan mencium Randika. "Terima kasih telah menolongku." Suara Christina benar-benar kecil dan pelan, wajahnya sudah merah seperti tomat. Saat Christina hendak memencet bel, tiba-tiba Randika memegang tangannya. "Ran? Ada apa?" Christina terkejut ketika tangannya digenggam erat oleh Randika. Hatinya yang masih berdebar kencang itu sepertinya makin kencang ketika Randika memeluknya. "Tintin, itu bukan caranya berciuman yang benar." Randika lalu tersenyum. "Sini kuajari." "Ah? Hmm!" Christina tidak sempat berkomentar sebelum akhirnya bibirnya tertutup oleh bibir Randika. Christina cukup terkejut ketika lidah Randika memasuki mulutnya, untuk sesaat dia melawan tetapi pada akhirnya dia pasrah dan mulai menikmatinya. Kedua tangan Christina sudah memeluk leher Randika dan kedua tangan Randika memeluk pinggang Christina. Mereka benar-benar menikmati ciuman panas ini. Mereka benar-benar lupa dengan waktu dan tempat hingga mereka tidak menyadari bahwa pintu rumahnya itu terbuka dan ibunya Christina keluar sambil berteriak. "Tintin!" Suara bahagia ibunya itu menggema di telinga mereka berdua. Tetapi ketika ibunya itu melihat Randika dan anaknya sedang asyik berciuman, ibunya ini merasa bersalah. "Errr, mama cuma dengar ada suara dari luar jadi mama keluar untuk memeriksanya. Maaf telah merusak momen kalian, sudah lanjutin aja. Mama masuk dulu nanti kalau sudah selesai bel saja ya." Ibunya Christina ini sendiri senang melihat anaknya bermesraan dengan Randika. Sepertinya cucunya tidak lama lagi akan lahir. Kedua orang ini benar-benar malu, Christina dengan cepat melepaskan diri dari pelukan Randika. "Ma cukup!" Wajah Christina benar-benar merah. Memang awalnya dia ragu mencium Randika tetapi dia mengumpulkan keberanian untuk menyalurkan perasaannya itu. Tetapi dia tidak menyangka bahwa ibunya akan keluar dan melihat mereka berciuman! Jelas suasana romantis itu sudah buyar. Randika sendiri merasa malu. Meskipun kulitnya tebal, dia masih punya rasa malu bermesraan di depan orang tua. Bisa jadi ibunya Christina itu akan menjadi mertuanya suatu saat nanti. "Ah tante, aku pamit dulu ya. Lain kali aku akan datang berkunjung." Randika memaksakan diri untuk tersenyum dan lari dari rumah itu. Bahkan dirinya bisa tersipu malu. "Aduh maafkan tante ya. Tante benar-benar tidak tahu kalau kalian sedang ciuman." Ibunya itu lalu menatap anaknya. "Lain kali bawa saja anakku ini ke hotel atau kalian ingin melakukannya di kamar kabari saja, nanti tante pura-pura pergi." "Ma! Ngomong apa mama itu? Sudah hentikan!" Christina benar-benar malu, wajahnya benar-benar merah. "Aduh Tin kamu ini bodoh atau apa? Jangan biarkan pria sebaik Randika itu lepas, nanti nyesel lho kalau dia punya pacar." Ibunya itu lalu tersenyum dan merangkul anaknya. "Sudahlah masuk dulu, nanti mama ajarin cara merayu yang benar seperti mama dulu merayu papamu." ......... Randika sudah berlari cukup jauh. Sebelum ini ibunya Christina menyuruh dirinya membawa anaknya itu ke hotel. Orang tua semacam itu membuat Randika tersenyum pahit, antusiasme seperti itu cukup mengerikan. Setelah menyelesaikan masalah Christina seharian, akhirnya Randika bisa pulang ke rumah. Total lebih dari 12 jam dia mencari dan mengejar Christina hingga ke desa Sukasari. Sekarang waktu sudah menunjukan jam 12 malam, benar-benar sudah larut malam. Sepertinya dia akan langsung tidur. Tetapi seharusnya istrinya itu sedang terlelap di tempat tidur. Ketika dirinya memikirkan Inggrid yang tidur dengan piyamanya, darah Randika segera mendidih dan dia siap bertempur sekali lagi. Randika tertawa di dalam hati dan langsung menuju ke kamar Inggrid di lantai 2, dia siap berhubungan badan lagi dengan istrinya. Tetapi sesampainya di kamar Inggrid, suara canda dan tawa terdengar dari dalam. Randika sedikit terkejut, dia mengintip dulu sebelum masuk. Ternyata suara itu adalah Hannah dan Inggrid yang sedang berbincang di atas kasur. Kenapa adik iparnya ada di sini? Randika sedikit kecewa. Karena ada Hannah di sini maka dia sama sekali tidak bisa menyentuh istrinya itu. Sambil terus mengintip dari celah pintu, Randika memperhatikan keadaan. Tetapi matanya justru jatuh pada leher putih istrinya itu, dia tidak sabar menjilatinya. Belum lagi dada Inggrid yang tidak memakai beha itu, sepertinya istrinya juga tidak sabar tidur dengannya. Namun, meskipun Randika ingin mengintip lebih lanjut, dia tidak bisa menjulurkan kepalanya ke dalam. "Kak, di mana kakak ipar?" Hannah penasaran kenapa Randika tidak terlihat hari ini. "Dia memang sedikit misterius. Terkadang aku sendiri tidak tahu dia ke mana, tetapi tenang saja, dia pasti pulang kok hari ini." Kata Inggrid sambil tersenyum. Hannah mulai mengeluarkan tipu muslihatnya. "Kakak kok yakin begitu? Jangan-jangan kak Randika itu sedang menggoda dan selingkuh sama perempuan lain. Kakak mana tahu apa yang dia lakukan bukan?" Mendengar hal ini, Randika mengerutkan dahinya. Sepertinya Hannah lagi-lagi berbicara buruk tentangnya, sepertinya dia perlu memberikan adik iparnya itu sebuah pelajaran. Namun, kata-kata Inggrid membuat hati Randika sedikit lega. Istrinya itu benar-benar tidak mengecewakannya, sepertinya dia harus memberinya hadiah. "Han, aku tahu betul kok seperti apa Randika itu. Meskipun dia terlihat genit, dia benar-benar lelaki yang baik. Aku percaya dengannya dan meskipun dia suka menghilang, aku yakin dia punya alasan yang baik." Kata Inggrid sambil tersenyum manis. Chapter 179: Hari Ini Kamu Tidur Sendiri "Kak, ceritakan apa yang sebenarnya terjadi saat kakak di Jakarta?" Hannah tiba-tiba bertanya. "Aku penasaran." Wajah Hannah terlihat serius. Inggrid tersenyum dan pikirannya tidak bisa menahan dirinya untuk tidak kembali mengingat masa lalu itu. "Sebenarnya hari itu aku benar-benar terkejut bagaimana Randika bisa menemukanku." Inggrid mulai menjelaskan. "Sebelum keluarga Alfred memintaku kembali untuk menikahi anaknya yang bernama Hans. Tetapi diam-diam Hans datang ke Cendrawasih dan mau membawaku kembali dengan paksa. Waktu itu Randika menyelamatkanku darinya. Besoknya, aku diam-diam kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan pernikahan omong kosong itu." "Terus, terus?" Hannah semakin penasaran. "Aku dengar kejadian hari itu benar-benar kejadian memalukan bagi keluarga kita jadi aku tidak bisa terlalu banyak bertanya. Tapi sepertinya kedua keluarga Alfred dan keluarga kita sama-sama telah mundur dari kesepakatannya kan?" Inggrid lalu tersenyum. "Benar, kabar aku berusaha menggagalkan pernikahanku itu pasti sudah terdengar di telinga kepala keluarga Alfred. Apalagi Randika menghajarnya sampai dirinya menjadi kasim, jadi masalahnya semakin besar. Aku waktu itu takut mereka akan mendobrak masuk rumah kita dan menuntut keadilan. Namun, waktu aku berdebat dengan ayah, Randika datang." Inggrid mengangkat sedikit kepalanya. Randika, sosok yang dia cintai, tiba-tiba datang dan menyelamatkan dirinya. "Kakak iparmu itu mengatakan bahwa dia akan membawaku pulang. Di depan keluarga inti kita dan di depan ayah, dia benar-benar membawaku pulang bersamanya. Han, pada waktu itu ayah benar-benar mau menjualku ke keluarga Alfred." Pada kalimat terakhir Inggrid itu, nada suaranya benar-benar dingin tetapi akhirnya kembali melembut. "Jadi pada waktu itu, aku memilih untuk pergi bersama Randika karena aku tahu bersamanya aku bisa bahagia. Jika waktu itu aku menuruti ayah, mungkin aku akan terkurung dan tidak pernah bebas lagi." Hannah memperhatikan ekspresi kakaknya itu, ekspresi kakaknya terlihat lembut dan seperti gadis jatuh cinta saat membicarakan Randika. "Kemudian orang-orang dari keluarga Alfred datang. Karena anaknya dihajar babak belur, Randika dan keluarga Alfred bertengkar hebat. Banyak dari bawahan mereka meninggal dan para elit mereka dikalahkan. Bahkan bawahan ayah yang paling hebat pun tidak berdaya di hadapan Randika. Tetapi kita waktu itu benar-benar dikepung terlalu banyak orang, kakak iparmu benar-benar sudah di ujung tanduk. Aku merasa dia akan mati pada waktu itu dan aku hanya bisa menangis. Tetapi tiba-tiba...." Hannah mendengarnya dengan wajah serius. Walaupun dia sudah mendengar cerita versi Randika, dia pikir kakak iparnya itu hanya mengada-ada. Ketika mendengar dari kakaknya ini, dia bisa membayangkan betapa gagah, berani, percaya diri Randika pada saat itu. Randika sendiri masih menguping dari luar, kepalanya terlihat mengangguk puas. Sepertinya kejadian hari itu benar-benar melekat di hati Inggrid. Ketika Inggrid selesai menceritakan semua kejadian hari itu, Hannah bertepuk tangan. Sepertinya kakak iparnya itu memang orang yang luar biasa. "Kak, siapa orang tua itu?" Hannah penasaran. "Sepertinya ayah dan paman Ivan benar-benar takut sama dia." "Aku juga tidak tahu." Inggrid menggelengkan kepalanya. "Tetapi ayah dan keluarga Alfred tidak berniat untuk mempermasalahkan pernikahanku ini lagi. Jadi menurutku ini adalah hasil paling bagus." Mereka lalu berbincang-bincang mengenai masa lalu mereka. Lalu tiba-tiba Hannah bertanya mengenai topik yang sedikit sensitif. "Kak, bagaimana rasanya saat kakak melakukannya dengan kak Randika di sofa?" Dalam sekejap wajah Inggrid menjadi merah, tetapi Hannah terus menatapnya dengan wajah penasaran sekaligus serius. "Hmmm yah begitulah." Inggrid merasa malu dan menyalahkan Randika. Jika saja Randika tidak terlalu nafsu, maka mereka berdua tidak akan kepergok adiknya. Randika yang mendengar pertanyaan Hannah ini sudah menggelengkan kepalanya. Apa pantas bertanya seperti itu pada kakaknya? "Aku rasa kakak pasti keenakan sampai lupa waktu dan tempat bukan? Aku sendiri tidak heran kak Randika sampai kayak gitu, punya kakak besar sih." Kata Hannah sambil tersenyum, dia lalu mengulurkan tangannya dan meraba dada kakaknya. "Punya kakak benar-benar besar!" "Han! Sudah ah, kamu kok ketularan kakak iparmu sih!" Inggrid tersenyum dan membalas Hannah. "Nih, punyamu juga besar." "Hahaha kakak ngomong apa sih, punya kakak jelas lebih besar!" Hannah melepaskan diri dan mulai membenamkan kepalanya di dada kakaknya. Dadanya yang digesek-gesek oleh kepala Hannah itu membuat Inggrid merasa sedikit aneh. "Han, sudah jangan aneh-aneh." "Hmm? Kenapa memangnya kak? Bukannya dulu aku sering tertidur di dadanya kakak saat kecil? Kenapa sekarang tidak boleh?" Inggrid lalu tersenyum. "Kalau begitu, gantian kakak yang tidur di atasmu! Sini kakak lihat seberapa jauh perkembanganmu." Setelah itu Inggrid dan Hannah saling berguling-guling di kasur sambil terus tertawa. Mereka berdua saling meraba, memastikan siapa yang lebih besar. Pemandangan ini membuat siapapun yang mengintip akan salah sangka. Tes, tes, tes. Randika yang mimisan itu bersorak dalam hatinya. "Terus! Pelorot terus celananya! Ayo Hannah, sedikit lagi aku bisa melihat puting kakakmu! Aduh minggir sedikit dong, tidak kelihatan nih!" Di dalam kamar, kedua kakak adik itu terus meraba satu sama lain. Piyama mereka menjadi longgar dan dada Inggrid ataupun Hannah terkadang akan memperlihatkan putingnya. Hal ini membuat Randika sedikit bersemangat. "Aduh, Hannah itu ternyata tidak jauh berbeda dengan Inggrid." Randika melototi dada adik iparnya itu. Pada saat ini, Hannah yang sedang bertarung dengan kakaknya itu melihat pintu kamarnya sedikit terbuka. Pada saat yang sama, sebuah kepala terlihat sedikit demi sedikit masuk. "Ah!" Dalam sekejap Hannah berteriak ketakutan, dia langsung menutup dirinya dengan selimut. Ketika Inggrid menoleh, dia melihat sosok Randika yang masuk ke dalam kamar sambil mimisan. "Ah, jadi begini, aku baru saja pulang dan tidak enak mengganggu kalian jadi aku nunggu di luar. Tenang saja aku tidak lihat apa-apa kok." Inggrid menatapnya dengan tajam. "Malam ini kamu tidur di kamarmu sendiri! Aku mau tidur sama adikku." TIDAK!! Dalam sekejap wajah Randika menjadi pucat dan menatap Inggrid dengan perasaan sedih. Teganya istrinya itu mengusir dirinya. Apa bedanya tidur di sofa kalau Inggrid tidak tidur di sampingnya? Hannah hanya tertawa dan berkata dengan nada mengejek. "Dengar sendiri kata-kata kakakku, kak Randika tidur sendiri sana!" Hannah memang membenci dirinya, pikir Randika. Randika keluar dari kamar dengan kepala menunduk dan Hannah langsung membentaknya. "Tutup pintunya rapat-rapat!" Bersabarlah Randika! ..... Keesokan harinya, Inggrid bangun dan langsung menuju lantai bawah. Dia benar-benar terkejut melihat sosok Randika. "Kamu kenapa?" Randika benar-benar seperti seorang gelandangan, wajahnya melas dan rambutnya acak-acakan. "Aku tidak sempat menghisap energi feminimmu jadi tentu saja aku tidak sehat." "Maksudmu apa?" Kata Inggrid sambil membantu merapikan rambut Randika. Randika lalu menoleh dan berbisik di telinganya. "Apa Hannah masih tidur?" "Iya, kenapa?" "Kalau begitu ayo kita lakukan sekali saja. Olahraga di pagi hari bisa membuatmu sehat dan bugar!" "Tidak mau." Inggrid memalingkan wajahnya, mengintip ekspresi sedih Randika, dia menambahkan. "Nanti malam aku akan memberikannya padamu." "Sungguhan?" Randika langsung mendapatkan rona wajahnya lagi. Inggrid sudah tersipu malu dan mencium Randika. "Tolong sabar ya sayang." ...ˇ­ Setelah sarapan, Randika berangkat menuju kantor bersama Inggrid. Setelah tiba di perusahaan, Randika langsung memeriksa kemajuan ramuan X. Penelitian dan perkembangan ramuan X sudah berjalan beberapa waktu dan menurut perhitungannya, seharusnya perkembangannya ini sudah menghasilkan beberapa kemajuan. Dan sebelumnya hasilnya itu hampir menyerupai ramuan X jadi Randika harus memeriksanya sendiri. Saat tiba di laboratorium, Randika mulai mengarahkan dan pembuatan ramuan X kembali dimulai. Chapter 180: Ramuan X Waktu untuk melakukan uji coba dan penelitian selalu berlalu dengan cepat. "Vi, tolong ambilkan bahan yang kuminta tadi." "Vi, ambil dua bahan ini dan tolong campurkan." "Vi, tolong...." ...... Di bawah arahan Randika, Viona dan orang-orang benar-benar sibuk. Semua bahan yang mereka siapkan tidak luput dari mata Randika dan sekarang saatnya penentuan. Randika mengeluarkan tabung reaksi dan mencampur bahan-bahan tersebut untuk langkah terakhirnya. Setelah beberapa saat, sebuah cairan semi padat dan hitam muncul di tabung reaksi. Randika memperhatikan ramuan X itu di dalam tabung reaksinya. Kerutan dahinya benar-benar dalam, menurut ingatannya, kenapa warna ramuan ini benar-benar berbeda dengan sebelumnya? Ramuan X milik Yuna tidak sehitam ini, kenapa hasil miliknya ini hitam? Setelah memikirkannya, Randika menuangkan setetes ramuan X versinya ke jarinya. Setelah menjilatnya, cairan hitam itu segera meluncur ke dalam tenggorokannya. Ketika ramuan X ini memasuki tubuhnya, Randika menutup matanya dan berkonsentrasi pada ramuan X yang memasuki tubuhnya itu cukup lama. Tetapi tidak ada efek sama sekali yang dia rasakan. Gagal! Randika tidak bisa berkata-kata dan tidak tahu harus berbuat apa. Di tengah depresinya ini, Randika merasakan perutnya sedikit bergejolak dan muncul sejumlah tenaga dalam di dalam lambungnya lalu menyebar ke seluruh tubuhnya dan memberikan sensasi menyegarkan. Sambil menutup matanya lagi, tenaga dalam yang berbentuk gas itu membuat seluruh tubuh Randika merasa nyaman dan tiba-tiba, rasa sakit dari luka di dalam tubuhnya itu sedikit mereda. Tut! Setelah kentut, Randika merasa sedikit lega. Untungnya, kentutnya ini tidak berbunyi dan tidak berbau kalau sampai tidak, terpaksa dia harus mengorbankan salah satu bawahannya sebagai kambing hitamnya. Randika lalu menatap cairan hitam di tabung reaksinya itu, ternyata obat ini tidak gagal sepenuhnya. Masih ada efeknya tetapi sangat kecil, benar-benar kecil. Dengan rasa semangat ini, Randika bertekad untuk mengeluarkan kemampuannya dan membuat ramuan X versinya dengan sempurna. Jadi semua orang sibuk kembali. Waktu berjalan dengan cepat dan Randika tidak ada henti-hentinya memberikan arahan. Sambil terus mengocok tabung reaksinya, Randika berusaha mengambil bahan dengan tidak menoleh. Tiba-tiba dia merasakan kekenyalan luar biasa di tangannya. Tanpa sadar, Randika meremasnya. Hmmm, kenyal dan enak dipegang. Randika langsung penasaran dengan apa yang diremasnya ini. Ketika dia menoleh, dia melihat Viona, yang sudah tersipu malu, berdiri diam dan kaku sambil berusaha menahan desahannya. Ternyata tangannya itu sedang meremas pantat Viona! Viona benar-benar terkejut awalnya dan langsung menutup mulutnya agar tidak ada suara aneh yang keluar. Randika, yang tangannya masih di pantat Viona, memperhatikan sekeliling dan menyadari bahwa orang-orang masih sibuk dan tidak menyadari kejadian ini. Mengambil tangannya kembali, Randika mengatakan. "Baiklah teman-teman, bagaimana kalau kalian istirahat dulu." Ketika semua orang berbondong-bondong keluar, Randika mencegat Viona. Hari ini Viona memakai baju ala peneliti dengan rok berwarna biru. Meskipun begitu, dada besarnya itu tetap mencungul keluar dari balik jubah labnya. Ini adalah pertama kalinya Viona tidak memakai baju terlalu sexy, tetapi semua itu tetap percuma. Tubuh sexy Viona tidak bisa disembunyikan dengan pakaian sederhana apa pun, benar-benar anugerah Tuhan yang luar biasa. "Vionaˇ­" Randika tersenyum nakal dan memeluk Viona dari belakang. Tangannya yang sudah seperti capit itu sudah meremas bokong Viona yang montok. Viona merasakan sensasi itu langsung menjalar ke otaknya, wajahnya sudah merah. "Ran, kita masih ada di laboratorium." Viona memalingkan wajahnya, napasnya sudah terengah-engah dan dia menggigit bibir bawahnya. Wajah nafsu Viona itu justru membuat Randika ingin menggodanya lebih lanjut. "Sudah jangan khawatir, tidak ada orang selain kita." Randika berbisik di telinganya. Dia lalu menjilat leher putih Viona sambil mengatakan. "Pantatmu benar-benar menggoda." Viona sudah malu, wajahnya benar-benar merah. Randika memang semakin berani melakukannya terlepas di mana mereka berada. "Vi, pakaian dalam apa yang kamu pakai hari ini?" Randika masih meremas pantat Viona. Dari balik rok itu, dia bisa merasakan bahwa Viona sepertinya memakai G-string. Pakaian dalam Viona selalu yang siap bertempur. Viona menggigit bibirnya, dia memberanikan diri dan berbisik di telinga Randika. "Coba lihat sendiri saja." Randika terkejut, matanya sudah terbelalak. Viona menjadi berani! Randika makin suka dengannya. "Kalau begitu kita ke kamar mandi." Randika tersenyum nakal. Viona hendak mengiyakan tetapi tiba-tiba ada seseorang yang masuk ke dalam ruangan. Randika langsung melepaskan tangannya. "Pak Randika, sepertinya ada yang salah dengan 2 campuran bahan ini." "Oya? Sini aku lihatnya." Randika berkedip pada Viona dan mengisyaratkan ''kita lanjutkan ini nanti.'' Namun, pada akhirnya, pertemuan rahasia mereka ini sama sekali tidak terwujud, Randika benar-benar sibuk. Meskipun Randika berhasil membuat ramuan X versi miliknya lebih baik dari sebelumnya, efek yang dihasilkan masih jauh dari kata berhasil. Randika benar-benar menghabiskan waktunya demi ramuan X. Saat sore hari, Viona ingin mengajak Randika untuk makan malam bersamanya tetapi beberapa temannya mengajak dirinya duluan. "Vi, kita sudah lama tidak kumpul-kumpul. Sudahlah lupakan cowokmu itu." Beberapa perempuan itu tertawa dan menggandeng Viona dengan paksa. Mendengar kata ''cowokmu'' Viona tersipu malu, apakah orang-orang sudah mengakui dirinya adalah pasangannya Randika? Randika sendiri langsung keluar dari laboratorium setelah jam pulang. Sudah hampir tidak ada orang di lantai ini, sebagian besar sudah pulang dan hanya sedikit orang yang lembur. Randika menghirup udara dalam-dalam, berusaha melepaskan penatnya. Tetapi, tiba-tiba dia melihat seseorang berlari ke arahnya. "Kak Randika, kak Randika!" Mendengar suara ini, kenapa Hannah bisa ada di tempat kerjanya ini? Orang-orang yang berjalan dan duduk-duduk mendengar teriakan Hannah ini, semuanya menoleh ke arahnya. Ketika para lelaki melihat bahwa orang yang berlari itu seorang perempuan cantik, mata mereka tidak bisa berhenti melotot. Kaki panjang dan mulus, dada besar, pantat yang terlihat kenyal dan wajah yang cantik, lelaki mana yang bisa memalingkan pandangannya? Tiba-tiba, sejumlah laki-laki yang awalnya hendak pulang ataupun lagi sibuk, semuanya memandangi dada Hannah yang mantul tidak karuan itu. Aku tidak tahu siapa orang itu tetapi aku ingin mendekatinya dan menidurinya! Semua lelaki itu memliki pikiran yang mesum terhadap Hannah. Semuanya lalu terdiam, siapakah kenalan perempuan itu? Mereka akan meminta kenalannya itu untuk mengenalkan mereka pada perempuan sexy itu. Yang mengejutkan adalah perempuan itu berhenti di depan Randika! Randika lalu berkata pada Hannah yang kehabisan napas itu. "Kenapa kamu ada di sini?" "Memangnya aku tidak boleh datang ke perusahaan milikku sendiri? Kakak tahu tidak kalau aku ini salah satu pemegang saham tertinggi di perusahaan ini?" Kata Hannah dengan wajah bangga. "Wow aku benar-benar tidak tahu itu!" Randika lalu tersenyum. "Ternyata kamu ini pandai menghayal ya, awas jangan terlalu sering berkhayal nanti tidak ada yang mau lho sama kamu." Chapter 181: Rencana Kejam Hannah Sepertinya Randika mulai mengkhawatirkan adik iparnya ini, meskipun penampilannya tidak kalah cantik dengan Inggrid, kepribadian dan cara berpikirnya benar-benar masih anak-anak. Hannah sedikit cemberut. "Terserah kakak mau percaya atau tidak, yang penting aku lebih kaya daripada kakak." Kata Hannah sambil menjulurkan lidahnya. Randika hanya geleng-geleng. "Sudah hentikan basa-basimu. Aku tidak tahu apa yang kamu mau dariku sekarang, tetapi aku tidak akan membantumu. Selama kamu tidak mendapatkan ijin dari kakakmu itu, jangan harap kamu mendapatkan bantuanku." Randika berbalik dan tertawa dalam hati. Randika sendiri sudah cukup kapok membantu Hannah. Mulai dari klub karate, lomba balap liar, lomba renang, semuanya berawal dari ajakan adik iparnya ini ke tempat-tempat aneh. Jadi Randika memakai kartu As-nya yaitu istrinya Inggrid. Memakai nama Inggrid mungkin akan membuat Hannah ketakutan dan tidak jadi meminta bantuannya. "Ah kak! Tunggu sebentar! Kali ini aku tidak butuh bantuanmu kok. Aku juga tidak ingin melihat balapan ataupun merepotkanmu." Hannah segera mengejar Randika yang berbalik badan itu. Dia dengan cepat menaruh tangan Randika di belahan dadanya. "Kak, aku cuma sedang ingin singa bersama kakak." Singa? Wajah Randika terlihat ogah. "Tidak tertarik, cari orang lain sana." "Ah kak, jangan gitu dong. Singa ini berbeda dengan singa lainnya!" Hannah dengan cepat memelas. "Apa bedanya? Kepalanya dua? Kakinya delapan? Kan sudah kubilang awal tadi jangan terlalu berkhayal." Kata Randika sambil tertawa. Dia sama sekali tidak tertarik dengan singa yang dikatakan sebagai raja para hewan itu, dia lebih tertarik dengan serigala yang tidak pernah menundukan kepalanya pada apa pun. "Percayalah kak, singa ini benar-benar berbeda! Singa ini dari Afrika jadi pasti berbeda." Kata Hannah. "Singa dari Afrika?" Randika menemukan sofa untuk dirinya duduk dan Hannah pun ikut duduk. "Singa itu sudah menempuh jarak yang jauh dari Afrika jadi pasti singa itu sudah berubah jadi kucing. Apa bagusnya coba?" Kata Randika. "Kak ayolah, temani aku pergi ke sana. Ya kak, ya?" Hannah kembali menggunakan taktik belahan dadanya. Dadanya yang kelas 1 itu benar-benar lembut dan menggoda. Belum lagi rengekan Hannah itu benar-benar membuat semua hati orang menjadi luluh, entah kenapa suaranya itu mengandung kemurnian yang tidak bisa dijelaskan. Melihat Hannah yang sudah seperti ini, Randika hanya menghela napas. Pola seperti ini sudah sering terjadi, jika dia tidak mengiyakan maka Hannah akan merencanakan sesuatu yang buruk padanya. Jika Randika setuju maka suatu masalah akan terjadi pada waktu itu. Jadi pilihan terbaik adalah diam dan menikmati sensasi belahan dada adik iparnya itu. Melihat Randika yang hanya terdiam, Hannah sudah tersenyum nakal dan memalingkan wajahnya. "Kalau kakak tidak mau menemaniku melihatnya, jangan kaget sama konsekuensinya." "Memang konsekuensinya apaan?" Randika terlihat bingung. "Sudahlah Han, jangan mengancam seperti anak kecil terus. Kakak sudah tidak bisa ditipu seperti itu lagi." "Oho, benarkah seperti itu?" Senyuman Hannah makin lebar. "Akhir-akhir ini aku jarang bisa tidur dan saat aku tidur dengan kak Inggrid itu benar-benar nyaman bagiku. Dalam sekejap aku bisa tidur dalam pelukannya kak Inggrid jadi aku memutuskan untuk tidur dengannya selama sebulan. Dan tentu saja kak Inggrid tidak mungkin menolakku kan?" "Uhuk!" Randika yang sedang minum air itu menyemprotkan air dari dalam mulutnya. Kejam sekali rencana adik iparnya ini! Saat Randika menoleh ke arah Hannah, senyuman adik iparnya ini benar-benar lebar dan penuh dengan ejekan. Randika ingin mengatakan bahwa dia tidak takut dengan ancamannya adik iparnya ini tetapi tidak ada kata-kata yang bisa keluar dari mulutnya, tenggorokannya benar-benar kering. "Jadi bagaimana kak? Apa kakak masih tidak mau menemaniku?" Kata Hannah dengan nada mengejek. "Atau kakak ingin aku tinggal di rumah selama sebulan?" Randika sambil menghela napas dan mengepalkan tangannya, dia mengatakan. "Besok siang jam berapa berangkatnya?" .......... Kebun Binatang Cendrawasih Hari ini kebun binatang kota ini benar-benar ramai. Banyak orang lalu lalang ke tempat ini. Banyak keluarga membawa anak-anaknya untuk melihat-lihat keragaman flora dan fauna, banyak pasangan muda-mudi sekaligus pasangan manula yang terlihat santai berjalan menikmati hari. Randika menelusuri jalan setapak dengan kedua tangannya di kantong celananya, sedangkan Hannah sibuk menarik tangan Randika itu. "Hahaha, monyet itu mirip kak Randika! Eh, itu ada koala kak! Ayo cepat difoto mumpung lagi makan!" Randika yang ditarik ke kanan ke kiri benar-benar pusing. "Han, jadi tujuanmu membawaku ke sini karena kamu merasa canggung di sini banyak pasangannya?" Sebagian besar orang yang datang ke kebun binatang ini adalah pasangan jadi jika orang datang sendirian ke sini, akan terasa aneh dan timbul rasa iri. Hannah menjadi cemberut ketika mendengar Randika. "Aku cuma mengajakak kakak karena kak Randika nganggur." Hannah terus menerus menarik Randika ke berbagai tempat. Ketika mereka melihat area jajan, Randika menjadi bersemangat. "Wow, sosis bakar!" Sambil masih meneteskan air liurnya, Randika ditarik oleh Hannah. "Pak beli dua!" Hannah mengeluarkan uangnya sambil tersenyum. Randika mengangguk puas, ternyata adik iparnya ini tahu diri juga. Hannah lalu mengambil kedua sosis itu yang masih panah, Randika sendiri sudah tidak sabar mencicipinya. Namun, apa yang dilihatnya membuat dia terkejut. Randika melihat Hannah membuka mulutnya dan mencicipi kedua sosis itu bersamaan. "Wah enak sekali, makanan di tempat ini ternyata enak juga." Hannah masih sibuk mengunyah sambil terus melihat-lihat jajanan lain. Ketika dia melihat Randika yang melongo sambil mengulurkan tangannya, Hannah merasa aneh dan akhirnya bertanya. "Ngapain kok melongo begitu kak?" Jelas menunggu jatahku tahu! Kenapa kamu makan semuanya coba!? Randika, yang sudah tidak bisa berkata apa-apa, mengambil kembali tangannya dan berjalan dengan wajah sedikit merah. "Ayo cepat kita lihat singanya." Kata Hannah sambil mengunyah kembali sosisnya. Randika mengekorinya dengan wajah muram. Yang Randika tidak tahu adalah hati adik iparnya yang sedang tertawa keras. Di dalam hati Hannah, melihat kakak iparnya yang mudah dijahili ini membuatnya tertawa tanpa henti. Setelah menghabiskan sosis bakarnya, Hannah kembali menyeret Randika agar jalannya lebih cepat. Akhirnya mereka tiba di kandang singa. Terlihat bahwa parit dan pagar pembatas di mana orang-orang melihat itu benar-benar jauh jadi singa jantan itu tidak akan bisa melukai pengunjung. Di dalam kandang itu, para pengurus membuat kandangnya mirip dengan alam yang ada di Afrika. Banyak orang yang ingin melihat si raja hutan ini. "Yah kak, kenapa singanya tertidur." Hannah menggoyang-goyangkan tangan Randika yang dia pegang. Hannah sendiri di Jakarta kurang mendapatkan kebebasan, jadi dia sangat antusias ketika pergi bersama Randika ke tempat-tempat yang diinginkannya. Di bawah tatapan orang-orang, seorang pengurus kebun binatang mengeluarkan sebongkah daging besar dan melemparkannya ke dalam kandang. Dalam sekejap singa jantan itu terbangun dan mulai makan. "Wah kak lihat itu! Singanya bangun!" Kata Hannah sambil tersenyum. Chapter 182: Koloseum Semua orang mulai bersorak ketika singa itu terbangun. Di dalam kandang, singa Afrika itu terlihat gagah dengan surainya yang lebat. "Wow kak, bukankah singa itu terlihat keren?" Hannah tidak bisa berhenti tersenyum. "Iya keren." Randika menjawabnya dengan setengah hati. Dalam hatinya dia mengingat-ingat kembali rasa daging singa yang tahu dia makan dulu. Saat dirinya masih berkeliling dunia, Randika pernah memakan daging singa beberapa kali. Yang paling membekas di ingatannya adalah ketika dia berhasil selamat dari terkaman seekor singa jantan saat dirinya bersembunyi dikejar musuhnya. Saat itu dia sedang dikejar oleh puluhan orang dan belum makan selama 2 hari jadi daging yang dibakar seadanya itu benar-benar lezat. Dan lagi ketika dia diundang makan oleh seorang pangeran, lagi-lagi Randika mencicipi olahan daging singa yang enak. Pikiran Randika masih terjebak nostalgia sedangkan para pengunjung lainnya sibuk mengeluarkan handphone mereka dan memfoto singa tersebut. Sepertinya singa Afrika ini belum pernah melihat orang berkumpul sebanyak ini, ia terlihat sedikit cemas. Sepertinya si raja hutan ini mulai berpatroli dan sedikit cemas ketika dirinya melihat kilatan cahaya handphone ketika difoto. Singa itu mengeluarkan raungan teredam. Jika ini di alam, suara ini merupakan suara mengamuk dan tanda siap-siap untuk menyerang. Tetapi kali ini, suara ini menandakan ketidak berdayaannya. Tiba-tiba, singa jantan itu membuka mulutnya dan mengaum keras! Raungan yang super keras itu membuat beberapa pengunjung terkejut dan sedikit takut. Melihat para makhluk yang di depannya itu ketakutan, singa jantan ini terlihat puas. Sepertinya aumannya berhasil menghentikan tindakan mereka. Ketika ia hendak kembali ke bawah pohon untuk tiduran, tiba-tiba para manusia di hadapannya itu bersorak. "Wow aumannya benar-benar dahsyat!" Kata salah satu orang. "Aku sampai sedikit mengompol!" "Ma, aku takut." Seorang anak terlihat menangis di pelukan ibunya. "Share suara aumannya di media sosial ah." Banyak orang yang berhasil merekam aumannya tadi. .... Melihat manusia-manusia itu bersorak dan kembali memfoto dirinya, singa jantan itu terlihat bingung. Kenapa makhluk-makhluk itu tidak lari ketakutan? Randika sendiri merasa bosan. "Aku ke toilet bentar ya." Kata Randika pada Hannah. Hannah tidak mendengarnya, perhatiannya benar-benar terfokus pada singa tersebut. Singa jantan dari Afrika ini benar-benar tidak berdaya dengan perubahan alam yang mendadak ini, ia sudah tidak sabar lagi. Ia membungkukan badannya dan menerjang ke depan. Semua pengunjung terkejut. Namun, jarak mereka benar-benar jauh karena adanya parit. Jadi mereka benar-benar aman. "Hahaha! Mangkanya belajar matematika sana!" "Singa Afrika benar-benar beda." Para pengunjung ini mulai bersorak dan besar kepala, mereka tahu bahwa singa itu tidak bisa menyentuh mereka. Singa yang tadinya hendak melompat itu kembali ke daerah pohonnya. "Ayo lagi!" Seorang pengunjung seperti menantang singa itu. Singa jantan ini cuma bisa menatap para makhluk di depannya itu. Situasinya sekarang benar-benar membingungkan. Pada saat ini, seorang pengurus tampak hendak memberikan singa itu makan lagi. Dia melemparkan ayam utuh ke daerah pohon di mana singa itu berada. Singa itu tampak tidak tertarik dan memaling wajahnya. Dia justru menjauhi makanannya itu dan masuk ke dalam area pepohonan. "Lha sudah kenyang?" "Gak seru ah." Semua pengunjung itu sedikit kecewa singa itu menghilang. Tetapi pada saat ini, seorang pengunjung terkejut dan menunjuk ke arah kandang. "Hei! Sepertinya singa itu pingsan!" "Pingsan?" Semua pengunjung menatap area pepohonan dan menemukan singa jantan itu hanya tergeletak tidak bergerak di sana. Sepertinya ia benar-benar pingsan. Si pengurus singa ini sendiri merasa ada yang aneh. Ketika mendengar orang-orang mengatakan singanya itu pingsan, si pengurus ini ragu harus berbuat apa. Si pengurus ini membuka pintu kandang, dia berniat untuk mengecek situasi. Si pengurus ini sendiri tidak berani terlalu dekat dengan singa liar ini. Dia membawa sebuah tongkat untuk memberinya jarak. Melihat singa itu tergeletak begitu saja, si pengurus ini berjalan perlahan mendekatinya. Ketika dia berjarak 10 langkah, singa Afrika ini tiba-tiba berdiri! Gawat! SI pengurus benar-benar terkejut, tetapi pada saat ini, singa yang didatangkan dari Afrika itu sudah menerjang dengan kecepatan penuh dan melompat di udara dan mendarat di depannya! Semua para pengunjung sudah berteriak ketakutan. Si pengurus itu sudah terjatuh dan tertindih, tetapi singa itu belum menerkam dirinya. Malahan, ia melihat para pengunjung dan berlari menuju pintu kandang yang terbuka! Pada saat ini, para pengunjung kebun binatang ini menyadari pintu kandang yang tidak tertutup, mereka langsung panik tidak karuan. Hannah sendiri masih bingung dengan apa yang telah terjadi, terkadang memang orang masih tidak dapat percaya dengan apa yang dia lihat dan berdiri kaku di tempatnya. Singa jantan itu berhasil keluar dan mengaum ke arah para pengunjung. Semua orang langsung lari berhamburan tanpa peduli apa pun. "Lari!!" "Hei jangan dorong-dorong!" Situasi benar-benar kacau, orang-orang berlarian tidak mempedulikan sesamanya. Hannah juga akhirnya terbangun dari linglungnya dan hendak berlari. Namun pada saat ini, singa jantan itu sudah menatapnya lekat-lekat. Melihat orang-orang yang dirasa dagingnya keras, ia melihat kaki mulus Hannah yang terlihat empuk. Ditatap predator papan atas, Hannah merasa tidak bisa bernapas dan kakinya gemetaran. "Kak Randika!" Hannah tidak berani bergerak sama sekali, tetapi mulutnya sudah berteriak nama kakak iparnya. Namun, Randika masih tidak muncul juga. Ketika para pengunjung melihat singa itu mendekati Hannah secara perlahan, sebagian merasa lega sebagian merasa khawatir. Manusia memang makhluk egois, di situasi seperti ini barulah warna sejati tiap-tiap orang keluar semua. Mereka semua aslinya lega bukanlah mereka yang diincar oleh singa tersebut. Kantor pusat kebun binatang ini sudah mengetahui keadaannya dan mengirim seseorang. Tetapi kejadian ini terlalu mendadak dan orang-orang yang berlarian membuat bantuan susah mencapai tujuan. Hannah benar-benar dalam situasi gawat. "Kak Randika!" Hannah sudah menangis sambil gemetaran. Dia merasa tidak berdaya ketika singa itu sudah semakin dekat dengannya. Namun pada saat ini, sebuah suara muncul dari arah belakangnya. "Sudah tidak usah berteriak seperti itu, aku sudah ada di belakangmu." Hannah terkejut dan merasa lega ketika Randika berjalan ke depannya dan melindungi dirinya. "Kok bisa singa ini sampai lepas." Randika sedikit kesal dengan situasi yang memanas ini. Dia menatap singa itu dan berjalan mendekatinya. Para pengunjung yang masih berkeliaran dekat situ merasa takjub dengan Randika. Orang itu benar-benar gila! Apa orang itu sudah bosan hidup sampai mengorbankan nyawanya? Singa jantan itu menatap Randika, mulutnya sudah penuh air liur. Kemudian dia mengaum dan bersiap untuk menyerang. Randika masih berwajah tenang, dia mengeluarkan kedua tangannya dari saku celananya dan mengepalkan tinjunya. Tindakannya ini membuat para pengunjung yang melihatnya semakin menganggapnya gila. Dikira ini di Roma dan di dalam koloseum? Singa jantan itu tidak peduli dan mengeluarkan cakarnya dan menerjang ke arah Randika. Mulutnya terbuka lebar, siap menerkam mangsanya! "Tidak!" Para pengunjung sudah ketakutan dan menutup mata mereka. Sepertinya adegan berdarah tidak terhindarkan lagi. Tetapi para pengunjung yang membuka mata mereka tampak terkejut. Apa yang mereka lihat benar-benar keajaiban. Rupanya ketika singa itu melompat dan hendak menerkam Randika, dia sudah melayangkan tinjunya dan mengenai dahi si singa. Tinjunya itu membuat singa tersebut terpental. DUAK! Singa jantan yang besar itu terjatuh dan terguling, namun pada saat itu juga, dia sudah berdiri kembali. Para pengunjung itu semakin bersemangat, apa orang ini masih manusia. "Thor!" Seseorang tidak bisa tidak membandingkannya dengan superhero kesukaannya. "Bodoh, jelas-jelas dia itu Thanos!" "Sejak kapan Thanos suka melawan singa? Thor kan pernah bertarung di koloseum jadi dia itu Thor!" Yang jelas semua orang terkagum-kagum oleh Randika. Jika ini jaman dahulu, jaman di mana peradaban belum maju maka melawan singa ataupun beruang dengan tangan kosong masih masuk akal. Tapi sekarang adalah jaman modern, di mana hewan-hewan buas tidak bisa ditaklukan tanpa bantuan senjata api. Menantang hewan-hewan buas seperti itu benar-benar mencari mati. Tetapi, orang di depan mereka ini benar-benar menghantam seekor singa dengan tinjunya. Jika mereka tidak melihatnya dengan kedua mata kepalanya sendiri, mereka semua mungkin tidak akan percaya. Singa jantan itu sendiri sedikit terkejut, tetapi rasa percaya diri dan keberaniannya tidak membuat raja hutan ini menjadi ciut. Ia kembali menerjang Randika dengan kecepatan penuh. Randika lagi-lagi dengan mudah meninjunya hingga singa itu terkapar kembali. Setelah membuatnya terkapar, Randika langsung mendatanginya. Pukulan demi pukulan dia layangkan pada wajah si singa. Pukulan pertamanya membuat singa itu mengaum marah. Pukulan keduanya membuat singa itu mengaum ketakutan. Pukulan ketiganya membuat singa itu mengaum seperti meminta ampun. Hewan ini sudah tidak bisa menahan rasa sakitnya. Pada saat ini, bantuan dari kantor kebun binatang sudah tiba. Mereka membawa senjata laras panjang dengan peluru bius di tangan mereka. Ketika mereka tiba di lokasi, mata mereka terbelalak. Kenapa seorang manusia terlihat menindih si singa? Bukannya seharusnya si singa berada di atasnya? Mereka semua saling bertatap-tatapan, mereka hanya bisa melihat seorang pemuda berhasil membuat singa itu pingsan. Seseorang akhirnya membidik Randika sambil mengatakan. "Pak tolong hentikan, kalau tidak berhenti Anda saya tembak." "Kalian datang ke sini bermaksud untuk membantuku atau si singa?" "Kedua nyawa kalian tidak kalah penting." Para pengunjung sudah tidak bisa berhenti membicarakan hal menakjubkan ini. Randika hanya menghela napas dan berjalan menjauhi si singa. "Aku sudah menjinakan singamu itu, dia tidak akan berani berulah lagi." Para petugas kebun binatang itu masih bingung dengan apa yang terjadi. Ketika mereka mendekati si singa, mereka melihat si singa itu berdarah dan tidak mau bergerak sama sekali. Ibu, aku ingin kembali ke padang rumput! Singa itu sudah berurai air mata, sang raja telah dikalahkan hingga menjadi kucing. Jika ada singa betina yang melihatnya, mereka akan menolak untuk kawin dengannya. Randika berjalan dengan santai dan tidak menoleh ke belakang. Beberapa orang sudah berlarian dan meminta foto dengannya, Randika benar-benar tampan! Setelah beberapa menit, Randika menghampiri Hannah yang sedang jongkok. "Kenapa kamu?" Randika nampak bingung. Kenapa adiknya ini berjongkok? "Kak, kakiku lemas." Kata Hannah sambil tersenyum. Randika menampar dahinya. Sepertinya adik iparnya benar-benar ketakutan tadi. Yah wajar jika seorang perempuan kelas atas seperti Hannah ketakutan seperti ini ketika berhadapan dengan situasi berbahaya seperti tadi. Chapter 183: Hannah Ingin Dimanja Randika mengulurkan tangannya pada Hannah. "Bisa berdiri?" Hannah mencoba merasakan kakinya dan menggeleng dengan sekuat tenaga. "Baiklah kalau begitu, aku akan menggendongmu." Kata Randika sambil menghela napas. Kejadian aneh selalu menghampirinya ketika dia pergi berdua dengan adik iparnya ini. Hannah juga tidak sungkan-sungkan, dia langsung naik ke punggung Randika dan memeluk lehernya dengan erat. "Kenapa kamu kok berat?" Merasakan beban yang cukup berat di punggungnya, Randika keceplosan bertanya. Berat badannya memang membuat Hannah sedikit kepikiran. Tetapi pertanyaan Randika ini benar-benar tidak sopan untuk ditanyakan ke seorang perempuan. Pertanyaan seperti ini sama seperti, kapan menikah, berapa usiamu sekarang, berapa gajimu. Dan tentu saja, Hannah makin cemberut. "Berat apanya, kakak saja yang lemah." "Hahaha sepertinya aku menginjak ranjau." Randika membetulkan posisi tangannya yang ada di paha mulus adik iparnya itu. Sensasi dada yang menempel di punggungnya itu juga benar-benar enak, Hannah memang cuma kalah sedikit dengan Inggrid. "Huh terserah." Hannah makin cemberut. "Kalau begitu mau ke mana kita? Pulang saja?" Tanya Randika. "Sudah susah-susah datang ke sini dan kak Randika malah ingin pulang? Aku masih ingin melihat-lihat tahu." Kata Hannah sambil sedikit marah. "Ya, ya, kalau begitu mau ke mana kita tuan puteri?" Randika menghela napasnya, adik iparnya ini sepertinya belum puas bermain. "Hmmmˇ­" Hannah berpikir sebentar lalu tiba-tiba dia tersenyum. "Bagaimana kalau ke taman bermain? Aku sudah lama tidak pergi ke sana." Randika lalu berjalan menuju tempat mereka parkir sambil mengatakan. "Han, seharusnya kamu sudah tidak apa-apa, kamu mau turun dulu mungkin?" "Tidak, aku masih trauma." Hannah dengan cepat menggelengkan kepalanya. Dia masih belum puas menyiksa kakak iparnya yang bertanya tentang berat badannya itu, setidaknya penyiksaan ini berakhir ketika dia masuk ke dalam mobil. ??Han, kamu kan pakai rok hari ini, nanti dalamanmu kelihatan lho. Lebih baik jalan saja." "Tidak usah khawatir, aku memakai celana pendek di balik rok khusus hari ini." Kata Hannah sambil tersenyum. ...ˇ­ Sepanjang siang hari ini, Randika menemani Hannah dengan segala macam kegilaannya. Di taman bermain, dia menemani adik iparnya itu naik roller coaster, gua hantu, kincir ria dll. Ketika mereka selesai mencoba semua wahana, waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Namun, Hannah tidak menunjukan tanda-tanda ingin pulang. Dia mengatakan dengan wajah yang antusias. "Kak, ayo kita pergi karaoke." Dalam perjalanan mereka ke karaoke, Hannah sudah menelepon dan mengajak teman-temannya. Mereka akhirnya menyanyi dan bersenang-senang seperti orang gila selama 3 jam. Akhirnya, setelah penyiksaan seharian ini, Hannah nampak kelelahan dan berniat untuk pulang. Setelah berpamitan dengan teman-temannya dan naik ke dalam mobil, Hannah menghela napas lega. "Ah nikmatnya!" Randika hanya bisa geleng-geleng sambil mengemudi menuju rumah. "Kak, apa kakak bersenang-senang hari ini?" Hannah yang duduk di samping itu menatap wajah Randika. "Iya kakak senang." Randika mengangguk. Dalam hatinya dia sudah kewalahan, baginya tiduran di rumah bersama istrinya adalah liburan yang paling dia inginkan. Kecepatan mengemudi Randika tidak cepat, dia nampak mengemudi sambil mengobrol. Setelah 15 menit berkendara, mobilnya sudah hendak menaiki jembatan. Asalkan dia melewati jembatan itu, mereka akan tiba di mana perumahan mereka berada. Namun, saat ini kecepatan mobil Randika tiba-tiba semakin pelan dan akhirnya berhenti total. "Kenapa kak?" Hannah terlihat bingung. "Bensinnya habis." Randika menampar dahinya. "Sepertinya kita harus mendorong mobil ini ke rumah." "Aku tidak mau keluar dari mobil ini." Hannah tersenyum dan memasang sabuk pengamannya. Randika lalu keluar dari mobilnya. "Kalau begitu aku jalan kaki saja." "Ah kak! Terus gimana ini mobilnya?" Hannah terkejut dengan tanggapan Randika. Lalu senyuman nakal naik di bibir Hannah. "Kak, gendong aku ke rumah." Kata Hannah sambil tersenyum. "Tidak, kakak sudah capek hari ini." Dengan cepat Randika menolak. "Kalau begitu malam ini aku tidur sama kak Inggrid!" Kata Hannah sambil tersenyum nakal. Randika, yang sudah berjalan beberapa langkah, tiba-tiba berputar dan sambil memasang ekspresi malas mengatakan. "Cepat naiklah." "Kak Randika memang terbaik!" Hannah, bagaikan kelinci, langsung melompat dengan riang ke punggung Randika. Randika akhirnya hanya bisa menerima nasibnya dan berjalan menuju rumah mereka. Untuk mobilnya lebih baik Ibu Ipah yang mengurusnya. Mobil-mobil mewah melewati jembatan dan menatap seorang lelaki sedang menggendong pasangannya di tepi jembatan. Dasar anak muda, sukanya pamer kemesraan dengan cara aneh! "Sekarang aku cukup tahu kenapa kak Inggrid mau menikahi kak Randika." Hannah berkata sambil tersenyum. "Kegunaan kakak itu banyak!" "Yek salah, kakakmu menikahiku karena aku ganteng tahu." Jawab Randika. "Ganteng apaan!" Hannah tertawa keras. "Kalau kakak ganteng, cewek-cewek di kolam renang itu sudah suka sama kakak dari awal." Sialan benar juga, apa diriku ini kurang ganteng ya? Tetapi definisi ganteng orang-orang itu beda, jika para perempuan itu mencicipi teknikku di tempat tidur, aku yakin mereka akan tergila-gila padaku. Melihat Randika yang merenung, Hannah merasa canggung. "Kak kenapa diam saja?" "Aku sedang bingung mau melemparmu ke dalam sungai atau tidak." "Jika kakak berani berbuat seperti itu, aku akan selalu ada di sisi kak Inggrid selama 2 bulan." Kata Hannah sambil mencubit punggung Randika. "Kalau begitu aku akan memaksanya tidur di kamarku." "Hahaha kakak tahu sendiri kan kak Inggrid itu seperti apa." Hannah tertawa dan tiba-tiba terdiam. Dia memeluk erat punggung kakak iparnya itu. "Aku sedikit iri dengan kak Inggrid bisa menemukan suami sebaik kak Randika. Kak Randika bisa diandalkan dan gagah, benar-benar seorang pria sejati. Aku takut kalau tidak bisa menemukan pasangan yang benar." "Di sekolahmu bagaimana?" "Semua laki-laki di sana manja-manja dan mengincar tubuhku saja, tidak ada yang benar-benar mencintaiku. Mereka hanya mengandalkan uang orang tua mereka untuk mendapatkan apa yang mereka mau, aku benar-benar jijik dengan lelaki seperti itu." Randika akhirnya berhasil menyeberangi jembatan ramai itu dan berkata dengan nada lembut. "Terima kasih pujianmu itu." Bahkan sejujurnya, Hannah benar-benar mencintai kakak iparnya itu. Dia makin lama makin menyukai keberadaan Randika di dalam hidupnya. Oleh karena itu Hannah ingin dimanja oleh Randika, dia memaksanya untuk pergi dengannya ke kebun binatang, ke taman bermain dan menggendong dirinya tidak lain karena ingin berduaan dengan kakak iparnya ini. Tanpa sadar Hannah tenggelam dalam dunianya sendiri. Randika sendiri tidak terlalu memikirkan Hannah sebagai perempuan. Bagaimanapun juga, Hannah adalah adik iparnya. Meskipun dia tetap menikmati empuknya dada dan paha yang dia pegang itu, semua itu hanya dalam batasan wajar. Keduanya berhasil pulang dengan selamat. "Kita sudah sampai yang mulia." Kata Randika. Hannah tersenyum dan melompat turun dari punggung Randika. "Terima kasih ya kak." Hannah lalu berlari ke atas. Randika menggelengkan kepalanya dan pergi menemui Ibu Ipah untuk mengurus mobil Hannah yang kehabisan bensin. Dia sendiri berniat untuk mandi, hari ini benar-benar hari yang memeras keringatnya jadi dia sudah tidak tahan. Dua puluh menit kemudian, Randika keluar dari kamar mandi dan Ibu Ipah sudah selesai mengurus masalah mobil. "Bu, Inggrid belum pulang?" "Belum tuh nak." Ibu Ipah menggelengkan kepalanya. "Ibu kira nona sedang bersamamu." Tiba-tiba Randika merasakan firasat buruk, jangan-jangan istrinya itu menghilang lagi. Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam, sangat jarang Inggrid lembur sedemikian rupa. Chapter 184: Hilangnya Inggrid Merasa resah, Randika menelepon sekretaris Inggrid. "Halo, apa Inggrid sedang lembur di kantor?" Suara Randika mengandung rasa cemas. "Benar, tapi sejam yang lalu Bu Inggrid sudah pulang." Jawab si sekretaris. Hati Randika mulai mengepal. Jika istrinya itu sudah pulang sejam yang lalu, seharusnya dia sudah lama berada di rumahnya. Hanya ada satu kesimpulan, Inggrid tertimpa masalah lagi. Randika dengan cepat menghubungi handphone Inggrid. Meskipun berdering, tidak ada jawaban sama sekali. Randika mencobanya lagi tapi hasilnya tetap sama. Inggrid terlibat masalah apa? Randika mengerutkan dahinya, dia tidak dapat menemukan petunjuk apa pun. Seharusnya dia sama sekali tidak menyinggung siapapun akhir-akhir ini. Jadi siapa yang mencari gara-gara dengannya? Perusahaan Cendrawasih juga sedang tidak berada dalam konflik dengan perusahaan lain. Jadi Randika sama sekali tidak kepikiran siapa pelakunya. Tidak, tidak, tidak, Randika harus berpikir apa yang aneh hari ini. Yang dia bisa tahu adalah Inggrid hari ini berangkat sendirian memakai mobilnya karena supirnya tidak bisa datang. Berarti besar kemungkinan pelaku menyadari ini dan mengambil kesempatan. Randika langsung kepikiran dengan dua keluarga yang ada di Jakarta itu. Tetapi setelah kedatangan kakek keduanya, bisa dikatakan bahwa masalah dengan keluarga itu sudah selesai dan kedua keluarga itu sudah tidak mengusik Inggrid lagi. Setelah berpikir begitu lama, Randika menghela napas dalam-dalam. Prioritas pertama adalah menemukan Inggrid dulu bukan diam merenung. Pada saat ini, Hannah turun ke lantai bawah setelah ganti baju dan melihat kakak iparnya itu sedang berdiri diam di depan meja makan. Dia tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya. "Ada apa kak?" "Kakakmu menghilang." Hannah terkejut. "Maksudnya kakak apa barusan!?" Pada saat ini, Ibu Ipah juga ikut khawatir. "Apa nona terlibat masalah lagi?" Randika dengan berat hati mengangguk. "Kemungkinan besar iya, sekarang yang harus kita lakukan adalah menemukan lokasinya." "Kota ini terlalu besar, mustahil kita bisa menemukannya dalam semalam." Hannah sudah panik. "Itu lebih baik daripada diam saja." Randika sendiri mengerti dengan situasi ini. Jika tidak ada petunjuk, mencari Inggrid sama seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Sialan, siapa lagi yang mencari gara-gara dengan dirinya. "Jangan khawatir nak, kita akan menemukannya." Ibu Ipah berusaha menghibur. "Benar, ayo kita cari kak Inggrid bersama-sama." Hannah dengan cepat ganti baju sekali lagi. Randika benar-benar cemas dan pusing. Dia sudah kehilangan istrinya itu sekali dan tidak ingin hal ini terulang lagi. Bila perlu kota ini dia hancurkan demi menemukan jejak istrinya itu. Ketiga orang ini dengan cepat naik mobil dan berkendara menuju kota. Tetapi mereka tidak tahu harus ke mana. Randika berpikir sebentar dan mengatakan. "Kita lebih baik menelusuri jalur pulang Inggrid dari kantor. Mungkin kita bisa menemukan sesuatu." Memarkirkan mobilnya, mereka bertiga mulai berjalan kaki menelusuri jalan yang dipakai Inggrid untuk sampai ke rumah. Bila perlu, mereka akan berjalan sampai perusahaan di mana Inggrid bekerja. Selama perjalanan, Randika terus menerus menelepon handphone Inggrid meskipun tidak terjawab. Setelah hampir 10 menit, ketiga orang ini sudah berada di dekat perusahaan Cendrawasih tetapi masih tidak menemukan jejak apa pun. Ibu Ipah dan Hannah sudah panik tidak karuan. Hati Randika sendiri sudah mengepal, tetapi dia tidak boleh menyerah. Pada saat ini, tiba-tiba teleponnya terangkat. Hati Randika kembali bersinar, harapan untuk menemukan istrinya telah kembali. Dengan cepat dia menempelkan HPnya di telinganya. "Di mana kamu?" Namun, suara lelaki bersendawa terdengar dari balik telepon. Hati Randika kembali meredup. "Hiks, ini siapa ya?" Suara lelaki itu terdengar terbata-bata dan tidak jelas. "Ini Randika, kamu siapa? Di mana Inggrid!" Suara Randika semakin menaik. "Kenapa kamu bisa mengangkat telepon ini? Di mana Inggrid?" Hannah dan Ibu Ipah dengan cepat berdiri di depan Randika, namun pada saat ini, lelaki yang mengangkat teleponnya itu tiba-tiba menutup teleponnya. Tut, tut, tut. Randika dengan cepat merasa kecewa ketika mendengar suara telepon terputus itu. "Kak sudahlah tidak usah khawatir. Kita coba pergi ke kantornya dulu, mungkin kakak ada di sana." Hannah berusaha menipu dirinya, dari tatapan matanya dia sudah terlihat khawatir. Pada saat ini, sekumpulan orang mabuk sedang berjalan menghampiri mereka. Para pejalan kaki, melihat orang yang sudah mabuk berat itu, dengan cepat menghindari mereka. Mereka takut dengan apa yang akan dilakukan orang-orang yang sudah mabuk itu. "Hei, Roy, hik, ngapain kamu barusan? Hik." Orang mabuk itu tidak bisa berhenti cegukan. Kumpulan orang mabuk ini terus berjalan dengan terpincang-pincang sambil terus cegukan. "Tidak ngapa-ngapain, hik." Mereka melewati kelompoknya Randika sambil terus bercanda. Randika sama sekali tidak mempedulikan mereka sampai akhirnya seseorang berkata pada temannya yang mabuk. "Aku hanya, hik, mengambil HP jatuh dan, hik, ada orang yang menelepon HP itu. Suara orangnya marah-marah jadi kututup langsung." Temannya itu tertawa. "Bajingan, matamu masih bisa melihat HP yang kecil itu?" Roy merasa tersinggung dan membalas. "Memangnya kau kira, hik, aku lemah sepertimu? Ngambil HP jatuh seperti itu aku masih bisa! Tahu tidak? Nama orang itu lucu sekali, kalau tidak salah Randika seperti penyanyi Kangen Band itu!" Randika, dengan pendengaran supernya, tiba-tiba menoleh dan mengejar kumpulan orang mabuk itu. "Ulangi lagi kata-katamu." Randika dengan cepat memeriksa Roy dari atas ke bawah, di tangannya itu terlihat HP dengan casing berwarna pink. HP itu benar-benar familier, Randika yakin itu adalah HP milik Inggrid! "Hei! Apa maumu bocah?" Orang-orang mabuk ini menegak kembali bir yang ada di tangannya. Dia hendak melepaskan diri dari genggaman Randika namun tidak berhasil. Pada saat ini, teman-temannya sudah mendatangi Randika satu per satu. "Hei kau ingin mati bocah?" Meskipun pandangannya mereka sedikit kabur, mereka masih berhasil mengepung Randika di tengah-tengah mereka. Ketika para pejalan kaki melihat mereka, semuanya segera merasa kasihan pada Randika. Tindakan orang mabuk benar-benar tidak terduga dan mudah main pukul. Randika benar-benar tidak peduli dengan situasinya, dia hanya peduli dengan keberadaan Inggrid. "Aku tanya kamu sekali lagi, di mana kamu menemukan HP itu?" Namun, para pemabuk ini tertawa bersama-sama. "Hei bocah, hik, kau kira kami akan bilang, hik, begitu saja?" "Fitnah tanpa bukti itu sama saja dengan kejahatan. Pergi sana sebelum, hik, kami menuntutmu." Seorang dari mereka menghabiskan birnya dan meletakan botol kosongnya di tanah. Di tatapan matanya itu, Randika seperti bergerak terus tanpa henti. Teman-temannya juga mulai kesulitan berdiri. Tiba-tiba, dari arah belakang, seseorang sudah melayangkan botol birnya pada bagian belakang kepala Randika. "Mati kau." Semua pejalan kaki sudah menutup mata mereka, pemuda itu sudah tamat riwayatnya. Mungkin apa yang mereka bisa lakukan adalah menelepon ambulans. Tetapi kejadian yang terjadi benar-benar di luar dugaan semua orang. Botol bir itu tidak mengenai kepala Randika. Randika sendiri sudah menghilang dan berdiri di samping orang yang menyerangnya. Dia lalu mencengkeram erat pergelangan tangannya. Seluruh tubuh si pemabuk ini benar-benar terangkat dan terbanting keras di tanah. Kali ini, semua teman-temannya yang mabuk itu menjadi marah. Mereka semua mulai melayangkan botol mereka tepat ke arah Randika. "Dasar bocah!" Ketika pemabuk itu menerjang, dadanya sudah menerima sikutan Randika. Orang tersebut terhuyung-huyung yang pada akhirnya terjatuh dan kepalanya membentur dengan keras, dalam sekejap dia sudah tidak sadarkan diri. Pemabuk lainnya juga ikut menerjang dan sudah tak sadarkan diri sambil memeluk botolnya, rupanya dia tersandung botol temannya yang ditaruh di tanah sebelumnya. Di lain sisi, Randika sudah bagaikan serigala yang masuk ke dalam kandang ayam. Dia dengan cepat mengendalikan situasi. Dalam 2 menit, yang masih sadarkan diri hanyalah pemabuk yang memungut HP Inggrid, teman-temannya sudah tidak sadarkan diri semua. Para pejalan kaki yang melihat hal ini sudah kehabisan kata-kata. Pemuda itu benar-benar sakti! Wajah Randika terlihat datar, isi pikirannya masih kacau dan cemas terhadap Inggrid. Kalau saja orang ini mau menjawab pertanyaannya, semua orang yang dia hajar itu masih bisa berdiri. Roy menatap Randika dengan ekspresi ketakutan, saking takutnya dia memuntahkan isi perutnya. "Apa maumu!" Roy sudah sadar bahwa riwayatnya sudah tamat. Tanpa berkata apa-apa, Randika mengangkatnya dan menghantamkannya ke bawah. Dalam sekejap Roy sudah merintih kesakitan. "Di mana kamu memungut HP itu?" Randika bertanya dengan nada dingin. "Akˇ­ Akuˇ­" Roy tidak bisa menghentikan rasa takutnya. Randika lalu mengangkat tangannya. "Masih mau kuhajar?" Para pejalan kaki sudah menelepon ambulans dan menjelaskan situasinya. Ketika mereka melihat Randika menyiksa salah satu dari pemabuk yang tersisa, mereka sama sekali tidak berani mencegahnya. "Jangan! Tolong ampuni aku!" Kata Roy. "Di mana kamu memungut HP itu?" Tanya Randika sekali lagi. "Di gang sebelah sana." Kata Roy sambil menunjuk gangnya. Randika mengambil HP Inggrid dari Roy dan langsung berjalan menuju gang tersebut. Ibu Ipah dan Hannah dengan cepat mengikutinya, mereka bertiga langsung mencari petunjuk ketika sampai di gang tersebut. Jika HP Inggrid ditemukan di sana, kemungkinan besar Inggrid melewati gang ini. Mungkin saja ada petunjuk yang bisa menjelaskan keberadaannya. Setelah setengah jam berlalu, wajah Randika terlihat lemas, mereka sama sekali tidak menemukan apa pun. Di saat mereka bertiga merasa lemas, tiba-tiba mereka mendengar suara orang tertawa dari belakang mereka. Randika menoleh dan melihat boneka ginseng muncul dari dalam tanah. Jadi selama ini ia bersembunyi di dalam tanah? Randika yang masih terkejut itu tiba-tiba melihat boneka ginseng memanjat celananya dan duduk di pundaknya. Pada saat ini, Ibu Ipah dan Hannah melihat boneka imut itu duduk dengan santainya di pundak Randika. Randika menatap boneka ginseng yang nampaknya berusaha berbicara padanya. Tiba-tiba pertanyaan ini terlintas di benaknya. "Apa kamu tahu di mana Inggrid berada?" Chapter 185: Konflik Boneka ginseng itu merasa lega karena Randika akhirnya mengerti apa yang ia maksud. Boneka itu mengangguk dengan semangat. "Sungguhan?" Randika bersemangat kembali, keberuntungan sepertinya tidak meninggalkan dirinya. "Bawa aku ke sana!" .........ˇ­ Pinggiran kota, Hotel Atmosfer, kamar VVIP. Inggrid terikat di kursi, tangan dan kakinya terikat sehingga dia sama sekali tidak bisa bergerak. Akhirnya kain hitam yang menutupi wajahnya dibuka. Dalam sekejap Inggrid langsung memeriksa sekelilingnya. Dia menyadari ada seorang pria yang duduk di kursi rodanya sedang memunggunginya. Inggrid tidak bisa melihat wajah penculiknya itu. "Siapa kamu?" Tanya Inggrid. "Kenapa kamu menculikku? Aku sama sekali tidak pernah punya masalah dengan orang sepertimu." "Tidak punya masalah?" Pria itu tertawa keras mendengar kata-kata Inggrid. Inggrid berusaha melepaskan diri tetapi tali yang mengikatnya benar-benar terlalu ketat. "Kukira orang sepertimu itu pintar, tetapi nyatanya kamu sama bodohnya dengan pelacur." Pria dengan kursi rodanya itu berputar dan menatap Inggrid. Wajah pria ini penuh dengan luka, sepertinya lukanya itu baru saja kering. Inggrid dengan cepat mengenali wajah pria tersebut. Dia adalah Hans, anak kelima keluarga Alfred! "Kau!" Inggrid terkejut, dia sama sekali tidak menyangka Hans akan datang ke kotanya lagi. "Kamu sepertinya terkejut melihatku." Wajah Hans terlihat dingin, memori kelam waktu itu kembali memasuki dirinya. "Hans, masalah kita sudah diselesaikan oleh keluarga kita. Jangan berbuat gegabah dan seenaknya, keluarga kita bisa-bisa tidak akan mengampuninya." Kata Inggrid. "Kalau begitu kenapa kamu kembali ke kota sampah ini? Kenapa kamu masih berkeliaran dan tidak menungguku sambil mengangkang di rumahku?" Hans mendengus dingin. "Jangan sebut omong kosong itu solusi terbaik keluarga kita. Pelacur sepertimu dan anjingmu itu harus dihukum sepantasnya, kalian tidak akan kubiarkan lolos begitu saja." Inggrid merasakan kebencian yang mendalam di setiap kata-kata milik Hans. "Apa maumu?" "Apa mauku?" Hans mendadak tertawa keras, sambil tersenyum, wajahnya terlihat dingin. "Apa mauku? Tentu saja, aku ingin kalian berdua mati!" Wajah Hans benar-benar terlihat bengis dan matanya penuh dengan api amarah. Dia meremas keras pegangan kursi rodanya. Dia menatap Inggrid, yang tidak bisa bergerak, seolah-olah dia melihat bongkahan daging yang siap disantap. Inggrid sudah ketakutan melihat wajah Hans yang terlihat bengis itu. "Kamu sebaiknya melepaskanku." "Melepasmu?" Wajah Hans kembali normal. "Kamu pikir aku jauh-jauh dari Jakarta ke kota kecil ini hanya untuk melepasmu?" "Terus apa maumu!" Inggrid menatap tajam Hans. Hans tersenyum jahat. "Kamu pikir setelah membuatku menjadi kasim aku tidak bisa memperkosamu?" Mendengar hal ini, Inggrid menjadi ketakutan. Pada saat ini, Hans menepuk tangannya dan tiba-tiba muncul sekumpulan pria kekar dari balik pintu yang hanya memakai celana dalam. Satu per satu, dengan total 15 orang, berbaris dan berdiri di belakang Hans. "Lihat orang-orang ini." Hans menoleh sambil mengatakan. "Aku telah memilih orang-orang ini dengan hati-hati. Mereka akan memperkosamu hingga kamu mati! Hahaha." Melihat senyuman jahat Hans tersebut, Inggrid dengan marah membentaknya. "Kau benar-benar manusia biadab!" "Aku biadab? Karena kamu telah menghancurkan hidupku, aku bersumpah akan membalasnya!" Bentak Hans. Kemudian Hans kembali duduk dengan tenang dan berkata dengan nada dingin. "Hari ini aku hanya akan menyiksamu, setelah itu akan menyiksa anjingmu yang kau sebut suami itu. Aku akan memaksanya melihat kamu diperkosa, dihamili, disiksa baru aku akan membunuhnya!" Inggrid sudah kehabisan kata-kata. Ketika manusia duduk di depan seekor hewan buas, hewan tersebut tidak akan memahami kata-katanya. Hans tersenyum dingin. "Untuk mencegahmu memberontak dan kabur, aku akan mengikatmu lebih erat lagi." Hans menepuk tangannya dan tiba-tiba 2 orang kekar itu berjalan ke arah Inggrid. "Hei! Apa yang kau lakukan!" Inggrid ketakutan dan meronta-ronta. Tetapi kedua orang ini benar-benar terlalu kuat dan Inggrid sama sekali tidak bisa lepas. Inggrid dibuat tertidur terlentang di atas kasur. Setiap tangan dan kakinya diborgol di sudut kasur, membuatnya sama sekali tidak bisa bergerak. Di tengah-tengah proses tersebut, Inggrid berteriak. "Kau benar-benar sudah bukan manusia! Kau akan menyesali perbuatanmu ini!" "Aku tidak pernah menyesal dalam hidupku." Hati Hans benar-benar sudah dikuasai oleh kebencian. Dia lalu berkata pada bawahannya. "Bungkam mulutnya!" Mendengar hal ini, kedua orang tadi menyumpal mulut Inggrid dengan kain. Suara Inggrid hanya bisa terdengar seperti suara nyamuk. Pada saat ini, Inggrid sudah terborgol di atas kasur dengan kaki mengangkang dan tangan yang terbuka lebar. "Jangan harap ada yang datang untuk menyelamatkanmu." Hans mendorong kursi rodanya ke samping kasur dan membelai wajah Inggrid. Inggrid segera memalingkan wajahnya, membuat Hans mencengkeram wajahnya. "Benar-benar wajah yang cantik." Kata Hans di telinga Inggrid. "Sayang sekali wajah ini akan hancur sebentar lagi." Inggrid ingin menggigit orang ini hidup-hidup, tetapi Hans tiba-tiba melepas dirinya dan berkata pada para bawahannya. "Cepat mulai." Mendengar perintah ini, para pria kekar ini menghampiri Inggrid dengan tatapan mesum. Inggrid sudah ketakutan ketika melihat para pria tersebut menghampiri dirinya, dia menggelengkan kepalanya sambil berusaha melepaskan diri sekuat tenaga. "Jangan pikir kau bisa kabur. Percuma kamu meronta-ronta seperti itu." Hans mengambil gelas berisi anggurnya dan meminumnya. Adegan berikut ini akan menjadi adegan paling menarik dalam hidupnya. Bagaimanapun juga, jika dia tidak bisa memiliki Inggrid maka dia akan menghancurkan perempuan itu dengan tangannya sendiri! Hans memang besar dengan cara seperti ini, apa pun yang dia mau harus dia dapat dan apabila tidak bisa maka tidak boleh ada orang yang bisa. Ketika para bawahannya itu sudah mengelilingi Inggrid, Hans meletakan gelas anggurnya dan mengatakan. "Bugili dulu." Para pria itu dengan cepat berusaha melepas pakaiannya Inggrid. Melihat tangan para bawahannya itu di tubuhnya Inggrid, Hans merasa bahwa dirinya lah yang berada di atas Inggrid. Namun, tiba-tiba dari arah pintu terdengar suara ledakan. DOR! Pintu yang terkunci itu benar-benar hancur menjadi 2 bagian. Hans benar-benar terkejut, para pria kekar itu juga langsung menoleh ke arah pintu. Mereka semua melihat sesosok pria muncul dari balik pintu. Randika! Inggrid sudah berurai air mata, pangeran berkudanya telah datang menyelamatkan dirinya! Randika dengan cepat memeriksa seluruh isi ruangan. Tatapannya jatuh pada Inggrid yang terborgol dan dikepung oleh sejumlah pria yang hanya bercelana dalam. Dalam sekejap amarahnya meluap dan seluruh sosoknya menghilang. Dia sudah menghampiri pria yang hendak memperkosa istrinya itu satu per satu dan memukulnya hingga pingsan. Para pria kekar ini sama sekali tidak berdaya. Mereka semua terpental nyaris bersamaan sambil meraung kesakitan. Entah mereka menatap tembok ataupun lantai, mereka sama sekali tidak bisa melihat sosok Randika. Dalam sekejap tembok dan lantai sudah diisi oleh orang tak sadarkan diri! "Aku tidak menyangka kamu akan menemukanku secepat ini." Hans mendengus dingin. "Aku tidak menyangka kamu masih berani menyentuh Inggrid setelah aku memberimu pelajaran." Kata Randika dengan nada dingin. Tangan Hans yang ada di pegangan kursi rodanya itu meremas kuat. Tatapan matanya benar-benar dipenuhi api kebencian, dia ingin menguliti orang di hadapannya hidup-hidup. "Tetapi semua ini tidak masalah, aku memang akan berniat membunuh kalian berdua sekaligus." "Aku dan Inggrid tidak akan mati, tetapi hari ini adalah hari kematianmu!" Kata Randika dengan wajah dinginnya. Hans bukan hanya sekali tetapi dua kali berani menyentuh perempuan miliknya, Ares tidak akan membiarkan orang ini hidup! "Jangan terlalu berbangga diri." Para pria kekar itu sebagian banyak sudah berdiri kembali. "Kami akan membunuhmu terus memperkosa wanita itu." Randika menatap cecunguk-cecunguk tersebut dan berkata dengan nada dingin. "Jangan harap bantuanmu yang ada di luar pintu itu akan membantumu, aku sudah membunuhnya." Kali ini para pria kekar itu terdiam ketika mendengarnya, temannya sudah mati? Tetapi 10 pria yang sudah sadarkan diri ini tidak peduli dan menatap musuhnya kali ini. Musuhnya ini benar-benar terlihat seperti orang biasa, tidak ada istimewanya. Mungkin mereka tadi semua terpental hanya karena suatu trik liciknya saja, jika mereka serius pasti pria ini sama sekali bukan lawan mereka. Hans tetap berwajah bengis meskipun Randika berdiri di hadapannya. Dia sudah bertekad akan membunuh pria yang merusak hidupnya itu. Lagipula, dia memiliki Inggrid sebagai jaminan keselamatan dirinya! Randika menatap seluruh 10 orang yang hanya bercelana dalam itu. Hans mengambil gelas anggurnya lagi sambil mengatakan. "Bunuh penyusup itu." Perintah itu singkat dan jelas, wajah para bawahannya menjadi serius. "Jangan dimasukkan hati, semua ini hanyalah bisnis." Para pria kekar ini benar-benar tidak kenal takut, tapi Randika jauh lebih tidak takut lagi. Dia memberikan jari tengahnya pada mereka. Para pria kekar itu menjadi marah. "Mati kau!" Tiba-tiba, kesepuluh orang ini sudah menerjang ke arah Randika. Randika tetap berwajah datar, setelah beberapa saat dia juga menerjang ke arah lawannya. Sosoknya benar-benar seperti bayangan. Randika sudah berada di hadapan salah satu lawannya dan memukulnya tepat di wajahnya. Dipukul dengan kekuatan yang luar biasa, orang tersebut hanya bisa mengeluarkan seteguk darah. Namun, sebelum dia sempat berteriak kesakitan, seluruh tubuhnya sudah melayang dilempar oleh Randika! Sebelum orang ini terangkat dan melayang, masih ada jeda satu detik. Satu detik itu dimanfaatkan oleh Randika untuk menendang salah satu musuhnya, dia melayang melewati Hans dan menabrak tembok. Randika membungkuk dan menghindar dari serangan kaki lawannya yang ketiga. Kakinya yang berada di udara itu dicengkeram erat oleh Randika dan dirinya tiba-tiba terangkat. Randika memanfaatkan lawannya ini untuk menghajar lawannya yang lain. Dalam sekejap, Randika menghajar para pria yang tidak kenal takut itu dengan sangat kejam dan cepat. Setelah menerima pukulan ataupun tendangan Randika, seluruh bawahan Hans itu sudah tidak sadarkan diri kembali. Kesepuluh orang itu dikalahkan Randika hanya dalam 1 menit! Chapter 186: Konflik (2) Dalam sekejap semua pria kekar itu sudah terkapar tidak sadarkan diri, Randika benar-benar tidak memberi mereka ampun. Hampir semua tulang yang terkena pukulan ataupun tendangannya itu patah, bisa dikatakan bahwa mereka tidak akan bisa segarang itu lagi seumur hidup mereka. Sekarang hanya Hans, Randika dan Inggrid yang masih memiliki kesadaran di ruangan ini. Randika sudah menatap tajam Hans yang duduk di kursi rodanya. Tetapi, yang membuat Randika terkejut adalah sosok orang yang tiba-tiba muncul di sofa. Sosok tersebut terlihat menguap dan bosan. Randika mencuekinya dan berjalan menghampiri Inggrid. "Kekuatan yang luar biasa." Pada saat yang sama, pria misterius itu mengangkat kepalanya dan memperlihatkan wajahnya. Wajahnya memiliki luka yang tak terhitung jumlahnya dan matanya cuma ada satu! Benar-benar wajah seorang penjahat! Randika tidak menjawab, dia melepaskan borgol milik Inggrid dan memeluknya. Pria misterius itu tidak senang karena Randika mencuekinya, baru pertama kali ada orang yang searogan itu di dalam hidupnya. "Aku adalah Wang Da dari daftar para Dewa!" Orang misterius itu berdiri dan berkata dengan nada dingin. "Melihat kemampuanmu itu, kau juga pasti salah satu ahli bela diri sama sepertiku. Aku cuma tidak tahu namamu ada di daftar mana." Randika berputar dan menatap Wang Da, dia berkata dengan nada tenang. "Kamu bertanya tentang asal-usulku? Kau cuma perlu cukup tahu saja bahwa aku telah membunuh banyak orang sepertimu." Wajah Wang Da terlihat serius sekaligus dingin. "Oya? Aku tidak sabar membuktikan mulut besarmu itu." Di saat Wang Da selesai berbicara, sosoknya tiba-tiba menghilang. Lampu di ruangan VVIP ini tiba-tiba mati dan dalam sekejap kamar ini menjadi gelap gulita. Randika masih berdiri di tempatnya dan sama sekali tidak bergerak. Satu menit berlalu, dua menit berlalu. Pada saat ini, Randika mendadak mengulurkan tangannya di depannya. Di depannya sudah ada pedang dengan kilatan dingin yang hendak menusuknya tepat di dadanya! Tetapi dengan tangan Randika yang sudah siap, dia menjepit ujung pedang itu dengan jempol dan jari telunjuknya. Pedang itu sama sekali tidak bisa bergerak! Wang Da benar-benar terkejut, dia mengangkat kepalanya dan menatap wajah Randika yang datar. Firasatnya benar-benar buruk. Randika melepaskan genggamannya dan Wang Da terpental beberapa langkah ke belakang. Wang Da memanfaatkan kesempatan ini untuk menghilang lagi ke dalam kegelapan. Randika masih berdiri diam di tempatnya, dia lalu berkata dengan nada datar. "Bergeraklah lebih cepat, aku sudah bosan bermain dengan orang lemah sepertimu. Aku akan memberimu dua kesempatan lagi." Mendengar kata-kata Randika itu, wajah Wang Da mulai terlihat marah. Pertama kali dalam hidupnya dia dipandang rendah seperti itu! Ketika dia melihat aksi Randika sebelumnya, Wang Da hanya berpikir bahwa lawannya ini hanya jago berkelahi. Dia sangat yakin bisa membunuhnya dengan satu tangan. Namun pada saat ini, serangan terbaiknya tidak bisa menyentuh Randika sama sekali, Wang Da merasakan tekanan yang belum pernah dia rasakan. Spesialisnya adalah serangan diam-diam dari balik kegelapan, tetapi masalahnya adalah lawannya bisa mengetahui di mana dia berada dan arah serangannya dari awal! Wang Da menenangkan dirinya dan mengatur pernapasannya. Dia menghilangkan hawa kehadirannya dan mencari titik lemah Randika dari balik kegelapan. Pada saat yang sama, Randika tidak bergerak sama sekali malahan dia menutup matanya! Dia benar-benar meremehkanku! Amarahnya sudah meluap-luap, darahnya mendidih dan ototnya menegang. Wang Da sudah berubah menjadi anak panah yang melesat dengan cepat. Pedangnya dia genggam terbalik sehingga tidak akan memantulkan cahaya. Dengan ini Randika tidak bisa melihat arah datang serangannya, apalagi matanya tertutup. Mati kau! Pada saat ini, Randika membuka matanya, berputar badan dan menatap mata Wang Da secara langsung. Kemudian dia mengangkat tangan kanannya dan menembakan tenaga dalamnya yang membuat Wang Da terpental di udara. Wang Da berputar-putar di udara, karena serangan ini dia terbentur keras di tembok. Menatap Randika dengan kedua matanya, Wang Da benar-benar ketakutan. "Sekali lagi." Kata Randika dengan nada datar. Melihat sosok Randika yang sekarang, Wang Da berpikir bahwa dia sama sekali tidak mempunyai kesempatan walaupun diberi 100x kesempatan. Lawannya ini benar-benar kuat dan jauh melebihi dirinya! Sepertinya perkataan Randika yang sudah membunuh banyak orang seperti dirinya bukanlah omong kosong. Jika dia menginginkannya, mungkin dia sudah benar-benar mati daritadi. Tapi Wang Da tidak menyerah! Dia kembali bergerak dari balik kegelapan. Satu menit, dua menit telah berlalu dan dia sama sekali tidak bergerak. Cahaya bulan dari arah jendela tiba-tiba tertutup oleh awan, semakin menggelapkan ruangan ini. Pada saat ini, Wang Da benar-benar menyatu dengan kegelapan. Dia langsung menerjang ke arah Randika dengan kecepatan penuh. Whush! Pertama Wang Da seolah-olah menyerang dari belakang. Namun pada saat yang sama, dia berputar di tengah udara sambil melempar pedangnya ke arah belakang kepala Randika. Dia sendiri bersalto di udara dan berusaha menebas Randika dari belakang apabila Randika berputar dan menghadang lemparan pedangnya itu. Tetapi Randika sudah mengerti trik kotor seperti ini. Bukannya menghindar, dia bergeser dan keluar dari jalur pedang tersebut. Pada saat yang sama, Randika mengangkat kepalanya dan menatap mata Wang Da yang ada di udara. Wang Da menyadari tatapan tajam Randika itu. Lawannya ini bahkan tahu trik andalannya? Di tengah keterkejutannya, pergelangan tangannya telah dicengkeram erat oleh Randika dan tenaga dalamnya sepertinya tidak bisa menyebar. Terbanting keras di lantai, Randika berkata pada Wang Da. "Sudah kubilang, orang sepertimu sudah kubunuh berkali-kali." Ketika Wang Da ingin melarikan diri, pergelangan tangannya itu sudah diinjak oleh Randika dan hancur berkeping-keping! "Kauˇ­ Siapa kau?" Wang Da menatap lawannya dengan keringat dingin mengalir deras. "Kau ingin tahu daftar mana aku berada?" Randika menatap Wang Da dan berkata dengan nada dingin. "Aku berada di daftar 12 Dewa Olimpus." Dua belas Dewa Olimpus? Mata Wang Da terbelalak ketika mendengarnya. Bisa-bisanya dia bertemu dengan orang mengerikan seperti itu di Indonesia? Randika sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk berbicara. Dia hanya memukulnya dan membunuhnya. Kemudian, dengan jarinya yang membentuk pistol, dia menembakan secuil tenaga dalamnya untuk menyalakan lampu. "Sekarang giliranmu." Randika menatap Hans. Hans, yang menyadari anak buah terkuatnya itu telah mati, benar-benar berwajah pucat. Tatapan mata Randika benar-benar mengerikan dan penuh dengan amarah. Nyawanya sudah berakhir! "Keluargaku tidak akan membiarkanmu lolos begitu saja." Hans menatap Randika dengan dingin. "Aku tahu." Setelah berkata seperti itu, Randika mengangkat tangannya. Tiba-tiba, tubuh Hans yang awalnya tegang merasa seluruh tenaganya mulai menghilang dari tubuhnya. Hans dari keluarga Alfred telah mati! Randika lalu membawa Inggrid dan pergi dari hotel ini. Ada lubang besar tepat di tenggorokan Hans yang duduk di kursi rodanya. Darah terus mengucur deras dan tangannya sudah menggantung di udara Saat Randika keluar dari gedung, cahaya bulan benar-benar indah. Chapter 187: Aku Tidak Takut Randika lalu membawa Inggrid pulang ke rumah. Tentu saja, kejadian barusan benar-benar membuat Inggrid ketakutan dan tidak bisa lepas dari pelukannya Randika. "Sayang, kamu tidak usah khawatir. Biarkan masalah ini yang aku urus." Kata Randika sambil mengelus rambut Inggrid. "Sayangnya ini beda Ran." Inggrid menatapnya dengan tatapan yang penuh ketakutan. "Kali ini kamu membunuhnya, keluarga Alfred tidak akan melepaskan kejadian ini." "Dia sudah menculikmu dan mau memperkosamu dua kali. Jika aku tidak membunuhnya, bisa-bisa dia akan melakukannya lagi. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi lagi." Randika memeluk erat Inggrid. "Jika aku tidak bisa melindungi istriku, suami macam apa aku?" Inggrid merasa tersentuh dengan kata-kata itu, dia hendak membalas Randika tetapi Randika menempelkan jari telunjuknya di bibirnya. "Sudah kamu tidak usah khawatir tentang keluarga Alfred lagi. Biarkan aku mengatasinya dengan caraku sendiri." Melihat Randika yang penuh percaya diri, Inggrid menganggukan kepalanya. Sesampainya di rumah, Ibu Ipah dan Hannah benar-benar senang melihat Inggrid pulang dengan selamat. Ibu Ipah dengan cepat memasak sedangkan Hannah tidak bisa berhenti menangis di pelukan kakaknya. Setelah makan malam dan mandi, Inggrid masuk ke dalam kamarnya. Dia lalu disusul oleh Randika. Setelah mematikan lampunya, mereka berdua hanya tiduran di kasur. Randika meraih tangan kecil Inggrid dari balik selimut. Namun, dia menyadari bahwa Inggrid tidak bisa berhenti bergetar. "Sayang, kamu masih takut?" Tanya Randika dengan nada lembut. Inggrid mengangguk. Dia membuka mulutnya tetapi tidak mengatakan apa-apa. Alasan karena Randika begitu percaya diri menentang keluarga Alfred karena dia sama sekali tidak tahu sebesar apa kekuatan keluarga aristokrat tersebut. Pengaruh yang dimiliki keluarga Alfred benar-benar terlalu mengerikan, orang biasa sama sekali tidak bisa mengerti hal ini. Meskipun keluarga Alfred sedang berdiam diri, meskipun Randika memiliki penatua yang menolongnya di Jakarta waktu itu, masalah kali ini benar-benar terlalu serius. Membunuh salah satu keturunannya sama saja menyulut api peperangan. Jika keluarga Alfred memutuskan untuk membunuh Randika, mereka akan menggunakan seluruh kekuatannya untuk memastikan Randika terbunuh. Inggrid masih tidak bisa sepenuhnya percaya bahwa masalah ini akan selesai dengan damai. "Enakan?" Tanya Randika sambil memeluk Inggrid. Merasakan hawa hangat dari tubuh Randika, Inggrid merasa dirinya lebih baikan dan lebih tenang. Setelah mengangguk perlahan, Inggrid membalas pelukan Randika itu. Malam hari ini, Inggrid tertidur di pelukan hangat Randika. ......... Besoknya. Mungkin karena kejadian kemarin terlalu menakutkan dan menguras energinya, Inggrid benar-benar tertidur lelap. Randika terbangun terlebih dulu dan mencium Inggrid di dahinya. Sambil berhati-hati tidak membangunkannya, Randika keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah. "Pagi nak Randika." Ibu Ipah yang melihat Randika turun menyambutnya dengan senyuman. Ibu Ipah sudah merestui hubungan nona mudanya dengan Randika. Sepertinya Randika mempunyai kekuatan yang tidak bisa dijelaskan dengan logika, oleh karena itu Randika benar-benar bisa diandalkan dalam situasi apa pun. "Ibu Ipah masak apa pagi ini?" Tanya Randika sambil tersenyum. "Aku sangat lapar pagi ini." "Tenang saja, ibu masak banyak kok hari ini." Kata Ibu Ipah sambil tersenyum. "Aku harap ayam bumbu rujak sama sayur bening yang ibu masak ini cukup untukmu." Mendengar menu sarapannya ini, Randika tidak bisa berhenti meneteskan air liurnya. Setelah kejadian semalam, energi fisik dan batinnya benar-benar terkuras. Duduk di meja makan, waktu sudah menunjukan pukul 8 pagi. Selain Randika dan Ibu Ipah, Hannah dan Inggrid belum pada bangun. Hannah sepertinya sama terkurasnya dengan Randika sehingga telat bangun. Pada saat ini, pagar depan rumahnya tiba-tiba terbuka. Randika yang menyadarinya langsung menatap ke arah pagar. Ada sosok beberapa orang yang berpakaian sedikit unik dan terlihat persis seperti orang-orang yang telah dihajarnya di Jakarta. Keluarga Alfred? Randika mengerutkan dahinya dan menyadari bahwa orang-orang ini hendak menerobos masuk. Ketika para bawahan keluarga Alfred ini hendak masuk, tiba-tiba secara bersamaan mereka mengambil langkah mundur. "Tidak ada satupun dari kalian yang bisa masuk ke rumah ini." Kata Randika dengan nada dingin, dia lalu mengambil satu langkah maju. Langkah kakinya benar-benar mantap, membuat lawannya itu mengambil langkah mundur. Situasi memasuki jalan buntu, kedua belah pihak sama-sama tidak menunjukan tanda-tanda menyerang. Saat para suruhan itu menatap tembok, Randika berkata dengan nada dingin. "Kalian mencariku?" Wajah para suruhan ini menjadi muram, salah satu mereka menjawab. "Apa kau telah membunuh tuan muda kemarin malam?" "Jadi kalian adalah pengawal milik anak laknat itu?" Kata Randika sambil menatap tajam mereka. "Kami adalah bawahan langsung milik keluarga Alfred, jika kau membunuh salah satu anggota keluarga mereka maka masalah ini lebih besar daripada yang kau duga." Orang tersebut menatap Randika. "Aku sarankan kau datang ke Jakarta dan mengakui perbuatanmu pada tuan besar, atau kau akan menerima konsekuensinya!" Randika sedikit tertawa, sejak kapan keluarga Alfred punya selera humor? "Apa yang akan terjadi kalau aku ikut denganmu?" Tanya Randika. "Kau akan menerima hukuman dari tuan besar kami." "Aku rasa hukuman itu akan berat." Randika mendengus dingin. "Kalau begitu, apa yang akan terjadi kalau aku tidak ikut dengan kalian?" "Hanya ada kematian pada orang yang berani menyinggung keluarga Alfred!" "Kalau begitu hasilnya sama-sama mati, jadi buat apa aku ikut dengan kalian? Kalian ini memang bodoh." Wajah Randika menjadi serius. "Kau rasanya butuh operasi otak, kebodohanmu itu sudah tidak tertolong lagi. Belum lagi kalian telah membiarkan tuan muda kalian mati begitu saja. Kalau aku jadi kau, aku sudah pasti mengundurkan diri dari pekerjaanmu itu." "Kau!" Beberapa orang sudah merasakan darah mereka mendidih. Sedangkan Randika hanya menguap, "Sudah katakan saja pada bosmu itu bahwa semua kejadian ini bukan salahku tetapi salah anaknya yang bejat dan tidak bermoral itu. Lain kali jika kalian mencariku, bel pintu rumahku. Kalau kalian menerobos lagi seperti ini, aku akan memastikan kalian akan merangkak keluar dari sini." Mendengar kata-kata penghinaan Randika ini, semua suruhan keluarga Alfred ini sudah tidak bisa menahan diri. Beberapa dari mereka sudah maju dan berusaha menangkap Randika! Tetapi Randika tiba-tiba ikut menerjang dan mengulurkan kedua tangannya. Dia berhasil menangkap pergelangan tangan dua orang. Sambil meremasnya, Randika mengayunkan kedua orang tersebut hingga mirip angin puting beliung dan melepas mereka hingga terbang dan terbentur di tanah dengan keras. "Serang dia." Pemimpin kelompok ini memerintahkan bawahannya untuk menyerang Randika. Randika kembali berhasil menangkap seseorang dan langsung menghancurkan salah satu kakinya hingga tidak bisa berdiri seumur hidupnya. Setelah melempar orang tersebut, Randika melompat dan mendarat tepat di tengah 3 orang. Dengan cepat dia menghantam dada mereka dan menendang mereka hingga terpental. Di saat yang sama, Randika menghindari serangan mendadak dari arah belakangnya. Serangan dari pemimpin kelompok ini memang berbeda dengan anak buahnya. Setelah menghindar, Randika melayangkan pukulan yang pada akhirnya dihadang dengan kedua tangan si pemimpin kelompok itu. Lebih dari 10 langkah mundur, kekuatannya benar-benar tidak ada apa-apanya dengan Randika. Tak lama kemudian, semua orang sudah terkapar kesakitan di tanah dan hanya Randika dan si pemimpin kelompok lah yang berdiri. "Aku tidak takut dengan keluarga Alfred." Randika menatap tajam si pemimpin. "Aku ingin kau kembali ke tempat asalmu dan memberi bosmu sebuah pesan : Mau berapa pun kalian mengirim orang, aku akan membunuh mereka semua!" Chapter 188: Rencana Balas Dendam Melihat suruhan keluarga Alfred itu pulang dengan terseok-seok, Randika kembali ke dalam rumah. Pada saat ini Inggrid sedang berjalan menuju lantai bawah. "Ada apa?" Tanya Inggrid dengan nada serius. "Tidak ada apa-apa, aku hanya habis menghirup udara segar." Kata Randika dengan wajah tersenyum. "Ah Ibu Ipah, apa sarapannya sudah siap? Aku benar-benar lapar." Melihat Randika yang mengubah topik, Inggrid masih sedikit penasaran tetapi dia membiarkannya. Setelah sarapan, Inggrid dan Randika berangkat bersama menuju kantor. Setibanya di sana, Randika langsung berangkat menuju laboratoriumnya dan meneruskan ramuan X. Setelah dirinya sendirian, Randika mulai merasa cemas di hatinya. Apa yang terjadi semalam benar-benar di luar dugaannya. Dia tidak menyangka bahwa Hans akan tiba-tiba kembali ke kota ini dan menculik Inggrid lagi. Kematiannya benar-benar tidak bisa dihindari, bahkan jika dia harus menyinggung keluarga Alfred. Sudah dapat dipastikan bahwa keluarga Alfred tidak akan melepaskan masalah ini begitu saja dan sekarang tujuan Randika adalah menyembuhkan dirinya agar dapat bertarung kapan saja dan di mana saja. Jika bukan karena kekuatan misterius dalam tubuhnya, Randika bisa mengeluarkan kekuatan penuhnya yang membuat dirinya dijuluki Ares sang Dewa Perang dari 12 Dewa Olimpus. Sayangnya, Randika akhir-akhir ini hanya bertarung dengan para semut. Jika dia bertemu dengan sesama 12 Dewa Olimpus atau dikepung ahli bela diri dari daftar Dewa lebih dari 10 orang, mengacu terhadap pertarungannya dengan kloning Bulan Kegelapan, dengan kondisinya yang sekarang maka semua itu akan menjadi pertarungan yang menyulitkan. Sesampainya di laboratorium, timnya dan Viona sudah bekerja. Viona memang masih seorang ahli parfum, tetapi ketika Randika memutuskan bahwa dia perlu mengerjakan ramuan X maka secara otomatis membuat Viona mengikuti dirinya. Hal ini juga sedikit melegakan hati Randika. Terlebih lagi, figur tubuh Viona membuat dirinya dan laki-laki lain tidak bisa melepaskan mata mereka. Viona memakai rok ketat yang pendek dan sepatu hak sehingga menonjolkan pantatnya. Di tubuh bagian atas, Viona memakai baju kemeja putih yang membuat pakaian dalamnya transparan, wajahnya memakai make up yang tidak terlalu tebal, lipstik merah cerah, dan semua itu ditutup dengan senyuman manis yang mampu membuat para lelaki ingin menindihnya. Belum lagi kaki panjangnya yang mulus tertutupi oleh stocking jala itu benar-benar menggoda, sepertinya permainan guru dan murid akan menjadi favorit bagi laki-laki yang ada di laboratorium. Viona lalu memperhatikan Randika, dia menatap pria idamannya itu dengan tatapan manis dan hati yang hangat. Dia berpakaian sedikit berani seperti ini hanya untuk Randika jadi jika Randika tidak menyukainya maka usahanya ini sama saja dengan percuma. "Vi, tolong ambilkan aku kopi." Kata Randika. Ketika Viona memberikan kopinya, mata Randika sudah bekerja dan menyadari bahwa semua orang masih sibuk bekerja dan tidak ada yang menatapi mereka. Dengan cepat Randika meremas pantat Viona dan tangan satunya menerima kopi tersebut. Viona sedikit terkejut dan langsung tersipu malu, Randika lalu mengambil kembali tangannya dan menulis di atas kertas. Viona memperhatikannya dan Randika hanya menuliskan satu kata yaitu toilet! Memikirkan artinya, Viona merasa sudah tidak bisa menahan dirinya lagi dan tidak sabar bertemu dengan Randika. Melihat Randika berkedip padanya setelah dia pergi dari ruangan, Viona terlihat malu-malu. Setidaknya dia harus memberi sedikit jeda biar tidak ada orang yang curiga. Randika senang dengan kemajuan ramuan X serta kemajuan hubungannya dengan Viona. Sementara itu di Jakarta. "Apa?" Ivan, kepala keluarga dari keluarga Alfred, mendengarkan laporan dari anak buahnya dari balik telepon. Sepertinya seluruh tubuhnya benar-benar terkejut oleh laporan ini. "Ulangi lagi kata-katamu." Nada tidak percaya bisa terdengar dari suara Ivan. "Tuan, tuan muda telah mati." Suara anak buahnya itu terdengar pelan, dia aslinya segan memberi kabar buruk seperti ini. "Siapa pelakunya?" Ivan memaksa dirinya untuk tetap tenang dan bertanya setenang mungkin. "Randika dari kota Cendrawasih." DUAK! Ivan benar-benar marah, dia sudah membanting HPnya dan membanting semua barang yang ada di atas meja. Bahkan sampai meja itu dia banting, rasa kesal di dalam hatinya masih belum hilang. Ivan lalu menendang pot bunga yang ada di sampingnya. "Aku akan membunuhmu!" Semua orang yang ada di dalam ruangan tidak berani berkomentar. Pertama kalinya mereka melihat tuan besar mereka marah sedemikian rupa. "Panggil keluarga inti yang lain untuk rapat!" Ivan berkata pada anaknya yang ada di samping. Mendengar kata-kata ayahnya ini, dia langsung membungkuk dan pergi. Tak lama kemudian, pertemuan mendadak keluarga Alfred akhirnya dimulai. Pertemuan ini bukanlah yang pertama, ini adalah pertemuan mendadak mereka yang kedua yang hanya berjarak beberapa hari. Yang pertama diadakan via telepon karena banyak anggota keluarga inti yang sedang tidak ada di rumah. Yang menjadi persamaannya adalah topik mereka yaitu masalah mengenai orang yang bernama Randika. "Hans telah mati." Ivan menatap pada semua orang yang hadir. Orang-orang yang hadir adalah para penatua dan petinggi dari keluarga Alfred. "Apa? Anakmu mati?" "Kenapa bisa? Apa dia dibunuh?" Kabar ini benar-benar membuat mereka semua geram. Hans adalah keturunan dari sang kepala keluarga, dengan kata lain dialah kandidat penerus kepala keluarga dari keluarga aristokrat ini. Jika benar bahwa Hans telah dibunuh oleh orang, ini adalah penghinaan terbesar yang pernah diterima oleh keluarga ini! Kejadian ini benar-benar menampar wajah keluarga Alfred apabila sampai terdengar oleh orang luar, mereka harus memikirkan masalah ini dengan serius. Untuk sesaat, darah semua orang mendidih dan ingin menguliti hidup-hidup orang yang telah menyinggung keluarga mereka ini. "Orang yang membunuhnya adalah Randika, pemuda yang menyerang Hans sebelumnya." Pada saat ini Ivan berbicara kembali setelah terdiam sesaat. Dalam sekejap, semua orang yang hadir terdiam. Setelah kesunyian beberapa saat, seseorang akhirnya angkat bicara. "Orang yang ada di balik Randika itu benar-benar tidak bisa kita singgung." "Tetapi belum pernah ada orang yang berani mengusik keluarga kita sebelumnya." Seseorang membalas. "Sejak kapan kita diam dan patuh dengan orang lain?" Berbicara mengenai kekuatan yang mendukung Randika dari belakang itu, semua orang di keluarga Alfred benar-benar tidak berani berurusan dengannya. Sepertinya kejadian mereka sebelumnya dengan kakek Randika di rumah keluarga Laibahas itu membuat mereka merasakan teror yang telah terlupakan. "Bagaimanapun juga, Randika harus mati untuk menebus dosanya!" Melihat debat keluarganya yang semakin keluar jalur, Ivan mengutarakan pendapatnya. Tatapan matanya benar-benar dipenuhi dengan api kebencian. "Si tua bangka itu memang kuat dan kita tidak bisa apa-apa terhadapnya. Tetapi bulan depan akan ada event besar, si tua bangka itu pasti tidak akan punya waktu untuk mengawasi kita, jadi pada saat itu Randika akan mati di tangan kita!" Kata Ivan. Meskipun orang-orang ini tidak tahu event apa yang dimaksud oleh Ivan, mereka tidak berani membantah ataupun berkomentar setelah melihat api kemarahan dari dalam diri Ivan. Terlebih, jika keluarga Alfred menggunakan seluruh aset dan kekuatan mereka, bahkan dunia pun bisa mereka taklukan. ......ˇ­ Randika tiba-tiba bersin, sepertinya ada yang sedang membicarakan dirinya? "Vi, tolong ambilkan sampel di lantai atas ya." Kata Randika pada Viona. Selama beberapa menit menunggu di toilet, Viona tidak datang dan hal ini membuat Randika sedikit sedih. Sepertinya Viona tidak ingin hubungannya ini ketahuan jadi mungkin Viona berusaha menahan dirinya. Tetapi setelah melihat pantat Viona yang melewati dirinya itu, Randika dengan hati-hati meremasnya sekali lagi. Viona sedikit terkejut dan tersipu malu, dia sudah tidak bisa menghitung sudah berapa kali Randika menggoda dirinya. Randika makin lama makin berani meskipun mereka masih ada di dalam tempat kerja mereka dan banyak mata yang mengawasi. Tetapi, sepertinya ketegangan ini membuat Viona semakin terangsang. Pada saat yang sama, ramuan X mengalami kemajuan sedikit. Randika menatap cairan berwarna abu-abu itu di tabung reaksinya. Setelah diperiksa, sepertinya ini sedikit lebih baik daripada sebelumnya. Perkembangan ramuan X ini sudah berada di jalur yang benar, alangkah baiknya apabila dia masih mempunyai waktu beberapa bulan tetapi situasi dirinya ini membuat dirinya tidak punya waktu yang cukup. Seharian ini Randika dan timnya benar-benar sibuk dan pada saat jam makan siang, Randika ingin mengajak Viona makan bersama tetapi dia menyaksikan dengan matanya Viona dibawa pergi oleh teman-temannya. "Vi, ada promo makan 5 gratis 1! Kita langsung cabut!" Temannya itu tidak menerima kata tidak. Lagi-lagi hati Randika menjadi sedih ketika melihat Viona dibawa pergi. Di tengah keterpurukannya, Randika memutuskan untuk makan sendirian karena dia sedang ngidam makan iga penyet. Setibanya di depan restoran, ketika dia hendak membuka pintu, Randika tiba-tiba merasakan seluruh tubuhnya menjadi kaku. Dalam sekejap, tenaga dalam di dalam dirinya bergejolak bagaikan tsunami. Energi tersebut hendak melahapnya hidup-hidup dalam sekali gerak. Keringat segera membanjiri dirinya dari atas ke bawah. Tubuhnya benar-benar berkeringat sedangkan tubuhnya sendiri kedinginan seperti sedang di kutub utara. Melihat bahwa dirinya hendak lepas kendali, Randika dengan cepat mengambil dan meminum obat yang didapatnya dari kakek ketiga. Sesudahnya obat itu masuk ke dalam tubuhnya, ia langsung bekerja dengan cepat. Pada saat ini, energinya yang bergejolak itu bertemu dengan energi yang berasal dari obat, tsunami tersebut langsung menjadi surut. Whoa! Randika menghembuskan napas dalam-dalam. Untungnya saja dia berhasil mengendalikan tubuhnya, kalau tidak bisa-bisa dia pingsan di tempat ini. Efek samping dari obat ini mulai nendang, Randika tidak bisa menahan nafsunya yang mulai menguasai dirinya. Setiap perempuan yang dilihat sudah bagaikan perempuan sexy yang mengundang dirinya untuk berhubungan badan. Sambil terhuyung-huyung, Randika berusaha mencari tempat yang teduh dan jauh dari orang-orang. Nafsu birahinya yang besar ini bisa-bisa membuatnya gelap mata dan menyerang perempuan. Tanpa disengaja, Deviana sedang di dekat sana untuk mencari tempat makan siang. Melihat sosok yang dikenalnya, Deviana memutuskan untuk menyapa Randika. Tetapi cara berjalan dan tangan yang mencengkeram erat dadanya itu, membuat Deviana penasaran apa yang sedang terjadi pada Randika. "Hei, kamu tidak apa-apa?" Deviana berhasil menghampiri Randika dan memegang pundaknya. Ketika Randika berputar, Deviana sedikit ketakutan melihatnya. Wajahnya Randika benar-benar merah dan lehernya sudah berwarna pink. Belum lagi, tatapan matanya itu terlihat tajam sekali dan napasnya terlihat berat. "Ran kamu kenapa?" Deviana bingung apa yang harus dia lakukan. "Apakah kamuˇ­" Namun, sebelum dia dapat selesai bertanya, Randika memeluknya dengan kedua tangan. "Ah! Apa yang kamu lakukan!?" Ketika Deviana hendak melepaskan diri, Randika sudah mencium bibirnya! Dalam sekejap Deviana terkejut dan bingung, dia tidak percaya dengan tindakan Randika ini. Meskipun Randika mesum dan pernah merabanya, sebelumnya Randika tidak pernah seperti ini. Kali ini Randika benar-benar memaksa dirinya untuk berciuman. Deviana yang berharga diri tinggi merasa dirinya dilecehkan, dengan cepat dia mendorong Randika. Setelah menginjak kaki Randika beberapa kali, akhirnya Randika melepaskan bibirnya dan Deviana memanfaatkan kesempatan ini untuk melepaskan dirinya. "Aku tidak menyangka kamu lelaki seperti ini." Kata Deviana dengan wajah jijik. Chapter 189: Randika Sudah Berubah! Hati Deviana sudah benar-benar penuh dengan kebencian. Dia awalnya menganggap Randika adalah pria mesum dan tidak bisa berhenti bercanda tetapi dia adalah orang yang bisa dirinya andalkan kapan saja. Tetapi setelah dia merebut ciumannya secara paksa, dia merasa harga dirinya sebagai perempuan telah dilecehkan. Bukannya dia tidak mau berciuman dengan Randika, tetapi Randika benar-benar tidak memedulikan perasaannya! Deviana benar-benar marah, sejujurnya dia sendiri tidak tahu kenapa bisa marah seperti ini. Mungkin dia mengharapkan suasana romantis dulu sebelum berciuman? Randika masih bernapas dengan berat, nafsu dalam dirinya sama sekali belum mereda. Obat dari kakek ketiganya ini memiliki efek samping yang terlalu kuat. Pertama kali dia merasakannya, dia bisa meredamnya dengan bantuan Inggrid. Tetapi kali ini, dia benar-benar hampir melakukan tindakan kriminal. "Ahˇ­ Dev, ini semua salah sangka. Dengarkan penjelaskanku." Randika sedikit malu. Meskipun dia ini serigala, dia adalah serigala yang elegan dan lembut. Mana mungkin dia berbuat tidak elok seperti tadi? Tetapi serigala tetaplah serigala, nafsu Randika sebagai lelaki memanglah kuat dari dulu jadi tidak heran apabila dia menjadi gelap mata. Tetapi dia yang sekarang sudah berbeda! "Apa memangnya alasanmu?" Kata Deviana sambil marah-marah. "Kamu sudah berbuat lancang seperti itu dan masih mencari-cari alasan?" "Dev, kadang mata itu tidak bisa melihat kebenaran yang ada." Kata Randika dengan nada menenangkan. Mendengar hal ini, Deviana makin marah. Jelas yang diperbuat Randika barusan tidak dia lihat dengan mata melainkan dia merasakan lewat bibirnya! Namun yang membuatnya makin marah adalah Randika yang masih berusaha membenarkan dirinya, orang ini selalu ingin berdebat. "Terserah kamu mau ngomong apa, jangan pernah dekati aku lagi." Deviana sudah tidak peduli dengan Randika, dia berputar dan berjalan pergi. "Ah! Tunggu!" Hati Randika mengepal. Dia sudah lama membangun hubungan dengan Deviana jadi Randika tidak ingin hubungannya berakhir begitu saja. Tetapi, tiba-tiba ada mobil yang melaju ke arah sisi jalan dengan kecepatan tinggi dan mobil itu mengarah ke Deviana! Randika dengan cepat menyadarinya dan hatinya langsung mengepal. "AWAS!" Randika sudah berlari sambil berteriak pada Deviana, tetapi semuanya sudah terlambat. Mobil itu benar-benar cepat dan sudah berada di dekat Deviana. Meskipun Randika memiliki julukan seorang Ares, dia tetap tidak akan sempat menyelamatkannya tepat waktu. DUAK! Deviana mendengar teriakan "awas" milik Randika dan menoleh ke arah mobil. Karena jaraknya benar-benar sudah dekat, Deviana sama sekali tidak bisa bereaksi. Dia hanya bisa pasrah dan terpental beberapa meter seperti layangan. "Dev!" Randika langsung merasakan firasat buruk ketika dia menangkap Deviana yang terpental tersebut. Meletakannya di tanah, Deviana tampak tidak merespon dirinya. Pada saat yang sama, mobil itu berhenti dan orang yang sedang mabuk itu turun dari mobilnya. "Perasaan aku nabrak sesuatu deh." Pandangan orang itu sedikit kabur tetapi ketika dia melihat Randika yang memeluk Deviana, orang ini bergumam pada dirinya. "Sialan, lagi-lagi harus keluar uang buat orang lain." "Ah peduli setan, toh orang itu juga pasti mati. Lebih baik aku pergi sebelum dia menuntut ganti rugi." Pria itu menggelengkan kepalanya dan hendak kabur. Ketika dia mau masuk ke dalam mobilnya, tiba-tiba pintu mobilnya tertutup. Ketika menoleh, ternyata sudah ada orang di sampingnya. "Bajingan, kau ini nakut-nakuti saja!" Pria ini benar-benar terlihat terkejut. "Sudah pergi sana! Aku masih ada perlu." Namun, nafsu membunuh Randika sudah menyebar dari dalam dirinya. Tanpa berkata apa-apa, Randika sudah mencekik orang mabuk ini dan membenturkannya pada mobilnya! DUAK! Hantaman pertamanya membuat darah berkucuran dari dahinya. "Kau berani melukaiku?" Pria tersebut awalnya terkejut ketika tiba-tiba dicekik, sekarang dia benar-benar marah. Tanpa menjawab apa pun, Randika sudah menghantamnya sekali lagi. Kali ini, kepala pria tersebut membentur kaca jendela! DUAK! Meskipun suaranya keras, jendela kaca mobil ini sepertinya tidak menunjukan tanda-tanda akan pecah. Para pejalan kaki sudah melihati mereka sejak tadi. Ketika mereka melihat Deviana yang terkapar tidak sadarkan diri dan pria itu hendak kabur, perasaan mereka penuh dengan simpati terhadap Randika. Orang yang tidak tahu diri semacam itu memang pantas untuk mati! Orang-orang ini memang membenci orang yang tidak bertanggung jawab dan bertingkah seolah hukum bisa dibeli, mereka semua sudah muak! Randika sama sekali tidak berhenti, kali ini kepala pria tersebut menghantam pintu. "Aku pastikan kau akan mati oleh seribu jarum!" Meskipun terluka, pria tersebut sama sekali tidak takut dengan Randika. Randika tidak peduli, dia hanya sedikit demi sedikit menambah tenaganya dan menghantamnya lagi. Setelah hantamannya yang ketujuh, pria tersebut sudah tidak sadarkan diri. Randika lalu melempar pria hina itu ke tanah. Kemudian dia segera kembali ke Deviana dan memeriksa denyut nadinya. Melihat adanya harapan, Randika segera menusuk titik akupunturnya untuk menghentikan pendarahan internalnya. Setelah itu, dia menggendongnya dan berlari ke rumah sakit terdekat! Para pejalan kaki ini melihat Randika yang menggendong Deviana dan menawarkan bantuan. "Nak, kau ingin membawa pacarmu itu ke rumah sakit? Naiklahˇ­" Namun, sebelum dia selesai berbicara, Randika sudah berlari sekuat tenaganya. Orang itu jelas terkejut, ternyata pemuda itu lari bagaikan angin! Bagaimana bisa orang lari secepat itu? Randika sama sekali tidak peduli dengan tatapan heran orang-orang. Dia hanya fokus pada Deviana dan semakin lama dia membiarkannya, semakin buruk kondisinya. Dia tidak akan membiarkan perempuan manis dan berharga diri tinggi ini mati! Sepanjang jalan, para pejalan kaki terkejut ketika angin kencang melewati mereka dan sosok pria sedang berlari sambil menggendong perempuan. Kecepatan larinya hampir sama dengan kecepatan mobil, benar-benar luar biasa! Randika benar-benar cemas, dia sama sekali tidak berhenti untuk menarik napas. Dia juga tidak peduli dengan rambu lalu lintas sambil menghindari mobil dan orang yang menghalangi jalur larinya. Randika tidak cuma asal menggendong Deviana dengan kedua tangannya itu. Kedua tangannya secara stabil menyalurkan tenaga dalamnya dan melindungi Deviana. Dia baru saja mengecek kembali denyut nadi milik Deviana dan hasilnya tidak bagus. Jika Deviana tidak segera mendapatkan pertolongan, kemungkinan besar dia akan mati! Setelah berlari sekuat tenaga selama satu menit lebih, akhirnya Randika berhasil tiba di rumah sakit. "Siapapun tolong!" Randika berteriak keras, membuat semua mata tertuju padanya. Para perawat menghampiri dan mengantar Randika ke UGD. Tak lama kemudian, beberapa dokter datang dan membawa Deviana ke ruang operasi. Randika hanya bisa menunggu di luar dengan hati yang cemas. Setelah satu jam berlalu, seorang dokter menghampirinya. "Bagaimana keadaannya dok?" Randika bertanya dengan cemas. Dokter itu menganggukan kepalanya. "Operasi berjalan dengan lancar. Untungnya pasien tiba tepat waktu dan organ internalnya tidak mengalami pendarahan yang parah. Tetapi pasien perlu menginap beberapa hari agar kami bisa mengecek kondisinya lebih lanjut." Mendengar bahwa Deviana akan baik-baik saja, Randika menjadi lega. Randika lalu pergi menuju resepsionis untuk mengurus prosedur yang ada. Setelah membayar biaya operasi dll, Randika segera menuju kamar Deviana berada. Chapter 190: Logika Tidak Masuk Akal Sesampainya di kamar, Deviana nampak berbaring di kasur. Ketika dirinya melihat Randika masuk, Deviana mendengus dingin dan memalingkan wajahnya. Melihat temannya ini masih energik, Randika merasa lega dan berjalan menuju sisi kasur. "Masih marah sama aku?" Tanya Randika sambil tersenyum. Deviana sama sekali tidak menjawab, dia masih tidak mau menatap Randika. "Aku akui bahwa aku salah karena menciumnya secara paksa. Aku sepertinya telah melukai hatimu. Jadi biar impas bagaimana kalau kamu bisa menciumku secara paksa?" Kata Randika. "Memangnya siapa yang mau berciuman denganmu?" Kata Deviana sambil marah-marah. "Oh yakin? Ini penawaran satu kali dalam hidupmu lho." Randika tersenyum ketika akhirnya bisa melihat wajah temannya itu. "Kamu yakin tidak mengambil kesempatan ini? Jangan menyesal lho kalau nanti aku sudah pulang." "Kamu ini yaˇ­" Deviana menghela napas. Dia sama sekali tidak berdaya apabila berhadapan dengan Randika. Sejak awal kali mereka bertemu, dirinya selalu dipermainkan oleh Randika. "Dev, aku tidak menyangka kamu berhati murni seperti itu. Bukankah aku pernah sampai merabamu?" Tanya Randika. Deviana kehabisan kata-kata, perkataan Randika itu benar jadi kenapa kok sekarang dia marah? "Itu berbeda." Kata Deviana dengan nada marah. "Apanya yang beda?" Randika nampak bingung. "Pokoknya beda!" Deviana memalingkan wajahnya. Randika mengangguk dan menggeser kursinya hingga bertatapan muka dengannya. "Aku sepertinya paham maksudmu. Maksudmu dulu itu aku memberi peringatan sebelum merabamu sehingga hatimu siap sedangkan hari ini hatimu sama sekali tidak siap begitu?" Kata-kata Randika ini tepat sasaran, Deviana hanya bisa tersipu malu dan tidak menjawabnya. "Aku sedikit tidak paham denganmu." Randika menggelengkan kepalanya dan menghela napas. Dia lalu melihat buah-buahan yang ada di samping kasur. Tanpa berkata apa-apa, dia mengambilnya lalu mengupas sebuah apel dengan pisau. "Karena aku tidak memberitahumu kalau aku ingin menciummu jadinya kamu marah-marah, setelah itu kamu malah tertabrak mobil. Ahˇ­." Randika menghela napas. "Semua itu tidak sepadan, aku hampir saja kehilanganmu." Setelah mengupas dan memotong apel itu menjadi beberapa bagian, Deviana masih tidak mau berbicara. Randika lalu menyerahkan apel itu. "Sudah makan apel ini dulu biar enakan, setelah itu kamu mau marah lagi tidak apa-apa." Deviana memang merasa lapar, dia memang berniat makan siang ketika bertemu dengan Randika sebelumnya. Melihat apel itu sudah terkupas rapi, amarah Deviana sedikit mereda. Tetapi ketika Deviana hendak mengambil apel itu, Randika segera mengambilnya kembali. "Aku cukup sedih kamu tidak mau memakan apel yang sudah susah payah aku potongin ini." Randika mengambil satu dan memakannya. "Padahal rasanya enak." Mendengar kata-kata Randika itu, Deviana kembali marah dan mengeluarkan suara "Huh" lalu memalingkan wajahnya. Randika tersenyum, tangannya kembali mengambil sepotong apel. "Sejujurnya masalah ini juga bukan sepenuhnya salahku. Memang aku sebelumnya itu gelap mata tetapi kecantikanmu itu benar-benar membuatku tidak sadarkan diri. Untuk sesaat aku tenggelam dalam kecantikanmu itu." Randika memuji Deviana sambil mengakui kesalahannya, hal ini membuat amarah Deviana sedikit mereda. Semua orang senang apabila dipuji, khususnya perempuan yang suka dipuji kecantikannya. "Aku bersyukur bahwa orang yang menepuk pundakku itu kamu, kalau tidak bisa-bisa masalah ini makin besar." Randika menggeser kursinya lagi. Ketika mereka bertatapan, Deviana hendak memalingkan wajahnya lagi. Tetapi, ketika dia melihat senyuman Randika itu, di tangannya sudah ada sepotong apel. "Jangan bilang kamu tidak mau makan, air liurmu sudah menetes." Kata Randika dengan senyuman hangat. Deviana sedikit ragu-ragu awalnya lalu dia mendengus dingin. Dia mengambil apel itu dan memakannya. "Apel itu bukan diriku, buat apa kamu mengunyahnya keras-keras seperti itu?" Kata Randika sambil tertawa. "Apel ini adalah kamu, aku ingin memakanmu hidup-hidup." Sambil marah-marah, Deviana terus memakan apelnya. "Hmmm kata-katamu itu boleh juga, bagaimana kalau setelah keluar dari rumah sakit kamu bisa menikmati diriku ini di hotel?" Mendengar kata-kata ini, Deviana sedikit bingung. Kenapa bawa-bawa hotel? Setelah berpikir sejenak, kata-katanya tadi memang terdengar erotis! Sambil terbatuk-batuk, Deviana menggelengkan kepalanya. "Akhirnya kamu sudah tidak marah lagi." Randika tersenyum ketika Deviana memakan apel yang dipotongnya dengan lahap. "Hah? Siapa bilang aku sudah tidak marah?" Deviana tetap mengunyah makanannya. Melihat sikap malu-malu Deviana ini, entah Randika harus tertawa atau menangis. Karakter Deviana memang dewasa tetapi ketika dirinya diperlakukan dengan lembut, dia menjadi bingung dan bersikap sok kuat. "Jadi apa yang bisa dilakukan pria hina ini untuk membuat perempuan secantik malaikat ini menjadi dirinya yang dulu?" Randika duduk kembali di kursinya. "Aku ingin bertanya padamu." Kata Deviana. Bertanya? Wajah Randika terlihat bingung. Untuk sesaat, Randika sama sekali tidak berbicara. Deviana penasaran kenapa Randika sama sekali tidak bicara. Tetapi tiba-tiba, Randika menjentikan jarinya. "Oh! Aku mengerti." "Hah? Mengerti apa?" Tanya Deviana. Tetapi dia melihat Randika tiba-tiba berdiri dari kursinya dan menghampiri dirinya, kedua tangannya dipegang oleh Randika dan wajah mereka sudah berdekatan. "Hei! Apa yang mau kamu lakukan?" Deviana sedikit ketakutan. "Tentu saja menciummu." Setelah berkata seperti itu, Randika menempelkan bibirnya di bibir kecil milik Deviana. Dalam sekejap, otak Deviana sepertinya berhenti berfungsi. Setelah beberapa detik, serangan lidah Randika benar-benar membangunkan dirinya. Ketika dirinya ingin melepaskan diri, kedua tangannya ditahan oleh Randika. Perawat yang ingin mengantar obat mengintip dari samping dan merasa iri dengan keduanya. Kapan dia akan punya pacar yang seberani itu? Pada saat ini, ciuman mereka sudah berlangsung selama 1 menit dan akhirnya Randika melepaskan kuncian mautnya. "Bagaimana?" Tanya Randika sambil tersenyum. "Kali ini aku memberi tahumu sebelum aku menciummu jadi seharusnya kamu tidak marah seperti sebelumnya." "HAH!" Deviana benar-benar marah, logika macam apa itu? Randika duduk di kursinya lagi dan mulai memakan sepotong apel. "Jika kamu masih bingung, anggap saja ciumanku ini barusan hadiah dari menyelamatkan dirimu." Kata Randika sambil tertawa. Deviana mendengus dingin, tetapi Randika tiba-tiba berbisik di telinganya. "Aku tahu kamu barusan menikmatinya, jadi jika kamu ingin meneruskannya aku bersedia." "Memangnya siapa yang mau menciummu!" Deviana memalingkan wajahnya sambil membentak di telinga Randika. Randika hanya menggelengkan kepalanya sambil berdiri dari kursinya. "Padahal aku tahu kamu menikmatinya." "Siapa yang bilang!" Deviana kembali menggigit apelnya. Ketika dia melihat sosok Randika yang hendak pergi, entah kenapa hatinya terasa sakit. Dia lalu menjilat bibirnya dan sensasi bibir Randika masih bisa dia rasakan. Sepertinya dia menyukai sensasi itu. Ah! Apa yang kamu pikirkan Deviana? Bukankah seharusnya kamu marah? Deviana dengan paksa membuang jauh-jauh pemikiran itu, tetapi dalam hatinya dia tahu bahwa dia tidak bisa marah dengan Randika. Pokoknya, jika Randika berbuat seperti itu lagi tidak akan ada kata ampun! Chapter 191: Para Kakek yang Pergi Setelah selesai mengurusi beberapa dokumen mengenai rawat inap Deviana, waktu sudah menunjukan pukul 3 siang. Randika sudah merasa malas balik ke kantor jadinya dia langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, Randika bertemu dengan Hannah yang sedang malas-malasan menonton TV di ruang tamu. Dalam sekejap, mata Randika terbuka lebar karena pakaian yang dipakai oleh Hannah. Bajunya dia gulung hingga di bawah behanya, memperlihatkan pusarnya. Belum lagi behanya itu berwarna mencolok sehingga terlihat dengan jelas. Di saat yang sama, celana yang dipakai super pendek hingga Randika tidak bisa membedakannya dengan celana dalam. "Ah kak Randika! Sini kita lihat TV sama-sama." Hannah menoleh dan menyadari Randika yang berdiri melongo, dia lalu mengundang Randika untuk nonton TV bersama-sama. Bagi Randika melihat adik iparnya jauh lebih seru daripada TV yang isinya sinetron dan acara tidak jelas lainnya. Tetapi Randika tetap duduk di sofa dan Hannah masih berpenampilan tidak senonoh itu. Bahkan dia mengambil remote TV dengan kakinya! "Han, percuma kalau kamu berpakaian sexy gini tetapi tingkah lakumu mirip laki gitu." Mata Randika kembali menelanjangi Hannah meskipun dia sedikit jijik dengan tingkah laku adiknya itu. Randika benar-benar terpaku pada pusar yang nampaknya sedap itu! "Kak tolong, sepertinya orang yang berpikiran mesum cuma kamu deh." Kata Hannah sambil tersenyum. "Ah? Masa aku di matamu seperti itu?" Randika segera tidak terima. "Memangnya di mana lagi kamu bisa ketemu laki-laki sejati semacam aku?" "Hahaha benar juga. Laki-laki lain lembeng semua." Hannah tersenyum dan menatap Randika. "Kak, apakah aku sexy?" Randika kembali memperhatikan Hannah dari atas ke bawah, orang bodoh pun mana yang akan berkata tidak? "Iya tetapi kakakmu jauh lebih sexy." Kata Randika, dia merasa bahwa pertanyaan adiknya itu adalah jebakan. Hannah merasa marah ketika Randika membandingkan dirinya dengan kakaknya, dia langsung cemberut. Randika memperhatikan kaki panjang dan mulus adik iparnya itu. "Han, sepertinya kakimu yang waktu masih sakit, mau aku pijat?" "Pijat?" Hannah menatap Randika dan tersenyum dalam hatinya. Sepertinya kakak iparnya ini tidak bisa lari dari pesonanya. Hannah benar-benar mendambakan kasih sayang dari Randika. "Yahhh.. boleh deh, tapi yang enak mijatnya!" Hannah segera bergerak dan menempatkan kedua kakinya di atas paha Randika. "Tapi jangan minta yang aneh-aneh setelah kamu memijatku, aku tahu kakak pasti punya pemikiran yang aneh." Kata Hannah sambil tersenyum. Randika lalu memijat kaki mulus Hannah secara perlahan. "Han, bagaimana toko bajumu?" Randika bertanya sambil terus memijat, kaki adik iparnya ini benar-benar enak dipegang! "Semuanya berjalan dengan baik." Hannah merasa nyaman ketika kakinya dipijat. Tetapi kadang kakak iparnya ini jahil dengan menggelitik kakinya jadi dia sedikit menahan rasa tawanya. "Eh kak, hentikan! Geli tahu, aku ini mudah geli." Hannah merasa kakaknya ini terus menggodanya. "Geli?" senyuman nakal mulai naik di mulut Randika. "Kok bisa kamu mudah geli seperti ini?" Setelah berkata seperti itu, pijatan Randika jadi ajang menggelitik Hannah hingga meminta ampun. "Kak! Cukup! Hahaha, hentikan! Hahahaˇ­" Hannah tidak bisa berhenti tertawa. Randika memperhatikan Hannah yang tidak bisa berhenti tertawa dan memegang erat perutnya itu. Lama kelamaan tangan Randika merayap ke paha Hannah. "Sudah kak! Hahaha, cukup! Aku sudah tidak tahan!" Hannah tidak pernah tertawa sebanyak ini sebelumnya. Randika merasa paha adiknya benar-benar enak dan mulus, benar-benar perasaan yang menyenangkan. "Sudah diamlah, kakak kan cuma memijatmu agar capekmu hilang." Kata Randika sambil tersenyum. "Ini sudah bukan pijat, ini sudah penyiksaan!" Hannah tidak bisa berhenti tertawa. Namun tiba-tiba, Randika mulai memijat paha adiknya itu. Hannah akhirnya berhenti tertawa, setelah tertawa begitu lepas napasnya menjadi terengah-engah. Ketika kakaknya mulai memijat pahanya, sensasi nikmat mulai menguasai dirinya. Meskipun pahanya ini tergolong besar, semua ini karena dia rajin olahraga dan melatih otot pahanya. Melihat Randika tidak berkomentar apa-apa tentang pahanya yang besar, hati Hannah terasa lega. Ejekan dari orang yang disukainya mungkin akan benar-benar melukai hatinya. Sambil mengambil apel dari meja, Hannah bertanya. "Kenapa kakak sudah pulang? Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Setelah menggigit apelnya, Hannah mengunyah dan menunggu Randika menjawab. Tetapi anehnya, kakak iparnya itu hanya menatap dirinya. "Hmm? Kenapa kak? Ada sesuatu di mukaku?" Kata Hannah dengan wajah bingung. "Han, minta segigit ya." Kata Randika sambil menggigit apelnya. "Ah!" Hannah terkejut dan apel yang di tangannya sudah tergigit oleh Randika. Melihat hal ini, Hannah menjadi tersipu malu. Bukannya ini sama dengan ciuman tidak langsung? Randika lalu tersenyum. "Han, buat apa mempermasalahkan hal kecil seperti itu?" Randika dapat menebak isi pikiran Hannah. "Bukankah kita sudah keluarga?" Hannah sendiri masih memproses semua hal ini di otaknya, setelah berpikir sejenak, memang hal kecil seperti ini bukanlah hal aneh di antara keluarga. "Lagipula aku sudah tidak lapar lagi." Hannah masih sedikit malu. "Kamu menggigitnya sudah cukup membuatku tidak mau makan lagi." "Kalau begitu apelnya aku makan ya?" Randika menghampiri tangan Randika sambil tersenyum lebar. Melihat wajah Randika yang berdekatan dengan dirinya, Hannah menjadi panik dan ingatannya tentang Randika dan Inggrid berhubungan badan terlintas di benaknya. Apakah kakak iparnya ini berusaha memangsa dirinya? "Ah kak! Jangan dekat-dekat!" Hannah mendorong Randika, dia takut bahwa dirinya akan dipaksa berhubungan badan. Randika bingung, kenapa adik iparnya ini tiba-tiba panik? Sambil memakan apelnya, Randika meneruskan pijatnya dan Hannah menikmatinya sambil menonton TV. Setengah jam kemudian, Randika merasa ngantuk dan naik ke lantai atas. Setelah melihat sosok Randika yang naik, Hannah menghembuskan napas lega. Randika menutup pintu kamarnya dan mengambil HPnya. Ternyata ada panggilan tidak terjawab dari kakek ketiga. "Ada apa kek?" Randika terdengar bingung, jarang sekali kakeknya ini menelepon dirinya duluan. "Ran, kakek cuma ingin menyampaikan saja biar kamu tidak bingung. Kakek dan para kakek lainnya akan pergi sekitar 1 bulan." Kata kakek ketiga. "Mau pergi ke mana kalian?" Randika makin bingung. Kakek ketiganya ini paling sayang dengan kebun obatnya jadi dia hampir tidak pernah pergi dari rumahnya. Belum lagi semua kakeknya akan pergi bersama? "Kami mau mencari barang berharga di reruntuhan." Kata kakek ketiga. "Kami akan menginap di tempat itu selama sebulan jadi kami tidak bisa dihubungi. Kamu jaga diri baik-baik ya." "Baik kek, kakek jangan khawatir." Jawab Randika. Randika tidak terlalu mempermasalahkan hal ini. Lagipula, para kakeknya ini memang misterius. Meskipun Randika tahu kakek-kakeknya ini bukan orang sembarangan, dia tidak pernah melihat kakeknya ini memakai seluruh kekuatannya. Randika mengunci pintu kamarnya dan menyalakan komputernya. Dia langsung menghubungi Yuna. Tak lama kemudian, sosok Yuna tampil di balik layar. Dadanya yang besar masih tetap sama dan kata-kata vulgarnya masih terdengar. "Ran, kenapa sih kamu tidak pernah menghubungiku?" Yuna terlihat sedih. "Hahaha maaf, bagaimana kabar markas kita?" Tanya Randika, dia tidak ingin berbasa-basi. Melihat wajah serius Randika, Yuna langsung menjawab. "Markas kita telah selesai." Chapter 192: Pergerakan di Balik Kegelapan Markasnya telah selesai dibangun!? Randika merasa bahagia di dalam hatinya, hal ini benar-benar kabar gembira. Bagaimanapun juga, pusat dari kekuatannya berasal dari markasnya yang ada di Jepang ini. Mengembangkan dan membuat ramuan X dengan kekuatannya sendiri benar-benar sesuatu yang sulit baginya. Randika mengangguk puas. "Aku sudah mencoba membuat ramuan X di tempatku. Aku akan memberikan detail informasi perkembangannya padamu. Kamu bisa mempelajarinya sehingga perkembanganmu lebih cepat lagi." "Siap." Yuna terlihat serius. "Bagaimana Bulan Kegelapan?" Tanya Randika. "Tidak ada kabar." Yuna mengerutkan dahinya. "Setelah dia kabur dari Indonesia, dia menyembunyikan dirinya dengan baik. Bawahanku sama sekali tidak bisa menemukan jejaknya di mana pun." "Tetap waspada." Randika dan Yuna berbincang-bincang beberapa saat dan setelah membicarakan beberapa strategi, mereka mengakhiri percakapan mereka. Malam harinya, Inggrid pulang. Randika membantu Inggrid meletakan barang-barangnya. "Hmm? Pasti ada maunya hingga kamu berbuat manis seperti ini." Inggrid senang dengan tindakan kecil Randika ini. Randika lalu berbisik di telinga Inggrid. "Kamu akan tahu nanti malam." Wajah Inggrid langsung tersipu malu, Hannah yang ada di samping langsung menggelengkan kepalanya. "Kak, tolonglah jangan saling menggoda di depanku! Aku lapar nih, aku makan nanti makananmu." Randika hanya tertawa ketika mendengarnya. Malam itu, dari kamar di lantai atas, terdengar suara rintihan perempuan bagaikan suara kucing kawin. Suaranya benar-benar terdengar erotis. Pada saat yang sama, samar-samar terdengar suara lelaki yang bersemangat. "Terus goyang pinggangmu sayang, sini kubantu sedikit. Ahˇ­ Mantap sekali sayang, aku keluarin di dalam ya!" Hannah samar-samar bisa mendengar rintihan kedua kakaknya itu. Malu dan marah, dia mengeraskan volume HPnya hingga maksimal. ............. Keesokan harinya, Randika membuka matanya dengan perasaan bahagia. Dia menatap Inggrid yang masih bugil tidur pulas di sampingnya. Kemarin malam benar-benar luar biasa, teknik yang dia ajarkan sebelumnya telah dikuasai Inggrid dengan sempurna. Hal ini membuatnya keluar lebih cepat dan Inggrid bisa menemukan gaya paling enak baginya. Sepertinya Inggrid berbakat di atas ranjang. Turun ke lantai bawah, Randika bertemu dengan Hannah yang berwajah murung. Wajahnya sepertinya menunjukan dia telah begadang semalaman. Merasa penasaran, Randika pun bertanya. "Han, kamu habis main apa sampai mukamu ngantuk gitu?" "Kakak sendiri memangnya bisa tidur?" Kata Hannah dengan wajah cemberut. "Hah? Jelas bisa lha, bukannya kemarin malam anginnya enak dan dingin? Kakak tertidur pulas sampai-sampai tidak kencing di tengah malam." Kata Randika. "Ya apa mau tidur, suara kalian berdua seperti kucing kawin gitu. Berisik tahu!" Hannah tersenyum pahit, sepertinya dia menginap di sarang cinta kakaknya ini benar-benar kesalahan. Randika terkejut ketika mendengarnya, dia tidak menyangka suara mereka berhubungan badan akan terdengar sampai luar. "Han, jangan khawatir. Aku jamin suara kita nanti tidak akan sekeras itu lagi." Kata Randika sambil menahan rasa malu. Hannah hanya menghela napas dan bersiul. "Aku bisa saja tidur bersama kak Inggrid biar bisa tidur pulas sih." Melihat ancaman tersembunyi dari adik iparnya itu, Randika sama sekali tidak berdaya. Inggrid benar-benar mencintai adiknya jadi apabila Hannah memintanya, bisa-bisa Inggrid tidak akan sekamar selama Hannah ada di sini. Mau bagaimana lagi, hubungannya dengan Inggrid sedang panas-panasnya jadi bisa dikatakan sekarang adalah masa bulan madunya. Tidak ada salahnya meluapkan cinta mereka melalui hubungan badan bukan? Setelah sarapan, Randika dan Inggrid berangkat kerja bersama-sama. Randika tidak sabar tiba di laboratoriumnya, dia perlu mengerjakan ramuan X ini. Dia merasa bahwa dia berada di langkah terakhir untuk menyempurnakan ramuan ini, tetapi dia masih belum menemukan faktor terpenting bagi langkah terakhir itu. Jika markasnya yang terdahulu tidak dihancurkan oleh Bulan Kegelapan dan Harimau, mungkin data dan para peneliti yang sudah mengembangkan ramuan X sejak lama itu bisa memecahkan masalah yang dia hadapi sekarang. Memikirkan hal tersebut, Randika sedikit merasa sedih. Melihat ramuan X di tabung reaksinya ini, dia masih merasa tidak puas dengan hasilnya. Randika dan timnya sudah mengalami kegagalan lebih dari 100x dan masih saja belum dapat menyempurnakannya. Meskipun dirinya dulu ikut dalam mengembangkan ramuan X, pengetahuannya tergolong sedikit dan tidak mencakup seluruh formula. Setelah beberapa jam kerja, Randika masih tidak mengalami kemajuan dan kepalanya sudah benar-benar pusing. Pada saat ini, HP Randika tiba-tiba bunyi. Ketika dia melihat nomornya, ternyata itu adalah Yuna. "Ran, dari data yang kamu kirim kemarin ada kemajuan." Randika langsung ceria kembali, "Baguslah kalau begitu, percepat langkah kalian." "Baik, mungkin tidak butuh waktu lama lagi untuk menyempurnakan ramuan X ini." Mendengar hal ini membuat Randika bernapas lega. Dengan adanya ramuan X, dia bisa mengeluarkan kekuatan penuhnya selama persediaan masih ada. Pada saat itu, tidak akan ada orang yang bisa mengancam dirinya! Pada saat yang sama di Jakarta, di kediaman keluarga Alfred. Ivan duduk di kursinya sambil merokok cerutunya dan seseorang berjas hitam berdiri di hadapannya. Orang tersebut terlihat santai dan salah satu tangannya berada di saku celananya. Dia menatap kepala keluarga aristokrat ini dengan santai. "Jadi mana uang yang kau janjikan itu?" Tanya pria itu. "Asalkan kau membuktikan kemampuanmu dan menyelesaikan masalahku, uang bukanlah masalah." Jawab Ivan. "Serahkan masalah itu padaku, tetapi aku butuh jaminan. Beri aku setengahnya sekarang dan setengah lagi setelah misi selesai." Ivan mengerutkan dahinya, pengawalnya yang ada di sampingnya ikut marah. "Persetujuan yang kita sepakati lewat telepon dulu sudah jelas, selesaikan misimu dulu baruˇ­." Namun, sebelum pengawal itu selesai berbicara, pria misterius itu sudah menghunuskan pisaunya tepat di leher si pengawal. "Sejak kapan semut berani berbicara di depan singa?" Setelah berbicara seperti itu, si pengawal itu sudah dia banting dan terlempar hingga menatap tembok. Pengawal ini hanya bisa meraung kesakitan sambil menyesali karena ikut campur dengan urusan atasannya. Sejujurnya dia sendiri tidaklah selemah itu, lawannya saja yang terlalu hebat. Dia sama sekali tidak bisa mengimbangi kecepatan bergeraknya, tahu-tahu dia sudah terlempar dan menatap tembok. Orang ini kuat! Ivan yang cemberut menjadi sedikit senang, dia dengan cepat mengatakan. "Baiklah, aku akan membayar setengah." Tak lama kemudian, pelayannya berjalan dan menghampiri Ivan lalu memberikan HP pada pria misterius tersebut. "Password HPnya adalah 5640." Kata Ivan. "Bawa HP itu terus dan ketika waktunya tiba, aku akan meneleponmu." "Dan juga." Ivan menatap tajam pria itu. "Aku tidak ingin kau menghilang ataupun tidak mengangkat ketika HP itu bunyi. Seluruh kekuatan keluarga Alfred akan mengejarmu jika kau berkhianat!" "Jangan khawatir, aku tidak akan melanggar janjiku. Telepon saja aku ketika waktunya tiba." Pria itu kemudian pergi dari hadapan Ivan. Ketika orang tersebut pergi, Ivan berkata pada pelayannya. "Terus sebarkan perekrutan ini dan carilah pembunuh-pembunuh terbaik lainnya." "Siap." Pelayannya itu langsung berjalan keluar dari ruangan, meninggalkan Ivan sendirian. "Sebentar lagiˇ­. Sebentar lagi kau akan mati!" Tatapan mata Ivan benar-benar penuh dengan api kebencian. ........... Randika sama sekali tidak mengetahui gerak-gerik dari keluarga Alfred. Dia masih sibuk bereksperimen dan tidak diragukan lagi, dia mengalami kegagalan. Karena suasana hati yang jelek dan kepalanya yang pusing, Randika memutuskan keluar dari gedung dan mencari udara segar. Cahaya matahari benar-benar terasa enak, sambil berjalan dia menghirup udara segar ini dalam-dalam. Membuang jauh-jauh masalah ramuan X dan masalah hidup lainnya, Randika benar-benar menikmati momen sunyi ini sendirian. Tanpa sadar, dia sudah berjalan cukup jauh dari perusahaan Cendrawasih. Chapter 193: Makan Siang Bersama Christina Randika menelusuri kota ini tanpa memikirkan apa-apa, dia menikmati kesendiriannya ini. Namun tiba-tiba, ada suara yang memanggilnya dari belakang. "Randika!" Ketika menoleh, Randika menyadari bahwa Christina lah yang memanggil dirinya. Christina melambai dengan senyuman manis di wajahnya. Sepertinya dia senang berjumpa dengan Randika. "Benar-benar kebetulan." Randika menghampirinya dan membalas senyumannya. "Tumben kamu di sini?" Christina bertanya dengan nada imut. "Aku kerja terlalu keras dan kepalaku benar-benar penuh, jadinya aku jalan-jalan untuk menyegarkan diri." Randika menggelengkan kepalanya. Hari ini Christina tidak terlalu berdandan, dia memakai baju ala kadarnya. Tetapi sosoknya yang seperti ibu rumah tangga ini tidaklah buruk, Christina pasti akan menjadi istri yang baik kelak. "Kalau kamu?" Randika balik bertanya. "Aku sedang menemani ibuku belanja." Jawab Christina sambil tersenyum. "Apa? Mamamu juga ada di sini?" Randika terlihat sedikit panik. "Iya." Christina menganggukan kepalanya dan melihat Randika yang tiba-tiba menjadi tegang itu. "Kalau begitu aku cabut dulu ya, aku ada urusan lain." Randika ingin cepat-cepat pergi, dia tidak tahan dengan seribu pertanyaan dan antusiasme ibunya Christina itu. Kekuatan mak comblang seorang ibu benar-benar mengerikan! "Tintin, bantuin mama bawa barangnya. Eh, ada nak Randika!" Namun semuanya sudah terlambat, suara ibunya Christina sudah terdengar dari belakangnya. Randika menoleh dan memaksakan dirinya tersenyum. "Ah tante selamat siang, aku kebetulan ada urusan pekerjaan di daerah ini dan sekarang sudah waktunya untuk kembali. Jadi aku pergi dulu ya." "Aduh kalau masalah pekerjaan tante tidak bisa berkata apa-apa." Ayu, ibunya Christina, tersenyum pada Randika. "Tapi bukannya kamu sudah janji untuk makan bersama kita? Bagaimana kalau kita makan siang dulu, tante akan masak makanan terbaik yang akan pernah kamu makan." "Ah tante tidak usah repot-repot gitu." "Aduh kalau demi menantu tante rela kok." Melihat gelagat Randika, Christina memberanikan dirinya. Dia menggenggam erat Randika sambil tersipu malu. Melihat tindakan Christina ini, Randika menatapnya. Sepertinya perempuan ini ingin dirinya menyetujui undangan ibunya. Randika merasa ragu dan bingung, namun pada saat ini, Ayu sudah memberikan tas belanjanya pada anaknya. Sehingga tangan kirinya Christina memegang tas belanja dan tangan kanannya memegang tangan Randika. "Sudah ngikut saja kamu, enak kok masakan tante ini." Dengan hati yang enggan, Randika menuruti dan berjalan sambil berpengangan tangan dengan Christina. Randika mengintip Christina dari sudut matanya, perempuan itu terlihat senang ketika berjalan bersama dengannya. Randika benar-benar tidak berdaya, sepertinya kabur bukanlah pilihan yang baik. Sesampainya di rumah, Ayu langsung bersiap untuk memasak. "Tin, kamu duduk dan temani Randika saja. Serahkan urusan dapur pada mama." Melihat ibunya mulai sibuk di dapur, Randika sedikit merasa tidak enak. "Apakah mamamu itu tidak butuh bantuan?" "Sudah biarin saja mamaku itu." Christina dengan cepat tertawa ketika melihat wajah sungkan Randika. "Omong-omong, nanti kamu harus membantuku." Setelah menaruh barang-barangnya, Christina duduk di sebelahnya Randika. "Aku tidak bisa membantumu terlalu banyak, semua tergantung dirimu sendiri." "Setidaknya tolong beritahu pertanyaan apa yang akan ditanyakannya." Randika tersenyum pahit. Ayu benar-benar memandang dirinya sebagai menantunya, apalagi setelah dirinya terpegok sedang berciuman dengan anaknya di luar rumahnya. "Seharusnya pertanyaannya tidak terlalu sulit jadi seharusnya tidak ada masalah." Kata Christina sambil berusaha menenangkan Randika. Randika mengulurkan tangannya dan memegang kedua tangan Christina, dia lalu berkata dengan nada serius. "Kita hanya bisa melalui ini bersama." "Kami ini alay banget ya, kita kayak mau pergi perang begini." Kata Christina sambil tertawa. Ayu kebetulan mau mengambil piring dan menyadari anaknya sedang berpegangan tangan dengan Randika, hal ini membuat dirinya senang. Dia sangat menyukai calon menantunya ini, dia mengakui kemampuan anaknya mencari calon suami yang baik. "Tin, biarkan Dika makan cemilan dulu." Kata Ayu sambil kembali ke dapur. Dika? Dalam sekejap, Randika merinding bagaikan berada di kutub utara dan badannya tidak bisa berhenti gemetar beberapa waktu. Bahkan kakeknya tidak pernah memanggil dia seakrab itu. Melihat reaksi Randika, Christina justru tertawa. "Salahmu sendiri memanggilku Tintin, jadi kalau kamu punya panggilan jangan salahkan aku." Randika tidak berdaya. "Ituˇ­. Tidak sama." Apakah itu bisa disamakan? Bagaimanapun juga, Christina adalah anaknya jadi wajar dia memberi nama panggilan sedangkan dirinya? Hal ini membuat dirinya pusing. Tak lama kemudian, Ayu memanggil mereka berdua untuk makan siang. Ketika sesampainya di meja makan, Randika terkejut ketika melihat makanan yang begitu mewah. Hampir ada 10 macam makanan seperti bebek peking, ayam cabe kering, gurame asam manis, lumpia udang dll. Randika sama sekali tidak bisa menahan air liurnya, bau tiap makanan benar-benar sedap! "Ayo, ayo, duduk dan jangan sungkan. Tin, ambilkan Dika sendok garpunya." Ayu mempersilahkan Randika duduk. Randika lalu duduk dan menerima sendok garpu dari Christina, dia lalu duduk di samping Randika. Randika hanya menatap makanan-makanan lezat ini, karena dia tamu, dia sungkan mengambil makanan duluan. "Tin, ambilkan nasi buat Dika." Kata Ayu sambil menendang kaki anaknya itu. Sambil menahan rasa sakit, Christina mengambilkan nasi dan lauk buat Randika. Randika sendiri was-was, dia hanya bisa nurut. "Ayo dimakan semuanya ya, tante buat makanan ini susah payah lho." Ayu tersenyum dan ikut menaruh makanan di piring Randika. Wow sebanyak ini? Wajah Randika berkedut, sepertinya ibu satu ini ingin memikat hatinya melalui makanan. Melihat Randika yang kewalahan seperti ini, Christina hanya bisa tertawa. Ayu lalu menatap Randika sambil mengerutkan dahinya. "Kenapa kamu tidak makan? Apa kamu tidak suka dengan masakan tante?" "Ah? Tidak, tidak, masakan tante benar-benar enak." Randika dengan cepat mengambil sendok garpunya dan mulai melahap. Dia menyadari bahwa Ayu menatapnya sambil tersenyum, senyuman itu benar-benar mengerikan. "Aduh tante jangan ngeliatin aku gitu terus dong, tante juga ikut makan ya." Kata Randika. Ayu hanya menggelengkan kepalanya dan berkata sambil tersenyum. "Dika, bagaimana progresmu sama Tintin? Apa sudah ada kemajuan? Kalian sudah berhubungan badan belum?" Randika yang sedang mengunyah hampir memuntahkan makananannya. "Uhuk, uhuk!" Randika tersedak sedangkan wajah Christina di sampingnya benar-benar merah. Ibu yang satu ini benar-benar tidak tahu kata sungkan! Meskipun kulit Randika sangat tebal, ini masih kalah tebal dengan ibu rumah tangga satu ini. Di hadapan wanita cantik, kata "malu" tidak ada di kamus Randika. Tetapi di depan ibunya Christina ini, dia sedikit malu karena pertanyaan yang diajukan selalu membahas topik sensitif. Randika merasa kalah dan tidak berdaya. "Maaf tanteˇ­ Kami belum sampai ke situ." Randika berusaha menata kata-katanya. Inilah alasan dia malas untuk datang ke rumah ini, bukannya makan malah dia diinterogasi. "Pelan sekali hubunganmu! Bukannya anak muda jaman sekarang berhubungan badan setelah mereka bertemu?" Ayu menghela napasnya. "Maˇ­" Christina sudah tidak tahan lagi, kenapa ibunya malah ingin anaknya berhubungan badan sebelum menikah? "Hahaha maaf, maaf, sudah ayo cepat dimakan." Ayu juga sadar bahwa dia tidak boleh menakut-nakuti Randika, kalau tidak menantu idamannya ini akan pergi! Biarlah anaknya mengatur kecepatan hubungannya dengan sendirinya. Randika menghela napas lega di hatinya, akhirnya dia bisa makan dengan perasaan tenang. Ketiga orang ini menggerakan sendok garpu mereka, Ayu tetap sesekali bertanya, Randika terus-menerus menikmati makanan mewah ini dan Christina sendiri makan dengan wajah merahnya. Namun, tiap detiknya selalu ada lauk dan nasi yang dituangkan oleh Ayu di piringnya jadi piringnya Randika selalu penuh. "Tante makasih perhatiannya, nanti aku bisa nambah sendiri kok. Nanti lauknya habis malah tante tidak dapat apa-apa." Namun, semua ini percuma karena piring Randika tetap penuh sepanjang waktu. Ayu hanya berkata sambil tersenyum. "Dika, kapan kamu akan menikah? Minggu ini atau minggu depan?" Minggu ini atau minggu depan? Alis Randika tidak bisa berhenti berkedut. Bahkan jika dia ingin menikah, waktu yang dibutuhkan tidak secepat itu. Orang normal saja akan menyiapkan acara penting ini dalam hitungan bulan dan ibu ini ingin dirinya menikah kurang dari 7 hari? Randika sudah kehabisan kata-kata sementara Ayu tidak bisa berhenti bertanya. "Aku harap sih kamu cepat memberikan tante cucu buat ditimang, kamu inginnya anak laki atau perempuan??? Keringat dingin di dahinya mulai keluar. "Tante, aku sama sekali belum pernah membahas ini dengan Christinaˇ­" "Tidak masalah, tidak masalah. Lebih baik dibahas secepat mungkin jadi kalian ada gambarannya. Apa kamu mau bantuan tante untuk mengatur pernikahan kalian?" Randika menatap Christina yang diam seribu bahasa di sampingnya. Randika diam-diam menendang kaki Christina, meminta bantuan. Melihat wajah dan tatapan mata minta tolong Randika, Christina tidak bisa berhenti tertawa. "Ma sudahlah, biarkan kita makan dulu. Nanti setelah makan baru kita bicara." Kata Christina. Randika, yang merasa seperti tahanan diinterogasi ini, merasa bahwa Christina hanya mengulurkan waktunya saja, bisa-bisa setelah makan dia akan dibombardir lebih dahsyat lagi. Setelah makan dirinya harus segera kabur! "Baiklah, baiklah," Ayu tersenyum dan menatap Randika. "kita makan dulu setelah itu kita lanjutkan pembicaraan kita tadi." Setelah beberapa saat akhirnya acara makan siang ini telah selesai. "Sudah kamu duduk saja, biarkan tante yang mencuci piringnya." Kata Ayu. Tetapi Randika dengan cepat mengatakan. "Tante maaf, aku ada urusan kerja jadi harus pergi sekarang." "Lha ngapain buru-buru?" Ayu tidak mau menyerah tetapi Christina mengerti maksud Randika dan berkata dengan nada serius. "Sudahlah ma, Randika lagi sibuk. Dia juga sudah janji akan datang lagi." "Iya tante nanti aku datang lagi kok. Aku benar-benar perlu kembali bekerja sekarang." Randika menambahkan. "Kalau begitu baiklah, janji lho ya." "Iya tante tidak usah khawatir." Balas Randika. Berjalan keluar menuju pagar bersama Christina, Randika menghembuskan napas lega. "Bagaimana rasanya diomeli mamaku?" Tanya Christina. Randika lalu berbisik padanya. "Selama kamu mengandung anakku, dia tidak akan pernah mengomel lagi." Christina langsung tersipu malu. "Ran serius aku ini." "Hahaha, sudah ya aku benar-benar harus kembali kerja." "Baiklah, hati-hati di jalan." Kata Christina, di dalam hatinya dia sebenarnya sedih melihat Randika pergi. Namun, bukannya melambaikan tangan tetapi Randika memberinya ciuman perpisahan. Christina sama sekali tidak menghindar ataupun menolaknya, setelah mereka selesai berciuman Christina tersenyum manis. Setelah selesai makan siang di tempat mengerikan itu, Randika sudah malas untuk kerja lagi. Perkembangan ramuan X benar-benar membuatnya pusing jadi lebih baik dirinya mengandalkan Yuna untuk saat ini. Sesampainya di rumah, Randika masuk ke kamarnya dan mengontak Yuna. Tetapi setelah menunggu lebih dari 2 jam, Yuna sama sekali tidak masuk ke dalam chat video mereka. Randika merasakan firasat buruk. Pada saat ini, tiba-tiba ada seseorang masuk di chat video mereka dan berkata dengan nada yang datar. "Sudah lama kita tidak bertemu tuanku." Chapter 194: Perjalanan ke Jepang Bersamaan dengan suara itu, muncul figur seseorang di video. Alis Randika berkedut, Shadow! Benar, orang yang berada di chat video ini adalah Shadow. Hati Randika langsung mengepal, bagaimana bisa Shadow mengetahui posisi Yuna yang baru? Tatapan mata Randika mengandung niat membunuh, wajahnya sudah sedingin es. "Di mana Yuna?" "Oh? Bukannya ada pertanyaan yang lebih bagus? Misalnya kenapa bisa aku yang ada di chat ini?" Shadow tersenyum. Menyadari tatapan dingin Randika, Shadow mengatakan. "Ketika aku meninggalkan kota Cendrawasih, rasa sakit dikalahkan olehmu itu sungguh amat menyakitkan. Oleh karena itu, aku mendedikasikan hidupku untuk mencari cara untuk balas dendam. Aku juga yakin pasti tuan akan mengirim orang untuk mencariku." Randika tidak membalasnya, tatapannya makin tajam dan dia berkata dengan nada serius. "Kau memang layak disebut mata-mata terbaik." "Aku merasa tersanjung dipuji olehmu." Shadow membalasnya sambil tersenyum meskipun ekspresinya itu terlihat seperti orang mati. "Biarkan aku melihat Yuna." Kata Randika. "Karena tuan berkata demikian." Shadow lalu menggerakan kameranya dan sosok Yuna yang terikat muncul dari balik layar. Melalui video ini, wajah syok Yuna tidak bisa disembunyikan. Sepertinya dia sendiri heran kenapa musuhnya bisa mengetahui lokasi markas barunya ini. Setelah beberapa saat, kameranya bergerak kembali. "Setelah melihatnya apakah ada permintaan tuan yang lain?" Tanya Shadow dengan wajah tanpa ekspresi. Randika sudah dipenuhi dengan aura membunuh. "Kau benar-benar hebat, tidak percuma aku melatihmu secara langsung." "Aku tidak membantahnya." Nada suara Shadow berubah menjadi dingin. "Anak bernama Aline ini apakah bawahan tuan juga?" "Apa kamu juga akan membunuhnya?" Randika bertanya dengan nada dingin. Aura membunuhnya bahkan bisa terlihat dari balik layar. "Tidak, mana mungkin aku membunuhnya." Shadow menggelengkan kepalanya tetapi senyuman jahat mulai muncul di wajahnya. "Karena dia adalah adik Yuna jadi bisa dikatakan bahwa dia adalah bawahanmu. Jadi aku akan menyiksanya, membuatnya sekarat dan memohon ampun atas nyawanya, lalu aku akan membunuhnya!" "Sepertinya tubuh tuan terluka lagi ya? Tuan sampai membuat markas baru untuk membuat ramuan obatmu lagi." Setelah Shadow berkata demikian, tatapan Randika makin tajam. Jika markas barunya ini telah ditemukan oleh Shadow, tidak diragukan lagi Bulan Kegelapan akan memerintahkannya untuk menghancurkan markasnya lagi. Jika ramuan X ini tidak diproduksi, akan sangat sulit baginya untuk mengontrol kekuatan misterius dalam tubuhnya. Shadow membungkuk. "Untuk menghormati kerja sama kita dulu, aku sendiri yang akan menghancurkan markas baru kita ini." Aura membunuh Randika sudah tidak bisa diredamnya lagi, dengan nada marah dia mengatakan. "Ketika kita bertemu nanti, kau akan berharap bahwa kau tidak pernah dilahirkan." "Aku menantikan pertemuan kita lagi tuanku." Setelah itu Shadow menjentikkan jarinya, dan tiba-tiba, suara jeritan tragis orang terdengar. Suara kaca yang pecah, suara benda jatuh, suara kobaran api bisa terdengar dari balik layar. Kemudian Shadow mengeluarkan pisaunya dan menebas kameranya. Tiba-tiba layar komputer Randika menjadi hitam legam. DUAK! Randika tidak bisa menahan dirinya, dia meninju dan menghancurkan komputernya. BEDEBAH! Randika benar-benar membenci Shadow dan Bulan Kegelapan. Dia tidak sabar menari di atas mayat mereka. Belum pernah ada orang yang berani berkhianat sedemikian rupa pada dirinya. Kalian memang yang pertama tetapi aku akan pastikan kalian lah yang terakhir! Setelah beberapa saat, Randika berhasil menenangkan dirinya. Sekarang pertanyaan terbesarnya adalah apa yang harus dia lakukan? Yuna dan Aline sudah disekap oleh Shadow, jadi kemungkinan besar mereka berdua berada di markasnya. Sedangkan markas barunya sendiri sudah dihancurkan dan ramuan X masih belum bisa diproduksi. Apakah dia harus menunggu ramuan X buatan tim di perusahaan Cendrawasih baru menyelamatkan Yuna dan Aline? Setelah berpikir dengan serius, Randika memutuskan akan pergi ke Jepang sendirian untuk mencari Yuna dan adiknya sekaligus mencari sisa data ramuan X di markas barunya itu. Memang hal ini sedikit berisiko tetapi Randika tetap harus pergi. Lawannya telah menghancurkan harapannya dan menyekap bawahannya, bagaimana mungkin dia bisa berdiam diri? Setelah membulatkan tekad, Randika dengan cepat memesan tiket pesawat dan langsung berangkat ke bandara. Pada saat yang sama, Randika menelepon Inggrid. "Halo?" "Sayang, aku perlu pergi sementara waktu. Tidak lama kok, mungkin setengah bulan." Kata Randika. Inggrid sama sekali tidak menjawab, kemudian dengan nada lembut Inggrid menjawab. "Kalau begitu berhati-hatilah, jangan lupa membawaku oleh-oleh!" Randika sedikit terharu, Inggrid tidak bertanya apa-apa tentang alasannya pergi. Sedangkan perihal oleh-oleh itu, sepertinya istrinya itu ingin dirinya pulang dengan selamat tapi malu-malu untuk mengatakannya secara langsung. "Baiklah." Sebelum menutup teleponnya, Randika menambahkan. "Aku akan merindukanmuˇ­. Aku sayang kamu." Di ruangannya, Inggrid tidak bisa berhenti tersenyum ketika mendengar kata-kata manis Randika ini. Hatinya tidak bisa lebih hangat lagi daripada ini. Randika sendiri akhirnya telah sampai di bandara dan akhirnya masuk ke dalam pesawatnya. Tidak lama kemudian akhirnya pesawatnya lepas landas. Randika duduk di samping jendela, dia memperhatikan awan putih yang melayang-layang. Tetapi pikiran Randika masih tetap fokus pada masalah Shadow. Shadow sekarang bekerja sama dengan Bulan Kegelapan dan sangat sulit berhadapan dengan keduanya, apalagi mereka memiliki teknologi kloning. Saat dirinya masih berada di dunia bawah tanah, kekuatan Randika bisa tergolong terkuat di dunia. Bahkan dia sampai mendapatkan julukan Dewa Perang. Namun, setelah hidup damai dan berhadapan dengan ikan teri selama ini, Randika sedikit takut berhadapan dengan orang yang berada di daftar Dewa ataupun 12 Dewa Olimpus. Lagipula, dulu ada seorang wanita berambut pirang di sisinya setiap dia bertarung. Tetapi itu adalah lain cerita, sekarang dia harus fokus terhadap dirinya sendiri. Di tengah-tengah melamunnya, sepertinya penerbangannya kali ini juga tidak bisa damai. Setelah terbang selama satu jam, pesawat sudah jauh berada di atas tanah. Pada saat ini, tiba-tiba beberapa orang berdiri dan berjalan menuju bagian VIP. Randika duduk di kelas ekonomi jadi dia sama sekali tidak peduli dengan mereka. Seorang pramugari hanya mengira orang-orang tersebut hanya ingin pergi ke toilet dan tidak menghentikan mereka. Namun, dua di antara mereka segera memisahkan diri dan menjaga pintu masuk bagian VIP. Kemudian kedua orang ini berteriak pada semua penumpang. "Pesawat ini sudah kami bajak, kalian semua akan menjadi sandera kami. Jangan bergerak dan jangan coba-coba bertingkah layaknya seorang pahlawan." Setelah mendengar ancaman tersebut, beberapa penumpang menatap kedua orang tersebut. Mereka mencuekinya dan kembali mendengarkan musik. Mereka merasa kedua orang itu sedang mabuk. Si pramugari mengerutkan dahinya dan mengatakan. "Pak, jika Anda bercanda seperti itu terus, aku akan melaporkan kejadian ini sebagai tindakan teroris." Kedua pria itu mendengus dingin dan salah satu dari mereka mengeluarkan pistol dari balik celana mereka dan menembakannya ke kursi yang kosong. DOR! DOR! Mendengar suara tembakan itu, semua penumpang menjadi panik. Pesawat mereka beneran dibajak! "Kalian semua jangan bergerak! Duduk diam dan dengarkan perintah kam!" Kata si pelaku dengan nada dingin. Pada saat yang sama, teman-temannya mengeluarkan senjata mereka yang disembunyikan di bagasi pesawat lalu membidik ke arah penumpang. Chapter 195: Serangan Balik Semua orang menjadi panik, beberapa teriak histeris, beberapa berdoa agar dirinya selamat, beberapa berusaha melarikan diri ke kabin lain. Tetapi semua itu percuma, para pembajak itu sudah mengepung tiap pintu kabin jadi tidak ada jalan keluar. "Semuanya tutup mulut kalian!" Teriak salah satu dari mereka. "Kalau tidak kami akan mulai menembaki kalian satu per satu hingga terdiam. Pada saat yang sama, beberapa anggota pembajak ini mendatangi kabin kelas pertama. Tanpa berkata apa-apa, mereka mengeluarkan senjata mereka dan membidik ke arah penumpang. "Jangan ada yang bergerak! Pesawat ini sudah kami bajak!" Teriaknya. Semua penumpang di kelas pertama ini terkejut. Salah satu teroris ini melihat seseorang ada yang berlari menuju kokpit pilot untuk memberitahu situasinya dan dia berhasil menembaknya sebelum hal itu terjadi. Beberapa penumpang berusaha bertingkah layaknya pahlawan, pada saat ini, beberapa teroris yang sudah menyamar di tengah para penumpang kelas pertama ini berdiri dan menghajar orang-orang yang nekat tersebut. Rencana pembajakan ini sudah mereka siapkan berbulan-bulan jadi pelaksanaannya benar-benar sempurna. Tidak butuh waktu lama bagi para teroris ini mengontrol situasi kecuali kokpit pilot. Salah satu orang berjenggot menyandera para pramugari, sambil membidik mereka, dia meminta para pramugari tersebut duduk di bagian paling belakang pesawat. Setelah mengamankan mereka, pria tersebut membawa salah satu yang paling senior untuk mengikuti dirinya. Mereka akan menuju kokpit pilot. Dalam tugasnya di dalam kokpit pesawat, pilot dibantu oleh seorang ko-pilot. Selama penerbangan berlangsung semenjak pintu terakhir ditutup untuk lepas landas hingga pintu pertama dibuka setelah mendarat, pilot dan ko-pilot akan mengikuti jalur-jalur penerbangan yang telah didaftarkan dan terprogram melalui bantuan sistem navigasi pesawat serta mengikuti informasi yang diberikan oleh menara kontrol lalu-lintas di bandar udara maupun petugas pelayanan lalu lintas penerbangan di sepanjang perjalanan. Pramugari itu berhenti di depan pintu kokpit dan mengebel pintunya sambil mengatakan. "Apakah kalian ingin minum?" Di dalam pesawat, hanya seorang pilot dan wakilnya lah yang boleh berada di kokpit pilot. Tempat sakral ini merupakan pusat pengendali pesawat. Jika kapten pesawat itu tidak membukakan pintunya dari dalam maka para pramugari ataupun orang lain tidak bisa masuk. Oleh karena itu, para teroris ini membutuhkan bantuan pramugari ini untuk membuat si pilot membuka pintu mereka. Sesuai rencana mereka, para pilot itu tidak mencurigai apa pun dan membuka pintu mereka dari dalam. Begitu pintu terbuka, tiga teroris langsung menyerbu masuk dan menodongkan senapan mereka. "Jangan bergerak!" Mereka membidik ke arah si kapten pesawat dan wakilnya. Orang yang berjenggot tadi masuk dan berkata pada kedua pilot tersebut. "Bawa pesawat ini ke tempat ini." Bersamaan dengan itu, pria tersebut mengeluarkan peta dan menunjuk ke sebuah pulau. Tentu saja, kedua pilot itu menolaknya. Tetapi, pria berjenggot itu berkata dengan nada dingin. "Jika kalian menolak, kami akan membunuh penumpang kalian satu per satu tiap 1 menit." Salah satu teroris mendorong si pramugari tadi masuk ke dalam kokpit dan menodongkan senjatanya di kepala si pramugari. Sang kapten merasa tidak berdaya. Seluruh proses pembajakan ini berjalan dengan cepat, cuma butuh 15 menit bagi para teroris ini mengendalikan seluruh pesawat. Di kabin ekonomi, tempat Randika berada, para teroris ini mengawasi seluruh keadaan dengan tatapan waspada. Pada saat ini, mereka sudah mengetahui bahwa anggota mereka berhasil menguasai kokpit dan mereka ikut senang. Para penumpang pesawat ini sudah was-was dan merasa tidak berdaya. Mereka terus berdoa agar bisa kembali dengan selamat, seorang ibu memeluk anaknya dengan erat dan seorang pebisnis terlihat berkeringat dingin di seluruh tubuhnya. Pada saat ini, Randika sudah berhenti melamun dan memiliki kesadarannya kembali. Tiba-tiba pesawatnya sudah dibajak! Sambil mengerutkan dahinya, Randika menghela napasnya. Dia aslinya tidak ingin berurusan dengan para teroris ini tetapi kalau pesawatnya dibajak, berarti tujuan mereka akan berubah dan dia sama sekali tidak bisa membuang waktunya. "Benar-benar merepotkan." Randika berdiri, dan dalam sekejap, seorang teroris langsung membidiknya. "Siapa suruh kau berdiri?" Teroris tersebut berwajah dingin. "Duduk atau kutembak." "Tunggu sebentar." Randika mengangkat kedua tangannya dan berkata dengan santai. "Bisakah aku mengambil obatku di tasku?" "Aku tidak peduli dengan penyakitmu, duduk atau kutembak!" Teroris tersebut sudah kehilangan kesabaran, para penumpang juga melototi Randika dan ikut cemas. Randika hanya tersenyum. "Kalau begituˇ­" Sesudahnya tersenyum, sosok Randika menghilang bagai ditelan asap. Teroris yang berjaga di kelas ekonomi ini langsung terkejut dan bingung. Di tengah kepanikannya, mereka membidik para penumpang dan mengancam akan membunuh mereka apabila Randika tidak menunjukan dirinya. Tetapi pada saat ini, Randika sudah berdiri di depan 2 teroris dan memberikan mereka pukulan keras tepat di wajah. Pukulan itu benar-benar cepat dan tidak dapat ditahan, kedua orang tersebut hanya bisa terpental dan tidak sadarkan diri di lantai. Salah satu dari mereka sudah membidik Randika dan menembak ke arahnya, tetapi Randika lebih cepat satu langkah darinya. Randika sudah membengkokan bagian larasnya dan peluru hanya bisa menembak ke bagian atas. "Bedebah!" Pada saat yang sama, dua teroris lainnya menyadari kedua temannya sudah jatuh pingsan dan langsung membidik senjata mereka ke Randika! Tetapi pada saat ini, Randika menggunakan badan teroris yang di depannya itu sebagai tameng dan semua peluru yang melesat ke arahnya masuk ke dalam badan teroris tersebut. Pada saat yang sama, Randika mengambil senapan yang ada di tangan teroris tersebut. Melihat kedua teroris yang menembaknya itu kehabisan peluru, Randika melompat dan menembakkan dua peluru. Kedua peluru tersebut dengan akurat masuk ke dalam dahi kedua teroris tersebut. Hanya dalam sekejap, Randika berhasil membasmi 5 teroris yang berjaga di kelas ekonomi pesawat ini. Para penumpang melihat aksi Randika dengan hati yang mengepal dan mata yang terbelalak. Bahkan penumpang yang duduk di samping Randika itu sudah tidak bisa menutup mulutnya yang menganga. Randika mengambil senapan serbu para teroris ini dan berjalan menuju kelas pertama. Mengintip dari balik tirai, ada dua orang yang berdiri di depan tirai ini. Mengandalkan serangan diam-diam, Randika menghantam bagian belakang kepala mereka dengan senapannya dan mengakhiri hidup mereka dengan mudah! Di dalam kabin ini, beberapa teroris langsung menjadi waspada ketika mendengar suara tubuh jatuh dan melihat sosok Randika yang berjalan masuk. Namun, sebelum mereka bisa menembak, Randika sudah membidik mereka dan menembak mereka tanpa ampun! Setiap satu peluru akan bersarang di dahi mereka, benar-benar akurat! Hasil ini membuat Randika mengangguk puas. Sejujurnya, peluru dan senjata api bukan merupakan senjata utamanya tetapi bukan berarti dia tidak bisa menggunakannya. Dia hanya tidak ingin bergantung pada senjata seperti ini. Tetapi ketika dia menggunakannya, cukup satu peluru untuk membasmi satu orang. Semua penumpang kelas ekonomi ini sudah melototi Randika dengan tatapan tidak percaya. Pemuda yang datang itu menghabisi para teroris ini hanya dalam satu tarikan napas! Sambil mengambil senjata yang baru, yang pelurunya penuh, Randika berjalan menuju bagian kabin kelas pertama. Di saat dia berjalan, para penumpang hanya terdiam. Sepertinya mereka masih tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Randika sama sekali tidak peduli, waktu adalah segalanya bagi dirinya yang sekarang. Chapter 196: Serangan Balik (2) Setelah mengumpulkan para pramugari di bagian belakang pesawat, para teroris ini membawa seluruh pramugari tersebut ke kabin kelas pertama agar dapat mengawasi mereka lebih leluasa. Di kabin orang kaya ini, ada 8 teroris yang berjaga. "Berisik!" Salah satu teroris berteriak pada perempuan yang sedang menangis. Suara tangisnya itu cukup keras dan membuatnya jengkel. Perempuan tersebut terkejut dan mengusap air matanya. "Kalau kau menangis lagi, aku tidak akan segan-segan membunuhmu." Kata teroris tersebut sambil mengarahkan senapannya ke perempuan tersebut. Semua penumpang yang lain sama sekali tidak berkomentar. Beberapa penumpang sudah memancarkan aura kemarahan mereka ketika melihat hal ini. Tetapi, ketika teroris itu menodongkan senjatanya, mereka sama sekali tidak berani untuk bergerak sembarangan. Kalau pun mereka berhasil menjatuhkan satu orang ini, masih ada 7 teroris lainnya dan itu sudah cukup membuat kabin ini menjadi lahan pembantaian. Merasakan kekuatan dan kekuasaan yang absolut ini, teroris tersebut berkeliling sambil memegang senjatanya dan mengerutkan dahinya ketika melihat seorang anak kecil. "Kalian berdua cepat berdiri!" Ibu dan anak, yang memeluk ibunya dengan erat, tersebut terkejut. Anak kecil tersebut ketakutan dan mulai menangis. "HUA!" Tangisannya yang keras itu langsung menggema ke seluruh kabin. Dalam sekejap hati ibu tersebut mengepal dan takut akan nasibnya. "Sayang, cup-cup, sudah jangan nangis ya." Ibunya itu dengan cepat menenangkan anaknya yang masih berusia 2 tahun tersebut. Tetapi melihat anak dan ibunya itu sama sekali tidak berdiri, teroris tersebut mendengus dingin dan menarik paksa tangan si anak. "Tidak! Lepaskan anakku!" Sang ibu langsung menarik tangan anaknya dan ingin merebutnya kembali. Teroris tersebut memukul sang ibu dengan senapannya hingga berdarah. Ibu yang terjatuh di lantai itu berkata sambil menangis. "Ambil saja aku, kembalikan anakku!" Para penumpang yang lain sama sekali tidak berdaya, mereka ingin membantu ibu itu tetapi mereka tidak punya keberanian untuk melakukannya. Mereka melihat teroris tersebut mengangkat anak kecil tersebut dan tersenyum jahat sambil menodongkan senjatanya tepat di samping kepala anak kecil itu. Semuanya merasa bahwa mungkin ini adalah akhir dari anak kecil tersebut. Para teroris yang lain sempat geleng-geleng dengan temannya satu itu, mereka memutuskan untuk mencuekinya. Melihat anaknya ditodong senjata, tangis ibu tersebut makin keras dan memohon ampun untuk anaknya. Tetapi pada saat ini, tirai pintu antar kabin terbuka. Beberapa teroris menyadari hal ini dan membidik senjata mereka ke arah tersebut. "Halo!" Randika tersenyum dan menembakan senjatanya. Dor! Dor! Dor! Ketika pelurunya melesat, peluru tersebut langsung bersarang tepat di dahi mereka. Ketiga teroris lainnya terkejut ketika mendengar tembakan ini dan berdiri. Yang mereka terakhir ingat adalah rasa sakit di dahi mereka ketika tiba-tiba pandangan mereka menjadi gelap. Dalam sekejap, 7 teroris sudah mati terbunuh dan tinggal seorang lagi yang menyekap seorang anak kecil. "Jangan bergerak!" Teroris tersebut menatap Randika dengan kaki yang bergetar. Senapannya sama sekali tidak beranjak dari kepala si anak. "HUA!" Tangisan anak kecil itu semakin menjadi-jadi ketika teroris tersebut mencengkeramnya dengan erat. Randika hanya mengerutkan dahinya dan teroris itu berkata dengan nada dingin. "Buang senjatamu atau akan kubunuh anak kecil ini!" Kejadian seperti ini selalu menyulitkan bahkan untuk tim kesatuan khusus polisi. Jika kita menuruti dan membuang senjata kita, maka penjahat akan mempunyai kendali atas nyawa semua orang. Tetapi jika kita tidak membuang senjata, sandera akan mati. Hati si ibu langsung mengepal, Randika sendiri hanya tersenyum. "Kalau aku tidak mau?" "Kalau begitu darah anak kecil ini adalah dosamu!" Teroris itu tersenyum jahat, tetapi tiba-tiba, dia merasakan hawa dingin dari arah belakangnya. Dia sama sekali tidak tahu kapan orang itu sudah menyelinap ke belakangnya. "Kalau begitu aku akan membunuhmu duluan." Randika menggelengkan kepalanya sambil mematahkan leher teroris tersebut. Meskipun dia masih belum bisa menggunakan seluruh kekuatannya, kecepatannya masih tidak tertandingi dan hanya beberapa orang di dunia yang bisa mengimbanginya. Lehernya yang patah itu hanya bisa melotot tidak percaya, sejak kapan orang ini sudah dibelakangnya. Randika berhasil mendapatkan anak kecil tersebut sebelum teroris itu menibaninya. Tiba-tiba anak kecil itu berhenti menangis dan menatap Randika dengan kedua bola matanya yang besar. Anak kecil itu sepertinya bisa memahami bahwa Randika adalah orang yang baik dan seketika itu dia mulai tertawa. Melihat senyuman anak kecil ini, suasana hati Randika yang muram itu membaik sedikit dan dia hendak tersenyum. Namun pada saat ini, tanpa peringatan apa-apa, anak kecil ini mulai pipis! Bajingan! Randika terkejut merasakan air pipis yang hangat di sepatunya dan segera menjauhkannya dari dirinya. Semua air pipis itu lalu menggenang di lantai. Untungnya saja Randika bisa merespon semua ini dengan cepat, sepatunya hanya basah sedikit. Randika menghela napas ketika anak kecil itu selesai mengeluarkan pipisnya. Adegan lucu ini membuat suasana tegang kabin ini menjadi sedikit lebih lepas dan orang-orang mulai tertawa. Randika, sambil menggendong anak kecil itu, mengembalikannya pada ibunya. "Terima kasih, aku benar-benar berterima kasih padamu!" Ibu itu tidak bisa berhenti mengucapkan rasa terima kasihnya sambil memeluk anaknya. Semua orang bertepuk tangan pada Randika tetapi Randika sendiri hanya berjalan menuju kokpit pilot. Randika berhasil mengamankan seluruh anggota teroris ini tanpa membiarkan mereka memberitahu keadaan mereka pada teman-temannya jadi informasi mengenai pesawat ini diambil alih kembali belum sampai di kokpit. Randika menekan tombol bel di pintunya dan suara bos dari para teroris itu terdengar. "Ada apa?" "Anak buahmu sudah mati semua." Kata Randika dengan santai. "Buka pintunya, ini semua sudah berakhir." Tidak ada jawaban sama sekali untuk beberapa saat, lalu si bos itu berkata dengan nada datar. "Yang mati biarlah mati. Lagipula mereka sudah menyerahkan nyawa mereka untuk kemakmuran organisasi kami. Nyawa mereka tetap hidup di hatiku!" Randika membalasnya sambil menghela napas. "Buka atau kudobrak." "Hah? Jangan berkata omong kosong seperti itu, jika kau bisa mendobraknya kenapa kau memintaku untuk membukakannya?" Si bos teroris ini sepertinya tidak percaya dengan kekuatan Randika. "Aku akan membunuh kedua pilot ini jika pesawat ini sudah sampai ke tujuan, jadi aku harap omong kosongmu itu dapat menyelamatkan mereka." Randika menggelengkan kepalanya dan meletakan tangannya di pintu. Pintu kokpit ini benar-benar anti peluru dan ledakan, hampir mustahil untuk mendobrak masuk. Di atas pintu, tangan Randika mulai menyalurkan tenaga dalamnya. Di bawah serangan tenaga dalamnya, pintu tersebut seakan-akan sudah tidak kuat menahan kekuatannya dan mulai bergetar. Sepertinya pintu itu akan meledak kapan saja. Si bos yang berada di dalam terkejut ketika melihat pintu itu bergetar. Masa musuhnya itu bisa mendobrak masuk ke dalam sini? Di tengah dia masih berpikir, pintu kokpit ini terjatuh ke belakang dan sosok Randika langsung masuk dengan santai. Melihat sosok musuhnya yang tenang itu, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilihatnya dan bahkan rokok yang dia hisap terjatuh. Dia sudah pernah membunuh para prajurit terkuat tetapi dia belum pernah melihat musuh yang sekuat ini. Apa dia masih bisa dibilang manusia? Chapter 197: Kebimbangan Hati Randika Kedua pilot itu sama-sama terkejutnya dengan teroris tersebut. Randika menatap si pemimpin dari para teroris ini dan mencengkeramnya erat di pergelangan tangannya. Dia masih berusaha melawan tetapi Randika sama sekali tidak bergeming. Dengan tangan satunya, dia memukul orang itu tepat di wajahnya dan pingsan. Sambil membawanya keluar dari kokpit seperti hewan buruan yang mati, Randika menutup pintu kokpit itu tanpa berkata apa-apa. Kapten pesawat dan wakilnya itu saling bertatap-tatapan tanpa berbicara. Mereka langsung melaporkan kejadian ini kepada menara pusat dan mengembalikan jalur pesawat mereka menuju Jepang. Randika sendiri sebenarnya ingin melempar para teroris yang hidup itu keluar dari pesawatnya tetapi dia memutuskan untuk mengikatnya. Para pramugari menatap Randika dengan tatapan penuh makna dan kagum. Mereka yang tidak punya suami ataupun pacar merasa Randika adalah pria tergagah yang pernah mereka lihat. Mereka bahkan rela melakukannya di toilet pesawat ini. Namun, suasana hati Randika masih sama buruknya dengan tadi. Perjalanannya ke Jepang ini benar-benar penuh dengan tanda tanya, dia sama sekali tidak tahu bahaya apa yang akan mengintai dirinya. Jadi bermain apalagi berhubungan badan dengan para pramugari cantik ini tidak akan membuatnya sedikitpun lega. Duduk di tempatnya kembali, pada saat ini, seorang bule dengan rambut berwarna pirang menatap Randika dengan penuh tatapan penasaran. Rupanya penumpang yang duduk di sampingnya itu sedang pergi ke toilet dan bule ini langsung duduk ketika dia tahu bahwa Randika duduk di situ. "Halo." Kata perempuan tersebut dengan Bahasa Inggris. Randika menatapnya balik dan mengangguk. "Halo." "Kamu baru saja menghajar mereka semua sendirian, apa kamu pesilat Indonesia seperti yang ada di TV?" Perempuan pirang ini terlihat bersemangat. Randika hanya mengangguk. "Wow, aku sangat suka dengan budaya Indonesia kalian ini. Boleh aku tanya-tanya sebentar? Omong-omong namaku adalah Serena, salam kenal." "Namaku Randika." Pada saat yang sama, mata Randika sudah memeriksa Serena dari atas ke bawah. Serena tidak salah lagi merupakan perempuan bule yang cantik dengan dadanya yang cukup besar itu sebagai aset berharganya. Bahkan dia duduk pun, Randika bisa melihat betapa bagusnya figur Serena. Dengan mata birunya, bibir pinknya yang cerah, leher putih yang panjang, membuat perempuan ini semakin cantik. Sayang sekali suasana hatinya sedang tidak bagus jadi Randika tidak bersemangat sama sekali ketika berbicara dengannya. Isi pikirannya hanya penuh dengan Shadow, Yuna dan adiknya. Kali ini dia akan memastikan Shadow hilang dari muka bumi ini. Jika dia tidak membunuhnya, Randika sama sekali tidak bisa merasa tenang! Jika Shadow sama sekali tidak bergerak dan terus bersembunyi, maka Randika tidak perlu repot-repot mengejarnya hingga ke Jepang. Kemampuan Shadow dalam mengumpulkan informasi sangat membuatnya khawatir, apalagi Shadow bisa menemukan markas barunya itu. Bisa dikatakan bahwa Shadow merupakan satu-satunya lawan yang bisa mengancam produksi ramuan X miliknya. Serena menatap Randika yang loyo itu, semakin dia menatapnya semakin suka dirinya. Mungkin inilah yang dikatakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Dia mungkin tidak setampan orang-orang dari negaranya tetapi pria ini benar-benar jago berkelahi. Otot-ototnya itu benar-benar sesuai dengan idamannya. Serena memakai rok pendek yang menonjolkan paha dan kakinya yang panjang itu, kakinya benar-benar mulus! Namun ketika Randika sama sekali tidak memperhatikan dirinya, dia mulai memberanikan diri dan mendekatkan kakinya ke kakinya Randika. Dalam sekejap, sensasi aneh ini menjalar dari kakinya ke otaknya. Randika menoleh dan melihat senyuman menawan Serena. "Apa kamu punya waktu setelah turun dari pesawat ini?" Orang luar negeri memang lebih jujur dan terus terang, tidak seperti orang Indonesia. Ucapan Serena itu sama saja dengan mengajak Randika untuk berhubungan badan ketika mereka sampai di Jepang. Mungkin ini sama dengan pesan singkat para perempuan Indonesia yang mengatakan bahwa orang tua mereka tidak ada di rumah. Meskipun semua ini tidak bisa dijadikan patokan, tatapan dan gerak-gerik Serena jelas mengatakan bahwa dia sangat terangsang dengan Randika dan ingin meluapkan perasaannya ini dengannya nanti malam. "Maaf, setelah turun aku ada urusan." Randika harus menolak, namun jika dia bertemu Serena sebelum ini, mungkin toilet ataupun mobil bisa digunakan sebagai sarang cinta mereka berdua. Ketika mendengar penolakan Randika, Serena tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak menganga. Dirinya yang sexy ini ditolak? Apa dia buta? Serena tidak menyerah, sekarang kakinya mulai digesek-gesekannya dan tubuhnya sudah menempel dengan Randika. "Tidak masalah kalau kamu tidak bisa malam ini, tinggalkan aku nomormu dan kita bisa melanjutkan hubungan kita ini kapan saja." Kata Serena sambil menggesek-gesek putingnya Randika. "Hahaha." Randika hanya bisa tertawa pahit sambil merasakan rangsangan Serena ini. Meskipun dia menyukainya, Randika benar-benar tidak bisa mengalihkan perhatiannya untuk hal yang lain. "Hei, apa aku sejelek itu?" Serena melihat Randika dan kedua dadanya mulai bergerak naik turun di lengannya Randika. Menatap Serena yang begitu bergairah, Randika mulai luluh. "Kamu sungguh wanita yang cantik dan menawan, tetapi aku benar-benar sedang tidak kepingin melakukannya hari ini." Kata Randika sambil tersenyum pahit. Namun, tangan kanan Serena mulai berenang di seluruh tubuh Randika. "Aku akan memberikanmu kenikmatan yang belum pernah kamu rasakan." Serena, bagaikan kucing yang tidak mau meninggalkan majikannya, berbisik di telinga Randika dan berharap membuatnya terangsang. "Mau itu S&M, 69, wax, apa pun yang kamu suka akan kita lakukan malam ini. Untuk malam ini aku adalah budakmu." Godaannya ini benar-benar berat, Serena benar-benar tidak tahan lagi! Mendengar semua ini, Randika mulai bimbang. Kenapa perempuan ini begitu berani dan menggoda? Tangan kanan Serena berhenti di dada Randika. Merasakan otot kerasnya dari balik bajunya, Serena makin tidak sabar. "Kalau kamu ingin aku menelan ataupun keluar di dalam aku tidak masalah." WOW!! Randika sudah berteriak bahagia di dalam hatinya, perempuan bule memang tidak kenal sungkan. Dia mulai menimbangkan kemungkinan tidur dengan Serena. Serena tidak berhenti di situ saja, dia mulai duduk di pangkuannya Randika. Sambil membuka kancing bajunya dan memperlihatkan dadanya, tangan kanannya mulai bergerak menuju balik celana Randika. Randika sama sekali tidak berbicara ataupun menolaknya, dia hanya menikmatinya. Tetapi pada saat ini, penumpang yang duduk di sebelahnya kembali dari toilet. "Hei, sedang apa kalian!" Perempuan paruh baya ini cukup terkejut ketika dia kembali ke tempat duduknya. Anak muda jaman sekarang benar-benar berani! Rasa kagumnya pada pemuda yang telah menyelamatkan pesawat ini langsung jatuh ke dasar. Sepertinya semua pria sama saja. "Maafkan kami." Kata Randika dengan cepat sambil menutup kancing baju Serena. Ketika Serena melihat orang itu datang kembali, mau tidak mau dia harus pergi. Berjalan menuju tempat duduknya dengan wajah sedih, Randika dengan cepat menangkap tangannya. "Akan kuberi nomor HPku." Ketika mendengarnya, Serena langsung ceria kembali. "Kalau begitu malam ini kita bertemu di hotel?" Randika hanya tersenyum. "Lain kali ya, aku benar-benar sibuk setelah ini." Meskipun sedikit kecewa, Serena tetap bahagia. Bagaimanapun juga, dia berhasil mendapatkan nomornya dan bisa mengontak ketika dirinya terangsang. Dia tidak sabar hari di mana dia akan tidur dengan pria idamannya itu! Chapter 198: Sambutan Meriah Beberapa jam kemudian, akhirnya pesawat mereka berhasil mendarat di ibukota Jepang yaitu Tokyo. Sesudahnya mereka turun, Serena memberi ciuman panas pada Randika agar dia tidak melupakan dirinya. Setelah itu mereka berdua berpisah sambil tersenyum. Randika berjalan ke pintu keluar dan ketika dia melihat para polisi yang berbaris di pintu keluar, dia merasakan firasat buruk. Dia mengerutkan dahinya, dia merasa bahwa para polisi ini sedang berjaga dan menunggu dirinya. Perasaan ini benar-benar muncul tiba-tiba, ini semacam bentuk sinyal bahaya setelah hidup bertahun-tahun di tengah bahaya. Sangat misterius tetapi nyata. Semacam firasat seperti ini telah menyelamatkan dirinya berkali-kali. Namun, setelah berpikir sejenak sepertinya firasatnya ini terlalu berlebihan. Randika lalu meneruskan perjalanannya menuju pintu keluar dengan wajah yang santai. Namun, tiba-tiba dua polisi menghampirinya. "Namamu Randika?" Polisi tersebut mengeluarkan kertas berisikan gambar dan nama dirinya. Beberapa polisi sudah mulai mengepungnya dan mengeluarkan borgolnya. "Apa salahku?" Randika bertanya dengan bahasa inggris yang fasih. "Markas telah menetapkan Anda sebagai buronan." Polisi itu tidak kalah fasihnya dengan Randika meskipun Jepang terkenal memiliki Bahasa inggris yang cukup jelek. "Anda sebaiknya menuruti kami dan tidak memiliki pemikiran yang aneh." Randika menghela napasnya dan menatap para polisi yang mengepungnya. Sambil tersenyum dia mengatakan. "Bukannya atasanmu seharusnya sudah memperingati kalian supaya membawa orang lebih?" Sesudahnya Randika berkata demikian, tidak lebih dari 1 detik, Randika mengulurkan tangannya dan semua polisi tersebut terpental satu per satu. Polisi yang mencegatnya pertama kali sudah meringkuk kesakitan sambil memegangi poster buronannya. Setelah membereskan mereka semua, Randika melompat bagaikan kelinci dan berlari menuju pintu keluar! Sepertinya rencana dirinya untuk datang ke negara ini sudah sampai di telinga Shadow. Sesampainya dia mendarat, para polisi sudah mengepung seluruh bandara. Randika benar-benar meremehkan kekuatan yang dimiliki Shadow dan Bulan Kegelapan. Sepertinya mereka sudah menguasai seluruh Jepang. Kalau tidak, mana mungkin mereka bisa mengerahkan polisi dan mengepung dirinya sesaat dia mendarat? Dalam situasi seperti ini, biasanya akan berakhir dengan akhir yang buruk. Jika diperumpamakan sebagai permainan catur, Bulan Kegelapan sudah memegang kendali permainan ini sejak dia mendarat di Jepang. Sekarang tergantung Randika, jalan dan cara apa yang akan dia tempuh akan menentukan akhir dari game mereka ini. "Tersangka kabur." Salah satu polisi yang terkapar mengeluarkan HT-nya sambil mengeluarkan pistolnya. Dia membidik dan menembak Randika yang sedang berlari! Dor! Dor! Polisi tersebut mengeluarkan beberapa tembakan tetapi semua tembakannya sama sekali tidak menyentuh Randika. Suara tembakannya ini membuat semua orang menjadi panik, semuanya mulai lari semburat. Para polisi yang baru tiba dan melihat Randika yang hendak kabur, semuanya mulai mengeluarkan pistol mereka dan membidiknya. "Berhenti atau kami akan menembak." Namun, Randika sama sekali tidak memedulikannya. Tertangkap oleh mereka berarti sama saja dengan jatuh di tangan Bulan Kegelapan. Apabila itu terjadi, nyawanya benar-benar akan habis. Jadi satu-satunya jalan adalah membuka jalan yang penuh darah! Para polisi berusaha menahannya tetapi mereka ditendang Randika dengan begitu mudah. Sesudahnya membereskan beberapa polisi, masih banyak lapisan pertahanan. Beberapa menembakan senjatanya dan Randika menghindarinya. Di saat yang sama, matanya menganalisa situasi yang dia hadapi. Sepertinya Bulan Kegelapan tidak main-main demi menangkap dirinya, orang itu mengerahkan seluruh polisi di Tokyo untuk menangkap dirinya. Berdasarkan penglihatan Randika, hampir semua tempat penuh dengan polisi. Mau itu di lobi, parkiran, tempat makan bahkan pintu keluar, semuanya penuh dengan polisi. Namun, Randika sama sekali tidak takut dan menerjang langsung ke arah kerumunan polisi. Dor! Dor! Dor! Suara senjata meletus beberapa kali, Randika bergerak bagaikan angin dan menghindari semua peluru yang menuju dirinya dan menerjang langsung ke arah mereka! Tangan kanannya mengepal dan menghantam wajah seorang polisi, dalam sekejap dia terpental dan menabrak rekan-rekannya. Randika berputar di lantai dan meloncat untuk menghindari terjangan polisi yang menyerangnya dari belakang. Saat dia mendarat, dia melayangkan sebuah pukulan yang membuat polisi itu pingsan. Di saat yang bersamaan, Randika berhasil mengambil senjatanya sesaat setelah polisi itu hendak tumbang. Melihat aksi Randika yang bagaikan hantu tersebut, para polisi ini menggunakan taktik lautan manusia untuk menangkap Randika. Randika berlari, melompati mereka, menggunakan mereka sebagai pijakan dan sekarang pintu keluar sudah ada di depannya! Namun, tiba-tiba bulu kuduknya berdiri. Sudah lama dia tidak merasakan perasaan seperti ini, situasi seperti ini, sama seperti sebelumnya, adalah bentuk dari insting yang terasah setelah hidup di tengah bahaya. Tanpa berpikir panjang, Randika berputar di udara dan jatuh tepat di tengah-tengah kerumunan polisi. Pada saat ini, suara tembakan yang membahana terdengar. DOR! DOR! DOR! ....... Lebih dari 20 tembakan telah ditembakan dari jarak yang jauh dan tinggi, menembus udara, melewati kerumunan dan mengarah pada Randika! Bulan Kegelapan memang luar biasa, bukan hanya polisi tetapi dia juga menggunakan jasa penembak jitu! Terlebih, para penembak jitu ini berpencar dan memiliki jalur tembakan yang berbeda-beda jadi menghindarinya sedikit sulit. Untungnya, pada saat ini, Randika sudah mendarat di lantai dan, bergerak bagaikan angin, dia berlari berkelok-kelok untuk menghindari semua peluru yang menuju dirinya! Dia berhasil mengelak dari semua peluru dan untuk peluru yang terakhir, karena dia tidak sempat menghindarinya, dia menembakan senjata yang dia bawa dan peluru mereka bertemu di udara. Randika menatap dingin seluruh penembak jitu yang tersebar itu. Bulan Kegelapan benar-benar menyiapkan sambutan yang luar biasa! Saat Randika mulai berlari kembali menuju pintu keluar, semua polisi itu berusaha mencegahnya. Pada saat yang sama, saat dia berlari, pistol yang ada di tangannya mengarah ke atas. Peluru yang Randika tembakan mengarah tepat ke salah satu penembak jitu. Penembak jitu tersebut sedang sibuk mencari sudut untuk menembak mati targetnya. Namun, dia tiba-tiba melihat sebuah peluru menuju dirinya. Gawat! Namun reaksinya benar-benar terlambat, peluru sudah bersarang di kepalanya. Randika benar-benar cepat, tidak butuh waktu lama untuknya menghabisi para polisi yang berusaha mencegatnya. Sesaatnya dia sampai di gerbang pintu keluar, Randika disambut oleh hujan peluru dari para penembak jitu dan polisi. Para polisi yang berlindung di balik mobilnya itu menembak secara membabi buta. Namun, setelah menghabiskan seluruh pelurunya, mereka menyadari bahwa sosok targetnya telah menghilang! Apa yang terjadi? Semua orang terkejut, dan pada saat ini, suara jeritan terdengar. Para polisi itu menoleh satu per satu dan menemukan bahwa Randika sudah berada di bagian paling belakang dari mereka. Setelah memukul pingsan si polisi, Randika masuk, mengambil mobil tersebut dan kabur dari situ. "Tangkap dia!" Para polisi itu segera masuk ke dalam mobil mereka masing-masing sambil menembaki mobil yang dikendarai oleh Randika. Chapter 199: Azumi Bar Tetapi semua usaha para polisi itu benar-benar terlambat. Randika memilih mobil di barisan paling belakang karena dia bisa kabur dengan cepat, sedangkan para polisi itu masih ada yang sibuk menembak ataupun menunggu perintah dari atasan mereka. Jadi Randika memiliki awal yang bagus dan mobilnya melaju kencang, meninggalkan para polisi itu. Dia juga tidak segan-segan menabrak mobil yang berusaha mencegatnya. Para polisi akhirnya sudah masuk ke mobil mereka masing-masing, aksi kejar-kejaran telah dimulai! Mobil polisi di paling depan melaju kencang dan meliuk-liuk sedangkan mobil polisi lainnya berusaha mengejar ketertinggalan mereka, hal ini cukup membuat masyarakat pada bingung. Randika mengendarai mobilnya dengan wajah serius dan tangannya memegang erat kemudinya. Bahkan mobil polisi pun bisa dia ubah menjadi mobil balap. Benar-benar cepat, lincah dan tidak kenal takut. "November 89 ke markas, November 89 ke markas, kami sedang mengejar tersangka. Kirim bantuan ke jalan Ibara dan tutup jalannya." "Dimengerti November 89, bantuan segera datang." Pemimpin dari unit ini telah mengontak markas untuk meminta bantuan sambil unitnya terus membuntuti Randika dari belakang. Meski merasa malu karena target berhasil kabur, fokus utama mereka adalah menangkapnya jadi mengepungnya dari depan adalah langkah paling tepat. Randika mengerutkan dahinya, prioritas utamanya adalah lepas dari kejaran para polisi kalau tidak maka dia tidak akan pernah bisa menyelidiki markas barunya itu. Ketika mobil Randika melaju dengan cepat menuju perempatan, dari arah kiri dan kanannya sudah terlihat mobil polisi yang siap menabraknya dari samping. Randika menyadari ini lebih awal dan menyebarkan tenaga dalamnya. Tiba-tiba, mobilnya menjadi menggila dan suara mesinnya jauh lebih keras. Pada saat mobil polisi itu hendak menabraknya dari samping, Randika berhasil melaju di tengah-tengah mereka. Alhasil, kedua mobil polisi itu saling menabrak dan membuat jalanan tertutup total. Pada saat ini jarak antara Randika dan mobil para polisi semakin jauh dan jauh. "BAJINGAN!" Pemimpin unit polisi ini merasa kesal dengan bawahannya yang tidak kompeten itu. Meskipun mereka mengejar sekarang, jarak mereka sudah terlalu jauh dan menyingkirkan dua mobil yang ringsek itu juga bukanlah hal yang mudah. Harapan satu-satunya adalah bantuan yang dikirim markas atau target mereka akan kabur. Pada saat ini, HT miliknya tiba-tiba berbunyi. "Masuk November 89, target berhasil lolos dari pengepungan." Pemimpin unit itu membanting HT miliknya. Setengah jam kemudian, mereka semua berkumpul di samping sungai. Pemimpin unit itu mengerutkan dahinya ketika mendengar laporan dari bawahannya. "Jadi maksudmu orang itu lepas kendali dan jatuh ke dalam sungai?" Dia melihat mobil polisi yang mengapung di tengah sungai. Saat ini dia tidak punya pilihan selain menyuruh anak buahnya menyelidikinya dan kembali ke markas. Sedangkan Randika, dia sudah berada di sebuah rumah tak berpenghuni. "Bulan Kegelapan sepertinya sudah menguasai Jepang, jika aku tidak menyusun siasat bisa-bisa berikutnya aku tidak seberuntung ini." Randika berpikir sambil mengeluarkan jarum akupunturnya. Jarum tersebut dia tusukan di wajahnya! Ajaibnya, lama kelamaan wajah Randika berubah sedikit demi sedikit. Setelah beberapa saat, penampilan Randika benar-benar berubah total. Kecuali rambutnya, wajahnya berubah seperti orang Eropa. Namun, keajaiban ini tidak bisa berlangsung lama jadi dirinya harus berhati-hati. Setelah selesai berubah, dia mengambil kembali jarumnya dan berjalan menuju pusat kota. ...... Malam hari di Tokyo benar-benar seperti karnaval, lampu-lampu di jalan benar-benar terang. Banyak perempuan cantik yang berkeliaran di ibukota Jepang ini. Sejujurnya, baik di dalam negeri maupun di luar, trik mendapatkan perempuan berawal dari keberanian. Tidak peduli kau kaya atau tidak, ganteng atau tidak, yang diperlukan pertama adalah keberanian untuk mengawali pembicaraan. Bahkan, aslinya perempuan itu ingin dikejar. Azumi Bar. Bar ini terdapat di bagian selatan kota Tokyo, bangunan ini sudah cukup tua. Terlebih, pemilik dari tempat bar ini adalah perempuan. Perempuan yang memiliki bar bukanlah perempuan sembarangan. Di sini kita bisa mendapatkan narkoba ataupun jasa hubungan badan. Bahkan, jika kita tidak punya malu kita bahkan bisa bercumbu di belakang parkiran. Azumi Bar mempunyai bagian hitam dan putihnya. Bagi siapapun yang berani berulah maka mereka akan dihajar dan dibuat cacat sehingga tidak bisa datang kembali. Bisa dikatakan bahwa polisi sama sekali tidak mengurus kejadian yang terjadi di bar ini dan bahkan mereka sudah dibayar agar tidak ikut campur. Oleh karena itu, Azumi Bar benar-benar tempat spesial di Tokyo. Tentu saja, jika kita tidak mengenal Tokyo maka kita tidak akan mengenal Azumi Bar. Berjalan masuk ke dalam bar, suara musik yang keras dapat terdengar hingga luar. Di lantai dansa, semua orang berdansa dengan liar dan para perempuan berpakaian sexy dan longgar. Di sudut-sudut bar, terlihat ada beberapa pengawal berbadan kekar. Bartender di bar ini sibuk melayani tamu-tamu yang mabuk ini dan akhirnya dia memiliki kesempatan untuk menarik napas ketika semua orang sibuk berdansa. Namun, seseorang tiba-tiba duduk di depannya. "Satu Frost bir." Kata pria tersebut. Bartender tersebut mengambilkan botol birnya dari kulkas dan menyerahkannya pada pria tersebut. Ketika dia hendak pergi, kata-kata pria tersebut membuatnya berhenti berjalan. "Aku mencari nona Azumi." Kata pria itu dengan suara pelan. Bartender itu menoleh dengan wajah terkejut. "Siapa kamu?" Terlihat bahwa bartender itu menjadi waspada. "Kau tidak perlu mengerti siapa aku, aku cuma ingin bertemu dengan Azumi." Pria tersebut memakai topi jadi si bartender tidak bisa melihat muka orang itu dengan jelas. "Nona Azumi tidak ada di sini, bahkan jika dia ada, aku ragu kau bisa menemuinya." Bartender itu mulai menggosok gelasnya dengan kain bersih. "Nona Azumi beda dengan kita, dia selalu sibuk." "Jika kau memberitahu namaku, aku yakin dia sendiri yang akan datang untuk menemuiku." Apa? Secercah rasa tidak percaya melintas di tatapan mata si bartender. Memangnya siapa orang ini? Pada saat ini, dua pengawal berbadan besar menghampiri mereka. Si bartender lah yang memanggil mereka dan dia memberikan sinyal pada mereka. Kedua pengawal ini mengangguk dan berdiri di samping Randika. "Maaf aku tidak bisa melakukannya. Kau harus minta tolong pada mereka berdua." Kata si bartender. Si bartender lalu mengambil uang yang Randika taruh di atas mejanya dan pergi. Pada saat ini, salah satu pengawal tersebut berkata pada Randika. "Kau ingin bertemu dengan nona Azumi?" Orang berbadan kekar ini duduk di samping Randika dan menatapnya dengan seksama. Untungnya Randika sempat belajar Bahasa Jepang ketika dia masih bersama Yuna jadi dia mengerti apa yang dimaksud oleh orang ini. Tetapi, dia sama sekali menghiraukannya dan menegak birnya. Pengawal tersebut mengerutkan dahinya. "Apa maumu?" "Bawa dia kemari." Kata Randika dengan santai. Kedua pengawal ini saling menatap satu sama lain dan mendengus dingin. "Nona Azumi bukan perempuan murahan yang kau bayangkan." Pengawal tersebut tertawa. "Kalau kau terus bercanda seperti ini, maka aku terpaksa mengusirmu keluar." Pengawal tersebut hendak mengambil botol birnya Randika dan ingin melemparnya untuk menakut-nakutinya, tetapi saat tangannya hendak meraih, tangannya telah digenggam erat oleh Randika dan sama sekali tidak bisa bergerak. Orang ini terkejut dan hendak melepaskan diri tetapi tangannya sama sekali tidak bisa bergerak. Mau sekeras apa pun dia berusaha, dia sama sekali tidak bisa menggerakannya. "Jangan pernah menyentuh barang milik orang lain sembarangan, tanganmu bisa hilang." Kata Randika dengan suara pelan. Kemudian dia melepaskan genggamannya dan pengawal itu mengambil langkah mundur beberapa langkah. Pada saat ini, tatapan kedua pengawal itu berubah menjadi serius. Pengawal yang tangannya kesakitan itu berkata dengan nada serius. "Buat apa kau ingin bertemu dengan nona Azumi?" "Kalian tidak perlu tahu." Kata Randika dengan santai. "Kau sudah sinting, kau tidak tahu hukum apa yang berlaku di sini." Pengawal itu mendengus dingin. "Aku akan menghajarmu atas nama nona Azumi!" "Ikan teri macam kalian tidak bisa apa-apa." Kata Randika. Dari awal hingga akhir, Randika sama sekali tidak menggerakan kepalanya dan memegangi botol birnya dengan santai. Pada saat ini, pengawal tersebut sudah mengepalkan tangannya dan melayangkan tinjunya. Randika sama sekali tidak menoleh, dia hanya mengangkat tangan kanannya dan menghentikan pukulan lawannya itu di tengah udara. Dia hanya mendorong orang itu hingga beberapa langkah. Randika akhirnya meletakan botolnya dan menoleh ke arah si pengawal sambil berwajah sinis. Si pengawal itu makin marah ketika melihat wajah Randika yang seperti itu. Randika masih duduk di kursinya, dia lalu mengulurkan tangan kanannya dan memberi sinyal pada lawannya itu untuk menyerangnya. Kedua pengawal tersebut menerjang maju dari kedua sisinya. Mereka berdua sudah melayangkan tinjunya. Namun, Randika yang sudah menyebarkan tenaga dalamnya itu masih bersikap tenang. Dua lawan satu bukanlah hal yang merepotkan baginya. SI bartender sudah berdoa dalam hati untuk pengunjungnya itu. Tetapi apa yang terjadi berikutnya benar-benar di luar dugaannya. Chapter 200: Informasi Tangan kiri Randika berhasil menangkap pergelangan tangan lawannya yang di sebelah kiri dan membantingnya. Sedangkan tangan kanannya berhasil menangkap tinju lawannya lalu tangan kanannya sendiri berubah menjadi tinju dan menghantamnya persis di dadanya. Sambil menahan rasa sakitnya, kedua orang tersebut menatap Randika yang masih duduk dengan tenang seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Namun, suara keras tersebut berhasil menarik perhatian semua orang termasuk pengawal yang lain. Sekarang kurang lebih 12 orang mengepung Randika. Randika menghabiskan birnya, melepaskan topinya, berdiri dan menatap kedua belas pengawal yang berbadan kekar itu. Mereka ingin mempermalukan diri mereka? Si bartender sudah meringkuk di balik meja, dia memiliki firasat bahwa situasi akan berjalan dengan buruk. Randika menatap mereka semua sambil menguap, sepertinya dia tidak ingin repot-repot mengejar semua lawannya. Melihat lawannya itu meremehkan mereka, semua pengawal ini marah dan menerjang ke arah Randika satu per satu. Tetapi, Randika nampaknya berhasil menemukan orang yang semestinya menjadi pimpinan mereka. Randika menghilang dari hadapan mereka dan muncul di balik si pemimpin dan mencekiknya. Dia lalu melemparnya hingga ke lantai dansa dengan satu tangan. Dalam sekejap, orang-orang yang menari berteriak histeris dan akhirnya semua yang ada di lantai dansa menyadari bahwa terjadi perkelahian di meja bar. Si bartender sesekali mengintip dari balik meja, matanya benar-benar terbelalak. Orang itu bukan manusia, dia pasti jelmaan iblis. Si bartender melihat Randika menghajar pengawal terkuat mereka satu per satu. Tiap orang yang menghampiri Randika akan terpental ataupun langsung terkapar kesakitan. Semua orang juga melihat hal yang sama, mereka melihat pria berbadan kekar menerjang ke arah satu pemuda dan mereka semua dihajar dengan mudah. Tidak butuh waktu lama hingga hanya Randika lah yang berdiri dan semua pengawal berbadan kekar itu sudah tidak mampu berdiri lagi. Semua perempuan mulai tertarik dengan Randika. Bagaimanapun juga, semua perempuan menyukai seorang pahlawan. Seolah tidak terjadi apa-apa, Randika duduk kembali di kursinya dan meminta sebotol bir yang baru. Bartender bernama Akira itu mengambilkannya dan menatap Randika dengan tatapan serius. Bukan hanya Akira saja, semua orang menatapnya dengan tatapan yang sama. Satu orang melawan 12 orang dan semuanya berbadan besar. Pria itu benar-benar kuat! "Ahˇ­ aku ingin tidur dengannya, dia pasti ganas di ranjang." Semua perempuan di situ sudah menarget Randika sebagai pasangan mereka malam ini. Ketika Randika hendak meminum birnya, tiba-tiba suara tepuk tangan terdengar keras dari belakangnya. Plak, plak, plak! Ketika Randika menoleh, dia melihat seorang perempuan memakai mini dress berwarna merah datang menghampirinya sambil membawa gelas wine di tangannya. Dibandingkan dengan Serena, perempuan semacam ini memiliki kelas yang berbeda. Selain rambut bergelombangnya yang terlihat indah itu, dadanya yang terekspos setengah itu membuat laki-laki tidak bisa mengalihkan pandangannya. Belum lagi bagian punggungnya terekspos cukup banyak sehingga orang bisa melihat lekukan badannya. Dress yang dia pakai benar-benar mini dan dibalut oleh stoking hitam serta sepatu hak merah. Hanya dressnya saja sudah mampu membuat si penggunanya terlihat sexy dan dewasa. Jika iman seseorang tidak kuat, mungkin dia sudah tunduk di bawah penampilannya yang sexy itu. Ketika Akira dan semua orang melihat perempuan itu, mereka menundukan kepalanya dan rasa hormat muncul di tatapan mata mereka. Perempuan itu adalah Azumi, pemilik dari bar ini. Randika menatap Azumi dari atas ke bawah, tidak ada ekspresi di wajah perempuan satu ini. Namun, sedikit rasa terkejut melintas di tatapan Azumi untuk sesaat. Sambil membawa gelas winenya, dia menghampiri Randika. "Kau bukanlah orang yang pertama datang ke tempat ini dan mengobrak-abriknya." Azumi duduk dan meletakan gelasnya, Akira dengan cepat menuangkan wine di gelasnya. "Oya?" Kata Randika dengan santai. Azumi menatap Randika lekat-lekat, secercah rasa ragu muncul di hatinya tetapi langsung memudar. Perempuan cantik ini lalu tersenyum. "Aku mendengar kau datang mencariku, orang kuat sepertimu biasanya membawa masalah." "Aku sama sekali tidak menyangkal itu." Tangan Randika tanpa sadar sudah bersarang di pahanya Azumi. Tiba-tiba aura membunuh Azumi keluar dengan cepat yang membuat Randika dengan cepat menarik tangannya kembali. Sebenarnya, Azumi mengenal Randika. Di saat Randika menjadi Dewa Perang di dunia bawah tanah, Randika dan Azumi memiliki hubungan yang baik. Tetapi sekarang wajah Randika berubah berkat teknik akupunturnya, sepertinya Azumi tidak bisa mengenal dirinya. Randika tidak punya pilihan memberinya petunjuk agar Azumi bisa memecahkan identitasnya. Azumi hanya tersenyum, dia kemudian menoleh pada pengawalnya. "Pergi dan latih kemampuan kalian lagi. Jangan mempermalukan namaku lagi seperti hari ini." Ketika semua pengawal itu mendengarnya, tubuh mereka merinding dan satu per satu mereka keluar dari bar. Sekarang, Azumi berdiri dan tanpa disangka-sangka, dia duduk di pangkuannya Randika. Kali ini Randika benar-benar bingung harus berbuat apa. "Apa yang bisa kulakukan untukmu tuan?" Azumi hampir memakan telinga Randika hidup-hidup, sungguh suara yang menggoda. "Aku menyarimu untuk mendapatkan informasi." Randika sendiri tidak sungkan-sungkan, tangan kanannya sudah berada di pantat milik Azumi itu. Azumi tiba-tiba berdiri dan wajahnya terlihat dingin. "Biasanya hanya aku lah yang selalu menggoda para pria, tidak ada pria yang berani merabaku tanpa seijinku. Jika kau berani menyentuhku lagi, aku akan membunuhmu dan membuang mayatmu di jalan." "Oya?" Randika tampak tersenyum. Dia lalu mengambil gelas wine milik Azumi dan meminumnya! "Aku percaya kamu tidak akan melakukannya." Randika selesai menegak wine itu hingga habis. Dia lalu membelai pipi Azumi sambil mengatakan. "Lagipula kita ini sudah lama mengenal satu sama lain." Mendengar kata-kata ini, Azumi benar-benar terkejut. Sudah mengenal satu sama lain? Kenapa dia tidak mengingat wajah ini sebelumnya? Azumi dengan cepat mengira-ngira siapa orang ini dalam benaknya dan menyadari sesuatu. Setelah membandingkan orang ini dengan Ares, memang perawakan kedua orang ini mirip. Kali ini Azumi hanya bisa menebak bahwa orang di depannya itu adalah Ares tetapi dia tidak berani menyuarakan pendapatnya. Melihat keraguan Azumi itu, Randika menghampirinya dan berkata dengan nada sarkas. "Bukannya Azumi selalu bekerja sama dengan orang lain terlepas dari latar belakang orang tersebut." Mendengar kata-kata ini, Azumi tersenyum dan mengatakan. "Memang benar, jadi apa yang ingin kamu cari?" Randika duduk kembali di kursinya dan berkata dengan nada yang santai. "Aku ingin tahu bagaimana keadaan istana dunia bawah tanah sekarang?" Mendengar pertanyaan ini, Azumi bisa mengkonfirmasi identitas orang ini. Tidak heran dia merasa familier dengan orang ini. Azumi tersenyum manis. "Aku tidak menyangka kamu akan kembali di waktu yang seperti ini, benar-benar menarik." Azumi kembali menyesap wine miliknya dan berkata secara perlahan. "Istana dunia bawah tanah sekarang bisa dikatakan telah jatuh. Mungkin beberapa minggu yang lalu, Bulan Kegelapan dan anak buahnya menginvasi istana tersebut. Sekarang istananya telah jatuh dan di bawah kekuasaan Bulan Kegelapan. Jadi menurutmu bagaimana keadaan istana itu sekarang?" Azumi tersenyum, berdiri dan menghampiri Randika, memeluknya dari belakang sambil memegang gelas winenya. "Menurut informasiku, istana dunia bawah tanah itu sama sekali tidak mudah untuk diserang. Tetapi herannya, tempat itu hancur hanya dalam sehari. Jadi menurutku ada pekerjaan orang dalam yang membantu Bulan Kegelapan, apakah analisaku itu benar Ares?" Azumi benar-benar menempel dengan Randika dan suaranya benar-benar menggoda saat dia berbicara di telinganya. Randika menjawab. "Benar, orang itu bernama Shadow." Sedikit terkejut dengan kejujuran Randika, Azumi tersenyum. "Sekarang setelah istana itu telah jatuh, orang-orang telah mati, para tikus mulai menampakan dirinya, aku bingung siapakah yang masih loyal kepadamu? Apakah mereka bisa memaafkan kamu yang tidak bersama mereka saat istana itu direbut?" Mendengar kata-kata Azumi ini, Randika sama sekali tidak berekspresi. Tetapi di dalam hatinya, dia sudah menjerit keras. Bulan Kegelapan benar-benar orang yang licik dan penuh perhitungan. Randika tidak menyangka bahwa dia akan berani untuk menyerang tempat tersebut. Mungkin karena ada Shadow di sisinya sehingga dia berani? Kalau saja bukan karena pengkhianatan Shadow, mungkin istana dunia bawah tanah miliknya itu masih berdiri dengan kokoh? "Apa kamu tahu di mana Bulan Kegelapan?" Wajah Randika benar-benar dekat dengan Azumi. Tetapi Azumi hanya mencium pipinya sambil mengatakan. "Kamu tahu sendiri kan peraturanku seperti apa? Bukankah aku akan menyinggung perasaan Bulan Kegelapan kalau aku membantumu? Bagaimana nasibku setelah itu? Aku tidak bisa memberikan informasi yang membahayakan diriku." Di saat mereka berdua berbincang, salah satu pengawal datang dan membisikan sesuatu pada telinga Azumi. Azumi mengangguk dan melepaskan pelukannya. Kemudian dia berkata pada Randika. "Sepertinya Bulan Kegelapan tidak bisa diremehkan, dia sudah mengirim orang untuk menangkapmu." Untuk Bulan Kegelapan mengetahui di mana dia berada bukanlah hal yang mengejutkan, tetapi yang membuat Randika sedikit terkejut adalah dia sudah mengirim anak buahnya ke sini secepat itu. "Baiklah kalau begitu." Randika mengangguk dan berdiri. Chapter 201: Perang! Ketika Randika baru saja berdiri, pada saat ini, terdengar suara ricuh dari luar, dan orang dalam jumlah besar mulai memasuki bar ini! Azumi mengerutkan dahinya. Dia menatap para anak buah Bulan Kegelapan itu dan berkata dengan nada dingin. "Kalian berani melanggar peraturan rumahku?" "Maafkan kami nona Azumi, tuan Bulan Kegelapan memberikan kami perintah yang tegas. Aku takut dia akan kabur selagi kami menunggu di luar. Kami juga tidak bisa membiarkan uang segitu banyak kabur dari tangan kita." Pemimpin orang-orang ini adalah seorang pemuda berumur tidak lebih dari 18 tahun. Dia cukup pendek dan memiliki badan yang kekar. Dia adalah orang Indonesia dan berada di daftar Dewa dengan peringkat ke-30. "Asalkan kalian tahu ya, kau tidak bisa membawa orang ke barku ini untuk berkelahi atau membuat masalah. Tidak pernah ada yang melanggar peraturanku ini." Wajah Azumi benar-benar dingin. Dia berada di pihak netral dan tidak membantu pihak siapa-siapa, tetapi peraturan di barnya ini adalah absolut. Kalau dia tidak menunjukan taringnya sekarang, reputasinya bisa hancur. Itulah yang membuat dirinya bisa bertahan di kejamnya dunia Tokyo. "Kami harap Anda memaafkan kami nona Azumi." Pemuda itu membungkuk. Azumi mendengus dingin dan mengatakan. "Masih mau melakukannya di barku?" "Kami harap Anda memaafkan kami nona Azumi." Pemuda itu masih belum mengangkat kepalanya, dia lalu menoleh dan berkata pada anak buahnya. "Keluar dan amankan pintu keluarnya." Para anak buah itu berjaga di pintu keluar dan beberapa orang mulai mengepung Randika di tengah-tengah. Sedangkan orang-orang di bar, sudah menghentikan aktivitasnya dan menatap Randika dan yang lainnya. "Gila, bukannya itu Lupin si werewolf?" "Lihat di samping itu, dia Li Tang si pendekar pedang!" "Dan itu bukannya Auron si ksatria itu? Kenapa dia ada di Tokyo?" "Bruce si penjagal juga ada di sini?" "Bukankah itu pembunuh terkenal yang disebut-sebut sebagai keturunan Solomon? Kenapa bisa mereka semua ada di sini?" Semua orang terkejut bukan main, orang-orang awam yang mendengar nama ini juga sama terkejutnya. Reputasi mereka sebagai ahli bela diri benar-benar menakutkan! Azumi menatap semua ini sambil mengerutkan dahinya. Bulan Kegelapan benar-benar luar biasa. Dia mampu mengumpulkan semua pendekar tingkat tinggi ini dalam sekejap. Sepertinya Randika akan mati sebentar lagi. Melihat para pendekar yang terkenal itu, semua orang di bar menelan air ludahnya. Kejadian ini benar-benar mengerikan, mereka semua takut untuk menatapnya secara langsung. Semua pendekar itu berada di daftar Dewa! Lupin si werewolf, sejujurnya dia bukan werewolf seperti di dongeng ataupun film, tetapi tingkah lakunya mirip dengan werewolf. Setiap orang yang dia bunuh, wajahnya akan dia kuliti ataupun tercabik-cabik. Oleh karena itu, Lupin mendapatkan julukannya. Sedangkan Li Tang si pendekar pedang itu berasal dari Cina. Dia ahli dalam menggunakan pedang Tang Dao dari Dinasti Tang. Menggunakan keahliannya itu, dia berhasil mengharumkan namanya hingga ke daftar Dewa. Auron merupakan ksatria yang telah diasingkan dan dibuang oleh keluarga kerajaan Inggris. Bahkan kekuatannya itu mampu membuat dirinya berada di rangking kesepuluh dari daftar Dewa! Belum pernah ada yang sanggup bertahan dari teknik pedangnya. Namun, entah kenapa keluarga kerajaan Inggris membuang pria luar biasa ini. Rumor mengatakan bahwa Auron jatuh cinta dengan seorang putri. Bruce si penjagal juga terkenal akan kekejamannya dan sifat haus darahnya. Dia pernah membantai seluruh desa hanya karena bosan. Dia benar-benar jelmaan dari iblis dan menjadi buronan internasional selama hampir 10 tahun. Namun, dia terlihat sehat dan baik-baik saja. Sedangkan yang terakhir adalah orang yang disebut sebagai keturunan Solomon bernama Adam. Alasannya dia disebut sebagai keturunan Solomon karena konon sumber kekuatannya itu diwariskan dari nenek moyangnya. Beberapa rumor juga mengatakan bahwa Adam telah menemukan harta karun Solomon. Oleh karena itu, dia berhasil menjadi salah satu peringkat teratas di daftar Dewa. Kelima pendekar ini bisa dikatakan merupakan orang-orang hebat di abad ini, dan sekarang, mereka berlima berkumpul bersama di sini? Siapa yang tidak terkejut melihatnya. Li Tang berjalan menghampiri Randika dan berkata dengan nada mengejek. "Salam Yang Mulia Ares." Ketika kata-katanya ini terdengar, semua orang di bar terkejut kembali. "Ares?" Randika sama sekali tidak mengatakan apa-apa, dia hanya mengambil satu langkah ke depan. Pada saat yang sama, wajahnya yang berubah karena teknik akupunturnya itu kembali ke wajahnya yang semula. Tiba-tiba, seluruh orang terkejut dengan perubahan penampilan itu. Melihat suasana yang semakin memanas ini, Azumi sudah naik darah. "Bagus, bertarung saja di sini, aku ingin lihat seberapa beraninya Bulan Kegelapan membayarku nanti." Bersamaan dengan itu, Azumi berjalan meninggalkan tempat ini dan naik ke lantai atas. Orang-orang yang ada di lantai dansa menyadari gerakan Azumi dan mulai menjaga jarak dengan Randika dkk. Kelima pendekar dari daftar Dewa itu mengeluarkan senjata mereka masing-masing. Di tangan Li Tang, dia mengeluarkan pedang Tang miliknya. Lupin menggunakan keeling besinya, Auron mengeluarkan pedangnya yang beda dengan para ksatria Inggris lainnya. Bruce mengambil rantai besinya yang dia bawa dan Adam mengeluarkan pedang sabrenya. Total lima orang mengepung Randika dan suasana dalam bar ini semakin tegang. Para pengunjung bar ini sama sekali tidak berani berbicara sama sekali, semuanya menahan napas mereka. Tidak diragukan lagi, pertarungan mereka ini akan menimbulkan kekacauan yang besar. Pada saat ini, Bruce mengambil langkah pertama, tatapan matanya sudah diisi oleh niat membunuh dan dia melemparkan rantainya. Bagaikan rudal, rantai tersebut melesat ke arah kepala Randika. Keempat pendekar lainnya melakukan hal yang sama. Li Tang memegang pedang Tang miliknya dengan kedua tangan dan tenaga dalamnya sudah menyebar ke seluruh tubuhnya. Dia melesat bagaikan anak panah menuju Randika. Auron bergerak ke kanan dan ke kiri untuk mengumpulkan momentum kecepatan, setelah mencapai kecepatan tertingginya, dia menyerang Randika dari arah belakang. Lupin sendiri sudah melompat tinggi, bagaikan serigala asli, tangannya berubah menjadi cakar dan menerjang Randika dari atas. Adam, dengan senjatanya, menutup matanya sesaat. Saat dia membuka matanya, seluruh badannya bagaikan mendapatkan kekuatan yang luar biasa dan meledak ke arah Randika! Dalam sekejap, kelima serangan gabungan ahli bela diri dari daftar Dewa melesat ke arah Randika! Randika sendiri juga bergerak. Bukannya menghindar, dia menerjang maju ke arah rantai milik Bruce. Rantai itu sekarang berada di depan wajahnya persis, Randika berhasil menghindarinya dan menangkapnya dengan satu tangan. Di ujung rantai, Bruce sudah menarik rantainya dengan kuat dan membawa Randika bersamanya! Pada saat yang sama, Ling Tang berusaha menuntaskan misi ini. Tubuhnya membungkuk sangat dalam jadi serangannya akan mengincar kaki Randika. Tetapi, serangannya gagal karena Randika terseret oleh rantai milik Bruce. Namun, Randika ternyata memanfaatkan kekuatan Bruce itu untuk mendapatkan kecepatan tanpa mengeluarkan energi. Di saat dirinya bertemu dengan ujung rantai, dia menendang keras Bruce dan membuatnya terpental. Randika yang berada di udara ini belum bebas dari bahaya. Serangan Lupin dan Auron mengintai dirinya yang berada di tengah udara. Randika mengerutkan dahinya. Di tengah udara, dia menggunakan salah satu kakinya untuk menendang serangan Lupin yang datang dari samping dan setelah itu kaki satunya mendarat kaki pedang milik Auron. Namun tanpa diduganya, pedang milik Auron itu tiba-tiba melunak, dan menebas ke arah Randika. Untung saja satu detik yang dia gunakan untuk berpijak tersebut dapat menyelamatkan dirinya. Pada saat ini, Bruce yang sudah menerima tendangan dan terkapar itu makin mendidih darahnya. Baru pertama kali dia jatuh pada trik bocah seperti itu. Tangannya kembali mengambil rantainya dan melemparnya ke arah leher Randika! Randika sendiri menyadari serangan ini, dia sendiri dari awal ingin membunuh Bruce. Tetapi ketika dia berusaha menangkap rantai Bruce yang melayang ke arahnya, sebuah pedang sabre melayang menembus udara tanpa suara dan membuat Randika harus mengelak. Tetapi, Adam menunggu kesempatan ini. Ketika Randika mengelak, Adam tiba-tiba sudah berada di jalur pedang sabrenya itu dan dia berhasil menangkapnya lalu menebas ke arah Randika! Pada saat ini, Li Tang dan Auron sudah menyerang kembali. Randika sendiri berada di situasi yang sulit. Dia tidak bisa menggunakan seluruh tenaga dalamnya, dia harus menyisakannya untuk mengatasi kekuatan misterius yang ada di tubuhnya. Oleh karena itu, melawan orang-orang seperti ini merepotkan dirinya. Chapter 202: Penghabisan! Pertama, Randika harus menghentikan serangan milik Adam ini. Sambil mendengus dingin, dia mengambil rantai milik Bruce yang melayang ke dirinya itu dan menggunakannya sebagai perisai. Bruce sendiri terkejut ketika dia berusaha menarik rantainya, dia sama sekali tidak bisa menggerakannya. Bahkan dengan satu tarikan dari Randika berhasil membuat dirinya melayang ke ujung rantai satunya. Bruce lalu menabrak Adam yang sedang dalam situasi buntu dengan Randika. Pada saat yang sama, Randika menyadari serangan berikutnya akan datang. Menoleh ke samping, serangan pedang Li Tang sudah mendekati dirinya. Li Tang ingin menyelesaikan misinya ini dengan cepat jadi dia berkoordinasi dengan Lupin dan Auron. Li Tang berusaha menebas Randika dari samping kanan, Lupin dengan serangan mematikannya itu datang dari arah kanan dan Auron akan bersiap untuk menyerang ketika Randika berusaha mengelak ataupun melompat. Dalam sekejap, Randika harus bertahan kembali dari serangan ketiga orang tersebut. Li Tang tampak tersenyum, semakin kuat lawannya semakin mendidih darahnya. Oleh karena itu, kecepatannya bertambah drastic! Tetapi, tiba-tiba pedang Tang miliknya itu tiba-tiba tertendang dan terlepas dari tangannya. Li Tang benar-benar terkejut. Pada saat ini, Lupin sudah dekat dengan Randika dan Auron memberikan serangan bantuan dari atas. Li Tang yang tidak berpedang itu mau tidak mau melancarkan serangan pukulan untuk membantu. Randika tanpa berpikir panjang menghantam dagu Li Tang dengan tinjunya, dia langsung terpental jauh. Ketika dirinya berhadapan dengan Li Tang, Auron dari atas sudah menebas ke arah bawah dan mengarah pada kepala Randika. Pada saat yang sama, Randika berhasil menangkap pedang tersebut dengan kedua tangannya. Namun, Auron menggoyangkan pedangnya dan ajaibnya pedang itu langsung terlepas dari tangan Randika dan melesat menuju perutnya! Serangan mendadak seperti itu tidak bisa dihindari Randika sepenuhnya, perutnya tergores oleh pedang milik Auron. Pada saat yang sama, Lupin sudah tepat di belakang Randika. Karena tidak bisa menghindarinya lagi, Randika hanya bisa membenturkan belakang kepalanya pada dahi Lupin. Terkejut dan tidak menduga akan terserang seperti itu, Lupin sempat kehilangan keseimbangan tubuhnya dan terjatuh. Setelah itu, di balik bayangan terdapat aura membunuh yang bergerak menembus udara. Serangan sabre milik Adam sudah melesat kembali. Ketika dirinya berusaha mengatasinya, suara berisik datang dari arah sampingnya. Serangan rantai milik Bruce kembali berusaha membunuh Randika. Li Tang, yang baru saja berdiri, memanfaatkan kesempatan ini untuk mengambil pedangnya dan menyerang kembali. Randika sendiri berhasil menghindari serangan sabre Adam dengan memukul pedang tersebut dengan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya berusaha menangkap rantai milik Bruce, tetapi, karena terlalu fokus dengan serangannya Adam, Randika tidak menyadari bahwa tiba-tiba rantai itu terlilit di kakinya! Gawat! Kaki Randika yang tertangkap itu disadari oleh keempat pendekar lainnya. Dalam sekejap, aura membunuh mereka meningkat pesat! Serangan mematikan dari empat arah segera datang menuju Randika. Pedang Tang milik Li Tang bergetar dan melesat ke arah Randika. Berisikan tenaga dalam, pedang itu membuat bayangan pedang sehingga nampak 10 pedang yang sedang menuju tepat ke arah Randika. Serangan ilusi ini selalu membuat musuhnya tidak bisa menebak pedang asli yang mana. Lupin meraung keras dan tenaga dalamnya memancar dengan hebat. Bahkan tangan kanannya mengeluarkan sinar saking banyaknya tenaga dalam yang terkumpul. Sambil meraung, dia menerjang ke arah Randika. Mata Adam juga tidak kalah bersemangatnya, setelah menyebarkan tenaga dalamnya di kakinya, dia melesat dan menusukan pedangnya ke arah pinggang Randika! Sedangkan Auron memutuskan untuk membantu Bruce untuk menahan rantai yang mengikat Randika. Di bawah serangan beruntun ini, Randika berhasil menghindari serangan Adam dengan bergerak sedikit ke samping. Randika lalu menggenggam erat rantai yang ada di kakinya itu dan pedang Tang yang terbang menuju dirinya membentur rantai dan mendarat di tangannya. Pada saat ini, Randika sudah menyalurkan tenaga dalamnya ke pedang dan menebasnya pada pedang sabre milik Adam. Di bawah kekuatan yang besar itu, pedangnya Adam hancur menjadi berkeping-keping. Namun, bukannya terkejut, Adam segera membuang pedangnya dan melayangkan tendangannya ke Randika. Dia ingin menyibukan Randika agar tidak menyadari serangan Lupin. Namun, pedang Tang yang ada di tangannya itu segera menusuk menuju dadanya, mau tidak mau Adam harus menghindar agar tidak mati. Di saat dia mengambil langkah mundur, tiba-tiba pedang Tang tersebut sudah nyaris menancap di kepalanya. Sambil menggertakan giginya, dia menghindarinya namun pipinya terkena goresan yang cukup panjang. Randika menarik kembali rantai yang ada di kakinya. Bruce dan Auron berusaha dengan keras untuk membuat Randika kehilangan keseimbangannya, tetapi semua itu percuma. Mereka berdua meremehkan kekuatan fisik Ares sang Dewa Perang! Menghentakan kakinya, Randika melesat ke udara sambil menghindari serangan Lupin. Di tengah udara, dia beradu tinju dengan Li Tang. Setelah itu Li Tang hanya bisa memegangi dadanya yang kesakitan di lantai. Di saat dia akan mendarat, tatapan Randika menjadi dingin. Suara angin terdengar beda dan serangan dari Lupin dan Auron sudah menunggu dirinya. Ketika dia mendarat, Randika langsung menghindari serangan pedang Auron. Rantai yang ada di kakinya itu sudah kehilangan tenaganya ketika Auron memutuskan untuk menyerang. Menggunakan kesempatan ini, Lupin berusaha menyerang Randika dari belakang. Namun lagi-lagi Randika berhasil menghindarinya dan meninju dirinya hingga terpental. Orang-orang di bar ini menyaksikan pertarungan hidup dan mati ini dengan mata yang sama sekali tidak berkedip. Randika yang mereka kenal sebagai Ares itu justru menjadi pusat perhatian mereka. Bagaimana tidak? Dia melawan 5 orang sekaligus dan masih bisa memberikan serangan balasan. Tetapi faktanya, Randika sama sekali tidak bisa mengalahkan mereka. Kelima musuhnya itu bekerja sama untuk menciptakan peluang yang dapat membunuhnya. Jadi Randika perlu memberikan perhatian ekstra dari serangan gabungan mereka. Meskipun sudah menendang ataupun memukul mereka, kelima musuh itu selalu berdiri kembali, menyerangnya kembali dan berusaha membunuhnya. Lagipula, lawannya kali ini adalah ahli bela diri dari daftar Dewa jadi sedikit sulit untuk mengalahkan mereka. Terlebih, Randika sepertinya memakai tenaga dalamnya terlalu banyak sehingga kekuatan misterius dalam tubuhnya memberi sinyal akan menyerang dirinya dari dalam. Situasi menjadi gawat! Li Tang, yang setelah menghapus jejak darah di mulutnya, berkata dengan nada mengejek pada Randika. "Nama Ares memang bukan sembarangan, tidak heran kau bisa menguasai dunia bawah tanah seorang diri. Tetapi, hari ini aku akan menebas kepalamu itu!" "Oya?" Randika berkata dengan nada dingin. Lalu tiba-tiba, tenaga dalamnya menyebar dengan cepat. Li Tang mengerutkan dahinya, tatapan matanya penuh dengan terror. Dalam sekejap, tubuh Randika sudah memancarkan aura yang mengerikan, benar-benar seperti Dewa Perang yang haus darah. Sepertinya lawannya itu masih menyimpan kekuatannya. Perasaan mengerikan seperti ini bukan hanya dia yang dapat merasakannya, keempat pendekar lainnya juga merasakannya. Keringat dingin mulai bercucuran dari wajah mereka berlima. Inilah kekuatan dari 12 Dewa Olimpus, Ares si Dewa Perang! Kekuatannya sedalam lautan dan seluas langit, benar-benar mengerikan. "Seranglah bersama." Randika menatap kelima orang itu dengan tatapan dingin. Kelimanya saling menatap satu sama lain dan semuanya berjalan perlahan sambil menggenggam erat senjata mereka. Bruce meraung dan melempar rantainya menuju Randika. Keempat pendekar lainnya segera menggabungkan serangan mereka. Namun tiba-tiba, kelima orang ini terkejut ketika melihat Randika yang sudah berada di depan Bruce. Benar-benar kecepatan yang luar biasa! Dalam prosesnya, Randika menangkap ujung rantai milik Bruce dan melilitkannya pada kepalan tinjunya! Ketika Bruce menyadari serangan rantainya gagal, hatinya mengepal dan dirinya menjadi panik. Baru pertama kali dia merasakan rasa bahaya yang luar biasa besar ini. Ketika dirinya masih memproses hal ini, Randika sudah melayangkan tinjunya tepat di wajahnya! Tenaga dalam yang murni itu meledak, di bawah serangan tinju tersebut, kepala Bruce sudah tidak berada di tempatnya. Darah terus muncrat dari leher yang tidak berkepala tersebut. Orang-orang yang di bar sudah teriak histeris ketika melihatnya tetapi semua masih belum berakhir. Li Tang, yang masih berusaha menyerang Randika, merasakan hembusan angin. Bahkan sebelum dirinya sempat bereaksi, angin itu makin berhembus kencang tepat di wajahnya. Di bawah serangan kaki berputar Randika, Li Tang benar-benar seperti anak panah dan melesat menuju bar. DUAK! Li Tang menabrak tempat penyimpanan wine dan menimbulkan suara pecahan botol dan gelas yang tiada henti. Tidak suara gelas pecah saja, suara tulang punggung yang patah juga terdengar sama kerasnya. Oleh karena itu, Li Tang pingsan dengan begitu saja. Tatapan mata Randika terlihat dingin dan dia menoleh. Pada saat ini, Adam menebas pedangnya ke arah Randika dan Randika menghindarinya dengan bergerak ke samping. Randika mengulurkan tangannya dan menyentuh bilah pedang sabre milik Adam. Tiba-tiba, pedang sabre milik Adam itu bagaikan ditindih gunung dan Adam langsung melepaskan pedangnya tersebut dan mundur beberapa langkah. Randika mengambil pedang tersebut dan melemparnya. Tiba-tiba, pedang tersebut melesat bagaikan roket melewati kepala Adam, menembus pintu bar dan menancap di tembok setelah menembus 3 mobil. Pada saat ini, tiba-tiba Randika dikelilingi oleh kabut tipis. Dari balik kabut, cahaya bilah pedang yang dingin mengintai untuk menghabisi Randika untuk selamanya. Bilah pedang ini bagaikan ular yang licik, terus menerus bergerak mencari celah, membuat musuhnya tidak dapat mengantisipasi dari arah mana serangan yang asli berasal. Namun, tiba-tiba wajah Auron berubah warna. Randika mengangkat kedua jarinya dan menjepit ke arah serong kanannya, seakan-akan dia ingin menangkap pedang tersebut. Auron yang panik tersebut berhasil menghindar dari jepitan maut tersebut. Membulatkan tekad, Auron menebas ke arah Randika dan telapak tangan Randika terlihat mendarat di dada Auron. Keduanya bertukar pukulan tetapi gagang pedang milik Auron bergetar hebat. Auron yang kalah cepat itu mau tidak mau melangkah mundur sebelum dirinya bisa melancarkan serangan. Chapter 203: Perang Internal Auron, yang memegangi dadanya, merasakan terror yang belum pernah dia rasakan. Apakah ini kekuatan asli dari Ares? Sesaat setelah itu, tubuhnya kesakitan dan tangannya yang memegang pedang kehilangan kekuatannya. Melihat Randika yang berdiri tegak di hadapannya, Auron perlahan jatuh sambil terus memegangi dadanya. Rasa sakitnya sudah mengambil alih tubuhnya dan dia sudah tidak sadarkan diri. Empat dari lima orang sudah kalah, satu mati, dua pingsan, satu sudah tidak punya keberanian lagi. Sekarang sisanya adalah Lupin si werewolf. Lupin, dengan mata buasnya, tidak peduli dengan kondisi keempat temannya itu. Dia meraung keras dan menerjang ke arah Randika. Detik berikutnya, Lupin sudah melompat tinggi, tangannya sudah membentuk kepalan tinju dan kakinya yang menendang langit-langit itu membuat kecepatan jatuhnya berlipat ganda. Namun, di detik saat dia mendarat, nama Lupin si werewolf sudah tinggal kenangan. Adam yang bersembunyi di tengah-tengah lautan manusia menatap Randika dengan tatapan penuh terror dan ketakutan. Orang itu adalah Dewa, Dewa Perang yang tidak terkalahkan! Dialah Ares sang penguasa dunia bawah tanah! Randika menatap lawan-lawannya itu dengan tatapan dingin. Pada saat yang sama, ekspresi wajahnya berubah dan tanpa ragu-ragu, dia langsung berlari menuju pintu keluar. Orang-orang hanya merasakan hembusan angin yang kuat dan pintu yang terbuka secara tiba-tiba. Sosok Randika yang berdiri itu juga tiba-tiba menghilang. Sekarang di Azumi bar hanya ada sisa-sisa dari kekacauan. Dua orang mati, dua orang pingsan dan satu orang sudah tidak berani mempertaruhkan nyawanya untuk menghalangi Randika. Musik masih terus diputar tetapi orang-orang masih belum pulih dari syok mereka. Ares benar-benar luar biasaˇ­. Semua orang yang hadir di bar ini akan mengingat-ingat kejadian ini untuk waktu yang lama. Pada saat ini, kecepatan Randika sudah mencapai puncaknya dan tiba-tiba keringat dingin mulai mengucur deras di dahinya. Setelah melawan kelima pendekar elit tersebut, sekarang giliran kekuatan misteriusnya untuk menyerang. Kekuatan misteriusnya itu sudah siap menyerap kapan saja dan berniat untuk mengambil alih tubuh Randika. DUAR! Randika menggertakan giginya dan berjalan dengan susah payah di jalan. Semua pejalan kaki di Tokyo ini penasaran dengan orang yang berjalan dengan wajah pucat sambil memegangi perutnya itu. Randika sebenarnya tidak ingin menggunakan tenaga dalamnya sebanyak itu di pertarungannya di Azumi bar, tetapi kalau tidak mengatasi kelima pendekar itu dengan cepat, bisa-bisa nyawanya akan terancam. Namun, sekarang justru kekuatan misteriusnya lah yang mengancam nyawanya. Pada saat ini, rasa sakit menyebar secara rata di seluruh tubuhnya. Sepertinya kekuatan misterius ini sedang melakukan uji coba. Jika Randika tidak merespon, ia akan melahap Randika hidup-hidup dan mengambil alih tubuhnya! Randika berusaha sekuat tenaga menahan kekuatan di dalam tubuhnya. Tetapi dengan tenaga dalam yang terbatas, dia tidak bisa mengontrol seluruhnya dengan baik. Hanya masalah waktu sebelum akhirnya Randika akan kalah. Dengan tangan yang bergetar hebat, dia mengambil botol berisikan obat yang diberikan kakek ketiga dan dengan cepat meminumnya. Sebenarnya, kakek ketiganya menyuruh dirinya meminum obatnya setiap 15 hari sekali, hal ini bisa memaksimalkan efeknya. Jika Randika meminumnya terlalu banyak dalam waktu singkat, tubuhnya akan menumbuhkan imun dan efeknya akan berkurang drastis. Tetapi Randika tidak punya pilihan lain. Jika dia tidak meminum obat ini, dia akan kehilangan kendali. Setelah meminum sebutir, Randika menghembuskan napas lega. Dia merasa bahwa tubuhnya lebih baikan, setidaknya dia bisa mengontrol tenaga dalamnya. Namun, sepertinya dia tidak bisa menggunakan tenaga dalamnya sebanyak di Azumi bar sebelumnya. Kalau tidak, bisa-bisa dia akan tamat. Tiba-tiba, kekuatan misteriusnya itu bergejolak kembali seperti tidak ingin menyerah begitu saja. Dalam sekejap tubuh Randika sudah berkeringat deras. Melangkah dengan susah payah, Randika secara acak memilik rumah dan langsung membuka pintunya. Setelah masuk ke dalam rumah, Randika sudah basah oleh keringat. Kekuatan misteriusnya sedang berperang dengan tenaga dalamnya serta dirinya. Sepertinya kekuatan misteriusnya menemukan bahwa ini kesempatan terbaik untuk menyerang Randika. Tubuhnya tidak bisa berhenti bergetar. Pandangannya sudah lumayan kabur dan hampir tidak bisa melihat. Berpegangan erat di tangga, Randika naik ke lantai dua. Ketika dia menemukan kasur untuk berbaring, dia nyaris terjatuh dan pingsan di lantai. Tidak akan kubiarkan! Dengan dahi yang penuh keringat, Randika duduk di pojokan sambil terus gemetaran. Sambil menutup matanya, Randika merasa tiap detik adalah siksaan. Dia menggertakan giginya dan terus menutup matanya. Tetes demi tetes keringat terus keluar dari seluruh tubuhnya. Tidak butuh waktu lama untuk keringatnya itu menjadi genangan air di lantai. Setelah beberapa waktu yang tidak dapat ditentukan, Randika merasa baikan tetapi benar-benar sedikit. Pada saat ini, pintu di lantai satu terbuka. Seorang perempuan yang sepertinya masuk sambil menelepon itu menutup pintu dengan cukup keras. "Iya, iya, aku akan datang. Ini aku mampir ke rumah untuk ganti baju." Kata perempuan itu sambil menaiki tangga. Setelah masuk ke kamar tidurnya, perempuan itu membuka tali sepatunya dan melempar sepatunya ke tembok. Setelah menutup teleponnya, dia mulai melepas bajunya. Tidak butuh waktu lama untuk perempuan tersebut melepas semua bajunya. Tentu saja, perempuan tersebut masih memakai pakaian dalamnya. Celana dalamnya menutup surga dunia sementara behanya menyimpan indahnya pegunungan. Namun, perempuan tersebut ternyata mulai melepas pakaian dalamnya! Randika yang masih duduk tidak berdaya di pojokan ruangan itu melihat perempuan tersebut telanjang bulat. Mungkin karena dirinya tertutup oleh kasur, sosoknya tidak dapat terlihat dengan mudah. Hanya kepalanya saja yang terlihat mencungul. Sambil berkaca, perempuan tersebut memegangi kedua dadanya. Wajahnya terlihat tidak puas dengan besar payudaranya. Randika melihat perempuan ini melepas dan memakai bajunya dengan tatapan kosong. Meskipun dia ingin menikmati pemandangannya, Randika masih berusaha berperang dengan kondisi tubuhnya. Meskipun dia sudah baikan, dia masih belum bisa menggerakan tubuhnya. Setelah menghela napas dan memakai pakaian dalamnya yang baru, Kaori menyadari ada kepala di sisi tempat tidurnya dari balik kaca. Ketika dia menoleh dan melihat sosok Randika, Kaori benar-benar terkejut. Kenapa ada orang di kamarnya? Berarti orang ini baru saja melihat dirinya telanjang? Kurang ajar! Kaori melakukan apa yang dilakukan oleh setiap perempuan. Dia membuka mulutnya dan berusaha menakuti Randika dengan teriakan kerasnya sambil meminta tolong. Tetapi, sebelum mulutnya sempat mengeluarkan suara, mulutnya tertutup sempurna. Randika berhasil menutup mulut Kaori dengan rapat. "Jangan berteriak, aku sama sekali tidak bermaksud jahat." Kata Randika sambil tubuhnya terus bergetar. Mendengar kata-kata Randika ini, Kaori hanya bisa menjadi panik dan meronta-ronta. Pada saat ini, keduanya menempel dan Randika bisa merasakan dada Kaori yang menempel pada dirinya. Kaori yang terus meronta itu membuat Randika sedikit kewalahan, dia lalu berkata dengan suara pelan. "Aku hanya ingin beristirahat sebentar, aku tidak akan melukaimu. Jika kamu mengerti maksudku, mengangguklah." Kaori mengangguk. "Aku akan keluar setelah beristirahat sebentar, jadi jangan berteriak. Jika kamu mengerti maksudku, mengangguklah." Setelah berbicara, Randika merasa tenggorakannya menjadi serak dan kering. Kaori mengangguk kembali dan dia merasakan tangan yang menutupi mulutnya perlahan lepas. Awalnya Kaori sudah siap berlari, tetapi melihat Randika yang langsung berlutut dengan satu kakinya dan wajah yang pucat membuat Kaori menjadi cemas. Chapter 204: Serangan Kelereng Seperti orang normal lainnya, Kaori tentu saja mengangguk pada Randika hanya untuk mendapatkan kesempatan kabur atau mencari pertolongan. Tetapi melihat Randika yang begitu pucat dan kesakitan, insting keibuannya mengambil alih. Mungkin orang ini bukanlah orang jahat, mungkin orang ini benar-benar butuh bantuan. "Apa kamu baik-baik saja?" Kaori membungkuk dan bertanya dengan nada cemas. Randika yang menutup matanya itu mengangguk. Dia sekarang jauh lebih baik dari sebelumnya, obat kakek ketiganya ini sudah bekerja dengan baik. Efek samping dari obatnya juga berhasil ditahan oleh Randika. Kaori menatap Randika, yang terus menerus menutup matanya sambil berkeringat deras. Meskipun orang ini telah menerobos masuk rumahnya, perempuan ini benar-benar cemas dengan kondisi Randika. Namun pada saat ini, terdengar teriakan dari bawah. "Kaori!" Kaori mengerutkan dahinya, sepertinya orang menyebalkan itu datang lagi. Memakai bajunya, Kaori langsung berlari menuju pintu. Sesaatnya membuka pintu, pria berambut pirang berdiri sambil mengunyah permen karet dan terlihat kasar. Sambil tersenyum pria ini menatap Kaori dengan tatapan mesum. Sementara Kaori, dia sendiri ingin menutup pintunya dan mengusir pria itu cepat-cepat. "Ah!" Kaki pria itu dengan cepat menahan pintu lalu berkata sambil tersenyum. "Hei, bukannya kamu sudah berjanji untuk pergi bersamaku malam ini?" "Hah? Memangnya siapa yang mau pergi sama kamu?" Kaori berusaha sekuat tenaga menutup pintunya tetapi semua itu sia-sia, bagaimanapun juga dia adalah perempuan. "Sudahlah jangan malu-malu gitu, aku tahu kamu masih memiliki hati untukku. Bagaimana kalau malam ini aku akan membuatmu melayang bagai ke surga?" "Sudah kubilang kalau kita itu sudah putus! Jangan bawa-bawa aku ke halusinasimu itu, aku sudah membencimu. Aku tidak ingin melihat wajahmu lagi, jadi bawa sana narkobamu dan pergi ke bar sama cewek lain sana. Aku bukan perempuan yang bisa kamu peralat lagi." Kaori benar-benar sudah tidak dapat menahan dirinya lagi, suaranya benar-benar keras. Suaranya itu sampai terdengar sampai ke telinga Randika. Mantan pacar Kaori, Haru, mendorong pintu hingga dirinya bisa masuk, membanting pintunya dan menatap Kaori dengan ekspresi dingin. "Apa maumu? Kamu sendiri yang ingin pisah waktu itu." Kaori mendengus dingin. "Sekarang permintaanmu itu sudah terkabul, kau malah datang ke sini? Bawa otak bodohmu itu keluar dari rumahku!" "Aku hanya bercanda waktu itu." Haru menggelengkan kepalanya. "Bukannya wajar pasangan bertengkar? Sudahlah jangan marah-marah terus." "Aku yang tidak sudi berpacaran dengan pecandu sepertimu." Wajah Kaori benar-benar dingin. "Bahkan aku sudah berniat meninggalkanmu sebelum kau yang memintanya. Sudah narkobaan, main cewek, memukulku, mengambil uangku, kau berharap aku masih memaafkanmu? Aku sudah muak dengan tingkah lakumu itu, cepat keluar!!" Senyuman Haru berubah menjadi ekspresi datar. "Tidak pernah ada wanita yang berani berkata seperti itu padaku, aku akan membuatmu menyesal." "Aku tidak peduli, keluar!!" Kaori hendak membuka pintu dan memaksa Haru keluar tetapi tiba-tiba, Haru memukul pintu tersebut dan pintu tertutup kembali. Sekarang keduanya saling berhadap-hadapan. "Orang tuamu sedang tidak di rumah bukan?" Haru menatap tubuh Kaori lekat-lekat. "Memangnya apa pedulimu?" Kaori sendiri aslinya sedikit takut tetapi dia tidak boleh menunjukannya. "Jika kau berani macam-macam, aku akan menuntutmu masuk tanpa ijin." "Kau mengancamku?" Wajah Haru sudah benar-benar buruk rupa. "Kita lihat apa kau masih bisa bicara seperti ini setelah aku memperkosamu!" Mendengar kata-kata itu, Kaori berniat untuk lari ke lantai atas tetapi tangannya dicegat oleh Haru. "Kembali sini pelacur!" Darah Haru sudah mendidih, dia menjambak Kaori dan membenturkannya pada tembok. Tangan kanannya menahan kedua tangannya Kaori di atas tembok. Kaori yang diserang mendadak itu ketakutan, dia berusaha melarikan diri. Meskipun sudah meronta-ronta, tangannya ataupun kakinya sama sekali tidak bisa bergerak. Kekuatan fisik Haru benar-benar membuatnya tidak berdaya. Haru menatap Kaori dengan tatapan dingin, lalu sambil tersenyum, dia mencekik leher Kaori dengan tangan kirinya. "Hari ini kau akan mengandung anakku!" Bersamaan dengan itu, tangan kirinya merobek baju milik Kaori. Dalam sekejap, pakaian dalam yang dikenakan Kaori, yang telah dilihat Randika, terekspos kembali. "Buat siapa kau memakai pakaian dalam bagus seperti ini?" Haru mengerutkan dahinya sedangkan Kaori masih terus berusaha melarikan diri. Mereka baru saja putus beberapa minggu dan perempuan ini sudah punya pasangan baru? Pemikiran ini membuat Haru benar-benar marah dan tidak sabar lagi membuat Kaori untuk menjadi miliknya selamanya. Dengan tangan kanannya masih menahan kedua tangan Kaori, Haru berusaha melepas celananya dengan tangan kirinya. Pada saat ini, Kaori mengumpulkan tenaga pada lututnya dan menendang alat kelamin Haru dengan keras. Dalam sekejap, tangan Haru yang menahan kedua tangannya menjadi lemah dan Haru berlutut kesakitan di lantai. Melihat Kaori yang hendak kabur, Haru, dengan wajah marah, menangkap kaki Kaori dan menyeretnya kembali. "Mau lari ke mana?" "Tidak, tolong!!" Kaori yang kepalanya terbentur di lantai itu berteriak minta tolong. Sedangkan Haru sudah berada di atas Kaori sambil tersenyum. "Jangan kira kau bisa lari dariku." Mendengar permintaan tolong tersebut, Randika akhirnya bergerak. Setelah menoleh ke sekelilingnya, dia menemukan kotak yang isinya kelereng. Haru sudah menatap dada yang sudah lama dia tidak nikmati di bawahnya. Sambil melepas celananya kembali, dia berusaha melepas beha milik Kaori. Hari ini dia akan menghamili Kaori dan membuatnya tidak bisa lepas dari dirinya untuk selamanya! Namun pada saat ini, sejumlah kelereng telah ditembakan secara beruntun dan mendarat di wajah Haru! "Ah!" Mendapatkan 3 tembakan kelereng tersebut, rasa sakit tersebut membuat darah Haru makin mendidih. "Siapa itu?" Mata Haru tertuju pada lantai 2 tetapi dia tidak menemukan apa-apa, saat dia menatap Kaori kembali, sebuah kelereng kembali melayang dan mengenai wajahnya. Haru makin marah. "Tunjukan dirimu atau aku akan ˇ­ Ah!" Bahkan sebelum dirinya selesai berbicara, kelereng tersebut kembali mendarat di wajahnya. Kali ini serangannya benar-benar mengerikan, kelereng tersebut mengenai giginya. Rasa sakitnya itu sungguh menyakitkan bahkan giginya serasa hampir copot. Bajingan! Sambil menutupi mulutnya yang sakit, Haru menatap lantai 2 dengan tatapan dingin. Tetapi serangan kelereng itu tidak pernah berhenti menyerangnya. Dalam sekejap, ekspresi wajah Haru berubah. Dia ingin bertahan dan melarikan diri dari serangan itu, tetapi semuanya sudah terlambat. Satu per satu kelereng sudah mendarat di wajahnya dan membawa rasa sakit yang luar biasa. Haru hanya bisa melangkah mundur sambil menahan rasa sakitnya. Serangan kelereng itu serasa tidak ada habisnya. Pada saat dirinya melangkah mundur, Haru secara tidak sengaja tersandung dan terjatuh di lantai. Ketika dirinya berusaha berdiri, wajah Haru sudah benar-benar merah. Tatapan matanya sudah penuh dengan rasa takut. Chapter 205: Halusinasi Haru sama sekali tidak berani membuka mulutnya untuk melayangkan protes ataupun suara lainnya. Dia sangat takut bahwa suaranya itu mengundang serangan kelereng lagi. Terlebih, seluruh kelereng yang melayang sebelumnya mengenai dirinya tanpa meleset satu kali pun! Menatap ke bawah, wajah Kaori juga terlihat sama bingungnya dengan dirinya. Haru sudah benar-benar marah, melihat Kaori yang tergeletak tidak berdaya tersebut, dia ingin memukulnya. Tetapi setelah mengingat serangan kelereng tersebut, Haru tidak berani bertingkah gegabah. Dia sekarang ragu harus berbuat apa. Setelah memikirkan hal ini, Haru mengambil keputusan untuk melangkah maju. Tetapi setelahnya dia melangkah, sebuah kelereng kembali melesat dari lantai 2. Haru dengan cepat menutup wajahnya dengan tangannya, tetapi kelereng tersebut berhasil melewati jari-jarinya dan menghantam wajahnya. Kali ini, Haru benar-benar menyerah untuk menghadapi serangan kasat mata tersebut. Sambil sumpah serapah, dia berjalan keluar dari dalam rumah. Kaori yang menutupi tubuhnya dengan tangannya, terkejut melihat Haru keluar dari rumahnya. Menatap ke lantai 2, Kaori melihat Randika yang berjalan kembali ke kamarnya. Ternyata dia! Kaori berdiri, mengunci pintu rumahnya rapat-rapat, berjalan ke lantai 2 dan masuk ke dalam kamarnya. Di situ dia melihat Randika yang sedang duduk di kasurnya dengan kepala menunduk. "Terima kasih." Kaori menutup pintu dan berjalan menghampiri Randika. Tanpa bantuan Randika, sepertinya dirinya sudah diperkosa oleh si bajingan Haru itu. "Tidak masalah." Dengan wajah yang sangat pucat, Randika memaksa dirinya untuk tersenyum. "Kamu sakit apa? Mau aku memanggil ambulans ke sini?" Melihat wajah pucat tersebut, Kaori benar-benar cemas. Randika merasa dirinya ingin pingsan. Untuk menolong Kaori dari Haru, Randika menggunakan sejumlah tenaga dalamnya untuk menembak kelereng-kelereng tersebut meskipun tubuhnya belum membaik secara penuh. Kehilangan secuil tenaga dalamnya sudah mampu membuat dirinya kelelahan dan kekuatan misteriusnya mulai menunjukan tanda-tanda akan melawan kembali. "Bisa aku minta tolong?" Kata Randika dengan susah payah. Kaori mengangguk, tatapan matanya penuh dengan perasaan cemas. "Duduklah di sampingku dan jangan bergerak." Kata Randika. Kaori dengan cepat duduk diam di samping Randika. Pada saat ini, Randika mengambil sebuah pil obat dan meminumnya. Bersamaan dengan masuknya obat tersebut, tenaga dalamnya yang sepanas matahari itu bertemu dengan es dan salju, ia dengan cepat menyusut dan mendinginkan. Tetapi berdasarkan apa yang dia rasakan, kekuatan misteriusnya itu sepertinya melawan balik! Pada saat ini, dari sisi pandangan Kaori, terlihat seperti kabut tipis yang keluar dari tubuh Randika lalu menghilang begitu saja. Pada saat ini, kekuatan misterius dalam tubuh Randika sudah tidak melawan dan tenang kembali. Ketika Kaori melihat Randika menelan sesuatu dan menutup matanya, perempuan ini bingung harus berbuat apa. Apakah dia harus berdiam diri saja? Randika merasa bahwa tubuhnya semakin membaik tiap detiknya. Sejujurnya, kakek ketiganya ini sedikit salah tentang menjelaskan bahwa Randika harus menyerap energi dari perempuan. Memang berhubungan badan akan membuat efek samping obatnya hilang dengan cepat, tetapi sebenarnya duduk bersebelahan dengan perempuan sudah cukup untuk menyerap energi feminimnya. Asalkan ada kontak kulit maka energi tersebut bisa diserap. Mungkin kakeknya tidak dapat menyadarinya dan menikmati efeknya ketika mencoba meminumnya satu butir. Mungkin kakeknya itu merasa muda kembali. Meskipun ini adalah obat yang dia minum kedua kalinya, efeknya ternyata lebih terasa daripada sebelumnya. Tidak butuh waktu lama untuk dirinya mengambil alih tubuhnya kembali dan rasa sakitnya sudah menghilang. Namun, semua rasa sakit itu hanya tidur kembali di tubuhnya, suatu saat nanti kekuatan misteriusnya itu akan menyerangnya kembali. Setelah beberapa menit berlalu, Kaori menatap Randika yang masih menutup matanya dan bertanya. "Apa ada hal lain yang bisa kubantu?" Mendengar pertanyaan tersebut, Randika tiba-tiba membuka matanya. Hal ini membuat kaget Kaori sebab mata Randika benar-benar merah seluruhnya. Randika sudah meminum obat ini untuk kedua kalinya untuk hari ini, efek sampingnya benar-benar membuat nafsu Randika akan perempuan sangat tinggi. Awalnya Randika sudah berhasil menekan nafsu birahinya yang besar ini, tetapi mendengar suara lembut Kaori itu membuyarkan konsentrasinya. Sesudahnya dia melihat sosok perempuan di pandangannya, insting Randika mengambil alih. Kaori menatap Randika dengan tatapan penuh penasaran, tetapi Randika mendadak memeluknya dan menindihnya di atas kasur. Mulut mereka berdua langsung beradu satu sama lain. Perubahan mendadak ini membuat Kaori tidak bisa bereaksi, tetapi dia langsung memberontak ketika lidah Randika mulai menguasai pertarungan. Karena Randika jauh lebih kuat dari Haru, Kaori sama sekali tidak punya kesempatan untuk kabur. Randika mencium Kaori dengan panas, tangannya sudah berenang-renang di tubuh Kaori. Dia merasa perempuan yang ada di bawahnya itu bagaikan gunung es yang dapat memadamkan api di dalam tubuhnya. Selama beberapa menit, keadaan berlanjut seperti ini. Yang tidak Randika duga adalah perlawanan dari Kaori menjadi lemah dan dia mulai membalas ciuman ataupun rangsangan Randika. Kaori sendiri merasa bahwa pria ini sudah membantunya sekali jadi tidak ada salahnya dia membalas utang budinya itu. Setelah mengalami perubahan hati, badan Kaori ikut menjadi panas dan tangannya memeluk erat Randika. Setelah bertukar ciuman, Randika mulai menjelajahi leher dan dada Kaori. Kaori menyambut ini dengan hangat dan dia sendiri membantu Randika dengan membuka bajunya agar Randika bisa merangsang dirinya dengan lebih leluasa. Memang orang luar negeri itu luar biasa, mereka terbiasa tidur dengan orang asing dan bangun keesokan harinya seolah tidak ada apa-apa. Jika mereka menyukai kemampuan orang tersebut di ranjang, maka mereka akan menjadi TTM. Kaori juga membantu Randika melepaskan bajunya, dalam sekejap mereka berdua sudah tidak berpakaian. Melihat pakaian dalam yang sexy itu, Randika langsung menerjang mangsanya. Dia dengan cepat mencopotnya lalu meraba, menjilat putingnya, dan menjepitkan alat kelaminnya di dadanya. Setelah keluar dan menyemprotnya di dadanya Kaori, sepertinya kesadaran Randika mulai kembali lagi. Melihat dada perempuan yang menolongnya itu berlumuran calon anak-anaknya, Randika tersenyum pahit. Sejak kapan dia menjadi ganas seperti ini dan bertindak layaknya orang mesum ketika dia pertama kali bertemu dengan perempuan? Meskipun Kaori sama sekali tidak melawan dan membantu dirinya untuk keluar, hal ini tetap tidak sopan dan kasar menurut Randika. Dan kenapa wajah pasangannya itu terlihat biasa-biasa saja? Randika hanya bisa merasa malu. Namun, sepertinya tombol Kaori sudah tertekan dan dia membuka celananya sendiri. Lalu tiba-tiba Kaori merasa dahinya tengah dicium. Merasakan kelembutan ciuman tersebut, dia menyadari bahwa sosok Randika telah menghilang. Angin berhembus dari jendela kamarnya dan dia berbaring sendirian di kasurnya. Ke mana orang itu? Kaori benar-benar terkejut. Dia berdiri dan melihat sekelilingnya, apakah barusan itu hanya halusinasi saja? Tetapi melihat sperma yang kental di dadanya itu, dia yakin bahwa tadi itu bukanlah halusinasi. Chapter 206: Harga Sebuah Informasi Randika dengan cepat keluar dari kamar tidur Kaori melalui jendela. Keadaannya sudah jauh lebih baik dan kekuatan misterius dalam tubuhnya sudah berhasil ditekannya dengan sempurna. Rasa sakitnya itu benar-benar tidak terbayangkan, jika dia mengalaminya lagi sekarang bisa-bisa dia memilih untuk mati saja. Ketika Randika kembali menuju Azumi bar, dia menyadari bahwa bar itu telah tutup. Namun, terdapat beberapa lubang di dinding samping, jelas ini merupakan saksi bisu dari pertarungannya dengan 5 ahli bela diri. Sambil meregangkan tubuhnya, Randika masuk dari lubang yang hanya ditutupi kain tersebut. Suara kakinya benar-benar menggema di ruangan yang sepi ini. Mendengar suara langkah kaki itu, seorang pengawal berbadan besar turun dari lantai atas untuk melihat. Awalnya dia sudah siap mengusir siapapun yang datang itu, tetapi ketika dia melihat sosok Randika, tenggorokannya menjadi kering dan nyalinya menciut bagaikan ikan teri. Siapa memangnya yang berani melawan Randika setelah dia menghajar 5 ahli bela diri dunia sekaligus? Bahkan aksi pembantaian tersebut dilakukan di depan mata kepalanya sendiri, bahkan jika dirinya ada seribu pun rasanya dia tetap kalah. "Mana Azumi?" Tanya Randika dengan nada santai. "Nona Azumi ada di atas." Jawab pengawal tersebut dengan cepat. Randika berjalan melewati bar dan lantai dansa, tempat ini benar-benar berantakan. Sepertinya pertarungannya sebelumnya itu membuat tempat ini menjadi hancur berantakan sehingga bar ini tidak bisa beroperasi dengan normal jadi mereka harus memperbaikinya terlebih dahulu. Bar yang tidak ada musiknya ini benar-benar membuat suasana menjadi sepi. Randika lalu duduk di kursi bar dan berkata pada Akira si bartender, "Satu gelas wine." Melihat bahwa Ares sang Dewa Perang meminta minum, Akira melayaninya dengan sepenuh hati. Ketika Randika hendak meminum winenya, terdengar suara lemas dari belakangnya. "Jangan minum wine murahan itu, cobalah minum punyaku ini. Umur wine ini sudah 80 tahun dan aku menyimpannya untuk momen terpurukku." Azumi menghampiri Randika dan menyerahkan gelas winenya pada Randika, dia sendiri meminum wine yang disajikan Akira. Setelah menegak habis, Azumi berkata pada para pengawalnya. "Kerja lebih cepat, jika barku ini tidak bisa beroperasi dengan benar besok, aku akan menendang kalian semua keluar." Randika menyesap wine yang diberikan Azumi dan langsung menghabisinya setelah mengetahui rasanya yang nikmat. "Kenapa kamu kembali ke sini?" Azumi mengeluarkan cerutu miliknya. Sambil dibantu Randika, dia menghisap dan mengeluarkan asap yang pekat. "Tidak perlu kusebut kamu juga pasti sudah tahu." Kata Randika dengan nada santai. Akira terlihat mengisi gelas wine miliknya. "Bahkan jika aku tahu, aku tidak bisa memberitahukannya padamu. Itu bukan gayaku melakukan bisnis. Jika aku mulai berpihak pada salah satu kekuatan, maka nyawaku dan hartaku akan terancam." Azumi menghembuskan asap cerutunya dan duduk di samping Randika. "Terlebih, kamu baru saja membuat barku ini hancur berantakan dan sama sekali tidak membayar kerugiannya. Apa kamu kira aku ingin bertukar informasi dengan orang tidak sopan seperti itu?" Ketika Akira menuangkan winenya, tangan Randika menyuruhnya untuk berhenti menuang. "Sejak kapan nona Azumi yang kukenal menjadi pengecut seperti ini?" "Lebih baik aku diam dan mengunci mulutku apabila menghadapi orang-orang sepertimu." Sambil menghisap cerutunya, Azumi menghela napas. "Tapi memang Bulan Kegelapan menghancurkan barku dan tidak mengganti kerugianku. Jadi kalau kamu memberiku uang yang cukup, aku tidak keberatan memberikan informasi yang kamu mau. Kalau tidak ada uang maka jangan harap aku akan membantumu." Randika menatap Azumi dengan tatapan tidak berdaya. "Berapa hargamu?" "Hargaku adalahˇ­" Azumi tiba-tiba berdiri dan menghembuskan asap cerutunya pada wajah Randika. "Hargaku adalah kamu." Randika menoleh dan tersenyum. "Aku?" "Aku hanya ingin tidur bersamamu." Wajah Azumi sudah tersenyum nakal. Tidur dengan dirinya? Jika pria yang mengajak perempuan untuk berhubungan badan mungkin hal ini terlihat normal, tetapi perempuan yang mengajak pria? Hal ini jarang terjadi apalagi Azumi benar-benar bukan perempuan sembarangan. Mengingat-ingat betapa jantan dan gagahnya Randika ketika bertarung dengan kelima ahli bela diri itu, air liur Azumi nampak menetes. Dia lalu mengatakan. "Aku belum pernah tidur dengan salah satu 12 Dewa Olimpus, aku yakin Ares sang Dewa Perang berbeda dengan laki-laki yang pernah kutiduri bukan?" Di balik penampilannya, sepertinya Azumi merupakan perempuan yang cukup mesum dan suka berhubungan badan. Randika hanya tersenyum padanya. "Kamu ingin tidur denganku? Baiklah, aku sendiri penasaran apakah kamu akan pingsan di tengah hubungan kita atau tidak." Azumi menatap Randika dan Randika menatap Azumi. Keduanya sama sekali tidak berbicara untuk beberapa saat. Keduanya memiliki senyuman nakal di wajah mereka masing-masing. Akira hanya mengelap gelasnya dengan setenang mungkin, tidak berani menyuarakan pendapatnya. "Benar-benar menarik." Azumi kembali menghisap cerutunya dan menghembuskannya di wajah Randika. Randika sendiri langsung mengulurkan tangannya dan meremas pantat milik Azumi. "Aku sudah tidak sabar, bagaimana kalau kita melakukannya sekarang?" Randika sendiri sudah tergoda melakukannya ketika dia bertemu dengan Azumi setelah sekian lama, dia tidak keberatan dengan cinta satu malam ini. Namun pada saat ini, Azumi perlahan melepaskan genggaman Randika dan berkata dengan nada serius. "Informasi apa yang kamu inginkan? Kalau kamu ingin mengetahui di mana Bulan Kegelapan berada, aku bisa mencarikannya untukmu. Tetapi harganya jadi berbeda." Randika lalu duduk kembali dan tersenyum. "Bukannya kamu tadi mengatakan lebih baik diam dan tidak memihak pihak manapun?" "Pada satu waktu, Bulan Kegelapan pasti akan berusaha menjatuhkan diriku. Kamu kira aku akan berdiam diri begitu saja?" Azumi tersenyum. Tetapi Randika tahu di balik kata-kata tersebut, Azumi tidak akan menjual informasi itu dengan murah. Dia pasti meminta harga yang setinggi langit dan kabur dari negara ini. "Kalau begitu di mana orang-orangku?" Randika menatap Azumi dengan tatapan serius. Langkah pertama yang dia perlukan untuk melawan Bulan Kegelapan adalah bantuan anak buahnya. Selama anak buahnya yang berada di istana dunia bawah tanah itu masih selamat, seharusnya menaklukan Bulan Kegelapan adalah hal yang mudah. Istana dunia bawah tanah tidak lain adalah markas barunya. Pada awal sekali ketika Bulan Kegelapan dan Harimau berkhianat, markasnya disebut benteng tidak tertembus bahkan oleh serangan gabungan negara adidaya. Namun berkat pengkhianatan Bulan Kegelapan dan Harimau, Randika harus memindahkan markasnya demi membuat ramuan X. Terlebih lagi, anak buahnya yang mengikutinya itu adalah pilihannya jadi mereka tidak akan mati begitu mudah. Azumi tertawa. "Sepertinya aku harus menaikan hargaku." Randika hanya tersenyum dan tidak membalas. Setelah menghisap cerutunya sekali lagi, Azumi menyesap wine miliknya dan berkata dengan nada santai. "Apa kamu tahu Penjara Shinra?" Penjara Shinra adalah penjara rahasia yang biasanya berisikan mata-mata negara asing di Tokyo. Keamanannya benar-benar ketat, dapat dibandingkan dengan kakaknya yaitu penjara Fuchu yang sama-sama berada di Tokyo. Tetapi karena ingin mengorek informasi dari para mata-mata tersebut, keberadaan penjara Shinra benar-benar dijaga ketat dan lapisan pertahanannya benar-benar layak dikatakan sebagai nomor satu di dunia. Randika mengangguk. "Aku tahu tempat itu, sepertinya polisi sudah menjadi anjingnya." "Bukan hanya polisi, kekuasaan Bulan Kegelapan di negara ini sudah hampir mutlak." Azumi tersenyum. "Anak buahmu semuanya ada di penjara itu." "Tetapi untuk jumlahnya aku kurang tahu." Azumi kembali menghisap cerutunya. "Sejujurnya, banyak anak buahmu yang melarikan diri begitu tempatmu jatuh. Yang tidak bisa melarikan diri seharusnya sudah kebanyakan menjadi mayat." Randika tersenyum. "Aku tahu kekuatan anak buahku, mereka tidak akan mati begitu mudah." Menatap Randika, Azumi juga ikut tersenyum. "Sayangnya aku tidak bisa memastikan di mana sel mereka berada. Aku sedang sibuk dengan barku ini jadi kamu harus mencari mereka sendiri." Randika berdiri. "Baiklah kalau begitu. Ah! Apa tidak apa-apa bagiku untuk meninggalkan pesan di tempatmu ini?" "Asalkan kamu tidak merusak tempatku." Kata Azumi sambil mengangguk. Randika lalu mengulurkan kedua jarinya dan mulai menggambar di dinding bar. Chapter 207: Kembalinya Ares sang Dewa Perang Dengan jari yang dibalut oleh tenaga dalam, tiba-tiba, di dinding bar terdapat suatu pola yang tergambar. Pola tersebut seperti tangan berdarah yang sedang memegang pedang. Apabila diperhatikan dengan lebih baik, itu ternyata adalah lambang Ares sang Dewa Perang! Melihat lambang ini berarti sama saja dengan telah melangkah ke wilayah kekuasaan Ares. Randika mengangguk puas dan berkata dengan nada serius. "Jika ada orang yang mencariku, bilang saja tunggu di sini." Bersamaan dengan itu, Randika berjalan keluar dari bar. Azumi terus menghisap cerutunya sambil melihat sosok Randika yang semakin menghilang. Dia lalu bergumam pada dirinya sendiri. "Sepertinya masa kekacauan telah tiba." ...... Hari berikutnya di kota Tokyo. Di sebuah supermarket, seorang bos sedang mengomeli anak buahnya. "Kenapa kau malah malas-malasan dari tadi?" Bos tersebut melilit koran di tangannya dan terlihat hendak menamparkannya. Sesungguhnya badan si bos ini jauh lebih kecil dari pegawainya itu. Sebelum ini, pria berbadan kekar ini datang dan memohon pekerjaan. Si bos ini melihat otot pria ini yang kekar dan ingin memanfaatkannya untuk pekerjaan berat miliknya. Pada saat diomeli ini pun, pria kekar ini sedang menggotong 50 kg beras di pundaknya. Namun pria kekar ini, yang lebih tinggi dari Indra dan jauh lebih kekar dari Randika, hanya terlihat sedang bengong. Dengan bajunya yang sederhana, wajahnya terlihat santai meskipun sedang menggotong beban seberat itu. Pria ini sama sekali tidak mendengarkan omelan bosnya itu, dia sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Melihat pegawainya itu mencueki dirinya, si bos mengerutkan dahinya. "Jika kerjamu sama sekali tidak becus, aku akan memecatmu minggu depan." Si bos bermaksud kembali bekerja tetapi tiba-tiba ada seorang pria yang muncul di depan dirinya. Hal ini hampir membuatnya jantungan. "Siapa kamu?" Randika mencuekinya dan menatap pria kekar itu sambil tersenyum. "Dion, waktunya kita pergi." Melihat dirinya tidak dianggap, si bos makin marah. Dia lalu membentak pada Randika. "Aku tidak peduli apa maumu, tetapi aku minta kau cepat keluar dari sini!" Tetapi tiba-tiba, tatapan mata Dion menjadi berbinar-binar dan wajahnya penuh dengan senyuman. Dion yang sebelumnya seperti boneka mati, mendadak berubah menjadi manusia yang bersemangat. DUAK! Dion membuang karung beras yang ada di pundaknya. Si bosnya terkejut ketika mendengar suara tersebut, dia menoleh dan menatap tajam Dion. Sambil marah, dia membentaknya. "Apa yang kamu lakukan? Ah!" Si bos ini langsung panik ketika Dion mengangkatnya dengan satu tangan lalu melemparnya bagaikan melempar sampah. Kepalanya membentur tembok dan tak sadarkan diri. Kemudian, Dion menghadap ke Randika dan berlutut dengan satu kakinya dan tangan kanannya bersemat di dadanya. "Jenderal ke-5 dari pasukan perang Ares, Dion si raksasa, memberi hormat pada Ares!" Keras, lantang dan mantap, suara Dion menggema di ruangan belakang supermarket ini. Mengangkat kepalanya, dia melihat wajah senyum Randika dan tatapan kagum memenuhi wajahnya. Dion merupakan salah satu jenderal kepercayaannya saat dirinya berperang di dunia bawah tanah. Kekuatannya benar-benar luar biasa. Dia pernah memimpin para prajuritnya membantai musuh-musuhnya dan berperang bersama Randika untuk menguasai Jepang! Tetapi, Dion sama sekali tidak pernah melupakan jasa Randika ketika dia menjadi budak di negara asalnya yaitu Afrika. Pada saat itu kehidupannya benar-benar mengenaskan, karena tubuh tingginya itu dia sering dijadikan karung tinju majikannya. Setelah Randika menyelamatkannya, dia sudah bersumpah untuk mengikuti dirinya hingga akhir hayatnya! Ketika markas mereka diserang oleh Bulan Kegelapan dan Shadow, sebagai salah satu jenderal, dia mempertahankan istananya hingga detik terakhir. Namun, mengingat sosok Randika yang pasti akan kembali jika mendengar markasnya itu hancur, dia memutuskan sesuatu yang tidak biasa. Setelah mengikuti Randika bertahun-tahun, dia tahu bahwa majikannya itu tidak ingin anak buahnya mati demi dirinya. Hal inilah yang membuat Randika sampai sembunyi di Indonesia agar markas sekaligus anak buahnya itu tidak disentuh oleh lawannya. Dan ketika dirinya mati demi mempertahankan tempat ini, siapa yang akan menemani Randika saat dirinya ingin merebut istananya itu kembali? Dengan berat hati, dia memerintahkan sebanyak mungkin orang untuk lari dan bersembunyi sementara waktu. Dia percaya bahwa keputusannya itu tepat dan percaya bahwa Randika akan kembali ke Jepang dan menjadi tombak yang akan membunuh setiap musuh yang berani mengusiknya! Randika yang tersenyum itu hanya mengatakan 2 kata. "Ikuti aku." Setelah itu, Randika berjalan keluar sambil disusul oleh Dion. Si bos yang pingsan itu hanya bisa menangisi kepergian Dion setelah dia sadarkan diri. Awalnya dia merasa beruntung bisa memperkerjakan Dion yang kuat setara 5 karyawan itu, alhasil dia bisa menghemat gaji karyawan. Dia mungkin seharusnya mengikat Dion dengan cara menaikan gajinya hingga 2x! ........ Di suatu perumahan di kota Tokyo. Sinar matahari bersinar dengan terang dan memancarkan kehangatannya ke bumi. Tetapi cahaya tersebut sepertinya terobek oleh sebilah pisau yang melayang dengan cepat. Pisau itu melayang sejauh 100 meter dan dalam sekejap menembus beberapa pohon sebelum akhirnya berhenti dan menancap di pohon ke-5. Orang yang melempar pisau itu adalah seorang perempuan cantik yang memakai baju serba hitam dan celana pendek yang ketat. Bentuk tubuhnya benar-benar indah, belum lagi ''senjata'' yang ada di dadanya itu benar-benar mematikan! Setiap jengkal tubuhnya memberikan kesan sexy. Namun, orang-orang mungkin akan mundur ketika melihat apa yang ada di wajahnya. Di bagian kiri wajahnya, tepat di bawah kelopak matanya, sebuah luka membekas panjang hingga ke rahangnya. Benar-benar terlihat mengerikan! Dia adalah salah satu jenderal dari pasukan perang Ares dan berasal dari keturunan ninja, Kyoko! Satu-satunya perempuan yang menyandang gelar jenderal di pasukannya Randika ini bukan perempuan sembarangan. Mungkin bisa dikatakan, Kyoko adalah yang terkuat dan terlincah daripada keempat jenderal lainnya! Selain Randika, tidak ada orang yang bisa mengontrolnya. Di tangannya, Kyoko memegang senjata khusus miliknya yaitu kunai yang sudah dimodifikasi. Kunai miliknya itu benar-benar tajam dan trik rahasianya berada di benang tipis yang terikat di ujungnya. Dengan memanfaatkan benang ini, Kyoko bisa mengontrol laju kunainya dalam jarak 30-50 meter. Oleh karena itu, serangan Kyoko sudah bagaikan naga yang meliuk-liuk, membuat lawannya tidak bisa memprediksi arah serangannya! Kyoko yang sedang berjemur sinar matahari di atap rumahnya itu tiba-tiba merasakan bahaya dan berdiri dengan kuda-kuda bertempur. Dia baru saja lepas dari kejaran Bulan Kegelapan beberapa hari yang lalu, apakah lokasinya sudah ditemukan? Namun pada saat ini, tatapan mata Kyoko benar-benar dingin ketika dirinya menatap pintu yang menuju atap rumahnya itu. Ketika dia melihat sosok orang yang berjalan keluar dari pintu, Kyoko langsung melemparkan kunainya. Bilah tajam kunainya itu menembus dan merobek udara dengan mudah. Pada saat yang sama, orang tersebut menyadari kunai yang dilempar Kyoko sudah berada di depannya. Dengan tenang, orang itu mengangkat kedua tangannya dan menahan laju kunai tersebut. Bilah kunai dan kedua tangan itu bertemu dan mengeluarkan suara benturan yang keras, bagaikan kedua baja yang saling membentur. Tulang tangan Dion terbuat dari bahan logam spesial jadi dia sama sekali tidak takut oleh serangan kunai Kyoko. Tangan Kyoko terlihat bergerak dan kunai miliknya melayang kembali padanya. Sambil menatap Dion, Kyoko berkata dengan nada dingin. "Kamu berani sekali memperlihatkan batang hidungmu di sini? Kamu kira kita bisa bertahan hidup cuma dengan bersembunyi seperti ini?" Dion mendengus dingin. "Bisa tolong kamu lihat siapa dulu yang datang sebelum menyerang?" "Aku tahu siapa yang bisa menahan seranganku dan yang tidak." Kunai yang dilemparnya sudah mendarat di tangannya dan disimpannya di balik bajunya. Dia lalu menghampiri Dion dan mengatakan. "Mau apa kamu datang ke tempat ini? Apa kamu ingin mempermalukan dirimu lagi setelah kamu meminta semua orang untuk meninggalkan markas kita begitu saja?" "Terserah kamu ingin ngomong apa, tetapi keputusanku itu sudah tepat. Dan jangan kira karena kamu itu perempuan aku tidak berani memukulmu." Mendengar penghinaan Kyoko tersebut, Dion sedikit marah. Kyoko hanya memalingkan wajahnya. Pasukan yang dipimpin oleh Kyoko benar-benar spesial, oleh karena itu dia memiliki harga diri yang tinggi. Pasukannya terdiri dari para wanita yang memiliki tekad dan kekuatan yang sama dengannya. Tidak ada orang yang bisa memerintahkan pasukannya selain dia dan majikannya, Ares sang Dewa Perang. Bisa dikatakan bahwa pasukannya adalah yang terkuat dari kelima jenderal! Dion tidak ingin berargumen ataupun melawan Kyoko, bagaimanapun juga, dia adalah perempuan. "Tuan kita telah kembali." Kata Dion. Mendengar hal ini, tubuh Kyoko merinding dan matanya tampak berbinar-binar. "Tuan Ares telah kembali?" Kyoko memastikan. "Memangnya untuk apalagi aku sampai repot-repot datang ke sini?" "Jadi waktunya untuk balas dendam telah tiba?" Kyoko menoleh ke arah Dion. Darahnya mulai mendidih kembali dan sudah tidak sabar menikam jantung musuh-musuhnya itu. ..... Seharian ini, Randika berusaha mengumpulkan bawahannya yang paling awal dan yang paling setia melalui bantuan Dion. Bisa dikatakan bahwa pertarungannya kali ini sama seperti petualangannya menuju puncak. Pada saat ini, di Azumi bar, Akira sedang menuangkan racikan minumannya pada seorang tamu. Pada siang hari bar ini masih belum terlalu ramai. Namun, tiba-tiba seorang pria yang memakai baju sederhana dan topi yang menutupi wajahnya menghampiri dirinya. "Mau minum apa?" Akira tidak dapat melihat wajah pria itu dengan baik. "Siapa yang membuat lambang itu?" Pria itu mengangkat kepalanya dan wajahnya dapat terlihat dengan jelas. Dia sepertinya lebih muda dari Randika, mungkin lebih muda 2-3 tahun. Namun orang ini memancarkan aura yang sama kuatnya dengan Randika. "Tadi malam ada tamu yang membuatnya." Akira menjelaskan apa adanya. "Dia juga menambahkan kalau kau ingin menemuinya, maka tunggulah di sini." Mendengar penjelasan ini, pemuda itu tersenyum. "Akhirnya kamu kembali!" Frank, satu dari tiga kawan Randika yang dikenal sebagai crownless king, adalah orang yang benar-benar kuat. Banyak orang yang tidak tahu bahwa Frank itu terlahir dengan penyakit misterius. Tetapi kedatangan Randika di hidupnya membuat dirinya terlahir kembali dan berhasil lepas dari penyakitnya. Terkagum olehnya, Frank mengikuti Randika meskipun usianya tergolong muda. Dalam perjalanannya dia dilatih sendiri oleh Randika jadi aura yang dipancarkannya mirip dengan Randika. Randika sendiri memiliki banyak pasukan yang berada di bawah kendalinya. Semua itu tidak lepas dari orang-orang kepercayaannya yang memimpin pasukannya. Apabila dijabarkan, ada lima jenderal, delapan letnan, tiga crownless king, dan Shadow. Orang-orang itulah yang merupakan pilar kekuatannya! Selama pilar-pilar ini tidak mati, kecuali Shadow yang berkhianat, kekuatan Randika tidak akan pernah musnah! ...ˇ­. Chapter 208: Menerobos Masuk Beberapa hari berikutnya di Azumi bar. Azumi berdiri dengan wajah cemberut. "Asal kamu tahu, tidak pernah ada orang luar yang berani naik ke lantai 2 ini. Lain kali jangan harap kamu bisa naik ke sini secara gratis." "Baiklah." Randika tersenyum. Melihat ruangan pribadinya yang penuh dengan orang itu, mau tidak mau Azumi turun ke lantai 1. Sepertinya membuat bar ini menjadi markasnya kurang tepat. Randika berdiri di paling depan. Di depannya terdapat Dion, Kyoko dan bawahan lainnya. Di belakangnya juga ada orang-orang lainnya. Sedangkan di sampingnya, berdiri Frank dengan sikap sempurna. Berdiri di samping Frank, ada orang yang terlihat memakai baju yang berantakan. Orang tersebut terlihat membawa pedang yang usang di belakang punggungnya. Dia adalah salah satu dari crownless king, Raihan si algojo. Raihan sama-sama berasal dari Indonesia, Randika bertemu dengannya sesaat setelah dia turun dari gunung. Randika dan Raihan bertarung selama 3 hari 3 malam. Di akhir pertarungannya tersebut, mereka saling mengakui kehebatan masing-masing dan menjadi sahabat. Raihan akhirnya memutuskan untuk mengikuti Randika. Setelah mendirikan kerajaan di dunia bawah tanah di Jepang, Raihan tidak pernah keluar dari istana tersebut. Raihan benar-benar orang yang malas, dia tidak peduli dengan yang namanya ketenaran ataupun yang lain; dia hanya peduli tentang pedang dan membunuh. Randika masih berdiri diam di depan. Matanya menatap satu per satu bawahannya yang berhasil kabur. "Aku telah kembali." Randika tersenyum. Bersamaan dengan pernyataan kembalinya, semua orang di ruangan ini menyerukan namanya sambil berlutut. "Hormat pada Yang Mulia Ares!" "Hormat pada Yang Mulia Ares!" "Hormat pada Yang Mulia Ares!" ...ˇ­.. Mereka semua sama sekali masih belum bisa menerima kenyataan ini, perasaan bahagia ini menguasai semuanya. Selama menghilangnya Randika, mereka semua merasakan serangan tiada henti dan pengkhianatan dari saudara-saudara seperjuangan mereka. Tetapi sekarang, raja mereka telah kembali! Bersama dengan Randika, bahkan dunia pun bisa mereka taklukan! Selama ada Ares di sisi mereka, mereka tidak terkalahkan! Bahkan suara teriakan mereka itu terdengar sampai bawah meskipun suara musik yang dipasang sudah maksimal. Azumi, yang bisa mendengar samar-samar suara dari atas tersebut, mengerutkan dahinya dan meminum winenya hingga habis. Randika lalu mengangkat tangannya untuk menyuruh mereka berhenti dan berdiri. Tiba-tiba, semua orang berdiri dan sama sekali tidak mengeluarkan satu suara pun. "Hanya kematian yang layak kita berikan pada orang yang berani menghalangi kita." Randika berkata dengan nada serius. "Apa yang telah mereka rebut, kita akan merebutnya kembali hari ini!" "BUNUH MEREKA!" Semua orang di sini sudah bisa merasakan darahnya mendidih. Sejak Bulan Kegelapan, Harimau dan Shadow berkhianat, mereka sudah tidak sabar membunuh siapa saja yang berani berkhianat. Dan serangan mereka terhadap markas mereka merupakan titik puncak kemarahannya. "Tuan, apa yang akan kita lakukan setelah ini?" Kyoko tiba-tiba bertanya. "Langkah berikutnya?" Randika hanya tersenyum dan hanya tiga kata terlontar dari mulutnya. "Kita bobol penjara." ......ˇ­.. Penjara Shinra. Salah satu penjara rahasia dan terketat di dunia ini benar-benar merupakan penjara yang sulit ditembus. Namun semua fakta tersebut akan kehilangan kredibilitasnya, karena setelah hari ini, penjara ini sudah hanya tinggal nama. Pinggiran kota Tokyo. Gedung yang memiliki dinding yang tinggi berdiri dengan kokoh di pinggiran kota Tokyo ini. Kawat berduri menghiasi dinding bagian atas, mencegah orang untuk memanjatnya. Tetapi apa yang membuat penjara ini tidak bisa dibobol adalah menara jaga yang tinggi dan bersenjatakan lengkap. Belum lagi tim patroli yang selalu berkeliling dengan waktu yang berbeda-beda untuk mencegah terjadinya suatu pola dan terlihat mesin tank yang selalu berkeliling. Teror inilah yang mengintai apabila tahanan berusaha melarikan diri dari sel penjara mereka, apabila mereka menunjukan batang hidungnya maka mereka akan dieksekusi langsung di tempat. Terlebih, dari jarak 1 km dari segala arah, tidak ada tempat untuk bersembunyi. Di bagian tanah, terdapat lapisan logam yang spesial jadi menutup kemungkinan tahanan membuat terowongan dari dalam maupun luar. Di dalam penjara juga terdapat beberapa helicopter yang siap terbang kapan pun. Belum lagi ranjau yang tertanam di sekitar penjara, hal inilah yang membuat siapapun ragu untuk menginjakan kakinya di tempat sembarangan. Jadi melarikan diri dari penjara rahasia ini benar-benar mustahil. Hingga sekarang, penjara Shinra berhasil mencatat rekor sempurna yaitu tidak ada yang pernah bisa melarikan diri. Apabila ada orang yang masuk ke dalam penjara ini maka mereka hanya mendapatkan 2 kemungkinan yaitu mati karena usia atau bunuh diri. Tetapi hari ini, semua legenda tentang penjara ini akan musnah. Di 1 km sebelum penjara ini, lebih dari 10 orang mengikuti Randika. Mereka menatap sebuah papan peringatan yang menyatakan bahwa lahan ini merupakan lahan pemerintah dan tidak ada orang yang boleh masuk sembarangan. Raihan hanya menggelengkan kepalanya sambil menghunuskan pedangnya. Dalam sekejap papan tersebut terbelah menjadi dua. Ketika seorang penjaga melihat kelakuan Raihan ini, dia dengan cepat menjadi waspada. Dia ingin melaporkan kejadian ini tetapi bahkan sebelum dia sempat berbalik badan, sebuah pisau sudah melayang dan mendarat di tenggorokannya. Para penjaga, yang ada di belakangnya, tidak ragu-ragu untuk menembakan senjata mereka. Dor! Dor! Dor! Peluru yang tak terhitung ditembakan secara membabi buta, seakan-akan mereka melampiaskan seluruh kemarahan mereka selama ini. Tetapi semua itu percuma, di bawah komando Randika, tidak ada satu pun peluru yang mengenai kelompoknya. Setelah membunuh para penjaga di pintu masuk, Randika memberi sinyal maju. Kelompok paling berbahaya di dunia ini menerjang maju! Di dalam penjara, dua penjaga sedang mengantar tahanan baru ke dalam sel penjara mereka. "Cih kenapa di dunia ini ada penjahat macam kalian?" Kata si penjaga. Seorang penjahat itu tertawa dan meludah ke arah si penjaga tersebut. "Bajingan! Mau ngelawan kamu ya!" Penjaga itu mengeluarkan tongkatnya dan memukul penjahat tersebut. Setelah itu dia menatap orang tersebut dan berkata dengan nada jijik. "Kau kira bertindak tangguh seperti itu bisa menyelamatkanmu? Kalian mungkin bisa menerobos Gedung Putih milik Amerika tetapi jangan kira kalian bisa menerobos keluar dari penjara ini. Membusuklah di neraka dunia ini!" "Tidak ada tempat yang tidak bisa dibobol." Kata penjahat tersebut. "Memangnya kau bisa Farah?" Ketika si penjaga menyebutkan namanya, ekspresi wajah Farah menjadi serius. Farah, bisa dikatakan adalah orang yang sudah melarikan diri dari puluhan penjara paling ketat di dunia, jadi datangnya Farah di penjara ini membuat para penjaga mengawasinya dengan ketat. "Percuma kau memiliki pemikiran seperti itu." Si penjaga meneruskan. "Sudah beberapa orang yang memiliki ide sama sepertimu. Memang membuat rencana untuk kabur itu mudah, tetapi kabur dengan selamat adalah perkara lain." "Tetapi kalau kau ingin kabur, cepat panggil namaku dan aku akan membukakan pintu selmu." Kata penjaga yang lain dengan nada sarkas. "Memangnya penjara ini seketat itu?" Penjahat yang lain bertanya. Dia sendiri tidak percaya dengan perkataan para penjaga itu. Meskipun ada rumor tentang betapa mengerikan penjara Shinra ini, dia sendiri tidak merasakan apa-apa bahkan tidak ada bedanya dengan penjara yang biasa dia tempati. "Akan kuceritakan suatu kisah menyedihkan. Tahun lalu, ada 6 orang yang mencoba melarikan diri dari penjara ini. Mereka memang berhasil memanjat tembok dan merasakan udara bebas tetapi mereka semua mati setelah beberapa menit." Wajah si penjaga menjadi serius. "Tidak ada orang yang pernah berhasil keluar dari penjara ini hidup-hidup, nikmatilah neraka ini hingga akhir hayat." Mendengar kata-kata tersebut, beberapa penjahat itu merinding dan menjadi khawatir. Jika mereka tidak berusaha melarikan diri maka mereka akan mati membusuk di penjara ini, jika mereka melarikan diri maka mereka akan ditembak sampai mati. Penjara Shinra sudah bisa dikatakan bukan lagi penjara untuk mata-mata negara asing yang tertangkap, sepertinya penjara ini diperuntukan untuk penjahat kelas kakap! Si penjaga membuka pintu sel dan menyuruh mereka menghadap ke tembok dan melepaskan borgol mereka. Sambil mengancam untuk mereka tidak bergerak, si penjaga keluar dari sel. Saat si penjaga hendak menutup pintu, salah satu dari tahanan itu bertanya. "Bagaimana kalau orang berusaha membobol dari luar?" Kedua penjaga itu menatap satu sama lain dan tertawa. "Dari luar? Bahkan kalau kau punya pasukan, itu semua percuma." Sesaatnya dia menutup pintu, terdengar suara gaduh dari luar. Suara itu benar-benar keras, apakah itu suara tank yang menembak? "Apa yang sedang terjadi?" Para tahanan itu bertanya-tanya apa yang sedang terjadi sedangkan kedua penjaga itu sudah panik. Tidak lama kemudian, suara alarm terdengar dan semua penjaga pada berlarian ke sana kemari. Penjara ini telah diserang! Setelah memastikan pintunya tertutup rapat, kedua penjaga itu segera berlari menuju luar. Namun, ketika mereka berusaha membuka pintu, pintu tersebut meledak dan mereka berdua segera terpental. Dalam sekejap mereka berdua bisa melihat betapa mengerikannya dunia luar yang mereka kenal itu. Kedua penjaga ini terkejut bukan main. Helikopter milik penjara mereka itu sudah menjadi puing-puing yang terbakar dan tank mereka yang perkasa itu sudah terbalik. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Melihat sekumpulan orang yang menerjang ke arah mereka, kedua penjaga ini mengerti bahwa mereka akan menjadi sasaran para penyusup ini. "Aku menyerah!" Ketika si penjaga ini berusaha mengangkat tangannya untuk menyerah, seorang pria sudah berdiri di depannya dan menebas pedangnya dan membelahnya menjadi dua. Melihat kelompok Randika yang tidak kenal ampun itu, penjaga satunya segera berlari dan berusaha menutup pintu yang menuju ke sel penjara. Tetapi sebelum pintu itu dapat menutup, tatapan mata Raihan menjadi dingin dan dia melangkah bagai hantu. Pedangnya berhasil menahan pintu sebelum berhasil menutup, si penjaga tersebut sudah tidak berdaya. Setelah membunuh penjaga tersebut, proses pengumpulan informasi dimulai. Mereka langsung menuju kantor sipir untuk mencari di mana orang-orang mereka berada. Setelah menghabisi para penghalang yang menghalangi mereka, tibalah mereka di kantor sipir. Dan setelah menemukan lokasi sel bawahannya, Randika membawa Raihan, Frank dan Kyoko bersamanya. Sepanjang jalan, tiada hentinya penjaga bersenjatakan senapan serbu menghalangi mereka. Sayangnya teriakan tragis mereka benar-benar sebentar, Raihan tidak memberikan ampun pada mereka dan memenggal kepala mereka begitu saja. "Benar-benar membosankan." Raihan menggelengkan kepalanya dan Kyoko tidak bisa berhenti menghela napas. Pria ini baru saja menebas helikopter yang terbang di udara dan masih merasa bosan? Tapi dia sendiri setuju, dia berharap ada tantangan lebih dalam pembobolan penjara ini. "Akhir-akhir ini kamu tidak punya lawan yang pantas?" Randika tersenyum. "Kamu tiba-tiba menghilang, siapa memangnya yang pantas jadi lawan tandingku?" Jawab Raihan. "Terus waktu markas kita diambil alih, kenapa kamu tidak membunuh Bulan Kegelapan?" Tanya Randika. "Orang lemah seperti itu tidak layak kutebas, aku bisa membunuhnya dalam 10 detik." Kata Raihan dengan wajah serius. Di sisi lain, Frank yang lebih muda itu tiba-tiba terbatuk dan mengatakan. "Aku bisa dalam 8 detik!" "Hah? Kau meremehkanku bocah?" Raihan mengerutkan dahinya, pedangnya siap beradu kapan saja. "Kita bertanding selama tiga jam kapan hari dan belum ada pemenang di antara kita." Jawab Frank dengan nada yang lantang. "Aku juga tidak sabar mengalahkanmu pak tua!" Randika segera melerai mereka, dan pada saat ini, Kyoko mengatakan. "Bulan Kegelapan itu bukan apa-apa, tetapi Shadow yang menjadi masalah." Mendengar nama tersebut, Randika menjadi terdiam dan tatapan matanya dipenuhi dengan kebencian. Ketiga orang ini merasakan aura membunuh Randika dan ikut terdiam, tetapi Raihan menambahkan. "Lagipula hari itu Bulan Kegelapan membawa banyak ahli bela diri." "Oh?" Randika kembali mendapatkan ketenangannya. Orang yang layak disebut ahli bela diri oleh Raihan benar-benar sedikit, jika dia sampai menyinggung hal ini maka orang-orang tersebut sangatlah kuat. Raihan sendiri merupakan orang yang setara dengan Randika tetapi sejak memiliki kekuatan misterius di dalam tubuhnya, Raihan sudah bukanlah apa-apa di matanya. Randika sendiri merasa bahwa Raihan berada di papan atas daftar Dewa, mungkin dialah kandidat 12 Dewa Olimpus jika ada yang mati. Yang tidak berhasil Randika tangkap mungkin adalah kenapa Bulan Kegelapan bisa menggerakan semua ahli bela diri tingkat atas tersebut. Memang Bulan Kegelapan adalah salah satu dari daftar Dewa tetapi menggerakan semua ahli bela diri yang kuat dan setara dengan Raihan adalah perkara yang lain. Randika mungkin masih fokus untuk menyelamatkan bawahannya yang terkurung ini. Setelah berhasil membantai untuk membuka jalan, Randika dan ketiga bawahannya ini menuju ke kedalaman. Mereka telah menerobos dengan mudah lapisan pertama dari penjara ini yaitu gerbang masuk yang dikatakan memiliki tank, menara penjaga bersenjatakan lengkap dan tim patroli yang ketat. Lapisan kedua adalah bagian dalam dari penjara dan lapisan ketiga adalah bagian terdalam dari penjara ini. Dengan kata lain, lapisan ketiga berada di bawah tanah dan dikelola oleh tim khusus. Chapter 209: Ares Telah Tiba Di bagian bawah tanah dari penjara Shinra ini, para tahanan yang ditahan di tempat tersebut lebih mengerikan daripada yang ada di atas. Para bawahan Randika berada di bagian bawah tanah ini. Sekarang Randika bersama para bawahannya itu berjalan di bagian sel penjara umum dan segera menuju pintu masuk bagian bawah tanah. Pada saat ini, para tahanan melihat rombongan Randika berjalan dengan santai melewati mereka. Satu per satu dari mereka mulai meminta tolong pada Randika. "Tolong lepaskan aku!" Teriak penatua yang ompong itu. "Hei bos, akan kubayar berapa pun yang kau mau! Cepat keluarkan aku!" Teriak tahanan yang tubuhnya dipenuhi tato. Semua tahanan berteriak pada Randika, memohon untuk dilepaskan. Dalam sekejap penjara ini menjadi riuh dan berisik. "Serigala, apa pasukan yang kamu miliki itu cukup?" Randika menatap seluruh tahanan yang menyerukan namanya itu. Serigala, merupakan salah satu dari 5 jenderal dari pasukannya, merupakan orang yang pendiam. Karakter orang ini benar-benar mirip serigala. Dia tidak pandai berkomunikasi dan pendiam, tetapi sifatnya akan berubah menjadi kejam dan barbar ketika sudah bertempur. Perintah Randika akan dilakukannya tanpa banyak tanya. "Tidak cukup." Jawaban serigala selalu singkat dan jelas. Pertempuran perebutan istana bawah tanah yang terakhir benar-benar sengit. Serangan Bulan Kegelapan itu benar-benar mendadak dan menghasilkan korban yang begitu banyak di kedua belah pihak. Di antaranya, pasukan yang dipimpin serigala menderita yang paling banyak. Oleh karena itu, pasukannya sudah hampir tidak memiliki orang lagi. Randika mengerti karakter bawahannya ini jadi dia lah yang berinisiatif untuk bertanya. "Bagaimana kalau para tahanan ini menjadi anak buahmu?" Randika tersenyum. "Siapa yang tidak kompeten bagimu bisa kau bunuh." Serigala nampak terdiam dan menatap para tahanan lalu mengangguk. "Baiklah." Pasukan yang dipimpin oleh serigala sama tenangnya dan sama kejamnya dengan pemimpinnya. Tidak peduli bagaimana liar ataupun tidak setianya para tahanan ini, serigala memiliki metodenya sendiri untuk membuat mereka menjadi prajurit yang patuh dan siap mengorbankan nyawanya. Randika mengangguk dan berjalan maju. Tidak lama kemudian, mereka tiba di tangga yang menuju bagian bawah tanah. Yang menghalangi mereka sekarang hanyalah pintu yang tertutup. Pintu ini merupakan pintu besar yang besar dan kokoh, hampir mustahil untuk mendobraknya. Di dalam pintu itu, lampu-lampu menyala dengan terang, membuat bawah tanah ini sama terangnya dengan siang hari. Banyak tahanan yang ditahan di tempat ini, semuanya tampak terikat di bagian kakinya dan tangannya. Apabila diperhatikan, sepertinya tempat bawah tanah ini adalah ruang penyiksaan. Dan semua tahanan ini merupakan anggota dari pasukan Ares! Tidak diragukan lagi, ruang penyiksaan ini hanya berisikan para pasukan milik Randika. Semua orang di sini terluka dan bahkan beberapa dari mereka sedang mengucurkan darah dengan deras. Luka-luka mereka sama sekali tidak mendapatkan perawatan. Di bagian paling dalam, terdapat seorang perempuan berkulit putih dan terlihat sangat rapuh. Dia sama sekali tidak terikat dan sendirian di sel penjaranya yang menyedihkan itu. Catherine adalah salah satu dari crownless king dari pasukan Ares. Mungkin dalam kasus ini dia adalah crownless queen. Catherine sendiri bukanlah seorang ahli bela diri seperti Raihan ataupun Frank. Sebaliknya dia hanyalah orang biasa. Namun, sebagai salah satu crownless king, statusnya sama tingginya dengan Frank dan Raihan. Bisa dikatakan bahwa spesialisnya adalah kecerdasannya! Di pertempuran-pertempuran sebelumnya, Catherine memberikan masukan dan saran pada strategi mereka, hal inilah yang membantu pasukannya Randika ini mengalahkan lawan-lawannya yang kuat. Di saat mereka sudah mencapai puncak dan mendirikan istana bawah tanah, Catherine lah yang menjadi pemimpin selagi Randika tidak ada. Bisa dikatakan bahwa dia adalah tangan kanan Randika, apa yang dia katakan adalah titah dari sang Ares sendiri! Dari ketiga crownless king, Catherine memang yang paling Randika hargai. Raihan memang memiliki kekuatan yang luar biasa tetapi orang itu hanya peduli dengan pedangnya dan sangat malas. Frank memang mungkin orang yang dia didik dari 0, tetapi penyakit bawaannya itu benar-benar merepotkan dirinya dan membutuhkan waktu istirahat yang banyak. Meskipun penyakitnya itu sudah ditangani oleh Randika, hal itu tidak bisa hilang sepenuhnya. Oleh karena itu, Catherine diperlakukan khusus oleh Bulan Kegelapan. Bulan Kegelapan ingin Catherine menyerah dan menjadi miliknya. Dengan bantuan Catherine, menaklukan dunia bukanlah isapan jempol belaka. Selama dirinya masih mengikuti Randika pun, Bulan Kegelapan sudah berusaha memikat hatinya. Namun, semua itu percuma. Catherine sama sekali tidak mau berbicara ataupun menerima tawaran Bulan Kegelepan. Saking marahnya, Bulan Kegelapan membuang Catherine ke dalam penjara tanpa cahaya matahari ini untuk memikirkan kembali tawarannya. Di tempat ini dia akan melihat para bawahannya disiksa sampai mati. Bulan Kegelapan juga berjanji akan melepaskan para bawahan Catherine tersebut apabila dia mau menjadi miliknya. Namun, Catherine sama sekali tidak tertarik dan mengabaikan Bulan Kegelapan dari awal hingga akhir. Perempuan ini percaya bahwa Randika akan kembali untuk mereka. Bukan hanya Catherine saja yang memiliki pemikiran seperti ini, hampir semua bawahan yang tertahan ini memiliki pemikiran yang serupa. Dalam hati mereka, Randika sudah benar-benar sang juru selamat mereka. Mereka percaya bahwa Randika akan menyelamatkan mereka meskipun dunia adalah lawannya. Tetapi nasib mereka berbeda dengan Catherine, mereka harus bertahan hidup dari siksaan hingga bantuan tiba. "Hahaha jadi ini orang yang dikenal sebagai lima jenderal dari pasukan Ares yang tidak terkalahkan itu? Dicambuk sedikit saja sudah diam kesakitan seperti itu!" Seorang pria kekar yang membawa cambuk itu meludah ke arah Polemos, salah satu dari lima jenderal. Polemos diikat pada sebuah pilar dengan bertelanjang dada, punggungnya sudah bersimbah darah karena cambuk. Polemos sama sekali tidak berbicara, cambuk yang mengenai punggungnya itu tidak mampu membuatnya mengeluarkan suara sekecil apa pun. Namun, cambuk itu memiliki duri jadi tiap cambukannya akan membawa secuil daging. Randika bertemu dengan Polemos ketika dirinya berkeliling dunia. Dia bertemu dengannya setelah dia bertemu dengan Dion di Afrika. Hari itu Polemos sedang menyamar menjadi pedagang dan mengincar nyawa Randika. Setelah gagal dan terluka parah, Randika merawatnya dan menerimanya. Meskipun gelarnya sebagai jenderal ditentang oleh banyak orang, kemampuan dan kesetiaan Polemos tidak pernah diragukan Randika sekali pun sejak pertemuan pertama mereka. Luka yang diderita Polemos benar-benar mengerikan, darah di tubuhnya tidak pernah berhenti mengalir. Tetapi, ekspresi Polemos benar-benar datar dan tidak menunjukan ekspresi kesakitan. Di sampingnya, ada dua orang yang juga terikat dan memaki si penjaga yang mencambuki atasan mereka itu. "Kau kira cambuk lemah seperti itu bisa melukai kami?" Ejek salah satu dari mereka. Penjaga yang kekar itu menjadi marah ketika mendengar ejekan tersebut, dia makin mencambuki mereka bertiga dengan keras. "Percuma punya otot sebesar itu tetapi mencambuk aja tidak becus. Sudah minta orang lain saja menggantikanmu." "Sudah diamlah, pijatan orang ini termasuk enak. Tetapi kalau bisa cambuk aku lebih kuat lagi, punggungku tidak selemah itu." Jawab orang yang dipanggil singa oleh orang-orang. "Tolong buang rasa simpatimu itu dan cambuk kita lebih keras, ah! Benar seperti itu! Ayo lebih keras!" Si pria kekar itu geleng-geleng dengan tiga orang ini, dia baru pertama kali mendengar tahanan meminta mencambuknya lebih kuat. "Apa kalian semua sudah gila?" Si pria kekar ini sudah tidak tahan lagi, dia sudah kehabisan napas. Meskipun dia ingin melanjutkannya, pria kekar ini akhirnya duduk di samping untuk mengumpulkan tenaganya lagi. Ketiga tahanan ini menghela napas mereka. Sejujurnya, ketiga orang ini benar-benar gila dan abnormal. Satu sangat pendiam dan menikmati rasa sakit ini dari dalam hatinya. Yang lain berteriak dan memaki si algojo untuk memberikannya rasa sakit yang lebih. Sedangkan yang terakhir, meskipun wajahnya biasa-biasa saja, cambukan itu sebenarnya mirip sebuah pijatan baginya. "Apa orang dari pasukan Ares sudah gila semua?" Gumam si penjaga. "Hah? Otakmu rusak atau apa?" Orang yang bernama Jin itu mengerutkan dahinya dan berkata dengan lantang. "Kau saja yang lemah bodoh! Jangan pernah menghina pasukan tuan kami!" Si penjaga berbadan kekar itu lantas tersenyum. "Kalian bisa apa memangnya? Kalian tidak lihat bahwa kalian terperangkap di sini? Selamanya kalian menderita di tempat ini!" "Dia akan menyelamatkan kami." Singa menatap si penjaga dengan tatapan ganas. Dia percaya bahwa tuan mereka yaitu Randika akan datang. Mendengar kata-kata tersebut, Polemos mengangkat kepalanya. Matanya tampak berbinar-binar dan Jin juga menjadi bersemangat. Dengan lantang Jin mengatakan. "Aku percaya tuan kami akan datang." "Hahaha!" si penjaga itu tertawa. "Tempat yang kau sebut markas itu sudah kami rebut dan orang yang kalian puja-puja itu bahkan belum pernah menunjukan dirinya sekalipun. Aku heran kalian masih saja berharap dia akan datang." "Kalian boleh menghina kami, kalian boleh menyiksa kamiˇ­ Tetapi jika kalian berani menghina nama tuanku, aku akan membunuh kalian." Polemos yang daritadi diam, tiba-tiba mengeluarkan aura membunuh yang pekat yang membuat ruang penyiksaan ini menjadi berat. Alasan utama markas mereka telah jatuh adalah karena Shadow. Meskipun Bulan Kegelapan membawa puluhan ahli bela diri bersamanya pada hari itu, mereka tetap tidak akan mampu menaklukan istana dunia bawah tanah tersebut. "Benar-benar menyedihkan." Pria kekar itu menggelengkan kepalanya dan berkata dengan nada mengejek. "Kau akan mati sambil masih mempercayai bantuan akan datang. Jangan kira Ares yang kau puja-puja itu memiliki kemampuan untuk menerobos tempat ini. Belum pernah ada orang yang bisa membuka pintu tempat ini sekalipun." "Persetan denganmu!" Suara makian terdengar dari sel penjara yang lain. Si penjaga itu menoleh ke arah belakang dan mendengus dingin. "Tidak peduli apa yang kalian katakan, kalian semua akan mati di sini tanpa pernah melihat cahaya matahari lagi. Nikmatilah siksaan tiada habis sebelum napas kalian berhenti!" "Kau sebut ini siksaan? Aku kira kau cuma membantu menggarukan punggungku!" "Kau kira kami takut denganmu? Tamparan nenekku saja lebih kuat dari kalian!" Kedua orang kembar ini merupakan bagian dari 8 letnan, serangan gabungan mereka benar-benar mengerikan dan membawa mereka hingga menjadi letnan. "Hahaha, aku tidak sabar menguliti kalian hidup-hidup." Si penjaga itu sudah muak. "Aku akan menikmati menyiksa kalian hingga mati. Tangisilah tuan kalian yang tidak akan datang itu di neraka." Namun pada saat ini, suara ledakan terdengar dari arah pintu. Pintu yang tak tergoyahkan itu terpental dan terbuka lebar! Dalam sekejap, tatapan mata semua orang tertuju pada pintu dan melihat sosok pemuda keluar dari balik asap. "Aku telah tiba." Chapter 210: Saatnya Pembalasan! Penjaga yang membawa cambuk itu terkejut bukan main. Ketika para bawahan Randika ini melihat sosok Randika keluar dari balik asap, mereka semua terdiam. Seluruh penjara bawah tanah ini menjadi hening seketika. Polemos menatap tuannya lalu tersenyum lebar, dia tahu bahwa Randika pasti akan datang untuk mereka! Semuanya kurang lebih tersenyum dan meneteskan air mata ketika sadar dari kelinglungan mereka. Spontan mereka semua berteriak satu nama. "Ares!" "Ares!" "Ares!" ......ˇ­.. Suara seruan ini membuat suasana penjara bawah tanah ini menjadi riuh, sedangkan para penjaga menjadi panik. Mereka tidak menyangka bahwa penjara bagian atas yang dikenal sangat ketat itu akan dibobol. "Hei, aku tidak menyangka kamu akan secengeng itu." Kata Singa pada Jin. "Sialan! Siapa memangnya yang menangis? Mataku cuma kelilipan tahu!" Polemos hanya tertawa melihat kawannya itu. "DIAM!" Penjaga itu mencambukan cambuknya pada ketiga tahanan tersebut. Mereka bertiga sudah tidak peduli dengan rasa sakit ini, mereka sudah dipenuhi dengan rasa sukacita dan bahagia. Randika berjalan maju ke depan, dia menuju ke sel penjara paling dalam. Di bawah tatapan para pengikutnya, Randika berhenti di depan sel milik Catherine. Mereka berdua saling tersenyum pada satu sama lain. Serigala, Kyoko, Raihan dll membantai para penjaga yang ada dan melepaskan para pasukannya. "HOI! Kyoko-ku yang manis, tolong lepaskan pangeranmu ini dulu. Aku sudah lama terikat dan tubuhku sudah gatal ingin memelukmu. Tolong lepaskan aku." Teriak Jin. "Cih kau ini benar-benar menyedihkan, bisa-bisanya meminta tolong pada perempuan?" Kata Singa. Kyoko yang mendengar seruan minta tolong itu hanya menatap Jin dengan dingin dan berjalan menuju sel lain. "Ahˇ­. Tatapan dingin itu benar-benar nikmat!" Nampaknya Jin adalah seorang masokis. Satu per satu penjaga penjara bawah tanah ini dibunuh tanpa ampun. Mereka sama sekali tidak menyisakan satu orang pun untuk hidup. Setelah melepaskan Catherine, Randika pergi menuju sel tempat Polemos, Singa dan Jin berada. Randika menatap kondisi para bawahan andalannya yang menyedihkan itu lalu tatapannya jatuh pada si penjaga yang membawa cambuk. Penjaga ini sedikit gemetaran di dalam hatinya, dia sepertinya tahu bahwa hari ini adalah hari terakhirnya hidup. Dia meraung keras dan menerjang ke arah Randika. Tetapi kecepatan Randika benar-benar cepat, tinjunya sudah melayang dan penjaga itu hanya bisa merasakan rasa sakit menyelimuti dirinya dan kehilangan kesadarannya. Randika tidak membunuhnya, aslinya dia ingin menangkap para bawahan Bulan Kegelepan ini dan berurusan dengan mereka apabila masalah ini sudah selesai. Mereka ini telah menyiksa orang-orangnya, Randika tidak ingin memberikan jalan mudah berupa kematian bagi mereka. Melihat si penjaga yang sudah tidak sadarkan diri itu, Randika mengikatnya dengan cambuknya itu. Untuk memastikan dia tidak akan lari, Randika mematahkan salah satu kakinya. "Tuan, Anda akhirnya datang juga." Jin sudah berurai air mata, wajahnya tersenyum lebar. "Hei kau ini cewek apa cowok sih?" Singa merinding melihat Jin yang ganas di medan tempur itu menjadi cewek polos di depan tuannya itu. Dia bersumpah akan menjauhi Jin setelah keluar dari penjara ini. Randika mengepalkan tangannya dan menghantamkannya pada rantai yang mengikat mereka bertiga. Tanpa rantai itu, ketiganya sekarang bisa berjalan dengan bebas. "Bagaimana keadaan kalian?" Randika bertanya. "Lumayan." Polemos mengangguk, meskipun tubuhnya penuh luka, kebanyakan luka itu hanya luka luar. "Berapa orang yang tersisa?" Tanya Randika. Mendengar pertanyaan ini, ketiganya langsung terdiam untuk beberapa saat. Lalu Polemos sebagai salah satu jenderal mengatakan. "Dari delapan letnan, hanya 5 yang tersisa. Pengkhianatan Harimau dan Bulan Kegelapan membuat sebagian pasukan kita mengikuti mereka. Yuna masih menghilang dan Gilbert terbunuh." Randika hening sejenak. Meskipun dia tahu situasi pasukannya itu, mendengar hal ini masih membuatnya tidak nyaman. Dari 8 letnan yang ada, hanya tersisa 5 orang. Jin, Singa, Yuna dan si kembar (Matthew dan Martin). Gilbert telah tewas dan yang paling menyedihkan adalah Harimau dan Bulan Kegelapan yang berkhianat. "Di antara 5 jenderal, hanya Carlos yang tidak selamat." Polemos kembali melanjutkan. Di antara 5 jenderal, hanya tersisa 4 yaitu dirinya, Dion, Kyoko dan Serigala. Pada saat ini, Catherine datang menghampirinya dan berkata dengan nada yang lembut. "Jatuhnya istana kita adalah kesalahanku, tolong tuan menghukumku. Aku telah mempermalukan nama Anda." "Tidak ada gunanya menyesali apa yang telah terjadi, hal yang paling kita perlukan adalah rencana untuk merebut tempat kita kembali." Randika mengelus kepala Catherine yang lembut itu. Memang hari ini dia telah kalah, namanya sebagai yang tidak terkalahkan di dunia bawah tanah telah tercoreng berkat Bulan Kegelapan dan Shadow. Tetapi mereka akan merebut kembali kehormatan mereka! Matthew dan Martin bagai pinang dibelah dua, wajah mereka benar-benar mirip. Ketika Randika melihat wajah semangatnya, dia semakin yakin bahwa mengambil alih istananya bukanlah impian. ............ Randika keluar dari penjara terkutuk itu bersama dengan para bawahannya. Tidak butuh waktu lama untuk media mengabarkan berita mengejutkan ini pada dunia. Tajuk utama setiap berita adalah hancurnya penjara terketat di dunia oleh serangan teroris. Tidak ada saksi yang bisa menjelaskan apa yang telah terjadi di penjara di pinggiran kota Tokyo tersebut. Total 200 penjaga telah mati mengenaskan. Sesuai apa yang diramalkan oleh Randika, hari ini tidak akan ada lagi yang namanya penjara Shinra! Di sebuah rumah, yang cukup jauh dari lokasi penjara, Randika duduk di depan meja dan semua bawahannya berkumpul dan menghadap padanya. "Kita tidak punya informasi mengenai Bulan Kegelapan." Catherine mulai diskusi kali ini. "Langkah pertama kita adalah mengetahui di mana markas utamanya." "Untuk mendapatkan informasi tersebut, akan sangat sulit bagi kita mengingat Shadow membantu Bulan Kegelapan. Jadi menurutku kesempatan terbesar kita adalah mencari keberadaan Yuna." Catherine menyampaikan pendapatnya. Frank mengangguk. "Apa yang dikatakannya itu benar. Aku melihat sendiri bahwa Bulan Kegelapan mengirim orangnya untuk menangkap Yuna. Jika kita berhasil menemukan Yuna, kita bisa mendapatkan lokasi Bulan Kegelapan." "Bagaimana menurutmu tuan?" Catherine menoleh ke arah Randika. Semua tatapan mata sekarang menuju Randika. "Keselamatan Yuna adalah yang terpenting." Kata Randika dengan tegas. Semua orang membungkuk dan menerima perintah tersebut. Randika lalu berkata kepada empat letnan. "Bawa orang-orangmu dan cari keberadaan Yuna. Kalian juga bisa menginterogasi sipir yang kita bawa sebelumnya." "Siap." Keempat letnan, Singa, Jin, Matthew dan Martin melangkah maju dan menerima perintahnya. "Kita juga perlu mengamati pergerakan musuh di istana kita." Randika menoleh ke arah Polemos. Polemos maju dan membungkuk, dia menerima misi ini dengan lapang dada. Meskipun Randika sudah tidak sabar merebut istananya kembali, dia tidak bisa bertindak gegabah. Dengan mengetahui detail-detail kecil akan sangat berpengaruh dengan hasil akhir. Perlu diingat bahwa kekuatan Bulan Kegelapan sudah merangkul Tokyo, hal ini benar-benar di luar dugaan Randika. Meskipun ada Raihan dan Frank di sisinya, mereka akan melawan sebuah pasukan jadi mereka harus benar-benar siap ketika menyerang. Terlebih, pasukannya yang berhasil melarikan diri itu tidak cukup untuk menyerang sebuah benteng. Semua jenderal dan letnan hampir kehilangan 80% dari pasukannya, hanya Kyoko lah yang cuma kehilangan 30%. Oleh karena itu, Randika mengirim Polemos yang pandai menyamar untuk menemukan pola penjagaan di istana bawah tanah itu. "Tuan, sepertinya kita perlu mengisi kekosongan pasukan kita ini." Catherine menambahkan. "Masalah itu bisa diurus nanti." Kata Randika. "Jika kita berhasil membunuh Bulan Kegelapan, kekuatannya akan berpindah tangan pada kita. Aku sekarang ingin kalian fokus mencari informasi dan mengumpulkan senjata yang ada." Catherine mengangguk. Randika lalu menatap ke arah awan yang ada di jendela, seakan-akan dia bisa melihat wajah Bulan Kegelapan yang mengejek dirinya itu. Aku sendiri yang akan membunuhmu dengan kedua tanganku atas nama saudara-saudaraku yang telah kau bunuh! Chapter 211: Terkepung Dalam waktu yang singkat, para bawahan Randika ini bekerja dengan sangat cepat. Setiap orang mengejakan tugas mereka masing-masing dengan tekad yang bulat. Catherine mulai menyusun rencana dan mengambil alih seluruh tugas. Serigala melatih para tahanan yang berpotensi, sedangkan para letnan berpencar dan mencari keberadaan Yuna. Pada saat yang sama, Randika mengirim orang untuk pergi ke departemen intelijensi miliknya. Shadow memanglah yang memimpin departemen ini tetapi tidak semua orang di dalam departemen itu yang ikut berkhianat sepertinya. Beberapa orang masih setia dengan Randika. Randika juga mengirim Polemos untuk mengintai pergerakan pasukan Bulan Kegelapan di istana miliknya itu. Mungkin dengan mengetahui perubahan shift atau pola pergerakan, mereka akan menemukan celah untuk dimanfaatkan. Dalam beberapa hari informasi terus mengalir tanpa henti, jejak-jejak Bulan Kegelapan di Tokyo mulai terlihat semua. Tidak butuh waktu lama untuk Randika dkk untuk mengetahui letak di mana Yuna disekap. Mengetahui informasi tersebut, Randika langsung menyiapkan rencana untuk menyelamatkannya. Namun pada saat ini, di luar markas sementaranya ini, tiba-tiba ada suara sirene yang keras. Sepertinya suara ini berasal dari selusin mobil polisi. Di luar rumah, para pejalan kaki melihat mobil polisi itu menutup jalan dan menyebar. Semua orang terkejut karena tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi. Apa ada sarang teroris? Di antara para pejalan kaki tersebut, Kaori dan teman-temannya sedang berjalan menuju mall. Tetapi melihat polisi yang begitu banyak, mereka berhenti dan bertanya-tanya apa yang telah terjadi. "Masa di perumahan ini ada teroris?" Bisik salah satu perempuan. Para polisi langsung keluar dari mobil mereka dan memasang blokade. Laras senapan mereka semua tertuju pada satu rumah. Semua polisi kesatuan khusus ini sudah siap menembak apa pun yang keluar dari dalam rumah tersebut. "Kalian sudah terkepung." Salah satu dari mereka mengeluarkan alat pengeras suara untuk memberi peringatan pada para tersangka yang ada di dalam rumah. Sepertinya Bulan Kegelapan sudah mengetahui lokasi markas sementara Randika. "Menyerahlah dan keluar dari gedung dengan tangan di atas kepala. Kami tidak akan menembak, tetapi jika kalian melawan maka kami akan membalas tembakan kalian!" Kaori dan teman-temannya menjadi bersemangat, mereka belum pernah melihat adegan ala Hollywood ini secara langsung. Setelah 1 jam berlalu, sama sekali tidak ada pergerakan dari dalam rumah. "Aku akan memberi kalian 10 detik untuk keluar atau kami akan mulai menembak." Kata polisi tersebut yang sudah muak menunggu. "Sepuluh!" Sesaatnya polisi tersebut menghitung mundur, di bawah tatapan mata para polisi dan pejalan kaki, pintu dari rumah tersebut terbuka. Semua polisi langsung menjadi waspada dan jari mereka sudah bersiaga di pelatuk senjata mereka, siap untuk menembak kapan saja. Randika, beserta para bawahannya itu, berjalan dengan pelan menuju para polisi. Polisi yang membawa alat pengeras suara tersebut mengangguk puas. "Kalian adalah tersangka dari pembobolan penjara Shinra yang menewaskan banyak korban jiwa dan atas nama kepolisian Tokyo, kalian semua kami tangkap. Serahkan diri kalian dengan baik maka kami tidak akan menembak kalian." Ha? Apa aku tidak salah lihat? Kaori melototi sosok Randika yang berjalan di paling depan, pria itu adalah orang yang masuk ke dalam rumahnya! Tiba-tiba Kaori merasa sedih. Entah kenapa, dia tidak rela melihat sosok yang telah menyelamatkannya dari mantan pacarnya itu ditangkap. Dari interaksi mereka yang singkat itu, dia tahu bahwa Randika adalah pria yang baik. Pemimpin para polisi itu melambaikan tangannya dan dengan cepat beberapa polisi maju dan mengeluarkan borgol mereka. Pada saat ini, hati Kaori mengepal. Lari bodoh! Kenapa kamu tidak lari dari sini? Kaori sudah berteriak dengan keras di dalam hatinya, tetapi ekspresi Randika terlihat tetap tenang. Randika masih berjalan secara perlahan dan stabil, setiap langkah kakinya dia hentakan dengan mantap. Para bawahannya yang ada di belakangnya, ketika melihat beberapa polisi mengeluarkan borgol, menatap jijik pada mereka. Kalian pikir kalian bisa menangkap kami? Sebelum ini, ketika Randika belum menguasai dunia bawah tanah, seluruh polisi di Jepang selalu menundukan kepalanya pada mereka dan selalu meminta bantuan Randika jika ada masalah skala nasional. Dan sekarang mereka ingin menangkap mereka? Wajah Frank benar-benar tenang, tetapi tatapan membunuhnya berhasil dia sembunyikan dengan baik di balik topinya. Pada saat ini, tiba-tiba, terdengar suara tembakan! Dor! Dor! Empat tembakan itu sepertinya ditembakan dari satu senjata. Kemudian, empat polisi yang hendak memborgol Randika itu merasa ada cairan hangat yang keluar dari kepala mereka dan terjatuh di tanah dengan menyedihkan. Ketika mendengar suara tembakan dan menyadari bahwa keempat polisi itu tertembak mati, para pejalan kaki langsung lari tidak beraturan! Kaori yang berdiri linglung itu sudah ditarik oleh teman-temannya untuk segera pergi dari situ. Hampir semua polisi langsung mengarahkan senjata mereka ke arah belakang. Kali ini pemimpin dari para polisi ini benar-benar marah. "Siapa yang menembak!?" Sesaatnya dia menoleh ke belakang, semua orang melihat mobil hitam muncul di bagian paling belakang blokade. Tidak hanya satu, terlihat 10 mobil hitam hendak mendatangi mereka. "Pak lihat sebelah sana!" Seorang polisi dengan panik berteriak pada atasannya itu. Dengan cepat dia menoleh ke arah sisi jalan dan melihat mobil-mobil hitam tersebut telah mengapit mereka dari dua arah. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Polisi ini langsung merasakan firasat buruk di dalam hatinya. Siapa orang-orang ini? Para pejalan kaki yang berlarian itu juga bertanya-tanya, siapa yang tiba-tiba datang ke pesta ini? Di bawah tatapan semua orang, puluhan mobil sudah mengepung tempat ini dan memblokade jalur kabur dari para polisi ini. Saking banyaknya mobil hitam tersebut, orang sudah tidak bisa memastikan berapa banyaknya. Kemudian, secara tiba-tiba, pria berbadan besar dan teman-temannya keluar dari mobilnya dan membidik para polisi dengan senapan serbu mereka. GAWAT! Hati semua para polisi ini langsung mengepal ketika melihat senjata lawan mereka. Senjata yang dibawa oleh keempat orang tersebut adalah machine gun bertipe M240. Jika mereka beradu tembakan, jelas mereka akan kalah dengan mudah. Para polisi ini berlindung di balik mobil mereka, tidak berani bertindak gegabah. Seorang polisi menanyakan situasi ini di HT. "Pak, bagaimana ini?" Apa yang harus dilakukan? Bagaimana mungkin aku tahu apa yang harus kita lakukan? Pada saat ini, orang berbadan besar itu berkata dengan lantang. "Aku akan memberikan kalian 10 detik sebelum kubombardir kalian semua dengan peluru!" Sederhana namun menakutkan, kata-katanya itu berhasil membuat nyali para polisi ini menciut. Di bawah ancaman senjata yang begitu kuat, nasib mereka sudah jelas. Namun pada saat ini, pemimpin dari para polisi ini tidak boleh ragu. Mungkin keputusannya ini memalukan tetapi mati di tempat ini benar-benar tidak sepadan. "Kalian semua turunkan senjata kalian." Katanya lewat HT. Sesudahnya perintah itu terdengar, semua polisi ini bernapas lega di dalam hati mereka. Semua para pejalan kaki itu melihat kejadian unik ini dari jarak jauh. Semuanya terkejut bukan main ketika melihat para polisi itu membuang senjata mereka. Teman-temannya Kaori juga tidak kalah terkejut, mereka bertanya-tanya siapa orang-orang itu yang mampu membuat para polisi menyerah? Chapter 212: Berkunjung Kaori terus menatap sosok Randika yang ada di paling depan, hatinya menjadi lega ketika melihat para polisi membuang senjata mereka. Namun, sosok Randika sama sekali tidak bisa lepas dari ingatannya. Randika berjalan dengan santai menghampiri para bawahannya yang datang tersebut. Melihat sosok Randika yang berjalan melewati mereka, para polisi ini tidak berani berbuat macam-macam. Randika tentu saja mencueki para polisi tersebut, dan ketika para bawahan yang baru datang itu melihat Randika, mereka memasang tatapan penuh kagum. Orang-orang inilah pasukan yang melarikan diri atas perintah Dion sebelumnya, mereka bersembunyi dan menunggu sinyal untuk berkumpul. Mereka yakin suatu saat nanti, tuan mereka akan datang dan membalaskan saudara-saudara mereka yang telah gugur. Dan tentu saja, ketika mereka dipanggil, mereka mengetahui bahwa rumah aman Randika sedang dikepung. Mereka langsung menuju rumah tuan mereka berada. Melihat sosok kriminal yang tampaknya tidak peduli dengan dirinya, pemimpin para polisi ini merasa lega. Dia merasa lega bahwa penjahat ini tidak akan mengapa-apakan mereka. Namun, sepertinya dia salah sangka. Tiba-tiba Randika berhenti berjalan dan menghadap ke arahnya. Ini membuat jantungnya tidak bisa berhenti berdebar. "Berikutnya kalian semua tidak akan seberuntung ini." Kata Randika dengan santai lalu berjalan pergi. Para pria yang membawa M240 itu menatap dingin para polisi lalu masuk ke dalam mobil mereka dan pergi. Ketika semua mobil hitam itu semuanya pergi, jantung para polisi ini masih berdebar-debar. Mereka merasa bahwa mereka baru saja berhasil menghindari sabitan dewa maut. ......... Ketika kelompok Randika ini tiba di rumah aman yang berikutnya, mereka segera berkumpul di ruang tamu. Dengan lokasinya yang sebelumnya sudah ketahuan, Bulan Kegelapan berarti sudah mengerti bahwa Randika sudah bergerak. Pada saat ini, salah satu dari bawahannya menyampaikan pesan yang dia terima pada Randika. Dengan hati-hati dia mengatakan. "Tuan, kami menemukan beberapa petunjuk." "Petunjuk tentang apa?" "Bulan Kegelapan." Tangan Randika terlihat mengepal dan tatapan matanya menjadi dingin. "Bulan Kegelapan memiliki anak buah yang bernama Jason. Menurut informasi kami, Jason mengetahui lokasi Bulan Kegelapan." Randika berpikir sebentar dan memiliki ide. Karena Bulan Kegelapan telah menguasai Tokyo, seharusnya dia memiliki pengaruh di jajaran pemerintahan maka seharusnya gubernur Tokyo ini mengetahui sesuatu. Dia telah memutuskan untuk mengunjungi Gedung Pemerintahan Metropolitan Tokyo. Bersama dengannya adalah Raihan, Frank dan Catherine sementara yang lain akan terus mengumpulkan informasi dan pasukan yang lain. Namun, Randika tetap membawa puluhan orang bersamanya untuk ikut bersamanya. Sepertinya kunjungannya ini akan disambut dengan baik oleh polisi. Pada saat ini di Gedung Pemerintahan Metropolitan Tokyo. "BODOH!" Orang paruh baya yang memakai jas hitam itu melempar asbak yang ada di atas mejanya. Dia melototi Komisaris kepolisian Tokyo tersebut dengan tatapan tajam, dia tidak berhenti memarahinya. "Apa kalian tidak bisa bekerja dengan benar? Buat apa aku menggaji kalian selama ini hah? Nangkap satu orang saja kalian tidak bisa!" Komisaris ini juga sama kesalnya dengan sang Gubernur. Dari hari pertama Randika tiba di Tokyo, dia mendapatkan perintah untuk menangkapnya dan mengerahkan seluruh orang-orang terbaiknya untuk menangkapnya. Tanpa diduga, sampai detik ini buronan tersebut belum tertangkap dan penjara paling ketat mereka yaitu penjara Shinra telah hancur. Bisa dikatakan bahwa nama besar kepolisian Tokyo sudah tercoreng. Namun, Komisaris ini aslinya tidak berdaya. Dia hanya memberikan perintah dari atasannya dan menyampaikannya pada bawahannya. Dia sendiri tidak mengerti mengapa anak buahnya itu tidak bisa menangkap satu orang. "Aku akan memberimu satu minggu lagi. Kalau aku tidak melihat wajah orang itu di penjara, aku sendiri yang akan menjebloskanmu ke penjara!" Kata sang Gubernur. Komisaris ini mengangkat kepalanya dan memberi hormat. "Baik!" "Maafkan anak buahku yang tidak becus." Sang Gubernur nampak berkeringat ketika dia membungkuk meminta maaf pada sosok yang duduk di kursinya itu. Pada saat ini, orang berjas putih yang sedang duduk di kursi sang Gubernur tiba-tiba mengambil gelas winenya dan meminumnya. "Aku tidak peduli cara apa yang dipakai anak buahmu itu untuk menangkap targetku itu." Jason menatap si Gubernur. "Waktu yang tuanku berikan sudah hampir tiba. Jika kau tidak bisa menepati janjimu maka tuanku akan menarik kembali uangnya dan kau tidak akan punya uang sama sekali untuk mencalonkan diri kembali." Ketika mendengar kata-kata ini, si Gubernur makin berkeringat dan dengan cepat berjanji. "Tolong sampaikan pada tuan Bulan Kegelapan bahwa beliau tidak usah khawatir. Aku pasti menepati janjiku untuk menangkapnya. Aku hanya ingin beliau memberikanku sedikit waktu untuk menuntaskannya." Jason menggelengkan kepalanya. "Aku tidak berani menyampaikan berita buruk ini pada tuanku. Aku hanya bisa memberimu saran untuk menyelesaikan tugasmu itu secepat mungkin." Komisaris polisi ini masih berdiri di tempatnya. Ketika mendengar percakapan kedua orang ini, dia hanya bisa terdiam. Setelah menjilat Jason beberapa kali, si Gubernur melihat si Komisaris masih berdiri diam di tempatnya. Sambil marah dia membentaknya. "Buat apa kau masih ada di sini? Kerja sana dan tangkap orang itu secepat mungkin!" Komisaris polisi ini tampak mengerutkan dahinya, kenapa kau terus-terusan memarahiku ketika kau marah? Pada saat ini, seorang polisi tiba-tiba mengetuk dan masuk ke dalam ruangan. "Kenapa kau lama sekali? Kau tidak digaji untuk malas-malasan." Atasannya itu langsung menampar polisi tersebut, dia merasa lega ketika bisa melampiaskan kekesalannya ini. Setelah menenangkan diri, Komisaris itu bertanya dengan nada yang lantang. "Cepat katakan keperluanmu, apa kau tidak lihat bahwa kami sedang rapat?" Sambil tersenyum pahit, polisi itu berkata dengan lantang. "Berdasarkan informasi lapangan, lokasi target telah ditemukan dan telah dipastikan bahwa dia sedang menuju ke tempat ini." Mendatangi Gedung Pemerintahan Metropolitan Tokyo? Meskipun awalnya terkejut, si Gubernur kemudian tertawa. "Itu berita bagus, kita tidak perlu repot-repot mencari keberadaannya lagi." Si Gubernur lalu menoleh ke arah Jason. "Tolong beritahu tuan Bulan Kegelapan bahwa aku sudah memenuhi janjiku dan aku akan memberikan orang tersebut." Jason hanya tersenyum. "Akan kuberitahu beliau apabila kau sudah menangkapnya." Jason duduk dengan tenang. Dia bergabung dengan Bulan Kegelapan setelah tuannya itu berkhianat dan meninggalkan Randika jadi Jason sama sekali tidak tahu kehebatan Randika. Meskipun dia pernah mendengar kehebatan dan reputasi Ares, dia ikut menyerang istana dunia bawah tanah dan mengusir orang-orang yang ada di sana. Mengingat betapa mudahnya dia merebut tempat tersebut, dia merasa bahwa nama Ares benar-benar terlalu ditinggi-tinggikan. Dan sekarang Ares sedang menuju tempat dirinya berada, sepertinya misi kali ini akan selesai dengan cepat. Komisaris polisi itu langsung memerintahkan anak buahnya itu untuk segera turun dan mengumpulkan seluruh kekuatan kepolisian Tokyo. Sedikit ragu-ragu, polisi tersebut hanya bisa mengangguk. Melihat keraguan itu, atasannya itu bertanya pada dirinya. "Jika kau punya pendapat, katakan saja. Tidak ada salahnya mendengarkan pendapat para bawahan." "Sebelum ini kekuatan target benar-benar tidak masuk akal dan sekarang dia membawa beberapa orang bersamanya." Kata polisi tersebut. "Hah? Aku punya seluruh polisi dan senjata di kota ini, kau kira ratusan orang tidak bisa menghadapi beberapa orang?" Polisi tersebut merasa tidak berdaya dan akhirnya memilih untuk tidak berdebat lalu berjalan keluar. Saat si Komisaris menghela napas, suara dingin si Gubernur terdengar dari arah belakangnya. "Kau juga ikut keluar." Dalam sekejap dia terkejut tetapi ketika melihat tatapan dingin sang Gubernur, dia langsung keluar dengan terburu-buru. "Aku mengharapkan kau akan mengatakan hal-hal yang bagus mengenaiku pada tuan Bulan Kegelapan. Aku ingin kerja sama kita ini berlangsung lama." Kata si Gubernur. "Tidak masalah, kau tidak perlu khawatir." Jason juga tersenyum. Setelah beberapa saat, Komisaris kepolisian Tokyo tersebut kembali ke dalam ruangan dengan wajah panik. "Ada apa? Bukannya kau kusuruh pergi untuk menangkap orang itu?" Si Gubernur terlihat marah. "Ahˇ­ Anuˇ­ Orang itu berhasil masuk." Berhasil masuk? Melihat keringat dingin dan wajah panik bawahannya itu, si Gubernur merinding dan merasakan firasat buruk. Kali ini, Jason juga ikut bertanya-tanya. Musuh berhasil menerobos masuk tempat ini? Gedung Pemerintahan Metropolitan Tokyo merupakan tempat terpenting di kota Tokyo, penjagaan dan pertahanan yang ia miliki seharusnya setara dengan Gedung Putih di Amerika. Dan sekarang musuh berhasil masuk ke gedung ini? "Ulang lagi kata-katamu itu." Si Gubernur masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Saking marahnya, dia membentak tepat di wajah bawahannya itu. "Dia yang mengatakannya." Si Komisaris sudah muak dibentak-bentak jadi dia mengarahkan kemarahan Gubernur ke anak buahnya. Gubernur berdiri di hadapan si polisi tersebut dan dengan cepat dia mengatakan. "Maafkan kami pak, tidak ada orang yang bisa menghentikan mereka." Kali ini si Gubernur benar-benar pusing. Bagaimana bisa musuhnya itu masuk ke gedung ini? Ini semua berbeda dengan apa yang dia bayangkan. "Cepat kita ke ruangan CCTV." Kata si Gubernur dengan cepat. Semua yang ada di ruangan itu, termasuk Jason, segera menuju ke ruangan CCTV untuk melihat apa yang telah terjadi. Pada saat yang sama, orang-orang yang dibawa oleh Randika sepertinya mengamuk secara membabi buta. Semua kekuatan yang menghalangi mereka akan dibunuh tanpa ampun. Orang-orang yang dilatih oleh Serigala ataupun Dion itu sama sekali tidak mengenal takut. Mereka menyerang polisi yang bersenjatakan lengkap itu dengan gagah berani. Seluruh staff pemerintah yang menglihat invasi ini sudah meringkuk ketakutan. Mereka menyaksikan para polisi terbunuh oleh para setan tersebut. "Siapa kalian!?" Seseorang memberanikan diri untuk menghalangi laju Randika dkk. "Ini adalah gedung pemerintah, kalian telahˇ­." Bahkan sebelum dirinya selesai berbicara, sebuah pedang sudah melayang dan kepala orang tersebut sudah berguling di lantai. AH!!! Semua orang yang melihat adegan ini makin ketakutan dan lari tidak karuan. "Lantai mana Gubernur kalian itu berada?" "Lantai 10, lantai 10ˇ­ Tolong lepaskan aku." Orang yang ditanyai oleh Raihan itu sudah ketakutan, pedang yang ada di samping lehernya itu membuatnya berkata sejujur-sejujurnya. Pada saat ini, terlihat banyak pasukan polisi dengan tameng anti ledakannya datang menghampiri Randika dkk. "Aku akhir-akhir ini menyempurnakan jurus baru, kamu mau melihatnya?" Kata Raihan pada Randika sambil menatap pasukan semut itu. "Boleh." Jawab Randika. Setelah itu, pedang yang dibawa Raihan itu berdengung dan menghasilkan suara yang menggetarkan hati. Ketika Raihan melangkah, sosoknya bagaikan petir dan sudah menghilang. Ketika dirinya muncul kembali, Raihan sudah berada di bagian paling belakang dari pasukan polisi tersebut. Pedangnya yang berdengung itu sudah bersimbah darah. Dalam sekejap dia membelah semua orang tersebut! Orang-orang yang ikut menyerang gedung ini menatap Raihan dengan tatapan kagum. Raihan, sang crownless king, sangat jarang menunjukan kemampuannya tetapi ketika dia melakukannya, kemampuannya selalu membuat kagum orang-orang. Randika mengangguk ketika melihat jurus tersebut, sepertinya kemampuan berpedang Raihan meningkat lagi. Benar-benar orang jenius! Untuk mencegah kaburnya si Gubernur, Randika membagi pasukannya menjadi beberapa kelompok. Mereka akan mengawasi lift, tangga dan pintu keluar. Melihat orang-orang itu mulai naik dari CCTV, tubuh si Gubernur mulai bergetar. Polisi yang ada di sampingnya sudah berkeringat deras. Mereka semua tidak menyangka bahwa lawannya itu benar-benar mengerikan. Seharusnya dia tidak mencalonkan diri sebagai Gubernur. "Bapak tenang saja, aku sudah mengirim semua orang untuk menghentikan mereka." Komisaris polisi itu berkata dengan nada yang serak. Chapter 213: Rumah Bangsawan Hiroyuki Namun, semua orang yang ada di ruangan itu dapat melihat dari CCTV bahwa orang-orang yang datang itu bagaikan binatang buas. Mau berapa pun yang menghadang mereka, pasukan para polisi ini sama sekali tidak berdaya menghadapi mereka. Bahkan tidak butuh waktu lebih dari 1 menit untuk membereskan orang-orang yang berani menghalangi mereka. Kecepatan membunuh lawan benar-benar luar biasa. Satu lantai penuh tidak membutuhkan waktu 5 menit untuk mengamankannya. Si Gubernur sudah tidak tahu harus berbuat apa, tubuhnya tidak bisa berhenti bergetar dan tenggorokannya benar-benar kering. "Apa kalian bisa menahannya?" Tanya si Gubernur. Komisaris polisi itu melihat anak buahnya dibantai dengan begitu mudah, mau tidak mau dia menjadi ragu. "Anda tidak perlu khawatir." Katanya sambil berkeringat deras, jelas dia juga berusaha meyakinkan dirinya juga. Jason yang seruangan dengan mereka mulai gemetaran. Dia merinding ketika melihat kemampuan Raihan yang menghabisi lawannya dalam sekejap. Bawahannya saja sudah sekuat itu, apalagi yang bernama Ares. Barulah saat ini Jason menyadari bahwa nama Ares sama sekali bukan isapan jempol belaka. "Apa kalian tidak punya pintu keluar yang lain?" Tanya Jason dengan cepat. "Tidakˇ­" Kata si Gubernur dengan nada sedih. "Seluruh pintu keluar sudah mereka kuasai, jika kita ingin kabur tanpa bertemu dengan mereka mungkin lebih baik kita lompat dari jendela." Lompat dari jendela? Jason benar-benar muak ketika mendengar saran si Gubernur, lompat dari lantai 10? Bercanda ya? Randika bersama pasukannya terus membantai menuju ke lantai 10. Setiap orang yang berani menghalanginya akan terbunuh, tiada ampun bagi mereka. Bahkan para polisi sudah mulai kehilangan keberanian mereka, satu per satu mulai membuang senjata mereka dan melarikan diri. Tidak butuh waktu yang lama bagi Randika tiba di lantai 10. Sekeluarnya dari lift, Randika menatap para polisi yang bersiaga di depan pintu. Mereka sama sekali tidak berbicara dan memegang erat senjata mereka sambil berkeringat deras. Tatapan mata mereka penuh kengerian tetapi mereka tidak bisa meninggalkan tempat ini begitu saja. Di dalam ruangan, si Gubernur dan yang lain bisa melihat bahwa Randika dan pasukannya sudah berada tepat di luar ruangan mereka. Mereka menjadi panik tidak karuan. Menatap pintu sambil mengerutkan dahinya, Jason tidak bisa berhenti berkeringat. Satu-satunya yang menghalangi Randika dan dirinya adalah para polisi yang sudah disuapnya itu. Namun pada saat ini, suara tembakan senjata terus terdengar. Tiba-tiba, pintu ruangan itu terbuka dan terpental dari engselnya. Pintu itu menabrak para pengawal yang ada di dalam ruangan. DUAK! Menabrak dengan keras, orang-orang itu hanya bisa meringkuk kesakitan. Randika yang berjalan masuk melihat 3 orang yang masih berdiri, para bawahannya menunggu di luar ruangan. Ketika semua mata terfokus pada Randika, Raihan sudah bersiaga dengan pedangnya. Menatap Randika, si dewa maut itu, berjalan menghampirinya, si Gubernur benar-benar ketakutan. "Apa maumu!" Randika sama sekali tidak memperhatikannya, tujuannya hari ini adalah Jason. "Asalkan kau tahu, membunuhku berarti kau mengajak perang satu negara ini! Jangan harap kau bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup!" Kata si Gubernur dengan nada suara yang serak, dia berharap bisa menakut-nakuti Randika. Randika hanya mengerutkan dahinya. "Berisik!" Sesudahnya Randika berkata seperti itu, dia langsung memberikan si Gubernur satu pukulan tepat di wajahnya. Seakan-akan langitnya berputar, si Gubernur langsung terjatuh di lantai. "Pak, kau baik-baik saja?" Dengan wajah cemas, si Komisaris polisi itu segera menghampiri atasannya itu. "Akuˇ­ baik-baik saja." Si Gubernur berusaha berdiri dan bertatap-tatapan dengan Randika, dia sama sekali tidak berani berbicara. Merasakan tatapan lawannya yang tajam, Jason berusaha menenangkan diri dan memberanikan diri untuk bertanya. "Apa maumu?" "Apa kau Jason?" Tanya Randika dengan santai. "Kalau iya kenapa? Kalau tidak bagaimana?" Jawab Jason dengan nada dingin. "Kau memang anak buahnya." Randika tersenyum dan menoleh ke arah pasukannya. "Perlakukan dia sesuka hati kalian, tetapi ingat, aku perlu dia menjawab pertanyaanku." "Apa maksudmu itu?" Mendengar kata-kata itu, Jason merasakan firasat buruk. Terlebih ketika pasukan Randika itu tersenyum melihat dirinya. Menyiksa orang yang sudah membunuh saudara seperjuangannya merupakan salah satu kegiatan yang mereka suka. Kaki dan tangan tidak dibutuhkan ketika menjawab pertanyaan bukan? Jason melihat beberapa orang yang berlumuran darah itu mengepung dirinya. Tidak ingin terkepung, Jason langsung menerjang maju dan melayangkan pukulannya. Yang paling membuatnya terkejut adalah pukulan kerasnya itu sama sekali tidak membuat lawannya itu mundur! Jason benar-benar terkejut, tiba-tiba dia merasa bahwa baju bagian belakangnya ditarik dan dirinya terpental. Sesaatnya dia berusaha berdiri, tiba-tiba sudah ada orang yang berdiri di atasnya. "Kalian semua akan mati!" Jason yang diinjak itu menjadi marah, beberapa orang yang melihatnya yang begitu angkuh di depan tuannya langsung menghajarnya. Randika melihat hal ini dengan santai, dia berjalan menuju kursi dan duduk sambil meminum wine. "Hidup kalian para politikus memang mewah." SI Gubernur sama sekali tidak menjawab. Ketika melihat Jason dipukuli habis-habisan, dia sama sekali tidak berani bertindak gegabah. Raihan memperhatikan Jason yang dipukuli itu dengan tatapan jijik, orang lemah itu tidak pantas melawan pedangnya. Jason memang angkuh awalnya tetapi setelah menerima pukulan demi pukulan, nyalinya menjadi ciut. "Tolong ampuni aku, apa pun yang ingin kalian tahu akan kukatakan." Darah sudah mengucur dari segala badannya dan salah satu anak buah Randika menjilati darah tersebut. "Orang lemah sepertimu tidak pantas berbicara pada tuanku, kau benar-benar sampah." "Iya, iya, aku memang sampah dan tidak layak berbicara. Aku mohon jangan bunuh aku." Jason sudah berurai air mata, memohon untuk tidak dibunuh. Lebih dari 10 orang menghajarnya bergantian, dia tidak tahu pukulan mana yang akhirnya akan membunuhnya. Dan dia juga tahu, ini masih tahap awal dari penyiksaan mereka. Gubernur dan orang-orangnya hanya bisa melihat adegan ini dengan terdiam. Randika lalu berkata dengan nada serius. "Aku hanya akan menanyakan satu pertanyaan." Jason menatap Randika lekat-lekat, menunggu pertanyaannya. "Kau pasti tahu lokasi Bulan Kegelapan bersembunyi kan?" Hati Jason langsung mengepal. Tentu saja dia tahu, ternyata jalan keselamatan semurah itu! "Jika aku mengatakannya, kau harus melepaskanku!" Jawab Jason. Tetapi, orang di sebelahnya tiba-tiba menamparnya. "Cepat katakan atau kami akan membunuhmu!" "Rumah bangsawan Hiroyuki, Bulan Kegelapan akhir-akhir ini berada di sana." Kata Jason dengan cepat. Randika lalu berdiri dan menghampiri Jason. "Aku sudah mengatakan apa maumu, cepat lepaskan aku!" Jason menatap tajam pada Randika. "Aku sama sekali tidak berjanji untuk melepaskanmu, lagipula bagaimana kalau kau itu berbohong?" Randika lalu berjalan keluar sedangkan Jason diikat dan dibawa oleh pasukannya. "Tunjukan jalannya." Kata Randika dengan tegas. Dengan begitu, Randika berjalan menuju lift dan meninggalkan gedung pemerintahan ini. Ketika melihat sosok Randika yang pergi, Gubernur dan Komisaris polisi menghela napas lega. Seakan-akan gunung yang menindih dada mereka itu telah lepas. Nyawa memang harta yang paling berharga! Chapter 214: Perang Dalam Gedung Setelah mendapatkan informasi keberadaan Bulan Kegelapan ini, Randika segera menginfokannya pada pasukannya yang ada di rumah aman. Dengan begitu, para pasukannya itu bisa menyusul dirinya dan berkumpul di rumah bangsawan Hiroyuki. Randika juga membawa Jason bersamanya sebagai pemandu jalan. Jadi kalau dia berbohong, Randika bisa menyiksanya untuk memberikan lokasi yang benar. Rumah bangsawan tersebut berada di pinggiran kota Tokyo. Rumah ini mencakup wilayah yang sangat luas, bahkan memiliki lapangan golf dan danau buatannya tersendiri. Gedung rumahnya juga sangat luas dan tinggi. Di setiap jengkal dari rumah ini terlihat para penjaga yang bersenapan dengan wajah yang serius, seakan-akan mereka mengetahui bahwa musuh sebentar lagi datang. Di dalam rumah, Bulan Kegelapan dan Shadow sedang duduk dengan wajah yang cemas. Suasana ruangan itu benar-benar menyesakkan. "Kamu bilang bahwa dia sedang menuju ke sini?" Tatapan mata Bulan Kegelapan terlihat panik. Dia tidak menyangka bahwa Randika akan datang secepat ini. Shadow mengangguk. "Jason tidak memberi kabar pada kita sejak 1 jam yang lalu, jelas ada yang aneh. Mengingat sifat Ares, dia sepertinya berhasil mengetahui keberadaan Jason dan membuatnya mengatakan lokasi markas kita. Jadi kemungkinan besar dia sudah berada di dekat kita." "Kalau begitu kenapa pasukan kita diam saja?" Bulan Kegelapan mengerutkan dahinya. "Jangan, kita perlu dia menghampiri kita." Tatapan mata Shadow penuh dengan percaya diri. "Maksudmu apa?" Bulan Kegelapan terlihat bingung. "Tidak peduli seberapa kuat Ares, dia tetaplah manusia. Untuk membunuh orang, kita tidak perlu menggunakan senjata ataupun pisau. Mencabut nyawa orang itu memiliki berbagai macam cara." Kata Shadow. "Di sinilah ruangan rahasia yang kita bangun akan berguna." Mendengar saran Shadow yang cemerlang itu, Bulan Kegelapan menjadi tenang kembali. Sambil tertawa jahat, Bulan Kegelapan merangkul Shadow di tangannya dan mengatakan. "Kamu memang benar, kali ini dia akan mati di tangan kita!" .......... Tidak lama kemudian, Randika dan yang lain sudah sampai di depan rumah bangsawan Hiroyuki ini. Dari kejauhan, rumah ini benar-benar seperti kastil yang berdiri di tengah padang rumput. "Kali ini biarkan aku yang memimpin pasukan kita! Aku tidak akan mengecewakan tuanku!" Kata Singa dengan penuh semangat. Meskipun kastil itu terlihat sepi dan mencurigakan, semangat Singa untuk balas dendam tidak bisa dipadamkan. "Biar aku saja." Kyoko maju ke depan dan membungkuk ke arah Randika, matanya sudah tidak sabar mencicipi darah musuhnya. "Hei jangan menyerobot!" Singa menjadi marah. "Jangan mentang-mentang kamu perempuan jadi seenaknya." "Kamu takut peranmu diambil lagi?" Kata Jin sambil tertawa. Di saat bawahannya ini bercanda, Randika dan Catherine melihat rumah yang besar itu sambil mengerutkan dahi. Setelah berpikir sejenak, Randika akhirnya memutuskan. "Kyoko, Singa, Serigala dan Jin, bawalah pasukanmu dan seranglah dari depan." Keempatnya langsung terlihat gembira karena mendapatkan kehormatan untuk menyerang pertama. Kyoko, bersama pasukan perempuannya, mendekati rumah aneh itu dengan cepat sedangkan yang lain mengekori mereka. Pada saat mereka berjalan melewati halaman rumah yang luas, tiba-tiba kematian muncul dari balik tanah! Di rerumputan yang terlihat biasa itu, tiba-tiba terbuka dan dari lubang itu muncul puluhan senapan mesin tipe PK milik Rusia. Pada saat yang sama, rumah yang terlihat sepi itu tiba-tiba muncul puluhan orang. Semua orang tersebut juga membawa senjata serbu dan mengarahkannya pada pasukannya Kyoko dkk. Randika yang melihat ini dari kejauhan mengerutkan dahinya. Tidak ada jalan lain bagi Kyoko, Singa dan Jin, yang ada hanyalah baku hantam! Melihat senapan mesin tersebut, Kyoko langsung bertindak dan melemparkan kunainya. Karena serangannya ini membutuhkan kecepatan, persenjataan pasukannya tidak terlalu kuat jadi mereka kalah senjata. Di saat lubang-lubang di taman itu muncul, Kyoko sudah melayangkan kunainya ke arah senapan mesin tersebut. Berselimutkan cahaya matahari, kunai dengan kecepatan tinggi itu mengenai senapan mesin dengan kuat. "Shua shua" Suara kunai membelah senapan mesin terus terdengar, ketajaman kunai milik Kyoko benar-benar luar biasa. Dengan benang tipisnya itu, Kyoko dapat mengatur laju kunai miliknya dan menyerang senapan mesin itu bertubi-tubi. Singa juga sama buasnya, dia mengandalkan kecepatannya dan menghancurkan senapan mesin yang ditemuinya. Ketika dirinya dihujani peluru, dia masuk ke dalam lubang dan mencabut senapan mesin tersebut dan menembakannya dengan membabi buta. Melihat adegan pertempuran yang menyenangkan seperti ini, Raihan bergerak dari samping Randika dan memasuki medan pertempuran. Pedangnya berdengung seakan-akan sama bersemangatnya dengan tuannya. Dengan sekali tebas, tidak ada yang bisa bertahan darinya. Namun, pasukan Bulan Kegelapan juga bukan orang sembarangan. Mereka menembakan senjata mereka dan memojokan pasukannya Randika. Bermodalkan senjata yang lebih berat, mereka berhasil membalikan keadaan. Tetapi, pasukan yang dilatih oleh Serigala itu benar-benar tidak kenal takut. Mereka menggunakan badan mereka untuk menghalangi peluru agar teman-temannya yang lain bisa menghancurkan senapan-senapan mesin yang ada. Para prajurit Kyoko dan Singa terus menerus menghancurkan persenjataan Bulan Kegelapan. Jin juga tidak mau kalah, dengan menggunakan senapan mesin musuh, dia menembaki orang-orang yang ada di rumah. Dalam 2 menit, seluruh senapan mesin berhasil mereka atasi tetapi dengan kompensasi korban yang besar. Di sisi Bulan Kegelapan, korban mereka juga tidak kalah besarnya. Melihat medan tempur tersebut, suasana hati Randika benar-benar tidak bagus. Dia menebak bahwa Bulan Kegelapan mendapatkan bantuan dari Vulcan, si mekanik, untuk menyusun perangkap-perangkap seperti ini. Vulcan merupakan salah satu bawahan Randika yang cerdas dan calon yang akan menggantikan salah satu dari 8 letnan apabila posisinya kosong. Tetapi tanpa diduganya, Vulcan membelot dan mengikuti Bulan Kegelapan. Keahliannya dalam membuat perangkap dan menangani persenjataan membuatnya layak mendapatkan perhatian. Pertarungan terus berlanjut, hujan peluru terus terjadi. Namun yang menggetarkan medan tempur ini adalah Raihan dan pedangnya. Bahkan hujan peluru yang padat tidak bisa menghentikannya, pedangnya yang berlumuran darah itu terus menerus mencabut nyawa lawannya tanpa ampun. Kyoko dan Serigala terus maju mengikuti Raihan. Kunai milik perempuan ini terus menerus melayang dan mencabut nyawa. Di bawah pengawalan dan kepimpinan kedua jenderal ini, pasukan Ares ini terus melangkah maju. Pada saat ini, mata Randika menyadari pergerakan di gedung rumah. Sebuah meriam kuno terlihat didorong maju. Hati Randika langsung mengepal, itu adalah senjata ciptaan Vulcan. Meskipun meriam itu terlihat kuno, meriam tersebut bisa ditembakan secara terus menerus dengan kekuatan yang dahsyat. Raihan juga menyadari keberadaan meriam besar itu. Ketika dia berlari dan mengumpulkan kecepatan untuk menghancurkan meriam itu, seorang pria dengan celana pendek merah tiba-tiba hendak menyerangnya. Orang itu datang dari arah atas dengan serangan satu kakinya. Serangan kaki tersebut menyimpan momentum yang dihasilkan gravitasi dan membuat Raihan harus menghindarinya. Namun, si algojo ini bukanlah orang pengecut. Memanfaatkan kecepatannya yang sudah tinggi, dia menghentakan kakinya dan melayang ke arah musuhnya bersama dengan pedangnya! Tetapi lawannya kali ini bukan sembarangan, serangan satu kaki itu berubah dan memanfaatkan ujung pedang Raihan sebagai pijakan dan melompat ke arah belakangnya. Ketika Raihan mendarat, dia mengerutkan dahinya ketika menatap orang tersebut. Raja Thai Boxing, Atid! Beberapa orang yang mengikuti Raihan juga dicegat oleh beberapa ahli bela diri lainnya. Di depan Kyoko, berdiri seorang perempuan dengan dress berwarna biru. Dengan berwajah dingin, perempuan cantik itu menembak 3x ke arah Kyoko tanpa ragu-ragu! Hal ini membuat Kyoko mengambil kembali kunainya dan memblokirnya. Setelah berhasil bertahan dari tembakan tersebut, Kyoko menatap si pengkhianat itu dengan mata dinginnya. Perempuan ini dulunya adalah anak buahnya, orang yang dia percaya dan dilatih olehnya. Namun, tanpa diduga dia ikut berkhianat ketika Bulan Kegelapan menyerang. Di depan Serigala, ada pria bertindik menghalanginya. Ototnya sudah bagaikan gunung, benar-benar besar! Melihat lawannya itu, Serigala mau tidak mau menelan air ludahnya. Beruang putih, ahli bela diri yang termasuk peringkat 25 dalam daftar Dewa! Dalam sekejap dia sudah menerjang maju dan beradu pukul dengan Serigala, pertarungan mereka sudah mirip seperti gulat. Para pentolan dari pasukan Ares ini dihadang oleh ahli bela diri dan mau tidak mau mereka harus bertarung agar bisa terus maju. Sementara itu, meriam buatan Vulcan itu terus menembak. Para pasukan Kyoko dan Serigala itu tidak dapat menghindar tepat waktu dan langsung tewas di tempat. Wajah Singa sudah benar-benar buruk. Ternyata menginvasi rumah ini jauh lebih sulit dari dugaannya. Jika situasi ini berjalan seperti ini terus, maka pasukan mereka akan hancur tak tersisa. Pada saat ini, Randika sudah tidak tahan lagi dan sama sekali tidak bisa diam. Dengan satu hentakan kaki, badannya melayang bagaikan guntur! Sang Ares telah tiba di medan tempur! Pasukannya langsung bersorak ketika melihat sosok pemimpinnya itu maju bersama mereka, semangat tempur mereka naik drastis. Randika benar-benar cepat, dia mengelak hujan peluru ataupun tembakan meriam dan terus maju. Di sisi Bulan Kegelapan, mereka mengetahui bahwa Ares telah masuk ke dalam medan tempur. Seluruh senjata mereka sekarang membidik ke arah musuh terbesar mereka itu! Randika sama sekali tidak melambat, malahan dia semakin cepat dan sudah berada dekat dengan gedung rumah tersebut. Melihat keberadaan Randika, para ahli bela diri itu ingin mencegatnya. Tetapi, Raihan dkk tidak membiarkan mereka pergi begitu saja. Pertempuran para ahli bela diri ini justru semakin sengit! Para bawahan Bulan Kegelapan sudah membidik laras senapan mereka ke arah Randika dan menembaknya secara membabi buta. Namun, ahli bela diri yang seharusnya berada di samping Bulan Kegelapan tiba-tiba keluar dan menerjang ke arah Randika! Tatapan mata Randika menjadi dingin, tiba-tiba tenaga dalamnya sudah menyebar dengan cepat dan kecepatannya makin meningkat. Saking cepatnya, tangannya seakan-akan bertambah menjadi 6! Dalam sekejap, seluruh orang yang menghampirinya sudah dia pukul dengan kejam. Randika memasuki rumah dengan selamat. Kemudian dengan tenaga dalam mengalir deras di kakinya, dia menghentakan kakinya dan semua orang di sana kehilangan keseimbangannya! Telapak tangannya juga mengarah ke deretan orang yang ada di dekat jendela. Ledakan tenaga dalamnya mengenai mereka dan membuat mereka terjatuh ke lantai. Dengan begitu, daya tempur rumah ini langsung berkurang separuh dan membuat pasukannya di luar dapat maju dengan aman. Randika lalu berputar dan menyerang dengan kakinya, seorang yang berniat menikamnya itu terpental. Pada saat yang sama, dia melayang dan menuju ke bagian kanan. Seorang ahli bela diri yang bersembunyi di kegelapan langsung dia hajar tanpa ampun. Dengan kekuatan Randika yang meluap-luap, kaki si ahli bela diri tersebut patah dan tidak bisa berjalan lagi! Ares memperlihatkan kemampuan perangnya dengan maksimal. Seluruh rumah dia porak porandakan sendirian. Namun, di tengah aksinya itu, Randika bertemu dengan mantan anak buahnya yaitu Vulcan. Tiba-tiba, tatapan mata Randika menjadi dingin. Chapter 215: Jangan Coba-Coba Untuk Kabur! Sesaatnya matanya menatap sosok Randika, Vulcan tidak bisa menahan dirinya untuk tidak merinding dan berkata dengan nada ketakutan. "Tuanˇ­ Aku tidak bermaksud untuk berkhiaˇ­" Namun, bahkan sebelum Vulcan selesai berbicara, Randika sudah menghilang bagaikan asap dan memberikannya pukulan mematikan! Semua ahli bela diri yang ada di gedung langsung menerjang ke arah Randika, tetapi kekuatan Randika sekarang benar-benar melambangkan Ares sang Dewa Perang. Di sekelilingnya puluhan orang berusaha mengambil nyawanya, tetapi bahkan mereka sama sekali tidak bisa menahan dirinya. Karena pengaruh Randika, kondisi medan tempur menjadi berbalik. Singa dan Jin langsung memimpin pasukannya menuju lokasi Randika. Jin sudah bagaikan kelinci yang melompat-lompat. Sesaat dia di kiri dan sesaat dia di kanan, benar-benar lincah! Dia meraung dan mendarat di salah satu musuhnya dan mencabik telinganya hingga putus. Orang tersebut langsung tersungkur kesakitan dan Jin kembali melompat. Sambil membawa tubuh lawannya itu, Jin melemparnya dengan keras ke musuhnya yang lain. Singa, dengan senapan mesin di tangannya, menerjang maju dan menembak secara membabi buta. Pertahanan musuh menjadi kocar-kacir. Dion yang raksasa itu juga tidak mau kalah, dia mengambil senapan mesin lawan dan ikut menerjang maju. Di tangannya senapan mesinnya sudah bagaikan sabit dewa maut, nyawa demi nyawa dia panen bagai padi. Sementara itu, pihak Bulan Kegelapan juga tidak mau kalah, mereka juga ikut menerjang maju. Meskipun barisan belakang mereka diserbu oleh Randika, mereka harus bertahan dari serangan depan musuh. Kedua belah pihak bertempur dengan sengit, situasi semakin memanas. Karena peluru senapan mesin terlalu lama untuk diganti, sekarang kedua belah pihak mengeluarkan pedang ataupun pisau mereka. Sesaatnya bilah pedang mereka bertemu, jeritan tragis selalu terdengar. Perang seperti ini merupakan spesialis pasukan milik Kyoko. Seseorang dari pasukannya tersebut menebas putus tangan musuhnya meskipun dirinya tertikam di bagian perut. Mencabut pisau yang tertancap, perempuan itu tertawa dan kembali bertarung sambil bertaruh nyawa! Di tengah kekacauan ini, Raihan, Serigala dan Kyoko masih disibukkan dengan lawannya sebelumnya. Bisa dikatakan sebagian besar orang dalam daftar Dewa sudah bekerja sama dengan Bulan Kegelapan tetapi itu sama sekali tidak dapat menahan para jenderal pasukan Ares ini. Raihan memperhatikan gerakan lawannya yang merupakan raja dari Thai Boxing ini. Lawannya ini benar-benar lincah, terlebih dia sangat berhati-hati dengan pedang milik Raihan. Namun, bergerak selincah itu untuk jangka waktu yang lama akan membuat orang cepat lelah, sekarang tugasnya adalah mencari celah dan membunuhnya dalam satu gerakan. Serigala masih bertarung dengan Beruang Putih. Keduanya bertarung dengan tangan kosong tetapi pukulannya sama-sama mematikan. Senjata mereka adalah otot dan pukulan mereka, keduanya terus menerus bertukar pukulan. Kesimpulannya, mereka bertukar pukulan hingga salah satu dari mereka pingsan. Benar-benar cara bertarung seorang pria sejati! Beruang Putih mulai kewalahan, tiap pukulan Serigala bagaikan baja menghantam wajahnya tetapi dia tidak berniat mati hari ini. Di lain sisi, Kyoko dan mantan anak buahnya itu juga masih bertarung. Tembakan peluru lawannya itu membuat Kyoko selalu bertahan. Setiap tembakannya benar-benar akurat, hal ini membuat Kyoko kesusahan mendekatinya. "Ternyata kemampuan dari seorang jenderal yang dikatakan terkuat itu cuma segini." Perempuan itu mendengus dingin. "Seharusnya akulah yang memimpin pasukanmu itu!" "Oya?" Kata Kyoko dengan nada dingin. Di balik bajunya, dia sudah mempersiapkan kunainya. Dari titik butanya, dia melemparkan kunainya yang tentu dia bisa manipulasi arahnya dengan mudah. Ketika lawannya itu terus menembakinya dengan dua pistolnya, dia sama sekali tidak menyadari keberadaan kunai tersembunyi tersebut. Ketika Kyoko terlihat sibuk menghindari hujan peluru itu, kunainya kian mendekati lawannya dari belakang. Saat dirinya sedang bersemangat berusaha membunuh mantan atasannya itu, mantan anak buah Kyoko ini tiba-tiba merinding. Suara pisau membelah udara terdengar dari belakangnya, memaksanya untuk menghindar. Namun, kunai tersebut bukanlah kunai sembarangan. Ketika benangnya ditarik, kunai tersebut terlihat membelah dan menjadi beberapa kunai! Ketika dirinya hendak memblokirnya dengan kedua senjatanya, semua sudah terlambat. Kunai tersebut berhasil memotong leher lawannya dengan mudah dan kepala perempuan tersebut sudah melayang tinggi! Di dalam gedung, Randika masih memporak porandakan tempat itu seorang diri. Orang-orang yang menerjang dirinya sudah dia bunuh satu per satu. Tidak ada orang yang bisa menahan amarah Ares sang Dewa Perang! Tetapi Randika tidak bisa terus menerus bertarung seperti ini. Setelah memeriksa sekelilingnya, dia menyadari bahwa pertarungan ini sudah dikuasai oleh pasukannya. Para pasukan Bulan Kegelapan itu sudah kewalahan dan satu per satu mulai melarikan diri. Para jenderal juga sudah hampir selesai menghadapi lawannya. Ketika raja Thai Boxing, Atid, menendang, Raihan mengambil kesempatan. Awalnya, Atid memanfaatkan celah ketika Raihan kehilangan keseimbangan dan menendangnya. Namun tanpa diduganya, Raihan memanfaatkan pedangnya sebagai pijakan dan menerjang ke arahnya! Atid sama sekali tidak menyangka serangan Raihan tersebut, dia sama sekali tidak bisa menghindarinya dan tertusuk oleh pedangnya. Pada saat ini, nasibnya sebagai ahli bela diri sudah berakhir. Serigala juga berada di posisi unggul, ketika dia masih beradu pukul dengan Beruang Putih, dia menghindarinya dan memukul tepat di mata lawannya. "AH!" Matanya benar-benar mendapatkan pukulan telak dan tidak bisa terbuka lagi. Ketika dirinya kesakitan, Serigala memanfaatkan kesempatan ini untuk menendang kakinya hingga membuat lawannya terjatuh. Bisa dikatakan bahwa pertarungan di halaman itu sudah hampir berakhir. Seluruh pasukannya sedang menuju tempat dirinya berada. Setelah menatap medan tempur, Randika segera menuju ke lantai teratas gedung rumah ini. Bulan Kegelapan seharusnya sudah menyadari situasi pertempuran di luar. Menurut sifat lawannya itu, jika dia sama sekali tidak keluar untuk bertarung maka hanya ada satu kemungkinan. Bulan Kegelapan berniat untuk kabur! Tetapi Randika tidak akan membiarkannya. Setelah berkhianat, membunuh anak buahnya, menghancurkan markasnya, Randika tidak akan membiarkan Bulan Kegelapan kabur. Dia akan membunuhnya dengan kedua tangannya sendiri! Semua orang yang berniat untuk mencegahnya akan dia hajar tanpa ampun, setiap pukulan ataupun tendangannya mengandung aura membunuh yang kuat! Sesampainya di atas, Randika memeriksa seluruh ruangan dengan penglihatan supernya. Kosong! Apakah dia sudah kabur? Randika mengerutkan dahinya, dan pada saat ini, Bulan Kegelapan dan Shadow sudah berada di depan jendela. Mau melompat keluar? Dengan cepat Randika menyusul kedua pengkhianat tersebut dan mendarat di lantai paling bawah. Di kepalanya hanyalah keinginannya untuk membunuh mereka berdua. Jika tidak, maka Randika sama sekali tidak bisa tenang. Ketika sesampainya mereka di bawah, Bulan Kegelapan dan Shadow berlari dan menuju ke pintu yang mengarah ke bawah tanah. Randika tidak ragu-ragu mengikuti mereka dan masuk ke dalam. Tidak lama kemudian, ruangan bawah tanah yang gelap ini akan menjadi tempat pertempuran terakhir dari perang ini. Chapter 216: Masuk ke Dalam Perangkap! Randika yang sudah dirasuki oleh rasa dendam itu masuk tanpa berpikir panjang. Tetapi, pintu yang ada di belakangnya itu tiba-tiba tertutup dan membuat Randika terjebak di ruangan yang gelap ini. Tidak sampai di situ, pintu kayu tersebut sekarang dilapisi oleh pintu baja yang tebal! Dalam sekejap, Randika sudah terjebak di ruangan gelap dan tertutup rapat. Randika memeriksa sekelilingnya, dia akhirnya sadar telah masuk ke dalam jebakan Bulan Kegelapan dan Shadow. Sosok mereka berdua bahkan sama sekali tidak terlihat di ruangan ini. Dengan tatapan dingin, Randika menyalurkan tenaga dalamnya ke tangannya dan meletakkannya di atas pintu baja tersebut. Dengan satu hentakan kaki, tenaga dalamnya meledak di pintu tersebut! Suara dari ledakan itu terdengar keras tetapi pintu baja tersebut hanya bergeming, sama sekali tidak terbuka. Meskipun di bawah serangan Randika yang dahsyat, pintu baja tersebut sama sekali tidak menunjukan tanda-tanda rusak. Mau tidak mau, Randika mulai cemas di hatinya. Randika, dengan adrenalin dan tenaga dalam yang masih mengalir deras, menempelkan kedua tangannya dan sekali lagi memukul pintu baja tersebut. Namun, pintu tersebut masih tidak menunjukan tanda-tanda terbuka. Randika bergerak ke tengah ruangan, dan pada saat ini, ruangan gelap ini tiba-tiba dipenuhi dengan asap kuning dan hijau yang membuat Randika mengerutkan dahinya. Pada saat ini, di ruangan bawah tanah ini, tiba-tiba muncul proyeksi seorang manusia yaitu Shadow. Randika menatap ilusi dari Shadow dengan tatapan dingin. Shadow tersenyum dan mengatakan. "Lama tidak bertemu tuan." Randika tidak menjawab sama sekali. "Apa ini pertama kalinya tuan merasa tidak berdaya? Takut akan kematian?" Senyuman Shadow semakin menjadi. "Ini adalah perangkap yang sudah kupersiapkan untukmu, aku tidak menyangka Ares yang diagung-agungkan itu akan tertipu dengan mudah." Randika masih terdiam. "Biarkan aku memperkenalkan tempat ini." Shadow berjalan melewati Randika dan mengangkat kedua tangannya. "Seluruh ruangan ini terbuat dari campuran logam khusus. Pintu baja itu juga telah diperkuat bahkan bom nuklir sekalipun tidak bisa membuatnya bergeming. Aku telah menghabiskan begitu banyak uang hanya untuk memastikan kau tidak bisa kabur dari tempat ini." "Melihat wajahmu yang tidak berdaya itu, semua uang yang kuhabiskan itu sepadan." Shadow lalu tertawa. "Bagaimana rasanya berada di ambang kematian? JAWAB AKU!" Randika masih terdiam dan menatap Shadow dengan dingin. "Oh iya, jangan pikir asap itu cuma asap racun biasa, racun ini sudah dimodifikasi khusus untuk membunuhmu." Meskipun sempat kesal karena Randika terdiam, Shadow sudah tenang kembali. "Kau akan merasakan tubuhmu akan kehilangan kekuatan dan setiap jengkal tubuhmu akan merasakan sakit. Rasa sakit itu tidak akan hilang sebelum kau menggaruk kulit, tulang, dan akhirnya kau akan mati oleh rasa sakit itu." Randika akhirnya membuka mulutnya dan bertanya. "Kenapa kamu mengkhianatiku?" Ya, inilah alasan yang sampai sekarang tidak dimengerti oleh Randika. Dia tidak tahu kenapa Shadow memilih untuk berkhianat meskipun selama ini dia memperlakukan perempuan ini dengan baik. "Kau benar-benar ingin tahu?" Shadow tersenyum arogan. "Karena kau adalah Ares dan aku hanyalah sebuah bayangan." Randika mengerutkan dahinya. Pada saat yang sama, racun semakin memenuhi ruangan tertutup ini. Randika dengan cepat menutup pori-porinya dengan tenaga dalamnya, tetapi hal ini tidak bisa berlangsung lama. Shadow menatap dingin Randika, di tatapannya mengandung ambisi tersembunyi. "Kau adalah raja dunia bawah tanah, kau adalah harapan orang-orang. Kau bisa menentukan siapa yang mati siapa yang hidup. Tetapi aku hanya bisa berada di balik kegelapan, semakin terang kau bersinar semakin gelap keberadaanku. Tidak peduli bagaimana aku berusaha, aku tidak lebih dari sebuah bayangan. Bahkan aku tidak bisa menunjukan diriku yang sebenarnya pada orang-orang." Melihat ambisi besar yang ditunjukan Shadow, Randika mengerutkan dahinya. Dia dapat menilai kekuatan ataupun kemampuan orang, luka yang diderita orang, tetapi Randika sama sekali tidak bisa melihat hati seseorang. Dia benar-benar meremehkan ambisi Shadow untuk berkuasa. "Oleh karena itu, aku hanya bisa membunuhmu dan menjadi Ares yang baru. Aku tidak ingin bernaung di bawah kegemilangan seseorang lagi. Aku hanya inginˇ­. Menjadi diriku!" Tatapan Shadow sudah dipenuhi dengan kebencian. "Aku dulu menolongmu, mengajarimu, memberimu tujuan, semuanya sudah kuberikan untukmu." Nada suara Randika terdengar dingin, dia bersusah payah menahan rasa marahnya di dalam hatinya. Begitu dia membiarkan aura membunuhnya keluar, asap beracun itu akan masuk ke dalam tubuhnya. "Dan hutangku itu sudah lunas!" Shadow tiba-tiba berteriak, wajahnya kembali menunjukan ekspresi marah. "Aku telah membantumu membangun jaringan intelijen di seluruh dunia, semua informasi penting sudah kuberikan walau nyawaku jadi taruhannya, aku membunuh orang demi namamu. Tanpa aku, kau bukanlah siapa-siapa!" Randika tidak membalas sama sekali. Racun di ruangan ini mulai masuk ke dalam tubuhnya. Dia dapat merasakan asap racun itu menembus kulitnya, berenang di darahnya dan mulai menggerogoti tubuhnya secara perlahan. Pandangannya mulai kabur. "Karena hutangku itu sudah lunas, sudah seharusnya aku mengambil apa yang pantas kudapatkan setelah bertahun-tahun menjadi budakmu. Dan jangan khawatir, setelah kau mati, aku akan membuat pasukanmu itu menjadi pasukan paling mematikan di seluruh dunia sama seperti ambisimu dulu." Randika menggelengkan kepalanya. "Aku tidak peduli menjadi nomor satu di dunia atau tidak. Aku hanya bingung kenapa dulu aku berbaik hati menerimamu." "Oh jadi kau menyesalinya?" Shadow tersenyum kembali. "Aku tidak menyangka seorang Ares memiliki perasaan menyesal, ini pertama kalinya aku melihatnya." "Jika aku tahu kamu adalah seekor ular berbisa, aku rasa semua orang akan menyesalinya." Kata Randika dengan santai. Tubuh Shadow menjadi kaku tetapi dia berhasil menenangkan dirinya kembali. "Sebagai mantan anak buahmu, aku akan memberimu saran. Lima menit lagi kau akan merasakan rasa sakit yang luar biasa dan mati secara perlahan. Saranku matilah sebelum rasa sakit itu melanda." Setelah berkata seperti itu, gambar Shadow menghilang. Di ruangan bawah tanah ini, Randika berdiri sendirian dengan wajah yang berkeringat. Tiba-tiba dia terjatuh dan meringkuk kesakitan seperti udang. Randika bisa merasakan bahwa tubuhnya sudah dipenuhi oleh racun gas tersebut dan mengamuk di setiap bagian tubuhnya. Pada saat yang sama, kekuatan misterius dalam tubuhnya juga memberontak. Randika kejang-kejang, dan pada saat yang sama, dia mengalirkan tenaga dalamnya untuk menenangkan tubuhnya yang menderita itu. Dalam sekejap, keringatnya sudah membentuk kolam di sekitarnya. Seluruh tubuhnya mengeluarkan keringat dan kulitnya menjadi kemerahan. Dalam sekejap, kulitnya itu seperti hendak menjadi warna hijau. Gas beracun itu sepertinya sebentar lagi menguasai darahnya yang mengalir di pembuluh darahnya. Rasa sakit yang dia rasakan sangatlah luar biasa. Dia berniat mengambil obat dari kakek ketiganya tetapi tangannya sama sekali tidak bisa bergerak. Seluruh tubuhnya menjadi kaku. Meskipun dia masih memiliki kesadarannya, seluruh tubuhnya tidak bisa bergerak sama sekali. Dia sama sekali tidak berdaya ketika gas beracun dan kekuatan misterius di dalam tubuhnya itu mengamuk di dalam tubuhnya. Randika perlahan merasa nyawanya semakin hilang tiap detiknya dan matanya mulai menutup. Gas beracun dan kekuatan misterius di dalam tubuhnya menimbulkan efek gatal di seluruh tubuhnya. Perasaan ini benar-benar aneh, dia ingin menggaruknya tetapi tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak. Tubuh milik Randika ini benar-benar dalam keadaan kacau. Tenaga dalamnya tidak bisa mengalir, kekuatan misteriusnya memanfaatkan kesempatan ini untuk memberontak dan gas beracun itu sudah menyebar di seluruh tubuhnya dan mematikan fungsi tubuhnya secara perlahan. Awalnya, di dalam tubuhnya terdapat dua kekuatan yaitu tenaga dalamnya dan kekuatan misterius. Sebelum ini, keduanya memiliki keharmonian yang menciptakan kestabilan, tetapi sekarang kehadiran gas beracun khusus yang dibuat Shadow ini membuat tubuhnya seakan akan meledak. Ketiganya berperang di dalam tubuh Randika dengan brutal. Perasaan seperti ini sama sekali tidak bisa digambarkan, hal ini sama seperti tiga singa sedang menggigit dirinya dan 1000 semut merah sedang merangkak di tubuhnya. Wajah Randika sudah berubah-ubah, asap putih mulai keluar dari dalam tubuhnya. Pada saat ini, proyeksi Shadow mulai muncul kembali. "Tuan, apa kau sudah mati?" Shadow jongkok persis di samping Randika yang tersungkur di lantai. Randika terus menerus menutup matanya. Dia merasakan ketiga kekuatan itu bertarung dengan liar di tubuhnya, rasa sakit itu justru mencegahnya mati. Tetapi tiba-tiba, kekuatan misterius dalam tubuhnya itu untuk pertama kalinya berhasil mengambil alih tubuh inangnya. Ia sepertinya sudah capek tertidur dan akhirnya memilih untuk bangkit! Di proyeksi, hanya ada sosok Shadow dan Bulan Kegelapan sama sekali tidak terlihat. Saat Shadow melihat Randika yang meringkuk kesakitan seperti udang, wajahnya sama sekali tidak menunjukan rasa simpati. Inilah yang ingin dia lihat. Randika harus mati, barulah setelah itu Shadow bisa menjadi Ares yang baru. Meskipun Randika yang merawatnya dan memberikan dirinya tempat bernaung, nafsu Shadow sudah tidak bisa dipuaskan dengan berada di balik layar. Dia menginginkan semuanya! Randika masih tidak berbicara dan menutup matanya, dia merasa tubuhnya sudah tidak bisa dia kendalikan dan mulai kejang-kejang. Melihat kondisi Randika yang seperti ini, Shadow tertawa puas. Rencananya telah berhasil! Tetapi sejujurnya, Randika sudah lama kehilangan kesadarannya. Gas beracun di dalam ruangan bawah tanah ini semakin tebal. Tubuh Randika sudah diselimuti oleh asap tersebut. Randika yang tergeletak di lantai itu sudah berhenti bergerak. Shadow yang melihat hal ini sudah tertawa puas. Ares sang Dewa Perang telah mati di tangannya! Benar-benar perasaan yang memuaskan. Ketika dia hendak mematikan proyeksinya, Randika, yang tergeletak di lantai, tiba-tiba berteriak. "UAHH!" Shadow yang mendengar hal ini langsung mengerutkan dahinya, Ares belum mati? Pada saat ini, Randika merasa tubuhnya seperti ingin meledak. Kekuatan misterius dalam tubuhnya keluar sekaligus. Saat ini, semua pori-pori di dalam tubuhnya terbuka dan memuncratkan darah! Dari sisi penglihatan Shadow, dia melihat Randika yang tiba-tiba berteriak itu sudah bagaikan air mancur darah. Mau itu di wajah, perut, paha, kaki, semua bagian tubuhnya memuncratkan darah. Bahkan darah tersebut sampai menyelimuti kamera di dalam ruangan hingga merah. Shadow mengambil langkah mundur dan wajahnya terlihat jelek. Sepertinya situasi mengalami perubahan dan firasatnya mengatakan bahwa hal ini sangatlah buruk. Chapter 217: Akhir Seluruh bagian tubuh Randika memuncratkan darah. Tidak butuh waktu lama untuk membuat Randika menjadi air mancur darah berjalan! Wajah, tangan, perut, kaki, semuanya bersimbah darah kecuali kedua bola matanya yang melotot ke arah Shadow! Di bawah tatapan mengerikan itu, Shadow tanpa sadar melangkah mundur. Tatapan mata itu benar-benar mengerikan dan menyimpan rasa dendam yang luar biasa pekat. Meskipun dia tahu bahwa Randika tidak mungkin bisa kabur dari ruangan ini, entah kenapa, Shadow tetap merasa takut. Setelah beberapa langkah ke belakang, Shadow menatap Randika. Saat ini, kekuatan misterius Randika mengalir dan keluar dari dalam tubuhnya. Seperti air keran, kekuatan ini keluar dengan deras dan tubuhnya memiliki kekuatan yang amat besar. Jika dia tidak bisa menyalurkan tenaganya ini, tubuhnya terasa akan meledak kapan saja. "AHH!!" Randika meraung keras dan bangkit berdiri. Tangannya mengepal dan meninju pintu baja dengan keras! DUM! Tiba-tiba, pintu baja yang sudah diperkuat itu bergetar dengan hebat. Namun, sepertinya pintu tersebut masih bisa bertahan dari tinju Randika. Saat ini kondisi Randika melebihi kekuatan yang dimilikinya ketika kondisinya sedang prima. Dia jelas tidak tahu kenapa hal ini bisa terjadi. Satu pukulan tersebut rupanya dapat didengar oleh Shadow dan pengawalnya yang ada di luar. Mereka mulai was-was, seakan-akan Randika bisa mendobrak pintu itu hingga hancur. "Percuma kau berusaha kabur, hanya buang-buang waktu saja." Kata Shadow sekaligus berusaha meyakinkan dirinya. Tetapi Randika masih berdiri di tempatnya. DUM! Pintu kembali bergetar. Kali ini pintu tersebut mulai menunjukan tanda-tanda bengkok. Randika mengumpulkan semua tenaganya ke tinjunya. Bagaikan senapan mesin, pukulan demi pukulan dia layangkan dengan sekuat tenaga. DUM! DUM! DUM! Suara keras tersebut terus menerus terdengar, di bawah serangan tinju Randika, pintu tersebut mulai goyah. Sepertinya hanya masalah waktu sebelum pintu itu hancur. Shadow yang berada di luar itu mulai ketakutan. Melihat celah pintu yang makin lebar tiap detiknya, mau tidak mau dia mengambil langkah mundur sedikit demi sedikit. Orang-orang di sebelahnya justru memasang wajah waspada. Akhirnya, setelah sekian lama, pintu baja tersebut akhirnya terpental oleh tinju Randika! Pintu baja yang tebal itu, terlempar ke arah Shadow berada. Dengan berat lebih dari 50 kg, pintu itu melayang dengan cepat. Ia mendarat persis di pengawal Shadow dan membunuhnya dalam sekejap. Shadow sendiri berhasil menghindarinya berkat kecepatannya yang cepat. Tetapi angin yang dihasilkan dari momentum besi itu membuatnya terpental dan membentur tembok. Sekarang, di hadapan Shadow muncul seorang yang bersimbah darah dan dengan tatapan mata yang mengerikan! Perangkap yang dia susun beberapa bulan itu tidak bisa membunuhnya? Randika, yang masih mengeluarkan darah, keluar dari dalam ruangan beracun itu dan menatap Shadow. Tatapan matanya dipenuhi kebencian dan api amarah. Untuk sesaat, Shadow merasa udara di sekitarnya sangat sesak dan tidak bisa bernapas. Para bawahannya itu sama sekali tidak berani bergerak. Lawannya itu sepertinya orang yang brutal dan tak terkalahkan. Pada saat ini, Randika berjalan dengan perlahan menuju Shadow. Banyak anak buah Shadow ini menggertakan giginya dan menerjang maju ke arah Randika. Randika sama sekali tidak peduli. Ketika dia melihat puluhan orang menerjang ke arah dirinya, dia sama sekali tidak gentar. Justru api di dalam hatinya semakin berkobar. Randika menghajar semuanya dengan tinjunya, tidak memakai trik sama sekali. Dia hanya membuat lawannya terpental ataupun terbunuh di tempat. Setiap tarikan napasnya akan menewaskan siapapun yang berani menghalanginya! Kekuatan Randika meningkat drastis ketika kekuatan misterius ini mengambil alih tubuhnya. Dengan kekuatannya yang sekarang, pintu yang didesain khusus itu, yang katanya bisa menahan bom nuklir, bisa dihancurkannya dengan mudah, apalagi kalau cuma cecunguk-cecunguk seperti ini? Meskipun mereka mengepungnya, Randika sama sekali tidak repot-repot dan hanya meninju mereka. Serangan tinjunya itu, apabila tidak ditahan, sudah cukup membuat lubang di bagian tubuh yang terkena. Bahkan tinju Randika barusan mementalkan jantung seseorang dan mendarat di salah satu lawannya yang lain. Melihat satu per satu anak buahnya dibunuh dengan mudah seperti ini, tubuh Shadow sudah tidak bisa berhenti gemetar. Bahkan hatinya sendiri sudah menjerit ketakutan dan tubuhnya sudah tidak bisa berhenti melangkah mundur. Meskipun dia ingin kabur dari sini, dengan kekuatan Randika yang sekarang, sepertinya bahkan ujung dunia pun tidak akan bisa menjadi tempat persembunyiannya. Tatapan mata Randika sama sekali tidak pernah lepas dari sosok Shadow. Orang-orang yang menerjang ke arah dirinya itu sudah bagaikan nyamuk di matanya. Selagi dia membunuh para nyamuk, Randika berkata pada Shadow yang terus menerus melangkah mundur itu. "Apa kau terkejut karena aku tidak mati?" Melihat sosok Randika yang bersimbah darah itu semakin dekat dengan dirinya, Shadow sudah tidak tahan lagi. Dia berbalik dan berusaha kabur dengan kecepatan tertingginya! Namun, bagaimana mungkin dia bisa mengalahkan Randika yang sekarang? Hampir secara bersamaan, Randika sudah berdiri di belakang Shadow dan menangkap pergelangan tangannya. Shadow yang terkejut itu berusaha melepaskan dirinya, tetapi Randika meninjunya tepat di wajahnya yang membuatnya terpental. Shadow dengan cepat berdiri kembali, hidungnya sudah patah dan bibirnya mengeluarkan darah. Tatapan matanya penuh dengan perasaan teror dan takut. Dia tidak rela perjalanannya menuju puncak berakhir di sini, apa yang salah dengan rencana sempurnanya ini? Shadow berusaha menghilang di tengah kegelapan, tetapi mata Randika sudah terkunci rapat dengan sosoknya. "Jangan lupa bahwa akulah yang mengajarimu." Randika berjalan dengan perlahan. "Hukuman yang akan kuberikan ini adalah salah satu dari pelajaranmu." Mendengar kata-kata Randika itu, Shadow menggertakan giginya. Sepertinya tidak ada jalan keluar lainnya, dia harus bertarung apabila ingin selamat. Mati terbunuh atau membunuh duluan! Melihat Shadow yang menerjang ke arah dirinya dari atas, Randika hanya menatapnya dengan dingin. Shadow memanfaatkan sekelilingnya dan mengumpulkan kecepatan, setelah cukup cepat dia melayangkan pukulannya ke arah Randika. Tinjunya berisikan tekadnya untuk hidup! Randika hanya menghadapi serangan mematikan ini dengan satu tangan. Ketika dua tinju mereka bertemu, tubuh Shadow telah dirasuki oleh tenaga dalam Randika yang liar itu. Dalam sekejap dia muntah seteguk darah segar! UHUK! Bersamaan dengan darah hitam yang keluar dari mulutnya itu, seluruh tubuh Shadow terpental dan terjatuh dengan keras di tanah. Jika orang itu bukan Shadow, mungkin yang terkena serangan tenaga dalam itu sudah mati. Namun tetap saja, Shadow terluka parah dan hanya bisa terkapar di tanah. Dia hanya bisa melihat sosok Randika yang mendekatinya langkah demi langkah, hatinya sudah mengepal dengan keras. Sepertinya dia sudah berada di ujung jalannya. "Takdir seorang pengkhianat hanyalah kematian." Kata Randika dengan pelan. Randika sudah beberapa langkah lagi sampai di tempat Shadow untuk mengakhiri tragedi berdarah ini. Namun, Shadow tidak berniat untuk mati dengan mudah, pisau yang dia sembunyikan langsung dia tusukan menuju Randika! Namun, Randika berhasil menangkap pergelangan tangannya sebelum pisau itu bisa menembus dirinya. Sambil meraung kesakitan, Shadow merasa pergelangan tangannya itu patah dan pisau yang digenggamnya langsung terjatuh. Melihat sosok Shadow di hadapannya, Randika sama sekali tidak bisa merasakan rasa simpati. Pada awal mereka kali bertemu, Shadow hanyalah sesosok yang menyedihkan tetapi Randika melihat api di dalam hati perempuan ini dan akhirnya memungutnya. Randika mengajarinya bela diri dan melatihnya menjadi seorang Shadow. Dia telah menjadi pilar dari organisasi intelijennya, namun tanpa diduganya, Shadow malah mengkhianatinya. "Setelah membunuhmu, aku akan membunuh Bulan Kegelapan." Kata Randika dengan nada dingin. "Jika aku boleh menebak, Bulan Kegelapan justru merupakan bidak milikmu. Setelah kau membunuhku, kau akan membunuhnya bukan?" Shadow mengerutkan dahinya, sepertinya dia meremehkan tuannya ini baik segi kekuatan ataupun kecerdasannya. Rencana Shadow persis seperti yang dikatakan oleh Randika. Dia menggunakan Bulan Kegelapan sebagai alat untuk mengalahkan Randika dan pada akhirnya dia sendiri yang akan membunuhnya setelah dirinya menjadi Ares yang baru. Namun, tanpa diduga ternyata Randika bisa mengetahui semua hal ini. "Mau kalian berdua menyerang bersamaan atau sendiri-sendiri, semut tetaplah semut." Tatapan mata Randika terlihat dingin, tangan kirinya terangkat dan mengarah pada Shadow yang tergeletak di tanah. Tinju ini akan menghabisi nyawa Shadow untuk selamanya. Melihat tangan yang terangkat itu, Shadow merasakan perasaan ngeri yang luar biasa, dia tahu bahwa dia tidak bisa menghindarinya. Namun pada saat ini, tinju Randika itu tiba-tiba berhenti di udara dan merasakan tenaga dalamnya tiba-tiba menyusut kembali. Sepertinya kekuatan misteriusnya itu kehabisan tenaga dan dengan cepat menarik kembali dirinya ke dalam tubuh Randika, hal ini membuat tubuh Randika kembali berguncang. Ketika Shadow melihat Randika yang seperti ini, dia langsung memanfaatkannya dan berusaha kabur. Dia sama sekali tidak berani melihat ke arah belakang, dia terus berlari tanpa henti. Nyawanya seharusnya sudah berakhir barusan, untung saja tiba-tiba ada hal yang aneh sedang terjadi dengan tubuh tuannya itu. Melihat sosok Shadow yang semakin menjauh, Randika hanya menggigit bibirnya. Dia ingin mengejar perempuan itu tetapi tubuhnya tidak bisa bergerak. Kenapa hal seperti ini bisa terjadi? Dia hanya butuh satu detik untuk mendaratkan pukulan mematikannya pada Shadow tadi! Namun, Randika hanya bisa duduk dan berusaha menenangkan dirinya. Setelah beberapa saat, dia berhasil mengendalikan tubuhnya kembali. Namun pada saat ini, Shadow sudah kabur. Randika menghela napasnya, dia bersumpah akan membunuh pengkhianat itu ketika bertemu dengannya lagi! Takdir seorang pengkhianat hanyalah kematian! Setelah menenangkan diri, Randika berjalan kembali ke gedung rumah dan pertempuran sepertinya sudah berakhir. Raihan berhasil membunuh Atid si raja Thai Boxing, Serigala berhasil membunuh lawannya yaitu Beruang Putih dan Kyoko berhasil menumpas si pengkhianat yang menjadi lawannya itu. Seluruh pasukan Ares berhasil menguasai setiap bagian dari rumah bangsawan ini. Masih ada beberapa orang yang masih melawan mereka, mereka menggunakan pojok ruangan sebagai tempat perlindungan mereka. Namun, ketika mereka melihat sosok Randika yang bersimbah darah dan aura membunuhnya yang pekat membuat semua orang terkejut. Dengan satu tangan, Randika menembakan tenaga dalamnya dan semua orang yang masih berusaha melawan itu sudah tidak sadarkan diri. Melihat kesempatan ini, pasukan Ares menerjang maju dan menghabisi sisa-sisa lawannya yang masih sadarkan diri. Raihan menghampiri Randika dengan tatapan terkejut, sepertinya kawannya ini habis tercebur di lautan darah? "Aku baik-baik saja." Kata Randika dengan nada tenang. "Jangan biarkan satu pun dari mereka hidup." "Pasukan kita berhasil menguasai tempat ini dan Polemos serta Catherine sedang menginterogasi dan menyelidiki tempat ini. Mereka berusaha menemukan petunjuk di mana Yuna disekap. Setelah menemukan informasi itu, baru kita bisa membunuh semuanya jadi bersabarlah." Chapter 218: Kekuatan Misterius Randika mengangguk dan para pentolan pasukannya itu mulai menghampiri dirinya. Singa memecah keheningan dengan bertanya. "Kenapa Anda bersimbah darah seperti itu tuan?" Jin sedikit marah dengan kelancangan Singa. "Jaga sikapmu, kalau tadi tuan kita tidak ikut turun tangan maka kita bisa-bisa kalah. Kau juga tadi hampir dihabisi lawanmu bukan?" "Hah? Maksudmu apa?" Singa tidak terima. "Mau coba adu kekuatan?" Jin memalingkan wajahnya dan tidak peduli dengan provokasi temannya itu. Randika berkata dengan nada datar pada mereka. "Ambil mayat-mayat saudara kita dan kubur mereka dengan penuh hormat, sisanya bakar saja." Semuanya mulai sibuk membersihkan medan tempur yang kacau ini, pertempuran di rumah bangsawan ini telah berakhir dengan kemenangan. ......... Setelah kembali ke rumah amannya, Randika merasakan kekuatan misterius di dalam tubuhnya mulai menyerang dirinya kembali. Sesampainya di kamar tidurnya, tubuhnya bergetar tanpa henti. Randika dengan cepat membuka bajunya dan mengambil jarum akupunturnya. Setelah menusukannya, dia mengambil obat dari kakek ketiganya dan meminumnya dua butir. Keberadaan kekuatan misterius di tubuhnya itu benar-benar aneh. Randika selama ini kesusahan mengontrol kekuatan misteriusnya itu dan membutuhkan ramuan X untuk mengontrolnya dengan sempurna. Tetapi kalau bukan karena kekuatan misteriusnya itu, seharusnya dia sudah mati di ruang rahasia bawah tanah yang dipersiapkan Shadow. Dan sekarang, kekuatan misteriusnya itu lagi-lagi berusaha mengambil alih tubuhnya. Setelah memikirkan hal ini dengan baik, Randika merasa kekuatan misterius ini sendiri sangatlah aneh. Semua berawal dari pertarungannya dengan salah satu ahli bela diri di kawah gunung berapi. Meskipun Randika berhasil membunuhnya, lawannya itu berhasil melukainya cukup berat. Pada saat itu, kekuatan misterius itu muncul di dalam tubuhnya. Randika mengira keberadaan kekuatan misterius itu muncul karena lukanya, tetapi setelah dipikir baik-baik semuanya terlihat aneh. Sebuah luka tidak mungkin menyimpan kekuatan yang begitu besar dan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk sembuh. Pada saat itu, dia memang belum mencapai posisinya seperti sekarang tetapi bukan berarti dia lemah. Lawannya sendiri juga bukanlah ahli bela diri yang terkenal. Jadi bisa disimpulkan bahwa kekuatan misterius itu tiba-tiba muncul di tubuhnya tanpa sebuah alasan yang jelas. Randika mengerutkan dahinya ketika menyadari hal ini. Kekuatan misterius macam apa yang bersemayam di dalam dirinya? Kenapa dia tidak dapat mengontrolnya sesuka hatinya? Lagipula saat dirinya berusaha menyerapnya, saat dia diganggu oleh Hannah, dia sama sekali tidak berdaya di hadapan kekuatan misterius ini. Dan berkat ledakan energi tadi, Randika bisa mengetahui bahwa kekuatan misterius di dalam tubuhnya itu lebih kuat dari dugaannya. Dia selalu meremehkannya maka dari itu dia tidak bisa mengontrolnya. Memiliki bom waktu di dalam dirinya benar-benar membuat dirinya gelisah. Ledakan energi di ruang bawah tanah itu benar-benar luar biasa, sampai-sampai seluruh pori-porinya terbuka dan memuntahkan darah. Meskipun sebelumnya itu menyelamatkan nyawanya karena mengeluarkan darah kotor yang berisi racun, apabila ini terjadi lagi bisa-bisa tubuhnya akan mati kehabisan darah. Kekuatan tidak terkendali seperti ini benar-benar berbahaya. Tetapi jika Randika berhasil mengendalikannya, dia akan bertambah kuat! Para kakeknya mengerti akan hal seperti ini tetapi mereka memutuskan untuk tidak memberitahunya. Merasakan kekuatan misterius dalam tubuhnya makin melawan dengan gigih, oleh karena itu dia langsung meminumnya dua butir sekaligus. Dengan bantuan obat dari kakeknya itu, tiba-tiba, kekuatan misterius yang mengamuk itu mulai tenang kembali dan perlahan menghilang. Setelah sekian lama, Randika menghembuskan napas lega dan membuka matanya. Akhirnya kekuatan misterius dan tenaga dalamnya mencapai harmonisasi. Setelah merasa baikan, Randika berniat untuk mandi dan beristirahat. Di tengah mandinya, dia masih memikirkan kekuatan misterius dalam tubuhnya itu. Jika bukan karenanya, dia sudah mati oleh racun yang dibuat khusus oleh Shadow. Tetapi karena kekuatannya itu jugalah yang membuat Shadow berhasil lolos. Kekuatan ini benar-benar merupakan kutukan sekaligus berkat. Setelah selesai mandi, rasa lelah di dalam tubuhnya telah hilang. Sekarang rasa lapar yang melanda dirinya. Tidak ingin merepotkan anak buahnya, Randika memutuskan untuk pergi secara diam-diam untuk mencari makan. Orang Jepang sangat terkenal dengan masyarakatnya yang suka berjalan jadi kedua sisi jalan benar-benar ramai. Setelah merasakan kejamnya medan tempur dan berada di tengah canda tawa orang-orang, suasana hati Randika mulai membaik. Namun, tatapan matanya sekarang terkunci pada satu sosok perempuan. Kaori? Benar-benar kebetulan! Randika sedikit terkejut, namun pada saat ini, Kaori menyadari keberadaan Randika dan tersenyum pada pria misterius tersebut. Kaori melambaikan tangannya dengan semangat. Dan ketika Kaori hendak mengawali percakapan, dia menyadari bahwa dia tidak tahu namanya Randika. "Benar-benar kebetulan." Randika tersenyum. "Iya." Kaori menganggukan kepalanya dengan cepat dan menatap Randika. "Aku tidak menyangka aku akan bertemu denganmu di sini. Mungkin kita berdua ditakdirkan bersama." Randika mengingat kembali malam mereka berdua di kamar, Randika hampir saja melakukan hubungan badan dengan Kaori. Namun setelah memikirkannya, kenapa tidak? "Apa kamu mau minum kopi bersama?" Kaori mengundang Randika. Tentu saja Randika tidak punya alasan untuk menolak, jadi mereka berdua berjalan menuju sebuah kafe. Mereka duduk di pojokan dan setelah memesan minumannya, Kaori berkata pada Randika. "Sepertinya kita belum saling memperkenalkan diri kita masing-masing." "Namamu Kaori bukan? Benar-benar nama yang bagus." Randika tersenyum. "Namaku adalah Randika." "Apakah kamu sudah baik-baik saja?" Kaori tiba-tiba menjadi cemas. Randika tersenyum sambil menyesap minumannya. "Sudah jauh lebih baik. Kebaikanmu dalam merawatku malam itu benar-benar membantuku. Jika kamu bisa membantuku lagi, aku rasa aku akan jauh lebih baik lagi." Setelahnya Randika selesai berbicara, Kaori tersenyum lebar. Kejadian malam itu masih membekas di dalam ingatannya. Dia mengira malam itu akan menjadi malam yang panas setelah foreplay yang sungguh intens dengan Randika. Namun, dia tidak menyangka setelah dadanya berlumuran sperma dan keningnya dicium, sosok Randika tiba-tiba menghilang dari dalam ruangan. Ditinggal seperti itu benar-benar perasaan yang tidak enak. Apalagi Kaori sudah lama tidak terangsang seperti itu. Kaori tersenyum dan bertanya. "Kapan kamu ada waktu? Aku bebas sepanjang hari kok." Kaori dapat menyadari dengan jelas bahwa perkataan Randika mengacu pada hubungan mereka yang belum selesai itu, dan dia sendiri tidak sabar! Randika tersenyum dan menggenggam tangan Kaori sambil mendekatinya. "Bagaimana kalau malam ini? Apakah kamu mau datang ke tempatku?" "Sungguhan?" Mata Kaori terlihat berbinar-binar. Dia sudah lama tidak tidur dengan laki-laki dan dia sudah tidak sabar mencicipi barang Randika yang besar itu. Malam ini akan benar-benar panjang! Randika mengedipkan matanya. "Tapi aku punya cara lain yang lebih efektif biar tubuhku ini bisa cepat sembuh." "Cara apa?" Tanya Kaori dengan penasaran. Randika duduk di samping Kaori dan berbisik di telinganya. Kaori tidak bisa menahan tawanya setelah mendengarnya. Dia terlihat malu-malu dan akhirnya setuju. Randika memperhatikan tidak ada orang di sekitar mereka dan, dengan mata penuh hawa nafsu, dia meletakkan tangannya tepat di paha Kaori yang mulus. Tubuh Kaori tiba-tiba menjadi kaku, tetapi setelah menatap Randika dia menjadi tidak takut. "Benar-benar mulus." Puji Randika. Dia dapat merasakan kulit yang halus dan mulus itu dalam sekejap. Namun, Kaori sudah tidak sabar lagi. Perempuan ini bertindak duluan dan mencium Randika, bibirnya dengan sempurna menutup bibirnya Randika. Orang-orang di luar negeri lebih terbuka dengan hal-hal seperti ini, jadi Kaori tidak sungkan memainkan lidahnya dengan intens. Setelah berciuman cukup lama, Kaori melepaskan bibirnya dan menatap Randika dengan wajah merahnya. Dia tidak bisa berhenti tersipu malu. Petunjuknya ini benar-benar jelas, seharusnya Randika tahu apa yang akan terjadi berikutnya bukan? Randika malah tersenyum nakal dan berbisik di telinga Kaori. "Ada yang ingin kuberitahu padamu." Hati Kaori mengepal, apa yang akan dikatakannya? Tetapi mendadak, Randika merangkul dirinya dan memberikannya ciuman panas. Meskipun terkejut, Kaori menyambut ciuman ini. Lidah mereka sudah tidak bisa berhenti, para pengunjung lain hanya bisa geleng-geleng dan pura-pura tidak melihat. Kenapa mereka tidak mencari ruangan coba? Buat apa pamer seperti itu? Namun pada saat ini, suara seorang perempuan terdengar. "Wow, kamu sudah punya pacar baru ya?" Ketika mendengar suara familier itu, Kaori dengan cepat melepaskan kuncian bibir Randika. Wajahnya sudah benar-benar merah. Randika menoleh dan melihat dua perempuan sedang berdiri di samping mejanya. Dia sama mudanya dengan Kaori dan terlihat bersemangat. Sepertinya dia teman sekelas Kaori di kuliah. Randika tersenyum dan menyapa mereka. "Selamat siang." Kedua perempuan itu membalas salam ramah Randika dan duduk di meja mereka. "Aku tidak menyangka kamu sudah move on seperti itu. Terlebih pacarmu kali ini cowok ganteng seperti ini." Mendengar pujian seperti ini, Randika sedikit besar kepala. Kata-kata seperti ganteng atau tampan sangat enak untuk didengar. Dia sendiri sudah sadar bahwa dia ganteng tetapi ketika orang lain yang mengatakannya, Randika tidak bisa berhenti tersenyum. "Sudah ah jangan gitu dong Naomi." Kata Kaori. "Cepat pesan minumanmu." "Aduh aku tinggal minta punyamu sedikit juga bisa bukan? Aku hanya ingin mendengar bagaimana kalian berdua bertemu." Naomi dan temannya terlihat bersemangat, bergosip selalu menjadi acara paling menarik bagi perempuan. Randika mengambil cangkir kopinya dan meminumnya. Sepertinya tidak baik untuk dirinya yang menjelaskan. "Itu semua hanya kebetulan." Kata Kaori sambil tersenyum. "Lain kali aku akan menceritakannya." "Aduh tidak asyik nih kamu. Kemarin ngomongnya kamu sudah benci laki-laki, sekarang malah kamu meninggalkan kita dan asyik dengan pacarmu!" Pada saat mereka bercanda seperti ini, pintu kafe terbuka dengan keras dan beberapa orang masuk ke dalam toko. Randika memperhatikan orang yang masuk tersebut dan menyadari bahwa orang itu adalah Haru, mantan Kaori yang kasar itu. Haru berpenampilan seperti seorang berandalan sambil merangkul seorang perempuan. Teman-temannya juga nampak seperti seorang berandalan. Ketika Haru masuk, matanya menemukan Kaori sedang duduk di pojok ruangan. Dalam sekejap suasana hati Haru menjadi buruk. Kaori sedang sibuk bercanda dengan kedua temannya sebelum akhirnya menyadari keberadaan Haru. "Sedang apa di sini?" Wajah Kaori menjadi dingin, dia sama sekali tidak ingin melihat wajah mantannya itu. "Terserah aku kan." Haru mendengus dingin. Teman-temannya segera mengepung meja Kaori. Naomi mengerutkan dahinya dan membentak. "Kaori sudah tidak punya hubungan apa-apa dengan sampah sepertimu. Sudah sana pergi." "Aku hanya ingin melihat kondisi wanita yang pernah kucintai ini." Kata Haru dengan wajah yang dingin dan masih merangkul perempuannya. Mendengar kata-kata Haru itu, Randika mengerutkan dahinya dan darah Naomi sudah mendidih. "Jaga kata-katamu itu." Naomi menjadi marah. "Jangan kira kami tidak tahu perbuatanmu, kau harusnya malu menganggap dirimu seorang pria!" Chapter 219: Pacar Kaori yang Misterius Haru mendengus dingin. "Jika kau menghinaku sekali lagi, siap-siap gigimu itu copot." "Aduh jangan gitu dong Haru, nanti dia tidak bisa menghisap barang milikku lho!" Canda teman-temannya yang ada di belakang dirinya. "Benar katanya, wajah cantik seperti kalian ini sayang sekali untuk dirusak." Kata Haru dengan nada mengejek. Kaori sudah muak, "Cepat pergi dari sini kalau tidak urusan lain." Haru mendengus dingin. "Jika malam itu tidak ada yang mengganggu, kamu sudah berbadan dua." "!!!" Mendengar hal itu membuat Kaori menjadi marah. Teman-temannya Haru sudah tertawa keras ketika mendengarnya. "Hahaha jadi ayah secepat itu? Mana mungkin kau bisa!" "Tapi punya istri seperti perempuan itu benar-benar tidak buruk." Mendengar hinaan seperti ini, Kaori merasa malu dan marah. Pada saat ini, Haru menyadari keberadaan Randika yang duduk di samping Kaori. "Sepertinya kau sudah menemukan budak baru yang suka dengan barang bekas, apa bagusnya coba dari laki seperti ini?" Mendengar ejekan itu, teman-temannya tertawa kembali. "Aku cukup heran kenapa kau bisa melepas bidadari cantik seperti Kaori ini demi seekor orangutan?" Mendengar kata-kata ini, perempuan yang dirangkul oleh Haru menjadi marah. Haru sendiri merasa kata-kata itu tamparan bagi wajahnya. "Kau sepertinya nyari mati ya bocah." Haru melototi Randika, berusaha membuat lawannya itu ketakutan dengan penampilan sangarnya. "Kalau iya?" Randika berkata sambil menyesap kopinya. Haru benar-benar tersinggung, sepertinya dia dianggap kerikil oleh pria itu. "Kau sudah bosan hidup?" Haru menerjang ke arah Randika, namun tangannya tertangkap dan dia tidak bisa menggerakannya. Randika masih memegangi cangkir kopinya dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya menahan pukulan Haru. Semua orang terkejut bahkan Kaori dan Naomi sekalipun. Haru makin marah, dia merasa bahwa dirinya telah terhina di depan teman-temannya dan perempuannya. Sesaatnya Randika melepaskan tangannya, Haru melangkah mundur beberapa langkah. Randika menaruh cangkir kopinya dan berkata dengan santai. "Sebaiknya kau pergi sebelum memalukan dirimu sendiri. Haru sama sekali tidak gentar, dia menerjang maju dengan amarah yang meledak-ledak. Pukulan yang dia layangkan dengan mudah ditahan oleh Randika dengan satu tangan. Randika lalu memelintir tangannya, dalam sekejap Haru sudah mengerang kesakitan. Seluruh tubuh Haru terlihat ikut terpelintir mengikuti tangannya. Semua orang menatap Randika dengan tatapan bingung dan kagum, orang seperti itu bisa mengalahkan Haru dengan mudah! Kaori sendiri makin cinta dengan Randika, apalagi setelah kejadian dengan para polisi itu, Kaori menebak bahwa Randika bukanlah orang sembarangan. Bagaimanapun juga, dia ingin meluapkan rasa cintanya itu di ranjang. Randika mengeluarkan sedikit tenaga dan teriakan Haru makin menjadi-jadi, dia merasa tangannya bisa patah sewaktu-waktu. "Jangan bergerak atau tanganmu akan patah." Kata Randika dengan santai, dia kembali mengambil kopinya dan menyesapnya sambil menatap Haru. Haru mengangkat kepalanya dan menatap tajam Randika, dia benar-benar marah. Dia akan membunuh pria ini! "Sudah lama aku tidak menghabisi orang sepertimu." Pikiran Randika kembali ke Indonesia, di mana dia sering bertemu dengan para preman. Dari luar memang mereka terlihat bengis dan tangguh, tetapi dipelintir sedikit mereka sudah merengek seperti bayi. Haru dan mereka sama sekali tidak ada bedanya. Randika kembali mengerahkan tenaganya sedikit dan tatapan Haru berubah menjadi ekspresi kesakitan. "Kau sepertinya makin ganteng ketika sedang kesakitan seperti ini. Bagaimana kalau aku patahkan saja tanganmu ini? Siapa tahu perempuan makin suka denganmu." "Lepaskan tanganku dan bertarunglah seperti seorang pria." Kata Haru dengan marah. "Oh? Baiklah." Randika langsung melepaskan genggamannya itu. Haru dengan cepat melangkah mundur dan menatap Randika yang duduk kembali. Setelah memastikan tangannya baik-baik saja, dia bersiap-siap untuk menerjang kembali. Randika duduk dan menikmati kopinya sambil menunggu Haru yang sedang melakukan pemanasan itu. Ketika Haru menerjang dirinya, Randika hanya memukulnya hingga terpental. Semua teman-teman Haru terkejut ketika melihat Haru dikalahkan dengan mudah. Ketika Haru menerjang maju, Randika sama sekali tidak bergerak. Barulah ketika pukulan lawannya itu mendekat, Randika mengibaskan tangannya dan berhasil menghindari pukulannya. Namun, hanya dari kibasan tangan itu, Haru merasakan tubuhnya terdorong oleh kekuatan yang amat besar dan terpental. Melihat kawannya itu ada di lantai, rasa pertemanan beberapa orang mulai berkobar. Beberapa dari mereka mulai menerjang maju ke arah Randika. "Hentikan!" Naomi melihat situasi semakin kacau. "Tidak apa-apa, serang saja aku bersamaan." Kata Randika sambil tersenyum. Menghadapi orang-orang seperti ini sangatlah mudah bagi Randika dibandingkan dengan perangnya tadi pagi. Terkadang menghabisi cecunguk seperti ini menimbulkan sensasi tersendiri. Beberapa orang menerjang maju bersamaan dan melayangkan pukulan. Randika hanya menggunakan kedua tangannya itu untuk memukul mundur mereka hingga terpental, sama seperti Haru. Baru setelah ini, semua berandalan yang menemani Haru itu maju bersamaan. Randika berdiri sambil memegangi cangkir kopinya, berniat untuk meminumnya, tetapi pada saat ini, orang-orang itu sudah berada dekat dengan dirinya. Tubuhnya bergerak dengan cepat, menghindari pukulan demi pukulan dengan mudah. Ketika dirinya bergerak ke samping, tangannya berhasil menggenggam erat tangan lawannya dan melemparnya. Orang yang berbobot setidaknya 70 kg itu terpental dan membentur temannya. Lawannya lain hendak menyerang dari belakang, Randika hanya berputar dan menamparnya dengan keras. Orang itu berputar-putar dan akhirnya pingsan. Sesaat sebelum pingsan, tendangan Randika membuat orang ini terbang dan membentur temannya yang lain. Dalam sekejap, satu per satu orang yang menerjang ke arah dirinya itu dihajarnya. Bahkan mereka berupaya menyandera Naomi agar dijadikan sebagai tameng. Namun, Randika hanya tersenyum ketika menyadarinya dan menggenggam erat tangan lawannya itu. Sambil tersenyum, Randika melempar kopinya tepat di wajah lawannya! Sensasi panas membuat matanya tidak bisa terbuka, Randika dengan santai menendangnya. Di bawah kekuatan Randika, para berandalan ini sama sekali tidak berdaya. Semua karyawan dan pengunjung di kafe terkagum-kagum oleh pemandangan ini. Pria itu ternyata kuat sekali, terlebih berandalan itu sering berulah di kafe ini jadi para karyawan senang melihatnya. Haru dan teman-temannya mulai panik. Melihat Randika yang berdiri dengan santai, mau tidak mau mereka harus mundur. "Tunggu saja pembalasanku!" Kabur? Randika hanya tersenyum. "Lain kali bawa semua temanmu, aku juga sedang tidak buru-buru." Ketika mendengar hal ini, tubuh Haru menjadi kaku. Diseret oleh temannya, akhirnya mereka semua menghilang dari kafe ini. Randika duduk kembali dan menyadari bahwa ketiga perempuan ini menatapnya lekat-lekat. "Ada apa ya?" Randika tersenyum. "Apa ada kotoran di wajahku?" Naomi terlihat serius. "Kamu bisa bela diri?" Randika menutup mulutnya dan tidak menjawab sama sekali. "Wah beruntung sekali kamu ya Kaori! Kamu harus membiarkan pacarmu ini mengajariku beberapa trik." Naomi menjadi bersemangat. Kaori juga ikut tersenyum ketika menatap Randika. "Kalau itu sih terserah pacarku." Randika merasa tidak berdaya dan mengangguk secara perlahan. "Wow itu bagus!" Chapter 220: Ambilkan Aku Kopi yang Baru Naomi terlihat bersemangat, dia sangat menyukai berbagai macam bela diri. Randika dan ketiga perempuan ini mulai mengobrol dengan santai. Topik awalnya merupakan cerita perjumpaan pertama Randika dengan Kaori dan topik-topik lainnya. Seperti contohnya ketika mereka melakukan kencan buta berkelompok, Naomi waktu itu berhasil mendapatkan lelaki incarannya dan berhubungan badan dengannya sepanjang malam. Randika mendengarkan kehidupan sex ketiga perempuan ini sambil berkeringat dingin. Perempuan-perempuan ini tidak sungkan menceritakan pengalaman intim mereka. Meskipun perempuan di Indonesia juga sama terbukanya, mereka tidak akan membicarakannya di depan publik. Naomi juga membahas kemampuan mantan pacarnya yang sangat buruk di atas ranjang dan cepat loyo itu. Untungnya, topik ini tidak menyinggung nama Randika sama sekali dan Kaori juga tidak membahas pengalaman intim mereka berdua. Yang paling membuat Randika terkejut, ternyata Kaori sama sekali belum pernah melakukannya! Berarti kalau tidak ada campur tangannya, Haru bisa membuat Kaori ini trauma dengan pengalaman seperti itu. Jadi kalau malam itu Randika melakukannya hingga akhir, dia akan mendapatkan seorang perawan? Memikirkan betapa rapat dan ketat jepitan seorang perawan membuat Randika sedikit bersemangat. "Randika, hei Randika!" Mendengar suara orang memanggilnya, Randika kembali sadar. Ternyata Kaori memanggil dirinya. "Minggu depan sepertinya ada pesta, maukah kamu datang bersamaku?" Kaori menatap Randika dengan ekspresi penuh harap. Pesta? Setelah memikirkannya, Randika berkata sambil tersenyum. "Kalau aku ada waktu, aku akan pergi bersamamu." Kaori tersenyum ketika mendengarnya, janji seperti itu sudah cukup baginya. Randika sendiri tidak berani mengiyakan dengan mudah, urusannya dengan Shadow dan Bulan Kegelapan belum selesai. Jika masalah ini belum selesai, maka Randika tidak bisa tidur dengan tenang. Di tengah pemikirannya ini, Randika juga harus mengabarkan Inggrid mengenai situasinya. Dia tidak ingin istrinya itu khawatir dengan dirinya. Randika tidak yakin kapan dirinya bisa pulang ke pelukan Inggrid. Pada saat ini, keempat orang ini terlihat mengobrol dengan gembira. Namun, pada saat ini pintu kafe ini terbuka kembali. Dan saat ini Randika menyadari bahwa Haru datang bersama dengan dua polisi. Kaori dan Naomi terkejut ketika melihat Haru membawa-bawa polisi ke dalam masalah mereka ini. Kedua polisi ini menggenggam erat senjata mereka, sepertinya jika Randika macam-macam maka mereka tidak akan sungkan untuk menembak. Situasi seperti ini membuat semua orang menjadi takut. "Itu dia penjahatnya, tangkap dia pak!" Haru menunjuk ke arah Randika, dia melaporkan bahwa Randika adalah seorang pencopet yang telah menghajarnya demi uang di dompetnya. Ketika kedua polisi itu menghampirinya, Randika hanya menatap kedua polisi tersebut sambil tersenyum. Melihat senyuman itu, kedua polisi ini merasakan firasat buruk. Polisi yang di sebelah kanan berbisik kepada temannya. "Hei, bukannya wajah orang itu tidak asing?" Setelah diingatkan temannya, sambil berkeringat dingin, polisi itu menyadari siapa sosok Randika itu dan langsung berbalik sambil menyeret temannya. Tanpa berkata apa-apa, kedua polisi itu berjalan sambil menahan napasnya dan pergi dari kafe ini. Haru awalnya menatap Randika dengan tatapan dingin, tetapi ketika kedua polisi itu lari dengan terbirit-birit, wajah Haru terlihat bingung. Bukannya para polisi itu akan menangkap penjahat itu? Kenapa mereka malah lari? "Hei tunggu dulu, mau ke mana kalian! Dia itu penjahat!" Haru berusaha mencegah kedua polisi itu pergi. Semua orang di dalam kafe mulai bertanya-tanya pada diri mereka masing-masing, kenapa polisi itu malah kabur ketika melihat Randika? Saat kedua polisi itu tertahan di depan pintu kafe, salah satu dari mereka nampak bingung. Dia tidak tahu kenapa temannya itu menyeretnya pergi tanpa menjelaskan apa-apa. Meskipun dia familier dengan wajah penjahat itu, sepertinya dia tidak ingat di mana pernah melihat wajahnya. Bagaimanapun juga, dia sudah cukup tua. Dia hanya menyuarakan rasa penasarannya tersebut ke temannya tetapi reaksi temannya itu ternyata berlebihan. Temannya itu menjawab. "Takeshi, apa kamu berani menangkapnya? Apa kamu lupa dengan operasi penangkapan kapan hari di sebuah rumah aman?" Mendengar penjelasan temannya itu, polisi bernama Takeshi itu wajahnya menjadi buruk. Kejadian hari itu benar-benar melekat di ingatannya. Pada hari itu, puluhan mobil hitam mengepung dirinya dan kesatuannya dengan senapan mesin yang besar. Pantas dia pernah melihat wajah itu, orang yang mereka hendak tangkap adalah orang itu! Dia bersyukur temannya ini berusaha membawa dirinya cepat-cepat keluar dari tempat mengerikan ini sebelum mereka tertimpa nasib buruk. Pada saat mereka hendak pergi, terdengar suara lantang yang memanggil mereka. "Tunggu!" Kedua polisi itu langsung menjadi kaku ketika melihat sosok Randika yang memanggil mereka. Haru benar-benar bingung, kenapa para polisi ini kelihatan ketakutan seperti ini? Dan kenapa mereka menghampiri Randika dengan kepala tertunduk? Semua pengunjung di kafe juga bertanya-tanya, kenapa kedua polisi itu seperti anak kecil di hadapan Randika? Naomi dan Kaori juga sedikit bingung ketika kedua polisi itu tiba di meja mereka. "Ada apa ya?" Salah satu dari polisi itu menguatkan hatinya. Mereka berdua sama sekali tidak berani menyinggung hati orang ini. "Kopiku sudah habis, ambilkan yang baru untukku." Randika menyodorkan cangkir kopinya yang sudah kosong sambil menatap tajam mereka. Keduanya menghembuskan napas lega dan berusaha mengambilkan kopi yang baru. Tetapi sayangnya cangkirnya hanya ada satu, salah satu dari mereka harus terjebak di meja ini. Haru yang melihat kejadian ini hanya bisa menganga, apa orang itu Yakuza? Yakuza merupakan sindikat terorganisir di Jepang, bisa dikatakan bahwa mereka adalah mafia Jepang. Pengaruh mereka di bidang politik, ekonomi dll sangatlah besar dan tentu saja kepolisian tidak lepas dari pengaruh mereka. Melihat kemungkinan itu besar, Haru menjadi takut. Tidak ada alasan lain yang bisa membuat kedua polisi itu ketakutan dan menuruti Randika seperti anjing. Kejadian seperti ini hanya bisa disimpulkan bahwa Randika bukan orang sembarangan. Kedua polisi itu memutuskan pergi berdua untuk mengambilkan kopi yang baru buat Randika. Mereka menaruh cangkir tersebut dengan pelan. "Apakah ada yang bisa saya bantu lagi?" Polisi itu bertanya dengan pelan. "Tidak ada." Randika menyesap kopinya dan berkata dengan santai. "Omong-omong, orang yang menuduhku itu punya sejarah kejahatan yang panjang. Periksa saja riwayat hidupnya." Kedua polisi itu mengangguk dengan cepat dan, di bawah arahan Randika, menangkap Haru untuk diinterogasi. "Lepaskan aku! Kalian menangkap orang yang salah!" Haru meronta-ronta ketika hendak diborgol. Semua orang di kafe sudah tidak tahu harus berkata apa, mereka menatap Randika dengan perasaan kagum sekaligus takut. Siapa orang itu sebenarnya? Kedua teman Kaori ikut menjadi takut tetapi Kaori terlihat biasa-biasa saja. Dia sudah melihat adegan di rumah aman Randika jadi dia mengerti bahwa Randika bukanlah orang sembarangan. Setelah beberapa saat, suasana meja yang awalnya meriah itu menjadi hening. Naomi menyeret Kaori dan berbisik di telinganya. "Hei, pacarmu itu siapa sebenarnya? Kenapa dia terlihat menakutkan seperti itu?" Kaori menggelengkan kepalanya. "Aku sendiri tidak tahu." Naomi geleng-geleng dan tatapan matanya bertemu dengan Randika. Sepertinya dia makin penasaran dengan identitas asli pria ini. Randika mengambil cangkir kopinya yang penuh itu dan tersenyum. "Jika kamu menatapku seperti itu, bisa-bisa kopiku ikut dingin." Keempat orang ini kembali bercanda sebentar. Dan ketika kopinya sudah habis, Randika berniat untuk pergi. Naomi sambil tersenyum berkata pada Randika. "Bukankah seorang pria sejati seharusnya mengantar ceweknya pulang dengan selamat?" Chapter 221: Pemandangan Indah Naomi berkedip ke arah Randika, sedangkan Kaori hanya bisa menunduk dengan wajah tersipu malu. Sesuai perkataan Naomi, mengantar pulang seorang perempuan hingga ke rumahnya merupakan ciri-ciri seorang pria yang jentelmen. Bisa dikatakan bahwa ketika perempuan mengajakmu minum kopi, dia ingin menjalin hubungan denganmu. Dengan meminum kopi, mereka bisa menilai dirimu dan membangun sebuah hubungan. Dan tentu saja, setelah acara minum kopi ini telah selesai, mereka akan menilai apakah mereka ingin bercumbu denganmu atau tidak. Dari bercumbu itu mungkin percik-percik cinta akan muncul atau kalau tidak ingin menjalin hubungan yang terikat maka mereka bisa menjadi sex buddy atau istilah gaulnya friend with benefit. Bahkan di Indonesia, hal seperti ini sudah wajar. Jika seorang perempuan tidak suka denganmu, maka mereka tidak akan mengijinkan kamu untuk menjemput atau mengantarnya pulang. Jika dia berniat membawamu pulang ketika orang tuanya tidak ada ataupun bersedia menginap di rumahmu, ini sudah merupakan sinyal yang jelas bahwa mereka ingin bercumbu denganmu. Melihat wajah malu Kaori, Randika berdiri sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya. "Tentu saja." Naomi dan temannya tertawa dan mengucapkan selamat pada Kaori. Dia mengingatkan Kaori untuk memakai pelindung di pengalaman pertamanya nanti. Kemudian mereka berempat keluar meninggalkan kafe dan berjalan menuju rumah Kaori. Randika berjalan berdampingan dengan Kaori sedangkan Naomi bersama dengan temannya. Dari belakang, Naomi menilai Randika dari atas hingga bawah. Setelah itu dia berbisik ke temannya lalu menyeret Kaori ke samping mereka. Setelah berbisik di telinganya, keduanya tertawa keras sedangkan Kaori hanya bisa tersenyum pahit. "Hmm? Apa ada yang lucu?" Randika bertanya sambil tersenyum pada Kaori. Wajah Kaori sudah merah padam, apa dia harus berkata jujur pada Randika? "Apa kamu benar-benar ingin tahu?" Kaori sedikit ragu-ragu. "Tidak apa-apa, santai saja." Kata Randika sambil tersenyum. "Jadiˇ­ mereka hanya ingin tahu, seberapa panjang milikmu itu." Kata Kaori sambil tersipu malu. Mendengar hal ini, Randika juga ikut terkejut dan terbatuk. Dia merasa kedua temannya itu benar-benar bar-bar. Sepertinya perempuan dan laki tidak ada bedanya, isi kepalanya penuh dengan makanan dan sex. Pria biasanya, ketika membahas perempuan, rata-rata bercerita bagaimana lekuk tubuh perempuan yang mereka lihat, seberapa besar dadanya, kakinya yang mulus atau betapa cantiknya perempuan itu. Sepertinya perempuan juga tidak jauh berbeda ketika membahas pria yang ditemuinya, seperti apakah dia tampan atau tidak, berotot atau tidak, gaya rambutnya bagaimana dan seberapa besar alat kelaminnya. Pria dan wanita sama-sama dilahirkan mesum! Ketika melihat kedua pasangan itu malu-malu, senyuman Naomi makin menjadi-jadi. Ketika sesampainya di rumah Kaori, Randika berdiri di luar pintu dan hendak pergi pulang. Tetapi, lagi-lagi dirinya dicegat oleh Naomi. "Sudah jauh-jauh ke sini jangan langsung pulang dong. Masuklah sebentar, Kaori sendiri sepertinya masih ingin menghabiskan waktunya bersamamu." Randika menatap Naomi dan berkata sambil tersenyum. "Aku dengan senang hati menerimanya, tetapi aku takut kalau kalian keberatan dengan kehadiranku." "Ah santai saja, aku cuma ingin kamu nanti bersikap lembut pada temanku ini karena ini masih pengalaman pertamanya." Naomi tertawa. Kaori yang mendengar dirinya dijual itu hanya bisa tersipu malu, dia mengundang Randika untuk masuk ke dalam rumahnya. Dengan begitu, keempat orang ini kembali berkumpul di dalam rumah. Mau dirinya di mana pun, entah kenapa dirinya selalu dikelilingi perempuan-perempuan cantik. Menjadi orang tampan benar-benar susah! Kedua teman Kaori ini juga merupakan perempuan cantik, tetapi Kaori sendiri tidak kalah cantiknya. Dari bentuk tubuh, Naomi dan temannya itu bisa menggoda iman para lelaki dengan mudah. Mengandalkan paras cantik dan tubuh mereka yang bagus, pakaiannya yang dipadu dengan rok ketat membuat mereka makin menggoda. Namun, kecantikan Kaori itu benar-benar berada di level yang berbeda. Mungkin karena wajahnya yang kekanak-kanakan, Kaori memberikan kesan muda dan polos! Ketika masuk ke dalam ruang tamu rumahnya Kaori, mereka segera duduk di bantalan duduk. Melihat Randika yang sungkan, Naomi segera menyuruhnya duduk. "Sudahlah jangan kaku dan terlihat polos seperti itu." Naomi tersenyum. "Aku tidak akan memakanmu kok, lagipula kamu itu cowoknya Kaori." Mendengar itu, Kaori kembali tersipu malu. Dia tidak berdaya dengan sifat terus terang Naomi yang intens. Randika hanya tersenyum dan duduk. Dalam sekejap, bau parfum dari ketiga perempuan ini menyerang dirinya secara bersamaan. Terlebih lagi, Kaori yang duduk di sebelahnya itu, entah sengaja atau tidak, mengambil tangan Randika dan meletakannya di pahanya. Randika mengingat ciuman panas mereka di kafe sebelumnya. Sepertinya dia beruntung bisa berada di tempat ini. Keempatnya mulai mengobrol dan topik mereka bervariasi mulai dari yang mesum hingga kehidupan sehari-hari. Dan akhirnya, mereka memutuskan untuk bermain kartu. Namun karena kartunya berada di kamar tidurnya Kaori, mereka berempat memutuskan untuk bermain di kamar saja. Akhirnya mereka berempat naik ke lantai 2 dan Randika berjalan secara perlahan, memberi waktu untuk Kaori apabila ingin membersihkan kamarnya. Ketika sampai di atas, ketiga perempuan itu berlari sambil tertawa dan cepat-cepatan siapa yang bisa masuk ke dalam kamar duluan. Pada saat ini, sepertinya salah satu dari mereka terpeleset. Tiba-tiba, seluruh tubuhnya terdorong ke depan! Bergerak secara reflek, tangannya menjulur dan menangkap tangan Naomi. Hal ini membuat Naomi ikut terjatuh, dan dalam proses itu, Naomi menyeret Kaori bersamanya. Randika yang masih berjalan dengan santai di tangga, mendengar suara terjatuh yang keras itu dan langsung berlari. Di bawah tatapan mata Randika, ketiga perempuan yang terjatuh ini sepertinya merobek rok ketat mereka. "Aduh sakit!" Ketiganya mengeluh sakit, sedangkan Randika masih menikmati pemandangan indah ini dari belakang. Setiap pakaian dalam mereka terekspos! Randika belum pernah melihat pemandangan seperti ini dalam hidupnya. Teman Naomi itu memakai celana dalam berwarna ungu, pantatnya yang kenyal itu hanya terbungkus setengah dan sisa kainnya terselip di sela-sela pahanya. Randika sangat ingin menampar pantat itu! Naomi, yang paling bar-bar diantara mereka, ternyata memakai G-string berwarna merah! Ternyata Naomi siap bertempur kapan saja asalkan dia menemukan lelaki yang tampan. Kaori sendiri memakai celana dalam putih yang polos, benar-benar perempuan yang polos! Ketiganya itu masih kesakitan di lantai, mereka sendiri sadar bahwa rok mereka itu sobek dan tidak terlalu memedulikannya. Mereka masih mengeluh sakit dan menyalahkan satu sama lainnya. Namun ketika melihat sosok Randika, mereka semua menjadi malu. Dalam sekejap mereka tahu bahwa Randika sudah mengintip mereka. "Pacarmu itu ternyata orang yang mesum!" Naomi tertawa ketika melihat celana Randika yang terlihat sesak itu. Untuk memberikan kenang-kenangan pada Randika, Naomi mengangkat rok milik Kaori agar Randika bisa melihatnya lebih jelas. Randika hanya bisa menyaksikannya sambil meminum air liurnya. Chapter 222: Kembali ke Azumi Bar Melihat Naomi yang mengangkat tinggi rok Kaori itu, barang milik Randika makin mengeras. Sepertinya Naomi benar-benar mengenal dirinya, teman seperti ini asyik juga. "Lihat itu, pacarmu sudah siap menusukmu. Besok sepertinya kamu tidak bisa berjalan dengan benar, hahaha!" Naomi mulai tertawa keras. Kaori hanya bisa tersipu malu dan menutupi bagian bawahnya. Setelah bangkit berdiri, ketiganya berganti celana dan mulai bermain kartu bersama Randika. Namun, pikiran Randika masih ke mana-mana jadi dia sama sekali tidak fokus bermain. Setelah beberapa saat, Randika memutuskan untuk kembali ke rumah amannya. Meskipun dirayu oleh Naomi dengan dijanjikan malam pertama yang menyenangkan, Randika harus fokus terlebih dahulu dengan Bulan Kegelapan dan Shadow. Dia juga keluar tanpa memberitahu anak buahnya itu, dia tidak ingin membuat mereka semua khawatir. Sesampainya di rumah amannya, Randika memanggil Catherine dan yang lain untuk memeriksa keadaan mereka. Namun, sepertinya mereka tidak dapat menemukan apa-apa. Setelah Shadow dan Bulan Kegelapan kabur dari rumah bangsawan Hiroyuki, mereka bersembunyi bagaikan tikus. Sangat susah menemukan keberadaan mereka. Karena tidak ada informasi, Randika mau tidak mau kembali ke Azumi bar. Setelah beberapa hari renovasi, bar milik Azumi ini telah kembali seperti sedia kala. Seakan-akan tidak pernah ada pertarungan yang mematikan pernah terjadi di sini. Meskipun hari masih sore, sudah banyak orang berkumpul di bar ini. Musik tidak pernah berhenti bermain dan pengunjung bar ini tidak pernah berhenti menari sambil mabuk. Randika sama sekali tidak berniat untuk menari ataupun mencari perempuan cantik. Dia langsung menuju tempat bartender berada. Ketika Akira melihat Randika, dia langsung menuangkan wine simpanannya. Setelah menuangkannya, dia meletakan gelas wine itu dengan hati-hati di depan Randika. Randika menyesapnya dan menyukai pilihan wine ini. Pada saat yang bersamaan, nada suara yang dingin terdengar dari belakang. "Kamu tahu kan wine itu tidak gratis." Azumi dengan pakaian sexy dan ketatnya itu menghampiri Randika, perempuan ini benar-benar menawan! Akira dengan cepat menuangkan wine tersebut kembali dan memberikannya pada atasannya. Randika menggelengkan kepalanya. "Akhir-akhir ini aku tidak punya uang, bukannya ada metode lain selain membayar dengan uang?" "Baiklah." Azumi tiba-tiba tersenyum. "Sepertinya kamu tidak lupa bahwa kamu masih harus memuaskanku di ranjang." Randika tersenyum pahit dan mengulurkan tangannya ke pinggang Azumi. Tetapi, Azumi menampar tangan Randika dan tersenyum. "Kamu itu tidak lebih dari sekedar dildo bagiku, jangan bertindak keterlaluan." "Jadi maksudmu aku ini tidak lebih dari sekedar pemuas nafsumu?" "Tentu saja." Azumi duduk di sebelah Randika dan tersenyum. "Hubungan kita tidak lebih dari bisnis, kalau kamu tidak bisa membayarku dengan uang maka bayarlah dengan tubuhmu itu. Kalau aku membutuhkan jasamu maka jangan coba-coba kamu lari." Randika tidak bisa berkata apa-apa untuk sementara waktu, Azumi menganggap dirinya sama seperti anak buahnya? "Lupakan saja." Randika menggelengkan kepalanya. "Aku tidak ingin membayar dengan cara seperti itu, aku akan memberikan cek padamu ketika kita bertemu lagi." Azumi menggigit bibirnya dan menatap Randika dengan perasaan bingung. Sangat disayangkan pria ini tidak mau menuruti dirinya. "Jangan menatapku seperti itu kecuali..." Randika menempelkan tangannya di paha Azumi. "Kecuali kamu benar-benar ingin tidur denganku." Azumi sudah merasa jijik, namun ekspresinya berubah menjadi sebuah senyuman. "Sayangnya aku sudah tidak tertarik denganmu." Azumi lalu berdiri dan meninggalkan meja bar sambil berkata pada Akira. "Tagihkan botol wine itu padanya dengan harga 10 juta yen." Akira jelas terkejut. Apa dia tidak salah dengar? Bukankah seharusnya nona Azumi memiliki hubungan yang baik dengan Ares? Namun, Akira sama sekali tidak berani membantah perintah nona Azumi. Mau bagaimanapun juga, dia adalah anak buahnya. Randika hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sifat Azumi bisa berubah lebih cepat dari membalikan telapak tangan. Terlepas dari penampilan sexynya itu, perempuan seperti dirinya sudah terbiasa membuat para pria menari di atas tangannya. Perempuan seperti Azumi bisa dikatakan sangat berbahaya. Setiap harinya dia harus bertahan hidup di dunia gelap Tokyo yang berbahaya dan kacau, belum lagi tempat barnya ini merupakan tempat netral dan tempatnya menjual informasi pada penawar tertinggi. Jadi keberadaan Azumi di Tokyo benar-benar kuat, informasi yang dijualnya merupakan salah satu bukti betapa luas pengaruhnya di Tokyo. Oleh karena itu, berurusan dengan perempuan seperti ini Randika sama sekali tidak ingin diremehkan. Dia tidak akan pernah mau menari di telapak tangan seseorang! Karena dia sudah membayar mahal untuk botol wine ini, Randika terus meminumnya. Memang rasanya enak tetapi dia tidak boleh meminumnya banyak-banyak. Berdasarkan instruksi kakek ketiga, dia tidak diperbolehkan menegak alkohol ketika ingin meminum obat buatannya itu. Setelah beberapa saat, datang seorang pria Amerika berbadan besar. Dia terlihat sangat kuat, lebih kuat dari siapapun yang ada di bar ini. Pria dari Amerika ini datang ke bar dan meminta bir dengan Bahasa Jepangnya yang fasih. Kemudian matanya terlihat berbinar-binar ketika melihat sosok Azumi yang menggoda! Mulutnya tersenyum dan matanya sudah ke mana-mana, perempuan satu itu benar-benar cantik. "Maukah kamu minum denganku?" Pria itu menghampiri Azumi dengan tatapan mesumnya. Dia suka perempuan dengan tubuh seperti ini, dia tidak sabar mencicipinya di ranjang. Azumi yang suasana hatinya sedang buruk itu berkata sambil tersenyum. "Boleh saja, tapi kau harus mengalahkan mereka dulu." Azumi lalu menepuk tangannya dan muncul 2 pengawalnya yang berbadan besar dari arah belakangnya. Pria itu tersenyum dan menyanggupi persyaratan Azumi. Bisa dibilang dia ini adalah atlit tinju dunia yang pernah menjadi juara dunia, buat apa dia takut sama pengawal dari bar? Pria Amerika ini jelas pertama kali pergi ke Tokyo karena dia sama sekali tidak mengetahui reputasi Azumi bar. Azumi masih meminum winenya dengan santai, namun dia berhenti minum ketika melihat anak buahnya itu dihajar dengan mudah. Dia awalnya mengira pria itu hanya besar di badannya dan tidak terlalu kuat, bisa dikatakan bahwa dia bukanlah tandingan pengawalnya yang sudah terlatih. Tanpa diduganya, ternyata pria Amerika itu dapat menghajar anak buahnya dengan mudah. Situasi Azumi benar-benar canggung sekarang. Pria itu lalu menoleh ke arah Azumi sambil tersenyum! Meskipun dua pengawal itu kuat, mereka tidak ada apa-apanya dibandingkan dirinya. Pria itu menghampiri Azumi, tersenyum, menuangkan wine ke gelasnya dan memberikannya pada Azumi. "Minum." Pria itu menatap Azumi lekat-lekat. Azumi hanya tersenyum, mendorong gelasnya itu dan mengatakan. "Kamu bukan orang sini ya?" "Asalku bukan hal yang penting." Kata pria itu. "Yang paling penting adalah janjimu tadi." "Aku tidak masalah meminum wine yang bagus." Kata Azumi dengan santai. "Tapi aku kurang senang meminumnya dengan orang yang tidak aku kenal." "Jadi kamu akan mengingkari janjimu tadi?" Pria itu mengerutkan dahinya. "Aku tidak mengira kamu adalah pembohong." "Aku tidak pernah melanggar kata-kataku." Kata Azumi sambil tersenyum. Dia lalu mengambil gelasnya dan meminumnya dalam satu kali teguk. "Dengan ini janjiku sudah terpenuhi. Aku ada urusan jadi aku tidak bisa menemanimu lebih lama lagi." Azumi langsung berdiri dan hendak pergi. Pada saat ini, pria itu juga berdiri dan menangkap tangan Azumi. "Wow, ngapain buru-buru?" Kata pria itu sambil tersenyum. "Aku saja belum minum sama sekali. Lagipula, bukankah kita ini pasangan yang cocok?" "Oh? Benarkah? Aku tidak merasa seperti itu." Suara Azumi terdengar dingin, pria ini benar-benar tidak tahu diri. "Kita lihat saja nanti." Pria itu tertawa. "Aku tidak ingin berbasa-basi, aku menyukaimu dan malam ini kita akan bersenang-senang hingga pagi nanti, bagaimana?" Azumi membalasnya dengan senyuman sinis. "Maaf, aku tidak tertarik dengan pria sepertimu." "Kata-katamu itu tidak cukup untuk mengusirku." Ketika Azumi hendak pergi, lagi-lagi pria ini menangkapnya. "Kamu belum mengenalku, kalau kamu mengenalku mungkin kita bisa menjadi pasangan suami istri yang bahagia." Azumi menjadi marah. Kenapa pria ini begitu percaya diri? Apa dia tidak mengerti bahwa suasana hatinya sedang buruk? Lebih baik dia mati saja! Randika masih meminum winenya dengan santai. Dia sama sekali tidak menoleh ke belakang meskipun dia tahu situasi Azumi. Bukankah barusan Azumi mengatakan bahwa hubungan mereka tidak lebih dari sekedar bisnis? Oleh karena itu, buat apa dia meladeni urusan pribadi orang lain? Chapter 223: Hangatkan Kasurku Ketika Randika ingin pergi dari tempat ini, pria yang berasal dari Amerika itu mencengkeram erat tangan Azumi. Azumi menjadi marah karena tingkah laku pria ini yang terlalu memaksa. Azumi berusaha melepaskan diri sambil berkata dengan nada dingin. "Aku adalah pemilik dari bar ini. Jika kau terus memaksa seperti ini, berarti kau mengajak perang seluruh bar ini." "Aku tidak peduli berapa ikan teri yang kamu punya, aku akan mengirim mereka ke liang kuburnya." Kata pria itu sambil tertawa. "Malam ini kamu akan merintih di tempat tidur bersamaku, malam ini kamu adalah milikku!" Suara pria ini sangatlah keras hingga orang-orang dapat mendengar pembicaraan mereka. Semua orang yang di bar ini sudah mengetahui reputasi nona Azumi, baru pertama kali ini mereka melihat ada seorang laki-laki yang berani bertindak arogan seperti itu pada nona Azumi. "Siapa orang asing itu?" "Aku tidak tahu, tetapi sebentar lagi dia pasti mati." "Bodoh sekali dia, sepertinya dia tidak tahu kalau sudah menginjak ranjau." "Terakhir kali laki-laki yang berani berbicara seperti itu pada nona Azumi dilarikan ke rumah sakit dengan luka yang parah. Aku dengar dia sudah tidak bisa berjalan dengan benar." ......ˇ­. Semua orang bergosip dengan suara yang pelan, topik yang mereka bahas adalah tindakan berani pria Amerika itu yang memaksa Azumi untuk tidur dengan dirinya. Ekspresi wajah Azumi benar-benar dingin, tetapi dia tiba-tiba tersenyum. Sepertinya senyumannya mengandung niat membunuh. "Kalau begitu jangan menangis ketika orang-orangku menerjang ke arahmu." Kata Azumi. "Sudah kubilang, mau berapa pun yang kamu kirim aku akan mengirim mereka ke liang kuburnya seperti mereka berdua." Kata pria itu sambil tertawa. Dua pengawal yang dihajarnya sebelumnya masih terkapar tidak sadarkan diri di lantai. "Kita lihat apakah kau masih bisa searogan ini ketika semua orang menerjang ke arahmu." "Semua orang?" Pria itu mendengus dingin. "Baiklah tidak masalah. Tetapi ketika orang-orangmu itu sudah kalah semua, kamu harus tidur denganku. Cepat suruh mereka menyerang." Melihat sifat arogan pria ini, Azumi benar-benar sudah muak. Dengan satu tepukan tangannya, semua pengawalnya yang ada di dalam bar ini berkumpul. Orang-orang yang berada di lantai dansa berhenti menari dan memberikan ruang. Pria itu menatap semua pengawal itu. Setelah melakukan pemanasan, dia tersenyum pada Azumi. "Kalau begitu mari kita mulai?" "Kapan pun kau siap." Wajah Azumi terlihat dingin. Dia tidak percaya satu orang bisa mengalahkan seluruh pengawalnya seorang diri. Meskipun teori ini tidak berlaku pada Randika, itu semua karena dia adalah Ares sang Dewa Perang. Azumi percaya bahwa pria biasa seperti orang itu tidak mungkin bisa. Namun tanpa diduganya, pria Amerika itu menerjang maju dengan kedua tangannya melindungi kepalanya. Pukulan demi pukulan dia layangkan dengan begitu cepat. Pria ini memiliki tinju yang sangat kuat, pengawal yang berbadan besar itu tidak berdaya terkena pukulannya. Belum lagi, pria ini sangat lincah dan cepat. Meskipun para pengawal itu mengepungnya, dia bisa menghindari sekaligus memberikan serangan balik. Pukulan demi pukulan berhasil menumbangkan lawannya satu per satu. Azumi yang melihat hal ini mau tidak mau mulai berkeringat dingin. Satu per satu pengawalnya tumbang dan pria itu sama sekali tidak terluka. Hasil seperti ini benar-benar di luar dugaannya. Para pengawalnya ini adalah mantan pasukan terlatih jadi kekuatannya bisa dikatakan sangat kuat. Kecuali lawannya seorang ahli bela diri dunia seperti Ares, semua pengacau yang selama ini mengacau di bar ini telah mereka hajar. Namun tanpa diduga, pria dari Amerika ini sangatlah kuat. Dia sama sekali belum menerima satu pukulan meskipun lawannya lebih dari 20 orang. Setelah dikepung oleh 5 orang, akhirnya satu pukulan mendarat di perutnya. Tetapi baginya, pukulan itu seperti garukan di perutnya. Setelah beberapa menit berlalu, pria itu masih berdiri dengan kokoh. "Wah orang itu ternyata kuat!" "Sepertinya nona Azumi tidak akan tidur malam ini." "Siapa yang ngira ternyata lawannya itu sekuat itu? Nona Azumi juga pasti tidak menduganya." Setelah melihat sendiri cara bertarung pria itu, sebagian besar orang mulai mengasihani nona Azumi. Apalagi ketika semua pengawal bar ini sudah terkapar tidak sadarkan diri. "Bagaimana?" Pria itu menghampiri Azumi sambil tersenyum. "Kamu sudah tidak punya alasan lagi untuk menghindariku." Melihat pria itu menghampiri dirinya, Azumi mulai cemas. Dia tidak menduga anak buahnya akan kalah semua. Sepertinya tidak ada jalan lain selain menyerah. Tetapi tiba-tiba, Azumi menyadari keberadaan Randika yang masih duduk dengan santai sambil meminum winenya. Dalam sekejap matanya tampak berbinar-binar. "Masih belum." Azumi tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Maksudmu?" Pria itu mendengus dingin. "Kamu ingin mengingkari janjimu?" "Aku sama sekali tidak berkata seperti itu, maksudku adalah kau belum mengalahkan semua bawahanku di bar ini." Kata Azumi. "Bukankah orang-orang yang tak sadarkan diri itu adalah semua anak buahmu?" Pria itu menunjuk para pengawal yang pingsan di lantai dansa. Azumi menggeleng lalu tersenyum. "Kalau begitu keluarkan semua sisa orang-orangmu itu. Nasibmu untuk memuaskan nafsuku sama sekali tidak berubah." Kata pria itu dengan nada dingin, dia yakin malam ini akan menikmati tubuh Azumi itu. Azumi berjalan dan menghampiri Randika. Setelah duduk di sampingnya sambil tersenyum, Randika langsung berkata bahkan sebelum dirinya mampu berbicara. "Kenapa kamu mengganggu acara minumku?" "Bukankah lebih baik minum bersama temanmu? Apalagi setelah temanmu mengalami hari yang buruk." Dengan nada yang menyedihkan Azumi berusaha meminta tolong pada Randika. "Oh kasihan sekali kamu." Randika mengangguk tetapi dia sama sekali tidak berniat untuk membantu. Azumi mulai menggigit bibirnya. "Apa kamu tidak bisa membantuku kali ini saja?" "Buat apa aku membantumu?" Randika menoleh dan tersenyum. "Bukankah kita hanya rekan bisnis? Berarti ada harga yang harus dibayar untuk jasaku." Mendengar kata-kata ini, Azumi menjadi marah dalam hatinya. "Kalau begitu, berapa harga yang harus kubayar?" Randika mengedipkan matanya dan tersenyum, "Hargaku sangat murah. Aku hanya ingin kamu menghangatkan kasurku." Mendengar kata-kata ini, Azumi mengerutkan dahinya. Menghangatkan kasur, dia pernah mendengar hal ini dari temannya. Bisa dikatakan di jaman dahulu di negeri tetangga, seorang pembantu pribadi perempuan diharuskan menghangatkan tempat tidur majikannya sebelum waktunya tidur. Tentu saja, para pembantu ini juga berusaha memikat hati tuannya. Dan semua tergantung pada majikannya, jika dia senang dengan pelayanannya maka dia akan berhubungan badan dengannya. Apabila berhasil hamil, para pembantu itu akan diangkat menjadi selir. Melihat ekspresi tersenyum Randika, Azumi benar-benar marah. Dia ingin menolak mentah-mentah tawaran itu. Tetapi melihat kondisinya yang sekarang, dia tidak bisa menolaknya. "Kalau tidak mau tidak apa-apa." Randika memalingkan wajahnya. "Sebenarnya aku sedang sibuk jadi aku sedang buru-buru. Omong-omong wine ini enak juga, namamu Akira bukan? Masukan tagihan botol itu ke tagihanku." Melihat Randika yang hendak pergi, Azumi langsung berteriak. "Tunggu!" Randika menoleh sambil tersenyum. Dia percaya bahwa Azumi akan membutuhkan dirinya jadi dia terlihat santai. "Apa kamu menerima persyaratanku? Waktuku itu berharga, tiap detiknya senilai 10 juta yen." Randika pura-pura jual mahal. "Kalau tidak mampu membayarnya dengan uang maka bayarlah dengan tubuhmu itu." Chapter 224: Lembutnya Bibir Nona Azumi! Melihat sosok Randika yang tersenyum itu membuat Azumi menggertakan giginya, dia tidak punya pilihan lain. Jika dia tidak membuat pria dari Amerika itu babak belur, reputasi dirinya dan barnya akan mengalami keruntuhan. "Jangan melihatku seperti itu, semua itu tergantung dengan dirimu bukan?" Kata Randika sambil tersenyum. "Aku tidak akan memaksamu untuk menerima penawaranku ini, itu tentu tidak baik untuk hubungan bisnis kita bukan? Jadi kita harus adil dan terbuka, kalau tidak maka kita tidak bisa menyebut diri kita pebisnis." Azumi kehabisan kata-kata. Dia menghela napasnya dan menatap Randika, sambil menggertakan giginya dia berkata dengan nada yang enggan. "Baiklah, aku akan menuruti kata-katamu. Aku akan menemanimu." "Kamu kira bisa menipuku?" Randika tersenyum sinis. "Semuanya harus diperjelas di depan. Minum bersamaku bisa didefinisikan sebagai menemaniku dan tidur di sampingku juga termasuk menemaniku. Aku minta kejelasan dari mulutmu itu sendiri agar tidak terjadi kesalahpahaman." Azumi dibuat gila oleh Randika, sambil menggigit bibirnya dia mengatakan. "Aku akan berhubungan badan denganmu." Orang Amerika itu sudah muak menunggu dan menghampiri Azumi. Pada saat ini, dia mendengar janji Azumi untuk tidur dengan Randika. Dalam sekejap, hati pria itu dibakar oleh api amarah. "Hei bocah, wanita ini milikku. Apa kamu tidak tahu pepatah siapa cepat dia dapat?" Pria itu mengepalkan tinjunya. Siapa cepat dia dapat? Azumi marah ketika mendengarnya, apa dia semacam barang? Azumi, yang masih marah, mendengus dingin dan berjalan menghampiri Randika. Pada akhirnya, kata-katanya ini membuat semangat Randika membara. "Aku akan memberimu informasi secara gratis jika bisa menghajar pria ini." Melihat pria Amerika itu datang menghampiri Azumi dan seorang lelaki lainnya, semua orang di lantai dansa itu menduga akan terjadi konflik yang baru. "Habis sudah bar ini, pria asing itu benar-benar kuat! Percuma nona Azumi minta bantuan ke orang kuru situ." Seseorang menggelengkan kepalanya ketika berbicara mengenai nasib bar ini. "Belum tentu." Temannya itu menyadari sosok Randika yang sebenarnya. "Aku rasa pria asing itu akan terbunuh sebentar lagi." "Hah? Gila ya kamu? Mana mungkin laki itu bisa mengalahkannya?" "Hahaha, lihat saja nanti." .........ˇ­. Semua orang memiliki opininya masing-masing, tetapi pada saat ini, situasi mulai memanas. Randika sama sekali tidak mendengar provokasi pria asing tersebut, dia masih meminum winenya dengan santai. "Hei kau dengar aku tidak? Wanita itu adalah milikku!" Pria itu mengepalkan tinjunya. Ketika melihat Randika tidak peduli dengannya, amarahnya makin menjadi-jadi. "Apa kau pikir aku takut menghancurkan isi kepalamu itu?" "Aku rasa kau tidak mampu melakukannya." Randika menghela napasnya. Kali ini pria itu sudah tidak sabar lagi. Dia ingin menghajar bocah itu hingga dia cacat dan tidak bisa berjalan lagi. Tidak pernah ada orang yang berani bertindak arogan pada dirinya! Kepalan tinjunya melayang ke arah wajah Randika, seluruh amarah dan kekuatannya terkandung di dalam satu pukulan ini. Tetapi, pukulannya itu dengan mudah menghantam udara kosong. Pria itu terkejut dan semua orang yang melihat pertarungan ini juga ikut terkejut, Randika hanya berdiri dan menghindari pukulan itu dengan mudah. Mengingat bahwa mungkin pria asing itu hanya ingin menggertak lawannya, semua orang berpikir bahwa semua itu hanya kebetulan saja. Randika masih memegang gelas winenya di tangan kirinya. Dia meminum kembali wine senilai 10 juta yennya itu dengan santai. Melihat lawannya meremehkannya, pria itu melayangkan pukulannya sekali lagi. Namun, lagi-lagi pukulannya tidak mengenai sasarannya. Randika hanya menggeser kepalanya sedikit untuk menghindari pukulan mematikan lawannya. Pria Amerika ini terheran-heran dan matanya terbelalak. Bagaimana bisa kedua serangannya ini dihindari oleh pria yang terlihat biasa-biasa saja ini? Melihat sosok Randika yang santai meminum winenya, orang-orang yang tidak mengenal siapa Randika sebenarnya juga terheran-heran. Kenapa bisa pemuda itu belum terkena pukulan orang asing itu? Setelah beberapa saat, pria itu melayangkan pukulannya lagi pada Randika. Kali ini, targetnya adalah dada Randika. Dia ingin memotong jalur pernapasan Randika dan menghajarnya ketika dia kesakitan. Namun pada saat ini, Randika telah menghabiskan winenya. Dia berjalan menghampiri Akira untuk memintanya menuangkan kembali sambil menghindari pukulan lawannya. Gagal tiga kali berturut-turut membuat semua orang menebak-nebak siapa Randika itu sebenarnya. Kalau bukan kebetulan berarti kekuatan orang itu jauh di atas pria asing itu! Sedangkan di tatapan mata orang Amerika ini sudah mengandung rasa takut dan ngeri. Tidak diragukan lagi, lawannya itu masih menyimpan kekuatannya yang sebenarnya. Randika, yang gelasnya sudah penuh kembali, pura-pura terlihat terkejut. "Eh! Sejak kapan kau ada di belakangku?" Melihat sandiwara ini, pria itu mengerutkan dahinya. Apa berarti sebelumnya itu semua hanya kebetulan saja? Lagipula mana mungkin ada orang yang lebih kuat darinya? "Aku siap, majulah kapan saja." Kata Randika sambil tersenyum. Ketika orang-orang mendengar hal ini, mereka merasa kasihan pada Randika. Sepertinya keberuntungan orang ini telah habis, tentu seharusnya sebentar lagi dia akan babak belur. Tetapi beberapa detik berikutnya, semua orang terkejut-kejut ketika melihat hasil pertarungannya. Hanya dengan satu pukulan, pria asing dari Amerika itu terpental dan membentur tembok! Suasana langsung menjadi hening seketika. Semua orang yang tidak menyadari sosok Randika yang sebenarnya terkejut bukan main. Bahkan Akira yang sudah pernah melihat kehebatan Randika terkejut lagi. Randika yang masih meminum winenya itu berkata dengan cukup keras agar bisa terdengar oleh semua orang. "Maaf sepertinya aku terlalu banyak memakai tenagaku, apa kau baik-baik saja?" Ini bagaikan menyiram minyak ke api. Pria itu makin mengamuk, dia langsung berdiri dan menerjang ke arah Randika. Kali ini dia akan melumat kepala Randika hingga isi kepalanya itu keluar! Larinya makin lama makin cepat, setelah cukup dekat dia meraung keras dan melayangkan pukulannya. Berkat kecepatannya ini, kekuatan pukulannya menjadi berlipat ganda. Tetapi berkat kecepatannya itu, Randika membuatnya melayang lebih jauh lagi. Pria itu berdiri kembali. Kali ini dia merasa pusing dan pandangannya mulai kabur. Kemudian dia melihat Randika yang tersenyum ke arahnya, seakan-akan sedang mengejek dirinya. Untuk ketiga kalinya, pria itu berdiri dan menerjang kembali. Dan sesuai dugaan semua orang, pria asing itu kembali melayang dan membentur tembok dengan keras. Kali ini dekorasi tembok juga ikut jatuh dan menimpanya. Kali ini pria itu tidak langsung berdiri kembali. Dia menatap Randika yang berdiri di hadapannya dengan tatapan ngeri. Lawannya ini jelas bukan sembarangan, kalau tidak dia sudah menghajarnya dari tadi. Bahkan dirinya yang mantan petinju juara dunia itu sama sekali tidak berkutik di hadapan pria ini. Jagoan, pasti orang ini jagoan bela diri! "Apa sudah selesai?" Tanya Randika sambil tersenyum. Pria itu tidak menjawab, dia berdiri dan berkata sambil berlari menuju pintu keluar. "Wanita itu milikmu." Semua orang langsung berdiskusi setelah melihat pria asing itu lari terbirit-birit. "Wow pemuda itu ternyata kuat sekali!" "Aku tidak tahu cara apa yang dipakainya untuk bisa menang." "Orang itu adalah ahli bela diri yang ternama." Orang yang menglihat aksi Randika malam itu berkata dengan nada bangga. "Kejadian hari ini biasa-biasa saja bagiku, kalian belum melihat kejadian padaˇ­." Tiba-tiba suasana meriah ini menjadi hening ketika suara tepukan tangan Randika yang keras mengarah pada Azumi yang sedang merokok di pojok ruangan. Dengan suara lantang dia berkata pada pemilik bar itu. "Aku sudah membereskan masalahmu. Jadi kita tidur bersama malam ini atau besok?" Azumi mengeluarkan asap rokoknya dan terbatuk. Dengan berjalan perlahan, dia menghampiri Randika. "Terima kasih atas bantuanmu kali ini." Kata Azumi dengan tersenyum, dia berusaha terlihat secantik mungkin. Lalu sambil mengerutkan dahinya dia berkata pada Akira. "Keluarkan botol wine terbaik kita." "Sudah cukup." Randika menyeret Azumi untuk duduk di pangkuannya. "Aku tidak perlu mabuk untuk mencicipi tubuhmu ini. Jadi bagaimana? Kamu ingin melakukannya di kamarmu atau di kamarku?" Wajah Azumi berkedut, dia memalingkan wajahnya dan berkata dengan nada yang tenang. "Ares, aku yang sudah tua ini tidak pantas menjadi perempuanmu." "Itu semua tidak ada hubungannya dengan diriku atau tidak, semua ini adalah hasil dari kata-katamu sendiri. Jangan bilang seorang dengan reputasi tinggi sepertimu ingin melanggar kata-katanya sendiri?" Kata Randika sambil tersenyum. Azumi yang duduk di pangkuan Randika itu tersenyum pahit, dia menghisap rokoknya kembali. Untuk beberapa saat, Azumi benar-benar kehabisan ide. Jika ini orang lain, maka dia akan mencari orang untuk membunuh orang tersebut. Tetapi siapakah pria di hadapannya ini? Dia adalah Ares sang Dewa Perang yang ditakuti semua orang. Siapa memangnya yang bisa membunuhnya? Terlebih lagi, Randika sama sekali tidak takut terhadap ancaman apa pun, dirinya sama sekali tidak berdaya. "Apakah aku bisa membayar jasamu itu dengan cara yang lain?" Kata Azumi dengan nada yang enggan. "Baiklah kalau begitu." Kata Randika. Azumi terlihat senang, sepertinya dia bisa lolos hari ini. "Kalau begitu apa maumu?" Kata Azumi sambil tersenyum. "Pertama, aku ingin informasi yang kamu tawarkan gratis sebelumnya menjadi 3 kali kesempatan." "Meskipun aku tidak rela, tetapi baiklah." "Yang kedua, sini aku bisiki." Senyuman nakal Randika mulai menjulang tinggi. Azumi mendekatinya dan tiba-tiba Randika memanfaatkan hal ini untuk menciumnya! Ya Tuhan betapa enaknya! Randika merasa bibir Azumi berbeda dengan perempuan-perempuan yang sudah dicicipinya. Ketika dia ingin menikmatinya ini lebih lama, Azumi sudah mendorongnya dengan kuat. Randika yang sedikit puas itu berkata sambil tersenyum. "Baiklah kita impas." Meskipun marah, Azumi berusaha menenangkan dirinya. "Kalau tidak urusan, cepat sana pergi." Melihat Azumi yang menjauhi dirinya, Randika merasakan sedikit kekalahan. Kenapa? Karena dia tidak sempat meremas pantat indah itu. "Yang ketiga adalah aku ingin satu botol wine ini secara gratis. Namamu Akira bukan? Cepat bungkuskan aku satu botol itu." Randika mengambil botol itu dan langsung menuju pintu keluar. Sesaatnya dia keluar, HP Randika mendadak bunyi. "Tuan, kami menemukan petunjuk mengenai Yuna." Yuna memang merupakan salah satu dari 8 letnan dari pasukannya, tetapi Randika lebih membutuhkan kecerdasannya untuk membuat ramuan X dan membangun laboratorium miliknya. Jadi keberadaan Yuna sangatlah krusial baginya. Yuna juga merupakan salah satu orang yang mengikuti dirinya paling lama jadi hubungan mereka benar-benar dekat. Terlebih, dengan menyelamatkan Yuna mungkin akan membawanya selangkah lebih dekat dengan Bulan Kegelapan dan Shadow. Chapter 225: Pertempuran di Laut Kembalinya di rumah amannya, Randika antusias mendengar laporan mengenai Yuna. Informasi ini juga berkaitan dengan keberadaan Bulan Kegelapan dan Shadow. Dari tiga crownless king, hanya Raihan yang ada di rumah ini dan sisa duanya masih meneruskan mengumpulkan informasi. Dari kelima jenderal, hanya Serigala yang masih melatih calon-calon prajurit yang baru bersama dengan Matthew dan Martin. Selain si kembar itu, para letnan yang lain sudah berkumpul bersama Randika. Para pilar pasukan Ares kembali berkumpul atas perintah tuan mereka. "Yuna disekap di sebuah pulau." Kata Randika. "Informasi ini dapat dipercaya." "Kalau begitu tunggu apalagi tuan? Mari kita hajar mereka!" Singa yang paling sembrono itu langsung bersemangat dan berdiri dari kursinya. Semuanya menggelengkan kepalanya melihat sikap tidak sopannya itu. Randika mengangguk dan membagikan informasi ini. Setelah beberapa persiapan, mereka semua berangkat menuju pulau tersebut. Pertempuran kali ini berlokasi di sebuah pulau terpencil yang jauh dari ibukota. Butuh waktu sekitar 4 jam dari Tokyo untuk sampai di pinggiran pantainya. Di sana, kapal dan pesawat pengintai sudah siap menunggu mereka di sana. Beberapa orang menaiki pesawat pengintai dan sisanya masuk ke dalam kapal. Untuk pertempuran kali ini, selain para elite, kira-kira 100 orang siap bertempur hingga mati demi nama Ares. Pertempuran sebelumnya telah menelan korban yang begitu banyak dan Serigala belum selesai melatih para prajurit baru. Oleh karena itu, untuk menutupi celah jumlah ini, Randika membawa para jenderal dan letnannya bersamanya. Ketika Bulan Kegelapan berhasil dikalahkan, pasukannya ini akan terisi kembali pelan-pelan. Laut mulai berkabut, Singa yang berada di buritan kapal mengerutkan dahinya. "Apa kalian tidak kepikiran kenapa kita bisa menemukan Bulan Kegelapan secepat ini? Apakah ini jebakan?" "Mulutmu harimaumu." Jin yang ada di sisinya tiba-tiba menegurnya. "Jangan berpikiran negatif seperti itu, bagaimana mungkin Bulan Kegelapan bisa tahu gerakan kita ini?" Mendengar kata-kata Singa tersebut, Randika mengerutkan dahinya. Memang dia mengirim orang untuk mencari keberadaan Bulan Kegelapan, yang jadi pertanyaan adalah apakah Bulan Kegelapan melakukan hal yang sama? Jika iya maka Bulan Kegelapan akan mengerti setiap gerakannya, terlebih lagi mereka sekarang terjebak di laut dan apabila Bulan Kegelapan sudah siap dengan kedatangannya maka hal ini akan buruk bagi pasukannya. Selain orang yang ada di pesawat, semuanya ada di kapal yang besar ini. Meskipun belayar dengan cepat, kabut di laut yang tebal ini menghalangi jarak pandang mereka. Tidak seperti kapal induk, kapal ini tidak mempunyai persenjantaan yang berat seperti misil ataupun senapan mesin yang terpasang. Jadi jika musuh datang dari atas, maka mereka akan dibombardir tanpa bisa membalas. "Lihat di depan!" Kyoko menyadari sesuatu di teropongnya. Ketika semua mendengar suara Kyoko, semua orang melihat ke arah yang ditunjuknya. Di depan mereka, terlihat kapal induk yang berlayar ke arah mereka. Meriam-meriam mereka sudah membidik ke arah mereka. Dengan jarak mereka sekarang, misil-misil itu bisa mengenai mereka dengan mudah. "Seharusnya aku tidak berpikiran negatif tadi." Wajah Singa menjadi pucat pasi. Dia menggaruk rambutnya sambil mengatakan. "Sepertinya ada mata-mata Bulan Kegelapan di rumah aman kita." Raihan yang berada di pesawat pengintai mengerutkan dahinya. Tempat pertempurannya kali ini adalah laut, jarak yang jauh ini tidak memungkinkan teknik pedangnya untuk membalas tembakan senjata api lawan. Situasi benar-benar buruk. Wajah Raihan sudah benar-benar pucat pasi. Jika dia menerjang turun ke kapal lawan, persenjataan musuh akan membombardir dirinya. Jika dia tidak lincah dalam menghindar, maka itu sama saja dengan misi bunuh diri. "Apa yang harus kita lakukan?" Dion bertanya pada rekan-rekannya, hampir semua orang sudah tidak tahu harus berbuat apa. Pada saat ini, senapan mesin di kedua sisi kapal musuh juga mulai bergerak. Semua senjata mengarah pada kapal Randika yang sangat empuk itu. DUAR! DUAR! DOR! DOR! Misil serta senapan mesin mulai ditembakan dan semua mengarah pada kapal dan pesawat Randika. "MENGHINDAR!" Randika berteriak dan seluruh awak kapal menjadi panik. Pesawat-pesawat pengintai milik mereka juga menghindari hujan peluru yang padat. Dalam sekejap pesawat-pesawat tersebut berpencar. Namun, sebagian pesawat terkena dan langsung terjun bebas ke dalam laut. Di tengah laut ini terdengar ledakan dan suara pesawat yang terjatuh, membuat laut yang tenang menjadi kacau. Wajah Randika juga sama pucatnya. Meskipun tembakan putaran pertama ini belum dapat menenggelamkan kapalnya, kapalnya ini tidak bisa bertahan apabila ditembaki secara terus menerus. "Kuatkan tekad kalian, padamkan api dan bersiap untuk menaiki kapal musuh." Polemos menguatkan tekad anak buahnya. Satu-satunya jalan adalah menaiki sekoci dan bergerak ke kapal musuh. Di kapal induk musuh, kapten kapal yang bernama Aribano itu melihat kapal Randika yang masih mengapung. Dia memerintahkan anak buahnya untuk terus menembak. Terlebih lagi, Bulan Kegelapan sudah menyiapkan senjata yang lengkap apabila lawan berhasil menaiki kapal mereka seperti senapan serbu, granat, peluncur roket dll. Namun, pasukan Ares ini kalah persenjataan dan jarak mereka terlalu jauh. Para pesawat pengintai mereka pun tidak dilengkapi oleh senjata jadi mereka sama sekali tidak bisa menyerang. "Sialan! Mereka benar-benar pengecut menyerang kita seperti ini!" Kata salah satu prajurit. Dia mengamuk karena tidak bisa membalas dendam temannya yang meninggal barusan terkena peluru. Aribano yang melihat kepulan asap hitam mulai menjulang tinggi di kapal Randika itu terlihat tersenyum. "Ternyata cuma segini kekuatan si Ares." Aribano hanya menggelengkan kepalanya dan meminum kopinya. Dengan kekuatan seperti itu mereka berharap menghadapi tuannya? Mimpi! "Ambilkan senjataku." Kata Aribano pada bawahannya. Seseorang lalu membawakan SSG 69 buatan Austria itu pada Aribano. Dia lalu membidik ke arah Randika yang berdiri diam di kejauhan. Randika, yang menyadari dirinya diincar itu, untuk sesaat mengerutkan dahinya. Melihat targetnya yang rapuh itu, Aribano tersenyum. Ares, kau akan mati olehku! DOOOR! Menekan pelatuknya, peluru dari senjata sniper itu melesat kencang ke arah kepala Randika. Namun sayangnya, Randika tiba-tiba melompat ke dalam air. Setelah menarik napas sekali, seluruh badannya menghilang dari permukaan air. Aribano yang melihat ini dari lensa teropongnya itu terkejut. Mustahil pelurunya mengenainya secepat itu, berarti seorang Ares itu kabur menyelamatkan dirinya?" "Ternyata kau cuma seorang pengecutˇ­ Cepat tenggelamkan kapal musuh, aku ingin makan malam dengan santai hari ini." Kata Aribano sambil menyerahkan senapannya. Dia tidak menyangka Ares akan menyelamatkan dirinya seperti itu dan mengorbankan teman-temannya. Nafsu membunuhnya langsung hilang karena lawannya ini tidak pantas bagi dirinya. Lagipula, hanya masalah waktu sebelum pasukannya menenggelamkan baik kapal ataupun pesawat musuh. Setelah Randika menyelam ke dalam air, dia mengumpulkan tenaga dalamnya di kaki dan tangannya. Dengan kecepatan berenang yang luar biasa, dia bergerak menuju kapal induk musuh. Jika dia tidak segera melumpuhkannya, lebih dari nyawa 100 orang bawahannya itu akan mati seketika. Aribano sudah berniat masuk ke dalam kabinnya ketika melihat situasi pertempuran yang membosankan ini. Dia sudah berniat melaporkan kemenangannya ini pada Bulan Kegelapan. "Panggil aku kalau kalian sudah selesai." Kata Aribano dengan santai. Situasi pertempuran ini sudah tidak membutuhkan komandonya jadi dia berniat bersantai di kabinnya. Namun ketika dia hendak pergi, tiba-tiba terdengar teriakan seseorang memanggilnya. "Kapten! Kapten!" Aribano menoleh dan mengerutkan dahinya. "Kenapa teriak-teriak?" "Anuˇ­ Jadi beginiˇ­" Orang itu kehabisan napas dan terlihat panik. Aribano merasakan firasat buruk ketika mendengar laporannya. Dia lalu melihat ke arah air dan melihat sosok Randika, yang dikiranya kabur, berenang dengan kecepatan yang luar biasa menuju kapalnya! Bukan, itu tidak bisa dikatakan berenang. Itu seperti torpedo! Apa orang itu punya roket di kakinya? Aribano yang melihat hal ini menelan air ludahnya, kecepatan berenang Ares benar-benar abnormal! "Tembak dia!" Dengan cepat Aribano memberikan perintah. Ketika awak kapal mendengarnya, semua senjata mengarah pada Randika seorang. Tiba-tiba, ombak laut yang tenang mulai bergejolak di sekitar kapal induk ini. Namun, tidak ada satupun peluru ataupun misil yang mengenai Randika. "Semuanya berkumpul dan bawa senapan serbu kalian!" Suara Aribano sudah terdengar serak, tidak sebagus sebelumnya. Dia merasa bahwa ancaman yang dibawa Randika itu benar-benar buruk baginya, jadi dia harus membasminya sebelum dia mencapai kapalnya! Di bawah barisan senapan serbu yang berbaris dengan rapat, semua awak kapal menembak ke arah Randika. Namun, Randika menyelam makin dalam untuk menghindari hujan peluru ini. Melihat tidak ada sosok yang berenang di permukaan setelah beberapa saat, Aribano mencari-cari posisi Randika dengan teropong. Setelah menembakkan seluruh magasin mereka, para awak kapal juga mencari-cari target mereka. Mereka bertanya-tanya apakah mereka berhasil membunuhnya? Namun, tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan sosok Randika yang mengambil napas dan berenang kembali. Tidak kena! Aribano yang baru saja merasakan rasa senang itu kembali tegang. "Tunggu apalagi? Tembak!" Para awak kapal kembali menembakan senjata mereka, namun sosok Randika makin mendekati kapal mereka tiap detiknya. Setelah satu putaran penuh magasin, para awak kapal ini mencari kembali sosok Randika yang menyelam ke dalam air. Ketika Randika menyelam, para awak kapal ini merasakan firasat buruk. Permukaan air laut benar-benar tenang. Ketika mereka sibuk mencari ke segala arah, sebuah sosok manusia melayang tinggi di hadapan mereka dan menutup sinar matahari yang cerah itu. Semua awak kapal langsung membidikan senjata mereka kepada Randika yang baru saja mendarat di belakang mereka. Namun semuanya sudah terlambat. Randika dengan cepat sudah menerjang ke arah mereka dan membunuh mereka satu per satu! "Tembak terus!" Aribano dengan cepat mengeluarkan pistolnya. Dia tidak menyangka bahwa Randika bisa menaiki kapalnya dengan cara seperti itu. Namun, Randika sudah berhasil memotong jarak di antara mereka dan bertarung dengan jarak dekat. Para awak kapal ini ragu untuk menembakan senjata mereka, bisa-bisa tembakannya malah mengenai temannya sendiri. Memanfaatkan hal ini, Randika menghajar mereka satu per satu. Chapter 226: Takdir dari Bulan Kegelapan Para pilot pesawat dari pasukan Ares yang masih sibuk menghindar itu tiba-tiba terkejut ketika mengetahui tuan mereka berada di kapal induk musuh. Dan tembakan yang mengarah pada mereka secara perlahan mulai hilang. Hal ini juga terjadi di kapal mereka. Melihat hal ini, darah semua orang mendidih dan air mata mereka turun dengan deras. Inilah tuan mereka, raja dari dunia bawah tanah, Ares sang Dewa Perang! "Ares!" "Ares!" "Ares!" ......ˇ­ Pasukan Ares ini menyerukan nama tuan mereka, berkatnya mereka semua selamat! "Semuanya, mari kita susul tuan kita!" Teriak para jenderal dan para letnan. Di kapal induk lawan, Randika masih sibuk membunuh para awak kapal yang berani menghadapi dirinya. Aribano sudah kehabisan anak buah untuk diperintah dan sekarang tinggal dirinya yang masih bertahan hidup. Melihat sosok Randika yang menghampiri dirinya, Aribano ketakutan dan hampir mengompol. "Tidak!! Hentikan!" Aribano terus menerus merangkak mundur sambil gemetaran. Tidak lama kemudian, dia membentur sisi kapal dan sekarang belakangnya adalah air laut. Menoleh ke arah air, dia melihat anak buahnya yang sebelumnya terjun melarikan diri dari Randika itu tertelan oleh ombak. Setelah itu keberadaan mereka sama sekali tidak terlihat. Ketika dia melihat ke arah depan, dia melihat Randika sudah berdiri tepat di hadapannya. Ketika dirinya ingin berbicara, Randika sama sekali tidak memberikannya kesempatan. Randika langsung mengulurkan tangannya dan mencekik sekaligus mengangkatnya. Aribano melayang di udara dengan kaki-kakinya menendang-nendang. Dengan wajah yang datar, Randika meremukan tulang lehernya dan membuang mayatnya ke laut. Melihat musuh yang sudah dikalahkan, para pasukan Ares yang naik ke kapal induk baru ini langsung menyerukan suara kemenangan. "Ares! Ares! Ares!" Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk mengambil alih dan berlayar dengan kapal induk yang besar ini. "Aku tidak menyangka kita bisa mendapatkan kapal yang keren seperti ini, kapal kita sebelumnya memang terlalu kecil!" Singa masih larut dalam suasana kemenangan ini. Kapal baru mereka segera berlayar menuju pulau tempat Yuna disekap. Seharusnya menurut rencana Bulan Kegelapan, perjalanan Randika dkk seharusnya berakhir di lautan ini. Dan untuk memastikannya, Bulan Kegelapan melengkapi kapal induk dengan berbagai macam senjata. Dia sama sekali tidak menyangka Randika akan berhasil mengambil alih kapal induknya itu Oleh karena itu, pasukan Randika mengalami peningkatan dalam hal senjata. Di bagian penyimpanan kapal, terdapat senapan mesin, senapan serbu, granat dan bazoka. Semua orang terlihat bahagia sedangkan Randika menatap pulau yang sudah masuk dalam jarak pandangnya. Bisa dikatakan bahwa rencana yang disusun Bulan Kegelapan sangatlah bagus. Dia bahkan membuat markas di pulau terpencil seperti ini, sepertinya pulau itu bahkan terhapus di peta. Sambil mengerutkan dahinya, Randika membulatkan tekadnya. Mau markasnya ada berapa, dia harus membunuh Bulan Kegelapan dan Shadow. Tidak lama kemudian, kapal induk ini perlahan dapat melihat pulau itu. Sepertinya Bulan Kegelapan telah membuat pulau itu menjadi markas militer. Kawat berduri, barak prajurit, menara jaga dan pasukan patroli dapat dilihat jadi kejauhan. "Sepertinya waktunya kita mencoba kekuatan asli dari kapal induk ini." Kata Dion pada Randika. Para prajurit di pulau ini menyambut teman mereka yang pulang itu dengan gembira dan mengirim sinyal rahasia. Namun, pihak kapal sama sekali tidak merespon mereka. Para prajurit tersebut merasakan firasat buruk. Ketika mereka ingin mengirim laporan pada atasan mereka, terdengar suara ledakan yang memekakan telinga. Semua orang di pulau itu menjadi panik ketika melihat misil dan hujan peluru yang ditembakan ke arah mereka. Pulau ini dibombardir dengan sangat berat! DUAR! DUAR! Suara meriam ditembakan terus terdengar dan para pasukan Ares ini menembakan segala macam senjata dengan perasaan senang. Sekarang giliran mereka yang membantai! "Rasakan peluruku ini! HAHAHA!" Singa menembakan senapan mesinnya dengan membabi buta. Kemudian Jin membawa keluar bazoka miliknya dan menembakannya ke menara penjaga. Dalam sekejap beberapa prajurit di dalamnya sudah kehilangan nyawanya dan menjadi bongkahan daging! Seluruh pasukan merasakan darah mereka mendidih. Semua segala jenis senjata mereka tembakan secara bersamaan dan membuat pihak pulau terkejut dan tidak bisa bereaksi tepat waktu. Mereka hanya bisa bertahan dari serangan musuh tanpa bisa menyerang balik. Barisan pertahanan pulau sudah porak poranda. Oleh karena itu, kapal induk Randika berhasil dengan selamat mendarat di pantai dan meluncurkan serangan besar-besaran! Para prajurit di pulau ini awalnya ingin membentuk garis pertahanan yang baru tetapi semuanya sudah terlambat. Persenjataan pasukan Randika benar-benar terlalu berat. Lagipula, Raihan dan Randika ikut bertempur dari awal. Kedua sejoli ini tidak bisa dihentikan sama sekali, mereka merobek setiap pertahanan yang baru saja terbentuk. Randika dan pasukannya terus maju, mereka akhirnya menemukan gedung yang menyerupai kastil di bagian tengah pulau. Gedung itu dijaga ketat dan memiliki gerbang tersendiri. "Minggir! Biarkan temanku ini membantu kalian hahaha!" Jin tertawa keras sambil membidikan bazoka miliknya. DUAR! Bersamaan dengan suara ledakan itu, pintu gerbang yang melindungi kastil itu terbuka lebar dan pasukan Ares langsung menyerbu masuk. Meskipun ada sedikit perlawanan, mereka semua bukanlah tandingan bagi mereka. Setelah masuk ke dalam gedung, pasukan Dion dan Kyoko langsung berpencar untuk mengamankan semua lantai. Sedangkan Randika, dia segera menuju lantai paling atas yaitu lantai 3. Semua orang yang menghalanginya akan dia bunuh tanpa ampun, mereka sama sekali tidak berdaya di hadapan seorang Ares. Tidak lama kemudian, Randika tiba di lantai teratas. Dia membuka sebuah pintu yang terkunci dan masuk ke dalam aula yang gelap. Ketika dia masuk, Randika mengerutkan dahinya. Di hadapannya terlihat sebuah kurungan dan Yuna berada di dalamnya. Randika, yang tanpa berpikir panjang, langsung menerjang ke arahnya. Yuna, yang mulutnya diikat, berkali-kali meneriakan sesuatu sambil menggelengkan kepalanya. Hati Randika mengepal ketika menyadarinya, dia berhenti tepat di depan Yuna. Pada saat dia berhenti, aula yang gelap itu tiba-tiba menjadi terang. Di bagian samping, tiba-tiba temboknya membuka dan gambar proyeksi seseorang dapat terlihat. Ternyata orang itu adalah Bulan Kegelapan. "HAHAHA!" Bulan Kegelapan menatap Randika dan tidak bisa berhenti tertawa. Randika mengerutkan dahinya dan sama sekali tidak berbicara. "Ares, aku sudah lama menanti momen ini!" Di aula yang tertutup rapat ini, suara tawa Bulan Kegelapan benar-benar menggema. "Aku tidak menyangka kau akan termakan jebakanku ini. Kau kira bisa menemukan Yuna semudah itu? Asal kau tahu, dia juga termasuk perangkapku dasar otak udang! Hahaha! Seluruh gedung ini juga sudah terpasang bom yang luar biasa banyak yang akan membunuhmu dan pasukanmu itu!" Namun, ekspresi Randika sama sekali tidak berubah dan dia sama sekali tidak berbicara. Dia hanya melihat proyeksi Bulan Kegelapan dengan tatapan kosong. Bulan Kegelapan merasa jengkel, kenapa orang ini tidak panik? "Dan semua bom itu akan meledak jika aku menekan tombol di tanganku ini." Bulan Kegelapan lalu menunjukan tombol yang ada di tangannya. "Selama aku belum menekannya, lebih baik kau berdoa dan mengakui dosa-dosamu." Namun, Randika masih tetap tidak bergerak ataupun terlihat panik. DUAK! Bulan Kegelapan memukul tembok di sampingnya dan napasnya terlihat menggebu-gebu. Meskipun dengan kondisi seperti ini, orang itu masih menatap rendah aku? "Baiklah kalau itu maumu, hari ini nama Ares akan menghilang dari dunia ini!" Tetapi pada saat ini, mendadak terdengar suara dari arah belakang Bulan Kegelapan. "Aku rasa tidak!" Menoleh ke arah suara tersebut, wajah Bulan Kegelapan penuh dengan ketakutan. Bagaimana bisa! Bukankah harusnya dia ada di ruangan atas? "Itu cuma gambar." Kata Randika dengan nada datar. Pada saat yang sama, dia menekan tombol di tangannya. Setelah menekannya, Randika yang berada di lantai 3 itu menghilang dari layar. Yang dilihat oleh Bulan Kegelapan adalah gambar dari alat proyeksi yang dipasangnya di luar pintu. Ternyata dia sudah tertipu! Randika sudah tahu, Bulan Kegelapan tidak mungkin berada di lantai teratas. Kalau dia bisa menebak, dia akan berada di ruangan rahasianya dan kemungkinan berada di lantai paling bawah. Bulan Kegelapan benar-benar marah. Ketika dirinya hendak menekan tombol peledaknya, tangannya sudah dicengkeram erat oleh Randika. Saking eratnya, Bulan Kegelapan merasa kesakitan dan melepas tombol di tangannya. Sesudah itu dia dilempar oleh Randika dan membentur tembok. Bulan Kegelapan segera berdiri sambil memegangi tangan kanannya yang kesakitan, sepertinya pergelangan tangannya itu telah remuk. Namun, dia harus melupakan rasa sakit itu untuk sementara waktu karena sekarang di hadapannya ada aura membunuh yang sangat pekat tertuju pada dirinya. Takdir seorang pengkhianat adalah kematian! Wajah Bulan Kegelapan terlihat panik dan ketakutan, dan pada saat ini, Randika sudah menerjang ke arah dirinya. Bulan Kegelapan ingin melawan balik tetapi kekuatan tempur Randika benar-benar berada di atasnya. KRAK! Dalam sekejap, suara tulang tangan kiri Bulan Kegelapan yang patah dapat terdengar jelas. Terlebih, Randika menambahkan sebuah pukulan tepat di dadanya. Bisa dikatakan bahwa riwayat Bulan Kegelapan sudah tamat. Meskipun terluka parah, Bulan Kegelapan berhasil mundur. Randika berkata dengan nada dingin. "Aku tidak menyangka kamu akan memakai pelindung besi di balik bajumu. Sepertinya itu telah menyelamatkanmu." Bulan Kegelapan bersandar di tembok dan mulai memuntahkan darah. Namun, tatapan dingin Randika masih dapat dia rasakan. "Kau kira kau bisa membunuhku?" Bulan Kegelapan tertawa. Randika mengerutkan dahinya dan melayangkan sebuah pukulan. Dalam sekejap, tembok itu berlubang dan Bulan Kegelapan sudah berada di ruangan yang lain. Randika berjalan menghampirinya dengan perlahan sambil berkata dengan nada dingin. "Tidak ada kata ampun untuk pengkhianat sepertimu." "Oh ya?" Bulan Kegelapan yang sudah terkapar di lantai itu memasang wajah mengejek. Randika mengangkat kakinya dan menginjak Bulan Kegelapan. Dalam sekejap, Bulan Kegelapan sudah tidak dapat menggerakan kakinya sama sekali. Setelah itu, Randika mengangkat kakinya sekali lagi dan mematahkan hidungnya. Bulan Kegelapan hanya menatap Randika sambil terus tertawa, tawanya sangat menggertakan hati. Bulan Kegelapan yang sekarang sudah tidak bisa apa-apa lagi, dia hanya menunggu ajalnya. Dan tidak perlu waktu yang lama, Randika memberikan pukulan mematikannya dan membunuh Bulan Kegelapan. Ketika dia memeriksa mayat Bulan Kegelapan tersebut, Randika menyadari bahwa Bulan Kegelapan di hadapannya ini hanyalah sebuah kloning. Randika langsung merasakan rasa tidak berdaya di dalam hatinya. Dia tidak tahu seberapa banyak kloning yang dibuat oleh Bulan Kegelapan. Kalau seperti ini terus, dia tidak bisa membunuh Bulan Kegelapan yang asli. Chapter 227: Kau Kira Bisa Kabur Dariku? Melihat mayat Bulan Kegelapan yang larut menjadi cairan, Randika berjalan keluar dari ruangan bawah tanah itu. Ketika dia kembali ke lantai paling atas, seluruh pertempuran telah selesai dan Yuna sudah lepas dari kurungannya. Alasan kenapa Yuna terlihat panik adalah kurungannya memiliki beberapa senjata tersembunyi yang akan membunuh mereka berdua. "Aku pikir aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi!" Yuna yang melihat sosok Randika sudah menangis seperti bayi. Bajunya yang compang-camping itu membuat siapapun yang melihat Yuna merasa kasihan dan ingin memeluknya. Semua orang merasakan suasana hangat ini dengan gembira. Ketika Randika ingin menghiburnya, di sudut matanya, dia melihat ada sosok yang bergerak di balik kegelapan. Dalam sekejap, Randika menoleh dan melihat sosok tersebut berlari di tengah kegelapan dan berusaha kabur dari tempat ini. Itu Shadow! Dia berada di ruangan ini sepanjang waktu. Karena dia sama sekali tidak menemukan kesempatan untuk membunuhnya, sekarang Shadow berusaha untuk kabur. "Jaga Yuna baik-baik." Setelah berkata seperti itu, Randika langsung mengejar Shadow. Dia harus mengacungi jempol pada Shadow, sepertinya perempuan itu menguasai teknik bersembunyi miliknya itu. Kalau bukan karena Randika mengenal sosok Shadow dengan baik, keberadaannya tidak akan diketahui siapapun. Kali ini Randika tidak akan membiarkannya kabur! Tatapan mata Randika fokus pada sosok Shadow di depannya. Meskipun Shadow berusaha melepaskan diri selama 8x, Randika sama sekali tidak tertipu. Randika mengekori Shadow dengan ketat, jarak antara mereka berdua makin pendek. Shadow sendiri sadar bahwa yang mengejarnya ini adalah Randika, sekarang dia sedikit merasa cemas. Shadow bergegas menuju balkon diikuti oleh Randika. Pada saat ini, ketika Shadow memecahkan jendela, dia melempar granat ke arah Randika. DUAR! Randika tertahan dan terhempas oleh ledakan itu. Shadow langsung menggunakan kesempatan ini untuk menyelam ke dasar laut. Beberapa prajurit Randika melihat sosok Shadow dan berusaha menahannya tetapi tidak ada yang bisa mengimbangi kecepatan Shadow. Randika langsung mengejar Shadow dan tiba di pinggiran pantai. Kecepatan lari Shadow benar-benar cepat. Ketika dia tiba di pantai dan menyelam, dia langsung berenang dengan cepat menuju sebuah gua tersembunyi dan menaiki perahu motor lalu meninggalkan pulau terpencil ini. Pada saat Randika tiba di pinggir pantai, Shadow sudah berlayar menjauhi pulau ini dengan cepat. Untuk kedua kalinya, Shadow berhasil kabur dari kejarannya. Ketika Shadow melihat sosok Randika yang terdiam di pinggir pantai, dia menghela napas lega. "Bersabarlah tuanku, kita akan bertemu lagi." Shadow tersenyum pada Randika. "Cepat atau lambat aku akan membunuhmu dan nama Ares akan menjadi milikku!" Randika yang dapat mendengar kata-kata Shadow itu terlihat celingak-celinguk. Sepertinya tidak ada alat yang layak untuk mengejar Shadow. "Apa kau frustasi karena tidak bisa menangkapku lagi?" Shadow tertawa dengan keras. "Jangan pernah lupakan kata-kataku ini Ares, aku tidak akan pernah berhenti mengincarmu! Aku akan menculik orang-orang yang kau sayangi dan menyiksa mereka sebelum membunuh mereka semua!" Wajah Shadow benar-benar bengis. Randika sama sekali tidak menjawab tetapi aura membunuhnya sudah memancar dengan kuat! "Aku akan mengawalinya dengan Inggrid Elina." Shadow mendengus dingin. "Awalnya aku memanfaatkan wanita itu untuk menyibukkanmu, tetapi aku tidak menyangka bahwa kau benar-benar akan jatuh cinta padanya. Hahaha benar-benar ironis." Pada saat ini, Randika menemukan sebuah papan selancar di tepi pantai. "Jangan melakukan hal yang sia-sia, kau kira bisa mengejarku dengan papan itu? Meski namamu adalah Ares, kau tidak punya perahu untuk mengejarku. Mana mungkin kau bisa mengejarku!" "Aku tidak akan membiarkanmu lolos!" Kata Randika dengan nada dingin. Dia lalu mengambil papan seluncur itu dan mengejar Shadow dengan cepat! Shadow tertawa ketika melihatnya, apa tuannya itu sudah gila? Mana bisa dia mengejar dirinya yang menggunakan mesin? Ya dia tahu bahwa Ares adalah orang yang kuat. Dia sudah mengamati tuannya itu sejak hari pertama, hari demi hari kekuatan Randika itu makin kuat jadi bisa dikatakan tidak ada yang mengenal Randika sebaik dirinya. Tetapi medan kali ini adalah laut, sangat mustahil seorang manusia bisa mengejar sebuah perahu motor. "Kau ingin aku menunggumu?" Shadow tertawa, tidak ada salahnya mengejek Randika dengan mematikan mesinnya untuk sementara waktu. Randika sama sekali tidak menjawabnya. Dia sudah berenang menuju Shadow dengan bantuan papan selancar itu. Ketika ombak besar mulai membentuk dan berusaha turun, Randika menaiki ombak itu dan memanfaatkan momentum dari ombak. Dengan bantuan kecepatan ini, Randika tiduran di papan seluncurnya dan berenang dengan kedua tangannya menuju perahu Shadow dengan cepat. Dengan bantuan tenaga alam ini, kecepatan Randika luar biasa cepat. Bahkan lebih cepat dari dirinya berenang ketika berusaha menyerang kapal induk milik Aribano! Shadow melihat Randika yang berdiri di atas ombak itu dan berpikir bahwa tuannya akan mati tertelan ombak. Namun, dia tidak menyangka bahwa Randika akan memanfaatkan ombak tersebut dan mendekati perahunya dengan cepat. Shadow mengerutkan dahinya, kecepatan berenang Randika jauh melampaui dugaannya! Dengan hati was-was, Shadow mulai berkeringat dingin dan dengan cepat menyalakan mesin perahunya. Ombak di lautan mulai mengamuk, hal ini justru bagus buat Randika. Posisinya dengan perahu Shadow semakin dekat. Kali ini Shadow tidak berani menoleh ke belakang. Dia tidak menyangka bahwa Randika bisa mengejarnya hanya dengan sebuah papan seluncur. Tangan Randika bagaikan mesin, dia mengayuh dengan sangat cepat! Di tengah kepanikannya itu, Shadow mengeluarkan pistolnya dan menembakannya ke arah Randika. DOR! DOR! DOR! Beberapa tembakan melayang tepat ke arah Randika. Namun pada saat ini, Randika sedang berdiri di atas papan seluncurnya. Dia bergerak ke kiri dan ke kanan sambil menghindari peluru-peluru tersebut. Dan untuk peluru yang terakhir, dia sampai salto di udara dengan papan seluncurnya. Aksinya ini benar-benar keren sampai-sampai dia sendiri memuji dirinya. Meskipun telah menembakan pistolnya berkali-kali, Shadow terheran-heran kenapa bidikannya tidak bisa mengenai Randika sama sekali. Setiap pistolnya meletus, Randika selalu menghindarinya bagaikan seorang akrobat. Pada saat ini, ombak besar muncul di belakangnya dan membawa Randika bersamanya. Di saat ombak itu mau jatuh, Randika memegang papan seluncurnya dengan satu tangan dan berputar di udara sebanyak 2x sebelum akhirnya mendarat dengan papan seluncurnya. Melihat aksi Randika itu, Shadow sedikit jengkel. Ketika dia berusaha menembak lagi, ternyata peluru dalam pistolnya telah habis. Kesal, Shadow membuang pistol kosong itu ke laut dan mengemudikan perahu ini dengan kecepatan maksimum. Dengan bantuan tenaga dalamnya, kecepatan berenang Randika makin meningkat dan posisinya sudah sangat dekat dengan perahu Shadow. Randika menatap Shadow dengan tatapan dinginnya. Kali ini dia tidak akan membiarkan Shadow kabur hidup-hidup! Ketika Shadow menoleh ke belakang, dia menyadari bahwa Randika berada tepat di belakang perahunya. Mau tidak mau dia merasakan rasa panik yang luar biasa. Dia lalu memutuskan untuk mengganti arahnya ke belakang dengan harapan bisa melindas Randika dengan baling-baling mesinnya. Namun, sebelum dia sempat melakukannya, Randika sudah melompat dan sudah berdiri di belakangnya! "Kau kira bisa kabur dariku?" Chapter 228: Digigit Mati oleh Hiu Mendengar kata-kata itu, tubuh Shadow tidak bisa berhenti bergetar. Tetapi dia bukanlah tikus yang terpojok, dia dengan cepat berputar dan melayangkan tendangan. Wajah Randika terlihat dingin. Kali ini Shadow tidak punya cara untuk kabur, mereka berada di tengah laut jadi mustahil untuk kabur. Menghadapi tendangan mendadak Shadow ini, Randika memblokirnya dengan lengannya yang kekar. Memanfaatkan momentum ini, Shadow membuat jarak di antara mereka berdua. Shadow berdiri di ujung perahu sambil menatap dingin Randika. Meskipun ekspresinya seperti itu, seluruh tubuhnya tidak bisa berhenti bergetar. Karena dia paling mengenal Randika dengan baik, dia mengerti betapa mengerikannya seorang Ares. Oleh karena itu, dia tidak berani berhadapan langsung dengan Randika. Dia selalu menggunakan taktik ataupun serangan diam-diam ketika melawan Randika. Karena dia tahu dari segi apa pun, dia bukanlah tandingannya. Bahkan jika dirinya mempunyai kloning sebanyak 100, dirinya tetap bukanlah tandingan seorang Ares. Terakhir kali dia nyaris berhasil membunuhnya ketika kloning Bulan Kegelapan menyerangnya di gedung kosong. Pada saat itu merupakan waktu paling sempurna membunuh Randika karena kondisi tubuhnya yang sakit. Namun, rencananya gagal dan semua kloning dibunuh oleh Randika! Oleh sebab itu, ketika sekarang dirinya berhadapan satu lawan satu dengan Randika, hatinya benar-benar ketakutan. Kapal ini terus berlayar menuju kejauhan, tidak ada yang mengemudikan layar kapal. Shadow masih berwaspada dengan Randika yang masih belum bergerak sama sekali. "Kau mengkhianatiku dan saudara-saudaramu demi ambisimu." Kata Randika. "Bersiaplah untuk mati hari ini." "Ambisi?" Shadow tertawa dan membalas. "Bukankah kau juga memiliki ambisi untuk menjadi terkuat di dunia? Bukankah pasukanmu itu hanyalah alat bagimu? Sekarang katakan siapa yang lebih egois!" Randika menatap Shadow, sepertinya perempuan itu sudah tidak bisa diselamatkan. Ambisinya telah membutakan penglihatannya. "Aku bisa memberikanmu segalanya dan aku bisa mengambilnya kapan saja." Kata Randika dengan nada dingin. "Hari ini aku akan mengambil segalanya darimu!" Sesudahnya berbicara, Randika menerjang maju dan Shadow sudah siap. Kedua pisau muncul dari balik bajunya dan menebas ke arah Randika. Randika menyalurkan tenaga dalamnya ke tangan kirinya dan menampar kedua pisau tersebut hingga terlepas dari genggaman Shadow. Pada saat ini, Shadow membenturkan dahinya pada dahi Randika! Namun sesaat setelah itu, Shadow berputar dan melancarkan serangan tendangan dari atas! Randika dengan tenang menghindar dan memukul Shadow tepat di dadanya hingga terpental. Shadow berhasil menghentikan lajunya sebelum dirinya terjatuh dari perahu. Pada saat ini, Shadow telah kehilangan tempat untuk kabur. Saat dirinya menghadap ke depan, dia hanya bisa melihat sosok Randika yang siap membunuhnya. Pertarungan mereka barusan sudah menentukan segalanya. Randika sama sekali tidak terluka sedangkan dirinya sudah tertatih-tatih, mereka berdua memang berada di level yang berbeda. "Sudah kubilang, aku bisa memberikanmu segalanya di dunia ini tetapi aku juga bisa mengambilnya darimu kapan saja." Kata Randika dengan santai. Shadow menggigit bibirnya, dia tidak rela hidupnya berakhir seperti ini. Kenapa dia tidak bisa membunuh Randika? Jelas-jelas rencananya sebelum ini hampir berhasil membunuhnya. Melihat Shadow yang ketakutan, Randika mendengus dingin. Randika mengangkat kakinya dan menghentakannya dengan keras, membuat perahu ini bergoyang. Shadow yang berdiri di ujung perahu itu hampir kehilangan keseimbangannya dan terjatuh. Setelah bisa berdiri dengan kedua kakinya, Shadow kembali menerjang ke arah Randika. Ketika mereka bertemu di udara, Randika memblokir semua serangan Shadow dan memberikan perempuan itu satu pukulan telak di wajahnya. Shadow terjatuh dengan keras di kapal. DUAK! Shadow mendarat dengan keras, sepertinya dia berhasil menahan serangan Randika dengan tangannya. Namun, tangannya sekarang benar-benar mati rasa. Seakan-akan tangannya itu barusan dipalu oleh palu raksasa. Shadow terus melangkah mundur sambil menunggu tangannya pulih kembali. Randika hanya menatapnya dengan dingin. "Apakah kamu sudah siap?" Shadow sama sekali tidak menjawab, dia kembali menerjang ke arah Randika. Setelah beberapa pukulan, Shadow mendengus dingin dan dadanya menerima sebuah pukulan. Seteguk darah segar langsung keluar dari dalam mulutnya. Shadow tidak mau menyerah, dia kembali menyerang dan menerima dua serangan Randika. Satunya dia berhasil menahannya dengan sempurna tetapi serangan satunya mengenai dadanya lagi. Setelah menerima beberapa luka ini, Shadow sudah hampir kehabisan tenaga. Sepertinya ujung jalannya sudah terlihat. Sambil merasa pusing, dia menatap tajam Randika. Di penglihatannya yang kabur itu, dia melihat ratusan mayat berdiri di belakang Randika. Orang-orang itu adalah musuh-musuhnya yang Randika bunuh, sepertinya mereka akan menyambut dirinya dengan tangan terbuka. Tidak! Ambisi Shadow tidak selemah itu! Shadow kembali melayangkan sebuah pukulan tetapi Randika dengan mudah menangkap tangannya itu dan memberikannya serangan balik. "Ah!" Jeritan kesakitan keluar dari mulut Shadow. Dengan tangan kirinya, dia melayangkan kembali pukulannya. Dan sekarang kedua tangannya telah tertahan! Randika menahan kedua tangan Shadow dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya menghajar tubuh Shadow berulang kali. Darah segar terus menerus mengalir dari sudut mulut Shadow. Randika sama sekali tidak berhenti, pukulan demi pukulan dia layangkan sambil menahan Shadow. Dalam sekejap, Shadow sudah dipukul hingga sekarat dan tubuhnya sudah bersimbah darah. "Uhuk." Shadow memuntahkan darah segar sambil tertatih-tatih di atas lantai. Level Randika jauh di atasnya. "Aku dulu telah menyelamatkanmu dari kehidupanmu yang menyedihkan itu. Sekarang aku akan membunuhmu dengan kedua tanganku ini." Kata Randika dengan nada datar. Namun ketika mendengar kata-kata ini, Shadow seperti mendapatkan energi dan menerjang kembali ke arah Randika. Namun, usahanya itu percuma. Dia menerima beberapa pukulan lagi dan akhirnya terjatuh dari atas perahu. Randika melihat sosok Shadow yang meminta tolong. Randika lalu menghentikan perahu tersebut dan menatap Shadow tanpa rasa simpati. Mungkin baginya pengkhianatan Bulan Kegelapan itu tidak seberapa tetapi pengkhianatan Shadow ini benar-benar melukai hatinya. Bisa dikatakan bahwa Randika memberikan segalanya pada Shadow dan Shadow dengan mudahnya mengkhianati kepercayaannya itu. Jika bukan karena ulah Shadow, istananya di dunia bawah tanah itu tidak akan hancur dan nyawa-nyawa pasukannya itu masih bisa terselamatkan. Bisa dikatakan bahwa hancurnya markasnya itu buah dari pengkhianatan Shadow. Pada saat itu, Randika bersembunyi di Indonesia dan hanya Shadow dan Yuna yang mengetahui keberadaannya. Shadow menjadi jembatan antara dirinya dengan markasnya itu. Jika Shadow tidak berkhianat dan hanya Harimau dan Bulan Kegelapan saja, maka Randika tidak perlu repot-repot kembali ke Jepang seperti ini. Tetapi semua itu hanyalah perandaian. Randika melihat Shadow yang berusaha bertahan hidup itu. Pada saat ini, darah yang mengalir keluar dari tubuhnya mengundang perhatian para hiu. Shadow menyadari keberadaan para hiu itu, hatinya kembali merasakan ketakutan. "Tuan tolong selamatkan aku!" Shadow yang panik itu memohon pada Randika yang menatapnya dengan dingin. "Aku tidak akan pernah berkhianat lagi jadi tolong selamatkan nyawaku!" Shadow terus menerus memohon. Tetapi Randika sudah menghidupkan mesin dan berlayar menuju pulau. Setelah digigit oleh seekor ular apakah dia masih akan memelihara ular itu? Shadow hanyalah seekor ular, dia sama sekali tidak layak untuk diselamatkan. "Tidak!!!" Di belakangnya terdengar jeritan tragis Shadow. Separuh badannya sudah digigit oleh hiu dan akhirnya seluruh tubuhnya diseret ke dalam air. Blup, blup, blup. Air laut yang berwarna merah itu menyisakan sebongkahan daging yang merupakan sisa dari Shadow. Akhirnya setelah beberapa saat, laut ini mendapatkan ketenangannya kembali. Chapter 229: Reorganisasi Pasukan Ares Randika kembali berlayar menuju pulau terpencil itu seorang diri. Pasukannya berhasil menduduki markas militer ini hingga ke pelosoknya. Dan di waktu yang sama, mereka telah menghancurkan markas Bulan Kegelapan ini hingga tidak berbentuk. Melihat pasukannya yang ada di hadapannya, Randika tidak bisa berhenti tersenyum. "Mari kita pulang!" "Baik!" Semuanya setuju dan menaiki kapal. .... Setelah mendarat di pantai, mereka semua kembali ke Tokyo. Sesampainya di rumah amannya, Randika mulai membagi-bagi tugas. "Bawa pasukanmu dan carilah informasi mengenai Bulan Kegelapan." Kata Randika pada Dion. Dion dan pasukannya mengangguk. "Yang lain beristirahatlah, perjalanan kita masih panjang jadi aku harap kalian siap kapan saja untuk bertempur." Kata Randika pada para pentolan pasukannya. Setelah rapat ini selesai, Randika masuk ke dalam kamar Yuna. Sesudahnya dia masuk, Yuna langsung berlari dan memeluk Randika. "Aku pikir aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi!" Yuna kembali menangis di dadanya. Hati Randika tersentuh. Dia lalu membelai kepala Yuna dan berusaha menenangkannya. "Sudah, sudah, sejak kapan kamu jadi secengeng ini?" Yuna yang sedikit jengkel memukul dada Randika dengan lembut. Setelah menenangkan dirinya, dia diminta duduk oleh Randika. "Coba ceritakan kejadian hari itu. Kenapa lokasimu bisa ketahuan?" Tanya Randika. Perlu diketahui, Yuna bertanggung jawab terhadap divisi penelitian khususnya mengenai ramuan X. Jadi markasnya tidak terletak di istana bawah tanah karena alasan keamanan. "Aku sendiri tidak yakin." Yuna menggelengkan kepalanya. "Setelah membangun markas yang baru, aku sama sekali tidak mengontak Catherine dan yang lain untuk menjaga kerahasiaan markasku." "Tetapi beberapa hari sebelum kejadian, aku mendapatkan pesan dari istana bawah tanah. Pesan itu isinya meminta bantuan karena markas kita telah diserang dan posisinya terdesak. Jadi, aku mengirim beberapa orang ke sana. Tapi aku tidak menduga bahwa Shadow akan muncul tiba-tiba dan menyerang markas baruku itu." Randika mendengarkan penjelasan Yuna ini dengan seksama. Kalau dia boleh menebak, pasti ada mata-mata Shadow yang berada di laboratoriumnya itu. Tetapi semua itu sudah berlalu, Shadow sekarang sudah mati dan orang-orang yang berkhianat sudah berkumpul bersama Bulan Kegelapan di markas utamanya. "Laboratoriumku itu dihancurkan hingga tidak tersisa dan orang-orangku juga dibunuh tanpa ampun. Shadow sengaja menangkapku dan menahanku di pulau itu sebagai jebakan." "Selama ditahan, aku benar-benar berpikir bahwa aku tidak akan bisa bertemu denganmu lagi." Setelah mendengar penjelasan ini, Randika bisa memahami seluruh situasinya. Dia lalu berkata pada Yuna. "Kamu sekarang tenang saja, Shadow sudah mati kubunuh dan sekarang hanya Bulan Kegelapan yang menghalangi kita." Setelah meluapkan seluruh perasaannya, Yuna merasa lebih baikan dan dia akhirnya tersenyum pada Randika. "Di tengah penderitaanku itu, aku tahu bahwa kamu tidak akan meninggalkanku. Hanya kamulah yang tidak akan meninggalkanku. Ketika ini selesai, apakah kamu ingin bertemu denganku di kamarku?" Yuna masih memakai baju compang-campingnya, dadanya yang besar itu bergelantungan tepat di sebelah tangan Randika. Kedua pucuk gunung itu terlihat dan warna pinknya sangat menawan. Boleh dikatakan bahwa dada Yuna adalah yang terbesar di antara Inggrid dan yang lain. Benar-benar menggoda! Randika kembali sadar dan menggelengkan kepalanya. Dia bersyukur Yuna sudah kembali ke dirinya yang dulu. "Sekarang lebih baik kamu istirahat dulu. Kamu pasti capek karena telah disekap begitu lama." Kata Randika. "Tidak mau! Aku ingin tidur bersamamu. Aku yakin adikku juga ingin tidur bersamamu atau kamu ingin kita berdua sekaligus?" Yuna masih tidak ingin menyerah. Sejujurnya cinta pertama Yuna adalah Randika. Ketika dirinya diselamatkan oleh Randika, detik itu juga dia jatuh cinta pada sosok penyelamatnya. Untuk mendapatkan perhatiannya, baju longgar serta guyonan mesum dia pakai. Tetapi sayang, semua itu masih belum cukup untuk mendapatkan hati pujaannya. Bagaimanapun juga, Yuna bekerja untuk Randika. Setelah menolak tawaran Yuna dengan susah payah, Randika kembali ke kamarnya dan beristirahat. Sambil berbaring dia memikirkan situasi pasukannya ini. Bisa dikatakan bahwa pasukannya ini mengalami keruntuhan yang sangat luar biasa. Pengkhianatan Shadow, Harimau dan Bulan Kegelapan membuat pasukannya kocar-kacir. Prioritas utamanya adalah membangun kembali pasukannya ini. Dia juga harus menyaring anak buahnya untuk mencegah adanya mata-mata yang masih ditanam oleh para pengkhianat. Dan yang paling penting, mereka harus menemukan keberadaan Bulan Kegelapan yang asli. Tidak lama kemudian, Catherine dan Frank kembali ke rumah aman ini. Setelah duduk bersama, Randika meminta mereka untuk menjelaskan laporan mereka. "Aku sudah mengontak divisi perang kita yang bersembunyi." Kata Frank. "Kebanyakan dari mereka ingin kembali ke pangkuan kita. Namun, ada juga yang sebagian tidak ingin kembali karena kekuatan kita yang sudah melemah. Aku sudah mencoret nama-nama orang itu." Randika mengangguk, Catherine meneruskan laporannya. "Beberapa organisasi di dunia bawah tanah ada yang tertarik bergabung dengan kita tetapi aku tidak terlalu berharap banyak dengan bantuan orang luar." Matthew meneruskan. "Martin dan aku juga mulai merekrut orang-orang dan melatih mereka, tetapi jumlahnya masih terlalu sedikit. Kalau dihitung bersama pasukanku sekarang, pasukanku masih terisi 1/3." Dion dan Polemos juga mengangguk. Prajurit di bawah perintah mereka juga tidak terlalu banyak. Selain Serigala, yang mendapatkan prajurit dari tahanan penjara, dan Kyoko, semua jenderal dan letnan telah kehilangan pasukan mereka secara drastis. Dan juga, Randika kehilangan sosok Gilbert dan Carlos pada pertempuran sebelumnya. Randika mengerutkan dahinya. Dia tidak menyangka situasi pasukannya ternyata semenyedihkan ini. Terlebih, dengan berkhianatnya Shadow, dia tidak memiliki jaringan intelijensi. Memang awalnya orang di divisi itu tidak terlalu banyak, tetapi kehilangan satu saja sudah cukup membuatnya pusing! Randika berpikir sebentar dan akhirnya berkata pada semuanya. "Untuk masalah jaringan intelijensi, aku menyerahkan tanggung jawab ini pada Yuna. Mulai dari detik ini, dia akan bertanggung jawab untuk mengolah semua informasi untuk pasukan kita." Yuna mengangguk. Intelijensi sangatlah penting di sebuah organisasi. Bisa dikatakan bahwa divisi itu adalah telinga, mata dan mulut dari sebuah organisasi. Jika pasukannya ini mengetahui bahwa Bulan Kegelapan hendak menyerang istana bawah tanah mereka, maka hasil pertempurannya tidak akan sama dengan yang sekarang. Terlebih lagi, Yuna merupakan orang kepercayaan Randika dan loyalitasnya sama sekali tidak dia ragukan. Tidak masalah baginya memberikan tugas berat seperti ini. Randika melanjutkan. "Untuk Catherine, aku mempercayakanmu untuk merebut kembali istana kita itu. Dan untuk para jenderal lainnya teruslah mencari informasi dan merekrut orang sebanyak mungkin. Setelah kalian mendapatkan orang, kirim mereka ke Serigala dan dia akan melatihnya dengan bantuan Martin dan Matthew." Para jenderal menganggukan kepalanya. "Sedangkan untuk para letnan." Randika berpikir sebentar. "Bagilah pasukan kalian menjadi 4. Tiap pasukan akan dipimpin oleh dua letnan. Tetapi untuk sekarang kalian harus memimpin pasukan kalian seorang diri. Kalian akan menjadi pusat kekuatan kita di masa depan jadi aku mengharapkan totalitas dari kalian semua." Semua letnan menganggukan kepalanya. Karena pertempuran panjang ini, mereka telah kehilangan 4 letnan khususnya setelah Yuna ditarik oleh Randika ke divisi intelinjensi. "Dan juga, buatlah divisi keamanan yang bertanggung jawab atas ketertiban dan hukum yang berlaku di pasukan kita. Posisi ini untuk sementara waktu akan diisi oleh pasukan milik Dion." "Frank, kamu bertanggung jawab untuk membangun cabang dari markas kita. Posisi kita di dunia bawah tanah benar-benar hancur dan kita harus menyerang kembali dengan kuat. Bekerja samalah dengan Yuna dan bangunlah jaringan informasi di markas baru kita. Aku ingin setelah perang ini selesai, skala operasi kita menjadi global. Ambilah beberapa orang yang kamu percaya dan rekrut sisanya nanti." Frank mengangguk. Ketika Randika menoleh ke arah Raihan, dia melihat Raihan sibuk melamun sambil memegang pedangnya. Sambil menghela napas, Randika berkata padanya. "Sebaiknya kamu terus melatih ilmu pedangmu." Setelah membagi tugas, mata Randika terlihat mencekam. "Satu tambahan lagi, jangan lupa untuk menemukan keberadaan Bulan Kegelapan yang asli." Chapter 230: Sultan itu Bebas Setelah rapat selesai, Catherine dan yang lain mulai mengerjakan tugas mereka. Seluruh pasukan mulai sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Pada saat yang sama, setelah Yuna mengambil alih divisi intelijensi, Randika mentransfer kembali orang-orang divisi intelijensi yang setia padanya ke Yuna. Dengan bantuan mereka, Yuna bisa merakit kembali jaringan intelijensi sebelumnya sekaligus mencari keberadaan Bulan Kegelapan. Di saat yang sama pula, Catherine mulai menyusun rencana untuk mengambil alih kembali istana bawah tanah mereka. Dia bekerja sama dengan Polemos dan Kyoko untuk merebut kembali tempat tinggalnya ini. Bahkan setelah beberapa hari berlangsung, keberadaan Bulan Kegelapan sama sekali tidak terdeteksi. Randika sudah berada di Tokyo beberapa waktu. Namun, dia tidak bisa kembali ke Indonesia sebelum membunuh Bulan Kegelapan. Dia sama sekali tidak bisa tidur dengan tenang selagi Bulan Kegelapan berkeliaran dengan bebas. Bom waktu seperti itu harus dituntaskan sebelum memberikan dampak yang buruk. Terlebih lagi, jika Bulan Kegelapan membawa seluruh negara untuk melawannya, hal ini akan menjadi rumit. ......ˇ­ Keesokan harinya, Randika berjalan dengan santai mencari makanan. Hari ini begitu membosankan baginya, keadaan masih tetap buntu. Jadi dia ingin jalan-jalan sambil mencari makan untuk ganti suasana. Pada saat ini, lagi-lagi Randika bertemu dengan Kaori. Ketika dirinya menyapanya, Kaori langsung tersenyum lebar. "Kita bertemu lagi ya, benar-benar kebetulan." "Kamu juga sama cantiknya saat pertama kali kita bertemu." Kata Randika sambil tersenyum. "Terima kasih." Pujian Randika ini membuat hari Kaori menjadi indah. Dia sangat senang bisa bertemu dengan Randika. "Apa kamu sedang belanja?" Tanya Randika. Kaori mengangguk. "Iya, aku sedang mencari beberapa pakaian baru." "Bolehkah aku menemanimu?" Randika tersenyum kecil dan menangkap tangan Kaori. Kaori tersipu malu tetapi dia menyukai perasaan ini. Kemudian keduanya berjalan bergandengan tangan menelusuri jalan. Mereka sudah bagaikan pasangan yang sedang kasmaran, orang-orang mulai terlihat iri dengan mereka. Tidak lama kemudian, mereka tiba di suatu toko pakaian. Dengan cepat si pemilik toko menyambut mereka. Kaori lalu melihat-lihat sedangkan Randika menunggu di samping. "Kakak mencari pakaian yang seperti apa ya?" Tanya si pemilik toko. "Aku sedang mencari rok." Kaori melihat-lihat toko ini sekilas dan mengatakan. "Toko ini pakaiannya bagus-bagus ya." Si pemilik toko ini masih sibuk memperkenalkan rok yang cocok untuk Kaori. Tetapi pada saat ini, matanya tertuju pada rok berwarna krem. Ternyata itu bukan rok, itu adalah one piece dress. Di sampingnya juga terdapat beberapa dress yang tidak kalah bagusnya. Dalam sekejap Kaori tertarik untuk membelinya. "Dress ini sangat cocok untukmu. Pakaian ini akan membuatmu lebih cantik lagi dan pacarmu itu pasti semakin mencintaimu." Si pemilik toko ini tersenyum. Salah satu trik membuat pelanggan wanita membeli dagangannya adalah memuji kecantikannya di depan pacarnya. Mendengar kata-kata manis ini, Kaori tersipu malu. Randika yang ada di sampingnya berkata padanya. "Cobalah dulu." Kaori mengangguk tetapi dia tidak sengaja melihat harga dari one piece dress tersebut yaitu 22.999 yen! Dalam sekejap hati Kaori mengepal. "Hmm? Kenapa?" Tanya si pemilik toko. "Harganya terlalu mahal, aku tidak mampu untuk membelinya." Kaori meletakan kembali dressnya. "Aku lebih baik mencari yang lain." Ketika mendengar kata-kata ini, mau tidak mau si pemilik toko kecewa di dalam hatinya. Sepertinya pelanggannya ini orang miskin. "Semua pakaian di sini harganya hampir sama, jadi kalau tidak mau ya silahkan keluar saja." Sikap dari si pemilik toko ini langsung berubah drastis. Wajahnya yang tersenyum itu terlihat ogah-ogahan. Randika yang melihat hal ini langsung mengerutkan dahinya, kurang ajar sekali sikap orang itu. Sepertinya mau di negara mana pun, hanya uang yang membuat para pemilik toko ini bersikap sopan. Bukan hanya pemilik toko ini, karyawan toko yang lain juga menatap dirinya dan Kaori dengan tatapan jijik. "Bocah desa berani belanja di kota besar, bukannya baju yang mahal tapi kalian aja yang miskin!" "Dari bajunya saja sudah kelihatan kalau tidak mampu bayar." Kedua karyawan itu bergosip dengan suara pelan tetapi pendengaran super Randika masih bisa menangkapnya. Tidak bisa dipungkiri, hal ini membuat Randika sedikit marah. Kaori yang mendengar kata-kata itu menjadi kecewa dan akhirnya mengajak pergi Randika. "Lebih baik kita pergi saja dari tempat ini, uangku tidak cukup." Ketika Kaori hendak berjalan pergi, tangannya ditangkap oleh Randika. "Menurutku dress itu bagus untukmu. Cobalah dulu saja." Kata Randika sambil tersenyum. Kaori ragu-ragu. "Tapi dress itu terlalu mahal, uangku tidak cukup untuk membelinya." "Sudah coba saja dulu, tenang saja." Kata Randika. "Baiklah, baiklah." Karena dipaksa Randika terus menerus, Kaori akhirnya mencoba dress itu. Ketika melihat Randika, si pemilik toko terlihat berbinar-binar. Mungkin pacarnya itu orang kaya? Dalam sekejap, sikap si pemilik toko itu berubah lagi menjadi ramah. Sambil tersenyum lebar, dia membawa Kaori ke ruang ganti baju. Melihat wajah tersenyum si pemilik toko, Randika tertawa dalam hatinya. Tidak lama setelah itu, Kaori keluar memakai one piece dress berwarna krem itu. Dia terlihat sangat cantik, jelas pria mana pun akan jatuh cinta padanya ketika melihatnya. "Benar-benar cantik." Randika memujinya. Si pemilik toko itu menambahkan. "Jarang sekali ada orang yang secocok ini dengan baju di tokoku ini. Anda benar-benar cantik!" Namun, mata si pemilik toko ini terfokus pada Randika. Selama Randika mengangguk puas, maka bajunya ini akan terbelu. Namun, tanpa diduganya, Randika tiba-tiba mengerutkan dahinya. "Tapi kalau dilihat-lihat bukannya baju itu sedikit cacat?" Mendengar hal ini, si pemilik toko menjadi berwajah dingin kembali. "Jadi apa kalian ingin membeli baju ini?" "Sepertinya tidak, lagipula baju itu tidak terlalu bagus." Mendengar kata-kata ini, Kaori sedikit kecewa. Apa dirinya sejelek itu? Si pemilik toko menjadi marah ketika mendengar kata-kata Randika. Jadi dia hanya pura-pura kaya di depan ceweknya? Benar-benar membuang waktuku. "Kalau begitu cepat lepaskan baju itu." Kata si pemilik toko dengan nada dingin. Sedangkan karyawannya menatap sinis ke arah Kaori. Namun, pada saat ini, Randika berkata dengan santai. "Selain dress yang satu itu, aku akan membelinya semuanya." Tiba-tiba wajah si pemilik toko itu menjadi tegang, sepertinya dia salah dengar. "Maaf tolong diulangi?" "Aku tidak mau dress yang dia pakai itu." Randika menunjuk ke arah baju yang dipakai oleh Kaori. Dia kemudian menunjuk seluruh dress yang ada di dalam toko. "Aku ingin semua produkmu ini!" Apa? Si pemilik toko terkejut dan melongo di tempat. Dua karyawannya yang bergosip itu juga tidak harus berkata apa. Pemilik toko ini belum pernah mendengar kata-kata indah itu, dia pun ragu dan bertanya kembali. "Anda maksud semua baju di tempat ini?" "Benar! Bungkuskan semua baju kecuali satu itu." Kata Randika dengan santai. Di bawah tatapan mata semua orang, Randika mengeluarkan sebuah kartu. Ketika semua orang melihat kartu tersebut, mata mereka berbinar. Visa Infinite Card! Tidak sembarangan orang yang bisa memiliki kartu ini. Untuk mendapatkan kartu ini, orang tersebut harus memakai 1,2 miliar rupiah setiap bulannya atau akan terkena pinalti sesuai kebijakan bank. Hanya orang super kaya yang memiliki kartu itu! Pemilik toko itu mengusap-usap matanya, dia baru pertama kali melihat kartu super seperti ini. Setelah Randika dan pasukannya merampas harta Bulan Kegelapan di markas militernya, pundi-pundi harta Randika mulai melimpah. Sebelum kejadian itu, kondisi keuangan mereka sangat memprihatinkan. Kartu ini, yang diberikan Catherine padanya, bisa dipakai oleh Randika di seluruh dunia. Bahkan sekali tarik di mesin ATM, Randika bisa menarik 180 juta rupiah! Melihat kartu ATM itu benar-benar membuat si pemilik toko menelan air ludahnya. Namun, dia dengan cepat kembali sadar dan mengambil kartu itu dan memerintahkan karyawannya untuk membungkus semua pakaian yang ada di toko ini. Para karyawan, yang tidak mengerti apa yang sedang terjadi, dengan cepat membungkuskan semua pakaian. Sikap dan perilaku ketiga orang itu dengan cepat menjadi ramah kepada Randika. Randika lalu menyuruh Kaori mengambil apa yang dia suka tetapi sepertinya perempuan satu ini masih belum memproses seluruh kejadian ini dengan baik. Dia masih melongo. "Hei, ambilah apa yang kamu mau. Ini adalah hadiah dariku karena sudah baik padaku." Kata Randika sambil tersenyum. Kaori sangat senang, dia mengambil beberapa dress yang dia suka. Sebenarnya dia masih tidak percaya bahwa Randika akan membeli semua pakaian yang ada di toko ini. Setelah membungkus barangnya, Kaori memberikan kecupan manis di bibir Randika. "Terima kasih." Kaori sungguh senang. "Jika kamu ingin berterima kasih padaku, bagaimana nanti malam kita bertemu lagi?" Kata Randika di telinga Kaori. Kata-katanya penuh dengan teka-teki. Bertemu di malam hari? Kaori mengerti maksud Randika dan tersipu malu. "Lepas bajumu yang sekarang dan gantilah yang lebih bagus, ambil saja dari tumpukan baju itu. Dan ambil beberapa buat kedua temanmu juga." Kata Randika yang sudah bagaikan sultan. Ketiga orang itu melongo dan iri dengan Kaori, seandainya saja pasangan mereka sekaya Randika. Siapa yang memangnya tidak suka pasangan yang kaya dan tampan? Kaori lalu mengambil salah satu one piece dress yang lain dan memakainya. Setelah keluar dari ruang ganti, dia terlihat lebih cantik lagi. Randika melambai dan menyuruhnya kemari. Setelah Kaori datang, Randika langsung memeluk pinggangnya dan menciumnya. Kaori sama sekali tidak menyangka Randika akan menciumnya, tetapi dia memejamkan matanya dan mulai menikmatinya. Pemilik toko dan dua karyawannya tambah lebih iri ketika melihatnya. Hampir semenit Randika dan Kaori berciuman dan akhirnya mereka keluar dari toko itu. Sedangkan untuk pakaiannya, Randika memintanya untuk dikirim ke rumah amannya. "Ya Tuhan, seandainya saja dia itu suamiku." Salah satu karyawan bergumam pada dirinya sendiri. Randika mengajak Kaori untuk belanja lagi di tempat lain. Pada saat ini suasana hati Kaori sangat bagus, dia tidak pernah sebahagia ini. Bukan karena dia bisa belanja banyak tetapi dia bisa menikmati hari ini dengan pria yang dicintainya. Terlebih, bergandengan tangan menelusuri kota merupakan momen indah baginya. Ketika mereka berdua berjalan bersama, mereka mendengar suara teriakan seseorang. Randika terkejut karena teriakan itu berbahasa Indonesia. "Tolong!" Randika langsung berjalan menuju gang yang sepi, tempat di mana suara minta tolong itu terdengar. Ketika sesampainya di sana, Randika menemukan bahwa seorang pria sedang diinjak dan dipukul oleh beberapa orang. Chapter 231: Dia Pacarku Orang yang dipukuli itu sudah pasti orang Indonesia, sepertinya dia turis yang sedang berkunjung ke Tokyo. Pada saat ini, dia meringkuk di tanah sambil melindungi kepalanya. Dia dikelilingi beberapa orang yang terus memukuli ataupun menendangnya. Dia terus-menerus dihajar dan orang yang memukulinya itu berkata dengan Bahasa Inggris. "Mati kau Gaijin! Pulang sana ke negaramu!" Katanya sambil marah-marah. Jepang menjadi negara yang didambakan banyak orang untuk ditinggali ataupun hanya sekedar dikunjungi. Banyak yang menganggap hidup di Jepang tidak ada bedanya dengan negara asalnya, bahkan orang Jepang terkenal ramah dengan orang asing dan pikirannya lebih terbuka. Namun, tidak semua penduduknya memiliki pemikiran modern seperti itu. Tindakan-tindakan diskriminasi juga tidak lepas dari negeri sakura ini. Sebagai contohnya adalah istilah Gaijin yang artinya adalah orang asing atau orang non-Jepang. Beberapa orang menganggap istilah itu memiliki konotasi negatif. Kejadian penindasan atau dikucilkan sudah sangat sering dirasakan oleh beberapa orang asing yang tinggal di Jepang. Dan apa yang dilihat oleh Randika sekarang adalah salah satu contohnya. "Hentikan!" Teriak Randika pada orang yang menindas itu, wajahnya benar-benar terlihat dingin. Orang-orang seperti inilah yang paling tidak disukai oleh Randika, karena baginya orang rasis selalu menganggap dirinya superior daripada yang lain. "Hah? Siapa kamu?" Salah satu dari mereka menoleh ke arah Randika. Teman-temannya melihat Randika yang berteriak pada mereka dan berhenti memukul. "Ingin jadi sok pahlawan?" Kata salah satu dari mereka. "Pergi sana bocah atau kuhajar juga kau!" "Jangan coba-coba menolong Gaijin ini atau kau akan bernasib sama!" ......ˇ­.. Mereka semua mencueki Randika dan meneruskan pemukulannya pada orang Indonesia itu. Randika mengerut dahinya dan menghampiri mereka lebih dekat lagi. Ketika mereka melihat Randika yang mendekat, mereka berhenti memukul. "Sudah kubilang jangan ikut campur bukan?" "Hei coba lihat, perempuan yang bersamanya boleh juga wajahnya." Para berandalan itu mengangguk dan mulai mengepung Randika satu per satu, sedangkan orang Indonesia itu terus meringkuk kesakitan di tanah. Randika sudah terkepung dan semua berandalan itu sudah mengusap-ngusap tangannya ketika melihat Randika. "Sudah terlambat untuk kabur." Ryu, ketua dari berandalan ini, berkata sambil mendengus dingin. "Siapa yang bilang aku akan kabur?" Kata Randika dengan nada dingin. "Cukup aku seorang untuk menghabisi sampah seperti kalian." Ryu menatap tajam Randika dan melayangkan pukulannya. Namun, Randika sama sekali tidak bergerak. Dia hanya menangkap tinju Ryu tersebut dan menariknya dengan kuat. Dalam sekejap Ryu terjatuh dan mengenai temannya. Teman-temannya itu mulai tertawa. "Ealah ternyata cuma segini toh kemampuanmu Ryu, lawan Gaijin saja tidak bisa." "Jangan harap kamu bisa tidur sama cewek itu, sini biar aku saja." Ketika teman-temannya menertawai dirinya, wajah Ryu sudah merah. Sepertinya orang di depannya itu bukan mangsa yang lemah seperti sebelumnya. Ketika Randika mendengar perkataan teman-temannya Ryu itu, dia makin marah. Dia ingin memberi pelajaran pada semua berandalan ini! Ryu langsung berdiri dan menerjang kembali tetapi dia dengan cepat dihajar kembali oleh Randika. Terakhir, Randika meremas kuat tinju Ryu itu hingga dia meringis kesakitan. Tangan Ryu menjulang tinggi tetapi tubuhnya meringkuk seperti udang, rasa sakit yang dirasakannya luar biasa. Teman-temannya mulai mengerutkan dahinya. Melihat temannya itu tidak berkutik, mereka semua mulai menyerang Randika. Randika masih memegang erat tangan Ryu, dia bergeser sedikit untuk menghindari serangan lawan. Kakinya dengan mantap menendang siapapun yang mendekat. Berandalan itu sama sekali tidak berkutik, satu per satu menerima tendangan Randika dengan telak. Namun, serangan dari belakang membuat Randika tidak sempat menghindarinya. Dia mengangkat tubuh Ryu dengan satu tangannya dan membuatnya menjadi tameng. Pukulan itu membuat Ryu terjatuh dan menangis seperti bayi. Ketika seseorang kembali ingin menyerang Randika dari belakang, Randika sudah siap dan memukulnya hingga terpental. Lawannya mulai menyerangnya dari arah kanan dan kiri. Dalam sekejap, semua orang yang menerjang ke arah Randika sudah dihajar hingga babak belur oleh Randika. Kurang dari 10 detik, semuanya sudah terkapar kesakitan di tanah. Semua berandalan itu menatap Randika dengan tatapan tidak percaya. Kenapa orang itu kuat sekali? Apa semua Gaijin ternyata sekuat ini? Kalau benar, mereka tidak berani berbuat macam-macam! Kaori yang melihat kejadian ini dari awal sudah bersorak dan bertepuk tangan. Orang Indonesia yang diselamatkan Randika juga terpukau, orang itu kuat sekali! Para berandalan itu dengan cepat berdiri dan kabur dari tempat ini. Ketika sudah tidak ada orang, Randika berjalan menghampiri orang Indonesia yang masih berbaring di tanah. "Ingatlah, penindas akan selalu menang jika kau tidak pernah melawan balik." Kata Randika dengan wajah serius. Dia lalu menghampiri Kaori dan pergi dari tempat itu. Melihat punggung Randika yang menjauh, orang Indonesia itu melongo. Dia berusaha mencerna kata-kata Randika lalu tatapan matanya berubah menjadi tatapan kagum. Apa yang Randika tidak tahu adalah kejadian hari ini merupakan awal mula kebangkitan geng orang Indonesia yang menakutkan di Tokyo. Tetapi, itu merupakan cerita yang masih jauh di masa depan. Randika melanjutkan kencannya bersama Kaori, sekarang mereka berdua sedang menuju ke taman. "Ran, kamu tadi sungguh hebat." Kaori benar-benar terpukau, kepalanya sudah beristirahat di pundak Randika. Kaori bangga melihat rasa keadilan dari pacarnya ini. Dan ketika mereka berdua berjalan dengan bahagia di taman, sesosok pria menyadari kehadiran Kaori. Awalnya dia bersemangat ketika melihatnya tetapi langsung mengerutkan dahinya ketika melihat dia bergandengan tangan dengan seorang pria. Pria tersebut langsung mendatanginya. "Kaori." Kaori menoleh dan ekspresi wajahnya langsung berubah. Pria itu adalah orang yang terus mengejar dirinya yang bernama Shou. Bisa dikatakan sifat Shou dengan Haru itu sama jadi Kaori tidak terlalu suka dengan Shou sejak awal. Namun, ketika bertemu dengan orangnya secara langsung, Kaori tetap bersikap sopan. "Halo Shou, sudah lama tidak bertemu." Kaori tersenyum. Mata Shou langsung tertuju pada Randika. "Temanmu?" Shou menatap Randika dari atas ke bawah. "Dia pacarku." Kata Kaori. Kata-kata Kaori ini tidak salah, hubungannya dengan Randika sudah seperti pasangan yang bahagia. Meskipun Randika tidak mengklarifikasikan hubungan mereka, Kaori sudah menganggap Randika seperti pacarnya sendiri. Dan hal ini juga bisa membuat Shou berhenti mengejar dirinya. Ketika Shou mendengar ini, ekspresi wajahnya langsung menunjukan ekspresi tidak percaya. Dia langsung berkata dengan nada dingin. "Jika kamu ingin aku berhenti mengejarmu, kamu tidak harus bersandiwara sejauh ini. Lagipula, bukannya kamu barusan saja putus dengan Haru? Bagaimana mungkin kamu sudah menemukan pacar secepat ini?" "Apa yang dikatakannya benar." Randika tersenyum. "Kamu tidak percaya?" Shou menggelengkan kepalanya. Namun, Randika tersenyum lebar lalu, di bawah tatapan mata Shou, dia memeluk pinggang Kaori dan menciumnya. Terlebih, tangan kanannya mulai berenang-renang di dadanya Kaori. Pemandangan di depan matanya ini merupakan pukulan telak bagi Shou. Terlebih, tangan Randika yang meraba dada Kaori itu semakin membuat Shou marah. Kaori tersipu malu setelah bibir Randika terlepas dari bibirnya. Dengan begini, fakta bahwa Randika adalah pacarnya sudah tidak terbantahkan. Chapter 232: Akhirnya Aku Menemukanmu! Darah Shou sudah mendidih, dia ingin menguliti Randika hidup-hidup. Randika tersenyum, dan pada saat ini, dua teman dari Shou kebetulan lewat. Ketika melihat temannya melotot ke Kaori dan pria di sampingnya, mereka berdua bisa menebak apa yang terjadi. Shou yang mengejar-ngejar Kaori sudah merupakan rahasia umum, semua orang mengetahui hal ini. Kaori yang berdampingan dengan pria lain merupakan tanda bahwa dia sudah menemukan pacar baru. Shou terus melototi Randika. Ciuman dan aksi meraba Randika itu benar-benar merupakan sebuah provokasi bagi dirinya. Lagipula, siapa yang dapat tahan melihat pujaan hatinya dicium dan tubuhnya diraba-raba di depan mata? Randika menghela napas. "Masih belum percaya? Apa kamu mau aku lebih berani lagi?" Mendengar kata-kata Randika barusan, Shou tambah lebih marah. Dia hampir melayangkan sebuah pukulan. Kedua temannya berhasil mencegah Shou bertindak gegabah, mereka lalu menoleh ke arah Randika dan memarahinya. "Kau ini buta atau bagaimana? Kaori itu ceweknya Shou, bocah ingusan sepertimu tidak pantas berada di sampingnya. Cepat pergi sebelum wajahmu babak belur." Semua pejalan kaki melihat kejadian panas ini dan mulai berkumpul. Cinta anak muda memang terkadang penuh drama. Randika menggelengkan kepalanya dan menatap mereka bertiga. "Kalau aku tidak mau bagaimana?" Melihat sikap arogan Randika, kesabaran Shou sudah habis. Ketika dirinya baru melangkah 2 langkah, suara berdengung dapat terdengar dengan jelas dan makin mendekat. Ketika Shou dan 2 temannya menoleh ke atas, drone berukuran besar melayang jatuh menuju tempat mereka dan kecepatannya benar-benar luar biasa cepat! Melihat drone yang melayang jatuh tidak terkendali itu, mereka bertiga mengeluarkan keringat dingin. Namun, laju drone itu tiba-tiba berubah dan sekarang melayang menuju tempat Randika berada! Semua yang menonton adegan drama percintaan ini sadar akan bahaya yang mendekat itu dan langsung berteriak pada Randika. Melihat drone itu hampir mengenai kepala Randika, beberapa orang sudah menutup mata mereka karena tidak berani melihat adegan berdarah yang terjadi. Kaori yang di samping Randika sudah menutup matanya dan meremas tangan Randika. Drone itu lepas kendali dan dalam sekejap akan menabrak kepala Randika. Ketika drone itu hampir mengenai kepalanya, Randika memberikannya sebuah pukulan. Pukulan itu tepat mengenai badan drone dan, dengan satu pukulan, drone itu pecah hingga berkeping-keping. Semua orang yang membuka mata mereka sudah terkejut bukan main ketika melihat Randika dengan mudahnya menghancurkan drone itu dengan satu pukulan. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Bukankah drone itu melayang jatuh dengan sangat cepat? Bukan hanya para penonton, Shou dan temannya juga terkejut. Drone itu berukuran besar, terbuat dari besi dan melayang jatuh dengan kecepatan tinggi, mana mungkin orang bisa memukulnya dengan akurat? Dan terlebih lagi, drone itu hancur berkeping-keping seakan-akan terbuat dari kertas! Fenomena ini memang luar biasa. Shou menatap Randika seolah-olah sedang melihat monster. Randika menepuk-nepuk tangannya dan menatap Shou seakan-akan tidak pernah terjadi apa-apa. "Apa kalian ingin berkelahi?" Berkelahi? Tubuh Shou sudah bergetar, senyumannya benar-benar canggung. Berkelahi dengan seorang monster? Dia tidak pernah melihat orang semengerikan ini. Satu-satunya jalan untuk menghadapi orang seperti ini adalah kabur! "Bukan, bukan, aku sama sekali tidak berniatan seperti itu." Shou dengan cepat menggelengkan kepalanya, keringat dinginnya tidak pernah berhenti mengucur. Dia ingin cepat-cepat kabur dari tempat ini. "Terus kenapa kalian masih ada di sini?" Randika mengerutkan dahinya. Mendengar kata-kata ini, Shou dan kedua temannya mengerti petunjuk yang disampaikan Randika dan berjalan pergi. Tanpa berkata apa-apa, kecepatan jalan Shou dan temannya sudah hampir mirip dengan berlari. Sepertinya mereka benar-benar takut dengan Randika. Para pejalan kaki masih terpana. Ketika mereka melihat ketiga orang itu lari terbirit-birit, mereka semua merenung. Sepertinya mereka tidak bisa lagi melihat betapa mengerikannya kekuatan orang itu. Kaori masih linglung. Meskipun dia telah menyaksikan kekuatan Randika sebelumnya, sepertinya dia selalu kagum setiap kali dia melihatnya. Setelah beberapa saat, Randika mengantar kembali Kaori ke rumahnya. Tepat di depan pagar rumahnya, Kaori terdiam. Dengan wajah yang tersenyum, dia berkata pada Randika. "Terima kasih untuk hari ini, aku benar-benar senang." Randika membalas senyumannya. "Yang seharusnya berterima kasih itu aku, aku sangat menikmati momen kita berdua." Kaori terus terdiam dan mereka berdua berdiri di depan pagar. Sambil menatap Randika, Kaori memberanikan dirinya dan mengatakan. "Apa kamu ingin masuk dan minum teh? Aku kebetulan pagi tadi baru saja memanggang kue." Pertanda yang sangat jelas! Randika tersenyum dan membalas, "Baiklah." Kaori bahagia bukan main. Ketika mereka berdua hendak membuka pintu, terdengar suara dari dalam. "Kaori, apa kamu sudah pulang?" Randika dan Kaori sama-sama terkejut. Namun rasa terkejut itu berubah menjadi panik, kenapa ibunya tiba-tiba datang hari ini?" "Ibu hari ini datang sama ayahmu karena sudah lama kita tidak melihat wajahmu. Bagaimana kalau nanti kita pergi makan malam bersama?" Mendengar kata-kata tersebut, Kaori menjadi murung dan Randika berkata padanya sambil tersenyum. "Tidak apa-apa, lain kali aku akan datang lagi." Melihat sosok Randika yang menjauh, Kaori mengejarnya dan menangkap tangannya. Sambil meneteskan setitik air mata, dia memberinya sebuah ciuman. Ciuman itu terasa spesial dan lama, entah kenapa Kaori tidak ingin berpisah dengannya hari ini. Ketika ciuman itu berakhir, Kaori memeluk Randika sebelum akhirnya masuk ke dalam rumah. "Bu, kenapa tidak telepon dulu kalau mau ke sini?" "Eh ibu barusan lihat kalian berciuman di luar. Apa itu pacarmu? Kenapa kamu tidak membawanya masuk? Ibu kan ingin tahu calon menantuku seperti apa." Ketika dirinya berjalan sambil tersenyum, Randika merasa bibirnya masih terasa hangat. Baginya Kaori merupakan pengalaman indah di Tokyo. Tentu saja, apakah dia bisa bertemu lagi dengannya merupakan sebuah tanda tanya. Tetapi selama dia masih ada di Tokyo, mereka pasti akan bertemu lagi suatu saat nanti. .... Dua hari kemudian, pasukan Ares yang terus bekerja itu mengalami progress yang baik. Catherine sebagai otak dari pasukan Ares ini mulai membersihkan Tokyo dari pengaruh-pengaruh Bulan Kegelapan. Dengan bekerja sama dengan para jenderal, kekuatan dari pasukan Bulan Kegelapan bukanlah masalah bagi mereka. Selain dari pertempuran, Catherine juga sibuk menjalin hubungan dengan para politikus, pebisnis dan orang-orang berpengaruh di Tokyo. Membangun hubungan yang baik akan membuat pasukannya ini bisa bergerak bebas. Semuanya berjalan dengan sesuai rencana, dan pada saat ini menerima informasi berharga dari Yuna. Markas dari Bulan Kegelapan telah ditemukan! Melihat laporan tersebut, tatapan mata Randika berbinar. Akhirnya dia menemukannya! Tanpa pikir panjang, dia meminta Yuna menghubungi semua jenderal dan letnan untuk segera berkumpul. Kali ini Randika ingin menghancurkan Bulan Kegelapan untuk selama-lamanya! Kematian untuk si pengkhianat! Chapter 233: Markas Bulan Kegelapan Tidak lama kemudian, seluruh pasukan Ares berkumpul. Dipimpin oleh Randika dan dengan semangat yang membara, mereka semua pergi menuju lokasi Bulan Kegepalan! Kota Kamakura. Kamakura adalah sebuah kota kecil yang tidak jauh dari Tokyo. Hanya butuh waktu satu jam saja untuk mencapai kota ini dari Tokyo menggunakan kereta. Tempat ini menjadi tujuan wisata populer para turis karena sejarah yang disimpannya. Namun, di bagian barat dari kota ini, sebuah lahan yang luas telah dibeli secara besar-besaran dan sebuah gedung mewah dibangun di atasnya. Inilah markas dari Bulan Kegelapan. "Bajingan!" Bulan Kegelapan membanting kursi yang didudukinya, kemarahannya sudah tidak tertahankan. Baru saja dia mendapatkan laporan dari bawahannya. Isi laporannya selalu sama dalam beberapa hari terakhir, pasukan Ares telah menghancurkan markas cabangnya dengan mudah. Ini sudah ke-21 kalinya dia menerima laporan ini. Bisa dikatakan bahwa kekuatannya di Tokyo terus dikeruk dan semakin kecil tiap harinya. Jika ini terus terjadi, bisa-bisa Ares akan mengalahkannya cepat atau lambat! "Apa kalian tidak bisa bekerja dengan becus!?" Bulan Kegelapan melampiaskan kemarahannya pada anak buahnya yang berlutut satu kaki di hadapannya. Bawahannya itu sama sekali tidak berani melawan, dia hanya mengatakan. "Tuan, kekuatan dari pasukan Ares benar-benar mengerikan. Mereka bergerak secara efektif dan efisien, terlebih para pemimpin mereka semuanya monster. Pasukan kita sama sekali tidak berdaya." Bulan Kegelapan terdiam beberapa saat. Dia paham betul kekuatan dari pasukan Ares. Sebagai salah satu dari 8 letnan, kekuatannya yang paling lemah dari yang lain. Belum lagi kekuatan dari 5 jenderal dan 3 crownless king, mereka sudah bukan lagi manusia. Kalau bukan karena serangan mendadak, Bulan Kegelapan tidak yakin bisa mengalahkan mereka dengan adil. "Aku tidak butuh keluhanmu itu, cepat pergi dari sini." Bulan Kegelapan mengibaskan tangannya. Ketika bawahannya itu pergi meninggalkan ruangan, Bulan Kegelapan mengerutkan dahinya. Dia benar-benar terdesak. Jika saja jebakan yang dibuat oleh Shadow di pulau pribadinya itu bekerja dengan baik, dia tidak perlu cemas seperti sekarang ini. Meskipun awalnya Shadow yang mengajaknya untuk berkhianat, ambisi Bulan Kegelapan untuk meraih segalanya juga tidak kecil. Apalagi Randika waktu itu tidak ada di Tokyo, jadi dia dari awal sudah berniat untuk memberontak dan mengambil alih kekuatannya. Meskipun dia telah menyusun serangan terencana berkali-kali di Indonesia dan jebakan yang dibuatnya bersama Shadow di pulau pribadinya, semua itu tetap tidak bisa membunuh Ares! Bajingan tengik! Kenapa membunuh salah satu dari 12 Dewa Olimpus bisa sesusah ini? Bulan Kegelapan mulai resah. Dia tidak menyangka 2 sekutunya itu tidak membantu menyerang Ares, jika saja iya maka dia sudah lama mati! Bulan Kegelapan mengerutkan dahinya sambil berpikir keras. Dia memikirkan bagaimana merespon penyerangan pasukan Ares ini. Untuk sesaat, dia merasa bahwa Randika akan membunuhnya dalam waktu dekat ini. Di saat dia menutup mata ini, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang keras. Di depan gedung, misil dari bazoka membombardir tempat ini. Dalam sekejap, tembok-tembok mulai lubang dan semua orang di dalam gedung mewah ini merasakan getarannya. Semua orang yang berada di gedung langsung berlarian keluar sedangkan Bulan Kegelapan merasakan firasat buruknya menjadi kenyataan. "Hahaha, apa tembakanmu membuat kalian terpukau?" Jin yang menggotong bazoka miliknya tertawa keras. Di sampingnya ada Singa, Kyoko, si kembar, Dion, Polemos dkk. Raihan membawa pedang besarnya di punggungnya sedangkan Frank memakai baju serba hitam. Mereka berdua menatap para pasukan yang keluar dari dalam gedung. Tidak butuh perintah dari Randika untuk para pasukan yang haus darah ini untuk membunuh siapapun yang berani menunjukan batang hidungnya. Semua anak buah Bulan Kegelapan ini menjerit ketakutan ketika pedang ataupun hujan peluru yang mengarah kepada mereka. Tetapi para pasukan Ares berwajah tenang terutama pasukan yang dilatih langsung oleh Serigala. Mereka sama sekali tidak mempunyai ekspresi di wajah ataupun mata mereka. Setiap musuh mereka bantai satu per satu demi membalaskan dendam saudara-saudara seperjuangan mereka yang telah mati. Tidak ada yang bisa menghalangi mereka! Dalam sekejap, pasukan Ares ini menerjang masuk menuju gedung mewah tersebut. Raihan dan Frank, yang berada di sisi Randika, menatap kedua pasukan bertarung dengan sengit. Pertempuran berdarah telah dimulai. "Ayo kita bergabung." Kata Randika dengan nada serius. Dengan cepat, mereka bertiga memasuki medan tempur. Sepanjang jalan, pertarungan terus terjadi. Jin yang seperti kerasukan itu sudah mirip orang gila. Dia menebas salah satu tangan lawannya dan menggunakannya sebagai tongkat pemukul! Prajurit yang dimiliki Dion juga tidak kalah bengisnya. Tidak ada musuh yang bisa membunuh mereka. Sedangkan pasukan milik Serigala, mereka menggunakan tubuh mereka untuk melindungi teman-teman mereka dari hujan peluru. Si kembar, Matthew dan Martin, menggunakan serangan gabungan ketika mereka beradu tangan kosong. Karena mereka kembar, serangan gabungan mereka benar-benar sempurna. Saat ini, angin kemenangan bertiup ke arah pasukan Ares. Pasukan Bulan Kegelapan terus dipukul mundur terus-menerus. Randika menendang pintu gedung dan menyadari bahwa masih banyak orang menerjang maju ke arahnya. Pedang besar Raihan menebas ke bawah dan membukakan jalan. Dengan satu hentakan kaki yang kuat, Raihan melompat tinggi dan pedangnya menjadi bercahaya. Pedang yang penuh dengan tenaga dalam ini, menebas ke arah 20 orang dan membelah mereka menjadi 2! Setelah membersihkan darah di pedangnya, Raihan menatap ke arah Randika. Frank mengangguk dan berkata padanya. "Lumayan, sepertinya ilmu pedangmu bertambah." Raihan mengerutkan dahinya dan membalasnya. "Tentu saja, kau kira aku cuma tidur seharian?" Frank tersenyum pahit, bukannya dia hanya tidur dan bermain pedang selagi yang lain sibuk bekerja? Semakin mereka masuk ke dalam gedung, beberapa puluh orang mendadak mengepung mereka bertiga. Menatap salah satu pemimpinnya, alis mata Raihan berkedut. "Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini Indy." Wajah Raihan tiba-tiba menjadi serius dan darahnya mendidih. Indy adalah rival lamanya yang juga berada di dalam daftar Dewa. Sebelumnya mereka sering bertarung dan skor sekarang seri di angka 12. Tetapi sekarang kemampuannya telah berkembang, dia tidak tahu siapa yang akan menang di antara mereka. Di hadapan mereka, pria paruh baya dengan jenggot berwarna putih menatap Raihan lekat-lekat. Indy lalu tersenyum karena dia sudah lama tidak melawan rivalnya satu ini. Sedangkan di belakang Indy tepat, terlihat sosok yang sama kuatnya. Frank mengenali orang tersebut dan mengerutkan dahinya. "Father Daniel dari Vatikan?" Wajah Frank benar-benar mengerut. Father Daniel juga bukan orang sembarangan. Dia berasal dari Vatikan dan kemampuannya membuatnya dikenal sebagai agen penghakiman dari Tuhan. "Apakah Vatikan sudah jatuh ke tangan kegelapan?" Wajah Frank berkedut. "Aku sebenarnya tidak menginginkan ini terjadi." Kata Father Daniel yang memakai baju serba putih. "Apa kau ingin menyelesaikan pertarungan kita?" Raihan menatap Indy. "Maju sini." Jawab Indy dengan dingin. "Kita akan menahannya." Kata Raihan dan Frank. Randika mengangguk. Raihan dan Frank langsung bertarung dengan dua ahli bela diri tersebut. Sedangkan Randika sendiri maju sendirian. Siapapun yang berani menghalanginya akan dibunuhnya tanpa ampun. Tidak butuh waktu yang lama bagi Randika untuk menemukan sebuah pintu kayu yang besar. Ketika dia membukanya, dia melihat Bulan Kegelapan sedang duduk di kursinya. Chapter 234: Pertarungan antar Dewa "Bulan Kegelapan." "Ares." Randika dan Bulan Kegelapan saling menatap satu sama lain. Aura membunuh yang pekat mulai merembes keluar dari keduanya. "Kau tidak bisa kabur lagi." Kata Randika dengan nada dingin. "Tidak perlu, karena kau akan mati hari ini." Mendengar hal ini, Randika mengerutkan dahinya. Suara itu bukan berasal dari Bulan Kegelapan melainkan dari belakangnya. Dari arah belakang juga muncul sensasi bahaya yang menyuruhnya untuk menghindar. Melihat reaksi Randika, Bulan Kegelapan menyengir. "Tidak ada salahnya berjaga-jaga jika melawanmu bukan? Lagipula aku bukan tandinganmu 1 lawan 1." Saat itu juga, Randika menoleh dan menaruh kedua tangannya di depan dadanya. Dari arah belakang, muncul 2 telapak tangan yang hendak menghantam dadanya. Kedua belah pihak bertemu dan hasil energinya membuat keduanya melangkah mundur. Ketika melihat lawan barunya ini, Randika cukup terkejut. Wajahnya benar-benar terlihat buruk. "Apollo dan Brahman!" Randika berhadap-hadapan dengan seorang pria paruh baya berambut pirang yang panjang. Dengan senyuman mengerikan di wajahnya, tubuhnya mengeluarkan aura membunuh yang luar biasa! Apollo, Dewa Matahari, salah satu dari 12 Dewa Olimpus. Daya tempurnya benar-benar luar biasa. Dari keempat daftar ahli bela diri, 12 Dewa Olimpus merupakan unggulan di antara 4 daftar tersebut. Terlebih gelar itu hanya 12 sedangkan populasi dunia mencapai 7 miliar orang, benar-benar kuota yang sangat sedikit. Bisa dibayangkan bagaimana kuatnya mereka untuk bisa berdiri di puncak. Dari keempat daftar itu, Dewa, Manusia Peranakan dan Manusia perbedaan ketiganya tidak terlalu jauh. Sebagai contoh, orang yang berada di puncak daftar Manusia memiliki kemampuan dan daya tempur yang tidak terlalu jauh dengan daftar Manusia Peranakan dan begitu pula dengan Manusia Peranakan dan Dewa. Tetapi keberadaan 12 Dewa Olimpus benar-benar berbeda. Bahkan jika nomor 1 dari daftar Dewa melawan yang terlemah dari 12 Dewa Olimpus, dia sama sekali tidak bisa melawan. Sangat jarang terjadi perubahan dari daftar 12 Dewa Olimpus. Sangat susah untuk menggeser nama-nama dari daftar ini. Perubahan terbesar hanya terjadi pada saat Randika membantai 1000 orang suruhan Sirius dari mafia Italia tanpa terluka sedikitpun, reputasi itu membuatnya menjadi Ares sang Dewa Perang! Dengan kemunculan Randika ini, dia mendorong keluar salah satu nama dari 12 Dewa Olimpus sebelumnya. Oleh karena itu, orang tersebut masuk ke dalam Dewa yang berada di bawah 12 Dewa Olimpus. Sebenarnya, sangat mudah bagi orang apabila ingin masuk ke dalam daftar 12 Dewa Olimpus. Hal pertama yang bisa mereka lakukan adalah mencari salah satu penghuninya dan bertarung dengannya. Jika orang itu bisa mengalahkannya, orang itu akan mengambil alih posisinya. Tentu saja, pilihan ini hanya mencari mati. Cara kedua adalah melakukan hal menakjubkan seperti Randika. Dia membantai seharian tanpa terluka sedikitpun. Kemampuan bertempur seperti itu bukanlah kemampuan sembarangan, oleh karena itu Randika pantas mendapatkan gelarnya sebagai Ares. Kedua syarat itu terdengar mudah, tetapi sangat susah untuk dipraktekkan. Jadi bisa disimpulkan bahwa orang-orang yang berada di 12 Dewa Olimpus adalah 12 orang terkuat di dunia! Apollo, sang Dewa Matahari, adalah salah satu penghuni terlama dari 12 Dewa Olimpus. Meskipun reputasinya tidak setenar Randika, kekuatannya benar-benar mengerikan. Sampingnya adalah orang India yang memiliki kekuatan yang tak kalah mengerikan. Orang-orang memanggilnya Brahman. Brahman dalam kepercayaan orang India adalah penguasa tertinggi dalam konsep ketuhanan di agama Hindu, dialah sang Pencipta! Bisa dikatakan orang yang menyebut dirinya Brahman ini adalah ahli bela diri nomor 1 dari India. Menatap kedua musuhnya itu, wajah Randika benar-benar buruk. Sebelum ini Bulan Kegelapan mengerahkan orang-orang dari daftar Dewa untuk membunuhnya dan Randika masih dapat lolos. Tetapi dia tidak menyangka bahwa dia bisa memanfaatkan orang dari daftar 12 Dewa Olimpus! Bulan Kegelapan berada di daftar Dewa, jadi bagaimana caranya dia bisa memerintah kedua orang itu? Bulan Kegelapan berdiri di paling belakang mendadak berkata dengan nada serius. "Hari ini nama Ares akan hilang dari bumi!" Wajah Bulan Kegelapan berkedut, suaranya sudah seperti ringkikan perang. Apakah kali ini akan menjadi akhir dari Randika? Satu orang dari 12 Dewa Olimpus saja sudah merepotkan, sekarang dia harus melawan 3 ahli bela diri sekaligus? Apollo menatap Randika dan tersenyum mengejek. "Ares, sebuah kejutan yang menarik." "Hei, jika aku membunuhnya apakah aku bisa masuk ke dalam daftar Dewa sepertimu?" Brahman terlihat bersemangat, dia tidak sabar mengharumkan namanya. Kedua ahli bela diri ini tidak sabar bertukar pukulan dengan Randika. "Meskipun sayang sekali membunuh sesamaku, tetapi yang lemah selalu akan mati dan yang kuat akan bertahan hidup." Apollo tersenyum tetapi, saat itu juga, tubuhnya sudah berubah menjadi gumpalan asap. Dengan kecepatan luar biasa, dia menerjang ke arah Randika. Di sisi lain, Brahman juga bergerak dan melompat-lompat di dinding untuk menciptakan momentum yang cepat. Pertarungan antar Dewa telah dimulai! Reaksi Randika juga tidak kalah cepat. Di bawah serangan mematikan mereka berdua, tenaga dalam Randika sudah mengalir dengan deras. Kedua telapak tangannya bersatu dan penuh dengan tenaga dalam. Yang kanan mengarah pada dada Apollo dan yang kiri mengarah pada wajah Brahman! DUAK! DUAK! Kedua belah pihak berhasil melayangkan serangannya. Apollo beradu tinju dengan Randika sedangkan Brahman tidak peduli terpukul asalkan dia berhasil melayangkan pukulannya. Ledakan energi ini membuat mereka bertiga melangkah mundur. Meskipun terlihat seimbang, Randika masih berada di posisi kalah. Pernapasannya tidak teratur seolah-olah dia telah lari selama 1 jam. Kekuatan misterius di dalam tubuhnya juga mulai memberikan tanda-tanda memberontak. Jika Randika bisa mengerahkan seluruh kekuatannya, kemungkinan besar dia bisa memenangkan pertarungan antar Dewa ini. Tetapi dalam pertempuran ini, dia tidak bisa mengeluarkan kekuatan maksimalnya. Sedangkan Apollo dan Brahman tertawa ketika melihat sosok Randika yang tertatih-tatih itu. "Aku kira orang yang disebut Dewa Perang itu kuat." Brahman meludah ke lantai. "Ternyata masuk ke dalam daftar Dewa Olimpus tidak sesulit yang kubayangkan." Randika tidak membalas, wajahnya terlihat muram. Apollo juga menyengir sambil membetulkan rambut pirangnya. "Setelah hari ini tidak ada lagi yang namanya Ares." Sesudahnya itu, ketiganya kembali bertarung. Bulan Kegelapan berada di samping dan tidak bisa berhenti menyengir. Kali ini Ares akan mati! Randika masih terus didesak dengan serangan gabungan Apollo dan Brahman. Situasi terlihat seimbang tetapi tiap detiknya tenaga dalam Randika terkuras. Pertarungan antar Dewa seperti ini selalu menimbulkan kekacauan yang besar, kekuatan mereka sudah tidak bisa dijelaskan oleh logika manusia. DUAK! Tembok demi tembok bolong oleh serangan yang dilancarkan dari mereka bertiga. Ketiganya melompati tembok, langit-langit dan lantai sambil terus menyerang. Apollo melayangkan sebuah tendangan sedangkan Brahman mengincar kaki Randika. Randika berlari mundur sambil terus bertahan, serangan gabungan lawannya terus mendesaknya. Akhirnya, setelah Randika menahan pukulan Brahman, Apollo melihat kesempatan dan memukul Randika tepat di dadanya. Kali ini dia tidak menahan kekuatannya sama sekali, hal ini membuat Randika terpental. Melihat Randika yang membentur tembok dengan keras, Apollo tertawa keras. "Jadi Cuma segini kekuatanmu HAH!?" "Tahu gitu aku tidak perlu repot-repot mencari cara untuk menjadi yang terkuat, aku tinggal membunuhmu yang lemah ini." Brahman menghela napas. Chapter 235: Inilah Kekuatan Penuhku Melihat Randika yang berlutut dengan satu kaki, Apollo dan Brahman sama-sama tertawa. Apa hanya segini kekuatan Ares sang Dewa Perang? Siapa itu 12 Dewa Olimpus? Mereka adalah individu terkuat di dunia, kemampuan masing-masing individu benar-benar luar biasa. Tetapi sebagai salah satu yang terkuat dari 12 Dewa Olimpus, yang disebut-sebut Dewa Perang itu, berlutut? Bagaimana mungkin dia layak disebut Ares? Randika berlutut dengan satu kakinya, mulutnya meneteskan darah segar tetapi semua ini tidak masalah baginya. Permasalahannya adalah setelah menerima serangan Apollo, tenaga dalamnya yang ada di tubuhnya mulai kewalahan melawan kekuatan misterius di dalam tubuhnya. Sekarang di dalam tubuhnya kedua kekuatan itu sedang berperang. Tenaga dalamnya melawan kekuatan misteriusnya. Melihat Randika yang menundukan kepalanya, tatapan mata Brahman terlihat jijik. "Ternyata seorang Ares tidak pantas untuk waktuku." Brahman menggelengkan kepalanya. Yang dia inginkan hanya membunuh orang yang kuat dan semuanya yang pernah dibunuh bukanlah orang yang lemah. Dengan terus melakukan hal seperti itu, dia bisa membangun namanya! "Apa kau sudah menyerah?" Wajah Apollo masih tersenyum ramah bagaikan seorang pangeran. Tetapi tangannya sudah mengandung tenaga yang mengerikan. "Jika kau menyerah sekarang, kita tidak akan menyerangmu lagi." Kata Apollo. "Jadi bagaimana keputusanmu?" Apollo bertanya sambil meludah ke arahnya. Mereka berdua berdiri 3 langkah di depan Randika yang terengah-engah. Dari ekspresi wajahnya terlihat bahwa dia sedang kesakitan. Sebenarnya kekuatan misterius di dalam tubuhnya sudah meledak-ledak ingin keluar. Apollo dan Brahman menatap satu sama lain lalu berkata pada Randika. "Cepat putuskan nasibmu. Selama kau memberikan gelarmu dan tidak mengusik Bulan Kegelapan lagi, maka kami akan membiarkanmu hidup." Namun pada saat ini, Randika yang sedang berlutut itu berkata dengan susah payah. "Lariˇ­" Tiba-tiba, Randika mengangkat kepalanya dan meraung dengan keras. Tenaga dalam di tubuhnya sudah kalah dan digantikan dengan kekuatan misterius yang mengalir deras bagai lautan. Seluruh energi itu keluar dari semua pori-pori kulit Randika! "UAHH!" Randika masih meraung keras sambil menghantamkan tinjunya ke dadanya. Dalam sekejap, seteguk darah merah keluar dari mulutnya diikuti dengan ledakan energi yang besar! Ekspresi Apollo dan Brahman berubah. Ketika mereka merasakan energi itu, mereka tidak bisa menahannya. Mereka harus mundur! Benar-benar ledakan energi yang mengerikan. Apollo dan Brahman mengerutkan dahinya, kenapa lawannya ini tiba-tiba seperti itu? Ini bisa dikatakan aneh bagi mereka, karena untuk orang biasa ataupun seorang ahli bela diri, energi mereka tidak akan meledak dan menjadi lebih kuat seperti itu. Hal ini berbeda dengan kekuatan yang disembunyikan. Kasus Randika lebih mirip kerasukan energi yang besar dan tertelan olehnya. Benar-benar fenomena yang luar biasa. Mereka berdua bisa merasakan bahwa Ares yang sekarang bukanlah Ares yang mereka hajar tadi. Namun, Apollo dan Brahman tersenyum. Sepertinya pertarungan mereka akan menjadi menarik, memang pertarungan hidup dan mati harus penuh kejutan seperti ini. Dan Randika pada saat ini sedang mengangkat tangannya perlahan. Wajahnya benar-benar merah dan mulutnya terus mengucurkan darah. Bola mata Randika juga merah, dia benar-benar mirip iblis yang baru merangkak dari dalamnya neraka. Kedua wajah Apollo dan Brahman menjadi serius, pertarungan akan dimulai. Melihat dua musuhnya berdiri di depannya, Randika berjalan perlahan mendekati mereka. Setiap langkahnya terasa berat, seakan-akan kakinya terbelenggu oleh beban. Apollo dan Brahman tidak bisa terus-terusan diam, mereka menyerang. Kecepatan mereka berdua sangatlah cepat, dalam sekejap mereka sudah berada di dekat Randika. Tinju milik Apollo mengenai wajah Randika dengan telak sedangkan serangan telapak tangan Brahman mengenai dadanya Randika. Untuk mengatasi serangan ini, Randika hanya mengepalkan tinjunya dan meraung. Tiba-tiba ledakan tenaga dalam keluar dari dalam tubuhnya. DUAR! Udara seperti terhisap dan meledak bersamaan yang menghempaskan Apollo dan Brahman. Di saat mereka berdiri kembali, Apollo mengerutkan dahinya. Dia belum pernah merasakan ledakan tenaga dalam yang begitu kuat sampai bisa menghempaskan dirinya. Serangan tinjunya yang mengenai wajah Randika dengan telak itu mampu menumbangkan beruang dalam satu pukulan, namun sepertinya tinjunya itu bukan apa-apa. Tangan Randika terlihat bergetar, tenaga dalamnya yang terus merembes keluar itu seperti ingin meledak lagi. Apollo dan Brahman sepakat untuk menyerang dengan taktik berbeda. Mereka menghentakan kakinya dan mendarat di langit-langit gedung, setelah itu mereka mendorong dengan kuat dan menerjang turun pada Randika! Tetapi sebelumnya mereka mendorong kaki mereka, aura membunuh dari lawannya semakin kuat dan tenaga dalamnya makin besar. Dan firasat buruk mereka benar-benar terjadi! Randika melihat kedua lawannya itu melompat tinggi dengan cepat. Dengan wajah tidak berekspresi, dia melompat dan menyusul mereka dengan kecepatan yang luar biasa. Hampir dalam sekejap, Randika berdiri di hadapan mereka berdua. Apollo dan Brahman langsung bereaksi dan mereka bertukar pukulan di udara. Namun sekarang, hanya butuh satu pukulan untuk memutuskan siapa pemenangnya. Randika dengan cepat melayangkan pukulannya ke dagu Apollo sedangkan tangan kirinya beradu dengan telapak tangan Brahman. Di bawah serangan tenaga dalam ini, Brahman terpental dan membentur tembok. Di sisi lain, Apollo tidak tumbang begitu saja. Dia melayangkan serangan balik namun dapat dihindari Randika dengan mudah. Setelah 2-3 pukulan, Randika mengincar lengan Apollo. Tetapi reaksi Apollo tidak kalah cepat, dia dengan lihai menghindar dan menyerang balik. Tetapi serangan Randika tiba-tiba berubah menjadi tendangan yang membuat Apollo terkena telak. Dengan satu serangan ini, Apollo semakin yakin dengan dugaannya. Orang ini sudah bukan lagi Ares yang dia kenal, tidak mungkin seseorang bisa mengganti gaya serangan dengan mudah dan memiliki tenaga dalam yang berbeda. Ekspresi mata Brahman terlihat tajam, dia mengangguk ke arah Apollo dan keduanya dengan cepat menerjang ke arah Randika. Di dalam gedung ini, ketiganya sudah bagaikan bayangan. Kecepatan mereka sudah tidak bisa diimbangi oleh mata manusia. Yang terdengar hanyalah suara gesekan udara dan terkadang terdengar suara rintihan kesakitan dari Apollo dan Brahman. Di bawah pertarungan yang sengit ini, satu per satu dekorasi ruangan mulai berjatuhan. Lukisan-lukisan di dinding sudah bolong bersama temboknya. Kursi yang ada di dekat mereka sudah jatuh dan vas-vas bunga sudah pecah di lantai. Bahkan jendela kaca itu sudah lama berpisah dengan kacanya. Bulan Kegelapan menatap mereka bertiga dengan hati yang ketakutan. Dia sama sekali tidak bisa melihat pergerakan mereka bertiga, bahkan dia sudah tidak tahu di mana mereka berada. Inikah pertarungan antar Dewa Olimpus? Bulan Kegelapan justru lebih takut terhadap Randika. Memangnya seberapa kuat seorang Ares itu? Di bawah serangan gabungan dari Apollo dan Brahman, dia masih bisa bertarung secara seimbang dengan mereka. Sepuluh detik kemudian, mereka bertiga berpisah dan mendarat di lantai. Baju Randika sudah compang-camping dan terdapat luka goresan yang cukup banyak. Sedangkan Apollo dan Brahman, mereka berdua mengalami luka yang lebih serius! Rambut pirang Apollo sudah berantakan, rambut yang dulunya lurus dan halus itu sudah acak-acakan. Darah terlihat mengucur dari sudut mulutnya dan bajunya sudah bisa dikatakan hancur. Kondisi Brahman tidak jauh berbeda dengan Apollo. Mereka berdua terengah-engah sambil menatap Randika. Randika menatap mereka berdua. Semakin lama dia bertarung, semakin deras tenaga dalamnya mengalir dan membantunya melupakan rasa sakitnya. Yang ada di pikirannya adalah membunuh, membunuh dan membunuh! Apollo dan Brahman merinding ketika melihat wajah tanpa ekspresinya Randika. Sebelumnya Ares kesusahan mengatasi serangan mereka berdua, tetapi sejak ledakan energi yang aneh itu, daya tempur dan gaya bertempurnya menjadi berubah. Apa-apaan itu? Bola mata Randika yang merah mengeluarkan sebuah cahaya aneh. Sesudah itu, tubuhnya berubah menjadi gumpalan asap dan menerjang maju. Apollo dan Brahman memasang kuda-kuda bertahan dan menyambut serangan Ares. Ketiganya bertarung dengan sengit dan sekarang serangan Randika berhasil mendesak mereka. Setelah rangkaian serangan, kedua tangan Brahman membentuk simbol. Tiba-tiba, energi berwarna keemasan melesat ke arah Randika. Sedangkan Apollo, tinjunya sudah dilapisi oleh kekuatan penuhnya hingga bercahaya. Randika mengangkat kedua tangannya dan melebarkan telapak tangannya. Ketiga tenaga dalam itu bertemu sekali lagi. DUAR! Bagaikan bom meledak, Apollo dan Brahman sama-sama terpental sambil mengeluarkan darah. Kali ini keduanya sudah ketakutan, benar-benar tenaga dalam yang mengerikan. Sedangkan Randika hanya berdiri diam di tempatnya dan merasakan darahnya mendidih. Sepertinya kekuatan misterius di dalam tubuhnya terus mengalir dari pori-pori seluruh tubuhnya. Darah, darah, darah, aku ingin darah! Randika berlutut dengan satu kaki dan melesat bagai anak panah, dalam sekejap dia sudah menyusul Apollo dan Brahman yang terpental. Brahman berhasil menghindar dan tinju Randika menancap di tembok. Tiba-tiba, tembok itu retak dan retakannya menjulur ke semua arah dan akhirnya runtuh bagaikan pasir. Apollo memperhatikan Brahma yang dikejar Randika itu untuk mencari celah. Tetapi, tiba-tiba Randika berputar dan menendang Apollo dengan kecepatan cahaya! Meskipun Apollo menggunakan lengannya sebagai tameng, seluruh tubuhnya melayang! Serangan itu benar-benar mengerikan. Bulan Kegelapan yang berada di samping juga terkejut. Apakah ini kekuatan dari seorang Ares? Lawannya itu bukan macam-macam, mereka adalah salah satu dari 12 Dewa Olimpus dan kandidat kuat yang disebut-sebut sebagai Dewa Olimpus ke-13. Meskipun sudah digempur, kekuatan seorang Ares bisa mengalahkan mereka! Benar-benar tidak masuk akal. Bulan Kegelapan, yang sudah ketakutan, tiba-tiba merasa bahwa udara di sekitarnya robek. Lalu tak lama kemudian sesosok orang jatuh tepat di hadapannya. Brahman yang sudah muntah darah itu terkapar kesakitan sedangkan napas Apollo sudah pendek dan seluruh tubuhnya sudah terluka. Mereka berdua menatap Randika yang masih bisa berdiri dengan kokoh. Rasa ngeri dan takut melintas di mata mereka berdua. Dia sudah bukan manusia! Memang terdengar dilebih-lebihkan, tetapi itulah kenyataannya. Sedangkan Bulan Kegelapan hanya bisa bergetar ketika mendengar kata-kata Randika. "Inilah kekuatan penuhku." Chapter 236: Operasi Pembersihan Randika berdiri di tempat yang sama, Bulan Kegelapan cuma bisa terpana sedangkan Apollo dan Brahman mengalami luka-luka. Meskipun Randika seorang diri, pertarungan ini telah berhasil dia kendalikan. Kekuatan Randika masih terus mengalir dengan kuat, bahkan lebih kuat dari ruangan rahasia sebelumnya. Namun, Randika masih terus mengingat betapa berbahayanya menggunakan energi ini. Jika tidak hati-hati, dia akan mati. Oleh karena itu, Randika harus segera menyelesaikannya! Apollo dan Brahman berdiri kembali, dan pada saat ini, Randika kembali menyerang. Menerima serangan Randika yang cepat dan berat, mereka berdua tidak akan bertahan lama. "UHUK!" Dada Brahman terpukul dengan keras dan tembakan tenaga dalam Randika langsung mengacaukan tenaga dalamnya, sekarang tubuhnya menjadi tidak terkendali dan memuntahkan darah segar. Apollo juga tidak jauh berbeda, dia terpental karena serangannya Randika. Tetapi Randika tidak melepaskannya begitu saja, dia langsung mengejarnya di udara dan menghajarnya seperti karung tinju. Tidak bisa bertahan sama sekali, Apollo menerima tiap pukulan itu dengan telak. Apollo benar-benar sudah tidak berdaya, lukanya sudah terlalu serius. Dua orang yang dikenal hebat dan kuat itu bukan apa-apa bagi seorang Ares! Brahman terbatuk dan berkata dengan nada dingin. "Sepertinya kau memang pantas menyandang nama Ares, tetapi kau kira aku tidak bisa mengalahkanmu?" Randika menatap Brahman yang matanya masih membara dengan semangat bertarung. Tidak disangka-sangka, Brahman mengeluarkan sebuah botol kaca kecil dan melemparnya ke arah Randika. Kemudian dengan jari telunjuknya, dia menembakan energi tenaga dalamnya. Botol itu pecah dan ratusan serangga kecil beracun langsung menyebar. "Trik murahan!" Randika mengibaskan tangannya, tenaga dalamnya yang besar itu membunuh serangga-serangga itu hanya dalam sekali serang. Ketika Randika menatap Brahman, dia menyadari bahwa sosok orang nomor 1 di India itu sudah lari menuju jendela! Benar, Brahman lari menuju jendela dan melompat keluar dari gedung ini. Randika terkejut bukan main, setelah sadar dari linglungnya, Brahman sudah menghilang dari tempat ini. Terdiam sesaat, Randika menatap Apollo. Apollo yang sama-sama merupakan Dewa dari 12 Dewa Olimpus juga terlihat melongo. Lalu tanpa berkata apa-apa, dia berbalik dan lari menuju jendela yang sama! Kedua orang itu melarikan diri! Jika orang-orang mendengar cerita ini, mereka akan menetertawakan Apollo dan Brahman dengan sangat keras. Namun karena kondisi tubuhnya yang tidak jelas, Randika tidak bisa mengejarnya. Dan bagaimanapun juga, lawannya yang sebenarnya adalah Bulan Kegelapan bukan Apollo dan Brahman. Sekarang, fokus Randika jatuh pada Bulan Kegelapan yang sama sekali tidak bergerak. Bulan Kegelapan masih belum sadar bahwa Randika sudah bergerak menuju dirinya, dia masih terkejut dengan reaksi 2 bawahannya itu. Ketika dia sadar dari linglungnya, Randika sudah dekat dengannya. Bulan Kegelapan terus melangkah mundur hingga tersandung oleh sebuah kursi. Setelah melihat sendiri betapa mengerikan kekuatannya Ares, dia tahu bahwa dia tidak memiliki kesempatan menang. Sejak awal dia memberontak, dia mengira telah mengenal sosok tuannya itu baik kekuatan maupun sifatnya. Berbagai perangkap dan tipuan telah dia buat namun sepertinya semua itu sia-sia. "Saat kau masih menjadi bawahanku, kau meraih banyak prestasi untukku." Kata Randika dengan suara pelan. "Sekarang beristirahatlah di neraka." "Hahaha." Bulan Kegelapan tertawa keras. "Kau kira kau bisa membunuhku? Aku hanyalah salah satu dari kloning." Mendengar hal ini Randika mengerutkan dahinya. Dia bukan yang asli? Bulan Kegelapan memang seperti tikus, dia tidak pernah menunjukan dirinya yang asli. "Ares, kau tidak akan bisa membunuhku!" Bulan Kegelapan tertawa. Jengkel mendengar tawa yang menyebalkan itu, Randika melayangkan sebuah pukulan ke dada Bulan Kegelapan. Sekarang suara tawa itu berubah menjadi suara batuk berdarah. "Bahkan jika aku tidak bisa membunuhmu, aku akan menghancurkan semua markasmu! Cepat atau lambat, aku akan menemukanmu yang asli!" Kata Randika. Bulan Kegelapan terlihat menyengir tetapi akhirnya nyawanya ikut melayang bersamaan dengan darahnya yang mengucur deras. Randika membunuh kloning Bulan Kegelapan dengan satu pukulan. Menatap Bulan Kegelapan yang meleleh itu, Randika mengerutkan dahinya. Kapan permainan kucing dan tikus ini akan berakhir? Tak lama kemudian, energi yang sebelumnya mengalir dengan deras itu tiba-tiba surut dan rasa sakit mulai mengambil alih. Keringat dingin mulai mengalir deras dari punggungnya. Sekitar 1 menit kemudian, tubuh Randika sudah membentuk kolam keringat dan rasa sakit itu semakin menjadi-jadi. Dia dengan cepat mengambil pil obat dari kakeknya dan menelannya. Dia lalu menutup matanya dan mengontrol tenaga dalamnya di tubuhnya. Butuh waktu yang lama untuknya meredakan gejala ini. "Huaaa!" Randika menghela napas lega yang panjang. Kekuatan misterius dalam tubuhnya itu bagaikan kuda liar yang ganas. Untungnya saja dia berhasil mengendalikannya atau konsekuensinya tidak terbayangkan. Pada saat yang sama, pasukannya telah menghabisi seluruh pasukan Bulan Kegelapan dan mulai mengamankan gedung. Di sisi lain, pertarungan antara Frank dan Father Daniel sudah berakhir. Father Daniel tersenyum lebar ketika melihat Brahman yang melarikan diri. Setelah melihat celah, Father Daniel menyusul Brahman. Indy melihat rekannya itu melarikan diri lalu memutuskan untuk menyusulnya. Raihan awalnya ingin mengejarnya tetapi dia ditahan oleh Frank. Kemudian mereka berdua menyusul Randika. Randika dengan baju compang-campingnya menghampiri mereka berdua dan berkata padanya. "Hubungi Catherine dan Yuna, minta mereka untuk melacak sisa-sisa kekuatan Bulan Kegelapan di Tokyo." Kemudian Randika meminta pasukannya untuk memeriksa seluruh gedung ini dengan harapan menemukan sesuatu yang bisa menuntun mereka ke markas asli Bulan Kegelapan. .......... Meskipun pertempuran besar ini tidak menewaskan Bulan Kegelapan yang asli, kekalahan Bulan Kegelapan itu benar-benar menyakiti fondasi kekuatannya di Tokyo. Bisa dikatakan bahwa markasnya yang hancur kali ini merupakan fasilitas penting karena dijaga oleh Apollo, Brahman, Father Daniel dan Indy. Setelah menyelidiki seluruh gedung dengan seksama, Randika menemukan beberapa informasi penting seperti orang-orang politik dan pebisnis yang berhubungan dengan Bulan Kegelapan sebelumnya dan peta berisikan markas-markas cabang lainnya. Dengan peta ini, pasukan Ares bisa menghabisi kekuatan Bulan Kegelapan secara efektif dan cepat! Seluruh jenderal dan letnan dibagi dan mereka melancarkan serangan bersamaan, Tokyo ditakdirkan menjadi lautan berdarah. Tragedi ini dimulai dengan jeritan tragis para pasukan Bulan Kegelapan, lalu menyebar ke jajaran politik dan pebisnis. Mereka semua dibunuh dengan diam-diam, kebanyakan dari mereka memiliki sejarah penyuapan dan kepemilikan barang ilegal. Orang awam tidak merasakan tragedi berdarah ini sama sekali, tetapi bagi yang terseret dalam arus ini kejadian hari ini benar-benar mengerikan. Bahkan jika yang menjadi korban adalah pasangannya sendiri, mereka hanya memalingkan wajahnya dan pura-pura tidak melihat. Orang-orang ini tahu bahwa kejadian ini merupakan bentuk balas dendam dari pasukan Ares. Siapapun yang berani menentang akan berurusan dengan pasukan mengerikan itu dan mati mengenaskan. Pada saat yang sama, nama pasukan Ares sebagai raja dunia bawah tanah mulai harum kembali. Operasi penyapuan markas Bulan Kegelapan terus berjalan. Berkat peta yang mereka temukan, Bulan Kegelapan sama sekali tidak mempunyai kesempatan. Kali ini kekuatan Bulan Kegelapan benar-benar menyusut dengan cepat. Terlebih dengan semakin pulihnya pasukan milik Randika, Bulan Kegelapan sudah tidak bisa bertindak terang-terangan seperti sebelumnya. Bisa dikatakan bahwa pengaruh yang dimiliki Bulan Kegelapan di Tokyo sudah menipis dan dia sudah bukan lagi ancaman bagi pasukannya. Chapter 237: Perpisahan Namun Randika tidak bisa menyepelekan kasus ini. Sebelum Bulan Kegelapan benar-benar mati, ancaman bahaya ini selalu mengintai dirinya. Dia tidak bisa membiarkan kanker ini terus berkembang hingga besar. Setelah beberapa hari pasca kejadian di kota Kamakura, masih belum ada kabar mengenai markas utama Bulan Kegelapan. Bahkan pasukan Bulan Kegelapan yang diinterogasi tidak mengatakan apa-apa. Hanya dalam 2 hari, seluruh markas Bulan Kegelapan yang mereka tahu telah hancur. Dan terlebih mereka berhasil merebut istana mereka kembali! Dengan perencanaan yang teliti oleh Catherine dan juga tidak adanya bala bantuan membuat mereka bisa merebutnya kembali dengan mudah. Pada saat ini, nama pasukan Ares sudah menggema di telinga orang-orang. Memanfaatkan kesempatan ini, Catherine dan Randika memutuskan untuk merekrut lebih banyak orang dan menstabilkan fondasi mereka. Sebelumnya pasukan mereka ini terlalu sederhana, tetapi kali ini Catherine ingin memperdalam fondasi mereka. Dia ingin merekrut lebih banyak peneliti, mekanik dan ahli komputer. Proses perekrutan ini akan diawasi langsung olehnya dan Yuna agar tidak kemasukan mata-mata. Beberapa hari setelahnya Yuna dan Catherine mengantar Randika ke bandara. Mereka berangkat secara diam-diam dan tidak memberitahu para jenderal dan letnan lainnya. Kalau tidak, mengingat sifat mereka semua, Randika bisa-bisa tidak bisa kembali ke Indonesia. "Kalau begitu sampai di sini ya. Aku serahkan sisanya pada kalian berdua." Kata Randika sambil tersenyum. Yuna yang cemberut itu tiba-tiba sudah berurai air mata. Kedua dada supernya itu menempel erat dengan Randika. "Aku mohon jangan pergi, aku masih ingin bersamamu. Lagipula kamu juga belum bertemu dengan adikku." Yuna menangis di dadanya Randika. "Yuna, aku tahu kamu kesepian tetapi bukankah Kyoko, Catherine dan yang lain ada bersamamu? Aku yakin kamu bisa mengatasi semua masalah dengan baik tetapi jika kamu membutuhkanku, kamu tinggal menghubungiku." Catherine yang ada di samping ikut tersenyum. "Tuan, bagaimana kalau kamu membawa Yuna bersamamu? Aku akan mencari orang yang tepat untuk menggantikan posisinya di divisi intelijen." "Benarkah? Aku bisa pergi bersamamu?" Wajah Yuna terlihat berbinar-binar. Randika menggelengkan kepalanya. "Maaf untuk divisi intelijen aku tidak bisa percaya dengan siapapun selain kamu Yuna. Lagipula bagaimana perasaan adikmu kalau kamu mendadak pergi?" "Tapiˇ­." "Sudah kamu tenang saja, aku akan menghubungimu lebih sering mulai dari sekarang." "Janji?" Randika menganggukan kepalanya dan mengusap kepala Yuna, dia lalu menoleh ke arah Catherine. "Aku mempercayakan pasukan kita padamu, jaga baik-baik rumah kita." Catherine mengangguk. "Tuan jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan pasukan kita mengalami kejadian memalukan seperti itu lagi." Randika mengangguk dan tersenyum, mereka berdua memanglah orang kepercayaannya. "Oya, nanti kalau kalian merekrut orang, dahulukan kesetiaan daripada keahlian." Dengan adanya reorganisasi pasukan, proses perekrutan menjadi kunci kestabilan dan kekuatan mereka. Kalau proses perekrutan ini tidak diawasi dengan baik, bisa-bisa akan terjadi kasus Shadow kembali. Catherine mengangguk. "Tuan, aku akan membuka markas cabang di Indonesia ketika masalah kita di Jepang ini telah selesai. Lagipula Indonesia merupakan kampung halaman tuan kita." Cabang di Indonesia? Randika terkejut, ide yang sangat brilian! Namun, dia berpikir sebentar dan menggelengkan kepalanya. "Hal seperti ini mungkin akan sulit, Arwah Garuda tidak akan membiarkannya." Setelah berbincang sebentar, Randika masuk untuk melakukan check in. Ketika dia hendak masuk, terdengar suara mesin yang menggelegar dari belakang. Suara ini langsung membuat semua orang penasaran. Randika menoleh ke belakang dan tidak bisa menahan dirinya untuk menggelengkan kepalanya sambil tertawa. Beberapa motor besar berbaris dengan rapi tepat di luar pintu masuk bandara. Motor yang dikendarai itu benar-benar besar. Jika ada orang yang mengerti mengenai sepeda motor, mereka tentu akan terkejut. Motor-motor itu adalah Harley Davidson Street Glide. Mesin motor mereka mengerikan dan kecepatannya tidak kalah dengan mobil! Motor-motor itu berbaris rapi dan di belakangnya terlihat beberapa mobil sport lainnya seperti Rolls Royce, Ferrari dan Lamborghini. Satu per satu mobil itu berhenti dan parkir dengan rapi, sepertinya sedang terjadi parade mobil mewah. Semua orang terkejut bukan main, motor dan mobil mewah ini kenapa tiba-tiba berkumpul di tempat ini? Sebuah mobil yang parkir di samping Lamborghini itu tidak bisa tidak merasa minder. Dengan menggosok matanya dengan keras, dia bermimpi suatu saat nanti akan memiliki mobil seperti itu. Satu per satu orang mulai merekam kejadian unik ini dengan HP mereka. Setelah beberapa saat, semua orang yang di dalam mobil keluar dan berjalan menghampiri pintu masuk bandara. Randika menggelengkan kepalanya dan tertawa pahit. Dia lalu menatap Yuna dan menghela napas. Sepertinya Yuna memberitahukan kepergiannya pada semua orang. Tidak lama kemudian, semua pasukannya yang memakai jas hitam itu berdiri di hadapannya Randika. Dion, Polemos, Serigala, Jin, Singa dan yang lain tampak seperti mafia. Sedangkan Kyoko memakai dress China yang memperlihatkan kaki panjang dan mulusnya, benar-benar menggoda. Jika saja bukan karena luka di mukanya, Kyoko sudah menjadi perempuan tercantik yang pernah dilihatnya. Semua pasukannya itu, dipimpin oleh 5 jenderal, bersamaan membungkuk ke arah Randika. "Selamat jalan tuan!" Suara yang keras itu dapat terdengar di seluruh pelosok bandara, semua orang terkejut bukan main ketika mendengarnya. Pemuda itu bos dari semua orang itu? Benar-benar tidak masuk akal. Randika menghela napas lalu tertawa dengan keras. "Siapa yang akan menemaniku berlatih pedang coba?" Raihan menghela napas sambil membawa pedang besarnya di punggungnya. Frank lalu memarahinya. "Sudah jangan menambah beban tuan kita lagi. Tolong maafkan dia, berangkatlah dengan hati yang tenang dan serahkan yang di sini padaku." "Benar bos, aku akan menjaga rumah kita ini!" Singa merobek jasnya sambil mengeluh. "Sialan, baju seperti ini memang tidak cocok untukku." Melihat tingkah laku Singa yang memalukan, Jin sudah geleng-geleng. Dia sangat membenci sikap Singa yang seenaknya. Matthew dan Martin tersenyum. "Tuan, Anda harus kembali!" "Jangan khawatir." Randika tersenyum. Kali ini Dion dan Polemos maju dan menyampaikan salam perpisahan mereka. "Karena aku tidak ada di sini, jagalah baik-baik saudara-saudara kita." "Jangan khawatir, kita semua akan bertaruh nyawa untuk menjaga warisanmu ini tuan." Randika memeluk para jenderal dan letnannya. "Serigala, ketika pasukan kita sudah kuat dan banyak, aku berpikir untuk membuat cabang di Eropa. Bersiaplah untuk kemungkinan itu." "Kyoko, semakin hari aku melihatmu kecantikanmu itu memang abadi. Jaga dirimu baik-baik." ........ Dengan begini Randika sudah berpamitan dengan semuanya, dia sekarang sudah siap pulang ke Indonesia. Para pengunjung yang lain masih tertegun namun perasaan mereka langsung berubah menjadi ketakutan. "Hoi, jangan menghalangi jalan tuanku! Kubunuh kau!" Semua orang langsung menyingkir dan memberikan jalan pada Randika. Randika hanya bisa tersenyum pahit, dia menduga hasil yang seperti ini jika memberitahukan kepergiannya pada semua orang. Chapter 238: Atraksi Sulap Randika masuk dan melakukan check in, dan para pasukannya itu meninggalkan bandara. Meskipun dengan perasaan sedih, Yuna dan yang lain harus merelakan kepergian Randika dan fokus pada pekerjaan mereka. Meskipun Bulan Kegelapan bukanlah ancaman lagi, mereka tidak boleh lengah dan harus menumpas si pengkhianat itu untuk selamanya. Karena berbagai kejadian di Tokyo ini melelahkan jiwa dan raganya, Randika ingin tidur dengan tenang di pesawat jadi dia memilih duduk di dekat jendela. Ketika dia hendak memasukan barangnya ke bagasi atas, suara perempuan terkejut terdengar di depannya. Randika menoleh dan melihat senyuman lebar tertuju padanya. "Benar-benar sebuah kebetulan." Perempuan itu adalah Serena yang sebelumnya menggoda dirinya di pesawat menuju ke Jepang. Benar-benar sebuah kebetulan bisa bertemu dengannya lagi dan terlebih mereka duduk bersampingan! Sejujurnya, Randika sendiri sudah lupa dengan sosok bule satu ini. Wajah Serena tersenyum lebar, dia tidak menyangka akan bertemu dengan pria tampan dan gagah ini kembali. Sehari sebelumnya dia masih mengomel karena perusahaannya menyuruhnya kembali ke Indonesia dengan membawa pekerjaan yang sangat banyak. "Apa kamu sudah lupa janji kita sebelum ini?" Mendadak, baju Serena terlihat longgar dan dia menggigit kedua bibir pinknya, membuatnya terlihat makin menggoda. Melihat sosok yang menggoda ini, nafsu Randika makin menguasai dirinya. Setelah berkali-kali meminum obat dari kakeknya itu, dia hanya mengeluarkan nafsunya itu sekali dengan Kaori. Dan sekarang, ada perempuan cantik dan montok menggoda dirinya, siapa yang bisa tahan! Keduanya duduk dengan sangat dekat, kaki Serena mulai menggosok kaki Randika. Hari ini Serena memakai celana pendek dengan stoking jala, ini mengingatkan Randika dengan bunny girl di bar saat dirinya di Jepang. "Kenapa kamu tidak menghubungiku?" Jari Serena mulai berenang di puting Randika, berusaha membuatnya bergairah. Randika menerima undangan Serena ini dan menaruh tangannya di paha perempuan satu itu. Keempukan dan sensasi ini sudah lama tidak dia rasakan. Mendadak, suara desahan kecil keluar dari mulut Serena. Seorang pria paruh baya yang duduk di depan mereka tiba-tiba menoleh ke belakang. Melihat posisi kedua pasangan muda itu, pria itu tersenyum dan kembali membaca korannya. Inilah ikatan persaudaraan antar pria! Tidak bisa dipungkiri, nafsu adalah dosa terbesar para lelaki. Pria paruh baya itu aslinya juga kagum pada Randika, berani sekali mereka melakukannya di tempat duduk? Bukannya ada toilet? Randika sendiri sepertinya gugup dan takut. Nafsunya benar-benar sudah di ambang batas. Dia hanya menyentuh paha Serena dan adiknya sudah berdiri dengan kokoh. Jika dia benar-benar melakukannya dengan Serena, apakah perempuan ini bisa menerima seluruh nafsunya? Serena menatap Randika dan ketika melihat senyuman Randika, hatinya meleleh dan memeluk lengan Randika sambil mengistirahatkan kepalanya di pundak Randika. Pada saat ini, seorang pramugari melewati tempat duduknya. Ketika dia melihat sosok Randika, dia tidak bisa menahan rasa bersemangatnya. Dia menyadari bahwa pria itu adalah pahlawan yang telah menyelamatkan satu pesawat. Tetapi ketika melihat tangan Randika yang berenang-renang di paha Serena, hatinya langsung meredup. Dia dengan cepat mengingatkan mereka untuk memasang sabuk pengaman dan pergi dari situ dengan hati yang kecewa. Randika sendiri merasa nikmat ketika meraba-raba paha Serena, tetapi karena ingin sensasi yang lebih, Serena mengarahkan tangan Randika ke sela-sela pahanya. Randika langsung dapat merasakan celana dalam Serena yang basah itu. Seorang pria yang baru saja mau duduk, melihat Serena yang seperti melayang ke awan itu dan memberikan jempol pada Randika. Untuk mendapatkan perempuan secantik itu bukan lagi hanya bermodalkan uang namun bermodalkan kemampuan dan kecakapan. Apalagi si perempuan berani foreplay seperti itu di tempat umum, benar-benar gila. Apa pemuda itu mau mengajariku? Namun, Randika tidak berani berbuat lebih. Bagaimanapun juga, dia berada di tempat umum. Tidak lama kemudian akhirnya pesawat mereka lepas landas. Serena sudah tidak terlalu bernafsu lagi, dia sudah memutuskan bahwa ketika mendarat dia akan menyeret Randika ke hotel. Karena perubahan tekanan udara yang secara tiba-tiba, seorang bayi terbangun dan mulai menangis. Awalnya pesawat ini tenang dan beberapa orang mulai tidur. Tetapi ketika suara tangis itu terdengar, ketenangan itu langsung hancur. Suara tangisnya benar-benar menggema. Sang ibu langsung berusaha menenangkan bayinya, tetapi semua usahanya percuma. Bayinya terus menangis dengan keras. Merasa jengkel, seseorang berdiri dan menoleh ke arah ibu dan anak itu. "Bisa cepat buat anakmu itu berhenti menangis tidak?" Kata orang itu sambil mengerutkan dahinya. "Maaf, maaf." Ibu itu dengan cepat menundukan kepalanya, dia semakin cemas. Mendengar suara bentakan itu, nangis si bayi makin menjadi-jadi. Melihat situasi tidak terkendali, Randika berjalan menghampiri si ibu. "Bu, ijinkan aku menenangkan bayimu." Kata Randika sambil tersenyum. Lalu Randika meminjam uang kertas dari si ibu dan memperlihatkannya di depan si bayi. Orang-orang juga memperhatikan aksi Randika, tidak tahu apa yang akan dilakukan pemuda itu. "Coba kamu perhatikan kertas ini." Randika tersenyum lebar. Meskipun masih menangis, bayi itu memperhatikan jari Randika yang memegang uang kertas. "Dalam hitungan ketiga kertas ini akan hilang. Satuˇ­ Duaˇ­ Tiga!" Randika mendorong masuk uang kertas itu ke dalam genggaman tangannya dan membukanya secara perlahan, uang itu sudah tidak ada di sana. "Tuh hilang kan." Randika memperlihatkan tangannya pada si bayi dan kelima jarinya bergerak-gerak tanpa henti. Adegan sulap ini sepertinya membuat si bayi tertarik, tangisannya mulai reda. Kedua bola matanya yang besar itu mulai memperhatikan Randika. Orang-orang yang melihat Randika juga terkejut, orang itu bisa sulap? Randika sekarang menjadi fokus semua orang. Kemudian Randika pura-pura melafalkan mantera dan dia menggenggam erat tangan kirinya. Secara perlahan dia membukanya dan uang kertas yang sebelumnya menghilang muncul kembali. Adegan ini benar-benar memukau semua orang, bahkan si bayi sudah berhenti menangis. Randika tersenyum sambil terus menggerakan tangannya. Uang itu menghilang lagi dan berpindah ke tangan satunya, terus menerus seperti itu. Melihat adegan sulap ini, orang-orang mulai terkagum-kagum. Randika memperhatikan bayi yang mulai tertawa ini. Kemudian di bawah penglihatan semua orang, dia memakan uang kertas itu secara utuh. "Eh!" Orang-orang terkejut ketika melihat Randika mengunyah. Ketika melihat hal ini, si bayi menjadi bersemangat dan meronta-ronta seperti tidak sabar melihat momen ajaibnya. Randika tersenyum, dan di depan semua penglihatan orang-orang, dia mengulurkan tangannya dan meraba saku celana si bayi dan mengambil kembali uang kertas sebelumnya. "Luar biasa!" Orang-orang kembali kagum dengan atraksi Randika, lalu seseorang mulai bertepuk tangan. Semuanya mulai bertepuk tangan dan bersorak pada Randika. Bayi itu juga tersenyum dan tertawa sambil memeluk jari Randika. Dia sepertinya ingin merebut uang itu dari dirinya. Chapter 239: Hadiah Istimewa Ketika tepuk tangan itu lagi meriah-meriahnya, seseorang mulai berteriak. "Lagi, lagi!" "Lagi, lagi!" "Lagi, lagi!" ...ˇ­ Semua orang suka dengan atraksi sulap, apalagi kalau dilakukan di depan mata mereka. Serena sudah makin jatuh cinta dengan Randika apalagi kemampuannya menjadi ayah sangat baik. Randika yang tersipu itu mulai besar kepala dan melakukan atraksi sulap lainnya. Dengan atraksi yang menyenangkan ini, perjalanan yang lama ini sama sekali tidak terasa karena trik yang dimiliki Randika sangatlah banyak. Dengan satu trik dia bisa menggunakannya berkali-kali, yang susah adalah membangun cerita dan suasana yang mendukung. Untuk pertama kalinya, semua orang merasakan perjalanan pesawat mereka dipenuhi dengan suasana menyenangkan. Di bagian belakang, para pramugari tersenyum dan ikut menonton pertunjukan Randika. Setelah sekian lama, akhirnya pesawat mereka mendarat di kota Cendrawasih. Ketika dia turun, Serena menghampiri dirinya lagi. Tetapi Randika menolak ajakan Serena untuk bermalam dengannya di hotel. Melihat ekspresi sedih Serena, Randika hanya bisa tersenyum pahit. Dia adalah pria yang sudah menikah, dia yang sekarang tidak akan berhubungan badan dengan perempuan lain dengan mudah. Terlebih lagi, Serena sepertinya hanya ingin mencicipi badannya. Perempuan seperti itu sangat dihindari Randika, dia tidak suka dengan maniak sex! Setelah berbincang sebentar, Randika berpisah dengan Serena. Setelah keluar dari pintu keluar, Randika menghirup napas dalam-dalam. Pemandangan yang familier, udara segar yang familier bahkan langitnya terlihat familier! "Hoi minggir! Halangi jalan saja." Tetapi pada saat ini, suara orang marah terdengar dari belakang. Randika langsung minggir dengan wajah tersipu malu. Sepertinya dia menghalangi orang-orang yang hendak keluar. Lalu dia menghela napas dan berpikir bahwa orang-orang di negara asalnya ini masih tetap sama. Perjalanannya ke Tokyo ini benar-benar melelahkan jiwa dan raganya tetapi semuanya itu tetaplah sepadan. Dengan terbunuhnya Shadow, kekuatan Bulan Kegelapan benar-benar turun dengan drastis. Dalam waktu dekat ini, Bulan Kegelapan bukanlah ancaman yang berarti bagi pasukan Ares. Bisa dikatakan bahwa perjalanannya kali ini melegakan kedua kekhawatirannya yang terbesar. Namun, perjalanannya ini memakan waktu 1 bulan. Dia sudah 30 hari tidak kembali ke rumahnya itu, dia sama sekali tidak tahu bagaimana kabarnya istri tercintanya. Ketika mengingat tubuh molek Inggrid, suaranya, wajah bergairahnya ketika berhubungan badan dengannya, Randika mulai bernafsu kembali. Sambil tersenyum dalam hati, Randika berniat berangkat menuju Perusahaan Cendrawasih. Namun, sepertinya dia lupa membawa oleh-oleh yang dijanjikannya untuk Inggrid! Randika merasa malu ketika menyadari kebodohannya ini. Janji seperti ini sangat spesial baginya, bisa-bisanya dia lupa dengan janji sepenting itu! Sebelum dia menikah, dia selalu memberi hadiah pada perempuan-perempuannya sebagai salah satu cara mengungkapkan perasaannya tetapi setelah dia menikah justru dia lupa membawakan istrinya? Bodoh sekali! Karena baginya setiap hari adalah sebuah berkah, Randika menganggap hari kasih sayang seperti Valentine itu adalah konspirasi. Alasan pertama : Dia tidak butuh satu hari untuk mengingatkan dirinya bahwa dia mencintai istrinya, dia bukan idiot! Alasan kedua : Kenapa di hari Valentine kita harus memberikan cokelat kepada pasangan sebagai rasa kasih sayang? Sex saja sudah cukup! Alasan ketiga : Jika kau mencintai istrimu atau pasanganmu, kita akan mencintainya setiap harinya dan tidak butuh 1 tanggal yang melambangkannya. Meskipun hobinya memberikan hadiah untuk ceweknya, Randika paling anti dengan hari Valentine. Tetapi sekarang kondisinya benar-benar gawat, Inggrid bisa-bisa tidak mau tidur dengannya malam ini kalau dia sama sekali tidak membawa oleh-oleh. Tetapi apa yang harus dibelinya? Randika mengerutkan dahinya dan berpikir keras. Dia lalu memikirkan hobi seperti apa yang dimiliki istrinya itu, tetapi dia sama sekali tidak menemukannya. Sepertinya Inggrid tidak punya hobi yang terlalu khusus. Namun pada saat ini, saat taksinya melintas, dia menemukan toko lingerie kelas atas. Di benaknya langsung terbesit suatu ide nakal dan dia pun tersenyum. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang. Sudah diputuskan, hadiah Inggrid adalah pakaian dalam yang sexy! .... Tak lama kemudian, Randika menaiki taksinya kembali bersama dengan kantong belanja yang cukup banyak dan berangkat menuju perusahaan Cendrawasih. Setelah memasuki gedung, si resepsionis dengan cepat memberi salam pada Randika. Meskipun dalam hatinya banyak pertanyaan, dia berusaha tersenyum. Dia awalnya mengira pria itu sudah dipecat karena tidak terlihat selama sebulan ini. Randika tiba di lantai kantor Inggrid berada dan membuka pintunya secara perlahan. Dari celah pintu, dia bisa sosok Inggrid yang terlihat bingung sambil membaca sebuah laporan. Meskipun Inggrid menundukan kepalanya, hati Randika sudah menghangat. Istrinya benar-benar cantik! Rambut indah dan lurus itu, wajah putih yang cantik, bibir yang kecil dan mungil itu terlihat sedang stress dan bingung. Melihat istrinya yang pusing dengan kerjaan itu membuat hatinya sedikit sakit. Randika berjalan mengendap-endap menuju belakangnya Inggrid. "Istriku yang cantik apakah sedang memikirkan suaminya yang tampan?" Tiba-tiba Randika merangkulnya dari belakang, hal ini membuat Inggrid terkejut. Setelah itu, wajah Inggrid dipenuhi dengan senyuman. "Kapan kamu kembaˇ­" Sebelum Inggrid bisa menyelesaikan pertanyaannya, bibirnya sudah terkunci oleh bibirnya Randika. Keduanya menutup mata mereka dan menikmati sensasi intim ini setelah sekian lama. Inggrid sama sekali bukanlah gadis polos lagi, dia sudah tidak malu mencium Randika. Seperti kata pepatah, rasa kangen bisa menjadi bumbu dalam pernikahan orang. Hal ini masuk akal. Ketika setelah sebulan tidak bertemu, Inggrid langsung tersenyum dan bahagia ketika melihat Randika. Dia berharap ciuman hangat ini berlangsung selamanya. "Permisi bu Inggrid, laporan ini." Tiba-tiba pintu kantornya itu terbuka dan sekretaris Inggrid masuk. Perempuan itu terkejut ketika melihat adegan ciuman itu. "Ah! Maaf karena tidak mengetuk terlebih dulu, saya akan kembali nanti." Si sekretaris dengan cepat keluar. Wajah Inggrid sudah tersipu malu, sepertinya dia masih malu ketika dilihat oleh orang lain ketika bermesraan dengan Randika. "Buat apa kamu terlihat takut seperti itu, wajar kan suami istri menunjukan cinta mereka?" Randika tertawa dan terus memeluk Inggrid. Perasaan bahagia memenuhi hati kedua pasutri ini. Setelah merasakan rasa kesepian yang lama itu, Inggrid tidak ingin merasakannya lagi. Oleh karena itu, dia tidak ragu-ragu mencium Randika kembali. "Oh?!" Keduanya berciuman sekali lagi, setelah sekian lama mereka akhirnya berhenti. "Sudah cukup." Inggrid tersipu malu. "Kita lanjutkan nanti lagi." Eh? Kamu suruh aku berhenti setelah ciuman panas ini?" "Sayang, bukankah lebih menegangkan jika kita melakukannya di sini?" Bisik Randika di telinganya. "Jangan ngawur, ini tempat kerja kita tahu!" Jawab Inggrid. Tentu saja Randika bercanda, dia harus menjaga citra istrinya itu sebaik mungkin. Setelah duduk dan bertukar kabar, Randika mengelus pipi istrinya itu dengan nada sedih. "Sayang, sepertinya kamu akhir-akhir ini kesepian ya? Maafkan aku." "Hah? Aku tidak kesepian kok! Kenapa kamu berpikir seperti itu?" Inggrid menjadi kelabakan, tetapi sejujurnya kata-kata Randika barusan membuat hatinya berbunga-bunga. "Hahaha masih malu-malu kucing seperti biasanya." Randika tertawa lalu berbisik di telinganya. "Sayang, aku bawa oleh-oleh khusus untukmu." "Oleh-oleh apa?" Tiba-tiba ekspresi wajah Inggrid berubah menjadi penasaran. Chapter 240: Hadiah Istimewa (2) "Coba kamu tebak dulu." Wajah Randika sudah dipenuhi dengan senyuman nakal. "Bunga?" Randika menggelengkan kepalanya. "Perhiasan?" Randika pura-pura berpikir sebentar tetapi akhirnya menggelengkan kepalanya. "Makanan?" Randika menggelengkan kepalanya lagi. "Aku menyerah." Melihat wajah Inggrid yang penasaran dan tidak berdaya, Randika tertawa lalu memberikan tas belanja. "Sayang, ini hadiah untukmu. Aku membelinya khusus untuk kamu pakai saat malam hari." Randika berkata sambil menahan tawanya. Mendengar penjelasan Randika, Inggrid terlihat bingung. Namun ketika dia melihat isi dari tas tersebut, wajahnya sudah merah padam! Benar-benar hadiah yangˇ­. Unik! Apa ini pantas disebut sebuah hadiah? Wajah Inggrid sudah tersipu malu. Sekali lagi dia melihat isi tas itu untuk memastikan tidak salah melihat, tetapi sayangnya ini kenyataan. "Tenanglah, kamu tidak perlu malu. Kamu hanya boleh memakainya saat berdua denganku saja." Kata Randika sambil tersenyum. Dia sudah mulai membayangkan Inggrid memakai hadiahnya itu, benar-benar sexy. Inggrid sudah menghela napas berkali-kali karena Randika memaksanya untuk melihat semua hadiahnya satu per satu. Ditambah dengan sedikit rasa penasaran, Inggrid mulai mengeluarkan isi tas belanja tersebut. Dia mengambil sehelai kain sutera yang lembut dan tembus pandang, setelah dipikirnya baik-baik, wajahnya langsung merah padam. Apa yang dipegangnya ini gaun transparan yang benar-benar tipis! Ketika membayangkan dirinya memakai ini, wajahnya kembali menjadi merah padam. Inggrid tidak bisa membayangkan lebih jauh lagi, tetapi Randika sambil tersenyum berkata padanya. "Sayang, kamu pasti cantik sekali ketika memakainya nanti." Tujuan Randika membeli gaun itu tidak lain karena dia merasa Inggrid akan terlihat cantik dan sexy ketika memakainya. Siapa yang tidak bahagia melihat pasangannya memakai lingerie sexy? Terlebih, alasan lain Randika memilih hadiah seperti ini adalah untuk membuka pikiran Inggrid yang terlalu sempit. Baginya hubungan badan hanyalah penetrasi dan ejakulasi, padahal foreplay termasuk bagian yang paling menggairahkan! Wajah Inggrid sudah panas, dia membayangkan bagaimana Randika akan memujinya habis-habisan ketika malam nanti memakai gaun transparan ini. Dia juga bisa memadukannya dengan beha dan celana dalam berwarna hitam untuk menambah kesan sexy. Randika lalu berkata padanya. "Sayang, coba lihat yang lain." Inggrid menaruh gaun tersebut dan mengambil beberapa stocking yang Randika beli. Banyak jenis stocking yang dibeli Randika, mulai dari stocking jala, garter belt, hold up stocking dll. Semua ini demi menonjolkan keseksian paha Inggrid. Berikutnya ada berbagai macam bra dan celana dalam. Hal yang paling mengejutkannya adalah crotchless underwear, bisa-bisanya ada celana dalam sevulgar itu! Ketika melihat celana dalam itu di toko, Randika sendiri benar-benar terkejut. Bisa-bisanya celana dalam seperti itu diperjual belikan? Namun, dia memberikan jempol pada jenius yang menciptakan lingerie super sexy itu. Terakhir, Inggrid mengambil sebuah setelan baju. Melihat maid dress ala Jepang itu, wajah Inggrid terlihat merah. Randika ingin dia memakai baju seperti ini? Randika berkata sambil tersenyum. "Aku yakin kamu sangat cocok memakainya, bagaimana malam ini kita bermain tuan dan pelayan?" Dia langsung membayangkan Inggrid memakai dress itu dan berkata padanya dengan nada yang lembut. "Tuan aku akan menggosok badanmu jadi cepatlah buka bajumu." Sepertinya dia perlu membeli kasur angin untuk di kamar mandi. Inggrid dengan cepat menaruh kembali semua hadiah itu sambil terus terdiam. Melihat perang batin yang dialami oleh istrinya, Randika terus berusaha meyakinkan Inggrid. "Sayang, percayalah padaku, kecantikanmu akan bertambah jika memakai hadiahku ini." "Sayang ayolah, aku sudah susah payah memilihkannya untukmu. Aku ingin kamu memakainya hanya untukku." "Sayang tatap mataku dalam-dalam, berjanjilah kamu akan memakainya oke?" Akhirnya setelah didesak oleh Randika berkali-kali, Inggrid mengangguk sambil malu-malu. "Asyik!" Randika dalam hati sangat senang, mulutnya tidak bisa berhenti tersenyum. Sesuai dengan kata pepatah, jika ada yang pertama maka akan ada yang kedua; jika ada yang kedua maka akan ada yang ketiga. Langkah pertama adalah melakukannya untuk pertama kali, sesudahnya hanya tinggal masalah waktu agar Inggrid terbiasa memakai lingerie sexy itu ketika berdua dengannya. Yang pasti malam ini akan menjadi malam yang menggairahkan! Suasana hati Randika benar-benar bagus sedangkan Inggrid masih tersipu malu. "Sudah duduk dulu. Nanti kalau ada yang masuk lagi bisa-bisa ada salah paham lagi." Randika dengan cepat duduk manis dan bertanya. "Omong-omong, pas aku tidak ada apakah ada masalah?" Inggrid berpikir sebentar lalu menggelengkan kepalanya. "Apa ada kabar dari keluarga Alfred di Jakarta?" Tanya Randika. "Tidak ada." Inggrid sendiri juga sedikit heran tetapi dia memutuskan untuk tidak memedulikannya. Meskipun Randika membunuh salah satu keturunannya, seharusnya tidak ada masalah asalkan ada ikut campur tangan kakek keduanya. "Bagaimana kabarnya Hannah?" Randika meminum minumannya Inggrid. Melihat tindakan Randika itu, Inggrid tidak mempermasalahkannya. "Hannah terus terusan bertanya padaku ke mana kamu pergi, tetapi akhir-akhir ini wajahnya tumbuh jerawat. Aku tidak tahu dia salah makan apa tetapi jerawat di wajahnya makin banyak tiap hari." Mendengar hal ini, Randika mengerutkan dahinya. "Apa sudah dibawa ke rumah sakit?" "Sudah, tetapi tidak terlalu efektif. Wajahnya masih bentol-bentol dan jerawatnya itu makin banyak. Sampai-sampai dia tidak berani keluar sama sekali." Nada suara Inggrid terdengar cemas. Dia tidak tahu harus berbuat apa untuk menyembuhkan adiknya yang tersayang itu. Randika mengangguk. "Baiklah kalau begitu, aku akan pergi dan memeriksanya." Setelah mengobrol beberapa saat dengan Inggrid, Randika berdiri dan hendak pergi. Tentu saja, mereka berdua berciuman dulu sebelum berpisah. Setelah keluar dari kantornya Inggrid, Randika berniat untuk menengok Hannah. Saat berjalan, suasana hati Randika benar-benar bagus. Dia terus membayangkan apa yang akan terjadi malam hari nanti dan sudah tidak sabar menunggu datangnya sinar rembulan. Namun pada saat ini, di sisi jalan ini terlihat kerumunan orang banyak. Di Indonesia, jika terlihat ada kerumunan orang banyak, kebanyakan kejadian yang sedang terjadi tidaklah bagus. Orang-orang suka melihat adegan yang jarang mereka lihat seperti kecelakaan atau perkelahian. Randika tidak berniat untuk melihatnya jadi dia berjalan melewati mereka semua. Tetapi dia tidak sengaja mendengar kata-kata orang di sampingnya. "Sial kenapa lama sekali? Kalau mau lompat ya lompat saja, buat apa sampai ragu seperti itu?" Melompat? Maksudmu ada orang yang berniat bunuh diri? Bagaimana mungkin Randika membiarkan itu terjadi? "Permisi, maaf mengganggu." Randika dengan cepat bercampur dengan kerumunan dan menatap ke atas. Di bagian paling atas gedung yang berlantai 10 itu, seorang perempuan terlihat duduk sambil menatap ke bawah seolah-olah siap untuk melompat kapan saja." "Kenapa perempuan itu mau melompat?" Tanya Randika pada orang di sampingnya. "Oh? Kau baru datang?" Pria paruh baya itu menjawab rasa penasaran Randika. "Aku dengar dia sedang putus cinta karena pacarnya selingkuh dan membuangnya. Hatinya benar-benar hancur dan dia sudah tidak ingin hidup lagi. Dasar anak muda, bisa-bisanya ingin mati hanya karena hal sepele seperti itu." Pria itu menghela napasnya. Chapter 241: Lompat Saja Kalau Kamu Tidak Peduli Seorang pemuda ikut nimbrung dalam percakapan Randika. "Jika saja perempuan itu kenal dengan aku, dia pasti tidak punya keinginan untuk melompat seperti itu." Randika mencuekinya, cara berbicaranya itu sudah bisa dipastikan dia adalah orang jomblo akut. "Sudah berapa lama dia ada di atas?" Randika menatap perempuan tersebut. "Aku sudah ada di sini sejak satu jam yang lalu, polisi sudah menangani kejadian ini sejak tadi." "Dia benar, semoga para polisi itu bisa meyakinkannya untuk tidak melompat." "Menurutku sangat susah, soalnya ini masalah cinta." Orang di sebelahnya mulai ikut berdiskusi. Dalam sekejap kerumunan orang ini menyuarakan pendapat mereka masing-masing. Para petugas pemadam kebakaran sudah menyiapkan alat pencegahan berupa kasur angin berukuran raksasa. Jadi jika perempuan itu tiba-tiba melompat, maka kasur tersebut akan menyelamatkannya. Beberapa mobil polisi sudah terlihat parkir di sisi jalan dan garis kuning pembatas sudah dibentangkan agar tidak ada orang yang bisa masuk ke dalam gedung. Kerumunan orang ini hanya ingin melihat hasil akhirnya, jadi kemungkinan mereka menerobos masuk sangatlah kecil. Randika menatap ke atas dengan penglihatan supernya dan menyadari situasi sekarang masih dalam keadaan buntu. Karena hati nuraninya, Randika tidak bisa tinggal diam dan bersiap untuk naik ke atas. "Hei, apa yang kamu lakukan! Kau tidak bisa masuk." Kata polisi yang berjaga di depan gedung. "Tenang saja, aku salah satu dari kalian. Aku hanya sedang tidak bertugas." Kata Randika, tangannya dengan cepat mengeluarkan dompetnya dan menunjukan sebuah kartu. Polisi itu tidak dapat melihat jelas kartu tanda pengenal polisi itu, sedangkan Randika sudah menerobos masuk dan berlari menuju lantai teratas. Larinya benar-benar sangat cepat! Polisi yang berjaga itu berpikir, kenapa orang itu mencurigakan sekali. Setelah beberapa saat, dia merasa saku celananya kosong! Apa itu tadi dompetnya? Polisi itu dengan cepat mencari dompetnya dan ternyata ada di dalam saku celana belakangnya. Kali ini dia benar-benar bingung, berarti kecurigaannya ini salah? Pada saat ini, Randika sudah berhasil sampai di lantai teratas. Ketika dia berjalan menuju aula, dia melihat beberapa polisi sedang bersiaga termasuk Deviana. "Siapa kamu? Tempat ini bukan untuk orang awam, cepat pergi sebelum kutangkap karena menghalangi." Seorang polisi menyadari kehadiran Randika dan mencegatnya. Randika tidak memedulikannya dan menatap seluruh lokasi. Sepertinya seorang polisi sedang berusaha membujuknya tetapi suasana hati ataupun mentalnya itu labil. Sedangkan polisi yang lain bersiaga di belakang, salah satu cara untuk menyelamatkan perempuan itu adalah membangun komunikasi dan tidak bergerak secara sembarangan. Apabila perempuan itu melihat gerombolan polisi, bisa-bisa dia melakukan hal yang nekat. Ini bukanlah misi penyelamatan sandera, kejadian seperti ini memang membutuhkan waktu dan kesabaran. "Dia sekutu kita, biarkan dia masuk." Pada saat ini, Deviana angkat bicara. Randika tersenyum padanya dan menghampirinya. "Bagaimana situasinya?" Randika menatap perempuan yang hendak loncat itu dari jauh dan bertanya pada Deviana. Deviana mengerutkan dahinya. "Perempuan itu benar-benar labil, kita sudah berusaha membujuknya hampir satu jam. Namun kurasa usaha kita sama sekali tidak berhasil." "Masalah emosional memang seperti itu." Randika menghela napas. "Kamu terdengar seperti pernah melaluinya." Deviana menatapnya dengan tajam, kemudian dia memalingkan wajahnya. "Kalau dibiarkan seperti ini situasi akan bertambah gawat, kita sudah tidak berdaya sama sekali." "Serahkan padaku." Kata Randika sambil tersenyum. Deviana terkejut, tetapi setelah memikirkan bagaimana aksi Randika sebelumnya, dia mengangguk. "Baiklah kalau begitu. Tetapi jangan terlalu buru-buru memaksanya, lakukan dengan perlahan saja." "Sudah kamu tenang saja." Randika memasuki ruangan dan menghampiri perempuan malang tersebut. "Apakah kamu masih bimbang ingin melompat atau tidak? Lagipula mati dengan cara seperti ini tidak terlalu sakit." Sesudahnya kata-kata itu terlontarkan, si negosiator terkejut. Kenapa orang ini tiba-tiba muncul? Dan kenapa dia malah menyarankan perempuan ini untuk melompat? Perempuan itu terkejut dan menoleh ke arah Randika. "Ketika aku masih muda sepertimu, aku juga melakukan hal yang sama sepertimu." Randika tersenyum dan terus bercerita. "Aku juga sama sepertimu, mengalami kejadian yang pahit yang benar-benar menyayat hati. Bedanya mungkin gedungku jauh lebih tinggi darimu." "Apa kamu dulu melompatinya?" Perempuan itu terus menatap Randika. "Benar, aku melompat." Randika tersenyum dan kembali ke masa lalunya. Pada hari itu, dia berdiri di atas puncak gedung berlantai 25, dan gerombolan pembunuh mengejarnya dengan senapan serbu dan bazoka. Randika mau tidak mau harus melompat. Namun, Randika tidak bisa benar-benar melompat gedung setinggi itu. Bahkan jika dia adalah salah satu dari 12 Dewa Olimpus, dia tidak bisa menahan dampak dari melompat setinggi itu. Mungkin jika angkanya satuan, Randika tidak akan ragu-ragu melompat turun. Pada saat itu, Randika melompat dan, dengan bantuan tali, turun 3 lantai sambil mendobrak kacanya hingga pecah. Tentu saja situasinya sangat jauh berbeda dengan perempuan satu ini, tetapi dia harus membangun kedekatan agar berhasil membujuknya turun. "Kamu melompat tapi masih hidup?" Perempuan itu terlihat bingung. Melompat dari ketinggian yang jauh lebih dari ini dan bisa selamat? "Yah sebenarnya itu tidak terlalu sakit. Bagaimana kalau kamu mencobanya sendiri?" Randika mengedipkan matanya. "Paling-paling rasa sakit itu hanya sedetik dan berikutnya kamu tidak akan merasakan apa-apa." Polisi yang mendengar kata-kata Randika ini sudah berniat menghajar Randika, sepertinya orang itu nyari gara-gara. Randika menambahkan. "Sejujurnya kamu juga tidak perlu memikirkan apa-apa. Jika kamu melompat sekarang, kamu tidak perlu melompat lagi seumur hidupmu." "ˇ­." Perempuan itu menganggap Randika mengejek kebulatan tekadnya untuk melompat. Dia yang awalnya duduk tiba-tiba berdiri. "Eh tunggu sebentar!" Randika dengan cepat mencegatnya. "Sebenarnya ketika aku melompat itu, aku tidak bisa berjalan 2 hari setelahnya. Rasa sakit itu benar-benar membuatku terbaring di rumah sakit. Setelah mendengarnya apa kamu masih berniat untuk melompat? Kalau cuma patah hati bukankah kamu lebih baik membuka lembaran baru? Masih ada banyak pria yang baik di dunia ini." "Apanya yang baik, semua lelaki itu pembohong!" Perempuan itu tiba-tiba membentak. "Yah itu bukankah kamu sendiri yang mudah dibohongi?" Randika terlihat bingung. Perempuan itu terkejut dan para polisi sudah geleng-geleng. Orang ini sudah gila, pikir mereka. "..." Perempuan itu tidak bisa menjawab. "Sudahlah percaya aku, percuma kamu melakukan hal seperti ini." Wajah Randika berubah menjadi serius. "Siapa memangnya yang tidak pernah mengalami hal buruk di dalam hidupnya? Kalau kamu tenggelam di kegagalanmu, kamu tinggal berubah dan membuka lembaran baru. Lagipula bagaimana dengan orang tuamu? Apa kamu mau mereka melihat berita tentang anaknya yang bunuh diri di koran? Apa kamu ingin menghancurkan hati orang tuamu?" Mendengar penghiburan semacam ini, para polisi menghela napas lega. Sepertinya orang itu masih bisa berpikir dengan jernih. Perempuan itu menjadi ragu untuk melompat setelah mendengar kata-kata barusan. Sejujurnya dia tidak berniat untuk melompat. Bagaimanapun juga, kabar pacarnya selingkuh itu membuatnya tidak bisa berpikir jernih dan sekarang kepalanya sudah mulai kembali normal. Melihat perempuan itu mulai luluh, Randika justru mengatakan. "Tentu saja, kalau kamu tidak peduli dengan semua maka lebih baik kusarankan melompat. Toh orang tuamu tinggal membuat yang baru." APA? Deviana sudah tidak tahan mendengar semua ini, kenapa Randika terus memaksanya untuk melompat? Perempuan itu menjadi marah. Dia kira dirinya ini takut untuk melompat? Kau kira aku mendengar bualanmu sejak tadi hanya untuk mencari perhatian? Memangnya siapa yang takut untuk melompat! Perempuan itu menghadap ke jendela dan menghentakan kakinya lalu melompat. Habis sudah! Semua orang yang ada di bawah sudah berteriak histeris. Perempuan itu benar-benar melompat! Petugas pemadam kebakaran sudah bersiap-siap di kasur raksasa mereka, ambulans juga sudah siaga mengantar korban ke rumah sakit. Di bawah semua tatapan mata orang, perempuan itu melayang turun dengan bebas menuju tanah. Semua polisi yang ada di bawah tidak punya kesempatan untuk melongo, mereka juga bersiap-siap menangkap perempuan itu apabila keluar jalur dari kasur raksasa yang sudah disiapkan. Tetapi pada saat ini, sebuah sosok melesat bagaikan angin lewat. Tangannya berhasil menangkap kaki perempuan itu! Semua orang melihat seseorang bergelantungan di jendela dan berhasil menangkap kaki perempuan yang loncat itu di detik-detik terakhirnya. Semua orang bersorak gembira, mereka seperti sedang melihat adegan film action. Di sisi lain, kamera TV sudah merekam kejadian ini. Tajuk malam ini akan berisikan ''Aksi heroik seorang polisi berhasil menyelamatkan nyawa seorang perempuan''. Randika sama sekali tidak peduli, dia membiarkan para polisi untuk menerima pujian tersebut. Para polisi yang bersiaga di belakang Randika awalnya terkejut, tetapi mereka langsung membantu Randika untuk menarik perempuan itu kembali. "Kenapa kamu melakukannya seperti itu?" Deviana menghela napas lega. "Aku benar-benar takut tahu!" Randika tersenyum. "Bukankah yang penting anak itu selamat?" Melihat perempuan itu dibawa keluar, Randika berkata pada Deviana. "Berilah anak itu bantuan agar bisa berdiri kembali." "Kamu terdengar seperti orang bijaksana." Deviana tertawa. "Kamu persis bapak-bapak yang banyak pengalaman hidup." "Omong-omong, dari mana saja kamu akhir-akhir ini? Kenapa aku tidak melihatmu selama sebulan ini?" Tanya Deviana. "Kenapa memangnya? Kamu rindu aku?" Randika tersenyum dan mengusap pipi Deviana. "Siapa memangnya yang rindu!" Mendengar kata-kata Randika, Deviana dengan cepat menjadi malu di hatinya. Namun dia berhasil mempertahankan mukanya agar tidak menjadi merah. Randika menggelengkan kepalanya. "Kalau begitu aku diam saja. Karena kamu tidak peduli denganku terus buat apa aku memberitahumu?" "Kamu ini ya!" Deviana menjadi marah. Chapter 242: Hati yang Perlahan Pulih Kembali Hancur Karena Randika "Huh, aku juga tidak mau tahu kok dari awal!" Deviana memalingkan wajahnya. "Kamu terlihat imut ketika marah." Randika tertawa. "Aku akhir-akhir ini ada pekerjaan di luar negeri dan baru saja pulang. Selama perjalananku, aku bertemu dengan banyak perempuan cantik dan sexy. Kaki dan paha mereka mulus-mulus dan dada mereka semua besar-besar, jauh lebih besar darimu! Dan juga mereka jujur dengan perasaan mereka." Ketika mendengar kata-kata tidak sopan ini, Deviana makin marah. "Kalau begitu kenapa kamu kembali? Bukannya kamu senang bersama mereka?" Pada saat ini, seorang polisi menghampiri dirinya dan menanyakan apa yang perlu dikerjakan. "Gitu saja tidak tahu! Kalian semua tidak becus!" Deviana membentak bawahannya itu. Polisi itu terkejut, ada apa ini? Kenapa Deviana yang sosoknya seperti dewi itu tiba-tiba menjadi iblis? Randika diam-diam tertawa dalam hatinya. Melihat Deviana yang sibuk, Randika hendak pergi. "Dev, kalau kamu ada waktu, kita pergi makan bersama ya." Memangnya siapa yang mau makan sama kamu? Deviana benar-benar muak dan meninggalkan Randika tanpa membalasnya. Dia tidak ingin berhadapan dengan Randika lagi untuk hari ini. Setelah beberapa saat, para kerumunan orang mulai bubar. Bagaimanapun juga, kejadian ini telah selesai dan para petugas sudah mulai berberes. Namun, si reporter TV tidak pergi begitu saja karena dia ingin mewawancarai pahlawan yang telah menyelamatkan korban. Randika berjalan ke lantai paling bawah dan melihat si reporter tersebut. "Apakah kamu polisi yang telah menyelamatkan perempuan tadi?" Randika terkejut tetapi dia tidak ingin menarik perhatian yang tidak perlu, dia dengan mudah berbohong. "Orang itu masih ada di atas, sepertinya masih lama turunnya jadi bersabarlah." Setelah itu Randika dengan cepat kabur, dia tidak ingin hidupnya yang damai di Indonesia ini menjadi heboh. ...ˇ­. Sesampainya di rumah, Randika membuka pintu dan melihat Hannah sedang duduk di sofa. Sepertinya dia memakai sebuah kain untuk menutupi wajahnya. "Aku pulang." Kata Randika dengan keras. Ketika mendengar suara itu, wajah Hannah terlihat panik dan langsung melilitkan wajahnya dengan kain selendangnya itu. "Kak Randika akhirnya kamu pulang." Randika menatap Hannah yang memakai selendang itu seperti kerudung pengantin, mau tidak mau dia tertawa dalam hatinya. "Han, sejak kapan kamu mau menikah?" Hannah bingung harus membalas apa. Randika menghampirinya dan mengusap kepalanya. "Atau kamu sedang berlatih menjadi pengantin? Atau jangan-jangan pipimu jadi gemuk karena terlalu banyak makan?" "Apaan sih kak kok penasaran begituˇ­." Hannah benar-benar risau dengan wajahnya yang sekarang. Beberapa hari yang lalu, muncul jerawat di wajahnya. Terus tiba-tiba jerawat mulai tumbuh dalam skala banyak dan dia merasa gatal di seluruh wajahnya, mirip dengan gejala cacar air. Terlebih, jerawat-jerawat ini tidak bisa hilang. Semakin lama ia tumbuh, semakin banyak jumlahnya. Sekarang, rasa gatal itu mulai menjulur ke rambut dan matanya. Tentu saja, Randika sudah tahu penyakit apa yang dialami oleh adik iparnya itu tetapi dia masih ingin mempermainkannya. "Memangnya mana ada orang memakai selendang di rumah? Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu?" Randika duduk di sampingnya. "Sudahlah lepas saja selendang itu, aku juga sudah lama tidak melihat wajahmu." "Tidak, tidak, aku hanya sedang memakai masker kecantikan saja dan ini tidak boleh dilepas selama seminggu! Jadi jangan paksa aku untuk membukanya!" Hannah dengan cepat menolak. Beberapa hari ini dia sudah menderita karena rasa gatalnya itu. Dan juga karena jerawat yang begitu banyak, dia tidak berani keluar rumah. Dia takut dengan ejekan semua orang, jadi dia tidak akan menunjukan wajahnya yang buruk rupa ini pada siapapun! "Han, kenapa kamu bersikap dingin seperti ini? Bukankah kita keluarga?" Kata Randika sambil tersenyum, dia juga melihat berbagai macam salep yang menempel di kain. "Tuh maskermu sampai menempel seperti itu lho, bagaimana kalau kamu sesak napas?" Randika memegang ujung selendang, namun dengan cepat direbut kembali oleh Hannah. "Kak Randika seharusnya capek bekerja bukan? Sudah cepat istirahat sana di kamar, nanti sakit lho." Hannah ingin mendorong Randika dari sofa tetapi tidak bisa. "Han, kamu benar-benar tidak ingin membuka selendang itu?" "Tidak mau!" "Kalau begitu sayang sekali. Kalau cuma jerawat, aku bisa menyembuhkannya dengan mudah. Kalau begitu baiklah, aku akan istirahat di kamarku." Randika pura-pura kecewa tetapi dalam hatinya dia sudah tertawa keras. "Kak tunggu! Barusan kamu bilang apa?" Ketika mendengar kata-kata Randika, Hannah terkejut. Kakak iparnya ini bisa menyembuhkan penyakit menyebalkan seperti ini? "Hmm? Aku bilang aku ingin istirahat di kamar. Kamu benar, aku benar-benar capek setelah bekerja seharian." Randika tersenyum nakal. Dia ingin adik iparnya itu menyerah dan membuka kain selendang itu sebelum menyembuhkannya. "Bukan itu kak?? Barusan kak Randika bilang bisa menyembuhkan jerawat?" Hannah terlihat kesal. "Hah? Kapan aku bilang seperti itu? Sepertinya aku keceplosan saja." Randika membalikan badannya. "Untung saja kamu tidak punya jerawat di wajah jadinya aku bisa istirahat dengan tenang." "Tidak, tidak, kamu bisa istirahat di sini kok kak. Cepat duduk kembali di sini." Melihat tingkah laku adik iparnya yang berubah 180 derajat itu, Randika tertawa dan duduk kembali. "Kak, apa kamu benar-benar bisa menyembuhkan jerawat di wajah?" Hannah menatap tajam pada Randika. "Kenapa? Apa kamu punya jerawat di wajah?" Randika pura-pura tidak tahu. "Kak aku akan membuka selendang ini, tetapi janji ya jangan ketawa." Setelah konflik batin, akhirnya Hannah membulatkan tekadnya. "Jangan khawatir, mana mungkin aku menertawakanmu? Kamu kira aku sekejam itu? Jika aku tertawa maka aku akan ketabrak truk." Kata Randika sambil menepuk dadanya. "Kupegang janjimu, jangan tertawa ya kak." Hannah yang ragu-ragu mulai membuka selendangnya sedikit demi sedikit. Akhirnya, wajah Hannah terbuka seluruhnya di depan mata Randika. Setelah melihat dengan kedua matanya sendiri, Randika masih terkejut bukan main! Sebelum ini Inggrid menjelaskan bahwa Hannah tidak mau keluar karena banyaknya jerawat di wajahnya dan menurut Randika itu sedikit dilebih-lebihkan. Tetapi setelah melihatnya sendiri, Randika tidak heran kenapa Hannah sampai merasa seperti itu. Dari pipi hingga ke dahi, semuanya dipenuhi dengan jerawat. Jerawat-jerawat itu benar-benar bundar dan padat dengan pucuk berwarna keputihan dan kulit di sekitarnya kemerahan, sepertinya jerawatnya itu ada nanahnya. Bisa dikatakan bahwa seluruh wajah Hannah dipenuhi dengan bentolan-bentolan seperti itu, benar-benar mengerikan. Tetapi mungkin karena frustasi, Hannah makan terlalu banyak sehingga pipinya menjadi gemuk. Ditambah dengan jerawat seperti itu, dia sudah mirip dengan kodok. Meskipun terdengar kejam tapi dia benar-benar lucu. "Hmm.. Han iniˇ­ Uhuk! Ini agakˇ­" Randika berusaha dengan keras menahan tawanya, dia mencubit pahanya dengan keras. Hannah merasa lega karena kakak iparnya ini tidak menertawai dirinya. Sebelum ini, semua orang tertawa ketika melihat wajahnya dan yang paling menusuk hatinya adalah kakaknya sendiri juga ikut tertawa. Tetapi semakin dia melihatnya, Randika tidak bisa menahan dirinya. "Han, kamu mirip kodok! Hahaha, aku sudah tidak tahan menahannya. Wajahmu benar-benar lucu hahaha." Randika tertawa terbahak-bahak, wajahnya sampai meneteskan air mata. Hannah sudah mirip dengan kodok, benar-benar lucu. Hannah terdiam seperti batu ketika Randika tertawa sepuas hati. Hatinya yang secara perlahan pulih itu tiba-tiba hancur kembali ketika melihat wajah yang tertawa itu. Randika menatap wajah Hannah yang depresi dan juga menatap balik dirinya dengan tatapan tajam. Sepertinya matanya ingin menyampaikan bahwa dia sudah percaya dengan dirinya, jadi kenapa dia masih saja menghancurkan kepercayaannya dengan tertawa? "Maaf, maaf. Aku sebenarnya tidak ingin ketawa. Tapi mukamu benar-benar lucu." Randika berhenti tertawa lalu terdiam. Namun, dia tertawa lagi! "Biarkan aku tertawa dengan puas dulu, hahaha!" Melihat ketawa Randika yang berlebihan itu, Hannah langsung berdiri. "Kak! Kamu benar-benar keterlaluan!" Hannah langsung berjalan menuju kamarnya. "Ah! Tunggu Han, kakak cuma bercanda. Sudah jangan marah, aku akan menyembuhkan jerawatmu itu." Randika dengan cepat menangkap tangan Hannah. Setelah berusaha membujuknya beberapa saat, akhirnya Hannah duduk kembali di sofa. "Pokoknya kak Randika tidak boleh tertawa lagi." Kata Hannah dengan wajah cemberut. "Jangan khawatir, aku tidak akan tertawa lagi." Randika menatap Hannah dan Hannah menatap Randika, mereka berdua hanya duduk bertatap-tatapan. Namun, tiba-tiba Randika tertawa lagi. ...ˇ­.. Akhirnya Randika sudah tidak tertawa lagi karena Hannah sudah memukulinya. Dia tidak menyangka tinju adik iparnya itu kuat juga, hidungnya masih terasa sakit. Setelah menyuruh Hannah untuk menunggu dirinya, Randika pergi ke apotek dan membeli obat tradisional Cina. Jerawat-jerawat di wajah Hannah ini bukanlah suatu fenomena yang muncul secara mendadak, namun itu adalah hasil dari penumpukan. Hannah itu pemakan segalanya, segala jenis makanan akan dia makan. Meskipun dia berasal dari Jakarta, namun kehidupannya di sana lebih diatur daripada dia di sini. Di kota Cendrawasih, segala jenis makanan dia coba satu per satu. Dan pada saat yang sama, sepertinya dia tidak sadar bahwa makanan yang dia makan itu mengandung lemak berlebih. Tentu saja ada berbagai macam faktor lainnya. Penyakit seperti ini tidak sulit untuk disembuhkan. Alasan karena rumah sakit kurang efektif menyembuhkannya karena mereka tidak tahu akar permasalahannya. Setelah sesampainya di rumah, Randika dengan cepat mengambil cobek dan menggiling obat tradisional itu dengan cara tradisional. Hannah memperhatikan usaha Randika yang dianggapnya percuma ini. Dia sudah mengunjungi 3 rumah sakit mahal sebelum ini dan masih saja belum sembuh. Meskipun dia mengerti kakak iparnya ini jago berkelahi, tetapi menyembuhkan penyakit adalah hal yang berbeda. Randika masih sibuk menggiling dan merebus, proses ini cukup lama. Seiringnya berjalannya waktu, akhirnya airnya mendidih. Pada saat yang sama, obat yang sudah digiling itu dimasukan dan dicampur hingga rata dengan air mendidih. Setelah diaduk beberapa saat, sup obat itu mulai mengental dan warnanya benar-benar hitam. Sup obat milik Randika ini benar-benar sudah mirip dengan lumpur di got. Dan di bawah tatapan matanya, kakak iparnya itu mengambil sebuah mangkuk dan menuangkannya lalu bersiap untuk mengoleskannya di muka adik iparnya. Chapter 243: Kecelakaan "Kak, apa itu?" Hannah menatap jijik pada cairan hitam yang ada di mangkuk. Ketika mencium baunya yang aneh, dia serasa ingin muntah. Apa obat itu benar-benar bisa menyembuhkannya? Randika tertawa. "Han, jangan lihat obat ini dari bentuknya. Semakin kental obatnya, semakin baik khasiatnya." Randika menghampirinya dengan mangkuk obat itu di tangannya. Ketika dirinya semakin dekat dengan mangkuk itu, Hannah merasa isi dari mangkuk itu bergerak dan bentuknya benar-benar mirip dengan lumpur yang ada di got rumahnya. Hannah sudah nyaris muntah. "Kak, aku tidak mau memakainya." "Lho kenapa? Kamu mau sembuh atau tidak?" Randika mengerutkan dahinya. Dia lalu duduk di sofa dan menyuruh Hannah duduk di sampingnya. "Cepat duduk di sampingku." "Kak, cairan hitam yang kamu sebut obat itu benar-benar bau! Aku hampir muntah tahu!" Hannah merasa takut melihat obat aneh itu. Tidak mungkin perempuan yang seumur hidupnya dimanja dan makan makanan enak setiap harinya mau obat aneh dioleskan di wajahnya bukan? "Aku tidak peduli rengekanmu itu. Aku sudah susah payah membuatkan obat ini untukmu malah kamu merengek seperti ini. Lain kali aku tidak mau membantumu kalau kamu terus seperti ini." Kata Randika. "Obat ini sangat manjur ketika masih hangat, kalau sudah dingin efeknya malah kebalikan." "Aku jamin jerawatmu itu akan hilang selamanya jadi tahanlah sebentar dengan baunya. Kamu memangnya mau selamanya seperti itu?" Mendengar kata-kata kakak iparnya itu, Hannah menjadi bimbang dan akhirnya membulatkan tekadnya. "Baiklah, apa yang harus kulakukan?" "Sudah berbaring saja dan serahkan padaku." Hannah dengan patuh tiduran di sofa. Lalu Randika mulai menaruh tangannya di dalam mangkuk dan mengoleskan cairan hitam yang kental itu di wajah Hannah. "Kak, obatnya sangat bau!" "Sudah diam dulu." Tidak lama kemudian, wajah Hannah sudah teroles dengan sempurna oleh racikan obat Randika. Hannah terus menggigit bibirnya sambil menutup matanya. Dia tentu saja ingin menutup lubang hidungnya, tetapi dia masih harus bernapas. Obat ini benar-benar bau, jauh lebih bau dari gabungan kaus kaki bapak-bapak yang basah yang tidak dicuci berminggu-minggu dan bau ketiak. Jika bukan dipaksa oleh kakak iparnya ini, Hannah tentu tidak ingin dekat-dekat dengan obat ini. "Han, racun di tubuhmu itu menumpuk terlalu banyak jadi mereka mencari jalan keluar. Untung saja keluarnya di wajah, kalau di punggung bisa-bisa kamu tidak bisa tidur karena rasa sakitnya." "Sekarang aku minta kamu jangan bergerak sedikit pun sebelum kusuruh." Kemudian Randika mengeluarkan jarum akupunturnya dan menusukannya di berbagai titik di wajah Hannah. Dengan bantuan jarum ini, obat kental itu mulai bekerja. Jerawat yang terendam oleh cairan hitam ini sebenarnya adalah nanah. Akhirnya, nanah tersebut keluar dari dalam jerawat dan mengalir tanpa henti, benar-benar menjijikan. Hannah merasa terjadi sesuatu di wajahnya dan rasa gatal mulai terasa di seluruh wajahnya. Dia merasa ingin menggaruk seluruh mukanya. "Jangan bergerak atau usaha kita selama ini sia-sia. Kamu tidak ingin jerawatmu tambah lebih parah lagi kan?" Kata Randika dengan cepat, hal ini membuat Hannah ketakutan. Melihat Hannah yang bersikeras melawan rasa gatalnya itu, Randika tidak bisa berhenti tertawa. Setelah obatnya menyingkirkan nanah di dalam jerawat, Randika tinggal menunggu waktu. Sekarang tinggal menunggu obatnya itu meresap ke dalam pori-pori wajah Hannah dan menendang keluar racun berlebihan di wajahnya. Seiring berjalannya waktu, jerawat di wajah Hannah hampir hilang semuanya. Pada saat yang sama pula, racun-racun berbentuk cairan itu ikut keluar. Racun itu bercampur dengan obat yang kental dan mengalir turun bersama-sama. "Kak, apa masih lama?" Hannah sudah merasa bosan berbaring terus, rasa gatalnya itu sudah mereda. "Tunggu sebentar lagi, biarkan racunnya hilang sepenuhnya." Setelah beberapa menit kemudian, ketika hampir selesai, Randika mencabut jarum akupuntur miliknya. "Baiklah Han, kerja yang bagus. Sekarang kamu bisa mencuci mukamu." Mendengar kata-kata Randika tersebut, Hannah langsung membuka matanya lebar-lebar. Dia dengan cepat menuju kamar mandi dan membasuh mukanya. Randika juga menyusul untuk mencuci tangannya. Bagaimanapun juga, bau dari obat lumpurnya itu benar-benar parah. Hannah memakai sabun cuci muka yang sangat banyak untuk menghilangkan baunya. Ketika sesudah dibilas, dia terkejut ketika melihat wajahnya yang sudah bersih dari jerawat-jerawat. Terlebih, bagian yang tumbuh jerawat sebelumnya itu lebih putih dan mulus daripada bagian yang lain. "Wah luar biasa!" Hannah benar-benar senang. Sepertinya obat yang dioleskan Randika memiliki efek memutihkan wajah, kulitnya juga menjadi lebih mulus. "Kak Randika memang hebat!" Saking senangnya Hannah, dia langsung melompat dan mencengkeram erat Randika bagaikan koala. "Terima kasih kak, terima kasih!" Hannah benar-benar senang karena bisa terlepas dari penderitaan ini. Dia tidak menyangka kakak iparnya bisa menyembuhkannya secara total. Randika dapat merasakan kedua dada besar milik Hannah itu di tubuhnya, belum lagi kaki panjang nan mulus milik adik iparnya itu mengunci pinggangnya. Menikmati kenikmatan ini Randika tidak berkata apa-apa, dia hanya berdiri diam. "Kak? Kenapa kok diam saja, apa ada yang salah?" Hannah bertanya pada Randika yang menutup matanya. "Tidak apa-apa." Randika hanya tersenyum kecil. "Hanya sajaˇ­ Kamu sedikit berat." "Bisa-bisanya kak Randika berbicara seperti itu!" Senyuman Hannah dengan cepat menghilang. "Aku gemuk di mananya coba?" Hannah yang tidak terima itu meronta-ronta, tubuhnya makin erat memeluk Randika. Namun pada saat ini, sepertinya dia meronta terlalu keras sehingga belahan dadanya secara tidak sengaja mengenai wajah Randika. Bisa dikatakan bahwa kepala Randika terkubur di belahan dada adik iparnya. Dalam sekejap wajah Hannah menjadi merah, dia merasa malu. Randika awalnya terkejut, tetapi dia tidak menolak hadiah seperti ini. Karena kepalanya terkubur cukup dalam, dia menghirup napas dalam-dalam dan membiarkan aroma tubuh adik iparnya itu terpaku di benaknya. Wajah Hannah sudah merah padam, dia dengan cepat turun dan melepaskan pelukannya. Dengan canggung dia berkata pada Randika. "Kak, karena hari ini kamu telah membantuku jadi aku tidak akan menyeritakan kejadian ini ke kak Inggrid." "Kalau begitu, apa boleh aku menikmatinya lagi sekarang? Baumu benar-benar wangi." Kata Randika dengan senyuman nakal. "Jangan harap kak Randika bisa merasakannya lagi!" Namun, rasa kesalnya ini tidak bisa mengalahkan rasa bahagianya karena jerawat di wajahnya telah hilang. Dengan ini, dia bisa pergi keluar rumah lagi. "Omong-omong kak, apa kakak tidak bisa membuat obat yang sama tetapi tidak bau seperti itu? Wajahku benar-benar menjadi putih berkat kak Randika." Kata Hannah sambil tersenyum. "Oh? Berani bayar apa kamu?" Kata Randika dengan senyuman nakal. Menatap senyuman itu, Hannah hanya berkata dengan senyuman yang tak kalah nakal. "Sebaiknya kakak pikir baik-baik masalah ini, kalau tidak tiap malam aku akan tidur sama kak Inggrid." Mendengar kata-kata itu, wajah Randika menjadi panik. Dia sudah sebulan tidak bertemu dengan Inggrid, dia sudah mengatur rencana di benaknya untuk meluapkan semua kerinduan itu bersama istrinya nanti malam. Chapter 244: Rekor Ada untuk Dilampaui Setelah momen bahagia itu menjadi momen pemerasan, tiba-tiba pintu rumah mereka bunyi. "Ah itu harusnya temanku." Hannah dengan cepat menuju pintu rumah. Sesuai dugaan, ternyata seorang perempuan muda yang mengebel pintu rumahnya tadi. Di depan pintu, Stella berdiri linglung ketika melihat Hannah. Wajah temannya ini segera tersenyum ketika sadar kembali. "Han, wajahmu sudah kembali!" "Iya!" Hannah benar-benar bahagia, dia dengan cepat menarik masuk teman baiknya itu. "Aku juga bawa obat tradisional yang kata kakekku bagus buat jerawat, sepertinya kita sudah tidak perlu membutuhkannya." Stella memperlihatkan suatu obat yang aneh. Bisa dikatakan bahwa Stella merupakan salah satu teman baiknya Hannah. Kalau tidak, dia tidak akan membagi rahasia mengenai jerawat di wajahnya itu dan membawakannya obat. "Han, ini teman kelasmu?" Tanya Randika sambil tersenyum. "Iya, ini teman kamarku di asrama." Hannah tersenyum lebar. "Perkenalkan, ini adalah kakak iparku namanya kak Randika. Berkat dia jerawat di wajahku ini hilang semua." "Ah?" Stella terkejut, dia tidak menyangka bahwa kakak iparnya itu yang menyembuhkan Hannah. Perlu diketahui, Stella lah yang sebelumnya menemani Hannah ke rumah sakit. Sudah berkali-kali mereka berdua berganti rumah sakit dan tidak ada hasil yang memuaskan. Mereka berdua hampir pasrah dengan keadaan Hannah. Dia benar-benar tidak menyangka bahwa hari ini ternyata jerawat-jerawat itu telah hilang karena sehari sebelumnya wajah Hannah masih penuh dengan jerawat. "Berapa lama kak Randika mengobatinya? Hasilnya benar-benar luar biasa, wajahmu juga jadi mulus." Tatapan mata Stella penuh dengan rasa penasaran. "Hahaha, kakak iparku ini bukan orang sembarangan. Seluruh prosesnya tidak lebih dari 1 jam." Wajah Hannah sudah terlihat bangga. "Dia merebus bahan-bahan sampai jadi seperti lumpur dan mengoleskannya di wajahku." Randika hanya tersenyum di samping, kenapa yang bangga malah adik iparnya? "Berarti kakak iparmu ini dokter super." Kata Stella dengan tatapan mata kagum. "Hahaha tidak sampai segitunya kok. Aku cuma mengerti beberapa hal mengenai pengobatan tradisional dan kebetulan penyakitnya Hannah tidak terlalu yang rumit." Kata Randika sambil tertawa. "Kalian berdua santai-santai dulu saja, aku akan membereskan sisa-sisa tadi." Randika lalu berjalan ke dapur dan membereskan semua peralatannya yang tadi. Hannah dan Stella duduk di sofa dan berbincang-bincang. "Stel, terima kasih yang sudah mau menemaniku beberapa hari ini. Kalau tidak ada kamu, aku tidak tahu harus berbuat apa." "Sudahlah tidak usah sungkan begitu." Stella tersenyum. "Bukankah kita ini saudara dan aku ini kakakmu yang tersayang? Bisa apa adik imut sepertimu ini tanpa kakaknya?" Hannah tersenyum. "Kalau begitu kak, adikmu ini sudah kebelet ingin liburan." "Kalau begitu hari ini kita akan bersenang-senang! Kamu pasti bosan tidak keluar rumah beberapa hari ini kan?" Stella lalu berpikir sebentar dan membalasnya. "Bagaimana kalau ke mall Pondok Indah? Bukankah kita pernah membahas ingin ke tempat game center-nya?" "Ide bagus!" Kata Hannah dengan wajah bahagia. "Kak, kita mau ke game center di mall Pondok Indah nih. Apa kakak mau ikut?" Hannah dengan cepat pergi menuju dapur. "Kalian saja yang pergi, aku di rumah saja." Kata Randika sambil tersenyum. Pergi ke mall bersama perempuan? Pengalaman terakhirnya dia pergi bersama Inggrid diakhiri dengan trauma berat karena dijadikan pembawa tas belanjaan. Dan Randika yakin adik iparnya ini tidak jauh berbeda dengan kakaknya. Lagipula dia sudah tidak sabar menunggu datangnya malam, lebih baik dia beristirahat dan menunggu Inggrid pulang. "Eh!! Kok tidak asyik gitu sih kak?" Hannah melompat dan menyeret Randika. "Ayolah kak temani kita, aku janji kita akan bersenang-senang bersama." "Iya, iya, iya, biarkan aku ganti baju dulu kalau begitu." Randika merasa tidak berdaya. .........ˇ­. Dengan terpaksa, Randika menyetir menuju mall bersama dengan Hannah dan Stella. Mall Pondok Indah terkenal dengan game center-nya yang besar dan banyak mainannya. Banyak orang muda yang berkumpul di sini. Karena game center ini memakai sistem power card, Hannah dan Stella langsung mengisi kartu mereka hingga 300 ribu. Mereka tidak sabar mencoba semua permainan yang ada. "Eh, eh, kita coba main itu!" Tatapan mata Stella berbinar-binar ketika melihat permainan tembak-tembakan yang kosong. "Ayo!" Hannah sejujurnya tertarik pada semua genre mainan. Dan ketika mereka mencapai game permainan bola basket, Randika ikut memainkannya. Permainan ini cukup sederhana. Kita diberi waktu oleh mesin sebanyak 30 detik, waktu akan bertambah 1 detik dan skor akan bertambah 2 ketika sebuah bola masuk di keranjangnya. Jadi secara teori, jika kamu cukup jago, kamu bisa memainkan permainan ini selama mungkin. Tentu saja, itu semua tergantung dari keahlianmu melempar. "Aku duluan." Hannah dengan cepat menggesek kartunya. Bola dengan cepat turun dan Hannah mulai melemparnya satu per satu. Sayangnya, semua usaha Hannah itu hanya mengenai pinggiran keranjang tanpa satu bola pun masuk. Namun karena Hannah memiliki jiwa kompetitif, dia tidak menyerah dan melempar bola basket itu dengan semangat. Randika menatap adik iparnya ini sambil tertawa, sepertinya bola basket milik adik iparnya itu juga hampir lepas. Namun karena semua lemparan Hannah tidak mengenai sasaran, waktu bermainnya makin menyusut dan akhirnya mencapai angka 0. Orang-orang yang lewat tertawa dalam hati mereka, tetapi karena yang bermain adalah perempuan jadi mereka semua memakluminya. Hannah memegang bola terakhir di tangannya dan melemparnya dengan sepenuh hati. Namun, bola tersebut malah air ball. "Hahaha, skormu 0!" Stella tertawa. "Cupu sekali kamu." Sekarang gilirannya Stella untuk beraksi. Dia mulai melempar bola basketnya satu per satu. DUAK! Lemparan pertamanya gagal. SYUTˇ­ Lemparan keduanya bahkan tidak mengenai keranjangnya. PROK! Akhirnya lemparan ketiganya masuk! Namun, Stella hanya berhasil memasukan 1 bola saja selama bermain. Semua yang lewat sudah tertawa, sepertinya mengamati bola basket kedua cewek itu lebih asyik daripada melihat mereka bermain. Hannah dan Stella merasakan tatapan-tatapan mengejek ini dan menjadi jengkel. Mereka bertambah jengkel ketika Randika menertawai mereka. "Hahaha, kalian berdua memang payah. Permainan ini juga menuntut kemampuan melempar jadi tidak cukup bermodalkan semangat." "Kalau begitu kenapa kak Randika tidak mencobanya?" Hannah mendorong Randika ke depan mesin. "Baiklah." Randika meminjam kartu Hannah dan mulai memainkannya. PROK! Bola pertama masuk dengan mulus, suara jaringnya benar-benar melegakan hati. Randika lalu mengambil bola kedua dan berhasil memasukannya kembali. Semua lemparannya masuk dengan mulus dan suara mesin permainan ini mulai heboh dan skor yang tertera sudah 100. Orang-orang yang awalnya tertawa itu mulai terlihat serius. Hannah dan Stella sendiri sudah berdiri dengan linglung, ternyata ada yang bisa melempar segitu banyak? Randika sendiri masih terus melempar bola, dia dengan santai mengambil bola dan melemparnya dengan sempurna. Suara bola masuk terus menerus terdengar, Randika sudah mirip dengan pemain NBA. Suara mesin mulai kembali heboh, skor Randika sekarang mencapai 300. Pada saat ini, keranjang basket itu mulai bergerak ke kanan dan ke kiri dengan kecepatan yang pelan. Saat mencapai skor tertentu, keranjang basket itu akan bergerak. Awalnya akan pelan tetapi seiring berjalannya skor, keranjang itu akan bergerak makin cepat. Semakin banyak orang yang berhenti dan melihat Randika. Mereka tidak bisa menyembunyikan rasa kagum mereka, orang itu benar-benar jago. Skor tertinggi di mesin itu adalah 1120 poin, jadi bisa dikatakan bahwa itu batas tertinggi orang-orang selama ini. Apakah orang ini bisa mematahkan rekor poin tersebut? Pergerakan Randika terlihat santai dan stabil. Setiap kali dia melempar, lemparannya selalu masuk dengan mulus. Mengenai waktu, karena Randika berhasil memasukannya terus menerus, waktunya telah menjadi 120 detik. Dia sudah mendapat waktu 90 detik tambahan. PROK! Randika sekarang berhasil mencapai skor 500, mesin kembali mengeluarkan suara dan keranjangnya mulai bergerak lebih cepat. Orang-orang yang berkumpul sudah hampir menutup jalan, mereka menatap Randika dengan tatapan kagum. "Gila, orang itu belum pernah meleset sekali pun." "Apa dia pemain basket profesional?" "Sepertinya dia akan memecahkan rekornya." Orang-orang mulai berdiskusi satu sama lain, Randika dengan santai terus melempar bolanya. Skornya perlahan mencapai angka 800. Keranjang basketnya sudah bergerak dengan sangat cepat, tetapi tiap tembakan Randika tidak pernah meleset. Mengenai waktu, dia sudah mencapai 400 detik lebih. Orang-orang mulai menahan napas mereka, sepertinya skor tertinggi itu akan terpecahkan. Semua orang menunggu-nunggu momen ini. PROK! Kali ini Randika berhasil mencapai skor 1000, keranjang basketnya juga mulai bergerak lebih cepat lagi. Dengan kecepatan seperti itu, sangat sulit bagi siapapun untuk mencetak angka. Namun dengan keahlian Randika, kecepatan seperti itu bukanlah apa-apa. Persentase bola masuknya masih sempurna. Tidak butuh waktu lama untuk Randika mencapai angka 1120, satu bola lagi maka skor tertinggi itu akan terlampaui. Semua orang sudah menepuk tangan mereka, orang ini benar-benar luar biasa! Hannah dan Stella sudah geleng-geleng, terutama Hannah. Sepertinya kakak iparnya ini ahli dalam melakukan apa pun. Randika masih melempar bolanya dan orang-orang masih menonton dirinya. Sekarang dia sudah mencapai angka 3000. Keranjang basketnya sudah bergerak seperti kesetanan, orang-orang sudah tidak bisa melihat keranjang itu dengan normal. Namun, bagi Randika kecepatan itu masih bukanlah apa-apa dibandingkan peluru. Tembakan demi tembakan mengenai sasarannya dengan cepat, tidak ada satupun yang meleset. Semua orang sudah bertanya-tanya pada diri mereka, apa dia masih manusia? Randika masih melempar, sekarang skornya mencapai 7000 dan belum ada satu bola yang meleset. Chapter 245: Berani Menggangguku? Bersiap-Siaplah Melawan Kakak Iparku! Pada akhirnya, Randika berhasil mencatat rekor baru yaitu 9500. Kalau saja bukan karena campur tangan seorang staff, rekor itu pasti jauh lebih tinggi lagi. Jika rekor poin ini terlalu tinggi, maka orang-orang tidak akan tertarik untuk memainkan permainan ini. Skor yang dikiranya mampu dijangkau oleh orang-orang juga merupakan strategi pemasaran. Dan pada saat yang sama, para staff setuju untuk memberikan kompensasi pada Randika berupa poin power card bernilai 500 ribu. Hadiah seperti ini tidak disangka-sangka oleh Randika. Tetapi karena sudah kelelahan gara-gara dari tadi terus melempar, dia tidak berniat menghabiskan uang digital itu hari ini. Setelah mendapatkan hadiahnya, Randika menghampiri Hannah dan Stella sambil tersenyum. "Mungkin kak Randika jago bermain basket, jadi kemenangan itu tidak dihitung! Kita selesaikan pertarungan kita di permainan yang lain!" Hannah langsung menyeret Randika ke permainan yang lain. Mesin di game center milik mall ini benar-benar banyak dan bervariatif, kali ini mata kedua perempuan itu terpaku di sebuah dance machine. Permainan ini sebenarnya cukup sederhana. Permainan ini memadukan musik, gerakan, arah dan penglihatan. Pada dasarnya, permainan ini terdiri dari pemain, alas dansa (dance pad) dan sebuah layar. Di atas alas dansa, ada 8 tombol yang diinjak oleh kaki si pemain. Pemain diminta untuk menginjak tombol yang sesuai dengan panah-panah yang muncul di layar. Panah-panah ini muncul dari bawah layar dan bergulir ke atas menuju panah pemandu yang biasa disebut step zone arrow. Terlebih, jika kita memilih lagu dengan tingkatan sulit, panah-panah itu akan bergerak jauh lebih cepat dan lebih banyak. Jadi ketepatan waktu dan kelincahan pemain sangat penting dalam permainan ini. Mesin ini juga bisa dimainkan oleh 2 orang, oleh karena itu Hannah dan Stella dengan semangat memilih lagu yang mereka suka. Randika hanya duduk sambil memperhatikan. Bisa dikatakan bahwa Hannah dan Stella merupakan perempuan yang bersemangat dan cukup langsing, jadi mereka bisa mengikuti irama lagu dengan baik. Apabila dibandingkan dengan permainan basket tadi, mereka jauh lebih baik di dance machine ini. Dengan semakin banyaknya panah yang muncul, keduanya mulai serius menginjak alas dansa mereka. Hannah dan Stella sepertinya mempunyai bakat menari, kelincahan mereka juga sangat membantu mereka dalam permainan ini. Keduanya larut dalam permainan ini hingga tidak memperhatikan sekelilingnya, orang-orang sudah berkumpul karena tertarik dengan kemolekan tubuh mereka berdua. Kedua perempuan cantik menari dengan semangat, dan salah satunya berdada besar, benar-benar menggoda! Hannah dan Stella terus menari dengan intens, orang-orang yang berkumpul juga makin banyak. Kebanyakan dari mereka adalah laki-laki. Beberapa dari mereka sudah berniat untuk mengajak ngobrol kedua perempuan cantik itu ketika mereka sudah selesai. Pada saat ini, sekelompok berandalan dengan tato memenuhi tubuh mereka berjalan dengan arogan. Mereka sengaja menabrak dan membentak siapapun yang berani melawan. Mereka adalah Anonim, penguasa dari game center ini. Pada saat ini, seseorang dari mereka melihat Hannah dan matanya langsung terpaku. "Kak, coba kakak lihat perempuan itu." Beberapa orang langsung menoleh dan melihat ke arah dance machine. Semua mata mereka langsung berbinar-binar. "Karena mereka suka berdansa, aku rasa mereka juga pasti suka menggoyangkan pinggang mereka di kasur. Sepertinya malam ini kita akan bersenang-senang." Mata dari pemimpin mereka yaitu Wilson sudah terkunci pada sosok Hannah dan Stella. Tidak lama kemudian Hannah dan Stella telah menyelesaikan permainan mereka dan turun dari mesin. Para berandalan itu segera berjalan menghampiri mereka sambil mendorong para kerumunan. "Oi, minggir!" Orang-orang ingin melawan tetapi setelah mereka tahu itu adalah Anonim, mereka tidak berani melawan dan memberikan jalan. "Hei, bagaimana kalau kita bermain bersama setelah ini?" Wilson langsung menghampiri Hannah dan Stella yang sedang duduk sambil mengatur kembali napas mereka. Hannah menatap para berandalan itu dan mengerutkan dahinya. "Siapa memangnya yang mau sama kalian? Pergi sana dan jangan ganggu kita." "Wah, wah, ternyata kamu berani juga. Aku suka itu." Wilson dan beberapa temannya tertawa. "Kalian berdua tidak akan pergi sebelum bisa memuaskan kami semua." Pada saat ini, tangan Wilson sudah menangkap dagu Hannah. Namun, sebuah tangan nampaknya berhasil menangkap tangan Wilson. Wilson ingin mengambil kembali tangannya tetapi dia sadar bahwa dia tidak bisa melawan sama sekali. Ketika dia menoleh, dia melihat wajah Randika yang terlihat kesal. "Apa? Kau ingin mati di sini?" Wilson memasang wajah bengisnya, teman-temannya dengan cepat mengepung Randika. Tidak ada orang yang pernah lolos ketika berurusan dengan Anonim. Hannah dan Stella segera berdiri di belakang Randika. Lagipula, Hannah sudah memahami kekuatan Randika. Berandalan muda seperti ini jelas bukan lawan kakak iparnya. Ketika melihat pria itu melindungi kedua mangsanya, semua berandalan itu tertawa. "Hahaha, kalian kira pria macam ini bisa menghentikan kami?" "Sepertinya orang ini tidak tahu siapa kita." "Sebenarnya aku tidak mau bertindak kasar di depan perempuan, tetapi hari ini aku membuat pengecualian." Salah satu berandalan menghela napasnya, dia tahu bahwa tindakan kekerasan ini membuat perempuan membenci dirinya. Randika lalu membalas bacotan mereka semua dengan santai. "Pergilah sebelum aku marah." "Oh? Kau kira bisa memukul kami? Apa kau mau mencobanya?" Wilson mendekatkan pipinya ke Randika, teman-temannya sudah pada tertawa. Mereka telah berkuasa di tempat ini lebih dari setahun, tidak ada lawan yang bisa menggoyahkan posisi mereka. Namun, tiba-tiba Wilson menerima sebuah pukulan tepat di hidungnya. Karena masih sibuk tertawa, Wilson tidak bisa menghindar dan hidungnya meneteskan darah. Wilson merasa pusing sambil terus memegangi hidungnya, darah terus mengucur tanpa henti. Wilson yang belum pernah terluka selama berkelahi itu menjadi marah, teman-temannya juga ikut marah. "Mati kau bocah!" Wilson segera mengeluarkan pisau yang dia sembunyikan di sepatunya. Namun sebelum dia bisa mengayunkannya, Randika memukul kembali hidungnya. Hal ini membuat Wilson melangkah mundur dengan terhuyung-huyung. Randika masih berwajah tenang. Ketika bertarung dengan senjata tajam, ketenangan adalah salah satu kunci. Randika menguap dan meregangkan tangannya ketika teman-teman Wilson menerjang ke arahnnya. Randika memberi mereka masing-masing sebuah pukulan. Tak lama kemudian, keenam orang itu terkapar kesakitan di lantai. Ketika orang terakhir yang hendak menerjang Randika itu melihat teman-temannya terkapar, dia berhenti dan tidak tahu harus berbuat apa. Melihat Randika yang menghampirinya, orang itu ketakutan dan meminta ampun lalu berlari meninggalkan kelompoknya. Randika lalu berbalik dan menghampiri Wilson. Randika menghela napas dan mengangkat Wilson dengan satu tangan dan menamparnya. "Kalian kira bisa bertindak seenaknya sendiri?" Randika menggelengkan kepalanya lalu menamparnya lagi. Orang-orang seperti ini merasa dirinya di atas dan perlu diberi pelajaran sehingga tidak menindas yang lemah. Stella sudah menatap Randika dengan tatapan kagum, sedangkan Hannah terlihat bangga. Jika kau berani menggangguku, bersiap-siaplah melawan kakak iparku! "Sudah sana pergi dan bawa teman-temanmu itu." Kata Randika sambil melempar Wilson. "Tunggu!" Hannah dengan cepat menyela. "Aku minta kalian namatin permainan ini dengan nilai sempurna atau kakakku akan menghajar kalian hingga kaki kalian patah!" Hannah tidak ingin melepas mereka begitu saja. Chapter 246: Boneka Ginseng yang Dicuri Hannah tidak ingin melepas mereka begitu saja sedangkan Randika mengerti maksud Hannah dan menghela napasnya. "Masih mau melawan?" Hannah mengerutkan dahinya, bagaikan singa yang masih kecil. Wilson dan teman-temannya lebih takut dengan singa yang berdiri di belakangnya itu. Mereka tidak punya pilihan, mereka hanya bisa menuruti permintaan Hannah. Ketika mereka mulai menari, semua orang pada tertawa. Karena seumur hidup tidak pernah menari, mereka berenam menari dengan sangat canggung dan mendapatkan nilai yang buruk. Gerakan mereka benar-benar aneh. Semua orang tertawa dengan leluasa, sangat jarang melihat Anonim dipermalukan seperti ini. Wilson dan teman-temannya sudah ingin mati, hari ini adalah awal keruntuhan dari wibawa kelompoknya. Hannah membentak mereka dan mengingatkan perjanjian awal mereka, kalau tidak bisa mendapatkan nilai sempurna maka mereka tidak akan bisa pulang dengan kaki yang utuh. Melihat para berandalan itu ditertawakan oleh semua orang, Hannah merasa hukuman ini sudah cukup dan dia sendiri sudah bosan. Jadi Hannah mempersilahkan mereka pergi dan mengancam mereka agar tidak mengganggu dirinya lagi. Kemudian Hannah, Stella dan Randika kembali bermain sebentar lalu memutuskan untuk pulang. Ketiganya menaiki lift menuju parkiran, lift ini bergerak dengan sangat pelan. Hari ini merupakan hari terbahagia yang pernah dia rasakan, Hannah tidak bisa berhenti tersenyum dan tertawa. Sedangkan Stella mencuri pandang pada sosok Randika. Pria ini benar-benar tampan, jika saja dia bukan kakak iparnya Hannah, dia pasti sudah mengejarnya. "Hmm? Stel, kenapa kamu menatap kak Randika seperti itu?" Hannah menyadari tingkah laku Stella yang aneh. "Apa kamu suka sama kakak iparku ini?" "Tidak!" Stella dengan cepat memukul pundak Hannah, wajahnya benar-benar merah. Kenapa temannya ini tiba-tiba membahas ini? "Santai saja, kakak iparku ini playboy dan nafsuan. Mungkin jika kamu mau, kamu bisa mendapatkan hatinya." Kata Hannah sambil tersenyum. Wajah Stella makin merah, sedangkan Randika terlihat sedih. "Han, jadi aku di matamu seperti itu?" "Memangnya aku salah? Jangan lupa kamu pernah melihatku dengan tatapan mesum sebelumnya." Randika benar-benar malu, apa yang dikatakan adik iparnya ini tidak terlalu salah. Lagipula, bukannya kamu sendiri yang melompat ke aku dan menanamkan kepalaku di dadamu? Stella melihat wajah Randika yang terlihat sedih lalu tertawa. Namun pada saat ini, lift yang mereka naiki ini tiba-tiba mati dan berhenti bergerak. Pada saat ini, Hannah dan Stella takut setengah mati dan berteriak histeris. "Hei, tidak usah berlebihan begitu." Randika menutup telinganya. "Bukankah ini hanya mati listrik biasa? Tidak perlu berteriak keras seperti itu." "Aku takut gelap." Kata Hannah sambil gemetaran, alasan ini membuat Randika tertawa terbahak-bahak. Namun, Hannah dengan cepat memeluk erat tangan Randika. Stella sendiri ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk ikut memeluk tangan Randika, tetapi dia mengurungkan niatnya karena hal itu kurang pantas menurutnya. "Kak, apa lift ini akan jatuh dan kita akan mati?" Hannah bertanya sambil menutup matanya. Mendengar pertanyaan itu, Stella jadi ikut takut. Dan pada saat ini, lift yang mereka naiki itu tiba-tiba bergoyang, seakan-akan akan terjun bebas. Stella yang awalnya sungkan segera memeluk tangan Randika. Randika menghela napas dalam-dalam, kedua tangannya sudah tidak bisa bergerak dengan bebas lagi. "Bahkan lift ini jatuh sekalipun, kalian tidak usah khawatir." "Kak, bisa-bisa kakak berkata seperti itu? Kak Randika ingin kita mati?" Hannah mencubit tangan Randika karena membuatnya lebih ketakutan lagi. Randika merasa tidak berdaya, dia hanya berbasa-basi saja. Namun, setelah merasakan kedua perempuan memeluk erat kedua tangannya, Randika mulai merasa nyaman. Senyuman yang melambangkan sifat nakalnya itu mewakili kepribadiannya, kata-kata Hannah sebelumnya tidak salah sama sekali. Namun, tidak butuh waktu lama untuk lift ini bekerja kembali secara normal. Ketika tangannya bisa bergerak dengan bebas, sedikit rasa penyesalan tumbuh di hati Randika. Setelah sampai di parkiran, Stella ingin kembali ke asrama. Hannah juga sedang tidak ingin menginap di rumah Inggrid jadi dia menemani Stella kembali ke asrama mereka. Setelah menurunkan mereka di asrama, Randika segera pulang. Sesaatnya sampai, HP Randika tiba-tiba bunyi. Ternyata yang meneleponnya adalah Indra. "Kenapa? Apa kamu baik-baik saja?" Suara Randika terdengar cemas. "Kak, boneka ginsengku telah dicuri orang." Suara Indra terdengar lemas dan sedih. Dicuri? Randika terkejut. Apa dia tidak salah dengar? Bagaimana caranya boneka ginseng yang super lincah itu dicuri? Dia sendiri saja kesusahan menangkapnya, kenapa bisa boneka satu itu dicuri? Ditambah lagi, boneka itu selalu bareng sama Indra dan Indra juga jarang keluar rumah kecuali mencari makan. Jadi bisa dikatakan bahwa keberadaan boneka itu cukup tersembunyi. "Kamu tunggu aku, aku segera ke sana." Dalam perjalanan, Randika terus berpikir dalam hati. Dia merasa ada yang aneh dengan kejadian kali ini. Boneka ginseng adalah makhluk hidup yang luar biasa, tidak mungkin ia bisa tertangkap semudah itu. Dia merasa bahwa siapapun yang menculiknya, mempunyai cara rahasia agar bisa menangkapnya. Kalau tidak, si penculik tidak akan bisa menangkapnya mengingat betapa lincah dan cepat si boneka ginseng. Semua keanehan ini membuat Randika merasakan firasat buruk. Dia dengan cepat menuju rumah kontrakan Indra dan langsung membuka pintunya. Namun, dia menemukan Indra tergeletak lemas di atas kasur. Matanya setengah terbuka dan terlihat akan pingsan kapan saja. Di sampingnya HP miliknya sudah hancur berantakan. "Indra! Kamu baik-baik saja?" Randika dengan cepat menghampirinya dan memeriksa denyu nadinya. Dia tidak menemukan sesuatu yang aneh dan bernapas lega. Randika memeriksa apa yang salah ternyata Indra telah ditembak oleh peluru bius. Mencabut peluru tersebut, kerutan dahi Randika semakin mengerut. Sepertinya sesuai dengan dugaannya bahwa pihak penculik sudah siap dengan segala kemungkinan termasuk cara mengalahkan Indra. "Kakak seperguruan, maafkan aku yang lemah ini." Kata Indra dengan perasaan sedih. "Sudah tidak apa-apa, serahkan sisanya padaku." Indra lalu tertidur dengan pulas. Setelah berpikir sebentar, akhirnya Randika memutuskan untuk menelepon Deviana. Tidak ada petunjuk yang mengarah pada identitas pelaku, jadi mencari tanpa petunjuk hanya buang waktu saja. Jadi pilihannya adalah satu yaitu meminta bantuan dari Deviana. Dia akan meminta polisi satu itu untuk memeriksa kamera jalan ataupun kamera pengawas yang ada di sekitar rumah Indra. Mungkin dengan itu dia bisa menemukan siapa pelakunya. "Mau apa kamu?" Kata-kata Deviana terdengar dingin. Dia masih tidak melupakan rayuan gombal Randika sebelumnya. "Aku butuh bantuan, aku ingin kamu memeriksa kamera yang ada di dekat alamat Kalimas no 89. Aku benar-benar butuh informasi itu secepatnya." Telepon itu hening sejenak, kemudian terdengar suara pelan. "Tunggu sebentar." Deviana merupakan pribadi yang tegas dan menjunjung tinggi kebenaran. Tetapi pada saat-saat penting, dia tidak akan ragu menolong Randika. Bisa dikatakan bahwa hubungannya dengan Randika itu sedikit spesial. Mereka memang teman, tetapi dia rela membantunya asalkan tidak terlalu melanggar hukum. Chapter 247: Perempuan Misterius Randika tidak menutup teleponnya, dia menunggu Deviana dengan sabar. Tak lama kemudian, Deviana menemukan sesuatu. "Dari yang kuperiksa, ada segerombolan orang yang mendobrak masuk alamat yang kamu sebut itu. Tetapi mereka semua memakai topeng dan tidak memperlihatkan wajah mereka." Kata Deviana. Mendengar hal ini membuat Randika sedikit gembira, setidaknya dia memiliki sesuatu sekarang. "Apa kamu bisa mengecek rute pergi mereka?" Kemudian telepon kembali sunyi, namun setelah beberapa saat suara dingin Deviana dapat terdengar kembali. "Bisa." "Setelah kamu keluar dari rumah beloklah ke kiri, berjalanlah 200 meter lalu belok ke kanan. Setelah itu telusuri jalan itu dan nanti ˇ­. " Dengan arahan yang diberikan Deviana, Randika berlari dengan terus menggenggam erat HPnya. Di sisi lain, di sebuah hotel, beberapa orang kekar masuk ke dalam kamar dan melepas topeng mereka satu per satu. "Aku tidak menyangka akan semudah ini." Seseorang mengikat boneka ginseng dengan tali, yang terlihat pusing di sebuah pilar. Sepertinya boneka ginseng itu tidak sadarkan diri. Dia terkadang hanya mengeluarkan suara seperti sedang mengomel, sepertinya dia tidak bisa membedakan mana yang mimpi dan mana yang nyata. Seseorang tertawa. "Misi ini benar-benar gampang dan imbalannya benar-benar besar." Kemudian dia melempar senjata apinya ke lantai. Teman-temannya ikut tertawa. Jika mereka bisa menyelesaikan misi ini, mereka akan makan kenyang selama beberapa bulan ke depan. Salah satu dari mereka lalu meletakan sebuah tempat bakar dupa di depan boneka ginseng. Di dalamnya terdapat seperti serbuk kayu yang terbakar, serbuk itu memberikan wangi asap yang kuat. Hidung dari boneka ginseng itu berkedut dan menghirup semua asap tersebut, hal ini membuatnya makin pusing. Serbuk kayu itu adalah rempah-rempahan dari Thailand yang diracik khusus untuk menangkap boneka ginseng. Para penjahat ini bercanda ria beberapa waktu lalu tiba-tiba mata mereka terpaku pada boneka itu. "Aku tidak menyangka ada makhluk aneh seperti itu di dunia ini." Kata seseorang dari mereka. Sebelum ini dia tidak menyangka ada kehidupan intelektual seperti boneka ginseng ini. "Menurut kalian, apa benar jika kita memakan boneka ini kita bisa memperpanjang umur kita? Seharusnya klien kita tidak keberatan jika makhluk itu kehilangan satu kakinya." Penjahat lainnya menelan air ludahnya. Sejujurnya, dia tidak pernah makan makanan kelas atas sebelumnya jadi dia penasaran dengan rasa makanan orang kaya. Seharusnya rasanya lebih enak daripada ayam ataupun steak daging. Untungnya boneka ginseng ini sedang tidak sadarkan diri, kalau tidak ia akan kabur terbirit-birit jika mendengar dirinya akan dimakan. "Benar juga. Bagaimana kalau kamu mencobanya terlebih dahulu?" Salah satu temannya setuju. Makhluk supernatural seperti itu bukanlah hewan ataupun tanaman, bisa dikatakan bahwa ia itu spesial. Tidak ada satu pun dari mereka yang tidak terkejut ketika melihat keberadaan boneka ginseng itu. Kalau saja tidak ada bantuan asap dupa mereka, menangkap makhluk aneh itu mungkin mustahil bagi mereka. Setelah menatap boneka itu, Reno, salah satu dari mereka, berpikir sebentar dan menggelengkan kepalanya. "Aku takut nanti klien kita akan sangat marah." "Hahaha sejak kapan nyalimu jadi ciut seperti itu." Salah satu temannya tertawa. "Klien kita tidak memberikan detail sama sekali bahwa benda itu hidup, kita bisa beritahu bahwa kita memotong kakinya agar tidak bisa kabur lagi. Lagipula coba perhatikan, benda itu masih bayi jadi lebih baik kita potong kakinya sama rata dan tidak ada yang tahu selain kita. Setelah kita menyerahkannya dan menerima uang kita, baru kita merayakannya dengan memakannya." Reno mengerutkan dahinya dan berpikir keras. Kemarin malam, seorang perempuan berbaju hitam yang wajahnya ditutupi oleh kain menghampirinya dan memberinya sebuah misi dengan harga 5x lebih mahal daripada biasanya. Dalam sekejap Reno menyanggupinya dan menerima dupa yang dia berikan. Tugasnya benar-benar mudah dan sekarang boneka ginseng itu terikat di ruangannya. Setelah dipikir-pikir, dia merasa misi kali ini aneh dan terlalu mudah. Baginya yang paling aneh adalah ketika dia bertemu dengan kliennya, dia sama sekali tidak bisa mengukur kemampuan kliennya itu. "Ren, aku tahu apa yang kamu pikirkan." Teman di sampingnya ikut angkat bicara. "Klien itu cuma seorang perempuan. Meskipun dia berusaha menutupinya dengan kain dan suara yang diberat-beratkan, buat apa kita takut sama seorang perempuan?" Temannya menambahkan. "Apa yang dikatakan Fahar itu benar. Aku punya ide yang lebih baik, bagaimana kalau setelah kita mendapatkan uangnya, kita bunuh dia. Setelah itu kita bisa menjual makhluk aneh itu dengan harga yang lebih mahal lagi." Bisa dikatakan bahwa saran salah satu temannya ini benar-benar menggiurkan, keserakahan mereka dapat terlihat jelas di mata mereka. Makhluk supernatural ini seharusnya bernilai ratusan juta bukan? Banyak orang kaya yang rela membayar mahal jika mereka tahu apa yang akan mereka dapat. Otak Reno sudah berputar dengan sangat cepat, dia sama sekali tidak berkata apa-apa. Yang menjadi pertanyaannya adalah seberapa kuat kekuatan si kliennya itu. Jika kliennya itu memiliki latar belakang yang kuat, kematian hanyalah jalan keluar bagi mereka. Mengerti siapa yang dihadapi merupakan kunci dari pekerjaan seperti ini. "Reno, apa yang kamu khawatirkan? Sudah jangan berpikir terlalu jauh, kita tinggal kabur saja dari negara ini kalau memang keadaan menjadi buruk. Dunia ini luas dan kita bisa pergi ke mana saja jika kita punya uang. Bukannya kamu ingin pergi ke Rusia? Aku dengar perempuan-perempuan di sana cantik-cantik." Ketika teman-temannya mendengar ini, semuanya tertawa. Kata-kata Fahar itu masuk akal, wajah Reno langsung tersenyum menandakan bahwa dia setuju untuk melakukan rencana Fahar. "Kalau begitu, bagaimana kita akan memakannya? Rebus? Atau tumis?" Reno menatap boneka ginseng yang tertidur pulas itu. "Serahkan itu pada Fahar, dia pintar memasak." Fahar menatap temannya yang menyuruhnya masak itu. Baginya membunuh itu gampang, tetapi memasak? Apa dia ingin dirinya meracuni mereka? "Hei, aku khawatir kalau kita memasaknya maka efek memperpanjang umurnya itu hilang." Salah satu dari mereka menyuarakan pendapatnya. "Bagaimana kalau kita memakannya mentah-mentah?" Mentah? Semuanya terlihat bingung, tetapi alasan itu cukup masuk akal. Mereka segera mengeluarkan pisau mereka dan mengeluarkan penggaris, agar mereka bisa memotongnya dengan rata. Boneka ginseng sama sekali tidak sadar bahwa nyawanya terancam, namun tiba-tiba ia bersin dan ketakutan ketika melihat pisau yang tertuju padanya. "Karena kamu yang menerima pekerjaan ini, silahkan kamu duluan yang mencicip." Temannya memberikan Reno sebuah pisau. "Ingat jangan potong terlalu banyak, kita masih perlu menipu klien kita itu dulu." Fahar di samping Reno terlihat tidak sabar, makanan kelas atas seperti ini merupakan kesempatan sekali seumur hidup. Namun, ketika Reno hendak memotong kaki si boneka ginseng, tiba-tiba terdengar suara pintu yang didobrak. DUAK! Pintu ruangan hotel ini terpental begitu saja, ketika mereka semua menoleh, terlihat sesosok pria berjalan masuk. "Nyari mati ya kau bocah?" Beberapa dari mereka langsung mengepung Randika, baru pertama kali ada yang berani melawan mereka. Randika yang terkepung itu menatap boneka ginseng yang terikat, sekarang dia benar-benar marah. Nyari mati? Kalian lah yang akan mati! Melihat ekspresi Randika yang mengerikan itu, mereka semua merinding. Mereka semua tahu bahwa Randika datang untuk merebut makhluk yang mereka ikat itu. Tanpa perlu aba-aba, Reno dan teman-temannya sudah mengeluarkan pistol mereka dan membidik Randika. Dengan senjata api di tangan, buat apa kau takut? Dalam sekejap rasa takut mereka hilang. "Riwayatmu sudah ˇ­. " Ketika salah satu dari mereka mulai berbicara dengan arogan, Randika sudah bergerak bagai angin dan menghajar orang itu hingga membentur tembok. Temannya yang lain langsung menyesuaikan bidikan mereka tetapi mereka tidak bisa menemukan sosok Randika. Tiba-tiba, salah satu dari mereka wajahnya terkena oleh serangan siku Randika. Gigi orang tersebut langsung rontok 3. Randika tidak diam saja, dia langsung melompat dan melayangkan sebuah tendangan pada musuhnya yang lain. Dalam sekejap, teman-temannya sudah terkapar tidak sadarkan dan ini membuat Fahar dan Reno ketakutan. Ketika teman mereka terakhir dipukul hingga pingsan oleh Randika, keduanya ini sudah berkeringat dingin dan tangan mereka yang memegang pistol itu tidak tahu harus membidik ke mana. Randika berjalan pelan menuju Fahar, dalam sekejap suara tembakan dapat terdengar. DOR! Namun, justru Fahar lah yang tergeletak karena pukulan di wajahnya dan pelurunya sama sekali tidak menyerempet baju Randika sedikit pun. Reno mulai merenungkan kejadian ini di dalam benaknya. Perempuan itu memang mengatakan pekerjaan ini gampang tetapi sekarang dia telah menyesal menerima pekerjaan ini. Memang uangnya sangat banyak tetapi kalau dia mati maka semua uang itu akan sia-sia. Sialan, dia benar-benar dibutakan oleh uang. Seharusnya dia tidak asal menerima pekerjaan ini dan menyeledikinya terlebih dahulu. "Ambil apa pun yang kamu mau, tetapi jangan bunuh aku. Aku janji kita tidak akan mengganggumu lagi." Reno sudah berkeringat deras. Pengalaman hidup Reno mengatakan bahwa orang di hadapannya ini bukan orang sembarangan, jika dia menyinggungnya sekecil apa pun maka hidupnya akan melayang. "Siapa yang mengirimmu?" Tanya Randika. "Seorang perempuan berbaju serba hitam. Dia menghampiriku kemarin malam dan memberiku imbalan besar untuk menculik benda aneh itu." Kata Reno tanpa menyembunyikan apa pun. "Ciri-ciri orang itu?" Randika terus bertanya. "Kita bertemu di gang yang sangat gelap, aku tidak bisa melihat wajahnya. Aku hanya tahu bahwa dia itu seorang perempuan dan aku tidak peduli sisanya asalkan dia mampu membayar jasaku." Perempuan? Mendengar hal ini membuat Randika berpikir sedikit. Dia merasa bahwa dia belum pernah menyinggung seorang perempuan akhir-akhir ini. Terlebih, perempuan itu tahu cara menangkap boneka ginseng yang bahkan kakeknya tidak tahu. Randika tenggelam dalam pikirannya tetapi tiba-tiba, boneka ginseng yang terikat di pilar itu mendadak berteriak. Ketika dirinya menoleh, Randika melihat sesosok orang yang menggenggam erat boneka ginseng di tangannya meloncat turun dari jendela. Tidak! Hati Randika mengepal, dia langsung ikut melompat turun tanpa memedulikan Reno dkk lagi. Dalam sekejap ruangan hotel ini menjadi hening. Kalau saja bukan karena tubuh teman-temannya yang terkapar itu, Reno mungkin sudah berpikir bahwa hari ini adalah mimpi. Terlebih lagi, mereka berada di lantai 8. Kedua orang yang dilihatnya itu meloncat turun tanpa ragu-ragu sama sekali. Setelah mendapatkan kesadarannya kembali, Reno menyadari bahwa dia telah mengompol. Orang-orang seperti itu benar-benar berada di level yang berbeda. Sepertinya dia harus pensiun dan melakukan kerja yang halal. Di lain sisi, Randika dan sosok penculik itu mendarat dan langsung kejar-kejaran. Para pejalan kaki di bawah terkejut bersamaan ketika melihat ada yang jatuh di depan mereka. Chapter 248: Masakan Istri Tercinta Si penculik berbaju hitam itu mendarat dengan keras di bawah tatapan para pejalan kaki lalu berlari menjauhi mereka. Apa yang sedang terjadi? Apa orang itu barusan melompat dari gedung? Para pejalan kaki itu kehabisan kata-kata, tetapi sedetik kemudian ada orang yang kembali jatuh dari atas. DUAK! Tanah langsung terasa bergetar, kemudian sosok orang itu dengan cepat menyusul orang berbaju hitam sebelumnya. Mereka semua bertanya-tanya dalam hatinya, apa sekarang sedang musimnya parkour? Seorang nenek-nenek melepas kacamatanya dan menggosoknya dengan kuat, tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Seorang pemuda juga ikut menggelengkan kepalanya, sepertinya dia kurang tidur kemarin malam sampai-sampai berhalusinasi seperti ini di siang bolong. Mimpi, ya ini semua pasti mimpi. Di lain sisi, Randika mengejar si penculik itu dengan ketat. Namun, daerah ini adalah daerah pertokoan jadi banyak gedung dan suasananya rame sekali. Setelah berbelok sebanyak 7x, Randika kehilangan jejak. Berdiri di tengah jalan, Randika memperhatikan semua orang yang lewat sambil mengerutkan dahinya. Dia tahu bahwa dia telah kehilangan jejak dari si penculik. Penculik itu sudah merencanakan semuanya dengan baik, sepertinya dia sudah merencanakan jalur pelariannya sejak lama. Dia memanfaatkan keramaian ini dan membaur dengan baik. Randika sama sekali tidak merasakan energi tenaga dalam yang menonjol, mustahil untuk dirinya menemukannya. Tidak ada jalan lagi, Randika hanya bisa menyerah untuk kali ini. Tetapi, ada satu cara yang layak untuk dicoba. Randika mengambil HP dan menelepon Safira. Tak lama kemudian, suara lembut Safira dapat terdengar. "Kak Randika!" Suara Safira terdengar bahagia namun mengandung sedikit rasa marah, dia tidak pernah dihubungi oleh Randika selama ini. "Saf, apa kamu sedang sibuk? Jika tidak, tolong bantu aku cari seseorang." Jarang mendengar kakak tirinya ini minta tolong, Safira langsung mengiyakan. "Baiklah kak, tolong ceritakan masalahnya." Randika lalu menceritakan semua yang telah terjadi. Setelah paham masalahnya, Safira langsung mengatakan. "Baiklah kak, aku akan meminta Arwah Garuda untuk menyelidikinya. Setelah mendapatkan hasil, aku akan mengabari." Dalam hati Randika merasa lega, Safira benar-benar bisa diandalkan. Keduanya berbincang-bincang sebentar lalu mengakhiri telepon mereka. Safira meninggalkan pekerjaannya saat ini dan menghubungi Elva. Randika ingin memeriksa keadaan Indra, seharusnya efek obat biusnya sudah hilang saat ini. Ketika dia membuka pintu kamarnya, dia menemukan Indra duduk dengan ekspresi sedih. Randika menghiburnya dan berjanji akan membawa kembali boneka ginseng itu dalam beberapa hari. Setelah menghibur Indra beberapa saat, Randika lalu pulang dan menuju rumahnya. Di rumah, Randika duduk di sofa seorang diri dan berusaha memahami kejadian ini. Sesampainya dia kembali dari Jepang, seseorang tiba-tiba menyerang dan menculik boneka ginseng. Sudah pasti kejadian ini telah direncanakan jauh-jauh hari, tetapi masalahnya siapa yang melakukannya? Kerutan di dahi Randika makin mengerut, dia sama sekali tidak kepikiran siapa pelakunya. Jika lawannya semacam mafia atau preman biasa, maka boneka ginseng itu tidak mungkin tertangkap. Masalahnya lawannya kali ini tahu cara rahasia untuk menangkap boneka ginseng itu yang bahkan kakeknya tidak tahu. Setelah berpikir keras beberapa saat, Randika menggeleng-gelengkan kepalanya. Buang-buang energi berpikir keras seperti ini. Dia hanya bisa berharap pada Arwah Garuda yang merupakan organisasi rahasia milik Indonesia yang kemampuan intelijensinya setara dengan miliknya. Seharusnya tidak ada masalah tetapi yang paling penting adalah kapan informasinya datang. Pada saat ini, tiba-tiba pintu rumahnya terbuka. Randika menoleh dan melihat Inggrid telah pulang. Membuang jauh-jauh pikirannya yang menjemukan itu, dia berdiri dan menyambut istrinya dengan senyuman. "Akhirnya kamu pulang sayang." Inggrid datang membawa banyak tas belanja, ketika dia melihat Randika, dia membalas senyumannya. "Aku hari ini bawa banyak bahan masakan, aku akan masak untukmu nanti." "Wah, aku belum pernah dimasakan oleh istri tercintaku selama ini." Randika tersenyum dan memeluknya dari belakang. "Sayang, hari ini Hannah tidur di asramanya." Sesudahnya mendengar hal ini, wajah Inggrid menjadi merah. Ingatannya mengenai hadiah unik dari Randika itu kembali menghantui dirinya, benar-benar hadiah yang memalukan. "Apa kamu sudah tidak sabar?" Randika tertawa sambil memainkan tangannya di dada Inggrid. "Kamu saja yang tidak sabar!" Inggrid dengan lembut keluar dari pelukan Randika dan memeleti lidahnya sambil berjalan ke dapur. Randika, sambil tersenyum, mengikuti Inggrid ke dapur. "Jangan dekat-dekat! Aku tidak ingin makan malam kita hancur." Inggrid mengayun-ayunkan spatula miliknya sambil mencemberutkan wajahnya. Randika tersenyum ketika melihat tingkah laku lucu istrinya itu, kenapa istrinya terlihat imut ketika pura-pura marah begini? "Aku tidak masalah kalau tidak makan." Randika mengedipkan matanya. "Bukankah kamu adalah hidangan utamaku?" Randika tersenyum sedangkan wajah Inggrid sudah merah padam. Kenapa suaminya ini selalu genit? Inggrid memutuskan untuk mencueki Randika dan mulai mempersiapkan bahan makanannya. "Di mana Ibu Ipah?" Randika bertanya. "Apa dia sedang pergi?" "Ibu Ipah ijin tidak masuk hari ini." Kata Inggrid sambil memotong bawang putih. "Berarti hari ini kita cuma berdua?" Mendengar hal ini, Randika dengan cepat menghampiri Inggrid. Namun, sebelum Randika dapat memeluknya, Inggrid sudah membalikan badan dan memberinya sekeranjang sayuran. "Tolong cuciin." Karena tidak bisa meraba dada istrinya, sebaiknya dia pemanasan dengan meraba-raba sayuran itu. Suasana hati Randika sedang bagus. Ketika dia bersama dengan Inggrid, dia merasa beban hidupnya terangkat dan dia benar-benar menikmati momen berdua mereka. Setelah memotong sayuran yang dicuci Randika, Inggrid mulai memasak. Namun, Inggrid menoleh dan berkata dengan nada sedikit tinggi. "Bisakah kamu keluar sebentar dan tunggu di sofa?" Randika terlihat bingung, memangnya dia tidak boleh melihat istrinya masak? "Sudah keluar dulu sana." Inggrid mulai main fisik, dia mendorong Randika keluar dari dapur. Baiklah, aku akan menunggumu di luar! Randika duduk dan menonton TV sambil memperhatikan Inggrid memasak. Akhirnya setelah 1 jam penuh, Inggrid keluar sambil membawa makanannya keluar. "Tolong ambilkan piring sama gelasnya ya." Kata Inggrid pada Randika sambil membawa masakannya ke meja makan. "Coba cicipi." Inggrid menatap Randika sambil tersenyum. Randika menatap makanan yang ada di hadapannya, dia benar-benar merasa pusing. Benda hitam apa itu? Bukankah sayuran yang dia cuci tadi berwarna cerah? Dan daging iga itu, kenapa bentuknya sudah seperti arang? Randika mulai ragu-ragu mengambil makanannya, dia tiba-tiba mengutuk Ibu Ipah dalam hatinya. Namun, melihat tatapan mata Inggrid yang berbinar-binar itu, Randika mengambil piring, mengambilnya dan memakannya. Dalam sekejap, rasa manis yang luar biasa langsung menyerang dari dalam mulutnya. Hal ini membuat Randika menggigit bibir bagian dalamnya. Manis sekali! Rasa manis ini hampir membuatnya muntah. Ketika Randika ingin membuang makanan yang dia sudah kunyah, Inggrid tiba-tiba berkata dengan nada gugup. "Bagaimana? Apakah enak?" Enak? Randika mencubit pahanya dengan keras dan berusaha tersenyum meskipun bibirnya berdarah. "Enak, enak sekali! Memang masakan istri itu benar-benar spesial." Mendengar pujian ini, hati Inggrid menjadi gembira. "Syukurlah, aku kira kamu tidak suka masakanku. Meskipun baru pertama kali memasak, sepertinya aku memang punya bakat memasak." Kata Inggrid sambil tersipu malu. Apa? Memasak untuk yang pertama kalinya? .... Randika benar-benar kehabisan kata-kata. Dia syok ketika mendengar ini adalah pertama kalinya Inggrid memasak. Dia sepertinya menggunakan momen Ibu Ipah tidak ada untuk memasak demi dirinya. Akhirnya misteri kenapa dia tidak boleh di dapur telah terpecahkan, sepertinya Inggrid takut dikritik. Setelah Randika memasak menelan tumisan sayur yang super manis itu, dia merasa mulutnya sudah mati rasa jadi dia ingin meminum segelas air. Melihat sup yang ada di depannya itu cukup bening, dia meminumnya seteguk. Setelah terminum seteguk, Randika hampir muntah di tempat. Kenapa sup ini masih ada rasa daging mentahnya? Apa Inggrid tidak merebus sup ini hingga mendidih? "Kenapa? Tidak enak?" Inggrid benar-benar gugup, bagaimanapun juga, dia ingin masakannya dipuji oleh orang yang dicintainya. "Enak, enak, cuma agak panas saja." Randika dengan cepat menunjukan senyumannya. Melihat wajah Inggrid yang tersenyum, hati Randika benar-benar mengepal. Siksaan ini lebih berat daripada siksaan pasukannya di Jepang. Setelah meletakan mangkuk supnya, Randika memperhatikan makanan lain yang ada di meja makan. Hatinya sudah bergetar tanpa henti. Masakan gosong seperti ini sudah seperti racun yang siap membunuhnya. Tetapi, ini adalah masakan istrinya yang dibuatnya dengan sepenuh hati, mana mungkin dia menyia-nyiakannya? Hati Randika benar-benar bimbang dan dia sudah diambang ingin menangis. Melihat Randika yang terdiam, dia mengambil iga arangnya itu dan meletaknnya di piring Randika. "Ayo makanlah sebelum dingin." Randika melihat bongkahan arang yang di piringnya itu. Ketika dia menatap Inggrid yang tersenyum, Randika hanya bisa menelan air ludahnya. Kemudian dengan gagah berani dia mengangkat daging itu dan menggigitnya. Dengan mata yang tertutup, Randika mengunyah daging yang alot itu sekuat tenaga. Setelah beberapa detik, dia menelan daging tersebut. "Wah enak sekali." Kata Randika sambil tersenyum pahit. "Tapi aku tidak tega membiarkan kamu yang sudah capek bekerja itu memasak untukku. Lain kali biar aku saja yang memasak untukmu." Seluruh tubuh Randika sudah mengeluarkan keringat dingin, setiap kunyahannya serasa seperti sabetan dewa kematian. Hasil seperti ini tentu tidak mengejutkan, karena Inggrid berasal dari keluarga kaya jadi seumur hidupnya dia tidak pernah memasak. Ketika dia pindah ke kota Cendrawasih pun, dia lebih berfokus ke perusahannya dan lagipula ada Ibu Ipah yang mengurus dirinya. Meskipun Randika sama-sama tidak bisa memasak, setidaknya rasa masakannya masih di antara hambar atau keasinan. Sedangkan masakan Inggrid ini benar-benar acak dan mengerikan. Melihat Randika yang memakan masakannya, hati Inggrid benar-benar senang. Impiannya memasak untuk suaminya akhirnya telah terwujud. Akhirnya semua makanan telah habis, Randika akhirnya bisa bernapas lega. Untungnya dia memiliki tenaga dalamnya, kalau tidak dia sudah lama muntah di meja makan. Untungnya saja, Inggrid tidak ikut makan jadi Randika bisa menjaga senyuman istrinya itu hingga detik terakhir. Chapter 249: Malam yang Menggairahkan Akhirnya momen yang ditunggu-tunggu telah tiba. "Sayang, memang sekarang belum terlalu malam, tetapi bagaimana kalau kita tidur lebih awal?" Mata Randika sudah berbinar-binar. Arti dari kata-katanya ini seharusnya dipahami oleh Inggrid. Inggrid merasa tatapan mata Randika sudah mencabuli dirinya, dia merasa malu. Inggrid tidak berani menatap mata Randika lama-lama, dia hanya menganggukan kepalanya dengan pelan. "Aku cuci piringnya dulu." Kata Inggrid dengan nada pelan. "Sayang, kamu tidak perlu khawatir. Aku akan mencucinya besok pagi jadi jangan coba menunda-nunda lagi." Kata Randika. Inggrid sendiri sebenarnya ingin menggunakan momen mencuci piring ini untuk menguatkan hatinya tetapi rencananya gagal. Dia digendong Randika dan dibawa paksa ke kamar tidur mereka berdua. Ketika sesampainya di kamar, Randika meletakan Inggrid dengan lembut dan menciumnya. Inggrid terkejut tetapi dia menutup matanya dan tenggelam dalam sensasi nikmat ini. Setelah berciuman sesaat, Randika melepas Inggrid dan tersenyum nakal. "Sayang, bagaimana kalau kamu mencoba memakai hadiah dariku?" "Kamu serius?" Wajah Inggrid benar-benar merah. Dia mengingat betapa tipisnya gaun malam yang Randika beli untuknya itu, gaun itu benar-benar tidak menutupi apa-apa. "Jangan khawatir, kamu pakai saja gaun malam itu dan nanti untuk luarnya pakai baju maid." Kata Randika di telinga Inggrid. Setelah itu, dia menggigit telinganya sambil memainkan dadanya. Dalam sekejap, Inggrid merasa tubuhnya tersengat listrik dan tubuhnya menjadi lemas. Sepertinya rangsangan yang sudah lama dia tidak terima itu membuatnya muncrat lebih cepat. "Kamu tidak apa-apa?" Randika masih menjilati leher putih Inggrid ketika dia menyadari tubuh Inggrid yang mencengkeram erat dirinya. Randika sepertinya menyadari istrinya yang muncrat itu dan menjadi senang, tetapi Inggrid tiba-tiba berbisik di telinganya. "Biarkan aku membersihkan diri dulu." "Baiklah kalau begitu, aku akan menunggumu di sini." Kata Randika sambil mencium dahinya Inggrid. Kemudian Inggrid menuju kamar mandi sambil membawa hadiah yang diberikan Randika pagi tadi. Mendengar suara pancuran air, Randika mulai tidak sabar. Suara detak jantung Randika benar-benar keras, tidak sabar dengan apa yang akan muncul. Dia merasa waktu berjalan dengan lambat. Dia merasa sudah menunggu selama 10 menit meskipun baru 1 menit berlalu. Randika dengan cermat mendengarkan suara yang muncul dari dalam kamar mandi. Sepertinya suara pancuran air sudah mati dan hatinya mulai mekar. Tetapi pada saat ini, suara pancuran air dapat terdengar kembali. Hatinya langsung menjadi redup, Randika berharap bisa melihat sosok sexy Inggrid secepat mungkin. Akhirnya, suara air berhenti mengalir dan pikiran Randika sudah ke mana-mana. Tak lama kemudian, dia dapat mendengar suara Inggrid yang memakai bajunya. Namun, dalam sekejap dia tidak mendengar suara apa-apa dari dalam kamar mandi. Seharusnya Inggrid berusaha memantapkan hatinya. Mendengar suara langkah kaki Inggrid yang terdengar mondar-mandir, seharusnya sebentar lagi istrinya akan keluar. Setelah beberapa saat, suasana kembali hening dan Inggrid belum keluar. Randika sudah tidak sabar lagi dan bertanya. "Sayang, kamu tidak apa-apa?" "Ran, aku tidak mau keluar." Suara Inggrid terdengar malu. "Sayang, tenang saja. Di rumah ini cuma ada kita berdua, bahkan Ibu Ipah saja tidak ada. Bukankah kubilang kalau baju itu khusus saat kita berduaan saja?" Kata Randika. Malu? Buat apa malu? Yang tepat adalah menggairahkan! "Kalau begitu, aku keluar sekarang." Kata Inggrid sambil memantapkan hati. "Keluarlah." Randika menatap lekat-lekat pintu kamar mandi. Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka dan hanya kepala Inggrid saja yang keluar. "Kemarilah sayang, tidak usah malu begitu." Kata Randika sambil berusaha membujuk Inggrid. Di bawah bujukan Randika berkali-kali, akhirnya Inggrid keluar. Dalam sekejap, sosok maid ala jepang berdiri di hadapan Randika. Cantik! Tatapan mata Randika terlihat senang. Sosok Inggrid yang sekarang benar-benar menggoda. Dress yang dipadukan oleh celemek, rok, aksesoris rambut berupa telinga kelinci itu membuat sosok dewasa Inggrid terlihat cantik. Dadanya yang besar itu mencuat dengan hebat. Di bagian bawahnya, Inggrid memakai stoking jala hitam yang membuatnya makin sexy. Setiap hari jas yang dipakai oleh Inggrid membuatnya terlihat dewasa dan perempuan yang mandiri, sekarang dia hanyalah seorang maid yang cantik. Randika merasa puas telah berhasil membujuk istrinya itu memakai baju seperti itu. Inggrid berdiri kaku di depan Randika, tangannya meraih telinga Randika dan dia berbisik pelan. "Bagaimana menurutmu?" "Sayang, kamu sempurna." Randika merasa hatinya dibakar oleh api cinta. "Sini kemarilah." "Ah!" Tangan Inggrid langsung disambar oleh Randika dan sekarang dia duduk di pangkuannya. Duduk di pangkuan orang yang dicintainya, Inggrid hanya bisa menundukan kepalanya sambil tersipu malu. Tidak kuat melihat keimutan istrinya, dalam sekejap Randika memberinya french kiss. "Sayangˇ­" Randika melepas bibirnya dan mencupang leher Inggrid sambil mengatakan. "Kamu harus memanggilku tuan untuk malam ini." Tuan? Inggrid kehabisan kata-kata untuk sesaat, wajahnya kembali memerah. Kenapa Randika ingin mempermalukan dirinya terus seperti ini? Apa dia tidak tahu bahwa hal itu memalukan bagi dirinya? "Jika kamu tidak mau memanggilku seperti itu, aku akan menghukummu." Kata Randika sambil meremas dadanya. "Sayang, panggil aku tuan." Randika ingin merubah kebiasaan sex yang dimiliki Inggrid. Dia tidak ingin hanya melakukan penetrasi, terkadang roleplay atau foreplay seperti posisi saling menghisap bisa membuat kehidupan sex mereka makin berwarna. Oleh karena itu, panggilan tuan untuk hari ini sangatlah penting. Selama Inggrid melakukannya, langkah pertama Randika untuk kehidupan sex yang menggairahkan dengan Inggrid selangkah lebih maju. Inggrid terlihat membuka mulutnya tetapi tidak ada suara yang keluar. "Ran, aku tidak bisa." Kata Inggrid dengan suara pelan. Karena Inggrid dipangku oleh Randika, akhirnya Randika memutuskan untuk menggodanya sampai Inggrid mau memanggilnya tuan. "Sayang, jika kamu tidak memanggilku tuan, aku akan terus menghukummu." Kata Randika sambil tangannya bermain-main. Di bawah serangan tangan Randika, Inggrid terus menerima rangsangan yang intens. Inggrid terus bertahan dari serangan Randika, lalu Randika berbisik di telinganya. "Sayang, panggil aku tuanmu." Inggrid terlihat membuka mulutnya tetapi lagi-lagi tidak ada suara yang keluar. Tiba-tiba gerakan Randika berhenti total pada saat ini. Inggrid merasa bahwa dia telah kehilangan sesuatu yang berharga dan hatinya menjadi kosong. "Sayang, berusahalah!" Randika mengelus rambut Inggrid, dia sendiri sebenarnya sudah tidak tahan ingin mengacak-acak tubuh Inggrid. Namun, dia harus menahan diri. Kalau tidak, impiannya tidak akan terwujud. Tubuh Inggrid seperti sedang terbakar, dia ingin memanggil Randika tuan tetapi suaranya sama sekali tidak bisa keluar. Seakan-akan ada sesuatu yang mencegahnya. "Sayang, jangan khawatir. Tidak akan ada yang tahu." Randika terus membujuk. "Tuanˇ­." Akhirnya, setelah perang batin sekian lama, Inggrid berhasil mengatakannya meskipun dengan suara pelan. Setelah kata-kata itu keluar, hatinya terasa lega seakan-akan beban dalam hatinya sudah terangkat. "Karena aku tuanmu, kamu harus mendengar kata-kataku." Bibir Randika sudah menempel di telinga Inggrid. Inggrid mengangguk pelan, hatinya sudah terasa lega. Tubuhnya sendiri sudah terasa panas dan sudah tidak sabar lagi. Apa pun yang diinginkan Randika akan dia lakukan. Sekarang Inggrid benar-benar tersihir oleh Randika. "Sekarang, tuanmu ini ingin melihat pakaian dalam apa yang kamu pakai hari ini." Randika menjilati bibirnya. "Lepaslah bajumu satu per satu." Membantu Inggrid untuk berdiri, Randika lalu berkata. "Lepaslah bajumu itu di depanku." Hati Inggrid kembali mengepal. Meskipun tubuh telanjangnya sudah pernah dilihat oleh Randika, dia selalu membuka bajunya dalam keadaan gelap. Dan sekarang Randika ingin dia membugili dirinya di hadapannya? Terlebih, dia sekarang memakai pakaian dalam yang diberikan Randika pagi tadi. Di bawah bujukan Randika, Inggrid perlahan membuka roknya dengan kedua tangannya. Randika sudah tidak sabar, dia ingin mendorong Inggrid ke tempat tidur. Namun kali ini, dia harus menghancurkan kebiasaan Inggrid yang jadul ini. Inggrid melucuti dirinya dengan kecepatan yang sangat pelan. Setelah beberapa menit, akhirnya dress maid itu telah terlepas semuanya. Dalam sekejap, pakaian dalam hitam yang dibalut dengan gaun malam berwarna ungu transparan itu nampak indah di mata Randika. Randika tidak bisa melepaskan matanya sedetik pun dari Inggrid. Inggrid yang merasa malu langsung menutupi dadanya dengan kedua tangannya. "Biarkan aku melihatnya sayang!" Napas Randika sudah mulai berat, penisnya juga sudah keras dan terasa sakit. Dengan wajah merah, Inggrid membuka tangannya. Sekali lagi pakaian dalam yang sexy itu memenuhi mata Randika. "Sayang kemarilah." Kata Randika. Inggrid yang malu itu datang ke pelukan Randika dan mereka berdua memulai malam yang panjang ini dengan sebuah foreplay yang intens. Setelah muncrat sekali di dada Inggrid, Randika sudah tidak tahan lagi. Tidak lama kemudian mereka berdua saling menikmati malam yang menggairahkan ini. Malam itu, teriakan desahan Inggrid benar-benar keras. Burung-burung yang bersarang di rumahnya merasa malu ketika mendengarnya. Inggrid sendiri merasa bahwa hubungan badan mereka hari ini adalah yang terbaik dari yang pernah mereka lakukan. Benturan pinggang itu berlangsung selama 4 jam tanpa henti. ...ˇ­ Malam ini benar-benar menggairahkan bagi Randika, dia sudah lama memendam nafsu birahi ini sejak di Jepang. Sedangkan Inggrid yang kelelahan tertidur pulas di lengan Randika. Saat matahari pagi bersinar, kedua orang ini masih tertidur pulas seperti suami istri yang harmonis. Chapter 250: Salah Tangkap Randika membuka matanya dan menatap Inggrid yang tidur dengan nyenyak di lengannya. Randika tersenyum dan mencium dahi Inggrid. Namun, Inggrid benar-benar kelelahan karena serangan Randika yang intens dan tanpa henti itu jadi dia masih tertidur dengan lelap. Ketika Randika memikirkan kejadian tadi malam, semuanya berjalan dengan sempurna. Terlebih, Inggrid memanggilnya tuan dan mau memakai dress maid yang dia belikan. Tentu saja, roleplay kemarin bukanlah satu-satunya kejadian menarik. Randika mencoba beberapa posisi yang tidak biasa dan hasilnya benar-benar bagus. Apalagi ketika desahan Inggrid lebih keras daripada sebelumnya, Randika mengangguk puas. Inggrid masih tertidur dengan lelap, Randika memindahkan kepala Inggrid secara perlahan. Namun, tubuh telanjang Inggrid tiba-tiba dapat terlihat. Sambil menelan air liurnya, tangan Randika mulai meraba-raba. Meskipun sedikit linglung, Inggrid merasakan rangsangan ini dan terbangun. "Selamat ˇ­ " Bahkan sebelum dia selesai berbicara, Randika sudah menciumnya. Inggrid menyambut ciuman pagi ini dengan baik, memang rutinitas suami istri sesudah bangun adalah ciuman. Benar-benar situasi yang menghangatkan hati. Setelah melepaskan bibirnya, Randika berbisik di telinga Inggrid. "Sayang, apa kamu suka posisi kemarin?" Wajah Inggrid menjadi merah ketika dia memikirkan sex mereka yang tidak biasa itu, tetapi dia harus mengakui bahwa kemarin malam benar-benar luar biasa. "Biasa saja tuh." Inggrid memalingkan wajahnya, dia malu untuk mengakuinya. Mengetahui sifat istrinya yang malu-malu itu, Randika tersenyum. Tanpa ragu-ragu, dia mencium Inggrid kembali. Pada saat ini, tangannya ikut berenang-renang di tubuh indah Inggrid. Tak lama kemudian, tangannya sudah menuju ke arah paha Inggrid. "Kamu mau melakukannya lagi?" Inggrid terkejut. "Kita harus olahraga pagi sebelum memulai hari biar segar." Randika tertawa dan memberikan stimulus agar Inggrid menjadi basah. Setelah itu mereka kembali berhubungan badan. ...ˇ­.. Akhirnya perang mereka berdua telah selesai. Randika dan Inggrid segera menuju lantai bawah untuk sarapan; Ibu Ipah sudah kembali pagi tadi dan sudah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Melihat makanan yang layak makan itu, Randika menghela napas lega. Untungnya saja dia tidak perlu memakan masakan buatan istrinya lagi. Di meja makan, Ibu Ipah menatap wajah Inggrid lekat-lekat. Dia lalu berkata sambil tersenyum. "Nona, Anda terlihat cantik hari ini." "Benarkah?" Inggrid langsung memegang wajahnya. Kemudian dia menatap Randika dan dia menyadari bahwa Randika berkedip ke arahnya. Sepertinya protein yang disuruh telan oleh Randika membuat wajahnya makin kencang? Tidak, tidak, tidak mungkin! Wajah Inggrid terlihat merah dan dia makan sarapannya sambil menundukan kepalanya. Setelah sarapan, Inggrid langsung bergegas menuju kantor karena ada rapat pagi-pagi. Setelah memberi Randika sebuah ciuman, Inggrid langsung pergi. Randika sendiri tidak terburu-buru dan mandi terlebih dahulu. Setelah keluar, Randika berniat untuk jalan-jalan. Suasana hatinya sedang baik karena kejadian semalam dan juga dia belum beristirahat sejak kembali dari Jepang. Ketika dia berjalan di area mall, Randika memperhatikan perempuan-perempuan cantik yang melewatinya. Pada saat ini, seorang lelaki muda melewati dirinya dan menutupi pemandangannya. Sambil memaki dalam hatinya, tiba-tiba ada mobil yang berhenti di sisi jalan. Sesudahnya pintu mobil terbuka, pria berbadan besar memakai topeng kain berjalan keluar dan menghampiri dirinya. Ekspresi Randika sama sekali tidak berubah, matanya masih tertuju pada kaki-kaki perempuan yang berjalan itu. Sedangkan pemuda yang melewati dirinya itu sudah ketakutan setengah mati, apa mereka datang untuk menculikku? Kecepatan jalan para pria berbadan besar itu cepat, tidak perlu waktu lama bagi mereka untuk mengepung target mereka. Anehnya, mereka mengeluarkan kain hitam dan membungkusnya ke kepala Randika. "Akhirnya aku bisa menangkapmu Richard! Kamu kira bisa kabur seperti sebelumnya?" Pria berbadan besar itu berteriak di samping telinga Randika, dia dengan cepat mengikat tangan Randika dengan tali rafia. Tidak tahu apa-apa, tiba-tiba kepalanya sudah tertutup oleh kain hitam dan tangannya diikat, Randika benar-benar bingung. Namaku Randika bukan Richard! Tetapi Randika sendiri tidak bisa berhenti tertawa, dia baru pertama kali melihat penculik yang salah tangkap orang. Mana mungkin dirinya tidak tertawa? Randika sama sekali tidak melawan, dia dengan cepat diseret oleh penculiknya ke mobil. Proses penculikan ini berlangsung beberapa detik dan tidak mengundang terlalu banyak perhatian. Setelah mengikat dan menutup kepala korbannya, mereka segera pergi dari tempat itu. Pemuda yang sebelumnya berjalan melewati Randika itu berdiri kaku di tempat dengan wajah yang bingung. Setelah dipikir-pikir, kejadian ini benar-benar terjadi terlalu cepat dan hal ini membuat hatinya justru gelisah. Kenapa begitu? Dia adalah anak dari orang terpenting di kota ini dan tidak ada orang yang tidak mengenal keluarganya. Tetapi dia telah dididik dengan baik dan selalu mengutamakan kerendahan hati. Oleh karena itu, orang-orang banyak menyukai sifat tuan muda satu ini. Dan sekarang penculik itu salah menangkap orang? Dia sama sekali tidak ingin orang tidak bersalah terlibat dalam masalah hidupnya. Richard langsung mengeluarkan HP miliknya dan menelepon. "Halo ayah? Bisa minta tolong? Aku barusan melihat orang lain diculik dan sekarang aku butuh..." Di lain sisi, mobil para penculik itu melaju kencang. Randika yang duduk di tengah-tengah oleh pria berbadan besar ini masih tertawa dalam hatinya. Sedangkan para penculik itu terus memperhatikan keadaan. Setelah beberapa saat, mereka menghela napas lega karena tidak ada yang mengejar mereka. "Hahaha! Kita kaya!" Salah satu penculik tertawa dan teman-temannya ikut tertawa. Selama bocah bernama Richard ini diserahkan pada klien mereka, mereka akan menjadi kaya raya. "Aku tidak menyangka bocah kaya sepertimu ternyata penurut seperti ini. Hahaha, ini juga salahmu berjalan sendirian di siang bolong seperti ini. Kau kira rumahmu itu tidak ada yang mengawasi?" Kata salah satu penculik. Namun, Randika sama sekali tidak menjawab. Pria paruh baya yang duduk di samping kursi pengemudi itu menyalakan rokoknya. "Sudah kau diam saja, kita tidak dibayar untuk mengoceh." "Maaf." Kata penculik itu. Selama perjalanan, suasana benar-benar hening. Setelah beberapa saat, seorang di antara mereka itu merasa ada yang salah. Kenapa bocah bernama Richard ini terlihat tenang? Apa karena dia ketakutan sampai-sampai tidak punya suara lagi? Atau jangan-jangan dia tidak bisa bernapas? Kalau bocah ini sampai mati, bukan hanya saja uang komisi mereka lenyap, kejadian ini akan menarik perhatian media. "Hei, cepat lepaskan topengnya! Jangan sampai dia mati karena tidak bisa bernapas." Mendengar kata-kata ini, mereka semua menahan napas mereka. Mereka tidak boleh membiarkan target mereka ini mati. Ketika kain hitam itu terlepas dari kepala Randika, wajah Randika dapat terlihat dengan jelas. Eh? Seorang penculik yang duduk di samping Randika terkejut. Kenapa wajahnya beda dengan yang ada di foto? Penculik lainnya juga nampak bingung ketika melihat foto yang telah dibagikan sebelumnya. Randika menatap para penculik yang sedang linglung itu dan tidak bisa berhenti tertawa. "Kerja yang bagus." Tiba-tiba, wajah para penculik itu menjadi merah karena malu dan berkata pada bos mereka yang sedang merokok. "Bos, sepertinya kita salah menculik orang." CKIT! Mobil yang melaju kencang ini langsung mengerem mendadak dan membuat orang di dalamnya terkejut. Chapter 251: Para Penculik yang Lucu Para pejalan kaki terkejut ketika melihat sebuah mobil yang mengerem mendadak dan hampir membuat kecelakaan beruntun itu. Mereka bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Di dalam mobil tersebut, suasananya hening mencekam. Para penculik itu menatap wajah Randika dan tidak tahu harus berkata apa. Kenapa yang terikat di dalam mobil ini bukannya tuan muda Richard malah seorang pemuda yang identitasnya tidak diketahui ini? Si bos yang sedang merokok itu akhirnya menatap wajah Randika untuk pertama kali, badannya menjadi kaku. Mulutnya terbuka dan rokok yang dia hisap itu terjatuh ke bawah. Randika terlihat santai dan tersenyum sepanjang waktu. Sambil menguap, Randika berkata pada mereka. "Hmmˇ­ Aku punya istri di rumah, jadi kalau bisa lepaskan aku di sini saja. Aku bisa pulang sendiri kok." Si bos yang akhirnya sadar itu membalikan badannya dan menampar anak buahnya satu per satu. "Kalian semua tidak becus! Bisa-bisanya kalian salah tangkap orang hah! Bukankah aku sudah memberikan foto target kita dari kemarin?" Sambil memarahi anak buahnya, tangan si bos masih terus menampar anak buahnya itu. Darahnya benar-benar mendidih dan satu-satunya cara untuk menghilangkannya adalah menampar anak buahnya yang tidak becus ini. "Kita itu sudah mengintai target kita selama seminggu dan hari ini adalah kesempatan terbaik untuk menculiknya tanpa ada saksi mata. Kalian malah salah tangkap orang, kalian kira akan ada kesempatan seperti ini lagi?" Mereka hanya bisa menerima amukan bos mereka ini dengan lapang dada, lagipula ini adalah kesalahan mereka. Para penculik ini menundukan kepalanya dan tidak bersuara, bos mereka terus memarahi mereka tanpa ampun. Mereka juga takut untuk melawan karena bisa-bisa mereka akan dibunuh di tempat. "Dasar otak udang." Dia benar-benar tidak habis pikir, jangankan uang, yang ada hanya rasa malu. Bertahun-tahun berprofesi di kehidupan kelam ini, dia tidak pernah menyangka mendapatkan anak buah yang super bodoh seperti ini. Si bos itu menatap anak buahnya yang terdiam itu dan membentaknya sekali lagi. "Siapa suruh kalian diam seperti mayat? Cepat ikut mikir bagaimana caranya memperbaiki masalah ini." Kemudian tatapan bos mereka itu jatuh pada Randika. Randika menatap para penculiknya dan hampir tertawa lepas. Dia tidak pernah melihat kekonyolan seperti ini sebelumnya. Bahkan dia rela diculik agar dapat melihat lelucon ini hingga akhir. "Bos, menurutku lebih baik kita kembali ke tempat tadi. Mungkin kita masih bisa menangkap target kita di sana." Kata salah satu penculik dengan nada pelan. Tanpa ragu-ragu, si bos menamparnya tepat di pipinya. "Jika kamu menembakan senjatamu ke arah sekelompok kelinci, suaranya akan membuat kelinci-kelinci yang lain lari dan waspada. Bocah bernama Richard itu jelas sudah lari meskipun dia tolol sekalipun. Kalau kita kembali yang ada hanya angin." "Kalau begitu bagaimana kalau kita lari? Aku khawatir keluarga besar mereka sudah mengetahui aksi kita dan sedang berusaha mengejar kita." Mendengar saran ini, si bos menghela napas dalam-dalam. "Kita sudah tidak bisa lari dari masalah ini. Sekarang yang penting adalah bagaimana memperbaiki masalah ini bukan kabur ke mana. Nyawa kita sudah menjadi taruhannya ketika kita menerima pekerjaan ini." Katanya sambil tertatih-tatih. "Bos, menurutku kita lebih baik menunggu kesempatan baik lainnya." Kata salah satu penculik. "Karena kita salah menangkap target, keluarga dari Richard itu pasti menjadi waspada. Mustahil untuk menemukan momen sempurna seperti hari ini." Balasnya. "Kalau begitu bagaimana dengan klien kita?" Mereka tidak menyangka akan salah tangkap orang dan mengacaukan pekerjaan yang mudah ini. "Iniˇ­" Salah satu dari mereka mengerutkan dahi mereka. "Klien kita seharusnya tidak berdaya selama kita bersembunyi terlebih dahulu. Lagipula kita bisa membocorkan identitas mereka jika kita tertangkap oleh keluarga target sebagai ganti nyawa kita." Pada saat ini, si bos mengangguk puas. Sepertinya anak buahnya masih ada yang punya otak. "Kalau begitu apa yang kita akan lakukan padanya?" Penculik itu menatap Randika. "Kita melepaskannya?" Penculik itu menerima tamparan keras di wajahnya. "Melepasnya? Kamu nyari mati apa? Jika orang ini langsung pergi ke kantor polisi dan cerita tentang kita, bisa-bisa seluruh kepolisian juga mengincar kita." "Benar kata bos, pikir dulu sebelum ngomong." Si penculik itu senang karena bukan dia yang tertampar. Bos para penculik ini menatap Randika yang dari awal terlihat tenang. Tatapan matanya terlihat dingin namun segera berubah menjadi kerutan di dahi. Dia awalnya ingin membunuh Randika, tetapi hal itu akan meninggalkan jejak dan polisi akan menyelidikinya. Jika dia tidak membunuhnya, identitas mereka terekspos dan mereka perlu bersembunyi sementara waktu hingga situasi mereda. Apa pun yang dia pilih, semua itu tidak lepas dari polisi yang akan mengekori mereka. Si bos ini menggelengkan kepalanya lalu menampar semuanya sekali lagi. Benar-benar bodoh, jika saja mereka tidak salah tangkap maka kepalanya tidak akan sepusing ini. "Bos, bagaimana kalau kita menahannya di tempat kita dulu? Nanti setelah pekerjaan kita selesai dan kita sudah keluar dari kota ini, baru kita melepasnya." Kata penculik yang pintar tadi. Benar, itulah satu-satunya cara. Namun, temannya tiba-tiba menyanggah sarannya itu. "Tetapi jangan simpan dia di kos rumahku, kosku itu kecil dan nanti jadi sempit gara-gara ketambahan satu orang." PLAK! Si bos menamparnya sekali lagi dan membentaknya. "Setelah kebodohanmu itu, kau masih memikirkan hal sepele seperti itu?" Randika sudah tidak bisa berhenti tertawa dalam hatinya, gerombolan penculik ini benar-benar lucu. "Sudah kalian tidak usah khawatir." Kali ini Randika yang angkat bicara. "Turunkan aku di sini dan aku tidak akan menceritakan kejadian ini ke siapa-siapa." Sesaatnya Randika berkata seperti itu, ikatan di tangannya telah lepas dan berniat untuk membuka pintu. Dalam sekejap para penculik ini terkejut secara bersamaan. Ketika si bos melihat hal ini, dia kembali marah. Anak buahnya bahkan tidak becus mengikat. Mereka benar-benar bodoh. "Kalian mengikat saja tidak bisa, dasar manusia tidak berguna!" Kata si bos sambil marah-marah. Para penculik itu yang sadar dari linglungnya itu, langsung berusaha menangkap tangan Randika. Tetapi bagaimana mungkin para penculik ini layak dikatakan sebagai lawannya? Karena mereka duduk bersampingan, Randika hanya perlu menyerang alat kelamin mereka dengan keras untuk membuat mereka kesakitan. Hanya dalam sekejap, kedua penculik yang duduk di sampingnya itu sudah pingsan. Sedangkan kedua penculik lainnya harus menerima pukulan tepat di wajahnya. Sekarang yang tersisa adalah si bos dari para penculik ini. Randika menatap orang itu sambil berkata dengan tersenyum. "Sepertinya kau harus menyekolahkan mereka terlebih dahulu sebelum berbuat jahat." Setelah itu Randika melayangkan pukulan tepat di wajahnya. Si bos yang sudah memegang pistolnya itu hanya bisa pingsan sebelum bisa menembakannya. Randika merapikan bajunya dan berjalan keluar dari dalam mobil. Meskipun acara komedi ini makin lucu tiap detiknya, dia masih perlu masuk kerja. Ketika Randika keluar dari mobil, tiba-tiba, ada mobil mewah yang berhenti tepat di depan mobil penculik. Kemudian seorang lelaki muda turun dengan seorang pria paruh baya yang mengenakan jas serba putih. Ketika Richard melihat Randika berdiri dengan santai, dia terkejut bukan main. Bagaimana bisa orang itu lepas? Sedangkan Randika terkejut karena pemuda yang menghalangi pemandangan indahnya tadi itu ternyata Richard yang disebut-sebut oleh para penculiknya tadi. Tetapi yang jadi pertanyaannya adalah kenapa dia bisa ada di sini? "Apa kamu tidak apa-apa?" Richard menghampiri Randika. "Kamu bisa lihat sendiri." Kata Randika sambil tersenyum. Ternyata orang bernama Richard ini cukup perhatian dengan keselamatan orang lain, sifat yang jarang ada di keluarga orang kaya. Richard sendiri terkejut ketika melihat sosok Randika yang sehat dan bugar ini. Kenapa bisa orang itu baik-baik saja? Orang itu tertangkap secara tidak sengaja oleh gerombolan penjahat, bagaimana bisa dia lolos tanpa terluka sedikit pun? "Para penjahat itu tak sadarkan diri di dalam mobil. Lihatlah sendiri kalau tidak percaya." Kata Randika dengan santai. Richard dan pengawalnya mengintip ke dalam mobil. Tentu saja, para penjahat itu sedang tidak sadarkan diri semua. Kali ini tatapan Richard benar-benar beda, sedangkan naluri pengawal pribadinya mengatakan bahwa bahaya yang asli ada di hadapan mereka. Meskipun mereka tidak tahu siapa sebenarnya orang ini, tetapi mereka bisa menyadari bahwa orang itu bukanlah orang biasa karena bisa menghabisi para penjahat itu seorang diri. Richard tidak bisa menahan dirinya untuk tidak bertanya. "Apa kamu menghajar mereka semua sendirian?" Randika hanya putar balik sambil mengatakan. "Siapa yang tahu? Kuserahkan sisanya padamu." Sebelum Richard bisa membalas kata-kata Randika, pengawal pribadinya berkata dengan nada dingin. "Maaf kamu tidak bisa pergi. Kau harus ikut dengan kami." Randika berhenti berjalan dan mengerutkan dahinya, sedangkan Richard berusaha menghentikan pengawalnya itu. "Biarkan dia pergi, dia bukan penjahatnya. Kalau bukan karena dia, sudah pasti aku lah yang diculik tadi." "Tuan muda, Anda masih terlalu muda. Kalau orang ini benar-benar kuat, para penculik itu dari awal tidak bisa menangkapnya. Mungkin saja ini adalah perangkap." Tatapan mata pengawalnya ini sudah waspada penuh terhadap Randika. Jika kejadian ini dipersiapkan untuk membangun kepercayaan tuan mudanya maka orang ini bisa menyusup dengan mudah ke dalam keluarga besarnya. Randika sendiri merasa heran, kenapa dia masih dianggap ancaman? Sambil menguap, Randika kembali berjalan dan mengatakan. "Terserah kalian ingin beranggapan apa, aku sudah malas berada di sini lama-lama. Kalian tanya saja sendiri pada para penculik itu." "Tunggu!" Pengawal pribadi Richard itu menerjang ke arah Randika. Dan ketika tangan kanannya hendak meraih pundak Randika, dia merasa tangannya menjadi kaku. Dari dalam Randika, tenaga dalam dan aura membunuhnya sudah mengalir dengan deras dan ini membuat bulu kuduknya merinding. Pada saat yang sama, angin keras membuat si pengawal ini melangkah mundur. Pengawal itu tidak bisa berhenti melangkah mundur, sepertinya kekuatan lawannya ini benar-benar mengerikan. Randika lalu berkata dengan nada serius. "Sekali lagi kalian berusaha mencegahku, kubunuh kalian satu per satu." Richard sendiri merasa bingung, orang itu lebih kuat daripada pengawal pribadinya? Tatapan mata pengawal pribadi bernama Stefan itu menjadi dingin, lalu dengan nada serius dia mengatakan. "Tidak peduli siapa kau yang sebenarnya, demi tuan mudaku, kau akan ikut denganku hari ini!" Chapter 252: Ketakutan yang Dimiliki oleh Viona Ikut denganmu? Ngelawak bro? Tatapan mata Randika terlihat jijik. Jika bukan karena sikap Richard yang baginya jarang nampak di sebuah keluarga yang kaya, Randika sudah pasti meladeni pengawalnya yang tidak tahu diri itu. Richard sendiri sudah marah-marah. "Stefan cukup!" Harus dikatakan bahwa majikan seperti Richard ini jarang membentak dirinya. "Tetapi tuan muda, orang ini ˇ­ " Stefan menatap Randika dan hendak mengatakan sesuatu. "Sudah cukup, apa kamu tidak percaya dengan kata-kataku?" Kata Richard. Melihat wajah serius tuan mudanya, Stefan mulai mengalah. Randika menarik kembali tenaga dalamnya serta aura membunuhnya, dia berjalan kembali tetapi Richard berusaha menyusulnya. "Tunggu!" Sebenarnya Richard masih merasa bersalah karena dirinya ini, orang ini telah diculik. "Setidaknya biarkan aku mengantarmu sebagai permintaan maaf." Randika dapat merasakan ketulusan dari permintaan maaf Richard. Pemuda di depannya ini benar-benar bagus, jadi dia setuju. Melihat Randika yang setuju, Richard mengambil mobil mewahnya dan Randika duduk di samping kursi pengemudi. "Stefan, pulanglah jalan kaki sambil memikirkan apa yang telah kau perbuat." Kata-kata tuan mudanya ini membuat Stefan berhenti membuka pintu belakang mobil. Melihat mobil mewah itu perlahan menghilang, Stefan merasa tidak berdaya. Dia lalu berbicara di headset miliknya. "Tim 2 awasi tuan muda dengan baik tetapi jangan sampai keberadaan kalian diketahui." Tidak lama kemudian, sebuah mobil menjemput Stefan yang wajahnya sudah benar-benar buruk. Di mobil, Richard terlihat bersemangat ketika menyetir. "Omong-omong, aku belum mengenalkan diriku. Namaku adalah ˇ­ " "Richard, namamu adalah Richard." Kata Randika dengan nada datar. "Oh? Kenapa kamu bisa tahu?" Richard cukup terkejut. Namun setelah dipikir-pikir, seharusnya para penculiknya lah yang memberi tahu namanya. "Namaku Randika." Richard terlihat bersemangat ketika dia mengatakan. "Kamu sangat luar biasa ketika berhasil mengalahkan pengawalku yang kuat tadi." Randika sama sekali tidak menoleh. Menghadapi ikan teri seperti Stefan bukanlah hal mengagumkan baginya, sudah ribuan Stefan yang sudah dia bunuh. Itulah kehebatan Ares sang Dewa Perang, semakin banyak mayat yang menumpuk semakin hebat namanya. Oleh karena itu, Randika malas membalas pujian Richard itu. Richard sama sekali tidak berhenti mengoceh meskipun Randika mencueki dirinya. Dia lalu bercerita. "Pengawalku Stefan itu aslinya jago bela diri, tetapi aku tidak menyangka masih ada orang yang lebih kuat darinya. Aku selalu kagum dengan orang-orang kuat, jadi aku harap kita bisa berteman." Berteman? Randika kehabisan kata-kata, dia lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu." Randika tidak tertarik berteman dengan orang kaya ataupun keluarga yang berpengaruh. Tangannya sendiri sudah penuh dan berteman dengan orang seperti mereka pasti ada udang di balik batu. Tentu saja, tangannya penuh karena setiap hari tangannya harus meraba istrinya atau Viona atau Christina atau malaikat-malaikat lainnya! Perjalanan hidupnya untuk membuat dunia haremnya masih panjang. Mendengar penolakan Randika, Richard cukup terkejut. "Ah, kamu mungkin orang yang tidak terlalu suka bersosialisasi ya? Kalau begitu, aku akan menganggapmu kakakku." Randika menghela napasnya. Dia lalu menoleh ke arah Richard dan berkata dengan nada serius. "Aku tidak butuh adik." "ˇ­.." Richard merasa malu beberapa saat, kenapa dia mengusulkan hal yang bodoh? Sejujurnya, Richard hanya ingin berteman dengan Randika. Dia tidak bodoh, dia dapat melihat dengan jelas bahwa Randika adalah orang yang kuat. Setelah mengetahui hal tersebut, mana mungkin dia melepaskan ''payung'' seperti itu? Namun, Randika sama sekali tidak tertarik pada dirinya. Sepanjang jalan, Richard tidak berhenti berbicara. Tetapi omongannya itu sama sekali tidak didengar oleh Randika. Akhirnya, mobil mewah itu berhenti di depan perusahaan Cendrawasih. Ketika Randika membuka pintu, Richard berkata pada dirinya. "Tinggalkan aku nomor teleponmu." Namun, Randika hanya membanting pintu mobil dan berjalan masuk ke dalam gedung. Richard menggelengkan kepalanya sambil menghela napas. "Ahˇ­ Seandainya saja aku ini perempuan maka aku pasti bisa membujuknya. Sayang sekali kekuatan sebesar itu lepas dari tanganku." ...ˇ­ Tanpa basa-basi, Randika langsung menuju ruangannya. Pada saat ini, tubuhnya masih dalam keadaan stabil; kekuatan misterius di dalam tubuhnya juga stabil. Mungkin karena energi feminimnya Inggrid yang dia terima dari Inggrid karena hubungan badannya, kekuatan misteriusnya itu sama sekali tidak memberontak. Namun, pandangan Randika mengenai kekuatan misteriusnya itu sudah berubah. Awalnya dia mengira bahwa kekuatan misterius ini adalah beban yang menggerogoti tubuhnya perlahan. Namun, karena perjalanannya ke Jepang itu, dia mengetahui betapa luar biasanya kekuatan misterius miliknya ini. Bisa dikatakan bahwa jika dia berhasil mengontrolnya maka dia tidak akan terkalahkan. Pertama kali dia mencicipi buah terlarang ini ketika berada di ruang bawah tanah milik Shadow. Dengan bantuan energi misterius itu, dia berhasil mengeluarkan racun dalam tubuhnya dan membuka pintu tahan nuklir itu. Berikutnya ketika dia bertarung melawan Apollo dan Brahman. Awalnya dia sangat kewalahan menghadapi dua orang kuat itu. Tetapi dengan bantuan kekuatan misteriusnya itu, dia merasakan energi yang melimpah terus mengalir deras dari dalam tubuhnya. Sejak kembalinya ke Indonesia, Randika terus berpikir bagaimana menghadapi kekuatan misterius dalam tubuhnya ini. Jika dia bisa mengendalikannya dengan benar, menjadi nomor 1 di dunia bukanlah impian semata. Meskipun dia memiliki obat dari kakek ketiganya, itu hanya bisa mengendalikannya ketika energinya memberontak bukan menjinakannya. Sedangkan ramuan X yang dibuatnya itu efeknya benar-benar kecil, bisa dikatakan belum ada terobosan besar. Jika dia benar-benar bisa mengendalikan kekuatan misteriusnya ini 100%, mungkin dia bisa memiliki jurus pamungkas. Namun, dia tidak punya cara untuk mewujudkannya. Ramuan X yang dimilikinya sekarang tidak bisa membantunya untuk saat ini. Namun, ramuan X itu adalah terobosan yang dihasilkan oleh Yuna dan timnya setelah melakukan eksperimen ribuan kali. Mungkin dengan sedikit arahan dan meneruskan perkembangan ramuan X ini, ramuan itu bisa membantunya menjinakkan kekuatan misteriusnya ini? Ide seperti ini terus terngiang-ngiang di benak Randika. Godaan menyerap kekuatan sebesar itu benar-benar sungguh menggoda. Randika masih berpikir keras sambil menundukan kepalanya, namun tiba-tiba Viona menghampiri dirinya. "Ranˇ­" Viona terlihat malu-malu dan memanggilnya dengan pelan. Sebulan ini, Viona tidak pernah berhenti mencari Randika sepanjang hari. Namun, usahanya selalu berakhir dengan kegagalan; dia terkena penyakit rindu. Selama momen kesepian ini, Viona kehilangan nafsu makan dan berdoa tidak terjadi apa-apa pada Randika. Dia sangat khawatir bahwa Randika yang menghilang tiba-tiba ini adalah karena dia telah dipecat, jadi Viona pergi ke HRD untuk memastikan. Mendengar bahwa HRD sendiri tidak tahu apa-apa mengenai Randika, hatinya makin cemas. Melihat sosok Randika yang tiba di kantor ini membuat beban hati Viona terlepas semua. "Ada apa?" Randika mengangkat kepalanya dan menatap Viona sambil tersenyum. Hari ini pakaian Viona tidak terlalu terbuka seperti biasanya. Malahan baju yang dipakainya memiliki kesan segar, cukup enak dilihat. Namun, dengan penglihatan super miliknya, dia masih dapat melihat pakaian dalam Viona yang mencolok itu. "Ranˇ­ dari mana saja kamu selama ini?" Viona berkata dengan nada pelan dan terdengar sedih. Randika tiba-tiba menyadari apa yang telah dia perbuat dan menjadi panik. "Maafkan aku tidak memberimu kabar apa pun Vi. Sebulan ini aku ada pekerjaan yang harus kulakukan di luar jadi aku tidak sempat mengabarimu." Randika langsung meminta maaf. Dia lalu meraih tangan Viona. "Biarkan aku mengganti waktu kita yang hilang itu." Yang dia maksud dengan mengganti waktu mereka yang hilang itu adalah tentu saja bertukar ciuman atau lebih! Merasakan tangan Randika yang memegang pantatnya, Viona tersipu malu. "Kalau begitu kamu bisa mengajakku makan malam hari ini." Kata Viona dengan wajah merah. Viona memberanikan dirinya untuk mengambil langkah. Dia benar-benar mencintai Randika tetapi mereka tidak pernah berbuat lebih dari sekedar ciuman saja. Dia takut bahwa hubungan mereka ini akan berakhir begitu saja tanpa pernah mekar. Dia sangat takut bahwa Randika akan meninggalkan dirinya. Randika tersenyum. "Baiklah kalau begitu, hari ini kita akan makan malam bersama." Mendengar janji Randika, wajah Viona kembali cerah dan tersenyum. Setelah berbincang sebentar, akhirnya Viona kembali bekerja. Melihat Viona yang ceria kembali itu meninggalkan dirinya, Randika menghirup napas dalam-dalam. Dia masih dapat merasakan parfum milik Viona yang harum itu. Meskipun Viona adalah perempuan yang pemalu, rupanya dia juga tidak pantang menyerah. Sekalinya dia jatuh cinta, dia akan mengejar pria yang dicintainya itu meski ke ujung bumi. Itulah yang dirasakan oleh Randika. Oleh karena itu, bagaimana mungkin dia meninggalkan perempuan cantik dan setia seperti itu? Tentu saja, kalau masalah hubungan badan itu hanyalah masalah waktu. Dia akan membuat tubuh Viona tidak bisa melupakan dirinya. Waktu berjalan dengan cepat. Randika bekerja dengan keras seharian ini tetapi ramuan X masih tidak ada kemajuan. Saking jengkelnya, dia ingin membubarkan laboratoriumnya ini. Bagaimanapun juga, dengan level dan peralatan yang dimiliki perusahaan ini tidak memadai. Masalah ramuan X memang seharusnya dia serahkan Yuna dari awal. Namun, setelah memikirkannya dengan baik, Randika memutuskan untuk mempertahankan laboratorium miliknya ini. Lagipula, jika dia tidak sedang mengembangkan ramuan X, orang-orang ini bisa dia salurkan menuju departemen parfum. Sekarang waktunya pulang jam kerja. Ketika Randika berjalan keluar dari ruangan, Viona sudah menunggu dirinya. "Ayo!" Wajah Viona terlihat senang dan senyumannya benar-benar lebar. ..... "Vi, kita mau ke mana?" Randika dan Viona berjalan bersama di jalan. Setelah cukup jauh dari perusahaan mereka, Viona memeluk lengan Randika kuat-kuat dan kepalanya bersandar di pundak Randika. "Bagaimana kalau kita pergi minum? Aku belum pernah ke bar sebelumnya." Kata Viona. "Baiklah." Randika lalu berbisik di telinganya. "Vi, nanti setelah kita dari bar, apakah kamu mauˇ­" Sebelum Randika bisa menyelesaikan, Viona sudah sadar senyuman nakal milik Randika itu. Momen yang dia tunggu telah tiba, dia dengan tersipu malu menganggukkan kepalanya dan mencengkeram erat lengan Randika. Chapter 253: Dunia Serasa Milik Berdua Apa? Randika berhenti berjalan sejenak, sepertinya dia salah lihat. Barusan apakah Viona setuju untuk melakukannya? Melihat wajah merah Viona, Randika merasa bahwa sosok cantiknya ini makin cantik dan spesial. Sepertinya lebih baik dia sekarang membawanya ke hotel daripada ke bar. Tidak, tidak, tidak! Ingat Randika, quality needs time! Bangun dulu suasananya baru nikmati momen intim tersebut dengan tangan terbuka. Randika, yang tersenyum lebar, mengelus pipi Viona dengan tangannya. Mereka berdua saling bertatapan dan tersenyum bahagia. Mereka tidak menyangka bahwa bahagia itu sederhana, melihat orang yang dicintai senang maka kita akan ikut senang! Randika sendiri merasa bahwa dia sudah selangkah maju menuju tujuan akhirnya. Apa tujuan akhirnya? Tentu saja, kerajaan harem! Dia ingin ketika dia membuka matanya di pagi hari, ada perempuan cantik di kedua lengannya dan 3nya lagi menyiapkan sarapannya selagi dia ''berolahraga'' sambil menunggu makanannya. Hehehe, kita selangkah lebih maju kawan! Randika dan Viona tidak langsung pergi ke bar, mereka makan malam terlebih dahulu. Keduanya menikmati makan malam ini bagaikan suami istri. Randika tidak pernah melepas tangan Viona selain saat makan. Viona sendiri menikmati momen bahagia ini dengan puas, dia benar-benar beruntung bisa bertemu dengan pria semacam Randika. Setelah makan malam, waktu sudah menunjukan pukul 7 malam jadi Randika langsung mengajak Viona ke bar. Setelahnya mereka membuka pintu masuk, suara musik yang meledak-ledak langsung memekakan telinga mereka. Sesampainya dia di bar, Viona menggenggam erat tangan Randika sambil menoleh ke kanan dan ke kiri. Dia benar-benar penasaran. Ketika dia melihat begitu banyak orang menari di lantai dansa, tatapan matanya berbinar. "Ran, ayo kita nari." Kata Viona sambil menyeret Randika. Semua orang menggerakan tubuh mereka. Viona yang berdada besar itu terlihat mencolok ketika dadanya itu bergerak ke sana kemari. Untungnya saja, Randika berhasil mengusir para pria mesum yang memberanikan diri untuk mendekati Viona. Randika juga menari dengan leluasa dengan Viona, perempuan ini benar-benar menikmati waktunya. Baginya, Viona benar-benar cantik seperti elf [1]. Dia masih bisa mengingat betapa dirinya ingin membenamkan wajahnya di paha putih yang mulus itu. Randika sudah tidak sabar lagi mencicipi buah terlarang ini. Terlebih lagi, seharusnya ini adalah pengalaman pertama Viona berhubungan badan, kehormatan ini benar-benar langka di jaman seperti sekarang ini. "Sayang kemarilah." Randika meletakan tangannya di pinggang Viona. Tangannya Randika perlahan mulai melorot dan merasakan sensasi kenyal. Sebentar lagi dia bisa meremas pantat Viona dengan baik. Wajah Viona sedikit merah, tetapi perempuan ini tidak menolaknya. Dia justru ingin rangsangan ini lebih intens. "Sayang, beginilah seharusnya kamu menari." Randika menghembuskan napas hangat di telinga Viona dan kedua tangannya memeluk pinggang Viona. Tubuh kedua orang ini benar-benar menempel dengan erat. "Vi, kamu benar-benar cantik." Randika sudah tersihir oleh wajah cantik Viona, tanpa ragu dia mulai menciumnya. Pada saat yang sama, tangannya yang memeluk pinggang Viona itu mulai berenang ke mana-mana. Karena saking rame dan berisiknya lantai dansa ini, orang-orang tidak menyadari perbuatan kedua orang ini. Lagipula, mereka semua ada di sini untuk bersenang-senang dan mencari pasangan untuk tidur malam ini. Jadi tidak heran apabila ada yang melakukannya di toilet ataupun di parkiran belakang. Terlebih, Randika hanya berciuman dengan sedikit meraba. Dia tentu tidak ingin tubuh perempuannya dilihat oleh orang lain. Dan terlebih, dia bukanlah orang yang suka memamerkan hubungannya. Setelah menikmati lidah Viona yang berenang di mulutnya beberapa saat, Randika melepas bibirnya. Kemudian mereka berdua hanya berpelukan dan merasa dunia ini milik mereka berdua. Lalu Randika berbisik di telinga Viona. "Vi, kenapa hari ini kamu tidak memakai baju yang sexy?" Viona membuka matanya dan wajahnya tersipu malu. Wajahnya masih menempel di dada Randika. Alasan karena dia tidak memakai baju yang terlalu terbuka lagi karena dia tidak tahu kapan Randika akan kembali, dia merasa percuma menunjukan tubuhnya jika bukan untuk Randika. "Apa kamu tidak suka aku memakai baju seperti ini?" Viona mulai sedikit ragu mengenai apakah Randika mencintai dirinya atau tubuhnya? "Bukan begitu maksudku, aku justru lebih suka kamu berpakaian seperti ini. Aku tidak ingin orang lain melihat kecantikan orang yang kucintai." Randika mengelus pipi Viona. "Baiklah kalau begitu." Viona tersipu malu ketika mendengarnya. "Ah! Tapi nanti kalau kita berdua saja, pakailah pakaian yang sexy!" Randika menghembuskan napas hangat di telinga Viona. Randika sudah memahami titik erotis milik Viona dengan baik. Seperti Inggrid, Viona memiliki telinga yang sensitif tetapi telinga Viona jauh lebih sensitif. Viona langsung merasa tubuhnya menjadi lemas, tubuhnya langsung ditopang oleh Randika. "Vi, ketika kita balik nanti, pakaian dalam seperti apa yang akan kamu pakai untukku?" Randika berbisik di telinga Viona. "Aku akan memakai apa pun yang kamu mau." Viona makin berani, tubuhnya sudah panas dan api di dalam hatinya sudah membara. Dia sendiri juga bisa menggoda Randika jika dia mau! "Kalau begitu, aku ingin kamu memakai garter belt dan stocking putih, lalu aku ingin kamu memakai koleksi pakaian dalammu yang sexy itu." Randika tertawa di telinga Viona. Suara musik bar makin menjadi-jadi tetapi untuk kedua orang ini, dunia ini serasa milik sendiri. Orang-orang tidak memedulikannya dan terus menari tanpa henti. Mendengar kata-kata Randika ini, Viona menjadi malu. Dia bisa membayangkan dirinya memakai satu set lingerie yang sexy dan Randika yang tersenyum ketika melihat dirinya. Randika sendiri merasa nafsunya mulai menumpuk. Meskipun dia sudah tidak sabar berhubungan badan, mereka baru saja datang ke bar ini dan terburu-buru melakukannya bukanlah sesuatu yang baik bagi hubungan mereka. Namun, tiba-tiba musik berhenti berputar. Orang-orang mulai bubar dan memesan minuman. Randika yang hatinya sedikit senang itu mengajak Viona untuk duduk di sofa. Setelah memanggil pelayan, Randika memesan bir dan beberapa cocktails. "Vi, kamu bisa minum kan?" Tanya Randika. Viona mengangguk dan berkata dengan bangga. "Tentu saja aku bisa. Atau jangan-jangan kamu yang tidak bisa minum banyak ya?" "Oh? Kamu mau bertanding?" Merasakan paha Viona yang menempel, Randika berbisik di telinganya. "Bagaimana kalau begini, kalau kamu bisa membuatku mabuk hari ini, kamu bisa membawaku ke tempat tidur." Mendengar hal ini, wajah Viona menjadi merah. Tak lama kemudian, minuman pesanan Randika sudah datang. "Vi, cobalah ini. Minuman ini benar-benar enak." Kata Randika. Keduanya lalu bersulang dan minum minuman mereka. Tidak jauh dari mereka, terlihat bapak-bapak mabuk sedang berkumpul. Dilihat dari jas yang mereka pakai, orang-orang ini terlihat seperti orang sukses. Belum lagi cerutu yang mereka hisap buatan luar negeri. "Hei, coba lihat ke arah sana. Bukankah perempuan itu cantik?" Seorang bapak menunjuk ke arah Randika dan Viona. Tatapan mata semua bapak-bapak ini menjadi berbinar-binar. [1] Elf diceritakan sebagai ras yang lebih dulu ada daripada manusia dan lebih unggul dari manusia. Lebih dikenal sebagai peri hutan, elf memiliki ciri-ciri telinga yang runcing dan ahli dalam ilmu sihir. Chapter 254: Tipe Orang yang Paling Dibenci oleh Randika Para bapak pebisnis kaya ini melototi Viona dengan tatapan mesum mereka, terutama ketika mereka melihat betapa besar dada miliknya itu. "Pak Aldo memang hebat kalau masalah beginian ya." Yang lainnya ikut tertawa. "Bukannya bapak sedang berhubungan dengan sekretarismu yang sexy itu?" Aldo langsung tersenyum pahit. "Ah tidak kok." "Aduh pak Aldo ini pura-pura bodoh. Anda harus dihukum mentraktir kita minum malam ini." Yang lainnya ikut tertawa dan kembali minum. Di level seperti ini, cerita perselingkuhan adalah hal yang wajar. Di negara mana pun, kejadian-kejadian seperti ini memang dianggap lumrah. Khususnya para sekretaris dari para bos ini biasanya menjadi bahan pelampiasan nafsu mereka. Tetapi tentu saja, uang ataupun barang mahal yang bermerek menjadi kompensasi atas kerja keras mereka. Yang lebih kejam lagi adalah biasanya mereka membuat mabuk perempuan yang mereka incar dan memperkosanya ketika dia tidak sadarkan diri. Dengan bermodalkan HP, mereka akan merekam kejadian itu dan membuatnya menjadi bahan pemerasan sehingga perempuan itu akan terus melayani mereka secara sukarela. "Kalian ini memang bajingan semua. Oi pelayan, tambahkan satu botol lagi." Aldo melambaikan tangannya dan meminta sebotol Jack Daniel. Temannya yang bernama Billy terus menatap Viona tanpa henti. Matanya sama sekali tidak bergerak. "Pak Billy sepertinya naksir sama perempuan itu ya? Matanya sampai tidak bergerak hahaha." Aldo tertawa. "Sudah cekoki perempuan itu alkohol, nanti kalau mabuk tinggal dibungkus pulang." "Dia memang cantik." Sosok Viona sama sekali tidak bisa lepas dari tatapan mata Billy. Pria kaya ini hanya bisa mengutuk Randika dalam hatinya. "Tetapi sepertinya perempuan itu sudah punya cowok, kurasa tidur dengannya sudah mustahil." Kata salah satu dari temannya. "Aduh kalian ini kurang paham dengan masalah-masalah seperti ini." Aldo menegak minumannya lalu melanjutkan. "Anak-anak muda jaman sekarang itu bisa dibeli dengan uang, tinggal sebut nominal mereka rela membuka kaki mereka lebar-lebar." Aldo tertawa dan menoleh ke arah Billy. "Bagaimana pak? Mau tidak sama perempuan itu? Kalau tidak perempuan itu buatku lho." "Siapa bilang aku tidak mau?" Billy tertawa. "Sepertinya aku juga butuh simpanan yang baru." Aldo lalu tersenyum. "Kalau begitu, kontrak bisnis yang kita bicarakan kemarin tolong segera ditanda tangan ya pak." "Hahaha bisa saja pak Aldo ini, sudah kuduga ada udang di balik batu." Para bapak ini tertawa keras sedangkan para pengawal mereka berdiri tegak di samping meja. Billy menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pahit. "Baiklah, baiklah, tetapi aku ingin perempuan itu tidur denganku malam ini." "Cepat suruh perempuan itu datang kemari. Ingat, jangan pakai kekerasan." Kata Aldo pada pengawalnya. "Baik." Pengawal itu menyanggupi dan berjalan menghampiri Viona. Pada saat ini, Viona dan Randika masih bermesra-mesraan. Viona bersandar di pundak Randika sambil meminum minumannya. "Enak juga ya yang kamu pesan." Wajah Viona mulai merah karena alkohol. Randika ingin melanjutkan momen mesra mereka, tetapi tiba-tiba dia mengerutkan dahinya. Dari jauh, ada seorang berbadan besar yang berjalan menghampiri mejanya. "Selamat malam, bosku mengundang Anda untuk minum bersama." Kata pengawal itu pada Viona. Viona terkejut ketika mendengarnya, dia tidak tahu harus berbuat apa. "Randika, iniˇ­." "Tenang saja, aku ada di sini." Randika tersenyum dan menggenggam tangan Viona. Dia lalu menoleh ke arah pengawal itu dan mengatakan. "Kita tidak butuh minuman gratis, katakan bosmu kalau kami menolaknya." Orang yang paling dibenci oleh Randika adalah orang-orang seperti ini. Hanya karena mereka memiliki uang yang lebih, mereka mengira bisa membeli apa pun yang ada di dunia ini termasuk perempuan. Namun, mereka tidak akan menyentuh ataupun menyinggung orang yang lebih kuat daripada mereka. Jadinya mereka mengincar orang-orang kecil, kejadian seperti ini sangat sering terjadi di belahan dunia mana pun. Sedangkan untuk Randika, meskipun memiliki kekayaan dan kekuatan yang melimpah saat dirinya membangun pasukannya, dia sama sekali tidak mengganggu orang yang lebih lemah ataupun takut pada orang yang lebih kuat dari padanya. Dan hal ini juga berlaku pada pasukannya, mereka tidak pernah menyerang orang-orang yang tidak bersalah. Namun sekarang, Randika mau tidak mau menjadi marah setelah diremehkan seperti ini. Pengawal itu menatap tajam para Randika. Dengan ekspresi dinginnya, pengawal itu mengatakan. "Kau tidak layak menjawab untuk nona ini. Bosku memberi undangan ini untuk nona ini bukan untuk kalian berdua. Kusarankan kau untuk pergi." "Kau tahu apa yang paling kubenci di dunia ini?" Kata Randika dengan nada serius. "Aku benci orang yang berani menyuruhku meskipun sebenarnya dia itu lemah. Orang-orang bodoh seperti itu biasanya sudah menjadi mayat keesokan harinya." Pengawal itu menjadi marah. "Kau benar-benar orang miskin yang lancang, sampah sepertimu tidak layak untuk hidup. Pergilah dari sini sebelum kusikat habis." Di lain sisi, para pebisnis kaya itu menatap pengawal Aldo dan Randika sambil tertawa. "Wah sepertinya pacarnya itu punya nyali untuk melawan." Kata Billy sambil tertawa. Aldo juga tersenyum. "Tidak masalah, pengawal itu adalah pengawal pribadiku. Jika dia tidak becus melakukan pekerjaan semudah ini, akan kutendang keluar dia besok." Namun setelah kata-katanya itu selesai, suara teriakan tragis terdengar dari arah meja Randika. Ketika mereka menoleh, mereka melihat pengawal pribadi milik Aldo itu berlutut satu kaki sambil mengerang kesakitan. "Apa yang sedang terjadi?" Para pebisnis kaya ini terlihat bingung. Randika menatap dingin pengawal milik Aldo tersebut. Dia memelintir dengan erat tangan si pengawal itu hingga dia sampai berlutut. Dengan mudah, Randika mematahkan lengannya itu dan membuatnya kesakitan. Viona yang berdiri di belakang Randika itu terlihat ketakutan. Randika lalu menenangkan Viona sebentar lalu menatap Aldo dan teman-temannya. Pada saat ini, para pebisnis ini menyadari tatapan mata Randika. Mereka semua merasa darahnya mendidih. "Anak muda itu benar-benar kurang ajar." Billy menjadi marah. "Pak Billy tidak usah khawatir, serahkan masalah ini padaku. Biarkan aku yang mendidik generasi muda itu." Kata Aldo sambil tertawa. Kedua pengawalnya yang lain segera menghampiri Randika. Karena rasa solidaritas, para pebisnis yang lain juga mengirim pengawal mereka untuk membantu. Dalam sekejap, 8 orang pengawal sudah berjalan menghampiri Randika. Orang-orang di dalam bar ini sudah mulai ketakutan, kecuali yang sedang menari di lantai dansa. Tatapan mata semua orang sekarang sedang tertuju pada Randika. "Orang itu bodoh apa tolol? Bisa-bisanya dia menyinggung orang berkuasa seperti itu." "Tapi jarang-jarang lho kita lihat orang dihajar seperti ini, mungkin nanti kita bisa rekam kejadian ini dan menjadi terkenal!" "Aku rasa videomu nanti malah dijadikan bukti kasus pembunuhan." Para pengunjung ini sudah memberikan rasa belasungkawa dalam hati mereka untuk Randika. Seorang diri menghadapi 8 orang berbadan besar seperti itu, yang ada hanyalah kematian! Randika menendang pengawal yang masih mengerang kesakitan itu. Namun karena suasana hati Randika sedang buruk, pengawal itu sudah tidak sadarkan diri hanya dengan satu tendangan itu. "Vi, duduk dan jangan bergerak." Kata Randika sambil tersenyum. "Baiklah." Viona mengangguk. Melihat Randika yang hendak maju ke medan perang, Viona tiba-tiba menariknya. "Hati-hati." Randika tersenyum dan berkata padanya. "Jangan khawatir." Randika berjalan maju dan menghampiri 8 pengawal itu. Ketika mereka berhadap-hadapan, para pengawal ini tidak banyak omong dan langsung melayangkan pukulannya. Delapan tinju yang terlihat besar dan berat itu mengarah pada Randika. Dalam benak para pengawal ini, mereka tahu bahwa lawannya kali ini adalah bukan orang sembarangan karena sebelum ini dia berhasil mengalahkan temannya. Dikenal sebagai pengawal terbaik Aldo, mereka belum pernah melihat pengawal satu itu babak belur seperti itu. Jadi hanya ada satu kesimpulan, lawan mereka kali ini bukanlah orang lemah. Tebakan mereka bisa dikatakan tidak sepenuhnya salah, kekuatan Randika bukanlah kuat melainkan sudah berada di level mengerikan. Randika sama sekali tidak menghindari 2 pukulan pertama yang melayang ke arahnya, malahan kedua tinjunya mengarah ke tinju lawannya itu. Kemudian ekspresi 2 pengawal itu berubah menjadi kesakitan, seolah-olah tangannya telah membentur baja. KRAK! Tulang jari kedua pengawal itu langsung remuk tanpa sisa, mereka hanya bisa mengerang kesakitan di lantai. Tinju lawannya itu benar-benar mengerikan! Para pengunjung bar sudah terkejut bukan main. Bagaimana bisa pemuda itu kuat seperti itu? Lawannya bukanlah orang sembarangan melainkan pengawal pribadi seorang bos! Namun, kejutan ini masih belum selesai. Dua pengawal lainnya hendak menyerang Randika dari samping, tetapi Randika dengan mudah mematahkan tulang rusuk mereka dengan sebuah tendangan. Kedua pengawal itu hanya bisa terpental dan membentur tembok. Menatap empat lawannya yang tersisa, Randika sudah seperti serigala yang menerjang ke arah gerombolan domba. Mereka berempat hanya bisa merasakan hembusan angin kencang yang melewati mereka sebelum rasa sakit menyelimuti mereka dan mengambil alih kesadaran mereka. Hampi secara bersamaan, keempat orang itu pingsan tak sadarkan diri. Dalam sekejap, Randika berhasil mengalahkan 8 pengawal berbadan besar itu. Para pengunjung di bar sudah kehabisan kata-kata untuk berkomentar, hanya suara musik saja yang masih dapat terus terdengar. Apa mereka tidak salah lihat? Satu melawan delapan, apa dikira ini film action Hollywood yang karakter utamanya selalu menang itu? "Luar biasa!" Teriak salah satu orang. "Sudah diam saja, jangan menoleh ke sana. Nanti kita malah terseret." Temannya mengingatkan agar tidak terlibat masalah rumit seperti ini. Namun, tatapan mata mereka tidak bisa lepas dari Randika. Terlebih, sekarang Randika berjalan menghampiri para pebisnis kaya itu. Orang-orang ini mulai ketakutan ketika melihat Randika, keringat dingin di dahi mereka sudah mengucur deras. Mereka tidak menyangka akan bertemu orang semengerikan ini, Aldo dengan cepat angkat bicara. "Berani-beraninya kau berbuat jahat seperti itu pada pengawal kami dan masih menunjukan batang hidungmu itu?" Namun, Randika sama sekali tidak menjawab. Dia terlihat mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan melayangkan sebuah pukulan tepat di wajah Aldo dan membuatnya terpental hingga terjatuh di lantai dengan keras. Awalnya teman-temannya ini juga ingin melampiaskan kemarahannya pada Randika, tetapi melihat Aldo yang dipukul tanpa ampun, nyali mereka menjadi ciut. Sepertinya orang yang mereka usik ini bukan orang sembarangan. Chapter 255: Sebuah Lagu untuk Perempuan Paling Cantik "Tenangkan dirimu dulu, sepertinya kamu salah paham." Salah satu dari pebisnis berdiri dan tersenyum ke arah Randika. "Benar katanya, jangan terlalu membuat keributan di tempat umum seperti ini. Semua bisa diselesaikan dengan baik bukan? Katakan berapa jumlah uang kau butuhkan untuk melupakan ini." Pada saat ini, manajer dari bar ini datang bersama beberapa orang. Mereka semua terkejut melihat Randika berdiri di hadapan para pebisnis ini, terlebih lagi pelanggan setianya yang bernama Aldo itu tergeletak tak sadarkan diri. "Ada apa ya ini? Mengapa kalian membuat ribut di tempat ini?" Kata si manajer sambil terlihat cemas. Awalnya Randika tidak menjawab, tetapi dia samar-samar berkata pada para pebisnis itu. "Siapa yang ngide untuk mengajak pacarku untuk minum sebelumnya?" Billy lalu tersenyum dan mengatakan. "Bagaimana kalau kita mencari cara damai dan melupakan semua ini? Kau akan kuberi 25 juta dan kita akan kembali minum di meja masing-masing, bagaimana menurutmu??? "Aku tanya siapa yang berani mengajak pacarku tadi?" Tatapan mata Randika terlihat dingin dan aura membunuh yang sebelumnya dia tahan telah merembes keluar. Dalam sekejap, orang-orang ini merasakan udara menjadi berat dan mereka tidak bisa bernapas. "Sudah, sudah, tenangkan dirimu dulu." Seseorang mulai menengahi. "Pak Billy yang awalnya ingin mengajak pacarmu untuk minum, tetapi kita hanya ingin berteman dengannya tidak lebih. Betul begitu kan pak Billy?" Billy langsung mengangguk dengan keras. "Benar, tidak ada maksud lain. Aku hanya ingin berkenalan dan minum bersama pacarmu yang cantik itu." "Jadi kamu yang bernama Billy?" Mata Randika terkunci pada sosok Billy. Billy merasa punggungnya sudah basah oleh keringat, dia tidak menyangka pemuda ini akan semengerikan ini. Dia belum pernah menghadapi orang dengan aura mengerikan seperti ini. Dia sudah lama menjadi pebisnis dan bisa membaca sifat orang dari hawa keberadaannya. Dan hawa keberadaan pemuda di depannya ini benar-benar mengerikan, itu cukup menunjukan bahwa pemuda di depannya ini bukanlah orang lemah. "Sebagai permintaan maaf bagaimana kalau aku gandakan uangnya menjadi 50? Seharusnya itu cukup sebagai kompensasi." Kata Billy sambil tersenyum. Tetapi, wajah Randika masih terlihat dingin. Dia sama sekali tidak tertarik dengan uang yang ditawarkan oleh Billy. Randika justru berdiri di hadapan Billy persis dan memegangi kursinya dengan satu tangan. Sebelum siapapun bisa bereaksi, Randika menjambak rambut Billy dan menghantamkannya ke meja. DUAK! Wajahnya membentur gelas hingga pecah dan sekarang wajah Billy sudah dipenuhi darah dan pecahan kaca. Kejadian ini membuat orang-orang di meja itu ketakutan. Manajer dari bar ini terkejut bukan main. Dia tidak menyangka Randika akan berani berbuat seperti itu di tempatnya, keringat dingin mulai mengalir di dahinya. "Wow, orang itu benar-benar punya nyali." "Sudah gitu dia juga sangat kuat!" Para pengunjung yang memperhatikan secara diam-diam sudah terkagum-kagum. Jika mereka yang diusik oleh para pebisnis itu, mereka mungkin tidak punya nyali untuk berbuat seperti yang dilakukan oleh Randika. Para pebisnis yang lain mulai marah, Billy adalah tamu kehormatan mereka untuk hari ini dan sekarang dia malah terluka. "Kau benar-benar gila bocah! Kita bisa menyewa pembunuh untuk membunuhmu tahu!" Kata salah satu dari mereka dengan wajah bengis. "Riwayatmu benar-benar tamat. Aku kasih tahu, kota ini sudah ada di tanganku dan percayalah bahwa tidak ada tempat untukmu bersembunyi." "Itu semua tergantung," Randika menatap mereka semua dengan tajam. "Itu tergantung apakah kalian bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup." Ketika mendengar hal ini, wajah si manajer menjadi pucat pasi. Kau ingin membunuh di barku? Bagaimana mungkin dia bisa menjelaskan hal ini pada bosnya? "Cukup, cukup, tolong lupakan saja masalah ini." Kata si manajer pada Randika. "Terima saja uang yang mereka tawarkan dan kita semua bisa pergi secara damai.?? "Buat apa aku menerima uang mereka?" Wajah Randika terlihat bengis. "Aku akan mengambil uang mereka ketika mereka sudah menjadi mayat." "Menyewa pembunuh untuk membunuhku? Jika kalian tidak punya 1 triliun dollar Amerika, jangan banyak bacot. Satu-satunya cara kalian untuk membunuhku adalah menyewa seluruh prajurit PBB untuk memburuku." Mungkin kata-kata Randika ini terdengar sarkas, tetapi mengingat daya tempurnya dan pasukan yang dia miliki, hal ini tidaklah berlebihan. Triliun dollar Amerika? Semua pebisnis itu tertawa keras, sudah lama mereka tidak mendengar lelucon lucu seperti ini. Melihat para pebisnis yang tertawa itu, Randika juga ikut tersenyum. Dia lalu berjalan ke lantai dansa dan mematikan musik lalu berkata dengan keras di mikrofon. "Berapapun kerugian bar hari ini, semua akan kubayar!" Si manajer bar menghembuskan napas lega ketika mendengarnya, setidaknya kerugian barnya akan diganti apabila situasi menjadi buruk. "Dan semua minuman hari ini gratis!" Kata Randika sambil tersenyum. Ketika kata-kata ini masuk ke telinga mereka, semua orang berteriak dengan semangat. Beberapa perempuan mulai menggila, mereka jatuh cinta dengan sultan satu ini. "Dan semua orang yang hadir hari ini akan pulang dengan uang 10 juta!" Lanjut Randika. Kali ini bukan hanya teriakan yang terdengar, seluruh lantai ikut bergetar. Sultan satu ini benar-benar murah hati! "Nikahi aku sultan!" "Tidak, nikahi aku saja!" Para pebisnis itu bingung harus berkomentar apa ketika mendengar kata-kata Randika. Mereka mulai penasaran dengan identitas Randika. Kalau semua orang yang datang di sini diberi 10 juta, totalnya seharusnya 1 miliar lebih. Mereka bertanya-tanya, apa orang itu mampu membayarnya? Randika kembali menghampiri mereka di bawah tatapan kagum orang-orang bar ini. "Kau berani ngomong tetapi apakah kau mampu memenuhinya?" Kata salah satu pebisnis dengan nada mengejek. "Siapa yang bilang aku akan membayar mereka?" Randika tersenyum. ???Bahkan jika aku punya uang, aku tidak akan sebodoh itu jika menghambur-hamburkan uangku. Tentu saja, uang kalian lah yang akan membayar mereka." Uang kita? Para pebisnis ini sekali lagi tertawa keras. Randika juga ikut tersenyum. "Jika kalian tidak membayar, kalian tidak akan pernah bisa keluar dari bar ini." "Kau kira aku takut dengan ˇ­." Bahkan sebelum dia selesai berbicara, Randika melayangkan sebuah pukulan tepat ke tembok. Tinjunya itu berhasil membuat lubang yang cukup besar dan seluruh tembok mulai retak. Randika lalu duduk di sofa dan berkata dengan santai. "Kalian kira aku bercanda? Kuberi kalian 2 pilihan, bayar atau seumur hidup kalian akan berbaring di rumah sakit. Pilihlah dengan baik." Melihat lubang di tembok itu, ekspresi wajah para pebisnis ini menjadi buruk rupa. "Aku tidak punya waktu menunggu kalian." Randika menghela napas. "Akan kuberi kalian satu menit untuk memutuskan, jika tidak ada keputusan maka akan kupatahkan kaki kalian satu per satu. Dan jika sudah lebih dari 2 menit, kusarankan untuk ucapkan selamat tinggal pada dunia ini." Orang-orang ini mengerti bahwa kata-kata Randika bukanlah omong kosong. Ketika para pebisnis ini ragu-ragu, suara Billy, yang wajahnya masih penuh dengan kaca itu, berkata pada Randika. "Baiklah, kami akan membayarnya." "Pak Billy iniˇ­" Yang lain terlihat tidak rela. Tetapi pak Billy menatap tajam mereka lalu mengeluarkan HP miliknya dan menelepon sekretarisnya untuk mengirimkannya sejumlah uang. Setelah beberapa saat, datang seseorang dengan 2 koper besar. Setelah dibuka, koper tersebut penuh dengan uang. "Kita akan bertemu lagi." Kata Billy sambil mendengus dingin, dia lalu menyuruh anak buahnya membawa yang terluka ke rumah sakit dan pergi dari bar. Si manajer terpukau ketika melihat tumpukan uang di dalam koper. Dari jauh, Viona bisa melihat seluruh aksi Randika. Dia sudah terkagum-kagum oleh Randika, dia makin yakin bahwa Randika adalah pangeran berkuda putihnya. Pada saat yang sama, suasana bar ini makin riuh dan semua orang bersorak-sorak ketika Randika berjalan naik ke atas panggung. Dalam sekejap, suasana menjadi hening dan semua tatapan mata tertuju pada Randika. Randika lalu tersenyum. "Hari ini aku ingin menyanyikan sebuah lagu untuk perempuan paling cantik yang pernah aku temui. Semoga dengan lagu ini, perasaanku tersampaikan." Viona menatap Randika dan Randika menatap Viona. Mereka merasa bahwa dunia ini sekarang adalah milik mereka. Hati Viona benar-benar bahagia dan hangat ketika mendengar kata-kata Randika berikutnya. "Lagu ini untukmu Viona, aku mencintaimu." Dalam sekejap, semua orang berteriak histeris dan bersorak untuk Randika. Pengakuan cinta seperti ini biasanya hanya ada di TV. Beberapa perempuan justru terlihat lemas, kenapa sultan yang romantis seperti itu sudah punya pacar? Wajah Viona benar-benar merah, dan Randika sudah mulai menyanyikan lagu "Endless Love". Semua orang mulai melambaikan tangan mereka secara perlahan, suara Randika terdengar benar-benar tulus. Mereka bisa merasakan cinta yang sungguh dalam dari tiap lirik yang dinyanyikan oleh Randika. Mereka semua berpikir dalam hati mereka masing-masing, pacarnya itu sungguh beruntung mendapatkan laki seromantis ini. Pada bagian reff, semua ikut bernyanyi. "And your eyes, your eyes, your eyes; They tell me how much you care; Ooh, yes; You will always beˇ­. My endless love." ... Semua orang mulai ikut bernyanyi bersama Randika dan larut dalam suasana romantis ini. Si manajer sedikit terkejut ketika melihatnya, sejak kapan bar ini menjadi tempat karaoke? Viona sudah tidak bisa menahan air mata bahagianya, hatinya benar-benar tersentuh. Ini baru pertama kalinya ada orang yang menyatakan cinta pada dirinya di depan umum. Terkadang, alasan mengapa perempuan secantik Viona ataupun Inggrid tetap melajang seumur hidup mereka adalah karena tidak ada yang berani mencoba merebut hati mereka. Selama kita berani mencoba, kita bisa mencuri hati malaikat-malaikat ini dan memiliki kehidupan yang baik. Yang paling penting adalah keberanian. Setelah lagu itu selesai, banyak orang yang meneteskan air mata mereka. Suara Randika benar-benar tulus dan menyentuh hati mereka. Di bawah tatapan mata orang-orang, Randika berjalan perlahan turun dari panggung. Dia lalu menghampiri Viona dan menariknya lalu menciumnya. Kali ini semua orang bertepuk tangan bersamaan. Mereka mengucapkan selamat pada Randika dan Viona. Awalnya Viona merasa malu, tetapi dia takluk oleh rasa cintanya pada Randika. Setelah beberapa saat, akhirnya Randika melepaskan bibirnya dan berbisik pada telinga Viona. "Kamu ingin melakukannya di rumahmu atau melanjutkannya di hotel?" Viona langsung tersipu malu, dia lalu berbisik pada Randika. "Aku hanya ingin bersamamu malam ini." "Kalau begitu kita pergi ke rumahmu." Randika menggenggam tangan Viona dan berjalan keluar dari bar. Setelah keluar dari bar, Viona langsung memeluk lengan Randika dengan erat. Pada saat ini Randika sudah tahu bahwa malam ini Viona akan menjadi miliknya, tinggal satu langkah lagi maka haremnya akan bertambah. Namun pada saat ini, terdengar suara dari samping. "Kenapa perempuan secantik kamu jalan sendirian di malam hari? Bagaimana kalau kamu menemani kita bermain?" Ketika mereka berdua menoleh, segerombolan preman sedang mengepung seorang perempuan yang masih remaja. Chapter 257: Malu Seribu Tahun Ciuman ini mengandung semua bara nafsu kedua pasangan panas ini! Mereka berguling-guling di tembok dan bergantian berada di depan. Saking tidak bisa menahan nafsunya, Randika mengangkat Viona dan menggendong tubuh wanita itu sambil terus berciuman. Mereka berdua berusaha melepaskan pakaian mereka sambil terus berciuman, mereka tidak ingin berpisah satu detik pun. Pada saat yang sama, Randika meraba-raba dada Viona yang besar itu. Tangan Randika yang satunya bersandar di leher Viona dan berusaha membantunya melepas bajunya. Dalam sekejap, tubuh bagian atas Viona hanya tinggal beha. Randika lalu mendorong Viona ke tembok dan memandangi kedua gunung yang indah itu. "Randika tungguˇ­" Viona kehabisan napas, tetapi bibirnya kembali ditutup oleh Randika. Randika meraih tangan kanan Viona dan mengarahkannya pada celana miliknya. Merasakan suatu benda yang besar dan panas itu, wajah Viona makin merah. Randika juga menyelipkan tangannya ke dalam celana dalam Viona. Di koridor yang menuju kamar tidur Viona yang minim cahaya ini, keduanya tenggelam dalam nafsu mereka. Tubuh bagian atas Viona sudah terekspos dan hanya memakai beha, sedangkan Randika mulai melepaskan celana panjangnya. "Ran, tunggu!" Viona berhasil lepas dari ciuman maut itu dan napasnya tidak beraturan. "Ran, tolong jangan di sini." Kedua bibir mereka kembali bertemu dan kali ini kedua tangan Randika juga ingin ikut bermain. Tangan kanannya meraba-raba dada Viona tanpa henti dan tangan kirinya berusaha mencari kunci kamar Viona yang ada di saku celananya. Memang tidak mudah menemukan kunci kalau kita sedang sibuk berciuman, namun setelah beberapa saat Randika berhasil menemukannya. Randika yang sibuk memainkan lidah dan tangan kanannya, berusaha mencari lubang kunci tetapi tidak bisa-bisa. "Ran, lanjutin di dalam saja." Viona berhasil melepaskan diri untuk sesaat. Wajahnya yang kehabisan napas itu berusaha mengambil kunci dari tangan Randika. Randika tidak bisa disalahkan, sudah berulang kali dia ingin memakan Viona tetapi gagal terus. Dan hari ini merupakan puncak frustasinya jadi dia tidak ingin malam sempurna seperti ini habis hanya untuk mencari lubang kunci. Karena sudah tidak sibuk, mereka berdua berhasil membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Viona sudah terbakar api cinta, setelahnya mereka masuk, mereka kembali meneruskan ciuman panas mereka sambil bersandar di pintu. Sesudahnya masuk kamar, Viona sudah tidak malu-malu lagi. Justru sekarang yang kehabisan napas adalah Randika. "Ah!" Tangan Randika yang masuk ke dalam celana dalamnya membuatnya mendesah nikmat, celana panjang yang dia pakai sudah terlepas. Di bawah serangan jari Randika yang intens, akhirnya yang ditunggu-tunggu telah tiba. Semprotan air mancur itu membuat tubuh Viona tergeletak lemas. Sebelum Viona jatuh, Randika berhasil menangkapnya. Ini pertama kalinya Viona merasakan klimaks yang begitu kuat. Tetapi, Viona yang lemas itu menyadari sesuatu. Kenapa lampu kamarnya menyala? Randika sudah berdiri kaku ketika menyadari apa yang ada di hadapan mereka sekarang. Viona yang tidak tahu apa-apa itu juga akhirnya melihat apa yang dilihat Randika. Di tengah ruangan, sepasang pria dan wanita paruh baya menatap keduanya lekat-lekat. Pria paruh baya itu terlihat sedang merokok dan abu di rokoknya sangat panjang, jelas orang itu sama sekali tidak bergerak. Sedangkan yang perempuan hanya bisa melihat adegan panas di depan mereka dengan mulut menganga. Benar-benar memalukan! Randika sudah tidak punya wajah untuk menatap kedua orang yang dia kenal baik itu. Dia berusaha memakai kembali celananya dan membantu Viona memakai pakaiannya. Benar, wajah kedua orang itu tidaklah asing, Randika pernah melihat mereka di rumah sakit sebelumnya dan sekarang wajah keduanya itu benar-benar kaku. Hmmm ayah dan ibu mertua, apa kabar? "Ibuˇ­" Keheningan selama sepuluh detik yang terasa seperti sepuluh tahun itu akhirnya pecah oleh suara Viona. Dalam sekejap, kedua orang tua Viona langsung memalingkan wajah mereka. Randika langsung membantu Viona kembali berpakaian. Ayah Viona sudah mematikan rokoknya dan berjalan keluar dari kamar. Sedangkan ibunya Viona, dia hanya bisa berdiri dengan wajah malu. "Vi, ibu sama ayah cuma ingin menengok keadaanmu hari ini dan ibu tidak menyangka kalau ternyata kamuˇ­." Ibunya Viona tidak berani melanjutkan kata-katanya. Kejadian ini benar-benar terlalu memalukan. Dia dan suaminya telah merusak momen intim anaknya. Terlebih, mereka berdua telah melihat foreplay mereka yang begituˇ­ intens! Seumur hidupnya dia tidak pernah klimaks sekuat anaknya itu. Kalau saja suaminya tadi tidak merokok ataupun bergerak, mungkin anaknya sudah berhubungan badan tepat di mata mereka. Meskipun Randika sudah menjalani ratusan pertempuran dan kulit wajahnya benar-benar tebal, dia tidak bisa menahan rasa malunya jika dalam situasi seperti ini. Dia juga yakin tidak akan ada orang yang tidak malu apabila mengalami kejadian ini. Dia membuat anaknya itu klimaks di depan mata mereka sampai-sampai mengotori lantai. "Ahˇ­ Tante, aku ada urusan jadi aku pergi duluan." Randika memakai kembali pakaiannya dengan secepat kilat dan berpamitan dengan ibunya Viona. Setelah itu dia lari secepat mungkin keluar dari rumah tanpa berpamitan dengan si ayah. Kejadian hari ini benar-benar memalukan, Randika sudah tidak punya wajah di hadapan orang tuanya Viona. Di lain sisi, ibunya Viona berkata pada anaknya. "Sudah tidak apa-apa Vi. Nanti kita sekeluarga akan membicarakannya dengan baik." Sejujurnya, kedua orang tua Viona ini tidak marah karena pria yang hendak meniduri anaknya adalah pria yang telah menolong mereka sebelumnya di rumah sakit. Dan terlebih, mereka bisa melihat di tatapan mata anaknya bahwa dia mencintai pria itu dan mungkin malam ini mereka berniat untuk memperdalam hubungan mereka sebelum akhirnya kepergok. Malu? Memang kejadian ini memalukan tetapi beda dengan rasa marah. Randika yang berlari di jalan masih memikirkan kejadian tadi. Sangat disayangkan bahwa dia lagi-lagi gagal berhubungan badan dengan Viona gara-gara kehadiran orang tuanya. Terkadang memang hidup tidak sesuai dengan rencana, tetapi kenapa itu selalu terjadi ketika dirinya ingin tidur bersama Viona? SIALAN!! Di tengah-tengah makiannya ini, HP Randika tiba-tiba bunyi. "Kak Randika, aku punya petunjuk." Ternyata yang meneleponnya adalah Safira. Mendengar kata-kata Safira itu, Randika segera membuang emosi yang tidak diperlukan. "Di mana?" "Inferno bar, yang ada di jalan Merpati." Kata Safira dengan cepat. "Orang yang kakak cari menggunakan bar itu sebagai markas dan dia sering terlihat keluar masuk dari bar itu." "Baiklah, aku akan segera ke sana." "Baiklah kak, aku dan Elva akan menunggumu di depan pintu masuk." Tidak banyak bicara, Randika segera berlari sekuat tenaga menuju bar yang dimaksud oleh Safira. Tidak lama kemudian, Randika tiba di depan pintu masuk dan melihat sosok Safira sedang melambai-lambai ke arahnya. Chapter 256: Aku Tidak Butuh Bantuanmu! Melihat kejadian ini Randika benar-benar marah, para preman itu benar-benar tidak tahu diri. Jika yang diincarnya itu perempuan biasa mungkin masih oke, tetapi perempuan itu masih kecil. Menurut perkiraannya, perempuan itu tidak lebih dari umur 15 tahun. Bagaimana dirinya bisa tahu? Coba lihat dadanya. Papan cuci saja tidak sedater itu! Sangat jelas bahwa dia masih belum mengalami masa puber. Randika tidak rela melepaskan masalah ini, para preman itu benar-benar tidak tahu diri. Yah olahraga sedikit sebelum berhubungan badan seharusnya tidak masalah bukan? Akhirnya Randika dan Viona berjalan menghampiri perempuan remaja itu. Di sisi lain, para preman itu menatap perempuan tersebut dengan tatapan mesum. Namun, perempuan itu sama sekali tidak panik dan terlihat tenang sepanjang waktu. Pakaian yang dipakainya juga cukup terbuka dengan rambut sepundak dan poni rambut yang diturunkan. Wajahnya yang terlihat dingin dan mata hitamnya yang besar itu sangat mencolok bagaikan sebuah boneka. "Kenapa kamu jalan sendirian di malam hari seperti ini? Apa mamamu tidak pernah memperingati kamu betapa bahayanya jalan sendirian?" Seorang dari antara mereka tertawa. Namun, mangsa seperti ini benar-benar jarang mereka temui. Meskipun ekspresinya dingin, tidak ada yang bisa mengalahkan tubuh seorang perempuan muda. "Sini dik jangan khawatir, kita akan memberikanmu pengalaman indah yang tidak terlupakan." Para preman itu tertawa semua. Bahkan salah satu dari mereka memegang pinggang perempuan itu tetapi dia langsung menampleknya. "Aduh ngapain malu?" "Kamu tidak usah khawatir, kakak-kakak ini tidak ada yang jahat kok." Para preman ini masih berusaha membujuknya untuk ikut bersama mereka. Lagipula, mereka sudah mengepung perempuan ini. Akhirnya remaja perempuan ini angkat bicara. "Cepat enyah dari hadapanku." "Wow, santai dik. Sepertinya kamu tidak mengerti situasimu ini." Para preman ini tertawa kembali. "Aku beri 5 detik untuk pergi dari sini atau aku akan menghajar kalian semua." Kata perempuan itu. "Hahaha, adik kecil ini ternyata bisa bercanda." Para preman ini hanya bisa tertawa ketika mendengar ancaman tersebut. Perempuan yang tidak lebih dari 15 tahun ini akan menghajar mereka semua? Ini bagaikan seekor semut menantang gerombolan gajah, hasil pertarungannya sudah jelas bahkan sebelum dimulai. Pada saat ini, Randika dan Viona sudah dekat. "Berhenti!" Randika menghampiri mereka secara perlahan. Para preman itu menoleh ke belakang dan melihat Randika, mereka sama sekali tidak peduli. "Hei, bukankah perempuan di sampingnya itu cantik?" "Kak, bagaimana kalau malam ini kita pesta dengan 2 perempuan ini?" "Masuk akal!" "Hei cewek, bagaimana kalau kamu tinggal saja pacar jelekmu itu? Aku jamin kita bisa memberikanmu waktu yang menyenangkan setiap hari." Semua preman itu tertawa, sedangkan Randika sudah naik pitam. Mereka berani menggoda ceweknya? Nyari mati ya? Remaja perempuan itu menatap tajam pada Randika, sama seperti tatapannya pada para preman itu tetapi bedanya cuma lebih sedikit tidak tajam. "Oh begitu?" Randika mengendus dingin dan mengepalkan kedua tangannya. "Aku tidak keberatan meladeni kalian semua sekaligus." Bersamaan dengan itu, Randika menerjang maju sambil bersiap menyerang. Dalam satu detik, tinjunya berhasil mengenai wajah seseorang. Suara hidung retak dapat terdengar dengan jelas dan hal ini menandakan awal dimulainya pembantaian. Tanpa susah payah, Randika menghajar mereka satu per satu bagaikan samsak tinju. DUAK! Satu tinjunya berhasil mendarat kembali di lawannya. Satu per satu dari preman itu melayang dan membentur tanah dengan keras. Dalam sekejap, semua preman itu sudah terkapar tidak sadarkan diri. Randika merasa sedikit puas ketika menghajar para preman ini. Namun pada saat ini, remaja perempuan itu menghampiri Randika dan berkata padanya. "Jangan ikut campur urusanku." Apa? Randika terkejut, apa dia salah dengar? Dia barusan saja menyelamatkan perempuan itu tetapi dia menyuruh dirinya untuk tidak ikut campur dengan urusannya? Randika menatap perempuan itu sambil mengerutkan dahinya. "Coba ulangi lagi." "Jangan ikut campur urusanku." Wajah perempuan itu terlihat serius. "Aku tidak butuh bantuanmu." Nyelekit! Ini pertama kalinya Randika bertemu dengan orang seperti ini. Dia sudah baik hati menolong orang lain tetapi dia justru dimarahi karena ikut campur. Ketika Randika ingin memakinya, dia teringat kembali bahwa lawan bicaranya ini adalah remaja, seorang bocah! Randika menggertakan giginya dan berusaha menenangkan dirinya. "Minggir!" Perempuan itu berusaha berjalan melewati Randika sambil mengerutkan dahinya, sepertinya dia tidak senang dengan Randika. "ˇ­.." Randika benar-benar berusaha menahan amarahnya. "Apa kau tuli? Minggir!" Kata perempuan itu sekali lagi. Randika sudah mengangkat tinjunya tetapi dia menurunkannya kembali ketika melihat wajah remaja satu ini. Memukul perempuan sebenarnya bukanlah gayanya. "Dengar tidak? Aku bilang minggir!" Bentak perempuan itu dengan wajah dinginnya. "!!!" Randika sudah memaki-makinya di dalam hati. Akhirnya, Randika minggir dan membuka jalan. Dia lalu menggandeng Viona dan pergi dari sana, dia sudah muak dengan perempuan kecil itu. Melihat sosok Randika yang menghilang, remaja perempuan itu juga pergi dari tempat itu. "Ran, sudahlah tidak usah emosi begitu. Dia cuma anak kecil." Viona berusaha menghibur Randika yang sedikit meremas tangannya itu. Tetapi, dia sendiri ingin tertawa ketika Randika kewalahan menghadapi perempuan tadi. Dia tidak menyangka Randika yang kuat dan gagah itu tidak berdaya di hadapan perempuan remaja. Randika menatap Viona tanpa berkata apa pun, sepertinya Viona menganggap kejadian yang tadi lucu. "Ah!" Viona tiba-tiba teriak ketika pantatnya diremas oleh Randika. "Vi, aku benar-benar marah sekarang. Kamu harus membantuku untuk memadamkan api di dalam hatiku ini." Kata Randika sambil tersenyum dan mencium Viona. Wajah Viona kembali merah karena serangan mendadak ini. Melihat Viona yang tersipu malu, Randika tertawa. "Vi, hari sudah terlalu malam, bagaimana kalau kita kembali ke rumahmu langsung." Kata Randika di telinga Viona. Viona hanya mengangguk dan hatinya sudah siap untuk apa pun yang akan terjadi. Mereka memanggil taksi dan segera menuju ke rumahnya Viona. Di dalam taksi, tangan kedua orang ini tidak terpisahkan yang membuat iri si supir taksi ini. Setelah membayar taksi, mereka segera masuk dan langsung menuju kamar tidur Viona. Si supir taksi hanya bisa memandang keduanya dengan iri dari dalam taksinya dan berharap bisa menemukan perempuan secantik itu di hidupnya yang menyedihkan ini. Mereka sengaja tidak menyalakan semua lampu untuk menghindari orang-orang merusak momen mereka seperti sebelumnya. Terakhir kali, Christina menggedor-gedor pintu rumah Viona dan merusak momen sempurna itu. Dengan keadaan remang-remang seperti ini, suasana di rumah Viona terasa misterius. Randika, yang berjalan di belakang Viona ketika menaiki tangga, makin tidak tahan setelah melihat pantat Viona yang berada di depannya. Sesampainya di atas, Randika langsung mendorong Viona ke tembok dan menciumnya. Chapter 258: Inferno Bar Randika dengan cepat menghampiri Safira dan Elva yang berdiri di depan gedung. "Sudah lama tidak bertemu kak!" Melihat Randika yang berjalan menghampirinya, wajah Safira sudah terlihat sangat bahagia. Sedangkan Elva tetap terlihat dingin dan acuh tak acuh. Tanpa menarik perhatian, Randika mencuri pandang pada sosok Elva yang berpakaian kasual itu. Kali ini, dia tidak mengikat dadanya sedemikian rupa sehingga terlihat besar, benar-benar menggoda! "Cih." Elva menyadari tatapan tajam Randika yang diam-diam itu dan berdecak, dia sebenarnya malas bertemu dengan pria mesum ini. Randika lalu berkata pada Elva sambil tersenyum. "Aku sudah lama tidak melihatmu, ternyata selama ini kamu melakukan operasi pembesaran dada toh." Elva mau tidak mau menatap tajam Randika sambil memakinya di hatinya, sedangkan Safira sudah menahan tawanya sejak tadi. "Sudah, sudah, cukup bercandanya kak, lebih baik kita segera masuk." Randika mengangguk dan masuk bersama Safira dan Elva di sarang lawan barunya ini. Di dalam bar, Richard sedang minum-minum dan bercanda ria dengan teman-temannya. Berbagai botol alkohol mahal seperti Konyak, vodka, dan berbagai macam cocktails sedangkan di tangan mereka terlihat sedang memegangi kartu. "Aku naikkan taruhannya menjadi 200 ratus ribu." "Sial, buka 3 kartu saja mahal sekali! Aku keluar." "Aku juga keluar." "Aku all in!" Kata Richard. "Aku ikut, tunjukan kartumu." "Makan nih, As dan King wajik!" Kata Richard sambil tersenyum. "Eits tunggu dulu." Temannya lalu memperlihatkan kedua kartunya. "Sialan! Bisa-bisanya kamu pocket As!" "Hahaha, Richard kalah lagi." Semuanya tertawa selagi Richard membanting kartunya yang sudah tidak ada harapan. Sambil menggelengkan kepalanya, Richard mengambil gelasnya dan menegaknya dalam satu tegukan. Di samping para pemuda kaya ini, terlihat beberapa perempuan cantik dengan baju yang sedikit terbuka. Perempuan yang duduk di samping Richard memeluknya dan mengelus kepalanya, berusaha menghiburnya yang barusan saja kalah Poker. "Sudah ayo lanjut, siapa yang ngocok kartunya sekarang?" Mereka kembali bermain dan meninggalkan Richard. Setelah kartu dibagikan, berbagai macam trik seperti pura-pura gelisah atau wajah tanpa ekspresi terlihat semuanya. Sepertinya mereka bermain dalam skala kecil meskipun kekayaan mereka bisa membeli bar ini dengan mudah. Di sekitar mereka, terdapat pengawal berbadan besar yang berdiri dengan sangar. Di bar ini, bukan hanya Richard dan teman-temannya yang duduk dengan minuman mewah seperti ini, tetapi seluruh Inferno bar ini merupakan tempat perkumpulan orang kaya. Banyak orang berkuasa yang bersenang-senang di bar ini. Oleh karena itu, penjagaan dan keamanan di tempat ini sangatlah kuat. Ada lebih dari 10 orang petugas keamanan di setiap pintu masuk ataupun keluar. Terlebih lagi, petugas yang berada di dalam ruangan juga tidak kalah banyak. Pada saat yang sama, pemilik bar ini juga membayar preman-preman dan polisi yang ada di sekitarnya sehingga tempat ini bisa dikatakan sangat aman. Oleh karena itu, tempat ini bisa dikatakan memiliki servis dan pelayanan yang jarang ada di bar-bar pada umumnya. Mulai dari narkoba, perempuan, tempat berjudi dll. Richard dan temannya terus bermain kartu sambil minum, tetapi terdengar suara ribut di pintu masuk. Terdengar orang yang berteriakan dan suara orang berkelahi. "Apa ada penggerebekan?" Temannya menatap ke arah pintu dengan penasaran, tetapi dia sama sekali tidak bisa melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi. "Aduh santai saja, tidak mungkin bar ini membiarkan ada polisi yang menggerebeknya." Temannya tertawa dan diikuti para perempuan yang mereka rangkul. Bisa dikatakan bahwa hal seperti itu tidak akan mungkin terjadi mengingat betapa mahalnya si pemilik bar membayar para polisi. Melihat teman-temannya menertawai dirinya, pemuda ini mengangguk tetapi dalam hatinya dia masih merasa gelisah. Ketika dia berusaha mendengar lebih jelas suara keributan tadi, sudah tidak ada suara dari arah pintu masuk. "Sudah jangan khawatir, atau kamu cari alasan biar tidak main? Aku tidak akan membiarkanmu pulang kalau belum dalam keadaan mabuk." "Oya Richard, kenapa kamu tidak membawa adik perempuanmu hari ini? Aku sudah lama tidak melihat wajahnya." Kata salah satu teman Richard. Wajah Richard terlihat buruk. "Kalau kau mau mengajaknya tidak masalah asalkan kalau kamu punya keberanian mengajaknya." Mendengar hal ini, temannya itu menciut dan tidak membahasnya lagi. Richard memang punya adik perempuan. Dia memang terlihat seperti anak kecil tetapi dia memiliki dada yang besar, benar-benar impian semua lelaki. Namun, otak adik perempuannya ini sedikit bermasalah. Meskipun penampilannya membuat semua orang tergila-gila, teman-temannya ini tidak ada yang pernah berhasil mendapatkan hatinya. Malahan, teman-temannya Richard ini digunakan sebagai bahan jail adiknya itu. Temannya yang barusan bertanya itu pernah diikat di bagian depan mobil dan adiknya membawa mobil itu hingga ke kota sebelah. Kemudian karena trauma, temannya itu tidak mau keluar rumah selama sebulan penuh. Sejak hari itu, dia sedikit merinding ketika mendengar nama adik perempuan Richard. Tetapi mengingat dada dan wajah cantiknya, temannya itu masih belum menyerah untuk mendapatkan hatinya. Richard menggelengkan kepalanya, kepalanya pusing jika berurusan dengan satu-satunya saudara yang dia punya itu. Bagaimana bisa orang masih menyukainya jika perilakunya buruk seperti itu? Adiknya adalah malaikat berhati iblis! Mereka terus bermain poker dengan gembira, tetapi tiba-tiba, ada suara teriakan yang keras. Kali ini, semua orang dapat mendengar teriakan ini dengan jelas dan tatapan semua orang tertuju pada pintu masuk. Richard dan teman-temannya mulai menahan napas mereka, apakah polisi benar-benar menggerebek tempat ini? Tidak butuh waktu lama untuk semua orang dapat melihat seorang petugas keamanan bar ini melayang dan mendarat di lantai dengan keras. Kemudian dari arah pintu masuk terlihat 3 orang berjalan masuk. Mata Richard terbelalak, rupanya dia bertemu lagi dengan Randika! Benar, tadi pagi dia bertemu dengan orang yang lebih tangguh dari pengawal pribadinya itu tetapi dia tidak akan menyangka akan bertemu dengannya malam hari ini. Terlebih lagi, Randika berdiri bersama dengan 2 perempuan super cantik. Keduanya berbeda dengan perempuan-perempuan yang pernah dilihatnya selama ini. Keduanya terlihat perempuan yang mandiri dan kuat, tidak seperti perempuan yang manja dan mengincar hartanya selama ini. Teman-temannya itu juga menatap Safira dan Elva dengan mata kagum. Siapa pria itu sampai-sampai bisa didampingi 2 malaikat secantik itu? Kecantikan mereka hampir menyamai adik perempuannya Richard. Pada saat yang sama, banyak petugas keamanan yang menerjang maju ke arah Randika. "Siapa kamu!" Tanya salah satu dari petugas itu. "Buang-buang waktu saja." Randika menggelengkan kepalanya. Sesudahnya dia selesai berbicara, dia menerjang maju. Semua orang terkejut karena sosok Randika tiba-tiba menghilang dari pandangan mereka. Tiba-tiba sosok Randika sudah berdiri di belakang para petugas itu dan satu per satu dari mereka mulai terkapar di lantai. Richard dan teman-temannya terpukau melihat adegan ini, mereka sama sekali tidak tahu apa yang dilakukan pria itu barusan. Pada saat ini, tatapan mata Richard berbinar-binar. Dugaannya benar, pria ini bukanlah pria sembarangan. Apa pun yang terjadi, dia harus menjadikan pria itu payungnya! Terlebih lagi, Randika bisa mengenalkan 2 perempuan cantik itu padanya! Ketika Randika ingin mengatakan bahwa keadaan sudah aman, dari arah belakangnya terdengar hentakan kaki yang kuat. Beberapa orang bertato datang menghampirinya, mereka adalah jagoan bela diri yang dipekerjakan oleh pemilik bar ini. Chapter 259: Wajah yang Familiar Para jagoan bela diri itu menatap Randika lalu tertawa sambil menggelengkan kepala mereka. "Kau datang ke tempat yang salah bocah." Semua orang termasuk teman-teman Richard sudah menggelengkan kepalanya ketika melihat Randika yang terkepung itu. "Sayang sekali dua perempuan cantik itu harus babak belur. Mereka tidak tahu bahwa tempat ini dijaga oleh Jay si anjing gila." "Siapa itu?" Orang di sampingnya bertanya padanya. Orang itu lalu berkata pada temannya yang penasaran. "Saat Jay si anjing gila itu sedang menganggur, dia pernah memutilasi 20 orang ahli bela diri dalam sehari hanya untuk bersenang-senang." "Hiss!" Mendengar kata-kata temannya itu, dia menghembuskan napas dingin. Membunuh 20 orang ahli bela diri hanya untuk menghabiskan waktu luangnya? Benar-benar gila! Namun, setelah melihat orang yang berwajah bengis yang sepertinya pemimpin dari para jagoan itu, semua orang merinding. Wajah Jay si anjing gila sudah benar-benar menakutkan, seakan-akan memandang wajahnya sudah berurusan dengan si malaikat pencabut nyawa itu sendiri. Tidak heran kenapa Inferno bar ini selalu aman dari masalah, siapa yang memangnya berani berurusan dengan orang sebengis itu? Menatap Randika dan kedua perempuan cantik itu, semua orang sudah mengucapkan belasungkawa mereka. Richard menatap Randika, dia juga sudah mendengar reputasi Jay. Namun, kemampuan Randika juga tidak kalah hebatnya, kejadian pagi tadi masih melekat di benaknya dengan jelas. Elva mendengus dingin dan berkata pada Randika. "Serahkan orang-orang ini padaku." Kemudian Elva berjalan maju secara perlahan. "Oh? Aku tidak menyangka kamu akan menumbalkan temanmu yang cantik ini." Jay tersenyum mengejek ke arah Randika, tatapan matanya sudah menelanjangi Elva khususnya dadanya yang besar itu. Elva yang berwajah dingin itu tiba-tiba tersenyum. Sejak awal, Elva memang terkenal sebagai orang yang dingin dan sekarang dia tersenyum tulus yang membuat kecantikannya berlipat ganda. Bahkan seorang Jay sekalipun luluh dengan senyuman itu. Namun, senyuman itu tiba-tiba menghilang. Tatapan mata Elva kembali dingin dan sudah melancarkan sebuah tendangan. Melihat tendangan itu tepat di bawah matanya, ekspresi Jay segera berubah. "Ah!" Jay berteriak kesakitan ketika dia berguling di lantai sambil memegangi wajahnya. Para bawahannya menelan air ludahnya dan keringat dingin mulai membasahi punggung mereka. Melihat bos mereka berguling kesakitan di lantai, mereka merasa bahwa lawan kali ini tidak bisa diremehkan. Randika menatap kejadian ini sambil mengangguk-angguk. Kaki putih dan mulus itu ternyata bisa menjadi senjata yang mengerikan juga, pikirnya. Melihat Jay yang dikenal sebagai anjing gila berguling di lantai, Elva mendengus dingin dan menyuruhnya untuk cepat berdiri. Pertarungan yang seperti ini belum cukup meredakan darahnya yang mendidih. Pada saat yang sama, para bawahan Jay juga menerjang ke arah Elva. Dalam sekejap, mereka telah mengepung Elva dari segala arah. Tetapi, Elva tidak dapat dikalahkan begitu saja. Dengan mengandalkan kecepatan, dia bergerak ke arah musuhnya dan masuk di tengah-tengahnya. Kecepatannya benar-benar sulit diikuti oleh mata telanjang, setiap kali Elva bergerak maka akan ada orang yang tergeletak kesakitan. Para bawahan Jay tumbang satu per satu dan Elva tidak menunjukan emosi apa pun. Tidak butuh waktu lama baginya untuk melumpuhkan semua ancaman yang ada. Setelah membenarkan bajunya, Elva menatap para pria yang terkapar dan mendengus dingin. Hal ini membuat semua jagoan ini merinding. "Wow, perempuan itu kuat!" Richard terkejut. Dan pada saat yang sama, Randika dan Safira berjalan menghampiri Elva. Tujuan mereka hari ini adalah menemukan dalang dari penculikan boneka ginseng. Informasi yang didapatkan oleh Arwah Garuda mengatakan bahwa Inferno bar merupakan markas dari si dalang, reputasinya sebagai organisasi intelijen nomor 1 Indonesia bukanlah omong kosong. Organisasi yang berisikan orang-orang elit ini menjadi kartu As tersembunyi milik pemerintah, tidak ada yang mengetahui siapa saja yang menjadi anggota organisasi misterius ini. Namun pada saat ini, Randika mengerutkan dahinya. Dari arah meja bar, satu per satu senapan serbu mulai membidik ke arahnya. Dan tanpa peringatan sama sekali, senapan-senapan itu mengeluarkan pelurunya tanpa henti. DOR! DOR! DOR! Rentetan tembakan itu memekakan telinga semua pengunjung yang ada di bar, semuanya segera berlindung di bawah meja. "Ah!" Namun, kebanyakan dari mereka menjadi panik dan berusaha menyelamatkan nyawa mereka. Richard berhasil menemukan tempat sembunyi yang cukup bagus dan dia masih bisa melihat aksi Randika dengan jelas. Wajahnya sama sekali tidak menunjukan rasa takut, dia sudah lama mendambakan adegan berdarah seperti ini. Dia tidak menyangka bahwa hari ini impiannya akan tercapai. Randika, pada detik dia melihat senapan-senapan tersebut, dengan cepat dia mendorong Elva dan Safira ke tempat yang aman, sedangkan dirinya langsung menerjang ke arah peluru-peluru tersebut. Apa dia sudah gila? Apa dia tidak melihat banyaknya senjata yang ditembakkan? Richard benar-benar terkejut, tetapi setelah itu, dia benar-benar seperti orang bodoh. Apa Randika masih seorang manusia? Dia melihat Randika dengan mudah menghindari rentetan peluru yang padat itu dan semakin dekat dengan para penembaknya. Tidak ada satupun peluru yang menggores Randika sama sekali! Richard menggosok matanya dengan kuat, apakah ini adalah mimpi? Meskipun dia tahu Randika itu bukan sembarangan orang, dia tidak menyangka bahwa dia adalah seorang Superman? Sejujurnya, apa yang dilihat Richard dan para penembak itu hanyalah ilusi dari bayangan Randika. Sudah lama Randika berada di belakang para musuhnya tanpa ada yang mengetahuinya. Ketika bayangan itu menghilang, Randika mulai menghajar musuhnya satu per satu. Para penjaga yang masih membidik ke arah bayangan itu, tidak menyangka akan mendapatkan serangan mendadak seperti ini. Meskipun dalam situasi hidup dan mati seperti ini, Randika masih dapat berpikir dengan jernih dan dia menyadari sesuatu yang membuat suasana hatinya menjadi buruk. Senjata-senjata ini, orang-orang ini, mereka bukan orang lokal! Malahan, wajah-wajah ini dia pernah melihatnya ketika dia menyerang markas Bulan Kegelapan di Tokyo! Tidak butuh waktu lama untuk Randika melumpuhkan semua orang ini. Tanpa ragu-ragu, Randika dengan cepat menuju lantai 2. Sementara Elva dan Safira menyusulnya setelah memastikan tidak ada ancaman tambahan. Kejadian ini membuat para pengunjung bar ini bertanya-tanya apa yang sebenarnya sedang terjadi. "Siapa mereka sebenarnya?" Semua pengunjung di tempat ini adalah orang kaya ataupun orang berpengaruh dari kota ini tetapi mereka tidak pernah melihat ataupun mengalami kejadian yang mengejutkan jiwa seperti ini. Apalagi senapan-senapan itu, mereka tidak pernah melihatnya. Senjata api di Indonesia sangatlah dilarang dan tidak sembarangan orang boleh memiliki senjata, kalaupun boleh itu hanya sebatas pistol bukan senapan serbu. Richard, yang baru sadar dari keterkejutannya, terkejut ketika melihat Randika sudah tidak ada. Dia telah membulatkan tekadnya! Dia harus membuat Randika menjadi sekutunya. Dia tidak menyangka akan ada orang seperti ini di kota Cendrawasih, bayangkan apa yang akan bisa dicapainya jika memiliki sekutu sekuat itu! Di sisi lain, di lantai 2 merupakan kantor dan gudang dari bar jadi pengunjung tidak diperkenankan naik ke atas. Boneka ginseng itu diikat di udara dan dupa yang dibakar diletakkan tepat di bawahnya. Di hadapannya, terlihat sosok perempuan berbaju serba hitam sedang memegang pisau. Kemudian perempuan tersebut menggores tangan si boneka ginseng dan menelan darahnya yang keluar. "Sensasi ini, kekuatan ini, hahaha, dengan darah ini aku pasti akan membalaskan dendamku! Selama aku bisa pulih dari lukaku, aku akan membalaskan dendamku! Kita lihat seperti apa wajahmu ketika orang-orang yang kau sayangi itu mati menderita di tanganmu." Tatapan mata perempuan tersebut benar-benar dingin, sedangkan wajah boneka ginseng itu makin pucat. Sepertinya darahnya dihisap perlahan oleh penculiknya itu. Setelah menelan darah boneka ginseng beberapa hari ini, keadaan tubuh perempuan ini jauh lebih baik. "Selama aku mempunyaimu, aku akan sembuh total dan kekuatanku akan bertambah. Selama aku memilikimu, aku tidak terkalahkan!" Perempuan itu tertawa, suara tawanya tiap detik makin keras dan menggema di seluruh ruangan. Namun tiba-tiba, pintu ruangannya didobrak dan seseorang berjalan melewatinya. Sosok orang itu terlihat gagah dan kokoh, serta memancarkan aura yang mengerikan. Melihat musuh yang masuk ke ruangannya, perempuan itu sudah bersiap untuk lari bersama boneka ginseng. Randika dengan cepat menganalisa ruangan yang dia masuki, dia harus memastikan rute kabur yang mungkin akan dipakai oleh musuhnya ini. Dia tidak akan membiarkannya lari lagi seperti sebelumnya. Tanpa berpikir panjang, perempuan itu memegang erat boneka ginseng di tangannya dan berlari menuju jendela ruangan, siap untuk melompat turun. Namun, tiba-tiba, kakinya digenggam erat dan dirinya diseret kembali ke dalam ruangan. Rupanya Randika berhasil menangkap kaki lawannya dan melemparkannya ke tembok. "Kau tidak bisa kabur." Wajah Randika terlihat serius ketika menatap perempuan tersebut. Lawannya itu tidak berkata apa-apa, dia hanya mengangkat tangannya yang memegang boneka ginseng. Boneka ginseng yang sepertinya sudah sadar itu segera meronta-ronta dan berusaha kabur. Randika mengerutkan dahinya. Kekuatan lawannya itu jauh di bawah dirinya tetapi menyelamatkan boneka ginseng di tangan lawannya itu merupakan perkara yang tidak mudah. "Kenapa? Takut kau kehilangan barang berharga ini?" Perempuan itu tertawa. "Aku tidak heran kenapa kau begitu takut kehilangannya, aku sudah mencicipi darahnya beberapa hari ini dan tubuhku benar-benar mengalami peningkatan." "Siapa kamu?" Nada suara Randika terdengar dingin. "Kau masih belum sadar siapa aku? Kau kejam sekali tuanku tersayang." Nada suara perempuan tersebut terdengar sedih. Randika mengerutkan dahinya, tidak mungkin. Pada saat ini, perempuan tersebut kembali menerjang ke arah jendela ketika melihat keraguan di wajah Randika. Randika sendiri berhasil bereaksi tepat waktu dan mencegahnya. Mereka bertukar beberapa pukulan, lawannya kali ini menggunakan trik kotor seperti panah beracun ataupun pisau yang disembunyikannya di balik baju. Setelah beberapa saat, Randika melayangkan pukulan tepat di wajah lawannya dan menghancurkan topeng yang dia kenakan. Dalam sekejap wajah yang familiar itu segera memenuhi mata Randika. Shadow! Ternyata dugaannya benar! "Terkejut? Kau kira aku sudah mati bukan?" Shadow tertawa. "Aku tidak akan melupakan apa yang telah kau lakukan padaku hari itu, aku akan membuatmu membayarnya!" "Mau berapa kali pun, aku tetap akan membunuhmu! Dan jangan harap kau bisa keluar dari sini hidup-hidup." Kata Randika dengan nada dingin. Kali ini, Randika harus memastikan Shadow tidak mengganggunya lagi di dunia ini. "Aku akan membuat hiu-hiu itu memakan mayatmu." Kata Shadow dengan tatapan benci. "Sebelum itu aku akan menyiksamu dan membunuhmu!" Pada saat ini, suara orang berlari dapat terdengar dari arah belakang. Sebentar lagi Safira dan Elva akan tiba. Melihat bala bantuan musuh yang datang, Shadow tidak ragu-ragu kembali mencoba untuk kabur. "Kau kira bisa kabur?" Wajah Randika terlihat serius, dia menerjang maju ke arah Shadow. Namun, Shadow tiba-tiba melempar boneka ginseng itu ke udara dan menembakan beberapa panah beracun ke arahnya! Chapter 260: Tidak Siap Dipanggil Ayah! Licik! Trik yang digunakan Shadow benar-benar licik. Jika Randika memutuskan untuk mengejarnya dan membunuhnya maka boneka ginseng itu akan mati. Sekarang karena luka yang diderita Shadow karena gigitan hiu itu sudah hampir sembuh, dia tidak terlalu membutuhkan boneka ginseng tersebut. Terlebih, karena sekarang identitasnya telah ketahuan, dia tidak bisa membawa terlalu banyak beban. Setelah benaknya berpikir dengan keras dalam waktu singkat, Randika memutuskan untuk menyelamatkan boneka ginseng. Hal ini dimanfaatkan Shadow dengan baik. PRANG! Jendela kaca itu hancur berantakan dan Shadow langsung melompat turun. "Ares, nantikan pembalasanku! Aku akan membunuh orang-orang yang kau sayangi satu per satu! Hahaha!" Tawa jahat Shadow menggema di ruangan kecil itu, sedangkan Randika berhasil menyelamatkan boneka ginseng. Sendirian di ruang kosong ini, Randika mengerutkan dahinya. Boneka ginseng yang ada di tangannya masih dalam keadaan setengah sadar, tetapi perlahan dia mulai mendapatkan kesadarannya kembali. Terlebih lagi, pelukan Randika benar-benar hangat yang membuatnya nyaman dan menyadari bahwa Randika ada di pihaknya. Pada saat yang sama, Elva dan Safira tiba di ruangan kosong ini. "Dia berhasil melarikan diri." Randika menoleh ke arah mereka dan melanjutkan. "Orang itu adalah Shadow." "Elva, apa kamu bisa menyuruh anak buahmu untuk melacak markas Shadow?" Randika menatap Elva. Elva langsung mengangguk. "Jangan khawatir, tidak akan ada tempat yang aman baginya di kota ini." Safira menghampiri Randika dan berusaha menghiburnya. "Kak, kamu tidak usah terlalu khawatir. Jika dia berani macam-macam denganmu, dia akan menjadi musuh Arwah Garuda." Randika tersenyum, tetapi kerutan di dahinya masih belum menghilang. Jika Shadow mengejarnya maka dia tidak perlu khawatir seperti ini. Dengan kekuatannya, dia bisa membunuh Shadow tanpa perlu bersusah payah. Tetapi kalau dia mengincar orang-orang di sekitarnya, itu baru sebuah masalah. Banyak orang yang Randika sayangi dan dia sama sekali tidak tahu mana yang akan diincar oleh Shadow. Bisa saja Yuna yang ada di Jepang, bisa saja Hannah yang ada di asramanya. Kejadian yang membuatnya bersembunyi di Indonesia kembali terulang, dia benar-benar membenci perasaan tidak berdaya seperti ini. Karena tidak ada petunjuk, Randika hanya bisa bersiap dan menghadapi ancaman ini dengan penuh waspada. "Eh lucu sekali, benda apa yang ada di tanganmu itu kak?" Safira menyadari sosok boneka ginseng yang beristirahat dengan tenang di tangan Randika. Boneka ginseng itu membuka matanya dan langsung terkejut ketika melihat sekelilingnya, sepertinya dia tidak tahu apa yang telah terjadi pada dirinya. Namun, ia kembali tertidur lagi. "Ini adalah boneka ginseng, coba kamu pegang." Randika menyerahkan boneka itu pada Safira. Melihat boneka itu beristirahat dengan tenang di pelukannya, Safira benar-benar menyukainya. Perempuan pada dasarnya menyukai benda-benda lucu seperti ini, terlepas bahwa boneka ginseng ini merupakan makhluk supernatural. Karena Safira mendalami ilmu pengobatan, dia sedikit memiliki pemahaman mengenai boneka ini. Randika lalu menjelaskan pada Elva apa yang dia ketahui mengenai Shadow, sedangkan Safira masih menimang boneka ginseng itu. Sepertinya Safira berandai-andai menjadi seorang ibu dan ini membuat Elva mengerutkan dahinya. "Kalau begitu misi hari ini telah selesai, aku akan mengabarimu jika aku memiliki informasi." Elva menatap dingin Randika. Randika mengangguk dan tersenyum pada Elva. "Terima kasih atas bantuanmu." Tubuh Elva menjadi kaku. Mendengar terima kasih dari Randika itu membuatnya senang dalam hati. Sejujurnya, Elva tidaklah sedingin dan secuek itu. Hatinya masih sama dengan gadis-gadis polos biasanya. Dia akan menangis apabila sedih, dia akan marah apabila digoda, dia akan menyendiri jika merasa bersalah, bagaimanapun juga, dia adalah seorang perempuan. Pada saat ini, boneka ginseng itu terbangun dan membuka kedua matanya yang besar. Hal pertama yang ia lihat adalah Randika dan Safira, ia terus mengedipkan matanya. "Kak, dia bangun!" Kata Safira sambil terkejut. "Ma, maˇ­" Pada saat ini, boneka ginseng ini mengeluarkan suara seperti memanggil seorang ibu ketika dirinya menatap Safira. Wajahnya tersenyum pada perempuan yang memeluknya dengan lembut itu. Mama? Elva benar-benar tercengang pada makhluk ajaib satu ini, benar-benar luar biasa. Boneka ginseng ini sama sekali tidak takut pada Safira, setelah sadar ia langsung memanjat hingga ke pundak Safira dan duduk dengan tenang di sana. Sambil mengulang kata-kata ''mama'', dia memeluk pipi Safira. "Kak, dia benar-benar lucu!" Safira mau tidak mau merasa bahagia. Randika menghela napas dan menatap Safira. "Saf, aku rasa ini masalah yang cukup besar." "Kok bisa?" Safira terlihat bingung dan menatap Randika. Wajah Randika menjadi serius lalu berkata padanya. "Jika boneka itu memanggilmu ibu, maka aku juga akan dipanggilnya ayah!" Ketika mendengar gombalan receh ini, Elva menggelengkan kepalanya sambil menghela napas. Dia berpikir bahwa gombalan Randika benar-benar payah, sedangkan Safira sudah tersipu malu. "Kak, kamu belum pernah memberi hormat pada bumi dan langit. Ketika kamu sudah melakukannya, baru kamu bisa menjadi ayahnya." Kata Safira dengan wajah merah, sedangkan Elva sudah kehabisan kata-kata. Kenapa Safira ini selalu luluh sama Randika? "Saf, kita sebaiknya segera pergi." Kata Elva yang berdiri di samping. "Tunggu sebentar, aku masih tidak ingin pulang." Kata Safira dengan wajah memelasnya. Randika lalu menoleh ke arah Elva dan tertawa, "Kamu jangan cemburu seperti itu, aku bisa membagi cintamu untukmu kok. Apa kamu juga ingin menggendong bayi kita secepatnya?" "Apa katamu?" Elva mengerutkan dahinya, nada suaranya sudah seperti orang yang mengajak ribut. Benar-benar tidak tahu diri, bisa-bisanya pria ini berkata seperti itu? Randika terlihat sedih, seakan-akan bertanya dengan matanya : Apa kamu lupa momen intim kita yang panas selama ini? "Omong-omong, kakek melatih seorang murid bernama Indra dan tempat tinggalnya cukup dekat dari rumahku. Boneka ginseng ini tinggal bersama Indra, jadi jika kamu kangen kamu bisa menengoknya kapan saja." Kata Randika. Safira tersenyum. "Kak, aku sudah tahu mengenai Indra sejak lama. Kakek ketiga mengabariku ketika aku meneleponnya." Randika menggaruk-garuk kepalanya. Dasar kakek sialan, mereka tidak pernah meneleponku! Pada akhirnya, Elva membawa Safira kembali dan boneka ginseng pergi mengikutinya. Lagipula, memaksa boneka ginseng itu kembali bersamanya sama saja dengan mustahil jadi Randika hanya bisa melihat boneka ginseng itu pergi bersama Safira. Cuma tinggal masalah waktu saja hingga boneka itu kembali ke Indra. Randika juga segera kembali ke rumahnya. Karena hari sudah malam, dia membuka pintu dengan pelan. Ketika dirinya masuk, dia melihat Hannah yang sedang duduk di sofa. "Lho kak, tumben kamu baru pulang?" Hannah sedang menggigit apel. Penampilannya sekarang membawa kesegaran, kaos putih yang dipakainya sedikit terbuka dan rambutnya terkuncir di belakang. Untuk bagian bawahnya, dia memakai celana olahraga pendek yang hampir tidak menutupi pahanya sama sekali. Sepertinya adik iparnya itu baru selesai mandi. Randika menatap lekat-lekat paha Hannah yang begitu putih dan mulus. Hannah dari awal memang perempuan cantik, setara dengan kakaknya Inggrid dan Viona. Namun, kalau masalah kaki, sepertinya Hannah mengalahkan mereka karena kakinya lebih putih. "Kak, apa kakak bisa memijat kakiku?" Kata Hannah sambil menggoyang-goyangkan kakinya di udara. Chapter 261: Selamat Pagi Kakak Tertua! Melihat Hannah yang menggoyang-goyangkan kakinya di udara, Randika menelan air liurnya. Benar, dia menelan air liurnya! Randika melihat kaki panjang adiknya yang mulus itu terbuka lebar hingga ke pahanya, celana yang dipakai adik iparnya ini juga benar-benar pendek. Selain pendek, celana yang dia pakai juga terlihat tipis. Dengan penglihatan supernya, Randika bisa melihat jejak-jejak garis yang menyerupai sebuah celana dalam. Hannah belum menyadari bahwa Randika memperhatikan dirinya dengan tatapan mesum. Karena kakak iparnya itu sama sekali tidak bersuara, dia menoleh dan berkata padanya. "Kak, kenapa kok diam saja?" Tetapi setelah melihat Randika yang memperhatikan dirinya lekat-lekat, Hannah merasakan ada yang salah. Setelah 2 detik, Hannah menyadari bahwa kakinya terlalu terbuka lebar. Dalam sekejap dia berteriak histeris. Randika menutup telinganya dan langsung berlari menuju lantai atas. Teriakan adiknya itu tidak kalah kuat dengan kakaknya Inggrid, benar-benar saudara! Hannah yang kesal segera mengambil bantal yang ada di sofa. Awalnya dia ingin menghajar kakak iparnya dengan bantal, tetapi targetnya itu sudah melarikan diri. "Huhˇ­" Wajah Hannah menjadi cemberut. "Aku akan membunuhmu jika kita bertemu lagi." Randika yang berlari dengan cepat itu merasa lega ketika masuk ke dalam kamarnya. Sepertinya dia berhasil lolos dari terkaman singa. Setelah berganti baju, Randika berjalan menuju komputer dan menghubungi Yuna. Tak lama kemudian, wajah cantik Yuna muncul dari balik layar. "Ran? Apa kamu sudah kangen denganku meskipun kita baru berpisah beberapa hari?" Pakaian yang dipakai Yuna benar-benar longgar dan sexy. Bajunya itu hampir tidak menutupi dadanya yang besar itu, jika Yuna berdiri sedikit saja maka putingnya dapat terlihat dengan jelas. Bisa dikatakan bahwa selain berparas cantik, dada Yuna menjadi senjata andalannya untuk meraih hati Randika. Siapa yang bisa menolak keindahan yang tiada tara seperti itu? Wajah cantik, dada besar, pinggang kecil, kaki yang panjang dan mulus merupakan idaman semua pria! Tidak jarang banyak perempuan menggunakan tubuhnya untuk mendapatkan apa yang dia mau, laki-laki memang mudah tergoda dengan perempuan cantik. Tetapi Randika bukanlah orang seperti itu, tekadnya benar-benar kuat. Setelah menatap dada indah itu selama 5 detik, akhirnya dia tersadar. "Yuna, aku mencarimu karena aku butuh sesuatu." "Apa yang bisa kubantu? Ah! Apa kamu ingin foto adikku ketika mandi bersamaku?" Yuna tertawa, hal ini membuat dadanya bergoyang dengan hebat. Karena tekadnya untuk menghargai karya seninya yang kuat, Randika memperhatikan kedua gunung itu dengan seksama. Ketika Yuna menyadari tatapan mata Randika, dia justru menopang dadanya dengan kedua tangannya yang membuatnya makin besar. "Kamu bisa memilikinya jika kamu ingin." "Uhuk!" Randika terbatuk dan wajahnya kembali serius. "Aku ingin kamu membangun laboratorium kita kembali. Kali ini, jangan memberitahu lokasinya ke siapapun bahkan pada Catherine. Kalau bisa, pisahkan pengeluaran dan sistem datanya dengan markas utama." Yuna mengangguk. "Baiklah, lagipula istana bawah tanah kita sedang dalam proses rekonstruksi jadi aku bisa meminta dana pada Catherine dengan alasan untuk membangun jaringan informasiku." "Satu hal lagi yang ingin kusampaikan. Aku ingin kamu meneruskan perkembangan ramuan X tetapi dengan sedikit perubahan." "Perubahan?" Yuna merasa penasaran. "Kamu bisa mendiskusikannya dengan para peneliti lainnya, aku ingin ramuan X bukan menekan kekuatan misteriusku tetapi menyerapnya agar bisa kukendalikan." Yuna mengangguk. "Baiklah akan kucoba, seharusnya pembangunan laboratorium kali ini akan jauh lebih cepat." "Tetapi jangan sampai kamu melupakan tanggung jawabmu sebagai ketua divisi intelinjensi. Bulan Kegelapan masih hidup dan masih banyak bahaya yang mengintai, jadi jangan lengah." Setelah berbincang-bincang sedikit, Randika mematikan video call mereka dan memikirkan kata-kata Shadow tadi. Randika mau tidak mau menjadi khawatir, dia hanya bisa berharap Arwah Garuda bisa menemukan keberadaannya dengan cepat. ....... Matahari terbit dan burung-burung berkicau, Randika membuka matanya dan terbangun dari tidurnya. Dalam sekejap dia menyadari bahwa dia sendirian di atas tempat tidur. Inggrid rupanya bangun lebih pagi dan meninggalkan dirinya. Sepertinya dia harus memberikannya hukuman keluarga karena sudah meninggalkan dirinya diam-diam. Randika tertawa dan memutuskan untuk bangun. Namun, udara yang wangi masuk ke dalam hidungnya. Sepertinya aroma tubuh Inggrid melekat di bajunya. Sejujurnya, Inggrid adalah tipe orang yang tidur lebih cepat dan bangun lebih pagi. Inggrid adalah orang yang menaruh perhatian yang besar pada kesehatan tubuhnya, jadi dia sangat memperhatikan jam tidurnya. Bagaimanapun juga, tidur membuat seorang perempuan lebih cantik. Jadi jika boleh dikatakan, lebih baik berhubungan badan pada pagi hari daripada malam hari. Namun, Randika jarang sekali melakukannya di pagi hari. Kebanyakan Inggrid selalu bangun lebih dulu daripada dirinya jadi sangat disayangkan. Setelah turun dari tempat tidur, Randika hendak cuci muka. Dia lalu menyadari ada handuk dan peralatan sikat gigi di atas meja. Tindakan kecil Inggrid ini membuat Randika terasa hangat di hatinya, istrinya benar-benar perhatian padanya. Sambil bersiul dan menggoyangkan pantatnya, Randika menggosok gigi dan mencuci mukanya dengan gembira. Setelah selesai, dia turun ke lantai bawah dan bersiap untuk sarapan. "Wah nak Randika pagi-pagi sudah bahagia, ada kejadian bagus apa?" Ibu Ipah tersenyum dan membawakan sarapan ke meja makan. "Tidak ada kejadian khusus kok bu." Kata Randika sambil tersenyum. "Menurut ibu apakah aku tambah ganteng?" "Tentu saja, nak Randika tiap hari tambah ganteng. Nak Randika dan nona adalah pasangan sempurna yang ditakdirkan untuk bersama." Kata Ibu Ipah sambil tersenyum. "Aku senang mendengarnya." Kata Randika sambil tertawa, dia tidak menyangka bahwa Ibu Ipah bisa menjilat seperti itu. Setelah sarapan, Randika keluar dari rumah. Karena tidak ada uang, Randika tidak punya pilihan lain selain menuju kantor. Tetapi dia menikmati jalan paginya ini dengan berjalan secara perlahan dan menikmati waktu santainya ini. Sesampainya di depan gedung, dia mengecek jam dan sekarang baru 08.55 pagi, masih ada waktu 5 menit untuknya. Randika menghela napas, dia aslinya malas untuk datang pagi-pagi seperti ini. Randika lalu berjalan menuju lift sambil berwajah ogah-ogahan sementara karyawan yang lain berlarian menuju ruangan mereka karena takut terlambat. Ketika Randika sampai di lobi depan, dia menyadari ada kerumunan orang berjas hitam di depan pintu masuk. Kalau dihitung-hitung, terlihat ada 20 orang yang menunggu dengan diam di pintu masuk lobi. Para karyawan yang baru datang tidak bisa tidak penasaran dengan mereka, ngapain mereka ada di sini? Randika memperhatikan kerumunan orang itu dari jauh dan mengerutkan dahinya, orang-orang itu pasti mengincar dirinya. Kenapa Randika yakin? Karena pengalamannya sebelumnya dengan perusahaan Galaksi ataupun dengan Yosua, membuatnya sadar bahwa jika ada gerombolan seperti ini, hampir 90% mereka mencari dirinya. Namun, buat apa Randika takut sama ikan teri seperti itu? Ketika Randika melewati mereka, tiba-tiba seseorang dari orang berjas hitam itu menepuk tangannya. Kemudian 20 orang berjas hitam itu membagi diri mereka jadi 2 dan memberikan jalan bagi Randika sekaligus berteriak bersamaan. "Selamat pagi kakak tertua." Semuanya lalu membungkuk bersamaan! Wajah Randika benar-benar terlihat bingung. Chapter 262: Teman Baru Kakak tertua? Apa yang mereka bicarakan? Randika sama sekali tidak mengingat bahwa dia menerima orang sebanyak ini setelah dia kembali ke Indonesia. Terlebih lagi, mereka benar-benar lemah, mana mungkin dia mengangkat mereka menjadi komplotannya? Randika terdiam beberapa saat, tidak tahu harus berbuat apa. Semua karyawan yang ada di lobi depan juga sama terkejutnya, mereka menatap bingung ke arah Randika. Mereka sudah tahu tentang legenda Randika di kantor ini, tetapi dia tidak menyangka bahwa Randika sampai memiliki anak buah seperti ini. Lalu dari arah pria berjas hitam itu terdengar suara. "Sapaan kalian sama sekali tidak menyentuh hati kakak tertua kita, ulangi sekali lagi! Kali ini suara kalian harus lebih lantang, lebih kompak dan lebih tulus lagi!" "Salam kakak tertua!" Kali ini 20 orang tersebut membungkuk dan menyapa Randika dengan suara yang lebih keras daripada sebelumnya. Pada saat ini, semua orang menjadi penasaran apa yang sebenarnya sedang terjadi. "Kalian bercanda ya? Suara kalian sama sekali tidak tulus dan loyo! Ulangi sekali lagi dan kali ini gunakan seluruh hati kalian untuk menyapa kakak tertua!" "Selamat pagi kakak tertua!" Mereka terus mengulanginya beberapa kali lagi, dan akhirnya Randika sadar siapa pemimpin dari pria berjas ini. Ternyata itu adalah Richard, pemuda yang dia tolong dari para penculik. "Berhenti!" Randika sudah tidak tahan lagi dengan teriakan tidak masuk akal ini dan menghampiri Richard. Richard sendiri langsung berwajah bangga dan berkata pada Randika. "Kak, apa kakak senang mendengar sambutanku?" "Kamu ini mabuk atau apa?" Randika menatap Richard dengan perasaan bingung, kejadian ini benar-benar tidak masuk akal baginya. Jika bocah ini tidak mabuk, Randika tidak punya penjelasan lain. "Sudah tugas sebagai adikmu untuk menyapa kakaknya." Kata Richard dengan lantang. "Jadi adikmu hari ini datang untuk memberi hormat padamu." "Sejak kapan aku menjadi kakakmu?" Randika mengerutkan dahinya. "Kapan aku setuju untuk menjadi kakakmu?" "Kak, jangan berkata seperti itu. Sejak hari pertama kita bertemu, aku merasakan ikatan takdir yang begitu kuat. Sejak hari itu aku sadar bahwa kita ditakdirkan untuk bersama! Kakak tidak usah khawatir, mulai hari ini aku akan mengikutimu ke manapun meskipun kita melewati gunung dan neraka sekali pun." Richard menepuk-nepuk dadanya. Randika menghela napasnya dalam-dalam. Kalau perasaannya ini dijelaskan dengan kata-kata, maka hanya ada satu kata bagi Richard yaitu gila. Randika sama sekali tidak ingin terlibat dengan delusi milik Richard ini dan berjalan melewatinya. Namun, Richard dengan sigap mengikuti Randika dari belakang. "Kak, aku benar-benar ingin kakak mengakuiku sebagai adik. Aku benar-benar serius!" Randika mengabaikannya. Richard, dengan cepat, memberi isyarat tangan pada bawahannya. Kemudian 20 orang berjas itu berjalan mengikuti Randika sambil berteriak. "Beri jalan untuk kakak tertua." Semua orang yang menghalangi Randika akan menerima tatapan tajam dari kedua puluh pria menakutkan ini. Dalam sekejap, semua orang takut pada Randika yang dari awal memang sudah misterius di dalam benak mereka. Ketika melihat kejadian ini, mereka semakin yakin bahwa Randika adalah seorang gangster. Randika tiba-tiba berhenti berjalan. Richard, yang berjalan di belakangnya, tidak berhenti. Dia berjalan ke depan dan ikut membukakan jalan untuk Randika. "Suruh orang-orangmu keluar dari gedung dulu." Kata Randika sambil menghela napas. "Hei kalian dengar tidak? Kakak tertua ingin kalian keluar dari sini!" Kata Richard pada anak buahnya. Kedua puluh orang itu segera berlari keluar dari gedung. "Apa kakak butuh sesuatu lagi?" Tanya Richard dengan tatapan menjilat. Melihat wajah Richard, Randika tidak bisa menahan amarahnya. "Katakan alasanmu kenapa aku harus mengakuimu sebagai adik?" Tanya Randika dengan wajah serius. "Aku tidak bisa mengakui seseorang yang bahkan aku tidak kenal sama sekali." Richard tertawa dan menggaruk kepalanya. "Sejujurnya, sejak pertama kali kita bertemu aku tidak bisa melepaskan sosok kakak dari kepalaku." Ketika kata-kata itu selesai terlontarkan, Randika sudah berada 3 meter dari dirinya. Dia berkata pada Richard dengan tatapan mata waspada. "Kamu homo?" Homo? Richard mengerutkan dahinya, kenapa dia dianggap homo? Aku ini orang normal dan menyukai perempuan cantik! Setelah beberapa kali meyakinkan Randika, akhirnya kesalahpahaman ini terselesaikan. Terlebih lagi, setelah mendengar penjelasan Richard lebih lanjut, Randika sudah mengerti mengapa dia mengejar dirinya sedemikian rupa. Hal ini membuat Randika menggelengkan kepalanya. Meskipun Richard ini adalah anak orang kaya dan berhati baik, dia tidak bisa lepas dari politik dan musuh dari ayahnya jadi dia mencari tempat berteduh yang bisa melindungi nyawanya. "Terus apalagi alasanmu?" Tanya Randika. "Sejujurnya." Wajah Richard sudah terlihat merah karena malu. "Hidupku itu biasa-biasa saja, sekolah, les, bertemu dengan orang penting dan kegiatan membosankan lainnya. Aku ingin sesuatu yang beda, sesuatu yang membuat darah mendidih. Kemarin aku melihat pertarungan kakak di Inferno bar dan aku benar-benar terpukau, detik itu aku membulatkan tekad untuk mengikutimu ke mana saja." Setelah selesai berbicara, suasana menjadi hening. Melihat ekspresi tulus Richard, Randika hanya tersenyum dan mengatakan. "Baiklah kalau begitu, status kita sekarang adalah berteman dan jangan pernah panggil aku kakak tertua lagi." "Benarkah? Terima kasih kak!" Richard benar-benar senang bukan main, tetapi dia menyadari dia telah salah memanggil dan menepuk dahinya. "Kalau begitu aku akan memanggilmu Randika." Kata Richard sambil membenarkan bajunya. "Kalau kak Randika tidak ada kerjaan, bagaimana kalau aku menunjukan tempat yang bagus untuk menghormati pertemanan kita ini?" "Di mana?" Randika tertarik dengan penawaran ini. "Sudah ikut saja, aku jamin tempatnya menyenangkan." Kata Richard sambil tertawa. Randika berpikir sebentar, dia sendiri aslinya tidak ada kerjaan mendesak di kantornya dan Richard sendiri tidak begitu mencurigakan baginya. Melihat Randika yang menganggukan kepalanya, Richard menjadi senang bukan main. Kemudian mereka berangkat memakai mobil mewah Richard dan segera menuju jalan Merpati. Tak lama kemudian mobil mewah ini berhenti di sebuah gudang yang terbengkalai. "Tunggu sebentar di mobil." Richard lalu keluar dari mobilnya dan berbicara dengan penjaganya. Setelah pintu gudang itu terbuka, Randika ikut turun dari mobil dan berjalan bersama ke dalam. Di bawah arahan penjaganya, mereka tiba di suatu lift. Dan setelah lift itu turun, pemandangannya benar-benar membuat mata Randika berbinar-binar. Dekorasi mewah dan air mancur yang ada benar-benar bertolak belakang dengan kondisi gedung yang mereka masuki tadi, bahkan karpet yang dipakai terlihat mahal. Di sepanjang matanya, beberapa meja judi bisa terlihat! Ya, Richard telah membawanya ke kasino bawah tanah! Di dalam kasino ini, sudah ada ratusan orang yang bermain dan bersenang-senang. Tidak jarang juga Randika melihat perempuan-perempuan cantik memakai kostum cosplay sexy lingerie kelinci dengan stocking jala berkeliling mengantarkan minum. "Yang kamu menyenangkan adalah berjudi?" Randika menatap Richard. "Ah! Hari ini bukan hanya sekedar berjudi saja." Richard lalu menarik Randika dan berbisik. "Hari ini akan ada kejuaraan yang melibatkan pemain profesional." Lalu Richard menambahkan. "Kompetisi hari ini melibatkan banyak pihak, jadi hari ini aku jamin akan ada kejadian menarik." Chapter 263: Salah Pilih Lawan "Kenapa kamu seyakin itu?" Randika tidak tahu apa serunya melihat orang berjudi. "Kak, ini bukan hanya sekedar masalah uang." Richard memelankan suaranya. "Kompetisi kali ini menyangkut wajah dari beberapa keluarga aristokrat." Mendengar hal ini, Randika juga ikut menjadi penasaran. Keluarga aristokrat di negara ini jarang muncul di depan publik, biasanya mereka bekerja di balik layar. "Sejujurnya, keluarga yang berasal dari utara sepertinya memiliki masalah dengan yang di selatan dan sudah beberapa kasus perselisihan dari mereka. Tetapi jika mereka berperang secara terang-terangan, mereka akan menyeret sekutu-sekutu mereka dan negara bisa kacau. Jadi mereka setuju untuk menyelesaikan ini di meja judi ini. Mereka telah bermain sebelumnya dan sekarang seharusnya adalah yang terakhir. Akhir dari pertarungan mereka ditentukan oleh hasil hari ini." Mata Randika sudah berbinar-binar, apa yang dikatakan Richard benar-benar menarik. Jika sudah melibatkan keluarga aristokrat maka kejadiannya pasti sangatlah menarik untuk dilihat. "Bagaimana bisa kamu tahu semua hal ini?" Randika bertanya pada Richard. Richard membalasnya sambil tersenyum. "Aku mendengarnya ketika ayahku membahasnya bersama kliennya. Dan kebetulan juga, aku pernah datang ke kasino bawah tanah ini jadi aku bisa membawamu ke sini." "Kak, kompetisi mereka masih lama, bagaimana kalau kita bermain dulu?" Richard mengeluarkan chip taruhan dan memberikannya pada Randika. Randika tidak tahu harus berbuat apa beberapa saat, dia merasa diajak berdosa oleh Richard. "Baiklah." Akhirnya Randika mengangguk. Kebetulan chip taruhannya juga gratis jadi dia tidak perlu sungkan apabila habis. "Kamu tidak perlu ikut aku." Kata Randika. Richard mengangguk. "Jika butuh uang lebih, kabari saja." Kemudian Randika berjalan-jalan sambil mengagumi kasino bawah tanah yang luas ini. Banyak meja permainan di tempat ini, mau itu kartu, roulette, slot machine dll. Randika pernah pergi ke kasino di Amerika, tempat itu membawa kenangan yang menyenangkan baginya. Dan baginya roulette adalah mesin uang sebenarnya. Cara kerjanya sangat sederhana, petugas akan memutar papan yang berisikan angka 0-36 yang memiliki warna berbeda, biasanya ganjil akan berwarna merah, genap berwarna hitam dan angka 0 berwarna putih. Roulette memiliki berbagai macam taruhan, pemain bisa bertaruh angka berapa bola akan jatuh, warna, ganjil atau genap dll. Jadi bisa dikatakan bahwa permainan ini sangat menguntungkan para pemain karena memiliki persentase hampir 50% untuk menang. Banyak orang yang bermain di meja ini, Randika memutuskan untuk memperhatikannya terlebih dahulu. Para pemain yang sudah bertaruh sudah menahan napas mereka ketika bola kecil itu berputar. "Ayo hitam!" Teriak salah satu orang. Matanya sudah hampir copot ketika melihat bola yang bergulir itu makin melambat, sepertinya dia bertaruh besar untuk hitam. "Bodoh, kenapa kamu bertaruh di warna? Jelas daritadi itu sudah 3x genap, bolanya sudah pasti ganjil sekarang!" Teriak temannya, tangannya juga sudah berkeringat. Akhirnya, bola itu mulai melambat dan berhenti di angka 0. Kejadian ini membuat semua pemain di meja benar-benar sedih dan menghela napas mereka dalam-dalam. Perlu diketahui, angka 0 tidak termasuk berwarna hitam ataupun merah dan juga bukan genap. Dan juga, persentase bola berhenti di angka 0 benar-benar kecil jadi orang tidak pernah bertaruh untuk angka 0 meskipun imbalannya sangatlah besar. Randika dalam hati tertawa, penjudi yang baik itu mengerti batasan diri dan tidak langsung mempertaruhkan seluruh uangnya dalam satu permainan. Ketika Richard sedang asyik bermain blackjack, dia mendengar suara dari belakang yang memanggilnya. "Wah, wah, bocah yang selalu nurut sama ayahnya ini ternyata nakal juga sampai berjudi di tempat ini." Ketika mendengar suara itu, badan Richard menjadi kaku. Ketika dia menoleh ke belakang, dia melihat beberapa orang sedang tertawa. Yang mengejek dirinya adalah Anthony, musuh bebuyutannya. Keluarganya Anthony juga merupakan keluarga penting di kota Cendrawasih, oleh karena itu kedua keluarga ini sering berselisih. Dalam aspek bisnis, keduanya saling bersaing terus menerus. Dari generasi kakeknya hingga ayahnya mereka sekarang, mereka terus bertarung secara terbuka dan secara diam-diam. Namun, Anthony memandang rendah Richard. Dalam hal pengalaman dan berbagai bidang, Anthony mengalahkan Richard. Richard menatapnya dengan dingin. "Bukan urusanmu jika aku ingin berada di tempat ini untuk bersenang-senang. Lagipula ngapain kamu ada di sini?" "Tentu saja aku datang untuk berjudi, kalau tidak ngapain aku ke kasino?" Anthony tertawa dengan pertanyaan bodoh Richard. "Bukannya bocah penurut sepertimu tidak cocok berada di tempat seperti ini? Bagaimana kalau kamu segera keluar dari sini? Aku sedikit kasihan dengan uang ayahmu yang terbuang percuma seperti ini." Anthony lalu tertawa bersama teman-temannya. "Benar kata Anthony, bagaimana kalau kamu pergi dan minum saja di bar dekat sini? Aku dengar mereka baru saja mendatangkan perempuan dari Thailand. Kamu pasti menyukai perempuan berbatang seperti itu bukan?" Dengan ini Anthony dan teman-temannya tertawa sekali lagi. "!!" Wajah Richard benar-benar dingin, amarahnya sudah meluap-luap. Dia ingin menghajar Anthony dan teman-temannya dengan keras. Tetapi dia tidak berani melakukannya karena hari ini dia hanya datang berdua dengan Randika, para pengawalnya tidak dia bawa sama sekali jadi dia ragu bisa menang dari Anthony. Para pengunjung di kasino ini tidak tertarik dengan pertunjukan para bocah. Bagaimanapun juga, tidak ada orang yang berani melanggar peraturan di kasino bawah tanah ini. Jika ada yang berani melakukannya, maka orang tersebut harus bersiap-siap babak belur. "Kenapa? Tidak terima?" Anthony mendengus dingin. "Apa kamu ingin membunuhku? Aku tahu bahwa kamu sendiri juga sudah sadar bahwa kamu sama sekali tidak bisa menyentuhku. Melihatmu yang seperti anjing ketakutan ini benar-benar sedap dilihat." Anthony kembali tertawa bersama teman-temannya. "Kalau tidak terima, bagaimana kalau kita menyelesaikannya di atas meja? Kebetulan juga kita sudah berada di tempat yang tepat. Jadi bagaimana? Berani melawanku?" Richard yang sudah panas itu tidak langsung menerima tantangan ini, dia memikirkan pro dan kontra dari tantangan Anthony ini. Tetapi Anthony menambahkan minyak pada api. "Tapi tentu saja, aku tahu kamu tidak akan berani menantangku. Bocah ingusan sepertimu tidak punya keberanian dan kemampuan untuk melawanku. Hahaha." "Siapa bilang aku tidak berani melawanmu?" Richard terpancing oleh hinaan Anthony yang kali ini. "Aku cuma bilang apa adanya." Anthony tersenyum. "Bukankah aku sering mengalahkanmu di berbagai kesempatan? Aku hanya takut bahwa nyalimu sudah sekecil semut sekarang. Bagaimana kalau begini, kita jangan mempertaruhkan uang melainkan perjanjian kontrak bisnis atau tanah keluarga kita, bukankah itu lebih seru?" Richard kembali ragu-ragu. Anthony kembali menambahkan minyak. "Kalau kamu takut tidak masalah, jangan ragu-ragu untuk mengakuinya. Seperti kura-kura, sebaiknya kamu memasukan kepalamu itu ke lubang kecilmu." "Siapa bilang aku takut?" Richard kembali terpancing, kali ini Anthony langsung menyambar kesempatan ini. "Baguslah kalau begitu!" "Cepat kita pilih meja yang kosong." Anthony berjalan duluan. Kemudian keduanya berjalan menuju meja kosong, lalu Anthony berkata pada Richard. "Kita main yang gampang saja, kita bergantian mengocok kartunya dan setelah itu masing-masing dari kita mengambil 4 kartu secara bergantian. Setelah mendapatkan kartunya, kita hanya boleh menukar 1 kartu dengan kartu baru. Setelah itu kita menjumlahkan kartunya dan siapapun yang lebih besar adalah pemenangnya. As adalah 1 dan King adalah 13." "Baiklah." Richard sudah tidak bisa mundur lagi. Meskipun sebelumnya dia pernah ke kasino, dia tidak terlalu suka bermain. Dia hanya suka menonton orang bermain dan mencari sensasi kesenangan saja. Namun, demi menjaga wajah sekaligus namanya, dia harus menerima tantangan Anthony. Anthony tersenyum kemudian mengocok kartunya dan memberikannya pada Richard. Setelah selesai dikocok, kartu tersebut ditaruh di tengah dan mereka mengambilnya satu per satu secara bergantian. "Apa yang kita pertaruhkan." Kata Anthony sambil mengambil kartu dengan santai. Sebagai catatan, mereka boleh mengambil kartu secara acak jadi tidak harus mengambil yang paling atas. Mendengar hal ini, keringat dingin mulai membanjiri dahi Richard. Dia bukan bertaruh dengan uang miliknya sendiri melainkan uang keluarganya. "Sebelum kita membuka kartunya, sebaiknya kita memutuskan apa yang dipertaruhkan terlebih dahulu. Oh ya, aku juga mengusulkan best of 5 jadi siapapun yang menang 3x, dialah pemenangnya. Aku akan mempertaruhkan tanah keluargaku yang ada di dekat distrik pembangunan kota baru. Bagaimana kalau kamu mempertaruhkan tanahmu yang ada di distrik perbelanjaan di tengah kota?" Sepertinya taruhan ini cukup oke, tetapi arah pertaruhan ini sebenarnya disetir oleh Anthony. Kota Cendrawasih sudah merupakan mega kota di Indonesia. Perkembangannya sangat pesat dan sebentar lagi akan menyamai Jakarta dan Indonesia. Bisa dibayangkan betapa mahalnya tanah di tengah kota saat hal itu terjadi? Terlebih lagi, tanah yang dipertaruhkan oleh Richard merupakan tempat berkumpulnya toko emas dan perhiasan. Setiap hari ratusan juta berputar di tempat tersebut. Pada awalnya, keluarga Richard membangun kekuatannya dari distrik perbelanjaan itu. Anthony menyadari ini dan berusaha merebutnya. Richard menggigit lidahnya. Tentu saja dia tahu apa yang dipertaruhkan hari ini sangat krusial, tetapi dia tidak bisa mundur. "DEAL!" "Baiklah, buka kartumu." Anthony mendengus dingin sambil membuka kartunya. Setelah membuang satu kartu, keempat kartunya adalah 10 wajik, jack sekop, 6 hati dan queen hati dengan total 39 poin. Sedangkan kartu Richard hanyalah angka dengan perolehan tidak sampai 25 poin. "Kalau begitu untuk pertarungan pertama kita, akulah pemenangnya." Anthony tersenyum, sepertinya hari ini keluarganya akan berpesta. Keringat dingin mulai membanjiri punggung Richard, kemudian mereka kembali mengocok kartu dan mengambil 4 kartu secara acak. Kemudian setelah membuka kembali kartu mereka, Richard telah kalah kembali. Skor sekarang 2 untuk Anthony dan 0 untuk Richard. Pada saat ini, Randika yang berjalan-jalan melihat Richard dan berjalan menghampirinya. Dia terkejut ketika sadar bahwa Richard sepertinya sedang bermain melawan orang. "Kenapa? Takut kalah?" Anthony sudah tertawa keras. "Kalau takut cepat kembali ke pelukan ayahmu itu, tidak usah datang ke sini lagi." "Siapa bilang dia takut?" Tiba-tiba, seseorang datang menghampiri meja mereka dan berdiri di samping Richard. "Siapa kamu? Jangan ikut campur dengan urusanku, pergi sana!" Anthony tidak senang diganggu di tengah-tengah kemenangannya. Richard yang berwajah pucat itu bahagia ketika melihat Randika, seakan-akan dia telah melihat sang juru selamat. Randika mencueki Anthony dan bertanya pada Richard apa yang sebenarnya terjadi. Sebelum Richard menjawab, dia sudah berdiri dan menyuruh Randika duduk menggantikannya. Melihat Richard yang berdiri dan memberikan kursinya, Anthony sedikit terkejut. Kemudian dia menatap tajam pada Richard. "Kamu yakin digantikan sama orang ini? Aku ingatkan, skor tetap tidak berubah." "Aku yakin." Melihat wajah Randika yang terlihat bodoh dan tenang itu, Anthony kemudian menjelaskan permainannya kembali. "Berarti King adalah yang tertinggi?" Tanya Randika. "Benar." Randika mengangguk dan mulai mengocok. Anthony lalu berkata dengan nada sarkas. "Aku akan memberikanmu kesempatan untuk memilih 4 kartu duluan." Randika tidak sungkan-sungkan, dia dengan cepat mengambil 4 kartu dari tumpukan. Dan tanpa menunggu Anthony mengambil kartunya, dia sudah membuka keempat kartunya. "Empat King?" Teman-temannya Anthony tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Anthony sendiri sudah terkejut ketika melihat kartu yang dimiliki Randika, wajahnya menjadi muram. Sepertinya lawannya ini bukan sembarangan. "Sekali lagi." Anthony berusaha menenangkan dirinya, kali ini dia mengocok dengan sungguh-sungguh. Sejujurnya, dia menang melawan Richard menggunakan trik-trik seperti Second Deal [1] dan peeking [2]. Setelah kartu telah dikocok dengan benar, mereka bergantian mengambil kartu. Tapi Anthony salah melawan orang, orang yang dihadapannya ini adalah Ares sang Dewa Perang, permainan kartu ini semudah dirinya membunuh 100 orang. Ketika Anthony berusaha mengambil kartu, tangan Randika bergerak dengan cepat dan mengambil satu kartu. Anthony yang terkejut menoleh ke arah Randika, tetapi momen ini digunakan Randika untuk mengambil 3 kartu sisanya. Cepat sekali! Ketika dia berusaha mengambil kartu pertamanya, Randika sudah membuka kartunya dan semua orang menjadi terkejut kembali. "Mustahil, empat King lagi?" Semua orang terkejut dan Richard yang berdiri di samping Randika sudah tersenyum lebar. [1] Pemain atau dealer terlihat seperti mengambil kartu seperti biasa, tetapi kenyataannya dia mengambil kartu di bawahnya. [2] Pemain atau dealer mengintip kartu yang akan dibagikannya dengan bantuan alat seperti cincin selagi mengalihkan perhatian orang agar tidak ketahuan. Chapter 264: Masih Mau Lanjut? Melihat empat King tersebut, semua orang yang memperhatikan pertandingan ini benar-benar terkejut. "Mustahil, orang itu mengambil 4 King dengan begitu mudah!" "Curang, dia pasti curang!" "Jangan-jangan dia card mechanic [1] yang dikatakan orang-orang?" "Bodoh! Itu tidak mungkin, Anthony juga ikut mengocok kartunya bukan?" Tatapan mata orang-orang masih dipenuhi dengan tanda tanya. Bisa dikatakan ketika Randika membuka kartunya, Anthony sudah kalah bahkan sebelum dia mengambil keempat kartunya. Wajah Anthony sudah muram secara ekstrim! Orang ini benar-benar ahli! Richard, yang berdiri di belakang Randika, sangat bahagia di dalam hatinya. Sekarang dia benar-benar percaya dengan Randika. Awalnya, dia datang ke tempat ini bersama Randika agar dapat menjalin pertemanan yang lebih baik, tetapi sekarang dia justru menjadi juru selamatnya. Jika Anthony memenangkan pertandingan ini, keluarganya akan menuntut hasil taruhannya ini untuk memperlemah keluarganya. Dan tentu saja, ayahnya tidak akan menurutinya dan perang antar kedua keluarga ini akan pecah. "Masih mau lanjut?" Kata Randika dengan santai. "Kamu pasti curang! Lebih baik kita laporkan orang ini karena berani curang." Kata salah satu teman Anthony. Wajah Anthony sudah benar-benar dingin, dia berkata pada pengawalnya. "Panggilkan Hao untukku." Pengawalnya yang berdiri di sampingnya mengangguk dan segera pergi, sementara Anthony menatap tajam ke arah Randika. Semua yang memperhatikan pertandingan ini sudah menahan napas mereka, suasana meja ini benar-benar tegang dan menekan. Namun pada saat ini, suara yang cukup memalukan dapat terdengar. Tutttttt. Suara yang panjang dan keras, di suasana yang hening ini, dapat terdengar jelas. Dalam sekejap, wajah Randika yang tenang itu berubah menjadi ekspresi jijik. "Aku tidak masalah jika kamu melototiku seperti itu, tetapi kamu tidak perlu sampai kentut seperti itu bukan?" Ah? Anthony sama sekali tidak menjawab, sedangkan orang-orang di sekitarnya sudah melangkah mundur meninggalkannya. Orang-orang ini tidak habis pikir dengan Anthony, kenapa dia berusaha membunuh mereka? "Itu bukan aku!" Wajah Anthony terlihat merah dan marah. Richard yang melihat hal ini sudah tertawa puas dalam hati. Untuk pertama kalinya, dia bisa melihat musuh bebuyutannya ini kelabakan seperti itu. Tidak salah dia membuat Randika ini menjadi sekutunya, dengan ini tidak ada lagi yang bisa menghalanginya menuju puncak! Dalam hati dan perut, Randika merasa lega. Benar yang kentut adalah dia! Sebelum orang-orang bisa berkata sesuatu, dia sudah langsung menuduh Anthony sebagai pelakunya sehingga dia tidak akan menjadi tersangka. Anthony benar-benar marah, tatapan matanya terlihat dingin. Tidak lama kemudian, seorang pria yang terlihat ngantuk dan malas datang ke meja mereka. "Hei, ngapain kamu memanggilku?" Wajah Hao benar-benar terlihat ngantuk, sepertinya dia sudah berhari-hari tidak tidur. Mulutnya menghisap rokok dan rambut hitamnya yang panjang itu terlihat acak-acakan. "Hao aku butuh bantuanmu." Anthony dengan cepat berdiri dan menceritakan segalanya pada Hao. Bagi orang-orang yang mengetahui siapa Hao itu, semuanya terkejut. "Wow, dia kenal Hao?" Setiap kasino memiliki orang terhebatnya untuk mengalahkan orang-orang yang "beruntung" malam itu. Dan Hao adalah orang yang dipekerjakan oleh kasino bawah tanah ini untuk merampok kembali uang mereka yang hilang. Setelah mendapatkan detailnya dari Anthony, Hao mengangguk. "Baiklah kalau begitu, aku akan membantumu." Anthony merasa lega ketika Hao bersedia membantunya, dia lalu menatap Randika dengan tatapan mengejek. Hao dengan santai duduk dan mengeluarkan sebuah dek kartu dari saku celananya. Setelah menggelar seluruh kartu di meja untuk menunjukan tidak ada yang salah dengan kartu-kartu itu, dia berkata pada Randika. "Mari kita bermain." Setelah itu, dia menampar meja dan ke-52 kartu itu mendadak terlempar ke udara lalu seluruh kartu tersebut melayang di udara. Suara tamparan meja yang keras itu menarik perhatian semua orang yang ada di kasino ini, orang-orang yang bermain di ruangan VIP juga menyadari bahwa ada hal menarik yang sedang terjadi. Di salah satu ruang VIP, ada seorang perempuan berusia 15 tahun yang secantik boneka dan memakai baju sedikit terbuka menyadari kejadian ini. Matanya terpaku pada Randika yang duduk dengan tenang dan melihat kartu itu terkocok. Dia lagi? Di meja-meja lain, keluarga dari sekutu Richard dan Anthony juga menyadari kejadian ini dan berkumpul di sekitar meja Randika. Dalam sekejap, seluruh fokus kasino ini tertuju pada satu meja. Randika duduk dengan tenang meskipun ada sedikit rasa terkejut di dalam hatinya. Sepertinya lawannya kali ini bukanlah sembarangan orang. Mengingat peringatan dari Richard sebelumnya, sepertinya Hao adalah orang andalan kasino ini. Sepertinya kartu yang dilempar di udara itu merupakan salah satu triknya. Baginya ini lumayan menarik, tetapi apakah dia mengira trik seperti itu bisa mengalahkannya? Ketika kartu-kartu itu masih berada di udara, Randika tersenyum dan berdiri. Tangan kanannya tiba-tiba menjulur dan mengambil salah satu kartu di udara! Hao, yang terkejut dengan tindakan Randika ini, mulai berkeringat dingin. Kartu yang diambil oleh Randika adalah King sekop. Detik itu juga, Hao segera mencari 3 King sisanya dari kartu-kartu yang masih terbang di udara itu sebelum mereka jatuh di tangan lawannya. Orang-orang melihat kedua orang itu bertarung memperebutkan kartu yang masih ada di udara, mereka baru tahu ada pertarungan yang seperti ini di sebuah permainan judi. Kejadian ini benar-benar cepat, karena kartu-kartu itu hanya melayang selama beberapa detik. Hao segera mengunci sasarannya, matanya sudah berbinar-binar dan tangannya sudah menjulur. Tetapi, Randika jauh lebih cepat dan mengambil kartu yang menjadi sasaran Hao. Ketika seluruh kartu itu terjatuh di meja, keduanya hanya berdiri diam. Semua orang, menahan napas mereka sambil menatap keduanya, menunggu hasil akhir dari pertarungan ini. "Apa menurutmu orang itu mendapatkan empat King lagi?" Tanya salah satu orang. "Mustahil! Kamu kira siapa lawannya itu? Mustahil dia bisa mendapatkan empat King lagi." Randika menatap Hao, Hao menatap Randika. Berbeda dengan wajah tenang Randika, Hao sudah mengerutkan dahinya sejak tadi. Dia telah kalah. Randika secara perlahan membuka keempat kartunya yang telah dia dapatkan di atas meja dan hal ini membuat seluruh penonton bersorak. "GILA! Empat King lagi?" "Luar biasa!" "Benar-benar tidak terkalahkan." Semua orang kembali terkejut, bisa-bisanya orang itu mendapatkan empat King lagi? Hao juga membuka kartunya, empat Queen tersebut juga ikut bersedih melihat kekalahan Hao yang telak. Di ruangan VIP, Elizabeth, perempuan muda tadi, menatap Randika dan berkata pada pengawalnya. "Nancy, bagaimana menurutmu kemampuan orang itu?" Di samping Elizabeth, Nancy berdiri dengan wajah seriusnya. Matanya daritadi tertuju pada Randika. Setelah beberapa saat, dia berkata dengan pelan. "Aku tidak bisa melihatnya, orang itu benar-benar hebat." "Oh? Benarkah?" Elizabeth lalu tersenyum. "Di atas langit memang ada langit." Richard sudah senang bukan main, tatapan pada Randika sudah dipenuhi dengan kekaguman. Kakak tertuanya ini, meskipun Randika mengatakan bahwa mereka hanya teman, benar-benar kuat! Di sisi lain, Anthony sudah berkeringat deras. Tetapi, semua orang tidak peduli dengannya. "Kau benar-benar hebat, aku belum pernah melawan orang sehebat dirimu." Hao mulai angkat bicara. Setelah berguru pada salah satu ahli judi terhebat di dunia, dia sama sekali belum menemukan orang yang pantas menjadi lawannya. Oleh karena itu, dia sudah lama mendambakan momen seperti ini. Tatapan mata Hao menjadi berbinar-binar, kekalahannya ini membuatnya darahnya mendidih. "Aku masih ingin bertarung denganmu!" [1] keahlian dalam gerakan tangan yang digunakan untuk memanipulasi dek kartu. Pesulap menggunakan cara yang sama untuk melacak salah satu kartu atau terkadang bahkan seluruh dek secara lengkap. Dalam kasus di kasino, orang akan berusaha mengetahui informasi yang sama sehingga mendapatkan rasio kemenangan yang tinggi. Chapter 265: Randika vs Hao Hao menatap kagum pada Randika, dia sudah lama mendambakan rival sekuat ini. Oleh karena itu, satu pertarungan tidak cukup memuaskan api di dalam dirinya! Terakhir kali Hao merasa darahnya mendidih seperti ini ketika dia melawan dewa judi dari Australia, itu pun sudah 3 tahun yang lalu. Dalam 3 tahun ini, dia sama sekali tidak bisa menemukan lawan yang pantas. Dia tidak menyangka bahwa setelah menetap di Indonesia dan bekerja di kasino bawah tanah ini, api di dalam hatinya itu ternyata bisa membara sekali lagi. Namun, Randika menatap Hao dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Aku tidak mau berjudi lagi!" Orang-orang yang mendengar hal ini langsung kecewa dalam hati mereka. Namun, yang paling kecewa adalah Hao. Randika dalam hati merasa tenang dan senang, dia memberi umpannya pada Hao. Jika kau ingin berjudi denganku, pertaruhkan uangmu! "Ayolah, apa syaratmu agar mau bermain denganku?" Hao masih tidak mau menyerah. "Aku masih tidak terima kalah denganmu, jadi katakan saja apa maumu." Setelah berhasil menyelamatkan harta keluarganya, Richard sudah memandang tinggi Randika. Dan sekarang, Randika bahkan membuat Hao menari-nari di atas tangannya. Mendengar hal itu, Randika, yang hendak pergi meninggalkan kasino ini, tiba-tiba berhenti berjalan dan berkata sambil tersenyum. "Baiklah kalau begitu, berapa uang yang kamu berani bayar untukku jika aku menang?" "Apa satu miliar cukup?" Kata Hao dengan santai. Selama hidupnya, kasino-kasino yang dia kunjungi sudah membuat kekayaan Hao lebih dari 2 triliun, dia mengambil pekerjaan di kasino ini sebagai orang andalan mereka hanya untuk menghabiskan waktunya saja. Orang-orang terkejut ketika mendengar penawaran Hao, dia dengan mudahnya membayar 1 miliar untuk seseorang agar berjudi dengannya? Mendengar hal ini Randika mengangguk puas. "Baiklah, kau ingin kita bermain apa?" Mendengar persetujuan Randika, semua orang menjadi gembira. Siapa memangnya tidak ingin melihat pertarungan antar dewa judi? "Tentu saja poker!" Hao terlihat percaya diri, belum pernah ada orang yang berhasil mengalahkannya dalam poker. Dengan begitu, kedua orang ini duduk dan seorang dealer datang sebagai pihak netral untuk membagikan kartu mereka. Poker merupakan salah satu permainan yang cukup populer di kasino. Permainan ini tidak hanya mengandalkan keberuntungan, ketenangan, kemampuan menganalisa tetapi juga mengandalkan keberanian seseorang. Menentukan siapa yang menang sangatlah sederhana yaitu siapa yang memiliki kombinasi 5 kartu paling besar. Dan cara bermainnya juga sangatlah gampang. Pertama, dealer akan memberikan pada tiap player 2 kartu. Kedua, secara bergantian mereka akan mempertaruhkan sejumlah chip ke dalam pot hadiah. Setelah bertaruh, pemain lainnya bisa call [1], fold [2] raise [3] atau all in [4]. Setelah itu, barulah dealer membuka tiga kartu terlebih dahulu lalu pemain pertama akan menentukan apakah dia akan raise atau check [5]. Setelah 5 kartu dealer terbuka atau player sudah all in, kedua player akan membandingkan siapa kartu mereka yang memiliki kombinas paling besar. Kombinasi yang paling besar dimulai dari royal straight flush, straight flush, four of a kind, full house, flush, straight, three of a kind, two pairs, one pair, high hand. Permainan ini meminta para player mengandalkan gertakan dan tipu daya mereka agar lawan-lawannya dapat jatuh di perangkapnya. "Kita lihat seberapa besar keberuntungan kita." Kata Randika sambil tersenyum. Ketika dealer membagikan 2 kartu pada Randika dan Hao, Randika langsung berkata pada Hao. "All in." Bersamaan dengan itu, Randika mendorong seluruh chip yang dia punya. Kali ini, semua orang tampak bingung. Jika dia bermain seperti itu, tentu pertandingan ini tidak akan seru bukan? Hao juga sedikit terkejut, tetapi wajahnya langsung tersenyum. Menarik, orang ini benar-benar menarik. "Call." Bersamaan dengan itu, Hao mendorong seluruh chip yang dia miliki ke depan. Kemudian dealer membagikan 3 kartu terlebih dahulu ke meja dalam keadaan tertutup. Seluruh orang sudah menahan napas mereka selagi menunggu siapa pemenangnya. Kartu yang dimiliki Randika adalah 10 dan Jack sekop, sedangkan Hao adalah King hati dan Queen wajik. Setelah kedua player menunjukan kartunya, dealer membalik ketiga kartu tersebut. Momen penentuan akhirnya tiba, suasana menjadi semakin lebih tegang. Tiga kartu pertama adalah King sekop, Queen sekop dan 2 wajik. Sekilas mungkin Randika terlihat kalah tetapi kemungkinan dia menang masih cukup tinggi. Dia hanya butuh 1 sekop ataupun As untuk mengalahkan Hao. Kedua kartu sisanya masih belum dibagikan, hal ini membuat semua orang makin deg-degan. Randika menatap Hao, Hao juga menatap Randika. Keduanya tersenyum. Pada saat ini, sepertinya semua bergantung pada keberuntungan. Aslinya, permainan poker ini bisa berlangsung berjam-jam. Player bisa membuang kartu mereka jika merasa kalah dari awal, hal inilah yang membuat permainan menjadi lama. Oleh karena itu, kartu bagus bukan menjadi jaminan untuk menjadi pemenang melainkan bagaimana membuat lawanmu termakan jebakanmu agar dia berani bertaruh lebih banyak atau membuang kartunya. Saat kartu keempat itu dibagikan dan terbuka, Hao sudah tersenyum bukan main. Kartu tersebut adalah sebuah King wajik dan ini membuat Hao mendapatkan full house. Satu-satunya harapan untuk Randika menang hanyalah As sekop yang membuatnya royal straight flush. "Sepertinya dewi kemenangan berpihak padaku." Kata Hao. "Hahaha, jangan takabur dulu." Kata Randika sambil tersenyum. Hao masih memasang wajahnya yang tersenyum, tetapi dalam hati dia sudah benar-benar senang bukan main. Mendapatkan royal straight flush dalam pertandingan hanya memiliki persentase tidak lebih dari 1%, jadi bisa dibayangkan kemenangan ini sudah dikunci total olehnya. Meskipun terlihat tenang, yang orang-orang tidak tahu adalah tenaga dalam Randika sudah menyebar di tangannya. Dari awal dia dapat melihat bahwa dealer ini tidak netral, sepertinya dia adalah kaki tangan Hao. Tetapi untuk memberikan semacam hiburan pada penonton, dibuatlah drama seperti ini agar terlihat tegang. Sebelum dealer membagikan kartunya, Randika sudah menembakan energi tenaga dalamnya ke arah dek kartu. Tanpa diketahui semua orang, termasuk si dealer, terjadi perubahan posisi dalam dek kartu. Setelah dealer mengambil 1 kartu paling atas tersebut, semua orang menahan napas mereka. Dealer itu terkejut ketika melihat kartu yang terbuka itu tidak sesuai dengan ekspektasinya. As sekop! "Sepertinya kau kalah." Sesudahnya kata-kata Randika itu keluar, semua penonton menjadi heboh dengan sendirinya. Seorang amatir seperti Randika bisa mendapatkan royal straight flush melawan dewa judi Hao! Melihat kelima kartu yang ada di meja itu, Hao tampak terdiam. Bagaimana mungkin rencana yang dimilikinya ini bisa gagal? Sepertinya lawannya ini punya triknya sendiri. "Aku kalah." Hao yang terdiam beberapa lama itu akhirnya mengakui kekalahannya. "Kauˇ­ benar-benar unik." "Aku cuma cukup beruntung." Kata Randika sambil tersenyum. "Tetapi keahlianku bukan hanya pada poker, bagaimana kalau kita lanjut?" Kata Hao. Wajah Randika terlihat malas. "Aduh, bagaimana yaˇ­" Hao langsung menghela napas ketika melihat Randika yang seperti itu, sepertinya lawannya ini menginginkan uang kemenangannya terlebih dahulu. "Jangan khawatir tentang uangmu, beritahu rekeningmu dan aku akan mengirimnya sekarang." "Kau baik sekali." Kata Randika sambil tertawa. Randika berhasil mendapatkan 1 miliar hanya dalam waktu 2 menit, walau ini tak seberapa, dia bisa jajan banyak hal. Kemudian kedua orang ini kembali berkompetisi dalam berbagai permainan yang ada di kasino. Namun, setiap permainan hasilnya tetap sama sesuai dugaan orang-orang. Mahjong, Randika yang menang. Capsa susun, Randika yang menang. Baccarat, Randika yang menang. [1] Sebutan untuk ikut memasang taruhan ketika lawan menaikkan jumlah taruhannya. [2] Sebutan untuk menyerah dengan cara membuang kartunya pada dealer. [3] Sebutan untuk menaikkan jumlah taruhan. [4] Sebutan untuk ketika player mempertaruhkan seluruh chip yang dia punya. [5] Sebutan untuk di mana player hanya ikut taruhan di awal permainan dan tidak ingin menambah jumlah taruhan. Chapter 266: Randika vs Ella Pertarungan Randika melawan Hao sudah mencapai tahap akhir. Setelah bermain 10 jenis permainan dengan Randika, keringat dingin mulai membanjiri punggung Hao. Tatapan mata orang-orang sudah menganggap Randika bukan manusia. Benar, Randika tidak terkalahkan dalam permainan apa pun! Bahkan permainan seperti melempar darts, Randika mendapatkan nilai sempurna dengan melemparnya persis ke tengah. Pada saat ini, tiba-tiba ada suara tepuk tangan yang datang dari arah belakang. Orang-orang melihat seorang perempuan cantik datang menghampiri Randika. "Kau memang luar biasa, kemampuanmu dalam berjudi juga nomor 1. Maukah kamu bertanding melawanku?" Melihat perempuan cantik itu, orang-orang sudah menarik napas mereka kuat-kuat. Bukankah dia adalah Ella, salah satu rival Hao di kasino ini? Hao menatap Ella dan melangkah mundur. Karena status Ella berasal dari kalangan atas, Hao harus menghormatinya dan mundur dari pertarungan ini. Randika memperhatikan Ella dengan baik, wajahnya sama sekali tidak berubah ketika matanya memperhatikan perempuan satu itu dari atas ke bawah. Ella memakai gaun pesta berpayet dengan jaket bulu putih di pundak kanannya, persis dengan Marilyn Monroe. Punggung dan dadanya yang terlihat itu benar-benar menggoda. Belum lagi pantatnya yang terbungkus dengan ketat itu terlihat sungguh sexy. Perempuan ini benar-benar cantik, dia akan memberikannya nilai 89. "Aku paling suka berjudi dengan perempuan cantik." Kata Randika sambil tersenyum. "Aku tidak akan menuntut apa-apa darimu." Mendengar hal ini, semua orang sudah tertawa dalam hati mereka. Hao sudah menghabiskan 10 miliar hanya untuk kalah dengan Randika. Ella tersenyum. "Tetapi bukan hanya aku saja yang kamu lawan, ikutlah denganku." Semua orang terkejut, kemudian tatapan mereka tertuju pada meja yang berada di tengah kasino dengan 2 kursi yang masih kosong. Randika dengan santai membalas Ella dengan senyuman dan berjalan bersamanya. Randika lalu duduk dan memperhatikan kedua pemain lainnya. Salah satu dari mereka adalah pria paruh baya dan perempuan yang tidak kalah cantik dengan Ella. "Kali ini kita akan bermain black jack." Kata perempuan itu. Permainan ini sangatlah sederhana. Sebelum kartu dibagi, player diharuskan untuk bertaruh terlebih dahulu. Karena mereka tidak memakai orang lain sebagai dealer, maka salah satu dari mereka akan menjadi dealer. Jumlah taruhan yang diperkenankan tidak bisa melebihi dari jumlah yang dimiliki dealer. Setelah itu, dealer akan membagikan setiap player 2 kartu dalam keadaan terbuka. Setelah masing-masing player mendapatkan kartunya, dealer akan membagi 2 kartu untuk dirinya sendiri dengan kartu pertamanya terbuka dan kartu keduanya tertutup. Player memiliki 2 opsi yaitu stand [1] or hit [2]. Double down [3], split [4], blackjack [5] bisa menggandakan kemenangan yang dipertaruhkan oleh player. Player yang tidak mendapatkan blackjack boleh terus hit, apabila total kartu mereka melebihi 21 maka kartu tersebut dianggap bust. Setelah para player menentukan langkah mereka, barulah dealer membuka kartu keduanya. Dealer harus hit ketika total kartunya adalah 16 atau di bawahnya dan harus stand ketika dia 17 atau di atasnya. Kartu dianggap bust ketika total kartu di atas 21. Jika player bust terlebih dahulu sebelum dealer bermain, maka player dianggap kalah. Jika player menang biasa, dia akan mendapatkan jumlah taruhan yang mereka pasang sebelumnya. Jika player dan dealer sama-sama mendapatkan blackjack, maka player dianggap menang biasa. Ketika dealer telah memakai habis satu dek kartu, maka player berikutnya yang akan menjadi dealer. Permainan ini akan terus berjalan sampai hanya tersisa satu orang. Randika mendengarkan penjelasan permainan ini sambil tersenyum. "Baiklah kalau begitu, ayo kita mulai." Kemudian keempat orang itu menentukan siapa yang akan menjadi dealer untuk ronde pertama dan membagi chip dengan sama rata yaitu 100 keping. Semua tatapan mata tertuju pada meja ini, kali ini Randika lah yang menjadi dealer duluan. "Apa kamu tahu, persentase bust seorang dealer mencapai angka 30%?" Kata Ella pada Randika. Ketiga player mulai mempertaruhkan chip mereka dan Randika bersiap untuk mengocok kartunya terlebih dahulu sebelum membagi kartunya hingga habis. Banyak trik curang yang bisa digunakan dalam permainan ini. Contohnya adalah card counting yang digunakan oleh Ella. Di black jack, kesempatan dealer untuk bust sangat tinggi ketika banyak kartu di atas 9 dan ini menjadi kesempatan player untuk bertaruh banyak. Jika di dek terdapat kartu di bawah 2-8, maka dealer lah yang diuntungkan. Tetapi hal ini baru bisa dilakukan saat permainan sudah berada di tengah-tengah. Contoh lainnya yang digunakan oleh pria paruh baya itu adalah menandai kartunya. Hal ini memerlukan waktu karena kartu-kartu tertentu lah yang layak untuk ditandai seperti As dan kartu di atas 10. Pemain akan memberikan sedikit lekukan di ujung kartu dengan kuku ibu jarinya, hal terpenting adalah melakukannya selembut mungkin agar tidak ada orang yang bisa menyadarinya. Untuk mata yang terlatih, tanda tersebut bisa dilihat dengan mudah. Tetapi dealer sendiri juga memiliki caranya sendiri seperti menyembunyikan kartu, second deal, peeking dll. Di ronde pertama ini tidak terlalu menghasilkan kejadian yang menarik, sepertinya Ella dkk berusaha melihat kemampuan Randika dengan bertaruh secara kecil. Akhirnya ronde pertama telah selesai, Randika masih memiliki chip sebanyak 80 sedangkan Ella berada di depan dengan memiliki chip sebanyak 110 keping. Setelah memastikannya di ronde pertama, Ella mulai serius. Taruhan yang dipertaruhkan dalam game ini tidaklah murah, per orang memberikan 2 miliar ke dalam pot. Jadi pemenangnya akan mendapatkan 8 miliar. Ronde kedua dimulai dan Ella mulai meraja rela. Dia berhasil membuat bust si perempuan cantik itu dalam satu kali taruhan. Dengan card countingnya, dia mendapatkan blackjack saat dirinya bertaruh banyak. Sekarang posisinya adalah Ella dengan 170 chip, Randika 120 chip dan si pria paruh baya 110. Ronde ketiga dimulai dan yang menjadi dealer adalah si pria paruh baya itu. Keadaannya cukup mengkhawatirkan, cukup salah satu dari Randika atau Ella melakukan all in maka pria tersebut akan bust. Selama ronde ketiga ini, Randika masih berwajah tenang dan, tanpa disadari orang-orang, tangannya sudah dipenuhi oleh tenaga dalamnya sejak lama. Setelah beberapa kali putaran, akhirnya pria paruh baya itu juga bust dan sekarang sisa Randika dan Ella dengan chip yang hampir setara yaitu 180 dan 220. "Aku penasaran, kenapa kamu masih bisa berwajah tenang seperti itu selama permainan kita?" Tanya Ella. "Apa tidak sekalian saja kamu menuduhku menghitung kartu sepertimu?" Balas Randika sambil tersenyum. Ella hanya terdiam dan sekarang dialah yang menjadi dealer. Para penonton sudah menahan napas mereka, pertarungan puncak sudah tiba! Ella masih tidak tahu trik apa yang digunakan oleh Randika selama permainan ini. Yang pasti taruhan yang dilakukan oleh Randika benar-benar sempurna, saat kartunya jelek secara kebetulan dia memasang taruhan yang rendah dan saat kartunya bagus secara kebetulan lagi taruhannya 3-4x dari sebelumnya. Tetapi semua ini tidak masalah, apa pun yang terjadi, dialah yang memegang dek kartu dan mengontrol permainan. Pengalamannya sebagai pesulap membuat dia menguasai cara mengocok kartu dengan sempurna dan bisa mengingat semua kartu dalam sekali lihat. Belum lagi trik second deal miliknya tidak pernah ketahuan saking cepatnya. "Tenangkan dirimu dan bermainlah seperti biasa." Pikir Ella dalam benaknya. Setelah beberapa putaran, trik yang digunakan Ella berjalan dengan lancar dan sekarang chip yang dimiliki Randika tinggal 80. Namun, wajah Randika masih terlihat tenang, hal ini membuat Ella semakin cemas. Apakah orang ini masih memiliki trik? Justru inilah yang diinginkan oleh Randika. [1] Tidak mengambil kartu tambahan. [2] Mengambil kartu lain. [3] Melipatgandakan taruhan dengan mengambil hanya satu kartu tambahan, opsi ini hanya berlaku pada player. [4] Player memisahkan dua kartu pertamanya menjadi dua pegangan yang berbeda, hal ini akan menggandakan jumlah taruhannya. Kedua kartu yang dipisahkan ini hanya boleh dilakukan ketika dua kartu itu memiliki nilai yang sama. [5] Jumlah total kartu bernilai 21 di mana salah satu kartu harus merupakan As. Biasanya kasino akan memberikan bonus setengah dari taruhan yang player pertaruhkan. Chapter 267: Saran Untukmu Randika dari awal sudah mengerti trik-trik seperti apa yang digunakan Ella. Perempuan itu benar-benar lihai memanfaatkan celah, jelas bahwa dia sudah lama bergelut di dunia perjudian sejak lama. Hal-hal seperti inilah yang membuat Randika benci berjudi. Dia sangat membenci bagaimana orang-orang yakin dengan kemampuan menipu mereka hingga akhirnya kehilangan segalanya. Jadi tidak ada salahnya kan untuk ikut curang ketika dicurangi? Melihat kegugupan Ella semakin membesar, Randika yakin inilah saat yang tepat untuk memainkan triknya. Selama 3 ronde awal, Randika sudah menandai kartu dengan tenaga dalamnya. Hal ini hanya bisa dilihat oleh dirinya, orang-orang awam tidak akan pernah menyadarinya. Sejujurnya, dia bisa menang sejak awal ronde ketiga tetapi dia memutuskan untuk tidak melakukannya. Kenapa? Jelas agar dia bisa memandangi dada Ella tanpa perlu mengalihkan perhatiannya! Tetapi sekarang dia merasa lapar dan sekarang baginya adalah waktu yang tepat untuk menyelesaikannya. Ketika Ella berusaha membagi kartunya dengan trik second deal, tiba-tiba kartu yang diambilnya tersangkut! Di bawah tatapan semua orang, kartu yang diambil dari bawah itu terlihat dengan jelas. Tenaga dalam Randika yang ada di dalam kartu bekerja sebagai lem, oleh karena itu kartu yang diambil oleh Ella tersangkut dan memperlihatkan trik yang digunakan oleh Ella. "Curang! Perempuan itu curang!" Teriak beberapa orang. "Benar-benar ceroboh, sekarang reputasinya pasti hancur." Randika hanya tersenyum ketika melihat wajah Ella yang memucat. "Sepertinya akulah pemenangnya." Hao, yang berada di samping meja, benar-benar linglung. Bagaimana Ella bisa melakukan hal ceroboh seperti itu? Ini pasti ulah Randika, pikirnya. Dia lalu menatap Randika lekat-lekat dan tersenyum pahit sambil menghela napasnya. Sepertinya perlu beberapa tahun agar dia bisa setara dengan pria itu. Aku pasti akan mengalahkanmu! Randika menatap orang-orang yang ribut sendiri lalu berdiri sambil mengatakan. "Transfer uangku sekarang, aku ingin cepat-cepat pergi dari tempat ini." Randika sudah bosan menghadapi orang-orang seperti ini, lebih baik dia pulang dan bermain-main dengan istrinya. "Tunggu dulu!" Ella berteriak dengan nada dingin. "Bertarunglah denganku sekali lagi." Randika menguap. "Baiklah, satu kali lagi." Ella menggigit bibirnya hingga berdarah, orang ini benar-benar meremehkan dirinya. "Kita hanya bermain dadu." Ella mengeluarkan 2 buah dadu dan sebuah gelas hitam. "Siapa yang bisa mendapatkan jumlah yang paling kecil dialah pemenangnya." Sesudahnya menjelaskan, Ella segera memasukan kedua dadu itu ke dalam gelas dan mengocoknya. Randika memperhatikan perempuan satu ini sambil menghela napas. Sepertinya penjudi seperti Ella tidak bisa lepas dari trik-trik kotor, perempuan satu ini sudah busuk hingga ke intinya. Sesuai dugaannya, di bawah tatapan orang-orang, Ella mengangkat gelasnya dan menunjukan isi dadunya yaitu 2! Ella tersenyum. "Sekarang giliranmu. Sebagai tambahan, jika kita seri maka kamulah pemenangnya." Randika menghela napasnya, dia mengambil gelas hitam itu dan mengocok dadunya. Tenaga dalam di tangannya sudah bekerja dengan cepat. Berbeda dengan Ella, dia mengocok gelas itu secara perlahan. Orang-orang sudah mengira bahwa Randika sudah tidak punya kesempatan menang, mendapatkan angka 2 benar-benar mustahil. Pada saat ini, Randika berhenti mengocok dan belum membuka isinya. Ketika semua orang penasaran dengan isi gelas Randika, Randika sudah berdiri dan berkata sambil tersenyum. "Aku harap dengan ini kamu tidak mengejarku lagi." Kemudian, tidak peduli dengan reaksi orang-orang, Randika berjalan menjauhi meja. Orang-orang yang melihat hal ini terlihat bingung, Ella mengerutkan dahinya dan mengambil gelas yang masih tertutup itu. Matanya terbelalak ketika dia melihat kedua dadu itu hancur menjadi debu! Dadu yang hancur menjadi debu, bisa dikatakan, tidak ada angkanya berarti Randika mendapatkan nilai total 0. Lagi-lagi Randika menang! Ella sudah tidak tahu harus berkata apa, semua orang juga terkejut ketika melihat dadu yang hancur itu. Hari ini benar-benar penuh dengan kejutan. "Dewa judiˇ­ Orang itu adalah dewa judi!" Kata beberapa orang. Mulai dari hari ini, legenda dewa judi yang baru telah lahir di kasino ini. "Menarikˇ­ Nancy, bawa orang itu kemari." Elizabeth, yang memperhatikan Randika sejak awal, tersenyum. "Baik." Nancy menyanggupi permintaan nonanya dan berjalan keluar dari ruangan VIP. Randika berjalan menuju pintu keluar, tiba-tiba, ada perempuan cantik berwajah dingin mendatanginya. Perempuan ini mengingatkan dirinya terhadap Elva. Nancy mencegat Randika dan berkata padanya. "Ikut denganku, majikanku mau ketemu." Randika berhenti berjalan dan menatapnya dengan tajam. "Apa aku berhutang pada majikanmu itu?" Nancy terlihat bingung, dengan nada dingin dia menjawab. "Tidak." "Terus kenapa kamu berbicara seperti itu ke aku?" Jawab Randika dengan santai. Nancy menatap Randika yang penampilannya tidak berkelas itu. Sambil menahan amarahnya, dia berkata kembali pada Randika. "Tuan, majikanku ingin bertemu dengan Anda, maukah Anda ikut denganku?" "Tidak mau, aku tidak kenal siapa majikanmu itu. Terlebih, kamu menghalangiku berjalan." Randika mencuekinya dan berjalan melewatinya. Tetapi, Nancy kembali mencegatnya. "Sayangnya aku tidak menerima kata tidak, Anda harus bertemu dengan majikanku." Kata Nancy dengan wajah serius. "Kamu kira siapa aku?" Randika juga menjadi marah. Dia berkata padanya dengan nada sedikit tinggi. "Anjing mati sepertimu tidak bisa menghalangi jalan seorang singa." Randika paling benci dengan orang kaya yang bertindak semena-mena mentang-mentang memiliki uang, kalau dia memang butuh sesuatu darinya maka datanglah sendiri bukan menyuruh anjing-anjingnya. "Apa katamu?" Nancy sudah tidak bisa menahan amarahnya. Dia tidak pernah mengalami kejadian seperti ini. Awalnya rakyat jelata ini ingin mendapatkan rasa hormatnya sama seperti majikannya dan sekarang dia malah mengejeknya sebagai anjing? "Ternyata kamu bukan hanya tidak punya otak, sepertinya kamu juga tuli." Randika menggelengkan kepalanya. "Sia-sia berwajah cantik tetapi bodoh." Nancy sudah tidak bisa menahan diri lagi, darahnya sudah mendidih. Dia melayangkan sebuah tamparan ke arah wajah Randika. Namun tanpa disangka-sangka, pergelangan tangannya berhasil ditangkap oleh Randika. Terkejut, Nancy segera mengambil langkah mundur. Randika lalu berkata padanya. "Meskipun seekor singa biasanya tidak peduli dengan gonggongan anjing, hari ini aku akan membuat pengecualian. Aku akan mengajari anjing sepertimu agar tidak macam-macam pada seorang raja." Mendengar kata-kata Randika yang angkuh, darah Nancy sudah tidak bisa lebih mendidih lagi. Namun, sebelum dia bisa mengambil ancang-ancang menyerang, Randika sudah menerjang ke arahnya. Menurut insting Nancy, dia harus menghindar dari serangan ini. Namun, gerakan Randika berubah-ubah selagi dia berlari, Randika berhasil berdiri di depan Nancy dan meninjunya di dadanya. "Belum selesai!" Teriak Randika sambil berlari ke arah belakang Nancy. Nancy yang merasakan rasa sakit yang luar biasa itu, mendadak merasakan punggungnya telah ditendang. "Bersiaplah!" Setelah menerima beberapa pukulan lagi, Nancy sudah benar-benar tumbang oleh serangan Randika. Namun, pukulan Randika tidak sekeras biasanya. Randika masih memiliki hati ketika melawan seorang perempuan, lagipula dia hanya ingin memberikan pelajaran pada pengawal angkuh ini. "Lain kali, kenali dulu lawanmu sebelum menggonggong." Kata Randika dengan santai, kemudian dia berjalan menuju pintu keluar. Namun pada saat ini, suara dingin terdengar dari arah belakang. "Kamu memang orang yang merepotkan." Randika menoleh dan terkejut, bukankah dia perempuan yang dia selamatkan dari para preman itu? "Adik kecil, aku tidak menyangka perempuan itu bawahanmu." Mengingat sifat remaja perempuan satu itu, Randika menggertakan giginya. Tatapan mata Elizabeth terlihat dingin, adik kecil? Elizabeth menghembuskan napasnya dan berkata pada Randika dengan nada dingin. "Aku hanya ingin memberikanmu sebuah saran. Tetapi itu, terserah padamu ingin mendengarkannya atau tidak." Melihat wajah serius adik kecil itu, Randika berhenti berjalan. "Apa saranmu?" "Berhati-hatilah beberapa hari ini." Elizabeth membantu Nancy untuk berdiri dan melewati Randika. "Aku harap kamu bisa bertahan hidup." Apa? Randika benar-benar tidak tahu apa artinya itu. Melihat sosok Elizabeth yang menghilang sambil membawa Nancy, Randika sudah tidak peduli lagi. Sedangkan untuk sarannya itu, Randika tidak tahu apa artinya. Hidupnya sekarang masih baik-baik saja, memangnya siapa yang berani mengancam nyawanya? Sedangkan untuk kalimat keduanya, "Aku harap kamu bisa bertahan hidup", benar-benar membuat Randika sedikit jengkel. Memangnya siapa di dunia ini yang bisa membunuhnya? Chapter 268: Itu Adikmu? Selesainya keluar dari kasino bawah tanah ini, Randika menggelengkan kepalanya. Dia berpikir berjudi memang buang-buang waktu, lebih baik waktunya digunakan untuk menggoda perempuan cantik. Tidak ada yang mengalahkan sensasi bercium atau sensasi tangannya meremas dada yang empuk. Setelah sadar dari delusinya, dia memutuskan untuk pergi ke kantor dan mencari Viona. Setelah diingat-ingat, peristiwa memalukan yang dialaminya di rumahnya masih melekat di benaknya. Kalau saja tidak ada orang tua Viona pada waktu itu, dia dan Viona sudahˇ­. Ini sudah ketiga kalinya hubungannya dengan Viona diganggu, Randika selalu selangkah lagi untuk meresmikan hubungan mereka. Kejadian pertama dan kedua masih dapat dimaklumi, tetapi yang ketiga itu benar-benar memalukan, dia sudah tidak punya wajah untuk bertemu dengan orang tuanya Viona lagi. Mungkin sebaiknya malam ini dia membuka kamar bersama Viona. Randika berpikir keras dan merencanakan semuanya dengan detail. Pada saat ini, Richard berhasil menyusul dirinya. "Kak Randika, kak Randika." Richard terengah-engah ketika berlari menyusul Randika. "Kakak memang hebat!" Randika terlihat biasa-biasa saja, pikirannya masih memikirkan bagaimana dirinya berhubungan badan dengan Viona. "Aku cuma sedang beruntung saja." Melihat Randika yang rendah hati ini, Richard makin kagum. Dia lalu bercerita tentang bagaimana kerennya aksi Randika tadi. Namun pada saat ini, HP milik Richard bunyi. Richard ingin mencuekinya, apa orang yang meneleponnya ini tidak tahu bahwa dia sedang sibuk menjalin hubungan yang lebih erat dengan Randika? Namun ketika melihat nomor yang meneleponnya adalah adiknya, wajah Richard segera berubah dan memasang aura anak baik. Suaranya dibuat-buat seakan-akan dia seorang malaikat. "Apa ada yang bisa aku bantu?" Randika terkejut ketika melihat Richard berubah menjadi sedemikian rupa sampai-sampai suaranya saja ikut berubah. Namun, Randika tidak tahu bahwa Richard sering menjadi korban penindasan adik perempuannya itu. Bisa dikatakan bahwa adik perempuannya itu jelmaan dari iblis. Ini semua salah keluarganya karena terlalu memanjakannya, Richard sama sekali tidak berdaya kalau sudah berurusan dengan adiknya. Kehidupan seperti ini sudah dia lalui selama masa hidup adik perempuannya. Namun, sekarang sudah lebih mendingan. Karena semakin bertambahnya usia, makin banyak laki yang mengejar adiknya jadi bukan Richard lah yang menderita lagi. Dia sudah tidak sabar melihat adik jahatnya itu menikah dan keluar dari rumah. "Apa katamu! Katakan apa maumu, jangan sakiti adikku!" Richard mendengarkan penjelasan orang asing di balik telepon ini. Wajah baiknya itu segera memburuk. "Baiklah, aku akan segera ke sana." "Kak, adik perempuanku telah diculik. Penculiknya meminta aku untuk datang ke alamat ini secepat mungkin tanpa memberitahu siapapun atau dia akan membunuh adikku." Richard menatap Randika sambil hampir menangis. "Bisakah kak Randika membantuku?" Jelas jika Richard datang sendirian maka dia dan adiknya pasti akan terbunuh. Tetapi jika Randika pergi bersamanya, dia yakin pasti akhir cerita ini akan berakhir dengan bahagia. Melihat ekspresi Richard, Randika menyimpulkan bahwa dia berkata jujur. Randika lalu mengangguk. "Tunjukan jalannya." Lagipula, dia tidak bisa berdiam diri ketika tahu ada orang yang dalam bahaya. Randika dan Richard segera naik ke mobil sport milik Richard dan berkendara menuju pinggiran kota. Tujuan mereka tidak terlalu jauh dengan posisi mereka sekarang dan laju mobil mereka benar-benar kencang, hanya butuh waktu beberapa menit bagi mereka untuk sampai di tujuan. Melihat gedung terbengkalai yang tertutup itu, hati Richard cukup berdebar-debar. Namun, Randika memberinya keberanian dengan berkata padanya. "Tabrak pagar itu!" Mendengar kata-kata Randika, Richard sama sekali tidak menjawab. Dia hanya menginjak pedal gas dengan sekuat tenaga. Dalam sekejap keempat roda mobil melaju dengan kencang dan seluruh badan mobil menerobos masuk ke dalam gedung! BOOM! Pagar itu terbuka dengan lebar dan mobil mewah Richard berhenti di sebuah halaman. Tiba-tiba, dari balik kegelapan, terdengar suara tepuk tangan. "Luar biasa, aku tidak menyangka anak baik-baik yang menjadi kesayangan ayahnya ini punya keberanian untuk menerobos masuk seperti itu." Randika menoleh ke arah suara itu dan menyadari bahwa banyak orang telah mengepung mobil mereka. Sepertinya pemimpin dari para penjahat ini berada di barisan paling belakang. "Bunuh! Bunuh!" Kumpulan para penjahat ini bersorak-sorak, bahkan ada yang sedang mabuk. Seluruh halaman gedung ini menjadi berisik dan liar. Pada saat yang sama, pagar yang hancur tadi sudah dihalangi oleh beberapa mobil dan dijaga oleh beberapa orang yang memegang tongkat besi. Melihat orang-orang berwajah bengis itu, Richard sedikit merasa takut. Tetapi dia memberanikan diri untuk berteriak dengan keras. "Di mana adikku!" Mendengar teriakan itu, si pemimpin para penjahat itu menjetikan jarinya. Tiba-tiba, pintu di belakangnya itu terbuka dan sebuah kurungan besi terlihat menggantung di udara. Di dalamnya terlihat seorang perempuan muda yang ketakutan, sepertinya dia masih trauma karena penculikannya ini. Hati Richard merasa sedikit lega, sepertinya adiknya itu terlihat baik-baik saja. Namun, dengan penglihatan supernya, Randika terkejut ketika melihat perempuan cantik itu. Bajingan, kenapa kakak adik bisa jauh begini bedanya? "Itu adikmu?" Randika menoleh ke arah Richard. Richard mengangguk. Randika benar-benar tidak menyangka, perbedaan keduanya benar-benar bagaikan bumi dengan langit. "Kita akan kaya!" Segerombolan orang keluar dari gedung dan ikut mengepung mobil milik Richard. Mereka semua memegang tongkat besi di tangan mereka. "Kalian yang ada di dalam mobil, jangan bergerak." Randika terdiam sebentar lalu keluar dari dalam mobil secara perlahan. "Apa kamu yang bernama Richard?" Tanya penjahat di dekatnya Randika itu. Para bawahan ini tidak tahu wajah mangsanya seperti apa, jadi mereka hanya bisa menebak. "Kalau bukan, buat apa aku keluar dari mobilku?" Kata Randika. "Katakan apa maumu? Bisa-bisanya kalian menculik adikku." "Menculik? Adik bajinganmu itu menabrak mobil pemimpin kami dan mau kabur." Kata penjahat itu dengan nada dingin. "Bohong! Kalian menculikku untuk meminta memeras dan meminta tebusan dari keluargaku! Kak, jangan percaya sama mereka. Mereka pasti orang suruhan keluarganya Anthony, aku yakin ini sebuah jebakan." Teriak adik perempuannya Richard. Namun, setelah dia perhatikan lagi, sejak kapan kakaknya terlihat gagah seperti itu? Randika menatap si pemimpin dari para penjahat ini dan berkata padanya. "Terus apa maumu?" Pemimpin itu membalas sambil mendengus dingin. "50 miliar atau adikmu tidak akan keluar dari tempat ini hidup-hidup." Bersamaan dengan itu, bawahannya di sebelahnya memberikannya sebuah tombol, dia lalu berdiri dan mengangkat tinggi tangannya untuk memperlihatkan detonator di tangannya. "Selama aku menekan tombol ini, bom di kurungan adikmu akan meledak. Sekarang pilih pilihanmu dengan baik atau kamu tidak akan pernah melihat adikmu lagi." Randika menggaruk kepalanya, seakan-akan terlihat bimbang, kemudian dia berkata dengan santai. "Tekan saja." Adik perempuan Richard benar-benar terkejut ketika mendengarnya, semua orang juga sama terkejutnya. Richard yang di dalam mobil sudah membuka mulutnya dengan lebar. "Ulangi lagi kata-katamu." Bahkan penjahat di dekat Randika merasa mereka telah salah mendengar. Orang ini tuli apa? Bisa-bisanya dia berkata seperti itu pada adiknya sendiri. Randika menggelengkan kepalanya dan berteriak sekali lagi. "Tips buat kalian, jangan ragu membunuh sebelum kalian terbunuh." Setelah berkata seperti itu, kaki Randika yang penuh dengan tenaga dalam itu melesat. Di bawah tatapan mata orang-orang, Randika menghilang lalu kembali di tempatnya berdiri sambil memegang bom yang tertempel di kurungan dan melemparnya ke tanah. Sepertinya mainan ini tidak layak dibilang bom, lagipula mana ada orang bodoh memasang bom tepat berada di belakangnya? "Hajar dia!" Si pemimpin itu marah. Gertakannya telah gagal dan dia tidak punya pilihan menggunakan kekerasan untuk mendapatkan uangnya. Lagipula bawahannya ini mencapai 30 orang, jadi dia tidak perlu khawatir menghadapi seorang bocah. Richard yang ada di dalam mobil sudah menatap kagum pada Randika, begitu pula adiknya yang ada di dalam kurungan. "Gagah sekali." Melihat aksi Randika yang menghajar para penjahat itu, dia benar-benar terpukau dan memutuskan untuk membuatnya menjadi pangeran berkuda putihnya. Di sisi lain, Randika menghadapi para penjahat ini dari segala arah. Bahkan tadi ada yang menggunakan mobil untuk berusaha melindasnya. Kemudian, tanpa disangka-sangka oleh kedua saudara itu, Randika sama sekali tidak menghindar! Randika berhadapan dengan puluhan orang yang bersenjatakan tongkat besi itu dengan tangan kosongnya seperti seorang ahli bela diri. Dia menangkis dan menyerang balik tanpa berpindah posisi. Semua serangan lawannya tidak ada yang mengenainya. Setiap orang yang berani melangkah ke jangkauan serang Randika akan menerima sebuah pukulan keras yang tidak terlupakan. Satu orang jatuh, dua orang jatuh, bahkan orang ketiga sudah tidak mampu berjalan dengan kedua kakinya lagi. Ini sudah bagaikan seorang pahlawan di dalam game yang membasmi monster-monster lemah. Satu per satu para penjahat ini tumbang dan mulai kehabisan orang, sedangkan yang terkapar kesakitan bertambah tiap detiknya. Pemimpin mereka sudah merasakan keringat dinginnya mengenai matanya, apa lawannya ini masih manusia? Kecepatan Randika benar-benar luar biasa, kurang dari 3 menit dia telah berhasil mengalahkan 30 penjahat yang bersenjatakan tongkat tersebut. Sekarang sisa si pemimpin dan 1 pengawalnya, tubuhnya sudah tidak bisa berhenti bergetar ketakutan. "Sudah kubilang bukan, jangan ragu membunuh sebelum pada akhirnya kamu lah yang terbunuh." Randika tersenyum dan menerjang maju. Kedua orang sisa ini berusaha semampu mereka, tetapi cecunguk seperti mereka bukanlah tandingannya Randika. Namun, yang Randika tidak tahu adalah mereka memiliki sebuah tombol darurat. Setelah si pemimpin itu menekan tombol tersebut, lantai dari kurungan yang bergantung di udara itu terbuka dan adik Richard langsung terjun bebas! Randika langsung tersadar akan situasinya dan mengerutkan dahinya. Dia lalu menggunakan si penjahat ini sebagai pijakan dan melesat ke arah kurungan besi tersebut. Randika berhasil menangkap adiknya Richard sebelum dirinya mendarat dengan keras di lantai. Bau parfum mahal segera masuk ke hidung Randika ketika perempuan cantik ini memeluk dirinya dengan erat, keempukan dadanya ini tidak kalah dengan Inggrid. Benar, Randika mengenal loli berdada besar ini. Dia hampir melupakan wajahnya tetapi dia tidak pernah lupa dengan dadanya yang begitu besar walaupun masih muda. Dia tidak akan menyangka akan bertemu dengannya lagi di saat-saat seperti ini. Adiknya Richard, yang bernama Silvia, memeluk erat Randika sang pahlawannya. Dia merasa bahwa pertemuan ini bagaikan benang merah yang mempertemukan dirinya dengan suaminya. Setelah sesampainya di bawah, Richard sudah berlari menghampiri mereka dan melihat adik perempuannya yang jahat itu masih memeluk erat Randika. "Kamu tidak perlu takut lagi, para penjahat itu sudah tidak bisa berbuat apa-apa padamu lagi." Kata Randika sambil mengelus rambut Silvia. Chapter 269: Ciuman Pertama Silvia yang terbuai dengan usapan lembut di rambutnya itu terpesona ketika menatap wajah tampan Randika. "Hmmˇ­ Bisakah aku menurunkanmu?" Tanya Randika. "Ah? Oh! Baiklah." Silvia turun dari pelukan Randika dengan berwajah merah. Richard yang memandang adiknya ini sebagai penyihir jahat, merasakan ada sesuatu yang berbeda dengan sikap adiknya terhadap Randika. Sepertinya kejadian penculikan ini membuat adiknya jatuh cinta pada kakak barunya ini. Richard merasa bahwa situasi menjadi lebih baik bagi dirinya. Tidak disangka-sangka, sepertinya pernikahan adiknya ini tidak lama lagi. Setelah adiknya itu mempunyai pasangan, kehidupan nerakanya bisa berakhir dan lahirlah masa-masa indah. Melihat loli berdada besar ini, Randika tidak bisa untuk tidak mengingat kembali ketika dia baru pulang kembali ke kota Cendrawasih ini dan salah menaiki mobil yang dikiranya taksi. Waktu itu yang menjadi supirnya adalah perempuan muda berdada besar dengan wajah kekanak-kanakannya. Kemudian perempuan itu membawanya ke perjalanan paling mendebarkan dan paling bahaya di dalam hidupnya, waktu itu Randika sempat mengira dia akan mati. Benar, adik Richard ini adalah loli berdada besar waktu itu. "Sil, apa kamu baik-baik saja?" Richard berusaha bersikap selayaknya seorang kakak. Silvia sama sekali tidak memperhatikan kakaknya itu, dia menatap tajam ke arah pangerannya itu. Kenapa dia merasa pernah bertemu dengannya? Silvia memperhatikan Randika dari atas ke bawah, dia semakin yakin pernah bertemu dengan pria satu ini. Tiba-tiba, sebuah ingatan melintas di ingatan Silvia dan dia tidak bisa menahan rasa terkejutnya. "Kamu, kamu, jangan-jangan yang waktu ituˇ­" Randika tersenyum. "Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi, dunia memang sempit." Wajah Silvia sudah merah padam, dia sangat gugup melihat wajah Randika. Pada saat itu, Randika sudah memberi kesan yang mendalam di dalam dirinya ketika dia mengalahkan pemilik mobil Ferrari. Keahlian mengemudi Randika membuat dirinya tidak bisa melupakan dirinya. Richard memperhatikan suasana yang aneh di antara adiknya dan Randika. Mereka sudah mengenal sejak lama? Mustahil! Randika mencuri kesempatan untuk memandang Silvia sekali lagi, dia benar-benar perempuan muda yang cantik. Wajahnya yang mirip boneka itu sama sekali berbeda dengan bentuk tubuhnya yang dewasa itu, menggoda sekali! "Aku belum tahu namamu." Kata Silvia sambil bermuka merah. Richard melihat adiknya yang tersipu malu itu, dia tidak pernah melihat adiknya berekspresi seperti ini sebelumnya. ...ˇ­.. Setelah mobil keluarga Richard dan Silvia datang, Randika berniat untuk pergi dari tempat ini. Namun, Silvia meminta kontak pribadi Randika, dia ingin bertemu dengannya lagi jika waktunya tepat. Terlebih, Silvia sangat percaya diri dengan kecantikannya dan tubuhnya dapat membuat Randika tidak bisa lepas darinya. Tujuan utamanya sekarang adalah membuat pria gagah ini menjadi pacarnya! "Kak Randika benar-benar hebat. Aku tidak pernah melihat adik perempuanku tergila-gila sama laki seperti itu sebelumnya." Richard benar-benar mengagumi Randika seratus persen. Tidak hanya judi, keahlian bela diri, sepertinya kakaknya ini jago mendapatkan hati wanita! Luar biasa, Richard sendiri tidak pernah bisa seperti itu. Ah! Ngomong apa kamu Richard? Kamu sendiri ini tampan dan kaya, mana ada perempuan yang tidak mau sama kamu? Tapiˇ­. Memang Randika itu berada di level yang berbeda. "Aku tidak menyangka dia itu adik perempuanmu." Randika tertawa. "Kak, jika kamu mau mengejar adikku, aku akan membantumu. Beritahu saja apa yang kamu perlukan untuk menaklukan hatinya." Kata Richard dengan penuh percaya diri. Dengan ini dia merasa dirinya dan Randika benar-benar teman dekat. Mobil Richard sedang menuju perusahaan Cendrawasih, namun ketika di jalan, Randika melihat Hannah sedang berjalan di tepi jalan. Dia merasa penasaran. "Berhenti." Kata Randika. Dia lalu keluar tanpa berpamitan pada Richard dan langsung mengejar Hannah. Melihat Randika yang pergi begitu saja, Richard menghela napas sambil tersenyum pahit. Apa pun yang terjadi, dia harus membuat Randika sekutunya. Hannah sedang berjalan sambil bermain HP miliknya, namun tiba-tiba pundak kanannya ada yang mengtowel pundak kanannya. Hannah lalu menoleh ke kanan belakang tetapi tidak menemukan siapa-siapa, dia merasa bingung. Kemudian tiba-tiba pundak kirinya ditowel oleh seseorang. Ketika dia menoleh, tidak ada siapa-siapa. Hannah lalu berputar-putar sambil mencari tahu siapa pelakunya lalu dia menemukan Randika sedang bersembunyi dengan wajah tersenyum. "Kak!" Hannah marah karena kakak iparnya ini terus-terusan menggodanya. "Sedang apa kamu di sini?" Randika tertawa dan marahnya Hannah justru memberinya perasaan menang. Dia sangat suka menggoda adik iparnya satu ini. "Tentu saja belanja. Ah! Kebetulan kakak ada di sini jadi temani aku belanja ya, aku masih ingin belanja beberapa baju lagi." Hannah langsung menangkap tangan Randika dan menyeretnya. Randika sudah gemetar ketika mendengar kata belanja. Apa yang paling ditakuti oleh laki-laki di dunia ini? Tentu saja menemani perempuan berbelanja. Kebanyakan perempuan di dunia memiliki sifat shopaholic [1], kalau sudah berbelanja mereka tidak akan mengenal waktu dan bisa-bisa mereka berbelanja 6 jam tanpa istirahat sama sekali. Tentu saja, Hannah adalah salah satu dari mereka. "Aduh aku lupa kalau ada urusan penting di kantor, aku harus segera balik ke kantor." Randika dengan cepat membuat alasan untuk kabur. "Ayolah kak, kita tidak akan mungkin bertemu di sini kalau kak Randika benar-benar sibuk. Lagipula aku cuma meminta kakak membawakan barangku tidak lebih! Aku tidak peduli, kakak harus menemaniku belanja atau aku akan tidur di kamar bersama kak Inggrid selama sebulan." Kata Hannah sambil tersenyum. Dia tidak menyangka akan menemukan kakak iparnya di sini, memang lelaki ada untuk membawakan barang-barangnya. Randika tidak punya pilihan selain menemaninya. Di sepanjang jalan banyak toko baju dan Hannah berniat untuk mengunjunginya satu per satu. Penyiksaan ini berlangsung begitu lama dan prosedur yang dilakukan di tiap toko selalu sama. Pertama, Hannah akan masuk ke sebuah toko dan memilih baju sedangkan Randika duduk dengan manis menunggu Hannah selesai memilih. Kedua, Hannah mencoba semua baju yang dikiranya bagus dan memperlihatkannya pada Randika lalu meminta pendapatnya. Di sini jawaban yang diberikan Randika menghasilkan nasib yang sama. Ketika dia mengangguk dan mengatakan bahwa baju itu bagus, Hannah merasa tidak puas dan merasa masih ada baju yang lebih bagus jadi dia menaruhnya kembali dan mencari baju lagi. Ketika Randika menggelengkan kepalanya, Hannah juga merasa baju yang dipakainya itu tidak cocok lalu dia mencari baju lainnya. Berpuluh-puluh pakaian telah dicoba oleh Hannah dan Randika dapat menyimpulkan satu hal, Hannah bukannya shopaholic, dia hanya senang berjalan-jalan dan mencoba baju-baju baru dengan gratis. Hal ini justru memakan waktu yang lebih lama. Ketika mereka mengunjungi toko kelima, Randika sudah kelelahan. Hannah sama sekali tidak menunjukan akan berhenti mencoba baju, Randika hanya bisa pasrah. "Halo mbak, bisa bantu aku? Resleting bajunya nyangkut nih." Tiba-tiba dari ruang ganti terdengar suara Hannah yang sedang kesusahan memakai bajunya. Pada saat ini, penjaga-penjaga toko tidak ada yang berjaga di area ruang ganti karena tokonya yang ramai. Randika yang mendengar teriakan tolong Hannah itu menggelengkan kepalanya, dia tidak punya pilihan selain membantunya. Ketika sesampainya di ruang ganti, Randika langsung membuka pintu tempat Hannah berada. Dia melihat Hannah memunggunginya dan resleting bajunya di belakang tidak bisa dinaikkan. Punggung mulus berwarna putih itu memenuhi matanya sekaligus beha berwarna biru muda, Randika mau tidak mau menelan air liurnya. Jika dia melepas pengait behanya itu, apa yang akan terjadi pada dirinya? Hannah sudah menyadari ada orang yang masuk ke dalam ruangan gantinya, dia mengira itu adalah pelayan toko. Dia lalu mengatakan. "Tolong bantu aku, aku tidak bisa menariknya ke atas." "Han, bajumu itu kekecilan." Kata Randika sambil menghampiri Randika. Hannah yang mendengar suara lelaki itu menoleh dan langsung terkejut. Dia langsung menutupi kedua dadanya dengan tangan. "Kak! Sedang apa kamu di sini?" Hannah menatap tajam pada Randika. Bukannya kamu butuh bantuan untuk memakai bajumu itu? Namun kemarahan Hannah ini memang masuk akal, bagian belakang bajunya memang terbuka sekali dan memperlihatkan punggungnya itu. Randika lalu membalasnya sambil tersenyum. "Han, aku hanya berusaha membantumu memakai bajumu itu. Sini, keburu nanti ada orang yang mikir tidak-tidak." Randika menghampiri Hannah dan Hannah berhasil mengelak. Tetapi pada saat ini, kakinya Randika terpeleset karena menginjak baju Hannah yang ada di lantai. Tubuh Randika melesat ke arah Hannah. Hannah hanya bisa terdiam ketika kakak iparnya itu jatuh ke arahnya. Sekarang, kedua wajah mereka sangat dekat dan mereka saling bertukar tatapan mata. Namun, kedua bibir mereka sudah saling mengunci dan salah satu tangan Randika mendarat di dada Hannah. Keduanya berdiri kaku di tempat. Ini pertama kalinya Randika merasakan bibir adik iparnya ini, Randika sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Namun, bagaimanapun juga, instingnya sebagai lelaki membuatnya meremas tangannya itu. Empukˇ­ Benar-benar empuk. Hannah tersadar dari kelinglungannya itu ketika merasakan tangan Randika yang meremas dadanya itu, dia dengan cepat mendorong Randika. Namun, Hannah sama sekali tidak marah. Malahan wajahnya menjadi merah padam dan hatinya berdebar-debar. "Kak, jika kakak macam-macam lagi sama aku, aku akan menceritakan semuanya pada kak Inggrid." Hannah pura-pura terlihat marah, tetapi wajah malunya itu tidak bisa dia sembunyikan. "Han, ini gara-gara bajumu yang kamu taruh di lantai." Randika juga sedikit malu. Ketika dia berjalan keluar dari ruang ganti, Hannah sudah berjongkok sambil tersipu malu di dalam ruangan. Hannah memegang bibirnya itu dan merasakan hatinya yang berdebar-debar itu, ciuman pertamanya telah diambil. Dia sama sekali tidak membenci perasaan ini justru dia ingin lebih. Tetapi, akal sehatnya membuatnya sadar bahwa pria yang disukainya itu adalah kakak iparnya. Randika kemudian menunggu di luar sambil duduk. Kejadian ini murni kecelakaan, tidak ada yang bisa disalahkan. Namun, ketika mengingat kelembutan dada Hannah di tangannya, Randika dalam hati berpikir bahwa sesekali merasakan dada adik iparnya itu bukanlah sebuah masalah. Dan terlebih Hannah sepertinya tidak mempermasalahkannya. Memikirkan rencana haremnya, Randika bisa melihat masa depan di mana Hannah dan Inggrid tersenyum bersama di pelukannya. Memikirkan hal itu, entah kenapa Randika merasa bersemangat! Tidak lama kemudian, Hannah keluar dari ruang ganti dan terlihat tenang. "Kak, aku mau ke kamar mandi. Tunggulah di sini, aku tidak lama." Kata Hannah sambil berjalan menuju toilet. Randika kembali duduk sambil menunggu Hannah. Tetapi, tiba-tiba terdengar teriakan minta tolong dari arah kamar mandi. "Kak Randika tolong aku!" [1] Suatu kondisi di mana seseorang tidak lagi mampu mengontrol dirinya untuk menahan keinginan berbelanja meskipun sebenarnya barang-barang yang dibeli tersebut tidak terlalu dibutuhkan. Chapter 270: Shadow Mendatangi Inggrid Ketika suara itu masuk ke telinganya, Randika langsung menjadi waspada. Tidak salah lagi, suara itu milik Hannah! Tanpa ragu-ragu, Randika berlari sekuat tenaga menuju kamar mandi. Tidak butuh waktu lama untuknya tiba di depan kamar mandi wanita. Perempuan yang berlarian keluar dari dalam kamar mandi terkejut ketika melihat sosok laki-laki masuk ke dalam. Di dalam kamar mandi, Randika terkejut ketika melihat Hannah berusaha melawan mati-matian ketika ditarik oleh sesosok manusia berbaju serba hitam. "Tidak! Lepaskan aku!" Hannah mengayun-ayunkan tas tangan miliknya ke arah sosok misterius itu. Ketika sosok misterius itu hendak memukul Hannah hingga pingsan, dia merasakan bahaya dari arah belakangnya. Dia dapat merasakan hawa membunuh Randika yang besar, dia lalu memutuskan untuk lari dari tempat itu dari jendela. Tetapi sebelum dia melarikan diri, dia menyempatkan diri untuk memukul Hannah sekali. Randika bergerak dengan cepat, dia berhasil mencengkeram erat pergelangan kaki sosok misterius itu dan melemparnya ke tembok. Kemudian Randika menerjang ke arahnya dan bersiap untuk membunuhnya! Sosok misterius ini tidak sempat menarik napas, setelah dia menatap tembok dengan keras, dia mendapatkan sebuah pukulan tepat di perutnya. "Shadow!" Tatapan Randika menjadi bengis, ternyata sosok misterius itu adalah Shadow! Mulut perempuan itu terlihat mengeluarkan seteguk darah segar. Sambil tersenyum ke arah Randika, Shadow kembali berusaha kabur lewat jendela kamar mandi. "Tidak akan kubiarkan!" Randika sudah mengalirkan tenaga dalamnya ke kakinya dan berusaha mengejarnya. Tetapi di sampingnya, Hannah mengerang kesakitan dan itu membuat raut wajah Randika menjadi buruk. Prioritas utamanya adalah memberikan bantuan pada Hannah atau nyawa adik iparnya ini bisa-bisa berakhir di tempat ini. "Han, kamu baik-baik saja?" Randika dengan cepat menghampiri Hannah dan memeriksa denyut nadinya. Dia menyadari bahwa pernapasannya adik iparnya itu pendek dan tidak teratur. Tanpa ragu-ragu, Randika mengeluarkan jarum akupunturnya dan mengalirkan tenaga dalamnya ke dalamnya lalu menusukannya pada titik-titik vital Hannah. Dia lalu menggendongnya dan berlari menuju rumah sakit. Bagi petugas dan orang-orang yang menunggu dengan cemas di luar kamar mandi, mereka terkejut ketika melihat sosok Randika berlari keluar sambil menggendong Hannah. Randika menggenggam erat Hannah di pelukannya, hatinya benar-benar cemas. Ini berbeda saat dia membawa Elva ke rumah sakit. Hannah terkena pukulannya Shadow dengan telak, meskipun Shadow masih belum pulih sepenuhnya, kekuatan perempuan satu itu masih sangat mengerikan bagi orang biasa. Dan bagaimanapun juga, Hannah hanyalah perempuan remaja biasa. Jika dia tidak mengalami luka apa pun, Randika benar-benar akan terkejut. SHADOW! Bola mata Randika benar-benar merah, dia benar-benar membencinya. Kali ini aku akan membunuhmu! Tunggu saja! Di perjalanan, Randika mengalirkan tenaga dalamnya ke Hannah dan ini membuat wajah Hannah tidak terlalu pucat. Tidak lama kemudian, mereka berdua tiba di rumah sakit. Hannah langsung dibawa ke UGD dan dokter langsung memeriksanya, sedangkan Randika hanya bisa menunggu di luar. Hanˇ­ Kamu harus selamat! Randika benar-benar khawatir dan rasa bencinya ke Shadow makin besar. Dia benar-benar seekor ular, ular yang gigih dan sangat berbisa. Randika melihat dengan mata kepalanya sendiri dia telah dimakan oleh hiu, dia sama sekali tidak menyangka Shadow masih hidup. Jika dia tidak membunuh Shadow, maka Randika tidak bisa tenang dan orang-orang di sekitarnya akan berada dalam bahaya. Pada saat yang sama di kantor perusahaan Cendrawasih. Seorang perempuan berbaju hitam dan menyembunyikan wajahnya itu naik ke dalam lift. Para karyawan tidak bisa tidak merasa penasaran siapa orang itu, yang mereka tahu bahwa aura orang itu membuat mereka merinding. Sesudahnya keluar dari lift, perut Shadow berdenyut sakit setelah menerima serangan Randika. Wajahnya menjadi muram. Ares, kau akan menerima akibatnya! Di dalam ruangan, Inggrid menghela napas sambil menatap dokumen-dokumen di atas mejanya. Pada saat ini, dia dapat mendengar suara ruangannya yang terkunci. Ketika dia mengangkat kepalanya, Inggrid terkejut ketika melihat sosok perempuan di depannya. "Siapa kamu? Kenapa kamu bisa ada di sini?" Inggrid langsung dapat merasakan firasat buruk di dalam hatinya. Tatapan mata perempuan itu membuatnya merinding. "Siapa aku?" Shadow tersenyum dan berkata pada Inggrid. "Aku dulu dikenal sebagai penguasa kegelapan, sekarang aku adalah iblis yang telah merangkak keluar dari jurang neraka." Hati Inggrid makin mengepal ketika mendengarnya, dia berusaha terlihat tenang di permukaan. "Apa maumu?" "Siapa lagi kalau bukan kamu?" Shadow tertawa keras, kebengisan hatinya sama sekali tidak bisa dia sembunyikan. "Siapa kamu sebenarnya?" Inggrid duduk di kursinya dengan perasaan cemas ketika dia melihat Shadow yang berjalan menghampirinya secara perlahan. Shadow berhenti tepat di meja Inggrid dan berkata padanya. "Aku dulu adalah kegelapan yang bekerja untuk Ares, tetapi sekarang, aku ingin membunuhnya dengan kedua tanganku ini." "Ares?" Inggrid bingung. "Aku tidak menyangka bahwa rencana konyol yang kusiapkan untuk membunuhnya malah menjadi kenyataan. Berkat kamu, aku bisa membuatnya menari di atas tanganku ini hahaha." Shadow tertawa, sedangkan Inggrid berpikir keras untuk mengolah informasi-informasi tersebut. Tiba-tiba, Inggrid mengingat ketika perusahaannya terancam bangkrut, dia berusaha meminjam uang kepada seseorang di dunia bawah tanah. Lalu seseorang tiba-tiba mendekati dirinya dan mengatakan bisa membantu dirinya. Setelah dipikir-pikir, suara perempuan di hadapannya ini persis dengan orang itu. "Kamu jangan-jangan yang waktu itu?" Ekspresi Inggrid terlihat terkejut. "Sepertinya kamu punya ingatan yang bagus." Ekspresi Shadow kembali menjadi bengis. "Kamu telah menjadi kelemahannya dan aku akan membunuhmu di depan matanya. Pertama aku akan mencabuti semua kukumu sebelum dia bahkan bisa menemukanmu, lalu di hadapan matanya aku akan menggores urat nadimu itu di depan matanya. Aku sangat menantikan tatapannya yang tidak berdaya ketika dia melihatmu yang mati secara perlahan itu. Ahˇ­ Aku benar-benar tidak sabar lagi!" Suara tawa Shadow yang menggelegar itu tidak membuat takut Inggrid. Meskipun dia sedikit khawatir dengan apa yang akan terjadi, pengalamannya bertahun-tahun ini membuatnya tetap tenang. "Aku tidak mengenal orang yang kamu maksud itu." Inggrid menggelengkan kepalanya. "Sepertinya dia tidak memberitahumu apa-apa." Shadow berjalan perlahan ke kursi Inggrid. Sambil tersenyum, dia membelai pipi Inggrid. Tangannya yang dingin itu membuat hati Inggrid bergetar. Inggrid sama sekali tidak berani untuk bergerak. Dia merasa bahwa perempuan ini benar-benar kabar buruk, dia tidak ingin berbuat macam-macam yang bisa membunuhnya. Suasana di dalam ruangan menjadi hening. Namun pada saat ini, pintu ruangannya tiba-tiba diketuk oleh sekretarisnya Inggrid. "Bu, ini ada beberapa dokumen yang harus ditanda tangan." Inggrid ingin meminta tolong pada sekretarisnya itu, tetapi Shadow yang berada di belakangnya itu tiba-tiba mengambil sesuatu dari balik bajunya. Mendadak, pisau yang tajam itu sudah mendarat di lehernya. "Aku sedang sibuk, kembalilah nanti." Kata Inggrid. Mendengar hal itu, si sekretaris memutuskan untuk pergi. "Apa maumu?" Tanya Inggrid pada Shadow. Shadow sama sekali tidak menjawab, tangannya masih memegang pisau yang bersandar di leher Inggrid. Kemudian, dia memukul belakang kepala Inggrid hingga pingsan. Chapter 271: Permainan yang Disiapkan oleh Shadow Sedangkan di rumah sakit, Randika berjalan mondar-mandir dengan perasaan cemas. Dia sudah menunggu berjam-jam hasil perawatan dokter di UGD dan masih tidak ada kabar. Setelah hari mulai siang, seorang dokter keluar dari UGD dan Randika segera berlari ke arahnya. Dokter itu berkata pada Randika. "Anda sudah tidak perlu khawatir, luka di tubuh pasien sudah teratasi. Memang tidak ada masalah serius, tetapi pasien disarankan untuk menginap di rumah sakit beberapa minggu ini. Selama dia di rumah sakit, dia tidak diperbolehkan untuk bergerak terlalu banyak agar tulangnya yang retak itu bisa segera sembuh." Mendengar nyawa Hannah yang tidak terancam, Randika menghela napas lega. "Bolehkah aku masuk dan melihatnya?" Setelah mendapatkan persetujuan dari dokter, Randika segera masuk dan mencari Hannah. Sesampainya di kasurnya, Hannah terbaring dengan wajah yang sangat pucat. Randika merasa hatinya sakit. Memegang tangan kecil Hannah, dia mulai membuka matanya. "Kak, apa aku akan mati?" Kata Hannah dengan suara yang kecil. "Bodoh, selama ada kakakmu ini, aku tidak akan membiarkan kamu mati." Kata Randika sambil tersenyum. Dia lalu membelai pipi Hannah sambil meneteskan air mata. "Maafkan aku Han, aku gagal melindungimu." Merasakan tetesan air mata itu, Hannah tersenyum. "Kakak ini bicara apa sih. Sudah jangan cengeng gitu, lagipula aku juga bisa bolos sekolah berkat hal ini." "Kamu ini ya." Randika memaksakan diri untuk tersenyum. "Han, aku tadi dijelaskan oleh dokter bahwa kamu harus menginap beberapa minggu di rumah sakit. Selama itu kamu tidak boleh terlalu banyak bergerak." Ketika membandingkan Hannah yang selalu ceria dan bersemangat dengan Hannah yang terbaring lemah di kasur ini membuat hati Randika benar-benar sakit. "Kakˇ­ aku rasa hidupku akan berakhir." Kata Hannah sambil tersenyum. "Jangan berbicara seperti itu, aku tidak akan membiarkanmu kenapa-kenapa." "Kak, apa kakak bisa menciumku? Aku takut jika aku mati hari ini, aku tidak bisa merasakannya lagi." Hannah menatap melas ke arah Randika. Randika tidak tega melihat kondisi Hannah yang seperti ini, dia lalu maju dan memberikan ciuman lembut pada Hannah. Pada saat ini, Hannah menikmati momen ini dengan menutup matanya. Dia selalu menyukai kakak iparnya ini tetapi dia tidak bisa mengutarakan perasaannya karena kakaknya Inggrid telah menikah dengan pria di hadapannya ini. Tetapi, sekarang pria ini adalah miliknya. Setelah sekian lama, Randika melepas bibirnya dari bibir Hannah. "Istirahatlah dengan tenang. Aku akan mengabari kakakmu dan Ibu Ipah. Semoga saja dalam beberapa hari ke depan kamu boleh pulang ke rumah." Hannah cuma tersenyum dan mengangguk. Pada saat ini, HP milik Randika bunyi. Ternyata yang meneleponnya adalah Inggrid. Randika mengangkatnya, dan ketika dia hendak berbicara, terdengar suara dari balik telepon. Ekspresi wajah Randika langsung berubah. "Lama tidak berjumpa tuanku." Yang terdengar adalah suara Shadow yang dingin. Hati Randika langsung mengepal. Sudah tidak diragukan lagi, Inggrid sudah pasti diculik oleh Shadow. "Sayang sekali seranganku pagi tadi tidak berhasil membunuhnya." Kata Shadow dengan suara kecewa, dia sepertinya menyesal tidak bisa membunuh Hannah. "Tetapi tidak masalah, karena aku berhasil menangkap orang yang lebih berharga. Seharusnya kamu tahu masalah apa yang sedang kamu hadapi tuanku." Tangan kanan Randika mengepal dengan keras, urat nadinya seakan-akan ingin meledak. Tenaga dalamnya sudah merembes keluar tanpa dia sadari, aura membunuhnya juga sama besarnya. Dapat merasakan kekuatannya yang mulai tidak beraturan, Randika berusaha menahan amarahnya dan menarik napas dalam-dalam. Dia lalu berkata pada Shadow. "Lokasi?" "Tuanku memang mengenal diriku." Shadow tersenyum di balik telepon. "Aku akan memberikan lokasinya nanti malam. Jangan khawatir, aku tidak akan membunuh Inggrid sebelum dia berpamitan denganmu. Bukankah menyayat urat nadinya dan melihatnya perlahan mati di depan matamu lebih menarik daripada langsung membunuhnya?" Randika tidak menjawab, dia sekarang sedang berfokus menahan amarahnya. Jika Shadow sekarang ada di hadapannya, kepalanya sudah melayang jauh ke langit. "Jangan membuatmu terselimuti oleh emosi, kalau tidak emosimu itu akan membunuhmu malam ini." Shadow tertawa keras. Dia dapat membayangkan wajah Randika yang sedang menahan amarahnya. Semakin menderitanya Ares, semakin bahagia Shadow. Jika aku tidak bisa berkuasa di dunia bawah tanah maka aku akan membunuh orang yang kau cintai, terdengar adil bukan? "Hari ini akan menjadi pertemuan kita yang terakhir." Kata-kata Shadow terdengar dingin. Setelah itu Shadow menutup teleponnya. Hannah menatap Randika yang tubuhnya gemetar itu lalu bertanya. "Kak, apa orang yang meneleponmu itu orang yang melukaiku?" Menoleh ke arah Hannah, Randika memaksa dirinya untuk tersenyum. "Hahaha bukan, sudah kamu istirahat dengan tenang saja. Aku akan menelepon Ibu Ipah untuk menemanimu di sini. Nanti jangan rewel sama makanan rumah sakit ya, kalau tidak kamu tidak sembuh-sembuh." Hannah tersenyum. "Kak, kakak tidak perlu khawatir. Ketika aku sudah sembuh, kamu harus menemaniku belanja sekali lagi. Dan mungkinˇ­ kamu bisa membantuku memakai pakaianku." Memikirkan kata-kata Hannah tersebut, Randika tidak bisa untuk tidak tersenyum. Kemudian Randika keluar dari ruangan UGD dan langsung menelepon Ibu Ipah. Setelah mendengar kabarnya, Ibu Ipah langsung bergegas ke rumah sakit. Ibu Ipah sudah menganggap Hannah dan Inggrid seperti anak sendiri, sekarang ketika mendengar Hannah terbaring di rumah sakit, insting ibunya langsung membara. Ketika Ibu Ipah tiba di rumah sakit dan melihat Hannah yang terbaring lemah di kasur, hati Ibu Ipah terasa sakit. Dengan sigap dia mengatur segalanya agar Hannah bisa tidur dengan tenang. Setelah semuanya selesai, Ibu Ipah berbisik pada Randika. "Nak, Ibu malam ini akan menginap di rumah sakit. Jadi tolong awasi rumah dengan nona muda ya." Randika tersenyum dan mengangguk. Dia sama sekali tidak memberitahu masalah Inggrid pada Ibu Ipah. Kalau tidak, bisa-bisa Ibu Ipah kelabakan. Namun, apa pun caranya, Randika harus membawa Inggrid pulang ke rumah dengan selamat! Benar, hari ini adalah malam penentuannya dengan Shadow. Entah Shadow yang mati atau dirinya yang mati! Keluar dari rumah sakit, Randika melihat jam. Waktu sudah menunjukan pukul 4 sore, sepertinya masih ada beberapa jam lagi hingga Shadow meneleponnya kembali. Saat-saat seperti ini bagaikan penyiksaan untuk Randika. Seiring berjalannya waktu, waktu sudah menunjukan jam 9 malam, Randika masih melototi HP miliknya. Dan tiba-tiba, HPnya berbunyi. "Tuan, bagaimana perasaanmu menunggu begitu lama?" Suara Shadow bisa terdengar jelas dari balik telepon. Shadow sangat senang membuat Randika marah, semakin marah maka semakin besar perasaan senangnya. Randika menjawabnya. "Di mana lokasinya?" "Jangan terburu-buru, kita punya waktu seharian." Kata Shadow sambil tertawa. Randika mengerutkan dahinya, dia tidak tahu siasat apa yang akan dipakai oleh Shadow. Sudah bukan rahasia lagi Shadow ingin membunuhnya, tetapi cara apa yang dipakainya itu merupakan suatu masalah. "Cepat katakan di mana." Mendengar kata-kata itu, Shadow tersenyum. "Sepertinya kita sudah lama tidak bermain game bersama-sama. Reuni kita kali ini merupakan waktu yang tepat untuk bermain dan menebus waktu kita yang telah hilang. Oh, jangan lupa, kalau kamu gagal maka aku akan membunuhmu dan aku juga akan membunuh Inggrid." Randika tidak membalas sama sekali, apa pun trik yang akan dipakai oleh Shadow, Randika tidak punya pilihan selain menurutinya. "Baiklah." Kata Randika. Shadow membalas. "Permainan kita cukup sederhana. Tetapi pertama-tama, kamu harus menemukan keberadaanku dulu. Waktumu hanya sepuluh menit. Jika kamu telat satu detik saja, maka aku akan memotong anggota tubuh Inggrid dan kamu akan mendengarnya menjerit kesakitan. Bagaimana menurutmu? Permainan kita seru bukan? Hahaha." Chapter 272: Stage Satu "Tapi kau tenang saja, aku tidak akan membiarkan dia mati begitu saja. Aku masih ingin melihat raut mukamu ketika dia mati di depan matamu hahaha. Apakah kau akan pingsan? Atau kau akan menangis seperti anak kecil? Aku benar-benar menantikannya." Shadow tertawa keras, sedangkan hati Randika mengepal. Shadow benar-benar sudah gila. "Bagaimana mungkin kamu bisa membunuhku jika kamu sudah tidak punya jaminan?" Randika berusaha mengulur waktu, di waktu yang sama, dia sudah menelepon Safira. "Ares, di dunia ini tidak ada yang mengenalmu sebaik diriku ini." Suara Shadow penuh dengan sarkasme. "Nafsumu tidak terpuaskan apabila hanya satu perempuan saja, setelah aku membunuh Inggrid, aku masih punya daftar nama lainnya. Apa kau sudah mengerti situasimu sekarang?" Pada saat yang sama, Safira sudah terhubung dengan HP Randika dan Randika menahan panggilan dari Shadow. "Saf, tolong lacak lokasi dari nomor yang menghubungiku ini! Aku butuh lokasinya dalam 1 menit!" Safira terkejut, dia tidak pernah mendengar Randika yang tergesa-gesa seperti ini. "Baik kak tunggulah sebentar, aku akan mengaturnya." Randika berusaha menahan rasa marahnya itu ketika panggilannya kembali ke Shadow. Shadow tidak menutup teleponnya, dia lalu mengejek Randika. "Kau memang mudah ditebak, menurut dataku kamu pasti meminta bantuan dari temanmu dari Arwah Garuda. Tapi jangan lupa, kau sendiri yang telah melatihku." Randika mengerutkan dahinya, keahlian Shadow dalam intelijensi dan menutupi jejaknya benar-benar luar biasa, tetapi Randika tidak menyangka bahwa organisasi Arwah Garuda sudah masuk dalam radar Shadow. "Jangan khawatir, tahap pertama kita ini cuma awal. Tahap selanjutnya adalah permainan yang sesungguhnya. Aku akan menunggumu di sini Ares, aku harap kamu tepat waktu. Bagaimanapun juga, jika suasana hatiku jelek, aku mungkin tidak sengaja melukai wajah cantik istrimu ini hahaha." Kemudian Shadow menutup teleponnya, Safira mengambil alih panggilan HPnya. "Kak, aku mendapatkan lokasinya. Lokasi nomor itu tidak jauh darimu, hanya berjarak 1 km dari tempatmu berada. Dia ada di gedung yang masih dibangun di jalan Mawar." Setelah mendapatkan lokasinya, Randika tidak ragu-ragu untuk berlari menuju lokasi. Tidak butuh waktu lama untuk Randika tiba di tempat ini, suasananya benar-benar sunyi. Sepertinya malam ini tidak ada pekerjaan konstruksi sama sekali. Gedung ini baru setengah jadi dan banyak alat-alat yang digeletakan begitu saja. Randika berjalan masuk ke dalam gedung yang gelap dan sunyi tersebut. Dia sama sekali tidak tahu di mana saklar lampu berada. Jadi Randika hanya bisa mengandalkan cahaya bulan dan lampu jalan. Namun, kegelapan masih mendominasi seluruh gedung ini. Sedangkan untuk Shadow, kegelapan ini merupakan zona nyamannya. Dulu di pasukan Ares, Shadow bertanggung jawab dalam divisi intelijensi jadi dia sering menyatu dengan kegelapan agar bisa mendapatkan informasi yang lebih. Dengan ini, gedung gelap ini sangat cocok menjadi panggung kecemerlangan Shadow. Namun bagi Randika, mau ini di kutub utara ataupun di gurun sahara, semua itu bukan masalah. Terlebih, Shadow tetaplah Shadow, perempuan itu bukan tandingannya. Di hadapan kekuatan yang absolut, semua ikan teri sama sekali tidak berdaya! Randika melangkahi alat-alat yang berserakan itu. Sepertinya pembangunan gedung ini tertinggal dari deadlinenya. Besi-besi yang bertumpuk juga memantulkan cahaya bulan. Sepertinya lantai pertama dari gedung ini tidak ada orangnya. Randika lalu berjalan menuju tangga yang mengarah ke lantai dua sambil terus berwaspada. Sesaatnya langkah kakinya menginjak anak tangga, hampir bersamaan, raut wajah Randika berubah dan tubuhnya sudah melayang mundur dengan kecepatan yang luar biasa. Ketika kakinya melangkah ke anak tangga, sepertinya itu memicu sebuah bom untuk meledak dari lantai atas. Ledakannya cukup dahsyat dan besi-besi yang menumpuk di ujung tangga itu berhamburan ke mana-mana. Di bagian tembok lantai pertama, senjata tajam, yang tiba-tiba muncul dari balik tembok, mulai melesat dan mengarah pada Randika. Jika tadi Randika tidak sempat mundur dengan cepat, mungkin nyawanya sudah melayang. Pada saat dia mendarat, terasa pergerakan udara dari segala arah. Randika mengerutkan dahinya ketika melihat begitu banyak orang berbaju hitam menerjang dirinya sambil menggenggam erat senjata tajam dan siap untuk mengambil nyawanya kapan pun. Orang-orang itu berdatangan dari segala arah, dan ketika Randika mengangkat kepalanya, dia terkejut ketika melihat begitu banyak orang mengintip dirinya dari lantai atas. Setengah dari mereka lalu terjun ke bawah dan sisanya sepertinya sedang menunggu kesempatan ketika Randika meloncat di udara dan menghujaninya dengan lautan manusia. Ini adalah siasat yang dipersiapkan oleh Shadow untuknya. Ketika Randika melangkahkan kakinya ke lantai 2, aksi pembunuhan itu dimulai. Namun, semua kejadian ini tidak membuat Randika kehilangan ketenangannya dan akal sehatnya. Orang yang bisa membunuhnya belum lahir di dunia ini! Menghentakan kakinya, dia meluncur dengan cepat untuk menghindari serangan pisau yang tersisa. Dengan tubuh yang diselimuti oleh tenaga dalamnya, dia melesat ke arah 2 musuhnya. Karena lawannya ini merupakan bawahan Shadow, dia tidak sama sekali tidak menahan tenaganya. Dengan satu tendangan, musuhnya itu melayang ke arah tembok dan menancap di batang baja di pilar. Melihat jumlah musuhnya yang banyak, Randika merasakan firasat buruk yang seperti menandakan bahwa nyawanya sedang terancam. Memang lawan-lawannya ini bukan orang sembarangan, tetapi di mana Shadow? Tidak mungkin dia hanya mempersiapkan jebakan bau kencur seperti ini untuk membunuhnya. Pada saat ini, Randika mendengar suara detikan jam dari segala arah, hal ini membuat bulu kuduknya merinding. Dia sangat mengenal suara tali terbakar ini dengan baik. Bisa disimpulkan bahwa setiap musuhnya yang menerjang ke arahnya ini semuanya memiliki bom waktu di tubuh mereka. Mereka sudah mempersiapkan diri mereka untuk mati, dan mereka ingin membawa Randika bersama dengan mereka menuju neraka! Tanpa ragu-ragu, Randika segera membunuh mereka sambil membuka jalur kabur. Tetapi, lautan manusia ini seakan tidak ada akhirnya. DUAR! Orang yang barusan dia tendang itu tiba-tiba meledak dan dia hancur menjadi gumpalan daging. Ledakan yang dihasilkannya cukup membuat besi-besi yang tergeletak itu berhamburan. Besi itu melesat ke arah Randika dan para bawahan Shadow berada. Beberapa besi melesat dengan cepat dan menuju tepat ke arah Randika. Namun, Randika bergerak ke samping untuk menghindari serangan mendadak ini. Dia sama sekali tidak bisa memblokirnya soalnya besi-besi itu melesat terlalu cepat. Berbeda dengan Randika, beberapa lawannya tidak bisa menghindar dan harus mati sebelum bisa meledakan dirinya pada Randika. Pada saat yang sama, Randika terus menghindar dari pelukan maut musuhnya ini DUAR! DUAR!! DUAR!!! Beberapa orang sudah mulai meledakan diri sebelum sempat mendekatkan dirinya pada Randika. Beberapa ledakan ini untungnya tidak merobohkan pilar-pilar penyangga gedung ini jadi asalkan Randika menghindar sekaligus membuat mereka menjauh dari pilar-pilar tersebut, maka dia akan aman. Setelah tidak ada orang lagi yang berdiri selain dirinya, Randika telah berhasil menyelesaikan stage 1 dari permainan ini. Chapter 273: Bayangan yang Ingin Berubah Menjadi Iblis Randika lalu berjalan menuju lantai 2 yang lantainya sudah bolong tersebut. Keadaan kembali menjadi sunyi senyap. Mayat-mayat yang tersisa dari bom bunuh diri itu berceceran di lantai, benar-benar pemandangan yang mengerikan. Randika tidak memedulikan mereka lalu berjalan naik kembali. Gedung ini berlantai 20, benar-benar tinggi. Ketika Randika berjalan menaiki tangga, HP miliknya tiba-tiba bunyi. "Kau memang layak menyandang nama Ares." Suara dingin Shadow dapat terdengar dengan jelas. "Tetapi jangan kira permainan kita cuma segitu saja, permainan ini masih jauh dari kata selesai." Randika tidak membalas sama sekali, dia dengan cepat menutup teleponnya. Dia sudah bertekad memburu Shadow di mana pun dia berada, tidak perlu baginya untuk mendengarkan suaranya yang menjengkelkan itu. Di lantai paling atas, Shadow menatap HPnya yang panggilannya terputus itu. Tatapan matanya mengandung kebencian yang amat sangat dalam. "Tuanku sepertinya masih marah." Shadow tertawa dan menoleh ke arah Inggrid, yang terikat di sebuah kursi. Pada saat ini, Inggrid terikat mulai dari pinggang, kaki, dada dan kedua tangannya. Kursi yang diduduki Inggrid itu merupakan kursi listrik yang biasanya digunakan untuk pidana yang divonis mati, jadi mustahil untuk Inggrid bisa bebas dengan sendirinya. Inggrid, yang sudah lama tersadarkan kembali, menatap sosok Shadow yang sedang tertawa. Wajahnya benar-benar mengerikan, penuh dengan luka. Orang yang menculiknya itu benar-benar gila, dia memasang bom pada bawahannya dan sama sekali tidak takut bom-bom tersebut akan menghancurkan pondasi gedung ini. Dan semua itu dia lakukan hanya untuk membunuh Randika! "Aku heran, kenapa dia rela membuang nyawanya demi menyelamatkanmu? Apa itu yang namanya cinta?" Shadow tersenyum mengejek. Ketika dia melihat wajah Inggrid, hatinya menjadi senang. Semakin menderita lawannya, semakin senang hatinya. Inggrid berusaha melepaskan diri tetapi dia menyadari bahwa dirinya sama sekali tidak bisa bergerak. ???Percuma kamu mencoba untuk kabur." Di tangan Shadow tiba-tiba muncul sebuah pisau. "Lihat aku." Inggrid kemudian mengangkat kepalanya dan melihat senyuman jahat milik Shadow. "Sesampainya Ares di lantai ini, aku akan menggorok lehermu dengan pisau ini dan kamu akan mati di hadapannya." Hati Inggrid mengepal, dia sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Yang dia ketahui adalah dirinya digunakan sebagai umpan untuk membuat Randika datang ke gedung ini. "Bukannya kamu seharusnya membunuh Ares duluan?" Tanya Inggrid. Shadow melototi Inggrid kemudian dia berbalik badan dan menatap ke langit. Angin malam yang dingin menerpa wajahnya dan kain yang ada di lehernya. Namun tiba-tiba, kain itu terangkat dan menunjukan leher yang tidak ada dagingnya! Pada hari itu, di saat dirinya tenggelam di laut, Shadow melewati cengkeraman maut itu dengan susah payah. Dia tidak punya cara lain untuk lari dari genggaman Randika di kapal dan memilih pilihan yang paling berisiko yaitu pura-pura mati digigit oleh hiu. Namun, semua itu bukanlah akting dan Shadow harus membayarnya dengan mahal. Dia tergigit oleh beberapa hiu dan kehilangan beberapa daging tubuhnya, organ di dalam tubuhnya juga terluka parah. Untungnya saja, di saat-saat hidupnya hampir melayang, dia berhasil menyusul ke Indonesia dan meminum darah boneka ginseng. Hal itu membuat tubuhnya mulai sembuh secara perlahan. "Tidak, aku ingin membuatnya gila terlebih dahulu. Aku ingin melihat dia hanya bisa memeluk perempuan yang dicintainya mati di pelukannya. Aku ingin melihat dia menderita!" Nada suara Shadow perlahan menjadi tinggi dan penuh dengan kebencian. Inggrid tahu bahwa Randika sudah tiba di gedung ini. Dia harus mengulur waktu agar Randika bisa datang ke tempatnya ini. "Bukankah membunuhku hanya membuatnya makin marah? Membunuhku membuatmu kehilangan kartu As." Shadow berbalik dan menatap Inggrid sambil tersenyum. "Kamu benar-benar pintar, tetapi apa kamu mengira aku hanya punya satu kartu As? Kamu benar-benar naif." Tentu saja, Shadow memiliki banyak kartu andalan di tangannya. Penyelidikannya terhadap Randika beberapa hari ini membuatnya mengerti bagaimana kehidupan Randika di kota Cendrawasih ini. Tentu saja, perempuan-perempuan seperti Viona, Christina dan Deviana sama-sama berharganya dengan Inggrid. Setelah dirinya membunuh Inggrid, berikutnya adalah Viona. Dia akan menghabisi satu per satu wanita yang dicintai oleh Randika itu! Memikirkan bagaimana marahnya, sengsaranya, dan rasa tidak berdayanya Randika, Shadow tidak bisa berhenti tertawa. Tawanya ini menggema ke seluruh ruangan, benar-benar keras. Inggrid sama sekali tidak tahu kartu apa yang dimiliki Shadow, dia hanya mengira bahwa Shadow mungkin akan mengincar keluarga Randika. Setelah beberapa waktu terdiam, Inggrid bertanya. "Apakah Ares itu adalah Randika yang kukenal?" Wajah Shadow menjadi serius, hatinya merasa kejadian ini akan menarik. "Kamu benar-benar ingin tahu?" Inggrid mengangguk. Dari awal dia memang mengerti bahwa Randika itu bukan orang biasa, apalagi dia pernah mengobati tubuh Randika yang penuh luka itu. Meskipun dia tidak bertanya tentang masa lalu Randika, Inggrid masih merasa penasaran. Setidaknya, dia ingin mengetahui siapa identitas asli Randika. Meskipun awal kali mereka bertemu Randika sedang berjualan mie ayam, Inggrid tahu bahwa itu semua hanyalah tipuan belaka. Dia sama sekali tidak tahu siapa Randika yang sebenarnya. Setelah memikirkannya baik-baik, Randika yang berhasil menyelamatkan dirinya dari keluarga Alfred itu juga merupakan kejadian yang sangat luar biasa. Tidak ada orang biasa yang mempunyai kemampuan menentang keluarga aristokrat. "Baiklah kalau itu maumu, aku akan menceritakan siapa Ares sang Dewa Perang itu." Shadow mulai berjalan menghampiri Inggrid dan berhenti tepat di depannya. "Legenda ini berawal dari Ares yang membangun kerajaannya di dunia bawah tanah di Jepang, di situ dia menjadi raja dunia bawah tanah. Ada cerita yang mengatakan bahwa jika Ares mengamuk, seribu mayat tidak akan mampu menghapus hasrat haus darahnya. Itulah Ares sang Dewa Perang." Inggrid terkejut ketika mendengarnya, dia terdiam. "Setahuku, Ares berkeliling dunia sebagai pedagang sekaligus mencari lawan untuk mengasah kemampuannya. Tetapi setelah berpetualang, dia menyadari sesuatu. Mencari uang bukanlah hal yang dia sukai, dia lebih menyukai melihat cipratan darah mengenai wajahnya ketika dia membunuh lawannya. Setelah itu, dia meneruskan perjalanannya sambil meninggalkan mayat ratusan orang sebagai jejaknya. Dia lalu membangun kerajaannya di Jepang dan membangun pasukannya di sana." "Dia mendapatkan nama Ares sang Dewa Perang setelah membunuh seribu orang dalam semalam!" "Dia pernah menghancurkan pangkalan militer tentara Amerika hanya bermodalkan pedang dan panah." "Orang yang telah menjadi korbannya sudah tidak terhitung lagi." Shadow berjalan ke belakang Inggrid dan memeluknya dari belakang. "Apakah selama ini kamu tidak tahu bahwa setiap hari kamu tidur di samping Dewa Kematian? Apakah kamu tidak pernah mencium bau darah yang menempel di tubuhnya? Atau kamu pernah mendengar jeritan tragis korbannya ketika tidur di sampingnya? Apakah kamu tidak pernah menyadari bahwa kamu selama ini telah berhubungan badan dengan iblis?" Mendengar semua hal ini, Inggid sudah gemetar tanpa henti. Matanya terbelalak, seakan-akan tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Bahkan jika dia pernah membunuh orang banyak sebelumnya, aku tidak percaya bahwa dia itu iblis." Inggrid tidak percaya dengan omongan Shadow yang menuduh Randika itu iblis. Senyumannya yang hangat, meskipun terkadang terlihat seperti om-om mesum, hatinya yang peduli dengan orang susah, orang yang selalu mengingatkan dirinya untuk makan itu tidak mungkin seorang iblis. "Bodoh!" Shadow mendengus dingin. "Ketika dia datang ke sini, kamu akan melihatnya dengan kedua matamu itu." "Kalau dia iblis, kamu itu apa?" Tanya Inggrid. "Aku?" Shadow memainkan pisau yang ada di tangannya. Tiba-tiba, pisau itu melayang dan menancap dengan kuat di tembok. Shadow kembali mengeluarkan sebuah pisau dan berkata pada Inggrid. "Aku hanyalah sebuah bayangan yang bekerja di bawah seorang iblis. Sekarang aku ingin menjadi iblis dan merebut takhtanya sebagai yang terkuat." Senyuman Shadow yang sekarang dapat membuat siapapun yang melihatnya merinding. Pada saat yang sama, dari arah bawah terdengar suara jeritan tragis. Shadow lalu bergumam pada dirinya sendiri. "Sebentar lagi." Inggrid terdiam, dia melototi tangga. Jika Randika benar-benar naik ke tempat ini, apa yang akan terjadi? Apakah dia akan mati sesuai dengan kata Shadow? Atau dia akan melihat Randika mati di depannya? Chapter 274: Aku Akan Selalu Menjadi Istrimu Inggrid terdiam, apakah ini akan menjadi akhir dari kisah cintanya? Tidak lama kemudian, suara jeritan dari arah bawah sudah tidak dapat didengar. Shadow berjalan menuju belakangnya Inggrid sambil menatap tajam ke arah tangga dan memegang pisaunya di leher Inggrid. "Apa kamu pikir dia datang untuk menyelematkanmu? Sayang sekali, dia datang untuk melihatmu mati." Shadow menatap tajam ke arah tangga. Sesampainya Randika di lantai ini, dia akan menggorok leher Inggrid. Bahkan lawannya seorang Ares sekalipun, dia tidak mungkin bisa mencegahnya. Inggrid menatap ke depan dan menutup matanya secara perlahan, mungkin kisah cintanya ini memang sudah berada di tahap akhir. Namun, wajah dingin Shadow itu mengerut. Sudah semenit berlalu sejak suara dari bawah itu berhenti, tetapi kenapa tidak ada pergerakan sama sekali? Menurut analisanya, Ares yang dipenuhi oleh api kebencian dan kemarahan itu sudah pasti berlari menuju lantai atas demi menyelamatkan perempuannya. Tetapi, kenapa tidak ada pergerakan sama sekali? Suasana ruangan menjadi aneh, meskipun Shadow masih di posisi yang diunggulkan, rasa seperti ini membuatnya tidak nyaman. Rasa tidak nyaman ini berasal dari perjalanannya bersama Randika bertahun-tahun sebelumnya, dia sangat memahami betapa mengerikannya kekuatan Randika. Pada saat ini, Shadow masih menatap ke depan sambil berkeringat dingin, namun tiba-tiba ada suara yang datang dari arah belakangnya. "Maaf membuatmu menunggu terlalu lama." Ketika mendengar suara itu berasal dari belakang, Inggrid, yang sudah membuka matanya itu, terlihat senang. Sedangkan punggung Shadow sudah basah oleh keringat. Mustahil, bagaimana bisa Randika berada di belakangnya? Tanpa banyak berpikir, Shadow merespon dengan cepat. Pisau di tangannya sudah mengarah pada Randika. Serangan mendadak Randika ini membuat Shadow panik dan melenceng dari rencana awalnya, dia sudah melupakan Inggrid yang ada di depannya. Lagipula, buat apa dia berhasil membunuh Inggrid tetapi nyawanya sudah melayang juga? Serangan pisau Shadow memanglah cepat, tetapi semua itu sudah terlambat. Di hadapan Ares sang Dewa Perang, tidak ada serangan yang bisa membunuhnya! Setelah mengelak dari serangan Shadow, Randika memukulnya, dengan tangan yang sudah dipenuhi oleh tenaga dalamnya, dan mengenai dada Shadow. Pukulan keras itu membuat Shadow muntah darah dan melayang menuju tembok. Tetapi, serangan Randika tidak berhenti begitu saja. Ketika Shadow menatap tembok, Randika sudah berada di hadapannya dan menangkap pergelangan tangannya. Dengan cepat, Randika memelintir tangan Shadow. Jeritan tragis terdengar dari mulut Shadow, rasa sakit dari tangannya itu membuatnya tidak bisa berhenti menjerit; dia merasa seakan-akan tulangnya sudah remuk. "ARGH!" Ketika Shadow masih menjerit, dia menerima sebuah pukulan lagi. Pukulan keras itu membuat Shadow terbenam di lantai dan membuat retakan yang besar. Darah sudah tidak bisa berhenti mengucur dari mulutnya, sepertinya organ dalamnya yang perlahan pulih itu kembali terluka. "Kamu bisa lari sekali, tetapi tidak ada kesempatan berikutnya." Randika berdiri di hadapan Shadow dengan wajah yang dingin, kengerian yang dimiliki Shadow sudah lama memenuhi wajahnya. Bagaimana bisa Randika menyerangnya dari belakang? Ketika Shadow mengangkat kepalanya, dia melihat sebuah lubang di tembok yang belum selesai dibangun. Dari situ, Ares pasti datang dari situ! Melihat wajah Shadow yang masih menunjukan perlawanan, Randika mengangkat kakinya untuk mematahkan kedua kaki Shadow. Tetapi, dia merasakan tatapan mata Inggrid. Ketika Randika mengangkat kakinya, hati Inggrid sudah mengepal. Tubuhnya gemetar dan keringat dingin tidak bisa berhenti mengalir, kata-kata Shadow tentang Randika telah mempengaruhi dirinya. Siapapun yang mendengar cerita Shadow mengenai Randika pasti merasakan rasa tidak percaya dan menganggapnya berlebihan. Namun, setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri, Inggrid mulai ragu. Apakah Randika benar-benar seorang iblis? Meskipun Inggrid tidak mau mempercayainya, dia tidak bisa melepaskan pertanyaan itu dari kepalanya. Shadow terbatuk dan mengeluarkan seteguk darah segar, wajahnya masih sempat tersenyum. "Sepertinya aku salah perhitungan, aku benar-benar meremehkanmu." Randika membalas. "Dari awal kamu tidak punya kesempatan untuk menang." Kemudian, Randika mengepalkan tinjunya dan memukul Shadow dengan tinju yang berisikan tenaga dalam! Tenaga dalam Randika mengalir deras ke Shadow melalui tinjunya itu. Kalau diumpamakan, sekarang sedang terjadi ledakan nuklir di tubuh Shadow. Seluruh organ, sel tubuh, otot Shadow terkena oleh tenaga dalam Randika. Darah sudah mengalir dari seluruh pori-pori kulitnya dan organ dalamnya mulai gagal berfungsi. Meskipun pukulannya ini tidak langsung membunuhnya, nasib Shadow sudah pasti tamat. Waktunya hanya satu jam sebelum hidupnya berakhir! Shadow yang kejang-kejang itu akhirnya tenang kembali, wajahnya yang berlumuran darah itu tersenyum. "Kamu tidak membunuhku hanya karena ada perempuanmu di depanmu? Ares, kamu sudah berubah." Randika hanya menatap dingin pada mayat berjalan bernama Shadow itu. Tidak membalas kata-kata Shadow, Randika berjalan dan menghampiri Inggrid. Kali ini Shadow sudah tidak akan bisa mengganggunya lagi. Mulai hari ini, nama Shadow akan tertera di daftar korban Ares sang Dewa Perang. Takdir seorang pengkhianat adalah kematian! Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada ditusuk dari belakang oleh orang kepercayaan. Menatap sosok Randika yang berjalan menjauh darinya, sebuah tombol tiba-tiba muncul di tangan Shadow. "Ares, kamu kira aku tidak bisa membunuh perempuanmu itu?" Shadow tertawa keras, kemudian dia menekan tombol di tangannya itu. Ketika mendengar kata-kata Shadow itu, Randika sudah merasakan firasat buruk. Dan benar saja, setelah tombol itu ditekan, kursi yang mengikat Inggrid itu tiba-tiba bunyi dan melesat dengan cepat menuju sebuah lubang besar di tembok. "AH!!" Sepertinya kursi itu didesain khusus untuk meluncur dengan cepat apabila tombol aktivasinya ditekan. Karena tombol itu sudah aktif, kursi itu melaju dengan cepat menuju bagian bawah gedung! "Inggrid!" Randika mengalirkan tenaga dalamnya menuju kakinya, namun kursi itu melaju terlalu cepat. Tidak ada pilihan lain, satu-satunya cara adalah menyelamatkannya di udara. Tanpa ragu, Randika menyusul Inggrid yang sudah terjun bebas itu. Melihat kedua orang itu sudah meninggalkan dirinya, Shadow tertawa. "Ares, apakah nanti pagi kita akan makan bersama di neraka?" Sesudahnya berkata demikian, Shadow tidak bisa berhenti terbatuk dan darah terus keluar dari mulutnya. Shadow berusaha menarik napasnya tetapi tidak bisa, sepertinya nyawanya akan berakhir. Lalu dia menekan tombol yang ada di tangannya untuk kedua kalinya. DUAR! Tiba-tiba, suara ledakan bisa terdengar dari lantai tempat Shadow berada. Dengan ini juga, Shadow telah mengaktifkan seluruh bom yang berada di tiap lantai. Tidak hanya satu, tetapi berpuluh-puluh ledakan di tiap lantai sudah siap meledak. Dari atas hingga bawah gedung, semua pilar pondasi telah dipasangi oleh bom. Gedung ini hanya butuh satu menit menjadi reruntuhan batu. Ketika Randika terjun bebas menyusul Inggrid, dia dapat merasakan ledakan di lantai Shadow. Tetapi fokusnya kali ini adalah menyelamatkan Inggrid, dia sudah tidak peduli dengan Shadow. Untungnya saja, Randika jatuh lebih cepat dan dia berhasil menyusul Inggrid yang terikat di kursi. Sepertinya besi-besi yang digunakan Shadow untuk mengikat Inggrid terbuat dari logam khusus, sangat sulit untuk membukanya! "Ran, aku rasa semuanya sudah terlambat. Kita akan mati." Inggrid sudah pasrah. "Bodoh! Jangan ngomong yang tidak-tidak, percayalah padaku!" Randika masih sibuk berusaha membuka pengait itu dengan paksa. Dengan kecepatan dan ketinggian mereka ini, sudah tidak ada harapan hidup apabila mereka mendarat. Bahkan jika Randika adalah salah satu dari 12 Dewa Olimpus, dia sama sekali tidak kemampuan untuk selamat dari kejadian ini. Dia bukanlah makhluk abadi seperti yang ada di novel-novel. Melihat Randika yang masih sibuk berusaha melepaskan dirinya, Inggrid tidak bisa berhenti menangis. Inggrid awalnya tidak percaya ada orang yang bisa mengisi hatinya yang dingin itu penuh dengan kehangatan. Dia merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan Randika di dalam hidupnya ini. Menggenggam tangan Randika, Inggrid berkata padanya. "Tidak peduli berapa kali aku terlahir kembali, aku akan selalu menjadi istrimu." Randika mendengar kata-kata Inggrid ini sambil meneteskan air matanya, dia benar-benar mencintai Inggrid. Sialan, kenapa susah sekali membuka kunci ini! Pengait yang mengikat Inggrid tinggal satu yaitu yang berada di pinggang. "Sepertinya selama pernikahan ini aku belum pernah memanggilmu suami, di saat-saat terakhir kita bersama ini, biarkan aku menciummu sekali lagi suamiku." Selesainya itu, Inggrid langsung mencium Randika! Setelah bersusah payah, Randika berhasil melepaskan semua pengait yang menahan Inggrid. Hatinya benar-benar lega, namun pada saat ini, Inggrid menerjang dirinya dan menciumnya! Hmm? Keduanya berciuman disinari oleh sinar rembulan, air mata Inggrid tampak meninggalkan jejak di udara. Randika sendiri menikmati ciuman ini, tangannya juga mulai bergerak secara otomatis ke dada Inggrid. Eh tapi mereka belum selamat! Semua kejadian ini berlangsung dengan cepat, keduanya sudah berada di lantai 4 dan masih terjun dengan cepat. Jika Randika gagal memperlambat kecepatan mereka, bisa dipastikan bahwa mereka akan menyusul Shadow ke alam baka. Randika melepaskan bibir Inggrid dan berkata padanya. "Pegangan!" Randika lalu mencopot sabuk celananya dan mengikatnya pada pegangan kursi yang telah dia patahkan. Dengan tenaga penuh, dia melemparnya ke arah gedung di seberang. Keduanya lalu melesat dengan cepat menuju gedung yang diseberang dan pegangan kursi itu menancap di tembok. Dengan tenaga dalamnya yang mengalir di kakinya, Randika berhasil mencegah dirinya menatap tembok dengan keras. Keduanya yang sebelumnya jatuh dengan cepat itu sekarang bergelantungan di udara. Kejadian kali ini benar-benar nyaris membunuhnya, jika tidak ada kursi itu, maka mereka sudah pasti tamat. Inggrid yang memeluk erat leher Randika sambil menutup matanya itu berkata padanya. "Sayang, apa kita selamat?" "Hahaha ternyata istriku bisa bodoh juga kadang-kadang ya, tentu saja kita selamat, kalau tidak mana mungkin kamu bisa melihat wajahku yang tampan ini bukan?" Jika tangan Randika tidak sibuk, mungkin dia sudah menyentil dahi Inggrid. Inggrid membuka matanya dan sadar bahwa mereka bergelantungan di sebuah besi yang menancap di tembok. Kita masih hidup? Air mata Inggrid tidak bisa berhenti mengalir, hatinya merasa lega masih bisa hidup di kehidupan ini. Randika yang merasakan air mata itu tertawa. "Boleh aku merasakan ciuman tadi itu sekali lagi?" Ketika mendengarnya, Inggrid tersipu malu dan berbisik padanya. "Akan kuberikan segalanya ketika kita pulang nanti." Namun pada saat ini, ledakan dari tiap lantai mulai terdengar. Meskipun mereka berada di gedung seberang, gedung berlantai 20 yang mulai roboh itu benar-benar mengandung bahaya yang besar. Barang-barang seperti besi, pecahan tembok, alat-alat konstruksi lainnya berhamburan ke mana-mana. Randika dan Inggrid masih belum aman dari bahaya. Chapter 275: Ingin Kutarik Kata-kataku Barusan Pecahan tembok, alat-alat konstruksi dll itu mengarah pada Randika dan Inggrid yang menggantung di udara. Bahkan sudah ada pecahan tembok yang siap menghancurkan kepala mereka berdua. Gawat! Randika mengerutkan dahinya. Pada saat yang sama, sabuk yang terikat pada pegangan kursi itu mulai lepas karena getaran dari ledakannya. Mendadak, kedua orang ini meluncur turun kembali. "Ah tidak!" Pada saat ini, Inggrid kembali menutup matanya dan memeluk erat Randika. Sialan, kenapa momen romantisnya ini selalu terganggu? Beda dengan Inggrid, Randika masih berwajah tenang. Bagaimanapun juga, mereka hanya menggelantung 3 lantai dari bawah. Bagi Randika, ketinggian seperti ini bukanlah sebuah masalah. Siapa dirinya? Dia adalah Ares salah satu dari 12 Dewa Olimpus! Melompat dari lantai 10 bukanlah masalah, namun melompat dari lantai 20 sambil menyelamatkan orang, itu baru sebuah masalah besar. "Sayang, berhentilah berteriak." Kata Randika dengan santai. "Ah?" Inggrid membuka matanya secara perlahan dan menyadari bahwa mereka sudah mendarat dan Randika sedang berlari sambil menggendongnya. Meskipun sudah mendarat dengan aman, mereka masih dalam radius pasca ledakan jadi Randika tidak ragu-ragu untuk lari dari lokasi ini. Dengan kecepatannya, Randika berhasil menghindari bahaya. BOOM! Pada saat ini, sebuah mayat gosong dari ketinggian jatuh ke tanah dengan keras. Mayat itu adalah Shadow, akhirnya perempuan itu mati di tangan Randika dan terkubur oleh jebakan yang dia buat sendiri. ...ˇ­. Sambil menggendong Inggrid di perjalanan, akhirnya mereka berdua sampai di rumah. Sekarang setelah Shadow telah mati, Randika bisa bernapas lega. Sudah tidak ada ancaman seperti ini lagi untuk sementara waktu. "Sudah sampai." Randika menatap Inggrid yang berada di pelukan tangannya. Inggrid mengangguk pelan, digendong oleh Randika memberinya rasa aman dan dia sudah terlanjur nyaman jadi dia sedikit kecewa ketika turun. "Sayang, mandi dulu sana biar segar." Kata Randika sambil mengelus kepala Inggrid. Setelah itu, Randika mulai memasak untuk mereka berdua. Dari siang hingga larut malam ini, Randika sama sekali tidak makan. Dia benar-benar cemas pada Inggrid sampai-sampai dia tidak bisa makan ataupun minum. Alasan kedua dia memasak adalah masakan istrinya yang lebih beracun dari racun milik Shadow. Randika lebih memilih untuk memasak daripada mengulangi penderitaannya yang dulu. Setelah makanan telah jadi, Randika juga mandi. Ketika Randika selesai, kebetulan Inggrid juga telah selesai. "Sudah enakan sayang? Kamu tidak perlu khawatir dengan kejadian tadi lagi." Kata Randika sambil tersenyum dan memeluk Inggrid dari belakang. Inggrid mengangguk, sebenarnya dia masih takut ketika memikirkan apa yang telah dia alami barusan. Randika melahap makanannya dengan lahap, sedangkan Inggrid tidak terlalu nafsu untuk makan. Sepertinya dia masih kepikiran dengan kata-kata Shadow tadi. Randika dapat melihat hal ini dengan jelas. Ketika dia ingin bercanda untuk meringankan suasana, Inggrid tiba-tiba berkata padanya. "Ran, perempuan yang menculikku itu tadi menceritakan ke aku bahwa kamu adalah Ares, benarkah itu?" Tubuh Randika langsung menjadi kaku. Randika tidak ingin Inggrid tahu siapa dirinya yang sebenarnya, jadi ini bukanlah situasi yang bagus. Hal ini sama seperti Inggrid tidak mau menceritakan masalah pertunangannya dengan keluarga Alfred, Inggrid khawatir bahwa Randika akan terseret masalah keluarganya itu. Oleh karena itu, Randika tidak ingin Inggrid mengetahui siapa dirinya sebenarnya karena alasan itu. Jangan pikir bahwa kehidupan di Indonesianya ini jauh dari kata bahaya. Istananya di Jepang itu saja penuh dengan mata-mata dan pemberontakan Bulan Kegelapan hanyalah salah satu contoh bahaya yang dia hadapi selama ini. Pasukannya selalu mengalami pertempuran tanpa henti, dunia bawah tanah selalu penuh dengan bahaya yang mengintai. Setelah terdiam beberapa saat, Randika membalas. "Jadi semuanya berawal dari aku berkeliling duniaˇ­" Ketika Randika memutuskan untuk jujur pada Inggrid, bibirnya telah dihalangi oleh tangan Inggrid. "Tidak, aku tidak ingin mendengar seluruhnya. Aku hanya ingin tahu siapa suamiku itu sebenarnya, masa lalumu bukanlah masalah bagiku." Mendengar kata-kata itu, mata Randika menjadi merah. Namun, Inggrid hanya tersenyum tulus pada dirinya. "Aku hanya penasaran. Bagaimanapun juga, dilihat dari sisi manapun juga, kamu itu bukan penjual mie ayam. Aku hanya ingin tahu siapakah dirimu yang sekarang ini. Aku ingin memastikan bahwa kamu tetaplah orang yang sama dengan orang yang kucintai." Kata Inggrid. Mendengar kata-kata ini, hati Randika terasa hangat. Randika mengenal Shadow, pasti cerita yang dia sampaikan pada Inggrid penuh dengan tragedi. Tetapi, Inggrid masih mempercayai dirinya dan sangat mencintai dirinya meskipun sudah mendengar sepak terjangnya. Randika menggenggam tangan Inggrid dan memeluk Inggrid dari belakang. "Sayang, aku sudah tidak sabar lagi." Randika mencium leher Inggrid dan meraba dadanya. "Sayang, makanannya bagaimana?" Inggrid benar-benar lengah, titik erotisnya telah diserang oleh Randika. "Aku hanya ingin memakanmu sekarang juga." "Hei, ini di meja makan tahu." Inggrid memberikan perlawanan terakhirnya. "Tidak ada orang di rumah ini selain kita." Randika sudah tidak sabar dan mulai memainkan tangannya. Sambil berciuman, dia dengan cepat membuka bajunya Inggrid! Inggrid sudah menutup matanya dan pasrah dengan keadaannya. Tidak butuh waktu yang lama, keduanya mulai meluapkan cinta mereka di atas meja. Di rumah kosong ini, hanya suara benturan pinggang dan desahan yang dapat terdengar. "Ran, tunggu! Aku mau keluar!" "Sudah mau lagi? Biarkan aku istirahat sebentar! Ah!!" ...ˇ­. Keesokan harinya, Randika membuka matanya dan menemukan Inggrid tertidur di lengannya. Melihat istrinya yang tidur dengan tenang, Randika tidak bisa untuk tidak membandingkannya dengan seekor kucing. Tidak kuat dengan keimutannya, Randika membelai rambut Inggrid dan mencium dahinya. Inggrid tidak terbangun, dia hanya mengulet. Kemudian dia memeluk tubuh Randika dengan erat, bau tubuh Randika membuatnya merasa nyaman dan aman. Randika tersenyum pahit, sekarang dia tidak bisa bergerak. Yang hanya bisa dia lakukan sekarang adalah membalas pelukannya itu dengan sebuah pelukan. Sepertinya dia terjebak di tempat tidur. Namun, suasana ini sama sekali tidak buruk. Tentu saja, momen ini lebih sempurna jika tangan kirinya juga memeluk perempuan lainnya. Inggrid masih tertidur pulas di pelukannya Randika, Randika sendiri tidak ingin membangunkannya. Bagaimanapun juga, istrinya ini telah mengalami hal yang buruk kemarin malam jadi yang bisa dilakukannya adalah membiarkannya istirahat. Oleh karena itu, beberapa hari ke depan dia akan memaksa Inggrid untuk libur dari pekerjaannya dan bersenang-senang bersama dengan dirinya. Randika dengan pelan membelai pipi istrinya itu, hatinya penuh dengan kehangatan. Lain kali, tidak, dia akan memastikan tidak akan pernah ada kejadian seperti ini terulang lagi. Setelah 45 menit berlalu, Inggrid perlahan membuka matanya. Ketika dia membuka matanya, dia melihat Randika yang sedang menatap dirinya sambil tersenyum. "Lho kok sudah bangun?" Randika memberi ciuman selamat pagi. "Hmm? Jam berapa sekarang?" Inggrid mengucek matanya. "Sayang, jangan khawatir dengan pekerjaan. Aku sudah mengabari bahwa kamu hari ini tidak akan masuk kerja, hari ini dan beberapa hari ke depan kamu akan istirahat di rumah. Tentu saja, aku akan selalu ada bersamamu. Percayakan kantormu itu pada orang-orangmu, mereka bukanlah orang-orang lemah." Kata Randika. Inggrid hanya mengangguk dan kembali ke pelukannya Randika. Randika lalu berbisik ke telinga Inggrid sambil tertawa. "Sayang, karena pagi ini kita tidak ada pekerjaan, bagaimana kalau kitaˇ­" Tidak perlu diteruskan lagi, Inggrid sudah mengerti maksud Randika itu. Wajah Inggrid dengan cepat menjadi merah, dia lalu bertanya pada Randika. "Sayang, apa kamu masih kuat?" "Berani-beraninya kamu meremehkan suamimu ini! Aku harus menghukummu!" "Tidak! Ah!" Tidak lama kemudian, suara ranjang bergoyang terus terdengar beberapa saat disusul oleh desahan erotis dari Inggrid. Setelah 3 ronde, Inggrid turun dan menyiapkan sarapan sedangkan Randika berjalan menuju kamarnya. Randika segera menyalakan komputernya dan tak lama kemudian Yuna segera muncul di layar. "Ran, tumben sekali kamu menghubungiku pagi-pagi?" Yuna masih memakai piyamanya yang longgar itu, kedua dadanya bergelantungan dengan bebas. Namun, Randika baru saja menyantap Inggrid jadi konsentrasinya sangat tinggi. "Aku telah membereskan Shadow." Kata Randika. "Membereskan?" Yuna terlihat bingung. "Bukankah Shadow sudah mati sebelumnya?" "Dia berhasil bertahan hidup." Kata Randika. "Kamu sekarang dapat berkonsentrasi penuh pada Bulan Kegelapan. Kikis kekuatannya perlahan dan tangkap segera si pengkhianat itu. Meskipun dia bukanlah sebuah ancaman berarti buat kita, kita harus membereskan masalah ini untuk selamanya. Kamu mengerti maksudku?" Randika masih trauma dengan Shadow, perempuan itu tidak mengincar dirinya melainkan orang-orang yang di sekitarnya. Randika harus memastikan hal ini tidak terulang kembali, jadi satu-satunya jalan adalah membunuh Bulan Kegelapan. Terlebih, dari mana Shadow bisa ada di Indonesia dan mengerti bagaimana caranya menangkap boneka ginseng? Tentu saja, itu pasti memakai kekuatan dan sumber daya milik Bulan Kegelapan. "Jangan khawatir, pasukan kita sudah bekerja dengan keras. Kita sudah mengeliminasi seluruh kekuatan Bulan Kegelapan di Jepang. Menurut informasi yang kudapatkan, dia telah lari ke Amerika. Setelah situasi di Jepang ini sudah stabil, kita akan mengejarnya." Randika mengangguk. "Bekerja samalah dengan Frank dan Catherine untuk misi pengejarannya. Jika ada apa-apa, hubungi aku." "Baik." Setelah mematikan komputer, Randika berjalan menuju lantai 1. Pada saat ini, Inggrid yang memakai celemek itu menoleh sambil tersenyum. "Aku sudah memasak untuk suamiku tercinta, cepat duduk dan siapkan piringnya." Randika yang baru saja datang itu melihat senyuman manis Inggrid, dia tidak tahu harus berbuat apa. Rasa takut yang didapatnya ketika memakan makanan Inggrid kapan hari benar-benar melekat di benaknya. Namun, sarapan ini dibumbui oleh sesuatu yang paling berharga di dunia ini. Benar, itu adalah cinta! Tidak ada bumbu yang lebih enak daripada cinta! Ketika Randika duduk dan mengunyah makannya, hatinya sudah menangis. Dia ingin mengambil kembali kata-katanya barusan. Sepertinya lebih baik dia makan di luar bersama istrinya ini. Namun, melihat senyuman Inggrid yang begitu lebar, Randika hanya bisa pasrah. Chapter 276: Belanja Randika kemudian mengambil kembali lauk berwarna hitam yang seharusnya telur dadar itu. Ketika dia menggigitnya, rasa asin yang begitu luar biasa langsung menggelegar, terlebih masih ada garam yang tidak larut dalam telur. ASIN! Benar-benar asin! Apa Inggrid memakai 1 kg garam? Randika hampir saja muntah, namun ketika dia mengangkat kepalanya, dia melihat wajah Inggrid yang sedang tersenyum dan bahagia. GLEK! Dengan susah Randika menelannya, setelah itu dia langsung meminum susu satu gelas dalam satu kali teguk. Syukurlah susu yang diminumnya itu tidak diapa-apakan oleh Inggrid, kalau tidak dia sudah pasti mati sekarang. Melihat Randika memakan makanannya, Inggrid tersenyum. "Makannya jangan cepat-cepat begitu, tersedak kan jadinya? Kalau kamu masih lapar, aku akan buatkan lagi kok." Mendengar kata-kata ini, keringat dingin mulai membanjiri punggung Randika. Dia lalu tersenyum pahit. "Sayang, nanti malam kita makan apa?" Inggrid berpikir sebentar lalu dia tersenyum. "Kamu mau apa? Tetapi kita harus belanja dulu ya, aku akan masak beberapa makanan buat kamu. Akhir-akhir ini aku semakin menyukai memasak, aku merasa tiap hari kemampuanku itu bertambah." Setelah berkata demikian, Inggrid menatap Randika yang mulutnya menganga. Apakah ada yang salah dengan kata-katanya barusan? "Sayang, kamu kenapa?" Wajah cantik Inggrid terlihat bingung. Randika langsung menjawab. "Sayang, aku tidak mau membuat capek gara-gara memasak untukku. Bagaimana kalau kita jalan-jalan dan menonton film? Kita juga bisa ke mall dan berbelanja, aku juga dengar kebun binatang kota kita ini baru kedatangan singa dari Afrika yang gagah. Nanti malam kita juga bisa makan di restoran mewah yang romantis." Randika dengan cepat mengalihkan topik pembicaraan, apa pun yang terjadi dia tidak ingin memakan makanan seperti ini lagi. "Kamu tidak usah khawatir, aku suka memasak untuk orang spesial di hatiku." Inggrid tersenyum. Inggrid dan Hannah benar-benar berbeda. Hannah suka bermain sedangkan Inggrid lebih suka di rumah dan menyibukkan diri. "Kalau begitu, aku akan menemanimu belanja nanti. Mungkin di tengah-tengah itu kita juga bisa beberapa cemilan." Randika sudah tidak bisa mengelak lagi, apalagi hatinya itu luluh ketika mendengar Inggrid senang memasak untuk orang yang dicintainya. Setelah menganggukan kepalanya, Inggrid hendak mengambil sarapan untuknya. Namun, dia menyadari bahwa sudah tidak ada makanan tersisa di meja makan. Dia menatap tajam Randika yang sedang melahap seluruh lauk yang dibuatnya. Mulut suaminya itu mengunyah dengan cepat, terlihat rakus sekali. "Sayang, jika kamu masih lapar aku akan memasakkannya untukmu lagi. Lain kali jangan sampai makan bagianku ya." Kata Inggrid sambil cemberut, tetapi hatinya sendiri masih senang melihat Randika menyukai masakannya. Randika mengangkat kepalanya lalu memaksakan diri untuk tersenyum. Namun, sudut matanya sudah meneteskan air mata dan pahanya sudah merah karena dicubit olehnya. Dia harus menanggung semua penderitaan ini demi Inggrid. Jika Inggrid sampai mencicipi makanannya, bukankah itu akan menghancurkan hatinya? Oleh karena itu, untuk membuat Inggrid percaya bahwa masakannya enak, Randika hanya bisa menahan penderitaan ini seorang diri. Tentu saja, segala macam minuman yang ada di meja telah ludes terminum. "Sayang, bagaimana kalau kita nyari makan buatmu ketika kita pergi nanti?" Kata Randika. Inggrid mengangguk dan berjalan ke atas untuk berganti baju. Randika sendiri setelah duduk sebentar, dia juga ganti baju dan menunggu Inggrid di bawah. Ketika istrinya itu turun, dia benar-benar terpukau. Inggrid yang terkenal akan kesan dewasanya itu, sekarang memakai dress one piece berwarna putih dengan topi pantai dan sepatu sandal. Kesannya yang dewasa itu berubah menjadi terlihat segar, benar-benar berbeda dengan image yang dia miliki sehari-hari. Baju memang menonjolkan kecantikan seseorang, tetapi untuk perempuan-perempuan cantik teori ini sama sekali tidak berlaku. Mau baju seperti apa pun yang mereka pakai, mereka tetap terlihat cantik. "Benar-benar cantik." Randika menatap Inggrid yang menuruni tangga. Tanpa berkata apa-apa, Randika memeluknya dan memberinya ciuman yang sangat panjang. Kemudian setelah keduanya selesai berciuman, mereka bergandengan tangan dan keluar dari rumah. Aksi ini seakan-akan menunjukan dunia bahwa perempuan tercantik di kota Cendrawasih ini telah menjadi miliknya. Sepanjang jalan, keduanya tertawa dan terlihat bahagia. Ketika mereka melihat orang mengemis, Randika bahkan memberikannya 200 ratus ribu tanpa pikir panjang. Tidak lama kemudian, mereka tiba di suatu pasar modern. Di pasar ini, bagian sayur, daging, ikan mempunyai areanya sendiri-sendiri. Tidak hanya itu, kebersihan tiap area juga sangat dijaga. Banyak orang yang berbelanja untuk menyiapkan makan siang dan makan malam mereka. Bisa dikatakan bahwa salah satu momen yang berharga dari sebuah keluarga adalah makan bersama. Khususnya makan malam, momen di mana seluruh keluarga berkumpul setelah seharian bekerja ataupun bersekolah. Tidak ada yang bisa mengalahkan makanan enak dan senyuman keluarga saat menyantapnya bersama. Randika memperhatikan sekelilingnya, sepertinya kebanyakan orang yang ada adalah ibu rumah tangga dan mereka sudah cukup berumur semua. Sepertinya tidak ada perempuan cantik yang bisa menjadi mangsanya. Inggrid pertama-tama pergi menuju area sayur. Melihat-lihat sayuran yang ada, Inggrid ragu untuk membeli apa. Melihat keraguan itu, penjual sayur yang sudah berpuluh-puluh tahun berjualan ini mulai memasarkan barangnya. "Bagaimana kalau tauge ini? Kamu bisa menumisnya atau kamu bisa memasaknya dengan daging sapi. Ibu yakin pasangan muda kalian ingin segera mempunyai anak, jadi tauge ini sangat cocok untuk kalian." Inggrid tersenyum lebar. "Baiklah, aku ambil tauge ini." "Untuk istri secantik kamu, kamu juga harus menjaga kulitmu itu jadi ibu sarankan untuk memakan brokoli yang bagus untuk kulit ini." Wajah Inggrid tersipu malu, dia menganggukan kepalanya. "Kalau begitu aku ambil juga brokolinya." "Terus labu ini, kamu juga harus menjaga tulangmu itu sejak dini sehingga tua nanti kamu tidak membungkuk kayak ibu." Inggrid mengangguk. "Baiklah aku juga ambil labunya." "Terus untuk suamimu itu, ibu sarankan kamu untuk membeli ˇ­.. " Randika sudah geleng-geleng dengan Inggrid, dia benar-benar tidak habis pikir kenapa Inggrid mudah percaya begitu. Di sisi lain, dia juga mengagumi kehebatan ibu-ibu penjual sayur itu. Dia mampu berkata manis dan menekankan bahwa semua jualannya adalah demi kelanggengan hubungannya. Tapi Inggrid tidak bisa sepenuhnya disalahkan, kemampuan ibu itu benar-benar luar biasa! Di bawah serangan ibu-ibu itu, Randika sekarang harus membawa dua kresek berat berisikan sayur-sayuran. Ibu penjual sayur itu senang ketika melihat kedua pasangan ini, dia lalu tersenyum pada Inggrid. "Terima kasih telah belanja di sini, aku berharap kita bisa bertemu lagi." Keduanya lalu pergi dan menuju tempat ikan. "Dipilih, dipilih, ikan-ikan masih pada segar bos." "Ah! Kakak cantik yang di situ, apa ada yang bisa saya bantu? Coba lihat salmonnya ini dulu, benar-benar segar!" "Sepertinya salmonnya ini terlihat enak, aku ambil potongan ini." Kata Inggrid. Randika terlihat bingung, dia lalu bertanya. "Kenapa beli ikan yang mahal? Kenapa tidak beli ikan tongkol saja? Lebih murah." "Tapi itu kan untuk kamuˇ­" Inggrid menatap Randika dengan tatapan penuh makna. Ketika dia ingin menjelaskannya, Inggrid tidak bisa menahan malunya. Randika memang tidak peka dengan hal-hal seperti ini. Bukankah mereka sudah main terlalu banyak kemarin dan hari ini? Apa vitalitasnya itu tidak bermasalah? Setelah dipikir-pikir, akhirnya Randika mengerti kenapa Inggrid berusaha membeli salmon. Namun setelah melihat perbandingan harganya, Randika berkata pada Inggrid. "Tetapi kamu tidak pernah memasak ikan salmon sebelumnya." "Tidak masalah, aku akan mencarinya di internet nanti." Kata Inggrid sambil tersenyum. Mendengar ini, Randika kembali berpikir. Sepertinya dia dijadikan tikus percobaan lagi oleh istrinya. Mengingat rasa telur dadar tadi pagi, dia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya ikan yang akan dimakannya nanti itu. Tidak, dia tidak mau merasakannya lagi! Kepala Randika berputar dengan cepat, setelah beberapa saat matanya terlihat berbinar-binar. Karena dia tidak bisa menghilangkan rasa antusias Inggrid untuk memasak, bukankah solusinya adalah membantunya secara diam-diam dan mengawasi rasa masakannya itu dari jarak dekat? Dengan begitu dia bisa makan dengan tenang dan tidak membuat Inggrid curiga. Randika merasa dirinya jenius, tetapi dia sepertinya lupa bahwa dia juga tidak bisa memasak. Tetapi, setidaknya dia tahu dari sebuah rasa dan masakan itu masih mentah atau tidak. Setelah mengambil potongan ikan salmon itu, keduanya menuju area daging. Di sana mereka membeli beberapa ayam, daging iga dll. Sekarang yang tersisa adalah bahan-bahan dapur, Inggrid mulai mencari-cari. Sedangkan Randika, kedua tangannya sudah penuh oleh bahan makanan. Setelah membeli bahan-bahan dapur seperti kecap, garam dll, mereka akhirnya pulang ke rumah naik taksi karena barang bawaannya terlalu berat. Sekarang waktu menunjukan pukul 12 siang, wajah Inggrid sudah semangat. "Sayang, aku masak dulu ya." "Ah! Biarkan aku membantumu, kamu tidak mungkin bisa memasak semua ini sendirian." Randika dengan cepat menawarkan bantuannya, dia tidak bisa membiarkan Inggrid memasak sendirian lagi. Kalau tidak, makan apa dia untuk siang ini? Demi perutnya dan hati istrinya, Randika harus ikut memasak. Inggrid mengangguk dan menaruh bahan-bahan di dapur. Ketika mereka bersiap untuk memasak, Inggrid tiba-tiba berkata pada Randika. "Tunggu sebentar." Inggrid kemudian naik ke kamarnya dan turun membawa sebuah laptop. Wajah Randika terlihat bingung. "Sayang, kenapa kamu bawa laptop?" Wajah Inggrid terlihat malu. "Aku ingin melihat caranya memotong ayam seperti apa." "ˇ­.." Randika menghela napas di dalam hatinya. Bahkan memotong ayam saja istrinya ini belum pernah, sepertinya pertempuran ini akan berjalan dengan lama. Chapter 278: Hari yang Damai Pagi hari ini, Randika dan Inggrid sarapan bersama lalu berangkat ke kantor. Di mobil, Randika memperhatikan Inggrid yang memakai jas dan riasan yang ringan itu. Sosok istri yang penyayang dan kekanak-kanakan itu telah berubah menjadi sosok dewasa dan tegas kembali. Tetapi apa pun penampilan istrinya itu, Inggrid tetaplah perempuan sempurna dan cantik di matanya. Selama perjalanan, kedua tangan mereka tidak pernah lepas. Sesampainya di kantor, Inggrid langsung meninggalkan Randika setelah memberinya ciuman perpisahan. Pekerjaan yang menumpuk sudah menunggu dirinya di ruangannya. Meskipun sekretarisnya telah mengerjakan bagian tugasnya selama Inggrid absen, masih banyak kasus yang perlu persetujuan Inggrid secara langsung. Randika di sisi lain, dia berjalan menuju departemen Kelvin. Di departemen parfum ini, semua orang terlihat sedang sibuk dan Kelvin memberikan arahan pada setiap orang. Orang-orang Randika yang membantunya untuk membuat ramuan X juga juga berada tempat ini. Namun, Viona diperlakukan berbeda di tempat ini dan Kelvin sendiri mengetahui bakat besar di dalam diri Viona. Bisa dikatakan bahwa Viona menjadi anak emas di departemen ini. Ketika Randika masuk ke dalam ruangan, beberapa orang langsung menyadari kehadirannya. "Wah pak Randika akhirnya muncul!" "Kukira bapak kabur sama simpanan bapak hahaha." "Pagi pak Randika." Para bawahan Randika dengan cepat menyapa dirinya, tetapi mereka tidak berani terlalu lama berbincang karena ada setan bernama Kelvin mengawasi mereka. Jika mereka berlebihan meninggalkan pekerjaan mereka, bisa-bisa mereka dipecat. "Pak Randika selamat pagi." Kelvin tersenyum ketika melihat Randika. Kelvin sangat menghormati Randika kerena pengetahuannya terhadap parfum, jadi dia selalu sopan di hadapan Randika. Ketika Viona melihat sosok Randika, dia terlihat terkejut. Hampir seminggu dia tidak melihat Randika, benar-benar hari yang sepi tanpa dirinya. "Pak, aku punya beberapa formula yang butuh pendapat bapak." Kelvin tersenyum dan menjelaskan. "Kami baru saja membuat contohnya beberapa hari yang lalu, kami butuh penilaian bapak." "Tidak masalah." Randika menganggukkan kepalanya. Bagaimanapun juga, satu-satunya pekerjaannya adalah menilai parfum yang dibuat oleh Kelvin. Ketika Kelvin pergi untuk mengambil contoh parfum, Randika menggunakan kesempatan ini untuk mencuri pandang ke arah Viona. Ketika kedua mata mereka bertatapan, wajah Viona langsung merah dan hatinya menjadi gugup. Namun, momen reuni mereka dirusak oleh Kelvin yang membawa beberapa tabung reaksi. Randika lalu mendengarkan penjelasan Kelvin terlebih dahulu sebelum memeriksanya. Setelah mendapatkan penilaian Randika, Kelvin tersenyum. "Bapak benar-benar hebat, hanya dalam waktu setengah jam bapak bisa mengetahui kelemahan dan kekurangan dari parfum kita." "Jangan begitu, semua usahamu dan timmu sangat luar biasa. Kamu harus bangga dengan kinerjamu selama ini." Randika menepuk pundak Kelvin, kemudian dia berjalan keluar dari ruangan. Tidak lupa, dia meminta Viona untuk ikut dengan dirinya. Sekarang mereka berdua sedang berada di laboratorium ramuan X yang sepi. Karena terakhir kali mereka bertemu Randika meminta Viona memakai baju yang sexy untuknya, Viona yang sekarang memakai baju yang cukup ketat. Meskipun baju yang dikenakannya hampir sama dengan perempuan-perempuan lainnya, Viona memancarkan aura sexy berkat tubuhnya yang molek itu. "Ran, dari mana saja kamu? Aku sudah lama tidak bertemu denganmu." Meskipun terlihat cemberut dan sedih, hati Viona benar-benar bahagia ketika bertemu dengan orang yang dicintainya setelah sekian lama. "VI, aku ada perlu beberapa hari yang lalu. Kalau kamu cemberut gini terus lebih baik kita akhiri hubungan kita ini." Viona dengan cepat menggelengkan wajahnya. "Tidak, tidak, aku tidak marah kok." "Hahaha sepertinya gertakanku berhasil, lagipula mana mungkin aku ingin mengakhiri hubungan kita?" Randika lalu memeluk pinggang Viona dan berbisik di telinganya. "Vi, kamu tidak usah khawatir, kamu itu adalah perempuanku. Kamu tidak bisa kabur dariku, kabari aku jika orang tuamu sudah tidak ada di rumahmu." Ketika mendengar kata-kata Randika, wajah Viona menjadi merah. Kejadian yang memalukan itu kembali mengisi benaknya. Ketika mengingat dirinya muncrat di hadapan orang tuanya, Viona benar-benar malu. Randika tersenyum. "Untuk sekarang ini, pelajari dan perhatikan Kelvin dengan benar. Aku yakin kariermu akan melesat jika kamu mengikuti Kelvin." "Baiklah." Viona mengangguk, sedangkan Randika menggunakan kesempatan ini untuk meremas pantat kesayangannya. Rasa empuk dan kenyal itu benar-benar membuat Randika ketagihan. Setelah bermesraan sedikit, Randika dan VIona berpisah. Sekarang Randika tidak punya pekerjaan untuk dilakukan. Ramuan X juga sudah ditangani oleh Yuna jadi sekarang Randika tidak ada pekerjaan sama sekali. Awalnya dia ingin mengunjungi ruangan istrinya untuk bermesraan, tetapi ketika sesampainya di sana dia melihat Inggrid yang begitu sibuk dengan pekerjaan yang menggunung di mejanya. Sebagai suami yang baik, dia hanya bisa membiarkan istrinya itu bekerja. Jadi Randika benar-benar bingung harus berbuat apa sekarang. Menurut kebiasaan Randika, karena dia tidak ada kerjaan di kantor ini, dia malas untuk berlama-lama di tempat ini. Jadi dia memutuskan untuk pergi jalan-jalan dan mungkin bertemu dengan perempuan cantik lainnya. Keluar dari gedung, Randika berjalan dengan santai menelusuri jalan. Matahari bersinar dengan terang, waktu masih menunjukan pukul 10 pagi. Tidak banyak orang berada di jalan, wajar saja karena ini masih jam bekerja. Namun, Randika menemukan ada kerumunan orang di tepi jalan. Seharusnya ada sesuatu yang sedang terjadi, mungkin ada kejadian menarik yang bisa dilihatnya. Sosok tubuhnya dengan cepat melewati banyak orang dan perlahan dia berdiri di depan. Ketika dia bisa melihat kejadian yang menarik massa ini, Randika sangat terkejut. Lagi-lagi yang terlibat masalah adalah salah satu kenalannya, namun dia tidak menyangka ibu-ibu tua inilah yang menjadi perhatian. Benar, dia adalah Ayu ibu dari Christina! Di sekitar Ayu, terdapat beberapa orang yang memakai seragam Grand Majestic Salon. "Aduh lebih baik ibu itu membayar daripada menghadapi bahaya seperti itu." Orang yang di sebelah Randika sudah geleng-geleng, dia tidak berani melihat lagi. Randika benar-benar bingung, ada yang sebenarnya sedang terjadi? Tidak berdaya, akhirnya Randika bertanya pada orang di sekitarnya. "Jadi gini, salon itu memang terkenal nakal dan suka memeras orang. Ketika kita masuk, harga yang ditampilkan sangat murah dan menarik tetapi ketika kita hendak membayarnya, harganya bisa naik 10x dari perjanjian awal." Kata pria yang berdiri di samping Randika. "Benar, toko itu sudah meresahkan lingkungan ini sejak lama. Sudah banyak orang yang terjebak oleh siasat busuk mereka itu. Tetapi karena diancam, selama ini tidak ada yang berani untuk berbuat sesuatu. Terlebih lagi, toko itu juga sudah dilaporkan ke pihak berwenang berkali-kali tetapi tetap saja tidak ditutup. Sepertinya toko itu punya orang dalam yang kuat jadi kita tidak bisa apa-apa." Kata ibu-ibu yang sedang merekam kejadian ini. Randika akhirnya mengerti permasalahannya, dia tidak bisa untuk tidak mendengus dingin. Di negara manapun, sepertinya bajingan-bajingan seperti ini selalu ada. Dan sialnya, warga tidak bersalah yang selalu menjadi korban. Chapter 277: Memasak Bersama Istri Setelah video itu selesai, mereka mulai bersiap-siap. Untuk masakan sayurannya, Inggrid berniat membuat sapi lada hitam ditambah oleh tauge. Sedangkan untuk brokolinya, dia ingin membuat capcay goreng. Sedangkan untuk ikan salmonnya, dia berniat membuatnya menjadi spaghetti salmon aglio olio. Untuk daging, Inggrid berniat membuat ayam panggang dan rawon dengan labu siam. Tentu saja, semua masakan itu terdengar enak dan rasanya memang enak tetapi semua itu bergantung pada cara mengolahnya. Pertama, Randika dan Inggrid harus mencuci setiap bahan terlebih dahulu dan memisahkan tiap bahan berdasarkan tiap masakan. Kelebihan dari tiap bahan akan mereka simpan untuk kemudian hari. Sayur-sayur telah selesai dicuci dan Inggrid memakai celemeknya, dia terlihat seperti seorang chef. "Sayang, panaskan pancinya hingga mendidih." Inggrid kemudian mengambil satu ekor ayam dan berniat memotongnya. Ini merupakan pertama kalinya dia memotong seekor ayam yang utuh. Oleh karena itu, dia membekali dirinya dengan menonton video tutorial cara memotong ayam dengan benar sebelumnya. Inggrid memang orang yang seperti ini, sebelum dia melakukan sesuatu, dia pasti akan melakukan persiapan terlebih dahulu. Tetapi, ini adalah ketiga kalinya dia memasak dalam hidupnya. Ketika dia memegang pisau, dia seakan-akan hendak menusuk orang. Dia memegang pisau dengan meletakkan jari telunjuknya di atas pisau. Padahal hal ini malah bikin pisau menjadi tidak stabil dan membuat potongannya meleset ke mana-mana. Kerugian lainnya adalah membikin pergelangan tangan menjadi pegal karena tekanan pada otot dan persendian. Tapi hal yang membuat Randika ketakutan adalah posisi tangan Inggrid yang terbuka lebar. "Tunggu!" Teriak Randika. "Hmm?" Inggrid terlihat bingung. "Sayang, jangan memotong dengan jari terbuka lebar begitu, nanti kamu tersayat bagaimana? Sini aku tunjukan bagaimana yang benar." Untuk menghindari hal berbahaya ketika memotong, pada tangan yang memegang sayuran atau daging, kita harus menekuk jari kita dan membuat sebuah cakar. Dengan begini, dinding pisau akan menabrak buku-buku jari sehingga ujung jari tidak akan terpotong. Tetapi, Randika menyadari sesuatu ketika dia memegang pisaunya. "Sayang, bukankah pisau ini terlalu kecil?" Alat yang tepat dalam proses memasak akan membuat proses memasak jauh lebih mudah. Pisau yang tajam dan jenis pisau yang tepat akan membuat proses memotong menjadi lebih cepat. Pisau yang digunakan Inggrid sekarang benar-benar kecil, kurang cocok untuk memotong ayam utuh. Bisa-bisa ayam yang dipotongnya itu akan berantakan dan Inggrid akan memakai waktu yang cukup lama. "Sayang, bagaimana kalau serahkan pemotongan ayam ini ke aku? Air yang kamu minta itu sudah mendidih dan bagaimana kalau kamu mempersiapkan rawonnya itu?" Memasak rawon seharusnya tidak sesusah itu karena tinggal mengikuti resep yang ada jadi seharusnya tidak ada masalah yang berarti bagi istrinya itu. Inggrid mengangguk. Meskipun dia suka memasak, dia tidak terlalu suka memakai pisau karena jarinya suka tersayat. Mengikuti resepnya, Inggrid mulai menyiapkan bahan-bahan yang akan diblender hingga halus. Namun ketika dia hendak memblendernya, Randika lagi-lagi mencegahnya. "Tunggu! Kenapa bawang putihnya tidak kamu kupas dulu!" "Hmm? Di resep tertulis 3 butir, apa aku salah?" "Bukan salah sayang." Randika memaksakan dirinya tersenyum. "Seharusnya kamu mengupasnya terlebih dahulu." Inggrid mengangguk dan mulai mengupas bawang putih dan bawang merahnya. Setelah itu proses memasak berjalan lancar hingga waktunya Inggrid hendak memasukan garam tanpa menggunakan sendok. "Sayang, kamu mau masukan seberapa banyak garamnya?" "Biasanya aku kira-kira saja sih, kenapa memangnya?" "Tidak apa-apa, hanya saja aku tidak terlalu asin. Lagipula, kalau makanannya terlalu asin kata orang itu tanda bahwa yang memasak kebelet kawin, jadi apa kamu sebenarnya sudah tidak sabar menunggu malam?" Mendengar hal ini Inggrid menjadi tersipu malu, dia menggelengkan kepalanya dengan cepat. Hal salah yang paling sering dilakukan oleh orang dalam memasak adalah tidak mengikuti resep. Dari resep itu sudah ada takaran yang tepat sehingga rasa yang dihasilkan sesuai dengan resep. Dan yang paling krusial adalah mencicipi sambil memasak. Selama ini seharusnya Inggrid belum pernah mencicipi masakannya selama memasak jadinya dia tidak pernah tahu apakah masakannya gagal atau tidak. Setelah memasukan daging rawon dan labu siamnya ke kuahnya, Inggrid melanjutkan masakannya yang lain. Sekarang adalah memasak spaghettinya. Inggrid mengambil panci dan memanaskan airnya. Ketika air mulai panas, dia langsung membuka kemasan plastik spaghettinya dan hendak memasukannya. "Tunggu!" Randika yang sedang asyik menumis menyadari kesalahan yang dilakukan oleh Inggrid. "Hmm?" "Sayang, airnya itu baru saja mendidih jadi jangan langsung memasukkannya. Tunggu 1 menit sebelum kamu memasukkannya, terus apakah kamu sudah memberi garam pada airnya?" "Belum, memangnya kenapa?" "Kita perlu memberinya garam 1 sendok teh tiap 1000 ml air yang digunakan untuk merebus agar tidak hambar. Dan juga beri sedikit minyak ke dalamnya biar tidak saling menempel ketika ditiriskan nanti." "Ohˇ­" Pengetahuan baru selalu membuat Inggrid antusias. Setelah spaghettinya mencapai kematangan al dente, Inggrid berniat membuang airnya. Untuk sekian kalinya, Randika menyuruhnya untuk berhenti. "Sayang, jangan buang semua airnya. Sisakan sedikit untuk mencampurkannya dalam proses menumisnya nanti. Dan kamu tidak perlu membilasnya." Inggrid mengangguk dan mulai menumis spaghettinya, untuk isinya dia memakai salmon yang telah dimarinasi dengan perasan air lemon. Ketika sudah selesai, Inggrid memutuskan untuk mencicipi sedikit spaghetti buatannya. Seketika itu juga, Inggrid merasa senang dan melompat-lompat dengan gembira. "Sayang, lihat, lihat masakan yang kubuat! Enak sekali lho." Inggrid yang dewasa itu terlihat persis seperti anak kecil. Randika memeluknya dari belakang dan mencium pipinya. "Tentu saja, semua masakan istriku itu tidak ada yang tidak enak. Kamu tahu tidak kenapa bisa begitu?" "Kenapa memangnya." Inggrid yang dipeluk itu masih tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya. "Karena kamu memasaknya dengan penuh cinta untukku." Randika kembali mencium istrinya itu. "Eh, apaan sih kamu." Inggrid tersipu malu, tapi dia sangat senang dengan suasana yang hangat dan menyenangkan ini. Apakah ini yang namanya bahagia? Inggrid lalu kembali mengurusi rawon yang dia masak itu sambil tersenyum lebar. Melihat sosok Inggrid yang sibuk itu sambil tersenyum, Randika tidak menyangka istrinya bisa berubah begitu drastis. Di hadapannya ini bukanlah Inggrid Elina yang dikenal sebagai perempuan dingin dan dewasa, di hadapannya sekarang adalah anak kecil yang sedang asyik memasak. Memang cinta bisa merubah siapapun. Hati Randika kembali menghangat, dia merasa beruntung bisa mempunyai istri seperti Inggrid. Meskipun proses pernikahan mereka tidak sama seperti orang pada umumnya, yang terpenting adalah momen mereka sekarang. Sekarang mereka bisa dikatakan sebagai suami dan istri yang sebenarnya. Randika memeluknya kembali, tetapi Inggrid masih sibuk mengaduk rawonnya. Namun, tiba-tiba mereka berdua mencium bau gosong. "Ah!" Randika segera pergi menuju panci daging sapi lada hitamnya. Saking senangnya dia melihat Inggrid yang bertingkah seperti anak kecil, dia sampai lupa kalau sedang menumis sapi lada hitamnya. Tetapi dia sudah terlambat. "Sial, ini sudah bukan daging sapi lada hitam lagi, ini sih sudah daging sapi hitam." "Pfffttt." Inggrid yang mendengar lelucon itu tertawa keras. Sedangkan Randika sedikit malu ketika mendengar suara tawa Inggrid. "Sayang, berhenti tertawa atau aku akan membuatmu tidak tidur nanti malam." "Maaf, maaf, salah sendiri kamu lucu seperti itu. Kita masih punya ayam untuk dipanggang bukan? Bagaimana kalau kita membuatnya bersama-sama?" "Baiklah." Setidaknya Randika sudah bisa mengalihkan topik masakannya yang gagal itu. "Tapi coba kamu ke sini dulu." Inggrid melambaikan tangannya. "Coba kamu hirup rawonnya, wangi sekali bukan?" Randika menciumnya dan terkejut. "Kamu benar! Istriku memang hebat." Mendengar hal ini, rasa bangga di hati Inggrid mulai membesar. Dia sangat senang dengan perasaan seperti ini. Melihat istrinya yang terlihat bangga itu, Randika mencubit hidungnya. Keduanya lalu memasak ayam panggang berdua sambil terus bercanda. Setelah 2 jam berlalu, akhirnya semua makanan dibawa ke meja makan. Melihat semua makanan yang ada di atas meja, air liur Randika tidak bisa berhenti menetes. Istrinya memiliki bakat memasak, sepertinya memang dia perlu diberitahu dasar-dasar memasak terlebih dahulu. Terlebih lagi, melihat masakan ini membuat Randika tidak perlu khawatir lagi dengan masakan neraka Inggrid yang sebelumnya. Keduanya lalu mengambil nasi dan mengambil satu per satu lauk. Ketika hendak makan, Inggrid menampar tangan Randika. "Kamu belum cuci tangan kan? Cepat cuci dulu!" Dengan enggan Randika berjalan dan cuci tangan lalu keduanya menyantap makanan ini dengan gembira. ...ˇ­.. Beberapa hari ini Randika terus bersama Inggrid di rumah. Kabar mengenai terlukanya Hannah sama sekali tidak mencapai telinganya Inggrid, lagipula kondisi Hannah sudah sangat membaik dan sebentar lagi dia bisa pulang. Inggrid juga sama sekali tidak mencurigai apa-apa tentang Hannah karena memang adiknya itu tinggal di asramanya. Ibu Ipah juga beberapa kali kembali ke rumah, Randika menjelaskan kepada Inggrid bahwa dia menyuruh Ibu Ipah mengurus Indra yang sakit. Ketika Ibu Ipah sampai di rumah, dia sangat senang melihat Randika dan Inggrid begitu bahagia. Akhirnya putrinya itu bisa menemukan kebahagiaannya, Ibu Ipah tidak bisa meminta lebih daripada hal ini. Setelah 5 hari tidak masuk kerja, Randika akhirnya memperbolehkan Inggrid untuk kembali bekerja. Setelah 5 hari bersama dan dipenuhi kenangan hangat, seharusnya Inggrid sudah bisa melupakan kenangan buruk yang dialaminya karena Shadow. Chapter 279: Menantuku Telah Datang! Pada saat ini, Ayu menatap tajam pada pria berbadan tinggi itu sambil terus marah-marah. "Kalian lancang sekali memeras orang-orang." Ayu benar-benar marah. Ketika dirinya pertama kali masuk ke dalam salon, dia memilih paket bernilai 350 ribu. Ketika dia hendak membayar, tagihannya sudah lebih dari 3,5 juta. Bagaimana mungkin dia tidak marah? "Ibu ini bawel ya, cepat bayar atau nanti malam ibu tidak akan bisa berkumpul dengan keluargamu lagi." Pria itu mendengus dingin dan mengepalkan tangannya. Belum pernah ada pelanggan yang lolos dari cengkeramannya. Bahkan jika dia harus menghajar ibu tua satu ini, malam ini dia akan berfoya-foya dengan uang yang diperasnya ini. Pria besar itu menatap bengis Ayu dan berkata dengan wajah serius. "Aku heran kenapa tua bangka sepertimu tidak mau membayar, bukankah aku membuatmu terlihat cantik dan muda? Kalau cuma 350 ribu memangnya bisa membuatmu seperti itu?" Ketika mendengar kata-kata kasar itu, Ayu semakin marah. Tetapi kata-kata pria itu benar, dia sudah terlanjur menerima jasanya dan salon ini juga bisa memakai alasan bahwa dirinya itu tidak memperhatikan harga atau meminta jasa lebih ketika di dalam. Orang-orang yang melihat ini sudah jijik dengan kata-kata pria itu tadi, bisa-bisanya dia menghalalkan cara seperti itu untuk mencari uang. Tetapi mereka semua tidak berani melawan, bisa-bisa mereka terseret ke dalam masalah ini. Belum lagi kalau pihak salon memanggil jasa tukang pukul mereka, siapa memangnya yang berani membela orang tidak dikenal? Oleh karena itu, mereka hanya bisa menonton dan berdoa yang terbaik untuk Ayu. "Jika saja orang tuamu itu masih ada, mereka pasti sudah malu mempunyai anak sepertimu." Kata-kata itu berasal dari barisan paling depan, semua orang terkejut termasuk pria dari salon tersebut. Kata-kata itu menusuk hati namun tepat, tidak ada kata yang lebih tepat untuk menggambarkan kejadian ini. Ayu sangat terkejut ketika melihat Randika yang berdiri di paling depan itu, dia merasa senang. ??Nak Dika! Sekarang kamu dalam masalah karena menantuku telah datang." Randika berjalan menghampiri Ayu dengan berjalan sok keren dan ekspresi yang serius, tetapi mendengar kata ''menantu'' Randika hampir terjatuh. Sialan, sejak kapan dia menjadi menantunya? Sepertinya apa pun yang terjadi, Ayu sudah menganggap Randika sebagai menantunya. Pria dari Grand Majestic Salon itu mendengus dingin ketika melihat Randika. Darahnya mendidih ketika dia berkata pada Randika. "Bocah, kau ingin mati hari ini? Apa kau tidak lihat bahwa mertuamu itu tidak mau membayar jasaku?" "Membayar jasamu? Jelas-jelas kau itu memerasnya, orang tuamu pasti sangat malu ketika melihat anaknya memeras penatua." Kata Randika dengan wajah serius. Orang-orang di belakangnya sudah mengangguk kagum pada Randika, akhirnya ada orang yang berani melawan salon tersebut. "Kak Bambang, serahkan orang itu pada kita." Di sampingnya kedua bawahannya itu ikut marah ketika bosnya diejek seperti itu. Siapa yang bisa tetap sabar melihat bos yang menjadi panutannya diejek seperti itu? Bambang mengangguk, tatapan matanya masih terlihat tajam. Kedua bawahannya itu mengepalkan tangan mereka, tersenyum dan menghampiri Randika. Akhirnya setelah sekian lama mereka bisa menghajar orang lagi. Keduanya meraung dan menerjang ke arah Randika, orang-orang yang melihat ini sudah menutup mata mereka. Apa pemuda berani itu akan baik-baik saja? "ARGH!" Mendadak, suara orang kesakitan dapat terdengar dengan jelas. Serangan tinju keduanya itu dapat dengan mudah ditangkap oleh Randika. Randika lalu memelintir tangan mereka berdua hingga meringkuk kesakitan sambil berlutut. Keduanya berteriak kesakitan, tangan mereka serasa akan patah kapan saja. Randika lalu membanting mereka di tanah. "Teruskan!" "Hebat!" Orang-orang di belakangnya sudah bersorak untuk Randika, sedangkan Ayu makin puas dengan menantunya ini. Memang anaknya itu tidak salah milih, menantunya ini sudah pintar, baik, sabar, kuat pula! Dia sekarang bisa tenang menyerahkan anaknya pada pria semacam Randika. Bambang mengangguk ketika melihat kedua bawahannya itu terkapar. "Sudah lama aku tidak menemukan lawan sepertimu." Namun sebelum kata-kata itu selesai, sosok Randika tiba-tiba menghilang. Randika sudah berada di belakangnya dan menendangnya dengan keras. Serangannya benar-benar sederhana tetapi mengandung kekuatan yang besar, Bambang yang besar itu akhirnya tumbang dan terkapar di tanah. Randika lalu melangkahi tubuhnya itu dan menghampiri Ayu. Para penonton itu sudah terkagum-kagum melihat Bambang yang tinggi besar itu tumbang dalam sekali serang. Randika lalu menggandeng tangan Ayu dan mengajaknya pergi dari situ. "Luar biasa!" Orang-orang sudah bersorak karena keadilan sudah diberikan pada pria busuk itu. Mereka menatap kagum pada sosok Randika yang mulai menghilang dari pandangan mereka. Orang itu pasti utusan Surga! Di sisi lain, Randika menemani ''ibu mertuanya'' ini berjalan dengan hati yang terasa gelisah. Kenapa? Karena Ayu menatapnya dari atas ke bawah dan mengangguk terus-menerus. "Tante, apa tante baik-baik saja?" Tanya Randika. "Kalau tidak apa-apa, aku ada urusan." Randika benar-benar tidak berdaya terhadap perempuan tua satu ini. Terutama dengan rentetan pertanyaan yang sama banyaknya dengan bintang di langit, dia harus kabur sebelum hal itu terjadi! "Aduh Dika, tante harus berterima kasih sama kamu karena pertolonganmu. Tetapi kenapa kamu buru-buru pergi seperti itu, tante harus memberimu hadiah terlebih dahulu." Ayu ingin mengenal menantunya ini lebih jauh. "Aduh tante maaf, aku sebenarnya ada kerjaan." Ayu langsung menangkap tangan Randika dan berkata padanya. "Biarkan tante berterima kasih sama kamu. Kamu juga sudah janji makan malam di rumah tante kan? Hari ini tante menagih janjimu dan kebetulan Tintin hari ini makan di rumah." "Tante, malam ini aku sudah ada janji." Randika tidak berdaya ketika diseret oleh Ayu. Terakhir kali dia makan di rumah keluarga Christina, pertanyaan-pertanyaan menjerumus ke pernikahan tidak bisa berhenti ditanyakan oleh ibu satu ini. Bahkan Randika tidak sempat makan hanya untuk membalas pertanyaan. "Oh benarkah? Sudah batalkan saja, malam ini kamu akan makan di rumahnya tante." Ayu tersenyum dan kembali menyeret Randika ke rumahnya. "ˇ­." Sepertinya Randika ditakdirkan untuk makan malam bersama Christina dan ibunya. Melihat Randika yang setuju, Ayu semakin bersemangat. "Kali ini bicarakan masa depanmu dengan Tintin dengan baik ya." Randika hanya bisa tersenyum pahit dan menganggukan kepalanya. Kata-katanya itu sangat mudah dipahami, ibu ini ingin dirinya segera menikah. Ahˇ­. Kenapa ibu ini sangat ingin menjadikan dirinya menantunya? Tidak lama kemudian, Randika dan Ayu akhirnya sampai di depan rumah. "Ma, kok lama sekali?" Sesudahnya pintu rumah dibuka, suara Christina dari dalam bisa terdengar. Kali ini, Christina yang memakai tank top putih dan celana pendek keluar menyambut ibunya yang baru datang. Melihat anaknya yang berpakaian minim seperti itu, Ayu geleng-geleng. Sedangkan Randika tidak bisa berhenti melototinya. Tubuh Christina benar-benar kelas atas, karena tidak pakai beha, dadanya itu seakan-akan mau tumpah dari sisi baju. Terlebih lagi, celana pendek yang dipakainya sudah hampir sama dengan celana dalam. Kakinya yang panjang dan mulus itu benar-benar memenuhi bola mata Randika. Christina terkejut ketika melihat Randika datang bersama ibunya, dia segera berlari ke kamarnya sambil menutupi tubuhnya. Memalukan, benar-benar memalukan! Karena hari ini dia libur, Christina baru bangun tidur jadi dia tidak memakai riasan dan rambutnya masih berantakan. Terlebih lagi, dia memakai baju minim seperti ini di hadapan Randika! Wajah Christina benar-benar merah. Chapter 280: Apakah Kamu Merindukanku? Melihat kulit mulus, kaki panjang, dada yang hampir menyembul keluar dari balik bajunya, Randika benar-benar terpukau olehnya. Pemandangan cantik seperti itu, Randika tidak akan pernah bosan untuk melihatnya! Meskipun Randika pernah melihat tubuh Christina sebelumnya, dia belum pernah merabanya dengan sepenuh hati. Hanya tinggal menunggu waktu sebelum hal itu akan terwujud. Sangat disayangkan tubuh seindah itu tidak digunakan dengan baik, seandainya saja Christina menjadi model, Randika yakin fotonya akan memenuhi seluruh majalah. Tetapi ada keuntungan tersendiri baginya, Randika bisa menikmati tubuh indah itu untuk dirinya sendiri! Bisa dikatakan bahwa jika tubuh perempuan itu sebuah karya seni, maka tubuh Christina itu sudah setara dengan lukisan Mona Lisa! Randika merasa kejadian ini sangat disayangkan sekali, kalau saja tidak ada Ayu di sini, Randika mungkin sudah menerjang ke arah Christina. Terlebih, dia sudah lama tidak berjumpa dengan Christina. Mungkin ajakannya dulu untuk membuat anak untuk ibunya itu sudah dipikirkan oleh Christina. Sejujurnya, Randika sudah banyak berhubungan badan dengan perempuan sebelumnya tetapi dia baru meresmikan hubungannya hanya dengan Inggrid. Rencana haremnya membutuhkan sebuah ikatan yang tidak bisa terputuskan, jika tidak mereka tidak lebih dari sekedar FWB. Setelah bertahun-tahun keliling dunia, banyak perempuan yang sudah takluk oleh tekniknya. Dengan keperkasaannya, dia pernah mampu menaklukan 7 perempuan sekaligus dalam 1 kali main ketika dia ada di Eropa. Namun, bukan sex yang dicari Randika melainkan ikatan resmi yang menghubungkan dirinya dengan perempuannya. Jadi untuk meresmikan hubungan mereka, Randika ingin membuat anak dengan Christina! Kejadian memalukan ini tidak berlangsung lama. Setelah Christina lari terbirit-birit seperti kelinci, Ayu dan Randika masuk ke dalam rumah. "Tante ini kadang heran sama anak tante itu, di luar terlihat dewasa dan sopan tetapi sesampainya di rumah langsung malas dan teledor." Ayu geleng-geleng mengingat anaknya satu itu. "Tante tidak usah khawatir, aku sendiri sudah tahu sejak lama." Randika tahu bahwa kata-katanya ini sedikit ambigu, dia seperti mengatakan bahwa dia sering melihat Christina berpakaian seperti itu di rumahnya. Mendengar kata-kata itu, Ayu tersenyum dan berkata pada Randika. "Baguslah kalau begitu, sudah ayo masuk. Kamu duduk manis sebentar ya, tante mau masak dulu. Sebentar lagi Tintin juga harusnya turun jadi kalian berdua santai-santai saja dulu sambil menunggu tante. Kamu juga sudah lama tidak ke rumah ini jadi banyak yang harus kalian kejar." Randika kembali diseret menuju pintu kamar Christina oleh Ayu. "Sudah kalian santai saja ya, tante mau masak dulu dan tante janji tidak akan mengganggu kalian lagi." Setelah itu Ayu berjalan ke dapur dengan wajah tersenyum. Dia sudah menganggap Randika menantunya sendiri. Entah kenapa, dia sangat menyukai Randika apalagi berkat kejadian hari ini. Menantunya sudah pintar ilmu pengobatan tradisional, kuat, perhatian dan bisa diandalkan, di mana lagi dia bisa menemukan menantu idaman seperti itu? Randika menatap pintu kamar yang tertutup sambil menghela napas, dia lalu mengetuk pintu tersebut. "Sebentar." Dengan pendengaran Randika, dia dapat mendengar Christina yang mondar-mandir. Sepertinya Christina sedang sibuk mencari baju yang cocok untuk bertemu dengan pujaan hatinya. Tak lama kemudian, Christina membuka pintu dan melihat sosok Randika yang tersenyum padanya. Meskipun penampilannya yang tadi memalukan, dia berusaha melupakannya. Christina sudah menganggap Randika adalah pacarnya sendiri, lama kelamaan tubuhnya pada akhirnya akan dilihat oleh Randika jadi tidak ada salahnya menggodanya agar mempercepat kejadian itu. Namun, Christina masih belum mempersiapkan hatinya. "Mamamu minta aku untuk menemanimu." Kata Randika sambil tersenyum. Christina hanya mengangguk dan mempersilahkan Randika masuk ke dalam kamarnya. Pintu kayu tersebut langsung tertutup rapat. Ayu dapat mendengar pintu itu tertutup dan tidak bisa menahan rasa senangnya. Akhirnya dia bisa menciptakan kesempatan untuk anak perempuannya menjadi dewasa, seharusnya 2 jam cukup buat mereka bukan? Jika Randika bisa mendengar isi pikiran Ayu, entah dia akan menangis atau terharu. Bisa-bisanya seorang ibu menyuruh dirinya untuk berhubungan badan selagi orang tuanya di rumah? Di sisi lain, di dalam ruangan, Randika memperhatikan kamar Christina dan menarik napas dalam-dalam. "Harum sekali!" Christina terlihat bingung, dia juga ikut menghirup udara dalam-dalam. Tapi anehnya, dia tidak terlalu mengerti bau apa yang dimaksud oleh Randika. "Kamu mencium harum apa?" Christina mulai gugup, apakah ini sindiran? Randika mengedipkan matanya, dia menghampiri Christina dan berkata padanya. "Tentu saja iniˇ­" Sebelum menyelesaikan kata-katanya, Randika memeluk pinggang Christina dan berkata padanya sambil tersenyum. "Tentu saja ini adalah bau badanmu." "Sangat harum!" Randika menarik napas di leher Christina dan merasa melayang. "Hentikan!" Christina memalingkan wajahnya dan mendorong pelan Randika. "Biarkan aku menciumnya." Randika masih memaksa. Dengan wajah merah, Christina berbisik di telinga Randika. "Mamaku ada di bawah." Randika lalu tersenyum padanya. "Mamamu menyuruh aku masuk ke kamarmu, kalau dilihat dari sifatnya itu, dia menyuruhku untuk memberinya cucu sebelum masakannya jadi." Wajah Randika benar-benar serius sedangkan wajah Christina sudah merah padam. Mengingat sifat ibunya terhadap Randika, Christina tidak bisa membantahnya sama sekali. Kehabisan ide, Christina hanya bisa mengubah topik. "Kenapa kamu tiba-tiba datang ke rumah keluargaku?" "Kebetulan saja." Randika lalu bercerita tentang pertemuannya dengan Ayu. Ekspresi Christina benar-benar buruk ketika mendengar cerita ini. "Dia memanggil ibuku tua bangka? Kurang ajar sekali! Kita harus melaporkan kejadian ini ke polisi." Randika melihat Christina yang sudah memegang HP miliknya dan berniat untuk memanggil polisi. "Aku sudah menghubungi kenalanku di kepolisian, seharusnya orang itu sudah tertangkap." "Omong-omong." Randika memeluk Christina dari belakang. "Apakah kamu merindukanku akhir-akhir ini?" "Rahasia." Sebagai perempuan, Christina tidak mau mengakuinya. Sejujurnya dia sangat merindukan Randika dan sekarang setelah dipeluk oleh Randika, dia tidak ingin berpisah dengannya. "Rahasia?" Randika membelai pipi Christina. "Kalau kamu bagaimana? Apa kamu merindukanku?" Kata Christina dengan wajah serius. Sejujurnya, Randika sibuk dengan masalah Shadow dan Bulan Kegelapan sehingga dia lupa dengan Christina. "Tentu saja, tidak ada satu detik pun aku melupakan dirimu." Kata Randika sambil mencium Christina dan meraba dadanya. Randika memiliki keberanian untuk bertindak sedangkan Christina ragu-ragu karena ibunya ada di dapur. "Ranˇ­ jangan, mama ada di bawah." Meskipun Christina menolak, bibirnya seakan tidak mau melepas dari bibir Randika. Dia juga tidak melarang Randika untuk menjelajahi dadanya, justru rangsangan yang diberikan Randika membuatnya tergila-gila. Mendengar hal ini, Randika tertawa dan juga tidak berani memaksa. Meskipun dia disuruh masuk oleh ibunya untuk memberinya cucu, keputusan akhir tetap ada di tangan Christina. Randika tidak ingin berhubungan badan apabila pihak lain melakukannya dengan setengah hati. "Kalau begitu, ceritakan hari-harimu." Kata Randika sambil menggandeng tangan Christina. Randika kemudian memangku Christina di kursi. Di saat Christina bercerita, Randika dapat merasakan pantat Christina yang menempel di pahanya itu dengan sangat jelas. Dia harus mengerahkan seluruh energinya untuk melarang tangannya untuk meremasnya. "Kamu dari mana saja akhir-akhir ini, aku tidak pernah bisa menemukanmu." Christina menikmati tangan Randika yang membelai rambutnya dari belakang, perasaan hangat ini hanya bisa diberikan oleh Randika. "Aku ada pekerjaan di luar kota selama sebulan, waktu itu aku buru-buru jadi aku tidak sempat mengabarimu." Dari membelai rambut, Randika mulai menurunkan tangannya dan menuju pantatnya. Merasakan tangan Randika, Christina sama sekali tidak melawan. Justru dia terlihat menikmatinya! Karena Christina adalah seorang guru, dia harus mempertahankan citranya di luar rumah. Sedangkan di rumah, dia bebas berekspresi apa pun. Terlebih setelah Randika menyelamatkan dirinya, sifat Christina pada Randika berubah drastis! Setelah kejadian itu, Christina benar-benar seperti seorang gadis ketika mereka berdua. Bahkan ketika mereka berdua awal kali bertemu, Christina akan membentaknya apabila Randika jika membuat lelucon mesum. Sekarang, tangan Randika sudah berenang-renang di tubuh Christina dan dia sama sekali tidak melawan! Christina berbeda dengan Inggrid, Inggrid memerlukan waktu yang sangat lama sebelum akhirnya hatinya yang dingin itu terbuka untuk dirinya. Christina lalu menceritakan kehidupan sekolahnya, sedangkan Randika sibuk merasakan keempukan pantatnya itu jadi dia hanya pura-pura mendengar. Untuk sesaat, tiba-tiba suasana kamar ini menjadi hening. Tetapi tangan Randika sama sekali tidak berhenti bekerja, tangannya berusaha masuk ke dalam celana milik Christina. "Jangan!" Christina kembali mencegah Randika untuk berbuat lebih, dia benar-benar khawatir dengan keberadaan ibunya. "Jangan khawatir, aku akan pelan-pelan." Kata Randika dengan suara pelan, dia ingin meremas pantat itu secara langsung. Dan tentu saja, sensasinya benar-benar beda! Namun, nafsu Randika tidak cukup terpuaskan. Perlahan, tangannya itu mulai memegang paha Christina. "Kenapa kamu memakai celana panjang di rumah?" Celana yang dipakai Christina ini menutup kelembutan paha yang dimilikinya. Ketika Randika ingin membuka celana Christina, tiba-tiba ada HP bunyi. Dalam sekejap, Christina berdiri dan mengambil HP miliknya. Ketika Christina sibuk dengan teleponnya, Randika memperhatikan sekelilingnya. Namun, dia tidak dapat menemukan sesuatu yang menarik sampai matanya tertuju pada suatu lemari. Sepertinya ada sesuatu yang mencungul dari dalam. "Baiklah, aku akan ke sana." Christina masih sibuk dengan teleponnya. "Baiklah, aku akan bawa berkas-berkasnya juga." Setelah beberapa saat, Christina menutup panggilannya dan menoleh ke arah Randika. Dia melihat Randika yang sedang memegang sebuah pakaian dalam. Dalam sekejap, wajah Christina menjadi merah seperti tomat. Pakaian dalam yang dibawa Randika itu adalah pakaian dalam yang barusan dia pakai. Randika menerawang celana dalam tersebut dan merasa terpukau. Terlebih, hidungnya merasakan sesuatu yang harum menempel di bagian tengah-tengah. Chapter 281: Ketiga Kalinya Randika tentu saja ingin mencium celana dalam ini, dia sudah hampir menaruh celana dalam tersebut di hidungnya. Wajah Christina sudah merah padam, dia langsung menangkap celana dalamnya itu. "Tidak!" Christina berhasil mengambilnya sebelum Randika berbuat macam-macam, dia langsung memasukannya ke dalam sebuah bak. Kemudian dia menoleh ke arah Randika dan melihat bahwa pria itu sedang memegangi beha yang dipakainya tadi. Christina tidak habis pikir, dia langsung menerjang ke arah Randika. Namun, tiba-tiba dia ditarik dan jatuh di pelukannya Randika. Christina yang lebih kecil itu berusaha mengambil dari tangan Randika yang diangkatnya tinggi-tinggi. "Ah! Kembalikan!" Christina berteriak keras, dia benar-benar marah sekarang. Setelah sebelumnya melihat Christina yang berpakaian longgar, nafsu Randika mulai terbentuk. Setelah dia menyentuh pakaian dalam yang dikenakannya tadi, mendadak dia tidak bisa menahan nafsunya itu. Randika tidak tahu kenapa dia bisa bernafsu seperti ini, apakah dia telah berubah? Sejak dia bersama dengan Inggrid, Randika jadi lebih mudah jatuh cinta dan nafsu birahinya itu makin tinggi. Melempar beha yang ada di tangannya, Randika dengan cepat memeluk erat Christina. Randika yang mencium paksa Christina itu mulai kehilangan pikirannya, sedangkan Christina mulai sedikit takut ketika Randika bertindak agresif seperti ini. Namun, tiba-tiba dirinya digotong Randika ke tempat tidur. Tidak butuh waktu lama untuk Randika menindih Christina. Kekhawatiran Christina adalah ibunya yang ada di dapur, berarti solusinya adalah mengunci mulut Christina agar tidak menimbulkan suara yang keras. Dengan cepat, Randika mengunci bibir Christina dengan bibirnya. Christina yang awalnya ragu dan takut itu akhirnya perlahan larut dalam sensasi ini dan lebih terbuka dengan Randika. Kedua bibir mereka tidak bisa berhenti bergerak. Di saat keadaan mulai memanas, Randika sudah membuka bajunya begitu pula dengan Christina. Randika sudah memperhitungkan waktu memasak Ayu, seharusnya masih ada setengah jam untuknya melakukan hubungan intim ini. Namun, ketika keduanya masih sibuk berciuman, tiba-tiba pintu kamarnya terbuka. "Tintin, ada apa ribut-ribut?" Ayu membuka pintu secara tiba-tiba, dia mendengar suara teriakan anaknya dari dapur dan merasa khawatir. Ibu ini sangat terkejut ketika melihat anaknya hanya berbalut pakaian dalam dan sedang sibuk berciuman. Hmmˇ­ Ayu benar-benar kehabisan kata, dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Christina sendiri sudah merinding dan mendorong-dorong Randika ketika pintu itu terbuka dan sekarang ibunya melihat dirinya sedang berciuman dengan Randika LAGI. Kedua pasangan ini membeku sambil melihat Ayu, benar-benar memalukan! Ini sudah ketiga kalinya Randika mengalami kejadian super memalukan seperti ini, dia merasa nasibnya benar-benar sial. Pertama adalah ketika dirinya baru saja menyelamatkan Christina, waktu itu Randika sedang menerima ciuman terima kasih dan tiba-tiba Ayu keluar dan merusak suasananya. Kedua adalah ketika dia dan Viona bercumbu dan meluapkan nafsu mereka pada satu sama lain. Bahkan dia membuat Viona muncrat di depan kedua orang tuanya! Dan sekarang, lagi-lagi suasana menyenangkan ini menjadi canggung dan memalukan. Lagipula, bukankah Ayu berkata padanya bahwa dia tidak akan mengganggu dirinya? Wajah Christina benar-benar merah, dia tidak berani melihat wajah ibunya. Ayu sendiri melototi kedua pemuda ini, dia masih tidak tahu harus berkata apa. Sebagai ibu yang baik, dia tidak boleh merusak suasana intim anaknya dengan calon menantunya. Dengan cepat, Ayu berkata pada mereka berdua. "Tin, mama tadi dengar kamu berteriak jadi mama khawatir kalau kalian ada apa-apa. Sudah jangan khawatir, lanjutkan lagi saja. Dika, mama harap 1 jam cukup untukmu ya, nanti makanannya terlanjur dingin." Kemudian dengan wajah tersenyum, Ayu menutup pintunya. Selagi berjalan menuju dapur, Ayu tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Sepertinya momen dia menggendong cucunya akan segera tiba! Di sisi lain, Randika dan Christina sama-sama terdiam. Mereka berdua sudah tidak berniat melakukannya setelah diganggu seperti itu. ..... Di meja makan yang besar itu, berbagai macam makanan sudah tersedia. Kali ini Ayu tidak mengajukan pertanyaan, malahan dia sangat akrab dengan Randika. "Dika, coba masakan ikan ini." "Kalau ayam bumbu rujak ini spesialisnya mama lho, ayo dicoba." "Kalau bebek kamu suka atau tidak? Sudah dicoba dulu aja ya, mama yakin kamu suka." ...ˇ­. Randika tidak tahu harus menangis atau bahagia, dia sama sekali tidak berdaya. Melihat piring Randika yang sangat penuh itu, Christina yang duduk di samping Randika merasa sedikit malu. "Ma sudah cukup!" "Tintin, kamu tenang saja. Dika ini butuh makan banyak karena dia itu laki. Sudah cepat ambil makanmu sana." Ayu tidak bisa berhenti tersenyum. "Nanti kalau kamu sudah menikah sama Dika, kalian harus membawa cucunya mama itu main ke rumah lho ya." Randika terbatuk tanpa henti, ibunya Christina ini tidak bisa berhenti menyerang. Berarti tujuannya memberikan dirinya makan begitu banyak adalah untuk memberinya tenaga agar dapat berhubungan dengan anaknya. Mendengar kata-kata menikah, Christina hanya bisa tersipu malu dan mengambil makanannya dalam keadaan diam. Dia sama sekali belum kepikiran untuk mempunyai anak, apalagi menikah. "Makannya pelan-pelan, nanti kamu tersedak bagaimana?" Ayu memperhatikan Randika yang sedang makan. "Tunggu sebentar, mama bawain kamu supnya." Randika kehabisan kata-kata, sejak kapan Ayu menyebut dirinya mamanya? Dan apakah dia tidak melihat piringnya masih penuh seperti gunung? Melihat Randika yang tidak berdaya itu, Christina tertawa dalam hati. Dengan adanya Randika, Christina bisa sedikit lega ketika bersama ibunya itu. Biasanya saat makan bersama Christina akan menjadi objek omelan ibunya itu. Karena sekarang ada Randika, dia terlepas dari omelan ibunya. Dari sini Christina mengerti betapa pentingnya memiliki pasangan. Tetapi tentu saja Christina tidak ingin sembarangan orang untuk menjadi pasangannya. Hanya orang seperti Randika lah yang memenuhi kriteria sebagai pasangan idealnya. .... Setelah makan, Christina berniat untuk pergi ke universitas karena ada urusan mendadak. "Tintin, kamu hati-hati ya di jalan." Kata Ayu. "Iya, kan juga ada Randika menemaniku." Kata Christina sambil berpamitan dengan ibunya, dia lalu pergi bersama dengan Randika. Di jalan, Randika menghembuskan napas lega berkali-kali. Christina yang melihatnya itu tertawa dalam hati. "Bagaimana masakannya mamaku?" "Kamu ini ya, kenapa kamu tidak membantuku sama sekali. Perutku seakan ingin meledak!" "Itu kan mamaku sendiri yang naruh lauknya di piringmu, salahmu juga asal makan saja." Kata Christina sambil tersenyum. Sejak bersama Randika, dia merasa dirinya telah berubah dan lebih sering tertawa. Randika memperhatikan sekelilingnya dan menyadari tidak ada orang di sekitar mereka. Randika lalu dengan cepat merangkul Christina di pelukannya. "Ah!" Wajah Christina dengan cepat menjadi merah. Dia khawatir ada orang yang akan melihat mereka. "Berani-beraninya kamu menertawai pacarmu." Kata Randika sambil memegang dagunya. Christina hanya bisa tersipu malu ketika dirinya dicium oleh Randika. Dia sekarang hanya bisa berharap tidak ada orang yang dikenalnya melihat dirinya mencium pacarnya ini. Setelah mereka berciuman, Randika mencari taksi dan naik bersama Christina. "Bukannya kamu libur hari ini?" Randika tampak bingung. "Iya ada masalah di sekolah dan aku diminta tolong untuk membantu." Kata Christina sambil menyandarkan kepalanya di pundak Randika, dia sangat suka dengan perasaan nyaman ini. Chapter 282: Kecelakaan Mobil Tidak lama kemudian, taksi mereka telah sampai di universitas Cendrawasih. "Hubungi aku nanti." Kata Randika sambil mencium kepala Christina. Hati Christina terasa hangat, sambil mengangguk, dia harus pergi dari pundak nyaman satu ini untuk bekerja. Ketika dia hendak menutup pintu, tangannya ditangkap oleh Randika. "Kamu lupa sesuatu." Christina terlihat bingung ketika Randika tiba-tiba ikut turun dan merangkul dirinya, tiba-tiba bibirnya itu sudah tercium oleh Randika! Entah berapa kali dia menerima ciuman ini dalam satu hari ini tetapi yang jelas setiap ciuman yang dia rasakan memberikan sensasi nikmat. Beberapa murid yang melewati mereka terkejut, bahkan si supir taksi itu ikut melototi mereka berdua. "Wow berani sekali berciuman di tempat umum!" Kata pemuda yang belum pernah pacaran. "Kamu sih belum tahu rasanya punya pacar, mangkanya jangan tidur terus di asrama bergaul sana! Kamu juga bahkan tidak berani mengejar orang yang kamu suka." Teman dekatnya itu langsung menghujaninya dengan kata-kata pedas. Hati pemuda itu terasa sakit, apa kata temannya itu memang benar. Dengan hati yang bulat, dia telah memutuskan untuk berubah. "Baiklah, hari ini aku akan menyatakan perasaanku." "Oi santai dulu!" Pemuda itu sudah meninggalkan temannya. "Dia bahkan tidak tahu namamu!" Kedua bocah itu akhirnya berlari menuju sekolah, sedangkan orang-orang yang baru datang masih dapat melihat Randika dan Christina asyik berciuman. Mereka sendiri juga tidak bisa untuk tidak merasa iri. "Bajingan, pamer pacar kok di tempat umum!" "Iri bilang bro, kan mereka juga tidak mengganggu siapa-siapa. Sudah cepat jalan nanti kita terlambat." "Sayang sekali perempuan secantik itu ada yang punya." Jika Randika dapat mendengar keirian para lelaki ini, mungkin dia sudah merasa berada di atas awan. Tidak ada perasaan yang lebih menyenangkan daripada ini! Di beberapa orang yang lewat, beberapa perempuan juga ikut mengomentari adegan panas ini. "Mesra sekali!" Randika aslinya menyadari tatapan semua orang, dia menjadi sedikit tidak nyaman. Tetapi, dia tidak ingin melepas bibir Christina yang mengunci bibirnya ini. Namun, suara para murid semakin keras. "Hei, hei, bukankah orang itu tidak asing?" "Iya, ya, setelah kamu ngomong begitu aku jadi kepikiran di mana aku melihat wajah perempuan itu." Kata salah satu murid. Setelah dirinya melihat dengan baik, tiba-tiba ada yang berseru. "Ya ampun, bukankah itu dosen cantik dari jurusan Psikologi?" Sesudahnya mendengar kata ''dosen cantik'' para lelaki langsung tersadar dan ikut terkejut. "Wah itu benar ibu Christina! Apa itu pacar barunya? Aku dengar dia jomblo selama ini, sialan seandainya saja aku lulus lebih cepat aku bisa menembaknya!" Semua murid langsung membicarakan hal ini, beberapa bahkan berniat mengambil foto. Pada saat ini, supir taksi Randika sudah sedikit jengkel dan mengklakson. Tin! Tin! "Halo pak, kalau mau turun di sini bisa bayar dulu? Aku masih perlu kejar setoran nih soalnya." Supir taksi itu terlihat jengkel. "Aku juga sudah capek melihat kalian mesra-mesraan, setidaknya bayar dulu biar aku bisa bekerja lagi." Randika langsung melepas Christina, mereka berdua sedikit malu ketika ditegur seperti ini. Randika lalu membayar taksi tersebut. Christina menyadari bahwa banyak orang melihati dirinya dan Randika, sepertinya ciuman mereka telah menjadi topik paling panas untuk dibicarakan. "Sudah jangan khawatir." Randika tersenyum. "Aku juga ingin mereka tahu bahwa kamu adalah milikku, aku tidak ingin ada orang yang berani berpikiran macam-macam tentangmu." Wajah Christina menjadi merah, sepertinya pertunjukan mereka ini sudah tidak bisa lepas dari obrolan muridnya. "Gila, gila, bukankah ibu Christina itu sangat dingin sama laki-laki? Pacarnya itu dengan gampang membuatnya tersipu malu dong, benar-benar legenda!" "Sial, seandainya saja aku punya kemampuan seperti pria ituˇ­" Randika lalu mengantar Christina ke dalam sambil mencueki mata orang-orang. Setelah mengantarnya ke dalam, Randika berniat untuk pergi dari sini. Tetapi dia lupa bahwa dia sudah membayar taksinya dan sekarang dia harus menunggu taksi yang lain. Di saat dia menunggu, HP milik Randika tiba-tiba bunyi. "Halo kakek kedua? Ada apa?" "Bagaimana kabarmu anakku?" Suara kakek kedua terdengar senang. "Berkat bantuan kakek, hidupku jadi damai." Randika tertawa. Dia mengingat kejadian di Jakarta yang melibatkan keluarga Alfred dan Laibahas. Kalau bukan karena kakeknya, dia mungkin sudah mati di tempat. "Kamu jangan pernah mengandalkan bantuan orang lain, kakek lihat kamu juga kurang latihan jadinya kamu bisa kewalahan seperti itu." Kakek kedua menghela napasnya. "Sebentar, sebentar, bukan itu yang ingin kakek omongkan." "Hmm? Memangnya apa yang ingin kakek sampaikan?" "Jadi gini, seharusnya bulan lalu kakek ketiga sudah menceritakan padamu mengenai kami pergi selama sebulan itu kan? Kami menemukan reruntuhan lainnya jadi kami ingin segera pergi untuk menyelidiki tempat itu." Randika aslinya sudah lupa dengan masalah ini, perginya kakeknya itu bertepatan dengan dirinya ke Jepang jadi dia tidak terlalu memperhatikannya. Mendengar kabar dari kakek keduanya ini, Randika baru teringat dengan penyelidikan para kakeknya itu di sebuah reruntuhan. Pasti ada sesuatu yang berharga di reruntuhan itu, kalau tidak mana mungkin penatua-penatua itu mau meninggalkan rumah? "Oke kek aku mengerti. Kakek juga jangan khawatir sama aku, di sini baik-baik saja kok." Kata Randika sambil tersenyum. "Justru kakek yang harus hati-hati, kalian sudah tidak muda." "Hahaha kamu bisa saja nak. Kita memang tua, tetapi siapa yang bisa menolak barang berharga? Hahaha!" Suasana hati kakek kedua sedang senang, penyelidikannya di reruntuhan pertama sudah memberikan dirinya banyak barang berharga jadi dia tidak sabar untuk pergi ke tempat berikutnya. Lalu kakek ini bertukar kabar sebentar dengan Randika lalu menutup teleponnya. Randika yang menunggu taksi itu tidak sadar bahwa dia sudah berjalan menjauhi universitas Cendrawasih. Ketika dia menutup teleponnya, tiba-tiba terdengar suara teriakan yang sangat keras. "Minggir!" Teriakan itu benar-benar keras, namun teriakan itu disusul oleh suara klakson mobil yang tidak pernah berhenti. "Gila, mobil polisi itu cepat sekali!" Orang-orang yang berada di sisi jalan langsung menyingkir satu per satu. Mobil polisi itu sepertinya kehilangan kendali dan tidak bisa mengurangi kecepatannya. Untuk menghindari tabrakan beruntun dengan mobil, sepertinya polisi itu memutuskan untuk naik ke sisi jalan. "AWAS!" Mobil polisi itu hendak menabrak kerumunan orang yang terlambat untuk menyingkir. Dalam sekejap, mobil polisi itu belok dengan tajam dan menabrak tiang lampu jalan. Orang-orang yang awalnya hendak tertabrak itu langsung merasa kakinya lemas ketika menyadari mereka masih hidup. Orang-orang juga langsung mendatangi mobil polisi tersebut, berusaha menyelamatkan dan melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi. Namun, tanpa diduga lampu jalan itu perlahan mulai mengeluarkan suara berdenyit. Tiang lampu itu hendak roboh! Dalam sekejap, lampu tersebut roboh ke arah jalan dan menutup jalan dengan sempurna. Suara keras itu membuat siapapun yang ada di sekitarnya menjadi ketakutan. Chapter 283: Pahlawan Randika juga sama terkejutnya dengan kejadian ini. Apa yang sedang dilakukan oleh polisi itu? Apa dia tidak lulus ujian SIM? Mobil polisi itu, di bawah tatapan mata orang-orang, tiba-tiba kembali memacu mobilnya! Orang-orang langsung menyingkir dengan cepat, mereka takut menjadi korban dari polisi gila itu. Deviana yang ada di dalam mobil itu sudah mengucurkan darah sekaligus keringat dingin. Entah kenapa mobilnya itu tiba-tiba lepas kendali dan rem kaki maupun tangan sama sekali tidak berfungsi. Untung saja tadi dia tidak menabrak siapa-siapa, tetapi sekarang mobilnya itu tiba-tiba kembali bergerak. "Kenapa dengan mobilku ini!" Deviana benar-benar tidak tahu apa-apa, awalnya mobilnya itu baik-baik saja tetapi mendadak dia tidak bisa mengendalikan mobilnya. Sepertinya mobilnya ini mematuhi perintah orang lain dan Deviana tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Melihat mobilnya itu kembali melaju di sisi jalan, Deviana hanya bisa menutup matanya. Orang-orang menjadi panik dan lari ke segala arah. Deviana berusaha menginjak rem kakinya dengan sekuat tenaga tetapi tidak ada perubahan. Pada saat ini, mobilnya melaju kencang di sisi jalan. Randika memperhatikan mobil polisi itu dengan penglihatan supernya, dia menyadari bahwa supir yang mengendarai mobil itu adalah Deviana. Melihat wajah Deviana, Randika sepertinya paham apa yang telah terjadi. Pasti ada sesuatu yang terjadi pada mobilnya. Tidak mungkin Deviana yang memiliki rasa keadilan yang tinggi itu menjadi gila seperti itu. Pada saat ini, mobil Deviana sudah melaju di sisi jalan dengan kecepatan mencapai 50 km/jam. Pada saat ini, ada anak kecil yang tidak tahu apa-apa sedang bermain tanpa mengetahui ada mobil yang menuju arahnya. "Awas!" Ketika ibunya itu menyadari keributan yang sedang terjadi, otomatis dia segera berlari ke arah anaknya. Orang-orang di sekitarnya langsung terkejut ketika menyadari apa yang telah terjadi. Bukannya menolong, mereka segera berlari menyelamatkan diri mereka masing-masing. Deviana sudah ketakutan, keringat dingin sudah membanjiri punggungnya. Dia berusaha mengubah jalur mobil tetapi semua itu percuma, mobilnya akan menabrak anak kecil itu! Deviana sudah pasrah. Kariernya sebagai seorang polisi sudah pasti berakhir jika dia menabrak dan membunuh anak kecil itu. Bukan hanya itu, dia juga akan dipenjara seumur hidup karena kejadian ini. "Lari!" "Oi nak, lari!" Akhirnya orang-orang yang lari itu menyadari keberadaan anak kecil itu. Tetapi semuanya sudah terlambat, posisi mereka sudah terlalu jauh dan laju ibu dari anak kecil itu terhambat oleh orang-orang yang berlarian. Mendengar peringatan dan melihat orang yang pada berlarian, anak tersebut dengan polosnya menoleh ke arah mobil yang sudah sangat dekat dengan dirinya. Bukannya berlari, anak kecil itu menangis dan duduk di tanah! "Anakku!" Sang ibu sudah hampir pingsan di tengah kerumunan orang. Jarak antara anak kecil itu dengan mobil sudah tidak lebih dari 1 meter. Bisa dikatakan bahwa hidup anak kecil itu hanya tinggal hitungan detik. Deviana masih berusaha menginjak rem ataupun merubah jalur mobilnya, tetapi semua itu percuma. Melihat anak kecil itu duduk menangis, Deviana hanya bisa pasrah. Selesai sudah! Semuanya telah selesai! Deviana sudah menutup matanya dan orang-orang sudah bersiap dengan hal terburuk. Namun pada saat ini, tiba-tiba ada seseorang berdiri di depan anak kecil itu! Randika berdiri dengan tegak di depan anak kecil yang menangis ini, dia lalu mengulurkan kedua tangannya ke depan. Apa yang orang itu lakukan? Orang-orang sudah kehabisan akal, percuma kamu melakukan itu karena kalian berdua akan terlindas! Deviana terkejut ketika menyadari sosok Randika muncul di hadapannya, tetapi semua itu sudah terlambat. Mobil miliknya ini sudah bagaikan banteng yang siap menyeruduk apa pun yang menghalanginya! "Tidak!!" Sang ibu sudah pingsan ketika melihat mobil itu sudah hendak menabrak Randika, orang-orang mulai membantu si ibu dan sudah mengheningkan cipta atas jatuhnya sang anak. Semua orang sudah menganggap riwayat Randika sudah berakhir, tetapi sama sekali tidak ada suara apa pun. Eh? Apa yang terjadi? Semua orang menoleh ke arah Randika dan mata mereka terbelalak ketika melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi. Mustahil! Sepertinya tamparan di wajah masih tidak dapat menyadarkan mereka dari kelinglungannya. Karena mereka telah melihat Randika yang berhasil menghentikan laju mobil polisi itu dengan kedua tangannya! Benar, mereka tidak salah melihat. Roda mobil milik Deviana itu masih bergerak dan suara mesinnya makin keras. Randika sudah bagaikan gunung yang tidak dapat bergerak, dia berhasil menahan mobil polisi tersebut! Dan akhirnya setelah diangkat sedikit oleh Randika, roda itu berhenti berputar dan mesinnya sedikit demi sedikit mulai tenang. Semua orang menatap bingung ke arah Randika, apakah dia adalah superhero? Meskipun tidak bisa dibandingkan dengan sebuah truk, yang dihentikan oleh Randika tetaplah sebuah mobil. Mungkin jika mobil mogok masih masuk akal bisa mendorongnya tetapi menahannya ketika dalam kecepatan tinggi? Apa orang itu masih manusia? Beberapa orang melihat Randika bagaikan hantu, atau jangan-jangan mereka sedang melihat syuting film? Memangnya sejak kapan ada mobil polisi berkendara seliar itu? Benar, ini pasti hanyalah akting! Ibu yang pingsan tadi sudah sadar dan menangis ketika melihat anaknya baik-baik saja. Dia langsung berlari menuju anaknya dan melihat sosok Randika di depannya yang mengangkat mobil polisi itu dengan kedua tangannya. "Aku pasti sedang bermimpi." Ibu itu kembali pingsan lagi. Deviana yang ada di dalam mobil sudah kehabisan kata-kata, dia sangat terkejut dengan keberadaan Randika. Sekarang, kedua mata mereka saling bertatapan. "Mungkin kamu ingin mematikan mobilnya." Kata Randika. Deviana yang sadar dari linglungnya itu segera mencabut kuncinya. Akhirnya kejadian ini berakhir tanpa menimbulkan korban jiwa. Orang-orang yang ada di sekitarnya sudah mulai bertepuk tangan. "Orang itu kuat sekali!" "Pahlawan, orang itu pahlawan!" Beberapa perempuan menatap kagum Randika. "Apa kamu pikir dia adalah superhero?" "Hahaha tenang saja, aku sudah merekam kejadian ini. Biarkan para netizen yang menentukannya." Semua orang menatap kagum pada Randika. Pada saat ini, ibu dari anak itu akhirnya tersadar kembali. Dia lalu menatap Randika dan mengatakan terima kasih. Randika hanya melambaikan tangannya sambil tersenyum. Deviana lalu turun dari mobilnya, bajunya sudah basah oleh keringat. "Untung saja kamu datang, kalau tidak bisa-bisa nyawa anak itu melayang." Ibu itu langsung memaki Deviana karena cara menyetirnya yang berbahaya. "Tenang ibu, tenang, ini bukan salahnya. Semua hanya kecelakaan, jadi tolong ibu lupakan saja kejadian ini ya." Kata Randika. "Baiklah kalau begitu, aku melakukan ini karena aku berhutang budi padamu. Tetapi aku ingatkan kamu sekali lagi, polisi ada untuk menjaga dan mengamankan rakyat bukan malah membunuhnya." Lalu ibu itu menoleh ke arah Randika sambil tersenyum. "Bisa minta nomor teleponmu? Aku akan mengirimkan hadiah karena telah menyelamatkan anakku." Setelah berpamitan, akhirnya ibu itu membawa anaknya pulang ke rumah. Deviana tidak peduli dengan kata-kata ibu itu, dia masih penasaran dengan kejadian kali ini. Dia berusaha mengingat-ingat apa ada yang mencurigakan. "Aku kehilangan kendali dan tidak bisa menginjak rem sama sekali." "Sebentar, aku pindahkan mobilmu ini dulu agar tidak menghalangi jalan." Lalu di bawah tatapan mata orang-orang, Randika dengan santainya menyeret mobil milik Deviana itu ke tempat parkiran mobil. Kejadian ini benar-benar menarik perhatian orang-orang! Jelas dia bukan manusia. "Pertama-tama, kamu harus menghubungi markasmu mengenai kejadian ini. Belum lagi kita sudah membuat kemacetan gara-gara tiang lampu yang roboh itu." Kata Randika sambil menyeret mobil. Deviana mengangguk, dia sendiri hampir lupa dengan tiang lampu yang roboh di jalan itu karena kejadian hampir menabrak anak kecil itu. Setelah meletakan mobilnya, Randika kembali menghampiri Deviana. "Bagaimana?" Wajah Deviana terlihat serius sekali. "Aku sudah menghubungi markas dan mereka segera mengaturnya." Deviana lalu menatap mobilnya yang rusak itu. "Sepertinya mobil itu sudah tidak layak pakai, kenapa bisa mobil itu bisa lolos dari inspeksi?" Randika tidak mau terlibat masalah internal seperti itu, dia segera merubah topik pembicaraan. "Terus kenapa kamu datang ke daerah sini? Jangan-jangan kamu mendaftar jadi murid di sini?" "Kamu kira aku bebas sepertimu? Aku datang ke sini karena ada kasus di universitas ini." Kata Deviana. Kasus? Randika penasaran, dan pada saat ini Deviana meneruskan ceritanya. "Toko emas di daerah sini tadi pagi telah dirampok. Setelah menyelidiki dan memeriksa kamera pengawas, kami menemukan bahwa salah satu tersangka adalah murid di universitas Cendrawasih. Aku diutus dan menyamar ke tempat ini untuk menyelidikinya terlebih dahulu." Randika mengangguk. "Baiklah, aku akan menemanimu." Mereka berdua lalu berjalan menuju gedung universitas. Pada saat ini, tiba-tiba Deviana berhenti berjalan dan berlutut sambil memeriksa kakinya. "Kenapa?" Randika yang berjalan di depan langsung berhenti dan menoleh ke arah Deviana, sepertinya kakinya keseleo. "Apa kakimu baik-baik saja?" "Jangan khawatir, aku baik-baik saja." Deviana berusaha menahan rasa sakitnya itu. Kakinya tadi terus-terusan menginjak rem sekuat tenaga, sepertinya adrenalin membuatnya tidak merasakannya waktu itu. "Tenang saja, aku akan menggendongmu." Randika tidak ragu-ragu langsung menggendong Deviana dengan kedua tangannya. Deviana ingin melepaskan diri tetapi Randika tidak membiarkannya. "Sudah diam dan pasrah saja, kalau tidak aku akan melemparmu." Kata Randika sambil tertawa. Deviana tidak memiliki kulit tebal seperti Randika, digendong seperti tuan puteri ini membuat dirinya malu apalagi orang-orang memperhatikan mereka. Semua perempuan melihat Randika dan Deviana dengan tatapan penuh arti. Idaman para perempuan adalah digendong seperti itu oleh pangeran berkuda putih mereka lalu mereka akan bertarung di atas ranjang! Ahˇ­. Mereka pasti sedang menuju kamar untuk berhubungan badan! Selama tidak ada pihak universitas yang tahu, para perempuan akan membawa laki mereka ke kamar mereka dengan bebas. Mereka tidak perlu khawatir akan ada yang membeberkan masalah ini, itu sudah seperti semacam peraturan tidak tertulis. Sedangkan untuk para laki-laki, mereka terpukau ketika melihat Deviana yang memakai baju casual itu. Benar-benar wanita cantik, kecantikannya setara dengan dosen cantik mereka! Tidak bisa untuk dipungkiri, beberapa orang menatap iri Randika yang menggendong malaikat itu. Sepertinya mereka sedang menuju kamar mereka untuk melakukan hubungan badan. "Aku sudah menelepon beberapa siswa sekolah ini. Sepertinya tersangka kita bernama Timmy dari fakultas ekonomi." Kata Deviana. Randika sendiri tidak mendengarnya dengan baik, dia sibuk menikmati paha Deviana yang dipegangnya dan dadanya yang menempel di perutnya. Mungkin hari ini dia akan memberi polisi cantik satu ini skor 80. Chapter 284: Polisi adalah Penegak Keadilan Deviana sama sekali tidak tahu apa yang dipikirkan Randika, jika dia tahu mungkin dia sudah menamparnya. "Tunggu, bagaimana kalau kita pergi ke tata usaha fakultas ekonomi dulu? Mungkin Timmy sedang ada kelas dan kita bisa menangkapnya dengan cepat." Kata Deviana dengan wajah serius. Setelah Deviana berhenti berbicara, dia menyadari bahwa Randika tersenyum sambil melihat ke samping. Penasaran, Deviana menoleh ke samping dan menyadari bahwa Randika sedang tersenyum pada seorang siswi muda, bahkan dia memberikan sebuah kiss bye! "Huh! Semua laki sama saja, kepalanya hanya berisikan wanita." Kata Deviana sambil cemberut. Randika lalu membalas sambil tersenyum. "Tidak semua laki itu sama. Ambil contoh saja aku, mana ada di dunia ini sebaik dan setampan aku yang bahkan menolong teman polisinya dalam sebuah kasus aktif? Atau kamu ini cemburu karena aku menggoda perempuan lain?" "Kenapa kamu suka memutar balik kata-kataku!?" Deviana mulai kelabakan. "Hahaha lawan kita itu cuma bocah jahil, apa susahnya menangkapnya?" Kata Randika sambil tertawa. Deviana benar-benar marah, ketika dia hendak membuka mulutnya, tiba-tiba dia menutupnya kembali. "Dev, karena aku sudah janji untuk membantumu, aku akan menemanimu sampai kasus ini selesai. Tetapi kan tidak ada larangan untuk aku menggoda perempuan selagi bersamamu kan?" Selama perjalanan, Deviana kembali mengomeli Randika. Untungnya saja, mereka telah tiba di tata usaha fakultas ekonomi. Setelah mendapatkan informasi, mereka berdua akhirnya pergi menuju gedung milik fakultas ekonomi. Tidak lama kemudian, keduanya telah tiba di gedung. Deviana tidak bisa menahan malunya ketika para murid memperhatikan dirinya yang masih digendong Randika itu. Tentu mereka tidak tahu bahwa dia adalah polisi, tetapi perhatian seperti ini membuat dirinya makin malu. Para mahasiswa ini geleng-geleng ketika melihat Randika dan Deviana, mereka pikir gedung sekolah ini hotel apa? Sampai detik ini, Deviana belum pernah merasakan namanya pacaran. Meskipun dia dan Randika sudah melewati masa sulit bersama, mereka hanyalah seorang teman. Sekarang setelah digendong dan merasakan rasa aman yang tidak pernah dia rasakan, hatinya menjadi campur aduk. Ditambah lagi tatapan para mahasiswa ini membuat Deviana makin malu, dia berkata dengan pelan pada Randika. "Ran, tolong turunin aku." "Tidak bisa Dev, aku tidak ingin kamu terluka. Jika kakimu itu makin parah, bagaimana bisa kita berjalan menuju pelaminan bersama?" Randika sengaja mengeraskan suaranya karena dia tahu bahwa Deviana malu dengan tatapan orang-orang. "Wah berani sekali pasangan itu!" Sukses besar! Orang-orang makin memperhatikan mereka berdua! Randika tidak bisa berhenti tertawa, dia lalu berbisik pada Deviana yang sudah tersipu malu. "Jangan khawatir, aku akan memastikan tersangkamu ini tertangkap. Jadi istirahatlah dan percayakan masalah ini padaku." Tentu saja Randika bercanda, dia hanya ingin merasakan kelembutan paha Deviana ini lebih lama lagi! Tetapi, tatapan semua orang menjadi lebih intens sejak Randika dengan sengaja bercanda akan membawanya ke pelaminan. Hal ini membuat Deviana makin membulatkan tekad. "Ran, turunkan aku!" "Tidak, ini adalah tugasku untuk melindungimu." Randika sama sekali tidak ingin lepas dari paha empuk ini. "Aku hitung sampai tiga." Wajah Deviana benar-benar serius. "Percuma, aku tidak akan menurunkanmu." Wajah Randika juga tidak kalah serius. Ketika hitungannya itu mencapai tiga, telinga Randika tiba-tiba digigit oleh Deviana! Itu bukan gigitan yang pelan melainkan dengan seluruh tenaga! Bajingan! Tentu saja, makian itu hanya diteriakan Randika di dalam hatinya. Dia tidak akan pernah memaki seorang perempuan, dia adalah jentelmen! Orang-orang yang melihat hal ini justru makin iri, mereka mengira Deviana sudah tidak sabar berhubungan badan dan mulai menyerang telinga Randika. Ahˇ­. Cinta itu memang tidak kenal tempat. "Iya, iya, aku turunin kamu! Tolong hentikan!" Randika makin merasa telinganya itu hampir copot, dia dengan cepat menurunkan Deviana. Tetapi ketika kakinya itu menapak, Deviana tidak bisa menyembunyikan rasa sakitnya itu. "Tuh kan kubilang apa, sini kugendong lagi." Randika menggelengkan kepalanya. Akhirnya keduanya sepakat bahwa Deviana akan berjalan sambil bersandar di pundak Randika. Akhirnya kedua orang ini sampai di ruangan kelas Timmy. "Serahkan penangkapan ini padaku, kamu sebaiknya duduk di sini." Kata Randika. "Maksudmu bagaimana? Hanya polisi yang memiliki hak untuk menangkap seseorang, kamu bukanlah salah satu dari kita." Randika lalu menjawab. "Kalau begitu, bagaimana kalau hari ini mewakilkan dirimu? Atau kamu ingin aku membawa orang itu ke sini dan kamu tinggal menangkapnya?" Deviana berpikir sebentar, sejujurnya dia ingin menangkap Timmy dengan kedua tangannya. Namun ketika dia berusaha berdiri kembali, kaki kanannya itu terasa sakit. "Sudah jangan memaksakan diri begitu." Kata Randika. Deviana akhirnya menyerah dan menghela napasnya. "Kalau begitu aku serahkan orang itu padamu, tetapi jangan buat dia babak belur dan menambah masalahku." "Hahaha sejak kapan memangnya aku membuat masalah untukmu?" Randika kemudian mengambil borgol milik Deviana dan berjalan masuk ke dalam ruangan sambil tersenyum, akhirnya dia bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi polisi. Melihat sosok Randika yang masuk ke dalam ruangan, Deviana mengerutkan dahinya. Dia berdoa agar Randika tidak mengacaukan penangkapan ini. Setelah memperhatikan sekelilingnya, Randika menyadari bahwa Timmy duduk di barisan paling belakang dan sedang memainkan HP miliknya. "Tim, malam ini mau minum-minum?" Teman di sampingnya Timmy mengajaknya berbicara. "Aku dengar nanti banyak perempuan cantiknya lho." Timmy lalu mengangkat kepalanya dan memperlihatkan wajahnya. Wajahnya benar-benar bengis dan jahat, sepertinya dia adalah preman sekolah ini. Semua orang tahu akan hal ini tetapi mereka memilih menjauhinya karena mereka takut berurusan dengan Timmy. "Aku ada urusan malam nanti, pergilah tanpa aku." Kata Timmy sambil memainkan kalungnya. Pagi tadi dia mengambil kalung emas itu dan belum menjualnya. Ini bukanlah aksi pertamanya, hanya saja ini pertama kalinya dia melakukannya di dekat sekolahnya. Pada saat ini, seorang pria tampak celingak-celinguk di pintu ruangan. Semua orang terkejut ketika Randika berdiri di atas meja dosen. Kelas belum dimulai dan murid-murid ini semuanya masih ribut dan bermain HP, tetapi mereka segera menghentikan kerjaan mereka ketika melihat Randika yang mendadak naik ke atas meja itu. Randika lalu berteriak dengan keras. "Apa ada yang bernama Timmy di kelas ini? Aku mencari orang yang bernama Timmy." Semua orang langsung menatap satu sama lain, mereka sangat bingung dengan tindakan Randika ini. "Siapa orang itu?" "Orang gila mungkin." "Aku dengar geng miliknya Timmy tawuran dengan beberapa preman minggu lalu, apa orang itu datang untuk balas dendam?" "Kenapa berandalan seperti itu satu kelas sama kita? Kita jadi kena imbasnya." Semua orang mulai berdiskusi, hanya beberapa orang yang berani menatap Timmy yang duduk di barisan belakang. Akhirnya Randika menemukan Timmy, dia kemudian berjalan menghampirinya. "Ada apa ya?" Namun, tiba-tiba, ada perempuan berkacamata tebal yang berdiri mencegat Randika. Setelah memperhatikan satu sama lain, Randika merasa bahwa perempuan ini adalah ketua kelas dari kelas ini. Randika tersenyum, sepertinya dia perlu menjelaskan kenapa dia datang ke kelas ini. "Aku berasal dari kepolisian kota Cendrawasih, kalian bisa memanggilku pak Randika." Randika lalu mengeluarkan borgolnya dan tersenyum. Kali ini, semua orang terkejut kembali. Polisi? Semua mata sekarang tertuju pada Timmy, apakah dia melakukan kejahatan? Hati Timmy mengepal, dia tidak menyangka polisi akan datang ke sini secepat ini. Dia awalnya ingin menjual kalung yang dipakainya itu untuk membayar utang, sepertinya rencananya tidak berjalan semulus itu. Kali ini dia benar-benar tamat. Randika menghampiri Timmy dan berdiri di hadapannya, Timmy berusaha terlihat cuek. Dia masih sibuk memainkan HPnya. "Ikutlah denganku, ada yang ingin kutanyakan." Randika menatap tajam Timmy, dia tahu bahwa bocah ini pura-pura tidak melihat dirinya. "Apa kegiatanmu tadi pagi?" Tanya Randika. "Tidur." Jawab Timmy dengan dingin. "Kamu tidak pergi merampok toko emas?" Tanya Randika sekali lagi. "Hah? Buat apa aku melakukan hal itu?" Timmy tetap berusaha terlihat tenang. "Jadi kalung emas yang ada di lehermu itu bukan hasil merampok?" "Bicara apa kau pak tua?" Timmy tiba-tiba berdiri dan membanting mejanya. Sosok tinggi besar segera membayangi Randika. Tinggi Randika hanya 170 cm, sedangkan Timmy lebih dari 180 cm! Tetapi tinggi bukanlah faktor yang menentukan hasil pertarungan. "Gila, Timmy mau memukulnya?" "Mana mungkin, orang itu polisi tahu!" Orang-orang mulai khawatir, meskipun orang itu polisi, dia hanya sendirian dan dia terlihat lemah. Timmy dapat menghajarnya dengan mudah kalau dia mau. Randika menghela napas di hatinya, dia sendiri tidak ingin menarik perhatian banyak orang. Timmy menatap tajam Randika dan berkata dengan nada dingin. "Aku tidak peduli kamu polisi atau siapa, jangan ikut campur dengan urusanku." "Jadi apakah kamu pagi tadi merampok toko emas itu?" Tanya Randika dengan santai. "Bukan urusanmu!" Timmy sudah muak dan hendak pergi meninggalkan kelas, tetapi dia dicegat oleh Randika. "Minggir!" Bentak Timmy. "Aku tidak mau berurusan dengan polisi yang asal menuduh tanpa bukti, kalian hanya butuh kambing hitam untuk disalahkan." Sepertinya menonton film seri Amerika membantu Timmy sedikit, dia tahu bahwa dia tidak dapat disentuh kecuali ada bukti yang kuat. Randika berusaha menenangkan dirinya, jika bukan karena janjinya pada Deviana, dia mungkin sudah menampar bocah tidak tahu diri ini. "Kami mempunyai bukti." Kata Randika sambil memaksakan diri untuk tersenyum. "Kami telah memeriksa kamera keamanan dari toko dan berhasil menemukan kecocokan wajah. Oleh karena itu kami ingin meminta keterangan darimu." Kamera? Wajah Timmy langsung menjadi pucat pasi, hal ini langsung menarik perhatian Randika. Sepertinya gertakannya berhasil, pelakunya adalah Timmy! "Aku tidak peduli dengan penjelasanmu, pagi tadi aku masih tidur di kamarku. Sekarang cepat minggir atau kupatahkan kakimu." Kata Timmy dengan nada serius, sementara murid-murid yang lain sudah menahan napas mereka. Reputasi Timmy sebagai berandalan sudah melegenda di universitas ini. Dia benar-benar jago berkelahi, terlebih lagi lawannya kali ini terlihat lemah. "Maaf tapi kamu tidak bisa melawan, kamu harus ikut aku ke kantor polisi." Randika menggelengkan kepalanya. Timmy sudah muak, dia berteriak. "Mati kau!" Pada saat yang sama, tinju Timmy sudah melayang ke wajah Randika. Tetapi, Randika dengan mudahnya menangkap kepalan tinju berandalan satu ini. Timmy benar-benar terkejut, dia berusaha melepaskan diri tetapi tangannya sama sekali tidak bisa bergerak. "Bukankah kalian diajari sejak kecil bahwa polisi adalah penegak keadilan?" Kata Randika sambil tersenyum, detik berikutnya dia mengangkat Timmy hanya dengan satu tangan. Kemudian di bawah tatapan semua orang, Randika melemparnya. Semua orang langsung terkejut bukan main! Chapter 285: Menagih Janji Timmy membentur lantai dengan keras, sedangkan mata mahasiswa-mahasiswa lainnya sudah terbelalak melihat berandalan sekolah mereka terlempar begitu mudah. Polisi kerempeng itu ternyata sekuat itu? Memangnya orang bisa mengangkat dan melempar orang dengan satu tangan? Di saat yang lain masih terkejut, Randika menghela napas. Sepertinya dia sedikit keterlaluan melempar bocah itu. Tetapi salahnya dia tidak mau bekerja sama dengan dirinya, jadi jangan salahkan dirinya ketika dia memakai sedikit kekerasan. Sedangkan janjinya pada Deviana sebelumnya, sepertinya dia harus membuat suatu alasan yang cukup bagus. Lagipula, Deviana tidak ada di tempat ini jadi Deviana hanya bisa percaya dengan apa yang diceritakannya. Melihat Randika yang berjalan menghampiri Timmy, si ketua kelas mendadak berdiri dan berkata pada Randika. "Jika kau benar-benar polisi, kau tidak bisa menyakiti orang tanpa alasan yang jelas." Randika tidak menjawab, mahasiswa yang lain mulai mendukung si ketua kelas. "Benar! Jangan mentang-mentang punya kuasa kau bisa bertindak seenaknya." Randika menghela napasnya dan tetap berjalan menuju Timmy. Timmy berusaha berdiri dan kabur tetapi dia berhasil ditangkap sebelum bisa melakukannya. "Lepaskan aku!" Kata Timmy dengan wajah dingin. "Melepasmu?" Randika tertawa, di tangan kanannya sudah terdapat kalung emas. "Ini barang yang kau curi tadi pagi? Sekarang aku sudah mempunyai buktinya, kau tidak bisa mengelak lagi." Kata Randika. Ketika orang-orang masih sibuk berkomentar, mereka semua melihat kalung emas yang dipegang oleh Randika. Sekarang mereka percaya bahwa Timmy adalah seorang pencuri. "Gila, Timmy sekarang berani mencuri?" "Sepertinya takdir berandalan memang menjadi penjahat." "Sssttt jangan sampai kedengaran, bisa-bisa kita terlibat nanti." Sedangkan Timmy masih berusaha melepaskan diri dan meronta-ronta. "Kalung? Buktimu hanya kalung itu? Kau tidak bisa membuktikan bahwa aku mencuri kalung itu, jangan menjebak orang yang tidak bersalah!" "Kalau kau tidak salah berarti kau tidak perlu takut." Randika menggelengkan kepalanya. Sepertinya selama dia masih bernapas, bocah ini akan terus melawan. Melihat fokus Randika teralihkan, Timmy segera melepaskan diri dan berlari keluar dari ruangan kelas. Namun, kakinya yang berlari itu tiba-tiba tertangkap dan dia terlempar lagi. Benturan yang keras membuatnya kesakitan. "Kamu memiliki hak untuk tetap diam dan apa pun yang kau katakan dapat digunakan di pengadilan. Kau memiliki hak untuk berbicara dengan pengacara untuk meminta nasihat sebelum kami mengajukan pertanyaan apa pun kepadamu. Kau memiliki hak untuk didampingi pengacara selama interogasi. Jika tidak mampu menyewa pengacara, seseorang akan ditunjuk untukmu sebelum kau ditanyai jika mau." Kata Randika sambil memborgol Timmy. Akhirnya kata-kata yang dia hafalkan dari film bisa dia pakai, ternyata menjadi polisi asyik juga! Semuanya sudah berdiskusi satu sama lain ketika Randika dan Timmy berjalan keluar dari ruangan. Tiba-tiba, Randika menoleh ke belakang dan berkata sambil tersenyum. "Tolong jangan berbuat kejahatan, kalian pasti tidak ingin bernasib sama dengan temanmu ini." Ketika Randika menutup pintu, seisi ruangan menjadi heboh. Semua murid meluapkan pendapat mereka masing-masing. Kejadian ini benar-benar terlalu mendadak, mereka tidak menyangka bahwa salah satu dari mereka adalah penjahat. Kejadian ini langsung mereka laporkan pada pihak sekolah. Dengan tangan diborgol di belakang, Timmy berjalan di bawah pengawalan Randika. Timmy benar-benar linglung, kenapa dia yang lebih besar dan berotot bisa kalah dengan orang yang kelihatan lemah ini. Dalam hatinya, Deviana senang ketika melihat sosok Randika. "Seperti yang kujanjikan padamu, ini tersangkanya dan ini barang buktinya." Randika menunjukkan kalung emasnya. Deviana mengangguk dan berdiri. "Bagaimana kakimu?" Tanya Randika. "Yah setidaknya sekarang aku bisa berjalan lagi." Deviana lalu berusaha menghampiri Timmy tetapi kakinya masih tidak mampu menahan berat badannya dan dia pun terjatuh. Tetapi, dia jatuh di pelukan hangat seseorang. "Kenapa kamu memaksakan diri?" Randika benar-benar tidak habis pikir. "Kamu harus menyayangi dirimu sendiri, sudah biarkan aku membawa orang ini ke kantormu." Tangan kiri Randika masih menahan Timmy sedangkan yang kanan menopang Deviana, Timmy melihat hal ini sebagai kesempatan untuk kabur. Lalu dia memutuskan bahwa sekarang adalah waktu yang tepat untuk kabur. Ketika dia hendak lari, kakinya itu tersandung dan dia membentur lantai dengan keras. "Jangan kira kau bisa kabur, selama aku masih bernapas, kau tidak akan bisa kabur." Kata Randika dengan wajah serius. Lalu sambil membantu Deviana berjalan, ketiga orang ini berjalan menuju pintu keluar. Di luar gedung universitas, mobil Deviana sudah tidak layak pakai. Namun, Deviana sudah mengabari markas dan meminta bantuan untuk membantunya membawa tahanan ke kantor polisi. Tetapi, bantuan itu belum tiba dan Randika sudah tidak sabar. Randika lalu memanggil taksi dan berangkat menuju kantor polisi. Sesampainya di sana, Timmy diproses oleh bawahan Deviana. Meskipun sudah lepas dari cengkeraman maut Randika, Timmy sudah tidak berusaha kabur lagi. Sekarang dia dikawal oleh 2 polisi dan dimasukan ke sel penjara sementara. Di sisi lain, Deviana menghela napas lega ketika melihat Timmy sudah berada di balik jeruji. Dengan ini kasus pencurian ini berakhir dengan sempurna. Randika tidak tinggal lama di kantor polisi. Menurut aturan, dia harus membuat keterangan dan dia sama sekali tidak ingin terlibat masalah ini lebih jauh lagi. Lagipula, dia hanya berniat membantu Deviana. "Aku akan mengantarmu keluar." Kata Deviana sambil menuntun Randika keluar. "Terima kasih untuk bantuanmu kali ini." Kata Deviana sambil tersenyum. Randika benar-benar penolongnya, banyak kasus telah terselesaikan berkat bantuan Randika. Terakhir kali adalah kasus perempuan yang ingin loncat dari gedung tinggi. Jika bukan karena bantuan Randika, masalah itu akan semakin rumit. Hari ini, jika Randika tidak menghentikan mobilnya, sudah dipastikan bahwa dirinya telah membunuh seorang anak kecil. Sepertinya Randika adalah bintang keberuntungannya. "Dev, apa kamu sudah lupa dengan perjanjian kita?" Kata Randika sambil tersenyum. Wajah Deviana sudah merah ketika mendengar kata-kata tersebut. Perjanjian mereka mengenai hadiah yang didapatkan Randika sudah mereka bahas sebelumnya, selama ini Deviana sudah berkali-kali mengakalinya. "Hmm memangnya aku tadi meminta bantuanmu?" Deviana memalingkan wajahnya. "Bukannya kamu meminta tolong padaku?" Randika tersenyum. Perempuan ini benar-benar licik, dia sudah membantunya berkali-kali dan dia masih berusaha mengelak? "Kalau begitu mana buktinya?" Deviana tersenyum dan berjalan meninggalkan Randika. "Lain kali aku akan membalas kebaikanmu tadi, sekarang aku ada urusan jadi aku masuk dulu." Randika tidak sabar menunggu hadiahnya itu, tiba-tiba dia punya sebuah ide brilian. "Hei, bukankah orang itu sedang dirampok." Katanya sambil melihat ke arah kejauhan. Perampokan? Deviana langsung menoleh dan dia tidak dapat menemukan apa-apa. Ketika dia ingin bertanya pada Randika, Randika sudah mengunci bibirnya dengan bibirnya. Deviana sama sekali tidak mempunyai waktu untuk bereaksi. Setelah 3 detik, Deviana langsung mendorong Randika. "ˇ­.." Deviana kehabisan kata-kata. Tetapi ketika dirinya melihat senyuman Randika, dia hanya bisa tersipu malu. Sepertinya dia sudah terbiasa dengan tindakan Randika yang satu ini. Chapter 286: Ramalan Kakek Keempat Tetapi meskipun sudah terbiasa, tindakan paksa seperti ini tetaplah tidak baik. Deviana langsung mengomeli Randika sembari memukulnya pelan. Randika tertawa, dia tidak menyangka bahwa Deviana akan tertipu begitu mudah. Deviana sudah tidak peduli lagi, dia berniat untuk masuk ke kantornya. Tetapi dia melihat Randika menjilati bibirnya sendiri, seakan-akan sedang menikmati sensasi yang dia rasakan tadi. Wajah Deviana segera menjadi merah. Menghentakan kakinya, dia berjalan masuk ke dalam gedung kantornya. Hasil akhir ini sudah diperkirakan oleh Randika, tetapi dia merasa ada sesuatu yang salah. Mengingat sifat Deviana, bukankah seharusnya dia sudah ditampar atau dicaci maki? Ketika Randika hendak pergi, dia menemukan sosok kaki cantik tidak jauh darinya. Ketika dia masih mengagumi kaki tersebut, tiba-tiba ada suara. "Kak Randika." Randika mengangkat kepalanya dan ternyata pemilik kaki itu adalah Safira! "Saf, benar-benar kebetulan!" Randika lalu menghampiri adiknya itu. "Kenapa kamu ada di sini?" "Aku ada urusan sama kantor polisi ini, tetapi aku tidak menyangka bisa bertemu dengan kak Randika di sini." Safira benar-benar senang, dia tidak menyangka akan bertemu dengan kakak tersayangnya. Melihat senyuman manis itu, Randika tidak bisa menahan dirinya untuk tidak membelai pipinya. "Omong-omong kak, kapan hari aku pulang ke gunung dan kakek ketiga memberikanku ini untukmu." Safira mengeluarkan sebuah kotak. Randika membukanya dan ternyata itu adalah sebuah pil obat berwarna putih. "Awalnya kakek ingin memberikanmu sebelum mereka berangkat tetapi tidak sempat lalu dia meminta tolong padaku." Randika menatap obat itu, benar-benar tidak ada spesialnya. Tetapi dia tahu bahwa obat racikan kakeknya itu tidak bisa dinilai dari sampulnya saja. "Kata kakek ketiga obat ini adalah obat terbarunya khusus untukmu." Kata Safira. Randika lalu mengambil satu dan meminumnya. Ketika obat itu masuk ke dalam tubuhnya, sebuah energi halus mulai menyebar ke dalam tubuh Randika. Di sepanjang jalan, energi itu melewati saraf, otot dan pembuluh darahnya lalu beristirahat di setiap organ dalamnya. "Obat apa ini?" Randika mulai khawatir kenapa kakeknya itu tiba-tiba memberikannya obat baru padanya. Obatnya sebelumnya masih belum habis dan dia sama sekali tidak mendapatkan kabar mengenai obat ini. Pasti ada gambaran besar yang tidak bisa dilihatnya. "Aku sendiri juga tidak tahu." Safira terlihat bingung. "Aku sendiri juga kaget ketika kakek ingin aku pulang waktu itu. Setelah meracik obat itu, mereka langsung pergi ke reruntuhan dan mempercayakan aku obat ini untuk memberikannya pada kak Randika." "Mungkin ini ada kaitannya dengan kakek keempat. Kata kakek, dia sempat meramalkan masa depan kak Randika dan hasilnya mengatakan bahwa akan ada bahaya besar yang mengintai. Sepertinya obat ini adalah senjata buat kak Randika untuk menghadapi bahaya itu." Ketika mendengar kata-kata Safira, hati Randika mengepal. Ramalan kakek keempat membuatnya sedikit ketakutan, memangnya bahaya yang seperti apa yang akan menimpa dirinya? Kemampuan ramalan kakek keempatnya patut diacungi jempol, dia belum pernah mendengar bahwa ada ramalan kakeknya yang pernah meleset. Dan sekarang setelah mendengar ramalan kakeknya itu, Randika harus siap terhadap bahaya apa pun. Namun pertanyaan terbesarnya adalah bahaya apa itu? Masalah ini sampai membawa kakek ketiganya yang terkenal dingin itu membuatkan dirinya obat baru untuk menghadapi bahaya tersebut. Kerutan di dahi Randika makin besar, dia sama sekali tidak bisa mengeluarkan masalah ini dari benaknya. Seharusnya tidak ada ancaman besar yang bisa mengancam dirinya. Shadow sudah mati, Bulan Kegelapan sudah kabur ke Amerika dan tidak mempunyai kekuatan untuk melawannya. Randika sama sekali tidak kepikiran pihak mana yang bisa mengancamnya. Yang paling membuatnya khawatir adalah para kakeknya itu tidak bisa menolongnya, mereka sedang bekerja. "Kak Randika tidak perlu khawatir. Kakek keempat juga menyampaikan bahwa masalah ini tidak sebesar yang kakak kira." Safira memahami apa yang ada di benaknya Randika. Hati Randika langsung terasa lega, kalau kakeknya berkata seperti itu berarti artinya benar. "Omong-omong urusan apa yang membuatmu sampai ke sini?" Randika langsung membuang kekhawatirannya itu dan mengalihkan topik pembicaraan. "Arwah Garuda baru saja menangkap teroris jadi kami sedang membicarakan prosedur penyerahan tersangka." Kata Safira sambil tersenyum, tetapi wajahnya tiba-tiba terlihat sedih. "Kak, akhir-akhir ini aku sangat sibuk dan aku sangat merindukanmu." "Saf, jangan sedih begitu. Kalau kamu rindu tinggal telepon aku, aku akan datang ke tempatmu." Kata Randika sambil tertawa. "Benarkah?" Wajah Safira langsung bersinar. "Tentu saja, ngapain aku bohong?" Randika lalu membelai pipi Safira. "Ketika waktunya kita menikah nanti, kita akan bersama selamanya." Wajah Safira benar-benar merah, tatapan matanya penuh dengan ekspetasi. Dia dan Randika sudah berjanji menikah sejak kecil dan para kakeknya itu sudah merestui hubungan mereka. "Kalau begitu apa boleh buat, aku akan menjadi istri kak Randika nanti." Kata Safira sambil menundukan kepalanya. Randika lalu mengangkat kepala Safira dan berbisik di telinganya. "Saf, sebelum kita menikah sepertinya kamu harus memakan buah pepaya lebih banyak." Wajah Safira terlihat bingung. "Kak, apa hubungannya dengan makan buah pepaya dan menikah?" "Karenaˇ­." Randika kembali berbisik di telinga Safira. "Aku ingin tubuhmu itu lebih montok lagi." Kali ini wajah Safira benar-benar lebih merah, dia langsung menoleh ke arah dadanya. Sepertinya aset miliknya itu terlalu kecil. "Hahaha aku bercanda." Randika lalu membelai rambut Safira. "Aku tidak peduli dengan gumpalan lemak di dada, yang aku inginkan hanyalah kamu." Apakah kata-kata Randika itu benar? Tentu saja tidak! Mimpi seorang lelaki adalah dada! Kriteria pertama seorang pria ketika dirinya memilih pasangan adalah dada yang besar! Kriteria kedua adalah dada yang besar! Kriteria ketiga adalah dada yang besar! Ini menunjukan bahwa dada besar adalah impian para lelaki. Tetapi tentu saja, jika wajahmu jelek dan tidak punya uang maka jangan harap bisa mendapatkan perempuan cantik berdada besar. Namun, dada Safira itu tidak kecil tetapi juga tidak terlalu besar. Bisa dikatakan bahwa dadanya itu normal. Medium is premium! Ketika rambutnya dibelai, wajah Safira menunjukan dirinya seolah-olah sedang melayang. Selama di Arwah Garuda dia selalu bersikap dingin dan tegas, tetapi di hadapan Randika dia seperti menjadi seorang gadis yang tidak tahan apabila diperlakukan lembut. "Kalau begitu kembalilah bekerja, maaf aku sudah mengganggu waktumu. Nanti kalau kamu tidak sibuk, bagaimana kalau kita pergi berkencan?" Safira mengangguk. "Kalau begitu aku pergi dulu ya kak. Kak Randika sendiri harus hati-hati." "Hahaha, sejak kapan ada orang yang berani melawan kakakmu ini?" Randika lalu mencubit pipi Safira. Ketika Safira kembali masuk ke dalam gedung, Randika berjalan menuju rumah. Hari ini penuh dengan kejutan, pertama dia dipaksa ke rumah Christina oleh ibunya dan dia juga membantu Deviana menangkap penjahat. Waktu memang tidak kenal ampun, ketika dia melihat jam, waktu sudah menunjukan pukul 4 sore. Ketika Randika berjalan menuju rumah, dia tiba-tiba menyadari ada sesosok perempuan yang dia kenal hendak masuk ke kantor polisi. Randika benar-benar terkejut, bukankah itu perempuan muda yang menyuruhnya waspada di kasino? Dia juga sempat berkelahi dengan pengawal perempuannya itu. Pengawalnya Elizabeth yang bernama Nancy itu sama dinginnya dengan majikannya, keduanya bisa membuat merinding siapapun yang menoleh ke arahnya. Elizabeth sendiri terkejut ketika melihat sosok Randika, dia lalu berkata dengan nada dingin. "Kamu belum mati?" Chapter 287: Keajaiban pada Hannah "Kamu belum mati?" Mendengar kata-kata tersebut, Randika hampir muntah darah. Mereka hampir tidak mengenal satu sama lain dan kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya adalah menanyakan dirinya belum mati? Apa orang tuanya tidak pernah mengajarinya sopan santun? Tentu saja aku belum mati, kalau aku mati pasti dunia ini sudah ikut mati bersamaku. Randika benar-benar jengkel dengan kata-kata perempuan satu itu, kalau saja dia bukan anak kecil mungkin dia sudah menghajarnya. Elizabeth menatap tajam Randika. "Sepertinya mereka belum bergerak, tetapi sepertinya nyawamu sebentar lagi akan hilang." Hmm? Apanya yang belum bergerak? Randika mengerutkan dahinya dan Elizabeth sudah tidak ingin berbicara lagi. Setelah itu Elizabeth berjalan masuk ke dalam gedung kantor kepolisian Cendrawasih. "Tunggu!" Randika berlari menuju Elizabeth. "Apa maksud kata-katamu tadi?" Elizabeth berhenti berjalan dan membalasnya dengan dingin. "Semuanya hanyalah masalah waktu, kau akan segera mengerti kata-kataku tadi." Kenapa dia sok misterius? "Jangan pura-pura misterius seperti itu." Wajah Randika menjadi serius. "Siapa yang belum bergerak?" Elizabeth tidak menjawab, dia lalu menggelengkan kepalanya secara perlahan. "Kamu benar-benar tidak tahu apa-apa? Kamu hanya membuang waktuku, enyahlah dan jangan menggangguku lagi." Setelah berkata seperti itu, Elizabeth berjalan melewati Randika. Randika langsung menjadi marah. "Jelaskan padaku atau aku akan membunuhmu!" "Saranku tetap sama, berhati-hatilah dan cobalah untuk bertahan hidup." Kata Elizabeth dengan wajah dingin. Bersama dengan Nancy dia lalu masuk ke dalam gedung. Ketika melihat sosok Elizabeth yang pergi, Randika sedikit merinding. Hari ini dia menerima sesuatu yang tidak biasa mulai dari peringatan dari Elizabeth, obat dari kakeknya, ramalan kakeknya, otak Randika berputar keras mengenai bahaya apa yang mengintai dirinya. Bukan sebuah kebetulan dirinya bertemu dengan Elizabeth, mungkin ini adalah peringatan terakhir buat dirinya. Tetapi pertanyaannya masih tetap sama, bahaya apa yang mengancam dirinya? Sambil mengerutkan dahinya, Randika terus berpikir sambil terus berjalan. Sekarang tujuan pertamanya adalah rumah sakit di mana Hannah berada. Hannah masih belum diperbolehkan keluar dari rumah sakit, dia sendiri belum pernah mengunjunginya. Terlebih, Inggrid tidak mengetahui hal ini dan jika Randika tidak mengunjunginya, bisa-bisa dia menerima serangan balas dendam dari Hannah saat dia keluar dari rumah sakit nanti. Randika lalu berjalan menuju kantin terlebih dahulu untuk membeli cemilan. Ketika Randika berada di kantin, terdengar suara heboh di dalam ruangan Hannah. "Ibu Ipah, aku ingin pulang! Cepat urusin berkas-berkasnya biar aku bisa pulang." "Nak, kata dokter kan kamu belum sembuh. Nanti bagaimana kalau kamu ada apa-apa?" Kata Ibu Ipah yang duduk di samping tempat tidur. "Aku sudah sehat, coba ibu panggil dokternya. Aku sudah bosan tiduran terus." Hannah benar-benar ingin pulang. Pada saat ini, pasien yang ada di samping Hannah tiba-tiba berkata padanya. "Maaf kalau aku sempat menguping, tetapi kata ibu ini benar. Kalau kamu buru-buru ingin keluar lalu penyakitmu tambah parah bagaimana?" "Suamiku benar, coba kamu tahan dulu ya. Mungkin memang membosankan di tempat ini tetapi coba pikirkan perasaan orang-orang yang kamu sayang, mereka juga ingin kamu cepat keluar dalam keadaan sehat." Istri si pasien itu menambahkan. Ibu Ipah tidak ikut menambahkan, dia hanya menghela napas. Dia sudah mengerti kondisi Hannah dari dokter sebelumnya. Hannah memang dari luar terlihat baik-baik saja, tetapi luka internalnya masih belum sembuh. Jika Hannah ingin keluar dan mengalami pendarahan, maka nyawanya bisa terancam. Mendengar nasihat kedua pasangan itu, jiwa pemberontak Hannah bergejolak. "Siapa bilang aku masih sakit?" "Bagaimana kalau kamu bertanya lagi saja doktermu?" Sebagai orang dewasa, pasangan di sebelahnya itu berusaha tidak marah dengan sifat Hannah. "Bersabarlah, semua orang juga ingin cepat sembuh sepertimu." Melihat semua orang berusaha mencegahnya, Hannah semakin jengkel dan berkata pada Ibu Ipah. "Ibu, aku hari ini pokoknya harus keluar. Panggilkan dokternya untuk memeriksaku." Ibu Ipah hanya bisa berdiri tanpa daya. Bagaimanapun juga, Hannah adalah majikannya dan dia harus menurutinya. Pada saat ini, Randika masuk ke dalam ruangan sambil tersenyum dan menaruh cemilan yang dia beli di kantin. "Han, bagaimana kondisimu?" Mendengar suara familier itu, Ibu Ipah langsung menyapa. "Nak Randika!" Hannah melihat Randika dan mendengus dingin. Sambil memalingkan wajahnya, dia berkata padanya. "Huh, lama sekali untuk kakak datang ke sini. Pasti kak Randika sudah lupa sama aku kan." Randika menggaruk kepalanya dan terlihat malu. Dia akhir-akhir ini sibuk dan tidak punya waktu untuk mengunjungi Hannah. "Han, yang penting kan aku sudah ada di sini." Setelah Randika mengantar Hannah ke rumah sakit, dia langsung berusaha mencari Shadow. Kemudian dia menghabiskan beberapa hari berdua bersama Inggrid untuk menghilangkan kenangan buruk yang dimiliki istrinya itu. Dia benar-benar melupakan keberadaan Hannah. Hannah tersenyum dan masih pura-pura marah. "Kak, hari ini aku akan keluar dari rumah sakit. Aku bisa gila kalau harus menghabiskan satu hari lagi di kamar ini." "Nak, luka di tubuh Hannah masih belum sembuh total. Dokter mengatakan padaku kalau nona perlu menginap 10 sampai 20 hari lagi untuk sembuh total." Ibu Ipah berbisik pada Randika. Mendengarkan penjelasan Ibu Ipah, Randika sedikit menghembuskan napas lega. Setidaknya nyawa Hannah tidak terancam sama sekali, tetapi luka internal memang tidak bisa dihindari. Tetapi penyakit seperti ini memang membutuhkan waktu, mungkin bagi orang bersemangat seperti Hannah, hal ini benar-benar membosankan. Pada saat ini, pasien yang menasihati Hannah tadi berkata pada Randika. "Anak ini benar-benar tidak mau diomongi, nanti kalau tambah parah bagaimana?" Hannah merasa tersinggung. "Ulangi lagi kata-katamu." "Suamiku berkata seperti itu karena dia peduli denganmu, jangan membuat kami marah." Istri si pasien angkat bicara. Merasa terpojok, Hannah meneteskan air mata dan berkata pada Randika. "Kak, aku tidak mau tinggal di tempat ini lebih lama lagi. Aku ingin pulang!" "Sudah, sudah, aku akan membawamu keluar hari ini." Hati Randika terasa sakit ketika melihat air mata itu. Lagipula, Hannah sampai terbaring di tempat ini karena dirinya dan dia sekarang menderita sampai menangis seperti itu. Bagaimana mungkin hati Randika sanggup melihatnya? "Nak, dokter melarang Hannah untuk beraktivitas berat atau nanti luka internalnya itu akan semakin parah." Kata Ibu Ipah. "Apa yang dikatakannya benar, memang terlihat kejam tetapi ini juga demi kebaikannya." Kata pasien di sampingnya Hannah itu. Randika mengerutkan dahinya, kenapa semua orang suka berkomentar? "Kalian memangnya dokter? Kenapa kalian daritadi menghakimi adikku ini?" Wajah Randika terlihat jengkel, dia lalu menoleh ke arah pasien tersebut. "Sebaiknya kamu urus dirimu sendiri baru mengkhawatirkan orang lain." Mendengar hal ini, pasangan itu sudah tidak peduli lagi dengan Hannah dan Randika. Mereka dengan keras menutup tirai. "Nak Randikaˇ­" Ibu Ipah menatap Randika dengan wajah cemas. Alasan dirinya tidak membiarkan Hannah keluar adalah nona mudanya ini pasti langsung ingin bermain dan beraktivitas banyak hal ketika keluar nanti, hal ini benar-benar dilarang keras oleh dokter. "Ibu tidak usah khawatir." Kata Randika sambil tersenyum dan mengeluarkan tabung reaksi berisikan darah boneka ginseng dari balik bajunya. Tetesan darah ini diberikan oleh boneka ginseng ketika dirinya menangkapnya di rumah, selama ini Randika belum pernah menggunakannya. Kali ini dia berniat untuk memberikannya pada Hannah. Darah boneka ginseng bisa membuat nenek dari Viona sembuh kembali dan menjadi lebih muda beberapa tahun. Seharusnya darah ini bisa menyembuhkan luka internal yang dialami oleh Hannah. "Han, minumlah ini." Randika memberikan darah boneka ginseng yang berupa manik-manik itu pada Hannah. Wajah Hannah terlihat bingung dan ragu-ragu. "Percayalah padaku, setelah kamu meminumnya kamu bisa keluar dari tempat ini." Kata Randika. Mendengar kata ''keluar'' mata Hannah langsung bersinar. Dia sudah berhari-hari tinggal di tempat membosankan ini jadi dia tidak ragu meminumnya. Ketika masuk ke dalam tubuhnya, energi yang terkandung di darah boneka ginseng itu langsung menyatu dengan darah dan memasuki organ dalam Hannah. Tanpa merasakan rasa sakit, energi itu bekerja dengan cepat dan efektif. Rona wajah Hannah semakin membaik dan tubuh lemasnya itu segera bertenaga kembali. Bisa dikatakan bahwa ketika darah boneka ginseng itu masuk ke dalam tubuhnya, Hannah langsung merasakan manfaatnya. "Kak, apa dengan ini aku boleh pulang?" Hannah benar-benar merasa tubuhnya ringan. Randika tersenyum, dia lalu memeriksa denyut nadi Hannah. Menurut pengamatannya, luka internal Hannah sudah sembuh total dan tidak akan membawa bahaya ke depannya. "Tentu saja." Randika mengusap-usap kepala Hannah. "Yei! Kakak memang terbaik." Hannah tertawa dan tersenyum lebar, sementara pasangan di samping mereka itu geleng-geleng. Bocah tetaplah bocah, mereka sangat meremehkan yang namanya penyakit. "Nak Randika." Wajah Ibu Ipah masih terlihat khawatir. Namun, Randika tersenyum padanya dan mengatakan. "Ibu sudah tidak perlu khawatir, tolong ibu panggilkan dokternya." Ibu Ipah mengangguk dan berjalan keluar untuk mencari dokter. Pasangan di samping tempat tidur Hannah itu tidak sabar menertawai kebodohan Randika. Mereka tidak sabar melihat dokter tersebut memarahi pemuda tidak sabar dan tidak tahu diri itu. "Memang ini bukan urusanku, tetapi belum terlambat kalau kalian ingin menyelamatkan muka kalian." Si pasien itu tiba-tiba membuka tirai pembatas. Kalau bukan karena rasa hormatnya pada yang lebih tua, mungkin Randika sudah menghajarnya. Tidak lama kemudian, dokter paruh baya datang ke ruangan dan menatap Hannah. Dokter itu menghela napas. "Ini sudah berapa kalinya dalam sehari kalian memanggilku." "Dokter Wang, tolong periksa aku lagi." Kata Hannah sambil menjulurkan lidahnya. Sepertinya hubungannya dengan si dokter cukup bagus. "Mau berapa kali pun kuperiksa tetap sama, bukankah tadi pagi aku sudah memeriksamu? Mungkin kalau seminggu sekali gitu aku bisa memberikanmu kabar baik." Dokter Wang tersenyum pahit. Setiap hari dia akan dipaksa oleh Hannah untuk memeriksanya dan menandatangani surat kepergiannya. "Dokter tidak perlu khawatir, aku yakin aku sudah sembuh sekarang." Di bawah tatapan Ibu Ipah dan kedua orang di samping, dokter Wang mulai memeriksa Hannah. Ketika dirinya memeriksa pernapasannya, dokter tersebut terkejut bukan main. Sepertinya keadaan internal Hannah jauh lebih baik dari tadi pagi. Dokter Wang terlihat bingung dan memeriksa sekali lagi. Sial, rupanya dia memang tidak salah lihat. Luka itu jelas ada tadi pagi, terus kenapa sekarang dia tidak dapat merasakannya lagi? Dilihat-lihat tubuh lemas Hannah itu terlihat bertenaga. Sebagai orang berpendidikan, dia tidak terlalu percaya dengan namanya keajaiban jadi dokter Wang memeriksanya berkali-kali. Kemudian dengan tersenyum pahit dia berkata pada Hannah. "Menurut analisaku, kamu bisa keluar dari rumah sakit setelah ini. Keajaiban macam apa ini? Padahal hasil pemeriksaanmu tadi pagi tidak seperti ini." "Asyik!" Hannah benar-benar tersenyum lebar. Dia lalu berdiri dan memberikan pelukan hangat pada dokter Wang dan Randika. Kedua orang yang ada di samping itu benar-benar terkejut bukan main, bukannya luka pemuda itu parah sekali? Bagaimana bisa dia keluar hari ini? "Dok, apa kamu memeriksa dengan benar? Apa benar dia bisa keluar?" "Kamu kira aku berbohong? Aku sudah memeriksanya empat kali dan semuanya menunjukan hasil yang sama. Aku sendiri juga tidak tahu kenapa bisa seperti ini, benar-benar ajaib." Kata dokter Wang. "Kalau begitu Anda harus memeriksaku juga, siapa tahu aku bisa keluar juga." Kata si pasien. Setelah memeriksanya, dokter Wang berkata padanya. "Maaf, tapi kamu masih butuh 3 bulan di rumah sakit ini." Saking senangnya, Hannah sudah berganti baju di toilet dan sudah tidak memedulikan pasien di sebelahnya. Dengan senyum lebar, dia menyeret Randika keluar dari ruangan. Chapter 288: Mendaki Gunung "Ibu Ipah, hari ini tolong masakin makanan yang enak!" "Baik, ibu hari ini akan masak soto ayam kesukaanmu." Kata Ibu Ipah dengan senyuman lebar, dia lega "putrinya" satu ini sudah sembuh. "Kak, hari ini aku akan tidur sama kak Inggrid." Kata Hannah pada Randika. Randika yang berjalan santai itu hendak mengangguk sebelum akhirnya dia selesai memproses apa yang telah dia dengar itu. Maksudmu aku disuruh tidur sendirian gitu? Tidak, aku tidak mau! Melihat Randika yang menggelengkan kepalanya, Hannah menjadi cemberut. Sesampainya di rumah, waktu sudah menunjukan pukul 7 malam. Inggrid juga baru saja pulang. Melihat kakaknya itu, Hannah langsung berlari dan memeluknya. "Kak Inggrid!" Menoleh, Inggrid tiba-tiba dipeluk oleh adiknya itu. Wajahnya penuh dengan keterkejutan. "Han, tumben sekali kamu datang? Kamu juga sudah lama tidak ke sini." Melihat kakak adik itu bertukar kabar, Randika berniat mandi terlebih dahulu sedangkan Ibu Ipah mempersiapkan makan malam. Ketika Randika selesai mandi, dia memperhatikan kakak adik itu masih berbincang di ruang tamu. "Kak, bagaimana hubunganmu dengan kak Randika?" Tanya Hannah sambil tersenyum. Wajah Inggrid menjadi merah. "Maksudmu apa?" "Kak, tolong jangan pura-pura polos seperti itu. Kakak mengerti apa maksudku bukan." Senyuman Hannah benar-benar terlihat jahat. "Ayolah kak cerita, kak Randika juga sedang mandi jadi cuma ada kita berdua di sini." Wajah Inggrid sudah merah padam, adiknya ini ingin mendengar kehidupan sexnya? "Sudahlah kak tidak usah malu begitu. Lagipula pada akhirnya aku juga akan melakukannya. Aku cuma ingin tahu bagaimana rasanya dan apakah sakit?" Hannah masih berusaha meyakinkan kakaknya. Inggrid sudah geleng-geleng, dengan tersipu malu dia berkata pada Hannah. "Apa kamu benar-benar ingin mendengarnya?" "Tentu saja." Hannah segera duduk dengan tegak. "Awalnya memang sakit tetapi Randika memastikan bahwa pengalaman pertama kakak itu tidak menyakitkan. Lama-lama enak kok rasanya, tapi kakak tidak bisa menjelaskannya secara detail." Kata Inggrid. "Apa kakak sudah hamil?" Wajah Hannah terlihat serius. "Belum." Inggrid membenamkan kepalanya di bantal sofa. "Kita belum membicarakan hal itu." Pada saat ini, Randika sudah berjalan mengendap-endap ke ruang tamu. Hannah dan Inggrid tidak bisa mendengar suara langkah Randika. Hannah lalu menundukan kepalanya. "Tapi nanti kalau kakak sudah punya anak, apakah aku masih boleh datang ke rumah ini untuk bermain?" "Tentu saja boleh." Inggrid lalu memeluk Hannah. "Apa pun yang terjadi, kamu adalah adikku yang manis dan kamu selalu disambut di rumahku. Kakak juga berharap kamu tidak akan pernah bosan bermain bersama kakak." "Hmmmˇ­ kalau begitu apa boleh buat, aku akan menjadi adik dan tante terbaik di dunia!" Kata Hannah sambil membalas pelukan Inggrid dengan erat. Kedua kakak adik ini tertawa, namun pada saat ini tiba-tiba ada sebuah kepala muncul dari belakang mereka. "Jangan lupakan aku, aku juga ingin bermain." Inggrid dan Hannah benar-benar terkejut. Ketika mereka menoleh, rupanya kepala itu adalah kepalanya Randika. "Kak, bisa berhenti membuatku kaget seperti itu? Lama-lama aku kena serangan jantung lho." Hannah menjadi marah. Randika lalu berjalan menghampiri mereka dan duduk di antara Hannah dan Inggrid. "Hei kak, ngapain kakak duduk di tengah?" Hannah makin marah. "Aku ingin bicara hal penting dengan kak Inggrid, jadi kakak tunggu saja di kamar." "Sudahlah, aku itu kakak iparmu. Memangnya masalah apa yang ingin kamu bicarakan sampai-sampai mengusirku begini?" Randika tertawa. Di tangan kanannya ada sosok dewasa dan sexy bernama Inggrid dan di kirinya ada Hannah yang masih muda dan bersemangat. "Ini masalah perempuan, mana mungkin kita membicarakannya selama masih ada kak Randika." Kata Hannah. "Hahaha kamu kok marah mulu sih? Apa kamu lagi menstruasi?" Randika lalu menoleh ke Inggrid dan membelai rambutnya. "Kalau kamu merasa sakit katakan saja pada suamimu ini, aku akan membuatmu tidak merasakannya lagi." Hannah tampak terkejut, dia lalu berkata pada Randika. "Kak, bisa-bisanya kakak bicara vulgar seperti itu." "Ah maksudku bukan hal mesum!" Randika menyadari bahwa kata-katanya itu memang ambigu. "Maksudku aku bisa meredakan gejala sakitnya dengan akupunturku." Hannah tertawa puas melihat Randika yang kelabakan sedangkan Inggrid tertarik dengan kata-kata Randika. "Bagaimana caranya?" "Sini aku bantu." Randika lalu membuka baju Inggrid dan memeriksa pinggangnya. Dalam sekejap, pembuluh darah Inggrid terlihat jelas. Melihat wajah serius Randika, Hannah tidak bisa menahan diri untuk bertanya. "Kak, apa kakak benar-benar bisa menyembuhkan menstruasi?" "Bukannya menyembuhkan karena menstruasi itu hal yang wajar, yang bisa kulakukan adalah meredakan rasa sakitnya." "Lagipula, apa kamu lupa siapa yang menyembuhkan jerawatmu itu?" Randika tersenyum. Meskipun dirinya tidak terlalu lama belajar ilmu pengobatan dari kakek ketiga, untuk masalah sepele seperti ini tentu hal yang gampang bagi dirinya. Hannah dengan cepat mengeluarkan aura anak baiknya. "Kak, kalau begitu setelah kak Inggrid apa kak Randika bisa membantuku juga? Aku benar-benar kesakitan gara-gara menstruasiku ini." "Bukannya barusan kamu ingin mengusirku? Buat apa aku membantumu?" "Kakˇ­." Hannah langsung merangkul Randika dari belakang, dia berusaha memelas. "Ayolah kak, bukankah kakak ingin adiknya sehat selalu?" "Sudahlah Ran mengalah saja." Kata Inggrid sambil terus memegangi bajunya. Dia sebenarnya sedikit iri melihat keduanya begitu akrab. "Iya, iya, sekarang buka bajumu juga." Sekarang tangan kanannya Randika berada di pinggangnya Inggrid sedangkan yang kiri di pinggangnya Hannah. Setelah beberapa lama, Randika berkata pada Inggrid. "Sayang, kamu seharusnya sudah tidak ada apa-apa." Kemudian Randika menoleh ke arah Hannah dengan wajah serius, dia lalu menggelengkan kepalanya. "Han, tubuhmu ini dalam masalah serius." "HAH!" Hannah benar-benar terkejut ketika mendengarnya, Inggrid yang mendengarnya juga ikut gugup. "Tapi tenang saja, kamu akan baik-baik saja kalauˇ­" "Kalau apa kak?" Hannah langsung menarik-narik Randika. "Kak, apa aku akan mati." "Kamu akan baik-baik saja kalau kamu sering memberikan kakakmu ini pijatan pundak." Kata Randika sambil tersenyum. Inggrid yang gugup itu langsung tertawa, Randika juga ikut tertawa bersamanya. Hannah benar-benar marah dan mengambil bantal yang ada di sofa lalu memukulkannya pada Randika. "Kak Randika mesti lho, aku sudah khawatir barusan!" "Iya, iya, aku yang salah. Aku hanya ingin menggodamu, sudah nanti aku buatkan ramuan obat dan kamu harus meminumnya." Setelah pertengkaran kecil ini selesai, Hannah kembali berbicara. "Kak Inggrid, kalau kakak besok libur, bagaimana kalau kita naik gunung?" Naik gunung? Inggrid memikirkannya sebentar dan tersenyum padanya. "Boleh, kita juga sudah lama tidak naik gunung." Hannah langsung bersemangat. "Akhir-akhir ini banyak orang yang mendaki Gunung Batu Jaya, bagaimana kalau kita ke sana?" Inggrid mengangguk, sedangkan Randika menatap tajam pada Hannah. "Kamu benar-benar ingin naik gunung?" "Ah aku tidak mengajak kak Randika lho." Hannah memalingkan wajahnya. "Cuma kak Inggrid saja yang kuajak." "Kok bisa begitu?" Randika langsung panik. "Aku hanya ingin melindungimu dan kakakmu, bagaimana kalau ada orang jahat yang menggoda kalian?" "Kita akan teriak minta tolong, lagipula tujuan kita juga ramai pengunjung jadi tidak masalah." Hannah tersenyum pada Randika, sepertinya dia masih menyimpan dendam pada Randika karena tidak pernah mengunjunginya di rumah sakit. "Sudah tidak usah ribut begitu, kamu juga bisa ikut kok." Kata Inggrid. Ketiganya lalu mengobrol selama satu jam, topik mereka sangat bervariasi. Setelah makan malam, sekarang waktunya untuk tidur. Awalnya, Hannah berencana untuk tidur dengan kakaknya tetapi setelah melihat wajah serius Randika, Hannah tidak berani melakukannya. Akhirnya Hannah berdiri dengan wajah cemberut dan berkata pada kedua kakaknya. "Baiklah aku akan tidur sendiri, pastikan jangan rame." "Maksudnya?" Wajah Inggrid terlihat bingung. "Tentu saja apa yang akan dilakukan kak Inggrid dan kak Randika sebentar lagi, terakhir kali teriakan kalian benar-benar keras sampai aku tidak bisa tidur. Kali ini pastikan kakak jangan teriak terlalu keras." Wajah Hannah benar-benar terlihat jengkel. Mendengar penjelasan Hannah, wajah Inggrid berubah menjadi merah. Randika, yang sedang minum air, hampir memuntahkan minumannya. Sejak kapan Hannah menjadi terus terang seperti itu? Wajah Inggrid benar-benar merah padam, dia hanya bisa mengangguk pelan. Melihat wajah kakaknya yang malu itu, Hannah tersenyum. "Sudah kak tidak usah malu. Mendesah nikmat itu wajar kok tetapi usahakan jangan terlalu keras nanti takutnya aku tidak bisa tidur." Ketika Hannah masuk ke dalam kamarnya, Inggrid berbisik di telinga Randika. "Apa benar aku terlalu keras?" Ketika berbisik, Inggrid memikirkan ketika dirinya berada di posisi kesukaannya yaitu saat dirinya di atas. Dia berpikir mungkin memang dirinya itu terlalu keras. "Hahaha tidak usah khawatir, dia itu cuma jahil. Mana mungkin desahanmu itu sekeras itu." Randika lalu mencium Inggrid dan berkata di telinganya. "Dia itu hanya cemburu padamu." "Lagipula, aku ingin mencoba gaya baru hari ini. Aku harap kamu siap tidak tidur." Kata Randika. Inggrid tersipu malu, kemudian mereka berdua masuk ke sarang cinta mereka. Malam ini memang ditakdirkan sebagai malam tanpa tidur. ......... Keesokan harinya, tiba-tiba gorden kamarnya itu terbuka dan cahaya matahari yang terang menusuk mata. Randika membuka matanya dan melihat ada Hannah di kamarnya. "Kak jangan tidur lagi! Ayo cepat bangun, kita mau naik gunung kan hari ini." Meskipun Hannah berkata seperti itu, Randika kembali membenamkan kepalanya ke bantal. Hannah benar-benar marah, dia langsung mengguncang tubuh Randika tanpa henti. Namun, semua usahanya percuma, kakaknya itu tetap tidur. Tidak ada pilihan lain, Hannah kemudian menghirup napas dalam-dalam dan berteriak di telinganya Randika. "BANGUN!" Bajingan! Ini sudah bukan level membangunkan orang lagi, ini sudah seperti upaya pembunuhan! Sakit tahu! Randika sampai meloncat jatuh dari kasurnya sambil menutupi telinganya. Hannah lalu berkata padanya. "Salah sendiri kakak tidak mau bangun-bangun. Sudah cepat siap-siap kalau tidak aku tinggal lho ya." Tanpa daya, Randika hanya bisa berdiri sambil terus menutupi telinganya yang berdengung. "Jam berapa sekarang?" "Sekarang jam 6 pagi, kak Inggrid sudah siap-siap dari tadi. Ini tinggal kak Randika saja yang belum siap." Mendengar jam 6 pagi, Randika kehabisan kata-kata. "Ini baru jam 6 pagi, biarkan aku tidur lagi." "Jangan tidur lagi kak!" Wajah Hannah yang sekarang sudah mirip setan, Randika tidak berani melawannya lagi. "Iya, iya, kakak cuma bercanda. Ini sebentar lagi aku siap-siap." Randika yang garuk-garuk kepala itu segera bersiap untuk mencuci muka. Setelah sarapan pagi, mereka bertiga bersiap menuju gunung Batu Jaya. Gunung Batu Jaya Di dekat kota Cendrawasih, terdapat beberapa gunung. Meskipun gunung-gunungnya tidak tinggi-tinggi, tiap gunung memiliki daya tarik sendiri. Sebagai contohnya adalah gunung Kelok tempat Randika menjadi raja drift sebelumnya, tempat itu memang terkenal dijadikan sebagai tempat balapan. Dari semua gunung, yang sekarang lagi populer adalah gunung Batu Jaya. Gunung ini tidak terlalu tinggi dan curam sehingga cocok untuk pendaki pemula. Ketika berada di puncak, kita juga disuguhkan oleh pemandangan yang indah. Oleh sebab itu, gunung ini sangat popular di kalangan masyarakat yang ingin mendaki dengan santai. "Hahaha kak Inggrid benar-benar lambat." Hannah yang bersemangat itu berlarian penuh tenaga. Ketiga orang ini sudah sampai di kaki gunung dengan menggunakan bis. Karena hari ini merupakan akhir pekan, banyak orang yang datang untuk mendaki. Setelah memastikan barang bawaan, mereka sudah siap untuk mendaki gunung yang indah ini. Chapter 289: Panjat Tebing Ketika mereka melihat gunung itu dari bawah, mereka bertiga menghela napas kagum. Tidak heran gunung ini menjadi tempat destinasi populer. Dengan ketinggian 1400 mdpl, gunung ini cukup mudah ditaklukan oleh pendaki pemula. Namun, ada beberapa titik bahaya di gunung ini jadi pendaki tidak boleh terlena dan harus menghindari area yang memiliki tanda bahaya. Pada saat ini, di dekat mereka sedang ada lomba panjat tebing. Lomba panjat tebing dikenal sebagai cabang olahraga ekstrim karena benar-benar berbahaya. Meskipun sudah ada langkah-langkah keamanan, itu tetap tidak menjamin keselamatan peserta 100%. Jika tali yang dipakai mereka putus atau mereka jatuh di tengah kompetisi, bisa-bisa nyawa mereka melayang karena benturan. Di kaki gunung ini, banyak orang sedang menikmati pertunjukan kompetisi cabang olahraga ini. Bahkan beberapa orang bersorak-sorak untuk idola mereka. Kompetisi sudah berjalan setengah, para peserta sebentar lagi mencapai garis akhir. Tebing yang mereka gunakan cukup tinggi yaitu 40 meter. Terlebih, ini merupakan tebing asli jadi sulit bagi mereka untuk menemukan pijakan yang aman. "Wah kak, sepertinya itu seru sekali! Kita lihat sebentar yuk." Hannah menjadi bersemangat, dia mengeluarkan HPnya untuk memfoto kegiatan ini. Di sekeliling mereka, orang-orang juga ikut mengambil foto dengan HP mereka masing-masing. "Wah laki yang di tengah itu benar-benar hebat, dia memimpin jauh." "Tapi lihat juga perempuan di belakangnya, dia juga hebat. Lengannya benar-benar kuat dan dia juga cantik." Orang-orang terbagi menjadi 2, satu memperhatikan dan menikmati pertandingan ini dan yang lainnya sibuk merekam dan mempostingnya di akun sosial mereka. Randika dan Inggrid termasuk yang menonton dan menikmati pertunjukan tersebut. Di tempat turis seperti ini, banyak atraksi yang menarik minat orang-orang. Panjat tebing ini merupakan salah satunya, tiap minggu akan selalu ada kompetisi. Para turis juga bisa ikut bertanding apabila membayar sejumlah uang. Tentu saja, sudah terdapat berbagai macam keamanan yang disediakan. Selain panjat tebing, masih banyak kegiatan di kaki gunung ini seperti terjun lenting, flying fox dll. Semua atraksi ini diperuntukan bagi turis yang tidak ingin mendaki, biasanya keluarga yang membawa anak akan bermain di kaki gunung ini. Jalur naik gunung ini sudah diberi pengaman dan beberapa langkah keamanan juga sudah dipertimbangkan jadi pendaki hanya perlu mengikuti jalan yang tersedia. "Han, ayo kita segera memanjat. Kalau terlalu siang panas lho." Kata Randika dari samping, lagipula apa serunya melihat orang memanjat tebing? Kalau cuma tebing seperti itu, Randika bisa menyelesaikannya hanya dalam 1 menit. "Sebentar kak, sebentar lagi selesai kok. Aku ingin lihat siapa pemenangnya." Hannah kembali bersorak bersama orang-orang lainnya. Inggrid tersenyum pada Randika. "Sudah tidak apa-apa, biarkan dia bersenang-senang dulu." Karena istrinya berkata seperti itu, Randika tentu saja menurutinya. Pada saat ini, kompetisi itu nyaris berakhir. Perempuan cantik yang menjadi bahasan orang-orang itu mulai tertinggal jauh dari pesaing lainnya. Bagaimanapun juga, lawannya adalah profesional dan laki-laki, tentu saja perempuan ini akan menemukan beberapa kesusahan. Pada saat ini, perempuan tersebut berada di posisi paling belakang dan kecepatannya makin lama makin turun. Tangan kanannya berusaha menggenggam batu di atasnya tetapi tiba-tiba batu itu terlepas dan tangan kanan perempuan itu ikut terjatuh. Setelah bergelantung selama 5 detik dengan tangan kirinya, genggaman tangannya itu terlepas dan dia pun terjun bebas. "Awas!" Semua orang berteriak ketakutan ketika melihat kejadian itu. Untungnya saja, perempuan tersebut bereaksi dengan cepat dan berhasil berdiri di salah satu pijakan dengan stabil. "Hei, apa kau baik-baik saja? Berpeganglah." Kata salah satu orang dari bawah. Perempuan ini jelas ketakutan, dia baru saja mengira bahwa nyawanya sudah melayang. Kalau saja bukan karena tali yang ada di tubuhnya itu, mungkin dia benar-benar sudah mati. Namun, ketika para staf berteriak dari bawah padanya, perempuan itu menyadari sesuatu yang menakutkan. Sepertinya tali yang melilit dirinya itu bergesekan dengan batu yang tajam dan sudah nyaris putus! Untungnya saja tangannya tadi berhasil meraih sebuah batu dan sekarang dia berdiri di tengah pijakannya ini sambil gemetar ketakutan. Dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. "Kenapa sama dia? Kok gemetar seperti itu." "Sepertinya ada yang salah dengan peralatannya." "Kalau dia jatuh dari ketinggian seperti itu tanpa talinya, seharusnya dia langsung mati di tempat." Semua orang mengeluarkan pendapatnya, Hannah juga mulai cemas. "Bagaimana iniˇ­ Bertahanlah! Bantuan akan segera datang!" Perempuan itu mulai berkeringat dingin, dia tidak memiliki banyak pengalaman dalam memanjat tebing khususnya tebing asli. Ini merupakan pertama kalinya dia ikut kompetisi seperti ini, dia dari awal sudah gugup. Ketika melihat ke bawah, kepalanya menjadi pusing. Pijakannya yang stabil itu tiba-tiba mulai goyah dan batu-batu mulai berjatuhan. Melihat hal tersebut, semua orang mulai ketakutan. Para peserta yang berada di atasnya juga menyadari kejadian ini, semuanya menatap perempuan tersebut. Para staf juga menjadi panik, tali perempuan yang terikat di tubuhnya itu akhirnya putus. Sekarang nyawa perempuan itu hanya bergantung pada kekuatan genggamannya. "Tahan dan ambil napas dalam-dalam, jangan melihat ke bawah." Peserta yang ada di atasnya sangat khawatir ketika melihat tali yang menjaga perempuan itu putus. Kalau perempuan itu ketakutan dan kehilangan kekuatan genggamannya, dia akan terjun bebas! Mendengar kata-kata itu, perempuan tersebut berusaha tenang. Hati para penonton di bawah sudah mengepal keras, mereka takut bahwa akan ada yang mati hari ini. "Lihat itu! Talinya sudah putus!" "Apa? Tamat sudah riwayat perempuan itu." "Aku tidak tega melihatnya." "Olahraga ini memang terlalu berbahaya." Para staf yang berada di atas tebing itu berusaha memberikannya sebuah tali padanya, namun karena kejadian ini belum pernah terjadi, mereka tidak mempunyai tali sepanjang itu. "Sepertinya nyawa perempuan itu sudah tidak tertolong." Pikir salah satu staf. Perempuan itu masih berusaha tenang, namun pada saat ini, ketika salah satu peserta ingin datang menyelamatkan dirinya, sebuah batu kembali berjatuhan. Batu-batu itu mengenai perempuan tersebut dan dia pun menjadi panik. Pada saat ini, pijakan kakinya itu runtuh dan sekarang dia hanya bergelantungan dengan kedua tangan. Dalam sekejap semua orang berteriak ketakutan. "Hoi panitian, cepat lakukan sesuatu! Perempuan itu bisa mati!" "Aku akan memanggil ambulans dan polisi." Seorang panitia lalu mengambil sebuah HT dan berkata pada temannya yang berada di atas. "Cepat mana talinya! Dia sudah tidak akan bertahan lebih lama lagi." Para staf di atas itu masih berusaha mengikatkan beberapa tali menjadi satu, kalau ikatannya ini tidak kuat berarti sama saja membunuh perempuan tersebut." "Tahan, tahan, bantuan akan segera datang." Seorang panitia berteriak melalui alat pengeras suara pada perempuan tersebut. Perempuan tersebut berusaha dengan sekuat tenaga menggenggam batu di kedua tangannya, tetapi tanpa pijakan kaki, dia tidak akan bertahan lama. Randika menatap perempuan malang itu dan mengerutkan dahinya. Jika situasi ini terus seperti ini, perempuan itu akan mati. Pada saat yang sama, seorang panitia bersiap-siap untuk memanjat dan menyelamatkannya. Namun, untuk memakai alat-alat yang diperlukan memerlukan waktu sekitar 3 menit, mereka tidak yakin bahwa perempuan tersebut akan bertahan selama itu. Pada saat ini, perempuan itu menyadari ada tali yang menjulur dari atas. Namun, karena tidak ada pijakan sama sekali, dia harus melompat dan melepaskan kedua genggamannya untuk meraih tali itu. Taruhan ini benar-benar terlalu berisiko. "Sial, sepertinya kakinya itu tidak ada pijakannya. Satu-satunya cara untuknya adalah melompat!" Panitia yang membawa pengeras suara itu lalu berkata pada si perempuan. "Jangan melompat, tetap bertahanlah! Akan ada orang yang menyelamatkanmu sebentar lagi." "Aduh bagaimana iniˇ­" Hannah ikut ketakutan, namun pada saat ini, dia menyadari bahwa Randika sudah tidak ada di sampingnya. Ketika orang-orang fokus melihat ke atas, tiba-tiba ada seorang pria yang mendatangi tebing dan bersiap untuk memanjat tanpa peralatan. "Siapa orang itu!" "Hoi keamanan, sepertinya ada orang yang berusaha menjadi pahlawan." Para petugas keamanan langsung berteriak pada Randika. "Cepat pergi dari sini, di sini bahaya!" Namun, Randika sama sekali tidak mendengarnya dan melompat tinggi bagaikan kangguru. Setelah itu, dia memanjat tebing dengan sangat cepat. Para panitia yang hendak menangkap Randika itu terkejut melihat betapa tingginya Randika meloncat, para penonton juga tidak kalah terkejutnya ketika melihat Randika yang memanjat begitu mudah. "Wow, orang itu cepat sekali!" "Bukan hanya cepat, gerakannya terlihat elegan." "Apa orang itu pertapa gunung?" Meskipun tanpa peralatan, Randika dengan cepat memanjat naik menuju perempuan yang sedang dalam bahaya tersebut. Semuanya yang melihat betapa mudahnya Randika memanjat sudah terheran-heran, apa orang itu dewa memanjat? Tetapi yang orang-orang ini tidak tahu adalah idenditas asli Randika. Siapa dia? Dia adalah Ares sang Dewa Perang! Chapter 290: Orang Lokal juga Bisa! Aksi Randika yang luar biasa ini membuat semua orang kagum. Dia sudah seperti seakan-akan berjalan melewati tebing yang datar, benar-benar luar biasa. Beberapa orang langsung mengeluarkan HP mereka untuk merekam kejadian ini. "Apanya yang spiderman, orang lokal juga bisa!" "Benar-benar luar biasa." Pada saat penonton-penonton ini sibuk mengabadikan kejadian ini lewat HP mereka, Randika sudah bergelantungan di samping perempuan tersebut. Pada saat ini, perempuan tersebut sudah menutup matanya dan sudah di ambang tenaganya. Wajah dan punggungnya sudah basah oleh keringat dingin dan dia sudah bersiap menyambut ajalnya. Dia sama sekali tidak sadar bahwa Randika sudah berada di sampingnya. "Jangan takut, bukalah matamu itu." Pada saat ini, tiba-tiba perempuan tersebut mendengar suara lembut. Ketika dia membuka matanya, dia melihat wajah senyum Randika. Apakah dia berhalusinasi? Perempuan itu terkejut, dan pada saat ini, tangannya itu sudah tidak kuat lagi dan melepaskan genggamannya. Dalam sekejap seluruh tubuhnya terjun bebas menuju bawah! Semua orang berteriak ketakutan. Selesai sudah, perempuan itu sudah pasti mati! Namun pada saat krusial, Randika ikut melompat menuju perempuan tersebut. Tangan kirinya berhasil menangkap erat tangan perempuan tersebut sedangkan tangan kanannya berhasil menangkap tali baru yang diulurkan dari atas tebing. Semuanya berlangsung hanya dalam 1 detik, Randika berhasil menyelamatkan perempuan tersebut dan dirinya sendiri dengan menangkap tali tersebut. Semua orang yang tidak tega melihat perempuan itu mati langsung terkejut ketika Randika berhasil menyelamatkannya. "WOW, kak Randika memang luar biasa!" Hannah sudah bertepuk tangan gembira, kakak iparnya itu benar-benar hebat! Inggrid juga tersenyum lega, sepertinya istrinya itu sudah terbiasa dengan aksi nekat Randika. Setelah linglung mereka hilang, para penonton mulai bersorak untuk Randika. "Pahlawan! Orang itu pahlawan kita!" "Lihat ototnya itu, aku yakin perutnya juga sexy seperti itu." "Ya Tuhan, semoga saja dia masih jomblo." Kata beberapa perempuan yang terpukau oleh aksi Randika. "Ibu, aku nanti kalau sudah besar bisa sehebat orang itu tidak?" Tanya seorang anak kecil. Si ibu menggendongnya lalu berkata pada anaknya. "Pasti nak, yang penting kamu makan makanan sehat." Sambil dilihat oleh banyak orang, Randika perlahan turun sambil terus memegang perempuan tersebut dengan satu tangan. Benar-benar kekuatan fisik yang luar biasa. Setelah mendarat di bawah, Randika berjalan menghampiri para panitia sambil menggendong perempuan tersebut dengan kedua tangannya. Namun, tiba-tiba Randika berhenti berjalan dan memasang wajah penuh senyuman yang lebar sekaligus hangat. Dia ingin menikmati sorakan hangat para penonton ini lebih lama. Di pelukannya Randika, perempuan itu menatap senyumannya Randika dan wajahnya menjadi merah. Salah satu tangan Randika itu tepat berada di dadanya dan sedikit demi sedikit mulai meremas dadanya, dia tidak tahu apakah sang penyelamatnya ini sengaja atau tidak sengaja melakukannya. Namun, perempuan ini sama sekali tidak marah justru dia sangat menikmatinya. Sosok Randika benar-benar sudah melekat di hatinya. Seorang pahlawan yang datang di keadaan terdesak memang selalu mudah mendapatkan hati perempuan. Randika yang berdiri diam sambil tersenyum itu sangat menikmati pujian-pujian yang dilontarkan oleh orang-orang. Pada saat yang sama, dia merasakan sensasi empuk di tangan kanannya. Secara tidak sadar, tangan Randika itu makin kuat menggenggamnya. Tetapi menurut pengalamannya, seharusnya yang dia pegang ini adalah ˇ­.. Dalam sekejap, dia menoleh ke arah perempuan yang diselamatkannya itu dan menyadari wajahnya sudah merah padam. "Maaf, aku tidak sengaja." Kata Randika sambil tersenyum. Perempuan itu mengangguk dan tidak marah, malahan dia memberanikan diri untuk bertanya. "Terima kasih telah menolongku, boleh aku tahu siapa namamu?" "Namaku adalah Randika." Pada saat ini, semua orang sudah mengerumuni Randika. "Malam ini kamu nganggur tidak? Hatiku kesepian nih butuh seseorang untuk mengisi." "Hei, aku berminat untuk menjadi manajermu ketika sudah terkenal nanti. Bersama kita akan menjadi artis kaya!" "Minta tanda tangannya!" Suara yang serentak itu membuat Randika pusing. ...ˇ­.. Namun setelah Randika menurunkan perempuan yang dia tolong itu, tiba-tiba sosoknya menghilang dari tengah kerumunan. "Lho? Bukannya dia barusan di depanku?" "Hilang ke mana dia?" Pada saat ini, Randika sudah berada di samping Hannah dan Inggrid sambil menyembunyikan wajahnya. "Kak, kamu benar-benar luar biasa! Kamu harus mengajariku kapan-kapan." "Sudah lupakan itu dulu, ayo cepat kita pergi dari sini dan daki gunungnya." Kata Randika. "Tidak mau, kakak harus berjanji dulu." Kata Hannah sambil cemberut. "Han, apa kamu pikir berlatih seperti itu tidak berbahaya? Apa kamu mau memiliki luka seperti punyaku ini?" Ketika diperlihatkan luka di punggung Randika, Hannah menjadi takut. "Masa sampai segitunya kak? Tidak jadi deh, aku masih ingin menikah." "Tentu saja berlatih sampai di tahapku ini sangat berbahaya. Jika kamu ingin berlatih ilmu bela diri, kamu harus siap menerima seribu luka. Luka-luka ini lebih parah daripada jerawatmu kapan hari. Kedua, fisik dan mentalmu memang lebih kuat tetapi kamu harus rela merelakan hal-hal duniawi seperti berbelanja, menonton TV dll untuk sampai ke tahapku. Ketiga ˇ­." "Stop kak, stop! Baiklah aku tidak akan meminta kak Randika untuk mengajariku." Ketika mendengar tidak bisa berbelanja ataupun bermain-main, hal itu sudah cukup membuat Hannah menyerah untuk belajar dari Randika. Inggrid mencubit pinggang Randika. "Kamu ini ya, kok sukanya nakut-nakutin adik sendiri." Randika tertawa, Hannah yang marah langsung memarahinya. "Kak, kenapa kakak selalu jahil sih!" Dia sudah melepas sepatunya dan sudah siap melemparnya. "Ampun Han, ampun." Kata Randika sambil berlari dan berlindung di belakang Inggrid. Ketiganya lalu mendaki gunung dengan gembira, mereka tidak lupa menikmati pemandangan alam yang luar biasa. Di perjalanan mereka, tentu saja mereka juga bercanda dan sambil bermain-main. Hannah, yang baru saja keluar dari rumah sakit, sangat bersemangat dan terus-menerus berbicara mengenai banyak hal. Banyak orang yang ikut mendaki gunung ini bersama mereka, bagaimanapun juga hari ini adalah akhir pekan. Banyak orang yang datang ke gunung ini untuk bersantai dan menikmati pemandangan alam. Setelah satu setengah jam berjalan, mereka akhirnya mencapai puncak. "Wah, udaranya benar-benar bersih." Hannah menghirup udara dalam-dalam sedangkan Inggrid menatap langit yang seakan berada di genggamannya. Di hadapan mereka, mereka bisa melihat kota Cendrawasih yang sibuk beraktivitas dan pemandangan hutan yang sungguh menakjubkan. "Kak Randika, coba lihat patung batu ini." Hannah terlihat masih memiliki energi yang banyak. Randika lalu memperhatikan patung manusia yang sudah cukup rusak itu, sepertinya batu ini berumur ratusan tahun. Randika lalu berjalan menuju tepi, ketika dia menatap ke bawah dia tidak bisa melihat kaki gunung karena banyaknya pohon itu. Sepertinya dia masih berharap bisa bertemu dengan perempuan yang diselamatkannya tadi itu dan ingin merasakan dadanya sekali lagi. Chapter 291: Tempat Ini Akan Menjadi Kuburanmu Ketiga orang ini lalu menikmati suasana tenang di puncak ini dengan berfoto. "Kak, sini-sini." Hannah menyeret Randika dan Inggrid untuk berpose dengan alam yang menjadi latar belakang mereka. Kemudian Hannah meminta tolong seseorang untuk memotret mereka bertiga. Setelah berfoto, mereka bertiga duduk di sebuah panggung yang disediakan. Menikmati angin gunung yang sepoi-sepoi, mereka duduk dengan nyaman. Randika duduk di tengah dan diapit oleh dua bidadari cantik itu. Perlahan, kepala Inggrid bersandar di pundak Randika dan begitu pula dengan Hannah. Awalnya Randika ingin merangkul Inggrid tetapi apa daya pundaknya menjadi sandarannya Hannah. Dia juga tidak pernah kepikiran bahwa pundaknya itu telah menjadi sarang bagi dua kepala bidadari cantik. Memang kebahagiaan tiap orang itu berbeda-beda, tetapi yang paling sederhana adalah menikmati momen hidup ini bersama dengan orang tercinta. Randika sendiri merasa dirinya sudah berubah jauh. Ketika dia berkeliling dunia, dia tidak pernah setenang dan selembut ini. Dulu baginya kekuatan adalah segalanya, sekarang baginya yang terpenting adalah menemukan diri kita di hati orang yang tercinta. Di saat orang-orang menikmati pemandangan dan berfoto, tiba-tiba, ada segerombolan orang berbaju serba hitam muncul. Seluruh tubuh mereka tertutup oleh kain, mereka mirip seperti ninja pembunuh yang ada di TV. Hal ini tentu membuat semua orang terkejut, jelas bahwa mereka bukan datang ke sini untuk menikmati pemandangan. "Apa yang akan mereka lakukan?" Semua orang bertanya-tanya tentang kehadiran orang-orang misterius tersebut. Pada saat yang sama, beberapa orang melihat senjata tajam yang bersembunyi di balik baju mereka. Aura yang mereka pancarkan jelas membuat siapapun akan merinding, sepertinya menyinggung orang-orang itu akan menjadi akhir bagi nyawa mereka. Randika masih menikmati momen indah ini bersama dengan Inggrid dan Hannah, lalu tiba-tiba, dia merasa ada yang aneh. Dia menoleh dan menyadari orang-orang berbaju serba hitam itu. Dalam sekejap hati Randika mengepal. "Kalian berdua cepat berdiri." Kata Randika pada Inggrid dan Hannah yang setengah tertidur. Ketika mendengar suara kakak iparnya yang keras itu, Hannah sedikit jengkel. Tetapi ketika Hannah melihat wajah serius Randika, Hannah merasakan sesuatu yang salah. Inggrid sudah menggenggam erat tangan Randika, hatinya kembali mengingat dirinya diculik oleh Shadow. Randika dapat merasakan daya tempur lawannya kali ini kuat, hampir sama kuatnya dengan yang ada di Azumi bar. Tetapi, jumlahnya 3x lebih banyak daripada di Azumi bar. Bisa dikatakan bahwa mereka telah merencanakan serangan ini ketika dia sendirian bersama Inggrid dan Hannah. Pada saat ini, kedua kubu sudah memancarkan aura membunuh yang kuat. Orang-orang di sekitar mereka sudah merasakan suasana berat dan mengecam. Apakah mereka akan saling bunuh? Jumlah orang berbaju hitam itu makin bertambah tiap detiknya, sekarang sudah lebih dari 50 orang. Setiap dari mereka merupakan ahli bela diri dan aura membunuh mereka benar-benar pekat. Setiap orang memiliki senjata ciri khas mereka masing-masing, untungnya saja semuanya senjata tajam. Randika hanya menatap tajam kepada mereka, dan pada saat ini, di barisan paling belakang terlihat beberapa orang yang memakai baju yang mencolok. Salah satu dari mereka menggunakan kaos kutang dan mengunyah permen karet sambil mengupil. Meskipun tampangnya seperti orang bodoh, dia terlihat sangat kuat. Menurut analisa Randika, mereka semua ini adalah para ahli bela diri elit dari daftar Dewa dan Manusia Peranakan. Tetapi sepertinya ada beberapa orang yang belum masuk ke dalam daftar rangking para ahli bela diri dunia ini. Hal seperti ini sangatlah wajar, mereka memang memiliki kekuatan tetapi mereka belum menunjukan diri mereka jadi mereka belum memiliki sejarah bertarung. Jadi selain keempat rangking yang ada, masih terdapat banyak orang kuat yang belum memiliki sepak terjang di dunia bela diri. Sebagai contohnya adalah Father Daniel dari Vatikan. Karena beliau adalah senjata rahasia Vatikan, dia tidak termasuk dalam daftar manapun. Tetapi, bahkan Randika tidak berani berhadapan satu lawan satu dengan Father Daniel. Sejujurnya, Father Daniel masih menahan dirinya ketika melawan Frank. Bagaimanapun juga, dunia ini benar-benar luas dan besar jadi banyak kejutan di belahan bumi ini. Selain dari daftar para ahli bela diri ini, terdapat suatu daftar yang sedikit lebih ekstrim yaitu daftar pembunuh bayaran. Daftar ini benar-benar dinilai dari kemampuan si pembunuh mulai dari cara membunuh, cara menghilangkan jejak, menjebak seseorang dll. Sedangkan pria bertampang bodoh itu adalah salah satu tingkatan teratas dalam dunia pembunuh bayaran, code namenya adalah Dark Knife. Dark Knife berada di rangking 10 pembunuh bayaran tingkat dunia, dia mengambil pekerjaan untuk membunuh Randika tidak lain karena bayarannya yang tinggi. Bukan hanya Dark Knife saja, di sampingnya terlihat seorang pria berumur 60an dengan janggut putihnya yang panjang. Tarikan napasnya seperti menghirup dan menyerap esensi bumi sehingga badannya menjadi jauh lebih muda dan kuat. Orang ketiga yang memiliki aura yang sama adalah seorang wanita. Dia berpakaian selayaknya seorang bajak laut dan bahkan memiliki burung beo di pundaknya. Jelas ketiga orang ini memiliki aura dan energi yang berbeda dengan orang-orang berbaju hitam itu. Namun, Randika dapat merasakan adanya 5 orang yang memiliki aura yang sama dengan ketiga orang itu berbaur di antara orang-orang berbaju hitam ini. Semua tatapan mata lawannya itu menatap dirinya yang duduk bersama dengan Inggrid dan Hannah. "Kak, apa mereka datang untuk mencelakai kita?" Hannah benar-benar ketakutan, dia belum pernah berada di situasi seperti ini. "Bukan, mereka datang untuk mengambil nyawaku." Randika menggelengkan kepalanya, dia lalu berdiri. "Han, kamu dan kakakmu harus cepat pergi dari sini dan bersembunyilah." "Tidak mau! Aku ingin bersama kakak." Hannah dengan cepat menangkap tangan Randika. Inggrid sendiri merasa bahwa situasi ini sama seperti sebelumnya, dia meneteskan setetes air mata. Randika lalu menoleh ke Inggrid dan berkata padanya. "Sayang percayalah padaku, bawa Hannah pergi dari sini. Aku akan mengatasi mereka sendirian dan bertemu dengan kalian nanti." Setelah berkata seperti itu, Randika berjalan menghampiri kerumunan orang itu. Para pendaki yang lain sudah menatap bingung dengan kejadian ini. Apakah ini syuting film? Kenapa tidak ada pemberitahuan sebelumnya? "Kamu yang bernama Randika?" Dark Knife masih mengunyah permen karetnya. "Benar." Jawab Randika dengan santai. "Aku tidak tahu siapa kalian, tetapi jika kalian macam-macam bersiaplah untuk mati." "Jangan ambil hati atas kejadian ini." Dark Knife lalu meludah ke arah Randika. "Kita hanya sedang bekerja untuk klien kami." Randika lalu menatap semua orang yang memiliki aura membunuh ini, dia lalu menyadari sosok yang berpakaian mewah di barisan paling belakang. Melihat sosok itu, Randika mengerutkan dahinya. "Jadi pelakunya adalah kamu?" Seharusnya Randika bisa menebaknya, tetapi dia mengira lawannya ini sudah tidak akan mengganggunya lagi. Memang dia sudah membunuh anaknya, seharusnya Randika tahu bahwa orang itu tidak akan beristirahat sebelum membalaskan dendam anaknya. Dalang di balik semua kejadian ini adalah Ivan, kepala keluarga dari keluarga Alfred dari Jakarta. "Apa kau pikir kau bisa terus-terusan berlindung di balik tua bangka itu terus menerus?" Kata Ivan dengan nada dingin. "Aku sudah menunggu momen ini sejak lama untuk menghabisimu." Inggrid yang hendak lari bersama Hannah itu terkejut ketika melihat sosok Ivan. "Paman, apa yang kau lakukan? Bukankah keluarga kita itu berteman?" Mata dingin Ivan menatap Inggrid lalu dia tertawa. "Teman? Berani sekali kalian masih menganggap kita teman setelah kalian membunuh anakku? Kalau kita teman mengapa kalian membunuhnya?" Inggrid angkat badan. "Paman, ini semua salahku jadi jangan libatkan Randika di masalah keluarga kita. Biarkan dia pergi." "Jangan khawatir, tidak ada satupun dari kalian yang akan pergi hidup-hidup." Kata Ivan dengan nada dingin. Randika mengerutkan dahinya. "Kau ingin membunuh istriku?" "Membunuhnya? Tidak, sepertinya kamu salah paham. Aku hanya ingin membunuhmu, sedangkan dia." Ivan mendengus dingin. "Aku akan membuat semua anak buahku ini memperkosanya dan membuatnya tidak lebih dari seonggok daging yang bahkan seekor anjing tidak mau." Semua pendaki sudah ketakutan dan mulai meninggalkan tempat ini, suasana puncak gunung ini menjadi berat dan tidak nyaman. Belum lagi kilau dari pedang dan pisau membuat mereka semakin yakin akan ada pertumpahan darah. Kedua belah pihak terdiam, lalu Randika memecah keheningan. "Apa kamu kira orang-orangmu ini cukup untuk membunuhku? Kamu boleh mencobanya." Ketika Randika berkata seperti itu, semua orang berbaju hitam dan para pembunuh lainnya mengerutkan dahi mereka. Dark Knife kembali mengunyah sebuah permen karet sambil tersenyum ke arah Randika. Perempuan bajak laut itu menghunuskan pedangnya dan pria tua berjanggut putih itu melemaskan otot tubuhnya dan sudah siap menyerang. Wajah Ivan sudah tersenyum lebar. "Aku ingin melihat apakah nanti mayatmu masih bisa tersenyum seperti itu atau tidak. Dan jangan harap si tua bangka itu akan membantumu lagi." Randika mengerutkan dahinya, dia tahu yang dimaksud oleh Ivan. Melihat reaksi Randika, Ivan merasa bahagia. Dia ingin membunuh Randika sejak lama, sekarang adalah kesempatan terbaiknya. "Kamu tahu kenapa aku bisa tahu bahwa kakekmu itu tidak bisa membantumu kali ini?" Tatapan mata Ivan benar-benar dingin. "Karena akulah yang membocorkan lokasi reruntuhan itu pada mereka." Pada saat ini, Randika akhirnya bisa menyusun puzzle yang selama ini menghantui dirinya. "Tidak ada yang bisa menyelamatkanmu hari ini." Aura membunuh Ivan sudah menyebar, dia ingin anaknya yang sudah mati itu bisa mati dengan tenang. Pada saat ini, petugas yang bertugas mengamankan lokasi wisata ini tiba di puncak gunung. Tanpa ragu dia langsung mendatangi Ivan. "Ini adalah tempat umum, apa yang sedang kalian lakukan di sini." Para pendaki yang panik itu menghembuskan napas lega, akhirnya petugas keamanan sudah tiba. Seharusnya masalah ini bisa selesai dengan damai. Namun, detik berikutnya, semua orang berteriak ketakutan. Sebelum petugas itu bisa mendekati Ivan, Dark Knife berhenti mengunyah dan menerjang ke arah si petugas. Hanya dengan satu kaki, dia menendang petugas itu hingga terjatuh dari tebing. Mengingat mereka sedang berada di puncak gunung, jatuh sudah sama seperti hukuman mati. Panik dan kacau, kedua kata itu sangat cocok untuk mendeskripsikan situasi di puncak gunung ini. Semua orang berlarian berusaha menyelamatkan diri dan kabur dari tempat ini. "Cepat!" Semuanya langsung berbondong-bondong berlarian kembali ke bawah. Randika menatap tajam pada Dark Knife yang baru saja membunuh orang dengan mudah. Sepertinya masalah ini tidak akan berakhir sebelum dirinya atau Ivan terbunuh. Hanya ada satu pilihan yaitu antara Ares terbunuh atau kepala keluarga aristokrat dari Jakarta ini terbunuh. Suasana puncak ini semakin memanas, angin dingin yang menerpa wajah tidak mampu meredakan darah yang sudah mendidih. Ivan lalu berkata pada Randika. "Tempat ini akan menjadi kuburanmu." Chapter 292: Cuma Segini? Hampir bersamaan dengan vonis hukuman mati Ivan, para orang berbaju hitam itu menerjang ke arah Randika. Randika sendiri sudah menerjang ke arah mereka dan membunuh siapapun yang berani menantangnya. Melihat kedua belah kubu yang bertarung, para pendaki yang memutuskan untuk melihat kejadian ini hingga akhir sudah berdoa untuk Randika. Bagaimana bisa satu orang melawan orang segitu banyak? "Kasihan dia." Semua orang sudah mengucapkan belangsukawa mereka. Belum lagi lawan Randika itu membawa senjata, sudah pasti nyawa Randika melayang sebentar lagi. Tetapi kejadian berikutnya membuat orang-orang ini menganga. Randika seorang diri menerjang ke tengah-tengah musuhnya. Orang-orang berbaju hitam itu sudah mengepung Randika dan senjata mereka sudah mengarah pada Randika. Dengan cepat mereka ingin menebas Randika hingga jadi dua, tetapi benarkah Ares ini terkepung? Tenaga dalamnya mulai mengalir ke seluruh tubuh dan energinya langsung menyelimuti seluruh tubuh Randika. Randika sudah bagaikan bayangan, berlarian ke sana kemari menghindari serangan dengan elegan bagaikan sedang menari. Tidak hanya menghindar, Randika juga memberi serangan balik. Orang-orang ini berniat membunuhnya terus buat apa dia sungkan-sungkan menyimpan tenaganya? Jika dia hanya bertahan saja maka lama kelamaan dia akan kehabisan tenaga dan terpojok. Pedang dan pisau yang digunakan para orang berbaju hitam itu selalu menebas udara kosong, yang mereka terakhir kali lihat adalah kepalan tinju Randika yang mematahkan leher mereka dalam sekejap. Pada saat yang sama, Randika menendang ke arah kanan pada lawannya yang berusaha mengapitnya. Pedang yang tertinggal itu langsung diambil oleh Randika dan dia pun membuka jalan penuh darah. Di mana pun Randika menebas, selalu ada satu nyawa yang melayang. Bahkan 1000 mayat pun tidak bisa meredakan nafsu membunuh Ares! Meskipun sudah membunuh banyak, Randika masih terkepung. Tidak ada pilihan lain, Randika menerjang maju dan membunuh mereka satu per satu. "Kak Randika memang hebat!" Hannah yang bersembunyi dengan Inggrid itu sangat senang melihat kakak iparnya itu menghajar penjahat itu satu per satu. Semua pendaki yang ikut bersembunyi itu sudah terheran-heran, apa dia masih manusia? Secara logika saja 1 lawan 50 tentu saja yang menang 50 orang. Mungkin 3-5 orang berhasil dikalahkan itu sudah bisa dianggap luar biasa, tetapi kenapa sepertinya 1 orang ini yang akan menang? Jika hal ini terus berlangsung, bisa-bisa hal itu benar-benar terwujud. Apa dia keturunan dari Dewa Perang? Orang-orang berusaha merekam kejadian ini tetapi mereka tidak bisa menemukan sosok Randika sama sekali. Mata orang-orang sudah terbelalak, cepat sekali orang itu! Ivan menatap Randika dengan tajam, sepertinya Randika telah jauh berkembang sejak terakhir kali mereka bertemu. Namun, Ivan sama sekali tidak tahu apa-apa mengenai Randika. Setelah perjalanannya ke Jepang, Randika semakin memahami situasi tubuhnya. Terlebih kekuatan misterius di dalam tubuhnya itu bahkan lebih kuat daripada tenaga dalamnya yang asli. Berkat kekuatan misterius itu, dia bisa mengalahkan Apollo dan Brahman sekaligus. Melihat anak buahnya satu per satu mati ataupun pingsan, muka Ivan sudah mulai muram. Dari 50 orang sekarang tinggal 20 orang saja, kekuatan tempur Randika memang luar biasa. Tentu saja, mereka hanyalah keroco-keroco saja. Untuk membunuh Randika, Ivan sudah mengundang dan mengontrak para ahli bela diri elit dan mendatangkan tim pembunuhnya. Dari awal memang tugas para keroco itu adalah membuat lelah Randika dan barulah setelah itu para elit akan bergerak apabila melihat celah. Dan sekarang adalah waktu yang tepat untuk ikut bertarung. Sesaat setelah para pembunuh dan petarung elit itu ikut bertarung, wajah Ivan kembali tenang. Pada saat ini Randika masih mengayunkan pedangnya, pedangnya menancap di dada musuhnya yang berusaha menyerangnya dari depan. Pedang itu sampai mencuat keluar dan menusuk orang yang berdiri di belakangnya. Pada saat yang sama, Randika melepas genggamannya dan menendangnya lalu menahan serangan yang datang dari belakang. Inilah keuntungan dari jumlah, Randika terus menerima serangan koordinasi tanpa henti dari segala arah. Lengah sedikit saja maka dia bisa terluka parah. Ketika Randika menahan serangan dari belakangnya itu, 4 orang kembali berusaha membunuhnya. Randika menoleh untuk menilai situasi dan mengulurkan tangan kanannya. Randika terlihat hanya memiliki 1 tangan untuk menghadapi 4 orang, tetapi dalam waktu singkat, dia melancarkan 4 tinju super keras pada keempat orang tersebut. Orang-orang yang melihat Randika sudah terpukau dengan pertarungan yang seharusnya berat sebelah ini. Mereka kagum sekaligus bersemangat karena telah bertemu dengan ahli bela diri yang sangat kuat. Adegan hebat seperti ini hanya bisa mereka lihat dari TV, mereka tidak mengira bisa melihatnya dengan kedua mata kepala mereka sendiri. Jika mereka memposting video ini di internet, pasti mereka akan menghasilkan banyak uang! Hannah sangat bersemangat melihat Randika, dia ikut meninju-ninju udara sambil bersorak untuk Randika. "Rasakan! Terus kak, hajar mereka! Eh awas kananmu! Tidak kirimu juga, awas belakangmu!" Mata Inggrid juga terpaku pada Randika, tetapi dia juga berusaha mencari celah untuk pergi. Sebelumnya dia sudah berusaha kabur bersama Hannah tetapi usaha mereka itu digagalkan oleh para orang berbaju hitam itu dan akhirnya berkat bantuan Randika mereka bersembunyi di balik batu. Inggrid juga sadar bahwa selama mereka ada di sini, mereka akan menjadi beban bagi Randika. Pertarungan hidup dan mati terus berlanjut, Randika mengulurkan kedua telapak tangannya dan ledakan energi yang kuat langsung menghempaskan lawannya. Lawannya yang menerjang itu tersapu oleh angin yang kuat dan terpental jauh. Hebat sekali! Hannah kembali bersorak dengan semangat, sementara orang-orang bingung apa yang telah terjadi. Kenapa orang-orang itu tiba-tiba terpental? Wajah Ivan kembali muram, dia tidak menyangka Randika akan sekuat ini. Sekarang orang berbaju hitam dan para pembunuh itu sisa 10 orang, mereka tidak berani maju. Randika yang bajunya compang-camping dan bersimbah darah itu menatap Ivan sambil tersenyum. "Orang-orang yang kamu bawa ternyata cuma segini?" Dengan kata lain, kamu tidak bisa membunuhku dengan orang seperti ini. Siapa dirinya? Dia adalah salah satu Dewa dari 12 Dewa Olimpus, bisa dikatakan bahwa di dunia ini hanya ada 11 orang yang bisa membunuhnya! Awalnya Ivan tidak ingin menggunakan Dark Knife dkk, tetapi sepertinya dia harus menggunakan jasa mereka untuk membunuh orang satu ini. Biaya yang diminta oleh Dark Knife sudah tidak masuk akal, oleh karena itu Ivan mengira tim pembunuhnya dan orang-orang dari daftar Dewa itu cukup menghadapi Randika. Hasilnya benar-benar bertolak belakang dengan harapannya. Melihat sosok Randika yang berdiri diam itu, aura membunuhnya membuat siapapun yang melihatnya merinding. Para pendaki yang merekam Randika ini juga ikut merasakan darah mereka mendidih, sepertinya mereka akan melihat sosok legenda ahli bela diri Indonesia yang baru. Bagaimanapun juga, tanpa bantuan Dark Knife dkk, Ivan tidak akan punya kesempatan untuk membunuh Randika. Chapter 293: Kebulatan Tekad Ivan Mata Ivan tertuju pada Dark Knife dan timnya, mau tidak mau akhirnya dia menggunakan jasa mereka. Pada saat ini, Dark Knife dan timnya turun ke medan tempur. Wajah mereka penuh dengan waspada. Setelah melihat daya tempur Randika, mereka mengerti betapa luar biasa lawan mereka kali ini. Dalam pertarungan 1 lawan 1, tentu mereka bukanlah tandingannya. Dark Knife dan timnya mulai mengepung Randika, sedangkan Ivan hanya dikawal oleh 3 orang saja. Setelah memikirkan jumlah uang yang dia sudah keluarkan, Ivan memutuskan untuk melihat kinerja Dark Knife dan timnya sebelum mengeluarkan kartu Asnya yang terakhir. Menatap diam Dark Knife dkk, Randika sama sekali tidak bergerak. Bajak laut perempuan itu menatap tajam Randika, tiba-tiba dia menghunuskan pedangnya dan mencopot topinya. Dia lalu membungkuk dan berkata pada Randika. "Ratu bajak laut Jessica memberi hormat pada Ares." Pada saat Jessica membungkuk, beberapa panah hitam beracun melesat ke arah Randika. Dia menggunakan serangan ini sebagai sinyal memulai serangan untuk kawan-kawannya. Menurut rencana mereka, panah itu akan membuat Randika bergerak. Setelah itu Dark Knife dan pak tua bernama Fan itu akan membunuh Randika yang tidak punya pijakan. Namun, bahkan panah itu sudah nyaris mengenainya, Randika masih berdiri diam. Wajah Dark Knife sudah terlihat senang, sepertinya pekerjaan mereka selesai lebih cepat. Namun detik berikutnya, senyuman itu langsung menghilang! Panah-panah hitam beracun itu dengan mudahnya ditangkap oleh Randika menggunakan sepatunya! "Kalian kira trik murahan seperti ini bisa membunuhku?" Randika menghela napas, dia kemudian perlahan menggoyangkan jari telunjuknya. Kemudian tanpa disangka-sangka, Randika mencabut dan melemparkan panah tersebut dengan kecepatan yang lebih cepat dari sebelumnya. Wajah Dark Knife dan pak tua Fan langsung berubah ketika melihat laju anak panah itu. Setelah menghindar dengan susah payah, wajah bodoh Dark Knife sudah menjadi serius. Lawannya kali ini benar-benar kuat! Dark Knife juga sudah membuang permen karetnya, dia harus mengerahkan seluruh tenaganya kali ini atau dialah yang akan mati. Jessica dan pak tua Fan juga merasakan hal yang sama dengan Dark Knife. Kedua belah kubu belum bergerak lagi. Hannah sudah khawatir, suasana puncak gunung ini tiba-tiba menjadi berat dan hening. Pada saat ini, tiba-tiba ada botol air yang jatuh ke tanah. Bersamaan dengan itu, orang-orang yang bertarung itu mulai bergerak. Dark Knife dan pak tua Fan menerjang ke arah Randika dengan pedang dan pisau di tangan mereka. Beberapa petarung yang pingsan juga ikut kembali bertarung setelah sadarkan diri. Pada saat ini, perang sesungguhnya mulai berjalan. Dark Knife ahli dalam menggunakan pisau, dia menganggap pisau lebih ringan dan lebih mudah dikendalikan daripada sebuah pedang. Sedangkan Jessica, dia suka menggunakan serangan jarak jauh seperti pistol ataupun panah. Kalau pak tua Fan jago bertarung dengan tangan kosong. Randika sendiri masih berdiri diam, dia menunggu lawannya untuk menyerang dirinya. Ketika 3 pentolan Ivan ini sudah dekat, Randika tidak menahan kekuatannya sama sekali. Dengan satu tangan mengulur ke langit, Randika lalu menembakan energi tenaga dalamnya itu ke arah pak tua Fan yang hendak menebas Randika. Namun, reaksi dari pak tua Fan juga tidak kalah cepat. Bukannya bertahan ataupun mundur, dia menggunakan tubuhnya sebagai pijakan Dark Knife. Dengan 10 pisau di tiap sela jarinya, Dark Knife melancarkan serangan pisaunya tepat ke arah tubuh Randika. Sedangkan Jessica memberikan serangan panah beracun di titik-titik vital di mana yang akan menjadi lajur kabur Randika. Ketiga ahli bela diri ini melakukan semuanya tanpa berkomunikasi, gerakan mereka benar-benar cepat. Orang awam sama sekali tidak bisa mengikuti pergerakan mereka. Mereka hanya bisa melihat tiba-tiba Randika sudah terpojok dan nyawanya terancam. Semua pendaki ini sudah khawatir terhadap Randika, sepertinya lawannya kali ini jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Randika, di sisi lain, memberi jawaban pada mereka melalui aksinya. Tidak disangka-sangka, Randika menghantam tanah dan membuat lubang di bawah kakinya. Serangan semua orang melewati dirinya dan tidak ada satupun yang mengenai dirinya. Sesaat setelah itu, sosok Randika sudah tidak terlihat di dalam lubang. Mendadak, Randika sudah berdiri di hadapan pak tua Fan dan melancarkan tinju menuju perut si kakek ini. Dark Knife dan Jessica langsung menyadari posisi Randika setelah pak tua Fan itu terpental tinggi ke langit. Tetapi bagi Jessica semua itu sudah terlambat, Randika sudah tiba di hadapannya dan melancarkan sebuah tendangan. Serangan Randika ini benar-benar terlalu mendadak, Jessica sama sekali tidak bisa bereaksi. OHOK! Jessica yang menerima tendangan tepat di perutnya itu memuntahkan seteguk darah ketika dia terkapar di tanah. Yang berdiri sekarang hanyalah Dark Knife, tatapan matanya penuh dengan kewaspadaan. Dia tidak mengira Randika bisa mengalahkan dua temannya itu hanyal dalam waktu singkat. Dark Knife merasakan hawa udara di belakangnya berubah, dia langsung bersiaga dan menoleh ke belakang. Kemudian pisau tersembunyi di sepatunya itu keluar dan menendang ke arah Randika. Namun tiba-tiba, Dark Knife merasakan dadanya remuk dan dia pun terpental jauh ke belakang. Dark Knife telah kalah! Ketika berhadapan dengan Ares, bahkan pembunuh kelas atas dunia seperti Dark Knife bukanlah tandingannya! Semua orang termasuk Ivan dan bawahannya itu terpukau dengan hasil akhir ini, kekuatan Randika memang luar biasa. Randika lalu menatap Ivan dan berkata dengan nada dingin. "Masih ada lagi?" Dengan kata lain, cuma segini kemampuanmu? Melihat wajah tenang Randika, Ivan sudah benar-benar marah. Sepertinya dia harus memainkan kartu terakhirnya. Ivan mengangguk pada pengawal di sampingnya. Kemudian 3 pengawal itu memberikan orang-orang yang masih sadarkan diri itu sebuah pil dan menelannya. Melihat hal ini, Randika mengerutkan dahinya. Pada saat ini, orang-orang yang menelan pil obat itu berjalan menghampiri Randika dengan mata yang semerah darah. Efek dari obat sepertinya mulai bekerja. Randika terkejut ketika melihat pergerakan orang-orang ini yang mirip zombie, namun pada saat ini Ivan sudah berteriak pada anak buahnya. "Bunuh dia!" Ivan tidak peduli lagi, dia hanya ingin Randika mati hari ini. Mendengar teriakan Ivan ini, semua orang yang masih bisa bertarung berdiri kembali dan menerjang ke arah Randika. Tentu saja orang-orang yang meminum pil obat tadi itu juga mulai berlari ke arah Randika. Randika memiliki sebuah dugaan dari obat yang telah mereka minum itu, tetapi dia tidak berani memikirkannya. Oleh karena itu, dia ingin membuktikan teorinya itu dan menyerang mereka terlebih dahulu. Tanpa ragu, Randika menancapkan pedang yang dia dapat dari tanah pada pundak seorang musuhnya. Namun, orang yang tertusuk itu sama sekali tidak tumbang meskipun darah sudah mengucur deras. Bahkan wajahnya tersenyum lebar pada Randika sambil dia mencabut pedang yang menancap di pundaknya. Semua orang yang melihatnya terkejut. "Hah, orang itu gila apa? Apa dia tidak bisa merasakan sakit?" Kata Hannah. Hati Randika langsung mengepal, tetapi dalam sekejap dia sudah terkepung. Dark Knife dkk sudah kembali ikut bertarung meskipun terluka. Serangan tangan kanan Randika berhasil mematahkan kaki musuhnya tetapi dengan santai orang tersebut menyerang Randika tanpa memedulikan rasa sakitnya. Randika lalu menyerang lagi dan berhasil mematahkan lengan musuhnya. Namun hal itu tidak membuat orang itu berhenti menyerang Randika, bahkan sepertinya lengannya yang patah itu tidak terasa sama sekali bagi dirinya. Obat zombie? Setelah beberapa kali menyerang, dugaan Randika terbukti benar. Orang-orang itu telah meminum pil yang sama dengan para pembunuh dari mafia Italia utusan Naoki Moretti. Bahkan efek dari pil obat itu jauh lebih gila lagi daripada yang dulu. Ivan menatap Randika, wajahnya sudah dipenuhi dengan aura kebencian. Kali ini apakah dia bisa membunuh pasukan yang telah membuang sisi manusiawinya? Orang-orang yang telah memakan pil itu sama sekali tidak takut oleh Randika, mereka tidak segan-segan untuk menukar salah satu tubuh mereka apabila mereka berhasil melukai Randika. Ditambah dengan serangan Dark Knife, Jessica dan pak tua Fan, Randika mulai terpojok. Randika mulai kewalahan, serangan tanpa henti Dark Knife dkk dan para ahli bela diri lain datang dari segala arah. Belum lagi zombie-zombie yang terus berdiri meskipun kaki mereka patah. "Kak Inggrid bagaimana ini? Bisa-bisa kak Randika mati kalau terus-terusan seperti ini." Hannah dan Inggrid menatap Randika sambil berdoa dalam hati mereka. Meskipun terpojok, Randika baru menerima luka pertamanya setelah bertarung selama 2 menit penuh. Orang yang meminum pil zombie itu berhasil menangkap tangan Randika meskipun dia sudah tidak akan pernah bisa berjalan lagi. Kesempatan ini digunakan oleh Dark Knife untuk membunuh Randika. Meskipun serangan pisau Dark Knife meleset, Randika masih mendapatkan pukulan telak dari pak tua Fan. Randika tidak sempat menarik napas karena serangan berikutnya sudah datang. Sepertinya Randika benar-benar terpojok kali ini! Ivan mendengus dingin dan tersenyum lebar, kali ini Randika pasti mati. Randika mulai menangkis serangan itu satu per satu, tetapi pada saat ini kekuatan misterius dalam tubuhnya mulai bergejolak. "Tidak, jangan sekarang!" Dalam sekejap, Randika yang terlihat tenang itu meraung keras menghadap ke langit. Setelah itu dia menerjang ke depan bagaikan serigala dan membunuh siapapun yang berani menghadangnya. Dark Knife, pak tua Fan dan Jessica langsung mengambil jarak, mereka tahu bahwa ada perubahan di dalam diri Randika. Namun, semua itu sudah terlambat bagi Jessica. Di tengah langkah mundurnya itu, Randika berhasil menangkap kakinya dan membantingnya dengan keras. Untung saja Jessica mendarat di salah satu badan orang yang sedang pingsan, kalau tidak dia pasti sudah mati. Perempuan bajak laut itu langsung tak sadarkan diri. Randika benar-benar seperti berubah menjadi binatang buas, tidak ada orang yang bisa mengimbangi dirinya. Satu per satu orang dibunuh oleh Randika tanpa ampun, tidak ada yang bisa menghentikannya! Ketika Ivan melihat perubahan medan tempur ini, ekspresi wajahnya berubah menjadi muram. Jika terus seperti ini maka semua bawahannya itu pasti mati tanpa tersisa. Ketika dia bimbang, dia menyadari sosok Inggrid dan Hannah yang sedang bersembunyi. Dalam sekejap dia memiliki ide brilian. Randika, yang sedang membunuh, tiba-tiba mendengar suara Ivan yang keras. "Berhenti atau aku akan membunuh mereka." Ketika Randika menoleh, dia menemukan bahwa Ivan dan pengawalnya sedang menyandera Inggrid dan Hannah. Leher kedua perempuan itu sudah terancam oleh bilah pisau yang tajam. Api amarah Randika justru semakin meluap-luap. "Bedebah! Berani-beraninya kau menyentuh perempuanku!" Tidak takut dengan gertakan Randika, Ivan lalu menyayat pinggang Hannah tanpa ragu. Teriakan sakit bercampur ketakutan Hannah memenuhi medan tempur yang mengenaskan ini. Chapter 294: Hasil yang Tidak Terduga Fokus Randika benar-benar terletak pada Hannah dan Inggrid yang tertangkap, dia tidak menyadari serangan yang datang dari belakang! Dalam sekejap, dia menerima 2 pukulan tepat di belakang kepalanya. Seluruh tubuh Randika tersungkur ke tanah. Setelah berusaha berdiri, Randika menyadari Ivan yang sedang menatapnya sambil tersenyum lebar. "Menyerahlah dan matilah atau aku akan membunuh mereka berdua." Ivan tidak main-main. "Kak, larilah dan tidak usah pedulikan kami." Hannah tidak rela melihat kakak iparnya itu tersakiti. Ini juga merupakan salahnya dan kakaknya karena tidak segera kabur meskipun jumlah yang mengawasi mereka sudah sedikit. Randika sudah mulai gila, kekuatan misteriusnya itu tiap detiknya ingin mengambil alih kesadarannya. Sambil menampar tanah, Randika berdiri dan menatap tajam ke arah Ivan sambil terus mempertahankan kesadarannya. "Bukankah kau ingin membunuhku? Kenapa kau sampai melakukan tindakan pengecut seperti itu? Apa kau takut mati di tanganku?" Teriak Randika. "Karena aku tahu bahwa mereka berdua ini adalah kelemahanmu." Kata Ivan dengan nada dingin. Kedua pengawalnya itu makin erat menggenggam pisau mereka di leher Inggrid dan Hannah. Batas kesabaran Randika hampir meledak ketika dia melihat darah yang mengalir di leher istrinya itu. Pada saat ini, sebuah serangan pisau dari Dark Knife mengarah pada pundaknya dan Randika sama sekali tidak bergerak. Pisau itu menancap dengan kokoh dan mengucurkan darah segar dari balik baju. Setelah itu, tiba-tiba pak tua Fan menendang wajah Randika dengan keras. Melihat kesempatan emas ini, Dark Knife dan pak tua Fan tidak segan-segan memanfaatkannya. Dalam sekejap mereka menghajar Randika hingga babak belur. Randika, yang hanya bisa menerima serangan musuhnya ini, sudah hampir di ambang batasnya. Setelah bertarung sekali dengan Randika, Ivan tahu bahwa ledakan tenaga Randika ini hanya berlangsung sebentar. Sesudahnya ledakan energi itu, Randika sudah bukanlah apa-apa. Karena Inggrid dan Hannah berada di tangan Ivan, Randika sama sekali tidak berdaya. Ketika dia ingin balas menyerang, Ivan selalu mengancam akan membunuh Inggrid dan Hannah. Tangan Randika benar-benar terikat. Melihat pemukulan ini, hati Inggrid semakin sakit dan air mata hanya bisa menetes. Dia sama sekali tidak berdaya ketika suaminya dihajar hingga babak belur. Seiring berjalannya waktu, tenaga dalam Randika mulai habis dan dia sudah nyaris pingsan. Tindakan Ivan ini benar-benar pengecut. Tidak tahan dengan kejadian ini, Hannah menoleh ke arah Ivan dan berkata padanya. "Paman, aku dulu menaruh hormat padamu tetapi aku tidak menyangka bahwa paman hanya seorang bajingan." "Aku bajingan?" Ivan tertawa. "Aku punya uang dan semua hal di dunia ini bisa dibeli dengan uang. Aku hanya memakai uangku ini untuk membunuh bajingan keparat satu itu yang telah membunuh anakku." Inggrid juga ikut berusaha meyakinkan Ivan agar menghentikan serangannya. "Paman, meskipun aku ikut bersedih atas kematian Hans, kita tidak bisa memutar balikkan waktu lagi. Kenapa kita tidak berusaha memperbaikinya? Keluarga kita masih berteman baik dan kami juga siap memberikan kompensasi sebagai permintaan maaf." "Kompensasi? Apa gunanya hal itu? Apa itu bisa membuat anakku kembali hidup?" Ivan menjadi marah. "Jika bukan karena kamu Inggrid, anakku itu pasti masih hidup! Hari ini aku akan membuat pria yang kau sebut suami itu mati di depan matamu." Melihat usahanya sia-sia, Inggrid sudah menyerah untuk membujuk kepala keluarga Alfred ini. Namun, permasalahannya tetaplah dirinya dan Hannah yang tertangkap ini. Jika mereka berdua masih tertangkap, maka lama kelamaan Randika akan mati. Memikirkan kemungkinan itu, air mata Inggrid makin deras. Benar, dia telah menjadi kelemahan dari Randika. Jika bukan karena dirinya, bagaimana mungkin Randika berada di kondisi yang sekarang? Tetapi, Randika lagi-lagi meraung keras. Meskipun menerima serangan bertubi-tubi, kembali terjadi ledakan tenaga pada Randika. Matanya yang merah sudah bagaikan dewa pembunuh yang mencari mangsa. Ledakan tenaga ini membuat musuhnya kembali waspada. Ketika melihat hal ini, Ivan hanya mendengus dingin dan menyuruh kedua pengawalnya itu mengikat Inggrid dan Hannah menjadi satu. "Lepaskan aku!" Hannah berusaha melepaskan diri tetapi semua itu tetap percuma. Dia dan Inggrid tidak bisa melawan sama sekali. Setelah tali itu berhasil mengikat mereka, para pengawal itu tinggal mendorong kedua kakak adik ini dan mereka akan terjun bebas ke bawah gunung. "Randika!" Ivan berteriak pada Randika yang sedang bertarung. Di tengah pembantaiannya, Randika menoleh dan melihat situasi yang dialami oleh Inggrid dan Hannah. Dalam sekejap Dewa Perang ini berhenti bergerak. "Inggrid, Hannah!" Randika kehilangan fokusnya dan Dark Knife dan pak tua Fan memanfaatkan kesempatan ini untuk melukai Randika lagi. Para pendaki yang merekam kejadian ini hanya bisa kasihan pada Randika. Mereka ingin menolongnya tetapi pertarungan seperti ini bukanlah panggung milik mereka, adanya mereka akan terbunuh dengan mudah. Cara para penjahat itu memang sangat licik. Hannah berusaha melarikan diri tetapi ikatan talinya itu benar-benar erat. Inggrid hanya bisa menangis melihat suaminya itu dipukul habis-habisan. Jika saja dia tidak menjadi beban, Randika tidak akan menjadi seperti itu. Ivan sangat puas ketika melihat Randika memuntahkan seteguk darah segar, sekarang dialah yang mengontrol pertarungan ini. Jika Randika berani macam-macam, maka dia harus mengucapkan selamat tinggal pada istri dan adik iparnya itu. Tubuh Randika sudah dipenuhi luka dan memar, dia sama sekali tidak bisa melawan. Selama kondisi Randika masih mengamuk, Ivan akan selalu mengingatkan bahwa nyawa Inggrid dan Hannah berada di tangannya. Inggrid sudah tidak tahan melihat kejadian ini, dia akhirnya membulatkan tekadnya. Dia lalu berkata pada Hannah. "Han, setelah ini kamu harus lari sekuat tenagamu ya. Kakak harap kamu bisa menemukan kebahagian di hidup ini." Hannah merasakan firasat buruk ketika mendengarnya. "Kak, jangan berpikiran bodoh." Dan tentu saja, Inggrid berhasil melepaskan diri dari ikatannya dan menggigit tangan pengawal yang menjaga mereka dan mendorongnya hingga terjatuh di tanah. Kemudian setelah memastikan Hannah telah bebas, Inggrid meloncat dari atas tebing! "KAK!" Hannah dengan cepat berusaha menangkap tangan Inggrid. Namun, Hannah justru ikut jatuh bersama Inggrid dan keduanya terjun bebas menuju kaki gunung! "Ahhhhh!!" Inggrid dan Hannah hanya bisa berteriak. "Inggrid, Hannah!" Randika yang sibuk bertahan itu menyadari tindakan nekat Inggrid, tetapi semua sudah terlambat. Tatapan mata Randika terpaku pada ujung tebing. Randika tanpa ragu-ragu menyalurkan tenaga dalamnya ke kakinya dan berlari menuju Inggrid dan Hannah. Namun, Dark Knife dan pak tua Fan tidak membiarkan Randika kabur. Tetapi, aura membunuh Randika yang sangat pekat itu membuat mereka berhenti bergerak sejenak. Mereka belum pernah merasakan aura membunuh yang sepekat ini. Setelah sadar dari linglungnya itu, mereka berdua terlambat setengah langkah oleh Randika. Dark Knife langsung melemparkan pisaunya sedangkan pak tua Fan melemparkan pedang yang dia pungut dari tanah. Dengan tenaga dalam yang sudah mengalir di kedua tangannya, Randika mementalkan semua serangan itu dengan ledakan energi. Kemudian tanpa ragu-ragu, Randika meloncat ke arah Inggrid dan Hannah. Semua ini terjadi begitu cepat, orang awam sama sekali tidak bisa memproses kejadian ini dengan cepat. Melihat sosok Randika yang terjun itu, wajah Ivan menjadi muram. Sedangkan para pendaki yang sibuk merekam itu sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Dia melompat turun demi kedua perempuan itu? Apa dia berniat mati bersama-sama? Setelah Randika meloncat turun, puncak gunung ini sudah dipenuhi oleh mayat bertebaran. Suasana berat dan mencekam itu kembali menjadi tenang. Dark Knife dan pak tua Fan menggotong Jessica yang pingsan dan pergi dari situ. Jika pertarungan tadi tidak ada campur tangan dari Ivan, mungkin mereka bertiga ini sudah mati. Orang-orang yang tersisa dari pertempuran ini menghampiri tuan mereka Ivan. Hasil dari pertarungan ini benar-benar di luar dugaan Ivan. Randika, Inggrid dan adiknya Hannah sama-sama mati karena jatuh dari puncak gunung. Wajah Ivan terlihat tidak puas, dia menatap ke bawah dari atas tetapi tidak dapat menemukan apa-apa. Asal tahu saja, ketinggian gunung ini mencapai 1500 mdpl. Jika dia mengerahkan seluruh kekuatan keluarganya, kesempatan dirinya menemukan ketiga mayat itu masih tetap kecil. Terlebih lagi, jika orang berani meloncat dari puncak gunung ini, sudah hampir 99,99999% mereka akan mati. "Tuan, apa langkah berikutnya?" Para bawahannya itu menunggu perintah. Tetapi Ivan sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Sejujurnya, hasil seperti ini bukanlah hasil yang dia inginkan. Dia hanya ingin membunuh Randika, sedangkan untuk Inggrid dan Hannah dia bisa memanfaatkannya untuk mengeksploitasi kekayaan keluarga Laibahas. Tetapi di luar dugaannya, Inggrid Elina melompat dari atas tebing agar tidak menjadi beban bagi Randika! Kejadian ini pasti sampai di telinga keluarga Laibahas dan tentu Ivan akan menjadi pelaku utamanya. Jika sampai itu terjadi, kedua keluarga aristokrat ini akan perang habis-habisan sampai salah satu dari mereka hancur! "Kirim beberapa orang untuk menemukan mayat mereka." Kata Ivan. Setelah para bawahannya itu pergi dan mencari mayat ketiga korban itu, Ivan sama sekali tidak berharap banyak. Gunung yang luas dan hutan yang rindang ini benar-benar terlalu luas untuk diperiksa seluruhnya. Tidak sampai 15 menit, seseorang berlari menuju Ivan sambil tergesa-gesa. "Tuan, kami menemukan nona Inggrid! Beliau masih hidup!" Mendengar hal ini, Ivan dengan cepat berlari menuju lokasi. Apa yang dilihatnya benar-benar keajaiban, dia melihat Inggrid yang pingsan sedang tersangkut di pohon tanpa terluka sama sekali. "Turunkan dia!" Di puncak gunung, para pendaki itu akhirnya bisa bernapas lega setelah melihat Ivan dan bawahannya itu meninggalkan tempat ini. Apa yang telah terjadi di puncak gunung ini benar-benar momen yang tidak terlupakan. Mereka tidak menyangka bahwa di Indonesia terdapat kekuatan tersembunyi seperti itu. Setelah menurunkan Inggrid, para bawahan Ivan itu kembali mencari Randika dan Hannah selama beberapa saat. Tetapi mereka tidak menemukan petunjuk sama sekali. Bisa dikatakan bahwa Randika dan Hannah terjatuh ke kaki gunung sedangkan Inggrid benar-benar beruntung tersangkut di pohon tidak jauh dari tempat dia meloncat tadi. "Tuan, kami sudah memeriksa sekeliling sebanyak 3x dan tidak menemukan apa-apa." "Aku yakin orang itu sudah pasti mati di kaki gunung." Ivan sama sekali tidak menjawab. Meskipun dia ingin memastikan Randika telah mati, mencari mayatnya di gunung ini bagaikan mencari jarum di tumpukan jerami. Pada akhirnya, Ivan hanya bisa percaya bahwa Randika telah mati. Tidak ada manusia yang bisa selamat jika jatuh dari ketinggian ini. "Bersiaplah untuk turun." Kata Ivan. Orang-orang mungkin tidak menyangka bahwa orang yang telah berhasil membunuh Ares sang Dewa Perang bukanlah salah satu dari 12 Dewa Olimpus melainkan seorang ayah yang ingin membalaskan dendam anaknya. Chapter 295: Berjanjilah Kamu akan Tetap Hidup Untukku! "Inggrid, Hannah!" Randika berteriak dengan keras di tengah udara, wajahnya benar-benar terlihat cemas ketika melihat kedua orang yang disayanginya itu jatuh dengan cepat. Kekuatan misterius di dalam tubuhnya tiba-tiba menyatu dengan dirinya dan menyebar ke seluruh tubuh. Dengan bantuan kekuatan misterius ini, kecepatan jatuh Randika jauh lebih cepat lagi dan berhasil memotong jarak dengan Inggrid dan Hannah dengan cepat. Di bawah mereka, terlihat pohon-pohon besar dengan dahan pohon yang banyak. Namun, mereka tidak bisa melihat kejutan apa yang dimiliki setelah mereka menembus pohon-pohon itu. "Kak Randika!" Hannah terkejut melihat sosok Randika yang memegang tangannya, Inggrid juga tidak menyangka bahwa Randika juga ikut meloncat. Kedua mata pasangan ini bertemu. Randika menatap mata Inggrid yang berlinang air mata, dalam sekejap Randika tahu apa maksud dari tindakan nekat Inggrid ini. "Bukankah kita sudah berjanji akan hidup bersama hingga tua?" Dalam sekejap, Randika memeluk Inggrid dengan satu tangan. "Randika akuˇ­" Inggrid ingin meminta maaf atas kebodohannya, tetapi mereka bertiga sudah nyaris menabrak kumpulan pohon ini! "Berjanjilah kamu akan tetap hidup untukku!" Kata Randika sambil tersenyum pada Inggrid, nada suaranya benar-benar menenangkan. Tetapi, tiba-tiba, dengan bantuan kekuatan misteriusnya, Randika melempar Inggrid! Dalam sekejap, tubuh Inggrid itu melesat menuju pohon besar yang memiliki daun yang banyak dan akhirnya mendarat di sebuah dahan pohon yang besar. Kekuatan dan akurasi tembakan energi Randika benar-benar tepat, dia berhasil meminimalisir bahaya yang bisa menimpa Inggrid dan mendaratkannya dengan sempurna. Namun, Inggrid masih tetap pingsan karena kepalanya membentur dahan. Randika sendiri tanpa sadar menatap keras sebuah dahan pohon yang besar. DUAK! Randika menerima benturan keras itu tepat di belakang kepalanya, hal ini membuatnya hampir kehilangan kesadaran. Bahkan dahan pohon yang besar itu juga ikut patah dan terjun bersama Randika! Pada saat yang sama, Hannah masih berada di udara, mulutnya tidak bisa berhenti meminta tolong pada Randika. "Kak Randika tolong aku!" Hannah takut setengah mati sedangkan Randika masih berusaha tetap tersadar dan kembali melesat menuju Hannah. Ketika mereka berdua berhasil melewati pepohonan yang rindang itu, pandangan mereka menjadi jelas. Tetapi ini bukanlah kabar baik, karena apa yang menunggu mereka adalah bebatuan tajam! Hannah sudah mengompol, dia melambai-lambaikan tangannya berusaha untuk meraih sesuatu. Namun usahanya itu gagal dan dia makin jatuh dengan cepat. "Han, jangan panik!" Randika berteriak sekuat tenaga kepada Hannah yang terus terjatuh itu. Pada saat yang sama, dia berusaha mencari sesuatu yang bisa mengurangi kecepatan jatuh mereka. Kedua orang ini sudah bagaikan titik hitam yang melayang jatuh dari atas tebing menuju kaki gunung. Orang-orang di bawah sama sekali tidak bisa melihat mereka karena saking cepat dan kecilnya mereka. Terlebih lagi, kecepatan mereka ini membuat mereka tidak bisa ditolong. Hannah terus berteriak histeris selama di udara. Apa aku akan mati? Rasa pasrah dan tidak berdaya sudah memenuhi hati gadis ini. "Han, pegang tanganku!" Randika berteriak sekuat tenaga. Ketika melihat ke atas, Hannah menemukan Randika yang semakin dekat dirinya. Wajah Randika yang terlihat gagah itu mengulurkan tangannya dan berusaha menangkap dirinya. "Kak Randika!" Hannah sudah menangis bahagia, namun pada saat ini, mata Randika makin mengecil. Tidak jauh dari Hannah, sebuah batu runcing siap menyambut mereka berdua. Jika mereka jatuh dengan kecepatan ini, sudah pasti batu itu akan menembus kedua tubuh mereka. Di saat paling krusial, Randika berhasil menangkap tangan Hannah dan mendorongnya ke samping. Namun, Randika gagal menyelamatkan dirinya dan batu itu menggores perut sampingnya dengan hebat. CRAT!! Baju pada bagian samping perutnya itu menjadi penuh dengan darah, untung saja usus Randika tidak sampai keluar dari tubuhnya. Namun, Randika masih belum bebas dari bahaya. Kekuatan misterius di dalam tubuhnya kembali bergejolak dan berusaha mengambil alih inangnya yang melemah itu. UHUK! Randika memuntahkan seteguk darah segar. Sementara luka di perutnya itu makin berdenyut dan ternyata daging perutnya itu sudah terkoyak dan hilang di udara. Di tengah kesakitan ini, Randika menggenggam erat tangan Hannah. "Kak bertahanlah!" Hannah benar-benar ketakutan dan sudah berlinang air mata. Randika merasakan rasa sakit luar biasa dari perutnya dan darah tidak bisa berhenti keluar. Terlebih lagi, tenaga dalamnya sedang bertempur dengan kekuatan misterius di dalam tubuhnya. Menahan rasa sakitnya itu, Randika berkata pada Hannah. "Berpeganganlah yang erat padaku." Hannah dengan cepat merangkul Randika erat-erat. Di tengah udara, Randika membetulkan posisinya sehingga Hannah bisa merangkul dirinya di punggungnya. Mereka masih terjatuh, Randika berusaha mencari tempat yang tepat untuk mendarat. Tetapi, yang ada hanyalah batu-batuan tajam yang akan menyambut mereka. Randika berusaha mengulurkan tangannya dan bergelantungan di tebing, dia berharap bisa menurunkan kecepatan jatuhnya. Tetapi semua itu percuma, ketika tangannya berhasil meraih sebuah batu, batu itu akan ikut terlepas karena momentum Randika yang terlalu cepat. Pada saat ini, Randika menyadari ada sebuah pohon yang cukup besar. Hal ini membuat dirinya senang tidak karuan. "Han, pegangan yang erat." Dalam sekejap Hannah langsung memeluk leher Randika dengan erat. Kedua dada Hannah yang besar itu segera penyet di punggung Randika, tetapi Randika tidak punya waktu untuk menikmati sensasi empuk itu. Nyawanya masih terancam, jika dia menuruti nafsu birahinya itu maka mereka berdua akan mati hari ini. Jatuh dari tebing ini merupakan kejadian paling berbahaya yang pernah dirasakan oleh Randika. Melihat sosok pohon itu makin dekat, mata Randika menatapnya dengan tajam. Dalam sekejap dia berusaha menangkap dahan pohon tersebut! Kecepatan tinggi itu tiba-tiba menjadi 0, kalau ini bukan Randika maka tangan orang itu sudah pasti patah dan lepas dari sendi bahunya. Pada saat yang bersamaan, pohon ini menerima seluruh energi yang diberikan oleh Randika dan terus menerus bergetar. Namun, dahan yang dipegangnya itu mulai menunjukan tanda-tanda patah. Randika belum menyadari suara retakan dahan tersebut, dia masih menikmati udara yang dia hirup itu. Sedangkan Hannah menutup matanya sambil terus memeluk leher Randika. Setelah menenangkan diri, Randika menoleh ke atas dan menyadari hal buruk tersebut. Dia sampai kehabisan kata dengan nasib sialnya ini. Bahkan jika dia berhasil selamat berkat pohon ini, kembali jatuh ke bawah sama saja dengan mati. Sepertinya petualangannya jatuh ini masih jauh dari kata selesai. "Kak apa kita sudah selamat?" Hannah mulai membuka matanya sedikit demi sedikit. Melihat dahannya yang akan patah itu, dia menjadi panik. Bajunya juga sudah compang camping, untungnya dia tidak terluka dan hanya memiliki memar yang sedikit. "Kakak tidak akan membiarkanmu mati, percayalah padaku." Randika tersenyum pada Hannah. Namun, senyuman itu juga mengandung kepahitan dan kebencian. Dia pasti akan membalaskan dendamnya ini pada Ivan dan keluarganya itu. Chapter 296: Gua Misterius (1) Pada saat Randika bersumpah akan membalas dendamnya di hatinya, tiba-tiba suara retakan di dahan itu makin keras. Sepertinya dahan yang sudah retak itu sudah tidak kuat menahan bobot dua manusia ini dan sudah mulai menunjukan tanda-tanda patah. Perlahan demi perlahan, Randika dan Hannah kembali merosot dan mendadak dahan itu patah dan keduanya kembali jatuh! Ketika dirinya merosot, Hannah sudah menutup matanya dengan erat dan memeluk leher Randika. "AH!!!" Randika tidak tahu harus berbuat apa, jika mereka jatuh dengan kecepatan seperti tadi maka tamatlah riwayat mereka. Setelah menoleh ke bawah, hati Randika justru makin mengepal. Bebatuan yang tajam itu mencuat dan tidak sabar menanti kedatangan mereka. Tidak ada pilihan lain, Randika menyalurkan seluruh tenaga dalam di tubuhnya ke tangannya. Dan seperti sebuah cakar, Randika menancapkan tangannya di tebing. SRAAAKKKKK! Kesepuluh jari Randika itu berusaha menahan bobot keduanya sambil terus meluncur ke bawah. Bahkan kuku di jari Randika sudah mulai retak dan patah. Untungnya saja, tindakan cerdas Randika ini sangat efektif. Kecepatan turun mereka sudah jauh berkurang dan akhirnya mereka bergelantungan di tebing. Randika menghela napas lega, setidaknya sekarang dirinya bergantung pada tenaga dalamnya sendiri. Hannah masih menutup matanya dan tidak berani membukanya. Randika melihat ke bawah dan menemukan tidak ada tempat yang cocok untuk mendarat dengan selamat. Namun, tiba-tiba dia menemukan sebuah batu yang cukup besar yang cocok dijadikan sebagai pijakan kaki. Dengan hati yang bergembira, Randika mencopot satu genggamannya dan mulai memanjat turun ke arah batu tersebut. Randika sudah seperti spiderman, meskipun dia lebih lambat tetapi kecepatan turunnya stabil. Kalau tidak begitu, dia bisa terjatuh dan sudah tidak ada cara lagi untuk menyelamatkan dirinya. Namun, tiba-tiba tenaga dalamnya itu mulai kehabisan tenaganya. Pada saat ini Randika merasa seluruh tubuhnya menjadi dingin, darah di perutnya yang terkoyak itu masih mengucur. Dia sendiri merasakan kedua tangannya itu mulai lemas. Ini gawat! Jika bukan karena kekuatan misterius yang membantunya, mungkin dia sudah jatuh ke bawah sekarang. "Kak, kenapa kamu berhenti?" Hannah menelan air ludahnya, dia merasakan firasat buruk lagi. "Tidak apa-apa, aku hanya ingin istirahat sebentar." Kata Randika dengan nada menenangkan. Tetapi wajahnya yang semakin pucat itu tidak bisa disembunyikan. Sembari turun perlahan menuju batu besar itu, Randika harus menahan rasa sakitnya dengan menggigit bibirnya. Setelah beberapa saat, akhirnya Randika berhasil membawa dirinya dan Hannah ke batu tersebut dengan selamat. Sambil mengatur napasnya, Randika terkejut ketika menyadari ada sebuah gua yang di belakangnya. Gua? Gua! Randika benar-benar senang, dia lalu kembali berjalan dan membawa Hannah masuk ke dalamnya. Ketika mereka sudah di dalam, Randika menurunkan Hannah dan dalam sekejap adik iparnya itu langsung pingsan. Kejadian ini pasti terlalu menakutkan untuknya jadi Randika memakluminya. Tidak seharusnya seorang perempuan mengalami kejadian menakutkan seperti ini. Tetapi Randika sendiri juga butuh istirahat sejenak dan menghentikan pendarahannya. Setelah menghentikan pendarahannya dengan jarum akupunturnya, Randika merasa dirinya sangat beruntung bisa selamat dari kejadian ini. Dia juga tidak menyangka bahwa Ivan akan memakai taktik pengecut seperti itu. Setelah istirahat sejenak dan pendarahannya sudah berhenti, Randika kembali menggendong Hannah dengan kedua tangannya dan berjalan lebih dalam lagi ke gua tersebut. Setelah beberapa saat tidak bisa melihat apa-apa, Randika melihat sebuah cahaya oranye di depan. Melihat pemandangan di depannya, Randika terkejut bukan main. Gua ini sepertinya gua sakral. Di tengah gua ini, terdapat sebuah kolam berdiameter 10 meter. Kolam tersebut diselimuti oleh asap putih, dan sepertinya air tersebut jauh lebih dingin daripada air pada umumnya. Setelah meletakan Hannah, Randika bermaksud memeriksa kolam air tersebut. Namun tiba-tiba, tatapan matanya menjadi kosong. Seluruh tubuhnya menjadi lemas dan dia pun terjatuh. Bahkan dia tidak bisa merasakan satu pun bagian tubuhnya. Apa yang sedang terjadi? Randika merasa bahwa tubuhnya sekarang itu tidak jauh berbeda dengan sebuah cangkang kosong, benar-benar tidak ada tenaganya sama sekali. Kekuatan misteriusnya yang merembes keluar seperti air terjun itu tiba-tiba surut dan menghilang tanpa jejak. Yang tersisa dari tubuh Randika sekarang hanyalah alam bawah sadarnya saja. Kesadarannya ini sendiri tampak tidak stabil, seakan-akan ada pihak lain yang ingin merebut kesadarannya itu. Randika benar-benar lemas. Untuk menyelamatkan Hannah dan Inggrid, bisa dikatakan bahwa dia memakai seluruh tenaga dalamnya hingga titik terakhir dan mengandalkan kekuatan misterius di dalam tubuhnya. Dengan kondisi Randika yang sekarang, dia belum bisa mengontrol kekuatan ini secara sempurna. Hari ini dia sudah memakainya 2x ketika bertarung dan 1x saat dirinya melompat turun dan menyelamatkan Inggrid dan Hannah. Pemakaian seperti ini benar-benar berbahaya baginya. Pada saat yang sama, perut sampingnya yang terkoyak itu membuatnya kehilangan sejumlah darah. Hal ini lebih diperparah dengan rasa sakit yang dirasakan di setiap sendi, tulang, saraf dan ototnya. Seakan-akan dia telah digigit oleh 10000 ribu semut merah di tubuhnya. Rasa sakitnya ini membuatnya berkeringat deras. Ketika dia ingin berteriak untuk melampiaskan rasa sakitnya, tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Rasa sakit yang nyelekit itu membuat Randika merasa ingin mati saja, dia tidak kuat dengan penyiksaan seperti ini. Pada saat yang sama, sosok hitam yang tiba-tiba muncul di gua ini makin hitam tiap detiknya. Sekarang Randika bukan hanya bisa merasakan kekosongan di dalam tubuhnya, dia bisa merasakan hal yang sama di sekelilingnya. Sosok hitam itu tiba-tiba berubah menjadi sosok Ivan, lalu dengan mulut yang terbuka lebar dan gigi yang tajam, yang bisa menelan Randika secara utuh, menerjang ke arah Randika! Randika ingin menghindar, tetapi tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak. Dia hanya bisa pasrah sosok hitam misterius itu melahap dirinya, tetapi sosok itu hanya menembus badannya! Sekarang, di sekitarnya itu sudah banyak sosok hitam misterius seperti hantu mengerumuni dirinya. Di sisi lain, ketika Ivan sudah sampai di tengah-tengah gunung, dia menyuruh anak buahnya menghentikan pencarian mayat Randika dan Hannah. Di dalam hatinya, dia sudah menganggap pembunuh anaknya itu sudah mati. Mulai dari hari ini, nama Randika sudah tidak ada lagi di dunia ini. Dan dengan ini pula, anaknya itu bisa beristirahat dengan tenang. Melompat turun dari ketinggian seperti itu sama saja jatuh ke pelukan dewa kematian. Baginya, Inggrid sendiri sungguh sangat beruntung bisa menyangkut di pohon dan tidak terluka sama sekali. Sebelum Ivan dan bawahannya itu berjalan menuruni gunung, mereka telah mengumpulkan mayat-mayat rekan mereka yang mati dan melemparkannya ke dasar gunung persis di tempat Randika melompat tadi. Chapter 297: Gua Misterius (2) Di Gunung Batu Jaya, tebing yang ada sangatlah curam dan berbatu. Jadi di celah-celah tebing-tebing ini sering ada pohon yang tumbuh sedangkan bagian dasar gunung hanyalah bebatuan saja. Sejujurnya ini tidaklah normal, ketika berada di atas gunung, kita bisa melihat hutan yang rindang dan luas. Di tengah-tengah tebing itu, terdapat dua batu besar yang menonjol keluar. Di belakang batu tersebut terdapat gua yang misterius. Dari kejauhan, orang tidak akan bisa melihatnya karena batu itu seakan-akan menutupi gua tersebut. Ketika orang masuk ke dalam gua, yang mereka lihat hanyalah kegelapan. Bahkan kita tidak bisa melihat jari tangan kita sendiri saking gelapnya. Tetapi setelah berjalan masuk sekitar 100 meter, tiba-tiba ada sebuah cahaya yang menerangi kita. Cahaya itu bukanlah matahari melainkan sebuah cahaya berwarna oranye. Jika diperhatikan dengan baik, cahaya itu berasal dari celah-celah dinding gua. Di bagian tengah area ini, terdapat sebuah kolam yang berdiameter 10 meter. Air di kolam itu sangat jernih dan tenang, sama sekali tidak ada riak. Namun, kita tidak bisa melihat dasar dari kolam tersebut meskipun airnya jernih. Pada saat yang sama, permukaan air itu mengeluarkan asap putih yang bisa dilihat oleh mata. Di dalam gua inilah Randika sedang terkapar tidak berdaya dengan baju yang compang camping dan perut yang terkoyak. Belum lagi luka dan memar yang dia terima sebelumnya ketika dia bertarung. Sedangkan luka-luka goresan di tubuhnya, diterimanya ketika menembus pepohonan. Bibirnya yang kering itu sudah mengeluarkan tetesan darah, sedangkan jari tangannya itu bisa dikatakan sangat buruk rupa. Kuku yang retak dan patah menghiasi tangan Randika. Pada saat yang sama, tidak jauh dari tubuh Randika, Hannah sedang tidur dengan tenang. ....... Setelah sekian lama waktu berlalu, akhirnya Hannah terbangun dari tidurnya. Hannah memperhatikan sekelilingnya dan dia tidak tahu dia berada di mana dan jam berapa sekarang. Tiba-tiba dia menyadari kakak iparnya yang sedang terkapar di depannya. "Kak Randika!" Dengan cepat Hannah menghampirinya dan memeriksa keadaan Randika. Mata Randika benar-benar merah dan darah di mulutnya terus mengalir. "Kak, bertahanlah! Aku sudah ada di sini." Hannah lalu menyandarkan tubuh Randika di pahanya. Di tengah kesadarannya itu, Randika merasa bahwa dunia ini seperti sedang berputar-putar. Ketika dia melihat wajah cemas Hannah, entah kenapa dia bisa melihat dirinya sendiri juga. Aneh, kenapa dia bisa melihat tubuhnya sendiri? Randika mulai khawatir, dia hendak mengatakan bahwa dia baik-baik saja pada Hannah tetapi tubuhnya itu sama sekali tidak merespon. Apakah dia sudah mati? Hannah yang melihat Randika tidak bergerak itu menangis sejadi-jadinya. Semua kejadian menakutkan ini benar-benar tidak bisa diproses olehnya. Randika selalu menjadi andalannya dan sekarang Randika tergeletak tidak berdaya di pangkuannya. "Kak, bukalah matamu! Kak, aku takut sendirian di siniˇ­ Kak, aku janji tidak akan menjahilimu lagi jadi ayo cepat bangun. Hiks, hiks." Hannah mulai kembali meneteskan air matanya. Usahanya itu percuma, Randika masih tidak sadarkan diri. Randika sendiri hanya bisa melihat wajahnya itu penuh dengan tetesan air mata Hannah, dia sama sekali tidak bisa membuat tubuhnya itu bergerak. Di gua yang sunyi ini, hanya suara menangis Hannah yang bisa terdengar. Ketika suara tangisan itu makin keras, suara Hannah itu bergema! Hiks, hiks, hiks. Hannah yang berlinang air mata itu langsung ketakutan. Dia memperhatikan sekelilingnya dan tidak menemukan apa-apa. Dengan berani dia berkata dengan lantang. "Siapa di sana?" Siapa di sanaˇ­. Siapa di sanaˇ­. Namun, bukanlah sebuah jawaban melainkan kata-kata yang sama dengan pertanyaannya lah yang terdengar. Dalam sekejap Hannah mengerti bahwa suara menakutkan itu tadi adalah suaranya dia sendiri. Melihat Randika yang masih tergeletak lemas di pahanya, Hannah memeluknya. "Kak, apa yang harus Hannah lakukan?" Melihat masih tidak ada respon, Hannah memutuskan untuk membiarkan kakak iparnya itu beristirahat. Setelah menidurkannya kembali, Hannah memperhatikan sekelilingnya. Meskipun ada cahaya yang keluar dari celah-celah dinding, sebagian besar dari gua ini sangatlah gelap. Hannah sedikit takut tetapi dia harus menghadapi situasi ini dengan lapang dada. Setelah waktu yang lama, akhirnya Hannah bisa tenang kembali. Pada saat ini, dia merasa haus. Hari ini dia dan kedua kakaknya itu mendaki gunung bersama. Sesampainya di puncak, Hannah tidak sempat minum karena sibuk mengambil foto pemandangan. Setelah itu dia menyaksikan pertarungan kakak iparnya itu dan terjatuh dari tebing. Dia tidak tahu sudah berapa lama dia tidak meminum air, tenggorokannya sekarang benar-benar kering. Pada saat yang sama, Hannah merasa perutnya mulai lapar. Karena saking semangatnya ingin naik gunung, Hannah bangun lebih pagi dan hanya makan sebuah roti sebelum berangkat. Dan sekarang roti itu telah lenyap dan perutnya meminta makanan lebih. Memperhatikan sekelilingnya, Hannah tidak bisa menemukan apa-apa selain kolam yang ada di tengah-tengah gua ini. Ketika dirinya mendekati kolam itu, Hannah menyadari ada sekumpulan ikan putih kecil yang berenang-renang di permukaan air. Ikan ini sangat kecil, mungkin hanya sebesar ibu jarinya. Hannah baru pertama kalinya melihat ikan seperti itu, dia menjadi penasaran. Dia mengulurkan tangannya dan berusaha menangkap ikan tersebut. Namun ketika tangannya menyentuh air, Hannah langsung menariknya kembali. "DINGIN!" Setelah dilihat-lihat, ternyata ada asap putih yang keluar dari permukaan air. Kenapa bisa air di dalam kolam ini begitu dingin? Memang cuaca di gunung itu bisa berubah-ubah, tetapi seharusnya ini musim kemarau dan pagi tadi benar-benar cerah dan hangat. Bahkan gua ini berada di tengah-tengah gunung, seharusnya tempat ini tidak sedingin ini. Tetapi air sedingin ini tidak berpengaruh pada ikan-ikan putih itu, mereka berenang-renang dengan bahagia. Pada saat yang sama, beberapa ikan melompat ke udara dan kembali berenang. Hannah menelan air ludahnya, dia lalu tersadar bahwa dia sedang kehausan. Tanpa ragu, dia kembali mencelupkan kedua tangannya dan mengambil sejumlah air di tangannya. Dia lalu meminumnya sekaligus. Meskipun tangannya itu seakan-akan ingin membeku, dia tidak punya pilihan lain karena dia tidak mungkin memasukan kepalanya ke kolam dingin itu. Gluk, gluk. Air dingin itu segera membasahi tenggorokan yang kering itu. Dalam sekejap tubuh Hannah merinding terus menerus, air yang masuk itu benar-benar terlalu dingin. Hannah merasa bahwa hari ini merupakan hari terburuk selama dia hidup. Sebagai anak dari keluarga Laibahas, seumur hidupnya dia hidup serba berkecukupan. Dia tidak pernah merasa sengsara seperti ini. Setelah menenangkan diri, dia mengusap kembali air matanya yang entah kenapa jatuh itu. Dia sekarang tidak boleh bertindak lemah kayak seorang gadis. Hannah lalu mengambil kembali air dingin itu dengan tangannya dan menghampiri Randika. "Kak, minumlah air ini." Chapter 298: Perjuangan Hannah untuk Randika Sambil menahan rasa dingin yang menyakitkan itu, Hannah menuangkan air tersebut ke mulut Randika. Tetapi Randika yang sekarang telah kehilangan kesadarannya, meskipun arwahnya itu bisa melihat dirinya disuapi oleh Hannah, dia sama sekali tidak bisa membuka bibirnya. Hannah yang menuangkan air itu melihat Randika sama sekali tidak membuka bibirnya, air yang susah-susah dia bawa itu terbuang sia-sia. Hannah tidak menyangka bahwa kakak iparnya ini akan selemas itu sampai-sampai tidak bisa menggerakan bibirnya. Dia lalu memindahkan tubuh Randika sedikit agar tidak mengenai genangan air yang ada di tanah. Melihat kakak iparnya yang sama sekali tidak bergerak itu, Hannah kembali meneteskan air matanya. Tidak, aku tidak bisa terus-menerus seperti ini! Setelah menarik napas dalam-dalam, Hannah berusaha menenangkan dirinya kembali. Kemudian dia berdiri dan berjalan menuju kolam itu lagi. "Dasar kak Randika, bisa apa kakak kalau tidak ada aku." Hannah lalu mengambil air dengan kedua tangannya itu dan meminumnya. Lalu dia berjalan menghampiri Randika dan memberinya air melalui mulutnya itu. Pada saat ini, Randika yang sedang berpisah dengan tubuhnya itu sedang bertarung dengan para hantu sebelumnya. Tiap hantu tersebut memiliki wajah yang tidak asing baginya. Ada Shadow yang telah mati oleh tangannya, ada musuh-musuhnya ketika dia keliling dunia dan bahkan ada beruang yang telah dia bunuh untuk makanan daruratnya. Semua hantu itu berusaha melahap sosok arwah Randika itu. Namun, tiba-tiba Randika merasa arwahnya itu tersedot ke tubuhnya dan bisa merasakan kehangatan dari tubuhnya. Di tengah kehangatan itu, ada sebuah aliran air dingin yang melewati tenggorokannya. Namun dia masih belum bisa membuka matanya sama sekali, sepertinya dia belum sepenuhnya sadar. Sama seperti Hannah, Randika tidak minum air sama sekali ketika berada di puncak gunung. Air dingin yang masuk ke dalam tubuhnya ini membuat alam sadarnya ikut terbangun. Tetapi, sensasi lembut apa ini yang ada di bibirnya? Apakah ini adalah bibirnya Hannah? Secara insting, bibir Randika yang kering itu ingin merasakan air dingin itu kembali dan kelembutan bibir Hannah. Tetapi karena masih belum sepenuhnya sadar, Randika tidak bisa bergerak sama sekali. Lalu tiba-tiba bibir lembut itu berpisah dengannya. Hannah menyadari bibir Randika bergerak sedikit setelah memberinya air. Sepertinya memberinya air adalah keputusan yang tepat, hati Hannah menjadi senang. Namun setelah menunggu sekitar 10 menit, Randika masih tidak bergerak sama sekali. Hati Hannah kembali sedih melihatnya. Berdiri sekali lagi, Hannah kembali memberikan air pada Randika melalui mulutnya. Kali ini, Randika memberikan reaksi yang lebih dari sebelumnya. Ketika bibir Hannah hendak pergi, bibir Randika itu menggigit bibir Hannah secara pelan. Bibir itu seakan-akan tidak ingin berpisah dan meminta ciuman yang lebih panas daripada itu! Randika mulai menggerakan jarinya yang buruk rupa itu, sepertinya insting lakinya mengatakan bahwa ciuman itu kurang lengkap kalau tidak meraba dada yang empuk. Melihat jari yang bergerak itu, Hannah terkejut bukan main. Dia lalu berkata pada Randika. "Kak, apa kamu sudah bangun?" Pada saat ini, Hannah menampar-nampar wajah Randika tanpa henti untuk memastikan kakaknya itu tidak pura-pura tertidur. Jika kakak iparnya ini bangun, dia pasti bisa membawanya pergi dari tempat ini. Tetapi setelah 10 menit tidak ada tanda-tanda kakaknya itu terbangun, sepertinya dia malah kembali tertidur lagi. Hannah yang awalnya senang itu kembali menjadi sedih. "Kak, kamu tidak usah khawatir. Selama ini kakak selalu menjagaku, sekarang giliranku untuk menjagamu." Kata Hannah sambil mengelus kepala Randika dengan lembut. Entah kenapa, membelai kepala Randika membuatnya merasa tenang dan aman. Hannah kembali mendatangi kolam air tersebut dan merobek lengan bajunya. Karena udara di gua ini dingin, dia hanya bisa merobek lengan bajunya agar dirinya itu tidak kedinginan. Setelah kain baju itu basah, Hannah lalu meremasnya dan berjalan menghampiri Randika. Hannah kemudian mengelap bagian tubuh Randika yang bersimbah darah itu. Tanah yang menempel di wajah, kerikil-kerikil yang menancap di kuku, debu-debu yang ada di pipi dan darah kering yang ada di perut sampingnya itu dibasuh oleh Hannah dengan lembut. "Kak, aku harap kondisi kak Randika semakin membaik setelah aku bersihkan luka-lukamu ini." Kata Hannah pada Randika yang masih tidak sadarkan diri itu. Wajah Hannah tersenyum hangat pada kakak iparnya yang selama ini membantunya itu. Randika dapat mendengar kata-kata tulus Hannah ini tetapi tubuhnya masih belum bisa bergerak. Hannah kemudian melanjutkan membasuh luka randika. "Kak, apa kakak ingat ketika kita pertama kali bertemu?" Hannah kemudian mengingat kembali pertemuan pertama mereka, wajah Hannah tersenyum hangat. Kedatangan Randika di hidupnya itu sudah memberinya banyak kenangan berharga, apalagi ketika dia mengancam akan tidur dengan kakaknya, wajah Randika yang kalah itu benar-benar berharga. Memikirkan kenangan berharga ini, Hannah hanya bisa tersenyum lebar. Melihat wajah kakak iparnya sekarang, Hannah tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa sosok Randika lagi. Setelah membasuh luka Randika, Hannah kembali berjalan menuju kolam air itu lagi. Meskipun perutnya sudah bunyi dari tadi, Hannah tidak tahu harus memakan apa. Di gua ini sumber makanannya hanyalah ikan sebesar ibu jari ini. Melihat ke dalam kolam, ikan-ikan itu berenang-renang dengan santai. Terkadang mereka akan melompat dan tercebur kembali ke dalam kolam. Kolam dingin ini berdiameter 10 meter, cukup besar untuk sebuah kolam. Hannah mencoba mencari tahu seberapa dalam kolam itu tetapi dia tidak bisa melihat apa-apa. Hannah memutuskan untuk menangkap ikan-ikan itu, tetapi dia tidak bisa masuk ke dalam kolam jadi dia harus menunggu ikan-ikan itu datang ke tepi kolam dan menunggu kesempatan untuk menangkapnya. Terlebih, dia hanya bisa mengandalkan tangannya saja karena dia tidak punya alat untuk memancingnya. Hannah menunggu dengan sabar. Karena kolam ini besar, seharusnya ikan-ikan itu ada banyak jadi tinggal menunggu waktu saja untuk ikan-ikan itu berenang ke arahnya. Tidak lama kemudian, seekor ikan berenang menuju ke tepian. Hannah langsung menjadi senang, kedua tangannya masuk secara perlahan ke dalam air. Namun sesaatnya tangannya itu masuk ke dalam air, ikan itu menjadi takut karena air di sekelilingnya tiba-tiba tersedot. Ikan itu langsung lari menuju tengah kolam. Melihat kejadian ini, Hannah menyadari bahwa dia harus cepat untuk menangkap ikan ini. Dengan berbekal pengalaman sebelumnya, Hannah sekarang mencelupkan tangannya ke dalam air. Tugasnya sekarang adalah menunggu ikan-ikan itu datang ke dalam jangkauannya. Seiring berjalannya waktu, rasa dingin mulai menyelimuti tangan Hannah. Rasa dingin itu bagaikan menusuk tulang-tulang yang ada. Pada saat yang sama, beberapa ikan berenang ke tepian. Hannah berkonsentrasi penuh dan dalam sekejap dia menutup kedua telapak tangannya. Tetapi kecepatan berenang ikan itu benar-benar cepat, setelah Hannah mengeluarkan tangannya dari air, dia menyadari bahwa tidak ada ikan satupun yang berhasil dia tangkap. Sialan! Usahanya yang ketiga juga gagal. Keempat? Gagal lagi. Hannah sudah tidak tahu berapa kali dia berusaha menangkap ikan-ikan kecil ini. Terlebih, dia semakin frustasi dan tubuhnya semakin kedinginan. Rasa frustasi bercampur lapar membuat dirinya kehilangan kesabaran, air mata mulai menetes kembali. "Demi kak Randika, aku tidak boleh menyerah!" Hannah dengan paksa menghentikan air matanya. Benar, kakak iparnya itu selalu membantunya selama ini dan dia belum pernah membalas kebaikannya. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk membalas budi. Bagaimanapun juga, dia tidak boleh menyerah. Jika dia menyerah, kakak iparnya itu akan mati. Hannah membuang emosi-emosi yang tidak perlu dan kembali fokus menangkap ikan. Tangan Hannah yang berada di dalam air itu mulai sakit, bahkan dia hampir tidak bisa merasakan tangannya itu. Namun, tiba-tiba ada sekumpulan ikan yang berenang ke tangannya. Hannah menatap tajam ikan-ikan ini, dia benar-benar gugup. Tangannya perlahan naik ke atas dan ketika ikan-ikan itu tidak mencurigai apa pun, tangannya tiba-tiba menutup dan menyambar ikan-ikan itu! Kena kau! Ketika tangannya keluar dari dalam air, Hannah dapat melihat ada seekor ikan dari celah-celah tangannya itu. "Hore aku dapat!" Hannah benar-benar senang, akhirnya dia berhasil menangkapnya. Dengan cepat, dia berlari ke arah Randika. Meskipun dia kelaparan, kakak iparnya ini pasti lebih membutuhkannya daripada dirinya. Lagipula, kakak iparnya ini adalah pria yang dicintainya, mana mungkin Hannah membiarkannya menderita? Ikan ini harus dimakan oleh Randika terlebih dahulu. "Kak, aku berhasil memancing ikan buatmu." Ketika dia tiba di tubuh Randika, Hannah membuka tangannya dan memegang ikan sebesar ibu jari itu dengan tangannya. Ikan itu berusaha kabur tetapi usahanya percuma. Sekarang masalahnya adalah bagaimana memakannya pada Randika. Melihat ikan kecil di tangannya itu, Hannah membulatkan tekadnya. Dengan mata yang tertutup, Hannah memasukan ikan itu dan mengunyahnya. Satu-satunya cara adalah mengunyahnya terlebih dahulu lalu memberikannya pada Randika, kalau tidak Randika tidak akan bisa memakannya. Hannah tidak pernah memakan makanan mentah sebelumnya, dia tidak pernah makan makanan Jepang dan tidak terlalu suka dengan yang mentah-mentah. Bisa dikatakan bahwa dia berusaha keras demi Randika. Ketika ikan itu tergigit, bau amis mulai memenuhi mulut dan hidungnya. Bau tersebut hampir membuat Hannah memuntahkan ikan tersebut. Namun, dia berhasil menahannya. Untuk menyelamatkan Randika, dia harus mengunyah ikan ini hidup-hidup. Dengan mata tertutup, Hannah mengunyahnya perlahan. Rasa ingin muntah itu selalu ada di setiap gigitannya, tetapi dia berhasil menahannya hingga akhir. Chapter 299: Kekuatan Misterius yang Terhisap Setelah mengunyah ikan itu beberapa saat, tekstur ikan itu sudah mirip bubur. Kemudian Hannah membuka mulut Randika dengan kedua tangannya dan perlahan menyuapinya dengan mulutnya! Ketika bibir Hannah bertemu dengan bibirnya lagi, kesadaran Randika seperti kembali sedia kala. Ketika dia disuapi air oleh Hannah sebelumnya, bibirnya itu belum bisa bergerak. Hampir secara bersamaan ketika Hannah menyuapinya bubur ikan ini, bibir Randika dapat merasakan lembutnya bibir Hannah. Enak sekali! Kesadaran Randika yang seperti keluar masuk itu bisa merasakan kehangatan hati Hannah, dia tahu apa yang sedang dilakukan adik iparnya itu sekarang. Benar-benar adik yang merepotkan. Hati Randika terasa hangat, tetapi secara tidak sadar, lidah Randika mulai mengunci lidah Hannah. Bibir lembut Hannah ini membuat Randika tidak ingin terlepas darinya. Meskipun bibirnya tidak jauh berbeda dengan Inggrid, bibir Hannah lebih fleksibel. Hannah terkejut ketika lidahnya bertemu dengan lidah Randika, seharusnya kakak iparnya ini masih tidak sadarkan diri! Ketika seluruh ikan itu sudah selesai diberikan, Hannah melepas bibirnya dan wajahnya sudah merah padam. "Kak, apa kakak tahu itu ciuman kedua dalam hidupku? Berani sekali kakak mengajakku French Kiss, aku akan mengadukannya pada kak Inggrid!" Hannah menatap tajam Randika, tetapi wajah kakak iparnya itu sama sekali tidak berubah. Namun, dia merasa bahwa kakaknya itu lebih responsif daripada sebelumnya meskipun dia belum sadar sepenuhnya. Kalau kakak iparnya ini benar-benar sadar, dia pasti sudah kelabakan dan bersumpah tidak sengaja melakukannya. Melihat Randika yang tidak bergerak, hati Hannah yang sempat berharap itu kembali meredup. "Kak, jika kamu bangun sekarang aku akan memberikanmu yang lebih. Ayo cepat bangun." Ketika mendengar ini, hati Randika langsung seperti tersengat. Dasar perempuan bodoh, siapa yang tidak terpincut jika kamu berkata seperti itu? Tetapi Randika masih tidak bisa menggerakan badannya dan kesadarannya selalu keluar masuk. Namun ketika mendengar kata-kata Hannah barusan, sepertinya kesadarannya itu ingin berteriak keras dan menagih janji Hannah. Namun, pada saat ini, ketika bubur ikan itu masuk ke dalam tenggorokan Randika, tanpa diduganya ada sesuatu yang masuk ke dalam tubuhnya. Seakan-akan udara dingin itu menyebar ke seluruh organ Randika dan memberikan suntikan energi pada tubuhnya. Hal ini terasa sedikit aneh, sepertinya ikan-ikan di kolam itu memiliki energi misterius yang sangat membantu Randika. Berkat suntikan energi dari ikan yang dimakannya itu, tiba-tiba Randika merasakan energi yang begitu hangat mulai menguasai tubuhnya. Energi itu sudah ada sejak dulu dan sepertinya menunggu waktu yang tepat untuk keluar. Energi itu berasal dari pil obat kakek ketiga yang diberikan oleh Safira kapan hari. Pada waktu itu Randika langsung meminumnya, dia tidak menyangka efeknya baru terasa sekarang. Energi dingin dari ikan itu menstimulasi energi hangat dari pil obat kakeknya itu. Energi hangat itu segera berkolaborasi dengan energi dingin itu dan mencapai harmonisasi yin dan yang. Di dalam tubuh Randika, kedua energi itu mulai bekerja. Keduanya mulai menyebar ke seluruh tubuh Randika dan menyembuhkan segala macam luka. Pemakaian kekuatan misterius yang masih belum dia kendalikan itu membuat tubuh Randika terluka secara internal. Terdapat retakan di beberapa tulang dan belum lagi pendarahan yang ada di setiap bagian tubuh. Sepertinya Randika memang di ambang kematian. Berkat energi misterius dari ikan dan obat dari kakek ketiga ini, tubuhnya perlahan pulih dan nyawanya sudah tidak terancam lagi. Satu-satunya masalah sekarang adalah dia sangat kelaparan. Bagaimanapun juga, Randika adalah seorang manusia bukan seorang dewa. Pada saat kedua energi itu berusaha menyembuhkan tubuh Randika, tiba-tiba kekuatan misterius di dalam tubuhnya itu mulai memberontak kembali. Kekuatan misterius itu seakan-akan tidak terima kedatangan pendatang baru. Oleh karena itu, ia menyerang kedua energi itu tanpa ampun dan ingin membinasakannya. Pada saat ini, Randika sudah hampir sepenuhnya sadar. Dia dapat merasakan tubuhnya mulai membaik dan dia merasa sangat gembira. Tetapi ketika kekuatan misteriusnya yang agresif itu menyerang energi yang sedang memulihkannya, hatinya kembali mengepal. Kenapa kekuatan misteriusnya bertindak seperti itu? Merasakan pertarungan yang ada di dalam tubuhnya, Randika hanya bisa pasrah. Kekuatan misteriusnya itu memang seperti pedang bermata dua, sikapnya yang angkuh itu tidak mau bekerja sama dengan energi lain. Jika bukan karena dia telah dilatih oleh kakek-kakeknya sejak kecil, mungkin Randika sudah kehilangan tubuhnya sejak lama. Tetapi tenaga dalamnya saja itu tidak cukup untuk menahan kekuatan misteriusnya, oleh karena itu dia mengembangkan ramuan X untuk membantu dirinya. Meskipun kekuatan misteriusnya ini sangat krusial di waktu-waktu mendesak, ketika dia terperangkap di ruang bawah tanah Shadow dan pertarungannya dengan Apollo dan Brahman, sifat energinya sangat membebani tubuh dan selalu ingin mengambil alih. Randika benar-benar khawatir, dengan kondisinya yang sekarang dia sudah tidak bisa apa-apa. Tetapi tiba-tiba dia menyadari sesuatu yang mengejutkan. Ada yang salah! Benar, menurut pemahamannya, kekuatan misteriusnya ini sangat kuat dan mendominasi. Energi asing akan dengan mudah dia kalahkan dan akan dipaksanya keluar dari tubuh inangnya. Tetapi kali ini beda, energi yin dan yang itu menghisap kekuatan misterius itu! Benar, kekuatan itu terhisap! Gabungan energi dan pil obat kakeknya itu dengan ajaibnya menghisap kekuatan misterius dalam tubuhnya, apakah dengan ini dia bisa menyerap kekuatan misteriusnya itu? Randika yang masih koma itu benar-benar senang luar biasa. Dia sudah dibuat menderita selama ini dengan kekuatan misterius itu. Jika dia bisa menyerap dan menggunakannya, kekuatannya pasti meningkat ke level yang mengerikan. Jika dia benar-benar berhasil, dia yakin bisa menyerang Gedung Putih sendirian dan menghancurkan Area 51. Tidak akan ada kekuatan di bumi ini yang bisa menghentikan dirinya! Tapi mungkin dia terlalu berlebihan, fokus utamanya sekarang adalah hidup terlebih dahulu. Tetapi penderitaannya ini sungguh-sungguh membawa berkah, jika dia berhasil bertahan hidup maka sudah dipastikan bahwa dia akan terlahir kembali dengan kekuatan yang luar biasa. Pada saat ini, energi gabungan itu masih terus menyerap kekuatan misterinya secara perlahan. Tetapi kekuatan misteriusnya itu masih berusaha melawan dan memaksa energi gabungan itu keluar dari tubuh Randika. Tetapi semua itu percuma, energi gabungan tersebut masih menyerapnya meskipun sangat lambat. Setelah itu dia akan menyalurkan energinya pada tubuh Randika dan menyembuhkan lukanya. Setelah beberapa saat, dia merasa bahwa tubuhnya itu mulai mendapatkan kesadarannya kembali. Tetapi sayang sekali, meskipun ikan ajaib itu memiliki khasiat yang hebat buat tubuhnya, itu semua tetap terbatas. Randika dapat merasakan bahwa energi gabungan itu perlahan mulai berhenti menyerap kekuatan misteriusnya, sungguh sayang sekali. Namun tiba-tiba, Randika merasakan sesuatu yang lembut di bibirnya. Hampir bersamaan, mulut Randika dibuka dengan paksa dan bubur ikan itu kembali masuk ke dalam mulut Randika. Sepertinya Hannah khawatir bahwa ikan sekecil itu cukup buat Randika, jadi dia kembali mengunyah dan memberikannya pada Randika. Dalam sekejap, energi baru itu bersatu dengan energi gabungan yang sudah ada dan Randika dapat merasakan bahwa daya hisapnya sedikit lebih besar daripada yang tadi. Hati Randika kembali senang. Hannah benar-benar pahlawan bagi Randika, jika dia sudah terbangun nanti dia harus berterima kasih sebesar-besarnya pada perempuan satu itu. Tetapi sekarang mulut Randika sedang sibuk, lidahnya bertempur dengan lidahnya Hannah. Hannah dapat merasakan lidah Randika yang bergerak itu dan berpikir bahwa kakak iparnya itu sudah terbangun. Namun ketika melihat Randika belum sadar, dia kembali menjadi sedih. "Kak bertahanlah, aku akan menangkapnya lagi." Kata Hannah dengan suara yang pelan. Tangannya yang kecil itu sudah berubah warna saking dinginnya. Tetapi dia tahu bahwa 2 ikan kecil tidak akan bisa mengenyangkan perut kakak iparnya itu jadi dia harus mengambil beberapa ikan lagi. Berkat bantuan Hannah ini, kekuatan daya hisap energi gabungannya itu jadi lebih cepat. Melihat Randika yang masih tidak bergerak setelah memberinya makan 3x, Hannah memutuskan untuk menangkap beberapa ikan buat dirinya sendiri. Meskipun setiap gigitannya itu hampir membuatnya muntah, dia benar-benar lapar dan tidak punya tenaga sama sekali. Jadi sambil menutup matanya dan mencubit pahanya, Hannah menelan kunyahan ikan itu. Chapter 300: Randika Tersadar Kembali Setelah memakan beberapa ikan, Hannah sudah tidak kuat lagi mencelupkan tangannya. Meskipun perutnya masih lapar, dia sendiri juga sudah tidak kuat dengan rasa dan bau dari ikan-ikan itu. Hannah lalu menatap Randika dengan tatapan kosong. Dia lalu membelai pipi Randika dan berkata dengan nada yang lembut. "Kak, kamu harus bangun." Setelah berkata seperti itu, Hannah sendiri merasa capek. Dia kemudian tiduran di samping Randika sambil memeluknya dan tertidur. Randika sendiri merasa kesadarannya menjadi buram lagi. Namun, tubuhnya ini mengalami progress yang sangat bagus. Menghadapi energi gabungan dari ikan dan pil obat kakeknya, kekuatan misterius itu terus tertekan. Ia tidak punya pilihan selain terhisap dan menyatu dengan energi tersebut lalu menyebar ke tubuh Randika. Perlahan tubuh Randika kembali pulih dan luka-luka internalnya secara ajaib juga pulih. Terlebih, karena Hannah memberinya beberapa ikan lagi, energi gabungan itu cukup untuk bertahan selama sehari. Kesadaran Randika mulai menghilang, sepertinya dia akan kembali ke alam mimpi. Bagaimanapun juga, dia baru saja bertarung dan jatuh dari tebing jadi dia perlu mengembalikan staminanya. Selama dia tidur, energi gabungannya tidak pernah berhenti bekerja. ......ˇ­. Waktu berjalan dengan cepat, dalam sekejap hari sudah berganti. Hannah sendiri akhirnya terbangun setelah mendengar suara ikan yang meloncat-loncat. Dia kemudian menggosok matanya dan memperhatikan sekelilingnya. Hatinya mengepal, dia berharap bisa terbangun dari mimpi buruknya itu tetapi sayangnya ini adalah kenyataannya. Melihat Randika yang masih belum sadarkan diri, Hannah berkata dengan lantang. "Kak Randika tidak usah khawatir, hari ini aku akan menjagamu lagi dan aku akan membuatmu terbangun." Pada saat ini, Randika hampir tersadar dan energi gabungan di dalam dirinya sudah berhenti menyerap. Bagaimanapun juga, energi yang berasal dari ikan-ikan itu sangatlah terbatas. Namun, luka-luka di tubuhnya itu sudah sangat membaik. Hannah sama sekali tidak sadar dengan hal ini. Kemarin ketika dia membasuh tubuh Randika, dia tidak tega melihat kondisi perut Randika yang terkoyak itu dan luka-luka goresan yang ada di punggungnya. Namun hari ini, semua luka itu sudah kering. Berkat bantuan energi gabungan ikan dan pil obat kakeknya, kondisi tubuh Randika sudah berhasil melewati masa kritis dan tenaga dalamnya itu terasa lebih melimpah daripada sebelumnya. Ketika Hannah berjalan menuju kolam air itu lagi, dia melihat bayangan dirinya sejenak lalu melompat ke dalam. Baju yang dikenakannya itu benar-benar sudah penuh lubang, terutama setelah dia menyobek bagian lengannya sebagai kain untuk membasuh Randika, jadi banyak kotoran yang menempel di tubuhnya. Untuk perempuan yang selalu menjaga penampilannya, Hannah merasa tubuhnya itu kotor dan ingin mandi. Awalnya Hannah hanya mencuci wajahnya sebelum dia menceburkan diri, tetapi lama kelamaan dia membuka baju dan celananya lalu melompat ke dalam kolam karena dia merasa seluruh tubuhnya itu kotor. Sekarang, Hannah benar-benar bugil di kolam air dingin ini. Harus diakui sebagai perempuan cantik dan sehat, tubuh Hannah benar-benar kelas dunia. Meskipun tubuhnya dipenuhi dengan tanah, pasir, kerikil, semua itu tidak bisa menutupi kemolekan tubuhnya. Tubuhnya seputih angsa dan pinggangnya ramping, benar-benar tidak ada lemak berlebih di tubuhnya. Terlebih lagi punggung putihnya dan panjang itu membuat semua pria di dunia ini akan terpana ketika melihatnya. Sosoknya yang sedang mandi itu bagaikan malaikat yang turun dari surga. Tetapi yang paling mencolok dari Hannah bukanlah semua hal yang ada di atas, tentu saja para pria di dunia ini akan berfokus pada dua gunung yang dimiliki Hannah. Puting yang pink dan besar dada yang tidak kalah dengan Inggrid dan Viona sungguh enak dipandang. Ketika membasuh dirinya, Hannah sadar bahwa ada pasir di bawah dadanya. Dalam sekejap dia mengangkat kedua dadanya itu dengan tangannya dan membasuh bagian bawahnya. Mungkin jika para pria melihat kejadian ini, mereka akan mimisan saking semangat melihatnya. Hannah sudah mulai kedinginan, dia tidak berpikir terlalu panjang untuk menceburkan dirinya ke dalam kolam ini sebelumnya. Tetapi bagi perempuan yang menjaga penampilan dan kebersihannya, Hannah tidak kuasa untuk menahan dirinya untuk tidak mandi. Di belakang Hannah yang bugil itu, Randika perlahan membuka matanya. Karena memakai kekuatan misteriusnya terlalu banyak dalam sehari, Randika hampir saja mati dan dia lumpuh total seharian penuh. Setelah tenaga dalamnya pulih karena energi gabungan dari ikan dan pil obat kakeknya, kondisi tubuhnya yang sekarang ini benar-benar bertolak belakang dengan kemarin. Terlebih lagi, jika dia tidak bangun hari ini maka kondisi fisiknya itu akan memburuk. Randika membuka matanya dan duduk, hampir semua kejadian kemarin kembali memenuhi benaknya. Ketika dia memperhatikan sekelilingnya, dia tidak menemukan Hannah. Tetapi ketika matanya tertuju pada pinggir kolam, matanya hampir copot. Karena Hannah, sedang duduk di pinggiran kolam dan tidak memakai baju atau celana satu pun, sedang membasuh kakinya! Hannah, yang awalnya menceburkan dirinya ke dalam kolam, merasa kedinginan itu segera naik dan duduk di pinggiran kolam. Dia lalu memutuskan untuk membasuh tubuhnya perlahan di pinggir kolam. Ketika Randika memperhatikan kejadian ini, tubuh putih dan mulus Hannah itu membuat dirinya hampir kehilangan kendali. Untung saja kondisinya ini tidak memungkinkan dirinya bertindak aneh-aneh, kalau tidak bisa-bisa dia gelap mata dan bermesraan dengan adik iparnya sendiri. Tidak, tidak, dia itu adik iparmu! Bahkan ketika sehat pun dia tidak akan menyentuhnya! Dalam sekejap, Randika membuang segala pikiran kotor itu jauh-jauh. Dia bukanlah orang mesum, kenapa dia bisa memiliki ide seperti itu? Tetapi kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi, oleh karena itu Randika harus menikmati pemandangan indah ini dan merekam kejadian ini di benaknya. Tetapi setelah dipikir-pikir kembali, tempat ini tidak ada orang dan adik iparnya itu bugil. Bukankah ini sebuah undangan tersembunyi? Terlebih lagi, jika dia berhasil membuat Hannah sebagai anggota haremnya, dia bisa bermain bertiga bersama Inggrid dan Hannah. Ketika memikirkan hal ini, Randika mau tidak mau menjadi semangat. Benar-benar kenikmatan duniawi! Pertanyaannya adalah apakah dia akan melakukannya atau tidak? Randika masih berpikir, tetapi matanya masih berfokus menatap tubuh Hannah. Pada saat ini, posisi Hannah sedikit berubah dan Randika hanya bisa melihat punggungnya. Napas Randika semakin berat dan dia sangat menyukai bagian punggung Hannah. Justru karena dia tidak bisa melihat seluruh tubuh Hannah lagi, Randika tidak bisa menahan dirinya lagi. Dia sudah membulatkan tekadnya. Hajar! Jika dia tidak mengambil kesempatan ini, dia akan selamanya menyesal. Karena tidak ada orang dan hanya ada mereka berdua di tempat ini, dia harus berani dan membuat Hannah menjadi anggota haremnya. Keberuntungan selalu berpihak pada orang yang berani melangkah! Chapter 301: Kekuatan Yin dan Yang Sekarang adalah waktu yang tepat untuk membuat Hannah menjadi salah satu perempuan yang tidak bisa lepas dari dirinya, sisanya dia tinggal meyakinkan Inggrid saja. Memikirkan hal ini, Randika tidak bisa menahan air liurnya untuk menetes. Dia lalu berjalan menuju Hannah yang masih sibuk membasuh tubuhnya itu. Gua ini benar-benar sunyi, suara langkah kaki dapat terdengar dengan jelas. Ketika Hannah mendengar suara langkah kaki itu, dia menoleh dan mendapati bahwa Randika sudah sadar dan berjalan menghampirinya. Sialan, aku ketahuan! Randika sedikit malu karena hal ini, kenapa Hannah tiba-tiba menoleh ke dirinya? Jika dia tidak menoleh, dia akan menyerangnya dari belakang. Randika awalnya ingin memberi sebuah alasan, tetapi tiba-tiba, kedua mata Hannah dibanjiri dengan air mata. Kesedihan dan kesepian yang menghantui dirinya selama ini langsung keluar bersama air matanya, dia lalu berlari menuju Randika dan hendak memeluknya. "Kak Randika? Kak Randika!" Hannah tidak bisa berhenti menangis, Randika sendiri tidak tahu harus berbuat apa. Karena ketika Hannah berlari menuju dirinya, kedua dadanya yang besar itu naik turun tiada henti. Dada yang kenyal itu pertanda bahwa Hannah tumbuh dengan sehat. Kenapa perempuan diciptakan dengan tubuh menggoda iman para lelaki seperti ini? Terutama perempuan cantik seperti Hannah begini kenapa dipersenjatai dengan figur tubuh yang kelas dunia juga? Mana ada lelaki yang dapat menahan diri mereka ketika dipeluk seperti ini? Oleh karena itu, perempuan cantik seperti Hannah ini merupakan sebuah karya seni yang tidak ternilai. Meskipun Hannah dua hari ini terlihat tegar, dia sebenarnya ketakutan. Dia belum pernah mengalami kejadian seperti ini dan dia benar-benar takut Randika akan mati di hadapannya. Jadi ketika melihat Randika sudah berdiri dengan kedua kakinya, Hannah tidak bisa menahan dirinya untuk tidak berlari ke arahnya. Dia bahkan tidak sadar kalau dia masih telanjang bulat ketika dia menerjang ke arah Randika. "Syukurlah kak, Hannah benar-benar kesepian." Pada saat ini, Randika menelan air ludahnya kembali. Hannah yang emosional itu memeluk dirinya dengan erat. Randika dapat merasakan kedua puting Hannah yang mengeras itu menempel di dadanya. Randika semakin tidak bisa menahan dirinya lagi. Randika tidak kuasa menahan dirinya lagi, kedua tangannya itu secara tidak sadar berusaha meremas dada dan pantat Hannah. Tetapi air mata Hannah yang menempel di dirinya itu menggagalkan niatnya. Jika saja Hannah bersikap lebih dewasa dan lebih memperhatikan pakaiannya, levelnya sebagai perempuan cantik sudah berada di level kakaknya. Randika yakin orang yang mengejar Hannah akan sama banyaknya dengan yang mengejar Inggrid. "Sudah tidak usah menangis seperti itu, aku sudah baik-baik saja." Randika menahan niat jahatnya itu. Melihat Hannah yang menangis tersedu-sedu, hati kecil Randika juga ikut melunak. Dia teringat dengan usaha Hannah yang begitu luar biasa bagi dirinya. Terlebih lagi, kalau bukan karena usaha Hannah dalam menangkap ikan-ikan itu, dia sudah pasti mati. Randika memeluk punggung telanjang Hannah, sensasi itu sama nikmatnya dengan yang di depan. "Kak, ini bukan mimpi kan? Kamu benar-benar sudah sadar?" Setelah menangis beberapa saat, Hannah mengangkat kepalanya dan menatap Randika. "Iya ini sungguhan aku." Randika lalu mencubit pipi Hannah dan tersenyum padanya. "Terima kasih telah menjagaku selama ini, aku sekarang sudah jauh lebih baik." Hannah tersipu ketika melihat senyuman Randika, dia hanya mengangguk kecil. Setelah meluapkan seluruh perasaannya dengan menangis, Hannah jauh merasa lebih baik. "Bagaimana luka-lukamu?" Tanya Hannah dengan cemas. "Berkat bantuanmu, luka di tubuhku itu sudah perlahan sembuh seperti dulu." Randika tersenyum lebar dan membelai rambut Hannah. Jika bukan karena usaha Hannah kemarin, dia benar-benar akan mati di tempat. "Bantuanku?" Wajah Hannah terlihat bingung. Memangnya hubungannya apa dengan luka di tubuh Randika dengan bantuannya? "Kalau bukan karena makanan yang kamu berikan itu, aku tidak akan pernah bangun lagi. Saking enaknya aku sampai mencari-cari makanan itu dengan lidahku." Wajah Randika tersenyum lebar, sedangkan Hannah tersipu malu karena mendengar perkataan Randika itu. Baginya kemarin ciuman French Kiss itu pertama baginya, sekarang setelah Randika membahasnya dia tidak berani melihat wajahnya. "Han, ikan-ikan itu benar-benar bermanfaat bagi tubuhku. Bagaimana kalau nanti kamu menyuapiku lagi seperti kemarin?" Tanya Randika. Wajah Hannah semakin merah, memang sejak kemarin dia mencium Randika terus-menerus tetapi dia melakukannya karena Randika membutuhkan pertolongannya. Sedangkan sekarang Randika sudah sadar dan seharusnya bisa makan sendiri bukan? Ketika Hannah malu-malu ingin mengangguk setuju, dia tiba-tiba sadar bahwa kakak iparnya itu hanya bermaksud menggodanya. "Kak, bisa-bisanya kakak bercanda di saat seperti ini." Kata Hannah dengan mulut cemberut. Ketika Hannah yang bermata merah itu menatap dirinya, Randika tidak bisa menahan dirinya untuk tidak mencium Hannah. Pada saat ini, Hannah masih memeluk erat Randika. Di saat mereka hendak berciuman, Randika dapat merasakan kedua dada Hannah yang empuk itu makin menggoda bagi dirinya. Tetapi karena kondisinya masih tidak memungkinkan untuk berbuat lebih, dia memutuskan untuk mencium kening Hannah. Sambil memisahkan diri, Randika berkata pada Hannah sambil tersenyum. "Han, jangan terlalu banyak bergerak. Kamu sedang tidak memakai baju, jika kamu bergerak lagi nanti tombolku akan nyala dan aku tidak berhenti sama sekali." Mendengar hal ini, Hannah benar-benar terkejut bukan main. Karena saking senangnya Randika sudah tersadar dari tidurnya, dia benar-benar lupa bahwa dia sedang tidak memakai apa-apa. "Ah! Jangan lihat kak! Tutup matamu, tidak, balik badan sana dan jangan mengintip." Hannah langsung melepaskan pelukannya dan menutupi badannya dengan kedua tangannya. Randika hanya berdiri diam dan memperhatikan Hannah, bukankah dada itu sudah menyentuh dirinya? Kenapa Hannah masih malu memperlihatkan tubuhnya itu? Namun Randika tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Hannah. Hannah sendiri tidak menyangka Randika akan tiba-tiba bangun dan berjalan menghampirinya. Pada waktu Hannah melihat dirinya, tanpa berpikir panjang adik iparnya itu langsung berlari ke arahnya karena saking leganya dan menangis di pelukannya Randika, dia sama sekali tidak sadar bahwa dia sedang telanjang. "Kak! Sudah jangan ngintip terus, balik badan sekarang!" Melihat Randika yang masih menatap dirinya, Hannah menjadi marah. "Aku pakai baju dulu dan jangan berani-berani mengintip!" Kata Hannah sambil terus menutupi tubuhnya dengan kedua tangannya. "Jangan khawatir, lagipula kita keluarga bukan? Buat apa malu-malu begitu, sudah sana cepat pakai bajumu." Hannah dengan cepat berlari menuju pinggiran kolam dan mengambil pakaiannya. Sesekali dia akan mengintip Randika dan menyadari bahwa kakak iparnya itu sama sekali tidak berusaha mengintipnya, ini membuat Hannah merasa lega. Randika sendiri tidak perlu mengintipnya lagi karena dia sudah merekam tubuh telanjang Hannah di benaknya ketika dia membasuh badannya tadi. Ingatan itu tidak akan pernah hilang dari pikirannya untuk selamanya. Tak lama kemudian, Hannah berkata pada Randika. "Sudah kak, kak Randika boleh menoleh." Randika menoleh dan melihat Hannah lalu mengatakan. "Kamu benar-benar cantik." "Sudah jangan bercanda kak." Mendengar pujian itu, hati Hannah sedikit merasa senang. Melihat kakak iparnya ini tidak berubah, Hannah benar-benar senang. Dia segera menghampirinya dan berbincang-bincang. Ketika keduanya berbincang, mata Randika memeriksa gua ini sekali lagi. Kemarin dia hanya sempat sekilas memerika gua ini sebelum dirinya pingsan, sekarang dia berusaha memahami lingkungannya ini. "Kak, ikan yang kakak makan itu berasal dari kolam itu." Kata Hannah sambil menunjuk kolam berdiameter 10 meter itu. Mata Randika tertuju pada kolam tersebut. Seketika itu juga, ada beberapa ikan yang meloncat dari air dengan semangat. Keduanya lalu berjalan menghampiri kolam itu, Randika lalu mencelupkan tangannya ke dalamnya. Tangan Randika sudah seperti jaring, dalam sekejap dia sudah berhasil menangkap seekor ikan. Hannah yang terpukau itu langsung bertepuk tangan, dia sendiri tahu betapa susahnya menangkap ikan itu. "Kak Randika memang luar biasa." Hannah sendiri harus bersabar ketika menangkap ikan-ikan itu kemarin, tetapi sekarang kakak iparnya bisa menangkapnya dengan satu tangan dan dalam waktu yang singkat. Randika lalu menatap ikan itu lekat-lekat, inikah ikan yang dimakan dirinya kemarin? Setelah dilihat-lihat, ikan ini berbeda dengan ikan yang pernah dilihatnya. Sepertinya habitat ikan ini hanya di kolam dingin ini saja. Setelah memegangnya beberapa saat, Randika memasukan ikan itu hidup-hidup ke mulutnya dan mulai mengunyahnya. Setiap gigitan yang dilakukannya, sebuah energi mulai masuk ke dalam tubuhnya. Ketika dia menelannya, energi yang sebelumnya berhenti menyerap kekuatan misterius di dalam tubuhnya, mulai bergerak kembali. Mata Randika berbinar-binar. Ketika dia melihat kolam dingin itu, hatinya benar-benar senang. Kekuatan misterius di dalam tubuhnya itu benar-benar merepotkan dirinya selama ini dan sekarang ia sedang terpojok berkat energi yang berasal dari ikan-ikan ini dan pil obat kakeknya. Randika tidak menyangka bahwa ikan-ikan ini mempunyai kekuatan untuk menyerap kekuatannya itu. Inikah kekuatan alam? Yin dan Yang adalah konsep dalam filosofi Cina yang biasanya digunakan untuk mendeskripsikan sifat kekuatan yang saling berhubungan dan berlawanan di dunia ini dan bagaimana mereka saling membangun satu sama lain. Kekuatan misterius yang ada di dalam tubuhnya itu kuat, kasar dan mendominasi ini bisa dikatakan Yang. Sedangkan energi yang terkandung pada ikan ini lebih bersifat lembut seperti Yin. Keduanya lalu menciptakan harmonisasi dan bersatu. Sepertinya itulah penjelasan yang paling masuk akal bagi Randika. "Hmm? Ada apa kak?" Hannah cemas ketika Randika tiba-tiba terdiam setelah memakan ikan yang ditangkapnya. "Tidak apa-apa, tetapi rasanya aku perlu masuk ke dalam kolam dan mandi." Kata Randika sambil tertawa. Lalu di bawah tatapan mata Hannah, Randika benar-benar membuka baju dan celananya. "Kak!" Hannah terkejut ketika melihatnya, bukankah ini pelecehan seksual? Ketika Randika sudah telanjang, dia meletakkan pakaiannya agak jauh dari kolam sebelum menceburkan dirinya ke dalam kolam. Sedangkan Hannah yang menutupi wajahnya dengan tangannya, berusaha mengintip Randika dari sela-sela jarinya. Dia penasaran seberapa besar barang kakak iparnya itu. Kemudian di bawah tatapan mata Hannah yang sembunyi-sembunyi itu, Randika sudah melompat dan menceburkan diri ke dalam kolam dingin tersebut. Chapter 302: Terobosan Baru Karena ikan-ikan ini memiliki efek yang baik untuk dirinya mengendalikan kekuatan misterius di dalam tubuhnya, Randika tidak bisa melepaskan kesempatan ini. Kolam yang berada di tengah-tengah gua terpencil ini benar-benar fenomena yang aneh, Randika menganggap bahwa kolam ini merupakan kolam sakral yang sudah ada sejak dulu. Terlebih lagi ada makhluk hidup yang tinggal di kolam ini sungguh patut dipertanyakan. Menurut analisa Randika, karena ikan-ikan itu selama ini berada di kolam sakral ini, mereka telah menyerap energi yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, inilah kesempatan terbaik Randika untuk mengontrol kekuatan misterius di dalam tubuhnya. Asalkan dia memakan banyak ikan dari tempat ini, seharusnya dia dapat mengontrolnya dengan sempurna. Mengingat betapa kuat kekuatan misteriusnya itu, Randika jelas tergoda untuk menggunakannya. Jadi dengan tubuh telanjangnya, dia langsung menceburkan diri ke dalam kolam. Pada saat ini, air terciprat ke segala arah dan, pada saat yang bersamaan, Randika langsung menggigil kedinginan. Air kolam ini benar-benar dingin, adik besarnya itu sampai ikut mengkerut dan menjadi kecil. Namun, Randika tidak terlalu memedulikannya. Selama dia bisa mengendalikan kekuatan misterius di dalam tubuhnya, pengorbanan seperti ini sangatlah setimpal. Apabila dibandingkan dengan pengalaman hidupnya selama ini, air dingin ini bukanlah apa-apa baginya. Ketika permukaan air yang tenang itu tiba-tiba penuh dengan riak, ikan-ikan itu terkejut dan berlarian ke mana-mana. Sayangnya ada seekor ikan yang terjebak di pusaran air dan langsung tertangkap oleh Randika. Tanpa sungkan-sungkan, Randika langsung melahapnya. Setelah ikan itu tertelan, energi dingin itu langsung menyatu dengan energi gabungan sebelumnya. Pada saat ini, Randika sudah berenang menuju dasar kolam. Setelah beberapa saat, dia membuka matanya untuk memeriksa keadaannya. Dia benar-benar terkejut ketika melihatnya. Kedalaman kolam ini benar-benar mengejutkan, menurut perkiraannya kedalamannya itu lebih dari 15 meter. Terlebih lagi, kolam ini jauh lebih besar daripada ketika dia melihatnya dari atas. Melihat kolam yang menakjubkan ini, Randika semakin kagum dengan alam. Di saat Randika menyelam, dia menemukan segerombolan ikan yang berenang bersama-sama dengan gembira. Randika senang bukan main, di matanya ikan-ikan itu sudah sama seperti harta karun. Tanpa pikir panjang, Randika langsung melesat menuju ikan-ikan tersebut dan berhasil menangkap 4 ikan dengan kedua tangannya. Hannah yang menutup matanya itu menunggu Randika yang menyelam di pinggir kolam. Pada saat ini, tiba-tiba Randika muncul dari dalam air dan membawa empat ikan di tangannya. Setelah memberikannya pada Hannah, Randika kembali menyelam telanjang bulat ke dalam kolam. Setelah beberapa saat, dia kembali muncul dari dalam air dan air langsung membasahi ke segala arah. "Kak, hati-hati dong." Hannah yang terkejut itu langsung menutupi matanya dengan tangannya. Tanpa berbicara apa-apa, Randika melahap 4 ikan yang dijaga Hannah itu dan beberapa ikan yang barusan dia tangkap. Dengan beberapa ikan sekaligus, energi yang masuk ke dalam tubuhnya itu langsung menyatu dan membentuk bola yang cukup besar. Bola energi itu langsung bekerja dan menyerap kekuatan misterius Randika. Pada saat dia menyelam kembali, Randika merasa heran. Sepertinya ada aura dingin yang menyelimuti dirinya selama dalam air. Aura dingin ini sepertinya membantu menekan kekuatan misterius di dalam tubuhnya, jadi menurut analisanya kolam inilah yang menjadi sumber energi para ikan tersebut. Tidak ada penjelasan lain yang bisa Randika pikirkan lagi, sepertinya dia telah menemukan kolam sakral yang sudah berusia ratusan tahun. Setelah muncul kembali di atas, Randika kembali mengunyah ikan-ikan itu. Dia tidak keberatan dengan ikan yang meronta-ronta di mulutnya, lagipula ini juga demi keselamatan dirinya jadi dia tidak akan sungkan menghabisi ikan-ikan tersebut. "Han, apa kamu lapar?" Randika tersenyum dan memberikan beberapa ikan kepada Hannah. Dengan mata tertutup, Hannah dengan cepat menggelengkan kepalanya. Bau amis dan sensasi ikan yang dia kunyah tadi malam masih menghantui pikirannya. Kalau bukan karena Randika yang sedang kritis, dia tidak akan mungkin mengunyahnya. Melihat Hannah menolak, Randika tidak sungkan-sungkan. Dia kembali memakan ikan itu dan kembali menyelam. Jumlah ikan-ikan sebesar ibu jari ini sangat banyak di dalam kolam ini, tetapi Randika tidak bisa menemukan spesies lain selain ikan-ikan ini. Randika tidak peduli, dia hanya peduli dengan ikan-ikan ini. Sambil berenang mengincar target, Randika berhasil menangkap beberapa ikan dengan kedua tangannya. Hannah sudah lelah menutup matanya dan duduk di kejauhan, lagipula kakak iparnya itu hanya muncul ke permukaan untuk mengunyah dan kembali menceburkan diri ke dalam kolam. Di dalam hatinya Hannah itu terheran-heran, Randika pasti lapar sekali sampai-sampai berani berbuat seperti itu. Randika sendiri sangat puas dengan hasilnya, gabungan energi ikan dan pil obatnya itu berhasil menyerap kekuatan misterius di dalam tubuhnya jauh lebih cepat daripada kemarin. Selama dia berhasil menyerap dan menggunakan kekuatan misterius itu, siapa yang berani melawan dirinya di dunia ini? Bahkan berikutnya dia melawan 2 atau 3 Dewa dari 12 Dewa Olimpus, dia yakin bisa menghajar mereka dengan 1 tangan! Randika kembali menyelam dan muncul permukaan hanya untuk mengunyah hasil tangkapannya. Jika dia bisa makan di dalam air, mungkin dia sama sekali tidak akan keluar. Ikan-ikan di dalam kolam itu kebingungan, mereka merasa bahwa teman-temannya itu menghilang satu per satu. Ketika Randika berenang menuju kawanan mereka, ikan-ikan ini tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya bisa pasrah ketika tertangkap. Randika sudah tidak tahu berapa puluh ikan yang dia makan. Ketika dia hendak kembali menyelam, dia merasa perutnya itu sudah penuh. Randika geleng-geleng dan tersenyum pahit. Dia hampir lupa bahwa perutnya memiliki kapasitas terbatas, kalau tidak bisa-bisa dia memakan semua ikan yang ada di dalam kolam. Namun karena perutnya itu sudah penuh dan energi di dalam tubuhnya sedang bekerja, Randika memutuskan untuk melihat-lihat apa yang ada di dalam kolam air dingin ini. Melihat ke sekelilingnya, tidak ada sesuatu yang mencolok. Selain tumbuh-tumbuhan air di sisi kolam, tidak ada sosok hewan selain ikan-ikan kecil itu. Randika mulai menyelam lebih jauh lagi. Ketika dia makin ke bawah, suhu air semakin dingin. Ajaibnya, dia merasa bahwa aura dingin yang menyelimutinya tadi justru makin membantu penyerapan kekuatan misterius di dalam tubuhnya. Randika terkejut bukan main, berarti semakin dia menyelam ke bawah semakin cepat proses penyerapannya? Bukankah ini hal bagus? Tanpa ragu-ragu, Randika menyelam semakin dalam. Sekarang dia sudah berada di tengah-tengah kolam. Namun, Randika tiba-tiba mengerutkan dahinya. Suhu di sekitarnya itu sudah mencapai 3 derajat. Jika dia semakin menyelam ke bawah, suhunya bisa-bisa mencapai 0 bahkan lebih dari itu. Terlebih lagi, titik beku air adalah 0 derajat, jadi seharusnya air di bawahnya itu akan membeku. Terlebih lagi, orang bisa-bisa mati beku karena tubuh telanjang manusia tidak bisa bertahan di suhu seekstrim itu. Tetapi Randika bukanlah orang sembarangan, dengan bantuan tenaga dalamnya dia bisa menghangatkan dirinya. Randika kembali menyelam dan suhu air perlahan ikut turun. Tidak lama kemudian, suhu air di sekitarnya sudah mencapai 0 derajat. Tetapi ajaibnya air di kedalaman ini sama sekali tidak membeku. Randika terlihat bingung, dan akhirnya dia menyadari bahwa kolam ini memang berbeda dengan yang lain. Sepertinya air di dalam kolam ini terlalu banyak dan sedikit mengandung garam jadi bagian bawah kola mini tidak membeku. Setelah menyelam beberapa lama, Randika merasa bahwa penyerapan kekuatan di dalam tubuhnya itu jauh lebih cepat daripada sebelumnya. Sekarang Randika sudah tidak berani menyelam lebih jauh lagi, karena suhu air yang terus menurun. Terlebih lagi, dia khawatir tubuhnya itu akan mengalami gangguan sirkulasi udara meskipun tenaga dalamnya itu melindungi dirinya. Jadi Randika hanya mengapung sementara waktu. Setelah beberapa saat, dia mengaktifkan kekuatan misterius di dalam tubuhnya. Kekuatan misteriusnya itu langsung memberontak dan berusaha mengambil alih kesadaran Randika. Tetapi usahanya itu sia-sia, energi gabungan sebelumnya dan dibantu dengan aura dingin kolam, kekuatan misterius itu melebur jadi satu dengan tenaga dalam Randika. Merasakan kekuatan yang melimpah, Randika merasa lebih bertenaga daripada sebelumnya. Dia selama ini belum mengalami terobosan sama sekali terhadap kekuatan misteriusnya itu, dan berkat datang ke gua ini sekarang dia berhasil melampauinya. Terakhir kali dia mencoba adalah ketika dia bersemedi di kamar dan tiba-tiba Hannah datang mengganggu dirinya. Dalam sekejap tubuhnya itu tidak kuat menahan kekuatannya dan dia pun harus berbaring di rumah sakit. Randika sekarang menutup matanya sambil terus mengapung. Ikan-ikan itu penasaran dengan sosok misterius yang tiba-tiba datang di kolam mereka. Ikan-ikan itu menghampirinya dan berenang-renang di sekelilingnya. Ikan-ikan ini sama dengan ikan-ikan sebesar ibu jari di permukaan, tetapi warnanya hanya sedikit lebih hitam dari sebelumnya. Randika tidak peduli dengan ikan-ikan ini, dia merasakan bahwa tenaga dalamnya itu bersikulasi lebih cepat dan dia merasa jauh lebih bertenaga daripada sebelumnya. Kekuatan misteriusnya itu terus-menerus terhisap dengan cepat dan pada akhirnya melebur jadi satu! Tenaga dalamnya yang melimpah itu mulai mengalir deras ke titik-titik vital di tubuhnya. Akhirnya, titik-titik tersebut tidak kuat menahan aliran deras tenaga dalamnya ini dan meledak menjadi serpihan! Ketika titik-titik tersebut terbuka, tenaga dalam Randika yang seperti pusaran angin itu melesat dan membuat Randika penuh dengan tenaga. Randika lalu membuka matanya dan merasakan bahwa pori-pori di tubuhnya itu terbuka dan bahkan air di sekitar pori-porinya itu seakan-akan terhempas. Randika dapat merasakan bahwa kekuatan, reaksi, inderanya jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Daya tempurnya sudah menjadi 2x lipat daripada sebelumnya! Dari awal Randika itu sudah sangat kuat. Jika kekuatannya itu menjadi 2x lipat lebih kuat, siapa yang bisa mengalahkannya? Randika ingin tertawa, tetapi ketika mulutnya terbuka, air kolam langsung memasuki mulutnya. Dia lupa kalau dia masih berada di air. Tanpa pikir panjang, Randika berenang menuju permukaan kolam. Hannah yang duduk lumayan jauh dari kolam itu sedang khawatir. Kenapa kakak iparnya itu tidak muncul-muncul? Apa dia bertemu dengan buaya di kolam itu? Chapter 303: Terjebak Dalam Suasana Misterius Hannah mendatangi kolam itu sekali lagi. Ketika dia berusaha melihat permukaan kolam itu, tiba-tiba air muncrat ke mana-mana. Kemudian Randika tiba-tiba muncul ke permukaan air. Hannah sama sekali tidak menyangka Randika akan keluar, air itu langsung membasahi seluruh tubuh dan pakaiannya. Hannah sendiri sudah memakai baju yang tipis dan compang-camping, sekarang karena air itu bajunya menempel pada bentuk tubuhnya. "KAK! Pakai bajumu!" Hannah benar-benar marah sedangkan Randika langsung memakai bajunya sambil terus memperhatikan tubuh sexy Hannah khususnya kedua dadanya yang besar itu, dia sangat ingin merabanya. Hannah memperhatikan bahwa tatapan mata kakak iparnya ini tertuju pada dirinya. Ketika Hannah menyadarinya, dia langsung menutupi tubuhnya dengan tangannya. "Kak, kenapa kamu begitu mesum!" "Han, kan tidak ada salahnya melihat? Lagipula aku juga sudah melihat yang jauh lebih vulgar dari ini bukan?" Kata Randika sambil tersenyum. Karena tubuhnya masih basah, Randika melepas bajunya dan hanya memakai celananya. Tubuh sixpacknya itu langsung memenuhi kedua mata Hannah. "Kak, lihat apa yang kamu perbuat, aku tidak punya baju selain yang ini." Kata Hannah sambil tersipu malu. "Jangan khawatir, aku akan membuat api unggun untukmu." Membuat api unggun? Hannah terlihat bingung, bagaimana caranya membuat api? Tidak ada bahan yang bisa dijadikan sumber api di gua ini. Randika tidak menjelaskan apa-apa dan hanya berjalan keluar dari gua. Setelah memeriksa sekelilingnya, dia menemukan sebuah pohon yang ikut jatuh bersama dirinya sebelumnya. Tanpa ragu-ragu, dia langsung membawa pohon itu ke dalam gua. Namun yang tidak diketahui Randika adalah seseorang tidak sengaja memfoto dirinya menyeret pohon tersebut. Meskipun hasil fotonya tidak terlalu jelas, hal ini cukup menggemparkan. Gorilla di gunung ini? Penemuan luar biasa yang sangat mengejutkan! Foto ini kelak akan menggemparkan para ilmuwan di Indonesia, apalagi perilakunya yang menyeret pohon itu sangat dipertanyakan. Randika berjalan perlahan menuju tengah gua dengan hanya bercelana panjang saja. Meskipun sebenarnya dia bisa mengeringkan bajunya dengan tenaga dalamnya, dia tidak bisa melakukannya di depan Hannah. Kalau tidak, bisa-bisa perempuan itu memintanya memakai semua pakaiannya dan mengeringkannya. Terlebih lagi, Hannah tidak bisa memakan ikan-ikan itu secara mentah jadi dia memang perlu membuat api unggun. "Han, tunggulah sebentar dan aku akan membuatkan makanan enak buatmu." Kata Randika sambil tersenyum. Lalu dia menyelam kembali ke dalam kolam. Kali ini Randika berhasil menangkap beberapa ikan sekaligus dan menaruhnya di pinggir kolam. Setelah 3x menyelam, dia berhasil menangkap sekitar 15 ikan. Setelah mengeringkan diri, Randika mematahkan dahan-dahan yang ada di pohon dan menusukan ikannya pada ranting pohon. Setelah menyalakan api unggun, dia memanggang ikan-ikan tersebut. Melihat kejadian ini, Hannah bertepuk tangan dengan gembira. "Kak Randika memang luar biasa!" Pada saat ini, Randika di mata Hannah benar-benar tampan. Dia tidak menyangka kakak iparnya itu bisa memasak di tempat seperti ini. "Kalau begitu lepas bajumu." Kata Randika dengan santai. "Tapi jangan berani-berani untuk mengintip atau aku akan melaporkannya pada kak Inggrid." Kata Hannah sambil tersenyum nakal. Kemudian dia melepas bajunya dan kedua dadanya yang berbalut beha itu kembali nampak. Randika menelan air ludahnya, adik iparnya ini memang sungguh luar biasa. Ketika menaruh baju dan celana Hannah di dekat api, kata-kata Hannah itu terngiang-ngiang di benak Randika. Dia sadar bahwa dia tidak boleh berada di tempat ini terlalu lama. Dia tidak tahu apakah Inggrid berhasil melarikan diri atau tertangkap. Hannah duduk di dekat api sambil menutupi tubuhnya, karena air tadi tubuhnya sedikit kedinginan. Mengingat sifat Randika, jika dia tidak memanfaatkan kesempatan ini maka dia bukanlah lelaki. Tetapi Hannah menghalangi tubuhnya itu dengan sempurna, Randika tidak bisa melihat apa-apa. Sedangkan Hannah masih fokus pada ikan-ikan yang dipanggang itu, dia sudah tidak sabar memakannya. Randika sendiri sedikit tertawa melihat wajah senang Hannah yang seperti anak kecil itu. Tak lama kemudian, ikan-ikan itu akhirnya matang. Meskipun tidak dibumbui, Hannah sudah benar-benar lapar. Cacing di perutnya sudah tidak sabar menyantapnya. Dia langsung mengambil 2 tusuk dan memakannya dengan rakus. Namun, cara makannya yang sembrono itu membuat mulutnya kepanasan. "Ah!" Randika menatap senyum Hannah yang kelaparan itu, dia lalu ingat kemarin Hannah bersusah payah menangkap ikan dan mengunyahnya untuk dirinya. Randika lalu berkata dengan lembut. "Han makanlah dengan pelan. Tidak perlu khawatir, sekarang adalah giliranku untuk menjagamu." Hannah melihat kelembutan di tatapan mata Randika, hatinya benar-benar tergerak. Dia hanya mengangguk pelan dan mulai meniup dulu makanannya. Kedua orang ini sama sekali tidak berbicara, yang satunya lagi makan dan yang satunya lagi menikmati pemandangan gunung yang indah. Gua ini akhirnya mendapatkan keheningannya kembali. Karena Hannah memakan ikan itu dengan kedua tangannya, Randika dapat menikmati pemandangan indah itu dengan diam. Perlahan ikan-ikan itu habis dan menjadi asupan energi buat Hannah. Randika sendiri sudah sangat kenyang jadi seluruh tangkapannya itu dimakan oleh Hannah. Setelah selesai makan, pakaian yang dikeringkannya itu juga sudah kering. Hannah lalu memakai pakaiannya dan berdiri. "Kak, aku ingin keluar dan melihat-lihat." Kata Hannah sambil tersenyum. Randika lalu mengangguk dan berdiri. Hannah berjalan keluar dari gua dan menyambut sinar matahari yang bersinar dengan terang, tetapi hatinya mengepal ketika dia melihat sekelilingnya. Meskipun dia merasa beruntung bisa hidup, tetapi rasa tidak berdaya seperti ini membuatnya menghela napas. Bagaimana caranya mereka bisa keluar dari tempat ini? Jika tidak bisa keluar maka mereka harus tinggal di tempat ini dan menunggu bantuan yang tidak tahu kapan akan datang. Tetapi sumber makanan mereka sangatlah terbatas dan apakah bantuan itu akan datang? Hannah terdiam, dia sepertinya berpikir dengan sangat keras. "Han, ada apa denganmu?" Suara Randika membuat Hannah kembali dari linglungnya. "Kak, apakah kita bisa keluar dari tempat ini?" Hannah menoleh ke arah Randika. Kedua matanya itu menatap Randika lekat-lekat. Jika mereka ingin keluar, semuanya bergantung pada Randika. Meskipun Hannah tahu kemungkinannya kecil, dia masih menaruh harapan besar pada Randika. Asalkan Randika mengangguk, dia akan percaya! Randika tersenyum dan dengan wajah serius dia mengatakan. "Apa pun yang terjadi, aku akan membawamu keluar!" Meskipun dia harus memanjat atau meloncat lagi, istrinya itu masih menunggunya. Jadi Randika harus keluar dari tempat ini. Jika ini Randika yang dulu mungkin dia tidak akan percaya bisa melakukannya. Tetapi setelah menyerap kekuatan misteriusnya, dia yakin 100% bisa melakukannya. Yang membuat hal ini sedikit sulit adalah medan dari tebingnya. Karena tidak ada pijakan kaki, Randika harus menancapkan tangannya itu ke dalam tebing agar memiliki pegangan. Jika dia bergerak sendiri maka dia mungkin bisa naik ke puncak sendirian. Masalahnya adalah dia harus membawa Hannah bersamanya. Ini bukan hanya masalah adu stamina saja tetapi juga masalah mental. Jika orang itu tengah-tengah merasa capek dan tidak kuat lagi maka dia akan terjatuh. Belum lagi Randika harus menggendong Hannah, ini sudah merupakan tes fisik dan mental. Jadi bisa dibayangkan betapa sulitnya memanjat gunung ini. Tetapi, jika Randika mampu menyerap seluruh kekuatan misteriusnya itu, dia yakin 100% bisa melakukannya. Randika sangat mengerti betapa mengerikannya kekuatan misteriusnya itu. Jika dia bisa menyerapnya 100% maka dia yakin bisa menaklukan gunung ini sambil menggendong Hannah. Hannah menatap ekspresi serius Randika, dia lalu tersenyum. "Aku percaya denganmu." Hannah berjalan menuju Randika dengan wajah sedikit merah dan Randika sendiri menatapnya. Pada saat ini, sepertinya mereka terjebak dengan suasana misterius. Wajah Hannah mendekati wajah Randika secara perlahan, bibirnya yang lembut itu sudah mengunci targetnya. Randika juga tidak mau kalah, dia sudah memeluk pinggangnya Hannah. Tidak diragukan lagi, satu ciuman ini akan membuat hubungannya itu lebih rumit daripada sekedar adik dan kakak ipar. Tetapi ketika bibir mereka hampir bersentuhan, kesadaran Hannah seperti tersambar sesuatu dan dia tiba-tiba berhenti. Wajahnya masih terlihat merah dan matanya itu berbinar-binar. "Maafkan akuˇ­." Hannah lalu berlari menuju gua sendirian. Melihat sosok Hannah menghilang, Randika merasakan bibirnya lalu tersenyum. Sepertinya mimpinya membuat Hannah menjadi anggota haremnya bisa terwujud. Randika lalu menatap pemandangan gunung yang luar biasa megah itu. Dia juga menikmati sinar matahari yang hangat, tubuhnya terasa segar bugar. Jika dia bisa bernyanyi maka dia sudah pasti bernyanyi dengan keras. Ketika Randika sedang asyik melihat pemandangan, tiba-tiba ada suara teriakan dari dalam. "Kak Randika tolong!" Hannah? Hati Randika mengepal, dia langsung berlari menuju gua dan tempat teriakan itu berasal. "Han, di mana kamu?" Suara Randika menggema dengan keras di gua tetapi tidak ada jawaban sama sekali. Untungnya saja, Hannah berlari menuju arahnya dan bertemu dengan Randika di tengah-tengah gua. "Kak, ada tengkorak manusia di dalam." Kata Hannah dengan wajah yang pucat. Hannah sudah takut setengah mati, dia memeluk erat Randika dan sudah hampir menangis. Randika lalu berusaha menenangkan Hannah sambil melihat ke arah yang ditunjuk oleh adik iparnya itu. Sebelumnya Randika tidak sempat memperhatikan gua ini dengan seksama karena gelap dan terlalu fokus ke kolam air dingin itu. Dia tidak menyangka gua ini ada penghuninya. Dengan penglihatan supernya, dia bisa melihat tengkorak itu tergeletak begitu saja di tanah. Chapter 304: Setelah Dia Tidak Ada, Buat Apa Aku Masih Hidup? Sambil mengerutkan dahinya, Randika perlahan mendekati tengkorak itu. Tengkorak itu bersandar di dinding gua dan sudah tertutup oleh debu. Menurut pengamatannya, Randika memperkirakan tengkorak itu setidaknya berada di tempat ini puluhan tahun. Di samping tengkorak, terdapat sebuah pedang yang rusak. Randika menghampiri dan mengambil pedang tersebut. Namun yang mengejutkannya adalah benda-benda yang ada di balik tengkorak. Ketika melihat benda tersebut, Randika terkejut bukan main karena dia menemukan bahwa benda yang merupakan bebatuan tersebut mirip dengan berlian! Belum lagi berlian-berlian itu memancarkan cahaya dan bersinar terang. Besar kemungkinan ini adalah sumber cahaya yang dia lihat di dekat kolam itu? Melihat tengkorak dan pedang yang rusak itu, Randika menyimpulkan bahwa orang ini sepertinya mengetahui rahasia dari gua ini dan bermaksud untuk mengambilnya seorang diri. Dengan bermodalkan pedangnya, dia berusaha mengambil berlian itu sebanyak-banyaknya. Tetapi karena dia ingin memonopoli semua berlian itu untuk dirinya sendiri, dia terjebak dan tidak bisa keluar dari gua ini ketika tali yang dia pasang di puncak itu terputus. "Bagaimana kak? Apa ada sesuatu yang aneh?" Hannah yang tidak jauh dari Randika itu masih ketakutan untuk melihatnya. "Tidak ada apa-apa, ini hanya tengkorak manusia biasa." Kata Randika berusaha menenangkan. Setelah itu, Randika menemukan sebuah pisau pendek di tanah. Membersihkannya dari debu, Randika menyentilnya dengan pelan. Pisau itu lalu berdenting dengan keras, menunjukan bahwa pisau ini masih kuat dan tidak tertelan oleh waktu. Dengan bantuan pisau ini, Randika yakin bisa memanfaatkannya ketika berusaha keluar dari gua ini. Randika lalu menghela napasnya ketika mengambil sebuah kalung yang tergeletak di sebelah tengkorak. Sangat menyedihkan melihat seseorang mati hanya karena mengejar harta seperti ini, ketika dia berhasil keluar nanti dia akan mengubur kalung itu untuk menghormati jasad manusia ini. Setelah menenangkan Hannah sekali lagi, Randika lalu kembali menuju kolam untuk berkultivasi sekali lagi. Dia menghabiskan beberapa hari di gua ini demi menyerap kekuatan misteriusnya itu sekaligus mempererat hubungannya dengan Hannah. Di dalam kolam air dingin itu, Randika kembali menyelam menuju dasar kolam. Berkat semakin kuat dirinya, Randika berhasil menyelam lebih dalam daripada sebelumnya. Sebelumnya suhu dingin membuatnya ragu untuk meneruskan perjalanannya. Jika dilihat dari polanya, suhu air kolam ini akan makin dingin ketika dia menyelam makin dalam. Tetapi air kolam ini sama sekali tidak membeku. Semakin dalam dia menyelam, semakin cepat penyerapan energi di dalam tubuhnya. Sepertinya aura dingin yang terkandung di dalam kolam ini dapat menekan kekuatan misterius di dalam tubuhnya. Setelah 10 hari tinggal di gua ini, Randika terus menerus menyerap energi dari kekuatan misteriusnya. Sekarang dia telah berhasil menyerap 1/10 dari keseluruhannya. Namun, tidak peduli berapa ikan yang dia makan dan tidak peduli seberapa dalam dia menyelam, penyerapan energi ini berhenti di 1/10. Randika hanya bisa menyerah untuk menyerap seluruh kekuatan tersebut. Tetapi berkat 1/10 ini, kekuatan Randika sudah tidak bisa dibandingkan dengan yang dulu. Terlebih, jika dia kedepannya nanti berhasil menyerap seluruh kekuatan misterius tersebut maka dia jelas akan menjadi nomor 1 di dunia. "Han, sudah waktunya. Bersiaplah untuk pergi dari tempat ini." Kata Randika sambil tersenyum. Mendengar kata-kata Randika, mata Hannah terlihat berbinar. Akhirnya dia bisa pergi dari tempat ini. ...ˇ­.. Pada saat yang sama di Jakarta, di kediaman keluarga Alfred. Wajah Jack terlihat sedih. Menatap pintu yang ada di depannya, dia seakan tidak berani mendorong pintu tersebut. Pada saat ini, hatinya bukan dipenuhi keraguan melainkan rasa tidak berdaya yang menyedihkan. "Ayah, masuklah jika kamu mau." Pada saat ini, terdengar suara dari dalam pintu. Meskipun suara itu terdengar tenang, suara tersebut terkandung nada dingin. Jack membuka pintu dan menatap Inggrid yang duduk diam. Di meja, terdapat baju pengantin yang sangat mewah. Jack terdiam beberapa saat. Meskipun dia ingin anaknya satu ini untuk menikah dengan keluarga Alfred, bukan cara seperti ini yang dia inginkan. Namun, meskipun cara ini mencoreng namanya, hal ini cukup untuk meredakan kemarahan keluarga Alfred. Mau tidak mau dia harus menerima keputusan ini, dengan kata lain dia tidak punya ruang untuk menolak. Beberapa hari yang lalu, keluarga Alfred membawa kembali Inggrid ke Jakarta. Inggrid lalu ditahan di rumah keluarga Alfred agar tidak bisa kabur kembali. Jack tentu saja tahu mengenai kejadian ini, tetapi yang membuatnya pucat pasi adalah kata-kata dari Ivan. Keluarga Alfred mengirim pesan bahwa meskipun Hans telah meninggal, Inggrid tetap akan menikahinya. Ini berarti Inggrid akan melakukan Ghost Marriage [1]! Kabar pernikahan ini menyebar ke seluruh penjuru negara, keluarga Alfred benar-benar tidak memberi toleransi sama sekali pada Inggrid. Namun, keluarga Laibahas benar-benar tidak mempunyai pilihan lain. Awalnya Jack datang ke kediaman Ivan untuk membahas hal ini tetapi Ivan membalasnya dengan pernyataan perang. "Jika keluargamu berani menghindar sekali lagi maka jangan harap keluarga kita berdua bisa hidup secara damai!" Dalam sekejap keringat dingin Jack mengalir deras, dia hanya bisa terdiam. Jika perang benar-benar terjadi di antara dua keluarga mereka, maka keluarga Laibahas sudah ditakdirkan untuk jatuh. Sekarang, Jack berdiri di hadapan Inggrid dan tidak tahu harus berkata apa pada putrinya ini. Meskipun pada akhirnya dia akan memaksa Inggrid untuk memenuhi janji pernikahan mereka, Jack tidak menyangka keluarga Alfred sampai melakukan Ghost Marriage. Hal ini juga membuat hubungan kedua keluarga setingkat lebih rendah. Setelah terdiam beberapa saat, Jack berkata pada Inggrid. "Beristirahatlah dengan tenang, besok adalah hari pernikahanmu. Jangan sampai mengacaukannya." "Aku mengerti." Inggrid masih sedingin tadi dan ekspresinya sama sekali tidak berubah. Namun, tatapan matanya itu kosong dan mati. Jack menghela napasnya dan menutup pintunya. Tidak lama kemudian, Ivan masuk dan menatap Inggrid yang ''mati'' itu dan mendengus dingin. "Besok kamu akan menikahi anakku yang telah kamu bunuh itu, dengan ini kamu akan selalu menjadi barang milik keluarga Alfred." Inggrid tidak membalas sama sekali. Ivan menatap Inggrid dan berkata dengan nada dingin. "Jika bukan karena kamu, laki itu pasti masih hidup. Mata dibalas dengan mata dan nyawa dibalas dengan nyawa, orang itu sudah ditakdirkan mati setelah berani melawan keluargaku." Mendengar kata-kata itu, tubuh Inggrid bergetar tidak karuan. Tetapi hal itu tetap tidak membuatnya berbicara. Melihat Inggrid yang sama sekali tidak mau berbicara, Ivan meludah ke lantai dan pergi dari ruangan. Pernikahan ini mencoreng nama keluarga Laibahas dan mengikat Inggrid ke keluarga Alfred, bahkan jika dia memutuskan untuk membuang nama keluarganya itu, Inggrid tidak bisa membuang fakta bahwa dia adalah salah satu keturunan dari keluarga Laibahas. Sangat disayangkan Jack tidak berani melawan lebih keras, dia membiarkan dirinya diinjak-injak seperti itu. Ketika Ivan berjalan keluar, dua penjaga yang bertugas mengawasi Inggrid mulai berbincang. "Rasakan penderitaanmu itu, salahnya sendiri berani melawan keluarga kita!" "Tetapi sayang banget tidak sih? Perempuan itu benar-benar cantik." Kata penjaga itu sambil menjilat bibirnya. "Jangan sekali-kali kamu berpikiran aneh. Kamu berani melawan perintah tuan kita? Dia akan mengulitimu hidup-hidup! Bersabarlah, nanti kita akan pergi pelacuran bersama-sama setelah selesai kerja ini." "Benarkah?" Penjaga mesum satu itu sudah tidak sabar melampiaskan nafsu birahinya yang sudah menumpuk. Setelah tidak ada orang selain dirinya, Inggrid berdiri dan menatap kaca. Di kaca tersebut, terlihat wajah perempuan cantik yang pernah membuat seluruh pria di Indonesia rela pergi ke kota Cendrawasih untuk memikat hatinya. Tetapi sekarang wajah cantik itu terlihat murung, tidak berdaya, hampir sama dengan orang mati. Melihat wajahnya yang pucat itu, Inggrid meneteskan air mata. Air matanya itu melambangkan rasa frustasi dan penyesalan yang dia pendam selama ini. "Randikaˇ­. Hannahˇ­" Tangisan Inggrid semakin menjadi-jadi. "Kenapa kalian tidak membiarkanku mati pada waktu itu?" Ketika memikirkan kedua orang itu, hati Inggrid benar-benar sakit. Randika adalah satu-satunya orang yang dia cintai di dunia ini dan Hannah adalah adiknya yang paling berharga buatnya. Keduanya sudah bagaikan keluarganya sendiri, keluarga yang bahkan lebih dekat daripada keluarga yang membesarkannya dulu. Air matanya itu membasahi bajunya dan merusak riasan wajahnya. Di benak Inggrid, selalu terbayang Randika yang akan segera menyelamatkannya dari balik pintu ini. Tetapi sayangnya kali ini harapannya itu tidak akan terwujud. "Tidak peduli berapa kali aku terlahir kembali, aku akan selalu menjadi istrimu." Inggrid bergumam tentang kata-katanya ketika dia selamatkan dari Shadow oleh Randika. Dari sejak saat dia diselamatkan oleh Randika dari genggaman keluarga Alfred, dia sudah membulatkan tekadnya. Benar, sejak saat itu Inggrid berjanji akan melewati segalanya bersama Randika. Tidak peduli jika Randika membawanya ke ujung bumi ataupun neraka, cintanya tidak akan pernah padam. Tetapi sekarang Randika sudah tidak ada, apa gunanya dia masih bernapas? Masa depan tanpa Randika sama saja seperti berjalan di bulan seorang diri. Inggrid menangis sejadi-jadinya tetapi kemarahan di hatinya itu tidak bisa dia sembunyikan. Sebelum dia mati, dia bersumpah akan membunuh Ivan demi membalaskan dendam Randika dan Hannah. Berdasarkan rencana Inggrid, dia berniat untuk membunuh Ivan sebelum akhirnya bunuh diri. Inggrid menatap pisau yang dia sembunyikan itu. Besok dia akan membunuh Ivan dengan kedua tangannya ini. Inggrid lalu tersenyum dan berkata pada hatinya. "Randika kamu tidak usah khawatir, besok kita akan bersama lagi." Inggrid lalu menyembunyikan kembali pisaunya itu dan mengusap air matanya. Di sisi lain, di dalam gua, Randika dan Hannah sudah selesai mempersiapkan segala hal yang diperlukan. "Kak, apa kamu yakin? Aku tidak akan jatuh kan?" Kata Hannah dengan nada cemas. "Sudah jangan khawatir, tutup matamu dan kita akan keluar dari tempat ini dalam sekejap." Kata Randika sambil tersenyum. Ketika Randika berniat mengambil sebiji berlian, dia terkejut ketika melihat sebuah tali usang di samping tengkorak di dalam gua. Meskipun sudah usang, tali itu cukup kuat. Setelah persiapan mereka selesai, Randika menyuruh Hannah berdiri di depannya dan mengikat kedua pinggang mereka dengan tali. [1] Perkawinan yang salah satu atau kedua mempelainya adalah arwah orang yang sudah meninggal. Asal usul dari perkawinan ini tidak dapat ditelusuri tetapi konon sudah ada sejak 3000 tahun yang lalu. Negara yang sering mengadakannya adalah negara Cina. Salah satu alasan mengadakan pernikahan ini adalah memastikan garis keluarga berlanjut. Dalam hal ini yang meninggal sebelum menikah adalah anak laki-laki, arwahnya kemudian dinikahkan dengan perempuan yang masih hidup. Dengan demikian orang tua si anak laki-laki itu dapat mengadopsi cucu. Chapter 305: Orang Gila Merasakan otot-otot di hadapannya itu, Hannah tersipu malu. Karena terikat dengan erat, keduanya ini bisa dikatakan berpelukan dengan erat dan dadanya sendiri itu menempel pada kakak iparnya. Namun, Hannah tidak mempermasalahkan ini karena ini adalah situasi khusus. Keduanya berdiri di pintu masuk gua, di atas mereka ada tebing gunung yang harus mereka taklukan. Sekarang setelah mendapatkan kekuatan lebih dari hasil latihannya, Randika siap untuk membawa Hannah keluar dari gunung ini. Randika menghirup napas dalam-dalam, menatap Hannah dan berkata dengan wajah tersenyum. "Apa kamu siap?" "Siap!" Hannah lalu memeluk pinggang Randika dengan kedua tangannya. Pada saat ini tenaga dalam Randika sudah bekerja dan menyebar ke seluruh tubuhnya. Tetapi tenaga dalamnya berpusat pada kedua tangannya. Di tangan kanannya, pisau yang dia dapat sebelumnya itu juga terdapat aliran tenaga dalamnya. Dengan satu hentakan, pisau itu menancap dengan sempurna ke dalam tebing. Setelah memastikan pegangannya itu kuat, Randika mulai memanjat. Kakinya mulai meninggalkan tanah dan tangan kirinya, yang membentuk seperti sebuah cakar, juga mulai menancap di tebing. Dengan cara seperti ini, Randika kembali menaiki gunung ini tetapi dengan cara yang berbeda yaitu memanjat dari tebing. Namun, yang membuatnya lebih menantang adalah Hannah yang bergelantungan di depannya sambil menutup matanya. Perempuan ini benar-benar takut meskipun sudah terikat erat dengan Randika, dia hanya harus bisa bertahan sampai Randika meraih puncak. Tangan kanannya yang menggunakan pisau dan tangan kirinya yang membentuk cakar itu dijadikan Randika sebagai alat untuk membuat pegangan di tebing. Berkat tenaga dalamnya yang melimpah, tebing batu ini sama sekali tidak bisa menghentikannya. Perlahan, Randika dan Hannah mulai mendaki tebing ini. Dilihat dari posisinya sekarang, dia masih belum bisa melihat puncak. Hannah terus memeluk erat Randika. Kepalanya beristirahat di dada Randika dan dia dapat mendengar detak jantungnya. Dalam hatinya dia sendiri bersorak semangat untuk kakak iparnya ini tetapi dia tidak berani membuat suara sekecil apa pun. Jika Randika itu kehilangan fokus sekali saja, bisa-bisa malam ini dia akan bertemu dengannya di surga. Di tengah tebing ini angin berhembus dengan kuat dan pemandangan bawah seperti jurang maut itu siap menyambut kedatangan mereka. Awan putih yang menyemangati mereka seakan-akan bisa mereka genggam. Kecepatan memanjat Randika awalnya stabil tapi lama kelamaan menjadi lebih cepat. Pada saat yang sama, di salah satu titik gunung tempat di mana para pendaki beristirahat dan menikmati pemandangan, beberapa pendaki sedang beristirahat. Salah satu di antara mereka ada pria paruh baya yang sedang menatap puncak gunung yang masih lumayan jauh. "Aku tidak pernah bosan melihatnya." Sebulan sekali dia akan memanjat gunung ini dan menikmati pemandangan alam sambil melupakan kesusahan dalam hidupnya. Dia selalu terkagum-kagum dengan pemandangan gunung yang megah ini bahkan sudah berkali-kali memanjatnya. Bersama dengan teman-temannya, mereka memanfaatkan hari libur mereka ini untuk memanjat bersama-sama. "Hahaha kata-katamu itu sudah seperti kakek-kakek." Temannya menertawainya. "Atau mungkin kamu sudah capek? Kan sudah berkali-kali kuingatkan jangan minum-minum sehari sebelum memanjat." Meskipun ini adalah gunung yang cocok untuk pendaki pemula, di beberapa titik masih terdapat beberapa medan yang terjal dan sulit. Mungkin orang yang sudah tua akan sedikit kesulitan melaluinya. Pada saat ini, seorang perempuan ikut nimbrung dalam percakapan mereka. "Jangan salahkan dia, dia hanya seorang karyawan jadi maklumi saja kalau dia mudah capek." Mendengar lelucon ini, semuanya ikut tertawa. Tetapi tiba-tiba seseorang di antara mereka terpeleset dan hampir terjatuh ke tebing. "Awas!" Teman-temannya itu langsung sigap dan berusaha menangkapnya. "Pegangan yang kuat!" Setelah beberapa orang memegang tangannya, mereka berhasil mengangkat temannya itu. "Dasar kamu ini, kaget-kageti saja!" "Maaf, tiba-tiba kakiku terpeleset begitu saja. Untung saja ada kalian, kalau tidak aku pasti sudah mati." "Ya pasti mati, kamu tidak lihat kita sudah begitu tinggi apa?" Ketika mereka sibuk memarahi temannya yang hampir jatuh itu tadi, seseorang menyadari ada hal aneh di tebing seberang. Eh? Apa orang itu sedang memanjat tebing? Orang itu jelas terkejut, bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Tebing itu sangat curam, bukankah itu sama saja dengan mencari mati? Seakan-akan melihat hantu, orang itu menunjuk ke arah keajaiban itu. "Lihat!" "Oi ngapain teriak-teriak gitu? Apa kamu tidak lihat aku sedang asyik memarahi teman kita satu ini?" "Ada orang yang memanjat tebing!" Ketika dia menunjuk ke arah Randika, wajahnya menjadi pucat pasi. Dia sudah tidak mungkin salah lihat lagi, kejadian ini benar-benar nyata. Pegunungan ini memang bagus untuk mendaki bagi semua kalangan tetapi untuk memanjat tebingnya, hal ini terkesan mustahil. Tebing yang curam menjadi kendala paling besar bagi para penikmat olahraga ekstrim itu. Ketika teman-temannya mendengar ini, semuanya tertawa dan mengejeknya. "Apa kamu sebelum memanjat minum minuman keras? Mana ada orang bodoh yang berani memanjat tebing gunung ini?" Temannya juga menambahkan. "Sepertinya kamu sendiri harus menuruti kata-katamu itu, bukankah kamu melarang kita untuk minum sebelum memanjat?" Melihat teman-temannya itu tidak percaya dengannya, orang tersebut menunjuk ke arah Randika berada. "Jika tidak percaya, coba lihat ke arah situ. Orang itu benar-benar sedang memanjat tebing gunung ini." "Sudah jangan marah seperti itu. Atau jangan-jangan kamu berhalusinasi gara-gara obat ya?" Teman-temannya lalu tertawa sekali lagi. Sepertinya hubungan mereka itu sangat baik karena bisa bercanda lepas seperti itu. Ketika dia hendak marah, tiba-tiba salah satu temannya itu menoleh ke arah yang ditunjuknya. Pada saat itu, matanya langsung membeku seolah-olah menemukan sesuatu yang luar biasa. Di seberang mereka, ada sosok hitam kecil yang sedang bergerak ke atas. Sosok itu mirip manusia dan kecepatan memanjatnya benar-benar cepat! Dengan cepat dia mengambil teropongnya dan melihat apa yang sedang dilihatnya itu. Matanya terbelalak ketika melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi. Di teropong itu, dia bisa melihat Randika yang memanjat sambil memeluk Hannah. Hebatnya lagi, orang itu sepertinya memanjat tanpa menggunakan alat bantuan sama sekali. Namun, kecepatan memanjatnya itu benar-benar cepat. Teropong itu terjatuh ketika dia terheran-heran dengan apa yang dilihatnya. "Hmm? Kenapa?" Orang itu lalu menunjuk ke arah Randika dan berkata dengan nada serius. "Ada orang yang memanjat tebing." "Kamu juga ikutan gila? Mana ada orang yang berani memanjat tebing curam ini?" Teman-temannya yang lain ini masih tidak percaya sama sekali. Salah satu dari mereka geleng-geleng dan mengambil teropong tersebut lalu melihatnya. Ketika dia melihatnya, dia benar-benar ikut terkejut bukan main. Apa? Dia juga ikut terkejut dan berteriak. "Oi, oi, apa yang mereka berdua katakan benar!" "Hah? Mana teropongnya, palingan yang kalian lihat itu burung." Pada saat yang sama, temannya itu menyerahkan teropongnya sambil menunjuk ke arah Randika. Satu per satu dari mereka dapat melihat Randika memanjat bersama Hannah dengan cepat. "Wow orang itu cepat sekali!" "Apa aku salah lihat? Bukankah orang itu memanjat tanpa peralatan sama sekali sambil menggendong temannya?" "Ah? Beneran! Gila sekali orang itu." Mata mereka sekarang penuh dengan kekaguman. Chapter 306: Pembalasan Di saat para pendaki itu berebut melihat Randika dari teropong mereka, Randika di sisi lain terus memanjat dengan cepat. Setelah berhasil menyerap 1/10 dari kekuatan misteriusnya, dia berhasil mendapatkan kekuatan yang sungguh luar biasa kuat. Dia sangat percaya diri bisa memanjat tebing ini hingga ke puncak. Saking cepatnya dia memanjat, tidak butuh waktu lama untuk dia tiba di pohon yang dahannya dia patahkan sebelumnya. Melihat pohon ini, bisa dikatakan bahwa sebentar lagi puncak gunung itu akan terlihat. Apa yang telah terjadi di puncak gunung pada saat itu tidak terlalu membuat masalah besar. Kekuatan dari keluarga Alfred sudah menutupi kejadian itu dengan sempurna. Awalnya para pendaki yang merekam kejadian itu sudah memposting videonya di internet. Video itu berhasil viral dan membuat heboh semua orang. Tetapi tanpa alasan yang diketahui, video itu menghilang tanpa jejak. Di puncak gunung yang penuh dengan orang terlihat ada orang yang sedang bermain catur. "Ah! Sialan, aku tidak menyangka kamu akan memakan kudaku. Aku tidak lihat ratumu ada di situ." "Kamu harus teliti meskipun kondisimu itu terjebak." Kata seorang pria umur 50an. "Hahaha aku memang tidak bisa mengalahkan mantan juara catur." Jawab anak muda yang menjadi lawannya itu. "Kalau begitu lebih aku menyerah saja pak." Pemuda itu mengangkat kedua tangannya. "Jangan begitu, kalau kamu jalan yang benar kamu masih punya kesempatan untuk melawan balik." Akhirnya setelah dibujuk oleh pria tua itu, pemuda itu kembali duduk. "Baiklah kalau begitu, biarkan aku berpikir sebentar." Pemuda itu menatap papan caturnya dengan sangat serius, langkah mana yang benar? Jika dia memaksa bentengnya untuk bergerak, rajanya akan terpojok dalam 3 langkah. Dia masih ingin berjuang untuk lepas dari keadaan terdesak ini. Kemampuan keduanya dari awal memang jauh berbeda, pemuda itu hanya suka bermain catur dan bermain dengan nalurinya sedangkan lawannya ini mantan juara catur di kampungnya dan sudah menghafal segala macam taktik. "Jangan menyerah, pikirkan saja dengan kepala dingin." Ketika pak tua itu merokok, tiba-tiba dari tepi tebing muncul sebuah tangan. Randika lalu membeli tiket pesawat yang keberangkatannya paling cepat. Setelah itu Randika langsung masuk ke dalam pesawat. Tidak lama kemudian, pesawat yang dia naiki itu lepas landas. Setelah tanda sabuk pengaman sudah hilang, Randika langsung berdiri dan berjalan menuju kokpit pesawat. "Pak, bisa tolong duduk dengan tenang? Apabila bapak perlu sesuatu, bapak tinggal bilang saja." Kata seorang pramugari pada Randika. Tetapi Randika mencuekinya dan terus berjalan ke depan. Penumpang yang lain tidak memperhatikan Randika sama sekali, mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing. "Pak? Pak!" Pramugari itu mulai khawatir melihat Randika sama sekali tidak menjawab. Dia hanya bisa menghela napasnya. Sesampainya Randika di bagian depan pesawat, polisi udara yang sedang menyamar itu sedang berbincang satu sama lain. Orang-orang mungkin tidak sadar bahwa setiap pesawat yang mereka naiki ada beberapa penegak hukum yang menyamar di pesawat mereka. Tugas mereka adalah memastikan tidak ada kejahatan yang terjadi di dalam pesawat. Tetapi bagi Randika, orang-orang ini tidak lebih dari seekor serangga. Tanpa memedulikan mereka, Randika terus bergerak menuju kokpit pesawat. Namun, para polisi itu menyadari pergerakan Randika. "Permisi pak mau ke mana ya? Area depan sana dilarang untuk penumpang jadi lebih baik bapak kembali duduk." Kata seorang polisi sambil memperlihatkan identitasnya. Ketiga polisi itu sebenarnya sudah memegang pistol yang ada di pinggang mereka. Akhir-akhir ini marak terjadi pembajakan pesawat, jadi mau tidak mau mereka harus waspada dengan setiap ancaman. Para penumpang yang lain juga menyadari kejadian ini dan menjadi penasaran. Randika tidak peduli, dia tetap berjalan menuju kokpit. Pada saat ini, salah satu dari ketiga polisi itu menodongkan pistolnya dan berteriak ke arah Randika. "Jangan bergerak atau akan kutembak kau!" Kali ini para penumpang sudah panik tidak karuan, mereka menatap takut pada Randika. Randika tidak menoleh sama sekali, dia tidak punya waktu untuk meladeni anjing-anjing ini. Sekarang di pikirannya hanya ada Inggrid. Selama dia berhasil tiba di Jakarta tepat waktu, dia akan menyelamatkannya. Namun, entah karena gugup atau emosi yang lain, salah satu dari polisi ini menembakkan pistolnya. Suara tembakan yang menggema itu membuat semua orang panik. Semuanya langsung merunduk di tempat duduk mereka. Setelah suara tembakan itu menghilang, para polisi ini terkejut melihat Randika yang ada di hadapan mereka ini sehat walafiat. Tidak mungkin! Aku tidak mungkin meleset! Ketiga polisi itu saling memandang satu sama lain lalu akhirnya menerjang ke arah Randika. Di bawah tatapan semua orang, para polisi itu sangat cepat dan terkoordinasi. Mereka menerjang ke arah Randika untuk menangkap teroris satu ini. Namun pada saat ini, Randika hanya berbalik badan sebentar lalu berjalan kembali menuju kokpit. Para polisi yang hendak menerjang itu tiba-tiba terhenti dan tediam di tempat. Setelah satu detik, ketiga polisi itu terjatuh dan pingsan! Dalam satu detik, ketiga polisi yang mumpuni ini dapat dikalahkan oleh Randika dengan mudah. Para penumpang itu semuanya terkejut, orang itu sangat kuat! Tetapi satu pertanyaan lain langsung menggenang di hati mereka, apa yang hendak orang itu lakukan? Apakah dia mau membajak pesawat ini? Dalam sekejap pertanyaan itu memenuhi semua penumpang yang melihat aksi Randika sebelumnya. "Berhenti!" Seorang bule berdiri dan menatap tajam ke arah Randika. Sama seperti para polisi tadi, Randika mengabaikannya dan tetap berjalan menuju kokpit. Dalam satu tarikan, Randika berhasil membuka pintu khusus tersebut. "ˇ­.." Semua penumpang yang melihatnya sudah pasrah dalam hati, sepertinya mereka telah salah memilih pesawat. Pintu kokpit pesawat didesain khusus oleh pihak penerbangan agar pesawat tidak mudah dibajak oleh orang-orang yang berniat buruk. Apabila pintu sudah dikunci dari dalam, sudah 100% mustahil untuk membukanya dari luar. Namun, Randika dengan mudahnya membuka pintu itu hanya dengan satu tangannya. Melihat aksi Randika satu ini, bule tadi langsung duduk sambil bersembunyi. Dia merasa sangat lega tidak berlari dan mencegah Randika, jika itu benar terjadi, dia tidak tahu kematian seperti apa yang menimpanya. "Ya Tuhan, terima kasih telah menyelamatkan nyawaku!" Randika sama sekali tidak peduli dengan para penumpang karena pikirannya sekarang tertuju pada para pilot pesawat! Para pramugari sudah pada ketakutan di belakang, mereka tidak mungkin bisa menghentikan teroris itu. Satu-satunya penyelamat mereka yaitu ketiga polisi tadi itu masih pingsan tidak sadarkan diri. Randika berjalan dengan santai menuju dalam kokpit di mana kedua pilot itu sedang mengendalikan pesawat. Kapten pesawat dan wakilnya itu sudah menatap Randika dengan tajam sejak pintu mereka itu terbuka. Mereka hanya bisa tertegun sekaligus menekan rasa takut mereka. Randika lalu berkata dengan nada seriusnya. "Bawa pesawat ini ke Jakarta." "Siapa kamu? Kenapa kamu bisa masuk ke tempat ini? Apa kamuˇ­." Sebelum wakil kapten itu selesai berbicara, Randika sudah memukulnya hingga pingsan. Hati si kapten pesawat itu langsung mengepal, dia tidak tahu harus berbuat apa. Lalu Randika memecah keheningan dengan mengatakan. "Pindahkan jalur pesawat menuju Jakarta dan jangan buat aku mengulangi kata-kataku ini sekali lagi. Kalau kamu tetap tidak mematuhi kata-kataku, aku akan menjatuhkan pesawat ini." Di bawah ancaman Randika, sang kapten tidak mempunyai pilihan selain mengganti jalur pesawat. Dia memang terlihat tenang tetapi dia sudah memberikan sinyal bahaya tersembunyi ke pusat Menara. Pada saat yang sama, pusat menara bandara Cendrawasih. Setelah mendapatkan sinyal bahaya tersebut, pusat informasi lalu lintas udara ini langsung heboh. "Apa? Pesawat kita ada yang dibajak lagi?" Seorang pria paruh baya itu terlihat seakan-akan mau muntah darah. Pesawatnya yang menuju Jepang kapan hari baru saja dibajak dan sekarang sudah ada kasus ini lagi? Bisa-bisa dia dipecat karena membiarkan teroris itu masuk ke dalam bandaranya. Dalam sejarah dia bekerja, dia tidak pernah melihat kejadian yang tenggat waktunya berdekatan seperti ini. "Bagaimana keadaannya sekarang?" Pria paruh baya itu menghampiri bawahannya. Keadaan sekarang kacau balau, semua orang menjadi panik dan gugup. "Kita telah mengunci lokasi pesawat dan masih memantaunya." Kata salah satu bawahannya. "Apa ada cara untuk berkomunikasi dengan pilot pesawat?" Tanya si pria paruh baya. "Tidak bisa, sepertinya pilot sedang disandera. Hmm? Jalur iniˇ­ Pesawat mengubah arahnya menuju Jakarta!" Setelah mendengar kata-kata ini, semua orang terkejut. Jakarta? Semua personel penting berada di ruangan ini. Mendengar kata Jakarta hati mereka sudah mengepal bukan main. Apakah kejadian World Trade Center akan terulang di Indonesia? Apakah target mereka adalah istana kepresidenan? "Segera hubungi pihak kepolisian Jakarta." Pria paruh baya itu segera membuang pikiran buruknya itu dan menenangkan dirinya. Pada saat yang sama, dia juga memerintahkan agar istana kepresidenan diberi kabar tentang pembajakan pesawat ini. Untuk menangani masalah seperti ini, apalagi jika mengancam keselamatan sang presiden, pria paruh baya ini memilih untuk main aman. Di dalam pesawat, para penumpang masih duduk dengan tegang. Mereka hanya tahu bahwa kokpit pesawat mereka sudah bukan dikendalikan oleh pilot pesawat mereka. Sedangkan Randika sejak awal tidak berniat membahayakan para penumpang ini, fokusnya adalah keluarga Alfred di Jakarta itu. Sesampainya di Jakarta, dia akan membunuh seluruh manusia-manusia busuk itu! Chapter 307: Pesawat yang Dibajak (II) Melihat sosok Randika yang menghilang itu, hati Viona menjadi sedih. Dari reaksi dan tindakan Randika itu, dia bisa melihat bahwa Inggrid adalah sosok spesial di hati orang yang dicintainya itu. Hal ini tidak bisa disalahkan, hubungannya dengan Randika ini sungguh rumit. Bisa dikatakan mereka lebih dari teman tetapi kurang dari pasangan, melihat Randika peduli dengan perempuan lain jelas membuat Viona merasa resah. Ketika Viona sibuk dengan pikirannya sendiri, Randika tiba-tiba masuk kembali ke dalam ruangan. Dia lalu menghampiri Viona dan mencium keningnya. Dia lalu berkata pada Viona. "Tunggulah aku, aku akan kembali." "Baiklah." Wajah Viona sudah tersipu malu. Kali ini ketika melihat punggung Randika yang perlahan pergi, hatinya sudah hangat. Setelah mengetahui situasi yang dihadapi Inggrid, Randika langsung bergegas menuju bandara. Menikah? Istrinya itu direbut dan dipaksa menikahi orang lain? Bahkan jika dia sudah mati pun, dia akan membunuh siapapun yang berani menyentuh Inggrid. Pikiran Randika untuk membunuh setiap anggota keluarga Alfred itu sudah sangat besar, hari ini dia akan melenyapkan keluarga aristokrat satu itu. Randika berlari menuju bandara dengan berlari. Kakinya yang dialiri oleh tenaga dalam itu melangkah dengan cepat, kecepatannya sudah bisa mengimbangi mobil balap. Tidak butuh waktu lama untuknya tiba di bandara. "Tiket untuk ke Jakarta." Randika mendorong orang yang di depannya dan berbicara pada resepsionisnya. Orang yang didorongnya itu marah dan menggulung lengan bajunya. "Apa kau nyari mati hah?" Randika tidak menjawab, dia hanya menatap tajam pada orang itu. Orang itu sudah mengangkat tangannya dan hendak memukul tetapi tiba-tiba tatapan mata Randika seperti seekor hewan buas. Orang itu langsung merinding ketakutan. Di bawah tatapan mata Randika itu, dia sepertinya kesulitan bernapas. Seakan-akan Randika berkata padanya bahwa dia bisa membunuh dirinya dalam 1 detik kalau dia mau! Perasaan bahaya seperti ini benar-benar nyata! Ketika Randika memalingkan wajahnya, orang itu bisa bernapas lega dan melangkah mundur dengan punggung yang basah. "Maaf pak, pesawat ke Jakarta sudah lepas landas. Pesawat berikutnya yang menuju Jakarta baru ada jam 4 sore nanti." Kata resepsionis. Randika mengerutkan dahinya. Dia berhasil turun dari gunung dan tiba di kota Cendrawasih jam 11 pagi. Jika dia harus menunggu hingga jam 4 sore dan tiba baru malam hari, Inggrid sudah pasti dipaksa menikah oleh keluarga Alfred. Dengan kata lain dia tidak bisa menunggu jadwal pesawat berikutnya. Tetapi pesawatnya itu sudah lepas landas, apa yang bisa dia lakukan? Wajah Randika terlihat serius, otaknya berputar dengan cepat. Tiba-tiba, dia mempunyai sebuah ide yang bagus. Siapa bilang pesawat itu satu-satunya yang terbang ke Jakarta? Bukankah dia tinggal mencuri salah satu pesawat dan menerbangkannya sendiri? Sederhana bukan? Randika lalu membeli tiket pesawat yang keberangkatannya paling cepat. Setelah itu Randika langsung masuk ke dalam pesawat. Tidak lama kemudian, pesawat yang dia naiki itu lepas landas. Setelah tanda sabuk pengaman sudah hilang, Randika langsung berdiri dan berjalan menuju kokpit pesawat. "Pak, bisa tolong duduk dengan tenang? Apabila bapak perlu sesuatu, bapak tinggal bilang saja." Kata seorang pramugari pada Randika. Tetapi Randika mencuekinya dan terus berjalan ke depan. Penumpang yang lain tidak memperhatikan Randika sama sekali, mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing. "Pak? Pak!" Pramugari itu mulai khawatir melihat Randika sama sekali tidak menjawab. Dia hanya bisa menghela napasnya. Sesampainya Randika di bagian depan pesawat, polisi udara yang sedang menyamar itu sedang berbincang satu sama lain. Orang-orang mungkin tidak sadar bahwa setiap pesawat yang mereka naiki ada beberapa penegak hukum yang menyamar di pesawat mereka. Tugas mereka adalah memastikan tidak ada kejahatan yang terjadi di dalam pesawat. Tetapi bagi Randika, orang-orang ini tidak lebih dari seekor serangga. Tanpa memedulikan mereka, Randika terus bergerak menuju kokpit pesawat. Namun, para polisi itu menyadari pergerakan Randika. "Permisi pak mau ke mana ya? Area depan sana dilarang untuk penumpang jadi lebih baik bapak kembali duduk." Kata seorang polisi sambil memperlihatkan identitasnya. Ketiga polisi itu sebenarnya sudah memegang pistol yang ada di pinggang mereka. Akhir-akhir ini marak terjadi pembajakan pesawat, jadi mau tidak mau mereka harus waspada dengan setiap ancaman. Para penumpang yang lain juga menyadari kejadian ini dan menjadi penasaran. Randika tidak peduli, dia tetap berjalan menuju kokpit. Pada saat ini, salah satu dari ketiga polisi itu menodongkan pistolnya dan berteriak ke arah Randika. "Jangan bergerak atau akan kutembak kau!" Kali ini para penumpang sudah panik tidak karuan, mereka menatap takut pada Randika. Randika tidak menoleh sama sekali, dia tidak punya waktu untuk meladeni anjing-anjing ini. Sekarang di pikirannya hanya ada Inggrid. Selama dia berhasil tiba di Jakarta tepat waktu, dia akan menyelamatkannya. Namun, entah karena gugup atau emosi yang lain, salah satu dari polisi ini menembakkan pistolnya. Suara tembakan yang menggema itu membuat semua orang panik. Semuanya langsung merunduk di tempat duduk mereka. Setelah suara tembakan itu menghilang, para polisi ini terkejut melihat Randika yang ada di hadapan mereka ini sehat walafiat. Tidak mungkin! Aku tidak mungkin meleset! Ketiga polisi itu saling memandang satu sama lain lalu akhirnya menerjang ke arah Randika. Di bawah tatapan semua orang, para polisi itu sangat cepat dan terkoordinasi. Mereka menerjang ke arah Randika untuk menangkap teroris satu ini. Namun pada saat ini, Randika hanya berbalik badan sebentar lalu berjalan kembali menuju kokpit. Para polisi yang hendak menerjang itu tiba-tiba terhenti dan tediam di tempat. Setelah satu detik, ketiga polisi itu terjatuh dan pingsan! Dalam satu detik, ketiga polisi yang mumpuni ini dapat dikalahkan oleh Randika dengan mudah. Para penumpang itu semuanya terkejut, orang itu sangat kuat! Tetapi satu pertanyaan lain langsung menggenang di hati mereka, apa yang hendak orang itu lakukan? Apakah dia mau membajak pesawat ini? Dalam sekejap pertanyaan itu memenuhi semua penumpang yang melihat aksi Randika sebelumnya. "Berhenti!" Seorang bule berdiri dan menatap tajam ke arah Randika. Sama seperti para polisi tadi, Randika mengabaikannya dan tetap berjalan menuju kokpit. Dalam satu tarikan, Randika berhasil membuka pintu khusus tersebut. "ˇ­.." Semua penumpang yang melihatnya sudah pasrah dalam hati, sepertinya mereka telah salah memilih pesawat. Pintu kokpit pesawat didesain khusus oleh pihak penerbangan agar pesawat tidak mudah dibajak oleh orang-orang yang berniat buruk. Apabila pintu sudah dikunci dari dalam, sudah 100% mustahil untuk membukanya dari luar. Namun, Randika dengan mudahnya membuka pintu itu hanya dengan satu tangannya. Melihat aksi Randika satu ini, bule tadi langsung duduk sambil bersembunyi. Dia merasa sangat lega tidak berlari dan mencegah Randika, jika itu benar terjadi, dia tidak tahu kematian seperti apa yang menimpanya. "Ya Tuhan, terima kasih telah menyelamatkan nyawaku!" Randika sama sekali tidak peduli dengan para penumpang karena pikirannya sekarang tertuju pada para pilot pesawat! Para pramugari sudah pada ketakutan di belakang, mereka tidak mungkin bisa menghentikan teroris itu. Satu-satunya penyelamat mereka yaitu ketiga polisi tadi itu masih pingsan tidak sadarkan diri. Randika berjalan dengan santai menuju dalam kokpit di mana kedua pilot itu sedang mengendalikan pesawat. Kapten pesawat dan wakilnya itu sudah menatap Randika dengan tajam sejak pintu mereka itu terbuka. Mereka hanya bisa tertegun sekaligus menekan rasa takut mereka. Randika lalu berkata dengan nada seriusnya. "Bawa pesawat ini ke Jakarta." "Siapa kamu? Kenapa kamu bisa masuk ke tempat ini? Apa kamuˇ­." Sebelum wakil kapten itu selesai berbicara, Randika sudah memukulnya hingga pingsan. Hati si kapten pesawat itu langsung mengepal, dia tidak tahu harus berbuat apa. Lalu Randika memecah keheningan dengan mengatakan. "Pindahkan jalur pesawat menuju Jakarta dan jangan buat aku mengulangi kata-kataku ini sekali lagi. Kalau kamu tetap tidak mematuhi kata-kataku, aku akan menjatuhkan pesawat ini." Di bawah ancaman Randika, sang kapten tidak mempunyai pilihan selain mengganti jalur pesawat. Dia memang terlihat tenang tetapi dia sudah memberikan sinyal bahaya tersembunyi ke pusat Menara. Pada saat yang sama, pusat menara bandara Cendrawasih. Setelah mendapatkan sinyal bahaya tersebut, pusat informasi lalu lintas udara ini langsung heboh. "Apa? Pesawat kita ada yang dibajak lagi?" Seorang pria paruh baya itu terlihat seakan-akan mau muntah darah. Pesawatnya yang menuju Jepang kapan hari baru saja dibajak dan sekarang sudah ada kasus ini lagi? Bisa-bisa dia dipecat karena membiarkan teroris itu masuk ke dalam bandaranya. Dalam sejarah dia bekerja, dia tidak pernah melihat kejadian yang tenggat waktunya berdekatan seperti ini. "Bagaimana keadaannya sekarang?" Pria paruh baya itu menghampiri bawahannya. Keadaan sekarang kacau balau, semua orang menjadi panik dan gugup. "Kita telah mengunci lokasi pesawat dan masih memantaunya." Kata salah satu bawahannya. "Apa ada cara untuk berkomunikasi dengan pilot pesawat?" Tanya si pria paruh baya. "Tidak bisa, sepertinya pilot sedang disandera. Hmm? Jalur iniˇ­ Pesawat mengubah arahnya menuju Jakarta!" Setelah mendengar kata-kata ini, semua orang terkejut. Jakarta? Semua personel penting berada di ruangan ini. Mendengar kata Jakarta hati mereka sudah mengepal bukan main. Apakah kejadian World Trade Center akan terulang di Indonesia? Apakah target mereka adalah istana kepresidenan? "Segera hubungi pihak kepolisian Jakarta." Pria paruh baya itu segera membuang pikiran buruknya itu dan menenangkan dirinya. Pada saat yang sama, dia juga memerintahkan agar istana kepresidenan diberi kabar tentang pembajakan pesawat ini. Untuk menangani masalah seperti ini, apalagi jika mengancam keselamatan sang presiden, pria paruh baya ini memilih untuk main aman. Di dalam pesawat, para penumpang masih duduk dengan tegang. Mereka hanya tahu bahwa kokpit pesawat mereka sudah bukan dikendalikan oleh pilot yang seharusnya. Sedangkan Randika sejak awal tidak berniat membahayakan para penumpang ini, fokusnya adalah keluarga Alfred di Jakarta itu. Sesampainya di Jakarta, dia akan membunuh seluruh manusia-manusia busuk itu! Chapter 308: Terburu Waktu Bandara Udara Internasional Soekarno-Hatta Polisi yang mendapatkan info mengenai kedatangan pesawat ini langsung mengevakuasi seluruh bandara. Ratusan polisi sudah memadati bandara ini lengkap dengan senapan serbu mereka. Mereka mendapatkan konfirmasi bahwa pesawat yang dibajak itu akan mendarat di bandara ini. Mendengar hal ini kebanyakan orang menjadi lega karena target para teroris itu bukanlah istana kepresidenan. Jadi dengan cepat bandara ini sudah dikepung oleh polisi dan salah satuan khusus Indonesia yaitu Densus 88. Para karyawan bandara juga ikut tegang ketika mendengar kabar mengejutkan ini. Bukankah ini sudah seperti film layar lebar? "Hei, memangnya ada apa sih ini kok ribut-ribut?" Tanya seorang karyawan yang baru keluar dari toilet. Di sebelahnya sudah ada temannya yang telah mendengar berita pembajakan itu. "Kamu dari mana saja memangnya? Tadi diumumkan ada pesawat yang dibajak dan sebentar lagi mereka akan mendarat di bandara ini." "Serius?" Karyawan yang lupa menutup resleting celananya itu sudah menganga, dia baru pertama kali mengalami kejadian seperti ini. Namun melihat banyaknya satuan hukum yang berjaga di tempatnya bekerja ini, sepertinya ini bukanlah mimpi. Di luar pintu bandara, para penumpang yang hendak berangkat itu sama sekali tidak berdaya. Tanpa penjelasan apa-apa, puluhan mobil polisi tiba-tiba datang dan para polisi itu langsung mengevakuasi mereka semua. Pada saat yang sama, semua keberangkatan ataupun kedatangan pesawat ditunda. "Apa yang sebenarnya sedang terjadi?" Seorang penumpang terlihat kebingungan. Evakuasi total seperti ini sangatlah jarang terjadi. Melihat banyaknya polisi yang berjaga di bandara ini, semua orang merasa penasaran. Terlebih lagi para media berita sudah mulai bermunculan satu per satu. Tetapi ketika para reporter itu berniat mencari tahu apa yang terjadi, mereka segera diusir oleh para polisi yang berjaga di pintu masuk. Pada saat yang sama, salah satu pimpinan para polisi itu melarang adanya kamera yang merekam kejadian ini. Tidak peduli teori atau tebakan apa yang dikembangkan para media itu, para polisi tidak peduli. Keadaan di dalam bandara masih tegang dan para pimpinan polisi ini tidak tahu keinginan para teroris tersebut. Di tengah keadaan genting seperti ini, ada salah satu orang yang menguap karena bosan. "Cih, markas mengirimku ke tempat ini dan tidak ada media yang akan merekam aksiku nanti?" Orang yang berbadan tegap dan kekar ini dilengkapi oleh peralatan dan persenjataan polisi yang lengkap, Wajahnya yang tertutup oleh sebuah kain hitam itu hanya memperlihatkan matanya saja. Namun, semua itu tidak bisa menutup aura membunuhnya yang sangat pekat. Orang di sampingnya langsung menegurnya. "Pak Bruno jangan begitu, markas juga ditekan oleh banyak pihak. Lagipula yang terpenting adalah nyawa 100 orang yang ada di pesawat, sampai saat ini kita juga tidak tahu kondisi mereka bagaimana. Kita dikirim hari ini untuk menumpaskan semua teroris yang berani menginjakan kakinya di ibu kota ini, tetapi kami harap bapak bisa menangkapnya agar kami bisa menginterogasinya." "Iya, iya kamu tidak perlu mengomel seperti itu." Bruno merupakan salah satu ujung tombak dari Arwah Garuda. Sejak dia bergabung, belum pernah ada teroris yang bisa lepas dari genggamannya. Selain Densus 88, presiden memerintahkan Arwah Garuda untuk ikut dalam misi kali ini. Bruno berani bersikap sombong seperti itu karena dia memang mempunyai kemampuan. Selama ini dia berperang dengan teroris internasional dan sudah memupuk pengalaman yang tidak terhitung jumlahnya. Setelah sekian lama di luar negeri, minggu kemarin dia baru saja kembali ke Indonesia dan sudah diberikan tugas sepenting ini. Tentu saja dia tidak kenal siapa Randika. Orang Arwah Garuda yang mengerti Randika hanyalah Safira, Elva dan bawahan mereka saja, terlebih pengaruh mereka tidak sampai ke Jakarta. Bagaimanapun juga, Indonesia memang terlalu luas dan Arwah Garuda tidak hanya memantau aktivitas Randika saja. Oleh karena itu, Arwah Garuda terbagi-bagi di seluruh wilayah Nusantara. Pada saat yang sama, menara bandara memberi sinyal dan semua personel menatap ke langit. Di bawah tatapan mata mereka, sebuah pesawat dapat terlihat dan bersiap untuk mendarat. Semua orang menjadi tegang, para personel langsung menempati posisi mereka masing-masing dan para penembak jitu sudah membidik pesawat. Pesawat tersebut mengeluarkan roda mereka dan mulai mendarat di landasan. Pendaratan mereka mulus dan akhirnya berhenti dengan sempurna. Melihat kejadian ini, semuanya menahan napas mereka. Mereka menantikan tindakan para teroris itu berikutnya. Yang paling sulit adalah ketika teroris tersebut berbaur di antara para penumpang, bisa-bisa korban yang tidak diinginkan akan mulai berjatuhan. Seluruh senjata sekarang mengarah pada pesawat dan semuanya menatap dengan penuh waspada. "Untuk semuanya yang ada di dalam pesawat, kami telah mengepung kalian. Selama kalian tidak melukai para penumpang, permintaan kalian akan kami dengar." Salah satu polisi mengambil alat pengeras suara. Pada saat yang sama, para penumpang di pesawat bisa mendengar kata-kata tersebut. Bruno menatap tajam ke arah pesawat, tidak ada satu ekor lalat pun yang bisa lolos dari tatapan matanya itu. Pada saat ini, tiba-tiba ada seorang pria yang muncul di pintu pesawat yang terbuka. "Target terlihat, seorang pria muda berumur sekitar 24 tahun memakai baju berwarna biru dan berambut pendek." Seorang penembak jitu menginfokan target mereka. Tetapi semua personel ini menahan napas mereka, mereka tidak tahu apakah Randika ini adalah teroris atau penumpang pesawat. Para petugas polisi meminta pada seorang staf bandara untuk mempersiapkan tangga agar orang tersebut bisa turun. Ketika staf tersebut mengambil tangganya, semua orang melihat Randika melompat turun! Dari pintu ke tanah ada sekitar 2-3 meter dari tanah dan Randika dengan santainya melompat turun. Bruno terkejut ketika melihat kejadian ini. "Dia sudah pasti pelakunya!" Dalam sekejap insting Bruno mengatakan bahwa lawannya ini bukan orang sembarangan dan para polisi yang lain juga sudah siaga terhadap Randika. "Berhenti atau kami akan menembak!" Polisi yang membawa pengeras suara itu kembali berteriak paa Randika. Tetapi Randika terlihat cuek dan berjalan ke samping! Polisi tersebut tidak ragu-ragu, dia langsung memerintahkan anak buahnya untuk menembak. Dalam sekejap, semua personel termasuk penembak jitu melepaskan tembakan mereka ke arah Randika! Randika mengangkat kepalanya dan melihat hujan peluru yang padat itu. Pemandangan ini tidak semengerikan ketika dia melawan 1000 orang suruhan mafia Italia, saat itu dia harus menghadapi rudal, peluru, bom ranjau dll. Terlebih lagi, setelah dia menyerap kekuatan misterius di dalam tubuhnya, apakah mereka mengira peluru-peluru ini akan mengenainya? Bisa dikatakan bahwa senjata paling tidak berguna ketika membunuh seorang Dewa dari 12 Dewa Olimpus adalah peluru. Kenapa? Karena laju peluru mudah ditebak dan mereka hanya tinggal mengalirkan tenaga dalam mereka dan mencegah peluru itu menembus ke dalam kulit mereka. Memang terdengar tidak masuk akal, tetapi para ahli bela diri itu memang memiliki kecepatan dan kekuatan yang tidak bisa dibayangi oleh orang awam. Bahkan para elit dari daftar Dewa saja sudah mustahil untuk dibunuh dengan peluru. Oleh karena itu, ketika para ahli bela diri tingkat tinggi bertarung, mereka tidak pernah menggunakan senjata api. Karena kekuatan mereka adalah tubuh mereka sendiri! Menghadapi hujan peluru ini, ekspresi Randika tetap terlihat tenang. Tetapi tiba-tiba, sosok Randika itu terlihat menjadi 2 lalu menjadi 4 dst dalam sekejap. Randika memang terlihat membelah diri ketika hujan peluru itu mengarah pada dirinya. Tetapi ajaibnya, tidak ada satu peluru pun yang bisa mengenai dirinya. Tatapan mata Bruno sudah berubah menjadi serius, tidak heran markas besarnya itu sampai mengutusnya pergi, lawannya kali ini benar-benar kuat! Jika orang ini menapakan kakinya di ibu kota ini, maka negara ini bisa hancur dalam 1 minggu! Bruno sudah membulatkan tekadnya, dia akan membunuh penjahat tersebut. Sedangkan para polisi yang menembak itu sudah terheran-heran, kenapa penjahat itu masih bisa berdiri? Mereka tidak pernah melihat orang bisa bergerak seperti ninja dan membelah diri seperti itu. Polisi yang memegang alat pengeras suara itu terkejut bukan main, dia menolak untuk percaya terhadap kejadian di depan matanya ini. Dia lalu berkata pada dirinya sendiri. "Banyak senjata seperti ini tetapi tidak ada satu pun yang kena? Orang itu sudah pasti setan!" Bayangan Randika itu sudah mencapai 10 orang. Ketika peluru itu mengenai bayangannya, peluru hanya akan menembus. Pada saat ini tiba-tiba suara tembakan itu berhenti total, ternyata semua senjata telah kehabisan pelurunya. Semua yang memegang senjata itu sudah terkejut bukan main, setelah dihujani peluru sebanyak itu tetapi orang itu masih bisa berdiri dengan tegak? Pada saat yang sama, 10 bayangan itu tiba-tiba menghilang dan sebuah bayangan hitam menerjang ke arah mereka. Bayangan hitam itu adalah Randika yang asli. "Cepat bunuh dia!" Kapten mereka itu segera menyadarkan para bawahannya dari linglungnya. Tetapi bagaimana mungkin para polisi ini bisa menghentikan Randika yang telah mengalami terobosan? Setelah menyerap 1/10 dari kekuatan misterius di dalam tubuhnya, Randika bukanlah sosok yang kita kenal lagi. Mereka yang sibuk mengganti magasin tiba-tiba terkejut ketika menyadari bahwa sosok Randika telah menghilang. Namun, beberapa dari antara mereka justru berteriak kesakitan. Mereka hanya sempat merasakan sebuah tinju yang mengenai wajah ataupun dada mereka sebelum akhirnya terjatuh dan terkapar di tanah. Randika tidak berniat untuk membunuh mereka, bagaimanapun juga mereka adalah sebangsa dan setanah air. Randika tidak berhenti berlari, dia berusaha mencari celah agar bisa kabur dari tempat ini. Sebentar lagi pernikahan Inggrid akan dilangsungkan, dia harus menyelamatkan istri tersayangnya itu! Tetapi di tengah Randika sibuk membuka jalan, Bruno muncul di medan pertempuran. "Bruno dari Arwah Garuda akan menjadi lawanmu, bersiaplah untuk mati!" Bruno berdiri di hadapan Randika dan segera menerjang ke arahnya. Di Arwah Garuda Bruno memiliki kemampuan setara dengan Elva, terlebih lagi dia baru saja menjalani misi di luar negeri selama beberapa tahun jadi kemampuannya itu sudah pasti menjadi lebih kuat. Oleh karena itu dia yakin bisa menghadapi Randika seorang diri! Randika mengerutkan dahinya ketika dia dicegat oleh Bruno. Dia lalu berkata pada lawan barunya itu. "Kamu kira bisa menghentikanku? Jangan menyesal jika kamu sampai terbunuh." Bruno tidak mengindahkan kata-kata Randika dan menerjang ke arahnya. Tetapi Randika yang sekarang tidak mempunyai waktu untuk meladeninya. Ketika Bruno sudah hampir menyerangnya, Randika melompat dan menjadikan Bruno sebagai pijakannya. "Sayang sekali aku tidak punya waktu untuk meladenimu." Kata Randika, dia sudah berhasil mencapai lobi bandara. Bruno yang punggungnya dijadikan pijakan oleh Randika itu terjatuh tetapi tidak mengalami luka apa pun. Mendengar kata-kata Randika tadi itu, dia menjadi marah dan mengejar Randika. Apa pun yang terjadi hari ini dia akan membawa kepala penjahat itu kembali bersamanya. Para polisi itu juga ikut mengejar Randika, mereka tidak mengira bahwa Randika akan berhasil melewati garis pertahanan mereka. "Tersangka berhasil melarikan diri, personel lain harap bersiap-siap." Salah satu pimpinan polisi langsung menyiarkan berita mengejutkan ini melalui HT mereka. Para polisi yang bertugas menjaga pintu keluar dan titik-titik penting lainnya sudah bersiaga penuh. Chapter 309: Jakarta Menjadi Heboh Randika dengan cepat membuka jalan dengan paksa menuju lahan parkir. Dia sekarang butuh kendaraan untuk kabur dari tempat ini. Sebelum para polisi itu bisa menyusul dirinya, Randika sudah berhasil mencuri mobil polisi yang berada di pintu keluar bandara. Polisi yang mobilnya dicuri itu hanya bisa menjerit kesakitan ketika dirinya dipaksa keluar dari jendela kacanya yang pecah itu. Setelah itu Randika menunjukan kemampuan menyetirnya dan melesat dengan cepat! Para polisi ini sudah terlambat ketika menyadari Randika yang sudah kabur itu. "Cepat masuk ke dalam mobil, kejar dia!" Semua orang terlihat panik, para polisi segera masuk ke dalam mobil mereka dan mengejar Randika. Para anggota Densus 88 sudah terlatih menghadapi situasi yang tidak terkendali seperti ini. Anggota mereka sama sekali tidak panik dan masuk ke dalam mobil mereka dengan cepat. Tidak butuh waktu lama untuk mereka sebelum akhirnya dapat melihat mobil yang dikendarai oleh Randika. Salah satu dari mereka mulai membidik ke arah mobil Randika, selama mobil meledak maka pelaku akan ikut mati bersamanya. Bruno sendiri juga berhasil mengejar Randika, selama anggota Densus 88 itu berusaha membidik mobil Randika di atas mobil yang berjalan, Bruno yang sambil menyetir itu tidak sungkan-sungkan menembakan pistolnya. Baginya menembak sambil menyetir semudah membalikkan telapak tangannya! Namun ketika peluru itu hampir mengenai mobilnya, bagian belakang mobil Randika itu tiba-tiba berbelok dan mengepot. Terlebih lagi, Randika mengepot dengan kecepatan penuh. Semua peluru yang ditembakan oleh Bruno dan anggota Densus 88 gagal mengenai dirinya. Bahkan peluru itu sama sekali tidak menggores mobilnya. Melihat kejadian ini, semua orang yang mengejarnya itu terkejut. Para pejalan kaki yang melihat keributan itu sama terkejutnya dengan mereka. Ketika mobil-mobil itu melewati mereka, para pejalan kaki ini sibuk mengomentari apa yang telah mereka lihat. Sepertinya mobil yang paling depan itu seorang pembalap apabila dilihat dari kemampuan menyetirnya. Orang itu juga berhasil mengecoh para polisi dengan mudah! "Sayang sekali kemampuan orang itu digunakan untuk kejahatan. Padahal dia bisa mengharumkan nama bangsa ini jika dia menjadi seorang pembalap." Seorang pria paruh baya menggelengkan kepalanya. Jakarta yang merupakan ibu kota Indonesia ini selalu adem ayem, tetapi hari ini kota ini menjadi kacau oleh ulah satu orang. "Target berada di jalan Hayam Wuruk, aku ulangi, target berada di jalan Hayam Wuruk." Salah satu anggota Densus 88 langsung menginfokan status pengejaran mereka sambil terus membuntuti Randika. "Kirimkan orang ke sana dan cegat dia!" Teriak salah satu polisi. "Markas sudah memasang perangkap, semua personel harap bersiap-siap menangkap target." ..... Para polisi ini terus berkomunikasi lewat HT mereka sambil terus mengejar Randika. Sedangkan para penumpang yang diusir dari bandara sebelumnya terlihat bingung ketika bandaranya itu sudah kosong melompong. Mereka melihat bahwa seseorang dengan beraninya mencuri mobil polisi dan kabur. Tidak lama setelah itu seluruh mobil polisi yang ada di bandara ini langsung mengejarnya. Bukankah ini sudah seperti film action Hollywood? Mungkin jika kita bicara di Amerika atau negara barat lainnya hal mengejutkan seperti ini bisa saja terjadi. Tetapi ini adalah Jakarta, ibu kota dari Indonesia. Keamanan dari kota ini sangat ketat mengingat bahwa jajaran politik negara ini berada di kota ini. Bahkan tidak jarang polisi bersenjata lengkap berpatroli untuk mencegah kejahatan. "Siapa orang itu?" "Berarti semua polisi yang datang itu cuma berusaha menangkap satu orang?" Para penumpang yang tertahan di luar ini masih bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Namun penumpang yang masih muda itu memposting kejadian ini di media sosialnya. Di sisi lain, Randika masih menyetir dengan kecepatan penuh. Dia sama sekali tidak peduli dengan rambu lalu lintas. Mendengar suara sirene polisinya, sebagian besar mobil tidak berani menyetir di depannya dan sudah memberikan jalan baginya. Apalagi ketika Randika mengambil trotoar sebagai jalurnya, bahkan jika itu bukan mobil polisi yang menggunakan sirene, semua orang langsung menyingkir. Mereka semua juga hendak memaki mobil itu tetapi karena itu mobil polisi, mereka hanya bisa memendam frustasi mereka. Pada saat ini, dari kaca sampingnya itu terlihat puluhan mobil polisi mengejar dirinya. Kecepatan mereka juga tidak kalah cepat, dan mereka juga tidak peduli dengan rambu lalu lintas. Semua orang langsung mengomentari hari yang aneh ini, kenapa para polisi ini terlihat buru-buru seperti itu? Apakah mereka lupa membawa bekal mereka? "Cih, mentang-mentang punya sirene kita disuruh minggir." Kata salah satu pengendara di dalam hatinya. Para pejalan kaki tidak bisa untuk tidak penasaran ketika melihat puluhan mobil polisi melaju dengan kecepatan tinggi. Namun pada saat ini, tiba-tiba ada orang yang menyeberang sembarangan yang berada di jalur mobil polisi tersebut! Gawat! Semua orang sudah menutup mata mereka dan ketakutan, orang itu sudah pasti mati. Namun satu detik kemudian semua mata mereka terbelalak. Di saat hampir mengenai orang tersebut, keempat ban mobil Randika berubah arah dan mengepot melewati penyeberang itu dengan sempurna. Penyeberang itu sudah gemetar ketakutan sambil mengompol ketika mobil Randika melewati dirinya. Kakinya yang lemas itu membuatnya tidak berani melangkah lagi. Kejadian ini, bersama dengan video di bandara, sudah diposting ke media sosial oleh puluhan orang. Dalam sekejap, Jakarta menjadi viral karena kejadian hari ini. "Wah gila, ternyata mobil bisa mengepot seperti itu ya!" "Hei, hei, bukankah mobil itu sama dengan mobil yang dicuri di bandara tadi? Berarti yang mengepot di video itu penjahat yang dikejar-kejar polisi itu bukan?" Benar, penjahat itu adalah Randika. "Wah berarti penjahat itu orang hebat, mana ada yang bisa lolos dari kejaran polisi sebanyak itu?" Komentar-komentar netizen Indonesia mulai menumpuk di media sosial, diskusi mereka bermacam-macam. "Harus kita akui, orang itu jago mengemudi." "Video ini untuk para jomblo yang mengejar gebetannya, nyerah aja!" "#PrayforJakarta." Berbagai macam komentar mulai memenuhi kedua video Randika. Mereka paling kagum dengan video Randika yang berhasil menghindari penyeberang dengan cara mengepot. Di sisi lain, mobil-mobil yang mengejar Randika itu tidak bisa mendekati Randika sama sekali. Mereka ingin menembak ke arah Randika tetapi Randika selalu bersembunyi di antara mobil. Melihat kemampuan mengemudi lawannya, Bruno mengerutkan dahinya. Lawannya kali ini benar-benar jago menyetir, jika dia lengah sedikit saja maka dia pasti kehilangan jejaknya. Tetapi jika hal ini terus terjadi, pada akhirnya mereka akan kehilangan jejaknya dan lawannya ini bisa kabur. Terlebih lagi penjahat tersebut sangatlah berbahaya, ketika jalannya itu sudah diblokade, Randika tidak segan-segan menabraknya dan langsung melaju kembali dengan cepat. Melihat situasi semakin tidak menguntungkan, Bruno mengontak markas Arwah Garuda. Di pusat kepolisian Jakarta, direktur kepolisian menatap mobil Randika yang melaju kencang itu melalui kamera yang terpasang di salah satu mobil polisi. Amarahnya itu sudah menyelimuti seluruh ruangannya. "Kerahkan semua personel yang masih ada untuk mengejar penjahat satu itu! Dan juga panggil semua yang libur dan cepat suruh mereka menyusul rekan-rekan mereka!" Direktur kepolisian ini benar-benar marah, dia sudah memecahkan 2 gelasnya saking jengkelnya. Dia ingin segera menangkap Randika. Dalam sekejap, perintahnya ini langsung disebarkan dan semua pasukan kepolisian di Jakarta segera pergi untuk menangkap Randika. Tetapi mau 100 ataupun 1000 orang yang diutus, Randika sama sekali tidak peduli. Dia hari ini datang demi istrinya dan tujuannya sudah jelas kediaman keluarga Alfred! Untuk acara pernikahan keluarga Alfred itu, Randika sudah memastikan lokasinya setelah menghubungi sekretarisnya Inggrid. Menurut informasi yang didapatnya, pernikahannya itu akan dilangsungkan di halaman rumah kediaman keluarga Alfred. Jadi mobil Randika daritadi sudah melaju kencang menuju kediaman keluarga Alfred! Tetapi bagaimanapun juga, Jakarta merupakan kota besar di Indonesia. Butuh waktu 40 menit untuk Randika dapat sampai ke kediaman tersebut. Terlebih lagi, di belakangnya selalu ada sirene polisi yang berbunyi tanpa henti. Meskipun Randika berhasil mengecoh mereka, selalu ada mobil lainnya yang mengekorinya. Sepertinya dia sudah membuat seluruh polisi di Jakarta menjadi musuhnya. Semua pejalan kaki yang melihat kota mereka ini penuh dengan suara sirena mulai ketakutan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Mereka bisa melihat bahwa 1 mobil polisi yang melaju bagaikan pembalap sedang dikejar oleh puluhan mobil polisi lainnya. Di media sosial, berita mengenai mobil polisi yang gila itu sudah viral. Sebagian besar orang sudah mengetahui situasi yang terjadi di Jakarta ini dan mengirimkan video mereka ketika mobil Randika melewati mereka. Dalam sekejap, topik mengenai para polisi di Jakarta memburu seorang penjahat menjadi viral di seluruh negeri. Diskusi para netizen tidak pernah berhenti, komentar mereka sudah mencapai ratusan ribu. Bahkan 5 menit saja komentar di video itu sudah bertambah 500 ratus ribu! Bruno berhasil mengejar mobil Randika setelah dia mengontak markasnya. Dia berusaha membidik ban milik Randika. Tetapi mobil yang dikendarai Randika itu seperti ular, mengelok-kelok tanpa henti. Terlebih lagi, kecepatan Randika itu sama sekali tidak menurun ketika dia mengepot ataupun berbelok. Bruno tidak bisa mengimbangi kecepatan mobil Randika, jadi dia hanya bisa menginformasikan arah Randika melaju. Ketika Randika berbelok, tiba-tiba ada 2 mobil polisi yang melaju menuju arahnya. Namun pada saat ini, tiba-tiba suara riuh datang dari langit. Semua orang yang menengok ke atas langsung terkejut. Para polisi juga menggunakan helikopter! Semua orang langsung bertepuk tangan untuk penjahat yang lagi buron itu, dia berhasil membuat para polisi ini menggunakan helikopter untuk menangkapnya. Namun yang semua orang ini tidak tahu adalah helikopter ini bukan ditugaskan untuk mengawasi ke mana arah Randika pergi, helikopter ini dikerahkan untuk melumpuhkan penjahat nomor 1 ini. Di pintu helikopter, duduk seorang polisi yang mengarahkan senapan mesinnya ke arah Randika. Randika tidak ragu-ragu, dia langsung menancapkan kakinya pada pedal gas dalam-dalam. Sekarang mobilnya itu melaju di trotoar, hal ini membuat kaget seluruh pejalan kaki. Ketika Randika berhasil kabur dari serangan helikopter, semua pejalan kaki itu sudah bermandikan keringat dingin, untung saja kejadian ini tidak menjatuhkan korban sama sekali. Kejar-kejaran antara polisi dan Randika kembali dimulai, para polisi ini berada di pihak yang kurang beruntung. Isi dari topik HT mereka sekarang adalah Randika yang melaju ke arah daerah Menteng, tempat di mana perumahan mewah Jakarta berada. "Cepat potong jalur tersangka!" Kata salah satu dari polisi di HT. Namun di pusat kepolisian Jakarta, direktur kepolisian itu masih dalam keadaan sangat marah. Dia sudah mengerahkan seluruh personel yang ada dan mereka masih kesusahan menangkap satu orang? "Kerahkan 10 helikopter lagi, apa pun yang terjadi aku ingin orang itu tertangkap!" Direktur tersebut melempar topinya itu untuk menunjukan rasa frustasinya. Chapter 310: Kau Masih Hidup? Randika yang kabur dari kejaran para polisi ini sudah menjadi viral di media sosial. Seluruh kota Jakarta menjadi heboh karena aksinya ini. Randika menatap peta yang dipegangnya, sebentar lagi dia akan tiba di kediaman keluarga Alfred. Namun pada saat ini, dia melihat 2 helikopter muncul di atasnya. Randika langsung berusaha mengecohnya, dia tidak bisa membiarkan mobilnya itu dibombardir oleh senapan mesin mereka. Dan ketika dia berhasil kabur, dia menyadari bahwa masih ada beberapa helikopter yang menanti dirinya. Kepolisian Jakarta telah mengerahkan seluruh sumber daya mereka, tetapi ada satu pertanyaan yang pantas dipertanyakan. Apakah semua itu cukup untuk menangkap Ares sang Dewa Perang? Jawabannya adalah tidak! Ketika Randika kembali memacu mobilnya, mobil-mobil polisi di belakangnya terus mengekori dirinya. Saat dia melihat dari kaca sampingnya, dia menyadari bahwa makin banyak mobil yang mengejar dirinya. Pada akhirnya bisa dikatakan bahwa sudah ada ratusan mobil yang mengejar dirinya dan puluhan helikopter mengintai dari atas! Kejadian ini difoto oleh beberapa orang dan diposting di media sosial, netizen Indonesia langsung berkoar. "Perasaan seorang murid yang membawa permen karet di kelas." "Semoga cepat ketangkap #PrayforJakarta." "Cuma gara-gara mencuri ayam tetangga sebelah dia dikejar seperti itu? Hebat sekali!" "Gila, ini sudah seperti bintang 5 di serial GTA!" "Bro, aku main GTA saja tidak sebanyak itu polisi yang mengejarku hahaha. Ini sih sudah melampaui GTA!" Banyak yang bercanda dan banyak pula yang berdoa Jakarta cepat menjadi damai seperti sedia kala. Di sisi lain, di kediaman keluarga Alfred. Hari ini merupakan hari penuh kebahagian bagi keluarga Alfred, tetapi tidak ada senyum sama sekali yang menghiasi acara pernikahan ini. Hampir sama, pihak keluarga Laibahas juga sama cemberutnya. Ghost Marriage ini benar-benar telah melukai hubungan antara 2 keluarga ini. Di acara pernikahan ini, keluarga Alfred mengundang keluarga aristokrat yang ada di Jakarta. Semakin banyak yang datang semakin bagus hasilnya. Inilah hukuman bagi keluarga Laibahas! Di tengah-tengah halaman rumah, Inggrid berdiri diam sambil memakai baju pengantin berwarna merah dan memakai sapu tangan merah yang diikatkan di dahinya. Seluruh anggota keluarga Alfred menatap dingin Inggrid. "Bahkan jika Hans sudah mati, apa kau pikir bisa lari dari takdirmu?" "Sungguh keluarga tidak tahu diri, semoga dengan Ghost Marriage ini keluarga Laibahas bisa merenungkan sikapnya yang kurang ajar itu." Cemooh-cemooh mulai dilayangkan oleh keluarga Alfred, kematian Hans masih membekas di benak mereka. Tetapi Inggrid tidak memedulikannya, dia sudah kebal dengan cemoohan yang datang menyerangnya selama hidupnya. Lagipula, hatinya itu sudah mati jadi buat apa dia peduli dengan mereka? Mengingat-ingat sifat pengecut ayahnya dan keluarganya yang sama sekali tidak membelanya, hati Inggrid menjadi dingin. Satu-satunya penghangat hatinya itu sudah mati. Ketika dirinya mengingat-ingat kejadian Randika dan Hannah jatuh dari tebing, kedua tangan Inggrid tiba-tiba mengepal. Kukunya menancap dengan kuat dan tangannya mulai berdarah. Dia menggigit bibirnya agar amarahnya itu tidak meluap-luap. Ketika dia mengingat kejadian itu, Inggrid selalu ingin menangis. Tetapi khusus hari ini, dia tidak akan menangis sama sekali. Dia harus membunuh Ivan demi membalaskan dendam kekasihnya itu, barulah saat itu dia akan menangis bahagia karena bisa menyusul orang yang dicintainya. Di lengan bajunya, pisau yang disembunyikannya itu mengandung rasa benci miliknya. Inggrid hanya berdiri diam dan menunggu acara pernikahan ini dimulai. Jack duduk di bangku paling depan sambil menghela napasnya. Meskipun hubungan mereka tidak terlalu baik, bagaimanapun juga Inggrid adalah anaknya. Dia tidak ingin hal ini terjadi tetapi dia tidak punya kuasa untuk menentangnya. Ibu Ipah berdiri di barisan paling belakang dan menatap sedih Inggrid. Ibu Ipah sudah menganggap Inggrid sebagai anaknya sendiri sejak dia masih kecil, dia tidak menyangka bahwa anaknya itu akan terlihat begitu mati di hari pernikahannya. Dengan wajah yang dingin, Ivan berkata pada bawahannya. "Suruh mereka mulai." Mendengarkan perintah ini, seorang pelayan yang membawa sebuah boneka kertas itu keluar. Boneka kertas itu adalah perwakilan dari Hans dan terdapat sapu tangan merah yang diikatkan pada dahinya. Melihat pelayan itu keluar, semua orang berdiri dan acara pernikahan ini dimulai. Pelayan itu lalu berjalan menghampiri Inggrid dan akhirnya berdiri sejajar dengannya. Pertama adalah upacara pemanggilan arwah. Pendeta upacara pernikahan ini akan berdoa dan memanggil arwah mempelai pria agar dapat menghadiri upacara ini. Kedua adalah upacara penghormatan dari orang tua. Ini dia! Inggrid menggenggam erat pisau yang disembunyikannya. Ini adalah kesempatan emasnya, selama Ivan berjalan menghampirinya, dia akan membunuh kepala keluarga dari keluarga Alfred itu! Namun pada saat ini, Ivan tiba-tiba berkata dengan nada serius. "Tidak butuh penghormatan seperti itu, aku tidak mau menerima menantu biadab seperti dia. Dia hanya akan menjadi teman anakku di kuburannya." Jack langsung berkeringat dingin ketika mendengarnya sedangkan tubuh Inggrid bergetar tanpa henti. Wajah Ibu Ipah makin sedih melihat Inggrid. "Langsung ke upacara sumpah setia." Kata Ivan. Pendeta upacara itu tidak berani melawan perintah dari Ivan. Dia lalu melanjutkan upacara pernikahan ini. "Sekarang upacara pertukaran cincin dan sumpah setia." Setelah itu pelayan yang membawa boneka kertas itu berdiri di hadapan Inggrid. Hans sudah mati jadi dia tidak perlu menyematkan cincin di jari Inggrid dan mengucapkan sumpah setianya. Yang perlu melakukannya adalah Inggrid. Namun, Inggrid sama sekali tidak bergerak. "Silahkan mempelai wanita melakukan upacara pertukaran cincin dan sumpah setianya." Pendeta itu sekali lagi mengingatkan apa yang harus dilakukan oleh Inggrid. Ivan menampar sandaran kursinya dan berkata dengan nada dingin. "Jika kau berani kabur, aku akan menghancurkan seluruh keluargamu!" Ancaman ini benar-benar nyata, keluarga Alfred memiliki kemampuan ini. "Inggrid, kamu pasti bisa." Jack memberi semangat pada Inggrid yang sudah berkaca-kaca. Inggrid merasa bahwa hidupnya selama ini telah diatur, dia tidak pernah memiliki kebebasan. Inggrid lalu tersenyum sambil menggenggam pisaunya. ''Randika, Hannah, aku akan segera menyusul kalian.'' Ketika hendak bunuh diri, tiba-tiba terdengar suara sirene polisi yang menggelegar. "Hmm?" Semua orang terkejut, suara sirene itu benar-benar keras. Bukan hanya 1-2 saja, tetapi rasanya ada ratusan sirene yang bunyi bersamaan. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Semua orang yang hadir di upacara pernikahan ini menjadi cemas, apakah ada penggerebekan? Kecemasan mereka ini tentu saja beralasan, karena tidak ada kediaman selain kediaman keluarga Alfred yang bisa mengundang sirene sebanyak itu. Tetapi kenapa para polisi itu berani menantang keluarga Alfred? Inggrid yang berniat mengeluarkan pisaunya itu terdiam. Tidak ada yang namanya kebetulan, berarti jangan-jangan ini adalahˇ­. Di dalam benak Inggrid, wajah Randika kembali muncul. Tidak salah lagi, ini pasti ulah Randika. Tetapi bagaimana mungkin? Hari itu dia melihat Randika jatuh ke bawah tebing. Ivan yang mulai ikut cemas itu berkata pada Jack. "Ini ulahmu?" Jack langsung kelabakan. "Tidak, tidak mungkin! Mana berani aku memanggil polisi!" Seluruh orang yang hadir sudah berniat untuk kabur, mereka tidak mau berurusan dengan polisi. Ibu Ipah menghela napas, karena pada saat ini, suara helikopter mengudara itu mulai terdengar. Semua orang langsung terkejut bukan main, kenapa sampai ada helikopter segala? Memangnya apa yang telah terjadi? Semua orang yang hadir di upacara pernikahan ini sama sekali tidak tahu. Suara sirene polisi makin jelas terdengar dan suara helikopter itu juga makin mendekat. Namun tiba-tiba ada suara ledakan di pintu pagar kediaman. Semua orang menoleh tetapi pecahan batu terbang ke mana-mana dan membuat semuanya merunduk. Di bawah tatapan mata mereka terlihat sebuah mobil polisi yang setengah hancur itu muncul di hadapan mereka. "Siapa itu?" Orang-orang mulai penasaran sekaligus ketakutan. Melihat mobil polisi itu, wajah Ivan sudah buruk rupa. Jika polisi sudah berani menyinggung keluarganya maka ini namanya perang. Inggrid dengan cepat meninggalkan altar dan menatap penuh harap pada mobil polisi itu. Entah kenapa hatinya itu berharap banyak meskipun itu terlihat mustahil. Apakah itu Randika? Dalam hatinya, dia percaya bahwa orang yang datang menyelamatkannya ini adalah pria yang dicintainya itu. Pada saat ini, pintu mobil itu tiba-tiba terlempar dan sesosok pria keluar dari dalamnya. Melihat sosok yang familier itu, tangisan air mata Inggrid tidak bisa berhenti mengalir. Itu benar-benar Randika, dia beneran Randika! Melihat sosok pria itu, semua anggota keluarga Alfred itu menjadi marah. "Bocah, kau berani sekali menerobos ke tempat ini." Tetapi ketika Ivan menyadari sosok pria itu, matanya terbelalak dan hatinya langsung mengerut menjadi kecil. "Kau masih hidup!?" Chapter 311: Tanggung Jawab Seorang Kepala Keluarga Randika berdiri tegak di tengah halaman keluarga Alfred ini dan menatap tajam ke semua orang yang ada. Aura membunuhnya yang sangat pekat itu membuat suasana menjadi berat dan orang-orang mulai kesulitan bernapas. Dia sebelumnya telah dikejar oleh ratusan mobil polisi, puluhan helikopter dan sekarang dikepung oleh orang-orang yang berada di kediaman keluarga Alfred. Suasana riuh tadi tiba-tiba menjadi tenang. Benar-benar suasana yang canggung. Wajah Ivan sudah berkeringat dingin ketika melihat sosok Randika. Bukannya bocah itu sudah jatuh dari atas tebing? Kenapa dia masih bisa hidup? Tetapi karena dia masih berani datang setelah kejadian di gunung itu, Ivan tidak bisa membiarkannya pergi hidup-hidup. Apa dia kira dia bisa datang ke rumahnya dan keluar setelah menerobos masuk seperti itu? Di tatapan mata Ivan sudah terkandung kebencian yang sangat mendalam. Niat membunuhnya sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Orang yang telah membunuh anaknya ini tidak bisa dibiarkan hidup, orang itu harus mati! Pada saat yang sama, pengawal-pengawal keluarga Alfred sudah mencabut senjata mereka dan mengepung Randika. Bahkan pembunuh yang dulu bertarung melawan Randika juga ikut mengepung. Karena hari ini adalah upacara pernikahan keluarga intinya, meskipun ini cuma Ghost Marriage, hampir semua anggota keluarga inti hadir di acara ini. Di luar anggota keluarga yang berada di luar negeri, hampir semua anggota inti dari keluarga Alfred berada di tempat ini. Belum lagi keluarga aristokrat yang diundang oleh Ivan, semua orang penting di Jakarta telah berkumpul di tempat ini! Oleh karena itu, ketika sosok Randika keluar dari dalam mobil, banyak orang yang berdiri dari tengah-tengah tamu. Mereka yang berdiri itu memiliki aura seorang ahli bela diri. Karena keselamatan diri mereka juga terancam, mereka dengan senang hati meminjamkan kekuatan mereka pada Ivan. Lagipula membuat Ivan berhutang budi pada mereka adalah suatu hal yang bagus Dikepung oleh orang-orang ini, wajah Randika sama sekali tidak berubah. Kenapa? Karena pertarungan seperti ini sangatlah mudah baginya. Pada saat dia berkeliling dunia dulu, ketika dia bertemu dengan Dion, dia pernah terjebak di sebuah kota. Ratusan orang mengincar dirinya dan mereka semua telah binasa oleh tangannya! Ketika dulu dia berada di Jepang, seluruh orang baik itu polisi, politikus, ahli bela diri lainnya tidak berani berjalan di depannya. Ketika dia melihat Randika, semua orang akan berputar dan lari dari hadapannya! Ketika dia berada di Eropa, semua orang takluk oleh kemampuannya. Belum lagi para perempuannya, mereka semua takluk oleh kemampuan Randika! Tentu saja kemampuan yang dimaksud adalah olahraga di atas ranjang. Jika dibandingkan dengan semua itu, kejadian hari ini bukanlah apa-apa baginya. Kemampuan orang-orang ini kurang lebih sama dengan para ahli bela diri yang berada di daftar Dewa, sedangkan Randika belum pernah kalah oleh rendahan seperti mereka. Hal ini terbukti ketika dia bertarung dengan 5 orang sekaligus di Nazumi Bar. Apalagi sekarang kekuatan Randika sudah bukan seperti dulu lagi. "Orang yang berani menapakan kakinya sembarangan di rumah ini tidak pernah keluar hidup-hidup." Seorang pengawal menggelengkan kepalanya dan menatap jijik pada Randika. Keluarga Alfred sudah menancapkan akarnya di Jakarta sejak dulu, belum pernah ada orang yang seberani Randika menerobos seorang diri ke kediaman keluarga aristokrat ini. "Apa pun alasanmu datang ke sini, hanya kematian yang ada untukmu." Melihat kedatangan tamu tak diundang ini, para tamu juga ikut berdiskusi dengan sesama mereka. "Sepertinya orang itu mempunyai dukungan yang kuat, tetapi masalahnya keluarga mana yang berani menantang keluarga Alfred terang-terangan seperti ini?" "Sepertinya ini juga campur tangan elit global, mana ada orang yang berani menantang Ivan?" Semua kekuatan keluarga Alfred turun tangan menghadapi Randika. Ditambah dengan para pengawal dari tamu mereka, sudah ratusan orang yang mengepung Randika. Ini juga termasuk tim pembunuh elit dari keluarga Alfred. Meskipun begitu ekspresi Randika tetap tenang. Matanya menatap Ivan yang wajahnya buruk, Jack yang terlihat terkejut, wajah bahagia Ibu Ipah, para tamu yang jijik melihatnya dan pada akhirnya matanya jatuh pada Inggrid yang berbajukan pengantin itu. Pada saat ini Inggrid sudah berurai air mata. Randika masih hidup, suaminya itu masih hidup! Dunia Inggrid yang hitam putih itu kembali berwarna, hatinya yang sudah mati kembali mekar ketika melihat Randika. Dia mengira sudah tidak akan bisa melihat pangeran berkuda putihnya itu lagi di kehidupan ini. Pada saat ini, Inggrid ingin meloncat ke pelukannya Randika tetapi Randika yang tersenyum padanya itu tiba-tiba berkata pada dirinya. "Dasar perempuan bodoh, kenapa kamu menangis seperti itu? Bukankah aku pernah bilang kalau kamu itu terlihat cantik ketika tersenyum?" Ketika para tamu mendengar kata-kata Randika, semuanya memiliki dugaan tersendiri. "Menarik, sepertinya bocah itu punya hubungan dengan Inggrid. Keluarga Laibahas memang sudah sepantasnya jatuh." "Hahaha ini salahnya memaksa Inggrid untuk menikahi anaknya yang sudah mati, sekarang cowoknya itu datang untuk balas dendam." "Tapi bocah itu sudah pasti gila, mana mungkin dia bisa keluar dari sini hidup-hidup?" Para tamu itu hanya bisa menghela napas mereka. "Sepertinya dunia ini sudah menjadi gila." Ketika orang-orang itu menatap Randika, tatapan mata mereka sudah dipenuhi oleh rasa belangsukawa. Bagaimanapun juga, musuh keluarga Alfred adalah musuh mereka. Namun, Randika sama sekali tidak peduli dengan orang-orang ini. Tatapan matanya hanya tertuju pada Inggrid. Ketika Inggrid mendengar kata-kata Randika, tangisannya makin menjadi-jadi dan dia tidak bisa berhenti menangis. "Suamikuˇ­" Kata Inggrid dengan nada lembut. Sambil tersenyum hangat, Randika membalasnya. "Serahkan masalah ini pada suamimu, nanti malam kita akan kembali ke rumah bersama-sama." Ivan berdiri dan menatap Randika lekat-lekat, hatinya sudah tidak tahan lagi. Dia berpikir bahwa lancang sekali bocah itu menganggap dirinya bisa kabur bersama Inggrid, dia pasti akan membunuh pembunuh anaknya itu. Sebagai kepala keluarga, Ivan harus melenyapkan musuh-musuh yang berpotensi menjadi penyakit bagi keluarganya. Sekarang Randika adalah musuh nomor satunya dan dia harus segera melenyapkannya. Ivan menendang kursinya dan kursinya itu menabrak meja. "Karena kau berani menunjukan batang hidungmu ke tempat ini, bersiaplah untuk mati!" Teriak Ivan. Mendengar kata-kata ini, semua orang yang mengepung Randika itu bersiap untuk menyerang. Bagaimanapun juga musuh mereka itu cuma satu orang, seharusnya jumlah mereka cukup untuk membunuh Randika. Tetapi orang-orang yang pernah merasakan kemurkaan Randika sebelumnya menunjukan jejak-jejak ketakutan di mata mereka. Kekuatan Randika pada hari itu melekat di benak mereka dengan sempurna. Jika mereka menyerang dengan gegabah maka mereka sudah pasti akan mati dalam sekejap. Ketika semua orang sudah mengharapkan darah mulai berjatuhan, tiba-tiba suara sirene polisi kembali terdengar. Ketika para tamu ini menoleh, mereka semua terkejut bukan main. Kenapa polisinya begitu banyak? Di pintu pagar rumah, para polisi sudah memblokade dengan mobil mereka. Ratusan orang sudah membidik ke arah Randika, dan di saat yang sama, lebih dari 15 helikopter sudah mengudara dan mengarahkan senapan mesin mereka pada Randika. Tidak jauh dari sana, puluhan penembak jitu sudah mengambil posisi dan siap menembak. Situasi macam apa ini? Para tamu ini sudah ketakutan, mereka belum pernah melihat polisi sebanyak dan selengkap ini. Apakah mereka juga akan ikut hancur bersama keluarga Alfred? Tetapi, mereka langsung bernapas lega ketika mereka mengetahui bahwa para polisi ini datang untuk Randika. Ratusan titik merah tersemat di seluruh tubuh Randika. Melihat hal ini, semua orang langsung menyingkir dan bersembunyi. Inggrid pun juga bersembunyi atas perintah Randika. Para polisi itu sudah siap menembak kapan saja, pada saat ini salah satu dari mereka mengambil pengeras suara dan berkata pada Randika. "Anda sudah terkepung, menyerahlah atau kami akan menembak." Namun, Randika tidak peduli dengan mereka sama sekali. Tatapan matanya masih tertuju pada Ivan. Aura membunuhnya yang pekat itu semua tertuju pada Ivan, hal ini membuat nyali Ivan mengerut. Sudah jelas bahwa Randika datang untuk mencabut nyawanya. Polisi itu mengerutkan dahinya dan berkata kembali. "Tenang kami tidak akan menembakmu selama kamu tidak melawan. Angkat kedua tanganmu dan berlutut di atas tanah." Ivan tiba-tiba mendapatkan ide, kenapa dia tidak menggunakan para polisi ini untuk membunuh Randika? "Kamu ditangkap atas tuntutan melanggar hukum karena membajak sebuah pesawat, melukai puluhan aparat penegak hukum, mencuri mobil milik polisi dan membuat kekacauan di dalam kota. Dan sekarang kamu telah menerobos ke dalam rumah orang, lebih baik kamu menyerah sekarang sebelum kejadian ini menuai korban yang lebih banyak." Polisi itu kemudian mendengus dingin. "Jangan pikir kamu bisa kabur lagi." "Barkah, apakah benar orang ini telah melakukan kejahatan sebanyak itu?" Ivan tiba-tiba berteriak. Polisi yang bernama Barkah ini menatap Ivan dan langsung terkejut. Kemudian ekspresi wajahnya itu langsung berubah. "Aku tidak menyangka bahwa penjahat ini bersembunyi di rumah Anda." Barkah dengan cepat menghampiri Ivan, dia sepertinya memiliki hubungan yang akrab. Ivan mengangguk, Barkah merupakan salah satu sekutu keluarga Alfred di kepolisian. "Penjahat seperti itu tidak layak masuk ke penjara, lebih baik bunuh dia di tempat ini." Kata Ivan dengan santai. Barkah ragu-ragu, lalu akhirnya dia mengangguk dan tersenyum. "Sepertinya Anda benar." Pada saat ini Barkah tahu bahwa jika dia berhasil membunuh orang ini, maka keluarga Alfred akan berhutang budi padanya. Terlebih lagi, kejahatan Randika memang sudah terlalu banyak jadi tidak masalah membunuhnya sekarang juga. Bruno, yang sudah mengejar Randika sejak dari bandara, sudah mengerutkan dahinya. Dia tahu bahwa Randika bukanlah seorang teroris. Karena dia tahu bahwa Randika bukanlah orang berbahaya, Bruno jadi malas turun tangan. Tugasnya itu melindungi negaranya bukan sebuah keluarga orang kaya. Ivan menatap Randika sambil tersenyum. Namun, tiba-tiba Randika berkata pada Barkah yang berada di samping Ivan. "Masalah ini adalah masalahku dengan keluarga Alfred, jangan ikut campur atau jangan salahkan aku jika aku memakai kekerasan." Ketika mendengar kata-kata Randika, Barkah langsung marah. Dia tidak menyangka orang ini masih berani berkata lancang seperti itu. Dengan tangannya yang terangkat, semua polisi sudah siap menembak dan senapan mesin helikopter sudah mengarah pada Randika. "Menyerahlah atau kami akan mulai menembak!" Barkah sekali lagi memperingatkan Randika. "Baiklah kalau itu maumu, matilah bersama anjing-anjing tidak berguna itu." Dalam sekejap tubuh Randika sudah dialiri oleh tenaga dalamnya. Chapter 312: Pernyataan Perang oleh Randika Setelah tenaga dalamnya itu mengalir deras, Randika meraung keras sampai-sampai suaranya itu menutupi suara baling-baling helikopter. TIdak sampai di situ, raungan Randika masih menggema ke seluruh tempat. Teriakannya yang lantang itu langsung membuat semua orang menutup telinga mereka karena saking kerasnya. Teriakannya itu berhasil membuat para polisi melepaskan jari mereka dari pelatuk dan menutupi telinga mereka. Randika yang daritadi berdiri diam itu sudah menunjukan kekuatannya. Seluruh tubuhnya sudah diselimuti oleh tenaga dalamnya dan aura membunuhnya sudah memancar dengan hebat. Nama Ares bukanlah dicapai melalui prestasi melainkan ribuan orang yang telah dibunuhnya tanpa pandang bulu. Awalnya Randika enggan membunuh para polisi ini karena mereka adalah saudara sebangsa dan setanah air. Tetapi jika mereka menghalangi dirinya, itu sudah lain cerita. Sekarang Barkah sudah mengerti mengapa Ivan sampai memintanya untuk membunuh orang ini, jika dia berhasil membunuhnya maka hadiah besar pasti akan jatuh ke tangannya. Melihat polisi korup satu itu, keraguan Randika sudah hilang dan dia tidak akan sungkan-sungkan untuk membunuh para polisi yang berani menghalanginya. Ketika suara teriakan Randika itu sudah tidak terdengar lagi, semua orang, termasuk para ahli bela diri, sudah terkejut bukan main. "Teknik macam apa itu? Sejak kapan ada orang seperti itu di Indonesia?" "Bodoh, apa kamu tidak sadar dari raungannya yang membahana itu? Itu sudah pasti teknik auman singa dari Cina!" "Sebenarnya siapa orang itu?" ...ˇ­. Orang-orang mulai berspekulasi mengenai Randika, sedangkan Ivan sendiri sudah pucat pasi ketika raungan Randika memasuki telinganya. Dia merasa bahwa kekuatan Randika yang sekarang lebih mengerikan daripada sebelumnya. Untungnya saja raungannya itu tidak sampai membuat semua orang terpental, para polisi juga sudah kembali bersiaga. Barkah benar-benar sudah marah dan berkata dengan nada dingin. "Ini peringatan terakhir, menyerahlah atau kami akan membunuhmu!" Barkah memang sedikit terkejut dengan raungan Randika tetapi dia sama sekali tidak takut dengannya. Bagaimanapun juga, lawannya ini cuma satu orang dan dia memiliki persenjataan yang lengkap dan banyak seperti ini. Buat apa dia takut? Justru dia akan melumatkan bocah satu itu! Terlebih lagi, di antara bawahan yang dia bawa hari ini, dia mendapatkan bantuan dari Densus 88 dan Arwah Garuda. Kekuatan yang ada di tangannya ini benar-benar sudah mengerikan, tidak mungkin dia bisa kalah. Menatap pemuda di depannya itu, Barkah mendengus dingin dan memberikan perintahnya untuk menyerang. Beberapa orang dari Densus 88 maju dan bersiap untuk menangkap Randika hidup-hidup. Ketika orang-orang itu maju, Randika tahu bahwa mereka bukanlah polisi biasa. Namun, apakah ada bedanya? Dia sudah pernah merasakan kehebatannya pasukan Amerika yang terkenal paling hebat di dunia, setiap prajuritnya setara dengan 100 prajurit biasa. Keahlian mereka memang terhebat dan kemampuan berpikir mereka juga kelas dunia, tetapi di hadapan Randika mereka bukanlah apa-apa. Apalagi pasukan yang sekarang bergerak untuk menangkap ini. Dengan pisau militer di tangannya, seseorang menerjang maju ke arah Randika sedangkan 4 temannya lainnya menyerang dari sisi kanan dan kiri Randika. Mereka juga berkoordinasi dengan para senapan jitu untuk menghalangi jalur lari Randika. Randika tiba-tiba bergerak. Di saat pisau militer itu tertuju pada kakinya, Randika hanya memberikannya sebuah tinju di wajahnya. Dia memang terlihat tidak bergerak, tetapi itu karena pukulannya sangat cepat. Insting bahaya yang sudah diasah oleh latihan keras bertahun-tahun membuat prajurit ini mengangkat tangannya tetapi semua sudah terlambat. Tinju Randika sudah bersarang di wajahnya dengan keras. Di bawah tatapan mata orang-orang, prajurit tersebut melayang ke tengah-tengah mobil polisi parkir dan langsung tidak sadarkan diri. Hanya satu pukulan, Randika dapat mengalahkan satuan khusus anti teror Indonesia itu! Barkah benar-benar terkejut, namun sekarang beberapa orang menerjang Randika bersamaan. Mereka memanfaatkan momen hening tadi itu untuk menangkap Randika. Ketika mereka melayangkan pukulan mereka, mereka sudah disambut oleh sebuah kaki yang tertuju pada perut mereka. Tidak ada yang bisa melihat kapan Randika melayangkan serangannya ini. Prajurit yang mendapatkan serangan tersebut langsung terpental. Begitu pula 2 prajurit yang menyerang Randika dari samping, keduanya langsung tak sadarkan diri begitu menerima serangan yang sama. Hal yang sama juga terjadi pada prajurit-prajurit yang menerjang ke arahnya. Hanya dalam 1 menit, semua satuan khusus tersebut sudah tidak punya kekuatan untuk melawan balik. Semua yang melihat kejadian ini menahan napas mereka. Para tamu undangan Ivan terkejut, begitu pula dengan Barkah dan Ivan. Para keluarga aristokrat itu benar-benar tidak percaya bahwa ada orang yang sekuat Randika. Randika yang masih berdiri dengan tegap itu menatap Barkah dengan dingin. "Segitu saja kemampuan orangmu?" Barkah menjadi marah, begitu pula para bawahannya. Tetapi mereka tidak punya pilihan, bahkan satuan khusus Densus 88 tidak berdaya apalagi mereka. "Aku akan memberimu kesempatan sekali lagi untuk menyingkir. Hari ini keluarga Alfred akan hancur, tidak ada yang bisa mencegahku untuk melakukannya." Kata Randika dengan wajah serius. Mendengar kata-kata ini, semua orang terkejut. Pemuda ini datang untuk menghancurkan keluarga Alfred? Gilaˇ­. Dia sudah gila! "Jika ada yang berani menghalangiku, aku akan membunuhnya!" Kata Randika sambil menekankan kata-katanya. Wajah anggota keluarga Alfred menjadi pucat pasi, apakah ini akan menjadi awal dari kehancuran keluarga mereka? Wajah Ivan benar-benar dingin, lalu dia berkata pada Randika. "Bermimpilah 1000 tahun sebelum kamu bermimpi menghancurkan keluargaku." Darah Barkah juga menjadi mendidih. "Bisa-bisanya kamu mengancam keluarga Alfred seperti itu? Apa kamu tidak peduli dengan hukum?" Bersamaan dengan ini, Barkah memberi isyarat untuk bersiap menembak kepada bawahannya. Ratusan senapan sekarang tertuju pada Randika dan siap menembak kapan saja! Tidak peduli seberapa hebat lawannya ini, dia tidak mungkin bisa menghindari senjata sebanyk ini. "Masih tidak mau menyingkir?" Randika mendengus dingin. Ketika semua orang berfokus pada dirinya, dia tiba-tiba berubah menjadi asap. Randika benar-benar hilang dan tidak ada yang bisa menemukan dirinya. Tiba-tiba dia sudah berdiri di tengah para tamu dan mencekik salah satu anggota keluarga Alfred. KRAK! Suara leher yang patah terdengar renyah. Kejadian ini benar-benar cepat. Barkah belum sempat memberi perintahnya, Ivan dan ratusan moncong senjata masih menatap tempat Randika sebelumnya berada. Randika lalu membuang mayat di tangannya itu ke hadapan Ivan. "Kau berani mencoba membunuhku saat di puncak gunung, apa kau kira aku tidak berani berbuat hal yang sama pada keluargamu?" Barkah benar-benar marah, dia lalu berteriak keras pada bawahannya. "Tembak!" Dalam sekejap, seluruh tamu itu berlarian ke mana-mana sedangkan para polisi itu tidak ragu menembakan senjata mereka. DOR! DOR! DOR! DOR! Rentetan senjata mulai ditembakan bersamaan. Dibantu oleh senapan mesin helikopter dan senapan jarak jauh, semua peluru sekarang melesat cepat menuju Randika. Chapter 313: Serang Aku Bersama-sama Semua polisi itu sudah ketakutan bukan main ketika ribuan peluru mereka hanya menembus penjahat nomor 1 Jakarta saat ini. Penjahat tersebut masih berdiri tegak setelah dihujani peluru begitu banyak selama 1 menit. Para anggota keluarga Alfred sudah mulai mengompol di celana mereka. Menatap salah satu anggota yang dibunuh Randika tadi, mereka makin ketakutan. Para tamu undangan sudah gemetar dan tidak tahu harus berbuat apa, mereka benar-benar tertegun. Mereka harus mengingat dan menyebarkan ke seluruh anggota keluarga mereka bahwa mereka sama sekali tidak boleh menyinggung orang tersebut! Terlebih lagi, mereka yakin bahwa keluarga Alfred akan hancur hari ini! Memikirkan hal ini, mereka juga sedikit ketakutan. Jika anggota-anggota keluarga Alfred meninggal semua maka kekuasaan keluarga Alfred akan runtuh. Kejadian mengerikan seperti ini akan membuatnya keluar dari keluarga berpengaruh di Indonesia. Randika masih berdiri di tempat yang sama, dia menatap Ivan dengan tatapan membunuhnya! "Berkali-kali kau berusaha membunuhku dan orang-orang di sekitarku." Tatapan mata Randika benar-benar tajam. "Sekarang giliranku untuk membunuh kalian semua." Ivan mendengus dingin. "Kamu memang kuat tetapi kamu tidak punya kekuatan untuk menghancurkan keluarga Alfred!" Ivan tidak menyangka akan bertemu dengan lawan sekuat Randika di dalam hidupnya. Dia melihat sendiri Randika melompat turun ke bawah tebing tetapi masih bisa selamat. Sekarang mungkin adalah pertempuran terakhir mereka, antara dia yang mati atau dirinya yang mati. Dia akan menari di atas mayat Randika malam ini! "Kekuatan?" Randika lalu berkata dengan nada dingin. "Tidak ada kekuatan di dunia ini yang bisa menghentikanku untuk menghancurkan keluargamu itu!" "Matilah bersama dengan anjing-anjingmu itu." Bersamaan dengan itu, Randika melangkah maju dengan aura membunuh yang mengerikan! Para anggota keluarga Alfred yang bersembunyi di belakang Ivan sudah gemetar ketakutan. Di mata mereka Randika sudah bukan lagi manusia. Mata yang merah dan aura yang mencekam, Randika sudah benar-benar mirip seorang iblis. Ketika para tamu undangan melihat tatapan mata Randika, mereka tidak bisa berhenti merinding. Benar-benar pemuda yang mengerikan, hanya auranya saja sudah mampu membunuh! Ketika Randika mengambil langkah maju, wajah Ivan menjadi pucat pasi. Di hadapan aura membunuh yang luar biasa besar itu, dia hanya bisa mengambil langkah mundur. Pada saat Randika mengambil langkahnya kembali, Ivan pun mengambil langkah mundur lagi! Langkah mundur yang diambil Ivan itu makin membuat para anggota keluarganya ketakutan. Tatapan benci Ivan tidak sebanding dengan tatapan membunuh Randika, Ivan seakan-akan melihat jurang maut yang dipenuhi oleh iblis. Detik demi detik, iblis itu bermaksud untuk menariknya ke dalam! Bruno juga menatap Randika. Dia merasa bahwa orang ini sungguh berbahaya dan harus dimasukkan ke dalam daftar hitam organisasinya. Jika organisasinya ini tidak berhati-hati, bisa-bisa negara ini hancur dalam semalam! Di Arwah Garuda, terdapat 3 daftar yaitu putih, merah dan hitam. Daftar putih adalah daftar orang-orang yang menjadi sekutu dari mereka. Merah adalah daftar orang-orang yang sedang diburu oleh Arwah Garuda. Sedangkan yang hitam adalah daftar lawan yang harus diperhatikan oleh mereka. Di daftar hitam ini, tidak ada individu di dalamnya karena di dalam daftar ini berisikan organisasi-organisasi berbahaya di dunia seperti mafia Italia, pasukan Ares di Jepang, Triad dll. Sekarang di daftar teratas dari daftar hitam mereka akan berisikan sebuah nama yaitu Randika! Tentu saja, Bruno tidak tahu siapa identitas asli Randika. Namun menurut pendapatnya, Randika seorang diri bisa menghancurkan fondasi negaranya ini dalam semalam! Randika perlahan menghampiri Ivan, setiap langkahnya memperdalam kebenciannya terhadap keluarga Alfred. Awalnya Ivan berdiri tegak menghadapi tatapan mata Randika, tetapi semakin Randika mendekat semakin pekat aura membunuhnya. Hal ini membuat Ivan sesak napas dan secara otomatis melangkah mundur. Ketika Randika kembali mendekat, tiba-tiba Ivan memuntahkan seteguk darah! Ivan yang sudah paruh baya itu tidak kuat menahan aura negatif yang sekuat itu. Dalam sekejap, Ivan segera menyadarinya bahwa jika dia tidak segera lari dari Randika, dia benar-benar akan mati! Melihat Ivan yang muntah darah, para anggota keluarganya sudah menatapnya dengan mata terbelalak. "Tuan Ivan muntah darah hanya karena saling menatap?" Ketika mendengarkan kesimpulan ini, semuanya langsung menelan air ludah mereka. "Aku sudah pernah merasakan aura membunuh dari tim pembunuh keluarga kita, tetapi aura tersebut tidak ada apa-apanya dengan yang ini. Sudah berapa orang yang pernah dia bunuh?" Orang dengan aura membunuh sebesar Randika sudah pasti membunuh ribuan orang! Wajah Randika terlihat dingin, inilah akhir dari keluarga Alfred. "Kau memang kuat." Ivan membasuh mulutnya dari darahnya. Dia lalu mengeluarkan seluruh kebenciannya dengan berkata pada Randika. "Tapi jangan harap kau bisa membunuhku!!" Sesudahnya dia berkata seperti itu, beberapa orang menerjang maju ke arah Randika. Semuanya adalah pembunuh dan pengawal yang berada di puncak gunung waktu itu. Dark Knife, Jessica, pak tua Fan, tim pembunuh keluarga Alfred dan beberapa ahli bela diri lainnya siap menghadang Randika. Jika ditotal, 30 orang ahli bela diri siap bertarung dengan Randika. Melihat para ahli bela diri tersebut, para tamu undangan terkejut. Ada sebanyak itu di antara kita selama ini? Menurut pemahaman mereka, orang-orang tersebut adalah orang-orang terkuat yang bisa mereka temui. Dan sekarang mereka semua sekaligus didatangkan oleh keluarga Alfred? Berapa banyak uang yang dihabiskan oleh mereka? Ivan mendengus dingin. Dia sudah menghabiskan puluhan miliar untuk mendatangkan ahli bela diri terbaik untuk mengamankan pernikahan hari ini, mustahil Randika bisa mengalahkan mereka. Namun, dia masih belum mengeluarkan pil zombie miliknya. Banyak keluarga aristokrat yang hadir di tempat ini, dia tidak ingin menunjukan kartu As miliknya ini. Melihat para ahli bela diri tersebut, para tamu undangan dan anggota keluarga Alfred bernapas lega. Dengan adanya mereka, Randika tidak mungkin bisa melawan balik. Setelah beberapa hari pemulihan, luka yang dialami Dark Knife, Jessica dan pak tua Fan sudah sembuh. Ketiganya memiliki kebencian luar biasa pada Randika. Belati hitam milik Dark Knife sudah memantulkan aura membunuh pemiliknya yang besar itu. Karena dia gagal membunuh targetnya ini di puncak gunung kapan hari, hari ini dia akan memastikan untuk membunuhnya! Dan juga, hari ini dia mendapatkan bantuan sebanyak ini bagaimana mungkin mereka bisa kalah? Wajah Randika sama sekali tidak berubah, dia menatap dingin pada Ivan. "Kau kira beberapa ekor anjing bisa membunuhku?" Anjing? Wajah para ahli bela diri itu menjadi serius semua, bisa-bisanya lawannya ini masih bisa bersikap arogan seperti itu? Randika tidak peduli dengan aura membunuh mereka, dia berkata pada mereka semua. "Majulah bersama-sama." Setelah mendengar kata-kata itu, semuanya menerjang ke arah Randika. Aura membunuh dari 30 orang lebih tertuju pada Randika. Para polisi tidak berani bertindak untuk saat ini, keadaan sekarang sudah tidak terkendali. Melihat orang-orang menerjang, Randika masih terlihat tenang. Bagaikan petir menyambar, dia berlari menuju lawannya. "Hari ini kau akan mati." Suara Randika tiba-tiba terdengar di belakang Dark Knife. Dark Knife langsung merinding dan merasakan badannya menjadi kaku. Dengan hati yang ketakutan, dia berusaha menyerang balik Randika yang berada di belakangnya. Namun, Randika sudah berhasil menangkap pergelangan tangan kanannya dan meremuknya hingga menjadi bubur. "ARGH!" Belati hitam milik Dark Knife hanya bisa menatap pemiliknya yang kesakitan, ia sudah tidak bisa membalaskan dendam pemiliknya itu lagi. Lalu di hadapan semua para ahli bela diri, tangan Randika menembus dada Dark Knife. Mereka tidak menyangka bahwa Randika akan mengincar yang terkuat di antara mereka terlebih dahulu, kekuatannya itu benar-benar tidak terukur dan mengerikan. "Kalian masih berani melawanku?" Tatapan mata Randika tertuju pada pak tua Fan, Jessica, dan para ahli bela diri lainnya. Hati para ahli bela diri terkuat ini mengalami gejolak batin. Di saat mereka tidak tahu harus berbuat apa, kepala dari pak tua Fan tiba-tiba melayang ke arah tembok. CRAT! Di tengah-tengah mereka sekarang ada badan tanpa kepala yang menyemburkan darahnya ke mana-mana. Bahkan mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum terkena cipratan darah tersebut. Orang kedua telah mati dan Randika sudah menunjukan sikapnya yang tak ragu-ragu membunuh mereka tanpa pandang bulu. Menghalangiku berarti sama dengan mencari mati! Jessica yang tersisa sudah merasa lemas, kedua kakinya itu sudah tidak bisa berdiri lagi setelah melihat kedua temannya itu mati begitu saja. Sekarang di hati para ahli bela diri ini terlintas sebuah pertanyaan, apakah Randika yang terpojok ataukan mereka lah yang terpojok? "Bersama, kita serang dia bersama! Dia hanya seorang diri, kita pasti bisa." Tidak tahu siapa yang berteriak, tetapi sepertinya dia menyadarkan teman-temannya itu dari keraguan mereka. Setelah menyerap kekuatan misterius di dalam tubuhnya, menghadapi orang-orang ini bukanlah hal serius bagi Randika. Baginya mereka tidak lebih dari seekor anjing kecil yang hanya bisa menggonggong. Ketika orang itu selesai berbicara, kepala dari ahli bela diri itu sudah lepas dari kepalanya! Gerakan Randika itu sangat sederhana, dia hanya berlari dan memenggal kepalanya dengan tinjunya yang keras dan dahsyat itu. Bersamaan dengan itu, seluruh ahli bela diri yang tersisa menyerang bersama-sama. Para tamu undangan dan yang lain tidak bisa melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi, mereka hanya bisa melihat satu per satu kepala melayang ke arah mereka. Kepala itu ada yang mendarat di tengah tamu, di mobil para polisi dan bahkan di hadapan Ivan. Ketika melihat kepala di bawah kakinya, Ivan benar-benar menjadi pucat. Ketika dia masih menatapnya, beberapa kepala juga mendarat di hadapannya. Kali ini kepala itu merupakan tim pembunuh terhebatnya. Dalam sekejap kurang dari 10 orang yang masih berdiri. Di hadapan tinju Randika yang keras, mereka bukanlah tandingannya. Tidak lama kemudian akhirnya orang terakhir telah mati dan sekarang hanya Randika seorang diri yang berdiri di tengah halaman dengan tubuh yang bersimbah darah. "Sudah kubilang, serang aku bersama-sama." Kata Randika sambil menatap tajam pada Ivan. "Anjing tidak dapat dibandingkan dengan singa." Chapter 314: Pembantaian Keluarga Alfred Para polisi yang melihat kejadian ini hanya bisa merinding, para tamu undangan sudah kehabisan napas dan bersembunyi dengan hati yang ketakutan. Ketika semua orang berusaha bernapas, bau amis darah langsung memenuhi hidung mereka. Ivan menatap para ahli bela diri yang dibayarnya puluhan miliar itu sudah tidak memiliki kepala semua. Tatapan matanya sekarang terlihat bingung. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Mereka adalah para ahli bela diri terkuat di dunia, kenapa mereka kalah oleh satu orang? Ivan masih tidak bisa mempercayai apa yang telah terjadi. Kakinya bergetar tanpa henti, pada saat ini dia sudah ketakutan setengah mati. Karena kehabisan orang untuk melawan Randika, sekarang gilirannya berhadapan dengan iblis itu! Di bawah tatapan mata semua orang, Randika berjalan menghadapi Ivan secara perlahan. "Aku adalah kepala keluarga Alfred dari Jakarta, pengaruhku di negara ini sangat besar." Ivan menyadari niat membunuh Randika sekarang tertuju padanya. Tatapan mata Ivan benar-benar menunjukan kebenciannya pada Randika. "Jika kau berani membunuhku, kau harus siap menerima pembalasan dendam dari seluruh penjuru negara ini!" Namun, Randika tidak menjawab dan ekspresi wajahnya tidak berubah sama sekali. Wajah Ivan sudah pucat pasi, kakinya makin gemetar dengan hebat. Ketika Randika melangkah maju, Ivan tidak bisa berhenti untuk mundur ke belakang. Ivan benar-benar menyadari apa yang akan terjadi berikutnya, dia akan mati di tangan Randika. Para tamu undangan sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Mereka sendiri tidak menyangka acara pernikahan hari ini akan menjadi awal mulanya kehancuran dari keluarga Alfred. Ketika melihat Randika tidak bergeming sama sekali, suara serak Ivan kembali terdengar. "Jika kau berani membunuhku, keluargaku yang selamat akan membunuh Inggrid! Aku tidak akan membiarkan perempuan biadab itu hidup dengan tenang!" Pada saat ini, Ivan sudah kehabisan jalan untuk mundur. Randika, yang daritadi terdiam, akhirnya sampai di hadapan Ivan. Aura membunuhnya yang seluas lautan itu akhirnya akan tersalurkan. "Kalau begitu aku akan membunuh siapapun yang berani membalaskan dendammu!" Mendengar ancaman yang tertuju pada Inggrid, darah Randika yang sudah mendidih makin mendidih. Ketika Ivan ingin menjawab, dadanya sudah tertinju dengan keras. Randika sama sekali tidak menahan tenaganya. Bahkan pintu khusus yang dibuat oleh Shadow ketika mengurungnya itu sudah pasti akan hancur oleh pukulannya sekarang, apalagi Ivan yang hanya terbuat dari tulang dan daging? Tinju Randika bersarang tepat di tengah dadanya dan membentuk lubang yang besar. Kekuatan yang terkandung pada tinjunya itu membuat Ivan menembus ke dalam dinding. Semua tamu dan polisi sudah terkejut bukan main. Di bawah tatapan para anggota keluarganya, mereka menyaksikan momen terakhir kepala keluarga mereka. DUAK! Leher Ivan ikut patah ketika dia menembus dinding, dia yang sekarang sudah tidak dapat bernapas lagi untuk selamanya. Randika kemudian mengangkat mayat Ivan dan membuangnya ke hadapan para anggota keluarga Alfred yang masih hidup. "Tuan Ivan!" Suara tangisan tragis bercampur marah dapat terdengar dari seluruh anggota keluarga Alfred. Melihat mayat yang dilempar oleh Randika itu, semua tamu benar-benar tidak tahu harus berkata apa. Ivan sudah mati? Semua menatap takut pada Randika, bisa-bisanya orang itu membunuh orang nomor 1 dari keluarga Alfred. Bruno sendiri juga ikut terkejut, kejadian hari ini benar-benar membuat kepulangannya ke Indonesia ini semakin sepadan. Dia tidak menyangka akan menemukan orang sekuat dan seberbahaya ini. Jika barusan saja dia berusaha mencegahnya, bisa-bisa dada yang berlubang adalah dadanya. Pada saat ini, seluruh anggota keluarga Alfred seperti sudah kehilangan akalnya. Tidak tahu siapa yang berkata, tetapi kata-katanya tersebut membakar api kebencian mereka. "Balaskan dendam Ivan, balaskan dendam Ivan!" "Balaskan dendam Ivan, balaskan dendam Ivan!" "Balaskan dendam Ivan, balaskan dendam Ivan!" Mereka sudah benar-benar kehilangan akal, mereka mulai menerjang satu per satu ke arah Randika. Dalam sekejap kejadian menjadi kacau! Tatapan mata Randika masih tetap dingin. Keluarga Alfred benar-benar merupakan penyakit yang harus dihilangkan, oleh karena itu dia harus menghancurkan keluarga ini hingga ke akarnya! Karena para anggota keluarga itu menerjang dirinya, hal ini sangat memangkas waktu dan membunuh kanker tersembunyi tersebut. Randika tidak sungkan-sungkan untuk membunuh, cecunguk-cecunguk seperti mereka bukanlah tandingan bagi dirinya. Mereka hanya mempercepat kematian mereka. Sebelumnya kolam darah mulai mengalir di halaman kediaman keluarga Alfred, sekarang kolam tersebut sudah semakin menggenang. Mayat demi mayat mulai menumpuk. Halaman rumah ini sudah penuh oleh mayat dan Randika terus membantai di tengah-tengah mereka! Dengan satu serangan, tenaga dalam Randika yang mengalir deras itu sudah cukup mampu membuat lubang ataupun memutuskan kepala siapapun yang berani menentangnya. Pada saat yang sama, para anggota keluarga Alfred yang masih hidup semakin sedikit sedangkan mayat saudara-saudara mereka semakin menumpuk tidak karuan. Para tamu undangan, yang bersembunyi sambil melihat adegan berdarah ini, menatap Randika dengan tatapan bingung. Dia tidak menyangka keluarga Alfred yang berpengaruh seperti ini akan dibantai oleh satu orang! Jika dilihat dari kejadian ini, sudah pasti keluarga Alfred akan kehilangan pijakannya dan hancur tanpa bersisa! "Sepertinya ibukota akan kacau beberapa hari ke depan." "Kita harus membicarakannya di pertemuan keluarga kita. Pemuda itu pasti bukan manusia lagi. Kita juga harus memperingatkan semua anggota keluarga kita untuk tidak menyinggungnya sama sekali." "Kita hanya bisa berdoa untuk arwah keluarga Alfred." Para tamu itu langsung menganalisa apa yang harus dilakukan keluarga mereka, kejadian ini jelas akan mengguncang ibukota. Tentu saja reaksi mereka ini tidak berlebihan karena di tempat Randika berdiri, mayat-mayat para anggota keluarga Alfred itu tergeletak tidak berdaya. Mulai dari kepala keluarga, anggota inti, anggota cabang, semua mayat mereka ada di sana. Namun, di antara para tamu ini, ada seorang perempuan yang menatap benci Randika. Hatinya sudah dipenuhi oleh kemarahan dan niat membunuh yang besar. Kuku tangannya sudah menancap di kedua telapak tangannya dan darah tidak bisa berhenti mengalir. Dia adalah Anna, anak keempat dari keluarga Alfred. Orang-orang yang dibunuh oleh Randika adalah anggota keluarganya, tetapi dia sama sekali tidak berdaya. Tubuhnya bergetar tanpa henti tetapi matanya tetap tertuju pada Randika, matanya itu seakan-akan ingin menguliti Randika hidup-hidup. Bersamaan dengan Randika yang terus membantai, Anna berdiri dan berusaha kabur dari rumahnya itu. Sebelum dia pergi, dia berbalik dan menatap Randika. Aku bersumpah akan membalaskan dendam keluargaku! Lalu Anna melarikan diri dari tempat itu bersama beberapa orang. Randika sendiri aslinya tidak tahu siapa saja anggota keluarga Alfred jadi tidak heran ada satu atau dua orang yang lepas dari genggaman mautnya. Yang jelas, dia telah membunuh seluruh anggota inti keluarga Alfred. Randika berdiri diam setelah darah sudah hampir menutupi seluruh tubuhnya, pemandangan ini membuat semua orang ketakutan. Jika Randika berjalan menghampiri mereka mungkin mereka sudah pasti memohon ampun demi nyawa mereka. Chapter 315: Pembantaian di Malam Hari Randika terdiam di tempatnya berdiri, matanya memperhatikan sekelilingnya dengan seksama. Melihat wajah dingin Randika, semua orang makin ketakutan; hal ini termasuk para polisi yang bersenjatakan lengkap itu. Mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri bagaimana Randika membantai para anggota keluarga Alfred tanpa pandang bulu. Kejadian mengerikan ini akan selalu terekam di benak mereka. Para tamu undangan itu berusaha tidak bergerak ataupun mengatakan apa-apa, meskipun mereka memiliki hubungan dengan keluarga Alfred mereka hanyalah rekan bisnis. Di hadapan pilihan hidup atau mati, sifat busuk manusia akan keluar. Mereka yang awalnya mendukung dan memberikan bantuan pada Ivan, sekarang nyali mereka sudah menciut dan tidak berani menunjukan batang hidungnya. Apa pun yang terjadi, mereka tidak boleh menyinggung Randika sama sekali. Inggrid yang bersembunyi sepanjang waktu menatap wajah dingin Randika, wajah suaminya itu sedingin kutub utara. Sambil tersenyum, Randika menghampiri Inggrid dan memegang tangannya. Meskipun Randika bersimbah darah di seluruh tubuhnya, Inggrid tetap terlihat tenang. "Ayo kita pergi dari sini." Kata Randika dengan nada yang lembut. Wajahnya itu tersenyum lembut meskipun ada darah musuhnya yang mengering. Inggrid mengangguk pelan sambil meneteskan air mata. Keduanya lalu berjalan berdua sambil berpegangan tangan. Inggrid merasa ini semua adalah salahnya. Darah yang tertumpah hari ini semuanya berawal dari penolakannya menikahi Hans. Seiring berjalannya waktu konflik itu berujung hingga hari ini. Namun ada satu hal yang pasti. Di segala cobaannya ini, Randika selalu mendukungnya bahkan rela membunuh Ivan agar keluarga Alfred tidak mengganggu mereka lagi. Hal ini membuat Inggrid bersumpah akan mengikuti Randika hingga akhir hayatnya. Jika Randika berani melawan seluruh dunia untuknya, jelas Inggrid akan menemaninya untuk selamanya bahkan di dunia berikutnya. Inggrid tidak peduli dengan keluarga Alfred, dia tidak peduli dengan identitas asli Randika. Yang hanya ingin dia mau adalah sosok Randika di sisinya, itu sudah cukup baginya. Tidak peduli cobaan apa yang akan datang, Inggrid tidak akan pernah meninggalkan Randika. Ini adalah sumpah yang dia buat di dalamnya, hidupnya ini adalah milik suaminya. Sambil berpegangan tangan, keduanya saling bertatap-tatapan. Keduanya tersenyum dan berjalan menuju pintu keluar dari tempat ini. Para polisi dan tamu undangan tidak ada yang berani mencegah mereka berdua. Mereka hanya berdiri dan melihat keduanya pergi sambil menahan napas mereka. Mereka tidak berani menghalangi langkah dewa maut tersebut. Bahkan Bruno dan anggota Arwah Garuda lainnya juga terdiam. Menghentikan Randika berarti mencari mati! Setelah memastikan sosok iblis tersebut menghilang, sekarang di halaman keluarga Alfred dilanda oleh kesunyian. Kemudian satu per satu tamu undangan pulang menuju kediaman mereka. Apa yang telah terjadi hari ini harus disampaikan pada seluruh anggota keluarga mereka. Pada saat yang sama, sirene polisi masih berbunyi, suara baling-baling helikopter masih memenuhi langit tetapi para polisi itu hanya bisa tersenyum pahit dengan kejadian ini. Mereka sama sekali tidak berdaya. Bruno juga menyampaikan informasi ini pada markasnya. Ketika dia ingin menyusul dan mengintai Randika dari jauh, dia mendapatkan pesan dari markasnya. "Kembalilah ke markas secepat mungkin, masalah ini akan ditinjau oleh para pimpinan." Melihat pesan ini, Bruno benar-benar tertegun. Jelas markasnya ini tidak mau berurusan dengan Randika untuk sekarang, sepertinya markasnya itu sudah tahu betul siapa lawan mereka kali ini. Bruno lalu menatap langit dan berpikir, siapakah orang itu sebenarnya. ..... Di sisi lain, Randika yang bersimbah darah itu membawa Inggrid ke sebuah hotel untuk beristirahat. Meskipun ada sedikit kendala di lobi karena penampilan Randika, mereka akhirnya mendapatkan sebuah kamar. Randika lalu mandi dan membuang bajunya sedangkan Inggrid bersiap untuk tidur. "Jangan khawatir, beristirahatlah dengan tenang. Serahkan sisanya padaku." Randika membelai rambut Inggrid dengan lembut. "Iya." Jawab Inggrid sambil tersenyum. Dia sama sekali tidak khawatir karena dia mempercayai Randika! Ini bukan pertama kalinya Randika menyelamatkan hidupnya, dia sudah berkali-kali melakukannya. Yang paling diingatnya adalah hari di mana Randika menyelamatkan dirinya dari perjanjian nikah keluarganya. Dengan gagah berani Randika melawan kedua keluarga aristokrat Jakarta demi dirinya. Kedua adalah ketika dia diculik oleh Shadow, di tengah-tengah proses itu Randika menyelamatkannya ketika dia dilempar dari atas gedung. Dan terakhir adalah ketika Randika rela melompat dari atas tebing untuk menyelamatkan dirinya! Sudah berkali-kali suaminya ini menyelamatkan dirinya dan membela dirinya, sebagai istri Inggrid tidak bisa meminta lebih dari ini. Kepala Inggrid berada di dada Randika, suara detak jantungnya itu membuat Inggrid merasa aman. Ketika Inggrid memejamkan matanya, Randika tidak berhenti mengelus rambutnya. Randika sama sekali tidak berbicara, dia menunggu Inggrid tertidur dengan tenang. Setelah beberapa saat, Inggrid tertidur dengan wajah yang tersenyum. Dia sepertinya senang tidur di pelukannya Randika, dia benar-benar merasa nyaman. Bahkan ketika dia tertidur sekalipun, perasaan nyaman itu sama sekali tidak hilang. Setelah emindahkan kepala Inggrid ke atas bantal, Randika mencium keningnya lalu keluar dari kamar! Masalahnya dengan keluarga Alfred masih jauh dari kata selesai. Karena sudah berpuluh-puluh tahun mengakar di ibukota ini, kekuatan keluarga Alfred tersebar di seluruh Jakarta. Kekuatan ini tidak bisa dia abaikan begitu saja. Meskipun mereka sekarang seperti ayam tanpa kepala, bisa gawat nanti jika ada keluarga Alfred yang tiba-tiba mengambil alih kekuatan ini dan menciptakan masalah baru bagi dirinya. Oleh karena itu, Randika harus segera memotong kaki-kaki ini agar keluarga Alfred tidak bisa berdiri kembali. Setelah keluar dari gedung, sosok Randika menyatu dengan kegelapan dan menghilang. Jalan Kalibata, Jakarta Selatan, di sebuah gang. Gang ini merupakan markas dari geng Black Dragon. Geng yang berisikan para penjahat ini sangat terkenal di Jakarta bahkan mereka berani bertindak di siang bolong. Kenapa mereka begitu berani? Karena orang-orang tidak tahu bahwa di belakang mereka berdiri keluarga Alfred. Bahkan salah satu keturunan keluarga Alfred merupakan salah satu pemimpin dari geng ini! Seorang pria dengan tato naga di wajahnya terlihat suram. Di hadapannya sekarang ada perempuan cantik berdiri di depannya. Perempuan ini adalah Anna, anak keempat dari Ivan. "Orang itu membunuh seluruh anggota keluargaku seorang diri dan bahkan membunuh ayahku. Lebih dari 100 orang telah meninggal hari ini gara-gara ulahnya itu." Ketika memikirkan kejadian tadi sore, wajah Anna dipenuhi dengan kebencian dan kemarahan. "Berani sekali bocah itu!" Darah dari pemimpin dari Black Dragon ini ikut mendidih. "Jika ada yang berani menyerang keluarga Alfred, mereka juga musuh dari Black Dragon!" "Perintahkan anak buah kita untuk mencari pria bernama Randika itu, aku mau semuanya berhenti mabuk-mabukan dan mencari lelaki biadab itu. Siapa yang berhasil menemukannya akan diberi hadiah 50 juta dan bagi siapapun yang berhasil membunuhnya akan kuberi 1 miliar!" Pemimpin Black Dragon ini langsung menyampaikan pesan Anna pada anak buahnya. "Nona Anna tolong bersabar dan beristirahatlah dulu. Apabila ada kabar nanti akan kusampaikan sendiri secara langsung." Pemimpin Black Dragon yang bernama Reimon ini menatap Anna denan lembut. Kesempatan ini sangat bagus untuk gengnya. Jika dia berhasil memasukan gengnya ke fondasi keluarga Alfred, gengnya ini akan makit kuat. Karena petinggi-petinggi keluarga Alfred sudah mati semua, bisa dikatakan bahwa hanya Anna lah yang memiliki kekuasaan di keluarga Alfred. Jika dia berhasil memikat hatinya, impiannya akan tercapai. Pikiran Reimon sudah ke mana-mana, tetapi pada saat ini, terdengar suara jeritan para bawahannya dari luar. Ada apa? Reimon dan anak buahnya di dalam ruangan itu langsung bergegas keluar dan bermaksud melihat keadaan. Anna masih duduk sambil meminum minumannya. Ketika dia melihat ke arah pintu, tatapan matanya itu langsung dipenuhi dengan perasaan ketakutan sekaligus kebencian. Meskipun sekilas, dengan mata kepalanya sendiri dia melihat, di markas Black Dragon ini, Randika sedang menggenggam erat sebuah pedang yang bersimbah darah. Di belakangnya sudah ada puluhan anggota Black Dragon yang mati mengenaskan. Ketika Reimon melihat kejadian ini, hatinya langsung mengepal. Tatapan membunuh Randika benar-benar mengerikan, Reimon sampai tidak bisa bernapas. Randika lalu berkata pada Reimon dkk. "Hanya segini kekuatan geng terkenal di Jakarta?" Ketika Randika selesai berbicara, dia sudah menerjang maju. Pedang merahnya itu kembali mandi darah ketika membelah dua salah satu anak buah Reimon dengan sempurna. Ini adalah penghujung akhir dari geng ini. Black Dragon adalah kekuatan ketiga belas yang sudah Randika bantai malam hari ini. Keluarga Alfred memiliki 22 kekuatan yang tersebar di seluruh Jakarta. Setelah beberapa saat, seluruh markas Black Dragon ini hanya berisikan mayat manusia. Setelah membunuh Reimon, Randika bermaksud untuk pergi dan mengunjungi pasukan keluarga Alfred lainnya. Di dalam ruangan, Anna yang bersembunyi sambil menahan napasnya itu sudah gemetar tanpa henti. Namun, hatinya yang dipenuhi dengan rasa benci itu kian menguat tiap detiknya. Randikaˇ­ Aku akan membunuhmu suatu saat nanti! Aku akan membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri! Chapter 316: Hancurnya Fondasi Keluarga Alfred Di malam hari ini, tanpa sepengetahuan orang-orang, teriakan tragis dapat terdengar di seluruh Jakarta sepanjang malam. Seluruh kekuatan keluarga Alfred dicabut hingga akarnya oleh Randika! Tidak ada satupun dari mereka yang selamat, metode yang digunakan Randika benar-benar mengerikan. Mereka sama sekali tidak menyangka akan ada serangan di malam hari. Dengan ini, keluarga Alfred sama sekali tidak punya kekuatan untuk mengganggunya lagi. Bahkan Randika sendiri ragu, apakah setelah ini keluarga Alfred masih bisa berdiri tanpa para anggota intinya atau tidak. Malam ini ditakdirkan mengguncang fondasi ibukota. Ketika orang-orang bangun dari tidur mereka, mereka hanya bisa membereskan mayat-mayat tersebut. Kejadian berdarah ini sangat mengguncang Jakarta. Awalnya kepolisian ingin menutupi kejadian ini dengan rapat, tetapi para media massa sudah mencium bau-bau berita hangat ini dan pada akhirnya menjadi berita besar yang menggemparkan Indonesia. Namun ketika Inggrid membuka kedua matanya, dia melihat sosok Randika tersenyum lembut pada dirinya. "Sudah bangun?" Melihat wajah tersenyum Randika, Inggrid membalasnya dengan senyuman. "Apa kamu lapar? Bagaimana kalau kita sarapan sebentar lagi?" Kata Randika sambil mengelus rambutnya. Inggrid tidak tahu apa yang telah dilakukan Randika kemarin malam. Yang dia tahu adalah Randika tertidur bersamanya di ruangan ini. Randika tidak perlu memberitahu aksinya kemarin malam, dia hanya perlu melindungi senyuman wajah ini. Ketika Inggrid bangun, dia hendak memakai baju yang dia beli ketika Randika mandi. Kemarin dia datang ke hotel dengan baju pengantinnya, untungnya saja hotel yang ditempatinya ini menjual baju. Dulu ketika awal hubungan mereka, Inggrid akan memakai bajunya di kamar mandi. Setelah bercumbu dan melakukan hubungan badan, rasa malunya itu sudah hilang dan dia langsung melepas bajunya di hadapan Randika. Karena dari awal Inggrid sudah cantik dan sexy, apa pun yang dia pakai akan terlihat bagus. Meskipun dia hanya memakai celana jeans dan baju sederhana, kecantikannya itu sama sekali tidak berubah. Ketika dia sibuk melepas baju tidurnya, Inggrid menyadari bahwa Randika memperhatikan dirinya. "Kenapa?" Nada suara Inggrid terdengar tinggi, tetapi dia melakukannya untuk menutupi rasa malunya. Randika memperhatikan celana dalam Inggrid sekaligus pantatnya itu. Paha yang mulus dan putih itu benar-benar menggoda. Dalam sekejap, Randika menghampiri Inggrid dan berbisik di telinganya. "Sayang, karena tidak ada siapa-siapa di sini selain kita, sebaiknya kitaˇ­." Randika tidak sempat menyelesaikan omongannya tetapi Inggrid sudah tahu apa yang dimaksud oleh Randika. Keduanya lalu berciuman dan berolahraga pagi terlebih dahulu sebelum sarapan. Kasur mereka menjadi saksi betapa panas cinta mereka itu. Setelah satu jam, mereka berdua akhirnya sarapan dan pergi meninggalkan hotel mereka. Pada saat ini, wajah Inggrid sangat bahagia seperti anak kecil. Kedua tangannya merangkul lengan Randika dan kepalanya beristirahat di pundak Randika. Melihat hal ini Randika benar-benar makin sayang dengan Inggrid. Ini pertama kalinya Randika merasa hatinya sungguh puas melihat Inggrid yang begitu bahagia, memang sepasang suami istri harus saling membahagiakan seperti ini. Tetapi sebelum mereka memesan tiket pesawat kembali ke kota Cendrawasih, Randika bertanya pada Inggrid. "Apakah kamu mau kembali dulu ke rumahmu?" Inggrid terlihat ragu-ragu lalu menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu." Inggrid sudah tidak menganggap keluarga Laibahas sebagai keluarganya lagi. Terutama setelah kejadian ini di mana ayahnya sendiri mengorbankan dirinya untuk menjaga hubungan keluarganya dengan keluarga Alfred. Baginya keluarga ayahnya itu sudah mati di hatinya." "Baiklah." Randika mengangguk. "Bagaimana dengan Ibu Ipah?" "Aku akan meneleponnya nanti, seharusnya Ibu Ipah akan kembali ke rumah." Kata Inggrid sambil tersenyum. "Tidak ada orang yang bisa menghentikan Ibu Ipah kalau dia sudah serius." Mendengar hal ini Randika menghembuskan napas lega, dia sendiri kalau harus masak bersama Inggrid lagi lama-lama dia bisa menjadi gila. Keduanya lalu memanggil taksi dan segera menuju bandara. Ketika mereka duduk di dalam taksi, supir taksi itu menyapa mereka dengan hangat. "Oh? Pasangan muda ya?" "Hahaha bapak ini bisa saja." Randika tertawa. Keduanya selama perjalanan tidak melepaskan genggaman tangan mereka. "Kalau sudah menyetir selama puluhan tahun, tentu saja bapak bisa membedakan mana yang pasangan atau tidak. Lagipula wajah istrimu terus tersenyum ketika menggandeng tanganmu lho hahaha." Supir taksi ini sangat ramah, dia sendiri senang melihat pasangan muda yang romantic itu. Mereka lalu berbicara mengenai betapa macetnya Jakarta, makanan-makanan yang ada dan berbagai macam topik lainnya. Namun, pada akhirnya, mereka membahas apa yang telah terjadi di Jakarta kemarin. "Aku kasih tahu kalian sesuatu yang penting, aku rasa kalian belum tahu." Kata si supir taksi. "Bapak dengar antek-antek keluarga Alfred di Jakarta pada mati semua kemarin karena dibunuh. Mayat-mayat mereka ada di mana-mana, benar-benar kacau tadi pagi." Ketika mendengar hal ini, tangan Inggrid meremas tangan Randika dan menatapnya. Dugaan Inggrid memang benar, semua antek keluarga Alfred di Jakarta telah dibasmi oleh Randika seorang diri tadi malam. Kenapa Randika melakukannya? Karena pembantaian di kediaman keluarga Alfred hanyalah kepalanya saja, justru ayam tanpa kepala seperti inilah yang lebih berbahaya menurut Randika. Bagaimanapun juga, kekuatan keluarga Alfred masih tersebar luas di Jakarta. Terlebih lagi, tidak semua anggota keluarga Alfred datang di acara pernikahan kemarin. Jika Randika tidak menghabisi kekuatan-kekuatan keluarga Alfred di Jakarta, salah satu dari anggota yang masih hidup bisa memanfaatkan kekuatan yang ada untuk membalaskan dendam keluarganya. Memiliki kekuatan tersembunyi seperti geng ataupun menyuap polisi tidaklah heran di kalangan atas. Semakin kuat keluarganya maka semakin banyak dan kuat kekuatan yang berdiri di belakangnya. Randika menatap Inggrid yang terlihat serius itu, dia pura-pura terlihat tidak bersalah. Dia lalu mencium tangan istrinya itu dan tersenyum. "Sayang, kenapa kamu menatapku serius begitu? Apa kamu rindu pelukanku setelah acara kita tadi pagi? Tenang saja, nanti kalau kita pulang ke rumah kita bisa melakukannya lagi." Ketika mendengar kata-kata ini, Inggrid tersipu malu. Dia tidak menyangka kulit Randika bisa setebal itu, apa dia tidak malu si supir taksi itu mendengar kata-katanya itu? "Hahaha tidak banyak pasangan yang seperti kalian ini." Si supir taksi itu melihat Inggrid yang tersipu malu dari kaca tengahnya. "Pak, apa memangnya yang terjadi dengan keluarga Alfred kemarin?" Tanya Randika sambil tersenyum. "Nah itu, bapak tidak tahu ini benar atau tidak ya soalnya kematian orang-orang itu bersamaan dengan pembantaian keluarga Alfred di kediaman mereka. Jadi pagi ini itu ada laporan pembunuhan dari berbagai tempat. Kalau tidak salah mendengar ada 22 tempat yang dilaporkan." Wajah si supir taksi itu terlihat serius. "Orang-orang yang mati itu ada yang politikus, polisi bahkan preman-preman yang sudah lama merajalela di Jakarta." Lalu si supir taksi ini melanjutkan. "Tetapi sekali lagi ini cuma prediksi orang-orang saja, sepertinya kasus pembantaian keluarga Alfred dan 22 tempat itu diduga melibatkan teroris yang buron kemarin itu." Teroris yang buron? Randika mendengus dingin, sejak kapan dirinya itu dicap sebagai teroris? Dia kan hanya meminjam sebuah pesawat demi menyelamatkan Inggrid. Chapter 317: Memanfaatkan Randika Supir taksi itu lalu melanjutkan. "Dari kata orang-orang, tidak ada anggota keluarga Alfred yang selamat kemarin. Jadi bisa dikatakan bahwa keluarga itu sudah hilang dari ibukota ini." Entah kenapa Randika merasakan suara supir taksi itu terdengar sedih sekaligus rindu. "Aku tidak tahu siapa yang tega melakukan semua hal ini pada keluarga besar itu. Aku sendiri sudah mengenal lama keluarga itu, sejak aku kecil nama keluarga Alfred sudah menggema di kota ini!" Mungkin keluarga Alfred di hati orang-orang awam adalah keluarga besar yang terhormat tetapi yang mereka tidak ketahui adalah betapa busuknya keluarga aristokrat tersebut. Randika hanya bisa tertawa. "Wah bapak sepertinya sayang sekali sama keluarga Alfred, apa bapak jangan-jangan dulu pernah bekerja di sana?" "Hahaha." Supir taksi itu hanya tertawa lalu terdiam. "Yah terlepas dari sayang atau tidak, kejadian kemarin benar-benar membuat kota ini kacau. Lagipula, masalah ini juga sebenarnya tidak terlalu berpengaruh untuk rakyat kecil sepertiku. Jadi ada atau tidaknya keluarga Alfred di Jakarta, kita para rakyat kecil ini tetap meneruskan hidup mereka." "Masuk akal." Randika lalu tersenyum, sepertinya kata-kata bapak ini benar. Namun pada saat ini, tiba-tiba supir taksi itu menambahkan. "Tetapi menurutku teroris itu sudah tidak bisa kabur lagi, bahkan dia harusnya dieksekusi mati ketika tertangkap." Hmm? Kenapa tiba-tiba dia berkata seperti itu? Sesuai dugaannya, ketika Inggrid mendengar hal ini, dia menggenggam erat tangan Randika. Dia sudah bertekad dalam hatinya, bahkan jika Randika dieksekusi mati, dia akan mati bersama dengan dirinya. Inggrid tidak ingin Randika kenapa-kenapa, tetapi kejadian ini terlalu luas pengaruhnya. Bagaimanapun juga, orang-orang telah mati dan pada akhirnya pihak kepolisian perlu seseorang untuk mempertanggung jawabkan hal ini. Melihat wajah khawatir istrinya itu, Randika berkata padanya sambil tersenyum. "Bodoh, apa kamu pikir aku akan meninggalkanmu lagi?" Inggrid terdiam dan membenamkan kepalanya di pundak Randika. Di sisi lain, di sebuah markas militer tersembunyi di sebuah ruangan rapat. "Hum." Seorang pria mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. "Orang ini berani sekali mengacak-ngacak ibukota negara, buat apa kita membahasnya lagi? Tangkap dan bunuh dia!" Pemuda ini memang memakai baju sederhana tetapi semangatnya yang meluap-luap itu sungguh luar biasa! Namanya adalah John, rasa keadilannya tidak kalah tinggi dari Deviana. Selain John, beberapa penatua duduk bersama dengannya di ruangan rapat ini. Mereka terlihat seperti umur 50-60, jabatan mereka di kepolisian sudah sangat tinggi. Di antara mereka, terdapat seorang laki-laki muda yang mengenakan jas. Meskipun Dani ini adalah sekretaris, dia mewakili atasannya yang sangat berpengaruh. Beberapa orang ini terlihat muram dan tidak mengeluarkan suara sama sekali. Mereka hanya menghisap rokok mereka dengan diam ataupun meminum minuman mereka. Di hadapan mereka berbagai berkas tentang aksi Randika membantai keluarga Alfred tergeletak begitu saja. Begitu John selesai berbicara, semua orang di ruangan ini terdiam bahkan beberapa dari mereka terlihat muram. Kejadian memalukan ini terjadi di wilayah kekuasaan mereka, bisa dikatakan bahwa masalah ini merupakan tamparan keras di wajah mereka. "Bagaimana kondisi tersangka hari ini?" Seseorang bertanya. "Menurut pengintaian kami, Randika sekarang sedang dalam perjalanan menuju bandara. Sedangkan untuk media, kami sudah memberikan klarifikasi bahwa masalah ini sudah ditangani dengan baik tetapi kami belum mengumumkan siapa pelakunya." Jawab seseorang. "Kemampuan orang ini benar-benar luar biasa, kita bahkan tidak tahu siapa dia sebenarnya. Jika kita mengumumkan bahwa Randika adalah pelakunya, siapa tahu bahaya apa yang datang menyusulunya." "Menurut pendapatku, bagaimana kalau kita meminta Arwah Garuda untuk menangkapnya?" Semua orang terdiam, mereka berpikir dengan keras. Namun pada saat ini, tiba-tiba ada perempuan muda yang masuk ke dalam ruangan mereka. Di tangannya terlihat sebuah berkas. Di bawah tatapan semua orang, perempuan itu membagikan berkas itu ke semua orang dan duduk. Dengan wajah serius dia berkata pada semuanya. "Berkas yang kalian semua pegang adalah informasi mengenai Randika, silahkan dibaca terlebih dahulu." Perempuan muda ini adalah salah satu pemimpin dari Arwah Garuda! Ketika mereka mulai membaca berkas tersebut, mata mereka terbelalak dan hampir copot dari wajahnya. Untuk mendapatkan informasi mengenai Randika adalah pekerjaan mudah bagi Arwah Garuda. Lagipula Indonesia adalah wilayah kekuasaan mereka, tidak ada orang yang bisa lolos dari mata mereka. "Kakek-kakek itu orang tuanya?" Salah satu dari mereka sudah gemetaran tanpa henti, melihat informasi mengenai keluarga Randika, dia menyadari nama-nama yang sangat familier baginya. Nama-nama itu benar-benar kabar buruk baginya! Di zamannya masih muda, kakek-kakek itu sudah sangat menyusahkan dirinya dan sekarang dia berhadapan dengan anaknya? Siksaan macam apa ini? Membaca informasi di tangan mereka, semua orang menjadi terdiam. Mereka tidak bisa mempercayai apa yang telah mereka baca ini. Pertama-tama adalah kenyataan Randika memobilisasi seluruh polisi Jakarta untuk mengejarnya. Meskipun sudah mengerahkan seluruh kemampuan mereka, mereka sama sekali tidak berdaya di hadapan Randika. Belum lagi Randika menghancurkan keluarga Alfred bersama dengan para anteknya itu. Informasi berikutnya adalah keempat kakek yang menjadi orang tua Randika itu. Bahkan para eselon negara ini akan tunduk ketika bertemu dengan keempat kakek tersebut. Jika mereka sampai menyinggung mereka, mereka harus siap-siap bunuh diri sebagai permintaan maaf. Pada saat ini, Dani tiba-tiba berkata pada semuanya. "Kita bisa memanfaatkan orang ini." Ketika kata-kata itu keluar, semua orang menjadi serius. Memanfaatkan orang itu? Gila apa kamu? "Menurut pendapatku, jika kita tidak bisa membunuh orang ini maka jebloskan saja dia ke dalam penjara. Bagaimanapun juga, dia telah melanggar hukum dan memenjarakannya bukanlah suatu hal yang aneh." Kata seseorang, dia mengabaikan saran gila Dani tersebut. "Sedangkan untuk keempat kakek itu, selama kita tidak membunuh anaknya itu maka mereka tidak punya alasan untuk mengamuk. Lagipula kita juga bergerak menurut hukum." Setelah orang itu selesai menjelaskan, semua orang kembali berpikir. Pemimpin dari Arwah Garuda juga angkat bicara. "Kita tidak boleh mengabaikan fakta bahwa Randika merupakan pemimpin dari dunia bawah tanah di Jepang. Pasukannya itu terdiri dari ratusan orang yang terlatih. Jika kita bergerak dan menangkap Randika, ini sama saja dengan menyatakan perang dengan mereka. Justru hal ini akan mendatangkan perang ke dalam negara kita." Ketika mendengar kata-katanya ini, John dan yang lain langsung terdiam. Meskipun mereka sangat ingin menangkap Randika, membahayakan keselamatan negara mereka sangat tidak sepadan. Pada saat ini, Dani berdiri dan tersenyum. "Bapak dan Ibu sekalian, ijinkan aku untuk berbicara. Kita bisa memanfaatkan Randika untuk kepentingan kita. Apalagi dia memiliki keluarga yang mengerikan dan juga pasukan yang kuat!" "Kita juga harus akui bahwa kita tidak bisa menyentuh Randika sama sekali. Oleh karena itu, kenapa kita tidak membiarkan Randika menjadi sekutu kita? Hal ini juga sangat bermanfaat bagi kita dan menguatkan negara kita." "Hal yang paling penting kita lewatkan dari kejadian ini adalah alasan terjadinya pembantaian kemarin. Aku bisa pastikan bahwa tidak ada unsur politik di balik tindakan Randika kemarin. Randika membantai mereka karena pertikaian mereka yang melibatkan perjanjian lama keluarga Alfred dan keluarga Laibahas yaitu pernikahan Inggrid Elina dengan Hans. Jadi tindakan Randika kemarin itu sama sekali tidak merugikan negara, meskipun dia memang melanggar hukum dengan membunuh. Tetapiˇ­." Sekretaris Dani lalu menatap semua orang. "Bukankah hancurnya keluarga Alfred ini menjadi sebuah kesempatan? Jika kita berhasil menghancurkan para keluarga aristokrat itu dari akarnya, bukankah pertarungan kuasa di negara ini akan dimenangkan oleh pemerintah?" Setelah mendengarkan kata-kata Dani, salah satu dari mereka langsung berkomentar. "Ini pendapatmu atau pendapat atasanmu?" Dani lalu tersenyum. "Aku telah membahas masalah ini dengan atasanku sebelumnya dan aku hanya menyampaikan kata-kata beliau." Lalu pemimpin Arwah Garuda itu menambahkan. "Arwah Garuda sudah membuat perkiraan. Jika kita ingin Randika mati maka organisasi kami harus siap kehilangan 30 orang terbaik kami, ratusan orang anggota elit dan 5000 anggota biasa." "Jika kita ingin menangkap Randika, kita harus siap membayar 15 orang terbaik kami, ratusan anggota elit dan 3000 anggota biasa." "Jadi kata-katanya itu cukup masuk akal, cara terbaik menghadapi Randika bukanlah membunuhnya ataupun menangkapnya." Seseorang dari mereka menyelanya. "Apakah dia sekuat itu?" Seorang pria paruh paruh baya yang daritadi terdiam mengatakan. "Jika Arwah Garuda berkata seperti itu maka kenyataannya adalah seperti itu. Jangan pernah memakai akal sehat ketika menghadapi orang seperti Randika ini. Kejadian kemarin saja sudah tidak masuk akal. Menurutku kata-kata sekretaris Dani ini masuk akal. Kita bisa memanfaatkan Randika untuk meruntuhkan keluarga aristokrat, dengan ini kita bisa mendapatkan manfaat darinya." Pada saat ini semua orang dapat memahami alasan tersebut. Tetapi ada seseorang yang masih terlihat bingung. "Terus bagaimana dengan masyarakat?" "Masalah ini bisa kita atur, yang terpenting adalah kita menggiring opini rakyat bahwa masalah ini sudah selesai. Kita juga bisa mengatakan bahwa kita sudah menembak mati tersangkanya dan menguburkannya secara diam-diam." Orang tersebut mengangguk, di dalam hatinya dia sedikit lega. Selama masalah ini cepat selesai, dia bisa tidur dengan tenang. "Kalau begitu pantau terus Randika dengan ketat. Dia memang lolos dari masalah ini tetapi jangan biarkan dia bertindak semena-mena." "Kita juga harus menenangkan keresahan orang-orang terhadap masalah ini." Setelah membahas hal-hal yang perlu mereka lakukan setelah ini, akhirnya rapat ini ditutup. Chapter 318: Bersama untuk Selamanya! Beberapa jam kemudian, akhirnya pesawat Randika dan Inggrid tiba di kota Cendrawasih. "Tidak ada yang lebih nyaman daripada rumah sendiri." Kata Inggrid sambil menghirup napas dalam-dalam. Randika lalu memeluk Inggrid dan berbisik di telinganya. "Kita akan selamanya berada di kota ini dan anak-anak kita juga akan tumbuh besar di sini." Wajah Inggrid menjadi merah padam, dia lalu berkata dengan nada sedikit cemberut. "Aku cuma ingin punya anak 2." "Hahaha semakin banyak semakin banyak rejekinya." "Tidak mau! Terlalu banyak juga tidak bagus." Meskipun terlihat marah, dia senang ketika memikirkan dirinya menggandeng anaknya. "Baiklah, baiklah, terserah kamu mau punya anak berapa." Randika lalu berbisik di telinganya. "Tapi nafsu suamimu ini besar, jangan salahkan aku jika aku menginginkan tubuhmu setiap hari." "...." Inggrid sudah tidak bisa melihat wajah Randika lagi saking malunya. "Kamu ingin laki atau perempuan?" Randika lalu membalas. "Dua-duanya sama saja. Kalau laki nanti dia akan tumbuh tampan sepertiku dan kalau perempuan akan secantik ibunya." Mendengar kata-kata Randika itu, Inggrid makin berharap semakin cepat mempunyai anak. Randika menyadari ini dan langsung mencuri kesempatan. "Sayang, bagaimana kalau kita segera membuatnya setelah kita sampai rumah? Untuk memastikan kita mendapatkan bayi yang sehat, kita akan melakukannya siang dan malam sampai berhasil." Bagaimanapun juga, Inggrid bukanlah tandingannya Randika. Meskipun sifatnya yang kuno dan pemalu itu, di bawah serangan Randika, dia sekarang menjadi perempuan yang siap melakukannya kapan saja dan dengan cara apa saja. "Oh iya, bukannya perusahaanmu itu mau tutup? Bukankah lebih baik kamu memanggil semua karyawanmu kembali sebelum mereka mencari pekerjaan baru?" "Tidak masalah, sesampainya di rumah aku akan menelepon sekretarisku dan memintanya untuk mengatur panggilan kerja kembali. Lagipula ini baru beberapa hari jadi seharusnya sebagian besar dari mereka akan kembali." Ketika mereka sampai di rumah, Hannah sangat senang bertemu dengan kakaknya. Akhirnya keluarga bahagia ini kembali bersatu. "Kakak!" Hannah memeluk Inggrid dengan erat. Wajahnya sudah penuh oleh air mata. "Aku pikir aku tidak akan pernah bertemu denganmu lagi." "Han, aku senang bisa bertemu denganmu lagi." Inggrid juga ikut menangis bersama Hannah. Hubungan kakak beradik ini sangat dekat. Ketika Inggrid pergi meninggalkan Jakarta, Hannah memutuskan untuk bersekolah di universitas Cendrawasih untuk menyusul kakaknya itu. Dengan nilainya, dia bisa pergi ke sekolah yang jauh lebih bagus. Dari hal ini saja sudah cukup untuk membuktikan betapa dekatnya mereka. "Aku tidak ingin kakak pergi meninggalkanku lagi seperti itu." Kata Hannah sambil tersedu-sedu. "Iya, iya, kakak tidak akan ke mana-mana kok." Inggrid lalu tersenyum. "Sudah berhentilah menangis, wajahmu yang cantik itu jadi jelek lho." Hannah yang menghapus air matanya itu menatap Randika. Randika sendiri berkedip padanya dan membuka kedua tangannya. "Ngapain kak?" Hannah terlihat bingung. Randika lalu berkata dengan santai. "Bukankah aku membawa pulang kakakmu itu? Seharusnya aku mendapatkan pelukan juga bukan?" "Hah? Logika macam apa itu?" Hannah memalingkan wajahnya, sifatnya berubah kembali menjadi nakal. "Atau kak Randika ingin merabaku lagi ya!" Randika menjadi muram, sejak kapan Hannah tahu rencananya? Yah ini cuma sebuah pelukan, seharusnya tidak perlu waspada seperti itu. "Hahaha ada-ada saja kamu ini. Bukankah aku sudah punya istriku yang cantik? Buat apa aku merabamu?" Kata Randika sambil tertawa. Lalu tatapan mata Hannah dipenuhi oleh kelicikan, dia langsung menarik lengan kakaknya itu. "Kak, kita sudah lama tidak tidur bersama-sama lagi. Hari ini aku ingin tidur bersama kakak." Mendengar kata-kata ini, Randika ingin muntah darah. Kakinya itu sedikit gemetar dan tangannya mengusap kepala Hannah. "Bisa saja kamu ini, sudah sana cepat belajar atau main sana." "Ran, aku juga sudah lama tidak bertemu dengan Hannah jadi hari ini aku akan tidur di kamarnya. Kamu sesekali tidur sendiri tidak masalah kan?" Kata Inggrid. Randika benar-benar terkejut, dia yang sekarang sama sekali tidak berdaya. Hari ini dia tidak bisa tidur dengan istrinya? "Kamu ini ya." Inggrid menghela napas. Melihat wajah kecewa Randika, dia berjalan menghampirinya dan mencium pipinya. "Besok saja ya." "Kenapa harus besok?" Randika pura-pura marah. "Karena besokˇ­" Inggrid menggigit bibirnya. "Kamu boleh melakukan apa saja pada tubuhku ini." "Benarkah?" Tatapan mata Randika berbinar-binar. Hannah yang cemburu menghentakan kakinya dan langsung menarik Inggrid. "Kak, sudah lupakan kak Randika!" Bersamaan dengan itu, Hannah menyeret Inggrid ke kamarnya. Randika sendiri tidak peduli karena besok akan menjadi hari yang sangat menyenangkan. Ketika hari mulai menjelang malam, mereka bertiga berkumpul di ruang tamu dan menonton TV. Ketika waktu makan malam hampir tiba, mereka berencana memasak. Sebelumnya, siang hari tadi Hannah sudah memesan makanan tetapi karena Inggrid sedang hobi memasak dia berniat untuk menambah beberapa lauk. Randika terkejut ketika melihat Inggrid berjalan menuju dapur. Meskipun terakhir kali masakan Inggrid tidak gagal, itu pun aslinya berkat bantuan dirinya. Jika bukan karena Randika tentu makanan yang dibuat Inggrid akan seburuk makanan di neraka. Randika tidak punya pilihan lain, dia harus menyelamatkan dirinya sendiri dengan ikut memasak. Ketika melihat Randika dan Inggrid berjalan menuju dapur, Hannah juga menyusul. "Han, kenapa kamu ikut? Sudah duduk saja daripada nanti tambah kacau dapurnya." Kata Randika. "Kenapa kakak meremehkanku begitu? Aku tahu caranya memasak!" Kata Hannah dengan wajah cemberut. Setelah memakai celemek dan mengikat rambutnya, dia sudah siap menolong kedua kakaknya ini. Namun, dia bingung harus berbuat apa. "Kak Randika, aku sekarang harus ngapain." Randika sendiri tidak tahu harus menangis atau tertawa. "Bagaimana kalau kamu mencuci sayurannya dulu? Ingat tidak perlu pakai sabun cucinya." Ketiga lalu mulai memasak sambil bahu membahu, tetapi semua acara memasak ini masih dipimpin oleh Randika. Kalau tidak, hasil masakannya bisa-bisa membuat mereka mati keracunan. Namun seiring berjalannya waktu, Randika menyadari sesuatu. "Han, minyaknya kebanyakan." "Han, taburin garamnya pakai sendok jangan dituang dari wadahnya begitu." "Apinya jangan besar-besar! Tuh kan gosongˇ­." "Sudah kamu duduk saja dan nonton TV." Randika tidak punya pilihan selain mengusir Hannah dari dapur. Bukannya membantu, proses memasaknya itu malah makin kacau. Akhirnya Randika mengerti bahwa bakat tidak bisa memasak itu ternyata faktor keturunan. Kemungkinan besar ibu dari Inggrid dan Hannah juga sama-sama tidak bisa memasak, Randika yakin akan hal itu! Pada akhirnya, setelah memasak dengan susah payah bersama Inggrid akhirnya masakan mereka telah selesai. Ketiganya lalu duduk di meja makan dan Inggrid berniat mengambil botol wine yang dia simpan. Setelah menuangkannya ke tiga gelas, Inggrid tersenyum. "Han, sebelum kamu makan bagaimana kalau kita bersulang untuk merayakan bersatunya keluarga kita lagi!" Perayaan ini jelas mengacu pada pengalaman hidup dan mati mereka sebelumnya. Pada saat itu ketiganya terjatuh dari atas tebing dan ajaibnya mereka semua selamat dari kejadian mengerikan itu. Dan juga, jika Randika telat datang ke Jakarta, Inggrid mungkin sudah mati bunuh diri. "Kalau begitu bersulang!" Hannah mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. "Bersulang!" Ketiganya lalu meminum wine mereka masing-masing. Hannah baru pertama kali meminum wine, ketika dia mengingat pengalamannya di dalam gua sebelumnya, dia langsung berkata dengan nada bahagia. "Nikmatnya hidup ini." Ketika di dalam gua, Hannah berpikir bahwa dia tidak akan pernah keluar dari situ dan mati setelah beberapa hari. "Han, apa yang terjadi setelah kalian berdua jatuh dari tebing?" Inggrid jelas penasaran. Dia melihat sendiri Randika dan Hannah terjun bebas ke bawah. Dia waktu itu berpikir tidak akan bisa bertemu dengan kedua orang ini lagi. "Itu semua berkat kak Randika." Hannah tersenyum dan menatap Randika, ternyata kakak iparnya itu sedang sibuk makan dan tidak menghiraukannya. Hannah yang kesal itu menendang kaki Randika. "Ah! Apaan sih?" Randika jelas terkejut. Bukannya kalian ingin menikmati momen kakak adik? Jadi wajar kan aku makan selagi kalian bicara? "Sudahlah Han, biarkan kakakmu itu makan. Dia siang tadi belum makan." Kata Inggrid. "Huh." Hannah memalingkan wajahnya. "Kak Inggrid terlalu memanjakannya." Setelah mengambil nasi dan lauk, Hannah lalu bercerita tentang kejadian di dalam gua. Inggrid mendengarkan dengan seksama ketika Hannah menceritakan dia terjebak di dalam gua kurang lebih selama 2 minggu. Ketika Hannah bercerita tentang kolam air yang sakral itu, Inggrid merasa semakin bersemangat. Ketika Hannah menceritakan tengkorak yang dia temukan, Inggrid merasa sedikit mual. Ketika piringnya sudah tidak ada yang tersisa, Randika berniat untuk mengambil nasi dan lauk lagi. Namun tatapan dingin kedua perempuan itu mengejutkan dirinya. "Kenapa kalian menatapku seperti itu." Randika terlihat gugup, dia lalu berkata pada Hannah. "Han, jangan-jangan kamu suka sama aku?" Hannah sendiri aslinya ingin bercerita bagaimana dia menyuapi Randika selama di gua, tetapi mendengar kata-katanya itu dia mengurungkan niatnya. "Huh, siapa yang suka sama lelaki rakus." Hannah kemudian kembali menatap Inggrid. "Sudahlah kak jangan pedulikan kak Randika lagi. Ceritakan bagaimana keseharian kakak setelah turun dari gunung." Inggrid mengangguk dan menceritakan bagaimana dia dibawa kembali ke Jakarta oleh Ivan. Dia lalu menceritakan rencana balas dendamnya dan bagaimana Randika datang menyelamatkannya. Mendengarkan bagaimana Randika dengan gagah berani menyelamatkan kakaknya, Hannah menjadi kagum. Tetapi ketika melihat kakak iparnya itu makan dengan rakus, dia hanya bisa menghela napasnya. Setelah mendengarkan cerita kakaknya itu, Hannah lalu membalasnya. "Kak, bagaimana kalau kita bersulang lagi? Sekarang kita bersulang agar kita bisa bersama-sama selamanya." "Baiklah." Inggrid mengangkat gelasnya sekaligus menyenggol Randika yang masih makan. "Ayo angkat gelasmu." "Bersulang!" Randika menelan makanannya dan mengangkat gelasnya. "Bersama selamanya!" "Bersama selamanya!" "Bersama selamanya!" Ketiganya lalu meminum wine mereka masing-masing. Chapter 319: Undangan Makan Malam Keesokan harinya, ketika sinar matahari mulai bersinar, Randika berguling-guling di kasur dan masih dalam keadaan tidur. Namun, dia tiba-tiba merasa kedinginan. Dia membuka matanya perlahan dan menyadari selimutnya itu sudah tidak ada. "Han, kenapa kamu di sini?" Randika kehabisan kata-kata. Kenapa adik iparnya itu pagi-pagi masuk ke kamarnya dan mengambil selimutnya. "Kak, kamu kira ini sudah jam berapa? Kenapa kakak masih tidur?" Hannah terlihat seperti ibu-ibu mengomel. Sialan, jika bukan karena kamu merebut istriku itu, tentu aku tidak akan kesusahan tidur seperti ini! Randika sedikit marah karena dia rupanya kesepian di dalam kamarnya dan tidak bisa tidur. Oleh karena itu, suasana hatinya sedikit lebih panas ketika tidurnya itu diganggu. Lagipula, bukankah ini salah adik iparnya karena telah merebut istrinya? "Sudah cepat bangun, aku mau berangkat ke sekolah." Hannah lalu berjalan keluar sambil mengambil tasnya yang dia taruh di dekat pintu. Tidak lama kemudian, Randika dapat mendengar suara mesin mobil sport yang menggelegar. Bagi Hannah, yang memiliki mobil sport, pergi ke sekolah hanya membutuhkan 10 menit. Randika lalu dengan ogah berdiri dan meninggalkan tempat tidurnya. Ketika dia berjalan turun ke bawah, dia menyadari istrinya itu sedang duduk di sofa. "Akhirnya bangun juga." Ketika Inggrid melihat Randika, dia langsung tersenyum. Namun tatapan mata Randika berbinar-binar ketika melihat istrinya itu. Hari ini Inggrid memakai jas kerjanya, rok hitam pendek dan lipstik merah yang cerah. Istrinya terlihat dewasa dan menawan, bagaikan bunga mawar. Ketika dia melihat istrinya itu, dia merasakan api mulai membakar hatinya. Sialan, istrinya ini benar-benar menawan. Tiap hari yang mereka lalui bersama Randika merasa bahwa kecantikannya itu terus bertambah. Meskipun awal kali mereka bertemu dia sudah terlihat dewasa, namun aura yang dipancarkannya terasa dingin. Sekarang auranya jauh lebih hangat dan wajahnya juga jauh lebih sering tersenyum. Randika sedikit sedih sekaligus lega dalam hatinya. Benar, Inggrid Elina adalah istrinya. Meskipun dia enggan memperlihatkan kecantikan istrinya itu pada lelaki mesum di luar sana, cuma dialah yang bisa melihat apa yang ada di balik baju itu. Istri yang manja, perhatian, baik dan pemalu, tidak ada orang selain dirinya yang mengetahui hal itu. Ketika Inggrid berjalan menghampirinya, Randika sudah memeluknya dan mencium bibirnya. Setelah beberapa saat, wajah Inggrid menjadi merah dan dia pun mengatakan. "Ran jangan, aku harus kerja hari ini." "Aku akan pergi bersamamu." Kata Randika sambil meremas pantatnya. Setelah puas merasakan keempukannya, Randika mengambil roti di meja makan dan berangkat bersama Inggrid setelah berganti baju. Keduanya lalu berkendara menuju kantor. Ketika mereka berdua memasuki gedung, semua karyawan menyambut kedatangan Inggrid. "Selamat pagi Ibu Inggrid." "Ibu Inggrid senang Anda telah kembali." Inggrid membalas sapaan mereka dengan senyuman hangat. Randika memperhatikan sekelilingnya, sepertinya jumlah karyawannya sama sekali tidak berubah. Awalnya Inggrid mengumumkan bahwa perusahaannya ini akan tutup selamanya. Namun, Inggrid kemudian memanggil kembali mereka semua dan ternyata tidak ada satupun yang menolak. Mungkin ini berkat karisma dan bakat memimpin Inggrid yang luar biasa. Bagaimanapun juga, tidak mudah seorang perempuan menjadi pemimpin perusahaan. Terlebih lagi, Inggrid tidak memotong gaji mereka sama sekali ketika perusahaan ini tutup. Hal ini juga menjadi salah satu faktor yang membuat karyawan di tempat ini kembali semuanya. Meskipun ada beberapa yang tidak kembali, itu cuma ada di posisi yang tidak penting. Setelah berpisah dengan Inggrid, Randika segera menuju departemen parfum. Di sana dia bertemu dengan Kelvin dan timnya. "Wah ada pak Randika! Sudah lama sekali saya tidak bertemu dengan Anda." "Pak Randika selamat pagi." "Pak, bagaimana malam nanti kita hura-hura?" Semuanya senang ketika melihat panutan mereka ini masuk kerja. "Pak, kenapa bapak terlihat bahagia? Semalam habis ngapain hayooo." Semuanya senang bercanda dengan Randika, pemimpin mereka ini asyik untuk diajak bercanda. "Pak, pas bapak absen tahu tidak perusahaan kita ini mau tutup? Tetapi untung saja kemarin kita dipanggil untuk masuk kerja lagi, bapak tahu apa yang telah terjadi?" Mode gosip para karyawan menjadi aktif. Mereka tahu bahwa posisi Randika cukup tinggi di perusahaan ini jadi dia seharusnya tahu sesuatu. Kenapa mereka beranggapan seperti itu? Karena tentu saja jumlah masuknya Randika bisa dihitung jari dalam seminggu, jika dia bukan berada di posisi tinggi maka dia sudah pasti dipecat. Dan juga ada rumor mengatakan bahwa Randika sangat dekat dengan boss perusahaan ini yaitu Inggrid Elina. Semuanya menatap antusias pada Randika, mereka mengharapkan cerita yang menarik. Tetapi harapan mereka pupus ketika Randika berkata sambil tersenyum. "Mana mungkin aku tahu hal seperti itu, aku saja baru dengar perusahaan ini mau tutup kemarin lusa." Orang-orang ini baru saja mau menginterogasi Randika lebih lanjut, tetapi pada saat ini, Kelvin datang menghampiri mereka. Saat para karyawan ini melihat sosok Kelvin, mereka seperti melihat setan dengan cambuknya. Wajah santai mereka berubah menjadi wajah serius. Mereka berubah dari santai menjadi serius hanya dalam waktu 0,01 detik, hal ini tentu membuat Randika terkejut. Dia sendiri saja tidak bisa berubah secepat itu! Kelvin menyapa Randika terlebih dahulu sebelum melototi karyawan-karyawannya. Dia lalu berkata pada mereka. "Jangan malas-malasan, mau aku pecat kalian?" Melihat mode mengamuk Kelvin sudah menyala, semuanya mulai berpencar dan kembali ke posisi mereka. Randika duduk dengan santai di tempat duduk, dan pada saat ini, seorang perempuan cantik masuk ke dalam ruangan. Randika menoleh dan menyapa Viona yang baru saja masuk. Viona sudah bagaikan karya seni dunia, benar-benar cantik! Stocking putih yang menempel ketat di kakinya serta rok hitamnya itu memperindah pemandangan. Tetapi yang membuat semua pria menelan air ludahnya adalah kemeja putihnya tersebut. Dada besar Viona memang menjadi senjata andalannya, tidak ada yang bisa mengalahkan dada besar. Dan apa yang paling menarik dari kemeja putih? Tentu saja beha yang menerawang! Beha berwarna biru itu dapat terlihat dengan jelas dari balik baju, setiap pria di ruangan ini berusaha mencuri pandang sepanjang waktu. Tidak perlu diragukan lagi, Viona memang bunga terindah di ruangan ini! Ketika Viona melihat Randika, hatinya berdebar-debar dan wajahnya tidak bisa berhenti tersenyum. Ketika dia berjalan menuju tempat kerjanya, Randika sudah duduk di sampingnya. "Bagaimana kabarmu Vi?" Kata Randika sambil menaruh tangannya di pahanya Viona. Viona sendiri menjadi tersipu malu ketika Randika begitu berani seperti ini. "Ranˇ­." Viona ingin mengingatkan bahwa ini adalah tempat kerja mereka. Pada awalnya mereka bermesraan di ruangan kosong di gedung ini, lama-lama Randika berani melakukannya di ruangan penuh rekan kerja mereka. Wajah Viona sudah merah padam, hatinya itu siap meledak kapan saja. "Vi, jangan malu seperti itu. Hari ini kita punya waktu yang banyak untuk berduaan." Kata Randika dengan suara yang pelan. Ketika Viona mengangkat wajahnya, dia melihat senyuman nakal Randika dan tertunduk kembali. "Perhatian, perhatian." Tiba-tiba Kelvin menepuk tangannya dengan keras. "Terima kasih karena telah kembali ke perusahaan ini. Jadi untuk hari ini kita kembali mengerjakan formula yang kita kerjakan sebelum kita libur kemarin. Jika kita tidak mengerjakannya dengan cepat, bisa-bisa ide parfum kita diambil oleh perusahaan lain." Semuanya lalu mengerjakan tugas mereka masing-masing dan Kelvin menatap Viona yang duduk di samping Randika. Kelvin lalu menghampiri mereka. "Pak, bisakah aku pinjam Viona sebentar? Aku harap tidak merusak momen mesra kalian." Awalnya Viona ingin berdiri, tetapi dalam sekejap dia merasa malu ketika mendengar kata-kata terakhir Kelvin. Apakah artinya dia tahu hubungannya dengan Randika? Sepertinya seluruh orang di laboratorium ini sudah mengetahuinya. Dengan wajah merah padam, Viona berdiri dan membungkuk ke arah Kelvin. Ketika dia hendak pergi, suara Randika dapat terdengar. "Oke tetapi cepat kembalikan dia padaku, aku kesepian kalau tidak ada Viona di sampingku." Telinga para karyawan ini sudah berfokus ketika Kelvin menghampiri Randika. Mendengar kata-kata Randika barusan, akhirnya pertanyaan terbesar mereka telah terjawab! Sudah lama mereka menduga adanya asmara antara Randika dan Viona. Sebelumnya mereka ragu karena Randika digosipkan dekat dengan Inggrid Elina jadi mereka penasaran siapakah yang dekat dengan Randika. Dengan kata-kata barusan, mereka bisa memastikan bahwa Viona lah pacar dari Randika. Kelvin tersenyum pahit dan mengatakan. "Tetapi saya juga butuh bantuan pak Randika. Bapak tahu sendiri kan perusahaan kita tutup sementara waktu jadi produksi parfum kita terlambat. Jika kita tidak bekerja dengan cepat, jadwal produksi kita juga bisa kacau jadi saya butuh bantuan bapak juga." "Tidak masalah, aku juga nganggur kok." Kata Randika sambil tertawa. Dengan begitu, Randika mulai bekerja bersama dengan Kelvin. Waktu cepat berlalu, meskipun sudah jam makan siang, Randika masih terlihat sibuk dan berkonsentrasi kerja. Namun, tiba-tiba HP miliknya itu berbunyi. Randika lalu melihat nomor yang memanggilnya dan langsung terkejut. Dia lalu berjalan keluar untuk menerima telepon tersebut. "Kenapa? Apakah kamu ada masalah lagi?" Suaranya terdengar jahil. "Ah kamu ini ada-ada saja." Christina terdengar cemberut di balik telepon. "Aku sudah berusaha meneleponmu 2 minggu ini tetapi nomormu itu tidak aktif sama sekali." Randika terkejut mendengarnya lalu tersenyum pahit. Ketika dia memanjat gunung kapan hari, dia lupa membawa HPnya. Jelas selama dia terjebak di gua, HPnya kehabisan baterai dan mati begitu saja. Jadi tidak heran apabila nomornya itu tidak aktif ketika ditelepon oleh Christina. "Maaf, maaf, aku sedang tidak ada di kota selama 2 minggu ini. Bagaimana caranya aku bisa menebus kesalahanku ini calon istriku?" Randika berusaha membuat Christina luluh. Meskipun masih sedikit marah, mendengar kata calon istri membuat Christina tersipu malu. "Kalau begitu ada satu hal yang bisa kamu lakukan." "Katakan saja." "Kamu harus siap mental." "Iya aku siap kok." "Jadi begini." Awalnya Christina ragu-ragu untuk sementara waktu dan nada suaranya itu terdengar serak. Randika sendiri merasa penasaran, Christina lalu melanjutkan. "Mamaku ingin kamu datang untuk makan malam bersama-sama." Ah? Mulut Randika terbuka lebar, makan bersama? Tidak tahu kenapa, dia merasa rahangnya itu terlepas dan dia pun menelan air ludahnya. "Mamamu ingin aku datang ke rumahnya?" Randika tidak masalah dengan acaranya tetapi mengingat betapa antusiasnya Ayu pada dirinya itu, mau tidak mau Randika menjadi sedikit ragu-ragu. Dia terus menerus menawarkan anaknya itu pada dirinya dan memaksanya untuk segera menikahi anaknya. Chapter 320: Jadi Kapan Kalian Menikah? Dari balik telepon, Christina dapat mengetahui kegalauan Randika. Dengan nada sedikit marah dia berkata padanya. "Kenapa kamu terdengar malas begitu? Ini cuma makan malam bukan interview menikah!" "Tapiˇ­ mamamu itu agak unik." "Sudah, kamu mau datang atau tidak?" Nada Christina mulai tinggi. "Jika kamu tidak mau jangan harap kita bertemu lagi." Christina sebenarnya merindukan Randika, tetapi dia tidak ingin terlihat terang-terangan seperti itu jadi dia menggunakan nama ibunya untuk menutupinya. "Aku bercanda kok, tentu saja aku mau. Siapa memangnya yang tidak mau bertemu dengan malaikat cantik bernama Christina dan ibunya itu?" Randika langsung tidak ragu-ragu lagi ketika mendengar ancaman Christina. Mendengar kata-kata ini, mulut cemberut Christina kembali tersenyum. "Kalau begitu aku tunggu di rumah mamaku ya, jangan makan banyak-banyak siang ini! Sampai ketemu nanti!" Randika tidak sempat membalas satu kata pun, dia tidak menyangka bahwa acaranya itu akan berlangsung malam hari ini. Randika lalu menghela napasnya, kenapa bisa ada ibu yang semangat sekali seperti itu di dunia ini? Dia benar-benar tidak berdaya di hadapan Ayu. Namun, nasi telah menjadi bubur. Setelah jam pulang kantor, Randika langsung berangkat menuju rumah Ayu. Tidak lama kemudian, dia telah sampai dan terdiam di depan pagar. Sambil menghirup napas dalam-dalam, dia akhirnya menekan bel pintu rumahnya. TING TONG! Bel pintu rumah yang nyaring langsung berbunyi. Setelah beberapa waktu, Ayu keluar sambil tersenyum. "Aduh menantuku sudah datang, ayo masuk, masuk." Ayu langsung menangkap tangan Randika dan menyeretnya masuk. Randika tidak tahu harus menangis atau tertawa. Terakhir kali mereka bertemu dia dipanggil Dika dan sekarang menantu? Cepat sekali berubahnya. Namun, Randika sama sekali tidak berani komplain. Dia hanya pasrah diseret masuk oleh Ayu. "Kamu duduk dulu sama calon istrimu itu dulu ya, makanannya bentar lagi siap kok." Kata Ayu dengan semangat. Randika lalu memperhatikan Christina yang memeluk bantalnya sedang duduk di sofa. Randika lalu duduk di samping Christina yang ternyata juga sedang membaca buku. "Tin, apakah kamu merindukanku selama ini?" Randika tersenyum dan menaruh lengannya di sandaran sofa tepat di belakang kepala Christina. Setelah bersama dengan Inggrid dan Viona, Randika mengerti tindakan kecil seperti ini berarti ketika dirinya berduaan. Christina langsung menyingkirkan tangan Randika sambil cemberut. Bibirnya yang kecil itu terlihat imut ketika cemberut. Belum lagi kulitnya yang putih, bulu mata yang lentik dan kacamatanya itu membuat sosok Christina terlihat intelektual. Pada saat ini, Randika tidak tahan memikirkan dirinya bermain roleplay guru dan murid bersama Christina. Kecantikannya Christina berbeda dengan Inggrid dan Viona. Sebagai guru di universitas, sosok tegas yang dia tampilkan itu berbanding terbalik dengan sifat imut yang dia perlihatkan selama mereka berduaan. Yang membuat Randika tidak tahan adalah kacamata yang dia kenakan itu, sudah lama dia ingin mencoba mengeluarkan muncratannya itu di atas kacamata. Christina lalu melepas kacamatanya dan menaruh buku yang dia baca. Matanya tertuju pada Randika. "Kamu kenapa selalu tidak mengabariku kalau mau pergi?" Setitik air mata terjatuh dari mata Christina. Randika tersenyum, dia lalu membelai pipi Christina dan mengusap air matanya. Dia lalu menempelkan dahinya di dahi Christina. "Maafkan aku, tetapi urusanku itu benar-benar mendadak." Setelah mencium pipinya, dia berbisik di telinganya. "Biarkan aku melihat wajahmu yang cantik itu tersenyum." Ketika Christina mengangkat wajahnya, matanya bertemu dengan tatapan mata Randika yang terlihat lembut. "Sungguh menawan." Tangan Randika membelai pipi Christina. Dia lalu merangkul pinggang Christina dan hendak mengajaknya berciuman. Wajah Christina sudah tersipu malu. "Ran jangan, mamaku ada di dapur." Randika lalu menoleh ke arah dapur dan memperhatikan keadaannya. Dia lalu tersenyum dan berkata dengan suara yang pelan. "Tidak apa-apa, mamamu tidak tahu kalau kamu menahan suaramu." Tangan Randika sudah memeluk leher Christina dan kedua bibir mereka bertemu setelah sekian lama berpisah. Bibir yang lembut itu membuat Randika nyaman dan tidak ingin berpisah lagi. Ketika dia ingin berbuat lebih, Christina memperingatinya sambil terengah-engah. "Jangan Ran, nanti saja." Sambil tersenyum, Randika kembali menikmati bibir lembut dosen cantik ini. Setelah sekian lama, kedua bibir mereka berpisah dan Randika berkata padanya. "Kamu sedang baca buku apa?" "A dream of Red Mansions." Jawab Christina sambil mengatur napasnya kembali. "Ah aku pernah menonton film itu, aku memang sedikit bingung dengan ceritanya. Tetapi aku tidak menyangka kamu suka buku erotis semacam itu." "Ngawur saja, sekolahku sedang mengaji literatur Cina klasik jadi aku membacanya agar bisa membahasnya lebih detail lagi." "Hahaha tapi apakah kamu suka dengan ceritanya? Aku bisa membantumu mempraktekkan beberapa kejadian di dalam buku itu kalau kamu mau." "Kejadian apa?" Christina terlihat bingung. "Tentang bagaimana Jia Baoyu membuat keturunan." "Kamu ini ya!" Wajah Christina menjadi merah dan memukulkan bukunya ke Randika. "Hahaha aku bercanda kok, ampun, ampun." Kata Randika sambil melindungi dirinya. Namun pada saat ini, Randika berhasil menangkap tangan Christina. Dia lalu menarik Christina ke dalam pelukannya dan menciumnya sekali lagi. "Apakah kita perlu mempercepat keinginan mamamu itu untuk punya cucu?" Kata Randika di telinga Christina sambil meraba-raba dadanya. Christina awalnya ingin mendorong dan melepaskan diri, tetapi di bawah serangan Randika yang intens, Christina merasa tidak punya kekuatan untuk menolak. Pada saat ini, Ayu yang sudah mengintip mereka daritadi, akhirnya memanggil mereka untuk makan karena khawatir makanannya itu akan dingin. Mendengar panggilan ibunya itu, Christina mengumpulkan kekuatannya dan mendorong Randika. Setelah menenangkan dirinya, dia berjalan menuju meja makan. Randika juga berdiri sambil tersenyum puas dan duduk di samping Christina. "Ayo, ayo, cepat dimakan. Dika, ini masakan tante yang paling baru." Kata Ayu dengan semangat, dia mengambilkan beberapa lauk sekaligus untuk Randika. "Aduh tante tidak usah repot-repot, aku bisa ambil sendiri kok. Mana mungkin aku merepotkan mertuaku terus-terusan." Randika langsung mengatakan kata-kata manis yang sudah lama dia persiapkan. Ketika mendengar ini, mata Ayu terlihat berbinar-binar lalu dia pun tersenyum. "Benar juga ya, Dika memang menantu yang perhatian. Kalau begitu ambil makanan yang kamu suka." Ketika Christina mendengar ini, dia menatap tajam pada Randika. Namun, Randika hanya tertawa padanya dan mencubit pipinya. Christina mendengus dingin dan mengangkat kakinya lalu menginjak kaki Randika. "...." Randika hanya bisa menahan rasa sakitnya itu, dia hanya ingin sekali-kali mengikuti alur dan mencoba jadi menantu dari Ayu. "Tin coba makanan ini." Randika mengambilkan makanan untuk Christina. Adegan ini membuat Ayu makin bahagia. Suaminya sendiri tidak pernah perhatian seperti itu, anaknya ini sungguh beruntung mendapatkan lelaki perhatian seperti Randika. Christina yang awalnya cemberut itu hanya mengangguk dan tidak menolak. Akhirnya ketiganya mulai makan bersama-sama. Tentu saja, pembicaraan mereka bertiga tidak terlepas dari kata pernikahan dan kapan punya anak. "Dika, kapan kamu menikahi anak tante ini?" Chapter 321: Berjalan di Taman Mendengar kata-kata itu, Randika langsung tersedak. Setelah menenangkan dirinya, dia berkata sambil tersenyum. "Hahaha bentar lagi kok tante, kami juga tidak buru-buru." Benar, ngapain buru-buru menikah? "Baiklah kalau itu mau kalian, tante cuma ingin kalian segera meresmikan saja." Ketika kembali mengunyah makanannya, Ayu tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh ya Dika, anak kenalannya tante ini ada yang kena penyakit jantung, apa kamu bisa menyembuhkannya?" Penyakit jantung? Christina yang mendengarnya itu sudah menghela napasnya. Bahkan dengan teknologi jaman ini, penyakit jantung masih tidak dapat disembuhkan secara total. Yang bisa dilakukan oleh para dokter adalah mengendalikannya. Ini jauh berbeda dengan penyakit rematik yang disembuhkan oleh Randika kapan hari. Namun, Ayu sendiri tidak terlalu berharap banyak karena dia sendiri mengerti penyakit ini seperti apa. Randika berpikir sebentar lalu berkata dengan santai. "Bisa sih aslinya meskipun agak rumit." Randika berani berkata seperti itu karena dia memiliki darah boneka ginseng bersamanya, asalkan bukan penyakit kanker atau tumor, seharusnya bisa disembuhkan. Dengan bantuan tenaga dalam dan metode pengobatan tradisional kakeknya, Randika seharusnya bisa menyembuhkannya. Wajah Ayu langsung berbinar-binar. "Ini kabar yang luar biasa bagus! Apa kamu besok bisa ke tempatnya?" "Aku ikut saja sama mertuaku." Randika diam-diam memanggil Ayu mertuanya lagi. "Baiklah kalau begitu, besok aku akan membawa mereka ke rumahku." Setelah makan malam mereka selesai, Ayu menyuruh anaknya itu untuk mengantar Randika jalan-jalan berdua di taman dekat sini. "Kamu memang benar-benar pintar ya." Kata Christina. "Tentu saja, kalau tidak mana mungkin aku bisa jadi calon suamimu?" Kata Randika sambil tertawa. Meskipun terdengar sombong, Christina harus mengakui bahwa kata-kata Randika itu ada benarnya. Mereka berdua bergandengan tangan dan bercanda ria sambil menikmati angin malam. Ketika mereka sedang menikmati momen ini, terlihat sebuah kerumunan. "Hahaha." "Monyet itu lucu sekali!" "Lagi, lagi, lagi." Kerumunan orang itu terlihat antusias melihat pertunjukan topeng monyet. Karena sudah lama tidak pernah melihatnya, Randika juga ikut bersemangat dan menarik Christina. "Ayo kita lihat sebentar." "Permisi, permisi." Dengan kekuatan yang dimiliki Randika, berjalan menuju depan kerumunan adalah hal yang mudah. Pada saat ini, dia melihat monyet itu sedang mengendarai sepeda super mini. Ketika sedang mengayuh, monyet itu tiba-tiba berhenti dan mengangkat sepedanya. Lalu di hadapan orang-orang, ia berpura-pura mengangkat beban seperti di gym menggunakan sepedanya. "Wah pintar sekali!" Para penonton semakin bersemangat. Monyet itu kemudian menaiki salah satu orang dan duduk di pundaknya. Ia lalu meloncat dan naik kembali ke orang berikutnya. Tidak lupa dia mencium orang yang dinaikinya, hebatnya hanya perempuan-perempuan cantik yang ia panjat selama ini. Randika juga bertepuk tangan sambil memeriahkan suasana. Pada saat ini, monyet tersebut mengambil sebuah topi dari pawangnya dan berjalan menuju orang-orang. Cara berjalannya itu sangat lucu dan orang-orang yang terhibur langsung memasukan uang mereka ke dalam topi. Setelah semua uang terkumpul, monyet tersebut kembali ke pawangnya. Pawangnya lalu mengeluarkan sebuah cambuk dan mengayunkannya ke tanah. "Berlutut!" Kata si pawang. Ketika monyet itu mendengar kata-katanya, ia langsung berlutut dengan kedua kakinya. Para penonton langsung terpukau dengannya. "Wah monyet itu juga bisa berlutut?" "Sejak kapan ada monyet sepintar itu?" "Hahaha sepertinya dia lebih pintar darimu." "Sialan kau!" Orang-orang menikmati suasana meriah ini, namun pada saat ini, monyet tersebut sepertinya ingin berinteraksi kembali dengan para penonton jadi ia langsung berdiri dan berjalan menghampiri. Melihat hal ini, si pawang mengerutkan dahinya dan mencambuk monyet tersebut. "!!!" Monyet tersebut langsung berteriak kesakitan sambil berguling-guling di tanah, punggungnya terkena telak. Namun herannya, sebagian besar penonton menganggap hal ini lumrah dan tertawa ketika melihat monyet itu kesakitan. Randika dan Christina tidak tega melihat adegan ini. Meskipun mereka tidak mempunyai peliharaan, melihat binatang yang tidak bersalah ini disiksa seperti itu, siapa yang tega melihatnya? Apa lucunya melihat hewan disiksa sedemikian rupa? "Cepat berlutut lagi!" Kata si pawang dengan wajah serius. Dia lalu kembali mencambuk si monyet tepat di kakinya. Kali ini teriakan si monyet jauh lebih terdengar tragis. Takut dicambuk lagi, monyet itu segera berlutut dan terdiam sambil menahan rasa sakitnya. Melihat monyet itu patuh lagi, para penonton kembali bertepuk tangan. "Dasar monyet, dikerasi baru nurut. Kayak anak SD saja hahaha." "Tapi menurutmu berapa lama si pawang itu mengajari si monyet?" "Seharusnya tidak lama? Kan monyet saudara jauh kita." "Tapi kalau lihat wajahmu bukankah mirip dengan monyet itu? Jangan-jangan malah saudara kandung kalian!" Mendengar hal ini teman-temannya ikut tertawa bersama-sama. Di tengah tawa itu, si pawang masih menatap tajam pada si monyet. "Sekarang tepuk tangan! Cepat!" Melihat cambuk di sampingnya, monyet itu langsung bertepuk tangan meskipun pelan. Hal ini justru membuat si pawang semakin marah. "Kau mau makan tidak? Cepat kumpulkan uang buatku lagi atau aku kurung kau lagi tanpa makanan!" Kata si pawang sambil menjewer si monyet. Setelah selesai menjewer, si pawang tersebut mencambuknya sekali lagi! Karena sudah tidak mau menurutinya lagi, monyet itu menghindar. Ia sudah muak diperlakukan seperti ini setiap harinya. Sedangkan si pawang memiliki anggapan bahwa kalau dia sendiri tidak keras seperti ini maka si monyet tidak akan menuruti dirinya dan ia tidak akan menghasilkan uang baginya. Dengan suara yang keras, si pawang itu berteriak dengan lantang. "Berlutut atau kubunuh kau!" Pada saat ini, cambuk yang dibawanya itu dipukulkan berkali-kali ke tanah. Si monyet itu tidak punya pilihan selain menurutinya atau ia akan benar-benar mati. Gilanya lagi, para penonton justru bertepuk tangan menyoraki si pawang. "Sekarang pura-pura tidur!" Teriak si pawang sambil mencambukan cambuknya. Si monyet itu semakin lama semakin jengkel tetapi melihat pemiliknya itu menggunakan cambuk, ia benar-benar tidak berdaya. Apa pun hewannya dan tidak peduli alasannya, manusia seharusnya tidak boleh menindas hewan seperti itu. Sebagai manusia, kita jauh lebih beradab daripada hewan dan harus menghargai mereka. Monyet itu sudah marah, ketika ia melihat orang-orang di sekitarnya itu menertewai dirinya, monyet itu makin marah. "Hahaha lihat wajah bodoh monyet itu." Ketika monyet itu memperhatikan kerumunan, cambukan pawangnya itu mengenai dirinya lagi! Bersamaan dengan cambuk ini, darahnya sudah mendidih dan insting hewan liarnya mulai bergejolak. "Diam atau kubunuh!" Si pawang itu sekali lagi mencambuk si monyet. Monyet itu akhirnya sudah tidak tahan lagi, dia meraung keras. Dia melompat-lompat berusaha untuk menyerang si pawang. Cambuk yang panjang itu telat melindunginya dan si monyet pun mendarat di wajah si pawang. "Kik, kik, kik!" Monyet itu menggigit telinga si pawang dan mencakar wajahnya. Tidak sampai di situ, dia juga menggigit lengan sekaligus mencakar badan si pawang. Dalam sekejap darah langsung mengucur ke bawah. Dengan tenaga yang tersisa, si pawang akhirnya berhasil menangkap si monyet dan melemparnya ke tanah. Sekarang, monyet yang telah dikuasai insting liarnya itu menatap arah kerumunan yang menertawai dirinya. Wajahnya terlihat sangat bengis! Chapter 323: Artikel Internet yang Menipu Ketika mendengar kata-kata itu, Christina menghela napasnya dan menghampiri Randika. Ketika orang-orang melihat Christina, mereka semua menjadi bersemangat. Benar-benar perempuan yang cantik, pikir mereka. Sangat disayangkan perempuan secantik itu dimiliki oleh orang yang berwajah biasa. Jika Randika tahu bahwa orang-orang itu mengejek dirinya, mungkin dia sudah menghajar mereka semua. Berwajah biasa? Apa mereka tidak tahu orang sejentelmen seperti dia ini sangat tampan? Bahkan bunga tercantik di kota ini sudah menjadi istrinya, mana mungkin dia berwajah biasa? Dengan pola pikir seperti itu, tentu orang-orang itu akan jomblo seumur hidup. Menerima uang dari tangan Christina, Randika menyodorkan uangnya tersebut ke dalam genggaman si pawang. "Ambil uang itu, jangan berani-berani meminta lebih. Mulai hari ini monyet itu adalah milikku." "Kau!" Si pawang itu mulai marah, tetapi merasakan aura yang dimiliki oleh Randika, si pawang ini tidak berdaya. Setelah beberapa saat menatap tajam Randika, dia berbalik badan dan pergi dari tempat itu. Si monyet itu terlihat senang ketika melihat pawangnya itu pergi meninggalkan dirinya. Kemudian Randika mengambil HPnya dan menelepon Deviana. Ketika mendengarkan permintaan Randika, Deviana terdengar dingin. Namun, dia tidak bisa menolak permintaan Randika tersebut. Sambil menunggu kedatangan Deviana, Randika bermain dengan si monyet bersama dengan Christina. Tidak lama kemudian, sebuah mobil polisi parkir tidak jauh dari taman dan polisi tersebut menghampiri Randika. "Permisi, apakah Anda pak Randika?" Kata si polisi muda itu sambil tersenyum. "Benar, kamu siapa ya?" Randika terlihat bingung. "Aku diutus oleh ibu Deviana untuk menggantikannya. Beliau sedang tidak bisa keluar dari kantor." Jawab si polisi. Dia lalu melihat monyet yang duduk di pundak Randika dan berkata padanya. "Apakah ini hewan yang perlu diserahkan pada kebun binatang?" Randika lalu memberikan monyet itu pada si polisi. "Benar, tolong bantuannya." "Tidak masalah." Polisi itu kembali tersenyum. "Aku dengar dari Ibu Deviana kalau Anda sudah sering membantu kami jadi permintaan seperti ini jelas tidak sebanding dengan jasa Anda." Melihat polisi itu pergi bersama si monyet, Randika menggaruk-garuk kepalanya. Apa namanya itu sudah menyebar di kepolisian kota ini? Randika dan Christina kembali menikmati keindahan taman ini berdua. Setelah berjalan beberapa menit, Christina berkata pada Randika. "Kalau begitu aku pulang dulu ya." "Eh? Secepat itu?" Wajah Randika terlihat pahit. "Kita sudah lama tidak bersama-sama, apa kita tidak berjalan lebih lama lagi?" Mendengar kata-kata ini, Christina menatap tajam Randika. "Kamu pikir aku baru mengenalmu sehari saja?" Randika tidak bisa terlihat malu ketika mendengar jawaban Christina ini. Sialan, sejak kapan rencananya bermesraan itu terkuak? Atau jangan-jangan ini cuma gertakan? Seiring berjalannya waktu, sifat Christina sudah berubah jauh dari sebelumnya. Awalnya dia adalah perempuan dingin yang tidak ingin dekat dengan pria manapun. Tetapi setelah bersama dengan Randika, perempuan cantik berintelektual ini menjadi gadis kecil yang baru pertama kali merasakannya bagaimana jatuh cinta. Namun, dia masih belum terbiasa bermesraan dengan Randika. "Kalau begitu sayang sekali, aku padahal sudah mempersiapkan hadiah untukmu." Kata Randika sambil menghela napas. "Hadiah apa?" Christina mulai penasaran. "Kalau begitu ikuti aku." Randika kembali menggandeng tangan Christina dan mereka berdua tiba di sebuah dinding yang sepi. Christina bersandar di tembok dan menatap Randika yang menaruh tangan kanannya di atas tembok persis di samping wajahnya. Keduanya saling menatap satu sama lain. Satu detik, dua detik, tiga detik telah berlalu. "Terus? Apa ini hadiah yang kamu maksud?" Akhirnya Christina tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya, wajahnya benar-benar terlihat bingung. "Hmm? Kamu tidak merasakan apa-apa?" Randika sendiri terlihat bingung, bagaimana caranya melakukan kabe don [1]? "Hah? Kamu ngomong apaan sih?" Christina benar-benar bingung. Dia sendiri heran kenapa Randika tiba-tiba menyuruhnya bersandar di tembok seperti ini. Memangnya apa yang seharusnya dia rasakan? Randika benar-benar terkejut, artikel yang dia baca di internet jelas mengatakan kabe don ini akan membuat suasana menjadi romantis. Sepertinya posisinya yang salah, dia harus menggantinya. "Sebentar, biarkan aku mencobanya lagi." Kata Randika. Dia mengambil kembali tangan kanannya lalu menamparkannya ke dinding. Untuk memperdalam suasananya, tubuhnya itu sudah condong ke depan. Keduanya lalu bertatap-tatapan sekali lagi. Satu detik, dua detik, tiga detik telah berlalu. "Sudah cuma itu saja?" "Kamu beneran tidak merasakan apa-apa?" Tanya Randika. "Jujur aku tidak tahu apa yang sedang kamu lakukan ini." Christina terlihat bingung. "Aku sendiri tidak merasakan apa-apa." Randika kehabisan kata-kata, internet telah menipunya! Katanya dengan melakukan kabe don ini suasana akan menjadi romantis dan perempuan yang awalnya malu-malu akan pasrah dan mengatakan perasaannya yang sesungguhnya ketika terpojok seperti ini. Ternyata semua itu hanyalah tipuan! Pasti ini tipuan, tidak mungkin Randika yang tampan dan gagah ini gagal untuk kedua kalinya! "Bukannya kamu mengatakan ada hadiah untukku?" Kata Christina. Randika menghirup napas dalam-dalam, meskipun cara internet ini gagal, masih ada caranya sendiri. "Hadiahku adalahˇ­" Wajah Randika yang memang awalnya sudah dekat dengan Christina itu tiba-tiba mencium bibir Christina! Christina yang awalnya menolak itu mulai tertelan oleh nikmatnya ciuman mereka ini. Keduanya lalu saling memeluk satu sama lain dan tenggelam dalam atmosfer cinta mereka. Tiba-tiba ada pria tua yang sedang mengajak anjingnya jalan-jalan berjalan melewati mereka. Ketika anjingnya menggonggong ke arah Randika, pak tua itu memarahinya. "Dasar anjing bodoh! Sudah jangan ganggu mereka, kalau kamu tetap nakal tidak ada makan buatmu hari ini!" Anjing itu langsung takut ketika melihat pemiliknya yang ramah itu tiba-tiba marah. Pak tua itu berjalan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Dasar anak muda, moral bangsa semakin hancur kalau terus seperti ini. Tetapi Randika dan Christina tidak sadar akan kehadiran pak tua tersebut, mereka masih tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Butuh waktu lama untuk mereka akhirnya berpisah, Christina sudah terengah-engah dan ekspresi wajahnya sudah seperti kecanduan. Melihat ekspresi dan wajah Christina, Randika tertawa. Sepertinya dia tidak perlu mengikuti arahan internet yang penuh tipuan itu, caranya sendiri sudah membuat perempuan-perempuan klepek-klepek dengan dirinya. Tetapi sebenarnya, kabe don itu tergantung orangnya. Christina sudah berumur 28 tahun dan dia merupakan perempuan terpelajar. Dia sendiri jarang tertarik dengan adegan romantic. "Bagaimana hadiahku? Apa kamu menyukainya?" Kata Randika sambil tersenyum. "Biasa saja, sudah aku mau pulang sekarang." Wajah Christina sudah merah padam, ciuman Randika selalu membuatnya melayang-layang. "Ingatlah untuk datang lebih pagi besok." Setelah melepaskan diri dari pelukan Randika, Christina berjalan pergi. Melihat sosok Christina yang menghilang, Randika tertawa. Setelah pergi dari taman, Randika tidak langsung pulang. Malahan dia pergi jalan-jalan, lagipula dia sudah mengabari kalau pulang agak terlambat. Setelah sekian lama tidak berjalan-jalan mengelilingi kota, Randika mulai menikmati kebebasannya ini. Pada pukul 8 malam, akhirnya Randika sampai di rumah. Ketika dia pulang, dia menemukan hanya ada Inggrid sendirian di rumah. "Suamiku sudah pulang." Inggrid senang ketika melihat sosok Randika, sekarang dia terlihat sedang memegang panci. Melihat adegan ini, hati Randika mengepal. Dia dengan cepat berkata pada Inggrid. "Biarkan aku membantumu." "Sudah kamu duduk saja, sudah mau selesai kok." Kata Inggrid sambil tersenyum Hati Randika merinding ketika mendengarnya, sepertinya makan malam kedua versi neraka sebentar lagi akan tiba. Inggrid kembali memasak. Dan kali ini dia tidak membiarkan Randika mendekati dapur karena dia ingin memasak sendirian. Randika tidak punya pilihan selain menurutinya, dia tidak ingin istrinya itu marah. Tidak lama kemudian, Inggrid telah selesai memasak. "Sayang, waktunya makan." Kata Inggrid dengan bahagia. Randika melihat isi panci itu dan berkata padanya. "Baiklah, aku akan ganti pakaian dulu." "Nanti saja sekalian kamu pas mandi." Kata Inggrid. "Aduh, kepalaku tiba-tiba pusing." Kata Randika sambil memegangi kepalanya. "Kalau begitu pas, sup sehat yang kubikin ini cocok mengobati penyakit kepala." Inggrid dengan cepat menyeret Randika. Dia lalu duduk di seberang suaminya yang tercinta itu. Dengan ini Randika sudah kehilangan alasan untuk menolak. Randika sudah tersenyum pahit, dia tidak berani menolak istrinya ini. Akhirnya setelah diambilkan semangkuk penuh oleh Inggrid, dia mengambil sepotong daging di dalam sup dengan garpunya dan memakannya. Eh? Wajah Randika benar-benar terkejut, Inggrid lalu bertanya dengan perasaan gugup. "Kenapa? Apa tidak enak?" "Tidak, justru masakanmu ini benar-benar enak!" Kata Randika, dia langsung memakan supnya dengan lahap. Awalnya dia mengira makanan yang dimasak oleh Inggrid ini akan seburuk sebelumnya, tetapi dia tidak menyangka istrinya itu akan berkembang sejauh ini dalam waktu yang singkat. Meskipun aslinya tidak seberapa enak, bagi Randika ini sudah layak dimakan dan jauh lebih enak daripada masakan pertama Inggrid. Ketika memikirkan betapa hitam dan pahit daging yang dia makan dulu, sup ini jadi semakin enak. "Apa Ibu Ipah belum kembali?" Tanya Randika sambil makan. Inggrid yang senang melihat Randika makan dengan lahap itu menjawab. "Belum, Ibu Ipah ngomong kalau dia masih butuh beberapa hari lagi sebelum kembali. Makannya pelan-pelan, jangan terburu-buru seperti itu." Bagi Inggrid ada tiga hal yang membuatnya bahagia di dunia ini. Pertama adalah bergandengan tangan dengan Randika dan menikmati waktu mereka bersama-sama seakan-akan dunia ini milik mereka bertiga. Kedua adalah melihat Randika makan dengan lahap masakan yang dia buat. Dan ketiga ketika Randika membelai rambutnya dan mengatakan dia adalah perempuan tercantik di dunia. Ahhh membayangkannya saja membuat Inggrid tersipu malu. "Hannah di mana?" Tanya Randika. "Hannah terpaksa mengerjakan banyak tugas karena dia absen hampir 2 minggu. Untungnya saja dosennya itu masih baik hati memberinya tugas." Kata Inggrid sambil tersenyum. Mata Randika berbinar-binar, berarti malam hari ini mereka akan berdua saja di rumah ini? Benar-benar kesempatan yang bagus! Hati Randika langsung membara. "Sayang bagaimana kalau malam ini kitaˇ­." Tatapan panas Randika sudah dapat dirasakan oleh Inggrid, dia hanya mengangguk pelan sambil tersipu malu. "Aku sudah mempersiapkan gaya baru buat kita dan beberapa cara agar lebih menggairahkan." Randika mulai bersemangat. Melihat ekspresi malu Inggrid, Randika semakin tidak sabar mempraktekannya. "Habisin makananmu dulu." Inggrid berusaha menutupi wajahnya yang tersipu malu. Tetapi, dia tidak menolak ajakan Randika. "Baik!" Randika mulai memakan semua makanan yang ada di atas meja. Lima menit kemudian, seluruh makanan itu tidak tersisa sama sekali dan Randika menatap Inggrid dengan penuh makna. "Selesai!" Secepat itu? Inggrid terkejut, dia lalu digendong Randika dan keduanya langsung menuju kamar mereka. Malam hari ini, desahan nikmat dan teriakan yang memekan telinga itu terus terdengar. Benar-benar malam yang menyenangkan bagi keduanya. [1] Secara kasar artinya adalah membentur dinding. Tetapi jika kalian sering membaca manga maupun melihat anime Jepang (khususnya bergenre romantis), terkadang ada adegan beberapa karakter yang menyudutkan orang yang disukainya sambil menempatkan tangan mereka ke tembok. Dalam berbagai cerita, kabe don ini biasanya dilakukan oleh karakter pria yang ingin mengatakan sesuatu ataupun ''mencuri'' sesuatu dari karakter perempuannya. Posisi tangan yang diletakkan di tembok itu bertujuan agar lawan bicara tidak kabur. Chapter 322: Membeli Kebebasan si Monyet Pada saat ini para penonton sudah ketakutan setengah mati, monyet itu tidak berniat mencelakai mereka bukan? Melihat wajah dan badan si pawang yang penuh luka di hadapanmu jelas jika monyet itu menangkapmu maka mereka akan bernasib sama. Memikirkan kemungkinan seperti itu, para penonton ini sudah berlarian ke mana-mana. Si monyet yang sudah jengkel dengan penonton yang tidak menolong dan menertawai dirinya daritadi, mulai meraung dan menerjang ke arah para penonton! "Awas!" "Minggir!" "Ah!" Keadaan menjadi kacau dengan cepat. Semua orang lari berhamburan dan tidak memedulikan sesama mereka. Monyet tersebut berhasil mendarat di salah satu kepala seorang pria. Pria itu menjadi panik dan berusaha melempar monyet itu dengan keras. "Jangan lempar monyet itu ke aku!" Temannya yang di sampingnya menyuruhnya untuk melemparnya ke arah yang lain. "Awas! Monyet itu menyerang lagi." Seseorang menjadi panik ketika melihat monyet itu berlari menuju dirinya. Mulut dengan gigi yang tajam dan kuku tangannya yang tajam itu mengarah padanya. Monyet itu kembali berteriak dan orang-orang saling mendorong. Di tengah kekacauan ini, beberapa orang terluka karena terjatuh dan juga ada yang menjadi korban kemarahan si monyet. Tidak lama kemudian, orang-orang yang menonton aksi pawang monyet ini sudah berhasil kabur semua. Mereka berdiri di atas kursi ataupun masuk ke dalam mobil mereka sambil melihat monyet itu mengamuk dari jauh. "Sialan monyet itu, aku sudah bayar mahal-mahal malah harus sembunyi seperti ini." "Memangnya kamu masih mau lihat monyet itu? Silahkan mati sendiri saja, aku tidak mau menemanimu." Kata temannya. Mungkin kemarahan orang ini cukup dimaklumi karena dia salah menaruh uang 100 ribu yang dikiranya 10 ribu itu. Pada saat ini, seorang anak kecil yang sedang berlari dengan ibunya itu terjatuh karena didorong dari belakang oleh orang. Karena tidak bisa menemukan ibunya, dia mulai menangis. Si monyet melihat anak kecil ini dan meraung seakan-akan bersiap untuk perang. Dengan keempat cakarnya yang tajam, dia berlari menuju anak kecil tersebut. Melihat monyet itu berlari ke arahnya, tangisan anak kecil itu semakin menjadi-jadi. Orang-orang yang berlarian itu awalnya ingin membantu si anak kecil itu. Tetapi melihat sosok bengis si monyet, kaki mereka tidak bisa bergerak. Tamat sudah si riwayat anak kecil itu. "Bodoh, kenapa mereka meninggalkan anak kecil itu!" Ucap salah satu orang yang sudah bersembunyi di dalam mobilnya. Namun pada saat ini, sesosok pria berdiri di hadapan anak kecil tersebut. Tapi sayang sekali, sosok itu terlihat lemah dan kurus. "Wow dia mengorbankan diri untuk anak kecil itu!" "Sepertinya orang itu akan terluka parah sama dengan si pawang, aku harap ambulans segera datang." "Hei, mau taruhan berapa lama orang itu bisa berdiri? Aku bertaruh 2 menit!" Orang-orang tidak optimis Randika dapat mengatasi monyet bengis itu. Si monyet sendiri tidak peduli siapa yang dihadapinya, dengan kukunya dan giginya yang tajam dia melompat ke arah Randika. Randika tidak bergerak dan ekspresinya tetap tenang, orang-orang yang melihat kejadian ini sudah menahan napas mereka. Mati sudah pria itu! Namun, pada saat monyet itu dekat, Randika dengan santai mengulurkan tangan kanannya. Monyetnya yang awalnya berteriak tanpa henti dan mengayunkan cakarnya tiba-tiba sudah tidak bersuara. Orang-orang terpana ketika melihat Randika dengan santai memegang si monyet yang sudah tidak sadarkan diri di tangannya. Kenapa monyet itu tiba-tiba tidak sadarkan diri? Mustahil! Semua orang terkejut dan tidak tahu harus berkata apa, sepertinya pria itu benar-benar kuat! Mereka bahkan tidak tahu apa yang dilakukannya untuk membuat si monyet itu pingsan. Tahu-tahu monyet itu sudah bergelantungan tidak sadarkan diri di tangan Randika. Randika lalu meletakan monyet itu di tanah lalu menggendong anak kecil yang masih menangis itu. Dengan wajah yang tersenyum Randika berkata padanya. "Jangan menangis lagi, tuh coba kamu lihat monyetnya yang tidur itu. Lucu bukan?" Setelah berkata seperti itu, anak kecil itu melihat si monyet yang tertidur lelap dan tersenyum. Namun tiba-tiba monyet itu kembali sadar dan terlihat bingung, sepertinya ia tidak tahu apa yang telah terjadi. Ketika monyet itu melihat Randika, insting hewannya mengatakan bahwa orang itu bukan lawannya dan menjadi patuh olehnya. Meskipun hanya merasakan sekali kekuatan Randika, monyet itu sudah sangat paham betapa berbahayanya Randika. Ketika melihat monyet itu tiba-tiba bangun, anak kecil itu sedikit ketakutan dan bersembunyi di belakangnya Randika. "Cepat minta maaf ke anak ini!" Randika mengerutkan dahinya dan monyet itu ketakutan. Ia lalu mengulurkan tangannya dan membungkuk ke arah anak kecil itu. Ketika anak kecil tersebut melihat monyet ini berusaha meminta maaf, dia langsung tertawa. Orang-orang di sekitar mereka sudah terkagum-kagum melihat hal ini. Pria itu justru lebih hebat daripada si pawang. Hanya satu kata dan monyet itu patuh? Orang-orang di sekitar Randika mulai bertepuk tangan, berkat Randika anak kecil itu bisa selamat. "Hebat!" "Hei, kenapa kamu tidak memeliharanya saja? Kamu bisa punya banyak uang nanti!" Teriak salah satu orang. Tanpa monyet ini aku juga sudah kaya bro, pikir Randika. Suasana kacau tadi dengan cepat menjadi tenang, monyet yang bengis tadi itu sekarang duduk di pundak Randika dengan tenang. Ketika orang-orang mulai menolong mereka yang terluka, perut si monyet berbunyi. Sepertinya ia belum makan seharian ini. Pada saat ini, si pawang monyet menghampiri Randika dengan keadaan compang-camping. "Kembalikan monyetku, binatang itu milikku." Ketika melihat si pawang, monyet itu memperlihatkan taringnya dan mendesis lalu bersembunyi di belakang Randika. Jelas Randika tidak akan membiarkan pawang ini mengambil monyet ini lagi. Pawang ini benar-benar biadab dan kejam, monyet ini akan mati apabila dia kembali ke tangan pemiliknya itu. Monyet itu terus menerus mendesis, seakan-akan sedang memprotes bahwa dirinya sudah keluar dari bisnis pawang monyet. Randika memperhatikan monyet yang berdiri di belakangnya dan berkata pada si pawang. "Jika kamu menyiksa monyet ini berlebihan, ia tidak akan ikut lagi denganmu. Percuma kamu berharap dia patuh." "Itu bukan urusanmu. Binatang itu milikku dan terserah aku bagaimana caraku mendidiknya." Wajah si pawang dengan cepat menjadi marah. "Kembalikan atau kulaporkan ke polisi jika kau mencurinya." Randika dengan santai menjawab. "Aku tidak pernah mencuri, aku berniat untuk membeli monyet ini darimu." Si pawang itu makin marah. "Monyet itu tidak untuk dijual!" Bersamaan dengan ini, si pawang berniat menyeret monyetnya dan pergi dari tempat ini. Namun, tiba-tiba langkah si pawang terhenti ketika dia melihat tatapan tajam Randika. Randika yang sekarang benar-benar terlihat menakutkan, jelas dia bukan orang awam. Randika terlihat meraba-raba saku celananya, dia lalu tersenyum pahit ketika menyadari dia tidak membawa uang. Dia lalu berkata pada Christina yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. "Kamu bawa uang?" Orang-orang tidak tahu apa yang sedang dibicarakan si pawang yang masih terluka itu dengan Randika. Mereka mengira bahwa pria itu berniat membalas dendam karena kekacauan yang ditimbulkan oleh si pawang tetapi mereka tidak akan mengira bahwa Randika sebenarnya ingin membeli kebebasan si monyet. Chapter 324: Randika yang Diremehkan Keesokan harinya Randika terbangun dengan perasaan yang puas. Ketika dia terbangun, yang ada hanyalah bau Inggrid yang membekas di tubuhnya. Sedangkan Inggrid sendiri sudah tidak ada di atas kasur. Inggrid selalu menjaga dirinya dengan menjaga pola hidupnya dan jam tidurnya. Dia juga terbiasa bangun pagi-pagi untuk menghirup udara segar, hal inilah yang cukup membuatnya segar bugar sepanjang hari. Setelah terbangun, Randika langsung mencuci mukanya dan berganti pakaian. Ketika dia turun, dia melihat Inggrid sedang menyiapkan sarapan. Setelah mencicipi makan malam yang dibuat oleh Inggrid kemarin malam, Randika sudah yakin dengan kemampuan masak istrinya itu. Akhirnya penderitaan terbesar di dalam hidupnya itu sudah berakhir. Randika lalu berjalan perlahan menuju punggung istrinya yang sedang memasak tersebut. Inggrid sama sekali tidak menyadarinya karena dia sedang fokus. Melihat senyuman wajah Inggrid, Randika bisa melihat bahwa suasana hati istrinya itu sedang bagus. Meskipun memakai baju rumah, kecantikan Inggrid tetap tidak berubah. Apalagi sekarang Inggrid memakai celana super pendek, bokongnya yang mirip buah persik itu sungguh menggoda. Randika semakin mendekat dan sosok istrinya itu sungguh menggoda. Sambil mengangkat tangan kanannya, Randika langsung menyambar pantat istrinya itu. Tiba-tiba sensasi seperti tersengat listrik memenuhi tubuh Inggrid. Ketika dia menoleh, dia melihat Randika sedang meremas pantatnya. "Hei, aku sedang memasak!" "Sayang, kenapa kamu selalu meninggalkanku? Aku kesepian tahu." Keempukan pantat Inggrid itu memenuhi tangan Randika, cintanya itu makin kuat. Inggrid tersipu malu. "Sudah ah jangan genit seperti itu, aku hari ini perlu masuk pagi. Salah sendiri kamu tidak bangun-bangun, kalau iya kita kan bisa melakukannya sebelum pergi." Randika tertawa, kata-kata Inggrid ini ada benarnya juga. Tidak lama kemudian, sarapan yang dimasak Inggrid sudah selesai dan keduanya makan bersama di meja makan. "Kenapa kamu perlu masuk pagi-pagi? Ada masalah kah?" Tanya Randika. "Tidak ada masalah, perusahaanku baik-baik saja kok." Jawab Inggrid. Randika mengangguk dan memakan makanannya. Setelah berganti pakaian, mereka berdua berangkat bersama menuju kantor. Sesampainya di kantor, Inggrid langsung menuju ruangannya sedangkan Randika menuju laboratorium Kelvin. Namun pada saat ini, HP miliknya tiba-tiba berbunyi. Melihat nomor HP yang meneleponnya, Randika langsung mengangkatnya. "Iya tante ada apa?" "Dika, apa kamu hari ini bisa datang?" Tanya Ayu. "Bisa kok, apa ini mengenai penyakit jantung kenalannya tante?" "Iya, mereka sudah tidak sabar bertemu denganmu." "Baiklah kalau begitu, tolong suruh mereka tunggu sekitar 1 jam dulu ya." Setelah menutup teleponnya, dia langsung bertemu dengan Kelvin dan memberikan arahan. Setelahnya dia langsung menuju rumah Ayu. Ketika melihat sosok Randika yang pergi, salah satu karyawan itu merasa iri. Enak sekali menjadi seorang bos, dia bisa pergi kapanpun dia mau dan tetap dapat gaji besar. Sedangkan dia? Sudah harus bekerja keras dan lembur terus menerus, gaji yang didapatnya tetap tidak sepadan. Hahhhhh kapan dia yang menjadi seorang bos? Pada saat yang sama, Randika sudah berada di depan gedung perusahaan Cendrawasih dan memanggil taksi untuk segera berangkat menuju rumah Ayu. Ketika Randika masuk ke dalam taksi, sesosok misterius yang mengekorinya sejak awal melepas topinya. Sambil menatap tajam taksi yang semakin menjauh itu, kebenciannya yang dia pendam itu meluap-luap. Sosok misterius ini telah mengikuti Randika sampai ke kota Cendrawasih. Setelah beberapa hari mencari, akhirnya dia berhasil melacak keberadaan Randika. "Aku tidak akan bisa tidur dengan tenang sebelum dendam keluargaku itu terbalaskan! Sekarang kau akan menerima hukuman yang jauh lebih kejam daripada kematian!" Sosok misterius itu membawa tas ransel di punggungnya dan berjalan masuk ke dalam perusahaan Cendrawasih. Petugas keamanan tidak menaruh kecurigaan padanya karena memang dia tidak mencurigakan sama sekali. Ketika dia sudah naik ke lantai 2, dia mencari ruangan kosong dan masuk ke dalamnya. Hal ini dia lakukan berkali-kali di lantai yang berbeda. Karena gerak-geriknya itu tidak mencurigakan sama sekali, tidak ada yang menyadari tindakan orang ini. .... Setelah sampai, Randika langsung menekan bel pintu rumah. Setelah beberapa saat, Ayu keluar sambil tersenyum dan mempersilahkan Randika masuk. "Tunggu tante bentar ya, tante ganti baju dulu." Setelah Ayu mengganti bajunya, mereka masuk ke dalam taksi dan berangkat bersama menuju daerah utara kota. "Semoga kamu bisa menyembuhkan anaknya kenalan tante ini ya." Ayu cuma bisa berharap. "Tenang saja tante, aku akan berusaha semaksimal mungkin." Kata Randika sambil tersenyum. "Tante percaya kok sama kamu." Ayu pun ikut tersenyum. "Memangnya kenalannya tante ini orang penting ya?" Tanya Randika. Ayu mengangguk dan wajahnya terlihat bernostalgia. "Dulu dia mengejarku bertahun-tahun." Randika terkejut, dia tidak menyangka perkembangan cerita seperti ini. Setelah beberapa saat, mereka tiba di suatu apartemen kecil. Mereka lalu naik ke lantai 5 dan mengetuk pintu kamar nomor 520. Tidak lama kemudian, pria berumur 50an membuka pintu. "Ayu?" Jeffry terkejut bukan main melihat sosok Ayu. "Kenapa? Apa kamu tidak senang melihatku datang berkunjung?" Ayu pura-pura terlihat judes. "Hahaha mana mungkin aku seperti itu bukan? Ayo, ayo, silahkan masuk." Jeffry lalu mengundang mereka berdua masuk. Mata Jeffry jatuh pada sosok Randika, dia lalu bertanya pada Ayu. "Hmm? Apa dia anakmu?" Ketika Randika berusaha mengenalkan diri, Ayu sudah memotong dirinya. "Aku perkenalkan padamu, dia adalah calon menantuku. Namanya adalah Randika, nanti kalau dia menikah dengan anakku kamu harus memberinya banyak hadiah." Mendengar hal ini Randika menghela napasnya, kenapa Ayu seperti tante-tante sombong seperti itu? "Aku tidak menyangka akhirnya Christina akan menikah, benar-benar kabar yang luar biasa bagus!" Jeffry terlihat senang. "Kabari saja kalau kalian akan menikah, aku pasti datang memberikan ucapan selamat pada kalian." Ketika mereka masuk ke dalam dan duduk di sofa, Jeffry bertanya. "Tetapi Ayu, apa kamu datang ke sini cuma untuk menyampaikan kamu sudah punya menantu?" "Tentu saja tidak, aku datang ke sini karena penyakit anakmu itu." Kata Ayu dengan nada jengkel. "Bukankah terakhir kali kamu bercerita tentang penyakitnya yang mulai parah itu? Hari ini aku membawa Dika bersamaku untuk menyembuhkannya." Wajah Jeffry langsung terkejut. Pada saat ini, tiba-tiba muncul perempuan cantik yang masih berumur sekitar 21-22 dari dalam kamar. Setelah menguping perkataan Ayu, tatapan matanya berbinar-binar dan dia pun langsung keluar dari kamarnya. "Apa benar aku bisa sembuh?" "Ayu, terima kasih banyak atas bantuanmu!" Jeffry sudah berurai air mata. Mereka sudah lama berjuang menghadapi penyakit anaknya ini. Karena penyakit jantung ini tidak bisa disembuhkan, mereka harus melakukan rawat jalan yang menghabiskan kantong mereka. Karena sejak kecil dia memiliki penyakit ini, Felicia tidak berani melakukan kegiatan yang terlalu berat. Dari kecil hingga sekarang, dia tidak pernah merasakannya yang namanya berlari ataupun berenang. Karena dia pernah dirawat di rumah sakit sebelumnya, ayah dan ibunya itu benar-benar waspada dengan kesehatannya. Tetapi ketika mendengar kenalan ayahnya ini bisa menyembuhkan dirinya, Felicia benar-benar senang. "Terus di mana dokter itu? Kapan kita bisa menemuinya?" Jeffry sudah bersemangat untuk bertemu sang dokter. Ketika mendengar pertanyaan itu, Ayu mengerutkan dahinya sedangkan Randika sudah menggaruk-garuk kepalanya. Apa dia terlihat tidak bisa diandalkan? "Apa dokter itu sedang dalam perjalanan ke sini? Tidak masalah, aku akan menunggunya sampai kapan pun." Jeffry berserta Felicia pergi ke dapur dan mengambilkan Randika dan Ayu secangkir teh. "Aku sudah lama khawatir tentang penyakit yang diderita anakku ini, aku cuma ingin dia tumbuh dengan sehat. Aku sendiri heran kenapa dia bisa mendapatkan penyakit ini." Jeffry menghela napasnya. "Aku benar-benar senang ketika mendengar kamu kenal orang yang bisa menyembuhkan penyakitnya itu. Aku harap biaya dokter ini tidak terlalu mahal." Ayu lalu menatap Randika dan menggelengkan kepalanya. Dia lalu berkata pada Jeffry. "Hei, orangnya itu sudah di sini tahu." "Oh dia sudah di depan?" Jeffry lalu berdiri dan membuka pintunya, tetapi dia tidak menemukan siapa-siapa. Dia lalu kembali ke ruang tamu dan bertanya dengan wajah bingung. "Tidak ada orang tuh." Randika lalu menggaruk-garuk kepalanya lagi, orang ini tidak peka atau bagaimana? Ayu sudah tidak tahan dengan adegan bodoh ini, dia lalu mengatakan. "Jeff, kamu ini bodoh atau apa? Orang yang kumaksud adalah menantuku ini." Jeffry dan Felicia yang sudah senang itu langsung menjadi murung. "Kamu pasti bercanda bukan?" Jeffry menghela napasnya ketika melihat wajah Randika. Masih muda begini sudah menjadi dokter? Apalagi dia bisa menyembuhkan penyakit jantung? Jelas aku tidak akan mempercayainya! Ayu jelas menjadi marah melihat tatapan tidak percaya Jeffry. "Kamu ini tidak sopan! Aku kasih tahu ya, menantuku ini ahli dalam pengobatan tradisional. Penyakit anakmu itu hanya perkara kecil baginya!" "Sudahlah jangan bohong seperti itu." Jeffry menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pahit. "Aku tidak tahu di mana kamu belajar ilmu pengobatanmu itu tetapi aku sudah berkeliling kota Cendrawasih, Surabaya dan Jakarta, semua dokter mengatakan hal yang sama bahwa penyakitnya Felicia itu tidak dapat disembuhkan." Ketika tatapan matanya bertemu dengan Randika, Felicia hanya bisa memaksa dirinya untuk tersenyum. Felicia sendiri setuju dengan penilaian ayahnya. Dia sudah berkeliling ke kota besar dan tidak ada dokter yang percaya diri mengatakan bahwa dia bisa sembuh. Penyakit jantungnya ini hanya bisa dikontrol bukan disembuhkan. "Kamu kira aku pembohong?" Darah Ayu mulai mendidih. "Apa aku terlihat seperti pembohong? Kalau aku ngomong menantuku ini bisa menyembuhkan ya pasti bisa!" Jeffry hanya menghela napasnya. "Ayu sudahlah, aku tahu kamu perhatian dengan anakku tetapi memang beberapa penyakit itu tidak bisa disembuhkan." Melihat Jeffry yang menyerah itu, Ayu benar-benar marah. Dia selama ini sudah khawatir dengan keadaan Felicia dan sekarang setelah menemukan solusinya dia malah dicap sebagai pembohong? "Jeff, kamu tahu kan aku punya rematik? Apa kamu tahu bahwa menantuku inilah yang menyembuhkanku?" Ayu lalu menekan kata-katanya. "Aku yakin menantuku ini bisa menyembuhkan anakmu." Jeffry sudah tidak tahu harus tertawa atau menangis. Penyakit jantung disamakan dengan rematik yang mudah untuk dirawat. Jeffry benar-benar tidak percaya Randika bisa melakukannya. "Sudahlah jangan khawatir, aku akan mencari cara lain untuk menyembuhkan Felicia." Kata Jeffry. Randika yang daritadi diam itu akhirnya mulai jengkel, kenapa pak tua ini meremehkanku sedemikian rupa? Menatap Jeffry dan Felicia, Randika berkata dengan nada santai. "Bagaimana kalau aku memeriksanya dulu? Tidak ada ruginya bukan?" Chapter 325: Felicia yang Sudah Sembuh Ketika mendengar saran Randika tersebut, Jeffry terlihat ragu-ragu. Melihat wajah serius Randika, Jeffry lalu bertanya padanya. "Apa kamu benar-benar bisa menyembuhkannya?" Tatapan mata Felicia benar-benar penuh harap ketika menunggu jawaban Randika. Harapan seperti ini tidak akan pernah bisa dimengerti oleh orang yang tidak mengidap penyakit yang sama dengannya. Randika masih berwajah serius. "Tenang saja, aku akan mencoba semaksimal mungkin. Menurutku tingkat keberhasilannya lebih dari 90% kok." Wajah Jeffry terlihat tidak percaya, 90%? Tinggi sekali! Jeffry kembali menilai Randika sekali lagi, wajah maupun auranya itu benar-benar tidak mirip dengan seorang dokter. "Sudahlah Jeff, biarkan menantuku ini memeriksanya dulu. Lagipula kita juga tidak memungut uangmu sama sekali kok nanti, jadi tidak ada ruginya kan?" Ayu sendiri sudah muak dengan sikap Jeffry yang tidak percaya dengan Randika. Mendengar kata-kata itu, Jeffry mengangguk. Sejujurnya uangnya sudah mulai habis oleh penyakit anaknya ini. Mendengar dia tidak perlu membayar, tidak ada salahnya kan mencoba? "Kalau begitu, apa yang kamu perlukan?" Tanya Jeffry. "Alkohol, lilin, seember air panas dan tempat yang sunyi." Kata Randika. Setelah mencatat barang yang diperlukan, Jeffry segera pergi untuk menyiapkan. Sedangkan untuk tempat yang sunyi, Randika bisa menggunakan kamar anaknya. Randika lalu dibawa masuk ke dalam kamar oleh Felicia. Perempuan satu ini terlihat tegang ketika berjalan menuntun Randika. "Sudah tidak usah tegang seperti itu, aku datang untuk menyembuhkanmu bukan membunuhmu." Kata Randika dengan wajah tersenyum. Mendengar kata-kata ini, Felicia jadi sedikit lega. Bagaimanapun juga, usia mereka hampir sama jadi mungkin Felicia menganggap Randika jauh lebih tua darinya jadinya dia berusaha bersikap lebih sopan. Tidak lama kemudian, Jeffry masuk ke dalam kamar dan meletakkan semua barang yang dibutuhkan Randika. Ketika Randika mulai mempersiapkan diri, dia menatap Jeffry yang terlihat serius. "Paman, bisa tolong keluar? Aku perlu berkonsentrasi penuh soalnya." "Ah! Baik, baik. Kalau ada apa-apa panggil saja ya." Jeffry dengan cepat berjalan keluar dan menutup pintunya rapat-rapat. Sekarang, hanya mereka berdua saja di dalam kamar. "Buka bajumu." Kata Randika sambil memasukan alkohol ke dalam air panas. Setelah menyalakan pemantiknya, air panas tersebut terbakar. Setelah mencelupkan jarum akupunturnya ke dalam air, Randika sudah siap menjalankan prosedurnya. Namun, Felicia justru terlihat panik dan memegang kedua dadanya dengan tangannya. Sialan, kenapa dia menganggapku mesum seperti itu? Randika geleng-geleng, dia lalu berkata setelah menghela napasnya. "Ayo cepat buka bajumu." "Kenapa kamu menyuruhku seperti itu?" Wajah Felicia dengan cepat menjadi merah, selama ini dia belum pernah bertemu dengan dokter yang menyuruhnya untuk membuka baju. "Terus kamu mau aku bagaimana? Aku tidak bisa menyembuhkanmu sebelum kamu membuka bajumu." Randika lalu memperlihatkan jarum akupunturnya. "Jika kamu tidak membuka bajumu, bagaimana mungkin jarum ini bisa menancap di punggungmu?" Melihat jarum-jarum itu, hati Felicia sedikit menjadi lega tetapi masih ada keraguan di dalam hatinya. Bagaimanapun juga, dia belum pernah pacaran dan jarang bergaul dengan pria seumurannya. Dan sekarang dia harus membuka bajunya di hadapan pria yang tidak dikenalnya? Randika menggaruk-garuk kepalanya, dia lalu berkata padanya. "Sudah jangan takut, kalau aku macam-macam tinggal teriak minta tolong ke ayahmu bukan? Dia kan ada di luar." Mendengar kata-kata itu, keraguan Felicia belum hilang. "Tapiˇ­" Randika lalu melihat api yang ada di dalam ember, dia lalu mengatakan. "Api ini cuma bertahan 3-4 menit, jika sudah mati maka semua sudah terlambat." Mendengar kata-kata Randika, Felicia menggigit bibirnya dan mulai melepas bajunya. Dengan tangan yang gemetar, dia membuka bajunya. Dalam sekejap, punggung telanjang Felicia dapat terlihat. Jika dilihat dari depan dadanya juga cukup bagus dan kencang, tetapi kalau dibandingkan Inggrid dan Viona, dia bukanlah tandingan mereka. Ketika dirinya hanya mengenakan beha, wajahnya itu sudah merah padam. Dengan ragu-ragu dia mulai membuka pengait behanya. "Hmm? Kenapa kamu membuka beha milikmu?" Kata Randika. Felicia terlihat bingung, Randika lalu menambahkan. "Kamu tidak perlu melepasnya, jika kamu melepasnya nanti ayahmu bisa membunuhku. Lagipula aku cuma memintamu melepas bajumu bukan?" Wajah Felicia kembali memerah, dia benar-benar salah paham. Di saat Felicia membuka bajunya, Randika sudah menilai perempuan itu secara menyeluruh. Meskipun Felicia berparas cantik, dia masih sangat jauh apabila dibandingkan dengan Inggrid, Viona dan Christina. "Duduklah." Kata Randika. Felicia lalu mengambil sebuah kursi dan duduk dengan tenang. Randika lalu mengambil tangannya dan memeriksa denyut nadinya. Setelah beberapa saat, wajahnya menjadi serius. Dia sudah mengerti letak permasalahannya di mana. Penyakit Felicia bukanlah penyakit bawaan ataupun yang terlalu serius. Sepertinya waktu dia masih kecil, ada sebagian jantungnya yang tidak berkembang dengan sempurna. Jika dia memberi rangsangan dengan tenaga dalamnya, seharusnya masalah ini akan terselesaikan. Bisa dikatakan bahwa penyakit Felicia hanyalah seperti sebuah pilek di hadapan Randika. Ketika melihat wajah serius Randika, Felicia benar-benar gugup. Randika lalu mengambil 3 buah jarum dan memasukannya ke dalam ember. Ketiga jarum itu dengan cepat menjadi steril. "Jangan bergerak." Kata Randika dengan nada serius. Ketika mendengar kata-kata tersebut, Felicia tidak berani bergerak sekecil apa pun. Randika duduk di hadapan Felicia dan menutup matanya. Setelah beberapa detik terdiam, Felicia mulai menjadi cemas. Tiba-tiba Randika membuka matanya dan tangan kanannya mulai bergerak. Dengan cepat 3 jarum tersebut menancap di area sekitar jantung Felicia! Ketiga jarum ini sudah berisikan tenaga dalam Randika dan segera menyebar ke dalam jantungnya. Dalam sekejap, tenaga dalamnya itu berkumpul di jantung Felicia dan mulai menstimulasi jantungnya. Namun, sepertinya tenaga dalamnya itu terlalu sedikit karena jantung Felicia seperti tidak terjadi apa-apa meskipun berisikan tenaga dalam miliknya. Setelah memeriksa kembali denyut nadinya, Randika dapat memastikan bahwa memang tenaga dalamnya yang tersalurkan itu terlalu sedikit. Ketika Felicia merasakan jantungnya itu gatal, dia juga merasakan ada hawa hangat di dalam dadanya. Hawa hangat ini sangat nyaman baginya. Apakah ini tanda bahwa dirinya mulai sembuh? Felicia mulai bersemangat. Randika sendiri menutup matanya dan mengambil kembali beberapa jarum. Dalam sekejap, Randika sudah menusukan beberapa jarum di sekitar dada Felicia. Titik-titik baru ini dimaksudkan untuk membantu kinerja tenaga dalam yang berkumpul di jantung Felicia sebelumnya. Namun, salah satu titik akupuntur di dada Felicia berada di bagian bawah dadanya. Jadi mau tidak mau tangan Randika masuk ke dalam behanya, dia dapat merasakan keempukan dada perempuan satu ini. Wajah Felicia benar-benar merah, tetapi ketika dia melihat wajah serius Randika, dia tahu bahwa ini demi pengobatannya. Tetapi Randika sendiri sudah mengangguk puas di dalam hatinya, benar-benar empuk. Randika kemudian mengambil beberapa jarum lagi dan mensterilkannya di dalam ember. Kemudian dia berdiri dan menusukan jarumnya itu di punggung Felicia. Dengan jarum-jarum yang baru ini, ini akan sangat membantu prosesnya. "Aku mulai kesulitan bernapas." Kata Felicia. "Tahan!" Setelah selesai menusukan jarumnya, Randika meletakan tangannya di tengah-tengah punggung Felicia. Tiba-tiba, dari tangan Randika, muncul aliran tenaga dalamnya yang besar itu dan mulai masuk ke dalam tubuh Felicia! Tenaga dalam itu langsung berkumpul di area sekitar jantung Felicia. Tenaga dalamnya itu semua berkumpul melalui arahan Randika dan menyerang jantung Felicia! Proses ini memang tidak bisa dilihat tetapi efeknya benar-benar nyata. Di bawah serangan tenaga dalam ini, Felicia mulai kesulitan bernapas. Tetapi dengan tenaga dalam ini, bagian jantung yang kurang berkembang itu mulai menunjukan tanda-tanda positif. Berkat tenaga dalam Randika ini, detak jantung Felicia berdetak jauh lebih kuat daripada sebelumnya! Felicia membuka matanya yang tertutup itu dan merasakan bahwa beban seperti gunung itu terlepas dari dadanya dan dia mulai bisa kembali bernapas dengan normal. Randika juga membuka matanya, setelah beberapa saat, tangannya juga dia ambil kembali dan mencabut jarum yang ada di punggung. "Kamu sudah sembuh, seharusnya kamu sudah tidak apa-apa sekarang." Randika mulai mencabuti jarum yang ada di depan dan membereskan barang-barang. Felicia kemudian meletakan tangannya di atas jantungnya, dia merasa memang ada sesuatu yang berbeda. Dia dengan cepat berdiri dan melompat-lompat. Setelah beberapa kali meloncat, dia merasa baik-baik saja. Jeffry dan Ayu menunggu di luar ruangan. Bahkan Jeffry selama ini tidak bisa duduk dengan tenang dan terus mondar-mandir di ruang tamu. Ayu benar-benar kehabisan kata-kata melihat tingkah laku Jeffry. "Jeff, bisa berhenti mondar-mandir? Risih tahu lihatnya, sudah duduk dan cobalah untuk menenangkan diri." "Aku benar-benar khawatir." Jeffry tersenyum pahit. Namun pada saat ini, tiba-tiba pintu kamar anaknya itu terbuka dan Felicia keluar dengan wajah tersenyum. "Aku sudah sembuh!" "Sungguhan?" Jeffry benar-benar terkejut, wajahnya menunjukan bahwa dia tidak mempercayai apa yang telah dia dengar. "Sungguhan, aku sudah sembuh!" Felicia lalu melompat-lompat untuk menunjukan bahwa dia baik-baik saja. "Tuh kan, apa kubilang." Ayu terlihat bangga. Salah sendiri Jeffry tidak mau percaya dengan menantunya, tidak ada yang bisa mengalahkan menantunya dalam hal pengobatan! Jeffry masih berdiri dengan mulut ternganga, dan pada saat ini Randika keluar dan berkata pada dirinya. "Anakmu sudah sembuh." Jeffry benar-benar masih tidak percaya, anaknya benar-benar sembuh! Proses ini bahkan tidak lebih dari 15 menit, di rumah sakit sendiri pun dia harus menunggu berjam-jam untuk sekedar memeriksanya. "Feli, sini papa ingin lihat kamu dari dekat." Kata Jeffry. "Bagaimana? Apa kamu masih meragukan kemampuan menantuku?" Ayu masih terlihat bangga. "Nanti kalau anakku sudah menikah awas saja kalau amplopmu itu tipis, setidaknya isinya harus setara dengan rumah!" "Ayu, kalau anakku ini benar-benar sembuh, kamu mau 10 rumah pun aku rela mengeluarkannya." Kata Jeffry sambil berurai air mata. Baginya tidak ada yang lebih membahagiakan hidupnya selain melihat anaknya itu sehat. Ayu mendengus dingin. "Huh, aku benci sifat cengengmu itu." Randika di sisi lain malah tersenyum. "Paman, kamu tidak perlu khawatir lagi dengan anakmu. Kamu boleh membawanya ke rumah sakit untuk memeriksa kalau tidak percaya." "Ini nomor teleponku, kabari saja kalau ada apa-apa." Kata Randika. "Hahaha kamu memang seperti pahlawan." Kata Jeffry sambil tertawa. Jeffry lalu membawa Felicia untuk diperiksa kembali di rumah sakit. Setelah masalah ini telah selesai, Randika mengantarkan Ayu ke dalam taksi dan dia sendiri kembali ke kantornya. Chapter 326: Awal dari Bencana Ketika sosok Randika muncul di hadapannya, resepsionis itu tersenyum dan menyapa Randika. Randika sendiri membalas sapaan tersebut dengan senyuman. Resepsionis itu ingat ketika dirinya bertemu dengan Randika pertama kalinya, pada saat itu dia tidak percaya bahwa Randika mengatakan bahwa dia adalah suami dari Inggrid Elina. Namun, pada saat ini, dia tidak menyangka bahwa sepertinya Randika memanglah suami dari bosnya itu. Ketika dia berjalan menuju lift, Randika terlihat tersenyum terus. Sepertinya sejak saat dia pulang ke Indonesia dia merasa bahwa hidupnya itu makin terberkati. Jika dia tahu bahwa bisa hidup bahagia bersama Inggrid, dia mungkin tidak akan berpetualang ke seluruh dunia. Tetapi jika dia tidak berkeliling dunia, maka kemampuannya tidak akan sehebat seperti sekarang. Di laboratorium milik departemen parfum, orang-orang sedang sibuk bekerja. Para ahli parfum ini sedang berusaha mengejar target mereka yang terlambat itu. Namun, mereka harus tetap berhati-hati ketika meramu parfum-parfum ini. Karena beberapa formula sangat sensitif dengan jumlah bahan yang dipakai, beda sedikit saja maka akan menghasilkan hasil yang berbeda. Pekerjaan yang menuntut ketelitian ini sama dengan para ahli teknisi komputer ketika mengurus coding. Ketika Randika masuk ke dalam ruangan, suara teriakan orang-orang dapat terdengar. "Ambilkan bahan yang ada di lantai bawah." "Jangan campur bahan itu dengan parfum tadi!" "Siapa yang mengerjakan sampel nomor 5 ini? Sudah kubilang kan bau yang aku inginkan itu bukan lavender." Di tengah-tengah situasi yang memanas ini, Randika dengan santai berjalan menuju tempat duduknya. Melihat orang-orang ini bekerja keras, Randika merasa tidak enak. Namun, dia segera membuang rasa bersalah tersebut! Bukankah posisinya di perusahaan ini sudah sama dengan Inggrid? Karena perusahaan ini milik istrinya berarti perusahaan ini miliknya bukan? Kenapa dia harus merasa bersalah? Bukankah perusahaan ini membayar besar jasa mereka? Randika lalu bermain HP dengan santai. Ketika beberapa bawahannya itu melihat Randika yang santai, mereka semua tersenyum pahit. Rasa iri hati selalu tumbuh ketika melihat rumput tetangga yang lebih hijau. Pada saat ini, Viona yang habis mengambil bahan dari lantai lain masuk ke dalam ruangan dan melihat sosok Randika. Sambil terkejut, dia menghampiri Randika. "Randika?" "Hahaha, apa kamu terkejut melihatku?" Randika langsung mengantongi HP miliknya. Viona tersenyum dan duduk di samping Randika. "Bukan begitu, aku pikir kamu tidak masuk hari ini. Jadwal masukmu itu sungguh aneh tahu!" Katanya sambil menjulurkan lidahnya. Viona lalu kembali bekerja, sedangkan Randika mulai menilai penampilan Viona hari ini. Hmmˇ­ hari ini dia memakai stocking berwarna hitam, benar-benar menggoda. Yah apa pun yang dipakai Viona menurutnya akan cocok, lagipula Viona memanglah perempuan yang cantik. Pikiran Randika mulai ke mana-mana. Melihat Viona yang polos itu bekerja, Randika sudah berandai-andai bahwa dirinya menindih perempuan ini di atas meja. Belum lagi Randika mengingat-ingat pakaian dalam yang dimiliki Viona, selera Viona memang bagus. Apakah sekarang dia sedang memakai Thong? Ahˇ­ memikirkannya saja sudah membuat adiknya menjadi keras. Akhirnya Randika membulatkan tekadnya, dia harus berhubungan badan dengan Viona secepat mungkin. Bagaimanapun juga, Viona adalah calon anggota haremnya. "Vi, apa kamu bisa membantuku mengambil barang di bawah?" Tanya Randika sambil tersenyum. Mendengar hal ini wajah Viona menjadi merah, tentu dia mengerti arti ajakan Randika ini. Tetapi ketika melihat rekan-rekannya itu sibuk semua, Viona menguatkan diri untuk menolak ajakan Randika. Randika yang melihat penolakan ini hanya bisa tersenyum pahit. Randika kembali bermain HP dan, pada saat ini, tiba-tiba ada panggilan tidak dikenal di HPnya. Dia lalu berjalan keluar dari ruangan dan ternyata yang meneleponnya adalah Jeffry. "Randika ya? Terima kasih banyak atas bantuanmu, anakku sudah sehat!" Suara Jeffry terdengar bahagia dan bersemangat, dia tidak menyangka anaknya itu akan benar-benar sembuh. Awalnya dia sama sekali tidak percaya dengan Randika, tetapi setelah memeriksanya di rumah sakit, dokter mengatakan tidak ada penyakit lagi di tubuh Felicia. Jadi bisa dikatakan bahwa anaknya itu sudah terlepas dari belenggu yang menahannya sejak dia masih kecil. Randika sendiri tersenyum di balik telepon. "Sama-sama." "Aku tidak tahu harus berbuat apa kalau tidak bertemu denganmu." Jeffry masih merasa rasa terima kasihnya itu tidak cukup. "Om juga minta maaf dengan kata-kataku yang kurang ajar sebelumnya. Maaf kalau aku tidak terlalu mempercayaimu sebelumnya." "Aduh sudah jangan khawatir." Randika tertawa. "Aku sendiri sudah lupa kok om mengatakan apa." "Hahaha." Jeffry juga tertawa. "Ayu pasti bangga mempunyai menantu sepertimu. Oh ya, apa kamu sedang bekerja sekarang? Kapan kamu libur? Om ingin mentraktirmu makan malam." "Aduh om tidak usah repot-repot. Aku sendiri tidak berbuat banyak kok." "Justru tidak mentraktirmu apa-apa itu om merasa bersalah." Jeffry mengerutkan dahinya. "Kamu benar-benar penyelamat hidupnya anakku. Sudah jangan khawatir, nanti kalau kamu menikah amplopnya om itu pasti yang paling tebal kok. Kamu pasti bisa beli mobil atau mencicil rumah dengan uang itu nanti. Kalau kamu merasa kurang, kamu tinggal telepon om saja kok. Tetapi om sendiri merasa sayang kamu sudah punya calon istri. Kalau tidak anaknya om ini sudah siap jadi istri yang baik lho." Kata-kata Jeffry awalnya membuat Randika tidak enak hati, tetapi kalimat terakhir membuatnya tersenyum pahit. Lagi-lagi urusan menikah, kenapa orang tua jaman sekarang mudah sekali menawarkan anaknya? Randika tahu bahwa dirinya itu memang tampan dan gagah, tetapi dia tidak menyangka para orang tua yang ditemuinya itu semuanya mulai menawarkan anaknya padanya. Randika mau membalas, tetapi tiba-tiba, gedungnya itu mulai berguncang. Guncangan ini benar-benar terlalu mendadak, seakan-akan fondasi yang menopang seluruh gedung itu goyang. Semua orang yang di dalam gedung ini langsung bersembunyi di bawah meja, mereka sendiri mulai ketakutan. Guncangan ini tiap detiknya makin besar. Tetapi sama seperti kedatangannya, guncangan itu tiba-tiba berhenti begitu saja. Semuanya mulai keluar dari bawah meja satu per satu, mereka mengira bahwa gempa ini akhirnya telah selesai. Untungnya saja tidak ada yang terluka. Randika sendiri merasakan guncangan ini, ketika dia hendak memeriksa apa yang tengah terjadi, guncangan itu akhirnya berhenti. "Aku rasa ini cuma gempa kecil, sudah semuanya kembali bekerja!" Teriak Kelvin. "Aduh kejam sekali pak Kelvin ya." Keluh seseorang dengan suara yang pelan. "Sialan, kenapa kantor ini tidak ambruk saja biar kita libur sebulan!" Orang-orang dengan cepat kembali bekerja, tentu saja gempa sekecil tadi tidak mungkin bisa merobohkan gedung tinggi ini. Randika yang berdiri di aula koridor sudah mengerutkan dahinya dengan hebat. Ada yang tidak beres! Guncangan ini bukan mirip gempa, dia sering merasakan guncangan seperti ini ketika dia berkeliling dunia. Pada saat itu, untuk memancing dirinya keluar, musuhnya itu meledakan seluruh bangunan. Guncangan ini persis dengan yang dirasakannya sebelumnya. Insting Randika mengatakan bahwa gedung ini dalam bahaya. Pada saat ini tiba-tiba ada suara ledakan dari ruangan yang tidak jauh darinya. DUAR! Ledakan itu memecahkan semua kaca jendela dan disusul oleh ledakan berikutnya. DUAR! Suara ledakan ini tidak terdengar dari satu lantai saja, sepertinya ledakan ini terjadi di lantai yang berbeda. Orang-orang mulai berlarian dengan panik. "Apa yang sebenarnya sedang terjadi?" Gumam Randika. Chapter 327: Pembalasan Dendam Anna "Lapor, ledakan terjadi di lantai 2, 3 dan 5!" Teriak salah satu petugas keamanan melalui HTnya. "Gawat, cepat nyalakan alarm!" Semua orang sudah berlarian ke mana-mana. Mereka awalnya meremehkan guncangan tadi karena menganggap itu cuma sebuah gempa yang kecil. Namun, mereka tidak menyangka bahwa guncangan tadi itu sebenarnya adalah bom yang telah meledak. Hiasan lampu, foto di dinding dan dekorasi ruangan sudah jatuh berserakan. Jika diperhatikan dengan baik, dinding tiap lantai mulai retak semuanya. Orang-orang yang panik ini beranggapan bahwa setiap saat gedung ini bisa runtuh kapan saja. Dokumen-dokumen dan komputer sudah terjatuh karena guncangan yang dihasilkan oleh ledakan beruntun tadi. Kertas-kertas tersebut sudah terinjak-injak dan kertas yang awalnya putih tersebut sudah penuh dengan jejak kaki. Semua orang tidak tahu harus lari ke mana ketika mereka keluar dari ruangan mereka. Pada saat ini, kaca jendela di aula koridor lantai mereka tiba-tiba ikut pecah. Orang-orang yang berada di dekat kaca terkena pecahan kaca ini dan terluka parah. Hal ini justru memperkeruh suasana yang memang sudah kacau itu. Kaca-kaca itu menancap dengan kuat dan terus mengalirkan darah tanpa henti. Para pejalan kaki yang melewati gedung perusahaan Cendrawasih itu terkejut ketika mendengar suara ledakan dan merasakan guncangan yang menggetarkan kaki mereka. Pada saat ini, mereka dapat melihat api yang mulai keluar dan kaca-kaca gedung yang berhamburan ke mana-mana. Mereka juga dapat mendengar suara teriakan tanpa henti dari dalam gedung. "Ada apa?" "Apa gedung itu dibom?" "Ya ampun, apa gedung itu akan roboh?" Semua pejalan kaki itu mulai ketakutan, apalagi kaca-kaca dari gedung mulai berjatuhan ke jalan. Pada saat ini, tiba-tiba mereka dapat mendengar dengan jelas suara ledakan dari dalam gedung. Di lantai 3, tiba-tiba api dapat terlihat berkobar dengan hebat. Terlebih lagi, mereka bisa mendengar suara teriakan tragis seseorang. Pria itu sedang terbakar dan seluruh mukanya penuh dengan kaca. Sepertinya dia sudah berada di penghujung nyawanya. Karena tidak bisa melihat ke mana dia lari, dia melompat turun dari lantai 3 dan mendarat dengan kepala duluan. Ketika dia mendarat di bawah, orang itu sudah berhenti bergerak sedangkan api masih melahap dirinya. Melihat kejadian ini, orang-orang menjadi panik dan segera menelepon polisi dan pemadam kebakaran. Tidak lama kemudian, polisi, ambulans, mobil pemadam kebakaran bahkan mobil media TV sudah memenuhi sisi jalan perusahaan Cendrawasih. Di bawah tatapan mata mereka, terdengar satu ledakan lagi yang dahsyat yang membuat seluruh gedung itu goyang. Kali ini gedung perusahaan nomor 1 di kota ini mulai goyah dan mengeluarkan suara yang keras, sepertinya gedung akan roboh! Randika yang masih ada di aula koridor itu mengerutkan dahinya. Dia yang sekarang sudah membuang pikirannya untuk mencari siapa pelakunya. Tugasnya dia sekarang adalah menyelamatkan orang-orang yang ada di dalam gedung karena ada ribuan orang yang bekerja untuk perusahaan ini. "AH!!!" Pada saat ini, terdengar suara teriakan dari dalam laboratorium. Teriakan ini membuat hati Randika mengepal. "Viona!" Randika langsung berlari sekuat tenaga. Pada saat ini, laboratorium parfum tersebut sudah kacau. Berbagai macam bahan dan alat sudah berserakan di lantai. Tabung-tabung reaksi juga pecah dan pecahannya memenuhi lantai. Parfum-parfum yang masih dalam bentuk cairan itu mengalir ke mana-mana dan menggenang menjadi satu. Komputer dan dokumen-dokumen sudah lama diinjak-injak oleh orang. Bahkan atap ruangan juga ikut runtuh dan memperlihatkan kabel-kabel yang ada. Lampu-lampu ruangan sudah pada pecah, hanya tersisa 1 ataupun 2. Reruntuhan atap itu juga menindih beberapa orang. Situasi di dalam ruangan benar-benar kacau, beberapa orang mulai panik. "Cepat bantu angkat batu-batu ini!" "Padamkan api yang menyala!" Namun pada saat ini, tiba-tiba ada orang yang berteriak. "Viona awas!" Di bawah tatapan mata orang-orang, Viona yang sedang berusaha membantu mengangkat batu yang menindih temannya itu, atap yang berada di atas Viona itu mulai runtuh dan terjun bebas menuju Viona! Viona hanya bisa pasrah karena dia terlambat menyadarinya, namun pada saat ini, Randika sudah berada di dalam ruangan dan langsung memeluk erat Viona. Sambil menunduk dan mengangkat tangan kanannya, Randika menahan reruntuhan atap tersebut dengan satu tangannya. DUAK! Ketika Viona berpikir bahwa dia sudah mati, dia merasa bahwa dia dibungkus oleh sepasang tangan yang kuat dan badan yang hangat. Dia tidak perlu memikirkan siapa yang telah menyelamatkannya, sudah pasti pria yang dicintainya telah menyelamatkan dirinya. "Vi, apa kamu baik-baik saja?" Tanya Randika dengan khawatir. "Aku tidak apa-apa." Viona menggelengkan kepalanya, hatinya sudah menghangat. Asalkan ada Randika di sampingnya, dia tidak mungkin terluka. Orang-orang menghembuskan napas lega. "Untung saja pak Randika datang tepat waktu." Kelvin sendiri sebenarnya masih tidak tahu apa yang telah terjadi, dia masih sibuk menyelamatkan anak buahnya yang tertindih itu sambil terus berusaha tenang dan tidak melakukan hal gegabah. Pada saat ini, tiba-tiba ledakan kembali terjadi. Ledakan kali ini adalah yang paling kuat dan paling menghasilkan guncangan. Wajah Randika terlihat dingin, namun di dalam pikirannya dia samar-samar sudah memperkirakan letak ledakan itu terjadi. Setelah memperkirakan 5 ledakan yang telah terjadi, Randika sudah dapat menebak taktik yang digunakan oleh musuhnya itu. Bom ini tidak mengancam fondasi gedung ini, bom ini jelas diatur untuk membuat dirinya keluar! Dengan kata lain tujuan dari kelima bom ini adalah membuat kekacauan agar orang-orang menjadi panik dan berlarian ke mana-mana. Di saat Randika lengah, si pengebom tersebut sepertinya akan melayangkan rencananya yang sebenarnya. Pada saat ini, di gedung seberang perusahaan Cendrawasih, berdiri sesosok misterius mengenakan topi. Dengan wajah tersenyum lebar, dia memperhatikan perusahaan nomor 1 di kota ini hancur berantakan menjadi puing. Dia menggunakan teropong untuk melihat momen balas dendam keluarganya ini. Melalui teropongnya itu, dia menunggu pertunjukan terakhir yang akan terjadi di ruangan pemimpin perusahaan yaitu ruangan milik Inggrid Elina! "Belum juga datang?" Tatapan orang itu sungguh dingin, hatinya sudah dikuasai oleh dendam dan kebencian. Jika kamu membunuh seluruh keluargaku, aku akan membalaskan dendam mereka! Anna memegang tombol detonasinya di tangannya dengan erat. Karena Randika tidak datang-datang ke ruangan Inggrid Elina, dia tidak ragu-ragu menekannya lagi! Dalam sekejap, ruangan di 2 lantai bawah kantor pemimpin perusahaan Cendrawasih itu meledak dan menjadi porak poranda. Api dengan hebat menelan seluruh ruangan. Jika dilihat dari teropong, Anna dapat melihat orang-orang yang berlarian ketakutan. Hal ini membuatnya bahagia bukan main! Perasaan ini, iya perasaan ini! Inilah indahnya balas dendam. Anna sudah menjadi gila, dia sudah lama bermimpi membunuh pembunuh keluarganya itu! Tetapi tatapan matanya itu kembali tenang, sekarang dia sudah seperti singa yang menunggu mangsanya untuk datang. Karena dia sudah repot-repot menyiapkan rencana ini, dia ingin membunuh Randika dan Inggrid sekaligus dengan satu ledakan. Di dalam gedung, Randika terus menerus dapat mendengar suara orang berlari sambil berteriak ketakutan. Ledakan besar tadi membuat semuanya menjadi lebih panik. Chapter 328: Pertunjukan Utama Telah Dimulai Mendengar teriakan orang-orang yang berlarian ketakutan, hati Randika mulai terbakar oleh amarah. Dia sangat membenci orang yang menarget orang tidak bersalah seperti ini. Memang dia menyandang nama Ares karena telah membunuh orang yang begitu banyak tetapi sama sekali tidak ada setetes darah orang tidak bersalah yang menodai tangannya. Oleh karena itu, aura membunuh Randika keluar dengan hebat. Dia akan membunuh orang yang biadab ini! Pada saat ini, gedung ini masih bergoyang-goyang dan lampu-lampu yang memberikan mereka penerangan itu satu per satu mulai jatuh dan pecah. Keadaan gelap ini semakin membuat orang ketakutan dan mereka segera berbondong-bondong ingin segera keluar dari gedung ini. Namun pada saat ini, Randika memikirkan Inggrid yang berada di lantai paling atas. Hatinya itu segera mengepal. "Jika musuh mengincarku, sudah pasti dia mengincar Inggrid juga. Sialan, Inggrid berarti dalam bahaya!" Dalam sekejap, hati Randika itu menjadi khawatir. "Vi, kamu dan yang lain harus tetap di dalam ruangan. Jangan khawatir, gedung ini tidak akan roboh. Kalian harus tetap di dalam ruangan kalau tidak kalian bisa terkena pecahan kaca." Kata Randika dengan cepat. "Sembunyilah di bawah meja." Setelah berkata seperti itu, Randika berlari keluar dengan sekuat tenaga. "Randika!" Viona dengan cepat meneriaki nama Randika. Tetapi sosok pria yang dicintainya itu sudah menghilang dan meninggalkan dirinya, hatinya langsung dingin. Dia tidak tahu ke mana perginya Randika. "Pak Randika mau ke mana?" Tanya teman Viona yang berwajah pucat itu. Dia jelas belum pernah mengalami kejadian ini jadi dia sudah ketakutan dari sejak awal gempa. "Kata-kata pak Randika tadi benar. Kita lebih baik bersembunyi di bawah meja dan tidak keluar dari ruangan. Ledakan yang terjadi tadi seharusnya sudah dilihat oleh banyak orang dan bantuan akan segera datang. Lebih baik kita menunggu di sini sampai bantuan tiba untuk menyelamatkan kita." Kata Kelvin dengan nada yang menenangkan. Orang-orang dalam ruangan ini setuju dengan penilaian Kelvin. Pada saat yang sama, Randika berlari menuju ruangannya Inggrid dengan cepat. Di saat dia berusaha mencapai tangga darurat, ratusan orang berusaha lari ke bawah untuk dapat keluar dari gedung secepat mungkin. Karena alasan keamanan, lift telah berhenti beroperasi maka satu-satunya jalan keluar adalah tangga darurat. Oleh karena itu, tangga darurat ini menjadi penuh oleh orang. "Larilah ke bagian selatan, di sana aman!" Randika berteriak ke arah kerumunan orang yang menghalanginya itu. Tetapi para massa yang panik ini jelas tidak mendengarnya karena mereka sibuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Lagipula buat apa mereka tetap tinggal di gedung ini? Kalau roboh bagaimana? Kata-kata Randika ini masuk akal. Bagian selatan gedung tidak banyak terbuat dari kaca jadi titik yang paling aman adalah bagian selatan gedung. Lagipula pengeboman ini sama sekali tidak mengincar fondasi gedung jadi tidak mungkin gedung ini akan roboh meskipun gedung bergoyang. Pada saat ini, keadaan masih kacau balau tanpa arahan yang jelas. Randika sendiri masih berusaha melewati lautan manusia itu menuju ke lantai atas. Di dalam lift sendiri terdapat orang-orang yang terjebak di dalamnya; mereka menaiki lift ini sebelum bom pertama kali meledak. Ketika bom pertama meledak, lift ini berhenti bergerak dan mereka terjebak di dalamnya. Mereka gemetaran di dalam ruangan kecil itu dan berdoa lift yang mereka naiki itu tidak akan terjun bebas menewaskan mereka. Belum lagi mereka terus mendengar suara ledakan tanpa henti, nasib mereka sepertinya sudah jelas! Randika masih berusaha berlari ke lantai ruangan Inggrid berada. Setelah menaiki 2 lantai, keadaan menjadi lebih baik karena orang-orang di lantai atas sudah berbondong-bondong keluar daritadi. Randika sama sekali tidak ragu, apa pun yang terjadi dia akan menyelamatkan Inggrid. Karena dia sedang terburu-buru, dia tidak menyadari adanya sosok tas kecil berwarna hitam di aula koridornya. Dari gedung seberang, Anna dengan teropongnya itu melihat sosok Randika yang berlari. Wajahnya langsung tersenyum lebar. "Akhirnya kamu datang juga? Aku kira kamu sudah lari meninggalkan perempuan itu." Anna tidak ragu-ragu menekan tombol detonasi yang ada di tangannya. Mendadak, aula koridor yang dilewati Randika tadi meledak dengan hebat. Api langsung menelan koridor dan tangga sehingga menutupi jalur kabur Randika! Ditambah lagi, atap dari aula koridor itu runtuh dan menghalangi jalan. Tidak peduli dengan hal tersebut, Randika masih berlari menuju ruangan Inggrid berada. Sesampainya di sana, dia menendang keras pintunya dan menemukan Inggrid sedang duduk di kursinya. Pada saat ini, Inggrid sendiri sebenarnya ketakutan tetapi karena dia sudah mengalami situasi hidup dan mati bersama Randika, perempuan itu tetap terlihat tenang meskipun wajahnya pucat pasi. Melihat Inggrid yang masih hidup, Randika menghembuskan napas lega. Pada saat ini, tatapan mata Anna terlihat berbinar-binar. Sekali lagi dia menekan tombol detonasi di tangannya. Dalam sekejap, sisa-sisa bom yang belum meledak langsung meledak sekaligus! Bom kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Bom ini lebih kuat dan bertujuan untuk meluluh lantahkan seluruh lantai! Di dalam ruangan Inggrid, lantai-lantainya itu sudah mulai retak dan atap ruangannya juga siap menimpa siapapun yang ada di bawahnya. "AWAS!" Randika langsung berteriak sambil berlari ke arah Inggrid. Kapan saja ruangan ini bisa roboh dan mereka akan terjun bebas ke bawah. Karena ledakan bom barusan, gedung ini akhirnya mulai roboh dari lantai paling atas menuju ke bawah. Ini sudah seperti bermain balok susun, satu per satu bagian mulai runtuh ke bawah. Untungnya saja, gedung yang roboh ini hanya pada satu sisi saja. Jika seluruh gedung itu roboh maka dipastikan bahwa korban akan mencapai ribuan. Bagaimanapun juga, bom yang digunakan Anna ini sudah cukup banyak untuk meruntuhkan gedung ini sepenuhnya jadi kemungkinan gedung ini runtuh sepenuhnya masih tinggi. Di sisi lain, para penonton kejadian ini sudah terkejut bukan main. Gedung besar itu mulai roboh dan barang-barang mulai berjatuhan dari atas. Di antara barang-barang itu tidak jarang mereka melihat orang-orang yang ikut terjun bersama barang-barang tersebut. Teriakan tragis mereka dapat terdengar, ketika mereka sudah sampai di bawah barulah teriakan tersebut terhenti. Kejadian ini benar-benar mengerikan! Semua orang melihat dengan mata kepala mereka sendiri dan langsung mengerti betapa kecilnya nyawa manusia di hadapan bencana seperti ini. Tidak lama kemudian, gedung yang roboh itu akhirnya berhenti bergerak dan sepertinya gedung perusahaan Cendrawasih masih selamat! Meskipun yang roboh hanya sisi utara, ratusan nyawa telah melayang karena kejadian ini. Belum lagi mereka yang terjebak di antara reruntuhan, mereka masih menunggu dengan penuh harap bahwa bantuan akan segera datang sambil terus berteriak minta tolong. Dalam sekejap, gedung nomor 1 di kota Cendrawasih ini sudah setengah roboh. Chapter 329: Kemarahan Randika yang Meluap-luap Ketika ledakan beruntun itu hampir selesai, lantai ruangan Inggrid sudah runtuh ke bawah. Tanpa pikir panjang, Randika melompat ke arah Inggrid. "Inggrid!" Randika dengan cepat melompat dan menangkap Inggrid. "Pegangan yang kuat!" Seketika itu juga Inggrid memeluk erat Randika. Di atas mereka, atap ruangan serta atap bangunan itu ikut terjun bersama mereka. Ketika nanti mereka berhasil mendarat, mereka harus menghadapi bahaya yang datang dari atas tersebut. Karena mereka berada di lantai 10, mereka terjun ke bawah cukup lama karena 3 lantai di bawah mereka itu juga sudah hancur sepenuhnya. Anna mendengus dingin melihat Randika dan Inggrid itu masih hidup dari teropongnya. Tetapi seharusnya 2 orang itu akan mati apabila melihat gedung yang runtuh itu akan menimpa mereka. Di saat Randika melihat lantai yang masih setengah hancur tidak jauh darinya, dia mengerutkan dahinya. Jika dia dan Inggrid berhenti di lantai tersebut, jelas mereka akan tertindih dari atas. Randika sendiri tidak mempunyai pilihan karena dia sama sekali tidak bisa menghindari reruntuhan dari atas tersebut, terlebih lagi tangannya yang satu memegang Inggrid. Ketika dirinya melihat ke atas, dia dapat melihat berbagai macam barang dan reruntuhan siap membunuhnya kapan saja. Kejadian hari ini justru lebih mengerikan daripada saat menghadapi gedung yang diledakkan oleh Shadow. Ketika Randika sibuk berpikir, tiba-tiba pilar di lantai tempat dia akan mendarat itu runtuh. Seluruh tubuh Randika sudah dilapisi oleh tenaga dalamnya. Dia lalu menghancurkan pilar tersebut karena khawatir lantai yang sudah setengah hancur itu akan runtuh apabila berat pilar itu ditambahi berat reruntuhan dari atap. Ketika dia sudah mendarat, reruntuhan dari atas sudah sangat dekat dengannya dan sudah tidak mungkin dia bisa menghindarinya. "Tutup matamu!" Kata Randika. Inggrid tidak ragu-ragu menuruti Randika dan menutup matanya dengan cepat. Sambil memeluk Inggrid, Randika langsung membelakangi reruntuhan itu dan berusaha menahan apa saja yang akan menimpanya. BOOM! Sebuah batu besar menabrak punggung Randika dengan keras, hebatnya batu itu langsung hancur. Namun, reruntuhan lain segera menyusul dan sekarang Randika dan Inggrid tertindih olehnya. Bersamaan dengan ini, keadaan mulai menjadi tenang meskipun debu masih berkeliaran di mana-mana. Pada saat ini, bagian sisi utara gedung perusahaan Cendrawasih sudah hancur lebur! Para penonton di bawah itu sudah terpana melihat kejadian ini. Para polisi dan pemadam kebakaran tidak berani masuk dengan gegabah ke dalam gedung tidak stabil seperti itu. Melihat gedung yang sudah setengah hancur itu, peralatan yang dibawa mereka sangatlah tidak memadai. "Kapten, kita tidak bisa masuk kalau begini!" "Bersabarlah, markas akan segera membawakan alat-alat yang dibutuhkan. Untuk sementara ini selamatkan yang ada!" Mungkin sebagian orang akan menganggap para polisi dan pemadam kebakaran yang tidak segera bergerak itu tidak berani menyelamatkan orang-orang yang di dalam gedung. Namun, di hadapan gedung yang tidak tahu kapan bisa roboh itu dan reruntuhan yang menghalangi jalan masuk, mereka memang tidak berdaya. Bagaimanapun juga, mereka tetaplah manusia bukan Tuhan. Justru masuk dengan terburu-buru dan tanpa rencana adalah tindakan bodoh. Deviana juga datang ke lokasi kejadian. Karena jabatannya mulai naik, dia memiliki lebih banyak anak buah sekarang. Ketika mendengar bahwa perusahaan Cendrawasih dibom, hati Deviana benar-benar cemas. Dia tahu bahwa Randika bekerja di perusahaan ini, dia tidak tahu bagaimana keadaan temannya itu. Sekarang yang bisa dilakukan para pemadam kebakaran dan polisi ini adalah membuat rencana penyelamatan yang mendetail sekaligus menentukan di mana titik-titik yang rawan bahaya. Baru setelah itu mereka bisa merencanakan evakuasi yang benar. Garis polisi sudah terbentang dengan luas dan menghalangi para orang awam untuk masuk ke dalam lokasi kejadian. Pada saat ini, suara sirene tidak kunjung berhenti terdengar. Dari jauh, mobil dari satuan khusus dapat terlihat sedang melaju ke arah lokasi kejadian. Bisa dibilang karena ini adalah kejadian paling menghebohkan dalam sejarah kota dan targetnya merupakan perusahaan nomor 1 di kota ini, para politikus dan petinggi negara yang berdiam di kota Cendrawasih ini mengerahkan seluruh kekuatan mereka. Tentu saja, hal ini dilakukan untuk menaikkan citra mereka. Oleh karena itu, beberapa satuan gabungan telah berdiskusi mengenai rencana evakuasi sekaligus penyelamatan. Tujuan utama mereka adalah menyelamatkan sebanyak mungkin sebelum gedung ini roboh seluruhnya. Mereka juga mengerahkan anjing-anjing polisi yang terlatih untuk melacak keberadaan orang yang mungkin saja tertimbun oleh reruntuhan. "Mari kita mulai." Setelah rencana ditetapkan, para penyelamat ini mulai bekerja. Dengan menggunakan kamera digital yang bisa melacak suhu tubuh manusia dan anjing polisi, mereka bergegas masuk ke dalam gedung. Orang-orang dari media TV maupun koran juga meliput kejadian ini. Bahkan para media TV melakukan siaran langsung untuk memberikan berita terbaru setiap saat. Kejadian ini benar-benar menjadi sorotan publik. Terlebih lagi kota Cendrawasih merupakan kota yang cukup besar dan digandang-gandang sebagai pesaing dari Jakarta ataupun Surabaya. Namun, tiba-tiba ujung tombak kota ini telah dibom. Tentu kejadian ini sangat menarik dikaji oleh media. Pada saat yang sama, para karyawan yang terperangkap di bagian gedung yang masih berdiri itu bertemu dengan tim penyelamat. "Hei, ada orang di sini!" Seorang polisi yang membawa anjingnya itu menemukan tanda-tanda kehidupan. Dalam sekejap, timnya langsung bergegas untuk memindahkan reruntuhan. Tidak lama kemudian, beberapa orang yang bersimbah darah dan tertindih bebatuan dapat terlihat. Dengan sigap, salah satu dari tim penyelamat mengeluarkan tandu dan membawa mereka ke ambulans. Sekarang musuh mereka adalah waktu. Misi penyelamatan dilakukan kembali dengan cepat dan efisien. Orang demi orang mereka temukan dan nyawa demi nyawa terus mereka selamatkan. Pada saat ini, salah satu dari mereka menemukan seorang pria yang tertindih oleh banyak batu besar dan rupanya dia masih bernapas. Ini benar-benar sebuah keajaiban kalau melihat betapa besar beban yang menindih dirinya. Namun, apabila dilihat baik-baik, mereka menemukan bahwa orang tersebut memeluk seorang perempuan! Pada saat mereka hampir selesai memindahkan reruntuhannya, pria itu tiba-tiba bergerak. "Masih sadar?" Tentu saja para tim penyelamat ini benar-benar terkejut, mereka tidak menyangka bahwa orang tersebut masih bisa bergerak. Karena takut beban yang dia tahan dengan punggungnya itu runtuh mengenai Inggrid, Randika akhirnya memutuskan untuk menunggu bantuan. Setelah 90% reruntuhan itu terangkat, akhirnya Randika bisa bergerak dengan bebas sekali lagi. Tubuhnya itu penuh debu dan punggungnya penuh luka sekaligus memar, darah terus mengucur dari mulutnya tetapi kedua matanya itu terlihat bersinar. Meskipun dia sudah mengalirkan tenaga dalamnya untuk melindungi dirinya, reruntuhan sebesar itu tetap melukai tubuhnya. Untungnya saja, Inggrid tidak terluka sama sekali berkat dirinya. Ketika orang-orang menghampiri Randika, dia hanya menggelengkan kepalanya dan berkata pada mereka. "Aku tidak apa-apa." Setelah itu, Randika menggendong Inggrid keluar dari reruntuhan. Para penyelamat itu menawarkan bantuan untuk membawa Inggrid ke rumah sakit tetapi niat baik mereka telah ditolak oleh Randika. Pada saat ini, Inggrid membuka matanya dan menatap Randika. Hatinya terasa sedih melihat Randika yang terluka. "Kamu tidak apa-apa?" Katanya sambil meneteskan air mata. "Tentu saja, apa kamu pikir aku akan mati meninggalkanmu?" Kata Randika sambil tersenyum. Dalam perjalanannya menuju pintu keluar, ratusan pertolongan dari tim penyelamat telah ditolak oleh Randika. Dia hanya ingin membawa Inggrid ke tempat yang aman. Di dalam hati Randika, kemarahannya sudah memuncak. Tidak peduli siapa, tidak peduli di mana dia bersembunyi, dia akan memburu siapa pun yang berani menyerangnya! Seluruh kemarahannya ini tertuju pada satu nama yaitu Bulan Kegelapan. Chapter 330: Awal Serangan Balik Sesampainya Randika di rumah, dia meminta Inggrid untuk beristirahat dan menyerahkan masalah ini padanya. Namun Inggrid menolaknya karena masih khawatir dengan perusahaannya. Mengerti bagaimana perasaan istrinya itu, akhirnya Randika mengalah dan membiarkannya bekerja. Randika sendiri berjalan menuju kamarnya dan menyalakan komputernya, dia segera menghubungi Yuna. Begitu Yuna muncul di layar, dia sangat terkejut melihat penampilan Randika yang compang-camping. "Ran, kenapa kamu?" "Kirim pasukan kita ke Indonesia, aku ingin membersihkan kota Cendrawasih." Kata-kata Randika terdengar simpel tetapi mengandung kemarahan yang besar! Randika tidak punya pilihan lain. Apabila benar lawannya kali adalah Bulan Kegelapan, berarti dia perlu membawa pasukannya. Terlebih lagi, bom sebanyak itu pasti dibeli di dunia bawah tanah Cendrawasih. Jadi bisa dikatakan bahwa Bulan Kegelapan diam-diam menyelinap masuk ke Cendrawasih lagi dan menyerang perusahaan milik istrinya itu. Jika Randika bisa melacak di mana bom itu dibeli, dia bisa melacak keberadaannya! Yuna terkejut ketika mendengar permintaan Randika. Terakhir kali bertemu Randika mengatakan bahwa dia tidak ingin menguasai Indonesia, apakah dia akhirnya berubah pikiran? "Baiklah, aku akan mengabari yang lain." Kata Yuna. "Kirim sebanyak mungkin tetapi jangan biarkan markas kita di Jepang itu kosong. Aku harap kalian semua sudah datang malam hari ini." Kata Randika. "Baik tuan!" Yuna membungkuk hormat. Setelah percakapan mereka selesai, Randika langsung mematikan komputernya. Wajahnya terlihat tenang meskipun hatinya dibakar oleh api amarah. Jangan harap kamu bisa bersembunyi di negara ini, aku akan menemukanmu! Tiba-tiba, pintu kamarnya itu diketuk oleh seseorang. "Apa kamu tidak apa-apa?" Tanya Inggrid dengan khawatir. "Aku baik-baik saja kok." Kata Randika sambil tersenyum. Inggrid lalu menghela napasnya. "Ran, aku memang tidak tahu siapa dan mengapa mereka melakukannya, tetapi tolong jangan sampai kamu bertindak gegabah. Aku tahu bahwa aku tidak bisa berbuat apa-apa untukmu, aku hanya bisa berdoa bahwa kamu baik-baik saja. Lakukan apa yang perlu kamu lakukan." Randika terkejut. Mendengar kata-kata Inggrid itu, dia tahu bahwa Inggrid dapat menyimpulkan bahwa pengeboman ini ditujukan pada Randika bukan dirinya, benar-benar pemikiran yang hebat! Inggrid tidak pernah mengatakannya, tetapi dia benar-benar sedih. Perusahaan yang dia bangun dari nol itu benar-benar telah menghabiskan seluruh usahanya. Dan sekarang karena semua usahanya itu hancur, akan terjadi beberapa masalah. Yang pertama adalah investigasi polisi, serangan besar-besaran dari perusahaan saingannya, biaya renovasi, biaya kompensasi karyawan yang meninggal dll. Bisa dikatakan bahwa perusahaan Cendrawasih akan mengalami kemunduran! Inggrid sangat memahami rintangan yang akan dia hadapi tetapi dia tetap tenang! Randika juga tahu bahwa ambisi istrinya ini adalah membuat perusahaan kelas dunia yang mampu bersaing secara global. Namun karena serangan bom ini, ambisinya itu mungkin telah pupus. "Ran, lihat kamu kotor sekali. Ayo kita mandi dulu setidaknya." Inggrid lalu membawa Randika ke kamar mandi dan membantunya melepas pakaiannya. Setelah itu dia membawanya masuk ke dalam kamar mandi dan menggosok punggungnya. Melihat punggung yang memar dan berdarah, mata Inggrid tiba-tiba basah dengan sendirinya. Dia masih menggosok punggung Randika dengan lembut. Ketika dia membasuh luka yang berdarah itu, jejak luka yang panjang dapat terlihat dengan jelas. Keduanya tidak berbicara sama sekali, pada saat ini hati keduanya berada di tempat lain. Inggrid dengan tekun membasuh semua luka Randika. Sejujurnya, Randika sama sekali tidak merasakan luka-luka itu meskipun luka tersebut terlihat mengerikan. Di saat dia berkeliling dunia, luka-luka seperti ini sudah seperti sarapan baginya jadi dia sudah kebal. Baginya luka yang paling fatal baginya itu ada 3. Pertama ketika dia berada di hutan tropis di Afrika. Pada waktu itu dia berhadapan dengan 2 tim pembunuh terbaik Afrika dan karena dia tidak mengenal medannya dengan benar, dia terus menerus diserang mendadak dan sempat keracunan. Namun, Randika berhasil membunuh mereka semua dan memaksa racun itu keluar dari tubuhnya. Kedua adalah saat dia berada di Rusia. Ketika dia sedang menjalankan misi, Randika sempat lengah dan masuk ke dalam perangkap lawannya. Dia pada waktu itu terluka para dan pada saat yang sama dia masuk ke dalam lubang yang dalam. Sebagai hasilnya, dia harus bertahan hidup di iklim dingin Rusia selama 4 hari sendirian sebelum akhirnya bantuan datang. Ketiga adalah ketika dia berada di gurun Sahara. Dia menghabiskan waktu sebulan bertarung dengan para ahli bela diri dunia. Di hari terakhir mereka bertarung, Randika tertembak di bahunya meskipun dia berhasil keluar sebagai pemenang. Namun, yang memperparah adalah dia sudah tidak punya makanan dan minuman sama sekali. Dia juga kehilangan arah dan tidak tahu di mana dia berada. Dengan darah yang terus menetes, dia berjalan kaki melewati gurun selama 2 hari. Bisa dikatakan bahwa ketiga kejadian itu jauh lebih membahayakan daripada luka-lukanya yang sekarang. Baginya luka hari ini itu bagaikan luka goresan. Namun bagi Inggrid, luka-luka ini disebabkan karena Randika sibuk melindunginya. "Aku akan mengambil obat." Kata Inggrid dengan nada suara yang pelan. Ketika dia hendak berdiri, dia ditarik oleh Randika. Randika tersenyum kecil padanya. "Aku tidak butuh obat, aku butuh kamu di sampingku." Inggrid awalnya ragu-ragu dan akhirnya dia memutuskan untuk duduk kembali. Randika lalu membelai rambut istrinya itu sambil berkata padanya. "Kamu juga ikut mandi." Inggrid lalu melepas pakaiannya dan masuk kembali dalam keadaan bugil. Setelah membasuh punggung Randika sekali lagi, sekarang adalah bagian depan Randika. Karena sudah berkali-kali berhubungan badan, Inggrid sudah tidak malu lagi melihat tubuh bugil Randika. Inggrid dengan perlahan membasuh tubuh Randika dan mulai membersihkan luka-luka yang ada. Melihat wajah Inggrid yang begitu serius namun lembut, Randika sendiri sedikit heran. Apakah ini namanya perhatian istri? Sepertinya perhatian semacam ini tidak bisa didapatkan selain dari pasangan hidup kita. Menikah dan berpacaran itu bisa dibilang sedikit berbeda. Berpacaran itu seperti api, terkadang kita tidak bisa membedakannya dengan nafsu dan cinta. Namun, pernikahan seperti air. Ketika kedua air itu bertemu, mereka akan bersatu dan menjadi satu kesatuan untuk selamanya. Perasaan hangat ini benar-benar baru pertama kali dirasakan oleh Randika. Randika memperhatikan wajah Inggrid yang penuh dengan perasaan lembut itu. Ketika Inggrid masih sibuk membersihkan luka Randika, tiba-tiba tangannya ditarik oleh kekuatan yang kuat. "Aku ingin melakukannya." Kata Randika dengan pelan. Inggrid ragu-ragu, dia lalu mengatakan. "Kamu sedang terluka jadi jangan terlalu banyak bergerak. Biarkan aku saja yang bergerak. Hati Randika sudah tidak tahan lagi, dia ingin meluapkan perasaan cinta yang menggelora di tubuhnya ini. Di dalam kamar mandi ini, Inggrid dan Randika kembali meluapkan cinta mereka. ......ˇ­.. Pada malam hari, Inggrid sudah tertidur sedangkan Randika masih terbangun. Perlahan keluar dari kasur, dia mengganti pakaiannya dan berjalan keluar dari rumah. Ketika dia berdiri di halaman rumahnya, dia memperhatikan sekelilingnya. Dengan nada yang tegas Randika mengatakan. "Keluarlah." Halaman rumah yang kosong itu tiba-tiba penuh dengan suara gemerisik, cahaya bulan pun langsung tertutup ketika sosok misterius itu meloncat ke hadapan Randika. Sekarang ada 4 orang berlutut satu kaki di hadapan Randika dan orang yang berlutut di paling kanan adalah Serigala. Keempatnya ini mengeluarkan aura yang membuat udara malam ini menjadi sedingin di kutub utara. Terutama tatapan mata mereka yang mengandung tekad yang kuat untuk melayani seluruh permintaan tuan mereka. Chapter 331: Membersihkan Kota Cendrawasih Serigala menatap hormat tuannya. Di sampingnya adalah Singa. Dia masih terlihat tampan seperti seorang ksatria dari jaman dahulu. Memang dia adalah dulu adalah seorang bangsawan jadi etika dan perilakunya adalah yang paling sopan dari antara semuanya. Singa memberikan hormatnya yang paling terdalam untuk Randika. Tetapi jangan tertipu dengan sikap sopannya itu, ketika bertarung Singa sudah bertarung selayaknya seekor binatang buas sungguhan. Dengan keberaniannya yang luar biasa, dia menebar teror pada semua lawan yang berani menghadangnya! Orang ketiga terlihat tersenyum terus menerus ketika menatap Randika, sikapnya ini kurang pantas. Ketika Randika menatapnya, Jin berusaha mengomel tentang perjalanan mereka yang mendadak ini. "Bajingan, kau berani sekali ya mengomel seperti itu! Apa kamu tidak tahu tugas kita adalah melayani tuan kita!" Kata Singa kepada Jin. Jin lalu bergumam pada dirinya sendiri. "Cih, untung saja ada tuan kita di sini. Kalau tidak sudah kuhajar kau!" Terakhir adalah orang berbadan besar yang terlihat mengerikan, dia adalah Dion! Randika menatap keempatnya dan bertanya sambil tersenyum. "Sudah berapa lama kalian menunggu?" "Kami telah menunggu 2 jam." Jawab Serigala. Randika mengangguk dan berkata pada mereka. "Tujuanku memanggil kalian adalah karena aku butuh bantuan kalian." "Katakan apa yang perlu kami lakukan tuan." Singa yang terlihat tenang merasa darahnya mulai mendidih. "Apakah ini mengenai Bulan Kegelapan? Setahu kami dia sedang berada di Amerika dan bersembunyi dari kejaran pasukan kita." "Benar, aku curiga dia mengirim beberapa orang ke sini untuk menyerangku. Tetapi belum tentu juga hal ini berkaitan dengan Bulan Kegelapan." Jawab Randika. "Kalau begitu siapa lawan kita tuan?" tanya Jin. "Bodoh! Kalau tuan kita sudah tahu, jelas dia sudah membunuhnya dengan tangannya sendiri!" Singa marah terhadap Jin yang tidak peka. "Sudah jangan bertengkar terus, luapkan semangat kalian ini pada misi kalian." Kata Randika sambil tersenyum, tetapi senyumannya ini penuh makna. "Aku ingin kalian membersihkan kota ini dari bahaya tersembunyi. Apa cukup satu hari?" Membersihkan kota Cendrawasih dalam satu hari? Jika orang lain yang mendengarkan permintaan Randika ini mungkin mereka akan memaki Randika. Apa Randika tidak tahu betapa luas dan dalamnya lumpur di kota Cendrawasih? Sebagai kota besar berikutnya yang dikatakan akan mengalahkan kebesaran ibukota, Cendrawasih merupakan tempat dimana air dan minyak bersatu. Konflik kepentingan terjadi setiap harinya tanpa disadari oleh orang awam. Segala macam cara digunakan untuk menguasai kota ini baik dari dalam maupun luarnya. Bisa dikatakan bahwa orang-orang menggunakan trik-trik kotor di dunia bawah tanah kota Cendrawasih. Namun, tantangan seperti ini justru membuat keempatnya ini bersemangat. "Tuan, apa tuan meremehkan kita? Satu hari? Jangan khawatir, ketika tuan bangun besok pagi kita semua sudah membereskan kota ini! Anak buahmu ini siap mati melindungimu." Dion juga mengatakan. "Aku rasa subuh ini selesai kok." "Kalau begitu, aku serahkan tugas ini pada kalian berempat. Atur sendiri strategi apa yang kalian perlukan dan jangan terlalu menarik perhatian publik. Setelah misi selesai bersembunyilah dan tunggu kabarku. Ah Dion, sebelum kamu pergi aku ingin berbicara berdua denganmu. Sedangkan kalian bertiga boleh pergi sekarang." Kata Randika sambil tersenyum. "Baik." Jin, Singa dan Serigala lalu pergi sedangkan Dion tetap tinggal di tempat. "Bagaimana perkembangan Bulan Kegelapan di Amerika?" Tanya Randika. "Dia masih dalam jangkauan kita." Randika lalu menyuruh Dion berdiri dan duduk bersamanya di kursi taman halaman rumahnya. "Bulan Kegelapan tidak berani menunjukan dirinya dan kekuatannya di Jepang maupun di Amerika terus terkikis oleh pasukan kita. Kalau boleh aku mengatakan, Jepang sudah menjadi milik kita lagi dan para politikus sudah tidak berani menawarkan bantuannya pada Bulan Kegelapan.??? "Jadi apakah menurutmu Bulan Kegelapan mengirim pasukannya diam-diam ke Indonesia untuk menyerangku secara diam-diam?" Tanya Randika dengan wajah serius. "Bisa jadiˇ­ Tetapi menurut pemahamanku kemungkinan ini kecil tetapi tetap ada. Lagipula kita juga tidak tahu seberapa besar kekuatannya yang asli." Mau tidak mau, Randika sendiri menganggap bahwa serangan bom tadi itu bukanlah Bulan Kegelapan. Seharusnya dia tahu bahwa serangan seperti itu tidak akan membunuhnya. Tetapi, dia tidak bisa menutup kemungkinan bahwa dalang sebenarnya adalah Bulan Kegelapan. Oleh karena itu, untuk jaga-jaga dia meminta Yuna untuk mengirim pasukan ke Indonesia untuk membereskan masalah ini untuknya. "Untuk program reorganisasi pasukan kita, posisi yang kosong sebagian besar sudah terisi. Apabila tuan melihat orang-orang yang kita rekrut itu, tuan pasti terkejut." Randika mengangguk. "Kalian sudah bekerja dengan baik." Dion lalu melihat langit. "Indonesia memang negara yang mengagumkan." "Yah lumayan." Kata Randika sambil tersenyum. Keduanya lalu berbincang-bincang sebentar sebelum akhirnya berpisah. Ketika Randika masuk ke dalam rumah, hatinya merasa tenang. Sekarang dia tidak perlu khawatir lagi karena pasukannya telah tiba. Malam hari ini, dunia bawah tanah di kota Cendrawasih penuh oleh teriakan tragis dan muncratan darah. Dalam sekejap, kekuatan kegelapan di kota ini telah hancur. ...ˇ­. Bagian barat kota di sebuah gedung besar. Ini adalah markas geng terbesar kota Cendrawasih untuk saat ini yaitu geng Pedang Badai. Mereka terkenal bengis dan selalu meresahkan masyarakat. Mereka menapak menjadi yang terkuat berkat bantuan para politisi yang mereka dukung. Dua pengawas geng Pedang Badai ini berjaga di depan pintu masuk. Tiba-tiba mereka bertemu dengan sosok misterius yang menutupi wajahnya. "Berhenti atau kubunuh kau! Apa kamu tidak tahu ini adalah markas Pedang Badai?" "Justru aku ke sini untuk membunuh kalian." Suara Jin yang bersemangat itu mengejutkan mereka berdua. Tanpa ragu-ragu, Jin menerjang ke arah mereka. Sebelum mereka bisa mengeluarkan senjata mereka, Jin sudah mematahkan leher mereka. "Cih, kenapa kalian lemah sekali." Kata Jin sambil menggelengkan wajahnya. Pada saat ini, orang-orang di dalam gedung sudah mendengar kegaduhan yang terjadi di luar. Mereka langsung mengambil senjata api mereka dan menerjang ke luar. Melihat Jin dan anak buahnya, mereka langsung membidik lawan mereka itu tanpa ragu-ragu. Namun, mereka tidak sempat menembakkan senjata mereka sama sekali. Justru dahi mereka sudah bersarang sebuah peluru. "Hmm lumayan, lumayan. Tidak salah aku memilih kalian jadi anak buahku." Jin mengangguk puas pada anak buahnya. Dia lalu membawa anak buahnya ke dalam gedung tersebut. Ketika mereka masuk ke dalam gedung, para gangster itu sudah ditakdirkan mati. Ketika Jin menerjang masuk, teriakan tragis langsung terdengar bersamaan dengan suara tembakan tanpa henti. Jin mengangguk puas ketika melihat kinerja anak buahnya yang bagus itu, tidak percuma dia melatih mereka begitu lama. Pada saat ini, pria berbaju jas berusaha lari dari pintu belakang; dari penampilannya bisa dikatakan bahwa dialah pemimpin geng ini. Ketika dia berlari, sebuah sosok misterius muncul di hadapannya. Ketika bos tersebut mengacungkan senjatanya, Jin hanya berkata dengan nada mengancam padanya. "Menyerah atau mati, pilihanmu." "Aku menyerah." Kata si bos tersebut sambil menggertakan giginya. Jin mengangguk dan melambaikan tangannya. Dalam sekejap, anak buah Jin berhenti membantai. Namun semua itu sudah terlambat, hampir seluruh gangster itu sudah mati. Bos itu melihat Jin memalingkan wajahnya, tatapan matanya langsung bersinar. Ketika tangannya berusaha meraih pistol yang ada di balik bajunya, di hadapan matanya sudah ada kilau pisau yang dingin. Dalam sekejap Jin sudah membenamkan pisau itu pada dahinya. "Aku paling benci orang bodoh sepertimu." Kata Jin. Dalam waktu 5 menit, geng Pedang Badai sudah hancur seluruhnya. Pada saat yang sama, di sebuah gang tidak jauh dari sana. Serigala dan pasukannya menari di atas puluhan mayat gangster yang telah mereka bunuh. "Tinggal berapa lagi?" Tanya Serigala. "Kurang 5 lagi tuan." Kata anak buahnya dengan hormat. Chapter 332: Pembersihan Serigala mengangguk. "Baiklah, cepat kita selesaikan pekerjaan kita." Di lain sisi, Singa sedang mengacungkan pistolnya kepada seorang gangster tepat di dahinya. Setelah membunuh seluruh teman-temannya dan bosnya, Singa menyisakan seorang ini untuk menyebarkan cerita pembantaian ini. Bagaimanapun juga, dia harus menyebarkan nama agung tuannya. Melihat Singa dan anak buahnya pergi, gangster itu menghela napas lega sebanyak-banyaknya. Wajahnya sudah benar-benar pucat dan punggungnya sudah basah oleh keringat. "Kota ini akan bermandikan darah malam ini." ......ˇ­. Arena tinju bawah tanah Cendrawasih, Phoenix Gym Phoenix gym merupakan sarang dari geng nomor satu di kota Cendrawasih yaitu geng Black Blood. Tentu saja, sarang ini bukanlah sarang utama dari Black Blood. Phoenix gym dijadikan tempat Black Blood menaruh pasukannya, hal ini sudah cukup membuat mereka menjadi geng nomor 1 di Cendrawasih. Cabang dari Black Blood ini sudah bertahun-tahun berada di Cendrawasih dan sudah mengakar dengan kuat. Arena tinju illegal ini dibuat oleh mereka dan merupakan tempat yang cukup bagus untuk menghasilkan uang. Pertarungan sampai mati itu bisa mendatangkan kekayaan bagi si pemenang dan kematian bagi yang kalah. Sekarang ini, dua orang sedang bertarung mempertaruhkan nyawa mereka. Namun petinju dari Eropa itu memberikan pukulan keras pada lawannya hingga dia terjatuh. Tapi pertandingan belum selesai. Pemuda dari Bandung itu berdiri dengan kaki yang gemetar dan mengelap darah di mulutnya. Dengan sekuat tenaga, dia kembali bertarung dengan lawannya. Darah yang mengalir dan kekerasan yang tidak bisa dilihat dari olahraga tinju biasa membuat darah para penonton menjadi mendidih, khususnya yang bertaruh. "Bunuh dia, bunuh!" "Orang Eropa itu tidak kalah-kalah sejak seminggu yang lalu, percuma anak itu tetap berdiri." "Sialan, aku kira 2 ronde sudah cukup untuk menghabisi bocah itu." "Tahu gini aku masang bocah itu dapat bertahan sampai ronde akhir!" Di sebuah ruangan VVIP di barisan paling atas dari arena ini, duduk seorang pria paruh baya. Matanya menyapu semua penonton yang bersorak, dia mengangguk puas dengan volume penonton ini. Dia adalah pemimpin dari Black Blood cabang Cendrawasih yang dijuluki sebagai Robert si anjing gila. "Pak Robert, ini hasilnya malam ini. Tolong diperiksa." Seorang bawahannya memberikannya sekoper uang beserta catatan jumlah uangnya. Robert hanya mengibaskan tangannya. "Coba kamu lihat ke bawah, apa yang kamu lihat? Aku hanya melihat orang-orang heboh dengan sendirinya dan memasang uang mereka. Tidak peduli berapa uang yang kita hasilkan, itu semua masih kecil apabila kita menambahkan narkoba di menu kita. Bagaimana proses supplier kita?" Dengan cepat bawahannya itu memberitahu proses perkembangannya. Robert mengangguk pelan dan kembali menatap arena. Namun, tiba-tiba dia mengerutkan dahinya. Petinju Eropa itu berhasil mematahkan leher petinju dari Bandung dan sekarang dia sedang berselebrasi. Namun, tiba-tiba ada seseorang yang menaiki arena. Para penonton ini semuanya bingung, ada apa ini? Kemudian mereka tertawa, apa orang itu mau membalaskan dendam temannya yang mati itu? Bodoh sekali dia menantang orang Eropa. "Hei, hei, cepat aku bertaruh 10 juta buat orang Eropa itu." "Bunuh dia!" Merasa bahwa ada petarung baru yang akan bertanding, para penonton ini makin menggila. Seorang staf menghampiri Dion dan berusaha membujuk Dion untuk keluar dari tempat ini karena sekarang bukanlah gilirannya untuk tampil. Dion hanya terdiam, dia lalu menampar staf tersebut dengan keras. Gigi yang copot sekaligus diikuti dengan darah langsung menghujani para penonton. Sedangkan staf tersebut sudah terkapar tidak sadarkan diri. Melihat adegan ini, para penonton terkejut dan bawahan Robert langsung bertanya pada bosnya. "Tuan, apa kau ingin aku mencegahnya?" Robert terdiam sementara waktu, dia lalu berkata setelah beberapa saat. "Usir dia keluar." Bawahannya tersebut lalu membawa beberapa orang bersamanya dan berjalan keluar menuju arena. Para penonton yang sudah terlanjur memasang taruhannya itu mulai ketakutan sedangkan yang belum langsung berbondong-bondong memasang buat Dion. "100 juta untuk pendatang baru!" "50 buat pria hitam itu." Taruhan demi taruhan dipasang untuk mempertarungkan Dion dengan petinju Eropa tersebut. Melihat penghinaan ini, petinju Eropa itu mulai marah dan sudah mengeluarkan aura membunuhnya. "Jika kau berani melangkah, jangan salahkan aku jika mencabut nyawamu." Dion dengan santai meremehkan petinju Eropa tersebut. Mendengar kata-kata ini, jelas dia merasa tersinggung dan langsung menerjang ke arah Dion. Sebuah tinju yang keras melayang ke arah wajah Dion tetapi Dion terlihat tenang dan tidak bergerak. Ketika sorakan para penonton itu makin keras, situasi pertarungan mengarah pada situasi yang benar-benar tidak terduga. Tinju Dion bertemu dengan tinju orang Eropa tersebut. Namun, wajah orang Eropa itu benar-benar terlihat pucat pasi. Tinju Dion sudah bagaikan baja yang menghantam keras tangannya, jelas bahwa tulang jari-jarinya itu sudah hancur. Petinju Eropa itu mundur beberapa langkah dan menatap takut pada Dion. Dion lalu berjalan maju dan melayangkan sebuah pukulan tepat di wajahnya. Ketika para penonton melihat bahwa petinju Eropa itu mundur, mereka sudah mengerti apa yang akan terjadi berikutnya maka dari itu mereka memberinya semangat. "Jangan menyerah! Habisi dia! Kami bertaruh banyak untukmu!" Petinju Eropa itu mengangkat kedua tangannya di depan wajahnya untuk mencoba menghalau serangan Dion. Tetapi semua sudah terlambat, tinju Dion sudah mendarat tepat di wajahnya. Sorakan para penonton yang riuh itu langsung terdiam ketika melihat darah bermuncratan dan gigi yang terlempar. Dalam sekejap suasana arena tinju illegal ini sunyi senyap. Dion yang berhasil menjadi pemenang itu menatap ruangan VVIP yang ada di atas. Pada saat mata Dion mengarah padanya, tubuh Robert sudah gemetar tidak karuan. Dia merasa bahwa tatapan itu bisa membunuhnya kapan saja. Keringat dingin mulai memenuhi dahi Robert, wajahnya terlihat tegang. Dia baru pertama kali merasakan perasaan tertekan seperti ini. Pada saat yang sama, bawahan Robert yang membawa beberapa temannya itu sudah mengepung Dion. Namun, pasukan Dion yang membaur dengan para penonton itu berdiri semua dan mengeluarkan senapan serbu mereka. DOR! DOR! DOR! Suara senapan yang ditembakkan itu mengejutkan semua orang. Suasana sunyi senyap itu berubah menjadi kacau dalam sekejap. Dion sendiri berjalan menghampiri ruangan VVIP dengan santai. ...... Tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi di ruangan VVIP. Keesokan harinya Dark Blood, geng nomor 1 di Cendrawasih, telah resmi mengeluarkan diri mereka dari kota Cendrawasih! Semua dunia bawah tanah di Cendrawasih mengalami hal yang sama, mereka telah diserang oleh pasukan yang datang entah dari mana. Semalam merupakan neraka bagi mereka semua. Seluruh geng berkekuatan besar ataupun sedang telah dihancurkan tanpa alasan yang jelas, serangan itu benar-benar terlalu mendadak. Mereka hanya punya 2 pilihan yaitu menyerah atau mati. Dalam sehari kekuatan kegelapan dari kota Cendrawasih telah hancur lebur. Keesokan paginya, sudah tidak ada geng yang berkuasa di Cendrawasih. Dalam sehari, bulan yang bersinar indah itu diwarnai oleh merah darah. Pada saat yang sama, Randika memberikan perintahnya pagi hari itu juga. Dalam sekejap, semua orang yang tersisa di dunia bawah tanah itu mencari seorang penjual yang menjual bahan peledak. Karena mereka sudah menyerah pada pasukan Ares, semua gangster yang selamat itu bekerja dengan tekun demi mencarikan informasi bagi Randika. Ketika Randika sedang sarapan, HP Randika bunyi. Ketika dia membuka pesannya, foto dan informasi mengenai Anna terpampang jelas. Di dalam pesan itu juga ada bahan peledak apa yang dia beli dan hotel mana dia menginap. Chapter 333: Pikiran Randika yang Jenuh Melihat laporan mengenai riwayat hidup Anna, Randika mengerutkan dahinya. Lagi-lagi keluarga Alfredˇ­ "Kenapa?" Tanya Inggrid dengan penasaran. "Tidak apa-apa." Randika meletakkan HPnya dan berkata sambil tersenyum. "Aku akan pergi sebentar, kamu sebaiknya tetap di rumah selama aku tidak ada." Inggrid mengangguk pelan dan menjawab. "Berhati-hatilah." Meskipun dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Randika, Inggrid mempunyai dugaannya sendiri tetapi tidak berani membicarakannya. Setelah sarapan, Randika keluar dari rumahnya dan langsung menuju lokasi Anna berada. Pada saat yang sama, Jin, Singa, Serigala dan Dion sudah menunggu di sebuah gedung di seberang gedung perusahaan Cendrawasih. Gedung ini merupakan terakhir kalinya Anna terlihat. Setelah pengeboman yang dilakukannya 3 hari yang lalu, Anna menghilang dari hotelnya dan tidak terlihat lagi sejak saat itu. Oleh karena itu, Randika dkk berusaha mencari petunjuk di gedung tersebut. Tidak jauh dari tempat mereka, terdapat beberapa apartemen berdiri. Di salah satu apartemen, Deviana beserta anak buahnya yang bersenjatakan lengkap mengepung salah satu gedung apartemen tersebut. "Kenapa kita belum menerobos masuk?" Deviana mengerutkan dahinya. Timnya telah mengepung apartemen ini sejak subuh tadi. Sebelumnya, Deviana berada di lokasi ketika perusahaan Cendrawasih dibom. Sejak saat itu dia menyelidiki kasus ini dengan sekuat tenaga dan masih belum mendapatkan petunjuk. Namun tiba-tiba, kasus sebelumnya mengalami kemajuan yang membuatnya mengepung apartemen ini. Kasus ini merupakan kasus yang cukup besar karena berkaitan dengan pengedaran narkoba lintas kota. Para penjahat ini juga membunuh orang yang berpotensi menjadi penghambat bagi mereka. Pembunuhan, pengedaran narkoba, pengedaran senjata api illegal dan bahkan prostitusi telah mereka lakukan cukup lama di kota ini. Hukuman bagi mereka adalah hukuman seumur hidup bahkan hukuman mati! Namun, para penjahat ini merupakan pemain lama di dunia gelap seperti ini. Meskipun Deviana sudah semalaman mengepung gedung mereka, para polisi itu masih belum bisa masuk untuk menangkap mereka. Di sisi lain, justru para pengintai dari polisi telah mengalami luka tembakan. "Bu, kita tidak bisa masuk sembarangan karena gedung apartemennya terlalu besar. Kita juga tidak tahu seberapa banyak tersangka yang ada dan kita tidak punya perlengkapan yang tepat untuk menyerbu masuk." Seorang bawahan menjawab Deviana dengan cepat. Karena para penjahat itu sudah menguasai gedung apartemen sejak mereka tahu bahwa mereka telah dikepung, para pengintai yang menyamar itu langsung ketahuan dan ditembak oleh mereka. Para penjahat ini sudah berpengalaman dan jika Deviana memaksa masuk tanpa peralatan yang tepat, maka mereka akan dibantai tanpa ampun oleh mereka. "Hubungi markas dan minta mereka untuk mengirim satuan khusus." Jawab Deviana dengan nada yang dingin. Pada saat yang sama, Randika dan anak buahnya kebetulan menelusuri jalan ini. Dengan santai mereka berjalan melewati para polisi ini dan menuju gedung apartemen yang lain. Para polisi yang berjaga sedikit ragu dengan mereka karena penampilan mereka itu mirip dengan preman. Deviana juga menyadari kehadiran Randika dkk, dia benar-benar terkejut ketika melihatnya. Ketika dia ingin menghampiri Randika, dia menyadari bahwa Randika sedang buru-buru. Deviana menjadi ragu-ragu untuk menyapanya, bawahannya di sampingnya berbisik padanya. "Bu, apa mereka bagian dari para penjahat itu? Apa ibu ingin kita menangkap mereka?" "Mereka tidak ada hubungannya dengan para penjahat itu. Sudah fokus pada misi kita, kalau mereka sampai lolos maka kalian semua akan kupecat!" Jawab Deviana. Randika dan yang lainnya masuk dan berjalan naik ke lantai atas sebuah apartemen. Randika tidak perlu memberikan perintah karena Jin dan Singa langsung bertindak dan mengamankan lokasi. Menurut informasi yang mereka dapat, Anna berpura-pura menginap di sebuah hotel dan menginap di salah satu properti yang dimiliki oleh keluarganya di kota ini. Ketika mereka masuk ke dalam kamar, mereka tidak menemukan apa-apa di dalam kamar tersebut. "Tuan, di sini sudah tidak ada apa-apa." Kata Jin sambil menggaruk kepalanya. Serigala berusaha mencari petunjuk dengan penglihatannya yang tajam, dia lalu berkata pada Randika sambil meminta maaf. "Aku sudah mengecek daerah sini dan tidak menemukan apa-apa, aku tidak menyangka perempuan itu akan lolos dari mataku. Hamba minta maaf." Ketika Serigala menatap wajah Randika, wajah tuannya itu terlihat buruk dan muram. Randika sendiri tidak menyalahkan bawahannya ini karena, bagaimanapun juga, mereka tidak mempunyai jaringan informasi sekuat di Jepang. Kemarahannya ini tertuju pada Anna dan keluarga Alfred yang sudah berkali-kali memberinya masalah. Bahaya seperti ini benar-benar tidak bagus untuknya, oleh karena itu dia harus menuntaskan masalah ini untuk selamanya. "Bisakah kalian periksa sudah berapa lama dia meninggalkan tempat ini?" Tanya Randika. Serigala lalu berdiri dan memeriksa semua ruangan bersama dengan yang lain. Lalu mereka menemukan mesin kopi dan menyimpulkan bahwa Anna sudah cukup lama meninggalkan tempat ini. "Kirim orang ke stasiun kereta, bandara, perbatasan kota, jangan biarkan dia kabur. Jika dia masih berada di dalam kota, mau dia bersembunyi di bawah tanah atau di langit, aku ingin kalian menemukannya!" Kata Randika dengan nada dingin. "Baik." Semua orang langsung menyanggupi permintaan Randika. Randika harus melenyapkan bahaya tersembunyi ini segera mungkin sebelum Anna kembali menyerang dirinya. Untungnya saja, Anna tidak memiliki kemampuan seperti Shadow. Lolosnya dia dari jangkauan anak buahnya mungkin karena dia benar-benar berusaha tidak mencolok setelah mengebom perusahaannya. Sekarang anak buahnya akan memburunya hingga ke ujung langit, nasib perempuan itu sudah jelas! Setelah berjalan keluar dari gedung apartemen, Randika berpapasan lagi dengan tim yang dipimpin oleh Deviana. Kali ini Randika menyadari temannya satu itu sedang berwajah marah, sepertinya kasus temannya ini cukup rumit. Randika menghampiri Deviana dan menatap apartemen yang dikepung itu dan berkata padanya. "Apa ada yang bisa kubantu?" Ketika Deviana ingin membalasnya, Randika langsung memotongnya dan berkata dengan nada dingin. "Tapi aku tahu bahwa kamu itu orang yang tidak suka ditolong." Randika lalu memberi sinyal pada Serigala! Serigala dan kelima orang yang dibawanya langsung menerjang masuk ke arah apartemen tersebut. Para polisi yang berjaga di depan gedung terkejut, dia langsung memaki Randika. "Hentikan orangmu! Apa kalian sudah gila?" "Bu hentikan dia!" Semua polisi menjadi tegang dan ketakutan karena lawan mereka kali ini adalah para penjahat yang sudah siap menghadapi apa pun. Mereka sendiri tidak tahu ada berapa banyak orang di dalam sana, terlebih lagi mereka telah bersembunyi di seluruh gedung jadi taktik gerilya sangatlah efektif bagi mereka. "Ran, Apa yang kamu lakukan? Panggil kembali orang-orangmu, di dalam sangat berbahaya!" Deviana juga terlihat cemas. "Kalau mereka mati itu semua salahmu!" Randika tetap terlihat tenang, dia sama sekali tidak peduli. Dia lalu bertanya pada para polisi yang berjaga. "Ada yang punya rokok?" Seseorang lalu membawakan sebatang rokok dan menyalakannya untuk Randika. Randika sendiri aslinya jarang merokok tetapi pikirannya itu terlalu jenuh oleh masalah keluarga Alfred dan dia perlu tenang sedikit. "Hei, kamu dengar kata-kataku tidak!" Deviana menjadi marah. Dia lalu membuang rokok yang dihisap oleh Randika. Di belakangnya Randika, Singa sudah menatap tajam Deviana dan tertawa di dalam hatinya. Dia harus mengakui keberanian perempuan satu ini, tidak heran dia telah memikat hati tuannya. Perlu diketahui, Ares tidak akan membantu orang-orang yang tidak penting bagi dirinya. Chapter 334: Apa Kamu Pikir Aku Tidak Bisa Membunuhmu? Randika menggelengkan kepalanya. "Jangan khawatir. Jika mereka mati, mereka tidak pantas bekerja di bawah perintahku." Sesudahnya Randika berkata seperti itu, tiba-tiba, satu per satu ruangan terdengar jeritan tragis. Dapat terdengar bahwa teriakan itu terbatas pada meminta tolong ataupun memohon ampun atas nyawa mereka. "Ran, suara apa itu!" Deviana yang cemas itu segera menggenggam baju Randika dan menarik-nariknya. Dia akhirnya sudah tidak tahan lagi dan menyuruh anak buahnya untuk bersiap menerobos masuk. "Bersiap untuk masuk!" "Sudah santai saja, tunggu 5 menit lagi." Randika menghentikan Deviana. "Kamu boleh memukulku jika aku berbohong." "Ran, ini bukan masalah kecil." Deviana merasa jengkel dengan Randika yang terus terlihat tenang itu. Bagaimanapun juga, kasus ini sendiri cukup besar dan bisa mempengaruhi kariernya. "Sudah tidak usah khawatir, orang-orang yang masuk itu orang-orangku." Randika tersenyum kecil. Suasana hatinya yang jenuh itu kembali membaik sedikit. Para polisi ini tidak sependapat dengan Randika. Mendengar jeritan-jeritan tragis dan suara tembakan, keenam orang itu pasti sudah disiksa habis oleh para kriminal. Mereka berpikir bahwa orang ini sungguh bodoh. Pada saat ini, dari apartemen terdengar suara teriakan panik. "Ah tidak!! Jangan ke sini!" Setelah teriakan itu, suasana hening kembali. Ketika mendengar teriakan itu tadi, para polisi dan Deviana sudah terkejut bukan main. Mereka merasa bahwa pernah mendengar suara orang itu, bukankah itu suara target mereka? Kalau begitu, teriakan-teriakan tragis tadi berasal dari para penjahat? Memikirkan hal ini, ekspresi para polisi berubah semua. Ketika mereka melihat sosok Randika, wajah mereka tampak bingung. Beberapa saat berikutnya, Serigala dan anak buahnya keluar dari dalam gedung. Ekspresi anak buah Serigala sudah bagaikan zombie, benar-benar terlihat kosong. Melihat orang-orang bersimbah darah ini, semua polisi merinding bersamaan. Wajah Serigala masih tetap terlihat tenang meskipun darah telah memenuhi wajahnya, dia terlihat bagaikan binatang buas yang baru saja memakan mangsanya. Ketika Serigala datang ke hadapan Randika, dia sedikit merasa malu. "Tuan, kami di dalam lepas kendali untuk sesaat. Kami tidak sengaja membunuh mereka semua, apakah kita seharusnya menangkap mereka hidup-hidup?" Semua telah dibunuh? Deviana dan bawahannya jelas terkejut ketika mendengarnya. Mereka telah di sini semalaman mengepung dan bertempur susah payah dengan mereka. Dan sekarang Randika dan orangnya masuk cuma 10 menit dan mereka telah membunuh mereka semua? Mereka dengan gampangnya mengatakan bahwa 6 orang ini berhasil membunuh sebuah organisasi penyelundup? Sulit untuk dipercaya! Di saat semuanya masih bingung, Randika mengangguk dan menoleh ke arah Deviana. "Targetmu telah mati semua, apakah tidak apa-apa?" Deviana mengangguk sambil tidak tahu harus berkata apa. Dia dengan cepat memberi sinyal pada bawahannya dan menyuruh mereka masuk ke dalam gedung untuk memeriksa keadaan lebih lanjut. Setelah masuk, para polisi ini menemukan bahwa para pengedar narkoba ini sudah tergeletak di mana-mana dan berlumuran darah. Terlebih lagi, wajah mereka terlihat ketakutan dan senjata mereka sudah kosong tidak berpeluru. "Mereka benar-benar telah mati." Semuanya saling memandang satu sama lain, kejadian ini benar-benar tidak masuk akal. Para polisi ini segera menyebar ke seluruh lantai. Pada saat ini, seorang polisi menyadari bahwa korban yang ada di hadapannya ini mati seperti orang yang lehernya telah dipatahkan. Yang lainnya menemukan bahwa para penjahat ini ada yang dihajar sampai babak belur hingga mati dan ada yang sampai tangan dan kakinya remuk semua! Jika dilihat baik-baik, semua penjahat ini mati oleh tangan kosong. Memikirkan hal ini, para polisi ini menghirup udara dalam-dalam. Monster seperti apa mereka sebenarnya? Keahlian bela diri pasukan Ares benar-benar mengerikan. Pada saat ini, Randika sudah kembali menuju markas sementara pasukannya. Berkat perintahnya, seluruh dunia bawah tanah Cendrawasih kembali bekerja. Di bawah ancaman pasukan Ares, para gangster yang masih bertahan telah mengerahkan seluruh kekuatan mereka untuk mencari Anna. Di bandara, stasiun kereta api, pangkalan bemo, pangkalan bis, semua orang terlihat memegang foto Anna di tangan mereka. Bisa dikatakan bahwa hampir semua titik transportasi di Cendrawasih telah dikepung oleh pasukan Ares. Ketika Randika pulang ke rumah, Inggrid menghampirinya. "Ran, ini tadi pagi ada paket untukmu. Aku taruh di meja makan." Paket? Randika belum pernah mendapatkan paket seperti ini sebelumnya, hati Randika langsung menjadi waspada. Dia mengangguk ke arah Inggrid dan berjalan menuju paket tersebut. Paket itu terbungkus dengan rapi dan duduk manis di atas meja. Menurut penglihatannya, itu tidak mungkin sebuah bom. Ketika dia membukanya, tidak disangka-sangka ternyata itu adalah sebuah kaset CD; Randika terlihat bingung. Kemudian dia memutar kaset tersebut di DVD player yang ada di ruang tamu. Tidak lama kemudian, sosok Anna muncul di balik layar! Dalam sekejap aura membunuh Randika keluar dengan hebat. Jelas ini merupakan rekaman yang dibuat oleh Anna sendiri. Pada saat ini, wajah Anna terlihat sedang mengejek dan puas. "Bagaimana hadiah yang kupersiapkan untukmu Randika? Apakah itu menyenangkan?" Wajah Anna benar-benar bengis, nada suaranya mengandung kebencian yang sangat mendalam. Setelah itu ekspresinya berubah menjadi sedih. "Tetapi sayang sekali, aku tidak bisa membunuh pelacur yang kamu sebut istri itu. Lain kali aku akan memastikan bahwa Inggrid akan menemani adikku di liang kuburnya." Suara TV yang diputar ini lumayan keras sehingga Inggrid yang ada di dapur penasaran dengan apa yang sedang dilihat oleh Randika. Meskipun wajah suaminya itu terlihat tenang, tubuhnya benar-benar kaku. Ketika matanya tertuju pada TV, Inggrid terkejut bukan main. "Anna?" Anna merupakan kakak dari Hans dan merupakan anak keempat dari Ivan. Sebelumnya Inggrid pernah bertemu dengannya karena keluarga Alfred dan keluarga Laibahas adalah teman lama. Randika tidak berbicara sama sekali, Anna yang terlihat sedih itu kembali tersenyum. "Tapi itu tidak masalah, aku masih punya banyak waktu untuk bermain dengan kalian semua. Aku hanya penasaran saja, apa sebaiknya aku bunuh Inggrid pakai bom lagi atau perlu aku menyewa orang untuk memperkosanya baru membunuhnya?" Anna lalu tertawa dengan liar, ekspresinya sudah mirip orang gila. Bila diperhatikan baik-baik, kegilaannya ini sudah mirip Shadow. Inggrid hanya berdiri dengan tubuh yang gemetar, dalam sekejap dia langsung memeluk Randika. Melihat istrinya yang ketakutan itu, Randika dengan lembut mengelus kepalanya dan berkata dengan nada yang menenangkan. "Jangan khawatir, aku ada di sini." "Baiklah." Inggrid mengangguk dan memejamkan matanya, dia tidak berani menatap sosok perempuan yang ada di TV itu lagi. Wajah Randika benar-benar terlihat dingin. Seekor semut berani menantang sang raja hutan? Dia bodoh atau gila? Aku sudah membunuh hampir semua anggota keluargamu, apa kamu pikir aku tidak bisa membunuhmu? Chapter 335: Dalam Tiga Hari Perusahaanmu Itu Akan Kembali Seperti Sedia Kala! Di saat Randika larut dengan pikirannya, Anna kembali berkata padanya dari balik layar. "Ketika kau membunuh 180 anggota keluargaku dan melucuti kekuatan keluargaku, aku tidak menyangka bahwa aku juga bisa melakukan hal yang sama." Tiba-tiba ekspresi Anna kembali menjadi bengis. Melihat ke arah kamera, dia merasa bahwa dia sedang menatap Randika secara langsung. "Kebencian ini, dendam ini, semuanya akan dibayar oleh darahmu! Tidakˇ­ Sebelum itu, aku akan menyiksa dan membunuh orang-orang yang ada di sekitarmu, baru aku akan membunuhmu!" Anna sama sekali tidak menyembunyikan kejahatan yang telah menyelimuti dirinya. "Randika, jangan harap kamu bisa kabur dari takdirmu ini. Bahkan iblis pun tidak akan sanggup menyeretku ke neraka sebelum aku berhasil membunuhmu." "Ini baru awal dari permainan kita, nantikan kejutanku berikutnya." Anna lalu mendengus dingin, tatapan tajamnya seolah-olah bisa menembus layar dan menusuk tulang punggung Randika. Setelah itu video tersebut mati dan rumah ini kembali menjadi hening. Inggrid mengangkat kepalanya dan menatap Randika. Dengan lembut, dia membelai wajah Randika. "Kenapa sayang?" Randika menangkap dan mencium tangan Inggrid. Inggrid lalu membenamkan kepalanya di pelukannya Randika, Randika lalu berkata padanya. "Apa kamu khawatir sama suamimu ini?" Inggrid mengangguk. "Anna terlihat benar-benar membencimu, aku khawatir dia akan melukaimu." "Hahaha." Randika lalu mencubit hidung Inggrid. "Dasar bodoh, mana mungkin dia bisa melukai suamimu yang kuat ini?" "Jangan khawatir, masalah ini akan kubereskan secepatnya." Kata Randika sambil tersenyum. Inggrid mengangguk dan kembali membenamkan kepalanya di dada Randika. Randika terdiam dan dengan lembut mengelus kepala Inggrid. Namun pada saat ini, Inggrid dapat mencium aroma rokok di tubuh Randika. "Kamu habis merokok?" Randika jelas terkejut, istrinya ini anjing? Hidungnya benar-benar peka! "Pikiranku tadi sedang penuh, jadinya aku hisap satu batang." Kata Randika. "Mulai sekarang tidak ada rokok lagi, rokok itu tidak sehat!" Kata Inggrid. "Baiklah, apa pun untuk istriku yang tercinta." Kata Randika sambil tersenyum. Pada saat yang sama, tangannya sudah berenang-renang di tubuh Inggrid. "Hentikan!" Inggrid melepaskan diri dan terlihat marah, dia juga menampar tangan Randika yang jahil. "Aku tidak suka bau rokok, sudah mandi sana dulu." "Ayolah, sekali saja." Randika mencium leher Inggrid. "Tidak mau!" Inggrid bersikukuh menolak. "Mandi dulu!" Melihat perlawanan Inggrid, Randika hanya bisa menyerah. "Baiklah." Dia tidak menyangka bahwa istrinya akan membenci rokok segitu hebatnya. Kalau saja dia tahu, Randika tidak akan merokok tadi. Melihat ekspresi sedih dan tidak berdaya Randika, Inggrid tertawa kecil. "Omong-omong, hari ini Ibu Ipah pulang." Randika mengangguk, dia dengan cepat ke kamar mandi. Ketika Randika baru saja masuk, pada saat yang sama, pintu rumah mereka terbuka dengan keras. "Kak, kak, apa kakak baik-baik saja!" Hannah tiba-tiba masuk sambil berteriak. "Hannah?" Inggrid terlihat bingung. Hannah lalu melihat kakaknya itu sedang duduk di sofa, dia langsung menghela napas lega. Dengan cepat dia menghampiri dan memeluk Inggrid. "Kak, aku baru tahu bahwa kantor kak Inggrid itu dibom! Maafkan aku yang baru datang!" Melihat ekspresi khawatir adiknya, Inggrid merasa tersentuh. "Sudah berhenti menangis dulu, yang terpenting kakak selamat bukan?" "Siapa pelakunya? Apa kakak sudah tahu siapa pelakunya?" Inggrid terdiam untuk beberapa saat, dia lalu berkata pada Hannah. "Pelakunya Anna dari keluarga Alfred." "Oh ya?" Hannah benar-benar terkejut, dia lalu berkata dengan nada marah. "Kenapa dia tega melakukan semua itu? Banyak orang tidak berdosa di dalam gedung." "Sudah, biarkan masalah ini ditangani oleh polisi." Kata Inggrid. "Aku harap kejadian kemarin itu tidak terlalu banyak menelan korban." "Kak, bagaimana dengan perusahaan kakak?" Meskipun ragu, Hannah berusaha memberanikan diri untuk bertanya. Bisa dikatakan bahwa perusahaan kakaknya ini hancur lebur dan tidak bisa beroperasi. "Gedung perusahaan kakak masih dalam investigasi jadi proses renovasi masih belum bisa dilakukan, jadi kita harus bersabar." Kata Inggrid sambil menghela napasnya. Hannah terdiam untuk beberapa saat, dia lalu bertanya. "Di mana kak Randika?" "Di atas." Hannah dengan cepat berlari ke atas. "Kak Randika!" Ketika namanya dipanggil, Randika keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuh bagian bawahnya saja. Ketika Hannah melihat penampilan Randika, hatinya mengepal dan disusul oleh teriakan terkejut. "AH!" Ketika Inggrid mendengar teriakan ini, dia terkejut beberapa saat. Namun dia teringat bahwa suaminya itu seharusnya baru selesai mandi. Jika digabungkan dengan teriakan adiknya itu, Inggrid bisa menebak apa yang tengah terjadi. Dia hanya bisa menyesal tidak mengatakannya pada adiknya terlebih dahulu. Randika hanya bisa menutup kupingnya ketika dirinya disambut oleh teriakan luar biasa keras itu. Sialan, bukankah aku pakai handuk? Buat apa teriak begitu keras? "Kenapa kamu teriak begitu keras?" Randika menghela napasnya. "Bukankah kamu pernah melihatku telanjang?" Hannah kehabisan kata-kata, bukan berarti dia pernah melihat terus kakak iparnya ini bisa berkeliling rumah hanya memakai handuk! "Kak, kenapa kakak begitu mesum!" Hannah yang memalingkan wajahnya itu tidak kuasa menahan diri untuk tidak mengingat betapa kekar tubuh Randika. "Lha kamu sendiri yang memanggilku tadi bukan?" Randika tertawa. "Aku kira kamu ingin melihat apa yang ada di balik handuk ini jadi aku buru-buru keluar menyambutmu." Hannah semakin cemberut. "Memangnya siapa yang mau melihat kak Randika bugil, apa bagusnya coba?" Randika menatap Hannah dan tertawa. "Han, jangan-jangan kamu masih malu ya? Sudah besar kok malu hahaha!" "Hah? Siapa yang malu!" Hannah makin marah. "Memangnya kak Randika berani lepas handuknya?" Wah, dia nantang? "Kamu kira aku takut untuk melepas handukku?" Randika bersiap untuk membuka. "Tapi kalau aku melepas handukku, jangan coba-coba untuk lari." Hannah melihat bahwa kakak iparnya itu sudah siap-siap melepas handuknya, dia langsung tersipu malu. Tetapi karena sudah sejauh ini, tidak ada kata mundur! Mundur bukanlah gaya seorang Hannah! "Ayo jangan ngomong saja, lepas!" Hannah menatap Randika dengan tajam. Dia berharap kakak iparnya ini mengalah dan menjauh. "Kalau itu maumu baiklah!" Randika tertawa dan melepas handuknya. Tetapi tidak disangka-sangka ternyata Randika memakai boxer. Ketika melihat Hannah yang mau berteriak, Randika tertawa keras. "Hahaha kamu ngarep ya!" Kata Randika. "Sudah kuduga kakak tidak berani!" Hannah terlihat seakan-akan dirinya telah menang. Lalu di bawah tatapan mata Hannah, Randika perlahan melorotkan boxernya tersebut. Apa kakak iparnya ini sungguhan akan melepasnya? Di saat Randika perlahan berusaha melepas boxernya, Hannah sudah terkesima dengan tubuh kekarnya Randika. Hati Hannah makin berdebar-debar ketika tangan Randika berada di boxernya. Lalu yang ditunggu-tunggu telah tiba, Randika membuka boxernya dan telanjang! "AH!" Hannah langsung menutup mukanya dengan kedua tangannya dan berteriak. "Kak Randika benar-benar mesum!" Randika berkata padanya. "Hahaha kamu kira aku menunjukan tubuhku begitu saja?" Hmm? Apa maksudnya? Hannah lalu melihat dari sela-sela jarinya dan melihat Randika sudah handukan lagi. "Han, kamu benar-benar terlalu berharap." Kata Randika sambil tertawa. Sebenarnya dia memakai kecepatan supernya untuk memakai kembali handuknya. Hannah menjadi marah dan berusaha menginjak kaki Randika, tetapi Randika yang sekarang sudah siap dengan serangan adiknya itu. Melihat Hannah yang pergi dengan wajah marah, Randika berkata padanya. "Han, apa kamu benar-benar ingin melihat?" Hannah dengan marah menjawab. "Lepas sana di depan kak Inggrid, aku tidak sudi melihat muka kak Randika lagi!" Randika menggaruk kepalanya. Tentu saja dia ingin menunjukkannya pada Inggrid, tetapi karena adik iparnya ini ada di rumah jadi mereka harus menunda acara suami istri ini. Randika memakai pakaiannya dan berjalan ke lantai bawah. Pada saat ini, Hannah dan Inggrid sedang mengobrol. Ketika Randika menghampiri mereka, Hannah berbisik ke Inggrid. Inggrid hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Han, kakakmu itu cuma usil saja." "Benar, aku cuma suka menjahilimu saja." Kata Randika sambil tersenyum lalu duduk di sofa. "Huh!" Melihat Randika yang duduk, Hannah memalingkan wajahnya dan mencuekinya. Kekerasan kepala inilah yang membuat jiwa usil Randika membara. "Kak, apa kakak sudah ada pandangan ke depan mengenai perusahaanmu?" Tanya Hannah. Inggrid menggelengkan kepalanya. "Kita yang sekarang hanya bisa menunggu waktu saja sampai investigasi polisi selesai. Lagipula renovasi gedung juga pasti memakan waktu yang lama." Dengan kata lain, kembali berbisnis dalam waktu dekat merupakan hal yang sangat mustahil bagi perusahaan nomor 1 kota Cendrawasih ini. Randika lalu tersenyum dan memeluk Inggrid. "Sayang, serahkan masalah ini padaku. Dalam tiga hari perusahaanmu itu sudah kembali seperti sedia kala!" Chapter 336: Gedung Baru! Inggrid menatap bingung pada Randika. Tiga hari? Terdengar mustahil! Meskipun dia tahu bahwa kemampuan suaminya satu ini itu luar biasa, tetapi 3 hari memang terdengar sangat mustahil. "Kak, kenapa kamu suka menyombongkan diri sih?" Hannah memecah keheningan. Randika menatap Hannah. "Kalau begitu bagaimana kalau kita bertaruh? Kalau aku berhasil kamu yang harus membuka handukku nanti." "Hush, tidak boleh taruhan!" Inggrid memukul paha Randika dengan pelan. Hannah sendiri aslinya tidak mau menerima tawaran Randika, dia tahu pasti kakak iparnya memiliki trik hingga dia bisa terlihat percaya diri seperti itu. "Hmm kalau begitu serahkan masalah ini padaku." Kata Randika pada Inggrid. Inggrid hanya mengangguk. Kemudian Randika berjalan keluar menuju halaman rumah. Sesampainya dia di halaman, HP miliknya berbunyi. Ternyata itu adalah pesan dari Serigala. Mereka telah mendapatkan informasi mengenai Anna, tetapi informasi ini membuat Randika mengerutkan dahinya. Anna telah kabur dari kota Cendrawasih! Setelah berpikir sesaat, Randika membalas pesan Serigala yang isinya menyuruh mereka mengejar Anna. Jika Anna masih ada di Indonesia, dia tidak akan bisa lari dari genggaman pasukannya. Pada saat yang sama, Randika sendiri pergi menuju perusahaan yang dikendalikan oleh Black Blood. Perusahaan ini baru berdiri beberapa tahun, tetapi karena Black Blood menggunakannya sebagai tempat pencucian uang, perusahaan ini dengan cepat menjadi jajaran atas di bidang ekonomi kota ini. Mungkin apabila dirangking, perusahaan yang bergerak di bidang sabun ini berada di peringkat 10 teratas. Randika dengan santai berjalan menuju resepsionis dan berkata padanya. "Panggil bosmu kemari." Bos yang dimaksud Randika adalah pemimpin perusahaan yang merupakan anak buah dari Black Blood. "Apakah tuan sudah ada janji sebelumnya?" Meskipun tamunya ini terdengar kasar, si resepsionis tetap berusaha sopan. Dia menjunjung tinggi kesopanan. Janji? Memangnya Randika perlu melakukan hal sepele seperti itu? Randika tersenyum. "Aku tidak perlu membuat janji untuk bertemu dengannya, cepat kasih tahu bahwa aku datang ke sini untuk menemuinya." "Maaf tapi itu tidak bisa." Resepsionis itu menolak. "Menurut aturan perusahaan kami, seorang tamu harus membuat janji terlebih dahulu sebelum bisa bertemu dengan pimpinan kami." Pada saat yang sama, dari arah lift, pemimpin perusahaan bernama Marvin ini keluar bersama jajaran pimpinan yang lain. Resepsionis itu tanpa sadar membungkuk ke arah pimpinan perusahaannya, tatapan matanya terlihat kagum. Kemudian dia kembali menoleh ke arah Randika dan berkata padanya. "Maaf tuan tapi aku harus memaksamu untuk keluar." Namun, sosok Randika sudah meninggalkannya dan sudah berjalan menuju Marvin dkk. Randika lalu menghadang mereka dengan berdiri di hadapan mereka. "Siapa kamu?" Marvin mengerutkan dahinya. "Tuan Marvin, orang ini datang untuk menemui Anda." Si resepsionis buru-buru mengejar Randika dan menjelaskan situasinya. "Aku sama sekali tidak mengenal orang ini." Wajah Marvin terlihat marah. "Singkirkan anjing ini, aku tidak punya waktu menghadapinya." "Baik, maafkan aku." Si resepsionis sudah berkeringat dingin, sekarang kariernya di perusahaan sedang diuji. Randika menampar tangan si resepsionis yang berusaha menyeretnya pergi. "Kamu tuli? Cepat pergi dari sini!" Temannya Marvin mulai ikut marah dengan sikap Randika. "Pergi atau kami akan panggil keamanan." Tambah mereka. Randika masih berdiri dengan kokoh, dia lalu tertawa dan mengatakan. "Aku suka dengan gedung ini. Mulai hari ini, gedung ini adalah milikku." Semua orang yang mendengarnya terkejut dan tertawa, orang ini sudah pasti orang gila. "Ternyata orang gila yang datang." "Sudah, cepat pergi atau kami akan memaksamu pergi." Randika mencueki mereka dan mengeluarkan HP miliknya, dia terlihat sedang menelepon seseorang. "Aduh HPnya saja murahan, gitu mimpi punya gedung ini." Salah satu teman Marvin menatap jijik HP yang digunakan Randika. Tidak butuh waktu lama sebelum akhirnya telepon Randika itu tersambung. Melihat Randika yang sedang sibuk bertelepon, seseorang sudah tidak tahan dengan kejadian ini. "Sudah apa maumu itu? Kau itu sudah gila atau ingin mengejek pemimpin kami?" "Sudahlah kita tinggal saja orang ini, percuma berbicara dengan orang gila." Seseorang berjalan pergi dan diikuti beberapa yang lain. Marvin mengingatkan Randika sekali lagi. "Pergi atau orang-orangku akan paksa kau pergi." Tetapi Randika sama sekali tidak gentar, hal ini membuat semuanya makin geram. Tidak pikir panjang, mereka akhirnya memanggil keamanan dan menunggu untuk melihat Randika yang akan diseret pergi. Ketika para petugas keamanan itu datang, Randika sudah mematikan teleponnya. Semua orang menatap dingin ke arah Randika. Jika saja Randika mau menuruti mereka untuk pergi daritadi, dia tidak akan berurusan dengan para petugas keamanan ini. Para petugas keamanan ini sudah mengepung Randika. Lalu tanpa menjelaskan apa pun, salah satu dari mereka berusaha menangkap tangan Randika. "Ini bukan tempat umum untuk orang sepertimu, cepat keluar dari sini." Katanya dengan nada dingin. Randika masih tidak menjawab. Para petugas keamanan ini sama sekali tidak bergerak, akhirnya salah satu teman Marvin berkata pada mereka. "Tunggu apa lagi? Cepat tangkap dan usir dia!" Mereka telah bekerja lama di perusahaan ini, ini pertama kalinya mereka berurusan dengan hal seperti ini jadi mereka agak bingung harus berbuat apa. "Tangkap dia!" Semua petugas keamanan tersebut menerjang dan berusaha menangkap Randika, tetapi pada saat ini, suara keras yang menggetarkan hati dapat terdengar dari belakang. "Berhenti!" Semuanya berhenti bergerak dan menoleh ke belakang, mereka dapat melihat seseorang berjalan masuk ke dalam gedung. Semua bawahan dan teman Marvin mengerutkan dahi mereka ketika melihat pria itu. "Siapa kamu? Apa kamu orang gila lainnya yang mau merebut gedung ini?" Namun, Marvin berwajah pucat pasi ketika melihat sosok pria tersebut. Kenapa orang itu ada di sini? Marvin sudah gemetar tanpa henti. Baru-baru ini, Robert telah menghubungi seluruh sekutunya yang berada di Cendrawasih. Robert menghubungi mereka untuk mengatakan bahwa kekuasaan Black Blood telah diserahkan kepada Dion. Jadi bisa dikatakan bahwa, Dion telah menjadi penguasa dari Black Blood! Pada saat itu, beberapa orang menentang keputusan ini. Tetapi Dion langsung membunuh mereka yang berani menentang dirinya. Hanya dengan satu tangan, Dion mematahkan semua leher yang berani berkata tidak. Pada saat itu, orang-orang yang melihat Dion dengan mudahnya membunuh ingin membalas tetapi mereka sudah dibunuh duluan oleh pasukannya Dion! Meskipun orang-orang yang masih hidup tidak tahu apa yang telah terjadi di internal Black Blood, mereka tahu dengan pasti bahwa ketua baru dari gangster ini tidak boleh disinggung. Marvin melihat Dion berjalan menghampiri dirinya. Ketika teman-temannya itu mau memaki Dion, Marvin sudah menampar mereka satu per satu. "Diam atau kubunuh kalian!" Dengan cepat, dia membungkuk ke arah Dion dan meminta maaf atas kelakuan teman-temannya. Dion tidak memedulikannya, dia berjalan melewati mereka dan membungkuk hormat pada Randika. "Ini gedung yang bagus." Randika terlihat puas. "Untungnya saja gedung ini gratis." Dion juga mengangguk puas, dia lalu membawa Randika masuk ke dalam. Melihat bahwa dia tidak terlibat dalam masalah ini, Marvin benar-benar lega. Namun tiba-tiba, Randika berhenti berjalan dan tersenyum ke arah Marvin dkk. Dion memberi sinyal dengan tangannya pada pasukannya, orang-orang tersebut langsung tersenyum sambil melihat ke arah Marvin dkk. Dalam sekejap Marvin sudah tahu apa yang akan menantinya. "Hukumlah kami tetapi tolong ampuni nyawa kami." Dion dan Randika naik lift menuju lantai atas sedangkan Marvin dan teman-temannya menerima sambutan yang ramah dari pasukan milik Dion di belakang parkiran. Chapter 337: Perusahaan Cendrawasih yang Bangkit Kembali Randika berbicara dengan Dion mengenai masalah yang dialami oleh perusahaan Cendrawasih. Kemudian Dion, sebagai pemimpin Black Blood, memanggil para politikus yang berada di bawah naungan Black Blood. Tidak lama kemudian, Randika mendapatkan surat dari pemerintahan kota yang mengatakan bahwa mereka mendukung 100% kepada pemulihan perusahaan Cendrawasih. Setelah mendapatkan surat ini, Randika kembali ke rumah dan meminta Inggrid untuk memindahkan perusahaannya ke gedung baru tersebut. "Gedung yang ada di pusat kota itu?" Inggrid terkejut. Dia tahu mengenai gedung tersebut dan harga dari gedung itu jelas lebih mahal daripada gedungnya sendiri. "Bukankah sudah ada yang menempati gedung itu? Kalau tidak salah orang bernama Marvin yang mengelola perusahaan sabun dll." Kata Inggrid. "Mulai besok, tidak akan ada yang menempatinya." Bisa dikatakan bahwa perusahaan itu adalah kedok pencucian uang dari Black Blood. Terlebih lagi, Randika juga memastikan bahwa tidak ada sisa-sisa jejak dari Black Blood di gedung tersebut. Kalau tidak, sewaktu-waktu perusahaan istrinya itu bisa terkena masalah yang seharusnya bisa ditangani sejak awal. Melihat Inggrid yang kehabisan kata-kata, Randika berkata padanya. "Sayang, sudahlah kamu tidak perlu ambil pusing. Bukankah impianmu adalah memimpin pasar global? Jangan khawatir, suamimu ini akan mendukungmu 100%! Aku akan memastikan bahwa impianmu itu akan tercapai." Inggrid mengangguk. "Baiklah, aku akan mengabari sekretarisku dan petinggi yang lain." Setelah itu, Inggrid memberikan kabar bahwa para karyawan yang selamat diharapkan untuk berkumpul di gedung baru mereka besok. Sedangkan untuk para karyawan yang ada di rumah sakit, mereka akan mendapatkan panggilan mereka setelah mereka keluar dari rumah sakit. Meskipun kejadian pengeboman perusahaannya itu besar, korban yang meninggal tidak sebanyak yang dibayangkan orang-orang. Inggrid juga dengan cekatan memberikan kompensasi pada keluarga yang ditinggalkan. Melihat istrinya yang bekerja begitu keras, tentu Randika tidak akan duduk diam dan melihat saja. ..... Keesokan harinya, Randika dan Inggrid tiba di gedung baru perusahaan Cendrawasih. Di sini, sekarang sudah berdiri lebih dari 1000 orang di aula lobi dan lantai 2. Struktur bangunan baru ini berbeda dengan sebelumnya. Interiornya masih sama besarnya, yang berbeda adalah lantai yang ada. Meskipun tidak setinggi yang dulu, luas gedungnya hampir jauh berbeda dengan dulu. Bisa dikatakan bahwa menampung 3000 orang masih cukup buat mereka. Ketika semua orang melihat Inggrid datang, semua mata tertuju pada wanita tercantik di kota ini. Inggrid berjalan ke panggung sederhana dan memegang microphone. Sebelum berbicara, matanya tertuju pada orang-orang. "Mengenai kejadian mengerikan yang telah terjadi sebelumnya, tidak peduli siapa yang melakukannya, saya harus meminta maaf pada kalian semua. Bagaimanapun juga, kejadian itu terjadi di bawah pengawasan saya jadi saya juga ikut bertanggung jawab dengan apa yang telah terjadi." Bersamaan dengan itu, Inggrid membungkuk sedalam-dalamnya. "Bu Inggrid jangan begitu! Ini bukan salah Anda, ini adalah salah pelakunya!" Salah satu orang langsung membela Inggrid, hal ini langsung diikuti oleh banyak orang. Orang-orang ini telah bekerja di perusahaan Cendrawasih sejak lama, loyalitas mereka benar-benar sudah terjamin. Tentu saja, masih ada sebagian orang yang tidak mengatakan apa-apa. Mereka berpikiran untuk pindah pekerjaan karena bagaimanapun juga, pekerjaan kantoran yang mengancam nyawa seperti ini mana ada yang mau? Inggrid menggelengkan kepalanya. "Kejadian ini telah memberikan luka yang mendalam di hati setiap orang yang terlibat, tetapi aku bisa menjamin bahwa tidak akan ada lagi kejadian seperti ini lagi. Untuk keamanan, saya selaku pemimpin perusahaan akan menindaklanjuti hal ini lebih mendalam." Randika tidak berbicara, dia sendiri akan berusaha semaksimal mungkin agar kejadian ini tidak terulang lagi. Apalagi, sebagian besar gangster di Cendrawasih sudah berada di genggamannya, dia akan meminta mereka untuk melindungi gedung ini secara sembunyi-sembunyi. "Hari ini aku meminta kalian semua berkumpul untuk mengajak kalian semua kembali mengejar impian kita menjadi perusahaan nomor 1 di dunia." Suara Inggrid terdengar lantang. "Tetapi aku tidak memaksa kalian untuk menempuh hal yang sama denganku karena kejadian ini benar-benar membekas di hati kita masing-masing. Bagi siapapun yang memilih untuk pergi, aku akan memberikan kalian kompensasi sebanyak 4 bulan gaji pada kalian sebagai permintaan maaf dan ucapan terima kasih atas kerja keras kalian selama ini." Mendengar hal ini, banyak orang mulai ragu. Empat bulan gaji? Banyak sekali! Inggrid kembali meneruskan. "Tetapi jika kalian memilih untuk tinggal, aku akan membagikan keuntungan perusahaan 5% pada kalian semua. Sekali lagi aku mohon kepada kalian semua untuk mengijinkan aku menuntun kalian menuju puncak, aku tidak akan mengecewakan kalian semua." Setelah itu, Inggrid kembali membungkuk dalam-dalam. Lalu sebuah suara dapat terdengar. "Bu Inggrid, kami tidak akan pergi!" "Benar! Kami telah mengikuti Anda sejak lama, bagaimana mungkin kami meninggalkan perusahaan ini!" "Terima kasih banyak." Setetes air mata keluar dari mata Inggrid. Kelvin dari departemen parfum, Maria sekretarisnya, Tjandra dari departemen keuangan dll telah menyuarakan dukungan mereka pada Inggrid. "Terima kasih." Kata Inggrid dengan nada yang tulus. "Aku percaya bahwa apa pun rintangan yang Tuhan berikan pada kita, kita semua bisa atasi ini bersama-sama. Semoga dengan kejadian ini, tekad kita telah diperbarui dan masa depan yang cerah menanti kita." Setelah itu, Inggrid memberikan gambaran mengenai gedung mereka yang baru. Sama seperti yang dulu, tiap lantai memiliki fungsi masing-masing. Meskipun peralatan kantor sudah tersedia di tiap ruangan, peralatan dan perlengkapan pembuatan parfum dan kosmetik tidak ada di gedung ini dan data dari setiap formula juga telah hilang. Hal ini membuat perusahaan Cendrawasih mengalami kemunduran dari segi produksi. Namun, berkat pidato dari Inggrid semua karyawan bekerja kembali dengan tekad yang baru. Semua orang di setiap departemen telah bekerja kembali. Mereka telah memesan hal-hal yang dibutuhkan untuk proses produksi sekaligus komputer-komputer yang diperlukan. Seiring berjalannya waktu, perusahaan Cendrawasih berjalan di arah yang benar. Hannah sendiri harus mempersiapkan diri untuk ujian akhir semester. Sedangkan untuk Ibu Ipah, dia telah kembali dari Jakarta. Hal ini membuat Randika bernapas lega karena ada orang yang menjaga rumahnya. Pada saat yang sama, Serigala dkk telah memberikan Randika info terbaru mengenai Anna. Rupanya Anna telah meninggalkan Indonesia dengan buru-buru dan lari ke timur tengah. Informasi baru ini membuat Randika mengerutkan dahinya, tetapi buat Anna meskipun dia lari sekarang, tidak ada hal di muka bumi ini yang akan mencegah dirinya untuk membalaskan dendam keluarganya. Randika meminta Serigala dkk untuk kembali ke Jepang dan mengontak sekutu mereka yang ada di timur tengah. Randika tidak bisa menghabiskan sumber dayanya untuk mengejar satu orang saja, lebih baik dia menggunakan bantuan temannya. Beberapa hari ini Randika terus-menerus diseret oleh Kelvin ke dalam laboratorium barunya. Hal ini sangat wajar mengingat data formula yang mereka gunakan dulu telah hilang. Untungnya saja, para karyawan dari departemen parfum ini tidak terlalu banyak berubah dan Viona tidak mengalami luka sedikit pun. Kehidupan Randika selama 2 minggu ini benar-benar simpel. Dia bekerja dari jam 9 pagi hingga 6 malam, dia lalu pulang dan makan malam bersama istrinya. Dan sebelum tidur, tentu saja dia meluapkan cintanya pada tubuh Inggrid dengan ganas. Dua minggu kemudian setelah bekerja keras, perusahaan Cendrawasih sudah berada di jalur yang tepat. Dengan bantuan Randika, departemen parfum telah menghasilkan parfum-parfum terbaru mereka. Karena merasa telah bekerja keras, Randika bersantai-santai di rumah selama beberapa hari. Namun, hari-hari damainya seketika runtuh ketika Hannah tersenyum lebar sambil menatap dirinya. "Kak, ujianku baru saja selesai, temani aku main!" Chapter 338: Menemani Hannah "Tidak mau." Randika bahkan tidak menoleh ke arah Hannah. "Maksudmu apa kak!" Hannah menjadi marah. Kakak iparnya ini bahkan tidak mau menoleh ke arahnya. Ibu Ipah yang sedang sibuk memasak secara tidak sengaja melihat muka cemberut Hannah, dia tertawa melihat mereka berdua. Rupanya nona mudanya itu punya hubungan yang baik dengan nak Randika, pikirnya. "Artinya aku tidak mau pergi, lagipula kenapa aku harus menemanimu pergi?" Randika akhirnya menoleh. "Jangan gitu dong kak, aku barusan saja selesai ujian lho. Kakak harus menemaniku pergi!" Hannah menghampiri Randika dan duduk di sampingnya. "Kenapa kamu tidak pergi sama teman-temanmu?" Randika kehabisan kata-kata. "Bukankah mereka juga senang pergi-pergi sepertimu?" "Mereka tidak punya waktu, mereka beda denganmu kak! Kakak kan setiap harinya terlihat santai dan nganggur." Kata Hannah sambil tersenyum. "Karena aku tidak tega melihat kak Randika bosan seperti itu, aku memutuskan untuk mengajak kak Randika pergi deh! Hehehe adik iparmu ini baik sekali bukan?" Santai dan nganggur? Randika menatap tajam ke mata Hannah, dia lalu menghela napasnya. "Kak, kenapa kamu melototiku seperti itu?" Hannah terlihat bingung. "Han, sudah jujur saja sama aku. Kamu cuma ingin belanja dan ingin aku membawakan barang-barangmu bukan? Kamu kira kamu bisa menipuku?" "Kak, tega-teganya kakak berbicara seperti itu." Hannah kembali cemberut. "Kalau aku memang ingin kakak membawakan barang-barangku, aku akan jujur dan tidak mungkin menyiapkan siasat seperti itu." Randika menggaruk kepalanya, adik iparnya ini memang tidak pintar berbohong. "Han, kamu memang tidak pandai berbohong." "Hehehe sepertinya percuma berusaha membohongi raja pembohong." Hannah dengan cepat menjadi ceria. Dia lalu menangkap tangan Randika dan menyeretnya. "Ayo kak, ayo! Apa enaknya malas-malasan di rumah? Ayo pergi dan temani aku main." Randika benar-benar tidak berdaya. "Iya, iya, aku akan menemanimu. Sudah jangan tarik tanganku terus." Mendengar janji Randika, Hannah benar-benar senang. Dia kemudian mengajak Randika ke mall. Sama seperti kota besar lainnya, terdapat beberapa mall di kota Cendrawasih. Hannah memilih mall Pondok Indah, mall yang dulu dikunjunginya bersama Stella. Karena baru saja selesai dengan ujiannya, Hannah sudah seperti anak kecil yang sangat bersemangat. Dia berlarian tanpa henti sambil menarik Randika. "Kak, sepertinya makanan itu enak!" Hannah menunjuk ke salah satu kedai makanan. "Kak, aku ingin foto sama maskot itu!" Hannah benar-benar senang, sedangkan Randika tidak berdaya sama sekali dan hanya bisa menuruti kemauan adik iparnya. Dia benar-benar tidak mengerti bagaimana seorang perempuan bisa memiliki energi yang banyak ketika waktunya mereka belanja, benar-benar sebuah misteri. Mereka lalu mengunjungi beberapa toko baju selama 1 jam, mereka akhirnya mencapai lantai tempat jual makanan. Karena ini jam makan siang, lantai ini benar-benar penuh dan sedang ada pertunjukan-pertunjukan hiburan. Namun, pertunjukan yang mengundang orang adalah suatu kios yang berada di pinggiran gedung. Kios tersebut sedang mengadakan undian bagi para pengunjung, bagi yang beruntung akan mendapatkan hadiah yang sangat menarik. "Wah lihat kak, mereka sedang membagi-bagikan hadiah! Ayo coba kita lihat!" Hannah merasa bahwa keberuntungannya sedang tinggi, dia langsung menarik Randika tanpa menunggu jawabannya. Mereka harus menerjang lautan orang yang berkumpul di tempat itu. Adik iparnya ini benar-benar luar biasa, Randika bingung dia mendapatkan tenaga dari mana. "Berapa satu tiketnya?" Tanya Hannah sambil tersenyum. "Untuk satu tiket cuma 10 ribu rupiah." Kata si penjaga kios. "Di undian kali ini ada beberapa hadiah yang ditujukan untuk beberapa orang pemenang. Hadiah pertama adalah uang sebanyak 20 juta rupiah! Dan tentu saja, hadiah-hadiah lainnya juga tidak kalah menarik." "Bagaimana? Apa nona muda tertarik untuk membelinya? Kamu bisa menggunakan uang hadiah itu untuk berkencan dengan pacarmu itu atau mungkin kamu ingin boneka beruang besar itu? Tunggu apalagi, harganya juga murah kok!" Orang-orang mulai tertarik ketika mendengar hadiah pertama sejumlah 200 juta rupiah. Dan si penjaga kios ini juga pandai merangkai kata-katanya hingga orang-orang menjadi tertarik. Hannah mulai bersemangat sedangkan Randika menghela napasnya. Sistem undiannya adalah memasukan tangan ke dalam kotak yang sudah dipersiapkan dan mengambil sebuah kertas yang ada di dalamnya. Hal seperti ini sudah seperti mencari jarum di tumpukan jerami, benar-benar butuh sebuah keberuntungan untuk mendapatkannya. Hannah dengan cepat membayar 10 ribu rupiah dan memasukan tangannya ke dalam kotak. Wajahnya menjadi sedih ketika dia membuka kertasnya yang berisi "terima kasih telah mencoba". "Lagi!" Hannah kembali mengeluarkan uang dan memasukan tangannya lagi. Randika yang ada di sisinya sudah bosan, dia melihat Hannah berulang kali mencoba keberuntungannya namun tetap gagal. Dia cuma berharap bahwa adik iparnya ini segera bosan agar dia bisa segera pulang. Namun, sudah 10x Hannah mencoba dan tidak ada tanda-tanda untuk berhenti. "Han, sudahlah. Permainan seperti ini membutuhkan keberuntungan, jangan buang uangmu untuk hal tidak pasti seperti ini." Kata Randika. "Kak, aku tidak mau menyerah!" Hannah merasa depresi, dia sudah 10x mendapatkan kertas yang berisikan "terima kasih telah mencoba". Orang-orang di belakang Hannah akhirnya mendapatkan gilirannya. Beda dengan Hannah, mereka hanya rela melakukannya 2-3x saja. Melihat Hannah yang membawa 10 kertas itu, beberapa orang mulai menertawainya. "Hahaha kamu ngeluarin 100 ribu cuma untuk 10 kertas itu?" "Sudah dengarkan saja pacarmu itu, tabung saja uangmu." Meskipun sudah diperingati orang-orang dan Randika, Hannah masih tidak mau menyerah. Hannah kembali berbaris dan membeli tiket baru. Kali ini Randika diseret untuk ikut mengambilnya. Namun, dia tiba-tiba terkejut ketika mendapatkan kertas berwarna emas. Mustahil! Bukankah iniˇ­. Ya tidak salah lagi! Di tangan Randika, kertas berwarna emas itu bertuliskan "selamat Anda mendapatkan hadiah nomor 1"! Randika tidak percaya, dia mengusap matanya berkali-kali dan benar ini bukan mimpi! Bisa dikatakan bahwa dia memasukan tangannya dengan ogah-ogahan dan mengambil salah satu kertas. Tidak disangka-sangka ternyata dia justru mendapatkan hadiah pertama! Hidup memang misteri, bahkan dia memakai uang 10 ribu terakhir yang ada di dompetnya. Sejujurnya dia sedang bangkrut karena telah membiayai Serigala dkk. Randika sedikit bangga terhadap apa yang baru dia capai ini, sedangkan Hannah masih bertarung dengan kotak undian. Namun, setiap kali dia mengambil selalu kertas yang berisikan hal yang sama. "Sudah Han kamu tidak perlu mengambil undiannya lagi. Nih hadiah pertamanya untukmu." Kata Randika sambil pura-pura batuk. Hannah menoleh dan melihat kertas emas yang dipegang Randika, dia memalingkan wajahnya. "Kak, jangan bohong hanya untuk menghiburku. Aku tahu kak Randika pasti mewarnainya sendiri kan!" Bagaimanapun juga, mendapatkan hadiah pertama dengan sekali coba? Keberuntungan macam apa itu? "Han, kan sudah kubilang undian seperti ini tergantung keberuntunganmu. Bukankah keberuntungan kakakmu ini sangat besar sejak dulu?" Kata Randika sambil tertawa. "Sudahlah kak, cukup berbohongnya." Hannah masih tidak percaya. "Bagaimana kalau kita bertaruh? Kalau kertas yang kupegang ini hadiah pertama maka kamu nanti malam harus menghangatkan kasurku." Kata Randika. "Boleh." Kata Hannah dengan santai. "Lagipula mana mungkin kak Randika berhasil cuma satu kali coba." Setelah mengatakan hal itu, Hannah mengambil kertas yang dibawa Randika dan membaca isinya. Matanya langsung terbelalak ketika membacanya! Orang yang baris di belakangnya Hannah juga mendengar kata-kata Randika sebelumnya dan tidak percaya sama sekali. Ketika dia mengintip kertas yang dibuka Hannah, dia sendiri juga terkejut bukan main. Namun, Hannah yang terdiam itu membuat orang di belakangnya itu bingung. Apakah itu kertas undian atau kertas bohongan? Hannah menatap lekat-lekat kertas yang dipegangnya itu. Kata-katanya yang ada di dalamnyaˇ­ Tidak salah lagi! Hannah benar-benar tidak percaya. Dalam sekejap, dia langsung memeluk Randika secara erat. "WOW! Beneran hadiah pertama! Kak Randika memang luar biasa!" Hannah melompat-lompat kegirangan, dia lalu melambai-lambaikan tiket emasnya itu dan berteriak dengan keras. "Aku menang!" Randika sendiri senang ketika merasakan tangannya masuk di belahan dada adik iparnya itu. Sudah lama dia tidak merasakan kelembutannya! Orang-orang di sekitar Hannah terkejut bukan main, melihat tiket emas itu mau tidak mau mereka menjadi percaya. Hannah terus-terusan melambai-lambaikan tiket emasnya itu. Randika sendiri hanya berdiri diam ketika melihat Hannah menerima semua tepuk tangan orang-orang. Setelah merasa puas dengan perhatian orang-orang, Hannah menarik Randika dan mencium pipinya. "Kak Randika memang orang yang mengagumkan!" Hannah benar-benar bahagia sedangkan orang-orang yang bertepuk tangan itu benar-benar iri. Hanya 10 ribu rupiah bisa mendapatkan 200 juta? Keberuntungan macam apa itu! Si penjaga kios itu juga lumayan terkejut. Sudah tiga hari acara ini berlangsung dan dia sendiri tidak percaya bahwa akan ada yang berhasil mengambil hadiah utamanya. Ahˇ­. Si penjaga itu menghela napasnya, dia berharap bisa seberuntung itu. Randika yang menatap Hannah itu berkata padanya. "Han, jangan lupa tentang taruhan kita tadi." "Ah? Memangnya aku janji apa? Perasaan aku tidak pernah janji apa-apa tuh." Kata Hannah sambil pura-pura polos. Randika hampir muntah darah, dia lupa bahwa adik iparnya ini memang selicik itu. Memang tidak ada bukti hitam di atas putih jadi Randika tidak bisa membuktikan bahwa Hannah telah berjanji padanya. Chapter 339: Semua Orang Bersiap untuk Bertempur Penjaga kios itu berjalan lalu berkata pada Hannah. "Tolong Anda naik ke atas panggung untuk menerima hadiah Anda." Hannah begitu semangat ketika dia berjalan menuju ke atas panggung untuk mengambil hadiahnya. Namun pada saat ini, entah karena itu doa orang-orang yang iri atau angin yang tiba-tiba berhembus dengan kuat atau Hannah yang saking semangatnya itu menjadi teledor, tiket emas itu terlepas dari tangan Hannah dan terbang ke atas. Pada saat ini, tiba-tiba ada hembusan angin kuat entah dari mana asalnya yang membuat tiket itu melayang makin tinggi. Semua orang berteriak histeris, suara teriakan Hannah juga tidak kalah histerisnya. "Tiketku!" Semua orang melihat tiket emas itu melayang-layang, mereka juga tahu bahwa pada akhirnya tiket itu akan jatuh ke lantai. Semua orang sudah bersiap bertempur, lagipula ini adalah 200 juta rupiah gratis bagi mereka. Jika mereka mendapatkannya, bukankah ini definisi dari rejeki nomplok? Meskipun mereka tahu bahwa tiket emas itu punya nona muda yang berjalan ke atas panggung, tidak ada batas waktu penukaran yang pasti dari pihak penyelenggara. Mereka tinggal menunggu waktu yang tepat dan mereka bisa menukarkan hadiah tersebut untuk diri mereka sendiri. Orang-orang sudah mulai bergerak mengikuti pergerakan tiket emas tersebut, bisa dikatakan bahwa semua orang menjadi fokus pada satu tiket tersebut. "Kak, bagaimana ini! Tiketku bisa-bisa hilang." Hannah dengan cepat menjadi panik ketika menghampiri Randika, dia sudah menyerah menerobos masuk ke dalam lautan manusia serakah itu. "Sudah jangan khawatir, serahkan masalah ini pada kakakmu." Kata Randika dengan nada menenangkan. Pada saat yang sama, tiket emas itu sudah mencapai titik tertingginya dan mulai turun. Hal ini langsung membuat semua orang menahan napas mereka. Tiket itu masih melayang dengan santai di udara, ia tidak peduli dengan lautan manusia yang mendambakan kehadirannya. Dia melayang lalu turun, melayang lagi lalu turun lagi. Seluruh lantai tempat makanan ini menjadi heboh karena kejadian ini. Namun, pada akhirnya tiket itu kehilangan momentumnya dan sudah hampir berada di jarak jangkauan orang-orang. Ini dia! Orang-orang yang berada di jalur jatuh tiket itu merasa senang, tetapi tiba-tiba, tiket itu melayang kembali karena hembusan udara seseorang. Hal ini membuat orang-orang kembali menjadi sedih. Berkat hembusan napasnya yang kuat, Randika langsung memanfaatkan keadaan ini untuk melompat dan mengambil kembali tiket emasnya. Dia menggunakan salah satu bahu orang sebagai pijakannya untuk melompat. Orang-orang yang tidak tahu apa yang terjadi terkejut ketika melihat sosok Randika. Bukankah gerakan Randika sudah seperti yang ada di film-film? "Apa orang itu sedang rekaman film?" Salah satu orang yang menonton kerumunan orang itu terheran-heran ketika Randika melompati bahu orang satu per satu dengan cepat, dia sudah mirip seekor kelinci. "Sejak kapan ada rekaman film di kota kita?" "Efek film memang luar biasa! Lihat kita bahkan tidak melihat adanya tali yang mengikat orang itu." Hannah melihat Randika melompat-lompat demi dirinya, hatinya langsung menjadi bersemangat kembali. "Ayo kak, kamu pasti bisa!" Mereka yang sedang menunggu tiket emas itu jatuh merasa bahu mereka tertekan secara tiba-tiba, mereka merasa bahwa seperti sedang diinjak. Dan tentu saja, ketika mereka menoleh ke atas, mereka melihat Randika yang melompati mereka. Kejadian ini membuat mereka terheran-heran sekaligus terpukau, mereka bahkan kehabisan kata-kata dengan apa yang telah terjadi. Si penjaga kios sendiri juga terkejut-kejut ketika melihat Randika, dia bersumpah bahwa dia tidak pernah melihat kejadian mengejutkan seperti ini dalam hidupnya. "Tiket itu akan jatuh!" Orang-orang kembali bersemangat, inilah saat-saat penentuannya. Sekarang tinggal keberuntungan saja, siapa cepat dia dapat! "Punyaku! Punyaku!" "Minggir! Tiket itu milikku!" Banyak orang mulai melompat-lompat sambil menjulurkan tangan mereka ke atas, mereka berusaha meraih tiket emas tersebut. "Siapa cepat dia dapat!" "Hidup santai aku datang!" Semua orang sudah menggila, pada saat yang sama, orang-orang yang lain juga mulai bergabung dengan mereka. "Minggir, minggir!" "Bajingan! Jangan dorong-dorong oi!" Semua orang sudah buta dengan sekelilingnya ketika tiket itu hampir mencapai jangkauan tangan mereka. Tetapi pada saat ini, tiba-tiba ada sosok misterius yang menyabet tiket emas itu di udara dan mendarat di tempat yang sepi dengan tiket tersebut tergenggam erat di tangannya. Semua ini terjadi begitu cepat, tidak ada yang tahu apa yang telah terjadi. Mereka sekilas hanya bisa melihat bayangan hitam yang menyambar tiket emas itu. Mereka semua masih tidak apa yang telah terjadi, sedangkan orang-orang yang melihat aksi Randika sudah terpukau habis. Tidak ada kata-kata yang bisa menggambarkan perasaan mereka ketika melihat Randika salto sebanyak 3x di udara. Kejadian ini sudah tidak masuk akal, kalau ini bukan proses rekaman film, ini pasti mimpi! "Kak Randika memang luar biasa!" Hannah sudah meloncat kegirangan. Randika lalu berjalan dengan santai menghampirinya dan berkata padanya. "Nih, jangan hilang lagi. Sudah sana cepat ambil hadiahnya terus pulang." "Ayo kak, kita ambil hadiahnya sama-sama!" Orang-orang mulai menghela napas mereka, mereka menatap iri pada Randika dan Hannah sekali lagi. "Kalau saja 200 juta itu milikku, pasti aku bisa mendapatkan cewek secantik itu." "Hah? Kamu kira 200 juta cukup? Kalau habis ya kamu ditinggal bro! Hahaha!" Kata temannya. "Omong-omong, pacar laki itu benar-benar cantik dan sexy!" "Kalau gitu intinya apa? Orang itu sudah kaya bahkan sebelum menang undian itu!" Semua orang masih berusaha menenangkan diri setelah kejadian yang menguras tenaga mereka itu. Si penjaga kios mempersilahkan Hannah dan Randika untuk naik ke atas panggung. "Mari kita sambut pasangan yang telah memenangkan undian kita kali ini!" Kata si penjaga kios. Randika terkejut ketika mendengarnya, begitu pula orang-orang yang berbaris di belakang Hannah tadi. Mereka dengan jelas mendengar bahwa Hannah memanggil Randika kakaknya, kenapa sekarang mereka diperkenalkan sebagai pasangan? Ketika mendengar kata-kata tersebut, wajah Hannah tersipu malu. Namun tidak bisa dipungkiri, hati Hannah menjadi bahagia ketika mendengarnya. Kedua orang ini lalu berjalan menuju atas panggung, orang-orang makin cemburu pada Randika. "Sialan, sudah menang hadiah utama ternyata pacarnya juga cantik!" "Benar-benar orang yang sungguh beruntung, aku harap istriku nanti akan secantik pasangannya itu." "Sialan, kalau dia jomblo sudah pasti aku dekati!" Kata salah satu perempuan yang terlihat iri. Di atas panggung, si penjaga kios mulai mewawancarai Randika dan Hannah. "Pertama-tama, kamu ucapkan selamat pada kalian berdua karena telah memenangkan hadiah utama dari acara kamu. Uang sebesar 200 juta ini kami berikan pada kalian." Katanya sambil tersenyum. "Terima kasih." Balas Hannah sambil tersenyum, dia benar-benar bahagia sekarang! Chapter 340: Liburan ke Makau "Apa rencana kalian berdua setelah mendapatkan hadiah ini?" Si penjaga kios itu menyerahkan microphone kepada Hannah. Hannah langsung berkata tanpa pikir panjang. "Tentu saja kami akan menghabiskannya untuk belanja dan bermain. Kami akan menghabiskannya hari ini juga!" Hari ini juga? Semua orang jelas terkejut ketika mendengarnya, semua laki-laki sudah memberikan tatapan simpati pada Randika. Ternyata laki itu mendapatkan cewek matre sebagai pasangannya, kasihan sekali! Seandainya saja mereka tahu berapa kekayaan yang dimiliki Randika dan Hannah, mungkin mereka sudah muntah darah ketika mendengarnya. Hannah begitu bersemangat karena ini pertama kalinya dia memenangkan hadiah yang merupakan hadiah utama. Dua ratus juta bukanlah apa-apa baginya. Terlebih lagi, perusahaan Cendrawasih milik Inggrid sudah melewati masa krisis dan keuntungan yang didapatnya sudah mencapai miliaran. Jika tidak ada masalah, hanya masalah waktu saja baginya untuk mendapatkan keuntungan di angka triliun. Randika, tentu saja, sebenarnya tidak kesusahan sama sekali. Memang dia sekarang tidak memegang uang tetapi penghasilan illegal dari gangster yang sudah dikuasainya terus mengalir tanpa henti. Belum lagi kartu yang telah diberikan Catherine padanya. "Benar-benar perempuan yang menarik." Si penjaga kios itu bertepuk tangan, hal ini membuat Hannah tersipu malu. "Apa sudah ada rencana mau bermain ke mana Anda?" "Kalau dipikir-pikir, aku sangat ingin pergi ke Makau!" Si penjaga kios tadi tersenyum. "Kalau begitu saya ucapkan selamat bersenang-senang untuk kalian berdua. Pertanyaan terakhir untuk sang pacar, apa ada trik rahasia untuk mendapatkan hadiah utama ini atau semua hanya karena keberuntungan saja?" Randika mengedipkan matanya. "Aku rasa mandi di pagi hari tadi membuatku cukup beruntung." Para penonton tertawa, si penjaga kios itu kembali menambahkan. "Kalau begitu terima kasih karena telah berpartisipasi di acara ini, kami ucapkan selamat sekali lagi pada pasangan pemenang ini!" Di sampingnya, sudah ada perempuan yang membawa papan cek besar yang bertuliskan 200 juta rupiah. Mereka memberikan papan ini sekaligus sebuah kartu ATM pada Randika, lalu perempuan yang membawakannya tersenyum ke arah Randika dan berbisik di telinganya. "Passwordnya adalah 983412." Ketika melihat papan itu, Hannah kembali melompat kegirangan. Ketika mereka turun dari atas panggung, tatapan iri langsung memenuhi suasana. Tetapi mau bagaimana lagi? Namanya saja undian, jelas yang beruntunglah yang pada akhirnya tertawa! Hannah masih terpacu adrenalinnya. "Aku harus memberikan kabar baik ini pada kak Inggrid!" "Ayo kak, cepat kita pergi dari sini!" Setelah berkata seperti itu, Hannah menyeret Randika ke parkiran mobil dan membawanya ke perusahaan kakaknya itu. Namun, karena Hannah belum pernah ke gedung yang baru itu, terpaksa yang menyetir adalah Randika. Sesampainya di gedung perusahaan, Hannah berlari menuju lift disusul oleh Randika. Di dalam lift, wajah girang Hannah sama sekali tidak bisa disembunyikan. "Kak, menurutmu kak Inggrid terkejut atau tidak ya? Aku sudah lama ingin pergi ke Makau! Kita harus pergi bersama-sama dan mencoba kasino di sana, sudah lama aku ingin mencoba peruntunganku!" Randika menggaruk kepalanya. "Han, bagaimana ujianmu?" "Tidak masalah, aku baru ujian lagi bulan depan kok. Masih banyak waktu." Jawabnya sambil tersenyum. Ketika lift itu mencapai lantai 6, Randika mengingat bahwa dia sudah lama tidak mengunjungi departemen yang ditanganinya itu jadi dia ingin mengunjunginya terlebih dahulu. "Han, kamu bisa mencari kakakmu sendirian kan? Aku mau memeriksa tempat kerjaku bentar." Setelah berkata seperti itu, Randika turun di lantai 6 dan Hannah langsung menuju kantor kakaknya berada. "Kak, kak, coba tebak apa yang baru saja aku alami!" Hannah begitu bersemangat ketika membuka pintu ruangan kakaknya itu. Duduk di kursinya, Inggrid tersenyum ke arah adiknya yang tersayang itu. "Ada apa?" "Kak Inggrid pasti kaget hihihi." Kata Hannah sambil tertawa. "Jadi tadi aku ke mall sama kak Randika dan menang undian berhadiah!" Bersamaan dengan itu, Hannah membusungkan dadanya. Inggrid tertawa kecil ketika melihat tingkah laku adiknya yang masih kekanak-kanakan itu. "Kamu menang hadiah apa? Boneka atau setrika?" "Kak tolonglah! Kenapa kakak sarkas seperti itu?" Hannah menjadi cemberut, wajahnya lalu berubah menjadi sombong. "Aku baru saja memenangkan hadiah utama yang hadiahnya 200 juta rupiah!" Mendengar hal ini, Inggrid menjadi terkejut. Dia tidak menyangka adiknya akan memenangkan uang segitu banyak. "Jadi ceritanya gini kak. Pada saat itu, kak Randika melompat dan mengambil tiket itu di udara lalu ˇ­.. " Hannah mulai bercerita dari awal hingga akhir, Inggrid mendengarkannya ini sambil tersenyum. Setelah selesai mendengarkan cerita Hannah, Inggrid mengedipkan matanya. "Han, kamu ingin pergi ke Makau?" "Iya kak! Aku rasa kita butuh liburan sekaligus merayakan ujianku yang telah selesai." Kata Hannah sambil tersenyum. "Maaf Han tapi pekerjaan kakak tidak sesantai kamu. Kakak masih berusaha membangun kembali perusahaan ini jadi banyak masalah yang harus kakak tangani." Kata Inggrid sambil menghela napasnya. "Belum lagi penyelidikan polisi mengenai pengeboman itu dan biaya-biaya baru yang bermunculan. Belum lagi kakak harus memenuhi kuota produksi yang terhambat itu jadi maaf kakak tidak bisa pergi bersamamu." Hannah terlihat kecewa. "Kalau kakak tidak pergi, percuma dong." "Bagaimana kalau kamu pergi sama Randika saja? Aku yakin dia tidak keberatan menemanimu." Kata Inggrid sambil tersenyum. Randika sendiri sedang mengobrol dengan Viona di aula koridor. Rupanya pekerjaan di departemen parfum telah berjalan dengan baik dan mereka tidak sesibuk departemen lain. Untungnya saja, Kelvin yang cekatan itu menyimpan beberapa formula secara digital jadi mereka tidak terlalu tertinggal dalam proses produksi. Tetapi untuk amannya, Randika membantu mereka di awal pembuatan parfum mereka. Setelah bisa berjalan sendiri, Randika melepas mereka. "Ran, kenapa kamu tidak datang akhir-akhir ini?" Viona merindukan sosok Randika di hidupnya. "Aku ada pekerjaan sendiri yang harus kutangani. Oh ya, kapan kamu punya waktu luang? Bagaimana kalau malam ini kita makan malam berdua?" Randika langsung mengalihkan pembicaraan. Sejujurnya, dia sendiri merasa waktu berduaan dengan Viona memang menjadi sedikit. Terakhir kali mereka pergi bersama, mereka makan malam lalu pergi ke bar. Setelah menyanyikan sebuah lagu untuk Viona, mereka buru-buru melampiaskan cinta mereka di rumah Viona. Namun, orang tua Viona tiba-tiba sudah berada di rumah dan memergoki mereka. Jika mengingat momen itu, air mata selalu mengalir di mata Randika. Oleh karena itu, kali ini Randika harus memilih tempat yang tepat dan menjadikan Viona anggota haremnya. "Benarkah?" Wajah Viona terlihat bahagia. "Sejak kapan aku pernah berbohong padamu?" Randika membusungkan dadanya. "Kebetulan aku mendapatkan libur karena tidak pernah mengambil cuti. Bagaimana kalau kita pergi liburan berdua?" Tanya Viona. Pada saat ini, Hannah yang sedih itu tidak sengaja bertemu dengan mereka berdua. "Hannah?" Randika menoleh ke arah Hannah. "Kak Inggrid tidak bisa ikut, dia terlalu sibuk." Hannah lalu menatap Viona. Hannah dan Viona merupakan teman baik karena dulu Hannah pernah bertemu dengan Viona saat belanja dengan Inggrid. Sejak saat itu, Hannah terkadang belanja bersama Viona di hari liburnya. "Kak, apa kak Viona libur besok? Bagaimana kalau kita ke Makau bersama-sama?" Tanya Hannah sambil tersenyum. "Makau?" Viona terkejut ketika mendengarnya, dia menatap Randika yang sedang menggelengkan kepalanya. "Ah! Jangan khawatir, liburan ini gratis kok jadi kak Viona tidak usah keluar uang sama sekali." Kata Hannah sambil tersenyum. Randika merasa ada siasat di balik senyuman adik iparnya itu. "Kak Randika akan membayar liburan kita ini jadi kita berdua bisa bersenang-senang selama di sana!" Mengerti bahwa Randika akan ikut, Viona mengiyakan ajakan Hannah ini. Setelah memesan tiket pesawat untuk tiga orang dan menunggu visa mereka selama 3 hari, mereka langsung bersiap untuk berangkat menuju Makau! Chapter 341: Bagaimana Kalau Kamu Menjadi Istriku Saja? Bandara Cendrawasih, pukul 8 pagi. Berkat koneksi yang dimiliki Inggrid, ketiga orang ini berhasil mendapatkan visa dalam waktu yang relatif cepat. Setelah melakukan check-in, mereka menunggu kedatangan pesawat mereka selama 30 menit. Hari ini Hannah dan Viona terlihat sangat cantik. Hannah memakai sweater setengah badan yang menonjolkan bagian perut dan pusarnya, untuk bagian bawahnya dia memakai jeans pendek. Penampilannya sangat fresh dan siap mengarungi negara tetangga! Sedangkan untuk Viona, meskipun penampilannya tidak seterbuka seperti Hannah, dia memberikan kesan yang unik. Dia memakai set dress mini berwarna hitam yang menonjolkan lekuk-lekuk badannya yang dipadukan dengan jaket crop top jeans! Mereka bertiga berjalan bersama dengan Randika berada di tengah. Ketiga orang ini menarik perhatian semua orang yang melewati mereka, tetapi mata mereka lebih tertuju pada kedua perempuan tersebut. Mereka tidak habis pikir kenapa bisa ada 2 perempuan secantik itu di dunia ini? Semua lelaki yang melihat mereka akan terdiam dan tertegun. Mata mereka tidak bisa berhenti menelanjangi Hannah dan Viona. Setelah 2 sosok malaikat itu menghilang dari hadapan mereka, barulah mereka semua sadar dari delusi mereka. "Gila, dua perempuan itu benar-benar cantik!" "Benar, sepertinya mereka itu supermodel." "Aduh tapi ngapain tukang angkut barangnya itu jalan di tengah-tengah mereka? Merusak pemandangan saja." "Tapi sadar tidak? Kecantikan mereka menutupi kejelekan si lelaki itu!" "Sialan, seandainya saja pacarku seperti itu aku rasa anakku sudah 10!" Semua lelaki yang ada di bandara itu mengomentari sosok Hannah dan Viona. Dengan pendengaran super yang dimilikinya, Randika benar-benar puas. Orang-orang iri memang hanya bisa iri dan bermimpi! Ketika mereka duduk untuk menunggu kedatangan pesawat mereka, tiba-tiba perut Randika bergejolak. "Aku ke toilet sebentar ya, titip barang-barangku." "Iya kak, jangan lama-lama lho ya!" Hannah mengibaskan tangannya dan kembali mengobrol dengan Viona. Keduanya benar-benar sudah seperti kakak adik. Randika segera mencopot tas yang dibawanya dan berlari ke arah toilet. Ketika dia sampai di toilet, dia segera masuk ke bilik toilet. Dari dalam bilik, dia bisa mendengar ada beberapa orang keluar masuk. Karena lupa membawa HP miliknya, Randika hanya bisa menoleh ke kanan dan ke kiri sampai urusan perutnya ini selesai. Dia sampai membaca berulang kali peringatan tentang bagaimana cara buang air besar yang benar di dinding. Apabila dia perhatikan baik-baik, dia juga melihat coretan di dinding yang berbunyi. "Jangan coret-coret di dinding apalagi sampai nulis nomor HP untuk open BO!" dan di kanan bawahnya juga ada coretan serta anak panah yang mengarah pada coretan sebelumnya "Dilarang coret-coret ko****!" Melihat hal ini, Randika tertawa sendiri. Ada-ada saja kelakuan orang Indonesia, memang netizen tidak mengecewakan! Setelah selesai buang air besar, Randika kembali berjalan menuju tempat duduk mereka sebelumnya. Tetapi ketika dia berjalan, dia melihat seorang polisi berseragam sedang berdiri diam dan mengintai orang. Polisi tersebut adalah Deviana! Melihat wajah serius Deviana, Randika tidak ingin mengganggunya. Namun ketika Deviana hendak pergi, ada seorang laki-laki berjalan menghampiri Deviana dari belakang. Di tangan kanannya, terlihat bilah pisau yang sangat tajam. Gawat! Randika mengerutkan dahinya dan berlari menuju Deviana sekuat tenaga. Rudi menatap dendam pada Deviana, tatapan matanya sudah benar-benar dingin. Polisi di depannya itu telah membunuh saudara-saudaranya, hari ini dendam saudara-saudaranya itu akan terbalaskan! Rupanya orang ini merupakan salah satu dari komplotan penjahat yang berhasil kabur dari insiden ketika Deviana mengepung apartemen berisikan para penyelundup narkoba. Pada saat itu, Rudi tidak berada di apartemen tersebut. Hari demi hari Rudi menunggu kesempatan untuk balas dendam, dia harus membalaskan dendam saudara-saudaranya itu! Deviana sama sekali tidak sadar telah diikuti, dia sedang memperhatikan orang-orang yang berjalan di bandara ini. Hari ini dia mendapatkan misi untuk menangkap para penjahat yang hendak kabur dari kota Cendrawasih, dia telah mengerahkan anak buahnya untuk mengamankan semua gerbang. Tetapi secara tidak terduga, kasus lamanya justru sedang mengincar dirinya dari belakang! Rudi sudah menggenggam erat pisaunya yang ada di balik jaketnya, pada saat yang sama, langkah kakinya makin cepat dan jarak mereka berdua sudah sangat dekat. Deviana merasa ada sesuatu yang aneh. Ketika dia menoleh, dia melihat seorang pria hendak menghampirinya dengan pisau tajam di tangan kanannya. Deviana bergerak dengan cepat, dia langsung meraih pistolnya. Tetapi karena jarak mereka sudah dekat, ayunan pisau Rudi lebih cepat dari reaksi Deviana. MATI KAU! Tatapan Rudi sudah terbakar oleh api dendam sedangkan Deviana sudah menutup matanya karena dia sudah tahu bahwa reaksinya itu sudah terlambat. Namunˇ­ mereka kedua terkejut dengan kejadian saat ini. Keduanya merasa bahwa pisau itu gagal bersarang di tubuh Deviana. Ketika mereka perhatikan baik-baik, pergelangan tangan Rudi ditangkap oleh tangan seseorang dan pisau tersebut masih berjarak 2 cm dari perut Deviana. Randika tersenyum, lalu dia meremas tangannya yang menggenggam tangan Rudi. Secara tiba-tiba, Rudi merasa bahwa tangannya itu remuk dan segera melepaskan dirinya. Sedangkan untuk pisaunya, Randika sudah menginjaknya dan membuatnya menjadi kepingan salju. Melihat sosok Randika, Deviana benar-benar lega. Sekarang Randika menatap tajam ke arah Rudi. Melihat bahwa aksi balas dendamnya ini berantakan, Rudi benar-benar marah. Dia menerjang maju ke arah Randika tanpa pikir panjang, dia akan membunuh siapa pun yang berani menghalangi rencananya. Deviana segera kembali meraih pistolnya, tetapi tangan Randika menyuruhnya untuk tetap diam. Ketika Rudi sudah berada di jangkauannya, kepalan tinju Randika sudah bersarang di wajahnya dan dia pun terpental. Para bawahan Deviana sudah berlari menuju lokasi dan menangkap Rudi yang terkapar kesakitan di lantai. "Tangkap dia!" Teriak Deviana. Semua orang yang ada di bandara langsung berhenti beraktivitas dan melihat adegan ini. "Kamu berhutang budi lagi padaku." Kata Randika sambil tersenyum. "Lama-lama hutangmu ini jadi bukit lho." Deviana menghela napasnya. "Kenapa kamu bisa ada di bandara?" "Aku berniat untuk pergi liburan." Randika kembali tersenyum. "Akhir-akhir ini aku sibuk jadi aku ingin bersantai-santai." "Enak sekali hidupmu, aku jarang liburan." Kata Deviana. "Kalau kamu sudah capek dengan pekerjaanmu, bagaimana kalau aku memberi tahumu pekerjaan yang menyenangkan?" Randika tertawa dan berbisik padanya. "Bagaimana kalau kamu menjadi istriku saja?" "Apa maksudmu!" Mata Deviana hampir copot dari kantongnya. "Bukankah menjadi istriku akan menjadi pekerjaan yang menyenangkan? Kita bisa pergi ke mana pun yang kita mau." Randika mengelus dadanya. "Apalagi kalau anak kita nanti sudah lahir, kita bisa pergi liburan bersama-sama." "Siapaˇ­ siapa yang mau jadi istrimu!" Wajah Deviana sudah benar-benar merah, suaranya sendiri sudah seperti orang gagap. "Tentu saja kamu, bukannya aku sudah melindungimu berkali-kali selayaknya seorang suami?" Kata Randika sambil tersenyum. "Kalau kamu menikah denganku, aku anggap hutang budimu itu lunas semua." "Aku tidak berhutang padamu." "Kamu memang tidak pandai berbohong. Barusan saja aku menyelamatkanmu, bisa-bisanya kamu masih membantahnya?" Randika menghela napasnya. "Apa susahnya mengakui kebaikan orang? Jangan-jangan kamu malu mengakuinya karena kamu menyukaiku?" Mendengar kata-kata ini, wajah Deviana kembali memerah. Namun dia tahu, semakin banyak berdebat dengan Randika, semakin gila dirinya. Tanpa berkata apa-apa, dia pergi meninggalkan Randika. Melihat tubuh Deviana yang semakin menghilang, Randika menghela napasnya. Meskipun tubuhnya itu tertutup oleh baju polisi, kemolekannya tidak dapat ditutupi. Sayang sekali dia masih belum bisa merasakannya secara langsung. Randika hanya bisa berharap bahwa momen itu akan tiba suatu saat nanti. Setelah menyelesaikan kasus Deviana, akhirnya Randika kembali ke tempat duduk Hannah dan Viona. "Kak, kenapa kakak lama sekali?" Hannah kehabisan kata-kata. "Kalau kakak sakit perut, sudah tidak usah ikut pergi." "Sudah Han, yang penting Randika sudah ada di sini." Viona berusaha menenangkan. "Sebentar lagi pesawat kita datang." Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya mereka mulai masuk ke dalam pesawat mereka. Chapter 342: Sosok yang Familier Kursi di dalam pesawat hanya disediakan berdua-berdua, jadi ketika ketiganya masuk ke dalam pesawat, urutan tempat duduk menjadi perdebatan mereka bertiga. Menurut tiket mereka, Randika seharusnya duduk di sebelah Viona sedangkan Hannah duduk sendirian. Tetapi bagaimana mungkin seorang Hannah tunduk pada sebuah tiket pesawat? Tentu saja, tanpa sungkan-sungkan Randika diusir dan disuruh duduk sendirian. Melihat tidak persetujuan Randika, Hannah hanya melontarkan kata-kata pedas. "Memangnya apa salahnya dua perempuan duduk bersama-sama? Kenapa kak Randika ngotot pengen duduk sama kak Viona? Jangan-jangan kakak mau curi-curi kesempatan ya? Aku tidak akan membiarkan kak Randika menodai kak Viona!" Randika yang sedih duduk sendirian itu menoleh ke belakang dan melihat Hannah dan Viona mengobrol dengan gembira. Randika hanya bisa menggertakan giginya dan berusaha untuk tidur. Dia harus melupakan rasa amarahnya ini kalau tidak bisa-bisa rencana liburannya yang sempurna itu bisa hancur berantakan. Sedangkan untuk Hannah, dia pasti balas dendam ketika mereka pulang nanti. Randika, yang berhasil menenangkan dirinya, duduk dan melamun. Meskipun masih ada jarak di antara dirinya dengan Hannah dan Viona, Randika akan berusaha keras untuk mewujudkan rencana haremnya. Mungkin liburan ke Makau ini akan menjadi kesempatan yang sangat bagus. Dalam sekejap, Randika sudah memantapkan hati dan menoleh ke belakang. Sepertinya Hannah dan Viona tertawa terus menerus tanpa henti. Namun, mereka hanya tertawa ketika melihat wajahnya. Apakah mereka sedang menertawaiku? Randika menggertakan giginya, dia hanya bisa duduk kembali dengan tenang. Ketika Randika berusaha mencuri dengar, suara yang dipakai oleh Hannah benar-benar kecil jadi dia tidak bisa mendengarnya sama sekali. Setelah 10 menit berlalu, Randika hanya bisa menyerah untuk mencuri dengar. Dia sekarang duduk dengan tenang dan menunggu pesawat lepas landas. Orang-orang mulai memenuhi isi pesawat ini. Tiba-tiba, suara orang yang familiar terdengar dari depan. "Randika?" Suara orang itu benar-benar canggung seperti orang asing yang sudah lama tinggal di Indonesia. Bersamaan dengan suara ini, Randika dapat mencium bau parfum yang wangi memenuhi hidungnya. Mencium bau ini, ingatan masa lalu mulai memenuhi dirinya. Dia sepertinya pernah mencium bau ini, namun ketika dia menciumnya waktu itu, itu berasal dari dada seseorang. Ketika Randika mengangkat kepalanya, wajah Serena terlihat senang melihat dirinya. "Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu lagi." "Iya." Serena mengedipkan matanya pada Randika, dia lalu duduk di samping Randika. Serena adalah perempuan cantik yang menggoda Randika ketika dia berangkat dan pulang ke Indonesia ketika Randika ada urusan di Jepang! Randika memperhatikan orang asing ini, sepertinya dia semakin cantik dan menggoda. Kali ini iman Randika mulai tergoda oleh Serena. Terlebih lagi, sepertinya Serena jauh lebih aktif dalam menggoda dirinya. Karena begitu dia berusaha masuk ke tempat duduknya, Serena menggesekan pantatnya di paha Randika! "Kenapa kamu tidak menghubungiku sama sekali?" Dagu Serena bersandar di tangannya sambil melototi Randika dari samping, bau parfum perempuan ini sudah berenang-renang di hidung Randika. Sama seperti succubus, Serena berusaha menaikkan nafsu Randika. Mata Randika sudah mengamati Serena lekat-lekat. Kali ini, Serena memakai baju yang cukup terbuka. Dia memakai baju putih setengah badan dan memakai jeans panjang yang robek-robek. Di robekan jeans tersebut, bisa dilihat stocking jala yang memberikan kesan sexy! Untuk urusan fashion, Randika memberikan nilai 9 pada Serena. Serena yang menatap tajam ke arahnya itu benar-benar sebuah sinyal yang sangat jelas padanya, dia ingin Randika berhubungan badan dengannya! Randika sangat ingin melakukannya, tetapi sayangnya dia tidak bisa melakukannya. Randika berusaha membuang nafsu birahinya itu jauh-jauh dan tersenyum ke arah Serena. "Aku benar-benar sibuk dengan pekerjaanku, maafkan aku kalau belum sempat menghubungimu." "Bukankah kamu merasa bahwa ini adalah takdir? Kita sudah tiga kali bertemu di dalam pesawat dan sekarang aku duduk di sampingmu." Kata Serena sambil tersenyum. Tangan Randika dia pegang dan dia genggam erat-erat. Randika menghela napasnya. Dia aslinya tidak duduk di kursinya ini, hanya saja Hannah memaksanya untuk duduk di kursinya yang seakrang. Tetapi mungkin itu adalah hal yang bagus karena dia bisa duduk dengan perempuan cantik selama perjalanan yang panjang ini. Kalau boleh dikatakan, keberuntungannya benar-benar besar! "Apa kamu pergi ke Makau karena urusan kantormu lagi?" Randika berusaha mengganti topik. "Iya, perusahaanku menangani klien dari berbagai negara. Jadinya aku sering harus pergi ke luar negeri." Kata Serena sambil tersenyum. Dia lalu berkedip ke arah Randika. "Tapi aku butuh hiburan di Makau sebelum aku bekerja, bagaimana kalau kita menghabiskan waktu bersama-sama sebelum waktunya tiba?" Ini dia! Ketika iman Randika sudah benar-benar goyah dan hendak mengiyakan, Hannah yang duduk di belakangnya itu mencungul dan berkata dengan nada yang sangat dingin. "Dia tidak punya waktu untuk pergi bersamamu!" Randika benar-benar terkejut, Serena pun ikut terkejut. Lalu sambil tersenyum, Serena hanya berkata "Ohˇ­" dan menatap Randika. "Dia siapa? Kenalanmu?" "Kurang ajar, dia ituˇ­." Hannah awalnya ingin mengatakan bahwa Randika adalah kakak iparnya, tetapi dia berhenti berbicara dan cemberut. "Aku tidak perlu menjelaskan hubungan kami berdua, situ siapa kok kepo sekali." Tanpa disadari, Hannah merasa tertekan dengan penampilan Serena. Baginya Serena merupakan perempuan cantik yang mampu menaklukan semua pria yang diinginkannya. Apabila perempuan itu tahu bahwa Randika sedang liburan tanpa membawa pasangannya, bisa-bisa Serena menggoda sekaligus memaksa kakak iparnya itu untuk berselingkuh dengan sihirnya. Kalau sudah begitu, alasan apa yang bisa dia katakan kepada kakaknya? Jika dia membawa Randika pergi, sudah tanggung jawabnya untuk menjaga perkawinan kakaknya itu. Jadi mau tidak mau, Hannah harus menyingkirkan perempuan itu. Pada saat ini, kepala Viona juga terlihat. "Randikaˇ­" Randika menoleh dan tersenyum padanya. "Vi, sudah tenang saja. Orang ini adalah temanku." Orang-orang di sekitar juga mulai menyadari adegan panas ini. Para perempuan menghela napasnya ketika melihat Randika, mereka semua berpikir bahwa semua laki itu sama saja. Pada saat yang sama, para lelaki di dalam pesawat ini iri dengan Randika yang bisa duduk dengan perempuan cantik dan menggoda. Namun, tiba-tiba kaki mereka diinjak oleh pasangan mereka masing-masing karena telah berani curi pandang pada Serena. Hannah hanya mendengus dingin. Teman? Aku rasa mereka lebih daripada teman! Serena lalu menatap Randika sambil tersenyum. "Jadi perjalananmu ke Makau ini bukan untuk bisnis sama sepertiku. Aku tidak menyangka kamu akan ditemani oleh dua wanita cantik ini, tidak heran kamu tidak luluh dengan penampilanku." Serena mulai menggigit bibirnya, kata-katanya itu mengandung kebencian terhadap Hannah dan Viona yang menghalangi dirinya untuk berhubungan badan dengan Randika. Randika yang duduk ini sudah merasa dikelilingi oleh serigala lapar, ketiga perempuan ini berusaha mendapatkan Randika. Kemudian Serena menoleh ke belakang ke arah Hannah dan Viona. "Kalian tenang saja, aku tidak akan membawanya pergi. Lagipula dengan adanya kalian, Randika sama sekali tidak akan melirik aku." Chapter 343: Kisah Sepak Terjang Randika Setelah berkata seperti itu, Serena tertawa sekali lagi dan duduk dengan tenang. Sedangkan wajah Randika terlihat murung, dia benar-benar sudah tidak tahan lagi. Awalnya imannya itu benar-benar kuat ketika menolak Serena tetapi lama kelamaan imannya mulai goyah. Kalau saja tidak ada Viona dan Hannah, dia mungkin sudah mengajak Serena melakukannya di dalam toilet. Mendengar perkataan Serena itu, Hannah merasa sedikit lega namun masih waspada. Dia lalu mengajak Viona untuk duduk kembali dengan benar. Sebelum dia duduk, Hannah memberikan tatapan tajam penuh makna kepada Randika seakan-akan berkata bahwa jangan berbuat aneh-aneh atau dia akan melaporkannya pada Inggrid. Randika hanya bisa tersenyum pahit, peringatan adik iparnya ini benar-benar membuat nyalinya menjadi ciut. Tidak lama kemudian, akhirnya pesawat mereka lepas landas. Para pramugari mulai berkeliling dan menawarkan produk-produk mereka. Pada saat ini, dua penumpang terlihat sedang mengobrol dengan asyik. "Tumben baca koran? Memangnya ada kejadian apa di koran?" "Kamu ini ya, aku tahu kamu tidak suka membaca tetapi setidaknya kamu harus tahu apa yang sedang terjadi di dalam negeri!" "Oh? Memangnya ada apa dengan negara tercinta kita ini?" "Kamu tahu serangan teroris di Jakarta kapan hari tidak?" Temannya itu menggelengkan kepalanya dengan semangat, tatapan matanya seolah-olah meminta temannya ini untuk menceritakan apa yang telah terjadi di Jakarta. "Jadi kapan hari itu ibu kota kita itu benar-benar kacau karena satu orang. Wah dia benar-benar gila karena semua polisi di Jakarta mengejar orang ini sampai-sampai mereka mengerahkan 10 helikopter untuk membantai orang tersebut. Kejar-kejaran mereka itu sampai mengganggu kediaman keluarga Alfred dan dia telah membunuh semua anggota keluarga itu tanpa ampun!" "Bohong! Mana mungkin satu orang bisa melakukan semua itu?" Temannya ini jelas tidak percaya. "Terserah mau percaya atau tidak, tetapi apa yang kukatakan itu semua benar. Tetapi akhir-akhir ini media berita mencoba mengalihkan isu ini. Dari yang selama ini kubaca dan kudengar, teroris itu katanya membajak pesawat dari kota kita Cendrawasih terlebih dahulu sebelum ke Jakarta." Mendengar kata-kata ini, temannya makin tidak percaya. Sambil tersenyum, akhirnya dia menanyakan masalah ini pada pramugari yang lewat. "Permisi aku mau tanya, apa ada kejadian pembajakan pesawat akhir-akhir ini? Aku dengar ada pesawat dari Cendrawasih yang dibajak." Pramugari itu awalnya ragu-ragu untuk menjawab, dia pada akhirnya mengangguk. "Benar." Percakapan kedua orang itu jelas telah menggugah rasa penasaran orang-orang. Sudah banyak orang yang mulai tertarik dengan diskusi kedua orang ini. Lagipula, kejadian di Jakarta itu benar-benar menggemparkan seluruh negeri. Salah satu orang tiba-tiba angkat bicara. "Aku dengar dari temanku yang pramugari di Cendrawasih, ada pesawat yang menuju ke Jepang yang dibajak oleh kelompok teroris sebelumnya." Kali ini semua orang terkejut, kejadian ini tidak pernah keluar di media berita. "Bagaimana ceritanya?" Semua orang sudah penasaran. Orang tersebut seperti hendak mengatakan sesuatu tetapi menelan kembali kata-katanya Di suasana tegang seperti ini, Serena menatap Randika dan tersenyum kepadanya. Dengan nada suara yang lantang, perempuan itu berkata pada semua orang. "Aku tahu kejadian itu." Dia tahu? Dalam sekejap semua tatapan mata tertuju pada Serena, para pramugari juga ikut menatapnya. "Bagaimana kejadian yang sebenarnya?" Tanya salah satu penumpang dengan wajah serius. "Pada saat itu, ada sekelompok teroris yang hendak menculik semua orang di dalam pesawat dan menjadikan kami sandera." Serena mulai menceritakan awal mula kejadian menegangkan tersebut, semua orang sudah menahan napas mereka. Dari cerita Serena, teroris tersebut membawa berbagai macam senjata, bagaimana mungkin mereka bisa selamat? Tidak dapat dipungkiri, semua orang merasa penasaran dan menyimak Serena dengan serius. "Saat itu aku kira kita semua sudah tamat." Tambah Serena. "Waktu itu siapapun yang berani melawan akan dibunuh tanpa pandang bulu." Semua orang mulai tidak sabar, mereka menantikan bagaimana cara para penumpang tersebut berhasil mengalahkan para teroris yang bersenjata itu. "Aku dengar dari temanku ada seorang penumpang yang gagah berani melawan mereka semua sendirian." Akhirnya salah satu pramugari angkat bicara. "Sendirian? Tidak mungkin." Kata salah satu penumpang sambil menggelengkan kepalanya. Mana mungkin satu orang bisa melumpuhkan sekelompok teroris yang bersenjatakan senjata api? Rasanya pramugari itu terlalu banyak membaca komik. Mendengar diskusi ini, Randika terbatuk dan menoleh ke arah Serena. Perempuan itu menatapnya lekat-lekat, sudah jelas dia ingin membocorkan identitas Randika. Randika hanya bisa tersenyum pahit, dia sama sekali tidak berdaya untuk menghentikan Serena. Meskipun dia telah memiliki kekuatan dan kekayaan, Randika berusaha untuk low profile. Tetapi sepertinya impiannya ini akan hancur berantakan sebentar lagi. Hannah dari awal sudah mengikuti pembicaraan ini, dia benar-benar penasaran dengan cerita seperti ini. Sekarang semua mata masih tertuju pada Serena yang terlihat tersenyum, dia lalu berkata dengan wajah serius. "Apa yang dikatakan pramugari itu benar, kami semua diselamatkan oleh satu orang. Orang ini benar-benar kuat dan jago bela diri, dia menghajar semua teroris itu dengan tangan kosong." "Ah? Bohong!" Jelas semua orang tidak percaya, sedangkan si pramugari itu terlihat lega karena cerita yang didengarnya itu ternyata benar bukan sebuah hoax. "Percaya atau tidak percaya, aku melihat aksinya dengan mata kepalaku sendiri. Situasi kita waktu itu benar-benar gawat tetapi orang itu berhasil menaklukan semua teroris itu sendirian. Bahkan para teroris itu tidak bisa berbuat apa-apa." Banyak orang merasa terkagum-kagum mendengar cerita Serena tetapi beberapa masih tidak percaya. "Ceritamu terlalu mengada-ngada." "Eh bukannya itu masuk akal? Apa kalian lupa dengan insiden Jakarta? Bukankah pelakunya satu orang? Jangan-jangan pelakunya sama." "Benar juga!" Semuanya mulai heboh dengan pendapat mereka masing-masing, salah satu dari mereka akhirnya bertanya pada Serena. "Apa kamu tahu siapa orangnya?" Mendengar pertanyaan ini, hati Randika mengepal. "Tentu saja aku tahu." Serena mengedipkan matanya. "Waktu itu orang itu duduk di sampingku." Mendengar hal ini, semua orang menjadi penasaran. "Seperti apa orangnya?" "Kamu pasti mengenalnya bukan?" Bahkan para pramugari juga ikut penasaran dengan sosok Randika. Sebelum ini, kejadian pembajakan pesawat itu ditutup rapat-rapat oleh pihak penerbangan jadi tidak ada informasi jelas mengenai masalah ini. Mereka tidak menyangka bahwa akan bertemu dengan salah satu penumpang dari kejadian tersebut. Randika terbatuk-batuk tetapi tidak ada yang menyadari sosoknya. Semua mata tertuju pada Serena, menunggu jawaban dari perempuan cantik ini. Mata Serena sempat melirik ke arah Randika untuk sesaat, hal ini membuat Hannah makin geregetan dengan Serena. Apa yang direncanakan wanita satu itu? "Sebenarnya aku benar-benar beruntung hari ini karena aku bisa duduk dengannya lagi hari ini." Kata Serena sambil tersenyum. Secara serentak, semua orang benar-benar terkejut. Dalam sekejap, semua mata tertuju pada Randika yang duduk di samping Serena. Puluhan mata menatap Randika, semua mata tersebut terbelalak ketika melihat sosok Randika. Mustahil! Orang itu adalah pahlawan yang telah menyelamatkan puluhan nyawa dari teroris? Untuk sesaat suasana benar-benar sunyi. Hannah dan Viona juga sama terkejutnya dengan yang lain. Hannah benar-benar bingung, kapan kakak iparnya itu melakukan hal heroik seperti itu? Sedangkan Viona sudah terkagum-kagum, Randika memang lelaki yang gagah dan pemberani! Para pramugari juga tidak kalah terkejut dengan yang lain, mereka menatap Randika lekat-lekat. Eh? Bukankah dia terlihat tampan? Meskipun begitu, tatapan kebanyakan orang tidak percaya dengan kata-kata Serena. "Apa kamu tidak salah orang?" Tanya salah satu penumpang. Serena lalu berkata sambil tersenyum. "Tidak, orang ini adalah pahlawanku waktu itu. Berkat dia kami semua bisa selamat dari kejadian mengerikan itu." Melihat wajah serius Serena, semua orang akhirnya mempercayai kata-katanya. Randika terlihat gelisah karena tatapan mata orang-orang. "Jangan begitu, waktu itu keadaan terdesak jadi aku terpaksa turun tangan." "Apa benar kamu menghajar semua orang itu sendirian?" Tanya seseorang. "Sepertinya." Randika tersenyum. "Apa kamu jago bela diri?" Lanjutnya. "Hmm mungkin?" Randika terlihat seperti orang bodoh. "Bukankah para teroris itu punya senjata? Bagaimana caramu mengalahkan mereka?" Satu per satu pertanyaan mulai dilontarkan orang-orang, tetapi orang-orang masih ragu dengan sosok Randika. Bagaimanapun juga, sosok Randika sama sekali tidak melambangkan sesosok pahlawan. Tidak dapat dihindari, beberapa dari penumpang ingin melihat Randika beraksi. "Tunjukan otot-ototmu!" "Benar, coba angkat apa gitu." Dalam sekejap semua orang menjadi antusias. Randika menghela napasnya. "Apa kalian ingin melihatnya?" "IYA!" Semua orang satu suara. "Baiklah." Randika mengangguk. Ketika suara Randika itu terdengar, semua mata sudah menatap Randika lekat-lekat. Namun, Randika sama sekali tidak bergerak. Randika hanya memegang topinya dengan tangannya lalu memakainya. Semuanya menatap Randika, berharap melihat sesuatu yang menakjubkan. Tetapi Randika hanya tersenyum dan berkata pada mereka. "Sudah!" Sudah? Semua orang terlihat bingung, apanya yang sudah? Namun, pada saat ini, beberapa orang menyadari apa yang dimaksud oleh Randika. "Bukannya tadi dia tidak memegang topi?" Mendengar hal ini, semuanya terkejut. Benar! Randika tidak memegang topi daritadi. "Dari mana topi itu?" "Benar, dia daritadi tidak membawa topi apa pun di tangannya!" "Eh, apa kita tidak salah lihat saja? Mana mungkin tiba-tiba dia punya topi?" Semua orang terbagi menjadi 2. Pada saat yang sama, seseorang melihat topi yang dikenakan Randika lalu langsung memegangi kepalanya. Dengan nada yang terkejut, dia berkata dengan lantang. "Mana topiku!?" Pada saat ini, Randika tersenyum dan berjalan menghampirinya. "Maafkan aku, aku hanya ingin memperlihatkan sedikit kemampuanku." Dalam sekejap semua orang terkejut bukan main. Orang itu bisa mengambil topi orang lain tanpa diketahui orang-orang? Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi! Tanpa diragukan lagi, hal ini membuat semua orang terkagum-kagum; semua orang mulai bertepuk tangan. "Pahlawan asli!" "Hebat, hebat!" Beberapa orang mulai meminta tanda tangan dan foto, bahkan para perempuan berebutan menarik perhatian Randika dan meminta nomor teleponnya. "Bisa minta tanda tanganmu?" "Hmm? Di mana aku harus tanda tangan?" Randika mengambil sebuah bolpen dan tersenyum. "Di sini." Perempuan itu menunjuk dadanya. Randika hanya bisa melihat lembah dada yang begitu besar dan menelan air liurnya. Chapter 344: Serena Masih Memiliki Kesempatan! Tanpa diduga, perjalanan menuju Makau ini ternyata adalah ajang foto-foto dan tanda tangan bagi Randika. Memang masyarakat suka dengan pahlawan! Randika benar-benar senang, tetapi Hannah terlihat cemberut. Hati Hannah benar-benar resah dan marah, entah kenapa dia merasa begitu resah terhadap kakak iparnya itu. Melihat hal ini, Viona tersenyum pada Hannah. "Han, wajar kok Randika disukai banyak orang." "Apa kak Viona termasuk juga?" Hannah menatap Viona. Mendengar pertanyaan ini, wajah Viona menjadi merah. Namun, Hannah tidak melanjutkan pertanyaannya ini. Dia hanya menatap Randika yang kesenangan karena dikerubungi oleh beberapa perempuan. Dia memutuskan untuk tidak memedulikan kakak iparnya itu lagi. Para pramugari juga menatap kagum pada Randika, mereka juga ingin mengenal sang sosok pahlawan kota Cendrawasih ini. Setelah beberapa saat meladeni orang-orang, Randika kebelet pipis. Setelah berusaha mati-matian keluar dari lautan manusia itu, akhirnya Randika bisa melepaskan diri. Ketika dia hendak masuk ke dalam toilet, Randika didatangi oleh seorang pramugari. Randika menatap si pramugari, boleh dikatakan bahwa kecantikannya tidak kalah dengan Viona. Alis matanya bergetar dan wajahnya benar-benar merah. Tatapan matanya yang tidak bisa melihat dirinya dan suaranya yang gagap itu lumayan imut bagi Randika. Randika tersenyum padanya. "Ada yang bisa aku bantu?" Melihat senyuman Randika, si pramugari memberanikan diri untuk bertanya padanya. "Bisa minta nomor teleponmu?" "Oh? Kenapa?" Senyuman Randika ini membuat hati si pramugari menjadi leleh. "Karenaˇ­" Si pramugari itu mengambil satu langkah maju dan berdiri tepat di hadapan Randika. Dalam sekejap, wangi parfum langsung memasuki hidung Randika. Dada si pramugari yang kenyal itu juga menempel di tubuh Randika. Wajah cantik si pramugari itu sudah sangat merah dan tatapan matanya menatap mata Randika. "Apa kamu ingin melakukannya denganku di sini?" "Hmm? Kita mau melakukan apa memangnya???? Menghadapi godaan ini, Randika menundukan kepalanya dan berbisik di telinga si pramugari. Merasakan napas hangat Randika, tubuh si pramugari ini makin terangsang. Randika merasa kenapa pramugari ini begitu sensitive? "Aku ingin kita berhubungan badan." Tangan si pramugari mulai berenang di dada Randika, sedangkan selangkannya sudah menggesek-gesek paha Randika. Meskipun si pramugari masih memakai pakaiannya, Randika masih bisa merasakan kelembutan darinya. "Sekarang?" Menghadapi godaan si pramugari ini, Randika pura-pura terlihat polos. Setelah Randika bertanya seperti itu, si pramugari langsung membuka pintu kamar mandi dan menarik masuk Randika. Di dalam bilik toilet, Randika langsung memeluk erat si pramugari dan menyenderkannya di tembok. Dengan tangannya bersarang di pinggangnya yang ramping, Randika menerkam bibir merah si pramugari tersebut. Dalam sekejap isi kepala si pramugari langsung kosong, dia memeluk erat leher Randika dan sangat bersemangat menerima ciuman dari Randika. Tangan kanan Randika sudah mulai tidak tahan, dia mulai merogoh rok si pramugari! Tetapi dia tidak berani melakukan hubungan badan di tempat ini. Pertama-tama ada Hannah dan Viona di luar. Tetapi alasan paling utama adalah mereka ada di dalam pesawat. Akan sangat mencurigakan apabila mereka berdua menghilang dalam jangka waktu yang lama. Meskipun sangat ingin melakukannya, hal ini sangat tidak bagus untuk hubungannya dengan Hannah dan Viona. Randika masih menikmati tubuh dan ciuman dari si pramugari. Setelah meremas pantatnya berkali-kali, sekarang Randika berfokus pada dadanya. Si pramugari itu kehabisan napas karena ciuman panas mereka berdua, dia merasa bahwa Randika tiba-tiba membuka kancing bajunya. Wajahnya langsung menjadi merah, meskipun dia sendiri yang meminta "kasih sayang" Randika, dia masih merasa malu karena ini masih di dalam pesawat. Tetapi melihat sosok pahlawan ini membugili dirinya, dia merasa tidak berdaya. Di dalam pikirannya sekarang adalah dia ingin menanam benih lelaki ini dan melahirkan pahlawan generasi berikutnya. Bagaimanapun juga, semua perempuan akan terkagum-kagum dengan pria gagah dan pemberani seperti Randika. Randika mulai melihat sosok kedua gunung itu di matanya, sedangkan si pramugari terlihat ragu-ragu ketika nanti tiba-tiba Randika ingin melakukannya hingga akhir. Namun ketika baju itu akhirnya terlepas, tiba-tiba pintu toilet mereka digedor oleh orang dari luar. Dalam sekejap wajah si pramugari menjadi gugup dan bingung. Dengan cepat, Randika menyalakan keran air untuk memberi sinyal bahwa ada orang di dalam. Dia lalu melihat wajah malu si pramugari dan berkata padanya. "Sudah jangan khawatir." Pramugari itu tidak membalas sama sekali, sedangkan tangan Randika sudah berenang kembali di dadanya. Tetapi tiba-tiba, pintu toiletnya itu lagi-lagi digedor yang membuat si pramugari tersebut menjadi ketakutan. Tentu saja, inilah resiko melakukannya di dalam toilet. Lagipula, Randika sudah beberapa menit di dalam toilet ini jadi wajar jika ada orang yang akan mendatangi mereka. Randika meminta si pramugari itu tetap diam. Jika dia membuka pintu itu sekarang juga, bisa-bisa karier si pramugari itu akan hancur dan Randika sendiri tidak punya wajah untuk bertatap muka dengan Hannah dan Viona. Meskipun begitu, adrenalin membuat kejadian ini benar-benar menegangkan! "Sebentar!" Teriak Randika. Bersamaan dengan itu, Randika dapat mendengar suara langkah kaki yang menjauh. Randika lalu membuka pintu toilet itu pelan-pelan dan meminta si pramugari untuk pergi terlebih dahulu. Si pramugari tersebut sudah membetulkan pakaiannya tetapi wajahnya masih tersipu malu karena kejadian barusan. Dia lalu memberikan kartu namanya kepada Randika dan berkata padanya. "Ini nomor teleponku, rumahku ada di Cendrawasih jadi kita bisa bertemu kapan-kapan." Setelah menyerahkan kartu namanya, pramugari itu pura-pura mengambil barang dan kembali ke tempat duduknya. Randika menyimpan kartu nama si pramugari ke dalam saku bajunya, yang masih menyimpan bau dan kehangatan si pramugari tadi. Kembali ke tempat duduknya, Hannah dan Viona tidak curiga sama sekali karena memang sebelumnya di bandara Randika buang air besar. Tetapi Serena yang duduk di sampingnya dapat mencium bau parfum yang melekat di Randika. "Ini... bau parfum pramugari tadi!" Serena tersenyum. "Sepertinya aku punya kesempatan, apa kamu ingin melakukannya denganku?" Randika hanya bisa tersenyum pahit, kenapa indera penciuman Serena mirip dengan seekor anjing pelacak? Melihat keraguan di wajah Randika, Serena memalingkan wajahnya. "Dasar pria, kalian semua itu sama saja." Serena lalu menghela napasnya. "Aku sudah memberikan nomor teleponku bukan? Nanti kalau kamu sudah bisa mengelabui kedua perempuan itu, teleponlah aku dan aku akan datang ke hotel mana pun yang kamu mau." Randika hanya bisa tersenyum dan mengangguk. "Baiklah kalau begitu, nanti kalau sempat aku akan meneleponmu." Hannah menyadari bahwa kakak iparnya itu menatap Serena dengan tatapan mesum, Hannah semakin cemberut. Dia sangat heran kenapa kakak iparnya ini masih mau menggoda wanita lain padahal dia sudah membawa 2 malaikat bersama dirinya! Chapter 345: Ada Penyusup! Setelah turun dari pesawat, Randika, Viona dan Hannah berniatan untuk menaruh barang terlebih dahulu di hotel. Saat mereka hendak berpisah, Serena memeluk Randika dan berbisik di telinganya. "Jangan lupa menghubungiku, aku akan mendatangimu walau itu di ujung dunia sekali pun." Setelah itu dia mencium pipi Randika dan menghilang. Melihat sosok Serena yang menghilang, Hannah yang marah berkata pada Viona. "Kak Viona, ayo kita pergi dari sini." Setelah berkata seperti itu, Hannah menyeret Viona dan pergi meninggalkan Randika. Ketika Viona ragu-ragu, tangannya sudah ditangkap oleh Hannah dan diseret bersamanya. Sedangkan untuk koper-koper mereka, sudah jelas bahwa Randika yang akan membawanya. Randika hanya bisa tersenyum pahit, dia sekarang harus membawa 3 koper dan menyusul Hannah yang semakin menjauh. Tidak lama kemudian, akhirnya Randika berhasil menyusul. "Han, itu semua bukan salahku jadi tolong bantu aku bawa barang-barang ini." Kata Randika sambil terus menyeret 3 koper dan 1 tas ransel miliknya. "Oh? Jadi seorang pahlawan tidak bisa membawa beberapa koper?" Hannah memalingkan wajahnya. Sedangkan Viona sudah tidak tega dan menawarkan bantuan. "Ran, sini aku bantu bawain." "Kak! Sudah jangan hiraukan pria hidung belang itu. Kalau kak Randika bisa menghabisi teroris dengan tangan kosong, bukankah barang-barang kita itu hanya hal sepele baginya?" Randika hanya bisa tersenyum pahit, sejak kapan adik iparnya itu menjadi pintar? "Han, jangan begitu dong. Nanti kalau barang-barangmu ini dicuri bagaimana? Aku tidak bisa menangkap sekaligus menjaga semua barang ini bukan?" Kata Randika. "Oh jadi kakak tidak mau membawakan barang-barang kita?" Wajah Hannah terlihat jahat. "Kalau begitu, mungkin nanti pulang aku akan menceritakan perempuan yang duduk di sampingmu tadi ke..." "Hahaha aku bercanda kok, apa tidak ada barang lagi yang bisa kubawakan?" Kata Randika sambil pura-pura tertawa. Melihat hal ini, Viona hanya bisa tertawa sedangkan Hannah mendengus dingin. Sepertinya nama Inggrid Elina sudah menjadi senjata untuk menaklukan kakak iparnya. Randika hanya bisa menggigit bibirnya, kalau saja tidak ada Viona mungkin dia sudah akan melawan Hannah. Kemudian mereka bertiga naik ke dalam taksi dan berangkat menuju hotel mereka. Setelah beberapa saat, mereka tiba di hotel mereka. Kamar mereka ada di lantai 7. Untuk acara kali ini, Hannah memesan dua kamar. Satu untuk Randika dan satu untuk dirinya dan Viona. Ketika mereka berada di pintu kamar mereka, Randika hanya bisa menatap Hannah yang bersiul dan terlihat gembira. Viona hanya bisa tersenyum pada Randika, dia berharap senyumannya itu cukup sebagai penghiburan bagi Randika. Ketika Viona hendak berbicara, dia sudah diseret ke dalam oleh Hannah. Randika hanya bisa pasrah ketika melihat pintu kamar itu tertutup. Meskipun sedih, dia akhirnya tertawa. Apa adik iparnya itu pikir bahwa sebuah pintu bisa menghalangi rencana haremnya? Kamar hotel ini menggunakan sebuah kartu untuk membuka pintu kamar, tetapi hal ini percuma apabila di hadapan seorang Ares. Randika hanya perlu menembakkan tenaga dalamnya ke arah kunci dan membukanya secara perlahan. Karena kamar mereka bersebelahan, setelah menaruh barang-barangnya, Randika menempelkan telinganya pada dinding kamar. Dengan pendengaran supernya, dia dapat mendengar kedua perempuan sedang mengobrol. Hmmˇ­ Bukankah seharusnya mereka sedang melepas baju mereka sekarang? Berkat tenaga dalamnya juga, dia dapat mendengarkan apa yang terjadi di balik dinding dengan jelas. Kemudian hati Randika mengepal, jelas itu suara baju yang dibuka! Di balik dinding ini kedua perempuan cantik sedang membuka baju mereka, kalau dia tidak membuka pintu itu jelas dia bukanlah seorang pria! Dalam sekejap Randika mulai bersemangat, kalau dia menjalankannya dengan baik maka Hannah dan Viona akan jatuh ke dalam pelukannya. Karena kamar mereka terhubung dengan connecting door, Randika membukanya secara perlahan dan menahan napasnya. Namun, tidak ada orang di dalam kamar! Randika benar-benar bingung, dia lalu berjalan ke tengah ruangan. Pada saat ini, terlihat dua bayangan di dalam kamar mandi. Asyik! Kedua bola mata Randika sudah siap merekam kejadian ini baik-baik, telinganya dapat mendengar suara kedua perempuan itu mengobrol. Sudah dapat dipastikan bahwa kedua sosok perempuan cantik itu sedang mandi bersama-sama! Memikirkan adegan di dalam kamar mandi itu, Randika hampir mimisan. Hati Randika benar-benar sudah terbakar api semangat, kakinya sudah mengendap-endap ke arah kamar mandi. Pintu kamar mandinya tidak tertutup secara rapat, sepertinya Hannah benar-benar ceroboh karena berpikir bahwa dirinya aman oleh sebuah pintu. Berkat hal ini, Randika bisa memanfaatkan hal ini! Di dalam kamar mandi, Hannah dan Viona sama sekali tidak sadar dengan keberadaan Randika. "Kak, kakak benar-benar punya tubuh yang luar biasa!" Hannah terpukau dengan dada Viona, dia lalu meremasnya dengan kedua tangannya. Darah di hidung Randika sudah hampir keluar. Kedua perempuan ini masuk ke dalam bathtub yang memiliki banyak gelembung. Tetapi berkat tindakan Hannah ini, keduanya terekspos dan memperlihatkan tubuh telanjang mereka. YA TUHAN! Randika menelan air liurnya. Adik iparnya sendiri itu sepertinya sudah mengalami perubahan sejak selamat dari dalam gua, sepertinya ukuran dadanya bertambah lagi! Sedangkan untuk Viona, ini pertama kalinya Randika melihat kedua dadanya itu dengan jelas. Benar-benar dada nomor 1 di dunia! "Han, kamu sendiri juga tidak kalah kok." Viona membalas Hannah. Melihat sosok keduanya itu saling menyentuh dan meraba satu sama lain tadi benar-benar sudah terekam di ingatan Randika. Kedua tangan Viona dan Hannah saling meremas dada mereka masing-masing. Keduanya memuji satu sama lain dan mengatakan bahwa mereka sama-sama cantiknya. Keduanya lalu tertawa dan mengobrol di dalam bathtub yang penuh gelembung itu. Mata Randika benar-benar terpaku dengan kejadian ini, sudah berkali-kali dia menelan air liurnya. Sayangnya, pintu kamar mandi hanya terbuka kecil jadi dia tidak bisa melihat semuanya dengan jelas. "Sedikit lagi, sedikit lagi!" Randika terus bergumam, matanya tidak pernah melepas sosok kedua perempuan di dalam. Ketika Hannah dan Viona membanding-bandingkan tubuh mereka, tiba-tiba mereka berdiri dan saling menyemprotkan air. Ini dia! Tetapi sayangnya, sosok punggung mereka lah yang memenuhi mata Randika. "Ayo putar, putar badanmu untuk ayah!" Randika meremas pintu kamar mandi itu dengan kuat, dia sangat berharap melihat sosok telanjang mereka sekali lagi. Bisa dikatakan bahwa dia itu berada di faksi dada walaupun faksi pantat tidak kalah bagusnya. Randika terus menerus bergumam pada dirinya, dia sangat berharap melihat dada-dada kelas dunia itu lagi. Namun, Randika tidak dapat melihatnya lagi karena Hannah dan Viona akhirnya berdiri dan memakai handuk. Melihat kedua perempuan di dalam hendak keluar, Randika langsung tersadar dan berniat untuk pergi. Namun, Hannah secara tidak sengaja dapat melihat sosok bayangan dari celah pintu. Dalam sekejap, Hannah langsung menutup dadanya yang sudah berbalut handuk itu dan berteriak dengan keras. "Siapa itu!" Mendengar hal itu, Viona juga ketakutan. Apa ada penyusup di dalam kamar mereka? Kedua perempuan itu berjalan perlahan ke arah pintu sedangkan Randika yang berada di balik pintu itu sudah ketakutan. Dia harus kabur! Ketika dia hendak lari, Hannah sudah membuka pintu dan menemukan sosok Randika. Hannah benar-benar terkejut, rasa terkejut itu berubah menjadi marah. Kakak iparnya mengintip mereka berdua mandi? Ketika melihat sosok Randika, wajah Viona menjadi merah. Dia tidak menyangka Randika akan melakukan tindakan hina seperti ini. Bagaimanapun juga, mengintip itu merupakan perbuatan hina. Randika hanya bisa berdiri diam di tengah ruangan, dia merasa malu. Ketika dia menoleh ke arah Hannah dan Viona, dia hanya bisa tersenyum pahit dengan hati yang sudah siap diomeli. Tidak ada alasan yang terpikirkan olehnya sama sekali. "Jadi bisa dijelaskan kenapa kak Randika ada di kamar kita? Apa kakak barusan mengintip kita mandi?" Nada Hannah benar-benar terdengar mengerikan. "Han, bisa-bisanya kamu berpikir seperti itu! Aku bukan orang yang seperti itu!" Tanpa diduga, Randika terlihat tenang. Mendengar jawaban ini, Hannah makin marah. "Bukan orang yang seperti itu?" "Han biarkan aku menjelaskannya. Aku dengar kamu teriak jadi aku memastikan bahwa kalian baik-baik saja." Kata Randika dengan nada yang meyakinkan. Bahkan Viona dapat mengerti bahwa alasan Randika ini benar-benar payah. "Aku rasa kamulah si penyusupnya." Hannah sudah mengepalkan tinjunya. "Beneran, aku dengar kamu teriak ''siapa itu!'' jadi aku bergegas ke sini sapa tahu ada penyusup." Kata Randika dengan nada yang tenang. "Aku juga sempat mendengar langkah kaki seseorang, jadi aku bergegas masuk ke kamarmu tanpa pikir panjang." Melihat wajah serius Randika, Hannah makin ragu. Wajah kakak iparnya ini terlihat bukan dibuat-buat, apalagi dia mengingat kejadian Shadow kapan hari jadi bisa jadi apa yang dikatakan kakak iparnya ini benar. "Ketika aku hendak menghajarnya ternyata di dalam ruanganmu itu tidak ada siapa-siapa, baru saat itu kalian keluar dari kamar mandi dan melihatku." Kata Randika. Mendengar kata-kata itu, Viona sedikit ketakutan; dia berpikir bahwa mungkin penyusupnya masih bersembunyi di sini. Sedangkan Hannah, dia tidak tahu harus berkata apa. "Jadi aku sarankan kalian memakai baju dulu di kamar mandi dan aku akan mengamankan kamar kalian dulu." Setelah berkata seperti itu, Randika mulai memeriksa seluruh sudut ruangan. Karena ruangan mereka terhubung, Randika juga pura-pura memeriksa kamarnya. Melihat wajah serius Randika, keraguan Hannah makin besar dan dia mulai percaya dengan Randika. "Sialan, dia sudah kabur!" Tiba-tiba suara Randika terdengar dari kamarnya dan Hannah serta Viona segera ke sana. Dia melihat jendela kamar yang terbuka lebar. Randika menghirup udara dalam-dalam. "Kurang ajar, dia benar-benar telah menipuku dengan bersembunyi di kamarku. Untung saja dia tidak berbuat macam-macam pada kita." Viona yang mendengar kata-kata Randika itu menjadi panik. "Ran, bagaimana ini?" "Sudah kalian berdua tenang saja, mulai hari ini aku akan berjaga-jaga agar hal ini tidak terulang lagi. Serahkan masalah ini padaku." "Jadi bagaimana kalau kalian berdua memakai baju terlebih dahulu? Setelah itu bagaimana kalau kita mencari makan?" Randika lalu menuntun mereka berdua kembali ke kamarnya dan mengatakan bahwa dia akan mandi terlebih dahulu sebelum pergi. Hannah semakin curiga ketika melihat Randika yang buru-buru ingin pergi ini. Tiba-tiba matanya berbinar-binar. Bukankah ini aneh? Bukankah mereka ada di lantai 7? Jadi jika penyusup itu melompat turun, bukankah itu sama saja dengan bunuh diri? Dalam sekejap, Hannah berhenti berjalan. "Tunggu!" Ketika Randika hendak menutup connecting doornya, dia merasakan firasat buruk. Sialan, apakah dia sudah ketahuan? Chapter 346: Mencoba Kasino di Makau Pada akhirnya, Randika dimarahi habis-habisan oleh Hannah. Dia tidak habis pikir kenapa kakak iparnya ini begitu mesum. Setelah 30 menit menerima omelan itu, Randika masuk ke dalam kamarnya dan mandi. Setelah beberapa saat, Hannah dan Viona masuk ke dalam kamarnya. "Ran, ayo kita makan!" Viona terlihat bersemangat begitu pula dengan Hannah. Barusan saja, keduanya itu membahas makanan enak yang ada di Makau. Saking banyaknya pilihan, tujuan hari ini adalah mencoba makanan sebanyak mungkin! Setelah 8 jam di pesawat dan menerima omelan Hannah, Randika jelas tidak sabar untuk mencicipi makanan. Karena Macau merupakan destinasi wisata terkenal, beberapa jalan dikhususkan sebagai tempat kuliner. Salah satunya adalah Qingping straight street dan satunya lagi adalah Fulong new street. Karena hari sudah sore, mereka memilih Qingping straight street yang rupanya cukup dekat dengan hotel mereka. Hannah dan Viona benar-benar semangat, mereka sesumbar bisa makan segala macam makanan yang dijual di sana. Randika mengikuti mereka dan menikmati berbagai macam makanan, karena bagaimanapun juga, makanan di Macau sangatlah beragam. Sore hari mereka telah dihabiskan dengan makan dan belanja bersama-sama, hal ini cukup menyenangkan bagi Randika sekali pun. Di tengah-tengah jalan-jalan mereka, Hannah kadang-kadang mengambil foto mereka bertiga yang sedang asyik makan. Dia ingin mengabadikan momen ini agar kakaknya di rumah bisa melihat kegiatan mereka bertiga. "Hei, hei, nanti malam kita mau ke mana?" Tanya Hannah. Viona berpikir, matanya nampak bersemangat. "Bagaimana kalau kita ke kasino? Aku sudah lama ingin mencoba bermain di sana." Kasino? Mendengar hal ini Hannah makin bersemangat. "Benar! Aku juga sudah lama ingin mencoba ke tempat seperti itu." Di Makau, bukanlah makanan ataupun tempat pelacurannya yang terkenal melainkan kasino! Banyak film Cina yang bertema judi disyuting di tempat ini dan memang kenyataannya orang-orang datang ke sini untuk berjudi. Bisa dikatakan bahwa Makau merupakan surga bagi para penjudi. Ini bisa dibuktikan dengan jumlah kasino yang ada di Makau. Ada ratusan kasino yang berdiri di kota ini, sepertinya perjudian menjadi salah satu pilar industri bagi kota Makau. Yang paling penting adalah kegiatan berjudi merupakan hal yang legal di Makau. Jadi tidak akan ada polisi yang tiba-tiba menggerebek dan menangkap kalian ketika bermain, hal ini membuat orang-orang berbondong-bondong untuk berjudi karena rasa aman yang ada. Karena Viona dan Hannah tidak sabar pergi menuju kasino, Randika hanya bisa pasrah dan ikut bersama dengan mereka. Sejujurnya dia tidak terlalu suka berjudi. Meskipun di kasino bawah tanah di kota Cendrawasih dia dijuluki dewa judi, itupun karena dia harus membantu Richard sampai dia harus bermain. Setelah beristirahat sebentar di hotel dan menaruh tas belanja, mereka bertiga pergi menuju kasino terdekat. Untuk menyesuaikan dengan suasana kasino, Hannah dan Viona memakai gaun pesta malam mereka. Tentu saja, baju ini baru saja mereka beli tadi dan penampilan mereka benar-benar menawan. Dua perempuan dengan kecantikan bagaikan malaikat ini telah menarik perhatian para lelaki yang ada. Sedangkan Randika dengan baju biasanya berjalan di tengah-tengah mereka berdua, dia nampak seperti seorang pemulung apabila dibandingkan dengan Hannah dan Viona. Semua orang yang melihat kejadian ini menghela napas mereka, benar-benar sangat disayangkan kedua malaikat cantik itu harus berjalan dengan lelaki jelek. Namun, tujuan mereka bukanlah menggoda dan mencari perhatian Hannah dan Viona karena tujuan mereka datang ke kasino adalah berjudi. Hannah dan Viona menatap sekeliling mereka dengan semangat, kata-kata Hannah berikutnya membuat Randika tersadar bahwa malam hari ini akan menjadi malam yang melelahkan baginya. "Jadi kita mau main apa dulu?" Randika menghela napasnya, dia lalu membalas Hannah. "Pertama-tama, kita tukar uang kita dulu." Setelah mendapatkan chip mereka, mereka bertiga mulai mencari permainan. Di kasino ini, jumlah permainannya lebih banyak daripada kasino bawah tanah di Cendrawasih. Sebelum memilih permainan, Randika memberikan penjelasan pada Hannah dan Viona. "Ini namanya permainan rolet jadi kita di sini kita bisa bertaruh banyak seperti bola akan berhenti di nomor berapa atau berhenti di warna apa. Bisa juga kamu memilih dia akan berhenti di angka 1-10 dll." "Aku pilih angka keberuntunganku yaitu 21!" Teriak Hannah. Viona juga ikut menaruh chipnya tetapi bola putih itu sama sekali tidak mendekati nomor pilihan mereka. "Ah tidak seru! Ganti, ganti!" Randika lalu membawa mereka ke meja permainan yang lain. "Kalau yang ini adalah Dragon and Tiger, kalian hanya perlu memilih mana yang akan mendapatkan angka yang lebih besar." "Kalau begitu aku pilih Dragon!" "Ah kok tidak seru ya? Tidak ada rasa tegangnya begitu menurutku, ayo cepat kita ganti!" Randika tidak berdaya, dia membawa mereka berdua ke tempat lain. "Ini mesin slot." "Kalau yang ini permainan dadu." "Kalau ini black jack." Randika terus menerus memperkenalkan permainan-permainan yang ada. Sedangkan Hannah dan Viona mencobanya tanpa pikir panjang. "Ah kita kalah lagi, ganti tempat baru kak! Siapa tahu di meja berikutnya kita lebih beruntung." "Yah permainannya tidak seru, ayo kita cari yang lain." "Hmm kok mainnya gini-gini aja ya? Tidak ada mainan yang lain?" "Yah kalah lagiˇ­" Satu per satu mainan telah mereka coba. Untungnya saja, Hannah dan Viona hanya ingin mencoba semua permainan yang ada jadi tiap taruhan yang mereka pasang hanyalah dalam jumlah yang kecil. Tetapi bagaimanapun juga, tingkat kemenangan mereka 0%. Mau permainan apa yang mereka coba, sepertinya hanya 2 hal yang pasti untuk Hannah dan Viona yaitu kalah lalu ganti permainan yang lain. "Sialan, aku rasanya ditipu!" Hannah makin frustasi, Viona di sampingnya mulai menghiburnya. "Aku kira keberuntunganku itu tinggi, kenapa aku kalah terus?" Hannah terlihat sedih. Pada saat yang sama, ada seorang pria berdiri tidak jauh dari mereka. Pria itu menatap Hannah yang terlihat sedih. Dari awal Hannah dan Viona memasuki kasino, matanya sudah tertuju pada mereka berdua. Dari awal hingga akhir, kedua matanya itu tidak bisa lepas dari 2 sosok malaikat ini. Kecantikan mereka berdua benar-benar kelas dunia, terlebih lagi tubuh keduanya membuat siapapun tidak bisa menahan nafsu mereka. Sedangkan untuk sosok Randika, dia sama sekali tidak peduli dan menganggapnya seekor semut. Setelah sekian lama mengikuti, akhirnya dia melihat kesempatan untuk mendekati kedua perempuan itu. Pria bernama Yuan Ping ini merapikan bajunya dan berjalan menghampiri. Randika yang berdiri di samping Viona dan Hannah hanya berkata sambil tersenyum. "Han, judi itu memang seperti itu. Apa kamu kira mereka datang ke sini hanya untuk main-main sepertimu? Mereka semua datang ke sini untuk mencari uang jadi untuk menang itu perlu kesabaran dan strategi." Hannah makin cemberut. "Tapi aku kan cuma ingin menang walaupun cuma sekali." Randika mengangguk, memang dari 20 permainan yang telah mereka coba, semuanya berakhir dengan kekalahan. Bisa dikatakan bahwa penghargaan pemain paling buruk ini cuma bisa diraih oleh Hannah. Bagaimanapun juga, tidak mungkin orang bisa kalah segitu banyak secara beruntun. Sedangkan Viona hanya ikut-ikutan jadi sekarang chipnya sama mengenaskannya dengan Hannah. Keduanya hampir kehabisan chip taruhan. Viona tersenyum. "Han, sudah tidak apa-apa. Berikutnya kita pasti menang!" Pada saat ini, Yuan Ping yang memakai jas itu tersenyum ke arah mereka. "Maaf mengganggu kalian berdua, aku baru saja melihat kalian kalah di beberapa meja tadi." Kata Yuan Ping dengan Bahasa Inggrisnya yang fasih. Hannah mendengus dingin dan menjawab pria itu dengan dingin. "Terus memangnya kenapa?" Randika mengerutkan dahinya dan memperhatikan Yuan Ping tanpa mengeluarkan suara. "Maaf nona, sepertinya Anda salah menangkap maksudku. Aku hanya tidak tega melihat kalian kalah seperti itu." Kata Yuan Ping dengan senyumannya yang paling tulus, dia lalu menatap Viona. "Aku bersedia membantu dua nona cantik ini untuk memenangkan kembali uang kalian, aku jamin uang awal kalian akan menjadi 2x." Hannah terlihat tergoda dengan penawaran itu, dia benar-benar ingin menang. Tetapi dirinya sangat tahu bahwa manusia itu busuk, pasti ada udang di balik batu. Melihat keraguan Hannah, Yuan Ping terus tersenyum dan berkata padanya. "Kalian tidak perlu membayarku sama sekali, kalian hanya perlu memberikan chip kalian yang sekarang dan aku akan mengembalikannya ke jumlah awal kalian." Ini adalah trik Yuan Ping ketika menggaet perempuan di kasino. Ketika nanti uang mereka sudah kembali maka dinding yang menghalanginya untuk meniduri mereka akan menipis. Sejauh yang dia tahu, tidak akan ada yang bisa menolak bantuan gratis apalagi melihat sifat dirinya yang jentelmen ini. "Bagaimana? Apa kalian berdua bersedia mempercayakan chip kalian padaku?" Yuan Ping terus tersenyum pada Viona dan Hannah. Selama dia bisa memenangkan kembali uang mereka, memenangkan hati mereka hanyalah masalah waktu. Namun, tanpa diduganya, Viona dan Hannah menoleh ke arah Randika. Hal ini membuat Yuan Ping mengerutkan dahinya. Entah kenapa Yuan Ping merasakan firasat buruk ketika melihat pria kumuh itu. Kenapa kedua malaikat cantik ini sepertinya meminta persetujuan dari pria itu? Sejujurnya, Hannah dan Viona sudah sangat bergantung pada Randika. Apalagi kejadian ini terjadi secara tiba-tiba dan kebetulan di lokasi paling maksiat di dunia. Suasana hati Randika sudah buruk selama beberapa saat. Pria tersebut jelas menganggap dirinya itu butiran debu, untungnya saja Viona dan Hannah tidak takluk dengan gaya bicara Yuan Ping yang memikat itu. Sekarang waktunya pembalasan! "Kami tidak perlu bantuanmu, kami hanya sedang ingin bermain-main saja." Kata Randika. Mendengar tidak persetujuan Randika, Yuan Ping tidak mau menyerah. Dia lalu berkata pada Hannah. "Tidak masalah kalau kalian ingin bersenang-senang saja. Tetapi bukankah lebih menyenangkan lagi kalau kita mendapatkan uang? Biarkan aku membantu kalian." "Kamu tuli? Aku bilang kita tidak butuh bantuanmu." Randika mendengus dingin. "Apa kamu ingin merebut kedua pasanganku ini? Berani sekali kamu!" Pasangan? Hannah dan Viona menatap bingung pada Randika, sejak kapan mereka berdua menjadi pasangannya Randika? Tetapi Hannah sendiri merasa bingung ketika mendengar kata-kata Randika itu. Di satu sisi dia senang mendengar hal itu sedangkan satu sisi dia marah karena sejak kapan kakak iparnya itu ngaku-ngaku jadi pacarnya? Bukan berarti dia itu ingin menjadi pacarnya! Dalam beberapa saat, wajah Hannah terlihat merah. "Bukan, bukan, aku hanya ingin menyampaikan bahwa kemampuanku itu nomor 1 di kasino ini." Jawab Yuan Ping sambil tersenyum. "Kalau dibandingkan dengan kemampuanmu, jelas aku akan membuat mereka senang sekaligus mendapatkan uang." Oh? Jadi dia nantang? Randika tersenyum dalam hati, tetapi wajahnya tetap terlihat dingin. "Sepertinya kamu percaya diri sekali dengan kemampuan berjudimu?" "Bisa dikatakan seperti itu." Yuan Ping tersenyum. Tatapan matanya mengandung ejekan pada Randika. "Mau mencoba melawanku?" Kata Randika dengan santai. Hannah dan Viona jelas terkejut ketika mendengar deklarasi perang ini. Chapter 347: Uang Gratis Apa Randika bisa berjudi? Pertanyaan ini terlintas di benak Hannah dan Viona. Sedangkan untuk Yuan Ping, jelas dia tertawa dalam hati. "Kamu kira amatiran sepertimu bisa mengalahkanku?" Wajah Viona terlihat khawatir terhadap Randika sedangkan ekspresi wajah Hannah terlihat bingung. Mereka sama sekali tidak tahu apakah Randika bisa berjudi atau tidak. Yuan Ping yang pura-pura terkejut itu kembali tersenyum. Dia sangat suka menginjak-injak kepercayaan diri para amatiran yang merasa dunia judi itu mudah. Sejujurnya, kemampuan berjudi Yuan Ping tergolong lumayan di kasino ini. Tetapi dia sangat percaya diri bisa mengalahkan Randika karena dia sudah membuntuti mereka sejak permainan mereka yang pertama. Sangat jelas bahwa pria itu sama sekali tidak bisa bermain. "Baiklah kalau begitu." Yuan Ping segera menyetujui ajakan Randika. "Permainannya terserah kamu." Randika lalu mengambil chip Hannah dan Viona yang tersisa. "Aku hanya akan menggunakan chip ini untuk merebut semua chip yang kamu punya." Kata-kata Randika memang terdengar santai tetapi hal ini menyulut api di dalam hati Yuan Ping. "Baiklah!" Jadi pertarungan mereka segera dimulai, Yuan Ping memilih permainan dadu sebagai pemanasan. "Menebak besar atau kecil?" Viona yang berdiri di belakang Randika itu nampak khawatir. "Hahaha kamu salah nona cantik." Yuan Ping tersenyum. "Kita akan menebak angka pada dadu." Ekspresi Yuan Ping terlihat acuh tak acuh, bukannya menebak besar atau kecil, dia memilih menebak angka yang ada pada dadu! Hal ini justru membuat permainan sederhana ini menjadi jauh lebih sulit. Ekspresi wajah Randika sama sekali tidak berubah, dia hanya melemparkan semua chip yang dia punya. Yuan Ping lalu mengambil sebuah wadah berupa gelas hitam dan memasukan 3 dadu ke dalamnya. Salah satu dari mereka akan mengocok sedangkan yang satu akan menebak angka pada 3 dadu tersebut. Setelah memasukan dadu, Yuan Ping mulai mengocok gelas tersebut. Randika terlihat tenang, sedangkan para penjudi yang lain mulai mengerubungi meja mereka. Sepertinya mereka menyadari bahwa ada pertarungan antara pemain di meja tersebut. Melihat Yuan Ping yang mengocok gelas tersebut, mereka mulai berdiskusi satu sama lain. "Apa mereka sedang main menebak besar atau kecil?" "Seharusnya, tetapi bodoh sekali orang itu menantang Yuan Ping bermain." "Tapi seharusnya kalau permainan dadu ini bergantung pada keberuntungan saja, toh peluangnya juga 50%." Beberapa penjudi mulai membahas permainan ini sedangkan Viona sudah sibuk dengan perasaan cemasnya itu. Meskipun dia sangat percaya dengan Randika, dia masih tidak bisa menahan rasa cemasnya ini. DUAK! Yuan Ping selesai mengocok dan menaruh gelas tersebut di atas meja. Randika lalu berkata dengan santai. "3, 5 dan 6." Mendengar kata-kata ini, para penjudi yang mengitari meja itu terkejut. Mereka rupanya main menebak angka? Kali ini semua heboh sendiri karena permainan ini sudah tidak masuk akal. Memangnya ada manusia yang bisa menebak 3 dadu dengan benar? Jelas butuh indera keenam untuk menebaknya dengan tepat! Jelas bagi orang biasa sudah hampir mustahil bisa menebak ketiga angka itu dengan benar, apalagi jika dia tidak memiliki kemampuan melihat tembus pandang. Mungkin satu-satunya cara adalah dengan indera pendengaran. Tetapi hal ini benar-benar mustahil bagi para penjudi kelas atas sekalipun. Randika dengan santai melontarkan tebakannya, hal ini membuat Yuan Ping semakin merasa di atas awan. Yuan Ping sudah tersenyum lebar, dia lalu mengangkat gelasnya tersebut. Melihat angka yang ada, Yuan Ping benar-benar terkejut. Ketiga dadu itu menunjukan angka 3, 5, 6! "Ya ampun!" "Orang itu esper atau apa?" "Apa dia titisan dewa judi?" "Gila, kok bisa benar tebakannya?" Semua orang yang melihat kejadian ini benar-benar terkejut bukan main. Bahkan bola mata Yuan Ping terlihat mau copot dari kantungnya. Dia menatap kagum pada Randika. Dewaˇ­ Benar-benar dewa! Setelah Yuan Ping menaruh gelasnya, sekarang gilirannya Randika yang mengocok. Berbeda dengan Yuan Ping yang mengocoknya dengan cara mencolok, Randika hanya mengocoknya di atas meja selama beberapa saat. Kali ini Yuan Ping lah yang menebak berapa angka yang ada pada dadu. Wajah Yuan Ping terlihat bingung dan tertekan, dia lalu berkata pada Randika. "1, 2, 5." Randika perlahan membuka gelasnya, semua orang sudah menahan napas mereka. Tanpa diduga semua orang, ternyata ketiga dadu itu menumpuk menjadi satu! Dadu pertama menunjukan angka 1! Kali ini semua orang benar-benar terbakar semangatnya. "Sudah kuduga Yuan Ping bukan orang sembarangan." "Hahaha sepertinya mereka akan imbang." Namun, ketika Randika memperlihatkan dadu kedua, semua orang terdiam. Dadu kedua menunjukan angka 1! Sekarang pertanyaannya adalah apakah dadu ketiga akan menunjukan angka 1 juga? Semua orang mulai penasaran, ketika dadu ketiga itu mulai memperlihatkan wujudnya, semua orang terdiam sekali lagi. Dadu ketiga juga menunjukan angka 1! Tiga angka 1! Randika hanya mengocok gelas tersebut pelan dan di atas meja, menghasilkan dadu yang tertumpuk dan sama-sama menunjukan angka 1 benar-benar membutuhkan kemampuan yang sempurna. Wajah Yuan Ping terlihat muram, dia tidak menyangka kemampuan berjudi lawannya ini berada di level mengerikan. "Ran, kamu memang luar biasa!" Viona yang berdiri di belakang Randika sudah bertepuk tangan sambil terkagum-kagum. Hannah juga sama gembiranya, dia tidak menyangka kakak iparnya ternyata hebat dalam berjudi. "Kita coba permainan yang lain." Yuan Ping berdiri dan mengajak Randika pergi. Randika hanya mengangguk dengan biasa dan ikut berdiri. Di bawah tatapan mata orang-orang, Randika dan Yuan Ping mulai bertarung selama 1 jam. Pertarungan mereka melibatkan beberapa permainan di dalam kasino, dan tentu saja, semua pertarungan mereka telah dimenangkan oleh Randika. "Gila, apa dia dewa judi?" "Hahaha tamat sudah Yuan Ping!" "Sudah menyerah saja, jangan mau dibodohi terus!" Dalam satu jam, chip yang dimiliki Randika mulai menggunung. Namun, chip yang dimiliki oleh Yuan Ping semakin sedikit tiap menitnya dan wajah Yuan Ping sudah mulai pucat pasi. Lawannya kali ini benar-benar luar biasa, khususnya ketika bermain poker tadi. Bluff dan raise yang dilakukannya benar-benar sempurna! Randika bahkan mendapatkan royal straight flush! Benar-benar keberuntungan yang luar biasa. Namun kekagumannya ini sangatlah sia-sia karena tiap menitnya chip yang dimilikinya it uterus berkurang. Setelah bermain selama satu jam, hasil kekalahannya apabila dirupiahkan sudah mendekati angka 100 juta. Semua orang sudah terheran-heran ketika melihat Yuan Ping kalah begitu telak. Akhirnya setelah merasakan kekalahan beruntun, Yuan Ping melambaikan tangannya. "Aku menyerah." Para penjudi ikut terdiam melihat kejadian ini, mereka menatap Randika seakan-akan melihat hantu. Kemampuan berjudi orang ini benar-benar tidak masuk akal! Setiap permainan yang dia lakukan selalu menang telak! Sebagai contohnya ketika mereka bermain black jack tadi. Randika sampai melakukan split sebanyak 7x dan tidak ada satupun kartu yang kalah! Mungkin orang-orang akan melihat hal ini sebagai tindakan curang tetapi kartu yang dibagi masih fresh dan tidak mungkin Randika sudah bisa melakukan card counting dari awal. Bisa dikatakan bahwa semua permainan di kasino ini merupakan lahan uang bagi Randika. Wajah Yuan Ping benar-benar pucat, setelah dia mengaku kalah, dia sudah tidak punya wajah untuk lama-lama berada di kasino. "Ran, kamu menang banyak!" Viona benar-benar senang. Hannah juga senang ketika melihat chip yang menyerupai gunung itu. "Tahu gitu dari awal kak Randika yang main." Randika tersenyum pahit, dia kurang senang berjudi karena uang bukanlah masalah baginya. "Kalau begitu, kita segera tukar chipnya dan berpesta!" Kata Hannah. "Han, bawa Viona bersamamu dan tukar chipnya, aku mau ke toilet sebentar." Kedua perempuan itu benar-benar senang, dengan chip yang sebanyak ini jelas mereka bisa foya-foya selama di Makau. Pada saat yang sama, Yuan Ping melihat seorang pria memasuki kasino. Dengan wajah tersenyum, dia menghampiri sosok pria tersebut. Chapter 348: Aku Memberimu Tiga Detik Untuk Lari Liu Changhai merupakan generasi kedua yang tumbuh di ibu kota negara Cina, dia sering mengunjungi Makau. Karena kekuatan keluarganya yang kuat, nama Liu Changhai sangat dikenal oleh orang-orang. Yuan Ping merupakan teman dari ayah Liu Changhai. Generasi kedua yang dimaksud adalah keturunan dari keluarga aristokrat yang kemungkinan besar akan meneruskan kekuasaan keluarga mereka, bisa dikatakan bahwa Liu Changhai sama persis dengan Anthony dan Richard. Karena telah hidup dari kekayaan keluarga mereka, generasi kedua ini memiliki sifat sombong dan semena-mena. Apa yang diinginkan oleh mereka akan mereka dapatkan dengan kekuatan uang. Yuan Ping benar-benar bahagia ketika melihat Liu Changhai, dalam sekejap dia sudah siap mengadu domba Randika dan Liu Changhai. "Xiao [1] Liu." Yuan Ping menghampiri Liu Changhai. Liu Changhai mengangkat kepalanya dan membungkuk ke arah Yuan Ping. "Apa kamu datang ke sini untuk bermain lagi?" Kata Yuan Ping sambil tersenyum. "Benar, aku akhir-akhir ini sibuk jadi butuh hiburan." Liu Changhai lalu menyalakan cerutu yang dia bawa, cerutu yang dia hisap itu cerutu buatan Kuba yang terkenal sangat mahal. "Berarti kebetulan sekali kamu datang Xiao Liu." Yuan Ping tersenyum. "Aku barusan saja melawan orang hebat." "Oh?" Liu Changhai menjadi sedikit tertarik. Dia sangat menyukai 2 hal di dunia ini yaitu yang pertama adalah berjudi sedangkan kedua adalah perempuan. "Aku baru saja melawan orang hebat di 30 permainan di kasino ini, dan tidak ada satu pun permainan yang bisa aku menangkan." Meskipun hatinya terasa kesal, Yuan Ping berhasil menutupinya dan terus tersenyum. Apa pun yang terjadi, dia tidak rela uangnya diambil oleh si pemulung tadi itu! Meskipun bukan dia yang mengalahkan Randika, setidaknya uangnya itu akan dinikmati oleh salah satu kenalannya. "Benarkah?" Mendengar hal itu, ekspektasi Liu Changhai meningkat. Teman ayahnya ini cukup terkenal di kasino, jadi lawan yang membuatnya kalah telah itu cukup menarik minatnya. Karena pergaulannya ini, Liu Changhai telah berteman dengan para penjudi sejak kecil. Jadi bisa dikatakan bahwa kemampuan berjudinya tidak kalah dengan Phil Ivey atau para penjudi kelas dunia lainnya. "Mana orangnya?" Tanya Liu Changhai. Dia tidak akan mungkin melewatkan kesempatan bertarung seperti ini. "Di sana." Yuan Ping benar-benar senang, dia langsung menunjuk ke arah Randika berdiri tadi. Tetapi ketika dia menoleh, dia hanya melihat sosok Hannah dan Viona yang berdiri di sana. "Jangan bilang kamu kalah sama 2 perempuan cantik itu?" Wajah Liu Changhai benar-benar bahagia, suasana hatinya benar-benar bagus. Kalau melawan dua perempuan cantik seperti itu, dia tidak keberatan pertandingan mereka berakhir di atas ranjang. Ketika dia menghembuskan asap cerutunya, dia memutuskan bahwa hari ini dia akan tidur dengan kedua perempuan cantik itu. "Bukan, dua perempuan itu milik orang yang mengalahkanku tadi. Dia benar-benar bukan pria sembarangan." Yuan Ping langsung memakai bahasa sopan agar Liu Changhai tidak tersinggung. "Berarti maksudmu orang itu hebat? Aku kasih tahu ya, belum pernah ada orang yang bisa mengalahkanku." Setelah berkata seperti itu, Liu Changhai menghembuskan asap cerutunya lagi. Dia lalu menyerahkan cerutu yang baru nyala itu pada pengawalnya dan berjalan menghampiri Hannah dan Viona. Karena saking bahagianya dengan jumlah chip yang dimilikinya, Hannah dan Viona sudah berandai-andai akan belanja baju apa nanti. Setelah sekian lama menunggu, akhirnya uang mereka sudah siap. Meskipun waktu sudah berjalan cukup lama, Randika masih belum kembali dari toilet. "Kenapa kak Randika begitu lama? Bukankah laki itu pipisnya cepat?" Kata Hannah. Viona lalu menepuk pundak Hannah. "Han, tidak sopan ah kamu bicara seperti itu. Sudah sabar saja." Pada saat ini, Liu Changhai sudah berada di hadapannya Hannah. Hannah terkejut melihat sosok Liu Changhai yang tiba-tiba berhenti di depannya, siapa orang ini? "Halo, namaku adalah Liu Changhai." Liu Changhai memperkenalkan dirinya selayaknya jentelmen. "Bolehkah aku tahu namamu nona cantik?" Bagi generasi kedua seperti Liu Changhai, etika dasar telah diajarkan oleh keluarga mereka untuk dipergunakan ketika bertemu dengan pihak penting. Namun, Hannah sama sekali tidak memberikan wajah bagi Liu Changhai. Bukannya memperkenalkan dirinya, dia mengambil langkah mundur dan memeluk erat koper isi uangnya. Viona juga sama, dia berdiri di samping Hannah dan bertanya-tanya siapa pria yang mendekati mereka ini. Mungkin apabila Randika ada di sini, suasana hatinya akan benar-benar buruk. Ini sudah kedua kalinya ada orang yang berani menggoda ceweknya, apa mereka ini masih sayang nyawa mereka? Liu Changhai terkejut, dia masih mempertahankan senyumannya. "Kalian tidak perlu takut, aku bukanlah seorang monster. Kenapa kalian terlihat begitu takut padaku?" "Kami tidak tertarik berbicara denganmu." Hannah menggelengkan kepalanya, dia paling benci orang-orang kaya seperti Liu Changhai. Baginya mereka hanyalah anak cengeng yang sangat mengandalkan kekuatan orang tua mereka. "Nona, beri aku waktu 10 menit dan aku akan memperkenalkan surga dunia pada kalian berdua." Bagi Liu Changhai, tidak ada perempuan yang bisa menolak dirinya yang super kaya ini. "Bahkan 1 detik pun tidak akan kuberikan, pergi dan jangan ganggu kita lagi." Hannah sudah tidak sabar. "Ah, apakah nona salah paham mengenai maksud baikku ini?" Liu Changhai tidak mau menyerah, malam ini dia harus tidur dengan kedua perempuan cantik itu. Viona lalu berkata pada Liu Changhai. "Jangan ganggu kami, kami sedang menunggu orang." Wajah Liu Changhai tidak berubah, dia tidak peduli dengan orang ketiga tersebut. "Wah berarti semakin ramai semakin meriah dong? Aku yakin temanmu itu akan senang berkenalan denganku." Kata Liu Changhai. "Apa kamu ini bodoh? Kak Viona sudah sopan memintamu untuk pergi tetapi kamu sepertinya tidak sadar ya?" Hannah sudah menjadi sedikit marah. "Kamu itu sudah sama seperti lalat, sama-sama menyebalkan!" Wajah Liu Changhai sedikit menjadi muram, tatapan matanya berubah menjadi dingin. Namun, semua itu berubah menjadi senyuman. "Hahaha sepertinya aku salah dengar, tidak mungkin perempuan cantik sepertimu berkata kasar seperti itu." "Oh kamu ingin aku mengatakannya lagi?" Hannah tidak pernah takut ketika berhadapan orang seperti ini. "Sudah sana cepat pergi sebelum nanti kak Randika memberimu pelajaran." "Mau itu Randika ataupun presiden Amerika pun, mereka akan tunduk padaku." Kata Liu Changhai sambil tersenyum, dia lalu menambahkan. "Malam hari ini, kalian akan menemaniku makan malam." "MIMPI!" Viona jadi ikut marah karena kata-kata Liu Changhai barusan. "Mana mungkin Randika tunduk pada orang sepertimu? Bahkan kamu tidak dapat menyaingi ketampanannya sedikit pun!" "Tampan atau tidak itu relatif, tetapi aku yakin dia tidak memiliki apa yang kumiliki." Kata Liu Changhai sambil tersenyum. Tentu saja yang dia maksud adalah kekayaan yang berlimpah-limpah, sudah puluhan perempuan takluk ketika dia memberi mereka hadiah mewah. Namun, pada saat ini, terdengar suara dari belakang Liu Changhai. "Oh ya? Coba kamu katakan apa yang tidak kumiliki itu?" Ketika Liu Changhai menoleh, dia melihat Randika yang sudah berdiri di belakangnya. Dengan santai Randika melewatinya dan merangkul Hannah dan Viona dengan kedua tangannya. Wajah Viona sudah tersipu malu tetapi dia menikmatinya sedangkan Hannah berusaha melepaskan diri dari terkaman kakak iparnya itu. Lalu Randika berkata dengan santai. "Aku tidak peduli siapa kamu, tetapi jangan coba-coba untuk menggoda perempuanku. Aku akan memberimu waktu 3 detik untuk lari dan enyah dari sini." [1] Sebutan untuk kecil. Chapter 349: Jangan Pernah Ganggu Cewekku Lagi! Beberapa orang mulai menyadari kejadian ini. Bagaimanapun juga, mata mereka sudah lama tertuju pada Hannah dan Viona. Dan sekarang karena Randika sedang bersitegang dengan Liu Changhai, mereka mulai mengalihkan fokus mereka ke pertengkaran mereka berdua ini. "Siapa orang yang berani melawan tuan Liu Changhai itu?" "Hei, memangnya siapa pemuda itu? Kenapa kamu sampai menyebutnya tuan?" Tanya temannya. "Bodoh! Apa kamu tidak tahu Liu Changhai? Dia itu anak dari keluarga aristokrat di ibu kota negara kita, Liu Changhai sering mampir ke Makau untuk berjudi dan liburan. Dengar-dengar, keluarganya itu bekerja sama dengan geng di Makau dan telah memerintah Makau dari balik layar!" Temannya itu langsung menghirup napas dalam-dalam. "Ternyata pemuda itu sudah semengerikan itu? Bukankah berarti riwayat pria itu sama saja dengan tamat?" "Benar, aku takutnya tuan Liu Changhai membunuhnya ketika masih banyak tamu di kasino. Bisa-bisa berita kematian ini jadi heboh." "Segila-gilanya orang, masa dia akan membunuhnya di tempat ramai seperti ini?" "Bodoh, coba lihat para pengawalnya yang berbaju hitam itu. Apa kamu tidak lihat mereka semua membawa senjata? Mereka tinggal membayar dan menutupi berita kematian orang itu sebagai tindakan pembelaan diri. Aku dengar orang terakhir yang berani melawan Liu Changhai itu menghilang tanpa jejak." Keduanya lalu terdiam, dunia atas benar-benar mengerikan. Mereka tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan keluarga aristokrat yang begitu bebas. Tidak jauh dari lokasi kejadian, Yuan Ping menatap kejadian ini dengan wajah gembira. Randika benar-benar sudah tamat, meskipun dia telah kehilangan uangnya, setidaknya dia akan melihat Randika berubah menjadi mayat. Dan mungkin, meskipun kemungkinannya sangat kecil, dia akan meminta jatah pada Liu Changhai untuk salah satu perempuan itu nanti. Selama kamu dapat memuaskan hati seorang Liu Changhai, kamu pasti akan mendapatkan imbalannya. Hati Yuan Ping benar-benar terbakar oleh api kebencian dan kemarahan, dia sudah menatap Randika selayaknya melihat jenasah. Tetapi sepertinya kebanyakan orang di kasino masih belum memperhatikan kejadian ini, sedangkan para staf kasino seperti tutup mata terhadap kejadian ini. Menurut aturan kasino, siapapun tidak diperkenankan membuat keributan di dalam gedung. Tetapi siapakah Liu Changhai itu? Jelas para staf kasino tidak berani bertindak sama sekali jika sudah melihat sosok pemuda tersebut. Para petugas keamanan kasino justru terlihat santai-santai saja, bahkan mereka tidak berani melihat ke arah Liu Changhai. "Hahaha baru pertama kali aku melihat orang segila kamu." Liu Changhai tertawa ketika mendengar ancaman Randika itu, dia sama sekali tidak takut. "Satuˇ­" Randika tidak peduli, dia mulai menghitung. "Siapapun yang berani melawanku akan mati mengenaskan." Liu Changhai memberikan sebuah fakta pada Randika dengan nada dingin. "Jadi sebelum aku marah, sebaiknya kamu segera pergi dari sini dan tinggalkan kedua perempuan itu padaku." "Duaˇ­" Randika sama sekali tidak mengindahkan kata-kata Liu Changhai. "Sepertinya kamu punya nyali, aku akui itu." Kata Liu Changhai sambil tersenyum. Setelah berkata seperti itu, sepertinya Liu Changhai memberi sinyal pada para pengawalnya. "Tiga!" Setelah hitungan ketiga itu terucapkan, Randika menerjang ke arah Liu Changhai dan memukulnya tepat di wajahnya. Bisa dikatakan bahwa semua orang yang memperhatikan kejadian ini sama sekali tidak menyangka bahwa Randika akan berani memukul Liu Changhai. Terlebih lagi, kecepatannya benar-benar cepat! Dalam sekejap, pukulannya itu sudah bersarang di wajah Liu Changhai. DUAK! Sepertinya tinju Randika itu berhasil mematahkan hidung Liu Changhai sekaligus membuat pemuda tersebut melayang beberapa meter ke belakang. Ketika dirinya melayang, mata Liu Changhai hampir copot dari kantongnya karena dia tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Orang-orang di sekeliling mereka langsung menjadi heboh. "Gila, orang itu beneran cari gara-gara sama tuan Liu Changhai?" "Apa dia tidak tahu siapa lawannya itu?" "Perangˇ­ Ini sudah menjadi perang!" Jelas fokus orang-orang sekarang berada di Randika. Ketika para pengawal Liu Changhai melihat kejadian ini, mereka segera menghampiri tuan muda mereka. Liu Changhai memegangi hidungnya, darah tidak bisa berhenti mengalir dari hidungnya. "Kamu!!!" Kata Liu Changhai menunjuk ke arah Randika, sepertinya dia tidak percaya bahwa Randika berani memukulnya. Namun tanpa disangka semua orang, sosok Randika tiba-tiba sudah berada di atas Liu Changhai dan menamparnya sekali lagi! PLAK! Suara tamparan itu benar-benar nyaring, sebuah telapak tangan langsung membekas di pipi Liu Changhai. Yuan Ping melihat kejadian ini dengan tubuh gemetar, dia tidak menyangka Randika akan seberani itu. Selama ini, orang-orang yang berani melawan Liu Changhai itu jumlahnya sangat sedikit karena itu sama saja dengan mencari mati! Bisa dipastikan bahwa Randika sudah tamat riwayatnya! Orang-orang di sekeliling mereka mulai meninggalkan aktivitas judi mereka dan mulai berdiskusi satu sama lain. Wajah Liu Changhai sudah berlumuran darah dan hidungnya tidak berhenti mengeluarkan darah. Para pengawal Liu Changhai itu mulai marah, mereka segera mencabut pistol mereka dan membidik Randika. "Berhenti!" Tetapi Randika lebih cepat dari mereka, Randika lalu mengangkat dan menggunakan Liu Changhai sebagai tameng. Tangannya Randika dengan erat memegang leher Liu Changhai, sepertinya dia bisa mengakhiri nyawa pemuda ini kapan saja dia mau. Bergelantungan di udara, Liu Changhai sudah benar-benar panik. Untuk pertama kali di dalam hidupnya, dia baru pertama kali mengalami kejadian seperti ini. Dia merasa bahwa Randika akan benar-benar membunuhnya! Ketika dia melihat tatapan mata Randika, ketakutannya itu makin besar. "Gila, apa dia beneran mau membunuh Liu Changhai?" "Ya Tuhan, apa dia sudah gila?" "Cepat hubungi manajer kasino! Kerahkan semua orang untuk menghentikannya sebelum semuanya terlambat." "Jatuhkan senjata kalian, aku tidak suka dibidik seperti itu." Randika menatap tajam pada para pengawal Liu Changhai. "Buang atau kubunuh dia." Keempat pengawal itu tidak bergerak sama sekali, tetapi detik berikutnya wajah mereka segera berubah karena Randika meremas leher Liu Changhai dengan kuat! "ARGH!!!" Teriakan tragis dapat terdengar dari mulut Liu Changhai, keempat pengawalnya itu mau tidak mau menjadi ragu ketika melihatnya. "Aku tidak akan mengulangi lagi kata-kataku." Kata Randika dengan wajah serius. Keempatnya saling memandang satu sama lain, kemudian mereka membuang pistol mereka. Seperti membuang sampah, Randika melempar Liu Changhai begitu saja. Kemudian dia menepuk-nepuk bajunya dan merapikannya, dia lalu menatap ke sekelilingnya. Semua orang yang merasakan tatapan Randika langsung melangkah mundur tanpa sadar. Mereka sudah menganggap Randika sebagai orang gila. Orang yang berani melawan keluarga aristokrat seperti Liu Changhai sudah sama seperti setan. Tatapan mata Randika akhirnya jatuh pada Yuan Ping. Dia langsung bergetar tanpa henti dan merasa lututnya lemas sekali. Sepertinya dia sudah meremehkan lawannya ini! Randika lalu membawa Hannah dan Viona ke pintu keluar. Ketika Randika hendak pergi, keempat pengawalnya itu hendak mengambil pistol mereka dan menghalangi Randika. Namun tatapan mata Randika membuat mereka sadar akan posisi mereka. Aura membunuh Randika membuat nyali mereka menjadi ciut. "Jika kau berani mengganggu cewekku lagi, kubunuh kau!" Kata-kata Randika itu menggema ke seluruh kasino, sepertinya peringatan itu ditujukan pada semua orang di dalam gedung tersebut. Para pengawal Liu Changhai segera menghampiri tuan mereka. Setelah memeriksa keadaan tuan mereka, mereka menghela napas lega. Liu Changhai tidak mengalami luka yang fatal, hanya saja hidungnya itu patah. "Cepat bawa aku ke rumah sakit!" Teriak Liu Changhai dengan marah. Para pengawalnya itu bertindak dengan cepat, mereka sudah tidak mau membuat tuan mereka ini marah lagi. Ketika sosok mereka menghilang, semua orang di kasino ini masih belum bisa sadar dari keterkejutan mereka. Liu Changhai yang merupakan penguasa kota Makau ini telah dihajar hingga babak belur? Terlebih lagi, pengawalnya itu memiliki senjata tetapi tidak bisa berbuat apa-apa? Mereka semua tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Yuan Ping merasa dadanya menjadi lega ketika melihat sosok Randika yang menghilang, dia sudah benar-benar basah oleh keringat. Mulai dari sekarang, sepertinya menyinggung Randika merupakan pilihan yang buruk. Sedangkan untuk Liu Changhai, sepertinya dia tidak perlu berbuat apa-apa. Bagaimanapun juga, kejadian mengerikan itu hanya terjadi di antara Liu Changhai dan Randika. Ketika di dalam perjalanan ke rumah sakit, wajah Liu Changhai yang berlumuran darah itu sudah dipenuhi dengan api kebencian. "Lihat saja pembalasanku nanti!" Chapter 350: Awal Pembalasan Dendam Liu Changhai "Ran, kamu benar-benar luar biasa!" Viona semakin kagum dengan Randika. Hannah juga tidak kalah kagum. "Kak Randika memang hebat, aku paling benci orang seperti itu. Dia pikir dia bisa membeli segalanya dengan uang. Randika masih merangkul keduanya dengan tangannya, bau parfum mereka segera memenuhi hidungnya. Randika sendiri juga merasa dirinya keren tadi, dia lalu berkata dengan santai. "Siapapun yang berani merebut Viona dan Hannahku yang cantik, aku akan menghajar mereka tidak peduli dia seorang presiden sekalipun!" Setelah berkata seperti itu, dia melirik ke arah keduanya dan terbatuk sekali. "Seharusnya sekarang kalian bertepuk tangan." "Benar!" Viona langsung bertepuk tangan, Hannah lalu ikut bertepuk tangan. "Yah bantuan kak Randika kali ini benar-benar hebat, nanti aku akan menceritakan kisah heroik kak Randika ke kak Inggrid!" Kata Hannah sambil tersenyum. Randika lalu menarik mereka ke tengah dan berbisik pada mereka. "Sepertinya malam ini kita perlu tidur satu kamar, ini untuk jaga-jaga saja." Tentu saja, rencana impian Randika ditolak mentah-mentah. "Tidak mau!" Hannah dengan cepat melepaskan diri dari rangkulan Randika dan menolak usulan Randika. "Aku sama kak Viona itu wanita lemah lembut, serigala seperti kak Randika tentu saja akan memangsa kita ketika kita tidur!" Lemah lembut? Sepertinya kata-kata itu tidak cocok untukmu bukan? Mengingat-ingat kelakuan Hannah yang dulu-dulu, bukankah nona muda ini sering mencari gara-gara ke orang lain dengan perkataan kasarnya? Dari mana coba dia itu lemah lembut? Randika yang awalnya semangat tadi menjadi loyo bagaikan balon yang kempes, Viona yang masih dia rangkul itu tersenyum dan berkata padanya. "Sudah tidak apa-apa, bagaimana kalau kita sekarang makan dulu?" "Makan? Ayo, ayo! Mau makan apa kita?" Hannah menjadi bersemangat kembali. Setelah berjalan sebentar, mereka menemukan sebuah restoran. "Kak Viona, kakak pesan saja apa yang kakak mau. Uang kita banyak!" Ketika mereka duduk, Hannah langsung melambaikan tangannya memanggil pelayan. Randika sendiri tidak sungkan-sungkan memesan, makanan yang dia pesan sudah sama seperti porsi seorang sumo. "Ran makannya pelan-pelan dong." Viona yang duduk di sampingnya itu membersihkan mulut Randika yang cemot dengan makanan. Hannah sendiri juga mengunyah makanannya dengan cepat. Kedua orang itu makan dengan lahap, lalu di atas meja tinggal setusuk sate daging sapi yang tebal. Heningˇ­ suasana meja makan ini menjadi hening! Mata Hannah dan Randika saling melotot satu sama lain, akhirnya Hannah memecah keheningan dengan berkata pada kakak iparnya. "Jika kakak berani mengambil makananku, aku akan menceritakan ini ke kak Inggrid." "Han, makan banyak akan membuatmu gemuk." Balas Randika. "Aku tidak gemuk kok." Jawab Hannah sambil tersenyum. Ketika Randika hendak membalas perkataannya, dia merasa ada seseorang yang menepuk pundaknya. Ketika Hannah menoleh, ternyata tidak ada apa-apa. Namun ketika dia melihat ke arah piring, sate daging sapinya sudah masuk ke dalam mulut Randika. "Ah, ah, ah kak Randika curang!" Hannah dengan cepat berusaha merebut sate tersebut. "Sudah toh Han, nanti kamu tambah gemuk!" Suasana makan malam mereka ini benar-benar mirip sebuah keluarga yang bahagia. Di saat yang sama, Liu Changhai mendapatkan informasi tempat hotel Randika menginap. Tetapi Liu Changhai tidak membuat amarahnya ini mengaburkan penilaiannya. Karena dia gagal sendirian menghadapi Randika, sekarang dia akan meminta bantuan temannya. Jadi Liu Changhai menelepon Li Zhen. Li Zhen merupakan teman baik Liu Changhai, kedua keluarga mereka sama-sama memerintah Makau dari balik layar. Berbeda dengan Liu Changhai, Li Zhen berdomisili di Makau jadi jaringannya jauh lebih besar daripada yang dimilikinya. Terlebih lagi, ayah Li Zhen adalah dewa judi Makau. Karena kekuasaan keluarganya yang absolut, Li Zhen sering berbuat onar di Makau. Ketika Liu Changhai berkunjung ke Makau, mereka berdua sering berjalan bersama-sama. "Kenapa kamu telepon aku malam-malam? Aku sedang ngesex bodoh!" Di balik telepon terdengar suara perempuan mendesah. "Maaf, aku tidak tahu kalau kamu sedang sibuk. Bagaimana kalau aku menebus kesalahanku ini? Aku menemukan 2 perempuan cantik untuk kita berdua." Kata Liu Changhai. "Serius?" Nada suara Li Zhen terdengar ragu-ragu. "Serius, mereka lebih cantik dari simpananmu biasanya. Bagaimana, apa kamu tertarik?" "Sialan, cepat kasih tahu alamatnya." Dari balik telepon terdengar orang memakai baju. "Tapi kamu harus bawa pengawalmu lebih banyak daripada sebelumnya, aku khawatir mereka akan menolak kita dengan keras." Kata Liu Changhai. Li Zhen tertawa. "Jangan khawatir, Makau adalah milikku. Siapa memangnya yang berani melawanku?" Lalu Liu Changhai dan para pengawalnya menunggu di depan hotel untuk waktu yang lama. Dan akhirnya Li Zhen datang dan masuk ke dalam mobil Liu Changhai. "Hei, kamu tidak bohong kan??? Li Zhen duduk di samping Liu Changhai dan memperhatikan sekelilingnya. Tetapi tiba-tiba Li Zhen terkejut ketika melihat penampilan temannya itu. "Bajingan, kenapa kamu penuh perban gitu?" Pada saat ini, hidung Liu Changhai dibalut oleh perban. Liu Changhai menggelengkan kepalanya. "Sudah, penampilanku ini tidak penting." "Terus mana perempuan cantik yang kamu maksud?" Li Zhen menghargai dan mengganti topik. Dari awal pertemanan mereka, mereka berdua sering meniduri perempuan cantik tetapi baru kali ini Liu Changhai memuji kecantikannya jadi jelas Li Zhen penasaran. "Kamu akan tahu ketika nanti kamu melihatnya." Setelah berkata seperti itu, tatapan mata Liu Changhai menjadi berbinar-binar. "Sini, lihat ke sana!" Li Zhen langsung menoleh dan melihat tiga orang sedang berjalan menuju ke dalam hotel. Di bawah sinar rembulan itu, kecantikan Hannah dan Viona tersorot dengan sangat jelas. "Hahaha tidak heran kamu menyebut mereka cantik!" Ekspresi wajah Li Zhen sudah bagaikan serigala siap menerkam mangsanya. Matanya tertuju pada Viona. Pada saat ini, Viona menoleh ke arahnya sambil tersenyum. Momen ini langsung terabadikan di hati Li Zhen. Cantikˇ­ Benar-benar cantik! "Aku akan mengambil perempuan itu." Li Zhen menunjuk ke arah Viona. Liu Changhai tidak peduli, tatapan matanya yang penuh kebencian itu tertuju pada Randika. Dengan nada suara yang dingin, dia berkata pada Li Zhen. "Jangan senang dulu, pria itu tidak selemah yang kamu kira. Lebih baik pengawal kita menghajar dia duluan sebelum akhirnya kita meniduri perempuannya itu." "Baiklah kalau itu maumu, kalau gitu tunggu apalagi? Cepat kita turun, aku sudah tidak sabar." Li Zhen langsung membuka pintu mobilnya. Kemudian Li Zhen dan Liu Changhai berjalan menghampiri Randika. "Kak Viona, besok kita mau ke mana lagi?" Tanya Hannah sambil tersenyum. "Bagaimana kalau kita ke pantai?" Viona tersenyum manis. "Aku dengar pantai di Makau benar-benar indah." Randika baru saja mau berbicara tetapi ekspresi wajahnya berubah menjadi serius ketika dia melihat ke arah depan. Di hadapannya sekarang, ada sosok Liu Changhai dan pemuda lainnya yang menghalangi jalan mereka bertiga. Chapter 351: Akhir Dari Pembalasan Dendam Liu Changhai Wajah Randika langsung berubah menjadi muram, orang-orang seperti ini selalu mengundang masalah. "Sekarang kita lihat, seberapa tangguhnya dirimu sekarang!" Wajah Liu Changhai sudah dibakar oleh api kebencian. Li Zhen di sisinya tertawa. "Sepertinya aku tahu kenapa hidungmu sampai terluka begitu hahaha! Tetapi tenang saja, kali ini aku akan memberikan keadilan untukmu." Viona dan Hannah jelas mengetahui sosok Liu Changhai, Hannah langsung angkat bicara. "Kamu tuli atau apa? Bukankah sudah kita bilang jangan ganggu kami lagi?" "Hmm perempuan yang berani." Li Zhen menganggukkan kepalanya. "Seleramu ternyata bagus juga temanku." Setelah itu Li Zhen menepuk kedua tangannya. Tiba-tiba, sekumpulan pengawal berdiri di belakangnya. Jika dihitung, Li Zhen membawa kurang lebih 20 orang pengawal berbadan kekar. Orang-orang ini sebelumnya menunggu di dalam mobil, mereka menunggu sinyal dari tuan mereka sebelum mereka keluar. "Jadi kalian belum kapok juga?" Kata Randika sambil menghela napas. Viona dan Hannah sudah sembunyi di belakang Randika, sedangkan Randika sendiri sudah melangkah maju dan menatap tajam ke arah 2 pemuda kaya tersebut. "Aku akan memberikan kalian kesempatan untuk lari." Mendengar hal ini, Liu Changhai menjadi marah. "Kau pikir kau itu siapa? Hari ini aku akan membuatmu menyaksikanku memperkosa wanitamu itu!" Li Zhen juga ikut tersulut amarahnya. "Sialan, rakyat jelata sepertimu berani-beraninya melawan? Apa kau tidak tahu kau sedang berhadapan dengan siapa? Justru aku yang memberimu waktu untuk lari atau aku akan membunuhmu di tempat ini." "Hah? Jangan bertindak selayaknya kalian yang punya kota ini! Cepat pergi atau kita akan menghajar kalian sampai mati!" Teriak Hannah di belakang Randika. "Hahaha aku tidak sabar mendengar rintihanmu. Kita lihat saja nanti apakah kamu masih bisa bersifat sok tangguh seperti itu atau tidak." Kata Li Zhen sambil menyengir. Dia lalu menatap Randika. "Bunuh pria itu, jangan lama-lama." Mendengar hal itu, para pengawalnya itu menerjang ke arah Randika. Hentakan kaki yang menyerupai sangkakala perang itu menggetarkan langit. Para pengawal Li Zhen ini merupakan pengawal elit, tidak ada alasan untuk mereka bisa kalah dengan orang biasa. Tetapi apa yang dilihatnya membuat Li Zhen terkejut bukan main, dia merasa matanya itu hampir copot dari kantong matanya. Apa-apaan itu? Mustahil! Ketika pengawalnya dan Randika bertukar pukulan, pengawal yang menerima pukulan Randika itu terpental sejauh 10 meter! Sedangkan Randika masih berdiri dengan tegak, seolah-olah serangan yang diterimanya itu tidak berarti sama sekali. Kejadian berikutnya justru membuat dua pemuda terkuat di Makau ini makin tidak percaya dengan apa yang telah terjadi. Karena para pengawal mereka ini sama sekali tidak berdaya di hadapan Randika. Satu per satu dari mereka dihajar oleh Randika, teriakan demi teriakan terus terdengar. Yang lebih mengenaskannya lagi, para pengawal elit ini tidak dapat melayangkan pukulannya sama sekali! Sedangkan Randika, dia sedang sibuk menghajar satu per satu orang yang berani berdiri di hadapannya. Pukulan maupun tendangannya berhasil membuat siapapun yang menerimanya terpental hingga menabrak mobil ataupun sisi jalan. Bahkan salah satu pengawal itu menerima pukulan secara telak dan langsung tewas karena tubuhnya tidak dapat menerima dampaknya! Ketika satu per satu pengawal itu mulai terkapar di tanah, Randika masih berdiri dengan wajah tenang. Erangan kesakitan mulai memenuhi lokasi pertempuran ini. Li Zhen dan Liu Changhai hanya bisa menatap bingung para pengawal mereka yang dikenal ''elit'' itu terpental dan terkapar di tanah. Keadaan sudah berbalik! Keringat dingin mulai membanjiri Li Zhen, dia baru pertama kali mengalami kejadian seperti ini. Tidak lama kemudian, kurang dari 1 menit, akhirnya pengawal terakhir telah terkapar di tanah. Randika lalu menepuk-nepuk bajunya sekaligus merapikannya, tatapan matanya sekarang tertuju pada Li Zhen dan Liu Changhai. Ekspresi wajah Liu Changhai sudah panik, dia dapat mengingat betul betapa mengerikannya kekuatan Randika sebelumnya. Li Zhen yang ketakutan itu memberanikan diri untuk berkata pada Randika. "Kau pikir menang dari para pengawalku itu cukup mengalahkanku? Keluargaku menguasai seluruh kasino di kota ini, kau masih berani untuk melawanku?" Kesombongan Li Zhen ini memang dapat dimaklumi karena keluarganya itu memang memiliki hampir semua kasino di Makau. Kekuatan yang berdiri di belakang keluarganya itu benar-benar mengerikan, melawan dirinya berarti melawan seluruh Makau! Setelah mendengar ini apakah pria di hadapannya itu masih berani? Wajah Li Zhen benar-benar arogan, dia menatap tajam pada Randika. Melihat Randika yang terdiam, Li Zhen benar-benar senang. Sepertinya gertakannya itu berhasil membuat pria tersebut berpikir 1000x sebelum membuat dirinya menjadi lawan. Tetapi detik berikutnya membuat Li Zhen terheran-heran. Randika yang terdiam itu tiba-tiba menghilang dan dalam sekejap sudah berdiri di hadapan Li Zhen. Dengan satu tangan, Randika menangkap pergelangan tangan Li Zhen dan meremukannya. Dalam sekejap rasa sakit yang luar biasa langsung merasuki Li Zhen. ARGH!! Dalam sekejap Li Zhen mengerang kesakitan, keringat dingin langsung memenuhi tubuhnya. Namun, penderitaannya itu tidak berakhir sampai situ saja. Randika dengan mudah menghancurkan tulang tangannya! Tangan Randika sudah dipenuhi oleh tenaga dalamnya, bisa dikatakan bahwa satu genggaman bertenaga ini telah meremukan seluruh lengan Li Zhen. Bahkan dengan bantuan teknologi zaman sekarang, akan membutuhkan waktu setidaknya 3 tahun agar dapat digunakan lagi. Para pejalan kaki sudah tidak berani mendekati Randika ketika melihat puluhan orang yang tergeletak di tanah. Meskipun mereka dapat mendengar teriakan Li Zhen, mereka terus berjalan tanpa menoleh. Wajah Li Zhen sudah pucat pasi, keringat terus mengalir dari tubuhnya. Bahkan pandangannya yang sekarang mulai terasa kabur. Sedangkan Liu Changhai yang berada di sampingnya sudah gemetaran tanpa henti. Dia sudah berniat untuk kabur meskipun kakinya terasa lemas, tetapi dia menyadari tatapan tajam Randika. Tatapan matanya benar-benar mengerikan! Liu Changhai merasa jantungnya telah berhenti berdetak ketika melihat kedua bola mata Randika. Liu Changhai benar-benar kapok, dia tidak menyangka Randika akan sekuat ini. Bahkan dia sudah menggabungkan kekuatannya dengan Li Zhen, mereka tetap bukan tandingannya! "Sesuai kata-kataku tadi, aku akan membunuhmu jika kau berani menggangguku lagi." Kata Randika sambil tersenyum. Sebelum Liu Changhai dapat membalas, tangan kanannya telah tertangkap oleh Randika. Dengan satu remasan, tenaga dalam Randika langsung meremukan seluruh lengan kanannya itu. Dalam sekejap, rasa sakit langsung menjalar di tubuh Liu Changhai. ARGH!! Sama seperti Li Zhen, Liu Changhai mengerang kesakitan karena seluruh tulang lengan kanannya telah patah. Dengan wajah bengis, Randika menatap kedua pemuda itu. "Ini peringatanku yang terakhir, jika aku bertemu dengan kalian lagi maka aku tidak akan segan-segan membunuh kalian." Setelah berkata seperti itu, Randika membawa Hannah dan Viona masuk ke dalam hotel. Di luar hotel mereka, tergeletak kurang lebih 20 orang. Setelah bertarung dengan rasa sakitnya, Li Zhen dan Liu Changhai akhirnya mampu berdiri kembali meskipun mereka sekarang tidak bisa menggerakan lengan kanan mereka. Setelah masuk ke dalam kamar, Randika mengambil HPnya dan menelepon. Randika sangat paham kekuatan dari Li Zhen dan Liu Changhai. Meskipun dirinya tidak takut sama mereka, kedua bocah itu bisa menjadi duri di jalannya yang akan datang. Oleh karena itu, Randika menelepon Yuna untuk mengirim beberapa orang ke Makau. Karena seharusnya, Li Zhen dan Liu Changhai akan memanfaatkan kekuatan dunia bawah tanah mereka untuk menghabisi Randika. Namun, kedua pemuda itu baru bisa mengirim orang besok pagi jadi ini memberikan Randika waktu untuk bersiap-siap. Setelah meminta tolong pada Yuna, Randika segera menutup teleponnya dan masuk ke dalam kamar Viona dan Hannah. Chapter 352: Ini Demi Kesehatanmu! Ketika Randika masuk ke dalam kamar para perempuan, dia sama sekali tidak menemukan sosok mereka. Namun, dia mendengar suara dari arah kamar mandi. "Han, jangan pegang-pegang terus ah!" Kata Viona. "Kak, aku benar-benar iri sama ukuran dadamu." Kata Hannah sambil tersenyum. Mendengar suara tersebut, Randika jelas kegirangan dan adrenalinnya sudah terpacu. Ketika dia mengendap-endap ke kamar mandi, dia mengetahui bahwa pintunya terkunci dengan rapat. Suasana hati Randika langsung berubah menjadi murung. Ketika Randika hendak kembali ke kamarnya, dia menyadari bahwa ada 2 koper terbuka terbaring di atas tempat tidur. Koper yang terbuka ini milik Hannah dan Viona, dapat terlihat baju dan barang-barang sehari-hari. Karena mereka berdua perempuan, barang bawaan mereka jauh lebih banyak daripada dirinya. Namun, yang membuat Randika tertarik bukanlah barang bawaan mereka melainkan pakaian dalam yang mereka bawa! Hati Randika yang murung itu kembali hidup, dia tidak mungkin melewatkan kesempatan ini! Sebelum itu, Randika memastikan bahwa pintu kamar mandi itu tertutup rapat. Dia memperkirakan bahwa kedua perempuan itu tidak akan keluar dalam waktu dekat. Seharusnya waktunya cukup. Randika dengan cepat menghampiri kedua koper itu. Dan tentu saja, berbagai macam pakaian dalam dapat terlihat. Pakaian dalam wanita sudah seperti karya seni, barang-barang ini dapat menaikkan tingkat kecantikan seseorang apabila digunakan dengan benar. Jadi sebagai lelaki, Randika sangat mengapresiasi pakaian tempur para perempuan ini. Tangannya masuk ke dalam koper yang di sebelah kanan dan begitu pula dengan tangan kirinya. Sekarang dia memegang celana dalam berwarna merah dan putih, jelas merah adalah punya Viona dan putih adalah Hannah. Randika mulai merasakan kelembutan yang dimiliki celana dalam ini. Meskipun lelaki lebih suka melihat perempuan telanjang, justru pakaian dalam sexy seperti ini akan meningkatkan gairah mereka terlebih dahulu. Sedangkan Randika, dia sedikit memiliki fetish stocking. Dia sangat suka melihat kaki perempuan yang putih dan mulus itu terbungkus dengan stocking hitam maupun jala. Ketika Randika berusaha melihat-lihat pakaian dalam yang lain, tiba-tiba, pintu kamar mandi itu terbuka. Hal ini sangat mengejutkan bagi Randika, tetapi semuanya sudah terlambat. Ketika Randika menoleh, dia sudah melihat Hannah dan Viona menatap dirinya. "Randika!?" Viona benar-benar terkejut karena di hadapannya sekarang ini, Randika sedang memegang celana dalam miliknya dan Hannah di kedua tangannya. Hal ini sudah sama seperti seorang pencuri pakaian dalam yang sedang memilih-milih barang jarahannya. "KAK RANDIKA!" Hannah benar-benar marah. Bagi perempuan, pakaian dalam merupakan hal paling privat, bisa-bisanya kakak iparnya itu menggeledah kopernya? Suasana kamar langsung menjadi canggung, namun tiba-tiba wajah Randika berubah menjadi serius. "Han, aku cuma mengecek apakah pakaian dalam yang kamu punya ini higienis atau tidak." Higienis atau tidak? Jelas Hannah tidak percaya. "Kakak sebelumnya bilang ada penyusup, dan sekarang kak Randika tiba-tiba peduli dengan kebersihan gitu?" "Kamu ini bicara apa? Pakaian dalam perempuan khususnya celana dalam sangat penting untuk kesehatan kalian!" Randika masih mempertahankan wajah seriusnya. "Aku kebetulan melihat koper kalian terbuka jadinya sekalian aku mengecek apakah tidak ada masalah dengan pakaian dalammu." Viona sudah menghela napasnya, Randika benar-benar tidak pandai berbohong. Kenapa dia tidak mengaku saja? "Jadi menurut kak Randika apakah pakaian dalamku itu baik-baik saja?" "Tentu saja!" Randika memegang celana dalam berwarna putih itu dengan kedua tangannya. "Coba lihat celana dalammu ini. Kainnya sangat lembut jadi sangat bagus untuk sirkulasi darah karena tidak menekan pinggangmu. Dan juga seharusnya kain ini bisa mempertahankan posisi pantatmu agar tidak kendor. Tetapi seharusnya kamu meniru punya Viona karena punyamu itu kurang menggoda bagiku." Mendengar kata-kata ini wajah Viona sudah tersipu malu. Karena liburan ini ada Randika, dia membawa pakaian dalam yang bagus-bagus untuk jaga-jaga. "Oh? Apa hubungannya dengan kesehatan?" Kata Hannah dengan nada meragukan. "Kalau kamu pakai celana dalammu yang polos ini lama-lama, bisa-bisa jiwa mudamu itu menjadi jiwa ibu-ibu!" Hannah benar-benar kehabisan kata-kata, apa hubungannya dengan kesehatan? "Baiklah kalau begitu, kita lihat yang berikutnya." Randika mengambil secara acak tanpa menoleh dan mengambil sebuah celana dalam berwarna kuning dengan gambar Pikachu. "Hahaha celana dalam ini benar-benar lucu dan lembut, pantatmu akan terlindungi dengan baik. Tetapi menurutku ini kurang baik untukmu karena bagian karetnya agak kendor. Lagipula kalau kamu lama-lama memakai celana dalam seperti ini, bisa-bisa kamu ditertawakan kalau terlihat oleh teman-temanmu!" Hannah dan Viona menatap kosong pada Randika, meskipun dia gagah dan perkasa sepertinya dia tidak tahu kapan harus berhenti. "Baiklah kalau begitu, kita lihat yang berikutnya." Randika dengan santai menaruh celana dalam kuning itu dan mengambil kembali dari koper. "TIDAK!" Dalam sekejap, Viona berteriak dengan kencang. Wajahnya sudah benar-benar merah karena Randika barusan saja mengambil celana dalam miliknya. "Ah? Apakah ini punyamu Vi? Tenang aja, ini demi kesehatanmu!" Randika tersenyum dan melihat apa yang ada di tangannya, dia benar-benar terkejut. Di tangannya sekarang bisa dikatakan bahwa celana dalam itu benar-benar tipis dan hampir tembus pandang. Jika tidak salah mengingat, ini seharusnya celana dalam tipe Tanga! "Nah ini baru celana dalam yang sehat! Coba kalian lihat, tali tipis ini tidak akan meninggalkan jejak di kulit kalian dan juga bagian depannya cukup ramping dan pas menutupi area privat. Sedangkan bagian belakangnya juga dapat mempertahankan kepadatan pantat!" Randika mengagumi celana dalam hitam Viona ini. Dia sudah jatuh cinta dengan pakaian dalam ini! "Ran! Cepat taruh!??? Wajah Viona benar-benar merah, nada suaranya saja sudah sangat tinggi. Dia sangat malu karena ada Hannah di sampingnya. "Benar-benar cerdas, kalau semua perempuan memakai celana dalam ini jelas semua orang akan sehat! Luar biasa!" "Ranˇ­.." Viona sudah membenamkan kepalanya di kedua tangannya. Melihat Viona yang sudah seperti itu, Randika menaruh celana dalam tersebut di atas kasur. Kemudian dia mengambil kembali ke dalam koper milik Hannah. Kali ini dia mengambil satu set bikini berwarna biru yang cukup tipis baginya. "Jadi untuk yang iniˇ­." Ketika Randika ingin menjelaskan, Hannah sudah tidak tahan lagi. "Sudah cukup!" Hannah benar-benar marah. Jika ini diteruskan, bisa-bisa seluruh koper akan dikomentari oleh Randika. "Han, kamu kenapa?" Randika dalam hati sudah tertawa terbahak-bahak. "Kak, ayo kita hajar kak Randika bersama-sama!" Kata Hannah pada Viona, Hannah sudah mengambil sebuah bantal sebagai senjatanya. "Iya!" Viona juga mengepalkan kedua tangannya. Randika merasa sudah kelewatan. "Sudah, sudah jangan cari ribut. Ini sudah malam!" "Kak Viona serang kakinya ya!" Hannah jelas tidak mengindahkan peringatan Randika. "!!" Randika langsung berusaha lari, tetapi Hannah berhasil menangkapnya dan Viona juga berhasil merangkulnya. "Tidak!" Randika masih berusaha melepaskan diri, tetapi Hannah tetap menariknya sekuat tenaga. "Bawa kak Randika ke kasur kak!" Randika sukses dilempar ke kasur. "Mau apa kalian?" Tanya Randika dengan wajah ketakutan. Hannah dan Viona hanya tersenyum ke arahnya. Tidak!!! Chapter 353: Pasukan Ares Telah Tiba! Tentu saja ketakutan Randika ini dibuat-buat. Setelah menerima pukulan bantal berkali-kali dari Hannah dan Viona, Randika diusir dari kamar mereka berdua. Namun sejujurnya, Randika lah yang keluar sebagai pemenang hari ini. Di saat pemukulan itu terjadi, dia berhasil mengambil kesempatan dalam kesempitan. Dia berulang kali meraba dan meremas kedua dada perempuan itu! Ketika dia berjalan menuju kamarnya, wajahnya tidak bisa berhenti tersenyum. Ahˇ­. Aku ingin menyentuhnya lagi! ... Keesokan harinya, ketiganya langsung jalan-jalan lagi. Menurut rencana mereka kemarin, Hannah dan Viona ingin pergi ke pantai hari ini. Randika, tentu saja, menerima usulan ini karena pantai sama saja dengan bikini. Di mana ada bikini, di situ ada perempuan cantik. Jelas Randika sangat menantikan momen ini! Ketiganya berangkat menuju pantai dengan semangat yang membara, sayangnya pantai yang mereka datangi sangatlah ramai. "Keren!" Karena dari awal tujuan mereka adalah pantai, Hannah dan Viona sudah memakai bikini mereka sejak dari hotel. Sekarang mereka tinggal melepaskan baju dan celana mereka saja. Randika duduk dan menjaga barang-barang mereka sembari memperhatikan dua malaikat cantik ini. Tidak diragukan lagi, Hannah dan Viona benar-benar perempuan super cantik. Kaki putih mereka yang panjang dan halus itu benar-benar kelas dunia. Belum lagi pinggang mereka yang ramping dan dada mereka yang besar. Randika menelan air liurnya berkali-kali, kedua perempuan tersebut sangat menggoda! Namun dari segi sifat, Viona lebih ke arah pendiam sedangkan Hannah ke arah liar dan bersemangat. Dan apabila diperhatikan baik-baik, sepertinya Viona menang di kategori dada namun perbedaannya tidaklah jauh. Sepertinya dia perlu meraba mereka berdua agar Randika dapat tahu secara detail. Memikirkan hal tersebut, Randika menjadi sedikit murung. Seharusnya sekarang hubungannya dengan Viona sudah masuk tahap hubungan badan! Tetapi sampai sekarang dia masih belum melewati tahap foreplay. "Ran ayo cepat masuk!" Kata Viona sambil menggandeng Randika. Ketika mereka masuk ke dalam air, Hannah sudah menyambut mereka dengan semprotan air. Melihat Randika yang terkena telak, Hannah dan Viona tertawa terbahak-bahak. Rupanya Viona bertugas untuk menahan Randika agar Hannah dapat menyemprotnya secara akurat. "Kalian ini ya!" Randika mulai melancarkan serangan balik dan Viona mulai lari sambil menggandeng Hannah. Ketiganya saling menyemprotkan air, benar-benar hari yang menggembirakan. Untuk liburan yang menggembirakan seperti ini sejujurnya tergantung siapa yang kita ajak, hal seperti ini bukan tergantung tempatnya. Ditemani perempuan cantik seperti Viona dan Hannah tentu saja membuat Randika bahagia. Namun ketika Randika menikmati momen ini, tiba-tiba kedua perempuan tersebut menyatukan kekuatan dan menyerang Randika! "Hahaha salah sendiri kakak melamun!" "Maafkan aku Ran, tapi rasakan itu!" "Lihat pembalasanku!" Randika tidak mau kalah begitu saja, tangannya dengan cepat mengambil air sebanyak-banyaknya dan menyemprotkannya pada Hannah dan Viona. "Ah!" Randika dengan akurat mengenai keduanya, tetapi tidak lama kemudian, Hannah sudah mengaku kalah karena dia sudah tidak bisa menerima serangan air Randika. Setelah itu, mereka bertiga mulai berenang. Karena tidak mau terlalu dalam, Hannah dan Viona hanya berenang-renang di sekitar. Bagaimanapun juga, mereka berada di laut. Bahkan meskipun mereka berada di pinggir pantai, mereka harus tetap berhati-hati. "Han, mau kubantu berenang?" Tanya Randika sambil tersenyum. "Tidak mau, kak Randika pasti aneh-aneh lagi." Kata Hannah dengan wajah cemberut. "Ya sudah kalau begitu." Randika lalu mencari Viona. Berenang ke samping Viona, Randika berkata padanya. "Vi, mau kubantu berenang?" Mendengar hal ini Viona tersipu malu dan mengangguk. "Kalau begitu bagaimana kalau kita pemanasan dulu?" Randika lalu berkedip. "Aku akan menahanmu dari bawah." Setelah berkata seperti itu, Randika masuk ke dalam air. Viona terlihat bingung tetapi tiba-tiba dia merasa bahwa pantatnya tiba-tiba dipegang. Wajah Viona dengan cepat menjadi merah, jelas Randika memanfaatkan momen ini untuk meraba dirinya. Dengan bantuan Randika, Viona mulai berenang. Hannah juga berenang ke arah Viona. Melihat kakak iparnya itu menghilang, dia mendadak menjadi curiga. Tetapi tiba-tiba, dia merasa kakinya disentuh dari bawah air dan sosok misterius tersebut tiba-tiba keluar di depannya. Ketika Hannah pulih dari keterkejutannya, ternyata Randika lah yang mengagetkan dirinya. "Tuh kan kak Randika mesum lagi!" Kata Hannah dengan wajah marah. "Hah? Apa yang kamu maksud?" Randika bersikukuh bahwa dia tidak sengaja menyentuh kaki Hannah. Ketika mereka berdua berdebat, tiba-tiba, ada suara teriakan. "Tolong, tolong! Anakku hanyut!" Randika menoleh ke arah tengah laut dan melihat seorang bocah yang sedang memakai pelampungnya itu hampir hanyut oleh ombak. Sepertinya bocah itu memanfaatkan kelengahan orang tuanya dan berenang makin jauh menuju tempat yang sepi. Karena memakai pelampung, dia merasa aman-aman saja tetapi yang tidak dia ketahui adalah ombak di tengah laut jauh lebih besar daripada yang ada di pinggir. Dan sekarang bocah tersebut terus menerus dihajar oleh ombak! Semua orang menjadi panik ketika mendengar seruan minta tolong ibu tersebut. "Orang tuanya bodoh sekali!" "Cepat panggil penjaga pantai!" "Sialan, sepertinya semuanya terlambat." Beberapa orang tentu saja memiliki pemikiran untuk berenang ke arahnya untuk menyelamatkannya tetapi kecepatan berenang mereka terlalu lambat. Bisa dipastikan bahwa anak tersebut hanyut makin jauh ataupun tenggelam sebelum bantuan datang. Randika menyadari bahaya ini kemudian dia langsung berenang dengan kecepatan penuh menuju anak kecil itu. Sang ibu sudah hampir pingsan karena menangis sedangkan si ayah masih berusaha berenang ke arah anaknya. Karena ombak yang terus menghantamnya, dia akhirnya kelelahan dan akhirnya menyerah. "Habis sudah." "Panggil ambulans!" "Ini juga salah orang tuanya, bisa-bisanya mereka teledor seperti itu." Para turis yang lain sudah menyerah, tetapi tiba-tiba salah satu dari mereka menyadari sesuatu. "Anak itu akan tenggelam!" Ombak besar ternyata menghantam anak kecil itu dan menelannya hidup-hidup. Ibu dari anak itu langsung pingsan melihat kejadian ini, tetapi secara ajaib anak itu berhasil muncul ke permukaan tetapi tidak menunjukan tanda-tanda bahwa dia masih hidup. Sepertinya anak kecil itu menggunakan tenaga terakhirnya untuk muncul ke permukaan. Tetapi jika ada ombak lagi yang menghantamnya, dia pasti tidak bisa bertahan lagi. Jika anak kecil itu tidak mendapatkan bantuan, jelas dia akan mati di tempat ini. Beberapa penjaga pantai sudah berenang ke arahnya tetapi kecepatan mereka terlalu pelan dan jarak mereka cukup jauh. Pada saat ini, anak kecil tersebut memuntahkan sejumlah air dari dalam tubuhnya. Di tengah-tengah perjuangannya itu, dia sudah merasa bahwa dia akan mati. Semua orang sudah menyerah dalam hati mereka ketika melihat sebuah ombak kembali menelan anak kecil tersebut. "Anakku! Tidakkkk! Maafkan ibu!" Si ibu yang kembali sadar itu langsung menangis dengan keras. Para penjaga pantai yang berenang ke arah anak kecil tersebut sudah berhenti berenang dan menghela napas mereka. Si ayah meskipun terengah-engah masih tidak menyerah dan terus berenang meskipun pelan. Apa pun yang terjadi, dia harus membawa anaknya meskipun dalam keadaan mati. Detik demi detik terus berlalu, tidak ada tanda-tanda anak kecil itu kembali muncul ke permukaan. Sepertinya harapan sudah sirna. Semua sudah memberikan belangsungkawa kepada sang ibu yang masih menangis. Namun, tiba-tiba muncul keajaiban, anak kecil itu muncul ke atas permukaan! Kejadian ini membuat semua orang di pinggir pantai terkejut. "Apa yang terjadi?" "Lihat! Ada tangan yang menggendong anak kecil itu!" Kata orang yang melihat menggunakan teropong. Semua orang langsung menjadi heboh, kemudian Randika juga muncul ke permukaan. Hal ini membuat semua orang bersorak-sorak. "Dia menyelamatkan anak kecil itu!" "Luar biasa!" Ketika si ibu mendengar bahwa anaknya berhasil diselamatkan langsung memanjatkan syukur tanpa henti. Semua orang berbondong-bondong menggunakan teropong ataupun kamera HP untuk melihat Randika yang berenang dengan satu tangan menuju pinggir pantai. Di tengah-tengah perjalanannya, Randika sudah dibantu oleh sang ayah dan para penjaga pantai. "Anakku!" Akhirnya si ibu berhasil memeluk anaknya kembali, tetapi kesadaran anaknya itu masih hilang. "Cepat beri napas buatan!" Para penjaga pantai langsung mengambil sang anak dan memberikan pertolongan pertama. Perjuangan sang anak akhirnya terbayarkan, setelah 30 detik akhirnya dia menyemburkan air yang dia telan sebelumnya. "Mana ambulans? Bawa dia ke rumah sakit!" Meskipun dia sudah tidak apa-apa, lebih baik membawanya ke rumah sakit untuk jaga-jaga. Ketika orang-orang masih sibuk melihat anak kecil tersebut, sosok pahlawan yang menyelamatkannya sudah menghilang dari antara mereka. "Mana orang yang telah menyelamatkan anakku?" Orang tua si anak ingin menyampaikan terima kasihnya tetapi pada saat ini Randika sudah kembali bersama dengan Viona dan Hannah. Hanya si ayah dan para penjaga pantai yang melihat wajahnya jadi Randika bisa menghilang dengan cepat dan tidak menarik perhatian sama sekali. "Ran, kamu lagi-lagi menyelamatkan orang." Kata Viona dengan wajah yang terkagum-kagum. Randika hanya bisa tersenyum. "Sudah kewajiban untuk membantu sesama kita." Hannah yang bersemangat itu juga kagum dengan kakak iparnya. Setiap Randika berbuat sesuatu, entah kenapa Hannah juga ikut bersemangat. "Kak Randika memang luar biasa! Bagaimana caranya kakak bisa berenang secepat itu?" Hannah terkagum-kagum karena Randika tiba-tiba sudah berada di sisi anak kecil tersebut. "Kamu mau tahu?" Kata Randika sambil tersenyum. "Tentu saja!" Hannah pun ikut tersenyum. "Sini aku ajari." Kata Randika sambil tertawa. Hannah mendekat dan Randika membisikinya. "Rahasia." Hannah terdiam beberapa saat dan menjadi marah ketika dia sudah sadar kembali. "Kak Randika mesti kayak gini!" Hannah sudah siap menenggelamkan Randika. "Vi, tolong aku!" Ketika mereka sudah berhenti berkelahi, mereka bertiga kembali ke pinggir pantai. Pada saat ini, Randika menerima pesan di HP miliknya. Pasukannya telah tiba di Makau! Chapter 354: Namaku Bukan Randika "Ran, ayo kita makan." Viona dan Hannah mulai memakai pakaian mereka. "Ayo kita makan seafood!" Kata Hannah dengan semangat. "Bukannya kamu benci ikan?" Kata Randika dengan nada sinis. "Aku cuma benci ikan mentah." Kata Hannah sambil tersenyum. Mereka bertiga kemudian pergi menuju restoran seafood. Pada saat yang sama, di hotel yang diinapi Randika, mendadak didatangi oleh banyak orang. "Minggir, minggir! Halangi jalan saja." Para pria berbadan besar ini menendang siapapun yang berani menghalangi jalan mereka, mereka benar-benar kasar. Para staf hotel mulai ketakutan, si resepsionis menghampiri mereka. "Pak, apakah ada yang bisa diˇ­." Namun, sebelum dia selesai berbicara, dia telah ditendang oleh satu orang. "Diam! Pergi dan jangan ganggu kita." Kata salah satu pria berbadan besar sambil mendengus dingin. Wajahnya benar-benar terlihat bengis. Wajah resepsionis itu menjadi pucat pasi, para staf yang lain juga ikut takut. Pada saat yang sama, ada seorang pria paruh baya yang berjalan keluar dari barisan orang berbadan besar itu. Melihat wajah tenang dan percaya diri pria tersebut, orang-orang yang akrab dengan dunia kasino langsung berubah menjadi pucat pasi. Orang itu? Kenapa dia ada di sini! "Sebelum kau pergi, carikan orang yang bernama Randika!" Katanya pada si resepsionis. "Dia sedang keluar!" Balasnya dengan cepat. Pria paruh baya itu lalu menjawab. "Tidak masalah, kita akan menunggunya." Mendengar hal ini, para pria berbadan besar itu langsung mengambilkan sebuah kursi untuknya. Pada saat yang sama, pria paruh baya itu langsung dijaga ketat oleh mereka. Dalam sekejap, lobi hotel ini menjadi tempat yang paling menakutkan. Di lain sisi, Randika dan kedua malaikatnya itu sedang bersenang-senang. Setelah makan, mereka awalnya ingin lanjut jalan-jalan tetapi Viona menyarankan untuk pulang sebentar agar bisa menyegarkan diri terlebih dahulu. Karena mereka baru saja berenang di air laut, jadi lebih baik mereka mandi terlebih dahulu. Hal ini langsung disetujui oleh Hannah. Mereka bertiga berjalan menuju hotel sambil bercanda ria. Tetapi ketika mereka bertiga berjalan menuju lobi hotel, tiba-tiba, ekspresi ketiganya langsung berubah. Bisa dikatakan bahwa suasana lobi hotel ini benar-benar mencekam. Di tengah-tengah lobi, banyak pria berbadan besar berdiri dengan tatapan mata yang tajam. Dan pada saat yang sama, di tengah-tengah mereka duduk seorang pria paruh baya. Pria itu hanya duduk dengan wajah yang tenang dan penuh percaya diri, jelas bahwa dia adalah pemimpinnya. Rasa tenang sebelum badai ini menunjukan bahwa dia adalah orang yang berpengalaman dalam bidang seperti ini. Orang-orang biasa yang melihat sosok pria tersebut akan merasakan ketakutan yang luar biasa tetapi Randika berbeda, wajahnya tetap tenang. Di lobi hotel ini juga banyak berkumpulnya orang, mereka sendiri penasaran dengan apa yang akan terjadi. Awalnya mereka semua mengira bahwa orang-orang ini datang untuk merampok hotel ini tetapi ternyata mereka datang untuk menemui seseorang. Dan orang yang mereka tunggu akhirnya telah datang. Di sepanjang lobi ini suasana benar-benar hening, tidak ada orang yang berbicara. Sekarang semua tatapan mata tertuju pada tiga orang yang baru datang ini. Viona sudah berlindung di belakang Randika sedangkan Hannah dengan wajah garangnya berkata dengan lantang. "Apa lihat-lihat? Apa kalian tidak pernah melihat perempuan cantik sebelumnya?" Teriaknya dengan Bahasa Inggris yang mantap. Kata-katanya ini membuat beberapa orang tertawa dalam hati, sepertinya nona cantik ini tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Terlebih lagi, berkata seperti itu di depan lawannya cukup sembrono. Pria paruh baya yang duduk di tengah-tengah lobi itu akhirnya berdiri lalu meletakkan kedua tangannya di belakang punggungnya. "Apa kamu yang bernama Randika?" Kata pria paruh baya tersebut, aura pria tersebut membuat suasana makin berat. "Kalau aku tidak salah menebak, kamu pasti penguasa di balik kota ini bukan? Kalau tidak salah namamu adalah Li Weilong." Randika masih berwajah tenang. "Karena kamu orang yang pintar, berarti aku tidak perlu repot-repot menjelaskan kenapa aku datang ke sini." Tatapan mata Li Weilong benar-benar dingin. Barusan saja kemarin, anaknya Li Zhen datang kepadanya dengan lengan kanannya yang patah. Dia langsung membawa anaknya ke rumah sakit dan mendapati bahwa luka anaknya ini akan memakan waktu 3 tahun sebelum pulih seperti semula. Jadi untuk sekarang, Li Zhen harus hidup dengan satu tangan. Meskipun memang anaknya itu terkadang bertindak bodoh dan semena-mena, bagaimanapun juga, dia tetap anaknya dan tidak pernah ada orang yang berani melawan keluarganya sebelumnya. Terlebih lagi, Li Zhen merupakan anak tertua dari Li Weilong, jadi menghina anaknya berarti mengajak perang seluruh keluarganya! Oleh karena itu, Li Weilong benar-benar murka. Dia langsung melacak keberadaan Randika dan membawa orang-orangnya ke hotel. "Aku tidak tahu apa maumu. Mungkin penguasa kota ini ingin meminta maaf karena anaknya bersikap kurang sopan padaku? Tetapi tenang saja, aku sudah mendisiplinkan anakmu untukmu." Kata Randika dengan santai, dia lalu berjalan melewati mereka dengan wajah santai. "Hum." Li Weilong mendengus dingin, dia sudah malas bersikap sopan lagi. Dia lalu berkata dengan nada dingin. "Aku, Li Weilong, adalah orang nomor 1 di kota ini dan siapapun yang melihat aku akan membungkuk hormat. Dan kau dengan beraninya menyakiti anakku, jangan harap kau bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup." Saat mendengar kata-kata ini, semua orang yang melihat kejadian ini terkejut. Ternyata pemuda itu berani melukai anak dari penguasa kota ini? Benar-benar gila! Randika yang berjalan itu lalu berhenti. "Tidak bisa keluar?" Randika menatap jijik pada pria berbadan besar yang dibawa Li Weilong tersebut. Orang-orang ini masih menatap tajam pada Randika, di dalam hatinya mereka juga sudah tertawa. Orang ini berani menyinggung bosnya? Jelas dia mencari mati! Orang-orang sudah angkat tangan dan mengucapkan belangsukawa pada Randika. Mencari gara-gara dengan Li Weilong? Benar-benar tindakan yang tidak bijaksana. Di Makau, Li Weilong sudah seperti pemimpin bayangan yang mengatur kota ini dari balik kegelapaan. Bahkan para politikus negerinya sangat menghormati Li Weilong. "Kalau aku tidak bisa keluar, ya aku tinggal tiduran di kamarku saja." Di tengah-tengah suasana mencengkam ini, Randika melontarkan sebuah lelucon tidak masuk akal. Sekarang pendapat orang-orang pada Randika sudah berubah, dia bukan hanya bodoh tetapi pemberani! Li Weilong sudah muak dengan omong kosong ini. "Tenang saja aku tidak akan membunuhmu. Karena kau telah mematahkan lengan anakku, aku akan mematahkan lengan dan kakimu. Lalu kedua perempuanmu itu akan kubawa dan kupaksa melayaniku." Mendengar hal ini, semua orang menjadi heboh. Bukannya menghajar tetapi mematahkan lengan anaknya Li Weilong? Kelewatanˇ­ Tindakan orang itu sudah kelewatan! "Entah dia bodoh atau tolol, tetapi bisa-bisanya dia mematahkan lengan anak dari Li Weilong?" "Tidak heran Li Weilong sampai mengejarnya ke tempat ini, tamat sudah riwayatnya." "Li Weilong itu orang kejam, tidak mungkin dia puas dengan hanya mematahkan lengan dan kakinya saja?" Orang-orang sudah siap memanggil ambulans, nasib Randika sudah pasti! Bagi mereka, tidak mungkin Randika bisa melawan orang sebanyak itu sendirian. Kabur? Bagaimana mungkin Randika bisa kabur di kota yang dimiliki oleh Li Weilong ini? Kabur dari hotel ini saja mereka tidak yakin Randika bisa. Menyerah? Jika Randika menyerah jelas lengan dan kakinya akan patah sesuai dengan pernyataan Li Weilong. Tentu saja tidak bisa bergerak seperti itu akan sangat membebani hidup. Bisa dikatakan bahwa nasib Randika tidak ada yang bagus. Randika menatap Li Weilong dengan tajam, dia berkata dengan nada serius. "Maaf aku tidak mendengarnya, bisa tolong diulangi lagi?" "Tidak ada yang perlu diomongkan lagi, aku akan membalaskan dendam anakku." "Bukan itu permasalahannya." Wajah Randika terlihat sangat serius. "Di awal bukankah kamu bertanya apakah namaku Randika?" Semua orang termasuk Li Weilong jelas terkejut, mereka tidak tahu apa yang dimaksud. Tetapi kata-kata Randika berikutnya membuat mereka semua tertawa. "Aku bukan Randika, aku itu Radinka. Kita ini anak kembar, aku rasa kamu mencari kakakku itu bukan? Seharusnya dia masih ada di pantai. Maaf kalau aku sudah membuang waktumu." Kata Randika dengan nada serius. "Cepat cegat kakakku itu sebelum dia kabur lagi." Kata-kata Randika yang di luar dugaan ini membuat semua orang hampir tertawa. Mereka tidak menduga bahwa Randika bisa melawak di suasana tegang seperti ini. Sedangkan Viona sendiri terlihat kebingungan, apakah orang di hadapannya ini bukan Randika? Sedangkan Hannah sudah menampar dahinya, dia tidak menyangka kakak iparnya ini benar-benar bodoh. "Aku tidak peduli kamu siapa, hari ini aku akan mematahkan semua tulangmu!" Wajah Li Weilong sudah dipenuhi kebencian. Pemuda ini benar-benar tidak menghormati dirinya, yang ada hanyalah kematian untuknya! Dengan satu sapuan tangan, tiba-tiba, seluruh pria berbadan kekar itu berjalan menghampiri Randika. Otot-otot mereka yang besar itu bisa menghajar orang bagaikan tulang ayam. "Jangan mendekat! Kalian mau apa?" Kata Randika yang pura-pura ketakutan itu. Orang-orang yang melihatnya jelas tertipu dengan sandiwara Randika. Mereka mengira bahwa ini adalah hukumannya karena telah berani melawan Li Weilong. Semua orang mengira bahwa Randika akan dihajar habis-habisan tetapi mereka menyadari ada yang salah. Ketika ada sesosok orang yang jatuh, kenapa justru yang terkapar itu pria berbadan besar bukan Randika? Ada apa? Orang-orang semakin bingung ketika para pengawal Li Weilong itu mulai jatuh satu per satu bahkan melayang dan menabrak tembok. Setelah menghabisi semua orang yang berani mendekati dirinya, Randika berkata pada Li Weilong. "Hanya segini kekuatan penguasa Makau? Kuperingatkan kau sekali saja, melawanku berarti cari mati." "Hah? Kenapa semua orang itu kalah?" Semua orang sudah terheran-heran, semua pria berbadan besar itu takluk di bawah tinju Randika hanya dalam waktu 2 menit. Chapter 355: Kau Sudah Mati Begitu Muncul di Hadapanku "Ran, kamu memang luar biasa!" Kata Viona dengan semangatnya, dia menggenggam erat tangan Randika dari belakang. Hannah juga melakukan hal yang sama, dari waktu ke waktu, kakak iparnya ini membuat dirinya makin jatuh cinta meskipun perilakunya kadang-kadang mesum. Li Weilong yang awalnya arogan itu berubah menjadi pucat pasi. Orang-orang yang dibawanya hari ini berasal dari mantan satuan khusus tentara Cina dan beberapa bahkan dikenal sebagai prajurit terbaik. Bahkan sebelum bergabung dengan dirinya, mereka semua bekerja menjadi pembunuh bayaran. Jadi bisa dikatakan bahwa kemampuan bertarung mereka sudah melebihi prajurit biasa. Tetapi di bawah tinju Randika, mereka semua bukanlah apa-apa. Tidak ada satu pun orang yang dibawanya itu bisa melayangkan pukulannya Randika! Hal ini jelas membuat Li Weilong menjadi pucat pasi. Dalam pertama kali dalam hidupnya, Li Weilong merasakan rasa bahaya seperti ini. Wajahnya yang semula tenang dan penuh percaya diri itu berubah menjadi muram. "Maafkan aku, sepertinya aku tidak pandai mengatur tenagaku ketika menghajar anak buahmu ini." Kata Randika tanpa jejak-jejak meminta maaf. "Kau kira kau bisa lari karena telah mengalahkan mereka?" Kata Li Weilong dengan nada dingin. Meskipun Randika berhasil mengalahkan orang-orang yang dibawanya, apakah dia bisa bertahan dari seluruh anak buahnya? Terlebih dia masih belum menggunakan senjata-senjatanya. Di era canggih seperti ini, bukan bela diri lah yang terkuat melainkan peluru! Sebuah peluru bisa dengan mudah membunuh ahli bela diri mana pun, sedangkan senapan mesin bisa membunuh puluhan pendekar dan sebuah bom bisa menggetarkan dunia! "Siapa bilang aku akan lari?" Kata Randika sambil tersenyum. "Aku menginap di sini, buat apa aku lari?" Mendengar hal ini, hati Li Weilong langsung mengepal. Sepertinya lawannya kali ini benar-benar tidak mengenal rasa takut. Pertama kali di dalam hidupnya, Li Weilong tidak bisa membaca jalan pikir lawannya. Lelah untuk berdebat dengan Randika, Li Weilong berteriak dengan keras. "Cepat kalian keluar!" Keluar? Orang-orang heran dengan apa yang dikatakan oleh Li Weilong, dia berbicara pada siapa? Namun detik berikutnya semua wajah mereka langsung berubah. Ternyata Li Weilong masih punya anak buah! Terlebih lagi, anak buahnya ini lebih mengerikan daripada sebelumnya karena membawa senapan serbu! "Dia bahkan membawa senjata dengan begitu gampangnya?" "Dengan senjata sebanyak itu, ini sudah bisa dinamakan perang!" "Cepat berlindung! Jangan sampai kita kena peluru nyasar." Meskipun semua orang heboh dan lari berhamburan, mereka masih berusaha menyaksikan akhir dari kisah ini. Benar, akhir! Karena lebih dari 15 orang telah mengepung Randika dan membidikan senjata mereka padanya. Ini sudah sama seperti eksekusi mati para tahanan! Semua orang ketakutan tetapi Randika masih tetap tenang dan tidak bergerak sama sekali. Dengan banyaknya orang yang mulai mencari tempat berlindung, lobi hotel ini mulai menjadi sesak meskipun tempat ini cukup besar. Li Weilong menatap Randika yang berdiri diam tersebut, wajahnya sudah dipenuhi oleh kebencian. Tidak peduli seberapa hebat kemampuan bela dirimu, bagaimana mungkin kamu bisa menghindari peluru segitu banyak ini! "Cuma segini? Sedikit sekali." Tanpa diduga, setelah menatap sekelilingnya, Randika berkata seperti itu sambil menghela napas. Semua orang yang mendengar kata-kata Randika itu terkejut bukan main. Sedikit? Ada 15 senjata tahu! Peluru-peluru mereka sudah cukup menghujani dan mengenai seluruh tubuhnya. Tetapi Li Weilong justru tertawa ketika mendengar ini, sepertinya lawannya itu sudah ngelindur. Ketika dia menatap wajah Randika sekali lagi, wajah Li Weilong benar-benar muram. Ini pertama kalinya dia melihat orang yang tidak ketakutan dibidik oleh banyak senjata. "Aku tidak akan membunuhmu hari ini, tetapi lengan dan kakimu adalah milikku!" Kata Li Weilong dengan nada dingin. Randika membalasnya dengan nada yang santai. "Tubuh ini adalah tubuhku, jangan harap aku akan memberikannya." Orang-orang yang memperhatikan ini dari awal sudah terheran-heran dengan jalan pikir Randika, kenapa dia masih tetap tenang di bawah banyak moncong senjata? Tetapi tiba-tiba, Randika yang terkepung itu menjentikkan jarinya. Suaranya benar-benar keras dan menggema ke seluruh lobi menuju luar hotel. Semua masih bingung dengan tindakan Randika ini, namun tiba-tiba, dari luar hotel masuk segerombolan orang. Kecepatan orang yang datang ini benar-benar cepat, mereka dalam sekejap sudah mengepung Li Weilong dan anak buahnya. Terlebih lagi, mereka membawa senapan serbu yang jauh lebih besar daripada mereka. Orang-orang ini memakai baju serba hitam yang membawa sensasi mencengkam, moncong-moncong senjata mereka tertuju pada orang-orang yang mengancam Randika. Tiap detiknya membuat suasana lobi hotel ini makin suram. Keadaan yang berbalik ini membuat orang-orang kebingungan dengan apa yang telah terjadi, siapakah mereka? Kenapa mereka tiba-tiba mengepung Li Weilong? Terlebih lagi, dari mana senjata mereka itu berasal? Di saat mereka terheran-heran, para anak buah Li Weilong yang mengepung Randika sudah mulai resah. Mereka dapat merasakan moncong senjata musuh yang begitu dingin dan ganas, seolah-olah siap menumpahkan darah. Salah satu dari anak buah Li Weilong mencoba menganalisa daya tempur lawan mereka yang baru ini. Semakin dia memperhatikan semakin deras keringat dinginnya. Aura tempur semacam itu hanya bisa dimiliki setelah menempa diri dalam ratusan medan tempur, benar-benar abnormal! Pada saat ini, punggungnya sudah basah oleh keringat. Wajah Randika masih tetap tenang, sedangkan Hannah dan Viona juga sama bingungnya dengan orang-orang. Mulut mereka berdua sampai menganga karena saking terkejutnya. Kenapa tiba-tiba Randika mendapatkan bala bantuan? Memangnya kapan Randika meminta bala bantuan? Jelas kedua perempuan ini penasaran tetapi mereka menatap kagum pada Randika. Li Weilong yang awalnya berwajah bengis sudah menjadi berwajah suram lagi. Musuh memiliki bala bantuan? Kenapa dia tidak menyadarinya tadi? "Lucuti mereka." Kata Randika dengan pelas. Ketika mendengar perintah ini, pasukan Ares segera melucuti anak buah Li Weilong dan mengamankan senjata mereka. Para anak buah Li Weilong tidak berani melawan, mereka telah kalah senjata dan kalah jumlah. Randika menatap Li Weilong, di bawah tatapan orang-orang, dia berjalan menghampiri pria paruh baya ini. Semua orang sudah menahan napas mereka ketika melihat Randika berjalan menghampiri penguasa Makau tersebut. Mata mereka semua terbelalak ketika menyaksikan apa yang dilakukan oleh Randika. Ketika Randika sudah berdiri di hadapannya, tiba-tiba dia melayangkan sebuah tamparan keras tepat di wajah! Semua orang jelas terkejut, mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Penguasa kota Makau dari balik layar, orang paling berpengaruh di kota ini telah ditampar oleh orang tidak jelas asal-usulnya? Ketika orang-orang belum sadar dari keterkejutan mereka, Randika sudah melayangkan sebuah tamparan kembali. PLAK! Dengan kemampuan Randika, Li Weilong sama sekali tidak punya kesempatan untuk menghindar. Wajahnya benar-benar merah! "Sialan!" Li Weilong menggertakan giginya. Berani-beraninya ada orang yang menampar dirinya! "Kau akan kuˇ­." Sebelum dia sempat berbicara, Randika kembali menampar Li Weilong. Tentu saja tamparan berturut-turut ini mulai membuat Li Weilong pusing. "Aku itu orang yang cinta damai, kau sendiri yang cari gara-gara sama aku. Berani sekali kau mengacaukan liburanku yang berharga ini." Kata Randika. Kemudian dia memberikan sebuah tamparan hangat pada Li Weilong. Semua orang sudah bingung dan tidak tahu harus berkata apa. Mereka menyaksikan sendiri Li Weilong ditampar hingga berdarah-darah. Randika lalu melanjutkan. "Mau membunuhku? Percaya atau tidak, kau sudah mati begitu muncul di hadapanku." Randika memberikan sebuah tamparan yang keras lagi. Kali ini Li Weilong tidak tahan lagi, dia sudah tergeletak di lantai. Darah terus mengalir dari sudut mulutnya. Sosok berwibawa milik Li Weilong benar-benar telah hilang, sekarang kondisinya benar-benar menyedihkan. Tetapi meskipun begitu, aura kebencian dan kemarahan masih ada di tatapan matanya. "Aku adalah penguasa dariˇ­" Sebelum dia dapat menyelesaikan kalimatnya, Randika memberinya sebuah tendangan. "Penguasa? Terus memangnya kenapa kau menguasai Makau? Aku bahkan pernah menghancurkan sebuah ibu kota, buat apa aku takut dengan kota kecil seperti milikmu ini?" Randika kembali memberikannya sebuah tendangan. Semua orang sudah mulai kasihan dengan Li Weilong. Mereka sendiri juga bertanya-tanya, apakah benar di hadapan mereka ini adalah Li Weilong? Sosok menakutkan yang memerintah Makau dari belakang ini sekarang meringkuk kesakitan di lantai seperti udang? Benar-benar lelucon. Di bawah tatapan orang-orang, Randika masih terus menendang Li Weilong. Tidak lama kemudian, sepertinya Li Weilong sudah di ambang batas kesadarannya. Randika lalu berhenti menendang dan merapikan pakaiannya. Dia lalu berkata padanya. "Jangan kira aku telah memakai seluruh kekuatanku, ini cuma baru 5% saja." Li Weilong yang mendengar ini sudah merinding ketakutan. Randika lalu berdiri dan menepuk-nepuk pantatnya, suasana lobi hotel ini kembali menjadi sunyi. Semua tatapan orang tertuju pada Randika. Para staf hotel yang sudah angkat tangan itu menatap takut pada Randika. Begitu pula dengan anak buah Li Weilong yang diikat di lantai, mereka sudah ketakutan sejak awal. Di dalam pikiran mereka, bos mereka saja tidak berdaya apalagi mereka. Di Makau, apabila menyinggung Li Weilong berarti sama saja dengan mencari mati! Tidak dapat dipungkiri, semua orang bertanya-tanya tentang identitas Randika yang berani melawan Li Weilong dan mendatangkan anak buahnya serta senjata yang begitu kuat. Meskipun mereka memiliki beberapa tebakan, mereka tetap tidak bisa menebak latar belakang Randika. Namun pada saat ini, dari luar hotel, tiba-tiba terdengar suara sirene. Suara sirene ini keras dan terdengar banyak. Polisi akhirnya tiba! Chapter 356: Apa Kau Ingin Keluargamu Aku Musnahkan? Bersamaan dengan bunyi sirene ini, di luar hotel, mobil polisi dalam jumlah besar mulai mengepung hotel. Di antara mobil-mobil tersebut, sekumpulan orang bersenjatakan lengkap turun dari mobil mereka. Dari salah satu mobil polisi tersebut, Liu Changhai dan Li Zhen juga ikut turun. Sejak awal kedua pemuda ini sudah berteman dekat dan kejadian mereka dengan Randika makin mempererat tali persaudaraan mereka. Di belakang mereka sudah ada kekuatan gabungan dari keluarga mereka. Liu Changhai dan Li Zhen menatap Randika yang ada di lobi hotel. Jejak kemarahan dan kebencian terlihat jelas di tatapan mata mereka. Bagaimanapun caranya, Randika akan mati hari ini! Kemudian mereka berdua memberi sinyal dengan tangan mereka dan masuk ke dalam lobi bersama dengan para polisi. Ketika mereka melihat kejadian yang ada di dalam hotel, mereka sendiri terlihat bingung. Mereka melihat Randika berdiri di tengah-tengah banyak orang yang tidak sadarkan diri di lantai. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Di tengah-tengah kecanggungan ini, Liu Changhai berkata dengan lantang. "Hari ini kau akan masuk penjara!" "Penjara?" Randika tertawa terbahak-bahak, dia seperti baru saja mendengar lelucon yang super lucu. Li Zhen lalu menambahkan. "Menyerahlah atau kami akan menembak!" Randika mendengus dingin. "Menyerah sama bocah ingusan seperti kalian? Apa kalian masih bermimpi?" "Jangan berlagak sok kuat!" Liu Changhai mendengus dingin. "Mereka ini pasukan khusus milik kota ini, apa kamu pikir kamu masih punya kesempatan untuk melawan?" "Satuan khusus kota Makau?" Randika tersenyum. Lalu tiba-tiba senyumannya itu berubah menjadi tatapan tajam dan wajahnya berubah menjadi dingin. "Aku hanya butuh 1 menit untuk menghabisi mereka!" Jelas yang mendengar kata-kata Randika menjadi terkejut. Sebelum mereka bisa sadar dari keterkejutan mereka, beberapa orang pasukan Ares menerjang maju ke arah satuan khusus bagaikan angin. Kecepatan mereka benar-benar cepat dan meninggalkan hembusan angin yang kuat. Ketika para satuan khusus ini menerobos masuk, mereka menyadari sosok pasukan Randika ini. Mereka semua seperti diselimuti oleh aura gelap. Ketika mereka menerjang maju, para anggota satuan khusus ini terkejut dan bersiap menembak mereka. Tetapi bahkan sebelum senjata mereka bisa ditembakkan, pasukan Ares ini sudah berada tepat di hadapan mereka. Dengan mudah, mereka melucuti ''pasukan terkuat'' kota Makau ini. Bahkan ada yang sampai memotong kedua tangan para polisi ini! Ketika senjata-senjata mereka telah dilucuti, semuanya langsung beradu pukulan. Tetapi mereka bukanlah apa-apa di hadapan pasukan Ares. Di mata para pasukan ini, anggota satuan khusus ini sudah bagaikan ayam dan bebek, benar-benar bukan tandingan mereka. Satu per satu dari pasukannya Randika ini menghajar dan melucuti semua anggota satuan khusus ini. Dan satu per satu para polisi ini terkapar tidak sadarkan diri. Semua orang yang melihat kejadian ini sudah tidak tahu harus berkata apa. Lawan mereka ini bukanlah orang sembarangan, mereka adalah pasukan khusus kota ini. Berbeda dengan polisi biasa, kemampuan dan keahlian mereka jauh di atas para polisi. Mereka adalah ujung tombak kota Makau. Namun tanpa diduga, mereka bagaikan orang-orangan sawah di hadapan pasukan Ares. Tidak ada satupun dari mereka yang bisa melawan balik. Kejadian ini berlangsung dengan cepat. Liu Changhai dan Li Zhen yang awalnya percaya diri dan penuh dengan semangat balas dendam itu menjadi terdiam ketika melihat para polisi ini terkapar di lantai. Bagaimana ini bisa terjadi? Wajah Liu Changhai dan Li Zhen seakan-akan tidak ingin mempercayai apa yang telah terjadi. Di hadapan mereka sekarang ini, seluruh anggota polisi yang mereka bawa masuk itu telah terkapar tidak sadarkan diri. Sebelum ini para pengawal Li Weilong bukanlah apa-apa dan sekarang anggota pasukan khusus Makau juga bukanlah rintangan berat bagi mereka, siapa orang-orang ini sebenarnya? Dan siapa pemimpin mereka itu? Mata orang-orang tertuju pada Randika, rasa kagum sekaligus bercampur takut mulai tumbuh di hati orang-orang. Liu Changhai dan Li Zhen jelas tidak menduga bahwa situasi akan berjalan seperti ini. Untuk membalaskan dendam mereka ke Randika, mereka berdua sampai mengerahkan satuan khusus kota ini. Namun tanpa diduga mereka, semua orangnya telah kalah! Liu Changhai menatap mata Randika. Ketika dia melihat senyuman Randika, tubuhnya tidak bisa berhenti merinding. Dia kembali mengingat malam hari itu, hari di mana lengannya dipatahkan dengan mudah. Kedua pemuda itu langsung ketakutan setengah mati ketika Randika menatap dan tersenyum ke arah mereka. "Aku rasa kalian berdua masih ingat dengan kata-kataku sebelumnya." Randika berjalan menghampiri mereka berdua. Wajah Liu Changhai dan Li Zhen benar-benar pucat seperti kertas. Tentu saja mereka ingat kata-kata terakhir Randika pada mereka. Jika mereka mengganggu Randika lagi, dia akan membunuh mereka! Melihat kejadian di depan mata mereka sekarang, sepertinya kata-kata Randika tersebut bukanlah sebuah lelucon. Di hadapan mereka sekarang bukanlah Randika melainkan malaikat pencabut nyawa yang siap membawa mereka ke alam baka. "Aku ingatkan kau sekali lagi agar tahu posisimu. Ayahku adalah penguasa kota ini. Jika kau membunuhku, ayahku tidak akan melepaskanmu begitu saja!" Li Zhen memberanikan diri untuk melawan. Tentu saja, ayah yang dimaksud adalah Li Weilong. Apa pun masalahnya, ayahnya itu selalu membantu dirinya. Sepertinya bocah ini tidak tahu bahwa orang-orang yang terkapar sebelumnya adalah ayahnya dan anak buahnya. Randika mendengus dingin. "Yang kau sebut ayah itu tua bangka yang itu?" Setelah berkata seperti itu, Randika menunjuk ke arah Li Weilong berada. Li Zhen dapat melihat bahwa ayahnya yang berlumuran darah itu berusaha untuk berdiri. Tatapan matanya langsung berubah. "Ayah!" "Apa yang kamu lakukan pada ayahku!" Li Zhen menjadi marah. Tetapi tiba-tiba anak buah Randika mengarahkan moncong senjatanya pada Li Zhen jadi dia tidak bisa bergerak seenaknya. "Benar-benar ayah dan anak." Randika menghela napasnya. "Jangan khawatir, aku akan memastikan kalian berbaring di tempat tidur untuk 3 tahun ke depan." Mendengar kata-kata ini, Li Zhen langsung teringat bahwa di depannya ini sudah bukan manusia lagi melainkan malaikat pencabut nyawa. Dan di bawah tatapan mata Randika, Li Zhen tiba-tiba pingsan. Pingsan? Randika jelas terkejut, anak buahnya langsung menghampirinya dan menendangnya. Ternyata Li Zhen benar-benar pingsan saking takutnya. Hal ini membuat Randika geleng-geleng dan menghela napasnya. Sekarang tatapan mata Randika tertuju pada Liu Changhai, dia tersenyum lebar pada pemuda itu. "Jangan pingsan seperti teman baikmu itu." Wajah Liu Changhai benar-benar pucat pasi, seluruh tubuhnya tidak bisa berhenti gemetar. "Jika kau berani melawankuˇ­. Keluargaku tidak akan tinggal diam!" "Ya ampun." Randika menggaruk-garuk kepalanya. Bocah-bocah seperti ini apa tidak capek mengandalkan keluarga mereka? "Jadi kamu mau bilang kalau keluargamu itu benar-benar kuat?" Randika menghela napasnya. Memang anak-anak manja seperti Liu Changhai seperti ini selalu mengandalkan kekuatan keluarganya apabila sedang kesulitan. Hal seperti ini membuat muak Randika. Mental-mental seperti inilah yang membuat sebuah warisan keluarga yang sudah susah payah dibangun akan runtuh dengan mudah. Kalau dia memang lelaki sejati, hadapi dan bertanggung jawablah terhadap semua tindakanmu. "Tunggu saja pembalasanku!" Meskipun tubuhnya gemetar, Liu Changhai berhasil mengeluarkan HPnya dan menelepon ke sebuah nomor. Randika tidak berusaha mencegahnya, dia sendiri penasaran seberapa kuat kekuatan keluarga milik Liu Changhai. Tidak lama kemudian teleponnya tersambung, di balik telepon terdengar suara orang tua. Wajah Liu Changhai langsung berubah menjadi gembira. "Kakek!" "Wah ternyata Xiao Liu, kenapa kamu tiba-tiba telepon?" Suara kakek Liu Changhai terdengar tenang dan lembut. "Kek, aku ada masalah di Makau.??? Liu Changhai dengan cepat merengek. Karena dia merupakan anak tunggal, dia benar-benar dimanja. Hal ini juga berlaku dengan kakek yang sangat memanjakan cucunya. Setelah mendengar cerita milik cucunya itu, kakeknya menjadi murka. "Tunggu saja, kakek segera mengirim orang ke tempatmu!" Hati Liu Changhai benar-benar hangat, tetapi tiba-tiba, HP miliknya itu direbut oleh Randika! Liu Changhai hanya bisa melihat dan tidak berani melawan. Setelah merebut HP tersebut, Randika sama sekali tidak berbicara. Ketika si kakek tidak mendengar respon cucunya itu, dia langsung berkata di balik telepon. "Kenapa Xiao Liu?" Randika lalu berkata dengan nada santai. "Ini bukan Xiao Liu." "Siapa kamu?" Suara si kakek berubah menjadi dingin. Randika menatap Liu Changhai dan menyengir. "Aku hanya ingin berkata 2 hal padamu. Yang pertama adalah namaku Randika." Wajah si kakek terlihat bingung, entah kenapa dia merasa pernah mendengar nama itu. Tetapi dia berusaha membuang pemikiran tersebut. "Yang kedua." Tatapan mata Randika langsung berubah. "Apa kau ingin keluargamu aku musnahkan?" Musnah? Liu Changhai menatap bingung Randika, pria ini benar-benar gila! Orang yang diajaknya bicara adalah kakeknya, kepala keluarga aristokrat yang masih aktif dan sekarang Randika berani berkata seperti itu tepat di telinganya? Pria ini sudah gila! Keluarga besarnya bisa menjadi keluarga aristokrat karena usaha kakeknya, mulai dari sektor pemerintahan, ekonomi, pembangunan, kakeknya memiliki pengaruh di seluruh Cina! Mencari gara-gara dengan kakeknya berarti siap melawan seluruh kekuatan yang dimilikinya. Memikirkan hal ini, wajah Liu Changhai benar-benar gembira. Di balik telepon, si kakek masih penasaran dengan identitas Randika tetapi ketika dia mendengar kata-kata Randika yang berikutnya, dia terdiam. Lalu tubuh tuanya itu bergetar tanpa henti karena diselimuti oleh amarah. Memusnahkan keluarganya? Berarti kau berniat membunuhku? Ketika si kakek baru saja mau meluapkan amarahnya, tiba-tiba dia terpikirkan sesuatu. Nama Randika langsung terdengar familier dan semua amarahnya itu segera menghilang. Wajahnya penuh keraguan dan ketidak percayaan. Tidak mungkinˇ­. Apa dia tidak salah dengar? Randika dan memusnahkan keluarga, jika kedua kata-kata ini digabung dia langsung terpikirkan satu insiden. Si kakek mengingatnya dengan jelas karena dia mendapatkan undangan dari keluarga Alfred pada waktu itu. Meskipun beda negara, hubungan keluarganya dengan keluarga Alfred benar-benar erat. Tetapi karena acaranya terlalu mendadak, si kakek hanya bisa mengucapkan selamat dan memberikan hadiah. Awalnya dia tidak percaya tetapi keesokan harinya dia mendapatkan kabar bahwa keluarga Alfred dari Jakarta telah dimusnahkan oleh satu orang. Dari laporan para keluarga aristokrat yang hadir, mereka mengatakan bahwa jangan pernah menyinggung seseorang yang bernama Randika dari Cendrawasih. Nama Randika bisa dikatakan bahwa sudah menjadi nama sensitif di para keluarga aristokrat. Orang ini benar-benar jelmaan iblis, jadi semua orang dihimbau jangan pernah menyinggungnya. Keluarga Alfred yang berani menyinggungnya sekarang telah hancur tak bersisa. Keluarga besar yang sudah mengakar di Indonesia itu menghilang tanpa jejak, rasa teror seperti ini sangat membekas di hati para keluarga aristokrat yang lain. Chapter 357: Masalah yang Terselesaikan Selain para perwakilan keluarga yang datang di pernikahan Hans dan Inggrid itu, sisa dari para keluarga aristokrat mengerti berita mengejutkan ini dari media berita di hari berikutnya. Tetapi mereka semua sudah mengetahui apa yang telah terjadi sebenarnya daripada masyarakat awam. Semakin mereka memahaminya, semakin mereka takut pada Randika. Bahkan para keluarga aristokrat di Indonesia memberi perhatian lebih pada Randika. Jika mereka benar-benar tidak sengaja menyinggung Randika, bisa-bisa keluarga mereka bernasib sama dengan keluarga Alfred. Oleh karena itu, sejak kejadian keluarga Alfred, para keluarga aristokrat menetapkan sebuah aturan yaitu hindari orang yang bernama Randika dan jangan pernah menyinggungnya. Tentu saja, keluarga Liu Changhai juga melakukan hal yang sama. Meskipun mereka berada di negara yang berbeda, keluarga Liu Changhai sudah menetapkan beberapa nama orang di dunia yang tidak boleh disinggung. Tetapi sayangnya, Liu Changhai ternyata melanggar hal ini. Kali ini kakek Liu Changhai benar-benar bingung. Kekuatan milik keluarganya ini bisa dikatakan sama seperti keluarga Alfred. Randika bisa menghancurkan keluarga Alfred seorang diri, tentu saja dia bisa mengulanginya lagi. Di lobi hotel, semua orang masih menatap diam ke arah Randika. Semua orang yang mendengar kata-kata Randika kepada kakek Liu Changhai itu terdiam. Bagaimana mungkin ancaman kosong Randika seperti itu dapat membuang seorang keluarga aristokrat ketakutan? Meskipun orang yang di hadapan mereka ini kuat, bagaimanapun juga, lawannya adalah sebuah keluarga besar yang memiliki pengaruh kuat di Cina. Mendengar kata-kata Randika yang arogan itu, Liu Changhai sudah mendengus dingin. Dia tidak sabar melihat kemarahan kakeknya karena telah dihina sedemikian rupa oleh Randika. Pada saat ini, suara si kakek terdengar seperti orang gagap. Randika langsung mengaktifkan mode loudspeaker. "Ah ini Randika dari Indonesia ya? Hahaha sepertinya ada salah paham, iya ini pasti salah paham. Tolong maklumi kelakuan cucuku, dia masih muda." Mendengar suara kakeknya yang ketakutan itu, wajah Liu Changhai benar-benar menjadi kaku. Bagaimana mungkin suara kakeknya yang berwibawa berubah drastis seperti itu? Bahkan dia merasa kakeknya itu merendahkan derajatnya di hadapan Randika. Ekspresi wajah Liu Changhai benar-benar bingung. Apa dia tidak salah menelepon? Apa benar ini masih kakeknya? "Jadi maksudmu apa?" Kata Randika dengan nada santai. Semua orang jelas terkejut ketika mendengar jawaban dari kakek Liu Changhai ini. Orang yang berdiri di hadapan mereka iniˇ­ siapa dia sebenarnya? Kenapa dia bisa membuat kakek Liu Changhai ketakutan seperti itu? Semua orang sudah kehilangan jejak berapa kali mereka terkejut hari ini, keadaan berubah terlalu cepat dan benar-benar tidak terduga. "Hahaha cucuku itu benar-benar nakal dan tidak tahu diri, maafkan aku karena kurang pintar mengajarinya. Kita pasti akan menghukumnya ketika dia pulang nanti." Kata si kakek. "Tetapi kalau kelakuan cucuku ini memang sudah keterlaluan, aku bersedia menemuimu dan meminta maaf secara langsung." Mendengar kata-kata ini, jelas membuat Liu Changhai terkejut bukan main. Dugaannya benar, kakeknya rupanya takut dengan Randika! Menyadari hal ini, tubuh Liu Changhai tidak bisa berhenti gemetar karena sedikit orang di dunia ini yang bisa membuat kakeknya ketakutan. Randika hanya menghela napasnya dan melempar HP tersebut ke Liu Changhai. Liu Changhai langsung berbicara dengan kakeknya. "Kek, siapa orang ini sebenarnya?" Wajah Liu Changhai benar-benar muram. Dia tidak menyangka kakeknya yang perkasa itu menjadi seperti anjing. "Siapa dia? Dasar cucu bodoh! Ini sebabnya kakek selalu ngomong kau itu perlu sekolah biar sedikit pintar. Tiap hari isinya keluyuran terus." Kakeknya yang ramah itu langsung marah-marah di balik telepon. Untungnya saja, masih ada ruang untuk bernegosiasi. Kalau tidak, iblis bernama Randika itu sudah lama mencabut nyawa cucunya dan menggedor pintu rumahnya. Jadi mau tidak mau, si kakek harus memaki cucunya untuk menunjukan rasa penyesalannya pada Randika. Liu Changhai jelas terkejut, tubuhnya gemetar tanpa henti ketika mendengar kelanjutan kakeknya. "Bukankah kalian semua itu sudah kuberi daftar nama-nama hitam? Aku tidak menyangka kau begitu bodoh sampai-sampai tidak membacanya. Mulai hari ini kau tidak boleh pulang selama satu tahun, kalau kakek melihatmu sedetik saja, kakek akan mematahkan kakimu!" Mendengar kata daftar nama hitam, ekspresi Liu Changhai segera berubah. Tubuhnya itu seolah-olah tersambar petir dan pandangannya segera menjadi kabur. Tidak heran dia pernah mendengar nama Randika itu dari mana, sifat arogannya telah mengaburkan akal sehatnya. Ternyata orang yang menjadi lawannya ini adalah orang yang menghancurkan keluarga Alfred seorang diri! Tetapi bukankah seharusnya dia ada di Indonesia? Kenapa dia ada di Makau? Liu Changhai benar-benar ingin menangis. Jika dia tahu siapa orang di hadapannya ini sebelumnya, dia pasti tidak berani menyinggungnya. "Sekarang cepat minta maaf pada Randika. Jika dia tidak memaafkanmu, kakek bersedia membuangmu dan jangan pernah tunjukan wajahmu lagi. Sekarang cepat bersujud meminta maaf!" Si kakek melampiaskan amarahnya pada cucunya yang bodoh itu. Orang-orang tidak dapat mendengar omelan si kakek, mereka cuma bisa melihat wajah Liu Changhai yang semakin pucat pasi. Ketika Liu Changhai menatap Randika, kakinya semakin bergetar dan keringat dingin terus mengalir. Randika sendiri berdiri dengan santai, dia terlihat sedang menunggu. Ketika mendengar kebulatan tekad si kakek untuk membuangnya, wajah Liu Changhai sudah benar-benar ingin menangis. Dia lalu bersujud di lantai. Demi kelangsungan hidupnya, Liu Changhai benar-benar bersujud dengan sepenuh hati. Dia yang sekarang rela menjilat sepatu Randika. Randika menatap diam Liu Changhai, kemudian Liu Changhai berkata pada Randika. "Maafkan hamba, ini semua adalah salah saya. Saya mohon tolong jangan libatkan keluarga saya. Jika Anda ingin menghukum, hamba bersedia menerima apa pun." Liu Changhai juga mengerti kebulatan tekad kakeknya itu. Jika Randika benar-benar mengincar keluarganya, bisa dikatakan bahwa seluruh anggota keluarganya akan mati. Bisa dikatakan bahwa Liu Changhai telah membawa bencana pada keluarga besarnya, oleh karena itu dia memohon agar Randika tidak melibatkan keluarganya. Randika hanya terdiam ketika mendengar kata-kata Liu Changhai. "Tenang aku bukan orang yang sekejam itu." Kata Randika dengan nada santai. "Karena kau telah mengakui kesalahanmu, aku tidak akan mengungkit masalah ini lagi." Hati Liu Changhai benar-benar lega, dia lalu mengatakan. "Saya berjanji tidak akan mengganggu Anda lagi, saya juga berjanji ini adalah terakhir kalinya Anda melihat wajah saya." Setelah berkata demikian, Liu Changhai berdiri dan berjalan keluar dari lobi hotel tanpa berani menoleh ke belakang. Dia lalu meminta anak buahnya untuk memesan tiket pulang ke rumahnya secepat mungkin. Setelah Liu Changhai pergi, sekarang yang tersisa adalah Li Zhen dan ayahnya Li Weilong. Melihat targetnya berubah menjadi dirinya, Li Weilong menggertakan giginya. Dia juga akhirnya menyadari siapa Randika sebenarnya ketika Liu Changhai berbicara dengan kakeknya. Jika masalah ini tidak segera diselesaikan, keluarga Li akan habis hari ini. Keluarga Li Weilong tidak jauh berbeda dengan keluarga Liu Changhai. Di hadapan Randika, Li Weilong bukanlah apa-apa. Pada saat ini, Li Zhen menopang ayahnya agar dia dapat berdiri. Wajah sang anak ini benar-benar panik, dia tidak menyangka akan ada orang yang ayahnya tidak bisa hadapi. Randika mengerutkan dahinya. Ketika dia hendak berbicara, Li Weilong mengatakan. "Kami keluarga Li juga ingin mengucapkan maaf karena telah menyinggung Anda. Sebagai permintaan maaf, saya harap pengorbanan ini cukup untuk memuaskan Anda." Setelah berkata seperti itu, di hadapan semua orang, Li Weilong memanggil anak buahnya dan menyuruhnya untuk menghantam sebuah kursi ke kakinya. KRAK! Jelas kedua kakinya itu patah. Semua orang yang masih berada di lobi hotel itu sudah geleng-geleng ketika melihatnya. Li Weilong penguasa kota Makau ini sampai mematahkan kakinya untuk meminta maaf? Li Zhen benar-benar terkejut, sedangkan wajah ayahnya itu tetap terlihat tenang meskipun keringat dingin terus mengalir. Li Zhen hanya bisa menangis dalam hati ketika menyadari pengorbanan ayahnya. Randika menatap Li Weilong dan berkata padanya. "Kalau begitu masalah ini telah selesai. Tetapi aku tidak ingin melihat orang-orangmu lagi." "Baik." Jawab Li Weilong. Dibantu oleh anak buahnya, Li Weilong dan Li Zhen berjalan keluar dari hotel. Ketika dia berjalan keluar, Li Weilong tidak tahan lagi dan akhirnya pingsan. "Bawa ayah ke rumah sakit!" Kata Li Zhen. Li Zhen langsung membawa ayahnya ke rumah sakit dengan terburu-buru. Para pengunjung dan staf hotel dibuat ternganga di lobi hotel. "Iniˇ­. Aku sudah tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi." "Gila, siapa orang itu sebenarnya?" Semua orang sudah bingung hingga kepala mereka sakit. Dari awal hingga akhir, mereka terus menerus dibuat terkejut oleh Randika. Dan hasil seperti ini benar-benar di luar dugaan mereka. Luar biasa, benar-benar luar biasa! "Sepertinya nama keluarga Li di Makau sudah benar-benar hancur karena pria ini." Kata salah satu orang sambil geleng-geleng. "Orang itu pasti keluarga aristokrat yang jauh lebih besar daripada Li Weilong. Kalau tidak mana mungkin seorang Li Weilong sampai mengorbankan kakinya sebagai tanda penyesalannya? Apalagi satuan khusus kota kita ini benar-benar bukan tandingannya." "Benar juga. Tetapi aku tidak menyangka pergi ke Makau kali ini aku akan mendapatkan pertunjukan yang menarik." "Hahaha bisa-bisanya kamu bergembira di atas penderitaan orang lain?" "Hahaha bukankah kita sendiri sudah sering disusahkan oleh Liu Changhai dan Li Zhen? Jadi anggap ini sebuah karma bagi mereka." Tebakan orang-orang ini salah, karena Randika bukanlah bagian dari keluarga aristokrat. Namun, kejadian hari ini telah menyebar ke seluruh Makau dan ke telinga para keluarga aristokrat. Ketika mendengar informasi ini, para kepala keluarga dari keluarga aristokrat tersenyum pahit. Mereka harus menegaskan ulang pada anggota keluarga mereka agar kejadian Liu Changhai dan Li Zhen tidak terulang lagi. Untungnya saja kedua pemuda itu dimaafkan, kalau tidak bisa-bisa hari ini dua keluarga besar di Cina telah hilang dari peradaban. Dalam sekejap, mereka semua menegaskan kembali pada seluruh anggota keluarga mereka agar tidak mengganggu Randika dari Indonesia. Orang mengerikan tersebut benar-benar ancaman nyata yang bisa membinasakan keluarga mereka untuk selama-lamanya, Para polisi dan para satuan khusus kota Makau juga mulai meninggalkan tempat. Karena mereka adalah satuan hukum, Randika tidak ingin membunuh mereka. Setelah masalah ini selesai, para pasukan Ares juga membubarkan diri dan bersembunyi di balik kegelapan. Selama Randika menghendaki mereka, mereka akan muncul dalam sekejap. Para staf hotel masih ternganga dengan kejadian ini, kejadian hari ini benar-benar di luar akal sehat mereka. Hingga sekarang, bahkan General Manager hotel tidak tahu harus berbuat apa. Mereka semua hanya melihat Randika berserta Hannah dan Viona naik menggunakan lift. Chapter 358: Selera Fashion Randika Ketika mereka masuk ke dalam kamar mereka, jelas kedua perempuan itu bersemangat dan adrenalin mereka sedang berpacu. Mereka ingin merayakan kemenangan mereka. "Kak Randika memang luar biasa." Hannah langsung memeluk Randika dan mencium pipi Randika. Ketika Randika ingin berbuat lebih, Hannah sudah lepas dari pelukannya. "Aku harus cerita ini ke kak Inggrid." Kata Hannah dengan semangat. "Ran, dari mana teman-temanmu itu? Kenapa mereka muncul tiba-tiba?" Viona yang terkagum-kagum Randika itu langsung bertanya mengenai pasukan Ares yang tiba-tiba muncul tadi. "Mereka itu anak buahnya temanku." Kata Randika. Dia masih berusaha menyembunyikan identitas aslinya. Di permukaan, dia adalah orang biasa. Identitas aslinya akan membahayakan siapapun yang mengetahuinya jadi sebisa mungkin Randika mendekam rahasia ini seorang diri. .... Selama dua hari berikutnya, ketiga orang ini masih liburan di Makau dengan gembira. Bagaimanapun juga, mereka memiliki uang yang banyak dan waktu yang panjang. Sejak menang banyak di kasino, Viona dan Hannah tidak sungkan-sungkan memakai uang mereka itu. Dalam dua hari ini, mereka selalu belanja dan makan makanan mewah di restoran. Setiap toko baju yang dilewati mereka pasti akan mereka beli, mereka yang sekarang jijik dengan baju murah! Awalnya Hannah yang mulai gila-gilaan dalam berbelanja, Viona masih terlihat ragu-ragu. Namun, berkat dorongan dan kata-kata dari Hannah, Viona mulai kecanduan belanja dan mereka berdua menjadi monster. Mereka tidak pernah memikirkan tentang uang, apa yang mereka lihat akan mereka beli detik itu juga. Mereka tidak terlalu memedulikan pakaian itu cocok atau tidak, bagi mereka yang sekarang adalah beli, beli dan beli. Setelah mereka pulang nanti, baru mereka akan memilih busana yang cocok untuk mereka. Bagaimanapun juga, untuk menggaet hati cowok perempuan perlu berpakaian cantik. Jika sebuah bunga penampilannya tidak bagus, bagaimana mungkin ia bisa menarik perhatian kupu-kupu? Selama dua hari ini, Randika terus dijadikan kuli oleh mereka berdua. Kedua tangannya selalu penuh dengan tas belanjaan. Meskipun begitu, Hannah tidak pernah puas. Dia selalu menyeret Viona ke toko pakaian lainnya. Randika hanya bisa tersenyum pahit. Untungnya saja, liburan ini akan segera berakhir dan nerakanya ini akan berakhir sebentar lagi. Di hari ketiga, setelah belanja lagi, ketiganya kembali ke hotel. Sesampainya di hotel, kedua perempuan gila ini akhirnya tidak sabar untuk mencoba hasil tangkapan mereka. "Ih, ini kurang bagus deh buatku." Hannah melihat dirinya di depan cermin. Dia sedang memakai baju berwarna pink, warna yang kurang cocok baginya. Sedangkan Viona memakai baju sederhana dan sebuah rok pendek. Meskipun penampilannya sederhana, entah kenapa dia membawa sensasi segar bersamanya. Tinggal ditambahkan sebuah topi dan kacamata hitam, dia sudah seperti orang yang siap liburan ke mana pun. Sejujurnya, pakaian yang dipakai Viona selalu cocok untuknya. Mau itu mengesankan rasa segar ataupun sexy, perempuan cantik ini selalu berhasil melakukannya. Randika tentu saja sangat paham dengan Viona. Dia langsung teringat dengan lemari pakaian dalam Viona yang penuh dengan keindahan dunia itu. Bagaimanapun juga, dia lebih memilih melihat Viona berpakaian dalam. Terlebih lagi, Randika tiba-tiba teringat momen makan malam mereka yang pertama. Pada waktu itu, Viona lupa memakai celana dalam dan Randika dapat melihat semuanya dengan sangat jelas. Tidak dapat menahan diri, bagian celana Randika mulai terasa sesak. "Aku coba ganti yang lain." Hannah yang cemberut itu langsung mengobrak-abrik tas belanjaan miliknya. Dia lalu melihat sebuah gaun yang dia rasa cukup bagus dan memakainya. Melihat kedua perempuan yang sedang asyik mencoba-coba baju ini, Randika tersenyum. "Han, boleh aku membantumu untuk memilih?" Kata Randika. "Memangnya kak Randika bisa?" Wajah Hannah penuh dengan keraguan. "Apa kamu tidak percaya denganku?" Randika mengerutkan dahinya, memangnya apa di dunia ini yang tidak bisa dia lakukan? Dia yang sudah pernah menaklukan hati perempuan tercantik di kota Cendrawasih dan menaklukan Jepang itu kesusahan dalam memilihkan baju untuk perempuan? Kalian pasti bercanda. "Tentu saja tidak!" Kata Hannah sambil menjulurkan lidahnya. "Apa kamu merasa malu?" Balas Randika. "Buat apa aku malu!?" Berkat usaha Randika, sekarang dia bertugas memilih baju untuk Hannah. Viona juga penasaran dengan selera fashion Randika, mungkin dia bisa belajar beberapa hal setelah ini. Setelah beberapa saat, Randika telah selesai memilih dan memberikannya pada Hannah. "Coba pakailah." Hannah mengambil baju tersebut dan masuk ke kamar mandi untuk mencobanya. Viona benar-benar penasaran. "Ran, baju seperti apa yang kamu berikan ke Hannah?" "Hahaha tenang saja, sebentar lagi kamu akan melihatnya." Karena Hannah tidak ada, Randika mulai nakal. Tangan kanannya mendarat di pantat Viona. Ketika merasakan tangan Randika, wajah Viona berubah menjadi merah. "Jangan Ran, ada Hannah di dalam." Memangnya kenapa kalau ada Hannah? Bukankah ini lebih menegangkan? Randika lalu tersenyum nakal, dia berbisik di telinga Viona. "Apa kamu cemburu aku memilihkan baju buat Hannah saja?" "Siapa memangnya yang cemburu." Meskipun cemberut rupanya tebakannya Randika itu benar. "Hahaha jangan khawatir." Randika membelai pipinya. "Setelah kita kembali nanti, aku akan membantumu memilih pakaian terbaik untukmu. Aku sangat ingin melihatmu memakai berbagai macam pakaian dalam terbaikmu. Jadi nantikan saja ketika kita kembali nanti." Wajah Viona sudah merah, apa Randika ingin dirinya melakukan fashion show pakaian dalam? Tidak lama kemudian, Hannah keluar bersama dengan baju barunya. Sebenarnya Hannah itu perempuan cantik yang kecantikannya tidak kalah dengan Inggrid maupun Viona, tetapi sifat tomboinya itu membuat Hannah menjadi pribadi yang energik dan liar. Oleh karena itu, Randika ingin menunjukan bahwa ada sisi perempuan di dalam Hannah. Dia memadukan one piece dress berwarna krem muda dengan sandal jepit imut. Hannah yang awalnya tomboi itu berubah menjadi pribadi yang elegan dengan rambut hitam panjangnya itu terurai. Viona benar-benar terkejut ketika melihatnya. Dia tidak menyangka bahwa perubahan pada Hannah benar-benar bisa sedrastis seperti ini. Hannah sendiri juga sama terkejutnya, dia tidak menyangka baju sederhana seperti ini bisa mengeluarkan daya tarik yang selama ini berbeda dengan apa yang dia pikirkan. "Bagaimana? Apakah aku cantik?" Tanya Hannah dengan senyuman menawan. "Ya ampun Hannah, kamu benar-benar cantik! Siapapun pasti jatuh cinta ketika melihatmu." Viona menjadi bersemangat. "Han, nanti jangan jauh-jauh dari kita, bisa-bisa kamu diculik!" Kata Randika. Mendengar pujian dari kedua orang ini, Hannah menjadi sedikit malu tetapi hatinya benar-benar bahagia. Viona lalu mengajaknya untuk berkaca sekali lagi. Melihat dirinya di dalam kaca, Hannah benar-benar puas. Mungkin dia harus melatih sifat lemah lembutnya lagi? Randika memperhatikan Hannah yang terus tersenyum itu, adik iparnya itu lalu menoleh ke arahnya. "Aku tidak menyangka selera fashion kak Randika benar-benar bagus." Randika lalu tertawa, sudah jelas! Dia juga sudah latihan bersama Inggrid di malam hari, mana mungkin seleranya itu jelek? "Ran, bagaimana kalau kali ini kamu membantuku?" Kata Viona dengan tatapan penuh harap. Viona sendiri tidak memiliki masalah dalam selera fashion tetapi baju yang dipilihkan sendiri oleh Randika jelas itu masalah lain. "Baiklah kalau begitu." Randika dalam hati benar-benar bahagia. Untuk Viona, semakin tipis berarti semakin bagus. Chapter 359: Pulang Menuju Kota Cendrawasih Hannah dan Viona benar-benar sudah tersihir oleh Randika, apabila Randika bilang baju ini bagus maka mereka akan memakainya tanpa berpikir panjang. Bagi Randika, fashion show pribadi ini benar-benar memanjakan matanya. Randika memaksa mereka menggunakan baju sexy pilihannya itu untuk keesokan harinya. ...ˇ­.. Hari ini merupakan hari terakhir mereka di Makau, sebelum menuju bandara, mereka memutuskan untuk jalan-jalan untuk terakhir kalinya. Tetapi hari ini, Randika merasa bahwa tatapan mata orang-orang tertuju pada mereka bertiga. Untuk perempuan secantik Hannah dan Viona, mereka dari awal sudah menarik perhatian dengan kecantikan mereka. Tetapi sekarang setelah memakai baju sexy dan menggoda, jelas tatapan para pria hidung belang tidak bisa berhenti menatap. Untuk hari ini, Randika memilihkan mereka berdua baju yang cukup terbuka dan ketat. Lekuk tubuh mereka sangat jelas terlihat. Di sepanjang perjalanan mereka, bukan hanya pria saja yang melirik ke arah mereka tetapi para perempuan juga tidak kalah banyak. "Ran, banyak orang melirik kita." Kata Viona yang memiliki kulit tipis itu. "Sudah tidak apa-apa, mereka hanya sedang mengagumi padamu." Kata Randika sambil tertawa. Tetapi sejujurnya, ketika para pria melihat Viona, mereka semua terpukau. Ketika mereka melihat Hannah, mereka semua ternganga. Dan ketika mereka melihat sosok Randika berdiri di tengah-tengah mereka, mereka semua menggila. Diapit oleh dua perempuan cantik dan sexy, bukankah itu idaman para pria? Semua pria memiliki rasa benci dan iri pada Randika sedangkan Randika sendiri mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, dia sangat bangga dengan keadaannya yang sekarang ini. Dia mempersilahkan semua orang melihat tetapi kalau mereka berani menyentuh maka mereka akan berurusan dengan tinju miliknya. Di perjalanan mereka, ada seseorang yang baru saja membeli pot bunga dari toko bunga. Kemudian dia tidak sengaja melihat Hannah dan Viona. PRANG! Dalam sekejap pot bunga itu terjatuh menjadi berkeping-keping. Di restoran, ketika si pelayan membawa nampan berisi makanan, dia tidak sengaja melihat ke arah jendela di mana waktu itu Hannah dan Viona kebetulan lewat. Tiba-tiba, nampan itu terjatuh dan mengenai salah satu pengunjung. "Bajingan! Panggil manajermu!" Pengunjung itu marah besar. Di sisi jalan, sebuah mobil mewah bermerek Maserati sedang lewat. Pada saat ini, si pengemudi menatap Hannah dan Viona lekat-lekat dan matanya itu tidak bisa lepas dari kedua malaikat cantik itu. Kemudian, suara tabrakan yang lumayan keras dapat terdengar. Rupanya Maserati tersebut menabrak mobil di depannya! "Tidak! Mobilku!" Si pengemudi Maserati itu benar-benar menyesal. Bisa dikatakan bahwa ketiga orang ini telah menggertakan kota Makau hanya karena penampilan mereka hari ini. Semua orang yang melihat mereka benar-benar terpukau. Bagi Randika ini adalah pujian tertinggi yang bisa didapatkan oleh seorang pria. Dia dapat merasakan tatapan kebencian dan iri orang-orang, perasaan seperti ini sangat menyenangkan. Ingin sepertiku? MIMPI! Setelah mereka cukup lama berjalan-jalan, akhirnya mereka memanggil taksi dan berangkat menuju bandara. Di bandara, tatapan mata orang-orang tidak sebanyak ketika mereka jalan-jalan sebelumnya. Tetapi Randika masih dapat merasakan tatapan iri orang-orang yang melihat dirinya. Setelah masuk ke dalam pesawat, akhirnya mereka pulang menuju kota Cendrawasih. Sedangkan untuk pasukan Ares yang ada di Makau, Randika berkata pada mereka bahwa misi telah selesai dan mereka bisa pulang ke markas mereka di Jepang. Setelah 9 jam di dalam pesawat, mereka akhirnya mencapai kota Cendrawasih di malam hari. Sesampainya mereka di bandara Cendrawasih, mereka bertiga memanggil taksi. Pertama-tama mereka mengantarkan Viona terlebih dahulu sebelum akhirnya pulang ke rumah. Tidak lama kemudian, Randika dan Hannah telah sampai di rumah. "Kak, aku pulang!" Teriak Hannah dengan lantang. Dia langsung berlari menuju ke dalam rumah dan meninggalkan Randika bersama koper dan tas belanjaannya. "Wah nona muda sudah balik." Ibu Ipah menyambut Hannah dengan senyuman tulus. Inggrid yang melihat Hannah berlari ke arahnya itu juga ikut tersenyum. Di tangannya terlihat sebuah dokumen, sepertinya Inggrid membawa pulang pekerjaannya. "Bagaimana liburanmu?" "Sangat menyenangkan! Aku benar-benar puas! Banyak kejadian menarik di Makau!" Hannah langsung duduk di samping Inggrid. Berbaring di paha kakaknya, dia mulai menceritakan apa yang terjadi selama di Makau. Pada saat ini, Randika akhirnya masuk sambil membawakan koper-koper miliknya dan Hannah. Ketika dia baru saja masuk, dia langsung disambut oleh kata-kata Hannah yang menusuk hati. "Tolong masukkan koperku ke dalam kamar ya kak." Sialan, kenapa adik iparnya itu menganggap dirinya seorang pelayan? Bukankah aku ini kakak iparmu. Randika benar-benar kehabisan kata-kata, tetapi dia sendiri juga berjalan menuju lantai 2 meskipun dengan wajah yang ogah-ogahan. "Jadi gini kak, waktu itu kak Randika cuma mengatakan 2 hal dan orang yang diteleponnya itu langsung ketakutan!" Kata Hannah dengan semangat. Melihat Hannah yang bersemangat seperti anak kecil ini, Inggrid tidak bisa berhenti tersenyum. Dia sangat paham kemampuan suaminya itu, tetapi meski begitu, Inggrid selalu terkagum dengan Randika. Sepertinya semua masalah yang dihadapi Randika itu selalu teratasi dengan mudah. Sejak Randika menyelamatkan dirinya dari pernikahannya dengan keluarga Alfred, reputasi Randika sudah tersebar luas. "Pertama, namaku adalah Randika. Kedua, apakah kau ingin keluargamu aku musnahkan?" Hannah mencoba menirukan Randika pada saat itu. Tiba-tiba, kepalanya itu dijitak dari belakang oleh Randika. "Mesti cerita yang tidak perlu." Kata Randika sambil duduk di sebelah Inggrid. "Kak, kenapa kakak memukulku?" Hannah menjadi cemberut. "Aku belum selesai bercerita!" "Cerita seperti itu biar aku sendiri yang cerita ke kakakmu. Sudah sana mandi dan istirahat, biar aku menemani kakakmu." Kata Randika dengan tatapan tajam. "Hohoho jadi kak Randika berani melawanku? Aku ceritakan bagaimana kak Randika bermesraan dengan perempuan lain saat di Makau." Kata Hannah di telinga Randika. Randika hampir muntah darah. "Maksudmu apa! Aku tidak pernah melakukannya!" "Jangan berdalih! Aku melihatmu saat di kasino sedang bermesraan dengan perempuan lain." Kata Hannah sambil tersenyum nakal. Randika hanya bisa tersenyum pahit. Meskipun ini cuma sebuah gertakan, tetapi ketika seorang istri mendengar gosip seperti ini tentu saja ini akan menimbulkan keretakan. Inggrid hanya tersenyum ketika melihat kedua orang ini bertengkar. "Han, sebelum ini ada orang yang datang ke rumah. Dia mencarimu karena ingin membicarakan bisnis toko bajumu itu." Hannah langsung tersadar ketika diingatkan oleh Inggrid. Hannah langsung berlari ke kamarnya untuk menghubungi rekan kerjanya. Setelah beberapa waktu toko bajunya itu buka, Hannah kehilangan hasratnya dalam berbisnis. Kemudian dia menyerahkan bisnis toko bajunya itu ke temannya. Keuntungan yang didapat oleh toko akan dibagi sesuai dengan kesepakatan mereka berdua. Bagaimanapun juga, melihat sifat Hannah, dia bukan tipe orang yang bisa diam dan menunggu. Randika duduk kembali dan menggenggam tangan Inggrid. Tangan lembut istrinya ini membuat dirinya tidak ingin melepasnya untuk selamanya. "Sayang, apa kamu rindu aku?" Tanya Randika sambil mencium tangan Inggrid. Meskipun mereka sudah cukup lama menjadi suami istri, Inggrid masih bisa tersipu malu ketika Randika bertindak romantis padanya. Namun, dia masih malu untuk mengakuinya. "Hmm kamu siapa ya?" "Hahaha jangan gitu, aku benar-benar merindukanmu." Tangan Randika sudah berada di punggung Inggrid. Hari-harinya di Makau penuh dengan godaan dan dia tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengatasinya. Dia sama sekali tidak bisa menyentuh Viona maupun Hannah jadi nafsunya itu benar-benar sudah di ambang batas. Awalnya Randika mengira liburan ke Makau ini bisa menambahkan Viona dan Hannah ke dalam rencana haremnya tetapi tidak ada kesempatan sama sekali untuknya. Viona dan Hannah selalu bersama-sama, tidak ada kesempatan baginya untuk melancarkan serangannya. Tetapi untungnya saja, dia memiliki seorang istri yang perhatian padanya. Randika sudah tidak tahan lagi, tangannya sudah mulai berenang ke mana-mana. Inggrid yang dapat merasakan nafsu suaminya yang tidak terbendung itu berbisik di telinganya. "Masih ada Ibu Ipah, tolong pelan-pelan." "Baiklah." Tetapi Randika yang sudah nafsu ini mana bisa melakukannya pelan-pelan? "Hei, apakah ada acara bagus malam ini di kamar?" Bisik Randika. "Tentu saja tidak!" Kata Inggrid. Tetapi mata Randika yang penuh harap itu seakan-akan menyihir hati Inggrid untuk luluh. Tetapi melakukan hal-hal aneh setelah sekian lama tidak bertemu? Tentu saja Inggrid menolak! Tetapi bagaimanapun juga, sepertinya dia tidak bisa kabur dari terkaman Randika hari ini. Jadi dia meminta Randika untuk sabar dan menunggu ketika mereka sudah berdua di dalam kamar. Randika hanya tersenyum dan Inggrid mulai bertanya mengenai Makau. "Apa yang sebenarnya terjadi di Makau? Dari cerita Hannah, kamu berseteru dengan penguasa kota Makau ya?" "Hahaha cuma masalah kecil kok itu." Randika mengibaskan tangannya. "Hanya bocah-bocah tidak tahu diri yang aku temui saat di kasino. Aku sudah memberi pelajaran pada mereka." Pada saat ini, Ibu Ipah membawakan makanan kepada mereka. "Makan malam sudah siap." Kata Ibu Ipah sambil tersenyum. "Aku akan memanggil nona Hannah." Randika mengangguk, karena makanan pesawat yang buruk, dia tidak sabar makan makanan Ibu Ipah. Chapter 360: Lomba Makan Hot Dog Keesokan harinya, Randika berencana untuk jalan-jalan. Ketika dia sedang asyik jalan-jalan di daerah pertokoan, Randika melihat bahwa sedang ada kerumunan orang. Di depan mereka, terlihat sebuah meja panjang. Di atas meja, terlihat hot dog yang menggunung. Orang-orang bersorak untuk memberi semangat pada para peserta, jelas ini merupakan kontes makan yang diadakan oleh daerah pertokoan ini. Di ujung meja terlihat sebuah timer yang menghitung waktu yang tersisa. Sedangkan spanduk yang terpampang jelas itu berisikan "Kontes makan hot dog tahun ketiga!". Rupanya untuk menarik pengunjung datang, daerah pertokoan ini menggelar kontes makan tahunan. Randika sama sekali tidak tertarik dengan acara seperti ini. Tetapi ketika dia melihat ke arah para peserta, dia melihat sosok yang dikenalnya. Dia adalah Indra! Randika sampai terdiam beberapa saat, dia langsung menampar dahinya. Saking sibuknya, dia sampai lupa dengan keberadaan Indra. Adik seperguruannya ini benar-benar lenyap di pikirannya. Tetapi Randika tidak bisa disalahkan. Dari pergi menuju markasnya di Jepang, menyelesaikan masalahnya dengan Shadow hingga pembalasan dendam keluarga Alfred, Randika sama sekali tidak punya waktu untuk memikirkan Indra. Namun, melihat Indra yang baik-baik saja membuat hati Randika sedikit lega. Bagaimanapun juga, Indra adalah adik seperguruannya jadi sosoknya di hati Randika sedikit spesial. Pada saat yang sama, sepertinya pertandingan memakan hot dog ini sedang seru-serunya. Sorakan para penonton menggema di telinga para orang yang berjalan melewatinya. Bahkan ada seseorang yang mengunyah 2 hot dog sekaligus. Jelas orang tersebut memenangkan ronde pertama ini. Setelah pemenangnya sudah ditentukan, seseorang yang membawa microphone mengambil alih. "Baiklah, pemenang ronde pertama telah ditentukan. Dan sambutlah para peserta yang akan mengikuti ronde kedua." Dalam sekejap, suara tepuk tangan segera memeriah suasana. Indra berdiri dan duduk di kursinya disertai dengan beberapa orang lainnya. Ketika para penonton melihat Indra, jelas mereka semakin bersemangat. "Gila, baru tahu ada orang segemuk itu!" "Hahaha sepertinya juara tahun ini sudah ditetapkan." "Eits tunggu dulu, meskipun dia gemuk belum tentu dia bisa makan banyak." "Bodoh, kalau begitu jelaskan kenapa dia bisa segemuk itu!" Tiba-tiba temannya ini kehabisan kata-kata. Sepertinya memiliki bobot seperti Indra tidak bisa terlepas dari kata rakus dan makan banyak. Kalau tidak, mana mungkin dia bisa sebesar itu! "Tapi coba lihat, orang itu lucu." Orang-orang mulai memperhatikan Indra. Penampilan Indra yang seperti orang bodoh itu makin lucu karena ada sosok bayi di pundaknya. Orang-orang tidak tahu binatang apa itu tetapi yang jelas binatang itu berukuran kecil seperti bayi. Tentu saja, bayi itu adalah boneka ginseng. Namun, sosok boneka ginseng ini bukanlah boneka ginseng yang biasanya. Ia terlihat memakai ikat kepala putih dan baju bergambarkan wajah Indra. Rupanya yang paling semangat mendukung Indra adalah teman kecilnya yang ada di pundaknya itu. "Lucu sekali binatang yang ada di pundak orang itu." "Tapi binatang apa itu? Masa itu tupai?" Meskipun mereka bingung, tetapi mereka tetap tersenyum melihat sosok Indra yang lucu itu. Sekarang semua penonton menatap Indra karena badannya yang besar dan teman kecilnya yang duduk dengan tenang di pundaknya. Namun, tatapan mata orang-orang dan sorakan mereka tidak dapat membuyarkan konsentrasi Indra. Yang ada di pikirannya sekarang adalah hot dog yang ada di depannya. Akhir-akhir ini dia tidak makan banyak karena uangnya telah habis jadi bukan salahnya jika dia yang sekarang benar-benar lapar. "Para peserta yang sudah duduk diharapkan siap-siap karena sebentar lagi acara akan dimulai." Kata MC yang membawakan acara ini. Bersamaan dengan adanya suara peluit, acara ini pun akhirnya dimulai kembali. Para peserta langsung melahap hot dog di depan mereka itu dengan lahap. "Semangat!" Para penonton langsung membagikan semangat mereka pada para peserta. Tetapi ketika mereka melihat Indra, suara sorakan mereka itu berubah menjadi hembusan napas mereka. Apa mereka tidak salah lihat? Orang-orang mulai fokus pada Indra, semuanya langsung terheran-heran ketika melihatnya. "Ke mana hot dog itu?" Akhirnya pertanyaan itu terlontarkan dari salah satu mulut penonton. Karena tidak dapat dipungkiri, hot dog yang dipegang Indra itu seakan-akan masuk ke dalam lubang hitam. Indra sama sekali tidak peduli dengan tatapan orang-orang. Sejak suara peluit berbunyi, dia sudah menggenggam erat makanannya itu dan menelannya. Bahkan ketika hot dog baru terkunyah selama 1 detik, Indra sudah menelannya utuh-utuh. Kemudian dia segera mengambil kembali hot dog yang lain. Kecepatan makan ini benar-benar mengerikan. Ketika para peserta masih berjuang memakan hot dog mereka yang kesepuluh, Indra hanya tinggal 3 biji lagi. "Gila, aku sekarang tahu kenapa dia bisa gendut seperti itu." Kata salah satu penonton. "Apa perutnya itu tidak rusak menelan makanan itu secara utuh?" MC acara ini sendiri juga sama terkejutnya dengan para penonton. Dia tahu bahwa orang gemuk itu kuat makan tetapi dia tidak tahu bahwa Indra akan semengerikan ini. Apa dia berniat memakan hot dog peserta yang lain juga? Setelah menelan hot dog terakhirnya, Indra baru menyadari bahwa semua orang menatapnya seperti sedang melihat seorang monster. Dia lalu menggaruk-garuk kepalanya, dia tidak tahu apa yang salah dari dirinya. Dia lalu berkata dengan santai pada MC. "Bisa tambah?" Tambah? Semua orang jelas tertawa ketika mendengarnya. Si MC juga kelihatan kebingungan. "Tambah?" "Iya tambah, aku masih lapar." Kata Indra sambil tersenyum tulus. Si MC hanya bisa tersenyum pahit, tidak heran orang itu bisa segemuk ini pikirnya. Namun karena sorakan penonton, akhirnya ada seseorang membawakan piring besar berisikan hot dog. Ketika melihat hal ini, mata Indra menjadi berbinar. Boneka ginseng di pundaknya itu juga merasa bersemangat, dia berusaha memberi semangat pada Indra agar menaklukan gunung hot dog itu. Pada saat ini, para peserta yang bersaing dengan Indra sudah menghabisi setengah jatah mereka. Dan kecepatan makan mereka mulai berkurang karena mereka mulai kenyang. Tetapi ketika Indra mulai memakan piring besar yang baru saja datang, dia sudah menghabiskan separuh piring. Melihat kemampuan Indra yang seperti monster itu, satu per satu peserta sudah angkat tangan dan menyerah. Mereka tidak mungkin bisa bersaing dengan Indra. Bahkan hot dog mereka yang tidak habis itu diminta oleh Indra. Sekarang orang-orang mulai penasaran, seberapa banyak makanan yang bisa dihabiskan oleh Indra. "Semangat gendut, kamu pasti bisa!" Orang-orang mulai bersorak untuk Indra. Tidak butuh waktu lama bagi Indra untuk menghabiskan piring keduanya. Hal ini langsung menghebohkan para penonton. Untuk menghargai dukungan para penonton, penyelenggara acara menawarkan Indra sepiring besar hot dog lagi. Jelas Indra menerima penawaran ini dengan senang hati. Tujuan awal acara ini adalah menarik pengunjung sebanyak mungkin jadi para penyelenggara makin senang dengan antusias para penonton. Karena jarang-jarang ada monster seperti Indra, acara ini bisa dikatakan sukses! "Ayo kamu pasti bisa!" "Hei cobalah 5 piring!" "Hei, kalau ngomong itu aturan ya! Mana mungkin dia bisa menghabisi 5 piring?" "Tapi dia sudah piring ketiga, nambah 2 piring lagi masa tidak bisa? Cobalah pecahkan rekor makan terbanyak!" Rekor terbanyak dari lomba-lomba sebelumnya adalah 4 setengah piring. Ketika peserta itu coba menghabiskan piring kelimanya, dia sudah muntah dan dibawa ke rumah sakit. Setelah piring ketiga habis, Indra langsung meminta piring keempat. Bisa dikatakan bahwa lomba makan ini sudah berubah menjadi acara tunggal milik Indra. Dan para peserta yang mengikuti lomba ini tidak keberatan karena mereka sudah tahu bahwa tidak mungkin bisa mengalahkan Indra dari awal. Ketika piring keempat itu datang, kecepatan makan Indra sama sekali tidak berkurang. "Semangat, kamu pasti bisa!" Orang-orang memberikan semangat mereka pada Indra, mereka ingin melihat rekor baru. Sedangkan Indra sama sekali tidak peduli asalkan bisa mendapatkan hot dog. Tujuan Indra sangat sederhana yaitu makan sebanyak mungkin. Akhir-akhir ini dia tidak bisa makan sepuasnya karena uangnya sudah mulai habis jadi dia terpaksa makan seadanya saja. Dan acara ini benar-benar kesempatan bagus untuk memperbaiki gizi! Ketika piring keempat dan kelima itu habis, Indra menatap si MC. Matanya itu seakan-akan bertanya apakah masih ada lagi? Si MC jelas terkejut, Indra telah meminta piring keenam pada dirinya! Si MC langsung berkata di microphonenya. "Bawakan piring keenam!" Setelah piring keenam ini datang, Indra merasa dirinya sudah kenyang. Pada saat ini, akhirnya dia menyadari bahwa para penonton sangat antusias pada dirinya. "Kamu hebat!" "Luar biasa!" Orang-orang jelas bersemangat karena Indra telah memecahkan rekor dengan memakan 6 piring besar! Benar-benar luar biasa, para peserta yang lain hanya bisa tersenyum pahit karena mereka sangat tidak beruntung bertemu dengan Indra. Randika akhirnya memutuskan untuk memberi selamat pada Indra yang keluar sebagai pemenang ini, mata Indra langsung berbinar-binar ketika melihat Randika. "Kakak seperguruan." "Hahaha bagaimana kabarmu?" Kata Randika sambil tersenyum. Hatinya benar-benar merasa bersalah karena dia telah melupakan Indra. Melihat kakak iparnya ini, entah kenapa Indra merasa kangen rumah. "Kak, aku ingin pulang." Pada saat yang sama, boneka ginseng itu bersemangat ketika melihat Randika. Ia dengan cepat meloncat dan mendarat persis di pundaknya Randika. Randika lalu menyapa teman kecilnya itu. Sejak dia menyelamatkannya dari Shadow, hubungannya dengan boneka ginseng ini benar-benar baik. Sepertinya boneka ginseng ini tinggal beberapa lama dengan Safira tetapi pada akhirnya ia kembali ke Indra. Sepertinya ia memang menyukai aliran tenaga dalam Indra. "Bukankah enak tinggal di kota?" Tanya Randika. Indra lalu membalas. "Kak, aku benar-benar bosan di sini. Aku tidak tahu harus ngapain setiap hari." "Bagaimana latihan bela dirimu?" Tanya Randika. "Terakhir kali aku berlatih, aku tidak sengaja menghantam dinding kamar. Setelah dimarahi sama pemilik rumah, aku tidak berani berlatih lagi." Kata Indra sambil menggaruk kepalanya. Randika benar-benar kehabisan kata-kata, ngapain saja dia sampai hancurin tembok? "Dan juga aku tidak bisa makan sepuasku karena semuanya butuh uang." Kata Indra. "Kalau di gunung aku bisa menangkap sendiri makananku." Ternyata dugaan Randika benar, semua memang tentang makanan. "Kenapa kamu tidak bisa makan? Bukankah aku memberikanmu uang yang banyak?" "Sudah habis kak." Jawab Indra dengan polos. Randika hanya bisa menampar dahinya. Bagaimana mungkin adik seperguruannya ini menghabiskan 100 juta dalam waktu sebulan? Sepertinya dia lagi-lagi ditipu orang. Randika lalu berpikir selama beberapa waktu. Memang kehidupan kota tidaklah cocok bagi Indra tetapi yang paling menarik perhatiannya adalah boneka ginseng yang mengikuti Indra. Boneka ginseng ini telah berjasa banyak untuk Randika, jelas dia ingin menahannya di sisinya. Tetapi sepertinya boneka ginseng ini sangat melekat dengan sosok Indra. Setelah berpikir cukup lama, akhirnya Randika menganggukan kepalanya. "Baiklah kalau begitu, besok aku akan membawamu pulang." Wajah Indra langsung menjadi gembira tetapi ekspresinya segera berubah menjadi serius. "Tetapi aku punya satu permintaan kak." "Apa?" Tanya Randika. "Akuˇ­." Setelah membulatkan tekad, Indra berkata dengan nada pelan. "Aku masih lapar." "Kamu masih belum kenyang?" Randika jelas terkejut ketika mendengarnya. Bukankah kamu habis makan hot dog 6 piring? Kenapa dia masih belum kenyang. Randika hanya bisa tersenyum pahit. "Baiklah, aku akan membawamu ke restoran." Chapter 361: Kecelakaan di Perjalanan Menuju Rumah (1) Keesokan harinya, Randika membawa Indra naik bus menuju kota Kebon Raya. Perjalanan kali ini akan memakan waktu yang cukup lama karena bus akan berhenti di beberapa titik sebelum mencapai kota Kebon Raya. Tetapi hal ini tidak memadamkan antusias milik Indra. Setelah tinggal di kota cukup lama, dia merasa kebebasannya di kota cukup terkengkang. Terlebih lagi, orang-orang di kota benar-benar aneh dan tidak sepengertian seperti orang-orang di desa. Oleh karena itu, Indra lebih memilih hidup di gunung daripada di kota. Randika dan Indra duduk di kursi bagian belakang. Karena tubuh Indra yang besar, tidak ada pilihan selain duduk di paling belakang jadi mau tidak mau Randika membeli 4 tiket agar tidak ditendang oleh supir bus. Boneka ginseng masih duduk di pundak Indra, dia tampak bersemangat ketika melihat pemandangan di jendela. Sepertinya ini pertama kalinya ia keluar dari kota Cendrawasih. Bus akhirnya telah keluar dari kota Cendrawasih dan langsung menancapkan gasnya. Bus melaju dengan kecepatan kencang sambil menyalip beberapa mobil. Pada saat ini, supir bus terkejut bukan main karena dari arah berlawanan ada mobil truk besar yang cara menyetirnya ugal-ugalan. Supir bus ini bingung karena cara menyetir mobil truk itu ke kanan dan ke kiri secara terus menerus. Karena sudah mengemudikan bus selama beberapa tahun, supir bus ini mengerti akan bahaya tersebut dan mulai menginjak rem. Bahkan dia memutar busnya itu ke sisi bahu jalan agar terhindar dari mobil truk tersebut. Namun pada saat ini, tiba-tiba truk tersebut menghantam sisi jalan dan kehilangan kendalinya. Para penumpang bus dapat mendengar suara ban yang berdecit dengan keras itu, di bawah tatapan mata mereka, mereka dapat melihat dengan jelas bahwa truk tersebut akan terguling. Karena bus mereka sudah berhenti di bahu jalan, mereka sudah terlepas dari ancaman bahaya ini. Namun, mobil yang menyalip mereka dari belakang justru disambut oleh bahaya maut tersebut. "Mobil itu akan tergencet!" Teriak salah satu penumpang. Semua orang langsung melihat ke arah jendela dan melihat mobil tersebut berusaha mengerem dengan sekuat tenaga, tetapi semuanya itu sudah terlambat. Melihat kecepatan truk yang terguling itu, mobil itu sudah pasti akan kena. "AWAS!" Orang-orang mulai heboh sendiri. Di bawah tatapan mata mereka, tubuh truk itu dengan sempurna menindih mobil itu hingga gepeng. CKIT! BRUAK! Suara truk menindih mobil itu dapat terdengar dengan jelas, untungnya saja mobil tersebut tidak hancur sepenuhnya. Meskipun begitu, kaca pada mobil sudah hancur berkeping-keping di jalan. Semua orang dapat melihat dengan jelas, mobil itu sudah tertekan hingga setengah dan setiap menitnya mobil itu makin gepeng. Para penumpang bus yang melihat kejadian ini langsung panik dan heboh sendiri. Beberapa perempuan bahkan tidak berani melihat kejadian ini lagi dan langsung menutup kedua mata mereka. Kecelakaan ini terjadi terlalu mendadak, truk tersebut tergelincir dan menindih mobil yang tidak sempat menghindar tersebut. Untungnya saja, truk tidak melindas mobil lain dan sekarang truk tersebut berhenti total. Kecelakaan ini membuat semua mobil berhenti dan menatap truk tersebut. Mereka ikut khawatir dengan kejadian ini, tetapi mereka sangat lega karena truk tersebut tidak menimbulkan ledakan. Kalau tidak, maka kecelakaan ini mungkin akan jauh lebih parah mengingat banyak mobil yang ada. "Hei lihat! Orangnya masih hidup!" Kata seseorang ketika melihat mobil yang tergencet oleh truk tersebut. Ketika orang-orang mendengar kata-kata orang tersebut, mereka dapat melihat bahwa orang yang di dalam mobil itu memang masih hidup walaupun berlumuran darah. Mereka dapat melihat dengan jelas salah satu tangan pengemudi itu melambai-lambai meskipun pelan. "Cepat bantu dia!" Orang-orang langsung berusaha menolong orang tersebut. Setelah menganalisa, mereka semua sepakat bahwa untuk menolong orang di dalam mobil itu, mereka harus mengangkat truk yang menindih mobilnya terlebih dahulu. Supir yang mengendarai truk itu sudah diamankan, dia tidak mengalami luka sama sekali. Meskipun begitu, wajahnya benar-benar pucat pasi karena kecelakaan ini terjadi karena kesalahan dirinya. "Yang laki cepat bantu angkat truk ini! Setelah terangkat, siapapun bantu orang yang terluka itu keluar dari mobilnya." Seseorang mulai mengarahkan. Orang-orang terlihat ragu. "Bagaimana mungkin kita bisa mengangkat truk yang begitu berat?" "Jangan ragu-ragu atau orang itu akan mati!" Tidak peduli seberapa meyakinkan dirinya, pada akhirnya hanya 4 orang yang bersedia membantu. "Satu, dua, tiga!" Kelima orang ini bekerja sama membantu mengangkat truk tersebut tetapi semua itu percuma karena truk tersebut sama sekali tidak bergerak. "Sialan, truk ini terlalu berat." Katanya dengan wajah yang penuh frustasi. Jika dilihat dengan barang muatannya, mungkin total berat truk ini lebih dari 1 ton. Semua orang sudah menghela napas mereka. Jika ini tabrakan antar mobil, mungkin mereka bisa menyelamatkan orang tersebut. Namun, yang di depan mereka adalah sebuah truk barang yang penuh dengan muatan. Jelas hal ini sangat mustahil untuk diangkat oleh orang apalagi hanya 5 orang yang bersedia membantu. "Aku sudah menghubungi polisi, sekarang kita hanya bisa berharap bantuan dapat datang tepat waktu." Kata seseorang dengan wajah sedih. Kejadian seperti ini memang membutuhkan mesin derek bangunan. Tetapi permasalahannya adalah orang yang di dalam mobil itu terluka parah dan masih mengalirkan darah. Jika dia tidak dibantu segera mungkin, dia bisa-bisa mati sebelum bantuan datang. Pada saat seperti ini, semua orang sudah kehilangan harapan mereka. "Permisi, biarkan aku lewat." Sebuah suara mengejutkan mereka. Ternyata suara itu berasal dari Indra. Ketika orang-orang melihat tubuh gemuk Indra, semua menjadi senang. Jika punya tubuh sebesar itu, sudah pasti punya kekuatan yang besar! Dalam sekejap harapan mulai tumbuh lagi di hati orang-orang. "Cepat kita harus mengangkatnya sebelum terlambat." Kata seseorang. "Aku sendirian bisa kok." Kata Indra dengan santai. Semua orang yang mendengarnya jelas terkejut, sendirian? Dia bercanda atau apa? Yang diangkatnya itu truk apalagi penuh dengan muatan. Dan dia mau mengangkatnya sendirian? "Jangan bercanda, cepat ambil sisi sana dan kita angkat sama-sama." Indra menggelengkan kepalanya. "Aku bisa mengangkat truk ini seorang diri, mundurlah sana." Meskipun semua orang tidak mempercayainya, mereka tetap mundur. Semua orang tahu bahwa dia gemuk dan besar tetapi mengangkat truk itu seorang diri merupakan hal yang mustahil. Namun, mereka tidak punya pilihan lain. Setelah orang-orang mundur, Indra menghampiri truk tersebut dan berkata pada orang-orang. "Setelah aku mengangkatnya, cepat bantu orang itu keluar." Semuanya mengangguk, tetapi mereka sendiri tidak yakin dengan Indra. Lalu Indra meletakan kedua tangannya di bagian bawah truk dan dia pun berjongkok. Semua mata tertuju pada Indra. Meskipun mereka tahu bahwa mengangkat truk seorang diri itu mustahil, mereka cuma bisa percaya. Harapan terbaik untuk pengemudi itu hanyalah Indra. Indra mulai mengalirkan tenaga dalamnya. Pembuluh darahnya mulai mencuat dan tenaga dalamnya yang seperti lautan itu menyebar ke seluruh tubuh. Dengan kekuatan fisik Indra, truk tersebut mulai terangkat sedikit demi sedikit. Orang-orang terkejut ketika melihatnya, sepertinya mereka sedang bermimpi. Truk itu benar-benar terangkat! Orang-orang jelas terkejut bukan main, bahkan ada orang yang ternganga. Jelas ini sudah di luar akal sehat manusia. Sialan, apakah superhero benar-benar ada di dunia ini? Apa dia keturunan Superman? Di tengah-tengah keterkejutan mereka, akhirnya seseorang tersadar dan langsung berteriak. "Cepat tarik dia!" Orang-orang langsung tersadar dan berusaha menarik keluar pengemudi yang terjebak itu. Tetapi sayangnya pintu mobil itu tidak bisa dibuka, mereka harus menggunakan kekerasan untuk membukanya. "Tarik!!" Wajah mereka benar-benar merah tetapi pintu tersebut sama sekali tidak bergerak. Orang-orang mulai kebingungan, lalu ada seseorang yang menyarankan untuk menarik seluruh mobil sekaligus. Tetapi menarik sebuah mobil bukanlah perkara mudah apalagi mereka hanya mengandalkan tangan mereka. Waktu terus berjalan, mereka juga menyadari bahwa Indra tidak bisa selamanya mengangkat truk ini untuk mereka. Indra sendiri wajahnya sudah benar-benar merah, dia merasa dirinya mulai kelelahan dan ingin melepaskan genggamannya ini. "ARGHH!!" Indra tiba-tiba meraung keras. Tiba-tiba, kekuatan besar mulai menyelimuti tubuhnya. Tangannya mengangkat ke atas dengan tegak dan truk yang diangkatnya itu terlihat ringan. Benar, truk tersebut diangkat sepenuhnya oleh Indra! Roda-roda truk mulai melepaskan diri dari tempatnya dan terjatuh ke tanah dengan suara yang keras. Indra lalu menurunkan truk tersebut di tempat yang aman. Semua orang sudah membuka mulut mereka lebar-lebar, mereka tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Mengangkat masih mungkin tetapi memindahkannya seorang diri? Apa orang itu monster? Benar-benar mustahil! Semua orang masih terkejut sampai-sampai lupa dengan orang yang terjebak di dalam mobil. Ketika mereka sadar dan berusaha mengeluarkan orang tersebut, malaikat maut sepertinya merasa tidak puas karena dirinya merasa dicurangi. Dari arah sebaliknya, tiba-tiba ada sebuah truk gandeng besar yang melaju kencang menuju mereka. "Lari!!" Semua orang langsung menjadi panik. Sepertinya truk gandeng tersebut mengalami masalah dalam remnya. Karena mobil-mobil berhenti di bahu jalan, jalanan utama benar-benar kosong dan dia melaju dengan cepat. Sayangnya, jalur truknya ini mengarah pada kerumunan orang yang berusaha menyelamatkan orang yang terjebak di dalam mobilnya itu. Chapter 362: Kecelakaan di Perjalanan Menuju Rumah (2) Jika truk gandeng ini tidak dihentikan, banyak orang akan tewas dan bisa menabrak mobil-mobil yang berhenti sehingga menimbulkan kecelakaan yang jauh lebih parah. Semua orang berusaha menyelamatkan diri mereka, jelas bahwa mereka tidak ingin hari ini menjadi hari terakhir mereka di bumi. Pengemudi truk gandeng tersebut sudah sangat ketakutan. Dia tidak tahu mengapa hal ini bisa terjadi. Ketika dia berusaha mengerem dan berhenti di bahu jalan, ternyata rem truknya tidak berfungsi sama sekali. Meskipun truk miliknya ini sudah diperiksa sebelum dia berangkat, dia tidak tahu apa penyebab terjadinya rem blong ini. Semua orang melihat truk baru ini bagaikan banteng yang siap membunuh siapapun yang berani berdiri di hadapannya. Tetapi orang-orang ini sepertinya hanya bisa menerima nasib mereka karena tidak ada jalan untuk lari! Pada saat ini, seseorang berdiri di barisan paling depan dan berdiri menghadap truk tersebut. "Hei kamu gila atau apa? Cepat lari dan berlindung!" Orang di sekitarnya sudah berteriak ke arah orang tersebut tetapi dia hanya berdiri diam dan tidak mendengar peringatan orang-orang. Dia berdiri dengan ekspresi tenang, seolah-olah dia sedang menunggu truk tersebut menghampiri dirinya. Pengemudi truk itu ketakutan setengah mati ketika melihat sosok Randika. Apa orang itu bodoh? Cepat minggir! Pengemudi truk itu sudah mengucapkan doa permintaan maafnya. Sepertinya ada satu nyawa yang akan melayang karena dosanya ini, dia sudah siap masuk ke penjara karena kejadian ini. Selamat tinggal saudara! Pengemudi truk itu sudah menutup matanya tetapi tiba-tiba Randika menjulurkan kedua tangannya dengan perlahan. Menghadapi banteng besar ini, Randika hanya menjulurkan kedua tangannya. Orang-orang sudah tidak berani melihat lagi. Pemuda itu sudah pasti mati dan terpental jauh, mungkin mereka bisa mengambil kembali jenasahnya nanti. Truk itu sudah sangat dekat, kecepatannya sama sekali tidak menurun. Sebentar lagi adalah penentuannya! Semua orang sudah bisa melihat bayangan mayat Randika yang tercecer karena sudah sangat mustahil untuk menghentikan truk tersebut. Benar, mustahil! Apa kalian tidak bisa melihat betapa cepat rodanya berputar? Apakah kalian tidak melihat tinggi truk itu sudah bagaikan gunung? Tidak peduli seberapa banyak orang yang menghadang, truk itu akan melindas siapapun yang berani menghalanginya. Tetapi sekarang di depan truk tersebut, seorang anak muda menjulurkan kedua tangannya dan nampak berusaha untuk menghentikannya. Semua orang sudah menutup mata mereka, mereka sudah tidak berani melihat lagi. Ketika mereka melihat Indra yang mengangkat truk berbobot 1 ton itu mereka sudah terheran-heran. Tetapi apa yang mereka lihat sekarang jauh lebih mengherankan lagi. Randika berhasil menghentikan laju truk gandeng tersebut! Apa ini mimpi? Bahkan monster pun mereka tidak yakin bisa menghentikan laju truk yang cepat itu. Mereka benar-benar dalam keadaan syok. Dalam jangka waktu yang dekat, mereka melihat 2 keajaiban dunia. Tidak ada kata yang cocok untuk mengekspresikan keterkejutan mereka. Mungkin mereka yang sekarang melihat ada orang terbang dengan celana dalam merahnya di luar, mereka akan percaya 100% tanpa bertanya. Kalau mereka tidak percaya dengan keberadaan Superman, terus 2 makhluk di depan mereka ini apa? Sudah pasti mereka superhero kan? Orang yang mengemudikan truk itu juga terkejut. Dia mengira sudah membunuh Randika tetapi dia tidak mengira bahwa truknya akan tertahan. Meskipun begitu, si supir segera berusaha mengerem sekuat tenaga tetapi hasilnya percuma. Randika menyadari hal ini, dia langsung menggelengkan kepalanya. Lalu di bawah tatapan mata semua orang, dia mengangkat dan menggulingkan truk tersebut hingga jungkir balik. Setelah terjatuh, ban mobil itu terus berputar di udara. Hal ini dilakukan oleh Randika agar mencegah insiden lain. Setelah menyelesaikan masalah ini, Randika berniat naik kembali ke bus. Tetapi dia menyadari bahwa mulut orang-orang menganga ketika melihat dirinya, apakah mereka hendak memakan dirinya? Namun, wajah Indra tetap terlihat biasa. Dia memiliki kepercayaan penuh terhadap kemampuan dan kekuatan kakak seperguruannya itu. Kekuatan fisik Randika jauh lebih kuat darinya jadi Indra tidak heran dengan hasil seperti ini. Randika lalu menghampiri Indra dan berjalan masuk ke dalam bus mereka. Orang-orang langsung berdiskusi apa yang baru saja mereka lihat itu. "Ya ampun, siapa kedua orang itu?" "Apa mungkin mereka titisan Dewa?" Kata seseorang. Melihat truk yang terbalik dan truk yang dipindah oleh Indra, mungkin saja teori ini benar. "Benar-benar luar biasa, sepertinya mereka benar-benar titisan dewa." Orang-orang terus berdiskusi tentang Randika dan Indra, sejujurnya Randika pernah mengalami hal ini sebelumnya. Pada waktu itu, dia menyelamatkan Deviana dari mobil polisinya yang lepas kendali itu. Jadi orang-orang menggosipi dirinya ini sudah merupakan pemandangan yang wajar bagi Randika. Bagi Randika, meskipun dia bukan Superman, dia masih seorang manusia. Karena tenaga dalamnya itu, dia bisa melakukan hal yang di luar akal sehat manusia. Orang-orang di luar masih berdiskusi sedangkan orang-orang di dalam bus mereka hanya berani menatap diam ke arah Randika dan Indra. Mereka penasaran apakah keduanya ini adalah saudara atau tidak. Kalau bukan saudara, kenapa mereka bisa memiliki kekuatan yang begitu besar? Tidak ada alasan bagi Randika ataupun Indra untuk menjelaskan pada mereka. Mereka membiarkan imajinasi orang-orang ini terus berkembang. Akhirnya para polisi dan ambulans sudah datang. Ketika orang-orang ditanya apa yang telah terjadi, tentu saja para polisi ini tidak percaya. "Ulangi lagi kata-katamu itu." Wajah polisi itu terlihat marah, dia mengira bahwa orang yang diwawancarainya ini sedang bercanda. "Pak, aku berkata jujur. Aku lihat seorang pria gemuk memindahkan truk itu dari atas mobil yang tertindih itu. Truk yang terbalik itu juga ulah teman dari pria gemuk itu." Para polisi yang mendatangi lokasi kejadian ini mengalami dilemma. Mereka tidak mengerti harus melaporkan apa. Randika dan Indra tentu saja ikut ditanyai oleh para polisi, tetapi Randika memakai nama Deviana sebagai tameng dan berhasil lolos dari sesi wawancara. Setelah 2 jam tertunda, akhirnya bus mereka melaju sekali lagi. Karena Randika dan Indra melakukan sesuatu yang mencolok, para penumpang bus ini tidak bisa melepaskan tatapan mereka. Beberapa perempuan melihat Randika dengan tatapan penuh makna. Setiap detik mereka melihat Randika, semakin tersihir hati mereka. Orang ini benar-benar gagah dan tampan! Akhirnya salah satu perempuan membulatkan tekad dan duduk di sisi Randika. "Halo, apakah aku boleh duduk di sampingmu?" Katanya sambil tersenyum. "Oh silahkan." Randika lalu bergeser. Perempuan ini berusia sekitar 30 tahun. Meskipun sudah sedikit tua, wajahnya tergolong cantik. Tetapi Randika sama sekali tidak tertarik padanya. Randika memang tidak pilih-pilih tetapi baginya perempuan ini terlalu tua baginya meskipun wajahnya cantik. "Kamu barusan benar-benar luar biasa." Kata perempuan itu. Tetapi Indra justru terlihat bingung ketika mendengarnya. Bukankah hal ini biasa bagi kakak seperguruannya? Kenapa perempuan itu melebih-lebihkan? Melihat Randika yang tidak menjawab, perempuan itu merasa bahwa Randika jual mahal dan dia harus menaikkan level permainannya. Dia mulai menaruh tangannya di paha Randika dan membelainya secara lembut. Kali ini hati Randika mulai luluh. Sialan, dia bermain curang! Bahkan dia sendiri tidak akan bertindak seperti ini ketika menggoda perempuan. "Hei," Perempuan itu tersenyum lebar. "Bagaimana kita membahas apa yang barusan kamu lakukan nanti setelah kita turun?" Maknanya sangat jelas. Randika hanya bisa tertawa. "Maaf aku tidak punya banyak waktu, tetapi adik seperguruanku ini punya banyak waktu. Apa kamu ingin pergi bersamanya?" Mendengar kata-kata Randika itu, si perempuan terkejut. "Dia adikmu?" "Adik seperguruan lebih tepatnya." Kali ini Indra nimbrung karena namanya disinggung. Melihat sosok Indra dalam jarak dekat, si perempuan itu hanya bisa mendengus dingin. Orang-orang yang mendengar percakapan mereka ini sudah tertawa. Mereka membayangkan tubuh Indra yang menggencet perempuan itu, benar-benar seperti sandwich! Merasa ditolak secara halus oleh Randika, perempuan itu akhirnya menyerah dan duduk kemabli di tempatnya semula. Chapter 363: Situasi Krisis Sepanjang perjalanan, Randika dan Indra terdiam. Setelah beberapa kali berhenti, akhirnya Randika dan Indra tiba di kota pinggiran yang sangat mereka kenal yaitu kota Kebon Raya. Lalu karena mereka membawa barang-barang milik Indra, mereka menyewa jasa gerobak sapi untuk membawa mereka ke Desa Jagad. Boneka ginseng masih mengikuti Indra, dia merasa hidup di pegunungan ini sangat baik bagi dirinya. Tidak lama kemudian, mereka akhirnya tiba di Desa Jagad. "Guru!" Teriak Indra dengan semangat, tetapi dia sama sekali tidak melihat siapapun di dalam rumah. Melihat hal ini, Indra benar-benar khawatir. "Guru di mana kalian? Ini Indra, saya telah kembali!" Indra membuka semua ruangan. Randika lalu menghentikannya. "Kakek sedang pergi, mereka tidak ada di rumah." Setelah mendapatkan penjelasan dari Randika, Indra merasa lega tidak ada masalah yang menimpa guru-gurunya itu. Namun, Randika sendiri tidak menyangka para kakeknya itu belum pulang kembali. Hal ini membuat dirinya mengerutkan dahinya. Ketika dia bertarung melawan Ivan di gunung pada waktu itu, Ivan mengatakan rencana busuknya. Sepertinya kakeknya itu dijebak. Seharusnya, para kakeknya itu sudah kembali ke Desa Jagad. Namun setelah berpikir baik-baik, Randika berusaha melupakannya. Kekuatan ketiga kakeknya itu melebihi dirinya. Bahkan kekuatan Randika yang sekarang masih bukan apa-apa di hadapan para kakeknya itu. Belum lagi kakek keduanya, dia benar-benar ahli dalam ilmu bela diri. Bahkan Randika sendiri tidak bisa menyentuh ujung baju kakeknya ketika kakeknya itu serius. Oleh karena itu, Randika merasa tenang-tenang saja. "Apa kamu tidak keberatan tinggal sendirian dulu?" Tanya Randika. "Tidak masalah, aku sudah terbiasa tinggal sendirian." Indra tertawa. "Aku bisa berburu binatang di gunung dekat sini kalau lapar. Lagipula aku tidak sendirian kok, kan ada Jumbo di sisiku." Jumbo? Randika jelas terlihat bingung. Indra lalu menoleh ke arah pundaknya di mana boneka ginseng itu duduk dengan manis. Hal ini membuat Randika tertawa, rupanya boneka ginseng itu sudah memiliki nama. Randika mengangguk, keduanya lalu pergi ke gunung dekat rumah mereka. Ketika mereka mencapai puncak gunung, mereka memandangi pemandangan gunung yang benar-benar indah. Tetapi Randika menyadari ada sebuah gua di belakang tempat mereka beristirahat. Dia tidak pernah melihat tempat ini begitu lama hingga dia sampai lupa dengan tempat ini. Gua itu ditutup oleh sebuah batu yang besar dan tumbuh-tumbuhan tumbuh dengan lebat. Ini adalah tempat peristirahatan terakhir kakek buyutnya. Saat dia kecil, para kakeknya kadang-kadang membawanya ke sini untuk menghormati dan berdoa pada kakek buyutnya. Kakek buyutnya ini benar-benar orang yang luar biasa. Dari cerita kakeknya itu, dikatakan bahwa kakek buyut Randika ini adalah yang terkuat di muka bumi. Bahkan 12 Dewa Olimpus yang sekarang harus bersatu untuk melawannya agar memiliki kesempatan untuk menang. Setelah turun dari gunung, Randika memutuskan untuk menginap selama sehari di Desa Jagad ini. Di perjalanan mereka turun, mereka sempat berburu dan mendapatkan beberapa hewan untuk dimakan. Setelah mengetahui Indra dapat berburu dengan baik, Randika tidak akan khawatir untuk meninggalkannya. Setelah berpamitan dengan Indra, Randika kembali menuju kota Cendrawasih. Setelah menaiki bus yang sama, Randika akhirnya tiba di kota Cendrawasih pada sore hari. Ketika dia sampai di rumahnya, Randika mendapati bahwa tidak ada orang di rumah. Seluruh gedung berlantai dua ini benar-benar kosong. Hal ini sangat mengejutkan bagi Randika. Seharusnya di rumah ini setidaknya ada Ibu Ipah, kenapa sekarang kosong melompong? Randika yang khawatir itu segera naik ke lantai dua menuju kamar Inggrid. Ketika dia membukanya secara perlahan, sosok Inggrid yang sedang berganti baju menyambutnya. Hati Randika sudah mengepal dengan kuat. Dia tidak menyangka akan disambut pemandangan indah seperti ini, istrinya ini benar-benar cantik. Sambil tersenyum, Randika mengendap-endap menuju Inggrid berdiri. Melihat bentuk tubuh istrinya itu, Randika tidak bisa berhenti menelan air liurnya. Pada saat ini, Inggrid sedang memakai pakaian dalamnya yang berwarna hitam dan sedang memunggungi Randika. Lalu tiba-tiba Inggrid mengangkat kaki kanannya dan membungkuk sedikit untuk mengoleskan krim ke kakinya. Pantatnya yang bundar dan kenyal itu memenuhi kedua bola mata Randika. Dia sudah tidak sabar merasakan kelembutan kulit istrinya ini. Pada saat ini, Inggrid ingin mengganti pakaian dalamnya jadi dia berusaha melepas pengait behanya. Asyik! Randika menelan kembali air liurnya, matanya benar-benar terpaku pada punggung putih istrinya. Pemandangan ini benar-benar surgawi. Randika bahkan sudah melepas bajunya, dia sudah tidak sabar berhubungan badan dengan istrinya. Randika terus mengendap-endap hingga tepat berada di belakangnya. Pada saat ini, Inggrid sudah melepas behanya dan berusaha mengambil behanya yang ada di atas meja. Ketika dia hendak meraihnya, tiba-tiba ada suara orang di belakangnya. "Sayangku aku pulang!!" Kemudian kedua tangan Randika yang besar itu langsung meremas kedua dada Inggrid dari belakang. Sebelum ini Viona sama sekali tidak menyangka akan ada orang lain di rumah ini selain dirinya, jadi dia mengira bahwa orang yang meremas dadanya ini adalah penyusup. Dalam sekejap Viona langsung berusaha melepaskan diri sekaligus berteriak. "Tidak!!" Viona berteriak dengan keras, dan pada saat yang sama, Randika langsung menyadari sesuatu yang ganjil hari ini. Kenapa dada istrinya terasa berbeda. Randika dan Inggrid sudah menjadi suami istri beberapa waktu jadi Randika sangat memahami lekuk tubuh Inggrid dari ujung kepala hingga ujung kaki. Tetapi hari ini dia merasa dada istrinya itu berbeda. Tetapi kenapa dia merasa pernah meremas dada ini? Randika berpikir sesaat sedangkan Viona terus meronta dan berteriak, dia masih tidak bisa melepaskan dirinya. Tetapi dia tiba-tiba merasakan sesuatu, kenapa suara dan tangan ini sangat familier bagi dirinya. Kedua orang ini terdiam beberapa saat. Randika kemudian menoleh dan melihat wajah istrinya yang rupanya adalah Viona! Ketika kedua mata mereka bertemu, mereka tidak bisa menyembunyikan rasa kaget mereka. "Viona? Kenapa kamu ada di sini?" "Randika? Kenapa kamu ada di sini?" Keduanya melontarkan pertanyaan yang sama. "Kenapa kamu ada di sini?" Keduanya bertanya hal yang sama sekali lagi. Kemudian, kamar ini dipenuhi dengan kesunyian untuk beberapa waktu. Sepertinya mereka berdua berusaha memproses kejadian ini di benak mereka. "Ran, biarkan aku memakai bajuku dulu." Kata Viona. "Oh, baiklah." Randika melepaskan Viona dari pelukannya lalu berkata padanya. "Aku akan menunggu di luar." Setelah keluar dari kamar, hati Randika benar-benar kacau. Hal yang paling dikhawatirkannya rupanya benar-benar terjadi. Awalnya dia ingin menjalankan rencananya itu secara perlahan, dia tidak menyangka rencananya akan berantakan sedemikian rupa. Randika mengerutkan dahinya dalam-dalam. Awalnya, menurut rencana awal, Randika ingin membuat Viona jatuh cinta dan berhubungan badan dengannya terlebih dahulu. Lalu secara perlahan dia akan memberitahu posisi Viona yang sebenarnya. Rencana ini benar-benar harus dijalankan dengan sempurna, kalau tidak semuanya akan hancur berantakan. Namun secara tidak terduga, Viona justru muncul di kamarnya Inggrid dan sekarang sedang ganti baju. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Apakah Viona sudah tahu hubungan dirinya dengan Inggrid? Atau jangan-jangan Inggrid mengetahui hubungannya dengan Viona? Memikirkan hal ini, Randika harus fokus dengan apa yang ada di depannya. Asalkan tidak muncul suatu masalah yang besar, dia masih bisa mewujudkan rencana haremnya ini. Tetapi kehadiran Viona hari ini benar-benar membuatnya kelabakan. Kejadian ini benar-benar membuat Randika merasa dirinya dalam situasi kritis. Sudah sangat lama dia merasakan perasaan seperti ini. Jika dia tidak mengatasi kejadian ini dengan benar, dia bisa kehilangan Inggrid atau Viona. Tetapi Randika tidak akan membiarkan hal ini terjadi. Dia sangat menyukai kedua perempuan ini. Bagaimanapun caranya, dia tidak akan membiarkan siapapun lepas darinya. Tetapi bagaimana caranya? Randika memikirkan beberapa macam hal, apakah dia harus berbohong? Tidak, kedua perempuan itu benar-benar pintar dan dirinya ketahuan memasuki rumah Inggrid dan merabanya sekaligus memanggilnya sayang. Jika dia berbohong dan ketahuan, jelas situasinya akan jauh lebih buruk untuknya. Apakah dia harus kabur sementara waktu? Tidak, itu bukan solusi yang bagus. Bahkan jika dia menunda masalah ini sementara waktu, dia tetap harus menghadapinya suatu saat nanti. Terlebih lagi, kabur bukanlah gaya Randika. Mau tidak mau, dia harus menghadapi masalah ini. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana caranya yang paling tepat? Randika benar-benar dibuat gila oleh masalah ini. Dia tidak bisa memikirkan alasan yang bagus, ayo otak bekerjalah! Di balik pintu, Viona sendiri sedang bertarung dengan hatinya sendiri. Meskipun enggan mengakuinya, dia memiliki beberapa tebakan mengenai Randika. Gosip yang beredar di perusahaan, kedekatannya dengan Hannah dan kehadiran Randika di rumah Inggrid memberinya sebuah tebakan tentang hubungan Randika dan Inggrid yang sebenarnya. Tetapi dia tidak mau mengakui hal ini karena jika iya maka dirinya bisa kehilangan Randika untuk selama-lamanya. Namun, ketika dia menyadari sendiri kemungkinan ini, hati Viona benar-benar kacau. Apa yang harus dilakukannya? Viona sendiri tidak tahu harus berbuat apa, hatinya benar-benar dalam situasi kacau. Dia awalnya tidak ingin melakukan hal ini tetapi dia harus mengetahui situasi yang sebenarnya. Dan dia tidak menyangka bahwa Randika akan benar-benar datang ke rumah ini. Setelah beberapa saat, Viona memakai bajunya dan keluar untuk menemui Randika. "Hannah yang memintaku untuk datang ke sini." Kata Viona sambil menunduk ke bawah. Bahasa tubuhnya mengatakan bahwa dia tidak nyaman dengan situasi mereka ini. Randika hanya bisa tersenyum pahit, sepertinya Viona juga mengalami gejolak batin. "Viona." Panggil Randika dengan lembut. Viona lalu mengangkat kepalanya dan menatap mata Randika. Kedua bola mata itu benar-benar tulus. "Vi, aku benar-benar menyukaimu." Kata Randika dengan nada yang lembut. Viona tidak menyangka bahwa Randika akan berkata seperti itu dengan perasaan yang tulus, wajah Viona tidak bisa menahan rasa malunya. "Tapi Ran kamuˇ­" Sebelum Viona selesai berbicara, dia dihentikan oleh Randika. Randika memegang kedua tangannya dan berkata sambil tersenyum. "Apa pun yang terjadi, aku tidak akan pernah melepaskan dirimu." Apa maksudnya itu? Hati Viona menjadi jauh lebih kacau. Ketika Randika melihat Viona menundukan kepalanya, hatinya benar-benar terasa sakit. Dia mengangkat kepala Viona lalu menciumnya. Chapter 364: Kalian Bertiga adalah Istriku Ciuman yang lembut ini segera mengisi hati Viona dengan kehangatan. Setelah setengah menit mereka berciuman, wajah Viona sudah benar-benar merah. Menatap perempuan yang dicintainya di hadapannya ini, Randika membulatkan tekadnya. Apa pun yang terjadi, dia tidak akan melepaskan Viona meskipun nyawa adalah taruhannya. Pada saat ini, pintu ruang tamu terbuka. Dalam sekejap Viona langsung menjadi panik. "Ranˇ­" "Sudah tenang saja, serahkan masalah ini padaku." Randika lalu menggandeng Viona turun tetapi sesampainya mereka di tangga, Randika melepaskan tangannya. "Ran, aku pulang." Inggrid masuk ke ruang tamu dan terkejut ketika melihat sosok Viona. "Sore bu Inggrid." Viona benar-benar tidak tahu harus berekspresi seperti apa khususnya setelah dia mengetahui hubungan Inggrid dengan Randika. Wajah merah dan napas yang terengah-engah, Inggrid sebagai perempuan yang berpengalaman tentu tahu kenapa Viona bisa berpenampilan seperti itu. Tidak dapat menahan dirinya, Inggrid menatap tajam pada Randika. "Viona datang karena dipanggil oleh Hannah." Kata Randika sambil memaksakan dirinya untuk tersenyum. Namun hati Randika saat ini terasa sangat kosong. Inggrid hanya mengangguk dan tidak banyak berbicara. Instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang terjadi di antara Randika dan Viona. Melihat reaksi Inggrid yang seperti ini, hati Randika benar-benar mengepal. Istri tercintanya ini tentu tidak akan marah besar kan? Ketika Randika sudah berkeringat dingin, dari arah pintu rumah terdengar sebuah suara yang ceria. "Aku pulang." Ketika Hannah masuk ke ruang tamu dan melihat ketiga orang ini berdiri terdiam, Hannah benar-benar bingung. Apa yang sedang terjadi? Melihat Hannah yang tiba-tiba pulang ini, Randika benar-benar merasa lega. Kalau tidak, suasana ini akan berlangsung canggung untuk sementara waktu. "Ada apa ini? Kenapa semuanya terlihat tegang?" Kata Hannah dengan wajah bingung. "Tidak apa-apa." Randika tertawa, tetapi Hannah benar-benar tidak mempercayainya. Pada saat ini, Inggrid juga berkata pada mereka. "Kenapa kamu tidak mengatakan bahwa akan ada tamu hari ini? Ibu Ipah sedang pergi jadi kita tidak punya makanan sama sekali hari ini. Kalau begitu lebih baik kita makan di luar saja." Untuk ajakan Inggrid ini, ketiganya tentu saja tidak punya alasan untuk menolak. Inggrid memilih restoran barat yang cukup mewah. Restoran yang mereka datangi ini memiliki interior yang bagus dan alunan musik piano semakin memperindah suasana makan mereka. Ditambah lagi, sekarang sedang bulan purnama jadi malam cukup terang. Keempatnya memilih meja di dekat jendela dan tidak lama kemudian mereka segera memesan makanan mereka. Tentu saja semua suasana bagus ini tidak dapat menutup kegugupan Randika. Benar seorang Ares yang dikenal sebagai 12 Dewa Olimpus itu baru pertama kali merasakan rasa gugup yang luar biasa. Hal ini terjadi karena suasana di meja makan ini benar-benar canggung. Inggrid sama sekali tidak berbicara dan Viona terus menerus menundukan kepalanya. Hannah mencurigai sesuatu tetapi dia tidak tahu apa permasalahannya yang sebenarnya. Randika berpikir bahwa hal ini akan buruk apabila terus dibiarkan tetapi dia sama sekali tidak kepikiran cara untuk memecah suasana canggung ini. Randika benar-benar pusing. Jika masalah ini bisa terselesaikan dengan tinjunya maka dia tidak perlu merasa sepusing ini. Hal ini benar-benar rumit. "Aku rasa kita harus bersulang terlebih dahulu untuk merayakan malam hari yang indah ini." Randika mengangkat gelasnya sambil tersenyum. "Kak Randika benar-benar kakak ipar yang payah." Kata Hannah sambil mendengus dingin. Hannah memang memiliki beberapa tebakan tersendiri mengenai hubungan Randika dan Viona apalagi setelah mereka bertiga berlibur ke Makau, Hannah menyadari bagaimana Viona menatap Randika. Tentu saja sangat mudah menyadari hubungan mereka berdua mengingat sifat mesum kakak iparnya itu. Ketika Viona mendengar kata-kata kakak ipar, hatinya makin mengepal dan terasa sakit. "Hari ini aku ingin mabuk." Randika memaksakan diri untuk tersenyum, dia langsung menegak wine yang dimilikinya. Randika langsung mengisi kembali gelasnya. Untungnya saja, para pelayan datang membawakan makanan mereka berempat jadi suasana canggung ini bisa tertunda beberapa waktu. "Makan dulu." Kata Inggrid dengan nada dingin. Keempat orang ini mulai mengambil garpu dan pisau mereka, tetapi rasa makanan yang mereka makan ini terasa hambar. Randika sendiri terus menerus menegak gelas wine miliknya. Dia berharap alkohol ini dapat meringankan kepalanya untuk sejenak. Ketika mereka berempat makan, Hannah mulai duluan untuk angkat bicara. "Kak Randika, kakak itu terlalu banyak main-main." Hannah memberanikan diri untuk mengawali topik, Randika lalu membalas. "Aku hanya menghargai bunga yang ada, apakah itu salah?" Mendengar jawaban Randika itu, Hannah kehabisan kata-kata. Dibantu oleh kekuatan alkohol, Randika mulai berbicara. "Apa kalian semua tahu impian terbesarku di hidup ini?" Meskipun Viona dalam suasana hati yang buruk, dia masih mendengarkan. "Aku berharap bahwa kita bisa belajar dari kehidupan para kaisar di jaman dahulu di mana dia bisa menikahi banyak orang." Kata Randika sambil tersenyum dan terceguk. Randika lalu menegak kembali winenya. "Bukankah itu adalah impian para lelaki? Memiliki banyak perempuan di istananya?" Hannah langsung membalasnya dengan nada marah. "Bisa-bisanya kak Randika mabuk di kondisi seperti ini!" Inggrid menatap tajam Randika, dia sama sekali tidak tahu apa yang sedang dipikirkan suaminya itu. Sepertinya suaminya itu sedang bertarung di dalam hatinya. Randika lalu menghirup udara dalam-dalam dan menegak kembali winenya, wajahnya langsung berubah menjadi serius. Sukses atau tidaknya rencana haremnya ini akan ditentukan oleh hasil hari ini. "Aku ingin menyampaikan sesuatu padamu." Randika menatap Inggrid. "Apakah kamu ingat bagaimana pertama kali kita bertemu? Kamu mendatangiku dan mengajakku untuk kawin kontrak?" Ketika Inggrid memikirkan hal ini, dia terlihat bingung. Kenapa kamu tiba-tiba menyinggung hal itu? Apa Randika akan membatalkan pernikahan mereka? "Sejujurnya pada waktu itu, aku merasa bahwa suatu hari nanti kamu akan menjadi istriku yang paling kucinta." Kata Randika sambil tersenyum. "Kamu benar-benar wanita idamanku. Kamu cantik, baik, menawan dan dewasa apalagi kamu juga seorang pemimpin perusahaan besar. Tetapi setelah hidup bersamamu untuk beberapa lama, aku sama sekali tidak peduli dengan semua itu. Bahkan jika kamu tidak punya apa-apa, aku akan tetap mencintaimu apa adanya." Mendengar kata-kata terakhir itu, ekspresi Inggrid yang serius menjadi tersipu malu. "Inggrid, aku mencintaimu. Aku benar-benar bersyukur telah menjadikanmu istriku." Setelah itu Randika menegak kembali winenya. Ketika mendengar kata-kata Randika ini, wajah Viona sudah berlinang air mata. Sedangkan Hannah yang seharusnya senang ketika mendengar ini entah kenapa merasa sedikit cemburu dan sedih. Ketika Hannah hendak berkomentar, tiba-tiba Randika berbicara lagi. Dan kali ini tatapan matanya tertuju pada Hannah. "Han, meskipun kamu itu kadang menjengkelkan, egois, dan manja, tetapi kebaikan hatimu, keberanianmu dalam bertindak dan kejujuranmu itu benar-benar membekas di hatiku." Kata Randika. Inggrid yang tersipu malu itu terkejut, dia langsung menatap tajam ke arah Randika. Viona yang tertunduk juga melihat ke arah Randika, matanya mengandung perasaan bingung. Saking terkejutnya, Hannah sampai ternganga dan menjatuhkan gelasnya. "Jika semua sifatmu itu hilang, maka kamu bukanlah Hannah yang kukenal. Aku benar-benar menyukai Hannah yang selama ini kukenal, aku benar-benar mencintaimu." Ketika Randika selesai berbicara, dia menegak kembali gelas winenya yang sudah terisi. Ketiga perempuan ini benar-benar sudah tidak tahu harus berkata apa. Randika kembali mengisi gelasnya dan menatap ke arah Viona. "VI, aku tahu bahwa kamu adalah perempuan yang pemalu dan pendiam tetapi aku bisa merasakan kelembutan dan rasa cinta yang besar di dalam dirimu. Ketika kita pertama kali bertemu, aku sangat bodoh karena tidak meminta nomormu tetapiˇ­ Tuhan berkata lain karena dia mendatangkanmu kembali kepadaku." Randika tersenyum tulus pada Viona. Viona kali ini tertunduk lagi, namun yang kali ini karena rasa malu. "Aku menyukaimu yang pemalu dan pendiam itu. Aku menyukai sisi baikmu maupun sisi burukmu. Viona, aku mencintaimu." Ketiga perempuan ini benar-benar terdiam setelah Randika menyatakan perasaannya pada mereka bertiga. "Jadiˇ­" Randika yang mabuk ini menatap ketiganya dengan wajah serius. "Mulai sekarang kalian semua adalah istriku. Inggrid adalah istri pertama sedangkan Viona yang kedua dan Hannah yang ketiga." Ketika Randika berkata seperti itu, suasana meja makan ini benar-benar menjadi hening. Chapter 365: Mencium Ketiga Istri Inggrid menatap tajam Randika, begitu pula dengan Hannah dan Viona. Ketiganya itu benar-benar terkejut dengan ide Randika satu ini. Tetapi ketiganya langsung mendengus dingin. Apa kamu pikir ini romantis melamar tiga perempuan sekaligus? Apakah kamu tidak bertanya dulu apakah kita bertiga itu setuju atau tidak? Hati Inggrid benar-benar campur aduk, dia tidak menyangka situasi akan berjalan seperti ini. Jika dia menerima ide Randika ini, dia harus menerima kenyataan bahwa akan ada perempuan lain yang tidur bersama dengan Randika. Dia sama sekali tidak bisa membayangkan kehidupan yang seperti itu. Hannah sendiri benar-benar dibuat terkejut, tetapi entah kenapa dia merasa tertekan. Meskipun dia tidak tahu kenapa merasa tertekan, mungkin ini karena dia telah mendengar ide gila Randika, tetapi membayangkan dirinya dan kakaknya Inggrid menjadi suami Randika? Intinya ketiga perempuan ini langsung memiliki pemikiran mereka masing-masing. Tetapi satu hal yang mereka sangat pahami, Randika yang sekarang sedang mabuk! Wajah merah, bicara melantur, tubuh yang tidak seimbang ini semua merupakan tanda-tanda orang mabuk. Tetapi apakah Randika benar-benar mabuk? Sebelum Randika menjalani hidupnya di kota Cendrawasih, dia selalu meminum alkohol selama hidupnya apalagi ketika dia berkeliling dunia. Berbagai macam alkohol sudah diminumnya, apalagi baginya yang paling keras adalah vodka. Dan sekarang di hadapannya sekarang cuma sebotol wine, tentu saja dia bisa menegaknya seorang diri dan masih bisa bertarung dengan kekuatan penuh. Ketiga perempuan ini sama sekali tidak berbicara sama sekali, sepertinya mereka sedang memikirkan kata-kata Randika barusan. Jadi suasana meja makan ini kembali menjadi sunyi dan canggung. Randika memperhatikan keadaan ini dengan seksama, dia tidak bisa membiarkan keadaan canggung ini terus berlangsung. Sepertinya mereka bertiga ini butuh dorongan sekali lagi. Lalu di bawah tatapan ketiga perempuan ini, tiba-tiba Randika berdiri. Hannah menatap Randika dengan curiga, lalu mereka semua melihat Randika berjalan ke arah Inggrid. Melihat Randika yang datang padanya, Inggrid merasakan firasat buruk. Hannah dan Viona terlihat bingung, Randika mau apa? "Ranˇ­" Inggrid membuka mulutnya seakan-akan ingin mencegahnya. Tetapi detik berikutnya, matanya itu terbelalak dan bibirnya telah terhalang. Sensasi lembut ini sangat dia kenal. Randika menciumnya! "Ah!" Hannah langsung tersipu malu. Kenapa kakak iparnya melakukan hal itu? Kenapa dia mencium kakaknya di depan matanya? Bukankah itu terlalu berani? Viona juga terkejut. Melihat Randika mencium mesra Inggrid, rasa syok membuat Viona tidak bergerak sama sekali. Hatinya benar-benar merasakan rasa sakit, seolah-olah dirinya telah ditelan oleh ombak. Rasa sakit hati ini benar-benar tidak nyaman. Hannah dan Viona dipaksa melihat Randika mencium Inggrid, tetapi Inggrid sama sekali tidak berusaha melawan. Meskipun dia melawan, semua itu percuma karena Randika menggenggam erat pundaknya dan tidak memberikan dirinya kesempatan untuk melawan. Namun, ciuman mereka ini tidak berlangsung lama, paling lama hanya 10 detik. Randika lalu melepas Inggrid dari pelukannya. Inggrid terengah-engah berusaha mencari napas dan tatapan matanya terlihat sayu. Setelah menenangkan diri sebentar, dia merasa tubuhnya mulai bertenaga kembali. Wajahnya benar-benar merah meskipun sudah berkali-kali berciuman dengan Randika. Dia merasa ciuman kali ini adalah yang paling merangsang karena dilakukan di depan adiknya dan perempuan lain! Tatapan mata Randika sekarang tertuju pada Hannah. Dalam sekejap, Hannah merasakan tanda bahaya sekaligus tanda berharap bahwa dia juga akan mendapatkannya; hatinya benar-benar dilemma. "Kak, jangan macam-macam sama aku!" Hannah menatap Randika yang berjalan menghampiri dirinya. Ketika Hannah mau kabur, tangannya telah tertangkap dan dia sudah tidak bisa kabur lagi. Dengan satu tarikan, Randika menarik dan memeluk Hannah. Sebelum Hannah dapat mengomelinya, Randika menutup bibir Hannah dengan bibirnya! Oh! Kedua bola mata Hannah hampir copot dari kantongnya, pikirannya yang sekarang benar-benar kosong. Dia sudah pernah berciuman dengan Randika sebelumnya yaitu di rumah sakit setelah dia menerima serangan Shadow dan ketika dia menyuapi Randika di dalam gua. Dalam hidupnya dia tidak pernah membayangkan akan mencium kakak iparnya dalam situasi seperti ini. Karena sekarang dia berciuman di depan kakaknya sendiri dan teman baiknya! Keadaan seperti ini justru membuat Hannah bersemangat dan menyambut Randika dengan hangat. Randika sendiri dengan rakus berusaha menikmati bibir lembut ini seakan-akan ingin melahapnya hidup-hidup! Kejadian ini membuat Inggrid syok bukan main. Dia ingin menyuarakan isi hatinya tetapi suara tidak bisa keluar dari mulutnya. Suaminya sendiri mencium adiknya di depannya? Viona sendiri tidak kalah syok, syoknya ini melebihi ketika Randika mencium Inggrid. Setelah beberapa detik, Randika melepaskan pelukannya. "Kak Randika!" Hannah yang sudah tersadar kembali itu memiliki wajah yang lebih merah daripada tomat. Ketika dia ingin marah, dia merasa bahwa bukan amarah yang ada di hatinya. Sekarang dia sedang mengalami gejolak batin di dalam hatinya. Viona sudah tidak tahu harus bereaksi seperti apa, tetapi tiba-tiba kedua mata Randika tertuju pada dirinya. Ketika Randika berjalan menghampiri dirinya, hati Viona menjadi panik. Apa yang harus dia lakukan? Apakah dia harus pasrah menerima ciuman Randika seperti kedua orang sebelumnya? Hati Viona benar-benar sedang berantakan, dia tidak tahu harus melakukan apa. Jika Randika menciumnya sekarang, wajah seperti apa yang harus dia tunjukan kepada Inggrid dan Hannah? "Akuˇ­ Aku akan pulang." Viona memutuskan untuk pulang, tetapi Randika tidak akan membiarkan mangsanya ini kabur. Viona menoleh dan melihat wajah senyum Randika, dalam sekejap kedua bibir mereka sudah bertemu. Rasa wine yang pekat dan otot-otot yang familier baginya membuat Viona tenggelam dalam dunianya sendiri. Sejak detik pertama bibir mereka bertemu, Viona merasa badannya menjadi lemas. Dia merasa ciuman Randika ini bagaikan sihir yang telah menyedot seluruh tenaganya. Untungnya saja, belakang Viona adalah jendela, kalau tidak dia pasti sudah terjatuh. Viona dan Randika sudah pernah berciuman sebelumnya, selain malam ketika mereka berdua terpergok oleh orang tua Viona di rumah, ciuman kali ini benar-benar yang paling mengesankan. Di sisi lain, Hannah melihat ciuman mereka berdua ini dengan rasa terkejut yang tinggi. Saking terkejutnya, dia sampai tidak bisa mengeluarkan suara. Inggrid yang duduk di kursinya, dengan tatapan bingung, tidak tahu harus berkata apa lagi. Awalnya setelah memakan makanannya, Viona akan segera pergi dan meminta maaf pada Inggrid. Namun tiba-tiba Randika melanturkan rencana haremnya dan Viona kehilangan kesempatannya untuk pergi. Setelah beberapa detik berciuman, Viona yang tersipu malu itu mendorong Randika. Setelah berhasil lepas, dia langsung berkata pada mereka bertiga. "Aku pergi duluan." Setelah itu, Viona lari meninggalkan mereka. Viona tidak ingin tinggal di meja makan ini satu detik saja karena dia tidak tahu harus berwajah seperti apa di hadapan bosnya dan Randika. Karena sifatnya yang pemalu, kabur mungkin adalah langkah terbaik buat Viona. Melihat Viona yang kabur, Randika menyentuh bibirnya seolah-olah dia sedang mengagumi ketiga bibir perempuan cantik yang baru saja dia cium. Randika menoleh ke belakang dan melihat Hannah dan Inggrid sedang menatap dirinya, keduanya benar-benar terdiam. "Sayang, ayo kita bersulang. Ayo Hannah kamu juga." Randika mengangkat gelasnya, dia pura-pura kebingungan ketika mengambil gelas winenya. "Kita bersulang untuk hari pernikahan kita!" Kemudian di bawah tatapan mata Hannah dan Inggrid, Randika menegak satu gelas penuh wine. Setelah itu Randika kembali mengisi penuh gelasnya. Hannah hanya bisa mendengus dingin melihat kakak iparnya itu. Inggrid lalu berkata pada Randika. "Ran cukup, jangan minum lagi." Namun sebelum Inggrid selesai mengomelinya, kepala Randika tiba-tiba terjatuh di atas meja. Dengan perlahan, Randika memeluk botol winenya dan tertidur pulas. Kedua bola mata Hannah kembali terbelalak, saking mabuknya kakak iparnya ini pingsan? Inggrid menatap suaminya yang tertidur itu, dia hanya bisa tersenyum pahit. Chapter 366: Pasca Kejadian Inggrid dan Hannah menatap diam ke arah Randika. "Kak, apa kak Randika benar-benar mabuk?" Tanya Hannah dengan penuh keraguan. "Sepertinya." Inggrid hanya bisa tersenyum pahit. "Sebaiknya kita membawanya pulang." Hannah mendengus dingin, dia menatap tanpa ekspresi kepada Randika, matanya penuh dengan ketidak percayaan. Apa benar kakak iparnya ini mabuk? Jadi omongannya tadi cuma karena dia sedang mabuk? Inggrid kemudian berjalan menghampiri Randika dan mengangkatnya secara perlahan. Meskipun hatinya masih penuh keraguan, Hannah membantu Inggrid menggotong Randika. Keduanya lalu membawanya ke dalam mobil. Namun, meskipun dirinya terlihat tertidur, Randika benar-benar merasa puas di dalam hatinya. Dia merasa bahwa dirinya adalah Einstein jaman sekarang. Berkat pura-pura mabuk ini, dia bisa mengutarakan rencana haremnya dan membuat ketiga perempuan cantik itu memikirkan proposal miliknya itu. Setelah itu dia bisa kabur dari situasi canggung ini dengan pura-pura pingsan! Benar-benar cerdas! ........ Keesokan harinya, Randika terbangun dan berjalan menuju lantai bawah. Sepertinya, Hannah dan Inggrid baru saja selesai sarapan. Hannah, yang sedang duduk di sofa, menatap ke arah tangga dan melihat kakak iparnya datang. Randika tersenyum dan melambaikan tangannya. Ketika dia menyapa Hannah, adik iparnya itu hanya memalingkan wajahnya dan menundukan wajahnya. Sialan, jadi dia memilih untuk mengabaikanku? Randika menghela napasnya, apakah ini karena dia masih bingung dengan perasaannya atau kesal dengan dirinya? "Pagi." Randika berjalan melewati Hannah sambil tersenyum. "Hum." Hannah dengan cepat memalingkan wajahnya lagi dan berpura-pura tidak melihat Randika sama sekali. "Hahaha setiap hari kamu makin cantik saja, kok bisa ya kayak begitu?" Kata Randika. Ketika mendengar hal ini, wajah Hannah kembali menjadi ceria. Tetapi mengingat kejadian kemarin, suasana hatinya kembali menjadi galau. Randika dapat merasakan bahwa kata-katanya yang manis barusan telah berhasil, dia harus menyerang mumpung masih bisa. "Bagaimana kalau hari ini kita pergi main, kebetulan aku ada waktu luang! Kamu mau pergi ke mana, kakak akan menemanimu ke mana pun!" "Siapa memangnya yang mau pergi?" Kata Hannah sambil cemberut. Randika hanya bisa tersenyum pahit. Ahˇ­ Malu-malu kucing? Dasar anak muda, kenapa kamu tidak mau jujur dengan perasaanmu! "Yakin kamu tidak mau pergi? Aku dengar ada toko kue baru di mall dekat sini lho, katanya kuenya itu nomor 1 di kota!" "Tidak mau." Hannah menatap Randika dan berkata dengan nada dingin. "Apa kakak berusaha menyuapku?" "Menyuapmu?" Randika terlihat bingung. "Buat apa aku menyuapmu? Kamu sudah besar bukan?" Hannah menatap Randika dengan tatapan bingung. Di dalam hatinya sekarang banyak pertanyaan buat kakak iparnya ini, akhirnya dia pun bertanya. "Kak, apa kakak lupa kejadian kemarin malam?" "Kemarin malam?" Dengan aktingnya yang bisa meraih piala Oscar, Randika memasang wajah kebingungan. "Memangnya ada apa kemarin malam?" Tanya Randika. "Apa kakak benar-benar lupa atau sedang berpura-pura?" Hannah menatap tajam pada kedua bola mata Randika, seolah-olah berusaha melihat apakah Randika berpura-pura atau tidak. "Aku benar-benar tidak ingat." Kata Randika dengan tatapan mata tidak bersalah. "Jujur aja ingatanku sedikit kabur karena kebanyakan minum kemarin malam jadi aku tidak tahu mana yang benar." Hannah menatapnya curiga, dia tidak tahu apakah Randika pura-pura atau tidak. Karena mereka berdua sudah kenal begitu lama, Hannah sangat paham dengan sifat kakak iparnya ini. Selama ini Hannah menganggap Randika adalah serigala berbulu domba, benar-benar orang yang licik! Randika masih memasang wajah polosnya. "Kalau begitu tolong ceritakan apa yang sebenarnya terjadi tadi malam." Kamu ingin aku yang bercerita? Kedua mata Hannah terbelalak. Yang benar saja! Apa kakak iparnya ini ingin dirinya bercerita bahwa dia melamar dirinya, kakaknya dan Viona? Terlebih lagi, dia telah mencium kami semua dengan paksa! Ketika memikirkan hal ini, Hannah menjadi panik dan dia tidak tahu harus berbuat apa. Pada saat ini, Inggrid tiba-tiba keluar dari arah dapur. Dengan nada dingin, dia berkata pada Randika. "Cepat makan." Randika lalu menatap istrinya yang cantik itu duduk di meja makan, entah kenapa dia merasa ada yang aneh hari ini. Kenapa istrinya terlihat dingin begitu? Akting Randika kemarin malam itu benar-benar sempurna dan tanpa cela, tetapi Inggrid merasa ada sesuatu yang ganjil dengan tindakan Randika kemarin. "Wah makanannya terlihat lezat semua! Istriku makin pandai memasak, aku benar-benar bangga sama kamu!" Randika dengan cepat duduk dan mengambil sayur bening. "Wih istriku ternyata sekarang bisa masak pepes ikan! Benar-benar hebat! Bumbu-bumbunya pas dan lezat, bisa-bisa aku habis 10 kg nasi!" Randika terus memuji masakan Inggrid. Kali ini Hannah menatap tajam ke arah Randika. Randika menyadari tatapan adik iparnya ini dan mengerutkan dahinya. Apa ada yang salah? Randika lalu melirik ke arah Inggrid yang mukanya benar-benar cemberut. "Pepes ikan itu aku beli di pasar." Uhuk, uhuk, uhuk! Randika hampir saja tersedak. "Pfft!!" Hannah berusaha menahan ketawanya itu dengan menutup mulutnya. Ketika dia menyadari tatapan Randika, Hannah langsung memasang wajah serius. "Sudah cepat makan, main lirik terus." "Kenapa kok hari ini kamu begitu marah sama aku Han?" Randika pura-pura terlihat sedih. "Apa aku berbuat salah padamu?" "Kamu ini bodoh atau apa? Sudah jelas kita semua marah sama kamu gara-gara kemarin!" Kata Inggrid. "Sayang, aku benar-benar lupa dengan kejadian kemarin. Memangnya aku berbuat apa sampai kalian berdua marah sama aku?" Randika menatap Inggrid. Hannah yang mendengar ini ingin muntah darah, kulit kakak iparnya ini benar-benar tebal. Namun, wajah Inggrid tidak ada perubahan. Dia hanya berkata dengan nada dingin. "Cepat makan." Mendengar respon yang seperti itu, Randika hanya bisa menurutinya. Sialan, apa aktingnya itu terbongkar? Tidak, tidak, tidak mungkin! Sejak Randika dan Inggrid berhubungan badan selayaknya suami istri, karakter istrinya ini berubah menjadi pribadi yang lembut. Namun hari ini sifat istrinya itu benar-benar dingin. Seolah-olah Inggrid Elina di hadapannya saat ini sama dengan ketika mereka berdua bertemu. Tujuan utamanya adalah membuat Inggrid kembali seperti sedia kala, ini semua demi kehidupan ranjang mereka berdua! Namun ketika Randika ingin berbicara, Inggrid berkata duluan. "Aku ada beberapa sampel parfum yang harus departemen parfum kembangkan, hari ini aku butuh bantuanmu agar proses produksinya bisa berjalan dengan cepat." "Tidak masalah." Kata Randika sambil membusungkan dadanya. "Kak Randika ini benar-benar genit, inginnya menyenangkan hati semua perempuan." Kata Hannah sambil menggerutu. "Maksudmu apa?" Randika merasa tersinggung. Melihat Hannah dan Randika mulai bertengkar lagi, Inggrid hanya berkata dengan nada dingin. "Apa kalian tahu bahwa di meja makan itu tidak boleh bertengkar? Memangnya umur berapa kalian sampai-sampai bertingkah kayak anak kecil begini." "Kak, aku memang masih kecil kan?" Kata Hannah sambil tersenyum. "Sayang, aku juga masih kecil!" Kata Randika dengan wajah memelas. "Bicara apa kamu ini? Rambut penuh uban itu sok kayak anak kecil." Kata Inggrid dengan nada marah. "Aku kan memang masih kecil, aku juga haus kasih sayang dari istriku." Kata Randika. Hannah menatap jijik pada kakak iparnya. Inggrid benar-benar kehabisan kata-kata, dia terdiam dan melanjutkan sarapannya. Setelah sarapan, Randika dan Inggrid langsung masuk ke mobil mereka. "Lho mana pak supir?" Tanya Randika ketika melihat Inggrid hendak duduk di kursi pengemudi. "Dia sedang cuti." Kata Inggrid sambil membanting pintu mobilnya. Setelah membuka dan menutup gerbang rumahnya, Randika duduk di samping Inggrid. Pada saat ini, istrinya itu memakai jas dan rok berwarna hitam dengan kalung berwarna ungu. Penampilannya begitu menawan karena ditambah dengan stocking hitam yang menutupi seluruh kakinya. Dengan rambut yang terurai, wajah istrinya ini benar-benar cantik meskipun dilihat dari samping. Lipstik merahnya itu menggoyahkan imannya. Randika makin cinta ketika sinar matahari yang hangat itu menyinari wajah istrinya, seolah-olah langit telah memberikan malaikatnya pada dirinya. Randika sudah tidak sabar lagi. Randika mulai menaruh tangannya di atas paha Inggrid dan berusaha melepaskan stockingnya. Setelah merasakan kelembutan paha istrinya, dia tidak ingin melepaskannya. "Jangan aneh-aneh, aku sedang menyetir." Inggrid langsung menampar tangan Randika. "Hahaha cuma sedikit saja kok." Randika kemudian kembali menaruh tangannya. Sedangkan Inggrid hanya bisa menghela napasnya dan menyetir dengan wajah cemberut. "Sayang, kamu benar-benar cantik." Puji Randika. "Aku yakin kamu mengatakannya itu pada semua perempuan." Kata Inggrid. Mendengar kata-kata ini, Randika merasa ada yang aneh. Apakah benar aktingnya ini ketahuan oleh Inggrid? "Sayang, kemarin malam ituˇ­" Randika terlihat ragu-ragu. "Apa yang sebenarnya terjadi?" "Kamu benar-benar tidak tahu?" Kata Inggrid dengan nada dingin. "Aku minum terlalu banyak, aku benar-benar tidak ingat apa pun." Randika menggaruk-garuk kepalanya, menunjukan bahwa dia terlihat bingung. Inggrid lalu membalas setelah terdiam cukup lama. "Tidak terjadi apa-apa." Tidak terjadi apa-apa? Mendengar respon istrinya yang seperti itu, Randika tidak tahu harus membalas apa. Mungkin cara paling sederhana adalah cara yang paling tepat. Randika kembali bermain dengan tangannya, tangannya mulai menyusup ke dalam stocking Inggrid. Awalnya paha Inggrid itu terbungkus oleh stocking tetapi berkat Randika, paha putihnya itu kembali terungkap. Dan tangannya mulai masuk ke gua milik Inggrid. "Jangan aneh-aneh." Kata Inggrid dengan wajah yang sedikit memerah. Randika menatap wajah istrinya, dia masih ingin meneruskannya. Dan ketika ada lampu merah, mobil mereka berhenti total. Memanfaatkan kesempatan ini, Randika langsung memeluk leher Inggrid dan menciumnya. Kelembutan bibir Inggrid membuat Randika terpana dan tidak ingin berpisah. Pada saat yang sama, tangannya berenang-renang di dada Inggrid. Dalam sekejap, Inggrid merasa tubuhnya itu kehilangan tenaganya. "Jangan." Wajah Inggrid terlihat malu. "Kita masih di dalam mobil." "Kalau begitu malam nanti?" Bisik Randika di telinga Inggrid. Inggrid lalu menatap Randika dan memalingkan wajahnya. "Memangnya aku punya pilihan lain?" Mendengar jawaban itu, Randika hanya tertawa. Tetapi di dalam hatinya, Randika benar-benar lega. Sepertinya Inggrid tidak mengetahui aktingnya ini, kalau dia benar-benar tahu bisa-bisa situasinya bertambah buruk! Chapter 367: Siswa Asing Setelah sampai di perusahaan, Randika langsung masuk ke laboratorium. Melihat kehadiran Randika, semua karyawan segera menyambutnya. "Pak Randika selamat pagi." "Tumben masuk pagi pak?" Semua orang menyapa sambil tersenyum, Randika juga membalas sapaan mereka satu per satu. Namun setelah memeriksa seluruh ruangan, Randika tidak dapat menemukan sosok Viona. Setelah bekerja untuk beberapa saat, Viona tetap tidak terlihat sama sekali. "Semuanya hentikan pekerjaan kalian dan tolong perhatikan saya." Kata Kelvin dengan suara keras. "Kita mendapatkan sampel baru dari bu Inggrid untuk kita kembangkan. Kesuksesan kita kali ini tergantung apakah kita bisa memenuhi kuota dengan waktu yang sudah ditentukan oleh bu Inggrid." Kelvin menatap semua bawahannya. "Seperti biasa, setelah kuota ini tercapai, akan ada bonus dan liburan. Jadi apakah kalian semua bisa menghadapi rintangan ini?" "Bisa!" Semua orang langsung satu suara. Mendengar kata bonus, semuanya menjadi bersemangat karena bonus yang dimaksud bernilai 3-4x dari gaji mereka. "Baiklah kalau begitu, mari kita mulai. Aku akan membagi kalian dalam beberapa tim dan mengirimkan formula via email." Kata Kelvin. Dia lalu menoleh ke arah Randika sambil tersenyum. "Syukurlah pak Randika hari ini datang, kami sangat terbantu." "Di mana Viona?" Tanya Randika dengan santai. "Viona ijin sakit untuk beberapa hari. Kalau pak Randika khawatir, saya tidak melarang bapak untuk mengunjunginya kok." Kata Kelvin sambil tersenyum. Randika tidak peduli dengan sarkas Kelvin, dia hanya peduli dengan Viona. Sepertinya kejadian semalam itu berdampak besar baginya. Kemungkinan besar Viona sedang memikirkan bagaimana dia harus menghadapi kenyataan ini. Dasar perempuan bodohˇ­. Randika hanya bisa menghela napasnya dalam-dalam. Selama seharian penuh, Randika dan para ahli parfum ini bekerja dengan giat untuk mengembangkan produk baru mereka. Dengan bantuan Randika, proses mereka berjalan dengan cepat. Dalam sekejap, waktu sudah memasuki siang hari. Tidak lama kemudian, HP milik Randika bergetar. Randika mengintip HPnya dan ternyata yang meneleponnya adalah Hannah. "Kenapa?" "Antarkan aku ke sekolah." Kata Hannah dari balik telepon. "Bukankah kamu biasanya berangkat sendiri? Kenapa tiba-tiba aku harus mengantarmu?" Randika jelas bingung dengan permintaan adik iparnya ini. "Terserah aku kan! Sudah, kak Randika mau antar atau tidak?" Suasana hati Hannah hari ini benar-benar buruk. Randika hanya bisa tersenyum pahit. "Baiklah, baiklah, tunggu aku sebentar." Adik iparnya hari ini benar-benar galak pada dirinya. Setelah berbicara dengan Kelvin, Randika meninggalkan perusahaan. Di perjalanannya menuju rumah, Randika berpikir mengenai Hannah. Apakah kejadian semalam telah membuat sifat Hannah berubah drastis? Tetapi kalau dilihat dari sikapnya tadi pagi, apakah akhirnya Hannah telah membulatkan tekadnya? Berarti apakah ini waktunya mencicipi buah terlarang? Memikirkan hal ini, Randika benar-benar bersemangat. Tidak lama kemudian, Randika akhirnya tiba dan masuk ke ruang tamu sambil tersenyum. Dia lalu menemukan Hannah sedang duduk di sofa sambil memakan es krim dan menonton TV. Hannah menatap Randika yang baru saja pulang, dia lalu berkata padanya. "Kak, apa kakak ke sini naik mobilnya kak Inggrid?" Randika terkejut. "Buat apa aku meminjam mobil kakakmu itu?" "Terus kak Randika mau mengantar aku naik apa?" "Bukankah kamu ada mobil?" "Mobilku rusak dan dibawa pergi sama tukang bengkelnya." Kata Hannah sambil memakan es krimnya. "Kenapa kamu tidak mengatakannya dengan jelas di telepon tadi?" Randika geleng-geleng. "Hah? Bukankah maksudku itu sudah jelas? Aku kan cuma ingin diantarkan ke sekolah jadi jelas aku butuh nunutan bukan? Kalau tidak butuh bantuan jelas aku sudah naik mobilku sendiri ke sekolah seperti biasa. Masa kak Randika tidak bisa mengetahui hal yang jelas seperti ini?" Kata Hannah dengan nada santai. Randika merasa ingin pingsan. ...... Akhirnya, Randika memanggil taksi dan mengantarkan Hannah ke kuliahannya. Tentu saja, Randika bertanya pada Hannah kenapa dia tidak naik taksi saja tadi. Menanggapi pertanyaan ini, Hannah hanya mengatakan bahwa dia tadi tidak kepikiran. Jawaban ini membuat Randika ingin muntah darah. Setelah berduaan di taksi selama beberapa waktu, akhirnya mereka tiba di Universitas Cendrawasih. "Kak, antarkan aku sampai asrama." Kata Hannah sambil tersenyum. "Yah mumpung aku di sini, baiklah." Randika lalu mengantarkan Hannah ke asrama miliknya. Ketika mereka berdua berjalan dengan santai, Hannah menatap Randika. "Kak, apa kak Randika benar-benar tidak tahu apa yang telah terjadi tadi malam?" "Hmm? Iya aku tidak ingat apa-apa, sepertinya aku terlalu banyak minum." Kata Randika. Hannah memperhatikan ekspresi Randika, tetapi dia tidak tahu apakah kakak iparnya ini berbohong atau tidak setelah melihat ekspresinya. Setelah berjalan dari gerbang sekolah, Randika dan Hannah melewati sebuah lapangan sepak bola sebelum mencapai asramanya Hannah. Ketika mereka berdua melewati lapangan sepak bola tersebut, banyak orang sedang melihat pertandingan yang sedang berjalan. "Maju terus! Kamu pasti bisa!" Teriak beberapa perempuan. "Goal!! Hebat sekali orang itu." "Siapa laki-laki itu? Sudah jago, ganteng lagi orangnya." Para perempuan tidak bisa menutupi semangat mereka ketika melihat lelaki keren yang barusan mencetak gol itu. "Hei, hei, mainnya biasa saja. Lihat itu fans-fansmu menggila di pinggir." Salah satu teman dari pencetak goal itu menggoda temannya sambil geleng-geleng. Di kala teriakan para perempuan itu terus terdengar, orang-orang masih penasaran siapakah lelaki tersebut. "Hei, siapa laki itu? Aku belum pernah melihatnya di sekolah ini sebelumnya." "Iya, iya, aku sendiri tidak pernah melihatnya di sekolah ini." Kata temannya. "Kalian ini lelaki bodoh, masa kalian tidak kenal lelaki keren seperti itu?" Kata salah satu perempuan yang merupakan fansnya itu. Semua orang mulai menatap perempuan tersebut. "Dia Roberto, dia barusan saja masuk ke sekolah kita 2 hari yang lalu untuk program pertukaran pelajar luar negeri." Kata perempuan tersebut. "Tetapi wajahnya kayak orang lokal gitu." Orang-orang yang mendengarnya mulai penasaran. Perempuan itu tidak marah, dia lalu membalas. "Dia itu anak dari politikus di kota kita jadi dia itu berdarah campuran. Wajahnya yang lokal itu tentu saja dari ayahnya." Mendengar hal ini, orang-orang menganggukan kepalanya. Tidak heran wajahnya kayak bule-bule biasanya. "Keluarga Roberto itu kaya raya, dia sendiri tampan dan baik hati. Dia itu seperti pangeran berkuda putih yang ada di film Disney." Perempuan itu menatap Roberto yang ada di lapangan dengan tatapan penuh asmara. Semua orang hanya bisa tertawa ketika mendengar kata-kata itu, mana mungkin dia mau dengan perempuan sepertimu! Di lapangan sepak bola, Roberto mengontrol bola dengan lihai. Tidak heran para perempuan mengaguminya. Dengan tinggi 180 cm, baju seragamnya itu terlihat sesak karena otot-ototnya yang begitu besar. Terlebih lagi, ketika dia berlari, postur tubuhnya sudah seperti seekor macan tutul yang berlari. Dia melewati dua orang dengan sangat mudah, hal ini membuat orang-orang bersorak untuknya. Pada saat yang sama, Hannah dan Randika baru saja melewati lapangan bola ini. Roberto, yang sedang berlari mengecoh lawannya, tiba-tiba berhenti berlari. Dia kemudian menendang bola yang dia bawa itu ke atas hingga tinggi sekali. "Salto?" "Ayo Roberto, kamu pasti bisa!" "Wah sudah seperti kapten Tsubasa aja pakai salto." Orang-orang bersorak melihat aksi Roberto. Tetapi Roberto baru saja melihat Randika dan Hannah yang lewat. Ketika bola itu sudah mencapai titiknya, Roberto mengayunkan kakinya. Tiba-tiba bola itu mendapatkan energi yang luar biasa dan melesat ke depan! Namun, bola itu bukan mengarah pada gawang lawan, bola itu mengarah pada Randika dan Hannah! Chapter 368: Keresahan dalam Hati Melihat hal ini, semua penonton menjadi heboh. "Tendangan Roberto melenceng!" "Hei awas!" Teriak salah satu penonton ke arah Randika dan Hannah. "Habis sudah orang itu, mana tendangannya keras lagi. Bisa-bisa gegar otak!" Para penonton ini sudah tidak bisa apa-apa selain berteriak ke arah Randika. Mereka tahu dengan pasti tendangan Roberto kali ini benar-benar keras dan apabila mengenai kepala orang maka bisa-bisa dia gegar otak. Apalagi jarak Randika dan Hannah dengan lapangan sepak bola ini tidak terlalu jauh. Pada saat ini, Randika sedang mengobrol dengan Hannah. Tiba-tiba, Randika merasa udara di sekitarnya robek dari arah sisi mereka! "Kak awas!" Hannah yang menyadari bola itu akan mengenai Randika segera berteriak. Randika menoleh dan menyadari bahwa benda asing tersebut ternyata sebuah bola sepak. Menghadapi bahaya ini, wajah Randika terlihat biasa-biasa saja. Para penonton itu langsung mencaci maki Randika. "Bodoh! Cepat lari!" "Tidak, ini sudah terlambat. Bola itu sudah terlalu dekat dan pria itu rupanya sudah pasrah." Mereka menutup mata mereka semua karena tidak tega melihat kejadian ini tetapi apa yang terjadi membuat mereka ternganga lebar. Menghadapi bola sepak yang menuju dirinya ini, Randika hanya mengulurkan satu tangannya. Tangan kanannya itu terbuka lebar ketika bola sudah berada di jangkauan tangannya dan Randika berhasil menangkap dan menggenggam erat bola tersebut! Hebat! Bola tersebut berputar dengan cepat karena tendangan Roberto yang begitu dahsyat tetapi sekarang bola itu berhenti berputar dan beristirahat dengan tenang di tangan Randika. Para penonton yang sudah merasa kasihan terhadap Randika langsung terkejut bukan main. "Apa aku salah lihat?" Salah seorang langsung menggosok-gosokkan matanya dengan kuat. "Ini pasti mimpi." Kata teman di sampingnya. Jika itu bola tenis atau bola pingpong mungkin orang bisa menghentikannya, tetapi ini adalah bola sepak! Mustahil bisa menghentikannya tanpa terluka! Terlebih lagi, Randika menangkapnya dengan tangan kosong yang di mana seharusnya bola itu terpental ataupun mendorong Randika ke belakang. Tetapi Randika tetap berdiri tegak dan menggenggam erat bola dengan satu tangan. Semua orang yang melihat ini terpukau, akhirnya mereka baru mengomentari kejadian ini setelah beberapa saat. "Apa dia kiper rahasia sekolah kita seperti Roberto?" "Aku tidak tahu tetapi dia sangat hebat!" "Sialan, orang asing ternyata kuat-kuat!" "Hei, bukankah kejadian ini mirip dengan Shaolin Soccer?" Di saat orang-orang berdiskusi, Roberto berlari menuju Randika dan Hannah berada. "Kak, orang itu sepertinya sengaja." Hannah terlihat marah. Untung saja yang menjadi korban itu kakak iparnya, kalau orang lain maka bisa-bisa dia harus dilarikan ke rumah sakit. Randika hanya menatap Roberto yang datang dan tidak berbicara sama sekali. "Maaf bro." Kata Roberto sambil berwajah cemas. "Aku tidak sengaja menendangnya keluar lapangan, apa kalian baik-baik saja?" Hannah langsung menunjukan taringnya, tetapi Hannah terpana ketika melihat Roberto. Seumur hidupnya dia tidak pernah melihat lelaki setampan ini. Ketampanannya sebanding dengan lukisan-lukisan agung dan kedua bola matanya penuh dengan semangat dan tekad yang kuat. Belum lagi bajunya yang menonjolkan kedua lengan yang besar dan berotot itu. Ganteng sekali! Hannah yang awalnya mirip seperti setan itu berubah menjadi gadis perawan yang malu-malu ketika melihat wajah tampan Roberto. Dia tidak pernah mengira ada lelaki setampan itu di dunia ini. Randika juga menatap wajah Roberto, hatinya sedikit mengepal. Entah kenapa Randika merasa ada sesuatu yang aneh, hal ini membuatnya resah. "Maaf aku sama sekali tidak berniat melukai kalian, aku tidak menyangka tendanganku akan melenceng sejauh itu." Roberto kembali meminta maaf, kali ini dia meminta maaf sambil membungkuk. "Tidak apa-apa, kami juga tidak terluka kok." Kata Hannah sambil tersenyum. Roberto langsung tersenyum. "Baiklah kalau begitu, aku hanya khawatir kalian terluka gara-gara aku. Ah, bisa minta bolanya? Kita mau melanjutkan pertandingannya." Randika hendak berbicara ketika Hannah tiba-tiba memotongnya. "Tentu saja!" "Terima kasih." Kata Roberto sambil tersenyum. "Untuk menunjukan rasa terima kasihku, bagaimana kalau kita kapan-kapan nonton bioskop bareng? Anggap ini sebagai permintaan maaf dariku." "Kamu baik sekali." Hannah makin lama makin sopan gaya bicaranya. "Ah, maaf aku sudah dipanggil. Mengenai penawaranku, mungkin nanti kita bisa bicarakan lagi. Aku sementara ini tinggal di asrama lelaki di lantai 3 jadi mampir saja kalau kamu mau." Melihat Roberto yang berlari kembali ke lapangan, Hannah menatapnya lekat-lekat. "Kak, menurutmu dia ganteng atau tidak?" Kata Hannah sambil terus melihati punggung Roberto. Wajah Randika terlihat aneh, adik iparnya ini tertarik sama laki-laki itu? Randika tidak dapat mempercayai hal ini, dia langsung menarik tangan Hannah. Hannah lumayan terkejut karena dipaksa berjalan kembali. "Kenapa buru-buru kak?" "Tidak apa-apa." Suasana hati Randika menjadi buruk. "Lebih baik kita cepat pergi ke asramamu." Kata Randika. Hannah menoleh ke belakang sambil menghela napas. "Sayang sekali hanya ada beberapa orang seperti lelaki itu tadi. Wajahnya begitu tampan dan sifatnya sudah seperti seorang pangeran. Benar-benar suami idaman." "Hah? Kamu yakin tidak salah lihat?" Wajah Randika terlihat marah. "Ada pepatah yang mengatakan, hidup itu penuh dengan lelaki tampan tetapi hatinya belum tentu seperti penampilannya." Hannah hanya tertawa. "Jika dunia ini penuh dengan laki tampan, kenapa aku tiap hari tidak melihatnya?" "Tidak melihatnya?" Randika menoleh ke arah Hannah. "Bukankah kamu setiap hari melihatnya? Bukankah kamu sudah mengenal lelaki tampan yang elegan, pintar dan tangguh?" Wajah Hannah terlihat bingung. Melihat kakak iparnya itu yang membusungkan dadanya, Hannah hanya bisa berkata dengan nada sinis. "Kak, jangan-jangan yang kakak maksud itu kak Randika?" "Hahaha tepat sekali! Benar, kakak iparmu ini saking gantengnya, matahari tiap pagi itu menyinari wajahku dan bulan yang indah itu iri dengan wajahku! Kurang ganteng apa coba?" Kata Randika dengan bangga. Hannah hanya menganggukkan kepalanya ketika Randika menyombongkan diri seperti itu, dia hanya bisa tertawa dalam hati. "Iya, iya, kak Randika memang tampan. Omong-omong apa kakak pernah berkaca akhir-akhir ini? Mungkin mata kak Randika sudah rusak." Randika terkejut ketika mendengarnya, berarti maksud adik iparnya ini ketampanannya ini cuma sebuah ilusi? Sialan, bisa-bisanya dia meremehkanku! Hannah yang suasana hatinya sedang baik ini menambahkan. "Sudahlah kak, kenapa kak Randika bandingin diri sama karya agung Tuhan? Kalau diumpamakan ya, laki-laki tadi itu sebuah mawar dan kak Randika itu cuma bunga biasa jadi mana bisa dibandingkan?" "Oh ya? Bukankah aku menikahi kakakmu yang disebut-sebut perempuan tercantik di kota ini?" Kata Randika sambil melirik. Hannah hanya berkata sambil cemberut. "Itu karena selera kakakku aneh!" Keduanya terus berdebat di perjalanan mereka menuju asrama perempuan. "Han, apa menurutmu laki bernama Roberto itu familier?" Randika terus kepikiran dengan wajah Roberto. Entah kenapa dirinya merasa resah ketika melihat sosok Roberto. Insting seperti ini tidak pernah mengecewakan Randika, banyak kejadian dirinya selamat karena mempercayai instingnya. Oleh karena itu, Randika terus menerus mengerutkan dahinya. "Kak, sepertinya kak Randika itu Cuma iri karena dia lebih ganteng dari kak Randika." Hannah mengerutkan dahinya. "Bagaimana mungkin kakak pernah melihat wajahnya? Bukankah dia siswa baru dari program pertukaran pelajar dari luar negeri?" Benarkah? Hati Randika masih penuh dengan rasa curiga, apa instingnya itu salah? Mereka akhirnya sampai di asrama perempuan. Setelah berpamitan, Randika mulai berjalan keluar menuju gerbang. Selama perjalanan, Randika terus menerus memikirkan Roberto. Dia memiliki beberapa kecurigaan. Bola yang ditendang Roberto jelas ditujukan menuju dirinya dan tidak ada mahasiswa yang bisa memiliki tendangan sekencang itu. Tetapi Randika tidak memiliki bukti kuat untuk mendukung teorinya ini. Mengingat bagaimana senyuman Roberto yang begitu hangat, Randika merasa tidak nyaman melihatnya. Dia selalu merasa di balik senyuman yang hangat, pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh orang. Seolah-olah Randika merasa bahwa senyuman Roberto itu adalah sebuah topeng. Di balik topeng itu barulah sifat asli Roberto berada. Robertoˇ­ orang ini mencurigakan! Entah kenapa Randika tidak bisa melepaskan Roberto dari benaknya, jadi dia memutuskan untuk menyelidiki siswa baru itu. Mengambil HP miliknya, Randika menekan sebuah nomor. "Halo, ini Ares." "Apa yang bisa saya bantu tuan?" Suara dari balik telepon ini benar-benar tenang dan tegas. Saat Dion dkk datang ke Indonesia atas permintaannya, Yuna juga mengirim beberapa anggota ke Indonesia. Jadi bisa dikatakan bahwa beberapa elit dari pasukan Ares bersembunyi di Cendrawasih dan kota-kota penting lainnya. Tentu saja, setiap individu memiliki tugas masing-masing dan sekarang yang ditelepon oleh Randika merupakan anggota intelijensi. "Pergi dan selidiki orang bernama Roberto, dia merupakan murid internasional dari universitas Cendrawasih." Kata Randika. "Siap tuan." Jawabnya. Setelah menutup teleponnya, Randika berniat mencari Christina tetapi dia tidak tahu di mana gedung dia mengajar. Jadi mau tidak mau dia membuang ide ini. Setelah itu, Randika berjalan menuju gerbang kampus dan berniat untuk pulang. Ketika sesampainya Randika di sana, Roberto berdiri di kejauhan dan menatap Randika tanpa ekspresi. Wajah Roberto yang tanpa ekspresi itu tiba-tiba berubah menjadi wajah penuh amarah. KRAK! Bolpen yang dipegangnya itu tiba-tiba hancur menjadi dua. Cepat atau lambat aku akan membunuhmu! Apa yang telah kamu lakukan padaku, aku akan membuatmu menerimanya 1000x! Randika, kamu akan mati di tanganku! Chapter 369: Lomba Renang Kota Cendrawasih Setelah mengantar Hannah dengan selamat, Randika sudah berjalan kembali menuju perusahaannya. Tidak butuh waktu lama bagi Randika untuk mencapai kembali ke gedung perusahaannya. Saat hampir sampai, Randika tiba-tiba melihat sosok yang familier. Randika langsung tersenyum lebar ketika melihat perempuan tersebut. Meskipun hari ini dia tidak memakai stocking hitamnya yang ketat itu, hari ini dia memakai jeans yang super pendek. Tubuh indahnya itu dapat terlihat jelas dipadu dengan rambut panjangnya yang terurai. Sudah jelas bahwa Elva tetap cantik seperti biasanya. Yang Randika heran adalah kenapa dia selalu mengikat dadanya hingga tampak kecil seperti itu. Randika merasa bahwa hal ini sangat disayangkan. Elva memiliki dada yang besar dengan tubuh yang indah, kenapa dia harus menyembunyikannya? Kenapa menutupi keindahan dunia sampai sedemikian rupa? Bukankah kecantikan seharusnya dikagumi? Untuk memperbaiki pola pikirnya, Randika merasa harus membantunya. Jadi Randika memutuskan untuk duduk di seberang Elva berada. Namun, ketika jarak pandang Elva tertutup oleh Randika, dia langsung menggeser tempat duduknya. Sialan, dia jual mahal? Melihat Elva yang menggeser kursinya, Randika juga ikut menggeser. Hal ini membuat Elva mengerutkan dahinya, dia langsung menggeser kursinya ke arah berlawanan. Tetapi, Randika kembali mengikutinya. Pada saat ini, darah Elva sudah mendidih. Kenapa pria ini tiba-tiba datang mengganggu dirinya? Ketika dia menatap wajah Randika, dia hanya bisa melihat pria ini tersenyum pada dirinya. Dalam sekejap, Elva merasa ingin meninju wajah tersebut. "Jadi di mana targetnya?" Kata Randika sambil menahan dagunya dengan tangannya. Randika melihat gelas yang di depan Elva, dia lalu meminum minuman yang dipesan oleh Elva. "Buat apa aku memberitahumu." Kata Elva dengan nada dingin, dia benar-benar kehabisan kata-kata dengan sifat Randika yang tidak tahu malu itu. Randika menoleh ke belakang. Dia mulai memeriksa sekelilingnya, akhirnya dia menyadari siapa yang Elva buntuti. Orang itu masih muda dan memakai topi serta kacamata hitam, yang membuatnya mencolok adalah dia dikelilingi oleh orang asing. Meja mereka cukup jauh dari tempat Randika dan Elva berada. "Oh ya, apa kamu akhir-akhir ini melihat Safira?" Tanya Randika. "Dia sibuk dengan pekerjaannya, apa kamu pikir kita sebebas kamu?" Kata Elva, tetapi tatapan matanya itu tidak tertuju pada Randika melainkan pada targetnya. Randika berniat untuk bertanya beberapa hal lagi tetapi tiba-tiba Elva menyadari bahwa targetnya kali ini hendak pergi. Dalam sekejap dia berdiri dan berjalan mengikuti targetnya. Randika hanya bisa menghela napas melihat Elva yang pergi begitu saja, tetapi suasana hatinya masih dalam keadaan baik. Dia kembali mengambil gelas minuman Elva dan meminumnya dari sedotan bekas Elva. Inikah yang dinamakan ciuman secara tidak langsung? Selama ini merupakan bekas dari perempuan cantik, Randika sama sekali tidak mempermasalahkannya. Ketika dia selesai menghabiskannya, pada saat yang bersamaan, seorang pelayan datang dan berkata sambil tersenyum. "Siang pak, ini tagihannya. Totalnya 50 ribu." Randika benar-benar terkejut, dia menatap gelas yang dipegangnya itu dan bertanya dengan wajah bingung. "Minuman ini belum dibayar?" "Belum pak, tadi ibunya yang baru saja pergi itu bilang bahwa bapak yang membayar." Kata pelayan itu sambil tersenyum ramah. Menghadapi kenyataan seperti ini membuat Randika sedih setengah mati. Setelah meninggalkan cafe, Randika kembali menuju gedung perusahaannya. Gedung perusahaan lamanya itu masih dalam renovasi dan progressnya sangat cepat. Jika semuanya berjalan lancar, perusahaan istrinya itu bisa kembali ke gedung lamanya dalam beberapa bulan lagi. Ketika Randika sampai di depan pintu laboratoriumnya, dia berhenti dan tidak masuk ke dalam. Dia dapat mendengar bahwa para bawahannya itu sedang bergosip. "Hei, kamu ikut atau tidak?" Lelaki muda bernama Adrian bertanya dengan semangatnya. "Aku aslinya ingin ikut tetapi coba kamu lihat lengan dan kakiku yang kurus ini. Lagipula aku kan orang kantoran, mana mungkin aku mampu mengikuti kompetisi itu?" Jawab temannya sambil tersenyum pahit. "Sayang sekali, padahal hadiahnya 50 juta lho." Jawab temannya yang lain. "Jika departemen kita mau ikut kompetisi ini atas nama perusahaan kita dan juara 1, setidaknya kita bisa bagi-bagi hadiahnya itu." "Tetapi setahuku, bahkan jika kita ingin ikut lombanya, kita harus minta ijin ke atasan lho. Mana mungkin setan itu mengijinkan kita." Jawab laki-laki bernama Axel. Pada saat ini, Kelvin tiba-tiba masuk ke dalam laboratorium dan berkata dengan santai. "Aku tidak masalah mengijinkan kalian, asalkan kalian menang dan mengharumkan nama perusahaan kita. Uangnya ambil saja dan bagi-bagi untuk kalian." Kerumunan orang ini terdiam ketika menyadari bos mereka itu tiba-tiba datang. Namun setelah Kelvin pergi, mereka semua menghembuskan napas lega. "Aduh untung saja pak Kelvin tidak marah kita malas-malasan gini. Kamu juga bodoh sekali menyebut nama pak Kelvin." Semuanya tertawa pada Axel. Ketika Kelvin tiba-tiba muncul, Axel sudah seperti anak SD yang ketakutan. Axel menatap teman-temannya itu dengan tatapan tajam, bisa-bisanya mereka tertawa di saat dirinya ketakutan seperti itu. Dia benar-benar kehabisan kata-kata, bukankah biasanya kalian menyebut Kelvin sebagai setan juga? Pada saat ini Randika masuk dan langsung duduk di kursinya. "Oh? Pak Randika sudah kembali?" Semua orang langsung tersenyum. "Pak, simpanan bapak yang mana lagi yang kangen dengan pak Randika? Kok tumben tidak sampai malam keluarnya?" "Sudah sana kerja lagi." Randika mengibaskan tangannya dan mengusir mereka. Tetapi pikirannya itu masih terpaku dengan obrolan mereka tadi. "Jadi yang kalian sebut setan itu termasuk aku?" "Hahaha tentu saja tidak pak, yang kami maksud adalah satunya saja kok!" Kata Adrian sambil tertawa. "Benar, mana mungkin kita membenci pak Randika?" Axel juga ikut menambahkan. Kedua orang ini merupakan orang yang paling aktif di departemen ini. "Benar pak, kita tidak mungkin mengatai pak Randika seperti itu. Kami semua menyukai bapak kok." Kata salah satu perempuan. Randika kehabisan kata-kata, mereka semua ini terlalu jujur dengan perasaan mereka. "Sudah jangan memujiku terus, tadi aku dengar tentang 50 juta itu apaan?" Tanya Randika. "Jadi baru-baru ini, kota kita menyebarkan berita bahwa akan lomba renang antara perusahaan. Dan juara 1 akan mendapatkan 50 juta rupiah sebagai imbalannya." Jawab Adrian. Randika mengangguk, ternyata mereka sedang berdiskusi mau ikut atau tidak. "Setelah mendapatkan ijin dari pak Kelvin, kita boleh ikut dan uangnya boleh kita ambil sendiri lho pak! Demi kejayaan perusahaan kita, kita harus menang!" Kata Adrian dengan semangat. "Bagus, bagus." Randika ikut senang. "Kalau begitu departemen kita harus ikut, nanti uangnya kita bagi-bagi sama-sama." Orang-orang menjadi bersemangat. "Tentu saja!?? Sebagai karyawan dari sebuah perusahaan, mendengar kata bonus merupakan simfoni bagi mereka. Per bulan mereka akan mendapatkan gaji UMR yaitu sekitar 4-5 juta. Mendengar mereka akan mendapatkan 50 juta, siapa memangnya yang tidak akan bersemangat? "Pak, hari ini ada seleksi internal di perusahaan kita untuk menentukan siapa yang akan mewakili perusahaan. Ayo cepat kita berangkat ke sana." Kata Axel. "Baiklah." Randika langsung berdiri. Jadi beberapa orang langsung mengikuti Randika dan berangkat menuju kolam renang! Di era modern seperti ini, aktivitas orang-orang semuanya diadakan di dalam gedung. Selain sarana gym, kantin, ruang istirahat, gedung perusahaan Cendrawasih yang baru ini memiliki kolam renang di lantai teratas mereka. "Wah penuh sekali! Ternyata banyak yang tertarik untuk ikut ya." Kata Randika ketika melihat puluhan orang yang memenuhi pinggir kolam renang ini. "Tapi kebanyakan pasti cuma ingin bolos kerja pak, aku rasa pesertanya cuma sekitar 20 orang kok pak." Kata Adrian. "Hahaha sepertinya mewakili perusahaan kita sepertinya tidak akan berjalan dengan mudah." Bukan hanya departemen parfum saja yang tertarik untuk mencoba, seluruh departemen bersemangat ketika mendengar perlombaan ini. Terlebih lagi, banyak perempuan yang ikut! Perempuan-perempuan ini memakai bikini! Mata Randika langsung berbinar-binar dalam sekejap. Kenapa dia tidak menyadari banyak bunga cantik di perusahaannya sebelumnya? Sepertinya dia belum menjelajahi perusahaan miliknya ini dengan benar. Dan sekarang sepertinya merupakan waktu yang tepat untuk berkenalan dengan mereka! Chapter 370: Seleksi Internal Setelah memeriksa sekelilingnya dengan baik, Randika mengangguk puas. Tidak buruk, para perempuan ini tidak buruk. Terutama perempuan yang memakai bikini merah di kanan sana. Meskipun pantatnya sedikit kecil, pantatnya itu terlihat kencang. Terlebih lagi, pinggangnya benar-benar ramping. Dia juga menjaga penampilannya dengan baik. Sedangkan perempuan yang memakai bikini berwarna biru di sebelah kiri, meskipun dadanya kecil, dia membawa kesan segar dan muda. Bikininya yang simpel dan praktis itu membawa kesan tersendiri. Wah ada yang tidak pakai beha! Ehˇ­ sebentar, sebentar! Sialan, ternyata itu Adrian yang sudah pakai celana renangnya! Randika menampar dahinya ketika melihat Adrian melambaikan tangannya ke arahnya. Randika sudah ingin menonjok wajah bodohnya itu. "Kamu ini ngerusak pemandangan saja." Adrian hanya tertawa dan berbisik pada Randika. "Pak, cewek mana yang bapak suka? Aku akan mengenalkanmu." Randika langsung terkejut dan menatap Adrian lekat-lekat. "Sayangnya aku tidak mengenal mereka semua pak, teman-temanku itu semuanya laki-laki." Adrian tertawa, dia lalu melanjutkan. "Tetapi aku lumayan tahu nama-nama mereka kok. Apa bapak suka cewek yang bernama Cindy itu? Kalau tidak salah dia dari departemen marketing. Coba pak Randika lihat bentuk tubuhnya, dia benar-benar cantik dan menggoda! Terlebih lagi, dia itu jomblo!" Gaya bicara Adrian sudah sama seperti seorang mucikari. Randika hanya menatap ragu pada Adrian. "Apa kamu sedang berusaha menjebakku?" "Tentu saja tidak! Pak Randika itu panutanku, mana mungkin aku menjebak bapak?" Adrian langsung menambahkan. "Tetapi aku sebenarnya ingin tahu siasat bapak mendekati perempuan." Randika menatap tajam Adrian. "Jadiˇ­ kamu jomblo dan tidak bisa mengajak bicara perempuan?" Wajah Adrian langsung tersipu malu. "Baiklah kalau begitu, perhatikan aku." Kata Randika sambil tersenyum. Setelah itu, Randika berjalan dan menghampiri tempat Cindy dan teman-temannya berada. Ketika Adrian melihat Randika berjalan menghampiri Cindy, dia segera berkata pada teman-temannya. "Dibuka, dibuka, siapa yang berani bertaruh apakah pak Randika berhasil merayu Cindy atau tidak?" "50 ribu pak Randika akan ditampar." "100 ribu pak Randika akan ditolak mentah-mentah." "10 ribu pak Randika akan ditendang bolanya!" Dalam sekejap para karyawan departemen parfum langsung memasang taruhan mereka. Jika Randika dapat melihat hal ini mungkin dia sudah muntah darah. Rupanya Adrian menjebaknya agar bisa membuka taruhan. Jika saja Randika tahu, mungkin Adrian sudah dilempar ke dalam kolam renang. Lalu mereka semua dapat melihat Randika akhirnya mendekati Cindy dkk. Meskipun mereka tidak tahu apa yang mereka bicarakan, sepertinya Randika berhasil menarik perhatian mereka. Kejadian ini membuat Adrian dan yang lain terkejut bukan main. "Apa aku tidak salah lihat? Bukankah Cindy benci laki-laki yang tiba-tiba mendatanginya?" "Hebat sekali pak Randika, bagaimana bisa dia mengobrol dengan santai seperti itu? Benar-benar penakluk wanita!" Kata Axel sambil tertawa. "Seandainya saja aku memiliki kemampuan seperti pak Randika." Kata salah satu dari mereka sambil menghela napas. "Hahaha pergi ke Korea dulu sana, perbaiki dulu wajahmu." Canda temannya. Tetapi, semua taruhan mereka telah kalah karena Randika menikmati waktunya dengan mengobrol bersama para perempuan cantik itu. Adrian sudah senyum-senyum sendiri karena dia bisa membeli kaset PS4 yang diidam-idamkannya selama ini. Pada saat ini, Inggrid tiba di kolam renang. Karena perlombaan ini akan membawa nama perusahaannya, dia perlu mengawasi seleksi internal ini secara langsung. Namun, ketika Inggrid berjalan di pinggir kolam, dia melihat suaminya sedang mengobrol dengan ceria bersama dengan beberapa perempuan. Melihat Randika mengobrol dengan asyik dengan beberapa perempuan, wajah Inggrid terlihat tenang. Tetapi hatinya sudah dibakar oleh api cemburu. "Perhatian semuanya!" Tiba-tiba Inggrid berteriak dengan keras. Semua orang langsung menghentikan aktivitas mereka dan menatap kaget pada Inggrid. Randika yang terkejut itu juga menoleh ke arah Inggrid. Ketika dia menoleh, dia akhirnya baru menyadari bahwa yang berteriak dengan keras tadi adalah istrinya. Sialan, kenapa istrinya itu tiba-tiba ada di sini? Hati Randika benar-benar mengepal. Setelah kejadian kemarin malam, sekarang Inggrid melihat dirinya merayu beberapa perempuan sekaligus. Istrinya yang cantik ini tentu makin marah pada dirinya. Ketika berurusan dengan perempuan, kamu harus memikirkan dengan baik segala tindakanmu. Jika pasanganmu itu melihat dirimu merayu perempuan lain ataupun memperlakukan dirinya dengan buruk, tidak heran bahwa mereka akan menjadi mudah marah dan melampiaskannya padamu. Oleh karena itu, Randika langsung menjauhi Cindy dan teman-temannya dengan kecepatan kilat. "Hari ini kita semua berkumpul di tempat ini untuk menentukan siapa yang akan mewakili perusahaan kita di perlombaan renang yang diadakan oleh kota kita." Sebagai pemimpin perusahaan, Inggrid sudah lama mempelajari bagaimana melakukan public speaking. Ketika berbicara di depan karyawannya, Inggrid memancarkan aura pemimpin yang sangat kuat. Semua orang memperhatikan bos mereka dengan tatapan hormat. "Menurut saya acara seperti ini sangat bagus jadi sekarang saya ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian semua." Inggrid berhenti sejenak. "Bagi siapapun yang memenangkan perlombaan ini atas nama perusahaan kita, maka uang hadiahnya akan menjadi milik orang tersebut." Ketika mendengar kata-kata ini, semua orang terkejut bukan main. Apakah mereka tidak salah dengar? "Untuk memotivasi kalian, saya dan petinggi yang lain telah sepakat untuk melipat gandakan jumlah kemenangan yang didapat." Kata Inggrid sambil tersenyum. Kali ini semua orang benar-benar bersemangat. Seratus juta! Untuk karyawan seperti mereka, tentu saja nominal ini sangat besar untuk mereka. Bahkan untuk manager sekalipun, nominal ini cukup besar. ???Bu Inggrid benar-benar murah hati! Sepertinya aku bisa liburan ke luar negeri kali ini." Kata salah satu karyawan. "Hahaha jangan merasa menang duluan dong Dit. Nanti malu lho kalau seleksi perusahaan kamu ternyata tidak lolos." Kata temannya. "Lihat saja kemampuan renangku." Kata Adit dengan mata yang bersemangat. "Seratus juta itu akan menjadi milikku!" Semua orang menjadi bersemangat. Tentu saja uang adalah bensin bagi para karyawan ini untuk melakukan yang terbaik. Tindakan Inggrid ini berhasil membuat mereka semua termotivasi. Dan ketika Inggrid mengatakan akan menggandakan uang hadiahnya, semua darah para karyawan ini mendidih. "Bu Inggrid tidak usah khawatir, gelar itu milik kita!" "Omong doang, sini kita tentukan siapa yang lebih cepat!" "Aduh kamu berenang saja hampir tidak bisa kok nantang-nantang? Kamu kira kita renangnya di kolam renang anak kecil?" Bisa dikatakan bahwa para karyawan ini berbondong-bondong ingin menjadi perwakilan perusahaan ini, darah mereka yang mendidih ini membuat mereka menjadi kasar. "Tenang, tenang, hari ini kita akan mengadakan seleksi dan menentukan siapa yang akan menjadi wakil perusahaan kita. Jadi semuanya harap mendaftar dengan tertib." Kata Inggrid sambil tersenyum. "Baiklah, semakin cepat semakin baik!" Semua orang menjadi bersemangat dan satu per satu peserta mulai didata. Total 16 orang telah mengikuti seleksi internal ini. Chapter 371: Menantang Orang yang Salah Karena kolam renang perusahaan ini cuma mempunyai 8 jalur, jadi mereka akan dibagi dalam 2 kelompok. Setelah mendapatkan kelompok, 8 orang ini akan berkompetisi dan menghasilkan 2 pemenang. Kelompok kedua akan melakukan hal yang sama dan menghasilkan 2 pemenang. Lalu para peserta yang kalah akan dikumpulkan dan dipertandingkan kembali. Namun, kali ini mereka hanya mencari 1 pemenang saja. Total ada 5 orang yang akan menjadi perwakilan dari perusahaan Cendrawasih nanti. Untuk peraturannya, satu orang perlu mencapai ujung sebanyak 4x jadi bisa dikatakan bahwa kompetisi ini hanya perlu 2x bolak balik. Mendengar peraturan seleksi ini, para peserta tidak keberatan. Yang ada di dalam kepala mereka sekarang adalah keluar menjadi pemenang. Karena sebelum ini mereka harus meminta ijin kepada kepala departemen mereka, mereka dijanjikan bonus apabila berhasil mengharumkan nama departemen mereka. Jadi bisa dikatakan bahwa hadiah mereka akan berjumlah 3x, jelas ini merupakan uang yang melebihi 1 tahun gaji mereka! Randika sendiri ikut terbakar oleh api semangat. Karena dia menyadari Inggrid tidak memarahi dirinya, dia berlari menuju Cindy dan teman-temannya lagi. Cindy dan teman-temannya ini juga ingin ikut mencoba, tetapi setelah melihat para peserta yang dominan laki-laki itu, mereka mengurungkan niat mereka. Inggrid hanya melirik ke arah Randika secara diam-diam. Sekali lagi dia melihat suaminya itu dengan beberapa perempuan lagi, dia benar-benar tidak tahu apa yang sedang dipikirkan suaminya itu. Pada saat ini, perwakilan dari departemen parfum yaitu Axel dan Adrian sebentar lagi akan bertanding. "Sudah siap?" Tanya salah satu dari teman mereka. Mereka berdua cukup gugup, tetapi ketika mereka melihat ke sekeliling mereka, semua peserta yang lain tersenyum ke arah mereka berdua. Sepertinya mereka menganggap remeh dirinya dan Axel, seakan-akan mereka berdua datang untuk membodohi diri mereka sendiri. "Siap-siap pulang untuk menangis ke ibumu!" Teriak Adit. "Adrian, Axel, kalian berdua pasti bisa." Teriak para temannya dari departemen parfum. Sesudah peluit berbunyi, Adrian dan Axel benar-benar tertinggal. Ketika semua orang sudah menyelesaikan putaran mereka, Axel dan Adrian tertinggal 1 putaran. Setelah mereka berdua selesai dan naik ke permukaan, semua orang menertawai mereka berdua. "Hahaha orang-orang dari departemen parfum ternyata cupu! Sudah ikut lomba panjat pohon manga saja sana!" Semuanya tertawa. "Hei, maksudmu apa?" Orang-orang dari departemen parfum tidak terima dihina seperti itu. "Aku cuma mengatakan yang sebenarnya, salah sendiri tidak bisa berenang." Yang lainnya ikut tertawa kembali. Axel dan Adrian langsung membalas mereka. "Kami masih punya perwakilan." "Oh ya?" Orang-orang itu menyengir. "Supaya lebih seriu bagaimana kalau kita bertaruh? Kalau satu saja dari departemen parfum menjadi wakil perusahaan, kami akan membayar kalian 1 juta. Kalau kalian yang kalah, kalian cukup mengatakan bahwa departemen kalian adalah yang terlemah di perusahaan kita." Sialan, ini penghinaan namanya! Adrian dan Axel kembali dan langsung bertanya pada orang-orang departemen parfum. "Siapa berikutnya?" Mereka semua langsung tersenyum pahit. "Sejujurnya kalian lah yang paling hebat di antara kita semua. Ingat kita semua itu orang kantoran yang tiap harinya cuma duduk sepanjang hari. Stamina kami jelas jauh di bawah kalian berdua." Mendengar hal ini, semuanya menjadi murung. Orang-orang yang mengejek mereka langsung tertawa. "Hahaha sepertinya tidak ada yang berani melawan kita, sudah cepat minta maaf dan mengakui kekalahan kalian." "Bajingan, apa kalian terima dihina seperti itu?" Orang-orang departemen parfum ini mulai tersinggung. Mereka mengikuti seleksi ini karena tergiur oleh uang tetapi sekarang ini mengenai wajah departemen mereka! "Hei, bukankah kita masih punya pak Randika?" Pada saat ini seorang perempuan angkat bicara. Tatapan mata semua orang langsung penuh dengan keraguan. "Pak Randika bisa berenang?" Tanya orang di sampingnya. "Seharusnya bisa lha, apa yang pak Randika tidak bisa lakukan?" Orang ini langsung mengingat ketika Randika melompat turun dari jendela dan masih baik-baik saja. Sejak hari itu, semua orang di departemen parfum menilai bahwa Randika bukanlah orang biasa. Semuanya mulai mencari keberadaan Randika. Namun, mereka tidak menyadari bahwa Randika sedang asyik sendiri. Dia masih mengobrol dengan Cindy dan teman-temannya. Mereka tampak tertawa dan tersenyum, hal ini membuat Axel dan Adrian geleng-geleng. Wajah departemen kita sedang dipertaruhkan dan bos kami malah merayu cewek!? Meskipun Randika bukanlah pemimpin mereka secara nama, mereka semua tahu posisi yang dimiliki oleh Randika. Bahkan Kelvin sangat menghormati Randika. Terlebih lagi, Randika memiliki kemampuan dan pengetahuan. Oleh karena itu, semua orang di departemen parfum menganggap bahwa Randika lah pemimpin mereka yang sebenarnya, terutama orang-orang yang dipilih oleh Randika untuk mengembangkan ramuan X sebelumnya. "Kamu tahu tidak waktu itu aku berdoa pada Tuhan dan memintanya untuk mengirimkan malaikatnya, selama ini aku heran kenapa kok tidak segera dikabulkan permohonanku. Hebatnya, ternyata Dia mempertemukan kita di sini." Randika terus menerus mengeluarkan kata-kata manisnya. Pada saat ini, pundak Randika ditepuk dari belakang. Randika hanya menggerakan pundaknya ke belakang, yang berarti bahwa jangan mengganggu dia. Tetapi pundaknya sekali lagi ditepuk dari belakang. Lagi-lagi Randika menolaknya. "Pakˇ­" Akhirnya Adrian berbicara sekaligus menepuk pundak Randika. "Kenapa? Apa kamu tidak lihat aku sedang sibuk?" Randika kehabisan kata-kata terhadap bawahannya yang tidak peka ini. "Pak, kita butuh bantuanmu." Kata Adrian. Axel lalu menambahkan. "Orang-orang dari departemen lain berkata buruk pada kita, kita butuh bantuan pak Randika untuk menyelamatkan wajah departemen kita." "Kenapa harus aku?" Randika menghela napasnya. "Bukankah solusinya gampang? Kenapa kalian tidak berusaha menang sendiri?" Adrian dan Axel hanya bisa menunduk malu. Kalau kita bisa menang, kami tidak akan ke tempat bapak! "Sudah pergi sana, aku sedang sibuk." Awalnya mereka mengira bahwa Randika akan setuju membantu mereka, tetapi mereka tidak mengira akan ditolak mentah-mentah seperti ini. Orang-orang yang mengejek itu mendatangi tempat Randika berada. "Hahaha sepertinya departemen parfum sudah kehabisan orang sampai-sampai meminta bantuan orang lain." Mereka semua tidak tahu identitas Randika, mereka mengira Randika berasal dari departemen lain. Randika sama sekali tidak peduli dengan mereka. Namun, orang-orang ini terus menerus mengganggu dirinya dan menantangnya untuk berpartisipasi. "Ayo bantu saja mereka, apa kamu takut?" "Yah dasar banci! Sama air aja takut!" "Sudah, sudah, ngapain nantang banci seperti dia." Adrian dan Axel menatap bos mereka, berharap dia mengerti perasaan departemen mereka seperti apa. Tentu saja, Randika terpancing. "Oh? Apa kalian berani melawanku? Aku tidak segan-segan memakai kekuatan penuhku untuk melawan kalian." "Hahaha kekuatan penuh apaan? Jangan-jangan maksudmu kamu mau pakai papan pelampung?" Semuanya tertawa. Pada saat ini, Cindy berkata pada Randika. "Bagaimana kalau kamu ikut saja? Kalau menang nanti aku akan menciummu sebagai hadiahnya." Chapter 373: Inggrid Cemburu "Sayang kamu kenapa?" Inggrid memandangi jendela sambil berpikir, tiba-tiba ada suara dari belakang yang mengejutkannya. Kemudian kedua tangan orang tersebut langsung merangkulnya dengan cepat, tujuannya adalah kedua dada miliknya itu. Inggrid menampar dan mendorong tangan Randika sambil mengatakan. "Jangan aneh-aneh, ini di kantor." Randika tidak meneruskan, dia hanya berkata sambil tersenyum. "Apa kamu malu jika ketahuan orang-orang?" Inggrid menatapnya tajam. Randika lalu menaruh tangannya di punggung Inggrid dan membelainya. Dia dapat merasakan punggung indah istrinya itu dari balik pakaiannya. Tentu saja, jika dia berhasil melepas pakaiannya jelas lebih nikmat lagi. "Sayang, apa kamu cemburu?" Randika berbisik di telinganya. Inggrid benar-benar mencintai suaminya ini. Meskipun hubungan mereka berawal dari sebuah kebohongan, hubungan mereka sekarang sudah jelas dan menerima satu sama lain. Setiap hari dilaluinya bersama Randika, semakin cinta dirinya padanya. Sedangkan bagi Randika, istrinya satu ini tiap mari makin cantik. Seolah-olah istrinya ini menyihir dirinya agar makin menyayangi sampai maut memisahkan. "Cemburu? Kenapa aku harus cemburu sama karyawanku?" Senyuman Inggrid ini mengandung rasa cemburu dan sedihnya. Dia melepaskan pelukan Randika karena dia masih bisa mencium parfum perempuan lain itu. "Aku hanya khawatir kamu terlalu banyak mempermainkan bawahanku, tolong jangan terlalu kelewatan." Inggrid lalu merapikan baju Randika yang berantakan itu. Kejadian kecil ini mungkin terlihat biasa-biasa saja, tetapi hal ini membuat Randika terasa hangat. Istrinya ini benar-benar perhatian padanya. "Kalau kamu ingin melakukannya, bawa mereka ke tempat sepi. Di dekat sini ada hotel bukan?" Tambah Inggrid dengan nada yang lembut. Ketika mendengar hal ini, Randika benar-benar gembira. Sepertinya pola pikir istrinya ini sudah terbuka. Sepertinya istri pertamanya ini telah setuju dengan rencana haremnya! Tetapi sebelum Randika meluapkan kegembiraannya, Inggrid menambahkan. "Tetapi jika kamu benar-benar melakukannya, aku akan membantumu membereskannya." Membantuku? Randika terlihat bingung. "Sayang, maksudmu apa?" Tanya Randika. "Tentu saja aku akan membereskan burungmu itu agar tidak bisa bermain-main lagi. Memangnya ada cara lain biar kamu tidak selingkuh?" Inggrid hanya tersenyum lebar. Dalam sekejap, Randika merinding seluruh badan. Ternyata impiannya itu masih sangat jauh. Suasana hati Randika menjadi muram, tetapi entah kenapa dia merasa terangsang melihat sisi sadis istrinya ini. "Kalau begitu, biarkan burungku ini memuaskan dirimu dulu." "Hush!" Wajah Inggrid langsung menjadi merah, sebelum dia bisa mengusir Randika, bibirnya itu sudah diblokir oleh Randika. Mereka berdua suami istri jadi sebuah ciuman tidak ada salahnya bukan? Setelah membuat istrinya yang memberontak ini terangsang, di ruangan tertutup ini, Randika mendorongnya ke jendela. Dengan satu sapuan, Randika berhasil membuka gembok milik istrinya itu dan memasukan kunci miliknya. ...ˇ­.. Setelah berhubungan badan dengan istrinya, Randika merasa segar dan bersemangat. Ketika dia masuk kembali ke laboratoriumnya, wajahnya tersenyum lebar. Melakukannya di ruangan istrinya itu menambah sensasi mendebarkan yang cukup menyenangkan, apalagi sifat istrinya di kantor itu berbeda dengan di rumah. Di lain sisi, seleksi internal untuk lomba renang kota itu akhirnya telah selesai. Mengenai hal ini, Randika sama sekali tidak peduli. Apabila dirinya terpilih, dia tinggal menggunakan kewenangannya untuk mengundurkan diri. Hadiah kecil semacam itu tidak membuatnya bersemangat sama sekali. Setelah bekerja seharian penuh, akhirnya Randika dan Inggrid pulang bersama-sama ketika jam pulang kerja. Di dalam mobil, tangan Randika sama sekali tidak bisa berhenti bergerak. Tangannya terus menerus meraba Inggrid. Setelah sekian lama, Inggrid sudah terbiasa dan terus mengemudikan mobilnya. Sesampainya di rumah, sifat dingin Inggrid itu langsung berubah menjadi istri yang penyayang. "Selamat datang kembali nona dan nak Randika." Ibu Ipah menatap keduanya sambil tersenyum. Dia sekarang sedang sibuk memasak di dapur. "Hmm harum sekali masakannya, hari ini masak apa bu?" Randika dengan ceria membalas sapaan Ibu Ipah. "Hahaha ini masakan spesialis punya ibu. Nanti nak Randika pasti menyukainya." Balas Ibu Ipah. Ketika Inggrid mendengar ini, dia juga tersenyum. "Bu, biarkan aku membantumu." "Sudah nona duduk saja, serahkan makan malam ini pada ibu." Kata Ibu Ipah. "Tidak apa-apa kok bu." Inggrid sudah memakai celemek memasaknya dan bergabung di dapur. Dia yang sekarang sudah tergila-gila dengan memasak. Ketika dia melihat Ibu Ipah memasak, baginya ini adalah kesempatan untuk belajar. Kemampuan memasak Inggrid sudah sangat membaik. Kalau diumpamakan dengan olahraga basket, dia yang awalnya baru saja belajar dribel bola itu sudah berhasil melakukan dunk dengan sangat hebat. Randika sendiri duduk dengan santai di sofa sambil menonton TV. Tidak lupa dia mengambil coca cola di lemari es dan bersandar di sofa. Kehidupan santai seperti ini merupakan kehidupan idamannya. Randika benar-benar merasakan kedamaian karena hari ini tidak ada Hannah. Jika adik iparnya itu ada di sini, kehidupannya benar-benar mirip dengan neraka. Ketika dia barusan saja berpikir seperti itu, pintu rumahnya itu tiba-tiba terbuka dan muncul sosok Hannah yang bersemangat. "Kak Randika, kak Randika!" Hannah memanggil Randika dengan semangat, dia lalu menghampiri Randika yang duduk di sofa. Sialan, tidakkah kamu membiarkanku menikmati malam yang indah ini dengan damai? Randika hanya bisa tersenyum pahit melihat Hannah duduk di sampingnya. "Han, apa kamu barusan menang lotere lagi?" "Bukan, bukan, tadi aku bertemu dengan Roberto." Kata Hannah dengan semangat. Mendengar nama Roberto, hati Randika mengepal dan dia mengerutkan dahinya. "Oh? Kenapa dia?" Tanya Randika sambil tersenyum, dalam hati dia sudah menahan amarahnya. Di sisi lain, Inggrid tertawa kecil ketika melihat sosok adiknya yang bersemangat itu. "Jadi, jadi, tadi kan ada pertunjukan drama dari siswa internasional, kita semua tidak menyangka Roberto yang atletis itu ikut. Ya ampun kak, seharusnya kakak lihat betapa kerennya dia tadi!" Hannah terlihat terkagum-kagum saat menceritakan Roberto. "Terus?" Randika masih mendengarkan dengan seksama. "Dia terlihat tampan saat memakai kostumnya, bahkan dia juga terlihat gagah ketika berdiri saja!" Hannah benar-benar tersihir oleh sosok Roberto. "Jadi dia keren cuma karena terlihat tampan gitu doang?" Randika menguap dan bersandar kembali di sofanya. Hannah menyadari itu dan mendengus dingin. "Yang paling mengejutkan adalah ketika dia menyanyi, suaranya itu sepertiˇ­." Hannah terlihat kesusahan memikirkan kata-kata yang tepat, kosakatanya memang kurang. "Kambing?" Kata Randika sambil tertawa. "KAK! Mana mungkin suaranya dia seperti kambing! Pokoknya suaranya bagus!" Hannah memukul Randika. Randika hanya menggelengkan kepalanya secara diam-diam. Apa enaknya mendengarkan orang nyanyi? Lebih enak duduk dan merangkul cewek bukan? Bahkan jika Roberto mau adu nyanyi dengannya, suara merdu Randika pasti menang! "Setelah menyanyi, Roberto juga menari. Tidak ada yang menyangka dia akan selincah itu jadi semua orang menjadi heboh tadi." Di kedua bola mata Hannah bisa terlihat dua bintang yang sedang berpijar. Sepertinya dia masih terpukau oleh pertunjukkan Roberto tadi. Tetapi tiba-tiba, suara kakak iparnya ini menyadarkan dirinya. "Han, sepertinya kamu itu tergila-gila sama orang yang salah. Seharusnya kamu tergila-gila denganku kan?" Hannah menatap tajam pada Randika. "Kak, Roberto itu tampan dan berbakat, mana bisa dibandingin dengan kak Randika yang malas!" "Dia bisa menari, menyanyi, atletis, dan tahu tidak, dia juga bisa bermain piano!" Hannah bersemangat lagi. "Aku benar-benar kaget dia sampai bisa main piano, benar-benar lelaki yang luar biasa." Hannah terlihat dilemma dan melankolis, wajahnya benar-benar menunjukan bahwa dia sedang jatuh cinta. "Ahˇ­ dia benar-benar sempurna. Apakah dia pangeran hidupku?" Inggrid yang ada di dalam dapur lumayan terkejut, dia belum pernah melihat adiknya membicarakan seorang laki-laki sejauh itu. Apakah orang bernama Roberto benar-benar luar biasa? "Memangnya tampan doang bisa buat perutmu kenyang?" Sindir Randika. "Kak!" Hannah menatap marah pada Randika. "Jangan menghina terus, Roberto itu orang yang baik hati. Terlebih lagi, dia pernah menyelamatkanku ketika pegangan tangga kantin sekolahku yang sedang kugenggam itu rusak. Kalau bukan karena dia, aku sudah ada di rumah sakit!" Mendengar ini, Randika tiba-tiba memiliki firasat. "Han, coba ceritakan kejadian itu secara detail." "Waktu itu aku baru saja selesai makan dengan teman-temanku. Dan ketika kita mau turun dan masuk ke kelas, tiba-tiba pegangan tangga itu rusak dan aku kehilangan keseimbangan. Aku langsung terjun ke bawah. Kalau saja tidak ada Roberto, pasti aku sudah terbaring di rumah sakit." Kata Hannah sambil tersenyum. Pegangan tangganya tiba-tiba rusak? Randika memikirkannya lagi, bagaimana mungkin itu bisa rusak secara tiba-tiba? Pada saat ini, Inggrid keluar dari dapur sambil membawa sepanci sup. "Benarkah itu?" Dalam sekejap, Hannah berlari dan memeluk kakak perempuannya itu. "Kak, kakak percaya sama aku kan? Kakak tidak kejam seperti kak Randika kan?" "Hanya saja aku tidak percaya orang bisa menangkap orang yang jatuh dari tangga begitu mudah." Inggrid tersenyum. "Tetapi fakta bahwa dia telah menyelamatkanmu itu tidak berubah." "Benar kak! Refleknya dia benar-benar hebat! Banyak perempuan di kampusku yang naksir sama dia." Balas Hannah. "Han, kamu jangan manja sama istriku gini dong." Randika datang menghampiri dan memeluk pinggang Inggrid. "Lagipula, aku heran kamu masih menganggap orang itu sempurna. Bukankah di depanmu ini ada orang yang lebih hebat dan lebih sempurna daripada dia?" Chapter 372: Ciuman di Depan Publik Apa? Ciuman sebagai hadiah? Dalam sekejap Randika langsung terbeku di tempat, dia menatap Cindy dan teman-temannya itu. "Sungguhan?" Randika menatap tajam. "Tentu saja." Kata semua perempuan itu. "Buat apa kita berkata bohong? Kita mau kok memberimu hadiah." Cindy menatap teman-temannya itu. Temannya yang pertama tersenyum dan mengangguk, teman keduanya melakukan hal yang sama dan begitu pula yang ketiga. Dan tentu saja, Cindy yang merupakan yang tercantik itu juga mengangguk kepalanya. Adrian dan Axel hanya bisa terheran-heran dengan bos mereka ini. Mereka tidak tahu cara apa yang digunakan Randika sampai-sampai semua perempuan itu mau mencium Randika. Randika yang sudah bagaikan berada di atas awan itu segera menjadi bersemangat. "Baiklah kalau begitu, lihatlah kemenanganku dari sini!" Orang-orang yang mengejek departemen parfum itu menatap Randika yang berjalan dengan gagah berani menuju kolam renang. Wajah Randika yang tersenyum itu membuat mereka jengkel. Tetapi Randika tidak memedulikannya, dia membusungkan dadanya untuk memamerkan otot-ototnya pada Cindy dkk. Namun, tiba-tiba dia terpeleset dan hampir saja tercebur ke dalam. Hal lucu seperti ini membuat semua orang tertawa dan meremehkan kembali departemen parfum. "Hahaha kapok!" "Yakin orang ini jadi wakil kalian? Apa dia bisa berenang?" "Kenapa kalian repot-repot membantah kalau kalian itu lemah? Sudahlah ngaku saja sekarang sebelum malu." Inggrid di lain sisi sudah menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Randika terbatuk dan berusaha tetap terlihat tenang, dia membuka bajunya seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Pada saat yang sama, batch kedua mulai berkumpul di pinggir kolam dan bersiap-siap. Ketika peluit juri itu berbunyi, semuanya langsung menceburkan diri ke dalam kolam. Tetapi, ada satu sosok yang mengejutkan semua orang! Orang ini benar-benar cepat, cara berenangnya sudah mirip seekor ikan. Ketika semua peserta menceburkan diri ke dalam air, setelah beberapa saat mereka akan keluar dan menghirup udara di permukaan. Satu per satu mulai keluar tetapi sosok Randika sama sekali tidak terlihat. "Iniˇ­ apa orang itu manusia?" "Dia bisa tahan napas sampai ke tengah kolam?" Semua mata hampir copot dari kantongnya! "Gila, aku baru tahu ada orang yang bisa menahan napasnya selama itu." Semua orang yang melihat ini sudah terheran-heran, tetapi kejutannya belum sampai situ saja. Karena Randika yang sekarang berenang bagaikan kapal selam dan melesat dengan cepat! Kecepatan itu benar-benar luar biasa, bahkan mereka merasa kapal selam kalah cepat! Apa ini masih bisa disebut olahraga renang? Yakin kaki Randika tidak dipasangi sebuah mesin? Semuanya terkejut, karena ketujuh peserta lainnya baru mencapai tengah kolam, tetapi Randika sudah menyentuh ujung dan mulai berenang ke ujung satunya. "Curang, dia pasti curang!" Kata salah satu orang. "Sepertinya kakinya itu dipasangi mesin! Atau jangan-jangan dia itu robot!" "Benar, mana mungkin manusia bisa berenang secepat itu. Seharusnya dia sudah mewakili Indonesia di Olimpiade kalau memang dia benar-benar manusia." "Bahkan menurutku dia bisa mendapatkan emas bahkan sebelum peserta lainnya berenang!" "Hahaha perumpamaan apa itu? Alay sekali kamu!" Di saat semuanya bertanya apakah Randika curang atau tidak, ada satu hal yang mereka sepakati dalam hati mereka yaitu kecepatan renang Randika sangat luar biasa! Bagi mereka ini sudah bukan kompetisi lagi. Di bawah teror kecepatan Randika yang mengerikan, bisa dikatakan bahwa dia sudah keluar sebagai pemenang. Tetapi bagaimana mungkin seekor monster dibandingkan dengan manusia? Ketujuh peserta ini baru mencapai ujung, sedangkan Randika sudah berenang kembali menuju mereka. Beri kami napas! "Pak Randika luar biasa! Aku benar-benar mencintaimu!" Teriak seorang perempuan. Adrian dan Axel hanya bisa melongo melihatnya, benar-benar keren! Mereka berdua makin kagum dengan bos mereka satu ini. Dan orang-orang yang mengejek departemen parfum itu sudah syok setengah mati melihat kejadian ini. Apa benar dia masih manusia? Di saat semuanya terheran-heran dan terkejut, sebuah senyuman dapat terlihat di wajah Inggrid. Tidak lama kemudian, Randika telah menyelesaikan bagiannya dan keluar dari kolam renang. Semua orang menatap dirinya dengan diam yang hanya memakai celana pendek itu. Randika sendiri bingung kenapa mereka semua menatapnya dengan tajam seperti itu. Para perempuan, melihat otot-otot Randika yang sempurna itu langsung klepek-klepek dan menelan air liur mereka. Belum lagi ketika mereka melihat Randika menyisir rambutnya dengan tangannya, lengan kekarnya itu membuat hati mereka meleleh. "Luar biasa!" Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya semua mulai bertepuk tangan. Dengan kecepatan renang seperti itu, gelar juara dari lomba renang kota Cendrawasih ini tentu akan menjadi milik perusahaan mereka! Setelah mengambil handuk yang telah disediakan, Randika berjalan menuju tempat Cindy dkk berada. "Hahaha bagaimana penampilanku? Sesuai perjanjian kita, sini kalian semua." Kata Randika sambil menunjuk bibirnya. Melihat Randika yang begitu keren tadi, para perempuan ini sudah tidak ragu-ragu lagi dan memberikan Randika ciuman yang hangat. Bahkan Cindy yang mengusulkan saran ini pertama kali, benar-benar sudah jatuh cinta dan mencium Randika dengan semangat. Kedua lidah mereka bertemu dan bertarung dengan hebatnya. Oh! Setelah merasakan lembutnya bibir Cindy, Randika mengangguk puas. Adrian dan Axel hanya bisa menatap iri pada bos mereka itu. Sebelum ini, Adrian dan Axel naksir dengan Cindy yang merupakan perempuan tercantik di departemen marketing. Mereka tidak menyangka mereka akan kalah dengan bos mereka. Sepertinya mereka harus mencari perempuan lain untuk dikejar. Setelah berciuman, Cindy berjalan mundur sambil tersenyum. Sekarang perempuan kedua datang untuk menepati janjinya tetapi dia hanya memberikan ciumannya di pipi Randika. Setelah itu, perempuan ketiga dan keempat melakukan hal yang sama. Menatap keempat perempuan cantik ini mencium Randika satu per satu, membuat semua laki-laki di tempat ini meraung. Mereka sangat iri dengan Randika! Pertunjukan Randika ini memberi pukulan telak bagi para jomblo ini. "Sialan, aku benar-benar iri!" "Kurang ajar, bisa-bisanya dia pamer di depan publik? Cari kamar sana!" Inggrid sendiri melihat kejadian ini dengan kedua bola matanya. Dia benar-benar sudah tidak tahu harus bereaksi seperti apa lagi. Merasa sudah muak, dia pergi menuju ruangannya dan meninggalkan masalah seleksi ini ke sekretarisnya. Randika sendiri merasa puas mendapatkan 4 ciuman dari perempuan cantik. Ketika matanya melirik ke belakang, dia menyadari Inggrid pergi meninggalkan kolam renang. Sialan, dia lupa kalau istrinya itu masih ada di sini. Sepertinya istrinya itu cemburu dan marah. Randika dengan cepat mengambil bajunya dan mengganti pakaiannya di ruang ganti. Setelah berpenampilan rapi, dia segera berangkat menuju kantor ruangan Inggrid berada. Sesampainya di sana, Randika perlahan membuka pintu ruangan tersebut dan melihat sosok istrinya menatap jendela dalam keadaan diam. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu secara mendalam. Chapter 374: Laporan Intelijen Hannah memegang mulutnya dengan kedua tangannya, dia berusaha menahan diri untuk tidak muntah! Reaksi Hannah benar-benar lugas. Kakak iparnya pria sempurna? Hannah ingin mengatakan bahwa hanya orang buta yang menganggap Randika seperti itu, tetapi dia menahan diri karena ada Inggrid di sampingnya. Randika terlihat biasa-biasa saja, sebaliknya dia mengusap kepala Hannah. "Sudah tidak apa-apa, aku tahu isi hatimu. Kamu tidak perlu mengatakannya, aku paham kok." Inggrid melihat keakraban keduanya ini dan tersenyum, dia lalu berkata pada Randika. "Sudah ayo makan, nanti keburu dingin." Randika hanya menghela napasnya. "Sayang, aku hanya ingin memakanmu malam hari ini." "Kak!" Hannah langsung menginjak kaki Randika. DIa masih ada di sini, bisa-bisanya dia berkata mesum seperti itu dengan kakak kandungnya! Randika mengerutkan dahinya, Inggrid hanya bisa tertawa dan Ibu Ipah dengan wajah senang menaruh sisa makanan ke atas meja. "Nona, nak Randika, ayo dimakan mumpung masih panas." Mendengar ini, Hannah segera menghampiri meja makan dan mencueki Randika. "Wah Ibu Ipah, makanannya kelihatan enak semua!" kata Hannah dengan tersenyum. Randika juga menghampiri meja makan dan mulai ngiler. Dia belum makan sejak siang tadi, dia benar-benar lapar. Setelah makan malam bersama dengan Hannah dan Inggrid, Randika mencuri waktu untuk masuk ke dalam kamarnya. Ketika di dalam kamar, wajah Randika yang setenang air itu mengambil HPnya dan menelepon ke sebuah nomor. "Ini Ares sang Dewa Perang!" Wajah Randika berubah menjadi serius. "Bagaimana penyelidikanmu? Apakah ada perkembangan?" "Saya sudah memeriksa latar belakang dari Roberto sesuai perintah Anda. Saya menemukan bahwa Roberto adalah anak dari Carlos, pengusaha sukses di Indonesia. Tetapi mereka berbasis di Eropa, jadi saya tidak mendapatkan informasi apa pun mengenai ayahnya." Randika lalu berpikir untuk sejenak, suara dari balik telepon tidak berhenti berbicara. "Roberto datang ke Indonesia sekitar sebulan yang lalu, dia datang untuk mengikuti program pertukaran siswa asing di Universitas Cendrawasih." Sebulan yang lalu? "Apakah kamu yakin dengan waktu kedatangannya?" Tanya Randika. "Iya saya yakin." Bawahan Randika ini berkata dengan nada serius dan dalam. "Saya juga menemukan bahwa Roberto sendiri yang mengisi formulir pendaftaran program pertukaran siswa asing itu." Mendaftar sendiri? Di dalam kepala Randika sekarang, senyuman licik Roberto tiba-tiba muncul. Dia tidak tahu kenapa, tetapi ketika dia memikirkan senyumannya itu, Randika merasa tidak nyaman. Hatinya tahu bahwa ada yang salah darinya. Ini murni kata instingnya, Randika tidak pernah ragu dengan insting tajamnya. "Tuan, apakah saya harus mengawasinya lebih lama lagi?" Kata bawahannya itu. "Jika Anda ingin saya mengawasinya, saya juga akan memakai koneksi di Eropa dan menyelidikinya lebih lanjut." "Lanjutkan." Kata Randika dengan samar. Apa pun yang terjadi, dia harus mengetahui latar belakang Roberto. Jika dia tidak dapat mengetahui niat asli pihak lain, Randika tidak akan bisa tidur dengan tenang! Dia merasa bahwa Roberto bukanlah orang biasa. "Hari ini, Roberto menyelamatkan Hannah di kantin kampusnya. Kecelakaan ini berawal dari pegangan tangga yang rusak. Cepat pergi dan periksa pegangan tangga itu." Kata Randika. "Baik." Setelah menutup telepon, Randika masih memikirkan masalah ini. Tetapi, dari luar dia dapat mendengar Hannah yang berteriak memanggil namanya. Randika lalu berjalan keluar dari kamar dan menaruh kembali HPnya di saku celananya. ...ˇ­ Pagi-pagi sekali, Randika sudah terbangun. Kali ini, dia terbangun sendirian di kamar. Kemarin malam, Hannah menyelamatkan kakaknya itu dari terkaman Randika dan tidur bersama. Jadi Randika terpaksa tidur sendirian tanpa bisa berbuat apa-apa. Padahal dia sudah lama ingin mencoba hal-hal baru dengan Inggrid. Beberapa hari yang lalu, Randika membeli beberapa barang seperti baju dan alat-alat seperti borgol, vibrator dll. Ketika Inggrid melihat barang-barang ini, wajahnya menjadi merah. Sayang sekali Randika masih belum sempat mencobanya. Setelah mencuci mukanya, Randika mengambil HPnya dan berjalan turun ke bawah. Di HPnya, ada sebuah pesan singkat. Ketika dia membukanya, rupanya itu dari bawahannya dari divisi intelijen. Isi pesan itu singkat, padat, dan jelas. Randika meminta mereka untuk mengecek pegangan tangga yang menyebabkan Hannah terjatuh itu. Dia mengatakan bahwa tidak ada kejanggalan apa pun. Pegangan tangganya memang sudah tua, ditambah dengan kekuatan pegangan dari Hannah, hal ini langsung mematahkan pegangan tangga tersebut. Setelah membaca ini, Randika mengerutkan dahinya. Tidak ada yang janggal? Apakah ini murni kecelakaan? Semakin dia memikirkannya, semakin ragu Randika. Namun, dia sama sekali tidak meragukan informasi yang didapatnya ini. Para bawahannya dari divisi intelijen itu adalah orang-orang yang teliti dan cerdas, tidak mungkin mereka salah menganalisa kejadian ini. Setelah turun ke bawah, Hannah dan Inggrid sudah duduk di meja makan. Mereka sedang mengobrol dan tertawa bersama-sama, hubungan kakak adik mereka ini benar-benar erat. Ketika Hannah melihat sosok Randika berjalan ke bawah, dia mendengus dingin. Randika sendiri menatap tajam ke arah Hannah sambil menggertakkan giginya. Maling yang telah mencuri tempat tidurnya serta barang berharganya ini tidak akan bisa berbuat hal yang sama malam hari ini! Diselimuti oleh rasa benci ini, Randika duduk diam tanpa menyapa Hannah. Dia lalu mengambil sepiring nasi dan telur dadar yang ada di atas meja. "Kak, hari ini aku nganggur, apakah kakak bisa menemaniku bermain?" Kata Hannah pada Inggrid. "Maaf, kakak harus pergi kerja hari ini. Perusahaan kakak sedang sibuk." Kata Inggrid. Hannah lalu melirik ke Randika, yang pura-pura tidak melihat dirinya dan berkomitmen untuk menghabisi nasi dan telur dadarnya itu. "Bagaimana dengan kak Randika, apa kakak mau menemaniku bermain???? Tanya Hannah sambil tersenyum manis. Randika mengambil suapan besar dan mendengus dingin. Dia memalingkan wajahnya dari Hannah. Sifat kekanak-kanakannya ini membuat Inggrid geleng-geleng. "Kalau keselek bagaimana? Kamu mau mati hanya karena keselek nasi?" Randika hanya tersenyum, dia masih tetap tidak mau membalas kata-kata Hannah. Setelah sarapan, Hannah langsung keluar dari rumah dan Randika mengikuti Inggrid pergi ke kantor. Hari ini banyak kegiatan di kantor, khususnya mengingat sebentar lagi merupakan deadline dari produksi mereka. Departemen parfum bekerja pagi hingga malam hanya untuk memenuhi kuota mereka. Dengan adanya Randika, beban departemen parfum akan sangat berkurang. Menurut Kelvin, Randika setara dengan 20 orang sekaligus. Bukan, bukan, bahkan seluruh orang di departemen parfum! Jika Randika benar-benar mau, dia bisa mengambil alih departemen parfum dan memecat mereka semua. Bukan hanya saja membuat parfum jenis baru, Randika tidak perlu menggunakan sebuah formula untuk membuat ulang parfum yang dibutuhkan. Dia hanya membutuhkan hidungnya dan instingnya untuk membuat hal yang sama. Peran Randika memang luar biasa di departemen parfum. Oleh karena itu, Kelvin sudah memohon pada Randika untuk setidaknya berada di laboratorium selama setengah hari untuk membantu mereka. Randika sendiri juga mengiyakan permohonan Kelvin ini. Sesampainya di perusahaan, Randika tidak langsung masuk ke dalam laboratorium. Dia melihat sosok yang sangat dikenalnya di koridor perusahaan, dia adalah Viona! Chapter 375: Pembunuh di Kota Cendrawasih Sejak makan malam di restoran itu, hati Viona masih dipenuhi dengan kebingungan. Karena wanita adalah individu yang rapuh dan mudah terbawa perasaan, perasaan yang dirasakan Viona sekarang ini benar-benar membunuh dirinya. Bahkan Viona kemarin tidak masuk dan berusaha menghindari dirinya, jelas ini merupakan suatu masalah besar. Sosok Viona terlihat pendiam, lembut, dan pemalu tetapi sebenarnya dia adalah perempuan yang antusias dan unik. Randika mengetahui hal ini karena hatinya sudah terkoneksi dengan Viona sejak lama, dia merasa bahwa Viona merupakan pasangan yang ideal untuk dimasukkan ke dalam anggota haremnya. Yang dibutuhkan dirinya hanyalah berhubungan seks dengan Viona, setelah itu perasaannya pada dirinya pasti berubah. Memikirkan hal ini, Randika tersenyum dan berjalan menghampiri Viona. Viona sendiri sangat gugup hari ini, kejadian di restoran kapan hari masih membekas di dalam dirinya. Dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa ketika bertemu dengan Randika nanti. Setelah kabur dan tidak masuk kerja kemarin, dia merasa bahwa kabur seperti ini bukanlah jawabannya. Dia merasa bahwa dia harus mengundurkan diri dan keluar dari perusahaan ini. Tetapi apakah langkah ini benar-benar merupakan isi hatinya yang sebenarnya? Kemarin malam ketika dia mau tidur, Viona berusaha menutup matanya untuk melupakan semua ini. Tetapi yang muncul di benaknya adalah senyuman hangat Randika. "Vionaˇ­" TIba-tiba, di belakangnya ada suara yang memanggil dirinya. Ketika dia menyadari bahwa suara itu adalah milik Randika, tubuh Viona menegang. "Ranˇ­" Wajah Viona sudah tersipu malu. "Vi, kamu kenapa?" Randika tertawa ketika melihat wajah Viona yang merah itu. Ketika dia ingin meraih dagu Viona, Randika menyadari bahwa hal tersebut tidak terlalu pantas mengingat banyaknya orang yang bekerja di tempat ini. Randika sendiri tidak masalah dilihat oleh orang lain, tetapi Viona merupakan individu yang pemalu jadi Randika menghormati ini. "Tidak apa-apa, aku tidak apa-apa!??? Jawab Viona. "Terus kenapa kamu kemarin tidak masuk kantor?" Randika berdiri di depan Viona. Viona yang sekarang sama seperti anak kecil yang sedang diinterogasi oleh gurunya. Ketika Randika meremas lengannya, Viona tidak merasakan sakit melainkan kelembutan yang hangat. "Aku tidak enak badan jadi aku minta ijin sakit kemarin." Kata Viona. Wajahnya masih terlihat sangat merah. "Benarkah?" Randika hanya menyeringai. "Sungguhan." Viona menganggukan kepalanya. Dalam sekejap, Randika menyadari bahwa tidak ada orang di koridor ini sekarang. Tangan kanannya bergerak secara perlahan ke belakang dan menampar pantat Viona dengan keras. Tiba-tiba, tangan Randika memantul kembali, seolah-olah dia tangannya itu menampar sebuah bola elastis. Tindakan Randika yang tiba-tiba ini membuat Viona ketakutan setengah mati, dia dengan cepat melirik ke Randika dan bertemu dengan senyuman nakalnya. Randika sepertinya telah melihat keresahannya. Ketika berpikir demikian, Viona tersipu malu. "VI, kenapa kamu terus menghindariku? Apa kamu membenciku?" Ketika mendengar hal ini, Viona langsung menjadi kelabakan. "Tidak! Aku tidak membencimu!" Randika menatap lekat-lekat Viona, sudut mulutnya mulai menaik dan membentuk sebuah senyuman yang nakal. Sekali lagi, dia menampar pantat kenyal milik Viona itu. Viona memakai celana dalam yang minim kain, jadi tamparan Randika ini benar-benar mengenai kulitnya. Yang hanya menghalanginya adalah rok tipisnya yang membalut pantatnya dengan sempurna. Namun, entah kenapa dia menikmati sensasi ini. "Ini hukuman karena kamu berani untuk menghindariku. Apakah kamu berani melakukannya lagi?" Sifat sadis Randika mulai terpacu, dia memandang Viona dengan tatapan tajamnya. Viona tersihir oleh bau lelaki yang dipancarkan oleh tubuh Randika, pantatnya sendiri membara karena tamparan keras Randika. Dia merasakan rasa malu di dalam hatinya, tetapi bukan hanya rasa malu saja yang ada di dalam hatinya melainkan kehangatan dan kenikmatan. Dengan perlahan, dia menganggukan kepalanya. "Ranˇ­ kejadian di restoran itu.." Viona terlihat ragu-ragu. Dia lalu mengangkat kepalanya tinggi-tinggi, dia berharap Randika dapat menjelaskan apa yang terjadi di malam hari itu. "Hmm? Kenapa memangnya." Randika memasang wajah bingung. "Vi, aku tidak ingat apa yang terjadi malam hari itu, aku terlalu mabuk hari itu." "Ah!" Kedua mata Viona terbuka lebar, dia tidak menyangka akan mendengar jawaban ini dari Randika. "Vi, apa kamu mau ngasih tahu apa yang sebenarnya terjadi malam hari itu? Aku sudah menanyakannya pada yang lain tetapi tidak ada yang mau memberitahuku." Kata Randika. Bagaimana mungkin Viona mengatakannya? Dibandingkan dengan Hannah dan Inggrid, wajahnya benar-benar tipis. Di bawah serangan Randika, dia telah terjebak oleh sifat licik Randika ini. "Akuˇ­ aku juga tidak mengingatnya." Viona menggelengkan kepalanya berulang kali, dia lalu tertawa. Senyumannya itu benar-benar mekar dan membawakan sensasi segar. "Ran, kadang aku mikir kamu itu terlaluˇ­" Viona berhenti berbicara, dia sepertinya tidak dapat menemukan kata yang tepat. "Terlalu tampan?" Randika membelai pipinya. "Aku sudah tahu itu dari awal." Melihat Randika mengalihkan topiknya lagi, Viona benar-benar merasa tidak berdaya. Namun, dia tidak semalu dan setegang tadi. Jawaban Randika atas kejadian di restoran kapan hari telah membuat hatinya terasa lega. "Ayo cepat kita masuk, semuanya sudah menunggu." Kata Randika sambil tersenyum. Mereka berdua lalu berjalan berdampingan menuju laboratorium. Sebelum mereka masuk, para staf sedang mengobrol satu sama lain. Jika tidak ada Kelvin, semua orang suka mengobrol dan meninggalkan pekerjaan mereka. Bagaimanapun juga, mereka sudah bekerja seharian dan merasa suntuk. Ketika Randika datang, mereka malah mengajak Randika untuk bergosip bersama-sama. "Hei, hei, apa kalian dengar apa yang terjadi di kota kita beberapa hari ini?" Seorang laki-laki mulai membuat suaranya seperti sedang menceritakan cerita horor. "Beberapa orang telah meninggal secara misterius, ketika ditemukan jantung mereka sudah tidak ada!" Para staf perempuan langsung menegang ketika mendengar cerita ini. "Tidak mungkin." Jelas mereka semua tidak percaya. "Pembunuh macam apa yang tega melakukan hal itu?" "Iya, tidak mungkin pembunuhnya melakukan hal itu. Ngapain juga dia melakukannya!" Balas mereka. "Ini sungguhan, aku tidak berbohong." Rupanya yang berbicara adalah Adrian. "Aku baru saja membacanya di koran tadi pagi. Rupanya sebulan ini, banyak orang di kota kita ini telah menghilang secara misterius. Ketika akhirnya mereka ditemukan, mereka sudah mati dan jantung mereka sudah tidak ada!" "Berita itu juga menyampaikan bahwa kebanyakan korban adalah wanita cantik." Lanjut Axel yang ada di sampingnya. "Ya ampun, bagaimana ini?" Beberapa staf perempuan mulai ketakutan, mereka merasa pembunuh seperti itu benar-benar menakutkan. "Nanti kalau kalian pulang, bacalah berita itu di koran kalian. Menurut investigasi para polisi, pembunuhnya selalu melakukan hal yang sama. Dalam satu bulan ini sudah ada 8 mayat yang ditemukan oleh mereka, tetapi sejauh ini para polisi masih belum bisa menemukan tersangkanya." "Aduh bagaimana ini, aku jadi takut keluar sendirian. Bagaimana kalau tiba-tiba aku bertemu dengan pembunuh itu?" Wajah perempuan ini mulai memucat. "Sudah jangan terlalu khawatir sama hal begitu, dia hanya mengincar wanita super cantik kok." Axel mulai menggoda perempuan itu supaya meringankan suasana tegang ini. "Maksudmu apa?" Perempuan itu mulai marah. "Maksudmu aku tidak cantik?" Semuanya langsung tertawa ketika melihat Axel ketakutan. "Ampun, ampun, aku cuma bercanda." Axel melambaikan tangannya. Perempuan yang mau memukulnya ini terkenal sebagai perempuan tomboy, dia sering menghajar laki-laki yang berani menantangnya. "Tapi aku sarankan kalian jangan keluar terlalu malam beberapa hari ini. Sepertinya pembunuh itu beraksi di malam hari jadi jangan pernah keluar sendirian, sebaiknya kita waspada dan menghindari kejadian ini." Adrian menambahkan. Semua orang mengangguk. Lebih baik mencegah daripada mengundang masalah untuk datang, terlebih lagi ini menyangkut nyawa mereka. Ketika Randika melihat kumpulan karyawan ini tidak selesai-selesai bergosip, dia menirukan suara Kelvin dan berteriak. "Siapa suruh kalian santai-santai seperti ini, cepat kerja!" Randika memakai sedikit tenaga dalamnya ketika menirukan suara Kelvin, suaranya benar-benar mirip dengan Kelvin. Tentu saja, semua orang langsung kelabakan ketika mendengar itu dan segera kembali ke tempat duduk mereka. Kecepatan mereka benar-benar membuat Randika terkejut. Mereka baru saja berleha-leha di depannya, detik berikutnya mereka semua sudah kembali duduk di tempat mereka masing-masing. Wajah mereka yang santai dan bahagia itu berubah menjadi serius dalam sekejap. Dengan ini Randika bisa mengetahui betapa menakutkan sosok Kelvin di mata para karyawannya. Viona hanya bisa tertawa lepas, adegan ini benar-benar lucu. Para staf ini akhirnya menyadari bahwa yang berteriak tadi rupanya adalah Randika, hati mereka segera menjadi rileks. "Pak Randika jahil sekali, kenapa bapak suka membuat kami jantungan seperti ini?" Axel mengelus dadanya. "Pak, tolong jangan diulangi lagi. Kami benar-benar takut barusan!" Beberapa perempuan juga mulai mengeluhkan hal yang sama. Randika hanya bisa tertawa. "Kalian saja yang penakut, masa cuma satu bentakan saja kalian langsung kelabakan." "Siapa yang takut?!" Semuanya mulai bersemangat. "Kami tidak takut!" "Benar, siapa yang takut?" Adrian langsung membesarkan otot dadanya. "Aku tidak takut sama pak Kelvin!" Namun tiba-tiba, suara pintu terbuka dapat terdengar. Semua orang langsung membeku dan Adrian langsung berkeringat dingin. Sosok Kelvin dapat terlihat muncul dari balik pintu. Kali ini, semua orang langsung duduk dengan tenang di tempat duduk mereka. Satu per satu dari mereka mulai fokus kembali bekerja. Chapter 376: Bukan Sulap Bukan Sihir! Dalam sekejap, para staf departemen parfum ini bekerja dengan giat. Suasana santai dan muka bercanda mereka sudah lenyap tanpa jejak. Ketika Randika menatap pintu masuk, dia benar-benar terkejut. Sialan, posisinya sebagai atasan benar-benar diremehkan. Namun, Adrian membeku di tempat karena saking takutnya. Dia menatap Kelvin yang ada di depan pintu lalu menatap semua orang. Dia menyadari bahwa teman-temannya itu sudah masuk mode kerja mereka, keseriusan mereka membuat Adrian menangis di dalam hati. Sialan, kalian akan meninggalkanku begitu saja? Bajingan, wajah kalian bisa cepat berubah seperti itu! Bukankah tadi kalian main solitaire? Adrian hanya bisa pasrah dan berdiri di tempatnya. Teman-temannya yang berwajah serius itu hanya bisa mengucapkan kata belasungkawa di dalam hati mereka masing-masing. Kelvin berjalan masuk dan menatap semua orang. "Kalian semua tetap bekerja, Adrian, kau ikut aku." Mendengar hal ini, wajah Adrian berubah menjadi pucat. Teman-temannya semuanya berusaha menahan tawa ketika mendengar kata-kata Kelvin ini, bahkan ada yang mencubit pahanya hingga merah. "Kapok!" Kata temannya dengan suara kecil. Randika sendiri hanya tertawa ketika melihat hal ini, memang karyawannya ini benar-benar bodoh. Namun, dia merasa tidak masalah karena suasana seperti ini lebih bagus daripada tegang ataupun diam seperti zombie. Tidak lama setelah itu, semuanya bekerja dengan giat. Randika akhirnya menyelesaikan bagiannya, dia sekarang tinggal mendelegasikan sisa-sisanya. Ketika dia melihat jam, rupanya waktu sudah berlalu satu jam. Setelah berjalan-jalan sebentar di ruangan, Randika benar-benar tidak ada kerjaan. Pada saat ini, dia merasa haus. Jadi dia memutuskan untuk turun dan membeli minuman di mini market. Ketika di luar gedung, dia akhirnya memutuskan untuk membeli juice. Ketika dia mau memesan juice jeruk + lychee, dia melihat sosok Deviana duduk di kursi. Namun, Deviana sedang tidak memakai seragam kerjanya, dia memakai pakaian biasa. Sepertinya dia sedang libur hari ini. Hari ini dia datang bersama dengan temannya, mereka berdua terlihat mengobrol dengan asyik. "Selamat siang Dev." Randika menghampiri dan tersenyum. Deviana dan kedua temannya menoleh dan melihat sosok Randika. Randika, tidak menunggu mereka menjawab, langsung duduk di kursi yang kosong. "Siapa yang suruh kamu duduk di sini?" Kata Deviana. "Oh? Kamu tidak mau hubungan kita dilihat temanmu?" Jawab Randika. Mendengar ini, temannya itu langsung membuka mulutnya lebar-lebar. Dia menatap Randika dan Deviana dengan wajah terkejut. Deviana hanya menatap tajam ke arah Randika. Hingga sekarang, dia sendiri masih bingung dengan hubungan mereka berdua. "Jangan omong aneh-aneh, aku bisa menahanmu di sini." Kata Deviana sambil mendengus dingin. Randika menatap polisi satu ini. Hari ini Deviana mengikat rambutnya dengan kunciran kuda, bajunya terlihat biasa dan celananya juga biasa. Namun, dia membawa sensasi segar dan kuat. Karena dia merupakan polisi, sepertinya dia membawa kesan sebagai perempuan atletis jika tidak memakai seragamnya. Melihat Randika dan Deviana mengobrol dengan diam-diam, temannya ini tidak dapat menahan diri untuk berkata. "Dev, dia pacarmu? Apakah kamu tidak mau mengenalkannya padaku?" Pacar? Deviana membeku, temannya yang bernama Vivi ini langsung menjadi bersemangat. "Pantas saja kamu selalu mencibir dan bertingkah dingin sama laki-laki lain. Ternyata kamu sedang menjaga hatimu untuk seseorang toh! Wah ini benar-benar berita mengejutkan! Kenapa kamu menyembunyikan fakta ini? Sudah cepat kenalkan aku dulu." Randika benar-benar senang, Vivi memang orang yang hebat. Deviana terlihat kelabakan. "Diaˇ­ Dia ituˇ­ Maksudku, dia ituˇ­" Sebelum dia dapat berkata dengan benar, Vivi menyela sekali lagi. "Dev, kamu masih berusaha untuk menyembunyikannya? Sudah tidak apa-apa, sekarang cepat kenalkan aku dengan pacar pertamamu ini! Aku tidak mau mencurinya kok, aku hanya penasaran dengan laki yang bisa mencuri perempuan terdingin dan tercantik yang pernah aku kenal!" Deviana langsung terpicu. "Vivi, sudah hentikan omonganmu itu. Dia bukan pacarku." Vivi hanya mengedipkan matanya berulang kali. "Dev, apa kamu masih berpura-pura lagi? Aku benar-benar tidak percaya, aku jelas melihat percikan cinta di antara kalian!" Deviana hanya bisa kehabisan kata-kata. "ˇ­." Randika lalu menatap Vivi sambil tersenyum. "Sayangnya, aku dan dia masih berteman." Mendengar ini, Vivi menjadi lesu. Tetapi, harapannya kembali naik ketika dia mendengar Randika mengatakan. "Tetapi dia adalah calon pacarku." Kedua bola mata Deviana hampir copot dari kantongnya, Randika hanya menatapnya sambil tersenyum. "Ada apa? Apakah kamu ingin menjadi pacarku sekarang?" "HAH?! Siapa memangnya yang mau jadi pacarmu?" Deviana benar-benar kehabisan kata-kata. Vivi dengan semangat berkata lagi. "Hahaha aku hanya minta tolong agar kamu bisa menjaga teman baikku ini di masa depan." Di hadapan tingkah laku Randika yang bar-bar, Deviana hanya bisa pasrah. Tetapi Randika adalah orang dengan pikiran terbuka, dia dengan santai mengambil minuman yang diminum oleh Deviana dan meminumnya. "Kenapa tidak ada esnya?" Randika terkejut. "Memang tidak ada es." Vivi segera menjelaskan. "Orangnya kehabisan es jadi orang-orang hanya bisa menunggu hingga esnya tiba. Karena kita tadi haus, jadi juice kita diblender tanpa menggunakan es." Randika lalu berpikir sejenak, dia kemudian bertanya. "Apakah kalian ingin minum yang dingin?" Deviana sama sekali tidak menggubrisnya, tetapi pada akhirnya dia menjawab. "Memangnya kamu mau beli di mana?" Beli? Randika hanya tersenyum. "Buat apa beli? Aku bisa memberikanmu satu." Deviana dan VIvi terkejut, bagaimana caranya dia punya es batu? Randika berdiri dan berjalan menuju si penjual juice. Setelah beberapa saat, dia kembali membawa juice jeruk+lychee tanpa es. "Sudah jangan berlagak sok keren di depan temanku." Kata Deviana. "Apa yang akan kamu lakukan jika aku bisa membuatnya dingin?" Tanya Randika. Ketika Deviana hendak menjawab, dia terlihat ragu-ragu. Pengalamannya bertaruh dengan Randika membawa kenangan buruk untuknya. "Aku akan bertepuk tangan." Jawab Deviana dengan cuek, dia tidak akan tertipu kali ini. Vivi di sisi lain langsung menjawab. "Jika kamu berhasil membuatnya dingin, temanku ini akan menciummu." "Hei! Aku tidak pernah berkata seperti itu!" Deviana langsung menyela. "Sudah tenang saja, mana mungkin dia bisa melakukannya." Jawab Vivi. Randika jelas membeku di tempat, kesempatan seperti ini tidak datang dua kali! Namun, Deviana menatap tajam pada Randika dan Vivi. "Pokoknya aku tidak mau!" "Atau kamu takut berciuman di depan wajahku ya?" Vivi tertawa. "Bagaimana calon pacar? Apakah kalian sudah melakukannya?" Randika hanya terbeku, ketika dia melihat Deviana, perempuan satu itu sudah tersipu malu. Wajahnya benar-benar merah dan menunjukan ekspresi malu. "Lihat apa kamu?!" Deviana membentak ke arah Randika. Lalu Randika hanya menjawabnya sambil bercanda. "Aku hanya sedang melihat perempuan tercantik di dunia ini, mataku benar-benar terpesona." Randika lalu mengambil gelasnya tersebut dan mengocoknya. "Perhatikan, tidak ada es batu di dalam gelas." Kemudian di bawah tatapan Deviana dan Vivi, gelas itu ditaruh di belakang punggung Randika. Tatapan mata Deviana benar-benar tajam, dia sendiri penasaran bagaimana Randika akan melakukannya. Setelah gelas itu ditaruh di belakang, baru berselang 10 detik, terlihat asap putih muncul dari belakang. Ketika Randika meletakkan gelasnya itu di atas meja, kedua perempuan ini benar-benar terkejut ketika melihat gelas ituˇ­ membeku! Gelas itu bagaikan baru saja keluar dari freezer, benar-benar berasap dan dingin. Seakan-akan, dia sudah masuk ke dalam freezer berjam-jam! Chapter 377: Pembunuh Abnormal Mata Deviana tidak bisa berhenti berkedip, dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Vivi sendiri juga bereaksi sama. Ketika dia memberanikan diri untuk menyentuhnya, dia langsung tersentak. "Wow dingin sekali!" Ketika dia melihat tangannya, gelas itu benar-benar membeku! "Sudah silahkan menikmati." Randika lalu memberikan gelas itu kepada Vivi. Dengan senang hati dia menerima tawaran Randika. Pada saat yang bersamaan, Randika mengambil gelas Deviana sebelumnya dan menyulapnya menjadi minuman dingin. "Kalau ini buatmu sayang, panas-panas begini enak minum yang dingin." Kata Randika sambil mengedipkan matanya. Deviana hampir muntah darah. Sayang? Sejak kapan dia memanggilnya seperti itu? Tetapi, ketika dia melihat minumannya yang dingin itu, tenggorokannya tergoda. Tanpa ragu-ragu, dia mengambil gelasnya dan meminumnya. Untuk trik ini, Randika menggunakan tenaga dalamnya untuk menyerap suhu minumannya. Kemudian dia mengubah suhunya menjadi dingin. "Omong-omong, apakah kalian tahu tentang kasus pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini?" Tanya Randika. Deviana mengangguk. "Seluruh kepolisian sudah dikerahkan, tetapi sampai saat ini kami masih belum menemukan petunjuk. Perkembangan kasus ini benar-benar lambat." Vivi juga menjawab. "Pembunuhnya ini sangat abnormal, kita sudah mengecek jenazah korban dan semuanya mengalami kekerasan seksual." Kekerasan seksual? Randika menatap mereka dengan serius. Deviana berkata dengan wajah jijik. "Bagiku itu bukan kekerasan, bagiku dia benar-benar menjijikkan dan tidak layak untuk hidup. Bisa-bisanya dia berhubungan badan dengan korban setelah dia membunuhnya." Berhubungan seks dengan jenazah? Randika benar-benar kehabisan kata-kata, kerutan di dahinya tidak bisa lebih keras lagi. Benar-benar abnormal dan menjijikkan. Memperkosa perempuan masih terbilang normal, tetapi memperkosanya setelah membunuhnya? Sepertinya pembunuhnya ini benar-benar memiliki kelainan yang serius. Wajah Vivi menjadi khawatir. "Awal dari kasus ini sekitar sebulan yang lalu. Kita mendapatkan laporan bahwa ada seorang gadis SMA yang tidak pulang-pulang. Beberapa hari kemudian kita menemukan jenasahnya di tempat sampah." "Pas ditemukan jantungnya sudah tidak ada." Deviana terdiam beberapa saat. "Menurut ahli forensik kita, pemotongannya benar-benar rapi." Mendengar ini, Randika tidak bisa berhenti mengerutkan dahinya. Pembunuh ini tidak saja abnormal, tetapi memiliki kemampuan medis juga? Atau jangan-jangan dia sudah ahli dalam memotong organ? "Teknik pembunuhan yang dilakukannya ini benar-benar membingungkan. Kita sudah menelitinya sejak lama tetapi kami tidak dapat menemukan apa-apa. Terlebih lagi, dia sepertinya menarget perempuan yang masih muda." Tambah Vivi. Randika mengangguk, dia tidak menyangka pembunuh ini adalah pembunuh berantai yang abnormal dan pintar. "Jika aku tahu sesuatu, aku akan memberitahumu." Kata Randika. Deviana hanya mengangguk pelan. Pada saat ini, HP Randika tiba-tiba bunyi. Ketika dia melihatnya, ternyata Hannah yang menelepon. Kenapa adik iparnya ini tiba-tiba menelepon? Randika aslinya malas untuk mengangkatnya, mungkin adik iparnya ini ingin mengundangnya main. Tetapiˇ­ pura-pura tidak mengangkatnya benar-benar kejam jadi dia mengangkat teleponnya. "Kak, kakak di mana? Kalau nganggur bagaimana kalau kakak nyusul aku di mall? Aku benar-benar kesepian nih." Di balik telepon, Hannah benar-benar bersemangat. Suara berisik mall dapat terdengar di balik telepon. "Sudah main saja sendiri, aku sedang sibuk." Jawab Randika. "Jangan gitu dong kak, aku benar-benar kesepian tidak ada kak Randika. Aneh saja sendirian di tempat ramai seperti ini." Randika kehabisan kata-kata. Dia aslinya sibuk, dia sebentar lagi berusaha mencari kakak-kakak cantik dan menggoda mereka. "Sudah cepat ke sini kak! Jika kakak datang, nanti aku kenalin teman-temanku yang cantik. Jangan khawatir, kak Inggrid tidak akan tahu." Kata Hannah. Kenalin teman-temannya yang cantik? Randika jelas tersenyum di dalam hatinya. Adik iparnya ini benar-benar memahami dirinya. Tetapi mengingat sifat dan sikap Hannah selama ini, pasti ada konspirasi di balik semua janji manisnya ini. Tetapi jika dia menolak, adik iparnya ini akan tidur bersama dengan Inggrid lagi sebagai bentuk balas dendamnya. "Han, aku benar-benar tidak bisa pergi." Jawab Randika dengan nada memelas. "Aku benar-benar sibuk dengan pekerjaanku, aku tidak bisa meninggalkan kantor seenak itu." "Lho kakˇ­. Jadi gitu kak Randika ya." Hannah terdengar sedih sekali. Tetapi, tiba-tiba dia berteriak. "Oh!" "Kenapa?" Randika terkejut, jangan-jangan ada yang terjadi dengannya. "Aku sepertinya demam, aku sepertinya perlu tidur dengan kak Inggrid lagi biar sembuh." Suara Hannah terdengar mengancam. "Kamu ini ya, ya sudah tunggu aku." Akhirnya Randika mengalah. "Yeii, kak Randika memang yang terbaik. Aku nunggu di depan pintu masuk ya." Nada Hannah kembali menjadi ceria, dia langsung menutup teleponnya. Mendengarkan nada teleponnya, Randika tahu bahwa dia sudah termakan oleh jebakan Hannah. Sepertinya dia memang tidak bisa lepas dari genggaman adik iparnya itu. Namun, Randika hanya bisa pasrah. "Adikku." Randika menoleh ke arah Vivi dan Deviana. "Dia membutuhkan bantuanku, aku harus pergi sekarang." Kedua perempuan itu mengangguk. Ketika Randika pergi, Vivi berbisik kepada Deviana. "Dev, kamu harus menjaganya dengan baik, jangan biarkan dia direbut oleh orang lain." "Maksudmu apa?" Deviana menatapnya dengan tajam. "Percayalah padaku, kamu akan menyesal kalau melepaskan dia." Vivi lalu tersenyum. "Aku tahu bahwa kamu menyukainya dan jangan coba-coba untuk berkata tidak padaku, aku bisa melihat dari cara kamu memandangnya." Kedua perempuan ini membahas permasalahan cinta dan Randika berjalan menuju mall tempat Hannah berada. Di sisi lain, Hannah menutup teleponnya dan tersenyum pada teman-temannya. "Sudah selesai." "Han, kamu membohongi kakak iparmu lagi?" Tanya Stella. Hannah hanya tersenyum, mukanya terlihat bangga. "Karena dia sedang nganggur, bukankah kewajibannya menyenangkan hati adik iparnya yang imut?" Beberapa temannya lalu tertawa, mereka mulai jalan-jalan dan mengobrol. Stella juga menceritakan bagaimana kerennya Randika dalam bermain bola basket dan menyelamatkan dirinya dan Hannah ketika didatangi oleh beberapa anak nakal. Karena cerita Stella inilah, teman-temannya ingin melihat bagaimana rupanya Randika. Ketika mereka mengobrol, salah satu dari mereka melihat sosok familiar. "Itu Roberto!" Nama Roberto telah mengakar dalam di hati para mahasiswi di Universitas Cendrawasih. Dia adalah pria idaman semua perempuan. Ketika videonya dia bermain drama itu tersebar, semua perempuan tergila-gila dan hampir menyatakan perasaan mereka pada mahasiswa asing tersebut. Oleh karena itu, sosok Roberto sudah sangat spesial di hati semua perempuan. Sekarang, Roberto dan teman-temannya nampak sedang jalan-jalan santai. "Wow, itu benar-benar dia!" Teriak mereka. Hannah terlihat lebih dewasa dari mereka, meskipun begitu hatinya sudah berteriak tanpa henti. Lelaki sempurna pasti menginginkan perempuan sempurna yang dewasa, maka dari itu Hannah berusaha bersikap selayaknya wanita dewasa. Sebagai perempuan, kita harus membuat laki-laki mengejar kita, bukan sebaliknya! Ketika Roberto berjalan menghampiri mereka, dia hanya tersenyum sekaligus berkata. "Wah kebetulan sekali bisa bertemu dengan kalian." Hannah pura-pura bersikap dingin. "Iya, kebetulan sekali." "Aku dan anak-anak mau main ke atas." Roberto menunjuk teman-temannya yang ada di belakangnya. "Apakah kalian ingin bergabung?" Chapter 378: Bermain Bersama Dalam sekejap semua perempuan ini setuju. Tetapi, mereka semua menyadari bahwa tatapan Roberto jatuh pada sosok Hannah. "Baiklah kalau begitu." Hannah juga menyetujui ajakan Roberto. Akhirnya grup perempuan dan laki-laki ini berjalan bersama-sama dan mengobrol bareng. "Aku minta maaf sebelumnya." Roberto tersenyum, wajahnya terlihat tampan. "Bola yang aku tendang waktu itu hampir mengenaimu." "Sudah tidak apa-apa." Hannah tersenyum. "Jika bukan karena insiden itu, kita tidak mungkin berkenalan." "Benar juga." Roberto tersenyum kembali. "Tetapi waktu itu benar-benar berbahaya." Setelah beberapa saat, suasana grup ini menjadi lebih rileks dan menyenangkan. "Aku haus!" Pada saat ini, salah satu perempuan berseru. Setelah beberapa detik, Roberto berkata pada semua orang. "Sebentar, aku akan membelikanmu air." Roberto berlari menuju kios makanan, setelah itu dia kembali dan membawa beberapa botol air. "Wow, Roberto baik sekali membelikan kita!" "Benar-benar jentelmen." Beberapa perempuan memuji Roberto. Lelaki itu hanya tersenyum dan memberikan mereka air satu per satu. "Ini punyamu." Roberto memberikan sebotol air pada Hannah. "Terima kasih." Hannah segera mengambilnya dan mengucapkan terima kasih. Dia segera membukanya dan meminumnya. Melihat Hannah meminum airnya, Roberto berdiri di sisinya dan tersenyum hangat. Tetapi matanya memancarkan niat buruk yang pekat, khususnya ketika Hannah meminum airnya. Namun, tatapan matanya itu hanya terjadi dalam sekejap, tidak ada yang menyadarinya. Setelah berhenti sejenak, mereka semua mulai berjalan kembali menuju lantai atas. "Hei, ayo kita main ke rumah hantu dulu." Kata salah satu perempuan dengan antusias, dia penggemar film horor dan tertarik dengan hantu. Ajakan ini langsung disetujui oleh semua orang, hanya Hannah yang terlihat ragu-ragu. Dia telah berjanji pada Randika untuk menunggunya di depan pintu masuk mall. Kalau dia pergi sekarang, apakah kakak iparnya itu akan menyusulnya? "Kalian pergi duluan saja, aku akan menyusul." Kata Hannah sambil meminta maaf. Kata-kata Hannah ini membuat suasana menjadi canggung, tetapi senyuman Roberto memecah keheningan ini. "Aku akan menemaninya, kalian duluan saja." Melihat kebaikan Roberto ini, semuanya akhirnya setuju untuk menemani Hannah sampai urusannya selesai. Namun pada saat ini, ada suara yang berseru. "Han, bukankah itu kakak iparmu?" Kata Stella. Ketika Hannah menoleh, dia melihat sosok Randika yang baru saja datang. Randika menatap Hannah dan teman-temannya lalu menghela napas, dia kira dia akan berduaan dengan Hannah. Namun, helaan napasnya itu berubah menjadi ekspresi terkejut ketika melihat Roberto. Kamu juga di sini? Hati Randika mengepal, tetapi dia tidak menunjukannya di wajahnya. "Kak, kakak cepat sekali!" Hannah dengan cepat menarik Randika dan mengenalkannya kepada semua orang. "Ini kakak iparku namanya Randika. Tidak apa-apa kan dia ikut?" "Tenang saja, makin ramai makin asyik." Salah satu lelaki berkata demikian. "Lama tidak jumpa." Roberto mengulurkan tangannya sambil tersenyum. "Perkenalkan sekali lagi, namaku Roberto. Maafkan kesalahanku beberapa waktu yang lalu." Randika menanggapi salam Roberto dengan hangat. "Tidak apa-apa." Setelah perkenalan singkat ini, mereka semua pergi menuju rumah hantu yang berada di lantai atas. Rumah hantu ini memakai sistem kereta rel jadi para pengunjung akan duduk di kereta berjalan selama di dalam. Sistem ini tidak kalah menakutkan dengan rumah hantu yang memakai sistem berjalan. Teriakan ketakutan dan suara orang menangis membuat sekumpulan mahasiswa ini makin bersemangat. Randika dan Hannah duduk bersama di bagian belakang sedangkan Roberto duduk di bagian depan bersama dengan temannya. Selama perjalanan, Randika memperhatikan Roberto dengan seksama. Namun, dia tidak menemukan keanehan pada bocah satu itu. Namun, Randika selalu gelisah dan tidak bisa tenang ketika melihat wajah Roberto. Samar-samar dia dapat merasakan firasat bahaya dari lelaki itu. Dia selalu merasa bahwa Roberto menyembunyikan sesuatu dari semua orang. Randika mempercayai instingnya, terlebih lagi dia sangat familiar dengan wajah Roberto. Tetapi dia lupa pernah melihatnya di mana. Atau ada seseorang yang mirip dengannya? Pikiran Randika terus bekerja tanpa henti. Setelah keluar dari rumah hantu, Hannah mengajak semuanya untuk bermain game bola basket dan semuanya setuju. Lagipula, di mall mewah seperti ini, setiap lantainya selalu dipenuhi oleh wanita-wanita cantik jadi Randika tidak keberatan. Semuanya sekarang berjalan menuju game center sambil mengobrol dengan santai. Sesampainya di sana, Roberto mengisi saldo kartu dan menawarkan untuk bermain komidi putar yang ada di dalam. Para lelaki menggunakan kesempatan ini untuk bermesraan dengan para perempuan. Terlebih lagi, kebetulan jumlah lelaki dan perempuan sama banyaknya. Jadi setiap orang akan mendapatkan pasangan mereka masing-masing. "Kak, ayo kita naik kuda yang itu." Hannah dengan cepat menarik Randika. Naik kuda bersama? Randika mengedipkan matanya, dia lalu menatap komidi putar tersebut. Rupanya teman-teman Hannah ini pada berpikiran terbuka semua, mereka mulai duduk bersama dengan para lelaki dan menaiki satu kuda tersebut bersama-sama. Sepertinya para lelaki ini memiliki kesempatan dengan pasangan mereka masing-masing. Main komidi putar di usia mereka bukanlah untuk bersenang-senang, kuncinya adalah bermain bersama dengan lawan jenismu. Semuanya terlihat gembira, bahkan Stella terlihat asyik mengobrol sambil duduk berdempetan dengan lelaki lain. Randika terbatuk dan menatap Hannah, dia berkata padanya. "Han, ini tidak bagus." "Hah? Kenapa memangnya?" Hannah menoleh dan menatap Randika. "Kak, kenapa kakak selalu berpikiran mesum? Kita cuma ingin bermain dan bersenang-senang saja." "Kamu kok tahu pikiranku?" Sambil menghela napas, dia berkata padanya. "Ya sudah, cepat duduk sini." Randika langsung duduk di salah satu kuda. Dia menunjukan sisi atletisnya dengan meloncat secara indah dan duduk dengan gagah. Hannah terlihat cemberut, karena dia ingin duduk di depan! Tiba-tiba, komidi putar ini mulai bergerak dan Hannah mulai kehilangan keseimbangannya. Dalam sekejap, dia ditarik oleh tenaga yang kuat dan duduk di atas kuda bersama Randika. Ketika dia duduk, wajahnya menjadi merah. Dia hanya duduk bersama dengan kakak iparnya, kenapa hatinya berdegup kencang? Sekarang, kuda-kuda tersebut mulai bergerak naik turun. Randika dan Hannah benar-benar duduk sangat dekat, hampir menempel. "Kak, munduran sedikit!" Karena saking dekatnya, Hannah merasa malu jika dilihat oleh teman-temannya. Namun, sebenarnya hatinya tidak tahan berdekatan dengan Randika. "Sudah tenang saja, tidak ada yang curiga sama sekali kok." Randika berkata sambil tersenyum. "Kan lebih enak duduk berdekatan." "Tidak mau, kak Randika terlalu dekat." Hannah mulai mendengus dingin. Randika merasa tidak berdaya, kenapa adik iparnya ini tidak terpesona oleh dirinya? Namun, karena kegigihan Hannah, Randika akhirnya mengalah dan memberi jarak di antara mereka. Duduk seperti ini malah membuat Randika lebih memperhatikan leher putih milik Hannah. Pada saat yang sama, hati Randika mengepal karena dia bisa melihat dada besar Hannah yang gondal-gandul karena gerakan kuda yang naik turun. Akhirnya secara perlahan dan menggunakan momentum dari kudanya, Randika berhasil melihat pakaian dalam yang dikenakan oleh Hannah. Melihat buah terlarang ini, Randika hampir kehilangan kendalinya dan ingin menerjang ke arah Hannah pada saat ini juga. Chapter 379: Insiden Tidak Terduga Sambil menahan air liurnya, Randika perlahan menaruh tangannya di tubuh Hannah secara perlahan dan alami. "Hahaha menyenangkan bukan?" Saking senangnya, Hannah tidak sadar bahwa Randika sudah merabanya cukup banyak, mereka sendiri menempel dengan alami. Pada saat ini, bau dari Hannah sudah mengisi hidung Randika secara menyeluruh. Benar-benar menggoda! Randika mengerang di dalam hatinya, dia ingin menerjang dan menindih Hannah, tetapi mereka berada di tempat umum. Namun, Randika kepikiran sesuatu yang bagus. Dia langsung berbisik di telinga Hannah. "Han, apa kamu mau meniru adegan dari film Titanic?" "Kelihatannya seru!" Mendengar tawaran ini, Hannah langsung setuju. Kemudian Randika memegang kedua pinggang Hannah dengan erat. Lalu Hannah melebarkan kedua tangannya dan tertawa terus menerus. Sekarang tubuhnya benar-benar ditopang oleh Randika. Pikiran Randika berkecamuk, ketika dia melihat ke bawah, dia bisa melihat betapa putih dan mulus leher Hannah. GLEK! Setelah kembali menelan air liurnya, Randika mengalihkan pandangannya. Darahnya sudah mendidih dan kekuatannya hampir memberontak. Randika bukanlah seorang biksu, dia adalah lelaki sehat seperti pada umumnya. Dihadapkan dengan wanita cantik seperti Hannah benar-benar mustahil untuk tidak bereaksi. Terlebih lagi, pinggang ramping Hannah mewakili apa yang kita sebut kehidupan yang masih mudah. Bahkan ketika dia sedikit meregangkan jari-jarinya, dia dapat merasakan sesuatu yang kenyal di atas pinggang. Sialan! Meskipun masih dihalangi oleh pakaian, sensasi empuk ini membuat hati Randika berkecamuk lagi. Dia juga dapat merasakan tenaga dalamnya makin membara, sepertinya ia cemburu dan ingin merasakannya juga! Jangan, ini tempat umum! Randika perlahan berusaha menenangkan dirinya dan tenaga dalamnya. Namun pada saat yang sama, Hannah nampaknya membuat jarak di antara mereka. Hal ini membuat Randika menghembuskan napas lega, tetapi ini masih belum berakhir. Karena kuda mereka mulai bergerak kembali, pantat Hannah mulai menyentuh suatu tempat. Diserang secara tiba-tiba, Randika tidak bisa menghentikan adiknya yang sudah mengeras tersebut. Tetapi di dalam celana, Randika merasa kesakitan. Dia berusaha setengah mati untuk menahannya agar tidak membesar dengan cara menjepitnya. Hannah pada saat ini merasakan ada sesuatu yang keras di pantatnya. "Kak, kakak sedang ngapain?" Hannah tidak menoleh, dia masih fokus untuk bersenang-senang dan bercanda dengan temannya. Salahmu sendiri yang menyerangku! Aku benar-benar kesusahan tahu, pikir Randika. Meskipun ingin mengutuk Hannah, kuda mereka kembali bergerak dan Hannah kembali menyerang adik Randika. Randika tidak mengeluarkan suara sama sekali, dia hanya memegang pinggang Hannah. Hannah merasa aneh pada saat ini, dia tiba-tiba menyadari benda keras apa yang ada di belakang pantatnya. Menyadari hal ini, wajah Hannah benar-benar merah seperti tomat. Kakˇ­ apa-apaan ini! Semua orang masih terlihat bergembira dan tertawa, sedangkan Hannah dan Randika terjebak dengan rasa malu. Hati Hannah mulai berdetak tidak karuan. Dia dapat merasakan setiap kudanya bergerak, benda keras dan panjang itu menyerang pantatnya tanpa ampun. Sejak dia mengerti benda apa itu, Hannah mulai bernapas terengah-engah dan badannya mulai panas. Akhirnya, Randika memecah keheningan. "Han, tolong jangan bergerak. Jika kamu terus menggeseknya, aku akanˇ­" Randika terbatuk. Randika tidak tahu harus melanjutkan kata-kata yang memalukan itu lagi atau tidak. Lagipula, ini tempat umum dan dia tidak bisa berdiri begitu saja ketika penisnya mengeras dan membesar seperti ini. Hannah tidak bisa berkata apa-apa, ini semua salah kuda mereka. Ketika kuda itu bergerak kembali, Randika merasa bahwa dia sudah berada di ujung tanduk. Meskipun dia ingin mengeluarkannya, dia tidak ingin kembali dengan celana dalam yang basah. Sambil menghela napas, dia memeluk Hannah dengan erat dengan kedua tangannya. Randika lalu berbisik. "Han, tolong jangan bergerak sampai kita berhenti." Ketika mereka berpelukkan, Hannah semakin dapat merasakan benda keras tersebut. Meskipun dia malu setengah mati, dia tidak berani bergerak sama sekali. Kedua orang ini bisa mendengar detak jantung mereka, keduanya benar-benar gugup. Di telinganya, Hannah dapat merasakan hembusan napas hangat dan buru-buru Randika. Dia dapat merasakan tangan besar Randika memeluknya dengan kuat, perasaan seperti ini membuat Hannah merasa nyaman sekaligus pasrah. Sedangkan Randika sendiri, dia berusaha sekuat tenaga untuk menenangkan dirinya. "Kak, apa kamu sudah baikan?" Akhirnya Hannah bertanya meskipun malu. Randika sudah hampir berhasil membuang pikiran kotornya. Karena Hannah tidak berani bergerak, stimulus yang diberikannya benar-benar berkurang drastis. "Sebentar lagi." Randika masih memeluk erat Hannah. Hannah sepertinya menggumamkan sesuatu dengan suara yang kecil, tetapi semua itu bisa didengar oleh Randika berkat pendengaran supernya. Pada saat ini, Hannah yang tomboy menjadi lunak di pelukannya Randika. Pada saat ini, komidi putar akhirnya perlahan mulai berhenti. Satu per satu orang mulai turun, Randika menunggu sebentar agar tidak ada orang yang melihat kondisinya yang sekarang. "Han, turunlah." Kata Randika dengan lembut. Setelah turun, Randika segera menjernihkan pikirannya dan kondisinya kembali normal dengan cepat. Akhirnya kedua orang ini turun dan menyusul yang lain. Teman-temannya tidak ada yang menyadari keanehan ini, tetapi Roberto menatap mereka dengan tatapan tajam. Setelah turun dari komidi putar, hebatnya Hannah tidak mengomeli atau berkomentar apa-apa. Ketika Randika merasa dirinya aman, dia dapat mendengar Hannah berkata dengan wajah yang merah. "Kak, apa yang terjadi barusan, jangan pernah menggunakannya untuk berpikiran yang aneh-aneh." Eh? Seharusnya momen ini adik iparnya berkata bahwa dia akan membeberkan ini pada Inggrid bukan? Kenapa reaksinya berbeda hari ini? Melihat wajah malunya itu, Randika hanya tersenyum. "Han, kamu tenang saja. Aku tidak akan menggunakannya untuk yang aneh-aneh tetapi aku akan menyimpan kenangan ini di hatiku." "ˇ­." Hannah mengangkat kepalanya dengan marah. Tetapi, pada akhirnya dia tidak menyerang sama sekali. Pada saat ini, Roberto berkata sambil tersenyum. "Berikutnya bagaimana kalau kita bermain itu?" Roberto menunjuk ke bianglala mini. Sekali lagi, para lelaki berusaha memenangkan hati pasangan mereka. Di ruangan privat seperti itu, banyak kejadian yang bisa terjadi. Pada saat ini, tiba-tiba ada suara teriakan seseorang. "Ah! Lihat, anak itu akan jatuh!" Semua orang langsung menoleh ke atas, mereka dapat melihat anak itu bergelantungan di pintu dan akhirnya jatuh! "Ahhhhh!" "Awas!" Semua orang terkejut, tetapi mereka tahu bahwa anak itu akan mati begitu mendarat di lantai. Mata Randika berkedip, posisinya yang sekarang berada sangat dekat dengan anak kecil itu. Ketika Randika mau bergerak, dia melihat sebuah bayangan melintasi dirinya. Kecepatannya tidak begitu cepat, tetapi reaksinya benar-benar cepat. Dalam sekejap dia sudah berada di posisi mendarat anak kecil itu. Dia adalah Roberto! Hannah dan teman-temannya sudah berteriak histeris ketika melihat anak kecil itu terjun bebas. Roberto sudah mengulurkan kedua tangannya ke atas dan bersiap menangkap anak kecil itu. Di bawah tatapan mata orang-orang, Roberto berhasil menangkapnya dengan kedua tangannya! Namun, suara benturan keras tidak dapat dihindari. Roberto terjatuh karena kuatnya gaya gravitasi anak kecil itu ketika dia menangkapnya. Chapter 380: Air Putih Biasa? Randika memperhatikan dengan baik Roberto, seharusnya kedua tangan bocah itu patah karena kuatnya tekanan yang dia terima. Kejadian ini benar-benar terlalu cepat, tahu-tahu semuanya dapat melihat bahwa anak kecil yang terjatuh itu selamat dan dipeluk erat oleh Roberto. "Gila, Roberto benar-benar seorang pahlawan." Para pengunjung yang lain segera menghampiri Roberto. Meskipun anak kecil itu selamat, rasa takut dan panik masih membekas di wajahnya. Anak ini masih berumur 3 atau 4 tahun, masih terlihat imut. Di lantai, Roberto terlihat kesakitan. "Kalian berdua baik-baik saja?" Tanya seseorang dengan wajah yang khawatir. Semua teman-teman Roberto juga berusaha membantunya untuk berdiri. Pada saat ini, bianglala sudah berhenti berjalan dan semua orang mengerumuni Roberto. Dengan bantuan temannya, Roberto sudah berdiri dengan wajah yang pucat. Semua orang dapat melihat bahwa tangan Roberto terkulai lemas. "Aku tidak apa-apa." Roberto terlihat menahan sakitnya dan tersenyum. Hati para perempuan ini langsung mengepal dengan kuat. "Bagaimana mungkin kamu baik-baik saja? Ayo cepat kita ke rumah sakit!" "Benar, ayo cepat ke rumah sakit." Bahkan beberapa orang terlihat ingin mengantarkan Roberto karena kagum dengan tindakan heroiknya. "Aku bisa menyembuhkannya." Pada saat ini, Randika bersuara dan membuat semua orang menoleh. Roberto sendiri menoleh dan melihat Randika berkata padanya. "Aku pernah membenarkan tulang yang dislokasi, tulangmu hanya copot dari sendinya jadi cukup dikembalikan seperti biasa." "Ngomong apa kamu? Lebih baik kita ke rumah sakit untuk jaga-jaga." Pengunjung di sebelah Roberto tetap menyarankannya untuk tetap ke rumah sakit. Hannah terlihat tidak terima dengan kata-katanya. "Kakakku ini benar-benar ahli dalam ilmu pengobatan. Kalau cuma mengembalikan tulang ke tempatnya, itu cuma perkara mudah bagi dirinya." Roberto hanya tersenyum. "Kalau tidak keberatan, tolong sembuhkan aku." Randika mengangguk, kemudian dia meraih tangan kanan Roberto dan berkata. "Ini mungkin sakit sedikit, jadi tahanlah sebentar." Roberto tersenyum. "Tidak masalah." Setelah itu, Randika menarik tangannya dengan keras. Kekuatan besar ini seolah-olah ingin mencabik lengan Robert, wajahnya langsung berubah menjadi putih. Rasa sakit yang luar biasa langsung merembes ke otaknya, giginya dia gertakkan dengan keras. Tidak ada reaksi apa-apa? Randika cukup terkejut. Menurutnya Roberto ini seharusnya memiliki kemampuan bela diri, orang-orang yang memiliki kemampuan bela diri biasanya secara tidak sadar akan bereaksi dengan menarik tangannya ataupun memasang kuda-kuda. Sepertinya dugaannya salah? "Apakah dia baik-baik saja?" Beberapa orang bertanya pada Randika, wajah mereka terlihat khawatir. "Ah, aku barusan salah menariknya. Aku perlu melakukannya sekali lagi, apa kamu siap?" Kata Randika dengan nada sedikit malu. Dengan wajah pucatnya, Roberto memaksakan dirinya untuk tersenyum dan mengangguk. Pada saat yang sama, Randika kembali menarik dengan keras dan kasar. Masih tidak ada reaksinya? Setelah mencoba 2x, Randika mulai ragu-ragu dengan identitas Roberto. Orang-orang di sekitarnya mulai terlihat marah ketika melihat Randika. "Hei, kamu beneran bisa menyembuhkannya atau tidak? Jika kamu terus begini, dia bisa mati!" "Sudah, cepat bawa dia ke rumah sakit!" Randika berkata dengan wajah malunya. "Sebentar, sekali lagi pasti berhasil." Setelah berkata seperti itu, Randika menarik tangannya sekali lagi dan terdengar suara klik. Rasa sakit Roberto secara bertahap menghilang dan tangan kanannya mulai pulih kembali. Randika juga menarik tangan kirinya dan membetulkannya. "Seharusnya kamu sudah baik-baik saja." Randika berdiri dan tersenyum, Hannah sendiri juga terlihat bangga. "Mana mungkin hal seperti ini menyusahkan kakak iparku." "Hahaha terima kasih, terima kasih. Kalau begitu, bagaimana kalau kita kembali jalan-jalan?" Kata Roberto sambil tersenyum. Meskipun begitu, wajahnya masih terlihat pucat karena 2 serangan Randika tersebut. "Kak, terima kasih sudah menyembuhkanku. Aku sendiri juga malas kalau harus menginap di rumah sakit." Kata Roberto pada Randika. "Hahaha sama-sama." Randika membalas senyumannya. "Ini pekerjaan yang mudah." Apakah dia benar-benar baik-baik saja? Hati Randika masih dalam keadaan ragu. "Ayo kita main lagi, masih banyak mainan yang menunggu." Kata Roberto. "Apa tanganmu baik-baik saja?" Tanya teman perempuannya dengan wajah khawatir. "Tidak masalah, bukankah aku terlihat baik-baik saja?" Kata Roberto. Kemudian sekumpulan mahasiswa ini kembali bermain lagi. Tidak lama kemudian, waktu untuk berpisah telah datang. "Kita pergi dulu ya, nanti kalau sempat kita jalan-jalan bersama lagi." Kata Roberto sambil tersenyum. "Hati-hati." Semuanya mulai pulang masing-masing. Hannah juga berpamitan dengan teman-temannya, dia berniat untuk pulang bersama dengan Randika. "Kak, Roberto memang orang yang menawan ya. Hatinya benar-benar hangat." Ketika tidak ada orang, Hannah langsung memuji Roberto. "Iya, iya." Randika hanya menguap. "Ketika kita haus, dia tidak ragu-ragu membelikan kita semua air." Hannah tersenyum. Air? Tatapan mata Randika langsung berubah menjadi tajam. "Han, cepat berikan botol airnya." Hannah terlihat bingung, apakah kakak iparnya ini haus? Kemudian dia mengeluarkan botol airnya dari dalam tas dan memberikannya pada Randika. "Tadi Roberto membelikan kita sekresek air putih dan semuanya dapat satu per satu." Kata Hannah. Randika menatap botol air tersebut. Jika dugaannya benar, seharusnya air di dalam ini ada sesuatunya. "Kak, apakah ada yang salah dengan airnya?" Tanya Hannah. Randika menggelengkan kepalanya. "Kita tidak akan tahu sebelum kita memeriksanya." "Kak, apa kak Randika mencurigai Roberto?" Pada saat ini, Hannah bisa merasakannya. Akhirnya dia menyadari bahwa tingkah laku Randika memang aneh apabila mengenai Roberto. Randika menggenggam erat botol airnya. "Han, ketika kita bertemu dengan Roberto pertama kali, aku dapat merasakan bahwa lelaki itu berbahaya." "Merasakan?" Hannah lalu menjadi marah. "Kak, tidak baik berprasangka buruk sama orang lain." "Jadi kamu tidak berprasangka buruk saat kita naik komidi putar?" Randika langsung mengalihkan topik. Wajah Hannah berubah menjadi merah, dia lalu mendengus dingin. "Aku tidak mau berbicara denganmu lagi." Tidak lama kemudian, mereka telah sampai di perusahaan Cendrawasih. Sesampainya di sana, Hannah segera berlari ke kantor Inggrid dan Randika kembali ke laboratoriumnya. "Oh pak Randika sudah kembali? Ada yang ketinggalan?" Sindiran Adrian bisa langsung terdengar. "Sepertinya pak Randika kepanasan jadinya dia mengungsi ke sini." Tambah orang di sampingnya. "Tidak mungkin, pasti dia habis ditolak sama cewek." Kata Axel sambil tertawa. Randika mengabaikannya dan menaruh botol air yang dipegangnya di meja. "Cepat, periksa kandungan air di botol ini." Adrian mengambil botol tersebut dan bertanya. "Apakah pak Randika mau jualan air putih versi baru?" "Sudah cepat kerjakan, kalau hasilnya keluar cepat beritahu aku." Randika kembali duduk di kursinya. "Baiklah." Adrian dengan cepat memeriksanya. Tidak lama kemudian, Adrian membawa hasil penelitiannya pada Randika. "Pak, air di dalam botol ini normal." "Maksudmu normal?" Tanya Randika. Wajah Adrian terlihat bingung. "Ini cuma air putih biasa pak, tidak ada yang aneh sama sekali." Air putih biasa? Chapter 381: Serangan Andalan Hannah! Randika terdiam beberapa saat, apakah instingnya itu salah? Tidak mungkin! "Pak, ini benar-benar cuma air putih biasa." Kata Adrian sambil menyerahkan kembali botol air tersebut ke Randika. Randika meraihnya dan memperhatikannya. Matanya penuh dengan keraguan. Apakah Roberto benar-benar bukan sebuah ancaman? ...ˇ­.. Waktu berjalan dengan cepat, sekarang sudah waktunya untuk pulang. Hari sudah mulai malam ketika Randika dan kedua kakak adik itu berkendara menuju rumah. "Han, bagaimana dengan mobilmu?" Tanya Randika. "Butuh waktu beberapa lama sampai benar-benar betul." Balasnya. Randika duduk di bagian belakang, dia menatap kedua perempuan cantik ini sambil tersenyum nakal. Dia benar-benar sudah di ujung tanduk, nafsunya semakin membesar tiap detiknya. Ketika sampai di rumah, Hannah mengomel betapa capeknya dirinya. Dia langsung naik ke atas dan masuk ke dalam kamarnya. Randika mengambil bir yang ada di dalam kulkas dan duduk di sofa sambil menonton TV. Kebetulan dia sedang menonton acara berita, dan kebetulan juga beritanya mengenai pembunuh berantai yang abnormal. "Menurut keterangan polisi, sebuah mayat perempuan kembali ditemukan di sungai tengah kota. Korban berusia 22 tahun dan masih menempuh pendidikan akhirnya. Korban ditemukan dengan dadanya yang terbuka dan jantungnya sudah tidak ada. Pada saat ini, pihak kepolisian sedang mengolah TKP. Sebelum ini, sudah ada 8 korban lainnya yang ditemukan dengan kondisi yang sama. Polisi mengatakan bahwa ini adalah ulah seorang pembunuh yang pertama kali melakukan aksinya sebulan yang lalu. Pelaku diidentifikasikan sebagai seorang yang abnormal yang menarget perempuan usia 20 tahun. Polisi juga menyampaikan kepada para penduduk agar tidak keluar sendiri pada malam hari, khususnya perempuan. Kita juga dihimbau agar tidak pergi ke tempat yang sepi ... " Dalam sekejap, Randika sudah memindahkan saluran TVnya. Setelah mendengarkan informasi tersebut, Randika hanya menggelengkan kepalanya. Jelas mencari pelakunya sangat susah apabila mereka tidak tahu titik awal untuk mencarinya. Randika mengambil sekaleng bir lagi sekaligus ke toilet. Karena berniat untuk ganti baju sekalian, Randika pergi ke kamar mandi di lantai 2. Ketika masuk, Randika langsung membuka risleting celananya dan membidik. Suara air mengalir dapat terdengar, Randika menikmati momen nikmat ini selama 10 detik. Setelah mengguyurnya, Randika mulai menutup risleting celananya dan berniat untuk keluar. Tetapi, tiba-tiba dia menyadari ada sebuah sosok di pinggir kamar mandi. Hannah menatap Randika dengan tatapan kosong. Hannah? Randika benar-benar bingung, tangannya yang sekarang masih menggoyang-goyangkan penisnya untuk membuang sisa-sisa air kencing yang ada. Hannah sendiri hanya menatap Randika yang sedang asyik sendiri dengan kedua tangannya menutupi dadanya yang terbuka. Satu detik, dua detik, tiga detik. Setelah momen hening, akhirnya Hannah dapat memproses kejadian ini dengan benar. Di bawah tatapan Randika, dia memejamkan mata, membuka mulutnya dan menarik napas yang dalam. Detik berikutnya, suara teriakan yang luar biasa keras membuat kuping Randika menjadi tuli. Randika benar-benar kewalahan, dia langsung menerjang maju untuk membungkam mulut adik iparnya ini. Tetapi ketika dia berlari, tiba-tiba dia terpeleset oleh air. Sialan, kenapa lantainya licin! Randika meluncur tidak terkendali menuju Hannah, tangannya melambai-lambai ketika hendak terjatuh. Tiba-tiba, tangan Hannah yang melindungi kedua dadanya itu menahan tubuh Randika. Randika yang tidak bisa berhenti, akhirnya secara tidak sengaja mendarat dan meremas dada Hannah. Hati Randika benar-benar ketakutan, kejadian ini benar-benar tidak sengaja. Melihat Hannah yang hanya bisa tercengang, Randika dengan cepat mengambil kembali tangannya. Tetapi pijakannya itu tidak stabil dan kembali terpeleset, kali ini dia terjatuh hingga ke lantai. Sialan, sakit sekali! Randika yang menutup matanya ketika jatuh itu hanya bisa mengutuk kesialannya. Ketika dia membuka matanya, dia membeku. Randika benar-benar membeku dan membuka mulutnya lebar-lebar. Di hadapannya sekarang, ada dua kaki putih dan mulus milik Hannah. Ketika dia jatuh tadi, Randika menimpa dan menjatuhkan Hannah bersamanya. Dan sekarang, kepala Randika berada tepat di kedua paha adik iparnya itu. Melihat buah terlarang berwarna pink itu, Randika benar-benar terpukau. Indah sekali, benar-benar indah sekali. Ketika Hannah ingin berteriak, dia menyadari sosok Randika yang menghilang. Pada saat yang sama, dia meraih handuk yang terjatuh di lantai dan menutupi dadanya. Ketika sosok Randika menghilang, Hannah merasa bingung sekaligus lega. Tetapi ketika dia hendak berdiri, dia menyadari bahwa kepala Randika berada di kakinya dan terdiam. Hannah benar-benar malu. Dia baru saja selesai mandi dan hendak tidur, dia benar-benar tidak menyangka akan diintip sedemikian rupa oleh Randika. Tubuh bagian atasnya sudah dibalut oleh handuk tetapi bagian bawahnya benar-benar terekspos. Untuk perempuan, mana yang lebih penting? Atas atau bawah? Pertanyaan yang sama untuk para lelaki, atas atau bawah? Tentu saja bawah! Oleh karena itu, Hannah berteriak bagaikan singa mengaum. Dalam sekejap dia menendang Randika dan melepaskan diri. "Kak, kau benar-benar orang biadab!" DUAK! Kaki Hannah berhasil mengenai wajah Randika dan meninggalkan jejak di sana. Randika hanya bisa menerima serangan ini dan mengerang kesakitan, tetapi benaknya masih berusaha mengabadikan momen langka ini. Sepadanˇ­ Semua ini sepadan! Ketika Randika berdiri, Hannah sudah memakai bajunya. Bagian atasnya dia memakai baju rumah yang tipis dan dia hanya memakai celana dalam berwarna putih saja. Kakinya yang panjang dan mulus itu tampil menggoda di depan matanya. "Han, aku benar-benar tidak tahu kamu ada di dalam." Kata Randika. Melihat reaksi Hannah yang tidak bagus, dia menambahkan. "Aku berani bersumpah bahwa ini semua hanya kecelakaan. Jangan khawatir, aku tidak melihat apa-apa." Kata-kata ini benar-benar tidak dapat meyakinkan Hannah, dia terlihat menggertakan giginya dan mengepalkan tinjunya. "Apa kakak tidak capek berbohong terus seperti itu?" Hannah benar-benar malu dilihat telanjang seperti ini. Ketika memikirkannya kembali, wajahnya memerah seperti tomat. "Sungguhan aku tidak lihat apa-apa." Randika menggelengkan kepalanya dengan cepat, dia harus meyakinkan dan memenangkan hati Hannah sebelum dia menyerang dirinya dengan senjata andalannya. "Sungguhan?" Wajah Hannah terlihat jahat. "Sungguhan!" "Kakak yakin?" Hannah masih terlihat ragu-ragu. "100%." Wajah Randika terlihat serius. Hannah hanya bersiul dan menggumam. "Terserah apa kata kak Randika, pokoknya hari ini aku akan tidur sama kak Inggrid." Tuh kan!!! Randika menggelengkan kepalanya untuk sementara waktu, apakah ini juga karena insiden di mall tadi siang? Kenapa adik iparnya ini begitu kejam? Randika merasa harus menenangkan hati Hannah, kalau tidak bisa-bisa dia tidak akan berhubungan seks lagi dengan istrinya! Mengingat betapa menggairahkannya siang hari tadi, tentu saja adik kecil Randika itu sudah tidak tahan lagi. Ketika dia hendak menyusul Hannah yang keluar dari kamar mandi, HP Randika bergetar. Siapa yang menelepon dirinya di situasi kritis seperti ini? Randika terkejut ketika melihat ID penelepon. Rupanya itu Christina! Chapter 382: Christina dalam Bahaya! Ketika teleponnya itu tersambung, suara Christina terdengar sedikit panik di balik teleponnya. "Ran, kamu di mana?" "Kenapa memangnya?" Dia mengerti ada yang aneh dari suaranya Christina, Randika langsung bertanya. "Aku barusan keluar dari rumahnya muridku, aku merasa ada yang membuntutiku daritadi. Aku berusaha lari tetapi kakiku terkilir, sekarang aku terjebak di jalan yang sepi dan tidak ada orang sama sekali. Ran, tolong akuˇ­ aku takut!!" Suara Christina bergetar, dia tentu mengerti berita mengenai pembunuh berantai yang masih buron. Randika terkejut, dia langsung bertanya. "Kamu di mana? Aku segera ke sana!" Setelah mendapatkan alamatnya dari Christina, tiba-tiba dia berteriak. "Tidak! Orangnya masih mengikutiku!" Randika jelas khawatir, dia langsung berteriak. "Bertahanlah, aku akan segera datang!" Hannah yang santai duduk di sofa, tiba-tiba merasakan hembusan angin yang kuat dan sosok Randika di sampingnya sudah menghilang. ...ˇ­. Di kejauhan, Christina dapat melihat sosok seseorang yang berjalan mengikutinya. Hal ini membuatnya ketakutan setengah mati. Yang menerangi malam harinya yang gelap ini hanyalah lampu jalan yang terus berkedip dari tadi. Seluruh toko tertutup dan tidak ada orang di jalan, tempat ini benar-benar sepi. Awalnya, orang tersebut mengikutinya dari jauh. Tetapi lama kelamaan, jarak di antara mereka semakin menyempit. Ketika Christina menoleh ke belakang, dia hanya bisa melihat sosok gelap yang memakai sebuah topeng setan Jepang yang mengerikan. Ketika Christina mempercepat langkahnya, langkah orang tersebut juga semakin cepat. Namun, dia masih menjaga jaraknya dengan Christina, mereka terlihat sedang main kucing-kucingan. Christina sudah melihat mengenai berita pembunuhan di kota Cendrawasih sebelumnya, samar-samar dia merasa bahwa orang di belakangnya ini adalah pembunuh yang sedang diburu polisi tersebut. Randika, kamu harus cepat datang! Christina benar-benar cemas di dalam hatinya. Dia awalnya ingin meminta tolong pada orang-orang yang di dalam toko, tetapi tidak ada tanggapan sama sekali ketika dia menggedor-gedor pintunya. Sosok mengerikan itu masih mengikutinya, kehadirannya membuat Christina semakin berdebar-debar. Awalnya Christina dapat menekan kekhawatirannya ini, tetapi seiring berjalannya waktu, dia semakin takut dan gelapnya malam justru makin memperparah kondisi mentalnya. "Siapa kamu? Apa yang kamu mau dariku!" Christina berhenti berjalan dan menoleh ke sosok misterius di belakangnya. Sosok misterius itu hanya berdiri diam, namun wajah di balik topengnya sudah tersenyum mengejek. Jika Christina dapat melihatnya, tatapan matanya itu sudah dipenuhi oleh nafsu dan kejahatan. Dia memang sosok pribadi yang aneh dan abnormal. Sejak awal kali membunuh, nafsu di tubuhnya tidak pernah puas. Setiap tetes darah membuatnya terangsang dan jeritan wanita membuatnya mencapai klimaks. Setiap kali dia melihat wanita cantik, hal pertama yang dia pikirkan adalah bagaimana suaranya nanti ketika dia berteriak dan memohon ampun atas nyawanya. Memikirkan hal ini, tubuhnya bergemetar gembira dan dia sudah tidak sabar mencabut jantung korbannya sebagai koleksi pialanya! Setelah itu, dia mulai menelanjangi korbannya dan melakukan penetrasi berulang kali. Meskipun korbannya sudah lama mati, pembunuh ini masih bisa terangsang karena masih hangatnya darah yang mengalir. Ketika dia menutup matanya sedikit, napasnya mulai tidak teratur dan tubuhnya kembali gemetar. Luar biasa, benar-benar luar biasa! Darah itu, teriakan itu, pialaku itu, semuanya akan menjadi milikku! Tatapan matanya yang tajam lalu jatuh pada sosok Christina. Sosok misterius ini tidak menjawab pertanyaannya, dia hanya berjalan perlahan menuju dirinya. Di tengah jalan yang sepi ini, Christina benar-benar gugup. Dia lalu berteriak kembali. "Apa kau pembunuh yang ada di berita itu?" Pihak lain tetap tidak menjawab, dia hanya berjalan perlahan menuju Christina. Setiap langkah yang dia ambil membawa secercah ketakutan untuk dirinya. Ketakutan itu perlahan menjadi besar. Christina benar-benar sudah ketakutan, meskipun kakinya terkilir, dia mulai menyeretnya dan berlari. Namun, kecepatannya itu benar-benar pelan. Karena saking takutnya dan ditelan oleh rasa gugup, dia tersandung. Sepatu haknya copot sebelah, dia tidak repot-repot mengambilnya dan terus berlari. Ketika dia melihat ke belakang, dia melihat jarak mereka sudah dekat dan sosok pembunuh ini juga ikut berlari. Pada saat ini, dia melihat sekumpulan orang berjalan tidak jauh dari sana. Kedua matanya langsung bersinar dengan terang dan harapannya kembali muncul di matanya. Ketika dia ingin berteriak meminta tolong, tiba-tiba sebuah tangan menutupi mulutnya dan tidak ada suara yang bisa keluar dari mulutnya. Dalam sekejap, Christina bersatu dengan kegelapan malam. ..... Kecepatan Randika benar-benar cepat, dia hampir memakai seluruh tenaga dalamnya sekaligus. Dalam beberapa menit, dia berhasil mencapai jalan yang dimaksud oleh Christina. Ketika dia sampai, jalanan sudah sepi. Hati Randika sudah mengepal, dia mulai mencari jejak yang ada. Tiba-tiba, dia menemukan sebuah sepatu hak di jalan. Kali ini, hati Randika ditelan oleh kekhawatiran. Dia kembali berjalan dan berusaha menemukan jejak lainnya. Pada saat yang sama, di sebuah gang yang sepi, orang bertopeng itu menyeret Christina ke sudut gang. Melihat wajah Christina yang ketakutan, dia makin terangsang. Benar-benar wajah yang cantik! Dia tidak sabar merasakan hangatnya darah perempuan ini. "Tidak!! Lepaskan aku!" Christina berhasil lepas dari genggamannya, dia langsung bersiap menyerang dengan tasnya. "Sudah tidak usah takut, wajahmu yang cantik itu akan kupajang di lemari pialaku." Lelaki ini mulai berbicara, nada suaranya dipenuhi dengan kejahatan. "Ketika aku mencabut jantungmu, kamu tidak akan merasakan rasa sakit lagi di hidupmu." Christina melihat pria itu mendekatinya secara perlahan, hatinya sudah ketakutan dan tangannya yang memegang tas tangannya itu sudah gemetar tanpa henti. "Jangan bergerak lagi, aku sudah memanggil pacarku dan dia akan datang sebentar lagi! Dia akan menghajarmu sampai habis!" "Pacar?" Nada suaranya tidak berubah sama sekali. "Tidak masalah, aku akan membunuhmu di depan matanya. Kecantikanmu ini sangat disayangkan apabila dimiliki oleh satu orang saja." Christina sudah mulai kehilangan harapannya, sepertinya Randika tidak sempat menyelamatkan dirinya. Namun, Christina tidak ingin menyerah. Dia masih ingin melihat senyuman hangat pria itu lagi. "Tolong! Siapapun tolong aku!" "Hahaha kamu pikir akan ada yang menyelamatkanmu?" Di balik topengnya, dia sudah tertawa lepas bagai orang gila. "Tidak akan ada yang menyelamatkanmu!" Ketika dia selesai berbicara seperti itu, dia memegang tangan Christina. Dia sudah tidak sabar ingin mencabut jantung perempuan cantik ini dengan kedua tangannya! Dia ingin merasakan semburan darah dan cahaya kehidupan yang perlahan memudar dari diri perempuan cantik ini. Dia ingin merasakan detak jantung perempuan ini berdetak di tangannya, itu benar-benar perasaan yang sangat menyenangkan! Christina sudah menutup kedua matanya dan menyerangnya dengan tas tangannya. Tetapi serangannya itu benar-benar lemah. Tamat sudah riwayatnya! Namun pada saat ini, ada suara orang berdehem dari belakangnya. Suara ini bagaikan petir yang menyambar dirinya, benar-benar membahana! Terlebih lagi, pembunuh abnormal ini dapat merasakan sebuah sosok yang mengerikan di belakangnya. Dia merasa bahwa dirinya ditindih oleh ratusan gunung, benar-benar menyesakkan. Orang itu ahli bela diri! Chapter 383: Satu Peraturan Sosok misterius yang muncul di belakangnya membuat pembunuh ini melepas genggamannya pada Christina dan menerjang ke arah orang tersebut. Dia langsung melayangkan sebuah pukulan keras, tetapi serangan Randika langsung mengenainya tanpa kesusahan. Kedua tinju mereka bertemu dan tenaga dalam Randika langsung mengalir dan mengamuk di tubuh si pembunuh tersebut. Ketika berpisah dan melihat wjah Randika, nada suaranya berubah menjadi tinggi bagaikan dia melihat seorang hantu. "Kamu jangan-janganˇ­" Randika hanya mengerutkan dahinya. Tangannya kembali mengepal dan kembali menyerang. Ketika mereka bertukar pukulan, otak Randika juga berputar. Kata-kata dari pembunuh ini sudah jelas bahwa dia mengenal dirinya! Berarti dengan kata lain, dia seharusnya mengenal pembunuh ini. Siapa orang ini? Hati Randika masih dipenuhi dengan pertanyaan. Karena pikirannya penuh ini, serangannya menjadi tidak seberapa fatal dan pembunuh tersebut berhasil menghindari setiap pukulan Randika. Namun, tatapan mata Randika berubah menjadi serius dan melancarkan serangan terkuatnya. Tangan pembunuh itu naik dan melindungi dadanya, tetapi serangan Randika berubah di detik terakhirnya. Dalam sekejap, Randika sudah meloncat tinggi dan berada di atasnya. Ketika pembunuh itu menoleh, Randika sudah menerjangnya dari atas dengan kecepatan penuh. Namun, reaksi pembunuh ini juga tidak kalah cepat. Ketika Randika hendak meraih tangannya, dia sudah menghindar dan mundur beberapa langkah. Namun rupanya, serangan Randika ini memang dari awal tidak ditujukan olehnya. Randika yang sekarang berhasil bertukar posisi dengan si pembunuh dan Christina berada di belakang punggungnya. Berlindung di balik punggung Randika, Christina sudah meringkuk ketakutan di punggungnya. Dia sangat bersyukur bisa melihat sosok pria idamannya ini sekali lagi. "Bedebah, bisa-bisanya kamu mengganggu waktu senangku!" Meskipun wajahnya tertutup oleh topeng, Randika dapat melihat bahwa ekspresi wajahnya pasti muram dan penuh dendam. "Apakah kamu yang melakukan pembunuhan akhir-akhir ini?" Tanya Randika dengan nada dingin. Pembunuh itu mencibir. "Aku tidak menyangka pacarmu adalah orang ini. Tahu gitu aku seharusnya membunuhmu lebih cepat." Ketika dia berbicara, sepertinya dia mengubah nada suaranya dengan paksa agar tidak dapat dikenali. Hal ini rupanya berhasil karena Randika sama sekali tidak dapat mengenali suara tersebut. Randika lalu berkata dengan nada dingin. "Jadi sepertinya kamu dan aku mempunyai masa lalu." "Diam! Jangan sok akrab denganku!" Bentak si pembunuh. "Kau itu sama dengan semut, aku bisa menginjak-injakmu dengan mudah kapan pun aku mau!" "Tidak perlu menggertak seperti itu." Mata Randika bersinar tajam. "Kamu lah yang akan berbaring di kamar mayat malam hari nanti." "Aku tahu kekuatanmu itu mengerikan, tetapi kamu tidak ada apa-apanya di mataku!" Setelah berkata seperti itu, dia kembali menerjang ke arah Randika. Pada saat ini, seluruh kebencian dan kekuatannya tertuju pada Randika. Siapapun yang berani mengganggunya akan mati di tangannya! Tinjunya dengan cepat mengincar wajah Randika, dengan kecepatan yang dia miliki, tinjunya ini akan sekeras besi ketika menghantam wajah lawannya Menghadapi serangan ini, Randika meresponnya dengan cara yang simpel. Dia bergerak ke samping sedikit untuk menghindar dan menangkap tinjunya itu. Setelah itu, dia menariknya dengan seluruh kekuatannya. Suara tulang keluar dari sendinya dapat terdengar renyah dan nyaring. Pembunuh itu benar-benar terkejut, dia hanya bisa pasrah ketika lengannya itu mengalami dislokasi. Rasa sakitnya mulai menyerang tubuhnya, tetapi tenaga dalamnya merembes keluar dan mengarah pada Randika. Ketika dia hendak menyerang dengan kakinya, sebuah tinju sudah mendarat di wajahnya. DUAK! Tinju Randika mendarat tepat di topengnya, hal ini membuatnya terpental. "Kamu terlalu lemah." Kata Randika dengan nada yang dingin. Ketika pembunuh itu berdiri kembali, dia menatapnya dengan tajam tanpa berkata apa-apa. Kekuatannya itu tidak lemah, setidaknya dia berpikiran seperti itu. Beberapa tahun ini, dia berguru di beberapa ahli bela diri. Kemajuannya dalam ilmu bela diri sangat cepat, dia yang sekarang berada di jajaran atas peringkat Dewa! Tetapi dia tidak menyangka bahwa dia akan bertemu dengan salah satu dari 12 Dewa Olimpus. Dia benar-benar tidak berdaya sama sekali di hadapan Ares. Bahkan sepertinya, lawannya ini belum mengerahkan 50% dari kekuatan aslinya. Dia merasa bahwa asalkan lawannya ini mau, dia bisa menghabisi dirinya kapan saja! "Sekarang, aku ingin melihat seperti apa wajah di balik topengmu itu." Kata Randika dengan santai. "Bahkan jika kamu kuat, kamu tidak akan bisa menangkapku." Si pembunuh itu menyeringai dan di detik berikutnya dia sudah berlari sekuat tenaga. Mau kabur? Apakah menurutmu itu keputusan yang bijak? Randika mendengus dingin, dia dapat dengan mudah menyusul pembunuh itu. Tetapi, tiba-tiba arah lari si pembunuh tersebut berubah dan menuju Christina. Dia lengah! Randika benar-benar marah, dia langsung berputar balik dan menerjang maju. Tangannya yang sudah menyerupai cakar itu menggenggam erat si pembunuh. Pada saat ini, percikan darah dari sobekan daging dapat terlihat memadati udara. Pembunuh itu mengerang kesakitan di balik topengnya. Dia langsung memegangi tangannya yang terkoyak karena serangan Randika yang brutal tersebut. Ada satu peraturan yang sangat dijunjung tinggi bagi Randika yaitu jika seseorang berani menyentuh wanitanya, maka dia pasti membunuhnya! Di bawah keagungan Ares sang Dewa Perang, pembunuh ini sama sekali tidak berdaya. Sekarang, Randika berdiri di atasnya dan mencengkeram erat topengnya. Dia ingin melihat, siapa yang berada di balik topeng ini. Tetapi tiba-tiba, ketika topeng itu hendak terlepas, ada sebuah kilatan tajam yang muncul dari balik tangan si pembunuh. Randika awalnya berpikir bahwa dia akan menyerang dirinya, dia segera memberi jarak di antara mereka. Namun tanpa diduga, kilatan tajam itu terlempar dan mengarah pada Christina. Terkejut, Randika langsung menerjang dan berusaha mengejar pisau tersebut. Ketika dia berhasil menangkapnya, rupanya masih ada beberapa pisau lagi yang dilempar oleh si pembunuh. Tenaga dalam dirinya langsung menyelimuti dirinya dalam sekejap. Kecepatannya meningkat dan pada akhirnya Randika berhasil memblokir semua serangan. Namun pada saat ini, si pembunuh memanfaatkan momen ini untuk kabur dengan cepat. Kilatan dingin muncul di tatapan mata Randika. Awalnya dia ingin mengejar dan memburunya, tetapi melihat sosok Christina yang ketakutan, dia mengurungkan niatnya tersebut. "Apakah kamu baik-baik saja?" Randika menghampiri Christina, dia menyadari bahwa perempuan cantik ini ketakutan setengah mati dan kondisinya benar-benar buruk. Tatapan matanya terlihat masih panik dan tubuhnya tidak bisa berhenti gemetar. Kakinya juga lecet-lecet dan tangannya penuh dengan tanah ketika dia terjatuh tadi. Bahkan stokingnya sudah robek dan rambutnya sudah berantakan. Benar-benar penampilan yang menyedihkan. Tiba-tiba, Christina melompat dan memeluk erat Randika. "Aku takut kamu tidak datang." Randika dengan lembut memeluk Christina dan membelai punggungnya. Setelah beberapa saat, Randika berkata dengan nada suara yang lembut. "Aku akan membawamu pulang." Chapter 384: Salah Mengartikan Undangan Christina terus menerus beristirahat di pelukan Randika, baginya ini sangat hangat dan nyaman. Ketakutannya perlahan menghilang. Dia merasa bahwa pelukannya ini membuat dirinya dapat melupakan segala keburukan di dunia ini. Melihat wanita cantik di pelukannya ini, Randika tersenyum dan bertanya dengan suara yang lembut. "Sudah baikan?" Christina hanya mengangguk pelan, kemudian tiba-tiba Randika memeluk pinggangnya dengan kuat dan menggendongnya. "Ah!" Christina mendesah pelan ketika Randika tiba-tiba menggendongnya, wajahnya berubah menjadi merah ketika melihat sosok pria ini dari dekat. "Aku masih bisa jalan!" Kata Christina sambil tersipu malu. "Kamu tidak usah sok kuat begitu, sekali-kali andalkan aku sepenuhnya." Kata Randika sambil tersenyum. Wajah Christina benar-benar malu, dia tidak menjawab sama sekali. Randika lalu berjalan sambil menggendong menuju rumah Christina. "Aku besok ada kelas, lebih baik kamu menurunkanku di sekolah saja." Kata Christina. "Baiklah." Randika mengangguk. Dia lalu membawa Christina ke jalan yang ramai dan memanggil taksi. Ketika supir taksi itu melihat Randika, dia terdiam seribu bahasa. Dia belum pernah melihat pelanggan yang pamer seperti ini. Dasar anak muda, mau jadi apa dunia ini! Christina memiliki kamar di asrama sekolah. Kamar ini merupakan fasilitas gratis yang diberikan oleh tempat kerjanya itu. Jika dia tidak memiliki kelas di pagi hari, dia akan pulang ke rumahnya. Jika ada kelas pagi, dia akan menginap di kamarnya tersebut. Hal ini sangat memudahkan dirinya. Di dalam taksi, Christina tidak pernah berhenti memeluk lengan Randika. Hanya dengan cara inilah dia merasa aman. Ini adalah ketiga kalinya dia diselamatkan oleh Randika. Pertama adalah ketika mereka pertama kali bertemu, Randika telah menyelamatkannya dari penyakit dadanya. Kedua adalah ketika dia diculik oleh pelaku penyelundupan manusia. Pada saat itu, Christina merasa bahwa hidupnya telah berakhir. Namun tanpa diduganya, Randika datang menyelamatkan dirinya. Dan yang ketiga kalinya adalah hari ini. Jika saja Randika telat 1 menit saja, mungkin pembunuh itu sudah mencabut jantungnya dari tubuhnya. Memikirkan hal ini, Christina kembali ketakutan dan tidak berani mengingat-ingatnya lagi. Setelah keluar dari dalam taksi, Randika kembali menuntun Christina. Secara perlahan, Randika membawa Christina ke asrama. Ketika Randika membukakan pintu kamarnya, hati Christina benar-benar merasa lega. "Apa kamu mau ganti baju dulu?" Tanya Randika. Christina mengangguk pelan. Ketika dia melihat pakaian yang dikenakannya, stoking yang dia pakai telah robek-robek dan bajunya penuh dengan tanah. Tetapi dia merasa sangat beruntung karena bsia lepas dari genggaman si pembunuh berantai tersebut. Ketika Christina selesai ganti baju, penampilannya jauh lebih baik tetapi sayangnya masih ada rasa panik di matanya. "Kalau begitu, aku pergi dulu ya." Kata Randika sambil tersenyum. "Beristirahatlah dengan baik." "Tidakˇ­?? Tiba-tiba Christina meraih bajunya. "Jangan pergiˇ­" Jangan pergi? Randika memikirkan kata-kata tersebut dengan sangat baik. Apakah Christina sudah benar-benar jatuh cinta dengan dirinya sampai-sampai tidak mau berpisah dengannya? Pada saat ini, Randika teringat ketika Inggrid diculik oleh Shadow. Kejadian mereka berdua ini mungkin sedikit mirip, kedua kejadian itu pasti meninggalkan trauma yang hebat bagi mereka berdua. Jadi kesimpulannya adalah Christina pasti masih merasa takut. Bagaimanapun juga, hati seorang perempuan mudah ketakutan jadi tidak heran dia butuh seseorang untuk menenangkan hatinya. Randika mengedipkan matanya, hatinya menjadi panas. Terlebih lagi, Christina sudah mengganti bajunya dengan baju santai yang menonjolkan kedua dadanya itu. Kedua lengan putihnya yang menggantung di udara, dua kaki panjang yang mulus membuat Christina terlihat sexy. "Baiklah aku tidak akan pergi." Kata Randika. "Bagaimana kalau kamu mandi dulu?" Ini semacam pertanyaan jebakan, jika dia setuju maka Randika pasti akan menginap malam hari ini. "Aku tidak mau mandi, aku hanya ingin bersamamu." Wajah Christina masih menunjukkan tanda-tanda panik, sosok pembunuh itu masih terpampang jelas di benaknya. Oh, tidak perlu mandi? Kamu ingin langsung? Randika mengedipkan matanya. Yah, nanti kita juga akan berkeringat jadi tidak apa-apalah, pikirnya. "Baiklah." Randika dengan cepat mengangguk dan membuka jaket yang dia pakai. Dia lalu perlahan membuka bajunya dan memperlihatkan otot-ototnya yang kekar itu. Sepertinya, Randika salah mengerti arti dari kata-kata Christina. "Ran, kamuˇ­" Christina benar-benar kehabisan kata-kata. Namun pada saat ini, Randika mulai mencopot celananya. "Mau apa kamu melepas celanamu?" Wajah Christina benar-benar terlihat bingung. "Lha kalau tidak telanjang gimana caranya melakukannya coba?" Kecepatan Randika benar-benar luar biasa, hanya perlu 3 detik untuk dirinya bercelana dalam saja. Hah? Melakukan apa? Christina masih bingung. Namun, Randika yang hanya bercelana dalam itu mulai berjalan menghampiri Christina, dia menggendongnya dengan paksa dan membawanya ke kasur. "Hei, mau apa kamu!" Christina benar-benar bingung. "Tentu saja melakukannya di kasur, kamu memangnya mau di lantai?" Randika tertawa dan menindih Christina dari atas. Tempat tidur itu mulai mengempes karena berat kedua orang ini. Randika memulainya dari bagian dada, Christina langsung ingin memarahinya. Tetapi, dia merasa bahwa ini memang salahnya karena berkata yang sangat ambigu bagi Randika. "Ran, maksudku bukan ini." Christina menangkap kedua tangan Randika yang baru saja mulai memainkan dadanya. Apanya yang bukan? Kedua tangannya itu baru 2 detik merasakan kedua gunung itu ketika dia mendengar kata-kata Christina barusan. "Aku masih ketakutan, aku ingin kamu menemaniku sampai aku tidur." Kata Christina. "Jadi kamu tidak ingin tidur denganku?" Randika benar-benar depresi. Jadi dia salah memahami undangan Christina ini? Randika yang telanjang dada itu ingin berdiri, tetapi lehernya dipeluk oleh Christina dengan erat. Randika jelas kebingungan, tetapi detik berikutnya Christina berbisik di telinganya. "Peluk aku dengan erat. Tentu saja, Randika yang penuh nafsu ini melakukannya bagai anjing yang baik. Dia memeluk tubuh sexy dan empuk ini, kedua dadanya yang besar penyet di dadanya. Namun setelah mereka berdua berpelukkan, tidak ada kelanjutannya sama sekali. Randika masih menunggu langkah berikutnya tetapi itu tidak kunjung datang. Dia berusaha melirik Christina tetapi perempuan itu rupanya menutup kedua matanya. Hmm? Kenapa tidak lanjut? Randika terus berpikir di dalam benaknya, dia mulai menggerakkan kedua tangannya. Ketika tangannya itu mulai berusaha melepaskan baju Christina, tiba-tiba Christina memeluknya lebih erat. "Jangan." Suara Christina terdengar sedih. "Aku hanya ingin berpelukkan denganmu." Randika berhenti dan melupakan segala hal nakal di benaknya. Sepertinya kejadian hari ini benar-benar membuat Christina ketakutan. Ini bukanlah waktu yang tepat untuk melakukannya. Randika mulai tenang, untuk sesaat kamar asrama ini penuh dengan keheningan. Keduanya tidak bergerak sama sekali, mereka hanya berpelukkan dalam keadaan diam di atas kasur. Sinar rembulan menerangi kedua pasangan ini dengan hangat. Setelah 10 menit, Randika dengan lembut memanggil namanya. Tetapi, tidak ada respon. Randika melirik dan menyadari bahwa Christina sepertinya sudah tertidur. Dengan sangat perlahan, Randika melepas pelukannya dan menyelimuti Christina. Setelah mencium keningnya, Randika pergi dan menutup pintu kamarnya dengan rapat. Chapter 385: Pagi Hari yang Berisik Saat Randika kembali ke rumah, waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam. Randika naik ke lantai atas tanpa menyalakan lampu, dia langsung mengendap-endap masuk ke kamarnya Inggrid. Setelah diperhatikan baik-baik, Inggrid terlihat tidur sendirian, tidak ada tanda-tanda Hannah di sana. Rupanya adik iparnya itu tidur di kamarnya sendiri. Randika dengan perlahan mengganti bajunya dan masuk ke dalam kasur. Karena Inggrid sudah tidur, dia tidak ingin membangunkannya hanya untuk berhubungan badan. "Sudah pulang?" Namun tiba-tiba, suara Inggrid dapat terdengar dan dia sudah menatap Randika lekat-lekat. Randika terkejut, tetapi senyumannya langsung menjulang tinggi. "Sayang, kenapa kamu belum tidur?" Pada saat ini, Inggrid hanya menatapnya tajam tanpa berkata apa-apa. "Jangan begitu, aku ada urusan." Randika merasakan rasa benci di tatapan mata istrinya itu. "Jadi urusanmu lebih penting daripada aku?" Inggrid pura-pura terlihat marah dan cemburu. Ekspresi dan suaranya membuat hati Randika sakit. "Sayang, bukan itu maksudku. Urusanku tadi benar-benar penting." Wajah Randika terlihat panik. "Tidak mungkin aku meninggalkan istriku yang cantik, aku berharap aku bisa berada di sisimu selamanya." Tangan Randika membelai rambut Inggrid, tetapi Inggrid langsung menghindar dan membuat jarak di antara mereka. "Gombal." Randika kembali memeluk Inggrid dari belakang. Ketika tangannya mulai meraba, tangannya ditangkap oleh Inggrid. "Harus bagaimana untuk meyakinkanmu?" Randika berbisik di telinga Inggrid. Dia mulai memberi rangsangan kepada Inggrid. Perempuan ini mulai takluk oleh teknik foreplay Randika, tubuhnya mulai panas. "Hannah tidak ada di sini?" Tanya Randika dengan suara pelan. "Dia tidur di kamarnya." Jawab Inggrid. "Kalau begitu, jangan terlalu keras berteriaknya." Kata Randika. Dia langsung berputar dan menindih Inggrid dari atas, dia menangkap kedua tangan Inggrid dengan erat. Mereka berdua berpelukkan dan berciuman dengan panas. Seolah-olah tersihir oleh Randika, Inggrid merasa dirinya melayang di awan. Di tengah ciuman mereka, tangan Randika tidak pernah berhenti meraba dan menyiapkan Inggrid untuk babak utama. Setelah beberapa menit pemanasan, Randika mulai mencopot baju dan celana Inggrid. Sebelum memulainya, Randika menatap Inggrid. "Sungguh cantik sekaliˇ­" ...ˇ­ Keesokan harinya, setelah burung berkicau, Randika dan Inggrid turun bersama-sama ke lantai bawah untuk sarapan. Ketika Hannah melihat Randika dan Inggrid berjalan bersama-sama, dia tidak bisa mendengus dingin terutama setelah melihat ekspresi puas Randika. Kemarin malam mereka berdua pasti melakukannya. "Kak, kenapa tadi pagi kamu tidak ada di kamarmu?" Kata Hannah sambil tersenyum. Randika duduk di seberangnya Hannah. "Tentu saja aku tidur di kamar kakakmu, kita kan suami istri pasti tidurnya sekamar." Hannah hanya tersenyum dan membalas. "Terus kalian ngapain saja tadi malam?" Ketika Randika mau membalasnya dengan cerita mesum, Ibu Ipah datang dan membawakan sarapan mereka. "Nak Randika, nona, tolong jangan terlalu banyak bicara di meja makan. Cepat dimakan sarapannya mumpung masih hangat." Hannah mendengus dingin dan menatap tajam Randika. Kemudian dia mengambil piring dan mengambil nasi, Randika juga melakukan hal yang sama. Setelah mengambil nasi, mereka berdua mau mengambil lauk pagi hari ini yaitu dadar jagung dan sayur bening. Ketika Randika mau mengambil dadar jagung tersebut, dia menyadari sendok Hannah juga berusaha mengambil dadar jagung yang sama dengannya. "Kak, kenapa kamu selalu mau mencuri makananku?" Hannah mengangkat kepalanya. Sialan, dia main nuduh saja! "Ya sudah, ambil saja dadar jagung ini." Randika mengambil kembali sendok kosongnya sambil tersenyum, kali ini dia berusaha mengalah. "Oh, tiba-tiba aku tidak mood lagi makan dadar jagungnya." Hannah juga mengambil kembali sendoknya. Mereka berdua hanya saling menatap. Inggrid mengabaikan mereka dan mengambil lauknya. Pada saat yang sama, Randika dan Hannah kembali meraih dadar jagung yang sama lagi. "Punyaku, dadar jagung ini punyaku!" Randika dan Hannah secara bersamaan berkata hal yang sama. "Mana mungkin itu punyamu, bukannya kamu sudah makan 1 tadi di dapur?" Kali ini Randika tidak mau mengalah. "Kakˇ­" Kali ini Hannah menatap Inggrid dengan wajah memelas. Inggrid hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum pahit. Dia kemudian menampar tangan Randika. "Sesekali bertindaklah selayaknya orang dewasa, kasihan Hannah, dia masih lapar." Karena istrinya yang berkata seperti itu, Randika hanya bisa menyerah. Moodnya berubah menjadi kesal. Wajah Hannah benar-benar terlihat bangga. Inggrid hanya bisa menghela napasnya dan memberikan lauk yang dia ambil tadi dan menaruhnya di piring Randika. "Cepat makanlah, kita perlu masuk lebih pagi hari ini." Melihat perhatian istrinya, Randika bersemangat kembali. Hannah hanya memalingkan wajahnya dengan cemberut. Setelah sarapan, Randika dan Inggrid berangkat bersama menuju kantor. Karena Hannah baru saja selesai ujian, jadwal kuliahnya jauh lebih santai untuk sementara waktu. Ketika Randika sampai di perusahaan, tiba-tiba dia teringat akan mengabari Deviana ketika dia mendapatkan info mengenai pembunuh abnormal itu. "Dev, kemarin aku bertemu dengan pembunuhmu itu." Deviana terkejut di balik telepon, dia lalu bertanya. "Apakah kamu menangkapnya?" "Tidak, dia kabur." Jawab Randika. "Apa kamu melihat mukanya?" Deviana mulai menanyai Randika, dia juga merekam percakapan mereka ini. "Dia memakai topeng waktu itu, aku tidak bisa melihat wajahnya." Ketika berkata seperti ini, entah kenapa wajah Roberto muncul di benaknya. Dia menduga bahwa pembunuh bertopeng itu adalah Roberto. Meskipun tidak ada bukti, instingnya mengatakan bahwa Roberto adalah tersangka nomor 1. "Apa ada ciri-ciri yang lain?" Tanya Deviana. "Tingginya kira-kira 180 cm, dia tidak gemuk juga tidak kurus. Terlebih lagi, aku berhasil melukai tangannya kemarin." Setelah mendengar itu, Deviana mengerutkan dahinya. "Ciri-ciri yang kamu sebutkan itu terlalu umum, bahkan jika ada luka di tangannya, itu mudah disembunyikan dan mustahil menyebarkan informasi tidak spesifik seperti itu." "Tidak apa-apa, nanti kalau aku tahu lebih banyak lagi, aku akan menghubungimu lagi." Balas Randika. "Baiklah kalau begitu, aku akan menyampaikan informasimu ini ke rekan-rekanku." Setelah Deviana menutup teleponnya, Randika berjalan kembali menuju laboratoriumnya. Masih ada cukup banyak pekerjaan yang menunggu dirinya. Viona hari ini datang lebih pagi, begitu pula dengan Adrian dan Axel. Semua orang segera menyapa dirinya kemudian kembali bekerja. Ketika mereka sibuk bekerja, waktu berlalu dengan cepat. Tanpa mereka sadari, hari sudah siang. Para staf departemen parfum ini mulai bersiap makan siang dan berdiri sambil meregangkan tubuh mereka. "Ayo cari makan." "Sepertinya depot di ujung jalan itu lagi sepi, ayo makan di situ saja." "Traktir ya, aku lupa bawa dompet!" "Sialan, ngutang terus kerjaanmu!" Beberapa orang mulai berkerumun pergi, hanya Viona yang berjalan menuju Randika. "Ran, ayo makan siang bareng." Randika menatapnya dan tersenyum. Ketika dia mau menjawab, beberapa perempuan menggoda Viona. "Wah Viona mau kencan sama pak Randika?" Teman-temannya ini tertawa sedangkan Viona tersipu malu. "Nanti malam saja kalian makan bareng, siang ini bagaimana kalau sama-sama kita? Kita janji tidak akan mengganggu nanti." Setelah berkata seperti itu, Viona ditarik pergi oleh mereka. Randika hanya bisa tersenyum pahit, dia sama sekali tidak berdaya di bawah serangan seperti itu. Dia akhirnya berniat keluar dan berniat untuk makan siang sendirian. Pada saat ini, tiba-tiba muncul sosok Hannah dari balik pintu. Chapter 386: Kebetulan? "Kak Randika." Hannah masuk ke dalam ruangan laboratorium Randika, untungnya saja, tidak ada orang selain Randika karena semuanya sudah keluar untuk makan siang. Jika mereka mendengar kata-kata Hannah barusan, gosipnya menikahi Inggrid Elina bisa tersebar luas. "Hei." Randika melambaikan tangannya. "Kenapa kamu di sini?" "Aku bosan, jadinya aku datang ke perusahaan." Hannah mengambil kursi dan duduk di samping Randika. Dia langsung melirik ke komputer Randika yang layarnya ternyata game mine sweeper. "Kak, kakak begitu bebasnya sampai main game saat bekerja." Mulut Hannah sudah melengkung bagaikan pelangi. "Han, bukan berarti aku punya waktu luang, aku harus menemanimu setiap harinya. Apa kamu tidak ada kelas?"Tanya Randika. "Tidak ada kelas beberapa hari ke depan, aku tinggal menunggu hasil ujian keluar." Kata Hannah sambil tersenyum. Tiba-tiba dia merasa haus, dia kemudian mengeluarkan sebotol air putih dari tasnya. "Apa air itu juga pemberian dari Roberto?" Tanya Randika dengan nada santai. Hannah terlihat kaget. "Tahu dari mana kakak?" Dia lagi! Wajah Randika berubah menjadi serius. "Han, apa pun yang dibelikan oleh Roberto untukmu, mau itu makanan atau minuman, kamu jangan sampai memakannya ya!" "Hah? Kenapa harus sampai segitu?" Wajah Hannah berubah menjadi cemberut. Namun ketika melihat wajah serius kakak iparnya, dia mengangguk pelan. "Baiklah, aku tidak akan menyentuhnya sama sekali." "Coba aku lihat airmu." Kata Randika. Hannah memberikan botol airnya itu pada Randika. Randika langsung menerawangnya dengan lampu ruangan, mencoba memeriksa apakah ada suatu kejanggalan. "Kak, kalau kamu ambil airku, aku minum apa?" "Nanti beli sendiri saja di luar." Balas Randika dengan santai. Hannah menjadi marah, namun dari balik meja, tiba-tiba Randika mengeluarkan sekotak teh dan meletakannya di depan Hannah. "Sudah tidak perlu ngambek, minum punyaku ini saja." Kata Randika dengan santai. "Kok bisa kamu ketemu Roberto hari ini?" "Kak Randika memang yang terbaik!" Hannah dengan cepat mengambil teh tersebut dan menyesapnya. "Aku bertemu dengannya secara kebetulan. Aku pergi belanja baju sama teman-temanku sebelum ke sini, rupanya Roberto dkk juga sedang belanja. Kita semua belanja rame-rame dan di tengah jalan Roberto membelikan kita air." Kebetulan lagi? "Terus yang kemarin di mall itu, apakah itu juga kebetulan?" Tanya Randika. "Iya, mereka juga kebetulan sedang jalan-jalan di mall yang sama." Randika mengerutkan dahinya. Kebetulan? Dia tidak percaya kebetulan bisa terjadi 2x. Sudah jelas bahwa Roberto sedang membuntuti Hannah. "Kak, aku mau ke tempat kak Inggrid ya. Terima kasih minumannya." Hannah langsung keluar dari laboratoriumnya. Randika juga ingin makan siang, ketika dia hendak pergi, tiba-tiba Viona kembali ke ruangan. "Lho, bukannya kamu pergi makan sama teman-temanmu?" Randika cukup terkejut. Viona dengan wajah malunya berkata dengan nada yang pelan. "Aku pikir kamu belum makan siang jadi aku membelikanmu nasi goreng dan bergegas kembali." Randika benar-benar tersentuh. Dilihat-lihat, Viona yang terengah-engah itu membawa kresek berwarna hitam. Sepertinya dia sangat memikirkan dirinya. Randika dengan senang hati menerima makanan tersebut dan duduk. Viona juga duduk di sampingnya. Ketika dia membukanya, lauknya tidak kalah banyak dengan nasinya. Randika cukup terkejut karena bisa dibilang nasi gorengnya ini cukup lengkap dengan adanya ayam goreng, telor ceplok, dan kerupuk. "Apakah kamu tidak suka sama makanannya?" Tanya Viona. "Tentu saja aku sangat suka, apa pun yang kamu berikan pasti enak! Tapi lebih enak lagi sih kalau kamu suapin akuˇ­" Randika melirik Viona dengan tatapan manja. "Ran, jangan gitu, kita masih di kantor. Sudah ayo cepat dimakan, nanti keburu selesai jam istirahatnya." Viona terlihat malu namun hatinya benar-benar bahagia. Randika mulai mengambil sendok plastiknya dan mencicipinya. Setelah mengunyah nasinya, dia terdiam. Ketika dia mengambil ayam gorengnya, dia juga terdiam. Viona menatap Randika dengan cemas. "Apakah enak?" Randika menutup matanya dan membuat suara ''hmmm'' yang lumayan panjang. "Benar-benar enak! Kamu pintar juga nyari makanan seperti ini." Setelah mendengar pujian Randika, hati Viona menjadi senang. "Kalau begitu habiskan ya!" "Vi, aku tahu kamu tadi pagi datang lebih awal kan? Kamu pasti tidak sempat sarapan, ayo sini kusuapin." Kata Randika. "Hentikanˇ­" Viona terlihat sedikit marah, tetapi wajahnya menunjukkan beberapa ekspresi yang berbeda. Namun hatinya masih mengingatkan dirinya bahwa ini masih tempat kerjanya. "Hmm, kenapa? Sudah tenang saja, mereka semua masih makan siang. Sudah ayo buka mulutnya, ahhhˇ­" Randika mengambil sesendok penuh nasi gorengnya, Viona pada akhirnya juga membuka mulutnya dan menerima suapan pertamanya itu. "Enak bukan?" Kata Randika sambil tersenyum. "Iya enak." Viona menganggukan kepalanya. "Ayo satu suap lagi." Kali ini Randika mengambilkan sepotong ayam gorengnya. Setelah itu, dia berkata pada Viona. "Ayo gantian, sekarang giliranmu menyuapiku." Wajah Viona sudah merah, tetapi dia tetap mengambil sendoknya dan mengambilkan sesendok penuh nasi gorengnya. Perlahan, dia menyuapi Randika meski dengan tangan yang gemetar. Randika mengunyah dan menelannya, setelah itu dia berkata dengan santai. "Seandainya saja ada dua sendok, kita bisa gantian menyuapi satu sama lain." "Ranˇ­" Wajah Viona masih tetap merah. "Bagaimana kalau tiba-tiba ada yang datang?" "Tidak perlu khawatir, mereka seharusnya baru balik lagi setengah jam lagi. Mana mungkin monyet-monyet itu kembali dengan cepat?" Ketika baru saja Randika selesai berbicara seperti itu, dari luar muncul sebuah suara. "Pak, bisa-bisanya Anda mengatai kita monyet?" Randika terkejut, Viona juga terkejut, mereka langsung menjauhi satu sama lain. Tetapi semua sudah terlambat. Ketika Adrian masuk, dia sudah melihat bungkusan nasi dan sendok di atas meja. Terlebih lagi, Viona duduk persis di samping Randika meskipun tempat ini sangat sepi. Dalam sekali lirik, Adrian bisa menyimpulkan apa yang telah terjadi. "Pak Randika enak rek, beruntung sekali hidupmu." Tatapan mata Adrian terlihat iri. "Kapan aku bisa disuapin sama pacar, seandainya saja hidupku sebagus pak Randika." "Ngomong omong kosong apa kamu?" Randika menatapnya dengan tajam. "Sudah berhenti ngomong yang tidak-tidak, ini aku ada botol air yang perlu diperiksa." "Pak, aku tidak omong kosong." Adrian lalu bertanya. "Memangnya mana sendok pak Randika?" Sendok? Bukannya ada di atas meja? Randika menurunkan kepalanya dan melihat bahwa sendok itu tidak ada di sana. Pada saat ini, dia baru menyadari bahwa dia tadi meminta Viona untuk menyuapi dirinya. Mati aku! Hati Randika benar-benar panik, Viona yang duduk di sampingnya terlihat menggenggam erat sendoknya dan wajahnya sudah merah seperti tomat. Randika terbatuk dua kali dan berkata dengan nada yang serius. "Adrian, sepertinya aku perlu memberi laporan pada Kelvin bagaimana kinerjamu selama ini." "Ampun pak, ampun, aku akan tutup mulut." Seketika itu juga, Randika melemparkan botol airnya kepada Adrian. Dengan cepat pegawai satu ini mengecek kandungan yang ada di dalam air. Chapter 387: Tamasya Tidak lama kemudian, Adrian datang membawakan hasilnya. "Pak, airnya baik-baik saja." Kata Adrian. "Seperti yang sebelumnya, air ini juga layak minum." Masih tidak ada masalah? Randika merasa bahwa Roberto pasti memiliki trik lain, dia pun bertanya. "Apakah ada kandungan yang tidak bisa dideteksi dengan alatmu?" "Tidak mungkin." Adrian menggelengkan kepalanya dan duduk di depan Randika. "Pak, mesin kita itu adalah keluaran terbaru dan yang paling canggih. Tidak ada kandungan aneh di dalam air, tetapi proporsi beberapa elemen sedikit lebih tinggi daripada biasanya." "Dan apa yang akan terjadi kalau kita mengkonsumsinya?" Randika menegang. "Tidak apa-apa, namanya air tetap air pak, tidak mungkin itu membunuh kita." Mendengar kata-kata Adrian ini, hati Randika semakin ragu. Setelah itu, orang-orang mulai berdatangan kembali dan ruangan ini pun kembali sibuk. Setelah beberapa saat, akhirnya waktu jam pulang kantor telah tiba. Randika kembali ke rumah bersama Inggrid. Hannah awalnya berada di kantornya Inggrid, tetapi anak itu pergi beberapa waktu yang lalu. Karena dia tidak ada kelas sama sekali, dia keluyuran tanpa henti. "Apakah kamu capek hari ini?" Randika yang duduk di samping kursi pengemudi itu melirik Inggrid. "Tidak terlalu." Inggrid tersenyum. "Akhir-akhir ini aku tidak perlu melakukan kunjungan bisnis, para klien yang sering datang ke tempat kita." "Baguslah kalau begitu, kalau kamu capek nanti aku pijat." "Memangnya kamu bisa memijat?" Inggrid terlihat kaget. "Kenapa? Apa kamu mau mencobanya?" "Boleh saja." Inggrid mengangguk. Sesampainya mereka di rumah, Randika membuka pintu dan melihat sosok Hannah yang duduk di sofa dengan santai. Lagi-lagi perempuan satu ini memakai pakaian yang minum dan pendek. "Kak Randika, kak Inggrid, akhirnya kalian kembali!" Hannah tersenyum, suaranya tidak begitu jelas karena dia sedang sibuk makan es krim. Randika menghela napasnya, adik iparnya ini hidupnya santai sekali. Inggrid lalu berkata. "Han, dudukmu itu kayak laki-laki lho, coba kamu lebih hati-hati lagi." "Tapi ini postur duduk kak Randika selama ini." Balasnya. Randika membeku di tempat, dia hampir muntah seteguk darah segar. Kenapa ujung-ujungnya dia yang salah? Inggrid melirik Randika dan memarahinya. "Kamu juga, yang sopan kalau duduk." "Iyaˇ­" Randika dengan cepat menganggukkan kepalanya. Setelah itu, Inggrid naik ke atas dan bersiap untuk mandi. Karena akhir-akhir ini cuacanya panas, Inggrid sering berkeringat dan tubuhnya lengket oleh keringat. Jadi biasanya setelah pulang dari kerja, dia selalu mandi. Randika duduk di samping Hannah dan mengambil es krim yang masih terbungkus di atas meja. "Kak, mau apa kamu?" "Aku juga kepengin es krim, memangnya kenapa?" Randika terlihat bingung. "Jangan makan punyaku, ambil sendiri di kulkas." Balas Hannah sambil tersenyum. "Jangan pelit-pelit begitu." Randika membuka bungkusnya dan menggigitnya sekali, sensasi dingin ini memang menyegarkan. "Tapiˇ­ itu satu-satunya yang rasa strawberry." Kata Hannah dengan wajah yang depresi. Randika menggaruk-garuk kepalanya. "Ya sudah ini, ambilah." "Tidak mau, kan sudah kak Randika gigit." Hannah dengan cepat menolak. "Ya sudah, aku makan kalau begitu." Randika kembali menggigit es krim batangnya. "Kak Randika memang jahat." Hannah mulai kehilangan kesabarannya. Randika menelas es krimnya itu, nada suaranya sedikit bangga. "Terkadang hidup itu penuh dengan cobaan dan tidak berjalan seperti yang kita mau." "Alasan saja!" Hannah memalingkan wajahnya dan kembali menonton TV. Keduanya lalu melihat TV, terkadang mereka bercerita tentang keseharian mereka. "Omong-omong kak, kami besok mau tamasya, apakah kakak mau ikut?" Tanya Hannah sambil tersenyum. Undangan Hannah seperti ini selalu ada udang di balik batu, sepertinya dia diajak untuk menjadi tukang angkut lagi. Awalnya dia ingin menolak tetapi Randika tiba-tiba kepikiran sesuatu. "Han, sepertinya pemilihan waktu untuk tamasya ini kurang tepat. Kenapa tidak menunggu beberapa hari lagi dan menunggu cuacanya menjadi bagus?" Tanya Randika. "Teman-temanku yang mengusulkan. Toh kita kan punya banyak waktu luang, jadi mereka semua ingin bermain." Jawab Hannah. "Apakah Roberto ikut?" Tanya Randika. "Tentu saja, sepertinya dia yang mengusulkan ide tamasya ini. Dia juga mengundang murid lainnya dari jurusan yang lain. Jadi sebagai pemimpin, dia pasti ikut!" Hannah menjadi sedikit bersemangat. "Dan rencananya kali ini, kita akan mengunjungi kuil bersejarah! Aku belum pernah melihat tempat bersejarah sebelumnya." Roberto yang mengatur tamasya ini? "Jadi bagaimana kak, apakah kak Randika tertarik? Lagipula besok kan sabtu, kakak pasti nganggur di kantor bukan? Jadi lebih baik ikut aku saja." Kata Hannah dengan semangat. "Tentu saja, aku besok ikut." Randika tersenyum. Mendengar persetujuan Randika, Hannah terkejut untuk sesaat tetapi dia langsung menjadi bersemangat. "Serius kak? Kak Randika tidak bohong kan?" "Memangnya kapan aku pernah bohong?" Randika kembali memakan es krimnya. Kali ini dia berusaha mengikuti Hannah untuk melindunginya dari bahaya yang tidak perlu. Terlebih lagi, dia merasa bahwa Roberto memiliki suatu rencana di kegiatan kali ini. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk mengungkapkan segalanya. ...ˇ­ Keesokan harinya, Randika dan Hannah berangkat bersama-sama. Untuk perjalanan kali ini, para peserta akan berkumpul terlebih dahulu di depan sekolah mereka. Baru setelah itu, mereka naik bis dan berangkat ke daerah Gunung Batu Jaya karena kuil yang mereka kunjungi dekat dengan gunung tersebut. Ketika mereka berdua sampai di depan sekolah, rupanya hampir semua orang sudah berkumpul. "Han!" Stella melambai ketika melihat sosok Hannah yang datang. Keduanya lalu bergandengan tangan seolah-olah mereka adalah sahabat terbaik di dunia. Pada saat ini, Roberto datang menghampiri dan tersenyum pada Randika. "Apa kakak juga ikut?" Randika mengangguk sambil tersenyum. "Aku dipaksa adikku itu, aku tidak punya pilihan." "Tidak apa-apa, semakin ramai semakin meriah." Roberto lalu berpamitan dan pergi. Randika mengerutkan dahinya ketika dia memperhatikan gerak gerik Roberto. Setelah beberapa saat, Randika menyimpulkan bahwa dia bukanlah pembunuh yang bertarung dengannya. Tujuannya hari ini ikut adalah menentukan apakah Roberto adalah pria bertopeng yang telah melakukan berbagai pembunuhan di kota ini atau tidak. Setelah beberapa saat, akhirnya semua orang telah berkumpul. Orang terakhir yang datang telah berlarian sekuat tenaganya, untungnya saja dia tepat waktu dan semua orang tidak memarahinya. "Karena semua orang sudah ada di sini, sebaiknya kita cepat berangkat." Kata Roberto sambil tersenyum, dia lalu menuntun semua orang ke bis yang sudah menunggu mereka. "Saatnya berangkat!" Semuanya antusias dengan perjalanan mereka, semuanya berjalan ke bis dengan wajah yang gembira. Pada saat mereka berjalan, terlihat sebuah truk bermuatan yang melaju ke arah mereka. Truk tersebut membawa pipa-pipa besi dan melaju dengan kecepatan biasa. Randika melihat ke atas dan menyadari bahwa pipa-pipa itu terikat dengan erat. Dia sama sekali tidak peduli dan terus berjalan. Tetapi tiba-tiba, ada suara seperti tali yang terputus datang dari arah truk. Pipa-pipa tersebut mulai berjatuhan ke samping! Dan sialnya, Randika dkk berada di jalur pipa-pipa jatuh tersebut! Chapter 388: Bukti yang Kuat Teman-temannya Hannah ini tidak menyadari perubahan yang telah terjadi pada truk tersebut. Mereka mengobrol dengan santai ketika sebuah pipa mulai jatuh. Namun, seseorang menyadari hal tersebut dan menunjuk ke arah pipa yang tidak jauh dari mereka itu, tetapi tidak ada suara yang keluar karena saking takutnya. Pipa-pipa besar ini bisa membunuh mereka dengan mudah apabila mengenai mereka. Ketika para pejalan kaki di seberang melihat hal ini, mereka jelas terkejut. Apa yang telah terjadi? "Awas!" Roberto adalah orang yang pertama berteriak dan bereaksi. Semuanya segera mengangkat kepala mereka dan menyadari bahwa pipa-pipa tersebut mulai bergelinding ke arah mereka. "Lari!" "Han, cepat lari!" Stella menarik Hannah dan berusaha bersembunyi di balik pohon, sementara beberapa temannya hanya berdiri karena saking takutnya. Orang-orang yang melihat mereka juga ketakutan, masalah ini menyangkut hidup dan mati seseorang. Dengan banyaknya pipa yang bergelinding, mana mungkin mereka bisa bersembunyi? Roberto tidak berdaya sama sekali, teriakannya itu terlalu terlambat. Jarak mereka dengan pipa-pipa tersebut hanyalah 50 meter, mustahil mereka bisa bereaksi tepat waktu. "Habis sudah mereka!" Orang-orang sudah menutup mata mereka, sebentar lagi para pemuda itu pasti mati semua! Menghadapi puluhan pipa besar ini, sesosok orang berdiri di paling depan. Semua orang bertanya-tanya, mengapa Randika bukannya bersembunyi tetapi malah maju ke depan? Dia justru terlihat menantang pipa-pipa itu! Para pejalan kaki ini kebingungan, apa pria itu sudah gila? Tetapi detik berikutnya, mata mereka terbelalak hingga hampir copot. Mereka melihat tragedi yang seharusnya terjadi justru berubah menjadi keajaiban dunia. Seperti di film-film, pipa-pipa besar itu dihentikan oleh satu kaki Randika sehingga kehilangan momentum kecepatannya. Pipa-pipa tersebut dipaksa berhenti oleh tenaga dalam Randika yang seluas lautan tersebut. Adegan ini membuat semua orang terkejut! Apa orang ini masih manusia? Di saat orang-orang ini terpukau, pipa-pipa tersebut mulai berhenti satu demi satu. Randika sendiri tidak tampak kesusahan, wajahnya benar-benar terlihat santai. Melihat pertunjukan Randika, Roberto dkk hanya bisa melongo. Mereka tidak pernah tahu manusia bisa melakukan hal menakjubkan seperti itu. Sekarang dari terpukau, orang-orang mulai ketakutan. Kekuatannya ini jelas menandakan dia bukan manusia bukan? Orang-orang mulai melihat pipa yang beristirahat dengan tenang, padahal sebelumnya mereka berguling cukup cepat. Teman-teman Hannah juga mulai bertanya-tanya, apakah kakak iparnya temannya ini masih manusia? Atau jangan-jangan dia superhero? Tatapan mata Stella berbinar-binar, dia mengingat-ingat kejadian di mall kapan hari. Bukankah Randika juga sama bersinarnya dengan sekarang? Wajah tersenyum Hannah sudah diisi dengan kebanggaan yang tak terhingga, hal seperti ini cukup mudah bagi kakak iparnya. Apa itu pipa? Bukankah itu semacam sedotan raksasa? Akhirnya Randika berhasil menghentikan semua pipa yang terjatuh tersebut. Setelah memastikan semua aman, Randika dengan santai berjalan kembali ke kelompoknya sambil membersihkan bajunya. Mereka semua masih terheran-heran, tidak ada satupun yang bereaksi. Namun, salah satu dari mereka mulai bertepuk tangan dan sorakan demi sorakan mulai terdengar. Yang bersorak adalah orang-orang di jalan, teman-teman Hannah dan para mahasiswa yang baru saja keluar dari gedung sekolah. Jika bukan karena Randika, kejadian ini pasti memakan korban jiwa. Dapat dikatakan bahwa Randika adalah penyelamat mereka. Pada saat yang sama, supir truk itu berlari ke arah mereka dengan wajah super panik. Dia benar-benar merasa lega karena tidak ada orang yang terluka karena kecelakaan ini. Seseorang mulai mengamankan supir ini, tetapi pada akhirnya ini bukanlah sebuah bentuk dari kecerobohan melainkan kecelakaan. Dan tentu saja, hal ini tidak berkaitan dengan Randika dan dia pun cuek terhadap supir itu. Randika yang baru saja kembali ditatap dengan tatapan berbinar. "Wow, kakak benar-benar hebat! Jika bukan karenamu, kita semua sudah pasti mati!" Roberto yang pertama kali mengucapkan terima kasih. Herannya, Randika merasakan tidak ada jejak-jejak ketakutan di wajahnya. "Sudahlah, ini cuma masalah kecil." Kata Randika dengan santai. "Jangan begitu kak, tanpamu kita sudah pasti mati." Balas Roberto. Roberto memberikannya sebuah botol air. "Kakak pasti lelah karena kejadian barusan, ini ambilah airnya dan minumlah." Randika memperhatikan botol air tersebut. Tanpa berkata apa-apa, Randika mengambilnya. Tetapi tiba-tiba, Randika mencengkeram erat tangan Roberto. Kemudian Randika mengangkatnya tinggi-tinggi. Roberto jelas terkejut, kenapa orang ini tiba-tiba menarik tangannya ke atas? Ternyataˇ­ tidak ada bekas luka di tangannya. Tidak ada luka yang seharusnya dimiliki oleh pembunuh abnormal itu! Kemarin malam, Randika berhasil mencabik sebagian daging di tangan pembunuh abnormal itu. Jika Roberto adalah pembunuhnya, seharusnya tangannya ini memiliki bekas yang tidak bisa disembunyikan dan ini bisa membuktikan bahwa Roberto adalah si pembunuh tersebut. Tetapi tidak disangka-sangka, rupanya tangannya baik-baik saja! Hal ini langsung menghilangkan kecurigaan Randika, jelas Roberto bukanlah pembunuh yang dia lawan kemarin malam. "Ada apa?" Roberto menatap bingung pada Randika. "Tidak apa-apa." Randika tersenyum kecil. "Aku merasa tanganmu lembut sekali." "Hahaha sungguhan? Aku memang menjaga tubuhku dengan baik." Roberto tersenyum ramah. Randika membuka botol airnya dan meminumnya. Roberto sendiri kembali ke teman-temannya dan berdiskusi. Setelah kejadian seperti ini, dia takut bahwa teman-temannya ini jadi malas untuk melanjutkannya. Setelah menanyai semua orang satu per satu, mereka semua setuju untuk meneruskan tamasya mereka ini. Lagipula, mereka sudah menyewa bis dengan cukup mahal. Hannah berjalan menghampiri dan menggandeng lengan Randika, tetapi kakak iparnya ini berkata padanya. "Han, aku tidak jadi ikut." Hannah terkejut. "Lho, bukannya kemarin katanya mau ikut?" Randika menatap Roberto lalu tersenyum. "Aku hari ini ikut hanya untuk memastikan sesuatu. Karena aku sudah mendapatkan jawabanku, sekarang aku bisa tidur dengan tenang." Hannah terlihat cemberut dan Randika mengusap kepalanya. "Han, pergilah dan bersenang-senanglah. Nanti kirimin fotonya ya, aku ingin kamu menceritakanku bagaimana indahnya tempatnya." Melihat Randika bersikeras tidak ikut, ditambah dengan Stella dan teman-temannya memanggil dirinya, Hannah hanya bisa menyerah. "Kalau begitu, ketemu nanti malam ya." "Baiklah, aku akan menunggu di rumah." Randika tersenyum. Melihat bus Hannah dkk pergi, Randika sendiri berjalan kembali ke rumah. Sebelum ini, Randika selalu mencurigai Roberto. Instingnya yang terlatih bertahun-tahun ini mengatakan bahwa Roberto bukanlah orang awam. Terlebih lagi, sejak kemarin malam dia bertemu dengan pembunuh abnormal tersebut, satu-satunya wajah yang terpikirkan oleh Randika adalah wajah Roberto! Pembunuh itu mengenali dirinya, dia memancarkan aura kebencian dan kemarahan padanya. Setelah dia merasakannya sekilas, Randika merasa bahwa hal ini sama dengan aura yang dipancarkan oleh Roberto padanya. Namun, setelah melihat kondisi tangan Roberto hari ini, teori dan instingnya ini langsung runtuh dalam sekejap. Kondisinya yang sehat itu adalah bukti yang kuat bahwa dia bukanlah pembunuh itu. "Sepertinya aku akhir-akhir ini terlalu paranoid." Randika bergumam pada dirinya sendiri. Setidaknya setelah hari ini, Randika tidak perlu khawatir lagi tentang keselamatan Hannah. Terlebih lagi, karena Hannah sedang pergi, sekarang dia memiliki waktu untuk berduaan dengan istrinya! Memikirkan hal ini, Randika menjadi bersemangat. Istriku, tunggulah aku! Chapter 389: Anak dari Keluarga Alfred Ketika Randika sampai di rumah, Hannah dkk mulai meninggalkan daerah kota Cendrawasih. Sekarang mereka menuju kaki Gunung Batu Hata. Pada jaman dahulu, pusat agama Buddha di daerah kota Cendrawasih berpusat di kaki gunung tersebut. Tetapi seiring berkembangnya kota Cendrawasih, kuil tersebut mulai ditinggalkan karena terlalu jauh sehingga kurang nyaman untuk ditempati. Selain para turis yang mendatangi tempat tersebut pada hari sabtu dan minggu, pada dasarnya tidak ada orang sama sekali ketika hari senin-jumat. "Kita sampai!" Roberto keluar dari bis pertama kali, teman-temannya mengikutinya dari belakang. "Wah, udaranya segar sekali!" Seseorang menghirup udara dalam-dalam. "Hahaha tentu saja, kita kan dekat dengan gunung!" Temannya tertawa. "Tempat kita istirahat dekat dengan kuilnya, ayo kita jalan." Kata Roberto. "Baiklah!" Semua orang mulai bersemangat, Roberto memimpin mereka semua dengan berjalan di paling depan. Namun, orang-orang tidak bisa melihat senyuman tajam yang sedang dia buat ketika membawa mereka ke kedalaman hutan. ........ "Sayangku!" Karena hari ini adalah hari sabtu, Inggrid sedang santai-santai duduk di sofa. Randika dengan cepat menghampirinya dan memeluknya dari belakang. Ketika Inggrid mengangkat kepalanya, dia cukup terkejut ketika melihat sosok Randika. "Bukannya kamu hari ini pergi sama Hannah?" Randika dengan cepat duduk di samping Inggrid, dia langsung merangkul pinggang ramping milik istrinya itu. Keempukan dari dadanya mulai memanggil-manggil Randika secara tersembunyi. "Aku tidak jadi ikut, aku hari ini cuma ingin memastikan keselamatan Hannah saja." Randika bisa merasakan empuknya dada Inggrid yang mengenai tangannya. "Karena aku sudah memastikan dia baik-baik saja, aku tidak perlu menemaninya lagi." Inggrid tidak peduli dengan tangan nakal Randika ini. Justru dia terlihat bingung dan langsung bertanya. "Memangnya ada apa dengan Hannah?" "Sudah tidak apa-apa." Randika tersenyum lebar. "Aku hanya terlalu paranoid saja, semuanya sudah terkendali. Omong-omong, di mana Ibu Ipah?" "Ibu Ipah lagi pergi belanja." Inggrid mengerutkan dahinya. "Kenapa kamu tiba-tiba mencarinya?" "Masa kamu tidak tahu?" Randika tersenyum nakal. Dengan sedikit kekuatan, dia menindih Inggrid di atas sofa. "Kamu ini ya." Meskipun terlihat enggan, desahan erotis tetap keluar dari mulut Inggrid ketika Randika mulai bermain dengan tubuhnya. Perlahan namun pasti, keduanya mulai melepas baju mereka. Kebetulan tidak ada orang di sini, Randika ingin bermain di ruang tamu! Randika dengan cepat membuka baju Inggrid. Sekarang, hanya pakaian dalam Inggrid yang menghalangi pemandangan cantik dan indah. Samar-samar, dia bisa melihat warna pink yang hampir menyembul keluar dari dalam beha. Randika menelan air liurnya, ketika dia hendak membuka 2 keajaiban dunia itu, HPnya tiba-tiba bunyi. Sialan! Randika terbeku dalam sekejap, siapa yang tiba-tiba meneleponnya di saat-saat menggairahkan seperti ini? Awalnya Randika ingin cuek dan tidak mengangkatnya, tetapi Inggrid memarahinya. Tidak ada pilihan, Randika akhirnya memutuskan untuk menerima teleponnya. Tiba-tiba, suara dari bawahannya terdengar cukup lantang. "Tuan, kami menemukan beberapa informasi." Ketika mendengar suara ini, wajah Randika berubah menjadi serius dan berdiri tegak. "Apa yang kamu temukan?" "Ada dua informasi yang penting. Pertama, Roberto datang ke Indonesia untuk program pertukaran pelajar. Sebelum pendaftaran itu dibuka, dia sudah berada di Indonesia sebulan sebelumnya dan dia sendiri yang mengisi formulir pendaftaran pertukaran mahasiswa itu tanpa seijin kampusnya." Pada saat ini, kerutan dahi Randika mulai mengeras. Lalu bawahannya itu kembali berkata. "Yang kedua, kami mendapatkan informasi mengenai identitas asli Roberto. Rupanya dia bukanlah anak kandung dari Carlos, sepertinya dia adalah anak angkat. Tetapi anehnya, kami sama sekali tidak dapat menemukan informasi mengenai Roberto di atas 5 tahun yang lalu. Seakan-akan nama Roberto itu lahir 5 tahun yang lalu. Mengikuti petunjuk ini, kami menyelidiki lebih dalam lagi mengenai identitasnya. Sepertinya sebelum berganti nama menjadi Roberto, dia adalah Tom yang lahir di Indonesia. Dia lahir di Jakarta di sebuah keluarga bernama Alfred." Keluarga Alfred dari Jakarta? "Apa kamu yakin dengan informasi ini?!" pupil mata Randika mengecil dalam sekejap. "Tuan, informasi ini benar-benar dapat dipercaya, kami juga memastikannya 3x. Kami juga mendapatkan foto dari Tom sebelum berganti nama menjadi Roberto. Saya akan kirim via email." Randika benar-benar terkejut dengan informasi ini, dia tidak menyangka bahwa Roberto adalah anak dari keluarga Alfred! Dalam sekejap otak Randika berputar dengan cepat. Jika Roberto adalah Tom dari keluarga Alfred, maka tamasya kali ini adalah jebakan dan Hannah benar-benar dalam bahaya! Sialan! Tidak ada waktu lagi untuk menjelaskan, Randika segera memakai bajunya dan lari keluar dari rumah. Tempat tamasya mereka cukup jauh, seharusnya dia bisa datang tepat waktu. Pada saat yang sama, Randika memerika emailnya. Ketika dia melihat informasi tersebut, wajahnya berubah menjadi buruk. Isi email ini sangat jelas. Di sana dia bisa membaca profil Tom, menghilangnya dia dari Indonesia, dan tidak ada kabar lagi mengenai dirinya sejak itu. "Tom, penyamaranmu benar-benar luar biasa!" Randika merasakan hatinya bertambah dingin. Dia merasa kesal karena dia lengah di detik-detik terakhir. Pada akhirnya, Roberto hanyalah sebuah samaran yang dia buat. Randika kembali menatap emailnya, sekarang dia sedang melihat foto Tom yang dulu. Foto tersebut memperlihatkan sosok Tom yang sangat dingin. Tatapan matanya yang mati menunjukkan bahwa dia mirip seperti seorang psikopat. Ketika Randika melihat foto ini, hatinya makin tenggelam! Dia sekarang tahu kenapa dia merasa familier dengan wajah Roberto. Karena memang wajahnya ini dia pernah melihatnya. Wajahnya itu benar-benar mirip dengan Hans yang telah dia bunuh sebelumnya. Meskipun tidak sama, tatapan mata mereka masih membuktikkan bahwa mereka bersaudara. Dengan kata lain, pembunuh abnormal yang ditemui kemarin sudah jelas adalah dia. Tidak heran kenapa pembunuh kemarin itu bisa mengenal dirinya dan memancarkan aura kebencian yang begitu mendalam. Tetapi yang menjadi pertanyaannya adalah kenapa tangannya itu tidak apa-apa? Bukankah dia berhasil melukainya kemarin? Setelah dipikir-pikir, ketika dia memegang tangan Tom, tangannya itu benar-benar lembut. Apakah dia memakai sebuah sarung tangan sintetis untuk menyembunyikan lukanya? Penjelasan ini cukup masuk akal. Setelah menyusun semua puzzle ini, Randika akhirnya menyadari kenapa Tom bisa muncul di Cendrawasih sebulan lebih cepat. Karena bulan lalu, tragedi keluarga Alfred telah terjadi di Jakarta dan Randika menghabisi para tetua dan anggota keluarga Alfred tanpa ampun! Ketika berita ini mencapai telinga Tom, dia segera kembali ke Indonesia dan mulai menyusun rencana untuk balas dendam! Dan tentu saja, membuat Randika menderita adalah tujuan utamanya. Hannah menjadi target terbaik baginya untuk mengawali kisah balas dendamnya. Memikirkan hal ini, Randika benar-benar merasa ngeri. Dibandingkan dengan Hans, sepertinya orang ini jauh lebih berbahaya dan lebih gila. Sialan, seharusnya dia tidak meninggalkan Hannah! Randika benar-benar marah pada dirinya sendiri, hatinya sudah mengepal dengan kuat. Menekan perasaan frustasi ini, Randika dengan cepat menghubungi pasukannya yang ada di Cendrawasih. Dia menyuruh mereka untuk datang ke lokasi segera mungkin. Setelah itu, Randika menatap sebuah mobil yang terparkir diam. Dengan cepat dia memecahkan jendelanya dan duduk di dalam. Mobil itu dengan cepat menyala, dan tanpa berkata apa-apa, Randika dengan cepat melaju menuju tempat Hannah berada. Chapter 390: Pertarungan di Kuil Selama perjalanan, mobil Randika sama sekali tidak peduli dengan lalu lintas. Orang-orang hanya dapat melihat bahwa sebuah mobil melaju sangat kencang seperti sedang kesurupan, benar-benar menakutkan. Randika sama sekali tidak menginjam rem. Bahkan jika dia dikenal sebagai drift king, dia masih tidak bisa menghindari kecelakaan jika melaju kencang seperti ini. Tetapi mau tidak mau dia harus mengambil resiko ini karena terbatasnya waktu. Di sisi lain, Dion sudah mengutus pasukannya untuk menyusul Randika menuju kaki Gunung Batu Jaya. Batch pertama telah berangkat, kemudian para pentolan lainnya seperti Singa, Serigala, Jin segera menyusul. Kecepatan mobil Randika benar-benar cepat, dia sekarang sudah berada di pintu keluar kota. Dalam sekejap, dia sudah memangkas banyak waktu dengan menerobos lampu merah dan menyalip mobil-mobil. ......ˇ­. Kaki Gunung Batu Jaya. Sebuah mobil yang melaju dengan cepat segera berhenti di tempat ini. Mobil itu mengerem sekuat tenaga sampai mengeluarkan suara berdecit yang keras. Randika dengan cepat keluar dari dalam mobil, dia menyadari bahwa bis yang dinaiki oleh Hannah dkk terparkir di dekatnya. Tetapi, semua orang tidak ada di dalamnya. Sepertinya Tom membawa mereka ke sebuah jebakan di dalam hutan, benar-benar rencana yang sempurna! Randika berharap bahwa dia dapat datang tepat waktu. Dengan baju ala kadarnya, Randika mulai menjelajahi hutan dan menuju ke tempat Hannah berada. Tidak lama kemudian, Randika menemukan tempat wisata di tengah-tengah hutan. Kuil berdiri dengan gagah meskipun telah ditelan oleh waktu, pemandangan di sekitarnya juga terlihat indah dan nyaman. Ini merupakan lokasi wisata yang biasanya dituju oleh orang-orang, tetapi Randika tidak dapat menemukan siapa-siapa di sini. Setelah menyisir tempat ini sekilas, Randika terkejut bahwa dia menemukan banyak tas yang ditinggal. Tas-tas tersebut berisikan makanan, minuman dan HP. Melihat hal ini, hati Randika makin menggelap. Sepertinya Tom sudah mengawali kisah balas dendamnya dan menyandera semua orang. Tanpa ragu-ragu, Randika masuk ke dalam kuil. Pada saat ini, Tom duduk sendirian di tengah-tengah kuil. Dia duduk dengan mata tertutup, sepertinya dia sedang bermeditasi. Di depannya, sebuah dupa menyala dan menyebarkan bau dupa yang khas. Tetapi, asap yang dikeluarkannya bukanlah warna putih, anehnya warnanya adalah coklat kehitam-hitaman. Tom terlihat sendirian, tidak ada jejak Hannah dan teman-temannya sama sekali di ruangan ini. "Karena kita sudah ada di sini, kenapa kamu masih malu-malu dan bersembunyi seperti itu?" Tiba-tiba, Tom berkata dengan nada suara yang datar. Dia melihat ke arah pintu yang terbuka sedikit itu sambil tersenyum hangat. Randika berjalan perlahan keluar dari persembunyiannya dan menatap Tom. Wajahnya yang tersenyum itu memiliki kedinginan yang tersembunyi. "Jangan melihatku seperti itu." Kata Tom sambil tersenyum. "Mereka semua belum mati." "Anak ketiga dari keluarga Alfred, Tom." Randika berkata secara perlahan, tatapan matanya setajam bilah pedang. "Oh?" Tom mengangkat alisnya, dia lalu berkata sambil tersenyum. "Tidak heran kamu bisa menemukan identitasku yang asli. Jika kamu tidak bisa menemukannya, bukankah itu mencoreng nama Ares?" Mereka tidak berbicara lagi. Suara angin di hutan menyisir seluruh kuil ini dan berhembus ke arah mereka. Selain baju mereka yang tertiup, asap dupa juga tertiup dan terbakar lebih hebat daripada sebelumnya. "Apa kamu menungguku?" Tanya Randika. "Tentu saja." Tom masih tersenyum, senyumannya sehangat matahari. "Aku akan membuatmu melihat kematian mereka." "Apakah kamu yang bertarung denganku tadi malam?" "Nyaris saja kamu berhasil menangkapku." Tom sedikit tertawa. "Aku berhasil melukaimu, tetapiˇ­" Tatapan mata Randika semakin tajam. "Tentu saja kamu melakukannya, coba lihatlah." Tom perlahan mengangkat tangan kanannya dan perlahan melepas sarung tangan sintesisnya. Hati Randika langsung mengepal, itu luka yang dia berikan kemarin pada si pembunuh abnormal. Ini benar-benar kelalaian dari Randika. Sebagai orang yang atletis, tidak mungkin seorang pria bisa memiliki tangan yang selembut itu. Tom masih mempertahankan senyumannya, tetapi senyumannya yang sekarang mengandung kedinginan sedingin salju. "Aku pernah mengatakan bahwa aku akan menginjakmu seperti semut." Kata Tom dengan santai. "Itulah yang dikatakan ayahmu sebelum dia meninggal." Randika mendengus. Perlahan senyuman Tom itu menghilang, samar-samar wajahnya memancarkan aura kebencian dan kemarahan. "Sebelum ayahmu, adikmu bernama Hans sama belagunya dengan kamu. Pertama kali aku bertemu dengannya, aku menghancurkan testisnya. Pertemuan kedua aku mencabut nyawanya karena masih berani melawanku." Randika menceritakan semua ini seakan-akan hendak memprovokasi. Dan provokasinya berhasil karena senyuman Tom menghilang sepenuhnya. Dari arahnya, aura membunuh mulai menyelimuti dirinya dan kesuraman seperti di dalam foto mulai tampak dengan jelas. "Tetapi ayahmu adalah yang paling bodoh di antara kalian. Berkali-kali dia berhadapan denganku, dia masih saja tidak mengerti tempatnya. Aku terpaksa membunuhnya dan membunuh 70 anggota keluargamu yang lain. Kuakui, aku sedikit bersemangat ketika mematahkan leher mereka." Wajah Randika benar-benar datar, seolah-olah pembunuhan ini adalah hal yang wajar. Ekspresi Tom kembali menghitam, dia hampir di ambang batasnya! Namun, tiba-tiba dia tertawa dengan liar, dia mengeluarkan sebuah topeng dari balik punggungnya. Topeng tersebut adalah topeng setan yang dia pakai kemarin malam. "Meskipun itu adalah rumah yang sudah lama kutinggalkan, pada akhirnya itulah rumahku yang sebenarnya." Kata Tom sambil melihat topengnya. "Karena kamu menghancurkan keluargaku, aku akan menghancurkanmu." "Aku akan membunuhmu dan mencincang semua organum!" Tom memakai topengnya itu lagi. Dalam sekejap, napas dingin keluar dari balik topeng, lebih dingin daripada salju. Randika mendengus dingin, dia sudah menyebarkan tenaga dalamnya ke seluruh tubuhnya dan berlari menuju Tom. Kemarin malam dia berusaha menyembunyikan identitasnya, sekarang kenapa dia masih bersikeras memakai topengnya? Tidak masalah, aku akan tetap membunuhmu! Tom berlari dan Randika mengikutinya, sekarang mereka berdua berada di luar kuil, di halaman kuil yang sunyi dan tenang. Namun pada saat ini, Randika dapat merasakan bahwa tenaga dalam di dalam tubuhnya itu menegang. Seolah-olah mereka menahan aliran darahnya dan mencegah ototnya untuk berkontraksi. Tubuhnya perlahan menjadi lemas. Apa yang terjadi? Hati Randika mengepal, kenapa di saat-saat penting seperti ini justru tubuhnya bermasalah? Namun dia tidak bisa memikirkan hal ini lama-lama, Tom saat ini sudah menerjang maju. Sebelumnya, serangan Tom sangat mudah untuk dihindari oleh Randika. Tetapi karena sekarang tenaga dalamnya terkuras dan tubuhnya menjadi kaku, menghindar bukanlah sebuah pilihan. Pukulan demi pukulan datang bertubi-tubi pada Randika. Tangan kiri Randika bahkan nyaris tidak bisa berdiri, di bawah serangan Tom, tubuhnya makin lama makin lemas. Ekspresi Tom di bawah topeng makin menyengir. "Kenapa? Cuma segini kekuatanmu?" Randika mengulurkan tangan kanannya dengan sekuat tenaga, telapak tangannya dan tinju Tom bertemu di udara. Ketika dia berusaha menangkap dan mencengkeram erat tinju Tom tersebut, Randika benar-benar tidak punya kekuatan dan kecepatannya benar-benar lambat. "Jadi ini Ares sang Dewa Perang?" Tom tertawa keras. Dia melarikan diri dari cengkeraman Randika dan memberi Randika sebuah tendangan tepat di dadanya. Chapter 391: Berserk Kekuatan tendangan Tom ini luar biasa keras karena dia berputar terlebih dahulu untuk menciptakan momentum. Kedua tangan Randika sudah terangkat dan tendangan itu mengenai tangannya. Meskipun dia berhasil menahannya, karena tubuhnya lemas dan tidak memiliki kekuatan, Randika dibuat terpental oleh serangan ini. Randika tidak bisa berhenti berguling, setelah 10 meter berguling barulah dia bisa berhenti. Randika menatap Tom dengan matanya yang dingin. "Apakah kamu merasakan tenagamu menghilang dari tubuhmu?" Tom berdiri tenang sambil menatap Randika, dia kemudian berjalan perlahan sambil menggunakan ekspresi jijik. "Aku sudah bilang kan kalau aku akan menginjakmu seperti semut." Tom merasa dirinya sudah menang, nada suaranya mengandung arogansi yang luar biasa besar. "Apa aku keracunan?" Tanya Randika sambil terbatuk sekali. Dia memikirkan banyak kemungkinan di benaknya, dan dia mengambil satu kesimpulan yaitu dia sudah diracuni. Kalau tidak, tidak mungkin tenaga dalamnya itu tidak bisa bergerak sama sekali di dalam tubuhnya. "Kamu benar-benar pintar." Tom menyengir. "Benar, kamu keracunan. Ini adalah racun yang kukembangkan sendiri, cukup mengesankan bukan? Sekarang kamu tidak lebih dari sapi yang siap dipotong." "Apa itu karena air yang kuminum?" Randika berdiri dengan susah payah. "Mana mungkin air putih bisa beracun." Tom sepertinya sedang tertawa, Randika sama sekali tidak bisa melihat ekspresi apa yang dia kenakan di balik topeng itu. "Tapi tentu saja air yang kuberikan padamu itu memang berpengaruh. Jika kamu tidak meminumnya, aku tidak bisa melakukan apa-apa padamu." Jawab Tom. "Sebuah cairan khusus sudah kutambahkan pada botol air itu. Jadi jika kamu tidak meminumnya, trikku itu tidak akan berhasil." "Aku menggunakan kandungan yang ada di dalam air itu untuk menghasilkan efek kimiawi dengan menambahkan satu elemen tambahan. Dan elemen tambahan itu adalahˇ­" Tom menunjuk ke arah dalam kuil, dia menunjuk pada dupa yang mengeluarkan asap kecoklatan itu. Randika menatap asap itu, hatinya menjadi dingin. Tidak heran dia tidak menyadari bahwa dia keracunan. Tanpa diduga, asap yang dia hirup tadi itu bertemu dengan air yang diminumnya tadi dan menimbulkan reaksi kimia di dalam tubuhnya. Mustahil baginya untuk menghindarinya. "Kau pasti bertanya-tanya, bahan apa yang kupakai untuk membuat dupa itu." Tom mendengus dingin. Randika tidak berbicara sama sekali. Menatap topeng hantu tersebut, mendadak dia terkejut. "Benar, dupa itu terbuat dari koleksi-koleksiku!" Nada Tom sudah bagaikan orang gila. "Dupa itu terbuat dari jantung para korbanku!" Randika membalas dengan nada yang dingin. "Tidak heran kamu adalah keturunan keluarga Alfred, semua anggotanya pada gila dan abnormal semua." "Meskipun mereka semua lemah dan dimabuk oleh uang, mereka tetaplah keluargaku." Nada suara Tom kembali tenang. "Hari ini, aku akan mempersembahkan nyawamu untuk mereka." "Aku akan mencabut jantungmu dan mempersembahkannya ke depan kuburan keluargaku. Aku akan meremukkan tulang-tulangmu dan dagingmu akan menjadi makanan anjing." Ekspresi Randika tidak berubah. Dia segera menutupi lubang hidungnya dengan tenaga dalamnya dan berusaha untuk tidak menghirup asap itu lagi. "Jika kamu mau membunuhku, sayangnya kamu tidak punya cukup kekuatan untuk melakukannya." Randika menggelengkan kepalanya sambil mengangkat tangan kanannya. Setelah tangan itu terjatuh, banyak orang yang keluar dari balik kuil. Orang-orang ini adalah pasukan yang dikirim oleh Dion sebelumnya. Orang-orang ini segera mengepung dan membentuk lapisan pertahanan, mereka memancarkan aura membunuh yang kuat. Randika menatap tenang Tom yang masih memakai topengnya itu. Namun, tiba-tiba Tom tertawa keras. "Aku tidak menyangka kamu akan naif seperti ini. Aku bahkan tahu identitasmu sebagai Ares, apa kamu pikir aku datang tanpa persiapan sama sekali?" Mendengar hal ini, Randika mengerutkan dahinya. Tom berdiri tanpa bergerak, di bawah topengnya senyumannya sungguh lebar. Dia sudah mengetahui bahwa Randika memiliki pasukan di kota Cendrawasih selama ini, jadi jauh-jauh hari, dia sudah memberikan air yang beracun itu pada mereka tanpa sepengetahuan mereka. Pada saat ini, angin kembali bertiup dengan kencang. Angin tersebut membawa asap dupa itu ke tempat mereka sekarang. Randika berdiri dengan hati yang cemas dan para bawahannya itu menatap tajam pada Tom. Namun tiba-tiba, satu dari mereka merasa dirinya menjadi lemas, seolah-olah tenaganya dihisap sampai habis. Kemudian, orang itu terjatuh dan pingsan. Dia merasa bahwa dia sama sekali tidak memiliki kekuatan meskipun sudah berlatih keras di bawah komando Serigala. Bahkan satu per satu temannya juga ikut pingsan bersamanya. Satu per satu bawahan Randika ini tumbang. Dari 12 orang yang hadir, sekarang hanya Randika saja yang masih bisa berdiri. "Hahahaha!" Tom tertawa liar. "Bagaimana Ares? Pasukanmu itu tidak lebih daripada sampah." Ekspresi Randika berubah menjadi muram! Tom kembali tertawa lagi. "Pertarungan hari ini hanyalah mengenai dirimu dan aku, tidak ada yang bisa menghalangi kita! Aku akan mencabik-cabik jantungmu dan menginjak-injak mayatmu!" Seluruh kebencian Tom yang menumpuk tertuju pada Randika. Dalam sekejap, dia sudah menerjang ke arah Randika! Dengan tidak adanya kekuatan, membunuh Randika pasti perkara yang mudah. Bunuh dan balaskan dendam keluarganya! Hari ini Randika harus mati! Saat menerjang, Tom meraung keras dan terjangannya menjadi makin ganas. Randika menatap serangan mematikan Tom ini dan berkata dengan nada yang pelan. "Kamu pikir ini cukup untuk mengalahkanku?" "Kamu sendiri terlalu meremehkanku!" Pada saat kata-kata ini jatuh, kekuatan misterius Randika sudah mengalir ke dalam seluruh tubuhnya. Kekuatan itu menendang semua tenaga dalam Randika dan menguasai seluruh tubuh Randika. Randika menyebut mode ini "Berserk". Ketika melawan preman-preman kecil, tenaga dalamnya sendiri sudah cukup. Namun ketika melawan yang kuat seperti orang di dalam daftar Dewa atau bahkan 11 Dewa Olimpus lainnya, dia bisa memanfaatkan kekuatan misterius di dalam tubuhnya ini. Ini sama seperti Randika melepaskan sebuah segel di dalam tubuhnya! Meskipun resikonya juga besar, tetapi Randika tidak punya pilihan lain. Tom, yang menerjang maju, terkejut bukan main di dalam hati. Dia melihat bahwa Randika yang lemas itu memancarkan energi yang luar biasa dan kepribadiannya berubah menjadi bengis. Hal ini membuat hatinya bergetar. Apa yang sedang terjadi? Tom sendiri tidak tahu apa yang terjadi karena racunnya ini seharusnya membuat orang pingsan dan lemas selama 5 hari. Seharusnya Randika tidak punya kekuatan sama sekali! Tetapi kenapa Randika yang daritadi memiliki ciri-ciri keracunan ini tiba-tiba memiliki kekuatan? Tom benar-benar menjadi risau karena perubahan mendadak ini. Tetapi, dia harus segera membuang kekhawatirannya ini karena serangannya itu menjadi kurang efektif karena pikirannya yang kacau ini. Jika dia lengah, bisa-bisa Randika memanfaatkan keadaan ini untuk menghajarnya. Jadi dia akan membuang pikirannya ini jauh-jauh dan fokus terhadap serangannya. Setelah memantapkan hatinya, kecepatannya kembali menjadi cepat dan dia sudah siap melayangkan serangannya. Dia melompat tinggi dan menerjang ke bawah, kakinya sudah siap membelah tubuh Randika menjadi dua. Pada saat ini, mata Randika sudah menjadi merah darah, kekuatan mulai mengalir ke seluruh tubuhnya. Chapter 392: Hati yang Tersakiti "Mati!" Tom meraung keras, tetapi tatapan mata Randika acuh tak acuh. Tangan kanannya mengulur ke atas dan menangkap Tom yang berada di udara? APA!? Tom yang tercekik itu terkejut setengah mati ketika melihat sosok Randika. Hatinya tidak bisa berhenti gemetar ketakutan. Apa dia masih manusia? Mata merah seperti darah, nafsu membunuh bagaikan binatang buas, dia merasa bahwa Randika yang sekarang adalah orang yang baru saja keluar dari lautan darah. "Kamu ˇ­Mati!" Tangan kanan Randika dengan keras melempar Tom kembali ke udara. Dalam sekejap, Tom sudah bagaikan bola yang terlempar jauh. Tubuhnya tidak bisa berhenti berputar dan melayang menuju pintu kuil. Hati Tom sudah dikuasai oleh ketakutan, kenapa rencananya ini menjadi berantakan? Kenapa Randika tidak terpengaruh oleh racunnya? Mustahil, barusan saja Randika menjadi lemah. Kenapa dia mendadak menjadi seperti ini? Pada saat ini, ketika Tom masih berputar di udara, hanya dengan satu hentakan kaki, Randika tiba-tiba sudah berada di bawah Tom! Tom merasa bahwa hidupnya dalam bahaya, tetapi dia sama sekali tidak berdaya karena dia sendiri masih berputar di udara. Randika melayangkan sebuah pukulan ke atas. Tom hendak menahannya tetapi kekuatan yang besar terus berusaha menembus dirinya. DI bawah serangan ini, tulang Tom merasa bahwa dirinya hendak patah. Tom benar-benar terkejut. Tangannya sudah kehilangan kekuatannya, dia sudah tidak bisa merasakan apa-apa. Ya Tuhan, kekuatan apa ini?! Tom tidak punya waktu untuk memikirkannya, setelah serangan pertama Randika, dia menggenggam erat tangan Tom dan melemparkannya ke arah tembok. Sama seperti ketapel, Tom melesat cepat dan menembus ke dalam tembok. Kepala Tom sudah bersimbah darah dan seluruh tubuhnya sudah penuh dengan debu. Topengnya sudah lama copot dan memperlihatkan wajahnya yang kesakitan. Tetapi sebelum dia bisa bereaksi, Randika sudah menangkapnya dan berdiri di atasnya. Sama seperti bola pingpong, Randika membanting-banting Tom berkali-kali. Ini sangat gawat! Hati Tom sudah dikuasai oleh ketakutan dan perasaan ngeri. Kekuatan Randika benar-benar mengerikan, jika ini terus terjadi, dia sudah pasti akan mati! Tom terlempar sekali lagi, Randika terlihat berhenti dan sedang menunggu lawannya ini untuk berdiri. Ketika Tom berusaha berdiri, Randika sudah melesat dan melancarkan sebuah tendangan mematikan. Dia berputar-putar seperti tornado, kakinya seolah-olah siap menyedot nyawa lawannya dengan sekali sapuan. Tom ingin menghindar, tetapi semua sudar terlambat. KRAK! Suara tulang yang patah dapat terdengar keras, serangan Randika telah mengenai kaki kanan Tom. Dalam sekejap, Tom yang berusaha berdiri itu langsung terkapar di lantai. Dia merasa bahwa tulang kakinya sudah patah menjadi 2. Rasa sakitnya mulai menyebar ke seluruh tubuh, bahkan sebelum dia bisa mengerang kesakitan, dia sudah menerima pukulan Randika yang berikutnya. DUAK! Suara ledakan teredam dapat terdengar, Tom dipukul dengan keras saat dia meringkuk di lantai. Randika berdiri di atas tubuh Tom dengan wajah yang datar. Tom tidak bisa berhenti terbatuk, topengnya benar-benar sudah hancur lebur. Wajah tampannya sudah dipenuhi oleh darah dan air mata ketakutan mulai mengalir dari kedua sisi matanya. Dia dapat merasakan bahwa serangan barusan telah mematahkan tulang rusuknya. Dengan kaki kanan yang patah, baju compang-camping, dia terkapar tidak berdaya di lantai. Kenapa? KENAPA!!! Hati Tom benar-benar tidak rela menerima kekalahan ini. Dia sudah menyusun rencana ini dengan sempurna bahkan melakukan pendekatan yang penuh dengan kesabaran. Kenapa dia masih bisa terkapar di lantai? "Sudah kubilang, kamu terlalu lemah." Kata Randika dengan santai. Kedua mata Tom masih mengandung rasa terkejut. "Mustahil, kenapa kamu bisa tidak terpengaruh oleh racunku?" "Tidak ada yang bisa membunuhku." Tatapan mata Randika terlihat dingin. "Yang akan mati hari ini adalah kamu." "Hahaha! Arghˇ­" Tom mendengus dingin. "Bahkan jika aku kalah, apakah kamu yakin kamu bisa membunuhku?" Randika mengerutkan dahinya, namun pada saat ini, ada suara yang berteriak ke arahnya. "Kak! Kakak!!" Hannah? Dalam sekejap, Randika menoleh dan melihat ke arah pintu. Hannah lari menghampirinya sambil menangis. Dia terlihat berantakan tetapi setidaknya dia terlihat baik-baik saja. "Hannah!" Randika benar-benar merasa lega, dia langsung berlari ke arahnya. "Han, kamu baik-baik saja?" Wajah Randika penuh dengan kekhawatiran. "Ah! Siapa kamu? Jangan dekat-dekat! Pergi sana!" Hannah berteriak dengan panik, dia berusaha menghindari Randika. Randika panik. "Han, aku kakak iparmu Randika. Apa kamu lupa?" Meskipun Randika tidak tahu apa yang telah terjadi pada adik iparnya ini, sepertinya dia memahami bahwa mental Hannah sedang tidak stabil. Dia terlihat seperti anak kecil yang ketakutan. Randika benar-benar merasa sakit hati, ini semua adalah salahnya. "Kakakˇ­ kamu di mana?" Hannah mulai menangis di tanah. Ketika Randika berusaha memeluknya, sekali lagi Hannah berteriak dengan keras. "Jangan sentuh aku! Aku tidak kenal kamu!" Hannah mengambil langkah mundur, Randika benar-benar sakit hati. "Han, ini aku. Aku itu kakak iparmu. Sudah kamu tenang dulu, semuanya sudah terkendali." Randika berhasil menangkapnya dan menenangkannya. Setelah dipeluk oleh Randika, sepertinya Hannah mulai berhenti memberontak dan menjadi tenang. Walaupun begitu, tubuhnya masih gemetar. "Sudah, sudah, semuanya sudah berakhir." Randika mengelus rambutnya. "Kakakˇ­ Kakakˇ­" Hannah masih terus bergumam. Ketika mereka berdua masih berpelukan, pada saat ini, tiba-tiba sebuah pisau muncul di tangan Hannah. Tanpa disadari, pisau itu menancap di area jantung Randika. Wajah Hannah memperlihatkan ekspresi dingin dan bengis, dia menusukkan pisau itu tepat di jantungnya. Randika sama sekali tidak bisa bereaksi, rasa sakit mulai menguasai dirinya. Hannah berusaha membunuh dirinya? Randika membuka matanya lebar-lebar, dia tidak percaya Hannah akan melakukan hal seperti ini. ... Di depan kuil ini, suasananya benar-benar sepi. Angin berhembus dengan bebas dan membawa sensasi musim semi. Pada saat ini, Randika masih memeluk Hannah dan pisau itu menancap di daerah jantungnya. Namun, sepertinya pisau itu tidak bisa menancap lebih dalam lagi meskipun Hannah sudah memakai bobot tubuhnya untuk mendorongnya. Untungnya saja, mode Berserk Randika masih aktif. Perlu diketahui bahwa kekuatan misteriusnya itu jauh lebih kuat daripada tenaga dalamnya. Jadi saat dalam mode Berserk, kekuatan misteriusnya ini melindungi inangnya dari serangan fisik maupun dari dalam tubuh. Pisau itu masih menancap di dada Randika. Meskipun darah terus mengalir, sepertinya mode Berserknya masih melindungi dirinya. "Han, kamu kenapa?" Ada jejak-jejak kesedihan di mata Randika. Namun wajah Hannah seakan-akan menunjukan bahwa dia sudah menjadi gila. "HAHAHAHA!" Tawa yang keras dan liar dapat terdengar dari belakang. Tom berdiri dan terlihat sangat puas. "Aku tidak menyangka bahwa kamu masih belum mati karena serangan itu." "Apa yang kamu lakukan padanya?" Nada suara Randika benar-benar dingin. "Racun." Tom mengeluarkan sebuah pil dan menelannya. Dengan cepat luka-luka di tubuhnya mulai membaik. "Tetapi berbeda dengan racunmu, aku berhasil menguasai otaknya. Otaknya sudah tidak tahu mengenal dirinya itu, aku lah yang mengendalikan dirinya sepenuhnya!" "Tetapi aku memang tidak berharap banyak dengan perempuan bodoh itu. Kalau kamu memang bisa dibunuh semudah itu, aku tidak perlu repot-repot." Chapter 393: Macan yang Terluka Setelah memukul belakang leher Hannah dan membuatnya pingsan, Randika menaruhnya di tanah. Setelah itu Randika berbalik dan menatap Tom yang berwajah bangga itu. "Apa kamu merasa masih bisa menang?" Tanya Randika dengan nada dingin. "Yang akan keluar hidup-hidup dari tempat ini hanyalah aku." Tom tersenyum dingin. Meskipun kaki kanannya patah, dia berdiri hanya dengan satu kaki. Namun pada saat ini, Randika merasa ada lubang hitam di dalam tubuhnya. Kekuatan misterius di dalam tubuhnya dan tenaga dalamnya bagaikan terhisap keluar dari tubuhnya dan dia merasa lemas sekali. Pisau yang menancap di jantungnya itu mulai menguras tenaganya. "Sepertinya akulah yang menang." Tom kembali tertawa. Randika merasa bahwa seluruh dunia ini berbuah menjadi hitam, tetapi amarahnya semakin bertambah besar dan membuatnya tetap tersadar. "Yang mati adalah kamu!" Randika tiba-tiba meraung keras, sepertinya tenaganya kembali bersamaan dengan raungannya ini. Dengan cepat, dia kembali memasuki mode Berserk. Beberapa orang yang menyaksikan ini dari dalam kegelapan juga ikut gemetar ketakutan oleh aura yang dipancarkan Randika. Tom sendiri sudah melangkah mundur beberapa langkah. Dia membuka matanya lebar-lebar dan menatap Randika dengan penuh takut. Dia merasa bahwa Randika yang sekarang sudah benar-benar mirip raja iblis yang merangkak keluar dari dalamnya neraka. Tom menjadi cemas ketika dia melihat Randika melangkah menuju dirinya tanpa mengenakan ekspresi sama sekali. Tom, kau akan mati! "Apa kamu pikir aku datang sendirian?" Wajah Tom sedikit pucat ketika dia bersiul panjang. Tiba-tiba, dari dalam kuil muncul puluhan pembunuh! Orang-orang ini adalah bawahannya ketika dia berkeliling mencari ilmu. Berkat jasa mereka juga, Tom bisa meracuni bawahan Randika yang tersebar di kota. Puluhan orang ini muncul dan mengepung Randika di tengah. Namun, Randika sama sekali tidak bergerak ataupun mengubah ekspresi wajahnya. "Apakah ini kartu terakhirmu?" Tanya Randika. "Ini cukup untuk membunuhmu." Balas Tom dengan nada yang marah. Dengan satu sinyal, mereka semua menyerang Randika secara bersamaan. Melihat Randika yang terluka seperti ini, bagaimana mungkin dia bisa mengalahkan semua orang ini bukan? Tatapan mata Tom berbinar, semua kematian anggota keluarga Alfred, hari ini akan terbalaskan! Aku sudah susah payah mengatur semuanya, kamu harus mati hari ini! Dia melihat Randika yang sudah bagaikan macan terluka yang dikepung hiena, sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk mengucapkap selamat tinggal pada salah satu dari 12 Dewa Olimpus. Namun di detik berikutnya, mulut Tom ternganga lebar seakan-akan dia melihat hantu. Mustahil! Dia melihat Randika, yang terkepung total, melawan dengan kekuatan tempur yang besar. Para muridnya yang menyerangnya sama sekali tidak berdaya di hadapannya. Randika memanfaatkan momentum kecepatan mereka agar tidak terlalu membuang-buang tenaga. Ketika dua orang hendak melayangkan pukulan dengan kecepatan, Randika dengan cepat menendang area kemaluannya dengan keras. Memalukan tetapi efektif, medan perang memang kejam. Pembunuh yang berhasil mengendap di belakang Randika terbunuh oleh serangan kaki Randika yang mengenai lehernya. Dia bahkan tidak tahu apa yang terjadi, tahu-tahu dunia sudah berubah menjadi gelap dan tubuhnya terjatuh di tanah. Pembunuh yang menyerangnya dari kanan dan kiri dibuat terbang oleh kedua tinjunya. Kemudian, Randika mulai bergerak. Kecepatannya membuat semua orang tidak dapat mengikutinya. Pada saat ini, satu per satu pembunuh ini terkena pukulan yang fatal dan mulai bertumbangan. Benar-benar pertarungan yang sepihak. Tom sudah berdiri dengan hati yang ketakutan, tubuhnya tidak bisa berhenti gemetar. Seharusnya pisau tadi sudah cukup membuat darahnya kehabisan, kenapa dia masih bisa mempunyai kekuatan yang begitu besar? Memangnya dia masih manusia? Tangan kiri Tom terangkat, dia sepertinya memberi sebuah sinyal pada murid-muridnya. Ketika salah satu orang berusaha mundur ke samping Tom, dadanya tiba-tiba muncul sebuah lubang dan sebuah kepalan tinju mencuat dari dalam tubuhnya. Dari puluhan sekarang tinggal hitungan jari, Randika membunuh mereka semua tanpa ampun. Pada kali ini, para murid Tom yang sudah menempa banyak pengalaman berbahaya mulai menunjukan rasa takut. Orang ini, apakah dia masih manusia? Menghadapi puluhan orang dengan pisau menancap di dada, seharusnya ini pekerjaan yang mudah. Bahkan pisau yang menancap itu sudah bagaikan hiasan, sama sekali tidak ada pengaruhnya. Melihat Randika yang bersimbah darah dan aura membunuhnya yang ganas, orang-orang yang tersisa ini ingin kabur dari tempat ini. Keempat orang itu saling bertatap-tatapan dan mengangguk. Dengan cepat, mereka semua berbalik dan lari ke empat arah yang berbeda. Mereka sudah tidak ingin berurusan dengan Randika lagi. Benar-benar mengerikan, lari adalah pilihan yang paling tepat bagi mereka. Tetapi karena nafsu membunuhnya sudah sangat tinggi dan amarah di hatinya yang begitu besar, Randika mengejar salah satu dari mereka. Pada saat yang sama, ketika Randika berlari, dia memunguti pisau yang dimiliki para pembunuh yang sudah terkapar tak bernyawa di tanah. Ketika dia berlari ke arah kanan, dia melempar 3 pisau ke pembunuh lainnya. Ketika pembunuh itu berlari, dia merasakan aura ganas dari belakangnya. Dia tahu bahwa dia lah yang akan mati, setidaknya 3 teman lainnya bisa melarikan diri. Namun ketika dia berbalik dan berusaha menghadapi Randika, dia terkejut ketika melihat ketiga temannya sudah mati dengan pisau menancap di kepala mereka! Dalam sekejap, orang keempat ini juga tidak bertahan lama. Sekarang, di halaman kuil yang sunyi dan tenang ini hanya tinggal Randika dan Tom yang masih berdiri. Ketika angin gunung berhembus, ia bukan lagi membawa kenikmatan dan kesegaran alam. Hembusan angin ini membawa aura kematian dan bau darah yang pekat. Mayat para pembunuh ini berserakan di tanah, darah mereka yang mengalir dari tubuh mereka segera memenuhi udara. Randika berjalan di tengah-tengah mayat ini dan menatap Tom yang sudah kehilangan sikap arogannya. Sekarang, dia sudah dipenuhi oleh ketakutan dan kengerian! Kekuatan Randika benar-benar melampaui imajinasinya. Untuk perangkap kali ini, dia sudah membuang waktu dan tenaga yang begitu banyak, bahkan dia memiliki banyak rencana cadangan. Pertama-tama, dia akan membuat Randika keracunan dengan asap dupanya. Tetapi langkah ini gagal. Rencana kedua dia menggunakan tubuh Hannah untuk membuatnya lengah dan menusuknya hingga mati. Namun, sepertinya serangan ini gagal membunuhnya tetapi mampu melukainya. Meskipun begitu, Randika masih memiliki daya tempur yang luar biasa hebat! Rencana ketiga, dia menggunakan para muridnya untuk membunuh Randika yang kelelahan ini. Bahkan puluhan orangnya dihabisi tanpa ampun oleh Randika! Dan sekarang, Randika berjalan perlahan menuju dirinya! Tom tidak bisa menahan dirinya untuk tidak berjalan mundur sambil ketakutan. "Tidak, ini tidak mungkin!" Tom tidak ingin mempercayai apa yang ada di depan matanya. Rencananya benar-benar sempurna, tetapi semua itu dihancurkan dengan mudah oleh Randika! "Aku sudah bilang, kamu itu terlalu lemah." Tatapan mata Randika menjadi dingin. Detik berikutnya, dia sudah berdiri di depan Tom. Chapter 394: Bantuan Musuh Tom benar-benar kehabisan kata-kata, dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Ketika dia melayangkan sebuah pukulan, tangannya telah tertangkap oleh Randika. Dengan sebuah putaran kecil, tangannya itu patah dengan suara yang nyaring. Tangan kanannya dengan cepat berusaha mendorong Randika, tetapi Tom mendapatkan sebuah pukulan tepat di perutnya. Setelah serangan ini, Tom melayang dan membentur pohon yang besar. Kekuatan yang besar langsung meruntuhkan pohon tersebut dan membuat daun-daunnya bertebaran ke mana-mana. "ARGH!!" Tom yang kesakitan itu menatap Randika, yang masih terus berjalan menuju dirinya. Di wajahnya yang sekarang, Randika menampakkan senyuman jahatnya. "Hahaha!" Tom tertawa dan mengatakan. "Apakah ini akhir dariku? Ini benar-benar konyol." "Lebih baik simpan tawamu itu di neraka." Ketika suara itu terjatuh, dia memukul Tom sekali lagi. Tetapi, tiba-tiba Tom membungkuk dan berhasil menghindari pukulan tersebut. DUAR! Pukulannya mengenai pohon dan dengan cepat membuat lubang besar. Randika mendengus dingin, sepertinya gerakan barusan adalah gerakan terakhir Tom. Dia sudah tergeletak lemas di tanah tanpa ada tanda-tanda melawan. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk mengakhirinya! Randika menginjak Tom dengan satu kaki, namun pada saat ini, tiba-tiba insting Randika mengatakan bahwa masih ada bahaya. Dia langsung mendongak ke atas dan melihat ke arah hutan yang berada di kejauhan. ......ˇ­ Angin gunung masih berhembus dengan kuat, bau darah dari kuil sudah menyebar dengan cepat. Tatapan mata Randika tertuju pada hutan yang sunyi tersebut. Instingnya ini membuat bulu kuduknya berdiri, dia merasa nyawanya benar-benar akan hilang. Perasaan ini, sama seperti ketika dia merasakan musuh yang sangat kuat! Apakah salah satu dari 12 Dewa Olimpus ada di sini? Kemungkinan ini melayang di benaknya, tetapi dia segera membuang kemungkinan ini. Kesebelas Dewa lainnya tidak berada di Indonesia, kemungkinan besar orang tersebut merupakan orang yang selama ini belum menampakkan dirinya di depan publik tetapi memiliki kekuatan yang luar biasa. Selain Brahma dan Apollo dan beberapa lawannya yang lain, Randika belum pernah merasakan tanda bahaya seperti sekarang ini. Siapa dia? Kekhawatiran yang begitu besar segera melanda Randika. Di hutan yang jauh, seperti terdengar suara tembakan yang teredam. Peluru berkecepatan tinggi keluar dari moncong senjatanya dan melesat menuju Randika. Ketika membelah udara, peluru tersebut mengoyak tanaman, daun bahkan burung yang berusaha menghalangi dirinya. Kemudian suara pelatuk senjata itu terdengar lagi, tetapi ini berasal dari orang yang berbeda. Sepertinya setelah orang pertama menembak, orang kedua langsung menembakkan senjatanya. Interval waktu ini sangat berdekatan, sepertinya mereka cuma berjarak 0,5 detik. Namun peluru keduanya bukan mengincar Randika melainkan rute larinya! Jauh di dalam kegelapan, para penembak jitu sedang mengintai dirinya! Jika Randika dapat melihat sosok mereka, mungkin hatinya itu sudah tenggelam ke laut. Mereka adalah pembunuh bayaran nomor 3 di dunia yang berasal dari Jerman. Kemampuan mereka benar-benar mengerikan, bahkan satu tim dari mereka bisa membunuh orang-orang di dalam daftar Dewa dengan mudah. Bahkan kabarnya mereka pernah membunuh salah satu dari 12 Dewa Olimpus! Satu kaki Randika masih berada di udara, tetapi ketika dia merasakan rasa bahaya ini, dia dengan cepat dan tanpa ragu mengambil langkah mundur. Kecepatannya melampaui kecepatan manusia. Ketika dia berlindung, posisinya sebelumnya sudah dipenuhi dengan lubang peluru. Peluru-peluru tersebut membuat tanah menjadi berlubang dan menerbangkan debu yang tak terhitung jumlahnya. Pada saat ini, dari arah hutan, puluhan pembunuh bayaran ini menerjang maju dan mengeluarkan senapan mesin mereka. DRRRTTTTT!!! Suara tembakan yang bertubi-tubi dapat terdengar, selongsong peluru kosong berjatuhan di tanah. Di bawah serangan para penembak jitu ini, Randika terpaksa mundur. Akhirnya dia dipaksa mundur hingga masuk ke dalam kuil. Setelah para pembunuh ini menerjang maju, mereka tidak berhenti menembakan peluru mereka. Mereka tidak ragu-ragu menghancurkan peninggalan bersejarah ini. Namun di antara mereka ada yang berusaha menggotong Tom untuk pergi dari sini. Tujuan mereka adalah menyelamatkan Tom? Ketika Randika menyadari tindakan mereka ini, hatinya menyuruhnya membuat pilihan. Apakah dia harus mengejar dan membunuh Tom sekarang juga. Sama seperti Anna, jika dia membiarkan Tom kabur, kedua anggota keluarga Alfred ini bisa bekerja sama dan membuat rencana di belakangnya. Hal ini membuat hidup Randika tidak bisa tenang. Jika ini adalah Randika yang dulu, dia tidak akan begitu khawatir seperti sekarang. Tetapi karena dia yang sekarang memiliki beberapa wanita yang dicintainya, dia tidak bisa membiarkan mereka semua berkeliaran! Musuh-musuhnya ini selalu mengincar wanita-wanitanya! Apa pun yang terjadi, dia tidak bisa membiarkan penyakit itu lari. Oleh karena itu, dia memutuskan bahwa Tom harus mati sekarang juga! Pembunuh bayaran ini benar-benar ahli dalam pekerjaan mereka. Setelah menghujani Randika ribuan peluru, mereka mulai melangkah mundur sambil membawa Tom. Tetapi pada saat ini, sebuah ledakan besar telah terjadi dan semua pembunuh ini terkejut ketika melihat reruntuhan kuil itu melayang menuju mereka. Bom? Semua pembunuh bayaran ini terkejut, mereka tidak menyangka lawannya ini mempunyai bom. Tetapi setelah dilihat-lihat dengan baik, itu bukan reruntuhan yang melayang melainkan sebuah lonceng raksasa!! Dalam sekejap semua orang langsung menembakan senjata mereka, hujan peluru segera menghujani lonceng yang terus melayang menuju mereka dengan kecepatan tinggi itu. Suara senapan mesin terus terdengar tetapi lonceng itu terlihat sama sekali tidak terpengaruh. Suara senapan itu tidak pernah berhenti dan peluru mereka yang terjatuh di tanah itu juga tidak pernah berhenti bermunculan. Ketika para pembunuh bayaran ini berusaha kabur, para penembak jitu di hutan masih mengawasi mereka. Para pembunuh ini menyadari bahwa senjata mereka tidak berguna untuk menghancurkan lonceng itu, salah satu dari mereka memberi sebuah sinyal. Mendadak, 3 orang mengeluarkan granat dan melemparnya ke udara! DUAR! DUAR! DUAR! Suara ledakan yang besar terjadi di antara lonceng dan posisi mereka. Ternyata tinju Randika telah mementalkan granat-granat itu sebelum mereka dapat meledak di lonceng tempatnya bersembunyi. Ketika tangannya yang dipenuhi oleh tenaga dalamnya itu meninju loncengnya, pecahan-pecahan itu mengarah tepat ke semua pembunuh bayaran di bawah bahkan ke arah para penembak jitu di hutan! Kekacauan ini membuat orang-orang berlari dan debu mulai berterbangan, hal inilah yang ditunggu oleh Randika, dengan ini dia bisa menutupi ancaman para penembak jitu. Pada saat ini, sosok Randika yang seperti raja iblis ini kembali meraung. Meskipun para pembunuh bayaran ini sudah melewati ratusan medan tempur, melihat sosok Randika yang sekarang ini, mereka tidak bisa berhenti gemetar. "Tembak!" Para pembunuh bayaran ini segera menembak, melempar granat, melempar pisau dll. Randika sendiri sudah bagaikan dewa kematian. Dengan satu sapuan, granat-granat itu berjatuhan dan meledak di tanah. Beberapa orang langsung berteriak kesakitan ketika melihat kaki ataupun anggota tubuh mereka hilang karena ledakan itu. Orang-orang mulai berhenti menembakan senjata mereka karena ledakan barusan membuat medan tempur menjadi tertutup oleh debu dan tanah. Chapter 395: Musuh yang Berhasil Kabur Ketika semua orang di kuil ini ketakutan sambil memegang senjata mereka dengan erat, sosok Randika masih menghilang bagaikan ditelan oleh bumi. Saat salah satu dari mereka menoleh, mereka melihat sosok Randika tiba-tiba muncul di depannya. DRRRTTT! Dalam sekejap dia menembakkan seluruh magasinnya. Setelah seluruh peluru ditembakkan, dia baru menyadari bahwa moncong senjatanya sudah bengkok dan mengarah pada dirinya. Darah langsung mengalir dari dalam mulutnya, matanya seolah-olah tidak mempercayai apa yang terjadi. Saat kenangan-kenangan hidupnya melintas di matanya, dia sudah dilempar oleh Randika dan mengenai temannya yang lain. Para pembunuh ini memiliki senjata tetapi mereka merasa bahwa peluru mereka ini tidak berguna sama sekali. Apakah lawannya ini adalah hantu? Salah satu dari mereka berteriak kembali, artinya satu orang lagi telah mati di tangan Randika. Bagaikan dewa kematian, dia memanen nyawa mereka satu per satu. Sampai sekarang ini, mereka tidak tahu di mana Randika berada. Keringat dingin mulai mengalir deras di dahi dan punggung mereka. Selama misi mereka sejauh ini, mereka belum pernah menemui orang semengerikan ini. Salah satu pembunuh ini memiliki wajah seorang preman yang bengis, namun sekarang wajahnya bagaikan anak kecil yang menangis. Dia menelan air liurnya ketika melihat sebuah bayangan melintas di depannya. Senjata yang berada di tangannya segera mengikuti bayangan tersebut, namun ketika dia menoleh dia melihat leher temannya telah patah dan menghadap ke arah yang salah. Ketika dia ingin berteriak, sosok bayangan tersebut berada di depannya. Dia hanya merasakan hembusan angin yang kuat dan detik berikutnya lehernya sudah patah! Sisa-sisa dari pembunuh bayaran yang lain langsung dibunuh oleh Randika dalam hitungan detik. Randika sekarang menatap pada sisa orang yang sedang berlari sambil menggendong Tom di kejauhan, matanya berubah menjadi tajam. Pada saat ini, dia kembali merasakan rasa bahaya. Para penembak jitu di hutan sudah kembali membidik Randika. Randika tidak bergerak, namun pada saat ini, dia merasa bahwa jantungnya itu berdebar dengan kencang, dia juga dapat merasakan bahwa tenaga di dalam tubuhnya mulai terhisap keluar dari tubuhnya. Sepertinya dia mulai mencapai batasnya. Namun, apakah dia rela melepaskan Tom? Tentu saja tidak! Mata Randika menajam, dia memaksa kekuatan misteriusnya itu bekerja sekali lagi. Bagaikan singa yang turun dari singgsananya, dia mengejar Tom dengan kekuatan penuh! Para penembak jitu itu juga menekan pelatuk mereka, peluru-peluru mereka dengan akurat mengikuti Randika. Ketika Randika menghindar ke kiri dengan cara melompat, 5 penembak jitu itu langsung menembakan dan menutupi jalur mendarat Randika. Namun, mereka tidak menyadari bahwa Randika memegang sebuah pistol. Randika berbalik dan menembakkan 2 peluru dan berhasil mendarat dengan selamat. Rupanya 2 peluru yang dia tembak itu bertabrakan dengan 2 peluru penembak jitu! Para penembak jitu itu menyadari gerakan ini, hati mereka merasa ngeri. Mereka tidak pernah melawan orang sekuat ini sebelumnya, bahkan mereka tidak tahu bahwa orang bisa menembak tepat pada peluru yang sudah ada di tengah udara. Apa yang mereka lakukan berikutnya adalah menembak terus menerus. Peluru demi peluru keluar dari senapan mereka dan menuju Randika. Pistol yang dibawa Randika itu tidak memiliki akurasi yang baik jika ditembakkan untuk jarak jauh jadi dia hanya bisa bertahan dan tidak bisa menyerang mereka. DOR! DOR! DOR! Hujan peluru itu masih mengikuti Randika. Ketika Randika semakin mendekati Tom, rasa bahaya di hatinya masih belum hilang, bahkan jauh lebih kuat lagi! Randika mau tidak mau berbalik dan menatap ke arah hutan, dia berusaha mencari sumber dari kegelisahannya ini. Namun pada saat ini, tiba-tiba sosok Tom telah menghilang! Pada saat Randika menyadari ini, rasa bahaya yang menggenang di hatinya juga ikut menghilang. Randika tidak memiliki ekspresi apa-apa di wajahnya, tetapi matanya terus menatap para penembak jitu di atas. Tentu saja, ada orang lain yang membantu Tom. Kalau saja tidak ada pihak ketiga ini, Tom sudah pasti mati! Dalam sekejap, Randika berlari menuju lokasi para penembak jitu itu. Kecepatannya benar-benar cepat, tetapi ketika dia sampai, sebuah helikopter sudah terbang tinggi di atasnya. Wajah Randika tenggelam. Ketika dia berusaha mencari petunjuk di lokasi para penembak jitu itu, dia menyadari ada sebuah nama yang ditulis di sebuah batang pohon dengan darah. ANNA! Lagi-lagi perempuan satu itu! Ketika Randika melihat nama itu, darahnya mendidih dan kemarahannya memuncak. Randika kemungkinan besar dapat melihat apa yang telah terjadi. Sepertinya Anna menghubungi Tom dan menjelaskan semuanya ketika dia kabur dari Indonesia. Dengan kata lain, kedua saudara ini saling bekerja sama untuk menghabisi dirinya. Apa pun yang terjadi, Tom dan Anna harus mati! Merasa tidak ada apa-apa lagi, Randika berjalan kembali menuju kuil. Terlebih lagi, mode Berserknya sudah hampir habis, sebentar lagi tidak akan ada yang melindungi dirinya dan pisau yang menancap di dadanya. Tenaga dalam Randika juga melayang keluar dari tubuhnya, pisau itu terus membuat dirinya semakin lemah. Di depan kuil, banyak mayat yang bergeletakan. Ketika melihat Hannah yang tak sadarkan diri, Randika tidak memakai ekspresi sama sekali. Namun pada saat ini, tidak jauh dari tempatnya berdiri, dia bisa mendengar suara teriakan. "Tuan, tuan!" Suara pasukannya! Hati Randika terasa lega, seluruh tubuhnya menjadi rileks. Namun karena saking rileksnya, rasa sakit dan capek langsung menguasai dirinya. DUAK! Randika dalam sekejap telah pingsan dan pisau itu masih menancap di dadanya. Namun di tengah kesadarannya itu, dia dapat mendengar suara Dion. "Tuan, bertahanlah! Cepat siapkan mobil, kita harus membawa tuan ke rumah sakit!" ..... Ketika dia membuka matanya, Randika merasa bahwa dia sedang tidur di atas ranjang dan suara roda dapat terdengar dengan jelas. Di sekitarnya banyak orang berjubah putih mengelilingi dirinya. "Siapkan ruang operasi sekarang! Hubungi keluarga dari pasien!" Tidak lama setelah itu, cahaya lampu yang terang menghalangi pemandangannya. "Sarung tangan!" "Gunting!" "Siapkan obat bius!" Satu per satu perintah dilayangkan oleh dokter yang menangani operasi ini, para perawat dan dokter pembantu memberikannya semua alat yang dibutuhkan. Lampu ruang operasi telah menyala, selama periode ini, Hannah sudah sadar dan racun di dalam tubuhnya sudah menghilang. Ketika dia bangun, dia mendengar seluruh cerita dari temannya dan terkejut bukan main. Mereka mengatakan bahwa dia menusuk kakak iparnya? Ketika diceritakan, Hannah tertawa keras karena merasa dirinya ditipu. Tapi teman-temannya yang melihat kejadian itu tidak tertawa, wajah mereka benar-benar serius. Melihat wajah teman-temannya itu, Hannah langsung mencengkeram erat perawat yang ada di sampingnya dan bertanya dengan nada yang buru-buru. "Di mana kak Randika? Apa kak Randika baik-baik saja?" "Siapa kak Randika itu?" Setelah mendengar penjelasannya, perawat ini menyadari siapa yang dimaksud Hannah. "Kakak iparmu ada di ruang operasi." Ruang operasi? Dengan wajah datar, Hannah langsung keluar dari tempat tidurnya dan berlari sekuat tenaga ke ruang operasi. Pada saat yang sama, Inggrid mendapatkan kabar mengenai Randika dan langsung menuju rumah sakit. Chapter 396: Operasi Operasi Randika sudah berlangsung selama 3 jam. Dahi sang dokter sudah dipenuhi oleh keringat, kondisi Randika benar-benar kritis sehingga dia tidak berani melambat sedikit pun. Seharusnya luka semacam ini sudah membunuhnya sejak pisau itu menancap pertama kali, tapi entah kenapa pemuda ini masih hidup. Sekarang adalah waktu penentuan yaitu mencabut pisau itu! .... Di luar ruang operasi, Inggrid dan Hannah menunggu dengan hati yang cemas. "Han, sebenarnya apa yang telah terjadi?" Tanya Inggrid dengan cemas. Tidak ada ketenangan di wajah direktur perusahaan nomor 1 kota ini. Hatinya sekarang berada di Randika. Dia tiba-tiba kepikiran tentang perjuangan mereka berdua ketika diculik oleh Shadow dan melawan keluarga Alfred. Sosok suaminya ini selalu gagah ketika menyelamatkan dirinya. Ran, kamu benar-benar luar biasa sebelumnya. Kali ini, kamu pasti bisa melewatinya! Hati Hannah benar-benar kacau sekarang, ketika mendengar pertanyaan Inggrid, dia menangis dengan hebat. "Kak, maafkan aku. Gara-gara aku kak Randika menjadi seperti ini." Hannah menangis di pelukannya, Inggrid dengan sabar menenangkannya. "Kita semua dijebak sama Roberto dengan membawa kami ke tempat terkecil, lalu kata teman-temanku akulah yang menusuk kak Randika. Tapi aku tidak pernah ingat melakukannya! Kak, bagaimana kalau kak Randika mati gara-gara aku?" Pada akhirnya, inilah yang menjadi sumber penyesalan Hannah. Inggrid sendiri tidak dapat mendengar jelas perkataan Hannah, tetapi dia tahu bahwa masalah ini benar-benar rumit. "Han, jangan khawatir. Randika akan baik-baik saja." Yang bisa dilakukannya hanya menunggu dan berdoa. ...ˇ­. Di ruang operasi, pisau yang menancap di dada Randika telah dicabut. Setelah pisau itu tercabut, tubuh Randika memancurkan darahnya dari lubang pisau tersebut. Sang dokter langsung menekan lubang tersebut dan berteriak. "Cepat ambil kantong darah lagi! Golongan darah pasien adalah B!" Perawat tersebut dengan cepat mengeluarkan kantong darah yang sudah dipersiapkan, namun tiba-tiba mereka semua di sana melihat fenomena yang aneh. Darah yang disalurkan ke dalam tubuhnya sepertinya menolak untuk masuk! Apa yang terjadi!? Mata sang dokter terbelalak, dia tidak pernah melihat hal ini sebelumnya. Mana ada orang yang menolak transfusi darah meskipun golongan darahnya sama? Namun, kondisi dan waktu yang ada tidak bisa membuat mereka memikirkannya. Dokter itu langsung berteriak kembali. "Cepat cari anggota keluarganya! Karena suatu alasan, tubuh Randika menolak darah yang disalurkan, kondisinya masih dalam kondisi kritis. Darah terus mengalir meskipun beberapa orang terus menekan lukanya. ... "Apakah kalian anggota keluarganya?" Ruang operasi tiba-tiba terbuka dan seorang perawat keluar dengan wajah yang cemas. "Iya." Inggrid dengan cepat berdiri dan menjawab. "Kami butuh darahmu untuk pasien." Inggrid dan Hannah segera masuk dan melihat Randika yang terbaring lemah di meja operasi. Hati mereka benar-benar sakit ketika melihat sosok Randika. ..... Golongan darah Inggrid juga B, ketika darahnya disalurkan menuju Randika, tidak ada tanda-tanda penolakan. Karena Inggrid dan Randika berhubungan badan dari waktu ke waktu, hal ini juga diam-diam mempengaruhi darah Inggrid. Berkat hal ini, darah Inggrid diterima oleh tubuh Randika. Melihat hal ini, para dokter ini menghembuskan napas lega. ...ˇ­. Operasi berlanjut. Setelah transfusi darah, Inggrid dan Hannah keluar dari ruangan operasi sekali lagi. Lima jam berikutnya, akhirnya operasi Randika telah selesai. Para dokter benar-benar lega dan bisa beristirahat. Namun, kondisi Randika ditentukan satu hari ini. Jika dia tidak bangun dalam waktu 24 jam, dia akan mengalami mati otak. Terlebih lagi, jika tadi Randika langsung mencabut pisaunya dari awal, dia sudah pasti lama mati sebelum mencapai rumah sakit. ..... Randika merasa bahwa dirinya berada di ruangan putih yang lebar dan luas, anehnya lagi dia sendirian. Ketika dia berjalan untuk mencari petunjuk, dia dapat mendengar suara seseorang. "Kak Randika, kak Randika, bertahanlah!" Namun, suara itu sangat jauh. Randika merasa bahwa suara yang memanggilnya itu dipenuhi dengan kesedihan dan kekhawatiran, tentu saja dia tahu siapa yang memanggilnya itu. Ketika dia berlari menuju suara Hannah, dia juga dapat mendengar suara Inggrid yang memanggil dirinya. Ketika dia menoleh, Inggrid tiba-tiba muncul di depannya! Istrinya ini benar-benar cantik, wanita tercantik di dunia! Namun ketika dia berusaha memeluknya, Inggrid seakan-akan terhisap oleh angin dan menjauhi dirinya sambil berteriak. "Randika!" Randika ingin memanggil namanya, tetapi tidak ada suara sama sekali yang bisa keluar dari mulutnya. Dia tidak tahu kenapa dirinya bisa seperti ini. Dia dapat mendengar tetapi tidak bisa berbicara. Untuk waktu yang lama, Randika terus berlarian tanpa henti di ruangan putih yang tidak habisnya ini. Sejauh mata memandang, hanya ada keputihan yang ada. Di ruang perawatan. Melihat Randika yang tergeletak lemah, Hannah dan Inggrid benar-benar terdiam. "Kak, cobalah untuk tidur, aku akan menjaga kak Randika." Kata Hannah sambil tersenyum. "Biarkan aku menjaganya, ini juga salahku kak Randika berakhir seperti ini." Inggrid menggelengkan kepalanya. "Han, ini semua bukan salahmu." "Kak, ini sudah malam, bagaimana kalau kita bergantian menjaganya? Biarkan aku yang menjaganya duluan." Kata Hannah sambil tersenyum. Melihat mata adiknya yang keras kepala, akhirnya Inggrid mengangguk. "Aku harap Randika cepat bangun." Kata Inggrid sambil menggenggam tangan Randika. Hannah langsung berkata dengan lantang. "Kak, kak Randika pasti sebentar lagi bangun! Luka seperti ini bukan apa-apa baginya!" Inggrid mengangguk. ...ˇ­.. Randika tidak tahu dia ada di mana, tetapi ketika dia membuka matanya lagi, dia sudah berpindah tempat. Kali ini ruangannya bukanlah putih, sekarang dia berada di ruangan dengan sedikit perpaduan warna putih dan biru. Ketika dia melihat tempat ini, dia mengerti mengapa dia ada di tempat seperti ini. Setelah beberapa saat, Randika merasa tubuhnya semakin membaik dan dia bisa berjalan kembali. Beberapa jam yang lalu, setelah menerima transfusi darah dari Inggrid, kekuatan misterius Randika sepertinya mulai bergerak kembali. Setelah mengalami cedera yang serius, sepertinya kekuatan misteriusnya itu berhasil mengalami kemajuan. Oleh karena itu, tubuhnya mengalami kemajuan yang pesat. Ditambah lagi, tubuhnya mengalami regenerasi yang cepat dan lukanya semakin membaik. Ini benar-benar luar biasa, ketika dia bangun nanti pasti dia semakin kuat lagi. Randika masih berada di dunia mimpi, tetapi dia tiba-tiba bisa merasakan kehangatan di tangannya dan ada suara di samping telinganya. "Kak, maafkan aku, ini semua salahku! Kak Randika harus kuat, aku ada di sini untukmuˇ­" Kehangatan di tangannya ini segera menyebar ke seluruh tubuhnya. Randika tidak tahu perasaan apa ini, tetapi perasaan hangat ini benar-benar nyaman. Kemudian, dia menggenggam erat tangannya. Di ruang perawatan, Hannah menaruh tangan Randika di depan dadanya. Ketika dia sedang berdoa sambil memejamkan matanya, dia dapat merasakan bahwa tangan Randika itu meremas dadanya. Keempukan apa ini? Kenapa Randika merasa familier dengan sensasi empuk ini? Randika masih tidak sadarkan diri. Di sisi lain, Hannah dapat merasakan tangan Randika yang meremas tersebut, dia dengan cepat menjadi bersemangat. "Kak, apakah kamu sudah sadar?" Chapter 397: Pulih Kembali Setelah berkata penuh harap, Randika masih tidak bergerak ataupun menjawab kata-katanya. Hannah langsung kembali depresi lagi. "Kak, cepatlah bangun. Aku tidak bermaksud untuk menyakitimu." Hannah mengatakannya sambil berurai air mata. Pada saat yang sama, dia menutup matanya dan menggenggam erat tangan Randika sambil berdoa. "Ya Tuhan, tolong lindungilah kak Randika. Jangan biarkan dia mati atau aku akan menanggung penyesalan ini seumur hidupku." Hannah berdoa dengan sungguh-sungguh. "Kak, jika kamu tidak bangun seperti saat kita di gua, aku mungkin sudah mati." Hannah menatap Randika dengan serius. "Kak, aku percaya kamu bisa bangun lagi seperti kapan hari." Kesadaran Randika masih kabur, tetapi dia dapat merasakan bahwa Hannah ada di sekitarnya. Dia ingin membuka matanya tetapi dia tidak memiliki kekuatan untuk melakukannya. Di luar ruang perawatan, Singa dan Jin menunggu dengan tenang. Orang-orang yang lewat merasakan hal yang aneh pada mereka berdua. Singa dan Jin bukanlah orang sembarangan. Penampilan Singa sudah mirip seorang gelandangan, bajunya compang camping dan robek di mana-mana. Tubuhnya sendiri penuh dengan luka yang mengering. Jin memakai baju yang elegan dan rapi, dia mirip seorang bangsawan. Tetapi ketika mereka berdua duduk bersama-sama, hal ini membuat suatu pemandangan yang aneh. Menurut orang-orang, mereka sudah mirip seorang budak dan majikannya. "Liat apa kalian hah? Kubunuh kalian!" Tatapan sangar Singa membuat orang-orang merinding ketakutan. Hal ini langsung membuat orang-orang kabur tanpa berani menoleh ke belakang. "Sudah diamlah." Kata Jin dengan tenang. "Ini rumah sakit, bukan jalanan." Singa dengan santai bersandar di kursi dan menatap Jin. "Kamu ini meremehkan tuan kita ya? Tubuh tuan kita itu abnormal, beda dengan kita semua. Dia tidak apa-apa, dia hanya butuh waktu untuk istirahat." "Istirahat?" Jin menatapnya tidak berdaya. "Tuan kita itu tertusuk di jantungˇ­" "Mau itu jantung, ginjal, kepala, semuanya tidak masalah." Singa menguap. "Kamu benar-benar meremehkan kemampuan tuan kita, sebentar lagi mungkin dia sudah siuman. Santai saja." "Benarkah?" Hati Jin penuh dengan kegelisahan. "Kamu kira aku berbicara omong kosong?" Singa menatapnya dan kembali berkata. "Apa kamu lupa betapa hebatnya bos kita di medan perang? Semakin banyak perang yang dia lewati, semakin kuat bos kita itu! Meskipun aku tidak tahu apa yang berbeda, bos kita itu bukanlah manusia biasa. Fisik kita bukanlah apa-apa apabila dibandingkan dengannya." Jin merasa sedikit lega, kemudian dia bertanya. "Bagaimana dengan orang yang melukai tuan kita?" "Serigala sudah mengejarnya dengan beberapa bawahannya, tetapi mereka dapat menutupi jejak mereka dengan baik. Bahkan Serigala tidak dapat menemukan jejak apa pun mengenai mereka." Jawab Singa. "Tetapi mau mereka sembunyi di mana pun, kita akan mengejarnya walau ke ujung bumi." "Sepertinya Dion dan pasukannya gagal mengejar mereka ya??? Kata Jin. "Sepertinya begitu, perlu diingat bahwa musuh kita itu memakai helikopter, sangat susah untuk menyusulnya. Ketika dia berhasil mengejar pun, helikopter itu sudah terbakar agar tidak meninggalkan jejak sama sekali." Singa kembali menjelaskan. Melihat para perawat yang memakai rok mini, dia tidak bisa menahan diri untuk memuji mereka. "Sialan, mereka ini cantik-cantik!" ... Di dalam ruangannya, Randika masih tidak sadarkan diri dan Hannah masih menggenggam erat tangannya sambil terus berdoa. Pada saat ini, Randika merasa bahwa tubuhnya sudah pulih secara total. Kesadarannya yang berada di ruangan putih itu perlahan kembali menuju tubuhnya. Setelah beberapa saat, Randika dapat mendengar bisikan Hannah tepat di telinganya. "Kak, kamu harus bangun. Kak, kamu harus cepat pulih." Adik iparnya ini memang perhatianˇ­ Randika masih belum membuka matanya, di tangannya dia merasakan kembali sensasi empuk tadi. Benda itu empuk dan elastis, mirip seperti marshmallow. Ketika dia meremasnya, benda itu mental kembali ke bentuk semula. Benda ini kenyal dan bundar, benar-benar menyenangkan untuk dimainkan. Setelah itu, dia terus memainkannya. Tindakan Randika ini jelas disadari oleh Hannah, perempuan ini merasa bahwa dadanya itu diremas-remas oleh seseorang. "Kak??" Hannah benar-benar terlihat bingung, wajahnya sudah merah seperti tomat dan hatinya benar-benar senang. "Kakak sudah bangun! Doaku berhasil!" Hannah benar-benar senang ketika melihat tangan itu terus meremas dadanya. Tetapi ketika dia melihat wajah Randika, sepertinya kakak iparnya ini belum membuka matanya. "Kak, apa kamu sudah bangun?" Hannah menghampiri dan melihatnya lebih dekat. Tetapi dia tetap membiarkan tangannya itu meremas dadanya, dia takut jika tangannya itu dilepas maka kakak iparnya ini kembali tidur. Dia yang sekarang hanya berharap tidak ada orang yang akan masuk dan melihatnya. Bagaimanapun juga, ini masih rumah sakit dan pemandangan ini terlalu vulgar. "Kak? Kak Randika?" Di tengah-tengah kesadarannya yang kembali, Randika merasa ada yang memanggilnya. Akhirnya kelopak mata Randika bergerak dan suara itu makin jelas terdengar di telinganya. Suara "Kak Randika" memenuhi telinganya. Hannah memanggil dirinya! Kelopak matanya berusaha membuka. Dan di bawah tatapan mata Hannah, akhirnya Randika berhasil membuka matanya. Pemandangannya yang putih dan tidak fokus itu perlahan menjadi jernih. "Kak, kamu benar-benar bangun!" Di sampingnya ada Hannah yang terlihat bersemangat, dia hampir melompat-lompat saking gembiranya. Pada saat ini, tiba-tiba tangan Randika menggenggam erat. Hampir seluruh dada Hannah terperangkap oleh jari-jarinya. Menghadapi serangan mendadak ini, Hannah mendesah pelan. Wajahnya merah tetapi dia tidak marah, hatinya yang sekarang benar-benar diselimuti oleh kegembiraan. Mau bagaimanapun juga, fakta mengenai kakak iparnya ini mesum tidak bisa dibantah. Sebelum ini dia sudah memainkan tubuhnya dan ketika dia bangun, dia masih memainkan tubuhnya! Benar-benar kurang ajar. Tetapi, apa yang telah terjadi siang tadi masih segar di ingatannya. Jika Randika sampai mati ataupun cacat, Hannah akan merasa bersalah seumur hidupnya. Kondisi kakak iparnya sampai seperti ini karena dia berusaha melindungi dirinya, dan sepertinya dirinya lah yang menusukkan pisau itu tepat di jantungnya. Randika yang sudah sadar ini berusaha untuk duduk. Hannah menyadari niat Randika ini dan langsung mengambil bantal ekstra di lemari untuk dijadikannya sandaran. "Sebentar kak, hati-hati!" Pada saat ini, Randika ingin mengambil kembali tangannya yang ada di dadanya Hannah. Tetapi dia berhenti dan masih meremasnya Hmm.. situasi apa ini? Randika lumayan bingung. Seharusnya adik iparnya ini sudah berteriak dan bahkan mencoba memukulnya, yang terjadi justru dia membantu dirinya untuk duduk. Terlebih lagi, ketika dia berusaha menyusun bantal di belakang punggung Randika, Hannah berada tepat di samping wajahnya. Dada besar itu menggantung tepat di matanya! "Pelan-pelan kak." Setelah selesai menyusun, Hannah menyadari ada yang aneh. Ketika dia melihat ke bawah, dia menyadari bahwa kakak iparnya ini menatap dadanya lekat-lekat. Kali ini dia merasa malu setengah mati. Hannah dapat merasakan tatapan Randika itu menembus pakaiannya dan sedang melihat tubuh telanjangnya. Dalam sekejap wajahnya menjadi merah seperti tomat. Namun kali ini dia sama sekali tidak marah, hanya merasa malu. Sebelum-sebelumnya, Hannah selalu melawan dan marah ketika Randika mencoba berbuat mesum padanya. Pada saat ini, Hannah hanya berdiri seperti anak kecil dengan wajah merahnya. Suasana ruangan menjadi canggung dan keduanya masih terdiam. Pada saat ini, tiba-tiba pintu ruangan terbuka dan Inggrid berjalan masuk. Melihat sosok Randika yang duduk, istrinya ini menghembuskan napas lega. Chapter 398: Besar dan Keras "Sayang, kenapa kamu ada di sini?" Randika dengan cepat mengambil kembali tangannya yang ada di dadanya Hannah dan langsung mengalihkan topik. Hannah juga berbalik dan menatap Inggrid. "Kamu terluka begini, memangnya aku bisa diam di rumah?" Inggrid berjalan ke sisi ranjang dan berkata pada Hannah. "Han, kamu pasti capek hari ini, bagaimana kalau kamu istirahat dulu?" Jantung Hannah masih berdebar kencang, pengalamannya ini belum pernah dia rasakan sebelumnya. "Baiklah, aku akan beli air minum dulu." Jawab Hannah sambil tersenyum. Inggrid lalu duduk di samping Randika dan memegang tangannya, dia berkata dengan nada yang pelan. "Kamu tidak boleh seperti ini lagi." Melihat kekhawatiran yang dimiliki oleh Inggrid, hati Randika tergerak. Istrinya ini selalu ada untuknya. Apa yang paling penting di kehidupan ini? Tentu saja pasangan yang berjalan bersama kita baik di saat buruk ataupun baik. Inggrid berada di peringkat teratas di hati Randika, dialah istri pertamanya ketika dia sampai di Indonesia ini. Meskipun pertemuan pertama mereka tidak masuk akal, akhirnya mereka saling mencintai satu sama lain seiring berjalannya waktu. "Kamu lapar?" Inggrid mengeluarkan sebuah kotak bekal dari dalam tasnya. "Wah, apakah istriku ini memasak untukku? Sepertinya enak nih." Tatapan mata Randika berbinar-binar. Kemampuan memasak Inggrid perlahan terus meningkat, dari tidak enak sekarang sudah menjadi enak. "Ini sup ayam. Perutmu pasti kaget kalau makan makanan berat jadi aku pikir lebih baik kamu makan makanan yang hangat." Jawab Inggrid. Randika mengendus supnya dan aroma nikmat segera memasuki hidungnya. Dia segera ingin mencicipinya, dia langsung mengambil sesendok penuh. Tetapi ketika cairan itu masuk ke tubuhnya, dia langsung memuntahkannya. "Kenapa? Apa tidak enak?" Tanya Inggrid dengan khawatir. Randika mengusap mulutnya dan berkata sambil tersenyum. "Sayang, apa ada bahan lain yang kamu tambahkan ketika memasak?" "Iya." Inggrid mengangguk. "Aku tambahkan obat-obatan Cina ke dalamnya, kamu habis kehilangan darah jadi aku mencampurkan banyak tanaman herbal yang bagus buat kamu." Obat-obatan Cina? Randika agak tertegun, kalau cuma itu saja seharusnya rasanya tidak akan sepahit ini. "Aku juga menambahkan ginseng, buah-buahanˇ­" Setelah menyebutkan semuanya, Inggrid bertanya dengan santai. "Setelah makan sup ini, seharusnya tubuhmu pulih seperti semula!" Pantas saja pahit! Istrinya ini menambahkan banyak bahan tanpa memikirkan rasa sama sekali! Sepertinya istrinya ini benar-benar khawatir pada dirinya sampai-sampai otaknya agak sakit. Randika terlihat depresi, Inggrid menyadari ini dan berkata padanya. "Kalau kamu tidak mau ya tidak apa-apa, aku bisa beliin kamu makanan yang lain di kantin bawah." "Jangan begitu, kamu sudah susah payah membuatnya, mana mungkin aku tidak memakannya?" Kata Randika dengan nada yang lembut. "Sudah sini, aku habiskan ya?" Tetapi sejujurnya, tubuh Randika sudah pulih seperti dulu. Asalkan dia istirahat beberapa waktu, tubuhnya akan kembali kuat seperti sebelumnya. Mendengar kata-katanya ini, Inggrid tersenyum lebar seperti anak kecil. Randika dan Inggrid mengobrol beberapa waktu. Setelah mengetahui suaminya ini baik-baik saja, hati Inggrid benar-benar lega. Ketika Hannah kembali, Inggrid berdiri dan siap-siap untuk pergi. Setelah Inggrid pergi, Randika menatap panci berisikan sup pahit itu. Dia tidak berani memakannya lagi, dia menghabiskan setengah panci itu dengan susah payah. "Kak, apa yang dikatakan oleh kak Inggrid?" Tanya Hannah sambil tersenyum. "Dia mengatakan kalau kamu harus menjagaku dengan baik." Randika juga tersenyum. Setelah terdiam beberapa saat, Hannah berkata dengan nada yang serius. "Tentu saja." "Baguslah kalau begitu." Randika mengangguk dan tersenyum. "Nah sekarang, aku kebelet pipis, bantu aku pergi ke kamar mandi." "Ah?" Hannah benar-benar tercengang, wajahnya dengan cepat menjadi merah. Kenapa kakaknya bisa sevulgar ini? "Kenapa Han? Bukankah kamu bilang kamu akan mengurusku dengan benar?" Kata Randika sambil tersenyum. "Iniˇ­ Ituˇ­" Hannah hanya bisa tersipu malu. Pada akhirnya, dia membulatkan tekad dan berkata. "Baiklah, aku akan membantumu pipis." Wow, Randika tidak menyangka dia akan setuju! Randika yang cukup terkejut itu langsung berusaha berdiri dengan bantuan Hannah, kemudian mereka berjalan perlahan menuju kamar mandi. Kamar mandi di rumah sakit ini cukup bagus, cukup besar dan bersih. Hannah merasa hatinya berkecamuk dengan hebat ketika melihat dudukan toilet itu. Namun pada saat ini, tiba-tiba Randika mengerang kesakitan. Mendengar hal ini, Hannah langsung membuang rasa malunya dan bertekad untuk membantu Randika hingga selesai. Ah? Randika tidak bisa membuka resleting celananya! Ah? Apa? Kepala Hannah menatap ke bawah, apakah ini artinya dia harus membantu kakaknya untuk pipis? Wajah Hannah tidak bisa berubah menjadi lebih merah lagi. Randika tertawa dalam hati, sepertinya dia sangat puas menggoda adik iparnya ini. Bagaimanapun juga, dia tidak bermaksud sampai sejauh itu. Tetapi menggoda Hannah yang pemalu ini benar-benar menyenangkan. Tentu saja, dia tidak akan membiarkan Hannah membuka celananya. Jika dia sampai tahu bahwa dia pura-pura, bisa-bisa dirinya dibunuh olehnya. Ketika Randika hendak membuka mulutnya, Hannah tiba-tiba menggertakkan giginya dan membulatkan tekadnya. Dia membalikkan kepalanya dan tangan putihnya itu mengulur menuju resleting celana Randika. Karena tidak melihat, dia harus meraba-rabanya sedikit. Iniˇ­ Randika ketakutan, tetapi ketika melihat tubuh gemetar dan wajah merah Hannah, dia merasa ini cukup lucu. "Han, ke bawah sedikit, nah itu resletingnya." Randika memandunya. "Cepat, sekarang celana dalamnya. Ah! Hati-hati, nanti muncrat ke mana-mana lho." Randika dengan cekatan memandu tangan Hannah. Untungnya saja, tangan Randika mengambil alih ketika dia hendak pipis. "Sebentar." Randika tertawa dan Hannah masih memalingkan wajahnya. Tidak lama kemudian, suara air mengalir dapat terdengar. Suaranya persis seperti air mancur. Tidak lama kemudian, suara air itu menghilang dan Randika memakai kembali celananya. "Sudah selesai." Randika mengguyur toiletnya itu dan tersenyum pada Hannah. Hannah belum menoleh dan wajahnya masih merah. "Kak, kenapa punyamu besar sekali?" Sepertinya IQ adik iparnya ini benar-benar merosot jauh hari ini. Tetapi harus diakui bahwa sangat menyenangkan menggoda Hannah. Tangan Hannah yang berada di bawah itu rupanya sedang memegang dua jarinya, Randika masih berusaha menggodanya lagi. "Han, goyang-goyangkan dikit biar sisanya itu jatuh." Meskipun malu, dia menggoyang-goyangkan dua jari Randika itu. Hannah mengira bahwa punya Randika itu besar dan keras. Ketika Randika tidak bisa berhenti tertawa, Hannah menoleh dan menyadari kejadian ini. "Kak, bukannya kamu tidak bisa menggunakan tanganmu?" Wajah Hannah benar-benar bingung, bukannya tadi Randika kesusahan menurunkan resleting celananya? Kenapa dia sekarang memegang dua jarinya dan celana Randika sudah rapi? "Yah begitulah." Randika menahan tawanya sekuat mungkin. "Kak, apa kakak bohong?" Hannah mulai bisa melihat kebohongan Randika. Setelah dipikir-pikir memang ada yang salah dari awal. Bukankah tadi dia lihat kakak iparnya ini makan supnya dari panci sendiri? "Tidak, tanganku memang sakit." Tangan Randika terkulai lemas di sampingnya. "Sini aku bantu biar tidak sakit lagi." Hannah meremas kuat tangan Randika, dia seakan-akan ingin melumatkannya menjadi debu. "ARGH!! Sakit!" Randika pura-pura kesakitan, dia memang pantas menerima hukuman ini. "Kak, lain kali kalau kakak seperti ini lagi, aku sendiri yang akan membunuhmu!" Hannah berjalan keluar dari kamar mandi dengan wajah marah. "Han, tunggu! Jangan marah, kakiku masih sakit!" "Tidak mau tahu!" Jawab Hannah dengan wajah acuh tak acuh. Chapter 399: Aku Butuh Bantuanmu! Pertempuran antara Hannah dan Randika berakhir dengan kemenangan Hannah, Randika terus menerus meminta maaf pada adik iparnya ini. Pada saat ini, Randika tiba-tiba menyadari ada sesosok orang di depan pintu. Dia lalu menyuruh Hannah sambil tersenyum. "Han, tolong belikan aku minuman dingin." "Baiklah." Hannah dengan cepat menuju kantin di bawah. Setelah Hannah pergi, Jin masuk ke dalam. Dia awalnya ingin berlutut tetapi Randika mencegahnya. "Duduklah." Ketika Jin sudah duduk, Randika bertanya. "Bagaimana situasinya?" "Serigala membawa kabar bahwa target telah lama meninggalkan kota, sepertinya mereka terbang menuju Jerman." Jawab Jin. Jerman? "Apakah ada cara untuk mengejar mereka sampai ke Jerman?" Tanya Randika. "Sayangnya itu mustahil tuan. Jerman tidak berada di wilayah kekuasaan kita, lagipula kita juga masih kekurangan sumber daya untuk mengejarnya." Jawab Jin dengan hormat. Randika hanya mendengarkan dan tidak berbicara sama sekali. "Terlebih lagi, Dion menemukan bahwa masih ada sisa-sisa kekuatan keluarga Alfred di Jakarta. Dia sudah menyusun rencana untuk menghabisi mereka dalam satu gerakan." "Jangan biarkan ada yang hidup." Keluarga Alfred, selama ada satu orang yang masih hidup, Randika akan segera mengirimkan mereka ke alam baka. Setelah Jin keluar, Randika berpikir dengan keras. Sejauh yang dia ingat, Bulan Kegelapan berada di Amerika dan sedang bersembunyi. Sedangkan Tom dan Anna melarikan diri ke Jerman, sangat mustahil bagi mereka berdua untuk menggunakan kekuatan mereka yang ada di Jakarta. Yuna sendiri juga sedang membangun jaringan intelijensi di kota-kota penting di Indonesia. Sepertinya Randika harus memintanya untuk memusatkan seluruh perhatiannya pada kota Cendrawasih, kasus keracunan Tom ini tidak boleh terulang lagi. Untuk saat ini, dia harus mengandalkan anak buahnya selagi memulihkan diri. Terlebih lagi, kekuatan misterius di dalam tubuhnya itu makin ganas dan tenaga dalamnya terus dihisapnya. Kekuatan Randika bisa-bisa habis! Hati Randika cukup khawatir, kekuatan misteriusnya ini benar-benar kuat dan liar, dia sama sekali tidak bisa mengendalikannya. Jika ini terus terjadi, tenaga dalamnya akan tersingkirkan dan dia bisa-bisa tertelan olehnya. Terlebih lagi, dia memakai mode Berserknya terlalu banyak dalam sehari. Dia harus menggunakan tenaga dalamnya itu untuk menekan kembali kekuatan misteriusnya yang membanjiri tubuhnya. Jika tenaga dalam ini hilang, Randika tidak tahu apakah tubuhnya bisa menanggung beban seberat itu, Sepertinya dia butuh waktu seminggu atau lebih agar tenaga dalamnya bisa pulih seperti dulu. Tidak lama kemudian, para dokter datang dan mengecek keadaan Randika. Mereka cukup terkejut ketika melihat sosok Randika yang baik-baik saja. Dia baru saja mengalami operasi besar, dan sekarang dia sudah baik-baik saja? Setelah pengecekan yang teliti, mereka sudah memastikan bahwa Randika baik-baik saja dan sudah melewati tahap krisis. Namun, untuk jaga-jaga, dia dianjurkan untuk menginap lebih lama dan melakukan beberapa pemeriksaan. Jadi selama sepuluh hari ke depan, Randika tinggal di rumah sakit. Besok paginya, Randika terbangun dan menyadari bahwa dia sendirian. Inggrid hari ini bekerja dan Hannah perlu mengerjakan sesuatu, jadi hari ini dia sendirian sampai malam nanti. Namun tiba-tiba, Randika merasakan bahwa ada seseorang bersembunyi di balik pintu. Ketika dia melihat sosoknya, Randika terkejut. Penampilan perempuan ini sangat cantik dan memakai dress merah yang mencolok. Ketika kedua bola matanya yang hitam dan bundar itu menatap dirinya, matanya langsung berbinar-binar. "Viona?" Randika benar-benar terkejut. Bagaimana bisa Viona tahu bahwa dia sedang dirawat di rumah sakit? Terlebih lagi, kenapa dia tahu bahwa dirinya berada di kamar ini? "Hannah yang memberitahuku." Wajah Viona sedikit merah, dia berjalan menuju samping Randika. "Ran, apa kamu baik-baik saja?" Hannah? Sepertinya adik iparnya itu khawatir kalau Randika menghabiskan harinya sendirian, dia berinisiatif untuk mengabari Viona. Dan Hannah mengabari Viona kemarin malam saat dia pulang. Sepertinya tujuan haremnya sebentar lagi akan terwujud. Randika tersenyum dan melihat wajah khawatir Viona, dia tidak bisa menahan diri untuk berkata. "Apa kamu meremehkanku? Aku ini benar-benar kuat! Tidak tertandingi hahaha!" "Bohongˇ­" Viona meneteskan air matanya. "Kalau kamu kuat, kenapa kamu bisa sampai terluka seperti ini?" "Ini cuma kecelakaan." Randika tertawa. Melihat bibir merah dan mungil Viona, Randika merasa gejolak tubuhnya mulai mengambil alih dirinya. Sepertinya tubuhnya merindukan sensasi nikmat dari berhubungan badan, toh akhir-akhir ini dia juga tidak sempat melakukannya dengan Inggrid. Ketika mendengar tawa itu, wajah Viona masih terlihat khawatir. "Ran, kamu sakit di mananya?" Randika awalnya ingin berkata bahwa lukanya itu tidak terlalu serius, tetapi dia mendapatkan ide dan mengubah kata-katanya. "Vi, sebenarnya aku masih sangat sakit, kata dokter lukaku ini sangat sulit disembuhkan." Wajah Randika perlahan terlihat pucat, Viona langsung menggenggam tangan Randika. "Ran, aku akan selalu menjagamu." Kata Viona dengan wajah serius. "Di mana kamu merasa sakit?" Wajah Randika terlihat kesusahan berbicara. "Vi, sebenarnya posisi lukanya itu sedikit memalukan, tetapi rasa sakitnya benar-benar luar biasa." "Di mana sakitnya?" Wajah Viona sedikit bingung, reaksi imutnya ini membuat Randika ingin menindihnya. "Vi, lukaku ada di tempat paling berharga seorang laki-laki." Kata Randika. "Ah?" Viona terkejut bukan main, bahkan suaranya itu menggema ke luar ruangan. "Ran, bagaimana kamu bisa mendapatkan luka itu?" Wajah Viona sudah tersipu malu, dia tidak menyangka Randika akan terluka di bagian itu. Bagi seorang pria, tentu ini sebuah masalah yang serius. Randika menghela napasnya. "Aku benar-benar tidak berdaya waktu itu, aku sama sekali tidak bisa menghindar." "Apakah kondisimu sudah membaik?" Ketika mengajukan pertanyaan ini, tanpa sadar dia melihat bagian bawah Randika dengan wajah penasaran. Randika menggelengkan kepalanya. "Aku tidak bisa merasakan apa-apa di bawahku." "Apa kata dokter?" Wajah Viona seperti sedang terbakar. "Kata dokter hanya ada satu cara menyembuhkannya." Kata Randika. "Tetapi metode itu kurang etis." "Ran, kalau sudah masalah seperti ini, kita tidak perlu memikirkan hal semacam itu. Yang penting kamu sembuh dulu." Jawab Viona. "Kalau begitu, aku butuh bantuanmu." Wajah Randika terlihat sedikit malu-malu. "Aku?" Viona terlihat terkejut. "Bagaimana caranya aku bisa membantu?" Randika mengangkat kepalanya, dan menatapnya. Setelah memastikan lingkungannya oke, dia berkedip. "Vi, kemarilah." Viona mendekati Randika. Kemudian dengan lembut Randika berkata. "Vi, satu-satunya cara adalah menstimulasinya dengan tanganmu." Stimulasi? Viona terdiam beberapa saat, namun reaksi perempuan satu ini sudah ketebak. "Ran, bagaimana caranya aku menstimulasinya?" "Tentu saja, kamu memegangnya dengan lembut. Nanti aku tunjukan caranya." Viona ragu-ragu, bagaimanapun juga, ini adalah rumah sakit. Melakukan hal sevulgar ini benar-benar memalukan meskipun untuk menyembuhkan penyakit. "Vi, aku tahu ini sulit untukmu, tetapi tidak ada cara lain lagi." Randika menghela napasnya, wajahnya terlihat seolah-olah harapannya telah sirna. Kadang Randika sendiri heran, kenapa dia tidak jadi aktor saja. "Ran, aku ingin membantumu, tetapi ini rumah sakit." Kata Viona di telinga Randika. "Kamu tidak perlu khawatir, orang-orang tidak akan menyadari apa yang kita lakukan ini." Kata Randika dengan nada meyakinkan. Setelah ragu-ragu sesaat, Viona mengangguk. Chapter 400: Lagi-lagi Diganggu Karena kamarnya ini berbagi dengan pasien lain, mereka memutuskan untuk melakukannya di bawah selimut. Setelah memastikan tidak ada yang melihatnya, Viona mengulurkan tangannya ke bawah selimut. Randika tersenyum lebar. Melihat wajah malu Viona yang sekarang, dia tidak bisa membayangkan bagaimana betapa merahnya wajahnya nanti ketika dia menindihnya di atas tempat tidur. Dibandingkan dengan istrinya, sifat Viona ini benar-benar polos dan pemalu. Tangan Viona mulai menyentuh paha Randika dan mulai beranjak ke bagian selangkangan. Untuk membantu Viona, Randika sudah duduk dengan tegak dan menutupi sisinya dengan bantal. Dengan ini orang-orang tidak dapat melihat apa yang mereka lakukan. Hati Viona benar-benar bergetar, wajahnya sudah semerah tomat. Di selangkangan Randika, ada semacam sosis yang panas. Dia langsung teringat dengan adegan terakhir di rumahnya. "Viˇ­" Randika memanggilnya agar dia dapat memulainya. Dengan tekad yang bulat, tangan Viona mulai bergerak. Benda itu makin panas dan makin membesar. Meskipun Randika masih memakai celananya, dia dapat merasakan sensasi dari tangan Viona. Sensasi aneh ini membuatnya lebih terangsang daripada tidak memakai celana. Meskipun dia ingin Viona memegangnya secara langsung, bisa gawat kalau dia menodai selimut rumah sakit. Jantung Viona berdebar kencang, sepertinya dia merasa bahwa dirinya telah dilihat oleh pasien sebelah. Ketakutan ini dan keinginan membantu Randika bercampur aduk di dalam hatinya dan membuat jantungnya berdebar kencang. Benar-benar menegangkan. Tetapi tanpa diduganya, dia mulai menikmatinya. Beberapa kali mencoba, Viona belum pernah menyentuh milik Randika. Dan sekarang dia menyentuhnya di tempat umum! Randika sudah tidak tahan lagi, dia ingin Viona lebih cepat lagi menggosoknya. Tetapi tiba-tiba, seorang dokter dan beberapa perawat masuk dan membuka tirai mereka. "Pasien Randika." Perawat itu berkata pada si dokter dan memberikannya dokumen terkait. Hal ini langsung membuat takut Viona dan langsung menarik tangannya dengan cepat. SIALAN!! Randika benar-benar kehabisan kata-kata. Lagi-lagi dia diganggu di saat paling krusial. Namun ketika melihat dokter dan para perawat itu, dia tidak punya hak untuk marah. Mereka hanya melakukan pekerjaan mereka. Tetapi berhenti di tengah-tengah seperti ini membuat hati Randika tidak nyaman. Selangkangannya itu terasa sesak dan panas. Dan Viona yang berwajah merah itu segera berdiri dan memberikan tempat agar si dokter dapat memeriksa Randika. "Tidak apa-apa, kamu bisa duduk. Aku hanya datang untuk melihat keadaannya." Kata si dokter sambil tersenyum. Viona bahkan tidak berani melihat wajah si dokter, dia benar-benar malu hampir kepergok seperti ini. Jika memikirkan hal yang barusan terjadi, itu benar-benar memalukan baginya. Beberapa perawat minggir dan berdiri di sisi ranjang, sedangkan si dokter memeriksa denyut jantung Randika dan melakukan beberapa tes sederhana lainnya. Setelah mengetahui bahwa semuanya normal, dia meminta Randika untuk mengangkat bajunya. Di samping, Viona menatap dengan curiga. Buat apa membuka bajunya? Bukankah yang sakit ada di selangkangan? Randika membuka bajunya dan si dokter memeriksa luka pisau di daerah sekitar jantungnya, rupanya lukanya itu sudah menutup sempurna. Mungkin 2-3 hari lagi dia bisa sembuh total. "Aku sudah menjadi dokter berpuluh-puluh tahun, aku tidak pernah menemukan pasien sekuat dan sesehat kamu." Dokter itu memuji. "Jantungmu baru saja tertusuk pisau dan kamu sudah sembuh sekarang. Aku tidak tahu keajaiban apa ini, ini benar-benar melampaui dunia medis." Dokter itu terlihat kagum dengan Randika, dia mulai menceritakan apa yang boleh dan tidak boleh Randika lakukan beberapa hari ke depan. Ketika mendengar hal ini, Viona makin bingung. Tunggu, tunggu, jantung? Bukankah yang terluka itu selangkangannya? Viona benar-benar bingung. "Bagaimana rasanya tubuhmu? Apakah jantungmu mendadak suka berdebar-debar?" Tanya si dokter. "Tidak ada kendala sama sekali. Aku merasa sehat!" Jawab Randika. Perawat di samping langsung mencatat perkataan mereka. Setelah beberapa pertanyaan, si dokter mengatakan. "Dua hari lagi, aku akan memeriksa kembali luka operasimu itu. Jika tidak ada masalah, kamu bisa pulang." "Terima kasih." Kata Randika sambil tersenyum. Di samping, Viona akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. "Dokter, apakah lukanya baik-baik saja?" "Tentu saja, bahkan jantungnya itu jauh lebih kuat daripada orang normal!" Jawab si dokter dengan bersemangat. "Jadiˇ­ Randika ini terluka di jantungnya?" Ketika menanyakan hal ini, mata Viona tertuju pada apa yang ada di balik selimut. Sepertinya dia sudah memahami apa yang sebenarnya telah terjadi. Sedangkan Randika, dia hanya tersenyum ke arahnya. "Benar, tetapi jantungnya ini sudah tidak apa-apa, dia sudah sehat seperti semula." Si dokter menjawab dengan sabar pertanyaan Viona. Setelah tidak ada pertanyaan lagi, si dokter kembali berkeliling lagi bersama para perawatnya. Sekarang, suasana keduanya ini menjadi canggung. Randika duduk di kasurnya sedangkan Viona masih berdiri dalam keadaan diam. Dalam beberapa saat, keduanya hanya terdiam. "Ranˇ­" Akhirnya Viona lah yang berbicara duluan. Dengan cepat, Randika menyelanya. "Vi, barusan bagian bawahku itu benar-benar sakit!" "Ranˇ­" Tatapan Viona makin tajam. "Vi, aku tidak bohong! Kamu harus percaya aku!" "Ranˇ­" Tatapan Viona setajam silet. "Vi, ini cuma salah paham." "Ran! Kamu bohong lagi sama aku!" Teriak Viona. "Mananya yang bohong? Bagian bawahku ini benar-benar lemas, aku butuh bantuanmu agar bisa menyembuhkannya!" "Ran!" Viona tersipu malu, dia lalu berjalan menuju pintu keluar dengan wajah acuh tak acuh. "Viona!" Randika yang tak berdaya ini hanya bisa melihat punggung Viona menghilang. ...ˇ­. Setelah Viona pergi, Randika masih berhati gembira. Meskipun dia baru saja bertengkar dengan Viona, ini merupakan pengalaman baru. Tetapi tidak lama setelah itu, pintu ruangannya kembali terbuka. Kali ini, perempuan berbaju serba hitam yang muncul. Penampilannya acuh tak acuh dan membawa sensasi dingin. "Aku tidak menyangka kamu selemah itu." Elva duduk di sampingnya. Dia menatap Randika yang memakai baju pasien rumah sakit ini dan memperlihatkan tatapan yang penuh ironi. "Aku tidak menyangka pisau kecil itu bisa menyakitimu." Mata Randika terbelalak. Perempuan ini cari gara-gara atau ingin berkunjung? "Meskipun aku terluka seperti ini, aku tidak keberatan kamu bermain dengan adikku yang sehat ini." Bermain dengan adik? Elva terlihat bingung beberapa saat, tetapi akhirnya dia menyadari kata-kata Randika barusan. Dia terlihat marah dan menatap tajam Randika. Tetapi Randika adalah orang yang berkulit tebal, dia tidak peduli dengan tatapannya itu. "Aku datang ke sini karena disuruh oleh Safira untuk melihat kabarmu. Karena kamu masih bernapas, sepertinya kamu baik-baik saja." Kata Elva dengan dingin. Dia lalu melihat pisang yang ada di samping kasur Randika, dia mengambilnya dan mulai memakannya. Randika cukup terkejut, kata-kata Elva ini terdengar sama sekali tidak peduli dengannya. "Bukankah kata-katamu itu terlalu berlebihan? Aku cuma tertusuk pisau sedikit, ini bukan hal yang parah." Kata Randika dengan wajah muram. "Pisau tertancap di dada, 2 cm dari jantung. Pembuluh darah tidak karuan, otot dan saraf rusak parah. Tulang dan seluruh tubuhnya menunjukan tanda-tanda lumpuh." Kata Elva dengan wajah dingin. "Aku masih heran kenapa kamu tidak mati saja." Lukanya ini benar-benar serius? Chapter 401: Pacar Baru! Randika cukup terkejut ketika mendengarnya, berarti dia sudah bisa dipastikan tewas jika tidak memiliki kekuatan misterius di dalam tubuhnya? Meskipun begitu, Randika sangat memahami betapa mengerikan konsekuensi kekuatan misterius ini untuk tubuhnya. Setiap dia memakainya, dia merasakan tubuhnya terbebani. Jika diumpamakan dalam game, setiap dia menyerang dengan kekuatan 1000, HP miliknya berkurang 800. Jika dia tidak dapat menemukan cara untuk mengendalikannya, Randika takut bahwa suatu saat nanti, tubuhnya akan meledak dan dikuasai oleh kekuatan misteriusnya. Elva masih asyik memakan pisangnya, sementara Randika terus bertanya. "Tetapi aku tidak menyangka kamu akan begitu khawatir denganku. Sebagai ucapan terima kasih, bagaimana kalau kita check in di hotel? Aku dengan senang hati memberikan kamu waktu terbaik di dalam hidupmu." "Kamu masih bersikap mesum walaupun tubuhmu seperti ini?" Elva terlihat tersenyum tetapi di dalam hatinya amarahnya sudah memuncak. "Tentu saja, apa kamu kira aku tidak bisa melakukannya? Mari kita buktikan, tetapi aku tidak yakin pertarungan kita akan selesai dalam 2 jam saja." Kata Randika dengan nada bangga. "Oh ya?" Elva memperhatikan Randika dari atas hingga ke bawah. Randika memberikannya sebuah senyuman yang hangat. Tiba-tiba, Elva merasakan tanda bahaya dan berusaha menghindar. Tetapi, gerakannya ini benar-benar terlalu lambat. Tangan kanan Randika berhasil menangkap pinggang Elva. Tetapi ketika dia melakukannya, Randika sadar bahwa kecepatannya ini jauh lebih lambat daripada biasanya. Randika yang teralihkan ini menjadi lengah, dia segera mengangkat tangan kirinya untuk mencegah serangan Elva. Ujung jari Elva berhenti tepat di leher Randika, jika dia bergerak sedikit lagi, dia bisa membunuh Randika di tempat. "Masih merasa kuat?" Elva menarik kembali tangannya. Wajahnya tanpa ekspresi tetapi darahnya itu sudah mendidih. Biasanya dialah yang menjadi korban, tetapi hari ini Randika lah yang menjadi mainannya. Randika terlihat sedih dan lemas. "Pertarungan yang kumaksud bukan pertarungan yang seperti ini." "Aku tidak peduli dengan maksudmu, kamu cuma pria lemah sekarang." Elva mendengus dingin. Sialan! Randika tidak merasa terhina, lagipula yang menghinanya adalah wanita cantik. Mungkin sesekali menjadi masokis tidak masalah. Tetapi lain kali, dia akan merobek baju dan celananya, menalinya di atas tempat tidur dan bermain dengan tubuhnya semalaman. Randika tertawa dalam hati ketika Elva tiba-tiba berkata. "Sejujurnya, kamu menghabisi keluarga Alfred di Jakarta kapan hari bukanlah langkah yang bagus." Mata Randika berkedip. "Kamu tahu tentang masalah ini?" "Hum." Elva mendengus dingin. "Arwah Garuda sudah mengawasimu sejak dulu, mustahil aku tidak informasi penting seperti ini." Randika hanya tertawa, dia tidak menjawab sama sekali. "Apa kamu tahu masalah apa yang kamu bawa?" Elva menatap tajam Randika. "Aku tidak tahu." Kata Randika. Tetapi di dalam hatinya, dia merasa cuek. Kenapa memangnya membantai satu keluarga? Toh mereka yang cari gara-gara duluan. Elva menghela napasnya. "Masalahnya kamu tidak membantai semua anggota keluarga Alfred. Tindakanmu itu hanya membawa masalah yang lebih besar." Oh!? Jadi yang dimaksud oleh Elva adalah Tom dan Anna yang masih buron itu? Randika terlihat sedikit senang. "Jadi kamu diam-diam sudah membantuku?" "Hum." Elva tidak menjawab, dia hanya menjelaskan. "Aku sudah mengatur orang untuk mengikuti Tom dan Anna. Aku akan memberitahumu ketika dia memasuki Indonesia lagi." "Elva, kamu memang wanita cantik yang dermawan." Kata Randika dengan wajah serius. "Apa?" Elva masih tidak berhenti mengambil buah yang ada di meja. Buah-buah ini dibeli Hannah untuknya, tetapi perempuan satu ini sudah menghabiskan hampir semuanya. "Aku tahu bahwa kamu mencintaiku." Kata Randika. Elva hanya bisa membeku di tempat. Wajah Elva langsung berubah menjadi marah dan tatapannya benar-benar tajam. ???Siapa yang memangnya suka sama kamu? Jangan jadi sentimental seperti it, jijik tahu!" "Tetapi perhatianmu itu menurutku benar-benar spesial." Kata Randika sambil tersenyum. "Sejujurnya, aku juga sangat menyukaimu dari dulu. Aku suka pantatmu yang keras dan kencang itu, temperamenmu juga dingin dan keras bagaikan seorang ratu. Sepertinya, permainan BDSM cocok untuk kita!" "Kamu ngomong apa?" Elva sudah naik darah, tetapi di dalam hatinya dia sudah panik. "Kata-kataku sudah jelas. Aku hanya ingin kamu menjadi pacarku, kita bisa hidup bahagia bersama." Kata Randika dengan nada yang malu-malu. "Berani sekali kamu menggodaku!" Elva dengan cepat menyerang Randika, hal ini membuat Randika sedikit takut. "Stop, stop! Aku ini masih sakit tahu, jika lukaku tambah parah, kamu harus bertanggung jawab!" Teriak Randika. "Hum." Elva mengambil kembali tangannya. Kali ini Randika tidak bisa berhenti ngomong. "Terkadang sikap cuekmu ini imut. Bahkan jika kamu ingin menyerangku, aku sarankan kamu memakai cambuk sambil meneteskan lilin di tubuhku. Sakit tapi enak!" Elva merasa bahwa dia bisa menjadi gila jika terus-terusan berada di sini, dia langsung berkata. "Aku pergi!" "Titip salamku pada Safira ya! Katakan aku baik-baik saja." Kata Randika. Setelah Elva pergi, Randika kembali menghela napasnya. Hari ini benar-benar merupakan hari yang sial. Dia tidak menyangka dua perempuan cantik bisa lepas dari genggamannya. Harus aku apakan agar mereka mengerti perasaanku? Pada saat ini, tiba-tiba HP Randika berbunyi. "Ran, apa kamu hari ini bebas? Aku ada tiket konser nih, ayo pergi sama-sama." Kata Christina di balik telepon. "Maaf, tapi aku lagi sakit dan dirawat di rumah sakit. Mungkin kamu bisa pergi sama temanmu yang lain?" Hati Randika tersenyum pahit. Ketika mendengar hal ini, nada Christina langsung menjadi panik. "Apa? Kenapa kamu bisa dirawat di rumah sakit? Kamu sakit apa? Apakah kamu baik-baik saja? Cepat katakan rumah sakit mana, aku akan datang menjengukmu." Pertanyaan yang bertubi-tubi ini membuat telinga Randika sakit, tetapi dia dapat merasakan kekhawatiran Christina dari balik telepon. Sepertinya Christina sudah sangat mencintainya. "Kondisiku sudah baik-baik saja, seharusnya aku bisa pergi ke konser sama kamu setelah beberapa hari ke depan. Sebentar, sebentar, jangan-jangan konser yang kamu maksud tiba-tiba band rock ya?" Kata Randika sambil tertawa. "Sudah cepat katakan rumah sakit yang mana." Christina tidak terpengaruh dengan pengalihan topik Randika. "Apa kamu beneran mau datang?" Randika kehabisan kata-kata. "Kamu sedang sakit, mana mungkin aku tidak menjengukmu!" Kata Christina dengan nada serius, dia lalu menambahkan. "Lagipula, aku pacarmu bukan?" Pacar? Hati Randika langsung menjadi bersemangat. Meskipun dia belum melakukan apa-apa pada Christina, hubungan mereka sudah pasti lebih dari teman. Dia tidak menyangka bahwa Christina sendiri yang menegaskan hubungan mereka. Ketika dia memikirkan Viona, Randika menghela napas. Dia awalnya berpikir akan mendapatkan hati Viona terlebih dahulu, rupanya yang takluk duluan adalah Christina! "Aku ada di Rumah Sakit Bunda Terkasih, rumah sakitnya ada di bagian timur kota." Randika juga memberitahu kamar nomor berapa dia berada. Setelah itu, Christina menutup teleponnya sambil mengatakan. "Tunggulah aku." Chapter 402: Trik yang Sama, Hasil yang Sama Setelah menutup teleponnya dengan Christina, Randika berbaring dengan hati yang gembira. Sekarang dia memikirkan rencana haremnya. Inggrid adalah istri pertamanya, cinta mereka sudah terbukti. Safira sudah jelas mencintai dirinya sebagai lelaki. Namun, masalahnya ada pada Viona, Christina, Hannah, dan tentu saja Elva. Meskipun Elva tidak terlalu menunjukan kasih sayangnya, Randika percaya bahwa dari lubuk hatinya, Elva menyimpan rasa pada dirinya. Tinggal masalah waktu saja menghancurkan temboknya. Meskipun haremnya ini terdengar sedikit, tetapi semuanya adalah perempuan cantik kelas atas dengan sifat dan sikap yang berbeda-beda. Randika mulai berandai-andai, bukankah menakjubkan kalau dia bangun sambil memeluk semua perempuan ini sekaligus? Berhubungan badan ramai-ramai, sepertinya dia harus mewujudkan impiannya ini! Kurang dari 20 menit, pintu ruangannya kembali terbuka. Pasien sebelah Randika melihat perempuan cantik yang terpelajar memakai stoking hitam, sepatu hak dan kacamata. Ahˇ­ cantik sekali! Dia berharap bahwa akan ada orang secantik dia yang mengunjungi dirinya! Pasien ini terus menatap Christina, tetapi dia melihat bahwa Christina berjalan menuju tempat Randika. Dia lagi?! Sialan! Pasien sebelahnya Randika ini benar-benar bingung. Satu per satu wanita cantik mengunjungi pasien sebelahnya ini. Dan sekarang, wanita cantik ala guru dosen ini mengunjunginya. Kecantikannya membuat dirinya ingin dimarahi dan diinjak oleh sepatu haknya itu. Lelaki ini mengutuk Randika di dalam hatinya. Dia sendiri sudah jomblo 25 tahun, dan dia bahkan belum pernah menggandeng tangan cewek sebelumnya, hidup benar-benar tidak adil. Tentu saja, ini semua terjadi di benaknya. Lelaki ini hanya bisa melihat Christina berjalan menuju tempat tidur Randika. Ketika melihat sosok Christina, Randika tersenyum hangat. Dia langsung mempersilahkan Christina untuk duduk. "Kamu sakit apa? Kamu baik-baik saja kan sekarang?" "Tintin, kamu tidak usah khawatir." Randika tersenyum. Namun, dia tiba-tiba terpikir kejadiannya dengan Viona, dia berpikir ingin mencobanya sekali lagi. "Apanya yang tidak perlu khawatir? Kamu terbaring di rumah sakit begini, apakah sakitmu itu parah? Cepat tunjukan mana yang sakit." Christina yang sekarang benar-benar cemas. Antusiasme Christina ini membuat Randika mengangguk puas, sepertinya Christina sudah tersihir oleh ketampanannya. "Tintin, tempatnya agak memalukan." Kata Randika. "Aku tidak peduli, cepat tunjukan ke aku." Hati Christina masih pada Randika, dia benar-benar peduli dengan pacarnya ini. Meskipun dia bersikap dingin pada Randika, setelah sekian lama berhubungan dan berkali-kali diselamatkan oleh Randika, pria ini memiliki tempat yang spesial di hatinya. Meskipun Randika mesum, suka bercanda, suka berbohong padanya, seiring berjalannya waktu, dia makin menyukai Randika. Terlebih lagi, julukannya sebagai ratu es di sekolahnya ini membuat sosok Christina terlihat dingin dan acuh tak acuh. Hanya Randika lah yang berhasil melelehkan hatinya. "Apa kamu beneran mau tahu?" Randika mengedipkan matanya. "Tentu saja!" "Kalau begitu, kemarilah." Randika pura-pura terlihat malu dan ragu-ragu. Ketika Christina mendekat, Randika menunjuk sambil mengatakan. "Lukaku ada di sana." Di sana? Christina tidak mengerti kata-kata barusan. Tetapi ketika dia melihat Randika menunjuk selangkangannya, dia langsung mengerti maksudnya. "Kok bisa itu terluka?" Christina mulai curiga, orang normal tidak mungkin terluka di tempat seperti itu. "Hmmˇ­ susah untuk dijelaskan." Randika menggelengkan kepalanya, wajahnya menunjukan dia sedikit malu menceritakannya. "Sebenarnya, dokter mengatakan bahwa ada cara untuk mengobatinya. Dia mengatakan bahwa menstimulusnya akan membuat keadaanku membaik." Randika mengeluarkan triknya lagi! "Menstimulus?" Christina sedikit bingung. "Benar, kamu bisa menstimulusnya untukku. Mungkin dengan itu aku bisa segera sembuh." Ketika Randika mengatakan hal ini, wajah Christina sedikit merah. Tidak seperti Viona, dia langsung memahami arti dari kata-kata Randika ini. Ketika memikirkannya, Christina duduk tepat di samping Randika. "Apakah aku harus melakukannya sekarang?" Ketika mendengar jawaban itu, Randika cukup terkejut bahwa Christina langsung setuju. Randika dengan senang hati langsung berdiri dan berkata. "Kalau begitu, lebih baik kita melakukannya di kamar mandi." Christina curiga dengan wajah Randika yang sehat-sehat saja itu, bahkan dia terlihat bersemangat. "Apa kamu beneran sakit?" "Tentu saja, kamu nanti bisa melihatnya sendiri." Jawab Randika. Ketika mendengar hal itu, Christina menghela napasnya. Memang dia hanya bisa memastikannya di tempat yang sepi. "Lebih cepat lebih baik, aku tidak ingin orang-orang curiga." Kata Randika. Christina belum berkata apa-apa tetapi dia sudah ditarik oleh Randika ke kamar mandi. Ketika mau membuka pintu kamar mandinya, tiba-tiba seorang perawat menegurnya. "Mau ke mana kamu?" Perawat itu mengerutkan dahinya. "Cepat tiduran lagi. Aku sebentar lagi akan memberimu obat untuk diminum jadi jangan ke mana-mana. Lagipula, bukankah dokter juga mengatakanmu jangan terlalu bergerak dulu? Nanti luka di area jantungmu itu bisa terbuka lagi, kami tidak mau bertanggung jawab ketika itu terjadi." Jantung? Ketika mendengar hal ini, rasa curiga Christina benar-benar terbukti. Dalam sekejap dia menatap Randika. Dia membohongi dirinya! Sialan, perawat ini menghancurkan rencanaku! Wajah Randika menunjukan rasa depresi yang berat. Ketika dia menatap si perawat, dia ditatap balik dan diseret. "Sudah jangan melawan, cepat tidur lagi." Benar-benar kejam, tetapi Randika tidak bisa melawan. "Tolong patuhi kata-kata dokter, penyakitmu itu juga bukan penyakit sepele karena melibatkan jantung. Kami tidak ingin kamu mengalami apa-apa." Ketika perawat itu pergi, mata jernih Christina menatap Randika lekat-lekat. Dia mencopot kacamatanya dan berkata dengan nada datar. "Bukankah katamu lukamu itu di bagian selangkangan?" "Tentu saja! Sepertinya kamu salah memahami kata-kata perawat itu tadi." Randiak pura-pura terlihat tidak bersalah. "Oh?" Wajah Christina terlihat tersenyum. "Sejujurnya aku ingin membantumu cepat sembuh tetapi perawat tadi menyuruhmu untuk tidur dan meminum obatmu, jadi aku tidak perlu lagi membantumu." "Jangan! Itu saja tidak cukup untuk menyembuhkanku, kamu harus membantuku atau aku akan terus di rumah sakit!" Randika menjadi panik. Christina tadi telah setuju untuk membantunya, dia tidak akan melepaskan kesempatan ini. "Tetapi perawat itu mengatakan penyakitmu itu di jantung, jadi aku tidak bisa apa-apa." Nada Christina meninggi dan tatapan tajam membuat Randika sedikit merinding. Christina tidak percaya bahwa dirinya hampir ketipu, dia menghela napas yang panjang. "Karena kamu sudah baik-baik saja, aku tidak perlu lagi di sini. Aku harus pergi ke konser." Christina tersenyum dan berniat untuk pergi. "Tintin! Jangan tinggalkan aku!" Randika merasa sedih. Namun, Christina berbalik dan berjalan menghampirinya. Dia lalu berbisik di telinganya. "Ketika kamu sudah sehat dan keluar dari rumah sakit, kamu harus menemaniku ke konser dan aku akan merawatmu di rumahku." Setelah itu, dia mencium bibir Randika dan pergi begitu saja. Randika menatap punggung Christina yang menjauh, hatinya benar-benar panas. Dia benar-benar ingin segera keluar dari rumah sakit, godaan ini benar-benar terlalu besar! Dia belum pernah melakukannya dengan seorang guru, sepertinya roleplay sangat cocok untuk mereka berdua. Ketika memikirkan hal-hal indah yang akan mereka lakukan, Randika menjadi bersemangat! Chapter 403: Indra dan Boneka Ginseng Setelah 12 hari, 5 jam, 5 menit dan 20 detik di rumah sakit, Randika akhirnya dibebaskan dari rumah sakit. Setelah beristirahat lebih dari 10 hari, Randika benar-benar merasa seperti baru. Luka di sekitar area jantungnya sudah menutup, bahkan lukanya pun telah menghilang, tidak terlihat bekasnya sama sekali. Luka jantungnya ini memang sedikit mengkhawatirkan, tetapi dia jauh lebih khawatir dengan kekuatan misterius di dalam tubuhnya. Ketika dia berusaha menggunakan tenaga dalamnya, kekuatan misterius di dalam tubuhnya mulai menggila. Ia bukan hanya melahap tenaga dalamnya, ia memberikan beban yang berat pada tubuhnya. Awalnya kekuatan misteriusnya ini sudah lumayan jinak, namun sekarang ketika dia mengalirkan tenaga dalamnya, kekuatannya itu segera memberontak. Randika menghela napasnya. Kekuatannya ini benar-benar misterius, dia sendiri tidak tahu kenapa kekuatan itu bisa muncul di tubuhnya. Meskipun kekuatannya luar biasa, dia merasa percuma jika dia tidak bisa mengendalikannya. Ikan-ikan yang dia makan di gua itu telah membuat dirinya berhasil menjinakkan sebagian kecil kekuatan misteriusnya, tetapi itu masih belum cukup baginya untuk menguasainya 100%. Randika berjalan keluar dari gedung rumah sakit dan menatap indahnya pagi hari, suasana hatinya sedang bagus. Tom dan Anna sudah lari ke luar negeri, pasukannya dan Arwah Garuda sudah mengejarnya jadi seharusnya tidak ada ancaman lagi di sekitarnya. Randika berjalan santai di pinggir jalan. Masa-masa di rumah sakitnya hampir membuatnya menggila. Dia benar-benar bosan! Meskipun Inggrid dan Hannah sering mengunjunginya, dia masih tetap bosan. Ditambah lagi, perawat yang merawatnya itu sudah tua. Jadi Randika tidak bisa bermain-main dengannya. Sekarang, ketika dia keluar dari rumah sakit dan menghirup udara segar, dia benar-benar merasa seperti terlahir kembali. Randika berjalan dengan lapang dada dan menyambut hari dengan senang. Ketika dia berjalan, dia menyadari ada kerumunan di depan. Apakah ada sesuatu yang menarik di depan? Jika dilihat-lihat, orang-orang sepertinya sedang mengantri bakso yang lagi viral. Tetapi ketika melihat lautan manusia itu, Randika menghela napas dengan kecewa. Orang-orang memang mudah tergiur ketika melihat keramaian, mereka tidak akan berpikiran panjang dan ikut mengantri. Tetapi Randika tidak bisa terlalu memaki mereka, karena dia sendiri juga tertarik dengan apa yang sedang terjadi. Bagaimana mungkin dia mengabaikan sesuatu yang enak? Setelah menghela napasnya sekali lagi, Randika mulai mengantri sambil mencari celah untuk menyalip. Apa pun yang terjadi, dia harus mencoba bakso ini! Di tengah-tengah keramaian, beberapa orang menyuarakan kemarahan mereka. "Hei, jangan dorong-dorong! Tempat ini kecil, jangan dorong-dorong!" "Bajingan mana yang barusan mendorongku?" Seorang lelaki berputar dengan wajah yang marah. Orang yang barusan mendorongnya itu membalas tatapannya sambil mengatakan. "Apa lihat-lihat?" "Sopan sedikit kalau ngantri, main dorong aja." Jawabnya. "Bacot! Kalau tidak terima, ngomong!" "Nantang?" Ketika mereka berdua sedang sibuk bertengkar, orang-orang yang mengantri menyalip dan terus mengantri. Ketika Randika terus menyalip tanpa tahu malu, Randika terkejut ketika melihat seorang pesumo sedang berdiri tidak jauh dari tempatnya berdiri. Orang-orang masih mengantri sambil melihat pertengkaran pesumo itu dengan seorang pria. Mereka merasakan firasat buruk. Di pundak pesumo itu, terlihat sesosok bayi kecil. Tetapi kalau dibilang bayi, ukurannya terlalu kecil, meskipun begitu, sosoknya itu sangat menggemaskan. Randika menatap orang gemuk itu dan tidak bisa menahan diri untuk tidak menggelengkan kepalanya. Kenapa dia ada di sini? Setelah menatapnya lekat-lekat, Randika telah memastikan bahwa orang gemuk itu adalah Indra dan boneka ginseng. Kenapa mereka ada di sini? Bukankah mereka seharusnya ada di desa? Ketika Randika terlihat bingung, dia mencuri dengan perkataan orang-orang di depannya. "Sial sekali orang gemuk itu, dia tidak tahu bahwa orang yang diajaknya bertengkar itu mantan seorang bos preman." "Tetapi ngapain coba mereka berkelahi di sini? Kalau sampai gerobak baksonya kena bagaimana?" "Orang itu tidak peduli sama sekelilingnya, kalau dia mau, dia bisa membunuh laki gemuk itu di sini." "Segitu bajingannya dia?" "Hahaha keuangannya benar-benar kuat, para polisi sudah tutup mata kalau berurusan dengan dia. Aku juga dengar 10 orang telah dia bunuh dan gantung di jalan tetapi polisi masih belum menangkap tersangkanya." "Gila, memang uang adalah segalanya ya." "Tetapi preman membantai preman lain, bukankah itu juga membantu para polisi juga? Selama dia tidak meresahkan masyarakat ya polisi tetap diam dan mendapatkan setoran bulanannya." Randika mendengarkan mereka, tetapi dia masih tidak mengerti. Dia kemudian bertanya pada orang tersebut. "Ada apa ini ribut-ribut?" Orang itu menoleh dan menjawab. "Mereka ribut karena saling dorong, tetapi sebentar lagi seharusnya selesai kok. Sudah pura-pura tidak lihat saja, nanti malah terseret." Mendengar kata-kata itu, Randika menghela napasnya. Pada saat ini, bos preman yang bernama Ian itu berkata padanya. "Gara-gara kamu, HPku jatuh dan layarnya retak, kamu harus ganti 15 juta!" Indra dengan polos berkata padanya. "Aku tidak punya uang." Boneka ginseng di pundaknya juga mengangguk berulang kali seolah-olah setuju dengan perkataan Indra. Sepertinya seiring berjalannya waktu, boneka ginseng ini semakin pintar dan semakin menyerupai manusia. "Tidak punya uang? Apa kamu pikir memperbaiki HP ini tidak butuh uang?" Ian memperlihatkan layar HPnya yang retak. "Apa kamu tahu harga HP ini? Ini handphone keluaran terbaru, harganya tidak kurang dari 15 juta. Sekarang cepat ganti!" Indra membalas. "Buat apa aku menggantinya? Kamu sendiri tadi yang mendorongku dari belakang dan menjatuhkannya, itu bukan salahku." "Terlepas dari siapa yang salah, apakah itu bisa membuat HPku ini nyala seperti dulu?" "Tidak." Kata Indra setelah berpikir sejenak. "Kalau begitu, cepat bayar!" "Aku belikan kamu HP yang baru nanti." Jawab Indra. "Aku tidak perlu yang baru, aku cuma perlu uangmu sekarang!" Kata Ian dengan wajah marah. Indra menjawab dengan hal yang sama. "Aku tidak punya uang." Ian mendengus dingin, dia kemudian berkata padanya. "Kalau kamu tidak punya uang, benda itu seharusnya cukup untuk membayarnya." "Benda?" Indra menatap pahanya yang gemuk itu, dia lalu berkata. "Maaf aku suka wanita, aku tidak akan memberikan bendaku ke pria." "Bodoh! Benda yang kumaksud itu benda yang ada di pundakmu!" Ian menunjuk ke arah boneka ginseng. Dia memperhatikan boneka ginseng itu dari tadi, sepertinya itu hewan pintar yang langka. Jika dia menjualnya, seharusnya bisa menghasilkan uang ratusan juta. "Kamu ingin temanku ini?" Indra menjadi takut, postur tubuhnya berubah menjadi bertahan. "Aku tidak mau! Dia adalah temanku yang berharga, aku tidak akan mungkin menyerahkannya padamu!" "Itu bukan keputusanmu!" Ian memanggil beberapa pengawalnya yang mengikuti dirinya tadi. Meskipun dia sudah keluar dari permainan, memiliki 1 atau 2 pengawal adalah hal yang wajar. Dalam sekejap, salah satu pengawal itu menghantam tongkat kayu yang dipegangnya ke arah Indra DUAK! Pengawal itu menatap Indra yang sepertinya sedang kebingungan, dia lalu menatap tongkatnya yang patah di tangannya. Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Chapter 404: Balas Dendam Seperti halnya dengan pengawalnya, Ian menatap bengong tongkat kayu yang patah tersebut. "Kalau kamu masih ingin hidup, cepat serahkan benda itu padaku!" Kata Ian dengan penuh kesombongan. "Jangan pikir kamu bisa keluar dari tempat ini hidup-hidup. Di semua lingkungan ini, tidak ada yang tidak mengetahui reputasiku!" Indra masih dalam postur bertahan, dia bergumam. "Jika saja kakak seperguruanku tidak melarangku untuk menghajar orang dengan sembarangan, aku sudah menghajarmu hingga babak belur." Randika yang ada di belakang segera maju ketika melihat Indra diancam. "Indra, sudah hajar saja dia." Mendengar kata-kata ini, Indra terkejut dan menoleh untuk melihat sosok Randika. Ketika dia melihat sosok yang dikenalnya ini, dia langsung tersenyum lebar. "Kakak seperguruan!" Pada saat yang sama, suara tongkat kayu dipukul kembali terdengar. Lagi-lagi tongkat kayu tersebut hancur menjadi serpihan. "Bajingan, cepat bunuh dia!" Kata Ian. Kedua pengawalnya itu segera menerjang maju dan menyerang Ingra. "Akan kuperlihatkan seluruh kekuatanku!" Indra meraung keras. Tubuh besarnya itu sudah bagaikan Godzilla yang marah. Dia dengan cepat menangkap satu pengawal dengan tangannya, dia lalu melemparnya ke tanah sampai dia tidak sadarkan diri. "Apa yang kamu lakukan? Cepat bangun!" Ian mulai ketakutan. Indra kembali menyerang. Kali ini tongkat kayu yang dipegang si pengawal itu hancur berantakan ketika dia hantam dengan kepalanya. Pengawal itu terkejut, dia langsung membuang tongkat itu dan melayangkan sebuah pukulan. Boneka ginseng di pundaknya Indra segera menolong Indra dengan melompat ke wajah lawannya itu, kedua tangannya dengan cepat mencakar matanya. Tindakannya ini membuatnya kehilangan penglihatannya. Ketika dia berusaha menggenggam si boneka ginseng, benda kecil ini sudah melompat kembali ke pundak Indra. Ketika orang ini mendapatkan kembali penglihatannya, dia menyadari bahwa tinju Indra hanya berjarak 1 cm dari wajahnya. Orang-orang yang masih mengantri makan bakso ini terkejut bukan main, orang gemuk ini bisa berkelahi ternyata. Kekuatan fisiknya benar-benar mengerikan, dia mengalahkan 2 orang berbadan besar dengan sangat mudah. Bahkan mereka bukan berada di level yang sama dengan pesumo tersebut. "Yah, senjata makan tuan deh." Kata seseorang sambil memakan baksonya. Tontonan gratis seperti ini jarang-jarang terjadi, apalagi dia bisa melihat Ian yang merupakan mantan preman itu menderita. "Hahaha sepertinya Ian lebih baik pensiun saja, ngapain dia masih sok kuat dan cari gara-gara sama orang lain. Tahu rasa sekarang dia!" Dalam sekejap, pertarungan sepihak ini telah selesai. Ian yang sudah terjatuh di tanah itu segera kabur dari lokasi dan meninggalkan kedua pengawalnya. Ketika dia hendak kabur, Randika sudah berdiri di depannya dan berkata dengan nada dingin. "Mau ke mana kamu pak tua?" Ketika Ian mendengar kata-katanya Randika ini, wajahnya berubah dan menatapnya dengan marah. "Jangan menyentuhku, kamu tidak tahu siapa aku?" Randika tentu saja cuek, dia menampar Ian dengan sangat keras hingga tangannya itu meninggalkan jejak merah di wajahnya. Indra menghampiri mereka dan menatap Ian. DUAK! KRAK! DUAK! Indra tidak memberinya ampun, dia memukul dan menendang Ian. Dia benar-benar kesal karena orang ini telah berani mengincar teman berharganya itu. Ian yang tersungkur di tanah sudah ketakutan sekaligus kesakitan. Dia khawatir nyawanya akan melayang hari ini. Pada saat ini, boneka ginseng meloncat ke atas kepala Ian. Dia melompat-lompat dan mencabut sedikit rambutnya sambil terlihat puas. Setelah itu dia kembali ke pundak Indra dan memeletkan lidahnya ke arah Ian yang ada di tanah. Tapiˇ­ menurutnya ini masih kurang. Boneka ginseng itu meloncat sekali lagi ke kepalanya dan menggoyang-goyangkan pantatnya di depan kedua mata Ian. Ian benar-benar marah, dia berusaha menangkapnya tetapi gagal. Sialan! Dia berusaha berdiri tetapi langkahnya itu dihentikan oleh Randika. "Jangan pernah menampakkan wajahmu lagi di depanku." Ian berdiri dengan terhuyung-huyung dan meninggalkan tempat ini. Ketika Randika tersenyum melihat Ian yang perlahan pergi, boneka ginseng itu meloncat ke pundaknya dan tersenyum padanya. Wajahnya yang bulat dan tangannya yang besar menunjukan bahwa dia telah tumbuh selama dia tidak ada. Sepertinya dia mendapatkan nutrisi yang cukup ketika tinggal di atas gunung. Boneka ginseng itu bermain-main di pundak Randika, mulutnya terlihat dia sedang bersorak-sorak. Randika tertawa ketika melihat tingkah laku boneka ginseng yang lucu ini. Pada saat ini, Indra menatapnya dengan senang. "Kakak seperguruan." "Kenapa kamu ada di sini? Apakah terjadi sesuatu?" Wajah Randika terlihat cemas. "Tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja di desa. Ketika aku belajar ilmu bela diri di gunung, sepertinya aku tidak sengaja menghapus nomor teleponmu di HPku. Karena aku merindukanmu, aku akhirnya datang dan ingin menjengukmu." Kata Indra dengan wajah malu-malu. Hati Randika sedikit tersentuh, dia lalu bertanya dengan tersenyum. "Bagaimana caranya kamu sampai di sini?" "Aku sendiri tidak tahu, aku sudah 10 hari berkeliaran di jalan. Akhirnya ada orang yang baik hati mau mengantarkanku ke sini." Kata Indra. Boneka ginseng itu kembali meloncat ke pundak Indra dan duduk di sana. Karena dia tidak tahu apa yang sedang mereka bicarakan, dia hanya duduk sambil terlihat bingung. Randika sendiri geleng-geleng ketika mendengarnya, sayang sekali otak adik seperguruannya ini agak kurang meskipun tenaga dalamnya luar biasa. "Karena kamu sudah ada di sini, jangan buru-buru pulang. Kamu sebaiknya ikut denganku beberapa hari ini." Kata Randika. Indra mengangguk dan berkata. "Baiklah, aku akan menuruti kakak." Pada saat ini, ada suara teriakan dari jauh. "Minggir, minggir atau kubunuh kalian!" Orang-orang yang makan bakso ini pada ketakutan dan membubarkan diri. Ketika mereka melihat ke arah suara tersebut, mereka melihat puluhan preman bertampang bengis berjalan menuju tempatnya. Yang berjalan di paling depan adalah sosok Ian yang baru saja dihajar oleh Randika dan Indra. Menilai dari penampilan mereka, sepertinya mereka datang untuk membalas dendam. Terlebih lagi, mereka membawa parang dan tongkat logam. Ini sudah pasti pembantaian. Orang-orang yang makan ini segera membubarkan diri, begitu pula dengan si pedagang. Mereka tidak mau menjadi korban sampingan dari aksi balas dendam ini. "Bajingan, Ian benar-benar memanggil anak buahnya yang dulu!" "Banyak sekali, habis sudah pasti kedua orang itu." "Kasihan sekali mereka harus mati di usia yang masih muda, seandainya saja tadi menurut dan memberikannya uang." Sebagian besar sudah pesimis terhadap Randika dan Indra, namun seseorang dengan lantang berkata. "Orang gemuk itu jago berkelahi, mungkin saja mereka berdua bisa selamat!" "Kamu bodoh atau apa? Ian dkk membawa senjata tajam dan tongkat logam, mana mungkin mereka berdua ini bisa melawan dengan tangan kosong? Riwayat mereka sudah tamat!" Jawab temannya. Kali ini, orang itu terdiam. Alasan para preman ini menakutkan adalah tekadnya yang berani mati dan jumlah mereka yang banyak. Oleh karena itu, kebanyakan orang selalu takut dan menghindari orang-orang seperti ini. Chapter 405: Memenangkan Hati Sebelum Meminta Ian datang setelah memanggil mantan anak buahnya itu. Melihat bahwa Randika dan Indra masih ada di sini, dia dengan cepat mengangkat tangannya yang kesakitan itu dan membentak. "Itu dia orangnya!" Dalam sekejap, 20 orang sudah mengepung mereka. "Kamu telah melukaiku dan harga diriku, sekarang aku tidak akan membiarkan kalian pergi hidup-hidup." Kata Ian dengan arogan. "Hari ini aku akan menari di atas mayat kalian, sekarang cepat pilih, mau mati dipenggal atau mati perlahan?" Randika mengedipkan matanya dan tersenyum. "Sejujurnya, seharusnya kami yang bertanya seperti itu pada kalian." "Hah? Masih sok kuat?" Wajah Ian terlihat jijik. "Orang-orangku ini adalah preman-preman terbaik di kota ini, mana mungkin mereka kalah hanya karena dua orang?" "Lihat saja nanti." Kata Indra dengan penuh percaya diri. Randika memberi isyarat pada Indra agar dia tidak ikut campur, dia lalu menatap Ian sambil tersenyum. "Kalau begitu, apakah kalian bisa tidak main keroyok?" Salah satu dari preman itu tertawa, dia berjalan maju sambil membawa parangnya. "Menarik, aku sendiri yang akan membunuh kalian." Setelah itu, dia menatap Randika dan Indra bagaikan mereka adalah tikus yang terperangkap. Meskipun dia tahu bahwa kedua pengawal Ian tadi sudah dihajar mereka, dengan adanya parang di tangannya, mana mungkin dia bisa kalah? Para preman ini pernah berhutang budi pada Ian, jadi mereka tidak segan-segan membunuh orang apabila diminta oleh Ian. Randika menatap lawannya dan dengan santai merogoh saku celananya. Ketika orang-orang menahan napas melihat tindakan Randika ini, rupanya Randika mengeluarkan sebuah jari tengah dari saku celananya. "Gila, masih berani seperti itu dia!" Bukan hanya preman itu saja yang terkejut, orang-orang yang melihat mereka dari jauh terkejut melihat aksi menantang dari Randika itu. Sepertinya dia benar-benar cari mati. Preman itu menyeringai. "Awalnya aku hanya ingin memotong kakimu dan melepaskanmu, tetapi kamu berani sekali menghinaku, kamu akan mati duluan!" Dengan parang di tangannya, dia menerjang maju dan menyerang Randika. Randika mengeluarkan koin yang diam-diam dia ambil dari saku celananya. Di bawah tatapan orang-orang, dia menembakkan koin itu dengan jempolnya ke arah lawannya. Meskipun dia mengalirkan tenaga dalamnya tidak terlalu banyak, seharusnya itu sudah cukup. Koin itu melesat dengan kecepatan tinggi, lawannya ini benar-benar tidak menduga serangan Randika ini. Koin itu dengan sukses menembus dan bersarang di tenggorokannya. Ketika orang itu menerjang maju, dia merasa ada sesuatu yang menyengat di tenggorokannya. Setelah itu, dia merasa dunia menjadi hitam dan badannya menjadi lemas. Terlebih lagi, dia sama sekali tidak bisa bersuara sedikitpun. Apa yang sebenarnya telah terjadi? Semua orang benar-benar bengong, mereka tidak tahu apa yang telah terjadi. Kenapa orang itu tiba-tiba terjatuh ke tanah? Semua orang saling memandang, mereka tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Para preman ini juga sama, hasil pertarungan ini benar-benar mengejutkan bagi mereka. Preman itu tengah sekarat sambil memegangi tenggorokannya dan terbatuk-batuk, hanya butuh hitungan detik hingga akhirnya dia mati. "Bedebah!" Seorang preman yang tidak terima segera menerjang ke arah Randika, tetapi Randika menanggapi ini dengan tenang. Dia kembali menembakkan koin di tangannya yang sudah dialiri tenaga dalamnya, kali ini koin menancap di dahi. Kali ini, serangan koin ini bagaikan palu yang menyerang tulang. Orang tersebut bahkan tidak sempat melihat kilasan-kilasan balik kenangannya, dia sudah tergeletak dan mati di tempat. Hasil yang sama! Orang-orang bertepuk tangan, kekuatan Randika benar-benar mengerikan. Sekarang mereka justru kasihan dengan Ian dan anak buahnya. Serangan koin Randika ini benar-benar cepat, mustahil untuk dihindari. Randika tersenyum sedikit, dia menatap semua preman yang mengepungnya itu. Beberapa preman itu saling memandang, akhirnya mereka menyerang Randika bersama-sama. Randika masih mempunyai koin yang banyak, dia membunuh mereka satu per satu dengan santai. "Bodoh, serang dia bersama-sama!" Pada awalnya, Ian merasa ketakutan ketika melihat dua anak buahnya itu mati di tempat. Satu-satunya cara adalah menyerangnya secepat mungkin dan mengalahkannya dengan jumlah! Pada saat yang sama, hampir semua orang yang tersisa menerjang ke arah Randika. Dengan bersenjatakan koin di tangannya, Randika melumpuhkan mereka satu per satu. "ARGH!!" Para preman ini jatuh satu per satu berkat serangan Randika yang tak kasat mata itu. Orang-orang yang menonton pada kebingungan semua. Seharusnya yang tergeletak sekarang adalah Randika, kenapa para preman itu yang justru terkapar? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Boneka ginseng di pundak Indra bertepuk tangan dengan gembira, ia terlihat senang. Begitu banyak orang telah dikalahkan oleh Randika tanpa bergerak sama sekali, penampakan ini benar-benar mengejutkan. Melihat sosok Randika yang berdiri tegak, semua penonton benar-benar bingung harus bereaksi seperti apa. Benar-benar luar biasa! Randika menatap Ian dengan samar, dia sudah melumpuhkan semua anak buahnya, sekarang tinggal Ian yang merupakan kepalanya. Suara Ian terdengar gemetar. "Aku tidak akan melupakan kejadian ini!" Setelah berkata demikian, Ian berlari sekuat tenaga. Namun, belum jauh dia berlari, kakinya telah diserang oleh sebuah koin. Ketika koin itu mengenai kakinya, dia langsung mengerang kesakitan. Rasa sakit itu serasa hampir membunuhnya. Randika sudah tidak peduli lagi, dia membawa Indra dan boneka ginseng keluar dari tempat ini. Tujuan mereka adalah rumah Randika. ...ˇ­ Sesampainya di rumah, rupanya Inggrid dan Hannah masih belum pulang. Randika lalu mempersilahkan Indra untuk duduk di sofa. "Indra, bagaimana dengan para kakek?" Tanya Randika. Sejujurnya, Randika tidak terlalu khawatir dengan keempat kakeknya mengingat mereka adalah para ahli yang tiada tanding. Tetapi, Randika benar-benar ingin segera bertemu dengan mereka karena dia membutuhkan kakek ketiganya untuk mengembangkan sebuah obat agar dia bisa mengendalikan kekuatannya. "Mereka belum pulang." Indra menggelengkan kepalanya. "Masih belum ada kabar dari guru, aku selama ini tinggal sendirian di gunung." Desa Jaga adalah desa yang dimiliki oleh keempat kakeknya itu, jika mereka pergi, tentu saja desa itu menjadi kosong. Karena tempatnya yang cukup terpencil, jarang ada orang yang mau tinggal di desa kakeknya itu. Mendengar jawaban Indra, Randika sedikit sedih. Dia benar-benar butuh bantuan dari kakeknya itu. Pada saat ini, boneka ginseng yang selama ini duduk di atas pundak Indra segera melompat turun dan memanjat ke meja. Di atas meja, ada cemilan milik Hannah sebelumnya. Boneka ginseng itu mencium baunya dan mengangkatnya tinggi, tatapan matanya terlihat berbinar-binar. Ia kemudian membuka bungkusnya dan memakan keripik kentangnya. Randika menatap boneka ginseng makan dengan lahap, tiba-tiba suasana hatinya kembali nyala. Benar, meskipun kakeknya tidak ada di sini, bukankah ada boneka ginseng? "Heiˇ­" Boneka ginseng itu sedang asyik memakan keripik kentangnya, ia terlihat sedang memberi skor pada makanan unik ini. Namun, tiba-tiba ia mendengar suara di belakangnya dan menoleh. Ia benar-benar kaget ketika melihat wajah tersenyum Randika yang sudah dekat dengannya. Ini pasti konspirasi, senyuman wajah itu pasti menandakan sesuatu! Boneka ginseng ini terlihat waspada dengan Randika, ia merasa ada sesuatu yang salah dengan temannya ini. "Apakah enak?" Randika membantunya membuka satu bungkusan lagi. "Jika kamu suka, aku masih punya banyak lagi seperti ini." Randika tidak peduli apakah boneka ginseng itu dapat memahami kata-katanya atau tidak, yang penting adalah memenangkan hatinya terlebih dahulu. Boneka ginseng itu mengambil satu keripik yang ada di dalam bungkusnya dan memakannya, wajahnya langsung tersenyum dan dia terlihat puas dengan makanannya. Randika lalu berkata dengan cepat. "Aku akhir-akhir ini kurang sehat, aku butuh obat yang manjur untuk penyakitku. Hei, apakah kamu bisa memberikanku beberapa tetes darahmu?" Chapter 406: Malam yang Bergairah Mendengar kata-kata itu, boneka ginseng itu hanya menatapnya dengan diam. "Aku tidak meminta banyak kok, cuma 5 tetes, iya 5 tetes saja! Bagaimana menurutmu?" Kata Randika sambil tersenyum. Melihat boneka ginseng itu tidak menjawab, dengan cepat Randika menambahkan. "Maksudku 4 tetes, tidak, 3 tetes! Tiga tetes cukup kok." Masih tidak ada jawaban, Randika menggertakan giginya. "Baiklah, satu tetes sajaˇ­ satu tetes dan aku akan memberikanmu banyak makanan seperti ini." Pada saat ini, boneka ginseng terlihat bereaksi, tetapi setelah beberapa saat, dia menatap bungkus makanan itu dan memalingkan wajahnya. Ia tidak mau menatap Randika lagi. Sialan, jual mahal! Randika dengan cepat berkata dan memohon sekali lagi. "Ayolah, jangan pelit-pelit begitu. Bukankah aku pernah menyelamatkanmu? Aku cuma meminta satu tetes saja kok." Boneka ginseng itu memalingkan wajahnya lagi dan Randika dengan cepat berdiri di hadapannya. "Ayolah, aku benar-benar butuh darahmu agar sembuh. Kalau tidak aku bisa-bisa mati, kamu tidak ingin melihatku seperti itu kan?" Boneka ginseng ini meliriknya dari sudut. Ia lalu mengulurkan tangan putihnya itu dan membuat ekspresi wajah yang kesakitan. Tiba-tiba, setitik darah berwarna putih keluar dari tangannya. Randika dengan cepat menjadi bergembira, dia langsung mengambilnya dan menelannya. Ketika darah putih itu memasuki tubuhnya, dia dapat merasakan bahwa darah boneka ginseng itu melebur menjadi satu dengan tenaga dalamnya dan meredakan luka di dalam tubuhnya. Randika menutup matanya dan mulai menyebarkan tenaga dalamnya. Kekuatan misterius di dalamnya berusaha untuk melawan tetapi dengan adanya bantuan dari darah boneka ginseng, tenaga dalam Randika berhasil mengatasinya dan menekan kekuatan misterius di dalam tubuhnya. Randika merasa sangat senang karena bisa mengontrol tenaga dalamnya sekali lagi. Setelah beberapa saat, Randika membuka matanya. Dia benar-benar senang dengan dampak yang diberikan oleh darah dari boneka ginseng ini. Randika tersenyum lebar dan menatap boneka ginseng yang sedang memakan keripik kentang itu. Namun, pada saat ini, boneka ginseng itu sudah menghabiskan sebungkus keripik kentang itu dan meloncat kembali ke pundak Indra dan mencueki Randika. Randika hanya bisa garuk-garuk kepala. Awalnya dia ingin meminta setetes darah lagi, tetapi boneka ginseng ini benar-benar pelit. "Nak, apakah kamu lapar?" Pada saat ini, Ibu Ipah memasuki ruang tamu. Sebelumnya dia mendengar suara Randika jadi dia memutuskan untuk keluar. Tetapi ketika dia melihat sosok Randika, Ibu Ipah cukup terkejut melihat Indra dan boneka ginseng di pundaknya. "Ibu, ini adikku, namanya Indra. Kalau yang ada di pundaknya, Ibu Ipah pernah melihatnya bukan." Kata Randika sambil tersenyum. "Siang Ibu Ipah." Indra memberikan sebuah sapaan hangat. "Karena orang ini adalah adik Nak Randika, berarti dia juga keluarga!" Jawab Ibu Ipah sambil tersenyum hangat. Pada akhirnya, dia masih tidak tahu identitas asli Randika dan dia berniat untuk mencari tahu. Selama Randika bisa membahagiakan nona mudanya, itu sudah cukup bagi Ibu Ipah. "Nak, apakah kalian berdua lapar? Apa ada makanan yang ingin kalian makan?" Tanya Ibu Ipah. Mendengar hal ini, tatapan mata Indra berbinar-binar yang membuat Randika sedikit malu. "Makanlah kalau kamu mau, tidak perlu menunggu ijinku." Randika hanya bisa menghela napas. "Iya bu, aku lapar." Kata Indra sambil mengangguk. "Baiklah kalau begitu, tunggulah sebentar ya akan ibu masakkan sesuatu." Ibu Ipah lalu berjalan menuju dapur. "Ibu, aku sarankan masak nasi yang lebih banyak, adikku ini kuat makan." Kata Randika. "Baiklah, serahkan semuanya pada ibu!" Ibu Ipah tersenyum. Tidak lama kemudian, akhirnya makanan telah siap. Pada saat ini, waktu hampir menunjukan pukul lima sore. Tepat sebelum jam makan malam, Inggrid telah kembali. "Ran, apa kamu sudah diperbolehkan pulang?" Melihat sosok Randika, Inggrid tersenyum dan senang. "Aku tidak peduli dengan kata dokter, aku sudah tidak mau lagi dipisahkan denganmu! Aku benar-benar merindukanmu!" Kata Randika sambil menggoda. Mendengar kata-kata manis ini, Inggrid tersipu malu. "Nona, kamu datang tepat waktu! Mari kita makan bersama." Ibu Ipah dengan cepat menyiapkan piring untuk Inggrid. Dengan begitu, keempat orang, termasuk Ibu Ipah, makan bersama dengan lahap. Sebelum makan, Randika memperkenalkan Indra pada Inggrid. "Dia ini murid dari kakekku, jadi bisa dikatakan bahwa dia adalah adik seperguruanku." Kata Randika pada Inggrid. Indra yang sibuk mengunyah itu sama sekali tidak memperhatikan Randika. Akhirnya setelah dipukul pelan oleh Randika, Indra mengangkat kepalanya dan menatap Inggrid. Dia lalu berkata dengan mulut penuh nasi. "Sore kakak ipar." Kakak ipar? Randika terkejut sekaligus cukup senang, dia tidak menyangka Indra akan sepeka itu. Inggrid tersenyum, tetapi samar-samar ada rasa malu di wajahnya. "Kak, aku ingin mencari pekerjaan kali ini." Kata Indra. Randika berpikir sebentar dan mengangguk. "Baguslah kalau begitu, dengan ini kamu juga bisa jadi mandiri. Bagaimana kalau bekerja menjadi petugas keamanan? Aku yakin kamu cocok." "Sayang, apakah perusahaanmu itu butuh tenaga lagi? Adikku ini benar-benar cocok, aku yakin tidak akan ada penjahat lagi yang berani macam-macam dengan perusahaanmu!" Kata Randika sambil tertawa. "Memangnya aku bisa mencegahmu untuk tidak melakukannya?" Inggrid terlihat marah sesaat, tetapi dia tidak menolak ide Randika. Bagaimanapun juga, dia adalah istri Randika jadi perusahaannya adalah milik Randika juga. "Aku hanya khawatir bahwa nyonya Inggrid menolak ideku ini." Randika tersenyum. Setelah makan malam yang harmonis ini selesai, Ibu Ipah bertanya. "Nak, apakah adikmu ini ada rumah untuk ditinggali?" "Belum ada, besok aku akan mencarikannya rumah sewa." Randika awalnya ingin menyarankan Indra untuk tinggal di rumahnya ini tetapi dia langsung membungkam mulutnya rapat-rapat. Permasalahan utamanya adalah Randika tidak ingin waktu berduanya dengan Inggrid terganggu lebih jauh lagi. Ketika Ibu Ipah dan Hannah tidak ada, Randika harus memanfaatkan waktu itu dengan baik dan melakukan hubungan romantis dengan istrinya. "Kalau begitu serahkan pada ibu, kebetulan ada kenalan ibu yang punya rumah untuk disewakan dekat sini." Kata Ibu Ipah. "Baiklah kalau begitu, terima kasih ya bu." Randika tersenyum. Kemudian, Indra berdiri dan mengikuti Ibu Ipah untuk segera mengunjungi rumah sewanya itu. Ketika kedua orang itu pergi, Randika benar-benar senang. Dengan cepat, dia duduk di samping Inggrid dan memeluknya. Tangannya mulai bergerak dan mulutnya mulai mengunci mulut Inggrid dengan rapat. "Ah!" Inggrid mendesah pelan karena serangan mendadak Randika ini. Setelah beberapa menit, akhirnya Inggrid bisa lepas dari ciuman maut Randika. "Mandi dulu sana." "Mandi bisa nanti, toh kita akan berkeringat." Kata Randika. "Tidak mau, kamu sudah seminggu lebih di rumah sakit, bau badanmu kurang enak." Kata Inggrid dengan wajah marah. "Sudah, tidak usah terlalu memikirkan hal yang terlalu detail." Randika sudah mulai mencopoti baju Inggrid, tidak lupa dia memberikan kecupan hangat di leher. "Tidak mau!" Inggrid membalasnya dengan nada dingin sambil memalingkan wajahnya. "Bagaimana kalau sesudah mandi?" Randika masih bermain dengan tubuh Inggrid. Setelah beberapa saat diserang oleh Randika, tubuh Inggrid sudah mulai terangsang. "Setelah mandi kamu bebas melakukan apa pun." Kata Inggrid dengan malu di telinga Randika. Mendengar kata-kata itu, Randika tersenyum lebar. "Kalau begitu tunggulah aku sebentar, aku sudah mempersiapkan baju yang tepat untuk kita! Aku tidak sabar melihatmu memakai baju perawat." Sejak roleplay bersama Inggrid beberapa kali, Randika mulai menyukai permainan seperti itu. Terlebih lagi, Randika sudah membeli beberapa lingerine sexy untuk Inggrid. Meskipun Inggrid malu-malu, dia tetap memakai apa yang diberikan oleh Randika. Melihat sosok perempuan dewasa yang angkuh itu patuh terhadap dirinya, ini membuat Randika makin terangsang dan bersemangat. "Sudah mandi sana." Kata Inggrid dengan wajah yang merah. Randika dengan cepat mandi dan keramas, sepertinya malam hari ini ditakdirkan menjadi malam yang penuh gairah. Pada hari di mana dia pulang dari rumah sakit, kasur Randika dan Inggrid harus menerima takdirnya bahwa kedua pasangan ini tidak akan tidur malam hari ini. Setelah beberapa permainan dan foreplay, akhirnya mereka memasuki babak utama. "Hei, pelan-pelan sedikit!" Kata Inggrid. "Sayang, aku benar-benar sudah tidak sabar." Kata Randika sambil mencium Inggrid dan sambil terus menggoyangkan pinggangnya. "Hari ini aku tidak akan berhenti sebelum 300x!" Chapter 407: Mencari Para Kakek (1) Keesokan harinya, setelah Randika terbangun, dia menyadari bahwa Inggrid sudah tidak ada di atas kasur, sepertinya istrinya itu sudah sarapan di bawah. Ketika dia hendak berdiri, dia melihat jejak-jejak peperangan tadi malam. Wajahnya benar-benar terlihat bangga, sepertinya dia berhasil membuktikan keperkasaannya itu. Dia benar-benar merasa bahwa dirinya jantan sekali sampai-sampai kaki tempat tidurnya ini patah karena saking liarnya kemarin. Dia tidak mempermasalahkan ketika Ibu Ipah datang dan membersihkan kekacauan mereka berdua malam tadi. Randika hanya penasaran ekspresi apa yang dikenakan ibu-ibu itu ketika melihat kamarnya ini. Pada saat ini, HP Randika bergetar seperti ada yang meninggalkan sebuah pesan. Ketika dia melihatnya, sepertinya itu adalah pesan dari anggota tim intelijensi miliknya. Isi dari pesannya sangat singkat, dia memberitahu dirinya bahwa Tom dan Anna telah kabur ke Afrika. Di sana, dia telah kehilangan jejak mereka karena memang jaringan intelijensi pasukan Ares di sana masih kurang. Randika memikirkan hal ini untuk beberapa saat, pada akhirnya dia berjalan menuju kamarnya dan mengontak Yuna. "Aku kira kamu sudah lupa sama aku." Ketika video call itu tersambung, Yuna berbicara dengan nada yang cukup cuek. Dia terlihat seperti seorang pacar yang telah ditinggal oleh lelakinya selama berbulan-bulan. Tentu saja, Randika tahu ini hanyalah sebuah akting. "Bagaimana dengan perkembangan Tom dan Anna?" Tanya Randika. "Aku sudah mengirim orang untuk mengejar mereka di Afrika. Jika ada kabar lebih lanjut, aku akan mengabarimu langsung." Jawab Yuna dengan nada serius. Randika mengangguk. "Terus bagaimana dengan situasi pasukan kita?" "Pasukan kita berkembang dengan cepat, terlebih lagi kita juga sudah memiliki ratusan anggota elit dengan kesetiaan yang absolut." Kata Yuna. Setelah pengkhianatan Bulan Kegelapan dan Shadow, kesetiaan menjadi prioritas utama bagi Randika. Para rekrutan baru di pasukannya ini harus menjalani beberapa tes dan pengorbanan, oleh karena itu, kesetiaan mereka sudah tidak diragukan lagi. Terlebih lagi, dengan penambahan jumlah baru ini, Catherine menambahkan beberapa divisi baru dan kekosongan posisi terdahulu semuanya juga sudah terisi. Para talenta baru ini semakin memperkokoh posisi pasukan Ares di Jepang. Dalam masalah kekuasaan, pasukan Ares sudah menguasai baik hitam maupun putih di Jepang, sekarang tujuan mereka adalah Eropa dan Amerika Serikat. Tidak ada lagi yang meragukan nama dari pasukan Ares. Di Asia, ketika orang mendengar nama pasukan Ares, mereka semua akan minggir dan mengambil jalan memutar. Tetapi, sekarang karena tujuan mereka adalah Amerika, mereka telah mendapatkan tantangan baru. Di Amerika, ada berbagai macam kekuatan yang menguasai mereka. Para kekuatan besar ini memiliki bisnis narkorba, penjualan senjata, penyelundupan manusia dll. Dengan suplai uang yang kuat, mereka telah mengontrol para politisi dan memiliki dukungan yang kuat. Mengusik mereka berarti mengajak perang seluruh Amerika. Tetapi, ketika berhadapan dengan pasukan Ares, para kekuatan di Amerika ini juga memberikan rasa hormat mereka. Tidak ada yang ingin berkonflik secara tidak perlu. Jadi untuk sekarang, kontrol pasukan Ares di Amerika masih sangat lemah. "Bagaimana dengan Bulan Kegelapan?" Tanya Randika. Selain Tom dan Anna, Randika memiliki musuh bebuyutan yang merepotkan yaitu Bulan Kegelapan. Bagaimanapun juga, dia pada akhirnya akan membalaskan dendamnya karena sudah dikhianati. "Masih tidak ada jejak." Kata Yuna dengan nada dingin. "Bulan Kegelapan benar-benar lciik, dia sangat memahami metode kerja kita. Dia benar-benar menghilang tanpa jejak, kita kesulitan untuk menemukan jejaknya lagi." Mendengar hal ini Randika tidak terkejut karena Shadow pasti telah mengajarkan Bulan Kegelapan bagaimana menghilang tanpa jejak. Perlu diingat, Shadow belajar langsung dari Randika jadi jelas bahwa metode pencarian pasukan Ares sangat dipahami oleh Shadow. "Baiklah kalau begitu, tetap kejar dan hubungi kalau ada apa-apa." Setelah mematikan video callnya, Randika memijat kepalanya. Jika musuh-musuhnya ini berhadapan langsung dengan dirinya, Randika tidak akan pusing seperti ini. Tetapi ketiga musuhnya ini benar-benar orang yang licik dan keahlian mereka adalah menyerang secara mendadak. Meskipun Randika sudah siap dan waspada, ini tidak menjamin bahwa dia tidak akan termakan jebakan mereka lagi. Memikirkan masalah ini, Randika tidak dapat menahan diri untuk tidak memikirkan keberadaan para kakeknya. Meskipun para kakeknya ini mengatakan kepada dirinya bahwa dia tidak perlu khawatir, tetapi setelah sekian lama, tidak ada kabar dari kakeknya ini. Bagaimana mungkin Randika tidak khawatir? DItambah lagi, Ivan mengatakan bahwa reruntuhan yang kakeknya datangi itu adalah jebakan, hal ini sudah lama berada di benak Randika. Pada awalnya, Randika cuek dan percaya bahwa tidak ada bahaya yang bisa mencelakai kakeknya. Tetapi setelah berbulan-bulan tidak ada kabar dan mereka belum juga kembali, Randika mulai khawatir. Setelah memikirkan hal ini, Randika ingin menelepon kakek ketiga dan berusaha mencari jejak mereka. Ketika dia menelepon, teleponnya itu langsung mati dan mengatakan bahwa telepon kakeknya berada di luar jangkauan. Randika dengan cepat menulis sebuah pesan, tetapi jelas tidak ada jawaban sama sekali. Semakin dia memikirkannya, semakin cemas Randika. Mungkin ada sesuatu yang terjadi pada mereka. Ketika turun ke bawah, Randika melihat sosok Indra, Ibu Ipah dan Inggrid sedang mengobrol bersama. "Pagi nak Randika." Kata Ibu Ipah dengan senyuman hangat. "Selamat pagi bu." Balas Randika sambil tersenyum, pada saat yang sama dia menggoda Inggrid. "Sayang, lain kali kalau kamu bangun, bangunin aku juga ya." Inggrid melototinya, wajahnya sedikit merah. Nanti kalau dia bangunin, bisa-bisa Randika meminta melakukannya lagi sebelum sarapan! Ketika memikirkan tempat tidur mereka yang patah, Inggrid merasa itu sedikit lucu. Sepertinya sebelum pulang nanti dia harus membeli tempat tidur yang baru. Setelah sarapan, Randika tidak pergi ke perusahaan bersama Inggrid, dia membawa Indra ke terminal dan bersiap-siap untuk kembali ke desa Jagad! Indra sedikit bingung, tetapi Randika memintanya untuk mengikuti dirinya jadi dia mengikutinya tanpa protes sama sekali. Ketika mereka sampai, mereka dengan cepat berjalan menuju desa. Sesampainya di rumah, masih tidak ada jejak sama sekali dari para kakek. Berjalan ke gunung, Randika berhenti di depan sebuah gua. Indra berada di belakangnya dan boneka ginseng terlihat duduk tenang di pundaknya. Mereka berdua menatap Randika dengan curiga. Indra tidak tahu bahwa kakek pertama berada di dalam gua ini. Ketika dia datang, dia hanya bertemu dengan kakek kedua hingga kakek keempat. "Kakek, ini aku Randika!" Randika menambahkan tenaga dalamnya kepada suaranya dan berteriak sekencang mungkin. Di bawah suara yang keras ini, seharusnya kakek pertamanya yang mengurung diri di dalam gua seharusnya bisa mendengarnya. "Kek, aku ingin tahu di mana kakek yang lain berada. Aku khawatir dengan mereka karena sudah lama tidak ada kabar." Kata Randika. Suaranya itu dengan keras menggema di dalam gua, tetapi masih tidak ada pergerakan sama sekali di dalam gua. Apa suaranya kurang keras? Randika sedikit bingung, tetapi pada saat ini, gua yang tertutup oleh batu-batu itu, sebuah pil melesat keluar dan menuju ke arah Randika. Randika dengan sigap menangkapnya dan menatapnya dengan hati-hati. Pil obat itu berwarna perak dengan berbagai ukiran di luarnya. Pil apa ini? Chapter 408: Mencari Para Kakek (2) Randika merasa bingung ketika menatap pil yang ada di tangannya. Karena pada akhirnya, pil ini sangat berharga. Kakek ketiga pernah berkata pada dirinya bahwa ada teknik yang dapat membentuk beberapa pola pada pil selama proses alkimia, yang berarti efek dari pil ini akan sangat tinggi, tetapi teknik ini sudah hampir hilang bahkan kakeknya itu tidak mampu menghasilkannya. Randika menatap gua yang masih menutup tertutup rapat itu. Serangan kakek pertamanya barusan sangat luar biasa. Hanya ada lubang kecil di batu yang menutupi mulut gua dan pil itu dibungkus dengan tenaga dalam sehingga pil itu tidak rusak. Tepat saat pil itu mencapai di tangannya, tenaga dalam itu menghilang. Pada saat yang sama, batu-batu ini saling bertumpukan, sangat keras, dan tidak akan bisa dibuka, tapi dengan secara akurat kakeknya ini bisa menggunakan tenaga dalamnya untuk menembusnya. Dapat dikatakan bahwa kekuatan kakeknya itu telah mencapai level yang menakutkan. Di belakang, Indra memandang gua dengan linglung. Dia tidak menyangka ada orang di dalam gua itu dan sepertinya orang itu sangat kuat. "Makanlah." Tiba-tiba, sebuah suara pria tua muncul, tetapi suara itu menjadi sedikit serak karena dia sudah lama tidak berbicara, seolah-olah ada sebuah perubahan yang tak terbatas dalam kata-katanya. Hati Randika merasa sangat gembira, dia langsung menelan pil itu secara langsung. Tetapi begitu dia meminumnya, pil itu langsung meleleh menjadi cairan dan mengalir dari tenggorokan Randika ke perutnya. Pada saat yang sama, energi yang sangat lembut menyebar secara instan, menyebar ke seluruh tubuh Randika. Begitu energi aneh ini muncul, Randika merasa bahwa kekuatan misterius yang bersemayam di tubuhnya tampak menjadi tidak terkendali. Energi itu ditarik satu demi satu dan melebur menjadi satu dengan energi yang dihasilkan oleh pil tersebut. Randika terkejut, tetapi dia belum bereaksi. Randika menyadari bahwa kekuatan misteriusnya itu sebenarnya terbungkus oleh energi baru ini dan kemudian perlahan-lahan menjadi tenang, berubah menjadi tenaga dalam, dan menyatu ke dalam tubuhnya. Pil ini bisa menyerap energi misterius di dalam tubuhnya? Randika sangat kaget, obat macam apa yang bisa menyerap energi misterius di dalam tubuhnya itu? Keterkejutannya kali ini sama persis dengan keterkejutannya ketika dia menemukan bahwa ikan di dalam kolam dapat membantu dirinya menyerap energi misterius di dalam dirinya, dan keterkejutannya kali ini bahkan lebih tinggi daripada saat di kolam dingin. Karena alam bersifat magis, maka tidak mengherankan jika beberapa makhluk di lingkungan khusus akan mengalami efek ini, namun pil ini dibuat oleh manusia. Artinya, jika ada pil ini, Randika bisa menyerap energi misterius tersebut sepenuhnya, ini hanya masalah waktu saja! Di dalam tubuhnya, energi misterius yang awalnya liar dan kasar telah berubah menjadi tenaga dalamnya setelah bersatu dengan energi yang terkandung di dalam pil tersebut. Randika merasakannya, dan apabila dibandingkan dengan yang terakhir kali, dia menyerap lebih banyak energi misteriusnya kali ini. Ini benar-benar kejutan yang tidak terduga. "Kakek, obat apa ini?" Randika bertanya dengan heran. "Aku sendiri tidak tahu benda apa itu, aku mendapatkannya secara tidak sengaja di dalam reruntuhan. Dan pil itu adalah yang terakhir." Suara di dalam gua tidak keras, seolah-olah dia telah melihat banyak perubahan-perubahan dalam kehidupan, dengan sebuah ketenangan. "Aku sudah menganalisis komposisinya, dan mengetahui bahwa benda ini bisa berfungsi menyerap energi di tubuhmu, jadi aku juga sudah bertanya ke mana-mana dan baru mendapat kabar bahwa ada sebuah reruntuhan yang dibuka." Suara di dalam gua masih terdengar tidak menentu, seolah suara kakeknya itu tidak terlalu keras. Tapi bisa menggema ke segala arah. "Selain itu, reruntuhan di sini tidak jauh dari reruntuhan tempat kita mendapatkan benda ini terakhir kali." Setelah kakeknya itu mengatakan ini, dia tidak berbicara kembali. Tidak jauh dari reruntuhan terakhir, artinya, ada kemungkinan besar obat jenis ini akan ditemukan di sebuah reruntuhan lagi? Randika merasa sangat gembira, tetapi kemudian dia mulai tergerak. Sepertinya para kakeknya itu benar-benar pergi ke reruntuhan untuk dirinya. Dia juga tahu sedikit tentang reruntuhan ini. Itu semua adalah reruntuhan abnormal yang mirip dengan reruntuhan dari zaman suku Maya. Sulit untuk masuk dan bahkan lebih sulit untuk keluar. Pada dasarnya, tidak mungkin bisa keluar dari situ hidup-hidup. Dan ketiga kakeknya itu rela mengambil resiko memasuki reruntuhan untuk mencarikan dirinya pil yang memiliki kemungkinan dia bisa menyerap energi misteriusnya tersebut. Bagaimana mungkin Randika tidak tersentuh hatinya? "Kakek, apakah reruntuhan itu berbahaya?" Randika bertanya lagi. Tetapi setelah dia bertanya, tidak ada balasan kembali, dan gua itu tampak kembali tenang seperti semula. "Kakek?" Teriak Randika lagi, dan tanda kehidupan muncul lagi: "Bocah sepertimu tidak usah berpikir yang aneh-aneh, pulang dan tidurlah." Ah? Randika membuka lebar matanya, apa artinya ini? Apakah itu berbahaya atau tidak? Randika ingin bertanya kembali, tetapi dia tahu bahwa kakek pertamanya itu tidak akan mengatakan apa-apa lagi, jadi dia hanya bisa turun gunung dengan perasaan sedih. "Kakak, tidak apa-apa. Guru kita itu selalu beruntung, aku sangat paham tentang hal ini." Indra berkata dengan terengah-engah dari belakang. "Dulu, ibuku pernah memberitahuku bahwa para guru adalah orang-orang yang diberkati, jadi dia memintaku untuk belajar dan mengikuti ketiga guru." Randika merasa geli untuk beberapa saat, dia lalu berbalik. "Apakah ibumu masih bisa melihat hubunganmu?" "Uh." Indra menggaruk kepalanya, "Aku tidak terlalu paham, sepertinya memang seperti itu. Dia jelas tidak sebanding dengan guru." Randika mengangguk dan memandangi sebuah rumah kosong, dia merasa sedikit tidak nyaman. Ada beberapa ahli bela diri dan ahli medis yang tinggal di dalamnya sebelumnya. Setelah beberapa waktu ini, dia merasa ada sesuatu yang hilang. ... Keesokan harinya, Randika membawa Indra dan bergegas pergi dari desa Jagad ke rumahnya di kota Cendrawasih. Ketika mereka kembali, hari sudah malam, itu juga membuat Randika merasa sedikit tertekan, alangkah baiknya jika kedua tempat ini bisa terhubung dengan menggunakan kereta api. Kembali di rumah, dia menemukan bahwa Inggrid sedang memasak di dapur. Randika merasa senang di dalam hatinya, dia lalu berkata kepada Indra. "Indra, ??kamu kembalilah dulu." Mana mungkin Randika memperlihatkan adegan 18+ pada Indra, dia harus mengusirnya! "Oh." Indra menjawab, tetapi membuka mulutnya lagi, dengan wajah penuh kebingungan. "Lalu apa yang harus aku lakukan jika aku ingin makan malam?" "Tunggu aku meneleponmu nanti." Kata Randika. Indra dengan patuh kembali ke tempat tinggalnya. Tidak jauh dari rumahnya, Ibu Ipah sudah menyewakan dirinya sebuah kamar kos yang sangat besar dan nyaman. Randika berjalan mendekat ke dapur, namun tanpa diduga sebelum dia bisa semakin mendekat, Inggrid berkata. "Jangan coba-coba, aku sedang membuat masakan baru." Randika menarik tangannya dengan senyum ragu-ragu. "Sayang, bagaimana kamu bisa tahu kalau aku ada di belakang?" "Aku bisa mencium baumu dari jarak jauh." Inggrid tersenyum sedangkan Randika terlihat sangat bingung, dia mencium baunya? Faktanya, jika kalian sering bersama baik siang dan malam, bahkan jika kamu tidak melihat orang tersebut, selama kamu bisa mendengar langkah kaki dan mencium baunya, kamu akan dapat mengenali orang tersebut tanpa perlu menoleh. "Jangan aneh-aneh dulu, aku belum selesai." Inggrid menampar tangan Randika yang ingin meraih makanan itu. Randika tersenyum. "Kenapa kamu sudah pulang secepat ini?" "Karena perusahaan baru saja menyelesaikan sebuah kontrak besar, aku memutuskan bahwa orang-orang di beberapa departemen dapat berlibur sebentar, jadi aku bisa istirahat juga." Kata Inggrid sambil tersenyum. "Selain itu, aku juga sudah mengatur sebuah liburan buat mereka. Kita akan menjelajah ke hutan." Chapter 409: Wisata Kantor Hutan purba? Randika tercengang sejenak, dia bertanya-tanya sedikit. Jika wisata di hutan ini mereka tidak ditemani oleh pemandu wisata, mereka akan mudah mendapat masalah. Kita harus tahu bahwa hutan bukanlah tempat yang santai dan aman seperti yang terlihat di TV, tempat ini penuh dengan bahaya. Banyak serangga yang berbisa di dalamnya, laba-laba beracun yang bisa membunuh manusia, dan jenis-jenis serangganya aneh dan bervariasi. Hutan purba pada umumnya berada di dekat garis khatulistiwa, dan iklim di dalamnya adalah iklim tropis yang paling mudah untuk mengembang biakkan racun. Di antara hutan purba yang khas, hutan Amazon adalah yang paling luas. Sangat sulit untuk bisa bertahan hidup tanpa persiapan yang matang selama lebih dari lima hari. Bahkan kabarnya pihak Amerika memiliki kamp pelatihan pasukan khusus yang terletak di Amazon. Pada saat itu, hutan purba ini termasuk di antara tiga lingkungan paling berbahaya yang diakui paling cocok untuk pelatihan pasukan khusus, hal ini cukup menunjukkan kengerian dan bahaya yang dimilikinya. Hanya saja beberapa tahun belakangan ini, dengan maraknya industri pariwisata, pariwisata global menjadi sangat marak dan beberapa orang mulai tertarik dengan wisata di hutan purba. Pemerintah daerah juga sudah mulai mengembangkan hutan purba ini. Selama mereka tidak masuk terlalu dalam, mereka masih sangat aman. "Apakah pemandu wisatanya profesional?" Tanya Randika. Inggrid menyingkirkan piring, mematikan api, dan tersenyum tipis: "Aku sudah menghubunginya. Dia adalah pemandu wisata yang paling profesional di daerah setempat. Kali ini lokasi ini dipilih oleh semua orang, mereka mengatakan bahwa mereka sangat ingin mengamati adat istiadat para penduduk asli." "Menurutku, bawahanmu itu hanya ingin liburan gratis dengan uang kantor. Bukankah lebih baik kamu istirahat di rumah jika kamu ingin berlibur? Kita bisa menikmati waktu berdua kita dengan baik kan?" Kata Randika sambil tersenyum. Dia sudah memeluk Inggrid dari belakang. Tangannya mulai bergerilya pada dua bagian yang membusung itu dengan gelisah. Bagi Randika, apa yang menyenangkan tentang hutan purba yang rusak? Lebih baik dia menikmati dan berhubungan badan dengan istri cantiknya di rumah. Coba bayangkan, mereka bisa bebas melakukan apa pun di rumah dan mereka bisa menggunakan gaya apa pun yang mereka inginkan. Kesempatan seperti ini sangat jarang. Ada desahan samar dari mulut Inggrid. Randika sudah memahami titik rangsang istrinya dengan sempurna. Dia hanya sedikit bermain dengan tangannya, dan Inggrid sudah merasa tidak tahan. "Aku pikir ini adalah kesempatan yang bagus untuk memperdalam hubungan antar karyawan." Inggrid melepaskan cengkeraman maut Randika. "Lagipula, aku yang mengusulkan liburan ini." Melihat wanita cantik yang melepaskan diri dari pelukannya, Randika terus mengikutinya, dia tersenyum bahagia. "Sayang, maksudku bukan itu. Maksudku itu adalah mereka, kamu pasti tidak tahan dengan hutan yang penuh serangga itu." "Hmph, ternyata itu yang kamu maksud." Inggrid menggeram. "Malam ini, kamu tidur sendiri di kamarmu." Randika mengerutkan keningnya. "Hukuman ini terlalu kejam! Baiklah, baiklah, bagaimana kalau aku akan pergi denganmu?" "Bahkan jika kamu pergi denganku, aku tetap tidak mau tidur denganmu." Penampilan centil Inggrid seperti seorang wanita kecil yang lucu, Randika merasa dia tidak bisa menahan diri untuk tidak menjatuhkannya. "Siapa bilang kita akan tidur?" Setelah Randika selesai berbicara, dia langsung menjatuhkan Inggrid. "Ah! Apa yang kamu lakukan? Kita masih di ruang tamu!" Inggrid menampar Randika yang membenamkan kepalanya di depan dadanya. "Tidak apa-apa." Setelah Randika selesai berbicara, dia menyusupkan tangannya ke bawah tubuh Inggrid dengan leluasa. Tanpa melepas celananya, dia langsung melepas celana dalamnya secara langsung. Kemudian, keduanya mengerang dalam kenikmatan. ... Keesokan harinya, Randika berangkat bersama dengan Inggrid, dia juga membawa Indra bersamanya. Karena dia tidak tahu berapa hari dia akan pergi, Randika kepikiran dengan Indra yang sendirian dan memutuskan untuk membawanya pergi bersama dengannya. Randika dan Inggrid sedang duduk di dalam mobil mereka, mereka memanggilkan taksi untuk Indra. Tidak ada alasan lain, cuma karena ukuran tubuh Indra yang besar, seluruh kursi belakang telah dikuasainya dan benar-benar tidak ada tempat lagi. Boneka ginseng di pundaknya juga tertawa dan terlihat riang, dia terlihat bersemangat dan melompat turun dari bahu Indra kemudian naik lagi. Hutan purba yang akan mereka tuju kali ini bernama Hutan Salak, merupakan sebuah hutan di Provinsi Jawa Barat dekat dengan lereng gunung salak. Hutan ini berbatasan dengan beberapa kota dan kabupaten, dan memiliki wilayah yang luas. Provinsi Jawa Barat, yang dikenal sebagai Bumi Pasundan, memiliki corak dan karakteristik iklim tropis, serta tidak terlalu banyak risikonya, sehingga sangat populer di kalangan wisatawan yang lebih menyukai gaya iklim tropis. Satu-satunya masalah adalah hutan ini berbatasan dengan banyak daerah, sehingga pengelolaannya menjadi semrawut, dan seringkali ada campur tangan dari orang-orang yang jahat. Sesampainya di depan perusahaan Cendrawasih, setelah keluar dari mobil, Randika melihat sekelompok orang sudah berkumpul di depannya. "Kak Randika, kenapa kamu juga ada di sini?" Hannah mengenakan pakaian ala pendaki gunung, dan tidak bisa menahan kebingungannya ketika dia melihat sosok Randika. Ketika karyawan dari beberapa departemen lain mendengar ini, mereka sedikit tercengang. Melihat Randika yang berjalan bergandengan tangan dengan Inggrid, mata mereka jelas sangat terkejut. Ada rumor yang menyebar di perusahaan bahwa Inggrid dan Randika memang sudah menikah, tetapi tidak ada bukti sama sekali, jadi semua orang hanya menganggapnya sebagai rumor belaka. Tapi hari ini, melihat Randika dan Inggrid bersama, ini jelas bukan sebuah rumor belaka. Beberapa laki-laki meratap di dalam hatinya. Di perusahaan ini, ternyata setiap laki-laki memiliki pemikiran romantis tentang Inggrid. Memangnya siapa yang tidak mencintai wanita tercantik kota ini? Dan sekarang harapan itu tinggal kenangan, mereka hanya bisa menatap dengan lemas, lalu tersenyum dan menyapanya. "Semuanya, ayo pergi bersama." Inggrid tersenyum. "Oke." Semua orang menanggapi dengan bersemangat, lalu naik ke bus yang sudah lama berhenti. Setelah duduk, semua orang jelas sangat santai, tertawa dan bersenda gurau. Bagaimanapun juga, mereka baru saja telah menyelesaikan sebuah kontrak yang besar, sangat jarang bagi mereka untuk bisa bersantai. Begitulah kalau kalian bekerja di industri jasa, setelah kontrak itu disepakati, bonusnya bahkan jauh lebih tinggi dari gaji mereka. Dan kali ini, mereka telah menyelesaikan kontrak yang besar dan membawa keuntungan yang tinggi bagi perusahaan. Jadi Inggrid memutuskan untuk memberi semua orang yang terlibat dalam proses kontrak ini sebuah liburan sebagai rasa terima kasihnya. Tentu saja, perusahaan lah yang akan menanggung semua biayanya. "Kali ini aku membawa kamera DSLR. Sesampainya di sana, kita semua harus foto bersama!" Ujar salah satu dari mereka. "Haha, bukankah memakai kamera HP sama saja hasilnya? Kenapa jiwamu tiba-tiba menjadi fotographer begini?" Temannya yang lain langsung menyaut. Keduanya berusia 30-an, dan mereka adalah rekan kerja yang telah bekerja selama bertahun-tahun, jadi hubungan mereka juga sangat baik. "Pak Randika, hati-hati sama dia, dia jelas ingin memotret istrimu itu." Yang lain juga tertawa. "Kupukul kamu kalau kamu berani!" Kata Randika sambil bercanda. Namun, Inggrid yang berada di sampingnya mengangkat alisnya, dan wajahnya terlihat cemberut. Ada senyum masam di wajahnya. Melihat bahwa para karyawannya akrab dengan Randika, Inggrid tidak bisa menahan untuk tidak menatap. Chapter 410: Perjalanan yang Menyenangkan Di sisi lain, ada dua orang perempuan yang sedang mendiskusikan apakah akan ada kisah cinta yang terjadi selama di perjalanan ini. "Alangkah baiknya jika aku bisa bertemu dengan jodohku dalam perjalanan kali ini." kata seorang gadis mungil di sebelah kiri. Yang di sebelahnya adalah sahabatnya, dia membalasnya dengan lembut. "Kita itu pergi ke hutan purba. Laki-laki yang kamu temui nanti pasti berambut panjang dan hanya memakai rok kulit, dan mereka akan terlihat seperti orang primitif." "Apa yang kamu bicarakan, aku pasti akan bertemu dengan jodohku kali ini! Dan tentu saja, orang itu pasti pangeran yang tampan, tinggi, dan kaya, sama seperti dongeng yang aku dengar saat masih kecil." Sebuah kerinduan muncul di wajah gadis itu. Sahabatnya itu mencondongkan tubuh ke telinganya, dia tersenyum dan berkata dengan suara rendah. "Apakah dongeng itu bernama Tarzan?" Kata-kata ini langsung membuat wajah temannya itu menjadi merah. "Kenapa kamu selalu ingin menghancurkan mimpiku? Tidak ada salahnya kan berandai-andai!" "Hahaha jangan marah, aku hanya bercanda." Sahabatnya itu tersenyum. "Tapi kamu benar-benar suka kisah cinta yang seperti dongeng?" "Tidak tahu, aku malas cerita lagi." Perempuan yang bertubuh kurus itu memalingkan wajahnya untuk melihat ke luar jendela. Orang-orang di dalam bus juga sedang mengobrol. Randika, Inggrid dan Hannah duduk bersama dan berada di posisi tengah. Indra duduk di belakang sendirian, dia telah menempati lebih dari dua kursi orang lain. Randika mencium aroma yang berbeda dari kedua wanita itu, sangat mempesona. Tidak heran di zaman kuno dikatakan bahwa menjadi seorang kaisar itu sangat baik, dengan tujuh puluh dua selir, kehidupannya tidak akan pernah menjadi buruk. Hannah tidak tahu apa yang sedang dipikirkan oleh Randika, perempuan ini mengeluarkan gitar dari samping dan mulai berlatih di dalam bus. Randika senang saat melihatnya. "Hannah, apakah kamu sedang berlatih gitar?" "Ya, aku berlatih alat musik baru-baru ini." Hannah menjawab. "Kalau begitu lebih baik kamu berhenti berlatih, bagaimanapun juga, kamu benar-benar buta nada." Kata Randika dengan santai kepada Hannah. Hannah memelototinya, "Kak, apa yang baru saja kamu katakan?" "Tidak apa-apa." Randika hanya bercanda, tetapi Hannah merasa tidak nyaman. Dia pernah berkata bahwa dia akan memulai bisnis dan membuka toko pakaian di sekolahnya. Dan sekarang adik iparnya ini memberikan tokonya ke orang lain untuk diurus. Randika dapat melihat hal yang sama akan terjadi. Randika memandangi Hannah yang masih kekanak-kanakan, dia tidak bisa menahan senyum, dan mengambil alih gitar itu. "Aku akan memainkannya untukmu." "Memangnya kak Randika tahu cara bermain gitar?" Mata Hannah membelalak, penuh dengan tanda tanya. Sebuah tatapan kecurigaan, tetapi Hannah segera mengagumi aksi permainan gitar Randika yang akrab. "Aku akan memainkan lagu lama." Randika berbicara dengan acuh tak acuh, dan orang yang sedang mengobrol di depan mereka terkejut tiba-tiba. "Sepertinya seseorang sedang bernyanyi." "Aku juga mendengarnya." Semua orang menoleh, tetapi Randika tidak mempedulikannya. Dia terus bernyanyi. "When I first met you, I knew that my life would never be the same" "And I knew that you felt it too." "Never fee alone again boy, because your love makes me feel so secure and you got me singing" ... Suara gitar yang merdu perlahan keluar, dan suara nyanyian Randika pun muncul secara perlahan, tidak terburu-buru, tapi juga dengan melankolis dan penuh kasih sayang. Hannah tertegun. Randika memandang Inggrid, dengan senyuman di wajahnya, dan berkata: "Because of love, I know you better" "Because of love, we are together" "Because of love, you have my heart" "Because of love, we''''ll never part." ... Randika menyanyikan "Because of Love" yang agak mirip dengan versi aslinya. Inggrid menatap mata Randika, ikatan di hatinya telah dicabut lagi dan hatinya penuh dengan kegembiraan. Setelah Randika selesai menyanyikan lagunya, dia menyadari bahwa bus menjadi sepi, dan para karyawan menatapnya dengan tatapan kosong. "Hebat!" Tiba-tiba, para karyawan di depan itu bertepuk tangan. "Sangat bagus." "Ya, lagu ini sebanding dengan penyanyi profesional itu." "Wow, sangat bagus, aku hampir terobsesi dengannya." Perempuan yang sebelumnya marah pada sahabatnya ini menjadi terhibur kembali. "Kenapa? Apa kamu tidak berencana pergi ke Hutan Salak untuk mencari pangeran tampanmu?" Sahabat di sebelahnya bercanda. Hannah juga tercengang, dan kemudian merasa gembira. "Kak, kamu bermain dengan sangat hebat! Lain kali kamu harus mengajariku!" Mulut Randika bergerak-gerak, tanpa mengeluarkan suara. "Lagi, lagi, lagi!" Seseorang bersorak. "Ya, satu lagu lagi." Kata para karyawan. "Oke." Randika tersenyum sedikit, dan kemudian mulai menjentikkan tangannya. Tiba-tiba, suara gitar yang merdu mulai muncul seperti air yang mengalir, kali ini ternyata sebuah lagu rock. "Beri aku tangan dan pinggangmu!" "Mari meleleh dalam ritme ini!" Randika bernyanyi dengan nada yang sangat tinggi. Lagu ini berjudul "Let''s Sway Together", tetapi di tengah, Randika mengubah liriknya, "Ayo kita jalan-jalan bersama, oh" "Lupakan semua kesedihan, jalan-jalan bersama~ Oh!" Keterampilan gitar yang tiba-tiba ini muncul mengejutkan semua orang. Dalam suasana bahagia ini, bus juga melaju ke bandara, dan petikan gitar Randika juga sudah habis. "Penampilan yang sangat bagus!" seru seorang karyawan. Inggrid sedikit tersenyum. "Sudah, sudah, ayo kita naik pesawat." Tiket sudah lama dibeli. Perusahaan yang akan mengganti uangnya. Sama seperti perjalanan yang terakhir, semuanya dibayar oleh perusahaan. Ini menunjukkan bahwa Inggrid sangat memperhatikan kesejahteraan para karyawannya dengan sangat baik. Setelah naik pesawat, semua orang duduk, tidak butuh waktu lama sebelum pesawat lepas landas dan langsung menuju Jawa Barat. "Semoga di hutan nanti aku dapat melihat hewan primitif." Para karyawannya tetap heboh. "Ada banyak jenis burung di hutan, alangkah baiknya jika kita bisa melihat mereka secara langsung." "Aku dengar ada juga gajah." Semua orang berdiskusi dengan antusias, dan Randika hanya tersenyum sedikit dan tidak berkata apa-apa. Jarak ke Jawa Barat sebenarnya tidak jauh, dan dengan kecepatan pesawat, semua orang akan bisa mencapai tujuan mereka hanya dalam beberapa jam. Saat turun dari pesawat, mereka langsung pergi ke hotel yang sudah dipesan terlebih dahulu. Setelah berbenah, mereka segera bersiap untuk segera menjelajah hutan purba! Rencananya pada saat itu, mereka akan berencana untuk bermalam di kamp dekat hutan purba itu untuk merasakan adat istiadat warga setempat, jadi semua orang sudah menyiapkan tenda. Berkemah di alam bebas dan berada dekat dengan alam pada jarak terdekat membuat orang-orang yang sudah lama duduk di kantor ini sangat menantikannya. "Ayo pergi!" Teriak Hannah dengan senang hati. Yang lainnya juga memiliki semangat tinggi. Di bawah bimbingan pemandu wisata, sekelompok orang ini langsung pergi ke Hutan Salak. Chapter 411: Awal dari Akhir Randika dan rombongannya pergi ke hutan purba, sementara di tempat lain, beberapa kekuatan di kegelapan mulai bergerak karena kabar yang baru saja mereka terima. Amerika Utara, Alaska. Alaska adalah tanah yang dibeli Amerika Serikat dari Rusia, dan sebagian berada di dalam Lingkaran Arktik. Di sebuah rumah di Alaska, di ruangan yang redup, seorang pria berbaju serba hitam duduk di sana. Dia hanya duduk di sana, ekspresinya seolah-olah dia tidak memiliki aura sama sekali, tetapi seluruh tubuhnya memancarkan amarah yang sangat besar. Bulan Kegelapan! Ketika Bulan Kegelapan memutuskan untuk memulai pemberontakan di pasukan Ares, dia meninggalkan jalan untuk dirinya sendiri. Meskipun Shadow pada saat itu yang mengambil inisiatif untuk berkolusi dengannya, Bulan Kegelapan tidak terlalu menggunakan Shadow. Mereka hanya saling memanfaatkan satu sama lain. Setelah pemberontakannya gagal, Bulan Kegelapan bersembunyi dan tidak pernah keluar lagi, oleh karena itu, hingga sekarang orang-orang dari pasukan Ares tidak dapat menemukan dirinya. Dia telah bersembunyi sampai sekarang, dan akhirnya, sebuah kesempatan telah datang. Peluang itu datang dari laporan yang baru saja diserahkan. Dalam laporan ini, pergerakan Randika hari ini dilaporkan seluruhnya. Sama seperti pasukan Ares yang mencari keberadaan dirinya, Bulan Kegelapan juga telah mengirim orang untuk mengawasi Randika. Meskipun sumber daya di tangannya tidak seseram pasukan Ares, tetapi dia masih punya kekuatan untuk bisa memeriksa keberadaan Randika. "Apakah akhirnya kau berani keluar?" Sepertinya Bulan Kegelapan sudah lama tidak berbicara, suaranya terdengar serak dan ada jejak-jejak kegilaan di suaranya. Niat membunuh yang kuat dapat terlihat di matanya! Dia sudah menunggu momen ini sangat lama. Kebencian antara dia dan Randika tidak pernah berhenti. Entah Randika yang mati atau dirinya yang mati! Tentu saja ada cara kedua, yaitu bersembunyi, dan tidak pernah keluar lagi dalam hidup ini, tapi bagi Bulan Kegelapan, hal itu jelas sangat mustahil. Dalam hidupnya, dia akan menghancurkan pasukan Ares dan membunuh Randika! "Panggil dia kemari." Bulan Kegelapan melambaikan tangannya, dan tiba-tiba, seseorang yang berdiri di bagian sudut ruangan itu menghilang melalui pintu rahasia di belakangnya. Di dalam ruangan hanya ada satu orang yang tersisa, Bulan Kegelapan duduk kembali di kursinya dan menyimpan laporan itu, tetapi tiba-tiba, dia menyadari sesuatu di dalam laporan itu. Sebelum Bulan Kegelapan melihat isi di halaman pertama, dia sudah terjebak dalam semangat tinggi untuk bisa membunuh Randika, namun saat melihat laporan di halaman kedua, pupil matanya menyusut. "Reruntuhan kuno, rahasia hidup, keabadian?" Laporan di atas menyebutkan bahwa di kedalaman Hutan Salak, seseorang telah menemukan peninggalan prasejarah, yang sepertinya memiliki sesuatu yang dapat membuat manusia menjadi abadi. Dikatakan bahwa sekelompok orang telah keluar dari sana. Metodenya masih belum diketahui, tetapi kekuatan mereka meningkat dengan sangat pesat. Setelah membaca laporan itu, Bulan Kegelapan menjadi sedikit bersemangat. Semua orang memang mendambakan keabadian, tetapi selama berabad-abad, tidak ada yang bisa melakukannya. Namun, karena seseorang keluar dari dalam hutan itu dan memberikan informasi berharga ini, seharusnya ada sesuatu. "Sepertinya aku harus pergi mencari teman-teman lamaku." Sudut mulut Bulan Kegelapan bergerak-gerak, seolah-olah dia sedang tersenyum, tetapi dengan rasa dingin yang sangat dalam. Di Afrika. Ini adalah belahan bumi yang selalu terkena sinar matahari sepanjang tahun. Air sama berharganya dengan minyak di sini. Kekerasan adalah tema abadi di sini. Setiap orang membawa senjata saat mereka pergi keluar. Di sebuah kota di tengah gurun yang datar, dalam sebuah ruangan, ada dua orang yang sangat dikenal Randika, yaitu Tom dan Anna dari keluarga Alfred. "Mereka benar-benar keras kepala, benar-benar sulit lepas dari kejaran mereka." bisik Tom. Anna dengan lembut menuangkan air ke cangkir. "Tidak apa-apa, toh mereka tidak bisa menemukan kita." Tom masih memiliki bekas luka di wajahnya, luka yang ditinggalkan oleh Randika pada dirinya di hari itu tidak bisa hilang begitu saja, tetapi kakinya kini telah sembuh. "Padahal nyawanya sudah ada di tanganku." Ketika Tom kepikiran hari di mana dia melawan Randika, wajah Tom menunjukkan sedikit keengganan. Pada saat itu, jelas bahwa dia bisa membunuh Randika dengan serangan terakhir. Tetapi hasilnya ternyata sangat berlawanan. Dia hampir terbunuh oleh Randika dan Randika masih hidup dan sehat. Anna tidak berbicara, dan pada saat ini, ponselnya berdering dan mengirim dua pesan secara berurutan. "Saudaraku, ada sebuah kesempatan yang bagus di sini." Ada kegembiraan di wajah Anna, dan tatapan ganas melintas di matanya. "Kesempatan apa?" ??Tom menatap Anna, ada jejak kejahatan tersembunyi di matanya. Tak disangka, saudara perempuannya ini terlihat sangat cantik. "Randika pergi ke hutan Salak di Jawa Barat untuk melakukan tur." Anna sangat gembira, "Kesempatan kita telah datang." Tom berdiri dengan kegembiraan di wajahnya. "Aku akan memanggil yang lainnya." "Tunggu!" Tiba-tiba, saat Anna membaca pesan kedua, dia berseru. "Ada apa?" ??Tom menoleh. "Di hutan itu, ada berita bahwa ada sebuah reruntuhan kuno." Anna melihat isinya dan tidak bisa menahan sedikit terkejut. Tom sedikit membeku sejenak, dia lalu mengambil ponsel itu dan membacanya. Setelah membacanya, ekspresi wajahnya menjadi sedikit tidak pasti. Mereka dibesarkan di keluarga Alfred, dan mereka adalah orang Indonesia, jadi dalam beberapa karya klasik, mereka telah melihat deskripsi tentang reruntuhan semacam ini. Dalam teori klasik, reruntuhan semacam ini adalah reruntuhan yang ditinggalkan oleh beberapa orang yang hebat di zaman kuno. Segala jenis harta karun, seperti pisau harta karun yang bisa memotong emas seperti lumpur, senjata ajaib yang bisa membunuh dengan mudah, dan beberapa peninggalan budaya yang berharga. Namun bagi orang modern, hal yang paling berharga adalah pil yang ditinggalkan para alkemis. Di reruntuhan kuno, terkadang ada obat-obatan pil yang ditinggalkan para alkemis, obat-obatan pil ini memiliki efek yang sangat aneh, beberapa di antaranya bahkan bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Tom berpikir bahwa karena dia mengetahui berita tentang reruntuhan ini, jelas bahwa orang lain juga akan mengetahui berita tentang reruntuhan itu, yang pasti akan menimbulkan kekacauan. Setelah mengetahui informasi sepenting ini, memangnya ada orang yang tidak tergiur untuk menemukan harta karun ini? Entah reruntuhan kuno itu sangat berbahaya dan dia harus berhadapan dengan kekuatan lain atau bisa jadi ini adalah sebuah berita palsu. Tetapi bagaimanapun juga, dia dan Anna harus pergi, karena ini adalah sebuah kesempatan besar untuk membunuh Randika! Karena kesempatan ini hanya datang sekali, mereka berdua harus menyiapkan ini dengan baik. Di Rusia. Di Dataran Siberia Timur, suhu di sini sangat rendah dan lingkungan tempat tinggal sangat keras, di sini ada sebuah suku yang hidup sebagai pengembara tradisional. Di antara mereka, ada sebuah gubuk kayu dan itu adalah tempat yang mirip dengan bar. Semua orang menikmati minuman di dalam. Di sebelah bar, ada seorang pria yang tampak sangat kasar duduk seperti beruang kutub. "Brian, ayo minum!" Seseorang di dekatnya memanggilnya untuk minum, dan Brian hanya menggelengkan kepalanya. Sekelompok tentara bayaran sedang mengobrol di sana, isi obrolan mereka kebetulan melibatkan reruntuhan kuno di dalam hutan Salak. "Apakah kau sudah mendengar bahwa sepertinya ada reruntuhan kuno di hutan Salak di Indonesia?" "Haha, kau percaya berita jelek ini? Kupikir itu hanya sebuah makam, dan kit adalah tentara bayaran, bukan perampok makam." "Sialan, jika kau tidak mendengarkanku lagi lain kali, aku akan mematahkan lehermu!" "Hei, kalian sangat berisik!" Kata orang ketiga. Setelah itu, orang pertama berkata. "Reruntuhannya berbeda kali ini. Kudengar ada hal-hal yang dapat meningkatkan kekuatan orang dan berisi rahasia umur panjang." "Apakah itu sangat misterius?" Tentara bayaran lainnya juga sedikit bingung. "Apakah ini reruntuhan yang ada di hutan Salak itu?" Salah satu tentara bayaran bertanya. Pada awalnya pria itu mengangguk. "Ya, reruntuhan itu ada di hutan Salak di Indonesia." "Kalau begitu, aku rasa itu benar. Negara yang misterius dan memiliki banyak rahasia di zaman kuno. Kita belum menerima pekerjaan baru-baru ini, jadi kenapa tidak kita lihat saja ke sana? Mungkin kita benar-benar bisa mendapatkan sesuatu yang bagus." Ketika Brian di samping mendengar kata-kata ini, dia berpikir cukup lama di dalam hatinya. Kemudian, dia bangun dan berjalan keluar dari rumah kayu itu, dan menghilang di salju yang beterbangan. India. Dalam sebuah istana, ini bisa dikatakan sebagai sebuah istana termewah di seluruh India, bahkan konstruksinya sama megahnya dengan Taj Mahal. Di istana ini, ada sebuah ruangan dengan wangi kayu cendana yang menyengat, seluruh ruangan sangat sunyi, kecuali orang yang duduk di tengah, tidak ada orang lain. Brahma, salah satu dari dua belas dewa utama, juga merupakan salah satu dari dua musuh yang bertarung melawan Randika di Jepang terakhir kali! Brahma membuka matanya dan menatap rokok yang masih terbakar, tetapi tatapannya sangat gembira: Berita itu seharusnya sudah tersampaikan. ˇ­ Para ahli bela diri di seluruh dunia hampir menerima berita ini dari berbagai saluran, dan berita ini menjadi semakin menarik. Pada akhirnya, semua tertarik dengan ramuan keabadian di reruntuhan ini. Pil yang bisa membuat mereka menjadi tak terkalahkan. Para ahli bela diri, kelompok tentara bayaran, pembunuh, dan organisasi lain semuanya sudah mendapatkan berita ini, dan beberapa memilih untuk diam, tetapi sebagian besar organisasi atau individu datang ke Hutan Salak. Terlepas dari benar atau tidaknya berita itu, mereka akan mengetahuinya secara langsung. Jika benar, mungkin mereka bisa mendapatkan sesuatu darinya. Tom dan Anna serta Bulan Kegelapan juga bergegas ke hutan Salak. Tujuan mereka adalah membunuh Randika terlebih dahulu, ini adalah tujuan pertama mereka. Dapat dikatakan bahwa sebagian besar pasukan datang menuju Hutan Salak, tetapi Randika sama sekali tidak menyadari semua ini. Dia hanya mengikuti yang lain menuju hutan. Sekelompok orang datang ke pinggir hutan purba itu. Ada juga aliran sungai yang sangat panjang dan lebar. Pemandu wisata tersenyum dan memperkenalkan. "Ini tempat yang sangat cocok untuk berkemah. Tempatnya luas, ada sumber air di sebelahnya, dan pemandangannya juga sangat bagus. Cantik dan hanya ada sedikit orang." Semua orang melihat sekeliling dan menemukan bahwa itu memang sangat bagus, jadi mereka memutuskan untuk berkemah di sini. Chapter 412: Randika Vs Buaya "Oke, mari kita berkumpul dalam kelompok dulu." Inggrid memiliki banyak pengalaman dalam memerintah. Saat berkemah, pasti lebih baik membagi tenaga dan bekerja sama, dan karena mereka belum makan setelah turun dari pesawat, jadi untuk mempersingkat waktu lebih baik tugas dibagi-bagi. "Aku akan menangkap ikan." Hannah terlihat bersemangat sambil mengangkat tangannya, gadis-gadis di sebelahnya juga tertawa bersama. "Sekelompok orang mendirikan tenda, sekelompok orang mengumpulkan kayu bakar, sekelompok orang mengumpulkan sayuran dan tumbuhan liar, biarlah pemandu wisata mengikuti kalian, dan dia akan memberitahu apa yang bisa kita makan." Inggrid memerintahkan. Hasilnya, semua orang mulai bergerak dan antusiasme mereka semua semakin meningkat. Udara di hutan purba itu masih sangat segar, banyak pohon-pohon yang luar biasa indah di kejauhan sana, dan sungai yang luas di dekat mereka. Air mengalir ke bawah dari kejauhan dan aliran airnya sangat deras. ???Wow, ada banyak ikan di sini!" Hannah berkata dengan terkejut. Randika menoleh, dia menyadari bahwa Hannah dan sekelompok gadis lainnya mengenakan celana panjang mereka dan sedang berusaha menangkap ikan di sungai. Namun, meski ada banyak ikan di dalam air, tak satu pun dari mereka yang bisa menangkapnya. Mereka terlihat seperti sekelompok gadis yang mengulurkan tangan dan bermain air. Randika tersenyum, menangkap ikan dengan tangan kosong itu terlalu sulit apalagi bagi sekelompok gadis ini. Selain itu, ada beberapa orang yang ingin menangkap beberapa binatang liar untuk makan siang mereka. Melihat kelinci yang sedang berlari, seorang pegawai laki-laki segera mengejarnya sambil berlarian. "Dasar bajingan, jangan lari!" Adegan ini menyebabkan orang-orang yang sedang mendirikan tenda tertawa. Semuanya terasa sangat menyenangkan, Randika juga merasa senang dan santai. Nyatanya, kehidupan di pedesaan seperti ini benar-benar sangat bagus. Seorang penyair terkenal juga menuliskan kalimat ini: Aku punya rumah yang menghadap ke laut dan ke arah bunga yang mekar di musim semi. Suasana hati seperti ini benar-benar sangat indah, tetapi menurut Randika, tidak ada yang lebih indah daripada beberapa perempuan cantik yang menunggu di rumah, itulah keindahan yang sebenarnya. Pemandangan yang indah dan para wanita yang cantik, benar-benar rumah idaman. "Sialan, aku tidak bisa menangkapnya!" Hannah merasa tertekan di sana untuk beberapa saat. Dia mendongak dan melihat Randika yang sedang bersantai, dan dia berteriak. "Kak Randika, sini dan bantu aku menangkap ikannya." Randika berbicara perlahan. "Han, apakah kau masih belum bisa menangkap ikannya?" Hannah tersenyum dan menunjuk ikan di dalam air sungai. "Bukannya aku yang terlalu bodoh, tapi ikan-ikan ini yang terlalu licik." Licik? Gadis-gadis di sebelah Randika terkejut dan kemudian tertawa. Penggambaran kata sifat ini digunakan dengan baik, tetapi itu tidak seharusnya digunakan pada ikan. Randika tertawa, dan pada saat ini, seorang gadis di sungai melihat sebuah benda persegi panjang yang berenang di air sungai tidak jauh dari mereka. Mengapa benda ini terasa begitu familiar? Gadis itu terdiam sejenak, memikirkan apa yang ada di pikirannya. Setelah sekian lama, tiba-tiba dia teringat sesuatu. Saat melihatnya lagi, matanya membelalak. Itu adalah buaya yang luar biasa besar! "Ada buaya!" Gadis itu berteriak dengan panik. Gadis-gadis di dalam air terkejut dan buru-buru pergi ke daratan. Tetapi tiba-tiba, buaya itu muncul dari dalam air dan membuka mulutnya lebar-lebar ke arah seorang perempuan dan berusaha membawanya ke dalam air. Para karyawan yang sedang mendirikan tenda pun ikut menyaksikan. Mereka melihat buaya itu keluar dari air dan mereka semua hanya bisa terkejut. "Awas!" Teriak beberapa karyawan ketika buaya hendak menggigit gadis itu. Namun tiba-tiba muncul sesosok tubuh di sebelahnya, sosok itu meninju langsung ke rahang buaya dengan sekuat tenaga. Pukulan ini langsung menutup mulut besar buaya yang terbuka itu. Buaya yang besar itu jatuh lagi ke air dan memercikkan air yang sangat besar. Semua orang tercengang, orang ini begitu kuat, apakah dia benar-benar bisa mengalahkan buaya? Siapa itu buaya? Itu adalah predator penguasa air. Jika seorang manusia menghadapinya, bukankah itu sama saja dengan mencari mati? Saat ini, pemandu wisata baru saja kembali dengan staf yang mengumpulkan sayuran liar dan melihat pemandangan ini. Pemandu wisata sangat terkejut, dan berteriak. "Jangan mendekatinya! Itu adalah buaya muara sungai, Ia sangat ganas. Cepat keluar dari sungai!" Tapi Randika tersenyum sedikit. Sepertinya ini adalah makanan untuk malam ini. Lumayan, dia sudah lama dia tidak makan buaya. Dia bahkan tidak ingat apakah rasanya itu enak atau tidak. "Han, hari ini kita akan makan daging buaya." Randika tertawa, lalu melompat langsung ke sungai di bawah perhatian semua orang. "Hei, apa yang dia lakukan?" Pemandu wisata itu terkejut, dan buru-buru berlari ke Randika dan berteriak. "Apakah kamu sudah gila? Cepat pergi, lawanmu itu adalah buaya!" Yang lain juga merasa sedikit linglung. Kenapa Randika justru melompat ke dalam sungai? Apa yang akan dia lakukan? Pemandu wisata tersebut memandang Randika dan berdiri di pinggir sungai dengan panik, setengah tubuhnya sudah terendam air. Dan di dalam air, buaya tadi sudah berenang ke arah Randika lagi! "Sudah berakhir!" Pemandu wisata itu sangat panik. Jika sampai berita kematian ini keluar, kredibilitasnya akan hancur. Dia tidak dapat melakukan pekerjaannya lagi di masa depan, ini semua gara-gara orang ini yang mencelakai dirinya sendiri. Semua orang terlihat sedikit panik, beberapa ingin berteriak pada Randika untuk segera pergi, tetapi mereka takut akan membuat Randika panik. Semua orang dapat melihat bahwa kecepatan buaya itu semakin cepat, tepat ketika jaraknya sudah dekat dengan Randika, buaya itu tiba-tiba muncul ke permukaan dan genangan penuh darah menyembul dari dalam air! Pemandu wisata itu jelas tidak tahan untuk melihatnya lagi, dia berbalik dan menutup matanya. Orang ini pasti sedang dicabik-cabik oleh buaya itu. Dia hanya bisa menyalahkan dirinya karena tidak menjelaskan situasi sungai ini sebelumnya. Yang lain juga menjerit, tapi kemudian mereka melihat Randika mengulurkan tangannya untuk meraih rahang atas dan bawah buaya di percikan air. Ya, dia baru saja menangkapnya! Semua orang tercengang. Bukankah ini sedikit tidak masuk akal? Buaya itu juga terpana, ia melihat manusia di depannya dengan kedua matanya yang penuh dengan keraguan. Buaya ini sudah berada di sungai ini selama beberapa decade dan dia bahkan belum pernah bertemu orang gila seperti ini. Manusia ini bisa memblokir gigitan pertamanya, lumayan hebat! Coba lihat apakah dia bisa memblokir gigitan kedua. Buaya itu mulai menggigit! Buaya itu mengerahkan seluruh tenaganya pada rahang atas dan bawahnya, dan gigi raksasa itu seakan-akan berusaha menggigit Randika hingga berkeping-keping. Namun, detik berikutnya, buaya tersebut menyeadari bahwa rahangnya sepertinya tidak bisa bergerak. Ini, ini, mungkin saja dia tidak mengerahkan seluruh kekuatannya, ia berusaha menggigit lagi! Buaya itu mengerahkan tenaganya lagi, tapi dia tetap tidak bergerak. Buaya itu tidak menyangka akan melihat makhluk yang begitu kuat dalam hidupnya, tapi manusia ini tidak bisa bertahan dari serangan gigitannya yang berikutnya! Kali ini, buaya itu mulai memutar tubuhnya dengan panik, dan ekornya berkibar tanpa arah, mencipratkan air ke segala arah, dan air itu langsung menuju ke darat, mengenai beberapa orang. Namun, Randika masih memegangi rahang buaya itu dengan kuat. Tidak peduli seberapa keras buaya itu berjuang, Randika tidak pernah bergerak. Sial! Semua orang yang menonton sangat tercengang. Ini adalah kekuatan yang tidak masuk akal. Pemandu wisata merasa ada yang tidak beres, kenapa si korban tidak berteriak setelah sekian lama? Saat melihat ke sungai, dia juga kaget. Apa? Kenapa situasinya sangat berbeda dari yang dia harapkan? Air sungai terus menerus bermuncratan dan Randika dengan kuat melempar tubuh buaya itu. Tubuh besar itu tiba-tiba ditarik keluar dari air dan melayang ke udara, kemudian terjatuh di atas air. "Boom!" Percikan yang lebih besar terciprat, tapi orang-orang masih merasa kebingungan. Sepertinya, barusan, Randika mengangkat buaya itu. Randika mencengkeram kedua rahang buaya itu, kemudian mengguncangnya dengan kencang, dan akhirnya membantingnya langsung ke tepi sungai, namun daya juang buaya itu luar biasa, dia memutar tubuhnya dan berenang ke dalam air lagi dan menuju ke arah Randika. Apakah buaya itu akan kehilangan dominasinya hari ini? Tak terbayangkan, benar-benar tak bisa dibayangkan. Kemudian, orang-orang di darat dan pemandu wisata melihat satu orang dan satu buaya berkelahi dengan penuh semangat di sungai, memercikkan air, dan percikannya luar biasa. Rasanya seperti sebuah pertempuran yang sangat sengit. Randika bertarung dengan buaya? Yah, meski itu terasa aneh, tapi itu penggambaran yang sangat cocok atas situasinya. Namun, rasanya Randika terlihat sedang menyiksa si buaya. Tidak peduli bagaimana buaya itu melompat, Randika selalu bisa menangkapnya dengan mudah dan kemudian dengan keras membanting buaya itu. Pemandu wisata menjadi mati rasa, orang ini bahkan lebih ganas dari buaya! Sial, dia sangat menakutkan. Setelah beberapa saat, Randika merasa seperti sedang bermain dengan anak kecil. Dia lalu menangkap buaya tersebut dan melemparkannya ke tanah, menghantamkannya dengan keras, dan berusaha membanting buaya tersebut hingga mati. Tragis sekali. Kehidupan buaya itu akan segera berakhir di sini. Mungkin Randika akan menjadikan kulit buaya itu sebagai sepatu atau sabuk. Mengapa hidup buaya itu bisa begitu pahit? "Brakk" Buaya itu jatuh ke tanah dan Randika mengikutinya. Dia langsung mengangkat tinjunya dan membantingkannya ke arah buaya. Terdengar suara keras "Plakk Plakk", dan buaya itu tidak bisa menahannya lagi. Buaya itu akhirnya mati, Randika benar-benar sangat kuat. Randika menepukkan kedua tangannya dan berdiri, ketika dia melihat ke atas, dia menyadari bahwa semua orang menatapnya dengan tatapan kosong. "Apa yang kalian lihat?" Randika bingung. "Ah, bukan apa-apa, hei, cepat pasang tendanya!" Semua orang cepat-cepat membuang muka. "Sepertinya kayu bakarnya masih kurang, ayo kita cari kayu bakar lagi." Pada saat ini, kekuatan yang mengerikan Randika menembus ke dalam hati semua orang, dan bahkan pemandu wisata itu tidak bisa menahannya ketika dia melihat buaya yang besar itu mati. Namun Randika dengan senang hati menyeret buaya tersebut ke sungai, lalu mulai mengulitinya. Dia merasa bahwa daging buaya ini pasti enak, dia tidak sabar untuk memakannya. Ini adalah hidangan yang langka, jadi tidak boleh disia-siakan. Hannah dan semua gadis lainnya sudah pergi meninggalkan sungai, bagaimanapun juga, adegan pengulitan ini sedikit berdarah. Chapter 413: Makan dan Bergembira Setelah membunuh buaya itu, Randika juga berperan menjadi juru masak, dan mulai memasak bersama beberapa orang lain. Untuk piknik ini, semua orang sudah membawa peralatan yang lengkap, bahkan panci yang digunakan untuk memasak, spatula, wajan, dan lainnya, bahkan beberapa bumbu. Randika juga sempat tertegun sejenak. Sepertinya ini sudah dibeli saat mereka istirahat di hotel. Hal ini membuat dirinya merasa adalah sekumpulan pecinta kuliner yang sedang bertamasya. Selain itu, banyak bahan yang dibawa oleh setiap orang. Ikan-ikan yang ditangkap di sungai sangat beragam, serta beberapa hewan buruan dan sayuran liar di hutan purba itu. Tentu saja, ikan dan hewan buruan itu ditangkap dengan bantuan Randika. Jika tidak, bahkan jika mereka mencoba menangkapnya selama sehari penuh, mungkin mereka tidak akan bisa menangkapnya. Langit berangsur-angsur meredup, tetapi semua orang menjadi semakin bersemangat. Tenda telah didirikan, semua orang telah memilih tenda mereka masing-masing. Sekarang semua orang duduk bersama di luar tenda, menonton daging yang sedang dipanggang, bau makanan yang harum di wajan, dan sup sayuran liar sedang direbus di atas arang api. Selain itu, Randika juga menangkap burung merpati. Seseorang menyarankan agar dia mengulitinya sesuai dengan metode menguliti burung merpati. Semua orang juga menjadi tertarik dengan usul ini, yaitu menguliti burung tersebut terlebih dahulu lalu burung itu dikupas dari bulunya, kemudian dibungkus dengan lumpur. Setelah itu, burung yang terbungkus di dalam lumpur itu dimasak dalam bara api. "Ayo buat pesta api unggun." Seorang gadis tiba-tiba menyarankan. "Ide bagus!" Yang lain juga tertawa. Berkat hal itu, semua orang menyalakan kayu bakar lagi, lalu menyiramkan minyak tanah, dan membakar kayu itu dengan sangat dahsyat. Lagipula, ini adalah hutan purba, ada sangat banyak kayu bakar, sehingga api unggun bisa menyala dengan sangat kuat. Di saat yang sama, aroma masakan itu semakin kuat. Mungkin karena suasananya, rasanya jauh lebih enak daripada makanan yang ada di kota. Bagaimanapun juga, ini adalah makanan yang dimakan di alam liar. "Aku tidak bisa menahannya lagi." Seorang rekan laki-laki memandang kelinci panggang berwarna coklat keemasan itu dan ingin mengulurkan tangan untuk menarik sepotong daging. "Hei, itu belum matang! Kalau kamu sakit perut bagaimana?" Seorang gadis di sebelahnya menampar tangan pria tersebut. Perempuan itu mengambil lada dan rempah-rempah lain yang telah dia siapkan, dan menaburkannya langsung di atas daging bakar tersebut. Setelah bumbu itu ditaburkan, daging kelinci segera mengeluarkan harum yang luar biasa. Bersamaan dengan itu, daging buaya bakar dan daging buaya gorengnya juga mengeluarkan wangi. Semua orang merasa lapar. Mereka belum makan sejak mereka turun dari pesawat, dan sekarang mereka hanya bisa melihat betapa menggiurkannya makanan ini. Randika tersenyum sedikit: "Jangan khawatir, tunggu sebentar." Randika duduk di samping dan membalik daging buaya itu, menambahkan bumbu di atasnya dari waktu ke waktu. "Kak, bisakah daging ini dimakan?" Randika cukup terkejut, dia tidak tahu kapan Hannah muncul di belakangnya. Ketika Hannah melihat daging buaya itu, wajahnya bercampur dengan rasa ingin tahu dan jijik. Ini adalah daging buaya, apakah ini benar-benar bisa dimakan? "Jangan khawatir, kamu akan tahu saat aku memberimu sedikit daging ini." Randika tertawa. Tidak butuh waktu lama, akhirnya orang-orang yang bertugas untuk memasak akhirnya mengatakan dagingnya sudah matang. Tiba-tiba para karyawan lainnya langsung bergegas seperti serigala. Mereka semua sudah sangat lapar. Randika baru saja selesai memanggang daging buayanya, tiba-tiba, dia menemukan bahwa banyak tangan yang telah diulurkan ke arah daging buayanya, dan ketika dia berkedip lagi, dia menemukan bahwa daging itu telah hilang. Randika tercengang, ini benar-benar luar biasa! Apakah kecepatan tangan mereka ini lebih cepat darinya? Dengan senyum yang masam, Randika menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar meremehkan potensi orang yang sedang mengalami krisis. Tidak ada jalan lain, Randika hanya bisa memanggang lagi. Sedangkan orang-orang yang lainnya tangannya masih berminyak dan berkilau. "Ya Tuhan, ini sangat enak." "Keahlian memasak pak Randika benar-benar luar biasa. Aku merasa bahwa aku bisa menghabiskan daging itu semua sendirian. Siapa pun yang menikahi pak Randika di masa depan, dia pasti akan menjadi sangat beruntung." Wajah gadis muda itu memerah. "Hei, kamu baru saja mengambil jatah dagingku! Apakah kamu mengatakan bahwa kamu memiliki hati nurani dan merasa bersalah sehingga kamu akan memberikan sup itu?" "Sialan, kamu juga sudah makan banyak! Sekarang kamu ingin merebut supku?" Perempuan iu memutar matanya, mereka berdua biasanya adalah teman baik, tetapi di hadapan makanan enak, sifat tidak mau mengalah mereka keluar bersamaan. "Oh iya, masih ada ayam!" Entah siapa yang berteriak. "Ya, ayo cepat dimasak!" Jadi, sekelompok pecinta kuliner yang berubah menjadi serigala lapar itu mengeluarkan sebuah kantong plastik, menaruhnya di tanah, dan segera mengeluarkan daging ayam di dalamnya, dan ayam di dalamnya tiba-tiba terlihat. "Beri aku pahanya." Sebuah tangan terulur. "Beri aku pahanya." Tangan satunya terulur. "Uh, berikan aku sayap ayam itu." "Cepat beri aku ayamnya." Tangan yang tak terhitung jumlahnya terulur, beberapa gadis hanya bisa terdiam. Pada saat ini, sebuah tangan yang lain terulur, dan kemudian dengan suara lemah. "Beri aku pantat ayam." Gadis itu tertawa "Haha! Oke, sebentar, aku akan memberimu pantat ayam." Randika masih asyik memanggang daging buayanya. Lagipula, daging buayanya masih sangat banyak. Saking banyaknya, sepertinya mereka tidak akan bisa menghabiskannya malam ini. Meski ini terasa sedikit aneh, tetapi pemandu wisata itu sangat menyukai daging buaya dan ingin membeli sisanya. Randika dengan senang hati memberikan dagingnya ini pada si pemandu wisata. Pemandu wisata itu kemudian pulang dengan gembira. Rumahnya sangat dekat dengan tempat mereka berkemah. Dia masih harus pulang dan dia akan kembali besok pagi. Tidak butuh waktu lama bagi daging buaya batch kedua Randika untuk selesai dipanggang, dan para pecinta kuliner itu hampir siap menyantapnya kembali. Beberapa orang sangat menyayangkan bahwa mereka sudah kenyang, mereka sebenarnya ingin makan lebih banyak lagi. "Ayo, Hannah, coba rasakan." Randika memberikan sepotong daging buaya dan menyerahkannya pada Hannah. Hannah mencicipinya, dan matanya berbinar. Daging buaya itu kenyal, lezat, dan beraroma sangat harum. "Kak, tambah!" Hannah berjongkok di samping Randika. "Enak?" Randika tertawa dan memberikan daging buayanya lagi ke Hannah. Pada saat yang sama, Indra juga berada di samping, dia memegang daging buayanya sambil terus menggigit. Karena enak, dia makan beberapa potong. Orang-orang ini makan dengan perlahan di sekitar api unggun dan mengobrol bersama dengan gembira. Mereka juga mengambil beberapa foto dari waktu ke waktu, dan ketika mereka kembali nanti, mereka akan memiliki sebuah kenangan. Semua orang mengobrol, dan pada akhirnya mereka menari di sekitar api unggun, dan mereka juga menyuruh Randika menyanyikan beberapa lagu. Penampilan Randika saat di bus pagi ini luar biasa. Randika juga mengeluarkan suaranya beberapa kali, semua jenis lagu dimainkan, dan ada alunan musik di antara mereka. Di malam yang tenang ini, suara Randika bergema. Chapter 414: Alarm Bahaya Setelah lebih dari satu jam bermain-main, mereka semua kembali ke dalam tenda untuk tidur. Randika menunggu dan menyaksikan semua orang itu masuk ke tenda dan berjalan menuju tenda Inggrid. Wajar jika seorang istri yang datang bersama suaminya masuk ke dalam tenda yang sama, apa yang mereka lakukan di dalam tenda, mereka semua sudah pasti tahu. Dia adalah laki-laki, tentu saja dia ingin tidur dengan wanitanya sendiri. Tetapi begitu dia membuka tenda, dia menemukan bahwa Inggrid dan Hannah sedang berganti pakaian di dalam. Semua kulit di tubuhnya terbuka. Lihatlah pinggang kecil Hannah, rambut yang tergerai di bahu, dan punggung mulus telanjangnya. Randika merasa penuh dengan gairah. Di sebelah kanan, sosok Inggrid juga sama seksinya. Dengan sepasang kakak beradik menawan ini yang sedang berganti pakaian, Randika langsung merasakan bahwa gairahnya segera memuncak. "Ah, keluarlah!" Tepat ketika dia hendak masuk, Hannah berteriak, dan kemudian melemparnya dengan sesuatu. Lemparannya sangat akurat dan langsung mengenai wajah Randika. Di dalam tenda, kedua saudari itu menutup ritsleting tenda dan memakai pakaian mereka. "Ran, kamu tidur sendirian malam ini! Aku akan tidur dengan Hannah dan tendamu juga ada di sebelah." Suara Inggrid datang dari dalam. Randika mengambil benda yang dilempar Hannah dari wajahnya dengan depresi. Sepertinya dia tidak bisa tidur dengan istrinya yang cantik malam ini. Dia ingin membuangnya, tetapi tiba-tiba menyadari kenapa benda ini terasa sangat nyaman untuk disentuh? Melihat benda ini, Randika segera menjadi bahagia. Ini ternyata adalah celana dalam Hannah, sepertinya dia melempar celana dalamnya tanpa menyadarinya. Oke, karena kamu memberikannya kepadaku, maka aku akan menerimanya. ... Keesokan harinya, hari sudah pagi, Randika membuka matanya, membuka ritsleting tenda, dan melihat Hannah ada di depannya. "Apakah kamu akan menakut-nakuti kakak iparmu ini sampai mati?" Randika memutar matanya. Orang jelas akan merasa ketakutan setengah mati jika mereka tiba-tiba datang tanpa suara. Hannah menjulurkan lidahnya, dan kemudian berkata. "Kak, cepat kembalikan barang yang aku lempar tadi malam." "Memangnya apa yang kamu lemparkan padaku?" Randika pura-pura bingung. "Itu... Benda itu bekas aku pakai kemarin." Hannah merasa wajahnya memanas. Pada saat itu, dia hanya mengambil sesuatu dengan santai yang ada di dekatnya dan dia segera melemparkannya pada Randika untuk menghalangi pemandangannya. Ternyata sudah dipakai? Randika merasa dirinya akan mimisan. Bukankah seharusnya ini begitu menggairahkan? Dia mencium dan menghirupnya tadi malam, tidak heran ada bau yang aneh. "Itu, sepertinya aku sudah membuangnya." Jawab Randika. Hannah menatapnya. "Kamu membuangnya?" "Ya, sudah kubuang." Randika berkata dengan pasti. Hannah melirik ke dalam tenda, dia dapat melihat sepotong kain kecilnya. "Kak, coba lihat ke belakang dan lihatlah apa yang ada di belakangmu?" Randika menoleh ke belakang, dan ketika dia berbalik lagi, dia menemukan bahwa Hannah telah mengangkat tinju kecilnya. "Jangan, aku cuma sedang bercanda denganmu, benda itu masih ada, jangan, ah!" Randika berteriak meminta ampun dan Hannah segera mengambilnya kembali dan mendengus dengan bangga. Randika menggelengkan kepalanya dengan sepenuh hati. Tak butuh waktu lama bagi semua orang untuk bangun lalu membasuh muka di tepi sungai untuk menyegarkan diri, pada saat itu juga pemandu wisata juga datang. "Oke, mari kita lanjutkan!" Semua orang dengan penuh energi berjalan menuju kedalaman hutan purba itu. Pemandu wisata memimpin jalan di depan. Dia tidak berjalan sampai masuk ke kedalaman, karena mungkin ada bahaya di dalam hutan purba ini. Jika terjadi kesalahan, dia lah yang bertanggung jawab. Namun seringkali wisatawan tidak terlalu mendengarkan pemandu wisata, beberapa karyawan merasa tidak apa-apa untuk masuk ke dalam, dan semua orang ingin melihat ke dalam hutan purba. Pemandu wisata itu, mau tidak mau, setuju untuk membawa mereka sedikit lebih dalam ke hutan. Randika menyaksikan beberapa gadis muda bermain, dan berkata kepada Indra di samping. "Indra, ??kamu pergilah dan ikuti mereka, jaga mereka dengan baik." "Baiklah, kakak." Indra dengan tegas berkata. Begitu Indra pergi, telepon Randika berdering. Randika melihat bahwa itu adalah nomor yang tidak dikenal, dan bahkan nomor teleponnya tidak ditampilkan. "Tuan, apakah Anda sekarang berada di Hutan Salak di Jawa Barat?" Randika tercengang, itu adalah Yuna yang menelepon, dan nada suara Yuna sangat gugup, seolah sesuatu yang besar akan terjadi. "Aku memang di sini, Yuna, apa yang terjadi?" Randika seolah mendengar tanda bahaya. Yuna buru-buru berkata: "Ran, aku akan menyingkat laporanku ini agar mudah dipahami. Aku menggunakan satelit untuk berbicara denganmu dan itu tidak akan bertahan lama. Tempatmu sekarang sangat berbahaya. Kamu harus pergi secepat mungkin!" "Kabar yang kudapat mengatakan bahwa Bulan Kegelapan, Tom dan Anna, mereka semua membawa orang ke Hutan Salak. Sepertinya mereka sudah tiba kemarin, dan seharusnya mereka sudah mulai mengintai sekarang." Hati Randika tercekik. Setelah mendengar berita itu, dia dapat memahami bahaya apa yang dia hadapi. Dengan kondisi fisiknya saat ini, dia hanya bisa menelan air ludahnya ini. Terlebih lagi, hanya sebagian kecil dari pasukan Ares yang mengikuti dirinya ke dalam hutan ini. Hati Randika mengatakan bahwa dia harus segera pergi, Tom, Anna dan Bulan Kegelapan seharusnya sudah dekat dengan posisinya. Meskipun mereka tidak dekat dengan kota, tapi mereka tidak jauh. Setelah memasuki kota, tidak mungkin bagi mereka untuk mencoba mencelakainya lagi. Sebagai daerah perbatasan, di tepi hutan telah terkumpul sejumlah besar pasukan untuk menjaga, dan terdapat banyak ahli bela diri, jadi mereka tidak bisa berbuat seenaknya di sini. Namun, Yuna belum menyelesaikan ucapannya. "Tidak hanya mereka, beberapa kelompok tentara bayaran juga telah tiba di sana dan mereka semua bergegas ke Hutan Salak. Belakangan ini ada kabar bahwa ada peninggalan peradaban kuno di Hutan Salak. Ada juga pil yang bisa membuat orang hidup abadi, jadi banyak orang bergegas ke sana." Setelah mendengar kabar tersebut, Randika juga terkejut. Ada reruntuhan kuno di sini? Namun, Randika juga tahu bahwa begitu berita tentang hal ini sudah menyebar, informasi itu akan menarik minat banyak orang. Randika khawatir sejumlah besar ahli bela diri juga akan berkumpul di sini. Meskipun kebetulan dia datang ke Hutan Salak, Tom, Anna dan Bulan Kegelapan juga mengikutinya. Jika dua kekuatan ini bersatu, itu akan merepotkan. "Baiklah, aku mengerti." kata Randika. Setelah menutup telepon, Randika hendak memanggil kembali semua orang karena mereka menjelajah terlalu dalam. Tapi saat ini, ada sebuah teriakan di depannya. "Ah!" Suara itu sepertinya sangat ketakutan, tapi entah kenapa, jeritan itu semakin jauh dan menjauh. Randika terkejut, dan bergegas ke depan, ketika dia datang ke depan, dia sedikit merasa buruk. Di jalan di depan, ada lubang besar, seukuran seperempat lapangan sepak bola, dan kedalaman lubang tidak terlihat pada pandangan pertama. Apakah mereka semua jatuh? Randika memandangi beberapa gadis yang ketakutan, dan dengan cepat bertanya. "Siapa yang jatuh?" "Bu Inggrid dan pria gemuk itu." Seorang gadis hampir berkata dengan suara setengah menangis. Jika mereka tidak berjalan lebih jauh sebelumnya, mereka mungkin telah jatuh bersama dengan mereka. Chapter 415: Labirin Hati Randika tenggelam, dan saat ini, sekelompok orang di belakang juga menyusul. Melihat lubang besar yang tiba-tiba muncul di depan, mereka semua sangat terkejut. "Iniˇ­ Apa yang telah terjadi?" Salah satu orang menjadi panik. "Siapa yang jatuh?" Salah satu dari mereka tiba-tiba bergegas mendekati pemandu wisata itu dan mengangkat kerah bajunya. "Dasar bajingan, apa kamu dengan sengaja mau mencelakai kami?" "Berhenti!" Seseorang di belakang berusaha melerai mereka. Randika menarik napas, lubang besar ini tampak sangat aneh, seharusnya lubang ini tidak ada di sini. Hanya ada satu kemungkinan, ada ruangan di bawah tanah ini. Pikiran Randika bekerja dengan cepat, ketika dia melihat lubang yang dalam ini, dia memutuskan untuk turun apa pun yang terjadi. Inggrid ada di dalam, Indra juga ada di dalam, dan boneka ginseng itu juga jatuh bersamanya, jadi mau tidak mau Randika harus menyelamatkan mereka. Tidak, dia harus turun dan menyelamatkan mereka! "Kalian semua!" Kata Randika tiba-tiba, meskipun suaranya tidak keras, dia menekan suara pada semua orang. Semua orang bergegas menoleh. "Aku akan turun nanti. Jika aku belum kembali selama setengah jam, kamu harus membawa semua orang ini kembali ke kota, mengerti?" Pemandu wisata itu mengangguk berulang kali. Randika tidak ragu-ragu lagi setelah itu, dia melompat ke dalam lubang itu. "Dia, apakah dia melompat?" Gadis di sebelahnya mundur selangkah karena ketakutan. Melihat adegan itu, mereka semua terdiam beberapa saat. "Lalu apa yang harus kita lakukan?" Salah satu orang bertanya. "Menunggu." Pada akhirnya, seorang karyawan yang lebih tua berbicara. "Kita tunggu setengah jam ke depan, jika dia tidak kembali, kita akan mengikuti pemandu wisata dan memanggil polisi." Semua orang mendengarkan dan mengangguk. Di lubang yang dalam itu, Randika bisa merasakan tubuhnya jatuh terus menerus, dan daerah sekitarnya menjadi gelap gulita, seolah-olah cahaya di atas telah ditelan. Dia memperkirakan kedalaman lubang ini di hatinya. Dia pikir itu akan sangat dalam, tetapi dia tidak menyangka bahwa itu hanya memiliki kedalaman sekitar sepuluh meter. Randika jatuh ke tanah, dan sekitarnya gelap gulita, serta cahayanya juga sangat redup. Untunglah Randika memiliki tenaga dalam yang kuat sehingga dia bisa melihat hal-hal di sekitarnya dengan jelas. Lingkungannya seperti sebuah tebing yang berbatu, seolah-olah tempat ini sudah berlubang sebelumnya, dan cepat atau lambat keruntuhan akan terjadi. Dia tidak melihat Inggrid dan yang lainnya, tetapi ada sebuah lorong di depan. Randika berjalan menuju bagian itu. Bagian itu tidak terlalu dalam. Ketika dia berjalan, dia melihat cahaya sebuah yang redup di depannya. Randika memandang ke kiri dan ke kanan, tiba-tiba dia merasa sedikit tertegun, dia berada di sebuah koridor yang panjang. Tak jauh dari koridor tersebut, muncul sebuah pertigaan baru. Persimpangan itu seperti labirin. Ini, apa yang terjadi? Randika kaget. Apa yang terjadi? Mengapa ada tempat seperti labirin di bawah tanah? Mungkinkah ini reruntuhan kuno yang diberitakan itu? Hati Randika penuh dengan pertanyaan, tetapi hal yang paling mendesak adalah menemukan Inggrid dan yang lainnya. "Inggrid, Indra!" Randika berteriak, suaranya bergema, dan tidak jauh dari sana, ketika Indra mendengar suara itu, wajahnya menjadi senang, dan dia berteriak dengan suara yang keras. "Kakak, aku di sini." Randika ingin menemukan posisi Indra dengan mendengarkan suaranya, tetapi dia menyadari bahwa suara Indra sepertinya bergema ke segala arah, dan dia tidak bisa menemukannya sama sekali. Dia sangat terkejut, labirin ini tampak lebih membingungkan dari yang dia kira, dan ada banyak gema, benar-benar mengganggu. Randika buru-buru berkata dengan keras. "Indra, ??berdiri saja di sana dan jangan bergerak, aku akan menghampirimu." Randika dengan cepat berlari ke depan, dia lalu memandang ke kiri dan ke kanan. Tak lama kemudian, dia menemukan Indra, Inggrid, dan seorang wanita bernama Maria. "Kakak." Indra masih tersenyum dan boneka ginseng di pundaknya juga sangat bahagia. Rasanya tempat ini agak aneh, dan ada bau di udara yang membuatnya merasa sangat menjijikkan. "Indra, ??Inggrid, kalian baik-baik saja?" Randika bertanya dengan khawatir, tapi dia merasa lega ketika melihat ketiganya baik-baik saja. "Indra menangkap kita saat kita jatuh." Kata Inggrid. "Aku masih harus berterima kasih pada dia." Randika mengangguk. "Tidak apa-apa, ayo keluar." Tempat ini, Randika merasa banyak aura kegelapan. Maria juga sangat ketakutan, dia mengikuti kerumunan dengan tubuh gemetar. Randika kemudian berjalan kembali ke jalan yang dia datangi sebelumnya. Kalau hanya sepuluh meter, Randika masih bisa membawa satu atau dua orang untuk memanjat keluar, jadi dia hanya perlu menemukan jalan yang dia masuki sebelumnya. Mereka bertiga mengikuti Randika. Randika berjalan di jalan yang sama, dia memiliki ingatan yang kuat. Kemudian dia datang ke sebuah lorong dan masuk. Tapi setelah masuk dan melihat pemandangan labirin yang persis sama di depannya, hati seluruh orang tidak bisa menahan diri untuk tidak tenggelam. Mereka tersesat! Ini adalah fakta yang mencengangkan, Randika memiliki kemampuan untuk mengingat sesuatu dengan sempurna dan bahkan ketika dia menggunakan tenaga dalamnya untuk mengingat, dia masih tersesat! Randika mulai berpikir. Saat itu dia berjalan ke depan lebih dulu, baru melewati lima persimpangan, kemudian dia melihat bayangan Indra dan yang lainnya di sebelah kiri. Ketika dia lewat, dia berjalan ke kanan lagi. Tetapi ketika dia berusaha menelusuri jalan itu kembali, mengapa dia bisa salah? "Apakah kita tersesat?" Perempuan bernama Maria itu hampir menangis. "Tidak apa-apa, ada aku di sini." Inggrid buru-buru menghiburnya. Meskipun dia juga merasa tertekan, tapi setelah banyak hal, ketahanan psikologisnya sudah sangat kuat, dan kali ini Randika ada di sampingnya. . "Ayo kita kembali." kata Randika. Mereka kembali ke lorong barusan, dan kemudian berjalan lagi, tetapi kali ini mereka memasuki sebuah lorong, dan itu adalah ruang rahasia dengan beberapa hal aneh di dalamnya, seperti yang digunakan pada zaman kuno. Randika merasakan sesuatu yang buruk, labirin itu memang agak aneh. Dia sudah mencoba beberapa kali lagi, tetapi dia tidak bisa menemukan jalan keluar sama sekali. Setelah beberapa saat, Randika harus mengakui bahwa dia tersesat. Namun, dia juga menemukan bahwa dia hanya salah saat mencari jalan keluar. Dia memikirkan sebuah lorong ketika dia pertama kali memasuki lorong tepi, yaitu lapisan labirin terluar, tetapi pada kenyataannya, labirin itu tidak teratur sama sekali. Dia berada di lapisan luar, tetapi lorong di sebelahnya mengarah ke luar. Bentangannya menonjol, dan berbagai pemandangan, lampu di dinding, dan batu bata di tanah sama persis, setelah beberapa saat, seseorang akan sangat mudah tersesat. Labirin itu tidak beraturan dan terlalu besar. Sungguh peninggalan zaman kuno yang hebat. "Tidak apa-apa, ayo kita coba lagi, mungkin kita akan bisa menemukan jalan keluar." Inggrid menghibur dengan lembut dari samping. "Baiklah." Randika mengangguk, dia memimpin untuk mulai mencari lagi, tetapi tanpa kecuali, jalan yang mereka temukan hanyalah sebuah lorong, dan tidak ada jalan keluar sama sekali. Randika merasa bahwa labirin ini membuatnya sangat bingung. Ini adalah tempat yang paling menakutkan dalam labirin, terjebak di sini dapat dengan mudah membuat orang merasa tertekan dan cemas. Randika tidak gentar, atau cemas, ada Inggrid di sampingnya, tidak peduli apa, dia harus bisa membawanya keluar. ... Di luar, setengah jam telah berlalu, semua orang melihat ke dalam lubang hitam besar di depannya, dan mereka semua tahu bahwa Randika tidak bisa kembali. "Apa yang harus kita lakukan?" Seorang gadis menangis dengan pelan. Mereka tidak menyangka bahwa masalah seperti ini akan terjadi. "Ayo pergi, kita akan kembali dan panggil polisi." Kata seorang karyawan, yang lainnya juga setuju. Ini adalah cara yang terbaik dalam menghadapi masalah ini. Hannah tidak ingin pergi, tetapi dia diseret oleh semua orang! Ketika Hannah dan yang lainnya pergi, beberapa kekuatan yang berada di perbatasan Hutan Salak, mengerahkan sejumlah besar tentara bayaran untuk memasuki hutan. Berita mengenai reruntuhan penuh harta karun itu sudah tersebar, dan yang paling bersemangat tentu saja para tentara bayaran ini. Selama mereka bisa mendapatkan harta karun tersebut, mereka tentu akan menjual dengan harga yang bagus. Di saat yang sama, banyak ahli bela diri yang juga masuk, mereka sangat berani dan kebanyakan dari mereka bertindak sendiri. Adapun mengapa mereka tidak memasuki Indonesia dari jalur udara, itu karena Indonesia melakukan pemeriksaan yang ketat. Orang-orang ini bahkan masuk tanpa paspor resmi. Bulan Kegelapan membawa sekelompok orang di sekitarnya, melihat ke hutan di depannya, dan kemudian melambaikan tangannya. "Pergilah!" Mereka juga masuk. Tidak lama kemudian, Tom dan Anna juga datang, dan mereka mengikuti para ahli bela diri. Satu per satu ahli bela diri yang terkenal terus-menerus memasuki hutan Salak. Brian dari Dataran Siberia Timur juga masuk, dan seorang pria yang terbungkus jubah hitam juga ikut masuk. Sampai sekarang, sudah tak terhitung jumlahnya ahli bela diri yang memasuki hutan Salak ini. Randika tidak tahu akan hal ini. Dia hanya ingin menemukan jalan keluar dengan cepat. Labirin sialan ini seperti kurungan yang menangkapnya dan menjebaknya di dalam. Untungnya, Inggrid terus mendorongnya, dan karakter Randika juga sangat tangguh, jadi dia tetap tenang. "Bagaimana kalau kita menelusuri jalan ini satu per satu?" Maria berkata dengan lembut. Sekarang mereka tidak dapat menemukan pintu masuk sebelumnya, dan ada begitu banyak jalan di labirin ini. Dalam hal ini, lebih baik mencoba keberuntungan mereka. Randika berpikir sejenak dan mengangguk. "Kalau begitu mari kita cari secara acak." Pada saat yang sama, orang-orang di pintu masuk labirin juga telah turun. Ketika mereka melihat pemandangan di depan mereka, orang-orang itu merasakan firasat buruk. "Sialan, apa-apaan ini? Kenapa semua terlihat sama persis?" Seorang tentara bayaran mengutuk. "Tuhan, ini ternyata sebuah labirin!" Tentara bayaran lainnya berseru, "Dan ini adalah labirin bawah tanah, Gila, betapa hebatnya orang yang bisa membangun hal sebesar itu di zaman kuno!" "Jangan ngomong terus, kita harus cepat! Jangan sampai harta karun kita diambil oleh orang lain." Orang-orang ini berjalan ke depan sebentar, dan segera menyadari bahwa mereka menghadapi masalah besar. Ada dua jalan di kiri dan kanan, dan semuanya terlihat sama persis. Mana yang harus dipilih? Selusin orang saling melihat dan mereka semua ragu-ragu. "Sialan, kita harus memilihnya secara acak. Bagaimanapun juga, hal semacam ini selalu merupakan sebuah kesempatan." Seorang tentara bayaran mengeluarkan koin. Lalu dia melempar koin itu. "Kita ke kiri." Tentara bayaran lainnya mengangkat bahu, ini merupakan cara yang terbaik, tapi setelah mereka berjalan ke kiri untuk beberapa saat, mereka kembali tercengang. Ini, kenapa ada tiga jalan di depan? Dan itu masih sama persis. Semua orang melihat ke arah tentara bayaran yang melemparkan koin tadi, tetapi menemukan bahwa sudut mulut mereka bergerak-gerak dalam diam. "Bajingan, jangan melihat ke arahku! Aku juga tidak tahu harus pergi ke mana lagi." Hal serupa terjadi di seluruh labirin. Labirin besar ini memiliki banyak pintu masuk, ini tidak ada di informasi yang mereka dengar. Chapter 416: Monster di Dalam Labirin Keberuntungan Randika sama sekali tidak bagus, dia masih tidak dapat menemukan jalan keluar dari labirin ini. Labirin ini benar-benar terlalu besar, awalnya Randika sudah menggambar sebuah peta di benaknya. Randika terus menerus menggambarkan informasi baru ketika dia berjalan. Tetapi seiring berjalannya waktu, Randika menyadari bahwa mustahil untuk mengingat semua jalan ini. Terlebih lagi, bahkan jika dia memiliki peta sekalipun, mustahil untuk menemukan jalan keluar apabila semua jalan itu sama persis. Mulai dari jalan, dinding, atap, bahkan lampu yang ada benar-benar sama persis. Untungnya saja, masih ada lampu yang menerangi mereka jika tidak, kepanikan akan segera melanda siapapun yang masuk ke dalam labirin ini. "Kak, aku lapar." Kata Indra dengan nada suara yang lemas. Sejauh ini, mereka berempat sudah mengelilingi labirin ini lebih dari 7 jam. Mereka jatuh ke lubang pada pagi hari dan sekarang sudah hampir sore hari. Tetapi untuk detailnya, mereka tidak tahu karena di dalam labirin tidak ada jam. Ketika mereka berjalan, mereka juga bisa mendengarkan suara perut Indra yang terus berbunyi tanpa henti. Hal ini membuat perut ketiga orang lainnya ikut berbunyi. Mereka juga lapar, tetapi mereka sampai sekarang belum menemukan jalan keluar dari labirin ini. Jika seperti ini, mereka merasa bahwa mereka tidak akan pernah bisa keluar. "Sabar saja dulu, nanti aku akan membelikanmu makanan yang enak ketika kita keluar nanti." Randika berusaha menghibur. Namun, di matanya ada jejak-jejak kekhawatiran dan kelelahan. Ini bukan salahnya, labirin ini memang terlalu abnormal. Sebelum ini, dia mencoba jalan lurus tanpa henti, tetapi di tengah-tengah, ada dinding besar yang menghalangi mereka. Labirin ini dibuat secara aneh, sepertinya labirin ini dibuat tanpa desain sama sekali dan areanya benar-benar luas. Randika memperkirakan bahwa luasnya sama dengan luas hutan purba di atasnya. Jika itu benar, labirin ini benar-benar menyimpan sesuatu yang sangat berharga. Apakah labirin ini benar-benar menyimpan rahasia untuk menjadi abadi? Terlebih lagi, hanya sedikit orang yang bisa membangun labirin seperti ini di zaman kuno. Kemungkinan besar yang membuatnya adalah keluarga kerajaan yang kaya atau pedagang kaya pada zaman dahulu. Tetapi menurut Randika, labirin ini sepertinya dibangun oleh keluarga kerajaan kerajaan. Pembangunan labirin ini benar-benar rumit, tenaga manusia yang besar diperlukan dalam membuat labirin sebesar ini. Oleh karena itu, hanya keluarga kerajaan yang bisa membangun labirin seperti ini. Ketika berjalan, Randika juga memperhatikan segalanya dengan detail. Pertama adalah lampu minyak! Pembuatan lampu minyak ini sangat cerdas, sepertinya minyak itu tidak pernah habis karena itu berasal dari mayat yang membusuk. Pada saat yang sama, ketika Randika memeriksa tembok, dia merasa bahwa ada beberapa tembok yang rapuh. Randika berusaha merasakannya dan menyimpulkan bahwa tembok itu berasal dari tulang manusia! Dengan kedua petunjuk ini, Randika dapat menyimpulkan bahwa labirin ini telah memakan korban jiwa yang sangat amat banyak. Kalau dilihat dari besarnya labirin ini, Randika memperkirakan bahwa ada lebih dari 100 ribu mayat yang telah menjadi korban. Oleh karena itu, lampu-lampu ini diperkirakan akan terus menyala selama 100 tahun lebih. Menurut pengetahuan Randika, sepertinya keluarga kerajaan yang membangun labirin ini telah menggunakan hampir 50 ribu tenaga kerja. Ketika labirin ini selesai dibuat, menurut adat, orang-orang ini akan ditumbalkan dan mati bersama dengan labirin yang mereka buat. Hal ini dilakukan untuk menjaga rahasia ataupun karena mereka kekurangan bahan. Randika menatap sekelilingnya, dia merasa ribuan jiwa telah menyuarakan kesengsaraan mereka padanya! Randika tidak membicarakan hal ini pada yang lain, dia takut reaksi mereka akan heboh dan makin panik. Dalam keadaan diam, keempat orang ini terus berjalan menuju ke kedalaman. Apa yang Randika tidak tahu adalah perjalanan mereka justru membawa mereka ke pusat dari labirin ini. Labirin ini hanya sebuah benteng, bukan inti dari reruntuhan kuno ini. Meskipun Randika berusaha berjalan menuju pintu keluar, mereka justru berjalan tepat menuju pusat dari reruntuhan ini. Mereka semua berjalan dalam keadaan diam, pada saat ini mereka merasa bahwa tenaga mereka terlalu sedikit bahkan untuk bersuara sekalipun. Randika berjalan di depan. Pada saat ini, dia terus menerus mendengar suara perut Indra yang menandakan bahwa dia lapar. Randika menghela napasnya, sepertinya adik seperguruannya ini benar-benar kelaparan. Suara perut Indra terus bergema, akhirnya dia berkata pada Randika. "Kakˇ­" "Sabar, aku tidak bawa makanan sama sekali. Lebih baik kamu pusatkan tenaga dalammu ke perutmu agar kamu tidak terlalu lapar." Kata Randika tidak berdaya. "Itu bukan aku kak, perutku tidak bunyi." Kata Indra dengan wajah kebingungan. Dia awalnya mengira suara perut berbunyi itu adalah miliknya, tetapi dipikir-pikir, dia menyadari bahwa itu bukan berasal dari perutnya. Ketika Inggrid dan Maria mendengar ini, mereka jelas terkejut. Bukankah suara itu berasal dari Indra? Randika sendiri juga terkejut, tidak ada orang lain selain mereka di sini. Kalau itu bukan suara perut mereka, terus itu suara siapa? Tiba-tiba, Randika menoleh ke belakang dan menyadari ada tatapan tajam mengawasi mereka. Tetapi, jalan di belakang mereka itu sunyi dan sepi. Randika tiba-tiba merinding, tanda bahaya! Ada bahaya yang mendekat! Instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang mendekat. Meskipun dia tidak tahu apa yang mendekat, mengingat labirin ini begitu misterius, Randika tahu bahwa makhluk yang ada bukanlah makhluk yang sembarangan. "Ranˇ­" Inggrid sedikit cemas. Dia juga dapat merasakan bahwa ada sesuatu di belakang mereka yang mendekat. "Tidak apa-apa, jangan khawatir. Berdirilah di belakangku, kalau ada apa-apa cepatlah lari dari sini." Wajah Randika tidak pernah seserius ini. Sebuah bayangan mulai menutupi tembok dan menutupi jalan. Randika memperhatikan bayangan itu dengan seksama, dia sudah siap menghadapinya. Inggrid, Maria, Indra sedikit berdiri di belakang Randika. Dia datang! Inggrid dan Maria makin ketakutan ketika melihat bayangan itu makin besar setiap langkahnya. Apa itu? Boneka ginseng yang ada di pundaknya Indra juga merasa panik, ia merasakan bahaya yang besar makin mendekat. Ia merasa bahwa makhluk ini adalah lawan alaminya. "Tenang saja, aku ada di sini." Indra dengan cepat menenangkan sahabat kecilnya itu. Boneka ginseng itu dengan cepat melompat dan bersembunyi di balik baju Indra. Tubuhnya gemetar dan kepalanya dia sembunyikan, sepertinya ia benar-benar ketakutan. Bayangan itu tiba-tiba hilang pada saat ini, Randika sendiri tidak dapat menemukannya. Tiba-tiba, dia merasa bahwa makhluk itu mengintip dari balik tembok. Dalam sekejap, pupil mata Randika mengecil. Itu kepalanya? Di bagian kepalanya, tidak ada rambut sama sekali dan tengkorak kepalanya telah hancur setengah dan amblas ke dalam. Wajahnya benar-benar mengerikan, matanya juga sangat kecil seakan-akan tidak ada sama sekali. Di bagian matanya, tidak ada pupil hitamnya, semuanya putih. Bagian telinganya sangat lancip bagaikan telinga seekor kelelawar! Hidungnya sudah tinggal tulang dan mulutnya yang menutupi giginya sudah separuh hilang dan memperlihatkan giginya yang tajam. Randika merasakan firasat buruk di dalam hatinya. Dia mengira bayangan itu adalah orang, dia tidak menyangka itu adalah makhluk purba seperti itu. Makhluk itu memperhatikan Randika dkk, air liurnya segera menetes dengan banyak. Kemudian, dia berjalan dan memperlihatkan tubuh besarnya. Tangannya yang besar itu memiliki kuku yang besar dan tajam. Yang membuatnya makin menakutkan adalah bukannya berjalan, ia merayap bagaikan cicak di tembok! Monster itu merayap di tembok dan menghampiri Randika. Monster ini sudah mirip dengan Grendel di film "Beowulf", tetapi ini jauh mengerikan dan jauh lebih besar. Sepertinya dia telah mengalami mutasi genetik! Mustahil, ini benar-benar mustahil apabila dipikir dengan nalar. Apakah orang jaman dahulu melakukan eksperimen lintas spesies? Randika terus menerus memperhatikan monster itu, dia sedang memutuskan apakah monster itu jinak atau tidak. Monster itu memperhatikan keempat orang itu dan merayap secara perlahan. Randika tidak bergerak tetapi seluruh tubuhnya benar-benar tegang. Tenaga dalamnya sudah menyebar di seluruh tubuhnya sejak awal. Monster itu membuka mulutnya dan memperlihatkan taringnya. Suara perut keroncongan itu makin keras. Matanya yang putih itu seakan-akan sedang melihat hidangan makan malamnya! Chapter 417: Musuh yang Tak Terduga Monster itu menatap makan malamnya dengan air liur yang menetes! Randika merasakan firasat buruk di dalam hatinya, tetapi dia tidak takut. Meskipun tubuhnya tidak maksimal, dia sendiri cukup untuk melawan monster ini. Dalam sekejap, monster itu merayap dengan cepat dan tangannya sudah bagaikan sabetan dewa maut yang siap membunuh mangsanya. Kecepatannya benar-benar cepat, hanya butuh beberapa detik baginya untuk sampai di hadapan Randika dkk. Dengan mulut yang terbuka lebar, dia bersiap untuk menerkam. Randika terkejut oleh kecepatan monster ini, tetapi reaksinya sendiri juga tidak kalah cepat. Ketika monster itu menerjang, Randika mengangkat tangan kanannya dengan tegas dan melayangkan sebuah pukulan! Monster yang terkena pukulan telak Randika itu melayang jauh ke belakang dan membentur tembok. Setelah terjatuh di tanah, bagaikan ketapel, ia menerjang maju lagi ke arah Randika. Terlebih lagi, pukulan tersebut telah membangkitkan sifat ganasnya dan ia benar-benar marah sekarang. Ia tidak sabar mencabik-cabik tubuh Randika hingga tidak tersisa. Randika di dalam hatinya merasa terkejut. Pukulannya barusan mengandung tenaga dalamnya yang besar, seharusnya itu dapat membunuh seekor gajah. Tetapi kenapa monster ini terlihat baik-baik saja? Meskipun ia adalah monster hasil perkawinan silang, apakah memang mereka sekuat itu? Randika menatap monster itu dan kembali menghajarnya. Ketika pukulannya itu mengenai monster itu, Randika menyadari bahwa tangan si monster itu bergerak dengan cepat. Dalam seperkian detik, Randika menghindar dari serangan cakarnya itu meskipun bajunya terbelah sedikit. Serangan ini benar-benar mengejutkan karena kecepatan yang dimiliki oleh monster tersebut. Setelah monster itu menerima serangan Randika yang kedua, mustahil untuknya untuk bisa berdiri. Randika menyadari bahwa monster itu berusaha untuk berdiri, tetapi dengan cepat Randika menghampiri dan menginjaknya hingga mati. DUAK! Kakinya mengandung tenaga dalamnya yang besar, Randika dengan mudah menghancurkan tulang kepala monster itu. Berbeda dengan makhluk lainnya, monster ini tidak mengeluarkan darah sama sekali. Sepertinya monster ini terbuat dari tulang, tidak ada darah ataupun dagingnya. Setelah membunuh monster itu, Randika berjalan menghampiri Indra dkk. "Sudah tidak apa-apa, ayo kita jalan lagi." Kata Randika dengan nada menenangkan. Ketiga orang ini mengangguk dan menghembuskan napas lega ketika melihat Randika baik-baik saja. Namun, ketiga orang ini melihat sebuah bayangan dari belakang Randika. Dengan cepat wajah mereka memburuk. "Ran!" Inggrid berteriak dengan cepat, wajahnya benar-benar panik dan pucat. "Di belakang!" Maria juga ikut menunjuk ke arah belakang Randika. "Kak, masih ada lagi monsternya!" Indra akhirnya menyampaikan apa yang mereka bertiga lihat. Masih ada lagi? Jangan bercanda! Randika menoleh ke belakang dan melihat beberapa monster yang serupa itu muncul dari sudut tembok. Mau tidak mau Randika menjadi pucat! Menghadapi satu saja sudah cukup menyusahkan, sekarang dia harus menghadapi beberapa sekaligus? Monster-monster itu merayap di tembok, di jalan, di atap, mereka benar-benar menutup jalan keluar Randika. Sambil membalikkan badan, Randika berteriak. "Cepat lari!" Lari adalah satu-satunya pilihan mereka, jika mereka tertangkap oleh monster itu, jelas nasib mereka akan menjadi makanan mereka. Setelah melawan monster yang tadi, Randika mengetahui bahwa kecepatan monster itu tidak biasa dan kekuatannya benar-benar kuat. Monster itu benar-benar agresif dan tidak akan berhenti sebelum ia mati. Jika monster ini sendirian mungkin tidak terlalu berbahaya tetapi ketika sudah berkelompok, lebih baik menghindari mereka daripada melawannya. Keempat orang ini mulai berlari dengan sekuat tenaga. Indra yang gemuk itu mendengus dingin dan sedikit tertinggal. Ketika dia menoleh ke belakang, dia berteriak pada Randika. "Kak, mereka mendekat!" Randika menoleh dan menyadari bahwa monster-monster itu benar-benar cepat, jarak mereka sudah saling berdekatan. Menggertakan giginya, Randika berkata pada ketiga orang lainnya. "Larilah duluan, aku akan menghentikan mereka!" Randika berhenti dan menatap sepuluh ekor lebih monster itu. Dia membulatkan tekadnya dan menstimulus kekuatan misterius di dalam tubuhnya! "Keluarlah!" Bersamaan dengan raungan perang, kekuatan misterius itu memancarkan energinya dan menguasai tubuh Randika. Randika memasuki mode Berserk! "Kakak!" Indra berteriak dan berdiri di samping Randika. "Aku akan membantumu." Boneka ginseng itu melompat dan memanjat pundak Inggrid, kemudian kedua perempuan itu dan boneka ginseng berlari meninggalkan Randika dan Indra. Melihat Indra dan Randika, kumpulan monster ini menerjang maju. Namun, tiba-tiba udara menjadi berat dan tatapan mata Randika menjadi dingin. Kekuatan misterius di dalam tubuhnya sudah menggila. "Cepat pergi dari sini!" Randika menembakkan tenaga dalamnya dengan kekuatan yang meluap-luap! Tekanan yang berat ini membuat para monster sedikit tertekan dan berhenti bergerak. Serangan tenaga dalam Randika ini membuat mereka berpegangan erat dengan cakar yang menancap dalam. Tidak peduli seberapa kuat tenaga dalam Randika, mereka tidak akan menyerah sebelum mati. Ketika tenaga dalam Randika perlahan memudar, para monster ini kembali menerjang ke arah Randika satu per satu. Sialan, monster-monster ini benar-benar merepotkan! Randika benar-benar heran dengan monster ini, sebenarnya makhluk apa mereka? Barusan Randika terlalu banyak memakai energinya, kali ini dia benar-benar terluka. Bahkan dengan bantuan tetesan darah boneka ginseng dan pil obat dari kakek pertamanya, luka di tubuhnya itu masih belum sembuh sempurna. Dan sekarang, setelah memakai kekuatan misteriusnya dengan ceroboh, dia justru menambah jumlah luka di dalam tubuhnya. Dengan tangan kanannya, Randika menangkap ekor monster itu dan melemparnya kembali. Selama monster-monster itu mendatanginya, dia bisa menghadapinya satu per satu. Tetapi Randika merasakan rasa sakit di lengannya. Salah satu monster barusan berhasil menancapkan cakarnya pada lengannya dan meninggalkan luka yang cukup dalam. Sialan! Randika kembali menangkap salah satu monster dan melemparnya dengan bantuan tenaga dalamnya. Suara tinju dari Indra yang mengenai monster juga dapat terdengar. Tetapi karena gerakan Indra yang lambat, para monster itu dapat memprediksi dan menghindar dari serangannya. "Indra, kita mundur secara perlahan!" Randika merasa bahwa monster ini pasti bagian dari kelompok yang lebih besar. Jika dia tidak membunuhnya, mereka akan terus mengejar dirinya dan Indra. Satu-satunya pilihan adalah mundur teratur sambil mengurangi jumlahnya. Satu per satu monster berhasil Randika bunuh, tetapi setiap monster yang dia kalahkan meninggalkan sebuah luka di tubuhnya. Indra yang lambat justru lebih parah lagi, dia yang sekarang sedang digigit oleh monster tersebut karena saking lambatnya dia berlari. Pada saat ini, tiba-tiba seekor monster itu berhasil melewati mereka dan berusaha mengejar Inggrid dan Maria. "Tidak akan kubiarkan!" Randika segera mengumpulkan tenaga dalamnya di kakinya, dia dengan cepat melompat dan menangkap monster tersebut yang sedang merayap di atas. Dalam satu hentakan, dia membanting monster itu ke tanah dengan kekuatan yang luar biasa! Di bawah, Indra berhasil melepaskan diri dan membunuh monster yang menggigitnya. Bajunya sudah robek dan darah mengalir cukup deras. Randika tidak bisa menghembuskan napas lega terlebih dahulu, serangan para monster ini masih berlanjut! Dia kembali menangkap salah satu monster yang ada di samping dan menghantamkannya ke tanah. Setelah itu, dia memberikan pukulan pamungkas yang membunuh monster tersebut. Setelah mundur secara teratur dan terus menjaga jarak, Randika akhirnya berhasil membunuh monster yang terakhir. Setelah memastikan tidak ada lagi yang bergerak, Randika menghembuskan napas lega. Pada saat ini tubuhnya benar-benar banyak luka, Indra juga sama buruknya dengannya. Tetapi bagi Randika, luka internalnya lebih buruk daripada luka yang dialami oleh tubuhnya ini. Terlebih lagi dia memakai mode Berserk sepanjang pertarungan tadi. Ketika dia menenangkan diri, Randika samar-samar mendengar suara perut keroncongan itu lagi. Dia dengan cepat menarik Indra dan lari. "Cepat kita sembunyi." Mereka berlari ke arah Inggrid dan Maria, setelah beberapa menit berlari, akhirnya mereka berempat kembali bersatu. "Apa lukamu baik-baik saja?" Inggrid terlihat sangat cemas melihat tubuh Randika yang terluka itu. "Tidak apa-apa, cuma luka kecil." "Cepat, kita harus lari dari sini." Randika tiba-tiba menyadari bahwa suara perut keroncongan itu makin mendekat. Keempat orang ini kembali berlari dan menemui sebuah persimpangan. "Belok ke mana kita?" Inggrid bertanya dengan nada yang bingung. Randika sendiri tidak tahu jalan mana yang aman, akhirnya dia memilih jalur kanan. Namun, Randika memikirkan sebuah ide untuk mengelabui para monster ini. Setelah berlari ke arah kanan beberapa saat, Randika dengan cepat menyuruh mereka bertiga berbalik dan mengambil jalur kiri yang tadi. Ketika mereka berlari, Randika berusaha sekuat tenaga untuk menutupi bau dari darahnya dan Indra dengan bantuan tenaga dalamnya. Dia khawatir bahwa sejauh apa pun dia lari, para monster itu bisa melacak mereka dari bau darahnya. Ketika para monster itu mencapai persimpangan, mereka tidak tahu harus pergi ke arah mana karena mereka tidak bisa mencium sama sekali. Melihat darah mengarah ke kanan, mereka dengan cepat berlari dan mengejar mangsa mereka. Mendengar para monster itu menjauhi mereka, Randika menghembuskan napas lega. Pada saat ini, dia terlalu banyak memakai tenaga dalamnya, kekuatan misteriusnya itu mulai memberontak. Kali ini Randika benar-benar cemas dengan tubuhnya. Luka di tubuhnya itu masih belum sembuh dan sekarang ketambahan luka yang baru. Meskipun dia dan Indra mengalami luka akibat serangan monster tadi, ini semua tidak sepadan dengan luka internal yang dialaminya. Bibir Randika sedikit pucat, boneka ginseng itu dengan cepat menghampirinya dan mengulurkan tangannya. Mulutnya terlihat sedikit menahan sakit dan dia mengeluarkan setetes darahnya. Randika dengan cepat mengambil darah itu dan menelannya, dengan cepat energi lembut itu menyebar di dalam tubuhnya. "Terima kasih." Meskipun begitu, Randika merasa bahwa darah boneka ginseng ini masih tidak cukup. Efeknya tidak sebanyak sebelumnya, sepertinya lukanya kali ini benar-benar serius. "Sebaiknya kita istirahat dulu." Kata Inggrid dengan wajah yang cemas. Randika tidak membalasnya, tetapi tiba-tiba, ada suara tertawa yang keras yang menggema. "Sepertinya perjalananku ke Indonesia sangat tepat." Ketika Randika melihat sosok orang tersebut, pupil matanya mengerut. Bulan Kegelapan! Chapter 418: Pengorbanan Indra Benar-benar kebetulan yang mengerikan! Bulan Kegelapan tidak masuk ke dalam labirin melalui lubang yang dimasuki oleh Randika, dia memasuki labirin ini dari pintu masuk yang lain. Bulan Kegelapan sudah mengitari labirin ini cukup lama, dia tidak menyangka bahwa rutenya akan membawa dirinya kepada Randika! Randika tidak membalasnya sama sekali, ekspresi wajahnya pun terlihat tidak berubah sama sekali. Sekarang situasinya benar-benar gawat. Belum lagi kondisi tubuhnya yang parah ini dan tenaga dalamnya yang sudah menipis. Randika dihadapi oleh dua pilihan. Pertama adalah membunuh Bulan Kegelapan dengan waktu yang singkat dengan memanfaatkan sisa tenaga dalamnya; yang kedua adalah lari! Melihat kondisinya ini, lari adalah pilihan terbaik, tetapi pada saat ini, Bulan Kegelapan dan anak buahnya sudah mengepung Randika dkk. Di jalan yang sempit ini, keempat orang ini sudah dikepung dari segala arah. Bulan Kegelapan tersenyum, dia tidak menyangka akan bertemu dengan Randika di labirin ini. Awalnya, tujuan pertamanya adalah menemukan benda yang konon katanya bisa memberikannya kehidupan abadi, setelah itu baru dia akan membunuh Randika. Apabila kedua tujuannya itu bisa tercapai alangkah indahnya. Tetapi apabila dia disuruh memilih, membunuh Randika adalah prioritas utamanya. Dan pada saat ini, dia merasa bahwa pertemuan mereka ini pastilah sebuah takdir. Tidak ada orang yang bisa membantu Randika dan, apabila dilihat baik-baik, Ares yang perkasa ini terlihat cukup terluka. Bulan Kegelapan menatap tubuh Randika. Darah dan napasnya yang terengah-engah membuat Bulan Kegelapan makin bersemangat. Kamu tidak akan bisa kabur kali ini! "Lama tidak bertemu Ares." Bulan Kegelapan menyeringai, senyumannya benar-benar cerah. Jika orang lain melihat mereka, mungkin mereka mengira mereka berdua adalah teman lama yang sudah lama tidak berjumpa. "Kulihat kamu tidak berubah sama sekali, masih sama hinanya dengan anjing." Kata Randika dengan wajah serius. "Selama ada kesempatan, akan kuajarkan betapa menyakitkannya tinjuku ini." Bulan Kegelapan menyipitkan matanya sedikit, tetapi senyumannya tidak memudar sama sekali. "Hahaha kamu masih bisa bersikap sok tangguh seperti ini? Apa kamu tidak menyadari situasimu yang sekarang?" Untuk perjalanannya kali ini, Bulan Kegelapan membawa beberapa ahli bela diri bersamanya. Bahkan Bulan Kegelapan berjanji akan memberikan harta dari labirin ini untuk mereka selama mereka bisa membantunya membunuh Randika. Randika memperhatikan orang-orang yang mengepungnya ini. Melihat orang-orang ini, dia berkata pada Bulan Kegelapan. "Apa kamu pikir kamu bisa membunuhku hanya dengan orang-orang ini?" "Ares, apa kamu pikir aku tidak memahamimu? Apa kamu pikir aku buta? Sekarang adalah waktu yang tepat untuk membunuhmu." "Tidak akan kubiarkan." Indra tiba-tiba mengepalkan tinjunya. "Aku tidak akan membiarkan kakak seperguruanku mati." Hati Randika tersentuh, tetapi pada saat ini Bulan Kegelapan mendengus dingin. "Baiklah kalau begitu, sepertinya kamu adalah teman yang cocok untuk menemaninya di alam kubur." Di sampingnya, orang bertampang bengis maju dan memperhatikan wajah Randika. Ekspresi wajahnya seperti predator yang melihat mangsanya. "Orang itu adalah bagianku." "Chris, jangan bertindak gegabah. Seranglah dia bersama dengan yang lainnya." Bulan Kegelapan dengan cepat menolak ide Chris yang ingin maju sendirian. Bulan Kegelapan tahu dalam hatinya bahwa seorang Ares tetaplah seorang Ares. Semakin terpojoknya seekor hewan buas, semakin buas tingkah lakunya. Inggrid dan Maria ketakutan ketika mereka dikepung oleh orang-orang berbaju serba hitam ini. Inggrid merasakan firasat buruk di dalam hatinya, dia menyadari bahwa orang-orang ini datang untuk membunuh suaminya. Terlebih lagi, kondisi luka Randika sedang cukup parah. Chris menatap Randika yang berlumuran darah tersebut, jelas bahwa dia meremehkan sang Dewa Perang ini. Wajah Randika memutih sesaat, sepertinya kekuatan misterius di dalam tubuhnya makin memberontak. Namun, pertarungannya dengan Bulan Kegelapan sudah tidak terelakan lagi. Chris maju bersama dengan beberapa orang. Orang-orang ini berbeda-beda, ada yang kurus, tinggi, berbadan besar dll. Terlebih lagi, wajah mereka terlihat berbeda-beda, sepertinya mereka berasal dari negara yang berbeda. Tetapi mereka semua memiliki satu kesamaan yaitu nafsu membunuh yang kuat. "Jika kita berhasil membunuh Ares hari ini, bukankah nama kita akan terkenal?" Salah satu dari mereka tersenyum. "Aku sudah lama penasaran bagaimana rasa dari darah para Dewa dari Olimpus ini." Kata orang di sampingnya. "Seharusnya darahnya lebih enak daripada yang lain, jika tidak mana mungkin dia menyandang nama Dewa." Inggrid dan Maria ketakutan ketika mendengar hal ini, orang itu berbicara seakan-akan dia pernah memakan manusia! Pada saat ini, Inggrid menyadari tangan Randika yang ada di belakang. Tangan itu membentuk sebuah isyarat yaitu LARI! Wajah Randika masih terlihat sama, nada suaranya terdengar arogan. "Coba saja kalau kalian berani." Pada saat ini, Randika hanya bisa bergantung pada kekuatan misteriusnya. Dengan bantuan tenaga dalamnya yang tersisa, dia bisa memanfaatkan kekuatan misteriusnya ini walau cuma sebentar. Dalam sekejap, kelima orang yang mengepung Randika itu maju dan menyerang Randika secara bersamaan. Kelima orang ini, meskipun Randika tidak pernah bertemu dengan mereka, Randika dapat merasakan bahwa mereka adalah ahli bela diri papan atas! BOOM! Dalam sekejap, kekuatan melimpah mengalir di dalam tubuh Randika. Dia segera memukul dan menghajar seorang pria paruh baya yang menyerangnya dari kanan. Kondisi Randika yang sekarang cukup mengerikan, dia harus segera membunuh mereka dan keluar dari situasi ini sebelum tubuhnya memburuk. Jangan pernah meremehkan seekor singa yang terpojok! Keempat orang lainnya ini tidak menyangka bahwa Randika masih memiliki kekuatan yang begitu besar, apalagi pria yang sudah terpental dan mati tersebut. Dia hanya merasakan sebuah palu besar menghantam mukanya dan mati. Apakah ini kekuatan dari salah satu dari 12 Dewa Olimpus? Benar-benar mengerikan! Melihat Randika yang penuh dengan celah itu, keempat orang ini segera tersadar dari kelinglungan mereka dan menyerang Randika. "Jangan lupakan aku!" Tiba-tiba, sebuah raungan perang terdengar dan Indra memasuki pertarungan. Indra berdiri di depan Randika bagaikan tembok kokoh yang tidak dapat dihancurkan, tinjunya melayang meskipun pelan. Kedua tinjunya bertemu dengan serangan dari dua orang. Kali ini, kedua orang itu benar-benar terkejut dengan kekuatan yang dimiliki Indra, mereka terpental beberapa langkah. Namun, sebelum terpental, kedua orang tersebut berhasil melayangkan sebuah serangan. Nampaknya serangan mereka itu sia-sia, Indra benar-benar kokoh bagaikan tembok. Orang-orang ini adalah ahli bela diri dunia, meskipun Indra adalah jenius bela diri, dia sama sekali tidak mempunyai pengalaman melawan orang. Terlebih lagi, kecepatan Indra sangatlah lambat karena tubuh besarnya itu. Di sisi lain, Randika bertarung dengan dua orang sisanya. Dengan kekuatan besar yang mengalir di dalam tubuhnya, Randika melayangkan sebuah pukulan tepat di wajah musuhnya. Dalam sekejap, kepala musuhnya tersebut copot dari lehernya! Darah segera menyembur dan tubuhnya segera jatuh ke tanah. Bulan Kegelapan benar-benar terkejut, namun ketika dia melihat wajah pucat Randika, dia tersenyum. Tidak peduli seberapa kuat Randika, ketika dia tidak memiliki tenaga lagi, dia tidak lebih dari seorang manusia biasa. Meskipun anak buahnya mati, Chris tetap tenang. Namun, dia makin hati-hati dalam bertahan sekaligus menyerang. Dengan bantuan Indra, pertarungan ini tidak seberat yang Randika bayangkan. Bulan Kegelapan yang berada di kejauhan memberi sinyal dengan tangannya. Dalam sekejap, orang-orang yang tidak menyerang itu menerjang ke arah Inggrid dan Maria. "Bedebah!" ketika melihat hal ini, Randika marah dan menerjang maju. Namun, ketika dia berusaha melindungi Inggrid, tiba-tiba dia disambut oleh sebuah serangan dari Chris. UHUK! Kali ini, Randika memuntahkan seteguk darah segar. Sepertinya emosinya telah membuatnya tidak sadar akan serangan lawan yang sangat jelas itu. Indra di sampingnya terlihat kewalahan karena dia menghabiskan energinya untuk mengejar musuhnya. "Ares, kamu terlalu banyak memiliki kelemahan." Bulan Kegelapan berteriak, dia sendiri juga menerjang maju ke arah Inggrid. "Indra, bertahanlah!" Randika dengan cepat meraung dan berusaha mencari jalan untuk menyelamatkan Inggrid. "Kak, pergilah dan lakukan apa yang harus kamu lakukan! Guru memintaku untuk menjagamu dengan nyawaku." Pada saat ini, Indra gagal menghalau serangan dan menerima sebuah tendangan di perutnya. "Indraˇ­" Randika benar-benar tersentuh. Indra tidak memperhatikan hati kakak seperguruannya yang melembut itu, dia hanya meraung. "Kak cepat pergi dari sini! Aku tidak akan bertahan lama!" "ARGH!!" Indra meraung keras. Para ahli bela diri itu segera mengepung dan menyerang Indra bersamaan. Namun bersamaan dengan raungannya itu, Indra mengumpulkan seluruh tenaga dalamnya dan merasakan kekuatan yang amat besar telah menyebar di tubuhnya. "ARGH!!!!" Indra meraung sekali lagi dan menangkap satu orang. Orang ini sangat bodoh karena dia mengira bahwa Indra yang sekarang adalah Indra yang sama dengan yang tadi. Ketika pergelangan tangannya tertangkap, dia merasakan rasa sakit yang luar biasa. Rupanya pergelangan tangannya itu telah patah! DUAK! Indra mengangkat orang itu dengan satu tangan dan membantingnya ke tanah. Di bawah kekuatan yang amat besar, orang itu tidak bisa melarikan diri dan menghantam tanah dengan keras. Disusul oleh sebuah tinju, orang itu makin menyatu dengan tanah dan tak sadarkan diri. Para ahli bela diri yang lain segera memanfaatkan hal ini untuk menyerang. Meskipun tenaga dalamnya melimpah, Indra yang mengalami luka di seluruh tubuhnya itu merasa bahwa dia tidak akan bertahan lama. "Kak, lari!" Indra meraung sekali lagi, dia menyerang siapapun yang berani menghalangi jalan kakak seperguruannya. "Jika kakak tidak pergi, kita semua akan mati di tempat ini!" Indra kembali berteriak. Para ahli bela diri itu berhasil menyerang Indra dengan mengandalkan kecepatan mereka dan mulai mendesaknya. Namun, Indra sama sekali tidak bergerak meskipun menerima serangan mereka. Di sudut mulutnya, darah terus mengalir tanpa henti. Di bawah kecepatan yang absolut, kekuatan sebesar apa pun tidak akan berguna apabila tidak berhasil mengenai. Sekarang, Indra hanya bisa bertahan. Randika tidak merasa emosional lagi, dia menggigit bibirnya dan berlari ke arah Inggrid dan Maria. Indraˇ­ bertahanlah! Randika tidak berani ragu-ragu lagi, dia tidak bisa membahayakan nyawa Inggrid dan Maria di tempat seperti ini. "Hadang dia!" Bulan Kegelapan dengan cepat menyuruh anak buahnya menangkap Randika. "Tidak akan kubiarkan!" Indra yang berdiri seperti tembok itu kembali meraung dan menghalau siapapun yang hendak mengejar Randika. Siapapun yang berani melawan kakak seperguruannya, dia harus melangkahi mayatku! Jika dia mati hari ini, Indra merasa bahwa dia sudah memenuhi janjinya pada gurunya yaitu melindungi kakak seperguruannya dengan nyawanya. Meskipun gurunya itu berkata sambil bercanda, Indra merasa bahwa kata-katanya itu adalah sebuah misi yang sangat penting. Dia merasa bahwa Randika itu adalah kakaknya yang asli bukan cuma seorang kakak seperguruan. Dia akan mempertaruhkan nyawanya untuk kakaknya kapan saja! Alasan itu sudah cukup baginya untuk melindungi Randika dengan nyawanya. Randika yang berlari itu sudah tutup mata. Mendengar tekad Indra dari kata-katanya itu, Randika sudah tahu nasib adik seperguruannya itu akan seperti apa. Air mata Randika tidak bisa berhenti mengalir. Terima kasih Indra, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang kamu buat ini! Chapter 419: Anna dan Tom Berkat bantuan Indra, Bulan Kegelapan dan anak buahnya mengalami kesulitan menerobos dan mengejar Randika. "Bunuh si gendut itu dulu." Kata Bulan Kegelapan dengan nada yang dingin. Kali ini, Randika babak belur dan terluka parah, dia tidak akan membiarkannya lari. Dalam sekejap anak buah Bulan Kegelapan segera menghajar Indra hingga terjatuh. Indra terengah-engah dan berdarah di tanah. Meskipun dia terlihat masih bernapas, dia sudah tidak bisa bergerak lagi. "Mati?" Tanya Bulan Kegelapan kepada anak buahnya. Anak buahnya itu hanya mengangguk dan mereka semua kembali mengejar Randika. .... Kecepatan lari Randika benar-benar luar biasa cepat, sambil menggendong 2 perempuan, dia berlari tanpa melihat ke belakang. Hatinya dibakar oleh api amarah saat berlari. Ketika mereka menemukan tempat yang relatif aman, Randika menurunkan mereka berdua. "Kalian tunggulah aku di sini, aku akan kembali dan membawa Indra." Kata Randika. Boneka ginseng yang berada di pundak Inggrid segera menatap Randika dalam-dalam. Wajah bayinya itu terlihat khawatir. "Sayangku, berhati-hatilah." Inggrid melihat Randika berlari kembali dengan liar. Ketika Randika berlari, dia menghembuskan angin kuat yang menerpa rambut mereka berdua. Di satu sisi, Maria dengan ketakutan bertanya. "Bu, apakah kita akan mati di sini?" "Tidak akan!" Kata Inggrid dengan nada yang tegas. Inggrid percaya dengan Randika, selama ada suaminya, mereka akan keluar dari labirin ini hidup-hidup. Inggrid kembali mengingat ketika mereka selamat dari keluarga Alfred, terjun dari gunung, pengeboman gedung oleh Shadow, Inggrid punya kepercayaan mutlak pada Randika. Pada saat ini, hati Randika benar-benar mengalami pergolakan. Kakeknya telah meminta Indra untuk menjaganya, tetapi dialah kakak seperguruannya, dialah yang akan melindungi Indra! Ketika dia memikirkan bagaimana Indra mengorbankan dirinya agar dirinya bisa kabur, Randika benar-benar marah dan malu terhadap dirinya. Randika dengan cepat berlari menuju lokasi Indra, tetapi dia menyadari adanya genangan darah. "Indra!!" Randika berteriak dengan keras, suaranya menggema dengan sangat kuat. Bulan Kegelapan dan Indra menghilang, hanya ada genangan darah yang ada. Tetapi yang membuat hati Randika mengepal adalah genangan darah ini adalah milik Indra. Dari gumpalan darahnya yang penuh tenaga dalam, tidak salah lagi itu adalah milik Indra. Rasa marah dan sedih bercampur jadi satu. Jika bukan karena luka di dalam tubuhnya, menghabisi Bulan Kegelapan dan anak buahnya adalah masalah yang kecil. Rangkaian luka membuat tubuhnya seperti ini, jika diumpamakan, kekuatan Randika yang sekarang hanya berada di angka 50%. Di dalam tubuhnya ada dua energi. Yang satu adalah tenaga dalamnya dan satunya lagi adalah kekuatan misteriusnya yang sangat dahsyat. Tetapi ketika dia menggunakan kekuatan misterius di dalam tubuhnya, kekuatan tersebut akan menekan tenaga dalamnya dan melukai sel serta otot di dalam tubuhnya, membuatnya tidak bisa menggunakan tenaga dalamnya dengan baik. Tidak ada jejak dari kelompok Bulan Kegelapan. Randika sudah mencarinya selama 5 menit tetapi tidak menemukan jejak apa pun. Dengan tidak berdaya, Randika hanya bisa berjalan kembali menuju Inggrid. Awalnya dia sama sekali tidak ingin kembali untuk Indra karena dia harus mengamankan Inggrid, tetapi hati nuraninya tidak bisa membiarkan Indra sendirian. Randika menundukan kepalanya selama perjalanan. Ketika dia sampai di tempat aman tadi, dia menyadari bahwa Inggrid dan Maria menghilang! Randika tercengang beberapa saat, mereka menghilang! Sialan! Ada siapa lagi di sini? Randika tahu bahwa Inggrid itu perempuan yang pintar, tidak mungkin dia berkeliaran sembarangan di tempat berbahaya seperti ini. Oleh karena itu, hanya ada satu kemungkinan mereka bisa menghilang yaitu mereka telah diculik. Tetapi siapa? Randika benar-benar marah. Kejadian seperti ini terjadi bertubi-tubi, hatinya sudah tidak bisa menahannya lagi! "Inggrid!" Randika berteriak, dan pada saat ini, sebuah suara membalasnya. "Aku di sini!" Suara pelan itu mengalir dari sisi tembok, suara itu pasti juga didengar oleh pihak-pihak lainnya juga. Mendengar teriakan itu, Randika terkejut dan khawatir. Dalam sekejap, dia berlari dan tidak ragu-ragu lagi. Indra adalah adik seperguruannya dan Inggrid adalah istrinya. Untuk Randika, keluarga adalah nomor 1. Barang siapa yang berani menyentuh keluarganya, dia akan mengalami sesuatu yang lebih parah daripada kematian! Sampai saat ini, Inggrid berkali-kali diculik dari dirinya, tetapi Randika selalu berhasil menyelamatkannya. Kali ini tetapi berbeda, Randika tidak tahu siapa yang dia lawan dan bagaimana situasi Inggrid saat ini. Di sisi lain, Anna dan Tom juga berada di dalam labirin misterius ini. Mereka ditemani oleh para pembunuh bayaran yang waktu itu berada di kuil dan berusaha membunuh Randika. Mereka memiliki nama yang dapat membuat siapapun merinding yaitu Black Mamba! Seperti yang diketahui, para pembunuh bayaran yang berasal dari Jerman ini benar-benar mengerikan. Mereka dapat menempati posisi ketiga sebagai pembunuh bayaran terbaik bukan karena bantuan orang dalam. Keahlian mereka berada di keahlian menembak. Randika memang bisa menghindari peluru, tetapi ketika menghadapi penembak jitu ini, bahkan Randika pun pasti merasakan ngeri ketika berhadapan dengan mereka. Setelah mereka bertempur sekali, para senapan jitu ini berlatih menembak dan membentuk serangan gabungan untuk dapat membunuh Randika. Meskipun mereka dibayar untuk mengikuti perintah Anna, para Black Mamba ini dengan senang hati membunuh Randika tanpa perlu dibayar. Oleh karena itu, Anna berhasil mendapatkan regu pembunuh yang setia padanya. Anna sendiri merupakan wanita licik yang bisa memanipulasi orang. Ketika dia masih bagian dari keluarga Alfred, dia sangat ahli dalam berbisnis dan mendapatkan keuntungan yang besar bagi keluarganya. Pada saat ini, kedua saudara ini sedang menatap Inggrid dan Maria yang dikepung oleh anak buah mereka. Kedua perempuan tersebut bagaikan biji papaya yang dikelilingi oleh serigala, semua senjata sudah mengarah pada mereka berdua. "Nona Inggrid, lama tidak bertemu." Anna tersenyum. Meskipun senyumannya itu terlihat cantik, senyumannya mengandung kebencian dan kedinginan yang mampu membuat orang merinding. "Anna, apa maumu?" Inggrid menatap Anna dengan tajam. Inggrid memiliki perasaan buruk di dalam hatinya, tetapi dia berusaha tidak menunjukannya. "Bukankah kita teman yang baik?" "Oh ya?" Ada rasa jijik di tatapan mata Anna, tetapi senyumannya itu masih tidak menghilang. "Maafkan aku, rasanya aku lupa memberitahumu bahwa akulah yang mengebom gedungmu kemarin." "Apa?" Ketika mendengar hal ini, pupil mata Inggrid mengerut. Anna langsung mencibir. "Kita sudah ditakdirkan untuk saling membunuh sejak kamu menjadi wanitanya Randika. Karena kamu telah menghancurkan keluargaku, aku akan memastikan bahwa seluruh anggota keluargamu mati!" Ketika Anna membahas tragedi keluarganya, api amarah dan kebencian selalu menguasai dirinya. Semua darah yang tertumpah hari itu, selama dia bisa membunuh Randika dan orang-orang di sekitarnya, barulah nafsu membunuh Anna terpuaskan! Beda dengan Shadow yang memberontak karena dia ingin mengambil alih kekuasaan Randika, kebencian Anna lebih murni dan bengis daripada Shadow. "Benar-benar sangat disayangkan. Kalau saja kamu bukan wanitanya, aku tidak keberatan mencicipi tubuhmu itu." Tom menjilati bibirnya, senyumannya sehangat matahari, tetapi ekspresi di matanya benar-benar terlihat mati. Tom suka dengan perempuan, tetapi dia suka memukulinya hingga mati barulah memperkosanya. Dia juga senang mengoleksi jantung para wanita, dia benar-benar sudah tidak terselamatkan lagi! "Bunuh dia!" Tatapan mata Anna benar-benar dingin, sedangkan Tom mengeluarkan pisau yang dibawanya. Bilah pedangnya yang memancarkan aura kematian itu membuat Inggrid merasa ketakutan. Maria bersembunyi di belakang Inggrid dengan tubuh yang gemetaran. Dia tidak pernah mengalami kejadian seperti ini, hatinya sudah dikuasai oleh ketakutan. Boneka ginseng itu juga ketakutan, dia masuk ke dalam celana Inggrid dan menggigil ketakutan. Pada saat ini, ada sebuah teriakan yang terdengar dari arah belakang. "Inggrid!" Ketika mendengar suara itu, Inggrid langsung membalasnya dengan sukacita. "Aku di sini!" Tetapi ketika dia masih dilanda dengan rasa sukacita, suaranya itu tiba-tiba berubah menjadi teriakan ketakutan. Rupanya Tom sudah berlari dan mengincar Inggrid dengan pisaunya yang tajam. Tom membenci Randika hingga ke tulangnya. Ketik bilah pisau itu mendekat, tiba-tiba boneka ginseng yang bersembunyi itu muncul dan melompat ke pergelangan tangan Tom. Tangannya yang imut itu secara tidak terduga memukul pergelangan tangan Tom cukup keras hingga pisaunya itu terjatuh. Tom benar-benar marah dan hendak membunuh boneka ginseng itu, tetapi kecepatannya yang tidak manusiawi itu membuat Tom semakin marah! Tetapi pengalih perhatian ini tidak berlangsung lama. Tom mengcueki boneka ginseng itu dan menatap Inggrid kembali dengan bengis. Hari ini, jika dia tidak berhasil membunuh Randika, setidaknya dia berhasil membunuh wanitanya. Wajah Maria sudah dipenuhi keputus asaan dan dia sudah menangis. Dia tidak menyangka hal seperti ini akan terjadi ketika dia ikut liburan kantornya. Jika tahu hal seperti ini akan terjadi, dia lebih baik tiduran di rumah sambil liat drama korea dan makan indomie. Inggrid pada saat ini juga merasakan keputus asaan yang sama, tetapi dia masih dapat menatap Tom dengan tenang. "Kamu bukanlah tandingannya Randika." "Apa?" Mendengar hal ini, Tom makin mengamuk dan meraung keras. Beberapa anggota Black Mamba menatap kejadian ini dalam keadaan diam. Yang terpenting adalah mereka mendapatkan uang mereka, kedua perempuan ini juga bukan ancaman bagi tuannya. Jika saja Anna tidak membayar mereka dengan cukup tinggi, mungkin mereka tidak akan ikut ke dalam labirin misterius ini. Tetapi wajah tenang para pembunuh bayaran ini segera berubah. Tiba-tiba, mereka merasakan aura yang sangat kuat muncul dari belakang, dan sosok itu datang dengan kecepatan yang luar biasa! Dalam sekejap, semua anggota Black Mamba melihat ke belakang. Ketika mereka menghunus pistol mereka, semua sudah terlambat. Sosok Randika muncul dan dalam satu tarikan napas, dia berlari melewati mereka semua. "Berani-beraninya kalian!" Randika menatap Tom yang berusaha membunuh Inggrid. Dia dengan cepat melayangkan sebuah pisau yang dibawanya dan pisau itu melayang cepat ke arah wajah Tom. "Randika!" Anna berteriak, suaranya dipenuhi dengan nada kemarahan sekaligus kebencian. Dia berteriak. "Bunuh dia!" Ketika suara itu terdengar, para anggota Black Mamba ini menyebar menjadi dua. Empat orang pergi melindungi Anna dan enam lainnya mengeluarkan senjata tajam mereka. "Mati kau!" Karena Tom berada di jalur tembakan mereka, keenam anggota ini terpaksa memakai pedang mereka. Lagipula mereka juga merasa bahwa lawannya tidak sekuat mereka. Tetapi mereka tidak menyangka bahwa Randika akan sehebat itu. Setiap serangan mereka telah dipatahkannya dan justru keenam orang ini menerima pukulan keras Randika. DUAK!!! Dua orang melayang dengan cepat dan memuntahkan darah, sisanya Randika tidak memberi ampun dan langsung menumbangkan mereka satu per satu. DUAK!!! Kepala Randika menatap salah satu musuhnya dengan keras. Orang itu langsung terhuyung-huyung dan heran kenapa kepala Randika bisa sekeras itu. Randika lalu menangkap salah satu tangan musuhnya, dengan suara yang nyaring, dia mematahkan tangan itu dengan mudah. Bahkan jika mereka adalah anggota pembunuh bayaran kelas atas, dia tidak bisa berhenti berteriak kesakitan ketika tangannya dipatahkan. DOR! DOR! DOR! Yang lain mulai menembaki Randika dengan akurasi yang tajam, tetapi Randika memakai tubuh musuhnya, yang barusan dia patahkan tangannya, sebagai perisai. Dengan ini, semua peluru itu masuk ke dalam tubuh rekan mereka. "BUNUH DIA!" Anna masih berteriak dengan keras. Lalu mata Randika jatuh pada sosoknya. Hal ini membuat sosok Anna berdiri diam, dia menatap Randika dengan tatapan tajam yang sangat dingin! Anna tidak akan pernah melupakan darah keluarganya yang tertumpah karena lelaki di depannya ini. "BUNUH DIA!" Anna tahu bahwa dari tatapan mata Randika, lelaki itu akan menyerang dirinya. Oleh karena itu, suara Anna hampir saja membuat semua telinga di sana berdarah. Sisa dari para anggota Black Mamba menyerang Rnadika. Tetapi Randika dengan mudah menghindar dan menyerang mereka satu per satu. Dengan pukulan tepat di lehernya, Randika memastikan bahwa dia tidak akan pernah bersuara lagi di dalam hidupnya. Lehernya berputar 180 derajat! Para anggota yang lain segera berkecil hati ketika melihatnya, bahkan Tom yang ada di sisi juga ketakutan. Kekuatan tempur Randika benar-benar mengerikan, mereka semua bukan lawannya. Chapter 420: Sampai Maut Memisahkan Kita "Mundur!" Tom dengan keras menyuruh semua mundur, sisa dari para anggota Black Mamba pun mundur bersamaan. Untuk rekan-rekan mereka yang mati ataupun pingsan, mereka membuangnya tanpa rasa peduli. Para pembunuh bayaran memang seperti itu, kematian merupakan resiko dari pekerjaan mereka. Lagipula, mereka tidak bisa membawa mereka dengan keadaan seperti ini. Namun, keenam anggota yang masih hidup ini membuat sumpah di dalam hati mereka bahwa mereka akan membalaskan dendam ini. Anna dan Tom kabur bersama dengan para anggota Black Mamba. Dengan adanya tabir asap dari granat asap, mereka menghilang dengan cepat. Randika hanya berdiri di tempatnya tanpa ekspresi. Boneka ginseng langsung pura-pura mengejar mereka dan bertindak seolah mengusir penjahat. "Randika." Inggrid menjadi tenang kembali, sedangkan Maria langsung berlutut lemas karena merasa senang bahaya telah berakhir. Kali ini, hidup mereka telah diselamatkan oleh Randika. Ketika kedua perempuan ini bersuka cita, mereka melihat bahwa Randika hanya berdiri diam di tempatnya. "Ran, ada apa?" Inggrid sedikit khawatir, namun ketika dia menghampiri Randika, mata dan hidungnya mengeluarkan darah! Pada saat ini, Randika roboh ke belakang! "Randika!!" Inggrid hanya bisa menjerit ketakutan. ... "LARI!!" "Indra, lari!" "TIDAAKKKK!" Dalam keadaan terkejut, Randika berteriak keras ketika dia terbangun dari tidurnya. Melihat dirinya tidur di atas kasur, dia tidak tahu di mana dirinya berada. Setelah melihat sekelilingnya, dia tidak menemukan sesuatu yang spesifik yang bisa dijadikan petunjuk. Yang dia ketahui adalah seseorang telah membalut tubuhnya yang terluka itu dengan perban. Tidak tahu siapa yang merawatnya, tetapi Randika yakin bahwa orang itu tidak jahat. Oleh karena itu, Randika memilih untuk tiduran kembali dan menenangkan dirinya. Mimpi yang dia alami benar-benar seperti nyata. Dia melihat Indra ditebas menjadi dua oleh Bulan Kegelapan. Yang membuatnya benar-benar marah adalah dia tidak sempat melindungi Indra baik di dalam mimpi ataupun dunia nyata. Dia hanya berharap bahwa semua itu adalah mimpi dan Indra masih baik-baik saja di luar sana. Ketika dia masih melamun, terdengar suara langkah kaki. Ketika Inggrid masuk ke dalam, dia langsung memeluk Randika yang sudah terbangun. "Akhirnya kamu bangun! Bagaimana perasaanmu? Apakah baik-baik saja?" "Tenang saja, aku baik-baik saja kok." Kata Randika sambil tersenyum. "Syukurlah kalau begitu, ini minumlah air. Kamu pasti haus kan setelah 3 hari tidak minum." "Tiga hari?" Randika terlihat bingung. "Iya, kamu tidak sadarkan diri selama 3 hari." Inggrid menjelaskan. "Lalu siapa yang menolong kita? Lalu di mana kita ini?" "Ituˇ­." Ketika Inggrid mau menjelaskan, pintu ruangan kembali dibuka. Sosok Dion yang terlihat lega langsung dapat dilihat. "Tuan, untung Anda baik-baik saja." "Dion!" "Teman-temanmu menemukan kita satu jam setelah kamu pingsan, mereka membawa kita keluar dari tempat itu dan kita menginap di markas mereka." Mendengar hal ini, Randika merasa bersyukur dan mulai mengingat kejadian di dalam labirin misterius itu. Setelah dia melayangkan serangan demi serangan, sepertinya kekuatan misterius di dalam tubuhnya itu menguasai dirinya dan mematikan fungsi otaknya. Karena Randika sudah terluka parah, tubuhnya tidak bisa mengimbangi dan akhirnya dia pingsan selama 3 hari. Untungnya saja pasukan yang mengikuti dirinya ke dalam hutan itu sudah memanggil Dion dkk untuk masuk ke dalam labirin dan menyelamatkannya. Sepertinya dewi keberuntungan memihak dirinya setelah rangkaian kesialan sebelumnya. "Ran, ada yang ingin kusampaikanˇ­" Karena informasi yang masuk terlalu banyak, Randika tidak mendengar omongan Inggrid tersebut. Dia langsung bertanya. "Indraˇ­ Di mana Indra?" Mendengar hal ini, Dion dan Inggrid saling menatap. Dion lalu keluar dan membiarkan Inggrid yang menceritakannya. Setelah pintu tertutup, Inggrid mulai bercerita. "Sebelum menemukan kita, teman-temanmu itu menemukan Indra dan sudah memberinya pertolongan pertama. Tetapi kondisinya sangat kritis jadi mereka hanya bisa pasrah. Ketika kita dibawa ke markas ini, makhluk kecil itu sepertinya memberikan Indra beberapa tetes manik-manik. Setelah Indra menelan manik-manik itu, kesehatannya kian membaik dan sekarang dia berada di rumah sakit." Mendengar hal ini, Randika benar-benar lega. Dia berulang kali menghela napas lega dan sedikit mengeluarkan air matanya. Setelah itu, Inggrid pergi ke dapur dan hendak membawakan makanan untuk Randika. Randika yang ditinggal sendiri itu merenung sambil berbaring. Bulan Kegelapan, Anna, Tomˇ­. Sepertinya hidupnya tidak akan tenang selama mereka semua masih hidup. Lalu dalam sekejap, aura membunuhnya merembes keluar dengan luar biasa. Dengan penuh tekad, dia berdiri dan memakai bajunya. Dia siap masuk kembali ke dalam labirin dan membantai mereka semua sekaligus. Ketika Randika bersiap-siap, Inggrid masuk membawa bubur di atas nampan. Melihat Randika yang siap berperang itu, Inggrid langsung berteriak. "Kamu ngapain? Mau ke mana?" "Aku akan memastikan bahwa kita bisa hidup dengan tenang, aku akan membunuh mereka." "Dengan luka seperti itu? Kamu sudah gila?" "Diam, apa kamu tidak lihat aku melakukannya untuk kita?" Randika mendorong Inggrid sedikit hingga dia berlutut di lantai. Ketika Randika berjalan menuju pintu, Inggrid mengeluarkan sebuah kalimat. "Aku hamil." Seketika itu juga, Randika berhenti berjalan dan menoleh ke belakang. Dengan wajah tercengang, dia menatap Inggrid dengan wajah heran. "Apa?" "Aku hamil Ran, aku tidak ingin anak kita hidup tanpa ayahnya. Coba kamu pikir dengan kepala dingin, apakah kamu yang seperti ini bisa melawan mereka? Randika yang kucintai tidak akan pernah membuat keputusan yang bodoh seperti itu." Mendengar hal ini, Randika tiba-tiba sadar. Sepertinya amarahnya dan nafsu membunuhnya mengaburkan keputusannya. Bukan hal bijak untuk bertarung dengan kondisi tubuh seperti ini. Kalau beneran dia adalah Randika yang dikenal sebagai Ares, dia pasti akan mengumpulkan informasi terlebih dahulu dari Dion. Sepertinya dia memang salah. Tanpa bersuara, Randika menghampiri Inggrid dan menciumnya. Sambil berurai air mata, Inggrid merasa bahwa suami yang dicintainya telah kembali ke dalam pelukannya. ..... Setelah berhubungan badan, Inggrid tertidur di lengan Randika. Setelah mendengar bahwa dia akan menjadi seorang ayah, Randika memikirkan tentang hidupnya. Bagaimana dia selalu hidup merantau dan waspada seumur hidupnya, bertarung dan membentuk pasukan sehingga menjadi salah satu Dewa dari 12 Dewa Olimpus, hingga pertemuan pertamanya dengan Inggrid ketika dia menjadi tukang mie ayam. Seluruh kejadian di dalam hidupnya membawa dirinya kepada Inggrid Elina, istri pertamanya yang paling spesial di dalam hatinya. Memang tujuannya adalah menjadi raja harem apalagi kandidatnya cantik-cantik dan montok. Sebut saja Viona yang sudah memberikan hatinya padanya, lalu ada Christina yang sudah menganggap dirinya sebagai pacarnya, belum lagi Safira yang siap menjadi istrinya juga. Jika dilihat-lihat, hidupnya penuh warna ketika dia datang kembali ke Indonesia. Tetapi yang paling membuat hidupnya berarti adalah keberadaan Inggrid yang menerima dirinya apa adanya. Selama ini dia tidak bertanya mengenai asal usulnya maupun mengapa dia memiliki kekuatan yang melebihi manusia. Dia tidak bertanya mengapa ada orang yang menginginkan dirinya untuk mati. Perempuan itu sepertinya menunggu dirinya untuk menceritakannya sendiri ketika waktunya tiba. Oleh karena itu, Inggrid dengan setia menunggu dirinya dan terus mencintai dirinya. "Hmm? Kamu tidak tidur?" Inggrid memandang wajah Randika yang terlihat serius. "Maaf, apa aku membangunkanmu?" Randika tersenyum hangat kepada Inggrid. "Kenapa kamu terlihat serius begitu?" Inggrid bangun dan memakai bajunya. Dengan kebulatan tekad, Randika berkata padanya. "Aku ingin bercerita tentang siapa diriku yang sebenarnya." ..... "Maaf aku telah menyembunyikannya darimu. Aku hanya tidak ingin kamu terluka." Mendengar kisah hidup Randika, Inggrid terdiam beberapa waktu. Lalu dia menghampiri Randika dan memeluknya. "Apa pun masa lalumu, kamu yang sekarang adalah Randika yang aku cintai. Mau seberapa banyak dosa yang telah kamu buat, kamu yang sekarang adalah harapan di dalam hidupku. Mau kamu adalah seorang pembunuh di masa lalu, kamu yang sekarang adalah suamiku dan ayah dari anakku. Jadi kamu tidak perlu menyesal atas perbuatanmu yang dulu, yang terpenting sekarang adalah kita akan menjalani ini semua bersama-sama. Oke?" Mendengar hal ini dan dipeluk dengan hangat oleh Inggrid, Randika tidak bisa merasa lebih bersyukur lagi di dalam hidupnya ini. "Inggrid..." Panggilan Randika membuat Inggrid melepas pelukannya dan menoleh ke arahnya. "Maukan kamu berjanji padaku?" Tanya Randika. "Apa itu?" Inggrid menunggunya dengan sabar. "Bahwa kamuˇ­ tidak akan meninggalkanku apa pun yang terjadi." Jawab Randika dengan suara yang tersipu malu. Bagi Randika yang sekarang, kehadiran Inggrid jelas menjadi pilar yang menyangganya selama ini. Jika Inggrid tidak ada, Randika yakin bahwa dirinya akan kembali ke dalam kehidupannya yang kelam. Tiba-tiba Inggrid tertawa dan mencium Randika dengan penuh kasih sayang. "Hei, jangan tertawa! Aku serius." Randika merasa malu. "Tidak, hanya saja aku merasa lucu ketika seorang Dewa mengatakan seperti itu padaku." Wajah Randika makin merah padam ketika dia mendengar hal itu. "Tetapi jika ini bisa memberikan ketenangan pada hatimu, aku berjanji padamu bahwa aku tidak akan meninggalkanmu." Randika lalu meraih tangan Inggrid dan mengecup punggung tangannya, layaknya seorang ksatria yang membuat sumpah pada seorang putri. "Aku berjanji untuk hidup bersamamu, dalam senang maupun susah, di waktu sehat maupun sakit. Aku berjanji untuk mencintai dan menghormatimu seumur hidup sampai maut memisahkan kita." Suara Randika yang jerni bergema di dalam ruangan yang sunyi itu. Ketika Inggrid menutup matanya, dia nyaris merasa bahwa mereka berdua sekarang berada di depan altar dan bertukar sumpah pernikahan. "Inggrid Elina, bersediakah kamu menjadi istriku?" Sebagai jawabannya, Inggrid memeluk pria itu erat-erat. "Iya, dengan senang hati." Keduanya saling berpandangan dan tersenyum lebar. "Sampai maut memisahkan kita." "Sampai maut memisahkan kita." THE END